LEMAH SEKALI SANAD HADITS:
“SIAPA YANG MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG
TELAH MATI, MAKA BAGINYA PAHALA ORANG YANG MENGAMALKANNYA”?.
BAHKAN ADA YANG MENGATATAKAN PALSU.
----
Di Tulis Oleh Kang Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
===
DAFTAR ISI :
- PEMBAHASAN PERTAMA : TAKHRIJ HADITS
: “SIAPA YANG MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG TELAH MATI MAKA BAGINYA PAHALA
ORANG YANG MENGAMALKANNYA”
- DIROSAH SANAD HADIST
- PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG MAKNA “سَنَّ سُنَّةً” DALAM HADITS JARIR (R.A)
- HADITS-HADITS LAIN YANG DENGAN JELAS BERISI
PERINTAH MENGHIDUPKAN SUNNAH NABI ﷺ :
- HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
- PEMBAHASAN KEDUA : HADITS DENGAN LAFADZ MUTLAK
“مَنْ سَنَّ سُنَّةً”, BUKAN MUQOYYAD “سُنَّتِي”.
- FIQIH HADITS :
****
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA
: TAKHRIJ HADITS:
“SIAPA YANG
MENGHIDUPKAN SUNNAHKU YANG TELAH MATI MAKA BAGINYA PAHALA ORANG YANG
MENGAMALKANNYA”
Ada dua lafadz:
LAFADZ PERTAMA :
Dari Katsir bin
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Aku mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda.
«مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ
سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أَجْرِ
مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِ النَّاسِ شَيْئًا،
وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً لَا يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَإِنَّ عَلَيْهِ
مِثْلَ إِثْمِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ آثَامِ
النَّاسِ شَيْئًا»
Artinya : “Siapa
yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan sepeninggalku,
maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, tanpa
mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.
Dan siapa yang mengada-adakan suatu bidah yang tidak diridai oleh Allah
dan Rasul-Nya, maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengamalkannya,
tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.”.
HR. At-Tirmidzy 2677,
Ibnu Majah no. 210, al-Bazzar dalam al-Bahru az-Zakhkhor no. 3385 dan
al-Baghowi dalam Syarhu as-Sunnah no. 110.
Hadits ini disebutkan
pula dengan sanadnya dalam “al-Jami’ Lii ‘Uluumi al-Imam Ahmad 18/507 no. 2211.
Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abdulllah putra Imam Ahmad dalam al-‘Ilal
no. 4922.
LAFADZ KEDUA : TANPA KATA “قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي”:
Yaitu sbb :
«مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ
سُنَّتِي، فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا،
لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً، فَعُمِلَ
بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ
مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا»
“Barang siapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, lalu
manusia mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan barang siapa membuat sebuah bid’ah lalu diamalkan oleh orang lain,
maka ia menanggung dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi
dosa mereka sedikit pun.”
[Lihat : Sunan Ibnu
Majah no. 209 dan al-Matholib al-“aliyah karya Ibnu Hajar no. 3076].
****
DIROSAH SANAD HADITS
Di dalam sanadnya
terdapat “Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf”.
Mengenai Katsir bin
Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani: banyak para ulama yang mempermasalahkan-nya
dan mereka melemahkannya, bahkan sebagian dari mereka menuduhnya sebagai
pendusta. Oleh sebab itu ada sebagian para ulama yang mengatakan
bahwa hadits ini PALSU, diantaranya Syeikh Sulaiman Shuriy, dia
berkata:
قُلْنَا: هَذَا الْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ لَا
يُحْتَجُّ بِهِ، فِي إِسْنَادِهِ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ مَتْرُوكٌ
“Hadits ini palsu dan tidak
layak dijadikan hujjah, karena dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah
yang riwayatnya ditinggalkan oleh para ulama hadits”.
Berikut ini kutipan
pernyataan para pakar jarh wa ta’dil tentang perawi yang bernama “Katsir bin
Abdullah bin ‘Amr” sang perawi hadits tersebut diatas:
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata tentangnya:
ضَعِيفٌ وَمِنْهُمْ مَنْ نَسَبَهُ إِلَى
الْكَذِبِ
“Ia lemah, dan di
antara mereka ada yang menisbatkannya sebagai pendusta”. [Lihat: at-Taqrib
(2/132)].
Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam al-Kasyif (3/5):
وَاهٍ، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: كَذَّابٌ
“Sangat lemah; Abu
Dawud berkata: dia pendusta”.
Dalam Al-Jarh
wat-Ta'dil (7/154) Ibnu Abi Hatim ar-Razi meriwayatkan
dari Abu Thalib, bahwa dia berkata:
"سَأَلْتُ أَحْمَدَ،
يَعْنِي ابْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
عَوْفٍ؟ فَقَالَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ."
“Aku bertanya kepada
Ahmad —yakni ibnu Hanbal— tentang Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf? Beliau
berkata: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.”
[Lihat
pula : Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
Dan dalam Tahdzibul
Kamal 24/137 karya al-Mizzy, dia menyebutkan:
"قَالَ عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي
الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ بِشَيْءٍ."
“Abdullah bin Ahmad
berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari
Al-Musnad, dan beliau tidak meriwayatkan satu pun darinya kepada kami.” [Lihat
pula : Tahdzib at-Tahdzib 8/422]
Dan memang benar
demikian, karena Imam Ahmad tidak mengeluarkan satu pun hadits dari Musnad Amr
bin Auf, kakek Katsir.
Abu Khaitsamah berkata:
قَالَ لِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا
تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا.
Ahmad bin Hanbal
berkata kepadaku: jangan engkau meriwayatkan sesuatu pun darinya. [Lihat:
Tahdzibul Kamal 24/138].
Al-Imam Al-Bukhari berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْمِلُ
عَلَى كَثِيرٍ، يُضَعِّفُهُ
Ahmad bin Hanbal
sangat keras terhadap Katsir, beliau melemahkannya. [Lihat Tahdzibul Kamal
24/139, Bahrud Dam nomor 859].
Al-Imam An-Nasa’i dalam
ad-Dhu‘afa hal. 89 no. 504:
كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ
“ Katsir bin Abdullah
bin Amr bin Auf adalah seorang perawi yang ditinggalkan haditsnya
(ditolak)”.
Ibnu Hibban berkata dalam al-Majruhin 2/228 nomor 893:
كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي عَنْ أَنَسٍ مَا
لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ مِنْ غَيْرِ رِوَايَتِهِ، وَيَضَعُ عَلَيْهِ، ثُمَّ
يُحَدِّثُ عَنْهُ، لَا تَحِلُّ كِتَابَةُ حَدِيثِهِ وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ
إِلَّا عَلَى سَبِيلِ الِاخْتِبَارِ
“Ia termasuk orang
yang meriwayatkan dari Anas apa yang bukan termasuk haditsnya, bukan dari
jalurnya, dan ia membuat-buat hadits palsu atas nama Anas lalu
meriwayatkannya. Tidak halal menuliskan haditsnya dan tidak boleh
meriwayatkannya darinya kecuali sekadar untuk tujuan pengujian”.
Pentahqiq kitab
Mukhtashar Talkhish adz-Dzahabi karya Ibnu al-Mulaqqin 5/2314, Sa’ad bin
Abdullah al-Hummaid berkata:
الْحَدِيثُ فِي سَنَدِهِ كَثِيرُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو الْمُزَنِيُّ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ - كَمَا فِي
الْمُغْنِي (٢/ ٥٣١ رَقْم ٥٠٨٤) -؛ كَذَّبَهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ،
وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ، عَنْ أَحْمَدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ،
وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ، وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ، وَقَالَ أَبُو
خَيْثَمَةَ: قَالَ لِي أَحْمَدُ: لَا تُحَدِّثْ عَنْهُ شَيْئًا، وَقَالَ ابْنُ
مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ، وَقَالَ النَّسَائِيُّ
وَالدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: رَوَى عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ نُسْخَةً مَوْضُوعَةً لَا يَحِلُّ ذِكْرُهَا فِي الْكُتُبِ،
وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّعَجُّبِ.
الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا بِهٰذَا
الْإِسْنَادِ لِشِدَّةِ ضَعْفِ كَثِيرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hadits ini dalam
sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah bin Amr Al-Muzani, dan ia adalah perawi
yang ditinggalkan—sebagaimana dalam Al-Mughni (2/531 no. 5084). Asy-Syafi‘i dan
Abu Dawud menuduhnya sebagai pendusta.
Abu Thalib
meriwayatkan dari Ahmad: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.
Abdullah bin Ahmad
berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah dari Al-Musnad dan tidak
meriwayatkan sesuatu pun darinya kepada kami.
Abu Khaitsamah
berkata: Ahmad berkata kepadaku: jangan meriwayatkan sesuatu pun darinya.
Ibnu Ma‘in berkata:
tidak ada nilainya, haditsnya tidak boleh ditulis. An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni
berkata: ia ditinggalkan haditsnya.
Ibnu Hibban berkata:
ia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya sebuah kumpulan riwayat yang
dibuat-buat; tidak halal menyebutkannya dalam kitab-kitab, dan tidak boleh
meriwayatkannya kecuali dalam rangka menunjukkan keanehannya.
Hadits ini sangat
lemah dengan sanad ini karena sangat lemahnya Katsir. Allah lebih mengetahui”.
[Lihat Al-Jarh
wat-Ta'dil 7/154, Al-Kamil 7/187, Tahdzibul Kamal 24/137].
===
KESIMPULAN AKHIR:
Derajat hadits ini
adalah Dho’if Jiddan (lemah sekali), sebagaimana yang dinyatakan
oleh Syeikh al-Albani, dalam Dha‘if al-Jami‘ no. 5359, di mana beliau berkata :
(ضَعِيفٌ جِدًّا).
Bagitu pula dalam
Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits no. 210, dia mengutip
perkataan Syeikh al-Albani: (ضَعِيفٌ جِدًّا).
