HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM'AT SAAT BERKHUTBAH
Ditulis
Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa. Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.’
Namun ada keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah (misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang mengangkat kedua tangannya dengan berpegang pada kaidah bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh diingkari.
Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangannya karena melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang dan luas.” [Lihat: Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
DAFTAR ISI :
- Hukum asal mengangkat kedua tangan saat berdoa
- Al-Imam al-Bukhori dalam kitab Shahih-nya
- Imam Bukhori dalam kitab-nya “Al-Adab al-Mufrad”:
- Dalil-dalil lain yang menunjukkan hukum asal mengangkat tangan dalam berdoa adalah sunnah:
- Hadits doa dalam shalat sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa istisqoo sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa ziarah kubur sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa saat perang sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa saat ibadah haji sambil mengangkat kedua tangan
- Hadits mengusap wajah setelah berdoa
- HUKUM MAKMUM MENGANGKAT DUA TANGANNYA SAAT MENGAMINKAN DOA KHOTIB JUM'AT
- Pernyataan para ulama tentang mengangkat dua tangan saat khotib Jumat berdoa
- Sikap bijak para ulama terhadap perbedaan pendapat mengangkat dua tangan saat khotib Jum'at berdo'a
- Penutup
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi
Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, kepada
keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang setia mengikuti
beliau.
===***===
HUKUM ASAL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BERDO’A
Termasuk perkara
yang telah ditetapkan dalam sunnah Nabi ﷺ adalah dianjurkannya
mengangkat kedua tangan ketika berdoa secara umum; sebagai bentuk menampakkan
kehinaan, ketundukan, dan kebutuhan kepada Allah SWT, serta sebagai bentuk
permohonan dan pengharapan untuk meraih karunia-Nya. Hal itu merupakan bagian
dari adab-adab doa yang telah disepakati, dan termasuk sebab dikabulkannya doa;
karena di dalamnya terdapat penampakan kejujuran dalam berlindung dan kembali kepada
Allah Azza wa Jalla serta pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
" أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ
طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
[المؤمنون: 51] وَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ،
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ "
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Dia
memerintahkan kepada para rasul.
Maka Dia berfirman:
‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ [Al-Mu’minun: 51].
Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang
beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’
[Al-Baqarah: 172].
Kemudian beliau
menyebutkan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan panjang, dalam
keadaan kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya
berkata: ‘Wahai Rabb, wahai Rabb.’ Namun makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin
doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].
Al-‘Allamah Ibnu
Rajab Al-Hanbali berkata:
هَذَا الْكَلَامُ أَشَارَ فِيهِ ﷺ
إِلَى آدَابِ الدُّعَاءِ، وَإِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَتَهُ،
وَإِلَى مَا يَمْنَعُ مِنْ إِجَابَتِهِ، فَذَكَرَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي
تَقْتَضِي إِجَابَةَ الدُّعَاءِ أَرْبَعَةً ...
قَالَ: الثَّالِثُ: مَدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ الَّتِي يُرْجَى بِسَبَبِهَا إِجَابَتُهُ،
وَفِي حَدِيثِ سَلْمَانَ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»؛ خَرَّجَهُ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ.
وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ
أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَغَيْرِهِمَا.
وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ
يَوْمَ بَدْرٍ يَسْتَنْصِرُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ،
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صِفَةِ رَفْعِ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ
أَنْوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ...
قَالَ: وَمِنْهَا: رَفْعُ يَدَيْهِ،
جَعْلُ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى الْأَرْضِ.
وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ
فِي سُؤَالِ اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي غَيْرِ حَدِيثٍ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ،
وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ سِيرِينَ: «أَنَّ هَذَا هُوَ الدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ
لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ».
Ucapan dalam hadits
ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengisyaratkan adab-adab doa, sebab-sebab yang menjadikan doa
dikabulkan, serta hal-hal yang menghalangi pengabulannya. Beliau menyebutkan
empat sebab yang menjadikan doa dikabulkan…
Beliau berkata:
yang ketiga adalah mengangkat kedua tangan ke langit, dan ini termasuk adab doa
yang diharapkan menjadi sebab dikabulkannya doa.
Dalam hadits
Salman, dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia merasa
malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia
mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
Diriwayatkan pula yang semisalnya dari hadits Anas, Jabir, dan selain keduanya.
Nabi ﷺ biasa
mengangkat kedua tangannya dalam doa istisqa hingga terlihat putih kedua ketiaknya.
Beliau juga mengangkat kedua tangannya pada hari Perang Badar ketika memohon
pertolongan atas kaum musyrikin hingga selendangnya terjatuh dari kedua
pundaknya.
Telah diriwayatkan
dari Nabi ﷺ tentang tata cara mengangkat tangan dalam doa dengan berbagai
bentuk…
Di antaranya:
mengangkat kedua tangan dengan menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke
langit dan bagian punggungnya ke arah bumi.
Perintah tentang
hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits mengenai permohonan kepada Allah
Azza wa Jalla. Dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin disebutkan: “Inilah
bentuk doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla.” [Baca: Jami
al-Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rojab 1/269 Tahqiq al-Arna’uth]
Syaikhul Islam Abu
Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra 5/337 berkata:
وَيُسَنُّ لِلدَّاعِي رَفْعُ يَدَيْهِ
وَالِابْتِدَاءُ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ وَأَنْ يَخْتِمَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ وَبِالتَّأْمِينِ
“Disunnahkan bagi
orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah
dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan
hendaknya ia menutup doanya dengan semua itu serta dengan ucapan amin.”
Beliau juga 22/519
berkata:
وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ ﷺ يَدَيْهِ
فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ
“Adapun
pengangkatan tangan oleh Nabi ﷺ dalam doa, maka telah datang banyak hadits shahih tentangnya.”
Imam An-Nawawi
berkata dalam Syarh Muslim 6/190 di hadits no. 896:
قَدْ ثَبَتَ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي
الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ
تُحْصَرَ وَقَدْ جَمَعْتُ مِنْهَا نَحْوًا مِنْ ثَلَاثِينَ حَدِيثًا مِنَ
الصَّحِيحَيْنِ
“Telah ada
ketetapan riwayat bahwa beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya
dalam doa pada berbagai keadaan selain istisqa, dan jumlahnya lebih banyak
daripada yang dapat dibatasi. Aku telah mengumpulkan sekitar tiga puluh hadits
tentang hal itu dari Ash-Shahihain”.
Sungguh telah tersebar secara melimpah ruah berbagai riwayat hadits tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, sampai-sampai sejumlah ulama menggolongkannya sebagai hadis mutawatir secara maknawi.
Al-Imam As-Suyuthi berkata:
«مِمَّا تَوَاتَرَ
مَعْنَاهُ كَأَحَادِيثِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ
نَحْوُ مِائَةِ حَدِيثٍ فِيهَا رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَقَدْ جَمَعْتُهَا
فِي جُزْءٍ، لَكِنَّهَا فِي قَضَايَا مُخْتَلِفَةٍ؛ فَكُلُّ قَضِيَّةٍ مِنْهَا لَمْ
تَتَوَاتَرْ، وَالْقَدْرُ الْمُشْتَرَكُ فِيهَا وَهُوَ الرَّفْعُ عِنْدَ الدُّعَاءِ
تَوَاتَرَ بِاعْتِبَارِ الْمَجْمُوعِ».
“Di antara yang
maknanya mutawatir adalah hadis-hadis tentang mengangkat kedua tangan dalam
doa. Telah diriwayatkan dari beliau ﷺ sekitar seratus hadis yang
menyebutkan pengangkatan kedua tangan dalam doa.
Aku telah
mengumpulkannya dalam satu juz (risalah kecil), namun hadis-hadis itu berada
dalam berbagai peristiwa yang berbeda-beda; maka setiap peristiwa tersebut
tidak mencapai derajat mutawatir secara tersendiri. Akan tetapi, sisi yang sama
di antara semuanya, yaitu pengangkatan tangan ketika berdoa, menjadi mutawatir
jika dilihat secara keseluruhan.”
(Dalam *Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi* 2/631).
Dan Imam As-Suyuthi
berkata dalam Al-Alfiyah hal. 25:
204
- خَمْسٌ وَسَبْعُونَ رَوَوْا"مَنْ كَذَبَا" … وَمِنْهُمُ
الْعَشْرَةُ ثُمَّ انْتَسَبَا
205
- لَهَا حَدِيثُ "الرَّفْعِ لِلْيَدَيْنِ" …
وَ"الْحَوْضِ"وَ"الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ
“Tujuh puluh lima
orang meriwayatkan hadits ‘Barang siapa berdusta…’
Dan di antaranya
sepuluh (sahabat yang dijamin surga) termasuk dalam sanadnya.
Termasuk pula
hadits tentang ‘mengangkat kedua tangan’,
Tentang ‘telaga
(Al-Haudh)’, dan ‘mengusap dua khuf’.” [Selesai]
===***===
AL-IMAM AL-BUKHORI DALAM KITAB SHAHIH-NYA
Al-Imam
Al-Bukhari telah menuliskan satu BAB untuk masalah ini yang diberi judul :
بَابُ رَفْعِ الأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ
"Bab :
tentang Mengangkat Tangan dalam Doa"
Lalu dia
menyebutkan dalam judul BAB ini dua hadits berikut ini dan hadits lainnya.
===
Hadits
pertama :
Imam
Bukhori menyebutkan Hadits Abu Musa al-'Asy'ari :
لَمَّا فَرَغَ النبيُّ ﷺ، مِن حُنَيْنٍ .....
قالَ أَبُو مُوسَى: وَبَعَثَنِي مع أَبِي
عَامِرٍ، قالَ: فَرُمِيَ أَبُو عَامِرٍ في رُكْبَتِهِ، رَمَاهُ رَجُلٌ مِن بَنِي
جُشَمٍ بسَهْمٍ وَمَكَثَ يَسِيرًا ثُمَّ إنَّه مَاتَ، فَلَمَّا رَجَعْتُ إلى
النبيِّ ﷺ دَخَلْتُ عليه فأخْبَرْتُهُ بخَبَرِنَا وَخَبَرِ أَبِي عَامِرٍ، وَقُلتُ
له: قالَ: "قُلْ له: يَسْتَغْفِرْ لِي".
فَدَعَا رَسولُ اللهِ ﷺ بمَاءٍ،
فَتَوَضَّأَ منه، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، ثُمَّ قالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ» حتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إبْطَيْهِ، ثُمَّ قالَ:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَومَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِن خَلْقِكَ، أَوْ مِنَ
النَّاسِ».
فَقُلتُ: وَلِي، يا رَسولَ اللهِ،
فَاسْتَغْفِرْ، فَقالَ النبيُّ ﷺ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بنِ قَيْسٍ
ذَنْبَهُ، وَأَدْخِلْهُ يَومَ القِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا».
Ketika Nabi
ﷺ
selesai perang Hunein…
Abu Musa
berkata: " Beliau ﷺ menugsakanku bersama Abu Amir" . Kemudian Abu Musa
berkata: Lalu Abu Amir terkena lemparan panah di lututnya dari seorang pria
dari Bani Jahm.
Dia hanya
bertahan sebentar dan kemudian meningga . Maka ketika aku kembali ke Nabi ﷺ
, akupun langsung menghadap kepada beliau ﷺ .
Lalu aku
mengabarkan kepada Nabi ﷺ tentang kabar kami dan kabar Abu Amir . Dan aku sampaikan
kepada beliau ﷺ bahwa Abu Amir sebelum meninggal, dia berpesan :
“Sampaikan
kepada beliau ﷺ agar beliau memohonkan ampunan kepada Allah untuk diriku.”
Maka
Rasulullah ﷺ
meminta air wudhu’ , lalu beliau berwudhu’ , kemudian MENGANGKAT KEDUA
TANGANNYA sambil mengucapkan doa:
“Ya Allah,
ampunilah Ubaid Abu Amir! Aku (Abu Musa)" , hingga aku melihat putih kedua
ketiak Rasulullah ketika mengangkat tangannya [ dalam berdoa ].
Selanjutnya
beliau berdoa lagi :
‘Ya Allah,
tempatkanlah Abu Amir, pada hari kiamat kelak, di atas kebanyakan makhluk-Mu
(di Surga)!”
Lalu Aku
(Abu Musa) berkata kepada Rasulullah ﷺ : ‘Ya Rasulullah, mohonkanlah ampunan
untuk aku juga!
Lalu
Rasulullah ﷺ
berdoa : ‘Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (nama asli Abu Musa) dan
masukkanlah ia ke tempat yang mulia pada hari kiamat ! (Yaitu di Surga).
[ HR.
Bukhori no. 4323 dan Muslim no. 2498 ].
===
Hadits
kedua :
Imam
Bukhori menyebutkan hadits Salim dari Ayahnya berkata :
بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَالِدَ بْنَ
الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ
يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا
صَبَأْنَا فَجَعَلَ خَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ وَيَأْسِرُ وَدَفَعَ إِلَى كُلِّ
رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمٌ أَمَرَ خَالِدٌ أَنْ يَقْتُلَ
كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ فَقُلْتُ: "وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ أَسِيرِي
وَلَا يَقْتُلُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِي أَسِيرَهُ حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَهُ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ
إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ» مَرَّتَيْنِ".
Nabi ﷺ
suatu kali mengirim Khalid bin Al Walid ke bani Jidzamah dengan misi mengajak
mereka masuk Islam, namun rupanya mereka belum fasih mengucapkan;
"Aslamnaa" (kami masuk Islam) sehingga mereka keceplosan mengucapkan
Shabba'naa (yang makna secara harfiah kami sembah matahari), mereka terus saja
mengucapkan Shabba'na, Shabba'na -sekalipun maksudnya aslamnaa- Maka Khalid
membantai diantara mereka dan sebagian lain ia tawan, dan ia serahi
masing-masing kami seorang tawanan yang ia perintahkan untuk dibunuh di hari
selanjutnya.
Aku protes
: "Demi Allah, aku tak akan membunuh tawananku, dan setiap kawanku juga
tak akan membunuh tawanannya."
Hingga
akhirnya kami menemui Nabi ﷺ dan kami utarakan kasusnya kepada beliau ﷺ
. Serta merta Nabi ﷺ MENGANGKAT TANGAN-NYA sembari mengucapkan do'a :
(Ya Allah,
aku berlepas diri kepada-MU dari perbuatan-perbuatan Khalid bin Al Walid).
Beliau
ulang dua kali . [ HR. Bukhori no. 4339].
Artinya
Rasulullah ﷺ
juga mengangkat tangan, namun tidak setinggi seperti saat shalat Istisqo’.
PENJELASAN AL-HAFIDZ IBNU HAJAR
TERHADAP
APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:
Al-Haafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 memberi penjelasan tentang BAB dan dua
hadits diatas yang di sebutkan Imam Bukhori , dengan mengatakan :
وَفِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ رَدُّ مَنْ
قَالَ لَا يَرْفَعُ كَذَا إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ بَلْ فِيهِ .
