Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

STUDY KRITIS PERKATAAN IBNU UMAR (RA) “SHOLAT DHUHA ADALAH BID'AH HASANAH”

 STUDY KRITIS PERNYATAAN IBNU UMAR (RA) YANG MENUNJUKKAN BAHWA “SHOLAT DHUHA ADALAH BID'AH HASANAH”

----

Di Tulis Oleh Kang Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

----


===

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • PEMBAHASAN PERTAMA: PERNYATAAN IBNU UMAR YANG MENUNJUKKAN BAHWA SHALAT DHUHA ADALAH BID’AH HASANAH
  • PEMBAHASAN KEDUA: IBNU UMAR BERANGGAPAN BAHWA NABI , ABU BAKAR DAN UMAR TIDAK PERNAH SHALAT DHUHA
  • PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG SHALAT DHUHA:
  • SIKAP IBNU UMAR TERHADAP SHALAT TARAWIH
  • PENULIS KATAKAN TENTANG SHALAT DHUHA:
  • PEMBAHASAN KETIGA : PERNYATAAN IBNU UMAR : SHALAT DHUHA MASUK DALAM RANAH KEUMUMAN SHOLAT SUNNAH MUTLAK
  • PEMBAHASAN KEEMPAT: HUKUM MENDAWAMKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN DALIL UMUM
  • PERNYATAAN ULAMA TENTANG IBADAH BERDASARKAN DALIL UMUM
  • PEMBAHASAN KE LIMA : AMALAN-AMALAN KHUSUS IBNU UMAR BERDASARKAN DALIL UMUM
  • AMALAN PERTAMA : IBNU UMAR, SENANTIASA ZIARAH KUBUR NABI SAAT KELUAR MASUK MADINAH
  • AMALAN KEDUA : IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TASYAHHUD SHALAT
  • TAMBAHAN IBNU UMAR LAFADZ “BISMILLAH” DI AWAL TASYAHHUD:
  • PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG TAMBAHAN BACAAN DALAM TASYAHUD:
  • AMALAN KE TIGA: IBNU UMAR SENANTIASA NAPAK TILAS TEMPAT-TEMPAT SHALAT NABI .
  • IBNU UMAR BERBEDA DENGAN UMAR, AYAHNYA, DALAM MASALAH INI.
  • AMALAN KE EMPAT: IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TALBIYAH
  • AMALAN KE LIMA: IBNU UMAR BERWASIAT JIKA DIRINYA WAFAT AGAR DIBACAKAN AL-QURAN SAAT PENGUBURAN
  • PEMBAHASAN KE ENAM: UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH DARI SELAIN IBNU UMAR
  • PEMBAHASAN KE TUJUH : DALIL-DALIL PENGUAT ADANYA BID’AH HASANAH.
  • PEMBAHASAN KE DELAPAN : AMALAN BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU UMAR. 
  • CONTOH KE 1 : ADZAN PERTAMA JUM’AT ADALAH BID’AH SESAT:
  • CONTOH KE 3 : BACA DZIKIR & SHOLAWAT SAAT BERSIN ADALAH BID’AH SESAT
  • CONTOH KE 2 : PASANG TENDA DIATAS KUBURAN ADALAH BID’AH SESAT.
  • PEMBAHASAN KE SEMBILAN : APAKAH BID’AH TERBATAS PADA IBADAH SAJA?

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

 ===***===

PENDAHULUAN

Ada beberapa ungkapan dari Abdullah bin Umar bin Umar radhiyallahu ‘anhuma terkait dengan masalah shalat Dhuha. Di mana ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa shalat dhuha adalah Bid’ah Hasanah.

Dan yang telah masyhur dari pandangan Abdullah bin Umar radhiyllahu ‘anhuma bahwa Rasulullah , Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak pernah melakukan shalat Dhuha. Oleh sebab itu Abdullah bin Umar tidak pernah mengamalkan Shalat Dhuha meskipun menghukuminya sebagai bid’ah hasanah. Terutama jika shalat Dhuha tersebut dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

Diantara ungkapan-ungkapan Ibnu Umar yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha itu bid’ah Hasanah adalah sbb :

[*]

«نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»

(Sebaik-baik bid’ah)

[*]

«مِنْ أَمْثَلِ مَا أُحْدِثَ»

(Termasuk yang paling baik di antara sesuatu yang baru diada-adakan)

[*]

«أَحَبِّ مَا أَحْدَثَهُ النَّاسُ»

(“Yang paling dicintai dari apa yang baru diada-adakan oleh manusia”)

[*]

«أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوا»

(Sebaik-baik hal yang baru mereka ada-adakan)

[*]

«مَا ابْتَدَعَ الْمُسْلِمُونَ بِدْعَةً أَفْضَلَ مِنْهَا»

(Tidak ada satu pun bid‘ah yang dibuat oleh kaum muslimin yang lebih afdhol darinya)

Dari ungkapan-ungkapan diatas ini dipahami bahwa Ibnu Umar menyebut sebagian perkara baru sebagai Bid‘ah Hasanah.

Di tambah lagi Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»

Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau beliau berkata: umat Muhammad , di atas kesesatan. Tangan Allah bersama jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, Bab tentang perintah untuk tetap bersama jamaah, hadits nomor 2167 (4/466), dan ia berkata: “Hadits ini gharib dari jalur ini”.

Hadits ini memiliki penguat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim (1/115–116), dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi 'Ashim hadits nomor 80, 82, 83, 84, 85 (halaman 39, 41, 42).

As-Suyuthi menyebutkannya dalam Al-Jami' Ash-Shaghir 1/278 no. 1818 dan menambahkan lafaz:

«وَيَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»

"dan tangan Allah di atas jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka".

Lalu ia berkata: “Hadits hasan”.

Dan Syeikh Al-Albani men-sahihkan-nya dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 1844.

Dan Syaikh Al-Albani berkata dalam “Ta’liq Misykat al-Masabih” (1/61):

"لَهَا شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَغَيْرُهُمَا بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، وَمِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ عِنْدَ ابْنِ قَانِعٍ فِي الْمُعْجَمِ".

Hadits ini memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan selain keduanya dengan sanad yang sahih, serta dari hadits Usamah bin Syarik yang diriwayatkan oleh Ibnu Qani‘ dalam *al-Mu‘jam*.

===***===

PEMBAHASAN PERTAMA:
PERNYATAAN IBNU UMAR YANG MENUNJUKKAN BAHWA SHALAT DHUHA ADALAH BID’AH HASANAH

Pernyataan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha adalah bid’ah hasanah.

Terlepas adanya riwayat shahih dari para sahabat selain Ibnu Umar bahwa Rasululullah pernah melakukan shalat Dhuha, namun pernyataan-pernayataan Ibnu Umar ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar tidak tahu bahkan tidak percaya jika Rasulullah pernah melakukan shalat Dhuha.    

Berikut ini riwayat-riwayatnya :

===

RIWAYAT KE 1 :

Ibnu Abu Syaibah dalam al-Mushonnaf 2/172 no. 7775 meriwayatkan :

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin Al-A‘raj. Ia berkata:

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»

Aku bertanya kepada Muhammad tentang shalat dhuha, saat itu beliau sedang bersandar pada dinding kamar Nabi . Maka beliau berkata: “Itu adalah bid‘ah, dan sebaik-baik bid‘ah.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 3/52 di bawah hadits no. 1175 berkata :

"رَوَاهُ ابْنُ أَبِِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ ".

“Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan-nya dengan sanad yang sahih”.

Ada sebagian para ulama yang mengatakan :

وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ يُجِيزُ الزِّيَادَةَ الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..

"Dan ini dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran."

===

RIWAYAT KE 2 :

Ibnu al-Ja’d dalam Musnadnya hal. 314 no. 2136 meriwayatkan : dari Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ibrahim bin Muhajir, dari Mujahid, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«صَلَاةُ الضُّحَى بِدْعَةٌ، وَنِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَ»

“Shalat Dhuha adalah *bid‘ah*, dan sebaik-baik *bid‘ah* adalah shalat Dhuha itu.” 

Sanad hadits :

Dalam riwayat tersebut terdapat Syariik, Ia adalah Syariik bin Abdullah al-Qadhi, seorang mudallis dan lemah, dan apa yang ia riwayatkan sendirian adalah munkar sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam *Taqrib at-Tahdzib* nomor 2787. Namun dalam hadits diatas ini, dia tidak sendirian meriwayatkanya.

Imam Muslim meriwayatkan darinya. Namun Imam Muslim tidak menjadikannya sebagai hujah, tetapi hanya meriwayatkannya dalam *mutaba‘at* sebagaimana ditegaskan oleh banyak pentahqiq. Akan tetapi al-Hakim dan adz-Dzahabi sering kali menshahihkan hadits-hadits Syariik dengan mengatakan “sesuai syarat Muslim.” (Mu‘jam Asami ar-Ruwah 2/290).

Namun Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu Fatawa nya 5/249-250 mengkritik terhadap ucapan Umar bin al-Khaththab dan putranya Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- :

«‌نِعْمَتِ ‌الْبِدْعَةُ ‌هَذِهِ»

“Sebaik-baik bidah adalah ini”

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata:

"أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَنْ يُعَارِضَ كَلَامَ الرَّسُولِ ﷺ بِأَيِّ كَلَامٍ، لَا بِكَلَامِ أَبِي بَكْرٍ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُمَرَ الَّذِي هُوَ ثَانِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُثْمَانَ الَّذِي هُوَ ثَالِثُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عَلِيٍّ الَّذِي هُوَ رَابِعُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ أَحَدٍ غَيْرِهِمْ … "ـ

“Bahwa tidak boleh bagi siapa pun dari manusia untuk menentang ucapan Rasulullah dengan ucapan siapa pun, tidak dengan ucapan Abu Bakar yang merupakan manusia terbaik umat ini setelah nabinya, tidak pula dengan ucapan Umar yang merupakan orang kedua umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Utsman yang merupakan orang ketiga umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Ali yang merupakan orang keempat umat ini setelah nabinya, dan tidak pula dengan ucapan siapa pun selain mereka …”.

Hingga pada perkataan Syeikh al-Utsaimin :

"فَلَا يَلِيقُ بِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ مَنْ هُوَ أَنْ يُخَالِفَ كَلَامَ سَيِّدِ الْبَشَرِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنْ يَقُولَ عَنْ بِدْعَةٍ (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ)، بَلْ لَا بُدَّ أَنْ تُنَزَّلَ الْبِدْعَةُ الَّتِي قَالَ عَنْهَا عُمَرُ أَنَّهَا (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ) عَلَى بِدْعَةٍ لَا تَكُونُ دَاخِلَةً تَحْتَ مُرَادِ النَّبِيِّ ﷺ".

“Maka tidak pantas bagi seorang Umar radhiyallahu ‘anhu. Emangnya dia itu siapa sehingga berani menyelisihi ucapan junjungan seluruh umat manusia, yaitu Muhammad .

Dan dia itu siapa, kok berani-beraninya mengatakan tentang bid'ah, ada yang “sebaik-baik bidah”, bahkan bid’ah yang dikatakan oleh Umar sebagai “sebaik-baik bidah” itu harus diarahkan pada jenis bidah yang tidak termasuk dalam maksud Nabi ”.

===

RIWAYAT KE 3 :

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* 3/52–53, di bawah hadits nomor 1175) berkata:

رَوَى سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَن بن عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسِنِ مَا أَحْدَثُوا

“Said bin Manshur meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Mujahid, dari Ibnu Umar bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya shalat Dhuha itu adalah sesuatu yang baru (muhdatsah), dan sesungguhnya ia termasuk sebaik-baik hal yang baru yang mereka adakan.”

Hadits ini dinyatakan sahih pula oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

===

RIWAYAT KE 4 :

Riwayat Abdur Razzaq dalam *Mushannaf* nomor 4868: Dari Ma‘mar, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«لَقَدْ قُتِلَ عُثْمَانُ وَمَا أَحَدٌ يُسَبِّحُهَا وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْهَا»

“Utsman telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun yang melakukan shalat Dhuha. Maka tidak ada sesuatu yang baru yang diada-adakan oleh manusia yang lebih aku sukai daripada shalat itu.” (Yang dimaksudnya adalah shalat Dhuha).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : 

وَرَوَى عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقَدْ قُتِلَ عُثْمَانُ وَمَا أَحَدٌ يُسَبِّحُهَا وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ شَيْئًا أحب إِلَيّ مِنْهَا

“Abdurrazzaq meriwayatkan (no. 4868) dengan sanad yang sahih dari Salim, dari ayahnya (yaitu Ibnu Umar), ia berkata: “Sungguh, Utsman telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun yang melakukan shalat Dhuha, dan tidak ada sesuatu yang diada-adakan oleh manusia yang lebih aku sukai daripada shalat itu.” [Fathul Bari 3/52–53, di bawah hadits nomor 1175]

Hadits ini dinyatakan sahih pula oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

Dan dinyatakan shahih pula oleh Zakariya bin Ghulam al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsar as-Shohabah 1/430. 

===

RIWAYAT KE 5 :

Abdur Rozaq meriwayatkan: Dari Ibnu Juraij atau Ma‘mar, ia berkata: Ibnu Syihab berkata: Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:

«قَدْ أُصِيبَ عُثْمَانُ، وَمَا أَحَدٌ يُسَبِّحُهَا، وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحَبِّ مَا أَحْدَثَ النَّاسُ إِلَيَّ»

“Utsman telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun yang melakukan shalat Dhuha. Sungguh, shalat itu termasuk hal yang paling aku sukai dari apa yang diada-adakan oleh manusia.”

Hadits ini dinyatakan sahih oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

===

RIWAYAT KE 6 :

Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/174 no. 7799: Telah menceritakan kepada kami Waki‘, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muslim Al-Hamdani, dari Sa‘id bin ‘Amr Al-Qurasyi, ia berkata:

اتَّبَعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ لِأَتَعَلَّمَ مِنْهُ، فَمَا رَأَيْتُهُ يُصَلِّي السُّبْحَةَ، وَكَانَ إِذَا رَآهُمْ يُصَلُّونَهَا، قَالَ: «‌مِنْ ‌أَحْسَنِ ‌مَا ‌أَحْدَثُوا ‌سُبْحَتُهُمْ ‌هَذِهِ»

Aku mengikuti Abdullah bin Umar untuk belajar darinya. Maka aku tidak melihatnya melakukan shalat sunah (sebelum atau sesudah shalat wajib). Dan ketika ia melihat orang-orang melakukannya, ia berkata: 

“Sebagus-bagusnya hal baru yang mereka ada-adakan adalah shalat sunah mereka ini.”

[Perawi yang bernama Yahya bin Muslim Abu Ad-Dhahhak adalah perawi yang lemah.]

Ibnu al-Mulaqqin berkata :

"وَقَالَ مَرَّةً: مَا ابْتَدَعَ الْمُسْلِمُونَ بِدْعَةً أَفْضَلَ مِنْهَا".

Dan pada kesempatan yang lain Ibnu Umar berkata: “Tidak ada bid’ah yang diada-adakan oleh kaum muslimin yang lebih baik darinya.” [Baca : at-Tawdhih Li Syarhi al-Jami’ ash-Shahih 9/191]

Lalu Ibnu al-Mulaqqin berkata :

وَقَالَ أَنَسٌ: صَلَاتُهُ يَوْمَ الْفَتْحِ كَانَتْ سُنَّةَ الْفَتْحِ، لَا سُنَّةَ الضُّحَى. وَلَمَّا فَتَحَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ الْحِيرَةَ صَلَّى صَلَاةَ الْفَتْحِ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ لَمْ يُسَلِّمْ فِيهِنَّ، ثُمَّ انْصَرَفَ. وَهَذَا تَأْوِيلٌ لَا يَدْفَعُ صَلَاةَ الضُّحَى لِتَوَاتُرِ الرِّوَايَاتِ بِهَا عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَفِعْلِ السَّلَفِ بَعْدَهُ.

“ ‘Anas berkata: Shalat yang beliau lakukan pada hari penaklukan adalah shalat penaklukan Makkah, bukan shalat Dhuha. 

Dan ketika Khalid bin Al-Walid menaklukkan kota Al-Hirah, ia melaksanakan shalat penaklukan sebanyak delapan rakaat tanpa salam di antara rakaat-rakaat itu, kemudian ia berpaling’ (selesai).

Namun penafsiran ini tidak menafikan adanya shalat Dhuha, karena banyaknya riwayat yang mutawatir dari Rasulullah tentang shalat tersebut, serta praktik para salaf setelah beliau”. [Baca : at-Tawdhih Li Syarhi al-Jami’ ash-Shahih 9/191]

===

RIWAYAT KE 7 :

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata:

«دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ، ‌فَإِذَا ‌عَبْدُ ‌اللهِ ‌بْنُ ‌عُمَرَ ‌جَالِسٌ ‌إِلَى ‌حُجْرَةِ ‌عَائِشَةَ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ الضُّحَى فِي الْمَسْجِدِ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ؟ فَقَالَ: بِدْعَةٌ»

Aku dan ‘Urwah bin Zubair masuk ke masjid, dan ternyata Abdullah bin Umar sedang duduk di dekat kamar Aisyah, sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat Dhuha di masjid. Kami pun bertanya kepadanya tentang shalat mereka itu, lalu ia berkata: ‘Bid‘ah’”.

[HR. Bukhori no. 1775, 1776, 1777 dan Muslim no. 220 (1255)]

Dalam riwayat diatas Ibnu Umar tidak menyalahkan mereka, meskipun dia mengatakan bahwa itu bid’ah, karena bid’ah seperti itu menurutnya adalah bid’ah yang baik sebagaimana ditegaskan dalam riwayat-riwayat sebelum-nya.

*****

UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH SHOLAT DHUHA DARI SELAIN IBNU UMAR

----

KE 1: ALI BIN ABI THOLIB RADHIYALLAHU ‘ANHU :

Abdur- Rozzaaq dalam al-Mushonnaf 3/77 no. 4865 meriwayatkan : Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepadaku :

أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، كَانَ يُذْكَرُ لَهُ هَذِهِ الصَّلَاةُ الَّتِي أَحْدَثَ النَّاسُ، فَيَقُولُ: «صَلُّوا مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ»

“Bahwa Ali bin Abi Thalib, ketika disebutkan kepadanya tentang shalat (Dhuha) yang baru diada-adakan oleh manusia ini, beliau berkata:

“Shalatlah semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan meng-adzab (menyiksa) seseorang karena shalat.

Semua para perawinya tsiqah, Ja'far bin Muhammad adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang Imam Ahli bait yang tsiqah lagi faqih.

Namun masa hidup dia terpaut jauh dengan kakek buyutnya yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sehingga atsar ini terputus sanadnya dan berarti statusnya dhoif.

----

KE 2 : PERKATAAN MUHAMMAD BIN ABRAHIM AT-TAYMI (WAFAT 120 H).

Perkataan Muhammad bin Ibrahim, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam *Mushannaf-nya 2/172 no. 7775:

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin Al-A‘raj, ia berkata:

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»

Aku bertanya kepada Muhammad (bin Ibrahim at-Taymi wafat 120 H) tentang shalat Dhuha, ketika itu ia sedang bersandar di dinding kamar Nabi . Maka ia berkata: “Itu adalah bid‘ah, dan itu adalah sebaik-baik bid‘ah.”

Atsar ini dinyatakan sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/52 dan oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

****

AWAL MULA ADA-NYA SHALAT DHUHA BERJEMAAH

Ada yang mengatakan : bahwa shalat Dhuha berjamaah di masjid mulai diadakan pada masa Utsman oleh sebagian penduduk pedalaman.

Abdur Rozzaq dalam al-Mushonnaf no. 4869 meriwayatkan:

Dari Ibnu Juraij atua Ma’mar, dia berkata: Ibnu Syihab berkata: Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah, dari Ibnu Umar – radhiyallahu ‘anhuma- bahwa ia berkata:

«‌قَدْ أُصِيبَ عُثْمَانُ، وَمَا أَحَدٌ يُسَبِّحُهَا، وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحَبِّ مَا أَحْدَثَ النَّاسُ إِلَيَّ».

قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ، وَقَالَ نَاسٌ: «‌أَوَّلُ مَنْ صَلَّاهَا أَهْلُ الْبَوَادِي يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ إِذَا فَرِغُوا مِنْ أَسْوَاقِهِمْ».

“Utsman telah terbunuh, dan pada waktu itu tidak ada seorang pun yang melaksanakan shalat Dhuha. Namun, sungguh, shalat itu termasuk amalan yang paling aku sukai dari apa yang diada-adakan oleh manusia”.

Ia berkata: Ibnu Juraij berkata, dan sejumlah orang mengatakan: “orang-orang pedalaman adalah yang pertama kali melaksanakan shalat itu; mereka masuk ke masjid setelah selesai dari pasar-pasar mereka”.

Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* 3/52–53, di bawah hadits nomor 1175 dan Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 3/79 no. 4872 berkata : Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Sulaiman juga mengabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Thawus berkata:

إِنَّ أَوَّلَ مَنْ صَلَّاهَا الْأَعْرَابُ، ‌إِذَا ‌بَاعَ ‌أَحَدُهُمْ ‌بِضَاعَةً ‌يَأْتِي ‌الْمَسْجِدَ فَيُكَبِّرُ وَيَسْجُدُ إِلَّا أَنَّ طَاوُسًا يَقُولُ: «اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ الْأَعْرَابِيُّ»

 “Sesungguhnya orang yang pertama kali melakukan shalat Dhuha adalah orang-orang Arab Badui. Apabila salah seorang dari mereka berhasil menjual dagangannya, maka ia segera datang ke masjid, lalu bertakbir dan sujud.”

Hanya saja Thawus berkata: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” kemudian orang Arab Badui itu sujud.”

===

KESIMPULAN

Menurut Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma : orang-orang telah mengadakan hal baru dalam shalat Dhuha. Abdullah bin Umar menilai perbuatan ini sebagai bid‘ah dan perkara baru, maka beliau tidak mengerjakannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang. Namun demikian, beliau memuji perbuatan tersebut, dengan berkata :

[*] “نِعْمَتُ الْبِدْعَةُ “ (sebaik-baik bid’ah)

[*] “مِنْ أَمْثَلِ مَا أُحْدِثَ” (termasuk yang paling baik di antara yang barudiada-adakan)

[*] “أَحَبُّ مَا أَحْدَثَهُ النَّاسُ” (“yang paling disukai dari apa yang baru diada-adakan oleh manusia”)

[*] “أَحْسَنُ مَا أَحْدَثُوا” (sebaik-baik hal yang baru mereka ada-adakan)

[*] “مَا ابْتَدَعَ الْمُسْلِمُونَ بِدْعَةً أَفْضَلَ مِنْهَا” (Tidak ada satu pun bid‘ah yang dibuat oleh kaum muslimin yang lebih utama darinya)

Ungkapan-ungkapan Ibnu Umar ini dianggap cukup untuk menunjukkan bahwa sebagian hal baru (muhdatsat) tersebut dicintai dan dianggap baik olehnya.

Ini menjadi dalil baginya bahwa keumuman sabda Rasulullah “Setiap bid’ah adalah kesesatan” dipahami oleh-nya sebagai bersifat khusus (tidak mutlak umum).

Sebab, jika makna hadits itu dipahami secara mutlak tanpa pengecualian, tentu tidak mungkin Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut sebagian bid’ah dengan istilah yang baik, atau menilainya dengan kata-kata yang menunjukkan keutamaan, seperti “sebaik-baik (نِعْمَ)”, “yang paling disukai (ahabbu)”, “yang paling utama (أَمْثَلُ)”, “yang paling baik (أَحْسَنُ)”, dan semisalnya.

Hal ini menunjukkan bahwa sifat “sesat” hanya berlaku bagi bid’ah yang buruk dan tercela, sedangkan bid’ah yang baik adalah terpuji dan berpahala bagi pelakunya.

Berdasarkan penjelasan di atas: bid’ah mencakup perkara ibadah, adat, dan muamalah, serta terbagi ke dalam lima hukum syariat. Wallahu a’lam.

 ===***===

PEMBAHASAN KEDUA:
IBNU UMAR BERANGGAPAN BAHWA NABI , ABU BAKAR DAN UMAR TIDAK PERNAH SHALAT DHUHA

Perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang shalat Dhuha bahwa ia adalah bid‘ah hasanah — inilah pendapat yang masyhur darinya. Sebab, beliau radhiyallahu ‘anhu tidak menganggap shalat tersebut termasuk shalat yang benar-benar diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah bahwa beliau melaksanakannya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah :

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Ash-Shawwaaf : Telah menceritakan kepada kami Saalim bin Nuuh Al-’Aththaar : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah, dari Naafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أَنْ يَقْدَمَ مِنْ غَيْبَةٍ»

“Bahwasannya Nabi tidak pernah mengerjakan shalat di waktu Dhuhaa kecuali ketika baru datang dari bepergian jauh”.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 2/230-231 no. 1229. Dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam ta’liq Shahih Ibni Khuzaimah].

Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (al-Ihsan Fii Taqriib Shahih Ibnu Hibaan 6/270 no. 2528).

Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij al-Ihsan Fii Taqriib Shahih Ibnu Hibaan 6/270 berkata :

إِسْنَادُهُ قَوِيٌّ. إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ: ثِقَةٌ رَوَى لَهُ الْبُخَارِيُّ، وَسَالِمُ بْنُ نُوحٍ الْعَطَّارُ: مُخْتَلَفٌ فِيهِ، قَالَ أَحْمَدُ: مَا بِحَدِيثِهِ بَأْسٌ، وَقَالَ أَبُو زُرْعَةَ: لَا بَأْسَ بِهِ صَدُوقٌ ثِقَةٌ، وَوَثَّقَهُ السَّاجِيُّ وَابْنُ قَانِعٍ، وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ، وَقَالَ النَّسَائِيُّ: لَيْسَ بِالْقَوِيِّ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: عِنْدَهُ غَرَائِبُ وَأَفْرَادٌ، وَأَحَادِيثُهُ مُحْتَمَلَةٌ مُتَقَارِبَةٌ، وَذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ فِي "الثِّقَاتِ" وَهُوَ مِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ، وَمَنْ فَوْقَهُ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ.

“Sanadnya kuat.

Ishaq bin Ibrahim adalah perawi yang tsiqah, diriwayatkan haditsnya oleh al-Bukhari. Salim bin Nuh al-‘Aththar diperselisihkan tentangnya.

Ahmad berkata: ‘Tidak mengapa dengan haditsnya’.

Abu Zur‘ah berkata: ‘Tidak mengapa dengannya, ia jujur dan tsiqah. Ia dinilai tsiqah oleh as-Saji dan Ibnu Qani‘.‘

Abu Hatim berkata: ‘Haditsnya ditulis tetapi tidak dijadikan hujjah’.

An-Nasa’i berkata: ‘Ia tidak kuat’.

Ibnu ‘Adi berkata: ‘Ia memiliki hadits-hadits yang ganjil dan tunggal, namun hadits-haditsnya masih dalam batas bisa diterima dan saling berdekatan’.

Ia juga disebutkan oleh penulis (Ibnu Hibban) dalam kitab ats-Tsiqat dan termasuk perawi Muslim, sedangkan perawi di atasnya termasuk perawi al-Bukhari dan Muslim”. [SELESAI]

Dan ini diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah Muhammad bin Makhlad ad-Dawri al-Baghdadi (wafat 331 H) meriwayatkan dalam kitabnya al-Muntaqo hal. 79 no. 78, namun dari Aisyah radhiyaallu ‘anha.

Muhammad bin Makhlad berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Harits, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bahr, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha:

أَنّ النَّبِيَّ ﷺ ‌كَانَ‌‌ ‌لا ‌يُصَلِّي ‌الضُّحَى ‌إِلا ‌أَنْ ‌يَجِيءَ ‌مِنْ ‌مَغِيبِهِ "

“Bahwa Nabi tidak pernah melaksanakan sholat Dhuha kecuali apabila beliau baru kembali dari perjalanan jauh”.

Dan diriwayatkan oleh Muwarriq Al-‘Ijli, ia berkata:

قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ: أَتُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: صَلَّاهَا عُمَرُ؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: صَلَّاهَا أَبُو بَكْرٍ؟ قَالَ: لَا. قُلْتُ: أَصَلَّاهَا النَّبِيُّ ﷺ؟ ‌قَالَ: «‌لَا ‌إِخَالُهُ»

Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah engkau melaksanakan shalat Dhuha?” Ia menjawab, “Tidak.”

Aku bertanya, “Apakah Umar melaksanakannya?” Ia menjawab, “Tidak.”

Aku bertanya, “Apakah Abu Bakar melaksanakannya?” Ia menjawab, “Tidak.”

Aku bertanya, “Apakah Nabi melaksanakannya?” Ia menjawab, “Aku tidak menduga beliau melakukannya.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 1175, Ahmad dalam Musnad-nya no. 4758, dan lainnya].

Dan ini dipertegas oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasullullah memang tidak pernah shalat Dhuha. Aisyah berkata :

«إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيَدَعُ العَمَلَ، وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ، فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ، وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا ».

“Sesungguhnya Rasulullah benar-benar pernah meninggalkan suatu amalan, padahal beliau menyukai untuk melaksanakannya, karena khawatir amalan itu akan dikerjakan oleh manusia lalu diwajibkan atas mereka.

Dan Rasulullah sama sekali tidak pernah melaksanakansunnah Dhuha, namun sungguh aku sendiri melaksanakannya.” [HR. Bukhori no. 1128]

===

IBNU UMAR TIDAK PERNAH MELAKUKAN SHALAT DHUHA

Al-Hafidz Ibnu Hajar (3/52–53), di bawah hadits nomor 1175 berkata :

"ورَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَر قَالَ : «صَلَّيْتُ الضُّحَى مُنْذُ أَسْلَمْتُ إِلَّا أَنْ أَطُوفَ بِالْبَيْتِ».

أَيْ فَأُصَلِّي فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لَا عَلَى نِيَّةِ صَلَاةِ الضُّحَى بَلْ عَلَى نِيَّةِ الطَّوَافِ".

Dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Asy-Sya’bi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:

“Hanya sekali aku melakukan shalat dhuha sejak aku masuk Islam, yaitu ketika aku thawaf di Baitullah”.

Maksudnya; aku shalat pada waktu itu bukan dengan niat shalat dhuha, melainkan dengan niat thawaf (yang kebetualan saat itu di waktu dhuha).”

***

FIQIH ATSAR IBNU UMAR:

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *Fathul Bari* (3/52–53), di bawah hadits nomor 1175 juga berkata:

"وَكَانَ سَبَبُ تَوَقُّفِ ابْنِ عُمَرَ فِي ذَلِكَ: أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ غَيْرِهِ أَنَّهُ صَلَّاهَا وَلَمْ يَثِقْ بِذَلِكَ عَمَّنْ ذَكَرَهُ. وَقَدْ جَاءَ عَنْهُ الْجَزْمُ بِكَوْنِهَا مُحْدَثَةً".

“Penyebab Ibnu Umar ragu dalam masalah itu adalah karena ia mendengar dari selain dirinya bahwa Nabi pernah melaksanakan shalat Dhuha, namun ia tidak mempercayai orang yang menyampaikan kabar tersebut. Dan telah diriwayatkan darinya secara tegas bahwa shalat Dhuha itu merupakan sesuatu yang baru diada-adakan (bid‘ah).”

Namun bukan berarti dia memvonis sebagai ahli bid’ah atau menghukumi sesat setiap perkara baru yang muncul setelah Nabi . Maksudnya, jika dia menyukai sesuatu dari perkara yang baru diada-adakan, dia tidak menyebutnya sebagai bid’ah sesat, melainkan memberi nama “bid’ah yang baik” atau yang semisalnya ” .

Ada sebagian para ulama yang mengatakan :

وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ يُجِيزُ الزِّيَادَةَ الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..

"Dan ini dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran."

Dan termasuk dalam penamaan ini adalah sesuatu yang masuk dalam ranah maslahat mursalah, atau ranah :

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka itu adalah wajib.

Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 5/228 no. 718 berkata:

في ‌الْبَابِ ‌عَنْ ‌عَائِشَةَ ‌أَنَّ ‌النَّبِيَّ ﷺ ‌كَانَ ‌لَا ‌يُصَلِّي ‌الضُّحَى إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ وَأَنَّهَا مَا رَأَتْهُ ﷺ يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ قَالَتْ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضُ عَلَيْهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهَا أَنَّهُ ﷺ كَانَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ وَفِي رِوَايَةٍ مَا شَاءَ اللَّهُ وَفِي حَدِيثِ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّهُ ﷺ صَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي الدَّرْدَاءَ رَكْعَتَانِ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ كُلُّهَا مُتَّفِقَةٌ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهَا عِنْدَ أَهْلِ التَّحْقِيقِ

Dalam bab ini terdapat riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi tidak melaksanakan sholat Dhuha kecuali apabila beliau baru kembali dari perjalanan.

