Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

"TAHRIF" & "IDROJ" DALAM ATSAR IMAM MALIK : “SIAPA YANG MEMBUAT-BUAT DALAM ISLAM BID’AH (YANG IA ANGGAP HASANAH) ...”.

KATA “يَرَاهَا حَسَنَةً” BUKAN BAGIAN DARI UCAPAN IMAM MALIK

«مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ»

“SIAPA YANG MEMBUAT-BUAT DALAM ISLAM BID’AH (YANG IA ANGGAP HASANAH); MAKA IA TELAH MENUDUH MUHAMMAD  BERKHIANAT TERHADAP RISALAH”?.

-----

Di Tulis Oleh Kang Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---

----
Perkataan Imam Malik yang ini 👇tidak bersanad:

«مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ»

Barang siapa membuat-buat dalam Islam suatu bidah yang ia anggap baik (hasanah), maka sungguh ia telah menuduh Muhammad berkhianat terhadap risalah

Yang Bersanad Adalah Berikut Ini 👇:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ -الْيَوْمَ- شَيْئًا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَلَفُهَا، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ»

“Barang siapa mengada-adakan dalam umat ini -pada hari ini- sesuatu yang tidak pernah ada pada generasi terdahulunya, maka sungguh ia telah menuduh Rasulullah berkhianat terhadap risalah”.

Tapi Sanadnya Dho’if Sekali

====

Makna Idroj (إدْرَاجٌ) atau Mudroj (مُدْرَجٌ) : 

Mudroj atau Idroj adalah penyisipan kata atau kalimat yang bukan berasal dari perkatan seseorang yang dikutip perkataannya, sehingga terkesan berasal darinya, padahal itu adalah perkataan atau kesimpulan pengutip (perawi) itu sendiri untuk menjelaskan, menafsirkan, atau karena kekeliruan. Tujuannya bisa baik (menjelaskan) atau tidak baik (menipu), dan ini perlu diidentifikasi dengan membandingkan kutipa dan riwayat lain untuk memisahkan perkataan orang yang di kutip dari perkataan pengutip (perawi).

Adapun Tahriif (تَحْرِيْف), maka artinya adalah: "Terjadinya perubahan suatu perkataan dari tempatnya" atau " terjadinya pemutarbalikkan perkataan". 

Tahriif sebuah frasa dari Al-Qur'an (Surah An-Nisa ayat 46) yang merujuk pada orang-orang yang sengaja mengubah makna atau perkataan yang benar, dengan memutarlidah atau menafsirkan secara salah, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum Yahudi yang disebutkan dalam ayat tersebut

----

DAFTAR ISI:

  • RIWAYAT YANG TIDAK BERSANAD
  • RIWAYAT YANG BERSANAD
  • FATWA DAN AMALAN IMAM MALIK YANG BERDASARKAN DALIL UMUM, TANPA CONTOH DARI NABI :
  • SIKAP TAWADHU’ IMAM MALIK SAAT MENOLAK PERMINTAAN TIGA KHALIFAH
  • PARA SALAF SENANTIASA SALING MENGHORMATI PENDAPAT ORANG LAIN:
  • SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUSSUNNAH DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN PENDAPAT QUNUT SUBUH.
  • PENUTUP:

***** 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

RIWAYAT YANG TIDAK BERSANAD :

Ada sebuah pernyataan Imam Malik yang masyhur yang disebutkan oleh Imam Asy-Syathibi (wafat 590 H) tanpa sanad.

Asy-Syathibi berkata:

"قَالَ ابْنُ الْمَاجِشُونِ سَمِعْتُ مَالِكًا يَقُولُ: «مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ [المائدة 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا»".

Ibnu al-Majisyun berkata, “Aku mendengar Malik berkata: Barang siapa membuat-buat dalam Islam suatu bidah yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad berkhianat terhadap risalah. Hal itu karena Allah berfirman: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, tidak akan menjadi agama pada hari ini.” (Al-I’tisham, jilid 1 halaman 64–65).

Dalam riwayat ini terdapat tambahan kata "يَرَاهَا حَسَنَةً", (artinya : yang ia anggap baik)

Sebagian orang berdalil dengan pemahamannya terhadap ucapan Imam Malik “yang ia anggap hasanah” untuk mencela konsep bid’ah hasanah serta menganggapnya semua bid’ah adalah sesat.

Syeikh al-Albani setelah menyebutkan perkataan Imam Malik diatas, dia berkata :

"هَذَا مِن فِقْهِ الْإِمَامِ مَالِكٍ - رَحِمَهُ اللهُ - إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ حَيْثُ صَرَّحَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ أَنَّ مَنْ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بَدْعَةً وَاحِدَةً وَزَعَمَ أَنَّهَا حَسَنَةٌ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، وَمَنْ زَعَمَ هَذَا الزَّعْمَ فَلَمْ يُؤْمِنْ بِأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ كَمَا هُوَ وَاضِحٌ جِدًّا مِنْ كَلَامِ هَذَا الْإِمَامِ الْجَلِيلِ".

“Ini termasuk pemahaman yang mendalam dari Imam Malik - rahimahullah - imam Dar al-Hijrah, di mana beliau menegaskan dengan bahasa Arab yang jelas dan gamblang bahwa siapa pun yang menciptakan satu bidah dalam Islam dan menganggapnya baik (hasanah), maka sungguh ia telah menuduh Muhammad  berkhianat terhadap risalah. Dan siapa yang menuduh demikian, maka ia tidak beriman bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, sebagaimana sangat jelas dari perkataan imam mulia ini”. [Di kutip : dari “Bawwaabah Turots al-Imam al-Albani]

===***===

RIWAYAT YANG BERSANAD

Adapun riwayat yang bersanad sampai kepada Imam Malik bin Anas, maka itu disebutkan oleh Ibnu Hazm adz-Dzohiri (wafat 456 H) dengan sanadnya sampai kepada Ibnu al-Majisyun.

Ibnu Hazm ia berkata:

"حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَنَسٍ، نَا الْحُسَيْنُ بْنُ يَعْقُوبَ، نَا سَعِيدُ بْنُ فَحْلُونٍ، نَا يُونُسُ بْنُ يَحْيَى الْمِفَامِيُّ، نَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ الْمَاجِشُونِ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ الْيَوْمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَلَفُهَا، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ [الْمَائِدَةُ: 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا لَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا»".

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Umar bin Anas, telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Ya‘qub, telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Fahlun, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Yahya al-Mifami, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Habib, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ibnu al-Majisyun bahwa ia berkata: Malik bin Anas berkata:

“Barang siapa mengada-adakan dalam umat ini pada hari ini sesuatu yang tidak pernah ada pada generasi terdahulunya, maka sungguh ia telah menuduh Rasulullah berkhianat terhadap risalah.

Karena Allah Ta’ala berfirman: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.

Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, tidak akan menjadi agama pada hari ini.” (Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, jilid 6 halaman 58).

Dalam riwayat yang bersanad ini tidak ada kata tambahan "يَرَاهَا حَسَنَةً", (artinya : yang ia anggap baik)

Status Sanad Atsar : Lemah Sekali

Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

*] الْحُسَيْنُ بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ

*] يُونُسُ بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ

*] عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ

*] ابْنُ الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ

Sanadnya lemah.

*] Al-Husain bin Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).

*] Yunus bin Yahya al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi, dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.

*] ‘Abdul Malik bin Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi, dan ia lemah.

*] Ibnu al-Majishun adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]

 -----

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa dalam riwayat yang bersanad sampai kepada Imam Malik tidak terdapat lafaz

"يَرَاهَا حَسَنَةً"

“Yang ia anggap baik”

Tidak seperti yang disebutkan oleh Imam Asy-Syathibi dalam al-I’tishom.

Walaupun penilaian si pelaku bidah, apakah ia menganggapnya baik atau buruk, pada hakikatnya tidak mengubah apa pun, namun lafaz tersebut pada pandangan awal dapat menimbulkan kesan bahwa ucapan Imam Malik ditujukan kepada orang yang mengatakan adanya bidah hasanah, sehingga perlu diberikan penjelasan.

Kemudian juga: andaikata pun keabsahan frasa “يَرَاهَا حَسَنَةً” (ia menganggapnya baik) diterima sebagaimana yang disebutkan oleh Imam asy-Syathibi, maka seandainya yang dimaksud Imam Malik adalah mencela seluruh bid’ah (perkara baru), termasuk yang disaksikan oleh syariat sebagai sesuatu yang layak dipertimbangkan, maka tentu frasa “يَرَاهَا حَسَنَةً” tidak memiliki makna dalam ucapannya.

Hal ini karena penilaian baik atau buruk menurut orang yang berbuat bidah tidaklah mengubah hakikat perkara sedikit pun.

Maka frasa “يَرَاهَا حَسَنَةً” bermakna: ia menganggapnya baik semata-mata berdasarkan pendapat dan hawa nafsunya, bukan berdasarkan syariat dan kaidah-kaidahnya.

Dalilnya adalah bahwa Imam Malik sendiri telah menganggap baik sebagian perkara yang tidak disebutkan dalam dalil khusus. Dengan contoh, penjelasan menjadi jelas.

===***===

FATWA FATWA DAN AMALAN-AMALAN IMAM MALIK 
YANG BERDASARKAN DALIL UMUM, TANPA CONTOH DARI NABI :

****

Fatwa dan Amalan ke 1 :
Tentang baca sholawat saat bersin.