Basim Faishol
al-Jawabirah dalam Tahqiq kitab Ushul al-Iman karya Muhammad bin Abdul Wahab
at-Tamimi an-Najdi hal. 134 no. 97 berkata :
قُلْتُ: فِيهِ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ ضَعِيفٌ جِدًّا.
“Saya berkata: di
dalamnya terdapat Katsir bin Abdullah yang sangat lemah”.
Sementara Syu’aib
al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu Majah berkata :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ كَثِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
“Sanadnya lemah
karena kelemahan Katsir bin Abdullah bin Amr”.
Namun Syeikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 174 mengatakan: “صَحِيْحٌ لِغَيْرِه” / shahih lighoirihi. [Lihat pula Sunan Ibnu Majah
(Tahqiq Fuad Abdul Baqi) hadits no. 210]
****
PERBEDAAN
PENDAPAT
TENTANG MAKNA “سَنَّ سُنَّةً” DALAM HADITS JARIR (R.A)
Berikut ini
text hadits Jarir al-Bajaly- radhiyallahu 'anhu- (bukan hadits
Katsir yang diatas):
«مَن سَنَّ في الإسْلَامِ
سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ، مِن غيرِ
أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً
سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ
أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
“Barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan
pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari pahala mereka.
Dan barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya
dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari dosa mereka.” [HR. Muslim no. 1017]
Dalam hadits Jarir
ini lafadz nya umum «مَن سَنَّ سُنَّةً»,
tidak ada lafadz «مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي» sebagaimana dalam lafadz hadits Katsir.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “سَنَّ سُنَّةً” dalam hadits Jariri diatas
Ada dua pendapat atau
dua kelompok ulama:
Pendapat kelompok pertama : makna “سَنَّ سُنَّةً” dalam hadits Jarir diatas
adalah “menghidupkan sunnah Nabi ﷺ”.
Mereka berdalil
dengan hadits Katsir bin Abdullah diatas sebelum hadits Jarir ini. Bahkan
kelompok pendapat ini memahami : bahwa makna semua kalimat “سَنَّ سُنَّةً” dalam semua sabda-sabda Nabi ﷺ
adalah “menghidupkan
sunnah Nabi ﷺ”.
Jadi menurut kelompok
ini, makna “سَنَّ سُنَّةً” dalam hadits Jarir juga sama, yaitu “menghidupkan
sunnah Nabi ﷺ”, disesuaikan dengan makna hadits
Katsir bin Abdullah diatas.
Pendapat kelompok kedua : makna “سَنَّ سُنَّةً” di sini adalah memberikan
contoh atau teladan suatu amal perbuatan.
Yakni mereka berpendapat: “Bahwa makna “سَنَّ سُنَّةً” dalam hadits Jarir tersebut adalah : memulai suatu amal
perbuatan atau memberikan contoh atau teladan,
baik itu bagus, maupun buruk. Baik itu terpuji, maupun tercela”. Sebagaimana
yang nampak jelas dalam kronologi hadits Jarir tersebut.
Untuk lebih jelasnya,
silahkan lihat di pembahasan kedua dalam artikel ini!
Al-Karmani, yang masyhur dengan sebutan Ibnu al-Malik ( wafat 854 H ) dalam kitab
Syarah Mashoobiih as-Sunnah 1/175 no.132 ketika menjelaskan sabda Nabi ﷺ:
«وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ
ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ»
“Dan barang siapa
yang bikin-bikin bid’ah dholaalah (sesat), yang Allah dan Rosulnya tidak
meridhoinya”
Al-Karmani berkata:
(قَيَّدَ الْبِدْعَةَ
بِالضَّلَالَةِ لِإِخْرَاجِ الْبِدْعَةِ الْحَسَنَةِ كَالْمَنَارَةِ، فَلَا
يَسْتَحِقُّ مُبْتَدِعُهَا الذَّنْبَ) اهـ
Beliau ﷺ Mentaqyiid Bid’ah dengan kata “adholaalah”, tujuannya adalah untuk
mengecualikan al-Bid’ah al-Hasanah, seperti membangun menara (untuk adzan),
maka pelakunya tidak berhak mendapatkan dosa“.
Mereka berdalil
dengan beberapa hadits , diantaranya adalah sbb :
Dalil Ke 1 : Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا،
إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ
أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
“Tidaklah ada satu
jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang pertama ada
bagian (dosa) dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan contoh
(سَنَّ) pembunuhan.”
[Diriwayatkan
oleh Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677].
Sisi pendalilannya, mereka berkata :
مَعْنَى مَنْ سَنَّ مَنْ بَدَأَ
لِقَوْلِهِ ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ!
هَلِ الْقَتْلُ مَوْجُودًا ثُمَّ عُدِمَ
فَأَحْيَاهُ قَابِيلٌ؟ أَوْ كَانَ الْقَتْلُ مَوْقُوفًا فَأَنْفَذَهُ قَابِيلٌ؟
هَذَا لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ.
Aku berkata: makna
dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah ﷺ: Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.
Apakah pembunuhan itu
sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali oleh Qabil?
Ataukah pembunuhan
itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak dikatakan oleh
orang yang berakal.
Dalil ke 2 : Hadits Jarir Bin Abdullah al-Bajally , bahwa Rasulullah ﷺ bersabada :
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً
فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا
يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا،
كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ
مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».
Barang siapa yang
memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan
mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu
sunnah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung
dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi
dosa mereka sedikit pun.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan
makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna
yang serupa].
As-Sindi dalam
Hasyiyah Ibnu Majah 1/90 menjelaskan :
قَوْلُهُ (سُنَّةً حَسَنَةً) أَيْ
طَرِيقَةً مَرَضِيَّةً يُقْتَدَى فِيهَا وَالتَّمْيِيزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّيِّئَةِ
بِمُوَافَقَةِ أُصُولِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا. اهـ.
“Sabdanya (sunnah
hasanah) yaitu cara yang diridhoi yang dijadikan teladan di dalamnya. Pembedaan
antara yang baik dan yang buruk adalah dengan melihat kesesuaiannya dengan
pokok-pokok syariat atau ketidaksesuaian dengannya”. [Selesai].
Dan Al-Imam an-Nawawi
dalam Syarah Shahih Muslim 7/104 berkata :
فِيهِ الْحَثُّ عَلَى الِابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ
وَسَنِّ السُّنَنَ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيرُ مِنَ اخْتِرَاعِ الْأَبَاطِيلِ
وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ وَسَبَبُ هَذَا الْكَلَامِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ
قَالَ فِي أَوَّلِهِ فَجَاءَ رَجُلٌ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا
فَتَتَابَعَ النَّاسُ وَكَانَ الْفَضْلُ الْعَظِيمُ لِلْبَادِي بِهَذَا الْخَيْرِ
وَالْفَاتِحُ لِبَابِ هَذَا الْإِحْسَانِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ
قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ
وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ هَذَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ
الْجُمُعَةِ وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَاجِبَةٌ
“Di dalam hadits ini
terdapat anjuran untuk memulai berbagai kebaikan dan menetapkan sunnah-sunnah
yang baik, serta peringatan dari mengada-adakan kebatilan dan hal-hal yang
tercela.
Sebab penjelasan ini
disebutkan dalam hadits tersebut adalah karena beliau berkata pada bagian
awalnya:
“Lalu datang
seorang lelaki membawa sebuah kantong sedekah yang hampir-hampir tangannya
tidak sanggup menahannya, kemudian orang-orang pun mengikutinya”.
Maka keutamaan yang
sangat besar adalah milik orang yang pertama kali memulai kebaikan ini dan
membuka pintu kebaikan tersebut.
Dalam hadits ini juga
terdapat pengkhususan terhadap sabda Rasulullah ﷺ: “Setiap
perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”, yaitu bahwa
yang dimaksud dengannya adalah perkara-perkara baru yang batil dan
bid’ah-bid’ah yang tercela. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan
sebelumnya dalam Kitab Shalat Jumat, dan di sana telah kami sebutkan bahwa
bid’ah terbagi menjadi lima macam, di antaranya ada yang wajib”. [Selesai]
Kronologi Hadits:
Imam Muslim
meriwayatkan: dari Jarir bin Abdullah al-Bajally, bahwa dia berkata:
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ
النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ
العَبَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن
مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ،
فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ
فَقالَ:
«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ
﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في
الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا
اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن
ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ، حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ
تَمْرَةٍ»
قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ
بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ
تَتَابَعَ النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى
رَأَيْتُ وَجْهَ رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.
فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا
بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن
بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
Kami pernah berada di
sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Lalu datanglah
sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi, mengenakan
jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak mereka.
Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari
Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (tampak sedih) ketika melihat
keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke rumahnya), kemudian
keluar lagi.
Beliau memerintahkan
Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat, kemudian
berkhutbah seraya membaca:
“Wahai manusia,
bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa”
hingga akhir ayat,
“Sesungguhnya Allah
selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).
Dan juga ayat dalam
Surah Al-Hasyr:
“Bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).
Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya,
pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun hanya
separuh butir kurma.”
Lalu datanglah
seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga tangannya
hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat menahannya. Setelah
itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat dua tumpukan besar
berisi makanan dan pakaian.
Melihat hal itu,
wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri seperti emas yang
berkilauan. Kemudian Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan
pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari pahala mereka.
Dan barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya
dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari dosa mereka.”
[HR. Muslim
no. 1017. Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan
Ath-Thayalisi (705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]
Dalil yang diambil oleh Kelompok kedua dari hadits ini adalah
sbb :
“Sunnah yang di
maksud dalam haditst di atas ini bukan sunnah Nabi ﷺ, melainkan amal perbuatan secara mutlak, karena sunnah Nabi ﷺ itu tidak terbagi dua, baik dan buruk.
Dan makna lafadz
“sanna” yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ
di sini adalah “memulai”,
bukan “menghidupkan sunnah kembali” sebagaimana yang diklaim oleh
sebagian orang”.
