Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BID'AH VERSI IBNU ABBAS (RA), ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN.

MEMAHAMI MAKNA BID'AH VERSI IBNU ABBAS (RA), DENGAN MENGGABUNGKAN ANTARA KATA-KATA DAN REALITA

 ----

Di Tulis Oleh Kang Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 -----

===

DAFTAR ISI :

  • PEMBAHASAN PERTAMA : PERKATAAN IBNU ABBAS TENTANG BID’AH
  • ATSAR IBNU ABBAS : PERTAMA
  • ATSAR IBNU ABBAS : KEDUA
  • ATSAR IBNU ABBAS : KETIGA
  • ATSAR IBNU ABBAS : KEEMPAT
  • PEMBAHASAN KEDUA: AMALAN IBNU ABBAS BERDASARKAN DALIL UMUM, TANPA CONTOH KHUSUS DARI NABI :
  • AMALAN PERTAMA : AT-TA’RIIF
  • AMALAN KEDUA : QUNUT SHUBUH.
  • RIWAYAT IBNU ABBAS DARI NABI TENTANG QUNUT SHUBUH
  • PEMBAHASAN KE TIGA : AMALAN PARA SAHABAT TANPA DALIL KHUSUS
  • PEMBANDING :

 ****

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PEMBAHASAN PERTAMA :
PERKATAAN IBNU ABBAS TENTANG BID’AH

 ***

ATSAR IBNU ABBAS : PERTAMA

Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata:

«‌مَا ‌يَأْتِي ‌عَلَى ‌النَّاسِ ‌عَامٌ ‌إِلَّا ‌أَحْدَثُوا ‌فِيهِ ‌بِدْعَةً وَأَمَاتُوا سُنَّةً ، حَتَّى تَحْيَا الْبِدَعُ وَتَمُوتَ السُّنَنُ»

وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «حَتَّى تَظْهَرَ الْبِدَعُ»

tidaklah datang satu tahun kepada manusia melainkan mereka mengada-adakan di dalamnya suatu bid’ah dan mematikan suatu sunnah, hingga bid’ah-bid’ah menjadi hidup dan sunnah-sunnah menjadi mati.

(Ikrimah berkata) : Dan aku mendengarnya berkata: hingga bid’ah-bid’ah tampak nyata.

TAKHRIJ ATSAR :

Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhooh dalam al-Bida’ wa an-Nahy ‘Anha halaman 83 nomor 95. Dan melalui jalurnya diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan 3/612 nomor 277.

Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 10/262 nomor 10610, dan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra 1/177 nomor 11.

Lihat juga: al-I’tisham 1/110 dan al-Hawadits wa al-Bida’ halaman 44.

STATUS SANAD : LEMAH SEKALI

Al-Bushairi dalam “Ithaf al-Khiyarah al-Maharah bi Zawa’id al-Masanid al-‘Asyrah” 1/195 berkata:

«هٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، لِجَهَالَةِ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ»

“Ini adalah sanad yang lemah, karena kemajhulan (ketidaktahuan) terhadap Abdul Mu’min”.

Dan dalam “Ikhtishar Ithaf al-Maharah” Tahqiq Kasrawi 1/138 : ia menisbatkannya kepada Musaddad dan berkata:

«فِيهِ مَجْهُولٌ»

“Di dalamnya terdapat perawi majhul”.

Hadits ini juga dianggap lemah oleh ‘Amr Abdul Mun’im Salim nomor 95 dalam “al-Bida’ wa an-Nahy ‘Anha” hal. 83.

Adapun Abdul Mu’min bin Ubaidillah as-Sadusi, Abu Ubaidah al-Bashri, disebutkan dalam Tahdzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal 18/444. Ia adalah perawi tsiqah dan bukan majhul sebagaimana dikatakan oleh al-Bushairi.

Ia adalah orang yang sama dalam seluruh sanad yang menyebutkan:

Abdul Mu’min bin Abdullah” dalam al-Bida’ wa an-Nahy ‘Anha hal. 83.

Abdul Mu’min Abu Ubaid” dalam al-Mu’jam al-Kabir 10/262.

Dan “Abdul Mu’min as-Sadusi” dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah 1/103.

Al-Bushairi dalam “Ithaf al-Khiyarah al-Maharah bi Zawa’id al-Masanid al-‘Asyrah” 7/424 telah keliru tentang dirinya bukan hanya dalam hadits ini, karena ia berkata:

«عَبْدُ الْمُؤْمِنِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ السُّدُوسِيُّ، وَلَمْ أَرَ مَنْ ذَكَرَهُ بِعَدَالَةٍ وَلَا جَرْحٍ»

“Abdul Mu’min bin Ubaidillah as-Sadusi dan aku tidak melihat seorang pun yang menyebutkan keadilan atau celaan terhadapnya”.

Sesungguhnya cacatnya atsar Ibnu Abbas ini terletak pada Mahdi bin Harb al-Abdi, yaitu Mahdi bin Abi Mahdi al-Hijri.

Yahya bin Ma’in berkata:

لَا أَعْرِفُهُ.

“Aku tidak mengenalnya”.

Tidak ada yang menilainya tsiqah selain Ibnu Hibban, sebagaimana disebutkan dalam “Tahdzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal” 28/586.

Namun al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ 1/188 nomor 894:

«رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ»

“Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir, dan para perawinya dinilai dapat dipercaya”.

Hal itu karena al-Haitsami mengikuti Ibnu Hibban dalam penilaian kepercayaan perawi sebagaimana telah diketahui, oleh karena itu ia sendiri berkata tentang para perawinya: “مُوَثَّقُونَ” (dinilai dapat dipercaya), dan tidak mengatakan: para perawinya tsiqah (terpercaya).

****

ATSAR IBNU ‘ABBAS : KE DUA :

Al-Imam ad-Darimi dalam sunan-nya 1/250 no. 141 meriwayatkan dengan sanadnya:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Zam‘ah bin Shalih, dari Utsman bin Hadhir al-Azdi, ia berkata:

دَخَلْتُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ أَوْصِنِي. فَقَالَ: نَعَمْ، «عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالِاسْتِقَامَةِ، ‌اتَّبِعْ ‌وَلَا ‌تَبْتَدِعْ»

Aku masuk menemui Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, lalu aku berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka beliau berkata:

“Ya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, bersikap istiqamah, ikutilah (ajaran yang benar) dan jangan membuat-buat bid’ah (perkara baru).”

Sanad nya dho’if :

Dalam sanadnya terdapat Zam‘ah bin Shalih, dan ia dinilai lemah (dho’if).

Atsar ini juga dibawakan oleh Abu Syamah al-Maqdisi dalam al-Ba‘its halaman 25, al-Harawi dalam Dzamm al-Kalam sebagaimana disebutkan dalam al-Manthiq halaman 39, Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra 1/318–319 nomor 157, 158, dan 200, Ibnu Abi Zamanin dalam as-Sunnah halaman 57, al-Khathib dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih 1/173, serta Abu al-Fadhl al-Harawi dalam Dzamm al-Kalam lembar 42 bagian 2.

****

ATSAR IBNU ABBAS : KE TIGA :

Al-Imam ad-Darimi dalam sunan-nya 1/250 no. 160 meriwayatkan dengan sanadnya:

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mughirah, telah menceritakan kepada kami al-Auza’i, dari Abadah bin Abi Lubabah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

" مَنْ أَحْدَثَ رَأْيًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَلَمْ تَمْضِ بِهِ سُنَّةٌ مَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، لَمْ يَدْرِ عَلَى مَا هُوَ مِنْهُ، إِذَا لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ" .

“Barang siapa mengada-adakan suatu pendapat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah, dan tidak pula ditegakkan oleh sunnah Rasulullah , maka ia tidak mengetahui di atas dasar apa ia berdiri ketika ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhoh dalam kitab Al-Bida’ (nomor 94), al-Baihaqi dalam Al-Madkhal (190), al-Harawi dalam Dzamm al-Kalam (nomor 280, Maktabah al-Ghuraba’), Ibnu Hazm dalam Al-Ihkam (6/782), dan al-Khatib dalam Al-Faqih wa al-Mutafaqqih (1/183 atau 1/458 nomor 488, cetakan Dar Ibnu al-Jauzi) melalui jalur al-Auza’i dari Abadah bin Abi Lubabah dari Ibnu Abbas, dengan lafaz yang sama.

Saya katakan : “Sanadnya lemah, karena terputus antara ‘Abdah dan Ibnu Abbas”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma wafat pada tahun 68 H.

Sementara Abdah bin Abi Lubabah Abu al-Qasim al-Asadi wafat sekitar tahun 127 H. Dia berasal dari Kufah, seorang pedagang, salah seorang imam, dan menetap di Damaskus. Ia termasuk tokoh besar kalangan tabi’in dan para ahli hadits dari penduduk Kufah.

Diriwayatkan pula oleh al-Khathib dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih (1/458 nomor 488) melalui jalur al-Walid bin Muslim dari al-Auza‘i dengan sanad tersebut. Dalam sanadnya terdapat ‘Abdah dari Ibnu Abbas. Kemudian terdapat pula perawi yang bernama al-Walid, seorang mudallis meriwayatkannya dengan ‘an‘anah.

Dan diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal (190) melalui jalur Sa‘id bin Jubair dari Ibnu Abbas.

Jelas bahwa pada jalur periwayatan menuju Sa‘id bin Jubair terdapat bagian yang terputus, namun anehnya hal itu tidak dijelaskan oleh pentahqiq kitab tersebut.

Adapun teks yang berada di antara tanda kurung siku merupakan bagian yang hilang dari nuskhoh (Q) dan (K). Sebagaimana di jelaskan oleh Abu Ubaidah Masyhur Ali-Salman dalam hamisy Tahqiq I’laam al-Muwaqqi’iin 2/462 no. hamisy (4).

****

ATSAR IBNU ‘ABBAAS : KE EMPAT :

Diriwayatkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah (jilid 1 halaman 79 nomor 74) dengan sanadnya: Telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin ‘Ubaidillah bin al-Hasan, telah mengabarkan kepada kami Habib bin al-Hasan al-Qazzaz, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq ath-Thusi, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Qudamah, telah menceritakan kepada kami Mujashi‘ bin ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Maisarah bin ‘Abd Rabbih, dari ‘Abdul Karim al-Jazari, dari Sa‘id bin Jubair :

Dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah Ta‘ala:

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾

“Pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah menjadi hitam” (Ali ‘Imran ayat 106).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

«فَأَمَّا ‌الَّذِينَ ‌ابْيَضَّتْ ‌وُجُوهُهُمْ ‌فَأَهْلُ ‌السُّنَّةِ ‌وَالْجَمَاعَةِ وَأُولُو الْعِلْمِ، وَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ فَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالضَّلَالَةِ»

“Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi putih, maka mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dan para pemilik ilmu. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, maka mereka adalah ahli bid‘ah dan kesesatan”.

Atsar ini diriwayatakan pula oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir-nya (nomor 3950), al-Ajuri dalam asy-Syari‘ah (nomor 2074), dan disebutkan oleh Imam as-Suyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur dengan menisbatkannya kepada Ibnu Abi Hatim. Juga disebutkan oleh Abu Nashr as-Sijzi dalam al-Ibanah, al-Khatib dalam Tarikh-nya (jilid 2 halaman 291), serta oleh Imam al-Baghawi dalam Ma‘alim at-Tanzil (jilid 1 halaman 339) dan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (jilid 2 halaman 72).