Qadhi Abu al-Walid al-Baji al-Maliki (wafat 474 H) berkata:

"رَوَى أَبُو زَيْدٍ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ فِي الْعُتْبِيَّةِ سُئِلَ مَالِكٌ عَمَّنْ عَطَسَ أَوْ رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ فَحَمِدَ اللَّهَ، أَيُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ؟ قَالَ لَا أَنْهَاهُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ إذَنْ أَقُولُ لَهُ لَا تَذْكُرْ اللَّهَ تَعَالَى!".

Diriwayatkan oleh Abu Zaid dari Ibnu al-Qasim dalam al-Utbiyyah, bahwa Imam Malik ditanya tentang seseorang yang bersin atau melihat sesuatu yang membuatnya kagum lalu ia memuji Allah, apakah ia bershalawat kepada Nabi ?

Imam Malik menjawab: “Aku tidak melarangnya untuk bershalawat kepada Nabi , karena jika demikian berarti aku mengatakan kepadanya: janganlah engkau menyebut Allah Ta’ala.” (al-Muntaqa, 7/286).

Qadhi Abu al-Walid Ibnu Syadd al-Jadd al-Maliki (wafat 520 H) berkata dalam penjelasan ucapan Imam Malik tentang masalah ini:

"وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَيْهِ ﷺ مَعَ حَمْدِ اللَّهِ عِنْدَ الْعُطَاسِ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْفَاعِلُ بِذَلِكَ لَمْ يُرِدْ بِهِ الْقُرْبَةَ وَلَا احْتَسًبَ فِيهِ الثَّوَاب وَلَا قَصَدَ بِهِ تَعْظِيم حَقّ النَّبِي ﷺ فَيَكُون ذَلِكَ مِنْ فِعْلِهِ مَكْرْوهًا، وَيُحْتَمَلُ أًَنْ يَكُونَ لَمَّا عَطَسَ فَحَمِدَ اللّه تَذَكَّرَ سُنَّة النَّبِي ﷺ فِي أَمْرِ العَاطِس بِحَمْدِ اللَّهِ عِنْدَ عُطَاسِهِ وَصَلَّى عَلَيْهِ دَاعِيًا لَهُ عَلَى مَا سَنَّهُ مِنْ ذَلِكَ لِأُمَّتِهِ، فَيَكُون ذَلِكَ مِن فِعْلِهِ حَسَنًا مُسْتَحْسَنًا. وَلَمَّا احْتَمَلَ صَلَاته عَلَى النَّبِي ﷺ فِي هَذِهِ الحَال وَجْهًا صَحِيحًا تَوَقَّفَ فِي الرِّوَايَةِ أنْ يَقُولَ إِنَّهُ يَكْرَهُ ذَلِكَ، وَقَالَ إِنْ قُلْتُ ذَلِكَ كْنْتُ قَدْ أَمَرْتُهُ أَنْ لَا يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِي ﷺ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيق".

Adapun bershalawat kepada Nabi bersamaan dengan memuji Allah ketika bersin, maka ada kemungkinan bahwa orang yang melakukannya tidak bermaksud mendekatkan diri (kepada Allah), tidak mengharap pahala, dan tidak pula bermaksud mengagungkan hak Nabi , sehingga perbuatan itu menjadi perbuatan yang makruh baginya.

Namun ada kemungkinan lain, yaitu ketika ia bersin lalu memuji Allah, ia teringat sunnah Nabi yang memerintahkan orang yang bersin untuk memuji Allah saat bersin, lalu ia pun bershalawat kepada Nabi sebagai doa untuk beliau atas apa yang beliau sunnahkan bagi umatnya; maka dalam hal ini perbuatan tersebut menjadi perbuatan yang baik dan terpuji.

Karena shalawat kepada Nabi dalam kondisi ini memiliki kemungkinan makna yang benar, maka Imam Malik bersikap tawaqquf dalam riwayat, tidak mengatakan bahwa perbuatan itu makruh.

Beliau berkata: “Jika aku mengatakan itu makruh, berarti aku telah memerintahkannya untuk tidak bershalawat kepada Nabi .”

Dan hanya kepada Allah lah taufik itu. (al-Bayan wa at-Tahshil karya Qadhi Ibnu Rusyd al-Jadd, 18/578).

Maka inilah Imam Malik menilai baik (menganggap bagus) membacakan shalawat dan salam untuk Nabi setelah bersin dengan cara yang telah dijelaskan oleh para imam madzhab. Penilaian baik ini tidak datang berdasarkan penetapan langsung dari Nabi dalam dalil khusus, sebagaimana tampak dari penelaahan hadis-hadis sunnah tentang tata cara mendoakan orang yang bersin.

Dengan demikian, maksud Imam Malik dari ucapannya tersebut adalah mencela bidah yang tidak bersandar pada dalil dan tidak didukung oleh satu pun landasan dari pokok-pokok agama. Itulah bidah yang tercela.

Hal ini menguatkan penjelasan ucapan Imam Malik dengan pemahaman sebagaimana disebutkan di atas.

****

Fatwa dan Amalan ke (2) :
Tentang bertabarruk dengan cara melempas kedua sandal saat di tempat suci

Dan tidak menaiki kendaraan saat di tanah haram:

Al-Qodhi Ibnu al-‘Arabi (wafat 543 H) ketika membahas firman Allah Ta’ala:

﴿إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى﴾

“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya engkau berada di lembah suci Thuwa” (Surah Thaha: 12).

Dalam kitab Ahkam al-Qur’an, Ibnu al-‘Arabi berkata:

"إِنْ قُلْنَا إِنَّ خَلْعَ الْنَّعْلَيْنِ كَانَ لِيَنَالَ بَرَكَةَ الْتَّقْدِيسِ فَمَا أَجْدَرَهُ بِالْصِّحَّةِ، فَقَدْ اسْتَحَقَّ الْتَّنْزِيهَ عَنْ الْنَّعْلِ، وَاسْتَحَقَّ الْوَاطِئُ الْتَّبَرُّكَ بِالْمُبَاشَرَةِ، كَمَا لَا تُدْخَلُ الْكَعْبَةَ بِنَعْلَيْنِ، وَكَمَا كَانَ مَالِكُ لَا يَرْكَبُ دَابَّةً بِالْمَدِينَةِ، بَرًّا بِتُرْبَتِهَا الْمُحْتَوِيَةِ عَلَى الْأَعْظُمِ الْشَّرِيفَةِ وَالْجُثَّةِ الْكَرِيمَةِ".

“Jika kita mengatakan bahwa perintah menanggalkan kedua terompah itu bertujuan untuk memperoleh keberkahan pensucian, maka pendapat ini lebih layak untuk diterima sebagai benar.

Karena tempat tersebut telah berhak untuk disucikan dari terompah, dan orang yang menginjaknya berhak mendapatkan keberkahan dengan menyentuhnya secara langsung.

Sebagaimana Ka‘bah tidak dimasuki dengan memakai terompah, dan sebagaimana Malik tidak pernah menunggangi kendaraan di Madinah, sebagai bentuk penghormatan terhadap tanahnya yang mengandung tulang-belulang yang mulia dan jasad yang mulia.”

[Ahkam al-Qur’an karya al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Isybili (3/254)].

Maka Imam Dar al-Hijrah, Malik bin Anas, membuat suatu amalan yang baru, yang belum dikenal sebelumnya, dalam mengagungkan Rasulullah ketika beliau berada di dalam kuburnya yang mulia.

Muhammad al-Makki an-Nashiri dalam kitabnya at-Taysiir Fii Ahaadits at-Tafsiir 4/63 mengatakan :

"إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ خَلْعَ النَّعْلَيْنِ تَصَرُّفٌ مُنَاسِبٌ لِلْخُشُوعِ وَالتَّوَاضُعِ عِنْدَ مُنَاجَاةِ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ جِهَةٍ، وَمَظْهَرٌ مِنْ مَظَاهِرِ احْتِرَامِ الْأَمَاكِنِ الْمُقَدَّسَةِ وَتَعْظِيمِهَا مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى، وَكَذَلِكَ فِعْلُ السَّلَفِ حِينَ طَافُوا بِالْبَيْتِ فَدَخَلُوا الْحَرَمَ حُفَاةً دُونَ نِعَالٍ".

“Isyarat bahwa melepas kedua sandal merupakan sikap yang sesuai untuk menghadirkan kekhusyukan dan ketawadhuan ketika bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala di satu sisi, dan merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tempat-tempat suci serta pengagungannya di sisi yang lain.

Demikian pula yang dilakukan oleh para ulama salaf ketika mereka thawaf di Baitullah, mereka memasuki kawasan haram dalam keadaan tanpa alas kaki”.

****

Fatwa dan amalan ke 3 :
Baca “Masya Allah wa laa Hawla ....” saat masuk rumah

Al-Qadhi ‘Iyadh (wafat 544 H) berkata:

"كَانَ مَالِكُ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَ مَا شَاءَ اللهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ، فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ قَالَ اللهُ تَعَالَى ﴿وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ﴾ [الكهف 39] الآيَة، وَجَنَّتهُ بَيْتهُ. وَقِيلَ إِنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلىَ بَابِ مَالِك مَكْتُوبًا، يُرِيدُ لِيَتَذَكَّرَ بِرُؤْيَتِهِ قَوْل ذَلِكَ مَتَى دَخَلَ".

“Apabila Malik masuk ke rumahnya, ia mengucapkan:

‘Masya Allah, laa hawla wa laa quwwata illa billah.’

Lalu beliau ditanya tentang hal itu, maka ia menjawab: Allah Ta‘ala berfirman:

‘Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan: Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’ (Surah al-Kahfi: 39).

Dan kebunnya itu adalah rumahnya.”

