TAKHRIJ HADITS : "ALLAH MENUTUP PINTU TOBAT BAGI PELAKU BID'AH SAMPAI IA MENINGGALKAN BID'AHNYA"
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ
بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»
“Allah menolak
untuk menerima amal seorang pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”.
Di Tulis oleh Kaji Oji
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI :
- PERTAMA : HADITS IBNU ABBAS
- KEDUA : HADITS ANAS BIN MALIK
- KE TIGA : HADITS HUDZAIFAH:
- HADITS ALTERNATIF YANG SHAHIH.
- HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PERTAMA : HADITS IBNU ABBAS
Dari
Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ
بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»
“Allah menolak
untuk menerima amal seorang pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”.
Takhrij
hadits:
Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah nomor 50 dalam Sunan Ibnu Majah 1/19 Tahqiq Fuad Abdul Baqi.
Juga oleh
Ya’qub bin Sufyan nomor 140 dalam Masyikhah Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi halaman
109.
Juga oleh
Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim 1/22.
Dan juga oleh
al-Khatib dalam Tarikh Baghdad edisi Basyar 15/243.
Semuanya Dari
Abdullah bin Sa’id, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bisyer bin
Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, dari Abu al-Mughirah, dari Abdullah bin
Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Penilaian
terhadap predikat sanad hadits:
Sanadnya
gelap gulita (سَنَدُهُ مُظْلِمٌ).
Lemah atau mungkar. Mayoritas ulama hadits menilai sanadnya lemah, dan
al-Albani menilainya sebagai hadits mungkar.
Disebutkan
dalam al-Jarh wa at-Ta’dil: Abu Sa’id al-Asyaj meriwayatkan dari Bisyer
bin Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, darinya.
Abdurrahman
berkata:
سُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْهُمَا فَقَالَ:
لَا أَعْرِفُهُمَا وَلَا أَعْرِفُ بِشْرَ بْنَ مَنْصُورٍ الَّذِي رَوَى عَنْهُ الْأَشَجُّ.
"Abu Zur’ah ditanya tentang keduanya, maka ia menjawab: aku tidak mengenal keduanya dan aku juga tidak mengenal Bisyer bin Manshur yang diriwayatkan darinya oleh al-Asyaj".
Hal ini disebutkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 9/439.
Abu Zur’ah
menilai hadits ini dho’if [lihat al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim
9/439].
Ibnu
al-Jauzi berkata:
«هٰذَا حَدِيثٌ لَا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، وَفِيهِ مَجَاهِيلُ»
“Hadits ini
tidak shohih dari Rasulullah ﷺ dan di dalamnya terdapat
para perawi yang majhul (tidak dikenal)”. [Lihat al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits
al-Wahiyah 1/138].
Al-Bushairi
berkata:
«هٰذَا إِسْنَادٌ رِجَالُهُ كُلُّهُمْ مَجْهُولُونَ،
قَالَهُ الذَّهَبِيُّ فِي الْكَاشِفِ، وَقَالَ أَبُو زُرْعَةَ: لَا أَعْرِفُ أَبَا
زَيْدٍ وَلَا الْمُغِيرَةَ»
“Sanad ini
seluruh para perawinya majhul (tidak di kenal). Hal ini dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kasyif,
dan Abu Zur’ah berkata: aku tidak mengenal Abu Zaid dan tidak pula al-Mughirah”.
[Lihat Mishbah az-Zujajah fi Zawa’id Ibnu Majah 1/11].
Hadits ini
juga dihukumi dho’if oleh para pentahqiq Sunan Ibnu Majah nomor 51. [Lihat Sunan Ibnu
Majah 1/35 edisi al-Arna’uth].
Syeikh Dhiya’
ar-Rahman berkata: “Sanadnya lemah”. [Lihat al-Jami’ al-Kamil fi al-Hadits
ash-Shahih asy-Syamil al-Murattab ‘ala Abwab al-Fiqh 12/251].
Dan Syu’aib
al-Arna’uth berkata dalam takhrij Sunan Ibnu Majah 1/35 nomor 50:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مُسَلْسَلٌ
بِالْمَجَاهِيلِ، قَالَ أَبُو زُرْعَةَ كَمَا فِي "الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ"
٩/ ٣٧٣: لَا أَعْرِفُ أَبَا زَيْدٍ وَلَا أَبَا الْمُغِيرَةِ وَلَا بَشْرَ بْنَ مَنْصُورٍ
الَّذِي رَوَى عَنْ أَبِي زَيْدٍ هَذَا. وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي "الْمِيزَانِ"
١/ ٣٢٥: بَشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ، شَيْخٌ لِلْأَشَجِّ ـ وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ
ـ يُجَهَّلُ.
Sanadnya
sangat lemah sekali, terdiri dari rantaian para perawi yang majhul (tidak dikenal).
Abu Zur‘ah
berkata (sebagaimana dalam kitab al-Jarh wa at-Ta‘dil 9/373): Aku tidak mengenal
Abu Zaid, tidak pula Abu al-Mughirah, dan tidak pula Bisyr bin Manshur yang
meriwayatkan dari Abu Zaid ini.
Adz-Dzahabi
berkata dalam kitab al-Mizan 1/325: Bisyr bin Manshur, seorang syaikh bagi
al-Asyajj yaitu Abdullah bin Sa‘id, adalah perawi yang tidak dikenal. [Selesai]
Syaikh
al-Albani rahimahullah berkata dalam as-Silsilah ad-Dha’ifah 3/684:
مُنْكَرٌ. أَخْرَجَهُ ابْنُ
مَاجَهْ (رَقْمُ 50) وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي «السُّنَّةِ» (ق 4/2) وَالدَّيْلَمِيُّ
(1/1/80) مِنْ طَرِيقِ أَبِي الشَّيْخِ، عَنْ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطِ، عَنْ
أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَهُ.
