SHOHIHKAH HADITS: “SIAPA YANG MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG TELAH MATI, MAKA BAGINYA PAHALA ORANG YANG MENGAMALKANNYA”?.
----
Di Tulis Oleh Kang
Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI :
- PEMBAHASAN PERTAMA : TAKHRIJ HADITS : “SIAPA YANG MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG TELAH MATI MAKA BAGINYA PAHALA ORANG YANG MENGAMALKANNYA”
- DIROSAH SANAD HADIST
- FIQIH HADITS
DAN PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG MAKNA “سَنَّ سُنَّةً”:
- HADITS-HADITS
LAIN YANG DENGAN JELAS BERISI PERINTAH MENGHIDUPKAN SUNNAH NABI ﷺ :
- HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
- PEMBAHASAN
KEDUA : HADITS DENGAN LAFADZ MUTLAK “مَنْ
سَنَّ سُنَّةً”, BUKAN
MUQOYYAD “سُنَّتِي”.
- FIQIH HADITS :
****
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA : TAKHRIJ HADITS :
“SIAPA YANG MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG TELAH
MATI MAKA BAGINYA PAHALA ORANG YANG MENGAMALKANNYA”
Ada dua
lafadz:
LAFADZ PERTAMA :
Dari Katsir
bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda.
«مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ
أُمِيتَتْ بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا
مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِ النَّاسِ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً
لَا يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَإِنَّ عَلَيْهِ مِثْلَ إِثْمِ مَنْ عَمِلَ بِهَا
مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ آثَامِ النَّاسِ شَيْئًا»
Artinya : “Siapa
yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan sepeninggalku,
maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, tanpa
mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.
Dan siapa
yang mengada-adakan suatu bidah yang tidak diridai oleh Allah dan Rasul-Nya,
maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa
mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.”.
HR.
At-Tirmidzy 2677, Ibnu Majah no. 210, al-Bazzar dalam al-Bahru az-Zakhkhor no.
3385 dan al-Baghowi dalam Syarhu as-Sunnah no. 110.
Hadits ini
disebutkan pula dengan sanadnya dalam “al-Jami’ Lii ‘Uluumi al-Imam Ahmad
18/507 no. 2211. Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abdulllah putra Imam Ahmad
dalam al-‘Ilal no. 4922.
LAFADZ KEDUA : TANPA KATA “قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي”:
Yaitu sbb :
«مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي، فَعَمِلَ
بِهَا النَّاسُ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً، فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ
عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا»
“Barang
siapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, lalu manusia
mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya
tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan
barang siapa membuat sebuah bid’ah lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia
menanggung dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa
mereka sedikit pun.”
[Lihat :
Sunan Ibnu Majah no. 209 dan al-Matholib al-“aliyah karya Ibnu Hajar no. 3076].
****
DIROSAH SANAD HADITS
Di dalam
sanadnya terdapat “Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf”.
Mengenai Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani: banyak para ulama yang mempermasalahkan-nya dan mereka melemahkannya, bahkan sebagian dari mereka menuduhnya sebagai pendusta. Oleh sebab itu ada sebagian para ulama yang mengatakan bahwa hadits ini PALSU, diantaranya Syeikh Sulaiman Shuriy, dia berkata:
قُلْنَا: هَذَا الْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ
لَا يُحْتَجُّ بِهِ، فِي إِسْنَادِهِ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ مَتْرُوكٌ
“Hadits ini
palsu dan tidak layak dijadikan hujjah, karena dalam sanadnya terdapat Katsir
bin Abdullah yang riwayatnya ditinggalkan oleh para ulama hadits”.
Berikut ini
kutipan pernyataan para pakar jarh wa ta’dil tentang perawi yang bernama
“Katsir bin Abdullah bin ‘Amr” sang perawi hadits tersebut diatas:
Dalam
Al-Jarh wat-Ta'dil (7/154) Ibnu Abi Hatim ar-Razi meriwayatkan dari Abu Thalib, bahwa dia berkata:
"سَأَلْتُ أَحْمَدَ، يَعْنِي ابْنَ حَنْبَلٍ،
عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ؟ فَقَالَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ،
لَيْسَ بِشَيْءٍ."
“Aku
bertanya kepada Ahmad —yakni ibnu Hanbal— tentang Katsir bin Abdullah bin Amr
bin Auf? Beliau berkata: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.”
[Lihat pula
: Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
Dan dalam
Tahdzibul Kamal 24/137 karya al-Mizzy, dia menyebutkan:
"قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ
أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا
عَنْهُ بِشَيْءٍ."
“Abdullah
bin Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad,
dan beliau tidak meriwayatkan satu pun darinya kepada kami.” [Lihat pula :
Tahdzib at-Tahdzib 8/422]
Dan memang
benar demikian, karena Imam Ahmad tidak mengeluarkan satu pun hadits dari
Musnad Amr bin Auf, kakek Katsir.
Abu
Khaitsamah berkata:
قَالَ لِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا
تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا.
Ahmad bin
Hanbal berkata kepadaku: jangan engkau meriwayatkan sesuatu pun darinya. [Lihat: Tahdzibul Kamal 24/138].
Al-Imam
Al-Bukhari berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْمِلُ
عَلَى كَثِيرٍ، يُضَعِّفُهُ
Ahmad bin
Hanbal sangat keras terhadap Katsir, beliau melemahkannya. [Lihat Tahdzibul
Kamal 24/139, Bahrud Dam nomor 859].
Al-Imam An-Nasa’i
dalam ad-Dhu‘afa hal. 89 no. 504:
كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو
بْنِ عَوْفٍ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ
“ Katsir bin
Abdullah bin Amr bin Auf adalah seorang perawi yang ditinggalkan haditsnya
(ditolak)”.
Ibnu Hibban
berkata dalam al-Majruhin 2/228 nomor 893:
كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي عَنْ أَنَسٍ مَا
لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ مِنْ غَيْرِ رِوَايَتِهِ، وَيَضَعُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُحَدِّثُ
عَنْهُ، لَا تَحِلُّ كِتَابَةُ حَدِيثِهِ وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى سَبِيلِ
الِاخْتِبَارِ
“Ia termasuk
orang yang meriwayatkan dari Anas apa yang bukan termasuk haditsnya, bukan dari
jalurnya, dan ia membuat-buat hadits palsu atas nama Anas lalu meriwayatkannya.
Tidak halal menuliskan haditsnya dan tidak boleh meriwayatkannya darinya
kecuali sekadar untuk tujuan pengujian”.
Pentahqiq
kitab Mukhtashar Talkhish adz-Dzahabi karya Ibnu al-Mulaqqin 5/2314, Sa’ad bin
Abdullah al-Hummaid berkata:
الْحَدِيثُ فِي سَنَدِهِ كَثِيرُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو الْمُزَنِيُّ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ - كَمَا فِي الْمُغْنِي
(٢/ ٥٣١ رَقْم ٥٠٨٤) -؛ كَذَّبَهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ،
عَنْ أَحْمَدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ،
وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ، وَقَالَ أَبُو خَيْثَمَةَ: قَالَ لِي أَحْمَدُ: لَا تُحَدِّثْ
عَنْهُ شَيْئًا، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ،
وَقَالَ النَّسَائِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ:
رَوَى عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ نُسْخَةً مَوْضُوعَةً لَا يَحِلُّ ذِكْرُهَا فِي
الْكُتُبِ، وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّعَجُّبِ.
الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا بِهٰذَا الْإِسْنَادِ
لِشِدَّةِ ضَعْفِ كَثِيرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hadits ini dalam
sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah bin Amr Al-Muzani, dan ia adalah perawi
yang ditinggalkan—sebagaimana dalam Al-Mughni (2/531 no. 5084). Asy-Syafi‘i dan
Abu Dawud menuduhnya sebagai pendusta.
Abu Thalib
meriwayatkan dari Ahmad: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.
Abdullah bin
Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad dan
tidak meriwayatkan sesuatu pun darinya kepada kami.
Abu
Khaitsamah berkata: Ahmad berkata kepadaku: jangan meriwayatkan sesuatu pun
darinya.
Ibnu Ma‘in
berkata: tidak ada nilainya, haditsnya tidak boleh ditulis. An-Nasa’i dan
Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan haditsnya.
Ibnu Hibban
berkata: ia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya sebuah kumpulan riwayat
yang dibuat-buat; tidak halal menyebutkannya dalam kitab-kitab, dan tidak boleh
meriwayatkannya kecuali dalam rangka menunjukkan keanehannya.
Hadits ini
sangat lemah dengan sanad ini karena sangat lemahnya Katsir. Allah lebih
mengetahui”.
[Lihat
Al-Jarh wat-Ta'dil 7/154, Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
===
KESIMPULAN AKHIR:
Derajat
hadits ini adalah Dho’if Jiddan (lemah sekali), sebagaimana yang dinyatakan
oleh Syeikh al-Albani, dalam Dha‘if al-Jami‘ no. 5359, di mana beliau berkata :
(ضَعِيفٌ جِدًّا).