Kelompok kedua ini juga berargumentasi dengan berikut ini:
“Di antara yang
menguatkan apa yang kami katakan adalah perkataan Mu’adz ibnu Jabal
radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
"وَكَانُوا يَأْتُونَ
الصَّلَاةَ، وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ
يُشِيرُ إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ
اثْنَتَيْنِ فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ:
فَجَاءَ مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ
عَلَيْهَا، ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ
النَّبِيُّ ﷺ بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ
صَلَاتَهُ قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ
مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»".
Bahwa pada mulanya
para sahabat sering datang terlambat ke tempat shalat berjemaah (di mesjid
nabawi), mereka datang ketika Nabi ﷺ
telah menyelesaikan
sebagian dari salatnya.
Maka seorang lelaki
dari mereka bertanya kepada salah seorang yang sedang shalat melalui
isyarat yang maksudnya ialah : " berapa rakaat shalat yang telah
dikerjakan?".
Lelaki yang ditanya
menjawabnya dengan isyarat : " satu atau dua rakaat ".
Lalu dia menyusul
dengan cara mengerjakan shalat yang tertinggal itu sendirian. Setelah itu
ia baru masuk ke dalam sholat berjamaah, menggabungkan diri dengan bermakmum
kepada Nabi ﷺ.
Perawi hadits mengatakan :
Lalu datanglah Mu’adz
. Dan Muadzd berkata : "Tidak sekali-kali ada suatu tahapan yang baru yang
dialami oleh Nabi ﷺ melainkan aku terlibat di
dalamnya."
Pada suatu hari Muadz
datang, sedangkan Nabi ﷺ telah mendahuluinya dengan sebagian
salatnya. Maka Mu’adz langsung ikut bermakmum kepada Nabi ﷺ. Setelah Nabi ﷺ
menyelesaikan
salatnya, lalu bangkitlah Mu’adz untuk melanjutkan shalatnya yang ketinggalan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ
مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا»
"Sesungguhnya
Mu’adz telah membuat suatu sunnah bagi kalian [yakni : tata cara sholat makmum
masbuq. PEN]; maka tirulah oleh kalian perbuatannya itu".
(yakni
: langsung masuk ke dalam sholat berjamaah. Dan apabila imam selesai dari
salatnya, baru ia menyelesaikan rakaat yang tertinggal , dengan shalat
sendirian).
[ HR. Ahmad 36/438 ,
Abu Daud 1/140 no. 507 , al-Hakim 2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah
al-Musykil 1/417 no. 478 ]
Hadits ini di
Shahihkan oleh al-Hakim dengan mengatakan : " Shahih sesuai syarat Shahih
bukhori dan Muslim ". Dan disetujui oleh adz-Dzahabi .
Di shahihkan pula
oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhish al-Habir 2/546 dan juga oleh
al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no. 478 dan dalam al-Irwaa 4/20 .
Dalam hadits ini
tampak jelas bahwa makna “man sanna” di sini adalah “barang siapa memulai”.
Adapun hadits yang
menunujukkan makna “sanna” itu adalah menghidupkan sunnah yang mati, maka
menurut mereka status haditsnya antara palsu dan dho’if sekali”. [SELESAI]
Lalu mereka dari kelompok kedua ini berkata pula :
وَمِنَ العَجَبِ العُجَابِ اِحْتِجَاجُهُ
عَلَى شُمُولِ الكُلِّيَّةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ
دِينَكُمْ﴾ مَعَ أَنَّ الآيَةَ نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَبَعْدَهَا نَزَلَتْ
سُورَةُ الفَتْحِ بِمُزْدَلِفَةَ، وَآخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ ﴿يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ
اللهُ يُفْتِيكُمْ﴾، أَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ رَقْم 4654 وَمُسْلِم رَقْم 1618
وَأَبُو دَاوُد رَقْم 2888 وَالتِّرْمِذِي 2041.
Dan sungguh
mengherankan sekali bahwa ia berdalil tentang cakupan keumuman dengan firman
Allah :
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kalian”. [QS. Al-Maidah : 3]
Padahal ayat itu
turun pada hari Arafah. Kemudian setelahnya turun Surah Al-Fath di Muzdalifah.
Dan ayat terakhir
yang turun adalah :
﴿يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ
يُفْتِيكُمْ﴾
“Mereka meminta
fatwa kepadamu, katakanlah: Allah memberi fatwa kepada kalian”. [QS.
An-Nisaa : 176]
Sebagaimana
diriwayatkan oleh Bukhari nomor 4654, Muslim nomor 1618, Abu Dawud nomor 2888
dan Tirmidzi nomor 2041”. [SELESAI]
Dan dari Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
آخِرِ آيَةٍ نَزَلَتْ: ﴿وَاتَّقُوا
يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ﴾
Ayat terakhir yang
diturunkan adalah “Dan takutlah kalian terhadap suatu hari ketika kalian
dikembalikan kepada Allah”. [QS. Al-Baqarah : 281]
Diriwayatkan oleh
al-Qurthubi 6/ 28 dan Asbab an-Nuzul hal. 9, namun sanadnya lemah.
===***===
HADITS-HADITS LAIN
YANG DENGAN JELAS
BERISI PERINTAH MENGHIDUPKAN SUNNAH NABI ﷺ:
****
HADITS PERTAMA:
Hadits Ibnu Abbaas
radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ
فَسَادِ أُمَّتِي، فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ.
Siapa yang berpegang
teguh pada sunnahku di saat rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus orang
syahid.
===
TAKHRIJ HADITS :
Al-Baihaqi dalam
kitab Az-Zuhd Al-Kabir hal. 118 no. 207 meriwayatkan :
Abu Al-Husain bin
Bisyran mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad Hamzah bin Muhammad bin Al-Abbas
memberitahukan kepada kami, Abdullah bin Rawh meriwayatkan kepada kami,
Al-Hasan bin Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Abdul Khaliq bin Al-Mundzir
meriwayatkan kepada kami, dari ibnu Abi Nujaih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi. Beliau ﷺ
bersabda:
«مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ
فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ»
“Siapa yang berpegang
teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan, maka ia mendapatkan
pahala seratus syahid.”
Hadits ini juga
diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab Al-Kamil 3/174, Ibnu Busyron
al-Baghdadi dalam al-Amali hal. 218 no. 501 dan hal. 306 no. 700.
Diriwayatkan oleh
Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil 2/90 dan Ibnu Bisyran dalam Al-Amali 1/93 dan 2/141
melalui jalur Al-Hasan bin Qutaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
‘Abdul Khaliq bin Al-Mundzir dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas secara
marfu‘.
Dan disebutkan pula
oleh Adz-Dzahabi dalam kitab Mizan Al-I‘tidal.
Dan disebutkan pula
oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan 3/106, lalu beliau mengutip
penilaian para ulama jarh wa ta’dil tentang perawi yang bernama “Al-Hasan bin
Qutaibah al-Mada’ini”:
قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: "أَرْجُو
أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ". قُلْتُ: "بَلْ هَالِكٌ". قَالَ
الدَّارَقُطْنِيُّ فِي رِوَايَةِ الْبَرْقَانِيِّ: "مَتْرُوكُ
الْحَدِيثِ". وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: "ضَعِيفٌ". وَقَالَ
الْأَزْدِيُّ: "وَاهِيَ الْحَدِيثِ". وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ:
"كَثِيرُ الْوَهْمِ". انْتَهَى.
وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: "شَيْخٌ
مِنْ أَهْلِ الْمَدَائِنِ سَكَنَ بَغْدَادَ، يَرْوِي عَنْ مَسْعَرٍ وَشُعْبَةَ،
وَعَنْهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَهْلُ الْعِرَاقِ، يُخْطِئُ وَيُخَالِفُ".
قَالَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ.
Ibnu ‘Adiy berkata:
“Aku berharap tidak mengapa dengannya”. Aku (Ibnu Hajar) berkata: “Bahkan yang
benar dia itu binasa (sangat lemah)”.
Ad-Daraquthni dalam
riwayat Al-Barqani berkata: “ia ditinggalkan haditsnya”.
Abu Hatim berkata: “lemah”.
Al-Azdi berkata:
“haditsnya rapuh”.
Al-‘Uqaili berkata:
“banyak wahm (keliru)”. (Selesai).
Ibnu Hibban berkata:
“Dia seorang syaikh dari penduduk Al-Mada’in yang tinggal di Baghdad, ia
meriwayatkan dari Mas‘ar dan Syu‘bah, dan darinya ibnu Abi Syaibah serta
penduduk Irak meriwayatkan. Ia banyak melakukan kesalahan dan menyelisihi
(riwayat yang benar)”. Hal ini dikatakan Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat. [Kutipan
dari Lisan al-Mizan Selesai]
Dan hadits ini
disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Silsilah
Al-Ahadits Adh-Dha‘ifah wal Maudhu‘ah jilid pertama nomor 326, dan beliau
menilainya sebagai “hadits yang sangat lemah (ضَعِيفٌ جِدًّا).
Syeikh al-Albani
berkata :
قُلتُ: وَهٰذَا سَنَدٌ ضَعِيفٌ
جِدًّا، وَعِلَّتُهُ الْحَسَنُ بْنُ قُتَيْبَةَ، قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي
"الْمِيزَانِ": هَالِكٌ، قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ
الْحَدِيثِ، وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: ضَعِيفٌ، وَقَالَ الْأَزْدِيُّ: وَاهِيَ
الْحَدِيثِ، وَقَالَ الْعَقِيلِيُّ: كَثِيرُ الْوَهْمِ.
“Saya berkata: Ini
adalah sanad yang sangat lemah sekali, dan cacatnya terletak pada
Hasan bin Qutaibah. Az-Zahabi berkata dalam kitab Al-Mizan: ia binasa.
Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan hadisnya. Abu Hatim berkata: ia lemah.