وَفِي الَّذِي بَعْدَهُ رَدٌّ عَلَى مَنْ
قَالَ لَا يَرْفَعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ غَيْرَ الِاسْتِسْقَاءِ أَصْلًا
وَتَمَسَّكَ بِحَدِيثِ أَنَسٍ لَمْ يَكُنِ النَّبِيَّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي
شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَهُوَ صَحِيحٌ لَكِنْ جُمِعَ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحَادِيثِ الْبَابِ وَمَا فِي مَعْنَاهَا بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ
صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ
الِاسْتِسْقَاءِ وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ
إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ
مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ
وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ
ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ
تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ .
وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي
الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ
قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَبِتَقْدِيرِ
تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ
قُلْتُ وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ
الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً
أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي
الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً
Pada hadist
yang pertama adalah bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ
tidak mengangkat tangan ketika berdo’a seperti itu kecuali pada shalat istisqo’
saja.
Akan tetapi
hadist setelahnya adalah bantahan terhadap mereka yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ
tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a selain istisqo’; mereka
berpegang pada hadist Anas yang meniadakan Nabi ﷺ mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali
pada shalat Istisqo’ saja. Hadistnya shahih.
Namun
setelah dikumpulkan kedua hadist tersebut dan hadist-hadist di bab ini dan
hadist yang semakna dengannya ; diketahui bahwa yang dimaksud adalah meniadakan
sifat khusus , bukan meniadakan mengangkat tangan secara mutlak .
Dan aku
telah mengisyaratkan hal itu pada bab-bab tentang shalat istisqo’, dan hasilnya
bahwa cara mengangkat tangan ketika berdo’a pada doa istisqo’ itu berbeda
dengan cara mengangkat tangan pada saat doa di selainnya.
Bisa jadi
yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam
hadits adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga menjadikan
kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a lainnya ,
mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu .
Dan jangan
membenturkan-nya dengan mengatakan bahwa: "beliau ﷺ
berdoa dengan mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua
ketiaknya", telah ada
ketetapan pada masing-masing dari keduanya [yakni ketika doa istisqo dan
lainya] , akan tetapi digabungkan dengan kesimpulan bahwa terlihat putihnya
kedua ketiak Nabi ﷺ dalam doa istisqo itu lebih nampak jelas dibanding dengan yang
nampak pada kesempatan lainnya .
Dan bisa
jadi kedua kedua telapak tangan beliau ﷺ ketika doa Istsisqo mengikuti arah bumi. Dan
dalam doa biasa , kedua telapak tangannnya mengikuti arah langit ".
Al-Mundhiri
berkata: " Dan jika dengan perkiraan tidak mungkin untuk digabungkan, maka
sisi peng itsbat-an lebih rajih dari pada peniadaan ".
Aku katakan
: Apalagi dengan banyaknya hadits yang yang berkaitan dengan hal ini. Karena
dalam masalah ini banyak hadits yang disebutkan secara khusus oleh Al-Mundziri
dalam satu Juz , yang mana dari Juz tsb Imam an-Nawawi memaparkannya dalam
kitab "al-Adzkaar" dalam “Al-Adzkaar” dan dalam “Sharh Al
-Muhadhdhab” seluruhnya.
(Baca :
Fathul Baari 11/142).
PENJELASAN
AL-QASTHALANI
TERHADAP
APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:
Imam
Al-Qasthalany dalam kitabnya "Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhari"
memberi penjelasan tentang BAB dan dua hadits diatas yang di sebutkan Imam
Bukhori , dengan mengatakan :
وَفِي الْبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
يَطُولُ سَرْدُهَا، وَفِيهَا رَدٌّ عَلَى الْقَائِلِ بِعَدَمِ الرَّفْعِ إِلَّا
فِي الِاسْتِسْقَاءِ، لِحَدِيثِ أَنَسٍ الصَّحِيحِ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ
يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ.
وَأُجِيبَ: بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ
خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ، فَالرَّفْعُ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ
غَيْرَهُ، إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ
الْوَجْهِ مَثَلًا، وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى الْمَنْكِبَيْنِ، وَيَكُونُ رُؤْيَةُ
بَيَاضِ إِبْطَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ.
Di dalam
bab ini banyak hadist-hadist yang menyatakan tentang mengangkat tangan ketika
berdo’a. Dan hadist-hadist tersebut sekaligus sebagai bantahan terhadap mereka
yang meniadakan [atau melarang] mengangkat kedua tangan ketika berdo’a selain
pada saat do'a Istisqo’ [ doa minta hujan ] saja berdasarkan hadist Anas yang shahih
: " bahwa Nabi ﷺ tidaklah mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali pada saat
do'a Istisqo’ [ doa minta hujan] saja.
Maka aku
jawab :
Bahwa yang
dimaksud [ dalam hadits Anas tsb ] adalah meniadakan sifat dan cara khusus
dalam berdo’a pada selain istisqo , bukan meniadakan mengangkat kedua tangan
dalam berdoa secara muthlak.
Jadi cara
mengangkat tangan dalam doa Istisqo itu berbeda dengan cara mengangkat tangan
pada doa-doa selainnya .
Bisa jadi
yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam
hadits Anas diatas adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga
menjadikan kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a
lainnya , mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu . Dan dengan demikian
maka terlihat putih dua ketiak beliau ﷺ dalam doa istisqo nampak lebih jelas
dibanding dengan penampakannya pada saat doa-doa di selainnya .
(Irsyaadus
Saari Syarah Shahih Bukhari 9 /197).
IMAM BUKHORI DALAM KITAB-NYA " AL-ADAB AL-MUFRAD " :
Selain di
kitab Shahih-nya, Imam Bukhori juga menulis dalam kitab al-Adab al-Mufrad satu
BAB yang berjudul :
بَابُ رَفْعِ الأيْدِي في الدُّعَاءِ
BAB :
mengangkat tangan dalam berdo'a
Lalu beliau
menyebutkan hadits-hadits yang menyebutkan Nabi ﷺ berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ,
diantaranya sbb :
----
Hadits ke 1
:
Hadits Abu
Hurairah – radhiyallahu anhu – berkata :
" قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو
الدَّوْسِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ
دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا ، فَاسْتَقْبَلَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ، فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ
يَدْعُو عَلَيْهِمْ ، فَقَالَ : «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا، وَائْتِ
بِهِمْ»".
At-Thufail
Ibnu Amru Ad-Dausi datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata :
"Wahai
Rasulullah!, sesungguhnya kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka
berdoalah kepada Allah (semoga kemelaratan menyertai mereka)".
Lalu
Rasulullah ﷺ
menghadap kiblat dan MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, kemudian orang-orang mengira
bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan musibah atas mereka, lalu Rasulullah berdoa:
"Ya
Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkan hidayah itu bagi
mereka."
[HR.
Al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad 477/611 dan al-Baghowi dalam Mu'jam
ash-Shohaabh no. 23928 .
Dishahihkan
Syeikh al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrod no. 611/478 .
Dan
al-Albaani berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah 6/1063 mengatakan : Sanadnya
Jayyid].
Dalam
Shahih Bukhari no. 2937 dan Shahih Muslim no. 2524 tidak ada lafadz : [[dan
mengangkat kedua tangannya]].
Dan berikut
ini lafadz nya :
قَدِمَ طُفَيْلُ بنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ
وأَصْحَابُهُ علَى النبيِّ ﷺ، فَقالوا: يا رَسولَ اللَّهِ، إنَّ دَوْسًا عَصَتْ
وأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا. فقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ. قالَ: «اللَّهُمَّ
اهْدِ دَوْسًا وأْتِ بهِمْ».
Thufail bin
‘Amr ad-Dausi dan para sahabatnya datang kepada Nabi ﷺ, lalu mereka berkata:
“Wahai
Rasulullah, sesungguhnya kaum Daus telah membangkang dan menolak (dakwah), maka
doakanlah keburukan atas mereka.”
Maka ada
yang berkata: “Binasalah kaum Daus.”
Namun beliau
ﷺ
berdo’a: “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaum Daus dan datangkanlah mereka
(kepada kami)”.
----
Hadits ke 2
:
Hadits
Jabir – radhiyallahu anhu - :
أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو قَالَ
لِلنَّبِيِّ ﷺ: هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ وَمَنَعَةٍ؛ حِصْنِ دَوْسٍ؟ قَالَ: فَأَبَى
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، لِمَا ذَخَرَ اللَّهُ لِلْأَنْصَارِ. فَهَاجَرَ الطُّفَيْلُ،
وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَمَرِضَ الرَّجُلُ فَضَجِرَ (أَوْ
كَلِمَةٌ شَبِيهَةٌ بِهَا)، فَحَبَا إِلَى قَرْنٍ، فَأَخَذَ مِشْقَصًا، فَقَطَعَ
وَدَجَيْهِ فَمَاتَ، فَرَآهُ الطُّفَيْلُ فِي الْمَنَامِ. قَالَ: مَا فُعِلَ بِكَ؟
قَالَ: غُفِرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: مَا شَأْنُ يَدَيْكَ؟
قَالَ: فَقِيلَ: إِنَّا لَا نُصْلِحُ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ مِنْ يَدَيْكَ. قَالَ:
فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ، وَلِيَدَيْهِ
فَاغْفِرْ»، وَرَفَعَ يَدَيْهِ.
"Bahwa
ath-Thufail bin Amr [al-Dausi] datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: Apakah Anda membutuhkan
perlindungan yang kuat dan benteng ? Benteng Suku Daus ?.
Rasulullah ﷺ
menolak tawaran ini, karena Allah SWT telah menitipkan (hak istimewa untuk
melindungi Nabi-Nya ) kepada Anshar.
Ketika Nabi
ﷺ
berhijrah ke Madinah, At-Thufail bin 'Amru turut berhijrah bersama seorang
lelaki dari kaumnya. Lelaki itu jatuh sakit dan tidak dapat menahan kesakitan
itu, lalu dia merangkak ke arah tanduk lalu mengambil mata anak panah ,
kemudian dengannya memotong dua urat nadi ditangannya lalu dia mati.
At-Thufail
melihat lelaki itu dalam mimpinya. Dia bertanya kepada lelaki itu: Apa yang
telah Tuhan kamu lakukan kepada mu?
Lelaki itu
menjawab : Tuhan ku telah mengampuni aku karena hijrah ku kepada Nabi ﷺ.
At-Thufail
bertanya lagi: Ada apa dengan kedua tangan mu ?
Lelaki itu
menjawab: Dikatakan kepada ku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah
engkau rusakkan kedua tanganmu.
At-Thufail
menceritakan kepada Nabi ﷺ hal itu. Lalu Rasulullah ﷺ brdo'a : "Ya Allah, untuk tangannya
itu, kau ampunilah".
Dan beliau ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA”.
[HR.
Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Bab Rof‘u Al-Aidi fi Ad-Du‘a, 614/94].
Sanadnya di
shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 . Namun Di Dhaifkan
oleh al-Albaani di Dha'if al-Adab al-Mufrad ]
Hadits ini
di riwayatkan pula Imam Muslim dalam shahinya no. 116 , 329 dengan lafadz yang
hampir sama dan lebih panjang , namun tidak ada tambahan lafadz : [[ Dan beliau
ﷺ
mengangkat kedua tangannya ]].
Berikut ini
lafadz Shahih Muslim :
أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو
الدَّوْسِيَّ، أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِي
حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنَعَةٍ – قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ –
فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ ﷺ لِلَّذِي ذَخَرَ اللَّهُ لِلأَنْصَارِ فَلَمَّا
هَاجَرَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ
عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ
فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ
يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ فَرَآهُ
وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا صَنَعَ بِكَ
رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ ﷺ فَقَالَ مَا لِي
أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ
. فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ «اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ»
Sesungguhnya
Thufail bin Amr Ad-Dausi datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah
engkau berkenan berada di sebuah benteng yang kokoh dan memiliki perlindungan?”
Beliau ﷺ
berkata, “Benteng itu dahulu milik kabilah Daus pada masa jahiliah.”
Namun
Rasulullah ﷺ
menolak tawaran tersebut, karena Allah telah menyiapkan perlindungan itu bagi
kaum Anshar.
Ketika
Rasulullah ﷺ
berhijrah ke Madinah, Thufail bin Amr pun berhijrah menemui beliau. Bersamanya
ikut berhijrah seorang laki-laki dari kaumnya. Mereka merasa tidak cocok
tinggal di Madinah, lalu orang itu jatuh sakit. Karena sangat gelisah, ia
mengambil anak panah miliknya, kemudian memotong ruas-ruas jari tangannya.
Darah pun mengalir deras dari kedua tangannya hingga akhirnya ia meninggal
dunia.
Thufail bin
Amr kemudian melihat orang itu dalam mimpinya. Ia melihat keadaannya baik,
namun kedua tangannya tertutup. Thufail bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan
Rabbmu kepadamu?”
Ia
menjawab, “Allah telah mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya ﷺ.”
Thufail
bertanya lagi, “Mengapa aku melihat engkau menutupi kedua tanganmu?”
Ia
menjawab, “Dikatakan kepadaku, ‘Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah engkau
rusak sendiri.’”
Thufail
lalu menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah ﷺ.
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Ya Allah, ampunilah juga kedua tangannya.”
----
Hadits ke 3
:
Dari
Ikrimah dari Aisyah radhiyallahu anha :
أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو رَافِعًا
يَدَيْهِ ، يَقُولُ : «اللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَلا تُعَاقِبْنِي ،
أَيُّمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ آذَيْتُهُ أَوْ شَتَمْتُه فَلاَ تَعَاقِبْنِي
فِيْهِ».
Bahwa dia
[Aisyah radhiyallahu ‘anha ] melihat Nabi ﷺ berdoa sambil mengangkat kedua tangannya
dengan mengucapkan :
"Ya
Allah, aku hanyalah seorang manusia, maka janganlah hukum aku. Siapa saja
orangnya dari kaum mukminin , yang pernaha aku sakiti atau akau caci maki ;
maka janganlah Kau hukum aku karenanya ." [ HR. Bukhori dalam al-Adab
al-Mufrad no. 611 ]
Sanadnya di
shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 dan dinyatakan oleh
al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 610/477 : صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ [ Shahih lighoirihi ]
Al-Imam
an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 berkata:
رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ
الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابِهِ
Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad
yang sahih. Kemudian beliau berkata di bagian akhirnya: “Hadis-hadits ini sahih
dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabatnya.” [Selesai]
DALIL-DALIL
LAIN YANG MENUNJUKKAN
HUKUM ASAL MENGANGKAT
TANGAN DALAM BERDOA ADALAH SUNNAH:
---
HADITS KE 1
:
Dari salman
al farisy berkata rasulullah bersabda:
"ما رَفَعَ قوْمٌ أَكُفَّهم إلَى اللهِ
عَزَّ وجَلَّ، يَسْألُونه شَيْئاً إلاَّ كانَ عَلى اللهِ حَقًّا أن يَضَعَ في
أيْدِيْهِم الَّذِي سَألُوْا"
"Tidaklah
suatu kaum mengangkat telapak tangan mereka kepada Allah meminta sesuatu pada
NYA kecuali baginya hak pada Allah untuk meletakan pada tangan-tangan mereka
apa yang mereka mintakan pada-Nya . [ HR. ath-Thabrani dalam al-Mu'jam
al-Kabiir 6/254]
Imam
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 10/169 :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ
رِجَالُ الصَّحِيحِ
"Hadist
ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan para perawinya adalah para perawi
ash-Shohih ".