Bagitu pula
dalam Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits no. 210, dia mengutip
perkataan Syeikh al-Albani: (ضَعِيفٌ جِدًّا).
Basim Faishol al-Jawabirah dalam Tahqiq kitab Ushul
al-Iman karya Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi hal. 134 no. 97
berkata :
قُلْتُ: فِيهِ
كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ضَعِيفٌ جِدًّا.
“Saya berkata: di dalamnya terdapat Katsir bin
Abdullah yang sangat lemah”.
Sementara
Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu Majah berkata :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ كَثِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
“Sanadnya
lemah karena kelemahan Katsir bin Abdullah bin Amr”.
Namun Syeikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 174 mengatakan: “صَحِيْحٌ لِغَيْرِه” / shahih lighoirihi. [Lihat pula Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits no. 210]
****
FIQIH HADITS
DAN PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG MAKNA “سَنَّ سُنَّةً”:
Hadits Katsir bin Abdullah diatas ini di jadikan dalil oleh sekelompok para ulama : bahwa makna ungkapan “سَنَّ سُنَّةً” dalam semua sabda-sabda Nabi ﷺ adalah “menghidupkan sunnah Nabi ﷺ”. Contohnya makna “سَنَّ سُنَّةً” dalam hadits Jarir al-Bajaly- radhiyallahu 'anhu- berikut ini :
«مَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ
أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ
شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ
مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
“Barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat
pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari pahala mereka.
Dan barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari dosa mereka.” [HR. Muslim no. 1017]
Jadi menurut
kelompok ini, makna “سَنَّ سُنَّةً”
di sini adalah “menghidupkan sunnah Nabi ﷺ”, berdasarkan hadits Katsir bin Abdullah diatas.
Sementara kelompok ulama lainnya, (kelompok kedua), mereka berpendapat:
Mereka berdalil
dengan beberapa hadits , diantaranya adalah sbb :
Dalil Ke
1 : Dari Abdullah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا
كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ
مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
“Tidaklah
ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang
pertama ada bagian (dosa) dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan
contoh (سَنَّ) pembunuhan.”
[Diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677].
Sisi
pendalilannya, mereka berkata :
مَعْنَى مَنْ سَنَّ مَنْ بَدَأَ لِقَوْلِهِ
ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ!
هَلِ الْقَتْلُ مَوْجُودًا ثُمَّ عُدِمَ
فَأَحْيَاهُ قَابِيلٌ؟ أَوْ كَانَ الْقَتْلُ مَوْقُوفًا فَأَنْفَذَهُ قَابِيلٌ؟
هَذَا لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ.
Aku berkata:
makna dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah ﷺ: Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.
Apakah
pembunuhan itu sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali
oleh Qabil?
Ataukah
pembunuhan itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak
dikatakan oleh orang yang berakal.
Dalil ke
2 : Hadits Jarir Bin
Abdullah al-Bajally , bahwa Rasulullah ﷺ bersabada :
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا،
كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا
وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».
Barang siapa
yang memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia
akan mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu
sunnah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung
dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi
dosa mereka sedikit pun.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan
makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna
yang serupa].
As-Sindi dalam Hasyiyah Ibnu Majah 1/90 menjelaskan :
قَوْلُهُ (سُنَّةً حَسَنَةً) أَيْ طَرِيقَةً مَرَضِيَّةً يُقْتَدَى فِيهَا وَالتَّمْيِيزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُولِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا. اهـ.
“Sabdanya (sunnah hasanah) yaitu cara yang diridhoi yang dijadikan teladan di dalamnya. Pembedaan antara yang baik dan yang buruk adalah dengan melihat kesesuaiannya dengan pokok-pokok syariat atau ketidaksesuaian dengannya”. [Selesai].
Dan Al-Imam
an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 7/104 berkata :
فِيهِ الْحَثُّ عَلَى الِابْتِدَاءِ
بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنَ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيرُ مِنَ اخْتِرَاعِ
الْأَبَاطِيلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ وَسَبَبُ هَذَا الْكَلَامِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
أَنَّهُ قَالَ فِي أَوَّلِهِ فَجَاءَ رَجُلٌ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا
فَتَتَابَعَ النَّاسُ وَكَانَ الْفَضْلُ الْعَظِيمُ لِلْبَادِي بِهَذَا الْخَيْرِ وَالْفَاتِحُ
لِبَابِ هَذَا الْإِحْسَانِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ
الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ وَقَدْ سَبَقَ
بَيَانُ هَذَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ
خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَاجِبَةٌ
“Di dalam
hadits ini terdapat anjuran untuk memulai berbagai kebaikan dan menetapkan
sunnah-sunnah yang baik, serta peringatan dari mengada-adakan kebatilan dan
hal-hal yang tercela.
Sebab penjelasan
ini disebutkan dalam hadits tersebut adalah karena beliau berkata pada bagian
awalnya:
“Lalu
datang seorang lelaki membawa sebuah kantong sedekah yang hampir-hampir
tangannya tidak sanggup menahannya, kemudian orang-orang pun mengikutinya”.
Maka
keutamaan yang sangat besar adalah milik orang yang pertama kali memulai
kebaikan ini dan membuka pintu kebaikan tersebut.
Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap sabda Rasulullah ﷺ: “Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”, yaitu bahwa yang dimaksud dengannya adalah perkara-perkara baru yang batil dan bid’ah-bid’ah yang tercela. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Shalat Jumat, dan di sana telah kami sebutkan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima macam, di antaranya ada yang wajib”. [Selesai]
Kronologi
Hadits:
Imam Muslim
meriwayatkan: Jarir Bin Abdullah al-Bajally
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ
النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ العَبَاءِ،
مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ
وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ
بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقالَ:
«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن
دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ،
حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ»
قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ
بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ تَتَابَعَ
النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ
رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.
فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
Kami pernah
berada di sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Lalu
datanglah sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi,
mengenakan jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak
mereka. Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari
Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (tampak sedih)
ketika melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke
rumahnya), kemudian keluar lagi.
Beliau
memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat,
kemudian berkhutbah seraya membaca:
“Wahai
manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari
satu jiwa” hingga akhir ayat,
“Sesungguhnya
Allah selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).
Dan juga
ayat dalam Surah Al-Hasyr:
“Bertakwalah
kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).
Kemudian
beliau ﷺ bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya,
dirhamnya, pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun
hanya separuh butir kurma.”
Lalu
datanglah seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga
tangannya hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat
menahannya. Setelah itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat
dua tumpukan besar berisi makanan dan pakaian.
Melihat hal
itu, wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri seperti
emas yang berkilauan. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat
pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari pahala mereka.
Dan barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari dosa mereka.”
[HR. Muslim no. 1017. Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan Ath-Thayalisi (705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]
Dalil yang diambil oleh Kelompok kedua dari hadits ini adalah sbb :
“Sunnah yang
di maksud dalam haditst di atas ini bukan sunnah Nabi ﷺ, melainkan amal perbuatan
secara mutlak, karena sunnah Nabi ﷺ itu tidak terbagi dua, baik
dan buruk.
Dan makna
lafadz “sanna” yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ di sini adalah “memulai”,
bukan “menghidupkan sunnah kembali” sebagaimana yang diklaim oleh
sebagian orang”.
Kelompok kedua ini juga berargumentasi dengan berikut ini:
“Di antara
yang menguatkan apa yang kami katakan adalah perkataan Mu’adz ibnu Jabal radhiyallahu
‘anhu, dia berkata :
"وَكَانُوا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ،
وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ يُشِيرُ
إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ
فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ: فَجَاءَ
مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ عَلَيْهَا،
ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ النَّبِيُّ ﷺ
بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاتَهُ
قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ
فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»".
Bahwa pada
mulanya para sahabat sering datang terlambat ke tempat shalat berjemaah
(di mesjid nabawi), mereka datang ketika Nabi ﷺ telah menyelesaikan sebagian
dari salatnya.
Maka seorang
lelaki dari mereka bertanya kepada salah seorang yang sedang shalat melalui
isyarat yang maksudnya ialah : " berapa rakaat shalat yang telah
dikerjakan?".
Lelaki yang
ditanya menjawabnya dengan isyarat : " satu atau dua rakaat ".
Lalu dia
menyusul dengan cara mengerjakan shalat yang tertinggal itu sendirian.
Setelah itu ia baru masuk ke dalam sholat berjamaah, menggabungkan diri dengan
bermakmum kepada Nabi ﷺ.
Perawi hadits mengatakan :
Lalu
datanglah Mu’adz . Dan Muadzd berkata : "Tidak sekali-kali ada suatu
tahapan yang baru yang dialami oleh Nabi ﷺ melainkan aku terlibat
di dalamnya."