Al-Azdi berkata: hadisnya rapuh. Al-Aqili berkata: ia banyak keliru”. [Silsilah
Al-Ahadits Adh-Dha‘ifah wal Maudhu‘ah1/497 no. 326]
Dan Syaikh Al-Albani
mendhaifkannya pula dalam kitab Dhaif at-Targhib wat-Tarhib (1/36 nomor 31) dan
dalam Al-Misykat (176).
Dan al-Fattani dalam
kitabnya Tadzkirotul Mawdhu’aat hal. 44 (kumpulan hadits palsu), dia berkata :
وَفِي حَدِيثٍ حَسَنٍ «مَنْ أَحْيَا
سُنَّةً وَأَمَاتَ بِدْعَةً كَانَ لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ»
Dalam hadits hasan:
“Siapa yang menghidupkan suatu sunnah dan mematikan suatu bidah, maka baginya
pahala seratus syahid.”
****
HADITS KE DUA :
Hadits Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu :
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ
فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ»
“Orang yang berpegang
teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan baginya pahala seorang
syahid.”
====
TAKHRIJ HADITS :
Diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani dalam al-Awsath (5/315) nomor 5414 dan melalui jalurnya Abu Nu’aim
dalam al-Hilyah (8/200) dari hadis Abu Hurairah radhiayllahu ‘anhu bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda :
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ
فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ»
“Orang yang berpegang
teguh pada sunnahku ketika umatku berada dalam kerusakan baginya pahala seorang
syahid.”
Ath-Thabrani berkata:
لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ
عَطَاءٍ إِلَّا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رَوَّادٍ، وَتَفَرَّدَ بِهِ: ابْنُهُ
عَبْدُ الْمَجِيدِ "
Tidak ada yang
meriwayatkan hadis ini dari Atha’ selain Abdul Aziz bin Abi Rawwad, dan yang
menyendirinya adalah putranya, Abdul Majid.
Saya katakan:
Abdul Aziz adalah
Ibnu Abi Rawwad. Abu Hatim berkata: ia tidak kuat. Ibnu Hibban berkata: ia
sering membalikkan riwayat dan meriwayatkan kemunkaran dari tokoh-tokoh
terkenal sehingga ia berhak ditinggalkan. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, An-Nasa’i,
Ahmad dan lainnya menilainya tsiqah. Karena itu Ibnu Hajar berkata tentangnya:
shaduq. Ibnu Hibban berlebihan ketika berkata: matruk.
Adapun putranya Abdul
Majid, ia shaduq namun sering salah-salah. [Lihat : at-Tahdzib
(6/381) dan al-Mizan (2/648)].
Al-Haitsami
menyebutkannya dalam al-Majma’ (1/172 nomor 800) dan berkata:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي
الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعَدَوِيُّ، وَلَمْ أَرَ مَنْ
تَرْجَمَهُ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ
“Hadis ini
diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Awsath, dan di dalam sanadnya terdapat
Muhammad bin Shalih al-‘Adawi, dan aku tidak menemukan yang memberikan biografi
tentangnya, sementara para perawi lainnya tsiqah”.
Dan dalam as-Silsilah
adh-Dho’ifah 1/458 no. 327 Syeikh al-Albani berkata:
هُوَ مُخْتَلَفٌ فِيهِ، وَفِي
"التَّقْرِيبِ": صَدُوقٌ يُخْطِئُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ
الْعَذَرِيُّ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ أَوِ الْمُهْمَلَةِ لَمْ أَعْرِفْهُ،
وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ فِي "الْمَجْمَعِ" (1 / 172): رَوَاهُ
الطَّبَرَانِيُّ فِي "الْأَوْسَطِ" وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ
الْعَدَوِيُّ (هَكَذَا) وَلَمْ أَرَ مَنْ تَرْجَمَهُ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ
ثِقَاتٌ.
وَمِنْهُ تَعْلَمُ أَنَّ قَوْلَ
الْمُنْذِرِيِّ (1 / 41): وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ، لَيْسَ كَمَا يَنْبَغِي.
Ia diperselisihkan
keadaannya, dan dalam At-Taqrib disebutkan: ia jujur namun sering keliru.
Adapun Muhammad bin Shalih Al-‘Udzri, dengan dzal bertitik atau tanpa titik,
aku tidak mengenalnya.
Al-Haitsami berkata
dalam Al-Majma‘ 1/172: hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath,
dan di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Shalih Al-‘Adawi, demikian katanya,
dan aku tidak melihat ada yang menerjemahkan biografinya, sedangkan
perawi-perawi selainnya adalah orang-orang yang terpercaya.
Dari sini dapat
diketahui bahwa perkataan Al-Mundziri 1/41: “Sanadnya tidak mengapa,” tidaklah
sebagaimana mestinya”. [Selesai kutipan dari Syeikh al-Albani]
Saya katakan :
kritikan ini juga berlaku pada perkataan Asy-Syaikh Abdul Haqq ketika berkata
dalam Lum’atut Tanqih (1/238): “Sanadnya hasan.”
Lafadz lain dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
«مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ
فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أجر مائَة شَهِيد»
“Siapa yang berpegang
teguh pada sunahku pada saat umatku berada dalam kerusakan, maka ia akan
memperoleh pahala seratus syahid.”
[Lihat
: Mirqootul Mafaatih oleh al-Malaa al-Qori 1/262 no. 176 dan Misyaktul Mashobih
karya oleh at-Tibrizi 1/162 no. 176. Di nilai dho’if oleh al-Albani dalam
Takhrij Misyaktul Mashobih no. 176 (37)].
====
KESIMPULAN STATUS HADITS :
Syeikh al-Albani
dalam Hidayatur Ruwaah no. 174 :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا
“Sanadnya lemah
sekali”.
Dan Syaikh al-Albani
mendhaifkannya juga dalam Dha’if at-Targhib wat-Tarhib (1/36 nomor 31) dan
dalam al-Misykat (176).
Di sana hadis ini
dinisbatkan pada kitab asy-Syu’ab karya al-Baihaqi, namun dalam Kanzul ‘Ummal
(nomor 1071) hanya dinisbatkan kepada Ath-Thabrani dalam al-Awsath dan Abu
Nu’aim dalam al-Hilyah.
Dan dalam as-Silsilah
adh-Dho’ifah 1/498 no. 327 Syeikh al-Albani berkata:
«وَيُغْنِي عَنْهُ حَدِيثُ:
«إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ
بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ. وَهُوَ مُخْرَجٌ فِي
"الصَّحِيحَةِ" (494) »
Dan telah mencukupi
dari hadis ini adalah hadis: “Sesungguhnya sepeninggal kalian akan ada
hari-hari penuh kesabaran; orang yang berpegang teguh pada ajaran kalian ketika
itu akan memperoleh pahala lima puluh dari kalian. Hadis ini terdapat dalam
ash-Shahihah (494)”. [Selesai]
Penulis katakan :
Namun hadits yang disebutkan Syeikh al-Albani ini, juga lemah sanadnya,
sebagaimana yang akan penulis jelaskan nanti, dalam artikel ini juga.
****
HADITS KE TIGA:
Dari Ibnu Mas’ud
radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ
اخْتِلَاف أُمَّتِي كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ».
“Orang yang berpegang
teguh pada sunahku ketika umatku berselisih seperti orang yang menggenggam bara
api”.
Disebutkan oleh
Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Nawadir Al-Ushul (1/119), Dan Adh-Dhiya Al-Maqdisi
dalam kitab Al-Muntaqa min Masmu‘ati-hi bi-marw (1/99) dan oleh Al-Kalabadzi
dalam Bahr Al-Fawaid (Ma’aani al-Akhbaar) halaman 374.
Kemudian Al-Kalabadzi
mnyebutkan sanadnya:
Telah menceritakan
kepada kami Khalf bin Muhammad, ia berkata: telah
menceritakan Hamid bin Sahl, ia berkata: telah menceritakan Humaid
bin Ali Al-Bakhtari, ia berkata: telah menceritakan Ja’far bin
Muhammad, ia berkata: telah menceritakan Abu Ishaq Al-Fazari dari Mughirah,
dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ.
Dikatakan oleh
Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 2/646–647 nomor 957:
"عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ
مَرْفُوعًا بِلَفْظِ:
"يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ الْمُتَمَسِّكُ فِيهِ بِسُنَّتِي عِنْدَ اخْتِلَافِ أُمَّتِي كَالْقَابِضِ
عَلَى الْجَمْرِ".
أَخْرَجَهُ أَبُو بَكْرٍ الكَلَابَاذِيُّ
في "مِفْتَاحِ الْمَعَانِي" (ق 188/2) وَالضِّيَاءُ المَقْدِسِيُّ في
"المُنْتَقَى مِنْ مَسْمُوعَاتِهِ بِمَرْوٍ" (99/1) مِنْ طَرِيقَيْنِ
عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ البَخْتَرِيِّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الفَزَارِيُّ، عَنْ مُغِيرَةَ، عَنْ
إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، عَنْهُ.
قُلْتُ: مِنْ دُونِ أَبِي إِسْحَاقَ –
وَاسْمُهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثِقَةٌ حَافِظٌ – لَمْ أَعْرِفْهُمْ.
وَقَدْ عَزَاهُ السُّيُوطِيُّ
لِلْحَكِيمِ التِّرْمِذِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَبَيَّضَ لَهُ
المُنَاوِيُّ".
Dari Ibnu Mas'ud
radhiyallahu 'anhu secara marfu dengan lafaz:
“Akan
datang suatu masa kepada manusia, orang yang berpegang teguh pada sunnahku
ketika umatku berselisih adalah seperti orang yang menggenggam bara api.”
Hadis ini dikeluarkan
oleh Abu Bakar Al-Kalabadzi dalam Miftah Al-Ma‘ani (hal. 188/2) dan Adh-Dhiya
Al-Maqdisi dalam Al-Muntaqa min Masmu‘atihi bimaru (99/1) melalui dua jalur
dari Humayd bin Ali Al-Bakhtari, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami Ja‘far bin Muhammad Al-Hamdani, telah menceritakan
kepada kami Abu Ishaq Al-Fazari, dari Mughirah,
dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Ibnu
Mas‘ud.
