PARA ULAMA YANG MENGATAKAN ADZAN TIDAK HARUS DENGAN TAJWID . Dan
Lalu Yang Mana?
"ALLOOHU AKBARULLOOHU AKBAR" atau
"ALLOOHU AKBAR - ALLOOHU AKBAR".
----
Di Susun oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
===
DAFTAR ISI :
- KUMPULAN FATWA: ADZAN TIDAK WAJIB DENGAN TAJWID
- YANG MANA? ALLAAHU AKBARULLAAHU AKBAR atau ALLAAHU AKBAR - ALLAAHU AKBAR?
- PARA ULAMA YANG MENGATAKAN: BACA AL-QUR'AN TIDAK WAJIB DENGAN TAJWID, TAPI SUNNAH
*****
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
===***===
KUMPULAN FATWA ADZAN TIDAK WAJIB DENGAN TAJWID
*******
هَلْ أَدَاءُ الْأَذَانِ
خَاضِعٌ لِأَحْكَامِ التَجْوِيدِ؟
Apakah mengumandangkan adzan harus sesuai dengan
hukum Tajwid?
====***===
PERTAMA:
FATWA
SYEIKH AL-ALBAANI -rahimahullah ta'ala-:
Dalam sebuah kajian, telah terjadi tanya jawab
antara Syeikh al-Albaani dengan salah seorang mustami'nya tentang hukum berikut
ini:
مَا حُكْمُ تَجْوِيدِ
الْأَذَانِ؟
Bagaimana hukum mengumandangkan adzan dengan
Tajwid?
السَّائِلُ: هَلْ تَطْبِقُ فِي
الْأَذَانِ أَحْكَامُ التَّجْوِيدِ؟ أَمْ يَجُوزُ فِيهِ غَيْرُ ذَلِكَ؟
الشَّيْخُ: هَذَا أَخِي خَطَأٌ
شَائِعٌ، الْأَذَانُ هُوَ الْأَذَانُ هُوَ الْأَذَانُ.
السَّائِلُ: ؟؟؟؟
الشَّيْخُ: لَا، فَقَطْ هُوَ
خَطَأٌ شَائِعٌ، هَذَا خَطَأٌ شَائِعٌ حَتَّى الْمُذِيعِينَ، أَمَّا اللَّحْنُ
وَالنَّصْبُ وَالرَّفْعُ وَالْخَفْضُ حَدَثٌ وَلَا حَرَج.
السَّائِلُ: هَلْ يَجُوزُ فِي
الْأَذَانِ أَحْكَامُ التَّجْوِيدِ أَمْ يَجُوزُ فِيهِ غَيْرُ ذَلِكَ؟ هَلْ
يُرْتِلُ الْمُؤَذِّنُ حِينَمَا يَرْفَعُ الْأَذَانُ؟
الشَّيْخُ: لَا أَعْلَمُ أَنَّ
الْأَذَانَ كَانَ يُجَوِّدُ فِي عَهْدِ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَّلاَمِ،
وَلِذَلِكَ فَهُوَ يُؤَذِّنُ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَبَسْ.
PENANYA:
Apakah aturan tajwid diterapkan dalam adzan? Atau
apakah diperbolehkan tanpa tajwid?
SYEIKH AL-ALBAANI:
Saudaraku, [penerapan tajwid dalam adzan] ini
adalah kesalahan yang merajalela. Adzan itu, ia adalah adzan
PENANYA:
???
SYEIKH AL-ALBAANI:
Tidak, itu adalah murni kesalahan yang telah
menyebar. [Penerapan tajwid dalam adzan] Ini adalah kesalahan yang telah
merajalela, bahkan termasuk pada para penyiar radio.
Adapun membacanya dengan LAHN [membaguskan
lantunannya hingga merubah makna], membacanya dengan Nashob [fathah], dengan
ROFA' [dhommah] dan KHOFADH [kasrah] adalah perkara baru yang diada-adakan
[muhdats] namun itu tidak lah mengapa.
PENANYA:
Apakah diperbolehkan penerapan hukum-hukum tajwid
dalam adzan, atau diperbolehkan tanpa tajwid? Apakah muadzin harus dengan
TARTIL ketika mengumandangkan adzan?
SYEIKH AL-ALBAANI:
Saya tidak tahu bahwa adzan itu dikumandangkan
dengan TAJWID pada zaman Rasulullah saw, oleh karena itu maka yang benar,
mengumandangkan adzan itu cukup dengan bahasa Arab saja [tidak harus dengan
tajwid].
Sumber:
بوَابَةُ تُرَاثِ الإِمَامِ
الأَلْبَانِيِّ / صَوْتِيَّاتٍ وَتَفْرِيغَاتِ الإِمَامِ الأَلْبَانِيِّ /
سِلْسِلَةِ الْهُدَى وَالنُّوْرِ / مَا حُكْمُ تَجْوِيْدِ الْأَذَانِ / سِلْسِلَةُ
الْهُدَى وَالنُّوْرِ – شَرِيْطُ ١٥
====
KEDUA:
FATWA
SYEIKH SHAQR BIN HASAN
PENANYA:
هَلْ الْأَذَانُ خَاضِعٌ
لِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ بِمَعْنَى: أَنَّ الْمُؤَذِّنَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ
يَتَقِيَدَ بِالْمَدِّ الطَّبِيعِيِّ فِي لَفْظِ الْجَلَالَةِ (اللَّه) عِنْدَمَا
يَقُولُ "اللَّهُ أَكْبَر" وَلَا يَزِيدُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا
وَكَذَلِكَ فِي الْعَارِضِ لِلسُّكُونِ فِي "حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ"
وَ"حَيَّ عَلَى الْفَلاحِ" لَا يَزِيدُ أَكْثَرَ مِنْ سِتِّ حَرَكَات!
نَرْجُوُ التَّوْضِيح...
Apakah adzan harus sesuai hukum Tajwid?
Yakni: apakah seorang Muadzin wajib mematuhi aturan
panjang madd thobi'i dalam lafadz al-Jallaalah (Allaah) ketika
dia mengucapkan "Allaahu Akbar [[اللهُ
أَكْبَر]], tidak
boleh lebih dari itu.
Dan begitu pula dalam Mad 'Aridh as-Sukuun dalam
ucapan [[حَىَّ عَلَى الصَّلَاة]] dan [[حَىَّ عَلَى الفَلاحِ]] , apakah tidak boleh melebihi 6 harakat?
Kami mohon penjelasan!
SYEIKH SHAQR BIN HASAN MENJAWAB:
أَخِي الْفَاضِلْ.
الْأَذَانُ لَا يَخْضُعُ
لِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ، وَلَمْ يَرِدْ كَمَا فِي كُتُبِ الْفِقْهِ فِي بَابِ
الْأَذَانِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ.
لَكِنَّ عَلَى الْمُؤَذِّنِ
أَنْ يُحَذِّرَ مِنَ اللَّحْنِ فِي أَلْفَاظِ الْأَذَانِ، فَبَعْضُهَا لَحْنٌ
مَكْرُوهٌ وَبَعْضُهَا لَحْنٌ مُحَرَّمٌ يُوقِعُ مَنْ تَعَمَّدَهُ عَارِفًا
بِمَعْنَاهُ فِي الْكُفْرِ كَمَدِّ لِفَظِّ "أَكْبَر" بِحَيْثْ تَصِيرُ
"أَكْبَارًا".
وَقَدْ بَيَّنَ الْعُلَمَاءُ
ذَلِكَ مِنْهُمْ الْإِمَامُ النَّوَوِيُّ كَمَا فِي كِتَابِ الْأَذْكَارِ،
وَغَيْرِه.
وَفِي مَتْنِ الزَّادِ فِي ذِكْرِ
مَا يَجِبُ عَلَى الْمُؤَذِّنِ "أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَمِينًا عَالِمًا
بِالْوَقْتِ".
Saudaraku yang mulia.
Adzan tidak harus mengikuti hukum Tajwid,
sebagaimana dalam kitab-kitab fiqih pada bab tentang adzan, di sana tidak ada
sama sekali pembahasan yang menyinggung hal demikian.
Namun muadzin harus waspada terhadap al-Lahn
[lantunan lagu yang merubah makna] lafadz-lafadz adzan. Sebagian di
antara nya ada yang makruh dan sebagian di antara lainnya ada yang haram,
bahkan bisa menyebabkan nya menjadi kufur jika melakukannya dengan SENGAJA,
contohnya seperti memanjangkan lafadz [[أَكْبَر = Akbar]] menjadi [[أَكْبَار = Akbaaar]].
Para ulama telah menjelaskan hal ini, termasuk Imam
Al-Nawawi, seperti dalam Kitab al-Adzkaar, dan lain-lain.
Dan dalam "Matan Az-Zaad", disebutkan apa
yang harus dilakukan oleh muadzin, yaitu: “Yang nyaring suaranya, dapat
dipercaya, mengetahui waktu.”
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/432
====***=====
KETIGA:
FATWA
SYEIKH ABU ABDILLAH AL-FAASHIL
Beliau berkata:
كُلُّ مَا يَخْضَعُ لِأَحْكَامِ
التَّجْوِيدِ الْاِسْتِعَاذَةُ وَالْبِسْمِلَةِ وَالْقُرْآنِ وَتَكْبِيرِ
الْخَتْمِ، فَهُذَا هُوَ مَوْضُوعُ التَّجْوِيدِ وَالْقِرَاءَاتِ. وَأَمَّا
عَمُومُ الذِّكْرِ وَالْحَدِيثِ وَالدُّعَاءِ وَالْأَذَانِ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَلَا
عَلَاقَةَ لَهَا بِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ مِنْ حَيْثِ الْجُمْلَةِ.
Segala bacaan yang tunduk pada hukum Tajwid adalah
bacaan al-Isti'aadzah, al-Basmalah, Al-Qur'an, dan takbir al-Khotm. Maka ini
adalah objek yang berkenaan dengan Tajwid dan Qiro'aat.
Adapun keumuman bacaan zikir, hadits, do'a, ADZAN,
dan lain sebagainya, maka itu tidak ada hubungannya dengan hukum-hukum TAJWID
dari sisi secara global.