Aisyah berkata bahwa ia sama sekali tidak pernah melihat beliau melaksanakan sholat sunnah Dhuha. Ia berkata: “Namun aku sendiri melaksanakannya.”

Dan Aisyah juga mengatakan : “bahwa Rasulullah terkadang meninggalkan suatu amalan padahal beliau menyukainya, karena khawatir amalan itu akan dikerjakan oleh manusia lalu diwajibkan atas mereka.

Dalam riwayat lain dari Aisyah disebutkan bahwa beliau melaksanakan sholat Dhuha empat rakaat dan menambahnya sesuai kehendaknya. Dalam riwayat lain disebutkan: sesuai kehendak Allah.

Dalam hadits Ummu Hani’ disebutkan bahwa beliau melaksanakan sholat Dhuha delapan rakaat. Dalam hadits Abu Dzar, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ disebutkan dua rakaat. Seluruh hadits ini saling selaras dan tidak ada perbedaan di antara semuanya menurut para ulama yang melakukan penelitian mendalam.

****

PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG SHALAT DHUHA:

Berbeda dengan Ibnu Mas’ud yang mengetahui bahwa shalat Dhuha itu sunnah Nabi , tapi pelaksaannya di rumah, bukan di masjid.

Yakni ; Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu beliau juga termasuk ulama shahabi yang berpendapat tidak disyariatkannya, namun beliau juga masih memberikan toleransi bagi yang mengerjakannya asal tidak demonstratif, sebagaimana dalam atsar Masrûq yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no. 7777) dengan sanad yang disahihkan oleh asy-Syaikh Zakariya al-Bâkistaniy.

Ibnu Abi Syaibah berkata : Waki’ telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A‘mash telah menceritakan kepada kami, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, ia berkata.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: نا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: كُنَّا نَقْرَأُ فِي الْمَسْجِدِ فَيَثْبُتُ النَّاسُ فِي الْقِرَاءَةِ بَعْدَ قِيَامِ ابْنِ مَسْعُودٍ، ثُمَّ نَقُومُ فَنُصَلِّي لِلضُّحَى فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ مَسْعُودٍ فَقَالَ:

«عِبَادَ اللَّهِ، ‌لِمَ ‌تُحَمِّلُوا ‌عِبَادَ ‌اللَّهِ ‌مَا ‌لَمْ ‌يُحَمِّلْهُمُ ‌اللَّهُ، إِنْ كُنْتُمْ لَا بُدَّ فَاعِلِينَ فَفِي بُيُوتِكُمْ»

“Kami sedang membaca Al Qur`an di masjid, lalu orang-orang membaca Al Qur`an setelah Ibnu Mas'ud pulang, kemudian kami mengerjakan sholat Dhuha. Hal ini pun sampai kepada Ibnu Mas'ud, maka beliau berkata :

“Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian bersantai beribadah kepada Allah, apa yang Allah tidak membebaani mereka, jika kalian masih tetap ingin mengerjakannya, maka lakukanlah di rumah-rumah kalian”.

[Lihat : Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 2/172 no. 7777. Lihat Pula al-Mushonnaf karya Abdurrozzaaq 3/80. Dinyatakan shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsaar ash-Shohabah 1/430].

Ibnu Baththol dalam Syarah Shahih Bukhori 3/170 berkata :

وَكانَ أَبُو مُجْلِزٍ يُصَلِّي الضُّحَى في مَنْزِلِهِ. وَكانَ مَذْهَبُ السَّلَفِ الاسْتِتارَ بِهَا وَتَرْكَ إِظْهَارِهَا لِلْعامَّةِ، لِئَلَّا يَرَوْنَهَا واجِبَةً.

“Dan Abu Mujliz melaksanakan sholat Duha di rumahnya. Madzhab para salaf dahulu adalah menyembunyikan sholat dhuha tersebut dan tidak menampakkannya kepada masyarakat umum, agar mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib”. [Lihat pula : Thorhu at-Tatsriib karya Zainuddin al-Iraqi 3/64]

****

SIKAP IBNU UMAR TERHADAP SHALAT TARAWIH.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (7714): Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami, Ubaidullah dari Nafi‘, dari Ibnu Umar :

«أَنَّهُ كَانَ لَا يَقُومُ مَعَ النَّاسِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ» قَالَ: «وَكَانَ سَالِمٌ، وَالْقَاسِمُ لَا يَقُومُونَ مَعَ النَّاسِ»

“Bahwa ia (Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma) tidak mendirikan shalat bersama manusia pada bulan Ramadan”.

Ia berkata: “Dan Salim serta Al-Qasim juga tidak shalat bersama manusia”.

Dinyatakan shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsaar ash-Shohabah 1/428-429].

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (7715): Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Mansur, dari Mujahid. Ia berkata:

سَأَلَ رَجُلٌ ابْنَ عُمَرَ أَقُومُ خَلْفَ الْإِمَامِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ: «تُنْصِتُ كَأَنَّكَ حِمَارٌ»

Seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Umar: “Apakah aku berdiri di belakang imam pada bulan Ramadan?” Ibnu Umar menjawab: “Diamlah engkau, seakan-akan engkau itu keledai.”

Dinyatakan shahih sanadnya oleh Zakariya al-Bakistani dalam Maa Shohha Min Atsaar ash-Shohabah 1/429].

====

PENULIS KATAKAN TENTANG SHALAT DHUHA:

Yang benar Sholat Dhuha telah ditetapkan dalam banyak hadits shahih, namun barangkali perkara ini —sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu ulama— tidak diketahui oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Diantaranya adalah hadits-hadits sbb :

KE 1: Dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Lailaa, dia berkata :

" مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ "

“Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Nabi melakukan shalat Dhuhaa kecuali Ummu Haani’.

Sesungguhnya ia pernah berkata : “Sesungguhnya Nabi pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu makkah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan raka’at. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy no. 1176].

KE 2 : Dari Mu’aadzah :

أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، " كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى ؟ قَالَتْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ "

“Bahwasannya ia (Mu’aadzah) pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : “Berapa raka’at Rasulullah biasa mengerjakan shalat Dhuhaa ?”. ‘Aaisyah menjawab : “Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak yang Allah kehendaki” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 719].

KE 3 : Dari ‘Ali radliyallaahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى "

Bahwasannya Rasulullah biasa mengerjakan shalat Dhuhaa” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/89; Al-Arna’uth berkata : “sanadnya qawiy (kuat)”].

KE 4 : Dari Itban bin Malik :

« أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ»

“Bahwasanya Rasulullah sholat di rumahnya (Itban) shalat Dhuha, maka orang-orang pun ikut berdiri di belakangnya mengikuti shalat beliau . (HR. Ahmad no. 22657)

Dari Abu Dzarr, bahwa Nabi bersabda:

" يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى "

“Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang dilakukan pada waktu Dluha” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 720].

===***===

PEMBAHASAN KETIGA :
PERNYATAAN IBNU UMAR : SHALAT DHUHA MASUK DALAM RANAH KEUMUMAN SHOLAT SUNNAH MUTLAK

Pernyataan Ibnu Umar yang menunjukkan bahwa shalat Dhuha itu masuk dalam katagori shalat sunnah mutlak dan masuk dalam cakupan dalil umum; karena dilakukannya bukan pada waktu-waktu yang dilarang, maka hukum asalnya boleh untuk diamalkan. 

Abu al-Jahm al-Bahiliy (wafat 228 H) meriwayatkan :

ثَنَا لَيْثٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، كَانَ يُسْأَلُ عَنْ صَلاةِ الضُّحَى فَلا يَنْهَى وَلا يَأْمُرُ بِهَا، وَيَقُولُ:

«إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَكِنْ لا تُصَلُّوا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلا عِنْدَ غُرُوبِهَا»

Telah menceritakan kepada kami Laits, dari Naafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar:

“Bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Dhuhaa, maka ia tidak melarangnya dan tidak pula memerintahkannya.

Ibnu Umar berkata: “Aku hanyalah melakukannya sebagaimana aku lihat para shahabatku melakukannya (yakni; diam dan tidak menyalahkannya). Akan tetapi janganlah kalian mengerjakannya ketika matahari terbit dan ketika matahari tenggelam"

[Diriwayatkan oleh Abu Jahm al-Bahily Al-Baghdaadiy dalam Juz-nya hal. 33 no. 17; sanadnya shahih].

Dan diriwayatkan pula oleh Imam  Bukhori no. 1191 dan 1192 dengan lafadz sbb :

أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:

«كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ: يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ المَقَامِ، وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ».

قَالَ: «وَكَانَ يُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا»

 قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ «‌إِنَّمَا ‌أَصْنَعُ ‌كَمَا ‌رَأَيْتُ ‌أَصْحَابِي ‌يَصْنَعُونَ، وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا»

Ayub meriwayatkan dari Nafi’:

“Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak pernah melaksanakan shalat Dhuha kecuali pada dua hari:

[*] Hari ketika ia datang ke Makkah, karena ia biasa tiba di Makkah pada waktu Dhuha, lalu melakukan tawaf di Baitullah, kemudian shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

[*] Dan hari ketika ia datang ke Masjid Quba, karena ia biasa mendatanginya setiap hari Sabtu. Apabila ia masuk ke masjid itu, ia tidak suka keluar darinya sebelum shalat di dalamnya”.

Ia berkata: “Dan ia meriwayatkan bahwa Rasulullah biasa mendatangi masjid itu dengan berkendara maupun berjalan kaki”.

Ia juga berkata: “Aku melakukan sikap seperti ini ((yakni; tidak menyalahkannya)) karena aku lihat para sahabatku melakukannya juga, dan aku tidak melarang seseorang untuk shalat pada waktu mana pun yang ia kehendaki, baik siang maupun malam, akan tetapi janganlah kalian mengerjakannya ketika matahari terbit dan ketika matahari tenggelam".”

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«‌لَا ‌تَحَرَّوْا ‌بِصَلَاتِكُمْ ‌طُلُوعَ ‌الشَّمْسِ ‌وَلَا ‌غُرُوبَهَا، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ».

"Janganlah kalian mengerjakan shalat pada waktu terbitnya matahari maupun terbenamnya, karena pada saat itu matahari terbit di antara dua tanduk setan."

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 4695. Menurut Syuaib al-Arnauth dalam tahqiq Al-Musnad 8/321, sanadnya shahih menurut syarat kedua imam (Bukhari dan Muslim).

Dan Abdullah bin Umar – radhiyallahu ‘anhuma- meriwayatkan pula:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ: «‌لَا ‌تَحَرَّوْا ‌بِصَلَاتِكُمْ ‌طُلُوعَ ‌الشَّمْسِ، ‌وَلَا ‌غُرُوبَهَا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَطْلُعُ قَرْنَاهُ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَيَغْرُبَانِ مَعَ غُرُوبِهَا، وَكَانَ يَضْرِبُ النَّاسَ عَلَى تِلْكَ الصَّلَاةِ»

 Bahwa Umar bin Al-Khaththab berkata: "Janganlah kalian mengerjakan shalat pada waktu terbitnya matahari maupun terbenamnya, karena setan ikut terbit bersamanya dan ikut tenggelam bersamanya”.

Oleh sebab itu beliau memukul orang-orang yang shalat pada waktu waktu itu." [HR. Imam Malik dalam al-Muwaththo no. 36]

Dari Naafi’ (mawla Ibnu Umar) menceritakan:

«أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ، وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ»

قَالَ: «وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا».

قَالَ: «وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا»

Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak pernah mengerjakan shalat Dhuha kecuali pada dua kali, yaitu pada hari ketika dia tiba di Makkah karena saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dhuha. Yaitu pertama-tama dia melakukan thawaf di Ka’bah kemudian shalat dua raka'at di belakang maqaam (Ibraahiim).

Dan yang lainnya adalah saat ia mengunjungi masjid Qubaa', yang mana ia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila ia telah memasukinya, maka ia enggan untuk keluar darinya hingga ia shalat terlebih dahulu di dalamnya.

Berkata Nafi' : "Dan Ibnu'Umar radliallaahu 'anhumaa menceritakan bahwa Rasulullah pernah mengunjungi (masjid Qubaa' baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki".

Berkata Nafi' : Dan Ibnu 'Umar radliallaahu 'anhumaa berkata : "Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan shalat pada waktu kapanpun yang ia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam"

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1192].

Dari sini terdapat sedikit kejelasan bahwa ‘sebaik-baik bid’ah’ yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah terkait shalat sunnah mutlak yang dilakukan oleh seorang muslim pada waktu malam dan siang, dan kemudian orang-orang banyak melakukannya pada waktu Dhuhaa.

Di satu sisi Ibnu ‘Umar mengetahui bahwa shalat sunnah mutlak siang dan malam itu adalah masyru’, namun di sisi lain ia tidak mengetahui adanya dalil pendawaman shalat Dhuhaa secara khusus di luar waktu ketika tiba dari bepergian.

Dengan kata lain, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan kaum muslimin pada waktu Dhuhaa, bukan pada shalat Dhuhaa-nya itu sendiri.

Berdasarkan hadits ini, maka shalat Dhuha itu -menurut Ibnu Umar- masuk ranah keumuman dalil yang membolehkan shalat sunnah; karena dilakukannya diluar waktu-waktu yang dilarang.

Jika demikian adanya : maka shalat Dhuha masih termasuk dalam ranah dan ruang lingkup perkara agama. Jika tidak, maka termasuk amalan yang tertolak, sebagaimana sabda Nabi dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا – أَوْ دِينِنَا – هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ». وَفِي لَفْظٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».

Siapa yang membuat perkara baru dalam perkara (urusan) kami ini – atau agama kami ini –  yang bukan bagian darinya, maka itu tertolak.

Dan dalam lafaz lain: Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perkara (urusan) kami, maka amalan itu tertolak. [HR. Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dengan sedikit perbedaan].

Contoh ketetapan Nabi yang menunjukkan bahwa beliau membedakan antara ibadah tanpa contoh dari Nabi yang masuk dalam urusan agama dengan yang diluar urusan agama:

Contoh ke 1 :

Dalam Sunan Abu Daud No. 3312 diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَضْرِبَ عَلَى رَأْسِكَ بِالدُّفِّ. قَالَ: «أَوْفِي بِنَذْرِكِ».

قَالَتْ: إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَذْبَحَ بِمَكَانِ كَذَا وَكَذَا مَكَانٌ كَانَ يَذْبَحُ فِيهِ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ.

قَالَ: «لِصَنَمٍ». قَالَتْ: لَا. قَالَ: «لِوَثَنٍ». قَالَتْ: لَا. قَالَ: «أَوْفِي بِنَذْرِكِ».

Bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah lalu berkata :

"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bernadzar untuk memukul rebana di hadapanmu."

Rasulullah berkata : "Laksanakanlah nadzarmu itu! 

Setelah itu perempuan tersebut berkata : "Sesungguhnya aku bernadzar menyembelih di tempat ini dan itu —tempat yang biasa digunakan menyembelih orang-orang Jahiliyah—.

Rasulullah bertanya : "Apakah untuk berhala?" 

Perempuan itu menjawab : "Tidak."

Rasulullah bertanya lagi : "Untuk patung?" 

Perempuan itu menjawab, "Tidak."

Rasulullah bersabda : "Tepatilah nadzarmu itu!" 

(di Hasankan oleh al-Albaani dalam Al-Irwa' (nomor 4587).

Contoh ke 2:

Dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami :

بيْنَا أنَا أُصَلِّي مع رَسولِ اللهِ ﷺ، إذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ، فَقُلتُ: "يَرْحَمُكَ اللَّهُ"، فَرَمَانِي القَوْمُ بأَبْصَارِهِمْ، فَقُلتُ: "واثُكْلَ أُمِّيَاهْ، ما شَأْنُكُمْ؟ تَنْظُرُونَ إلَيَّ"، فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بأَيْدِيهِمْ علَى أفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسولُ اللهِ ﷺ، فَبِأَبِي هو وأُمِّي، ما رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ ولَا بَعْدَهُ أحْسَنَ تَعْلِيمًا منه، فَوَاللَّهِ، ما كَهَرَنِي ولَا ضَرَبَنِي ولَا شَتَمَنِي".

قالَ: «إنَّ هذِه الصَّلَاةَ لا يَصْلُحُ فِيهَا شيءٌ مِن كَلَامِ النَّاسِ، إنَّما هو التَّسْبِيحُ والتَّكْبِيرُ وقِرَاءَةُ القُرْآنِ»

Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah , tiba-tiba ada seorang laki-laki dari jamaah yang bersin, lalu aku berkata: “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).” Maka orang-orang pun memandangku dengan tajam. Aku pun berkata: “Celaka ibuku, ada apa dengan kalian? Mengapa kalian memandangku begitu?” Lalu mereka menepuk paha mereka dengan tangan mereka, maka ketika aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun terdiam.

Setelah Rasulullah selesai shalat, demi ayah dan ibuku menjadi tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum maupun sesudah beliau yang lebih baik cara mengajarnya darinya. Demi Allah, beliau tidak memarahiku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku, tetapi beliau bersabda:

“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya ada ucapan manusia, karena di dalamnya hanya ada tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an.”

(Diriwayatkan oleh Muslim [537], Abu Dawud [930], dan Ahmad [23762])

Dari Abu Shalih dari sebagian para sahabat Nabi , mereka berkata :

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِرَجُلٍ: «كَيْفَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ». قَالَ: "أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ أَمَا إِنِّي لَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ". فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ».

Nabi pernah bertanya kepada seorang laki-laki: "Bagaimana kamu berdo'a dalam shalat?"

Laki-laki tersebut menjawab ; "Aku membaca tasyahhud dan mengucapkan;

"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ"

" Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api neraka.

Kami tidak pandai dandanah (merangkai kata-kata yang bagus dalam berdo'a) seperti dandanah Engkau dan dandanah Mu’adz ".

Lalu Rosulullah bersabda :   "Seputar itulah kami ber-dandanah ( dalam berdo’a )".

( HR. Ahmad No. 15333 dan Abu Daud No. 672 dan di shahihkan oleh Syeikh al-Albaani ).

Dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi radhiyallahu ‘anhu berkata :

" كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: «مَنِ الْمُتَكَلِّمُ؟» قَالَ: أَنَا، قَالَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ»

"Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi . Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan:

«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»

(Semoga Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya) '. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca;

«رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ»

(Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) '."

Selesai shalat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?"

Orang itu menjawab, "Saya."

Beliau bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut."

( HR. Bukhori no. 757 dan Muslim no. 617)

===***=== 

PEMBAHASAN KEEMPAT:
HUKUM MENDAWAMKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN DALIL UMUM

Boleh hukum-nya mendawamkan amalan baik dan mubah dengan mengamalkannya secara terus menerus pada saat tertentu atau pada munasabah (suasana) tertentu; karena menyukainya atau karena kesempatan yang memungkin. Itu semua diperbolehkan selama tidak meyakini atau mengklaim bahwa itu perintah atau anjuran dari Allah dan Rasul-Nya. Dan selama tidak menghukuminya sunnah atau wajib.

Berikut ini hujjah-hujjah yang membolehkan pendawaman amalan yang baik dan mubah, selama tidak menghukuminya sebagai Sunnah atau Wajib. Dan selama tidak berdusta mengatas namakan perintah dari Allah SWT dan Rasul-Nya .

Hujjah pertama :

Dalam hadits Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :

«إنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Sesungguhnya amal yang paling Allah cintai adalah yang paling didawamkan (terus berkesinambungan) meskipun sedikit”. [HR. Bukhori no. 6465 dan Muslim no. 783]

Hujjah ke dua :

Nabi menganjurkan umat-nya untuk mengunjungi masjid Quba dan shalat di dalam-nya agar mendapatkan pahala seperti Umrah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi bersabda : 

«من تطَهَّرَ في بيتِهِ ، ثمَّ أتى مسجدَ قباءٍ ، فصلَّى فيهِ صلاةً ، كانَ لَهُ كأجرِ عمرةٍ»

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba, lalu salat di dalamnya satu salat, maka baginya seperti pahala umrah”.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1412) dan lafal ini miliknya, juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i (699), dan Ahmad (15981) dengan makna yang serupa. Di shahihkan oleh al-Albaani dalam shahih Ibnu Majah dan Syu’aib al-Arna’uth dalam tahqiq Sunan Ibnu Majah 2/416].

Dalam lafadz riwayat lain dari Usaid bin Khudhair – radhiyallahu ‘anhu - : Nabi bersabda :

«الصلاةُ في مسْجدِ قِباءٍ كعُمرةٍ»

 Salat di Masjid Quba, sama seperti umrah.

[Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (324) dan Ibnu Majah (1411). Di hukumi Shahih oleh al-Albaani dalam Shahih al-Jami’ no. 3872].

REDAKSI HADITS DIATAS ADALAH UMUM, TIDAK MEMBATASI WAKTU TERTENTU.

Anjuran dalam hadits diatas redaksinya umum, tidak membatasinya dengan waktu-waktu terntentu. Akan tetapi Nabi sendiri membiasakan dirinya berkunjung ke mesjid Quba pada hari Sabtu . Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

كانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْتي مَسْجِدَ قُباءَ كُلَّ سَبْتٍ راكِبًا وماشيًا، وكانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ.

Rasulullah biasa datang ke Masjid Quba' setiap hari Sabtu dengan berkendara dan berjalan kaki, dan Ibn Umar biasa melakukannya. [Muttaqun ‘alaihi. Shahih Bukhori no. 1193 dan Shahih Muslim 1399]

Syeikh al-Albaani dalam (Mawsu’ah al-Albani Fil ‘Aqidah 2/507) menjelaskan tentang hadits ini dengan mengatakan:

قَالَ الحَافِظُ : "وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ وَفِيهِ أَنَّ النَّهْيَ عَنْ شَدِّ الرِّحَالِ لِغَيْرِ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ لَيْسَ عَلَى التَّحْرِيمِ لِكَوْنِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ رَاكِبًا وَتُعُقِّبَ بِأَنَّ مَجِيئَهُ ﷺ إِلَى قُبَاءٍ ‌إِنَّمَا ‌كَانَ ‌لِمُوَاصَلَةِ ‌الْأَنْصَارِ ‌وَتَفَقُّدِ ‌حَالِهِمْ وَحَالِ مَنْ تَأَخَّرَ مِنْهُمْ عَنْ حُضُورِ الْجُمُعَةِ مَعَهُ وَهَذَا هُوَ السِّرّ فِي تَخْصِيص ذَلِك بِالسَّبْتِ".

Al-Hafidz Ibnu Hajar (dalam al-Fath 3/69-70) berkata:

"Dalam hadits ini, meskipun jalur periwayatannya beragam, terdapat petunjuk tentang bolehnya mengkhususkan sebagian hari dengan amal saleh tertentu dan melaziminya.

Di dalamnya juga terdapat petunjuk bahwa larangan mengadakan perjalanan jauh (dengan maksud ibadah) selain ke tiga masjid tidak bersifat haram, karena Rasulullah biasa mendatangi Masjid Quba’ dengan berkendara.

Namun hal ini ditanggapi bahwa kedatangan Rasulullah ke Quba’ sebenarnya bertujuan untuk menyambung silaturahmi dengan kaum Anshar, memeriksa keadaan mereka, serta mengetahui kondisi orang-orang yang tidak dapat menghadiri salat Jumat bersamanya.

Inilah rahasia mengapa hal itu dikhususkan pada hari Sabtu."

Lalu Syeikh al-Albani berkata :

قُلتُ: فَعَلَى هٰذَا فَذَهَابُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَوْمَ السَّبْتِ لَمْ يَكُنْ مَقْصُودًا بِالذَّاتِ بَلْ مُرَاعَاةً لِمَصْلَحَةِ التَّفَقُّدِ الْمَذْكُورِ، وَعَلَيْهِ فَالأَيَّامُ كُلُّهَا سَوَاءٌ فِي الْفَضِيلَةِ فِي زِيَارَةِ قُبَاءَ لِعَدَمِ وُجُودِ قَصْدِ التَّخْصِيصِ، فَمَا ذَكَرَهُ القَارِي فِي «المِرْقَاةِ» «١/ ٤٤٨» عَنِ الطِّيبِيِّ أَنَّ: «الزِّيَارَةَ يَوْمَ السَّبْتِ سُنَّةٌ» لَيْسَ كَمَا يَنبَغِي.

Saya katakan : berdasarkan hal ini, maka kepergian Rasulullah pada hari Sabtu bukanlah sesuatu yang dimaksudkan secara khusus, melainkan karena mempertimbangkan kemaslahatan untuk memeriksa keadaan yang telah disebutkan.

Oleh karena itu, semua hari memiliki kedudukan yang sama dalam keutamaan untuk mengunjungi Quba’, karena tidak adanya maksud untuk mengkhususkan hari tertentu.

Maka apa yang disebutkan oleh Al-Qari dalam *Al-Mirqat* (1/448) dari Ath-Thibi bahwa: "Mengunjungi (Masjid Quba’) pada hari Sabtu adalah sunnah," tidaklah sebagaimana mestinya.

[Lihat : Mawsu’ah al-Albani Fil ‘Aqidah 2/507 dan Jami’ at-Turots al-Albani Fil Fiqh 8/328]

Hujjah kedua :

Seorang imam shalat dari kalangan para sahabat yang dalam shalatnya senantiasa mendawamkan baca surat al-Ikhlash di setiap selesai baca surat yang panjang, dan amalan tersebut tanpa ada contoh dari Nabi , oleh sebab itu para sahabat lainnya protes; karena menganggapnya tidak sesuai sunnah, maka terjadilah perselisihan, namun setelah perselisihan ini sampai kepada Nabi , beliau justru menbenarkan imam tersebut bahkan memuji-nya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

أنَّ رجلًا كانَ يلزَمُ قراءةَ ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ في الصَّلاةِ في كلِّ سورةٍ وَهوَ يؤمُّ أصحابَهُ ، فَقالَ لَهُ رسولُ اللَّهِ ﷺ: «ما يُلزِمُكَ هذِهِ السُّورةَ ؟» قالَ : إنِّي أحبُّها . قالَ : «حبُّها أدخلَكَ الجنَّةَ».

Bahwa seorang pria bermulazamah membaca : " Qul Hualloohu Ahad" dalam sholat pada setiap selesai baca surat , dan dia menjadi imam shalat para sahabatnya.

Maka Rosulullah bertanya kepada nya : " Apa yang mendorongmu untuk bermulazamah membaca surat ini ? ".

Dia menjawab : " Sesungguhnya aku mencintainya ".

Lalu Beliau bersabda : " Kecintaan-mu pada nya akan memasukanmu ke dalam syurga".

[Hadits ini di hasankan oleh Syeikh Muqbil al-Waadi'i dalam ash-Shahih al-Musnad no. 87].

Riwayat lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ ﷺ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

Seorang sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid Quba`, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah al fatihah -pent) dalam shalat, ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain, dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat.

Lantas para sahabatnya berbicara padanya, kata mereka : "Kamu membaca surat itu [Qulhuawwallah] lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, hingga kamu melanjutkannya dengan surat yang lain. Bacalah surat tersebut [Qulhuwallah] ! Atau tinggalkan itu , lalu bacalah surat yang lain!."

Sahabat Anshar itu berkata : "Aku tidak akan meninggalkannya [Qulhuwallah], bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya, maka aku akan melakukannya . Dan bila kalian tidak suka, maka aku akan meninggalkan kalian."

Sementara mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain.

Saat Nabi mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu .

Lalu beliau bertanya : "Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?"

Ia menjawab : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya."

Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga."

[ Al-Bukhari meriwayakannya dalam Shahihnya secara mu'allaq dengan shighat Jazm (774), Dan diriwayatkan  secara maushul oleh Tirmidzi no. (2826 , 2901) , Ahmad (hadis no. 11982 dan 12054) dan al-Darimi (hadis no. 3300).

Abu Isa at-Tirmidzy berkata ;

Hadits ini hasan gharib, shahih dari jalur ini dari hadits 'Ubaidullah bin Umar dari Tsabit. [Mubarak bin Fadlalah] meriwayatkan dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa seseorang berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat ini, yaitu QUL HUWALLAAHU AHAD." Beliau bersabda: "Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga."

Hujjah ketiga :

Hujjah ketiga ini sama dengan hujjah ke dua, namun tempat kejadiannya berbeda. Yaitu Taqrir Nabi terhadap seorang imam shalat yang selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan "Qul Huwallahu Ahad."

Dari Aisyah  radhiyallahu ‘anha :

أنَّ النبيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا علَى سَرِيَّةٍ، وكانَ يَقْرَأُ لأصْحَابِهِ في صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بقُلْ هو اللَّهُ أحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذلكَ للنبيِّ ﷺ، فَقالَ: سَلُوهُ لأيِّ شيءٍ يَصْنَعُ ذلكَ؟، فَسَأَلُوهُ، فَقالَ : لأنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وأَنَا أُحِبُّ أنْ أقْرَأَ بهَا، فَقالَ النبيُّ ﷺ: أخْبِرُوهُ أنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.

"Bahwa Rasulullah mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan "Qul Huwallahu Ahad."

Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah , maka beliau bersabda: "Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?"

Lalu merekapun menanyakan kepadanya. Ia menjawab, "Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya."

Mendengar itu Rasulullah bersabda: "Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta'ala juga mencintainya." (HR. Bukhori no. 7375 dan Muslim no. 813).

Hujjah ke empat :

Atsar Utsman bin 'Affaan radhiyallahu ‘anhu : di setiap hari Jum'at beliau senantiasa bersedekah memerdekakan hamba sahaya.

Utsman bin Affan - semoga Allah meridhoinya – berkata :

وَلَا مَرَّتْ بِي جُمُعَةٌ إِلَّا وَأَنَا أُعْتِقُ رَقَبَةً مُذْ أَسْلَمْتُ، إِلَّا أَنْ لَا أَجِدَ فِي تِلْكَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ أُعْتِقُ لِتِلْكَ الْجُمُعَةِ بَعْدُ."

Tidak ada satu Jum’at kecuali aku memerdekakan hamba sejak aku memeluk islam kecuali jika aku tidak mendapatinya [hamba] pada Jum’at tersebut maka aku akan memerdekakannya pada Jum’at berikutnya .

[ Di Riwayatkan oleh Ibnu Syabbah An-Numairi dalam “Tarikh al-Madinah” (4/1156) dan al-Fasawi dalam “Al-Ma`rifah wa al-Tarikh” (2/488).

DERAJAT ATSAR :

SANAD-nya Jayyid [baik].

Sebagaiaman disebutkan dalam “مَجْمُوعَةُ الرَّسَائِلِ الْحَدِيثِيَّةِ” oleh Ali Ridho (hal. 659).

Dan juga dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam “نُزْهَةُ الْأَسْمَاعِ” (hal. 8) dan dia berkata: “Telah Shahih dari Utsman – semoga Allah meridhoinya – bahwa dia berkata:

" مَا تَغَنَّيْتُ، وَلَا تَمَنَّيْتُ".

“Aku tidak pernah bernyanyi dan aku tidak berangan-angan ”.

Hujjah Ke Lima :

Dalam Islam diperbolehkan seseorang membikin-bikin do’a tertentu -tanpa contoh dari Nabi - untuk sebuah hajat dan keperluan tertentu, lalu ia senantiasa membacaankan doa tersebut saat diperlukan. Syarat diperbolehkannya itu selama dalam kandungannya tidak ada unsur kesyirikan atau ungkapan-ungkapan yang bertentangan dengan hukum syar’i.

Contohnya: do’a-do’a ruqyah yang bukan dari al-Qur’an dan as-Sunnah,  yang sudah biasa dibacakan dan telah teruji manfa’atnya.  

Ini berdasarkan hadits Auf bin Malik al-‘Asyja’i radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Kami dulu biasa meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami berkata: “Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang hal itu?”.

Nabi bersabda: “Tunjukkan padaku bacaan-bacaan ruqyah kalian. Tidak mengapa bacaan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan di dalamnya”. ( HR. Muslim no. 2200 & 4079 ).