Aku (al-Albani)
berkata: Para perawi di bawah Abu Ishaq – dan nama Abu Ishaq adalah Ibrahim bin
Muhammad, seorang yang terpercaya dan hafiz – aku tidak mengetahui mereka.
As-Suyuthi telah menisbatkannya
kepada Al-Hakim At-Tirmidzi dari Ibnu Mas‘ud, dan Al-Munawi tidak memberikan
penjelasan apa pun”. [SELESAI]
Berarti dalam sanad
hadits ini menurut Syeikh al-Albani ada 4 perawi di bawah Abu Ishaq yang tidak
di kenal.
Namun hadits di nilai
HASAN oleh Syeikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6676.
****
HADITS KEEMPAT :
Hadits Abu Hurairah
radhiyalahu ‘anhu :
الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ
كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Orang yang berpegang
teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang yang memegang bara api”.
===
TAKHRIJ HADITS :
Imam Ahmad berkata:
Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Lahi'ah menceritakan
kepada kami, Abu Yunus menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah. Dan Hasan
berkata: Ibnu Lahi'ah menceritakan kepada kami, Abu Yunus menceritakan kepada kami,
dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
" وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ
شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ
الرَّجُلُ مُؤْمِنًا، وَيُمْسِي كَافِرًا، يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ
الدُّنْيَا قَلِيلٍ، الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى
الْجَمْرِ - أَوْ قَالَ: عَلَى الشَّوْكِ - ".
قَالَ حَسَنٌ فِي حَدِيثِهِ: "
خَبَطِ الشَّوْكِ "
“Celaka
bagi bangsa Arab karena keburukan yang telah mendekat, berbagai fitnah seperti
potongan malam yang gelap, seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman lalu
pada sore hari menjadi kafir :
Suatu kaum menjual agama mereka dengan sedikit dari harta dunia.
Orang yang berpegang teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang
yang memegang bara api”.
Atau beliau ﷺ berkata: “memegang duri”.
Hasan berkata dalam
riwayatnya: “menerjang duri”.
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam al-Musnad 15/33-34 nomor 9073.
Syu’aib al-Arnauth dan para pentahqiq Musnad 15/34 berkata:
وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، ابْنُ
لَهِيعَةَ سَيِّئُ الْحِفْظِ. حَسَنٌ: هُوَ ابْنُ مُوسَى الْأَشْيَبُ، وَأَبُو
يُونُسَ: هُوَ سُلَيْمُ بْنُ جُبَيْرٍ مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ
Dan sanad ini lemah.
Ibnu Lahi'ah buruk
hafalannya. Hasan adalah Ibnu Musa al-Asy-yab. Dan Abu Yunus adalah Sulaim bin
Jubair maula Abu Hurairah. [Selesai]
Hadis ini juga
dikeluarkan oleh al-Firyabi dalam Sifat al-Munafiq (100) dari Qutaibah bin
Sa'id, dari Ibnu Lahi'ah dengan sanad ini.
Al-Albani berkata dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor
957:
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ (5 / 390 - 391)
وَأَبُو عَمْرٍو بْنُ مُنْدَهْ فِي "أَحَادِيثِهِ" (ق 18 / 2) وَابْنُ
عَسَاكِرَ فِي "تَارِيخِ دِمَشْقَ" (19 / 252 / 2) مِنْ طُرُقٍ عَنْ
ابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ أَبِي يُونُسَ عَنْهُ.
قُلْتُ: وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ فِي
الشَّوَاهِدِ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ غَيْرَ ابْنِ لَهِيعَةَ، فَإِنَّهُ سَيِّئُ
الْحِفْظِ.
“Hadis
ini dikeluarkan oleh Ahmad (5/390–391), Abu Amr bin Mandah dalam Ahadits-nya
(hal. 18/2), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (19/252/2) melalui beberapa
jalur dari Ibnu Lahi'ah dari Abu Yunus darinya.
Aku (al-Albani)
berkata: Sanadnya tidak mengapa jika untuk penguat (syahid), para perawinya
tsiqah kecuali Ibnu Lahi'ah, karena ia buruk hafalannya”.
Namun terdapat syahid
untuk sabda beliau ﷺ :
الْمُتَمَسِّكُ
يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Orang yang berpegang
teguh pada agamanya pada hari itu seperti orang yang memegang bara api”.
Syahid ke 1 : dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dengan lafaz:
"يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ"
Akan datang kepada
manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam memegang agamanya seperti orang
yang memegang bara api, [diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2260)].
Syahid 2 : dari hadits Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu
dalam hadis panjang di Abu Dawud (4341), at-Tirmidzi (3058), Ibnu Majah (4014),
dan Ibnu Hibban (385) dengan lafaz:
"فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ
أَيَّامًا، الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ".
“Sesungguhnya setelah
kalian ada hari-hari yang kesabaran di dalamnya seperti memegang bara api”.
Akan tetapi Syu’aib
al-Arnauth dan para pentahqiq Musnad 15/34 berkata:
وَإِسْنَادُهُمَا ضَعِيفَانِ.
Kedua shahid tersebut sanadnya lemah.
MUFRODAAT:
Makna sabdanya ﷺ : “فِتَنًا” yakni dalam keadaan keburukan itu berupa fitnah.
Makna sabdanya ﷺ: “بِعَرَضٍ”, artinya harta atau barang
dunia.
Makna sabdanya ﷺ: “خَبَطِ”. al-khobath adalah sesuatu
yang berjatuhan dari pohon ketika dipukul dengan tongkat.
-----
HADITS ANAS BIN MALIK:
At-Tirmidzi
meriwayatkan dalam Sunannya nomor 2260: Ismail bin Musa al-Fazzari, anak
perempuan as-Suddi al-Kufi, menceritakan kepada kami, ia berkata: Umar bin
Syakir menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
Akan datang kepada
manusia suatu zaman, orang yang sabar dalam memegang agamanya seperti orang
yang memegang bara api.
At-Tirmidzi berkata:
"هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ
مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَعُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ شَيْخٌ بَصْرِيٌّ قَدْ رَوَى عَنْهُ
غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ".
“Ini adalah hadis
gharib dari jalur ini, dan Umar bin Syakir adalah seorang syaikh dari Bashrah,
telah diriwayatkan darinya oleh lebih dari satu ulama”.
Dalam sanadnya
terdapat seorang perawi bernama Umar bin Syakir.
Al-Albani berkata
dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor 957:
قُلْتُ: وَهُوَ ضَعِيفٌ كَمَا فِي
"التَّقْرِيبِ".
“Aku berkata: Dan ia
(Umar bin Syakir) adalah perawi yang lemah sebagaimana dalam kitab at-Taqrib”.
Ibnu Adiy berkata
dalam al-Kamil fi adh-Dhuafa (5/55):
عُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ يُحَدِّثُ عَنْ
أَنَسٍ بِنُسْخَةٍ قَرِيبًا مِنْ عِشْرِينَ حَدِيثًا غَيْرَ مَحْفُوظَةٍ. ثُمَّ
ذَكَرَ ابْنُ عَدِيٍّ مِنْهَا هَذَا الحَدِيثَ
Umar bin Syakir
meriwayatkan dari Anas dengan satu kumpulan riwayat yang mendekati dua puluh
hadis yang tidak terjaga. Kemudian Ibnu Adi menyebutkan di antaranya hadis ini.
Al-Manawi Abu
al-Ma'ali Shadruddin berkata dalam Kasyf al-Manahij wat-Tanaqih 4/436 nomor
4270:
وَفِي سَنَدِهِ: عُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ،
لَمْ يَرْوِهِ مِنْ أَصْحَابِ الكُتُبِ السِّتَّةِ غَيْرُ التِّرْمِذِيِّ،
وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَغَيْرُهُ، وَأَدْخَلَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ
الثِّقَاتِ فَنُقِمَ عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَهُ نُسْخَةٌ
نَحْوُ مِنْ عِشْرِينَ حَدِيثًا غَيْرُ مَحْفُوظَةٍ وَذَكَرَ مِنْهَا هَذَا
الحَدِيثَ
“Dalam sanadnya
terdapat Umar bin Syakir. Tidak ada seorang pun dari para penulis Kutubus
Sittah yang meriwayatkannya selain at-Tirmidzi. Abu Hatim dan selainnya
mendho'ifkannnya (melemahkannya).
Ibnu Hibban
memasukkannya dalam kitab ats-Tsiqat sehingga hal itu dikritik padanya.
Ibnu Adi berkata: Ia
memiliki satu kumpulan riwayat sekitar dua puluh hadis yang tidak terjaga, dan
ia menyebutkan di antaranya hadis ini”.
Al-Mizzi berkata
dalam Tahdzib al-Kamal 5/358:
وَلَيْسَ فِي كِتَابِ التِّرْمِذِيِّ
حَدِيثٌ ثُلَاثِيٌّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَنْفُسٍ
غَيْرُ هَذَا الحَدِيثِ…
“Tidak ada dalam
kitab at-Tirmidzi sebuah hadis yang hanya tiga mata rantai antara dia dan Nabi ﷺ selain hadis ini”.
----
HADITS ABU TSA’LABAH AL-KHUSYANI
Tirmidzi meriwayatkan
dalam Sunannya nomor 3058:
Said bin Ya'qub
ath-Thalaqani berkata: Abdullah bin al-Mubarak berkata: Utbah bin Abi Hakim
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Amr bin Jariyah al-Lakhmi menceritakan
kepada kami, dari Abu Umayyah asy-Sya'bani, ia berkata:
أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيَّ،
فَقُلْتُ لَهُ: كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الآيَةِ؟ قَالَ: أَيَّةُ آيَةٍ؟ قُلْتُ:
قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا
يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ} [المائدة: 105] قَالَ: أَمَا
وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا، سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ:
«بَلْ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا
رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ
كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ العَوَامَّ، فَإِنَّ
مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى
الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ
مِثْلَ عَمَلِكُمْ» قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ المُبَارَكِ: وَزَادَنِي غَيْرُ
عُتْبَةَ - قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنَّا أَوْ
مِنْهُمْ. قَالَ: «بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ».