Dikatakan pula bahwa kalimat tersebut tertulis di pintu rumah Malik, agar ketika melihatnya ia teringat untuk mengucapkannya setiap kali masuk.

Tartib al-Madarik (1/130).

Imam Malik menggali suatu dzikir yang bersifat baru diada-adakan berdasarkan ayat yang mulia tersebut, dan beliau mengikatnya dengan suatu tata cara baru yang sebelumnya tidak dikenal.

****

Fatwa dan amalan ke 4 :
Menghidupkan malam pertama setiap bulan dengan shalat malam
Dan menyempurnakan bacaan dizikir di malam Jum’at

Qadi Iyadh (wafat 544 H) berkata:

"قَالَ الْزُّبَير بن حَبِيبٍ كُنْتُ أَرَى مَالِكًا إِذَا دَخَلَ الْشَّهْر أَحْيَا أَوَّلَ لَيْلةٍ مِنْهُ، وَكُنْتُ أَظُنُّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لِيَفْتَتِحَ بِهِ الْشَّهْر، وَقَالَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مَالِكٍ كَانَ مَالِكُ يُصَلِّي كُلَّ لَيْلَةٍ حِزْبَهُ، فَإِذَا كَانَتْ لَيْلَة الْـجُمُعَة أَحْيَاهَا كُلَّهَا".

Az-Zubair bin Habib berkata, “Aku melihat Malik apabila masuk awal bulan, beliau menghidupkan malam pertamanya. Aku menduga beliau melakukan hal itu untuk pembukaan awal bulan.

Dan Fatimah binti Malik berkata, ‘Malik biasa mengerjakan bagian wiridnya di setiap malam. Jika datang malam Jumat, beliau menghidupkan seluruh malam itu.’”

[Rujukan: Tartib al-Madarik jilid 2 halaman 50].

Imam Dar al-Hijrah Malik bin Anas berkomitmen menghidupkan malam pertama setiap bulan dengan ibadah. Tidak ada dalil khusus yang menunjukkan pengkhususan ini dengan tata cara seperti itu, selain dalil-dalil umum.

****

Fatwa dan amalan ke (5)
Berwudhu sebelum duduk untuk menyampaikan hadits Nabi .

Qodhi ‘Iyadh (wafat 544 H) berkata:

"كَانَ مَالِكُ إِذَا جَلَسَ لِلْحَدِيثِ تَوَضَّأَ، وَجَلَسَ عَلَى صَدْرِ فِرَاشِهِ، وَسَرَّحَ لِـحْيَتَهُ، وَتَـمَكَّنَ فِي جُلُوسِهِ بِوَقَارٍ وَهَيْبَةٍ، ثُمَّ حَدَّثَ، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ أُحِبُّ أَنْ أُعَظِّمَ حَدِيثَ رَسُول اللهِ ﷺ وَلَا أُحَدِّث بِهِ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ)

“Apabila Malik duduk untuk menyampaikan hadis, beliau berwudhu, duduk di atas karpetnya, merapikan janggutnya, duduk dengan tenang dan penuh wibawa, kemudian menyampaikan hadis. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab:

‘Aku suka mengagungkan hadits Rasulullah dan aku tidak menyampaikan hadits kecuali dalam keadaan suci.’”

[Rujukan: Tartib al-Madarik jilid 2 halaman 15].

Imam Dar al-Hijrah, Imam Malik bin Anas, membuat tata cara baru yang tidak pernah disebutkan sebelumnya dalam rangka mengagungkan hadits Rasulullah , dan beliau berkomitmen melakukan wudhu dengan penentuan waktu tertentu dalam bentuk yang baru.

****

Fatwa dan amalan ke 6 :
Qunut Shubuh sebelum ruku’
Dan wajib mengulang shalat bagi yang sengaja tidak qunut Shubuh

Imam Malik dan sekelompok para ulama hijaz. mereka mengatakan: Tidak ada Qunut kecuali di waktu sholat Fajar dan disunnahkan qunutnya sebelum Ruku’.

Al-Imam al-Qurthubi berkata:

قَالَ الْحَسَنُ وَسَحْنُونُ: "إِنَّهُ سُنَّةٌ"، وَهُوَ مُقْتَضَى رِوَايَةِ عَلِيِّ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مَالِكٍ بِإِعَادَةِ تَارِكِهِ لِلصَّلَاةِ عَمْدًا

Al-Hasan dan Sahnuun berkata tentang Qunut Shubuh: “ Itu Sunnah “. Dan yang di simpulkan dari riwayat Ali bin Ziyad dari Imam Malik, yaitu: mengulangi sholatnya jika meninggalkan qunut Shubuh dengan sengaja “. (Baca: Tafsir al-Qurthubi 4/129).

Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 3/504 berkata:

"مَذْهَبُنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ الْقُنُوتُ فِيهَا، سَوَاءٌ نَزَلَتْ نَازِلَةٌ أَوْ لَمْ تَنْزِلْ، وَبِهَا قَالَ أَكْثَرُ السَّلَفِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ أَوْ كَثِيرٌ مِنْهُمْ، وَمِمَّنْ قَالَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَابْنُ عَبَّاسٍ، وَالْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ. وَقَالَ بِهِ مِنَ التَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ خَلَائِقُ، وَهُوَ مَذْهَبُ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَالْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، وَمَالِكٍ، وَدَاوُدَ".

“Dalam mazhab kami Qunut Shubuh itu disunnahkan. Baik ketika ada nazilah ataupun tidak terjadi nazilah.

Dan ini adalah pendapat sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu abbas dan Al-Barro’ bin azib rodhiyallohu 'anhum.

Hal ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad-sanad yang sahih.

Para tabiin juga berpendapat demikian.

Dan ini juga pendapat Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih, Imam Malik dan Dawud “.

****

Fatwa dan amalan ke 7 :
Bilangan rakaat shalat Tarawih

Dalam al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 27/142-143 disebutkan :

"وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ : الْقِيَامُ فِي رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً أَوْ بِسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَاسِعٌ أَيْ جَائِزٌ ، فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ مِنْ الصَّحَابَةِ - رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ - يَقُومُونَ فِي رَمَضَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - فِي الْمَسَاجِدِ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً ، ثُمَّ يُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ ، ثُمَّ صَلُّوا فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ سِتًّا وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ .

قَالَ الْمَالِكِيَّةُ : وَهُوَ اخْتِيَارُ مَالِكٍ فِي الْمُدَوَّنَةِ.

قَالَ  مَالِكٌ : هُوَ الَّذِي لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ أَيْ بِالْمَدِينَةِ بَعْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، وَقَالُوا : كَرِهَ مَالِكٌ نَقْصَهَا عَمَّا جُعِلَتْ بِالْمَدِينَةِ".

Dan ulama Malikiyah berkata: Salat malam di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat atau dengan tiga puluh enam rakaat adalah bebas dan leluasa, yaitu boleh.

Hal ini karena para salaf dari kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum melaksanakan salat malam di bulan Ramadan pada masa Umar bin al-Khattab radhiyallahu ta‘ala ‘anhu di masjid-masjid sebanyak dua puluh rakaat, kemudian mereka berwitir dengan tiga rakaat.

Kemudian pada masa Umar bin Abdul Aziz mereka melaksanakan salat malam sebanyak tiga puluh enam rakaat selain syaf‘ dan witir.

Ulama Malikiyah berkata: Ini adalah pilihan Imam Malik dalam al-Mudawwanah.

Imam Malik berkata: Inilah amalan yang senantiasa dilakukan oleh manusia, yakni di Madinah, setelah Umar bin al-Khattab.

Mereka juga berkata: Malik memakruhkan pengurangannya dari jumlah yang telah ditetapkan di Madinah. [Lihat: Kifayatu ath-Thalib 1/353, Syarh az-Zarqani 1/284].

ANALISA :

Setelah penulis menyebutkan sebagian fatwa-fatwa dan amalan-amalan imam Malik diatas ini, apakah semuanya harus dianggap sebagai “bidah sesat” menurut pemahaman pihak yang menyelisishi-nya?

Dan hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa Imam Malik berlepas diri dari orang yang keliru dengan menambahi kata “يَرَاهَا حَسَنَةً” dalam ucapannya.

===***====

SIKAP TAWADHU’ IMAM MALIK SAAT MENOLAK PERMINTAAN TIGA KHALIFAH

Imam Malik menolak permintaan dari tiga khalifah , Abu Ja'far , al-Ma'mun dan Harun al-Rasyiid agar kitab al-Muwaththa di jadikan rujukan bagi seluruh kaum muslimin, dan melarang mereka berpatokan pada selainya. Tujuan para khalifah tersebut adalah dalam rangka untuk menyatukan kaum muslimin serta melindungi mereka dari peperpecahan dan perselisihan yang berlarut-larut.

====

PERTAMA : PENOLAKAN TERHADAP KHALIFAH ABU JA'FAR [WAFAT 158 H]:

Ibnu Abdil-Barr berkata:

" وَذَكَرَ الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ قَالَ نَا يَحْيَى بْنُ مِسْكِينٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالا سَمِعْنَا مَالِكًا يَذْكُرُ دُخُولَهُ عَلَى أَبِي جَعْفَرٍ وَقَوْلَهُ فِي انْتِسَاخِ كُتُبِهِ فِي الْعِلْمِ وَحَمْلِ النَّاسِ عَلَيْهَا قَالَ مَالِكٌ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ‌قَدْ ‌رَسَخَ ‌فِي ‌قُلُوبِ ‌أَهْلِ ‌كُلِّ ‌بَلَدٍ ‌مَا ‌اعْتَقَدُوهُ ‌وَعَمِلُوا ‌بِهِ وَرَدُّ الْعَامَّةِ عَنْ مِثْلِ هَذَا عَسِيرٌ ".

