STUDY HADITS :
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ، وَعُوفِيَ مِنَ الْحُمْقِ فِي وَلَدِهِ
وَوَلَدِ وَلَدِهِ»
“Barang siapa saja yang
memakan makanan yang jatuh dari meja makan, maka ia akan hidup dalam kelapangan
rezeki dan terhindar dari kebodohan yang bisa menimpa anak-anaknya dan
keturunannya”.
====
Di Tulis Oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI :
- PENDAHULUAN
- PEMBAHASAN PERTAMA :TENTANG HADITS ANJURAN MEMUNGUT MAKANAN YANG TERJATUH
- KATAGORI PERTAMA : HADITS YANG MUNKAR DAN PALSU
- KATAGORI KEDUA : HADITS-HADITS YANG SHAHIH
- PEMBAHASAN KEDUA : LARANGAN TABDZIR, ISROF DAN MENYIA-NYIAKAN RIZKI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Allah SWT melarang para hambannya menghambur-hamburkan
rizki, berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya serta menyia-nyiakan rizki,
walau sekecil apapun, jika itu masih bisa dimanfaatkan.
Allah berfirman:
{ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا}
“Janganlah engkau
berlebih-lebihan membelanjakan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang
yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada
Tuhannya.” (Al-Isra ayat 26–27)
Dalam hadits al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ besabda :
«إنَّ اللَّهَ كَرِهَ
لَكُمْ ثَلَاثًا: قيلَ وَقالَ، وإضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ»
“Allah membenci bagi kalian tiga perkara: banyak
membicarakan desas-desus, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya”. [HR. Bukhori
no. 1477 dan Muslim no. 593]
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rizki
yang dianugerahkan, kita wajib memelihara dan menjaganya dengan cara menghematnya,
tidak menghambur-hamburkannya dan tidak menterlantarkannya.
Dalam berinfaq-pun sebaiknya kita tidak berlebihan,
sebagaimana yang Allah SWT firmankan:
﴿ وَالَّذِينَ إِذَا
أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا﴾
“ Dan (salah satu ciri hamba ar-Rahman itu adalah),
orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir.
(Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya”. [QS. Al-Furqon : 67]
Dan firman lainnya :
﴿وَلَا تَجْعَلْ
يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ
مَلُومًا مَّحْسُورًا﴾
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada
lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam
memberi); karena itu akan menyebabkan-mu menjadi tercela dan menyesal. [QS. Al-Isra: 29]
Jika kita pandai besyukur atas anugerah Allah SWT, maka
Dia akan menambahinya.
﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ﴾
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". [QS. Ibrahim: 7]
Dan perlu diketahui bahwa makanan pokok dahulu pada
zaman Nabi ﷺ dan para
sahabat adalah kurma dan roti dari gandum, juga bubur darinya.
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA :
TENTANG HADITS ANJURAN
MEMUNGUT MAKANAN YANG TERJATUH
Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengan anjuran
dari Nabi ﷺ untuk
mengambil makanan yang terjatuh saat kita sedang makan, maka tingkat nilai keshahihannya
ada dua katagori.
Katagori Pertama : hadits munkar dan palsu.
Katagori Kedua : Hadits-hadits Shahih.
KATAGORI PERTAMA : HADITS YANG MUNKAR DAN PALSU
Hadits katagori pertama ini tersebar disebagian
kitab-kitab kumpulan hadits dhoif dan palsu, seperti dalam kitab sbb :
[1] Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah
[2] Al-‘Ilal al-Mutanahiyah
[3] al-Mawdhu’aat.
[4] Az-Ziyaadaat ‘Alaa al-Mawdhu’aat.
[5] Tadzkirotul Mawdhu’aat.
[6] Al-Mughni ‘An Hamlil Asfaar Fii al-Asfaar.
[7] Al-Maqashid Al-Hasanah
[8] Al-Mawaahib al-Laduniah.
[9] Kasyful Khofaa wa Muziil al-Ilbaas.
Dan sekarang-sekarang ini telah mulai disebarkan oleh
sebagian para da’i kontemporer, yang diantara lafadznya adalah sbb :
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ، وَعُوفِيَ مِنَ الْحُمْقِ فِي وَلَدِهِ
وَوَلَدِ وَلَدِهِ»
“Barang siapa saja yang memakan makanan yang jatuh
dari meja makan, maka ia akan hidup dalam kelapangan rezeki dan terhindar dari
kebodohan yang bisa menimpa anak-anaknya dan keturunannya”.
Hadits ini memiliki beberapa riwayat dan lafadz. Namun
semua riwayat hadits tersebut tidak ada riwayat yang shahih, semuanya hadits yang sangat
lemah, bahkan sebagian besar adalah hadits munkar dan palsu. Karena itu, hadits tersebut
tidak dapat dijadikan pegangan.
Muhammad Thohir al-Hindi al-Fattani dalam Tadzkiratul
Mawdhu’aat hal. 142 berkata :
"رُوِيَ باخْتِلَافِ
الْأَلْفَاظِ وَالْكُلُّ مُنْكَرٌ".
“Hadits ini diriwayatkan dengan lafaz-lafadz yang berbeda-beda (redaksinya
berbeda-beda), dan semuanya itu adalah hadits-hadit munkar”.
Di antara riwayat-riwayat dan lafadz-lafadz hadits
tersebut adalah sbb :
===
PERTAMA : HADITS JABIR RADHIYALLAHU ‘ANHU.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْخِوَانِ أَوِ الْقَصْعَةِ أُمِنَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ،
وَصُرِفَ عَنْ وَلَدِهِ الْحُمْقُ»
“Barang siapa yang memakan makanan yang jatuh dari
meja atau dari wadah makanan, maka ia akan aman dari kefakiran, penyakit
belang, serta lepra, dan akan dijauhkan dari sifat bodoh yang bisa menimpa
anaknya”.
[Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh, sebagaimana
disebutkan oleh al-Qoshtholani dalam al-Mawahib al-Laduniyah 2/169 dan oleh
Ibnu ‘Iraq al-Kannaani dalam Tanziih asy-Syari’ah al-Marfu’ah 2/262 no. 111].
Ad-Dailami mengaitkannya dalam *Musnad Al-Firdaws* (3/101/b)
dari jalur Abu Asy-Syaikh dengannya.
Al-Hafidz as-Sakhawi menyebutkannya dalam *Al-Maqāshid Al-Hasanah* hal. 400 no. 1072 dan berkata: “Hadits
ini munkar.”
Al-Fattani memasukkan hadits ini ke dalam kumpulan
hadits-hadits palsu, yaitu Tadzkirah al-Mawdhu’aat hal. 142. Dan dia berkata :
وَرُوِيَ غير ذَلِك وَكلهَا مَنَاكِير
"Dan
diriwayatkan selain itu, dan semuanya adalah riwayat-riwayat yang munkar."
Ibnu ‘Iraq menyebutkannya dalam *Tanzīh Asy-Syarī’ah* (2/262) no. 111
dan berkata:
(فِيهِ إِسْمَاعِيلُ
بْنُ عَيَّاشٍ، وَهُوَ مُخَلِّطٌ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ غَيْرِ أَهْلِ الشَّامِ، وَهَذَا
مِنْهُ...)
“Di dalam sanadnya terdapat Isma‘il bin ‘Ayyasy, dan
ia kacau balau campur aduk dalam meriwayatkan dari selain ulama Syam, dan
riwayat ini termasuk bagian dari kekacauannya.”
Sementara Al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi dalam al-Mughni ‘An
Hamlil Asfaar (Takhrij Ihya Ulumuddin 2/908-909 no. 120) berkata:
"رَوَاهُ أَبُو
الشَّيْخِ فِي الثَّوَابِ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ بِلَفْظِ:
«أَمِنَ مِنَ الْفَقْرِ
وَالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ وَصُرِفَ عَنْ وَلَدِهِ الْحُمْقُ»
وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ الْحَجَّاجِ بْنِ
عَلَاطٍ السُّلَمِيِّ:
«أُعْطِيَ سَعَةً
فِي الرِّزْقِ، وَوُقِيَ الْحُمْقَ فِي وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ»
وَكِلَاهُمَا مُنْكَرٌ جِدًّا".
اهـ
Abu asy-Syeikh meriwayatkannya dalam kitab Ats-Tsawab
dari hadits Jabir dengan lafaz:
‘Dia akan aman dari
kemiskinan, penyakit belang, dan kusta, serta dijauhkan dari kebodohan pada
anak-anaknya’.
Dan Abu Syekh juga meriwayatkannya dari hadits
Al-Hajjaj bin ‘Allath As-Sulami dengan lafaz:
‘Diberikan kelapangan rezeki
dan dijaga dari kebodohan pada anak dan cucunya’.
