DIROSAH HADITS DOA KAFARATUL MAJELIS SETELAH MEMBACA AL-QURAN DAN SETELAH SHOLAT.
----
DAFTAR ISI :
- Pendahuluan:
- Dirosah hadits kafaratul majelis setelah membaca Al-Qur’an dan setelah sholat.
- Pembahasan pertama: hadits Aisyah jalur Kholad yang ada lafadz “setelah baca Al-Qur’an”.
- Pembahasan kedua: hadits Aisyah jalur Kholad yang masyhur tanpa ada lafadz “setelah baca Al-Qur’an”.
- Pembahasan ketiga: hadits Aisyah dari selain jalur Kholad tanpa lafadz “setelah baca Al-Qur’an”.
- Pembahasan keempat: kritik ulama terhadap hadits Aisyah riwayat Kholad bin Sulaiman.
- Pembahasan kelima: hadits riwayat para sahabat selain Aisyah tanpa ada lafadz “setelah baca Al-Qur’an”.
- Klasifikasi pertama: hadits doa kafarat majlis yang di dalamnya terdapat laghot dan lahwu.
- Klasifikasi kedua: hadits Ibnu Umar “doa kafarat majlis dengan lafadz berbeda”.
- Klasifikasi ketiga: doa kafarat majlis dibaca setelah wudhu.
===***===
PENDAHULUAN
Hadits yang menyebutkan tentang “Kafaratul Majlis
Setelah Baca Al-Qur’an Dan Setelah Sholat” adalah :
Hadits AISYAH radhiyallahu ‘anha, yang diriwayatkan
oleh an-Nasa’i dalam “amalul Yaum wa al-Lailah melalui jalur sanad sbb :
Dari IBNU ABI MARYAM, dari
KHALAD BIN SULAIMAN, dari KHALID BIN ABU IMRAN, dari ‘URWAH dari
AISYAH radhiyallahu ‘anha
مَا
جَلَسَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا صَلَّى
صَلَاةً إِلَّا خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ قَالَتْ:
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ
مَا تَجْلِسُ مَجْلِسًا، وَلَا تَتْلُو قُرْآنًا، وَلَا تُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا خَتَمْتَ
بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟
قَالَ: " نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا
خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً:
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ،
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "
Rasulullah ﷺ, tidaklah beliau duduk dalam suatu majelis sama sekali,
tidaklah membaca Al-Qur’an, dan tidaklah melaksanakan suatu sholat, kecuali
beliau ﷺ menutup
semua itu dengan beberapa kalimat.
Ia berkata: lalu aku berkata: “wahai Rasulullah ﷺ, aku melihat engkau tidak duduk dalam
suatu majelis, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak melaksanakan suatu sholat,
kecuali engkau menutupnya dengan kalimat-kalimat ini”.
Beliau ﷺ bersabda:
“Ya, barang siapa
mengucapkan kebaikan, maka kebaikan itu ditutup baginya dengan sebuah stampel
atas kebaikan tersebut. Dan barang siapa mengucapkan keburukan, maka
kalimat-kalimat itu menjadi penebus baginya, yaitu:
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Maha Suci Engkau dan dengan
memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon
ampun kepada-Engkau dan aku bertobat kepada-Engkau”. [SELESAI]
---
PROBLEM RIWAYAT DOA KAFARAT
MAJLIS SETELAH BACA AL-QUR’AN
Hadits Aisyah riwayat Ibnu Abi Maryam dari Kholad bin
Sulaiman .... dengan lafadz “وَلَا
تَلَا قُرْآنًا” ini memiliki beberapa masalah dan problem. Diantaranya adalah
sbb :
Problem Pertama :
Prof. DR. Abdullah bin Gholi, Abu Rib’ah as-Sihli,
Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas Madinah berkata dalam al-Lawami’
as-Sunniyah :
إِنَّهُ لَمْ
يُعْمَلْ بِهِ أَحَدٌ مِنَ السَّلَفِ مِنَ الْقُرُونِ الْفَاضِلَةِ عَلِمْتُهُ بَعْدَ
الصَّلَاةِ، وَلَا بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَعَدَمُ قَوْلِ أَحَدٍ بِهِ دَلِيلٌ
عَلَى خَطَإِ الرِّوَايَةِ، وَعَدَمِ صِحَّتِهَا.
“Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalangan
salaf dari generasi-generasi utama yang mengamalkannya—sepengetahuan saya—baik
setelah shalat maupun setelah membaca Al-Qur’an. Dan dengan tidak adanya
seorang pun yang mengamalkannya, maka ini merupakan dalil atas keliruan riwayat
tersebut serta ketidakabsahannya”.
Problem kedua:
Abdul
Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi
berkata dalam kitab At-Tafsir wa al-Bayan fi Ahkam al-Qur’an 3/1590 ketika
membahas hadits Aisyah:
وَفِي النَّفْسِ
مِنْهُ شَيْءٌ، وَمِثْلُ هَذَا لَوْ كَانَ مَعَهُ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ، لَنُقِلَ بِأَصَحِّ
الْأَسَانِيدِ؛ فَقَوْلُهُ: «مَا جَلَسَ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا
صَلَّى صَلَاةً، إِلَّا خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ» هَذَا تَعْمِيمٌ مُنْكَرٌ، وَلَا
يَسْتَقِيمُ هَذَا التَّعْمِيمُ فِي التَّشْرِيعِ إِلَّا لِمَا صَحَّ سَنَدُهُ بِأَقْوَى
مِنْ هَذَا وَاسْتَفَاضَ وَاشْتَهَرَ مِنْ طُرُقٍ كَثِيرَةٍ، وَقَدْ نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَاةِ وَفِي مَجْلِسِهِ أَذْكَارٌ لَا يُدَاوِمُ عَلَيْهَا جَاءَتْ
بِأَسَانِيدَ أَقْوَى وَطُرُقٍ أَشْهَرَ مِنْ ذَلِكَ؛ فَكَيْفَ بِذِكْرٍ يَقُولُهُ
وَيَلْزَمُهُ بِكُلِّ حَالٍ؟!
“Dalam hati terdapat ganjalan
terhadap hadits ini.
Seandainya
hal seperti ini benar-benar dilakukan (oleh Nabi ﷺ, para sahabat dan para salaf) pada
setiap majelis, tentu ia akan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang paling
sahih.
Ucapannya,
“Tidaklah beliau duduk dalam suatu majelis, tidak pula membaca Al-Qur’an,
dan tidak pula melaksanakan sholat, kecuali beliau menutupnya dengan
kalimat-kalimat ini,” merupakan bentuk pengumuman yang bersifat umum dan
problematik.
Generalisasi
seperti ini dalam penetapan syariat tidak bisa diterima kecuali jika sanadnya
sahih dengan kekuatan yang lebih tinggi daripada ini, serta tersebar luas dan
masyhur melalui banyak jalur.
Telah
diriwayatkan dari Nabi ﷺ berbagai dzikir setelah sholat
dan dzikir dalam majelis yang beliau tidak terus-menerus melakukannya, dengan
sanad yang lebih kuat dan jalur yang lebih terkenal daripada ini. Lalu
bagaimana dengan suatu dzikir yang dikatakan beliau ucapkan dan beliau biasakan
dalam setiap keadaan?
Problem ke tiga:
Lafadz riwayat Ibnu Abi Maryam dari Kholad bin
Sulaiman ... “وَلَا
تَلَا قُرْآنًا” ini, diselisihi oleh para perawi lainnya,
termasuk diselisihi oleh para perawi yang melalui jalur sanad yang sama,
yaitu jalur Kholad bin Sulaiman.
Ringkasan-nya adalah sbb :
Pertama : Diselisihi
lafadznya oleh hadits Aisyah melalui jalur sanad yang sama:
[1] Dari Abu Salamah, dari Khalad bin
Sulaiman, dari Khalid bin Abu Imran, dari ‘Urwah, dari
Aisyah.
[2] Dari Abdullah bin Abdul Hakam, dari Khalad
bin Sulaiman, dari Khalid bin Abu Imran, dari ‘Urwah, dari
Aisyah.
[3] Dari Yahya bin Bukair, dari Khalad bin
Sulaiman, dari Khalid bin Abu Imran, dari ‘Urwah, dari Aisyah.
[4] Dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah.
Kedua : Diselisihi lafadznya
oleh hadits ‘Aisyah melalui jalur perawi yang berbeda, yaitu:
[1] Dari Yahya bin Sa‘id, dari Zurarah bin
Aufa, dari Aisyah
[2] Dari al-Aswad, dari Aisyah.
[3] Dari Masruq, dari Aisyah
Ketiga : Diselisihi oleh riwayat sbb:
[1] Dari Khalid bin Abu Imran, dari Nafi’,
dari Ibnu Umar
[2] Dari Khalid bin Abu Imran, dari Ibnu Umar
Keempat: Di selisihi oleh
hadits para sahabat selain Aisyah.
Yaitu : oleh (1)- Abu Hurairah. (2)- Jubair
bin Muth’im. (3)- Abu Barzah al-Aslami. (4)- Anas bin Malik. (5)- Abdullah bin Amr. (6)- Ummu Salamah. (7)- Abdullah bin Mas’ud. (8)- az-Zubair bin al-‘Awwam. (9)- Abdullah bin
Umar. (10)- Abu al-‘Aliyah. (11)- Ismail
bin Abdullah bin Ja’far. (12)- Dan lain-nya.
Semua riwayat ini, saya uraikan secara rinci dalam pembahasan-pembahasan di bawah ini.
DIROSAH HADITS KAFARATUL
MAJELIS
SETELAH MEMBACA AL-QURAN DAN SETELAH SHOLAT.
Hadits Aisyah yang terkait dengan kaffaratul Majlis ini ada dua macam:
Pertama : terdapat penyebutan lafadz “setelah baca
al-Qur’an”.
Kedua : tanpa penyebutan lafadz “setelah baca
al-Qur’an”.
Berikut ini pembahasan masing-masing:
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA :
HADITS AISYAH JALUR KHOLAD
YANG ADA LAFADZ “SETELAH
BACA AL-QUR’AN”.
Dari Khalad bin Sulaiman, Abu Sulaiman, dari Khalid
bin Abu Imran, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah radhiyallahu
‘anha, dia berkata:
مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَجْلِسًا
قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا صَلَّى صَلَاةً إِلَّا خَتَمَ
ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ قَالَتْ:
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ
مَا تَجْلِسُ مَجْلِسًا، وَلَا تَتْلُو قُرْآنًا، وَلَا تُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا خَتَمْتَ
بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟
قَالَ: " نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا
خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً:
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ،
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "
Rasulullah ﷺ, tidaklah beliau duduk dalam suatu majelis sama sekali,
tidaklah membaca Al-Qur’an, dan tidaklah melaksanakan suatu sholat, kecuali
beliau ﷺ menutup
semua itu dengan beberapa kalimat.
Ia berkata: lalu aku berkata: “wahai Rasulullah ﷺ, aku melihat engkau tidak duduk dalam
suatu majelis, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak melaksanakan suatu sholat,
kecuali engkau menutupnya dengan kalimat-kalimat ini”.
Beliau ﷺ bersabda:
“Ya, barang siapa
mengucapkan kebaikan, maka kebaikan itu ditutup baginya dengan sebuah stampel
atas kebaikan tersebut. Dan barang siapa mengucapkan keburukan, maka
kalimat-kalimat itu menjadi penebus baginya, yaitu:
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Maha Suci Engkau dan dengan
memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon
ampun kepada-Engkau dan aku bertobat kepada-Engkau”.
==
TAKHRIJ :
Jalur Ke 1 : melalui Ibnu
Abi Maryam:
Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro
9/123 no. 10067 dan ‘Amalul Yaum wa al-Lailah hal. 273 no. 308. Ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl bin
Askar, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu bin Abi Maryam,
dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Khalad bin Sulaiman, Abu Sulaiman,
dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Khalid bin Abu Imran, dari ‘Urwah bin
Az-Zubair, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: .... dst.
Disebutkan pula dengan jalur sanad yang sama -jalur
Ibnu Abi Maryam- oleh Syeikh Muqbil al-Wadi’i dalam Ash-Shohih al-Musnad Mimma
Laisa Fii ash-Shohihain 2/141 no. 995, 2/505 no. 1598, 2/592 no. 1631, 5/296
no. 3595 dan 5/454 no. 3831.
Jalur ke 2 : melalui Abu Salamah
al-Khuz’ai:
Diriwayatkan pula oleh Abu Sa’ad as-Sam’ani (wafat 562
H) dalam Adab al-Imlaa hal. 75 dengan sanadnya, melalui jalur Abu Salamah
al-Khuza’i, dari Kholad bin Sulaiman, dari Kholid bin Abu Imran, dari Urwah,
dari Aisyah.
Abu Sa’ad as-Sam’ani berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Abu al-Qasim Zahir bin Tahir asy-Syahhami di Marwa, ia berkata:
telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin al-Husain Al-Hafidz, ia
berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin al-Hasan al-Qadhi, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas Muhammad bin Ya‘qub al-Ashamm, ia
berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani, ia
berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Salamah al-Khuza‘i, ia
berkata: telah mengabarkan kepada kami Khalad bin Sulaiman al-Hadhrami,
dan ia termasuk orang-orang yang takut kepada Allah, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Khalid bin Abi ‘Imran, dari ‘Urwah bin
az-Zubair, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata : ..... dst.
Jalur ke 3: melalui Sa’id
bin al-Hakam:
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Nashiruddin (wafat 842 H)
dalam Tawdhih al-Musytabih 9/282 dengan sanadnya, melalui jalur Sa’id bin
al-Hakam, dari Kholad bin Sulaiman, dari Kholid bin Abu Imran,
dari ‘Urwah, dari Aisyah.
Ibnu Nashiruddin berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Ja‘far Muhammad bin Ahmad bin Nashr ash-Shaidalani dengan cara
dibacakan di hadapannya di Ashbahan. Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali
al-Hasan bin Ahmad Al-Hafidz dengan cara dibacakan di hadapannya sementara aku
hadir. Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu‘aim Ahmad bin ‘Abdullah Al-Hafidz.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ja‘far bin Ahmad bin
Faris. Telah mengabarkan kepada kami Abu Bisyr Isma‘il bin ‘Abdullah bin
Mas‘ud. Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin al-Hakam. Telah
mengabarkan kepada kami Khalad bin Sulaiman al-Hadhrami Abu Sulaiman.
Telah menceritakan kepadaku Khalid bin Abi ‘Imran, dari ‘Urwah bin
az-Zubair, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: .... dst.
====
SIAPAKAH KHALAD BIN SULAIMAN
INI?