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/432
Dan Abdullah al-Faashil berkata:
لَا يَخْتَلِفُ النَّاسُ فِي
أَنَّ عَامَّةَ أَحْكَامِ الْتَّجْوِيدِ مِنْ كَلَامِ الْعَرَبِ إِلَّا مَنْ
أَخْطَأَ...
وَلَكِنَّ فِي الْتَّجْوِيدِ
خَصَائِصَ لَيْسَتْ فِي غَيْرِهِ، كَالتَّزَامِ مَدِّ اللَّازِمِ سِتِّ حَرَكَاتٍ،
وَكَالتَّزَامِ السَّكْتِ فِي بَعْضِ الْحُرُوفِ، وَكَالتَّزَامِ تَسْوِيَةِ
الْمُدُودِ الْجَائِزَةِ عَلَى حَدٍّ مُعَيَّن، وَلَيْسَ مِنْ عَادَةِ الْعَرَبِ
أَنْ يَلْتَزِمُوا ذَلِكَ.
لِذَلِكَ قُلْتُ: وَالْأَصْلُ
فِيمَا عَدَا الْقُرْآنِ أَنْ يَقْرَأَ كَمَا تَقْرَأُهُ الْعَرَبُ عَلَى
عَادَتِهَا
فَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنْ
أَهْلِ اللُّغَةِ بِوُجُوبِ مُدِّ اللَّازِمِ سِتِّ حَرَكَاتٍ، وَلَمْ يَقُلْ
أَحَدٌ مِنْهُمْ بِوُجُوبِ تَسْوِيَةِ الْمَدُودِ، فَإِذَا قَالَ رَجُلٌ:
((دَابَّةٌ)) وَلَمْ يُمَدِّ سِتِّ حَرَكَاتٍ فَلَا تَثْرِيبَ عَلَيْهِ، وَلَكِنْ
إِذَا فَعَلَهَا فِي الْقُرْآنِ كَانَ عَلَيْهِ تَثْرِيبٌ.
وَإِذَا قَرَأْتَ ((الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ)) بِرَوْمِ الْفَتْحَةِ الْأَخِيرَةِ كَانَ فِعْلُكِ صَحِيحًا
فِي اللُّغَةِ لَكِنَّهُ عِنْدَ الْمُجَوِّدِيْنَ لَحْنًا إِذْ لَا رَوْمَ
عِنْدَهُمْ إِلَّا فِي الضَّمَّةِ وَالْكَسْرَةِ.
وَأَمَّا إِذَا قَرَأْتَ أَيَّ
كَلَامٍ عَرَبِيٍّ آخَرَ فَيَجُوزُ لَكِ كُلُّ ذَلِكَ فَيَجُوزُ لَكِ فِي قَوْلِهِ
- ﷺ: ((إنما الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)) أَنْ تَتْرُكِ الْغُنَّةَ مِقْدَارَ
حَرَكَتَيْنِ، وَإِذَا قَرَأْتَ:
بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي
الْيَوْمَ مَتْبُوْلُ *** مُتَيِّمُ إِثْرَهَا لَمْ يُفِدْ مَكْبُولُ
فَيَجُوزُ أَنْ تُشْبِعَ
ضَمَّةَ اللَّامِ وَلَا تَثْرِيبَ عَلَيْكِ
Orang-orang tidak berbeda pendapat bahwa pada garis
besarnya hukum-hukum Tajwid itu berasal dari perkataan orang Arab, kecuali bagi
mereka yang melakukan kesalahan...
Namun, dalam Tajwid ada keistimewaan-keistimewaan yang tidak ditemukan pada
selain Tajwid, seperti:
Keharusan memperhatikan panjang MAD LAAZIM enam
harakat.
Serta keharusan memperhatikan SAKTAH [diam] pada
sebagian huruf-huruf.
Dan seperti keharusan memperhatikan penyama rataan
panjang MAD JAAIZ sampai batas tertentu.
Dan itu semua bukan kebiasaan orang-orang Arab
untuk mematuhinya, oleh karena itu saya berkata:
وَالْأَصْلُ فِيمَا عَدَا
الْقُرْآنِ أَنْ يَقْرَأَ كَمَا تَقْرَأُهُ الْعَرَبُ عَلَى عَادَتِهَا.
Aturan dasarnya [Hukum Asalnya] pada selain
Al-Qur'an, adalah bahwa itu dibaca sebagaimana orang-orang Arab membacanya
seperti yang telah menjadi kebiasaannya.
Tak ada seorang pun dari ahli bahasa mengatakan:
"wajib memanjangkan Mad Laazim dengan enam harakat ". Dan tak satu
pun dari mereka mengatakan: " Wajib menyama ratakan panjangnya
bacaan-bacaan Madd ".
Jika seseorang mengatakan: دَابَّة (artinya:
binatang) dan dia tidak memanjangkan bacaannya enam harakat, maka dia tidak
harus ditegur, akan tetapi jika dia melakukannya dalam Al-Qur'an, maka dia
harus ditegur.
Dan jika anda membaca [[الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ]] dengan
suara RAUM pada Fathah terakhir; maka apa yang anda lakukan adalah benar
dalam Bahasa Arab, akan tetapi menurut para pakar Tajwid bahwa itu salah [Lahn]
; karena tidak dengan cara RAUM menurut mereka kecuali pada Dhommah dan
Kasrah.
Tetapi jika Anda membaca apa saja dari bahasa Arab
lainnya, maka diperbolehkan bagi Anda untuk melakukan semua itu. Dengan demikan
diperbolehkan bagi Anda untuk membaca Sabda Nabi ﷺ [[إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ]] dengan
bacaan tanpa Ghunnah [dengung] seukuran panjang dua harakat.
Dan jika anda membaca syair:
بَانَتْ سعادُ فَقَلْبِي
الْيَوْمَ مَتْبًولُ *** مُتيم إثْرَها لَمْ يُفِدْ مَكْبُولُ
(Artinya : Su‘ad telah pergi, maka hatiku hari
ini terluka dan sakit *** tergila-gila karena cintanya, namun tidak mendapatkan
manfaat, terbelenggu tanpa daya).
Maka Dibolehkan bagi anda untuk membaca dhommah
dengan bacaan شَبْع dan anda tidak harus ditegur.
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/433
Dan Abdullah al-Faashil juga
berkata:
عُمْدَةُ قَوَاعِدِ الْتَّجْوِيدِ
وَالْقِرَاءَاتِ هِيَ الرَّوَايَةُ، فَقَدْ رَوَى لَنَا أَئِمَّةُ هَذَا الشَّأْنِ
الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَقَرَأْنَا بِهَا.
وَلَكِنَّ لَمْ يَرْوِ لَنَا
الْمُحَدِّثُونَ أَحَادِيثَ النَّبِيِّ - ﷺ - بِتِلْكَ الصِّفَةِ الَّتِي رَوَاهَا
الْقُرَّاءُ.
وَالْأَصْلُ فِيمَا عَدَا
الْقُرْآنِ أَنْ يَقْرَأَ كَمَا تَقْرَأُهُ الْعَرَبُ عَلَى عَادَتِهَا مِنْ
غَيْرِ اشْتِرَاطِ التِزَامِ بَعْضِ الْمُدُودِ وَالسَّكْتَاتِ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
فَمَنْ قَالَ بِوُجُوبٍ أَوْ اسْتِحَابِ
تَجْوِيدِ الْأَحَادِيثِ وَنَحْوِهَا طُوْلبٌ بِالدَّلِيلِ فَإِنَّ
الْمُحَدِّثِينَ لَمْ يُرَدْ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْرَءُونَ
الْأَحَادِيثِ مُجَوَّدَةً فَضْلًا عَنْ اسْتِحْبَابِهَا أَوْ الْقَوْلِ
بِوُجُوبِهَا.
وَأَمَّا جَوَازُ قِرَاءَةِ الْأَحَادِيثِ
وَنَحْوِهَا بِقَوَاعِدِ الْتَّجْوِيدِ فَلَا إِشْكَالَ فِيهِ، وَإِنَّمَا
الْإِشْكَالُ عِنْدَ مَنْ يَقُولُ بِاِسْتِحْبَابِهِ أَوْ وُجُوبِهِ.
مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ لَمْ
يُرَدْ خِلَافٌ عَنِ الْمُتَقَدِّمِينَ فِي ذَلِكَ.
Pilar utama kaidah-kaidah Tajwid dan Qiro'aat
adalah riwayat bersanad atau talaqqi. Maka para Imam telah meriwayatkan kepada
kami mengenai bacaan Al-Qur'an yang Mulia dalam sifat-sifat bacaan tertentu,
lalu kami pun membacanya sesuai dengannya.
Prinsip dasar dalam membaca selain Al-Qur'an,
adalah bahwa itu dibaca sebagaimana orang Arab membacanya seperti biasanya, tanpa mensyaratkan sebuah keharusan untuk
senantiasa membaca dengan cara memanjangkan bacaan-bacaan mad, dengan cara diam
tidak bersuara sambil tanpa bernafas pada bacaan-bacaan SAKTAH dan lain
sebagainnya yang semisalnya.
Barangsiapa mengatakan bahwa membaca hadits-hadits
dan sejenisnya dengan Tajwid itu hukumnya wajib atau sunnah ; maka dia harus
diminta untuk mendatangkan dalil. Karena sesungguhnya tidak ada keterangan dari
para ulama ahli hadits terdahulu bahwa mereka membaca hadits-hadits dengan
TAJWID, apalagi tentang kemustahabannya atau mengatakannya wajib.
Dan adapun hanya sebatas boleh hukumnya membaca
hadits dan sejenisnya dengan kaidah TAJWID ; maka tidak ada masalah dengan itu.
Adapun yang dipermasalahkan di sini adalah ketika ada orang yang mengatakannya
sunnah atau wajib.
Padahal kita semua tahu bahwa masalah ini tidak ada
keterangan dari para ulama terdahulu yang memperselisihkannya.