“Dan al-Zubayr bin Bakkaar menyebutkan, dia berkata: Yahya bin Miskiin dan Muhammad bin Maslamah memberi tahu kami, mereka berkata: Kami mendengar Malik menyebutkan kisah dirinya masuk ke Khalifah Abu Ja'far , dan perkataannya tentang pemyalinan kitab-kitabnya dalam ilmu [ hadits , atsar dan fiqih ] dan menyuruh orang-orang agar berpatokan hukum padanya :

Malik berkata: Aku berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, apa yang mereka yakini dan mereka amalkan telah tertanam kuat di hati para penduduk masing-masing daerah, dan sulit bagi masyarakat umum untuk berpaling dari hal seperti itu". [ al-Intiqoo Fi Fadholi ats-tsalatash al-Aimmah karya Ibnu Abdil Barr hal. 41].

Dan riwayat lain menunjuk ke arah yang sama.

Ibnu Asaakir meriwayatkan dari jalur “Khalid bin Nizaar Al-Aylii, dia berkata: Saya mendengar Malik bin Anas, rahimahullah, berkata:

" دَعَانِي أَبُو جَعْفَرٍ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ لِي ‌يَا ‌أَبَا ‌عَبْدِ ‌اللَّهِ ‌إِنِّي ‌أُرِيدُ ‌أَنْ ‌أَكْتُبَ ‌إِلَى ‌الْآفَاقِ ‌فَأَحْمِلُهُمْ ‌عَلَى ‌كِتَابِ ‌الْمُوَطَّإِ حَتَّى لَا يَبْقَى أَحَدٌ يُخَالِفُكَ فِيهِ قَالَ مَالِكٌ فَقُلْتُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَفَرَّقُوا فِي الْبُلْدَانِ وَاتَّبَعَهُمُ النَّاسُ فَرَأَى كُلُّ فَرِيقٍ أَنْ قَدِ اتَّبَعَ مَتْبَعًا".

Abu Jaafar Amirul Mukminin memanggil saya, lalu dia berkata kepada saya: Wahai Abu Abdullah [Imam Malik] , saya ingin memperbanyak salinan kitab al-Muwaththa dan menyebarkannya ke seluruh pelosok negeri , dan menggiring orang-orang ke kitab Muwaththa, hingga tidak ada lagi satu pun orang yang berbeda pendapat dengan Anda di dalamnya.

Malik berkata : Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, para sahabat Rasulullah tersebar di penjuru negeri-negeri , dan orang-orang mengikuti mereka, dan masing-masing kelompok melihat bahwa dirinya telah mengikuti orang yang berhak untuk diikuti [yakni sahabat Nabi] . [ Kasyful Mughoththo karya Ibnu Asaakir hal. 27 dan al-Muwaththa , riwayat Yahya 1/80 . Tahqiiq al-A'dzomi ]

Dan dalam riwayat lain: Imam Malik berkata :

لَمَّا حَجَّ أَباُ جَعْفَرٍ الْمَنْصُورُ دَعَانِي فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ فَحَادَثْتُهُ وَسَأَلَنِي فَأَجَبْتُهُ فَقَالَ إِنِّي عَزَمْتُ أَنْ آمُرَ بِكُتُبِكَ هَذِهِ الَّتِي قَدْ وَضَعْتَ يَعْنِي الْمُوَطَّأَ فَتُنْسَخَ نُسَخًا ثُمَّ أَبْعَثُ إِلَى كُلِّ مِصْرٍ مِنْ أَمْصَارِ الْمُسْلِمِينَ مِنْهَا نُسْخَةً وَآمُرُهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا فِيهَا وَلا يَتَعَدَّوْهَا إِلَى غَيْرِهَا وَيَدَعُوا مَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ هَذَا الْعِلْمِ الْمُحْدَثِ فَإِنِّي رَأَيْتُ أَصْلَ الْعِلْمِ رِوَايَةَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَعِلْمَهُمْ قَالَ فَقُلْتُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَا تَفْعَلْ هَذَا فَإِنَّ النَّاسَ قَدْ سَبَقَتْ إِلَيْهِمْ أَقَاوِيلُ وَسَمِعُوا أَحَادِيثَ وَرُوُّوا رِوَايَاتٍ وَأَخَذَ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا سبق إِلَيْهِمْ وَعَمِلُوا بِهِ وَدَانُوا بِهِ مِنَ اخْتِلافِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَغَيْرِهِمْ وَإِنَّ رَدَّهُمْ عَمَّا اعْتَقَدُوهُ شَدِيدٌ ‌فَدَعِ ‌النَّاسَ ‌وَمَا ‌هُمْ ‌عَلَيْهِ ‌وَمَا ‌اخْتَارَ ‌أَهْلُ ‌كُلِّ ‌بَلَدٍ ‌لأَنْفُسِهِمْ فَقَالَ لَعَمْرِي لَوْ طَاوَعْتَنِي عَلَى ذَلِكَ لأَمَرْتُ بِهِ

Ketika Abu Ja`far al-Mansur berangkat haji, dia mengundang ku . Maka aku masuk padnya , lalu aku berbincang-bincang dengannya . Dan dia bertanya padaku , maka aku jawab . Lalu dia berkata :

Saya berkeinginan untuk menulis kitab-kitab Anda ini yang telah anda susun , yakni al-Muwaththa - dalam bentuk salinan, dan kemudian saya mengirimkan salinannya ke semua daerah kaum Muslimin di Mesir, memerintahkan mereka untuk bertindak dan beramal sesuai dengan itu. Dan tidak boleh melampauinya dari selain ilmu yang diperbarui ini, karena saya melihat bahwa asal usul ilmu agama itu berasal dari riwayat penduduk Madinah dan amalan mereka."

Aku [Malik] berkata : " Wahai Amirul Mukminin! Jangan engkau lakukan itu, karena sebelum mereka lahir perbedaan pendapat itu telah ada . Mereka telah mendengar hadits-hadits dan riwayat-riwayat. Dan masing-masing orang telah mengambil apa yang telah ada dan mereka telah terbiasa mengamalkannya.

Dan perbedaan-perbedaan itu mereka ambil dari para sahabat Rasulullah yang berdekatan dan juga dari yang lainnya.

Sesungguhnya mengalihkan mereka dari apa yang telah mereka yakini itu sesuatu yang berat. Maka biarkanlah orang-orang itu dengan keadaannya dan biarkanlah apa yang dipilih oleh setiap penduduk negeri untuk diri mereka sendiri."

Dia [Khalifah Abu Ja'far] berkata: " Dan sungguh usiaku sebagai tebusannya , Jika saja Anda menyutujui saya dalam hal itu, maka saya akan memerintahkannya".

[ al-Muwaththa, riwayat Yahya 1/80, Tahqiiq al-A'dzomi, al-Intiqoo ha. 41, Tarikh ath-Thobari 11/660 dan Al-Madaarik oleh al-'Iyaadh 1/191]

Kisah tersebut di shahihkan oleh Syeikh al-Albaani rahimahullah , dan dia berkata :

وَأَقُولُ: إِنَّ هَذِهِ الْقِصَّةَ مَعْرُوفَةٌ مَشْهُورَةٌ عَنْ الْإِمَامِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ

" Dan saya katakan: Kisah ini terkenal dan masyhur dari Imam Malik rahimahullah". [Sifatusholatin Nabi hal. 63].

Abu Suleiman Al-Jundi Al-Atsari berkata :

" الرِّوَايَةُ صَحِيحَةٌ وَثَابِتَةٌ عَنِ الْإِمَامِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ، حَيْثُ وَرَدَ فِي كَشْفِ الْمُغَطَّى فِي فَضْلِ الْمُوَطَّأِ ص ٦ لِابْنِ عَسَاكِرَ، وَكَذَلِكَ فِي تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ لِلْإِمَامِ الذَّهَبِيِّ ١/١٩٥، وَكَذَلِكَ فِي الِانْتِقَاءِ لِابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ ص ٤١".

Riwayat ini shahih dan terbukti dari Imam Malik – rahimahullah - , di mana disebutkan dalam Kasyf al-Mughothaa fi Fadhel al-Muwaththa ((hal. 6)) oleh Ibnu Asaker . Demikian juga dalam Tadhkirat al-Hafiz karya Imam al-Dhahabi - 1/195. Begitu juga - Al-Intiqaa - oleh Ibnu Abd al-Barr (hal. 41)

[ Lihat : Multaqoo Ahlil hadits – al-Maktabah asy-Syaamilah al-Hadiitsah 71/342].

Al-Muhaddits Al-A'dzomi berkata :

خُلاَصَةُ البَحْثِ: نَرَى فِي رِوَايَةِ مَعْنِ بْنِ عِيسَى، وَالوَاقِدِيِّ، وَيَحْيَى بْنِ مَسْكِينٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ، وَخَالِدِ بْنِ نَزَّارٍ الأَيْلِيِّ، وَعُتْبَةَ بْنِ حَمَّادٍ القَارِئِ الدِّمَشْقِيِّ، كُلَّ هَؤُلاَءِ، يَرْوُونَ عَنْ مَالِكٍ مَا مَفَادُهُ: أَنَّ أَبَا جَعْفَرٍ المَنْصُورَ طَلَبَ مِنَ الإِمَامِ مَالِكٍ كِتَابَهُ، فَاطَّلَعَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَثْنَى عَلَيْهِ، وَأَبْدَى رَغْبَتَهُ فِي نَشْرِهِ فِي العَالَمِ الإِسْلاَمِيِّ حِينَذَاكَ، وَقَدْ عَارَضَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللهُ - لِلَّهِ دَرُّهُ - هَذِهِ الرَّغْبَةَ مِنَ الخَلِيفَةِ، وَبَيَّنَ السَّبَبَ، وَطَلَبَ مِنْهُ أَنْ يَدَعَ النَّاسَ وَمَا هُمْ عَلَيْهِ، وَمَا اخْتَارَ أَهْلُ كُلِّ بَلَدٍ لِأَنْفُسِهِمْ. 

