STUDY KRITIS PERNYATAAN IBNU UMAR (RA) YANG MENUNJUKKAN BAHWA “SHOLAT DHUHA ADALAH BID'AH HASANAH”
----
Di Tulis Oleh Kang Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- PEMBAHASAN PERTAMA: PERNYATAAN IBNU UMAR YANG MENUNJUKKAN BAHWA SHALAT DHUHA ADALAH BID’AH HASANAH
- PEMBAHASAN
KEDUA: IBNU UMAR BERANGGAPAN BAHWA NABI ﷺ, ABU BAKAR DAN UMAR TIDAK PERNAH
SHALAT DHUHA
- PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG SHALAT DHUHA:
- SIKAP IBNU UMAR TERHADAP SHALAT TARAWIH
- PENULIS KATAKAN TENTANG SHALAT DHUHA:
- PEMBAHASAN KETIGA : PERNYATAAN IBNU UMAR : SHALAT DHUHA MASUK DALAM RANAH KEUMUMAN SHOLAT SUNNAH MUTLAK
- PEMBAHASAN KEEMPAT: HUKUM MENDAWAMKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN DALIL UMUM
- PERNYATAAN ULAMA TENTANG IBADAH BERDASARKAN DALIL UMUM
- PEMBAHASAN KE LIMA : AMALAN-AMALAN KHUSUS IBNU UMAR BERDASARKAN DALIL UMUM
- AMALAN PERTAMA
: IBNU UMAR, SENANTIASA ZIARAH KUBUR NABI ﷺ SAAT KELUAR MASUK MADINAH
- AMALAN KEDUA : IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TASYAHHUD SHALAT
- TAMBAHAN IBNU UMAR LAFADZ “BISMILLAH” DI AWAL TASYAHHUD:
- PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG TAMBAHAN BACAAN DALAM TASYAHUD:
- AMALAN KE
TIGA: IBNU UMAR SENANTIASA NAPAK TILAS TEMPAT-TEMPAT SHALAT NABI ﷺ.
- IBNU UMAR BERBEDA DENGAN UMAR, AYAHNYA, DALAM MASALAH INI.
- AMALAN KE EMPAT: IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TALBIYAH
- AMALAN KE LIMA: IBNU UMAR BERWASIAT JIKA DIRINYA WAFAT AGAR DIBACAKAN AL-QURAN SAAT PENGUBURAN
- PEMBAHASAN KE ENAM: UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH DARI SELAIN IBNU UMAR
- PEMBAHASAN KE TUJUH : DALIL-DALIL PENGUAT ADANYA BID’AH HASANAH.
- PEMBAHASAN KE DELAPAN : AMALAN BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU UMAR.
- CONTOH KE 1 : ADZAN PERTAMA JUM’AT ADALAH BID’AH SESAT:
- CONTOH KE 3 : BACA DZIKIR & SHOLAWAT SAAT BERSIN ADALAH BID’AH SESAT
- CONTOH KE 2 : PASANG TENDA DIATAS KUBURAN ADALAH BID’AH SESAT.
- PEMBAHASAN KE SEMBILAN : APAKAH BID’AH TERBATAS PADA IBADAH SAJA?
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
PENDAHULUAN
Ada beberapa
ungkapan dari Abdullah bin Umar bin Umar radhiyallahu ‘anhuma terkait dengan masalah
shalat Dhuha. Di mana ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa shalat dhuha
adalah Bid’ah Hasanah.
Dan yang telah
masyhur dari pandangan Abdullah bin Umar radhiyllahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak pernah melakukan
shalat Dhuha. Oleh sebab itu Abdullah bin Umar tidak pernah mengamalkan Shalat
Dhuha meskipun menghukuminya sebagai bid’ah hasanah. Terutama jika shalat Dhuha
tersebut dilaksanakan secara berjamaah di masjid.
Diantara
ungkapan-ungkapan Ibnu Umar yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha itu bid’ah Hasanah
adalah sbb :
[*]
«نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»
(Sebaik-baik bid’ah)
[*]
«مِنْ أَمْثَلِ مَا أُحْدِثَ»
(Termasuk yang paling baik di antara sesuatu yang baru diada-adakan)
[*]
«أَحَبِّ مَا أَحْدَثَهُ النَّاسُ»
(“Yang paling dicintai dari apa yang baru diada-adakan oleh
manusia”)
[*]
«أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوا»
(Sebaik-baik hal yang baru mereka ada-adakan)
[*]
«مَا ابْتَدَعَ الْمُسْلِمُونَ بِدْعَةً
أَفْضَلَ مِنْهَا»
(Tidak ada satu pun bid‘ah yang dibuat oleh kaum muslimin yang
lebih afdhol darinya)
Dari
ungkapan-ungkapan diatas ini dipahami bahwa Ibnu Umar menyebut sebagian perkara
baru sebagai Bid‘ah Hasanah.
Di tambah
lagi Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ
أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ
الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»
Sesungguhnya
Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau beliau berkata: umat Muhammad ﷺ, di atas kesesatan. Tangan Allah bersama jamaah, dan siapa yang
menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka.
Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, Bab tentang perintah untuk tetap bersama
jamaah, hadits nomor 2167 (4/466), dan ia berkata: “Hadits ini gharib dari
jalur ini”.
Hadits ini
memiliki penguat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim (1/115–116), dalam As-Sunnah
karya Ibnu Abi 'Ashim hadits nomor 80, 82, 83, 84, 85 (halaman 39, 41, 42).
As-Suyuthi
menyebutkannya dalam Al-Jami' Ash-Shaghir 1/278 no. 1818 dan menambahkan lafaz:
«وَيَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ،
وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»
"dan
tangan Allah di atas jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan
tersendirikan ke dalam neraka".
Lalu ia
berkata: “Hadits hasan”.
Dan
Syeikh Al-Albani men-sahihkan-nya dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir wa
Ziyadatuhu nomor 1844.
Dan Syaikh
Al-Albani berkata dalam “Ta’liq Misykat al-Masabih” (1/61):
"لَهَا شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَغَيْرُهُمَا بِسَنَدٍ
صَحِيحٍ، وَمِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ عِنْدَ ابْنِ قَانِعٍ فِي
الْمُعْجَمِ".
Hadits ini
memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi,
Al-Hakim, dan selain keduanya dengan sanad yang sahih, serta dari hadits Usamah
bin Syarik yang diriwayatkan oleh Ibnu Qani‘ dalam *al-Mu‘jam*.
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA:
PERNYATAAN IBNU UMAR YANG MENUNJUKKAN BAHWA
SHALAT DHUHA ADALAH BID’AH HASANAH
Pernyataan
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha adalah bid’ah hasanah.
Terlepas
adanya riwayat shahih dari para sahabat selain Ibnu Umar bahwa Rasululullah ﷺ pernah melakukan shalat Dhuha, namun pernyataan-pernayataan Ibnu Umar
ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar tidak tahu bahkan tidak percaya jika
Rasulullah ﷺ pernah melakukan shalat Dhuha.
Berikut
ini riwayat-riwayatnya :
===
RIWAYAT KE 1 :
Ibnu Abu
Syaibah dalam al-Mushonnaf 2/172 no. 7775 meriwayatkan :
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin
Al-A‘raj. Ia berkata:
سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ
الضُّحَى وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ:
«بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»
Aku bertanya
kepada Muhammad tentang shalat dhuha, saat itu beliau sedang bersandar pada
dinding kamar Nabi ﷺ. Maka beliau berkata: “Itu
adalah bid‘ah, dan sebaik-baik bid‘ah.”
Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam al-Fath 3/52 di bawah hadits no. 1175 berkata :
"رَوَاهُ
ابْنُ أَبِِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ ".
“Ibnu Abi
Syaibah meriwayatkan-nya dengan sanad yang sahih”.
Ada sebagian
para ulama yang mengatakan :
وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ
عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ
يُجِيزُ الزِّيَادَةَ الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..
"Dan ini
dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara
mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan
pokok-pokok ajaran."
===
RIWAYAT KE 2 :
Ibnu al-Ja’d
dalam Musnadnya hal. 314 no. 2136 meriwayatkan : dari Ali, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Syarik, dari Ibrahim bin Muhajir, dari Mujahid, dari
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
«صَلَاةُ الضُّحَى بِدْعَةٌ، وَنِعْمَ
الْبِدْعَةُ هِيَ»
“Shalat
Dhuha adalah *bid‘ah*, dan sebaik-baik *bid‘ah* adalah shalat Dhuha itu.”
Sanad
hadits :
Dalam
riwayat tersebut terdapat Syariik, Ia adalah Syariik bin Abdullah al-Qadhi,
seorang mudallis dan lemah, dan apa yang ia riwayatkan sendirian adalah munkar
sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam *Taqrib
at-Tahdzib* nomor 2787. Namun dalam hadits diatas ini, dia tidak sendirian
meriwayatkanya.
Imam Muslim
meriwayatkan darinya. Namun Imam Muslim tidak menjadikannya sebagai hujah,
tetapi hanya meriwayatkannya dalam *mutaba‘at* sebagaimana ditegaskan oleh
banyak pentahqiq. Akan tetapi al-Hakim dan adz-Dzahabi sering kali menshahihkan
hadits-hadits Syariik dengan mengatakan “sesuai syarat Muslim.” (Mu‘jam Asami
ar-Ruwah 2/290).
Namun Ibnu
‘Utsaimin dalam Majmu Fatawa nya 5/249-250 mengkritik terhadap ucapan Umar bin
al-Khaththab dan putranya Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- :
«نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ»
“Sebaik-baik bidah adalah ini”
Syeikh Ibnu
Utsaimin berkata:
"أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ
النَّاسِ أَنْ يُعَارِضَ كَلَامَ الرَّسُولِ ﷺ بِأَيِّ كَلَامٍ، لَا بِكَلَامِ
أَبِي بَكْرٍ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا
بِكَلَامِ عُمَرَ الَّذِي هُوَ ثَانِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا
بِكَلَامِ عُثْمَانَ الَّذِي هُوَ ثَالِثُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا،
وَلَا بِكَلَامِ عَلِيٍّ الَّذِي هُوَ رَابِعُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ
نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ أَحَدٍ غَيْرِهِمْ … "ـ
“Bahwa tidak
boleh bagi siapa pun dari manusia untuk menentang ucapan Rasulullah ﷺ dengan ucapan siapa pun, tidak dengan ucapan Abu Bakar yang merupakan
manusia terbaik umat ini setelah nabinya, tidak pula dengan ucapan Umar yang
merupakan orang kedua umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Utsman yang
merupakan orang ketiga umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Ali yang
merupakan orang keempat umat ini setelah nabinya, dan tidak pula dengan ucapan
siapa pun selain mereka …”.
Hingga pada
perkataan Syeikh al-Utsaimin :
"فَلَا
يَلِيقُ بِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ مَنْ هُوَ أَنْ يُخَالِفَ كَلَامَ
سَيِّدِ الْبَشَرِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنْ يَقُولَ عَنْ بِدْعَةٍ (نِعْمَتِ
الْبِدْعَةُ)، بَلْ لَا بُدَّ أَنْ تُنَزَّلَ الْبِدْعَةُ الَّتِي قَالَ عَنْهَا
عُمَرُ أَنَّهَا (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ) عَلَى بِدْعَةٍ لَا تَكُونُ دَاخِلَةً
تَحْتَ مُرَادِ النَّبِيِّ ﷺ".
“Maka tidak
pantas bagi seorang Umar radhiyallahu ‘anhu. Emangnya dia itu siapa sehingga
berani menyelisihi ucapan junjungan seluruh umat manusia, yaitu Muhammad ﷺ.
Dan dia itu siapa, kok berani-beraninya mengatakan tentang bid'ah, ada yang “sebaik-baik bidah”, bahkan bid’ah yang dikatakan oleh Umar sebagai “sebaik-baik bidah” itu harus diarahkan pada jenis bidah yang tidak termasuk dalam maksud Nabi ﷺ”.
===
RIWAYAT KE 3 :
Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* 3/52–53, di bawah hadits nomor 1175) berkata:
رَوَى
سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَن بن عُمَرَ أَنَّهُ
قَالَ إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسِنِ مَا أَحْدَثُوا
“Said bin
Manshur meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Mujahid, dari
Ibnu Umar bahwa ia berkata:
“Sesungguhnya
shalat Dhuha itu adalah sesuatu yang baru (muhdatsah), dan sesungguhnya ia termasuk
sebaik-baik hal yang baru yang mereka adakan.”
Hadits ini
dinyatakan sahih pula oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah
3/320.
===
RIWAYAT KE 4 :
Riwayat
Abdur Razzaq dalam *Mushannaf* nomor 4868: Dari Ma‘mar, dari Az-Zuhri, dari
Salim, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
«لَقَدْ قُتِلَ عُثْمَانُ وَمَا أَحَدٌ
يُسَبِّحُهَا وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْهَا»
“Utsman
telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun yang melakukan shalat Dhuha. Maka
tidak ada sesuatu yang baru yang diada-adakan oleh manusia yang lebih aku sukai
daripada shalat itu.” (Yang dimaksudnya adalah shalat Dhuha).
Al-Hafidz
Ibnu Hajar berkata :
وَرَوَى
عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقَدْ
قُتِلَ عُثْمَانُ وَمَا أَحَدٌ يُسَبِّحُهَا وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ شَيْئًا أحب
إِلَيّ مِنْهَا
“Abdurrazzaq
meriwayatkan (no. 4868) dengan sanad yang sahih dari Salim, dari ayahnya
(yaitu Ibnu Umar), ia berkata: “Sungguh, Utsman telah terbunuh, dan tidak ada
seorang pun yang melakukan shalat Dhuha, dan tidak ada sesuatu yang
diada-adakan oleh manusia yang lebih aku sukai daripada shalat itu.” [Fathul
Bari 3/52–53, di bawah hadits nomor 1175]
Hadits ini dinyatakan
sahih pula oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.
Dan
dinyatakan shahih pula oleh Zakariya bin Ghulam al-Bakistani dalam Maa Shohha Min
Atsar as-Shohabah 1/430.
===
RIWAYAT KE 5 :
Abdur Rozaq
meriwayatkan: Dari Ibnu Juraij atau Ma‘mar, ia berkata: Ibnu Syihab berkata:
Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma, bahwa ia berkata:
«قَدْ أُصِيبَ عُثْمَانُ، وَمَا أَحَدٌ
يُسَبِّحُهَا، وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحَبِّ مَا أَحْدَثَ النَّاسُ إِلَيَّ»
“Utsman
telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun yang melakukan shalat Dhuha. Sungguh,
shalat itu termasuk hal yang paling aku sukai dari apa yang diada-adakan oleh
manusia.”
Hadits ini dinyatakan
sahih oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.
===
RIWAYAT KE 6 :
Riwayat Ibnu
Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/174 no. 7799: Telah menceritakan kepada kami
Waki‘, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muslim Al-Hamdani,
dari Sa‘id bin ‘Amr Al-Qurasyi, ia berkata:
اتَّبَعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
عُمَرَ لِأَتَعَلَّمَ مِنْهُ، فَمَا رَأَيْتُهُ يُصَلِّي السُّبْحَةَ، وَكَانَ
إِذَا رَآهُمْ يُصَلُّونَهَا، قَالَ: «مِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوا سُبْحَتُهُمْ
هَذِهِ»
Aku mengikuti Abdullah bin Umar untuk belajar darinya. Maka aku tidak melihatnya melakukan shalat sunah (sebelum atau sesudah shalat wajib). Dan ketika ia melihat orang-orang melakukannya, ia berkata:
“Sebagus-bagusnya hal baru yang
mereka ada-adakan adalah shalat sunah mereka ini.”
[Perawi yang
bernama Yahya bin Muslim Abu Ad-Dhahhak adalah perawi yang lemah.]
Ibnu
al-Mulaqqin berkata :
"وَقَالَ مَرَّةً: مَا ابْتَدَعَ
الْمُسْلِمُونَ بِدْعَةً أَفْضَلَ مِنْهَا".
Dan pada
kesempatan yang lain Ibnu Umar berkata: “Tidak ada bid’ah yang diada-adakan
oleh kaum muslimin yang lebih baik darinya.” [Baca : at-Tawdhih Li Syarhi
al-Jami’ ash-Shahih 9/191]
Lalu Ibnu
al-Mulaqqin berkata :
وَقَالَ أَنَسٌ: صَلَاتُهُ يَوْمَ
الْفَتْحِ كَانَتْ سُنَّةَ الْفَتْحِ، لَا سُنَّةَ الضُّحَى. وَلَمَّا فَتَحَ
خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ الْحِيرَةَ صَلَّى صَلَاةَ الْفَتْحِ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ
لَمْ يُسَلِّمْ فِيهِنَّ، ثُمَّ انْصَرَفَ. وَهَذَا تَأْوِيلٌ لَا يَدْفَعُ
صَلَاةَ الضُّحَى لِتَوَاتُرِ الرِّوَايَاتِ بِهَا عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَفِعْلِ
السَّلَفِ بَعْدَهُ.
“ ‘Anas berkata: Shalat yang beliau lakukan pada hari penaklukan adalah shalat penaklukan Makkah, bukan shalat Dhuha.
Dan ketika Khalid bin Al-Walid
menaklukkan kota Al-Hirah, ia melaksanakan shalat penaklukan sebanyak delapan
rakaat tanpa salam di antara rakaat-rakaat itu, kemudian ia berpaling’
(selesai).
Namun
penafsiran ini tidak menafikan adanya shalat Dhuha, karena banyaknya riwayat
yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ tentang shalat tersebut, serta praktik para
salaf setelah beliau”. [Baca : at-Tawdhih Li Syarhi al-Jami’ ash-Shahih 9/191]
===
RIWAYAT KE 7 :
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata:
«دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ الضُّحَى فِي الْمَسْجِدِ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ؟ فَقَالَ: بِدْعَةٌ»
“Aku dan ‘Urwah bin Zubair masuk ke masjid, dan ternyata Abdullah bin Umar sedang duduk di dekat kamar Aisyah, sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat Dhuha di masjid. Kami pun bertanya kepadanya tentang shalat mereka itu, lalu ia berkata: ‘Bid‘ah’”.
[HR. Bukhori no. 1775, 1776, 1777 dan Muslim no. 220 (1255)]
Dalam riwayat diatas Ibnu Umar tidak menyalahkan mereka, meskipun dia mengatakan bahwa itu bid’ah, karena bid’ah seperti itu menurutnya adalah bid’ah yang baik sebagaimana ditegaskan dalam riwayat-riwayat sebelum-nya.
*****
UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH SHOLAT DHUHA DARI SELAIN IBNU UMAR
----
KE 1: ALI
BIN ABI THOLIB RADHIYALLAHU ‘ANHU :
Abdur-
Rozzaaq dalam al-Mushonnaf 3/77 no. 4865 meriwayatkan : Dari Ibnu Juraij, ia
berkata: Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepadaku :
أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، كَانَ
يُذْكَرُ لَهُ هَذِهِ الصَّلَاةُ الَّتِي أَحْدَثَ النَّاسُ، فَيَقُولُ: «صَلُّوا مَا
اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ»
“Bahwa Ali
bin Abi Thalib, ketika disebutkan kepadanya tentang shalat (Dhuha) yang baru diada-adakan oleh manusia ini, beliau berkata:
“Shalatlah
semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan meng-adzab (menyiksa)
seseorang karena shalat.”
Semua para
perawinya tsiqah, Ja'far bin Muhammad adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin
Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang Imam Ahli bait yang tsiqah lagi faqih.
Namun masa
hidup dia terpaut jauh dengan kakek buyutnya yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
anhu, sehingga atsar ini terputus sanadnya dan berarti statusnya dhoif.
----
KE 2 : PERKATAAN MUHAMMAD BIN ABRAHIM
AT-TAYMI (WAFAT 120 H).
Perkataan
Muhammad bin Ibrahim, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
*Mushannaf-nya 2/172 no. 7775:
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin
Al-A‘raj, ia berkata:
سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى
وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ
الْبِدْعَةُ»
Aku bertanya
kepada Muhammad (bin Ibrahim at-Taymi wafat 120 H) tentang shalat Dhuha, ketika
itu ia sedang bersandar di dinding kamar Nabi ﷺ. Maka ia berkata: “Itu
adalah bid‘ah, dan itu adalah sebaik-baik bid‘ah.”
Atsar ini
dinyatakan sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/52 dan oleh
Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.
****
AWAL MULA ADA-NYA SHALAT DHUHA BERJEMAAH
Ada yang
mengatakan : bahwa shalat Dhuha berjamaah di masjid mulai diadakan pada masa
Utsman oleh sebagian penduduk pedalaman.
Abdur Rozzaq
dalam al-Mushonnaf no. 4869 meriwayatkan:
Dari Ibnu
Juraij atua Ma’mar, dia berkata: Ibnu Syihab berkata: Telah menceritakan
kepadaku Salim bin Abdullah, dari Ibnu Umar – radhiyallahu ‘anhuma-
bahwa ia berkata:
«قَدْ أُصِيبَ عُثْمَانُ، وَمَا أَحَدٌ
يُسَبِّحُهَا، وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحَبِّ مَا أَحْدَثَ النَّاسُ إِلَيَّ».
قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ،
وَقَالَ نَاسٌ: «أَوَّلُ مَنْ صَلَّاهَا أَهْلُ الْبَوَادِي يَدْخُلُونَ
الْمَسْجِدَ إِذَا فَرِغُوا مِنْ أَسْوَاقِهِمْ».
“Utsman
telah terbunuh, dan pada waktu itu tidak ada seorang pun yang melaksanakan
shalat Dhuha. Namun, sungguh, shalat itu termasuk amalan yang paling aku sukai
dari apa yang diada-adakan oleh manusia”.
Ia berkata:
Ibnu Juraij berkata, dan sejumlah orang mengatakan: “orang-orang pedalaman
adalah yang pertama kali melaksanakan shalat itu; mereka masuk ke masjid
setelah selesai dari pasar-pasar mereka”.
Hadits ini dinyatakan
sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* 3/52–53, di bawah
hadits nomor 1175 dan Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.
Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushonnaf 3/79 no. 4872 berkata : Dari Ibnu Juraij, ia
berkata: Sulaiman juga mengabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Thawus
berkata:
إِنَّ أَوَّلَ مَنْ صَلَّاهَا
الْأَعْرَابُ، إِذَا بَاعَ أَحَدُهُمْ بِضَاعَةً يَأْتِي الْمَسْجِدَ
فَيُكَبِّرُ وَيَسْجُدُ إِلَّا أَنَّ طَاوُسًا يَقُولُ: «اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ الْأَعْرَابِيُّ»
“Sesungguhnya orang yang pertama kali melakukan
shalat Dhuha adalah orang-orang Arab Badui. Apabila salah seorang dari mereka
berhasil menjual dagangannya, maka ia segera datang ke masjid, lalu bertakbir
dan sujud.”
Hanya saja
Thawus berkata: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” kemudian orang Arab
Badui itu sujud.”
===
KESIMPULAN
Menurut Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma : orang-orang telah mengadakan hal baru dalam shalat
Dhuha. Abdullah bin Umar menilai perbuatan ini sebagai bid‘ah dan perkara baru,
maka beliau tidak mengerjakannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang.
Namun demikian, beliau memuji perbuatan tersebut, dengan berkata :
[*] “نِعْمَتُ الْبِدْعَةُ “ (sebaik-baik bid’ah)
[*]
“مِنْ أَمْثَلِ مَا أُحْدِثَ” (termasuk yang paling baik
di antara yang barudiada-adakan)
[*] “أَحَبُّ مَا أَحْدَثَهُ النَّاسُ” (“yang paling disukai dari
apa yang baru diada-adakan oleh manusia”)
[*] “أَحْسَنُ مَا أَحْدَثُوا” (sebaik-baik hal yang baru
mereka ada-adakan)
[*] “مَا ابْتَدَعَ الْمُسْلِمُونَ
بِدْعَةً أَفْضَلَ مِنْهَا”
(Tidak ada satu pun bid‘ah yang dibuat oleh kaum muslimin yang lebih utama
darinya)
Ungkapan-ungkapan
Ibnu Umar ini dianggap cukup untuk menunjukkan bahwa sebagian hal baru
(muhdatsat) tersebut dicintai dan dianggap baik olehnya.
Ini menjadi
dalil baginya bahwa keumuman sabda Rasulullah ﷺ “Setiap bid’ah adalah kesesatan” dipahami
oleh-nya sebagai bersifat khusus (tidak mutlak umum).
Sebab, jika
makna hadits itu dipahami secara mutlak tanpa pengecualian, tentu tidak mungkin
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut sebagian bid’ah dengan istilah yang baik,
atau menilainya dengan kata-kata yang menunjukkan keutamaan, seperti
“sebaik-baik (نِعْمَ)”, “yang paling disukai
(ahabbu)”, “yang paling utama (أَمْثَلُ)”, “yang paling baik (أَحْسَنُ)”, dan semisalnya.
Hal ini menunjukkan
bahwa sifat “sesat” hanya berlaku bagi bid’ah yang buruk dan tercela, sedangkan
bid’ah yang baik adalah terpuji dan berpahala bagi pelakunya.
Berdasarkan
penjelasan di atas: bid’ah mencakup perkara ibadah, adat, dan muamalah, serta
terbagi ke dalam lima hukum syariat. Wallahu a’lam.
PEMBAHASAN KEDUA:
IBNU UMAR BERANGGAPAN BAHWA NABI ﷺ, ABU BAKAR DAN UMAR TIDAK PERNAH SHALAT DHUHA
Perkataan
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang shalat Dhuha bahwa ia adalah bid‘ah
hasanah — inilah pendapat yang masyhur darinya. Sebab, beliau radhiyallahu
‘anhu tidak menganggap shalat tersebut termasuk shalat yang benar-benar diriwayatkan
secara shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau melaksanakannya.
Sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah :
Telah menceritakan
kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Ash-Shawwaaf : Telah menceritakan kepada kami
Saalim bin Nuuh Al-’Aththaar : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah,
dari Naafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي
الضُّحَى إِلا أَنْ يَقْدَمَ مِنْ غَيْبَةٍ»
“Bahwasannya
Nabi ﷺ tidak pernah mengerjakan shalat di waktu Dhuhaa kecuali ketika baru
datang dari bepergian jauh”.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Khuzaimah 2/230-231 no. 1229. Dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam ta’liq
Shahih Ibni Khuzaimah].
Dan
diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (al-Ihsan Fii Taqriib Shahih
Ibnu Hibaan 6/270 no. 2528).
Syu’aib
al-Arna’uth dalam Takhrij al-Ihsan Fii Taqriib Shahih Ibnu Hibaan 6/270 berkata
:
إِسْنَادُهُ قَوِيٌّ. إِسْحَاقُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ: ثِقَةٌ رَوَى لَهُ الْبُخَارِيُّ، وَسَالِمُ بْنُ نُوحٍ
الْعَطَّارُ: مُخْتَلَفٌ فِيهِ، قَالَ أَحْمَدُ: مَا بِحَدِيثِهِ بَأْسٌ، وَقَالَ
أَبُو زُرْعَةَ: لَا بَأْسَ بِهِ صَدُوقٌ ثِقَةٌ، وَوَثَّقَهُ السَّاجِيُّ وَابْنُ
قَانِعٍ، وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ،
وَقَالَ النَّسَائِيُّ: لَيْسَ بِالْقَوِيِّ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: عِنْدَهُ
غَرَائِبُ وَأَفْرَادٌ، وَأَحَادِيثُهُ مُحْتَمَلَةٌ مُتَقَارِبَةٌ، وَذَكَرَهُ
الْمُؤَلِّفُ فِي "الثِّقَاتِ" وَهُوَ مِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ، وَمَنْ
فَوْقَهُ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ.
“Sanadnya
kuat.
Ishaq bin
Ibrahim adalah perawi yang tsiqah, diriwayatkan haditsnya oleh al-Bukhari.
Salim bin Nuh al-‘Aththar diperselisihkan tentangnya.
Ahmad
berkata: ‘Tidak mengapa dengan haditsnya’.
Abu Zur‘ah
berkata: ‘Tidak mengapa dengannya, ia jujur dan tsiqah. Ia dinilai tsiqah
oleh as-Saji dan Ibnu Qani‘.‘
Abu Hatim
berkata: ‘Haditsnya ditulis tetapi tidak dijadikan hujjah’.
An-Nasa’i
berkata: ‘Ia tidak kuat’.
Ibnu ‘Adi
berkata: ‘Ia memiliki hadits-hadits yang ganjil dan tunggal, namun
hadits-haditsnya masih dalam batas bisa diterima dan saling berdekatan’.
Ia juga
disebutkan oleh penulis (Ibnu Hibban) dalam kitab ats-Tsiqat dan termasuk
perawi Muslim, sedangkan perawi di atasnya termasuk perawi al-Bukhari dan
Muslim”. [SELESAI]
Dan ini
diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah Muhammad bin Makhlad ad-Dawri
al-Baghdadi (wafat 331 H) meriwayatkan dalam kitabnya al-Muntaqo hal. 79 no.
78, namun dari Aisyah radhiyaallu ‘anha.
Muhammad bin
Makhlad berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Al-Harits, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bahr, dari Az-Zuhri, dari
Urwah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
أَنّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لا يُصَلِّي
الضُّحَى إِلا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ "
“Bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melaksanakan sholat Dhuha kecuali apabila beliau baru
kembali dari perjalanan jauh”.
Dan diriwayatkan
oleh Muwarriq Al-‘Ijli, ia berkata:
قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ: أَتُصَلِّي
الضُّحَى؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: صَلَّاهَا عُمَرُ؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: صَلَّاهَا
أَبُو بَكْرٍ؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: أَصَلَّاهَا النَّبِيُّ ﷺ؟ قَالَ: «لَا إِخَالُهُ»
Aku bertanya
kepada Ibnu Umar, “Apakah engkau melaksanakan shalat Dhuha?” Ia menjawab,
“Tidak.”
Aku
bertanya, “Apakah Umar melaksanakannya?” Ia menjawab, “Tidak.”
Aku
bertanya, “Apakah Abu Bakar melaksanakannya?” Ia menjawab, “Tidak.”
Aku
bertanya, “Apakah Nabi ﷺ melaksanakannya?” Ia menjawab, “Aku tidak
menduga beliau melakukannya.”
[Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 1175, Ahmad dalam Musnad-nya no. 4758, dan
lainnya].
Dan ini
dipertegas oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasullullah ﷺ memang tidak pernah shalat Dhuha. Aisyah berkata :
«إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيَدَعُ
العَمَلَ، وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ
النَّاسُ، فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ، وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سُبْحَةَ
الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا
».
“Sesungguhnya
Rasulullah ﷺ benar-benar pernah meninggalkan suatu amalan, padahal beliau menyukai
untuk melaksanakannya, karena khawatir amalan itu akan dikerjakan oleh manusia
lalu diwajibkan atas mereka.
Dan
Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah melaksanakanﷺsunnah Dhuha, namun sungguh aku sendiri melaksanakannya.”
[HR. Bukhori no. 1128]
===
IBNU UMAR TIDAK PERNAH MELAKUKAN SHALAT DHUHA
Al-Hafidz
Ibnu Hajar (3/52–53), di bawah hadits nomor 1175 berkata :
"ورَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ
بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَر قَالَ : «صَلَّيْتُ الضُّحَى مُنْذُ أَسْلَمْتُ إِلَّا أَنْ
أَطُوفَ بِالْبَيْتِ».
أَيْ
فَأُصَلِّي فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لَا عَلَى نِيَّةِ صَلَاةِ الضُّحَى بَلْ عَلَى
نِيَّةِ الطَّوَافِ".
Dan Ibnu Abi
Syaibah meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Asy-Sya’bi dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:
“Hanya
sekali aku melakukan shalat dhuha sejak aku masuk Islam, yaitu ketika aku
thawaf di Baitullah”.
Maksudnya;
aku shalat pada waktu itu bukan dengan niat shalat dhuha, melainkan dengan niat
thawaf (yang kebetualan saat itu di waktu dhuha).”
***
FIQIH ATSAR IBNU UMAR:
Dan
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* (3/52–53), di bawah hadits nomor 1175
juga berkata:
"وَكَانَ
سَبَبُ تَوَقُّفِ ابْنِ عُمَرَ فِي ذَلِكَ: أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ غَيْرِهِ
أَنَّهُ صَلَّاهَا وَلَمْ يَثِقْ بِذَلِكَ عَمَّنْ ذَكَرَهُ. وَقَدْ جَاءَ عَنْهُ
الْجَزْمُ بِكَوْنِهَا مُحْدَثَةً".
“Penyebab
Ibnu Umar ragu dalam masalah itu adalah karena ia mendengar dari selain dirinya
bahwa Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat Dhuha, namun ia tidak mempercayai orang yang
menyampaikan kabar tersebut. Dan telah diriwayatkan darinya secara tegas bahwa
shalat Dhuha itu merupakan sesuatu yang baru diada-adakan (bid‘ah).”
Namun bukan
berarti dia memvonis sebagai ahli bid’ah atau menghukumi sesat setiap perkara
baru yang muncul setelah Nabi ﷺ. Maksudnya, jika dia
menyukai sesuatu dari perkara yang baru diada-adakan, dia tidak menyebutnya
sebagai bid’ah sesat, melainkan memberi nama “bid’ah yang baik” atau yang
semisalnya ” .
Ada sebagian
para ulama yang mengatakan :
وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ
عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ
يُجِيزُ الزِّيَادَةَ الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..
"Dan
ini dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara
mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan
pokok-pokok ajaran."
Dan termasuk
dalam penamaan ini adalah sesuatu yang masuk dalam ranah maslahat mursalah,
atau ranah :
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا
بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali
dengannya, maka itu adalah wajib.
Al-Imam
an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 5/228 no. 718 berkata:
في الْبَابِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لَا يُصَلِّي الضُّحَى إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ
مَغِيبِهِ وَأَنَّهَا مَا
رَأَتْهُ ﷺ يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ قَالَتْ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا
وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ
بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضُ عَلَيْهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ
عَنْهَا أَنَّهُ ﷺ كَانَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا
شَاءَ وَفِي رِوَايَةٍ مَا شَاءَ اللَّهُ وَفِي حَدِيثِ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّهُ ﷺ
صَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي
الدَّرْدَاءَ رَكْعَتَانِ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ كُلُّهَا مُتَّفِقَةٌ لَا
اخْتِلَافَ بَيْنَهَا عِنْدَ أَهْلِ التَّحْقِيقِ
Dalam bab ini terdapat riwayat dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ tidak melaksanakan sholat Dhuha kecuali apabila beliau
baru kembali dari perjalanan.
Aisyah berkata bahwa ia sama sekali tidak pernah
melihat beliau ﷺ melaksanakan sholat sunnah Dhuha. Ia berkata: “Namun
aku sendiri melaksanakannya.”