قُلْتُ: وَهٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، مُسَلْسَلٌ
بِالْمَجْهُولِينَ.
قَالَ أَبُو زُرْعَةَ: «لَا أَعْرِفُ
أَبَا زَيْدٍ وَلَا شَيْخَهُ وَلَا بِشْرًا».
وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي أَوَّلِهِمْ:
«يُجْهَلُ»، وَقَالَ فِي الْآخِرِينَ: «لَا يُدْرَى مَنْ هُمَا». وَوَافَقَهُ الْبُوصِيرِيُّ
فِي «الزَّوَائِدِ» (1/11).
وَقَدْ جَاءَ بِإِسْنَادٍ شَرٍّ مِنْ
هٰذَا بِلَفْظٍ آخَرَ، وَهُوَ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلَا
صَلَاةً، وَلَا صَدَقَةً، وَلَا حَجًّا، وَلَا عُمْرَةً، وَلَا جِهَادًا، وَلَا صَرْفًا
وَلَا عَدْلًا، يَخْرُجُ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ».
اِنْتَهَى كَلَامُهُ رَحِمَهُ اللَّهُ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hadits ini adalah
hadits munkar.
Hadits ini
diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 50, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah lembar
4/2, dan ad-Dailami 1/1/80, melalui jalur Abu asy-Syaikh, dari Bisyer bin
Manshur al-Hannath, dari Abu Zaid, dari Abu al-Mughirah, dari Abdullah bin
Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu ia
menyebutkan hadits tersebut.
Aku berkata:
sanad ini lemah, tersusun dari rantaian para perawi yang majhul (tidak dikenal).
Abu Zur’ah
berkata: aku tidak mengenal Abu Zaid, tidak pula gurunya, dan tidak pula Bisyer.
Adz-Dzahabi
berkata tentang perawi yang pertama: Majhul (tidak dikenal), dan tentang perawi-perawi
yang terakhir: tidak diketahui siapa mereka. Al-Bushairi menyetujuinya dalam
az-Zawa’id 1/11.
Hadits ini
juga datang dengan sanad hadits yang lebih buruk daripada ini dengan lafaz yang
lain, yaitu:
«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا
وَلَا صَلَاةً، وَلَا صَدَقَةً، وَلَا حَجًّا، وَلَا عُمْرَةً، وَلَا جِهَادًا، وَلَا
صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، يَخْرُجُ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعْرَةُ مِنَ
الْعَجِينِ»
Allah tidak
menerima dari pelaku bid’ah puasa, salat, sedekah, haji, umrah, jihad, penebus
dosa, dan tidak pula keadilan. Ia keluar dari Islam sebagaimana rambut keluar
dari adonan.
Selesai
ucapan beliau rahimahullah. Wallahu a’lam”. [Selesai]
Dan Syeikh
al-Albani juga menghukuminya dho’if dalam “Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa
al-‘Awa’id” hal. 81.
KEDUA : HADITS ANAS BIN MALIK
Dari Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ
كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ»
Sesungguhnya
Allah menutup pintu tobat dari setiap pelaku bid’ah.
Lafadz lain
:
«إِنَّ اللَّهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ
كُلِّ بِدْعَةٍ»
“Sesungguhnya
Allah menahan tobat dari setiap pelaku bid’ah”.
TAKHRIJ
HADITS :
Diriwayatkan
oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath nomor 4202 & 4360.
Oleh
al-Baihaqi dalam asy-Syu‘ab nomor 9011.
Oleh Abu
Syaikh dalam Tarikh Ashbahan halaman 259
Oleh
al-Harawi dalam Dzamm al-Kalam wa Ahlih 5/153.
Oleh Abu
Bakar al-Malhami dalam Majlisain min al-Amali folio 148/1–2.
Oleh Ibnu
Abdil Hadi dalam Jam‘ al-Juyusy wa ad-Dasatir ‘ala Ibni ‘Asakir halaman 120,
dan selain mereka.
Semuanya melalui
jalur Harun bin Musa al-Farwiyy, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu
Dhamrah Anas bin ‘Iyadh, dari Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda demikian.
PREDIKAT
SANAD HADITS :
Hadits ini
sanadnya lemah, kandungannya munkar [Lihat : “al-Ahaadiits adh-Dho’iifah wal
Baathilah”].
Muhammad
Toha Sya’ban dalam “al-Ahaadiits adh-Dho’iifah wal Baathilah” berkata:
حَدِيثٌ مُنْكَرٌ!
لَهُ إِسْنَادَانِ:
الأَوَّلُ: يَرْوِيهِ
بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيِّ، عَنْ
حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ.
قُلْتُ: مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ الْقُشَيْرِيُّ، قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: «هُوَ مُنْكَرُ
الْحَدِيثِ مَجْهُولٌ، وَهُوَ مِنْ مَشَايِخِ بَقِيَّةَ الْمَجْهُولِينَ».
وَالثَّانِي:
يَرْوِيهِ هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرَوِيُّ، عَنْ أَبِي ضَمْرَةَ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ،
عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ.
قُلْتُ: تَفَرَّدَ
بِهِ هَارُونُ بْنُ مُوسَى، قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي «الْمِيزَانِ»: «شَيْخٌ صَدُوقٌ
مِنْ شُيُوخِ النَّسَائِيِّ»، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ، وَقَالَ عَنْهُ:
«وَهٰذَا مُنْكَرٌ».
Hadits ini munkar. Ia memiliki dua sanad.
Sanad pertama: diriwayatkan oleh Baqiyyah bin
al-Walid, dari Muhammad bin Abdurrahman al-Kufi, dari Humaid ath-Thawil, dari
Anas bin Malik.