“Khalad” adalah “Khalad bin Sulaiman
al-Hadhromi al-Mihsri.” Ia seorang penjahit, yang buta huruf, tidak bisa
menulis, dan termasuk orang-orang yang takut kepada Allah. Ia diriwayatkan oleh
Ibnu Wahb. Dia tsiqot (Terpercaya). [Biografinya disebutkan dalam At-Tahdzib,
Al-Kabir 2/1/172, dan Ibnu Abi Hatim 1/2/365]
Abu Sa’id as-Sudafi (wafat 347 H) dalam Tarikh Ibnu Yunus
al-Misri 1/156 nomor 424, berkata:
خَلّادُ بْنُ سُلَيْمَانَ الحَضْرَمِيُّ
المِصْرِيُّ : يَكْنَى أَبَا سُلَيْمَانَ. كَانَ مِنْ أَهْلِ الفَضْلِ وَالدِّينِ.
يُرْوَى عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى ابْنِ عُمَرَ، وَخَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، وَدَرَّاجِ
بْنِ سُمْعَانَ. رَوَى عَنْهُ ابْنُ وَهْبٍ، وَسَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ. وَكَانَ
أَحَدَ الْخَائِفِينَ. مَوْلِدُهُ بِإفْرِيقِيَّةَ، ثُمَّ انتَقَلَ إِلَى الْمَشْرِقِ،
وَتَوَفَّى سَنَةَ ثَمَانٍ وَسَبْعِينَ وَمِائَةٍ، وَكَانَ خَيَّاطًا أُمِّيًّا، لا
يَكْتُبُ.
“Khalad bin Sulaiman al-Hadhromi al-Mishri, kunyahnya
Abu Sulaiman. Ia termasuk orang yang berilmu dan beragama. Diriwayatkan dari
Nafi’ mawla Ibnu Umar, Khalad bin Abu Imran, dan Dirraj bin Suma’an. Ia
diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dan Sa’id bin Abi Maryam. Ia termasuk orang yang
takut kepada Allah. Lahir di Ifriqiyah, kemudian pindah ke Mashriq, wafat pada
tahun 178 H. Ia seorang penjahit buta huruf, tidak bisa menulis”.
===****===
PEMBAHASAN KEDUA :
HADITS AISYAH JALUR KHOLAD YANG
MASYHUR
TANPA ADA LAFADZ “SETELAH
BACA AL-QUR’AN”.
****
Pertama : lafadz riwayat Abu Salamah dari Kholad bin Sulaiman
Riwayat ini tanpa ada lafadz “setelah membaca
al-Qur’an”. Dan lafadz inilah yang paling terbanyak periwayatan-nya oleh para
ulama hadits.
Dari Abu Salamah, dari Khalad bin Sulaiman
al-Hadhrami, dari Khalid bin Abu Imran, dari Urwah, dari Aisyah
radhiyallahu 'anha:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا
جَلَسَ مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ
عَنِ الْكَلِمَاتِ فَقَالَ: «إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ، سُبْحَانَكَ
اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
“Bahwa Rasulullah ﷺ apabila duduk dalam suatu majelis atau selesai sholat,
beliau mengucapkan beberapa kalimat. Maka Aisyah bertanya kepada beliau tentang
kalimat-kalimat tersebut.
Maka beliau ﷺ bersabda:
‘Apabila ia berbicara dengan kebaikan, maka ucapan itu
menjadi penutup atasnya hingga hari kiamat. Dan apabila ia berbicara selain
itu, maka ia menjadi penebus dosa, yaitu:
«سُبْحَانَكَ اللهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
Maha Suci Engkau dan dengan
memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon
ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya’.”
====
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh sbb :
[1] Ahmad dalam al-Musnad 41/34 no. 24486:
Ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu
Salamah (al-Khuza’i Manshur bin Salamah), telah menceritakan kepada kami
Khalad bin Sulaiman al-Hadrami, dari Khalid bin Abu Imran, dari Urwah, dari
Aisyah radhiyallahu 'anha.... .
Diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan 3/81
no. 1343 (Cet. Dar al-Ma’rifah – Bairut) melalui jalur Abu Salamah. Dan dalam
as-Sunan al-Kubro melalui jalurnya no. 2/98 no. 1268 dan 9/123 no. 10067. Dan
dalam ‘Amalul Yaum wa al-Lailah no. 308.
[2] Diriwayatkan pula oleh Abu al-Abbas al-Asham
melalui jalur Abu Salamah dalam kumpulan karya-karyanya halaman 234.
[3] Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam Syu‘ab al-Iman
melalui jalur Abu Salamah 2/141 no. 620.
[4] Isma’il Al-Ashfahani dalam at-Targib wa at-Tarhib
1/421 no. 736 melalui jalur Abu Salamah.
[5] Ibnu al-Khorroth dalam al-Ahkam al-Kubra 2/291
melalui jalur Abu Salamah.
[6] Qiwam as-Sunnah meriwayatkannya dalam at-Targhib
wa at-Tarhib melalui jalurnya 1/312.
[7] Abu Sa‘d as-Sam‘ani meriwayatkannya dalam al-Imla’
wa al-Istimla’ juga melalui jalur tersebut jilid 2 halaman 358.
[8] Adh-Dhiya’ al-Maqdisi meriwayatkannya dalam
al-Muntaqa dari riwayat-riwayat yang ia dengar di Marw 2/452 dan 774.
[9] Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi meriwayatkannya dalam
Tawdih al-Musytabah melalui jalur Sa‘id bin al-Hakam 9/ 281.
[10] Al-Bushairi dalam Ittihaf al-Khiyarotul Maharah
6/371 no. 6041.
[11] Jamaluddin al-Mizzy dalam Tahufatul Asyrof 12/4
no. 16335.
[12] Muhammad al-‘Aquli dalam ar-Roshef 1/399 no. 955.
Disebutkan oleh sbb :
[*] Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam al-Adab
asy-Syar’iyyah 3/611.
[*] Al-Hafidz Ibnu Hajar meriwayatkannya dalam Fathul
Bari 13/546 dan Ittihaf al-Maharah 17/117 no. 21970 melalui jalur Abu Salamah.
[*] Al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib 2/264.
Al-Mumdzir berkata:
رَوَاهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا وَالنَّسَائِيّ
وَاللَّفْظ لَهُمَا وَالْحَاكِم وَالْبَيْهَقِيّ
“ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan an-Nasa’i,
dan lafaznya milik keduanya, serta oleh al-Hakim dan al-Baihaqi”.
[*] At-Tibrizi dalam Misyakatul Mashobih 2/575 no.
2450.
[*] Ash-Shon’ani dalam Fathul Ghoffar 4/2199 no. 6486.
[*] Adh-Dhiyaa’ al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil
9/441.
STATUS SANAD HADITS:
Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albani rahimahullah
ta'ala dalam Shahih at-Targhib (nomor 1518).
Syeikh Muqbil al-Wadi’i berkata dalam ash-Shahih
al-Musnad Mimma Laisa Fii ash-Shohihain 2/505 no. 1598 :
هٰذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ رِجَالُ
الصَّحِيحِ، إِلَّا خَلَّادَ بْنَ سُلَيْمَانَ، وَقَدْ وَثَّقَهُ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ
بْنِ الْجُنَيْدِ، كَمَا فِي "تَهْذِيبِ التَّهْذِيبِ"
Hadits ini sahih, para perawinya adalah para perawi
kitab Sahih, kecuali Khallad bin Sulaiman. Ia telah dinilai tsiqah oleh Ali bin
al-Husain bin al-Junaid, sebagaimana disebutkan dalam “Tahdzib at-Tahdzib”.
****
Kedua : lafadz riwayat Abdullah bin Abdul
Hakam dan Yahya bin Bukair dari Kholad
Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam Kitab ad-Du‘a hal.
535 no. 1912 melalui jalur Abdullah bin Abdul Hakam dan jalur Yahya bin Bukair
, mereka berdua berkata:
Telah menceritakan kepada kami Khalad bin Sulaiman, ia
berkata: aku mendengar Khalid bin Abu Imran bercerita dari Urwah, dari Aisyah
radhiyallahu 'anha, ia berkata:
مَا جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَجْلِسًا
وَلَا قَرَأَ قِرَاءَةً وَلَا صَلَّى صَلَاةً إِلَّا خَتَمَ بِهَؤُلَاءِ
الْكَلِمَاتِ،
فَقَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَرَاكَ تَخْتِمُ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ مَجْلِسَكَ وَقِرَاءَتَكَ وَصَلَاتَكَ،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " مَنْ
قَالَ خَيْرًا كَانَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ طَابِعًا عَلَيْهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ،
وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ كَفَّارَةً لَهُ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَلَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "
Rasulullah ﷺ tidak pernah duduk dalam suatu majelis, tidak membaca suatu
bacaan, dan tidak mengerjakan suatu salat, melainkan beliau menutupnya
dengan kalimat-kalimat ini. Maka Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, aku melihat
engkau menutup majelismu, bacaanmu, dan salatmu dengan kalimat-kalimat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengucapkan
kebaikan, maka kalimat-kalimat ini menjadi penutup baginya hingga hari kiamat.
Dan barang siapa mengucapkan keburukan, maka kalimat-kalimat ini menjadi
penebus baginya:
Subhanaka Allahumma wa
bihamdika wa la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”. [Sls]
===***===
PEMBAHASAN KETIGA :
HADITS AISYAH DARI SELAIN
JALUR KHOLAD
TANPA LAFADZ “SETELAH BACA
AL-QUR’AN”
KE 1 : RIWAYAT ZUROROH BIN ABI AWFA DARI AISYAH:
Al-Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/674 no. 1827
meriwayatkan:
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Ishaq
al-Faqih, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ibrahim bin Milhan, telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami
al-Laits, dari Ibnu al-Had, dari Yahya bin Sa‘id, dari Zurarah bin
Aufa, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُومُ
مِنْ مَجْلِسٍ إِلَّا قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
فَقُلْتُ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
مَا أَكْثَرَ مَا تَقُولُ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا قُمْتَ.
قَالَ: «لَا يَقُولُهُنَّ مِنْ أَحَدٍ
حِينَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسِهِ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ مِنْهُ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ»
Rasulullah ﷺ tidak pernah berdiri dari suatu majelis kecuali beliau
mengucapkan:
“Subhanaka Allahumma rabbi
wa bihamdika, la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”.
Maka aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah,
alangkah seringnya engkau mengucapkan kalimat-kalimat ini ketika engkau
berdiri”.
Beliau ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang mengucapkannya ketika ia
berdiri dari majelisnya, melainkan akan diampuni baginya apa yang terjadi
darinya dalam majelis tersebut”.
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dalam
as-Sunan al-Kubra 9/153 no. 10158 dan dalam Amalul Yaum wa al-Lailah hal. 309
no. 398, ath-Thahawi dalam Syarah Ma’aani al-Atsar 4/290 no. 6960, Abu Sa’ad
as-Sam’ani dalam Adab al-Imlaa hal. 75, Taqiyuddin al-Muqraizy dalam Imta’ al-Asma’
2/286
Al-Hakim berkata:
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ،
وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
“Hadits ini sahih sanadnya, namun keduanya (Bukhori
dan Muslim) tidak meriwayatkannya”.
Dan pentashihan al-Hakim ini disetujui oleh al-Imam
adz-Dzahabi dalam at-Talkhish.
Abu Sulaiman ad-Dawsiri dalam ar-Raudh al-Bassaam
4/432 berkata:
وَزُرَارَةُ قِيلَ: هُوَ ابْنُ أَوْفَى،
وَهٰذَا مَا يَقْتَضِيهِ تَصْحِيحُ الذَّهَبِيِّ الْحَدِيثَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ،
وَرَجَّحَ ذٰلِكَ الإِسْمَاعِيلِيُّ، فَقَدْ أَخْرَجَ هٰذَا الْحَدِيثَ ـ كَمَا فِي
«التَّهْذِيبِ» (3/ 324 ـ 325) ـ فِي «مُسْنَدِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ» فِي بَابِ:
(زُرَارَةُ بْنُ أَوْفَى عَنْ عَائِشَةَ).
وَقَالَ الْحَافِظُ فِي «التَّهْذِيبِ»:
«هُوَ عِنْدِي وَهْمٌ، وَالصَّوَابُ أَنَّهُ كَانَ عَنْ (ابْنِ زُرَارَةَ) فَوَقَعَ
فِيهِ حَذْفٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ». وَهُوَ مَا رَجَّحَهُ الْمِزِّيُّ، وَابْنُ زُرَارَةَ
هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ الْمَذْكُورُ فِي
رِوَايَةِ قُتَيْبَةَ وَابْنِ وَهْبٍ.
وَمِمَّا يُؤَكِّدُ مَا ذَهَبَا إِلَيْهِ:
أَنَّ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيَّ لَا تُعْرَفُ لَهُ رِوَايَةٌ عَنْ ابْنِ
أَوْفَى، بَلْ هُوَ مِمَّنْ يَرْوِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِيِّ
الَّذِي لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ، وَبِالتَّالِي فَالْحَدِيثُ مُنْقَطِعُ الإِسْنَادِ
مِنْ هٰذَا الْوَجْهِ
“Zurarah dikatakan bahwa ia adalah Ibnu Aufa. Inilah
yang ditunjukkan oleh penilaian sahih adz-Dzahabi terhadap hadits ini, sesuai
dengan syarat dua syaikh (Bukhori dan Muslim). Pendapat ini juga dikuatkan oleh
al-Isma‘ili, karena ia telah meriwayatkan hadits ini sebagaimana disebutkan
dalam Tahdzib (3/324–325) di dalam Musnad Yahya bin Sa‘id pada bab: Zurarah bin
Aufa dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Namun Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam at-Tahdzib:
Menurutku ini adalah suatu kekeliruan, dan yang benar
adalah bahwa riwayat tersebut berasal dari Ibnu Zurarah, lalu terjadi
penghapusan dalam sanadnya, wallahu a’lam. Pendapat ini juga dikuatkan oleh
al-Mizzi.
Ibnu Zurarah adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Sa‘d
bin Zurarah yang disebutkan dalam riwayat Qutaibah dan Ibnu Wahb.
Di antara hal yang menguatkan pendapat kedua ini
adalah bahwa Yahya bin Sa‘id al-Anshari tidak dikenal memiliki riwayat dari
Ibnu Aufa, melainkan ia meriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman al-Anshari
yang tidak sempat bertemu dengan Aisyah radhiyallahu 'anha. Dengan demikian, hadits
ini terputus sanadnya dari jalur ini”.
Prof. DR. Hikmat bin Basyir berkata dalam ash-Shohih
al-Mabsur 4/398 :
وَلِلْحَدِيثِ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ، بَعْضُهَا
صَحِيحُ الإِسْنَادِ، وَبَعْضُهَا دُونَ ذٰلِكَ مَعَ صَلَاحِيَّتِهَا لِلِاحْتِجَاجِ
أَوِ الِاسْتِشْهَادِ، وَقَدْ أَطَالَ الْكَلَامَ عَلَيْهَا الْحَافِظُ فِي «النُّكَتِ
عَلَى ابْنِ الصَّلَاحِ» (2/716)، وَفِي آخِرِ «الْفَتْحِ» (13/545–546)
“ Hadits ini memiliki banyak syahid; sebagian sanadnya
sahih dan sebagian lainnya di bawah itu, namun tetap layak dijadikan hujjah
atau penguat.