Adapun lafaz riwayat al-Ajuri dalam asy-Syari‘ah (jilid 5 halaman 2561 nomor 2074) berbunyi:

«وَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ فَأَهَلُ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ»

“Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, maka mereka adalah ahli bid‘ah dan ahli hawa nafsu.”

STATUS ATSAR : PALSU

Nasy’at bin Kamal, peneliti kitab Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah, menilai sanad atsar ini dengan mengatakan:

"كَذِبٌ، مَوْضُوعٌ، عَلِيُّ بْنُ قُدَامَةَ ضَعِيفٌ، وَمُجَاشِعُ بْنُ عَمْرٍو كَانَ كَذَّابًا ـ كَمَا قَالَ ابْنُ مَعِينٍ وَغَيْرُهُ ـ، وَمَيْسَرَةُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ كَذَلِكَ كَذَّابٌ". اهـ.

Dusta dan palsu. ‘Ali bin Qudamah adalah perawi lemah, Mujashi‘ bin ‘Amr adalah seorang pendusta sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma‘in dan selainnya, dan Maisarah bin ‘Abd Rabbih juga seorang pendusta”. [Di kutip dari Islam web fatwa no. 342733]

Dan Masyrur Hasan berkata dalam tahqiqnya terhadap kitab I‘lam al-Muwaqqi‘in 2/475:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، إِنْ لَمْ يَكُنْ مَوْضُوعًا؛ فَفِيهِ عَلِيُّ بْنُ قُدَامَةَ ضَعِيفٌ، وَشَيْخُهُ مُجَاشِعُ بْنُ عَمْرٍو اتُّهِمَ بِالْكَذِبِ، وَشَيْخُهُ مَيْسَرَةُ مِثْلُهُ.

ثُمَّ إِنَّ الْمُتَأَمِّلَ فِي هَذَا التَّفْسِيرِ يَجِدُ فِيهِ نَكَارَةً، وَهِيَ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِنَصِّ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، فَقَدْ بَيَّنَ اللَّهُ تَعَالَى لَنَا مَنْ هُمُ الَّذِينَ تَبْيَضُّ وُجُوهُهُمْ، وَمَنْ الَّذِينَ تَسْوَدُّ وُجُوهُهُمْ فَقَالَ: ﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (106) وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 106]. اهـ.

Sanadnya sangat lemah, jika seandainya bukan termasuk hadis palsu; karena di dalamnya terdapat Ali bin Qudamah yang lemah, gurunya Mujasyi‘ bin ‘Amr yang dituduh berdusta, dan gurunya Maysarah juga sama seperti itu.

Kemudian, orang yang menelaah penafsiran ini akan menemukan adanya kejanggalan, yaitu bertentangan dengan nash Al-Qur’an al-Karim. Karena Allah Ta‘ala telah menjelaskan kepada kita siapa orang-orang yang wajahnya menjadi putih dan siapa orang-orang yang wajahnya menjadi hitam.

Allah berfirman:

Pada hari ketika sebagian wajah menjadi putih berseri dan sebagian wajah menjadi hitam.

Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, kepada mereka dikatakan: “Apakah kalian kafir setelah beriman?” Maka rasakanlah azab karena kekafiran kalian.

Dan adapun orang-orang yang wajahnya menjadi putih berseri, maka mereka berada dalam rahmat Allah dan mereka kekal di dalamnya. (Selesai).

===

PENULIS KATAKAN :

Yang benar dalam riwayat hadits yang shahih: bahwa ancaman dalam ayat tersebut ditujukan kepada para pemecah belah umat, utamanya adalah para kaum khawarij, dan termasuk di dalamnya adalah para da’i yang manhaj-nya berpotensi memecah belah, menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah. Maka kelak wajah-wajah mereka akan menjadi hitam muram dan mereka akan di adzab dengan adzab yang pedih, dan mereka dianggap sebagai orang-orang kafir.

Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat-ayat diatas berkata :

وَقَدْ قَالَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا وَكِيع، عَنْ رَبِيع -وَهُوَ ابْنُ صَبِيح -وحَمَّاد بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ قَالَ: رَأَى أَبُو أُمَامَةَ رُءُوسًا مَنْصُوبَةً عَلَى دَرَج دِمَشْقَ، فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: كِلَابُ النَّارِ، شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ، ثُمَّ قَرَأَ:

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.

قُلْتُ لِأَبِي أُمَامَةَ: أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟ قَالَ: لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ إِلَّا مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا -حَتَّى عَدّ سَبْعًا-مَا حَدّثتكموه.

ثُمَّ قَالَ: "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ".

Abu Isa At-At-Tirmidzi ketika menafsiri ayat ini mengatakan : telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada karni Waki', dari Ar-Rabi' ibnu Sabih dan Hammad ibnu Salamah, dari Abu Galib yang menceritakan :

“Bahwa Abu Umamah melihat banyak kepala [kaum kahwarij yang terbunuh] dipancangkan di atas tangga masuk masjid Dimasyq. Maka Abu Umamah mengatakan :

"Anjing-anjing neraka adalah seburuk-buruk orang-orang yang terbunuh di kolong langit ini; sebaik-baik orang-orang yang terbunuh adalah orang-orang yang dibunuhnya."

Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya:

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ﴾

“ Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu"”. [ QS. Ali Imran : 106 ]

Kemudian aku bertanya kepada Abu Umamah : "Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ?"

Abu Umamah menjawab : "Seandainya aku bukan mendengarnya melainkan hanya sekali atau dua kali atau tiga kali atau empat kali dan bahkan sampai tujuh kali, niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian."

Kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. [Baca : Tafsir Ibnu katsri 2/92].

===

TAKHRIJ HADITS :

HR. Imam Ahmad (no. 22109, 22083, 22051 dan 22262) dan At-Tirmidzi (no. 3000)

Abu Iisa at-Tirmidzi berkata :

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَأَبُو غَالِبٍ اسْمُهُ حَزَوَّرٌ وَأَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ اسْمُهُ صُدَيُّ بْنُ عَجْلَانَ وَهُوَ سَيِّدُ بَاهِلَةَ

"Ini adalah hadits hasan , nama Abu Ghalib adalah Hazur, dan nama Abu Umamah al-Bahili adalah Suday Ibnu 'Ajlan, dan dia adalah tokoh Bahilah".

Dan al-Haitsami merujuknya kepada ath-Thabarani, beliau berkata: "Para perawinya adalah tsiqaat (terpercaya)" (Majma' al-Zawaid 6/234). Hal ini juga disebutkan oleh al-Hakim yang mensahihkannya dan disetujui oleh al-Dzahabi (al-Mustadrak 2/149-150). Ibnu Katsir juga meriwayatkannya dan berkata: "Hadits ini, bagian-bagian terkecilnya adalah mawquuf dari perkataan seorang sahabat" (Tafsir Ibnu Katsir 1/346).

DERAJAT KESHAHIHAN HADITS :

Hadits ini dihukumi HASAN SHAHIH oleh Syeikh al-Albaani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 3000.

Dan di Hasankan oleh Syeikh Muqbil al-Waadi'i dalam Ash-Shahih al-Musnad 1/408 no. 482 .

RIWAYAT AL-HAKIM :

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak (no. 2654), dengan sanadnya dari Syaddad bin Abdullah Abu Ammar, dia berkata:

شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى رَأْسِ الْحَرُورِيَّةِ عِنْدَ بَابِ دِمَشْقَ وَهُوَ يَقُولُ: «كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ - قَالَهَا ثَلَاثًا - خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ»، وَدَمَعَتْ عَيْنَاهُ،

فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: ‌يَا ‌أَبَا ‌أُمَامَةَ، ‌أَرَأَيْتَ ‌قَوْلَكَ ‌هَؤُلَاءِ ‌كِلَابُ ‌النَّارِ ‌أَشَيْءٌ ‌سَمِعْتَهُ ‌مِنْ ‌رَسُولِ ‌اللَّهِ ﷺ، أَوْ مِنْ رَأْيِكَ؟

قَالَ: "إِنِّي إِذًا لَجَرِيءٌ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَّا مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا وَعَدَّ سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا حَدَّثْتُكُمُوهُ".

قَالَ لَهُ رَجُلٌ: "إِنِّي رَأَيْتُكَ قَدْ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ".

قَالَ: "إِنَّهُمْ لَمَّا كَانُوا مُؤْمِنِينَ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ".

ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ﴾ [آل عمران: 105] الْآيَةُ، فَهِيَ لَهُمْ مَرَّتَيْنِ

"Saya menyaksikan Abu Umamah al-Bahili, dan dia berdiri di depan kepala al-Haruriyyah (Khawarij yang terbunuh) di pintu gerbang Damaskus. Dia berkata :

'Mereka adalah anjing-anjing neraka,' ia mengulanginya tiga kali. Mata Abu Umamah berlinang air mata ketika mengucapkannya.

Seorang pria bertanya kepadanya : 'Wahai Abu Umamah, apakah ucapanmu ini, ( bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka), didengar dari Rasulullah atau berdasarkan pendapatmu sendiri?'

Abu Umamah menjawab : 'Jika benar demikian berarti aku ini telah bersikap sembarangan. Sungguh, sekiranya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah , kecuali hanya satu atau dua kali, bahkan hanya tujuh kali , maka sungguh aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian [akan tetapi aku telah mendengarnya lebih dari tujuh kali].'"

Seorang laki-laki berkata kepadanya, "Sungguh aku melihat kedua matamu melelehkan air mata." 

Ia menjawab, "Mereka itu dahulunya beriman, lalu kafir setelah keimanan mereka." 

Kemudian ia membaca:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ﴾

”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan”. [Ali 'Imran: 105]

Ayat ini berlaku atas mereka dua kali”.

DERAJAT HADITS :

Adz-Dzahabi berkata :  " Shahih sesuai syarat Shahih  Muslim " . [at-Talkhish 2/163. No. 2654].

===

RIWAYAT LAIN :

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 173) dan Ahmad (no. 19130) dari Ibnu Abi Awfa. Beliau berkata, "Rasulullah bersabda:

«الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»

'Khawarij itu anjing-anjing neraka.' "

[ Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dalam Mustadrak (2654) dan (2655), Imam Ahmad (22051), (22083) dan (22109) dan Al-Bushairi dalam “Al-Zawa'id” (3448/2) dan (3448/6)].

Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam "Sahih Ibnu Majah".

===

KRONOLOGI URUTAN AYAT SEBELUMNYA

Penjelasan ringkas tafsir dan hukum fiqih dari urutan ayat no. 103, 104, 105 dan 106 dari surah Ali Imran.

Ayat Ali Imran no. 103 :

(Perintah Menjaga Persatuan Kepada seluruh Kaum Muslimin & Larangan Berpecah Belah)

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. **[Al Imran: 103]**

Perintah menjaga persatuan dan larangan berpecah belah dalam ayat diatas ditujukan kepada seluruh umat Islam, sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat Allah.

Perintah pada ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa menjaga persatuan itu hukumnya fardhu ‘ain alias wajib bagi setiap individu muslim dan muslimah.

****

Ayat Ali Imran no. 104 :

(Perintah Berdakwah & Amar Ma’ruf Nahyi kepada Sebagian Kaum Mulimin).