فَلَيْتَنَا نَتَّعِظُ مِنْ كَلاَمِ الإِمَامِ مَالِكٍ وَسُلُوكِهِ، لاَ سِيَّمَا مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَصْبِغَ العَالَمَ كُلَّهُ بِفِقْهِهِ، مُسَبِّبًا الفِرْقَةَ وَالإِنْشِقَاقَ وَالفِتَنَ.

Ringkasan pembahasan :

Kita melihat dalam riwayat Ma'an bin Iisaa, Al-Waqidi, Yahya bin Miskin, Muhammad bin Maslamah, Khalid bin Nizaar Al-Ayli, dan Utbah bin Hammad, qoori Damaskus, semuanya , mereka meriwayatkan dari Malik sebagai berikut:

Bahwa Abu Ja'far al-Mansur meminta kepada Imam Malik untuk memberikan kitabnya, lalu dia membacanya, kemudian memujinya, dan menyatakan keinginannya untuk menerbitkannya dan menyebarkannya pada dunia Islam pada waktu itu.

Imam Malik - rahimahullah- menolak keinginan khalifah ini , menjelaskan alasannya, dan memintanya agar membiarkan orang-orang dengan apa yang telah terbiasa mereka amalkan, dan dengan apa yang telah dipilih oleh masing-masing daerah untuk diri mereka sendiri.

Marilah kita belajar dari perkataan dan perilaku Imam Malik ini , khususnya bagi orang yang bernafsu ingin mengemas dan mewarnai seluruh dunia dengan karya fikihnya, sehingga menimbulkan banyak perpecahan, perselisihan dan fitnah .

[ al-Muwaththa , riwayat Yahya 1/80 . Tahqiiq al-A'dzomi]

===

KEDUA : PENOLAKAN TERHADAP KHALIFAH HARUN AR-RASYID [ W. 193 H] :

Dan dari Abdullah bin Abdul Hakim, dia berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata:

" شَاوَرَنِي هَارُونُ الرَّشِيدُ فِي ثَلَاثٍ فِي أَنْ يُعَلِّقَ الْمُوَطَّأَ فِي الْكَعْبَةِ وَيَحْمِلَ النَّاسَ عَلَى مَا فِيهِ، وَفَى أَنْ يَنْقُضَ مِنْبَرَ النَّبِيِّ ﷺ وَيَجْعَلَهُ مِنْ جَوْهَرٍ وَذَهَبٍ وَفِضَّةٍ وَفَى أَنْ يُقَدِّمَ نَافِعَ بْنَ أَبِي نُعَيْمٍ إِمَامًا يُصَلِّي فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَمَّا تَعْلِيقُ الْمُوَطَّأِ فِي الْكَعْبَةِ فَإِنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ ﷺ اخْتَلَفُوا فِي الْفُرُوعِ وَتَفَرَّقُوا فِي الْآفَاقِ وَكُلٌّ عِنْدَ نَفْسِهِ مُصِيبٌ، وَأَمَّا نَقْضُ مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَاتِّخَاذُكَ إِيَّاهُ مِنْ جَوْهَرٍ وَذَهَبٍ وَفِضَّةٍ فَلَا أَرَى أَنْ تَحْرِمَ النَّاسَ أَثَرَ النَّبِيِّ ﷺ وَأَمَّا تَقْدِمَتُكَ نَافِعًا إِمَامًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَإِنَّ نَافِعًا إِمَامٌ فِي الْقِرَاءَةِ وَلَا يُؤْمَنُ أَنْ تَنْدُرَ مِنْهُ نَادِرَةٌ فِي الْمِحْرَابِ فَتُحْفَظَ عَلَيْهِ، قَالَ: وَفَّقَكَ اللهُ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ ".

Harun Al-Rasyid mengajak bermusyawarah dengan saya tentang tiga hal;

1] Tentang kitab al-Muwaththa digantung di Ka'bah dan membawa orang-orang untuk mengikuti apa yang ada di dalamnya.

2] Tentang mimbar Nabi untuk dihancurkan lalu dibuatkan untuknya dari permata, emas dan perak.

3] Dan tentang Naafi' bin Abi Nua'im agar ditunjuk sebagai imam shalat di masjid Rasulullah .

Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin; Adapun untuk menggantungkan al-Muwaththa di Ka'bah, maka para sahabat Rasulullah telah berbeda-beda dalam cabang-cabang agama dan mereka telah terpencar di segala penjuru negeri , dan masing-masing yang ada pada diri mereka adalah benar .

Adapun untuk menghancurkan mimbar Rasulullah lalu membuatkan untuknya dari permata, emas dan perak, maka saya berpandangan tidak boleh mengharamkan manusia untuk menjaga peninggalan Nabi .

Adapun pengangkatan anda terhadap Nafi' sebagai imam shalat di masjid Rasulullah , maka Nafi' adalah seorang imam dalam qira'ah , tidak perlu khawatir dia akan jarang di mihrab, maka dengan demikian akan terjaga dengan baik.

Lalu dia [Harun ar-Rasyid] berkata: " Semoga Allah memberimu taufiq , wahai Abu Abdullah".

[Lihat : Hilyatul Awliyaa 6/332 dan (Tahdzib nya ) 2/ 360].

====

KETIGA : PENOLAKAN TERHADAP KHALIFAH AL-MA'MUUN [ W. 198 H] :

Dari Abu Mushir , dia berkata:

" سَأَلَ الْمَأْمُونُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ هَلْ لَكَ دَارٌ؟ فَقَالَ: لَا، فَأَعْطَاهُ ثَلَاثَةَ آلَافِ دِينَارٍ وَقَالَ: اشْتَرِ لَكَ بِهَا دَارًا قَالَ: ثُمَّ أَرَادَ الْمَأْمُونُ الشُّخُوصَ وَقَالَ لِمَالِكٍ: ‌تَعَالَ ‌مَعَنَا ‌فَإِنِّي ‌عَزَمْتُ ‌أَنْ ‌أَحْمِلَ ‌النَّاسَ ‌عَلَى ‌الْمُوَطَّأِ ‌كَمَا ‌حَمَلَ ‌عُثْمَانُ ‌النَّاسَ عَلَى الْقُرْآنِ فَقَالَ لَهُ: مَا لَكَ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلٌ، وَذَلِكَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ ﷺ افْتَرَقُوا بَعْدَهُ فِي الْأَمْصَارِ فَحَدَّثُوا فَعِنْدَ كُلِّ أَهْلِ مِصْرٍ عِلْمٌ وَلَا سَبِيلَ إِلَى الْخُرُوجِ مَعَكَ فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ». وَقَالَ: «الْمَدِينَةُ تَنْفِي خَبَثَهَا كَمَا ينْفَى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ» وَهَذِهِ دَنَانِيرُكُمْ فَإِنْ شِئْتُمْ فَخُذُوهُ وَإِنْ شِئْتُمْ فَدَعُوهُ".

Al-Ma'mun bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullah : Apakah kamu punya rumah? Dia berkata: Tidak". Lalu dia memberinya tiga ribu dinar dan berkata: Belikan rumah untukmu dengan itu.

Dia [Abu Mushir] berkata : Kemudian Al-Ma'mun mengajak para tokoh. Lalu Dia berkata kepada Malik, "Ikutlah dengan kami, karena aku bertekad membuat orang-orang mengikuti Muwaththa' sebagaimana Utsman membawa orang-orang ke Al-Qur'an [Mushaf Utsmani]."

Dia berkata kepadanya : Tidak ada jalan untuk itu, karena para sahabat Nabi – radhiyallahu 'anhum - terebar setelah dia ke kota-kota yang berbeda , lalu mereka menyampaikan hadits-hadits, maka penduduk masing-masing kita memiliki ilmu tertentu, dengan demikian maka tidak jalan untuk keluar bersama anda.

Nabi bersabda :

(Dan Madinah lebih baik bagi mereka jika mereka hanya tahu)

Dan beliau juga bersabda :

(Madinah menghilangkan kotorannya seperti las pendai besi menghilangkan karat dari besi)

Dan ini adalah dinar Anda, jika Anda mau, ambillah, dan jika Anda mau, tinggalkan.

[Lihat : Hilyatul Awliyaa 6/331 dan (Tahdzib nya ) 2/ 359 ].

===***===

PARA SALAF SENANTIASA SALING MENGHORMATI PENDAPAT ORANG LAIN:

Para ulama dan para imam dari kalangan salaf dahulu, mereka senantiasa saling menghargai, saling menghormati dan saling mengakui terhadap perbedaan pendapat dalam berijtihad, mereka senantiasa menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, sebagaimana yang kita lihat pada Imam Malik, itu adalah sesuatu yang sudah umum di antara mereka. 

Berikut ini adalah perkataan sebagian para ulama salaf dan para imam mujtahid berkenaan dengan pengakuan mereka terhadap perbedaan pendapat. 