Dan kedua hadits tersebut sangat munkar sekali”.
[Selesai]
Diriwayatkan pula oleh Hasan bin Ma'ruf dalam
*Fadha'il Bani Hasyim*.
Dan juga oleh Al-Khothib serta Ibnu An-Najjar dari
Ibnu Abbas, sebagaimana terdapat dalam *Kanzul 'Ummal* (40823). [Lihat juga
*Kasyf al-Khofaa (2393)].
===
KEDUA : HADITS IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ‘ANHUMA :
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ
الْخِوَانِ عُوفِيَ مِنَ الْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ وَوَلَدُهُ وَوَلَدُ
وَلَدِهِ»
“Barang siapa memakan makanan yang jatuh dari nampan, ia akan
terhindar dari kegilaan, kusta, sopak, begitu pula anaknya dan cucunya.”
Diriwayatkan oleh Asy-Syihab Al-Qadha‘i dalam *Al-Musnad*
1/316 nomor 533.
Hadits tersebut terdapat dalam kitab *Ittihaf as-Saadah
al-Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulum ad-Din* karya Syekh Az-Zabidi, 5/224.
Diriwayatkan juga oleh Al-Khothib dalam *Tarikh
Baghdad* 5/145 no 2003 dalam biografi Ahmad bin Al-Hasan Abul Qosim as-Saamiry,
dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مِمَّا
يَسْقُطُ مِنَ الْخِوَانِ نُفِيَ عَنْهُ الْفَقْرُ، وَنُفِيَ عَنْ وَلَدِهِ الْحُمْقُ»
"Barang siapa memakan makanan yang jatuh dari
nampan, akan dihilangkan darinya kemiskinan, dan dari anaknya akan dihilangkan
kebodohan."
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh
Dimasyq (69/170) pada biografi Zainab binti Sulaiman, melalui jalur Ali bin
Ma'ruf Al-Bazzaz, dari Ibrahim bin Abdush Shomad dengan sanad tersebut.
Lihat hadits ini di: Tarikh Asbahan 2/355. dan Kanz
al-Ummal 40821, 40822
Ibnu al-Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyah 2/179 no.
1111 berkata tentang sanad hadits ini :
" هَذَا حَدِيثٌ
لَا يَصِحُّ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ: عَبْدُ الصَّمَدِ قَدْ ضَعَّفُوهُ"
"Ini adalah hadits yang tidak sahih. Abu Bakar Al-Khothib
berkata: ‘Abdush Shomad telah dianggap lemahkan oleh para ulama ahli hadits.’"
Ibnu Iraq menyebutkannya dalam Tanzih Asy-Syari‘ah
(2/262) nomor 111, dan berkata:
(لَمْ يُبَيِّنْ
عِلَّتَهُ، وَفِيهِ عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ مُوسَى الْهَاشِمِي، قَالَ الْخَطِيبُ: ضَعَّفُوهُ،
وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي الْمِيزَانِ: يَرْوِي مَنَاكِيرَ...)
“Ia tidak menjelaskan illat-nya. Dalam sanadnya
terdapat Abdus Shamad bin Musa Al-Hasyimi.
Al-Khothib berkata: ‘Mereka mendhaifkannya.’
Dan Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan: ‘Ia
meriwayatkan hadits-hadits munkar.’” [Selesai]
Diriwayatkan pula oleh Al-Qudho‘i dalam Musnad
Asy-Syihab (1/316–317) no. 533, melalui jalur Muhammad bin Al-Walid bin Abban
dari Zainab binti Sulaiman, dengan sanad serupa sebagaimana disebutkan
sebelumnya.
Adapun Muhammad bin Al-Walid bin Abban Al-Qalansi
Al-Baghdadi, ia tertuduh (bermasalah). Lihat biografinya dalam Al-Mizan
(4/59).
Zainuddin al-Iraqi dalam dalam Takhrij al-Ihya 2/909:
رَوَاهُ الشِّيرَازِيُّ فِي الأَلْقَابِ
وَالخَطِيبُ وَابْنُ عَسَاكِرَ. قَالَ
ابْنُ السُّبْكِيِّ: (6/ 308) لَمْ أَجِدْ لَهُ إِسْنَادًا
Diriwayatkan oleh Asy-Syirazi dalam Al-Alqab, Al-Khothib,
dan Ibnu Asakir. Sementara Ibnus Subki berkata (6/308): “Aku tidak menemukan
sanadnya.”
Abul Abbas Al-Qasthalani berkata dalam *Al-Mawahib
Al-Ladunniyyah* 2/169:
“Dan Ad-Daylami meriwayatkan melalui jalur Ar-Rasyid
dari ayah-ayahnya, dari Ibnu Abbas secara marfu‘ dari Nabi ﷺ:
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ خَرَجَ وَلَدُهُ صَبَاحَ الْوُجُوهِ، وَنُفِيَ عَنْهُ الْفَقْرُ»
‘Barangsiapa memakan apa yang jatuh dari meja makan,
maka anak-anaknya akan tampak bagus rupanya, dan akan dihilangkan darinya
kefakiran.’
Dan Al-Ghazali juga menyebutkannya dalam *Ihya’*
dengan lafaz:
«عَاشَ فِي سَعَةٍ
وَعُوفِيَ فِي وَلَدِهِ»
‘Ia hidup dalam kelapangan dan anak-anaknya diberi
keselamatan.’
Semua riwayat ini adalah munkar.” [Selesai]
Lafadz lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
Diriwayatkan oleh Al-Khothib dalam *Tarikh*-nya
(14/125-126) dan dari jalur-nya Ibnu ‘Asakir dalam *Tarikh*-nya (45/432) dari
jalur Al-Jahidz dari Abu Yusuf Al-Qadhi dari Harun Ar-Rashid dengan redaksi :
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْخِوَانِ فَرُزِقَ أَوْلادًا كَانُوا صبَاحًا»
“Orang yang memakan makanan yang jatuh dari nampan
akan dikaruniai anak-anak yang berparas bagus sejak lahir”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Asy-Syairazi dalam
Al-Alqab, sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi dalam *Jami‘ul Jawami‘* 8/679
nomor 20814/2318.
Dan disebutkan oleh As-Sakhawi dalam *Al-Maqashid
Al-Hasanah* hal. 400 di bawah no. 1072, serta oleh Ibnu ‘Iraq dalam *Tanzih
Asy-Syari’ah* (2/262) di bawah nomor 111.
As-Suyuthi berkata dalam az-Ziyadaat ‘Alaa
al-Mawdhu’aat 2/553 :
فِي إِسْنَادِهِ يُوسُفُ بْنُ أَبِي يُوسُفَ
قَالَ فِي (الْمُغْنِي): مَجْهُول
Dalam isnadnya, terdapat perawi yang bernama Yusuf bin
Abu Yusuf, disebutkan dalam *Al-Mughni*: *Majhuul* (ia tidak dikenal).
[Baca : Diwan Adh-Dhu‘afa’ wa Al-Matrukin, hal. 449,
nomor 4821; dan *Al-Mughni* (2/440), nomor 7256]
Begitu pula yang dinyatakan oleh Muhammad Thohir
al-Hindi al-Fattani dalam Tadzkiratul Mawdhu’aat hal. 142.
===
KETIGA : HADITS ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ‘ANHU.
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مِنْ
سَقَطِ الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ، وَعُوفِيَ فِي وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ مِنَ
الْحُمْقِ»
“Barang siapa memakan makanan yang jatuh dari meja, ia
akan hidup dalam kelapangan, dan anak serta cucunya akan terjaga dari sifat
kebodohan.”
[Di sebutkan tanpa sanad oleh Ibnu Qutaibah ad-Danuuri
dalam kitab Uyunul Akhbaar 3/243 dan Robi’ al-Abraar karya Jaarullah
Zamakhsyari 3/215 no. 70]
Lafadz lain dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ، وَعُوفِيَ مِنَ الْحُمْقِ فِي وَلَدِهِ
وَوَلَدِ وَلَدِهِ، وَفِي جَارِهِ وَجَارِ جَارِهِ، وَدُوَيْرَاتِ أَهْلِهِ»
“Barang siapa memakan sesuatu yang jatuh dari meja
makan, maka ia akan hidup dalam kelapangan, dan ia diselamatkan dari kebodohan
pada dirinya, pada anaknya, dan anak dari anaknya, serta pada tetangganya,
tetangga dari tetangganya, dan keluarga dekatnya”.
[Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh
Dimasyq (14/390/2) melalui jalur Isḥaq bin Najīh, dari ‘Aṭhoo’ bin Maysarah, dari
Makḥul, dari Abu
Hurairah secara marfū’ (dari Nabi ﷺ).