Pada suatu
hari Muadz datang, sedangkan Nabi ﷺ telah mendahuluinya dengan
sebagian salatnya. Maka Mu’adz langsung ikut bermakmum kepada Nabi ﷺ. Setelah Nabi ﷺ menyelesaikan salatnya, lalu
bangkitlah Mu’adz untuk melanjutkan shalatnya yang ketinggalan.
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ
فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»
"
Sesungguhnya Mu’adz telah membuat suatu sunnah bagi kalian [yakni : tata cara
sholat makmum masbuq. PEN]; maka tirulah oleh kalian perbuatannya itu".
(yakni : langsung
masuk ke dalam sholat berjamaah. Dan apabila imam selesai dari salatnya, baru
ia menyelesaikan rakaat yang tertinggal , dengan shalat sendirian).
[ HR. Ahmad
36/438 , Abu Daud 1/140 no. 507 , al-Hakim 2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah
al-Musykil 1/417 no. 478 ]
Hadits ini
di Shahihkan oleh al-Hakim dengan mengatakan : " Shahih sesuai syarat
Shahih bukhori dan Muslim ". Dan disetujui oleh adz-Dzahabi .
Di shahihkan
pula oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhish al-Habir 2/546 dan juga oleh
al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no. 478 dan dalam al-Irwaa 4/20 .
Dalam hadits
ini tampak jelas bahwa makna “man sanna” di sini adalah “barang siapa
memulai”.
Adapun
hadits yang menunujukkan makna “sanna” itu adalah menghidupkan sunnah yang
mati, maka menurut mereka status haditsnya antara palsu dan dho’if sekali”.
[SELESAI]
Lalu mereka dari kelompok kedua ini berkata
pula :
وَمِنَ العَجَبِ العُجَابِ اِحْتِجَاجُهُ
عَلَى شُمُولِ الكُلِّيَّةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾
مَعَ أَنَّ الآيَةَ نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَبَعْدَهَا نَزَلَتْ سُورَةُ الفَتْحِ
بِمُزْدَلِفَةَ، وَآخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ ﴿يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ﴾،
أَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ رَقْم 4654 وَمُسْلِم رَقْم 1618 وَأَبُو دَاوُد رَقْم
2888 وَالتِّرْمِذِي 2041.
Dan sungguh
mengherankan sekali bahwa ia berdalil tentang cakupan keumuman dengan firman
Allah :
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾
“Pada
hari ini Aku telah sempurnakan agama kalian”. [QS. Al-Maidah : 3]
Padahal ayat
itu turun pada hari Arafah. Kemudian setelahnya turun Surah Al-Fath di
Muzdalifah.
Dan ayat
terakhir yang turun adalah :
﴿يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ﴾
“Mereka
meminta fatwa kepadamu, katakanlah: Allah memberi fatwa kepada kalian”. [QS.
An-Nisaa : 176]
Sebagaimana diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 4654, Muslim nomor 1618, Abu Dawud nomor 2888 dan Tirmidzi
nomor 2041”. [SELESAI]
Dan dari
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
آخِرِ آيَةٍ نَزَلَتْ: ﴿وَاتَّقُوا يَوْمًا
تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ﴾
Ayat
terakhir yang diturunkan adalah “Dan takutlah kalian terhadap suatu hari ketika
kalian dikembalikan kepada Allah”.
Diriwayatkan oleh al-Qurthubi 6/ 28 dan Asbab an-Nuzul hal. 9, namun sanadnya lemah.
HADITS-HADITS LAIN
YANG DENGAN JELAS BERISI PERINTAH
MENGHIDUPKAN SUNNAH NABI ﷺ:
****
HADITS PERTAMA:
Hadits Ibnu
Abbaas radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ
أُمَّتِي، فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ.
Siapa yang berpegang teguh pada sunnahku di
saat rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus orang syahid.
===
TAKHRIJ HADITS :
Al-Baihaqi
dalam kitab Az-Zuhd Al-Kabir hal. 118 no. 207 meriwayatkan :
Abu
Al-Husain bin Bisyran mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad Hamzah bin Muhammad
bin Al-Abbas memberitahukan kepada kami, Abdullah bin Rawh meriwayatkan kepada
kami, Al-Hasan bin Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Abdul Khaliq bin
Al-Mundzir meriwayatkan kepada kami, dari ibnu Abi Nujaih, dari Mujahid, dari
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi. Beliau ﷺ bersabda:
«مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ
أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ»
“Siapa yang
berpegang teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan, maka ia
mendapatkan pahala seratus syahid.”
Hadits ini
juga diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab Al-Kamil 3/174, Ibnu Busyron
al-Baghdadi dalam al-Amali hal. 218 no. 501 dan hal. 306 no. 700.
Diriwayatkan
oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil 2/90 dan Ibnu Bisyran dalam Al-Amali 1/93 dan
2/141 melalui jalur Al-Hasan bin Qutaibah, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami ‘Abdul Khaliq bin Al-Mundzir dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari
Ibnu ‘Abbas secara marfu‘.
Dan
disebutkan pula oleh Adz-Dzahabi dalam kitab Mizan Al-I‘tidal.
Dan
disebutkan pula oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan 3/106, lalu
beliau mengutip penilaian para ulama jarh wa ta’dil tentang perawi yang bernama
“Al-Hasan bin Qutaibah al-Mada’ini”:
قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: "أَرْجُو أَنَّهُ
لَا بَأْسَ بِهِ". قُلْتُ: "بَلْ هَالِكٌ". قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ
فِي رِوَايَةِ الْبَرْقَانِيِّ: "مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ". وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ:
"ضَعِيفٌ". وَقَالَ الْأَزْدِيُّ: "وَاهِيَ الْحَدِيثِ". وَقَالَ
الْعُقَيْلِيُّ: "كَثِيرُ الْوَهْمِ". انْتَهَى.
وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: "شَيْخٌ
مِنْ أَهْلِ الْمَدَائِنِ سَكَنَ بَغْدَادَ، يَرْوِي عَنْ مَسْعَرٍ وَشُعْبَةَ، وَعَنْهُ
ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَهْلُ الْعِرَاقِ، يُخْطِئُ وَيُخَالِفُ". قَالَهُ ابْنُ
حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ.
Ibnu ‘Adiy
berkata: “Aku berharap tidak mengapa dengannya”. Aku (Ibnu Hajar) berkata:
“Bahkan yang benar dia itu binasa (sangat lemah)”.
Ad-Daraquthni
dalam riwayat Al-Barqani berkata: “ia ditinggalkan haditsnya”.
Abu Hatim
berkata: “lemah”.
Al-Azdi
berkata: “haditsnya rapuh”.
Al-‘Uqaili
berkata: “banyak wahm (keliru)”. (Selesai).
Ibnu Hibban
berkata: “Dia seorang syaikh dari penduduk Al-Mada’in yang tinggal di Baghdad,
ia meriwayatkan dari Mas‘ar dan Syu‘bah, dan darinya ibnu Abi Syaibah serta
penduduk Irak meriwayatkan. Ia banyak melakukan kesalahan dan menyelisihi
(riwayat yang benar)”. Hal ini dikatakan Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat. [Kutipan
dari Lisan al-Mizan Selesai]
Dan hadits
ini disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahadits
Adh-Dha‘ifah wal Maudhu‘ah jilid pertama nomor 326, dan beliau menilainya
sebagai “hadits yang sangat lemah (ضَعِيفٌ
جِدًّا).
Syeikh
al-Albani berkata :
قُلتُ: وَهٰذَا سَنَدٌ ضَعِيفٌ جِدًّا،
وَعِلَّتُهُ الْحَسَنُ بْنُ قُتَيْبَةَ، قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي "الْمِيزَانِ":
هَالِكٌ، قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: ضَعِيفٌ،
وَقَالَ الْأَزْدِيُّ: وَاهِيَ الْحَدِيثِ، وَقَالَ الْعَقِيلِيُّ: كَثِيرُ الْوَهْمِ.
“Saya
berkata: Ini adalah sanad yang sangat lemah sekali, dan cacatnya
terletak pada Hasan bin Qutaibah. Az-Zahabi berkata dalam kitab Al-Mizan: ia
binasa. Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan hadisnya. Abu Hatim berkata: ia
lemah. Al-Azdi berkata: hadisnya rapuh. Al-Aqili berkata: ia banyak keliru”.
[Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha‘ifah wal Maudhu‘ah1/497 no. 326]
Dan Syaikh
Al-Albani mendhaifkannya pula dalam kitab Dhaif at-Targhib wat-Tarhib (1/36
nomor 31) dan dalam Al-Misykat (176).
Dan
al-Fattani dalam kitabnya Tadzkirotul Mawdhu’aat hal. 44 (kumpulan hadits
palsu), dia berkata :
وَفِي حَدِيثٍ حَسَنٍ «مَنْ أَحْيَا سُنَّةً
وَأَمَاتَ بِدْعَةً كَانَ لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ»
Dalam hadits
hasan: “Siapa yang menghidupkan suatu sunnah dan mematikan suatu bidah, maka
baginya pahala seratus syahid.”
****
HADITS KE DUA :
Hadits Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ
أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ»
“Orang yang
berpegang teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan baginya
pahala seorang syahid.”