CONTOH -NYA :

[1] SUFYAN ATS-TSAURY (wafat : 161 H) :

Dalam "Adab al-Faqih wa al-Mutafaqqih" 2/69 karya al-Khathib, dari Imam Sufyan ats-Tsauri, beliau berkata:

«إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ العَمَلَ الَّذِي قَدِ اخْتُلِفَ فِيهِ وَأَنْتَ تَرَى غَيْرَهُ: فَلَا تَنْهَهُ».

"Jika engkau melihat seseorang melakukan suatu amalan yang diperselisihkan, dan engkau berpendapat sebaliknya, maka janganlah engkau melarangnya."

Tentang merutinkan qunut shubuh, Imam At Tirmidzi berkata:

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Berkata Sufyan Ats Tsauri: ‘Jika berqunut pada shalat shubuh, maka itu  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.’” [Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401].

[2] ABU HANIFAH (wafat 150 H) :

Pernyataan yang serupa juga datang dari seorang imam mujtahid lainnya, yaitu Imam Abu Hanifah rahimaullah , yang diriwayatkan oleh al-Khathib dalam Tarikh al-Baghdaad 13/352 :

«قَوْلُنَا هَذَا رَأْيٌ، وَهُوَ أَحْسَنُ مَا قَدَرْنَا عَلَيْهِ، فَمَنْ جَاءَنَا بِأَحْسَنَ مِنْ قَوْلِنَا، فَهُوَ أَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنَّا».

"Pendapat kami ini adalah sebuah pendapat, dan ini adalah yang terbaik yang kami mampu. Barangsiapa datang kepada kami dengan pendapat yang lebih baik dari pendapat kami, maka dia lebih berhak atas kebenaran daripada kami."

Bahkan dalam "al-Intiqa" (hal. 140) beliau berkata :

«هَذَا الَّذِي نَحْنُ فِيهِ رَأْيٌ لَا نُجْبِرُ أَحَدًا عَلَيْهِ، وَلَا نَقُولُ: يَجِبُ عَلَى أَحَدٍ قُبُولُهُ بِكَرَاهِيَةٍ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ شَيْءٌ أَحْسَنُ مِنْهُ فَلْيَأْتِ بِهِ».

"Apa yang kami tetapkan ini adalah sebuah pendapat yang tidak kami paksakan kepada siapa pun, dan tidak kami katakan bahwa wajib bagi seseorang untuk menerimanya dengan keberatan. Barangsiapa yang memiliki pendapat yang lebih baik darinya, maka hendaklah dia mengemukakannya."

[3] IBNU AL-MUBAARAK (wafat 181 H):

Betapa agungnya perkataan Ibnu al-Mubarak - dia termasuk para imam mujtahid -:

«إِنِّي لَأَسْمَعُ الْحَدِيثَ فَأَكْتُبُهُ، وَمَا مِنْ رَأْيِي أَنْ أَعْمَلَ بِهِ، وَلَا أَنْ أُحَدِّثَ بِهِ، وَلَكِنْ أَتَّخِذُهُ عُدَّةً لِبَعْضِ أَصْحَابِي إِنْ عَمِلَ بِهِ أَقُولُ: عَمِلَ بِالْحَدِيثِ».

"Aku mendengar hadits lalu menulisnya, meskipun aku tidak berpendapat untuk mengamalkannya. Atau aku meriwayatkannya, tetapi aku menganggapnya sebagai persiapan untuk sebagian sahabatku yang mengamalkannya. Aku katakan: Dia mengamalkan hadits tersebut". [Baca : "al-Kifāyah" karya al-Khaṭīb hal. 402, dan "Faḍā'il Abī anīfah" karya Ibnu Abī al-'Awām hal. 265].

Karena perkataan itu mengandung makna yang kita bicarakan, dan lebih dari itu, ia mencerminkan kemurahan hati dan kebaikan sifatnya terhadap sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum .

[4] YAHYA AL-QATHTHAN (wafat 198 H) :

Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan rahimahullah berkata:

مَا بَرَحَ أُولُو الْفَتْوَى يَفْتُونَ فَيُحَلُّ هَذَا وَيُحَرِّمُ هَذَا فَلَا يَرَى الْمُحَرَّمُ أَنَّ الْمُحَلَّ هَلَكَ لِتَحْلِيلِهِ وَلَا يَرَى الْمُحَلُّ أَنَّ الْمُحَرَّمَ هَلَكَ لِتَحْرِيمِهِ.

“Para ahli fatwa sering berbeda fatwanya, yang satu menghalalkan yang ini dan yang lain mengharamkannya. Tapi, mufti yang mengharamkan tidaklah menganggap yang menghalalkan itu binasa karena penghalalannya itu. Mufti yang menghalalkan pun tidak menganggap yang mengharamkan telah binasa karena fatwa pengharamannya itu.” [ Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/161 karya Imam Ibnu Abdil Bar]

[5] Al-IMAM AL-AWZAA’I (wafat 157 H) :

Al-Awza'i adalah salah satu imam mujtahid. Dalam kitab "al-Tamhid" 21/172, Ibnu Abdil Barr berkata 

«قَالَ الأُوزَاعِيُّ فِي الَّذِي يَقْبِّلُ امْرَأَتَهُ: إِنْ جَاءَ يَسْأَلُنِي قُلْتُ: يَتَوَضَّأُ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ لَمْ أَعِبْ عَلَيْهِ!».

"al-Awza'i berkata tentang orang yang mencium istrinya:

Jika dia datang bertanya kepadaku, maka aku katakan: dia harus berwudhu. Dan jika dia tidak berwudhu, maka akupun tidak mencelanya!"  " . [Lihat pula : "al-Istidzkar" jilid 1: 323, dan jilid 3: 50, dari cetakan Dr. Qulaji].

[6] IMAM SYAFI’I (wafat 204 H):

Imam Asy Syafi’i rahimahullah, juga Imam Malik berpendapat sunnahnya qunut shubuh. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal yang memandang tidak ada qunut shubuh.

Namun demikian telah diceritakan dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَال الْحَنَفِيَّةُ : فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الإْمَامِ ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ .

“Asy Syafi’i radhiallahu ‘anhu meninggalkan qunut dalam subuh ketika beliau shalat berjamaah bersama kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Berkata Hanafiyah: ‘Itu merupakan adab bersama imam.’ Berkata Asy Syafi’iyyah (pengikut Asy Syafi’i): ‘Bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.’” [Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah]

[7] IMAM AHMAD (wafat 241 H):

Dan yang serupa disebutkan tentang perkataan seorang Imam Mujtahid lainnya, yaitu Imam Ahmad, dalam kitab "Siyar A'lam al-Nubala'" (11/371 biografi Ishaq bin Raahuwiyah):

«قَالَ أَحْمَدُ: لَمْ يَعْبُرِ الْجِسْرَ إِلَى خُرَاسَانَ مِثْلُ إِسْحَاقَ، وَإِنْ كَانَ يُخَالِفُنَا فِي أَشْيَاءَ، فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَلْ يُخَالِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا».

"Ahmad berkata: Tidak ada yang menyeberangi jembatan menuju Khurasan yang seperti Ishaq, meskipun dia berbeda pendapat dengan kami dalam beberapa hal, karena manusia selalu berbeda pendapat satu sama lain."

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah  mengomentari orang yang shalat dua rakaat setelah Ashar:

"لا نَفْعَلُهُ وَلا نُعِيبُ فَاعِلَهُ."

“Kami tidak melakukannya tapi kami tidak juga menilai aib orang yang melakukannya.” [Al Mughni, 2/87 dan Syarhul Kabir, 1/802]

Dan tentang qunut shubuh,  diceritakan sebagai berikut:

فقد كَانَ الإمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ يَرَى أَنَّ القُنُوتَ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ بِدْعَةٌ، وَيَقُولُ: إِذَا كُنْتَ خَلْفَ إِمَامٍ يَقْنُتُ فَتَابِعْهُ عَلَى قُنُوتِهِ، وَأَمِّنْ عَلَى دُعَائِهِ، كُلُّ ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ اتِّحَادِ الكَلِمَةِ، وَاتِّفَاقِ القُلُوبِ، وَعَدَمِ كَرَاهَةِ بَعْضِنَا لِبَعْضٍ.

“Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan: ‘Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.’” [Syarhul Mumti’ 4/25 karya Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Mawqi’ Ruh Al Islam]

Abu Dawud berkata:

«سَمِعْتُ أَحْمَدَ وَسُئِلَ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ؟ قَالَ: أَنَا لَا أَفْعَلُهُ، فَإِنْ فَعَلَهُ فَلَا بَأْسَ بِهِ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ ذَلِكَ بِزَمَانٍ يَسْتَحْسِنُهُ وَيَرَاهُ».

"Aku mendengar Ahmad ditanya tentang dua rakaat sebelum Maghrib? Beliau berkata: 'Aku tidak melakukannya, tetapi jika seseorang melakukannya, maka tidak mengapa.'

Abu Dawud berkata: 'Aku mendengarnya sebelum itu beberapa waktu yang lalu, dia menganggapnya bagus dan juga berpendapat yang sama.'" [Masā'il al-Imām Amad al-Fiqhiyyah karya Abu Dāwūd Hal. 72].

Dalam "al-Tamhid" 11/139 dari al-Atsram, dia berkata:

«سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ - يَعْنِي أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ - يَقُولُ فِي مَنْ تَأَوَّلَ: إِنَّهُ لَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ خَلْفَهُ إِذَا كَانَ لِتَأْوِيلِهِ وَجْهٌ فِي السُّنَّةِ».

