MENGQODHO PUASA NADZAR , PUASA RAMADHAN DAN PUASA
KAFARAT
ATAS NAMA MAYIT
-----
Di susun oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
==
******
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
====
MENGQODHO
PUASA NADZAR, PUASA RAMADHAN DAN PUASA KAFARAT ATAS NAMA ORANG YANG TELAH
MENINGGAL DUNIA
Dalil-dalil yang menunujukkan dalam kondisi tertentu di
syariatkan mengqodho Puasa Nadzar, Puasa Ramadhan dan Puasa Kafaarat atas nama
mayit dan bermanfaat baginya, meskipun mayit tersebut bukan kedua orang tuanya
dan bukan pula kerabatnya.
===***===
HADITS-HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PEMBAHASAN MATERI INI:
===
HADITS PERTAMA:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ
صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ"
"Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih
memiliki utang puasa, maka keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang
berpuasa atas nama nya [mayit]”.
(HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147).
HADITS KE DUA:
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرُ صِيَامٍ فَتُوُفِّيَتْ
قَبْلَ أَنْ تَقْضِيَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِيَصُمْ عَنْهَا الْوَلِيُّ
“Seorang perempuan datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Ibuku meninggal, sementara
ia pernah bernadzar untuk melaksanakan puasa namun ia meninggal sebelum
melaksanakan nadzarnya?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
“Hendaklah walinya yang melakukannya.” (HR. Ibnu Majah no. 2124)
HADITS KE TIGA:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata:
جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ
فَقَالَتْ إِنَّ أُخْتِي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ
أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ قَالَتْ نَعَمْ
قَالَ فَحَقُّ اللَّهِ أَحَقُّ
Seorang perempuan datang kepada Nabi ﷺ, seraya bertanya:
“Sesungguhnya SAUDARI-ku meninggal dan
masih memiliki tanggungan puasa dua bulan berturut-turut ?".
Beliau ﷺ balik bertanya: " Bagaimana
menurutmu, Jika saudarimu memiliki hutang lalu kamu melunasinya tidakkah
menjadi lunas?"
Dia menjawab: " Iya ".
Lalu beliau ﷺ melanjutkan:
"Maka hak-hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi."
[HR. Bukhori didalam no. 1953 secara mu'allaq dengan
shigot Jazm. Dan oleh Muslim no.1148 secara maushuul, juga oleh Tirmidzi no.
716 dan Ibnu Majah no. 1758. Dan ini lafadz Tirmidzi]
Abu Isa Tirmidzi berkata:
وَفِي الْبَاب عَنْ بُرَيْدَةَ وَابْنِ
عُمَرَ وَعَائِشَةَ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ
الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ
Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Buraidah, Ibnu
Umar, 'Aisyah.
Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] telah
menceritakan kepada kami [Abu Khalid Al Ahmar] dari [Al A'masy] dengan sanad
seperti ini.
Dan Abu 'Isa berkata:
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ
عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Hadits Ibnu Abbas adalah hadits hasan shahih".
HADITS KE EMPAT:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ
ﷺ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ رَمَضَانَ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ:
«أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ،
فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
“Bahwa seorang datang kepada Nabi ﷺ dan
berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedangkan dia
berkewajiban puasa sebulan, apakah aku perlu mengqadhanya?”
Beliau bersabda: “Jika ibumu punya hutang, apakah kamu
akan membayarnya?” Kalian bayarlah hutang kepada Allah karen Allah lebih berhak
untuk dibayarkan.”
[Di sebutkan syeikh Bin Baaz dlam Majmu' Fataawa Bin
Baaz 15/372, dan dia mengatakan: Sanadnya Shahih. (HR. Bukhori no. 1953 Muslim
no. 1948 dengan sedikit perbedaan).
Dan dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ:
«يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ،
أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا؟» فَقَالَ: «لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ
قَاضِيَهُ عَنْهَا؟»، قَالَ: «نَعَمْ»، قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ
يُقْضَى»
Pernah datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku
meninggal dunia sementara ia mempunyai tanggungan puasa sebulan, apakah aku
melakukan qadha untuknya?”