Di sebutkan dalam Tanziih asy-Syari’ah al-Marfu’ah
2/262 no. 111].
Ibnu Asakir berkata:
هٰذَا حَدِيثٌ شَاذٌّ، وَإِسْحٰقُ بْنُ
نَجِيحٍ ضَعِيفٌ جِدًّا، وَمَكْحُولٌ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ شَيْئًا
“Ini adalah hadits syadz (melenceng), dan Ishaq bin
Najih sangat lemah, serta Mak-hul tidak pernah mendengar sedikit pun dari Abu
Hurairah.”
[Baca : *Ma‘jam Asy-Syuyukh* (1/593). Dan hadits ini
disebutkan oleh Ibn ‘Iraq dalam *Tanzih Asy-Syari‘ah* (2/262) nomor 111].
Al-Imam as-Sayuthi dalam Jam’ul Jawami’ 8/679 no.
2317/20813 berkata:
أَخْرَجَهُ ابْنُ
عَسَاكِرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَفِيهِ إِسْحَاقُ بْنُ نَجِيحٍ: كَذَّابٌ
“Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Hurairah, dan
di dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Najih: pendusta”.
Dan As-Sayuthi juga mengatakan hal yang sama dalam az-Ziyadaat
‘Alaa al-Mawdhu’aat 2/552 no. 665/أ, namun di sini perkataannya lebih tegas :
إِسْحَاقُ بْنُ نَجِيحٍ كَذَّابٌ يَضَعُ
الحَدِيثَ
“Ishaq bin Najih: pendusta, yang biasa membuat hadits
palsu”.
Begitu juga yang dikatakan Zainuddin al-Iraqi dalam
Takhrij al-Ihya 2/909.
Dan demikian pula Murtadho az-Zabidi
mencantumkan hadits tersebut dalam *Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin* 5/224. Ia
berkata:
“Di antaranya adalah riwayat dari Abu Hurairah yang
disandarkan kepada Rasulullah ﷺ, lalu ia
menyebutkan hadits tersebut. Ia mengatakan:
رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ، وَفِيهِ إِسْحَاقُ
بْنُ نَجِيحٍ كَذَّابٌ
“Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir, dan di dalam
sanadnya terdapat Ishaq bin Najih yang merupakan seorang pendusta”.
Syeikh al-Albani dalam as-Silsilah
adh-Dho’ifah 12/493 no. 5722:
قُلْتُ: وَهَذَا مَوْضُوعٌ، آفَتُهُ:
إِسْحَاقُ هَذَا، قَالَ ابْنُ حِبَّانَ (1 / 134): (دَجَّالٌ مِنَ الدَّجَاجِلَةِ،
كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
صَرَاحًا)
Saya berkata: Ini adalah hadits maudhu‘ (palsu),
penyebab kecacatannya adalah Ishaq ini.
Ibnu Hibban berkata dalam *al-Majruhin* (1/134): “Dia
seorang dajjal (pendusta besar) di antara para dajjal (pendusta); ia secara
terang-terangan membuat hadits palsu atas nama Rasulullah ﷺ.”
Riwayat lain :
Ad-Daraquthni meriwayatkannya dalam **Al-Gharaib**:
Ahmad bin Sulaiman Al-Harani berkata kepada kami, Malik berkata kepada kami
dari Sa‘id Al-Maqburi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfuu’:
«مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ
لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ مِنْ رِزْقِهِ»
"Siapa yang memakan apa yang jatuh dari meja makan, ia akan
tetap berada dalam kelapangan rezekinya."
[Disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam *Lisan
al-Mizan* (1/476) dalam biografi Ahmad bin Sulaiman al-Armini al-Harani, dan
al-Sakhawi dalam *al-Maqashid al-Hasanah* hal. 400 nomor 1072, as-Sayuthi dalam
az-Ziyadaat Fi al-Mawdhu’at 2/552 no. 665, serta Ibnu ‘Iraq dalam *Tanzih
al-Shari’ah* (2/262) nomor 111.]
Ad-Daraquthni berkata:
أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ هَذَا كَذَّابٌ
يُحَدِّثُ عَنْ مَالِكٍ بِالْأَبَاطِيلِ
"Ahmad bin Sulaiman ini pendusta, ia meriwayatkan dari
Malik hal-hal yang batil." [Baca: Lisan al-Mizan (1/476)]
Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan
1/476 no. biografi 537 tentang perawi yang bernama Ahmad bin Sulaiman al-Harraani,
beliau berkata :
أَوْرَدَ لَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي
الغَرَائِبِ: عَنْ مَالِكٍ، عَنْ سَعِيدِ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا:
«مَنْ أَكَلَ مَا
يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ مِنْ رِزْقِهِ».
وَبِهِ: «قِلَّةُ الحَيَاءِ كُفْرٌ»،
ثُمَّ قَالَ: أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ هَذَا كَذَّابٌ يُحَدِّثُ عَنْ مَالِكٍ بِالْأَبَاطِيلِ.
“Ad-Daraquthni meriwayatkan untuknya dalam kitab Al-Gharaib:
dari Malik, dari Sa‘id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara
marfuu’: *‘Siapa yang memakan apa yang jatuh dari meja makan, ia akan
senantiasa berada dalam kelapangan rezekinya.’*
Dan dengan sanad itu pula: *‘Sedikit rasa malu adalah
kekufuran.’*
Kemudian ia berkata: *Ahmad bin Sulaiman ini adalah
seorang pendusta, yang meriwayatkan dari Malik hal-hal yang batil.* [Selesai]
===
KEEMPAT : HADITS ANAS BIN MALIK RADHIYALLAHU ‘ANHU :
Diriwayatkan oleh Abu Utsman al-Buhairi dalam
ats-Tsalits min Fawaa’id hal. 55 no. 54. Dia berkata :
Abū Ṭāhir bin ‘Urwah al-Aṣbahānī menceritakan kepada kami. Ia berkata, Muhammad bin
Abdullah bin Husain menceritakan kepada kami. Ia berkata, Abū Yusuf Ya‘qūb bin Ibrahim
al-Ghazzāl al-Muqri’
menceritakan kepada kami. Ia berkata, Ahmad bin Yunus, imam Masjid Baitul
Maqdis di Baitul Maqdis, dan ia termasuk keturunan Syaddād bin Aus sahabat Rasulullah ﷺ, menceritakan kepada kami. Ia berkata:
Aku mendengar Hudbah bin Khalid berkata:
حَضَرْتُ عِنْدَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
الْمَأْمُونِ، فَلَمَّا رُفِعَتِ الْمَائِدَةُ جَعَلْتُ أَلْتَقِطُ مَا فِي الأَرْضِ،
فَنَظَرَ إِلَيَّ الْمَأْمُونُ، فَقَالَ: مَا شَبِعْتَ يَا شَيْخُ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا
أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّمَا شَبِعْتُ فِي فِنَائِكَ وَكَنَفِكَ، وَلَكِنْ حَدَّثَنِي
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ أَكَلَ
مَا تَحْتَ مَائِدَتِهِ أَمِنَ مِنَ الْفَقْرِ» .
فَنَظَرَ الْمَأْمُونُ إِلَى خَادِمٍ
وَاقِفٍ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ، فَمَا شَعَرْتُ حَتَّى جَاءَنِي وَمَعَهُ
مِنْدِيلٌ فِيهِ أَلْفُ دِينَارٍ، فَنَاوَلَنِي، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ
وَهَذَا أَيْضًا مِنْ ذَلِكَ؟
“Aku hadir di sisi Amirul Mukminin al-Ma’mun. Ketika
hidangan makan telah diangkat, aku mulai memunguti makanan yang jatuh di tanah.
Al-Ma’mun melihatku dan berkata: ‘Wahai orang tua,
apakah engkau belum kenyang?’
Aku menjawab: ‘Sudah, wahai Amirul Mukminin. Aku
kenyang di halaman dan naunganmu. Namun Hamad bin Salamah telah menceritakan
kepadaku dari Tsabit al-Bunani, dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَكَلَ مَا تَحْتَ مَائِدَتِهِ
أَمِنَ مِنَ الْفَقْرِ» .
*“Barang siapa memakan apa yang berada di bawah mejanya, ia akan
aman dari kefakiran.”*’
Lalu al-Ma’mun melihat kepada seorang pelayan yang
berdiri di hadapannya, kemudian ia memberi isyarat kepadanya. Tidak lama
kemudian pelayan itu datang kepadaku dengan membawa sebuah kain yang berisi
seribu dinar, lalu memberikannya kepadaku.
Maka aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah ini
juga termasuk bagian dari hal tersebut?’”