"Aku mendengar Abu Abdillah - yaitu Ahmad bin Hanbal - berkata tentang orang yang melakukan ta'wil: Tidak mengapa shalat di belakangnya jika ta'wilnya memiliki dasar dalam sunnah." [Baca : al-Jaami’ Li ‘Uluumi al-Imam Ahmad 6/355 dan Dzakhiiratul ‘Uqbaa 3/130].

Dan para pengikut mereka juga mengikuti jalan ini, dan penjelasan tentang keadaan mereka akan panjang, dan penulis merasa tidak perlu menjelaskannya dan memperluasnya.

Cukup sekian sebagai contoh, dan di sana masih banyak lagi. Contoh-contoh di atas sudah cukup mewakili betapa luas, luwes, dan lapang dada para imam generasi  awal terhadap perbedaan pendapat di antara mereka.

===***===

SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUSSUNNAH DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN PENDAPAT QUNUT SUBUH

Persoalan qunut Subuh merupakan masalah perselisihan fiqih sejak zaman para sahabat Nabi. Ini termasuk perselisihan yang paling banyak menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan sampai memecahkan barisan dan persatuan kaum muslimin.

Para imam kita telah menegaskan kaidah,

«الِاجْتِهَادُ لَا يُنْقَضُ بِالِاجْتِهَادِ»

“Suatu ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh ijtihad lainnya”.

PERTAMA : AL-IMAM ASY-SYAFI’IY

Beliau adalah salah satu dari imam empat madzhab terkenal di dunia Islam, khususnya Ahlus Sunnah, yang memiliki jutaan pengikut di berbagai belahan dunia Islam. Beliau termasuk yang membolehkan qunut Subuh. Beliau sendiri memiliki sikap yang amat bijak ketika datang ke jamaah yang tidak berqunut shubuh.

Diceritakan dalam Al-Mausu’ah sebagai berikut:

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَال الْحَنَفِيَّةُ: «فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الإِمَامِ»، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: «بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ»

Asy-Syafi’i ra. meninggalkan qunut pada shalat Subuh ketika beliau shalat bersama jamaah kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Berkata Hanafiyah: “Itu merupakan adab bersama imam.” Berkata asy-Syafi’iyyah (pengikut asy-Syafi’i): “Bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.”

[Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah]

KEDUA : IMAM AHMAD BIN HANBAL

Imam Ahmad bin Hambal termasuk yang menolak qunut Subuh, namun beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap. Hal ini dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, yaitu:

وَانْظُرُوا إِلَى الأَئِمَّةِ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ مِقْدَارَ الِاتِّفَاقِ، فَقَدْ كَانَ الإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ يَرَى أَنَّ القُنُوتَ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ بِدْعَةٌ، وَيَقُولُ:

«إِذَا كُنْتَ خَلْفَ إِمَامٍ يَقْنُتُ فَتَابِعْهُ عَلَى قُنُوتِهِ، وَأَمِّنْ عَلَى دُعَائِهِ، كُلُّ ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ اتِّحَادِ الكَلِمَةِ، وَاتِّفَاقِ القُلُوبِ، وَعَدَمِ كَرَاهَةِ بَعْضِنَا لِبَعْضٍ».

“Lihatlah para imam yang mengetahui banyak kesepakatan, adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan:

“Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan do’anya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.”

(Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)

KETIGA : IMAM SUFYAN ATS-TSAURY .

Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip Imam at-Tirmidzi yaitu,

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: «إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ وَاخْتَارَ أَنْ لَا يَقْنُتَ وَلَمْ يَرَ ابْنُ الْمُبَارَكِ الْقُنُوتَ فِي الْفَجْرِ»

Sufyan Ats Tsauri berkata; "Jika seseorang melakukan qunut dalam shalat subuh maka itu baik, jika tidak maka itu juga baik." Dan Sufyan Ats Tsauri memilih untuk tidak melakukan qunut.

Demikian juga Ibnu Al Mubarak, ia tidak melakukan qunut dalam shalat subuh . ( Lihat : Sunan at-Turmudzy di bawah hadits no. 368 ).

KEEMPAT : IMAM IBNU HAZM ulama madzhab adz-Dzoohiriyah .

Beliau berpendapat, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam asy-Syaukani,

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ حَزْمٍ: «كُلٌّ مِنَ الفِعْلِ وَالتَّرْكِ حَسَنٌ».

“Berkata ats-Tsauri dan Ibnu Hazm: “Siapa saja yang melakukan qunut shubuh dan yang meninggalkan-nya, adalah baik.”

KELIMA : SYEIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH .

Beliau memiliki pandangan yang jernih dalam hal qunut shubuh ini. Walau beliau sendiri lebih mendukung pendapat yang tidak berqunut. Berikut ini ucapannya:

وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ إنَّمَا النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ فِي اسْتِحْبَابِهِ أَوْ كَرَاهِيَتِهِ وَسُجُودِ السَّهْوِ لِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ وَإِلَّا فَعَامَّتُهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ مَنْ تَرَكَ الْقُنُوتَ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ وَكَذَلِكَ مَنْ فَعَلَهُ

“Demikian juga qunut subuh, sesungguhnya perselisihan di antara mereka hanyalah pada istihbab-nya (disukai) atau makruhnya (dibenci). Begitu pula perseleihan seputar sujud sahwi karena meninggalkannya atau melakukannya, jika pun tidak qunut, maka kebanyakan mereka sepakat atas sahnya shalat yang meninggalkan qunut, karena itu bukanlah wajib. Demikian juga orang yang melakukannya.” [lihat : Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 5/185. Mauqi’ Al Islam]

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa berqunut atau tidak dalam shalat shubuh , maka sholatnya tetap shahih. Perbedaan terjadi pada yang mana yang lebih utama?.

Beliau berkata :

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ إذَا فَعَلَ كُلًّا مِنْ الْأَمْرَيْنِ كَانَتْ عِبَادَتُهُ صَحِيحَةً، وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ: لَكِنْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْأَفْضَلِ.

وَفِيمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُهُ، وَمَسْأَلَةُ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَالْوِتْرِ، مِنْ جَهْرٍ بِالْبَسْمَلَةِ، وَصِفَةِ الِاسْتِعَاذَةِ وَنَحْوِهَا، مِنْ هَذَا الْبَابِ.

فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ مَنْ جَهَرَ بِالْبَسْمَلَةِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ خَافَتْ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَعَلَى أَنَّ مَنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ لَمْ يَقْنُتْ فِيهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْوِتْرِ.

Ulama sepakat bahwa melakukan salah satu di antara dua hal maka ibadahnya tetap shahih (sah), dan tidak berdosa atasnya, tetapi mereka berbeda pendapat tentang yang mana yang lebih utama / lebih afdhol ?.

Begitu juga perbedaan pendapat tentang masalah-masalah yang mana yang dilakukan oleh Nabi ? seperti masalah qunut pada shubuh dan witir, mengeraskan bacaan bismillah, bentuk isti’adzah, dan hal semisalnya , maka semua itu termasuk dalam pembahasan ini.

Mereka sepakat bahwa orang yang mengeraskan basmalah adalah sah shalatnya, dan yang tidak mengerasknannya juga sah shalatnya, yang berqunut shubuh sah shalatnya, begitu juga yang berqunut pada witir.

[Lihat : Al Fatawa Al Kubra, 2/116, Cet. 1, 1987M-1408H. Darul Kutub Al ’Ilmiyah]

KEENAM : IBNU QOYYIM AL-JAUZIYAH .

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, beliau termasuk yang melemahkan pendapat qunut shubuh sebagaimana beliau uraikan dalam kitabnya “Zaadul Ma’ad”, dan baginya adalah hal mustahil Rasulullah merutinkannya pada shalat shubuh. Tetapi, tak satu pun kalimat darinya yang menyebut bahwa qunut shubuh adalah bid’ah, walau dia mengutip beberapa riwayat shahabat yang membid’ahkannya.

Bahkan Beliau sendiri mengakui bahwa Rasulullah , kadang melakukan qunut dalam shalat shubuh. Berikut ini ucapannya:

«كَانَ تَطْوِيلَ الْقِرَاءَةِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يُخَفّفُهَا أَحْيَانًا وَتَخْفِيفَ الْقِرَاءَةِ فِي الْمَغْرِبِ وَكَانَ يُطِيلُهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِيهَا أَحْيَانًا وَالْإِسْرَارَ فِي الظّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْقِرَاءَةِ ِكَانَ يُسْمِعُ الصّحَابَةَ الْآيَةَ فِيهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْجَهْرِ بِالْبَسْمَلَةِ وَكَانَ يَجْهَرُ بِهَا أَحْيَانًا»

“Dahulu Nabi memanjangkan bacaan pada shalat shubuh dan kadang meringankannya, meringankan bacaan dalam shalat Maghrib dan kadang memanjangkannya, beliau meninggalkan qunut dalam subuh dan kadang dia berqunut, beliau tidak mengeraskan bacaan dalam shalat Ashar dan kadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat, beliau tidak mengeraskan bacaan basmalah dan kadang beliau mengeraskan.” [Zaadul Ma’ad, 1/247. Muassasah Ar Risalah]

Beliau tidaklah mengingkari qunut secara mutlak, yang beliau ingkari adalah anggapan bahwa qunut subuh dilakukan terus menerus.