Maka, beliau menjawab: “Kalau ibumu mempunyai tanggungan
hutang apakah engkau akan melunasinya?” Lelaki tersebut menjawab: “Ya”.
Beliau lalu bersabda: “Jika demikian sesungguhnya hutang
kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan”.
Dalam suatu riwayat, lelaki tersebut mengatakan:
إنَّ أُخْتِي مَاتَتْ
(Sesungguhnya saudara perempuanku meninggal dunia)
(HR. al-Bukhari no. 1953, Muslim, no. 1148.
Sedangkan dalam riwayat Ahmad di
dalam Al-Musnad dengan redaksi:
وعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ
(Sementara ia mempunya tanggungan puasa sebulan) 1/362.
Silakan lihat, Fathul Baari 4/194, dan silakan
lihat pula: Tahqiiq Ahmad Syakir terhadap Musnad, hadits nomer 3420).
HADITS KE LIMA:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: Ada seorang wanita
datang kepada Rosullullah ﷺ, dia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُخْتِي مَاتَتْ
وَعَلَيْهَا صِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَ: «أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى
أُخْتِكِ دَيْنٌ، أَكُنْتِ تَقْضِينَـهُ؟» قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: «فَحَقُّ اللَّهِ
أَحَقُّ».
Wahai Rasulullah, saudari-ku
meninggal dan dia punya tanggungan puasa dua bulan berturut-turut [Kafaraat].
Beliau ﷺ bersabda: " Apa pendapat mu jika
saudari-mu berutang, apakah kamu harus melunasinya?".
Dia berkata: Ya.
Lalu beliau bersabda: " Hak Allah lebih utama ".
[HR. Ibnu Majah (1758) dan lafadznya adalah
miliknya, dan Muslim (1148) menyebutkannya dengan lafadz: ((إن أمي ماتت / Ibuku meninggal)) dengan sedikit
perbedaan, dalam sebuah hadits yang panjang. Dan Al-Bukhari menyebutkannya
secara mu'allaq [tanpa sanad] dengan shigah al-Jazm [bentuk afirmatif] setelah
hadits no. (1953) disingkat].
RIWAYAT LAIN:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ:
إِنَّ أُخْتِي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ. قَالَ: «أَرَأَيْتِ
لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكِ دَيْنٌ، أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ:
«فَحَقُّ اللَّهِ أَحَقُّ».
Ada seorang wanita datang kepada Rosullullah ﷺ, dia berkata: Wahai Rasulullah, saudari-ku
meninggal dan dia punya tanggungan puasa dua bulan berturut-turut [Kafaraat].
Beliau ﷺ bersabda: " Apa pendapat mu jika
saudari-mu berutang, apakah kamu harus melunasinya?".
Dia berkata: Ya.
Lalu beliau bersabda: " Hak Allah lebih utama ".
[HR. Al-Tirmidzi (716) dan susunan katanya adalah
miliknya, Ibnu Majah (1758), dan Al-Nasa’i dalam ((Al-Sunan Al-Kubra)) (2914)].
Di Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi.
===
PERNYATAAN IMAM BUKHORI:
Imam Bukhari rahimahullah menulisakan dalam
Shahih nya: Bab (41), yaitu:
«بَابُ: مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ
صَوْمٌ»
“Bab: Orang
yang wafat dan meninggalkan hutang puasa”
Dalam bab ini, imam Bukhari ingin menjelaskan tetang hukum
orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa, apakah wajib bagi kerabatnya
untuk menunaikanya atau tidak?
Dalam bab ini imam Bukhari menyebutkan satu atsar
dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, dan dua hadits
dari Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
وَقَالَ الحَسَنُ: " إِنْ صَامَ
عَنْهُ ثَلاَثُونَ رَجُلًا يَوْمًا وَاحِدًا جَازَ ".