Diriwayatkan pula oleh Abu Nu‘aim dalam *Akhbār Ashbahān* (2/333 no. ) dan
Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskus 33/319 melalui jalur Ahmad bin Mu’nis
– imam masjid Baitul Maqdis dari keturunan Syaddad bin Aus – ia berkata:
Aku mendengar Hudbah berkata: --- dst .
Adan hadits ini terdapat pula dalam kitab *Ittihaf
As-Sadah Al-Muttaqin* karya As-Syaikh Az-Zabidi, pada *Kitab Adab Makan*, bab
*Apa yang Dianjurkan Setelah Makan*, 5/224.
Ia berkata: Aku berkata, telah diriwayatkan dalam bab ini melalui
berbagai jalur, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Al-Khothib dalam
*Al-Mu'talif* dari Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit,
dari Anas secara marfu’:
«مَنْ أَكَلَ مَا
تَحْتَ الْمَائِدَةِ أَمِنَ مِنَ الْفَقْرِ».
“Barang siapa memakan apa yang berada di bawah meja makan,
niscaya aman dari kefakiran.”
STATUS HADITS : matan-nya munkar.
Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata dalam *Athraf
Al-Mukhtarah*:
سَنَدُهُ مِنْ هُدْبَةَ عَلَى شَرْطِ
مُسْلِمٍ، وَالْمَتْنُ مُنْكَرٌ، فَيُنْظَرُ فِيمَنْ دُونَ هُدْبَةَ.
“Sanadnya melalui jalur Hudbah sesuai syarat Muslim, namun
matannya mungkar. Karena itu perlu diteliti perawi setelah Hudbah”. [Lihat :
Jam’ul Jawami’ karya as-Suyuthi 8/677 no. 2313/20809]
Dan Syeikh Al-Albani berkata dalam *As-Silsilah
Adh-Dha‘ifah* 12/491–492 no. 5721:
حَدِيثٌ مُنْكَرٌ.
قُلْتُ: وَهَذَا إِسْنَادٌ رِجَالُهُ
ثِقَاتٌ؛ غَيْرَ أَحْمَدَ بْنِ مُوَيْسِ الْمَقْدِسِيِّ، لَمْ أَجِدْ لَهُ تَرْجَمَةً،
فَهُوَ الْآفَةُ.
وَالْحَدِيثُ أَوْرَدَهُ السُّيُوطِيُّ
فِي الْجَامِعِ الْكَبِيرِ مِنْ رِوَايَةِ الْخَطِيبِ فِي الْمُؤْتَلِفِ عَنْ هُدْبَةَ
بِهِ، وَقَالَ: عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَالْمَتْنُ مُنْكَرٌ، فَيُنْظَرُ فِيمَنْ دُونَ
هُدْبَةَ.
“Hadits ini munkar.”
Aku (Al-Albani) berkata: “Sanadnya para perawinya
terpercaya, kecuali Ahmad bin Muwais Al-Maqdisi; aku tidak menemukan
biografinya, dialah penyebab cacatnya sanad ini.”
Hadits ini juga disebutkan oleh As-Suyuthi dalam
*Al-Jami‘ Al-Kabir* dari riwayat Al-Khothib dalam *Al-Mu'talif*, dari Hudbah,
dengan redaksi tersebut. As-Suyuthi berkata: “(Sanadnya) sesuai syarat Muslim,
tetapi matannya munkar; maka hendaknya diteliti perawi di bawah Hudbah.”
[SELESAI]
Dan As-Sakhowi dalam al-Maqooshid al-Hasanah hal. 628
no. 1073 berkata :
وَفِي البَابِ عَنْ أَنَسٍ، أَوْرَدَهُ
الخَطِيبُ فِي تَرْجَمَةِ يُونُسَ مِنَ المُؤْتَلِفِ، وَفِيهِ قِصَّةٌ لِهُدْبَةِ بْنِ
خَالِدٍ مَعَ المَأْمُونِ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَكُلُّهَا مَنَاكِيرُ.
“Dalam bab ini juga ada riwayat dari Anas, disebutkan
oleh Al-Khathib dalam biografi Yunus dalam *Al-Mu’talif*, dan di dalamnya
terdapat kisah Hudbah bin Khalid denganAmirul Mukminin Al-Ma’mun. Juga ada riwayat dari Abu Hurairah.
Dan semuanya adalah riwayat-riwayat munkar”. [[Selesai]]
Dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskus 33/319
meriwayatkan pula :
وَقَالَ الْخَطِيبُ: حَضَرْتُ عِنْدَ
أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ الْمَأْمُونِ، فَلَمَّا رُفِعَتِ الْمَائِدَةُ جَعَلْتُ أَلْتَقِطُ
مَا فِي الْأَرْضِ، فَنَظَرَ إِلَيَّ الْمَأْمُونُ فَقَالَ: أَيُّهَا الشَّيْخُ! أَمَا
شَبِعْتَ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّمَا شَبِعْتُ فِي فِنَائِكَ
وَكَنَفِكَ. وَقَالَ الْحَدَّادُ: وَكَرَمِكَ.
وَلَكِنْ، وَقَالَ الْخَطِيبُ: وَلَكِنِّي
حَدَّثَنِي حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتِ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ أَكَلَ مِمَّا تَحْتَ مَائِدَتِهِ أَمِنَ
مِنَ الْفَقْرِ». فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ إِلَى خَادِمٍ لَهُ، فَجَاءَ وَنَاوَلَنِي أَلْفَ
دِينَارٍ. وَقَالَ الْحَدَّادُ: وَنَاوَلَهُ بُدْرَةً فِيهَا أَلْفُ دِينَارٍ. فَقُلْتُ:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ ذَلِكَ".
Al-Khothib berkata: “Aku hadir di sisi Amirul Mukminin
Al-Ma’mun. Ketika hidangan diangkat, aku mulai memunguti apa yang ada di
lantai.
Al-Ma’mun memandangku lalu berkata: ‘Wahai orang tua,
apakah engkau belum kenyang?’
Aku menjawab: ‘Sudah, wahai Amirul Mukminin. Aku
kenyang karena berada di halaman dan dalam naunganmu,’ dan Al-Haddad
menambahkan: ‘serta karena kemuliaanmu.’
Namun Al-Khothib berkata: ‘Akan tetapi Hamad bin
Salamah telah menceritakan kepadaku dari Tsabit Al-Bunani dari Anas bin Malik,
ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:
Barangsiapa memakan sesuatu yang berada di bawah
mejanya, ia akan aman dari kemiskinan.’
Maka Al-Ma’mun mengisyaratkan dengan kepalanya kepada
seorang pelayan, lalu pelayan itu datang dan menyerahkan seribu dinar kepadaku.
Al-Haddad berkata: ‘Ia memberikan sebongkah harta yang
berisi seribu dinar.’
Maka aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, ini juga termasuk
bagian dari itu’.” [Selesai]
===
PERNYATAAN PARA PAKAR HADITS TENTANG HADITS-HADITS DIATAS INI :
Al-Imam as-Sayuthi memasukkan hadits-hadits tersebut
dalam kitab kumpulan hadits palsu, yaitu “az-Ziyadaat ‘Alaa al-Mawdhuu’aat
2/553 (666/1).
Begitu juga Al-Fattani, dia juga memasukkannya ke
dalam kumpulan hadits-hadits palsu, yaitu Tadzkirah al-Mawdhu’aat hal. 142. Dan
dia berkata :
وَرُوِيَ غَيْرُ ذٰلِكَ وَكُلُّهَا مَنَاكِيرُ
“Dan
diriwayatkan selain itu, dan semuanya adalah riwayat-riwayat yang munkar.”
As-Sakhowi dalam al-Maqooshid al-Hasanah hal. 628 no.
1073 berkata :
أَخْرَجَهُ الخَطِيبُ (عَنْ جَابِرٍ وَعَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ) فِي تَرْجَمَةِ عَبْدِ الصَّمَدِ الهَاشِمِيِّ، ثُمَّ ضَعَّفَهُ، وَأَوْرَدَهُ
الغَزَالِيُّ فِي الإِحْيَاءِ بِلَفْظِ: عَاشَ فِي سَعَةٍ وَعُوفِيَ فِي وَلَدِهِ،
وَفِي البَابِ عَنْ أَنَسٍ، أَوْرَدَهُ الخَطِيبُ فِي تَرْجَمَةِ يُونُسَ مِنَ المُؤْتَلِفِ،
وَفِيهِ قِصَّةٌ لِهُدْبَةِ بْنِ خَالِدٍ مَعَ المَأْمُونِ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
وَكُلُّهَا مَنَاكِيرُ.
“Diriwayatkan oleh Al-Khathib (dari Jabir dan dari
Ibnu Abbas) dalam biografi Abdurrahman Al-Hasyimi, kemudian ia men-dho’ifkan-nya.