Aku berkata: Muhammad bin Abdurrahman al-Kufi
al-Qusyairi, Ibnu ‘Adi berkata: ia adalah perawi yang munkar haditsnya dan
majhul, dan termasuk di antara guru-guru Baqiyyah yang tidak dikenal.
Sanad kedua: diriwayatkan oleh Harun bin Musa
al-Farawi, dari Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh, dari Humaid ath-Thawil, dari Anas
bin Malik.
Aku berkata: hadits ini diriwayatkan secara tunggal
oleh Harun bin Musa. Adz-Dzahabi berkata dalam al-Mizan: ia adalah seorang
syaikh yang jujur dari kalangan guru-guru an-Nasa’i. Kemudian ia menyebutkan
hadits ini dan berkata tentangnya: dan hadits ini adalah munkar”.
Lalu Muhammad
Toha Sya’ban berkata :
هٰذَا الْحَدِيثُ
صَحَّحَ إِسْنَادَهُ الْعَلَّامَةُ الْأَلْبَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «الصَّحِيحَةِ»،
وَقَدْ رَأَيْتُ – بَعْدَ تَحْقِيقِي لِلْحَدِيثِ – أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ.
“Hadits ini
dinilai sahih sanadnya oleh al-‘Allamah al-Albani rahimahullah dalam
as-Shahihah. Namun aku melihat, setelah melakukan penelitian terhadap hadits
ini, bahwa hadits tersebut tidak terbukti sahih”.
Dan Syu‘aib
al-Arna’uth berkata dalam takhrij Sunan Ibnu Majah 1/35 nomor 50:
وَهَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرَوِيُّ
قَالَ فِيهِ أَبُو حَاتِمٍ: شَيْخٌ، أَيْ: يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ.
وَأَوْرَدَهُ الذَّهَبِيُّ فِي تَرْجَمَتِهِ مِنْ «مِيزَانِ الِاعْتِدَالِ»، وَقَالَ
بِإِثْرِهِ: هَذَا مُنْكَرٌ. وَمَعَ نَكَارَةِ مَتْنِهِ وَضَعْفِ إِسْنَادِهِ أَوْرَدَهُ
الضِّيَاءُ الْمَقْدِسِيُّ فِي «الْأَحَادِيثِ الْمُخْتَارَةِ» (٢٠٥٤) وَ(٢٠٥٥)
!!!، وَأَدْرَجَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِي «صَحِيحَتِهِ» (١٦٢٠)!!.
“Adapun
Harun bin Musa al-Farawi, Abu Hatim berkata tentangnya: “Syaikh”, maksudnya
hadisnya boleh ditulis namun tidak boleh dijadikan hujjah.
Adz-Dzahabi
juga mencantumkannya dalam biografinya di kitab Mizan al-I‘tidal, lalu berkata
setelahnya: “Ini adalah hadis mungkar.”
Meskipun
matannya mungkar dan sanadnya lemah, namun anehnya hadis ini tetap dicantumkan
oleh ad-Dhiya’ al-Maqdisi dalam kitab al-Ahadits al-Mukhtarah nomor 2054 dan
2055, dan Al-Albani memasukkannya ke dalam “Sahihah” (1620)!!”.
Al-Albani rahimahullah berkata dalam as-Shahihah
(1620):
وَهٰذَا إِسْنَادٌ
صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ، غَيْرَ هَارُونَ بْنِ مُوسَى وَهُوَ
الْفَرْوِيُّ، قَالَ النَّسَائِيُّ وَتَبِعَهُ الْحَافِظُ فِي «التَّقْرِيبِ»: لَا
بَأْسَ بِهِ.
“Sanad ini
sahih, para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah yang termasuk perawi
Syaikhain, kecuali Harun bin Musa yaitu al-Farawi. An-Nasa’i berkata dan
diikuti oleh al-Hafizh dalam at-Taqrib: tidak mengapa dengannya”.
Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (10/189):
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
فِي الْأَوْسَطِ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ، غَيْرَ هَارُونَ بْنِ مُوسَى الْفَرْوِيِّ،
وَهُوَ ثِقَةٌ.
“Hadits ini
diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath, dan para perawinya adalah
perawi-perawi kitab Shahih, kecuali Harun bin Musa al-Farawi, dan ia adalah
tsiqah”.
Al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wa at-Tarhib
(1/86): “Diriwayatkan
oleh ath-Thabrani dan sanadnya hasan”.
Muhammad
Toha Sya’ban dalam “al-Ahaadiits adh-Dho’iifah wal Baathilah” berkata:
قُلْتُ: وَالَّذِي
يَظْهَرُ لِي أَنَّ هٰذَا الْحَدِيثَ لَا يُحْتَمَلُ مِنْ مِثْلِ هَارُونَ بْنِ مُوسَى،
فَإِنَّهُ ـ وَإِنْ كَانَ قَدْ وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ ـ إِلَّا أَنَّ أَبَا حَاتِمٍ
قَالَ عَنْهُ: شَيْخٌ.
وَقَالَ النَّسَائِيُّ:
لَا بَأْسَ بِهِ. وَتَبِعَهُ ابْنُ حَجَرٍ فِي «التَّقْرِيبِ».
وَقَدِ اسْتَنْكَرَ
الْحَدِيثَ ـ أَيْضًا ـ الذَّهَبِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ؛ حَيْثُ قَالَ فِي «مِيزَانِ
الِاعْتِدَالِ» (9175): هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرَوِيُّ، شَيْخٌ صَدُوقٌ مِنْ شُيُوخِ
النَّسَائِيِّ، رَوَى السَّاجِيُّ، وَابْنُ نَاجِيَةَ عَنْهُ، عَنْ أَبِي ضَمْرَةَ،
عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
«إِنَّ اللَّهَ
حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ»،
هٰذَا مُنْكَرٌ".