Al-Hafidz Ibnu Hajar telah memanjangkan pembahasan
tentangnya dalam an-Nukat ‘ala Ibnu ash-Shalah (2/716) dan di bagian akhir
Fathul Bari (13/545–546)”.
KE 2 : RIWAYAT AL-ASWAD DARI AISYAH
Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkannya dalam an-Nukat
‘Alaa Kitab Ibnu ash-Sholah 2/374, dia berkata:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha dengan
lafaz lain, dikeluarkan oleh Abu Ahmad al-‘Assal dalam “Kitab al-Abwab” melalui
jalur ‘Amr bin Qais dari Abu Ishaq dari al-Aswad, dari Aisyah radhiyallahu
'anha, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ
مِنْ مَجْلِسِهِ قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ».
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ
هٰذَا لَمِنْ أَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَيْكَ.
قَالَ ﷺ: «إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ لَا
يَقُولَهَا عَبْدٌ إِذَا قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ إِلَّا غُفِرَ لَهُ».
Rasulullah ﷺ apabila berdiri dari majelisnya beliau mengucapkan: Subhanaka
Allahumma wa bihamdika, la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika. Maka
aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini termasuk ucapan yang paling
engkau sukai. Beliau ﷺ bersabda:
Sesungguhnya aku berharap tidaklah seorang hamba mengucapkannya ketika ia
berdiri dari majelisnya, melainkan akan diampuni baginya.
Lalu al-Hafidz berkata :
وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ
“Sanadnya hasan”.
Namun Abu Hudzaifah al-Kuwaiti berkata dalam Aniis
as-Saari 7/5017:
قُلْتُ: أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ
مُدَلِّسٌ، وَقَدْ عَنْعَنَ، وَكَانَ قَدِ اخْتَلَطَ، وَلَمْ أَرَ أَحَدًا صَرَّحَ
بِسَمَاعِ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ مِنْهُ، أَهُوَ قَبْلَ الِاخْتِلَاطِ أَمْ بَعْدَهُ
“Aku berkata: Abu Ishaq as-Subai‘i adalah seorang mudallis
dan ia meriwayatkan dengan lafaz ‘an‘anah. Ia juga pernah mengalami ikhtilath.
Aku tidak menemukan seorang pun yang menegaskan bahwa ‘Amr bin Qais mendengar
langsung darinya, apakah itu terjadi sebelum ikhtilath atau setelahnya ?”.
KE 3: RIWAYAT MASRUQ DARI AISYAH
Dari Muslim, dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu
'anha, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ
يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ: «سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ» قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِي أَرَاكَ
أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا؟ قَالَ: «جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا
قُلْتُهَا {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ
Rasulullah ﷺ sering memperbanyak ucapan sebelum beliau wafat:
“Subhanaka wa bihamdika,
astaghfiruka wa atubu ilaika”.
Ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah
kalimat-kalimat ini yang aku lihat engkau baru mengucapkannya?”.
Beliau ﷺ bersabda: “Kalimat ini dijadikan bagiku sebagai tanda pada
umatku; apabila aku melihatnya, aku mengucapkannya, yaitu firman Allah:
Apabila telah datang
pertolongan Allah dan kemenangan” [QS. An-Nashr: 1], hingga akhir surah”.
[HR. Muslim no. 218-(484)]
Diperkuat pula dengan hadits
berikut ini:
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ:
«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي أَرَاكَ تُكْثِرُ أَنْ
تَقُولَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ؟
فَقَالَ: «إِنِّي أُمِرْتُ بِأَمْرٍ» ، فَقَرَأَ: {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ}
[النصر: 1] "
Nabi ﷺ sebelum wafatnya sering memperbanyak
ucapan:
“Ya
Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan
aku bertobat kepada-Mu.”
Aku berkata: “Wahai Rasulullah ﷺ,
sesungguhnya aku melihat engkau sering memperbanyak ucapan: ‘Ya Allah, Mahasuci
Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat
kepada-Mu.’”
Maka beliau ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diperintahkan dengan suatu perkara.” Lalu
beliau membaca: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
(an-Nashr: 1)
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath 2/5 nomor 677. Ia
berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muslim Abu Yahya
ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Sahl bin ‘Utsman, telah menceritakan
kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari ‘Ashim al-Ahwal, dari asy-Sya‘bi, dari Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha.
Ath-Thabrani berkata:
لَمْ يَرْوِهِ عَنْ عَاصِمٍ إِلَّا حَفْصٌ تَفَرَّدَ بِهِ
سَهْلٌ
Hadits ini tidak diriwayatkan dari ‘Ashim kecuali oleh Hafsh, dan Sahl
meriwayatkannya secara tunggal.
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma‘ 10/141 nomor 17168:
" رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ،
وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ".
“Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani dalam al-Awsath, dan para perawinya adalah para perawi ash-Shahih.
Wallahu
a’lam”.
KE 4: RIWAYAT MASRUQ DARI AISYAH
Dan dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia
berkata:
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى سَقْفِ الْبَيْتِ قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ» ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَسَأَلْتُهُ
عَنْهُنَّ؟ فَقَالَ: «أُمِرْتٌ بِهِنَّ»
Rasulullah ﷺ apabila mengangkat kepalanya ke arah langit-langit rumah,
beliau mengucapkan:
“Ya Allah, Mahasuci Engkau
dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat
kepada-Mu.”
Aisyah berkata: Aku pun bertanya kepada beliau tentang
bacaan itu. Maka beliau menjawab: “Aku diperintahkan untuk mengucapkannya.”
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam
al-Awsath 7/166 nomor 7172. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Ahmad ar-Raqqam, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin
al-Miqdam al-‘Ijli, telah menceritakan kepada kami an-Nadhr bin Abi an-Nadhr,
dari ‘Amr bin ‘Abd al-Jabbar, dari al-Hakam bin ‘Utaibah, dari Masruq, dari
Aisyah radhiyallahu ‘anha. ..... dst
Ath-Thabrani berkata:
لَمْ يَرْوِ
هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الْحَكَمِ إِلَّا عَمْرُو بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ، وَلَا عَنْ
عَمْرِو بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ إِلَّا النَّضْرُ بْنُ أَبِي النَّضْرِ، تَفَرَّدَ
بِهِ: أَبُو الْأَشْعَثِ "
Hadits ini tidak diriwayatkan dari al-Hakam kecuali
melalui ‘Amr bin ‘Abd al-Jabbar, dan tidak pula dari ‘Amr bin ‘Abd al-Jabbar
kecuali melalui an-Nadhr bin Abi an-Nadhr. Hadits ini diriwayatkan secara
tunggal oleh Abu al-Asy‘ats.
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma‘ 10/141 nomor
17167:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ مَنْ لَمْ
أَعْرِفْهُ.
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam
al-Awsath, dan di dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak aku kenal.
PEMBAHASAN KE EMPAT
KRITIK ULAMA TERHADAP HADITS
AISYAH
RIWAYAT KHOLAD BIN SULAIMAN
PERTAMA : KRITIKAN ABDULLAH BIN GHOLI AS-SIHLI
Prof. DR. Abdullah bin Gholi, Abu Rib’ah as-Sihli, Guru Besar Ilmu Hadits
di Universitas Madinah berkata dalam al-Lawami’ as-Sunniyah :
“Riwayat Khallad bin Sulaiman menurut saya juga keliru, dari beberapa
sisi.
Sisi pertama:
Khallad bin Sulaiman adalah seorang yang buta huruf,
tidak bisa menulis. Abu Sa‘id bin Yunus berkata (dalam Tahdzib al-Kamal 8/355):
"كَانَ خَيَّاطًا،
وَكَانَ أُمِّيًّا لَا يَكْتُبُ".
“Ia adalah seorang penjahit dan seorang yang buta
huruf, tidak bisa menulis.”
Sebagaimana yang sudah maklum bahwa hafalan itu kadang
bisa keliru dan mengkhianati. Pepatah arab mengatakan “الحِفْظُ
خَوَّان”
Saya tidak menemukan adanya penilaian tsiqah
terhadapnya kecuali dari Ali bin al-Husain bin al-Junaid, yang berkata (al-Jarh
wa at-Ta‘dil 3/365):
"كَانَ مِصْرِيًّا
يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ ثِقَةً".
“Ia adalah orang Mesir, membaca Al-Qur’an, dan ia
tsiqah.”
Ibnu Khalfun juga menyebutkannya dalam kitab
ats-Tsiqat miliknya (Ikmal Tahdzib al-Kamal 4/233), demikian pula Ibnu Hibban
dalam kitab ats-Tsiqat (8/224), namun ia menamainya dengan Khalid dan hanya
berkata tentangnya: “Seorang syaikh.”
Sisi kedua:
Terjadi perbedaan lafaz dalam riwayat darinya;
terkadang ia mengatakan:
«كَانَ إِذَا جَلَسَ
مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ»
“Apabila beliau duduk di suatu majelis atau selesai
shalat, beliau mengucapkan beberapa kalimat,”
Dan terkadang ia menambahkan di dalamnya kata :
«أَوْ
تَلَا قُرْآنًا»
“atau membaca Al-Qur’an.”
Sisi ketiga:
Saya tidak mendapatkan hadits ini kecuali melalui
jalurnya, dari Khalid bin Abu Imran. Keduanya adalah orang Mesir, maka di
manakah para ulama Hijaz dari hadits ini sehingga mereka tidak meriwayatkannya
dari ‘Urwah?
Adapun ucapan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam an-Nukat ‘ala
Kitab Ibnu ash-Shalah (92/733):
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
“Sanadnya sahih,”
maka itu adalah kekeliruan karena tertipu oleh
penampilan sanad.
Dan syeikh Al-Albani mengikuti jejak Ibnu Hajadalam
as-Shahihah (7/493), sehingga beliau ikut menshahihkannya. Semoga Allah
merahmati keduanya.
Sisi keempat:
Bahwa riwayat tersebut menyelisihi lafaz yang
diriwayatkan oleh para perawi tsiqah (terpercaya) dari Aisyah radhiyallahu
'anha. Dan lafaz merekalah yang sahih dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits itu diriwayatkan oleh Masruq dari Aisyah
radhiyallahu 'anha, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ
يَقُولَ قَبْلَ مَوْتِهِ: «سُبْحَانَ
اللهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
قَالَتْ: وَكَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَهُ،
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ تَدْعُو بِدُعَاءٍ لَمْ تَكُنْ تَدْعُو بِهِ
قَبْلَ الْيَوْمِ،
فَقَالَ: «إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَخْبَرَنِي أَنِّي سَأَرَى عَلَمًا
فِي أُمَّتِي، وَأَنِّي إِذَا رَأَيْتُ ذَلِكَ الْعَلَمَ أَنْ أُسَبِّحَ بِحَمْدِهِ
وَأَسْتَغْفِرَهُ، فَقَدْ رَأَيْتُ ذَلِكَ: {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ،
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْوَاجًا} [النصر: 2]».
Rasulullah ﷺ sering memperbanyak ucapan menjelang wafat beliau:
"
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ "
“Mahasuci Allah dan
dengan pujian-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”
Ia berkata: Beliau sering mengucapkannya. Maka aku pun
bertanya : “Wahai Rasulullah ﷺ, sungguh
engkau berdoa dengan doa yang sebelumnya tidak engkau ucapkan?”.
Maka beliau ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Rabbku telah memberitahuku bahwa aku
akan melihat suatu tanda pada umatku, dan jika aku melihat tanda itu, aku
diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji-Nya dan memohon ampun kepada-Nya.
Sungguh aku telah melihat tanda itu:
‘Apabila telah datang
pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam
agama Allah secara berbondong-bondong” [QS. An-Nasehr: 2 ] (Sls).
[HR. Muslim no. 220-(484) dan Ahmad no. 25508. Syu’aib
al-Arna’uth 42/326 berkata: Hadits Shahih]
Lafadz Shahih Muslim :
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُكْثِرُ مِنْ
قَوْلِ: «سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ» قَالَتْ:
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ: «سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ؟» فَقَالَ: " خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي
سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي، فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ
اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، فَقَدْ رَأَيْتُهَا {إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1]، فَتْحُ مَكَّةَ، {وَرَأَيْتَ النَّاسَ
يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا} [النصر: 3] "
Rasulullah ﷺ sering memperbanyak ucapan:
«سُبْحَانَ اللهِ
وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
“Mahasuci Allah dan dengan pujian-Nya, aku memohon
ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: maka Aku pun
bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, aku
melihat engkau sering memperbanyak ucapan: ‘Mahasuci Allah dan dengan
pujian-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.’”
Maka beliau ﷺ bersabda:
“Rabbku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat
suatu tanda pada umatku. Jika aku telah melihat tanda itu, aku akan
memperbanyak ucapan:
«سُبْحَانَ اللهِ
وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
‘Mahasuci Allah dan dengan pujian-Nya, aku memohon
ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.’
Sungguh aku telah melihat tanda itu, yaitu: ‘Apabila
telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’ [QS. An-Nasher: 1]’ yakni
penaklukan Makkah,
Dan: ‘engkau melihat manusia masuk ke dalam agama
Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat’ [QS.
An-Nasher: 2].’”
Demikian pula riwayat Ibnu Juraij, ia berkata:
قُلْتُ لِعَطَاءٍ: كَيْفَ تَقُولُ أَنْتَ
فِي الرُّكُوعِ؟ قَالَ: أَمَّا سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.
فَأَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: افْتَقَدْتُ النَّبِيَّ
ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ، فَتَحَسَّسْتُ
ثُمَّ رَجَعْتُ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ يَقُولُ:
«سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»
فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، إِنِّي
لَفِي شَأْنٍ وَإِنَّكَ لَفِي آخَرَ
Aku berkata kepada Atha’: bagaimana bacaanmu ketika
rukuk?
Ia menjawab: Adapun “Subhanaka wa bihamdika la
ilaha illa anta”, maka Ibnu Abi Mulaikah mengabarkan kepadaku dari Aisyah
radhiyallahu 'anha, ia berkata:
Pada suatu malam aku tidak mendapati Nabi ﷺ, maka aku mengira beliau pergi ke sebagian
istri-istrinya. Aku pun meraba-raba lalu kembali, ternyata beliau sedang rukuk
atau sujud seraya mengucapkan:
«سُبْحَانَكَ
وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»
“Mahasuci Engkau dan dengan
pujian-Mu, tidak ada tuhan selain Engkau.”