**** 

PERNYATAAN ULAMA TENTANG MENGKHUSUSKAN SUNNAH MUTLAK PADA WAKTU TERTENTU

Dalam Kitab Liqo-at Multaqa Ahlil Hadits bil-'Ulama 15/10 disebutkan :

"الْعِبَادَةُ إِمَّا أَنْ تَكُونَ عَامَّةً مُطْلَقَةً؛ مِثْلَ الْحَثِّ عَلَى مُطْلَقِ صَلَاةِ اللَّيْلِ، وَفَضْلِ الصَّوْمِ مُطْلَقًا، وَفَضْلِ الْإِكْثَارِ مِنَ الذِّكْرِ بِإِطْلَاقٍ. فَهَذَا يَكْفِي فِي ثُبُوتِهِ النَّصُّ الْعَامُّ.

وَإِمَّا أَنْ تَكُونَ الْعِبَادَةُ خَاصَّةً مُقَيَّدَةً؛ مِثْلَ: فَضْلِ صَلَاةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي زَمَنٍ مُعَيَّنٍ أَوْ فِي مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، وَفَضْلِ صَوْمِ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الْأُسْبُوعِ، أَوْ مِنَ الشَّهْرِ، أَوْ مِنَ السَّنَةِ، وَفَضْلِ ذِكْرٍ مُعَيَّنٍ فِي زَمَنٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ بِعَدَدٍ مُعَيَّنٍ. فَهَذَا لَا يَكْفِي فِي ثُبُوتِهِ مُجَرَّدُ النَّصِّ الْعَامِّ، بَلْ لَابُدَّ فِي ثُبُوتِهِ مِنْ دَلِيلٍ خَاصٍّ مُعَيَّنٍ".

Terjemahnya : “Ibadah itu ada dua macam:

Pertama, ibadah yang bersifat umum dan mutlak.

Contohnya : seperti anjuran untuk shalat malam secara umum, keutamaan puasa secara umum, atau keutamaan memperbanyak zikir tanpa batasan tertentu. Untuk jenis ibadah seperti ini, cukup untuk mengamalkannya dengan dalil yang bersifat umum.

Kedua, ibadah yang bersifat khusus dan terikat.

Contohnya : seperti keutamaan shalat tertentu pada waktu tertentu atau di tempat tertentu, keutamaan puasa pada hari tertentu dalam sepekan, atau dalam sebulan, atau dalam setahun, serta keutamaan zikir tertentu pada waktu tertentu atau dengan jumlah tertentu. Untuk menetapkan jenis ibadah seperti ini, tidak cukup hanya dengan dalil umum, tetapi harus ada dalil khusus dan tertentu”. [SELESAI]

Dalam halaman berikutnya 15/11 disebutkan:

وَحَاصِلُ الْقَوْلِ: أَنَّ النَّصَّ الْعَامَّ لَهُ دَلَالَةٌ عَلَى أَفْرَادِهِ، لَكِنَّهَا دَلَالَةٌ إِجْمَالِيَّةٌ، وَاقِعَةٌ عَلَى كُلِّ فَرْدٍ مِنْ جِهَةِ الْعُمُومِ وَالْإِطْلَاقِ، وَهَذِهِ دَلَالَةٌ ثَابِتَةٌ، ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ الدَّلَالَةَ لَا تَقْتَضِي وَلَا يَلْزَمُ مِنْهَا ثُبُوتُ دَلَالَةٍ أُخْرَى لِلنَّصِّ الْعَامِّ، وَهِيَ دَلَالَتُهُ عَلَى أَفْرَادِهِ الْمُنْدَرِجِينَ تَحْتَهُ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ وَالتَّعْيِينِ؛ حَيْثُ إِنَّ دَلَالَةَ اللَّفْظِ الْعَامِّ قَاصِرَةٌ عَنْ ذَلِكَ.

Kesimpulannya: bahwa suatu dalil yang bersifat umum memang bisa menjadi dalil untuk bagian-bagian yang termasuk di dalamnya, namun dalil tersebut bersifat global, berlaku atas setiap bagian hanya dari sisi keumuman dan keluasannya. Pendalilan seperti ini memang tetap ada.

Akan tetapi, pendalilan tersebut tidak menunjukkan dan tidak mengharuskan adanya ketetapan pendalilan lain dari dalil umum itu, yaitu pendalilan yang menetapkan hukum bagi bagian-bagian tertentu yang berada di bawahnya secara khusus dan tertentu; karena makna yang dikandung oleh lafaz umum tidak sampai kepada tingkat pendalilan yang bersifat khusus dan tertentu terhadap itu.

Berikut ini pernyataan sebagian para ulama tentang mengamalkan suatu ibadah yang tidak ada contoh dari Nabi dalam prakteknya, namun amalan tersebut masuk dalam katagori dalil umum dan masih dalam ruang lingkup dan ranah dalil tersebut .

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :

"وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ ﷺ «كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» مَا أُحْدِثُ وَلَا دَلِيلَ لَهُ مِنَ الشَّرْعِ بِطَرِيقٍ خَاصٍّ وَلَا عَام".

“Dan yang dimaksud dengan sabdanya Setiap bid’ah adalah kesesatan” adalah sesuatu yang baru diada-adakan yang tidak memiliki dalil dari syariat, baik dengan dalil khusus maupun dalil umum (berarti jika masuk dalam ranah dalil umum, maka itu bukan bid’ah yang sesat). (Fathul Bari 13/254)

Ibnu Hazm berkata :

“الْبِدْعَةُ فِي الدِّينِ كُلُّ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْقُرْآنِ وَلَا عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِلَّا أَنَّ مِنْهَا مَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَيُعْذَرُ بِمَا قَصَدَ إِلَيْهِ وَيَكُونُ حَسَنًا، وَهُوَ مَا كَانَ أَصْلُهُ الْإِبَاحَةَ كَمَا وَرَدَ عَنْ عُمَرَ: (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ)، وَهُوَ مَا كَانَ فِعْلُ خَيْرٍ جَاءَ النَّصُّ بِعُمُومِ اسْتِحْبَابِهِ وَإِنْ لَمْ يُقَرِّرْ عَمَلَهُ فِي النُّصُوصِ، وَمِنْهَا مَا يَكُونُ مَذْمُومًا، وَلَا يُعْذَرُ صَاحِبُهُ وَهُوَ مَا قَامَتِ الْحُجَّةُ عَلَى فَسَادِهِ فَتَمَادَى الْقَائِلُ بِهِ.”

“Bid‘ah dalam agama adalah segala sesuatu yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan tidak pula dari Rasulullah .

Namun, sebagian bid‘ah itu pelakunya diberi pahala dan diberi udzur sesuai niatnya dan hal itu menjadi bid’ah hasanah. Yaitu sesuatu yang asalnya mubah, sebagaimana perkataan Umar: ‘Sebaik-baik bid‘ah ini.’

Termasuk pula perbuatan baik yang ada dalil umum tentang dianjurkannya, meskipun amal itu tidak ditetapkan dalam nash secara rinci. Sebagian lain adalah bid‘ah yang tercela dan pelakunya tidak diberi uzur, yaitu sesuatu yang telah ditegakkan hujjah atas kebatilannya namun orang itu tetap bersikeras.” (al-Ihkam 1/47; lihat juga: Dr. Izzat Athiyah, al-Bid‘ah, hlm. 161)

Perkataan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali :

 (الْمُرَادُ بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، أَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ، فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً)

“Yang dimaksud dengan bid‘ah adalah sesuatu yang diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat (dalil umum) yang menunjukkan kepadanya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dalam syariat (dalil umum) yang menunjukkan kepadanya, maka tidak disebut bid‘ah secara syar‘i meskipun secara bahasa disebut bid‘ah.” (Jami‘ al-Ulum wa al-Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, hal. 291, Dar al-Jil)

Perkataan asy-Syafi‘i, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar :

قَالَ الشَّافِعِيُّ الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ مَحْمُودَةٌ وَمَذْمُومَةٌ ‌فَمَا ‌وَافَقَ ‌السُّنَّةَ ‌فَهُوَ ‌مَحْمُودٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومٌ، أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ بِمَعْنَاهُ مِنْ طَرِيقِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْجُنَيْدِ عَنِ الشَّافِعِيِّ

وَجَاءَ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَيْضًا مَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي مَنَاقِبِهِ قَالَ: الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ مَا أُحْدِثُ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالِ وَمَا أُحْدِثُ مِنَ الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ انْتَهَى

Asy-Syafi‘i berkata: Bid‘ah itu ada dua macam, yaitu bid‘ah yang terpuji dan yang tercela. Apa yang sesuai dengan sunnah maka itu terpuji, dan apa yang menyelisihi sunnah maka itu tercela. Pernyataan ini diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim secara maknanya melalui jalur Ibrahim bin Al-Junaid dari Asy-Syafi‘i.

Diriwayatkan pula dari Asy-Syafi‘i sebagaimana dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Manaqib-nya: Bid‘ah itu ada dua jenis. Sesuatu yang diada-adakan dan menyelisihi Al-Qur’an, atau Sunnah, atau atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid‘ah yang sesat. Dan sesuatu yang diada-adakan dalam kebaikan namun tidak menyelisihi salah satu dari hal tersebut, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”. Selesai. (Fathul Bari 13/253)

Ibnu Quddamah berkata :

قَالَ القَاضِي: وَلَا بَأْسَ بِالتَّعْرِيفِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِالأَمْصَارِ. وَقَالَ الأَثْرَمُ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ عَنِ التَّعْرِيفِ فِي الأَمْصَارِ، يَجْتَمِعُونَ فِي المَسَاجِدِ يَوْمَ عَرَفَةَ، قَالَ: أَرْجُو أَنْ لَا يَكُونَ بِهِ بَأْسٌ، قَدْ فَعَلَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ. وَرَوَى الأَثْرَمُ، عَنِ الحَسَنِ، قَالَ: أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِالبَصْرَةِ ابْنُ عَبَّاسٍ، رَحِمَهُ اللهُ. وَقَالَ أَحْمَدُ: أَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَمْرُو بْنُ حُرَيْثٍ. وَقَالَ: الحَسَنُ، وَبَكْرٌ، وَمُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ كَانُوا يَشْهَدُونَ المَسْجِدَ يَوْمَ عَرَفَةَ. قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ وَذِكْرٌ لِلَّهِ. فَقِيلَ لَهُ: تَفْعَلُهُ أَنْتَ؟ قَالَ: أَمَّا أَنَا فَلَا. وَرُوِيَ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ حَضَرَ مَعَ النَّاسِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ.

Al-Qadhi berkata: Tidak mengapa melakukan ta’rif pada sore hari Arafah di berbagai negeri.

Al-Atsram berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang ta’rif di berbagai negeri, yaitu mereka berkumpul di masjid-masjid pada hari Arafah.

Ia berkata: Aku berharap tidaklah mengapa, karena hal itu pernah dilakukan oleh lebih dari satu orang.

Al-Atsram meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa orang pertama yang melakukan ta’rif di Bashrah adalah Ibnu Abbas, rahimahullah.

Ahmad berkata: Orang pertama yang melakukannya adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraith (Abu Sa’id al-Makhzumi al-Kufi, seorang sahabat).

Ia juga berkata: Al-Hasan al-Bashri, dan Bakar bin Abdullah bin Amr al-Muzani al-Bashri, dan Muhammad bin Wasi’ al-Azdi (ahli ibadah dari Bashrah) mereka menghadiri masjid pada hari Arafah.

Ahmad berkata: Tidak mengapa dengan hal itu, karena itu hanya doa dan zikir kepada Allah. Lalu dikatakan kepadanya: Apakah engkau melakukannya? Ia menjawab: Adapun aku, tidak.

Dan diriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwa ia pernah hadir bersama orang-orang pada sore hari Arafah. [Baca : al-Mughni 3/295 Tahqiq at-Turki).

===***===

PEMBAHASAN KE LIMA
AMALAN-AMALAN KHUSUS IBNU UMAR BERDASARKAN DALIL UMUM

Ada beberapa amalan ibadah Abdulah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang beliau lakukan tanpa ada contoh dari sunnah Nabi secara khusus, namun termasuk dalam ranah dalil umum atau sunnah mutlak. Diantaranya adalah sbb:  

****

AMALAN PERTAMA :
IBNU UMAR, SENANTIASA ZIARAH KUBUR NABI SAAT KELUAR MASUK MADINAH

Ibnu Umar apabila ingin bepergian atau kembali dari bepergian, ia datang ke makam Nabi , lalu bershalawat kepadanya, berdoa, kemudian pergi.

Amalan Ibnu Umar tidak ada dalil khusus dari Nabi dan tidak ada sahabat selainnya yang mengamalkannya, namun beliau berdalil dengan keumuman hadits yang menganjurkan ziarah kubur.

Imam Malik berkata: Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami :

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ «‌كَانَ ‌إِذَا ‌أَرَادَ ‌سَفَرًا، ‌أَوْ ‌قَدِمَ ‌مِنْ ‌سَفَرٍ ‌جَاءَ ‌قَبْرَ ‌النَّبِيِّ ﷺ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَدَعَا ثُمَّ انْصَرَفَ» .

قَالَ مُحَمَّدٌ: «هَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَهُ إِذَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ يَأْتِي قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ»

bahwa Ibnu Umar apabila ingin bepergian atau kembali dari bepergian, ia datang ke makam Nabi , lalu bershalawat kepadanya dan berdoa, kemudian pergi.

Muhammad (bin Ibrahim) berkata: Demikianlah seharusnya dilakukan apabila datang ke Madinah, yaitu mendatangi makam Nabi .

[Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa halaman 334 nomor 948. (Al-Muwaththa: 115, hadits nomor 397)].

Taqiyuddin Al-Maqrizi berkata dalam Imta‘ al-Asma’ 11/132:

Al-Imam Malik berkata dalam Al-Muwaththa (397): dari Abdullah bin Dinar, ia berkata:

«رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُمَا يَقِفُ عَلَى قَبْرِ الرَّسُولِ ﷺ وَيَدْعُو لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُمَا»

Aku melihat Abdullah bin Umar radhiyallahu ta'ala ‘anhuma berdiri di sisi makam Rasul dan mendoakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ta'ala ‘anhuma.

Utsman Al-Kamakhy men-sahih-kan sanadnya dalam kitab Al-Muhya fi Kashf Asrar Al-Muwaththa 4/313, kemudian ia menjelaskan hadits tersebut:

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا :

«كَانَ أَيْ: مِنْ دَأْبِهِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا، أَيْ: إِنْ شَاءَهُ وَقَصَدَ وَدَاعَ النَّبِيِّ ﷺ، أَوْ قَدِمَ أَيْ: إِذَا رَجَعَ وَجَاءَ مِنْ سَفَرٍ أَيْ: وَقَصَدَ سَلَامَ الْقَوْمِ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ ﷺ حَتَّى فِي قَبْرِهِ، كَمَا هُوَ الْعَقْدُ فِي الْمُعْتَقَدِ :

جَاءَ قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ؛ أَيْ: قَرِيبَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ، أَيْ: بَعْدَ التَّسْلِيمِ بِأَنْ قَالَ: الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. وَدَعَا أَيْ: اللَّهَ وَتَوَسَّلَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي ابْتِغَاءِ رِضَاهُ. ثُمَّ انْصَرَفَ أَيْ: عَنْ قَبْرِهِ قَبْرِ ضَجِيعَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَدَعَا لَدَيْهِ. وَلَعَلَّ هَذَا بَيَانُ الزِّيَارَةِ الْإِجْمَالِيَّةِ حَالَ الْعَجَلَةِ. وَأَمَّا فِي وَقْتِ السَّعَةِ فَإِذَا بِهَا كَثِيرَةٌ كَمَا بَيَّنْتُ فِي سُلَّمِ الْفَلَاحِ شَرْحِ نُورِ الْإِيضَاحِ.

قَالَ مُحَمَّدٌ: هَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَهُ إِذَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ: أَيْ: وَكَذَا إِذَا أَرَادَ السَّفَرَ مِنْهَا خُصُوصًا فِي الْحَالَيْنِ، وَهُوَ لَا يُنَافِي الزِّيَارَةَ فِي غَيْرِهَا صَبَاحًا وَرَوَاحًا يَأْتِي قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، يَعْنِي: بَعْدَ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ.

وَقَدْ رَوَى أَبُو حَنِيفَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: وَمِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَأْتِيَ قَبْرَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ فَيَسْتَقْبِلَ الْقَبْرَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، كَذَا قَالَهُ عَلِيُّ الْقَارِي».

Al-Imam Malik mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ia adalah orang yang apabila ingin bepergian, yaitu apabila menginginkannya dan bermaksud berpamitan kepada Rasulullah , atau apabila kembali, yaitu apabila pulang dari bepergian dan bermaksud menyampaikan salam kepada beliau; karena Rasulullah sekalipun berada di dalam kuburnya sebagaimana keyakinan dalam akidah.

Ia datang ke makam Nabi , yaitu mendekatinya, lalu bershalawat kepadanya setelah mengucapkan salam dengan berkata:

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Shalawat dan salam atasmu wahai Rasulullah.”

Lalu ia berdoa kepada Allah dan bertawassul kepada Nabi dalam mencari keridaan-Nya.

Kemudian ia pergi dari makam beliau, makam dua sahabat yang dimakamkan bersama beliau, lalu memberi salam kepada masing-masing keduanya dan berdoa di sisi mereka. Barangkali ini adalah penjelasan bentuk ziarah secara ringkas ketika dalam keadaan terburu-buru. Adapun ketika dalam keadaan lapang, maka bentuknya banyak sebagaimana dijelaskan dalam Salm al-Falah Syarh Nur al-Idhah.

Muhammad (bin Ibrahim) berkata: Demikianlah seharusnya dilakukan apabila datang ke Madinah, demikian pula apabila hendak bepergian darinya, khususnya dalam dua keadaan tersebut. Hal ini tidak menafikan ziarah pada waktu lainnya, pagi atau sore, dengan mendatangi makam Nabi , yaitu setelah tahiyyatul masjid.

Abu Hanifah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: Termasuk sunnah adalah engkau mendatangi makam Rasulullah dari arah kiblat, lalu menghadap ke makam itu dengan wajahmu, kemudian berkata: “Assalamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh,” demikian yang dikatakan oleh Ali Al-Qari. [SELESAI]

Dalam Musnad Abu Hanifah riwayat al-Hashkafi no. 37 diriwayatkan : Dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

"مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَأْتِيَ قَبْرَ النَّبِيَّ ﷺ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ، وَتَجْعَلَ ظَهْرَكَ إِلَى الْقِبْلَةِ، وَتَسْتَقْبِلَ الْقَبْرَ لِوَجْهِكَ، ثُمَّ تَقُولَ: ‌السَّلَامُ ‌عَلَيْكَ ‌أَيُّهَا ‌النَّبِيُّ ‌وَرَحْمَةُ ‌اللَّهِ ‌وَبَرَكَاتُهُ "

“Termasuk sunnah adalah engkau mendatangi kubur Nabi dari arah kiblat, lalu engkau menjadikan punggungmu menghadap kiblat dan menghadapkan wajahmu ke kubur, kemudian engkau mengucapkan:

‌السَّلَامُ ‌عَلَيْكَ ‌أَيُّهَا ‌النَّبِيُّ ‌وَرَحْمَةُ ‌اللَّهِ ‌وَبَرَكَاتُهُ

(Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi).”

Taqiyuddin Al-Muqraizi dalam Imta‘ al-Asma’ 11/132 meriwayatkan:

“Ibnu Ghayr berkata: Muhammad bin Bashir telah menceritakan kepada kami; Ubaidullah bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَتِ.

Dari Ibnu Umar bahwa apabila ia datang dari bepergian, ia memulai dengan mendatangi makam Nabi lalu bershalawat kepadanya dan tidak menyentuh makam tersebut. Setelah itu ia memberi salam kepada Abu Bakar radhiyallahu ta'ala ‘anhu, kemudian ia berkata: ‘Assalamu ‘alaika ya Abatah.’”

Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah berkata dalam Jala’ Al-Afham halaman 399:

Sahnun berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al-Qasim dari Malik, dari Abdullah bin Dinar.

Ia berkata:

«رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقِفُ عَلَى قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَيَدْعُو لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا»

Aku melihat Abdullah bin Umar berdiri di sisi makam Nabi lalu bershalawat kepada Nabi dan mendoakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. [Malik menyebutkannya dalam Al-Muwaththa].

Ibnu Numayr berkata: Muhammad bin Bashir telah menceritakan kepada kami; Abdullah telah menceritakan kepada kami dari Nafi’:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : «أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَتِ».

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa apabila ia datang dari bepergian, ia memulai dengan mendatangi makam Nabi lalu bershalawat kepadanya dan tidak menyentuh makam itu. Kemudian ia memberi salam kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata: “Assalamu ‘alaika ya Abati (yakni ayahku Umar).”

As-Sakhawi berkata dalam Al-Qawl Al-Badi‘ hal. 212:

“Dalam lafaz riwayat lain disebutkan :

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَيْضًا: «كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا يَمَسُّ الْقَبْرَ، ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ، ثُمَّ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَتِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ».

bahwa Ibnu Umar juga apabila datang dari bepergian, ia memulai dengan mendatangi makam Nabi lalu bershalawat kepadanya dan tidak menyentuh makam tersebut. Kemudian ia memberi salam kepada Abu Bakar, lalu berkata: ‘Assalamu ‘alaika ya Abatah’ radhiyallahu ‘anhum.”

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan—dan melalui jalurnya Al-Bayhaqi dalam Asy-Syu‘ab—dari hadits Abdullah bin Munib bin Abdullah bin Abi Umamah dari ayahnya. Ia berkata:

«رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَتَى قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، فَوَقَفَ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ انْصَرَفَ».

“Aku melihat Anas bin Malik datang ke makam Nabi lalu berdiri, mengangkat kedua tangannya hingga aku mengira ia memulai shalat. Lalu ia bersalam kepada Nabi , kemudian pergi.”

Dan dari Yazid bin Abi Sa‘id Al-Madani, maula Al-Mahdi, ia berkata:

وَدَّعْتُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ، فَقَالَ: «إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً». قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، كَيْفَ تَرَى حَاجَتَكَ عِنْدِي؟ قَالَ: «إِنِّي أَرَاكَ إِذَا أَتَيْتَ الْمَدِينَةَ سَتَرَى قَبْرَ النَّبِيِّ ﷺ، فَاقْرَأْهُ مِنِّي السَّلَامَ».

“Aku berpamitan kepada Umar bin Abdul Aziz. Ia berkata: ‘Aku memiliki satu permintaan kepadamu.’ Aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, bagaimana engkau melihat permintaanmu dariku?’

Ia berkata: ‘Aku melihatmu, apabila engkau datang ke Madinah, engkau akan mendatangi makam Nabi . Maka sampaikanlah salam kepadanya dariku.’”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan melalui jalurnya Al-Bayhaqi dalam Asy-Syu‘ab. [Baca: Tarikh Makkah al-Musyarrofah Oleh Ibnu adh-Diyaa, Abu al-Baqoo al-Hanafi hal. 38, al-Qowlul Badii’ oleh as-Sakhowi hal. 212]

****

AMALAN KEDUA :
IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TASYAHHUD SHALAT

Dari Abu Bisyr, ia berkata: Aku mendengar Mujahid menceritakan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah tentang bacaan tasyahud:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ». قَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: "زِدْتُ فِيهَا: وَبَرَكَاتُهُ".

«السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ: زِدْتُ فِيهَا: "وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ".

«وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».

Terjemahnya :

Dari Rasulullah tentang bacaan tasyahud:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ»

(Artinya :Segala penghormatan milik Allah, segala salawat dan kebaikan milik Allah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya).

Ibnu Umar berkata: “Aku telah menambahkan ucapan: وَبَرَكَاتُهُ” (dan keberkahannya).

Dan Rasulullah mengucapkan :

«السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»

(Artinya : Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).

Ibnu Umar berkata: “Aku telah menambahkan kalimat : وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ” (Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya).”

Lalu Rasulullah mengucapkan :

«وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

(Artinya : Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/255, Ath-Thohawi 1/263–264, Al-Daraquthni (1329), dan Al-Baihaqi 2/139 melalui jalur Nashr bin Ali Al-Jahdhami, serta Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah 1/205–206 melalui jalur Ibnu Abi ‘Adi, keduanya dari Syubah dengan sanad ini.

Al-Daraquthni 2/161 berkata:

هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ. وَقَدْ تَابَعَهُ عَلَى رَفْعِهِ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، وَوَقَفَهُ غَيْرَهُمَا

“Sanad ini sahih. Ibnu Abi ‘Adi mengikuti Syubah dalam meriwayatkannya secara marfu’, sementara selain keduanya meriwayatkannya secara mauquf.”

Demikian pula Al-Hafidz dalam Fath 2/251, dan sanad hadits ini sesuai dengan syarat Muslim.

Dan hadits ini dinyatakan shahih pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (892), dan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq al-Musnad 5/34 di bawah hadits no. 5360, dan juga Syu’aib Al-Arna’uth dalam tahqiq Sunan Abi Dawud 2/212.

Ada sebagian para ulama yang mengatakan :

وَيُسْتَدَلُّ عَلَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ لَمْ يَكُنْ يَرْفُضُ كُلَّ مَا جَدَّ رَفْضًا مُطْلَقًا، بَلْ كَانَ يُجِيزُ الزِّيَادَةَ الَّتِي لَا تُخَالِفُ الْأُصُولَ..

"Dan ini dapat dijadikan dalil bahwa Ibnu Umar tidak menolak setiap hal baru secara mutlak, tetapi beliau membolehkan penambahan yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok Syariat".

Dan Ath-Thohawi meriwayatkannya 1/264 melalui jalur Mu’adz bin Mu’adz dari Syubah, dengan sanad mauquf kepada Ibnu Umar.

Ahmad (5360), Ath-Thohawi 1/163, dan Al-Thabrani dalam Al-Awsath (2625) meriwayatkannya dengan makna serupa melalui jalur Abdullah bin Babi, dan Al-Daraquthni (1330) melalui jalur Abdullah bin Dinar, keduanya dari Ibnu Umar secara mauquf tanpa tambahan-tambahan tersebut. Namun sanad lewat jalur Ibnu Dinar ini lemah.

Ath-Thohawi juga meriwayatkannya (1/264) melalui jalur Zaid Al-‘Ammi dari Abu Al-Shiddiq Al-Naji dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang berkata:

«‌كَانَ ‌أَبُو ‌بَكْرٍ يُعَلِّمُنَا ‌التَّشَهُّدَ ‌عَلَى ‌الْمِنْبَرِ كَمَا يُعَلِّمُونَ الصِّبْيَانَ فِي الْكُتَّابِ»

“Abu Bakar mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud di atas mimbar sebagaimana mereka mengajarkan anak-anak di tempat belajar (kutab).”

Namun di dalam sanadnya terdapat Zaid Al-‘Amaa”, dia itu lemah.

Dan Imam Malik dalam al-Muwaththo (riwayat Yahya) 1/90 no. 53 meriwayatkan : Dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman bin Abdil Qari: “Bahwa ia mendengar Umar bin Al-Khaththab saat berada di atas mimbar mengajarkan kepada manusia bacaan tasyahud, ia berkata: “Ucapkanlah:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ، ‌السَّلَامُ ‌عَلَيْكَ ‌أَيُّهَا ‌النَّبِيُّ ‌وَرَحْمَةُ ‌اللَّهِ ‌وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

Segala penghormatan milik Allah, segala yang suci milik Allah, segala yang baik dan seluruh salawat milik Allah.

Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya.

Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” [Selesai]

---

TAMBAHAN IBNU UMAR LAFADZ “BISMILLAH” DI AWAL TASYAHHUD :

Al-Imam Malik dalam al-Muwaththa 1/91 no. 54, Abdurrozzaq 2/203 no. 3073, Ath-Thohawi 1/216, dan Al-Baihaqi 2/204 no. 2833 meriwayatkannya melalui jalur Nafi’. Juga oleh Ath-Thohawi 1/261 melalui jalur Salim, keduanya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma secara mauquf dengan lafaz:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَتَشَهَّدُ فَيَقُولُ: «‌بِسْمِ ‌اللَّهِ، ‌التَّحِيَّاتُ ‌لِلَّهِ، ‌الصَّلَوَاتُ ‌لِلَّهِ، ‌الزَّاكِيَاتُ ‌لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، شَهِدْتُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ». يَقُولُ هَذَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ. وَيَدْعُو، إِذَا قَضَى تَشَهُّدَهُ، بِمَا بَدَا لَهُ.

فَإِذَا جَلَسَ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ، تَشَهَّدَ كَذَلِكَ أَيْضًا، إِلَّا أَنَّهُ يُقَدِّمُ التَّشَهُّدَ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا بَدَا لَهُ. فَإِذَا قَضَى تَشَهُّدَهُ، وَأَرَادَ أَنْ يُسَلِّمَ، قَالَ: «السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ» عَنْ يَمِينِهِ، ثُمَّ يَرُدُّ عَلَى الْإِمَامِ. فَإِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ أَحَدٌ عَنْ يَسَارِهِ، رَدَّ عَلَيْهِ

Terjemah :

Bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma ketika membaca tasyahhud, beliau mengucapkan:

"‌بِسْمِ ‌اللَّهِ، ‌التَّحِيَّاتُ ‌لِلَّهِ، ‌الصَّلَوَاتُ ‌لِلَّهِ، ‌الزَّاكِيَاتُ ‌لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، شَهِدْتُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

(Artinya : Bismillah, segala penghormatan adalah milik Allah, segala shalat adalah milik Allah, segala yang baik dan suci adalah milik Allah. Keselamatan atas Nabi , rahmat Allah, dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Beliau mengucapkan ini pada dua rakaat pertama, lalu berdoa setelah selesai dari tasyahhud dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.

Apabila beliau duduk pada akhir shalatnya, beliau bertasyahhud dengan cara yang sama juga, hanya saja beliau memulai dengan tasyahhud, kemudian berdoa dengan doa apa pun yang beliau kehendaki. 

Setelah selesai dari tasyahhud dan hendak salam, beliau mengucapkan:

«السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»

(Artinya : Keselamatan atas Nabi , rahmat Allah, dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. 

Assalamu 'alaikum”, ke arah kanannya, kemudian beliau menjawab salam kepada imam. 

Jika ada seseorang di sebelah kirinya memberi salam kepadanya, beliau menjawab salam kepadanya). [Selesai]

PREDIKAT ATSAR :

Atsar Ibnu Umar ini dinyatakan Shahih sanadnya oleh Badruddin al-‘Aini dalam Nukhob al-Afkaar 4/452 dan oleh Abdul Qodir al-Arna’uth dalam catatan kaki Jami’ al-Ushul 5/400.

Namun Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/316 setelah membawakan riwayat-riwayat marfu’ dan mauquf yang memuat ucapan “basmalah di awal tasyahud, dia berkata:

"‌وَفِي ‌الْجُمْلَةِ ‌لَمْ ‌تَصِحَّ ‌هَذِهِ ‌الزِّيَادَةُ - يعني مرفوعة إلى النبي - وَقَدْ تَرْجَمَ الْبَيْهَقِيُّ عَلَيْهَا مَنِ اسْتَحَبَّ أَوْ أَبَاحَ التَّسْمِيَةَ قَبْلَ التَّحِيَّةِ".

“Secara keseluruhan, tambahan ini tidak ada yang sahih (yakni ; marfu’ kepada Nabi ). Al-Baihaqi telah membuatkan bab khusus tentang siapa saja yang menganjurkan atau membolehkan membaca basmalah sebelum at-tahiyyat.” [Selesai]

===

PENDAPAT IBNU MAS’UD TENTANG TAMBAHAN BACAAN DALAM TASYAHUD:

Ada riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang memakruhkan tambahan bacaan tasyahhud. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhill bin Muhriz Adh-Dhabbi, dari Syaqiq bin Salamah bin Wa’il Al-Asadi, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

“Dahulu apabila kami shalat di belakang Rasulullah , kami mengucapkan:

"السَّلامُ عَلَى اللَّهِ"، فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلاتَهُ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا، فَقَالَ: "لا تَقُولُوا السَّلامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلامُ، وَلَكِنْ قُولُوا: «التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»".

Terjemah:

Keselamatan atas Allah (السَّلامُ عَلَى اللَّهِ). Lalu pada suatu hari Rasulullah menyelesaikan shalatnya, kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda:

“Jangan kalian mengatakan ‘keselamatan atas Allah’ (السَّلامُ عَلَى اللَّهِ), karena Allah adalah As-Salam. Tetapi ucapkanlah:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

(Artinya: Segala penghormatan milik Allah, segala salawat dan yang baik-baik milik Allah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Lalu Muhammad asy-Syaibany berkata:

"وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَكْرَهُ أَنْ يُزَادَ فِيهِ حَرْفٌ، أَوْ يُنْقَصُ مِنْهُ حَرْفٌ".

Dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memakruhkan penambahan atau pengurangan satu huruf pun dari bacaan tersebut.

[Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa halaman 69 nomor 148].

Akan tetapi setelah Rasulullah wafat, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu merubah kalimat “as-salaamu ‘alaika” menjadi “as-salamu ‘alan Nabi”. Padahal pada masa Nabi masih hidup, tidak semua umat Islam melaksankan shalatnya di samping beliau , bahkan mereka yang tinggal di negeri yang sangat jauh pun pada masa tersebut tetap mengucapkan “as-salamu ‘alaika”. Contohnya mereka yang tinggal di Yaman.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ:

«اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».

وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا: «السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ».

Terjemah:

Rasulullah mengajariku bacaan tasyahud sementara telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku satu surah dari Al-Qur’an:

«اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».

(Artinya : Segala penghormatan adalah milik Allah, begitu pula doa-doa dan kebaikan. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).

Beliau masih berada di tengah-tengah kami, tetapi setelah beliau wafat, kami mengatakan:

«السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ»

“Semoga keselamatan terlimpah kepada Nabi.”

[Diriwayatkan oleh Bukhari nomor 6265 dan Muslim nomor 402].

Komentar Syeikh Aqil bin Muhammad Al-Maqtari Al-Yamani (murid Syaikh Muqbil Al-Wadi‘i). Dia berkata dalam catatan kaki Ash-Shorim Al-Munki halaman 117:

فَائِدَةٌ: مَا ثَبَتَ عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ بَعْدَ وَفَاةِ النَّبِيِّ ﷺ، كَانَ يَقُولُ: "السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ"، فَإِنَّهُ مِنْ فِعْلِهِ، وَفِعْلُهُ لَيْسَ بِحُجَّةٍ، إِنَّمَا الْحُجَّةُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ، وَلَمْ يَثْبُتْ ذٰلِكَ فِي السُّنَّةِ، إِنَّمَا الثَّابِتُ كَمَا عَلَّمَنَا النَّبِيُّ ﷺ:

«السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... إِلْخ».

وَقَدْ قَالَ اِبْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: "النَّاسُ فِي أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ وَأَفْعَالِهِمْ عَلَى ثَلَاثِ مَذَاهِبَ:

الأَوَّلُ: يَرُدُّونَ ذٰلِكَ مُطْلَقًا، وَهٰذَا ضَلَالٌ مُبِينٌ، لِأَنَّ مِنْ أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ مَا يُوَافِقُ السُّنَّةَ.

الثَّانِي: يَقْبَلُونَ ذٰلِكَ مُطْلَقًا، وَهٰذَا لَا يُمْكِنُ، لِأَنَّهُمْ قَدِ اخْتَلَفُوا.

الثَّالِثُ: يَقْبَلُونَ مَا يُوَافِقُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَيَرُدُّونَ مَا خَالَفَهُمَا، وَهٰذَا هُوَ الْحَقُّ، وَهُوَ مَذْهَبُنَا، أَوْ بِهٰذَا الْمَعْنَى".

Faidah: Telah ada ketetapan dari Ibnu Mas‘ud bahwa setelah wafatnya Nabi , ia mengucapkan:

«السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ»

As-salāmu ‘alan-nabī.

Sebab, itu merupakan perbuatan dari pendapat dia sendiri, maka perbuatan tersebut bukanlah sebuah hujjah. Yang menjadi hujjah hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hal itu tidak ada ketetapan dalam sunnah. Adapun yang ada ketetapan, maka itu adalah apa yang telah Nabi ajarkan kepada kami, yaitu:

«السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ... إِلْخ»

As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh…,” dan seterusnya.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

Manusia dalam menyikapi ucapan dan perbuatan para sahabat terbagi menjadi tiga madzhab:

Pertama: Menolak semuanya secara mutlak, dan ini adalah kesesatan yang nyata, karena di antara ucapan dan perbuatan mereka ada yang sesuai dengan sunnah.

Kedua: Menerima semuanya secara mutlak, dan ini tidak mungkin, karena mereka telah berbeda pendapat.

Ketiga: Menerima apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menolak apa yang menyelisihi keduanya, dan inilah yang benar, dan ini adalah madzhab kami atau yang semakna dengan itu. [Selesai]

****

AMALAN KE TIGA:
IBNU UMAR SENANTIASA NAPAK TILAS TEMPAT-TEMPAT SHALAT NABI

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa melakukan shalat ditempat-tempat di mana Nabi secara kebetulan pernah shalat di tempat tersebut dalam suatu perjalanan atau lainnya. Ibnu Umar dengan sengaja mendatangi tempat-tempat tersebut untuk shalat, sebagai bentuk napak tilas jejak shalat Nabi .

Al-Imam Al-Bukhari membuat sebuah bab dalam *Shahih*-nya berjudul:

"بَابُ الْمَسَاجِدِ الَّتِي عَلَى طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَالْمَوَاضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا الرَّسُولُ ﷺ".

“BAB : Masjid-masjid yang berada di jalan-jalan menuju Madinah dan tempat-tempat yang Rasulullah pernah shalat di sana”.

Lalu al-Imam Al-Bukhari menyebutkan suatu hadits dengan sanadnya: Dari Musa bin ‘Uqbah, dia berkata:

"رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنَ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا «وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الأَمْكِنَةِ».

وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ، ‌عَنْ ‌ابْنِ ‌عُمَرَ ‌أَنَّهُ ‌كَانَ ‌يُصَلِّي ‌فِي ‌تِلْكَ ‌الأَمْكِنَةِ، وَسَأَلْتُ سَالِمًا، فَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا وَافَقَ نَافِعًا فِي الأَمْكِنَةِ كُلِّهَا إِلَّا أَنَّهُمَا اخْتَلَفَا فِي مَسْجِدٍ بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ".

“Aku melihat Salim bin Abdullah memilih tempat-tempat tertentu di jalan lalu ia shalat di sana. Ia menceritakan bahwa ayahnya dulu juga shalat di tempat-tempat itu, dan bahwa ia melihat Nabi shalat di tempat-tempat tersebut.

Nafi’ menyampaikan kepadaku dari Ibnu Umar bahwa ia juga shalat di tempat-tempat itu.

Aku bertanya kepada Salim, dan aku tidak mengetahuinya kecuali ia sependapat dengan Nafi’ dalam semua tempat itu, kecuali bahwa keduanya berbeda pendapat mengenai satu masjid di Syaraf ar-Rawha. [HR. Al-Bukhari dalam *Shahih*-nya 1/104 no. 483].

Syeikh Musthafa Al-Bugha berkata dalam catatan kaki *Shahih Al-Bukhari* 1/104:

الشَّرْحُ: (يَتَحَرَّى) يَجْتَهِدُ وَيَقْصِدُ وَيَخْتَارُ. (بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ) مَوْضِعٌ مُرْتَفِعٌ مِنْ مَكَانِ الرَّوْحَاءِ، وَالرَّوْحَاءُ اسْمُ مَوْضِعٍ عَلَى بُعْدٍ مِنَ الْمَدِينَةِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِكَثْرَةِ أَرْوَاحِهَا.

“Penjelasan: “(يَتَحَرَّى)” artinya bersungguh-sungguh, mencari, dan memilih. “(Syaraf ar-Rawha)” adalah tempat yang tinggi dari kawasan Ar-Rawha.

Dan Ar-Rawha adalah nama suatu tempat yang berjarak dari Madinah, dinamakan demikian karena banyaknya pepohonan rindang di sana”. [Selesai]

Penjelasan ini menunjukkan bahwa Ibnu Umar cenderung pada sikap sangat terperinci dalam mengikuti Nabi , hingga dalam rincian tempat-tempat dan tambahan-tambahan amal. Hal ini menunjukkan bahwa ucapannya tentang “bid'ah” tidaklah berlaku mutlak pada setiap tambahan-tambahan amalan, tetapi pada hal-hal yang menyelisihi dan bertentangan dengan pokok-pokok syari’at Islam.

Tanggapan Keras Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah Terhadap amalan Ibnu Umar ini:

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa 1/280:

إن ابْنُ ‌عُمَرَ ‌كَانَ ‌يَتَحَرَّى ‌أَنْ ‌يَسِيرَ ‌مَوَاضِعَ ‌سَيْرِ ‌النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَنْزِلَ مَوَاضِعَ مَنْزِلِهِ وَيَتَوَضَّأَ فِي السَّفَرِ حَيْثُ رَآهُ يَتَوَضَّأُ وَيَصُبَّ فَضْلَ مَائِهِ عَلَى شَجَرَةٍ صَبَّ عَلَيْهَا وَنَحْوَ ذَلِكَ مِمَّا اسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَرَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا وَلَمْ يَسْتَحِبَّ ذَلِكَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ؛ كَمَا لَمْ يَسْتَحِبَّهُ وَلَمْ يَفْعَلْهُ أَكَابِرُ الصَّحَابَةِ كَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَغَيْرِهِمْ لَمْ يَفْعَلُوا مِثْلَ مَا فَعَلَ ابْنُ عُمَرَ.

وَلَوْ رَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا لَفَعَلُوهُ كَمَا كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ مُتَابَعَتَهُ وَالِاقْتِدَاءَ بِهِ.

وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُتَابَعَةَ أَنْ يَفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي فَعَلَ فَإِذَا فَعَلَ فِعْلًا عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ شَرَعَ لَنَا أَنْ نَفْعَلَهُ عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ وَإِذَا قَصَدَ تَخْصِيصَ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ بِالْعِبَادَةِ خَصَّصْنَاهُ بِذَلِكَ كَمَا كَانَ يَقْصِدُ أَنْ يَطُوفَ حَوْلَ الْكَعْبَةِ وَأَنْ يَسْتَلِمَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ وَأَنْ يُصَلِّيَ خَلْفَ الْمَقَامِ وَكَانَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ أُسْطُوَانَةِ مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ وَقَصَدَ الصُّعُودَ عَلَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَالدُّعَاءَ وَالذِّكْرَ هُنَاكَ وَكَذَلِكَ عَرَفَةُ وَمُزْدَلِفَةُ وَغَيْرُهُمَا.

وَأَمَّا مَا فَعَلَهُ بِحُكْمِ الِاتِّفَاقِ وَلَمْ يَقْصِدْهُ - مِثْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِمَكَانِ وَيُصَلِّيَ فِيهِ لِكَوْنِهِ نَزَلَهُ لَا قَصْدًا لِتَخْصِيصِهِ بِهِ بِالصَّلَاةِ وَالنُّزُولِ فِيهِ - فَإِذَا قَصَدْنَا تَخْصِيصَ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ فِيهِ أَوْ النُّزُولِ لَمْ نَكُنْ مُتَّبَعِينَ بَلْ هَذَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي كَانَ يَنْهَى عَنْهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ".

Sesungguhnya Ibnu Umar dahulu sangat bersungguh-sungguh menelusuri tempat-tempat perjalanan Rasulullah , berhenti di tempat-tempat beliau berhenti, dan berwudhu dalam perjalanan di tempat ia melihat Rasulullah berwudhu.

Ia juga menuangkan sisa air wudhunya ke atas sebuah pohon yang pernah Rasulullah sirami, dan hal-hal semisal itu, yang dianggap baik oleh sebagian ulama dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang dianjurkan (mustahab).

Namun mayoritas ulama tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang mustahab (dianjurkan), sebagaimana hal itu juga tidak dianggap baik, dan itu tidak pernah dilakukan oleh para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan selain mereka.

Mereka tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Ibnu Umar. Seandainya mereka memandangnya sebagai sesuatu yang dianjurkan, tentu mereka akan melakukannya, sebagaimana mereka sangat berusaha mengikuti Rasulullah dan meneladaninya.

Hal itu karena hakikat mengikuti adalah melakukan perbuatan yang sama dengan apa yang beliau lakukan, dengan cara sebagaimana beliau melakukannya. Apabila beliau melakukan suatu perbuatan dalam rangka ibadah, maka disyariatkan bagi kita untuk melakukannya dalam rangka ibadah pula.

Dan apabila beliau memang bermaksud mengkhususkan suatu tempat atau waktu untuk ibadah, maka kita pun mengkhususkannya demikian, sebagaimana beliau bermaksud melakukan thawaf di sekitar Ka’bah, menyentuh Hajar Aswad, melaksanakan shalat di belakang Maqam Ibrahim, memilih shalat di dekat salah satu tiang Masjid Madinah, serta berniat naik ke Shafa dan Marwah untuk berdoa dan berdzikir di sana, demikian pula di Arafah, Muzdalifah, dan selain keduanya.

Adapun perbuatan yang beliau lakukan karena kebetulan dan tanpa maksud khusus, seperti beliau singgah di suatu tempat lalu shalat di sana hanya karena beliau singgah di tempat itu, bukan karena bermaksud mengkhususkan tempat tersebut untuk shalat atau singgah, maka apabila kita justru bermaksud mengkhususkan tempat itu untuk shalat atau singgah, berarti kita tidak sedang mengikuti, bahkan hal itu termasuk bid’ah yang dahulu dilarang oleh Umar bin Khaththab".

Ia juga berkata dalam 1/281:

بَلْ تَخْصِيصُ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ مِنْ بِدَعِ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّتِي هَلَكُوا بِهَا وَنَهَى الْمُسْلِمِينَ عَنْ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي ذَلِكَ فَفَاعِلُ ذَلِكَ مُتَشَبِّهٌ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّورَةِ وَمُتَشَبِّهٌ بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي الْقَصْدِ الَّذِي هُوَ عَمَلُ الْقَلْبِ. وَهَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَإِنَّ الْمُتَابَعَةَ فِي السُّنَّةِ أَبْلَغُ مِنْ الْمُتَابَعَةِ فِي صُورَةِ الْعَمَلِ

“Bahkan, mengkhususkan tempat tersebut untuk salat termasuk bid'ah-bid'ah Ahlul Kitab yang menyebabkan mereka binasa, dan kaum muslimin dilarang menyerupai mereka dalam hal itu.

Maka orang yang melakukan hal tersebut menyerupai Nabi dalam bentuk lahiriah, namun menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani dalam niat dan tujuan, yaitu amalan hati. Inilah prinsip dasarnya, karena mengikuti sunnah secara hakiki lebih kuat dan lebih utama daripada sekadar mengikuti bentuk lahiriah suatu perbuatan”.

Dan ia berkata dalam Iqtida’ ash-Shirath 2/279:

تَحَرِّي ابْنِ عُمَرَ مَوَاضِعَ صَلَاةِ النَّبِيِّ  لَيْسَ مِنْ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ بَلْ هُوَ مِمَّا ابْتُدِعَ.!!

Kesungguhan Ibnu Umar dalam mencari tempat-tempat salat Nabi bukan termasuk sunnah para khalifah, bahkan termasuk perkara bid'ah yang diada-adakan.

Dengan demikian, Abdullah bin Umar menjadi pelaku bid'ah dalam hal ini menurut Ibnu Taimiyah.

===

IBNU UMAR BERBEDA DENGAN UMAR, AYAHNYA, DALAM MASALAH INI:

Umar bin Al-Khaththab berbeda dengan perbuatan putranya, Abdullah, terkait dengan napak tilas jejak tempat-tempat, di mana Nabi pernah shalat di tempat tersebut secara kebetulan dalam suatu perjalanan atau lainnya. 

Dari Ma’rur bin Suwaid al-Asadi, ia berkata:

"وَافَيْتُ الْمَوْسِمَ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَدِينَةِ انْصَرَفْتُ مَعَهُ، فَلَمَّا صَلَّى لَنَا صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَقَرَأَ فِيهَا: ﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ﴾ وَ﴿لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ﴾، ثُمَّ رَأَى نَاسًا يَذْهَبُونَ مَذْهَبًا، فَقَالَ: أَيْنَ يَذْهَبُ هَؤُلَاءِ؟ قَالُوا: يَأْتُونَ مَسْجِدًا هَاهُنَا صَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِهَذَا، يَتَّبِعُونَ آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ، فَاتَّخَذُوهَا كَنَائِسَ وَبِيَعًا، مَنْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَلْيُصَلِّ فِيهَا، وَإِلَّا فَلَا يَتَعَمَّدْهَا".

Aku ikut serta menghadiri musim haji bersama Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia kembali menuju Madinah, aku pun kembali bersamanya.

Setelah beliau shalat Subuh bersama kami, beliau membaca dalam shalat tersebut Surah *Alam Tara Kayfa Fa‘ala Rabbuka bi Ashhab al-Fil* dan Surah *Li Ilafi Quraisy*.

Kemudian beliau melihat sejumlah orang pergi menuju suatu arah, lalu beliau berkata: “Ke mana orang-orang itu pergi?” Mereka menjawab: “Mereka mendatangi sebuah masjid di sana yang dahulu Rasulullah pernah shalat di dalamnya.”

Umar berkata: “Sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian itu karena hal ini; mereka menapak tilasi (mengikuti) jejak-jejak para nabi mereka lalu menjadikannya sebagai gereja-gereja dan biara-biara.

Barang siapa mendapati waktu shalat di salah satu masjid yang Rasulullah pernah shalat di dalamnya, maka silahkan ia shalat di sana. Tetapi jika tidak, maka janganlah sengaja mendatanginya.”

[Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (2/118), Ibnu Abi Syaibah (2/153), Ibnu Wadhdhah dalam *Al-Bida‘ wan-Nahyu ‘anha* (104–105), dan At-Thahawi dalam *Syarh Musykil al-Atsar* 14/396 no. 5708 melalui sanad mereka dari Ma’rur bin Suwaid. Sanadnya sahih (lihat : catatan kaki *Al-I’tihoom* karya Asy-Syathibi 2/248)].

Ibnu Baththal dalam *Syarh Shahih al-Bukhari* 2/126 berkata:

قالَ المُؤَلِّفُ: إِنَّما كانَ يُصَلِّي ابْنُ عُمَرَ فِي ‌الْمَواضِعِ ‌الَّتِي ‌صَلَّى ‌فِيهَا ‌النَّبِيُّ عَلَى وَجْهِ التَّبَرُّكِ بِتِلْكَ الأَمْكِنَةِ، وَالرَّغْبَةِ فِي فَضْلِهَا، وَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ يَتَبَرَّكُونَ بِمَواضِعِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْفَضْلِ؛ أَلَا تَرَى أَنَّ عُتْبانَ بْنَ مالِكٍ سَأَلَ نَبِيَّ اللهِ أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِيَتَّخِذَ المَكانَ مُصَلًّى، فَصَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ.

وَقَدْ جاءَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ خِلافُ فِعْلِ ابْنِهِ عَبْدِ اللهِ، رَوَى شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمانَ التَّيْمِيِّ، عَنِ المَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ، قالَ:

كانَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الغَداةَ، ثُمَّ أَتَى عَلَى مَكانٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْتُونَهُ، وَيَقُولُونَ: صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ، عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقالَ عُمَرُ: «إِنَّما هَلَكَ أَهْلُ الكِتابِ أَنَّهُمْ اتَّبَعُوا آثَارَ أَنْبِيائِهِمْ، فَاتَّخَذُوها كَنائِسَ وَبِيَعًا، فَمَنْ عَرَضَتْ لَهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ، وَإِلَّا فَلْيَمْضِ».

إِنَّما خَشِيَ عُمَرُ أَنْ يَلْتَزِمَ النَّاسُ الصَّلاةَ فِي تِلْكَ المَواضِعِ حَتَّى يُشْكِلَ ذلِكَ عَلَى مَنْ يَأْتِي بَعْدَهُمْ، وَيَرَى ذلِكَ واجِبًا.

وَكَذلِكَ يَنْبَغِي لِلْعالِمِ إِذا رَأَى النَّاسَ يَلْتَزِمُونَ النَّوافِلَ وَالرَّغائِبَ الْتِزامًا شَدِيدًا، أَنْ يَتَرَخَّصَ فِيها فِي بَعْضِ المَرَّاتِ وَيَتْرُكَها لِيُعْلَمَ بِفِعْلِهِ ذلِكَ أَنَّها غَيْرُ واجِبَةٍ، كَما فَعَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ فِي تَرْكِ الأُضْحِيَّةِ.

وَقَدْ رَوَى أَشْهَبُ عَنْ مالِكٍ : أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الصَّلاةِ فِي المَواضِعِ الَّتِي صَلَّى فِيهَا الرَّسُولُ ﷺ، فَقالَ: «ما يُعْجِبُنِي ذلِكَ إِلَّا مَسْجِدَ قُباءَ».

قالَ المُؤَلِّفُ: «وَإِنَّما قالَ ذلِكَ مالِكٌ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كانَ يَأْتِي قُباءَ راكِبًا وَراجِلًا، وَلَمْ يَكُنْ يَفْعَلُ ذلِكَ فِي تِلْكَ الأَمْكِنَةِ، وَاللهُ أَعْلَمُ».

Penulis kitab berkata: Sesungguhnya Abdullah bin Umar melakukan shalat di tempat-tempat yang dahulu Rasulullah melakukan shalat, sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) pada tempat-tempat tersebut dan keinginan mendapatkan keutamaannya. Dan manusia sejak dulu melakukan tabarruk pada tempat-tempat orang saleh dan para ahli keutamaan. Tidakkah engkau melihat bahwa ‘Itban bin Malik meminta Nabi Allah agar melakukan shalat di rumahnya sehingga tempat tersebut dijadikan area shalat, maka Rasulullah pun melakukan shalat di sana.

Dan telah datang riwayat dari Umar bin Al-Khaththab yang berbeda dengan perbuatan putranya, Abdullah. Syubah meriwayatkan dari Sulaiman At-Taimi dari Al-Ma’rur bin Suwaid, ia berkata:

“Umar bin Al-Khaththab berada dalam sebuah perjalanan, lalu ia melakukan shalat Subuh. Kemudian ia melewati sebuah tempat, lalu orang-orang datang kepadanya dan berkata: ‘Di tempat ini Rasulullah pernah melakukan shalat.’

Lalu Umar berkata: ‘Sesungguhnya binasanya Ahlul Kitab adalah karena mereka mengikuti jejak-jejak para nabi mereka kemudian menjadikannya gereja-gereja dan biara-biara. Maka barang siapa mendapatkan waktu shalat, hendaklah ia shalat. Jika tidak, maka lanjutkan perjalanan.’”

Umar khawatir bahwa manusia akan terus-menerus berkomitmen shalat di tempat-tempat tersebut sehingga hal itu menimbulkan kerancuan bagi generasi setelah mereka, lalu mereka menyangka bahwa hal itu wajib.

Demikian pula selayaknya bagi seorang alim, apabila ia melihat manusia terlalu berpegang kuat pada amalan-amalan sunnah dan hal-hal yang dianjurkan, hendaknya ia sesekali tidak melakukannya agar dengan perbuatannya itu dipahami bahwa hal tersebut tidak wajib. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas dan yang lainnya ketika meninggalkan penyembelihan kurban.

Asyhab meriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau ditanya tentang shalat di tempat-tempat yang dahulu Rasulullah melakukan shalat. Imam Malik menjawab: “Aku tidak menyukainya kecuali Masjid Quba.”

Penulis kitab berkata: Malik mengatakan demikian karena Rasulullah datang ke Quba baik dalam keadaan berkendaraan maupun berjalan kaki, sedangkan beliau tidak melakukan hal itu pada tempat-tempat lainnya. Wallaahu a’lam”. [Selesai]

Abu Abdullah Al-Husain Ar-Rajraji Asy-Syusyaawi dalam kitab *Raf‘un Niqab ‘an Tanqihisy Syihab* 4 /395–397 menjelaskan:

Perkataan-nya: “Wajib mengikuti Nabi dalam perbuatannya,” maksudnya: demikian pula wajib mengikutinya dalam hal yang ditinggalkannya. Sebab dalam perkara-perkara yang ditinggalkan terdapat hal-hal yang wajib ditinggalkan seperti perkara-perkara yang diharamkan, ada pula yang dianjurkan untuk ditinggalkan seperti makan dabb (yang makruh), dan ada pula yang mubah seperti mengenakan pakaian yang mubah.

Ucapannya: “Wajib mengikuti Nabi dalam perbuatannya.” Perhatikanlah:

Apakah wajib mengikuti semua amal perbuataan Nabi sesuai waktu dan tempatnya?

Abu Zakariya Al-Masthashi berkata: Para ulama ushul berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi empat pendapat:

Ada yang berpendapat : bahwa keduanya (waktu dan tempat) termasuk bentuk ibadah.

Dan ada yang berpendapat pula : bahwa keduanya tidak termasuk ibadah.

Dan ada yang berpendapat : bahwa keduanya menjadi ibadah jika perbuatan tersebut dilakukan berulang-ulang pada waktu dan tempat itu, dan jika tidak maka keduanya tidak dianggap.

Dan ada pula yang berpendapat : bahwa yang dianggap ibadah adalah tempatnya saja tanpa waktu. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 483)

Namun pendapat yang masyhur dari pendapat-pendapat ini adalah : bahwa waktu dan tempat tidak dianggap. Sebab waktu tidak mungkin diikuti; karena waktu ketika Nabi melakukan perbuatan tersebut telah berlalu, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk mengikutinya. (Lihat *Al-Fushul* karya Al-Baji 2/272 dan *Al-Mu‘tamad* 1/372)

Dalil yang menunjukkan bahwa tempat itu tidak dianggap adalah sbb :

Telah diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah menebang pohon tempat Rasulullah dibaiat di bawahnya karena khawatir pohon tersebut disembah. [Baca: Raf’u a-Niqoob karya Abu Abdillah ar-Rajraji 4/396].

[Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Nafi‘ :

أَنَّهُ بَلَغَ عُمَرَ أَنَّ نَاسًا يَأْتُونَ الشَّجَرَةَ الَّتِي بُويِعَ تَحْتَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَمَرَ بِهَا فَقُطِعَتْ. اهـ

“Bahwa sampai kabar kepada Umar bahwa ada orang-orang mendatangi pohon tempat Rasulullah dibaiat di bawahnya, lalu beliau memerintahkan agar pohon itu ditebang”.

Lihat: *Al-Mushannaf* Ibnu Abi Syaibah 2/375, bab tentang shalat di sisi kubur Nabi . Lihat juga *Ad-Durrul Mantsur* karya As-Suyuthi 6/73)].

Umar radhiyallahu ‘anhu juga melarang orang-orang untuk sengaja shalat di tempat-tempat yang Rasulullah pernah shalat di atas-nya. Beliau berkata:

«إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِمِثْلِ هَذَا»

“Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena hal semacam ini.”

[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah:

أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي حَجِّهِ رَأَى قَوْمًا يَنْزِلُونَ فَيُصَلُّونَ فِي مَسْجِدٍ، فَسَأَلَ عَنْهُمْ، فَقَالُوا: مَسْجِدٌ صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: «إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيعًا، مَنْ مَرَّ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَسَاجِدِ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ، وَإِلَّا فَلْيَمْضِ». اهـ.

“Bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu ketika berhaji melihat sekelompok orang berhenti lalu sholat di sebuah masjid. Ia bertanya tentang mereka. Lalu dijawab: ‘Itu adalah masjid tempat Nabi pernah salat’.

Maka Umar berkata: ‘Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka menjadikan peninggalan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Siapa saja yang melewati salah satu masjid lalu masuk waktu salat, hendaklah ia salat, jika tidak maka hendaklah ia melanjutkan perjalanannya’.”

Ini adalah lafadz riwayat ‘Abdurrazzaq. Lihat Mushannaf ‘Abdurrazzaq 2/119 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/376].

Dan ini merupakan dalil bagi pendapat yang masyhur.

Adapun dalil pendapat yang menyatakan bahwa ibadah tersebut hanya terikat tempat, tanpa terikat dengan waktu adalah :

«أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَقْصِدُ الْمَوَاضِعَ الَّتِي صَلَّى بِهَا النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيُصَلِّي فِيهَا»

“Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sengaja bermaksud mendatangi tempat-tempat di mana Rasulullah pernah shalat, lalu ia shalat di sana. (Shahih Al-Bukhari no. 483)

Dan dalil pendapat yang mengatakan : bahwa waktu dan tempat sama-sama saling berkaitan dalam ibadah adalah karena keduanya sama-sama dianggap dalam ibadah haji, maka keduanya juga dianggap dalam selain haji.

Dalil ini dibantah dengan pernyataan bahwa ibadah haji memiliki dalil khusus atas perintah Rasulullah , sehingga keluar dari pokok permasalahan yang diperselisihkan.

Adapun dalil bagi pendapat yang menyatakan bahwa waktu dan tempat dianggap jika perbuatan tersebut dilakukan berulang-ulang di waktu dan tempat itu, dan jika tidak maka tidak dianggap, adalah bahwa pengulangan tersebut menjadi tanda yang menunjukkan adanya ibadah pada waktu dan tempat itu. Wallahu a’lam. [SELESAI]

****

AMALAN KE EMPAT:
IBNU UMAR MENAMBAHI BACAAN DALAM TALBIYAH

Tambahan yang diucapkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam talbiyah dengan ucapannya:

«لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ»

“Labbaika wa sa‘daika wal-khairu bi-yadaika war-raghbaa ilaika wal-‘amal“.

Hal ini dijelaskan secara panjang dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya.

Imam Malik meriwayatkan dari Nafi‘ dari Ibnu Umar radhiyallhu ‘anhuma: Bahwa talbiyah Rasulullah adalah:

«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ».

Artinya : Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Nafi‘ berkata: Dan Abdullah bin Umar biasa menambahkan di dalamnya:

«لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ»

Aku penuhi panggilan-Mu dan aku sambut panggilan-Mu, seluruh kebaikan berada di tangan-Mu, seluruh harapan tertuju kepada-Mu, dan amal ibadah hanyalah untuk-Mu.

STATUS HADITS : Sanadnya Shahih.

Diriwayatkan pula oleh asy-Syafi‘i 1/303, al-Bukhari no. 1549, Muslim no. 1184, Abu Dawud 1812, ath-Thahawi 2/124 dan 125, al-Baihaqi 5/44, dan al-Baghawi 1865 melalui jalur Malik dengan sanad ini.

Juga diriwayatkan oleh Ahmad 2/28, 41, 48, dan 77, ad-Darimi 2/34, at-Tirmidzi no. 825, an-Nasa’i 5/160, Ibnu Majah no. 2918, ad-Daraquthni 2/225, Ibnu Khuzaimah 2261 dan 2262, serta ath-Thahawi 2/124 melalui beberapa jalur dari Nafi‘ dengan lafaz ini.

Juga diriwayatkan oleh Ahmad 2/3, 34, 43, 79, dan 120, al-Bukhari 5915 dalam Kitab al-Libas bab Talbiyah, Muslim 1184, an-Nasa’i 5/159, ath-Thahawi 2/124, dan al-Baihaqi 5/44 melalui beberapa jalur dari Ibnu Umar dengan lafaz ini.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dari al-Miswar bin Makhromah bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menambahkan dalam talbiyah:

«لَبَّيْكَ ‌ذَا ‌النَّعْمَاءِ ‌وَالْفَضْلِ ‌الْحَسَنِ ‌لَبَّيْكَ ‌مَرْهُوبًا ‌مِنْكَ وَمَرْغُوبًا إِلَيْكَ».

Artinya : “Aku penuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang memiliki segala kenikmatan dan keutamaan yang indah, aku penuhi panggilan-Mu dalam keadaan takut kepada-Mu dan penuh harap kepada-Mu”.

[Lihat : Syarah az-Zarqoni ‘Alaa al-Muwaththo 2/364, Kawtsar al-Ma’aani ad-Darory 13/81 dan Mir’atul Mafaatiih 8/444].

****

AMALAN KE LIMA:
IBNU UMAR BERWASIAT JIKA DIRINYA WAFAT AGAR DIBACAKAN AL-QURAN SAAT PENGUBURAN

Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Al-Lajlah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Ia berkata:

قَالَ لِي أَبِي: «يَا بُنَيَّ، إِذَا أَنَا مِتُّ فَالْحَدْنِي، فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنّةِ رسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ شُنَّ عَلَيَّ التُّرابَ شَنًّا، ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِيْ بِفاتِحَةِ الْبَقَرةِ وخَاتِمَتِها؛ فإنِّي سَمِعتُ ابنَ عُمَر يَقُولُ ذلِكَ».