----
HADITS KE 2
:
Dari Salman
Al-Farisi rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»
Sesungguhnya
Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu dia mengembalikannya
dalam keadaan kosong dan hampa. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 3556 dan Ibnu
Maajah no. 3131).
Al-Hafidz
Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram no. 1580 berkata :
أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا
النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ
Empat Imam
meriwayatkannya, kecuali an-Nasa`i. Al-Hakim menilainya shahih
Dan dalam
Fathul-Bari 11/142 , al-Haafidz Ibnu Hajar menjelaskan:
وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ
وَالتِّرْمِذِيّ وَحَسَّنَهُ وَغَيْرهمَا مِنْ حَدِيث سَلْمَان رَفَعَهُ:
«إِنَّ رَبّكُمْ حَيِيّ كَرِيم
يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْده إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدّهُمَا صِفْرًا
»
بِكَسْرِ الْمُهْمَلَة وَسُكُون الْفَاء
أَيْ خَالِيَة وَسَنَده جَيِّد
Abu Dawud,
at-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan, dan at-Tirmidzi menilainya hasan,
dari hadits Salman yang ia marfu’kan:
“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Mulia. Ia merasa malu
dari hamba-Nya jika ia (berdo’a) mengangkat tangan kepada-Nya dengan
mengembalikannya dalam keadaan kosong”
Dengan
mengkasrah yang tidak bertitik (shad) dan mensukun fa (yakni shifr) maknanya
kosong - dan SANADNYA BAIK ".
Di
Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi no. 3556 dan Shahih Ibnu Majah no.
3131.
-----
HADITS KE 3
:
Dari Abu
Musa Al-As’ary rodhiyallahu ‘anhu berkata :
«دَعَا
النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»
Nabi ﷺ
berdo’a, kemudian mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua
ketiak Beliau. (HR. Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 2498).
Dan dari Abu Musa
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
دَعَا النَّبِيُّ ﷺ بِمَاءٍ
فَتَوَضَّأَ بِهِ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ
أَبِي عَامِرٍ» وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ
يَوْمَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ»
Nabi ﷺ meminta
air, lalu beliau berwudhu dengannya, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya
dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.” Aku melihat putih kedua
ketiaknya. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pada hari kiamat
berada di atas banyak manusia dari makhluk-Mu.”
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari no. 4323 dan 6383, serta Muslim no. 165 (2498).
----
HADITS KE 4
:
Dari Anas
radhiyallaahu anhu , ia berkata:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللهِ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ
إِبْطَيْهِ»
‘Saya
melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, sehingga kelihatan
putihnya kedua ketiaknya’.” [ HR. Bukhori no. 1031 dan Muslim no. 895 ]
Dalam
riwayat lain dari Yahya bin Sa’id dan Syariik , mereka berdua mendengar Anas
menyebutkan :
أنَّ النَّبِيِّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى
رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ.
Bahwa Nabi ﷺ
mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak beliau SAW.
(HR. Bukhari no. 1030 , 6341).
----
HADITS KE 5
:
Dari
‘Athoo, ia berkata: Berkatalah Usamah bin Zaid -radhiyallahu 'anhu - :
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ ﷺ بِعَرَفَاتٍ
فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ فَسَقَطَ خِطَامُهَا
فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ اْلأُخْرَى
‘Saya
membonceng Nabi ﷺ di Arafah, maka beliau MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil
berdo’a, lalu untanya condong miring , dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau
mengambil tali kekang tersebut dengan salah satu tangannya, dan beliau tetap
berdoa dengan mengangkat tangan lainnya’.”
[ HR.
An-Nasaa'i no. 3011 dan Ahmad no. 21821 . Di shahihkan asy-Syaukani dalam Neil
al-Awthaar 5/138 dan al-Albaani dalam Shahih an-Nasaa'i no. 3011].
----
HADITS KE 6
:
Dari
Abdurrahman bin Samurah dia berkata;
يْنَمَا أَتَرَمَّى بِأَسْهُمٍ فِي
حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ كُسِفَتْ الشَّمْسُ فَنَبَذْتُهُنَّ وَقُلْتُ
لَأَنْظُرَنَّ مَا أَحْدَثَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ كُسُوفُ الشَّمْسِ الْيَوْمَ
فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يُسَبِّحُ وَيُحَمِّدُ وَيُهَلِّلُ
وَيَدْعُو حَتَّى حُسِرَ عَنْ الشَّمْسِ فَقَرَأَ بِسُورَتَيْنِ وَرَكَعَ
رَكْعَتَيْنِ
"Ketika
kami melepaskan anak panah di masa hidupnya Rasulullah ﷺ, tiba-tiba terjadi gerhana Matahari, lalu
aku segera meletakkan anak panah tersebut dan berkata; "Sungguh aku akan
melihat kejadian apa yang akan menimpa Rasulullah ﷺ pada hari terjadinya gerhana Matahari
ini."
Lalu aku
menemui beliau, ternyata beliau sedang MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil
bertasbih, tahmid dan bertahlil serta berdo'a hingga gerhana hilang dari
matahari. Beliau membaca dua surat dan shalat dua raka'at."
[ HR.
Muslim (913), Abu Dawud (1195), dan kata-katanya adalah miliknya, an-Nasa'i
(1460), dan Ahmad (20636).
----
HADITS KE 7
:
Abdullah
bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :
أنَّ النبيَّ ﷺ تَلا قَوْلَ اللهِ عزَّ
وجلَّ في إبْراهِيمَ:
﴿رَبِّ إنَّهُنَّ
أضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فمَن تَبِعَنِي فإنَّه مِنِّي﴾ [إبراهيم: 36]
الآيَةَ،
وقالَ عِيسَى عليه السَّلامُ: ﴿إنْ
تُعَذِّبْهُمْ فإنَّهُمْ عِبادُكَ وإنْ تَغْفِرْ لهمْ فإنَّكَ أنْتَ العَزِيزُ
الحَكِيمُ﴾ [المائدة: 118]،
فَرَفَعَ يَدَيْهِ وقالَ: «اللَّهُمَّ
أُمَّتي أُمَّتِي، وبَكَى»
فقالَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: «يا جِبْرِيلُ
اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، ورَبُّكَ أعْلَمُ، فَسَلْهُ ما يُبْكِيكَ؟» فأتاهُ
جِبْرِيلُ عليه الصَّلاةُ والسَّلامُ، فَسَأَلَهُ فأخْبَرَهُ رَسولُ اللهِ ﷺ بما
قالَ، وهو أعْلَمُ، فقالَ اللَّهُ: «يا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ:
إنَّا سَنُرْضِيكَ في أُمَّتِكَ، ولا نَسُوءُكَ»
"Nabi ﷺ
membaca ayat Allah SWT tentang Nabi Ibrahim:
﴿رَبِّ
إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ
مِنِّي﴾
'Ya
Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia, maka siapa yang
mengikutiku, orang itu termasuk golonganku'. (QS Ibrahim ayat 36)
Lalu Nabi ﷺ
membaca ayat tentang perkataan Nabi Isa alaihis salam :
﴿إِنْ
تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
'Jika
Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau. Jika
Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana'. (QS Al-Maidah ayat 118)
Kemudian
Nabi ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, dan berkata: 'Umatku, umatku'.
Beliau
menangis. Maka Allah SWT berfirman : 'Wahai Jibril, temui Muhammad, dan Tuhanmu
lebih mengetahui, tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis'?
Maka Jibril
mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah ﷺ memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka
Allah berfirman :
'Wahai
Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, 'Kami akan membuatmu ridha dalam masalah
umatmu dan kami tidak akan menyakitimu'."
(HR Muslim
No 202)
----
HADITS KE 8
:
Muhammad
bin Qais berkata, saya mendengar Aisyah menceritakan, ia berkata;
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ
رَسُولِ اللهِ ﷺ قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: قَالَتْ: لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِي الَّتِي
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِيهَا عِنْدِي، انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ، وَخَلَعَ
نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ، وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى
فِرَاشِهِ، فَاضْطَجَعَ، فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ
رَقَدْتُ، فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا، وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا، وَفَتَحَ
الْبَابَ فَخَرَجَ، ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا، فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي،
وَاخْتَمَرْتُ، وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي، ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ، حَتَّى
جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ، فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ
"Maukah
kalian aku ceritakan hadits tentang diriku dan tentang Rasulullah ﷺ?".
Kami menjawab : "Ya, mau."
Aisyah -
radhiyallahu 'anhaa - berkata :
" Pada
suatu malam ketika giliran Rasulullah ﷺ di rumahku, setelah beliau menanggalkan
pakaiannya, meletakkan terompahnya dekat kaki dan membentangkan pinggir
jubahnya di atas kasur, beliau lantas berbaring.
Setelah
beberapa lama kemudian dan barangkali beliau menyangkaku telah tidur, beliau
mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian
ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan beliau seperti itu, kukenakan
pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain.
Kemudian
aku mengikuti beliau dari belakang hingga sampai di Baqi'. Ketika sampai di
sana beliau berdiri agak lama, kemudian beliau MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA tiga
kali, sesudah itu beliau berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului
beliau....."
[HR. Muslim
no. 1619 dan Ibnu Hibbaan no. 7110].
-----
HADITS KE 9
:
Dari Abu
Humaid Al-Sa`idi radhiyallaahu anhu :
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا
مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَجَاءَ
فَقَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى
الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ:
«مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ
فَيَجِيءُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ
أُمِّهِ أَوْ أَبِيهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا لَا يَأْتِي أَحَدٌ
مِنْكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنْ كَانَ
بَعِيرًا فَلَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً فَلَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ»
ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا
عُفْرَةَ إِبِطَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ
بَلَّغْتُ»
Bahwa Nabi ﷺ
mengangkat seorang laki-laki dari Azd yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai
pegawai untuk mengurusi zakat, kemudian ia datang dan berkata; ini yang menjadi
untuk anda dan yang ini dihadiahkan kepadaku.
Kemudian
Nabi ﷺ
berdiri di atas mimbar lalu memuji Allah dan bersabda:
"Bagaimana
dengan seorang pekerja yang kami utus, kemudian datang dan berkata; ini untuk
anda dan ini dihadiahkan kepadaku.
Tidakkah
sekiranya ia duduk di rumah ayah atau ibunya kemudian menunggu, apakah ia akan
diberi hadiah atau tidak?
Tidaklah
seseorang diantara kalian mengambil sesuatupun dari hal tersebut kecuali pada
Hari Kiamat ia datang dengan membawanya pada lehernya, apabila sesuatu tersebut
adalah unta maka unta tersebut bersuara unta, apabila atau sapi maka sapi
tersebut bersuara sapi, dan kambing yang mengembik."
Kemudian
Rasulullah ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA hingga kami melihat putih kedua ketiaknya. Kemudian
beliau mengucapkan:
"Ya
Allah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, bukankah aku telah
menyampaikan?"
[ HR.
Bukhori no. 2597 , 7174 , Muslim no. 1832 dan Abu Daud no. 2557 ]
----
HADITS KE 10
:
Hadits Abu
Sa'iid Al-Khudri berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ
يَدْعُو لِعُثْمَانَ يقُوْلُ : «يَا رَبَّ عُثْمَانَ إنَّي رَضِيْتُ عَنْ
عُثْمَانَ فَارْضَ عَنْه».
فَمَا زَالَ يَدْعُوْ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرَ
فَنَزَلَتْ : ﴿اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ
اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ﴾.
Aku melihat
Nabi ﷺ
sambil MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA berdoa untuk Utsman [bin Affaan] , dengan
mengucapkan :
"
Wahai Tuhan nya Utsman ! Sesungguhnya aku ridho dengan Utsman, maka Engkau
ridhoi-lah Utsman !!! " .
Dan beliau ﷺ
terus berdoa hingga fajar terbit . Lalu turun wahyu :
"
Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa
yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan
penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut
pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" [QS. Al-Baqarah : 262 ].
[ al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 :
أَخْرَجَهُ الْمُصَنِّفُ فِي جُزْءِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ
Diriwayatkan
oleh al-Mushonnif [ yakni : al-Bukhori ] dalam sebuah Juz tentang mengangkat
kedua tangan ".
Hadits ini
di sebutkan pula oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir nya 3/306.
Dan di
Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalm Fathul Baari 11/142 ]
----
HADITS KE 11
:
Hadits
'Aisyah radhiyallaahy anha :
دَخَلَ عَليَّ رسُولُ الله ﷺ فَرأَى
لَحْمًا ، فَقَال : «مَنْ بَعَثَ بِهَذا ؟» قُلْتُ : عُثْمَان . قَالَتْ :
فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ ، يَدْعُوْ لِعُثْمَانَ ".
Rasulullah ﷺ
masuk ke rumahku dan beliau melihat daging, maka beliau bertanya : Siapa yang
mengirim ini? Aku menjawab : Utsman.
Dia
berkata: Lalu aku melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya, berdoa untuk
Utsman".
[HR.
Al-Bazzaar ( Kasyful Astaar no. 2508 dan Jaami' al-Masaanid wa as-Sunan no. 225
)]
Ibnu Hajar
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14520 [cet. Darul
Kutub al-Ilmiyyah ]:
" رَوَاه البَزَّار بِإسْنَادٍ حَسَنٍ ".
"Diriwayatkan
oleh al-Bazzaar dengan Sanad yang HASAN".
----
HADITS KE 12
:
Hadits Abu
Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «مَا هَذَا ؟»
قَالُوا : "أَرْسَلَ بِهَا عُثْمَانُ هَدِيَّةً لَكَ" ، قَالَ :
فَرَأَيْتُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو لِعُثْمَانَ، مَا سَمِعْتُهُ يَدْعُو
لِأَحَدٍ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ : «اللَّهُمَّ أَعْطِ عُثْمَانَ ، وَافْعَلْ
بِعُثْمَانَ»، رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ .
Rosulullah ﷺ
bertanya : " Apa ini ?"
Mereka
menjawab : Usman mengirimkannya sebagai hadiah untukmu.
Dia [ Abu
Mas'ud ] berkata: Aku melihat beliau ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa untuk
Utsman, sebuah doa yang aku belum pernah mendengar beliau ﷺ
berdoa dengannya untuk siapapun sebelumnya atau sesudahnya , yaitu doa :
"Ya
Allah, beri-lah Usman, dan lakukan-lah untuk Usman"
Sambil
mengangkat kedua tangannya , hingga aku melihat putih kedua ketiaknya .
