Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM'AT

HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM'AT SAAT BERKHUTBAH

 ---

Ditulis Oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---

---

CUPLIKAN DARI ARTIKEL INI

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:

"مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،

لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:

فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.

وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".

“Apa yang tidak terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa. Nabi  bersabda:

‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.’

Namun ada keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah (misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.

Siapa yang mengangkat kedua tangannya dengan berpegang pada kaidah bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh diingkari. 

Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangannya karena melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang dan luas.” [Lihat: Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]

====

DAFTAR ISI :

  • Hukum asal mengangkat kedua tangan saat berdoa
  • Al-Imam al-Bukhori dalam kitab Shahih-nya
  • Imam Bukhori dalam kitab-nya “Al-Adab al-Mufrad”:
  • Dalil-dalil lain yang menunjukkan hukum asal mengangkat tangan dalam berdoa adalah sunnah:
  • Hadits doa dalam shalat sambil mengangkat dua tangan
  • Hadits doa istisqoo sambil mengangkat dua tangan
  • Hadits doa ziarah kubur sambil mengangkat dua tangan
  • Hadits doa saat perang sambil mengangkat dua tangan
  • Hadits doa saat ibadah haji sambil mengangkat kedua tangan
  • Hadits mengusap wajah setelah berdoa
  • HUKUM MAKMUM MENGANGKAT DUA TANGANNYA SAAT MENGAMINKAN DOA KHOTIB JUM'AT
  • Pernyataan para ulama tentang mengangkat dua tangan saat khotib Jumat berdoa
  • Sikap bijak para ulama terhadap perbedaan pendapat mengangkat dua tangan saat khotib Jum'at berdo'a
  • Penutup

 ***

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang setia mengikuti beliau.

===***===

HUKUM ASAL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BERDO’A

Termasuk perkara yang telah ditetapkan dalam sunnah Nabi adalah dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa secara umum; sebagai bentuk menampakkan kehinaan, ketundukan, dan kebutuhan kepada Allah SWT, serta sebagai bentuk permohonan dan pengharapan untuk meraih karunia-Nya. Hal itu merupakan bagian dari adab-adab doa yang telah disepakati, dan termasuk sebab dikabulkannya doa; karena di dalamnya terdapat penampakan kejujuran dalam berlindung dan kembali kepada Allah Azza wa Jalla serta pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda:

" أَيُّهَا النَّاسُ، ‌إِنَّ ‌اللهَ ‌طَيِّبٌ ‌لَا ‌يَقْبَلُ ‌إِلَّا ‌طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾ [المؤمنون: 51] وَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ "

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul.

Maka Dia berfirman: ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ [Al-Mu’minun: 51].

 Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’ [Al-Baqarah: 172].

Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan panjang, dalam keadaan kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: ‘Wahai Rabb, wahai Rabb.’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].

Al-‘Allamah Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

هَذَا الْكَلَامُ أَشَارَ فِيهِ ﷺ إِلَى آدَابِ الدُّعَاءِ، وَإِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَتَهُ، وَإِلَى مَا يَمْنَعُ مِنْ إِجَابَتِهِ، فَذَكَرَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَةَ الدُّعَاءِ أَرْبَعَةً ...

قَالَ: الثَّالِثُ: مَدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ الَّتِي يُرْجَى بِسَبَبِهَا إِجَابَتُهُ،

وَفِي حَدِيثِ سَلْمَانَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»؛ خَرَّجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ.

وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَغَيْرِهِمَا.

وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ بَدْرٍ يَسْتَنْصِرُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صِفَةِ رَفْعِ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ أَنْوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ...

قَالَ: وَمِنْهَا: رَفْعُ يَدَيْهِ، جَعْلُ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى الْأَرْضِ.

وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ فِي سُؤَالِ اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي غَيْرِ حَدِيثٍ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ سِيرِينَ: «أَنَّ هَذَا هُوَ الدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ».

Ucapan dalam hadits ini menunjukkan bahwa Nabi mengisyaratkan adab-adab doa, sebab-sebab yang menjadikan doa dikabulkan, serta hal-hal yang menghalangi pengabulannya. Beliau menyebutkan empat sebab yang menjadikan doa dikabulkan…

Beliau berkata: yang ketiga adalah mengangkat kedua tangan ke langit, dan ini termasuk adab doa yang diharapkan menjadi sebab dikabulkannya doa.

Dalam hadits Salman, dari Nabi : “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia merasa malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Diriwayatkan pula yang semisalnya dari hadits Anas, Jabir, dan selain keduanya.

Nabi biasa mengangkat kedua tangannya dalam doa istisqa hingga terlihat putih kedua ketiaknya. Beliau juga mengangkat kedua tangannya pada hari Perang Badar ketika memohon pertolongan atas kaum musyrikin hingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya.