Dan Aisyah juga mengatakan : “bahwa Rasulullah ﷺ terkadang meninggalkan suatu amalan padahal
beliau menyukainya, karena khawatir amalan itu akan dikerjakan oleh manusia
lalu diwajibkan atas mereka”.
Dalam riwayat lain
dari Aisyah disebutkan bahwa beliau ﷺ melaksanakan sholat Dhuha empat rakaat dan
menambahnya sesuai kehendaknya. Dalam riwayat lain disebutkan: sesuai kehendak
Allah.
Dalam hadits Ummu Hani’
disebutkan bahwa beliau ﷺ melaksanakan sholat Dhuha delapan rakaat. Dalam hadits
Abu Dzar, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ disebutkan dua rakaat. Seluruh hadits
ini saling selaras dan tidak ada perbedaan di antara semuanya menurut para
ulama yang melakukan penelitian mendalam”.
****
PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG SHALAT DHUHA:
Berbeda
dengan Ibnu Mas’ud yang mengetahui bahwa shalat Dhuha itu sunnah Nabi ﷺ, tapi pelaksaannya di rumah, bukan di masjid.
Yakni ;
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu beliau juga termasuk ulama shahabi
yang berpendapat tidak disyariatkannya, namun beliau juga masih memberikan
toleransi bagi yang mengerjakannya asal tidak demonstratif, sebagaimana dalam
atsar Masrûq yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no.
7777) dengan sanad yang disahihkan oleh asy-Syaikh Zakariya al-Bâkistaniy.
Ibnu Abi
Syaibah berkata : Waki’ telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A‘mash
telah menceritakan kepada kami, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, ia berkata.
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: نا
الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: كُنَّا نَقْرَأُ فِي
الْمَسْجِدِ فَيَثْبُتُ النَّاسُ فِي الْقِرَاءَةِ بَعْدَ قِيَامِ ابْنِ
مَسْعُودٍ، ثُمَّ نَقُومُ فَنُصَلِّي لِلضُّحَى فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ مَسْعُودٍ
فَقَالَ:
«عِبَادَ اللَّهِ، لِمَ تُحَمِّلُوا عِبَادَ
اللَّهِ مَا لَمْ يُحَمِّلْهُمُ اللَّهُ، إِنْ كُنْتُمْ لَا بُدَّ فَاعِلِينَ
فَفِي بُيُوتِكُمْ»
“Kami sedang
membaca Al Qur`an di masjid, lalu orang-orang membaca Al Qur`an setelah Ibnu
Mas'ud pulang, kemudian kami mengerjakan sholat Dhuha. Hal ini pun sampai
kepada Ibnu Mas'ud, maka beliau berkata :
“Wahai
hamba-hamba Allah, janganlah kalian bersantai beribadah kepada Allah, apa yang
Allah tidak membebaani mereka, jika kalian masih tetap ingin mengerjakannya,
maka lakukanlah di rumah-rumah kalian”.
[Lihat :
Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 2/172 no. 7777. Lihat Pula al-Mushonnaf karya
Abdurrozzaaq 3/80. Dinyatakan shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam
Maa Shohha Min Atsaar ash-Shohabah 1/430].
Ibnu
Baththol dalam Syarah Shahih Bukhori 3/170 berkata :
وَكانَ أَبُو مُجْلِزٍ يُصَلِّي
الضُّحَى في مَنْزِلِهِ. وَكانَ مَذْهَبُ السَّلَفِ الاسْتِتارَ بِهَا وَتَرْكَ
إِظْهَارِهَا لِلْعامَّةِ، لِئَلَّا يَرَوْنَهَا واجِبَةً.
“Dan Abu
Mujliz melaksanakan sholat Duha di rumahnya. Madzhab para salaf dahulu adalah
menyembunyikan sholat dhuha tersebut dan tidak menampakkannya kepada masyarakat
umum, agar mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib”. [Lihat pula
: Thorhu at-Tatsriib karya Zainuddin al-Iraqi 3/64]
****
SIKAP IBNU UMAR TERHADAP SHALAT TARAWIH.
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Syaibah (7714): Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami,
Ubaidullah dari Nafi‘, dari Ibnu Umar :
«أَنَّهُ كَانَ لَا يَقُومُ مَعَ النَّاسِ
فِي شَهْرِ رَمَضَانَ» قَالَ: «وَكَانَ سَالِمٌ، وَالْقَاسِمُ لَا يَقُومُونَ مَعَ
النَّاسِ»
“Bahwa ia
(Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma) tidak mendirikan shalat bersama manusia pada
bulan Ramadan”.
Ia berkata:
“Dan Salim serta Al-Qasim juga tidak shalat bersama manusia”.
Dinyatakan
shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsaar ash-Shohabah
1/428-429].
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Syaibah (7715): Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari
Sufyan, dari Mansur, dari Mujahid. Ia berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ ابْنَ عُمَرَ أَقُومُ
خَلْفَ الْإِمَامِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ: «تُنْصِتُ كَأَنَّكَ حِمَارٌ»
Seorang
lelaki bertanya kepada Ibnu Umar: “Apakah aku berdiri di belakang imam pada
bulan Ramadan?” Ibnu Umar menjawab: “Diamlah engkau, seakan-akan engkau itu
keledai.”
Dinyatakan
shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsaar
ash-Shohabah 1/429].
====
PENULIS KATAKAN TENTANG SHALAT DHUHA:
Yang benar Sholat Dhuha telah
ditetapkan dalam banyak hadits shahih, namun barangkali perkara ini —sebagaimana disebutkan
oleh lebih dari satu ulama— tidak diketahui oleh Abdullah
bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Diantaranya adalah hadits-hadits sbb :
KE 1: Dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Lailaa,
dia berkata :
" مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى
النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ
النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى
ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ
يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ "
“Tidak ada
seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Nabi ﷺ melakukan shalat Dhuhaa kecuali Ummu Haani’.
Sesungguhnya
ia pernah berkata : “Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu
makkah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan raka’at. Aku tidak
pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap
menyempurnakan rukuk dan sujudnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy no. 1176].
KE 2 : Dari Mu’aadzah :
أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا، " كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى
؟ قَالَتْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ "
“Bahwasannya
ia (Mu’aadzah) pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : “Berapa
raka’at Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan shalat Dhuhaa ?”. ‘Aaisyah
menjawab : “Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak yang Allah kehendaki”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 719].
KE 3 : Dari ‘Ali radliyallaahu ‘anhu :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُصَلِّي
مِنَ الضُّحَى
"
Bahwasannya
Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan shalat Dhuhaa” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/89;
Al-Arna’uth berkata : “sanadnya qawiy (kuat)”].
KE 4 : Dari Itban bin
Malik :
« أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى فِي
بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ»
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ sholat di rumahnya (Itban) shalat Dhuha, maka orang-orang pun
ikut berdiri di belakangnya mengikuti shalat beliau ﷺ.
(HR. Ahmad no. 22657)
Dari Abu
Dzarr, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
" يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ
أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ
صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ
بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ
ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى "
“Pada setiap
pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi
sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi
sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar
juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang
dilakukan pada waktu Dluha” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 720].
===***===
PEMBAHASAN KETIGA :
PERNYATAAN IBNU UMAR : SHALAT DHUHA MASUK DALAM
RANAH KEUMUMAN SHOLAT SUNNAH MUTLAK
Pernyataan
Ibnu Umar yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha itu masuk dalam katagori shalat
sunnah mutlak dan masuk dalam cakupan dalil umum; karena dilakukannya bukan
pada waktu-waktu yang dilarang, maka hukum asalnya boleh untuk diamalkan.
Abu al-Jahm
al-Bahiliy (wafat 228 H) meriwayatkan :
ثَنَا لَيْثٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، كَانَ يُسْأَلُ عَنْ صَلاةِ الضُّحَى فَلا يَنْهَى
وَلا يَأْمُرُ بِهَا، وَيَقُولُ:
«إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ
أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَكِنْ لا تُصَلُّوا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلا
عِنْدَ غُرُوبِهَا»
Telah
menceritakan kepada kami Laits, dari Naafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar:
“Bahwa ia
pernah ditanya tentang shalat Dhuhaa, maka ia tidak melarangnya dan tidak pula
memerintahkannya.
Ibnu Umar
berkata: “Aku hanyalah melakukannya sebagaimana aku lihat para shahabatku
melakukannya (yakni; diam dan tidak menyalahkannya). Akan tetapi janganlah
kalian mengerjakannya ketika matahari terbit dan ketika matahari
tenggelam"
[Diriwayatkan
oleh Abu Jahm al-Bahily Al-Baghdaadiy dalam Juz-nya hal. 33 no. 17; sanadnya
shahih].
Dan
diriwayatkan pula oleh Imam Bukhori no.
1191 dan 1192 dengan lafadz sbb :
أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ ، عَنْ
نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:
«كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي
يَوْمَيْنِ: يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى
فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ المَقَامِ، وَيَوْمَ
يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا
دَخَلَ المَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ».
قَالَ: «وَكَانَ يُحَدِّثُ: أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا»
قَالَ: وَكَانَ
يَقُولُ «إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَا
أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ
نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا»
Ayub
meriwayatkan dari Nafi’:
“Bahwa Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak pernah melaksanakan shalat Dhuha kecuali pada
dua hari:
[*] Hari
ketika ia datang ke Makkah, karena ia biasa tiba di Makkah pada waktu Dhuha,
lalu melakukan tawaf di Baitullah, kemudian shalat dua rakaat di belakang Maqam
Ibrahim.
[*] Dan hari
ketika ia datang ke Masjid Quba, karena ia biasa mendatanginya setiap hari Sabtu.
Apabila ia masuk ke masjid itu, ia tidak suka keluar darinya sebelum shalat di
dalamnya”.
Ia berkata:
“Dan ia meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa mendatangi masjid itu dengan berkendara
maupun berjalan kaki”.
Ia juga
berkata: “Aku melakukan sikap seperti ini ((yakni; tidak menyalahkannya))
karena aku lihat para sahabatku melakukannya juga, dan aku tidak melarang
seseorang untuk shalat pada waktu mana pun yang ia kehendaki, baik siang maupun
malam, akan tetapi janganlah kalian mengerjakannya ketika matahari
terbit dan ketika matahari tenggelam".”
Dari Ibnu
Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَحَرَّوْا بِصَلَاتِكُمْ طُلُوعَ
الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ».
"Janganlah
kalian mengerjakan shalat pada waktu terbitnya matahari maupun terbenamnya,
karena pada saat itu matahari terbit di antara dua tanduk setan."
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 4695. Menurut Syuaib al-Arnauth dalam
tahqiq Al-Musnad 8/321, sanadnya shahih menurut syarat kedua imam (Bukhari dan
Muslim).
Dan Abdullah
bin Umar – radhiyallahu ‘anhuma- meriwayatkan pula:
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ
يَقُولُ: «لَا تَحَرَّوْا بِصَلَاتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ، وَلَا غُرُوبَهَا،
فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَطْلُعُ قَرْنَاهُ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَيَغْرُبَانِ
مَعَ غُرُوبِهَا، وَكَانَ يَضْرِبُ النَّاسَ عَلَى تِلْكَ الصَّلَاةِ»
Bahwa Umar bin Al-Khaththab berkata:
"Janganlah kalian mengerjakan shalat pada waktu terbitnya matahari maupun
terbenamnya, karena setan ikut terbit bersamanya dan ikut tenggelam
bersamanya”.
Oleh sebab
itu beliau memukul orang-orang yang shalat pada waktu waktu itu." [HR.
Imam Malik dalam al-Muwaththo no. 36]
Dari Naafi’
(mawla Ibnu Umar) menceritakan:
«أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ
بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ
يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ، وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ
فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ
يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ»
قَالَ: «وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا».
قَالَ: «وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّمَا
أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ
يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا
تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا»
Bahwasannya
Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak pernah mengerjakan shalat Dhuha kecuali
pada dua kali, yaitu pada hari ketika dia tiba di Makkah karena saat dia
memasuki kota Makkah di waktu Dhuha. Yaitu pertama-tama dia melakukan thawaf di
Ka’bah kemudian shalat dua raka'at di belakang maqaam (Ibraahiim).
Dan yang
lainnya adalah saat ia mengunjungi masjid Qubaa', yang mana ia mendatanginya
pada hari Sabtu. Bila ia telah memasukinya, maka ia enggan untuk keluar darinya
hingga ia shalat terlebih dahulu di dalamnya.
Berkata
Nafi' : "Dan Ibnu'Umar radliallaahu 'anhumaa menceritakan bahwa Rasulullah
ﷺ pernah mengunjungi (masjid Qubaa' baik dengan berkendaraan ataupun
berjalan kaki".
Berkata
Nafi' : Dan Ibnu 'Umar radliallaahu 'anhumaa berkata : "Sesungguhnya aku
mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya,
namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan shalat pada waktu
kapanpun yang ia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak
bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam"
[Diriwayatkan
oleh Al-Bukhaariy no. 1192].
Dari sini
terdapat sedikit kejelasan bahwa ‘sebaik-baik bid’ah’ yang dimaksudkan oleh
Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah terkait shalat sunnah mutlak yang
dilakukan oleh seorang muslim pada waktu malam dan siang, dan kemudian
orang-orang banyak melakukannya pada waktu Dhuhaa.
Di satu sisi
Ibnu ‘Umar mengetahui bahwa shalat sunnah mutlak siang dan malam itu adalah
masyru’, namun di sisi lain ia tidak mengetahui adanya dalil pendawaman shalat Dhuhaa
secara khusus di luar waktu ketika tiba dari bepergian.
Dengan kata
lain, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait
dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan kaum muslimin pada waktu
Dhuhaa, bukan pada shalat Dhuhaa-nya itu sendiri.
Berdasarkan
hadits ini, maka shalat Dhuha itu -menurut Ibnu Umar- masuk ranah keumuman
dalil yang membolehkan shalat sunnah; karena dilakukannya diluar waktu-waktu
yang dilarang.
Jika
demikian adanya : maka shalat Dhuha masih termasuk dalam ranah dan ruang lingkup
perkara agama. Jika tidak, maka termasuk amalan yang tertolak, sebagaimana
sabda Nabi ﷺ dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا – أَوْ
دِينِنَا – هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ». وَفِي لَفْظٍ: «مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».
Siapa yang
membuat perkara baru dalam perkara (urusan) kami ini – atau agama kami ini
– yang bukan bagian darinya, maka itu
tertolak.
Dan dalam
lafaz lain: Siapa
yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perkara (urusan) kami, maka
amalan itu tertolak. [HR. Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dengan
sedikit perbedaan].
Contoh
ketetapan Nabi ﷺ yang menunjukkan bahwa beliau membedakan
antara ibadah tanpa contoh dari Nabi ﷺ yang masuk dalam urusan agama dengan yang
diluar urusan agama:
Contoh ke 1 :
Dalam Sunan
Abu Daud No. 3312 diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu
‘anhu:
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ النَّبِيَّ ﷺ
فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَضْرِبَ عَلَى رَأْسِكَ
بِالدُّفِّ. قَالَ: «أَوْفِي بِنَذْرِكِ».
قَالَتْ: إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ
أَذْبَحَ بِمَكَانِ كَذَا وَكَذَا مَكَانٌ كَانَ يَذْبَحُ فِيهِ أَهْلُ
الْجَاهِلِيَّةِ.
قَالَ: «لِصَنَمٍ». قَالَتْ: لَا.
قَالَ: «لِوَثَنٍ». قَالَتْ: لَا. قَالَ: «أَوْفِي بِنَذْرِكِ».
Bahwasanya
seorang perempuan datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata :
"Wahai
Rasulullah! Sesungguhnya aku bernadzar untuk memukul rebana di hadapanmu."
Rasulullah ﷺ berkata : "Laksanakanlah nadzarmu itu!
Setelah itu
perempuan tersebut berkata : "Sesungguhnya aku bernadzar menyembelih di
tempat ini dan itu —tempat yang biasa digunakan menyembelih orang-orang
Jahiliyah—.
Rasulullah ﷺ bertanya : "Apakah untuk berhala?"
Perempuan
itu menjawab : "Tidak."
Rasulullah ﷺ bertanya lagi : "Untuk patung?"
Perempuan
itu menjawab, "Tidak."
Rasulullah ﷺ bersabda : "Tepatilah nadzarmu itu!"
(di Hasankan
oleh al-Albaani dalam Al-Irwa' (nomor 4587).
Contoh ke 2:
Dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami :
بيْنَا
أنَا أُصَلِّي مع رَسولِ اللهِ ﷺ، إذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ، فَقُلتُ:
"يَرْحَمُكَ اللَّهُ"، فَرَمَانِي القَوْمُ بأَبْصَارِهِمْ، فَقُلتُ:
"واثُكْلَ أُمِّيَاهْ، ما شَأْنُكُمْ؟ تَنْظُرُونَ إلَيَّ"، فَجَعَلُوا
يَضْرِبُونَ بأَيْدِيهِمْ علَى أفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ
يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسولُ اللهِ ﷺ، فَبِأَبِي هو
وأُمِّي، ما رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ ولَا بَعْدَهُ أحْسَنَ تَعْلِيمًا منه،
فَوَاللَّهِ، ما كَهَرَنِي ولَا ضَرَبَنِي ولَا شَتَمَنِي".
قالَ:
«إنَّ هذِه الصَّلَاةَ لا يَصْلُحُ
فِيهَا شيءٌ مِن كَلَامِ النَّاسِ، إنَّما هو التَّسْبِيحُ والتَّكْبِيرُ
وقِرَاءَةُ القُرْآنِ»
Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari jamaah yang bersin, lalu aku
berkata: “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).” Maka orang-orang pun
memandangku dengan tajam. Aku pun berkata: “Celaka ibuku, ada apa dengan
kalian? Mengapa kalian memandangku begitu?” Lalu mereka menepuk paha mereka
dengan tangan mereka, maka ketika aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun
terdiam.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai
shalat, demi ayah dan ibuku menjadi tebusannya, aku tidak pernah melihat
seorang guru sebelum maupun sesudah beliau yang lebih baik cara mengajarnya
darinya. Demi Allah, beliau tidak memarahiku, tidak memukulku, dan tidak
mencaciku, tetapi beliau bersabda:
“Sesungguhnya shalat ini tidak
pantas di dalamnya ada ucapan manusia, karena di dalamnya hanya ada tasbih,
takbir, dan bacaan Al-Qur’an.”
(Diriwayatkan oleh Muslim [537], Abu Dawud [930], dan Ahmad
[23762])
Dari Abu
Shalih dari sebagian para sahabat Nabi ﷺ , mereka berkata :
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِرَجُلٍ:
«كَيْفَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ». قَالَ: "أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ أَمَا إِنِّي لَا
أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ". فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ».
Nabi ﷺ pernah bertanya kepada seorang laki-laki: "Bagaimana kamu berdo'a
dalam shalat?"
Laki-laki
tersebut menjawab ; "Aku membaca tasyahhud dan mengucapkan;
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ"
" Ya
Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api
neraka.
Kami tidak
pandai dandanah (merangkai kata-kata yang bagus dalam berdo'a) seperti dandanah
Engkau dan dandanah Mu’adz ".
Lalu
Rosulullah ﷺ bersabda : "Seputar itulah
kami ber-dandanah ( dalam berdo’a )".
( HR. Ahmad
No. 15333 dan Abu Daud No. 672 dan di shahihkan oleh Syeikh al-Albaani ).
Dari Rifa'ah
bin Rafi' Az Zuraqi radhiyallahu ‘anhu berkata :
" كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي
وَرَاءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، قَالَ: سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: «مَنِ
الْمُتَكَلِّمُ؟» قَالَ: أَنَا، قَالَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا
يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ»
"Pada
suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika mengangkat kepalanya
dari rukuk beliau mengucapkan:
«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»
(Semoga
Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya) '. Kemudian ada seorang
laki-laki yang berada di belakang beliau membaca;
«رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا
طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ»
(Wahai Tuhan
kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik
dan penuh berkah) '."
Selesai
shalat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?"
Orang itu
menjawab, "Saya."
Beliau
bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di
antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut."
( HR.
Bukhori no. 757 dan Muslim no. 617)
PEMBAHASAN KEEMPAT:
HUKUM MENDAWAMKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU
TERTENTU BERDASARKAN DALIL UMUM
Boleh
hukum-nya mendawamkan amalan baik dan mubah dengan mengamalkannya secara terus
menerus pada saat tertentu atau pada munasabah (suasana) tertentu; karena
menyukainya atau karena kesempatan yang memungkin. Itu semua diperbolehkan selama
tidak meyakini atau mengklaim bahwa itu perintah atau anjuran dari Allah dan
Rasul-Nya. Dan selama tidak menghukuminya sunnah atau wajib.
Berikut ini hujjah-hujjah
yang membolehkan pendawaman amalan yang baik dan mubah, selama tidak
menghukuminya sebagai Sunnah atau Wajib. Dan selama tidak berdusta mengatas namakan
perintah dari Allah SWT dan Rasul-Nya .
Hujjah
pertama :
Dalam hadits
Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا
وَإِنْ قَلَّ»
“Sesungguhnya
amal yang paling Allah cintai adalah yang paling didawamkan (terus
berkesinambungan) meskipun sedikit”. [HR. Bukhori no. 6465 dan Muslim no. 783]
Hujjah ke
dua :
Nabi ﷺ menganjurkan umat-nya untuk mengunjungi masjid Quba dan shalat
di dalam-nya agar mendapatkan pahala seperti Umrah, sebagaimana yang disebutkan
dalam hadits Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«من تطَهَّرَ في بيتِهِ ، ثمَّ أتى مسجدَ قباءٍ
، فصلَّى فيهِ صلاةً ، كانَ لَهُ كأجرِ عمرةٍ»
“Barangsiapa
bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba, lalu salat di dalamnya
satu salat, maka baginya seperti pahala umrah”.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (1412) dan lafal ini miliknya, juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i
(699), dan Ahmad (15981) dengan makna yang serupa. Di shahihkan oleh al-Albaani
dalam shahih Ibnu Majah dan Syu’aib al-Arna’uth dalam tahqiq Sunan Ibnu Majah
2/416].
Dalam lafadz
riwayat lain dari Usaid bin Khudhair – radhiyallahu ‘anhu - : Nabi ﷺ bersabda :
«الصلاةُ في مسْجدِ قِباءٍ كعُمرةٍ»
Salat di Masjid Quba, sama seperti umrah.
[Diriwayatkan
oleh at-Tirmidzi (324) dan Ibnu Majah (1411). Di hukumi Shahih oleh al-Albaani
dalam Shahih al-Jami’ no. 3872].
REDAKSI
HADITS DIATAS ADALAH UMUM, TIDAK MEMBATASI WAKTU TERTENTU.
Anjuran
dalam hadits diatas redaksinya umum, tidak membatasinya dengan waktu-waktu
terntentu. Akan tetapi Nabi ﷺ sendiri membiasakan dirinya
berkunjung ke mesjid Quba pada hari Sabtu . Sebagaimana dalam hadits Abdullah
bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
كانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْتي مَسْجِدَ قُباءَ
كُلَّ سَبْتٍ راكِبًا وماشيًا، وكانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ.
Rasulullah ﷺ biasa datang ke Masjid Quba' setiap hari Sabtu dengan
berkendara dan berjalan kaki, dan Ibn Umar biasa melakukannya. [Muttaqun
‘alaihi. Shahih Bukhori no. 1193 dan Shahih Muslim 1399]
Syeikh
al-Albaani dalam
(Mawsu’ah al-Albani Fil ‘Aqidah 2/507) menjelaskan tentang hadits ini dengan
mengatakan:
قَالَ الحَافِظُ : "وَفِي هَذَا
الْحَدِيثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ
بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ وَفِيهِ أَنَّ النَّهْيَ
عَنْ شَدِّ الرِّحَالِ لِغَيْرِ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ لَيْسَ عَلَى التَّحْرِيمِ لِكَوْنِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ رَاكِبًا
وَتُعُقِّبَ بِأَنَّ مَجِيئَهُ ﷺ إِلَى قُبَاءٍ إِنَّمَا كَانَ لِمُوَاصَلَةِ الْأَنْصَارِ
وَتَفَقُّدِ حَالِهِمْ وَحَالِ مَنْ تَأَخَّرَ مِنْهُمْ عَنْ حُضُورِ الْجُمُعَةِ
مَعَهُ وَهَذَا هُوَ السِّرّ فِي تَخْصِيص ذَلِك بِالسَّبْتِ".
Al-Hafidz Ibnu Hajar
(dalam al-Fath 3/69-70) berkata:
"Dalam hadits ini, meskipun jalur periwayatannya
beragam, terdapat petunjuk tentang bolehnya mengkhususkan sebagian hari dengan
amal saleh tertentu dan melaziminya.
Di dalamnya juga terdapat petunjuk bahwa larangan
mengadakan perjalanan jauh (dengan maksud ibadah) selain ke tiga masjid tidak
bersifat haram, karena Rasulullah ﷺ biasa mendatangi Masjid Quba’ dengan
berkendara.
Namun hal ini ditanggapi bahwa kedatangan Rasulullah ﷺ ke
Quba’ sebenarnya bertujuan untuk menyambung silaturahmi dengan kaum Anshar,
memeriksa keadaan mereka, serta mengetahui kondisi orang-orang yang tidak dapat
menghadiri salat Jumat bersamanya.
Inilah rahasia mengapa hal itu dikhususkan pada hari
Sabtu."
Lalu
Syeikh al-Albani berkata :
قُلتُ: فَعَلَى هٰذَا فَذَهَابُهُ عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَوْمَ السَّبْتِ لَمْ يَكُنْ مَقْصُودًا بِالذَّاتِ بَلْ
مُرَاعَاةً لِمَصْلَحَةِ التَّفَقُّدِ الْمَذْكُورِ، وَعَلَيْهِ فَالأَيَّامُ كُلُّهَا
سَوَاءٌ فِي الْفَضِيلَةِ فِي زِيَارَةِ قُبَاءَ لِعَدَمِ وُجُودِ قَصْدِ التَّخْصِيصِ،
فَمَا ذَكَرَهُ القَارِي فِي «المِرْقَاةِ» «١/ ٤٤٨» عَنِ الطِّيبِيِّ أَنَّ: «الزِّيَارَةَ
يَوْمَ السَّبْتِ سُنَّةٌ» لَيْسَ كَمَا يَنبَغِي.
Saya katakan
: berdasarkan hal ini, maka kepergian Rasulullah ﷺ pada hari Sabtu bukanlah
sesuatu yang dimaksudkan secara khusus, melainkan karena mempertimbangkan
kemaslahatan untuk memeriksa keadaan yang telah disebutkan.
Oleh karena
itu, semua hari memiliki kedudukan yang sama dalam keutamaan untuk mengunjungi
Quba’, karena tidak adanya maksud untuk mengkhususkan hari tertentu.
Maka apa
yang disebutkan oleh Al-Qari dalam *Al-Mirqat* (1/448) dari Ath-Thibi bahwa:
"Mengunjungi (Masjid Quba’) pada hari Sabtu adalah sunnah," tidaklah
sebagaimana mestinya.
[Lihat : Mawsu’ah
al-Albani Fil ‘Aqidah 2/507 dan Jami’ at-Turots al-Albani Fil Fiqh 8/328]
Hujjah
kedua :
Seorang imam
shalat dari kalangan para sahabat yang dalam shalatnya senantiasa mendawamkan
baca surat al-Ikhlash di setiap selesai baca surat yang panjang, dan amalan
tersebut tanpa ada contoh dari Nabi ﷺ, oleh sebab itu para sahabat
lainnya protes; karena menganggapnya tidak sesuai sunnah, maka terjadilah
perselisihan, namun setelah perselisihan ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau justru menbenarkan imam tersebut bahkan memuji-nya.
Dari Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu :
أنَّ رجلًا كانَ يلزَمُ قراءةَ ﴿قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ في الصَّلاةِ في كلِّ سورةٍ وَهوَ يؤمُّ أصحابَهُ ، فَقالَ
لَهُ رسولُ اللَّهِ ﷺ: «ما يُلزِمُكَ هذِهِ السُّورةَ ؟» قالَ : إنِّي أحبُّها .
قالَ : «حبُّها أدخلَكَ الجنَّةَ».
Bahwa
seorang pria bermulazamah membaca : " Qul Hualloohu Ahad" dalam
sholat pada setiap selesai baca surat , dan dia menjadi imam shalat para
sahabatnya.
Maka
Rosulullah ﷺ bertanya kepada nya : " Apa yang mendorongmu untuk bermulazamah
membaca surat ini ? ".
Dia menjawab
: " Sesungguhnya aku mencintainya ".
Lalu Beliau ﷺ bersabda : " Kecintaan-mu pada nya akan memasukanmu ke dalam
syurga".
[Hadits ini
di hasankan oleh Syeikh Muqbil al-Waadi'i dalam ash-Shahih al-Musnad no. 87].
Riwayat lain
dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :
كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ
يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ
لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ
يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ
تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى
تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا
وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ
أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا
يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ
النَّبِيُّ ﷺ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا
يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي
كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ
Seorang
sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid Quba`, setiap kali mengawali untuk
membaca surat (setelah al fatihah -pent) dalam shalat, ia selalu memulainya
dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan
surat yang lain, dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat.
Lantas para
sahabatnya berbicara padanya, kata mereka : "Kamu membaca surat itu
[Qulhuawwallah] lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, hingga kamu
melanjutkannya dengan surat yang lain. Bacalah surat tersebut [Qulhuwallah] !
Atau tinggalkan itu , lalu bacalah surat yang lain!."
Sahabat
Anshar itu berkata : "Aku tidak akan meninggalkannya [Qulhuwallah], bila
kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya, maka aku akan
melakukannya . Dan bila kalian tidak suka, maka aku akan meninggalkan
kalian."
Sementara
mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka
tidak ingin diimami oleh orang lain.
Saat Nabi ﷺ mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu .
Lalu beliau ﷺ bertanya : "Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk
melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca
surat itu disetiap rakaat?"
Ia menjawab
: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke
dalam surga."
[ Al-Bukhari
meriwayakannya dalam Shahihnya secara mu'allaq dengan shighat Jazm (774), Dan
diriwayatkan secara maushul oleh
Tirmidzi no. (2826 , 2901) , Ahmad (hadis no. 11982 dan 12054) dan al-Darimi
(hadis no. 3300).
Abu Isa
at-Tirmidzy berkata ;
Hadits ini
hasan gharib, shahih dari jalur ini dari hadits 'Ubaidullah bin Umar dari
Tsabit. [Mubarak bin Fadlalah] meriwayatkan dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa
seseorang berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat ini,
yaitu QUL HUWALLAAHU AHAD." Beliau bersabda: "Sesungguhnya mencintainya
akan memasukkanmu ke dalam surga."
Hujjah
ketiga :
Hujjah
ketiga ini sama dengan hujjah ke dua, namun tempat kejadiannya berbeda. Yaitu
Taqrir Nabi ﷺ terhadap seorang imam shalat yang selalu mengakhiri bacaan
suratnya dengan "Qul Huwallahu Ahad."
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha :
أنَّ النبيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا علَى
سَرِيَّةٍ، وكانَ يَقْرَأُ لأصْحَابِهِ في صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بقُلْ هو
اللَّهُ أحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذلكَ للنبيِّ ﷺ، فَقالَ: سَلُوهُ لأيِّ
شيءٍ يَصْنَعُ ذلكَ؟، فَسَأَلُوهُ، فَقالَ : لأنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وأَنَا
أُحِبُّ أنْ أقْرَأَ بهَا، فَقالَ النبيُّ ﷺ: أخْبِرُوهُ أنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.
"Bahwa
Rasulullah ﷺ mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus
yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam
shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan "Qul
Huwallahu Ahad."
Ketika
mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: "Tanyakanlah kepadanya kenapa ia
melakukan hal itu?"
Lalu
merekapun menanyakan kepadanya. Ia menjawab, "Karena didalamnya terdapat
sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya."
Mendengar
itu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta'ala juga mencintainya." (HR.
Bukhori no. 7375 dan Muslim no. 813).
Hujjah ke
empat :
Atsar Utsman
bin 'Affaan radhiyallahu ‘anhu : di setiap hari Jum'at beliau senantiasa
bersedekah memerdekakan hamba sahaya.
Utsman bin
Affan - semoga Allah meridhoinya – berkata :
وَلَا مَرَّتْ بِي جُمُعَةٌ إِلَّا وَأَنَا
أُعْتِقُ رَقَبَةً مُذْ أَسْلَمْتُ، إِلَّا أَنْ لَا أَجِدَ فِي تِلْكَ الْجُمُعَةِ،
ثُمَّ أُعْتِقُ لِتِلْكَ الْجُمُعَةِ بَعْدُ."
Tidak ada
satu Jum’at kecuali aku memerdekakan hamba sejak aku memeluk islam kecuali jika
aku tidak mendapatinya [hamba] pada Jum’at tersebut maka aku akan
memerdekakannya pada Jum’at berikutnya .
[ Di
Riwayatkan oleh Ibnu Syabbah An-Numairi dalam “Tarikh al-Madinah” (4/1156) dan
al-Fasawi dalam “Al-Ma`rifah wa al-Tarikh” (2/488).
DERAJAT
ATSAR :
SANAD-nya
Jayyid [baik].
Sebagaiaman
disebutkan dalam “مَجْمُوعَةُ الرَّسَائِلِ
الْحَدِيثِيَّةِ”
oleh Ali Ridho (hal. 659).
Dan juga
dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam “نُزْهَةُ
الْأَسْمَاعِ”
(hal. 8) dan dia berkata: “Telah Shahih dari Utsman – semoga Allah meridhoinya
– bahwa dia berkata:
" مَا تَغَنَّيْتُ، وَلَا تَمَنَّيْتُ".
“Aku
tidak pernah bernyanyi dan aku tidak berangan-angan ”.
Hujjah Ke
Lima :
Dalam Islam
diperbolehkan seseorang membikin-bikin do’a tertentu -tanpa contoh dari Nabi ﷺ- untuk sebuah hajat
dan keperluan tertentu, lalu ia senantiasa membacaankan doa tersebut saat diperlukan.
Syarat diperbolehkannya itu selama dalam kandungannya tidak ada unsur
kesyirikan atau ungkapan-ungkapan yang bertentangan dengan hukum syar’i.
Contohnya: do’a-do’a ruqyah yang bukan dari al-Qur’an dan as-Sunnah, yang sudah biasa dibacakan dan telah teruji
manfa’atnya.
