Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BANTAHAN TERHADAP FATWA BID’AH "TATSWIB" DALAM ADZAN SHUBUH (ASH-SHOLAATU KHOIRUM MINAN NAUM)

TANGGAPAN TERHADAP FATWA SYEIKH AL-ALBANI RAHIMAHULLAH:

BAHWA AT-TATSWIB, YAKNI MENGUCAPKAN : “ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM” PADA ADZAN SHUBUH ADALAH BID’AH

«التَّثْوِيْبُ = الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ»

---

Di Tulis oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

===

DAFTAR ISI:

  • PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG AT-TATSWIB PADA ADZAN SHUBUH
  • PENDAPAT PERTAMA : DISUNAHKAN.
  • DALIL – DALIL PENDAPAT PERTAMA :
  • PENDAPAT KEDUA : BID’AH DAN MENYELISIHI SUNAH
  • BANTAHAN DARI SEBAGIAN PARA ULAMA ATAS FATWA AL-ALBANI

===

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***=== 

PERBEDAAN PENDAPAT 
TENTANG AT-TATSWIB PADA ADZAN SHUBUH

Dalam mengumandangkan lafadz الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ [Ash-Sholatu Khoirum Minan Naum] telah terjadi perbedaan pendapat .

ADA DUA PENDAPAT :

Pertama : SUNNAH

Kedua : BID'AH. Ini adalah pendapat Syeikh al-Albani rahimahullah.

****

PENDAPAT PERTAMA : DISUNNAHKAN.

Disunnahkan membaca الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ pada adzan subuh.

Ini sesuai dengan kesepakatan empat mazhab fiqih : Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali.

Referensi :

[Referensi Hanafi : ((Hashiyat Ibnu Abidin)) (1/388), dan lihat: “Fath al-Qadiir” oleh al-Kamal Ibn al-Hamam (1/241)] .

[Referensi Maliki : ((Mawaahib al-Jalil)) oleh Al-Haththoob (2/83), dan lihat: ((Sharh Mukhtasar Khalil)) oleh Al-Khurosyi (1/229)].

[Referensi Syaafi'ii : ((Rawdah Ath-Tholibin)) oleh Al-Nawawi (1/199), ((Tuhfat Al-Muhtaaj)) oleh Al-Haytami (1/468)].

[Referensi Hanbali : ((Al-Furuu’)) oleh Ibnu Muflih (2/9), ((Kasysyaf Al-Qinaa')) oleh Al-Bahouti (1/237)].

---

PERNYATAAN SEBAGIAN PARA ULAMA

Al-Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarah al-Muhadzdzab 3/92 berkata :

‌وَالْمَذْهَبُ ‌أَنَّهُ  - أي التثويب - ‌مَشْرُوعٌ ‌فعلى ‌هذا ‌هو ‌سُنَّةٌ ‌لَوْ ‌تَرَكَهُ ‌صَحَّ ‌الْأَذَانُ ‌وَفَاتَهُ ‌الْفَضِيلَةُ هَكَذَا قَطَعَ بِهِ الْأَصْحَابُ وَقَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي اشْتِرَاطِهِ احْتِمَالٌ قَالَ وَهُوَ بِالِاشْتِرَاطِ أَوْلَى مِنْ التَّرْجِيعِ

"Dan berdasarkan al-Mazhab bahwa at-tatswiib [Ash-Sholatu Khoirum Minan Naum]  itu disyariatkan dan ia sunnah. Jika ditinggalkan maka adzannya tetap sah, namun kehilangan keutamaan dalam mengucapkannya. Inilah yang telah diputuskan oleh Ash-haab (para ulama mazhab Syafi'ie).

Imam al-Haramain berkata : bisa pula difahami untuk dijadikan sebagai syarat. Dan dijadikannya sebagai syarat dalam adzan [ Shubuh] adalah lebih utama dari pada at-Tarjii' (mengulang dua syahadat di dalam adzan)." [ SELESAI ]

Makna at-Tarjii' :

التَّرْجِيعُ فِي الأَذَانِ: أَنْ يَخْفِضَ الْمُؤَذِّنُ صَوْتَهُ بِالشَّهَادَتَيْنِ، ثُمَّ يَرْفَعَ بِهِمَا.

At-Tarjii' dalam adzan: adalah Muazin merendahkan suaranya dalam mengumandngkan dua syahadat , kemudian meninggikan suaranya dalam mengumandngkan dua syahadat.

Dan pendapat yang mu'tamad di sisi ulama mazhab Syafi'ie, boleh dilakukan at-Tatswiib pada kedua-dua adzan. Begitu pula yang nampak difahami dari perkataan para ulama madzhab Hanbali dan Maliki.

---

Syekih Ibnu 'Utsaimiin berkata :

(وَالتَّثْوِيبُ الَّذِي هُوَ قَوْلُ: «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ» إِنَّمَا يُشْرَعُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ الَّذِي هُوَ الأَذَانُ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ).

(Dan at-Tatswiib yang berbunyi : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ “Sholat lebih baik dari pada tidur”, hanya disyariatkan pada adzan subuh, yaitu adzan setelah terbit fajar.)

Sumber : ((لِقَاءُ الْبَابِ الْمَفْتُوحِ)) (Nomor : 104)

----

Syeikh bin Baaz berkata :

السُّنَّةُ أَنْ تُقَالَ «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ» فِي الأَذَانِ الأَخِيرِ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

Yang Sunnah adalah [Ash-Shlatu Khirum Minan Naum] diucapkan dalam adzan akhir setelah fajar terbit .

[Sumber : Nuur 'Ala ad-Darb " مَتَى تُقَالُ: «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ»؟ وَمَا جَوَابُهَا؟"].