Aku datang kepada Abu
Tsa'labah al-Khusyani, lalu aku berkata kepadanya: Bagaimana engkau memahami
ayat ini? Ia berkata: Ayat yang mana?
Aku berkata: Firman
Allah Ta'ala: *Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian;
tidaklah akan membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian telah
mendapat petunjuk* (Al-Ma'idah: 105).
Ia berkata: Demi
Allah, sungguh engkau telah bertanya kepada orang yang mengetahui. Aku telah
menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ,
lalu beliau bersabda:
“Bahkan, laksanakan amar makruf dan nahi mungkar, hingga apabila engkau
melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih
diutamakan, dan setiap orang yang kagum dengan pendapatnya sendiri, maka
jagalah dirimu sendiri dan tinggalkan orang-orang umum.
Karena sesungguhnya setelah masa kalian akan datang hari-hari di mana
bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api.
Bagi orang yang beramal pada masa itu akan mendapatkan pahala seperti
pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.”
Abdullah bin
al-Mubarak berkata:
Selain Utbah
menambahkan kepadaku—dikatakan: Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari
kami atau dari mereka?
Beliau
bersabda: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.”[Selesai]
Abu Isa at-Tirmidzi berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ»
“Ini adalah hadis
hasan gharib.”
Hadis ini juga
diriwayatkan oleh Abu Dawud (4341), Ibnu Majah (4014), Al-Baghawi dalam Syarh
as-Sunnah (14/347–348), ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir (22/220), (587),
Ibnu Jarir (12862), (12863), Abu Nu'aim (2/30), ath-Thahawi dalam Syarh
al-Musykil (2/64–65), dan al-Baihaqi dalam as-Sunan (10/92).
Abu ath-Thayyib al-Qanuji berkata dalam Nail al-Maram hlm. 281: “Sanadnya
lemah (dho’if)”.
Al-Albani berkata dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/645 nomor 957:
ضَعِيفٌ لَكِنْ بَعْضُهُ صَحِيحٌ.
“Sanadnya lemah,
tetapi sebagian maknanya sahih”.
===
KESIMPULAN DERAJAT HADITS KEEMPAT INI
(Yakni; Hadits Abu
Hurairah, Anas dan Tsa’labah radhiyallahu ‘anhum diatas):
Syeikh al-Albani
dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/647 nomor 957 berkata :
وَجُمْلَةُ الْقَوْلِ أَنَّ الْحَدِيثَ
بِهَذِهِ الشَّوَاهِدِ صَحِيحٌ ثَابِتٌ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ
طُرُقِهَا مُتَّهَمٌ، لَسِيَّمَا وَقَدْ حَسَّنَ بَعْضَهَا التِّرْمِذِيُّ
وَغَيْرُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Kesimpulannya, hadis
ini dengan seluruh penguat-penguatnya adalah sahih dan tsabit (ada ketetapan),
karena tidak ada seorang pun perawi dalam seluruh jalur-jalurnya yang tertuduh
(berdusta). Terlebih lagi sebagian jalurnya telah dinilai hasan oleh
At-Tirmidzi dan yang lainnya. Wallahu a’lam”.
Sementara Syu’aib
al-Arna’uth dan para pentahqiq Musnad Imam Ahmad 15/34 setelah
mendhaifkan 3 riwayat hadits tesebut, lalu mereka berkesimpulan bahwa hadits
tersebut “Hasan Lighoirihi”. Mereka berkata :
قَوْلُهُ ﷺ: "اَلْمُتَمَسِّكُ
يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ … الْخَ" فَحَسَنٌ لِغَيْرِهِ. وَهٰذَا إِسْنَادٌ
ضَعِيفٌ
Sabda
Rasulullah ﷺ: “Orang yang berpegang teguh
pada agamanya pada hari itu … dan seterusnya” adalah hasan li ghairihi. Dan
ini adalah sanad yang dho'if”.
****
HADITS KE LIMA: HADITS ‘UTBAH BIN GHOZWAN
Dari Utbah bin
Ghazwan radhiyallahu ‘anhu, saudara Maazin bin Sha‘shah, dan ia termasuk para
sahabat, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ
أَيَّامَ الصَّبْرِ لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ
أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» ، قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَوَ مِنْهُمْ؟
قَالَ: «بَلْ مِنْكُمْ»
“Sesungguhnya di hadapan
kalian ada hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh pada apa yang kalian
berada di atasnya pada hari itu mendapatkan pahala lima puluh orang dari
kalian.” Mereka berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah lima puluh pahala itu dari
mereka atau dari kami?” Beliau menjawab: “Bahkan dari kalian.”
STATUS HADITS :
Hadis ini
diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam kitab As-Sunnah (32), dan ath-Thabrani dalam
Al-Mu‘jam al-Kabir 17/117 (289).
Syuaib al-Arnauth
dalam Takhrij Sunan Ibni Majah 5/147 di bawah hadis nomor 4014 berkata:
وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ إِلَّا أَنَّهُ
مُنْقَطِعٌ.
“Para perawinya
terpercaya, hanya saja sanadnya terputus”.
Dan diriwayatkan pula
dari Abdullah bin Mas‘ud oleh al-Bazzar (3370) dan ath-Thabrani (10394).
Syuaib al-Arnauth :
“Dan sanadnya lemah”. [Takhrij Sunan Ibni Majah 5/147].
Al-Albani berkata
dalam Shahihah 1/892 nomor 494:
قُلْتُ: وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ رِجَالُهُ
كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ لَوْلَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عُتْبَةَ
بْنِ غَزْوَانَ مُرْسَلٌ كَمَا فِي "التَّهْذِيبِ".
“Aku berkata:
sanadnya sahih, seluruh perawinya terpercaya, seandainya saja Ibrahim bin Abi
‘Abdah dari Utbah bin Ghazwan tidak berstatus mursal sebagaimana dalam kitab
At-Tahdzib”.
****
HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
Ibnu Syabbah dalam
Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin
Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ
الثُّمَالِيِّ: أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ
وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا
أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ تُحْدِثُ
فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا أَضَاعَتْ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ،
فَالتَّمَسُّكُ مِنَ السُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْدَاثِ الْبِدْعَةِ»
Dari Ghudhaif bin
al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat
junior):
Bahwa Abdul Malik bin
Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat tangan
di atas mimbar.
Maka ia menjawab:
“Sesungguhnya hal itu
termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku sendiri, maka
aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya telah
disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ
bahwa beliau
bersabda:
‘Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan
mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah. Maka berpegang
teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah’.
Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105); oleh al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam
Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131); dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam
al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178).
Juga di riwayatkan
oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam
al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah
dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
Al-Haitsami berkata
dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
"فِي إِسْنَادِهِ أَبُو
بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ".
“dalam sanadnya
terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya”.
Hadits ini juga
dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan
“Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan dho’if
sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa
al-‘Awa’id hal. 13.
Riwayat yang shahih adalah hadits riwayat Hushain, dari Umarah bin
Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ
رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا،
وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa dirinya pernah
melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu ia
berkata:
“Semoga
Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ, beliau tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya
seperti ini, dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. [HR. Muslim no.
53 –(874)]
Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah ini?
Dia adalah Umarah bin
Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia terhitung
sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah.
Ia hanya memiliki dua
hadits. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya. Orang
terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushain bin Abdurrahman. [Baca:
al-Ishobah oleh Ibnu Hajar 4/478]
Al-Mizzi menyebutkan
dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ،
فَوَهِمَ، فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ
بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia memiliki
riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali tersebut
adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya pilihan
antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda dari dua
sisi.
[Lihat
: Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.
===***===
PEMBAHASAN KEDUA :
HADITS DENGAN LAFADZ
MUTLAK “مَنْ سَنَّ سُنَّةً”, BUKAN MUQOYYAD “سُنَّتِي”
****
HADITS PERTAMA : HADITS JARIR AL-BAJALY
Hadits Jarir Bin
Abdullah al-Bajally radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabada :
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً
فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا
يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ
بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا
يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا».
Barang siapa yang
memulai suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan
mendapatkan pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu sunnah
yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan
juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka
sedikit pun.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah (no. 203) dengan lafaz ini, juga oleh Muslim (no. 1017) dengan
makna serupa disertai kisahnya, dan oleh At-Tirmidzi (no. 2675) dengan makna
yang serupa.]
Berkata As-Sindi
dalam Hasyiyah Ibnu Majah 1/90:
قَوْلُهُ (سُنَّةً حَسَنَةً) أَيْ
طَرِيقَةً مَرَضِيَّةً يُقْتَدَى فِيهَا وَالتَّمْيِيزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّيِّئَةِ
بِمُوَافَقَةِ أُصُولِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا. اهـ.
“Sabdanya (sunnah
hasanah) yaitu cara yang diridhoi yang dijadikan teladan di dalamnya. Pembedaan
antara yang baik dan yang buruk adalah dengan melihat kesesuaiannya dengan
pokok-pokok syariat atau ketidaksesuaian dengannya”. [Selesai].