Telah diriwayatkan dari Nabi tentang tata cara mengangkat tangan dalam doa dengan berbagai bentuk…

Di antaranya: mengangkat kedua tangan dengan menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit dan bagian punggungnya ke arah bumi.

Perintah tentang hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits mengenai permohonan kepada Allah Azza wa Jalla. Dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin disebutkan: “Inilah bentuk doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla.” [Baca: Jami al-Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rojab 1/269 Tahqiq al-Arna’uth]

Syaikhul Islam Abu Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra 5/337 berkata:

وَيُسَنُّ ‌لِلدَّاعِي ‌رَفْعُ ‌يَدَيْهِ ‌وَالِابْتِدَاءُ ‌بِالْحَمْدِ لِلَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَأَنْ يَخْتِمَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ وَبِالتَّأْمِينِ

“Disunnahkan bagi orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi , dan hendaknya ia menutup doanya dengan semua itu serta dengan ucapan amin.”

Beliau juga 22/519 berkata:

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ ﷺ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌الدُّعَاءِ: ‌فَقَدْ ‌جَاءَ ‌فِيهِ ‌أَحَادِيثُ ‌كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ

“Adapun pengangkatan tangan oleh Nabi dalam doa, maka telah datang banyak hadits shahih tentangnya.”

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim 6/190 di hadits no. 896:

قَدْ ثَبَتَ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ ‌وَقَدْ ‌جَمَعْتُ ‌مِنْهَا ‌نَحْوًا ‌مِنْ ‌ثَلَاثِينَ ‌حَدِيثًا مِنَ الصَّحِيحَيْنِ

“Telah ada ketetapan riwayat bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam doa pada berbagai keadaan selain istisqa, dan jumlahnya lebih banyak daripada yang dapat dibatasi. Aku telah mengumpulkan sekitar tiga puluh hadits tentang hal itu dari Ash-Shahihain”.

Sungguh telah tersebar secara melimpah ruah berbagai riwayat hadits tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, sampai-sampai sejumlah ulama menggolongkannya sebagai hadis mutawatir secara maknawi.

Al-Imam As-Suyuthi berkata:

«مِمَّا تَوَاتَرَ مَعْنَاهُ كَأَحَادِيثِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ نَحْوُ مِائَةِ حَدِيثٍ فِيهَا رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَقَدْ جَمَعْتُهَا فِي جُزْءٍ، لَكِنَّهَا فِي قَضَايَا مُخْتَلِفَةٍ؛ فَكُلُّ قَضِيَّةٍ مِنْهَا لَمْ تَتَوَاتَرْ، وَالْقَدْرُ الْمُشْتَرَكُ فِيهَا وَهُوَ الرَّفْعُ عِنْدَ الدُّعَاءِ تَوَاتَرَ بِاعْتِبَارِ الْمَجْمُوعِ».

“Di antara yang maknanya mutawatir adalah hadis-hadis tentang mengangkat kedua tangan dalam doa. Telah diriwayatkan dari beliau sekitar seratus hadis yang menyebutkan pengangkatan kedua tangan dalam doa.

Aku telah mengumpulkannya dalam satu juz (risalah kecil), namun hadis-hadis itu berada dalam berbagai peristiwa yang berbeda-beda; maka setiap peristiwa tersebut tidak mencapai derajat mutawatir secara tersendiri. Akan tetapi, sisi yang sama di antara semuanya, yaitu pengangkatan tangan ketika berdoa, menjadi mutawatir jika dilihat secara keseluruhan.”

(Dalam *Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi* 2/631).

Dan Imam As-Suyuthi berkata dalam Al-Alfiyah hal. 25:

204 - ‌خَمْسٌ ‌وَسَبْعُونَ ‌رَوَوْا"‌مَنْ ‌كَذَبَا" … وَمِنْهُمُ الْعَشْرَةُ ثُمَّ انْتَسَبَا

205 - لَهَا حَدِيثُ "الرَّفْعِ لِلْيَدَيْنِ" … وَ"الْحَوْضِ"وَ"الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ

“Tujuh puluh lima orang meriwayatkan hadits ‘Barang siapa berdusta…’

Dan di antaranya sepuluh (sahabat yang dijamin surga) termasuk dalam sanadnya.

Termasuk pula hadits tentang ‘mengangkat kedua tangan’,

Tentang ‘telaga (Al-Haudh)’, dan ‘mengusap dua khuf’.” [Selesai]

===***===

AL-IMAM AL-BUKHORI DALAM KITAB SHAHIH-NYA

Al-Imam Al-Bukhari telah menuliskan satu BAB untuk masalah ini yang diberi judul :

بَابُ رَفْعِ الأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ

"Bab : tentang Mengangkat Tangan dalam Doa"

Lalu dia menyebutkan dalam judul BAB ini dua hadits berikut ini dan hadits lainnya.