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/434]
====***=====
KEEMPAT:
FATWA
SYEIKH ABU AL-'IZZ AN-NAJDI:
Beliau berkata:
تَجْوِيدُ الْأَذَانِ مِنَ
التَّكَلُّفِ أَخِي الْحَبِيبِ؛ فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ
فِي الْأَذَانِ وَحَثَّ عَلَيْهِ وَلَا يُمْكِنُ الرَّفْعُ إِلَّا بِزِيَادَةِ
الْمَدِّ كَمَا قَالَ الْمُحَقِّقُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ.
فَلَوْ التَزَمَ "المُتَعمِّق"
بِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ لَانْتَهَى الْأَذَانُ بِسُرْعَةٍ. وَلَعَلَّكَ تَجْرِبُ
بِنَفْسِكَ لِتَرَى النَّتِيجَةَ! لَكِنَّ يَكُونُ فِي الصَّحْرَاءِ أَوِ
الْبَيْتِ خَالِيًا حَتَّى لَا يُسْمِعُكَ أَحَدٌ.
Men-TAJWID-kan adzan itu perbuatan yang berlebihan
wahai saudaraku tercinta!.
Nabi ﷺ memerintahkan
untuk meninggikan suara dalam adzan dan beliau sangat menganjurkannya. Tidak
mungkin bisa meninggikan suara kecuali dengan menambahkan panjangnya bacaan
Mad, sebagaimana yang dikatakan oleh para muhaqqiq dari kalangan orang-orang
yang berilmu.
Jika ada orang yang sangat mendalam dalam hal ini
dan bersikukuh harus mengikuti kaidah Tajwid ketika adzan, maka pengumandangan
adzan akan cepat selesai.
Dan anda bisa mencobanya sendiri untuk melihat
hasilnya! Kecuali jika itu di gurun atau rumah kosong sehingga tidak ada yang
bisa mendengar anda!
Dan Syeikh abu al-'Izz an-Najdi berkata:
أَقُولُ: الأَحَادِيثُ فِي ذَلِكَ
كَثِيرَةٌ، أَقْوَاهَا مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، عَنْ مَالِكٍ،
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ
الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ
أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَهُ:
«إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ،
فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ وَبَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ
بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ
وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَأَحْكَمُ.
Saya katakan hadits tentang ini banyak, yang
terkuat di antaranya diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Sahih-nya:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah ['Abdullah
bin Yusuf] berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdurrahman bin
Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya
bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya:
أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ
الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا
كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ
صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ
وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو
سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
"Aku lihat kamu suka kambing dan lembah
(pengembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah,
lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak
ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali
akan menjadi saksi pada hari kiamat."
Abu Sa'id berkata, "Aku mendengarnya dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
[HR. Bukhori no. 574]
Wallahu A'lam wa Ahkam.
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/434]
====***=====
KELIMA:
SYEIKH
IBNU 'UTSAIMIN – rahimahullah ta'ala -:
Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:
هَلْ يَجُوزُ اسْتِخْدَامُ التَّجْوِيدِ
فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ، كَقِرَاءَةِ أَحَادِيثِ النَّبِيِّ ﷺ وَغَيْرِهَا؟
Apakah boleh menggunakan tajwid dalam bacaan atau
perkataan selain Al-Qur’an, seperti membaca hadits Nabi ﷺ dan lain
sebagainya?
Beliau menjawab:
ذَكَرَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ
فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى:
﴿وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ
بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ/٧٨]
ذَكَرَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ:
أَنَّ مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَتْلُوَ الْإِنْسَانُ غَيْرَ الْقُرْآنِ عَلَى صِفَةِ تِلَاوَةِ
الْقُرْآنِ، مِثْلَ أَنْ يَقْرَأَ الْأَحَادِيثَ، أَحَادِيثَ النَّبِيِّ ﷺ، كَقِرَاءَةِ
الْقُرْآنِ، أَوْ يَقْرَأَ كَلَامَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ.
وَعَلَى هَذَا: فَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ
أَنْ يَتَرَنَّمَ بِكَلَامٍ غَيْرِ الْقُرْآنِ عَلَى صِفَةِ مَا يُقْرَأُ بِهِ الْقُرْآنُ،
لَا سِيَّمَا عِنْدَ الْعَامَّةِ الَّذِينَ لَا يُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْقُرْآنِ وَغَيْرِهِ
إِلَّا بِالنَّغَمَاتِ وَالتِّلَاوَةِ.
Sebagian para ulama al-Muta'akhkhiriin menafsiri
firman Allah Ta'ala:
﴿ وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ
أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ﴾
“Dan sesungguhnya di antara mereka ada segolongan
yang memutarbalikkan Kitab dengan lidahnya (ketika mereka membacanya), supaya
kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab". [QS. Aal 'Imran
3:78].
Sebagian para ulama al-Muta'akhkhiriin mengatakan
bahwa ini termasuk membaca bacaan selain Al-Qur'an dengan cara yang sama
seperti membaca Al-Qur'an.
Contohnya: seperti membaca hadits Nabi ﷺ dengan
cara yang sama seperti membaca Al-Qur'an, atau membaca perkataan para ulama
dengan cara yang sama seperti membaca Al-Qur'an.
Berdasarkan hal tersebut, maka tidak boleh
melagukan bacaan [perkataan] selain Al-Qur'an dengan cara membacakan Al-Qur'an,
terutama di depan orang awam yang tidak bisa membedakan antara Al-Qur'an dan
perkataan lain kecuali dengan intonasi dan bacaan..
[Sumber: Fataawa Nuur 'ala ad-Darb (Kaset tape no. 212)]
===
JANGANKAN ADZAN, NABI ﷺ KADANG MEMBACA AL-QURAN TANPA DENGAN TAJWID
Sebagaimana yang di katakan Syeikh Ibnu
al-Utsaimiin.
Syeikh Haitsam Hamdan berkata:
ذَكَرَ الشَّيْخُ ابْنُ عُثَيْمِينَ
رَحِمَهُ اللَّهُ فِي أَشْرِطَةِ الشَّرْحِ الْمُمْتِعِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ
يَلْتَزِمُ قَوَاعِدَ التَّجْوِيدِ الْمَعْرُوفَةَ الْيَوْمَ، وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ
بِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَمُدُّ الْبَسْمَلَةَ وَيُرَجِّعُ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Syekh Ibnu Utsaimin - semoga Allah merahmatinya -
menyebutkan dalam kaset "Sharh Al-Mumti" bahwa Nabi ﷺ tidak beriltizam dengan kaidah-kaidah Tajwid yang
dikenal saat ini.
Dia berdalil dengan hadits Nabi ﷺ bahwa beliau pernah memperpanjang Mad Basmalah dan
kembali melakukan dengan yang sama.
Wallahu a'lam.
SUMBER: مُلْتَقَى
أَهْلِ الْحَدِيثِ - 3 [الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ] 12/434]
====***=====
KEENAM:
FATWA ISLAM WEB: Nomor Fatwa: 34034
PERTANYAAN:
هَلْ تُطَبَّقُ أَحْكَامُ التَّجْوِيدِ
عَلَى الْأَذَانِ كَمَا تُطَبَّقُ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ؟
Apakah aturan tajwid berlaku untuk adzan
sebagaimana berlaku untuk bacaan Al-Qur'an?
JAWABAN:
أَمَّا أَحْكَامُ التَّجْوِيدِ الَّتِي
لَا تُوجِبُهَا اللُّغَةُ الْعَرَبِيَّةُ، كَالْغُنَّةِ وَالْإِدْغَامِ، وَالَّتِي
يُسَمَّى الْخَطَأُ فِيهَا عِنْدَ الْقُرَّاءِ بِاللَّحْنِ الْخَفِيِّ، فَيُسْتَحَبُّ
تَطْبِيقُهَا فِي الْأَذَانِ مِنْ غَيْرِ إِيجَابٍ؛ إِذْ فِي مُرَاعَاتِهَا تَحْسِينُ
الصَّوْتِ، وَقَدِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْسِينِ الصَّوْتِ فِي
الْأَذَانِ؛ لِأَنَّهُ يَجْذِبُ النَّاسَ إِلَيْهِ وَيُحَبِّبُهُ إِلَيْهِمْ. وَاللَّهُ
أَعْلَمُ.
Adapun hukum-hukum Tajwid yang tidak disyaratkan
dalam bahasa Arab, seperti Gunnah dan Idghom, dan juga menghindari kesalahan
dalam bacaan yang menurut para Qoori disebut al-Lahn al-Khofii [kesalahan yang
kurang jelas], maka di mustahab-kan untuk diterapkan dalam adzan, namun tidak
diwajibkan ; karena dengan memperhatikan hal-hal tsb bisa membaguskan suara
adzan. Dan para ahli Fiqih telah sepakat akan mustahabb-nya membaguskan suara
dalam adzan. Karena dengan demikian bisa menarik orang-orang kepadanya dan
membuat mereka menyukai seruan adzan tsb. Wallahu A'lam.
===***===
Yang Mana?
"ALLAAHU
AKBARULLAAHU AKBAR"
atau
"ALLAAHU AKBAR - ALLAAHU AKBAR"
----***-----
PERTAMA:
FATWA
ABDUL KARIM BIN ABDULLAH AL-KHUDHAIR
الْمُفَاضَلَةُ بَيْنَ الْوَقْفِ
وَالْوَصْلِ فِي جُمَلِ الْأَذَانِ
Perbandingan mana yang lebih utama antara waqf
[berhenti] dan washl [nyambung] dalam kalimat-kalimat adzan
PERTANYAAN:
مَا هِيَ الصِّفَةُ الصَّحِيحَةُ
فِي الْأَذَانِ، هَلْ هِيَ الْوَقْفُ أَمِ الْوَصْلُ بَيْنَ الْجُمَلِ؟
Cara yang benar dalam adzan bagaimana, apakah itu
waqf [berhenti untuk bernafas] atau washol [nyambung tanpa jeda] antar
kalimat-kalimat adzan?
JAWABAN:
مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ يَرَى أَنَّ
الْوَقْفَ عَلَى كُلِّ جُمْلَةٍ أَفْضَلُ؛ لِكَوْنِهِ أَبْلَغَ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَرَى
الْوَصْلَ فِي التَّكْبِيرِ أَوْلَى وَأَفْضَلَ؛ لِقَوْلِهِ ﷺ فِي إِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ:
«إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ»، فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا وَوَصَلَ بَيْنَ الْجُمْلَتَيْنِ.
«ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ»، وَهَذَا فِيهِ وَقْفٌ
وَلَيْسَ فِيهِ وَصْلٌ.
«ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ…» إِلَى آخِرِهِ. [مُسْلِم: ٣٨٥].
فَيُقْرَنُ بَيْنَ التَّكْبِيرَتَيْنِ؛
لِأَنَّهُ ﷺ قَالَ: «إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ،
فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ».
وَإِلَى هَذَا أَشَارَ النَّوَوِيُّ
وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ.
Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa
waqf [berhenti untuk bernafas] untuk setiap kalimat lebih Afdhol ; karena
dengan demikian lebih jelas dalam penyampaian.
Dan beberapa dari mereka berpendapat bahwa Wasl [menyambung keduanya tanpa
berhenti untuk bernafas] dalam mengumandangkan takbir, itu lebih utama dan
Afdhol ; karena berdasarkan sabda beliau ﷺ dalam
menjawab muadzin:
« إذا قال المؤذن: " اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، فقال أحدكم: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ »
“Jika muadzin mengumandangkan kalimat: " اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ " maka salah seorang dari kalian
menjawab: " اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ ".
Beliau ﷺ menggabungkan diantara keduanya dan menghubungkan
kedua kalimat tersebut.
Kemudian beliau berkata: " أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ". Lalu berkata: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ. Di sini di dalamnya terdapat waqf
[berhenti untuk bernafas] dan dan tidak washl [menyambung tanpa bernafas]
Kemudian beliau berkata: " أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ". Beliau berkata: " أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ"... dan seterusnya [HR. Muslim no.
385]
Jadi Beliau ﷺ menggabungkan
dua takbir. Karena beliau ﷺ bersabada:
"Jika muadzin berkata: " اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ",
maka salah seorang dari kalian menjawab: " اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ".
Dan untuk ini al-Nawawi dan ulama lainnya telah
mengisyaratkannya ". [Kutipan Selesai]
SUMBER FATWA:
[[برنامج فتاوى نور على الدرب،
الحلقة الحادية والثلاثون بعد المائة 03/5/1434ه.
رقم الفتوى: 9073]]
===
PERHATIAN:
Pertama: Yang
dimaksud WAQOF [berhenti] oleh Syeikh al-Hudhair di sini adalah berhenti untuk
bernafas dan memisahkan antara dua sususan kalimat. Yaitu seperti berikut ini:
Seorang Muadzin mengumandangkan: [[Allaahu Akbar]]
lalu berhenti dan bernafas. Kemudian melanjutkan [[Allaahu Akbar]].... dan
seterusnya.
Kedua: Yang
di Maksud WASHOL [menyambung] di sini, Syeikh al-Khudhair tidak bermaksud
mengharuskan dibaca Fathah [[اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ]] atau
dhommah [[اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ]] dan juga tidak bermaksud melarang dibaca
Sukun [[اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ]]. Melainkan yang dia maksud washl di sini
adalah menyambung kedua takbir tsb tanpa dipisah dengan berhenti untuk
bernafas.
----***-----
KEDUA:
FATWA
SYEIKH MUHAMMAD RASYID RIDHA:
Beliau berkata:
صَدَرَ مِنْ بَعْضِ السُّبْكِيَّةِ
إِنْكَارُ وَصْلِ الْمُؤَذِّنِ بَيْنَ تَكْبِيرَتَيْنِ مِنْ تَكْبِيرَاتِ الْأَذَانِ
كَمَا يَفْعَلُ الْمُؤَذِّنُونَ الْيَوْمَ، وَيَقُولُونَ: السُّنَّةُ الْفَصْلُ بَيْنَ
كُلِّ تَكْبِيرَةٍ وَأُخْرَى وَإِفْرَادُهَا بِالْوَقْفِ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ، وَلَا
يَجُوزُ قَطْعًا تَحْرِيكُ آخِرِ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى لِوَصْلِهَا بِالثَّانِيَةِ.
وَلَمْ نَعْثُرْ لِهَذَا عَلَى دَلِيلٍ صَرِيحٍ.
Ada sebagian as-Sabakiyyah yang mengeluarkan
bantahan terhadap muadzin yang menyambungkan bacaan antara dua takbir adzan,
seperti yang dilakukan oleh para muadzin hari ini.
Dan mereka berkata: Yang Sunnah adalah memisahkan
antara setiap takbir dari takbir yang lain. Dan untuk memisahkannya itu harus
dengan waqf [berhenti dengan harakat Sukun] untuk masing-masing takbir.
Dan sama sekali tidak diperbolehkan untuk
membacanya dengan harakat pada huruf akhir dari takbir yang pertama, dengan
tujuan untuk disambungkan dengan takbir yang kedua.
Kami belum menemukan dalil yang jelas dan terang
untuk ini".
LALU SYEIKH RASYID MELANJUTKAN PERKATAANNYA:
إِنَّ لِلْمَسْأَلَةِ أَصْلًا مِنْ
وَجْهَيْنِ:
أَحَدُهُمَا: مَا نُقِلَ عَنِ السَّلَفِ
فِي ذَلِكَ، فَفِي كِتَابَيْ الْمُغْنِي وَالشَّرْحِ الْكَبِيرِ لِلْمُقْنِعِ مِنْ
كُتُبِ الْحَنَابِلَةِ (الَّتِي تَتَحَرَّى نَقْلَ أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
وَعُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ الْمُجْتَهِدِينَ وَأَدِلَّتِهَا):
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بَطَّةَ
قَالَ: إِنَّ فِي الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُوصَلُ الْكَلَامُ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ
مُعْرَبًا، بَلْ جَزْمًا.
وَحَكَاهُ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ
عَنْ أَهْلِ اللُّغَةِ.
وَرُوِيَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ
أَنَّهُ قَالَ: شَيْئَانِ مَجْزُومَانِ كَانُوا لَا يُعْرِبُونَهُمَا: الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ.
قَالَ صَاحِبُ الْمُغْنِي وَصَاحِبُ
الشَّرْحِ الْكَبِيرِ: وَهَذِهِ إِشَارَةٌ إِلَى جَمَاعَتِهِمْ؛ أَيْ: الصَّحَابَةِ،
فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ مِنْ أَشْهَرِ عُلَمَاءِ التَّابِعِينَ، اهـ.
وَهَذِهِ حُجَّةٌ لَهُمْ.
وَالثَّانِي –وَهُوَ مُعَارِضٌ لَهُ–
أَنَّ حَدِيثَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فِي إِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ
يَدُلُّ عَلَى الْوُقُوفِ عِنْدَ كُلِّ كَلِمَةٍ (أَيْ: جُمْلَةٍ) مِنْ كَلِمَاتِ الْأَذَانِ
إِلَّا التَّكْبِيرَ، فَإِنَّهُ يَقِفُ عِنْدَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ، فَقَدْ قَالَ
ﷺ:
«إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ
قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللَّهُ… إِلْخ».
فَفِيهِ أَنَّهُ جَعَلَ الْوَقْفَ
عَلَى تَكْبِيرَتَيْنِ فِي أَوَّلِ الْأَذَانِ وَآخِرِهِ، بِخِلَافِ سَائِرِ الْجُمَلِ
الْمُكَرَّرَةِ مَثْنَى مَثْنَى، فَقَدْ وَقَفَ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا وَرَتَّبَ
الْجَوَابَ عَلَيْهَا.
وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْوُقُوفَ
فِي لُغَةِ الْعَرَبِ يَكُونُ بِالسُّكُونِ، وَالْوَصْلَ بِالتَّحْرِيكِ.
فَظَاهِرُ الْحَدِيثِ يُوَافِقُ
مَا عَلَيْهِ الْمُؤَذِّنُونَ الْيَوْمَ فِي أَمْصَارِ الْإِسْلَامِ مِنَ الْجَمْعِ
بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ، وَهُوَ يَقْتَضِي أَنْ تُحَرَّكَ كَلِمَةُ أَكْبَرُ
بِالرَّفْعِ فِي الْأُولَى عَلَى الْقَاعِدَةِ الْعَامَّةِ فِي هَذِهِ اللُّغَةِ، وَهِيَ
التَّحْرِيكُ فِي أَثْنَاءِ الْكَلَامِ.
Sesungguhnya untuk masalah ini terdapat SUMBER dari
dua arah:
SALAH SATU-NYA adalah:
Apa yang diriwayatkan dari para ulama Salaf dalam
hal ini, maka dalam dua kitab, Al-Mughni dan Al-Sharh Al-Kabir Lil-Muqni' dari
kitab-kitab madzhab Hanbali [[yang sangat berhati-hati dalam mengutip perkataan
para sahabat, para tabi'iin, para ulama mujtahid dari berbagi penjuru negeri
dan dalil-dalilnya]] di sebutkan:
Abdullah bin Baththah [W. 387] berkata:
Dalam adzan dan iqaamah, tidak menghubungkan
kalimat-kalimat adzan antara yang satu dengan yang lain secara mu'rab
[berharakat fathah, dhommah atau kasrah], melainkan yang benar adalah Jazem
[Sukun / mati].
Dan Ibnu Al-Arabi meriwayatkannya dari para ahli
bahasa.
Dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha'i [W. 96 H]
bahwa dia berkata: Ada dua hal yang di baca Jazem [sukun] dan dulu mereka tidak
membacanya secara mu'rob [berharakat fathah, dhommat atau kasrah], yaitu: adzan
dan iqaamah.
Penulis kitab al-Mughni dan penulis asy-Syarah
al-Kabiir berkata:
"Ini adalah isyarat terhadap IJMA' mereka ;
Yaitu: Ijma' para Sahabat, karena Ibrahim adalah salah satu ulama Tabi'in yang
paling terkenal".
Ini adalah argumen mereka.
DAN [SUMBER] YANG KEDUA: -dan ini berlawanan dengan yang diatas – adalah:
Bahwa hadits Umar Ibnu Al-Khattab radhiyallahu
'anhu, dalam menjawab muadzin, menunjukkan berhenti di setiap kalimat (yaitu:
susunan jumlah kata) dari kalimat-kalimat adzan, kecuali Takbiir maka
sesungguhnya berhenti pada setiap dua takbir.