Kronologi Hadits:
Imam Muslim
meriwayatkan: Jarir Bin Abdullah al-Bajally
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ ﷺ في صَدْرِ
النَّهَارِ، قالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ، مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ
العَبَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِن مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِن
مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسولِ اللهِ ﷺ لِما رَأَى بهِمْ مِنَ الفَاقَةِ،
فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فأمَرَ بلَالًا فأذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ
فَقالَ:
«﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ﴾ إلى آخِرِ الآيَةِ
﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1]، وَالآيَةَ الَّتي في
الحَشْرِ: ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا
اللَّهَ﴾ [الحشر: 18] ، تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِن دِينَارِهِ، مِن دِرْهَمِهِ، مِن
ثَوْبِهِ، مِن صَاعِ بُرِّهِ، مِن صَاعِ تَمْرِهِ، حتَّى قالَ: ولو بشِقِّ
تَمْرَةٍ»
قالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ
بصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قدْ عَجَزَتْ، قالَ: ثُمَّ
تَتَابَعَ النَّاسُ، حتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِن طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حتَّى
رَأَيْتُ وَجْهَ رَسولِ اللهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ.
فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا
بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شَيءٌ، وَمَن سَنَّ في
الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن
بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيءٌ».
[وفي رِوايةٍ]: كُنَّا عِنْدَ رَسولِ
اللهِ ﷺ صَدْرَ النَّهَارِ... بِمِثْلِهِ. وفيه: قالَ: ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ
ثُمَّ خَطَبَ.
[وفي رِوايةٍ]: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ
النبيِّ ﷺ، فأتَاهُ قَوْمٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ... وَسَاقُوا الحَدِيثَ
بقِصَّتِهِ، وَفِيهِ: فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ صَعِدَ مِنْبَرًا صَغِيرًا،
فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه، ثُمَّ قالَ: أَمَّا بَعْدُ؛ فإنَّ اللَّهَ
أَنْزَلَ في كِتَابِهِ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ﴾ الآيَةَ. [وفي
رواية]: جَاءَ نَاسٌ مِنَ الأعْرَابِ إلى رَسولِ اللهِ ﷺ، عليهمِ الصُّوفُ،
فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ، فَذَكَرَ بمَعْنَى
حَديثِهِمْ.
Kami pernah berada di
sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Lalu datanglah
sekelompok orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian rapi, mengenakan
jubah dari kain tebal atau wol, dengan pedang tergantung di pundak mereka.
Kebanyakan dari mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari
Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (tampak sedih) ketika
melihat keadaan mereka yang sangat miskin. Maka beliau masuk (ke rumahnya),
kemudian keluar lagi.
Beliau memerintahkan
Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat, kemudian
berkhutbah seraya membaca:
“Wahai manusia,
bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa”
hingga akhir ayat,
“Sesungguhnya Allah
selalu mengawasi kalian” (An-Nisa: 1).
Dan juga ayat dalam
Surah Al-Hasyr:
“Bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hasyr: 18).
Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya,
pakaiannya, segantang gandumnya, atau segantang kurmanya, meskipun hanya
separuh butir kurma.”
Lalu datanglah
seorang dari kalangan Anshar membawa sekantong besar (sedekah) hingga tangannya
hampir tak sanggup menahannya, bahkan benar-benar tak kuat menahannya. Setelah
itu, orang-orang pun mulai mengikuti, hingga aku melihat dua tumpukan besar
berisi makanan dan pakaian.
Melihat hal itu,
wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri seperti emas yang
berkilauan. Kemudian Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan
pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari pahala mereka.
Dan barang siapa yang
mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya
dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun
dari dosa mereka.”
(Dalam riwayat lain disebutkan:)
Kami berada di sisi
Rasulullah ﷺ pada pagi hari… dengan makna yang serupa. Dalam riwayat tersebut juga
disebutkan: Beliau kemudian shalat Zuhur, lalu berkhutbah.
(Dalam riwayat lain lagi disebutkan:)
Aku sedang duduk di
sisi Nabi ﷺ, lalu datang sekelompok orang
berpakaian wol kasar dari kalangan Arab Badui. Melihat keadaan mereka yang
sangat miskin dan membutuhkan, beliau pun menyampaikan sabda dengan makna
hadits yang sama.
[HR. Muslim no. 1017.
Dan diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i (2554), Ahmad (19174), dan Ath-Thayalisi
(705), semuanya dengan sedikit perbedaan lafadz]
****
KEDUA : HADITS ABU HURAIRAH
Ibnu Majah
meriwayatkan (204) melalui jalur Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia
berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَثَّ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَجُلٌ، عِنْدِي كَذَا
وَكَذَا، قَالَ، فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلَّا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ
بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ، كَانَ لَهُ أَجْرُهُ
كَامِلًا، وَمِنْ أُجُورِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا، وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ، فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ
كَامِلًا، وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ
أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا»
Seorang laki-laki
datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau menganjurkan
(untuk bersedekah).
Maka seorang
laki-laki berkata: “Aku memiliki ini dan ini.” Maka tidak ada seorang pun di
majelis itu kecuali bersedekah, sedikit atau banyak.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa memulai
suatu kebaikan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia mendapat pahala
sempurna darinya, dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi
pahala mereka sedikit pun.
Dan barang siapa
memulai suatu keburukan lalu diikuti (orang lain) setelahnya, maka ia
menanggung dosanya secara penuh, dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa
mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Hadits ini juga
terdapat dalam *Musnad Ahmad* (10749).
Syeikh Muqbil
al-Wadi’i dalam ash-Shohih al-Musnad 2/329 no. 1295 berkata :
هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ عَلَى شَرْطِ
مُسْلِمٍ. الْحَدِيثُ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ (ج 2 ص
520) فَقَالَ: ثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بِهِ. وَهُوَ بِسَنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ
عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.
“Ini adalah hadits
hasan menurut syarat Muslim.
Hadits ini
dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (jilid 2 halaman 520), beliau berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abduṣh Ṣhomad, dengan sanad
tersebut.
Dan sanadnya menurut
Imam Ahmad memenuhi syarat kedua syekh (Bukhari dan Muslim)”.
****
KETIGA : HADITS HUDZAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Hudzaifah
radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ الْقَوْمُ، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا
أَعْطَاهُ فَأَعْطَى الْقَوْمُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
" مَنْ سَنَّ خَيْرًا
فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ
مُنْتَقِصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ شَرًّا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ
عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِنْ أَوْزَارِ مَنْ يَتَّبِعُهُ غَيْرَ مُنْتَقِصٍ مِنْ
أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا"
Ada seorang laki-laki
pada masa Nabi ﷺ yang meminta-minta, lalu orang-orang
diam. Kemudian ada seorang laki-laki yang memberinya, maka orang-orang pun ikut
memberi. Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Barang
siapa memulai suatu kebaikan lalu diikuti setelahnya, maka baginya pahala
perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala
mereka sedikit pun.
Dan barang siapa
memulai suatu keburukan lalu diikuti setelahnya, maka baginya dosa perbuatannya
dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit
pun”.
TAKHRIJ HADITS :
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam Musnad 38/325 nomor 23289, Al-Bazzar dalam Musnadnya (2963), dan
Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar (251) dan (1542) melalui jalur Wahb
bin Jarir dengan sanad ini.
Dan diriwayatkan oleh
Al-Bazzar (2964) dari jalur Ali bin Ashim, serta Al-Hakim 2/516–517 dari jalur
Abdullah bin Al-Mubarak, keduanya dari Hisyam bin Hassan dengan sanad ini.
Syuaib Al-Arnauth
dalam tahqiq Musnad 38/325 berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ
حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، فَقَدْ رَوَى عَنْهُ
جَمْعٌ، وَوَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ
رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ. مُحَمَّدٌ: هُوَ ابْنُ سِيرِينَ.
وَأَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ (2964)، وَالطَّبَرَانِيُّ
فِي الْأَوْسَطِ (3705) مِنْ طَرِيقِ عَلِيِّ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ خَالِدِ
الْحَذَّاءِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، بِهِ. قُلْنَا: وَعَلِيُّ بْنُ
عَاصِمٍ ضَعِيفٌ
“Shahih
li ghairih, dan sanad ini hasan karena Abu Ubaidah bin Hudzaifah; telah meriwayatkan
darinya sejumlah perawi dan ia dinyatakan tsiqah oleh Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban.
Adapun perawi lainnya adalah para perawi tingkat Syaikhain. Muhammad adalah
Ibnu Sirin.
Dan diriwayatkan juga
oleh Al-Bazzar (2964) dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (3705) dari jalur Ali
bin Ashim, dari Khalid Al-Haddza’, dari Muhammad bin Sirin dengan sanad ini.
Kami katakan: Ali bin
Ashim adalah perawi yang lemah”. [SELESAI]
****
KEEMPAT : HADITS ABU JUHAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu Juhifah
radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً
عُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ
أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
“Barang siapa memulai
suatu sunnah yang baik kemudian diamalkan setelahnya, maka ia mendapatkan
pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala
mereka sedikit pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk lalu
diamalkan setelahnya, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang
mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”
Diriwayatkan oleh
Ibnu Majah dalam Sunannya 1/142 nomor 206.
Hadis ini juga
diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam *al-Bahr az-Zakhkhor* 10/145 nomor 4208, ia
berkata:
Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Ma‘mar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
al-Fadhl bin Dukain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Israil,
dari al-Hakam, dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
دَهَمَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ مِنْ
قَيْسٍ مُجْتَابِي النِّمَارِ مُتَقَلِّدِينَ السُّيُوفَ فَسَاءَهُ مَا رَأَى مِنْ
هَيْئَتِهِمْ فَصَلَّى، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَجَلَسَ
فِي مَجْلِسِهِ فَأَمَرَ بِالصَّدَقَةِ، أَوْ حَضَّ عَلَيْهَا فَقَالَ:
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِرْهَمِهِ تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ تَصَدَّقَ
رَجُلٌ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ
فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ
بِصُرَّةٍ مِنْ ذَهَبٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِهِ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى
رَأَى كَوْمَيْنِ مِنْ ثِيَابٍ وَطَعَامٍ فَرَأَيْتُ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ
كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ، ثُمَّ قَالَ عِنْدَ ذَلِكَ:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً عُمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْتَقِصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً عُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْتَقِصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا.