Aku berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu,
sungguh aku berada dalam suatu urusan, sementara engkau berada dalam urusan
yang lain”. [HR. Muslim no. 221-(485)]
Aku berkata: barangkali hafalan Khalad bin Sulaiman
telah tercampur baginya satu hadits ke dalam hadits yang lain.
Dan tidak ada—sepengetahuanku—riwayat lainnya tentang
membaca doa ini setelah tilawah Al-Qur’an dan setelah sholat, kecuali dalam
riwayat ini saja.
Sisi kelima:
Bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan salaf pada
generasi-generasi utama yang aku ketahui mengamalkannya setelah sholat, maupun
setelah membaca Al-Qur’an. Dengan tidak adanya seorang pun yang mengucapkannya,
maka ini bisa menjadi dalil bahwa riwayat tersebut keliru dan tidak sahih.
Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitab Al-‘Ilal (2/361):
سُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْ حَدِيثٍ رَوَاهُ
ابْنُ عَائِشَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ الْبَيْلَمَانِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا شُفْعَةَ لِغَائِبٍ وَلَا لِصَغِيرٍ»؟ فَقَالَ
أَبُو زُرْعَةَ: هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ، لَا أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ بِهَذَا، الْغَائِبُ
لَهُ شُفْعَةٌ، وَالصَّبِيُّ حَتَّى يَكْبَرَ، فَلَمْ يُقْرَأْ عَلَيْنَا هَذَا الْحَدِيثُ.
“Abu Zur‘ah ditanya tentang sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aisyah, dari Muhammad bin Al-Harits, dari Muhammad bin
‘Abdurrahman bin Al-Bailamani, dari ayahnya, dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Tidak ada hak syuf‘ah bagi
orang yang tidak hadir dan tidak pula bagi anak kecil.’
Maka Abu Zur‘ah berkata:
‘Ini adalah hadits mungkar. Aku tidak mengetahui
seorang pun yang berpendapat demikian.
“Orang yang ghoib (tidak
hadir) tetap memiliki hak syuf‘ah, dan anak kecil hingga ia menjadi dewasa”.
Hadits ini tidak pernah dibacakan kepada kami.’” [Sls]
Al-Baihaqi berkata dalam Jima‘ Abwab Wujub Qira’at
Al-Qur’an fi Ash-Shalah (hlm. 166):
«…فَلَا يَجُوزُ
حَمْلُ الْخَبَرِ عَلَى مَا لَا يَقُولُ بِهِ أَحَدٌ، وَلَا يُسَاعِدُهُ لِسَانُ الْعَرَبِ».
“Tidak boleh membawa suatu khabar kepada makna yang
tidak diucapkan oleh seorang pun, dan tidak didukung oleh lisan Arab.”
Dan ia berkata lagi (hlm. 490):
«وَلَا نَعْلَمُ
أَحَدًا يَقُولُ ذَلِكَ، فَدَلَّ عَلَى ضَعْفِ الْخَبَرِ».
“Kami tidak mengetahui seorang pun yang mengatakan hal
itu, maka hal tersebut menunjukkan kelemahan khabar tersebut.”
Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar (16/405):
«قَالَ ابْنُ خَلِّكَانَ:
كَانَ يُتَّهَمُ بِالِاعْتِزَالِ، وَكَانَ رُبَّمَا يَخْتَارُ فِي الْفُتْيَا، فَيُقَالُ
لَهُ فِي ذَلِكَ، فَيَقُولُ: "وَيْحَكُمْ حَدَّثَ فُلَانٌ، عَنْ فُلَانٍ، عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِكَذَا وَكَذَا، وَالْأَخْذُ بِالْحَدِيثِ أَوْلَى مِنَ الْأَخْذِ
بِقَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ"».
“Ibnu Khallikan berkata: ia pernah dituduh beraliran
i‘tzal, dan terkadang memilih suatu pendapat dalam fatwa. Maka dikatakan
kepadanya tentang hal itu, lalu ia berkata: ‘Celaka kalian, si fulan
meriwayatkan dari si fulan, dari Rasulullah ﷺ tentang ini dan itu, dan berpegang kepada hadits lebih utama
daripada berpegang kepada pendapat Asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah.’”
Saya katakan:
Ini memang baik, namun dengan syarat bahwa hadits tersebut
diamalkan oleh seorang imam yang sebanding keilmuanya dengan kedua imam itu,
seperti Malik, Sufyan, atau Al-Awza‘i; dan bahwa hadits tersebut benar-benar
valid (shahih), selamat dari cacat; serta tidak ada hadits sahih lain yang
menjadi hujah bagi Abu Hanifah dan Asy-Syafi‘i yang bertentangan dengannya.
Adapun mengambil satu hadits sahih yang telah ditinggalkan
oleh seluruh imam mujtahid lainnya, maka itu tidak dapat diterima, contohnya seperti
hadits:
«فَإِنْ
شَرِبَ فِي الرَّابِعَةِ فَاقْتُلُوهُ»
“Jika ia minum minuman
keras pada kali keempat maka bunuhlah ia,”
Dan hadits:
«لَعَنَ
اللَّهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ»
“Allah melaknat pencuri
yang mencuri telur sehingga dipotong tangannya.”
Dua hadits ini meskipun
shahih sanadnya namun tidak pernah ada yang mengamalkannya, alias
ditinggalkan. Maka jangan kedua hadits tersebut tidak bisa diajadikan dalil
untuk menerapakannya.
[SELESAI KUTIPAN dari Prof. DR. Abdullah bin Gholi,
Abu Rib’ah as-Sihli, Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas Madinah].
KEDUA : KRITIKAN ABDUL AZIZ BIN MARZUQ ATH-THURAIFI
Abdul
Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi
berkata dalam kitab At-Tafsir wa al-Bayan fi Ahkam al-Qur’an 3/1590 ketika
membahas hadits Aisyah:
وَفِي النَّفْسِ
مِنْهُ شَيْءٌ، وَمِثْلُ هَذَا لَوْ كَانَ مَعَهُ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ، لَنُقِلَ بِأَصَحِّ
الْأَسَانِيدِ؛ فَقَوْلُهُ: «مَا جَلَسَ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا
صَلَّى صَلَاةً، إِلَّا خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ» هَذَا تَعْمِيمٌ مُنْكَرٌ، وَلَا
يَسْتَقِيمُ هَذَا التَّعْمِيمُ فِي التَّشْرِيعِ إِلَّا لِمَا صَحَّ سَنَدُهُ بِأَقْوَى
مِنْ هَذَا وَاسْتَفَاضَ وَاشْتَهَرَ مِنْ طُرُقٍ كَثِيرَةٍ، وَقَدْ نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَاةِ وَفِي مَجْلِسِهِ أَذْكَارٌ لَا يُدَاوِمُ عَلَيْهَا جَاءَتْ
بِأَسَانِيدَ أَقْوَى وَطُرُقٍ أَشْهَرَ مِنْ ذَلِكَ؛ فَكَيْفَ بِذِكْرٍ يَقُولُهُ
وَيَلْزَمُهُ بِكُلِّ حَالٍ؟!
وَفِي التِّرْمِذِيِّ؛
مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ؛ قَالَ: «قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُومُ مِنْ
مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ: اللَّهُمَّ، اقْسِمْ
لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ...»، الْحَدِيثَ، وَلَا يَصِحُّ.
وَاسْتَحَبَّ
بَعْضُ الْفُقَهَاءِ قِرَاءَةَ الْفَاتِحَةِ عِنْدَ خَتْمِ الْمَجْلِسِ، وَلَيْسَ لَهُ
أَصْلٌ؛ لَا فِي مَرْفُوعٍ صَحِيحٍ وَلَا مَوْقُوفٍ؛ وَإِنَّمَا الْوَارِدُ فِي ذَلِكَ
خَتْمُهَا بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْعَصْرِ؛ كَمَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي «الزُّهْدِ»،
وَالطَّبَرَانِيُّ، وَالْبَيْهَقِيُّ؛ مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ،
عَنْ أَبِي مَدِينَةَ الدَّارِمِيِّ، قَالَ: «كَانَ الرَّجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ
ﷺ إِذَا الْتَقَيَا، ثُمَّ أَرَادَا أَنْ يَفْتَرِقَا، قَرَأَ أَحَدُهُمَا: {وَالْعَصْرِ
(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ} [الْعَصْرِ: 1–2] حَتَّى يَخْتِمَهَا، ثُمَّ
يُسَلِّمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ».
وَلَا يُعْرَفُ
إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادٍ عَنْ ثَابِتٍ، وَلَا يَظْهَرُ أَنَّهُ عَمَلُ عَامَّتِهِمْ،
وَلَا دَاوَمَ كِبَارُهُمْ عَلَيْهِ، فَمِثْلُهُ يَشْتَهِرُ، وَلَعَلَّهُ يَقَعُ مِنْهُمْ
تَوَاصِيًا بِالْحَقِّ وَتَذْكِيرًا بِحَقِّ اللَّهِ بَيْنَهُمَا، لَا دُعَاءً يَخْتَصُّ
بِالِافْتِرَاقِ وَخَتْمِ الْمَجَالِسِ، وَمِثْلُ هَذَا لَوْ كَانَ سُنَّةً، لَاسْتَفَاضَ
بِهَا الْعَمَلُ، وَتَعَدَّدَتْ بِهَا الطُّرُقُ؛ لِكَثْرَةِ الصَّحَابَةِ، وَكَثْرَةِ
لِقَاءِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِقَاءِ النَّاسِ بِهِمْ مِنَ التَّابِعِينَ.
وَمِثْلُ هَذَا
لَا يَظْهَرُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَفْعَلُهُ، وَلَوْ فَعَلَهُ، فَالْمَقْطُوعُ بِهِ
أَنَّهُ لَا يُدِيمُهُ؛ لِأَنَّ مِثْلَهُ يُنْقَلُ.
“Dalam hati terdapat ganjalan
terhadap hadits ini.
Seandainya
hal seperti ini benar-benar dilakukan (oleh Nabi ﷺ, para sahabat dan para salaf) pada
setiap majelis, tentu ia akan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang paling
sahih.
Ucapannya,
“Tidaklah beliau duduk dalam suatu majelis, tidak pula membaca Al-Qur’an,
dan tidak pula melaksanakan sholat, kecuali beliau menutupnya dengan
kalimat-kalimat ini,” merupakan bentuk pengumuman yang bersifat umum dan
problematik.
Generalisasi
seperti ini dalam penetapan syariat tidak bisa diterima kecuali jika sanadnya
sahih dengan kekuatan yang lebih tinggi daripada ini, serta tersebar luas dan
masyhur melalui banyak jalur.
Telah
diriwayatkan dari Nabi ﷺ berbagai dzikir setelah sholat
dan dzikir dalam majelis yang beliau tidak terus-menerus melakukannya, dengan
sanad yang lebih kuat dan jalur yang lebih terkenal daripada ini. Lalu
bagaimana dengan suatu dzikir yang dikatakan beliau ucapkan dan beliau biasakan
dalam setiap keadaan?
Dalam
Sunan at-Tirmidzi, dari hadits Ibnu Umar, ia berkata:
“Jarang
sekali Rasulullah ﷺ bangkit dari suatu majelis
hingga beliau mendoakan para sahabatnya dengan doa-doa ini: ‘Ya Allah,
karuniakanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu…’” hingga akhir hadits (diriwayatkan
oleh at-Tirmidzi nomor 3502). Namun hadits ini tidak sahih.
Sebagian
fuqaha menganjurkan membaca Al-Fatihah setelah penutupan majelis.
Anjuran
ini tidak memiliki dasar, baik dari hadits marfu‘ yang sahih maupun dari atsar
mauquf.
Yang
diriwayatkan dalam hal ini hanyalah penutupan majelis dengan membaca surat
Al-‘Asr, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Az-Zuhd,
ath-Thabrani, dan al-Baihaqi, dari hadits Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari
Abu Madinah ad-Darimi, ia berkata:
“Dua
orang dari sahabat Muhammad ﷺ apabila bertemu, kemudian
hendak berpisah, maka salah satu dari keduanya membaca surat Al-‘Ashr sampai selesai, kemudian masing-masing dari keduanya mengucapkan salam
kepada temannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Az-Zuhd nomor 402,
ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam al-Awsath nomor 5124, dan al-Baihaqi dalam Syu‘ab
al-Iman nomor 8639).
Riwayat
ini tidak dikenal kecuali melalui hadits Hammad dari Tsabit.
Tidak
tampak bahwa hal tersebut merupakan amalan mayoritas sahabat, dan para sahabat
senior pun tidak terus-menerus melakukannya. Seandainya demikian, tentu hal itu
akan masyhur.
Kemungkinan
hal itu dilakukan sebagai saling menasihati dalam kebenaran dan mengingatkan
akan hak Allah di antara mereka, bukan sebagai doa khusus ketika berpisah dan
menutup majelis. Seandainya hal seperti ini merupakan sunnah, tentu praktiknya
akan tersebar luas dan jalur periwayatannya akan banyak, mengingat banyaknya
jumlah sahabat, seringnya mereka saling bertemu, dan seringnya manusia dari kalangan
tabi‘in bertemu dengan mereka.
Hal
seperti ini tidak tampak bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. Dan seandainya beliau melakukannya, dapat dipastikan
beliau tidak terus-menerus melakukannya, karena amalan semacam ini pasti akan
diriwayatkan (oleh para sahabat)”. [Kutipan Selesai]
===
KESIMPULAN :
Hadits kafaratul majelis (“Subhanaka Allahumma
wa bihamdika, la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”) yang
diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha dengan tambahan lafaz “tidaklah
ia membaca Al-Qur’an dan tidak pula melaksanakan sholat kecuali ia menutupnya
dengan itu” dinilai sebagai hadits yang sahih pada asalnya, yaitu
sebagai kafaratul majelis secara umum. Namun, tambahan yang berkaitan dengan
penutupan bacaan Al-Qur’an dan sholat dengannya tidak dianggap sebagai sunnah
yang bersifat rutin karena adanya tambahan dalam riwayat tersebut.
Sisi kelemahan pada tambahan
lafaz setelah membaca dan sholat adalah sebagai berikut:
Tambahan dalam riwayat: Hadits Aisyah radhiyallahu
'anha yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, ath-Thabrani, dan al-Hakim menyebutkan
bahwa beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seringnya beliau mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.
Nabi ﷺ menjawab,
نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا كُنَّ طَابِعًا
لَهُ... وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ كَفَّارَةً لَهُ
“Ya, barang
siapa mengucapkan kebaikan, maka kalimat itu menjadi penutup baginya, dan
barang siapa mengucapkan keburukan, maka kalimat itu menjadi penghapus
baginya.”
Adapun hadits yang masyhur hanyalah berkaitan dengan
kafaratul majelis saja.