====

DALIL – DALIL PENDAPAT PERTAMA :

----

DALIL KE 1 : HADITS ABDULLAH BIN UMAR (radhiyallahu ‘anhu):

Dari Salim dari Ayahnya [Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma , dia menceritakan :

أَنَّ ‌النَّبِيَّ ﷺ ‌اسْتَشَارَ ‌النَّاسَ ‌لِمَا ‌يُهِمُّهُمْ ‌إِلَى ‌الصَّلَاةِ، ‌فَذَكَرُوا ‌الْبُوقَ، ‌فَكَرِهَهُ ‌مِنْ ‌أَجْلِ ‌الْيَهُودِ، ‌ثُمَّ ‌ذَكَرُوا ‌النَّاقُوسَ، فَكَرِهَهُ مِنْ أَجْلِ النَّصَارَى، فَأُرِيَ النِّدَاءَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ، وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، فَطَرَقَ الْأَنْصَارِيُّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَيْلًا، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «بِلَالًا بِهِ، فَأَذَّنَ» 

قَالَ: الزُّهْرِيُّ، وَزَادَ بِلَالٌ فِي نِدَاءِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، فَأَقَرَّهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى، وَلَكِنَّهُ سَبَقَنِي

 Bahwa Nabi meminta pendapat para sahabat terhadap sesuatu yang membuat mereka berangkat menuju mesjid untuk shalat. Maka mereka menyebutkan terompet, tetapi beliau tidak menyukainya karena menyerupai orang-orang Yahudi, kemudian mereka menyebutkan lonceng, tetapi beliau tidak menyukai pula karena menyerupai orang-orang Nasrani.

Maka pada malam itu seorang sahabat Anshar bermimpi tentang (lafadz) adzan, sahabat itu dikenal dengan nama Abdullah bin Zaid, dan begitu juga Umar bin Al Khatthab telah memimpikannya. Maka pada saat malam seorang sahabat Anshar mendatangi Rasulullah , lalu Rasulullah memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan."

Az Zuhri berkata: Bilal menambah dalam adzan shubuh “ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUM”, maka Rasulullah pun menetapkannya.

Lantas Umar berkata ; "Ya Rasulullah, aku juga bermimpi seperti apa yang dia mimpikan, tetapi dia telah mendahuluiku."

[ HR. Ibnu Majah no. 699 dengan lafadz diatas , Abu Ya'la (5503, 5504) secara terpencar , dan al-Tabarani (12/288) (13140) dengan sedikit perbedaan]

Dihasankan oleh al-Albaani dalam Shahih Ibnu Majah no. 132 .

Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhriij Sunan Ibnu Majah berkata :

وَأَخْرَجَهُ أَبُو يَعْلَى (٥٥٠٣) وَ(٥٥٠٤)، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي «الأَوْسَطِ» (٧٨٧٨) مِنْ طَرِيقِ وَهْبِ بْنِ بَقِيَّةَ الْوَاسِطِيِّ، عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، بِهَذَا الإِسْنَادِ.

وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ الْمَدَنِيِّ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ.

" Diriwayatkan pula oleh Abu Ya'la (5503) dan (5504), dan al-Tabarani dalam "Al-Awsat" (7878) melalui Wahb bin Baqiah Al-Wasiti, dari Khalid bin Abdullah, dengan sanad ini juga .

Dan ini adalah Sanad yang HASAN , dikarenakan Abdur-Rahman bin Ishaq al-Madani, dan sisa para perawi lainnya adalah dapat dipercaya / tsiqaat ".

----

DALIL KE 2 : HADITS ABDULLAH BIN ZAID (radhiyallahu ‘anhu):

Dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Abdu robbihi berkata:

لَمَّا أَجْمَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ أَنْ يَضْرِبَ بِالنَّاقُوْسِ يَجْمَعُ لِلصَّلاَةِ النَّاسَ وَهُوَ لَهُ كَارِهٌ لِمُوَافَقَتِهِ النَّصَارَى طَافَ بِيْ مِنَ اللَّيْلِ طَائِفٌ وَ أَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ وَ فِي يَدِهِ نَاقُوْسٌ يَحْمِلُهُ

قَالَ فَقُلْتُ لَهُ : يَا عَبْدَ اللهِ أَتَبِيْعُ النَّاقُوْسَ . قَالَ : وَ مَا تَصْنَعُ بِهِ .

قُلْتُ : نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلاَةِ . قاَلَ : أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذلِكَ . قَالَ فَقُلْتُ : بَلى . قَالَ : تَقُوْلُ :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَ عَلَى اْلفَلاَحِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ  

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

قَالَ : ثُمَّ اسْتَأْخَرْتُ غَيْرَ بَعِيْدٍ . قَالَ : ثُمَّ تَقُوْلُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلاَةَ :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

قَالَ : فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ .

قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : إِنَّ هذِهِ لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ أَمَرَ بِالتَّأْذِيْنِ فَكَانَ بِلاَلٌ مَوْلىَ أَبِى بَكْرٍ يُؤَذِّنُ بِذلِكَ وَيَدْعُو رَسُوْلَ اللهِ ﷺ إِلَى الصَّلاَةِ .

قَالَ : فَجَاءَهُ فَدَعَاهُ ذَاتَ غَداَةٍ إِلَى الْفَجْرِ فَقِيْلَ لَهُ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ نَائِمٌ .

قَالَ فَصَرَخَ بِلاَلٌ بِأَعْلَى صَوْتِهِ : " اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ " .

قَالَ سَعِيْدُ بْنُ اْلمُسَيَّبِ : " فَأُدْخِلَتْ هذِهِ اْلكَلِمَةُ فِى التَّأْذِيْنِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ ".

Tatkala Rasulullah memutuskan agar memukul lonceng untuk mengumpulkan orang-orang agar melakukan shalat, yang sebenarnya beliau benci karena menyamai orang-orang nasrani, saya bermimpi ada seorang lelaki lewat di hadapanku dengan memakai dua kain hijau dan membawa lonceng di tangannya.

Berkata (‘Abdullah) : Aku bertanya padanya : “Wahai hamba Allah! Apakah engkau akan menjual lonceng itu?”

Dia berkata : Apa yang hendak engkau perbuat dengannya?