====
TAKHRIJ HADITS :
Diriwayatkan
oleh Ath-Thabrani dalam al-Awsath (5/315) nomor 5414 dan melalui jalurnya Abu
Nu’aim dalam al-Hilyah (8/200) dari hadis Abu Hurairah radhiayllahu ‘anhu bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda :
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ
أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ»
“Orang yang
berpegang teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan baginya
pahala seorang syahid.”
Ath-Thabrani
berkata:
لَمْ يَرْوِ
هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَطَاءٍ إِلَّا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رَوَّادٍ، وَتَفَرَّدَ
بِهِ: ابْنُهُ عَبْدُ الْمَجِيدِ "
Tidak ada
yang meriwayatkan hadis ini dari Atha’ selain Abdul Aziz bin Abi Rawwad, dan
yang menyendirinya adalah putranya, Abdul Majid.
Saya
katakan:
Abdul Aziz
adalah Ibnu Abi Rawwad. Abu Hatim berkata: ia tidak kuat. Ibnu Hibban berkata:
ia sering membalikkan riwayat dan meriwayatkan kemunkaran dari tokoh-tokoh
terkenal sehingga ia berhak ditinggalkan. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, An-Nasa’i,
Ahmad dan lainnya menilainya tsiqah. Karena itu Ibnu Hajar berkata tentangnya: shaduq.
Ibnu Hibban berlebihan ketika berkata: matruk.
Adapun
putranya Abdul Majid, ia shaduq namun sering salah-salah. [Lihat : at-Tahdzib
(6/381) dan al-Mizan (2/648)].
Al-Haitsami
menyebutkannya dalam al-Majma’ (1/172 nomor 800) dan berkata:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعَدَوِيُّ، وَلَمْ أَرَ مَنْ تَرْجَمَهُ،
وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ
“Hadis ini
diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Awsath, dan di dalam sanadnya terdapat
Muhammad bin Shalih al-‘Adawi, dan aku tidak menemukan yang memberikan biografi
tentangnya, sementara para perawi lainnya tsiqah”.
Dan dalam
as-Silsilah adh-Dho’ifah 1/458 no. 327 Syeikh al-Albani berkata:
هُوَ مُخْتَلَفٌ فِيهِ، وَفِي "التَّقْرِيبِ":
صَدُوقٌ يُخْطِئُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعَذَرِيُّ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ
أَوِ الْمُهْمَلَةِ لَمْ أَعْرِفْهُ، وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ فِي "الْمَجْمَعِ"
(1 / 172): رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي "الْأَوْسَطِ" وَفِيهِ مُحَمَّدُ
بْنُ صَالِحٍ الْعَدَوِيُّ (هَكَذَا) وَلَمْ أَرَ مَنْ تَرْجَمَهُ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ
ثِقَاتٌ.
وَمِنْهُ تَعْلَمُ أَنَّ قَوْلَ الْمُنْذِرِيِّ
(1 / 41): وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ، لَيْسَ كَمَا يَنْبَغِي.
ia
diperselisihkan keadaannya, dan dalam At-Taqrib disebutkan: ia jujur namun
sering keliru. Adapun Muhammad bin Shalih Al-‘Udzri, dengan dzal bertitik atau
tanpa titik, aku tidak mengenalnya.
Al-Haitsami
berkata dalam Al-Majma‘ 1/172: hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam
Al-Ausath, dan di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Shalih Al-‘Adawi,
demikian katanya, dan aku tidak melihat ada yang menerjemahkan biografinya,
sedangkan perawi-perawi selainnya adalah orang-orang yang terpercaya.
Dari sini
dapat diketahui bahwa perkataan Al-Mundziri 1/41: “Sanadnya tidak mengapa,”
tidaklah sebagaimana mestinya”. [Selesai kutipan dari Syeikh al-Albani]
Saya katakan
: kritikan ini juga berlaku pada perkataan Asy-Syaikh Abdul Haqq ketika berkata
dalam Lum’atut Tanqih (1/238): “Sanadnya hasan.”
Lafadz lain
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
«مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ
أُمَّتِي فَلَهُ أجر مائَة شَهِيد»
“Siapa yang
berpegang teguh pada sunahku pada saat umatku berada dalam kerusakan, maka ia
akan memperoleh pahala seratus syahid.”
[Lihat :
Mirqootul Mafaatih oleh al-Malaa al-Qori 1/262 no. 176 dan Misyaktul Mashobih
karya oleh at-Tibrizi 1/162 no. 176. Di nilai dho’if oleh al-Albani dalam
Takhrij Misyaktul Mashobih no. 176 (37)].
====
KESIMPULAN STATUS HADITS :
Syeikh
al-Albani dalam Hidayatur Ruwaah no. 174 :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا
“Sanadnya lemah sekali”.
Dan Syaikh
al-Albani mendhaifkannya juga dalam Dha’if at-Targhib wat-Tarhib (1/36 nomor
31) dan dalam al-Misykat (176).
Di sana hadis
ini dinisbatkan pada kitab asy-Syu’ab karya al-Baihaqi, namun dalam Kanzul
‘Ummal (nomor 1071) hanya dinisbatkan kepada Ath-Thabrani dalam al-Awsath dan
Abu Nu’aim dalam al-Hilyah.
Dan dalam
as-Silsilah adh-Dho’ifah 1/498 no. 327 Syeikh al-Albani berkata:
«وَيُغْنِي عَنْهُ حَدِيثُ: «إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ
أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ
أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ. وَهُوَ مُخْرَجٌ فِي "الصَّحِيحَةِ" (494) »
Dan telah
mencukupi dari hadis ini adalah hadis: “Sesungguhnya sepeninggal kalian akan ada
hari-hari penuh kesabaran; orang yang berpegang teguh pada ajaran kalian ketika
itu akan memperoleh pahala lima puluh dari kalian. Hadis ini terdapat dalam
ash-Shahihah (494)”. [Selesai]
Penulis katakan : Namun hadits yang disebutkan Syeikh al-Albani ini, juga lemah sanadnya, sebagaimana yang akan penulis jelaskan nanti, dalam artikel ini juga.
****
HADITS KE TIGA:
Dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ
اخْتِلَاف أُمَّتِي كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ».
“Orang
yang berpegang teguh pada sunahku ketika umatku berselisih seperti orang yang menggenggam
bara api”.
Disebutkan
oleh Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Nawadir Al-Ushul (1/119), Dan Adh-Dhiya
Al-Maqdisi dalam kitab Al-Muntaqa min Masmu‘ati-hi bi-marw (1/99) dan oleh
Al-Kalabadzi dalam Bahr Al-Fawaid (Ma’aani al-Akhbaar) halaman 374.
Kemudian
Al-Kalabadzi mnyebutkan sanadnya:
Telah
menceritakan kepada kami Khalf bin Muhammad, ia berkata: telah
menceritakan Hamid bin Sahl, ia berkata: telah menceritakan Humaid
bin Ali Al-Bakhtari, ia berkata: telah menceritakan Ja’far bin Muhammad,
ia berkata: telah menceritakan Abu Ishaq Al-Fazari dari Mughirah,
dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ.
Dikatakan
oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 2/646–647 nomor 957:
"عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مَرْفُوعًا بِلَفْظِ:
"يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
الْمُتَمَسِّكُ فِيهِ بِسُنَّتِي عِنْدَ اخْتِلَافِ أُمَّتِي كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ".
أَخْرَجَهُ أَبُو بَكْرٍ الكَلَابَاذِيُّ
في "مِفْتَاحِ الْمَعَانِي" (ق 188/2) وَالضِّيَاءُ المَقْدِسِيُّ في
"المُنْتَقَى مِنْ مَسْمُوعَاتِهِ بِمَرْوٍ" (99/1) مِنْ طَرِيقَيْنِ عَنْ
حُمَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ البَخْتَرِيِّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الهَمْدَانِيُّ،
حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الفَزَارِيُّ، عَنْ مُغِيرَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ
الأَسْوَدِ، عَنْهُ.
قُلْتُ: مِنْ دُونِ أَبِي إِسْحَاقَ
– وَاسْمُهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثِقَةٌ حَافِظٌ – لَمْ أَعْرِفْهُمْ.
وَقَدْ عَزَاهُ السُّيُوطِيُّ لِلْحَكِيمِ
التِّرْمِذِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَبَيَّضَ لَهُ المُنَاوِيُّ".
Dari Ibnu
Mas'ud radhiyallahu 'anhu secara marfu dengan lafaz:
“Akan datang
suatu masa kepada manusia, orang yang berpegang teguh pada sunnahku ketika
umatku berselisih adalah seperti orang yang menggenggam bara api.”
Hadis ini
dikeluarkan oleh Abu Bakar Al-Kalabadzi dalam Miftah Al-Ma‘ani (hal. 188/2) dan
Adh-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Muntaqa min Masmu‘atihi bimaru (99/1) melalui dua
jalur dari Humayd bin Ali Al-Bakhtari, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami Ja‘far bin Muhammad Al-Hamdani, telah menceritakan kepada
kami Abu Ishaq Al-Fazari, dari Mughirah, dari Ibrahim,
dari Al-Aswad, dari Ibnu Mas‘ud.