Bukan sunnah yang bersifat rutin: Meskipun lafaz dzikir tersebut sahih pada dirinya, namun para ulama hadits berpendapat bahwa pengkhususan penutup dengannya setelah setiap bacaan Al-Qur’an atau setiap sholat tidak ditetapkan sebagai sunnah yang bersifat tetap atau terus-menerus dari Nabi ﷺ. Yang benar, dzikir tersebut berfungsi sebagai kafarat atas hal-hal sia-sia yang mungkin terjadi dalam majelis-majelis umum.
===***===
PEMBAHASAN KELIMA:
HADITS RIWAYAT PARA
SAHABAT SELAIN AISYAH
TANPA ADA LAFADZ “SETELAH
BACA AL-QUR’AN”
****
KLASIFIKASI PERTAMA:
HADITS DO’A KAFARAT
MAJLIS YANG DI DALAMNYA
TERDAPAT LAGHOT DAN
LAHWU
Makna penting kata laghoth
dan lahwu:
Dalam bahasa dan penggunaan
umum:
اللَّغَطُ
يَعْنِي اخْتِلَاطَ الأَصْوَاتِ، وَالْجَلَبَةَ، وَالضَّجِيجَ، أَوِ ارْتِفَاعَ أَصْوَاتِ
النَّاسِ وَاخْتِلَاطَهَا بِحَيْثُ لَا تُفْهَمُ.
يُشِيرُ
الْمُصْطَلَحُ أَيْضًا إِلَى الصَّوْتِ غَيْرِ الْمَفْهُومِ، وَكَثْرَةِ الْكَلَامِ
الَّذِي لَا فَائِدَةَ مِنْهُ، وَقَدْ يَأْتِي بِمَعْنَى أَصْوَاتِ الْحَيَوَانَاتِ
الْمُخْتَلِطَةِ.
“Kata laghoth berarti
bercampurnya suara-suara, hiruk-pikuk, kegaduhan, atau meningginya suara
manusia yang saling bercampur sehingga tidak dapat dipahami.
Istilah ini juga digunakan
untuk menunjukkan suara yang tidak jelas, banyaknya perkataan yang tidak ada
manfaatnya, dan terkadang digunakan dengan makna bercampurnya suara hewan”.
Makna al-Lahwu:
اللَّهْوُ
هُوَ كُلُّ مَا يَشْغَلُ الْإِنْسَانَ وَيُلْهِيهِ عَمَّا يَعْنِيهِ وَيُهِمُّهُ مِنْ
شُؤُونِ الْجِدِّ، وَيَتَضَمَّنُ التَّرْوِيحَ عَنِ النَّفْسِ بِمَا لَا تَقْتَضِيهِ
الْحِكْمَةُ.
يَشْمَلُ
اللَّهْوُ اللَّعِبَ، وَالطَّرَبَ، وَالْعَبَثَ، أَوْ أَيَّ شَوَاغِلَ تَصْرِفُ الْمَرْءَ
عَنِ الْحَقِّ، وَقَدْ يَأْتِي بِمَعْنَى السُّخْرِيَةِ أَوِ الْغَفْلَةِ.
هُوَ
تَمَايُلٌ وَتَلَذُّذٌ بِشَيْءٍ دُونَ النَّظَرِ لِنَتِيجَتِهِ.
Al-Lahwu adalah segala
sesuatu yang menyibukkan seseorang dan melalaikannya dari perkara-perkara
serius yang menjadi perhatian dan kepentingannya, serta mencakup hiburan diri
dengan sesuatu yang tidak dituntut oleh kebijaksanaan.
Al-Lahwu meliputi permainan,
kesenangan, perbuatan sia-sia, atau segala hal yang memalingkan seseorang dari
kebenaran, dan terkadang digunakan dengan makna olok-olok atau kelalaian.
Ia adalah sikap condong dan
menikmati sesuatu tanpa memperhatikan akibatnya”.
====
PERTAMA:
DARI HADITS ABU
HURAIRAH RADHIYALLAHU 'ANHU:
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ
جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ
مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ:
«سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ»، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ".
“Barang siapa duduk dalam suatu majelis
lalu banyak terjadi perkataan sia-sia di dalamnya, kemudian sebelum ia bangkit
dari majelis tersebut ia mengucapkan:
Maha Suci Engkau ya
Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu,
niscaya diampuni baginya apa yang terjadi dalam majelis tersebut.”
Abu Isa at-Tirmidzi berkata:
"وَفِي
البَابِ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ، وَعَائِشَةَ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ
مِنْ هَذَا الوَجْهِ، لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ سُهَيْلٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ»".
“Dalam bab ini juga
diriwayatkan dari Abu Barzah dan Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits ini hasan
sahih, gharib dari jalur ini, kami tidak mengetahuinya dari hadits Suhail
kecuali dari jalur ini.”
Takhrij:
Hadits ini diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi nomor 3433 dengan lafaz darinya, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra
nomor 10230, Ahmad nomor 10415, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/536 dengan
sedikit perbedaan lafaz.
Hadits ini dishahihkan oleh
al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi nomor 3433.
Namun Al-Hafidz Ibnu
Katsir berkata dalam Tafsir-nya 7/440 [tahqiq Sami as-Salamah
cetakan Dar Thayyibah]:
“Hadits ini diriwayatkan
oleh at-Tirmidzi dan inilah lafaznya, dan juga oleh an-Nasa’i dalam al-Yaum wa
al-Lailah, dari hadits Ibnu Juraij. At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits hasan
sahih’. Al-Hakim juga mengeluarkannya dalam al-Mustadrak dan berkata:
إِسْنَادٌ
عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، إِلَّا أَنَّ الْبُخَارِيَّ عَلَّلَهُ
‘Sanadnya sesuai
syarat Muslim, namun al-Bukhari menganggapnya memiliki cacat’.
Lalu Ibnu Katsir
berkata :
“Hadits ini dinilai memiliki
cacat oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah,
ad-Daraquthni, dan selain mereka. Mereka menisbatkan kekeliruan dalam hadits
ini kepada Ibnu Juraij. Akan tetapi Abu Dawud telah meriwayatkannya dalam
Sunan-nya melalui jalur selain Ibnu Juraij sampai kepada Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ dengan
lafadz yang semisal.
Abu Dawud meriwayatkannya
nomor 4858 dengan lafaz darinya, an-Nasa’i, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak,
melalui jalur al-Hajjaj bin Dinar, dari Hasyim, dari Abu al-‘Aliyah, dari Abu
Barzah al-Aslami, ia berkata:
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ بِأُخْرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ:
"سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ". فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ
لَتَقُولُ قَوْلًا مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى؟! قَالَ: "كَفَّارَةٌ لِمَا
يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ"
Rasulullah ﷺ biasa mengucapkannya di akhir majelis
ketika beliau hendak bangkit dari majelis: “Maha Suci Engkau ya Allah dan
dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”
Maka seorang lelaki berkata:
Wahai Rasulullah ﷺ,
sesungguhnya engkau mengucapkan suatu ucapan yang sebelumnya tidak pernah
engkau ucapkan.
Beliau bersabda: “Itu adalah
penebus bagi apa yang terjadi dalam majelis.”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud
nomor 4859, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra nomor 10259, dan al-Mustadrak
1/537].
Hadits ini juga diriwayatkan
secara mursal dari Abu al-‘Aliyah, wallahu a’lam.
Demikian pula diriwayatkan
oleh an-Nasa’i dan al-Hakim dari hadits ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu al-‘Aliyah,
dari Rafi’ bin Khadij, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang sama persis. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i
dalam as-Sunan al-Kubra nomor 10260 dan al-Mustadrak 1/537.
Hadits ini juga diriwayatkan
secara mursal, wallahu a’lam.
Demikian pula Abu Dawud
meriwayatkannya dari Abdullah bin Amr, bahwa ia berkata:
كَلِمَاتُ
لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،
إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ، وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ
ذِكْرٍ، إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ"
“Ada beberapa kalimat yang
tidaklah seseorang mengucapkannya dalam majelisnya ketika ia bangkit sebanyak
tiga kali, melainkan dengannya dihapus dosa-dosanya.
Dan tidaklah ia
mengucapkannya dalam majelis kebaikan dan majelis dzikir melainkan dengannya
ditutup baginya sebagaimana sebuah lembaran ditutup dengan cincin, yaitu
ucapan:
Maha Suci Engkau ya Allah
dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau,
aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud
nomor 4857].
Al-Hakim juga
mengeluarkannya dari hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha dan ia
menshahihkannya, serta dari riwayat Jubair bin Mut’im. Al-Mustadrak 1/537.
Abu Bakr al-Ismaili
meriwayatkannya dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab, semuanya dari Nabi ﷺ. Aku telah menyusun secara khusus sebuah
risalah tersendiri tentang hal ini dengan menyebutkan seluruh jalurnya,
lafaz-lafaznya, cacat-cacatnya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Segala
puji dan karunia hanyalah milik Allah”. [Selesai Kutipan dari Ibnu Katsir].
===
KEDUA:
HADITS JUBAIR BIN
MUTH’IM RADHIYALLAHU 'ANHU:
Dari Jubair bin Muth’im, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ
قَالَ: «سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»، فَقَالَهَا فِي
مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَ الطَّابَعُ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ
لَغْوٍ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ".
“Barang siapa mengucapkan:
Maha Suci Allah dan
dengan memuji-Nya, Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon
ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu,
Lalu ia mengucapkannya
dalam majelis dzikir, maka ucapan itu menjadi stampel yang dicapkan
atasnya. Dan barang siapa mengucapkannya dalam majelis yang sarat dengan
perkataan sia-sia, maka ia menjadi penebus baginya”.
Takhrij Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh
Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah nomor 1459 dengan lafaz darinya,
an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra nomor 10257, ath-Thabrani 2/138 no. 1586, dan
al-Hakim 1/720 dengan sedikit perbedaan lafaz.
Status Sanad Hadits:
Al-Haitsami berkata dalam
Majma‘ az-Zawa’id 10/142 no. 17165:
"رَوَاهُ
الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ".
“Hadits ini diriwayatkan
oleh ath-Thabrani, dan para perawinya adalah perawi-perawi kitab Shahih”.
Al-Hakim berkata: “Hadits ini
sahih sesuai syarat Muslim”.
Demikian pula ad-Dimyathi
berkata dalam al-Matjar ar-Rabih nomor 234: “Sahih sesuai syarat Muslim”.
Riwayat lain:
Dari Jubair bin Muth‘im,
dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda:
"كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ أَنْ لَا يَقُومَ
حَتَّى يَقُولَ:
«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ، تُبْ عَلَيَّ وَاغْفِرْ لِي»، يَقُولُهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،
فَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ لَغَطٍ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ،
وَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ ذِكْرٍ كَانَ طَابَعًا عَلَيْهِ ".
“Kafarat majelis adalah
seseorang tidak beranjak sampai ia mengucapkan:
‘Ya Allah,
Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Engkau. Terimalah tobatku dan ampunilah aku,’
ia mengucapkannya
tiga kali.
Jika majelis tersebut adalah
majelis yang banyak kelalaian dan kegaduhan, maka bacaan itu menjadi
kafarat baginya. Dan jika majelis tersebut adalah majelis dzikir, maka bacaan
itu menjadi penutup dan penguat baginya.”
Al-Haitsami berkata dalam
al-Majma‘ (10/141) nomor 17164:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ الْعُمَرِيُّ،
وَهُوَ ضَعِيفٌ.
Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat Khalid bin Yazid al-‘Umari, dan ia
adalah perawi yang lemah.
===
KETIGA:
DARI HADITS
ABU BARZAH AL-ASLAMI RADHIYALLAHU 'ANHU
Dari Abu Barzah al-Aslami,
ia berkata:
لَمَّا
كَانَ بِأَخَرَةٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا جَلَسَ فِي الْمَجْلِسِ فَأَرَادَ
أَنْ يَقُومَ قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكُ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
قَالُوا:
"يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتَقُولُ كَلَامًا مَا كُنْتَ تَقُولُهَا فِيمَا
خَلَا".
فَقَالَ:
«هَذَا كَفَّارَةُ مَا يَكُونُ فِي الْمَجَالِسِ»
Pada masa-masa akhir
hayatnya, Rasulullah ﷺ apabila
duduk dalam suatu majelis lalu ketika hendak bangkit, beliau mengucapkan:
“Maha Suci Engkau ya
Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu”.
Mereka berkata: “Wahai
Rasulullah ﷺ, sungguh
engkau mengucapkan suatu ucapan yang sebelumnya tidak pernah engkau ucapkan”.
Maka beliau ﷺ bersabda: “Ini adalah penebus atas apa
yang terjadi dalam majelis-majelis”.
Takhrij Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh
Abu Dawud (4859), Ahmad (19769) dan ar-Ruyani dalam al-Musnad 2 /335 no. 1309
dengan sanadnya : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ash-Shabbah,
telah menceritakan kepada kami Ya‘la, telah menceritakan kepada kami al-Hajjaj
bin Dinar, dari Abu Hasyim, dari Rufai‘ Abu al-‘Aliyah, dari Abu Barzah
al-Aslami, ia berkata: .....
Dan Hadits ini diriwayatkan
juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 6/41 no. 29325 [tahqiq al-Hut].
Dan oleh Abu Ya’la dalam al-Musnad 13/421 no. 7436 melalui jalur Ibnu Abi
Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Abduh bin Sulaiman, dari Hajjaj bin
Dinar, dari Abu Hasyim, dari Abu al-‘Aliyah, dari Abu Barzah al-Aslami ....
Status Sanad Hadits
:
Husain Salim Asad, pentahqiq
Musnad Abu Ya’la, berkata: “Sanadnya sahih”.
Namun Ibnu al-Qoyyim Tahdzib
as-Sunan 13/204 berkata: “Sanadnya Hasan”.
===
KEEMPAT :
HADITS
ANAS BIN MALIK RADHIYALLAHU ‘ANHU
Al-Bazzar meriwayatkannya
dalam al-Bahr az-Zakhar 13/338 nomor 6961. Ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Umar bin Musa as-Sami, telah menceritakan kepada kami Utsman bin
Mathar, dari Tsabit, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ أَنْ تَقُولَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
“Penebus majelis adalah engkau mengucapkan:
Subhanaka Allahumma
wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaika.
Artinya : Mahasuci Engkau,
ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat
kepada-Mu”. [Sls]
Lalu al-Bazzar berkata:
وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا نَعْلَمُهُ يُروَى عَن أَنَس إلَاّ
مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وعُثمَان بْنُ مَطَرٍ لَيِّنُ الْحَدِيثِ وَقَدْ رَوَى عَنْهُ
مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ
“Hadits ini tidak kami
ketahui diriwayatkan dari Anas kecuali melalui jalur ini. Utsman bin Mathar
adalah perawi yang lemah dalam hadis, namun Imam Muslim dan selainnya pernah
meriwayatkan darinya”.
Al-Haitsami berkata dalam
*al-Majma’* nomor 17160:
رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ،
وَفِيهِ عُثْمَانُ بْنُ مَطَرٍ، وَهُوَ ضَعِيفٌ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dan
ath-Thabrani dalam *al-Awsath*. Di dalam sanadnya terdapat Utsman bin Mathar,
dan ia adalah perawi yang lemah”.