Maka saya pun berkata : Kami akan memanggil orang-orang dengannya untuk shalat.

Dia berkata: Maukah engkau aku tunjuki yang lebih baik dari itu?

Berkata (‘Abdullah): Maka saya pun berkata, ”Ya”.

Dia berkata : Engkau ucapkan:

Allahu Akbar-Allahu Akbar, Allahu Akbar-Allahu Akbar (Allah Maha Besar),

Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah (Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah),

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),

Hayya ‘alash shalah, Hayya ‘alash shalah (Marilah shalat),

Hayya ‘alal falah, Hayya ‘alal falah (Marilah menuju kebahagiaan)

Allahu Akbar-Allahu Akbar,

La ilaha illallah (Tiada sesembahan selain Allah).

Kemudian aku mundur tidak begitu jauh, lalu dia berkata: Apabila engkau mengiqamahi shalat engkau mengucapkan:

Allahu Akbar-Allahu Akbar,

Asyhadu alla ilaha illallah,

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,

Hayya ‘alash shalah,

Hayya ‘alal falah,

Qad qamatish shalah-Qad qamatish shalah,

Allahu Akbar-Allahu Akbar,

La ilaha illallah

Berkata (‘Abdullah) : Maka keesokan harinya saya mendatangi Rasulullah lalu menceritakan kepadanya apa yang telah saya lihat (dalam mimpi).

Berkata (‘Abdullah): Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ini merupakan mimpi yang benar, insya-Allah”.

Kemudian beliau memerintahkan agar (dikumandangkan) adzan, maka Bilal -seorang budak yang dimerdekakan Abu Bakar- senantiasa mengumandangkan adzan dan memanggil Rasulullah untuk shalat.

Berkata (‘Abdullah): Lalu pada suatu pagi, dia [ Bilal] datang memanggil beliau untuk shalat fajar, lalu ada yang mengatakan kepadanya : “Sesungguhnya Rasulullah masih tidur”.

Berkata (‘Abdullah): Maka Bilal pun meneriakkan : ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM, dengan sekeras suaranya.

Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Lalu kata tersebut : (“Ash-Shalatu khairum minan naum” ) dimasukkan dalam adzan untuk shalat fajar.

[HR. Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad 4/42-43, Musnad Madaniyyin

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/129 no. 499, Al-Baihaqi 1/414 dan 1/422-423 dan ‘Abdurrazaq dalam Mushannafnya 1/455-456 no. 1774 ]

Sanadnya HASAN.

 ----

DALIL KE 3 : HADITS SA'ID BIN MUSAYYIB

Hadits riwayat Sa’id bin Al-Musayyab tentang Adzan Bilal dan Ibnu Ummi Maktum serta Awal Pensyari’atan Seruan “Ash-Shalatu Khairum Minan Naum".

Dari Ibnul Musayyib bahwasanya Rasulullah bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَمَنْ أَرَادَ الصَّوْمَ فَلاَ يَمْنَعْهُ أَذَانُ بِلاَلٍ حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ قَالَ وَكَانَ أَعْمَى فَكَانَ لاَ يُؤَذِّنُ حَتَّى يُقَالَ لَهُ أَصْبَحْتَ فَلَمَّا ذَاتَ لَيْلَةٍ أَذَّنَ بِلاَلٌ ثُمَّ جَاءَ يُؤَّذِنُ النَّبِيَّ ﷺ فَقِيْلَ إِنَّهُ نَائِمٌ فَنَادَى بِلاَلٌ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ فَأُقِرَّتْ فِى الصُّبْحِ

“Sesungguhnya Bilal senantiasa mengumandangkan adzan pada waktu malam, maka barang siapa hendak berpuasa, janganlah adzan Bilal menghalanginya (dari sahur) hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan”.

Berkata (Ibnul Musayyib):

Dia (Ibnu Ummi Maktum) adalah seorang yang buta matanya. Dia tidak mengumandangkan adzan sampai dikatakan kepadanya, “Engkau telah memasuki waktu shubuh".

Pada suatu malam ketika Bilal mengumandangkan adzan kemudian datang hendak memberitahukan waktu shalat kepada Nabi , lalu ada yang mengatakan kepadanya :

“Sesungguhnya beliau masih tidur”.

Maka Bilal pun berseru “Ash-Shalatu khairum minan naum”.

Lalu ditetapkanlah hal itu (lafal “Ash-Shalatu khairum minan naum”) dalam adzan shubuh.

[‘Abdurrazaq meriwayatkannya secara mursal dalam Al-Mushannaf 1/472, bab “Ash-Shalatu khairum minan naum”, no. 1820].

---

DALIL KE 4 : HADITS BILAL RADHIYALLAHU ANHU :

Dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyab dari Bilal (radhiyallahu ‘anhu) :

أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ يُؤْذِنُهُ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَقِيلَ هُوَ نَائِمٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فَأُقِرَّتْ فِي تَأْذِينِ الْفَجْرِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Bahwa ia mendatangi Nabi untuk adzan shalat subuh, lalu dikatakan kepadanya: "Beliau sedang tidur."

Maka bilal pun berkata ; "ASH SHALAATU KHAIRUN MINAN NAUM. ASH SHALAATU KHAIRUN MINAN NAUM.

Hingga lafadz itu ditetapkan untuk dikumandangkan pada adzan subuh dan perkaranya menjadi tetap seperti itu."

[HR. Ibnu Majah (716), al-Tabarani (1/354) (1081), dan al-Bayhaqi (2063) dengan sedikit perbedaan.]

Di Shahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih Ibnu Majah no. 592. Dan Di Hasankan oleh Ibnu Hajar dalam Nataa'ij al-Afkaar 1/324 .