Sejumlah orang dari
(kabilah) Qais datang kepada Rasulullah ﷺ
dengan memakai
pakaian wool yang berlubang-lubang dan membawa pedang. Maka buruklah apa yang
beliau lihat dari keadaan mereka. Lalu beliau salat, kemudian masuk ke
rumahnya. Setelah itu beliau keluar, salat, dan duduk di majelisnya. Lalu
beliau memerintahkan sedekah atau menganjurkannya. Maka seorang laki-laki
bersedekah dengan satu dinar, seorang dengan satu dirham, seorang dengan satu
sha’ gandum, dan seorang dengan satu sha’ kurma.
Kemudian datang
seorang laki-laki dari kalangan Anshar dengan membawa sebungkus emas dan
meletakkannya di tangan beliau. Lalu orang-orang pun terus mengikuti hingga
terkumpul dua tumpukan pakaian dan makanan. Maka aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri seakan-akan seperti emas yang mengkilap.
Lalu beliau ﷺ bersabda saat itu:
“Barang siapa memulai
suatu sunnah yang baik, lalu diamalkan setelahnya, maka ia mendapat pahalanya
dan pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit
pun. Dan barang siapa memulai suatu sunnah yang buruk, lalu diamalkan
setelahnya, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya
tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Abu Bakr berkata:
"وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا
نعلمُهُ يُرْوَى عَن أَبِي جُحَيْفَةَ إلَاّ بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَأبُو
إِسْرَائِيلَ لَيِّنُ الْحَدِيثِ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ سُفيان الثَّوْرِيّ
وَجَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ واحتملوا حديثه".
Hadis ini tidak kami
ketahui diriwayatkan dari Abu Juhaifah kecuali melalui sanad ini. Dan Abu
Israil adalah perawi yang lemah hadisnya, namun Sufyan ats-Tsauri dan banyak
perawi lainnya telah meriwayatkan darinya dan mereka menoleransi hadisnya.
Syuaib al-Arna’uth
berkata dalam *Takhrij Sunan Ibn Majah* 1/142:
صَحِيحٌ بِمَا قَبْلَهُ مِنَ
الْأَحَادِيثِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي إِسْرَائِيلَ:
وَاسْمُهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيفَةَ. أَبُو نُعَيْمٍ: هُوَ الْفَضْلُ بْنُ
دُكَيْنٍ، وَالْحَكَمُ: هُوَ ابْنُ عُتَيْبَةَ، وَأَبُو جُحَيْفَةَ: هُوَ وَهْبُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السُّوَائِيُّ.
وَأَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي
"الْأَوْسَطِ" (٤٣٨٦) مِنْ طَرِيقِ غَسَّانَ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ
أَبِي إِسْرَائِيلَ، بِهٰذَا الْإِسْنَادِ وَذَكَرَ فِيهِ قِصَّةً. وَغَسَّانُ
بْنُ الرَّبِيعِ وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَضَعَّفَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ كَمَا
فِي "لِسَانِ الْمِيزَانِ".
“Hadis
ini sahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, dan sanad ini hasan karena Abu
Israil—namanya Ismail bin Khalifah. Abu Nu’aim adalah al-Fadhl bin Dukain,
sedangkan al-Hakam adalah Ibn ‘Utaybah, dan Abu Juhaifah adalah Wahb bin
Abdullah as-Suwa’i.
Hadis ini juga
diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam *al-Mu‘jam al-Awsath* (4386) melalui jalur
Ghassan bin ar-Rabi’, dari Abu Israil dengan sanad ini dan ia menyebutkan
kisahnya. Ghassan bin ar-Rabi’ dinyatakan tsiqah oleh Ibn Hibban tetapi dinilai
lemah oleh ad-Daraquthni sebagaimana dalam *Lisan al-Mizan*”. [Selesai]
Disebutkan pula oleh
As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir. Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir oleh
Al-Albani 2/1081 nomor 6306.
Hadits ini dinyatakan
shahih oleh Al-Albani dan juga dinyatakan shahih dalam Shahih At-Targhib 1/48.
****
KELIMA : HADITS ABU SA’ID AL-KHUDRY RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu Sa‘id
Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ، شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا
جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ
وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»
“Kalian benar-benar
akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan
sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke lubang dhab, kalian pasti
akan mengikuti mereka.”
Kami bertanya, “Wahai
Rasulullah ﷺ, apakah mereka itu Yahudi dan
Nasrani?”
Beliau menjawab,
“Lalu siapa lagi?”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari nomor 7320].
Lafaz riwayat Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى
تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ
وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ» ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟
فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»
“Tidak akan terjadi
kiamat sampai umatku mengikuti (langkah-langkah) generasi-generasi sebelum
mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Lalu dikatakan,
“Wahai Rasulullah ﷺ, apakah seperti Persia dan
Romawi?”
Beliau menjawab,
“Lalu siapa lagi manusia kalau bukan mereka?”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari nomor 7319].
****
KEENAM : HADITS IBNU MAS’UD RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abdullah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا،
إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ
أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
“Tidaklah ada satu
jiwa pun yang dibunuh secara zalim, kecuali atas anak Adam yang pertama ada
bagian dari darahnya, karena dialah yang pertama kali menetapkan contoh (سَنَّ) pembunuhan.”
Diriwayatkan oleh
Bukhari nomor 3335 dan Muslim nomor 1677.
Ada yang berkata :
قُلْتُ: مَعْنَى مَنْ سَنَّ مَنْ بَدَأَ
لِقَوْلِهِ ﷺ: قَابِيلُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ!
هَلِ الْقَتْلُ مَوْجُودًا ثُمَّ عُدِمَ
فَأَحْيَاهُ قَابِيلٌ؟
أَوْ كَانَ الْقَتْلُ مَوْقُوفًا فَأَنْفَذَهُ
قَابِيلٌ؟
هَذَا لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ.
Aku berkata: makna
dari “man sanna” adalah “siapa yang memulai”, karena sabda Rasulullah ﷺ: Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan.
Apakah pembunuhan itu
sebelumnya sudah ada lalu lenyap kemudian dihidupkan kembali oleh Qabil?
Ataukah pembunuhan
itu sebelumnya tertahan lalu dijalankan oleh Qabil? Ini tidak dikatakan oleh
orang yang berakal.
****
KETUJUH : HADITS ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ‘ANHU
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ
لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ
الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ
شَيْئًا»
“Barang siapa mengajak
kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang
yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa
mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa
orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Diriwayatkan oleh
Muslim nomor 2674.
****
KEDELAPAN : HADITS AISYAH RADHIYALLAHU ‘ANHA
Dalam hadits ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha: Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا – أَوْ
دِينِنَا – هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. وَفِي لَفْظٍ: مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
Siapa yang membuat
perkara baru dalam perkara (urusan) kami ini – atau agama kami ini
– yang bukan bagian darinya, maka itu tertolak.
Dan dalam lafaz lain: Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perkara
(urusan) kami, maka amalan itu tertolak. [HR. Al-Bukhari (2697) dan
Muslim (1718) dengan sedikit perbedaan].
****
FIQIH HADITS :
Nabi ﷺ menjadikan perkara-perkara baru yang diada-adakan, namun jika itu sesuai
dengan syariat, maka dianggap sebagai sesuatu yang diterima, dan jika itu
perkara yang menyelisihi syariat, maka itu sebagai sesuatu yang ditolak.
Dalilnya sangat jelas
seperti matahari. Hadis-hadis ini menetapkan adanya sunnah hasanah dan sunnah
sayyi’ah. Makna “siapa yang membuat suatu sunnah yang baik” adalah menciptakan
sebuah cara atau perkara dalam agama yang sesuai dengan syariat. Dan makna “siapa
yang membuat suatu sunnah yang buruk” adalah siapa yang menciptakan suatu
perkara dalam agama yang bertentangan dengan syariat.
Karena itu Nabi ﷺ mengekspresikan apa yang dibuat dan diadakan oleh para sahabat sebagai
“sunnah” ketika beliau bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
“Peganglah sunnahku
dan sunnah para khalifah yang lurus.”
Apa yang diadakan
oleh para sahabat itu tidak lain hanyalah gambaran dari apa yang bersumber dari
Nabi ﷺ.
Pada hakikatnya apa
yang diadakan para sahabat adalah ciptaan baru dalam agama, namun ketika itu
sesuai dengan syariat maka ia menjadi baik, dan Nabi ﷺ
menyebutnya sebagai
“sunnah”; dan ini juga disebut sebagai “sebaik-sebaik bid’ah” sebagaimana
ucapan Umar saat orang-orang dikumpulkan dalam salat tarawih: “sebaik-baik
bid’ah ini.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Siapa yang
menafsirkan ucapan Umar “bid’ah” sebagai bid’ah secara bahasa, maka ia keliru,
karena para sahabat ketika mengucapkan “amalan ini adalah bid’ah” mereka
bermaksud bid’ah secara syar’i, bukan secara bahasa. Penggunaan “bid’ah secara
bahasa” tidak dikenal di kalangan para sahabat. Dan konteks ucapan ini tentang
salat tarawih, yang merupakan urusan syariat.
Sabda Nabi ﷺ:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ
“peganglah sunnahku
dan sunnah para khalifah”
Maknanya adalah : peganglah
metodeku dan metodenya, serta cara para sahabatku.
Sunnah para sahabat
adalah sunnah yang diqiyaskan; karena itu, ia adalah sunnah Nabi ﷺ.
Demikian pula para
ulama rabbani yang datang setelah para sahabat: sunnah mereka yang sesuai
dengan syariat adalah sunnah yang diqiyaskan, dan itu merupakan sunnah
Nabi ﷺ.
Mereka telah
mengambil izin dari Rasulullah ﷺ
melalui sabdanya:
«مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً»
“Siapa yang membuat
suatu sunnah yang baik.”
Maka setiap
sunnah yang diqiyaskan adalah sunnah Nabi ﷺ.
0 Komentar