===
KELIMA :
HADITS
ABDULLAH BIN ‘AMR radhiyallahu ‘anhu
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
“Kafarat majelis adalah dengan
mengucapkan: Ya Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon
ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ nomor 17166:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ جَامِعٍ
الْعَطَّارُ، وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ
رِجَالُ الصَّحِيحِ.
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat Muhammad
bin Jami’ al-‘Aththar; ia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban, namun dilemahkan
oleh sejumlah ulama. Adapun perawi-perawi lainnya adalah perawi-perawi yang
terdapat dalam kitab Shahih.
===
KEENAM : HADITS UMMU
SALAMAH radhiyallahu ‘anha:
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ يُكْثِرُ
أَنْ يَقُولَ: " سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرَاكَ تُكْثِرُ أَنْ تَقُولَ:
" سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
". فَقَالَ: " إِنِّي أُمِرْتُ بِأَمْرٍ ". فَقَرَأَ: {إِذَا جَاءَ
نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1]».
Rasulullah ﷺ sebelum wafatnya sering
memperbanyak ucapan:
" سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "
“Ya
Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan
aku bertobat kepada-Mu.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, aku
melihat engkau sering memperbanyak ucapan: ‘Ya Allah, Mahasuci Engkau dan
segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.’”
Maka beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku
diperintahkan dengan suatu perkara.” Lalu beliau membaca: “Apabila telah
datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (Surah an-Nashr ayat 1)
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (9/23) nomor 14243:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ
الصَّحِيحِ
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir,
dan para perawinya adalah perawi-perawi yang terdapat dalam kitab Shahih.
===
KE TUJUH : HADITS
ROFI’ BIN KHODIJ radhiyallahu ‘anhu
Dari Rafi’ bin Khadij, ia berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى
يَقُولَ: " سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ".
ثُمَّ يَقُولُ: " إِنَّهَا كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ
فِي الْمَجْلِسِ» ".
Rasulullah ﷺ tidak pernah bangkit dari
suatu majelis hingga beliau mengucapkan:
“Ya Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun
kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”
Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya doa ini adalah penebus bagi apa
yang terjadi di dalam majelis.”
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (10/141) nomor 17161:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani dalam tiga kitabnya, dan para perawinya adalah orang-orang yang tsiqah”.
===
KEDELAPAN: HADITS ISMAIL BIN ABDULLLAH
DAN AS-SA’IB BIN YAZID
Dari Yazid bin al-Had, dari Ismail bin Abdullah bin Ja’far, ia berkata:
Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: " مَا مِنْ
إِنْسَانٍ يَكُونُ فِي مَجْلِسٍ فَيَقُولُ حِينَ يُرِيدُ أَنْ يَقُومَ: سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ،
إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ» ".
فَحَدَّثْتُ هَذَا الْحَدِيثَ يَزِيدَ بْنَ خُصَيْفَةَ فَقَالَ:
هَكَذَا حَدَّثَنِي السَّائِبُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - ﷺ -.
“Tidaklah
seseorang berada dalam suatu majelis, lalu ketika ia hendak bangkit ia
mengucapkan: ‘Ya Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan
aku bertobat kepada-Mu,’ melainkan diampuni baginya apa yang terjadi dalam
majelis tersebut.”
Ismail berkata: Aku menyampaikan hadits ini kepada Yazid bin Khushaifah,
lalu ia berkata: Demikianlah as-Sa’ib bin Yazid menceritakannya kepadaku, dari
Rasulullah ﷺ.
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (10/141) nomor 17159:
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُمَا رِجَالُ
الصَّحِيحِ.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani, dan para perawi
keduanya adalah perawi-perawi Shahih.
===
KESEMBILAN: HADITS
IBNU MAS’UD
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
" «كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ بَعْدَ
أَنْ يَقُومَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ» ".
“Kafarat
majelis adalah apabila seorang hamba, setelah ia bangkit, mengucapkan: ‘Ya
Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Tidak ada sesembahan yang
berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat
kepada-Mu.’”
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (10/141) nomor 17162:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَالْكَبِيرِ، وَلَيْسَ
فِي الْكَبِيرِ: " بَعْدَ أَنْ يَقُومَ ". وَفِيهِمَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ،
وَقَدِ اخْتَلَطَ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Kabir. Dalam riwayat al-Kabir tidak
terdapat lafaz “setelah ia bangkit”.
Dalam kedua riwayat tersebut terdapat ‘Atha bin as-Sa’ib, dan ia telah
mengalami ikhtilath”.
===
KESEPULUH: HADITS
ZUBAIR BIN AWAM radhiyallahu ‘anhu:
Dari az-Zubair bin al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata:
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا إِذَا قُمْنَا مِنْ
عِنْدِكَ أَخَذْنَا فِي أَحَادِيثِ الْجَاهِلِيَّةِ،
فَقَالَ: " إِذَا جَلَسْتُمْ تِلْكَ الْمَجَالِسَ الَّتِي
تَخَافُونَ فِيهَا (عَلَى أَنْفُسِكُمْ) فَقُولُوا عِنْدَ مُقَامِكُمْ:
«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، نَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوبُ إِلَيْكَ»،
يُكَفِّرْ عَنْكُمْ مَا أَصَبْتُمْ فِيهَا".
Kami berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ,
sesungguhnya apabila kami beranjak dari sisimu, kami terlibat dalam
pembicaraan-pembicaraan jahiliah.”
Maka beliau bersabda,
“Apabila
kalian duduk di majelis-majelis seperti itu yang kalian khawatirkan (atas diri
kalian), maka ucapkanlah ketika hendak berdiri:
‘Ya
Allah, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Kami bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Kami memohon ampun kepada-Mu dan
kami bertobat kepada-Mu.’
Niscaya hal itu menghapus bagi kalian apa yang telah terjadi di
dalamnya.”
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (10/141) nomor 17163:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْأَوْسَطِ، وَفِيهِ
مَنْ لَمْ أَعْرِفْهُ.
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Shaghir dan
al-Ausath. Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang tidak aku kenal.
KESEBELAS : HADITS
SEORANG SAHABAT:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Musnad 2/420 nomor 954:
Telah menceritakan kepada
kami Abu al-Ahwash, dari Abu Farwah, dari Abu Ma‘syar, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami seorang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, dari Rasulullah ﷺ:
أَنَّهُ
ﷺ جَلَسَ مَجْلِسًا، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ» قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: مَا هَذَا الْحَدِيثُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: «كَلِمَاتٌ عَلَّمَنِيهِنَّ جِبْرِيلُ كَفَّارَاتٌ لِخَطَايَا الْمَجْلِسِ»
“Bahwa beliau ﷺ duduk dalam suatu majelis. Ketika beliau
hendak berdiri, beliau mengucapkan:
Subhanaka Allahumma
wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika.
Ia berkata: Lalu seorang
lelaki dari kaum tersebut berkata: Wahai Rasulullah, apakah hadits ini?
Beliau ﷺ bersabda: “Ini adalah kalimat-kalimat
yang Jibril ajarkan kepadaku sebagai penebus kesalahan-kesalahan yang terjadi
dalam majelis”.
KEDUA BELAS : HADITS
ABU AL-‘ALIYAH
Ibnu Abi Syaibah berkata
dalam al-Mushannaf 6/41 nomor 29327:
Telah menceritakan kepada
kami Jarir, dari Manshur, dari Fudhail bin ‘Amr, dari Ziyad bin al-Hushain, ia
berkata:
دَخَلْتُ
عَلَى أَبِي الْعَالِيَةِ، فَلَمَّا أَرَدْتُ أَنْ أَخْرُجَ مِنْ عِنْدِهِ، قَالَ:
أَلَا أُزَوِّدُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَهُنَّ جِبْرِيلُ مُحَمَّدًا ﷺ؟، قَالَ: قُلْتُ:
بَلَى، قَالَ: فَإِنَّهُ لَمَّا كَانَ بِآخِرَةٍ كَانَ إِذَا قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ،
قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ
الَّتِي تَقُولُهُنَّ، قَالَ: «هُنَّ كَلِمَاتٌ عَلَّمَنِيهِنَّ جِبْرِيلُ كَفَّارَاتٌ
لِمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ»
Aku masuk menemui Abu al-‘Aliyah.
Ketika aku hendak keluar dari sisinya, ia berkata: Maukah aku membekalimu
dengan kalimat-kalimat yang Jibril ajarkan kepada Muhammad ﷺ?
Aku berkata: Tentu.
Ia berkata: Sesungguhnya
pada akhir hayatnya, apabila Rasulullah ﷺ berdiri dari majelisnya, beliau mengucapkan:
“Subhanaka Allahumma
wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”.
Lalu dikatakan: Wahai
Rasulullah, apakah kalimat-kalimat yang engkau ucapkan ini?
Beliau ﷺ bersabda: “Itu adalah kalimat-kalimat
yang Jibril ajarkan kepadaku sebagai penebus atas apa yang terjadi dalam
majelis”.
===
KETIGA BELAS : ATSAR
IBNU UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHUMA
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushannaf 6/41 nomor 29326 (tahqiq al-Hut), ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
"
مَنْ قَالَ حِينَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"، قَالَ: «كَفَى اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ ذَنْبٍ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ»
Barang siapa mengucapkan
ketika ia berdiri dari majelisnya: Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an
la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika, maka Allah mencukupinya dari
setiap dosa yang terjadi dalam majelis tersebut.
===
KEEMPAT BELAS :
ATSAR YAHYA BIN JA’DAH rahimahullah
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushannaf no. 29330 (tahqiq al-Hut), ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Waki‘, dari Sufyan, dari Yahya bin Ja‘dah, ia berkata:
«كَفَّارَةُ
الْمَجْلِسِ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
Kaffaratul majelis adalah: “Subhanaka
wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaika”.
====
KELIMA BELAS : ATSAR
ABU AL-AHWASH rahimahullah
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushannaf no. 29328 (tahqiq al-Hut), ia berkata:
Telah menceritakan kepada
kami Waki‘, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abu al-Ahwash:
فِي
قَوْلِهِ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ} [الطور: 48]، قَالَ: "
إِذَا قُمْتَ، فَقُلْ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ "
Tentang firman-Nya: Dan
bertasbihlah dengan memuji Rabbmu ketika engkau berdiri [QS. Ath-Thur: 48],
ia berkata: “Apabila engkau berdiri, maka ucapkanlah: Subhanallah wa
bihamdih”.
===
KEENAM BELAS : ATSAR
UBAID BIN DINAR rahimahullah
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushannaf no. 29329 (tahqiq al-Hut), ia berkata:
Telah menceritakan kepada
kami Yazid bin Harun, dari Muhammad bin Muslim, dari ‘Amr bin Dinar, dari
‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata:
كُنَّا
نَعُدُّ الْأَوَّابَ الْحَفِيظَ إِذَا قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ، قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِي مَا أَصَبْتُ فِي مَجْلِسِي هَذَا "
“Kami biasa menghitung bahwa
orang yang banyak kembali kepada Allah dan menjaga diri, apabila ia berdiri
dari majelisnya, ia mengucapkan: “Allahumma ighfir li ma ashabtu fi majlisi
hadza”.
SYARAH DAN FIQIH HADITS KAFARAT MAJLIS
Syaikh Alawi bin Abdul Qadir
as-Saqqaf berkata dalam ad-Durar as-Saniyyah:
كَثِيرًا
مَا يَحْدُثُ فِي الْمَجَالِسِ كَلَامٌ لَيْسَ لَهُ كَبِيرُ فَائِدَةٍ أَوْ نَفْعٍ،
بَلْ يَكُونُ لَغْوًا، وَرُبَّمَا يَكُونُ فِيهِ إِثْمٌ وَمَعْصِيَةٌ، وَفِي هٰذَا
الْحَدِيثِ يُرْشِدُنَا النَّبِيُّ ﷺ إِلَى دُعَاءٍ يَقُولُهُ الْمُسْلِمُ عِنْدَمَا
يَقُومُ مِنْ مَجْلِسِهِ، يَكُونُ كَفَّارَةً لِمَا أَحْدَثَهُ فِي مَجْلِسِهِ مِنْ
إِثْمٍ وَذَنْبٍ، فَيَقُولُ ﷺ:
«مَنْ
جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ»، أَيْ: مَا اجْتَمَعَ أَحَدٌ فِي مَجْلِسٍ مِنَ الْمَجَالِسِ،
«فَكَثُرَ
فِيهِ لَغَطُهُ»، أَيْ: وَاللَّغَطُ هُوَ الصَّوْتُ الْمُرْتَفِعُ الَّذِي يَكُونُ
فِيهِ ضَجَّةٌ، وَالْمَعْنَى: أَنَّهُ يُكْثِرُ الْكَلَامَ الَّذِي لَا فَائِدَةَ فِيهِ
وَلَا نَفْعَ،
«فَقَالَ
قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذٰلِكَ»، أَيْ: قَالَ قَبْلَ أَنْ يُغَادِرَ مَجْلِسَهُ
ذٰلِكَ هٰذَا الدُّعَاءَ وَالذِّكْرَ:
«سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ»، أَيْ: أُنَزِّهُكَ تَنْزِيهًا عَنْ كُلِّ نَقْصٍ وَعَيْبٍ،
وَيَكُونُ مَقْرُونًا بِحَمْدِكَ كَمَا أَمَرْتَ،
«أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ»، أَيْ: أُقِرُّ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الْوَاحِدُ
الْأَحَدُ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ،
«أَسْتَغْفِرُكَ»،
أَيْ: أَطْلُبُ مِنْكَ مَغْفِرَةَ ذَنْبِي وَأَتُوبُ إِلَيْكَ مِمَّا وَقَعَ مِنِّي
فِي مَجْلِسِي هٰذَا مِنْ مَعْصِيَةٍ وَذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ هٰذَا الدُّعَاءَ
بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ،
«إِلَّا
غُفِرَ لَهُ»، أَيْ: عَفَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَحَا
«مَا
كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذٰلِكَ»، أَيْ: مِنْ مَعْصِيَةٍ وَإِثْمٍ.
وَفِي
الْحَدِيثِ: فَضْلُ هٰذَا الذِّكْرِ وَبَيَانُ أَنَّهُ كَفَّارَةٌ لِلَّغَطِ الَّذِي
يَكُونُ فِي الْمَجَالِسِ.
Sering kali terjadi dalam
majelis-majelis pembicaraan yang tidak memiliki banyak faedah atau manfaat,
bahkan berupa perkataan sia-sia, dan terkadang mengandung dosa serta maksiat.