Dan Al-Hasan berkata: “Jika tiga puluh orang berpuasa untuknya
dalam satu hari maka itu boleh”.
TAKHRIIJ atsar Al-Hasan Al-Bashri:
Diriwayatkan oleh Al-Hafidz Ibnu
Hajar rahimahullah dalam kitabnya “Tagliq At-Ta’liq” (3/189) melalui
jalur imam Ad-Daraqutniy rahimahullah dalam kitabnya
“Al-Mudabbaj”, ia berkata:
Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata:
Muhammad bin Harun Al-Fallas menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin
Ya’qub Ath-Thaliqaniy memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin
Al-Mubarak memberitakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin ‘Amir menceritakan
kepada kami, dari Asy’ats:
عَنِ الْحَسَنِ؛ فِيمَنْ عَلَيْهِ صَوْمُ ثَلَاثِينَ
يَوْمًا، فَجَمَعَ لَهُ ثَلَاثِينَ رَجُلًا فَصَامُوا عَنْهُ يَوْمًا وَاحِدًا، قَالَ:
«أَجْزَأَ عَنْهُ».
Dari Al-Hasan; Ia ditanya tentang seseorang yang
memiliki hutang puasa tiga puluh hari, kemudian ia mengumpulkan tiga puluh
orang kemudian masing-masing berpuasa untuknya sehari?
Al-Hasan menjawab: “Itu cukup baginya”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari
bahwa hal tersebut benar jika puasanya tidak disyaratkan untuk dibayar secara
berurutan, jika puasanya disyaratkan berurutan maka itu tidak mecukupi karena
puasa tersebut tidak berurutan. [Fathul Bariy 4/224]
Kemudian Imam Bukhori menyebutkan Hadits 'Aisyah
radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ
صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»
"Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, maka
keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang mempuasakan dirinya”
(HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147).
===
FATWA SYAIKH BIN BAAZ:
Syeikh bin Baaz berkomentar tentang hadits qodho puasa
atas nama mayit:
«الصَّوَابُ أَنَّهُ عَامٌّ وَلَيْسَ
خَاصًّا بِالنَّذْرِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ الْأَئِمَّةِ كَأَحْمَدَ وَجَمَاعَةٍ
أَنَّهُمْ قَالُوا: إِنَّهُ خَاصٌّ بِالنَّذْرِ، وَلَكِنَّهُ قَوْلٌ مَرْجُوحٌ وَلَا
دَلِيلَ عَلَيْهِ، وَالصَّوَابُ أَنَّهُ عَامٌّ؛ لِأَنَّ الرَّسُولَ ﷺ قَالَ: «مَنْ
مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ» مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ مِنْ
حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا. وَلَمْ يَقُلْ: صَوْمُ النَّذْرِ، وَلَا
يَجُوزُ تَخْصِيصُ كَلَامِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا بِالدَّلِيلِ؛ لِأَنَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَامٌّ يَعُمُّ صَوْمَ النَّذْرِ وَصَوْمَ رَمَضَانَ
إِذَا تَأَخَّرَ الْمُسْلِمُ فِي قَضَائِهِ تَكَاسُلًا مَعَ الْقُدْرَةِ، أَوْ صَوْمَ
الْكَفَّارَاتِ، فَمَنْ تَرَكَ ذَلِكَ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ، وَالْوَلِيُّ هُوَ الْقَرِيبُ
مِنْ أَقَارِبِهِ، وَإِنْ صَامَ غَيْرُهُ أَجْزَأَ ذَلِكَ.
فَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ، سَأَلَهُ رَجُلٌ،
فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ
عَنْهَا؟ قَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟
اقْضُوا اللَّهَ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
وَسَأَلَتْهُ امْرَأَةٌ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَتْ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ
عَنْهَا؟ قَالَ: «أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟
اقْضُوا اللَّهَ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
وَفِي «مُسْنَدِ أَحْمَدَ» بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ رَمَضَانَ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟
قَالَ: «صُومِي عَنْ أُمِّكِ». فَأَوْضَحَتْ أَنَّهُ رَمَضَانُ، فَأَمَرَهَا بِالصِّيَامِ.
وَالْأَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ دَالَّةٌ عَلَى
قَضَاءِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ، وَأَنَّهُ لَا وَجْهَ لِتَخْصِيصِ النَّذْرِ، بَلْ هُوَ
قَوْلٌ مَرْجُوحٌ ضَعِيفٌ، وَالصَّوَابُ الْعُمُومُ.
هَكَذَا جَاءَتِ الْأَدِلَّةُ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، لَكِنْ إِذَا كَانَ الْمُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ
لَمْ يُفَرِّطْ، بَلْ أَفْطَرَ مِنْ أَجْلِ الْمَرَضِ أَوْ مِنْ أَجْلِ الرَّضَاعِ
أَوِ الْحَمْلِ، ثُمَّ مَاتَ الْمَرِيضُ أَوْ مَاتَتِ الْحَامِلُ أَوْ مَاتَتِ الْمُرْضِعُ
وَلَمْ تَسْتَطِعِ الْقَضَاءَ، فَلَا شَيْءَ عَلَيْهَا وَلَا عَلَى الْوَرَثَةِ، لَا
قَضَاءَ وَلَا إِطْعَامَ؛ لِلْعُذْرِ الشَّرْعِيِّ وَهُوَ الْمَرَضُ وَنَحْوُهُ.
أَمَّا إِنْ شُفِيَ مِنْ مَرَضِهِ وَأَمْكَنَهُ
الصَّوْمُ فَتَسَاهَلَ فَيُقْضَى عَنْهُ، وَالْمُرْضِعُ وَالْحَامِلُ إِنِ اسْتَطَاعَتَا
أَنْ تَقْضِيَا بَعْدَ ذَلِكَ فَتَسَاهَلَتَا، فَهُمَا يُقْضَى عَنْهُمَا. وَاللَّهُ
وَلِيُّ التَّوْفِيقِ».
Terjemahannya:
Pendapat yang benar adalah bahwa hadits tersebut bersifat
umum bukan khusus untuk puasa nadzar.
Dan telah diriwayatkan dari sebagian para imam, seperti
Ahmad dan Jama'ah bahwa mereka berkata: Ini khusus untuk puasa nadzar, tetapi
itu adalah pendapat yang marjuuh dan tidak ada dalil untuk itu. Dan pendapat
yang benar adalah bahwa hal itu bersifat umum. Karena Rasulullah ﷺ mengatakan:
«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ
صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»
"Siapa pun yang meninggal dan berutang puasa, maka
walinya harus berpuasa atas namanya". [HR. Al-Bukhari No. 1816, dan Muslim
No. 1935 dari hadits Aisyah].
Beliau ﷺ tidak mengatakan: Puasa Nadzar, dan
tidak diperbolehkan mengkhususkan sabda Nabi ﷺ kecuali
dengan dalil; Karena hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat
umum dan termasuk nadzar puasa dan puasa Ramadhan jika seorang muslim terlambat
mengqodho-nya karena kemalasannya padahal dia mampu atau punya kewajiban puasa
Kafaaroot. Maka barangsiapa meninggalkannya, maka walinya berpuasa untuknya.
Dan WALI-nya adalah orang yang dekat dari
kerabat-kerabatnya, dan jika orang lain yang berpuasa atas namanya, maka itu
sudah cukup.
Rosulullah ﷺ pernah di
tanya:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ
عَنْهَا؟ فَقَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟
اقْضُوا اللَّهَ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
“Seorang datang kepada Nabi ﷺ dan
berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedangkan dia
berkewajiban puasa sebulan, apakah aku perlu mengqadhanya?”
Beliau bersabda: “Jika ibumu punya hutang, apakah kamu
akan membayarnya?” Kalian bayarlah hutang kepada Allah karen Allah lebih berhak
untuk dibayarkan.” (HR. Muslim no. 1937).