===

Hadits pertama :

Imam Bukhori menyebutkan Hadits Abu Musa al-'Asy'ari :

لَمَّا فَرَغَ النبيُّ ﷺ، مِن حُنَيْنٍ .....

قالَ أَبُو مُوسَى: وَبَعَثَنِي مع أَبِي عَامِرٍ، قالَ: فَرُمِيَ أَبُو عَامِرٍ في رُكْبَتِهِ، رَمَاهُ رَجُلٌ مِن بَنِي جُشَمٍ بسَهْمٍ وَمَكَثَ يَسِيرًا ثُمَّ إنَّه مَاتَ، فَلَمَّا رَجَعْتُ إلى النبيِّ ﷺ دَخَلْتُ عليه فأخْبَرْتُهُ بخَبَرِنَا وَخَبَرِ أَبِي عَامِرٍ، وَقُلتُ له: قالَ: "قُلْ له: يَسْتَغْفِرْ لِي".

فَدَعَا رَسولُ اللهِ ﷺ بمَاءٍ، فَتَوَضَّأَ منه، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، ثُمَّ قالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ» حتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إبْطَيْهِ، ثُمَّ قالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَومَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِن خَلْقِكَ، أَوْ مِنَ النَّاسِ».

فَقُلتُ: وَلِي، يا رَسولَ اللهِ، فَاسْتَغْفِرْ، فَقالَ النبيُّ ﷺ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ، وَأَدْخِلْهُ يَومَ القِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا».

Ketika Nabi selesai perang Hunein…

Abu Musa berkata: " Beliau menugsakanku bersama Abu Amir" . Kemudian Abu Musa berkata: Lalu Abu Amir terkena lemparan panah di lututnya dari seorang pria dari Bani Jahm.

Dia hanya bertahan sebentar dan kemudian meningga . Maka ketika aku kembali ke Nabi , akupun langsung menghadap kepada beliau .

Lalu aku mengabarkan kepada Nabi tentang kabar kami dan kabar Abu Amir . Dan aku sampaikan kepada beliau bahwa Abu Amir sebelum meninggal, dia berpesan :

“Sampaikan kepada beliau agar beliau memohonkan ampunan kepada Allah untuk diriku.”

Maka Rasulullah meminta air wudhu’ , lalu beliau berwudhu’ , kemudian MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil mengucapkan doa:

“Ya Allah, ampunilah Ubaid Abu Amir! Aku (Abu Musa)" , hingga aku melihat putih kedua ketiak Rasulullah ketika mengangkat tangannya [ dalam berdoa ].

Selanjutnya beliau berdoa lagi :

‘Ya Allah, tempatkanlah Abu Amir, pada hari kiamat kelak, di atas kebanyakan makhluk-Mu (di Surga)!”

Lalu Aku (Abu Musa) berkata kepada Rasulullah : ‘Ya Rasulullah, mohonkanlah ampunan untuk aku juga!

Lalu Rasulullah berdoa : ‘Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (nama asli Abu Musa) dan masukkanlah ia ke tempat yang mulia pada hari kiamat ! (Yaitu di Surga).

[ HR. Bukhori no. 4323 dan Muslim no. 2498 ].

===

Hadits kedua :

Imam Bukhori menyebutkan hadits Salim dari Ayahnya berkata :

بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا صَبَأْنَا فَجَعَلَ خَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ وَيَأْسِرُ وَدَفَعَ إِلَى كُلِّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمٌ أَمَرَ خَالِدٌ أَنْ يَقْتُلَ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ فَقُلْتُ: "وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ أَسِيرِي وَلَا يَقْتُلُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِي أَسِيرَهُ حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَهُ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ» مَرَّتَيْنِ".

Nabi suatu kali mengirim Khalid bin Al Walid ke bani Jidzamah dengan misi mengajak mereka masuk Islam, namun rupanya mereka belum fasih mengucapkan; "Aslamnaa" (kami masuk Islam) sehingga mereka keceplosan mengucapkan Shabba'naa (yang makna secara harfiah kami sembah matahari), mereka terus saja mengucapkan Shabba'na, Shabba'na -sekalipun maksudnya aslamnaa- Maka Khalid membantai diantara mereka dan sebagian lain ia tawan, dan ia serahi masing-masing kami seorang tawanan yang ia perintahkan untuk dibunuh di hari selanjutnya.