Al-Ghazali menyebutkannya dalam *Ihya’* dengan lafaz:
“Ia hidup dalam kelapangan dan diberi keselamatan pada anak keturunannya.”
Dalam bab ini juga ada riwayat dari Anas, disebutkan
oleh Al-Khathib dalam biografi Yunus dalam *Al-Mu’talif*, dan di dalamnya
terdapat kisah Hudbah bin Khalid dengan Al-Ma’mun.
Juga ada riwayat dari Abu Hurairah.
Dan semuanya adalah riwayat-riwayat munkar”. [[Selesai]]
Nuruddin Ibnu ‘Iraq al-Kannaani dalam Tanjiih
asy-Syari’ah al-Marfu’ah 2/262 no. 111 berkata :
[حَدِيثٌ] «مَنْ
أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ مِنْ رِزْقِهِ»
(رواهُ الدارقطني)
فِي الغرائبِ من حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْحَرَّانِيّ
(ورواهُ ابنُ عساكر)
من حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا بِلَفْظٍ: «مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ
الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ وَعُوفِيَ مِنَ الْحَمَقِ فِي وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ،
وَفِي جَارِهِ وَجَارِ جَارِهِ وَدُوَيْرَاتِ أَهْلِهِ». وَفِيهِ إِسْحَاقُ بْنُ نَجِيحٍ
(ورواهُ الدارمي)
من حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِلَفْظٍ: م«َنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ
خَرَجَ وَلَدُهُ صَبَاحَ الْوُجُوهِ وَنُفِيَ عَنْهُ الْفَقْرُ». وَفِيهِ يُوسُفُ بْنُ أَبِي يُوسُفَ
الْقَاضِي مَجْهُولٌ
(ورواهُ أَبُو الشَّيْخِ)
من حَدِيثِ جَابِرٍ بِلَفْظٍ: «مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ الْخَوَانِ وَالْقَصْعَةِ
أُمِنَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ وَصُرِفَ عَنْ وَلَدِهِ الْحَمَقُ».
(قُلْتُ) لَمْ يُبَيَّنْ
عِلَّةُ هَذَيْنِ الْأَخِيرَيْنِ، وَفِي أَوَّلِهِمَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ وَهُوَ
مُخْلَطٌ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ غَيْرِ أَهْلِ الشَّامِ وَهَذَا مِنْهُ فَإِنَّهُ يَرْوِيهِ
عَنْ دَاوُدِ بْنِ أَبِي دَاوُدٍ الْأَنْصَارِيّ الْمَدَنِيّ، وَفِي ثَانِيهِمَا عَبْدُ
الصَّمَدِ بْنُ مُوسَى الْهَاشِمِيّ قَالَ الْخَطِيبُ ضَعَّفُوهُ وَقَالَ الذَّهَبِيُّ
فِي الْمِيزَانِ يَرْوِي مَنَاكِيرَ وَشَيْخَتُهُ زَيْنَبُ بِنْتُ سُلَيْمَانَ بْنِ
عَلِيٍّ لَمْ أَقِفْ لَهَا عَلَى تَرْجَمَةٍ وَكَذَلِكَ الرَّاوِي لَهُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ
بْنِ عَبْدِ الصَّمَدِ أَبُو الْقَاسِمِ عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحُسَيْنِ
الْوَرَّاقِ السَّامِرِيُّ لَمْ أَعْرِفْهُ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
[Hadits] Siapa yang memakan apa yang jatuh dari
meja makan, maka ia akan tetap berada dalam kelapangan rezekinya.
(Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni) dalam *Al-Gharaib*
dari hadits Abu Hurairah, di dalam sanadnya ada Ahmad bin Sulaiman Al-Harrani.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir) dari hadits Abu
Hurairah juga dengan lafaz:
“Siapa yang memakan apa yang jatuh dari meja makan, ia
hidup dalam kelapangan dan terhindar dari kebodohan dalam anaknya dan
keturunannya, juga dalam tetangganya dan keturunan tetangganya serta
rumah-rumah keluarganya.”
Di dalamnya terdapat Isḥaq bin Najih.
(Diriwayatkan oleh Ad-Darami) dari hadits Ibnu Abbas
dengan lafaz:
“Siapa yang memakan apa yang jatuh dari meja makan,
anaknya akan lahir dengan wajah cerah dan ia dijauhkan dari kefakiran.”
Di dalamnya terdapat Yusuf bin Abi Yusuf Al-Qadhi yang
sanadnya *majhul* (tidak dikenal).
(Diriwayatkan oleh Abu Syaikh) dari hadits Jabir
dengan lafaz:
“Siapa yang memakan apa yang jatuh dari mangkuk dan
meja makan, ia akan dijauhkan dari kefakiran, penyakit kusta, dan lepra, dan
anaknya dijauhkan dari kebodohan.”
(Saya katakan) :
Tidak dijelaskan ilat (sebab kelemahan) dari dua
riwayat terakhir ini.
Dalam hadits yang pertama : terdapat Isma’il bin
‘Ayyash, sanadnya bercampur dari selain penduduk Syam, dan ini diriwayatkan
darinya dari Dawud bin Abi Dawud Al-Anshari Al-Madani.
Dalam hadits yang kedua : terdapat ‘Abdush Shomad bin
Musa Al-Hashimi, yang dikatakan Al-Khothib dha’if sanadnya. Dan Al-Dzahabi
dalam *Al-Mizan* berkata : ‘bahwa ia meriwayatkan riwayat-riwayat munkar, dan
guru perempuan-nya adalah Zainab binti Sulaiman bin ‘Ali, yang saya tidak
menemukan biografinya’.
Demikian pula perawi darinya, yaitu dari Ibrahim bin
‘Abdush Shomad, Abu Al-Qasim ‘Utsman bin Ahmad bin Al-Husain Al-Warraq
As-Samiri, saya tidak mengenalnya. Wallahu a’lam. [Selesai]
As-Sakhowi dalam al-Ajwibah al-Murdhiyyah 2/491 ketika
mentakhrij hadits perintah memuliakan roti, dia berkesimpulan:
وَهَذِهِ الجُمْلَةُ
الأَخِيرَةُ مَرْوِيَّةٌ فِي "الأَطْعِمَةِ" لِعُثْمَانَ الدَّارِمِيِّ مِنْ
حَدِيثِ مَرْوَانَ بْنِ سَالِمٍ بْنِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ ابْنِ الحَجَّاجِ بْنِ عَلَاطٍ
عَنْ أَبِيهِ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ: «مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ المَائِدَةِ
لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ مِنَ الرِّزْقِ وَوُقِيَ الحَمَقُ فِي وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ».
وَهِيَ بِنَحْوِهَا
عَنْ أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ لَكِنْ لَا نُطِيلُ بِبَيَانِهَا،
وَهَذِهِ الرِّوَايَاتُ مَعَ اخْتِلَافِهَا لَا تَخْلُو مِنْ طَعْنٍ فَطَلْحَةَ قَالَ
فِيهِ أَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ المَدِينِيِّ:
أَنَّهُ يَضَعُ الحَدِيثَ.
وَقَالَ أَحْمَدُ
فِي الرِّوَايَةِ الأُخْرَى: لَيْسَ بِذَاكَ، فَقَدْ حَدَثَ بِأَحَادِيثَ مُنَاكِرٍ.
انْتَهَى. «»
Dan kalimat terakhir ini
diriwayatkan dalam kitab “Al-Aṭ‘imah” oleh ‘Utsmān
ad-Dārimī dari hadits Marwān
bin Sālim bin Ismā’īl
dari Ibnu al-Ḥajjāj
bin ‘Alāṭ dari ayahnya, yang memiliki sanad sahabat
radhiyallāhu ‘anhu. Beliau berkata: Rasulullāh ﷺ bersabda:
“Siapa yang memakan apa yang
jatuh dari meja makan, maka ia akan tetap berada dalam
kelapangan rezeki, dan terhindar dari kebodohan bagi anak-anaknya dan
keturunannya.”
Dan hadits semacam ini juga
diriwayatkan dari Anas, Jābir, Ibnu ‘Abbās,
dan Abu Hurairah, namun kami tidak memperpanjang penjelasannya.
Hadits-hadits ini, meskipun
berbeda lafaz, tidak luput dari kritikan. Imam
Ahmad
dalam salah satu riwayatnya, juga Abu Dāwūd,
dan Ibnu al-Madīnī berkata tentang
Thalah ini: bahwa dia adalah seorang pembikin hadits palsu.
Dan Imam Ahmad berkata tentang riwayat
lainnya: tidaklah seperti itu, karena hadits tersebut mengandung
riwayat-riwayat munkar. Selesai.