----

DALIL KE 5 : HADITS ABU MAHDZURAH (riwayat Musaddad) :

Hadits Riwayat Abu Mahdzurah (riwayat Musaddad) tentang Disyari’atkannya Penyebutan lafadz Ash-Shalatu Khairum Minan Naum pada Adzan Shubuh

Dari Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abi Mahdzurah, dari bapaknya, dari kakeknya dia berkata:

قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِي سُنَّةَ اْلأَذَانِ قَالَ فَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِيْ وَقَالَ تَقُوْلُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ تَرْفَعُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ تَخْفِضُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالشَّهَادَةِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ فَإِنْ كَانَ صلاَةَ الصُّبْحِ قُلْتَ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Saya pernah berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku tuntunan {cara} adzan”.

Dia (Abu Mahdzurah ) berkata : Maka beliau mengusap bagian depan kepalaku seraya bersabda : “Engkau ucapkan:

Allahu Akbar-Allahu Akbar, Allahu Akbar-Allahu Akbar (Allah Maha Besar), engkau mengeraskan suaramu dengannya.

Kemudian engkau ucapkan :

Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah (Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah) .

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), engkau merendahkan suaramu dengannya.

Kemudian engkau mengeraskan suaramu dengan (mengulangi) syahadat :

Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah,

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.

Hayya ‘alash shalah, Hayya ‘alash shalah (Marilah shalat)

Hayya ‘alal falah, Hayya ‘alal falah (Marilah menuju kebahagiaan).

Adapun jika (adzan tersebut pada waktu) SHALAT SHUBUH, engkau ucapkan :

ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM , ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM

Allahu Akbar-Allahu Akbar,

La ilaha illallah (Tiada sesembahan selain Allah).

[ HR. Abu Daud 1/129 no. 500 . Ahmad 3/408n, Ibnu Hibban 3/96 no. 1680, 1682 dan Al-Baihaqi dalam Sunannya 1/442 bab At-Tatswib Adzanil Fajr ]

Di Shahihkan oleh Ibnu Hibbaan dalam Shahihnya no. 1680 dan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 500 dan Takhrij al-Misykaah no. 615 . 

[Asy-Syaikh Al-Arna’uth dalam takhriij Ibnu Hibbaan no. 1682 berkata : “Shahih dengan keseluruhan jalurnya”].

----

DALIL KE 6 : HADITS ABU MAHDZURAH [ RIWAYAT ABDUL MALIK]

Dari Abdul Malik bin Abi Mahdzurah Dari Abu Mahdzurah berkata:

أَلْقَىٰ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الأَذَانَ حَرْفًا حَرْفًا:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ،

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ،

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ،

قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ فِي الْفَجْرِ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ.

Rasulullah telah mengajarkan kepadaku cara adzan , huruf demi huruf, yaitu:

Allaahu Akbar Allaahu akbar, Allahu Akbar Allaahu Akbar,

Asyhadu an laa ilaaha’ illallaah, Asyhadu an laa ilaaha’ illallaah

Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah, asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah,

Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu an laa ilaaha illallaah

Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah,

Hayya ‘alas shalaah, hayya ‘alas shalaah,

Hayya ‘alal falaah, hayya ‘alal falaah.

Lalu Abu Mahdzurah berkata :

Pada adzan shalat subuh beliau mengucapkan:

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Asshalaatu khairun minan nauum.

[HR. Abu Daud no. 504 ] Di shahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih Abi Daud .

----

DALIL KE 7 : HADITS ABU MAHDZURAH [ RIWAYAT SUWAIDI ]

Hadits Abu Mahdzurah (riwayat Suwaid) tentang Penyebutan lafadz Ash-Shalatu Khairum Minan Naum pada Adzan Fajar yang Pertama

Dari Abu Mahdzurah, dia berkata:

كُنْتُ أُؤَذِّنُ لِرَسُوْلِ اللهِ ﷺ وَكُنْتُ أَقُوْلُ فِى أَذَانِ الْفَجْرِ اْلأَوَّلِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Dahulu saya senantiasa mengumandangkan adzan untuk Rasulullah dan saya senantiasa mengucapkan pada adzan fajar yang pertama:

Hayya ‘alal falah,

Ash-Shalatu khairum minan naum, Ash-Shalatu khairum minan naum,

Allahu Akbar-Allahu Akbar,

La ilaha illallah

[ HR. An-Nasa'i 1/2/13-14, bab At-Tatswib fi Adzanil Fajr, Imam Ahmad 3/408 dalam Musnad Makiyyin , Al-Baihaqi  dalam Sunannya 1/422 bab At-Tatswib Fil Fajr  dan Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf 1/472, bab Ash-Shalatu khairum minan naum, h. no. 1821]

Di Shahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih Sunan an-Nasaa'i no. 646.

Ibnu Abdil Barr dlam al-Istidzkaar 1/443 berkata : مَحْفُوظٌ مَعْرُوفٌ (shahih dan sudah ma'lum)

----

DALIL KE 8 : HADITS ANAS BIN MALIK (radhiyallahu ‘anhu) :

Dari Anas bin Malik , dia berkata:

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ اْلمُؤَذِّنُ فِى أَذَانِ اْلفَجْرِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ قَالَ اَلصَّلاَةُ  خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ اَللهُ اَكْبَرُ  اَللهُ اَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Termasuk sunnah (tuntunan Nabi ), apabila muadzin telah mengucapkan pada adzan fajarHayya ‘alal falah”, dia mengucapkan "ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM, ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM, Allahu Akbar-Allahu Akbar, La ilaha illallah

[HR. Ad-Daruquthni dalam As-Sunan 1/194, bab Dzikril Iqamah Wakhtilafuhu no. 933, dan Ibnu Khuzaimah, dalam Ash-Shahih 1/202, bab At-Tatswib fi Adzanish Shubh no. 386. dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 1/423, bab At-Tatswib fi Adzanil Fajr.

Imam Baihaqi berkata : " Sanadnya Shahih ". [ As-Sunan al-Kubra 1/423] . Di shahihkan pula oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataa'ij al-Afkaar 1/323 .

Syeikh Bin Baz dlam Fatawa Nur ala ad-Darb 6/400 : tsabit [ Valid] " .