“Aku
berkata: yang tampak bagiku, hadits ini tidak dapat diterima dari orang seperti
Harun bin Musa, karena meskipun ia telah dinilai tsiqah oleh ad-Daraquthni,
namun Abu Hatim berkata tentangnya: seorang syaikh. An-Nasa’i berkata: tidak
mengapa dengannya, dan diikuti oleh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib.
Adz-Dzahabi rahimahullah juga mengingkari hadits ini,
ketika ia berkata dalam Mizan al-I’tidal (9175): Harun bin Musa al-Farawi
adalah seorang syaikh shoduq dari
kalangan guru-guru an-Nasa’i.
As-Saji dan Ibnu Najiyah meriwayatkan darinya, dari
Abu Dhamrah, dari Humaid, dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
Sesungguhnya
Allah menutup pintu tobat bagi setiap pelaku bid’ah.
Adz-Dzahabi
berkata : Hadits ini adalah munkar”. [Kutipan Selesai]
===
RIWAYAT LAIN DARI HADITS ANAS BIN MALIK :
Hadits ini
juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam asy-Syu‘ab (6846) dan (9010), Ibnu Abi
‘Ashim dalam as-Sunnah (37), Ibnu Waddah dalam al-Bida‘ (146), Ibnu ‘Adi dalam
al-Kamil (7/505), dan Ibnu al-Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyah (211) dan
(212).
Kelimanya
melalui jalur Baqiyyah bin al-Walid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Abdurrahman al-Kufi, dari Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda demikian.
Muhammad
Toha Sya’ban dalam “al-Ahaadiits adh-Dho’iifah wal Baathilah” berkata:
وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الْكُوفِيُّ؛ مَجْهُولٌ، مُنْكَرُ الْحَدِيثِ؛ كَمَا قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ، وَغَيْرُهُ؛
فَهُوَ إِسْنَادٌ وَاهٍ؛ لَا يُتَقَوَّى بِهِ.
قُلْتُ: فَعَادَ الْحَدِيثُ إِلَى هَارُونَ
بْنِ مُوسَى الْفَرْوِيِّ، وَلَا يُحْتَمَلُ مِنْهُ ـ كَمَا تَقَدَّمَ ـ وَمَعْنَاهُ
مُنْكَرٌ؛ كَمَا ذَكَرَ الذَّهَبِيُّ وَغَيْرُهُ؛ خَاصَّةً وَنَحْنُ نَرَى كَثِيرًا
مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَيَرْجِعُ عَنْ بِدْعَتِهِ.
Muhammad bin
Abdurrahman al-Kufi adalah perawi yang majhul dan munkar haditsnya, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu ‘Adi dan selainnya. Oleh karena itu, sanad ini sangat lemah
dan tidak dapat dijadikan penguat.
Aku berkata:
dengan demikian, hadits ini kembali kepada Harun bin Musa al-Farawi, dan ia
tidak dapat menanggung hadits seperti ini sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya.
Maknanya pun
munkar, sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi dan selainnya, terlebih lagi
karena kita melihat banyak dari kalangan pelaku bid’ah yang bertobat kepada
Allah Ta‘ala dan kembali dari bid’ahnya”. [Selesai]
Ibnu ‘Adiy
berkata dalam al-Kamil (7/505), setelah meriwayatkan beberapa hadits dari
Muhammad bin Abdurrahman al-Qusyairi, di antaranya hadits ini:
((وَهَذِهِ الأَحَادِيثُ
لِمُحَمَّدِ بْنِ عَبد الرَّحْمَنِ الْقُشَيْرِيِّ بِأَسَانِيدِهَا كُلُّهَا مَنَاكِيرُ
بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَمِنْهَا مَا مَتْنُهُ مُنْكَرٌ، وَمُحَمَّدٌ هَذَا مَجْهُولٌ،
وَهو مِنْ مَجْهُولِي شُيُوخِ بَقِيَّةَ))
“Seluruh
hadits Muhammad bin Abdurrahman al-Qusyairi dengan sanad-sanadnya ini adalah
munkar dengan sanad ini, dan di antaranya ada yang matannya munkar. Muhammad
ini adalah perawi majhul dan termasuk di antara guru-guru Baqiyyah yang tidak
dikenal”. [Selesai]
Ibnu
al-Jauzi berkata dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyah (1/145), setelah meriwayatkan
hadits ini melalui dua jalur dari Muhammad bin Abdurrahman:
((هَذَا حَدِيثٌ
لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَدَارُ الطَّرِيقَيْنِ
عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيِّ الْقُشَيْرِيِّ، قَالَ ابْنُ
عَدِيٍّ: هُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ مَجْهُولٌ، وَهُوَ مِنْ مَشَايخِ بَقِيَّةَ الْمَجْهُولِ))
“Hadits ini
tidak sah dari Rasulullah ﷺ. Poros kedua jalurnya
bertumpu pada Muhammad bin Abdurrahman al-Kufi al-Qusyairi. Ibnu ‘Adi berkata:
ia adalah perawi yang munkar haditsnya dan majhul, serta termasuk di antara
guru-guru Baqiyyah yang tidak dikenal”. [Selesai]
Syaikh
al-Albani rahimahullah berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah 4/154:
قُلْتُ: وَتَابَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ الْقُشَيْرِيُّ عَنْ حُمَيْدٍ بِهِ.
أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي
"السُّنَّةِ" (رَقْمَ ٣٧ بِتَحْقِيقِي)، وَابْنُ عَدِيٍّ فِي "الْكَامِلِ"
(ق ٣١١/١)، وَابْنُ عَبْدِ الْهَادِي (١٠/٢)، مِنْ طَرِيقِ بَقِيَّةَ بْنِ الْوَلِيدِ،
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بِهِ.