Ayahku berkata kepadaku:

“Wahai anakku, apabila aku mati maka kuburkanlah aku. Ketika engkau meletakkanku di lahadku, maka ucapkanlah:

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنّةِ رسُولِ اللَّهِ ﷺ

Artinya : Dengan nama Allah dan di atas sunah Rasulullah .

Kemudian timbunlah tanah atasku dengan lembut. Lalu bacakanlah di dekat kepalaku awal Surah Al-Baqarah dan penutupnya, karena aku mendengar Ibnu Umar mengatakan hal itu.”

Begitu pula apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (Mukhtashar-nya 21/233].

Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kabir 4/93 nomor 7065 dan ad-Da’awaat al-Kabir 2/297 no. 638 dari Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Al-Lajlaj dari ayahnya, bahwa ia berkata kepada anak-anaknya—hadits tersebut—dan pada bagian akhirnya:

«فَإِنِّي ‌رَأَيْتُ ‌ابْنَ ‌عُمَرَ ‌يَسْتَحِبُّ ‌ذَلِكَ».

“Aku melihat Ibnu Umar memustahab-kan hal itu”. (Selesai).

Lalu al-Baihaqi dalam ad-Da’awaat al-Kabir 2/297 no. 638 berkata :

هَذَا مَوْقُوفٌ حَسَنٌ

“Ini adalah mawquf yang hasan”.

Al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar hal. 162 no. 470 berkata :

وَرُوِيَانَا فِي "سُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ" بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ: «أَنَّ ابْنَ عُمَرَ اسْتَحَبَّ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ أَوَّلُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا».

“Dan kami meriwayatkan dalam "Sunan al-Bayhaqi" dengan isnad yang hasan, bahwa Ibnu Umar memustahab-kan (menganjurkan) untuk membaca al-Qur’an di atas kuburan setelah pemakaman, yaitu awal surat Al-Baqarah dan akhirnya”.

Abul Hasan al-Mubarokfuri dalam Mar’atul Mafaatih 5/452 no. 1731 berkata:

"وَهَذَا مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ عُمَرَ، كَمَا تَرَى، وَلَيْسَ بِمَرْفُوعٍ".

“Dan ini adalah mauquf pada Ibnu Umar, sebagaimana yang anda lihat, dan bukan marfu’.”

Dan Ibnu ‘Allaan dalam al-Futuuhaat ar-Rabbaaniyyah 4/194 berkata :

قَالَ الحَافِظُ بَعْدَ تَخْرِيجِهِ: «هَذَا مَوْقُوفٌ حَسَنٌ»

Al-Hafizh berkata setelah mentakhrij hadits ini: “Ini adalah hadits mauquf yang hasan.”

Dan Ahmad al-Banaa as-Saa’ati dalam al-Fathu ar-Rabbaani 8/101 tentang riwayat mawquf ini, ia berkata:

رَوَاهُ البَيْهَقِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ: «وَسَنَدُهُ جَيِّدٌ»

“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani, dan sanadnya baik”.

Riwayat marfu’ dari Nabi : Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah Al-Makki berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Aku mendengar Nabi bersabda:

‌‌«إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ ‌فَلَا ‌تَحْبِسُوهُ، ‌وَأَسْرِعُوا ‌بِهِ ‌إِلَى ‌قَبْرِهِ، وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ»

“Apabila salah seorang di antara kalian meninggal, maka janganlah kalian menahannya, dan segerakanlah membawanya ke kuburnya. Hendaklah dibacakan di dekat kepalanya Surah Al-Fatihah, dan di dekat kedua kakinya dibacakan penutup Surah Al-Baqarah di dalam kuburnya.”

TAKHRIJ :

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabiir 12/444 no. 13613, al-Khollal  dalam al-Qiro’ah ‘Indal Qobr dari al-Jami’ hal. 88, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman 11/471 no. 8854 dan ad-Dailamy dalam al-Firdaus 1/284 no. 1115.

Al-Hatsami dalam Majma’ az-Zawaid 3/44 no. 4242 berkata :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَفِيهِ يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَابِلُتِّيُّ، وَهُوَ ضَعِيفٌ

“Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, dan di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abdullah Al-Bābilutti, dan ia adalah perawi yang lemah”.

Dinilai dhoif oleh al-Albaani dalam Misykatul Mashobih karya at-Tibrizy [25] (1/538 no. 1717).

Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab 12/444 berkata:

لَمْ يَكْتُبْ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ فِيمَا أَعْلَمُ وَقَدْ رَوَيْنَا الْقِرَاءَةَ الْمَذْكُورَةَ فِيهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفًا عَلَيْهِ

“Ia tidak menuliskan hadits itu kecuali dengan sanad ini sejauh yang aku ketahui, dan kami telah meriwayatkan bacaan yang disebutkan di dalamnya dari Ibnu Umar secara mauquf padanya”.

Ali al-Malaa al-Qori dalam Mirqot al-Mafaatih 3/1228 no. 1717 berkata:

"رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيمَانِ وَقَالَ: وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَيْهِ".

“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman dan ia berkata: Yang sahih adalah bahwa hadits itu mauquf padanya”.

Riwayat lain mawquf dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

Al-Khollaal meriwayatkan dengan sanadnya : Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Syarafuddin Abu Abdirrahman ‘Isa, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ayahku Al-Imam Muhyiddin Abu Muhammad Abdu Al-Qadir bin Abi Shalih, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Husain Al-Mubarak bin Abdi Al-Jabbar Ash-Shairafi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Abdu Al-Aziz bin Ja’far Al-Faqih, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Khallal, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al-Abbas bin Muhammad Ad-Duuri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mubasyyir Al-Halabi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-‘Ala bin Al-Lajlaj, dari ayahnya (Al-‘Ala bin Al-Lajlaj), ia berkata:

«إِنِّي إِذَا أَنَا مُتُّ، فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَوَّلِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَلِكَ».

“Sesungguhnya jika aku meninggal, maka letakkanlah aku di dalam lahad, dan ucapkanlah: Bismillah, dan di atas sunnah Rasulullah . Timbunlah tanah di atasku dengan perlahan, dan bacakanlah di sisiku surah Al-Fatihah, awal surah Al-Baqarah, dan penutupnya. Karena aku mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian.”

Kemudian Ad-Duri berkata:

وَسَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، فَحَدَّثَنِي عَنْ مُبَشِّرِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْحَلَبِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ اللَّجْلَاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ:

«إِنِّي إِذَا أَنَا مِتُّ فَضَعُونِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَأَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ».

Dan aku pun bertanya kepada Yahya bin Ma'in, lalu ia menceritakan kepadaku dari Mubasyyir bin Isma'il Al-Halabi. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Al-Lajlaj dari ayahnya. Ia berkata:

“Jika aku meninggal, maka letakkanlah aku di liang lahad, dan ucapkan: Dengan nama Allah dan di atas sunnah Rasulullah . Dan taburkanlah tanah secara perlahan, serta bacakan di dekat kepalaku Surah Al-Fatihah, permulaan Surah Al-Baqarah, dan penutupnya. Karena aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian.”

[al-Qiro’ah ‘Indal Qobr dari al-Jami’ karya al-Khollal hal. 88, al-Amr bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘Anil Munkar karya al-Khollal hal. 87 dan al-Qiro’ah ‘Indal Qobr karya al-Khollal hal. 87]

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Imtaa’ Bi al-Arba’in hal. 85 berkata : “مُنْكَر

Kemudian al-Khollal dalam al-Qiro’ah ‘Indal Qobr karya al-Khollal hal. 88 meriwayatkan dengan sanadnya : dari Abu Bakar bin Shadaqah meriwayatkan, ia berkata: Aku mendengar Utsman bin Ahmad Al-Mushili berkata:

كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ الجَوْهَرِيُّ فِي جِنَازَةٍ، فَلَمَّا دُفِنَ المَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ القَبْرِ، فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: «يَا هَذَا إِنَّ القِرَاءَةَ عِنْدَ القَبْرِ بِدْعَةٌ».

فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ المَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ: "يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، مَا تَقُولُ فِي مُبَشِّرٍ الحَلَبِيِّ؟". قَالَ: "ثِقَةٌ".

قَالَ: "كَتَبْتَ عَنْهُ؟". قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: "فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ العَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ وَصَّى «إِذَا دُفِنَ بِأَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ البَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا»، وَقَالَ: "سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ". فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: "فَارْجِعْ فَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأْ".

Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu bersama Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari hadir dalam sebuah jenazah. Ketika mayit telah dikuburkan, seorang lelaki buta duduk membaca (Al-Qur’an) di dekat kubur. Maka Ahmad berkata kepadanya:

“Wahai orang ini, membaca (Al-Qur’an) di dekat kubur adalah bid’ah.”

Ketika kami keluar dari pemakaman, Muhammad bin Qudamah berkata:

“Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubasysyir Al-Halabi?”

Ahmad menjawab: “Ia seorang yang terpercaya.”

Ia bertanya lagi: “Apakah engkau menulis riwayat darinya?” Ahmad menjawab: “Ya.”

Lalu ia berkata: “Mubasysyir menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Al-Ala’ dari ayahnya, bahwa ia berwasiat ketika dimakamkan agar dibacakan di dekat kepalanya awal Surah Al-Baqarah dan penutupnya, dan ia berkata:

Aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian.”

Maka Ahmad berkata kepadanya:

“Kembalilah dan katakan kepada orang itu agar lanjut membacanya.” (Ar-Riwayatain wal-Wajhain karya Al-Qadhi Abu Ya’la 1/214).

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Imtaa’ Bi al-Arba’in hal. 85 berkata : “ضَعِيْفٌ جِدًّا

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam *Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim* 2/264:

"القِرَاءَةُ عِنْدَهُ وَقْتَ الدَّفْنِ لَا بَأْسَ بِهَا، كَمَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، وَبَعْضِ المُهَاجِرِينَ، وَأَمَّا القِرَاءَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ـ مِثْلَ الَّذِينَ يَنْتَابُونَ القَبْرَ لِلْقِرَاءَةِ عِنْدَهُ ـ فَهَذَا مَكْرُوهٌ، فَإِنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ مِثْلُ ذَلِكَ أَصْلًا، وَهَذِهِ الرِّوَايَةُ لَعَلَّهَا أَقْوَى مِنْ غَيْرِهَا، لِمَا فِيهَا مِنَ التَّوْفِيقِ بَيْنَ الدَّلَائِلِ".

“Membaca (Al-Qur’an) di dekat-nya pada saat penguburan tidak mengapa, sebagaimana dinukil dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian kaum Muhajirin. Adapun membaca setelah itu—seperti orang-orang yang datang berulang kali ke kubur untuk membaca di dekatnya—maka hal itu makruh, karena tidak dinukil sama sekali dari seorang pun dari kalangan salaf. Riwayat ini barangkali lebih kuat daripada selainnya, karena di dalamnya terdapat upaya menggabungkan berbagai dalil.”

****

KESIMPULAN :
KRITERIA BID’AH HASANAH YANG DITETAPKAN IBNU UMAR

Setelah kita telusuri dan kita kumpulkan sebagian amalan-amalan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang di katagorikan sebagai bid’ah Hasanah, maka kita temukan di dalamnya terdapat kriteria-kriteria sbb :

Amalan Bid’ah yang dianggap sesat oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah

1] Amalan tersebut masuk dalam cakupan dalil umum atau sunnah mutlak.

2] Amalan tersebut termasuk dalam ranah perkara atau urusan agama Islam (فِيْهِ أَمْرُنَا).

3] Tidak bertentangan dengan larangan syar’i dalam melakukannya.

4] Tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Seperti larangan shalat di waktu terbit dan terbenam Matahari.

===***===

PEMBAHASAN KE ENAM
UNGKAPAN SEMAKNA BID’AH HASANAH DARI SELAIN IBNU UMAR

===

KE 1: ALI BIN ABI THOLIB RADHIYALLAHU ‘ANHU :

Abdur- Rozzaaq dalam al-Mushonnaf 3/77 no. 4865 meriwayatkan : Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepadaku :

أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، كَانَ يُذْكَرُ لَهُ هَذِهِ الصَّلَاةُ الَّتِي أَحْدَثَ النَّاسُ، فَيَقُولُ: «صَلُّوا مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ»

“Bahwa Ali bin Abi Thalib, ketika disebutkan kepadanya tentang shalat (Dhuha) yang diada-adakan oleh manusia ini, beliau berkata:

“Shalatlah semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa seseorang karena shalat.

Semua para perawinya tsiqah, Ja'far bin Muhammad adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang Imam Ahli bait yang tsiqah lagi faqih.

Namun masa hidup dia terpaut jauh dengan kakek buyutnya yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sehingga atsar ini terputus sanadnya dan berarti statusnya dhoif.

===

KE 2 : PERKATAAN MUHAMMAD BIN ABRAHIM AT-TAYMI (WAFAT 120 H).

Perkataan Muhammad bin Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam *Mushannaf Ibnu Abi Syaibah* no. 7775:

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairi, dari Al-Hakam bin Al-A‘raj, ia berkata:

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «بِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ»

Aku bertanya kepada Muhammad (bin Ibrahim at-Taymi wafat 120 H) tentang shalat Dhuha, ketika itu ia sedang bersandar di dinding kamar Nabi . Maka ia berkata: “Itu adalah bid‘ah, dan itu adalah sebaik-baik bid‘ah.”

Atsar ini dinyatakan sahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/52 dan oleh Az-Zurqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 3/320.

===

KE 3 : PERKATAAN ABDULLAH BIN MAS’UD RADHIYALLAHU ‘ANHU :

[1] Abu Yusuf dalam al-Atsar – Bab al-Wudhu- hal. 6 no. 29 meriwayatkan : Dari ayahnya, dari Abu Hanifah, dari Hammad, dari Ibrahim :

أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ فِي غَسْلِ الدُّبُرِ وَالذَّكَرِ: «بِدْعَةٌ، وَلَنِعْمَ الْبِدْعَةُ»

“Bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata tentang mencuci dubur dan kemaluan (saat hendak berwudhu): “Itu adalah bid’ah, dan itu sebaik-baik bid’ah.”

[2] Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«‌مَا ‌رَآهُ ‌الْمُسْلِمُونَ ‌حَسَنًا ‌فَهُوَ ‌عِنْدَ ‌اللَّهِ ‌حَسَنٌ. وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ ».

“Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin maka itu baik di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum Muslimin maka itu buruk di sisi Allah.”

Berdasarkan ini, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi (202 H – 294 H) berkata dalam kitabnya *Al-Intishar li Ashhabil Hadits* (hal. 28):

اَلْبِدْعَةُ عَلَى وَجْهَيْنِ: بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ وَبِدْعَةٌ حَسَنَةٌ. قَالَ اَلْحَسَنُ اَلْبَصْرِيُّ: اَلْقَصَصُ بِدْعَةٌ، وَنِعْمَتِ اَلْبِدْعَةُ، كَمْ مِنْ أَخٍ يُسْتَفَادُ، وَدَعْوَةٍ مُجَابَةٍ.

“Bid‘ah terbagi menjadi dua jenis: bid‘ah yang buruk dan bid‘ah yang baik. Al-Hasan Al-Bashri berkata: *Al-Qashash* (ceramah-ceramah) adalah bid‘ah, dan sebaik-baik bid‘ah itu — betapa banyak saudara yang diambil manfaat darinya dan doa yang dikabulkan karenanya.”

Hadits Ibnu Mas’ud diatas ini merupakan bagian dari hadits mauquf (ucapan sahabat) dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam *Musnad*-nya (1/379) dengan lafaz:

«إِنَّ اللهَ ‌نَظَرَ ‌فِي ‌قُلُوبِ ‌الْعِبَادِ، ‌فَوَجَدَ ‌قَلْبَ ‌مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ»

“Sesungguhnya Allah melihat ke dalam hati para hamba, lalu Dia mendapati hati Muhammad adalah sebaik-baik hati manusia, maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya.

Kemudian Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad , dan mendapati hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati manusia, maka Dia menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya, berjuang membela agama-Nya.

Maka apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, itu baik di sisi Allah, dan apa yang mereka pandang buruk, itu buruk di sisi Allah.”

TAKHRIJ :

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu ‘Ali al-Bazzaaz dalam ats-Tsamin min Ajzaa’i Abi ‘Ali bin Syadzan hal. 200 no. 199 .

Dan diriwayatkan juga oleh Al-Hakim (secara mauquf) dalam *Ma‘rifat Ash-Shahabah*, pada bab *Fadhail Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu* (3/78–79) dengan sanad Imam Ahmad, dengan lafaz:

«مَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ»

“Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin…” hingga akhir hadits.

Dan ia menambahkan pada akhir riwayatnya:

«وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ –».

“Para sahabat seluruhnya berpendapat untuk membaiat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah.”

Setelah itu Al-Hakim berkata:

"حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخْرِجَاهُ".

“Hadits ini sahih sanadnya dan belum dikeluarkan oleh Al-Bukhari maupun Muslim.”

Hadits ini dinilai sahih sebagaimana disebutkan dalam *Multaqa Ahlil Hadits* (cet. ke-2, jilid 40, hlm. 459).

Dan Adz-Dzahabi berkata: “Hadits ini sahih.”

Ahmad Syakir dalam Tahqiq al-Musnad 3/505 no. 3600 berkata :

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، وَهُوَ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ. وَهُوَ فِي مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ (١/ ١٧٧ – ١٧٨) لِلْهَيْثَمِيِّ، وَقَالَ: "رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ."

Sanadnya sahih, dan hadits ini mauquf dari Ibnu Mas‘ud. Hadits ini terdapat dalam Majma‘ az-Zawā’id (1:177–178) karya Al-Haitsami, yang berkata: “Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam Al-Kabīr, dan para perawinya terpercaya.”

Syu’aib al-Arna’uth beserta para pentahqiq al-Musnad 6/84 no. 3600 berkata :

إِسْنَادُهُ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ عَاصِمٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي النَّجُودِ-، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ -وَهُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ-، فَمِنْ رِجَالِ الْبُخَارِيِّ، وَأَخْرَجَ لَهُ مُسْلِمٌ فِي "الْمُقَدِّمَةِ".

Sanadnya hasan karena adanya 'Ashim (yaitu Ibnu Abi An-Najud), sedangkan para perawi lainnya adalah perawi-perawi terpercaya dari kalangan perawi dua syaikh (Al-Bukhari dan Muslim), kecuali Abu Bakar (yaitu Ibnu ‘Ayyasy), yang merupakan perawi dalam Shahih Al-Bukhari, dan Muslim meriwayatkan darinya dalam bagian *Muqaddimah*.

Al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dho’ifah 2/17 no. 533:

أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ (رَقْم ٣٦٠٠) وَالطَّيَالِسِيُّ فِي "مُسْنَدِهِ" (ص ٢٣)، وَأَبُو سَعِيدٍ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ فِي "مُعْجَمِهِ" (٨٤ / ٢) مِنْ طَرِيقِ عَاصِمٍ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْهُ. وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ.

وَرَوَى الْحَاكِمُ مِنْهُ الْجُمْلَةَ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي الْأَعْلَى، وَزَادَ فِي آخِرِهِ: "وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ"، وَقَالَ: "صَحِيحُ الْإِسْنَادِ"، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ.

وَقَالَ الْحَافِظُ السَّخَاوِيُّ: "هُوَ مَوْقُوفٌ حَسَنٌ".

قُلْتُ: وَكَذَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ فِي "الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ" (١٠٠ / ٢) مِنْ طَرِيقِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ عَاصِمٍ بِهِ، إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: "أَبِي وَائِلٍ" بَدَلَ "زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ".

ثُمَّ أَخْرَجَهُ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: فَذَكَرَهُ.

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا، وَلَكِنْ فِي إِسْنَادِهِ كَذَّابٌ كَمَا بَيَّنْتُهُ آنِفًا.

Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 3600), Ath-Thayalisi dalam *Musnad*-nya (hlm. 23), dan Abu Sa’id Ibnu Al-A’rabi dalam *Mu’jam*-nya (84/2) melalui jalur ‘Ashim dari Zur bin Hubaisy darinya. Ini adalah sanad yang hasan.

Al-Hakim meriwayatkan bagian kalimat yang telah disebutkan di atas dan menambahkan di akhirnya:

“Para sahabat seluruhnya berpendapat untuk mengangkat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah.

Ia berkata: “Sanadnya sahih,” dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.

Al-Hafidz As-Sakhawi berkata: “Hadits ini mauquf dan hasan.”

Aku (al-Albani) berkata: Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam *Al-Faqih wal Mutafaqqih* (100/2) melalui jalur Al-Mas’udi dari ‘Ashim dengan sanad yang sama, hanya saja ia menyebut “Abu Wail” sebagai pengganti “Zur bin Hubaisy”. Kemudian ia meriwayatkannya melalui jalur Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: “Abdullah berkata…” lalu menyebutkan hadits tersebut.

Sanadnya sahih. Hadits ini juga diriwayatkan secara marfu‘, tetapi dalam sanadnya terdapat seorang pendusta sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya”. [Selesai]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanadnya dalam Musnadnya (al-Bahr az-Zakhkhor 5/212 no. 1816) dengan sedikit perbedaan:

«إِنَّ اللَّهَ ‌نَظَرَ ‌فِي ‌قُلُوبِ ‌الْعِبَادِ ‌فَوَجَدَ ‌قَلْبَ ‌مُحَمَّدٍ خَيْرَ قُلُوبٍ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ أَنْصَارَ دِينِهِ، مَا رَآهُ الْمُؤْمِنُ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ»

“Sesungguhnya Allah telah memandang ke dalam hati para hamba-Nya, lalu Dia mendapati hati Muhammad sebagai hati yang paling baik di antara hati para hamba.

Kemudian Allah memandang ke dalam hati para hamba lagi, lalu Dia mendapati hati para sahabatnya sebagai hati yang paling baik di antara hati para hamba, maka Allah menjadikan mereka sebagai penolong agama-Nya.

Apa yang dianggap baik oleh orang-orang beriman, maka itu baik di sisi Allah, dan apa yang dianggap buruk oleh orang-orang beriman, maka itu buruk di sisi Allah”.

Lihat pula : Bab *Ijma‘* dari kitab *Kasyf Al-Astar ‘an Zawa’id Al-Bazzar* karya Al-Haitsami (1/88).

Ibnu Hazm meriwayatkannya dengan sanadnya dari Ibnu Mas‘ud secara mauquf dalam kitab *Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam* (6/759)

Al-Haitsami berkata dalam *Majma‘uz Zawaid* (1/177–178):

(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ)

“Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani dalam *Al-Kabir*, dan para perawinya terpercaya.”

As-Sakhawi berkata dalam *Al-Maqashidul Hasanah* (hal. 367):

(وَهُوَ مَوْقُوفٌ حَسَنٌ)

“Hadits ini mauquf dan hasan.”

----

RIWAYAT MARFU’ dari Anas bin Malik :

Hadits ini juga diriwayatkan secara marfu‘ dari Anas radhiyallahu ‘anhu.

Al-‘Ajluni dalam *Kasyful Khafa’* (2/263, no. 2214) menukil dari Ibnu ‘Abdul Hadi yang berkata:

(رُوِيَ مَرْفُوعًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ بِإِسْنَادٍ سَاقِطٍ، وَالْأَصَحُّ: وَقْفُهُ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ)

“Diriwayatkan secara marfu‘ dari Anas dengan sanad yang sangat lemah. Yang lebih benar adalah mauquf pada Ibnu Mas‘ud.”

Kesimpulannya: hadits ini tidak sahih bila disandarkan kepada Nabi , tetapi sahih secara mauquf dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.

Hadits Anas ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim (3/78). Lihat *Kasyful Khafa’* (2/263), *Al-Asrarul Marfu‘ah* (hal. 106), dan *Ad-Durarul Muntatsirah* (hal. 156).

===

KE 4 : PERKATAAN UMAR BIN AL-KHATHTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU:

Dari Abdurrahman bin Abdul Qari:

خَرَجْتُ مع عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنْه لَيْلَةً في رَمَضَانَ إلى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ؛ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، ويُصَلِّي الرَّجُلُ فيُصَلِّي بصَلَاتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ:

«إنِّي أرَى لو جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ علَى قَارِئٍ واحِدٍ، لَكانَ أمْثَلَ».

ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمعهُمْ علَى أُبَيِّ بنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ معهُ لَيْلَةً أُخْرَى والنَّاسُ يُصَلُّونَ بصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ:

«نِعْمَ البِدْعَةُ هذِه، والَّتي يَنَامُونَ عَنْهَا أفْضَلُ مِنَ الَّتي يَقُومُونَ»، يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ، وكانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أوَّلَهُ.

Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam di bulan Ramadan menuju masjid. Ternyata orang-orang berkelompok-kelompok yang terpencar; ada lelaki yang sholat sendirian, dan ada lelaki yang sholat lalu ada sekelompok orang yang sholat mengikuti salatnya.

Maka Umar berkata: “Menurutku, jika aku mengumpulkan mereka di belakang satu qari, itu akan lebih baik.”

Lalu ia bertekad, dan ia pun mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka‘b. Kemudian aku keluar bersamanya pada malam yang lain, dan orang-orang sedang sholat mengikuti bacaan qari mereka.

Umar berkata: “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini. Dan yang mereka tinggalkan untuk tidur lebih utama daripada yang mereka kerjakan.”

Yang beliau maksud adalah sholat pada akhir malam, sedangkan manusia saat itu sholat pada awal malam.

]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 2010].

Namun Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu Fatawa nya 5/249-250 mengkritik terhadap ucapan Amirul Mu'minin Umar bin al-Khaththab dan putranya Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- :

«‌نِعْمَتِ ‌الْبِدْعَةُ ‌هَذِهِ»

“Sebaik-baik bidah adalah ini”

dengan mengatakan:

"أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَنْ يُعَارِضَ كَلَامَ الرَّسُولِ ﷺ بِأَيِّ كَلَامٍ، لَا بِكَلَامِ أَبِي بَكْرٍ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُمَرَ الَّذِي هُوَ ثَانِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عُثْمَانَ الَّذِي هُوَ ثَالِثُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ عَلِيٍّ الَّذِي هُوَ رَابِعُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، وَلَا بِكَلَامِ أَحَدٍ غَيْرِهِمْ … "ـ

“Bahwa tidak boleh bagi siapa pun dari manusia untuk menentang ucapan Rasulullah dengan ucapan siapa pun, tidak dengan ucapan Abu Bakar yang merupakan manusia terbaik umat ini setelah nabinya, tidak pula dengan ucapan Umar yang merupakan orang kedua umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Utsman yang merupakan orang ketiga umat ini setelah nabinya, tidak dengan ucapan Ali yang merupakan orang keempat umat ini setelah nabinya, dan tidak pula dengan ucapan siapa pun selain mereka …”.

Hingga pada perkataan Syeikh al-Utsaimin :

"فَلَا يَلِيقُ بِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ مَنْ هُوَ أَنْ يُخَالِفَ كَلَامَ سَيِّدِ الْبَشَرِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنْ يَقُولَ عَنْ بِدْعَةٍ (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ)، بَلْ لَا بُدَّ أَنْ تُنَزَّلَ الْبِدْعَةُ الَّتِي قَالَ عَنْهَا عُمَرُ أَنَّهَا (نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ) عَلَى بِدْعَةٍ لَا تَكُونُ دَاخِلَةً تَحْتَ مُرَادِ النَّبِيِّ ﷺ".

“Maka tidak pantas bagi Umar radhiyallahu ‘anhu, dia siapa, sehingga berani menyelisihi ucapan junjungan seluruh manusia, yaitu Muhammad , dan dia berani-beraninya mengatakan tentang suatu bidah “sebaik-baik bidah”, bahkan bid’ah yang dikatakan oleh Umar sebagai “sebaik-baik bidah” itu harus diarahkan pada jenis bidah yang tidak termasuk dalam maksud Nabi ”.

===

KE 5 : PERNYATAAN ABU UMAMAH RADHIYALLAHU ‘ANHU :

Muhammad bin Nasher al-Marwazi (w. 294 H) meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu :

" ‌إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَتَبَ ‌عَلَيْكُمْ ‌صِيَامَ ‌رَمَضَانَ ‌وَلَمْ ‌يَكْتُبْ ‌قِيَامَهُ ، ‌وَإِنَّمَا ‌الْقِيَامُ ‌شَيْءٌ ‌أَحْدَثْتُمُوهُ ‌فَدُومُوا ‌عَلَيْهِ ‌وَلَا ‌تَتْرُكُوهُ ‌فَإِنَّ ‌نَاسًا ‌مِنْ ‌بَنِي ‌إِسْرَائِيلَ ابْتَدَعُوا بِدْعَةً لَمْ يَكْتُبْهَا اللَّهُ عَلَيْهِمُ ابْتَغَوْا بِهَا رِضْوَانَ اللَّهِ فَلَمْ يَرْعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَعَابَهُمُ اللَّهُ بِتَرْكِهَا ، فَقَالَ: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا﴾ [الحديد: 27]".

“Allah mewajibkan puasa Ramadhan pada kalian , dan Dia tidak mewajibkan shalat qiyamullail nya [ Tarawihnya ].

Dan adapun shalat qiyamullail adalah sesuatu yang baru yang kalian ada-adakan , maka kalian harus mendawamkannya [memeliharanya] dan janganlah kalian meninggalkannya; karena dulu ada segolongan manusia dari Bani Israil mengada-adakan amalan bid'ah yang tidak pernah diperintahkan Allah atas mereka, yang mana mereka melakukan semua itu dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah dengannya.

Namun ternyata mereka itu tidak memeliharanya sebagaimana mestinya, maka Allah SWT mencela mereka karena meninggalkannya, dan Allah SWT berfirman :

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

“Dan mereka mengada-adakan bid'ah rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”. [ QS. Al-Hadiid : 27]

[Lihat مُخْتَصَرُ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ وَكِتَابِ الْوِتْرِ 1/23 karya Muhammad bin Nasher al-Marwazi]

===

KE 6 : PERKATAAN ABUBAKAR, UMAR DAN ZAID BIN TSABIT RADHIYALLAHU ‘ANHUM.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

أَرْسَلَ إلَيَّ أبو بَكْرٍ مَقْتَلَ أهْلِ اليَمَامَةِ وعِنْدَهُ عُمَرُ، فَقالَ أبو بَكْرٍ: "إنَّ عُمَرَ أتَانِي، فَقالَ: إنَّ القَتْلَ قَدِ اسْتَحَرَّ يَومَ اليَمَامَةِ بالنَّاسِ، وإنِّي أخْشَى أنْ يَسْتَحِرَّ القَتْلُ بالقُرَّاءِ في المَوَاطِنِ، فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنَ القُرْآنِ إلَّا أنْ تَجْمَعُوهُ، وإنِّي لَأَرَى أنْ تَجْمَعَ القُرْآنَ".

قالَ أبو بَكْرٍ: "قُلتُ لِعُمَرَ: كيفَ أفْعَلُ شَيئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسولُ اللَّهِ ﷺ؟. فَقالَ عُمَرُ: ’هو واللَّهِ خَيْرٌ’، فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فيه حتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذلكَ صَدْرِي، ورَأَيْتُ الذي رَأَى عُمَرُ".

قالَ زَيْدُ بنُ ثَابِتٍ: "وعُمَرُ عِنْدَهُ جَالِسٌ لا يَتَكَلَّمُ".

فَقالَ أبو بَكْرٍ: "إنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ، ولَا نَتَّهِمُكَ، كُنْتَ تَكْتُبُ الوَحْيَ لِرَسولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَتَبَّعِ القُرْآنَ فَاجْمَعْهُ. فَوَاللَّهِ لو كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنَ الجِبَالِ ما كانَ أثْقَلَ عَلَيَّ ممَّا أمَرَنِي به مِن جَمْعِ القُرْآنِ".

قُلتُ: "كيفَ تَفْعَلَانِ شيئًا لَمْ يَفْعَلْهُ النَّبيُّ ﷺ؟".

فَقالَ أبو بَكْرٍ: "هو واللَّهِ خَيْرٌ".

فَلَمْ أزَلْ أُرَاجِعُهُ حتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ اللَّهُ له صَدْرَ أبِي بَكْرٍ وعُمَرَ، فَقُمْتُ فَتَتَبَّعْتُ القُرْآنَ أجْمَعُهُ مِنَ الرِّقَاعِ والأكْتَافِ، والعُسُبِ وصُدُورِ الرِّجَالِ، حتَّى وجَدْتُ مِن سُورَةِ التَّوْبَةِ آيَتَيْنِ مع خُزَيْمَةَ الأنْصَارِيِّ لَمْ أجِدْهُما مع أحَدٍ غيرِهِ: ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ﴾ [التوبة: 128]  إلى آخِرِهِمَا، وكَانَتِ الصُّحُفُ الَّتي جُمِعَ فِيهَا القُرْآنُ عِنْدَ أبِي بَكْرٍ حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بنْتِ عُمَرَ".