Ini berdasarkan hadits Auf bin Malik al-‘Asyja’i radhiyallahu
‘anhu, beliau berkata:
كُنَّا نَرْقِي فِي
الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ
اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
Kami dulu biasa meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami
berkata: “Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang hal itu?”.
Nabi ﷺ bersabda: “Tunjukkan padaku bacaan-bacaan ruqyah kalian. Tidak mengapa bacaan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan di dalamnya”. ( HR. Muslim no. 2200 & 4079 ).
PERNYATAAN ULAMA TENTANG MENGKHUSUSKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU TERTENTU
Dalam Kitab
Liqo-at Multaqa Ahlil Hadits bil-'Ulama 15/10 disebutkan :
"الْعِبَادَةُ إِمَّا أَنْ تَكُونَ عَامَّةً
مُطْلَقَةً؛ مِثْلَ الْحَثِّ عَلَى مُطْلَقِ صَلَاةِ اللَّيْلِ، وَفَضْلِ الصَّوْمِ
مُطْلَقًا، وَفَضْلِ الْإِكْثَارِ مِنَ الذِّكْرِ بِإِطْلَاقٍ. فَهَذَا يَكْفِي فِي
ثُبُوتِهِ النَّصُّ الْعَامُّ.
وَإِمَّا أَنْ تَكُونَ الْعِبَادَةُ خَاصَّةً
مُقَيَّدَةً؛ مِثْلَ: فَضْلِ صَلَاةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي زَمَنٍ مُعَيَّنٍ أَوْ فِي مَكَانٍ
مُعَيَّنٍ، وَفَضْلِ صَوْمِ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الْأُسْبُوعِ، أَوْ مِنَ الشَّهْرِ،
أَوْ مِنَ السَّنَةِ، وَفَضْلِ ذِكْرٍ مُعَيَّنٍ فِي زَمَنٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ بِعَدَدٍ
مُعَيَّنٍ. فَهَذَا لَا يَكْفِي فِي ثُبُوتِهِ مُجَرَّدُ النَّصِّ الْعَامِّ، بَلْ
لَابُدَّ فِي ثُبُوتِهِ مِنْ دَلِيلٍ خَاصٍّ مُعَيَّنٍ".
Terjemahnya
: “Ibadah itu ada dua macam:
Pertama, ibadah yang bersifat umum dan
mutlak.
Contohnya :
seperti anjuran untuk shalat malam secara umum, keutamaan puasa secara umum,
atau keutamaan memperbanyak zikir tanpa batasan tertentu. Untuk jenis ibadah
seperti ini, cukup untuk mengamalkannya dengan dalil yang bersifat umum.
Kedua, ibadah yang bersifat khusus dan
terikat.
Contohnya :
seperti keutamaan shalat tertentu pada waktu tertentu atau di tempat tertentu,
keutamaan puasa pada hari tertentu dalam sepekan, atau dalam sebulan, atau
dalam setahun, serta keutamaan zikir tertentu pada waktu tertentu atau dengan
jumlah tertentu. Untuk menetapkan jenis ibadah seperti ini, tidak cukup hanya
dengan dalil umum, tetapi harus ada dalil khusus dan tertentu”. [SELESAI]
Dalam
halaman berikutnya 15/11 disebutkan:
وَحَاصِلُ الْقَوْلِ: أَنَّ النَّصَّ
الْعَامَّ لَهُ دَلَالَةٌ عَلَى أَفْرَادِهِ، لَكِنَّهَا دَلَالَةٌ إِجْمَالِيَّةٌ،
وَاقِعَةٌ عَلَى كُلِّ فَرْدٍ مِنْ جِهَةِ الْعُمُومِ وَالْإِطْلَاقِ، وَهَذِهِ دَلَالَةٌ
ثَابِتَةٌ، ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ الدَّلَالَةَ لَا تَقْتَضِي وَلَا يَلْزَمُ مِنْهَا
ثُبُوتُ دَلَالَةٍ أُخْرَى لِلنَّصِّ الْعَامِّ، وَهِيَ دَلَالَتُهُ عَلَى أَفْرَادِهِ
الْمُنْدَرِجِينَ تَحْتَهُ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ وَالتَّعْيِينِ؛ حَيْثُ إِنَّ
دَلَالَةَ اللَّفْظِ الْعَامِّ قَاصِرَةٌ عَنْ ذَلِكَ.
Kesimpulannya:
bahwa suatu dalil yang bersifat umum memang bisa menjadi dalil untuk bagian-bagian
yang termasuk di dalamnya, namun dalil tersebut bersifat global, berlaku
atas setiap bagian hanya dari sisi keumuman dan keluasannya. Pendalilan seperti
ini memang tetap ada.
Akan tetapi,
pendalilan tersebut tidak menunjukkan dan tidak mengharuskan adanya
ketetapan pendalilan lain dari dalil umum itu, yaitu pendalilan yang menetapkan
hukum bagi bagian-bagian tertentu yang berada di bawahnya secara khusus dan
tertentu; karena makna yang dikandung oleh lafaz umum tidak sampai
kepada tingkat pendalilan yang bersifat khusus dan tertentu terhadap itu.
Berikut ini
pernyataan sebagian para ulama tentang mengamalkan suatu ibadah yang tidak ada
contoh dari Nabi ﷺ dalam prakteknya, namun
amalan tersebut masuk dalam katagori dalil umum dan masih dalam ruang lingkup
dan ranah dalil tersebut .
Al-Hafidz
Ibnu Hajar berkata :
"وَالْمُرَادُ
بِقَوْلِهِ ﷺ «كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» مَا أُحْدِثُ وَلَا دَلِيلَ لَهُ مِنَ الشَّرْعِ
بِطَرِيقٍ خَاصٍّ وَلَا عَام".
“Dan yang
dimaksud dengan sabdanya ﷺ “Setiap bid’ah adalah
kesesatan” adalah sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dalil
dari syariat, baik dengan dalil khusus maupun dalil umum
(berarti jika masuk dalam ranah dalil umum, maka itu bukan bid’ah yang sesat).
(Fathul Bari 13/254)
Ibnu Hazm
berkata :
“الْبِدْعَةُ فِي الدِّينِ كُلُّ مَا
لَمْ يَأْتِ فِي الْقُرْآنِ وَلَا عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِلَّا أَنَّ مِنْهَا مَا
يُؤْجَرُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَيُعْذَرُ بِمَا قَصَدَ إِلَيْهِ وَيَكُونُ حَسَنًا،
وَهُوَ مَا كَانَ أَصْلُهُ الْإِبَاحَةَ كَمَا وَرَدَ عَنْ عُمَرَ: (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ
هَذِهِ)، وَهُوَ مَا كَانَ فِعْلُ خَيْرٍ جَاءَ النَّصُّ بِعُمُومِ اسْتِحْبَابِهِ
وَإِنْ لَمْ يُقَرِّرْ عَمَلَهُ فِي النُّصُوصِ، وَمِنْهَا مَا يَكُونُ مَذْمُومًا،
وَلَا يُعْذَرُ صَاحِبُهُ وَهُوَ مَا قَامَتِ الْحُجَّةُ عَلَى فَسَادِهِ فَتَمَادَى
الْقَائِلُ بِهِ.”
“Bid‘ah
dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan tidak
pula dari Rasulullah ﷺ.
Namun,
sebagian bid‘ah itu pelakunya diberi pahala dan diberi udzur sesuai niatnya dan
hal itu menjadi bid’ah hasanah. Yaitu sesuatu yang asalnya mubah, sebagaimana
perkataan Umar: ‘Sebaik-baik bid‘ah ini.’
Termasuk
pula perbuatan baik yang ada dalil umum tentang dianjurkannya, meskipun
amal itu tidak ditetapkan dalam nash secara rinci. Sebagian lain adalah bid‘ah
yang tercela dan pelakunya tidak diberi uzur, yaitu sesuatu yang telah
ditegakkan hujjah atas kebatilannya namun orang itu tetap bersikeras.”
(al-Ihkam 1/47; lihat juga: Dr. Izzat Athiyah, al-Bid‘ah, hlm. 161)
Perkataan
al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali :
(الْمُرَادُ
بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ،
أَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ، فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا وَإِنْ
كَانَ بِدْعَةً لُغَةً)
“Yang
dimaksud dengan bid‘ah adalah sesuatu yang diada-adakan yang tidak memiliki
dasar dalam syariat (dalil umum) yang menunjukkan kepadanya. Adapun sesuatu
yang memiliki dasar dalam syariat (dalil umum) yang menunjukkan kepadanya, maka
tidak disebut bid‘ah secara syar‘i meskipun secara bahasa disebut bid‘ah.”
(Jami‘ al-Ulum wa al-Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, hal. 291, Dar al-Jil)
Perkataan
asy-Syafi‘i, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar :
قَالَ الشَّافِعِيُّ الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ
مَحْمُودَةٌ وَمَذْمُومَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُودٌ وَمَا خَالَفَهَا
فَهُوَ مَذْمُومٌ، أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ بِمَعْنَاهُ مِنْ طَرِيقِ إِبْرَاهِيمَ
بْنِ الْجُنَيْدِ عَنِ الشَّافِعِيِّ
وَجَاءَ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَيْضًا مَا
أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي مَنَاقِبِهِ قَالَ: الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ مَا أُحْدِثُ
يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالِ
وَمَا أُحْدِثُ مِنَ الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ
غَيْرُ مَذْمُومَةٍ انْتَهَى
Asy-Syafi‘i
berkata: Bid‘ah itu ada dua macam, yaitu bid‘ah yang terpuji dan yang tercela.
Apa yang sesuai dengan sunnah maka itu terpuji, dan apa yang menyelisihi sunnah
maka itu tercela. Pernyataan ini diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim secara maknanya
melalui jalur Ibrahim bin Al-Junaid dari Asy-Syafi‘i.
Diriwayatkan
pula dari Asy-Syafi‘i sebagaimana dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab
Manaqib-nya: Bid‘ah itu ada dua jenis. Sesuatu yang diada-adakan dan
menyelisihi Al-Qur’an, atau Sunnah, atau atsar, atau ijma’, maka ini adalah
bid‘ah yang sesat. Dan sesuatu yang diada-adakan dalam kebaikan namun tidak
menyelisihi salah satu dari hal tersebut, maka ini adalah perkara baru yang tidak
tercela”. Selesai. (Fathul Bari 13/253)
Ibnu
Quddamah berkata :
قَالَ القَاضِي: وَلَا بَأْسَ بِالتَّعْرِيفِ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِالأَمْصَارِ. وَقَالَ الأَثْرَمُ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ
عَنِ التَّعْرِيفِ فِي الأَمْصَارِ، يَجْتَمِعُونَ فِي المَسَاجِدِ يَوْمَ عَرَفَةَ،
قَالَ: أَرْجُو أَنْ لَا يَكُونَ بِهِ بَأْسٌ، قَدْ فَعَلَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ. وَرَوَى
الأَثْرَمُ، عَنِ الحَسَنِ، قَالَ: أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِالبَصْرَةِ ابْنُ عَبَّاسٍ،
رَحِمَهُ اللهُ. وَقَالَ أَحْمَدُ: أَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَمْرُو
بْنُ حُرَيْثٍ. وَقَالَ: الحَسَنُ، وَبَكْرٌ، وَمُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ كَانُوا يَشْهَدُونَ
المَسْجِدَ يَوْمَ عَرَفَةَ. قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ
وَذِكْرٌ لِلَّهِ. فَقِيلَ لَهُ: تَفْعَلُهُ أَنْتَ؟ قَالَ: أَمَّا أَنَا فَلَا. وَرُوِيَ
عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ حَضَرَ مَعَ النَّاسِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ.
Al-Qadhi
berkata: Tidak mengapa melakukan ta’rif pada sore hari Arafah di berbagai
negeri.
Al-Atsram
berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang ta’rif di
berbagai negeri, yaitu mereka berkumpul di masjid-masjid pada hari Arafah.
Ia berkata:
Aku berharap tidaklah mengapa, karena hal itu pernah dilakukan oleh lebih dari
satu orang.
Al-Atsram
meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa orang pertama yang melakukan ta’rif
di Bashrah adalah Ibnu Abbas, rahimahullah.
Ahmad
berkata: Orang pertama yang melakukannya adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraith
(Abu Sa’id al-Makhzumi al-Kufi, seorang sahabat).
Ia juga
berkata: Al-Hasan al-Bashri, dan Bakar bin Abdullah bin Amr al-Muzani
al-Bashri, dan Muhammad bin Wasi’ al-Azdi (ahli ibadah dari Bashrah) mereka
menghadiri masjid pada hari Arafah.
Ahmad
berkata: Tidak mengapa dengan hal itu, karena itu hanya doa dan zikir kepada
Allah. Lalu dikatakan kepadanya: Apakah engkau melakukannya? Ia menjawab:
Adapun aku, tidak.
Dan
diriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwa ia pernah hadir bersama orang-orang
pada sore hari Arafah. [Baca : al-Mughni 3/295 Tahqiq at-Turki).
===***===
PEMBAHASAN KE LIMA
AMALAN-AMALAN KHUSUS IBNU UMAR BERDASARKAN DALIL
UMUM
Ada beberapa
amalan ibadah Abdulah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang beliau lakukan tanpa ada
contoh dari sunnah Nabi ﷺ secara khusus, namun termasuk
dalam ranah dalil umum atau sunnah mutlak. Diantaranya adalah sbb:
****
AMALAN PERTAMA :
IBNU UMAR, SENANTIASA ZIARAH KUBUR NABI ﷺ SAAT KELUAR MASUK MADINAH
Ibnu Umar
apabila ingin bepergian atau kembali dari bepergian, ia datang ke makam Nabi ﷺ,
lalu bershalawat kepadanya, berdoa, kemudian pergi.
Amalan Ibnu
Umar tidak ada dalil khusus dari Nabi ﷺ dan tidak ada sahabat
selainnya yang mengamalkannya, namun beliau berdalil dengan keumuman hadits
yang menganjurkan ziarah kubur.
Imam Malik berkata: Abdullah bin Dinar mengabarkan
kepada kami :
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ «كَانَ إِذَا أَرَادَ
سَفَرًا، أَوْ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ جَاءَ قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، فَصَلَّى عَلَيْهِ،
وَدَعَا ثُمَّ انْصَرَفَ» .
قَالَ مُحَمَّدٌ: «هَكَذَا يَنْبَغِي
أَنْ يَفْعَلَهُ إِذَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ يَأْتِي قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ»
bahwa Ibnu Umar apabila ingin bepergian atau kembali
dari bepergian, ia datang ke makam Nabi ﷺ, lalu bershalawat kepadanya dan berdoa, kemudian
pergi.
Muhammad (bin Ibrahim) berkata: “Demikianlah seharusnya dilakukan apabila datang ke Madinah, yaitu
mendatangi makam Nabi ﷺ”.
[Diriwayatkan
oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa halaman 334 nomor 948. (Al-Muwaththa: 115, hadits nomor 397)].
Taqiyuddin Al-Maqrizi berkata dalam Imta‘ al-Asma’ 11/132:
Al-Imam Malik
berkata dalam Al-Muwaththa (397): dari Abdullah bin Dinar, ia berkata:
«رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
عَنْهُمَا يَقِفُ عَلَى قَبْرِ الرَّسُولِ ﷺ وَيَدْعُو لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُمَا»
“Aku
melihat Abdullah bin Umar radhiyallahu ta'ala ‘anhuma berdiri di sisi makam
Rasul ﷺ dan
mendoakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ta'ala ‘anhuma”.
Utsman Al-Kamakhy men-sahih-kan sanadnya dalam
kitab Al-Muhya fi Kashf Asrar Al-Muwaththa 4/313, kemudian ia menjelaskan
hadits tersebut:
أَخْبَرَنَا
مَالِكٌ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا :
«كَانَ أَيْ: مِنْ دَأْبِهِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا، أَيْ:
إِنْ شَاءَهُ وَقَصَدَ وَدَاعَ النَّبِيِّ ﷺ، أَوْ قَدِمَ أَيْ: إِذَا رَجَعَ وَجَاءَ
مِنْ سَفَرٍ أَيْ: وَقَصَدَ سَلَامَ الْقَوْمِ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ ﷺ حَتَّى فِي قَبْرِهِ،
كَمَا هُوَ الْعَقْدُ فِي الْمُعْتَقَدِ :
جَاءَ قَبْرَ
النَّبِيِّ ﷺ؛ أَيْ: قَرِيبَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ، أَيْ: بَعْدَ التَّسْلِيمِ بِأَنْ
قَالَ: الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. وَدَعَا أَيْ: اللَّهَ
وَتَوَسَّلَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي ابْتِغَاءِ رِضَاهُ. ثُمَّ انْصَرَفَ أَيْ: عَنْ
قَبْرِهِ قَبْرِ ضَجِيعَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَدَعَا لَدَيْهِ.
وَلَعَلَّ هَذَا بَيَانُ الزِّيَارَةِ الْإِجْمَالِيَّةِ حَالَ الْعَجَلَةِ. وَأَمَّا
فِي وَقْتِ السَّعَةِ فَإِذَا بِهَا كَثِيرَةٌ كَمَا بَيَّنْتُ فِي سُلَّمِ الْفَلَاحِ
شَرْحِ نُورِ الْإِيضَاحِ.
قَالَ مُحَمَّدٌ:
هَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَهُ إِذَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ: أَيْ: وَكَذَا إِذَا
أَرَادَ السَّفَرَ مِنْهَا خُصُوصًا فِي الْحَالَيْنِ، وَهُوَ لَا يُنَافِي الزِّيَارَةَ
فِي غَيْرِهَا صَبَاحًا وَرَوَاحًا يَأْتِي قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، يَعْنِي: بَعْدَ تَحِيَّةِ
الْمَسْجِدِ.
وَقَدْ رَوَى
أَبُو حَنِيفَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: وَمِنَ السُّنَّةِ
أَنْ تَأْتِيَ قَبْرَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ فَيَسْتَقْبِلَ الْقَبْرَ
بِوَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
وَبَرَكَاتُهُ، كَذَا قَالَهُ عَلِيُّ الْقَارِي».
Al-Imam Malik
mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami, dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ia adalah orang yang apabila ingin bepergian, yaitu
apabila menginginkannya dan bermaksud berpamitan kepada Rasulullah ﷺ,
atau apabila kembali, yaitu apabila pulang dari bepergian dan bermaksud
menyampaikan salam kepada beliau; karena Rasulullah ﷺ sekalipun berada di dalam kuburnya
sebagaimana keyakinan dalam akidah.
Ia datang ke makam Nabi ﷺ, yaitu mendekatinya, lalu bershalawat
kepadanya setelah mengucapkan salam dengan berkata:
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Shalawat dan salam atasmu
wahai Rasulullah.”
Lalu ia berdoa kepada Allah dan bertawassul kepada
Nabi ﷺ
dalam mencari keridaan-Nya.
Kemudian ia pergi dari makam beliau, makam dua sahabat
yang dimakamkan bersama beliau, lalu memberi salam kepada masing-masing
keduanya dan berdoa di sisi mereka. Barangkali ini adalah penjelasan bentuk
ziarah secara ringkas ketika dalam keadaan terburu-buru. Adapun ketika dalam
keadaan lapang, maka bentuknya banyak sebagaimana dijelaskan dalam Salm
al-Falah Syarh Nur al-Idhah.
Muhammad (bin Ibrahim) berkata: Demikianlah seharusnya dilakukan apabila
datang ke Madinah, demikian pula apabila hendak bepergian darinya, khususnya
dalam dua keadaan tersebut. Hal ini tidak menafikan ziarah pada waktu lainnya,
pagi atau sore, dengan mendatangi makam Nabi ﷺ, yaitu setelah tahiyyatul masjid.
Abu Hanifah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma bahwa ia berkata: Termasuk sunnah adalah engkau mendatangi makam
Rasulullah ﷺ dari
arah kiblat, lalu menghadap ke makam itu dengan wajahmu, kemudian berkata: “Assalamu
‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh,” demikian yang
dikatakan oleh Ali Al-Qari.
[SELESAI]
Dalam Musnad
Abu Hanifah riwayat al-Hashkafi no. 37 diriwayatkan : Dari Nafi’, dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
"مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَأْتِيَ قَبْرَ النَّبِيَّ
ﷺ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ، وَتَجْعَلَ ظَهْرَكَ إِلَى الْقِبْلَةِ، وَتَسْتَقْبِلَ
الْقَبْرَ لِوَجْهِكَ، ثُمَّ تَقُولَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ "
“Termasuk
sunnah adalah engkau mendatangi kubur Nabi ﷺ dari arah kiblat, lalu
engkau menjadikan punggungmu menghadap kiblat dan menghadapkan wajahmu ke
kubur, kemudian engkau mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
(Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan
keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi).”
Taqiyuddin
Al-Muqraizi dalam Imta‘ al-Asma’ 11/132 meriwayatkan:
“Ibnu Ghayr
berkata: Muhammad bin Bashir telah menceritakan kepada kami; Ubaidullah bin
Nafi’ telah menceritakan kepada kami :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا
قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ
الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
عَنْهُ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَتِ.
Dari Ibnu
Umar bahwa apabila ia datang dari bepergian, ia memulai dengan mendatangi makam
Nabi ﷺ lalu bershalawat kepadanya dan tidak menyentuh makam tersebut.
Setelah itu ia memberi salam kepada Abu Bakar radhiyallahu ta'ala ‘anhu,
kemudian ia berkata: ‘Assalamu ‘alaika ya Abatah.’”
Ibnul Qayyim
Al-Jawziyyah berkata dalam Jala’ Al-Afham halaman 399:
Sahnun
berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al-Qasim dari Malik,
dari Abdullah bin Dinar.
Ia berkata:
«رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقِفُ
عَلَى قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَيَدْعُو لِأَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا»
Aku melihat
Abdullah bin Umar berdiri di sisi makam Nabi ﷺ lalu bershalawat kepada Nabi
ﷺ dan mendoakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. [Malik
menyebutkannya dalam Al-Muwaththa].
Ibnu Numayr
berkata: Muhammad bin Bashir telah menceritakan kepada kami; Abdullah telah
menceritakan kepada kami dari Nafi’:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
: «أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي
عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَتِ».
Dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa apabila ia datang dari bepergian, ia memulai
dengan mendatangi makam Nabi ﷺ lalu bershalawat kepadanya
dan tidak menyentuh makam itu. Kemudian ia memberi salam kepada Abu Bakar
radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata: “Assalamu ‘alaika ya Abati (yakni
ayahku Umar).”
As-Sakhawi
berkata dalam Al-Qawl Al-Badi‘ hal. 212:
“Dalam lafaz
riwayat lain disebutkan :
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَيْضًا: «كَانَ إِذَا
قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ
الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ
يَا أَبَتِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ».
bahwa Ibnu
Umar juga apabila datang dari bepergian, ia memulai dengan mendatangi makam
Nabi ﷺ lalu bershalawat kepadanya dan tidak menyentuh makam tersebut.
Kemudian ia memberi salam kepada Abu Bakar, lalu berkata: ‘Assalamu ‘alaika ya
Abatah’ radhiyallahu ‘anhum.”
Ibnu Abi
Dunya meriwayatkan—dan melalui jalurnya Al-Bayhaqi dalam Asy-Syu‘ab—dari hadits
Abdullah bin Munib bin Abdullah bin Abi Umamah dari ayahnya. Ia berkata:
«رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَتَى قَبْرَ النَّبِيِّ
ﷺ، فَوَقَفَ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، فَسَلَّمَ
عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ انْصَرَفَ».
“Aku melihat
Anas bin Malik datang ke makam Nabi ﷺ lalu berdiri, mengangkat
kedua tangannya hingga aku mengira ia memulai shalat. Lalu ia bersalam kepada
Nabi ﷺ, kemudian pergi.”
Dan dari
Yazid bin Abi Sa‘id Al-Madani, maula Al-Mahdi, ia berkata:
وَدَّعْتُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ،
فَقَالَ: «إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً». قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، كَيْفَ
تَرَى حَاجَتَكَ عِنْدِي؟ قَالَ: «إِنِّي أَرَاكَ إِذَا أَتَيْتَ الْمَدِينَةَ سَتَرَى
قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، فَاقْرَأْهُ مِنِّي السَّلَامَ».
“Aku
berpamitan kepada Umar bin Abdul Aziz. Ia berkata: ‘Aku memiliki satu
permintaan kepadamu.’ Aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, bagaimana engkau melihat
permintaanmu dariku?’
Ia berkata:
‘Aku melihatmu, apabila engkau datang ke Madinah, engkau akan mendatangi makam
Nabi ﷺ. Maka sampaikanlah salam kepadanya dariku.’”
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Dunya dan melalui jalurnya Al-Bayhaqi dalam Asy-Syu‘ab. [Baca:
Tarikh Makkah al-Musyarrofah Oleh Ibnu adh-Diyaa, Abu al-Baqoo al-Hanafi hal.
38, al-Qowlul Badii’ oleh as-Sakhowi hal. 212]
****
AMALAN KEDUA :
IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TASYAHHUD
SHALAT
Dari Abu Bisyr, ia berkata: Aku mendengar Mujahid
menceritakan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah ﷺ tentang bacaan tasyahud:
«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ الصَّلَوَاتُ
الطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ».
قَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: "زِدْتُ فِيهَا: وَبَرَكَاتُهُ".
«السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ
الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ: زِدْتُ
فِيهَا: "وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ".
«وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ».
Terjemahnya
:
Dari
Rasulullah ﷺ
tentang bacaan tasyahud:
«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ»
(Artinya :Segala
penghormatan milik Allah, segala salawat dan kebaikan milik Allah. Semoga
keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan
keberkahan-Nya).
Ibnu Umar berkata: “Aku telah menambahkan ucapan: “وَبَرَكَاتُهُ” (dan keberkahannya).
Dan Rasulullah
ﷺ mengucapkan :
«السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ
الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»
(Artinya : Semoga
keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).
Ibnu Umar berkata: “Aku telah menambahkan kalimat : “وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ” (Yang Maha
Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya).”
Lalu Rasulullah
ﷺ mengucapkan :
«وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»
(Artinya
: Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/255, Ath-Thohawi
1/263–264, Al-Daraquthni (1329), dan Al-Baihaqi 2/139 melalui jalur Nashr bin
Ali Al-Jahdhami, serta Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah 1/205–206 melalui jalur
Ibnu Abi ‘Adi, keduanya dari Syubah dengan sanad ini.
Al-Daraquthni 2/161 berkata:
هَذَا إِسْنَادٌ
صَحِيحٌ. وَقَدْ تَابَعَهُ عَلَى رَفْعِهِ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، وَوَقَفَهُ
غَيْرَهُمَا
“Sanad ini sahih. Ibnu Abi ‘Adi mengikuti Syubah dalam
meriwayatkannya secara marfu’, sementara selain keduanya meriwayatkannya secara
mauquf.”
Demikian pula Al-Hafidz dalam Fath 2/251, dan sanad hadits ini sesuai
dengan syarat Muslim.
Dan hadits
ini dinyatakan shahih pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (892), dan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq al-Musnad
5/34 di bawah hadits no. 5360, dan juga Syu’aib Al-Arna’uth
dalam tahqiq Sunan Abi Dawud 2/212.
Ada sebagian
para ulama yang mengatakan :
وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ
لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ يُجِيزُ الزِّيَادَةَ
الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..
"Dan
ini dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara
mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok
Syariat".
Dan Ath-Thohawi meriwayatkannya 1/264 melalui jalur
Mu’adz bin Mu’adz dari Syubah, dengan sanad mauquf kepada Ibnu Umar.
Ahmad (5360), Ath-Thohawi 1/163, dan Al-Thabrani dalam
Al-Awsath (2625) meriwayatkannya dengan makna serupa melalui jalur Abdullah bin
Babi, dan Al-Daraquthni (1330) melalui jalur Abdullah bin Dinar, keduanya dari
Ibnu Umar secara mauquf tanpa tambahan-tambahan tersebut. Namun sanad lewat jalur Ibnu Dinar ini lemah.
Ath-Thohawi juga meriwayatkannya (1/264) melalui jalur Zaid Al-‘Ammi dari Abu Al-Shiddiq Al-Naji dari Ibnu
Umar radhiyallahu
‘anhu yang berkata:
«كَانَ أَبُو
بَكْرٍ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ عَلَى الْمِنْبَرِ كَمَا يُعَلِّمُونَ الصِّبْيَانَ
فِي الْكُتَّابِ»
“Abu Bakar mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud di
atas mimbar sebagaimana mereka mengajarkan anak-anak di tempat belajar
(kutab).”
Namun di
dalam sanadnya terdapat “Zaid
Al-‘Amaa”, dia itu
lemah.
Dan Imam
Malik dalam al-Muwaththo (riwayat Yahya) 1/90 no. 53 meriwayatkan : Dari Ibnu
Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman bin Abdil Qari: “Bahwa ia
mendengar Umar bin Al-Khaththab saat berada di atas mimbar mengajarkan
kepada manusia bacaan tasyahud, ia berkata: “Ucapkanlah:
«التَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ
عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»
Segala
penghormatan milik Allah, segala yang suci milik Allah, segala yang baik dan
seluruh salawat milik Allah.
Semoga
keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya.
Semoga
keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.
Aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” [Selesai]
---
TAMBAHAN IBNU UMAR LAFADZ “BISMILLAH” DI AWAL
TASYAHHUD :
Al-Imam Malik dalam al-Muwaththa 1/91 no. 54, Abdurrozzaq 2/203 no. 3073, Ath-Thohawi
1/216, dan Al-Baihaqi 2/204
no. 2833 meriwayatkannya melalui jalur Nafi’. Juga oleh Ath-Thohawi 1/261 melalui jalur Salim, keduanya dari Ibnu
Umar radhiyallahu
‘anhuma secara
mauquf dengan lafaz:
أَنَّ عَبْدَ
اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَتَشَهَّدُ فَيَقُولُ: «بِسْمِ اللَّهِ، التَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ، الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، شَهِدْتُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ».
يَقُولُ هَذَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ. وَيَدْعُو، إِذَا قَضَى تَشَهُّدَهُ،
بِمَا بَدَا لَهُ.
فَإِذَا جَلَسَ
فِي آخِرِ صَلَاتِهِ، تَشَهَّدَ كَذَلِكَ أَيْضًا، إِلَّا أَنَّهُ يُقَدِّمُ التَّشَهُّدَ،
ثُمَّ يَدْعُو بِمَا بَدَا لَهُ. فَإِذَا قَضَى تَشَهُّدَهُ، وَأَرَادَ أَنْ يُسَلِّمَ،
قَالَ: «السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ» عَنْ يَمِينِهِ،
ثُمَّ يَرُدُّ عَلَى الْإِمَامِ. فَإِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ أَحَدٌ عَنْ يَسَارِهِ، رَدَّ
عَلَيْهِ
Terjemah
:
Bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma ketika
membaca tasyahhud, beliau mengucapkan:
"بِسْمِ
اللَّهِ، التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ،
السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا
وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
شَهِدْتُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
(Artinya
: Bismillah, segala penghormatan adalah milik Allah,
segala shalat adalah milik Allah, segala yang baik dan suci adalah milik Allah.
Keselamatan atas Nabi ﷺ, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya.
Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa
tidak ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Beliau mengucapkan ini pada dua rakaat pertama, lalu
berdoa setelah selesai dari tasyahhud dengan doa apa saja yang beliau
kehendaki.
Apabila beliau duduk pada akhir shalatnya, beliau bertasyahhud dengan cara yang sama juga, hanya saja beliau memulai dengan tasyahhud, kemudian berdoa dengan doa apa pun yang beliau kehendaki.
Setelah
selesai dari tasyahhud dan hendak salam, beliau mengucapkan:
«السَّلَامُ عَلَى
النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ
اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»
(Artinya : Keselamatan atas Nabi ﷺ, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.
Assalamu 'alaikum”, ke arah kanannya, kemudian beliau menjawab salam kepada imam.
Jika ada
seseorang di sebelah kirinya memberi salam kepadanya, beliau menjawab salam
kepadanya). [Selesai]
PREDIKAT
ATSAR :
Atsar Ibnu
Umar ini dinyatakan Shahih sanadnya oleh Badruddin al-‘Aini dalam Nukhob
al-Afkaar 4/452 dan oleh Abdul Qodir al-Arna’uth dalam catatan kaki Jami’
al-Ushul 5/400.
Namun Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/316 setelah membawakan
riwayat-riwayat marfu’ dan mauquf yang memuat ucapan “basmalah” di awal tasyahud, dia berkata:
"وَفِي
الْجُمْلَةِ لَمْ تَصِحَّ هَذِهِ الزِّيَادَةُ - يعني مرفوعة إلى النبي ﷺ - وَقَدْ تَرْجَمَ الْبَيْهَقِيُّ عَلَيْهَا مَنِ اسْتَحَبَّ
أَوْ أَبَاحَ التَّسْمِيَةَ قَبْلَ التَّحِيَّةِ".
“Secara keseluruhan, tambahan ini tidak ada yang sahih (yakni ; marfu’ kepada Nabi ﷺ). Al-Baihaqi telah
membuatkan bab
khusus tentang siapa saja yang menganjurkan atau membolehkan membaca “basmalah” sebelum at-tahiyyat.” [Selesai]
===
PENDAPAT
IBNU MAS’UD TENTANG TAMBAHAN BACAAN DALAM TASYAHUD:
Ada riwayat
dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang memakruhkan tambahan bacaan
tasyahhud. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Hasan
Asy-Syaibani berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhill bin Muhriz
Adh-Dhabbi, dari Syaqiq bin Salamah bin Wa’il Al-Asadi, dari Abdullah bin
Mas’ud, ia berkata:
“Dahulu
apabila kami shalat di belakang Rasulullah ﷺ, kami mengucapkan:
"السَّلامُ
عَلَى اللَّهِ"، فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلاتَهُ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ
عَلَيْنَا، فَقَالَ: "لا تَقُولُوا السَّلامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ
السَّلامُ، وَلَكِنْ قُولُوا: «التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ،
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»".
Terjemah:
“Keselamatan
atas Allah (السَّلامُ عَلَى اللَّهِ)”.
Lalu pada suatu hari Rasulullah ﷺ menyelesaikan shalatnya,
kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda:
“Jangan
kalian mengatakan ‘keselamatan atas Allah’ (السَّلامُ عَلَى اللَّهِ), karena Allah adalah As-Salam. Tetapi ucapkanlah:
«التَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»
(Artinya: Segala penghormatan milik
Allah, segala salawat dan yang baik-baik milik Allah. Semoga keselamatan
tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga
keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Lalu
Muhammad asy-Syaibany berkata:
"وَكَانَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَكْرَهُ أَنْ يُزَادَ فِيهِ
حَرْفٌ، أَوْ يُنْقَصُ مِنْهُ حَرْفٌ".