Berikut ini ucapannya:

«وَقَنَتَ فِي الفَجْرِ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا، ثُمَّ تَرَكَ القُنُوتَ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ هَدْيِهِ القُنُوتُ فِيهَا دَائِمًا، وَمِنَ المَحَالِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ فِي كُلِّ غَدَاةٍ بَعْدَ اعْتِدَالِهِ مِنَ الرُّكُوعِ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ..." إلخ، وَيَرْفَعُ بِذَلِكَ صَوْتَهُ، وَيُؤَمِّنُ عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ دَائِمًا إِلَى أَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا».

“(Beliau) Qunut dalam shubuh setelah ruku selama satu bulan, kemudian meninggalkan qunut. Dan, bukanlah petunjuk beliau melanggengkan qunut pada shalat shubuh, dan termasuk hal mustahil bahwa Rasulullah setiap paginya setelah i’tidal dari ruku mengucapkan:

«اللَّهُمَ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ…» الخ

Dengan meninggikan suaranya, dan selalu diaminkan oleh para sahabatnya sampai meninggalkan dunia. [Ibid, 1/271]

Lalu beliau mengutip pertanyaan Sa’ad bin Thariq Al Asyja’i kepada ayahnya, di mana ayahnya pernah shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, apakah mereka pernah qunut subuh? Ayahnya menjawab: Anakku, itu adalah muhdats (perkara yang diada-adakan). [HR. Ahmad, At Tirmidzi, dan lainnya, At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih]

Beliau juga mengutip dari Said bin Jubair, dia berkata aku bersaksi bahwa aku mendengar, dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Qunut yang ada pada shalat subuh adalah bid’ah.” [HR. Ad Daruquthni No. 1723]

Tetapi riwayat ini dhaif (lemah). ( Lihat : Nashbur Rayyah, 3/183).

Imam Al Baihaqi mengatakan : tidak shahih. (baca : Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/345. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Karena di dalam sanadnya ada periwayat bernama Abdullah bin Muyassarah dia adalah seorang yang dhaiful hadits (hadits darinya dhaif). ( Baca : Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 6/ 44. Lihat juga Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 16/197)

Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah. Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits.

Beliau berkata :

فَأَهْلُ الحَدِيثِ مُتَوَسِّطُونَ بَيْنَ هَؤُلَاءِ وَبَيْنَ مَنْ اسْتَحَبَّهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ وَغَيْرِهَا، وَهُمْ أَسْعَدُ بِالحَدِيثِ مِنَ الطَّائِفَتَيْنِ، فَإِنَّهُمْ يَقْنُتُونَ حَيْثُ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَيَتْرُكُونَهُ حَيْثُ تَرَكَهُ، فَيَقْتَدُونَ بِهِ فِي فِعْلِهِ وَتَرْكِهِ، وَيَقُولُونَ: فِعْلُهُ سُنَّةٌ، وَتَرْكُهُ لِسُنَّةٍ، وَمَعَ هَذَا فَلَا يُنْكِرُونَ عَلَى مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْرَهُونَ فِعْلَهُ، وَلَا يَرَوْنَهُ بِدْعَةً، وَلَا فَاعِلَهُ مُخَالِفًا لِلسُّنَّةِ، كَمَا لَا يُنْكِرُونَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ، وَلَا يَرَوْنَ تَرْكَهُ بِدْعَةً، وَلَا تَارِكَهُ مُخَالِفًا لِلسُّنَّةِ، بَلْ مَنْ قَنَتَ، فَقَدْ أَحْسَنَ، وَمَنْ تَرَكَهُ، فَقَدْ أَحْسَنَ.

Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini.

Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya.

Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunnah, meninggalkannya juga sunnah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya telah berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” [Ibid, 1/274-275]

Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

Para Ulama Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia, mereka saat itu diketuai oleh Syaikh Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah. Sebenarnya secara resmi Lajnah Daimah membid’ahkan perilaku merutinkan qunut pada shubuh, sebagaimana fatwa No. 2222. Namun, pada fatwa lainnya – yang ditanda tangani oleh Syaikh Bin Baaz, Syaikh Abdullah bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Ghudyan, dan Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi- mereka pun memberikan pandangan bijak, sebagai berikut:

وَبِالجُمْلَةِ فَتَخْصِيصُ صَلَاةِ الصُّبْحِ بِالقُنُوتِ مِنَ المَسَائِلِ الخِلَافِيَّةِ الِاجْتِهَادِيَّةِ، فَمَنْ صَلَّى وَرَاءَ إِمَامٍ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ خَاصَّةً قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ فَعَلَيْهِ أَنْ يُتَابِعَهُ، وَإِنْ كَانَ الرَّاجِحُ الِاقْتِصَارَ فِي القُنُوتِ بِالفَرَائِضِ عَلَى النَّوَازِلِ فَقَطْ.

“Maka, secara global mengkhususkan doa qunut pada shalat subuh merupakan masalah khilafiyah ijtihadiyah. Barang siapa yang shalat di belakang imam yang berqunut subuh, baik sebelum atau sesudah rukuk, maka hendaknya dia mengikutinya. Walau pun pendapat yang paling kuat adalah membatasi qunut hanya ada pada nazilah saja.” [Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’, No. 902]

Syaikh Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, beliau ditanya:

"عِنْدَنَا إِمَامٌ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ بِصِفَةٍ دَائِمَةٍ، فَهَلْ نُتَابِعُهُ؟ وَهَلْ نُؤَمِّنُ عَلَى دُعَائِهِ؟".

Kami memiliki imam yang berqunut pada shalat shubuh yang melakukannya secara terus menerus, apakah kami mesti mengikutinya? Dan apakah kami mesti mengaminkan doanya?

Beliau menjawab:

"مَن صَلَّى خَلْفَ إِمَامٍ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ فَلْيُتَابِعِ الإِمَامَ فِي القُنُوتِ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ، وَيُؤَمِّنْ عَلَى دُعَائِهِ بِالخَيْرِ، وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى".

Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat shubuh, maka hendaknya dia mengikuti imam berqunut pada shalat shubuh, dan mengaminkan doanya dengan baik. Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah. [Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Majmu’ Fafatwa, 14/177]

Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al Jabrain Rahimahullah, beliau berpendapat jika qunut dilakukan tanpa sebab maka itu makruh, namun dia tetap menasihati agar jika ada yang melakukan karena mengikuti pendapat mazhab Syafi’i maka itu jangan ingkari.

Beliau berkata :

"وَبِكُلِّ حَالٍ فَمَن قَنَتَ تَبَعًا لِلشَّافِعِيَّةِ فَلا يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَلَكِنَّ الصَّحِيحَ أَنَّهُ لا يُشْرَعُ. وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْهُ ﷺ، الاِسْتِمْرَارُ عَلَيْهِ. فَالأَظْهَرُ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ بِلَا سَبَبٍ وَاللهُ أَعْلَمُ".

Bagaimana pun juga, bagi siapa saja yang berqunut karena mengikuti syafi’iyah maka jangan diingkari, tetapi yang benar adalah itu tidak disyariatkan. Tidak ada yang pasti dari Rasulullah bahwa beliau merutinkannya. Maka, yang nampak adalah hal itu makruh dilakukan tanpa sebab. Wallahu A’lam. [ lihat : Fatawa Islamiyah, 1/454. Dikumpulkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid]

Pemaparan ini bukanlah dalam rangka mengaburkan permasalahan, tetapi dalam rangka – sebagaimana kata Imam Ahmad- menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghapuskan kebencian sesama kaum muslimin. Sebab, para imam yang berselisih pendapat pun memiliki sikap yang tidak melampaui batas-batas akhlak dan adab Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam fiqih. Sudah selayaknya kita mengambil banyak pelajaran dari para A’immatil A’lam (imam-imam dunia) ini.

===***===

PENUTUP:

Rasulullah bersabda :

«‌إِنَّمَا ‌الأَعْمَالُ ‌بِالنِّيَّاتِ، ‌وَإِنَّمَا ‌لِكُلِّ ‌امْرِئٍ ‌مَا ‌نَوَى»

Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

[Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1) dan Abu Dawud (2201), keduanya dengan lafaz yang sama, serta oleh Muslim (1907) dengan lafaz yang hampir serupa]

Ini adalah hadits Nabi yang mulia, yang dianggap sebagai salah satu hadits terpenting dalam agama Islam. Pertama, perlu dipahami bahwa ada perbedaan antara perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat, dengan perbuatan yang secara tegas dilarang untuk dilakukan. Ada banyak perkara yang dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum namun tidak dilakukan oleh Rasulullah , tetapi hal itu tidak serta-merta dianggap sebagai bidah tercela.

Salat jenazah untuk orang yang ghaib. Mazhab Syafi‘i melaksanakan salat jenazah untuk orang yang wafat dan belum disalatkan di tempat ia meninggal, berdasarkan bahwa Rasulullah pernah menyalatkan jenazah Raja Najasyi. Ibadah ini tidak dilakukan secara rutin oleh Rasulullah , namun menurut sebagian ulama tidak dianggap sebagai bidah tercela.

Perilaku individual. Sebagian sahabat melakukan amalan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah , seperti salat dua rakaat setelah berwudhu, sebagaimana yang dilakukan oleh Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu.

Penting untuk dicatat : bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apa yang dianggap sebagai bidah tercela dan apa yang tidak.

Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap perkara yang tidak dilakukan atau tidak diperintahkan oleh Rasulullah termasuk bidah tercela, sementara yang lain berpendapat bahwa ada perkara-perkara yang boleh dilakukan dan tidak dianggap bidah tercela selama tidak mengubah hakikat ibadah dan tidak bertentangan dengan dalil umum yang mensyari’atkannya.

Semoga keselamatan serta rahmat Allah tercurah kepada kita semuanya.

Posting Komentar

0 Komentar