PERKATAAN HUDZAIFAH (RA) INI TIDAK BERSANAD :
“Setiap ibadah yang tidak diamalkan para sahabat, janganlah kalian amalkan”.
Di
Tulis Oleh Kang Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
----
LAFADZ ATSAR HUDZAIFAH BIN AL-YAMAN (RA)
Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma berkata:
«كُلُّ عِبَادَةٍ
لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَلَا تَتَعَبَّدُوا بِهَا؛ فَإِنَّ
الْأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلْآخِرِ مَقَالًا؛ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ،
خُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ».
“Setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, maka janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya generasi pertama tidak menyisakan celah bagi generasi terakhir.
Maka bertakwalah kepada Allah wahai para qori al-Qur'an,
dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian”.
****
PENELUSURAN KEBERADAAN LAFADZ ATSAR
Saya sebagai penulis artikel ini telah berusaha menelusuri
keberadaan lafadz atsar Hudzaifah ini. Namun atsar Hudzaifah yang sesuai lafadz
matan diatas, penulis tidak menemukannya dengan riwayat bersanad.
Para ulama yang menyebutkan
atsar Hudzaifah ini ada 4 kelompok:
Kelompok pertama :
Ulama yang menisbatkan atsar tersebut kepada Abu Daud dalam kitab as-Sunan. Padahal sama sekali tidak ditemukan di dalamnya.
Diantaranya:
1]. Abu Syamah dalam kitab al-Ba‘its (halaman 70–71,
tahqiq Masyhur Salman).
2] As-Suyuthi dalam al-Amr bil-Ittiba‘ (halaman 62,
tahqiq Masyhur, cetakan ke-3, tahun 1422 H).
3] Al-Qasimi dalam Ishlah al-Masajid (halaman 14,
cetakan ke-6, tahun 1422 H).
4] Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (lihat: Rasa’il fi
Hukm al-Ihtifal bil-Maulid an-Nabawi, jilid 1 halaman 28–29). Dan juga selain
mereka.
Kelompok ke dua:
Para ulama yang menisbatkannya hanya kepada Abu Dawud saja,
tanpa menyebutkan kitab as-Sunan. Diantaranya adalah sbb :
A]. Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Fadhl al-Islam
beserta syarahnya I‘lam al-Anam (halaman 226; Ushul al-Iman, bab kewajiban
mengikuti salaf).
B]. As-Sahsawani dalam Shiyanah al-Insan (halaman 329,
cetakan ke-5, tahun 1395 H).
Penulis telah menelaah berbagai cetakan Sunan Abu
Dawud beserta syarah-syarahnya yang dapat penulis akses, namun tidak
menemukannya pada tempat yang semestinya, yaitu dalam Kitab as-Sunnan.
Penulis juga menelaah kitab az-Zuhd karya beliau, dan
aku menemui atsar tersebut di dalamnya, namun tanpa ada tambahan lafadz di
awalnya.
Kelompok ketiga :
Ulama yang menisbatkan atsar ini kepada Ibnu Baththah
dalam kitab al-Ibanah.
Diantaranya adalah Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari
(al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih, hlm. 209, cetakan ke-3, 1425 H).
Namun saya sendiri telah menelusurinya, namun tidak
menemukannya dalam bagian yang telah dicetak dari kitab tersebut.
Kelompok keempat :
Para ulama yang menyebutkan atsar ini tanpa penisbatan sumber
perawinya. Diantara nya adalah sbb:
1] Asy-Syathibi dalam al-I‘tishom (jilid 2 halaman 630,
tahqiq al-Hilali cetakan pertama; jilid 3 halaman 53, tahqiq Masyhur).
2] Al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dha‘ifah (jilid 1
halaman 551), juga dalam Hajjatu an-Nabi (halaman 100, cetakan ke-5, al-Maktab
al-Islami), al-Manasik (halaman 42), dan at-Tawassul (halaman 27, cetakan ke-3,
al-Maktab), dan selain mereka.
===***===
PENJELASAN PENULIS:
Orang yang pertama kali menyebutkan atsar Hudzaifah dengan
lafadz seperti ini, ada kemungkinan adalah Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya al-Ba‘its ‘Alaa
Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, yang lafadznya sbb:
Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma:
«كُلُّ عِبَادَةٍ
لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَلَا تَتَعَبَّدُوا بِهَا؛ فَإِنَّ
الْأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلْآخِرِ مَقَالًا؛ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ،
خُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ».