Karena Rosulullah ﷺ bersabda:
« إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ... إلخ »
Apabila muadzdzin mengucapkan: " Allaahu Akbar
Allaahu Akbar", maka salah seorang di antara kalian mengucapkan: "
Allaahu Akbar Allaahu Akbar".
Kemudian ketika muadzdzin mengucapkan: "
Asyhadu allaa ilaaha illallaah", maka ia juga mengucapkan " Asyhadu
allaa ilaaha illallaah… [Shahih Muslim no. 876).
Di dalamnya, menjadikan waqf pada dua takbir di
awal adzan dan di akhir adzan, tidak seperti pada kalimat-kalimat lainnya yang
diulang, yaitu dua, dua ; karena ia berhenti pada masing-masing dari
kalimat-kalimat tsb. Dan jawabannya sesuai aturan itu -. Dan yang maklum bahwa
makna waqf dalam bahasa Arab adalah dengan sukun [mati] dan makna washl adalah
dengan memberikan harakat [dhommah atau fathah atau kasrah] –
Maka makna yang tampak dari hadits tersebut sesuai
dengan apa yang dilakukan para muazin di negeri-negeri Islam saat ini dengan
menyambungkan setiap dua takbir.
Hal ini berkonsekwensi bahwa kata " Akbar ' di
baca rofa' [dhommah] pada takbir yang pertama berdasrkan kaidah umum dalam
bahasa arab ini, yaitu dibaca dengan berharakat di tengah susunan kata.
[Lihat: Al-Manar jilid 25 (1924), hlm. 195-196]
----***-----
KETIGA:
FATAWA
ASY-SYABAKAH AL-ISLAMIYAH
[الْمَكْتَبَةُ
الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ 14/4669]
PERTANYAAN:
هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ التَّكْبِيرَاتُ
مُتَّصِلَةً أَمْ لَا؟
Apakah disyaratkan dalam takbir-takbir itu harus
tersambung atau tidak?
JAWABAN:
وَإِنْ كَانَ مَقْصُودُكَ السُّؤَالَ
عَنْ تَكْبِيرَاتِ الْأَذَانِ، أَيْ هَلْ يُوصَلُ أَوْ يُفْصَلُ بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ؟
فَاعْلَمْ أَنَّ الْعُلَمَاءَ اخْتَلَفُوا
فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ:
وَصَحَّحَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ
مُسْلِمٍ أَنَّهُ يُوصَلُ بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ.
وَانْتَصَرَ جَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ
لِمَشْرُوعِيَّةِ الْوُقُوفِ عَلَى كُلِّ تَكْبِيرَةٍ، لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي كُلِّ
جُمْلَةٍ تَأْسِيسُ مَعْنًى جَدِيدٍ لَا تَوْكِيدُ مَا قَبْلَهَا، وَمِمَّنْ رَجَّحَ
هَذَا الْقَوْلَ بِقُوَّةٍ الشَّيْخُ بَكْرٌ أَبُو زَيْدٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ
النَّافِعِ: تَصْحِيحُ الدُّعَاءِ،
وَالظَّاهِرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
أَنَّ الْأَمْرَ وَاسِعٌ، وَأَنَّ مَنْ فَعَلَ هَذَا فَلَا حَرَجَ، وَمَنْ فَعَلَ هَذَا
فَلَا حَرَجَ.
Jika maksud Anda adalah bertanya tentang takbir
adzan, apakah itu harus terhubungkan atau terpisahkan masing-masing dari dua
takbir?
Maka ketahuilah bahwa para ulama berbeda pendapat
tentang masalah ini:
An-Nawawi di Sharh Muslim manshahihkan bahwa setiap
dua takbir itu tersambung.
Sekelompok para peneliti memenangkan pendapat
disyariatkannya Waqf [berhenti] pada setiap takbir ; Karena asal setiap kalimat
adalah untuk membangun makna baru, bukan untuk mengukuhkan apa yang datang
sebelumnya.
Di antara mereka yang mentarjih pendapat ini dengan
kuat adalah SYEKH BAKR ABU ZAID -semoga Allah merahmatinya - dalam kitabnya [[تَصْحِيحُ الدُّعَاءِ]] yang bermanfaat.
Namun yang nampak dzohir - insya Allah - bahwa
masalah ini adalah luas, dan siapa pun yang melakukan yang ini maka tidak ada
masalah, dan begitu juga siapa pun yang melakukan yang itu ; maka tidak ada
yang salah". [Selesai]
Ibnu al-Qosim dalam kitab-nya "Hashiyat
al-Raudh al-Murbi' 1/439" berkata:
«فَيَكُونُ التَّكْبِيرُ فِي أَوَّلِهِ
أَرْبَعَ جُمَلٍ، وَالتَّكْبِيرُ فِي آخِرِهِ جُمْلَتَيْنِ، فَيَقِفُ عَلَى كُلِّ تَكْبِيرَةٍ،
لِأَنَّ التَّكْبِيرَةَ الثَّانِيَةَ إِنْشَاءٌ ثَانٍ لَا تَوْكِيدَ، فَيَقُولُ: اللَّهُ
أَكْبَرُ، وَيَقِفُ، وَكَذَلِكَ التَّكْبِيرَاتُ الْبَاقِيَةُ.
قَالَ النَّخَعِيُّ: شَيْئَانِ مَجْزُومَانِ
لَا يُعْرَبَانِ: الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ.
وَقَالَ الشَّيْخُ: أَيْ شَيْخُ
الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَجْعَلُ التَّكْبِيرَاتِ الْأَرْبَعَ
جُمْلَتَيْنِ، يُعْرِبُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى فِي الْمَوْضِعَيْنِ، وَهُوَ صَحِيحٌ
عِنْدَ جَمِيعِ سَلَفِ الْأُمَّةِ، وَعَامَّةِ خَلَفِهَا، سَوَاءٌ رَبَّعَ فِي أَوَّلِهِ
أَوْ ثَنَّاهُ.
وَقَالَ: الْمُرَادُ الْجُمْلَةُ
النَّحْوِيَّةُ الْمُرَكَّبَةُ مِنْ مُبْتَدَأٍ وَخَبَرٍ، فَيَكُونُ التَّكْبِيرُ فِي
الْأَذَانِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ سِتٌّ»
Jadi takbir di awal adalah empat kalimat takbir,
dan takbir di akhir adalah dua kalimat. Maka berhenti pada setiap masing-masing
takbir. Karena takbir kedua adalah ungkapan kedua yang berdiri sendiri, bukan
penegasan terhadap takbir yang pertama.
Yakni: Seorang muadzin jika telah mengumandangkan:
" اللَّهُ أَكْبَرْ " maka dia berhenti, begitu pula pada takbir-takbir
berikutnya.
An-Nakha'i [W. 96 H] berkata: Ada dua hal yang di
baca Jazem [sukun / mati] dan tidak dibaca mu'rab [dibaca sesuai i'rabnya]
dalam bahasa Arab: yaitu pada adzan dan iqaamah.
Sementara Syekh - yakni Syekh al-Islam Ibnu
Taymiyyah – berkata:
" Dan sebagian orang-orang ada yang menjadikan
empat takbir ini menjadi dua kalimat, membaca takbir pertama sesuai i'rabnya
[di baca dhommah] pada dua tempat tsb.
Dan ini adalah shahih menurut semua Salaful Ummah, dan sebagian besar
kholafnya, baik pada seperempat di awal atau pada kedua".
Dan dia [Ibnu Taimiyah berkata]:
Yang dimaksud dengan kalimat majemuk gramatikal
[jumlah nahwiyah] yang terdiri dari subjek [mubtada] dan predikat [khobar],
maka jumlah takbir adzan di awal dan di akhir adalah enam".
----***-----
KEEMPAT:
FATWA
ISLAMWEB: Nomor Fatwa: 337819
===
PERTANYAAN:
هَلْ يَجِبُ الْوَصْلُ بَيْنَ التَّكْبِيرَتَيْنِ
الْأُولَيَيْنِ؟
Apakah wajib menyambungkan dua takbir pertama dalam
adzan?
JAWABAN:
فَإِذَا كُنْتَ تَسْأَلُ عَنِ الْوَقْفِ
عَلَى التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى، بِمَعْنَى تَسْكِينِ الْحَرْفِ الْأَخِيرِ مِنْهَا،
أَوْ تَصِلُهَا بِالثَّانِيَةِ مِنْ غَيْرِ وَقْفٍ…..
هُنَاكَ خِلَافٌ فِي التَّكْبِيرَتَيْنِ
الْأُولَيَيْنِ: هَلْ يُجْزَمُ الْحَرْفُ الْأَخِيرُ مِنْهُمَا، أَمْ لَا؟…..
وَعَلَى هَذَا؛ فَلَا يَجِبُ الْوَصْلُ
أَوِ الْوَقْفُ بَيْنَ التَّكْبِيرَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Jika yang anda tanyakan tentang waqf [berhenti]
pada takbir pertama itu maksudnya adalah membaca sukun [mati] pada huruf
terakhirnya, atau menyambungkannya dengan takbir yang kedua tanpa waqf
[berhenti].
Ada perbedaan pendapat tentang dua takbir pertama:
apakah huruf terakhirnya sukun [mati] atau tidak? ......