Dari Muhammad bin Siiriin dari Anas (radhiyallahu ‘anhu) , dia berkata :

مَا كَانَ التَّثْوِيبُ إِلَّا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ، إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ

Tidak ada tatswiib kecuali pada sholat subuh, yaitu ketika muadzin telah mengatakan "Hayya 'Alash Sholaah " maka dia mengatakan : "Ash-Sholaatu Khoirum Minan Nauum" , dua kali.

[ HR. Ath-Thahawi dalam “Sharh Musykil Al-Aatsaar” (6084), Ad-Daraqutni (1/243), dan Al-Bayhaqi no. (2064).

Di Shahihkan oleh ath-Thahawi .

----

DALIL KE 9 : ATSAR NU'AIM BIN NAHHAAM :

Atsar Nu’aim bin An-Nahham tentang Penyebutan lafadz Ash-Shalatu Khairum Minan Naum pada Adzan Shubuh :

Dari Nu’aim bin Nahham berkata:

كُنْتُ مَعَ امْرَأَتِيْ فِى مُرُطِهَا فِى غَدَاةٍ بَارِدَةٍ فَنَادَى مُنَادِى رَسُوْلِ اللهِ ﷺ إِلَى صَلاَةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا سَمِعْتُ قُلْتُ لَوْ قَالَ وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ قَالَ فَلَمَّا قَالَ اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ قَالَ وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ .

Pada suatu pagi hari yang dingin Aku bersama istriku dalam selimutnya , lalu berserulah muadzin Rasulullah untuk shalat shubuh .

Tatkala aku mendengar adzan tersebut, maka aku pun berkata : Kalau saja ia berkata :

وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ

“Barang siapa yang duduk (tidak tidur), maka tidaklah mengapa”.

(Nu’aim) berkata: Tatkala ia (muadzin) berkata : “ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM” , maka ia (muadzin) pun berkata :

وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ

“Barang siapa yang duduk (tidak tidur), maka tidaklah mengapa”.

[HR. Al-Baihaqi 1/423 no. 1729 bab At-Tatswib fi Adzanil Fajr , Ahmad no. 17678 dan ‘Abdurrazaq dalam Mushannafnya 1/502 bab Ar-Rukhshah liman … , hadits. no. 1857 , 1927]

Sanadnya SHAHIH

---

DALIL KE 10 : ATSAR ABDULLAH BIN UMAR (radhiyallahu ‘anhu) :

Atsar Ibnu Umar tentang Syari’at Penyebutan lafadz Ash-Shalatu Khairum Minan Naum pada Adzan Fajar yang Pertama

Dari Ibnu ‘Umar, dia berkata:

كَانَ فِى أَذَانِ اْلأَوَّلِ بَعْدَ اْلفَلاَحِ : " اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ".

“Dahulu pada adzan (fajar) yang pertama (lafal yang diucapkan) setelah lafal “Hayya ‘alal falah” adalah (lafal) : “ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM” , “ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUM”.

[ HR. Al-Baihaqi As-Sunanul Kubra 1/423, bab At-Tatswib fi Adzanil Fajr]

Sanadnya HASAN .

----

DALIL KE 11 : IJMA' PARA ULAMA :

Para ahli FIQIH , semoga Allah merahmati mereka, sepakat bahwa bacaan "ash-Sholatu Khoirum Minan Naum" ini adalah sunnah dalam adzan subuh, dan IJMA' para ulama tentang ini diriwayatkan oleh Ibnu Hubayrah, semoga Allah merahmatinya. 

[ Baca : al-Majmu' karya an-Nawawi ( 3/100), dan Mughni al-Muhtaaj (1/136)].

 ****

PENDAPAT KEDUA : BID’AH DAN MENYELISIHI SUNAH

Mengucapkan لصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ pada Adzan Shubuh adalah BID'AH. Ini adalah pendapat Syeikh al-Albani rahimahullah. 

Dan yang sudah menjadi ketetapan bagi beliau adalah bahwa semua amalan yang tidak ada petunjuk dari sunnah Nabi ﷺ atau yang tidak disyariatkan adalah bid'ah. Dan semua bid'ah menurutnya adalah sesat. 

Al-Albani dalam Tamam al-Minnah halaman 146 berkata:

"قُلْتُ: إِنَّمَا يُشْرَعُ التَّثْوِيبُ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ لِلصُّبْحِ، الَّذِي يَكُونُ قَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ بِنَحْوِ رُبْعِ سَاعَةٍ تَقْرِيبًا، لِحَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «كَانَ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ بَعْدَ الْفَلَاحِ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ». رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ ١ / ٤٢٣، وَكَذَا الطَّحَاوِيُّ فِي «شَرْحِ الْمَعَانِي» ١ / ٨٢، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ".

Saya katakan: Tatswib (yakni ash-sholatu khoirum minan naum) hanya disyariatkan pada adzan pertama Subuh, yaitu adzan yang dikumandangkan sebelum masuk waktu sekitar seperempat jam, berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Pada adzan pertama, setelah lafadz al-falah, diucapkan:ash-sholaatu khoirum minan nauum” sebanyak dua kali”.