Aku (al-Albani)
berkata: Para perawi di bawah Abu Ishaq – dan nama Abu Ishaq adalah Ibrahim bin
Muhammad, seorang yang terpercaya dan hafiz – aku tidak mengetahui mereka.
As-Suyuthi
telah menisbatkannya kepada Al-Hakim At-Tirmidzi dari Ibnu Mas‘ud, dan
Al-Munawi tidak memberikan penjelasan apa pun”. [SELESAI]
Berarti dalam
sanad hadits ini menurut Syeikh al-Albani ada 4 perawi di bawah Abu Ishaq yang
tidak di kenal.
Namun hadits
di nilai HASAN oleh Syeikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6676.
****
HADITS KEEMPAT :
Hadits Abu
Hurairah radhiyalahu ‘anhu :
الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ
كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Orang yang
berpegang teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang yang memegang bara
api”.
===
TAKHRIJ
HADITS :
Imam Ahmad
berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Lahi'ah
menceritakan kepada kami, Abu Yunus menceritakan kepada kami, dari Abu
Hurairah. Dan Hasan berkata: Ibnu Lahi'ah menceritakan kepada kami, Abu Yunus
menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
" وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ
قَدِ اقْتَرَبَ، فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا،
وَيُمْسِي كَافِرًا، يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيلٍ، الْمُتَمَسِّكُ
يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ - أَوْ قَالَ: عَلَى الشَّوْكِ
- ".
قَالَ حَسَنٌ فِي حَدِيثِهِ: " خَبَطِ
الشَّوْكِ "
“Celaka
bagi bangsa Arab karena keburukan yang telah mendekat, berbagai fitnah seperti
potongan malam yang gelap, seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman lalu
pada sore hari menjadi kafir :
Suatu kaum menjual agama mereka dengan
sedikit dari harta dunia.
Orang
yang berpegang teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang yang memegang
bara api”.
Atau beliau ﷺ berkata: “memegang duri”.
Hasan
berkata dalam riwayatnya: “menerjang duri”.
Diriwayatkan
oleh Ahmad dalam al-Musnad 15/33-34 nomor 9073.
Syu’aib
al-Arnauth dan para pentahqiq Musnad 15/34 berkata:
وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، ابْنُ لَهِيعَةَ
سَيِّئُ الْحِفْظِ. حَسَنٌ: هُوَ ابْنُ مُوسَى الْأَشْيَبُ، وَأَبُو يُونُسَ: هُوَ
سُلَيْمُ بْنُ جُبَيْرٍ مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ
Dan sanad
ini lemah.
Ibnu Lahi'ah
buruk hafalannya. Hasan adalah Ibnu Musa al-Asy-yab. Dan Abu Yunus adalah
Sulaim bin Jubair maula Abu Hurairah. [Selesai]
Hadis ini
juga dikeluarkan oleh al-Firyabi dalam Sifat al-Munafiq (100) dari Qutaibah bin
Sa'id, dari Ibnu Lahi'ah dengan sanad ini.
Al-Albani
berkata dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor 957:
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ (5 / 390 - 391)
وَأَبُو عَمْرٍو بْنُ مُنْدَهْ فِي "أَحَادِيثِهِ" (ق 18 / 2) وَابْنُ عَسَاكِرَ
فِي "تَارِيخِ دِمَشْقَ" (19 / 252 / 2) مِنْ طُرُقٍ عَنْ ابْنِ لَهِيعَةَ
عَنْ أَبِي يُونُسَ عَنْهُ.
قُلْتُ: وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ فِي
الشَّوَاهِدِ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ غَيْرَ ابْنِ لَهِيعَةَ، فَإِنَّهُ سَيِّئُ الْحِفْظِ.
“Hadis ini
dikeluarkan oleh Ahmad (5/390–391), Abu Amr bin Mandah dalam Ahadits-nya (hal.
18/2), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (19/252/2) melalui beberapa jalur
dari Ibnu Lahi'ah dari Abu Yunus darinya.
Aku (al-Albani)
berkata: Sanadnya tidak mengapa jika untuk penguat (syahid), para perawinya
tsiqah kecuali Ibnu Lahi'ah, karena ia buruk hafalannya”.
Namun
terdapat syahid untuk sabda beliau ﷺ :
الْمُتَمَسِّكُ
يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Orang yang
berpegang teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang yang memegang bara
api”.
Syahid ke
1 : dari hadis Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu dengan lafaz:
"يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ
فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ"
Akan datang
kepada manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam memegang agamanya seperti
orang yang memegang bara api, [diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2260)].
Syahid 2 : dari hadits Abu Tsa’labah al-Khusyani
radhiyallahu ‘anhu dalam hadis panjang di Abu Dawud (4341), at-Tirmidzi (3058),
Ibnu Majah (4014), dan Ibnu Hibban (385) dengan lafaz:
"فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا، الصَّبْرُ
فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ".
“Sesungguhnya
setelah kalian ada hari-hari yang kesabaran di dalamnya seperti memegang bara
api”.
Akan tetapi Syu’aib
al-Arnauth dan para pentahqiq Musnad 15/34 berkata:
وَإِسْنَادُهُمَا ضَعِيفَانِ.
Kedua shahid tersebut sanadnya lemah.
MUFRODAAT:
Makna
sabdanya ﷺ : “فِتَنًا” yakni dalam keadaan keburukan itu berupa fitnah.
Makna
sabdanya ﷺ: “بِعَرَضٍ”, artinya harta atau barang
dunia.
Makna
sabdanya ﷺ: “خَبَطِ”. al-khobath adalah sesuatu
yang berjatuhan dari pohon ketika dipukul dengan tongkat.
HADITS ANAS BIN MALIK:
At-Tirmidzi meriwayatkan
dalam Sunannya nomor 2260: Ismail bin Musa al-Fazzari, anak perempuan as-Suddi
al-Kufi, menceritakan kepada kami, ia berkata: Umar bin Syakir menceritakan
kepada kami, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
Akan datang
kepada manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam memegang agamanya seperti
orang yang memegang bara api.
At-Tirmidzi
berkata:
"هَذَا
حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَعُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ شَيْخٌ بَصْرِيٌّ قَدْ
رَوَى عَنْهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ".
“Ini adalah
hadis gharib dari jalur ini, dan Umar bin Syakir adalah seorang syaikh dari
Bashrah, telah diriwayatkan darinya oleh lebih dari satu ulama”.
Dalam
sanadnya terdapat seorang perawi bernama Umar bin Syakir.
Al-Albani
berkata dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor 957:
قُلْتُ: وَهُوَ ضَعِيفٌ كَمَا فِي
"التَّقْرِيبِ".
“Aku berkata: Dan ia (Umar bin Syakir) adalah perawi yang lemah sebagaimana dalam kitab at-Taqrib”.
Ibnu Adiy
berkata dalam al-Kamil fi adh-Dhuafa (5/55):
عُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسٍ
بِنُسْخَةٍ قَرِيبًا مِنْ عِشْرِينَ حَدِيثًا غَيْرَ مَحْفُوظَةٍ. ثُمَّ ذَكَرَ ابْنُ
عَدِيٍّ مِنْهَا هَذَا الحَدِيثَ
Umar bin
Syakir meriwayatkan dari Anas dengan satu kumpulan riwayat yang mendekati dua
puluh hadis yang tidak terjaga. Kemudian Ibnu Adi menyebutkan di antaranya
hadis ini.
Al-Manawi
Abu al-Ma'ali Shadruddin berkata dalam Kasyf al-Manahij wat-Tanaqih 4/436 nomor
4270:
وَفِي سَنَدِهِ: عُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ،
لَمْ يَرْوِهِ مِنْ أَصْحَابِ الكُتُبِ السِّتَّةِ غَيْرُ التِّرْمِذِيِّ، وَضَعَّفَهُ
أَبُو حَاتِمٍ وَغَيْرُهُ، وَأَدْخَلَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ الثِّقَاتِ فَنُقِمَ
عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَهُ نُسْخَةٌ نَحْوُ مِنْ عِشْرِينَ حَدِيثًا
غَيْرُ مَحْفُوظَةٍ وَذَكَرَ مِنْهَا هَذَا الحَدِيثَ
“Dalam
sanadnya terdapat Umar bin Syakir. Tidak ada seorang pun dari para penulis
Kutubus Sittah yang meriwayatkannya selain at-Tirmidzi. Abu Hatim dan selainnya
melemahkannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab ats-Tsiqat sehingga hal
itu dikritik padanya. Ibnu Adi berkata: Ia memiliki satu kumpulan riwayat
sekitar dua puluh hadis yang tidak terjaga, dan ia menyebutkan di antaranya
hadis ini”.