[HR. Imam
Ahmad dalam Fadhail ash-Shahabah 1/234 no. 287 cet. Muassasah ar-Risalah dan
ath-Thabrani 17/249]
Ibnu Hajar
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14523 [cet. Darul
Kutub al-Ilmiyyah ]:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ سَعِيدُ
بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ، وَهُوَ ضَعِيفٌ. وَرَوَاهُ فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ
رُؤْيَا رَآهَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
"
Diriwayatkan oleh al-Tabarani, dan dalam sanadnya ada Sa'id bin Muhammad
al-Warraq, dan dia itu lemah. Dan dia meriwayatkannya juga dalam al-Awshath ,
dan di dalamnya ada kisah mimpi bahwa Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma
melihat-nya dalam mimpi ".
----
HADITS KE 13
:
Dari Umar
bin Al Khaththab radliallahu 'anhu , dia berkata:
"كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ سُمِعَ عِنْدَ وَجْهِهِ دوِي
كَدَوِيِّ النَّحْل فأُنزِل عَلَيْهِ يَوْمًا فَمَكَثْنَا سَاعَةً فَسُرِّيَ
عَنْهُ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ:
«اللَّهُمَّ
زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلَا
تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا»
ثُمَّ قَالَ: «أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْرُ
آيَاتٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ» ثُمَّ قَرَأَ: ﴿قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ﴾ حَتَّى خَتَمَ عَشْرَ آيَاتٍ".
Bila turun
wahyu kepada nabi SAW, maka didekat wajah beliau terdengar seperti dengungan
lebah.
Pada suatu
hari, turun wahyu kepada beliau, kami diam sejenak, beliau terlihat gembira
lalu menghadap kiblat dan berdoa:
"Ya
Allah, tambahilah kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan
hinakan kami, berilah kami dan jangan cegah kami, kedepankan kami dan jangan
kesampingkan kami, ridhailah kami dan ridhailah perbuatan-perbuatan kami."
Setelah itu
nabi ﷺ
bersabda: "Sepuluh ayat diturunkan padaku, barangsiapa menunaikannya akan
masuk surga."
Beliau
membaca:
﴿قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ﴾
"Sungguhnya
beruntung orang-orang yang beriman."
Hingga
sepuluh ayat. (Al Mu`minuun: 1-10 )
[ HR.
Tirmudzi no. 3097 ]
Di Hasankan
oleh al-Haafidz Ibnu Hajar dalam Muqoddimah Takhrij Misykaat al-Mashaabiih 3/32
Dan di
dhaifkan oleh al-Munawi dalam Takhriij Ahaadits al-Mashaabiih 2/349 ,
al-Albaani dalam Dhaif Tirmidzi no. 3173 dan Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij
al-Musnad no. 223 .
Al-Mubaarakfuuri
dalam Tuhfatul Ahwadzi 8/148 berkata :
فِي سَنَدِهِ يُونُسُ بْنُ سُلَيْمٍ
الصَّنْعَانِيُّ، قَالَ فِي الْمِيزَانِ: تُكُلِّمَ فِيهِ وَلَمْ يُعْتَمَدْ فِي
الرِّوَايَةِ، وَمَشَّاهُ غَيْرُهُ. وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ: لَا يُتَابَعُ عَلَى
حَدِيثِهِ وَلَا يُعْرَفُ إِلَّا بِهِ.
Dalam
sanadnya ada Yunus bin Salim Al-Shan'aani . Adz-Dzahabi mengatakan dalam
Al-Mizan : " Dia itu masih diperbincangkan ", dan dia itu tidak
mu'tamad dalam riwayatnya. Tapi ada sebagian yang meloloskannya . Dan
al-'Uqaili berkata : Dia haditsnya tidak bisa di beri mutabaah , dan tidak
dikenal kecuali dengan kondisi seperti ini ".
----
HADITS KE 14
:
Abdurrozzaaq
meriwayatkan : Dari Muammar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِقَوْمٍ
مِنَ الْأَعْرَابِ كَانُوا قَدْ أَسْلَمُوا، وَكَانَتِ الْأَحْزَابُ خَرَّبَتْ
بِلَادَهُمْ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو لَهُمْ بَاسِطًا يَدَيْهِ قِبَلَ
وَجْهِهِ.
Bahwa
Rasulullah ﷺ
melewati sekelompok orang Arab yang telah masuk Islam. Pasukan ahzaab [sekutu]
telah menghancurkan negeri mereka, maka Rasulullah ﷺ mengangkat [tangannya] berdoa untuk mereka
dengan merentangkan kedua tangannya di depan wajahnya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 53 ].
Sanadnya
Mursal .
---
HADITS KE 15
:
Dari Umar
rodhiyallahu ‘anhu berkata :
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا مَدَّ
يَدَيهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
Apabila
Rasulullah ﷺ
mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a, dia tidak mengembalikannya
(menurunkannya) hingga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR.
At-Tirmidzi no. 3386).
Abu Isa
Tirmidzi berkata :
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ، لَا
نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى، وَقَدِ انْفَرَدَ بِهِ
وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ، وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ ثِقَةٌ، وَثَّقَهُ
يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. اهـ.
Ini adalah
hadits SHAHIH GHORIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin
Isa, dan dia sendirian di dalamnya dan dia memiliki sedikit hadits, dan
Handzala bin Abi Sufyan tsiqoh , di tautsiq oleh Yahya bin Sa'iid al-Qaththaan
".
Al-Haafidz
Ibnu Hajar rohimahullah dalam Bulughul Maram berkata :
أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، لَهُ
شَوَاهِدُ مِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ، وَغَيْرِهِ،
وَمَجْمُوعُهَا يَقْضِي بِأَنَّهُ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Hadist ini
diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rohimahullah, dan ada beberapa hadist
lainnya yang semakna dengan hadist ini. Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas didalam Sunan Abi Dawud dan lainnya, yang secara keseluruhan
menyebabkan derajat hadist ini menjadi hadist hasan. [ Lihat : kitab Subulus
Salam Syarah Bulughul Marom 2/709 ]
----
HADITS
KE 16 :
Dari Ali
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
رَأَيْتُ امْرَأَةَ الْوَلِيدِ
جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ تَشْكُو إِلَيْهِ زَوْجَهَا أَنَّهُ يَضْرِبُهَا
فَقَالَ لَهَا: " اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَذَهَبَتْ
ثُمَّ رَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنَّهُ عَادَ يَضْرِبُنِي فَقَالَ لَهَا: "
اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَكَ " ، فَذَهَبَتْ
ثُمَّ عَادَتْ ، فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي فَقَالَ: " اذْهَبِي
فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي فَرَفَعَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْوَلِيدِ»
Aku melihat istri
Al-Walid datang kepada Nabi ﷺ mengadukan suaminya karena ia memukulnya. Maka beliau berkata
kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.”
Ia pun pergi, lalu
kembali dan berkata, “Sesungguhnya ia kembali memukulku.”
Beliau ﷺ berkata
kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Nabi ﷺ
mengatakan kepadamu (begini dan begini).”
Ia pun pergi,
kemudian kembali lagi dan berkata, “Sesungguhnya ia memukulku.”
Beliau ﷺ kembali
bersabda, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.” Ia berkata lagi,
“Sesungguhnya ia memukulku.”
Maka Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah,
(hukumlah) Al-Walid.”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam *Qurratul ‘Aynain fi Raf‘il Yadain fis Shalah* hlm. 66 no. 92,
dan oleh Ibnul Imam dalam *Silahul Mu’min fid Du‘a* hlm. 114 no. 175].
----
HADITS
KE 17:
Dari Aisyah
radhiyallahu ta‘ala ‘anha, ia berkata:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى بَدَا ضَبْعَاهُ، يَدْعُو لِعَوْدِ
عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ»
“Aku melihat
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya,
beliau berdoa untuk kesembuhan (kembalinya kesehatan) Utsman radhiyallahu
ta‘ala ‘anhu.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510]
----
HADITS
KE 18 :
Dan dari Muhammad
bin Ibrahim At-Taimi, ia berkata:
«أَخْبَرَنِي
مَنْ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو عِنْدَ أَحْجَارِ الزَّيْتِ بَاسِطًا كَفَّيْهِ».
“Telah mengabarkan
kepadaku seseorang yang melihat Nabi ﷺ berdoa di dekat Ahjar
Az-Zait dengan membentangkan kedua telapak tangannya.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510-511]
-----
HADITS
KE 19 :
Dan dari Abu
Utsman, ia berkata:
«كَانَ عُمَرُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ»
“Umar radhiyallahu
‘anhu biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511].
----
HADITS KE 20:
Dari
al-Qoosim bin Muhammad bin Abu Bakar , dia berkata :
«رَأَيْت ابن عُمَرَ
يَدْعُو عِنْدَ الْقَاصِّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا
مَنْكِبَيْهِ بَاطِنُهُمَا مِمَّا يَلِيهِ وَظَاهِرُهُمَا مِمَّا يَلِي وَجْهَهُ»
Aku melihat
Ibnu Umar berdoa disisi pendongeng, sambil mengangkat kedua tangannya hingga
tinggi sejajar dua bahu nya , sisi dalam telapaknya di setelah bahunya ,
sementara sisi punggung telapaknya di setelah wajahnya.
Diriwayatkan
al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad dan di Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam Fathul Baari 11/142 .
----
HADITS KE 21:
Dan dari Al-Aswad:
«أَنَّ ابْنَ
مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ».
bahwa Ibnu Mas‘ud
radhiyallahu ‘anhu juga biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”
Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511.
Lalu Al-Imam
an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 menisbatkan hadits-hadits diatas kepada riwayat
al-Imam al-Bukhori dalam Kitabnya Rof’ul Yadain.
Al-Imam An-Nawawi
berkata
رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ
الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابِهِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ غَيْرُ مَا ذَكَرْتُهُ
وَفِيمَا ذَكَرْتُهُ كِفَايَةٌ وَالْمَقْصُودُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنْ ادَّعَى
حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتْ الْأَحَادِيثُ بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ
غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad yang sahih. Kemudian
beliau berkata di bagian akhirnya:
Hadis-hadits ini
sahih dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabat beliau.
Dan dalam masalah
ini terdapat banyak hadits selain yang telah aku sebutkan. Apa yang telah aku
sebutkan sudah mencukupi.
Maksudnya
adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat
yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah
keliru dengan kekeliruan yang sangat nyata. Wallaahu Ta’aala A’lam”.
HADITS DO’A DALAM SHALAT SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
Dari Sahl
bin Sa‘d As-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذَهَبَ إِلَى
بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ.
وَحَانَتِ الصَّلَاةُ. فَجَاءَ
الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ
فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ.
فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ، وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ.
فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ.
فَصَفَّقَ النَّاسُ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ.
فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ مِنَ
التَّصْفِيقِ، الْتَفَتَ أَبُو بَكْرٍ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ «فَأَشَارَ
إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ».
فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ
بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ حَتَّى اسْتَوَى فِي
الصَّفِّ. وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ.
فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ
أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ»،
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ
أَبِي قُحَافَةَ، أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا لِي
رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمْ مِنَ التَّصْفِيحِ؟ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ
فَلْيُسَبِّحْ. فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا
التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ»
bahwa
Rasulullah ﷺ
pergi kepada Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka. Ketika waktu sholat
tiba, muazin datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Apakah engkau
akan mengimami manusia agar aku menegakkan iqamah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Abu
Bakar pun mengimami salat.
Kemudian
Rasulullah ﷺ
datang sementara orang-orang sedang dalam salat. Beliau berjalan menyelinap
hingga berdiri di dalam saf. Orang-orang pun bertepuk tangan, sedangkan Abu
Bakar tidak biasa menoleh dalam salatnya. Ketika orang-orang semakin banyak
bertepuk tangan, Abu Bakar pun menoleh, lalu melihat Rasulullah ﷺ.
Maka Rasulullah ﷺ memberi isyarat kepadanya agar tetap di tempatnya.
Lalu Abu
Bakar mengangkat kedua tangannya dan memuji Allah atas perintah Rasulullah ﷺ
tersebut, kemudian ia mundur hingga berdiri rata di dalam saf. Rasulullah ﷺ
pun maju lalu mengimami salat.
Setelah
selesai, beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk tetap
(di tempatmu) ketika aku memerintahkanmu?”
Abu Bakar
menjawab, “Tidaklah pantas bagi Ibnu Abi Quhafah untuk sholat di hadapan
Rasulullah ﷺ.”
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Mengapa aku melihat kalian banyak bertepuk tangan? Barang siapa yang
mengalami sesuatu dalam salatnya, hendaklah ia bertasbih. Karena jika ia
bertasbih, maka akan diperhatikan. Adapun tepuk tangan itu khusus bagi para
wanita.”
[HR.
Bukhori no. 684 dan Muslim no. 421]
Dan telah diketahui
bahwa peristiwa itu terjadi di dalam salat; maka di luar salat tentu lebih
utama dan lebih layak.
Al-Baji berkata
dalam *Al-Muntaqa* 1/289:
وَرَفْعُ أَبِي بَكْرٍ يَدَيْهِ فِي
الصَّلَاةِ لِلدُّعَاءِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ. وَقَدْ
رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ جَوَازُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مَوْضِعِ الدُّعَاءِ
“Diangkatnya kedua
tangan Abu Bakar dalam salat untuk berdoa merupakan dalil bolehnya hal itu
dalam salat. Dan telah diriwayatkan dari Malik bolehnya mengangkat kedua tangan
pada tempat doa.”
Tidak keluar dari
kaidah ini kecuali apa yang telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa
beliau berdoa namun tidak mengangkat kedua tangannya, seperti doa di antara dua
sujud, pada akhir tasyahud, doa istiftah, dan doa dalam khutbah Jumat bagi imam
— selain dalam istisqa — karena sunnah di dalamnya adalah berisyarat dengan
jari. Maka dalil-dalil dalam hal ini bersifat khusus”. [Selesai]
Dan dari Anas
radhiyallahu ‘anhu tentang kisah para qurra’ (para penghafal Al-Qur’an) yang
terbunuh, Anas berkata:
«لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو
عَلَيْهِمْ» يَعْنِي: عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوهُمْ.
“Sungguh aku telah
melihat Rasulullah ﷺ, setiap kali beliau salat Subuh, beliau mengangkat kedua
tangannya dan berdoa atas mereka,” maksudnya: atas orang-orang yang telah membunuh
para qurra’ tersebut.
[Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad (3/137), Ath-Thabrani dalam *Al-Mu‘jam Al-Kabir* (4/51
no. 3606), dan Al-Baihaqi (2/211)].
An-Nawawi berkata
dalam *Al-Majmu‘* (3/508): “Sanadnya sahih atau hasan.”
Ibnu Al-Mulaqqin
berkata dalam *Tuhfatul Muhtaj* (1/307): “Sanadnya jayyid (baik).”