﴿وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ﴾

“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Kata ( مِّنْكُمْ اُمَّةٌ = di antara kalian ada sekelompok) ini sangat jelas menunjukkan bahwa berdakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar adalah **fardhu kifayah.**

Dan ayat diatas diperkuat pula dengan firman Allah SWT :

﴿۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [QS. Tawbah: 122]

****

Ayat Ali Imran no. 105 :

(Ancaman Adzab Yang Dahsyat Bagi Yang Tidak Mau Bersatu)

﴿وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ﴾

Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat [QS. Ali Imran : 104-105]

Ayat ini meskipun makna-nya umum, yaitu larangan melakukan hal apa saja yang menimbulkan perpecahan dan permusuhan, namun ayat ini disebutkannya setelah ayat perintah berdakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar. Maka larangan dalam ayat ini lebih spesifik ditujukan pada manhaj berdakwah dan beramar ma’ruf nahyi munkar, yaitu harus berusaha menghindari cara-cara dan hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan permusuhan sesama umat Islam.

****

Ayat Ali Imran no. 106 :

(Pemecah Belah dan Berpecah Belah adalah Manhaj Khawarij dan kelak wajah-nya Hitam Muram)

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ﴾

“ Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu"”. [ QS. Ali Imran : 106 ]

Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi para pemecah belah umat, terutama para da’i yang manhaj nya berpotensi memecah belah, menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah, contoh utamanya adalah kaum muslimin yang bermanhaj khawarij. Kelak wajah-wajah mereka akan menjadi hitam muram dan mereka akan di adzab dengan adzab yang pedih, dan mereka dianggap sebagai orang-orang kafir.

****

HADITS NABI RIWAYAT IBNU ABBAS TENTANG BID’AH

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«‌أَبَى ‌اللَّهُ ‌أَنْ ‌يَقْبَلَ ‌عَمَلَ ‌صَاحِبِ ‌بِدْعَةٍ ‌حَتَّى ‌يَدَعَ ‌بِدْعَتَهُ»

“Allah menolak untuk menerima amal seorang pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”.

Takhrij hadits:

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 50 dalam Sunan Ibnu Majah 1/19 Tahqiq Fuad Abdul Baqi.

Juga oleh Ya’qub bin Sufyan nomor 140 dalam Masyikhah Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi halaman 109.

Juga oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim 1/22.

Dan juga oleh al-Khatib dalam Tarikh Baghdad edisi Basyar 15/243.

Semuanya dari Abdullah bin Sa’id, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bisyer bin Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, dari Abu al-Mughirah, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Penilaian terhadap predikat sanad hadits:

Sanadnya gelap gulita (سَنَدُهُ مُظْلِمٌ). Lemah atau mungkar. Mayoritas ulama hadits menilai sanadnya lemah, dan al-Albani menilainya sebagai hadits mungkar.

Disebutkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil: Abu Sa’id al-Asyaj meriwayatkan dari Bisyer bin Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, darinya.

Abdurrahman berkata:

سُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْهُمَا فَقَالَ: «لَا أَعْرِفُهُمَا وَلَا أَعْرِفُ بِشْرَ بْنَ مَنْصُورٍ الَّذِي رَوَى عَنْهُ الْأَشَجُّ».

Abu Zur’ah ditanya tentang keduanya, maka ia menjawab: aku tidak mengenal keduanya dan aku juga tidak mengenal Bisyer bin Manshur yang diriwayatkan darinya oleh al-Asyaj. Hal ini disebutkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 9/439.

Abu Zur’ah menilai hadits ini dho’if [lihat al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 9/439].

Ibnu al-Jauzi berkata:

«هٰذَا حَدِيثٌ لَا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَفِيهِ مَجَاهِيلُ»

“Hadits ini tidak sah dari Rasulullah dan di dalamnya terdapat para perawi yang tidak dikenal”. [Lihat al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah 1/138].

Al-Bushairi berkata:

«هٰذَا إِسْنَادٌ رِجَالُهُ كُلُّهُمْ مَجْهُولُونَ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ فِي الْكَاشِفِ، وَقَالَ أَبُو زُرْعَةَ: لَا أَعْرِفُ أَبَا زَيْدٍ وَلَا الْمُغِيرَةَ»

“Sanad ini seluruh perawinya majhul. Hal ini dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kasyif, dan Abu Zur’ah berkata: aku tidak mengenal Abu Zaid dan tidak pula al-Mughirah”. [Lihat Mishbah az-Zujajah fi Zawa’id Ibnu Majah 1/11].

Hadits ini juga dihukumi dho’if oleh para pentahqiq Sunan nomor 51. [Lihat Sunan Ibnu Majah 1/35 edisi al-Arna’uth].

Syeikh Dhiya’ ar-Rahman berkata: “Sanadnya lemah”. [Lihat al-Jami’ al-Kamil fi al-Hadits ash-Shahih asy-Syamil al-Murattab ‘ala Abwab al-Fiqh 12/251].

Dan Syu’aib al-Arna’uth berkata dalam takhrij Sunan Ibnu Majah 1/35 nomor 50:

«إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مُسَلْسَلٌ بِالْمَجَاهِيلِ، قَالَ أَبُو زُرْعَةَ كَمَا فِي "الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ" ٩/ ٣٧٣: لَا أَعْرِفُ أَبَا زَيْدٍ وَلَا أَبَا الْمُغِيرَةِ وَلَا بَشْرَ بْنَ مَنْصُورٍ الَّذِي رَوَى عَنْ أَبِي زَيْدٍ هَذَا. وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي "الْمِيزَانِ" ١/ ٣٢٥: بَشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ، شَيْخٌ لِلْأَشَجِّ ـ وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ ـ يُجَهَّلُ».

Sanadnya sangat lemah, bersambung dengan para perawi yang tidak dikenal.

Abu Zur‘ah berkata sebagaimana dalam kitab al-Jarh wa at-Ta‘dil 9/373: Aku tidak mengenal Abu Zaid, tidak pula Abu al-Mughirah, dan tidak pula Bisyr bin Manshur yang meriwayatkan dari Abu Zaid ini.

Adz-Dzahabi berkata dalam kitab al-Mizan 1/325: Bisyr bin Manshur, seorang syaikh bagi al-Asyajj yaitu Abdullah bin Sa‘id, adalah perawi yang tidak dikenal. [Selesai]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam as-Silsilah ad-Dha’ifah 3/684:

مُنْكَرٌ. أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ (رَقْمُ 50) وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي «السُّنَّةِ» (ق 4/2) وَالدَّيْلَمِيُّ (1/1/80) مِنْ طَرِيقِ أَبِي الشَّيْخِ، عَنْ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطِ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَذَكَرَهُ.

قُلْتُ: وَهٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، مُسَلْسَلٌ بِالْمَجْهُولِينَ.

قَالَ أَبُو زُرْعَةَ: «لَا أَعْرِفُ أَبَا زَيْدٍ وَلَا شَيْخَهُ وَلَا بِشْرًا».

وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي أَوَّلِهِمْ: «يُجْهَلُ»، وَقَالَ فِي الْآخِرِينَ: «لَا يُدْرَى مَنْ هُمَا». وَوَافَقَهُ الْبُوصِيرِيُّ فِي «الزَّوَائِدِ» (1/11).

وَقَدْ جَاءَ بِإِسْنَادٍ شَرٍّ مِنْ هٰذَا بِلَفْظٍ آخَرَ، وَهُوَ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلَا صَلَاةً، وَلَا صَدَقَةً، وَلَا حَجًّا، وَلَا عُمْرَةً، وَلَا جِهَادًا، وَلَا صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، يَخْرُجُ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ».

اِنْتَهَى كَلَامُهُ رَحِمَهُ اللَّهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Hadits ini adalah hadits munkar.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 50, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah lembar 4/2, dan ad-Dailami 1/1/80, melalui jalur Abu asy-Syaikh, dari Bisy r bin Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, dari Abu al-Mughirah, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah bersabda, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

Aku berkata: sanad ini lemah, tersusun dari para perawi yang tidak dikenal.

Abu Zur’ah berkata: aku tidak mengenal Abu Zaid, tidak pula gurunya, dan tidak pula Bisyer.

Adz-Dzahabi berkata tentang perawi yang pertama: tidak dikenal, dan tentang perawi-perawi yang terakhir: tidak diketahui siapa mereka. Al-Bushairi menyetujuinya dalam az-Zawa’id 1/11.

Hadits ini juga datang dengan sanad hadits yang lebih buruk daripada ini dengan lafaz yang lain, yaitu:

«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلَا صَلَاةً، وَلَا صَدَقَةً، وَلَا حَجًّا، وَلَا عُمْرَةً، وَلَا جِهَادًا، وَلَا صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، يَخْرُجُ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ»

Allah tidak menerima dari pelaku bid’ah puasa, salat, sedekah, haji, umrah, jihad, penebus dosa, dan tidak pula keadilan. Ia keluar dari Islam sebagaimana rambut keluar dari adonan.

Selesai ucapan beliau rahimahullah. Wallahu a’lam”. [Selesai]

Dan Syeikh al-Albani juga menghukuminya dho’if dalam “Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id” hal. 81.

===****===

PEMBAHASAN KEDUA:
AMALAN IBNU ABBAS BERDASARKAN DALIL UMUM, TANPA CONTOH KHUSUS DARI NABI :

****

AMALAN PERTAMA : AT-TA’RIIF

(BERKUMPUL PADA HARI ARAFAH SETELAH ASHAR DI MESJID UNTUK BERDZIKIR DAN BERDO'A)

DEFINISI “AT-TA’RIIF (التَّعْرِيْف)":

التَّعْرِيْف: هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَالْأَمْصَارِ بَعْدَ عَصْرِ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَالْأُخْذُ فِي الدُّعَاءِ وَالثَّنَاءِ وَالذِّكْرِ وَالضِّرَاعَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ عَرَفَةَ بِمَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ. [ اقْرَأ: ٱلْمَوْسُوعَةُ ٱلْفِقْهِيَّةُ ٱلْكُوَيْتِيَّةُ (45/335) ]

At-Ta’riif adalah orang-orang berkumpul di mesjid-mesjid pelosok negeri dan di daerah-daerah setelah Ashar pada hari Arafah, dalam rangka untuk berdoa, memuji, berdzikir dan bermunajat kepada Allah swt hingga matahari terbenam, seperti yang dilakukan oleh orang-orang hajian yang wukuf di padang Arafah di Makkah al-Mukarromah.

Para ulama mengatakan:

فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِالْبَصْرَةِ حِينَ كَانَ خَلِيفَةً لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Yang pertama kali melakukannya adalah Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu di Bashrah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

[Lihat: “Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim” karya Ibnu Taimiyah 2/151 dan “Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” 12/252]

Riwayat ke 1 :

Abd al-Razzaq meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (4/376), Ibnu al-Ja’ad di “al-Musnad” (279) dan (987), dan Ibnu Abi Shaybah di “al-Musannaf” (19/600), dengan SANAD YANG SHAHIH ke al-Hasan al-Basri berkata:

(أَوَّلُ مَنْ صَنَعَ ذَاكَ ابْنُ عَبَّاسٍ، يَعْنِي: اجْتِمَاعَ النَّاسِ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي الْمَسَاجِدِ)، وَفِي لَفْظِ: (أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِالْبَصْرَةِ ابْنُ عَبَّاسٍ)

Artinya: (Orang Yang pertama kali melakukannya adalah Ibnu Abbaas, artinya Orang-orang berkumpul pada hari Arafah di masjid.) Dan dalam lafadz lain: Yang pertama kali melakukan at-Ta’rif di Basrah adalah Ibnu Abbas)

Riwayat ke 2 :

Dan Abd al-Razzaq meriwayatkan di “al-Musannaf” (4/377), dan Ibnu Sa'ad di “al-Tabaq al-Kubra” 2/367) dengan SANAD YANG SHAHIH ke al-Hasan al-Basri yang berkata:

«أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِأَرْضِنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، كَانَ يَتَّعِدُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْبَقَرَةَ يُفَسِّرُهَا آيَةً آيَةً»

(Orang pertama yang melakukan at-Ta’rif di bumi kami adalah Ibnu Abbas, biasanya dilakukan pada waktu sore hari Arafah, maka dia membaca Al-Qur'an, surat al-Baqarah, menafsirkannya ayat demi ayat).