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ memberi
petunjuk kepada kita tentang doa yang diucapkan oleh seorang muslim ketika ia
berdiri dari majelisnya, yang menjadi penebus atas apa yang ia lakukan dalam
majelisnya berupa dosa dan kesalahan. Maka beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa duduk
dalam suatu majelis”, yakni setiap orang yang berkumpul dalam suatu majelis dari
berbagai majelis,
“Lalu banyak terjadi di
dalamnya laghat”, yaitu suara keras yang disertai kegaduhan. Maksudnya, ia
banyak berbicara dengan perkataan yang tidak memiliki faedah dan manfaat.
“Lalu ia mengucapkannya
sebelum berdiri dari majelis tersebut”, yakni sebelum meninggalkan
majelisnya, doa dan dzikir ini:
“Subhanaka Allahumma wa
bihamdika”, yakni aku menyucikan-Mu dengan penyucian dari segala kekurangan
dan cacat, dan disertai dengan memuji-Mu sebagaimana yang Engkau perintahkan.
“Asyhadu an la ilaha illa
anta”, yaitu aku mengakui bahwa Engkau adalah Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Tunggal, yang berhak disembah.
“Astaghfiruka”, yaitu
aku memohon kepada-Mu ampunan atas dosaku dan aku bertobat kepada-Mu
“dari apa yang terjadi
dariku dalam majelisku ini”, yakni berupa maksiat dan dosa. Maka
sesungguhnya apabila ia mengucapkan doa ini dengan jujur dan ikhlas,
“Niscaya akan diampuni
baginya”, yakni Allah memaafkan dan menghapus apa yang ada dalam majelis
tersebut berupa maksiat dan dosa.
Dalam hadits ini : terdapat
keutamaan dzikir ini dan penjelasan bahwa ia merupakan penebus atas perkataan
sia-sia yang terjadi dalam majelis-majelis” [Selesai].
Ibnu Rajab rahimahullah
berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ يَخْتِمُ مَجَالِسَهُ بِكَفَّارَةِ الْمَجْلِسِ، وَأَمَرَ أَنْ تُخْتَمَ
الْمَجَالِسُ بِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْمَجْلِسُ لَغْوًا كَانَتْ كَفَّارَةً
لَهُ، وَرُوِيَ ذٰلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ. انتهى
“Nabi ﷺ biasa menutup majelis-majelis beliau
dengan kafaratul majelis, dan beliau memerintahkan agar majelis-majelis ditutup
dengannya. Beliau juga mengabarkan bahwa apabila majelis itu berisi perkataan
sia-sia, maka dzikir tersebut menjadi penebusnya. Hal ini diriwayatkan dari
sejumlah sahabat’. [Selesai, dinukil dari Fathul Bari (3/345)].
Dan Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ta'ala
berkata:
مِنْ آدَابِ الْمَجَالِسِ: أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا جَلَسَ
مَجْلِسًا فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَإِنَّهُ يُكَفِّرُهُ أَنْ يَقُولَ: (سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ) قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ، فَإِذَا قَالَ ذٰلِكَ فَإِنَّ
هٰذَا يَمْحُو مَا كَانَ مِنْهُ مِنْ لَغَطٍ، وَعَلَيْهِ: فَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُخْتَمَ
الْمَجْلِسُ الَّذِي كَثُرَ فِيهِ اللَّغَطُ بِهٰذَا الدُّعَاءِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
“Termasuk adab-adab majelis adalah bahwa seseorang apabila duduk dalam
suatu majelis lalu banyak terjadi lisan yang sia-sia di dalamnya, maka
penebusnya adalah dengan mengucapkan sebelum ia berdiri dari majelisnya:
‘Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan
aku bertaubat kepada-Mu.’ Apabila ia mengucapkan hal itu, maka bacaan tersebut
menghapus apa yang terjadi darinya berupa ucapan sia-sia. Oleh karena itu,
dianjurkan untuk menutup majelis yang banyak terjadi ucapan sia-sia di dalamnya
dengan doa ini: Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon
ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.”
Hingga beliau berkata:
وَقَلَّمَا يَجْلِسُ الْإِنْسَانُ مَجْلِسًا إِلَّا وَيَحْصُلُ
لَهُ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ اللَّغَطِ أَوْ مِنَ اللَّغْوِ أَوْ مِنْ ضَيَاعِ الْوَقْتِ،
فَيَحْسُنُ أَنْ يَقُولَ ذٰلِكَ كُلَّمَا قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ؛ حَتَّى يَكُونَ كَفَّارَةً
لِلْمَجْلِسِ. انتهى
“Hampir tidak ada seseorang yang duduk dalam suatu majelis kecuali pasti
terjadi di dalamnya sesuatu berupa ucapan sia-sia, perbuatan yang tidak
berguna, atau penyia-nyiaan waktu. Maka baik baginya untuk mengucapkan doa
tersebut setiap kali ia berdiri dari majelisnya, agar hal itu menjadi penebus
bagi majelis tersebut.”
[Selesai dari “Syarh Riyadh ash-Shalihin” (4/ 358–360)].
Al-Qari rahimahullah
berkata:
" أَيْ: مَا جَلَسَ شَخْصٌ مَجْلِسًا (فَكَثُرَ
فِيهِ لَغَطُهُ) أَيْ: تَكَلَّمَ بِمَا فِيهِ إِثْمٌ، وَقِيلَ: لَا فَائِدَةَ فِيهِ،
وَقَالَ الطِّيبِيُّ: اللَّغَطُ : الْمُرَادُ بِهِ الْهُزْءُ مِنَ الْقَوْلِ وَمَا
لَا طَائِلَ تَحْتَهُ (فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ)
أَيْ: أُسَبِّحُ وَأَحْمَدُ، أَوْ أُسَبِّحُ حَامِدًا لَكَ (أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ) إِقْرَارٌ بِالتَّوْحِيدِ فِي الْأُلُوهِيَّةِ (أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ) اعْتِرَافٌ بِالتَّقْصِيرِ فِي الْعُبُودِيَّةِ (إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا
كَانَ) أَيْ: مِنَ اللَّغَطِ (فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ) " انتهى
“Maksudnya, tidaklah
seseorang duduk dalam suatu majelis lalu banyak terjadi di dalamnya laghat,
yaitu ia berbicara dengan perkataan yang mengandung dosa, dan dikatakan pula:
perkataan yang tidak ada faedahnya.
Ath-Thibi berkata: laghat
yang dimaksud adalah olok-olok dalam ucapan dan perkataan yang tidak memiliki
tujuan. Lalu ia mengucapkan sebelum berdiri:
Subhanaka Allahumma
wa bihamdika, maksudnya aku bertasbih dan memuji, atau aku bertasbih
sambil memuji-Mu.
“Asyhadu an la ilaha illa
anta” adalah pengakuan terhadap tauhid dalam uluhiyah.
“Astaghfiruka wa atubu
ilaika” adalah pengakuan adanya kekurangan dalam penghambaan.
Maka akan diampuni baginya
apa yang terjadi, yaitu dari laghat, dalam majelis tersebut. [Selesai,
dinukil dari Mirqat al-Mafatih (4/1689)].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata:
" وَهَذَا الذِّكْرُ يَتَضَمَّنُ التَّوْحِيدَ
وَالِاسْتِغْفَارَ: انتهى
“Dzikir ini mengandung
tauhid dan istighfar”. [Selesai, dinukil dari al-Fatawa al-Kubra (5/236)].
PERHATIAN PENTING:
Jangan
bergantung pada kafarat majelis untuk meremehkan dosa.
Namun demikian, seseorang harus benar-benar berhati-hati dari
majelis-majelis ghibah, namimah, dan ucapan buruk tentang manusia. Karena ini
termasuk kezaliman terhadap sesama, yang tidak cukup hanya ditebus dengan
sekadar melafalkan dzikir ini, tetapi wajib meminta penghalalan dan
menyelesaikannya dengan pihak yang dizalimi.
Seorang muslim juga tidak boleh larut dalam kebatilan di
majelis-majelisnya dengan bersandar pada hadits ini, lalu mengira bahwa apa pun
keburukan yang ia ucapkan kemudian ditutup dengan dzikir tersebut pasti
diampuni. Anggapan seperti ini termasuk pemahaman yang buruk terhadap Allah dan
Rasul-Nya ﷺ.
****
KLASIFIKASI KEDUA
HADITS IBNU UMAR “DOA
KAFARAT MAJLIS DENGAN LAFADZ BERBEDA”
====
HADITS IBNU UMAR KE SATU :
DOA KAFARAT MAJLIS
«رَبِّ
اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ»
SERATUS KALI
---
Dari Nafi‘, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata:
إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ
ﷺ فِي الْمَجْلِسِ، يَقُولُ:
«رَبِّ
اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ» مِائَةَ
مَرَّةٍ.
Sesungguhnya kami benar-benar menghitung untuk
Rasulullah ﷺ dalam satu
majelis beliau mengucapkan:
Rabbighfir li wa tub ‘alayya
innaka anta at-Tawwab al-Ghafur
Artinya: Wahai Rabbku,
ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat
lagi Maha Pengampun.
Sebanyak
seratus kali”.
TAKHRIJ :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
al-Musnad 8/350 nomor 4726, dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 6/57 nomor
29443 dan 7/172 nomor 35073. Melalui jalur ini pula diriwayatkan oleh
al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (618), ‘Abd bin Humaid (786), dan al-Baghawi
(1289) dari Abdullah bin Numair dengan sanad ini.
Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq al-Musnad
8/350:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ
“Sanadnya sahih sesuai
syarat dua syaikh”.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1516),
Ibnu Majah (3814), at-Tirmidzi (3434), an-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yawm wa
al-Laylah (458), Ibnu as-Sunni dalam ‘Amal al-Yawm wa al-Laylah (370), dan Abu
Nu‘aim dalam al-Hilyah 5/12 melalui beberapa jalur dari Malik bin Mughol dengan
sanad ini.
At-Tirmidzi berkata:
هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
صَحِيحٌ غَرِيبٌ
“Hadits ini hasan sahih
gharib”.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3434)
dan Ibnu Hibban (927) melalui jalur Sufyan bin ‘Uyainah dari Muhammad bin Suqah
dengan sanad ini.
Lafadz Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod no. (618)
"رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ،
إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ" مِائَةَ مرة
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah tobatku;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang,”
sebanyak seratus kali.
Di shahihkan al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrod
hal. 230 no. 618/ 482.
HADITS IBNU UMAR KE DUA: DOA
KAFARAT MAJLIS
«اللَّهُمَّ
اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ»
HADITS INI BERPOROS PADA KHOLID
BIN ABU IMRAN DARI IBNU UMAR
Hadits riwayat Kholid bin Abu Imran dari Abdullah bin
Umar ini diriwayatkan melalui jalur berikut ini:
[1] Yahya bin Ayyub, dari Ubaidullah bin
Zahr, dari Khalid bin Abu Imran....
[2] Bakr bin Muhdhor dari Ubaidullah bin
Zahr, dari Khalid bin Abu Imran...
[3] al-Laits bin Sa‘d dari Khalid bin Abu
Imran
[4] Yahya bin Bukair, dari Ibnu Lahi‘ah,
dari Khalid bin Abu Imran
Berikut ini rincian dan
uraiannya:
KE 1 : RIWAYAT UBAIDILLAH
BIN ZAHR
Ia meriwayatkan dari Khalid bin Abu Imran bahwa Ibnu Umar
radhiyallahu 'anhuma .
Jalur ke 1: melalui Yahya
bin Ayyub:
Ibnu al-Mubarok berkata: Telah mengabarkan kepada kami
Yahya bin Ayyub, dari Ubaidullah bin Zahr, dari Khalid bin Abu
Imran, bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَكَادُ
يَقُومُ مِنْ مَجْلِسِهِ إِلَّا دَعَا بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ:
«اللَّهُمَّ اقْسِمْ
لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ
مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ رَحْمَتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا
مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا
أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا،
وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا
تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا»
Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah bangkit dari majelisnya kecuali beliau ﷺ berdoa dengan doa-doa berikut:
“Ya Allah, karuniakanlah
kepada kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari
perbuatan maksiat kepada-Mu, dan dari ketaatan kepada-Mu sesuatu yang dengannya
Engkau menyampaikan kami kepada rahmat-Mu, dan dari keyakinan sesuatu yang
dengannya Engkau ringankan bagi kami musibah-musibah dunia.
Berilah kami kenikmatan
pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.
Jadikanlah itu semua sebagai
warisan bagi kami.
Jadikanlah pembalasan kami
atas orang yang menzalimi kami. Tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami.
Jangan Engkau jadikan
musibah kami pada agama kami.
Jangan Engkau jadikan dunia
sebagai cita-cita terbesar kami dan batas pengetahuan kami.
Dan jangan Engkau kuasakan
atas kami orang yang tidak menyayangi kami.
TAKHRIJ HADITS :
Hadits ini diriwayatkan oleh sbb :
[1] Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhd dan lafaznya darinya
nomor 120,
[2] al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. (1374) melalui
jalur Ibnu al-Mubarok.
[3] ad-Daynuri dalam ‘Uyun al-Akhbaar 2/304 melalui
jalur Ibnu al-Mubarak .
[4] At-Tirmidzi dalam as-Sunan melalui Ali bin Hujr
no. 3502,
[5] Ibnu Qutaibah dalam Uyun al-Akhbar melalui Husain
bin Hasan 2/305,
[6] Ibnu Abi ad-Dunya dalam al-Yaqin melalui Dawud bin
Amr hal. 31 no. 2
[7] An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra melalui Suwaid
bin Nashr jilid 9 halaman 155,
[8] Ad-Dinawari dalam al-Mujalasah melalui jalur
Nu‘aim bin Hammad jilid 3 halaman 99,
[9] Abu asy-Syaikh dalam ath-Thabaqat melalui jalurnya
jilid 4 halaman 200,
[10] Asy-Syajari dalam al-Amali melalui Muhammad bin
Hatim jilid 1 halaman 238, al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah melalui Ibrahim bin
Abdullah al-Khallal jilid 5 halaman 174,
[11] Al-Maqdisi dalam at-Targhib fi ad-Du‘a wa
al-Hatst ‘Alaih melalui Dawud bin Amr nomor 193,
[12] Adz-Dzahabi dalam Mu‘jam Syuyukhihi al-Kabir
melalui jalurnya nomor 239, dan Ibnu Jama‘ah dalam al-Masyikhah juga melalui
jalur tersebut jilid 2 halaman 478.
Seluruhnya meriwayatkan dari Ibnu al-Mubarak, dari Yahya
bin Ayyub, dari Ubaidullah bin Zahr dengan sanad tersebut.
---
Lafadz lain:
Dalam lafaz At-Tirmidzi, Ibnu Abi ad-Dunya, Abu
asy-Syaikh, al-Maqdisi, adz-Dzahabi, dan Ibnu Jama‘ah disebutkan:
قَلَّ مَا كَانَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسِهِ
حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ…
“Jarang sekali beliau ﷺ bangkit dari majelisnya hingga
beliau membacakan doa-doa ini untuk para sahabatnya ....”.