Sebagaimana diriwayatkan al Baihaqi (1/423), juga at-Thahâwi rahimahullah dalam Syarhul Ma’âni (1/82) dan sanadnya hasan sebagaimana disampaikan al-Hâfidz”. [Selesai]

Lalu Syeikh al-Albani berkata:

وَحَدِيثُ أَبِي مَخْذُورَةَ مُطْلَقٌ، وَهُوَ يَشْمَلُ الْأَذَانَيْنِ، لَكِنَّ الْأَذَانَ الثَّانِيَ غَيْرُ مُرَادٍ؛ لِأَنَّهُ جَاءَ مُقَيَّدًا فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى بِلَفْظِ: «وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنَ الصُّبْحِ فَقُلْ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ». أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالطَّحَاوِيُّ، وَغَيْرُهُمْ، وَهُوَ مُخَرَّجٌ فِي «صَحِيحِ أَبِي دَاوُدَ» ٥١٠–٥١٦، فَاتَّفَقَ حَدِيثُهُ مَعَ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ، وَلِهَذَا قَالَ الصَّنْعَانِيُّ فِي «سُبُلِ السَّلَامِ» ١ / ١٦٧–١٦٨ عَقِبَ لَفْظِ النَّسَائِيِّ:

«وَفِي هَذَا تَقْيِيدٌ لِمَا أَطْلَقَتْهُ الرِّوَايَاتُ. قَالَ ابْنُ رِسْلَانَ: وَصَحَّحَ هَذِهِ الرِّوَايَةَ ابْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: فَشَرْعِيَّةُ التَّثْوِيبِ إِنَّمَا هِيَ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ لِلْفَجْرِ؛ لِأَنَّهُ لِإِيقَاظِ النَّائِمِ، وَأَمَّا الْأَذَانُ الثَّانِيُ فَإِنَّهُ إِعْلَامٌ بِدُخُولِ الْوَقْتِ وَدُعَاءٌ إِلَى الصَّلَاةِ». اهـ مِن «تَخْرِيجِ الزَّرْكَشِيِّ لِأَحَادِيثِ الرَّافِعِيِّ».

وَمِثْلُ ذَلِكَ فِي «سُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى» عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ: أَنَّهُ كَانَ يُثَوِّبُ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ مِنَ الصُّبْحِ بِأَمْرِهِ ﷺ.  

Sedangkan hadits Abu al Mahdzûrah diatas masih mutlak bisa mencakup dua adzan yaitu adzan pertama dan adzan kedua.

Namun adzan yang kedua bukanlah adzan yang dimaksudkan dalam hadits tersebut. Terbukti dengan ada riwayat lain yang mempersempit pengertian hadits diatas yaitu :

وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

Dan jika kamu mengumandang adzan diawal Subuh, maka katakanlah “asshalâtu Khairum Minan Naum”.  

Diriwayatkan oleh Abu Dâud, Nasâ’i, at Thahâwi dan lainnya dan riwayat ini ada dalam kitab Shahîh Abu Dâud no. 510-516.

Sehingga hadits ini mendukung hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma. Oleh karena itu as-Shan’âni rahimahullah mengatakan dalam kitab Subulus Salâm (1/167-168), setelah menyampaikan lafadz Nasâ’i, “Dalam hadits ini ada taqyiid terhadap riwayat yang mutlak.

Ibnu Ruslân rahimahullah berkata, “Ibnu Khuzaimah rahimahullah menshahîhkan riwayat ini. Ia mengatakan, ‘at-Tatswîb hanya disyari’atkan pada adzan fajar yang pertama, untuk membangunkan orang yang tidur. Sedangkan adzan kedua, maka untuk pemberitahuan bahwa waktu shalat telah tiba dan mengajak shalat.”

Lalu Syeikh al-Albani berkata :

قُلْتُ: وَعَلَى هَذَا لَيْسَ «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ» مِنْ أَلْفَاظِ الْأَذَانِ الْمَشْرُوعِ لِلدُّعَاءِ إِلَى الصَّلَاةِ وَالْإِخْبَارِ بِدُخُولِ وَقْتِهَا، بَلْ هُوَ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي شُرِعَتْ لِإِيقَاظِ النَّائِمِ، فَهُوَ كَأَلْفَاظِ التَّسْبِيحِ الْأَخِيرِ الَّذِي اعْتَادَهُ النَّاسُ فِي هَذِهِ الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ عِوَضًا عَنِ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ.

قُلْتُ: وَإِنَّمَا أَطَلْتُ الْكَلَامَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ لِجَرَيَانِ الْعَمَلِ مِنْ أَكْثَرِ الْمُؤَذِّنِينَ فِي الْبِلَادِ الْإِسْلَامِيَّةِ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ فِيهَا أَوَّلًا، وَلِقِلَّةِ مَنْ صَرَّحَ بِهَا مِنَ الْمُؤَلِّفِينَ.

Saya katakan: Berdasarkan hal ini, ucapan “ash-sholaatu khoirum minan nauum” bukanlah bagian dari lafadz adzan yang disyariatkan untuk mengajak sholat dan memberitahukan masuknya waktu, melainkan termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang yang tidur. Maka kedudukannya seperti lafadz tasbih terakhir yang dibiasakan oleh manusia pada masa-masa belakangan ini sebagai pengganti adzan pertama.

Saya katakan: Saya memperpanjang pembahasan dalam masalah ini karena praktik kebanyakan muazin di negeri-negeri Islam berjalan menyelisihi sunnah dalam hal ini sejak awal, dan karena sedikitnya penulis yang menjelaskannya secara tegas”. [SELESAI]

****

BANTAHAN DARI SEBAGIAN PARA ULAMA ATAS FATWA AL-ALBANI

====

BANTAHAN PERTAMA : DARI SYEIKH IBNU 'UTSAIMIIN :

---

PERTAMA : BANTAHAN SYEIKH IBNU 'UTSAIMIIN DALAM SYARAH AL-MUMTI' :

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin rahimahullah. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan :

“Sekarang  ini, ada sebagian orang mengira bahwa yang dimaksud dengan adzan yang mengandung dua kalimat ini (tatswib) adalah adzan sebelum masuk waktu Shubuh.

Argument mereka dalam masalah ini yaitu lafadzh hadits yang bunyinya :

وَإِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّل لِصَلاَةِ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

Dan jika kamu mengumandangkan adzan pertama Shubuh, maka ucapkanlah “ASH-SHALATU KHAIRUN MINAN NAUM”.

Mereka menganggap bahwa at-tatswîb hanya dilakukan pada adzan yang dikumandangkan di akhir malam yang mereka sebut sebagai adzan pertama. Dan mereka menyatakan bahwa at-tatswîb yang dilakukan saat adzan pertanda waktu shalat Shubuh telah masuk sebagai sebuah kebid’ahan.