Riwayat ke 3 :

Dan Abu ‘Aroubah Al-Harraani meriwayatkan dalam “الأوائل” (hal. 138) di bawah judul: “Orang pertama yang melakukan at-Ta’rif di temapt selain Mekah” dengan DENGAN SANAD YANG SAHIH kepada Muhammad bin Sirin berkata:

«أوَّلُ مَنْ عَرَّفَ هَا هُنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ»

(Yang pertama melakukan at-Tarif di sini adalah Ibnu Abbas, rahimahullah).

Dan dalam kitab: “مَسَائِلُ الإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ“, riwayat Ishaq bin Ibrahim bin Hani al-Naisaabuuri (1/94):

وسُئِلَ عَنِ التَّعْرِيْف فِي الْقُرَى؟ فَقَالَ: قَدْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، وَفَعَلَهُ عَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ بِالْكُوفَةِ.

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَلَمْ أَفْعَلْهُ أَنَا قَطُّ، وَهُوَ دُعَاءٌ، دَعْهُمْ، يُكَثِّرُ النَّاسُ.

قِيلَ لَهُ: فَنَرَى أَنْ يُنْهَوْا؟

قَالَ: لَا، دَعْهُمْ، لَا يُنْهَوْنَ، وَقَالَ مُبَارَكٌ: "رَأَيْتُ الْحَسَنَ، وَابْنَ سِيرِينَ، وَنَاسًا يَفْعَلُونَهُ". سَأَلْتُهُ عَنِ التَّعْرِيْف فِي الْأَمْصَارِ؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ.

Artinya: “ Beliau – Imam Ahmad - ditanya tentang at-Ta’riif di desa-desa?

Dia berkata: “Ibnu Abbas melakukannya di Basrah, dan Amr bin Huraith melakukannya di Kufah, "

Abu Abdullah – yakni Imam Ahmad - berkata: Saya tidak pernah melakukannya, dan itu adalah berdoa, biarlah mereka memperbanyak orang-orang – untuk melakukannya -.

Dan dikatakan pada nya: “Lalu apakah kita melarang mereka?

Dia berkata: "Tidak, biarkanlah, mereka jangan di larang“.

Dan Mubarak berkata: “Saya melihat al-Hassan, Ibnu Siiriin, dan orang-orang melakukannya”.

Saya bertanya kepadanya tentang at-Ta’riif di daerah-daerah? Dia berkata: “Tidak ada yang salah dengan itu“)

Dan dalam kitab “طَبَقَاتُ الحَنَابِلَةِ” (1/39) dalam biografi Abu Thalib Ahmad bin Humaid: (Abu Thalib berkata:

"قَالَ أَحْمَدُ: وَالتَّعْرِيْف عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فِي الْأَمْصَارِ لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ وَذِكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ، وَفَعَلَهُ إِبْرَاهِيمُ."

“Imam Ahmad berkata: At-Ta’riif pada waktu sore di hari Arafah di daerah-daerah, itu tidak lah mengapa, itu hanya doa dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan orang yang pertama melakukannya adalah Ibnu Abbas dan ‘Amr Ibnu Huraits. Dan Ibrahim juga melakukannya”)

Ibnu Abi Shaybah meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (8/419) dengan SANAD YANG SHAHIH kepada Musa bin Abi Aishah, yang berkata:

«رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ حَرِيثٍ يَخْطُبُ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَقَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ إلَيْهِ»

“Aku melihat Amr bin Huraith berkhotbah pada hari Arafah (di mesjid di daerahnya), dan orang-orang berkumpul kepadanya).

Akan tetapi dalam kitab “البِدَعُ الحَوْلِيَّةُ” karya Abdullah at-Tuwaijiry hal. 363 di katakan:

"وَقِيلَ : إِنَّ أَوَّلَ مَنْ عَرَّفَ بِالْكُوفَةِ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ".

Ada yang mengatakan: bahwa orang yang pertama kali melakukan amalan at-Ta’riif di Kuufah adalah Mush’ab bin az-Zubair.

(Baca: “As-Sunan al-Kubra” karya al-Baihaqi 5/188, “Siyar A‘lam an-Nubala’” 3/351 karya adz-Dzahabi pada biografi Ibnu Abbas, dan lihat pula “Al-Ba‘its ‘ala Inkar al-Bida‘ wal-Hawadits” karya Abu Syamah halaman 31)

Para Ulama Yang Menganjurkan AT-TA’RIIF Serta Mengamalkannya

Diantara mereka adalah sbb :

1]. Abdullah bin Abbas, semoga Allah SWT meridhoi mereka berdua

2]. Amr bin Huraith, semoga Allah SWT meridhoi dia

3]. Mush’ab bin az-Zubair

4]. Sa'id bin Al-Musayyib

5]. Bakr bin Abdullah Al-Muzni

6]. Hassan Al Basri

7]. Muhammad bin Sirin

8]. Muhammad bin Wasi`

9]. Zabid bin Al-Harith

10]. Tsabit bin Aslam al-Banani

11]. Gilan bin Jarir

12]. Ashhab bin Abdul Aziz

13]. Ahmed bin Hanbal

15]. Yahya bin Ma'in dan laiannya .

Mereka berkata:

إِنَّهُ دُعَاءٌ وَخَيْرٌ، فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِالْبَصْرَةِ حِينَ كَانَ خَلِيفَةً لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَلَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ، وَمَا يُفْعَلُ فِي عَهْدِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ غَيْرِ إِنْكَارٍ لَا يَكُونُ بِدْعَةً.

Ini adalah doa dan kebaikan, yang dilakukan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di Basra pada masa Kholifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan beliau tidak mengingkarinya, dan apa saja yang di lakukan pada masa Khulafaur Rosydiin tanpa ada yang menyangkalnya maka itu bukanlah bidah “.

16]. Dan ini adalah pendapat Madzhab Hanbali.

17]. Dan sebagian Madzhab Hanafi

18]. Dan sebagian Maliki

19]. Dan sebagian Syafi'i

20]. Dan ini pilihan Syeikh Abd al-Karim bin Abdullah bin Abd al-Rahman al-Khudloir, dari kalangan ulama zaman sekarang ini.

Ibnu Taimiyah mengatakan :

«وَهَذَا الْقَوْلُ ثَابِتٌ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ، وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أُئِمَّةِ السَّلَفِ، فَلَا يُنْكَرُ عَلَى مَنْ عَمِلَ بِمُقْتَضَاهُ، لِأَنَّهُ مِمَّا يَسُوغُ فِيهِ الْاجْتِهَادُ، وَلَا شَكَّ أَنَّ مَنْ جَعَلَهُ بِدْعَةً لَا يُلْحِقُهُ بِفَاحِشَاتِ الْبِدَعِ، بَلْ يُخَفِّفُ أَمْرَهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى غَيْرِهِ».

Pendapat ini shahih diamalkan oleh sebagian para Sahabat, dan dipilih oleh sekelompok ulama salaf, sehingga tidak perlu diingkari bagi mereka yang mengamalkannya sesuai dengan tuntutan sebuah ijtihad, karena masalah ini merupakan masalah yang layak untuk ijtihad.

Tidak ada keraguan bahwa siapa pun yang menganggapnya ini adalah bid'ah, maka tidak boleh mengkatagorikannya pada bid'ah yang sangat parah, melainkan bid’ah yang sangat ringan di banding bid’ah-bid’ah lainnya.

(Baca: *Majmū’ al-Fatāwā* karya Ibnu Taimiyah (1/281–282), dan *Qā’idah Jalīlah fī at-Tawassul wa al-Wasīlah* karya Ibnu Taimiyah (hal. 222–223). Dan lihat pula: *al-Bāits ‘alā Inkār al-Bida‘ wa al-awādits* karya Abu Syaamah (hlm. 114–115).)

===

DALIL-DALIL KEUTAMAAN HARI ARAFAH SECARA UMUM:

Hari Arafah adalah hari yang istimewa, karena memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan Ibnu Rajab Al Hanbali seperti berikut ini:

1]. Doa pada Hari Arofah adalah doa yang paling terbaik dan mustajab:

Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu Anhuma, Rosulullah bersabda:

«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

“Do’a yang paling utama adalah di hari Arafah. Dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku baca pada hari itu adalah:

«لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ»

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu’.

(HR. At- Tirmidzi. no. 3585 dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (3/184); dan Al-Ahaadits Ash-Shahihah (4/6).

Ada satu riwayat dari Al-Imam Ahmad dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya:

«كَانَ أَكْثَرَ دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ يَوْمَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ».

“Kebanyakan doa Rasulullah di hari Arafah adalah: Laa ilaaha illallah (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).”

Al-Husain bin Al-Hasan Al-Marudzi rahimahullah berkata,

«سَأَلْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ عَنْ أَفْضَلِ الدُّعَاءِ يَوْمَ عَرَفَةَ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ».

“Aku bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah tentang doa yang paling afdhal di hari Arafah. Beliau berkata: Laa ilaaha illallah (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).” [Mir’atul Mafatih, 9/140]

2]. Mengampuni dosa dua tahun

Puasa pada Hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Dalam riwayat dari Abu Qotadah, Nabi Muhammad bersabda:

«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ»

Artinya: "Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR Muslim Nomor 1162)

3]. Pengampunan dosa.

Hari Arafah merupakan hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka. Dalam riwayat dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

«مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ»

Artinya: "Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah Hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka kepada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR Muslim Nomor 1348)

Allah pun begitu bangga dengan orang yang sedang melakukan wukuf di Arafah.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً»

Artinya: "Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: 'Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu." (HR Ahmad 2: 224. Syekh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa)

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih 1/655 nomor 1136:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin ‘Umar, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Harb, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, ia berkata: Telah sampai kepada kami dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

«لَوْ أَنَّ ‌حَمَلَةَ ‌الْعِلْمِ ‌أَخَذُوهُ ‌بِحَقِّهِ ‌وَمَا ‌يَنْبَغِي ‌لَأَحَبَّهُمُ ‌اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ وَالصَّالِحُونَ وَلَهَابَهُمُ النَّاسُ، وَلَكِنْ طَلَبُوا بِهِ الدُّنْيَا فَأَبْغَضَهُمُ اللَّهُ وَهَانُوا عَلَى النَّاسِ»

“Seandainya para pemikul ilmu mengambilnya dengan haknya (mencari pahala akhirat) dan sebagaimana yang semestinya, niscaya Allah, para malaikat-Nya, dan orang-orang saleh akan mencintai mereka, dan manusia pun akan segan kepada mereka.

Akan tetapi mereka menjadikan ilmu itu sebagai sarana untuk mencari dunia, maka Allah membenci mereka dan mereka pun menjadi hina di mata manusia”.

Ini adalah beberapa perkara baru yang diada-adakan oleh para sahabat pada masa hidup Rasulullah . Rasulullah tidak mengingkari mereka, bahkan membenarkan perbuatan mereka karena kebaikannya. Dan ini merupakan dalil bahwa bid‘ah yang baik termasuk sunnah yang baik.