Dan Abdullah
bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memakruhkan penambahan atau pengurangan satu
huruf pun dari bacaan tersebut.
[Diriwayatkan
oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa halaman 69 nomor 148].
Akan tetapi
setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu merubah kalimat “as-salaamu ‘alaika” menjadi “as-salamu
‘alan Nabi”. Padahal pada masa Nabi ﷺ masih hidup, tidak semua
umat Islam melaksankan shalatnya di samping beliau ﷺ, bahkan mereka yang tinggal
di negeri yang sangat jauh pun pada masa tersebut tetap mengucapkan “as-salamu
‘alaika”. Contohnya mereka yang tinggal di Yaman.
Dari
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَكَفِّي
بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ:
«اَلتَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».
وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا، فَلَمَّا
قُبِضَ قُلْنَا: «السَّلَامُ
عَلَى النَّبِيِّ ﷺ».
Terjemah:
Rasulullah ﷺ mengajariku bacaan tasyahud sementara telapak tanganku berada
di antara kedua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku satu
surah dari Al-Qur’an:
«اَلتَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».
(Artinya
: Segala penghormatan adalah milik Allah, begitu pula doa-doa dan kebaikan. Semoga
keselamatan terlimpah kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan
berkah-Nya. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba
Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).
Beliau masih
berada di tengah-tengah kami, tetapi setelah beliau wafat, kami mengatakan:
«السَّلَامُ
عَلَى النَّبِيِّ»
“Semoga keselamatan terlimpah kepada Nabi.”
[Diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 6265 dan Muslim nomor 402].
Komentar
Syeikh Aqil bin Muhammad Al-Maqtari Al-Yamani (murid Syaikh Muqbil Al-Wadi‘i).
Dia berkata dalam catatan kaki Ash-Shorim Al-Munki halaman 117:
فَائِدَةٌ: مَا ثَبَتَ عَنْ
اِبْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ بَعْدَ وَفَاةِ النَّبِيِّ ﷺ، كَانَ يَقُولُ: "السَّلَامُ
عَلَى النَّبِيِّ"، فَإِنَّهُ مِنْ فِعْلِهِ، وَفِعْلُهُ لَيْسَ بِحُجَّةٍ،
إِنَّمَا الْحُجَّةُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ، وَلَمْ يَثْبُتْ ذٰلِكَ فِي السُّنَّةِ،
إِنَّمَا الثَّابِتُ كَمَا عَلَّمَنَا النَّبِيُّ ﷺ:
«السَّلَامُ
عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... إِلْخ».
وَقَدْ قَالَ اِبْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ
اللهُ تَعَالَى: "النَّاسُ فِي أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ وَأَفْعَالِهِمْ عَلَى
ثَلَاثِ مَذَاهِبَ:
الأَوَّلُ: يَرُدُّونَ ذٰلِكَ مُطْلَقًا،
وَهٰذَا ضَلَالٌ مُبِينٌ، لِأَنَّ مِنْ أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ مَا يُوَافِقُ
السُّنَّةَ.
الثَّانِي: يَقْبَلُونَ ذٰلِكَ مُطْلَقًا،
وَهٰذَا لَا يُمْكِنُ، لِأَنَّهُمْ قَدِ اخْتَلَفُوا.
الثَّالِثُ: يَقْبَلُونَ مَا يُوَافِقُ
الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَيَرُدُّونَ مَا خَالَفَهُمَا، وَهٰذَا هُوَ الْحَقُّ، وَهُوَ
مَذْهَبُنَا، أَوْ بِهٰذَا الْمَعْنَى".
Faidah: Telah ada ketetapan dari Ibnu Mas‘ud
bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, ia mengucapkan:
«السَّلَامُ
عَلَى النَّبِيِّ»
“As-salāmu ‘alan-nabī.”
Sebab, itu
merupakan perbuatan dari pendapat dia sendiri, maka perbuatan tersebut bukanlah
sebuah hujjah. Yang menjadi hujjah hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hal
itu tidak ada ketetapan dalam sunnah. Adapun yang ada ketetapan, maka itu
adalah apa yang telah Nabi ﷺ ajarkan kepada kami, yaitu:
«السَّلَامُ
عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... إِلْخ»
“As-salāmu ‘alaika
ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh…,”
dan seterusnya.
Ibnu Hazm
rahimahullah berkata:
Manusia
dalam menyikapi ucapan dan perbuatan para sahabat terbagi menjadi tiga madzhab:
Pertama:
Menolak semuanya secara mutlak, dan ini adalah kesesatan yang nyata, karena di
antara ucapan dan perbuatan mereka ada yang sesuai dengan sunnah.
Kedua:
Menerima semuanya secara mutlak, dan ini tidak mungkin, karena mereka telah
berbeda pendapat.
Ketiga:
Menerima apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menolak apa yang
menyelisihi keduanya, dan inilah yang benar, dan ini adalah madzhab kami atau
yang semakna dengan itu. [Selesai]
****
AMALAN KE TIGA:
IBNU UMAR SENANTIASA NAPAK TILAS
TEMPAT-TEMPAT SHALAT NABI ﷺ
Abdullah bin
Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa melakukan shalat ditempat-tempat di mana
Nabi ﷺ secara kebetulan pernah shalat di tempat tersebut dalam suatu
perjalanan atau lainnya. Ibnu Umar dengan sengaja mendatangi tempat-tempat
tersebut untuk shalat, sebagai bentuk napak tilas jejak shalat Nabi ﷺ.
Al-Imam
Al-Bukhari membuat sebuah bab dalam *Shahih*-nya berjudul:
"بَابُ
الْمَسَاجِدِ الَّتِي عَلَى طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَالْمَوَاضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا
الرَّسُولُ ﷺ".
“BAB : Masjid-masjid yang berada di
jalan-jalan menuju Madinah dan tempat-tempat yang Rasulullah ﷺ pernah shalat di sana”.
Lalu al-Imam
Al-Bukhari menyebutkan suatu hadits dengan sanadnya: Dari Musa bin ‘Uqbah, dia
berkata:
"رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَتَحَرَّى
أَمَاكِنَ مِنَ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي
فِيهَا «وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الأَمْكِنَةِ».
وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الأَمْكِنَةِ، وَسَأَلْتُ سَالِمًا، فَلَا
أَعْلَمُهُ إِلَّا وَافَقَ نَافِعًا فِي الأَمْكِنَةِ كُلِّهَا إِلَّا أَنَّهُمَا اخْتَلَفَا
فِي مَسْجِدٍ بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ".
“Aku melihat
Salim bin Abdullah memilih tempat-tempat tertentu di jalan lalu ia shalat di
sana. Ia menceritakan bahwa ayahnya dulu juga shalat di tempat-tempat itu, dan
bahwa ia melihat Nabi ﷺ shalat di tempat-tempat
tersebut.
Nafi’
menyampaikan kepadaku dari Ibnu Umar bahwa ia juga shalat di tempat-tempat itu.
Aku bertanya
kepada Salim, dan aku tidak mengetahuinya kecuali ia sependapat dengan Nafi’
dalam semua tempat itu, kecuali bahwa keduanya berbeda pendapat mengenai satu
masjid di Syaraf ar-Rawha. [HR. Al-Bukhari dalam *Shahih*-nya 1/104 no. 483].
Syeikh
Musthafa Al-Bugha berkata dalam catatan kaki *Shahih Al-Bukhari* 1/104:
الشَّرْحُ: (يَتَحَرَّى) يَجْتَهِدُ وَيَقْصِدُ
وَيَخْتَارُ. (بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ) مَوْضِعٌ مُرْتَفِعٌ مِنْ مَكَانِ الرَّوْحَاءِ،
وَالرَّوْحَاءُ اسْمُ مَوْضِعٍ عَلَى بُعْدٍ مِنَ الْمَدِينَةِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ
لِكَثْرَةِ أَرْوَاحِهَا.
“Penjelasan:
“(يَتَحَرَّى)” artinya bersungguh-sungguh, mencari, dan memilih. “(Syaraf
ar-Rawha)” adalah tempat yang tinggi dari kawasan Ar-Rawha.
Dan Ar-Rawha
adalah nama suatu tempat yang berjarak dari Madinah, dinamakan demikian karena
banyaknya pepohonan rindang di sana”. [Selesai]
Penjelasan
ini menunjukkan bahwa Ibnu Umar cenderung pada sikap sangat terperinci dalam
mengikuti Nabi ﷺ, hingga dalam rincian
tempat-tempat dan tambahan-tambahan amal. Hal ini menunjukkan bahwa ucapannya
tentang “bid'ah” tidaklah berlaku mutlak pada setiap tambahan-tambahan amalan,
tetapi pada hal-hal yang menyelisihi dan bertentangan dengan pokok-pokok
syari’at Islam.
Tanggapan Keras Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah Terhadap amalan Ibnu Umar ini:
Syeikhul
Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa 1/280:
إن ابْنُ عُمَرَ كَانَ يَتَحَرَّى
أَنْ يَسِيرَ مَوَاضِعَ سَيْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَيَنْزِلَ مَوَاضِعَ مَنْزِلِهِ وَيَتَوَضَّأَ فِي السَّفَرِ حَيْثُ رَآهُ يَتَوَضَّأُ
وَيَصُبَّ فَضْلَ مَائِهِ عَلَى شَجَرَةٍ صَبَّ عَلَيْهَا وَنَحْوَ ذَلِكَ مِمَّا اسْتَحَبَّهُ
طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَرَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا وَلَمْ يَسْتَحِبَّ ذَلِكَ جُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ؛ كَمَا لَمْ يَسْتَحِبَّهُ وَلَمْ يَفْعَلْهُ أَكَابِرُ الصَّحَابَةِ
كَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
وَغَيْرِهِمْ لَمْ يَفْعَلُوا مِثْلَ مَا فَعَلَ ابْنُ عُمَرَ.
وَلَوْ رَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا لَفَعَلُوهُ
كَمَا كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ مُتَابَعَتَهُ وَالِاقْتِدَاءَ بِهِ.
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُتَابَعَةَ أَنْ
يَفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي فَعَلَ فَإِذَا فَعَلَ فِعْلًا
عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ شَرَعَ لَنَا أَنْ نَفْعَلَهُ عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ
وَإِذَا قَصَدَ تَخْصِيصَ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ بِالْعِبَادَةِ خَصَّصْنَاهُ بِذَلِكَ
كَمَا كَانَ يَقْصِدُ أَنْ يَطُوفَ حَوْلَ الْكَعْبَةِ وَأَنْ يَسْتَلِمَ الْحَجَرَ
الْأَسْوَدَ وَأَنْ يُصَلِّيَ خَلْفَ الْمَقَامِ وَكَانَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ
أُسْطُوَانَةِ مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ وَقَصَدَ الصُّعُودَ عَلَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ
وَالدُّعَاءَ وَالذِّكْرَ هُنَاكَ وَكَذَلِكَ عَرَفَةُ وَمُزْدَلِفَةُ وَغَيْرُهُمَا.
وَأَمَّا مَا فَعَلَهُ بِحُكْمِ الِاتِّفَاقِ
وَلَمْ يَقْصِدْهُ - مِثْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِمَكَانِ وَيُصَلِّيَ فِيهِ لِكَوْنِهِ
نَزَلَهُ لَا قَصْدًا لِتَخْصِيصِهِ بِهِ بِالصَّلَاةِ وَالنُّزُولِ فِيهِ - فَإِذَا
قَصَدْنَا تَخْصِيصَ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ فِيهِ أَوْ النُّزُولِ لَمْ نَكُنْ
مُتَّبَعِينَ بَلْ هَذَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي كَانَ يَنْهَى عَنْهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ".
Sesungguhnya
Ibnu Umar dahulu sangat bersungguh-sungguh menelusuri tempat-tempat perjalanan
Rasulullah ﷺ, berhenti di tempat-tempat beliau berhenti, dan berwudhu dalam
perjalanan di tempat ia melihat Rasulullah ﷺ berwudhu.
Ia juga
menuangkan sisa air wudhunya ke atas sebuah pohon yang pernah Rasulullah ﷺ sirami, dan hal-hal semisal itu, yang dianggap baik oleh
sebagian ulama dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang dianjurkan (mustahab).
Namun
mayoritas ulama tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang mustahab (dianjurkan),
sebagaimana hal itu juga tidak dianggap baik, dan itu tidak pernah dilakukan oleh para
sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin
Jabal, dan selain mereka.
Mereka tidak
melakukan seperti apa yang dilakukan Ibnu Umar. Seandainya mereka memandangnya
sebagai sesuatu yang dianjurkan, tentu mereka akan melakukannya, sebagaimana
mereka sangat berusaha mengikuti Rasulullah ﷺ dan meneladaninya.
Hal itu
karena hakikat mengikuti adalah melakukan perbuatan yang sama dengan apa yang
beliau lakukan, dengan cara sebagaimana beliau melakukannya. Apabila beliau
melakukan suatu perbuatan dalam rangka ibadah, maka disyariatkan bagi kita
untuk melakukannya dalam rangka ibadah pula.
Dan apabila
beliau memang bermaksud mengkhususkan suatu tempat atau waktu untuk ibadah,
maka kita pun mengkhususkannya demikian, sebagaimana beliau bermaksud melakukan
thawaf di sekitar Ka’bah, menyentuh Hajar Aswad, melaksanakan shalat di
belakang Maqam Ibrahim, memilih shalat di dekat salah satu tiang Masjid
Madinah, serta berniat naik ke Shafa dan Marwah untuk berdoa dan berdzikir di
sana, demikian pula di Arafah, Muzdalifah, dan selain keduanya.
Adapun
perbuatan yang beliau lakukan karena kebetulan dan tanpa maksud khusus, seperti
beliau singgah di suatu tempat lalu shalat di sana hanya karena beliau singgah
di tempat itu, bukan karena bermaksud mengkhususkan tempat tersebut untuk
shalat atau singgah, maka apabila kita justru bermaksud mengkhususkan tempat
itu untuk shalat atau singgah, berarti kita tidak sedang mengikuti, bahkan hal
itu termasuk bid’ah yang dahulu dilarang oleh Umar bin Khaththab".
Ia juga berkata dalam 1/281:
بَلْ تَخْصِيصُ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ
مِنْ بِدَعِ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّتِي هَلَكُوا بِهَا وَنَهَى الْمُسْلِمِينَ عَنْ
التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي ذَلِكَ فَفَاعِلُ ذَلِكَ مُتَشَبِّهٌ بِالنَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّورَةِ وَمُتَشَبِّهٌ بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى
فِي الْقَصْدِ الَّذِي هُوَ عَمَلُ الْقَلْبِ. وَهَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَإِنَّ الْمُتَابَعَةَ
فِي السُّنَّةِ أَبْلَغُ مِنْ الْمُتَابَعَةِ فِي صُورَةِ الْعَمَلِ
“Bahkan,
mengkhususkan tempat tersebut untuk salat termasuk bid'ah-bid'ah Ahlul Kitab yang
menyebabkan mereka binasa, dan kaum muslimin dilarang menyerupai mereka dalam
hal itu.
Maka orang
yang melakukan hal tersebut menyerupai Nabi dalam bentuk lahiriah, namun
menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani dalam niat dan tujuan, yaitu amalan hati.
Inilah prinsip dasarnya, karena mengikuti sunnah secara hakiki lebih kuat dan
lebih utama daripada sekadar mengikuti bentuk lahiriah suatu perbuatan”.
Dan ia
berkata dalam Iqtida’ ash-Shirath 2/279:
تَحَرِّي ابْنِ عُمَرَ مَوَاضِعَ صَلَاةِ
النَّبِيِّ ﷺ لَيْسَ مِنْ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ بَلْ
هُوَ مِمَّا ابْتُدِعَ.!!
Kesungguhan
Ibnu Umar dalam mencari tempat-tempat salat Nabi ﷺ bukan termasuk sunnah para
khalifah, bahkan termasuk perkara bid'ah yang diada-adakan.
Dengan demikian, Abdullah bin Umar menjadi pelaku bid'ah dalam hal ini menurut Ibnu Taimiyah.
===
IBNU UMAR BERBEDA DENGAN UMAR, AYAHNYA, DALAM MASALAH INI:
Umar bin
Al-Khaththab berbeda dengan perbuatan putranya, Abdullah, terkait dengan napak
tilas jejak tempat-tempat, di mana Nabi ﷺ pernah shalat di tempat
tersebut secara kebetulan dalam suatu perjalanan atau lainnya.
Dari Ma’rur
bin Suwaid al-Asadi, ia berkata:
"وَافَيْتُ
الْمَوْسِمَ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،
فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَدِينَةِ انْصَرَفْتُ مَعَهُ، فَلَمَّا صَلَّى لَنَا
صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَقَرَأَ فِيهَا: ﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ
الْفِيلِ﴾ وَ﴿لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ﴾، ثُمَّ رَأَى نَاسًا يَذْهَبُونَ مَذْهَبًا، فَقَالَ:
أَيْنَ يَذْهَبُ هَؤُلَاءِ؟ قَالُوا: يَأْتُونَ مَسْجِدًا هَاهُنَا صَلَّى فِيهِ رَسُولُ
اللهِ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِهَذَا، يَتَّبِعُونَ آثَارَ
أَنْبِيَائِهِمْ، فَاتَّخَذُوهَا كَنَائِسَ وَبِيَعًا، مَنْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ
فِي شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَلْيُصَلِّ
فِيهَا، وَإِلَّا فَلَا يَتَعَمَّدْهَا".
Aku ikut
serta menghadiri musim haji bersama Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia kembali menuju Madinah, aku pun kembali
bersamanya.
Setelah
beliau shalat Subuh bersama kami, beliau membaca dalam shalat tersebut Surah *Alam
Tara Kayfa Fa‘ala Rabbuka bi Ashhab al-Fil* dan Surah *Li Ilafi Quraisy*.
Kemudian
beliau melihat sejumlah orang pergi menuju suatu arah, lalu beliau berkata: “Ke
mana orang-orang itu pergi?” Mereka menjawab: “Mereka mendatangi sebuah masjid
di sana yang dahulu Rasulullah ﷺ pernah shalat di dalamnya.”
Umar
berkata: “Sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian itu karena hal
ini; mereka menapak tilasi (mengikuti) jejak-jejak para nabi mereka lalu
menjadikannya sebagai gereja-gereja dan biara-biara.
Barang siapa
mendapati waktu shalat di salah satu masjid yang Rasulullah ﷺ pernah shalat di dalamnya, maka silahkan ia shalat di sana.
Tetapi jika tidak, maka janganlah sengaja mendatanginya.”
[Diriwayatkan
oleh Abdur Razzaq (2/118), Ibnu Abi Syaibah (2/153), Ibnu Wadhdhah dalam
*Al-Bida‘ wan-Nahyu ‘anha* (104–105), dan At-Thahawi dalam *Syarh Musykil
al-Atsar* 14/396 no. 5708 melalui sanad mereka dari Ma’rur bin Suwaid. Sanadnya
sahih (lihat : catatan kaki *Al-I’tiṣhoom* karya Asy-Syathibi 2/248)].
Ibnu Baththal
dalam *Syarh Shahih al-Bukhari* 2/126 berkata:
قالَ المُؤَلِّفُ: إِنَّما كانَ يُصَلِّي
ابْنُ عُمَرَ فِي الْمَواضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا النَّبِيُّ عَلَى وَجْهِ
التَّبَرُّكِ بِتِلْكَ الأَمْكِنَةِ، وَالرَّغْبَةِ فِي فَضْلِهَا، وَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ
يَتَبَرَّكُونَ بِمَواضِعِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْفَضْلِ؛ أَلَا تَرَى أَنَّ عُتْبانَ
بْنَ مالِكٍ سَأَلَ نَبِيَّ اللهِ أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِيَتَّخِذَ المَكانَ
مُصَلًّى، فَصَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ.
وَقَدْ جاءَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ
خِلافُ فِعْلِ ابْنِهِ عَبْدِ اللهِ، رَوَى شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمانَ التَّيْمِيِّ،
عَنِ المَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ، قالَ:
كانَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي سَفَرٍ
فَصَلَّى الغَداةَ، ثُمَّ أَتَى عَلَى مَكانٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْتُونَهُ، وَيَقُولُونَ:
صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ، عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقالَ عُمَرُ: «إِنَّما هَلَكَ أَهْلُ
الكِتابِ أَنَّهُمْ اتَّبَعُوا آثَارَ أَنْبِيائِهِمْ، فَاتَّخَذُوها كَنائِسَ وَبِيَعًا،
فَمَنْ عَرَضَتْ لَهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ، وَإِلَّا فَلْيَمْضِ».
إِنَّما خَشِيَ عُمَرُ أَنْ يَلْتَزِمَ
النَّاسُ الصَّلاةَ فِي تِلْكَ المَواضِعِ حَتَّى يُشْكِلَ ذلِكَ عَلَى مَنْ يَأْتِي
بَعْدَهُمْ، وَيَرَى ذلِكَ واجِبًا.
وَكَذلِكَ يَنْبَغِي لِلْعالِمِ إِذا
رَأَى النَّاسَ يَلْتَزِمُونَ النَّوافِلَ وَالرَّغائِبَ الْتِزامًا شَدِيدًا، أَنْ
يَتَرَخَّصَ فِيها فِي بَعْضِ المَرَّاتِ وَيَتْرُكَها لِيُعْلَمَ بِفِعْلِهِ ذلِكَ
أَنَّها غَيْرُ واجِبَةٍ، كَما فَعَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ فِي تَرْكِ الأُضْحِيَّةِ.
وَقَدْ رَوَى أَشْهَبُ عَنْ مالِكٍ :
أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الصَّلاةِ فِي المَواضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا الرَّسُولُ ﷺ،
فَقالَ: «ما يُعْجِبُنِي ذلِكَ إِلَّا مَسْجِدَ قُباءَ».
قالَ المُؤَلِّفُ: «وَإِنَّما قالَ ذلِكَ
مالِكٌ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كانَ يَأْتِي قُباءَ راكِبًا وَراجِلًا، وَلَمْ يَكُنْ
يَفْعَلُ ذلِكَ فِي تِلْكَ الأَمْكِنَةِ، وَاللهُ أَعْلَمُ».
Penulis
kitab berkata: Sesungguhnya Abdullah bin Umar melakukan shalat di tempat-tempat
yang dahulu Rasulullah ﷺ melakukan shalat, sebagai
bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) pada tempat-tempat tersebut dan
keinginan mendapatkan keutamaannya. Dan manusia sejak dulu melakukan tabarruk
pada tempat-tempat orang saleh dan para ahli keutamaan. Tidakkah engkau melihat
bahwa ‘Itban bin Malik meminta Nabi Allah agar melakukan shalat di rumahnya
sehingga tempat tersebut dijadikan area shalat, maka Rasulullah ﷺ pun melakukan shalat di sana.
Dan telah
datang riwayat dari Umar bin Al-Khaththab yang berbeda dengan perbuatan
putranya, Abdullah. Syubah meriwayatkan dari Sulaiman At-Taimi dari Al-Ma’rur
bin Suwaid, ia berkata:
“Umar bin
Al-Khaththab berada dalam sebuah perjalanan, lalu ia melakukan shalat Subuh.
Kemudian ia melewati sebuah tempat, lalu orang-orang datang kepadanya dan
berkata: ‘Di tempat ini Rasulullah ﷺ pernah melakukan shalat.’
Lalu Umar
berkata: ‘Sesungguhnya binasanya Ahlul Kitab adalah karena mereka mengikuti
jejak-jejak para nabi mereka kemudian menjadikannya gereja-gereja dan
biara-biara. Maka barang siapa mendapatkan waktu shalat, hendaklah ia shalat.
Jika tidak, maka lanjutkan perjalanan.’”
Umar
khawatir bahwa manusia akan terus-menerus berkomitmen shalat di tempat-tempat
tersebut sehingga hal itu menimbulkan kerancuan bagi generasi setelah mereka,
lalu mereka menyangka bahwa hal itu wajib.
Demikian
pula selayaknya bagi seorang alim, apabila ia melihat manusia terlalu berpegang
kuat pada amalan-amalan sunnah dan hal-hal yang dianjurkan, hendaknya ia
sesekali tidak melakukannya agar dengan perbuatannya itu dipahami bahwa hal
tersebut tidak wajib. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas dan yang
lainnya ketika meninggalkan penyembelihan kurban.
Asyhab
meriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau ditanya tentang shalat di
tempat-tempat yang dahulu Rasulullah ﷺ melakukan shalat. Imam Malik
menjawab: “Aku tidak menyukainya kecuali Masjid Quba.”
Penulis
kitab berkata: Malik mengatakan demikian karena Rasulullah ﷺ datang ke Quba baik dalam keadaan berkendaraan maupun berjalan
kaki, sedangkan beliau tidak melakukan hal itu pada tempat-tempat lainnya.
Wallaahu a’lam”. [Selesai]
Abu
Abdullah Al-Husain Ar-Rajraji Asy-Syusyaawi dalam kitab *Raf‘un Niqab ‘an
Tanqihisy Syihab* 4 /395–397 menjelaskan:
Perkataan-nya:
“Wajib mengikuti Nabi ﷺ dalam perbuatannya,”
maksudnya: demikian pula wajib mengikutinya dalam hal yang ditinggalkannya.
Sebab dalam perkara-perkara yang ditinggalkan terdapat hal-hal yang wajib
ditinggalkan seperti perkara-perkara yang diharamkan, ada pula yang dianjurkan
untuk ditinggalkan seperti makan dabb (yang makruh), dan ada pula yang mubah
seperti mengenakan pakaian yang mubah.
Ucapannya:
“Wajib mengikuti Nabi ﷺ dalam perbuatannya.”
Perhatikanlah:
Apakah wajib mengikuti semua amal perbuataan
Nabi ﷺ sesuai waktu dan tempatnya?
Abu Zakariya
Al-Masthashi berkata: Para ulama ushul berbeda pendapat dalam masalah ini
menjadi empat pendapat:
Ada yang
berpendapat : bahwa keduanya (waktu dan tempat) termasuk bentuk ibadah.
Dan ada yang
berpendapat pula : bahwa keduanya tidak termasuk ibadah.
Dan ada yang
berpendapat : bahwa keduanya menjadi ibadah jika perbuatan tersebut dilakukan
berulang-ulang pada waktu dan tempat itu, dan jika tidak maka keduanya tidak
dianggap.
Dan ada pula
yang berpendapat : bahwa yang dianggap ibadah adalah tempatnya saja tanpa
waktu. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 483)
Namun
pendapat yang masyhur dari pendapat-pendapat ini adalah : bahwa waktu dan
tempat tidak dianggap. Sebab waktu tidak mungkin diikuti; karena waktu ketika
Nabi ﷺ melakukan perbuatan tersebut telah berlalu, sehingga tidak
mungkin bagi kita untuk mengikutinya. (Lihat *Al-Fushul* karya Al-Baji 2/272
dan *Al-Mu‘tamad* 1/372)
Dalil yang
menunjukkan bahwa tempat itu tidak dianggap adalah sbb :
Telah
diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah menebang pohon
tempat Rasulullah ﷺ dibaiat di bawahnya karena
khawatir pohon tersebut disembah. [Baca: Raf’u a-Niqoob karya Abu Abdillah
ar-Rajraji 4/396].
[Ibnu Abi
Syaibah meriwayatkan dari Nafi‘ :
أَنَّهُ بَلَغَ عُمَرَ أَنَّ نَاسًا يَأْتُونَ
الشَّجَرَةَ الَّتِي بُويِعَ تَحْتَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَمَرَ بِهَا فَقُطِعَتْ.
اهـ
“Bahwa
sampai kabar kepada Umar bahwa ada orang-orang mendatangi pohon tempat
Rasulullah ﷺ dibaiat di bawahnya, lalu beliau memerintahkan agar pohon itu
ditebang”.
Lihat: *Al-Mushannaf* Ibnu Abi Syaibah
2/375, bab tentang shalat di sisi kubur Nabi ﷺ. Lihat juga *Ad-Durrul
Mantsur* karya As-Suyuthi 6/73)].
Umar
radhiyallahu ‘anhu juga melarang orang-orang untuk sengaja shalat di
tempat-tempat yang Rasulullah ﷺ pernah shalat di atas-nya.
Beliau berkata:
«إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِمِثْلِ
هَذَا»
“Sesungguhnya
telah binasa orang-orang sebelum kalian karena hal semacam ini.”
[Diriwayatkan
oleh ‘Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah:
أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي
حَجِّهِ رَأَى قَوْمًا يَنْزِلُونَ فَيُصَلُّونَ فِي مَسْجِدٍ، فَسَأَلَ عَنْهُمْ،
فَقَالُوا: مَسْجِدٌ صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: «إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيعًا، مَنْ مَرَّ بِشَيْءٍ
مِنَ الْمَسَاجِدِ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ، وَإِلَّا فَلْيَمْضِ». اهـ.
“Bahwa Umar
radhiyallahu ‘anhu ketika berhaji melihat sekelompok orang berhenti lalu sholat
di sebuah masjid. Ia bertanya tentang mereka. Lalu dijawab: ‘Itu adalah
masjid tempat Nabi ﷺ pernah salat’.
Maka Umar
berkata: ‘Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah
karena mereka menjadikan peninggalan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.
Siapa saja yang melewati salah satu masjid lalu masuk waktu salat, hendaklah ia
salat, jika tidak maka hendaklah ia melanjutkan perjalanannya’.”
Ini adalah
lafadz riwayat ‘Abdurrazzaq. Lihat Mushannaf ‘Abdurrazzaq 2/119 dan Mushannaf
Ibnu Abi Syaibah 2/376].
Dan ini
merupakan dalil bagi pendapat yang masyhur.
Adapun dalil
pendapat yang menyatakan bahwa ibadah tersebut hanya terikat tempat, tanpa
terikat dengan waktu adalah :
«أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَقْصِدُ الْمَوَاضِعَ الَّتِي
صَلَّى بِهَا النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيُصَلِّي فِيهَا»
“Bahwa Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma sengaja bermaksud mendatangi tempat-tempat di mana
Rasulullah ﷺ pernah shalat, lalu ia shalat di sana. (Shahih Al-Bukhari no.
483)
Dan dalil
pendapat yang mengatakan : bahwa waktu dan tempat sama-sama saling berkaitan dalam
ibadah adalah karena keduanya sama-sama dianggap dalam ibadah haji, maka
keduanya juga dianggap dalam selain haji.
Dalil ini
dibantah dengan pernyataan bahwa ibadah haji memiliki dalil khusus atas
perintah Rasulullah ﷺ, sehingga keluar dari pokok
permasalahan yang diperselisihkan.
Adapun dalil
bagi pendapat yang menyatakan bahwa waktu dan tempat dianggap jika perbuatan
tersebut dilakukan berulang-ulang di waktu dan tempat itu, dan jika tidak maka
tidak dianggap, adalah bahwa pengulangan tersebut menjadi tanda yang
menunjukkan adanya ibadah pada waktu dan tempat itu. Wallahu a’lam. [SELESAI]
****
AMALAN KE EMPAT:
IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TALBIYAH
Tambahan
yang diucapkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam talbiyah
dengan ucapannya:
«لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ
وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ»
“Labbaika wa sa‘daika wal-khairu bi-yadaika
war-raghbaa ilaika wal-‘amal“.
Hal ini
dijelaskan secara panjang dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya.
Imam Malik meriwayatkan
dari Nafi‘ dari Ibnu Umar radhiyallhu ‘anhuma: Bahwa talbiyah Rasulullah ﷺ adalah:
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ
لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ».
Artinya : Aku
penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu
bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan
kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.
Nafi‘
berkata: Dan Abdullah bin Umar biasa menambahkan di dalamnya:
«لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ
وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ»
Aku penuhi
panggilan-Mu dan aku sambut panggilan-Mu, seluruh kebaikan berada di tangan-Mu,
seluruh harapan tertuju kepada-Mu, dan amal ibadah hanyalah untuk-Mu.
STATUS
HADITS : Sanadnya Shahih.
Diriwayatkan
pula oleh asy-Syafi‘i 1/303, al-Bukhari no. 1549, Muslim no. 1184, Abu Dawud
1812, ath-Thahawi 2/124 dan 125, al-Baihaqi 5/44, dan al-Baghawi 1865 melalui
jalur Malik dengan sanad ini.
Juga
diriwayatkan oleh Ahmad 2/28, 41, 48, dan 77, ad-Darimi 2/34, at-Tirmidzi no.
825, an-Nasa’i 5/160, Ibnu Majah no. 2918, ad-Daraquthni 2/225, Ibnu Khuzaimah
2261 dan 2262, serta ath-Thahawi 2/124 melalui beberapa jalur dari Nafi‘ dengan
lafaz ini.
Juga
diriwayatkan oleh Ahmad 2/3, 34, 43, 79, dan 120, al-Bukhari 5915 dalam Kitab
al-Libas bab Talbiyah, Muslim 1184, an-Nasa’i 5/159, ath-Thahawi 2/124, dan
al-Baihaqi 5/44 melalui beberapa jalur dari Ibnu Umar dengan lafaz ini.
Diriwayatkan
pula oleh Ibnu Abi Syaibah dari al-Miswar bin Makhromah bahwa Umar radhiyallahu
‘anhu menambahkan dalam talbiyah:
«لَبَّيْكَ ذَا النَّعْمَاءِ وَالْفَضْلِ الْحَسَنِ
لَبَّيْكَ مَرْهُوبًا مِنْكَ وَمَرْغُوبًا إِلَيْكَ».
Artinya : “Aku
penuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang memiliki segala kenikmatan dan keutamaan
yang indah, aku penuhi panggilan-Mu dalam keadaan takut kepada-Mu dan penuh
harap kepada-Mu”.
[Lihat :
Syarah az-Zarqoni ‘Alaa al-Muwaththo 2/364, Kawtsar al-Ma’aani ad-Darory 13/81
dan Mir’atul Mafaatiih 8/444].
****
AMALAN KE LIMA:
IBNU UMAR BERWASIAT JIKA DIRINYA WAFAT AGAR
DIBACAKAN AL-QURAN SAAT PENGUBURAN
Abdurrahman bin Al-Ala’ bin
Al-Lajlah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Ia berkata:
قَالَ لِي أَبِي: «يَا
بُنَيَّ، إِذَا أَنَا مِتُّ فَالْحَدْنِي، فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي
فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنّةِ رسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ شُنَّ عَلَيَّ
التُّرابَ شَنًّا، ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِيْ بِفاتِحَةِ الْبَقَرةِ
وخَاتِمَتِها؛ فإنِّي سَمِعتُ ابنَ عُمَر يَقُولُ ذلِكَ».