“Abu Bakar mengirim utusan kepadaku setelah terjadinya pembantaian para syuhada dalam perang Yamamah, dan di sisinya ada Umar.

Abu Bakar berkata: “Umar datang kepadaku dan berkata: Sesungguhnya pembunuhan pada hari Yamamah telah sangat banyak menimpa manusia, dan aku khawatir pembunuhan itu akan semakin banyak menimpa para qari pada berbagai medan perang, sehingga banyak bagian dari Al-Qur’an akan hilang kecuali jika kalian mengumpulkannya. Menurutku engkau harus mengumpulkan Al-Qur’an.”

Abu Bakar berkata: “Aku berkata kepada Umar: Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ?”

Umar berkata: “Demi Allah, itu adalah kebaikan.” Umar terus-menerus membujukku hingga Allah melapangkan dadaku untuk itu, dan aku pun melihat seperti apa yang dilihat Umar.”

Zaid bin Tsabit berkata: “Umar duduk di sisinya tanpa berbicara. Maka Abu Bakar berkata: Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu. Engkau dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah . Maka telusurilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah.” Demi Allah, seandainya mereka membebaniku memindahkan sebuah gunung, niscaya itu tidak lebih berat bagiku daripada tugas mengumpulkan Al-Qur’an.

Aku berkata: “Bagaimana kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Nabi ?”

Abu Bakar berkata: “Demi Allah, itu adalah kebaikan.”

Aku terus membujuknya hingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Dia melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun berdiri, menelusuri Al-Qur’an dan mengumpulkannya dari lembaran-lembaran, tulang belikat, pelepah kurma, dan hafalan para lelaki, hingga aku menemukan dua ayat terakhir dari Surah At-Taubah bersama Khuzaimah Al-Anshari yang tidak kutemukan pada seorang pun selain dirinya, yaitu ayat :

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ. فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [QS. at-Tawbah: 128]

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". [QS. at-Tawbah: 129]

Lembaran-lembaran tempat Al-Qur’an dikumpulkan itu berada di sisi Abu Bakar sampai Allah mewafatkannya, kemudian di sisi Umar sampai Allah mewafatkannya, kemudian di sisi Hafshah binti Umar. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 4679].

===***===

PEMBAHASAN KE TUJUH
DALIL-DALIL PENGUAT ADANYA BID’AH HASANAH:

===

DALIL PERTAMA : HADITS IBNU UMAR

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»

Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau beliau berkata: umat Muhammad , di atas kesesatan. Tangan Allah bersama jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, Bab tentang perintah untuk tetap bersama jamaah, hadits nomor 2167 (4/466), dan ia berkata: “Hadits ini gharib dari jalur ini”.

Hadits ini memiliki penguat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim (1/115–116), dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi 'Ashim hadits nomor 80, 82, 83, 84, 85 (halaman 39, 41, 42).

As-Suyuthi menyebutkannya dalam Al-Jami' Ash-Shaghir 1/278 no. 1818 dan menambahkan lafaz:

«وَيَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ»

"dan tangan Allah di atas jamaah, dan siapa yang menyendiri maka ia akan tersendirikan ke dalam neraka".

Lalu ia berkata: “Hadits hasan”.

Dan Syeikh Al-Albani men-sahihkan-nya dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 1844.

Dan Syaikh Al-Albani berkata dalam “Ta’liq Misykat al-Masabih” (1/61):

"لَهَا شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَغَيْرُهُمَا بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، وَمِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ عِنْدَ ابْنِ قَانِعٍ فِي الْمُعْجَمِ".

Hadits ini memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan selain keduanya dengan sanad yang sahih, serta dari hadits Usamah bin Syarik yang diriwayatkan oleh Ibnu Qani‘ dalam *al-Mu‘jam*.

Hadits diatas memiliki penguat : diantaranya dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، ‌فَإِذَا ‌رَأَيْتُمُ ‌اخْتِلَافًا ‌فَعَلَيْكُمْ ‌بِالسَّوَادِ ‌الْأَعْظَمِ»

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Jika kalian melihat perselisihan, maka wajib bagi kalian berpegang kepada kelompok mayoritas.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid (hlm. 367, no. 1220), Ibnu Majah (2/1303, no. 3950), Ibnu Abi ‘Ashim dalam *As-Sunnah* (1/41, no. 84), dan Ibnu Baththah dalam *Al-Ibanah Al-Kubra* 1/288 no. 118.

Dalam sanadnya terdapat Abu Khalaf Al-A‘mā, Hāzim bin ‘Athā, dan ia adalah perawi yang lemah.

Al-Hakim berkata:

«اِسْتَقَرَّ الْخِلَافُ فِي إِسْنَادِ هٰذَا الْحَدِيثِ، وَقَدْ رُوِيَ بِأَسَانِيدَ يَصِحُّ بِمِثْلِهَا الْحَدِيثُ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَصْلٌ بِأَحَدِ هٰذِهِ الْأَسَانِيدِ»

“Perbedaan pendapat dalam sanad hadits ini telah terjadi, dan hadits ini telah diriwayatkan melalui jalur-jalur yang dengannya hadits dapat dinilai sahih. Maka dengan pasti hadits ini memiliki asal dari salah satu sanad tersebut.”

(*Al-Mustadrak* 1/115; *Miskāt Al-Maṣābīḥ* 1/62; *Tanqīḥ Ar-Ruwāt* 1/42; *Jāmi‘ At-Tirmiżī*, *Tufat Al-Awadzi* 3/368)

Muhammad Thahir Al-Kurdi Asy-Syafi‘i berkata dalam *Tārīkh Al-Qur’ān Al-Karīm* hlm. 57:

«رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ».

“Ibnu Majah meriwayatkannya dari Anas bin Malik dan itu adalah hadits sahih.”

Syaikh Sulaiman Al-Khats‘ami An-Najdi berkata dalam *Adh-Dhiyā Asy-Syāriq* hlm. 565: “Hadits ini baik dengan seluruh jalur periwayatannya.”

«وَهٰذَا الْحَدِيثُ جَيِّدٌ بِطُرُقِهِ».

Ustadz Syu‘aib Al-Arna’uth berkata: “Namun dengan terkumpulnya seluruh jalur tersebut, hadits ini menjadi kuat sehingga dapat dijadikan hujjah.”

Lihat *Siyar A‘lam An-Nubalā* 12/196 catatan kaki no. (2), dan *abaqāt ‘Ulamā Al-adīṡ* 2/213 catatan kaki no. (1).

Hadits ini memiliki penguat dari Ibnu Abbas dalam riwayat Al-Hakim dengan sanad yang hasan. Al-Hakim berkata:

«اِسْتَقَرَّ الْخِلَافُ فِي إِسْنَادِ هٰذَا الْحَدِيثِ، وَقَدْ رُوِيَ بِأَسَانِيدَ يَصِحُّ بِمِثْلِهَا الْحَدِيثُ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَصْلٌ بِأَحَدِ هٰذِهِ الْأَسَانِيدِ».

“Perbedaan pendapat dalam sanad hadits ini telah tetap, dan hadits ini telah diriwayatkan melalui jalur-jalur yang dengannya hadits dapat dinilai sahih. Maka pasti hadits ini memiliki asal dari salah satu sanad tersebut.”

(*Al-Mustadrak* 1/115; *Miskāt Al-Maṣābīḥ* 1/62; *Tanqīḥ Ar-Ruwāt* 1/42; *Jāmi‘ At-Tirmiżī*, *Tufat Al-Awadzi* 3/368)

As-Sakhawi berkata dalam *Al-Maqāṣid Al-asanah* hlm. 460:

«لٰكِنْ بِمَجْمُوعِ هٰذِهِ الطُّرُقِ يَتَقَوَّى الْحَدِيثُ فَيَكُونُ حُجَّةً».

“Secara keseluruhan, ini adalah hadits yang masyhur pada matannya, memiliki banyak sanad, serta banyak syahid baik dalam riwayat marfū’ maupun lainnya.”

Dan hadits ini juga memiliki penguat dalam Musnad Ahmad (5/145) dari Abu Dzar, dalam lafaz:

«فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَنْ يَجْمَعَ أُمَّتِي إِلَّا عَلَى هُدًى»

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali di atas petunjuk".

Dan dalam Sunan Ad-Darimi (1/29) pada bagian pendahuluan, Bab tentang keutamaan yang diberikan kepada Nabi , disebutkan lafaz:

«وَلَا يَجْمَعُهُمْ عَلَى ضَلَالَةٍ»

"Dan Dia tidak mengumpulkan mereka di atas kesesatan".

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Umar berkhutbah kepada kami di Jabiyah, lalu berkata:

خَطَبَنَا عُمَرُ بِالْجَابِيَةِ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ: إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِينَا فَقَالَ:

«أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ، أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ، مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ».

“Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di hadapan kalian sebagaimana Rasulullah pernah berdiri di hadapan kami. Beliau bersabda:

*Aku wasiatkan kalian agar menjaga para sahabatku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Setelah itu akan tersebar kedustaan, sampai-sampai seorang lelaki bersumpah padahal ia tidak diminta bersumpah, dan seorang saksi memberikan kesaksian padahal ia tidak diminta menjadi saksi. Ketahuilah, janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali yang ketiganya adalah setan. Hendaklah kalian tetap bersama jamaah dan jauhilah perpecahan, karena setan bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang. Barang siapa ingin berada di bagian tengah Surga, maka hendaklah ia bersama jamaah. Barang siapa yang kebaikannya membuatnya senang dan keburukannya membuatnya sedih, maka dialah orang beriman.*”

Tercantum dalam Sunan At-Tirmidzi 3/315 (Kitab Al-Fitan, Bab Larangan Menyelisihi Jamaah). At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan sahih gharib.”

Hadits ini juga terdapat dalam Al-Musnad (cetakan Al-Ma’arif) 1/204–205 (no. 114) dan 230–231 (no. 177). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mensahihkan hadits tersebut pada kedua tempat itu.

===

DALIL KE DUA : HADITS JARIR AL-BAJALLY

Hadits Jarir Bin Abdullah al-Bajally radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabada :

«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».

Barang siapa yang memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu sunnah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna yang serupa.]

Kronologi Hadits:

Imam Muslim meriwayatkan: Jarir Bin Abdullah al-Bajally

كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ العَبَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقالَ:

«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ، حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ»

قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.

فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».

Kami pernah berada di sisi Rasulullah pada pagi hari. Lalu datanglah sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi, mengenakan jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak mereka. Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari Mudhar. Wajah Rasulullah pun berubah (tampak sedih) ketika melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke rumahnya), kemudian keluar lagi.

Beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat, kemudian berkhutbah seraya membaca:

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat,

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).

Dan juga ayat dalam Surah Al-Hasyr:

“Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).

Kemudian beliau bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun hanya separuh butir kurma.”

Lalu datanglah seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga tangannya hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat menahannya. Setelah itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat dua tumpukan besar berisi makanan dan pakaian.

Melihat hal itu, wajah Rasulullah tampak berseri-seri seperti emas yang berkilauan. Kemudian Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun dari pahala mereka.

Dan barang siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka.”

[HR. Muslim no. 1017. Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan Ath-Thayalisi (705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]

Sunnah yang di maksud dalam hadits di atas ini bukan sunnah Nabi , melainkan amal perbuatan secara mutlak, karena sunnah Nabi itu tidak terbagi dua, baik dan buruk.

Dan makna lafadz “sanna” yang disabdakan oleh Rasulullah di sini adalah “memulai”, bukan “menghidupkan sunnah kembali” sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang.

Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 7/104 berkata :

فِيهِ ‌الْحَثُّ ‌عَلَى ‌الِابْتِدَاءِ ‌بِالْخَيْرَاتِ ‌وَسَنِّ ‌السُّنَنَ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيرُ مِنَ اخْتِرَاعِ الْأَبَاطِيلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ وَسَبَبُ هَذَا الْكَلَامِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ فِي أَوَّلِهِ فَجَاءَ رَجُلٌ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا فَتَتَابَعَ النَّاسُ وَكَانَ الْفَضْلُ الْعَظِيمُ لِلْبَادِي بِهَذَا الْخَيْرِ وَالْفَاتِحُ لِبَابِ هَذَا الْإِحْسَانِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ هَذَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَاجِبَةٌ

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai berbagai kebaikan dan menetapkan sunnah-sunnah yang baik, serta peringatan dari mengada-adakan kebatilan dan hal-hal yang tercela.

Sebab penjelasan ini disebutkan dalam hadits tersebut adalah karena beliau berkata pada bagian awalnya:

Lalu datang seorang lelaki membawa sebuah kantong sedekah yang hampir-hampir tangannya tidak sanggup menahannya, kemudian orang-orang pun mengikutinya”.

Maka keutamaan yang sangat besar adalah milik orang yang pertama kali memulai kebaikan ini dan membuka pintu kebaikan tersebut.

Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap sabda Rasulullah : “Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”, yaitu bahwa yang dimaksud dengannya adalah perkara-perkara baru yang batil dan bid’ah-bid’ah yang tercela. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Shalat Jumat, dan di sana telah kami sebutkan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima macam, di antaranya ada yang wajib”. [Selesai]

----

Adapun hadits yang menunujukkan makna “sanna” itu adalah "menghidupkan sunnah yang mati", maka status haditsnya antara palsu dan dho’if sekali. Sebagaimana dalam penjelasan berikut ini :

Dari Katsir bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda.

«‌مَنْ ‌أَحْيَا ‌سُنَّةً ‌مِنْ ‌سُنَّتِي ‌قَدْ ‌أُمِيتَتْ ‌بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِ النَّاسِ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً لَا يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَإِنَّ عَلَيْهِ مِثْلَ إِثْمِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ آثَامِ النَّاسِ شَيْئًا»

Artinya : “Siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan sepeninggalku, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa yang mengada-adakan suatu bidah yang tidak diridai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.”.

HR. At-Tirmidzy 2677, Ibnu Majah no. 210, al-Bazzar dalam al-Bahru az-Zakhkhor no. 3385 dan al-Baghowi dalam Syarhu as-Sunnah no. 110.

Status Hadits:

Ada sebagian para ulama ahli hadits yang mengatakan :

هٰذَا الْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ وَلَا يَصِحُّ الِاحْتِجَاجُ بِهِ، لِأَنَّ فِي إِسْنَادِهِ كَثِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الَّذِي تَرَكَ الْعُلَمَاءُ رِوَايَتَهُ.

“Hadits ini palsu dan tidak layak dijadikan hujjah, karena dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah yang riwayatnya ditinggalkan oleh para ulama hadits”.

Hadits ini disebutkan pula dengan sanadnya dalam “al-Jami’ Lii ‘Uluumi al-Imam Ahmad 18/507 no. 2211. Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abdulllah putra Imam Ahmad dalam al-‘Ilal no. 4922.

Di dalam sanadnya terdapat “Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf”.  

Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani: para ulama banyak membicarakannya dan mereka melemahkannya, bahkan sebagian dari mereka menuduhnya sebagai pendusta.

Dalam Al-Jarh wat-Ta'dil (7/154) Ibnu Abi Hatim ar-Razi dari Abu Thalib disebutkan:

"سَأَلْتُ أَحْمَدَ، يَعْنِي ابْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ؟ فَقَالَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ."

“Aku bertanya kepada Ahmad —yakni ibnu Hanbal— tentang Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf? Beliau berkata: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.”

[Lihat pula : Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].

Dan dalam Tahdzibul Kamal 24/137 karya al-Mizzy, dia menyebutkan:

"قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ بِشَيْءٍ."

“Abdullah bin Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad, dan beliau tidak meriwayatkan satu pun darinya kepada kami.” [Lihat pula : Tahdzib at-Tahdzib 8/422]

Dan memang benar demikian, karena Imam Ahmad tidak mengeluarkan satu pun hadits dari Musnad Amr bin Auf, kakek Katsir.

Abu Khaitsamah berkata:

قَالَ لِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا.

Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: jangan engkau meriwayatkan sesuatu pun darinya. Lihat Tahdzibul Kamal 24/138.

Al-Imam Al-Bukhari berkata:

كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْمِلُ عَلَى كَثِيرٍ، يُضَعِّفُهُ

Ahmad bin Hanbal sangat keras terhadap Katsir, beliau melemahkannya. [Lihat Tahdzibul Kamal 24/139, Bahrud Dam nomor 859].

An-Nasa’i dalam ad-Dhu‘afa hal. 89 no. 504:

كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ

“ Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf adalah seorang perawi yang ditinggalkan haditsnya (ditolak)”.

Ibnu Hibban berkata dalam al-Majruhin 2/228 nomor 893:

كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي عَنْ أَنَسٍ مَا لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ مِنْ غَيْرِ رِوَايَتِهِ، وَيَضَعُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُحَدِّثُ عَنْهُ، لَا تَحِلُّ كِتَابَةُ حَدِيثِهِ وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى سَبِيلِ الِاخْتِبَارِ

“Ia termasuk orang yang meriwayatkan dari Anas apa yang bukan termasuk haditsnya, bukan dari jalurnya, dan ia membuat-buat hadits palsu atas nama Anas lalu meriwayatkannya. Tidak halal menuliskan haditsnya dan tidak boleh meriwayatkannya darinya kecuali sekadar untuk tujuan pengujian”.

Pentahqiq kitab Mukhtashar Talkhish adz-Dzahabi karya Ibnu al-Mulaqqin 5/2314, Sa’ad bin Abdullah al-Hummaid berkata:

الْحَدِيثُ فِي سَنَدِهِ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو الْمُزَنِيُّ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ - كَمَا فِي الْمُغْنِي (٢/ ٥٣١ رَقْم ٥٠٨٤) -؛ كَذَّبَهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ، عَنْ أَحْمَدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ، وَقَالَ أَبُو خَيْثَمَةَ: قَالَ لِي أَحْمَدُ: لَا تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ، وَقَالَ النَّسَائِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: رَوَى عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ نُسْخَةً مَوْضُوعَةً لَا يَحِلُّ ذِكْرُهَا فِي الْكُتُبِ، وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّعَجُّبِ.

الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا بِهٰذَا الْإِسْنَادِ لِشِدَّةِ ضَعْفِ كَثِيرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Hadits ini dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah bin Amr Al-Muzani, dan ia adalah perawi yang ditinggalkan—sebagaimana dalam Al-Mughni (2/531 no. 5084). Asy-Syafi‘i dan Abu Dawud menuduhnya sebagai pendusta.

Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.

Abdullah bin Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad dan tidak meriwayatkan sesuatu pun darinya kepada kami.

Abu Khaitsamah berkata: Ahmad berkata kepadaku: jangan meriwayatkan sesuatu pun darinya.

Ibnu Ma‘in berkata: tidak ada nilainya, haditsnya tidak boleh ditulis. An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan haditsnya.

Ibnu Hibban berkata: ia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya sebuah kumpulan riwayat yang dibuat-buat; tidak halal menyebutkannya dalam kitab-kitab, dan tidak boleh meriwayatkannya kecuali dalam rangka menunjukkan keanehannya.

Hadits ini sangat lemah dengan sanad ini karena sangat lemahnya Katsir. Allah lebih mengetahui”.

[Lihat Al-Jarh wat-Ta'dil 7/154, Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].

Sementara Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu Majah berkata :

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو

“Sanadnya lemah karena kelemahan Katsir bin Abdullah bin Amr”.

Adapun Syeikh al-Albani, maka dalam Dha‘if al-Jami‘ no. 5359 beliau berkata : (ضَعِيفٌ جِدًّا). Bagitu pula dalam Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits no. 210, Syeikh al-Albani mengatakan: (ضَعِيفٌ جِدًّا), akan tetapi dalam hadits no. 209, beliau mengatakan: (صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ). [Lihat pula Shahih Ibnu Majah no. 174].

----

DALIL PENGUAT MAKNA “سَنَّ سُنَّةً” ADALAH MEMULAI SUATU AMALAN, BUKAN MENGHIDUPKAN SUNNAH YANG MATI..

Hadits-hadits lain yang memperkuat makna asal kata “سَنَّ سُنَّةً” dalam sabda Nabi adalah memulai suatu amalan atau memberikan contoh, baik itu bagus maupun jelek, baik itu tercela, maupun terpuji adalah sbb :

PERTAMA : Di antara yang menguatkan apa yang kami katakan adalah Mu’adz ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

"وَكَانُوا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ، وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ يُشِيرُ إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ: فَجَاءَ مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ عَلَيْهَا، ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ النَّبِيُّ ﷺ بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاتَهُ قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»".

Bahwa pada mulanya para sahabat sering datang terlambat ke tempat shalat berjemaah (di mesjid nabawi), mereka datang ketika Nabi telah menyelesaikan sebagian dari salatnya.

Maka seorang lelaki dari mereka bertanya kepada salah seorang yang sedang shalat  melalui isyarat yang maksudnya ialah : " berapa rakaat shalat yang telah dikerjakan?".

Lelaki yang ditanya menjawabnya dengan isyarat : " satu atau dua rakaat ".

Lalu dia menyusul dengan cara mengerjakan shalat yang tertinggal itu sendirian. Setelah itu ia baru masuk ke dalam sholat berjamaah, menggabungkan diri dengan bermakmum kepada Nabi .

Perawi mengatakan :

Lalu datanglah Mu’adz . Dan Muadzd berkata : "Tidak sekali-kali ada suatu tahapan yang baru yang dialami oleh Nabi  melainkan aku terlibat di dalamnya."

Pada suatu hari Muadz datang, sedangkan Nabi telah mendahuluinya dengan sebagian salatnya. Maka Mu’adz langsung ikut bermakmum kepada Nabi .  Setelah Nabi menyelesaikan salatnya, lalu bangkitlah Mu’adz untuk melanjutkan shalatnya yang ketinggalan.

Maka Rasulullah bersabda:

«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»

" Sesungguhnya Mu’adz telah membuat suatu sunnah bagi kalian [yakni : tata cara sholat makmum masbuq. PEN]; maka tirulah oleh kalian perbuatannya itu".

(yakni : langsung masuk ke dalam sholat berjamaah. Dan apabila imam selesai dari salatnya, baru ia menyelesaikan rakaat yang tertinggal , dengan shalat sendirian).

[ HR. Ahmad 36/438 , Abu Daud 1/140 no. 507 , al-Hakim 2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah al-Musykil 1/417 no. 478 ]

Di Shahihkan oleh al-Hakim dengan mengatakan : " Shahih sesuai syarat Shahih bukhori dan Muslim ". Dan disetujui oleh adz-Dzahabi . Di shahihkan pula oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhish al-Habir 2/546 dan juga oleh al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no. 478 dan dalam al-Irwaa 4/20 .

Dalam hadits ini tampak jelas bahwa makna “man sanna” di sini adalah “barang siapa memulai”.

KEDUA : Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»

“Tidaklah ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang pertama ada bagian dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan contoh (سَنَّ) pembunuhan.”

Diriwayatkan oleh Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677.

Ada yang berkata :

قُلْتُ: مَعْنَى مَنْ ‌سَنَّ مَنْ ‌بَدَأَ لِقَوْلِهِ ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ ‌سَنَّ ‌الْقَتْلَ!

هَلِ ‌الْقَتْلُ ‌مَوْجُودًا ثُمَّ ‌عُدِمَ ‌فَأَحْيَاهُ ‌قَابِيلٌ؟

أَوْ كَانَ ‌الْقَتْلُ ‌مَوْقُوفًا ‌فَأَنْفَذَهُ ‌قَابِيلٌ؟

هَذَا ‌لَا ‌يَقُولُهُ ‌عَاقِلٌ.

Aku berkata: makna dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah : Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.

Apakah pembunuhan itu sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali oleh Qabil?

Ataukah pembunuhan itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak dikatakan oleh orang yang berakal.

KETIGA : Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«‌لَتَتْبَعُنَّ ‌سَنَنَ ‌مَنْ ‌كَانَ ‌قَبْلَكُمْ، ‌شِبْرًا ‌شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»

“Kalian benar-benar akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke lubang dhab, kalian pasti akan mengikuti mereka.”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah , apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”

Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi?”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 7320].

Lafaz riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ ‌حَتَّى ‌تَأْخُذَ ‌أُمَّتِي ‌بِأَخْذِ ‌القُرُونِ ‌قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ» ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»

“Tidak akan terjadi kiamat sampai umatku mengikuti (langkah-langkah) generasi-generasi sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”

Lalu dikatakan, “Wahai Rasulullah , apakah seperti Persia dan Romawi?”

Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi manusia kalau bukan mereka?”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 7319].

===

DALIL KETIGA : HADITS ABU HURAIRAH

Ibnu Majah meriwayatkan (204) melalui jalur Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَثَّ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَجُلٌ، عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ، فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلَّا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌مَنِ ‌اسْتَنَّ ‌خَيْرًا ‌فَاسْتُنَّ ‌بِهِ، ‌كَانَ ‌لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أُجُورِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ، فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا»

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah , lalu beliau menganjurkan (untuk bersedekah).

Maka seorang laki-laki berkata: “Aku memiliki ini dan ini.” Maka tidak ada seorang pun di majelis itu kecuali bersedekah, sedikit atau banyak.

Maka Rasulullah bersabda:

“Barang siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia mendapat pahala sempurna darinya, dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Dan barang siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia menanggung dosanya secara penuh, dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Hadits ini juga terdapat dalam *Musnad Ahmad* (10749).

Syeikh Muqbil al-Wadi’i dalam ash-Shohih al-Musnad 2/329 no. 1295 berkata :

هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. الْحَدِيثُ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ (ج 2 ص 520) فَقَالَ: ثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بِهِ. وَهُوَ بِسَنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.

“Ini adalah hadits hasan menurut syarat Muslim.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (jilid 2 halaman 520), beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Abduh homad, dengan sanad tersebut.

Dan sanadnya menurut Imam Ahmad memenuhi syarat kedua syekh (Bukhari dan Muslim)”.

===

DALIL KE EMPAT : HADITS HUDZAIFAH

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

سَأَلَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ الْقَوْمُ، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا أَعْطَاهُ فَأَعْطَى الْقَوْمُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

" مَنْ سَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِنْ أَوْزَارِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا"

Ada seorang laki-laki pada masa Nabi yang meminta-minta, lalu orang-orang diam. Kemudian ada seorang laki-laki yang memberinya, maka orang-orang pun ikut memberi. Maka Nabi bersabda:

“Barang siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti setelahnya, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Dan barang siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti setelahnya, maka baginya dosa perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”.

TAKHRIJ HADITS :

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad 38/325 nomor 23289, Al-Bazzar dalam Musnadnya (2963), dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar (251) dan (1542) melalui jalur Wahb bin Jarir dengan sanad ini.

Dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar (2964) dari jalur Ali bin Ashim, serta Al-Hakim 2/516–517 dari jalur Abdullah bin Al-Mubarak, keduanya dari Hisyam bin Hassan dengan sanad ini.

Syuaib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad 38/325 berkata:

صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، فَقَدْ رَوَى عَنْهُ جَمْعٌ، وَوَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ. مُحَمَّدٌ: هُوَ ابْنُ سِيرِينَ.

وَأَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ (2964)، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ (3705) مِنْ طَرِيقِ عَلِيِّ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ خَالِدِ الْحَذَّاءِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، بِهِ. قُلْنَا: وَعَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ ضَعِيفٌ

“Shahih li ghairih, dan sanad ini hasan karena Abu Ubaidah bin Hudzaifah; telah meriwayatkan darinya sejumlah perawi dan ia dinyatakan tsiqah oleh Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban. Adapun perawi lainnya adalah para perawi tingkat Syaikhain. Muhammad adalah Ibnu Sirin.

Dan diriwayatkan juga oleh Al-Bazzar (2964) dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (3705) dari jalur Ali bin Ashim, dari Khalid Al-Haddza’, dari Muhammad bin Sirin dengan sanad ini.

Kami katakan: Ali bin Ashim adalah perawi yang lemah”. [SELESAI]

===

DALIL KE LIMA : HADITS ABU JUHAIFAH

Dari Abu Juhifah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi bersabda:

«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»

“Barang siapa memulai suatu sunnah yang baik kemudian diamalkan setelahnya, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk lalu diamalkan setelahnya, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 1/142 nomor 206.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam *al-Bahr az-Zakhkhor* 10/145 nomor 4208, ia berkata:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma‘mar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Fadhl bin Dukain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Israil, dari al-Hakam, dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:

دَهَمَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ مِنْ قَيْسٍ مُجْتَابِي النِّمَارِ مُتَقَلِّدِينَ السُّيُوفَ فَسَاءَهُ مَا رَأَى مِنْ هَيْئَتِهِمْ فَصَلَّى، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَجَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ فَأَمَرَ بِالصَّدَقَةِ، أَوْ حَضَّ عَلَيْهَا فَقَالَ:

تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِرْهَمِهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ

فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ مِنْ ذَهَبٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِهِ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَى كَوْمَيْنِ مِنْ ثِيَابٍ وَطَعَامٍ فَرَأَيْتُ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ، ثُمَّ قَالَ عِنْدَ ذَلِكَ:

مَنْ ‌سَنَّ ‌سُنَّةً ‌حَسَنَةً ‌عُمِلَ ‌بِهَا ‌بَعْدَهُ ‌كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً عُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا.

Sejumlah orang dari (kabilah) Qais datang kepada Rasulullah dengan memakai pakaian wool yang berlubang-lubang dan membawa pedang. Maka buruklah apa yang beliau lihat dari keadaan mereka. Lalu beliau salat, kemudian masuk ke rumahnya. Setelah itu beliau keluar, salat, dan duduk di majelisnya. Lalu beliau memerintahkan sedekah atau menganjurkannya. Maka seorang laki-laki bersedekah dengan satu dinar, seorang dengan satu dirham, seorang dengan satu sha’ gandum, dan seorang dengan satu sha’ kurma.

Kemudian datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar dengan membawa sebungkus emas dan meletakkannya di tangan beliau. Lalu orang-orang pun terus mengikuti hingga terkumpul dua tumpukan pakaian dan makanan. Maka aku melihat wajah Rasulullah berseri-seri seakan-akan seperti emas yang mengkilap.

Lalu beliau bersabda saat itu:

“Barang siapa memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan setelahnya, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk, lalu diamalkan setelahnya, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Abu Bakr berkata:

"وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا نعلمُهُ يُرْوَى عَن أَبِي جُحَيْفَةَ إلَاّ بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَأبُو إِسْرَائِيلَ لَيِّنُ الْحَدِيثِ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ سُفيان الثَّوْرِيّ وَجَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ واحتملوا حديثه".

Hadis ini tidak kami ketahui diriwayatkan dari Abu Juhaifah kecuali melalui sanad ini. Dan Abu Israil adalah perawi yang lemah hadisnya, namun Sufyan ats-Tsauri dan banyak perawi lainnya telah meriwayatkan darinya dan mereka menoleransi hadisnya.

Syuaib al-Arna’uth berkata dalam *Takhrij Sunan Ibn Majah* 1/142:

صَحِيحٌ بِمَا قَبْلَهُ مِنَ الْأَحَادِيثِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي إِسْرَائِيلَ: وَاسْمُهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيفَةَ. أَبُو نُعَيْمٍ: هُوَ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، وَالْحَكَمُ: هُوَ ابْنُ عُتَيْبَةَ، وَأَبُو جُحَيْفَةَ: هُوَ وَهْبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السُّوَائِيُّ.

وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي "الْأَوْسَطِ" (٤٣٨٦) مِنْ طَرِيقِ غَسَّانَ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ أَبِي إِسْرَائِيلَ، بِهٰذَا الْإِسْنَادِ وَذَكَرَ فِيهِ قِصَّةً. وَغَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَضَعَّفَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ كَمَا فِي "لِسَانِ الْمِيزَانِ".

“Hadis ini sahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, dan sanad ini hasan karena Abu Israil—namanya Ismail bin Khalifah. Abu Nu’aim adalah al-Fadhl bin Dukain, sedangkan al-Hakam adalah Ibn ‘Utaybah, dan Abu Juhaifah adalah Wahb bin Abdullah as-Suwa’i.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam *al-Mu‘jam al-Awsath* (4386) melalui jalur Ghassan bin ar-Rabi’, dari Abu Israil dengan sanad ini dan ia menyebutkan kisahnya. Ghassan bin ar-Rabi’ dinyatakan tsiqah oleh Ibn Hibban tetapi dinilai lemah oleh ad-Daraquthni sebagaimana dalam *Lisan al-Mizan*”. [Selesai]

Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir. Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir oleh Al-Albani 2/1081 nomor 6306.