****

AMALAN IBNU ABBAS KE DUA : QUNUT SHUBUH

Riwayat ke 1:

Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra berkata:

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali al-Husain bin Muhammad ar-Rudzbari; telah mengabarkan Ismail bin Muhammad ash-Shaffar; telah meriwayatkan Abu ‘Ali al-Hasan bin al-Fadhl bin as-Samh; telah meriwayatkan Sahl bin Tammam; telah meriwayatkan Abu al-Asyhab dan Salm bin Zurar:

Dari Abu Rojaa’ al-‘Athooridi, dia berkata:

«‌صَلَّى ‌بِنَا ‌ابْنُ ‌عَبَّاسٍ ‌صَلَاةَ ‌الصُّبْحِ ‌وَهُوَ ‌أَمِيرٌ ‌عَلَى ‌الْبَصْرَةِ ‌فَقَنَتَ ‌قَبْلَ ‌الرُّكُوعِ ‌وَرَفَعَ ‌يَدَيْهِ».

“Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- shalat bersama kami shalat Shubuh d, pada saat beliau menjabat sebagai Amir di Bashrah, lalu beliau ber qunut sebelum Ruku’ dan mengangkat kedua tangannya “. [HR. Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 1/676 no. 2170]

Riwayat ke 2 :

Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushonnaf dengan sanad lain mengatakan:

Telah menceritakan kepada kami Waki‘, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Asyhab Ja‘far bin Hayyan dan Qurrah bin Khalid, keduanya mendengarnya dari Abu Rojaa’ al-‘Athooridi, ia berkata:

«صَلَّى بِنَا ابْنُ عَبَّاسٍ الْفَجْرَ، بِالْبَصْرَةِ فَقَنَتَ»

“ Telah sholat bersama kami Ibnu Abbas sholat shubuh, maka beliau berqunut “. (Baca: al-Mushonnaf karya Ibnu Abi Syaibah no. 7005)

Riwayat ke 3 :

Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushonnaf mengatakan:

Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Auf, dari Abu Rojaa al-‘Athooridi, dia berkata:

«‌رَأَيْتُ ‌ابْنَ ‌عَبَّاسٍ ‌يَمُدُّ ‌بِضَبْعَيْهِ ‌فِي ‌قُنُوتِ ‌صَلَاةِ ‌الْغَدَاةِ، ‌إِذَا ‌كَانَ ‌بِالْبَصْرَةِ»

“Aku melihat Ibnu ‘Abbaas menjulurkan kedua lengan atasnya dalam qunut sholat Fajar ketika beliau di Bashrah “.(Baca: al-Mushonnaf karya Ibnu Abi Syaibah no. 7004)

****

DIROSAH TAKHRIJ ATSAR QUNUT SHUBUH IBNU ABBAS:

Atsar Qunut Shubuh Ibnu Abbas ini telah riwayatkan oleh:

1.    Riwayat pertama: Abu Rojaa’ al-‘Athooridy

2.    Riwayat kedua: Abul ‘AAliah ar-Rayyaahi

3.    Riwayat ke tiga: Khallaas bin ‘Amr.

4.    Riwayat ke empat: Nashr bin Imraan adh-Dhob’ii.

===

RIWAYAT PERTAMA:
Dari Abu Rojaa’ al-‘Athooridy .

Telah meriwayatkan darinya: 1: ‘Auf bin Abi Jamila Al-A’raabi. 2: Jaafar Bin Hayyan. 3: Qurrah bin Khalid. 4: Salam Bin Zariir.

KE 1. ‘Auf bin Abi Jamila Al-A’raabi.

Telah meriwayatkan darinya sekelompok ulama, diantaranya:

A]. Al-Thabari telah meriwayatkan dalam tafsirnya (5/216), dia berkata: Abbad bin Yaqoub al-Asadi memberi tahu kami, katanya, Syarek memberi tahu kami, dar ‘Auf al-A’raabi:

Dan dalam kitab “تَهْذِيبُ الْآثَارِ مُسْنَدُ ابْنِ عَبَّاسٍ” hal. 625:

Ibnu Basyar memberi tahu kami, dia berkata: Ibnu Abi Uday, Abdul Wahhab, dan Muhammad Ibnu Jaafar memberi tahu kami, dari Auf al-A’raabi:

B]. Dan Abdurrozzaaq dalam al-Mushonnaf No. 4973: Dari Ja’far, dari ‘Auf al-A’raabi:

C]. Ibnu Abi Syaibah dalam “الْمُصَنَّفُ (12/2):

Telah memberitahu kami Hashem, dari Auf al-A’raabi:

Dan dia berkata pula: telah memberitahu kami Marwan bin Mu'awiyah dari Auf al-A’raabi, dari Abi Rajaa’, dia berkata: lalu dia menyebutkannya. Dan ISNADNYA SHAHIH.

PERHATIAN:

Ke satu: perkataan “فِي إِمَارَتِهِ عَلَى الْبَصْرَةِ” terdapat dalam riwayat Abdurrozaaq.

Ke dua: perkatan “وَرَفَعَ يَدَيْهِ” terdapat dalam riwayat Syuraik dalam Tafsir Imam ath-Thobari.

Dan Riwayat Hasyiim bin Basyir dalam Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah.

KE 2. Ja’far Bin Hayyaan

KE 3. Qurroh bin Kholid.

Di rawayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonnaf” 2/312:

Telah memberi tahu kami Wakii’, dia berkata: Telah memberi tahu kami Abu al-Asyhab Jaafar bin Hayyan dan Qurroh bin Khalid. Mereka berdua mendengarnya dari Abu Rajaa al-Ath-thooridi, berkata:

«صَلَّى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الْفَجْرَ بِالْبَصْرَةِ فَقَنَتَ»

“Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhu- shalat Shubuh di Bashrah, lalu dia ber Qunuth “. Dan ISNADNYA SHAHIH.

3. Ja’far bin Hayyaan

4. Salm Bin Zariir

Di riwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “السُّنَنُ الْكُبْرَىٰ (1/461) berkata:

Telah memberi tahu kami Abu Ali al-Husayn Ibnu Muhammad al-Rudhbari: Telah memberi tahu kami Ismael bin Muhammad al-Shaffaar: Telah bercerita kepada kami Abu Ali al-Hassan Ibnu al-Fadl bin al-Samh: Telah bercerita kepada kami Sahl bin Tammaam: Telah bercerita kepada kami Abu Al-Asyhab dan Salm bin Zariir dari Abu Rajaa Al-Aththooridi, dia berkata:

‌صَلَّى ‌بِنَا ‌ابْنُ ‌عَبَّاسٍ ‌صَلَاةَ ‌الصُّبْحِ ‌وَهُوَ ‌أَمِيرٌ ‌عَلَى ‌الْبَصْرَةِ ‌فَقَنَتَ ‌قَبْلَ ‌الرُّكُوعِ ‌وَرَفَعَ ‌يَدَيْهِ ‌حَتَّى ‌لَوْ ‌أَنَّ ‌رَجُلًا ‌بَيْنَ ‌يَدَيْهِ لَرَأَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ:

«هَذِهِ الصَّلَاةُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ ﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾ [البقرة: 238]»

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- bersama kami shalat Shubuh, pada saat beliau menjabat sebagai Amir di Bashrah, lalu beliau ber qunut sebelum Ruku’ dan mengangkat kedua tangannya, sehingga jika seandainya ada orang berada di hadapannya pasti dia bisa melihat warna putih kulit kedua ketiaknya. Lalu ketika selesai shalat, beliau hadapkan wajahnya kepada kami, kemudian beliau berkata:

“Ini adalah Sholat yang Allah SWT sebutkan dalam Kitab-Nya al-Qur’an:

﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ﴾ [البقرة: ٢٣٨]

Artinya: “Peliharalah semua shalat(kalian), dan (peliharalah) salat al-wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam salat kalian) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238).

Derajat atsar:

"وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. الْحَسَنُ بْنُ الْفَضْلِ بْنُ السَّمْحِ ضَعِفَهُ شَدِيدٌ وَبَقِيَّةُ رَوَاتِهِ مُحْتَجٌّ بِهِمْ".

“Atsar ini ISNADNYA DHAIF/LEMAH. Karena di dalam sanadnya terdapat al-Hasan Bin al-Fadlel bin As-Samah, dia itu sangat lemah, adapun perawi lainnya bisa di jadikan hujjah “

====

RIWAYAT KEDUA:
Dari Abul ‘Aliyah Rafii’ bin Mihran ar-Rayyahi:

Diriwayatkan oleh sbb:

A].    Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonnaf” 2/313, dia berkata: Telah bercerita kepada kami Marwan Bin Mu’awiyah dari ‘Auf al-A’raabi:

B].    Ibnu Jariir dalam kitab “تَهْذِيبُ الْآثَارِ مُسْنَدُ ابْنِ عَبَّاسٍ” No. 626, dia berkata: Telah bercerita kepada kami Ibnu Basyaar, dia berkata: Telah bercerita kepada kami Abd al-Wahhaab, Dia berkata: Telah bercerita kepada kami Auf dari Abu Al Minhaal, dari Abu Al-Aliah, dari Ibnu Abbas:

«أَنَّهُ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي مَسْجِدِ الْبَصْرَةِ، فَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ».

“Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhu- shalat Shubuh di Masjid Bashrah, lalu dia ber Qunuth“.

Derajat hadits:

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. أَبُو الْمُنْهَالِ سَيَّارُ بْنُ سَلَامَةَ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ هُوَ الثَّقَفِيُّ، وَعَوْفُ هُوَ ابْنُ أَبِي جَمِيلَةَ.

Dan ISNADNYA SHAHIH. Abu Al-Minhaal Sayyar Bin Salamah dan Abdul-Wahhaab adalah Al-Tsaqofii. Dan Auf adalah Ibnu Abi Jamialah.

===

RIWAYAT KETIGA:
Dari Khollaas Bin ‘Amr:

Di riwayatkan oleh sbb:

A]. Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonnaf” 2/313, dia berkata: Telah bercerita kepada kami Sufyan dari ‘Auf:

B]. Ibnu Jariir ath-Thobary dalam Tafsir nya 5/218: Telah bercerita pada ku Al-Mutsanna, katanya, Telah bercerita pada kami Al-Hajjaaj. Dia berkata: Telah bercerita pada kami Hammad, di berkata: Telah mengkabarkan pada kami ‘Auf dari Khallas bim ‘Amr al-Hajary, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu 'anhuma-:

«أنَّهُ صَلَّى فَقَنَتَ بِهِمْ فِي الْفَجْرِ بِالْبَصْرَةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى مَدَّ ضَبْعَيْهِ»

“Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- bersama mereka shalat Shubuh di Bashrah, lalu beliau ber qunut maka beliau mengangkat kedua tangannya sehingga dia mengulurkan kedua lengan atasnya”.

Derajat Atsar: 

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. شَيْخُ الطَّبَرِيِّ، الْمُثْنَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْآمِلِيُّ، لَمْ أَقِفْ عَلَى مَنْ عَدَّلَهُ وَلَا يَضُرُّ فَهُوَ مُتَابَعٌ وَبَقِيَّةُ رَوَاتِهِ ثِقَاتٌ. سُفْيَانُ هُوَ الثَّوْرِيُّ، وَحَمَّادٌ هُوَ ابْنُ سَلَمَةَ، وَحَجَّاجٌ هُوَ ابْنُ مُنْهَالٍ.

“Dan ISNADNYA SHAHIH.

Syekh nya Ibnu Jariir al-Tabari yang bernama al-Mutsanna bin Ibrahim al-Amili Saya tidak menemukan orang yang men ta’dilnya, akan tetap itu tidak ngarauh, karena terdapat Mutaabi’ (متابع), dan para perawi lainnya dapat dipercaya.