Maka dengan demikian jawabannya adalah ; Tidak
wajib washol [menyambung] atau tidak wajib waqf [berhenti]
di antara dua takbir pertama. [Yakni kedua-duanya diperbolehkan]
===*****====
PARA
ULAMA YANG MENGATAKAN :
BACA
AL-QUR'AN TIDAK WAJIB DENGAN TAJWID, TAPI SUNNAH
----
AL-HAFIDZ
IBNU HAJAR :
Syeikh Abdul Muhsin bin Hamad al-Abbad
al-Badr - semoga Allah melindunginya - dalam "Syarah Sunan Abi Dawud"
berkata :
سَبَقَ أَنْ ذَكَرْتُ فِي
مَنَاسِبَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ كَلَامَ الْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ الَّذِي ذَكَرَهُ عِنْدَ
شَرْحِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ: ((هَذًّا كَهَذِّ الشِّعْرِ )) فِي “صَحِيحِ
الْبُخَارِيِّ”. قَالَ: لَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ ــ أَوْ عِبَارَةٌ
نَحْوَهَا ــ أَنَّ الْقِرَاءَةَ بِالتَّجْوِيدِ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ، وَأَنَّهُ
يَجُوزُ الْقِرَاءَةَ بِدُوْنِهِ. اهـ
"Telah saya sebutkan dalam berbagai kesempatan
pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar yang menyebutkannya saat menjelaskan hadis Ibnu
Mas'ud: (( هَذًّا كَهَذِّ الشِّعْرِ )) dalam "Sahih
al-Bukhari", beliau mengatakan:
"Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama - atau
kata-kata semisalnya - bahwa membaca Al-Quran dengan tajwid lebih baik dan
lebih utama, dan boleh juga membaca tanpa tajwid".
===
SYEIKH
ALI AL-QORI :
Ali al-Qari berkata:
وَيَنْبَغِي أَنْ تُرَاعَى
جَمِيعُ قَوَاعِدِهِمْ وَجُوبًا فِيمَا يَتَغَيَّرُ بِهِ الْمَبْنَى، وَيُفْسَدُ
بِهِ الْمَعْنَى، وَاسْتِحْبَابًا فِيمَا يُحْسِنُ بِهِ اللَّفْظُ، أَوْ
يُسْتَحْسَنُ بِهِ النُّطْقُ حَالَ الْأَدَاءِ"،
"Seharusnya semua kaidah-kaidahnya
diperhatikan secara wajib dalam hal yang dengannya bisa merubah struktur kata
dan merusak makna, namun dianjurkan dalam hal memperindah bunyi lafadz atau
memperbaiki pelafalan saat membaca."
[Syarh al-Jazariyah oleh Sheikh Ali al-Qari hal. 20, dan Nihayat
al-Qawl al-Mufid halaman 25].
Dan dia berkata pula :
"وَأَمَّا اللَّحْنُ (الْخَطَأُ)
الْخَفِيُّ، فَلَا يَتَصَوَّرُ أَنْ يَكُونَ فَرْضًا عَيْنًا، يَتَرَتَّبُ
الْعُقُوبَةُ عَلَى قَارِئِهِ؛ لِمَا فِيهِ مِنْ حَرَجٍ عَظِيمٍ".
"Sedangkan kesalahan tersembunyi tidak boleh
dianggap sebagai kewajiban yang dapat menyebabkan hukuman bagi pembaca karena
adanya kesulitan yang besar."
===
IBNU
TAIMIYAH :
Syeikhul-Islam Ibnu Taymiyyah berkata:
وَلَا يَجْعَلُ هِمَّتَهُ
فِيمَا حُجِبَ بِهِ أَكْثَرُ النَّاسِ مِنْ الْعُلُومِ عَنْ حَقَائِقِ الْقُرْآنِ
إمَّا بِالْوَسْوَسَةِ فِي خُرُوجِ حُرُوفِهِ وَتَرْقِيقِهَا وَتَفْخِيمِهَا
وَإِمَالَتِهَا وَالنُّطْقِ بِالْمَدِّ الطَّوِيلِ وَالْقَصِيرِ وَالْمُتَوَسِّطِ
وَغَيْرِ ذَلِكَ. فَإِنَّ هَذَا حَائِلٌ لِلْقُلُوبِ قَاطِعٌ لَهَا عَنْ فَهْمِ
مُرَادِ الرَّبِّ مِنْ كَلَامِهِ .
وَكَذَلِكَ شَغْلُ النُّطْقِ بـ
﴿أَأَنْذَرْتَهُمْ﴾ وَضَمُّ الْمِيمِ مِنْ (عَلَيْهِمْ وَوَصْلُهَا بِالْوَاوِ
وَكَسْرُ الْهَاءِ أَوْ ضَمُّهَا وَنَحْوُ ذَلِكَ. وَكَذَلِكَ مُرَاعَاةُ
النَّغَمِ وَتَحْسِينُ الصَّوْتِ.
وَكَذَلِكَ تَتَبُّعُ وُجُوهِ
الْإِعْرَابِ وَاسْتِخْرَاجُ التَّأْوِيلَاتِ الْمُسْتَكْرَهَةِ الَّتِي هِيَ
بِالْأَلْغَازِ وَالْأَحَاجِيِّ أَشْبَهُ مِنْهَا بِالْبَيَانِ
وَكَذَلِكَ صَرْفُ الذَّهْنِ
إِلَى حِكَايَةِ أَقْوَالِ النَّاسِ وَنَتَائِجِ أَفْكَارِهِمْ .
"Seseorang tidak seharusnya memusatkan perhatiannya pada
hal-hal yang dengannya bisa menghalangi mayoritas manusia dari ilmu-ilmu
tentang hakikat kandungan al-Quran , seperti menghabiskan waktunya untuk
berspekulasi tentang makhroj huruf-huruf, mentarqiiq-nya, mentafkhim-nya,
meng-imaalah-kannya, pengucapan mad panjang, mad pendek, taqshiir
dan lain sebagainya.
Hal ini akan menghalangi hati-hati manusia dari
memahami maksud kalam-kalam Tuhan.
Dan juga disibukkan dengan pengucapan ﴿ أَأَنْذَرْتَهُمْ ﴾ dan membaca dhommah huruf "م"
dari (عَلَيْهِمْ) dengan menyambungnya dengan "وَ" dan membaca kasrah pada "هَاءٌ"
atau membaca dhommah dan sejenisnya. Dan demikian pula memperhatikan nada dan
memperbagus suara.
Begitu pula dengan menelusuri bentuk-bentuk I’rob
dan penggalian takwil yang tidak pantas yang lebih mirip dengan teka-teki dan
perumpamaan dibandingkan dengan penjelasan.
Dan seseorang tidak boleh memusat perhatiannya
hanya untuk mendengarkan hikayat dari perkatan-perkataan manusia atau mengikuti
pemikiran mereka."
(Sumber: Majmu' Fatawa Ibn Taymiyyah16/50-51)
===
IBNU AL-QOYYIM
:
Ibnu al-Qayyim mengikuti gurunya dalam hal ini. Dan
Ibnu Qayyim dalam Ighootstul Lahfaan 1/160 berkata:
(فَصْلٌ: وَمِنْ ذَلِكَ الْوَسْوَسَةُ فِي
مَخَارِجِ الْحُرُوفِ وَالتَّنَطُّعُ فِيهَا، وَنَحْنُ نَذْكُرُ مَا ذَكَرَهُ
الْعُلَمَاءُ بِأَلْفَاظِهِمْ:
"Termasuk dari itu adalah was-was dalam
makhroj-makhroj huruf dan berlebihan di dalamnya, dan kami menyebutkan apa yang
telah disebutkan oleh para ulama dengan ucapan-ucapan mereka."
Lalu Ibnu al-Qoyyim berkata :
قَالَ أَبُو الْفَرْجِ بْنُ
الْجَوْزِيِّ: قَدْ لُبِسَ إِبْلِيسُ عَلَى بَعْضِ الْمُصَلِّينَ فِي
مَخَارِجِ الْحُرُوفِ، فَتَرَاهُ يَقُولُ الْحَمْدُ الْحَمْدُ فَيَخْرُجُ
بِإِعَادَةِ الْكَلِمَةِ عَنْ قَانُونِ أَدَبِ الصَّلَاةِ، وَتَارَةً يَلْبَسُ
عَلَيْهِ فِي تَحْقِيقِ التَّشْدِيدِ فِي إِخْرَاجِ ضَادِ الْمَغْضُوبِ. قَالَ:
وَلَقَدْ رَأَيْتُ مَنْ يَخْرُجُ بُصَاقَهُ مَعَ إِخْرَاجِ الضَّادِ لِقُوَّةِ
تَشْدِيدِهِ، وَالْمُرَادُ تَحْقِيقُ الْحَرْفِ فَحَسْبُ، وَإِبْلِيسُ يُخْرِجُ
هَؤُلَاءَ بِالزِّيَادَةِ عَنْ حَدِّ التَّحْقِيقِ، وَيُشْغِلُهُمْ بِالْمُبَالَغَةِ
فِي الْحُرُوفِ عَنْ فَهْمِ التِّلاَوَةِ، وَكُلُّ هَذِهِ الْوَسَاوِسُ مِنْ
إِبْلِيسَ.
Abu al-Faraj Ibnu al-Jawzi berkata: "Iblis telah menyesatkan sebagian
orang-orang yang sedang shalat dalam makhroj-makhroj huruf, sehingga Anda
melihatnya mengucapkan 'al-hamdulillah', 'al-hamdulillah' dengan mengulang kata
tersebut, yang keluar dari kaidah tata cara shalat.
Dan kadang-kadang dia terkelabui iblis ketika
memastikan penekanan dalam pengucapan 'ضَادٌ' pada (المَغْضُوبِ). Saya melihat seseorang mengeluarkan air
ludahnya bersamaan dengan pengucapan huruf 'dhâdh' untuk memberikan penekanan
yang kuat, yang dimaksudkan hanya untuk memperkuat pengucapan huruf itu saja,
namun Iblis membuat mereka berlebihan dalam pengucapan huruf, sehingga
mengalihkan perhatian mereka dari pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an. Semua
was-was ini berasal dari Iblis."