“Setiap ibadah yang tidak dilakukan sebagai bentuk
ibadah oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, maka janganlah kalian melakukannya sebagai ibadah. Karena
generasi awal tidak meninggalkan celah pembicaraan bagi generasi akhir. Maka
bertakwalah kepada Allah wahai para qari, dan tempuhlah jalan orang-orang
sebelum kalian.”
Dan Abu Syamah sendiri menisbatkan atsar ini kepada kitab
Sunan Abu Dawud, dia berkata:
"وَفِي سُنَنِ
أَبِي دَاوُدَ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
....".
“Dan dalam Sunan Abu Dawud, dari Hudzaifah
bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhuma....”.
Husamuddin Affanah berkata dalam kitabnya Ittiba’ La
Ibtida’ halaman 18 nomor 8:
"رَوَاهُ اللَّالِكَائِيُّ
فِي شَرْحِ أُصُولِ اعْتِقَادِ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ فِي السُّنَّةِ،
وَأَبُو نُعَيْمٍ وَابْنُ عَسَاكِرَ، وَذَكَرَهُ أَبُو شَامَةَ فِي الْبَاعِثِ، وَعَزَاهُ
لِأَبِي دَاوُدَ، وَكَذَلِكَ فَعَلَ السُّيُوطِيُّ وَغَيْرُهُ،
وَقَالَ الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ: لَمْ
أَجِدْهُ فِي السُّنَنِ".
“Hadis ini diriwayatkan oleh al-Lalikai dalam Syarh
Ushul I‘tiqad Ahlus Sunnah, oleh Muhammad bin Nashr dalam as-Sunnah, oleh Abu
Nu‘aim dan Ibnu ‘Asakir.
Abu Syamah juga menyebutkannya dalam al-Ba‘its dan
menisbatkannya kepada Abu Dawud. Hal yang sama juga dilakukan oleh as-Suyuthi
dan selainnya.
Akan tetapi Syaikh al-Albani berkata: Aku
tidak menemukannya dalam kitab-kitab Sunan”.
Lihat: al-Ba‘its halaman 15–16, al-I‘tisam karya
asy-Syatibi 1/386, Ishlah al-Masajid halaman 12, as-Silsilah ad-Dha‘ifah 1/374,
dan al-Amr bil-Ittiba‘ karya as-Suyuthi halaman 62.
===
KESIMPULAN:
Kesimpulan-nya lafadz matan atsar Hudzaifah diatas yang
telah tersebar luas, tidak diketemukan bersanad alias lafadznya PALSU.
LAFADZ ATSAR HUDZAIFAH YANG SHAHIH BERSANAD ADALAH BERIKUT INI:
Adapun lafadz matan yang shahih dari atsar Hudzaifah
bin al-Yaman -radhiayllahu ‘anhuma- yang ada kemiripan dengan lafadz matan
diatas adalah atsar Hudzaifah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (7282), Abu
Nu‘aim dalam al-Hilyah 9/218 dan lainnya:
Pertama : lafadz riwayat Imam
Bukhori (7282)
«يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ
اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا،
لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Wahai para qori al-Qur'an, luruslah kalian, karena
sungguh kalian telah mendahului dengan suatu keunggulan yang jauh. Namun jika
kalian mengambil jalan ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian akan tersesat
dengan kesesatan yang jauh”.
Maka barangkali ini adalah atsar ini yang dimaksud,
karena yang terakhir ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd 1/288
dan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah 1/335.
Kedua : riwayat Abu Daud dalam
az-Zuhud hal. 242 no. 267:
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah,
ia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir, dan … dari al-A‘masy, dari
Ibrahim, dari Hammam bin al-Harits, ia berkata:
مَرَّ عَلَيْنَا حُذَيْفَةُ، وَنَحْنُ
فِي حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ نَتَحَدَّثُ، فَقَالَ:
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، اسْلُكُوا
الطَّرِيقَ، وَاللَّهِ لَئِنْ سَلَكْتمُوهُ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنِ
اتَّخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Hudzifah pernah melewati kami ketika kami berada dalam
sebuah halaqah di masjid sedang berbincang-bincang. Maka ia berkata:
Wahai para qori Al-Qur’an, tempuhlah jalan yang lurus.
Demi Allah, jika kalian menempuh jalan itu, sungguh kalian akan mendahului
dengan keunggulan yang jauh. Dan jika kalian mengambil jalan ke kanan dan ke
kiri, sungguh kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh.