Al-Mizzi
berkata dalam Tahdzib al-Kamal 5/358:
وَلَيْسَ فِي كِتَابِ التِّرْمِذِيِّ
حَدِيثٌ ثُلَاثِيٌّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَنْفُسٍ غَيْرُ
هَذَا الحَدِيثِ…
“Tidak ada
dalam kitab at-Tirmidzi sebuah hadis yang hanya tiga mata rantai antara dia dan
Nabi ﷺ selain hadis ini”.
HADITS ABU TSA’LABAH AL-KHUSYANI
Tirmidzi
meriwayatkan dalam Sunannya nomor 3058:
Said bin
Ya'qub ath-Thalaqani berkata: Abdullah bin al-Mubarak berkata: Utbah bin Abi
Hakim mengabarkan kepada kami, ia berkata: Amr bin Jariyah al-Lakhmi
menceritakan kepada kami, dari Abu Umayyah asy-Sya'bani, ia berkata:
أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيَّ،
فَقُلْتُ لَهُ: كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الآيَةِ؟ قَالَ: أَيَّةُ آيَةٍ؟ قُلْتُ: قَوْلُهُ
تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ
مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ} [المائدة: 105] قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ
عَنْهَا خَبِيرًا، سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «بَلْ ائْتَمِرُوا
بِالمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا،
وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ،
فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ العَوَامَّ، فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا
الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ
أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ» قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
المُبَارَكِ: وَزَادَنِي غَيْرُ عُتْبَةَ - قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ
رَجُلًا مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ. قَالَ: «بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ».
Aku datang
kepada Abu Tsa'labah al-Khusyani, lalu aku berkata kepadanya: Bagaimana engkau
memahami ayat ini? Ia berkata: Ayat yang mana?
Aku berkata:
Firman Allah Ta'ala: *Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian;
tidaklah akan membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian telah
mendapat petunjuk* (Al-Ma'idah: 105).
Ia berkata:
Demi Allah, sungguh engkau telah bertanya kepada orang yang mengetahui. Aku
telah menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:
“Bahkan,
laksanakan amar makruf dan nahi mungkar, hingga apabila engkau melihat
kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan,
dan setiap orang yang kagum dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu
sendiri dan tinggalkan orang-orang umum.
Karena
sesungguhnya setelah masa kalian akan datang hari-hari di mana bersabar pada
masa itu seperti menggenggam bara api.
Bagi
orang yang beramal pada masa itu akan mendapatkan pahala seperti pahala lima
puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.”
Abdullah bin
al-Mubarak berkata:
Selain Utbah
menambahkan kepadaku—dikatakan: Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari
kami atau dari mereka?
Beliau
bersabda: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.”[Selesai]
Abu Isa at-Tirmidzi
berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ»
“Ini adalah
hadis hasan gharib.”
Hadis ini
juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (4341), Ibnu Majah (4014), Al-Baghawi dalam
Syarh as-Sunnah (14/347–348), ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir (22/220),
(587), Ibnu Jarir (12862), (12863), Abu Nu'aim (2/30), ath-Thahawi dalam Syarh
al-Musykil (2/64–65), dan al-Baihaqi dalam as-Sunan (10/92).
Abu
ath-Thayyib al-Qanuji berkata dalam Nail al-Maram hlm. 281: “Sanadnya lemah
(dho’if)”.
Al-Albani
berkata dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor 957:
ضَعِيفٌ لَكِنْ بَعْضُهُ صَحِيحٌ.
“Sanadnya lemah,
tetapi sebagian maknanya sahih”.
===
KESIMPULAN DERAJAT HADITS KEEMPAT INI
(Yakni; Hadits Abu Hurairah, Anas dan
Tsa’labah radhiyallahu ‘anhum diatas):
Syeikh
al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/647 nomor 957 berkata :
وَجُمْلَةُ الْقَوْلِ أَنَّ الْحَدِيثَ
بِهَذِهِ الشَّوَاهِدِ صَحِيحٌ ثَابِتٌ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ طُرُقِهَا
مُتَّهَمٌ، لَسِيَّمَا وَقَدْ حَسَّنَ بَعْضَهَا التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ، وَاللَّهُ
أَعْلَمُ
“Kesimpulannya,
hadis ini dengan seluruh penguat-penguatnya adalah sahih dan tsabit (ada ketetapan), karena
tidak ada seorang pun perawi dalam seluruh jalur-jalurnya yang tertuduh
(berdusta). Terlebih lagi sebagian jalurnya telah dinilai hasan oleh
At-Tirmidzi dan yang lainnya. Wallahu a’lam”.
Sementara
Syu’aib al-Arna’uth dan para pentahqiq Musnad Imam Ahmad 15/34 setelah
mendhaifkan 3 riwayat hadits tesebut, lalu mereka berkesimpulan bahwa hadits
tersebut “Hasan Lighoirihi”. Mereka berkata :
قَوْلُهُ ﷺ: "اَلْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ
بِدِينِهِ … الْخَ" فَحَسَنٌ لِغَيْرِهِ. وَهٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ
Sabda Rasulullah ﷺ: “Orang yang berpegang teguh
pada agamanya pada hari itu … dan seterusnya” adalah hasan li ghairihi. Dan ini adalah sanad yang dho'if”.
****
HADITS KE LIMA: HADITS ‘UTBAH BIN GHOZWAN
Dari Utbah
bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu, saudara Maazin bin Sha‘shah, dan ia termasuk
para sahabat, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ لِلْمُتَمَسِّكِ
فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» ،
قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَوَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: «بَلْ مِنْكُمْ»
“Sesungguhnya
di hadapan kalian ada hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh pada apa
yang kalian berada di atasnya pada hari itu mendapatkan pahala lima puluh orang
dari kalian.” Mereka berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah lima puluh pahala itu
dari mereka atau dari kami?” Beliau menjawab: “Bahkan dari kalian.”
STATUS HADITS
:
Hadis ini
diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam kitab As-Sunnah (32), dan ath-Thabrani dalam
Al-Mu‘jam al-Kabir 17/117 (289).
Syuaib
al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Ibni Majah 5/147 di bawah hadis nomor 4014
berkata:
وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ إِلَّا أَنَّهُ مُنْقَطِعٌ.
“Para perawinya terpercaya, hanya saja
sanadnya terputus”.
Dan
diriwayatkan pula dari Abdullah bin Mas‘ud oleh al-Bazzar (3370) dan
ath-Thabrani (10394).
Syuaib
al-Arnauth : “Dan sanadnya lemah”. [Takhrij Sunan Ibni Majah 5/147].
Al-Albani
berkata dalam Shahihah 1/892 nomor 494:
قُلْتُ: وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ رِجَالُهُ
كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ لَوْلَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عُتْبَةَ بْنِ
غَزْوَانَ مُرْسَلٌ كَمَا فِي "التَّهْذِيبِ".
“Aku
berkata: sanadnya sahih, seluruh perawinya terpercaya, seandainya saja Ibrahim
bin Abi ‘Abdah dari Utbah bin Ghazwan tidak berstatus mursal sebagaimana dalam
kitab At-Tahdzib”.
****
HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
Ibnu Syabbah
dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin
Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ الثُّمَالِيِّ: أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا أَضَاعَتْ مِثْلَهَا
مِنَ السُّنَّةِ، فَالتَّمَسُّكُ مِنَ السُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْدَاثِ الْبِدْعَةِ»
Dari Ghudhaif
bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan
sahabat junior):
Bahwa Abdul
Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan
mengangkat tangan di atas mimbar.
Maka ia
menjawab:
“Sesungguhnya
hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku
sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya
telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
‘Tidaklah
suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan
menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah. Maka berpegang teguh dengan
sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah’.
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105); oleh al-Bazzar sebagaimana disebutkan
dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131); dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani
dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178).
Juga di
riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari
dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu
Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
Al-Haitsami
berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
"فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ".
dalam
sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar
haditsnya.
Hadits ini
juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor
(4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan
dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min
al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.
Riwayat yang shahih adalah hadits riwayat Hushain, dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى
الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ،
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا،
وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa
dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua
tangannya, lalu ia berkata:
“Semoga
Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ, beliau tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya
seperti ini, dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. [HR. Muslim no.
53 –(874)]
Siapakah
‘Umarah bin Ru’aibah ini?
Dia adalah Umarah
bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia
terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah.
Ia hanya
memiliki dua hadits. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya.
Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushain bin Abdurrahman. [Baca:
al-Ishobah oleh Ibnu Hajar 4/478]
Al-Mizzi
menyebutkan dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ،
فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ،
وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia
memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali
tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya
pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda
dari dua sisi.
[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.
===***===
PEMBAHASAN KEDUA :
HADITS DENGAN LAFADZ MUTLAK “مَنْ سَنَّ سُنَّةً”, BUKAN MUQOYYAD “سُنَّتِي”
****
HADITS PERTAMA : HADITS JARIR AL-BAJALY
Hadits Jarir
Bin Abdullah al-Bajally radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabada :
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا،
كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا
وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».