لَكِنِ الْقُشَيْرِيَّ هَذَا وَاهٍ، فَالْعُمْدَةُ
عَلَى مَا قَبْلَهُ.
“Aku
berkata: dan ia di mutabahi oleh Muhammad bin Abdurrahman al-Qusyairi dari
Humaid dengan sanad yang sama.
Hadits ini
dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah nomor 37 menurut tahqiqku,
oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil folio 311/1, dan oleh Ibnu Abd al-Hadi 10/2,
melalui jalur Baqiyyah bin al-Walid, ia berkata: telah menceritakan kepadaku
Muhammad bin Abdurrahman dengannya.
Namun
al-Qusyairi ini lemah, sehingga pegangan utamanya adalah pada jalur sebelumnya”.
[Selesai perkataan al-Albani rahimahullah.
RUJUKNYA
SYEIKH AL-ALBANI :
Catatan:
Syaikh al-Albani rahimahullah telah menarik kembali pendapatnya tentang hadits
ini.
Penarikan
kembali pendapat Syaikh al-Albani melalui situs ad-Durar as-Saniyyah.
http://www.saaid.net/Doat/Zugail/228.htm
Texnya sbb:
6- إِنَّ اللَّهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ
صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ.
[ثُمَّ
تَرَاجَعَ الشَّيْخُ وَضَعَّفَهُ، انْظُرْ: مُقَدِّمَةَ «صَحِيحِ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ»
ص 31]
6.
Sesungguhnya Allah menahan tobat dari setiap pelaku bid’ah. Kemudian Syaikh
menarik kembali pendapatnya, lalu melemahkannya. [Lihat: Muqaddimah “Shahih
at-Targhib wa at-Tarhib” halaman 31].
===***===
KE TIGA : HADITS HUDZAIFAH:
Ibnu Majah
dalam Sunannya 1/34 no. 49 meriwayat dengan sanadnya :
Telah
menceritakan kepada kami Dawud bin Sulaiman al-Askari, telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Ali Abu Hasyim Ibnu Abi Khidasy al-Maushili, telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihshan, dari Ibrahim bin Abi Ablah, dari
Abdullah bin ad-Dailami, dari Hudzaifah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ
صَوْمًا، وَلَا صَلَاةً، وَلَا صَدَقَةً، وَلَا حَجًّا وَلَا عُمْرَةً، وَلَا جِهَادًا،
وَلَا صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، يَخْرُجُ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ
مِنْ الْعَجِينِ»
“Allah tidak
menerima dari pelaku bid’ah: puasa, tidak pula salat, tidak pula sedekah, tidak
pula haji, tidak pula umrah, tidak pula jihad, tidak pula tebusan dan tidak
pula pengganti. Ia keluar dari Islam sebagaimana sehelai rambut keluar dari
adonan”.
Diriwayatkan
pula oleh Ibnu Asakir dalam Jam’ul Juyusy wa ad-Dasaakir hal. 131 no. 123.
STATUS HADITS
: PALSU
Hadits ini di
nilai palsu oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu Majah 1/34
no. 49 dan oleh Syeikh al-Albani sebagaimana disebutkan oleh Fu’ad Abdul
Baqi dalam Tahqiq Sunan Ibnu Majah 1/19 no. 49]
Penyakitnya ada
pada Afdal Muhammad bin Mihsan:
Ia adalah putra Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim bin
Muhammad bin ‘Ukashah bin Mihsan al-‘Ukkasyi, dinisbatkan kepada kakeknya yang
paling tinggi.
Yahya bin Mu‘in dan Abu Hatim menganggapnya sebagai pendusta.
Al-Bukhari berkata: haditsnya munkar.
Ibnu Hibban berkata:
شَيْخٌ يَضَعُ
الْحَدِيثَ عَلَى الثِّقَاتِ، لَا يَحِلُّ ذِكْرُهُ فِي الْكُتُبِ إِلَّا عَلَى سَبِيلِ
الْقَدْحِ فِيهِ
“Seorang
syaikh yang senantiasa mengatas namakan haditsnya kepada para tsiqah (para perawi terpercaya), tidak
diperbolehkan menyebutnya dalam kitab kecuali untuk mencelanya”. [Baca: al-Majruhiin 1/145]
Ad-Daraqutni berkata:
مَتْرُوكٌ، يَضَعُ
“Ditinggalkan haditsnya, dia pemalsu hadits”.
Ibnu ‘Adi setelah meriwayatkan beberapa hadits darinya dalam al-Kamil
6/2176–2178 berkata:
هَذِهِ الْأَحَادِيثُ
بِأَسَانِيدِهَا مَعَ غَيْرِهَا مِمَّا لَمْ أَذْكُرْهُ لِمُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ
الْعُكَاشِيِّ: كُلُّهَا مِنَاكِيرُ مَوْضُوعَةٌ
“Hadits-hadits
ini beserta sanadnya dan yang lainnya yang tidak saya sebutkan dari Muhammad
bin Ishaq al-‘Ukasyi semuanya munkar dan palsu”.
[Lihat :
Tahdzib al-Kamal karya al-Mizzi 26/373]
Al-Albani
berkata dalam *Ad-Dha‘ifah* (1493):
مَوْضُوعٌ آفَتُهُ ابْنُ مُحْصَنٍ، فَإِنَّهُ
كَذَّابٌ، كَمَا قَالَهُ ابْنُ مُعِينٍ وَأَبُو حَاتِمٍ وَالْحَافِظِ
“Hadits ini
palsu. Periwayatnya adalah Ibn Mihsan, karena ia pendusta, sebagaimana
dikatakan oleh Ibn Mu‘in, Abu Hatim, dan al-Hafizh”.