Ketiga : riwayat Ibnu
al-Mubarak dalam az-Zuhud wa ar-Roqoo’iq 1/16 no. 47 :
Telah mengabarkan kepada kalian Abu Umar bin Hayawaih
dan Abu Bakar al-Warraq, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Yahya,
ia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Husain, ia berkata: telah
mengabarkan kepada kami Ibnu al-Mubarak, ia berkata: telah mengabarkan kepada
kami Abdullah bin Aun, dari Ibrahim, ia berkata: Hudzaifah berkata:
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ
لَئِنِ اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ
يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Bertakwalah kepada Allah wahai para qori al-Qur'an, dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah, jika
kalian tetap lurus di atasnya niscaya kalian akan melampaui dengan keunggulan
yang jauh. Dan jika kalian meninggalkannya ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian
akan tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Keempat : riwayat al-Marwazi
dalam as-Sunnah hal. 30 no. 86 :
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah
menceritakan kepada kami Sulaim bin Akhdar, dari Ibnu ‘Aun, dari Ibrahim, ia
berkata: Hudzaifah berkata:
" اتَّقُوا
اللَّهَ مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ
لَئِنِ اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ
شِمَالًا وَيَمِينًا ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا، أَوْ قَالَ: مُبِينًا "
“Bertakwalah kepada Allah wahai para pembaca
Al-Qur’an, dan tempuhlah jalan orang-orang yang telah ada sebelum kalian. Demi
Allah, jika kalian istiqamah di atasnya, sungguh kalian telah mendahului dengan
keunggulan yang sangat jauh. Namun jika kalian meninggalkannya ke kiri dan ke
kanan, niscaya kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh,” atau ia
berkata: “yang nyata.”
Ke lima : riwayat Abu Bakar
bin Mujahid al-Baghdadi
(wafat 324 H) dalam
as-Sab’ah fii Al-Qiro’aat hal. 46:
Abu Zakariyya Yahya bin Muhammad al-Hubbali berkata:
`Abdullah bin Mu'adh bin Mu'adh berkata: Bapakku berkata: Ibnu ‘Awn berkata
dari Ibrahim, ia berkata: Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ
لَئِنِ اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ
يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
"Bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian pembaca
Al-Qur’an, dan ikutilah jalan orang-orang yang telah mendahului kalian. Demi
Allah, jika kalian tetap teguh, kalian pasti telah mendahului dengan kemajuan
yang jauh, dan jika kalian meninggalkannya ke kanan dan kiri, kalian pasti
telah tersesat dengan kesesatan yang jauh."
Ke enam : riwayat al-Mustaghfari
dalam Fado’il al-Qur’an 1/371 no. 442 :
Zahir berkata kepada kami, Ibnu Mujahid berkata: Abu
Zakariya Yahya bin Muhammad al-Janabi berkata kepada kami, Abdullah bin Mu’adz
bin Mu’adz dari ayahnya berkata: Ibnu ‘Awn berkata dari Ibrahim, ia berkata:
Hudzaifah berkata.
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ لَئِنِ
اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ يَمِينًا
وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Bertakwalah kepada Allah wahai para qori al-Qur'an, dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah, jika
kalian istiqamah, sungguh kalian telah mendahului dengan keunggulan yang jauh;
dan jika kalian menyimpang ke kanan dan ke kiri darinya, sungguh kalian telah
tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Ke tujuh : riwayat Abu ‘Amr
ad-Daani dalam Jami’ al-Bayan Fii al-Qiro’at as-Sab’i 1/136 no. 122:
Muhammad bin Ali berkata kepada kami: Ibnu Mujahid
berkata kepada kami: Yahya bin Muhammad al-Hannā’i berkata kepada
kami: ‘Ubaidullah bin Mu’adh berkata kepada kami: Ayahku berkata kepada kami:
Ibnu ‘Awn berkata dari Ibrahim, ia berkata: Hudzaifah berkata :
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ لَئِنِ
اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ يَمِينًا
وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Bertakwalah kepada Allah wahai para qori al-Qur'an, dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah, jika
kalian istiqamah, sungguh kalian telah mendahului dengan keunggulan yang jauh;
dan jika kalian menyimpang ke kanan dan ke kiri darinya, sungguh kalian telah
tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Ke delapan : riwayat Ibnu Abdil
Barr dalam Jaami’ Bayan al-Ilmi 2/947 no. 1809:
Ahmad bin Abdullah berkata kepada kami, Hasan bin
Isma’il berkata kepada kami, ‘Abd al-Malik bin Bahr berkata kepada kami,
Muhammad bin Isma’il berkata kepada kami, Sunaid berkata kepada kami, Yahya bin
Zakariya berkata dari Ibnu ‘Awn, dari Ibrahim, dari Hudzaifah, bahwa ia berkata
:
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ، وَخُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَوَاللَّهِ لَئِنِ
اسْتَقَمْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ تَرَكْتُمُوهُ يَمِينًا
وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Bertakwalah kepada Allah wahai para qori al-Qur'an, dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah, jika