Untuk menjawab argumen ini, kami mengatakan, dalam hadits itu, Rasûlullâh menyatakan :

وَإِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّلَ لصَلاَةِ الصُّبْح

Dan jika kamu mengumandangkan adzan pertama untuk shalat Shubuh

Beliau dengan tegas menyatakan, “لصَلاَةِ الصُّبْح” (yang artinya untuh shalat Shubuh-red) dan sebagai sudah kita ketahui bersama bahwa adzan yang dikumandangkan diakhir malam itu bukanlah adzan untuk shalat subuh, namun fungsinya sebagaimana dijelaskan oleh Nabi :

لِيُوقِظَ النَائِمَ  وَ يَرْجِعَ القَائِم

Untuk membangunkan orang yang tidur dan mengembalikan orang yang bangun tahajjud (supaya mempersiapkan diri shalat Shubuh).

Sementara adzan shalat Shubuh tidak akan dikumandangkan kecuali setelah fajar Shubuh terbit. Kalau adzan Shubuh dikumandangkan sebelum terbit fajar, maka adzan itu bukan adzan Shubuh, berdasarkan sabda Rasûlullâh :

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

Baca Juga  Apa Yang Harus Diucapkan Ketika Mendengar Adzan Dan Iqamat.

Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan.

Dan sebagaimana sudah diketahui bahwa (kewajiban) shalat itu tidak datang kecuali setelah masuk waktunya. Kalau begitu, tinggal permasalahan pada lafadz hadits :

وَإِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّلَ

Jika anda mengumandangkan adzan pertama …

Maka kami jawab, “Ini tidak ada masalah, karena adzan dalam bahasa arab bermakna pemberitahuan, demikian juga iqamah adalah pemberitahuan…. Nabi bersabda :

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

(Antara dua adzan ada shalat sunnah)

Dan yang dimaksud dengan dua adzan ini adalah adzan dan iqamat. Dalam shahîh Bukhâri terdapat pernyataan :

«إِنَّ الَّذِي زَادَ التَّأْذِينَ الثَّالِثَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ كَثُرَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ»

“Seungguhnya orang yang menambahkan adzan pada hari Jum'at ketiga adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ketika penduduk Madinah menjadi banyak .”

Padahal sudah diketahui bahwa dalam shalat Jum’at itu hanya ada dua adzan dan satu iqamah. Imam Bukhari menamakannya adzan ketiga. Dengan demikian, kesulitan dalam memahami permasalahan ini telah hilang dan jelas at-tatswîb itu dilakukan pada adzan shalat Shubuh.

[Baca : Syarhul Mumti’ 2/ 56-57]

----

KEDUA : BANTAHAN SYEIKH IBNU UTSAIMIN DALAM SYARAH RIYADHUSH SHOLIHIN

Syeikh Ibnu Utsaimiin berkata :  

«زَعَمَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ أَنَّهَا تُقَالُ – أَيْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ – فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ قَبْلَ الْفَجْرِ، وَأَخْطَؤُوا خَطَأً عَظِيمًا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ بِلَالًا أَنْ يَقُولَهَا فِي أَذَانِ الْفَجْرِ، قَالَ: «إِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّلَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ فَقُلْ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ». وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْأَذَانَ لِلصَّلَاةِ لَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ دُخُولِ وَقْتِهَا، لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ»، وَسَمَّاهُ أَذَانًا أَوَّلَ بِاعْتِبَارِ الْإِقَامَةِ؛ لِأَنَّ الْإِقَامَةَ أَذَانٌ ثَانٍ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ».

صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ (٦٢٧، ٦٢٤)، وَمُسْلِمٌ (٨٣٨)، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

وَجَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: فَإِذَا أُذِّنَ لِلْأَذَانِ الْأَوَّلِ لِلْفَجْرِ، قَامَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُؤَذِّنَهُ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ.

وَهَذَا صَرِيحٌ فِي أَنَّ أَذَانَ الْفَجْرِ الْأَوَّلَ يَكُونُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ، وَأَمَّا الْأَذَانُ آخِرَ اللَّيْلِ فَلَيْسَ أَذَانًا لِلْفَجْرِ، بَلْ هُوَ أَذَانٌ لِلنَّائِمِينَ لِيَقُومُوا، وَلِلْقَائِمِينَ لِيَرْجِعُوا وَيَتَسَحَّرُوا إِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي رَمَضَانَ.

“Ada sebagian orang mengklaim bahwa [Ash-Sholatu Khoirum Minan Naum] diucapkan dalam adzan pertama sebelum fajar, maka mereka ini telah membuat kesalahan besar ; karena Nabi memerintahkan Bilal untuk mengumandangkannya pada adzan subuh .

Beliau berkata:

إِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّل  لِصَلاِةِ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

"Jika Anda mengumandangkan adzan pertama di sholat subuh, maka ucapkanlah ASH-SHALATU KHAIRUN MINAN NAUM

Dan yang sudah maklum adalah bahwa adzan tidak dikumandangkan kecuali jika waktunya telah tiba ; karena Nabi bersabda:

«إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ»

“Jika waktu shalat tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan. .”

Dan dinamakan adzan pertama di sini , disesuaikan dengan adzan iqomah ; Karena Iqamah adalah adzan yang kedua, sebagaimana Nabi bersabda:

«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ»

"Di antara setiap dua adzan ada doa."

Shahih al-Bukhari (627.624) dan Muslim (838) dari hadits Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu 'anhu.

Dan itu ada dalam Sahih Muslim, semoga Allah merahmatinya, dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha, yang mengatakan:

فَإِذَا أَذَّنَ لِلْأَذَانِ الأَوَّلِ لِلْفَجْرِ، قَامَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُؤْذِنَهُ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ.

Ketika adzan pertama dikumandangkan, maka Nabi - – bangun berdiri hingga muadzin datang kepadanya lalu dia mengumandangkan adzan [iqomah] baginya untuk mendirikan sholat subuh.