Seorang wanita bertanya kepadanya tentang hal itu, dan dia
berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ
وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: «أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى
أُمِّكِ دَيْنٌ، أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dan dia berhutang puasa
selama sebulan, haruskah aku berpuasa untuknya?
Beliau ﷺ bersabda: “Jika ibumu punya hutang,
apakah kamu akan membayarnya? Kalian bayarlah hutang kepada Allah karen Allah
lebih berhak untuk dibayarkan.”
Dan di Musnad Ahmad dengan sanad Shahih dari Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ رَمَضَانَ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ:
«صُومِي عَنْ أُمِّكِ». فَأَوْضَحَتْ أَنَّهُ رَمَضَانُ، فَأَمَرَهَا بِالصِّيَامِ.
Bahwa seorang wanita berkata: Ya Rasulullah, ibuku
meninggal dan dia harus berpuasa Ramadhan, jadi aku harus berpuasa padanya
kepentingan? Dia berkata: Puasa atas nama ibumu. Dia menjelaskan
bahwa itu adalah Ramadhan, jadi dia memerintahkannya untuk berpuasa.
Ada banyak hadits yang menunjukkan qadha puasa untuk
Ramadhan dan waktu lainnya, dan tidak ada celah untuk mengkhususkan puasa
nadzar saja.
Demikianlah dalil-dalil dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, akan tetapi jika orang yang berbuka puasa di bulan Ramadhan
tidak disengaja, melainkan berbuka karena sakit atau karena menyusui atau
hamil, kemudian orang sakit itu meninggal dunia, atau ibu hamil itu meninggal
dunia, atau ibu menyusui itu meninggal dunia dan dia memang tidak mampu
mengqodhonya, maka tidak ada kewajiban apa-apa atas dirinya, begitu juga atas
ahli warisnya, tidak wajib mengqodho dan tidak wajib memberi makan fakir
miskin, karena dia punya udzur yang sah dan syar'i, yaitu karena sakit dan
sejenisnya.
Akan tetapi, jika dia sembuh dari penyakitnya dan dia
mampu berpuasa, kemudian dia bermudah-mudahan dengan mengundur-ngundur qodho
puasanya lalu dia meninggal; maka harus diqodho oleh walinya atas namanya. Begitu
juga wanita menyusui dan hamil, jika keduanya mampu mengqodo setelah itu, dan
keduanya menggampangkan lalu meninggal, maka harus diqodho atas
namakeduanya. Wallahu Walyut Taufiq.
[Di Kutip Dari Barnaamij Nuur Ala Al-Darb, rekaman
No. 17. (Kumpulan Fatwa dan Artikel Syekh Ibnu Baz 208/25)].
Sheikh Mohammad Bin Ibrahim Al-Saber dalam "شَرْحُ حَدِيثِ: «مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ، صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»"
berkata:
وَمَنْ هُوَ الْوَلِيُّ؟ الْوَلِيُّ هُوَ قَرِيبُهُ
وَوَارِثُهُ، الْوَارِثُ الَّذِي يَنْتَفِعُ بِمُخَلَّفَاتِ الْمَيِّتِ هُوَ الَّذِي
يَصُومُ عَنْهُ، كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَهْلُ الْعِلْمِ.
فَالْوَلِيُّ هَاهُنَا: هُوَ قَرِيبُ الْمَيِّتِ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَ غَيْرُ الْوَلِيِّ، يَعْنِي يَجُوزُ أَنْ يَصُومَ - مَثَلًا
- غَيْرُ أَقْرِبَائِهِ مِنْ أَصْدِقَائِهِ وَأَحْبَابِهِ؛ لِأَنَّ الْوَلِيَّ هَاهُنَا
خَرَجَ مَخْرَجَ الْغَالِبِ، أَوْ لِأَنَّ الْأَوْلَى بِالْقَضَاءِ عَنْهُ وَالصِّيَامِ
عَنْهُ هُمْ أَوْلِيَاؤُهُ وَأَقْرِبَاؤُهُ، فَمِنْ مُقْتَضَى الْقِيَامِ بِوَاجِبِهِ
قَضَاءُ الدُّيُونِ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُ.