===
KELIMA : HADITS UMMU 'ASHIM
Dari Ummu ‘Ashim – dan ia adalah budak perempuan yang
melahirkan anak bagi Sinan bin Salamah- ia berkata:
دَخَلَ عَلَيْنَا
نُبَيْشَةُ الخَيْرِ وَنَحْنُ نَأْكُلُ فِي قَصْعَةٍ، فَحَدَّثَنَا أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَكَلَ فِي قَصْعَةٍ ثُمَّ
لَحِسَهَا اسْتَغْفَرَتْ لَهُ القَصْعَةُ»
Nubaisyah al-Khayr masuk menemui kami sementara kami
sedang makan di sebuah mangkuk besar. Lalu ia menceritakan kepada kami bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa saja yang makan dari sebuah mangkuk kemudian menjilatnya, maka mangkuk
itu akan memintakan ampun untuknya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (5/76), juga oleh
At-Tirmidzi (1804), Ibnu Majah (3272), Ad-Darimi (2/131 nomor 2027), dan
Al-Baghawi dalam *Syarh as-Sunnah* (11/316 nomor 2877).
Sebagian mereka meriwayatkannya dengan lafaz:
«تَسْتَغْفِرُ الصَّحْفَةُ
لِلَّاحِسِهَا»
“Piring itu memintakan ampun bagi orang yang
menjilatinya.”
At-Tirmidzi berkata:
هَذَا حَدِيثٌ
غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ المُعَلَّى بْنِ رَاشِدٍ وَقَدْ رَوَى
يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ، عَنِ المُعَلَّى بْنِ رَاشِدٍ
هَذَا الحَدِيثَ
“Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya
kecuali dari hadits Al-Mu‘alla bin Rasyid. Yazid bin Harun dan beberapa imam
lain telah meriwayatkan hadits ini dari Al-Mu‘alla bin Rasyid.”
Demikian pula yang dikatakan Al-Baghawi.
Adapun Al-Mu‘alla ini, Al-Hafizh dalam *At-Taqrib*
berkata: “Maqbul”, yaitu jika ada penguat, jika tidak maka haditsnya lemah.
Dan terdapat pula kelemahan lain, yaitu pada Ummu
‘Ashim. Al-Hafizh juga mengatakan tentangnya: “Maqbulah.” Oleh karena itu,
Syaikh Al-Albani rahimahullah melemahkan hadits ini dalam *Dha’if as-Sunan*
(Dho’if Ibnu Majah 3271 (No. 703), Mishkat al-Masabih 4218, dan Dha’if al-Jami’
al-Saghir 5478). [Lihat pula *Al-Maqashid al-Hasanah* (1071).
===
TAMBAHAN :
Dalam riwayat marfu’ dari Abdullah bin Umm Haram Al-Anshari disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda
«أَكْرِمُوا الْخُبْزَ،
فَإِنَّهُ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ
السُّفْرَةِ غُفِرَ لَهُ»
“Muliakanlah roti, karena ia termasuk keberkahan
langit dan bumi. Siapa yang memakan apa yang jatuh dari nampan makan, maka ia
akan diampuni.”
Lihat : al-Mawdhu‘at (2/289–292), Tanziih asy-Syari‘ah
(halaman 322), dan Kasyf al-Khofaa’ (2/230).
Al-‘Ajluni dalam Kasyful Khofaa hal. 192 berkata :
وَكُلُّ هٰذِهِ الطُّرُقِ ضَعِيفَةٌ مُضْطَرِبَةٌ،
وَبَعْضُهَا أَشَدُّ ضَعْفًا مِنْ بَعْضٍ
“Semua jalur periwayatan ini lemah dan kacau, dan
sebagian di antaranya lebih lemah daripada yang lain”.
Diriwayatkan oleh At-Tabarani dan Al-Bazzar, dan di
dalam sanadnya terdapat Ghiyats bin Ibrahim yang lemah.
Dan Abu Thalib Al-Makki dalam *Qut Al-Qulub* (2/315)
berkata:
“Dalam sebuah hadits dari Sa’id bin Luqman dari
Abdurrahman Al-Anshari dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«الأَكْلُ فِي السُّوقِ
دَنَاءَةٌ»
‘Makan di pasar adalah kehinaan.’
Ini adalah hadis gharib musnad, atau tidak begitu
sahih; yang benar ia adalah ucapan para tabi’in: Ibrahim An-Nakha’i dan yang di
bawahnya.”
Dalam Ta’wil Mukhtalif
al-Hadits karya Ibnu Qutaibah ad-Dainuri, hal. 392, hamisy no 3 di
sebutkan:
رَوَاهُ الْبَيْهَقِيّ عَن أبي هُرَيْرَة
مَرْفُوعا، وَفِي إِسْنَاده مُحَمَّد بن الْفُرَات، كَذَّاب وَرَوَاهُ الْخَطِيب بِإِسْنَادِهِ
فِيهِ الْهَيْثَم بن سهل، وَهُوَ ضَعِيف، وَقَالَ العقيقي: لَا يثبت فِي هَذَا الْبَاب
شَيْء
“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara
marfu’. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al-Furat, seorang pendusta.
Dan diriwayatkan oleh Al-Khothib dengan sanadnya yang
di dalamnya terdapat Al-Haitsam bin Sahl, dan ia adalah perawi yang lemah.
Al-Aqiqi berkata: Tidak ada satu pun yang sahih
dalam bab ini”.
****
KATAGORI KEDUA : HADITS-HADITS YANG SHAHIH
====
PERTAMA : HADITS ANAS BIN MALIK RADHIYALLAHU ‘ANHU
Hadits Anas ke 1:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا أَكَلَ
طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ، قَالَ: وَقَالَ: «إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ
أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ»،
وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ، قَالَ: «فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ
طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ»
“Bahwa Rasulullah ﷺ apabila makan makanan, beliau menjilati tiga jarinya. Ia
berkata: Dan beliau bersabda, “Apabila sesuap makanan salah seorang di antara
kalian jatuh, hendaklah ia menghilangkan kotoran darinya lalu memakannya, dan
jangan membiarkannya untuk setan.”
Dan beliau memerintahkan kami untuk membersihkan dan
mengambil sisa makanan di bejana. Lalu
beliau ﷺ bersabda:
“Karena kalian tidak mengetahui pada bagian makanan
kalian yang mana terdapat keberkahan.” [HR. Muslim no. 136 -(2034)]
Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 13/207
berkata :
قَوْلُهُ «وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ
الْقَصْعَةَ» هُوَ بِفَتْحِ النُّونِ وَضَمِّ اللَّامِ وَمَعْنَاهُ نَمْسَحُهَا وَنَتَتَبَّعُ
مَا بَقِيَ فِيهَا مِنَ الطَّعَامِ وَمِنْهُ سَلَتَ الدَّمَ عَنْهَا
“Ucapannya: “Dan beliau memerintahkan kami *أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ*”. Maknanya
adalah: membersihkannya, yaitu mengusap bejana tersebut dan mengambil sisa-sisa
makanan yang masih ada di dalamnya. Di antaranya adalah ungkapan *سَلَتَ الدَّمَ عَنْهَا* yang
berarti: aku membersihkan darah darinya”.
Lafadz Abu Daud:
وأمَرَنا أن نَسْلُتَ الصَّحْفة، وقال «إِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ
يُبَارَكُ لَهُ»
“Dan beliau ﷺ memerintahkan kami untuk mengusap dan membersihkan piring. Lalu
beliau ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak mengetahui pada bagian mana
dari makanannya dia diberi keberkahan”. [Sunan Abu Daud no. 3845. Di shahihkan
oleh al-Albani]
Al-Khothobi dalam Syarah Sunan Abu Daud (Ma’alim
as-Sunan 4/260) berkata :
سَلْتُ الصَّحِيفَةَ تَتَبُّعُ مَا يَبْقَى
فِيهَا مِنَ الطَّعَامِ وَمَسْحُهَا بِالْإِصْبَعِ وَنَحْوِهِ، وَيُقَالُ: سَلَتَ الرَّجُلُ
الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ إِذَا مَسَحَهُ بِأُصْبُعِهِ، وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ ﷺ الْعِلَّةَ
فِي لَعْقِ الْأَصَابِعِ وَسَلْتِ الصَّحِيفَةِ، وَهُوَ قَوْلُهُ: فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي
فِي أَيِّ طَعَامِهِ يُبَارَكُ لَهُ. يَقُولُ: لَعَلَّ الْبَرَكَةَ فِيمَا لُعِقَ بِالْأَصَابِعِ
وَالصَّحِيفَةِ مِنْ لُطْخِ ذَلِكَ الطَّعَامِ.