Barang siapa
yang memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia
akan mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu
sunnah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung
dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi
dosa mereka sedikit pun.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan
makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna
yang serupa.]
Berkata
As-Sindi dalam Hasyiyah Ibnu Majah 1/90:
قَوْلُهُ (سُنَّةً
حَسَنَةً) أَيْ طَرِيقَةً مَرَضِيَّةً يُقْتَدَى فِيهَا وَالتَّمْيِيزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ
وَالسَّيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُولِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا. اهـ.
“Sabdanya
(sunnah hasanah) yaitu cara yang diridhoi yang dijadikan teladan di dalamnya.
Pembedaan antara yang baik dan yang buruk adalah dengan melihat kesesuaiannya
dengan pokok-pokok syariat atau ketidaksesuaian dengannya”. [Selesai].
Kronologi
Hadits:
Imam Muslim
meriwayatkan: Jarir Bin Abdullah al-Bajally
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ
النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ العَبَاءِ،
مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ
وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ
بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقالَ:
«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن
دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ،
حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ»
قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ
بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ تَتَابَعَ
النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ
رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.
فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ،
مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً
سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
[وفي رِوايةٍ]: كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ
صَدْرَ النَّهَارِ... بِمِثْلِهِ. وفيه: قالَ: ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ خَطَبَ.
[وفي رِوايةٍ]: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النبيِّ
ﷺ، فأتَاهُ قَوْمٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ... وَسَاقُوا الحَدِيثَ بقِصَّتِهِ، وَفِيهِ:
فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ صَعِدَ مِنْبَرًا صَغِيرًا، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى
عليه، ثُمَّ قالَ: أَمَّا بَعْدُ؛ فإنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ في كِتَابِهِ: ﴿يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ﴾ الآيَةَ. [وفي رواية]: جَاءَ نَاسٌ مِنَ الأعْرَابِ إلى
رَسولِ اللهِ ﷺ، عليهمِ الصُّوفُ، فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ،
فَذَكَرَ بمَعْنَى حَديثِهِمْ.
Kami pernah
berada di sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Lalu
datanglah sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi,
mengenakan jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak
mereka. Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya
dari Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (tampak sedih)
ketika melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke
rumahnya), kemudian keluar lagi.
Beliau
memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat,
kemudian berkhutbah seraya membaca:
“Wahai
manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari
satu jiwa” hingga akhir ayat,
“Sesungguhnya
Allah selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).
Dan juga
ayat dalam Surah Al-Hasyr:
“Bertakwalah
kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).
Kemudian
beliau ﷺ bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya,
dirhamnya, pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun
hanya separuh butir kurma.”
Lalu
datanglah seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga
tangannya hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat
menahannya. Setelah itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat
dua tumpukan besar berisi makanan dan pakaian.
Melihat hal
itu, wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri seperti
emas yang berkilauan. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat
pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari pahala mereka.
Dan barang
siapa yang mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang
sedikit pun dari dosa mereka.”
(Dalam
riwayat lain disebutkan:)
Kami berada
di sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari… dengan makna
yang serupa. Dalam riwayat tersebut juga disebutkan: Beliau kemudian shalat
Zuhur, lalu berkhutbah.
(Dalam
riwayat lain lagi disebutkan:)
Aku sedang
duduk di sisi Nabi ﷺ, lalu datang sekelompok
orang berpakaian wol kasar dari kalangan Arab Badui. Melihat keadaan mereka
yang sangat miskin dan membutuhkan, beliau pun menyampaikan sabda dengan makna
hadits yang sama.
[HR. Muslim
no. 1017. Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan
Ath-Thayalisi (705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]
****
KEDUA : HADITS ABU HURAIRAH
Ibnu Majah
meriwayatkan (204) melalui jalur Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia
berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَثَّ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَجُلٌ، عِنْدِي كَذَا وَكَذَا،
قَالَ، فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلَّا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ
أَوْ كَثُرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنِ اسْتَنَّ
خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ، كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أُجُورِ مَنِ
اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً
سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ، فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا، وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي
اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا»
Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau menganjurkan
(untuk bersedekah).
Maka seorang
laki-laki berkata: “Aku memiliki ini dan ini.” Maka tidak ada seorang pun di
majelis itu kecuali bersedekah, sedikit atau banyak.
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia
mendapat pahala sempurna darinya, dan pahala orang-orang yang mengikutinya,
tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan barang
siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia
menanggung dosanya secara penuh, dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa
mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Hadits ini
juga terdapat dalam *Musnad Ahmad* (10749).
Syeikh
Muqbil al-Wadi’i dalam ash-Shohih al-Musnad 2/329 no. 1295 berkata :
هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. الْحَدِيثُ أَخْرَجَهُ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ (ج 2 ص 520) فَقَالَ: ثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بِهِ.
وَهُوَ بِسَنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.
“Ini adalah
hadits hasan menurut syarat Muslim.
Hadits ini
dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (jilid 2 halaman 520), beliau berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abduṣh Ṣhomad, dengan
sanad tersebut.
Dan sanadnya
menurut Imam Ahmad memenuhi syarat kedua syekh (Bukhari dan Muslim)”.
****
KETIGA : HADITS HUDZAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ الْقَوْمُ، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا أَعْطَاهُ
فَأَعْطَى الْقَوْمُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
" مَنْ سَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ
لَهُ أَجْرُهُ وَمِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِنْ أَوْزَارِ
مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا"
Ada seorang
laki-laki pada masa Nabi ﷺ yang meminta-minta, lalu
orang-orang diam. Kemudian ada seorang laki-laki yang memberinya, maka
orang-orang pun ikut memberi. Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Barang
siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti setelahnya, maka baginya pahala
perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala
mereka sedikit pun.
Dan barang
siapa memulai suatu keburukan lalu diikuti setelahnya, maka baginya dosa
perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa
mereka sedikit pun”.
TAKHRIJ
HADITS :
Diriwayatkan
oleh Ahmad dalam Musnad 38/325 nomor 23289, Al-Bazzar dalam Musnadnya (2963),
dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar (251) dan (1542) melalui jalur
Wahb bin Jarir dengan sanad ini.
Dan
diriwayatkan oleh Al-Bazzar (2964) dari jalur Ali bin Ashim, serta Al-Hakim
2/516–517 dari jalur Abdullah bin Al-Mubarak, keduanya dari Hisyam bin Hassan
dengan sanad ini.
Syuaib
Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad 38/325 berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ
حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، فَقَدْ رَوَى عَنْهُ جَمْعٌ،
وَوَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ.
مُحَمَّدٌ: هُوَ ابْنُ سِيرِينَ.
وَأَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ (2964)، وَالطَّبَرَانِيُّ
فِي الْأَوْسَطِ (3705) مِنْ طَرِيقِ عَلِيِّ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ خَالِدِ الْحَذَّاءِ،
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، بِهِ. قُلْنَا: وَعَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ ضَعِيفٌ
“Shahih li
ghairih, dan sanad ini hasan karena Abu Ubaidah bin Hudzaifah; telah
meriwayatkan darinya sejumlah perawi dan ia dinyatakan tsiqah oleh Al-‘Ijli dan
Ibnu Hibban. Adapun perawi lainnya adalah para perawi tingkat Syaikhain.
Muhammad adalah Ibnu Sirin.
Dan
diriwayatkan juga oleh Al-Bazzar (2964) dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (3705)
dari jalur Ali bin Ashim, dari Khalid Al-Haddza’, dari Muhammad bin Sirin
dengan sanad ini.
Kami
katakan: Ali bin Ashim adalah perawi yang lemah”. [SELESAI]
****
KEEMPAT : HADITS ABU JUHAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu
Juhifah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ
شَيْءٌ»
“Barang
siapa memulai suatu sunnah yang baik kemudian diamalkan setelahnya, maka ia
mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah
yang buruk lalu diamalkan setelahnya, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang
yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”
Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 1/142 nomor 206.
Hadis ini
juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam *al-Bahr az-Zakhkhor* 10/145 nomor 4208,
ia berkata:
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma‘mar, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami al-Fadhl bin Dukain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu
Israil, dari al-Hakam, dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
دَهَمَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ مِنْ
قَيْسٍ مُجْتَابِي النِّمَارِ مُتَقَلِّدِينَ السُّيُوفَ فَسَاءَهُ مَا رَأَى مِنْ
هَيْئَتِهِمْ فَصَلَّى، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَجَلَسَ فِي
مَجْلِسِهِ فَأَمَرَ بِالصَّدَقَةِ، أَوْ حَضَّ عَلَيْهَا فَقَالَ:
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ تَصَدَّقَ
رَجُلٌ مِنْ دِرْهَمِهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ
صَاعِ تَمْرِهِ
فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ
مِنْ ذَهَبٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِهِ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَى كَوْمَيْنِ
مِنْ ثِيَابٍ وَطَعَامٍ فَرَأَيْتُ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ
مُذْهَبَةٌ، ثُمَّ قَالَ عِنْدَ ذَلِكَ:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً عُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ
عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ
شَيْئًا.