Al-‘Iraqi berkata
dalam *Takhrij Al-Ihya’* (1/240): “Sanadnya jayyid.”
Al-Bushiri dalam
*Ithaf Al-Khairah Al-Maharah* (7/120) menisbatkannya kepada Ahmad bin Mani‘ dan
berkata: “Para perawinya tsiqah (terpercaya).”
Al-Albani
berkata dalam *Ashlu Shifati Shalatin Nabi ﷺ* (hlm. 957): “Sanadnya sahih.”
HADITS DO’A ISTISQOO SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Dari Anas
radhiyallahu 'anhu , dia berkata:
أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ مِنْ أَهْلِ البَدْوِ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَتِ
المَاشِيَةُ، هَلَكَ العِيَالُ هَلَكَ النَّاسُ، «فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ،
يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ يَدْعُونَ»،
قَالَ: فَمَا خَرَجْنَا مِنَ المَسْجِدِ حَتَّى
مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا نُمْطَرُ حَتَّى كَانَتِ الجُمُعَةُ الأُخْرَى، فَأَتَى الرَّجُلُ
إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَشِقَ المُسَافِرُ وَمُنِعَ
الطَّرِيقُ
Seorang
laki-laki Arab Badui dari penduduk pedalaman datang kepada Muhammad ﷺ
pada hari Jumat, lalu ia berkata:
“Wahai
Rasulullah ﷺ,
ternak telah binasa, keluarga telah binasa, dan manusia telah binasa.”
Maka
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan beliau berdoa, dan orang-orang pun
mengangkat tangan mereka bersama beliau sambil berdoa.
Ia berkata:
Maka kami belum keluar dari masjid sampai kami dituruni hujan. Dan hujan terus
turun kepada kami sampai datang Jumat berikutnya.
Lalu
laki-laki itu datang lagi kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai
Rasulullah ﷺ,
para musafir telah mengalami kesulitan dan jalan-jalan terputus.”
[HR.
Bukhori no. 1029]
Dalam lafadz
riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّهُ رَفَعَ يَدَيْهِ
حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»
“Bahwa beliau mengangkat kedua tangannya hingga aku melihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 1030]
Dalam lafadz riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ
وَهَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا
"Ketika Nabi
ﷺ
berkhutbah pada hari Jum’at, berdirilah seseorang dan berkata: ‘Hai Rasulullah,
lembu-lembu dan kambing-kambing telah mati, dan telah mati pula biri-biri, maka
berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan minum kepada kita!’.
Kemudian
beliau mengulurkan kedua tangannya dan berdo’a.”
(HR.
al-Bukhariy no. 932 dan Muslim no. 897 ).
Telah ada ketetapan
yang shahih bahwa mengangkat kedua tangan dalam istisqa dari Nabi ﷺ,
diriwayatkan oleh sejumlah para sahabat
An-Nawawi berkata
dalam *Al-Majmu‘* 3/507-508:
(فَرْعٌ) فِي اسْتِحْبَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَبَيَانِ جُمْلَةٍ
مِنَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِيهِ: اعْلَمْ أَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ لِمَا
سَنَذْكُرُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، وَرَفَعَ
يَدَيْهِ، وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الْجِبَالِ،
ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ مِنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ مِنْ
لِحْيَتِهِ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَرَوَيَا بِمَعْنَاهُ عَنْ
أَنَسٍ مِنْ طُرُقٍ كَثِيرَةٍ.
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ:
«فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدْعُونَ، فَمَا خَرَجْنَا مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى
مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا بِمَطَرٍ حَتَّى كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْأُخْرَى،
وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ».
“Cabang
pembahasan: tentang anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa di luar salat,
serta penjelasan sejumlah Hadits yang diriwayatkan tentangnya. Ketahuilah bahwa
hal itu disunnahkan; berdasarkan apa yang akan kami sebutkan insya Allah
Ta‘ala, dari Anas radhiyallahu ‘anhu: ‘Bahwa Nabi ﷺ
melakukan istisqa dan mengangkat kedua tangannya, sementara di langit tidak ada
sepotong awan pun. Lalu muncul awan seperti gunung-gunung, dan beliau tidak
turun dari mimbarnya hingga aku melihat hujan mengalir dari janggutnya.’”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Keduanya juga meriwayatkan maknanya
dari Anas melalui banyak jalur.
Dalam riwayat
Al-Bukhari disebutkan:
“Rasulullah ﷺ
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan orang-orang pun mengangkat tangan
mereka bersama Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Kami tidak keluar dari masjid hingga kami diguyur
hujan, dan hujan itu terus turun hingga Jumat berikutnya,” lalu disebutkan
kelanjutan Hadits tersebut”. [Selesai]
HADITS DO’A ZIARAH KUBUR SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha dalam hadisnya yang panjang tentang keluarnya Nabi ﷺ pada
malam hari ke Baqi‘ untuk mendoakan dan memohonkan ampun bagi penghuni Baqi‘,
ia berkata:
أَتَى الْبَقِيعَ؛ فَقَامَ فَأَطَالَ
الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ، وَقَالَ:
«إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَانِي فَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ
أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ وَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ».
“Beliau mendatangi
Baqi‘, lalu berdiri dan memperpanjang berdirinya, kemudian mengangkat kedua
tangannya tiga kali, lalu berpaling. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Jibril
‘alaihis salam mendatangiku dan berkata: Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu
untuk mendatangi penghuni Baqi‘ dan memohonkan ampun bagi mereka.’”
[Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim no. 974.
HADITS DO’A SAAT PERANG SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
===
HADITS
KE 1
Dari Abdullah bin
Abbas, ia berkata: Umar bin Al-Khattab menceritakan kepadaku, ia berkata:
لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ
نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ
ثَلَاثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، قَالَ: فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ
ﷺ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ:
«اللَّهُمَّ
أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ أَيْنَ مَا وَعَدْتَنِي؟! اللَّهُمَّ
إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي
الْأَرْضِ أَبَدًا».
فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ،
مَادًّا يَدَيْهِ، مُسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةِ، حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ.
فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ، فَأَخَذَ
رِدَاءَهُ، فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ،
فَقَالَ: "يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فَإِنَّهُ
سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذْ
تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ
الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ﴾ [الْأَنْفَالِ: ٩]، فَأَمَدَّهُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ بِالْمَلَائِكَةِ.
“Ketika terjadi
Perang Badar, Nabi Allah ﷺ melihat kepada kaum musyrikin yang
berjumlah seribu orang, sedangkan para sahabat beliau berjumlah tiga ratus
sembilan belas orang. Maka Nabi Allah ﷺ menghadap kiblat, kemudian mengulurkan
kedua tangannya dan terus berseru kepada Rabb-nya:
‘Ya Allah, penuhilah
untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, di manakah apa yang
telah Engkau janjikan kepadaku? Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini
dari kalangan kaum Muslimin, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka
bumi selamanya.’
Beliau ﷺ terus
berseru kepada Rabb-nya dengan mengulurkan kedua tangannya dan menghadap kiblat hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya. Lalu
Abu Bakar mendatanginya, mengambil selendangnya dan meletakkannya kembali di
atas kedua pundaknya, kemudian memeluknya dari belakang seraya berkata:
‘Wahai Nabi Allah,
cukuplah engkau memohon dengan sungguh-sungguh kepada Rabb-mu, karena
sesungguhnya Dia pasti akan menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu.’
Maka Allah ‘Azza wa
Jalla menurunkan firman-Nya:
“(Ingatlah) ketika
kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu:
‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)
Lalu Allah ‘Azza wa
Jalla pun membantu beliau dengan para malaikat.”
(HR.Muslim no. 58 -(1763), Ahmad (no.208), at-Tirmidzi
(no.3081)).
----
HADITS
KE 2
Dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
صَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْبَرَ
بُكْرَةً، وَقَدْ خَرَجُوا بِالْمَسَاحِي، فَلَمَّا رَأَوْهُ قَالُوا: مُحَمَّدٌ
وَالخَمِيسُ، وَأَحَالُوا إِلَى الحِصْنِ يَسْعَوْنَ، فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ
يَدَيْهِ وَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، خَرِبَتْ خَيْبَرُ، إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا
بِسَاحَةِ قَوْمٍ ﴿فَسَاءَ صَبَاحُ المُنْذَرِينَ﴾»
Rasulullah ﷺ
menyerang Khaibar pada pagi hari, sementara penduduknya telah keluar membawa
cangkul-cangkul mereka. Ketika mereka melihat beliau, mereka berkata, “Muhammad
dan pasukannya!”
Lalu mereka
bergegas kembali ke benteng sambil berlari.
Maka Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya dan bersabda,
“Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Sesungguhnya apabila kami turun di halaman
suatu kaum, maka amat buruklah pagi bagi orang-orang yang telah diperingatkan.”
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari no. 3647 dan Muslim no. 1365.
HADITS DO’A SAAT IBADAH HAJI SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN
----
HADITS
KE 1
Dari Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الجَمْرَةَ
الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ
يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ، فَيَقُومَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، فَيَقُومُ طَوِيلًا،
وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَرْمِي الوُسْطَى، ثُمَّ يَأْخُذُ
ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ، وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، فَيَقُومُ
طَوِيلًا، وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَيَقُومُ طَوِيلًا، ثُمَّ يَرْمِي
جَمْرَةَ ذَاتِ العَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الوَادِي، وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا، ثُمَّ
يَنْصَرِفُ، فَيَقُولُ «هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَفْعَلُهُ»
“Bahwa ia melempar
jumrah yang pertama (Al-Jumrah Ad-Dunya) dengan tujuh batu kecil, sambil
bertakbir setiap selesai melempar satu batu. Kemudian ia maju hingga sampai di
tempat yang lapang, lalu berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama, berdoa
dan mengangkat kedua tangannya.
Kemudian ia
melempar jumrah yang tengah (Al-Wustha), lalu mengambil arah sebelah kiri dan
menuju tempat yang lapang, kemudian berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama,
berdoa dan mengangkat kedua tangannya, serta berdiri lama.
Kemudian ia
melempar Jumrah Aqabah dari tengah lembah dan tidak berhenti di sana. Setelah
itu ia pergi seraya berkata, “Beginilah aku melihat Nabi ﷺ
melakukannya.”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari no. 1751].
---
HADITS KE 2
:
Dari
Abdullah bin Umar radhiyallaahu anhumaa :
«أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا رَمَى الجَمْرَةَ الَّتِي تَلِي مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا
بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ تَقَدَّمَ
أَمَامَهَا، فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو،
وَكَانَ يُطِيلُ الوُقُوفَ، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ، فَيَرْمِيهَا
بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ
اليَسَارِ، مِمَّا يَلِي الوَادِيَ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يَدْعُو، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ العَقَبَةِ،
فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ
يَنْصَرِفُ وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا»
Bahwa
Rasulullah saw, apabila melempar jamrah yang berada di dekat Masjid Mina,
beliau melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan
satu kerikil, lalu maju ke depan dan berdiri sambil menghadap qiblat dan
berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA, dan beliau berhenti lama.
Lalu
mendatangi jamrah kedua dan melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir
setiap melemparkan satu kerikil, lalu turun ke arah kiri, di sebelah lembah,
dan berdiri menghadap qiblat serta berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA,
lalu mendatangi jamrah ‘aqabah, lalu melemparnya dengan tujuh kerikil sambil
bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu pergi dan tidak berhenti di
situ.
[HR.
Bukhori no. 1753 ]
HADITS MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO’A
----
Hadits ke 1
:
Hadits Ibnu
Abbaas , bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«سَلُوا اللهَ
بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا، فَإِذَا فَرَغْتُمْ
فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ»
Mintalah
kepada Allah dengan perut telapak tangan kalian , dan jangan meminta kepada-Nya
dengan punggung telapak tangan kalian , lalu ketika kalian selesai berdoa, maka
usapkanlah ke wajah-wajah kalian dengan nya .
[ HR. Abu
Daud dalam kitab "Sujud Al-Qur'an" dalam BAB ad-Du'aa (1485) dan
lafadz ini lafadz Abu Daud . Dan riwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam kitab
“ad-Du'a” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam Doa” Hadits no. (3866), Al-Hakim
dalam Mustadrak-nya dalam kitab “ad-Du'aa” (1/719) Hadits (1968) dan Al-Bayhaqi
dalam “Al-Sunan Al-Kubra” dalam kitab “Doa” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam
Qunut” no. (3276)]
Lafadz Ibnu
Majah :
إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ
كَفَّيْكَ، وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا
وَجْهَكَ.
Jika kamu
berdoa kepada Allah, berdoalah dengan bagian dalam dua telapak tanganmu, dan
jangan berdoa dengan punggung nya , dan jika kamu telah selesai, maka usaplah
wajahmu dengan nya .
Abu Daud
berkata :
رُوِيَ هٰذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ
وَجْهٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ، كُلُّهَا وَاهِيَةٌ، وَهٰذَا الطَّرِيقُ
أَمْثَلُهَا، وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا.
Hadits ini
diriwayatkan dari lebih dari satu sisi dari Muhammad bin Ka'b, semuanya lemah,
dan jalur ini adalah yang terbaik darinya, dan ini juga lemah."
Dan di
dhaifkan oleh al-Albaani dalam Dhaif Ibnu Maajh no. 222
Sebab
lemahnya : Karena kelemahan Saleh bin Hasan; Didha'ifkan oleh Ahmad, Ibn Ma'in,
Abu Hatim dan Al-Daraqutni.
Dan
Al-Bukhari berkata: Haditsnya munkar, dan Abu Na`im al-Asbahani berkata: Hadits
munkar itu ditinggalkan.
Ibn Hibban
berkata: Dia adalah pemilik Qainat dan Samaa', dan dia biasa meriwayatkan
hadits-hadits palsu dengan mengatasakan namakan dari orang-orang yang kokoh
terpercata . Ibnu al-Jawzi mengatakan tentang hadits ini: Itu tidak shahih; di
dalamnya terdapat eh bin Hasan
Namun
As-Suyuthi mengutip pernyataan al-Haafidz Ibnu Hajar dalam kitab
"Amaalii" nya yang mengatakan bahwa hadits ini adalah HADITS HASAN .
[ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ hal 74 ]
----
Hadits ke 2
:
Hadits
Yazid bin Sa'id bin Tsumamah :
أنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَعَا
فَرَفَعَ يَدَيهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيهِ
Bahwa Nabi ﷺ
ketika dia berdoa maka beliau mengangkat tangannya, lalu mengusap wajahnya
dengan kedua tangannya.
[
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad (4/221) no. (17972), dan Abu Daud dalam
kitab “Sujud Al-Qur’an” dalam BAB “ad-Du'aa” no. (1492)].
----
Hadits ke 3
:
Riwayat
az-Zuhri :
Abdul
Razzaq berkata : Muammar memberi tahu kami dari al-Zuhri :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِي الدُّعَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ.