“*Salata ash-shahifah* adalah menelusuri sisa-sisa
makanan yang masih tertinggal di dalam piring dan mengusapnya dengan jari atau
yang semisalnya.
Dikatakan pula: *‘Salata ar-rajulu ad-dama ‘an
wajhihi’* artinya seseorang mengusap darah dari wajahnya dengan jarinya.
Nabi ﷺ telah
menjelaskan sebab (ilat) dari menjilat jari dan membersihkan piring, yaitu
sabda beliau ﷺ : *‘Karena
seseorang di antara kalian tidak mengetahui pada bagian mana dari makanannya
terdapat keberkahan.’*
Maksudnya: boleh jadi keberkahan itu justru terdapat
pada sisa-sisa makanan yang dijilat dengan jari dan dari piring berupa
sisa-sisa makanan yang menempel.”
Hadits Anas ke 2:
Dari Anas berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ،
فَلْيَمْسَحْ عَنْهَا التُّرَابَ، وَلْيُسَمِّ اللَّهَ وَلْيَأْكُلْهَا»
“Apabila salah seorang di antara kalian menjatuhkan sesuap
makanan, maka hendaklah ia membersihkan darinya debu, menyebut nama Allah, lalu
memakannya.”
[Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam *Musnad*-nya 2/1291
nomor 2071. Syeikh Hasan ad-Darani, pentahqiq *Musnad ad-Darimi*, menilai
sanadnya sahih].
Hadits Anas ke 3:
Lafadz lain hadits Anas :
«إِذَا سَقَطَتْ
لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا، وَلْيَمْسَحْ مَا بِهَا مِنَ الْأَذَى، وَلَا
يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ»
“Jika sesuap makanan salah seorang di antara kalian
terjatuh, hendaklah ia mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel
padanya, dan jangan membiarkannya untuk setan.”
[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 19/28 no. 11964 dan Abu Ya’la no.
3818. Syu’aib al-Arna’ut menyatakan bahwa sanadnya shahih sesuai dengan
kriteria syarat Bukhori dan Muslim (Tahqiq al-Musnad 19/28 no. 11964)].
===
KEDUA : HADITS JABIR RADHIYALLAHU ‘ANHU
Hadits Jabir Ke 1 :
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu : bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«إِنَّ الشَّيْطَانَ
يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ
طَعَامِهِ، فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمُ اللُّقْمَةُ، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا
مِنْ أَذًى، ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ
أَصَابِعَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ تَكُونُ الْبَرَكَةُ»
“Sesungguhnya setan selalu hadir bersama salah seorang
dari kalian dalam setiap urusannya, sampai-sampai ia hadir pula ketika kalian
makan. Maka apabila salah seorang di antara kalian terjatuh sesuap makanannya,
hendaklah ia menghilangkan kotoran yang menempel pada makanan itu, lalu
memakannya, dan jangan membiarkannya untuk setan. Dan apabila telah selesai makan,
hendaklah ia menjilati jari-jarinya, karena ia tidak tahu pada bagian makanan
yang mana terdapat keberkahan.” [HR. Muslim no. 135 –(2033)]
Hadits Jabir Ke 2 :
Lafadz lain dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
«إِذَا سَقَطَتْ
لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى، ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا،
وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، وَلَا يَمْسَحْ أَحَدُكُمْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ،
حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ أَوْ يُلْعِقَهَا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ
الْبَرَكَةُ»
Jika salah seorang di antara kalian menjatuhkan sesuap
makanan, hendaklah ia membersihkan kotoran yang menempel padanya, kemudian
memakannya, dan jangan membiarkannya untuk setan. Janganlah seseorang mengusap
tangannya dengan kain sebelum ia menjilati jari-jarinya atau meminta orang lain
menjilatnya untuknya, karena ia tidak tahu di bagian mana dari makanannya
terdapat keberkahan.
[HR. Muslim no. 134 –(2033) dan Imam Ahmad no. 14629].
===
KETIGA : HADITS KA’AB BIN MALIK RADHIYALLAHU ‘ANHU
Hadits Ka’ab bin Malik Ke 1 :
Dari Ibnu Ka‘b bin Malik, dari ayahnya, ia berkata:
«رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَلْعَقُ أَصَابِعَهُ
الثَّلَاثَ مِنَ الطَّعَامِ»
“Aku melihat Nabi ﷺ menjilati tiga jarinya setelah makan.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 131
(2032).
Hadits Ka’ab bin Malik Ke 2 :
Lafaz lain dari Ibnu Ka‘b bin Malik, dari ayahnya, ia
berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا»
“Rasulullah ﷺ makan dengan tiga jari, dan beliau menjilati tangannya sebelum
mengusapnya.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 2032.
Hadits Ka’ab bin Malik Ke 3 :
Lafaz lain Ibnu Ka‘b bin Malik, dari ayahnya, Ka‘b,
bahwa ia menceritakan kepada mereka:
«أَنَّ رَسُولَ
اللهِ ﷺ كَانَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، فَإِذَا فَرَغَ لَعِقَهَا»
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ makan dengan tiga jari, dan apabila selesai beliau
menjilatinya.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 132
(2032).
====
KEEMPAT : HADITS IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ‘ANHUMA
Hadits Ibnu Abbas Ke 1 :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا، فَلَا
يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا»، أَوْ «يُلْعِقَهَا»
“Apabila salah seorang di antara kalian makan makanan, maka
janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatinya,” atau “sebelum ia
menyuruh orang lain menjilatinya.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 129
(2031).
Hadits Ibnu Abbas Ke 3 :
Lafaz lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا أَكَلَ
أَحَدُكُمْ مِنَ الطَّعَامِ فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا»، أَوْ «يُلْعِقَهَا»
“Apabila salah seorang di antara kalian makan dari makanan, maka
janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatinya,” atau “sebelum ia
menyuruh orang lain menjilatinya.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 130
(2031).
===***===
PEMBAHASAN KEDUA :
LARANGAN TABDZIR, ISROF DAN
MENYIA-NYIAKAN RIZKI
TABDZIR yakni ; penghamburan rizki). Sementara ISROOF adalah
pemborosan.
Allah SWT melarang para hambannya menghambur-hamburkan
rizki, berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya serta menyia-nyiakan rizki,
walau sekecil apapun, jika itu masih bisa dimanfaatkan.
Allah berfirman:
{ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا}
“Janganlah engkau
berlebih-lebihan membelanjakan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang
yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada
Tuhannya.” (Al-Isra ayat 26–27)
Dan Allah berfirman:
{إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ}
“Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-An’am ayat 141)
Dan Allah berfirman:
{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا}
“Makan dan minumlah, tetapi
jangan berlebihan.” (Al-A’raf ayat 31)
Dalam hadits al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ besabda :
«إنَّ اللَّهَ كَرِهَ
لَكُمْ ثَلَاثًا: قيلَ وَقالَ، وإضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ»
“Allah membenci bagi kalian tiga perkara: banyak
membicarakan desas-desus, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya”. [HR. Bukhori
no. 1477 dan Muslim no. 593]
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rizki
yang dianugerahkan, kita wajib memelihara dan menjaganya dengan cara menghematnya,
tidak menghambur-hamburkannya dan tidak menterlantarkannya.
Dalam berinfaq-pun sebaiknya kita tidak berlebihan,
sebagaimana yang Allah SWT firmankan:
﴿ وَالَّذِينَ إِذَا
أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا﴾
“ Dan (salah satu ciri hamba ar-Rahman itu adalah),
orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir.
(Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya”. [QS. Al-Furqon : 67]
Dan firman lainnya :
﴿وَلَا تَجْعَلْ
يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ
مَلُومًا مَّحْسُورًا﴾
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada
lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam
memberi); karena itu akan menyebabkan-mu menjadi tercela dan menyesal. [QS. Al-Isra: 29]
Jika kita pandai besyukur atas anugerah Allah SWT, maka
Dia akan menambahinya.
﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ﴾
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". [QS. Ibrahim: 7]
As-Sa'di berkata:
(لِأَنَّ الشَّيْطَانَ
لَا يَدْعُو إِلَّا إِلَى كُلِّ خَصْلَةٍ ذَمِيمَةٍ، فَيَدْعُو الْإِنْسَانَ إِلَى
الْبُخْلِ وَالْإِمْسَاكِ، فَإِذَا عَصَاهُ دَعَاهُ إِلَى الْإِسْرَافِ وَالتَّبْذِيرِ.
وَاللَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا يَأْمُرُ بِأَعْدَلِ الْأُمُورِ وَأَقْسَطِهَا، وَيَمْدَحُ
عَلَيْهِ، كَمَا فِي قَوْلِهِ عَنْ عِبَادِ الرَّحْمَنِ الْأَبْرَارِ: وَالَّذِينَ
إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا)
“Karena setan tidak mengajak kecuali
kepada setiap sifat tercela. Ia mengajak manusia kepada sifat kikir dan menahan
diri dari memberi. Jika manusia tidak mengikutinya, ia akan mengajaknya kepada
sikap berlebih-lebihan dan pemborosan. Sedangkan Allah hanya memerintahkan
perkara yang paling adil dan paling lurus, dan memuji hamba-hamba-Nya
karenanya, sebagaimana dalam firman-Nya tentang hamba-hamba Allah Yang Maha
Pengasih yang saleh: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka
tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi pertengahan di antara
keduanya.” (Al-Furqan ayat 67) (Taysir al-Karim ar-Rahman halaman 456)
Sikap boros dan berlebihan akan menyeret kepada banyak keburukan:
Ibnu Asyur berkata:
(وَالإِسْرَافُ
إِذَا اعْتَادَهُ الْمَرْءُ حَمَلَهُ عَلَى التَّوَسُّعِ فِي تَحْصِيلِ الْمَرْغُوبَاتِ،
فَيَرْتَكِبُ لِذَلِكَ مَذَمَّاتٍ كَثِيرَةً، وَيَنْتَقِلُ مِنْ مَلَذَّةٍ إِلَى مَلَذَّةٍ،
فَلَا يَقِفُ عِنْدَ حَدٍّ)
Apabila seseorang membiasakan
diri berlebih-lebihan, hal itu akan mendorongnya memperluas pencarian berbagai
hal yang diinginkannya, sehingga ia akan melakukan banyak perbuatan tercela
demi mendapatkannya. Ia pun akan terus berpindah dari satu kenikmatan ke
kenikmatan lain, sehingga tidak berhenti pada batas apa pun. (At-Tahrir wa
at-Tanwir bagian pertama 8/123)
Kelak dirinya akan dimintai pertangung jawaban dan di hisab tentang bagaimana cara menggunakan rizkinya:
Dari Abu Barzah Al-Aslami
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَزُولُ
قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ،
وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ،
وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»
“Kedua kaki seorang hamba
tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk
apa dihabiskannya; tentang ilmunya apa yang diamalkannya; tentang hartanya dari
mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; dan tentang tubuhnya
untuk apa ia menghabiskannya.”
[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi
(2417) dengan lafaz ini, Ad-Darimi (537), dan Abu Ya’la (7434) secara panjang.
Dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Baz dalam Majmu‘ Al-Fatawa (30/301),
Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (2417), dan Syu‘aib Al-Arna’uth dalam
Takhriij Siyar A‘lam An-Nubala’ (9/316)].
Artinya: kelak dari tempat berdirinya untuk hisab hingga ia ditanya tentang umurnya
untuk apa ia habiskan—apakah dalam ketaatan atau maksiat; tentang amalnya,
untuk apa ia melakukannya—apakah murni karena Allah atau karena riya dan
mencari pujian; tentang hartanya dari mana ia memperoleh—apakah dari yang halal
atau haram; dan untuk apa ia membelanjakannya—apakah untuk kebaikan dan
kemaslahatan atau untuk israf dan pemborosan; serta tentang tubuhnya untuk apa
ia menghabiskannya—apakah dalam ketaatan kepada Allah atau dalam maksiat.”
[Tathriiz Riyadh Ash-Shalihin
karya Faisal Al-Mubarak, hlm. 275]
Israf dan tabdzir mengandung
sikap menyia-nyiakan harta.
Hal ini nyata dan dapat
disaksikan, dan banyak orang yang menjadi miskin karena berlebih-lebihan dalam
kenikmatan dan syahwat. [Al-Adab Asy-Syar‘iyyah karya Ibnu
Muflih, 3/202].
Ada pepatah mengatakan:
ما عَالَ مُقْتَصِدٌ
“Tidak akan jatuh miskin orang
yang hidup sederhana.”
Dan pepatah lain mengatakan :
لَا عَيْلَةَ
عَلَى مُصْلِحٍ، وَلَا مَالَ لِأَخْرَقَ
“Tidak ada kemelaratan bagi
orang yang memperbaiki urusannya, dan tidak ada harta bagi orang yang ceroboh.”
Dan pepatah berikutnya:
التَّبْذِيرُ
يُبَدِّدُ الْكَثِيرَ
“Tabdzir akan menghancurkan harta yang banyak.”
[Baca : At-Tamtsil wal-Muhadlarah,
hlm. 428]
Isroof dan Tabdziir memiliki akibat yang buruk:
Ibnul Jauzi berkata dalam Ṣhoyd al-Khooṭhir halaman 498:
(العاقِلُ يُدَبِّرُ
بِعَقْلِهِ عَيْشَتَهُ فِي الدُّنْيَا؛ فَإِنْ كَانَ فَقِيرًا اجْتَهَدَ فِي كَسْبٍ
وَصِنَاعَةٍ تَكُفُّهُ عَنِ الذُّلِّ لِلْخَلْقِ، وَقَلَّلَ العَلَائِقَ، وَاسْتَعْمَلَ
القَنَاعَةَ، فَعَاشَ سَلِيمًا مِنْ مَنَنِ النَّاسِ عَزِيزًا بَيْنَهُمْ. وَإِنْ كَانَ
غَنِيًّا فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُدَبِّرَ فِي نَفَقَتِهِ؛ خَوْفَ أَنْ يَفْتَقِرَ،
فَيَحْتَاجَ إِلَى الذُّلِّ لِلْخَلْقِ، وَمِنَ البَلِيَّةِ أَنْ يُبَذِّرَ فِي النَّفَقَةِ
وَيُبَاهِيَ بِهَا لِيَكْمَدَ الأَعْدَاءَ، كَأَنَّهُ يَتَعَرَّضُ بِذَلِكَ – إِنْ
أَكْثَرَ – لِإِصَابَتِهِ بِالْعَيْنِ... وَيَنْبَغِي التَّوَسُّطُ فِي الأَحْوَالِ،
وَكِتْمَانُ مَا يَصْلُحُ كِتْمَانُهُ، وَإِنَّمَا التَّدْبِيرُ حِفْظُ المَالِ، وَالتَّوَسُّطُ
فِي الإِنْفَاقِ، وَكِتْمَانُ مَا لَا يَصْلُحُ إِظْهَارُهُ)
Orang yang berakal mengatur kehidupannya di dunia
dengan akalnya. Jika ia miskin, ia bersungguh-sungguh dalam mencari penghasilan
dan bekerja dalam bidang yang membuatnya tidak perlu meminta-minta kepada
manusia. Ia sedikitkan ketergantungan dan membiasakan diri dengan sifat
qana’ah, sehingga ia hidup selamat dari bantuan manusia dan tetap mulia di
tengah mereka.
Jika ia kaya, seharusnya ia mengatur pengeluarannya
karena khawatir jatuh miskin lalu membutuhkan manusia. Di antara musibah adalah
seseorang menghambur-hamburkan hartanya dan berbangga dengannya untuk membuat
musuhnya merasa sedih, seakan hal itu — bila berlebihan — mengundang bahaya
‘ain baginya.
Sikap yang benar adalah bersikap pertengahan dalam
segala keadaan, menyembunyikan perkara yang layak disembunyikan. Manajemen
harta yang baik adalah menjaga harta, bersikap pertengahan dalam pengeluaran,
dan menyembunyikan hal-hal yang tidak layak ditampakkan”.
Ibnul Jauzi berkata dalam Ṣhoyd al-Khooṭhir halaman 498
السَّرَفُ يَضُرُّ بِمَعِيشَةِ الإِنْسَانِ،
حَتَّى إِنَّهُ رُبَّمَا أَدَّتْ بِهِ الحَالُ إِلَى أَنْ يَعْجِزَ عَمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ
مِنَ النَّفَقَاتِ.
Pemborosan dapat merusak kehidupan seseorang, hingga
kadang membuatnya tidak mampu memenuhi pengeluaran wajibnya. [Ṣhoyd al-Khooṭhir halaman 498]
Dan dikatakan dalam Muḥāḍarāt al-Udabā’ karya ar-Rāghib al-Aṣfahānī 1/578:
(إِنَّكَ إِنْ أَعْطَيْتَ
مَالَكَ فِي غَيْرِ الحَقِّ يُوشِكُ أَنْ يَجِيءَ الحَقُّ وَلَيْسَ عِنْدَكَ مَا تُعْطِي
مِنْهُ).
Apabila engkau menginfakkan hartamu pada tempat yang
tidak benar, niscaya akan datang saatnya kebenaran menuntutmu, sementara engkau
tidak punya apa pun untuk diberikan.
0 Komentar