Ayahku berkata kepadaku:
“Wahai anakku, apabila aku mati
maka kuburkanlah aku. Ketika engkau meletakkanku di lahadku, maka ucapkanlah:
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنّةِ رسُولِ اللَّهِ ﷺ
Artinya : Dengan nama Allah dan di atas sunah
Rasulullah ﷺ.
Kemudian timbunlah tanah atasku
dengan lembut. Lalu bacakanlah di dekat kepalaku awal Surah Al-Baqarah dan
penutupnya, karena aku mendengar Ibnu Umar mengatakan hal itu.”
Begitu pula apa yang diriwayatkan
oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (Mukhtashar-nya 21/233].
Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi
dalam as-Sunan al-Kabir 4/93 nomor 7065 dan ad-Da’awaat al-Kabir 2/297 no. 638
dari Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Al-Lajlaj dari ayahnya, bahwa ia berkata
kepada anak-anaknya—hadits tersebut—dan pada bagian akhirnya:
«فَإِنِّي
رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ».
“Aku
melihat Ibnu Umar memustahab-kan hal itu”. (Selesai).
Lalu al-Baihaqi dalam ad-Da’awaat
al-Kabir 2/297 no. 638 berkata :
هَذَا مَوْقُوفٌ حَسَنٌ
“Ini adalah mawquf yang hasan”.
Al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar
hal. 162 no. 470 berkata :
وَرُوِيَانَا فِي "سُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ" بِإِسْنَادٍ
حَسَنٍ: «أَنَّ ابْنَ
عُمَرَ اسْتَحَبَّ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ أَوَّلُ سُورَةِ
الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا».
“Dan kami meriwayatkan dalam
"Sunan al-Bayhaqi" dengan isnad yang hasan, bahwa Ibnu Umar
memustahab-kan (menganjurkan) untuk membaca al-Qur’an di atas kuburan setelah
pemakaman, yaitu awal surat Al-Baqarah dan akhirnya”.
Abul Hasan al-Mubarokfuri dalam
Mar’atul Mafaatih 5/452 no. 1731 berkata:
"وَهَذَا مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ عُمَرَ،
كَمَا تَرَى، وَلَيْسَ بِمَرْفُوعٍ".
“Dan ini adalah mauquf pada Ibnu
Umar, sebagaimana yang anda lihat, dan bukan marfu’.”
Dan Ibnu ‘Allaan dalam
al-Futuuhaat ar-Rabbaaniyyah 4/194 berkata :
قَالَ الحَافِظُ بَعْدَ تَخْرِيجِهِ: «هَذَا
مَوْقُوفٌ حَسَنٌ»
Al-Hafizh berkata setelah
mentakhrij hadits ini: “Ini adalah hadits mauquf yang hasan.”
Dan Ahmad al-Banaa as-Saa’ati
dalam al-Fathu ar-Rabbaani 8/101 tentang riwayat mawquf ini, ia berkata:
رَوَاهُ البَيْهَقِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ: «وَسَنَدُهُ
جَيِّدٌ»
“Diriwayatkan
oleh Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani, dan sanadnya baik”.
Riwayat marfu’ dari Nabi ﷺ :
Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah Al-Makki berkata: Aku mendengar Ibnu Umar
berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ، وَأَسْرِعُوا
بِهِ إِلَى قَبْرِهِ، وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ،
وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ»
“Apabila salah seorang di antara
kalian meninggal, maka janganlah kalian menahannya, dan segerakanlah membawanya
ke kuburnya. Hendaklah dibacakan di dekat kepalanya Surah Al-Fatihah, dan di
dekat kedua kakinya dibacakan penutup Surah Al-Baqarah di dalam kuburnya.”
TAKHRIJ :
Diriwayatkan oleh ath-Thabarani
dalam al-Mu’jam al-Kabiir 12/444 no. 13613, al-Khollal dalam al-Qiro’ah ‘Indal Qobr dari al-Jami’
hal. 88, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman 11/471 no. 8854 dan ad-Dailamy dalam
al-Firdaus 1/284 no. 1115.
Al-Hatsami dalam Majma’ az-Zawaid
3/44 no. 4242 berkata :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَفِيهِ
يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَابِلُتِّيُّ، وَهُوَ ضَعِيفٌ
“Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
dalam Al-Kabir, dan di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abdullah Al-Bābilutti,
dan ia adalah perawi yang lemah”.
Dinilai dhoif oleh al-Albaani
dalam Misykatul Mashobih karya at-Tibrizy [25] (1/538 no. 1717).
Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab
12/444 berkata:
لَمْ يَكْتُبْ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ فِيمَا
أَعْلَمُ وَقَدْ رَوَيْنَا الْقِرَاءَةَ الْمَذْكُورَةَ فِيهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
مَوْقُوفًا عَلَيْهِ
“Ia tidak menuliskan hadits itu
kecuali dengan sanad ini sejauh yang aku ketahui, dan kami telah meriwayatkan
bacaan yang disebutkan di dalamnya dari Ibnu Umar secara mauquf padanya”.
Ali al-Malaa al-Qori dalam Mirqot
al-Mafaatih 3/1228 no. 1717 berkata:
"رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ
الْإِيمَانِ وَقَالَ: وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَيْهِ".
“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi
dalam Syu'ab Al-Iman dan ia berkata: Yang sahih adalah bahwa hadits itu mauquf
padanya”.
Riwayat lain mawquf dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Al-Khollaal meriwayatkan dengan
sanadnya : Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Syarafuddin Abu
Abdirrahman ‘Isa, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ayahku Al-Imam
Muhyiddin Abu Muhammad Abdu Al-Qadir bin Abi Shalih, ia berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Al-Husain Al-Mubarak bin Abdi Al-Jabbar Ash-Shairafi, ia
berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki, ia berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Abu Bakar Abdu Al-Aziz bin Ja’far Al-Faqih, ia berkata:
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Khallal, ia
berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al-Abbas bin Muhammad Ad-Duuri,
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Mubasyyir Al-Halabi, ia berkata: Telah menceritakan
kepadaku Abdurrahman bin Al-‘Ala bin Al-Lajlaj, dari ayahnya (Al-‘Ala bin
Al-Lajlaj), ia berkata:
«إِنِّي إِذَا أَنَا مُتُّ،
فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ
اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي
بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَوَّلِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَلِكَ».
“Sesungguhnya
jika aku meninggal, maka letakkanlah aku di dalam lahad, dan ucapkanlah: Bismillah,
dan di atas sunnah Rasulullah ﷺ. Timbunlah tanah di atasku dengan perlahan, dan bacakanlah di
sisiku surah Al-Fatihah, awal surah Al-Baqarah, dan penutupnya. Karena aku
mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian.”
Kemudian Ad-Duri berkata:
وَسَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، فَحَدَّثَنِي عَنْ
مُبَشِّرِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْحَلَبِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ اللَّجْلَاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ:
«إِنِّي
إِذَا أَنَا مِتُّ فَضَعُونِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى
سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ
رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَأَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا، فَإِنِّي
سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ».
Dan aku pun bertanya kepada Yahya
bin Ma'in, lalu ia menceritakan kepadaku dari Mubasyyir bin Isma'il Al-Halabi.
Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Al-Lajlaj
dari ayahnya. Ia berkata:
“Jika aku meninggal, maka
letakkanlah aku di liang lahad, dan ucapkan: Dengan nama Allah dan di atas
sunnah Rasulullah ﷺ. Dan taburkanlah tanah secara perlahan, serta bacakan di dekat
kepalaku Surah Al-Fatihah, permulaan Surah Al-Baqarah, dan penutupnya. Karena
aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian.”
[al-Qiro’ah ‘Indal Qobr dari al-Jami’
karya al-Khollal hal. 88, al-Amr bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘Anil Munkar karya
al-Khollal hal. 87 dan al-Qiro’ah ‘Indal Qobr karya al-Khollal hal.
87]
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam
al-Imtaa’ Bi al-Arba’in hal. 85 berkata : “مُنْكَر”
Kemudian al-Khollal dalam
al-Qiro’ah ‘Indal Qobr karya al-Khollal hal. 88 meriwayatkan dengan sanadnya
: dari Abu Bakar bin Shadaqah meriwayatkan, ia berkata: Aku mendengar Utsman
bin Ahmad Al-Mushili berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
ـ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ الجَوْهَرِيُّ فِي جِنَازَةٍ، فَلَمَّا
دُفِنَ المَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ القَبْرِ، فَقَالَ لَهُ
أَحْمَدُ: «يَا
هَذَا إِنَّ القِرَاءَةَ عِنْدَ القَبْرِ بِدْعَةٌ».
فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ المَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ
بْنُ قُدَامَةَ: "يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، مَا تَقُولُ فِي مُبَشِّرٍ
الحَلَبِيِّ؟". قَالَ: "ثِقَةٌ".
قَالَ: "كَتَبْتَ عَنْهُ؟". قَالَ: "نَعَمْ".
قَالَ: "فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ العَلَاءِ
عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ وَصَّى «إِذَا
دُفِنَ بِأَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ البَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا»،
وَقَالَ: "سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ". فَقَالَ لَهُ
أَحْمَدُ: "فَارْجِعْ فَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأْ".
Ahmad bin Hanbal radhiyallahu
‘anhu bersama Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari hadir dalam sebuah jenazah.
Ketika mayit telah dikuburkan, seorang lelaki buta duduk membaca (Al-Qur’an) di
dekat kubur. Maka Ahmad berkata kepadanya:
“Wahai orang ini, membaca (Al-Qur’an)
di dekat kubur adalah bid’ah.”
Ketika kami keluar dari
pemakaman, Muhammad bin Qudamah berkata:
“Wahai Abu Abdillah, bagaimana
pendapatmu tentang Mubasysyir Al-Halabi?”
Ahmad menjawab: “Ia seorang yang
terpercaya.”
Ia bertanya lagi: “Apakah engkau
menulis riwayat darinya?” Ahmad menjawab: “Ya.”
Lalu ia berkata: “Mubasysyir
menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Al-Ala’ dari ayahnya, bahwa ia
berwasiat ketika dimakamkan agar dibacakan di dekat kepalanya awal Surah
Al-Baqarah dan penutupnya, dan ia berkata:
“Aku mendengar Ibnu Umar
berwasiat demikian.”
Maka Ahmad berkata kepadanya:
“Kembalilah dan katakan kepada
orang itu agar lanjut membacanya.” (Ar-Riwayatain wal-Wajhain karya Al-Qadhi
Abu Ya’la 1/214).
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam
al-Imtaa’ Bi al-Arba’in hal. 85 berkata : “ضَعِيْفٌ
جِدًّا”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
berkata dalam *Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim* 2/264:
"القِرَاءَةُ عِنْدَهُ وَقْتَ الدَّفْنِ
لَا بَأْسَ بِهَا، كَمَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا،
وَبَعْضِ المُهَاجِرِينَ، وَأَمَّا القِرَاءَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ـ مِثْلَ الَّذِينَ
يَنْتَابُونَ القَبْرَ لِلْقِرَاءَةِ عِنْدَهُ ـ فَهَذَا مَكْرُوهٌ، فَإِنَّهُ
لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ مِثْلُ ذَلِكَ أَصْلًا، وَهَذِهِ
الرِّوَايَةُ لَعَلَّهَا أَقْوَى مِنْ غَيْرِهَا، لِمَا فِيهَا مِنَ التَّوْفِيقِ
بَيْنَ الدَّلَائِلِ".
“Membaca (Al-Qur’an) di dekat-nya
pada saat penguburan tidak mengapa, sebagaimana dinukil dari Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian kaum Muhajirin. Adapun membaca setelah
itu—seperti orang-orang yang datang berulang kali ke kubur untuk membaca di
dekatnya—maka hal itu makruh, karena tidak dinukil sama sekali dari seorang pun
dari kalangan salaf. Riwayat ini barangkali lebih kuat daripada selainnya,
karena di dalamnya terdapat upaya menggabungkan berbagai dalil.”
****
KESIMPULAN :
KRITERIA BID’AH HASANAH YANG DITETAPKAN IBNU
UMAR
Setelah kita
telusuri dan kita kumpulkan sebagian amalan-amalan Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhu yang di katagorikan sebagai bid’ah Hasanah, maka kita
temukan di dalamnya terdapat kriteria-kriteria sbb :
Amalan
Bid’ah yang dianggap sesat oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah
1] Amalan tersebut
masuk dalam cakupan dalil umum atau sunnah mutlak.
2] Amalan tersebut
termasuk dalam ranah perkara atau urusan agama Islam (فِيْهِ أَمْرُنَا).
3] Tidak bertentangan
dengan larangan syar’i dalam melakukannya.
4] Tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Seperti larangan shalat di waktu terbit dan terbenam Matahari.
===***===
PEMBAHASAN KE ENAM
UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH DARI SELAIN IBNU
UMAR
===
KE 1: ALI BIN ABI THOLIB RADHIYALLAHU ‘ANHU :
Abdur-
Rozzaaq dalam al-Mushonnaf 3/77 no. 4865 meriwayatkan : Dari Ibnu Juraij, ia
berkata: Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepadaku :
أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، كَانَ
يُذْكَرُ لَهُ هَذِهِ الصَّلَاةُ الَّتِي أَحْدَثَ النَّاسُ، فَيَقُولُ: «صَلُّوا مَا
اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ»
“Bahwa Ali
bin Abi Thalib, ketika disebutkan kepadanya tentang shalat (Dhuha) yang
diada-adakan oleh manusia ini, beliau berkata:
“Shalatlah
semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa seseorang karena
shalat.”
Semua para
perawinya tsiqah, Ja'far bin Muhammad adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin
Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang Imam Ahli bait yang tsiqah lagi faqih.
Namun masa
hidup dia terpaut jauh dengan kakek buyutnya yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
anhu, sehingga atsar ini terputus sanadnya dan berarti statusnya dhoif.
===
KE 2 : PERKATAAN MUHAMMAD BIN ABRAHIM AT-TAYMI (WAFAT 120 H).
Perkataan
Muhammad bin Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam *Mushannaf Ibnu Abi Syaibah*
no. 7775:
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin
Al-A‘raj, ia berkata:
سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى
وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ
الْبِدْعَةُ»
Aku bertanya
kepada Muhammad (bin Ibrahim at-Taymi wafat 120 H) tentang shalat Dhuha, ketika
itu ia sedang bersandar di dinding kamar Nabi ﷺ. Maka ia berkata: “Itu
adalah bid‘ah, dan itu adalah sebaik-baik bid‘ah.”
Atsar ini
dinyatakan sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/52 dan oleh
Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.
===
KE 3 : PERKATAAN ABDULLAH BIN MAS’UD RADHIYALLAHU ‘ANHU :
[1] Abu Yusuf dalam al-Atsar – Bab
al-Wudhu- hal. 6 no. 29 meriwayatkan : Dari ayahnya, dari Abu Hanifah, dari
Hammad, dari Ibrahim :
أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ فِي غَسْلِ الدُّبُرِ وَالذَّكَرِ: «بِدْعَةٌ، وَلَنِعْمَ الْبِدْعَةُ»
“Bahwa Ibnu
Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata tentang mencuci dubur dan kemaluan (saat
hendak berwudhu): “Itu adalah bid’ah, dan itu sebaik-baik bid’ah.”
[2] Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu
berkata:
«مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا
فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ. وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ ».
“Apa
yang dipandang baik oleh kaum Muslimin maka itu baik di sisi Allah, dan apa
yang dipandang buruk oleh kaum Muslimin maka itu buruk di sisi Allah.”
Berdasarkan
ini, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi (202 H – 294 H) berkata dalam kitabnya
*Al-Intishar li Ashhabil Hadits* (hal. 28):
اَلْبِدْعَةُ عَلَى وَجْهَيْنِ: بِدْعَةٌ
قَبِيحَةٌ وَبِدْعَةٌ حَسَنَةٌ. قَالَ اَلْحَسَنُ اَلْبَصْرِيُّ: اَلْقَصَصُ بِدْعَةٌ،
وَنِعْمَتِ اَلْبِدْعَةُ، كَمْ مِنْ أَخٍ يُسْتَفَادُ، وَدَعْوَةٍ مُجَابَةٍ.
“Bid‘ah
terbagi menjadi dua jenis: bid‘ah yang buruk dan bid‘ah yang baik. Al-Hasan
Al-Bashri berkata: *Al-Qashash* (ceramah-ceramah) adalah bid‘ah, dan
sebaik-baik bid‘ah itu — betapa banyak saudara yang diambil manfaat darinya dan
doa yang dikabulkan karenanya.”
Hadits Ibnu
Mas’ud diatas ini merupakan bagian dari hadits mauquf (ucapan sahabat) dari
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam *Musnad*-nya
(1/379) dengan lafaz:
«إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ،
فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ،
فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ،
فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ،
يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ
حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ»
“Sesungguhnya
Allah melihat ke dalam hati para hamba, lalu Dia mendapati hati Muhammad ﷺ adalah sebaik-baik hati manusia, maka Dia memilihnya untuk
diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya.
Kemudian
Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad ﷺ, dan mendapati hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati
manusia, maka Dia menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya,
berjuang membela agama-Nya.
Maka apa
yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, itu baik di sisi Allah, dan apa yang
mereka pandang buruk, itu buruk di sisi Allah.”
TAKHRIJ :
Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Abu ‘Ali al-Bazzaaz dalam ats-Tsamin min Ajzaa’i Abi
‘Ali bin Syadzan hal. 200 no. 199 .
Dan
diriwayatkan juga oleh Al-Hakim (secara mauquf) dalam *Ma‘rifat Ash-Shahabah*,
pada bab *Fadhail Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu* (3/78–79) dengan sanad Imam
Ahmad, dengan lafaz:
«مَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ»
“Apa
yang dipandang baik oleh kaum Muslimin…” hingga akhir hadits.
Dan ia
menambahkan pada akhir riwayatnya:
«وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا
أَبَا بَكْرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ –».
“Para
sahabat seluruhnya berpendapat untuk membaiat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu
sebagai khalifah.”
Setelah itu
Al-Hakim berkata:
"حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ، وَلَمْ
يُخْرِجَاهُ".
“Hadits
ini sahih sanadnya dan belum dikeluarkan oleh Al-Bukhari maupun Muslim.”
Hadits ini
dinilai sahih sebagaimana disebutkan dalam *Multaqa Ahlil Hadits* (cet. ke-2, jilid
40, hlm. 459).
Dan
Adz-Dzahabi berkata: “Hadits ini sahih.”
Ahmad Syakir
dalam Tahqiq al-Musnad 3/505 no. 3600 berkata :
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، وَهُوَ مَوْقُوفٌ
عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ. وَهُوَ فِي مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ (١/ ١٧٧ – ١٧٨) لِلْهَيْثَمِيِّ،
وَقَالَ: "رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ،
وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ."
Sanadnya
sahih, dan hadits ini mauquf dari Ibnu Mas‘ud. Hadits ini terdapat dalam Majma‘
az-Zawā’id (1:177–178) karya Al-Haitsami, yang berkata: “Diriwayatkan oleh
Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam Al-Kabīr, dan para
perawinya terpercaya.”
Syu’aib
al-Arna’uth beserta para pentahqiq al-Musnad 6/84 no. 3600 berkata :
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ عَاصِمٍ
-وَهُوَ ابْنُ أَبِي النَّجُودِ-، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ
غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ -وَهُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ-، فَمِنْ رِجَالِ الْبُخَارِيِّ، وَأَخْرَجَ
لَهُ مُسْلِمٌ فِي "الْمُقَدِّمَةِ".
Sanadnya
hasan karena adanya 'Ashim (yaitu Ibnu Abi An-Najud), sedangkan para perawi
lainnya adalah perawi-perawi terpercaya dari kalangan perawi dua syaikh
(Al-Bukhari dan Muslim), kecuali Abu Bakar (yaitu Ibnu ‘Ayyasy), yang merupakan
perawi dalam Shahih Al-Bukhari, dan Muslim meriwayatkan darinya dalam bagian
*Muqaddimah*.
Al-Albani
dalam as-Silsilah adh-Dho’ifah 2/17 no. 533:
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ (رَقْم ٣٦٠٠) وَالطَّيَالِسِيُّ
فِي "مُسْنَدِهِ" (ص ٢٣)، وَأَبُو سَعِيدٍ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ فِي
"مُعْجَمِهِ" (٨٤ / ٢) مِنْ طَرِيقِ عَاصِمٍ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ،
عَنْهُ. وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ.
وَرَوَى الْحَاكِمُ مِنْهُ الْجُمْلَةَ
الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي الْأَعْلَى، وَزَادَ فِي آخِرِهِ: "وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ
جَمِيعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ"، وَقَالَ:
"صَحِيحُ الْإِسْنَادِ"، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ.
وَقَالَ الْحَافِظُ السَّخَاوِيُّ:
"هُوَ مَوْقُوفٌ حَسَنٌ".
قُلْتُ: وَكَذَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ فِي
"الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ" (١٠٠ / ٢) مِنْ طَرِيقِ الْمَسْعُودِيِّ،
عَنْ عَاصِمٍ بِهِ، إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: "أَبِي وَائِلٍ" بَدَلَ
"زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ".
ثُمَّ أَخْرَجَهُ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: فَذَكَرَهُ.
وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. وَقَدْ رُوِيَ
مَرْفُوعًا، وَلَكِنْ فِي إِسْنَادِهِ كَذَّابٌ كَمَا بَيَّنْتُهُ آنِفًا.
Diriwayatkan
oleh Ahmad (no. 3600), Ath-Thayalisi dalam *Musnad*-nya (hlm. 23), dan Abu
Sa’id Ibnu Al-A’rabi dalam *Mu’jam*-nya (84/2) melalui jalur ‘Ashim dari Zur
bin Hubaisy darinya. Ini adalah sanad yang hasan.
Al-Hakim
meriwayatkan bagian kalimat yang telah disebutkan di atas dan menambahkan di
akhirnya:
“Para
sahabat seluruhnya berpendapat untuk mengangkat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu
sebagai khalifah.”
Ia berkata: “Sanadnya
sahih,” dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.
Al-Hafidz
As-Sakhawi berkata: “Hadits ini mauquf dan hasan.”
Aku
(al-Albani) berkata:
Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam *Al-Faqih wal Mutafaqqih*
(100/2) melalui jalur Al-Mas’udi dari ‘Ashim dengan sanad yang sama, hanya saja
ia menyebut “Abu Wail” sebagai pengganti “Zur bin Hubaisy”. Kemudian ia
meriwayatkannya melalui jalur Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: “Abdullah
berkata…” lalu menyebutkan hadits tersebut.
Sanadnya
sahih. Hadits ini
juga diriwayatkan secara marfu‘, tetapi dalam sanadnya terdapat seorang
pendusta sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya”. [Selesai]
Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanadnya dalam Musnadnya (al-Bahr
az-Zakhkhor 5/212 no. 1816) dengan sedikit perbedaan:
«إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ
فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ خَيْرَ قُلُوبٍ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ
فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ أَنْصَارَ دِينِهِ،
مَا رَآهُ الْمُؤْمِنُ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ
قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ»
“Sesungguhnya
Allah telah memandang ke dalam hati para hamba-Nya, lalu Dia mendapati hati
Muhammad sebagai hati yang paling baik di antara hati para hamba.
Kemudian
Allah memandang ke dalam hati para hamba lagi, lalu Dia mendapati hati para
sahabatnya sebagai hati yang paling baik di antara hati para hamba, maka Allah
menjadikan mereka sebagai penolong agama-Nya.
Apa yang
dianggap baik oleh orang-orang beriman, maka itu baik di sisi Allah, dan apa
yang dianggap buruk oleh orang-orang beriman, maka itu buruk di sisi Allah”.
Lihat pula :
Bab *Ijma‘* dari kitab *Kasyf Al-Astar ‘an Zawa’id Al-Bazzar* karya Al-Haitsami
(1/88).
Ibnu Hazm
meriwayatkannya dengan sanadnya dari Ibnu Mas‘ud secara mauquf dalam kitab
*Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam* (6/759)
Al-Haitsami
berkata dalam *Majma‘uz Zawaid* (1/177–178):
(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ
فِي الْكَبِيرِ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ)
“Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani dalam *Al-Kabir*, dan para
perawinya terpercaya.”
As-Sakhawi
berkata dalam *Al-Maqashidul Hasanah* (hal. 367):
(وَهُوَ مَوْقُوفٌ حَسَنٌ)
“Hadits ini
mauquf dan hasan.”
----
RIWAYAT
MARFU’ dari Anas bin Malik :
Hadits ini
juga diriwayatkan secara marfu‘ dari Anas radhiyallahu ‘anhu.
Al-‘Ajluni
dalam *Kasyful Khafa’* (2/263, no. 2214) menukil dari Ibnu ‘Abdul Hadi yang
berkata:
(رُوِيَ مَرْفُوعًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ بِإِسْنَادٍ
سَاقِطٍ، وَالْأَصَحُّ: وَقْفُهُ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ)
“Diriwayatkan
secara marfu‘ dari Anas dengan sanad yang sangat lemah. Yang lebih benar adalah
mauquf pada Ibnu Mas‘ud.”
Kesimpulannya: hadits ini tidak sahih bila
disandarkan kepada Nabi ﷺ, tetapi sahih secara mauquf
dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.
Hadits Anas
ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim (3/78). Lihat *Kasyful Khafa’* (2/263),
*Al-Asrarul Marfu‘ah* (hal. 106), dan *Ad-Durarul Muntatsirah* (hal. 156).
===
KE 4 : PERKATAAN UMAR BIN AL-KHATHTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU:
Dari
Abdurrahman bin Abdul Qari:
خَرَجْتُ مع عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ
اللَّهُ عنْه لَيْلَةً في رَمَضَانَ إلى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ؛
يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، ويُصَلِّي الرَّجُلُ فيُصَلِّي بصَلَاتِهِ الرَّهْطُ،
فَقَالَ عُمَرُ:
«إنِّي أرَى لو جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ علَى
قَارِئٍ واحِدٍ، لَكانَ أمْثَلَ».
ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمعهُمْ علَى أُبَيِّ
بنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ معهُ لَيْلَةً أُخْرَى والنَّاسُ يُصَلُّونَ بصَلَاةِ قَارِئِهِمْ،
قَالَ عُمَرُ:
«نِعْمَ البِدْعَةُ هذِه، والَّتي
يَنَامُونَ عَنْهَا أفْضَلُ مِنَ الَّتي يَقُومُونَ»، يُرِيدُ آخِرَ
اللَّيْلِ، وكانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أوَّلَهُ.
Aku keluar
bersama Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam di bulan
Ramadan menuju masjid. Ternyata orang-orang berkelompok-kelompok yang
terpencar; ada lelaki yang sholat sendirian, dan ada lelaki yang sholat lalu
ada sekelompok orang yang sholat mengikuti salatnya.
Maka Umar
berkata: “Menurutku, jika aku mengumpulkan mereka di belakang satu qari, itu
akan lebih baik.”
Lalu ia
bertekad, dan ia pun mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka‘b. Kemudian
aku keluar bersamanya pada malam yang lain, dan orang-orang sedang sholat
mengikuti bacaan qari mereka.
Umar
berkata: “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini. Dan yang mereka tinggalkan
untuk tidur lebih utama daripada yang mereka kerjakan.”
Yang beliau
maksud adalah sholat pada akhir malam, sedangkan manusia saat itu sholat pada
awal malam.
]Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari nomor 2010].
Namun Ibnu
‘Utsaimin dalam Majmu Fatawa nya 5/249-250 mengkritik terhadap ucapan Amirul
Mu'minin Umar bin al-Khaththab dan putranya Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- :
«نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ»
“Sebaik-baik bidah adalah ini”
dengan
mengatakan:
"أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ
أَنْ يُعَارِضَ كَلَامَ الرَّسُولِ ﷺ بِأَيِّ كَلَامٍ، لَا بِكَلَامِ أَبِي بَكْرٍ
الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُمَرَ الَّذِي
هُوَ ثَانِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُثْمَانَ الَّذِي
هُوَ ثَالِثُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عَلِيٍّ الَّذِي
هُوَ رَابِعُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ أَحَدٍ غَيْرِهِمْ
… "ـ
“Bahwa
tidak boleh bagi siapa pun dari manusia untuk menentang ucapan Rasulullah ﷺ dengan ucapan siapa pun, tidak dengan ucapan Abu Bakar yang
merupakan manusia terbaik umat ini setelah nabinya, tidak pula dengan ucapan
Umar yang merupakan orang kedua umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan
Utsman yang merupakan orang ketiga umat ini setelah nabinya, tidak dengan
ucapan Ali yang merupakan orang keempat umat ini setelah nabinya, dan tidak
pula dengan ucapan siapa pun selain mereka …”.
Hingga pada
perkataan Syeikh al-Utsaimin :
"فَلَا
يَلِيقُ بِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ مَنْ هُوَ أَنْ يُخَالِفَ كَلَامَ سَيِّدِ
الْبَشَرِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنْ يَقُولَ عَنْ بِدْعَةٍ (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ)، بَلْ
لَا بُدَّ أَنْ تُنَزَّلَ الْبِدْعَةُ الَّتِي قَالَ عَنْهَا عُمَرُ أَنَّهَا (نِعْمَتِ
الْبِدْعَةُ) عَلَى بِدْعَةٍ لَا تَكُونُ دَاخِلَةً تَحْتَ مُرَادِ النَّبِيِّ ﷺ".
“Maka tidak
pantas bagi Umar radhiyallahu ‘anhu, dia siapa, sehingga berani menyelisihi
ucapan junjungan seluruh manusia, yaitu Muhammad ﷺ, dan dia berani-beraninya mengatakan
tentang suatu bidah “sebaik-baik bidah”, bahkan bid’ah yang
dikatakan oleh Umar sebagai “sebaik-baik bidah” itu harus
diarahkan pada jenis bidah yang tidak termasuk dalam maksud Nabi ﷺ”.
===
KE 5 : PERNYATAAN ABU UMAMAH RADHIYALLAHU ‘ANHU :
Muhammad bin
Nasher al-Marwazi (w. 294 H) meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu :
" إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمْ صِيَامَ
رَمَضَانَ وَلَمْ يَكْتُبْ قِيَامَهُ ، وَإِنَّمَا الْقِيَامُ شَيْءٌ أَحْدَثْتُمُوهُ
فَدُومُوا عَلَيْهِ وَلَا تَتْرُكُوهُ فَإِنَّ نَاسًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
ابْتَدَعُوا بِدْعَةً لَمْ يَكْتُبْهَا اللَّهُ عَلَيْهِمُ ابْتَغَوْا بِهَا رِضْوَانَ
اللَّهِ فَلَمْ يَرْعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَعَابَهُمُ اللَّهُ بِتَرْكِهَا ،
فَقَالَ: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ
رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا﴾ [الحديد: 27]".
“Allah
mewajibkan puasa Ramadhan pada kalian , dan Dia tidak mewajibkan shalat
qiyamullail nya [ Tarawihnya ].
Dan adapun
shalat qiyamullail adalah sesuatu yang baru yang kalian ada-adakan , maka
kalian harus mendawamkannya [memeliharanya] dan janganlah kalian
meninggalkannya; karena dulu ada segolongan manusia dari Bani Israil
mengada-adakan amalan bid'ah yang tidak pernah diperintahkan Allah atas mereka,
yang mana mereka melakukan semua itu dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah
dengannya.
Namun
ternyata mereka itu tidak memeliharanya sebagaimana mestinya, maka Allah SWT
mencela mereka karena meninggalkannya, dan Allah SWT berfirman :
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا
كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ
رِعَايَتِهَا
“Dan
mereka mengada-adakan bid'ah rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya
kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan
Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”. [ QS. Al-Hadiid : 27]
[Lihat مُخْتَصَرُ قِيَامِ اللَّيْلِ
وَقِيَامِ رَمَضَانَ وَكِتَابِ الْوِتْرِ 1/23 karya Muhammad bin Nasher al-Marwazi]
===
KE 6 : PERKATAAN ABUBAKAR, UMAR DAN ZAID BIN TSABIT RADHIYALLAHU ‘ANHUM.
Dari Zaid
bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
أَرْسَلَ إلَيَّ أبو بَكْرٍ مَقْتَلَ
أهْلِ اليَمَامَةِ وعِنْدَهُ عُمَرُ، فَقالَ أبو بَكْرٍ: "إنَّ عُمَرَ أتَانِي،
فَقالَ: إنَّ القَتْلَ قَدِ اسْتَحَرَّ يَومَ اليَمَامَةِ بالنَّاسِ، وإنِّي أخْشَى
أنْ يَسْتَحِرَّ القَتْلُ بالقُرَّاءِ في المَوَاطِنِ، فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنَ القُرْآنِ
إلَّا أنْ تَجْمَعُوهُ، وإنِّي لَأَرَى أنْ تَجْمَعَ القُرْآنَ".
قالَ أبو بَكْرٍ: "قُلتُ لِعُمَرَ:
كيفَ أفْعَلُ شَيئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسولُ اللَّهِ ﷺ؟. فَقالَ عُمَرُ: ’هو واللَّهِ
خَيْرٌ’، فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فيه حتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذلكَ صَدْرِي،
ورَأَيْتُ الذي رَأَى عُمَرُ".
قالَ زَيْدُ بنُ ثَابِتٍ: "وعُمَرُ
عِنْدَهُ جَالِسٌ لا يَتَكَلَّمُ".
فَقالَ أبو بَكْرٍ: "إنَّكَ رَجُلٌ
شَابٌّ عَاقِلٌ، ولَا نَتَّهِمُكَ، كُنْتَ تَكْتُبُ الوَحْيَ لِرَسولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَتَبَّعِ
القُرْآنَ فَاجْمَعْهُ. فَوَاللَّهِ لو كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنَ الجِبَالِ ما
كانَ أثْقَلَ عَلَيَّ ممَّا أمَرَنِي به مِن جَمْعِ القُرْآنِ".
قُلتُ: "كيفَ تَفْعَلَانِ شيئًا
لَمْ يَفْعَلْهُ النَّبيُّ ﷺ؟".
فَقالَ أبو بَكْرٍ: "هو واللَّهِ
خَيْرٌ".
فَلَمْ أزَلْ أُرَاجِعُهُ حتَّى شَرَحَ
اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ اللَّهُ له صَدْرَ أبِي بَكْرٍ وعُمَرَ، فَقُمْتُ
فَتَتَبَّعْتُ القُرْآنَ أجْمَعُهُ مِنَ الرِّقَاعِ والأكْتَافِ، والعُسُبِ وصُدُورِ
الرِّجَالِ، حتَّى وجَدْتُ مِن سُورَةِ التَّوْبَةِ آيَتَيْنِ مع خُزَيْمَةَ الأنْصَارِيِّ
لَمْ أجِدْهُما مع أحَدٍ غيرِهِ: ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ
عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ﴾ [التوبة: 128] إلى آخِرِهِمَا، وكَانَتِ الصُّحُفُ الَّتي جُمِعَ
فِيهَا القُرْآنُ عِنْدَ أبِي بَكْرٍ حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ
حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بنْتِ عُمَرَ".