لَكِنْ إِذَا أَفْطَرَ الْمُسْلِمُ بِسَبَبِ
الْمَرَضِ أَوْ بِسَبَبِ السَّفَرِ، ثُمَّ مَاتَ فِي مَرَضِهِ أَوْ مَاتَ فِي سَفَرِهِ،
فَهَذَا مَعْذُورٌ، أَوْ كَانَ مَرِيضًا وَشَفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى، وَلَكِنَّهُ لَمْ
يَعِشْ مِقْدَارَ الْأَيَّامِ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ، فَإِنَّهُ
يُصَامُ عَنْهُ مَا أَدْرَكَ وَهُوَ صَحِيحٌ، وَإِنْ صِيمَ عَنْهُ كُلُّ شَيْءٍ فَهَذَا
حَسَنٌ.
لَكِنْ لَا يَجِبُ أَنْ يُصَامَ عَنِ الْمَيِّتِ
إِلَّا إِذَا فَرَّطَ فِي الْقَضَاءِ، يَعْنِي تَمَكَّنَ مِنَ الْقَضَاءِ وَكَانَ صَحِيحًا
وَشُفِيَ مِنْ مَرَضِهِ وَعَادَ مِنْ سَفَرِهِ، لَكِنَّهُ تَسَاهَلَ، وَمَضَتْ عَلَيْهِ
أَيَّامٌ بِقَدْرِ مَا عَلَيْهِ وَلَمْ يَصُمْ، فَهَذَا يُصَامُ عَنْهُ، هَذِهِ بَعْضُ
الْفَوَائِدِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِهَذَا الْحَدِيثِ.
Terjemahan:
“Siapa yang dimaksud wali di sini ? Wali
adalah kerabat dan ahli warisnya. Pewaris yang mendapat manfaat dari
peninggalan harta mayit, maka dialah yang berkewajiban berpuasa atas nama
mayit, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.
Wali di sini: Dia adalah kerabat almarhum.
Dan orang lain selain wali juga boleh berpuasa untuk si
mayit, artinya: dia boleh berpuasa, misalnya: selain kerabatnya dari kalangan
teman dan orang yang dicintainya.
Adapun hanya kata wali yang disebutkan dalam hadits;
karena pada umumnya yang mengqodho puasanya adalah walinya, atau karena yang lebih
diutamakan untuk mengqodhonya dan berpuasa atas namanya adalah para wali dan
kerabatnya, sehingga mereka harus memenuhi kewajibannya untuk melunasi
hutangnya kepada Allah SWT.
Akan tetapi jika seorang muslim berbuka puasa karena sakit
atau karena safar, lalu dia meninggal dalam keadaan sakitnya atau meninggal
dalam safarnya, maka itu adalah udzur. Atau karena sakit lalu Allah Ta'ala
menyembuhkannya, akan tetapi masa hidupnya hanya beberapa hari saja yang tidak
mencukupi untuk mengqodha semua hari tidak puasa di bulan Ramadhan, maka
walinya cukup berpuasa atas namanya sejumlah hari yang dia sehat dan
memungkinkan mengqadhanya. Namun jika walinya mengqodho puasa semuanya atas
nama si mayit maka itu adalah hasan (bagus)".
Akan tetapi, tidak wajib berpuasa atas nama si mayit,
kecuali ia lalai mengqadha, yaitu ia mampu mengqadha puasa yang terlewat dan
dia sudah sehat, sembuh dari penyakitnya dan sudah pualng dari safarnya, tetapi
ia bersikap menunda-nunda, dan hari-hari pun berlalu sesuai dengan jumlah hari
yang dia berutang dan dia tidak berpuasa, maka yang demikina ini wajib diqodho
puasa-nya atas namanya.
Inilah beberapa manfaat yang terkait dengan hadits
ini". [Selesai Kutipan].
0 Komentar