Ini jelas bahwa adzan Fajar pertama datang setelah masuk waktu Shubuh , sementara adzan di penghujung malam bukanlah adzan Fajar . Melainkan adzan untuk membangunkan orang-orang yang tidur, dan untuk orang-orang yang sedang shalat Tahajjud agar pulang ke rumah untuk makan sahur jika itu di bulan Ramadhan.

[ Baca : Syarah Riydhusholihin karya Syeikh Ibnu Utsaimin 3/140]

Lebih rinci lagi bantahan Syeikh Ibnu Utsaimin bisa di lihat di : Majmu' Fatawa wa Rosa'il Ibnu al-'Utsaimiin jilid 12 , Bab : al-Adzaan wal Iqaamah .

 ----

BANTAHAN KEDUA : DARI SYEIKH BIN BAAZ TERHADAP PENDAPAT KE DUA :

Syeikh bin Baaz berkata :

السُّنَّةُ أَنْ تُقَالَ «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ» فِي الأَذَانِ الأَخِيرِ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ؛ كَمَا جَاءَ ذَلِكَ فِي حَدِيثِ أَبِي مَحْذُورَةَ، وَجَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا الدَّلَالَةُ عَلَى أَنَّ الْمُؤَذِّنَ كَانَ يَقُولُهَا فِي الأَذَانِ الأَخِيرِ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، قَالَتْ: ثُمَّ يَقُومُ النَّبِيُّ ﷺ فَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ الأَذَانِ الأَوَّلِ الَّذِي هُوَ الأَذَانُ الأَخِيرُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَا يُسَمَّى بِالأَذَانِ الأَوَّلِ، فَهُوَ أَذَانٌ أَوَّلُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِقَامَةِ؛ لِأَنَّهَا يُقَالُ لَهَا: أَذَانٌ، فَالسُّنَّةُ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا فِي هَذَا الأَذَانِ الَّذِي هُوَ الأَخِيرُ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَهُوَ الأَوَّلُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِقَامَةِ.

وَأَمَّا الأَوَّلُ الَّذِي فِي عُرْفِ النَّاسِ يُسَمُّونَهُ: الأَوَّلَ، فَهَذَا لِلتَّنْبِيهِ، قَالَ فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ: لِيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمُكُمْ، فَهُوَ أَذَانٌ لِلتَّنْبِيهِ، حَتَّى يَسْتَيْقِظَ النَّائِمُ وَحَتَّى يَرْجِعَ الْقَائِمُ، يَعْنِي: لَا يُطِيلَ الصَّلَاةَ؛ لِأَنَّ الْفَجْرَ قَدْ قَرُبَ.

وَقَدْ صَرَّحَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ بِتَسْمِيَةِ الأَذَانِ الأَخِيرِ أَوَّلًا مُرَاعَاةً لِلْإِقَامَةِ؛ لِأَنَّهَا أَذَانٌ ثَانٍ، وَهُوَ ثَانٍ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الأَوَّلِ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّنْبِيهُ.

Yang Sunnah untuk mengucapkan “Ash-Shlatu Khirum Minan Naum” adalah dalam adzan akhir setelah fajar terbit ; Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Mahdzurah.

Dan itu datang ada hadits Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menunjukkan bahwa muadzin biasa mengucapkannya pada adzan terakhir setelah fajar. Dia berkata :

ثُمَّ يَقُومُ النَّبِيُّ ﷺ فَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ الأَذَانِ الأَوَّلِ

"Kemudian Nabi bangun dan melaksanakan dua rakaat kemudian keluar untuk shalat setelah adzan pertama ".

Yamg di Maksud dengan Adzan pertama ini adalah adzan terakhir jika di kaitkan dengan adzan pertama yang dikumandangkan sebelum waktu shubuh .

Dan dinamakan adzan pertama jika dihubungkan dengan adzan Iqomah sholat ; Karena iqomah sholat itu dikatakan disebut pula : Adzan. Maka sunnahnya " Ash-Sholatu Khorum Minan Naum " membacanya dalam adzan ini, yang merupakan yang terakhir setelah fajar terbit dan yang pertama dalam kaitannya dengan iqaamah.

Adapun yang " pertama " yang sudah dimaklumi orang, mereka menyebutnya: yang pertama, ini untuk peringatan bahwa waktu sholat sudah dekat .

Nabi mengatakan tentang hal itu :

لِيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ

"Agar orang yang shalat tahajjud dari kalian pulang kerumah dan membangunkan yang sedang tidur”

Maka itu adalah adzan untuk memberikan perhatian. Sehingga yang sedang tidur menjadi bangun dan sehingga yang sedang shalat malam menjadi pulang. Yakni: jangan memperpanjang shalatnya ; karena Fajr telah dekat ”

Dalam hadits Aisyah dengan jelas dinyatakan bahwa penamaan adzan terakhir dengan adzan pertama , itu karena dipertimbangkan dengan Iqomat Shalat ; Karena iqomat itu adalah adzan yang kedua. Dan iqomah dinamakan yang kedua dalam kaitannya dengan yang pertama dalam hal pemberian peringatan waktu shalat ".

[ Sumber : Nuur 'Ala ad-Darb " مَتَى تُقَالُ: «الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ»؟ وَمَا جَوَابُهَا؟"].

---- 

TARJIIH FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH SAUDI ARABIA :

Komite Tetap Untuk Penelitian Islam dan Fatwa negara Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Dâ'imah Lil Buhûts Ilmiyah Wal Iftâ) mentarjih DI SUNNAHKAN-nya membaca ash-Sholaatu Khoirum Minan Naum pada Adzan Shubuh .

[Lihat:  Fatawa a-Lajnah ad-Dâimah Lil Buhûutsil 'Ilmiyyah Wal Iftâ 1/59-61 soal no. 1396 dan 2678]

 

 

Posting Komentar

0 Komentar