“Abu Bakar
mengirim utusan kepadaku setelah terjadinya pembantaian para syuhada dalam
perang Yamamah, dan di sisinya ada Umar.
Abu Bakar
berkata: “Umar datang kepadaku dan berkata: Sesungguhnya pembunuhan pada hari
Yamamah telah sangat banyak menimpa manusia, dan aku khawatir pembunuhan itu
akan semakin banyak menimpa para qari pada berbagai medan perang, sehingga
banyak bagian dari Al-Qur’an akan hilang kecuali jika kalian mengumpulkannya.
Menurutku engkau harus mengumpulkan Al-Qur’an.”
Abu Bakar
berkata: “Aku berkata kepada Umar: Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak
dilakukan oleh Rasulullah ﷺ?”
Umar
berkata: “Demi Allah, itu adalah kebaikan.” Umar terus-menerus membujukku
hingga Allah melapangkan dadaku untuk itu, dan aku pun melihat seperti apa yang
dilihat Umar.”
Zaid bin
Tsabit berkata: “Umar duduk di sisinya tanpa berbicara. Maka Abu Bakar berkata:
Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu. Engkau dahulu
menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ. Maka telusurilah Al-Qur’an
dan kumpulkanlah.” Demi Allah, seandainya mereka membebaniku memindahkan sebuah
gunung, niscaya itu tidak lebih berat bagiku daripada tugas mengumpulkan
Al-Qur’an.
Aku berkata:
“Bagaimana kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Nabi ﷺ?”
Abu Bakar berkata:
“Demi Allah, itu adalah kebaikan.”
Aku terus
membujuknya hingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Dia melapangkan dada
Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun berdiri, menelusuri Al-Qur’an dan
mengumpulkannya dari lembaran-lembaran, tulang belikat, pelepah kurma, dan
hafalan para lelaki, hingga aku menemukan dua ayat terakhir dari Surah
At-Taubah bersama Khuzaimah Al-Anshari yang tidak kutemukan pada seorang pun
selain dirinya, yaitu ayat :
﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ. فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ﴾
Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [QS. at-Tawbah: 128]
Jika mereka
berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak
ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan
yang memiliki 'Arsy yang agung". [QS. at-Tawbah: 129]
Lembaran-lembaran
tempat Al-Qur’an dikumpulkan itu berada di sisi Abu Bakar sampai Allah
mewafatkannya, kemudian di sisi Umar sampai Allah mewafatkannya, kemudian di
sisi Hafshah binti Umar. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 4679].
===***===
PEMBAHASAN KE TUJUH
DALIL-DALIL PENGUAT ADANYA BID’AH HASANAH:
===
DALIL PERTAMA : HADITS IBNU UMAR
Dari
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ
أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ
الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»
Sesungguhnya
Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau beliau berkata: umat Muhammad ﷺ, di atas kesesatan. Tangan Allah bersama jamaah, dan siapa yang
menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka.
Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, Bab tentang perintah untuk tetap bersama
jamaah, hadits nomor 2167 (4/466), dan ia berkata: “Hadits ini gharib dari
jalur ini”.
Hadits ini
memiliki penguat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim (1/115–116), dalam As-Sunnah
karya Ibnu Abi 'Ashim hadits nomor 80, 82, 83, 84, 85 (halaman 39, 41, 42).
As-Suyuthi
menyebutkannya dalam Al-Jami' Ash-Shaghir 1/278 no. 1818 dan menambahkan lafaz:
«وَيَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ،
وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»
"dan
tangan Allah di atas jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan
tersendirikan ke dalam neraka".
Lalu ia
berkata: “Hadits hasan”.
Dan
Syeikh Al-Albani men-sahihkan-nya dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir wa
Ziyadatuhu nomor 1844.
Dan Syaikh
Al-Albani berkata dalam “Ta’liq Misykat al-Masabih” (1/61):
"لَهَا شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَغَيْرُهُمَا بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، وَمِنْ حَدِيثِ
أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ عِنْدَ ابْنِ قَانِعٍ فِي الْمُعْجَمِ".
Hadits ini
memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi,
Al-Hakim, dan selain keduanya dengan sanad yang sahih, serta dari hadits Usamah
bin Syarik yang diriwayatkan oleh Ibnu Qani‘ dalam *al-Mu‘jam*.
Hadits
diatas memiliki penguat : diantaranya dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أُمَّتِي
لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ
بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ»
“Sesungguhnya
umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Jika kalian melihat
perselisihan, maka wajib bagi kalian berpegang kepada kelompok mayoritas.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid (hlm. 367, no. 1220), Ibnu Majah (2/1303, no.
3950), Ibnu Abi ‘Ashim dalam *As-Sunnah* (1/41, no. 84), dan Ibnu Baththah
dalam *Al-Ibanah Al-Kubra* 1/288 no. 118.
Dalam
sanadnya terdapat Abu Khalaf Al-A‘mā, Hāzim bin ‘Athā’, dan ia adalah perawi yang lemah.
Al-Hakim
berkata:
«اِسْتَقَرَّ الْخِلَافُ فِي إِسْنَادِ هٰذَا
الْحَدِيثِ، وَقَدْ رُوِيَ بِأَسَانِيدَ يَصِحُّ بِمِثْلِهَا الْحَدِيثُ، فَلَا بُدَّ
أَنْ يَكُونَ لَهُ أَصْلٌ بِأَحَدِ هٰذِهِ الْأَسَانِيدِ»
“Perbedaan
pendapat dalam sanad hadits ini telah terjadi, dan hadits ini telah
diriwayatkan melalui jalur-jalur yang dengannya hadits dapat dinilai sahih.
Maka dengan pasti hadits ini memiliki asal dari salah satu sanad tersebut.”
(*Al-Mustadrak*
1/115; *Miskāt Al-Maṣābīḥ* 1/62; *Tanqīḥ Ar-Ruwāt* 1/42; *Jāmi‘ At-Tirmiżī*, *Tuḥfat Al-Aḥwadzi* 3/368)
Muhammad
Thahir Al-Kurdi Asy-Syafi‘i berkata dalam *Tārīkh Al-Qur’ān Al-Karīm* hlm. 57:
«رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ،
وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ».
“Ibnu Majah
meriwayatkannya dari Anas bin Malik dan itu adalah hadits sahih.”
Syaikh
Sulaiman Al-Khats‘ami An-Najdi berkata dalam *Adh-Dhiyā’
Asy-Syāriq* hlm. 565: “Hadits ini baik dengan seluruh jalur periwayatannya.”
«وَهٰذَا الْحَدِيثُ جَيِّدٌ بِطُرُقِهِ».
Ustadz
Syu‘aib Al-Arna’uth berkata: “Namun dengan terkumpulnya seluruh jalur tersebut,
hadits ini menjadi kuat sehingga dapat dijadikan hujjah.”
Lihat *Siyar
A‘lam An-Nubalā’* 12/196 catatan kaki no. (2), dan *Ṭabaqāt ‘Ulamā’ Al-Ḥadīṡ* 2/213 catatan kaki no. (1).
Hadits ini
memiliki penguat dari Ibnu Abbas dalam riwayat Al-Hakim dengan sanad yang
hasan. Al-Hakim berkata:
«اِسْتَقَرَّ الْخِلَافُ فِي إِسْنَادِ
هٰذَا الْحَدِيثِ، وَقَدْ رُوِيَ بِأَسَانِيدَ يَصِحُّ بِمِثْلِهَا الْحَدِيثُ، فَلَا
بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَصْلٌ بِأَحَدِ هٰذِهِ الْأَسَانِيدِ».
“Perbedaan
pendapat dalam sanad hadits ini telah tetap, dan hadits ini telah diriwayatkan
melalui jalur-jalur yang dengannya hadits dapat dinilai sahih. Maka pasti
hadits ini memiliki asal dari salah satu sanad tersebut.”
(*Al-Mustadrak*
1/115; *Miskāt Al-Maṣābīḥ* 1/62; *Tanqīḥ Ar-Ruwāt* 1/42; *Jāmi‘ At-Tirmiżī*, *Tuḥfat Al-Aḥwadzi* 3/368)
As-Sakhawi
berkata dalam *Al-Maqāṣid Al-Ḥasanah* hlm.
460:
«لٰكِنْ بِمَجْمُوعِ هٰذِهِ الطُّرُقِ
يَتَقَوَّى الْحَدِيثُ فَيَكُونُ حُجَّةً».
“Secara
keseluruhan, ini adalah hadits yang masyhur pada matannya, memiliki banyak
sanad, serta banyak syahid baik dalam riwayat marfū’ maupun
lainnya.”
Dan hadits
ini juga memiliki penguat dalam Musnad Ahmad (5/145) dari Abu Dzar, dalam
lafaz:
«فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَنْ يَجْمَعَ
أُمَّتِي إِلَّا عَلَى هُدًى»
"Sesungguhnya
Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali di atas petunjuk".
Dan dalam
Sunan Ad-Darimi (1/29) pada bagian pendahuluan, Bab tentang keutamaan yang
diberikan kepada Nabi ﷺ, disebutkan lafaz:
«وَلَا يَجْمَعُهُمْ عَلَى ضَلَالَةٍ»
"Dan
Dia tidak mengumpulkan mereka di atas kesesatan".
Dari Ibnu
Umar, ia berkata: Umar berkhutbah kepada kami di Jabiyah, lalu berkata:
خَطَبَنَا عُمَرُ بِالْجَابِيَةِ فَقَالَ:
أَيُّهَا النَّاسُ: إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِينَا فَقَالَ:
«أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ
الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ، أَلَا لَا
يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، عَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ
مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ،
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ».
“Wahai
manusia, sesungguhnya aku berdiri di hadapan kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah berdiri di hadapan kami. Beliau ﷺ bersabda:
*Aku
wasiatkan kalian agar menjaga para sahabatku, kemudian orang-orang setelah
mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Setelah itu akan tersebar
kedustaan, sampai-sampai seorang lelaki bersumpah padahal ia tidak diminta
bersumpah, dan seorang saksi memberikan kesaksian padahal ia tidak diminta
menjadi saksi. Ketahuilah, janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang
perempuan, kecuali yang ketiganya adalah setan. Hendaklah kalian tetap bersama
jamaah dan jauhilah perpecahan, karena setan bersama orang yang sendirian, dan
ia lebih jauh dari dua orang. Barang siapa ingin berada di bagian tengah Surga,
maka hendaklah ia bersama jamaah. Barang siapa yang kebaikannya membuatnya
senang dan keburukannya membuatnya sedih, maka dialah orang beriman.*”
Tercantum
dalam Sunan At-Tirmidzi 3/315 (Kitab Al-Fitan, Bab Larangan Menyelisihi
Jamaah). At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan sahih gharib.”
Hadits ini
juga terdapat dalam Al-Musnad (cetakan Al-Ma’arif) 1/204–205 (no. 114) dan
230–231 (no. 177). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mensahihkan hadits
tersebut pada kedua tempat itu.
===
DALIL KE DUA : HADITS JARIR AL-BAJALLY
Hadits Jarir
Bin Abdullah al-Bajally radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabada :
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا،
كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا
وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».
Barang siapa
yang memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia
akan mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu
sunnah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung
dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa
mereka sedikit pun.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan
makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna
yang serupa.]
Kronologi
Hadits:
Imam Muslim
meriwayatkan: Jarir Bin Abdullah al-Bajally
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ
النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ العَبَاءِ،
مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ
وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ
بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقالَ:
«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن
دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ،
حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ»
قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ
بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ تَتَابَعَ
النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ
رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.
فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ،
مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً
سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
Kami pernah
berada di sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Lalu
datanglah sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi,
mengenakan jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak
mereka. Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya
dari Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (tampak sedih)
ketika melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke
rumahnya), kemudian keluar lagi.
Beliau
memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat,
kemudian berkhutbah seraya membaca:
“Wahai
manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari
satu jiwa” hingga akhir ayat,
“Sesungguhnya
Allah selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).
Dan juga
ayat dalam Surah Al-Hasyr:
“Bertakwalah
kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).
Kemudian
beliau ﷺ bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya,
pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun hanya
separuh butir kurma.”
Lalu
datanglah seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga
tangannya hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat
menahannya. Setelah itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat
dua tumpukan besar berisi makanan dan pakaian.
Melihat hal
itu, wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri seperti
emas yang berkilauan. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa
yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat
pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari pahala mereka.
Dan barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari dosa mereka.”
[HR. Muslim
no. 1017. Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan
Ath-Thayalisi (705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]
Sunnah yang
di maksud dalam hadits di atas ini bukan sunnah Nabi ﷺ, melainkan amal perbuatan
secara mutlak, karena sunnah Nabi ﷺ itu tidak terbagi dua, baik
dan buruk.
Dan makna
lafadz “sanna” yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ di sini adalah “memulai”,
bukan “menghidupkan sunnah kembali” sebagaimana yang diklaim oleh
sebagian orang.
Al-Imam
an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 7/104 berkata :
فِيهِ الْحَثُّ عَلَى الِابْتِدَاءِ
بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنَ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيرُ مِنَ اخْتِرَاعِ
الْأَبَاطِيلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ وَسَبَبُ هَذَا الْكَلَامِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
أَنَّهُ قَالَ فِي أَوَّلِهِ فَجَاءَ رَجُلٌ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا
فَتَتَابَعَ النَّاسُ وَكَانَ الْفَضْلُ الْعَظِيمُ لِلْبَادِي بِهَذَا الْخَيْرِ وَالْفَاتِحُ
لِبَابِ هَذَا الْإِحْسَانِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ
الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ وَقَدْ سَبَقَ
بَيَانُ هَذَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ
خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَاجِبَةٌ
“Di dalam
hadits ini terdapat anjuran untuk memulai berbagai kebaikan dan menetapkan
sunnah-sunnah yang baik, serta peringatan dari mengada-adakan kebatilan dan
hal-hal yang tercela.
Sebab penjelasan
ini disebutkan dalam hadits tersebut adalah karena beliau berkata pada bagian
awalnya:
“Lalu
datang seorang lelaki membawa sebuah kantong sedekah yang hampir-hampir
tangannya tidak sanggup menahannya, kemudian orang-orang pun mengikutinya”.
Maka
keutamaan yang sangat besar adalah milik orang yang pertama kali memulai
kebaikan ini dan membuka pintu kebaikan tersebut.
Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap sabda Rasulullah ﷺ: “Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”, yaitu bahwa yang dimaksud dengannya adalah perkara-perkara baru yang batil dan bid’ah-bid’ah yang tercela. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Shalat Jumat, dan di sana telah kami sebutkan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima macam, di antaranya ada yang wajib”. [Selesai]
----
Adapun hadits
yang menunujukkan makna “sanna” itu adalah "menghidupkan sunnah yang mati", maka
status haditsnya antara palsu dan dho’if sekali. Sebagaimana dalam penjelasan
berikut ini :
Dari Katsir
bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda.
«مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ
أُمِيتَتْ بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا
مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِ النَّاسِ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً
لَا يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَإِنَّ عَلَيْهِ مِثْلَ إِثْمِ مَنْ عَمِلَ بِهَا
مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ آثَامِ النَّاسِ شَيْئًا»
Artinya : “Siapa
yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan sepeninggalku,
maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, tanpa
mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa yang mengada-adakan suatu
bidah yang tidak diridai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka atasnya dosa seperti
dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa
mereka.”.
HR.
At-Tirmidzy 2677, Ibnu Majah no. 210, al-Bazzar dalam al-Bahru az-Zakhkhor no.
3385 dan al-Baghowi dalam Syarhu as-Sunnah no. 110.
Status Hadits:
Ada sebagian
para ulama ahli hadits yang mengatakan :
هٰذَا الْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ وَلَا يَصِحُّ
الِاحْتِجَاجُ بِهِ، لِأَنَّ فِي إِسْنَادِهِ كَثِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الَّذِي
تَرَكَ الْعُلَمَاءُ رِوَايَتَهُ.
“Hadits ini
palsu dan tidak layak dijadikan hujjah, karena dalam sanadnya terdapat Katsir
bin Abdullah yang riwayatnya ditinggalkan oleh para ulama hadits”.
Hadits ini
disebutkan pula dengan sanadnya dalam “al-Jami’ Lii ‘Uluumi al-Imam Ahmad
18/507 no. 2211. Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abdulllah putra Imam Ahmad
dalam al-‘Ilal no. 4922.
Di dalam
sanadnya terdapat “Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf”.
Katsir bin
Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani: para ulama banyak membicarakannya dan
mereka melemahkannya, bahkan sebagian dari mereka menuduhnya sebagai pendusta.
Dalam
Al-Jarh wat-Ta'dil (7/154) Ibnu Abi Hatim ar-Razi dari Abu Thalib disebutkan:
"سَأَلْتُ أَحْمَدَ، يَعْنِي ابْنَ حَنْبَلٍ،
عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ؟ فَقَالَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ،
لَيْسَ بِشَيْءٍ."
“Aku
bertanya kepada Ahmad —yakni ibnu Hanbal— tentang Katsir bin Abdullah bin Amr
bin Auf? Beliau berkata: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.”
[Lihat pula
: Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
Dan dalam Tahdzibul
Kamal 24/137 karya al-Mizzy, dia menyebutkan:
"قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ
أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا
عَنْهُ بِشَيْءٍ."
“Abdullah
bin Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad,
dan beliau tidak meriwayatkan satu pun darinya kepada kami.” [Lihat pula :
Tahdzib at-Tahdzib 8/422]
Dan memang
benar demikian, karena Imam Ahmad tidak mengeluarkan satu pun hadits dari
Musnad Amr bin Auf, kakek Katsir.
Abu
Khaitsamah berkata:
قَالَ لِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا
تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا.
Ahmad bin
Hanbal berkata kepadaku: jangan engkau meriwayatkan sesuatu pun darinya. Lihat
Tahdzibul Kamal 24/138.
Al-Imam
Al-Bukhari berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْمِلُ
عَلَى كَثِيرٍ، يُضَعِّفُهُ
Ahmad bin
Hanbal sangat keras terhadap Katsir, beliau melemahkannya. [Lihat Tahdzibul
Kamal 24/139, Bahrud Dam nomor 859].
An-Nasa’i
dalam ad-Dhu‘afa hal. 89 no. 504:
كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو
بْنِ عَوْفٍ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ
“ Katsir bin
Abdullah bin Amr bin Auf adalah seorang perawi yang ditinggalkan haditsnya
(ditolak)”.
Ibnu Hibban
berkata dalam al-Majruhin 2/228 nomor 893:
كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي عَنْ أَنَسٍ مَا
لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ مِنْ غَيْرِ رِوَايَتِهِ، وَيَضَعُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُحَدِّثُ
عَنْهُ، لَا تَحِلُّ كِتَابَةُ حَدِيثِهِ وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى سَبِيلِ
الِاخْتِبَارِ
“Ia termasuk
orang yang meriwayatkan dari Anas apa yang bukan termasuk haditsnya, bukan dari
jalurnya, dan ia membuat-buat hadits palsu atas nama Anas lalu meriwayatkannya.
Tidak halal menuliskan haditsnya dan tidak boleh meriwayatkannya darinya
kecuali sekadar untuk tujuan pengujian”.
Pentahqiq
kitab Mukhtashar Talkhish adz-Dzahabi karya Ibnu al-Mulaqqin 5/2314, Sa’ad bin
Abdullah al-Hummaid berkata:
الْحَدِيثُ فِي سَنَدِهِ كَثِيرُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو الْمُزَنِيُّ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ - كَمَا فِي الْمُغْنِي
(٢/ ٥٣١ رَقْم ٥٠٨٤) -؛ كَذَّبَهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ،
عَنْ أَحْمَدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ،
وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ، وَقَالَ أَبُو خَيْثَمَةَ: قَالَ لِي أَحْمَدُ: لَا تُحَدِّثْ
عَنْهُ شَيْئًا، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ،
وَقَالَ النَّسَائِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ:
رَوَى عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ نُسْخَةً مَوْضُوعَةً لَا يَحِلُّ ذِكْرُهَا فِي
الْكُتُبِ، وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّعَجُّبِ.
الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا بِهٰذَا الْإِسْنَادِ
لِشِدَّةِ ضَعْفِ كَثِيرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hadits ini
dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah bin Amr Al-Muzani, dan ia adalah
perawi yang ditinggalkan—sebagaimana dalam Al-Mughni (2/531 no. 5084).
Asy-Syafi‘i dan Abu Dawud menuduhnya sebagai pendusta.
Abu Thalib
meriwayatkan dari Ahmad: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.
Abdullah bin
Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad dan
tidak meriwayatkan sesuatu pun darinya kepada kami.
Abu Khaitsamah
berkata: Ahmad berkata kepadaku: jangan meriwayatkan sesuatu pun darinya.
Ibnu Ma‘in
berkata: tidak ada nilainya, haditsnya tidak boleh ditulis. An-Nasa’i dan
Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan haditsnya.
Ibnu Hibban
berkata: ia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya sebuah kumpulan riwayat
yang dibuat-buat; tidak halal menyebutkannya dalam kitab-kitab, dan tidak boleh
meriwayatkannya kecuali dalam rangka menunjukkan keanehannya.
Hadits ini
sangat lemah dengan sanad ini karena sangat lemahnya Katsir. Allah lebih
mengetahui”.
[Lihat
Al-Jarh wat-Ta'dil 7/154, Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
Sementara
Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu Majah berkata :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ كَثِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
“Sanadnya
lemah karena kelemahan Katsir bin Abdullah bin Amr”.
Adapun
Syeikh al-Albani, maka dalam Dha‘if al-Jami‘ no. 5359 beliau berkata : (ضَعِيفٌ جِدًّا). Bagitu pula dalam Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits
no. 210, Syeikh al-Albani mengatakan: (ضَعِيفٌ
جِدًّا), akan
tetapi dalam hadits no. 209, beliau mengatakan: (صَحِيحٌ
لِغَيْرِهِ).
[Lihat pula Shahih Ibnu Majah no. 174].
----
DALIL
PENGUAT MAKNA “سَنَّ سُنَّةً”
ADALAH MEMULAI SUATU AMALAN, BUKAN MENGHIDUPKAN SUNNAH YANG MATI..
Hadits-hadits
lain yang memperkuat makna asal kata “سَنَّ سُنَّةً” dalam sabda Nabi ﷺ adalah memulai suatu amalan
atau memberikan contoh, baik itu bagus maupun jelek, baik itu tercela, maupun
terpuji adalah sbb :
PERTAMA : Di antara yang menguatkan apa yang kami katakan adalah Mu’adz ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
"وَكَانُوا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ،
وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ يُشِيرُ
إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ
فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ: فَجَاءَ
مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ عَلَيْهَا،
ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ النَّبِيُّ ﷺ
بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاتَهُ
قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ
فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»".
Bahwa pada
mulanya para sahabat sering datang terlambat ke tempat shalat berjemaah
(di mesjid nabawi), mereka datang ketika Nabi ﷺ telah menyelesaikan sebagian
dari salatnya.
Maka seorang
lelaki dari mereka bertanya kepada salah seorang yang sedang shalat melalui
isyarat yang maksudnya ialah : " berapa rakaat shalat yang telah
dikerjakan?".
Lelaki yang
ditanya menjawabnya dengan isyarat : " satu atau dua rakaat ".
Lalu dia
menyusul dengan cara mengerjakan shalat yang tertinggal itu sendirian.
Setelah itu ia baru masuk ke dalam sholat berjamaah, menggabungkan diri dengan
bermakmum kepada Nabi ﷺ.
Perawi
mengatakan :
Lalu
datanglah Mu’adz . Dan Muadzd berkata : "Tidak sekali-kali ada suatu
tahapan yang baru yang dialami oleh Nabi ﷺ melainkan aku terlibat
di dalamnya."
Pada suatu
hari Muadz datang, sedangkan Nabi ﷺ telah mendahuluinya dengan
sebagian salatnya. Maka Mu’adz langsung ikut bermakmum kepada Nabi ﷺ. Setelah Nabi ﷺ menyelesaikan salatnya, lalu
bangkitlah Mu’adz untuk melanjutkan shalatnya yang ketinggalan.
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ
فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»
"
Sesungguhnya Mu’adz telah membuat suatu sunnah bagi kalian [yakni : tata cara
sholat makmum masbuq. PEN]; maka tirulah oleh kalian perbuatannya itu".
(yakni : langsung
masuk ke dalam sholat berjamaah. Dan apabila imam selesai dari salatnya, baru
ia menyelesaikan rakaat yang tertinggal , dengan shalat sendirian).
[ HR. Ahmad
36/438 , Abu Daud 1/140 no. 507 , al-Hakim 2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah
al-Musykil 1/417 no. 478 ]
Di Shahihkan
oleh al-Hakim dengan mengatakan : " Shahih sesuai syarat Shahih bukhori
dan Muslim ". Dan disetujui oleh adz-Dzahabi . Di shahihkan pula oleh
al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhish al-Habir 2/546 dan juga oleh al-Albaani
dalam Shahih Abu Daud no. 478 dan dalam al-Irwaa 4/20 .
Dalam hadits
ini tampak jelas bahwa makna “man sanna” di sini adalah “barang siapa
memulai”.
KEDUA : Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا
كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ
مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
“Tidaklah
ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang
pertama ada bagian dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan
contoh (سَنَّ) pembunuhan.”
Diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677.
Ada yang
berkata :
قُلْتُ: مَعْنَى مَنْ سَنَّ مَنْ بَدَأَ
لِقَوْلِهِ ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ!
هَلِ الْقَتْلُ مَوْجُودًا ثُمَّ عُدِمَ
فَأَحْيَاهُ قَابِيلٌ؟
أَوْ كَانَ الْقَتْلُ مَوْقُوفًا فَأَنْفَذَهُ
قَابِيلٌ؟
هَذَا لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ.
Aku berkata:
makna dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah ﷺ: Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.
Apakah
pembunuhan itu sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali
oleh Qabil?
Ataukah
pembunuhan itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak
dikatakan oleh orang yang berakal.
KETIGA : Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ،
شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»،
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»
“Kalian
benar-benar akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke lubang dhab,
kalian pasti akan mengikuti mereka.”
Kami
bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah mereka itu Yahudi
dan Nasrani?”
Beliau
menjawab, “Lalu siapa lagi?”
[Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari nomor 7320].
Lafaz
riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي
بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ» ، فَقِيلَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»
“Tidak akan
terjadi kiamat sampai umatku mengikuti (langkah-langkah) generasi-generasi
sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Lalu
dikatakan, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah seperti Persia dan
Romawi?”
Beliau
menjawab, “Lalu siapa lagi manusia kalau bukan mereka?”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 7319].
===
DALIL KETIGA : HADITS ABU HURAIRAH
Ibnu Majah
meriwayatkan (204) melalui jalur Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَثَّ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَجُلٌ، عِنْدِي كَذَا وَكَذَا،
قَالَ، فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلَّا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ
أَوْ كَثُرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنِ اسْتَنَّ
خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ، كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أُجُورِ مَنِ
اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً
سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ، فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي
اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا»
Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau menganjurkan
(untuk bersedekah).
Maka seorang
laki-laki berkata: “Aku memiliki ini dan ini.” Maka tidak ada seorang pun di
majelis itu kecuali bersedekah, sedikit atau banyak.
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia
mendapat pahala sempurna darinya, dan pahala orang-orang yang mengikutinya,
tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan barang
siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia menanggung
dosanya secara penuh, dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi
dosa mereka sedikit pun.”
Hadits ini
juga terdapat dalam *Musnad Ahmad* (10749).
Syeikh
Muqbil al-Wadi’i dalam ash-Shohih al-Musnad 2/329 no. 1295 berkata :
هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. الْحَدِيثُ أَخْرَجَهُ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ (ج 2 ص 520) فَقَالَ: ثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بِهِ.
وَهُوَ بِسَنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.
“Ini adalah
hadits hasan menurut syarat Muslim.
Hadits ini
dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (jilid 2 halaman 520), beliau berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abduṣh Ṣhomad, dengan
sanad tersebut.
Dan sanadnya
menurut Imam Ahmad memenuhi syarat kedua syekh (Bukhari dan Muslim)”.
===
DALIL KE EMPAT : HADITS HUDZAIFAH
Dari
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ الْقَوْمُ، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا أَعْطَاهُ
فَأَعْطَى الْقَوْمُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
" مَنْ سَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ
لَهُ أَجْرُهُ وَمِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِنْ أَوْزَارِ
مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا"
Ada seorang
laki-laki pada masa Nabi ﷺ yang meminta-minta, lalu
orang-orang diam. Kemudian ada seorang laki-laki yang memberinya, maka
orang-orang pun ikut memberi. Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa
memulai suatu kebaikan lalu diikuti setelahnya, maka baginya pahala
perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala
mereka sedikit pun.
Dan barang
siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti setelahnya, maka baginya dosa perbuatannya
dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit
pun”.
TAKHRIJ
HADITS :
Diriwayatkan
oleh Ahmad dalam Musnad 38/325 nomor 23289, Al-Bazzar dalam Musnadnya (2963),
dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar (251) dan (1542) melalui jalur
Wahb bin Jarir dengan sanad ini.
Dan
diriwayatkan oleh Al-Bazzar (2964) dari jalur Ali bin Ashim, serta Al-Hakim
2/516–517 dari jalur Abdullah bin Al-Mubarak, keduanya dari Hisyam bin Hassan
dengan sanad ini.
Syuaib
Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad 38/325 berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ
حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، فَقَدْ رَوَى عَنْهُ جَمْعٌ،
وَوَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ.
مُحَمَّدٌ: هُوَ ابْنُ سِيرِينَ.
وَأَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ (2964)، وَالطَّبَرَانِيُّ
فِي الْأَوْسَطِ (3705) مِنْ طَرِيقِ عَلِيِّ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ خَالِدِ الْحَذَّاءِ،
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، بِهِ. قُلْنَا: وَعَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ ضَعِيفٌ
“Shahih li
ghairih, dan sanad ini hasan karena Abu Ubaidah bin Hudzaifah; telah
meriwayatkan darinya sejumlah perawi dan ia dinyatakan tsiqah oleh Al-‘Ijli dan
Ibnu Hibban. Adapun perawi lainnya adalah para perawi tingkat Syaikhain.
Muhammad adalah Ibnu Sirin.
Dan diriwayatkan
juga oleh Al-Bazzar (2964) dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (3705) dari jalur
Ali bin Ashim, dari Khalid Al-Haddza’, dari Muhammad bin Sirin dengan sanad
ini.
Kami
katakan: Ali bin Ashim adalah perawi yang lemah”. [SELESAI]
===
DALIL KE LIMA : HADITS ABU JUHAIFAH
Dari Abu
Juhifah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ
شَيْءٌ»
“Barang
siapa memulai suatu sunnah yang baik kemudian diamalkan setelahnya, maka ia
mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah
yang buruk lalu diamalkan setelahnya, maka ia menanggung dosanya dan dosa
orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”
Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 1/142 nomor 206.
Hadis ini
juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam *al-Bahr az-Zakhkhor* 10/145 nomor 4208,
ia berkata:
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma‘mar, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami al-Fadhl bin Dukain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu
Israil, dari al-Hakam, dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
دَهَمَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ مِنْ
قَيْسٍ مُجْتَابِي النِّمَارِ مُتَقَلِّدِينَ السُّيُوفَ فَسَاءَهُ مَا رَأَى مِنْ
هَيْئَتِهِمْ فَصَلَّى، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَجَلَسَ فِي
مَجْلِسِهِ فَأَمَرَ بِالصَّدَقَةِ، أَوْ حَضَّ عَلَيْهَا فَقَالَ:
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ تَصَدَّقَ
رَجُلٌ مِنْ دِرْهَمِهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ
صَاعِ تَمْرِهِ
فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ
مِنْ ذَهَبٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِهِ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَى كَوْمَيْنِ
مِنْ ثِيَابٍ وَطَعَامٍ فَرَأَيْتُ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ
مُذْهَبَةٌ، ثُمَّ قَالَ عِنْدَ ذَلِكَ:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً عُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ
عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ
شَيْئًا.
Sejumlah
orang dari (kabilah) Qais datang kepada Rasulullah ﷺ dengan memakai pakaian wool
yang berlubang-lubang dan membawa pedang. Maka buruklah apa yang beliau lihat
dari keadaan mereka. Lalu beliau salat, kemudian masuk ke rumahnya. Setelah itu
beliau keluar, salat, dan duduk di majelisnya. Lalu beliau memerintahkan
sedekah atau menganjurkannya. Maka seorang laki-laki bersedekah dengan satu
dinar, seorang dengan satu dirham, seorang dengan satu sha’ gandum, dan seorang
dengan satu sha’ kurma.
Kemudian
datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar dengan membawa sebungkus emas dan
meletakkannya di tangan beliau. Lalu orang-orang pun terus mengikuti hingga
terkumpul dua tumpukan pakaian dan makanan. Maka aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri seakan-akan seperti emas yang mengkilap.
Lalu beliau ﷺ bersabda saat itu:
“Barang
siapa memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan setelahnya, maka ia
mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk,
lalu diamalkan setelahnya, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang
mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Abu Bakr
berkata:
"وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا نعلمُهُ
يُرْوَى عَن أَبِي جُحَيْفَةَ إلَاّ بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَأبُو إِسْرَائِيلَ لَيِّنُ
الْحَدِيثِ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ سُفيان الثَّوْرِيّ وَجَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ واحتملوا
حديثه".
Hadis ini
tidak kami ketahui diriwayatkan dari Abu Juhaifah kecuali melalui sanad ini.
Dan Abu Israil adalah perawi yang lemah hadisnya, namun Sufyan ats-Tsauri dan
banyak perawi lainnya telah meriwayatkan darinya dan mereka menoleransi
hadisnya.
Syuaib
al-Arna’uth berkata dalam *Takhrij Sunan Ibn Majah* 1/142:
صَحِيحٌ بِمَا قَبْلَهُ مِنَ الْأَحَادِيثِ،
وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي إِسْرَائِيلَ: وَاسْمُهُ إِسْمَاعِيلُ
بْنُ خَلِيفَةَ. أَبُو نُعَيْمٍ: هُوَ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، وَالْحَكَمُ: هُوَ
ابْنُ عُتَيْبَةَ، وَأَبُو جُحَيْفَةَ: هُوَ وَهْبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السُّوَائِيُّ.
وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي
"الْأَوْسَطِ" (٤٣٨٦) مِنْ طَرِيقِ غَسَّانَ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ أَبِي
إِسْرَائِيلَ، بِهٰذَا الْإِسْنَادِ وَذَكَرَ فِيهِ قِصَّةً. وَغَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ
وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَضَعَّفَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ كَمَا فِي "لِسَانِ الْمِيزَانِ".
“Hadis ini
sahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, dan sanad ini hasan karena Abu
Israil—namanya Ismail bin Khalifah. Abu Nu’aim adalah al-Fadhl bin Dukain,
sedangkan al-Hakam adalah Ibn ‘Utaybah, dan Abu Juhaifah adalah Wahb bin
Abdullah as-Suwa’i.
Hadis ini
juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam *al-Mu‘jam al-Awsath* (4386) melalui
jalur Ghassan bin ar-Rabi’, dari Abu Israil dengan sanad ini dan ia menyebutkan
kisahnya. Ghassan bin ar-Rabi’ dinyatakan tsiqah oleh Ibn Hibban tetapi dinilai
lemah oleh ad-Daraquthni sebagaimana dalam *Lisan al-Mizan*”. [Selesai]
Disebutkan pula
oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir. Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir
oleh Al-Albani 2/1081 nomor 6306.
Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan juga dinyatakan shahih dalam Shahih At-Targhib 1/48.
===
DALIL KE ENAM :
Nabi ﷺ sendiri telah menyebut adanya "Bid‘ah Hasanah" (inovasi yang
baik) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:
«الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ،
وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ مِمَّا
عَفَا عَنْهُ»
“Yang halal
adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, yang haram adalah apa
yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah diamkan maka itu
termasuk yang Dia maafkan bagi kalian.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1726), Ibnu Majah (3430), dan dinyatakan sahih
oleh Al-Albani dalam *Shahih Al-Jami‘* (3195), meskipun beliau dikenal sangat
ketat dalam penilaian hadits .
Mereka
mengatakan :
قَوْلُهُ : «وَمَا سَكَتَ عَنْهُ
فَهُوَ مِمَّا عَفَا لَكُمْ» سَيْفٌ صَارِمٌ فِي يَدِ الْجُمْهُورِ عَلَى كُلِّ قَائِلٍ
أَنَّ الْكُلِّيَّةَ عَامَّةٌ شَامِلَةٌ.
Sabda beliau
ﷺ : ‘Dan apa yang Allah diamkan maka itu termasuk yang Dia
maafkan bagi kalian’, adalah pedang yang tajam di tangan jumhur ulama untuk
menentang setiap orang yang mengatakan bahwa kaidah tersebut bersifat umum dan
mencakup segala hal.
===
DALIL KE TUJUH :
Demikian
pula hadits dari Abu Tsa‘labah Al-Khusyani radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إنّ اللَّهَ حدَّ حُدُوداً فَلَا تَعْتَدُوها
وفَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعوها وحَرَّمَ أشْياءَ فَلَا تَنْتَهكوها وتَرَكَ أشْياءَ
منْ غَيْرِ نِسْيانٍ منْ رَبِّكمْ وَلكِنْ رَحْمَةً منْهُ لكمْ فاقْبلوها وَلَا
تَبْحَثُوا عَنْها».
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan
batas-batas, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah mewajibkan
kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian menelantarkannya. Dan Dia telah
mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia
telah meninggalkan beberapa hal tanpa lupa dari Tuhan kalian, tetapi sebagai
rahmat dari-Nya untuk kalian. Maka terimalah (pembiaran itu) dan janganlah
kalian mencari-cari (tentang hal-hal itu).”
Dalam lafaz
lain disebutkan:
«إِنَّ اللَّهَ حَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا،
وَفَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَرَّمَ مَحَارِمَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا،
وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلَا تَسْأَلُوا عَنْهَا»
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan
batas-batas, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah mewajibkan
kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian menelantarkannya. Dan Dia telah
mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia
telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa,
maka janganlah kalian menanyakannya.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Hakim (4/129, no. 7114), Ath-Thabrani dalam *Al-Mu‘jam
Al-Kabir* (22, no. 589), Ad-Daraquthni dalam *Sunan*-nya (4/183–184), Abu
Nu‘aim dalam *Hilyatul Auliya’* (9/17), Al-Khathib dalam *Al-Faqih
wal-Mutafaqqih* (2/9), Ibnu ‘Abdil Barr dalam *Jami‘ Bayanil ‘Ilm* (no. 2012),
dan Al-Baihaqi dalam *As-Sunan Al-Kubra* (10/12–13), dari berbagai jalur melalui
Dawud bin Abi Hind dari Mak-hul dari Abu Tsa‘labah.
Hadits ini
dinilai hasan oleh Abu Bakar As-Sam‘ani sebagaimana dalam *Jami‘ Al-‘Ulum
wal-Hikam* (hal. 276), dan oleh An-Nawawi dalam *Al-Arba‘in* (no. 30) dan karya
lainnya. Hadits ini juga dinilai hasan oleh Syu‘aib Al-Arna’uth sebagaimana
dalam catatan kaki *Al-‘Awashim wal-Qawashim* (1/453–454, 2/143–144, dan
5/332).
Al-Hakim
mensahihkannya sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi dalam *Ad-Durr
Al-Mantsur* (3/208).
Demikian
pula dinilai shahih oleh Ibnu Qayyim dalam *I‘lam Al-Muwaqqi‘in* (1/249), Ibnu
Katsir dalam *Tafsir*-nya (1/621), Al-Bushairi, dan Al-Haitami dalam
*Az-Zawajir* (1/21).
Al-Albani
juga menilainya shahih dalam *Takhrij Al-Iman* (hal. 43), tetapi kemudian
menilainya dho’if dalam *Dha‘if Al-Jami‘ Ash-Shaghir* (no. 1597).
Hadits
ini memiliki beberapa penguat (syawahid):
Di antaranya
hadits dari Abu Darda’ dengan lafaz:
" مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ،
فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ عَفْوٌ،
فَاقْبَلُوا مِنَ اللَّهِ عَافِيَتَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا،
ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ ﴿وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا﴾ ".
“Apa yang
Allah halalkan dalam Kitab-Nya, maka itu halal. Dan apa yang Dia haramkan, maka
itu haram. Dan apa yang Dia diamkan, maka itu merupakan ampunan. Maka terimalah
keringanan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak akan lupa terhadap
sesuatu.”
Kemudian
beliau membaca ayat: *“Dan Tuhanmu tidaklah lupa.”* (QS. Maryam: 64)
Diriwayatkan
oleh Al-Hakim (2/375) dan beliau mensahihkannya, juga oleh Al-Baihaqi (1/12).
Al-Haitsami
berkata dalam *Majma‘ Az-Zawaid* (7/75) setelah menisbatkannya kepada
Al-Bazzar:
وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ
“Para
perawinya terpercaya.”
Dan di
antaranya hadits dari Salman Al-Farisi yang berkata:
"سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ السَّمْنِ
وَالْجُبْنِ وَالْفَرَاءِ، فَقَالَ: «الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ،
وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»"
“Rasulullah
ﷺ ditanya tentang lemak, keju, dan bulu binatang. Maka beliau
menjawab: ‘Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, dan apa
yang Dia diamkan, maka itu termasuk yang diampuni.’”
Namun
sanadnya lemah. Lihat *Majma‘ Az-Zawaid* (1/171–172).
Dan dalam
bab ini juga terdapat riwayat dari Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma.
===
DALIL KE DELAPAN :
Para sahabat
radhiyallahu 'anhum telah sepakat melakukan beberapa perbuatan yang tidak
dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, seperti memandikan
Rasulullah ﷺ dalam keadaan beliau masih mengenakan pakaiannya.
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad (6/267) dan Abu Dawud (2/60), haditsnya shahih.
PEMBAHASAN KE DELAPAN :
AMALAN BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU
UMAR
Amalan Bid’ah
yang dianggap sesat oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah
1] Amalan
yang tidak ada dalilnya, baik itu dalil khusus maupun dalil umum.
2] Tidak
termasuk dalam ranah perkara atau urusan agama Islam (لَيْسَ فِيْهِ أَمْرُنَا).
3] Terdapat larangan
syar’i dalam melakukannya.
4] Bertentangan
dengan dalil khusus. Seperti shalat di waktu terbit dan terbenam Matahari.
***
CONTOH BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU UMAR
Berikut ini
contoh-contoh bid’ah yang divonis sesat oleh Abdullah Bin Umar :
===
CONTOH KE 1 : ADZAN PERTAMA JUM’AT ADALAH BID’AH SESAT:
Riwayat
ke 1 :
Ibnu Rajab
dalam Fathul Bari 8/219 berkata :
“Diriwayatkan
oleh Waki‘ dalam kitabnya , dari Hisyam bin Al-Ghooz, ia berkata:
سَأَلْتُ نَافِعًا عَنِ الْأَذَانِ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ؟ فَقَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ،
وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً».
Aku bertanya
kepada Nafi‘ tentang adzan pada hari Jumat. Maka ia berkata: Ibnu Umar berkata:
Bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan, meskipun manusia memandangnya
baik.” [Selesai]
Ibnu Rajab
bukan satu-satunya yang menyebutkan riwayat ini, tetapi diikuti pula oleh Abu
Bakar al-Jashshosh dalam *Ahkam al-Qur’an* 3/594 (Cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah)
ia berkata:
فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ وَفَشَا
النَّاسُ وَكَثُرُوا زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ.
وَقَدْ رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ السَّلَفِ
إنْكَارَ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ قَبْلَ خُرُوجِ الْإِمَامِ. رَوَى وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا
هِشَامُ بْنُ الْغَازِ قَالَ سَأَلْت نَافِعًا عَنْ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
قَالَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهُ النَّاسُ
حَسَنًا».
"Ketika
masa Utsman dan manusia telah banyak serta meluas jumlah mereka, ia menambah
adzan yang ketiga." Kemudian ia berkata: "Telah diriwayatkan dari
sekelompok ulama salaf pengingkaran terhadap adzan pertama sebelum keluarnya
imam. Waki’ meriwayatkan, ia berkata: Hasyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada
kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang adzan pertama pada hari
Jumat, ia berkata: Ibnu Umar mengatakan:
“Itu
adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, meskipun manusia
memandangnya sebagai sesuatu yang baik." (Selesai).
Izzuddin
Aykal dalam artikelnya “Madā ṣiḥḥati al-atsar qoola Ibnu ʻUmar al-adzān al-awwal
yauma al-jumʻah
bidʻah?” berkata :
"فَهٰذِهِ زِيادَةٌ وَهِيَ مَقْبُولَةٌ فَابْنُ
رَجَبٍ يَنْقُلُ مِنْ كِتابِ وَكِيعٍ"
“Maka ini
adalah tambahan dan ia diterima, karena Ibnu Rajab menukil langsung dari kitab
Waki'”.
Riwayat
ke 2 :
Ibnu Abi
syaibah dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5437 meriwayatkan : Syababah meriwayatkan
kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada kami,
dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
«الْأَذَانُ الْأَوَّلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
بِدْعَةٌ»
“Adzan
pertama pada hari Jumat adalah bid’ah.”
Riwayat
ke 3 :
Dan Ibnu Abi
syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5441 meriwayatkan : Waki‘
meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada
kami, ia berkata:
سَأَلْتُ نَافِعًا، مَوْلَى ابْنِ عُمَرَ،
الْأَذَانُ الْأَوَّلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِدْعَةٌ؟ فَقَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ:
«بِدْعَةٌ»
Aku bertanya
kepada Nafi’, maula Ibnu Umar: “Apakah adzan pertama pada hari Jumat adalah
bid’ah?” Maka ia berkata: Ibnu Umar berkata: “Bid’ah.”
Riwayat
ke 4 :
Dan Ibnu Abi
syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5436 meriwayatkan : Husyaim
meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Seorang syekh dari Quraisy mengabarkan
kepada kami, dari Nafi’, ia berkata: Aku mendengarnya meriwayatkan : dari
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:
«الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الَّذِي يَكُونُ
عِنْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ، وَالَّذِي قَبْلَ ذَلِكَ مُحْدَثٌ»
“Adzan pada
hari Jumat adalah adzan yang dilakukan ketika imam keluar, sedangkan adzan
sebelum itu adalah sesuatu yang diada-adakan.”
Riwayat
ke 5 :
Ibnu Rajab
dalam Fathul Bari 8/219 berkata : “Diriwayatkan oleh Mush‘ab bin Sallam, dari
Hisyam bin Al-Ghooz, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata:
إِنَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا
قَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ بِلاَلٌ، فَإِذَا فَرَغَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ خُطْبَتِهِ
أَقَامَ الصَّلَاةَ، وَالْأَذَانُ الْأَوَّلُ بِدْعَةٌ.
Dahulu
Rasulullah ﷺ ketika duduk di atas mimbar, Bilal mengumandangkan azan. Ketika
Nabi ﷺ selesai dari khutbahnya, ia mengiqamahkan salat. Dan adzan
pertama adalah bid‘ah.
===
PARA ULAMA SALAF YANG MENGANGGAP BID'AH ADZAN PERTAMA
----
[1] AL-HASAN AL-BASHRI :
Ibnu Rajab
dalam Fathul Bari 8/219 berkata :
Ibnu Abi
syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5435 meriwayatkan: “Abu Bakr berkata:
Husyaim bin Basyir meriwayatkan kepada kami, dari Mansur, dari Al-Hasan, bahwa
ia berkata:
«النِّدَاءُ الْأَوَّلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الَّذِي
يَكُونُ عِنْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ، وَالَّذِي قَبْلَ ذَلِكَ مُحْدَثٌ»
Azan pertama
pada hari Jumat adalah adzan yang dilakukan ketika imam keluar, sedangkan adzan
yang dilakukan sebelum itu adalah sesuatu yang baru diada-adakan.”
----
[2] AL-IMAM AZ-ZUHRI :
Ibnu Abi
syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5438 meriwayatkan: “Husyaim
meriwayatkan kepada kami, dari Asy'ats, dari Az-Zuhri, ia berkata:
«أَوَّلُ مِنْ أَحْدَثَ الْأَذَانَ الْأَوَّلَ
عُثْمَانُ، لِيُؤْذَنَ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ»
“Orang yang
pertama kali mengada-adakan adzan pertama adalah Utsman, agar penduduk pasar
diberi tahu.”
----
[3] ABDURRAHMAN BIN ZAID BIN ASLAM
[4] SUFYAN ATS-TSAURY
[5] IMAM ASY-SYAFI’I :
Ibnu Rajab
dalam Fathul Bari 8/219-220 berkata :
"وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنُ زَيْدِ
بْنِ أَسْلَمَ: «لَمْ يَكُنْ فِي زَمَانِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا أَذَانَانِ: أَذَانٌ
حِينَ يَجْلِسُ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَأَذَانٌ حِينَ تُقَامُ الصَّلَاةُ». قَالَ: «وَهٰذَا
الْأَخِيرُ شَيْءٌ أَحْدَثَهُ النَّاسُ بَعْدُ». خَرَّجَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ.
وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: «لَا
يُؤَذَّنُ لِلْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ، وَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَامَ
الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَخَطَبَ، وَإِذَا نَزَلَ أَقَامَ الصَّلَاةَ»، قَالَ:
«وَالْأَذَانُ الَّذِي كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
أَذَانٌ وَإِقَامَةٌ، وَهٰذَا الْأَذَانُ الَّذِي زَادُوهُ مُحْدَثٌ».
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ – فِيمَا حَكَاهُ
ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ –: «أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يَكُونَ الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا قَعَدَ أَخَذَ
الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ، فَإِذَا فَرَغَ قَامَ فَخَطَبَ»، قَالَ: «وَكَانَ عَطَاءٌ
يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَ الْأَذَانَ الثَّانِيَ»، وَقَالَ: «إِنَّمَا
أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ».
Abdurrahman
bin Zaid bin Aslam berkata: Pada masa Nabi ﷺ tidak ada kecuali dua adzan:
satu adzan ketika beliau duduk di atas mimbar, dan satu adzan ketika sholat
ditegakkan. Ia berkata: Adzan yang terakhir ini adalah sesuatu yang
diada-adakan manusia setelah itu. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Sufyan
ats-Tsauri berkata: Tidak ada adzan untuk sholat Jumat sampai matahari
tergelincir. Apabila muazin mengumandangkan adzan, imam naik ke mimbar lalu
berkhutbah, dan ketika ia turun didirikan salat. Ia berkata: Adzan yang ada
pada masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar
hanyalah adzan dan iqamah, sedangkan adzan yang mereka tambahkan ini adalah hal
yang diada-adakan.
Asy-Syafi’i
— sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr — berkata: Yang aku sukai adalah
adzan pada hari Jumat dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar di hadapannya.
Ketika ia duduk, muazin mulai mengumandangkan adzan, dan ketika selesai, imam
berdiri lalu berkhutbah. Ia berkata: Atha’ mengingkari bahwa Utsman yang
mengada-adakan adzan kedua, dan ia berkata: Yang baru mengada-adakannya adalah
Mu’awiyah”. [Selesai]
===
CONTOH KE 2 : PASANG TENDA DIATAS KUBURAN ADALAH BID’AH SESAT.
Dan Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat ada sebuah *fusthath* di atas kubur Abdurrahman,
maka beliau berkata:
«انْزِعْهُ يَا غُلَامُ، فَإِنَّمَا يُظِلُّهُ
عَمَلُهُ»
“Cabutlah
itu, wahai anak muda! Sesungguhnya yang menaunginya hanyalah amalnya.”
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dalam shahih nya 2/92 secara mu‘allaq dengan sighat jazm dalam
*Kitab Al-Jana’iz* (bab ke-81 tentang pelepah di atas kubur).
Makna
*Fusthath*:
الفُسْطاطُ: هُوَ البَيْتُ مِنَ الشَّعَرِ،
وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى غَيْرِ الشَّعَرِ.
“*Fusthath*
adalah tenda yang terbuat dari kain atau bulu unta, dan terkadang digunakan
pula untuk sebutan tenda yang tidak terbuat dari bahan tersebut”.
Imam Bukhori
dalam shahihnya 2/95 menulis sebuah bab sbb :
بَابُ الجَرِيدِ عَلَى القَبْرِ.
وَأَوْصَى بُرَيْدَةُ
الأَسْلَمِيُّ: «أَنْ يُجْعَلَ فِي قَبْرِهِ جَرِيدَانِ»
وَرَأَى ابْنُ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فُسْطَاطًا عَلَى قَبْرِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ:
«انْزِعْهُ يَا غُلَامُ، فَإِنَّمَا يُظِلُّهُ عَمَلُهُ»
وَقَالَ خَارِجَةُ
بْنُ زَيْدٍ: «رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ شُبَّانٌ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، وَإِنَّ أَشَدَّنَا وَثْبَةً الَّذِي يَثِبُ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ
حَتَّى يُجَاوِزَهُ»
وَقَالَ عُثْمَانُ
بْنُ حَكِيمٍ: أَخَذَ بِيَدِي خَارِجَةُ فَأَجْلَسَنِي عَلَى قَبْرٍ، وَأَخْبَرَنِي
عَنْ عَمِّهِ يَزِيدَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: «إِنَّمَا كُرِهَ ذَلِكَ لِمَنْ أَحْدَثَ
عَلَيْهِ»
وَقَالَ نَافِعٌ:
«كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَجْلِسُ عَلَى القُبُورِ»
Buraidah Al-Aslami berwasiat: “Agar diletakkan dua
pelepah kurma dalam kuburnya.”
Dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma melihat ada tenda
di atas kubur Abdurrahman, lalu ia berkata: “Cabutlah itu, wahai anak muda,
karena yang menaunginya hanyalah amalnya.”
Kharijah bin Zaid berkata: “Aku pernah melihat
diriku bersama para pemuda pada masa Utsman radhiyallahu 'anhu, dan yang paling
kuat lompatan di antara kami adalah yang mampu melompati kubur Utsman bin
Mazh’un hingga melewatinya.”
Utsman bin Hakim berkata: “Kharijah memegang
tanganku lalu mendudukkanku di atas sebuah kubur, dan ia mengabarkan kepadaku
dari pamannya Yazid bin Tsabit, ia berkata: ‘Sesungguhnya hal itu hanya dibenci
bagi orang yang membuat sesuatu yang baru di atasnya.’”
Nafi’ berkata: “Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma
biasa duduk di atas kuburan.”
====
CONTOH KE 3 : ACA DZIKIR & SHOLAWAT SAAT BERSIN ADALAH BID’AH SESAT:
Al-Imam
ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath 6/29 no. 5698 meriwayatkan :
Muhammad bin
Abdullah al-Hadhramī berkata: Telah menceritakan kepada
kami Sahl bin Shalih al-Anthākī, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami al-Walīd bin Muslim, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Sa‘īd bin ‘Abd al-‘Azīz, dari Sulaimān bin Mūsā, dari Nāfi‘, ia berkata:
رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ، وَقَدْ عَطَسَ
رَجُلٌ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ،
فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: السَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَكِنْ
لَيْسَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ،
«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، أَنْ نَقُولَ
إِذَا عَطِسْنَا: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»
Aku melihat
Ibnu Umar, dan ada seorang lelaki di sampingnya yang bersin, lalu lelaki itu
berkata: “Alhamdulillāh wasalāmun ‘alā Rasūlillāh.”
Maka Ibnu
Umar berkata: “Aku juga mengatakan ‘Assalāmu ‘alā Rasūlillāh’, tetapi bukan seperti ini Rasulullah ﷺ memerintahkan kita. Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kita
bahwa apabila kita bersin, kita mengucapkan: *‘Alhamdulillāh ‘alā kulli hāl.’*”
Dan juga
diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2738), al-Hakim 4/295 no. 7691 Al-Harits dalam
*Al-Musnad* (807) dengan sedikit perbedaan.
Ath-Thabarani
berkata:
لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ سَعِيدِ
بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَّا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، تَفَرَّدَ بِهِ سُهَيْلُ
بْنُ صَالِحٍ"
“Tidak
ada yang meriwayatkan hadits ini dari Sa‘īd bin ‘Abd al-‘Azīz selain al-Walīd bin Muslim, dan yang menyendiri
meriwayatkannya adalah Suhail bin Shālih.”
At-Tirmidzi
berkata :
"لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ زِيَادِ
بْنِ الرَّبِيعِ"
“Kami
tidak mengetahui hadits ini kecuali melalui riwayat Ziyad bin Al-Rabi’.”
Abu
Hudzaifah Nabiil al-Kuwaity dalam Aniis as-Saari 1/414 berkata :
زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ ثِقَةٌ كَمَا
قَالَ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ، وَالْحَضْرَمِيُّ ذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ،
وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي الكَاشِفِ: صَدُوقٌ، وَقَالَ الحَافِظُ فِي التَّقْرِيبِ:
مَقْبُولٌ، أَيْ عِنْدَ المُتَابَعَةِ، وَإِلَّا فَلَيِّنُ الحَدِيثِ.
“Ziyad bin
Ar-Rabi’ dinilai tepercaya sebagaimana dikatakan oleh Ahmad dan ulama lainnya.
Sedangkan Al-Hadhrami disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab *Ats-Tsiqat*.
Adz-Dzahabi
dalam *Al-Kasyif* berkata bahwa ia seorang yang jujur.
Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam *At-Taqrib* menyatakan bahwa ia “maqbul”, yakni diterima
apabila ada penyerta (mutaba’ah), dan jika tidak disertai maka haditsnya
lemah”. [Lihat : Aniis as-Saari 1/414 karya Abu Hudzaifah al-Kuwaity]
Al-Harits
bin Abu Usamah dalam Musnadnya 2/797 no. 807 berkata :
قُلْتُ: لِابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ عِنْدَ
أَبِي دَاوُدَ غَيْرُ هَذَا
Aku berkata:
Ibnu Umar memiliki hadits lain dalam riwayat Abu Dawud yang berbeda dari ini.
Al-Hafidz
as-Sakhowi (wafat 902 H) dalam al-Qoul al-Badii’ hal. 226 berkata :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَإِسْنَادُهُ
ضَعِيفٌ، وَهُوَ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَقَالَ: غَرِيبٌ.
“Diriwayatkan
oleh ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, dan hadits itu juga terdapat dalam
riwayat at-Tirmidzi yang berkata bahwa hadits tersebut gharib”.
Berbeda
dengan al-Hakim (4/295), maka dia berkata :
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ
غَرِيبٌ فِي تَرْجَمَةِ شُيُوخِ نَافِعٍ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
“Ini adalah
hadits yang sanadnya sahih, namun gharib dalam biografi para guru Nafi', dan
kedua imam (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dan adz-Dzahabi
dalam at-Talkhish (4/295) menyetujuinya .
Namun
adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 9/665 berkata lain:
وَأَمَّا الْحَاكِمُ فَصَحَّحَهُ لِأَنَّهُ
وَقَعَ عِنْدَهُ: "الْحَضْرَمِيُّ بْنُ لَاحِقٍ" وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيثِ،
وَالْحَاكِمُ مِمَّنْ لَا يَرَى التَّفْرِقَةَ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ. وَرُوِيَ
عَنْ ابْنِ عُمَرَ خِلَافُ ذَلِكَ، وَفِي إِسْنَادِهِ لِينٌ
“Adapun
Al-Hakim, ia mensahihkannya karena dalam riwayat yang sampai kepadanya
tertulis: "al-Hadhrami bin Lahiq", dan ia adalah perawi yang
haditsnya hasan.
Al-Hakim
termasuk orang yang tidak membedakan antara hadits sahih dan hasan.
Dan telah
ada riwayat lain dari Ibnu Umar yang menyelisihi hadits ini, namun pada
sanadnya terdapat kelemahan”. [Selesai]
Namun
demikian Hadits ini tetap dihukumi shahih oleh al-Albani dalam Irwa al-Gholil
3/245.
Abu Abdillah
ad-Daani dalam al-Atsar ash-Shahihah 2/212 mengkritisi pentashihan al-Albani
dengan mengatakan:
قُلْتُ: الْحَضْرَمِيُّ بْنُ عَجْلَانَ،
مَجْهُولُ الْحَالِ، مَقْبُولٌ إِذَا تُوبِعَ، قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ
اللهُ فِي "التَّقْرِيبِ": "مَقْبُولٌ"، يَعْنِي إِذَا تُوبِعَ،
وَقَدْ تُوبِعَ هُنَا.
فَالْإِسْنَادُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ.
“Saya
berkata: Al-Hadhrami bin ‘Ajlan adalah seorang yang tidak diketahui keadaannya.
Ia diterima jika ada pendukung periwayatan lain. Al-Hafidz Ibnu Hajar
rahimahullah dalam kitab At-Taqrib berkata: “Diterima”, yaitu apabila ada
pendukungnya, dan dalam kasus ini memang terdapat pendukung.
Maka
sanadnya menjadi hasan lighoirihi (karena adanya mutaba’ah)”.
Lalu Abu
Abdillah ad-Daani berkata :
تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى عَنْ
نَافِعٍ بِهِ.
أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي
"الْمُعْجَمِ الْأَوْسَطِ" (6/ 29/ رَقْم: 5698 - الْحَرَمَيْنِ) أَوْ
(6/ 326/ رَقْم: 5694 - الطَّحَّانِ) مِنْ طَرِيقِ: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيِّ،
قَالَ: ثَنَا سُهَيْلُ بْنُ صَالِحٍ الْأَنْطَاكِيُّ، ثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ،
قَالَ: ثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، عَنْ
نَافِعٍ بِهِ.
وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. لَكِنَّهُ يَصْلُحُ
فِي الْمُتَابَعَاتِ. فَالْأَثَرُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
Ia didukung
dengan adanya mutaba’ah dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ dengan riwayat yang
sama.
Hadits
tersebut diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausat 6/29 no. 5698
(edisi Al-Haromain) atau 6/326 no 5694 (edisi Ath-Thohan), melalui jalur
Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, ia berkata:
Telah
meriwayatkan kepada kami Suhail bin Shalih Al-Antaki, telah meriwayatkan kepada
kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Sa‘id bin
Abdul Aziz dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ dengan riwayat tersebut.
Sanadnya
lemah. Namun dapat digunakan sebagai penguat dalam jalur lain. Karena hal itu,
maka riwayat ini berderajat hasan lighirihi ; karena adanya mutaba’ah. Wallahu
a’lam. [Selesai]
Sementara
Adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 9/665 berkata:
الحَضْرَمِيُّ مَوْلَى آلِ الجَارُودِ
لَمْ يُوَثِّقْهُ أَحَدٌ إِلَّا أَنَّ ابْنَ حِبَّانَ ذَكَرَهُ فِي ثِقَاتِهِ، وَلِذَا
قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي التَّقْرِيبِ: "مَقْبُولٌ" أَيْ عِنْدَ المُتَابَعَةِ،
وَقَدْ تُوبِعَ
Perawi yang
bernama Al-Hadhrami, maula keluarga Al-Jarud, tidak ada seorang pun yang
menilainya sebagai perawi tepercaya, kecuali Ibnu Hibban maka ia menyebutkannya
dalam kitab Ats-Tsiqat. Karena itu Ibnu Hajar dalam *At-Taqrib* mengatakan:
“Maqbul”, yaitu diterima bila ada penguat (mutaba‘ah), dan dalam kasus ini ia
memang memiliki penguat.
Ibnu Muflih
dalam al-Adab asy-Syar’iyyah 2/324 : “Sanadnya Jayyid”.
----
SEKILAS TENTANG BACA SHOLAWAT KETIKA BERSIN
Dan
Al-Hafidz as-Sakhowi (wafat 902 H) dalam al-Qoul al-Badii’ hal. 226-227 berkata
:
“Sebagian
ulama seperti Abu Musa al-Madini dan sejumlah lainnya berpendapat bahwa membaca
shalawat kepada Rasulullah ﷺ ketika bersin adalah
dianjurkan. Namun, kelompok ulama lain membantah pendapat tersebut dan
mengatakan bahwa membaca shalawat ketika bersin tidaklah dianjurkan. Menurut
mereka, saat bersin adalah tempat untuk memuji Allah saja, dan setiap keadaan
memiliki zikir khusus yang tidak bisa digantikan oleh zikir lainnya. Karena itu
pula, shalawat kepada Rasulullah ﷺ tidak disyariatkan saat
rukuk, sujud, dan keadaan-keadaan lain yang semisal.
Mereka
berdalil dengan sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dari
Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
«لَا تَذْكُرُونِي فِي ثَلَاثِ مَوَاطِنَ عِنْدَ
العُطَاسِ وَعِنْدَ الذَّبِيحَةِ وَعِنْدَ التَّعَجُّبِ»
“Janganlah
kalian menyebutku dalam tiga keadaan: saat bersin, saat menyembelih, dan saat
merasa takjub.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh ad-Dailami dalam *Musnad al-Firdaus* melalui jalur al-Hakim,
dan diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam *as-Sunan al-Kubra* dari al-Hakim tanpa
menyebutkan nama sahabat. Dalam sanadnya terdapat perawi yang dituduh sebagai
pembuat hadits palsu. Karena itu, hadits ini tidak sahih.
Dalam *Rabi‘
Fawa’id al-Mukhlis* terdapat riwayat melalui jalur Nahsyal, dari adh-Dhahhak,
dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma :
«مَوْطِنَانِ لَا يُذْكَرُ فِيهِمَا رَسُولُ اللهِ
ﷺ عِنْدَ العُطَاسِ وَالذَّبِيحَةِ»
“ Rasulullah
ﷺ tidak boleh disebutkan dalam dua keadaan: saat bersin dan saat
menyembelih”.
Namun,
riwayat ini juga tidak sahih.
Sejumlah
ulama telah menyebutkan beberapa keadaan yang dikhususkan untuk mengingat Allah
saja, seperti ketika makan, minum, berhubungan suami istri, bersin, dan
keadaan-keadaan lain yang tidak terdapat sunnah untuk membaca shalawat kepada
Rasulullah ﷺ.
Aku
(as-Sakhowi) berkata: “Demikian yang aku dapati, namun dalam sebagian
penjelasan terdapat beberapa hal yang perlu ditinjau kembali.”
Sahnun
memakruhkan membaca shalawat ketika merasa takjub. Ia berkata:
«لَا يُصَلِّي عَلَيْهِ إِلَّا عَلَى طَرِيقِ
الِاحْتِسَابِ وَطَلَبِ الثَّوَابِ» انْتَهَى.
“Tidak boleh
seseorang membaca shalawat kecuali dalam rangka mencari pahala dan mengharap
balasan.”
Al-Hulaimi
berkata:
"وَأَمَّا الْمُتَعَجِّبُ مِنَ الشَّيْءِ
إِذَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ ﷺ كَمَا يَقُولُ «سُبْحَانَ اللَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ» أَيْ لَا يَأْتِي بِالنَّادِرِ وَغَيْرِهِ إِلَّا اللَّهُ، فَلَا كَرَاهَةَ
فِيهِ، وَإِنْ صَلَّى عَلَيْهِ عِندَ الْأَمْرِ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ أَوْ يُضْحَكُ
مِنْهُ فَأَخْشَى عَلَى صَاحِبِهِ، فَإِنْ عُرِفَ أَنَّهُ جَعَلَهَا عَجَبًا وَلَمْ
يَجْتَنِبْهُ كَفَرَ".
“Apabila
seseorang merasa takjub terhadap sesuatu lalu ia membaca shalawat kepada Nabi ﷺ sebagaimana dia mengucapkan ‘subhanallah’ atau ‘la ilaha
illallah’, yaitu dalam makna bahwa hal-hal yang menakjubkan tidak terjadi
kecuali dengan kehendak Allah, maka hal itu tidak makruh. Namun, apabila ia
membaca shalawat ketika terjadi sesuatu yang dianggap menjijikkan atau
membangkitkan tawa, aku khawatir terhadap pelakunya. Jika diketahui bahwa ia
menjadikannya sebagai bentuk ejekan dan tidak menghindarinya, maka ia dapat
menjadi kufur.”
Aku
(as-Sakhowi) berkata: “Dalam pernyataan terakhir ini terdapat hal yang perlu
ditinjau kembali, dan hal itu jelas bagi orang yang memahami.” Demikian kata
al-Qunawi. [KUTIPAN SELESAI]
Al-Muqraizy
dalam Imta’ al-Asmaa’ 11/143-144 berkata :
Abu Musa
al-Madini berkata: Diriwayatkan pula dari Nafi‘ dari Ibnu Umar dengan redaksi
berbeda. Kemudian ia menyebutkan hadits dari Abdullah bin Ahmad, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Ziyad al-Asadi, telah menceritakan
kepada kami Zuhair dari Ishaq dari Nafi‘, ia berkata:
عَطَسَ رَجُلٌ عِندَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ
اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: «لَقَدْ بَخِلْتَ هَلَّا
حَيْثُ عَطَسْتَ حَمِدْتَ اللهَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ؟»
Ada seorang
lelaki bersin di hadapan Ibnu Umar radhiyallahu tabaraka wa ta‘ala ‘anhu, lalu
Ibnu Umar berkata kepadanya: “Sungguh engkau telah bakhil. Mengapa ketika
engkau bersin tidak memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ?”