Wallahu a’lam
====
Akan tetapi,
sebagian para ulama menemukan kesulitan dalam memahami apa yang disebutkan
dalam hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berikut ini:
Dari Ibrahim
at-Taimi, ayahnya menceritakan kepadanya, ia berkata:
خَطَبَنَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،
عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ آجُرٍّ وَعَلَيْهِ سَيْفٌ فِيهِ صَحِيفَةٌ مُعَلَّقَةٌ، فَقَالَ:
"وَاللَّهِ مَا عِنْدَنَا مِنْ كِتَابٍ
يُقْرَأُ إِلَّا كِتَابُ اللَّهِ، وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ فَنَشَرَهَا، فَإِذَا
فِيهَا أَسْنَانُ الإِبِلِ، وَإِذَا فِيهَا:
«المَدِينَةُ حَرَمٌ مِنْ عَيْرٍ إِلَى
كَذَا، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالمَلَائِكَةِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا».
وَإِذَا فِيهِ: «ذِمَّةُ المُسْلِمِينَ
وَاحِدَةٌ، يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ، فَمَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ
اللَّهِ وَالمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ
صَرْفًا وَلَا عَدْلًا».
وَإِذَا فِيهَا: «مَنْ وَالَى قَوْمًا
بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا»".
Ali
radhiyallahu 'anhu berkhutbah kepada kami di atas sebuah mimbar yang terbuat
dari batu bata. Di tubuhnya tergantung sebuah pedang yang padanya ada sebuah
lembaran yang terikat. Ia berkata:
“Demi
Allah, tidak ada pada kami suatu kitab yang dibaca selain Kitab Allah dan apa
yang ada di lembaran ini. Lalu ia membentangkannya. Ternyata di dalamnya
tertulis tentang umur-umur unta, dan di dalamnya tertulis:
‘Kota
Madinah adalah tanah haram dari ‘Air sampai ke tempat ini. Siapa saja yang
membuat suatu perkara baru di dalamnya (di dalam kota Madinah), maka atasnya laknat Allah, para malaikat,
dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya tebusan dan tidak pula
pengganti’.
Dan di
dalamnya tertulis:
‘Jaminan
kaum muslimin itu satu, yang paling rendah di antara mereka pun berhak
menjaminnya. Maka siapa saja yang mengkhianati seorang muslim, atasnya laknat
Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya
tebusan dan tidak pula pengganti’.
Dan di
dalamnya tertulis:
‘Siapa saja
yang berwalaa’ kepada suatu kaum tanpa izin para walinya, atasnya laknat Allah,
para malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya tebusan
dan tidak pula pengganti’.”
[Hadis
ini diriwayatkan oleh al-Bukhari nomor 7300 dan Muslim nomor 1370].
Demikian
pula apa yang diriwayatkan dari sekelompok tabi’in, seperti al-Hasan al-Bashri
yang berkata:
"لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ
صَوْمًا، وَلَا صَلَاةً، وَلَا حَجَّةً، وَلَا عُمْرَةً، حَتَّى يَدَعَهَا. انْتَهَى.
“Allah tidak
menerima puasa, salat, haji, dan umrah dari pelaku bid’ah, hingga ia
meninggalkannya”.
[Riwayat ini
disebutkan oleh al-Ajuri dalam asy-Syari‘ah nomor 64, Abu Syamah dalam
al-Ba‘its ‘ala Inkar al-Bida‘ wa al-Hawadits halaman 16, dan selain keduanya”.
Riwayat yang
serupa juga datang dari al-Auza‘i sebagaimana dalam al-Bida‘ wa an-Nahy ‘anha karya
Ibnu Waddah halaman 27, dan dari al-Fudhail bin ‘Iyadh yang berkata:
"لَا يُرْفَعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى
اللَّهِ عَمَلٌ"
"Amalan
pelaku bid’ah tidak diangkat kepada Allah".
[Riwayat ini
disebutkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah jilid 1
halaman 139].
Asy-Syathibi
menyebutkan dua kemungkinan dalam menafsirkan atsar-atsar semacam ini. Ia
berkata dalam al-I‘tisam jilid 1 halaman 108 sampai 112:
إِمَّا أَنْ يُرَادَ: أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ
لَهُ بِإِطْلَاقٍ، عَلَى أَيِّ وَجْهٍ وَقَعَ مِنْ وِفَاقِ سُنَّةٍ أَوْ خِلَافِهَا.
وَإِمَّا أَنْ يُرَادَ: أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ
مِنْهُ مَا ابْتُدِعَ فِيهِ خَاصَّةً، دُونَ مَا لَمْ يُبْتَدَعْ فِيهِ.
فَأَمَّا الأَوَّلُ: فَيُمْكِنُ عَلَى
أَحَدِ أَوْجُهٍ ثَلَاثَةٍ:
الأَوَّلُ: أَنْ يَكُونَ عَلَى ظَاهِرِهِ
مِنْ أَنَّ كُلَّ مُبْتَدِعٍ أَيَّ بِدْعَةٍ كَانَتْ فَأَعْمَالُهُ لَا تُقْبَلُ مَعَهَا،
دَاخَلَتْهَا تِلْكَ الْبِدْعَةُ أَمْ لَا، وَهَذَا شَدِيدٌ جِدًّا عَلَى أَهْلِ الإِحْدَاثِ
فِي الدِّينِ.
الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ بِدْعَتُهُ أَصْلًا
يَتَفَرَّعُ عَلَيْهِ سَائِرُ الأَعْمَالِ، كَمَا إِذَا ذَهَبَ إِلَى إِنْكَارِ الْعَمَلِ
بِخَبَرِ الْوَاحِدِ بِإِطْلَاقٍ، فَإِنَّ عَامَّةَ التَّكْلِيفِ مَبْنِيٌّ عَلَيْهِ.
الْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ صَاحِبَ الْبِدْعَةِ
فِي بَعْضِ الأُمُورِ التَّعَبُّدِيَّةِ أَوْ غَيْرِهَا قَدْ يَجُرُّهُ اعْتِقَادُ
بِدْعَتِهِ الْخَاصَّةِ إِلَى التَّأْوِيلِ الَّذِي يُصَيِّرُ اعْتِقَادَهُ فِي الشَّرِيعَةِ
ضَعِيفًا، وَذَلِكَ يُبْطِلُ عَلَيْهِ جَمِيعَ عَمَلِهِ.
وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ يُرَادَ
بِعَدَمِ الْقَبُولِ لِأَعْمَالِهِمْ مَا ابْتَدَعُوا فِيهِ خَاصَّةً، فَيَظْهَرُ أَيْضًا،
وَعَلَيْهِ يَدُلُّ حَدِيثُ: (كُلُّ عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).
انْتَهَى بِاخْتِصَارٍ.
Yang
dimaksud bisa jadi bahwa amalannya tidak diterima secara mutlak, dalam keadaan
apa pun, baik sesuai dengan sunnah maupun menyelisihinya. Atau yang dimaksud
adalah bahwa yang tidak diterima hanyalah amalan yang ia buat-buat (bid’ah)
saja, bukan amalan lain yang tidak ia buat-buat.
Adapun
kemungkinan pertama,
maka dapat dipahami dengan salah satu dari tiga sisi:
Pertama, dipahami sesuai zahirnya, bahwa
setiap pelaku bid’ah, apa pun bentuk bid’ahnya, maka seluruh amalannya tidak
diterima, baik amalan tersebut tercampuri bid’ah itu atau tidak. Ini merupakan
ancaman yang sangat keras bagi para pelaku perbuatan baru dalam agama.
Kedua, bid’ah tersebut menjadi pokok yang
darinya bercabang seluruh amalan, seperti orang yang menolak secara mutlak
pengamalan hadits ahad, karena sebagian besar kewajiban agama dibangun di
atasnya.
Ketiga, pelaku bid’ah dalam sebagian perkara
ibadah atau selainnya dapat terseret oleh keyakinan bid’ahnya kepada penakwilan
yang menjadikan keyakinannya terhadap syariat menjadi lemah, sehingga hal itu
membatalkan seluruh amalannya.
Adapun
kemungkinan kedua,
yaitu bahwa yang dimaksud dengan tidak diterimanya amalan mereka hanyalah
amalan yang mereka buat-buat saja, bukan selainnya, maka hal ini juga tampak
jelas. Dan hal ini ditunjukkan oleh hadis: Setiap amalan yang tidak didasarkan
pada perintah kami, maka ia tertolak”. (Ringkasnya demikian).
Akan tetapi,
kajian yang kritis dalam masalah ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh
Dr. Ibrahim ar-Ruhaili dalam kitabnya “Mauqif Ahlus Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal
Bida’” (1/292–293), beliau berkata:
" مَا دَلَّتْ عَلَيْهِ ظَوَاهِرُ النُّصُوصِ
وَكَلَامُ السَّلَفِ مِنْ أَنَّ صَاحِبَ الْبِدْعَةِ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُ عَمَلًا،
يُمْكِنُ حَمْلُهُ عَلَى الْأَوْجُهِ التَّالِيَةِ:
الْوَجْهُ الْأَوَّلُ: أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ
عَلَى ظَاهِرِهِ، وَأَنَّ الْمُرَادَ رَدُّ عَمَلِ الْمُبْتَدِعِ كُلِّهِ، مَا ابْتَدَعَ
فِيهِ وَمَا لَمْ يَبْتَدِعْ فِيهِ، وَهَذَا فِي حَقِّ الْمُبْتَدِعِ الْكَافِرِ لَا
غَيْرُ.
الْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ
رَدَّ الْعَمَلِ الْمُبْتَدَعِ خَاصَّةً، سَوَاءً كَانَ ابْتِدَاعًا مَحْضًا، أَوْ
كَانَ شَرْعِيًّا دَخَلَ عَلَيْهِ الْابْتِدَاعُ فَأَفْسَدَهُ.
الْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِحْبَاطُ الْبِدَعِ
أَجْرَ الْعَمَلِ عَلَى سَبِيلِ الْجَزَاءِ، حَتَّى كَأَنَّهُ لَمْ يُقْبَلْ.
الْوَجْهُ الرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ النُّصُوصُ
مَحْمُولَةً عَلَى الزَّجْرِ عَنِ الْابْتِدَاعِ وَالتَّنْفِيرِ مِنْهُ.
وَالْحَامِلُ لِتَوْجِيهِ النُّصُوصِ
وَكَلَامِ السَّلَفِ هُنَا هُوَ مَا يَظْهَرُ مِنْ مُعَارَضَةِ ظَوَاهِرِ هَذِهِ النُّصُوصِ
لِأُصُولِ الشَّرِيعَةِ الدَّالَّةِ عَلَى قَبُولِ عَمَلِ الْمُسْلِمِ إِذَا تَوَفَّرَ
فِيهِ شَرْطَا الْإِخْلَاصِ وَالْمُتَابَعَةِ، دُونَ النَّظَرِ إِلَى مَا عَلَيْهِ
صَاحِبُ الْعَمَلِ مِنِ ابْتِدَاعٍ وَمَعْصِيَةٍ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ، إِذْ
لَا تَأْثِيرَ لَهَا عَلَى قَبُولِ ذَلِكَ الْعَمَلِ" انتهى باختصار.
“Makna yang
ditunjukkan oleh dzohir nash-nash dan ucapan para salaf bahwa pelaku bid‘ah
tidak diterima amalnya oleh Allah dapat dipahami dengan beberapa kemungkinan
berikut:
Pertama, bahwa ucapan tersebut dipahami
sesuai zahirnya, yaitu seluruh amal pelaku bid‘ah ditolak, baik yang berkaitan
dengan bid‘ahnya maupun yang tidak berkaitan dengannya. Ini khusus berlaku bagi
pelaku bid‘ah yang kafir saja.