Adapun Sufyan di sini adalah Sufyan Ats-Tsaury. Sedangkan Hammad adalah putra Salamah. Dan Hajjaaj adalah putra Minhal “.

====

RIWAYAT KEEMPAT:
Dari Abu Hamzah Nashr Bin Imran al-Dhuba’i

Adz-Dzahabi dalam kitab تَنْقِيحُ التَّحْقِيقِ (1/239):

Al-Atsram berkata: Telah bercerita pada kami Ahmad bin Hanbal, Telah bercerita pada kami Hasyiim, dari Abu Jamrah, dia berkata:

«صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الْفَجْرَ، فَقَنَتْ قَبْلَ الرُّكُوعِ».

“Aku sholat di belakang Ibnu Abbaas sholat Shubuh, lalu beliau berqunut sebelum Shubuh“.

Derajat Atsar:

وَرَوَاتُهُ ثِقَاتٌ وَفِيهِ عَنْعَنَةٌ هَشِيمِ بْنِ بَشِيرٍ.

“Para perawinya tsiqoot/dipercaya, akan tetapi Hasyim bin Basyiir meriwayatkannya dengan cara ‘AN ‘ANAH (عَنْعَنَةٌ) “. [Yakni: dia seorang dipercaya tapi dia mudallis]

****

RIWAYAT IBNU ABBAS DARI NABI TENTANG QUNUT SHUBUH

Riwayat ke 1:

Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbaas radhiyallahu ‘anhuma:

«مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا ».

“Rosulullah masih terus berqunut hingga beliau meninggalkan dunia “.

[HR. Ibnu Jarir dalam Musnad Ibnu Abbaas 1/385].

Hadits ini di Shahihkan oleh Ibnu Jarir dalam Musnad Ibnu Abbaas 1/385.

Riwayat ke 2:

Dalam riwayat lain Ibnu Abbaas berkata:

«صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَيَاتَهُ، فَكَانَ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا»

Aku shalat di belakang Rasulullah , maka beliau biasa mengerjakan qunut di waktu subuh hingga beliau meninggal dunia. [Lihat: تَنْقِيحُ التَّحْقِيقِ karya adz-Dzahabi 1/238].

Adz-Dzahabi dlam تَنْقِيحُ التَّحْقِيقِ  (1/238) berkata:

فِيهِ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحُكْمِ بْنِ ظُهَيْرٍ: كَذَّبَهُ أَبُو حَاتِمِ

"Di dalamnya ada Ibrahim bin Al-Hakam bin Dzuhair: Abu Hatim menganggapnya pendusta". 

Riwayat ke 3:

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya:

Telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan bin Ishaq al-Bazzar di Baghdad berdasarkan naskah sama’nya yang ditulis oleh Abu al-Hasan ad-Daruquthni, (ia berkata): Telah memberitakan Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ishaq al-Fakihi di Makkah, (ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ‘Abdullah bin Ahmad bin Zakariya bin al-Haris bin Abi Masarrah (ia berkata): Telah mengabarkan kepada kami ‘Abd ‘al-Majid –yaitu Ibnu ‘Abd al-‘Aziz bin Abi Rawwad- dari Ibnu Juraid, (ia berkata): Telah menceritakan kepadaku ‘Abd ar-Rahman Ibnu Hurmuz bahwa Buraid Ibnu Abi Maryam telah menceritakan kepadanya dimana ia mengatakan:

Aku mendengar Ibnu ‘Abbas  -radhiyallahu ‘anhu- , berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِى الْقُنُوتِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ:

«الَّلهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ».

Rosulullah mengajari kami sebuah doa yang kami berdoa dengannya pada saat Qunut di sholat Shubuh:

Yang artinya: " Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk, Dan berilah kesehatan kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan, Dan peliharalah kami sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan, Dan berilah keberkahan bagi kami pada apa-apa yang telah Engkau kuruniakan, Dan selamatkan kami dengan rahmat-Mu dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan, Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum, Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau angkat. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau".

(HR. Al-Baihaqi dalam “السُّنَنُ الْكُبْرَىٰ” 2/210. cetakan مكتبة دار الباز).

Dalam riwayat lain:

سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، وَمُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ هُوَ ابْنُ الْحَنَفِيَّةِ بِالْخَيْفِ يَقُولَانِ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَفِي وِتْرِ اللَّيْلِ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ:

«اللهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ».

Aku mendengar Ibnu ‘Abbas dan Muhammad ‘Ali, yaitu Ibnu al-Hanafiyah di al-Khaif [mesjid di Mina] mengatakan:

“Bahwa Nabi Muhammad melakukan qunut dalam shalat subuh dan shalat witir malam dengan membaca kalimat-kalimat ini:

(Ya Allah, berilah aku petunjuk di dalam golongan orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, dan berilah aku kesehatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan, berilah aku perlindungan di dalam golongan orang-orang yang telah Engkau beri perlindungan, berkahilah aku dalam apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang menetapkan dan tidak menjadi obyek ketetapan, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah mendekat kepadaMu, wahai Tuhanku, Maha Suci dan Maha Tinggi lah Engkau).”

[HR. al-Baihaqi 2/210 no. 3266, al-Faakihi dalam Haditsnya 1/18/1-2 dan ‘Abd ar-Razaq 3/108 no. 4957]

Kemudian Al-Imam Baihaqi berkata:

وَرَوَاهُ مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْحَرَانِيُّ عَنْ ابْنِ جَرِيجٍ فَذَكَرَ رِوَايَةَ بَرِيدٍ مُرْسَلَةٍ فِي تَعْلِيمِ النَّبِيِّ ﷺ أَحَدَ ابْنَيْ ابْنَتِهِ هَذَا الدُّعَاءَ فِي وَتْرِهِ ثُمَّ قَالَ بَرِيدٌ:

سَمِعْتُ ابْنَ الْحَنَفِيَّةِ وَابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولَانِ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهَا فِي قُنُوتِ اللَّيْلِ».

وَكَذَلِكَ رَوَاهُ أَبُو صَفْوَانَ الْأُمَوِيُّ عَنْ ابْنِ جَرِيجٍ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُرْمُزَ.

وَقَالَ فِي حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ الْحَنَفِيَّةِ: فِي قُنُوتِ صَلَاةِ الصُّبْحِ. فَصَحَّ بِهَذَا كُلُّهُ أَنَّ تَعْلِيمَهُ هَذَا الدُّعَاءَ وَقَعَ لِقُنُوتِ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَقُنُوتِ الْوِتْرِ، وَأَنَّ بَرِيدًا أَخَذَ الْحَدِيثَ مِنَ الْوَجْهَيْنِ اللَّذَيْنِ ذَكَرْنَاهُمَا.

“Dan diriwayatkan oleh Makhlad bin Yazid Al-Harraani dari Ibnu Jurayj, dan dia menyebutkan sebuah riwayat Buraid secara mursal tentang pengajaran Nabi doa qunut sholat witir ini kepada salah satu putra dari putrinya.

Kemudian Buraid berkata: Saya mendengar Ibnu al-Hanafiyyah dan Ibnu Abbas berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهَا فِي قُنُوتِ اللَّيْلِ»

Rasulullah biasa membacanya pada Qunut shalat Malam.

Dan begitu juga diriwayatkan oleh Abu Safwan Al-Umawi dari Ibnu Juraij, akan tetapi dia berkata: Dari Abdullah bin Hurmuz.

Dan dia berkata dalam hadits Ibnu Abbas dan Ibnu al-Hanafiyyah:

فِي قُنُوتِ صَلَاةِ الصُّبْحِ.

"Pada qunut sholat shubuh".

Maka dengan demikian telah SHAHIH semua ini bahwa Nabi mengajarinya doa qunut ini terjadi untuk qunut shalat subuh dan qunut shalat witir.

Dan bahwa Buraid ini telah mengambil hadits tsb dari dua sisi, sebagaimna yang telah kami sebutkan diatas ". [Selesai]

Al-Haafidz Ibnu Hajar berkata dalam “Nataa'ij al-Afkaar” (2/152):

"هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ أَخْرَجَهُ مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ فِي "كِتَابِ قِيَامِ اللَّيْلِ" عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِيِّ الْفَلاَسِ عَنْ أَبِي عَاصِمٍ، عَنْ ابْنِ جُرَيجٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَالْمَتْنِ".

“Ini adalah hadits ghoriib yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam “Kitab Qiyaam al-Layl” dari Amr bin Ali al-Fallaas dari dari Abi 'Aashim, dari Ibnu Juraij dengan sanad dan matan ini …".

Derajat Hadits:

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Baihaqi seperti yang disebutkan diatas. Dan di hasankan oleh Ibnu Mulaqqin dan Baa Zamuul.

Akan tetapi di Dha'ifkan oleh Ibnu Hajar dan al-Albaani.

Ibnu al-Mulaqqin menyebutkan nya dalam Tuhfatul Muhtaaj 1/304, menurutnya sanadnya Jayyid.

Syeikh Muhammad Umar Baa Zamuul dalam "الْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ الْوَارِدَةُ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ" hal. 21 berkata:

" وَابْنُ هُرْمُزَ ثِقَةٌ مَعْرُوفٌ، إِذَا كَانَ الْمَقْصُودُ عَبْدَالرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ بْنِ كَيْسَانَ الْأَعْرَجِ ".

“Ibnu Hurmuz tsiqoh [dipercaya] dan masyhur, jika yang dimaksud adalah Abdur-Rahman bin Hurmuz bin Kiisan al-A'raj.

Lalu Baa Zamuul berkata:

“وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ هُوَ أَحَدُ الْمَذْكُورِينَ الْآخَرِينَ فَالطَّرِيقُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ فَقَطَّ؛ إِذْ تَشْهَدُ لَهُ الطَّرِيقُ الَّتِي بَعْدَهُ "

“Dan jika yang dimaksud adalah salah satu dari dua yang disebutkan, maka jalur sanad ini hanya HASAN lighoirihi, sebagaimana jalur yang menjadi syahid baginya yang disebutkan setelahnya.”

Lalu Baa Zamuul melanjutkan perkataannya:

فَإِنْ كَانَ ابْنُ هِرْمَزَ الْمَقْصُودُ فِي هَذَا الطَّرِيقِ هُوَ عَبْدَالرَّحْمَنُ الْأَعْرَجُ؛ فَالطَّرِيقُ لَا يَنْزِلُ عَنْ دَرَجَةِ الْحَسَنِ لِذَاتِهِ

“Jika Ibnu Hurmuz, yang dimaksudkan di jalur ini, adalah Abdur-Rahman al-A'raj, maka derajat jalur ini tidak turun di bawah peringkat al-Hasan Lidzaatihi.

Akan Tetapi Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhiis Al-Habiir (1/248):

" عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ لَيْسَ هُوَ الْأَعْرَجُ، يَحْتَاجُ إِلَى الْكَشْفِ عَنْ حَالِهِ؛ فَقَدْ رَوَاهُ أَبُو صَفْوَانَ الْأُمَوِيُّ عَنْ ابْنِ جُرَيجٍ فَقَالَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هُرْمُزَ، وَالْأَوَّلُ أَقْوَى " اهـ

"Abdur-Rahman bin Hurmuz di sini bukan yang al-A'raj, dibutuhkan penelitian untuk mengungkap kondisinya. Abu Safwan Al-Umawi meriwayatkan dari Ibnu Jurayj, lalu dia berkata: ' Abdullah bin Hormuz'. Dan yang pertama lebih kuat."