Dan mereka mengatakan:
وَمِنْ طَاعَتِكَ
مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ
“Dan dari ketaatan
kepada-Mu sesuatu yang dengan itu Engkau menyampaikan kami ke surga-Mu.”
----
At-Tirmidzi berkata :
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ
رَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الحَدِيثَ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، عَنْ نَافِعٍ،
عَنْ ابْنِ عُمَرَ
”Ini adalah hadits yang hasan dan gharib. Beberapa orang
meriwayatkan hadits ini dari Khalid bin Abu Imran, dari Nafi’, dari Ibnu Umar”.
Dan hadits ini di nilai hasan pula oleh al-Albani
dalam Shahih at-Tirmidzi no. 3502.
Abdul Qodir al-Arna’uth dalam Tahqiq Jami’ al-Ushul
4/279 karya Ibnu al-Atsir berkata:
وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَهُوَ كَمَا
قَالَ
“Dan at-Tirmidzi menilainya hasan, dan penilaian itu
memang sebagaimana yang ia katakan”.
Jalur ke 2: melalui Bakr bin
Muhdhor:
Ia meriwayatkan dari Ubaidullah bin Zahr, dari
Khalid bin Abu Imran, dari Nafi‘, ia berkata:
كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
إِذَا جَلَسَ مَجْلِسًا لَمْ يَقُمْ حَتَّى يَدْعُو لِجُلَسَائِهِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ،
وَزَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَدْعُو بِهِنَّ لِجُلَسَائِهِ:
«اللهُمَّ اقْسِمْ
لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تُحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمَنْ طَاعَتِكَ
مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمَنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ عَلَيْنَا مَصَائِبَ
الدُّنْيَا، اللهُمَّ أَمْتِعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا
أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمْنَا،
وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا
تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْثَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا»
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma apabila duduk dalam
suatu majelis, beliau tidak bangkit hingga mendoakan para peserta majelisnya
dengan kalimat-kalimat ini.
Ia mengira bahwa Rasulullah ﷺ dahulu mendoakan para peserta majelisnya
dengan doa-doa tersebut:
“Ya Allah, karuniakanlah
kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan
maksiat kepada-Mu, dan karuniakanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang
dengannya Engkau menyampaikan kami ke surga-Mu, serta karuniakanlah kepada kami
keyakinan yang dengannya Engkau ringankan atas kami berbagai musibah dunia.
Ya Allah, berilah kami
kenikmatan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama
Engkau masih menghidupkan kami, dan jadikanlah itu semua tetap kami miliki
hingga akhir hayat kami.
Jadikanlah pembalasan kami
atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi
kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami.
Janganlah Engkau jadikan
dunia sebagai tujuan terbesar kegelisahan kami dan puncak pengetahuan kami. Dan
janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami”.
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh sbb :
[1] Al-Bazzar dalam al-Bahr melalui Muhammad bin
al-Laits jilid 12 halaman 243,
[2] An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra melalui ar-Rabi‘
bin Sulaiman jilid 9 halaman 154,
[3] Ath-Thabrani dalam Kitab ad-Du‘a melalui al-Miqdam
bin Dawud jilid 3 halaman 1565,
[4] Ibnu as-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah
melalui jalurnya dalam al-‘Ujalah hal. 394 no. 446.
[5] Abu Sa‘d as-Sam‘ani melalui jalur ar-Rabi‘ jilid 2
halaman 437 (Adab al-Imla hal. 107)
[6] Al-Qadhi ‘Iyadh dalam al-Ilma‘ melalui jalur
Muhammad bin Sahl halaman 248.
Seluruhnya meriwayatkan dari Abdullah bin Abdul Hakam,
dari Bakr bin Mudhar, dari Ubaidullah bin Zahr dengan sanad tersebut.
KE 2 : RIWAYAT AL-LAITS BIN
SA’AD
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab
Al-Mustadrak 1/709 no. 1934 :
Ismail bin Muhammad bin al-Fadhl bin Muhammad
asy-Sya‘rani mengabarkan kepadaku, ia berkata: kakekku meriwayatkan kepada
kami, ia berkata: Abu Shalih, sekretaris al-Laits bin Sa‘d, meriwayatkan kepada
kami, ia berkata: al-Laits bin Sa‘d menceritakan kepadaku bahwa Khalid
bin Abu Imran telah meriwayatkan, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhu:
أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَجْلِسُ مَجْلِسًا
كَانَ عِنْدَهُ أَحَدٌ، وَلَمْ يَكُنْ إِلَّا قَالَ:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ
وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ
مِنِّي، اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْ طَاعَتِكَ مَا تَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ مَعْصِيَتَكَ،
وَارْزُقْنِي مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تُبَلِّغُنِي بِهِ رَحْمَتَكَ، وَارْزُقْنِي مِنَ
الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيَّ مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَبَارِكْ لِي فِي سَمْعِي
وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، اللَّهُمَّ وَخُذْ بِثَأْرِي مِمَّنْ
ظَلَمَنِي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ عَادَانِي، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ
هَمِّي، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِي، اللَّهُمَّ وَلَا تُسَلَّطْ عَلَيَّ مَنْ لَا يَرْحَمُنِي».
فَسُئِلَ عَنْهُنَّ ابْنُ عُمَرَ، فَقَالَ:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتِمُ بِهِنَّ مَجْلِسَهُ»
“Bahwa ia tidak pernah duduk dalam suatu majelis yang
di dalamnya ada seseorang, kecuali ia selalu mengucapkan:
“Ya Allah, ampunilah aku
atas apa yang telah aku lakukan terdahulu dan yang aku lakukan kemudian, apa
yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan, serta apa yang Engkau lebih
mengetahuinya daripadaku.
Ya Allah, karuniakanlah
kepadaku ketaatan kepada-Mu yang dapat menghalangiku dari bermaksiat kepada-Mu.
Karuniakanlah kepadaku rasa takut kepada-Mu yang dengannya Engkau
menyampaikanku kepada rahmat-Mu. Karuniakanlah kepadaku keyakinan yang
dengannya Engkau ringankan atasku musibah-musibah dunia. Berkahilah untukku
pendengaranku dan penglihatanku, dan jadikan keduanya tetap bermanfaat bagiku.
Ya Allah, ambillah hak
balasku dari orang yang menzalimiku, dan tolonglah aku atas orang yang
memusuhiku. Jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesarku dan batas
ilmuku.
Ya Allah, jangan Engkau
kuasakan atasku orang yang tidak menyayangiku.”
Lalu Ibnu Umar ditanya tentang doa-doa tersebut, maka
ia berkata: “Rasulullah ﷺ biasa
menutup majelis beliau dengan doa-doa itu.”
Al-Hakim berkata :
"هَذَا حَدِيثٌ
صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ "
“Hadits ini sahih sesuai dengan syarat
al-Bukhari, namun keduanya tidak meriwayatkannya”.
Dan Adz-Dzahabi menyetujuinya dalam at-Talkhish (1/528).
KE 3 : RIWAYAT IBNU LAHI’AH
Hadits ini diriwayatkan oleh : Ath-Thabrani dalam
Kitab ad-Du‘a melalui jalur Yahya bin Bukair 3/1566 no. (1911).
Ath-Thabarani berkata :
“Telah menceritakan kepada kami Abu az-Zinba‘ Ruh bin
al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, dari Khalid bin Abu
Imran, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَلَسَ مَجْلِسًا
لَمْ يَقُمْ حَتَّى يَدْعُوَ لِجُلَسَائِهِ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ وَيَزْعُمُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِهِنَّ لِجُلَسَائِهِ:
«اللَّهُمَّ افْتَحْ
لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ
مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ رَحْمَتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا
مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا
وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ
ظَلَمْنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا،
وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عَلِمْنَا، وَلَا تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا»
Bahwa ia apabila duduk dalam suatu majelis, ia tidak
akan bangkit sampai berdoa untuk para peserta majelisnya dengan kalimat-kalimat
berikut, dan ia menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ biasa berdoa dengannya untuk para peserta majelis beliau:
“Ya Allah, bukakanlah untuk
kami dari rasa takut kepada-Mu sesuatu yang dapat menghalangi kami dari
perbuatan maksiat kepada-Mu; dan dari ketaatan kepada-Mu sesuatu yang dengannya
Engkau menyampaikan kami kepada rahmat-Mu; dan dari keyakinan sesuatu yang
dengannya Engkau ringankan atas kami musibah-musibah dunia.
Ya Allah, berikanlah kami
kenikmatan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami, dan
jadikanlah itu semua tetap bersama kami selama Engkau memberi kami kehidupan.
Jadikanlah pembalasan kami
tertuju kepada orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang
memusuhi kami.
Jangan Engkau jadikan
musibah kami pada agama kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita
terbesar kami dan puncak ilmu kami, dan jangan Engkau kuasakan atas kami orang
yang tidak menyayangi kami.”[Sls]
Diriwayatkan pula oleh Tamam dalam al-Fawa’id melalui
jalur Amr bin Hasyim 1/214, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq melalui
jalurnya 16/186.
Semuanya meriwayatkan dari Ibnu Lahi‘ah dengan sanad
tersebut.
****
KLASIFIKASI KE TIGA :
DO’A KAFARAT MAJLIS
DI BACA SETELAH WUDHU
Hadits Abu Sa‘id al-Khudri
radhiyallahu ‘anhu.
Ibnu Abi Syaibah
meriwayatkan dalam al-Mushannaf 6/113 nomor 29893 (tahqiq al-Hut), ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Waki‘, dari Sufyan, dari Abu Hasyim al-Wasithi,
dari Abu Mijlaz, dari Qais bin ‘Abbad, dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu
‘anhu, ia berkata:
"
مَنْ قَالَ إِذَا فَرَغَ مِنْ وُضُوئِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، خُتِمَتْ بِخَاتَمٍ
ثُمَّ رُفِعَتْ تَحْتَ الْعَرْشِ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mengucapkan
setelah selesai dari wudhunya: ‘Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji
bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain
Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu’, maka (amal
itu) ditutup dengan sebuah segel, kemudian diangkat ke bawah ‘Arsy, dan tidak
akan dibuka hingga hari Kiamat.”
Hadits ini juga diriwayatkan
oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra 9/37 nomor 9829, dalam ‘Amal al-Yaum wa
al-Lailah halaman 173 nomor 81, dan oleh Ibnu al-Kharrath dalam al-Ahkam
al-Kubra 3/315.
An-Nasa’i berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Yahya bin Muhammad bin as-Sakan, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Katsir Abu Ghassan, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Syu‘bah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Abu Hasyim, dari Abu Mijlaz, dari Qais bin ‘Ubad, dari Abu Sa‘id radhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda:
" مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ
اللهُمَّ، وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ "
“Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan:
‘Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan
aku bertobat kepada-Mu’, maka dituliskan pada sebuah lembaran, kemudian diberi
cap dengan sebuah segel, dan tidak akan dibuka hingga hari Kiamat.”
Kemudian an-Nasa’i berkata:
قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: هَذَا خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ
مَوْقُوفٌ، خَالَفَهُ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ فَوَقَفَهُ
Abu ‘Abdurrahman berkata:
Riwayat ini keliru, dan yang benar adalah mauquf. Muhammad bin Ja‘far
menyelisihinya, lalu meriwayatkannya sebagai mauquf.
Hadits ini juga diriwayatkan
oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath 2/271 nomor 1478, dan oleh al-Hakim dalam
al-Mustadrak 1/564 nomor 2072.
Al-Hakim berkata:
«هٰذَا
حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَىٰ شَرْطِ مُسْلِمٍ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ»
“Hadits ini sahih sesuai dengan syarat
Muslim, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”
Pernyataan ini disetujui oleh adz-Dzahabi.
Al-Albani menanggapi:
«بَلْ
هُوَ عَلَىٰ شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ؛ فَإِنَّ رِجَالَهُ كُلَّهُمْ ثِقَاتٌ مِنْ رِجَالِهِمَا»،
ثُمَّ قَالَ فِي الْخُلَاصَةِ: «إِنَّ الْحَدِيثَ صَحِيحٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ الْمَرْفُوعَةِ،
وَالْمَوْقُوفُ لَا يُخَالِفُهُ؛ لِأَنَّهُ لَا يُقَالُ بِمُجَرَّدِ الرَّأْيِ».
“Bahkan hadits ini sesuai dengan syarat
kedua Syaikh (al-Bukhari dan Muslim), karena seluruh perawinya adalah perawi
yang tsiqah dari perawi keduanya.” Kemudian beliau berkata dalam kesimpulan:
“Sesungguhnya hadits ini sahih dengan keseluruhan jalur riwayat marfu‘-nya, dan
riwayat mauquf tidak menyelisihinya, karena hal seperti ini tidak mungkin
diucapkan hanya berdasarkan pendapat semata.” [Lihat Silsilah al-Ahadits
ash-Shahihah 5/439–440].
Al-Haitsami juga
menyebutkannya dalam Majma‘ az-Zawa’id 1/547, lalu berkata:
«رِجَالُهُ
رِجَالُ الصَّحِيحِ»
“Para perawinya adalah
perawi-perawi dalam kitab Shahih.”
Ibnu al-Mulaqqin berkata
dalam al-Badr al-Munir 2/289:
وَإِسْنَادُ
هَاتَيْنِ الرِّوَايَتَيْنِ – أَعْنِي الْمَرْفُوعَةَ وَالْمَوْقُوفَةَ – صَحِيحٌ عَلَى
شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ، لَا نَعْلَمُ طَعْنًا فِي وَاحِدٍ مِنْ رِجَالِهِ،
بَلْ هُمْ أَئِمَّةٌ أَعْلَامٌ ثِقَاتٌ.
“Sanad kedua riwayat ini,
yaitu yang marfu‘ dan yang mauquf, sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim.
Kami tidak mengetahui adanya celaan pada satu pun dari para perawinya, bahkan
mereka adalah para imam besar yang tsiqah.”
Muhammad al-Munajjid berkata
dalam pelajarannya 125/8:
«حَدِيثٌ
رُوَاتُهُ رُوَاةُ الصَّحِيحِ.
يُبَيِّنُ
أَنَّ هٰذَا الْكَلَامَ يَبْقَىٰ ذُخْرًا لِصَاحِبِهِ لِيُجَازَىٰ عَلَيْهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، وَيَذْكُرُ هٰذَا الْفُقَهَاءُ فِي سُنَنِ الْوُضُوءِ».
“Hadits ini para perawinya
adalah perawi-perawi kitab Shahih. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan ini akan
tetap menjadi simpanan pahala bagi orang yang mengucapkannya, untuk dibalas
pada hari Kiamat. Para fuqaha juga menyebutkan hal ini dalam pembahasan
sunnah-sunnah wudhu.”
0 Komentar