kalian istiqamah, sungguh kalian telah mendahului dengan keunggulan yang jauh;
dan jika kalian menyimpang ke kanan dan ke kiri darinya, sungguh kalian telah
tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Ke sembilan : riwayat al-Laalikaa’i
dalam Syarah Ushul al-I’tiqod 1/101 no. 119 :
Telah menceritakan kepada kami Kuhi bin al-Hasan,
bahwa Ahmad bin al-Qasim memberitakan kepada kami, bahwa al-Hasan bin Hammad
Sajjadah berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, dari Ibnu ‘Awn, dari Ibrahim,
dia berkata: Hudzifah berkata:
«اتَّقُوا اللَّهَ
يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ ، خُذُوا طَرِيقَ مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ سَبَقْتُمْ
لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا ، وَإِنْ تَرَكْتُمُوهُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ
ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
“Bertakwalah kepada Allah, wahai para qori al-Qur'an, ambillah jalan orang-orang sebelum kalian, demi Allah, jika kalian
mengikuti, kalian sungguh telah mendahului dengan kemajuan yang jauh, dan jika
kalian meninggalkannya ke kanan dan ke kiri, kalian sungguh telah tersesat
dengan kesesatan yang jauh”.
===
RIWAYAT MU’ALLAQ (TANPA SANAD)
Telah diriwayatkan secara mu’allaq (tanpa sanad) dari Hudzaifah
radhiyallahu ‘anhu, oleh banyak para ulama, diantaranya adalah sbb :
1]- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam as-Sunnah
1/133 no. 106.
2]- Sholeh bin Ahmad bin Hanbal dalam Siirah al-Imam Ahmad
bin Hanbal hal. 120
Abu Nu’iam al-Ashbahani dalam al-Hilyah 9/218.
3]- Abu al-Qosim as-Ashbahani, Qiwam as-Sunnah dalam
al-Hajjah Fii Bayan al-Mahajjah 2/561 no. 554.
4]- Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj
as-Sunnah 6/81.
===***===
PENUTUP :
Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah
menceritakan kepadaku Isa bin Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib
bin Ubaid:
Dari Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk
dalam golongan sahabat junior):
أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ
سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ
لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي
حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ
تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا ضَاعَتْ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ».
فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً
Bahwa Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang
kisah-kisah dan mengangkat tangan di atas mimbar.
Maka ia menjawab:
Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan.
Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu. Sesungguhnya
telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya
melainkan mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah”.
Maka berpegang teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada
mengada-adakan bid’ah.
[Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i
dalam Syarah Ushul al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana
disebutkan dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131).
Dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99)
nomor (178)].
Juga di riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu
Hilal al-Askari dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah
nomor (121) dan Abu Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
"فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ".
Di dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi
yang munkar haditsnya.
Hadits ini juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’
ash-Shaghir nomor (4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah
al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.
Dari Al-Awza‘i (Tabi’i), dia berkata:
"العِلْمُ مَا
جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ومَا لَمْ يَجِيء عَنْهُم فَلَيسَ بِعِلْمٍ"
Ilmu adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad ﷺ, dan apa yang tidak datang dari mereka,
maka itu bukan ilmu.
[Lihat "Jami‘ Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644),
dan "Al-Bidayah wa an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]
Dan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
«لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ
قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ
قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»
“Manusia akan tetap dalam
kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad ﷺ dan para ulama senior (kibaar) mereka. Namun, apabila ilmu datang dari para ulama junior (shigoor) di antara mereka,
maka saat itulah mereka binasa.”
Diriwayatkan oleh Mu‘ammar
dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan
disebutkan oleh Al-Haithami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:
رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ
“Para perawinya dapat dipercaya”.
Dan Al-Albaniy berkata dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”
0 Komentar