Lalu Ibnu al-Qoyyim berkata :
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ
قُتَيْبَةَ فِي مُشْكِلِ الْقُرْآنِ : وَقَدْ كَانَ النَّاسُ يَقْرُؤُنَ
الْقُرْآنَ بِلُغَاتِهِمْ ثُمَّ خَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ قَوْمٌ مِّنْ أَهْلِ
الْأَمْصَارِ وَأَبْنَاءِ الْعَجَمِ لَيْسَ لَهُمْ طَبْعُ اللُّغَةِ وَلَا عِلْمُ
التَّكَلُّفِ، فَهَفُوا فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْحُرُوفِ، وَذَلُوا فَأَخْلَوْا
وَمِنْهُمْ رَجُلٌ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ عَنِدَ الْعَوَامِّ بِالصَّلَاحِ
وَقُرْبِهِ مِنَ الْقُلُوبِ بِالدِّينِ، فَلَمْ أَرَ فِيمَنْ تَتَبَّعْتُ فِي
وُجُوهِ قِرَاءَتِهِ أَكْثَرَ تَخْلِيطًا وَلَا أَشَدَّ اضْطِرَابًا مِّنْهُ
لِأَنَّهُ يَسْتَعْمِلُ فِي الْحَرْفِ مَا يَدْعُهُ فِي نَظِيرِهِ، ثُمَّ يُؤْصِلُ
أَصْلًا وَيُخَالِفُ إِلَى غَيْرِهِ بِغَيْرِ عِلَّةٍ، وَيَخْتَارُ فِي كَثِيرٍ
مِّنَ الْحُرُوفِ مَا لَا مَخْرَجَ لَهُ إِلَّا عَلَى طَلَبِ الْحِيَلَةِ
الضَّعِيفَةِ، هَذَا إِلَى نَبْذِهِ فِي قِرَاءَتِهِ مَذَاهِبَ الْعَرَبِ وَأَهْلِ
الْحِجَازِ بِإِفْرَاطِهِ فِي الْمَدِّ وَالْهَمْزِ وَالْإِشْبَاعِ وَإِفْحَاشِهِ
فِي الْإِضْجَاعِ وَالْإِدْغَامِ، وَحُمْلِهِ الْمُتَعَلِّمِينَ عَلَى الْمَذْهَبِ
الصَّعْبِ، وَتَعْسِيرِهِ عَلَى الْأُمَّةِ مَا يَسَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى
وَتَضِيقُهُ مَا فَسَّحَهُ، وَمِنَ الْعَجَبِ أَنَّهُ يَقْرَىٰءُ النَّاسُ بِهَذِهِ
الْمَذَاهِبِ وَيَكْرَهُ الصَّلَاةَ بِهَا، فَفِي أَيِّ مَوْضِعٍ يَسْتَعْمِلُ
هَذِهِ الْقِرَاءَةَ إِن كَانَتْ الصَّلَاةُ لَا تَجُوزُ بِهَا؟
Dan Muhammad bin Qutaibah berkata : "Orang-orang pada awalnya membaca
Al-Quran dalam dialek bahasa mereka sendiri. Kemudian, digantikan oleh
sekelompok orang dari penduduk berbagai macam negeri dan anak keturunan
non-Arab yang tidak memiliki tabi’at bahasa arab dan pengetahuan tata bahasa.
Maka mereka membuat kesalahan dalam banyak huruf, sehingga menyebabkan kebingungan
dan kekeliruan.
Di antara mereka ada seoarang pria – semoga Allah
menutupi aib dia pada orang-orang awam dengan kebaikan dan semoga
mendekatkannya dengan hati-hati dalam agama -
Maka , saya tidak pernah melihat di antara mereka
yang saya teliti dalam berbagai cara bacaan Al-Quran yang lebih campur aduk dan
kacau balau dari pada dia. Hal ini karena dia menggunakan dalam suatu huruf apa
yang dia anggap tepat di dalamnya.
Kemudian dia menetapkan aturan dasar yang
menyelisihi aturan lain tanpa sebab .
Dia juga memilih dalam banyak huruf apa yang tidak
memiliki makhroj huruf kecuali dengan mencari jalan tipu muslihat yang lemah.
Hal ini membuat dia dijauhi dalam bacaannya oleh
para orang Arab dan penduduk Hijaz karena kebablasan dalam bacaan madd, hamz,
Isybaa’, Ifhasy, Idjaa’dan Idghoom.
Para pengajar mengantarkannya pada madzhab yang
sulit. Dan dia membuat agama ini menjadi sulit bagi umat ini, dia membuat sulit
apa yang Allah mudahkan dan dia membuatnya sempit apa yang Allah luaskan.
Dan yang sangat aneh dari orang ini adalah bahwa
dia itu membacakan Al-Quran kepada orang-orang dengan qiro’at madzhab-madzhab
lain , akan tetapi dia membenci melakukan shalat dengan membaca qiro’at
madzhab-madzhab tersebut. Kalau begitu, lalu ditempat manakah diperbolehkan membacanya
jika diwaktu sholat saja tidak diperbolehkan membacanya ?”. [ Lihat :
Ighootstul Lahfaan 1/160]
===
SYEIKH
AS-SA’DI [ Guru Syeikh Utsaimin]
Syeikh As-Sa’di rahimahullah berkata tentang hal
ini:
إِنَّ التَّجْوِيدَ بِحَسَبِ
الْقَوَاعِدِ الْمُفَصَّلَةِ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ غَيْرُ وَاجِبٍ.
"Mengenai tajwid berdasarkan kaidah-kaidah
yang terdapat dalam kitab-kitab tajwid tidaklah wajib." [Di kutip dari
Kitabul Ilmi : 163 oleh Ibnu Utsaimin]
===
SYEIKH BIN BAAZ :
Syeikh Bin Baaz rahimahullah berkata dalam fatwa
beliau:
"يَجُوزُ أَنْ يُقْرَأَ الْقُرْآنُ
بِغَيْرِ التَّرْتِيبَاتِ وَالْاِصْطِلَاحَاتِ الَّتِي ذَكَرَهَا أَصْحَابُ
التَّجْوِيدِ، إِذَا قُرِئَ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ قِرَاءَةً وَاضِحَةً،
لَكِنْ إِذَا اعْتَنَى بِمَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ وَبِمَا ذَكَرَهُ أَصْحَابُ
التَّجْوِيدِ، فَهَذَا حَسَنٌ مِنْ بَابِ تَحْسِينِ الْقِرَاءَةِ؛ لِقَوْلِ
النَّبِيِّ: (زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ،
وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ، فَإِذَا لَاحَظَ الْغُنَّةَ وَالتَّرْقِيقَ
وَالتَّفْخِيمَ يَكُونُ أَفْضَلَ، وَإِلَّا فَلَيْسَ بِلاَزِمٍ -فِيمَا يَظُهُرُ
لِي- إِذَا قَرَأَهُ الْقَرَاءَةَ الْوَاضِحَةَ، لَيْسَ فِيهَا خَلَلٌ".
"Diperbolehkan untuk membaca Al-Quran tanpa
tata bahasa dan terminologi yang disebutkan oleh ahli tajwid, asalkan dibaca
dengan bahasa Arab yang jelas. Namun, jika seseorang memperhatikan apa yang
disebutkan oleh para qari dan ahli tajwid, maka itu lebih baik sebagai upaya
untuk memperbagus bacaan. Sebagaimana sabda Nabi: (Hiasilah Al-Quran dengan
suaramu). Riwayat Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani. Jadi, jika
terdapat ghunnah, tarqiq, atau tafkhim, itu akan lebih baik. Namun, jika tidak,
itu tidaklah wajib menurut pendapat saya, asalkan bacaannya jelas tanpa
cacat."
[ Lihat : Nurun ‘Ala Ad-Darb / حكم
قراءة القرآن دون تطبيق أحكام التجويد]
Dan Syeikh Bin Baaz juga mengatakan:
لا أعلَمُ دَلِيلاً شَرْعِيًّا
يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الِالْتِزَامِ بِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ، أَمَّا قَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿وَارْتَلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا﴾، فَهُوَ يَدُلُّ
عَلَى مَشْرُوْعِيَّةِ التَّمَهُّلِ بِالْقِرَاءَةِ وَعَدَمِ الْعَجَلَةِ،
وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا﴾.
"Saya tidak mengetahui dalil syar'i yang
menunjukkan kewajiban mematuhi aturan tajwid. Adapun firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala: ﴿Dan
bacalah Al-Qur'an dengan tartil﴾, itu menunjukkan disyariatkannya membaca
dengan penuh perhatian dan tanpa terburu-buru, dan ini diperkuat oleh firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala: ﴿Dan sungguh, Kami telah membacakan Al-Qur'an ini
dengan tartil﴾.
[Sumber : حكم قراءة القرآن بالتجويد (Islam.web. Fatwa no. 208900) . Dan
lihat pula : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 12/11/1415 Hijriah..
====
SYEIKH
UTSAIMIN :
Syeikh Ibnu Utsaimiin rahimahullah mengatakan:
"أَمَّا التَّجْوِيدُ فَلَيْسَ
بِوَاجِبٍ، التَّجْوِيدُ تَحْسِينٌ لِلْفَظِّ فَقَطْ، وَتَحْسِينُ اللَّفْظِ
بِالْقُرْآنِ لَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ، وَأَنَّهُ أَتَمُّ فِي حُسْنِ
الْقِرَاءَةِ، لَكِنَّ الْوُجُوبَ بِحَيْثُ نَقُولُ مَنْ لَمْ يَقْرَأْ الْقُرْآنَ
بِالتَّجْوِيدِ فَهُوَ آثِمٌ قَوْلٌ لَا دَلِيلَ عَلَيْهِ، بَلْ الدَّلِيلُ عَلَى
خِلَافِهِ"
"Tajwid bukanlah wajib, tajwid hanyalah untuk
memperindah lafal. Memperindah pelafalan Al-Quran tidak diragukan lagi bahwa
itu baik dan lebih sempurma dalam bacaan. Namun, jika dikatakan wajib ,
sehingga orang yang membacanya tanpa tajwid itu berdosa maka itu perkataan
tanpa dalil atasnya, bahkan sebaliknya dalil yang ada adalah kebalikannya .
["Fatawa Nur 'ala al-Darb" (2/157)]
Membaca al-Qur’an dengan Tajwid menurut pendapat
Syekh Ibnu Utsaimin tidak wajib, tetapi wajib untuk menegakkan harakat-harakatnya,
dan mengucapkan huruf sebagaimana mestinya, contohnya jangan mengubah huruf (رَ) dengan
(لَ), begitu
juga huruf (ذَ) dengan
(زَ) dan
sejenisnya, inilah yang dilarang.