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan juga dinyatakan shahih dalam Shahih At-Targhib 1/48.

===

DALIL KE ENAM :

Nabi sendiri telah menyebut adanya "Bid‘ah Hasanah" (inovasi yang baik) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

«‌الْحَلَالُ ‌مَا ‌أَحَلَّ ‌اللَّهُ ‌فِي ‌كِتَابِهِ، ‌وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah diamkan maka itu termasuk yang Dia maafkan bagi kalian.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1726), Ibnu Majah (3430), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam *Shahih Al-Jami‘* (3195), meskipun beliau dikenal sangat ketat dalam penilaian hadits .

Mereka mengatakan :

قَوْلُهُ : «وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا لَكُمْ» سَيْفٌ صَارِمٌ فِي يَدِ الْجُمْهُورِ عَلَى كُلِّ قَائِلٍ أَنَّ الْكُلِّيَّةَ عَامَّةٌ شَامِلَةٌ.

Sabda beliau : ‘Dan apa yang Allah diamkan maka itu termasuk yang Dia maafkan bagi kalian’, adalah pedang yang tajam di tangan jumhur ulama untuk menentang setiap orang yang mengatakan bahwa kaidah tersebut bersifat umum dan mencakup segala hal.

===

DALIL KE TUJUH :

Demikian pula hadits dari Abu Tsa‘labah Al-Khusyani radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda:

«إنّ اللَّهَ حدَّ حُدُوداً فَلَا تَعْتَدُوها وفَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعوها وحَرَّمَ أشْياءَ فَلَا تَنْتَهكوها وتَرَكَ أشْياءَ منْ غَيْرِ نِسْيانٍ منْ رَبِّكمْ ‌وَلكِنْ ‌رَحْمَةً ‌منْهُ ‌لكمْ ‌فاقْبلوها ‌وَلَا ‌تَبْحَثُوا ‌عَنْها».

"Sesungguhnya Allah telah menetapkan batas-batas, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah mewajibkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian menelantarkannya. Dan Dia telah mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah meninggalkan beberapa hal tanpa lupa dari Tuhan kalian, tetapi sebagai rahmat dari-Nya untuk kalian. Maka terimalah (pembiaran itu) dan janganlah kalian mencari-cari (tentang hal-hal itu).”

Dalam lafaz lain disebutkan:

«إِنَّ اللَّهَ حَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَفَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَرَّمَ مَحَارِمَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلَا تَسْأَلُوا عَنْهَا»

"Sesungguhnya Allah telah menetapkan batas-batas, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah mewajibkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian menelantarkannya. Dan Dia telah mengharamkan hal-hal yang haram, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian menanyakannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (4/129, no. 7114), Ath-Thabrani dalam *Al-Mu‘jam Al-Kabir* (22, no. 589), Ad-Daraquthni dalam *Sunan*-nya (4/183–184), Abu Nu‘aim dalam *Hilyatul Auliya’* (9/17), Al-Khathib dalam *Al-Faqih wal-Mutafaqqih* (2/9), Ibnu ‘Abdil Barr dalam *Jami‘ Bayanil ‘Ilm* (no. 2012), dan Al-Baihaqi dalam *As-Sunan Al-Kubra* (10/12–13), dari berbagai jalur melalui Dawud bin Abi Hind dari Mak-hul dari Abu Tsa‘labah.

Hadits ini dinilai hasan oleh Abu Bakar As-Sam‘ani sebagaimana dalam *Jami‘ Al-‘Ulum wal-Hikam* (hal. 276), dan oleh An-Nawawi dalam *Al-Arba‘in* (no. 30) dan karya lainnya. Hadits ini juga dinilai hasan oleh Syu‘aib Al-Arna’uth sebagaimana dalam catatan kaki *Al-‘Awashim wal-Qawashim* (1/453–454, 2/143–144, dan 5/332).

Al-Hakim mensahihkannya sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi dalam *Ad-Durr Al-Mantsur* (3/208).

Demikian pula dinilai shahih oleh Ibnu Qayyim dalam *I‘lam Al-Muwaqqi‘in* (1/249), Ibnu Katsir dalam *Tafsir*-nya (1/621), Al-Bushairi, dan Al-Haitami dalam *Az-Zawajir* (1/21).

Al-Albani juga menilainya shahih dalam *Takhrij Al-Iman* (hal. 43), tetapi kemudian menilainya dho’if dalam *Dha‘if Al-Jami‘ Ash-Shaghir* (no. 1597).

Hadits ini memiliki beberapa penguat (syawahid):

Di antaranya hadits dari Abu Darda’ dengan lafaz:

" مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوا مِنَ اللَّهِ عَافِيَتَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ ﴿وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا﴾ ".

“Apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, maka itu halal. Dan apa yang Dia haramkan, maka itu haram. Dan apa yang Dia diamkan, maka itu merupakan ampunan. Maka terimalah keringanan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak akan lupa terhadap sesuatu.”

Kemudian beliau membaca ayat: *“Dan Tuhanmu tidaklah lupa.”* (QS. Maryam: 64)

Diriwayatkan oleh Al-Hakim (2/375) dan beliau mensahihkannya, juga oleh Al-Baihaqi (1/12).

Al-Haitsami berkata dalam *Majma‘ Az-Zawaid* (7/75) setelah menisbatkannya kepada Al-Bazzar:

وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

“Para perawinya terpercaya.”

Dan di antaranya hadits dari Salman Al-Farisi yang berkata:

"سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفَرَاءِ، فَقَالَ: «الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ، فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»"

“Rasulullah ditanya tentang lemak, keju, dan bulu binatang. Maka beliau menjawab: ‘Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan, maka itu termasuk yang diampuni.’”

Namun sanadnya lemah. Lihat *Majma‘ Az-Zawaid* (1/171–172).

Dan dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

===

DALIL KE DELAPAN :

Para sahabat radhiyallahu 'anhum telah sepakat melakukan beberapa perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah , seperti memandikan Rasulullah dalam keadaan beliau masih mengenakan pakaiannya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (6/267) dan Abu Dawud (2/60), haditsnya shahih.

 ===***====

PEMBAHASAN KE DELAPAN :
AMALAN BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU UMAR

Amalan Bid’ah yang dianggap sesat oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah

1] Amalan yang tidak ada dalilnya, baik itu dalil khusus maupun dalil umum.

2] Tidak termasuk dalam ranah perkara atau urusan agama Islam (لَيْسَ فِيْهِ أَمْرُنَا).

3] Terdapat larangan syar’i dalam melakukannya.

4] Bertentangan dengan dalil khusus. Seperti shalat di waktu terbit dan terbenam Matahari.

***

CONTOH BID’AH YANG DIANGGAP SESAT OLEH IBNU UMAR

Berikut ini contoh-contoh bid’ah yang divonis sesat oleh Abdullah Bin Umar :

===

CONTOH KE 1 : ADZAN PERTAMA JUM’AT ADALAH BID’AH SESAT:

Riwayat ke 1 :

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 8/219 berkata :

“Diriwayatkan oleh Waki‘ dalam kitabnya , dari Hisyam bin Al-Ghooz, ia berkata:

سَأَلْتُ نَافِعًا عَنِ الْأَذَانِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ؟ فَقَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً».

Aku bertanya kepada Nafi‘ tentang adzan pada hari Jumat. Maka ia berkata: Ibnu Umar berkata: Bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan, meskipun manusia memandangnya baik.” [Selesai]

Ibnu Rajab bukan satu-satunya yang menyebutkan riwayat ini, tetapi diikuti pula oleh Abu Bakar al-Jashshosh dalam *Ahkam al-Qur’an* 3/594 (Cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah) ia berkata:

فَلَمَّا ‌كَانَ ‌عُثْمَانُ ‌وَفَشَا ‌النَّاسُ ‌وَكَثُرُوا ‌زَادَ ‌النِّدَاءَ الثَّالِثَ.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ السَّلَفِ إنْكَارَ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ قَبْلَ خُرُوجِ الْإِمَامِ. رَوَى وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ الْغَازِ قَالَ سَأَلْت نَافِعًا عَنْ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَالَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهُ النَّاسُ حَسَنًا».

"Ketika masa Utsman dan manusia telah banyak serta meluas jumlah mereka, ia menambah adzan yang ketiga." Kemudian ia berkata: "Telah diriwayatkan dari sekelompok ulama salaf pengingkaran terhadap adzan pertama sebelum keluarnya imam. Waki’ meriwayatkan, ia berkata: Hasyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang adzan pertama pada hari Jumat, ia berkata: Ibnu Umar mengatakan:

“Itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, meskipun manusia memandangnya sebagai sesuatu yang baik." (Selesai).

Izzuddin Aykal dalam artikelnya “Madā iḥḥati al-atsar qoola Ibnu ʻUmar al-adzān al-awwal yauma al-jumʻah bidʻah?” berkata :

"فَهٰذِهِ زِيادَةٌ وَهِيَ مَقْبُولَةٌ فَابْنُ رَجَبٍ يَنْقُلُ مِنْ كِتابِ وَكِيعٍ"

“Maka ini adalah tambahan dan ia diterima, karena Ibnu Rajab menukil langsung dari kitab Waki'”.

Riwayat ke 2 :

Ibnu Abi syaibah dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5437 meriwayatkan : Syababah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«‌الْأَذَانُ ‌الْأَوَّلُ ‌يَوْمَ ‌الْجُمُعَةِ ‌بِدْعَةٌ»

“Adzan pertama pada hari Jumat adalah bid’ah.”

Riwayat ke 3 :

Dan Ibnu Abi syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5441 meriwayatkan : Waki‘ meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Al-Ghooz meriwayatkan kepada kami, ia berkata:

سَأَلْتُ نَافِعًا، مَوْلَى ابْنِ عُمَرَ، ‌الْأَذَانُ ‌الْأَوَّلُ ‌يَوْمَ ‌الْجُمُعَةِ ‌بِدْعَةٌ؟ فَقَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «بِدْعَةٌ»

Aku bertanya kepada Nafi’, maula Ibnu Umar: “Apakah adzan pertama pada hari Jumat adalah bid’ah?” Maka ia berkata: Ibnu Umar berkata: “Bid’ah.”

Riwayat ke 4 :

Dan Ibnu Abi syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5436 meriwayatkan : Husyaim meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Seorang syekh dari Quraisy mengabarkan kepada kami, dari Nafi’, ia berkata: Aku mendengarnya meriwayatkan : dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:

«الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ، وَالَّذِي قَبْلَ ذَلِكَ مُحْدَثٌ»

“Adzan pada hari Jumat adalah adzan yang dilakukan ketika imam keluar, sedangkan adzan sebelum itu adalah sesuatu yang diada-adakan.”

Riwayat ke 5 :

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 8/219 berkata : “Diriwayatkan oleh Mush‘ab bin Sallam, dari Hisyam bin Al-Ghooz, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata:

إِنَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا قَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ بِلاَلٌ، فَإِذَا فَرَغَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ خُطْبَتِهِ أَقَامَ الصَّلَاةَ، وَالْأَذَانُ الْأَوَّلُ بِدْعَةٌ.

Dahulu Rasulullah ketika duduk di atas mimbar, Bilal mengumandangkan azan. Ketika Nabi selesai dari khutbahnya, ia mengiqamahkan salat. Dan adzan pertama adalah bid‘ah.

===

PARA ULAMA SALAF YANG MENGANGGAP BID'AH ADZAN PERTAMA

----

[1] AL-HASAN AL-BASHRI :

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 8/219 berkata :

Ibnu Abi syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5435 meriwayatkan: “Abu Bakr berkata: Husyaim bin Basyir meriwayatkan kepada kami, dari Mansur, dari Al-Hasan, bahwa ia berkata:

«النِّدَاءُ الْأَوَّلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ، وَالَّذِي قَبْلَ ذَلِكَ مُحْدَثٌ»

Azan pertama pada hari Jumat adalah adzan yang dilakukan ketika imam keluar, sedangkan adzan yang dilakukan sebelum itu adalah sesuatu yang baru diada-adakan.”

----

[2] AL-IMAM AZ-ZUHRI :

Ibnu Abi syaibah juga dalam al-Mushonnaf 1/470 no. 5438 meriwayatkan: “Husyaim meriwayatkan kepada kami, dari Asy'ats, dari Az-Zuhri, ia berkata:

«أَوَّلُ مِنْ أَحْدَثَ الْأَذَانَ الْأَوَّلَ عُثْمَانُ، لِيُؤْذَنَ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ»

“Orang yang pertama kali mengada-adakan adzan pertama adalah Utsman, agar penduduk pasar diberi tahu.”

----

[3] ABDURRAHMAN BIN ZAID BIN ASLAM

[4] SUFYAN ATS-TSAURY

[5] IMAM ASY-SYAFI’I :

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 8/219-220 berkata :

"وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ: «لَمْ يَكُنْ فِي زَمَانِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا أَذَانَانِ: أَذَانٌ حِينَ يَجْلِسُ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَأَذَانٌ حِينَ تُقَامُ الصَّلَاةُ». قَالَ: «وَهٰذَا الْأَخِيرُ شَيْءٌ أَحْدَثَهُ النَّاسُ بَعْدُ». خَرَّجَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: «لَا يُؤَذَّنُ لِلْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ، وَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَامَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَخَطَبَ، وَإِذَا نَزَلَ أَقَامَ الصَّلَاةَ»، قَالَ: «وَالْأَذَانُ الَّذِي كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ أَذَانٌ وَإِقَامَةٌ، وَهٰذَا الْأَذَانُ الَّذِي زَادُوهُ مُحْدَثٌ».

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ – فِيمَا حَكَاهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ –: «أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يَكُونَ الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا قَعَدَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ، فَإِذَا فَرَغَ قَامَ فَخَطَبَ»، قَالَ: «وَكَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَ الْأَذَانَ الثَّانِيَ»، وَقَالَ: «إِنَّمَا أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ».

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: Pada masa Nabi tidak ada kecuali dua adzan: satu adzan ketika beliau duduk di atas mimbar, dan satu adzan ketika sholat ditegakkan. Ia berkata: Adzan yang terakhir ini adalah sesuatu yang diada-adakan manusia setelah itu. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Sufyan ats-Tsauri berkata: Tidak ada adzan untuk sholat Jumat sampai matahari tergelincir. Apabila muazin mengumandangkan adzan, imam naik ke mimbar lalu berkhutbah, dan ketika ia turun didirikan salat. Ia berkata: Adzan yang ada pada masa Rasulullah , Abu Bakar, dan Umar hanyalah adzan dan iqamah, sedangkan adzan yang mereka tambahkan ini adalah hal yang diada-adakan.

Asy-Syafi’i — sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr — berkata: Yang aku sukai adalah adzan pada hari Jumat dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar di hadapannya. Ketika ia duduk, muazin mulai mengumandangkan adzan, dan ketika selesai, imam berdiri lalu berkhutbah. Ia berkata: Atha’ mengingkari bahwa Utsman yang mengada-adakan adzan kedua, dan ia berkata: Yang baru mengada-adakannya adalah Mu’awiyah”. [Selesai]

===

CONTOH KE 2 : PASANG TENDA DIATAS KUBURAN ADALAH BID’AH SESAT.

Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat ada sebuah *fusthath* di atas kubur Abdurrahman, maka beliau berkata:

«انْزِعْهُ يَا غُلَامُ، فَإِنَّمَا يُظِلُّهُ عَمَلُهُ»

“Cabutlah itu, wahai anak muda! Sesungguhnya yang menaunginya hanyalah amalnya.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahih nya 2/92 secara mu‘allaq dengan sighat jazm dalam *Kitab Al-Jana’iz* (bab ke-81 tentang pelepah di atas kubur).

Makna *Fusthath*:

الفُسْطاطُ: هُوَ البَيْتُ مِنَ الشَّعَرِ، وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى غَيْرِ الشَّعَرِ.

“*Fusthath* adalah tenda yang terbuat dari kain atau bulu unta, dan terkadang digunakan pula untuk sebutan tenda yang tidak terbuat dari bahan tersebut”.

Imam Bukhori dalam shahihnya 2/95 menulis sebuah bab sbb :

بَابُ الجَرِيدِ عَلَى القَبْرِ.

وَأَوْصَى بُرَيْدَةُ الأَسْلَمِيُّ: «أَنْ يُجْعَلَ فِي قَبْرِهِ جَرِيدَانِ»

وَرَأَى ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فُسْطَاطًا عَلَى قَبْرِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ: «انْزِعْهُ يَا غُلَامُ، فَإِنَّمَا يُظِلُّهُ عَمَلُهُ»

وَقَالَ خَارِجَةُ بْنُ زَيْدٍ: «رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ شُبَّانٌ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَإِنَّ أَشَدَّنَا وَثْبَةً الَّذِي يَثِبُ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ حَتَّى يُجَاوِزَهُ»

وَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ: أَخَذَ بِيَدِي خَارِجَةُ فَأَجْلَسَنِي عَلَى قَبْرٍ، وَأَخْبَرَنِي عَنْ عَمِّهِ يَزِيدَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: «إِنَّمَا كُرِهَ ذَلِكَ لِمَنْ أَحْدَثَ عَلَيْهِ»

وَقَالَ نَافِعٌ: «كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَجْلِسُ عَلَى القُبُورِ»

Buraidah Al-Aslami berwasiat: “Agar diletakkan dua pelepah kurma dalam kuburnya.

Dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma melihat ada tenda di atas kubur Abdurrahman, lalu ia berkata: “Cabutlah itu, wahai anak muda, karena yang menaunginya hanyalah amalnya.”

Kharijah bin Zaid berkata: “Aku pernah melihat diriku bersama para pemuda pada masa Utsman radhiyallahu 'anhu, dan yang paling kuat lompatan di antara kami adalah yang mampu melompati kubur Utsman bin Mazh’un hingga melewatinya.”

Utsman bin Hakim berkata: “Kharijah memegang tanganku lalu mendudukkanku di atas sebuah kubur, dan ia mengabarkan kepadaku dari pamannya Yazid bin Tsabit, ia berkata: ‘Sesungguhnya hal itu hanya dibenci bagi orang yang membuat sesuatu yang baru di atasnya.’”

Nafi’ berkata: “Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma biasa duduk di atas kuburan.”

====

CONTOH KE 3 : ACA DZIKIR & SHOLAWAT SAAT BERSIN ADALAH BID’AH SESAT:

Al-Imam ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath 6/29 no. 5698 meriwayatkan :  

Muhammad bin Abdullah al-Hadhramī berkata: Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Shalih al-Anthākī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Walīd bin Muslim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘īd bin ‘Abd al-‘Azīz, dari Sulaimān bin Mūsā, dari Nāfi‘, ia berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ، وَقَدْ عَطَسَ رَجُلٌ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: ‌الْحَمْدُ ‌لِلَّهِ ‌وَسَلَامٌ ‌عَلَى ‌رَسُولِ ‌اللَّهِ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: السَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَكِنْ لَيْسَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ،

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، أَنْ نَقُولَ إِذَا عَطِسْنَا: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

Aku melihat Ibnu Umar, dan ada seorang lelaki di sampingnya yang bersin, lalu lelaki itu berkata: “Alhamdulillāh wasalāmun ‘alā Rasūlillāh.”

Maka Ibnu Umar berkata: “Aku juga mengatakan ‘Assalāmu ‘alā Rasūlillāh’, tetapi bukan seperti ini Rasulullah memerintahkan kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita bahwa apabila kita bersin, kita mengucapkan: *‘Alhamdulillāh ‘alā kulli hāl.’*”

Dan juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2738), al-Hakim 4/295 no. 7691 Al-Harits dalam *Al-Musnad* (807) dengan sedikit perbedaan.

Ath-Thabarani berkata:

لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَّا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، تَفَرَّدَ بِهِ سُهَيْلُ بْنُ صَالِحٍ"

“Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Sa‘īd bin ‘Abd al-‘Azīz selain al-Walīd bin Muslim, dan yang menyendiri meriwayatkannya adalah Suhail bin Shālih.”

At-Tirmidzi berkata :

"لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ زِيَادِ بْنِ الرَّبِيعِ"

“Kami tidak mengetahui hadits ini kecuali melalui riwayat Ziyad bin Al-Rabi’.”

Abu Hudzaifah Nabiil al-Kuwaity dalam Aniis as-Saari 1/414 berkata :

زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ ثِقَةٌ كَمَا قَالَ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ، وَالْحَضْرَمِيُّ ذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ، وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي الكَاشِفِ: صَدُوقٌ، وَقَالَ الحَافِظُ فِي التَّقْرِيبِ: مَقْبُولٌ، أَيْ عِنْدَ المُتَابَعَةِ، وَإِلَّا فَلَيِّنُ الحَدِيثِ.

“Ziyad bin Ar-Rabi’ dinilai tepercaya sebagaimana dikatakan oleh Ahmad dan ulama lainnya. Sedangkan Al-Hadhrami disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab *Ats-Tsiqat*.

Adz-Dzahabi dalam *Al-Kasyif* berkata bahwa ia seorang yang jujur.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam *At-Taqrib* menyatakan bahwa ia “maqbul”, yakni diterima apabila ada penyerta (mutaba’ah), dan jika tidak disertai maka haditsnya lemah”. [Lihat : Aniis as-Saari 1/414 karya Abu Hudzaifah al-Kuwaity]

Al-Harits bin Abu Usamah dalam Musnadnya 2/797 no. 807 berkata :

قُلْتُ: لِابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ غَيْرُ هَذَا

Aku berkata: Ibnu Umar memiliki hadits lain dalam riwayat Abu Dawud yang berbeda dari ini.

Al-Hafidz as-Sakhowi (wafat 902 H) dalam al-Qoul al-Badii’ hal. 226 berkata :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ، وَهُوَ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَقَالَ: غَرِيبٌ.

“Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, dan hadits itu juga terdapat dalam riwayat at-Tirmidzi yang berkata bahwa hadits tersebut gharib”.

Berbeda dengan al-Hakim (4/295), maka dia berkata :

هَذَا ‌حَدِيثٌ ‌صَحِيحُ ‌الْإِسْنَادِ ‌غَرِيبٌ ‌فِي ‌تَرْجَمَةِ ‌شُيُوخِ ‌نَافِعٍ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“Ini adalah hadits yang sanadnya sahih, namun gharib dalam biografi para guru Nafi', dan kedua imam (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dan adz-Dzahabi dalam at-Talkhish (4/295) menyetujuinya .

Namun adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 9/665 berkata lain:

وَأَمَّا الْحَاكِمُ فَصَحَّحَهُ لِأَنَّهُ وَقَعَ عِنْدَهُ: "الْحَضْرَمِيُّ بْنُ لَاحِقٍ" وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيثِ، وَالْحَاكِمُ مِمَّنْ لَا يَرَى التَّفْرِقَةَ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ. وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ خِلَافُ ذَلِكَ، وَفِي إِسْنَادِهِ لِينٌ

“Adapun Al-Hakim, ia mensahihkannya karena dalam riwayat yang sampai kepadanya tertulis: "al-Hadhrami bin Lahiq", dan ia adalah perawi yang haditsnya hasan.

Al-Hakim termasuk orang yang tidak membedakan antara hadits sahih dan hasan.

Dan telah ada riwayat lain dari Ibnu Umar yang menyelisihi hadits ini, namun pada sanadnya terdapat kelemahan”. [Selesai]

Namun demikian Hadits ini tetap dihukumi shahih oleh al-Albani dalam Irwa al-Gholil 3/245.

Abu Abdillah ad-Daani dalam al-Atsar ash-Shahihah 2/212 mengkritisi pentashihan al-Albani dengan mengatakan:

قُلْتُ: الْحَضْرَمِيُّ بْنُ عَجْلَانَ، مَجْهُولُ الْحَالِ، مَقْبُولٌ إِذَا تُوبِعَ، قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي "التَّقْرِيبِ": "مَقْبُولٌ"، يَعْنِي إِذَا تُوبِعَ، وَقَدْ تُوبِعَ هُنَا.

فَالْإِسْنَادُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ.

“Saya berkata: Al-Hadhrami bin ‘Ajlan adalah seorang yang tidak diketahui keadaannya. Ia diterima jika ada pendukung periwayatan lain. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab At-Taqrib berkata: “Diterima”, yaitu apabila ada pendukungnya, dan dalam kasus ini memang terdapat pendukung.

Maka sanadnya menjadi hasan lighoirihi (karena adanya mutaba’ah)”.

Lalu Abu Abdillah ad-Daani berkata :

تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى عَنْ نَافِعٍ بِهِ.

أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي "الْمُعْجَمِ الْأَوْسَطِ" (6/ 29/ رَقْم: 5698 - الْحَرَمَيْنِ) أَوْ (6/ 326/ رَقْم: 5694 - الطَّحَّانِ) مِنْ طَرِيقِ: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيِّ، قَالَ: ثَنَا سُهَيْلُ بْنُ صَالِحٍ الْأَنْطَاكِيُّ، ثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، عَنْ نَافِعٍ بِهِ.

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. لَكِنَّهُ يَصْلُحُ فِي الْمُتَابَعَاتِ. فَالْأَثَرُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

Ia didukung dengan adanya mutaba’ah dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ dengan riwayat yang sama.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausat 6/29 no. 5698 (edisi Al-Haromain) atau 6/326 no 5694 (edisi Ath-Thohan), melalui jalur Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, ia berkata:

Telah meriwayatkan kepada kami Suhail bin Shalih Al-Antaki, telah meriwayatkan kepada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Sa‘id bin Abdul Aziz dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ dengan riwayat tersebut.

Sanadnya lemah. Namun dapat digunakan sebagai penguat dalam jalur lain. Karena hal itu, maka riwayat ini berderajat hasan lighirihi ; karena adanya mutaba’ah. Wallahu a’lam. [Selesai]

Sementara Adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 9/665 berkata:

الحَضْرَمِيُّ مَوْلَى آلِ الجَارُودِ لَمْ يُوَثِّقْهُ أَحَدٌ إِلَّا أَنَّ ابْنَ حِبَّانَ ذَكَرَهُ فِي ثِقَاتِهِ، وَلِذَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي التَّقْرِيبِ: "مَقْبُولٌ" أَيْ عِنْدَ المُتَابَعَةِ، وَقَدْ تُوبِعَ

Perawi yang bernama Al-Hadhrami, maula keluarga Al-Jarud, tidak ada seorang pun yang menilainya sebagai perawi tepercaya, kecuali Ibnu Hibban maka ia menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqat. Karena itu Ibnu Hajar dalam *At-Taqrib* mengatakan: “Maqbul”, yaitu diterima bila ada penguat (mutaba‘ah), dan dalam kasus ini ia memang memiliki penguat.

Ibnu Muflih dalam al-Adab asy-Syar’iyyah 2/324 : “Sanadnya Jayyid”.

----

SEKILAS TENTANG BACA SHOLAWAT KETIKA BERSIN

Dan Al-Hafidz as-Sakhowi (wafat 902 H) dalam al-Qoul al-Badii’ hal. 226-227 berkata :

“Sebagian ulama seperti Abu Musa al-Madini dan sejumlah lainnya berpendapat bahwa membaca shalawat kepada Rasulullah ketika bersin adalah dianjurkan. Namun, kelompok ulama lain membantah pendapat tersebut dan mengatakan bahwa membaca shalawat ketika bersin tidaklah dianjurkan. Menurut mereka, saat bersin adalah tempat untuk memuji Allah saja, dan setiap keadaan memiliki zikir khusus yang tidak bisa digantikan oleh zikir lainnya. Karena itu pula, shalawat kepada Rasulullah tidak disyariatkan saat rukuk, sujud, dan keadaan-keadaan lain yang semisal.

Mereka berdalil dengan sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah , beliau bersabda:

«لَا تَذْكُرُونِي فِي ثَلَاثِ مَوَاطِنَ عِنْدَ العُطَاسِ وَعِنْدَ الذَّبِيحَةِ وَعِنْدَ التَّعَجُّبِ»

“Janganlah kalian menyebutku dalam tiga keadaan: saat bersin, saat menyembelih, dan saat merasa takjub.”

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami dalam *Musnad al-Firdaus* melalui jalur al-Hakim, dan diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam *as-Sunan al-Kubra* dari al-Hakim tanpa menyebutkan nama sahabat. Dalam sanadnya terdapat perawi yang dituduh sebagai pembuat hadits palsu. Karena itu, hadits ini tidak sahih.

Dalam *Rabi‘ Fawa’id al-Mukhlis* terdapat riwayat melalui jalur Nahsyal, dari adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma :

«مَوْطِنَانِ لَا يُذْكَرُ فِيهِمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عِنْدَ العُطَاسِ وَالذَّبِيحَةِ»

“ Rasulullah tidak boleh disebutkan dalam dua keadaan: saat bersin dan saat menyembelih”.

Namun, riwayat ini juga tidak sahih.

Sejumlah ulama telah menyebutkan beberapa keadaan yang dikhususkan untuk mengingat Allah saja, seperti ketika makan, minum, berhubungan suami istri, bersin, dan keadaan-keadaan lain yang tidak terdapat sunnah untuk membaca shalawat kepada Rasulullah .

Aku (as-Sakhowi) berkata: “Demikian yang aku dapati, namun dalam sebagian penjelasan terdapat beberapa hal yang perlu ditinjau kembali.”

Sahnun memakruhkan membaca shalawat ketika merasa takjub. Ia berkata:

«لَا يُصَلِّي عَلَيْهِ إِلَّا عَلَى طَرِيقِ الِاحْتِسَابِ وَطَلَبِ الثَّوَابِ» انْتَهَى.

“Tidak boleh seseorang membaca shalawat kecuali dalam rangka mencari pahala dan mengharap balasan.”

Al-Hulaimi berkata:

"وَأَمَّا الْمُتَعَجِّبُ مِنَ الشَّيْءِ إِذَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ ﷺ كَمَا يَقُولُ «سُبْحَانَ اللَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» أَيْ لَا يَأْتِي بِالنَّادِرِ وَغَيْرِهِ إِلَّا اللَّهُ، فَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ، وَإِنْ صَلَّى عَلَيْهِ عِندَ الْأَمْرِ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ أَوْ يُضْحَكُ مِنْهُ فَأَخْشَى عَلَى صَاحِبِهِ، فَإِنْ عُرِفَ أَنَّهُ جَعَلَهَا عَجَبًا وَلَمْ يَجْتَنِبْهُ كَفَرَ".

“Apabila seseorang merasa takjub terhadap sesuatu lalu ia membaca shalawat kepada Nabi sebagaimana dia mengucapkan ‘subhanallah’ atau ‘la ilaha illallah’, yaitu dalam makna bahwa hal-hal yang menakjubkan tidak terjadi kecuali dengan kehendak Allah, maka hal itu tidak makruh. Namun, apabila ia membaca shalawat ketika terjadi sesuatu yang dianggap menjijikkan atau membangkitkan tawa, aku khawatir terhadap pelakunya. Jika diketahui bahwa ia menjadikannya sebagai bentuk ejekan dan tidak menghindarinya, maka ia dapat menjadi kufur.”

Aku (as-Sakhowi) berkata: “Dalam pernyataan terakhir ini terdapat hal yang perlu ditinjau kembali, dan hal itu jelas bagi orang yang memahami.” Demikian kata al-Qunawi. [KUTIPAN SELESAI]

Al-Muqraizy dalam Imta’ al-Asmaa’ 11/143-144 berkata :

Abu Musa al-Madini berkata: Diriwayatkan pula dari Nafi‘ dari Ibnu Umar dengan redaksi berbeda. Kemudian ia menyebutkan hadits dari Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Ziyad al-Asadi, telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Ishaq dari Nafi‘, ia berkata:

عَطَسَ رَجُلٌ عِندَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْهُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: «لَقَدْ بَخِلْتَ هَلَّا حَيْثُ عَطَسْتَ حَمِدْتَ اللهَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ؟»

Ada seorang lelaki bersin di hadapan Ibnu Umar radhiyallahu tabaraka wa ta‘ala ‘anhu, lalu Ibnu Umar berkata kepadanya: “Sungguh engkau telah bakhil. Mengapa ketika engkau bersin tidak memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ?”

Maka sekelompok ulama, di antaranya Abu Musa al-Madini dan yang lainnya, berpendapat disyariatkannya hal itu.