Dan Ibnu Hajar berkata:

" أَنَّ ابْنَ هِرْمَزَ هَذَا شَيْخٌ مَجْهُولٌ وَالْأَكْثَرُ أَنَّ اسْمَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ وَلَيْسَ هُوَ الْأَعْرَجُ الثِّقَةِ الْمَشْهُورِ صَاحِبُ أَبِي هُرَيْرَةَ ".

“Bahwa Ibnu Hurmuz di sini adalah seorang syekh yang majhuul. Dan kebanyakan bahwa namanya adalah Abdur-Rahman, dan dia bukan al-A'raj yang tsiqoh Masyhur sahabat Abu Hurairah".

Dalam Bulughul Maram, Ibnu Hajar menyatakan:

" وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ"

[Dalam sanadnya terdapat kelemahan].

Dan Syeikh al-Albaani dalam kitab Irwa al-Gholil 2/174-175 berkata:

قُلْتُ: فِي الطَّرِيقِ إِلَى بُرِيدٍ مِنَ الْوَجْهِ الثَّانِي ابْنُ هِرْمَزَ وَقَدْ عَرَفْتُ حَالَهُ، وَفِيهِ ذِكْرُ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ دُونَ الطَّرِيقِ الْأُولَى الصَّحِيحَةِ، وَعَلَيْهِ فَالْقُنُوتُ فِي الصُّبْحِ بِهَذَا الدُّعَاءِ لَا يَصِحُّ عِنْدِي، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

وَلِلْحَدِيثِ طَرِيقٌ أُخْرَى عَنْ أَبِي الْحُرَيْرَاءَ مِثْلَ رِوَايَةِ بُرِيدٍ عَنْهُ. أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ الرَّكِينِ عَنْ أَبِي يَزِيدَ (كَذَا وَلَعَلَّهُ زَيْدٌ) الزَّرَّادُ عَنْهُ.

قُلْتُ: وَهَذَا سَنَدٌ ضَعِيفٌ عَلَتْهُ الرَّبِيعُ هَذَا وَهُوَ ابْنُ سَهْلِ بْنِ الرَّكِينِ، قَالَ الدَّارِقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ: ضَعِيفٌ. وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِثِقَةٍ.

Aku katakan: " Dalam jalur sanad ke Buraid dari sisi kedua, terdapat Ibnu Hurmuz, dan anda tahu kondisi dia, dan di dalamnya dia menyebutkan Qunut di shalat shubuh, namun di jalur pertama yang shahih tidak menyebutkan kata " di waktu Shubuh ". Oleh karena itu, qunut dalam shalat subuh dengan doa ini tidak shahih menurut-ku. Wallaahu a'lam.

Memnag ada jalur lain, yaitu dari Abu al-Hauraa', sama seperti riwayat Buraid darinya. Itu diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari ar-Rabi' Ibnu al-Rukain dari Abu Yazid (seperti ini, mungkin " Zaid " bukan Yaziid) al-Zarraad darinya.

Aku katakan: Ini adalah sanad yang lemah, ilatnya adalah ar-Rabi' ini, dan dia itu adalah Ibnu Sahel bin Al-Rukain. Ad-Daraqutni dan yang lainnya berkata: "Lemah". Ibnu Ma'in berkata: "Dia tidak dapat dipercaya"." [Selesai] 

Adz-Dzahabi dlam kitab تَنْقِيحُ التَّحْقِيقِ (1/242) berkata:

قَالَ أَبُو مُوسَى الْمَدِينِيّ: رواهُ جَابر الْجعْفِيّ، عَن إِبْرَاهِيم النَّخعِيّ، عَن سُوَيْد، فَذَكَرَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كُلُّهُمْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ». جَابِرٌ رَافِضِيٌّ وَاهٍ ".

Abu Musa Al-Madini berkata: Diriwayatkan oleh Jabir Al-Ju'fi, dari Ibrahim Al-Nakh'i, dari Suwaid, lalu dia menyebutkan dari: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum:

«كُلُّهُمْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ»

“Masing-masing mereka semua berqunut dalam shalat Shubuh ".

Namun perawi yang bernama Jabir adalah seorang Syiah Raafidhah, dia lemah.

Dari al-Barraa bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:

Oleh Al-Bayhaqi (2/206): telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ali Al-Rudhbari, telah mengkhabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad Al-Saffar, telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Qubaishah bin Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan.

Dan oleh ath-Thabari dalam Tahdziib al-Aathaar di Musnad Ibnu Abbas  -radhiyallahu ‘anhu-  no. (628): telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abd al-Rahman.

Dan oleh Ibnu Abi Shaybah (235): telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Muhaarib bin Diitsar, dari Ubaid bin Al-Baraa', dari Al-Bara bin 'Aazib -radhiyallahu ‘anhu- :

أَنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ

“Bahwa dia biasa berqunut pada shalat Shubuh”.

Dan ISNADNYA SHAHIH.

===***=== 

PEMBAHASAN KE TIGA :
AMALAN PARA SAHABAT TANPA DALIL KHUSUS

Di antara amalan para sahabat pada masa Nabi dan Nabi menetapkannya:

KE 1].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الفَجْرِ: « يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلَامِ، ‌فَإِنِّي ‌سَمِعْتُ ‌دَفَّ ‌نَعْلَيْكَ ‌بَيْنَ ‌يَدَيَّ ‌فِي ‌الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي: أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا، فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ "

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: «دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِي تَحْرِيكَ»

Bahwa Nabi berkata kepada Bilal pada saat salat Subuh: “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan pahalanya yang pernah engkau lakukan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara langkah sandalmu di hadapanku di surga.”

Bilal menjawab: “Aku tidak melakukan suatu amalan yang lebih aku harapkan pahalanya menurutku selain bahwa setiap kali aku berwudu, baik pada waktu malam maupun siang, aku selalu melaksanakan salat dengan wudu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan bagiku untuk aku kerjakan.”

Abu Abdillah berkata: “Suara langkah sandalmu maksudnya adalah gerakan.”

[Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1149].

Bilal radhiyallahu 'anhu melakukan suatu amalan tanpa mencontoh secara langsung atau terlebih dahulu meminta persetujuan Nabi Muhammad . Hal ini ditegaskan dengan kenyataan bahwa Rasulullah tidak mengetahui amalan yang biasa dilakukan Bilal sampai beliau mendengar suara sandalnya di surga.

Rasulullah tidak berkata kepadanya: “Engkau telah berbuat bidah karena aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.”

Beliau juga tidak berkata: “Engkau sesat karena telah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diperintahkan.”

Dan beliau tidak mengatakan: “Engkau telah mengada-adakan dalam urusan kami sesuatu yang bukan bagian darinya.”

Bahkan beliau menetapkannya dan membenarkan perbuatannya, sehingga amalan tersebut menjadi sunnah taqririyah.

KE 2].

Diriwayatkan oleh al-Bukhari tentang perbuatan Khubaib yang mengerjakan dua rakaat ketika ia diserahkan oleh kaum Quraisy untuk dibunuh dengan cara disiksa. Nabi menetapkannya, dan perbuatan itu menjadi sunnah setelahnya.

Sebagian textnya :

فَلَمَّا خَرَجُوا مِنَ الحَرَمِ لِيَقْتُلُوهُ في الحِلِّ، قَالَ لهمْ خُبَيْبٌ: «ذَرُونِي أرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ. فَتَرَكُوهُ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ»، ثُمَّ قَالَ: «لَوْلَا أنْ تَظُنُّوا أنَّ ما بي جَزَعٌ لَطَوَّلْتُهَا، اللَّهُمَّ أحْصِهِمْ عَدَدًا ما أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا»

Maka ketika mereka keluar dari Tanah Haram untuk membunuhnya di luar Tanah Haram, Khabib berkata kepada mereka: “Biarkan aku melaksanakan dua rakaat.”

Lalu mereka membiarkannya, maka ia pun melaksanakan dua rakaat.

Setelah itu Khubaib berkata, “Seandainya kalian tidak mengira bahwa apa yang ada padaku ini adalah ketakutan, niscaya aku akan memanjangkannya. Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu. Aku tidak peduli ketika aku dibunuh dalam keadaan sebagai seorang Muslim.”

[Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3045].

KE 3].

Diriwayatkan oleh al-Bukhari : Dari Rifa‘ah bin Rafi‘ az-Zuraqi, ia berkata:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ، قَالَ: " كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ "، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: ‌رَبَّنَا ‌وَلَكَ ‌الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: «مَنِ المُتَكَلِّمُ» قَالَ: أَنَا، قَالَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ»

“Pada suatu hari kami salat di belakang Nabi . Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau bersabda: ‘Sami‘allahu liman hamidah.’

Lalu seorang laki-laki di belakang beliau mengucapkan: ‘Rabbana wa lakal hamdu, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih.’

Setelah selesai salat, Nabi bersabda: ‘Siapakah yang berbicara tadi?’

Laki-laki itu menjawab: ‘Saya.’

Beliau bersabda: ‘Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang paling dahulu menuliskannya.’”

[Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 799].

KE 4].

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma :

بيْنَما نَحْنُ نُصَلِّي مع رَسولِ اللهِ ﷺ إذْ قالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ:

"اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا"،

فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: «مِنَ القَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟». قالَ رَجُلٌ مَنِ القَوْمِ: "أَنَا يا رَسولَ اللهِ"، قالَ: «عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ»

قالَ ابنُ عُمَرَ: "فَما تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ يقولُ ذلكَ".

Ketika kami sedang melaksanakan salat bersama Rasulullah , tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum itu mengucapkan:

«اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا»

Artinya : Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.

Lalu Rasulullah bersabda: “Siapakah yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian itu? “.

Seorang laki-laki dari kaum tersebut menjawab: “Saya, wahai Rasulullah”.

Maka Rasulullah bersabda: “Aku merasa takjub terhadapnya, karena pintu-pintu langit dibukakan untuk kalimat itu”.

Ibnu Umar berkata: “Sejak aku mendengar Rasulullah mengatakan hal itu, aku tidak pernah meninggalkannya”.

[Diriwayatkan oleh Muslim no. 601].

KE 5]

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ، قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: ‌أَمَا ‌إِنِّي ‌لَمْ ‌أَسْتَحْلِفْكُمْ ‌تُهْمَةً ‌لَكُمْ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي، وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «‌أَمَا ‌إِنِّي ‌لَمْ ‌أَسْتَحْلِفْكُمْ ‌تُهْمَةً ‌لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»

Muawiyah keluar mendatangi sebuah halaqah di masjid, lalu ia berkata: “Apa yang membuat kalian duduk?”

Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah.”

Ia berkata: “Demi Allah, apakah tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?”

Mereka menjawab: “Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.”

Ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, dan tidak ada seorang pun yang kedudukannya di sisi Rasulullah yang lebih sedikit meriwayatkan hadis darinya selain aku. Dan sesungguhnya Rasulullah pernah keluar menemui sebuah halaqah dari para sahabatnya, lalu beliau bersabda:

Apa yang membuat kalian duduk?

Mereka menjawab: ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada kami kepada Islam dan karunia-Nya kepada kami.’

Beliau bersabda: ‘Demi Allah, apakah tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?

Mereka menjawab: ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.’

Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, tetapi Jibril datang kepadaku lalu memberitahuku bahwa Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian kepada para malaikat.’

[HR. Muslim no. 2701]

KE 6].

Salat Amr bin al-‘Ash sebagai imam bagi orang-orang dalam keadaan junub dengan tayammum, meskipun ada air, karena khawatir membahayakan dirinya.