Rasulullah ﷺ
biasa mengangkat kedua tangannya ke sisi dada saat berdoa, lalu mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 52 ] .
Hadits ini
mursal .
----
Hadits Ke 4
:
Atsar Ibnu
Umar dan Ibnu al-Zubair :
Dan dari
Abu Nu'aym, dan dia adalah Wahb, yang mengatakan:
رَأَيتُ ابنَ عُمَرَ وابنَ الزُّبَيرِ
يَدْعُوانِ يُدِيرَانِ بِالرَّاحَتَينِ عَلَى الوَجْهِ
"Saya
melihat Ibnu Umar dan Ibnu al-Zubair berdoa sembil memutar-mutarkan kedua
telapak tangannya ke wajah ."
[ Di
riwayatkan oleh Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad hal. 214]
Di dalam
sanadnya ada Muhammad bin Falih dan ayahnya , yaitu Falih bin Suleiman
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Sahihnya dan Bukhori berhujjah dengan kedua
perawi tsb .
----
Hadits ke 5 :
Atsar
al-Hasan al-Bashry :
Dan
As-Suyuti meriwayatkan dalam “فَضُّ الْوِعَاءِ” dari Al-Hasan Al-Bashri : Bahwa dia mengusap wajah dengan
tangan setelah berdoa
“Al-Firyabi
berkata: Ishaq bin Raahwayh menceritakan kepada kami: Al-Mu`tamar bin Suleiman
mengkabarkan kepada kami, dia berkata:
" رَأَيْتُ أَبَا كَعْبٍ صَاحِبَ الْحَرِيرِ
يَدْعُو رَافِعًا يَدَيْهِ، فَإِذَا فَرَغَ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ، فَقُلْتُ
لَهُ: مَنْ رَأَيْتَ يَفْعَلُ هَذَا؟ قَالَ: الْحَسَنُ بْنُ أَبِي
الْحَسَنِ".
Saya
melihat Abu Ka'b – pemilik al-Hariir - berdoa dengan mengangkat kedua
tangannya, dan ketika dia selesai, maka dia mengusap wajahnya dengan kedua
telapak tangannya .
Saya
bertanya kepadanya : " Siapa yang Anda lihat orang yang melakukan ini?
Dia
menjawab : Al-Hasan bin Abu Al-Hasan [ Yasaar al-Bashry ]
As-Suyuthi
berkata : " ISNADNYA HASAN ". [ فَضُّ الْوِعَاءِ hal. 101 ]
Adapun apa yang diriwayatkan dari Imam al-Izz ibnu Abdus-Salam : " bahwa hanya orang bodoh yang mengusap wajah setelah berdoa", Maka Az-Zarkashi menjawab dalam kitabnya “الأُزْهِيَّةُ فِي الأَدْعِيَةِ” tentang itu dengan mengatakan :
وَأَمَّا قَوْلُ الْعِزِّ فِي فَتَاوِيهِ
الْمَوْصِلِيَّةِ: مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدِ بِدْعَةٌ فِي الدُّعَاءِ لَا
يَفْعَلُهُ إِلَّا جَاهِلٌ، فَمَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى
هَذِهِ الْأَحَادِيثِ، وَهِيَ وَإِنْ كَانَتْ أَسَانِيدُهَا لَيِّنَةً لَكِنَّهَا
تَتَقَوَّى بِاجْتِمَاعِ طُرُقِهَا.
Adapun
perkataan Al-Izz dalam Fatawaa Al-Maushiliyyah-nya : bahwa Mengusap wajah
dengan tangan merupakan bid'ah dalam berdoa yang hanya bisa dilakukan oleh
orang yang bodoh" , maka perkataan dia ini dianggap bahwa dia tidak
membaca hadits-hadits tersebut.
Hadits-hadits
tsb meskipun sanadnya layyin [lembut], namun bisa diperkuat dengan
menggabungkan jalur-jalurnya " .
[ Di kutip
dari جُزْءٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ karya Bakr Abu Zaid hal. 25 ]
HUKUM MAKMUM
MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA
SAAT
MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM’AT
Dalam “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 349), Doktor
Kholid Kaarah berkata :
وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى
أَنَّ الْمُسْتَمِعَ لِلْخُطْبَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ دُعَاءِ الْخَطِيبِ، وَذَلِكَ
بَقَاءً عَلَى الْأَصْلِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ مُطْلَقًا،
وَلَا يُمْنَعُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ إِلَّا فِي الْأَمَاكِنِ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا
عَدَمُ الرَّفْعِ، كَالْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ
فِي الصَّلَاةِ.
“Dan mayoritas para
ahli ilmu berpendapat bahwa orang yang mendengarkan khutbah dianjurkan
mengangkat kedua tangannya ketika khathib berdoa. Hal itu karena berpegang kepada
hukum asal, yaitu anjuran mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak.
Dan tidak dilarang
mengangkat kedua tangan kecuali pada tempat-tempat yang memang terdapat dalil
tidak boleh mengangkat tangan, seperti saat duduk di antara dua sujud dan doa
istiftah dalam shalat”.
Dan ini adalah
pendapat Imam Bukhori, al-Mubarokfuri dan para ulama hadits lainnya. Al-Mubarakfuri
berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا
الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (dua tangan saat berdo’a) seperti ini, meskipun haditsnya dalam do’a istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadis ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfat al-Ahwadzi* 2/173).
*****
PENDAPAT LAIN: YANG MELARANG MENGANGKAT DUA TANGAN
Ada sebagian para ulama kontemporer telah berfatwa bahwa mengangkat kedua tangan ketika mengaminkan do'a khothib Jum'at adalah haram dan bid‘ah sesat.
DALIL: Dalil-dalil mereka yang menghukumi haram dan bid’ah sesat mengangkat kedua tangan saat khothib berdoa, adalah sbb :
===
DALIL
PERTAMA
Bahwa hal itu tidak
dinukil dari para sahabat, padahal Nabi ﷺ telah melaksanakan salat
Jumat berkali-kali.
----
Bantahan
terhadap dalil diatas:
[*] Dikatakan:
عَدَمُ الْعِلْمِ لَا يَعْنِي الْعِلْمَ بِالْعَدَمِ.
Bahwa tidak
mengetahui sesuatu itu tidak berarti mengetahui ketiadaan-nya.
[*] Selain itu, apa
yang mereka katakan dibantah oleh keumuman hadits-hadits menyariatkan berdoa
sambil mengangkat dua tangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
[*] Juga karena
kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa mengangkat kedua tangan termasuk adab
berdoa secara umum, dan tidak keluar dari keumuman ini kecuali dengan dalil
yang melarangnya.
[*] Dan membatasi bolehnya
mengangkat tangan dalam doa hanya pada tempat-tempat yang sahih dari Nabi ﷺ saja
adalah kekeliruan semata.
«وَالْمَقْصُودُ
أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنِ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ
بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا».
DALIL
KE DUA:
Mereka berdalil
dengan hadits riwayat Hushain, dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia
menceritakan:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ
عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ
الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ
بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa dirinya
pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu
ia berkata:
“Semoga Allah
memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ, beliau
tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia
memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. [HR. Muslim no. 53 –(874)]
Lafadz riwayat
Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf:
Ibnu Abi Syaibah berkata:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Hushain, dari ‘Imarah bin
Ruwaibah:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ
رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو حَتَّى كَادَ يَسْتَلْقِي خَلْفَهُ.
“Bahwa ia melihat
Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir saja ia terjengkang (terlentang) ke belakangnya”.
[[Lihat al-Mushoonaf no. 5538 [Tarqim Muhammad ‘Awanah (الرِّئَاسَةُ العَامَّةُ لِلْبُحُوثِ
العِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ)] atau no. 5607
[Tarqim asy-Syatsri (مَوْسُوعَةُ
الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ)]].
Lafadz nuskhoh al-Mushonnaf Tahqiq Kamal al-Huut 1/475 no. 5496 :
«أَنَّهُ رَأَى
بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، حَتَّى كَادَ يَتَلَقَّى
خَلْفَهُ»
“Bahwa ia melihat
Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir saja ia terjatuh (terjungkal) ke belakangnya”.
Status sanad hadits
:
Hadits ini dinilai shahih
sanad-nya oleh asy-Syatsri pentahqiq al-Mushonnaf hadits no. 5607].
Siapakah ‘Umarah
bin Ru’aibah, sahabat yang meriwayatkan hadits ini?
Dia adalah ‘Umarah
bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia
terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah. (Jarak tempuh antara Kufah dan Madinah sekitar 1500 KM)
Dia pernah
datang ke Madinah, dan berjumpa dengan Nabi ﷺ. Dan dia pernah sekali
menghadiri Nabi ﷺ berkhutbah pada hari Jum’at.
Ia tidak pernah
tinggal di Madinah di masa Nabi ﷺ, oleh sebab itu dia hanya
memiliki dua hadits dari Nabi ﷺ. Dua haditsnya ini diriwayatkan
oleh Muslim dan seseorang selainnya. Orang terakhir yang meriwayatkan
darinya adalah Hushain bin Abdurrahman. [Baca: al-Ishobah karya Ibnu Hajar
4/478]
Al-Mizzi
menyebutkan dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ،
فَوَهِمَ، فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ
بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia memiliki
riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali tersebut
adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya pilihan
antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda dari dua
sisi.
[Lihat : Al-Ishobah
fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.
Sisi
pendalilan:
Mereka berdalil
dengan hadits ‘Umarah bin Ru’aibah ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan
dan bid’ahnya berdo’a sambil mengangkat kedua tangan saat khotib jum’at berdo’a.
Larangan tersebut berlaku pada imam dan makmum.
------
Bantahan
terhadap dalil diatas:
Bantahan-nya adalah sbb:
[*] Bahwa hadits ini lebih khusus daripada pokok permasalahan yang
diperselisihkan; karena ia khusus berkaitan dengan imam dan tidak mencakup
makmum.
[*] Kalaupun kita menerima bahwa ia juga mencakup mereka, maka hadits itu
menunjukkan dianjurkannya mengangkat jari ketika berdoa pada hari Jumat,
sementara mereka juga tidak berpendapat demikian.
[*] Kemudian, pendalilan mereka dengan hadits ini tidaklah lebih utama
daripada pendalilan dengan hadits Abu Hurairah tentang diangkatnya kedua tangan
Nabi ﷺ ketika beliau berdoa di atas mimbar untuk meminta hujan
(istisqa).
[*] Jika dikatakan bahwa pengangkatan tangan itu khusus untuk doa istisqa,
maka kami katakan: demikian pula hadits ‘Umarah bin Ruwaibah itu khusus bagi
imam, bukan makmum.
[*] Selain itu, pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr berdasarkan apa yang ia
lihat dari Nabi ﷺ yang hanya ber-isyarat dengan jarinya, tidak dapat dijadikan
dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat tangan; karena ‘Umarah meriwayatkan
apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan orang lain melihat
Nabi ﷺ dalam keadaan yang berbeda.
[*] Lagi pula ‘Umarah ini penduduk Kufah, dia datang berkunjung ke Madinah,
hanya sesekali menyaksikan Nabi ﷺ berkhutbah.
Oleh sebab itu beliau hanya meriwatkan dua hadits. Sementara para sahabat lain,
terutama para sahabat senior yang senantiasa bersama Nabi ﷺ dan berkali-kali menyaksikan khutbah Jum’at Nabi ﷺ, mereka
tidak ada yang meriwayatkan apa yang ‘Umarah riwayatkan.
[*] Ditambah lagi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dijelaskan bahwa yang
dimaksud mengangkat kedua tangan di sini adalah yang dilakukan dengan cara
sangat berlebihan, sehingga hampir-hampir saja Bisyr bin Marwan terjengkang ke
belakang.
DR. Kholid
Kaarah berkata:
إِنَّ إِنْكَارَ عُمَارَةَ عَلَى بِشْرٍ
بِرُؤْيَتِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ لَا يُعَدُّ دَلِيلًا بِمُفْرَدِهِ
عَلَى عَدَمِ جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ؛ لِأَنَّ عُمَارَةَ رَوَى مَا رَأَى، وَهَذَا
لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُ رَآهُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْهَيْئَةِ، فَيَبْقَى
الْأَمْرُ عَلَى أَصْلِهِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَقُولُ فِي
هَذَا التَّعْلِيلِ مَا قُلْتُ فِي سَابِقِهِ.
Sesungguhnya pengingkaran
‘Umarah terhadap Bisyr karena ia melihat Nabi ﷺ berisyarat dengan jarinya
tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat kedua
tangan. Sebab ‘Umarah hanya meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak
menafikan kemungkinan bahwa orang lain melihat beliau dalam keadaan yang
berbeda dari cara tersebut.
Maka hukum asalnya
tetap sebagaimana semula, yaitu mengangkat kedua tangan dalam doa. Dan tentang
alasan ini, aku mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan pada alasan
sebelumnya.
[Baca: “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 350) karya DR. Kholid Kaarah]
Dan Syeikh Ibnu Jibrin berkata:
«فَأَمَّا حَدِيثُ
عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، وَفِيهِ قَوْلُهُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ،
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِلَّا يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ — أَوْ كَمَا قَالَ —
فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَنْكَرَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ عِنْدَ التَّشَهُّدِ، أَوْ عِنْدَ
ذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّ الثَّابِتَ عِنْدَ التَّشَهُّدِ الْإِشَارَةُ
بِالسَّبَّابَةِ وَحْدَهَا، وَهِيَ عَلَامَةُ التَّوْحِيدِ، وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ
الصَّحَابَةِ لِمَنْ رَفَعَ إِصْبَعَيْهِ: أَحِّدْ أَحِّدْ، لَا تُشِرْ إِلَّا بِوَاحِدَةٍ.
وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ الْخَطِيبُ يُحَرِّكُ
يَدَيْهِ كَثِيرًا أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ رَفْعًا وَخَفْضًا فِي غَيْرِ حَالَةِ الدُّعَاءِ،
فَأَمَّا رَفْعُهُمَا فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»
“Adapun hadis ‘Umarah bin Ru’aibah, yang di dalamnya terdapat ucapannya:
‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ kecuali beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ‘— atau sebagaimana ia katakan —,
Maka yang tampak adalah bahwa ia mengingkari pengangkatan kedua
tangan saat tasyahud atau ketika menyebut nama Allah Ta‘ala. Karena yang telah
ada ketetapan (diajarkan) dalam tasyahud adalah berisyarat dengan telunjuk
saja, dan itu adalah tanda tauhid. Oleh karena itu sebagian sahabat berkata
kepada orang yang mengangkat dua jarinya: ‘Esakan, esakan (Allah), janganlah
engkau berisyarat kecuali dengan satu (jari).’
Bisa jadi pula khatib tersebut banyak menggerakkan
kedua tangannya saat khutbah, naik dan turun, bukan dalam keadaan berdoa.
Adapun mengangkat keduanya saat berdoa, maka itu tidak termasuk dalam larangan
tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.”