Namun kelompok lain tidak sependapat dengan mereka. Mereka berkata: Tidak dianjurkan membaca shalawat kepada Nabi ketika bersin. Tempatnya adalah hanya memuji Allah semata, dan Nabi tidak mensyariatkan membaca hamdalah dan shalawat ketika bersin, meskipun shalawat termasuk amalan paling utama. Setiap dzikir memiliki tempat khusus yang tidak bisa digantikan oleh selainnya. Karena itu, shalawat tidak disyariatkan dalam rukuk, sujud, dan saat bangun dari rukuk, tetapi disyariatkan dalam tasyahud akhir, baik dengan hukum wajib ataupun sunnah.

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

«لَا تَذْكُرُونِي عِندَ ثَلَاثٍ عِندَ تَسْمِيَةِ الطَّعَامِ وَعِندَ الذَّبْحِ وَعِندَ الْعُطَاسِ».

“Janganlah kalian menyebutku dalam tiga keadaan: ketika menamai makanan, ketika menyembelih, dan ketika bersin.”

Hadits ini ditolak karena tidak sahih, sebab ia berasal dari riwayat Sulaiman bin Isa as-Sinjari dari Abdurrahman bin Zaid al-‘Amma dari ayahnya dari Nabi , lalu ia menyebutkannya. Hadits ini memiliki tiga cacat:

Pertama: Sulaiman bin Isa sendirian meriwayatkannya. [Imam al-Baihaqi berkata: Ia termasuk golongan yang memalsukan hadits].

Kedua: Lemahnya Abdurrahman al-‘Ammi. [Ia adalah Abdurrahman bin Abdi al-Wahhab al-‘Ammi al-Bashri al-Kufi. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam ats-Tsiqat dan berkata bahwa haditsnya lurus].

Ketiga: Hadits ini terputus sanadnya. [KUTIPAN SELESAI]

Ada riwayat lain dari Hilal bin Yasaaf, bahwa ia berkata:

كُنَّا مَعَ سالِمِ بْنِ عُبَيْدٍ فَعَطَسَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ، فَقَالَ: "السَّلامُ عَلَيْكُمْ"، فَقَالَ سالِمٌ: "وَعَلَيْكَ وَعَلَى أُمِّكَ"، ثُمَّ قالَ بَعْدُ: "لَعَلَّكَ وَجَدْتَ مِمَّا قُلْتُ لَكَ؟".

قالَ: "لَوَدِدْتُ أَنَّكَ لَمْ تَذْكُرْ أُمِّي بِخَيْرٍ وَلَا بِشَرٍّ".

قالَ: إِنَّمَا قُلْتُ لَكَ كَمَا قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِنَّا بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ فَقالَ: "السَّلامُ عَلَيْكُمْ".

فَقالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «وَعَلَيْكَ وَعَلَى أُمِّكَ»، ثُمَّ قالَ: «إِذا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَحْمَدِ اللهَ».

قالَ: فَذَكَرَ بَعْضَ المَحامِدِ، «وَلْيَقُلْ لَهُ مَنْ عِنْدَهُ يَرْحَمُكَ اللهُ، وَلْيَرُدَّ – يَعْنِي عَلَيْهِمْ – يَغْفِرُ اللهُ لَنا وَلَكُمْ».

Kami bersama Salim bin Ubaid, lalu ada seorang laki-laki dari suatu kaum yang bersin, kemudian ia berkata: “Assalamu’alaikum.” Maka Salim menjawab: “Wa ‘alaika wa ‘alā ummika.”

Setelah itu Salim berkata lagi: “Barangkali engkau tersinggung dengan ucapanku tadi?”

Orang itu menjawab: “Aku berharap engkau tidak menyebut ibuku, baik dengan kebaikan maupun keburukan.”

Salim berkata: “Sesungguhnya aku hanya mengatakan kepadamu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah . Ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah , tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum yang bersin lalu berkata: ‘Assalamu’alaikum.’

Maka Rasulullah bersabda: ‘Wa ‘alaika wa ‘alā ummika.’

Kemudian beliau bersabda: ‘Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia memuji Allah (mengucapkan al-hamdulillah).’”

Hilal berkata: (Orang yang bersin itu) hendaknya menyebutkan beberapa bentuk pujian.

Dan beliau bersabda “Dan hendaklah orang yang ada di sekitarnya mengucapkan: ‘Yarhamukallah,’ dan hendaklah ia membalas (kepada mereka): ‘Yaghfirullahu lanā wa lakum.’”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5031), At-Tirmidzi (27040), dan An-Nasa’i dalam *‘Amalul-Yaum wal-Lailah* (225), semuanya melalui jalur Mansur, dari Hilal bin Yasaaf.

At-Tirmidzi berkata:

"هٰذا حَديثٌ اخْتُلِفُوا في رِوايَتِهِ عَنْ مَنْصُورٍ، وَقَدْ أَدْخَلُوا بَيْنَ هِلَالِ بْنِ يَسافٍ وَسالِمٍ رَجُلًا" اهـ.

“Hadits ini diperselisihkan dalam periwayatannya dari Mansur, dan mereka menyusupkan seorang perawi antara Hilal bin Yasaaf dan Salim.” (Selesai).

An-Nasa’i, Al-Hakim, dan selain keduanya memastikan bahwa hal itu merupakan kekeliruan. Al-Hakim menegaskan bahwa Hilal bin Yasaf tidak pernah menemui Salim bin Ubaid.

Dalam riwayat lain dari hadits ini disebutkan bahwa di antara Hilal dan Salim terdapat satu orang. Dan dalam sebagian riwayat terdapat dua orang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad (23853) dan An-Nasa’i dalam *‘Amalul-Yaum wal-Lailah* (229), keduanya melalui jalur Yahya bin Sa‘id, dari Sufyan, dari Mansur, dari Hilal bin Yasaf, dari seorang laki-laki, dari laki-laki lain yang berkata: “Kami bersama Salim…” lalu disebutkan riwayat yang semisal.

An-Nasa’i berkata:

"هٰذا الصَّوابُ عِنْدَنا، وَالأَوَّلُ خَطَأٌ"

“Inilah yang benar menurut kami, sedangkan riwayat yang pertama adalah keliru.” Wallahu a‘lam.

===***===

PEMBAHASAN KE SEMBILAN : 
APAKAH BID’AH TERBATAS PADA IBADAH SAJA?

Bid’ah dalam bahasa berarti:

"مِنْ بَدَعَ الشَّيْءَ يَبْدَعُهُ بَدْعًا، وَابْتَدَعَهُ: إِذَا أَنْشَأَهُ وَبَدَأَهُ، وَالْبِدْعُ: الشَّيْءُ الَّذِي يَكُونُ أَوَّلًا، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ﴾ [الأحقاف: 9]، أَيْ لَسْتُ بِأَوَّلِ رَسُولٍ بُعِثَ إِلَى النَّاسِ، بَلْ قَدْ جَاءَتِ الرُّسُلُ مِنْ قَبْلِ، فَمَا أَنَا بِالْأَمْرِ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ حَتَّى تَسْتَنْكِرُونِي".

membuat sesuatu yang baru, yaitu menciptakan atau memulai sesuatu. Kata al-bid‘u berarti sesuatu yang pertama kali ada. Firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara para rasul” (Al-Ahqaf: 9), maksudnya: aku bukanlah rasul pertama yang diutus kepada manusia, karena telah datang rasul-rasul sebelumnya; jadi aku bukanlah perkara yang tidak memiliki contoh sebelumnya sehingga kalian mengingkariku.

Dalam Lisan al-‘Arab dijelaskan:

"الْمُبْتَدِعُ الَّذِي يَأْتِي أَمْرًا عَلَى شَبَهٍ لَمْ يَكُنْ، بَلِ ابْتَدَأَهُ هُوَ، وَأَبْدَعَ وَابْتَدَعَ وَتَبَدَّعَ: أَتَى بِبِدْعَةٍ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ﴾ [الحديد: 27]، وَبَدَّعَهُ: نَسَبَهُ إِلَى الْبِدْعَةِ، وَالْبَدِيعُ: الْمُحْدَثُ الْعَجِيبُ، وَأَبْدَعْتُ الشَّيْءَ: اخْتَرَعْتُهُ لَا عَلَى مِثَالٍ، وَالْبَدِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْنَاهُ: الْمُبْدِعُ؛ لِإِبْدَاعِهِ الْأَشْيَاءَ وَإِحْدَاثِهِ إِيَّاهَا".

orang yang mubtadi‘ (berbuat bid’ah) adalah orang yang melakukan sesuatu yang tidak memiliki contoh sebelumnya, melainkan ia sendiri yang memulainya. Kata abda‘a, ibtada‘a, dan tabadda‘a berarti melakukan sesuatu yang baru (bid’ah). Seperti dalam firman Allah Ta‘ala:

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kependetaan) padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka kecuali karena mencari keridaan Allah” (Al-Hadid: 27).

Kata “بَدَّعَهُ” berarti menisbatkannya kepada bid’ah, dan al-badi‘ berarti sesuatu yang baru dan menakjubkan. “أَبْدَعْتُ الشَّيْءَ” berarti aku menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya.

Al-Badi‘ adalah salah satu nama Allah Ta‘ala, yang berarti Sang Pencipta yang mengadakan segala sesuatu tanpa contoh sebelumnya. (Lihat : Lisan al-‘Arab 8/6, kata “بَدَعَ, Dar Shodir).

Adapun bid’ah dalam istilah syar‘i adalah:

«إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ -ﷺ-، وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى حَسَنَةٍ وَقَبِيحَةٍ».

“Mengadakan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah .” Bid’ah terbagi menjadi dua: bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (qabihah). (Lihat : Tahdzib al-Asma’ wal-Lughat karya An-Nawawi 1/22, cet. Al-Muniriyyah).

Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam berkata:

«الْبِدْعَةُ: فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ».

“Bid’ah adalah melakukan sesuatu yang tidak dikenal pada masa Rasulullah .” (Qawa‘id al-Ahkam 2/172, cet. Al-Istiqaamah).

Dengan definisi ini, maka kebiasaan (adat) dan muamalah juga termasuk dalam kategori bid’ah.

Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam (wafat 660 H) membagi bid’ah menjadi lima jenis agar mencakup seluruh aspek kehidupan—baik adat, muamalah, ibadah, maupun hal-hal mubah lainnya—yaitu:

وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى وَاجِبَةٍ، وَمُحَرَّمَةٍ، وَمَنْدُوبَةٍ، وَمَكْرُوهَةٍ، وَمُبَاحَةٍ، وَالطَّرِيقُ فِي مَعْرِفَةِ ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ: فَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْإِيجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيمِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَنْدُوبِ فَهِيَ مَنْدُوبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَكْرُوهِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمُبَاحِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ.

وَلِلْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ أَمْثِلَةٌ، أَحَدُهَا: الِاشْتِغَالُ بِعِلْمِ النَّحْوِ الَّذِي يُفْهَمُ بِهِ كَلَامُ اللهِ وَكَلَامُ رَسُولِهِ -ﷺ-، وَذَلِكَ وَاجِبٌ؛ لِأَنَّ حِفْظَ الشَّرِيعَةِ وَاجِبٌ، وَلَا يَتَأَتَّى حِفْظُهَا إِلَّا بِمَعْرِفَةِ ذَلِكَ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.

وَلِلْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ أَمْثِلَةٌ، مِنْهَا: مَذْهَبُ الْقَدَرِيَّةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْجَبْرِيَّةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْمُرْجِئَةِ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْمُجَسِّمَةِ، وَالرَّدُّ عَلَى هَؤُلَاءِ مِنَ الْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ.

وَلِلْبِدَعِ الْمَنْدُوبَةِ أَمْثِلَةٌ، مِنْهَا: إِحْدَاثُ الرُّبُطِ وَالْمَدَارِسِ، وَبِنَاءُ الْقَنَاطِرِ، وَمِنْهَا كُلُّ إِحْسَانٍ لَمْ يُعْهَدْ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، وَمِنْهَا: صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي دَقَائِقِ التَّصَوُّفِ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي الْجَدَلِ فِي جَمْعِ الْمَحَافِلِ لِلِاسْتِدْلَالِ عَلَى الْمَسَائِلِ إِذَا قُصِدَ بِذَلِكَ وَجْهُ اللهِ سُبْحَانَهُ.

وَلِلْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ أَمْثِلَةٌ، مِنْهَا: زَخْرَفَةُ الْمَسَاجِدِ، وَمِنْهَا تَزْوِيقُ الْمَصَاحِفِ، وَأَمَّا تَلْحِينُ الْقُرْآنِ بِحَيْثُ تَتَغَيَّرُ أَلْفَاظُهُ عَنِ الْوَضْعِ الْعَرَبِيِّ فَالْأَصَحُّ أَنَّهُ مِنَ الْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ.

وَلِلْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ أَمْثِلَةٌ، مِنْهَا: الْمُصَافَحَةُ عَقِيبَ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ، وَمِنْهَا التَّوَسُّعُ فِي اللَّذِيذِ مِنَ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَاللِّبَاسِ وَالْمَسَاكِنِ، وَلُبْسُ الطَّيَالِسَةِ، وَتَوْسِيعُ الْأَكْمَامِ.

وَقَدْ يَخْتَلِفُ فِي بَعْضِ ذَلِكَ، فَيَجْعَلُهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ، وَيَجْعَلُهُ آخَرُونَ مِنَ السُّنَنِ الْمَفْعُولَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ -ﷺ- فَمَا بَعْدَهُ، وَذَلِكَ كَالِاسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ وَالْبَسْمَلَةِ.

Bid’ah terbagi menjadi lima macam: wajib, haram, sunnah (mandub), makruh, dan mubah. Cara mengetahui masing-masingnya adalah dengan menimbang bid’ah tersebut berdasarkan kaidah-kaidah syariat:

Jika termasuk dalam kaidah kewajiban, maka bid’ah itu wajib; jika termasuk dalam kaidah keharaman, maka bid’ah itu haram; jika termasuk dalam kaidah kesunnahan, maka bid’ah itu sunnah; jika termasuk dalam kaidah kemakruhan, maka bid’ah itu makruh; dan jika termasuk dalam kaidah kemubahan, maka bid’ah itu mubah.

Adapun contoh bid’ah yang wajib, di antaranya : adalah mempelajari ilmu nahwu (tata bahasa Arab) yang dengannya dapat dipahami kalam Allah dan kalam Rasulullah . Hal itu wajib karena menjaga kemurnian syariat adalah kewajiban, dan tidak mungkin menjaga syariat kecuali dengan memahami ilmu tersebut. Maka sesuatu yang menjadi sarana untuk menunaikan kewajiban juga dihukumi wajib.

Contoh bid’ah yang haram antara lain adalah: madzhab Qadariyah, madzhab Jabariyah, madzhab Murji’ah, dan madzhab Mujassimah. Adapun membantah dan menolak pandangan mereka termasuk dalam bid’ah yang wajib.

Contoh bid’ah yang disunnahkan (mandub), di antaranya: mendirikan ribath (tempat tinggal bagi pejuang dan ahli ibadah), membangun madrasah, membangun jembatan, serta setiap bentuk kebaikan yang belum dikenal pada masa generasi pertama Islam. Termasuk di dalamnya shalat tarawih, pembahasan tentang rincian ilmu tasawuf, dan diskusi keilmuan di berbagai majelis untuk mencari dalil dalam masalah-masalah agama jika yang dimaksudkan adalah mencari keridaan Allah SWT.

Contoh bid’ah yang makruh antara lain: menghias masjid dengan berlebihan dan menghias mushaf. Adapun melagukan bacaan Al-Qur’an hingga mengubah lafaznya dari bentuk bahasa Arab yang benar, maka yang paling tepat hal itu termasuk bid’ah yang haram.

Contoh bid’ah yang mubah di antaranya: berjabat tangan setelah shalat Subuh dan Ashar, menikmati makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang lezat dan nyaman, memakai jubah (ayālisah), serta memperlebar lengan baju.

Dalam beberapa hal ada perbedaan pendapat di antara para ulama; sebagian menganggapnya sebagai bid’ah yang makruh, sementara yang lain memandangnya sebagai sunnah yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah dan sesudahnya, seperti bacaan isti‘ādzah dalam shalat dan membaca basmalah.

(Lihat: Qawa‘id al-Ahkam karya ‘Izzuddin bin ‘Abd as-Salam, 4/202–205, cet. ‘Alam al-Kutub. Disebut pula oleh Al-Qarafi dalam Al-Furuq, perbedaan ke-252).

KESIMPULAN BID’AH MENURUT IIZUDDIN BIN ABDUS SALAM :

Yaitu sbb : Bid’ah terbagi 5 :

1. Bid’ah wajib,

2. Bid’ah haram,

3. Bid’ah sunnah (mandubah),

4. Bid’ah makruh, dan

5. Bid’ah mubah.

Cara untuk mengetahui jenisnya adalah dengan mengukur bid’ah tersebut terhadap kaidah-kaidah syariat:

* Jika termasuk dalam kaidah yang mewajibkan, maka ia wajib.

* Jika termasuk dalam kaidah yang mengharamkan, maka ia haram.

* Jika termasuk dalam kaidah yang menganjurkan, maka ia sunnah (mandubah).

* Jika termasuk dalam kaidah yang memakruhkan, maka ia makruh.

* Jika termasuk dalam kaidah yang membolehkan, maka ia mubah.

Contoh bid’ah wajib: mempelajari ilmu nahwu agar dapat memahami kalam Allah dan Rasulullah . Hal itu wajib, karena menjaga syariat adalah kewajiban, dan tidak mungkin terjaga kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi sarana bagi kewajiban, hukumnya juga wajib.

Contoh bid’ah haram: ajaran kaum Qadariyyah, Jabariyyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Sedangkan membantah kelompok-kelompok tersebut termasuk bid’ah wajib.

Contoh bid’ah sunnah (mandubah): mendirikan ribath (tempat berjaga di perbatasan Islam), membangun madrasah, membangun jembatan, dan setiap bentuk kebaikan yang belum dikenal di masa awal Islam, seperti shalat tarawih berjamaah, pembahasan mendalam tentang tasawuf, dan diskusi ilmiah dalam majelis untuk mencari kebenaran selama diniatkan karena Allah.

Contoh bid’ah makruh: menghiasi masjid secara berlebihan, menghias mushaf dengan ornamen berlebihan. Sedangkan melagukan bacaan Al-Qur’an hingga mengubah lafal Arabnya yang asli adalah bid’ah haram menurut pendapat yang lebih kuat.

Contoh bid’ah mubah: bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, menikmati makanan, minuman, pakaian, dan rumah yang lezat dan mewah, memakai jubah panjang, atau memperlebar lengan baju.

Sebagian hal ini diperselisihkan para ulama: sebagian menganggapnya sebagai bid’ah makruh, sementara yang lain memandangnya sebagai sunnah yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah atau sesudahnya, seperti membaca isti‘adzah dalam shalat atau membaca basmalah.

Ibnu Abidin dalam kitab Hasyiyah-nya membagi bid’ah menjadi lima bagian yang mencakup urusan ibadah dan adat kebiasaan. Ia berkata:

«اَلْبِدْعَةُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ: مُحَرَّمَةٌ، وَوَاجِبَةٌ، كَنَصْبِ الْأَدِلَّةِ لِلرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الْفِرَقِ الضَّالَّةِ، وَتَعَلُّمِ النَّحْوِ الْمُفْهِمِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْدُوبَةٍ كَإِحْدَاثِ نَحْوِ رِبَاطٍ وَمَدْرَسَةٍ، وَكُلِّ إِحْسَانٍ لَمْ يَكُنْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، وَمَكْرُوهَةٍ كَزَخْرَفَةِ الْمَسَاجِدِ، وَمُبَاحَةٍ كَالتَّوَسُّعِ بِلَذِيذِ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالثِّيَابِ».

“Bid’ah terbagi menjadi lima macam: haram, wajib — seperti menyusun dalil untuk membantah kelompok-kelompok sesat dan mempelajari ilmu nahwu yang dengannya dapat dipahami Al-Qur’an dan Sunnah — sunnah (mandub), seperti mendirikan ribath dan madrasah, serta segala bentuk kebaikan yang belum ada pada masa generasi pertama Islam; makruh, seperti menghias masjid; dan mubah, seperti menikmati makanan, minuman, dan pakaian yang lezat.” (Radd al-Muhtar, 1/560, Dar al-Fikr).

Al-Manawi dalam Faydh al-Qadir membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah yang tercela dan bid’ah yang baik. Ia berkata:

«وَالْبِدْعَةُ كَمَا قَالَ فِي الْقَامُوسِ: الْحَدِيثُ فِي الدِّينِ بَعْدَ الْإِكْمَالِ، وَمَا اسْتُحْدِثَ بَعْدَ النَّبِيِّ -ﷺ- مِنَ الْأَهْوَاءِ. وَقَالَ غَيْرُهُ: اسْمٌ مِمَّنِ ابْتَدَعَ الشَّيْءَ، اخْتَرَعَهُ وَأَحْدَثَهُ، ثُمَّ غَلَبَتْ عَلَى مَا لَمْ يَشْهَدِ الشَّرْعُ لِحُسْنِهِ، وَعَلَى مَا خَالَفَ أُصُولَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فِي الْعَقَائِدِ، وَذَلِكَ هُوَ الْمُرَادُ بِالْحَدِيثِ؛ لِإِيرَادِهِ فِي حَيِّزِ التَّحْذِيرِ مِنْهَا وَالذَّمِّ لَهَا وَالتَّوْبِيخِ عَلَيْهَا، وَأَمَّا مَا يُحْمَدُهُ الْعَقْلُ وَلَا تَأْبَاهُ أُصُولُ الشَّرِيعَةِ فَحَسَنٌ».

“Bid’ah sebagaimana disebutkan dalam al-Qamus ialah sesuatu yang baru dalam agama setelah kesempurnaannya, dan segala yang muncul setelah Rasulullah berupa hawa nafsu (aliran sesat). Ulama lain berkata: ‘Bid’ah adalah bentuk dari kata ibtada‘a, artinya menciptakan dan mengadakan sesuatu yang baru.’ Kemudian istilah ini menjadi umum digunakan untuk sesuatu yang tidak disyariatkan dan bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam akidah. Itulah yang dimaksud dalam hadits-hadits yang mengandung peringatan dan celaan terhadap bid’ah. Adapun sesuatu yang dipuji oleh akal sehat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, maka itu termasuk bid’ah yang baik.” (Faydh al-Qadir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir, 1/72, al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra).

Imam Asy-Syafi’i juga membagi bid’ah menjadi dua jenis besar yang mencakup ibadah dan adat, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi. Ia berkata:

«قَالَ الشَّافِعِيُّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: الْمُحْدَثَاتُ مِنَ الْأُمُورِ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالَةِ. وَالثَّانِيَةُ: مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لَا خِلَافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي قِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ: «نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ» يَعْنِي أَنَّهَا مُحْدَثَةٌ لَمْ تَكُنْ، وَإِنْ كَانَتْ فَلَيْسَ فِيهَا رَدٌّ لِمَا مَضَى»

Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata: Hal-hal baru (muhdatsat) terbagi menjadi dua macam: yang pertama, sesuatu yang baru namun bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma‘ — maka ini adalah bid’ah yang sesat. Yang kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal tersebut, maka ini adalah hal baru yang tidak tercela. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata tentang shalat malam di bulan Ramadan: ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini.’ Maksudnya, ia adalah sesuatu yang baru dilakukan namun tidak bertentangan dengan apa yang sudah ada sebelumnya.” (Al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, 1/206, Dar al-Khulafa’ lil-Kitab al-Islami).

Ath-Thurtushi al-Maliki berkata:

«أَصْلُ كَلِمَةِ الْبِدْعَةِ: مِنَ الِاخْتِرَاعِ، وَهُوَ الشَّيْءُ يُحْدِثُ مِنْ غَيْرِ أَصْلٍ سَبَقَ، وَلَا مِثَالٍ احْتُذِيَ، وَلَا أُلْفَ مِثْلُهُ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾ [الْبَقَرَةِ: 117]، وَقَوْلُهُ: ﴿قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ﴾ [الْأَحْقَافِ: 9]؛ أَيْ: لَمْ أَكُنْ أَوَّلَ رَسُولٍ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَهَذَا الِاسْمُ يَدْخُلُ فِيمَا تَخْتَرِعُهُ الْقُلُوبُ، وَفِيمَا تَنْطِقُ بِهِ الْأَلْسِنَةُ، وَفِيمَا تَفْعَلُهُ الْجَوَارِحُ»

“Asal kata bid’ah berasal dari ikhtira‘ (inovasi), yaitu sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya, tanpa meniru model yang ada, dan tanpa ada sesuatu yang serupa dengannya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

‘Pencipta (yang mengadakan) langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya’ . (Al-Baqarah: 117),

Dan firman-Nya:

‘Katakanlah: aku bukanlah rasul yang pertama kali diutus’ . (Al-Ahqaf: 9)

Yakni aku bukan rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Istilah bid’ah mencakup apa yang dihasilkan oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan dilakukan oleh anggota badan.” (Al-Hawadits wal-Bida‘, hal. 39, Dar Ibnu al-Jawzi).

Ibnu al-Hajj al-Maliki dalam Al-Madkhal berkata:

«وَالْبِدَعُ قَدْ قَسَّمَهَا الْعُلَمَاءُ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ: بِدْعَةٌ وَاجِبَةٌ، وَهِيَ مِثْلُ كُتُبِ الْعِلْمِ؛ فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ مَنْ مَضَى؛ لِأَنَّ الْعِلْمَ كَانَ فِي صُدُورِهِمْ، وَكَشَكْلِ الْمُصْحَفِ وَنَقْطِهِ، وَالْبِدْعَةُ الثَّانِيَةُ: بِدْعَةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، قَالُوا: مِثْلُ بِنَاءِ الْقَنَاطِرِ، وَتَنْظِيفِ الطُّرُقِ لِسُلُوكِهَا، وَتَهْيِئَةِ الْجُسُورِ، وَبِنَاءِ الْمَدَارِسِ وَالرُّبُطِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَالْبِدْعَةُ الثَّالِثَةُ: وَهِيَ الْمُبَاحَةُ كَالْمِنْخَلِ، وَالْأُشْنَانِ، وَمَا شَاكَلَهُمَا، وَالْبِدْعَةُ الرَّابِعَةُ: وَهِيَ الْمَكْرُوهَةُ مِثْلُ زَخْرَفَةِ الْمَسَاجِدِ، وَالْبِدْعَةُ الْخَامِسَةُ: وَهِيَ الْمُحَرَّمَةُ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تَنْحَصِرَ».

“Para ulama telah membagi bid’ah menjadi lima bagian:

1]. Bid’ah wajib, seperti penulisan ilmu pengetahuan, karena pada masa dahulu ilmu hanya tersimpan dalam dada para ulama, serta seperti pembentukan mushaf dan pemberian titik pada huruf-hurufnya.

2]. Bid’ah sunnah (mustahabbah), seperti membangun jembatan, membersihkan jalan agar dapat dilalui, membangun sekolah, ribath, dan sejenisnya.

3]. Bid’ah mubah, seperti penggunaan ayakan dan bahan pembersih (sabun) serta hal-hal serupa.

4]. Bid’ah makruh, seperti menghias masjid.

5]. Bid’ah haram, dan jumlahnya sangat banyak hingga tidak dapat dihitung.”

(Al-Madkhal, 2/257, Maktabah Dar at-Turats, dengan sedikit penyesuaian).

An-Nafrawi Al-Maliki berkata:

«وَالْبِدْعَةُ: هِيَ الْأَمْرُ الَّذِي لَمْ يَقَعْ فِي زَمَنِهِ ﷺ سَوَاءٌ دَلَّ الشَّرْعُ عَلَى حُرْمَتِهِ أَوْ كَرَاهَتِهِ أَوْ وُجُوبِهِ أَوْ نَدْبِهِ أَوْ إِبَاحَتِهِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ مَنْ قَالَ: إِنَّ الْبِدْعَةَ تَعْتَرِيهَا الْأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ كَابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَالْقَرَافِيِّ وَغَيْرِهِمَا، وَهَذَا أَقْرَبُ لِمَعْنَاهَا لُغَةً مِنْ أَنَّهَا مَا فُعِلَ مِنْ غَيْرِ سَبْقِ مِثَالٍ»

“Bid’ah adalah suatu perkara yang tidak terjadi pada masa Rasulullah , baik syariat menunjukkan bahwa hal itu haram, makruh, wajib, sunnah, atau mubah. Inilah pendapat yang dipegang oleh mereka yang mengatakan bahwa bid’ah memiliki lima hukum syariat - seperti Ibnu ‘Abd As-Salam, Al-Qarafi, dan lainnya- dan ini lebih sesuai dengan makna bahasa bid’ah, yaitu sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya.” (Al-Fawâkih Ad-Dawâni ‘alâ Syarh Risâlah Al-Qairawâni, 1/109, Dar Al-Fikr).

****

SEKILAS TENTANG SANAD-SANAD HADITS “SETIAP BID’AH SESAT”.

Syeikh Sulaiman Shuwari, Ibnu al-Haaj, Abdullah berkata :

حَدِيثُ «كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ عَاصِمٍ وَغَيْرُهُمْ مِنْ طُرُقٍ.

قُلْنَا: إِنْ شَدَّدْنَا فِي أَسَانِيدِهِ يَكُونُ الْحَدِيثُ ضَعِيفًا لِأَنَّ فِي كُلِّ أَسَانِيدِهِ كَلَامًا، لِأَنَّهُ جَاءَ عَنْ ثَلَاثَةِ طُرُقٍ:

١ - عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ...

٢ - عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ...

٣ - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ...

الرِّوَايَةُ عَنْ عِرْبَاضٍ فِيهَا أَرْبَعَةُ أَشْخَاصٍ:

١ - عَبْدُ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ: مَجْهُولٌ، وَتَابَعَهُ جُبَيْرُ بْنُ نُفَيْرٍ فِي إِسْنَادِهِ: شَعْوَذُ الْأَزْدِيُّ.

٢ - حَجَرُ بْنُ حَجَرٍ: مَجْهُولٌ،

٣ - ابْنُ أَبِي الْمُطَاعِ: مُنْقَطِعٌ،

٤ - مِهَاصِرُ بْنُ حَبِيبٍ: مُنْقَطِعٌ،

الرِّوَايَةُ عَنْ جَابِرٍ فِيهَا: جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، تَكَلَّمَهُ أَحْمَدُ وَيَحْيَى.

الرِّوَايَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ فِيهَا: مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، لَيِّنٌ كَمَا فِي الْمِيزَانِ.

وَإِذَا تَسَاهَلْنَا فِي أَسَانِيدِهِ يَكُونُ صَحِيحًا لِغَيْرِهِ أَوْ حَسَنًا لِغَيْرِهِ.

“Hadits “setiap bidah adalah kesesatan” diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu ‘Ashim, dan selain mereka melalui beberapa jalur.

Kami katakan: jika kita bersikap ketat dan selektif terhadap sanad-sanadnya, maka hadits ini menjadi lemah karena pada seluruh sanadnya terdapat pembicaraan, sebab ia datang melalui tiga jalur:

1 dari ‘Irbadh bin Sariyah

2 dari Jabir bin Abdullah

3 dari Abdullah bin Mas‘ud

Riwayat dari ‘Irbadh di dalamnya terdapat empat orang:

1 Abdurrahman As-Sulami, ia majhul, dan ia diikuti oleh Jubair bin Nufair dalam sanadnya yaitu Syu‘bah Al-Azdi

2 Hajar bin Hajar, ia majhul

3 Ibnu Abi Al-Mutha‘, sanadnya terputus

4 Muhashir bin Habib, sanadnya terputus

Riwayat dari Jabir di dalamnya terdapat Ja‘far bin Muhammad yang dikritik oleh Ahmad dan Yahya.

Riwayat dari Ibnu Mas‘ud di dalamnya terdapat Musa bin ‘Uqbah yang dinilai lemah sebagaimana dalam Al-Mizan.

Jika kita bersikap longgar terhadap sanad-sanadnya, maka hadits ini menjadi sahih lighoirihi atau hasan lighorihi (karena adanya penguat dari jalur lain)”. [KUTIPAN SELESAI]

Lihat : Hujjatul Auliya’ wa Manza‘ul Ashfiya’ (حُجَّةُ الْأَوْلِيَاءِ وَمَنْزَعُ الْأَصْفِيَاءِhal. 4 – 7 karya Sulaiman Shuari.

Posting Komentar

0 Komentar