Syeikh Ibnu Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan
dalam fatwanya:
(( لَا أَرَى وَجُوبَ الِالْتِزَامِ
بِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ الَّتِي فُصِّلَتْ بِكُتُبِ التَّجْوِيدِ ، وَإِنَّمَا
أَرَى أَنَّهَا مِنْ بَابِ تَحْسِينِ الْقِرَاءَةِ ، وَبَابُ التَّحْسِينِ غَيْرُ
بَابِ الْإِلْزَامِ ، وَقَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ سُئِلَ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ
النَّبِيِّ – ﷺ – ؟ فَقَالَ : كَانَتْ مَدًّا ، قَرَأَ : ﴿ بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴾ يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ ، وَيَمُدُّ الرَّحْمَنِ ،
وَيَمُدُّ الرَّحِيمِ ، وَالْمَدُّ هُنَا : طَبِيعِيٌّ لَا يَحْتَاجُ إِلَى
تَعَمُّدِهِ وَالنَّصُّ عَلَيْهِ ، هُنَا يُدِلُّ عَلَى أَنَّهُ فَوْقَ
الطَّبِيعِيِّ .
وَلَوْ قِيلَ : بِأَنَّ
الْعِلْمَ بِأَحْكَامِ التَّجْوِيدِ الْمُفَصَّلَةِ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ
وَاجِبٌ ، لَلْزَمَ تَأْثِيمَ أَكْثَرِ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ ، وَلَقُلْنَا
لِمَنْ أَرَادَ التَّحَدُّثَ بِاللُّغَةِ الْفُصْحَى : ” طَبَّقْ أَحْكَامَ
التَّجْوِيدِ فِي نُطْقِكَ بِالْحَدِيثِ وَكُتُبِ أَهْلِ الْعِلْمِ ،
وَتَعَلُّمِكَ ، وَمَوَاعِظِكَ ” ، وَلْيَعْلَمْ أَنَّ الْقَوْلَ بِالْوَجْوَبِ
يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ تُبَرَّأُ بِهِ الذَّمَّةُ أَمَامَ اللَّهِ – عَزَّ
وَجَلَّ – فِي إِلْزَامِ عِبَادِهِ بِمَا لَا دَلِيلَ عَلَى إِلْزَامِهِمْ بِهِ
مِنْ كِتَابِ اللَّهِ – تَعَالَى – أَوْ سُنَّةِ رَسُولِهِ – ﷺ – ، أَوْ إِجْمَاعِ
الْمُسْلِمِينَ .
وَقَدْ ذَكَرَ شَيْخُنَا عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍي – رَحِمَهُ اللَّهُ – فِي جَوَابٍ لَهُ : ” أَنَّ
التَّجْوِيدَ حَسَبَ الْقَوَاعِدِ الْمُفَصَّلَةِ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ غَيْرُ
وَاجِبٍ ".
"Saya tidak melihat kewajiban untuk mematuhi hukum tajwid,
yang dirinci oleh buku-buku Tajwid, akan tetapi saya melihat bahwa itu adalah
masalah memperindah bacaan, dan BAB untuk tahsiin (memperbagus) bukanlah BAB
pengharusan (Ilzaam).
Telah disebutkan di dalam Shahih Bukhari dari Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa dia ditanya tentang bagaimana dulu bacaan
Nabi ﷺ. Ia
menjawab, ‘Bacaan beliau adalah mad ketika membaca Bismillahirrahmanirrahim,
memanjangkan bismillah, memanjangkan Ar Rahman, memanjangkan Ar Rahim. Padahal
mad di sini adalah mad thabi’i tidak butuh untuk sengaja memanjangkan, sedang
nash (dalil) ini menunjukkan mad nya melebihi mad thabi’i.’
Seandainya dikatakan bahwa hukum-hukum yang
dituliskan di dalam kitab-kitab tajwid hukumnya wajib, maka akan memberikan
konsekwensi berdosanya banyak sekali kaum muslimin. Dan kita akan mengatakan
bagi orang yang hendak berbicara dengan bahasa arab fasih, ‘Praktekkan ilmu
tajwid ketika kalian membaca hadits dan kitab-kitab para ulama, dalam pengajaran
kalian dan dalam nasehat-nasehat kalian.’
Dan hendaknya diketahui bahwa pendapat yang
mewajibkan ( membaca sesuai tajwid ~ed), membutuhkan dalil yang akan melepaskan
tanggung jawab dihadapan Allah kelak, yang terambil dari kitab Allah dan sunnah
Rasul-Nya ﷺ atau ijma’(konsensus para ulama).
Dan Syaikh kami, Syaikh Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di menyebutkan di dalam salah satu fatwa beliau bahwa tajwid sesuai yang
dirinci di dalam kitab-kitab tajwid itu tidak wajib hukumnya.”
[Ini adalah kutipan dari “Kitab Al-'Ilmi" oleh
Syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, semoga Allah merahmatinya, cetakan Dar
al-Thariyah untuk Penerbitan, halaman 170-171, Pertanyaan Nomor 70].
===
MUHAMMAD
AL-HASAN AD-DADU :
Dekat dengan pandangan ini, yang juga dipegang oleh
Syeikh Muhammad Al-Hasan Al-Dadu :
أَنَّ الْقِرَاءَةَ
بِالتَّجْوِيدِ يَنْتَابُهَا الْأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ، فَمِنْهَا مَا هُوَ
وَاجِبٌ؛ وَهُوَ الَّذِي إذَا لَمْ يَأخُذْ بِهِ الْإِنْسَانُ أَفْسَدَ
قِرَاءَتَهُ. وَمِنْهَا مَا يُؤْثِمُ فَاعِلُهُ مُتَعَمِّدًا، وَهُوَ الَّذِي
يَقْتَضِي اخْتِلَاطَ الْحُرُوفِ فِي مَخَارِجِهَا وَصِفَاتِهَا، أَوْ إدْغَامَ
بَعْضِ مَا لَا يُدْغَمُ، أَوْ إزَالَةَ بَعْضِ الْحَرَكَاتِ بِالْإِشَالَةِ،
وَالسُّرْعَةِ، كَالْهَذْرَمَةِ، وَنَحْوِهَا. وَمِنْهَا يَكُونُ سُنَّةً
مُسْتَحَبَّةً، وَهُوَ مَا يُقْتَضِي تَحْسِينَ الْقُرْآنِ وَحُسْنَ تَقْطِيعِهِ،
وَيُعِينُ عَلَى تَدَبُّرِهِ، كَالْوَقْفِ فِي مَوَاضِعِ الْوَقْفِ عَلَى
التَّمَامِ أَوْ الْكَمَالِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ. وَمِنْهُ مَا هُوَ مَكْرُوهٌ،
وَهُوَ مَا يَكُونُ كَشَكْلِ الطَّرَبِ، وَالْغِنَاءِ، وَنَحْوِهِمَا. وَمِنْهُ
مَا يَكُونُ مُحَرَّمًا، وَهُوَ مَا يَبَالُغُ الْإِنْسَانُ فِيهِ حَتَّى
يَتَقَعَّرُ، وَيُخْرَجُ بِهِ الْكَلَامُ عَنْ أَصْلِهِ. وَمِنْهُ مَا يَكُونُ
مُنْدُوبًا عِنْدَ طَائِفَةٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ: وَهُوَ تَحْسِينُ الصَّوْتِ
بِهِ حَتَّى يَكُونَ أَرَقَّ مِنْ صَوْتِهِ الْعَادِيِّ، وَذَلِكَ بِأَنْ يُشْجِي
صَوْتَهُ بِهِ، حَتَّى يَكُونَ نَدِيًّا شَجِيًّا.
“ Bahwa dalam membaca dengan tajwid, terdapat lima
macam hukum. Di antaranya :
Ada yang wajib; jika seseorang tidak
mengamalkannya, maka bacaannya menjadi rusak.
Ada pula yang dosa jika dilakukan dengan sengaja,
seperti yang menyebabkan bercampur baurnya huruf-huruf dalam makhraj-makhrajnya
atau sifat-sifatnya, atau meng-idghom-kan apa yang seharusnya tidak
diidghomkan, atau menghilangkan beberapa harakat dengan menggeser, serta
kecepatan seperti mempercepat bacaan, dan sejenisnya.
Ada juga yang disunahkan dan dimustahabkan, yaitu
yang mengantarkan pada sesuatu yang memperindah bacaan Al-Qur'an dan
memotong-motongnya dengan baik, serta membantu dalam memahaminya, seperti
berhenti di tempat-tempat yang memerlukan berhenti secara sempurna, dan
sejenisnya.
Ada pula yang makruh, seperti bacaan dengan
intonasi yang mirip dengan nyanyian atau musik, dan sejenisnya.
Ada yang diharamkan, yaitu jika seseorang melampaui
batas sehingga terkesan merendahkan, dan dengan itu bacaan nya menjadi
melenceng dari makna aslinya.
Dan ada yang manduub [disukai] oleh sebagian para
ulama, yaitu memperbaiki suara sehingga lebih halus dari suara biasanya, dengan
cara memperindah suaranya hingga menjadi merdu”.
[Sumber : حكم
قراءة القرآن بالتجويد (Islam.web.
Fatwa no. 208900)].
===
SYEIKH
SHOLEH AL-FAWZAN :
Syeikh Sholeh bin Fawzan berkata:
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
بِالتَّجْوِيدِ مُسْتَحَبَّةٌ مِنْ غَيْرِ إفْرَاطٍ، وَلَيْسَتْ وَاجِبَةً،
وَإِنَّمَا الْوَاجِبُ تَجْوِيدُ الْقُرْآنِ مِنَ اللَّحْنِ وَالْخَطَأِ فِي
الْإِعْرَابِ.
"Membaca Al-Qur'an dengan tajwid itu
disunnahkan tanpa berlebihan dalam bertajwid, dan bukanlah wajib. Yang wajib
hanyalah memperbaiki bacaan Al-Qur'an dari kesalahan dalam melafalkan dan
kesalahan dalam I’rob (tata bahasa)".
[Sumber : حكم قراءة القرآن بالتجويد (Islam.web. Fatwa no. 208900)]
Wallaahu a'lam.
1 Komentar
ustad kirim kisah Iblis melihat catatan yg ter gantung nama yang akan membangkang
BalasHapus