(Sumber: Fatawa Ibnu Jibrin).
===
DALIL
KE TIGA:
Ibnu Syabbah dalam Tarikh
al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin
Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
Dari Ghudhaif bin
al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat
junior):
أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ
مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ
فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا
أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ
تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا ضَاعَتْ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ».
فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً
Bahwa Abdul Malik
bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat
tangan-tangan di atas mimbar.
Maka ia menjawab: Sesungguhnya
hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku
sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa
beliau bersabda:
“Tidaklah suatu
umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan
yang semisal dengannya dari sunnah”.
Maka berpegang
teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.
[Diriwayatkan pula
oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul
al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf
al-Astar (1/82) nomor (131).
Dan melalui
jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].
Juga di riwayatkan
oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam
al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah
dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
Sisi
Pendalilan:
Perkataan Ghudhaif
bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu diatas, meskipun tidak tegas
menyatakan bid’ah, namun dia mengisyaratkan bahwa mengangkat kedua tangan
khothib di atas mimbar saat berdoa itu termasuk perbuatan bid’ah.
-----
Bantahan
atas dalil diatas:
Sanad Atsar ini
sangatLemah Sekali
Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ
*] الْحُسَيْنُ
بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ
يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ
*] يُونُسُ
بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ
أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً
إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ
*] عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ
الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ
*] ابْنُ
الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ
Sanadnya lemah.
*] Al-Husain bin
Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali
al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).
*] Yunus bin Yahya
al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga
keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi,
dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.
*] ‘Abdul Malik bin
Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi,
dan ia lemah.
*] Ibnu al-Majishun
adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]
Al-Haitsami
berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
“فِي
إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ”.
Di dalam sanadnya
terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.
Hadits ini juga dinilai
do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan
“Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan
dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min
al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.]
====
DALIL KE EMPAT:
Dari Sahl bin Sa’d
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ فِي الدُّعَاءِ عَلَى
مِنْبَرٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَكِنِّي رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ
وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ»
“Aku tidak pernah
melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di atas mimbar sama
sekali, dan tidak pula di tempat lainnya. Namun aku melihat beliau berdoa
seperti ini,” lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan
menggenggam jari tengah dengan ibu jari.
[Diriwayatkan oleh
Abu Dawud no. 1105, Ibnu Abi Syaibah (2/486 dan 10/377–378), Ahmad (22855),
Ibnu Khuzaimah (1450), Abu Ya’la (7551), Ibnu Hibban (883), Ath-Thabrani dalam
Al-Kabir (6023), Al-Hakim (1/535–536), dan Al-Baihaqi (3/210), melalui beberapa
jalur dari Abdurrahman bin Ishaq, dengan sanad ini].
----
Bantahan terhadap dalil diatas:
HADITS INI DHO’IF:
Hadits ini dinilai
lemah (dho’if) oleh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud (204) dan lainnya.
Dan Syu’aib
Al-Arnauth berkata dalam takhrij Sunan Abi Dawud (2/324):
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ - وَهُوَ ابْنُ الْحُوَيْرِثِ الْمَدَنِيُّ - ابْنُ أَبِي
ذُبَابٍ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ.
Sanadnya lemah (dho’if)
karena lemahnya Abdurrahman bin Mu’awiyah — yaitu Ibnu Al-Huwairits Al-Madani.
Sedangkan Ibnu Abi Dhubab adalah Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Harits.
Al-Baihaqi berkata:
«وَالْقَصْدُ مِنَ
الْحَدِيثَيْنِ إِثْبَاتُ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، ثُمَّ فِيهِ مِنَ السُّنَّةِ
أَلَّا يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَيَقْتَصِرَ عَلَى
أَنْ يُشِيرَ بِأُصْبُعِهِ. وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
أَنَّهُ مَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا، وَذَلِكَ حِينَ اسْتَسْقَى فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ».
"Maksud dari kedua hadits ini adalah
menetapkan adanya doa dalam khutbah.
Kemudian di
dalamnya terdapat sunnah bahwa tidak mengangkat kedua tangan ketika berdoa
dalam khutbah, dan cukup dengan memberi isyarat dengan jari.
Dan telah ada ketetapan
dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau membentangkan
kedua tangannya dan berdoa, yaitu ketika beliau meminta hujan dalam khutbah
Jumat.”
[Lihat: As-Sunan Al-Kubra (3/289)].
===
DALIL KELIMA:
Mereka berdalil dengan hadits Anas bin Malik, ia berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»
“Nabi ﷺ tidak mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu pun dari doanya kecuali dalam istisqa, dan beliau mengangkatnya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 3565 dan Muslim no. 895]
Sisi Pendalilan:
Hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a itu hanya dalam do’a istisqo (minta hujan) saja.
Berdasarkan hadits ini, maka ada sebagian para ulama telah menghukumi makruh mengangkat kedua tangan dalam semua do’a selain do'a istisqo (do'a minta hujan). [Lihat Tafsiir al-Qurthubi 7/255]
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 berkata :
وَكَرِهَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاء ابن عُمَرَ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ وَرَأَى شُرَيْحٌ رَجُلًا يَرْفَعُ يَدَيْهِ دَاعِيًا فَقَالَ : " مَنْ تَتَنَاوَلُ بِهِمَا لَا أُمَّ لَكَ" . وَسَاقَ الطَّبَرِيُّ ذَلِكَ بِأَسَانِيدِهِ عَنْهُم
Ibnu Umar dan Jubair ibnu Muth'iim membenci seseorang mengangkat kedua tangan saat berdoa.
Dan Syuraih pernah melihat seseorang pria mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , maka dia berkata :
"Siapa saja dari kamu yang mengangkat kedua tangannya dalam berdoa maka tiada Ibu bagimu ".
Dan ath-Thobari meriwayatkannya dengan sanad-sanadnya dari mereka .
Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :
وَذكر بن التِّينِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ أَنَّهُ نَقَلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مِنْ أَمْرِ الْفُقَهَاءِ
Dan Ibnu at-Tiin menyebutkan dari Abdullah bin Umar bin Ghoonim bahwasanya telah dinukil dari Malik bahwa mengangkat tangan dalam berdoa itu bukan bagian dari perkara para Fuqohaa .
------
Bantahan terhadap dalil diatas:
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawab pendalilan dengan hadits Anas bin Malik ini dalam “Fathul Bari11/142 dengan mengatakan:
أَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ الِاسْتِسْقَاءِ.
وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ.
قَالَ الْمُنْذِرِيُّ وَبِتَقْدِيرِ تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ.
قُلْتُ وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً وَعَقَدَ لَهَا الْبُخَارِيُّ أَيْضًا فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ بَابًا
“Bahwa yang dinafikan itu adalah sifat (cara) tertentu, bukan asal mengangkat tangan itu sendiri.
Aku telah mengisyaratkan hal tersebut dalam bab-bab tentang istisqa.
Ringkasnya, cara mengangkat tangan dalam istisqa berbeda dengan selainnya; bisa jadi dengan mengangkatnya secara lebih tinggi hingga kedua tangan sejajar dengan wajah misalnya, sedangkan dalam doa biasa hingga sejajar dengan kedua pundak.
Tidaklah mengganggu penjelasan ini bahwa dalam keduanya disebutkan riwayat “hingga terlihat putih kedua ketiaknya”, karena dapat dikompromikan bahwa terlihatnya putih ketiak dalam istisqa lebih nyata daripada dalam selainnya. Atau bisa juga bahwa dalam istisqa kedua telapak tangan menghadap ke bumi, sedangkan dalam doa biasa menghadap ke langit.
Al-Mundziri berkata: “Apabila tidak memungkinkan untuk mengompromikan (kedua dalil), maka sisi penetapan (itsbat) itu lebih kuat.”
Aku (Ibnu Hajar) berkata: Terlebih lagi dengan banyaknya hadits yang datang dalam masalah ini. Sungguh terdapat banyak hadits tentang hal tersebut, yang dikumpulkan secara khusus oleh Al-Mundziri dalam sebuah risalah tersendiri. An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah darinya dalam *Al-Adzkar* dan dalam *Syarh Al-Muhadzdzab*. Bahkan Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus tentangnya dalam *Al-Adab Al-Mufrad*.” [KUTIPAN SELESAI]
Jadi: Al-Hafidz Ibnu
Hajar berpendapat bahwa penafian (peniadaan riwayat penolakan) dari Anas itu
hanyalah terhadap bentuk tertentu dari mengangkat tangan, yaitu pengangkatan
yang berlebihan sampai terlihat putih ketiaknya, bukan penafian terhadap asal
mengangkat kedua tangan itu sendiri secara mutlak.
Oleh sebab itu beliau
berkata:
«وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ
غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ إِنَّمَا
الْمُرَادُ بِهِ مَدُّ الْيَدَيْنِ وَبَسْطُهُمَا عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَأَنَّهُ عِنْدَ
الِاسْتِسْقَاءِ مَعَ ذَلِكَ زَادَ فَرَفَعَهُمَا إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ حَتَّى حَاذَى
بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ»
“Yang menguatkannya
adalah bahwa kebanyakan hadis yang datang tentang mengangkat tangan dalam doa,
yang dimaksud adalah membentangkan dan membuka kedua tangan ketika berdoa.
Seakan-akan ketika istisqa’ (meminta hujan), beliau menambah dari itu dengan
mengangkatnya lebih tinggi ke arah langit hingga sejajar dengan kedua
pundaknya.” (Baca: *Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari* 2/517).
An-Nawawi berkata:
«وَيُتَأَوَّلُ هَذَا
الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ
إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ،
وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ، فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ
وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ».
“Hadis ini
ditakwilkan bahwa beliau tidak mengangkat dengan pengangkatan yang sangat
tinggi sampai terlihat putih ketiaknya kecuali ketika istisqa’. Atau maksudnya:
‘Aku tidak melihat beliau mengangkat’, padahal orang lain melihat beliau
mengangkat. Maka riwayat yang menetapkan (mengangkat tangan) didahulukan dalam
banyak tempat, dan mereka adalah sejumlah orang, atas satu orang yang tidak
menyaksikan hal tersebut. Dan hadis ini memang harus ditakwil.” (*Al-Minhaj
Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj* 6/190).
Al-Mubarakfuri
berkata:
«وَفِي الْحَدِيثِ
ـ أَيْ حَدِيثِ سَلْمَانَ ـ دَلَالَةٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ،
وَالْأَحَادِيثُ فِيهِ كَثِيرَةٌ. وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ
ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، فَالْمُرَادُ
بِهِ الْمُبَالَغَةُ فِي الرَّفْعِ».
“Dalam hadis —
yaitu hadis Salman — terdapat dalil tentang dianjurkannya mengangkat kedua
tangan dalam doa, dan hadis-hadis tentang hal itu banyak. Adapun hadis Anas:
‘Nabi ﷺ tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun
kecuali pada istisqa’, maka yang dimaksud adalah pengangkatan yang berlebihan.”
(*Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami‘ at-Tirmidzi* 9/382).
KRITIKAN:
Ada yang mengkritik
terhadap takwil di atas ini dengan mengatakan:
Takwil (penafsiran)
ini perlu ditinjau kembali dan tidak dapat begitu saja diterima, karena telah
tetap adanya pengangkatan tangan yang sangat tinggi (hingga terlihat ketiak)
dalam doa Nabi ﷺ selain pada istisqa’.
Dalam hadis Abu
Musa Al-Asy‘ari yang terdapat dalam kitab sahih dan telah disebutkan
sebelumnya:
“Kemudian beliau mengangkat
kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.’” Ia
berkata, “Maka aku melihat putih ketiaknya.”
Demikian pula
pengangkatan yang tinggi juga terjadi selain dalam istisqa’, sebagaimana telah
disebutkan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab, ia berkata:
“Ketika terjadi
Perang Badar, … Nabi ﷺ menghadap kiblat, kemudian membentangkan kedua tangannya, lalu
beliau terus-menerus berseru kepada Rabb-nya … Beliau terus berseru kepada
Rabb-nya dengan membentangkan kedua tangannya, menghadap kiblat, hingga
selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya …”
Diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar.
Demikian pula Nabi ﷺ
mengangkat tangannya dengan tinggi ketika berdoa untuk Utsman, sebagaimana
telah disebutkan sebelumnya.
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Aku melihat
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya
ketika beliau berdoa untuk Utsman.”
(Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam kitabnya *Qurratul ‘Ainain bi Raf‘il Yadain fis Shalah*).
JAWABAN ATAS
KRITIKAN:
Bisa jadi hadits Abu
Musa Al-Asy‘ari dan hadits Aisyah tersebut tidak sampai kepada Anas bin Malik
atau dia tidak hadir dalam kejadian. Lagi pula pada masa tersebut belum ada
kitab-kitab hadits. Oleh sebab itu hadits Anas tersebut tidak ada yang
meriwayatkannya kecuali dia sendiri. Bagitu pula hadits Abu Musa dan hadits Aisyah.
Dalam hadits Anas tersebut,
dia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, dia tidak bermaksud mengharamkan
berdoa dengan mengangkat kedua tangan pada selain do’a istisqo.
Lalu apakah hadits Anas
ini, yang diriwayatkan secara tunggal dan yang hanya berisi cerita pengalamannya
ini, layak dijadikan dalil haram sebagai pengecualian dalil umum yang
menghalalkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir???.
Karena jika benar bisa jadikan dalil larangan, maka konsekwensi dari
perkataan Anas ini adalah berlaku larangan mengangkat kedua tangan pada semua doa selain doa istisqo, bahkan oleh sebagian mereka mengklaimnya sebagai bid’ah sesat.
Penulis katakan :
Yang benar adalah hadis
Anas tersebut berisi penafian penglihatan; Anas menafikan bahwa ia melihat
(Nabi mengangkat tangan) selain pada istisqa’. Namun hal itu tidak mengharuskan
tidak adanya kejadian tersebut, atau menafikan bahwa orang lain melihatnya.
Dan orang yang
menetapkan (adanya pengangkatan tangan) menjadi hujah atas orang yang tidak
menetapkannya. Maka mengamalkan hadis-hadis tentang mengangkat tangan lebih
utama.
An-Nawawi berkata:
«إِنَّ مُرَادَ أَنَسٍ
لَمْ أَرَهُ يَرْفَعُ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ يَرْفَعُ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ
مَقْبُولَةٌ، وَالْإِثْبَاتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّفْيِ».
“Sesungguhnya
maksud Anas adalah: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat tangan,’ padahal orang
lain melihat beliau mengangkatnya. Tambahan riwayat dari perawi yang terpercaya
dapat diterima, dan penetapan didahulukan atas penafian.” (Lihat: *Al-Majmu‘*,
5/83).
Dan diriwayatkan pula
dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
tentang tata cara Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya saat do’a
istisqoo:
«أَنَّ رَسُولَ اللهِ
ﷺ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ».
“Bahwa Nabi ﷺ
melakukan istisqa’, lalu beliau mengisyaratkan dengan punggung kedua telapak
tangannya ke arah langit.”
[Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam *Al-Musnad* nomor 12554].
Syu‘aib Al-Arna’uth
berkata dalam tahqiq (penelitian) *Al-Musnad* 20/25:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ،
رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمِنْ رِجَالِ
مُسْلِمٍ.
“Sanadnya sahih
sesuai dengan syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah
(terpercaya), termasuk perawi kedua kitab sahih (Al-Bukhari dan Muslim),
kecuali Hammad bin Salamah, yang termasuk perawi Muslim.”
Al-Mubarakfuri berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ *الدَّعَوَاتِ* بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (dua tangan saat berdo'a) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab *Ad-Da‘awat* dengan hadis ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfatul Ahwadzi* 2/173)
Imam An-Nawawi
berkata:
«قَالَ جَمَاعَةٌ
مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ كَالْقَحْطِ
وَنَحْوِهِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ»
“Sejumlah sahabat kami dan selain mereka mengatakan: Sunnah dalam setiap doa untuk mengangkat bala (musibah) seperti kekeringan dan semisalnya adalah mengangkat kedua tangan dan menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit. Adapun jika berdoa untuk meminta sesuatu dan memperolehnya, maka menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap ke langit. Mereka berdalil dengan hadis ini.” (Baca : *Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj* 6/190)
Ibnu Utsaimin
berkata ketika menjelaskan tata cara mengangkat tangan dalam berdoa Istisqo:
«وَيَكُونُ الرَّفْعُ
بِأَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ عَلَى حِذَاءِ الصَّدْرِ، وَتَضُمَّ بَعْضَهُمَا إِلَى بَعْضٍ.
وَدُعَاءُ الِابْتِهَالِ تُرْفَعُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، حَتَّى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ
فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَثِيرًا، حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّ
ظُهُورَهُمَا نَحْوَ السَّمَاءِ مِنْ شِدَّةِ الرَّفْعِ، وَكُلَّمَا بَالَغْتَ فِي
الِابْتِهَالِ فَبَالِغْ فِي الرَّفْعِ».
“Cara mengangkatnya adalah dengan mengangkat kedua tangan sejajar dada dan merapatkan keduanya. Adapun doa ibtihal (permohonan yang sangat sungguh-sungguh), maka diangkat lebih tinggi dari itu. Bahkan Nabi ﷺ dalam doa istisqa’ mengangkat kedua tangannya dengan sangat tinggi, sampai orang yang melihat menyangka bahwa punggung kedua tangannya menghadap ke langit karena begitu tingginya angkatan tersebut. Dan semakin engkau bersungguh-sungguh dalam ibtihal, maka semakin tinggi pula angkatan tanganmu.” (Baca: *Syarh Al-Arba‘in An-Nawawiyah* hal. 150).
===
DALIL KE ENAM : QIYAS (ANALOGI)
Mereka Menganalogikan makmum dengan khathib. Mereka berkata:
Telah ada ketetapan bahwa khathib tidak boleh mengangkat kedua tangannya ketika berdoa di atas mimbar, dan ia hanya boleh memberi isyarat dengan jarinya saja. Tidak ada riwayat yang menetapkan pengangkatan tangan kecuali dalam istisqa’ berdasarkan hadis Anas.
Maka demikian pula berlaku atas makmum, dianalogikan kepada khotib Jum’at.
Bantahan terhadap dalil Qiyas diatas:
Adapun qiyas (analogi) mereka antara makmum dengan khathib, maka itu adalah qiyas yang tidak tepat (qiyas ma‘al fariq), karena khathib memang berbeda dengan makmum dalam beberapa hukum.
Di antaranya:
A] Bahwa khathib boleh berbicara ketika khutbah, sedangkan makmum tidak boleh melakukan hal itu.
B] Bahwa khathib ketika masuk masjid, maka dia langsung duduk di atas mimbar, dan tidak dainjurkan untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid, berbeda dengan makmum.
C] Bahwa khathib dituntut untuk berdiri ketika khutbah, sedangkan makmum tidak dituntut demikian.
D] Bahwa bagi khathib dimakruhkan menghadap kiblat ketika khutbah, sedangkan bagi makmum tidak ada kemakruhan dalam hal itu.
Jika hal ini telah jelas, maka mengqiyaskan makmum kepada khathib dalam hukum mengangkat kedua tangan ketika berdoa, itu sama sekali tidak tepat.
Kemudian, jika memang qiyas makmum kepada khathib dalam dua hadis ‘Umarah bin Ru’aibah dan Sahl bin Sa’d itu dianggap sah, maka tentu mereka juga harus mengatakan bahwa sunnah bagi makmum adalah memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika khathib berdoa. Padahal mereka sendiri tidak mengatakan demikian.
PERNYATAAN
PARA ULAMA
TENTANG
MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
«وَرَدَّهُ –
يَعْنِي الْإِمَامَ الطَّبَرِيَّ – بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ
حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ؛ فَلَا مَعْنَى
لِلتَّمَسُّكِ بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ
الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا».
“Ia (yakni Imam
ath-Thabari) membantahnya bahwa hadits tersebut hanya berkaitan dengan khatib
ketika sedang berkhutbah, dan itu tampak jelas dari konteks hadis; maka tidak
ada alasan untuk berpegang dengannya guna melarang mengangkat tangan dalam doa,
sementara telah tetap berbagai riwayat tentang disyariatkannya hal itu.” [Lihat:
Fathul Bari 11/143]
Syaikhul Islam
berkata dalam *Al-Fatawa al-Kubra 5/356*:
«وَيُكْرَهُ
لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ أَصَحُّ
الْوَجْهَيْنِ لِأَصْحَابِنَا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ إِنَّمَا كَانَ يُشِيرُ
بِإِصْبَعِهِ إِذَا دَعَا، وَأَمَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ لَمَّا
اسْتَسْقَى عَلَى الْمِنْبَرِ».
“Dimakruhkan
bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah, dan ini
adalah pendapat yang lebih sahih menurut dua riwayat dalam madzhab kami; karena
Nabi ﷺ hanya berisyarat dengan jarinya ketika berdoa. Adapun dalam
istisqa, beliau mengangkat kedua tangannya ketika meminta hujan di atas
mimbar.”
Al-Bahuti berkata
dalam *Kasyaf al-Qina’* 2/37:
«(وَ) يُسَنُّ
أَنْ (يَدْعُوَ لِلْمُسْلِمِينَ)؛ لِأَنَّ الدُّعَاءَ لَهُمْ مَسْنُونٌ فِي غَيْرِ
الْخُطْبَةِ فَفِيهَا أَوْلَى … يُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ
الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ».
“(Dan) disunnahkan
agar (mendoakan kaum Muslimin); karena mendoakan mereka disunnahkan di luar
khutbah, maka dalam khutbah lebih utama lagi … Dimakruhkan bagi imam mengangkat
kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah”.
Imam asy-Syaukani
berkata dalam *Nail al-Awthar* 3/322:
«الْحَدِيثَانِ
الْمَذْكُورَانِ فِي الْبَابِ يَدُلَّانِ عَلَى كَرَاهَةِ رَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى
الْمِنْبَرِ حَالَ الدُّعَاءِ»
“Dua hadits yang
disebutkan dalam bab ini menunjukkan makruhnya mengangkat tangan di atas mimbar
ketika berdoa”.
Mayoritas ulama
berpendapat bahwa dimakruhkan-nya mengangkat kedua tangan dalam doa pada
khutbah Jumat dibatasi pada imam saja, bukan makmum.
Ar-Ramli
asy-Syafi‘i berkata dalam *Nihayah al-Muhtaj* 1/505:
«(وَ) يُسَنُّ
(رَفْعُ يَدَيْهِ) فِيهِ (أَيْ فِي الْقُنُوتِ عِنْدَهُمْ)، وَفِي سَائِرِ
الْأَدْعِيَةِ اتِّبَاعًا، كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيهِ بِإِسْنَادٍ
جَيِّدٍ، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا».
“(Dan) disunnahkan
(mengangkat kedua tangan) di dalamnya (yakni dalam qunut menurut mereka), dan
dalam seluruh doa lainnya sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah),
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam hal itu dengan sanad yang baik,
dan dalam doa-doa lainnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta yang
lainnya.”
Ibnu Hajar
al-Haitami pernah ditanya dalam *Al-Fatawa
al-Fiqhiyyah al-Kubra* 1/252 tentang mengangkat tangan setelah selesai dua
khutbah pada hari Jumat, apakah itu mustahab atau bid‘ah?
Beliau menjawab:
رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي
كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ
يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا
وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا. وَعِبَارَةُ «الْعُبَابِ» مَعَ شَرْحِي لَهُ: (يُسَنُّ
لِلدَّاعِي خَارِجَ الصَّلَاةِ رَفْعُ يَدَيْهِ الطَّاهِرَتَيْنِ) لِلِاتِّبَاعِ
...
“Mengangkat kedua
tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar shalat dan yang semisalnya. Siapa
yang mengira bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia
telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar.
Dalam kitab *Al-‘Ubab* beserta syarahku disebutkan: ‘Disunnahkan bagi orang
yang berdoa di luar shalat untuk mengangkat kedua tangannya yang suci,’ karena
mengikuti sunnah …
Beliau juga 1/252-153
berkata:
مَنْ ادَّعَى حَصْرَهَا فَهُوَ
غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا، وَهَذِهِ لِكَوْنِهَا مُثْبِتَةً مُقَدَّمَةٌ عَلَى
رِوَايَتِهِمَا: «كَانَ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ
إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ». وَاسْتَحَبَّ الْخَطَّابِيُّ كَشْفَهُمَا فِي
سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ، وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُهُمَا فِي حَالِ الْخُطْبَةِ
كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ.
‘Siapa yang
mengklaim pembatasan (hanya pada istisqa) maka ia telah salah dengan kesalahan
besar.’ Riwayat-riwayat yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan)
didahulukan atas riwayat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak
mengangkat kedua tangannya dalam suatu doa kecuali dalam istisqa. Al-Khaththabi
menganjurkan membuka kedua tangan dalam seluruh doa. Dan dimakruhkan bagi
khatib mengangkat keduanya ketika sedang khutbah, sebagaimana dikatakan oleh
al-Baihaqi.”
SIKAP BIJAK
PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT
MENGANGKAT
DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
Al-‘Allamah
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ
يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ
آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ
يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ
الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا
يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ
الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ
فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى
أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ
فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak
terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya
adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa.
Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya
Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.’
Namun ada
keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan
meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah
(misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu
berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan
dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang
mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah
bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh
diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena
melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak
boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat:
Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
Imam an-Nasafi (madzhab
Hanafi) berkata:
«إِنَّهُ يَجِبُ
عَلَيْنَا إِذَا سُئِلْنَا عَنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ مُخَالِفِنَا فِي
الْفُرُوعِ أَنْ نُجِيبَ بِأَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ،
وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ».
“Wajib bagi kita
apabila ditanya tentang madzhab kita dan madzhab orang yang berbeda dengan kita
dalam masalah cabang (furu‘), kita menjawab bahwa madzhab kita benar namun
mengandung kemungkinan salah, dan madzhab yang berbeda dengan kita salah namun
mengandung kemungkinan benar.” [Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra
4/313]
Betapa indahnya
ucapan az-Zarkasyi:
«قَدْ رَاعَى
الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ خِلَافَ الْخَصْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ، وَهَذَا
إِنَّمَا يَتَمَشَّى عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ مُدَّعِيَ الْإِصَابَةِ لَا يَقْطَعُ
بِخَطَإِ مُخَالِفِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَمَّا كَانَ يُجَوِّزُ
خِلَافَ مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَنَظَرَ فِي مُتَمَسَّكِ خَصْمِهِ فَرَأَى لَهُ
مَوْقِعًا رَاعَاهُ عَلَى وَجْهٍ لَا يُخِلُّ بِمَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ،
وَأَكْثَرُهُ مِنْ بَابِ الِاحْتِيَاطِ وَالْوَرَعِ، وَهَذَا مِنْ دَقِيقِ
النَّظَرِ وَالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ».
“Imam asy-Syafi‘i dan
para sahabat (pengikut) beliau telah mempertimbangkan pendapat lawan dalam
banyak persoalan.
Hal itu berjalan di
atas prinsip bahwa orang yang mengklaim kebenaran tidak memastikan kesalahan
pihak yang berbeda dengannya.
Karena seorang
mujtahid itu membolehkan kemungkinan berbeda dari apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya. Ia melihat dalil lawannya dan mendapati ada pijakan padanya, maka
ia mempertimbangkannya dengan cara yang tidak merusak apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya.
Kebanyakan hal itu
termasuk dalam bab kehati-hatian dan wara‘. Ini termasuk ketelitian pandangan
dan sikap mengambil jalan yang lebih selamat.” [Baca : al-Bahrul Muhith Fii
Ushul al-Fiqhi 8/310]
Al-Qurthubi juga
berkata:
«وَلِذَلِكَ
رَاعَى مَالِكٌ الْخِلَافَ، قَالَ: وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ
يُرَاعِي صُورَةَ الْخِلَافِ، وَهُوَ جَهْلٌ أَوْ عَدَمُ إِنْصَافٍ. وَكَيْفَ
هَذَا وَهُوَ لَمْ يُرَاعِ كُلَّ خِلَافٍ وَإِنَّمَا رَاعَى خِلَافًا لِشِدَّةِ
قُوَّتِهِ». اهـ
“Karena itulah
Malik mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian pengikutnya mengira
bahwa beliau hanya mempertimbangkan bentuk lahiriah perbedaan, dan itu adalah
kebodohan atau kurangnya keadilan. Bagaimana mungkin demikian, padahal beliau
tidak mempertimbangkan setiap perbedaan, tetapi hanya mempertimbangkan
perbedaan yang kuat dalilnya.” [Selesai. Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah
al-Kubra 4/313].
===***===
PENUTUP
Dari Al-Awza‘i
(Tabi’i), dia berkata:
"العِلْمُ
مَا جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ومَا لَمْ يَجِيء عَنْهُم فَلَيسَ بِعِلْمٍ"
Ilmu adalah apa
yang datang dari para sahabat Muhammad ﷺ, dan apa yang tidak datang
dari mereka, maka itu bukan ilmu.
[Lihat "Jami‘
Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644), dan "Al-Bidayah wa
an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]
---
Dan dari sahabat
Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
«لَا يَزَالُ النَّاسُ
بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ،
وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ،
فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»
“Manusia akan tetap
dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad ﷺ dan
para senior (kibaar) mereka. Namun, apabila ilmu datang dari para junior
(shigoor) di antara mereka, maka saat itulah mereka binasa.”
Diriwayatkan oleh
Mu‘ammar dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan
disebutkan oleh Al-Haitsami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:
رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ
“Para perawinya
dapat dipercaya”.
Dan Al-Albani
berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”
0 Komentar