Kedua, bahwa yang dimaksud adalah penolakan
terhadap amal yang dibid‘ahkan secara khusus, baik bid‘ah yang murni maupun
amalan syariat yang dimasuki unsur bid‘ah sehingga merusaknya.
Ketiga, bahwa bid‘ah tersebut menggugurkan
pahala amal sebagai bentuk balasan, sehingga seakan-akan amal itu tidak
diterima.
Keempat, bahwa nash-nash tersebut
dimaksudkan sebagai bentuk ancaman keras terhadap perbuatan bid‘ah dan untuk
menimbulkan rasa takut darinya.
Dasar dalam
mengarahkan pemahaman terhadap nash-nash dan ucapan para salaf di sini adalah
adanya kesan pertentangan antara dzohir nash-nash tersebut dengan
prinsip-prinsip syariat yang menunjukkan bahwa amal seorang muslim diterima
apabila terpenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan, tanpa
memandang adanya bid‘ah atau maksiat lain yang dilakukan pelaku amal tersebut
pada amalan lain, karena hal itu tidak berpengaruh terhadap diterimanya amal
tersebut.” (diringkas)
Adapun wajah
ketiga yang disebutkan di sini, maka tidak boleh dipahami kecuali pada bidah
yang ditunjukkan oleh syariat bahwa bidah tersebut menghapus amal pelakunya,
dan tidak setiap bidah sah diarahkan pada pemahaman ini.
Para ulama
pensyarah hadits telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ tentang orang yang melakukan perkara baru:
«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا»
“Allah tidak menerima darinya sharf dan tidak
pula ‘adl.”
Al-Qadhi
berkata:
وَقِيلَ الْمَعْنَى لَا تُقْبَلُ فَرِيضَتُهُ
وَلَا نَافِلَتُهُ قَبُولَ رِضًا، وَإِنْ قُبِلَتْ قَبُولَ جَزَاءٍ، وَقِيلَ يَكُونُ
الْقَبُولُ هُنَا بِمَعْنَى تَكْفِيرِ الذَّنْبِ بِهِمَا
ada yang
mengatakan maknanya, tidak diterima darinya amalan wajib maupun sunnah dengan
penerimaan ridha, meskipun diterima dengan penerimaan balasan.
Ada pula
yang mengatakan bahwa penerimaan di sini bermakna sebagai penghapus dosa dengan
keduanya. [Baca : Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (9/141).
Sholat di
belakang pelaku bidah dibolehkan apabila bidahnya tidak sampai pada kekafiran
yang nyata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menghisab manusia sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka. Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.
===***===
HADITS ALTERNATIF YANG SHAHIH
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ،، فَإِنَّ
كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
"Hendaklah
kalian menjauhi perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap bid‘ah adalah
kesesatan."
Hadits ini
diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), at-Tirmidzi (2676), Ibn Majah (42), Ahmad
(4/126) (17184), dan al-Hakim (1/176).
Abu Dawud
tidak memberi komentar, sedangkan at-Tirmidzi berkata: hadits ini shahih.
Al-Hakim
berkata: hadits ini shahih tanpa cacat, dan al-Dzahabi menyetujuinya.
IbnU ‘Abd
al-Barr dalam *Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih* (2/1164) berkata: shahih dan
benar. Al-Baghawi menilainya hasan dalam *Syarh as-Sunnah* (1/181), dan
al-Albani menshahihkannya dalam *Shahih Sunan Ibn Majah*.
Dalam
riwayat lain:
«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
"Dan
seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid‘ah
adalah kesesatan,".
Diriwayatkan
oleh Muslim (867) dari hadits Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا
لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
"Barangsiapa
yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang bukan darinya, maka itu
tertolak," diriwayatkan oleh al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dari
hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Beliau ﷺ juga bersabda:
«مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
"Barangsiapa
yang menolak sunnahku, maka ia bukan dari golonganku".
Diriwayatkan
oleh al-Bukhari (5063) dan Muslim (1401) dari hadits Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu.
Hadits-hadits
ini semuanya menunjukkan wajibnya menjauhi para pemula bid‘ah, perkataan
mereka, dan apa yang mereka lakukan dalam agama mereka sesuai hawa nafsu, yang
mereka utamakan di atas sunnah. Dari sinilah muncul sikap menjauh dari para
pengikut bid‘ah bagi Ahlus Sunnah, sebagai ketaatan kepada perintah Allah dan
Rasul-Nya ﷺ, serta sebagai nasihat untuk diri sendiri dan orang lain.
Para salaf menekankan peringatan terhadap pengikut bid‘ah dan wajibnya menjauhi mereka.
====
HADITS DHO’IF SEMISAL YANG TERSEBAR :
Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ الثُّمَالِيِّ: أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا أَضَاعَتْ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ، فَالتَّمَسُّكُ مِنَ السُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْدَاثِ الْبِدْعَةِ»
Dari Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat junior):
Bahwa Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat tangan di atas mimbar.
Maka ia menjawab:
“Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
‘Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah. Maka berpegang teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah’.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105); oleh al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131); dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178).
Juga di riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
"فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ".
dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.
Hadits ini juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.
Yang shahih adalah hadits riwayat Hushain, dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu ia berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ, beliau tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. [HR. Muslim no. 53 –(874)]
Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah ini?
Dia adalah Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah.
Ia hanya memiliki dua hadits. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya. Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushain bin Abdurrahman. [Baca: al-Ishobah oleh Ibnu Hajar 4/478]
Al-Mizzi menyebutkan dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ، فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda dari dua sisi.
[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.
0 Komentar