Sejumlah
orang dari (kabilah) Qais datang kepada Rasulullah ﷺ dengan memakai pakaian wool
yang berlubang-lubang dan membawa pedang. Maka buruklah apa yang beliau lihat
dari keadaan mereka. Lalu beliau salat, kemudian masuk ke rumahnya. Setelah itu
beliau keluar, salat, dan duduk di majelisnya. Lalu beliau memerintahkan
sedekah atau menganjurkannya. Maka seorang laki-laki bersedekah dengan satu
dinar, seorang dengan satu dirham, seorang dengan satu sha’ gandum, dan seorang
dengan satu sha’ kurma.
Kemudian
datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar dengan membawa sebungkus emas dan
meletakkannya di tangan beliau. Lalu orang-orang pun terus mengikuti hingga
terkumpul dua tumpukan pakaian dan makanan. Maka aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri seakan-akan seperti emas yang mengkilap.
Lalu beliau ﷺ bersabda saat itu:
“Barang
siapa memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan setelahnya, maka ia
mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk,
lalu diamalkan setelahnya, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang
mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Abu Bakr
berkata:
"وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا نعلمُهُ
يُرْوَى عَن أَبِي جُحَيْفَةَ إلَاّ بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَأبُو إِسْرَائِيلَ لَيِّنُ
الْحَدِيثِ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ سُفيان الثَّوْرِيّ وَجَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ واحتملوا
حديثه".
Hadis ini
tidak kami ketahui diriwayatkan dari Abu Juhaifah kecuali melalui sanad ini.
Dan Abu Israil adalah perawi yang lemah hadisnya, namun Sufyan ats-Tsauri dan
banyak perawi lainnya telah meriwayatkan darinya dan mereka menoleransi
hadisnya.
Syuaib
al-Arna’uth berkata dalam *Takhrij Sunan Ibn Majah* 1/142:
صَحِيحٌ بِمَا قَبْلَهُ مِنَ الْأَحَادِيثِ،
وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي إِسْرَائِيلَ: وَاسْمُهُ إِسْمَاعِيلُ
بْنُ خَلِيفَةَ. أَبُو نُعَيْمٍ: هُوَ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، وَالْحَكَمُ: هُوَ
ابْنُ عُتَيْبَةَ، وَأَبُو جُحَيْفَةَ: هُوَ وَهْبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السُّوَائِيُّ.
وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي
"الْأَوْسَطِ" (٤٣٨٦) مِنْ طَرِيقِ غَسَّانَ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ أَبِي
إِسْرَائِيلَ، بِهٰذَا الْإِسْنَادِ وَذَكَرَ فِيهِ قِصَّةً. وَغَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ
وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَضَعَّفَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ كَمَا فِي "لِسَانِ الْمِيزَانِ".
“Hadis ini
sahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, dan sanad ini hasan karena Abu
Israil—namanya Ismail bin Khalifah. Abu Nu’aim adalah al-Fadhl bin Dukain,
sedangkan al-Hakam adalah Ibn ‘Utaybah, dan Abu Juhaifah adalah Wahb bin
Abdullah as-Suwa’i.
Hadis ini
juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam *al-Mu‘jam al-Awsath* (4386) melalui
jalur Ghassan bin ar-Rabi’, dari Abu Israil dengan sanad ini dan ia menyebutkan
kisahnya. Ghassan bin ar-Rabi’ dinyatakan tsiqah oleh Ibn Hibban tetapi dinilai
lemah oleh ad-Daraquthni sebagaimana dalam *Lisan al-Mizan*”. [Selesai]
Disebutkan pula
oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir. Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir
oleh Al-Albani 2/1081 nomor 6306.
Hadits ini
dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan juga dinyatakan shahih dalam Shahih
At-Targhib 1/48.
****
KELIMA : HADITS ABU SA’ID AL-KHUDRY RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu
Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ،
شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»،
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»
“Kalian
benar-benar akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke lubang dhab,
kalian pasti akan mengikuti mereka.”
Kami
bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah mereka itu Yahudi
dan Nasrani?”
Beliau
menjawab, “Lalu siapa lagi?”
[Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari nomor 7320].
Lafaz
riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي
بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ» ، فَقِيلَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»
“Tidak akan
terjadi kiamat sampai umatku mengikuti (langkah-langkah) generasi-generasi
sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Lalu
dikatakan, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah seperti Persia dan
Romawi?”
Beliau
menjawab, “Lalu siapa lagi manusia kalau bukan mereka?”
[Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari nomor 7319].
****
KEENAM : HADITS IBNU MAS’UD RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari
Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا
كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ
مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
“Tidaklah
ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang
pertama ada bagian dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan
contoh (سَنَّ) pembunuhan.”
Diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677.
Ada yang
berkata :
قُلْتُ: مَعْنَى مَنْ سَنَّ مَنْ بَدَأَ
لِقَوْلِهِ ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ!
هَلِ الْقَتْلُ مَوْجُودًا ثُمَّ عُدِمَ
فَأَحْيَاهُ قَابِيلٌ؟
أَوْ كَانَ الْقَتْلُ مَوْقُوفًا فَأَنْفَذَهُ
قَابِيلٌ؟
هَذَا لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ.
Aku berkata:
makna dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah ﷺ: Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.
Apakah
pembunuhan itu sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali
oleh Qabil?
Ataukah
pembunuhan itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak
dikatakan oleh orang yang berakal.
****
KETUJUH : HADITS ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ
لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ
مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»
“Barang
siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan
barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti
dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Diriwayatkan
oleh Muslim nomor 2674.
****
KEDELAPAN : HADITS AISYAH RADHIYALLAHU ‘ANHA
Dalam hadits
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا – أَوْ دِينِنَا
– هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. وَفِي لَفْظٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا
لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
Siapa yang membuat
perkara baru dalam perkara (urusan) kami ini – atau agama kami ini – yang bukan bagian darinya, maka itu tertolak.
Dan dalam
lafaz lain: Siapa
yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perkara (urusan) kami, maka
amalan itu tertolak. [HR. Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dengan
sedikit perbedaan].
****
FIQIH HADITS :
Nabi ﷺ menjadikan perkara-perkara baru yang diada-adakan, namun jika itu
sesuai dengan syariat, maka dianggap sebagai sesuatu yang diterima, dan jika
itu perkara yang menyelisihi syariat, maka itu sebagai sesuatu yang ditolak.
Dalilnya
sangat jelas seperti matahari. Hadis-hadis ini menetapkan adanya sunnah hasanah
dan sunnah sayyi’ah. Makna “siapa yang membuat suatu sunnah yang baik” adalah
menciptakan sebuah cara atau perkara dalam agama yang sesuai dengan syariat.
Dan makna “siapa yang membuat suatu sunnah yang buruk” adalah siapa yang
menciptakan suatu perkara dalam agama yang bertentangan dengan syariat.
Karena itu
Nabi ﷺ mengekspresikan apa yang dibuat dan diadakan oleh para sahabat
sebagai “sunnah” ketika beliau bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
“Peganglah
sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus.”
Apa yang
diadakan oleh para sahabat itu tidak lain hanyalah gambaran dari apa yang
bersumber dari Nabi ﷺ.
Pada
hakikatnya apa yang diadakan para sahabat adalah ciptaan baru dalam agama,
namun ketika itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi baik, dan Nabi ﷺ menyebutnya sebagai “sunnah”; dan ini juga disebut sebagai “sebaik-sebaik
bid’ah” sebagaimana
ucapan Umar saat orang-orang dikumpulkan dalam salat tarawih: “sebaik-baik
bid’ah ini.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Siapa yang
menafsirkan ucapan Umar “bid’ah” sebagai bid’ah secara bahasa, maka ia keliru,
karena para sahabat ketika mengucapkan “amalan ini adalah bid’ah” mereka
bermaksud bid’ah secara syar’i, bukan secara bahasa. Penggunaan “bid’ah secara
bahasa” tidak dikenal di kalangan para sahabat. Dan konteks ucapan ini tentang
salat tarawih, yang merupakan urusan syariat.
Sabda
Nabi ﷺ:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
“peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah”
Maknanya adalah : peganglah
metodeku dan metodenya, serta cara para sahabatku.
Sunnah para
sahabat adalah sunnah yang diqiyaskan; karena itu, ia adalah sunnah Nabi ﷺ.
Demikian
pula para ulama rabbani yang datang setelah para sahabat: sunnah mereka yang
sesuai dengan syariat adalah sunnah yang diqiyaskan, dan itu merupakan sunnah
Nabi ﷺ.
Mereka telah
mengambil izin dari Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً»
“Siapa yang membuat suatu sunnah yang baik.”
Maka setiap sunnah
yang diqiyaskan adalah sunnah Nabi ﷺ.
0 Komentar