Maka
sekelompok ulama, di antaranya Abu Musa al-Madini dan yang lainnya, berpendapat
disyariatkannya hal itu.
Namun
kelompok lain tidak sependapat dengan mereka. Mereka berkata: Tidak dianjurkan
membaca shalawat kepada Nabi ﷺ ketika bersin. Tempatnya
adalah hanya memuji Allah semata, dan Nabi ﷺ tidak mensyariatkan membaca
hamdalah dan shalawat ketika bersin, meskipun shalawat termasuk amalan paling
utama. Setiap dzikir memiliki tempat khusus yang tidak bisa digantikan oleh
selainnya. Karena itu, shalawat tidak disyariatkan dalam rukuk, sujud, dan saat
bangun dari rukuk, tetapi disyariatkan dalam tasyahud akhir, baik dengan hukum
wajib ataupun sunnah.
Diriwayatkan
bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«لَا تَذْكُرُونِي عِندَ ثَلَاثٍ عِندَ تَسْمِيَةِ
الطَّعَامِ وَعِندَ الذَّبْحِ وَعِندَ الْعُطَاسِ».
“Janganlah
kalian menyebutku dalam tiga keadaan: ketika menamai makanan, ketika menyembelih,
dan ketika bersin.”
Hadits ini
ditolak karena tidak sahih, sebab ia berasal dari riwayat Sulaiman bin Isa
as-Sinjari dari Abdurrahman bin Zaid al-‘Amma dari ayahnya dari Nabi ﷺ, lalu ia menyebutkannya. Hadits ini memiliki tiga cacat:
Pertama:
Sulaiman bin Isa sendirian meriwayatkannya. [Imam al-Baihaqi berkata: Ia
termasuk golongan yang memalsukan hadits].
Kedua:
Lemahnya Abdurrahman al-‘Ammi. [Ia adalah Abdurrahman bin Abdi al-Wahhab
al-‘Ammi al-Bashri al-Kufi. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam ats-Tsiqat dan
berkata bahwa haditsnya lurus].
Ketiga:
Hadits ini terputus sanadnya. [KUTIPAN SELESAI]
Ada
riwayat lain dari Hilal bin Yasaaf, bahwa ia berkata:
كُنَّا مَعَ سالِمِ بْنِ عُبَيْدٍ فَعَطَسَ
رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ، فَقَالَ: "السَّلامُ عَلَيْكُمْ"، فَقَالَ سالِمٌ:
"وَعَلَيْكَ وَعَلَى أُمِّكَ"، ثُمَّ قالَ بَعْدُ: "لَعَلَّكَ وَجَدْتَ
مِمَّا قُلْتُ لَكَ؟".
قالَ: "لَوَدِدْتُ أَنَّكَ لَمْ
تَذْكُرْ أُمِّي بِخَيْرٍ وَلَا بِشَرٍّ".
قالَ: إِنَّمَا قُلْتُ لَكَ كَمَا قالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِنَّا بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ
مِنَ القَوْمِ فَقالَ: "السَّلامُ عَلَيْكُمْ".
فَقالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «وَعَلَيْكَ
وَعَلَى أُمِّكَ»، ثُمَّ قالَ: «إِذا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَحْمَدِ اللهَ».
قالَ: فَذَكَرَ بَعْضَ المَحامِدِ، «وَلْيَقُلْ
لَهُ مَنْ عِنْدَهُ يَرْحَمُكَ اللهُ، وَلْيَرُدَّ – يَعْنِي عَلَيْهِمْ – يَغْفِرُ
اللهُ لَنا وَلَكُمْ».
Kami bersama
Salim bin Ubaid, lalu ada seorang laki-laki dari suatu kaum yang bersin,
kemudian ia berkata: “Assalamu’alaikum.” Maka Salim menjawab: “Wa ‘alaika wa
‘alā ummika.”
Setelah itu
Salim berkata lagi: “Barangkali engkau tersinggung dengan ucapanku tadi?”
Orang itu
menjawab: “Aku berharap engkau tidak menyebut ibuku, baik dengan kebaikan
maupun keburukan.”
Salim
berkata: “Sesungguhnya aku hanya mengatakan kepadamu sebagaimana yang dikatakan
Rasulullah ﷺ. Ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum yang bersin lalu
berkata: ‘Assalamu’alaikum.’
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wa ‘alaika wa ‘alā ummika.’
Kemudian
beliau ﷺ bersabda: ‘Apabila salah seorang di antara kalian bersin,
hendaklah ia memuji Allah (mengucapkan al-hamdulillah).’”
Hilal
berkata: (Orang yang bersin itu) hendaknya menyebutkan beberapa bentuk pujian.
Dan beliau ﷺ bersabda “Dan hendaklah orang yang ada di sekitarnya
mengucapkan: ‘Yarhamukallah,’ dan hendaklah ia membalas (kepada mereka):
‘Yaghfirullahu lanā wa lakum.’”
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud (5031), At-Tirmidzi (27040), dan An-Nasa’i dalam *‘Amalul-Yaum
wal-Lailah* (225), semuanya melalui jalur Mansur, dari Hilal bin Yasaaf.
At-Tirmidzi
berkata:
"هٰذا حَديثٌ اخْتُلِفُوا في رِوايَتِهِ
عَنْ مَنْصُورٍ، وَقَدْ أَدْخَلُوا بَيْنَ هِلَالِ بْنِ يَسافٍ وَسالِمٍ رَجُلًا"
اهـ.
“Hadits ini
diperselisihkan dalam periwayatannya dari Mansur, dan mereka menyusupkan seorang
perawi antara Hilal bin Yasaaf dan Salim.” (Selesai).
An-Nasa’i,
Al-Hakim, dan selain keduanya memastikan bahwa hal itu merupakan kekeliruan.
Al-Hakim menegaskan bahwa Hilal bin Yasaf tidak pernah menemui Salim bin Ubaid.
Dalam
riwayat lain dari hadits ini disebutkan bahwa di antara Hilal dan Salim
terdapat satu orang. Dan dalam sebagian riwayat terdapat dua orang, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ahmad (23853) dan An-Nasa’i dalam *‘Amalul-Yaum wal-Lailah*
(229), keduanya melalui jalur Yahya bin Sa‘id, dari Sufyan, dari Mansur, dari
Hilal bin Yasaf, dari seorang laki-laki, dari laki-laki lain yang berkata: “Kami
bersama Salim…” lalu disebutkan riwayat yang semisal.
An-Nasa’i
berkata:
"هٰذا الصَّوابُ عِنْدَنا، وَالأَوَّلُ خَطَأٌ"
“Inilah yang
benar menurut kami, sedangkan riwayat yang pertama adalah keliru.” Wallahu
a‘lam.
===***===
PEMBAHASAN KE SEMBILAN :
APAKAH BID’AH TERBATAS PADA IBADAH SAJA?
Bid’ah dalam
bahasa berarti:
"مِنْ بَدَعَ الشَّيْءَ يَبْدَعُهُ بَدْعًا،
وَابْتَدَعَهُ: إِذَا أَنْشَأَهُ وَبَدَأَهُ، وَالْبِدْعُ: الشَّيْءُ الَّذِي يَكُونُ
أَوَّلًا، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ﴾
[الأحقاف: 9]، أَيْ لَسْتُ بِأَوَّلِ رَسُولٍ بُعِثَ إِلَى النَّاسِ، بَلْ قَدْ جَاءَتِ
الرُّسُلُ مِنْ قَبْلِ، فَمَا أَنَا بِالْأَمْرِ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ حَتَّى تَسْتَنْكِرُونِي".
membuat sesuatu
yang baru, yaitu menciptakan atau memulai sesuatu. Kata al-bid‘u berarti
sesuatu yang pertama kali ada. Firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Aku bukanlah
rasul yang pertama di antara para rasul” (Al-Ahqaf: 9), maksudnya: aku bukanlah
rasul pertama yang diutus kepada manusia, karena telah datang rasul-rasul
sebelumnya; jadi aku bukanlah perkara yang tidak memiliki contoh sebelumnya
sehingga kalian mengingkariku.
Dalam Lisan
al-‘Arab dijelaskan:
"الْمُبْتَدِعُ الَّذِي يَأْتِي
أَمْرًا عَلَى شَبَهٍ لَمْ يَكُنْ، بَلِ ابْتَدَأَهُ هُوَ، وَأَبْدَعَ وَابْتَدَعَ
وَتَبَدَّعَ: أَتَى بِبِدْعَةٍ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا
مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ﴾ [الحديد: 27]، وَبَدَّعَهُ:
نَسَبَهُ إِلَى الْبِدْعَةِ، وَالْبَدِيعُ: الْمُحْدَثُ الْعَجِيبُ، وَأَبْدَعْتُ الشَّيْءَ:
اخْتَرَعْتُهُ لَا عَلَى مِثَالٍ، وَالْبَدِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْنَاهُ:
الْمُبْدِعُ؛ لِإِبْدَاعِهِ الْأَشْيَاءَ وَإِحْدَاثِهِ إِيَّاهَا".
orang yang
mubtadi‘ (berbuat bid’ah) adalah orang yang melakukan sesuatu yang tidak
memiliki contoh sebelumnya, melainkan ia sendiri yang memulainya. Kata abda‘a,
ibtada‘a, dan tabadda‘a berarti melakukan sesuatu yang baru (bid’ah). Seperti
dalam firman Allah Ta‘ala:
“Dan
mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kependetaan) padahal Kami tidak
mewajibkannya kepada mereka kecuali karena mencari keridaan Allah” (Al-Hadid: 27).
Kata “بَدَّعَهُ” berarti menisbatkannya kepada bid’ah, dan al-badi‘ berarti
sesuatu yang baru dan menakjubkan. “أَبْدَعْتُ
الشَّيْءَ”
berarti aku menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya.
Al-Badi‘
adalah salah satu nama Allah Ta‘ala, yang berarti Sang Pencipta yang mengadakan
segala sesuatu tanpa contoh sebelumnya. (Lihat : Lisan al-‘Arab 8/6, kata “بَدَعَ”, Dar Shodir).
Adapun
bid’ah dalam istilah syar‘i adalah:
«إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ
اللهِ -ﷺ-، وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى حَسَنَةٍ وَقَبِيحَةٍ».
“Mengadakan
sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah ﷺ.” Bid’ah terbagi menjadi
dua: bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (qabihah). (Lihat :
Tahdzib al-Asma’ wal-Lughat karya An-Nawawi 1/22, cet. Al-Muniriyyah).
Syaikh
‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam berkata:
«الْبِدْعَةُ: فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ
رَسُولِ اللهِ ﷺ».
“Bid’ah
adalah melakukan sesuatu yang tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ.” (Qawa‘id al-Ahkam 2/172, cet. Al-Istiqaamah).
Dengan
definisi ini, maka kebiasaan (adat) dan muamalah juga termasuk dalam kategori
bid’ah.
Syaikh
‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam (wafat 660 H) membagi bid’ah menjadi lima jenis
agar mencakup seluruh aspek kehidupan—baik adat, muamalah, ibadah, maupun
hal-hal mubah lainnya—yaitu:
وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى وَاجِبَةٍ،
وَمُحَرَّمَةٍ، وَمَنْدُوبَةٍ، وَمَكْرُوهَةٍ، وَمُبَاحَةٍ، وَالطَّرِيقُ فِي مَعْرِفَةِ
ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ: فَإِنْ دَخَلَتْ فِي
قَوَاعِدِ الْإِيجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيمِ
فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَنْدُوبِ فَهِيَ مَنْدُوبَةٌ،
وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَكْرُوهِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي
قَوَاعِدِ الْمُبَاحِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ.
وَلِلْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ أَمْثِلَةٌ،
أَحَدُهَا: الِاشْتِغَالُ بِعِلْمِ النَّحْوِ الَّذِي يُفْهَمُ بِهِ كَلَامُ اللهِ
وَكَلَامُ رَسُولِهِ -ﷺ-، وَذَلِكَ وَاجِبٌ؛ لِأَنَّ حِفْظَ الشَّرِيعَةِ وَاجِبٌ،
وَلَا يَتَأَتَّى حِفْظُهَا إِلَّا بِمَعْرِفَةِ ذَلِكَ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ
إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.
وَلِلْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ أَمْثِلَةٌ،
مِنْهَا: مَذْهَبُ الْقَدَرِيَّةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْجَبْرِيَّةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ
الْمُرْجِئَةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْمُجَسِّمَةِ، وَالرَّدُّ عَلَى هَؤُلَاءِ مِنَ
الْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ.
وَلِلْبِدَعِ الْمَنْدُوبَةِ أَمْثِلَةٌ،
مِنْهَا: إِحْدَاثُ الرُّبُطِ وَالْمَدَارِسِ، وَبِنَاءُ الْقَنَاطِرِ، وَمِنْهَا كُلُّ
إِحْسَانٍ لَمْ يُعْهَدْ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، وَمِنْهَا: صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ،
وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي دَقَائِقِ التَّصَوُّفِ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي الْجَدَلِ
فِي جَمْعِ الْمَحَافِلِ لِلِاسْتِدْلَالِ عَلَى الْمَسَائِلِ إِذَا قُصِدَ بِذَلِكَ
وَجْهُ اللهِ سُبْحَانَهُ.
وَلِلْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ أَمْثِلَةٌ،
مِنْهَا: زَخْرَفَةُ الْمَسَاجِدِ، وَمِنْهَا تَزْوِيقُ الْمَصَاحِفِ، وَأَمَّا تَلْحِينُ
الْقُرْآنِ بِحَيْثُ تَتَغَيَّرُ أَلْفَاظُهُ عَنِ الْوَضْعِ الْعَرَبِيِّ فَالْأَصَحُّ
أَنَّهُ مِنَ الْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ.
وَلِلْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ أَمْثِلَةٌ،
مِنْهَا: الْمُصَافَحَةُ عَقِيبَ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ، وَمِنْهَا التَّوَسُّعُ فِي
اللَّذِيذِ مِنَ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَاللِّبَاسِ وَالْمَسَاكِنِ، وَلُبْسُ
الطَّيَالِسَةِ، وَتَوْسِيعُ الْأَكْمَامِ.
وَقَدْ يَخْتَلِفُ فِي بَعْضِ ذَلِكَ،
فَيَجْعَلُهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ، وَيَجْعَلُهُ آخَرُونَ
مِنَ السُّنَنِ الْمَفْعُولَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ -ﷺ- فَمَا بَعْدَهُ، وَذَلِكَ
كَالِاسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ وَالْبَسْمَلَةِ.
Bid’ah
terbagi menjadi lima macam: wajib, haram, sunnah (mandub), makruh, dan mubah.
Cara mengetahui masing-masingnya adalah dengan menimbang bid’ah tersebut
berdasarkan kaidah-kaidah syariat:
Jika
termasuk dalam kaidah kewajiban, maka bid’ah itu wajib; jika termasuk dalam
kaidah keharaman, maka bid’ah itu haram; jika termasuk dalam kaidah kesunnahan,
maka bid’ah itu sunnah; jika termasuk dalam kaidah kemakruhan, maka bid’ah itu
makruh; dan jika termasuk dalam kaidah kemubahan, maka bid’ah itu mubah.
Adapun
contoh bid’ah yang wajib, di antaranya : adalah mempelajari ilmu nahwu (tata bahasa
Arab) yang dengannya dapat dipahami kalam Allah dan kalam Rasulullah ﷺ. Hal itu wajib karena menjaga kemurnian syariat adalah
kewajiban, dan tidak mungkin menjaga syariat kecuali dengan memahami ilmu
tersebut. Maka sesuatu yang menjadi sarana untuk menunaikan kewajiban juga
dihukumi wajib.
Contoh
bid’ah yang haram antara lain adalah: madzhab Qadariyah, madzhab Jabariyah, madzhab Murji’ah, dan madzhab
Mujassimah. Adapun membantah dan menolak pandangan mereka termasuk dalam bid’ah
yang wajib.
Contoh
bid’ah yang disunnahkan (mandub), di antaranya: mendirikan ribath (tempat tinggal bagi
pejuang dan ahli ibadah), membangun madrasah, membangun jembatan, serta setiap
bentuk kebaikan yang belum dikenal pada masa generasi pertama Islam. Termasuk
di dalamnya shalat tarawih, pembahasan tentang rincian ilmu tasawuf, dan
diskusi keilmuan di berbagai majelis untuk mencari dalil dalam masalah-masalah
agama jika yang dimaksudkan adalah mencari keridaan Allah SWT.
Contoh
bid’ah yang makruh antara lain: menghias masjid dengan berlebihan dan menghias mushaf. Adapun
melagukan bacaan Al-Qur’an hingga mengubah lafaznya dari bentuk bahasa Arab
yang benar, maka yang paling tepat hal itu termasuk bid’ah yang haram.
Contoh
bid’ah yang mubah di antaranya: berjabat tangan setelah shalat Subuh dan Ashar, menikmati makanan,
minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang lezat dan nyaman, memakai jubah (ṭayālisah), serta memperlebar lengan baju.
Dalam
beberapa hal ada perbedaan pendapat di antara para ulama; sebagian
menganggapnya sebagai bid’ah yang makruh, sementara yang lain memandangnya
sebagai sunnah yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah ﷺ dan sesudahnya, seperti bacaan isti‘ādzah dalam
shalat dan membaca basmalah.
(Lihat:
Qawa‘id al-Ahkam karya ‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam, 4/202–205, cet. ‘Alam
al-Kutub. Disebut pula oleh Al-Qarafi dalam Al-Furuq, perbedaan ke-252).
KESIMPULAN
BID’AH MENURUT IIZUDDIN BIN ABDUS SALAM :
Yaitu sbb :
Bid’ah terbagi 5 :
1. Bid’ah
wajib,
2. Bid’ah
haram,
3. Bid’ah
sunnah (mandubah),
4. Bid’ah
makruh, dan
5. Bid’ah
mubah.
Cara untuk
mengetahui jenisnya adalah dengan mengukur bid’ah tersebut terhadap
kaidah-kaidah syariat:
* Jika
termasuk dalam kaidah yang mewajibkan, maka ia wajib.
* Jika
termasuk dalam kaidah yang mengharamkan, maka ia haram.
* Jika
termasuk dalam kaidah yang menganjurkan, maka ia sunnah (mandubah).
* Jika
termasuk dalam kaidah yang memakruhkan, maka ia makruh.
* Jika
termasuk dalam kaidah yang membolehkan, maka ia mubah.
Contoh
bid’ah wajib: mempelajari
ilmu nahwu agar dapat memahami kalam Allah dan Rasulullah ﷺ. Hal itu wajib, karena menjaga syariat adalah kewajiban, dan
tidak mungkin terjaga kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi
sarana bagi kewajiban, hukumnya juga wajib.
Contoh
bid’ah haram: ajaran
kaum Qadariyyah, Jabariyyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Sedangkan membantah
kelompok-kelompok tersebut termasuk bid’ah wajib.
Contoh
bid’ah sunnah (mandubah): mendirikan ribath (tempat berjaga di perbatasan Islam), membangun
madrasah, membangun jembatan, dan setiap bentuk kebaikan yang belum dikenal di
masa awal Islam, seperti shalat tarawih berjamaah, pembahasan mendalam tentang
tasawuf, dan diskusi ilmiah dalam majelis untuk mencari kebenaran selama
diniatkan karena Allah.
Contoh
bid’ah makruh:
menghiasi masjid secara berlebihan, menghias mushaf dengan ornamen berlebihan.
Sedangkan melagukan bacaan Al-Qur’an hingga mengubah lafal Arabnya yang asli
adalah bid’ah haram menurut pendapat yang lebih kuat.
Contoh
bid’ah mubah:
bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, menikmati makanan, minuman, pakaian,
dan rumah yang lezat dan mewah, memakai jubah panjang, atau memperlebar lengan
baju.
Sebagian
hal ini diperselisihkan para ulama: sebagian menganggapnya sebagai bid’ah makruh, sementara yang lain
memandangnya sebagai sunnah yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah ﷺ atau sesudahnya, seperti membaca isti‘adzah dalam shalat atau
membaca basmalah.
Ibnu Abidin
dalam kitab Hasyiyah-nya membagi bid’ah menjadi lima bagian yang mencakup
urusan ibadah dan adat kebiasaan. Ia berkata:
«اَلْبِدْعَةُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ: مُحَرَّمَةٌ،
وَوَاجِبَةٌ، كَنَصْبِ الْأَدِلَّةِ لِلرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الْفِرَقِ الضَّالَّةِ،
وَتَعَلُّمِ النَّحْوِ الْمُفْهِمِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْدُوبَةٍ كَإِحْدَاثِ
نَحْوِ رِبَاطٍ وَمَدْرَسَةٍ، وَكُلِّ إِحْسَانٍ لَمْ يَكُنْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ،
وَمَكْرُوهَةٍ كَزَخْرَفَةِ الْمَسَاجِدِ، وَمُبَاحَةٍ كَالتَّوَسُّعِ بِلَذِيذِ الْمَآكِلِ
وَالْمَشَارِبِ وَالثِّيَابِ».
“Bid’ah
terbagi menjadi lima macam: haram, wajib — seperti menyusun dalil untuk
membantah kelompok-kelompok sesat dan mempelajari ilmu nahwu yang dengannya
dapat dipahami Al-Qur’an dan Sunnah — sunnah (mandub), seperti mendirikan
ribath dan madrasah, serta segala bentuk kebaikan yang belum ada pada masa
generasi pertama Islam; makruh, seperti menghias masjid; dan mubah, seperti
menikmati makanan, minuman, dan pakaian yang lezat.” (Radd al-Muhtar, 1/560,
Dar al-Fikr).
Al-Manawi
dalam Faydh al-Qadir membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah yang tercela dan bid’ah
yang baik. Ia berkata:
«وَالْبِدْعَةُ كَمَا قَالَ فِي الْقَامُوسِ:
الْحَدِيثُ فِي الدِّينِ بَعْدَ الْإِكْمَالِ، وَمَا اسْتُحْدِثَ بَعْدَ النَّبِيِّ
-ﷺ- مِنَ الْأَهْوَاءِ. وَقَالَ غَيْرُهُ: اسْمٌ مِمَّنِ ابْتَدَعَ الشَّيْءَ، اخْتَرَعَهُ
وَأَحْدَثَهُ، ثُمَّ غَلَبَتْ عَلَى مَا لَمْ يَشْهَدِ الشَّرْعُ لِحُسْنِهِ، وَعَلَى
مَا خَالَفَ أُصُولَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فِي الْعَقَائِدِ، وَذَلِكَ
هُوَ الْمُرَادُ بِالْحَدِيثِ؛ لِإِيرَادِهِ فِي حَيِّزِ التَّحْذِيرِ مِنْهَا وَالذَّمِّ
لَهَا وَالتَّوْبِيخِ عَلَيْهَا، وَأَمَّا مَا يُحْمَدُهُ الْعَقْلُ وَلَا تَأْبَاهُ
أُصُولُ الشَّرِيعَةِ فَحَسَنٌ».
“Bid’ah
sebagaimana disebutkan dalam al-Qamus ialah sesuatu yang baru dalam agama
setelah kesempurnaannya, dan segala yang muncul setelah Rasulullah ﷺ berupa hawa nafsu (aliran sesat). Ulama lain berkata: ‘Bid’ah
adalah bentuk dari kata ibtada‘a, artinya menciptakan dan mengadakan sesuatu
yang baru.’ Kemudian istilah ini menjadi umum digunakan untuk sesuatu yang
tidak disyariatkan dan bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
dalam akidah. Itulah yang dimaksud dalam hadits-hadits yang mengandung peringatan
dan celaan terhadap bid’ah. Adapun sesuatu yang dipuji oleh akal sehat dan
tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, maka itu termasuk bid’ah
yang baik.” (Faydh al-Qadir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir, 1/72, al-Maktabah
at-Tijariyyah al-Kubra).
Imam
Asy-Syafi’i juga membagi bid’ah menjadi dua jenis besar yang mencakup ibadah
dan adat, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi. Ia berkata:
«قَالَ الشَّافِعِيُّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ الْأُمُورِ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا
أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالَةِ. وَالثَّانِيَةُ:
مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لَا خِلَافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ
غَيْرُ مَذْمُومَةٍ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي قِيَامِ شَهْرِ
رَمَضَانَ: «نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ» يَعْنِي أَنَّهَا مُحْدَثَةٌ لَمْ تَكُنْ،
وَإِنْ كَانَتْ فَلَيْسَ فِيهَا رَدٌّ لِمَا مَضَى»
“Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:
Hal-hal baru (muhdatsat) terbagi menjadi dua macam: yang pertama, sesuatu yang
baru namun bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma‘ — maka ini
adalah bid’ah yang sesat. Yang kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan dan
tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal tersebut, maka ini adalah hal
baru yang tidak tercela. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata tentang shalat
malam di bulan Ramadan: ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini.’ Maksudnya, ia adalah
sesuatu yang baru dilakukan namun tidak bertentangan dengan apa yang sudah ada
sebelumnya.” (Al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, 1/206, Dar al-Khulafa’
lil-Kitab al-Islami).
Ath-Thurtushi
al-Maliki berkata:
«أَصْلُ كَلِمَةِ الْبِدْعَةِ: مِنَ الِاخْتِرَاعِ،
وَهُوَ الشَّيْءُ يُحْدِثُ مِنْ غَيْرِ أَصْلٍ سَبَقَ، وَلَا مِثَالٍ احْتُذِيَ، وَلَا
أُلْفَ مِثْلُهُ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾
[الْبَقَرَةِ: 117]، وَقَوْلُهُ: ﴿قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ﴾ [الْأَحْقَافِ:
9]؛ أَيْ: لَمْ أَكُنْ أَوَّلَ رَسُولٍ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَهَذَا الِاسْمُ يَدْخُلُ
فِيمَا تَخْتَرِعُهُ الْقُلُوبُ، وَفِيمَا تَنْطِقُ بِهِ الْأَلْسِنَةُ، وَفِيمَا تَفْعَلُهُ
الْجَوَارِحُ»
“Asal kata
bid’ah berasal dari ikhtira‘ (inovasi), yaitu sesuatu yang diadakan tanpa ada
contoh sebelumnya, tanpa meniru model yang ada, dan tanpa ada sesuatu yang
serupa dengannya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
‘Pencipta (yang mengadakan) langit dan bumi
tanpa contoh sebelumnya’ . (Al-Baqarah: 117),
Dan
firman-Nya:
‘Katakanlah: aku bukanlah rasul yang pertama
kali diutus’ .
(Al-Ahqaf: 9)
Yakni aku
bukan rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Istilah bid’ah mencakup
apa yang dihasilkan oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan dilakukan oleh anggota
badan.” (Al-Hawadits wal-Bida‘, hal. 39, Dar Ibnu al-Jawzi).
Ibnu al-Hajj
al-Maliki dalam Al-Madkhal berkata:
«وَالْبِدَعُ قَدْ قَسَّمَهَا الْعُلَمَاءُ عَلَى
خَمْسَةِ أَقْسَامٍ: بِدْعَةٌ وَاجِبَةٌ، وَهِيَ مِثْلُ كُتُبِ الْعِلْمِ؛ فَإِنَّهُ
لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ مَنْ مَضَى؛ لِأَنَّ الْعِلْمَ كَانَ فِي صُدُورِهِمْ، وَكَشَكْلِ
الْمُصْحَفِ وَنَقْطِهِ، وَالْبِدْعَةُ الثَّانِيَةُ: بِدْعَةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، قَالُوا:
مِثْلُ بِنَاءِ الْقَنَاطِرِ، وَتَنْظِيفِ الطُّرُقِ لِسُلُوكِهَا، وَتَهْيِئَةِ الْجُسُورِ،
وَبِنَاءِ الْمَدَارِسِ وَالرُّبُطِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَالْبِدْعَةُ الثَّالِثَةُ:
وَهِيَ الْمُبَاحَةُ كَالْمِنْخَلِ، وَالْأُشْنَانِ، وَمَا شَاكَلَهُمَا، وَالْبِدْعَةُ
الرَّابِعَةُ: وَهِيَ الْمَكْرُوهَةُ مِثْلُ زَخْرَفَةِ الْمَسَاجِدِ، وَالْبِدْعَةُ
الْخَامِسَةُ: وَهِيَ الْمُحَرَّمَةُ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تَنْحَصِرَ».
“Para ulama
telah membagi bid’ah menjadi lima bagian:
1]. Bid’ah
wajib, seperti penulisan ilmu pengetahuan, karena pada masa dahulu ilmu hanya
tersimpan dalam dada para ulama, serta seperti pembentukan mushaf dan pemberian
titik pada huruf-hurufnya.
2]. Bid’ah
sunnah (mustahabbah), seperti membangun jembatan, membersihkan jalan agar dapat
dilalui, membangun sekolah, ribath, dan sejenisnya.
3]. Bid’ah
mubah, seperti penggunaan ayakan dan bahan pembersih (sabun) serta hal-hal
serupa.
4]. Bid’ah makruh,
seperti menghias masjid.
5]. Bid’ah
haram, dan jumlahnya sangat banyak hingga tidak dapat dihitung.”
(Al-Madkhal,
2/257, Maktabah Dar at-Turats, dengan sedikit penyesuaian).
An-Nafrawi
Al-Maliki berkata:
«وَالْبِدْعَةُ: هِيَ الْأَمْرُ الَّذِي لَمْ
يَقَعْ فِي زَمَنِهِ ﷺ سَوَاءٌ دَلَّ الشَّرْعُ عَلَى حُرْمَتِهِ أَوْ كَرَاهَتِهِ
أَوْ وُجُوبِهِ أَوْ نَدْبِهِ أَوْ إِبَاحَتِهِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ مَنْ قَالَ: إِنَّ
الْبِدْعَةَ تَعْتَرِيهَا الْأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ كَابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَالْقَرَافِيِّ
وَغَيْرِهِمَا، وَهَذَا أَقْرَبُ لِمَعْنَاهَا لُغَةً مِنْ أَنَّهَا مَا فُعِلَ مِنْ
غَيْرِ سَبْقِ مِثَالٍ»
“Bid’ah
adalah suatu perkara yang tidak terjadi pada masa Rasulullah ﷺ, baik syariat menunjukkan bahwa hal itu haram, makruh, wajib, sunnah,
atau mubah. Inilah pendapat yang dipegang oleh mereka yang mengatakan bahwa
bid’ah memiliki lima hukum syariat - seperti Ibnu ‘Abd As-Salam, Al-Qarafi, dan
lainnya- dan ini lebih sesuai dengan makna bahasa bid’ah, yaitu sesuatu yang
dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya.” (Al-Fawâkih Ad-Dawâni ‘alâ Syarh
Risâlah Al-Qairawâni, 1/109, Dar Al-Fikr).
****
SEKILAS TENTANG SANAD-SANAD HADITS “SETIAP BID’AH SESAT”.
Syeikh
Sulaiman Shuwari, Ibnu al-Haaj, Abdullah berkata :
حَدِيثُ «كُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ
وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ عَاصِمٍ وَغَيْرُهُمْ مِنْ طُرُقٍ.
قُلْنَا: إِنْ
شَدَّدْنَا فِي أَسَانِيدِهِ يَكُونُ الْحَدِيثُ ضَعِيفًا لِأَنَّ فِي كُلِّ أَسَانِيدِهِ
كَلَامًا، لِأَنَّهُ جَاءَ عَنْ ثَلَاثَةِ طُرُقٍ:
١ - عَنْ عِرْبَاضِ
بْنِ سَارِيَةَ...
٢ - عَنْ جَابِرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ...
٣ - عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ...
الرِّوَايَةُ
عَنْ عِرْبَاضٍ فِيهَا أَرْبَعَةُ أَشْخَاصٍ:
١ - عَبْدُ الرَّحْمَنِ
السُّلَمِيُّ: مَجْهُولٌ، وَتَابَعَهُ جُبَيْرُ بْنُ نُفَيْرٍ فِي إِسْنَادِهِ: شَعْوَذُ
الْأَزْدِيُّ.
٢ - حَجَرُ بْنُ
حَجَرٍ: مَجْهُولٌ،
٣ - ابْنُ أَبِي
الْمُطَاعِ: مُنْقَطِعٌ،
٤ - مِهَاصِرُ
بْنُ حَبِيبٍ: مُنْقَطِعٌ،
الرِّوَايَةُ
عَنْ جَابِرٍ فِيهَا: جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، تَكَلَّمَهُ أَحْمَدُ وَيَحْيَى.
الرِّوَايَةُ
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ فِيهَا: مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، لَيِّنٌ كَمَا فِي الْمِيزَانِ.
وَإِذَا تَسَاهَلْنَا
فِي أَسَانِيدِهِ يَكُونُ صَحِيحًا لِغَيْرِهِ أَوْ حَسَنًا لِغَيْرِهِ.
“Hadits “setiap
bidah adalah kesesatan” diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu
‘Ashim, dan selain mereka melalui beberapa jalur.
Kami
katakan: jika kita
bersikap ketat dan selektif terhadap sanad-sanadnya, maka hadits ini menjadi
lemah karena pada seluruh sanadnya terdapat pembicaraan, sebab ia datang
melalui tiga jalur:
1 dari
‘Irbadh bin Sariyah
2 dari Jabir
bin Abdullah
3 dari
Abdullah bin Mas‘ud
Riwayat
dari ‘Irbadh di dalamnya terdapat empat orang:
1
Abdurrahman As-Sulami, ia majhul, dan ia diikuti oleh Jubair bin Nufair dalam
sanadnya yaitu Syu‘bah Al-Azdi
2 Hajar bin
Hajar, ia majhul
3 Ibnu Abi
Al-Mutha‘, sanadnya terputus
4 Muhashir
bin Habib, sanadnya terputus
Riwayat
dari Jabir di
dalamnya terdapat Ja‘far bin Muhammad yang dikritik oleh Ahmad dan Yahya.
Riwayat
dari Ibnu Mas‘ud di
dalamnya terdapat Musa bin ‘Uqbah yang dinilai lemah sebagaimana dalam
Al-Mizan.
Jika kita bersikap longgar terhadap sanad-sanadnya, maka hadits ini menjadi sahih lighoirihi atau hasan lighorihi (karena adanya penguat dari jalur lain)”. [KUTIPAN SELESAI]
Lihat : Hujjatul Auliya’ wa Manza‘ul Ashfiya’ (حُجَّةُ الْأَوْلِيَاءِ وَمَنْزَعُ الْأَصْفِيَاءِ) hal. 4 – 7 karya Sulaiman Shuari.
0 Komentar