Dari Amr bin al-‘Ash, ia berkata:

"احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «‌يَا ‌عَمْرُو ‌صَلَّيْتَ ‌بِأَصْحَابِكَ ‌وَأَنْتَ ‌جُنُبٌ؟» فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنَ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴾ [النساء: 29] فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا".

Aku bermimpi basah pada suatu malam yang sangat dingin dalam peperangan Dzatus Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa, maka aku bertayammum, kemudian aku mengimami para sahabatku salat Subuh. Peristiwa itu disebutkan kepada Nabi , lalu beliau bersabda:

“Wahai Amr, apakah engkau mengimami para sahabatmu salat sementara engkau dalam keadaan junub?”

Aku pun memberitahukan kepada beliau alasan yang menghalangiku untuk mandi, dan aku berkata: Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (An-Nisa: 29).

Maka Rasulullah tertawa dan tidak mengatakan apa pun.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad nomor 17812, Abu Dawud (334), ad-Daraquthni 1/178, al-Hakim 1/177–178, dan Ibnu Hajar dalam Taqliq at-Ta‘liq 2/189.

Sanadnya dinilai sahih oleh Syu‘aib al-Arnauth dan para peneliti al-Musnad 29/347.

KE 7].

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu :

خرجَ رجلانِ في سفَرٍ، فحضرتِ الصَّلاةُ وليسَ معَهُما ماءٌ، فتيمَّما صَعيدًا طيِّبًا فصلَّيا، ثمَّ وجدا الماءَ في الوقتِ، فأعادَ أحدُهُما الصَّلاةَ والوضوءَ ولم يُعدِ الآخرُ، ثمَّ أتيا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ فذَكَرا ذلِكَ لَهُ فقالَ للَّذي لم يُعِد: أصبتَ السُّنَّةَ، وأجزَأتكَ صلاتُكَ. وقالَ للَّذي توضَّأَ وأعادَ: لَكَ الأجرُ مرَّتينِ

Dua orang laki-laki keluar dalam perjalanan. Ketika waktu salat tiba, keduanya tidak memiliki air, maka mereka bertayamum dengan debu yang baik lalu melaksanakan salat.

Setelah itu, mereka menemukan air sementara waktu salat masih ada. Salah seorang dari keduanya mengulangi salat dan berwudu, sedangkan yang lain tidak mengulanginya.

Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah dan menceritakan hal itu kepada beliau.

Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulangi salat: Engkau telah sesuai dengan sunnah, dan salatmu telah mencukupimu.

Dan beliau bersabda kepada orang yang berwudu dan mengulangi salat: Engkau mendapatkan pahala dua kali.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (338), al-Hakim (632) dengan lafaz yang sama, dan an-Nasa’i (433) dengan sedikit perbedaan. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Taqrir dan pengakuan di sini berasal dari Nabi , dalam dua perkara.

Pertama: beliau menyetujui mereka terhadap pokok perbuatan baru yang mereka lakukan.

Kedua: beliau menyetujui apa yang mereka lakukan berupa perkara baru tersebut karena sesuai dengan syariat.

Seandainya persetujuan Nabi itu terhadap perbuatan itu sendiri, tentu beliau akan melarang mereka sejak awal perbuatan baru tersebut, dan beliau akan berkata kepada mereka: mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak aku perintahkan kepada kalian?

Seandainya para sahabat radhiyallahu ‘anhum memahami dari Nabi bahwa melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan itu haram, niscaya mereka tidak akan melakukannya sejak awal.

Demikian pula, mereka tidak akan mengada-adakan sesuatu yang baru setelah wafatnya Nabi .

Contohnya seperti Umar radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau berkata: “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini.”

Demikian pula Utsman radhiyallahu ‘anhu, yang menambahkan adzan pertama pada salat Jumat, dan berbagai pembaruan lain yang dilakukan oleh para sahabat dan tabi‘in.

Contohnya sangat banyak mengenai perbuatan-perbuatan yang diadakan oleh para sahabat sebagai sunnah yang baik, dan Nabi tidak mengingkari mereka.

Intinya:

1]. Perbuatan-perbuatan yang disyariatkan tidak tertolak, dan ibadah-ibadah yang tidak dibatasi oleh syariat dengan ketentuan tertentu, maka seseorang tidak berdosa untuk menentukan waktunya, baik dari sisi waktu maupun tempat. Selama tidak menisbatkan pengkhususan tersebut kepada perintah atau anjuran dari Nabi .

2]. Pengakuan Nabi terhadap doa-doa yang diucapkan dalam salat yang sebelumnya tidak ada, pengkhususan surat-surat tertentu yang tidak beliau tetapkan secara terus-menerus dalam salat dan tahajudnya, serta penambahan zikir-zikir yang diriwayatkan, semuanya mengajarkan kepada kita bahwa bukan termasuk bid‘ah mengadakan doa-doa yang tidak bertentangan dengan doa-doa yang telah diriwayatkan.

3]. Dari pengakuan Nabi terhadap hal-hal di atas, dipahami bolehnya berkumpul untuk melakukan kebaikan, zikir, dan membaca Al-Qur’an di masjid atau di tempat lain, baik secara pelan maupun keras, selama tidak menimbulkan gangguan.

**** 

SEBAGAI PEMBANDING :

Dalam Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wal-Hawadits karya Ibn Abi Syamah, halaman 21–22, dan Al-Ibanah karya Ibn Baththah, jilid 1 halaman 261 di sebutkan :

وَسَأَلَ رَجُلٌ الإِمَامَ مَالِكًا عَنِ الإِحْرَامِ بِالْعُمْرَةِ مِنَ الْمَسْجِدِ بَدَلًا عَنِ الْمِيقَاتِ، فَقَالَ: لَا تَفْعَلْ، فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكَ الْفِتْنَةَ.

فَقَالَ الرَّجُلُ: «وَمَا فِي هَذَا مِنَ الْفِتْنَةِ؟ إِنَّمَا هِيَ أَمْيَالٌ أَزِيدُهَا!»

فَقَالَ الإِمَامُ مَالِكٌ: «وَأَيُّ فِتْنَةٍ أَعْظَمُ مِنْ أَنْ تَرَى أَنَّ اخْتِيَارَكَ لِنَفْسِكَ خَيْرٌ مِنِ اخْتِيَارِ اللَّهِ وَاخْتِيَارِ رَسُولِهِ ﷺ».

Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik tentang berihram untuk umrah dari masjid sebagai ganti dari miqat. Maka beliau berkata, “Jangan lakukan itu, karena aku khawatir engkau tertimpa fitnah.”

Laki-laki itu berkata, “Apa fitnahnya dalam hal ini? Itu hanyalah beberapa mil yang aku tambahkan.”

Imam Malik menjawab, “Fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau menganggap pilihanmu untuk dirimu sendiri lebih baik daripada pilihan Allah dan pilihan Rasul-Nya .” Lihat kitab al-Ba’its, halaman 26.

Ibnu Wadhdhoh berkata:

وَسُئِلَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ عَنْ قَوْمٍ يَجْتَمِعُونَ فِي الْبُيُوتِ، يَقْرَؤُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَيَدْعُونَ لِأَنْفُسِهِمْ وَلِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ، فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ أَشَدَّ النَّهْيِ.

Al-Hasan al-Bashri juga pernah ditanya tentang suatu kaum yang berkumpul di rumah-rumah, membaca Kitab Allah, bershalawat kepada Nabi , dan berdoa untuk diri mereka serta seluruh kaum muslimin. Maka beliau melarang mereka dari perbuatan itu dengan larangan yang sangat keras. [Lihat : kitab al-Bida’ karya Ibnu Waddhah, halaman 48].

Imam Malik juga sering berkata:

وَخَيْرُ الْأُمُورِ مَا كَانَ سُنَّةً، وَشَرُّ الْأُمُورِ الْمُحْدَثَاتُ الْبِدَائِعُ

“Sebaik-baik perkara adalah apa yang sesuai dengan sunnah, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan.” Lihat al-I’tisham karya asy-Syathibi, jilid 1 halaman 85.

Ibnu Wadhdhoh berkata:

 

وَأَنْكَرَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَالْحَكَمُ وَحَمَّادٌ بِدْعَةَ التَّعْرِيفِ، وَهِيَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فِي غَيْرِ عَرَفَةَ، لِلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ، وَقَالُوا: مُحْدَثٌ

Dan Ibrahim an-Nakha’i, al-Hakam, dan Hammad mengingkari bidah ta’rif, yaitu berkumpulnya orang-orang pada sore hari Arafah di selain Arafah untuk berdzikir dan berdoa. Mereka berkata: itu adalah perkara baru. Lihat Kitab al-Bida’ karya Ibnu Waddah halaman 102.

Penulis katakan:

Kebiasaan para imam dan ulama sejak masa dahulu hingga hari ini senantiasa mengingkari bidah dan perkara-perkara baru dalam agama.

Mereka menyusun karya-karya khusus dalam mencela bidah, di antaranya: Kitab al-Bida’ karya Ibnu Waddah yang wafat tahun 287 H, Kitab al-Hawadits wal-Bida’ karya Abu Bakr ath-Tharthusyi yang wafat tahun 520 H, Kitab al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wal-Hawadits karya Abu Syamah yang wafat tahun 665 H, dan Kitab al-I’tisham karya asy-Syathibi yang wafat tahun 790 H.

Asy-Syathibi menyebutkan dalam kitab al-I’tisham 1/64-65 (T. Al-Hilaly) tanpa sanad:

قَالَ ابْنُ الْمَاجِشُونِ: سَمِعْتُ مَالِكًا يَقُولُ: «مَنْ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بَدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ؛ لأَنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا» اِنْتَهَى

“Ibnu al-Majisyun berkata: Aku mendengar Malik berkata:

Barang siapa membuat-buat suatu bidah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad berkhianat terhadap risalah, karena Allah berfirman:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian. Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, tidak akan menjadi agama pada hari ini. [QS: al-Maidah : 3]

Syeikh al-Albani berkata dalam “Bawwaabah Turots al-Imam al-Albani :

"هَذَا مِن فِقْهِ الْإِمَامِ مَالِكٍ - رَحِمَهُ اللهُ - إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ حَيْثُ صَرَّحَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ أَنَّ مَنْ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بَدْعَةً وَاحِدَةً وَزَعَمَ أَنَّهَا حَسَنَةٌ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، وَمَنْ زَعَمَ هَذَا الزَّعْمَ فَلَمْ يُؤْمِنْ بِأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ كَمَا هُوَ وَاضِحٌ جِدًّا مِنْ كَلَامِ هَذَا الْإِمَامِ الْجَلِيلِ".

“Ini termasuk pemahaman fiqih Imam Malik - rahimahullah - imam Dar al-Hijrah, di mana beliau menegaskan dengan bahasa Arab yang jelas bahwa siapa pun yang menciptakan satu bidah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad berkhianat terhadap risalah. Dan siapa yang menuduh demikian, maka ia tidak beriman bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, sebagaimana sangat jelas dari perkataan imam mulia ini”.

Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:

Dari Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat junior):

أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:

«‌مَا ‌مِنْ ‌أُمَّةٍ ‌تُحْدِثُ ‌فِي ‌دِينِهَا ‌بِدْعَةً ‌إِلَّا ‌ضَاعَتْ ‌مِثْلُهَا ‌مِنَ ‌السُّنَّةِ».

فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً

Bahwa Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat tangan di atas mimbar.

Maka ia menjawab:

Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu. Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah”.

Maka berpegang teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.

[Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131).

Dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].

Juga di riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.

Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):

"فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ".

Di dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.

Hadits ini juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.

Dan dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.

 

Posting Komentar

0 Komentar