Aku protes : "Demi Allah, aku tak akan membunuh tawananku, dan setiap kawanku juga tak akan membunuh tawanannya."

Hingga akhirnya kami menemui Nabi dan kami utarakan kasusnya kepada beliau . Serta merta Nabi MENGANGKAT TANGAN-NYA sembari mengucapkan do'a :

(Ya Allah, aku berlepas diri kepada-MU dari perbuatan-perbuatan Khalid bin Al Walid).

Beliau ulang dua kali . [ HR. Bukhori no. 4339].

Artinya Rasulullah juga mengangkat tangan, namun tidak setinggi seperti saat shalat Istisqo’.

 ***

PENJELASAN AL-HAFIDZ IBNU HAJAR
TERHADAP APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:

Al-Haafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 memberi penjelasan tentang BAB dan dua hadits diatas yang di sebutkan Imam Bukhori , dengan mengatakan :

وَفِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ رَدُّ مَنْ قَالَ لَا يَرْفَعُ كَذَا إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ بَلْ فِيهِ .

وَفِي الَّذِي بَعْدَهُ رَدٌّ عَلَى مَنْ قَالَ لَا يَرْفَعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ غَيْرَ الِاسْتِسْقَاءِ أَصْلًا وَتَمَسَّكَ بِحَدِيثِ أَنَسٍ لَمْ يَكُنِ النَّبِيَّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَهُوَ صَحِيحٌ لَكِنْ جُمِعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحَادِيثِ الْبَابِ وَمَا فِي مَعْنَاهَا بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ الِاسْتِسْقَاءِ وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ

وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ . وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَبِتَقْدِيرِ تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ

قُلْتُ وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً

Pada hadist yang pertama adalah bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa Nabi tidak mengangkat tangan ketika berdo’a seperti itu kecuali pada shalat istisqo’ saja.

Akan tetapi hadist setelahnya adalah bantahan terhadap mereka yang mengatakan bahwa Nabi tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a selain istisqo’; mereka berpegang pada hadist Anas yang meniadakan Nabi mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali pada shalat Istisqo’ saja. Hadistnya shahih.

Namun setelah dikumpulkan kedua hadist tersebut dan hadist-hadist di bab ini dan hadist yang semakna dengannya ; diketahui bahwa yang dimaksud adalah meniadakan sifat khusus , bukan meniadakan mengangkat tangan secara mutlak .

Dan aku telah mengisyaratkan hal itu pada bab-bab tentang shalat istisqo’, dan hasilnya bahwa cara mengangkat tangan ketika berdo’a pada doa istisqo’ itu berbeda dengan cara mengangkat tangan pada saat doa di selainnya.

Bisa jadi yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam hadits adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga menjadikan kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a lainnya , mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu .

Dan jangan membenturkan-nya dengan mengatakan bahwa: "beliau berdoa dengan mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya", telah ada ketetapan pada masing-masing dari keduanya [yakni ketika doa istisqo dan lainya] , akan tetapi digabungkan dengan kesimpulan bahwa terlihat putihnya kedua ketiak Nabi dalam doa istisqo itu lebih nampak jelas dibanding dengan yang nampak pada kesempatan lainnya .

Dan bisa jadi kedua kedua telapak tangan beliau ketika doa Istsisqo mengikuti arah bumi. Dan dalam doa biasa , kedua telapak tangannnya mengikuti arah langit ".

Al-Mundhiri berkata: " Dan jika dengan perkiraan tidak mungkin untuk digabungkan, maka sisi peng itsbat-an lebih rajih dari pada peniadaan ".

Aku katakan : Apalagi dengan banyaknya hadits yang yang berkaitan dengan hal ini. Karena dalam masalah ini banyak hadits yang disebutkan secara khusus oleh Al-Mundziri dalam satu Juz , yang mana dari Juz tsb Imam an-Nawawi memaparkannya dalam kitab "al-Adzkaar" dalam “Al-Adzkaar” dan dalam “Sharh Al -Muhadhdhab” seluruhnya.

(Baca : Fathul Baari 11/142).

 ***

PENJELASAN AL-QASTHALANI
TERHADAP APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:

Imam Al-Qasthalany dalam kitabnya "Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhari" memberi penjelasan tentang BAB dan dua hadits diatas yang di sebutkan Imam Bukhori , dengan mengatakan :

وَفِي الْبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ يَطُولُ سَرْدُهَا، وَفِيهَا رَدٌّ عَلَى الْقَائِلِ بِعَدَمِ الرَّفْعِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، لِحَدِيثِ أَنَسٍ الصَّحِيحِ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ.

وَأُجِيبَ: بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ، فَالرَّفْعُ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ، إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا، وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى الْمَنْكِبَيْنِ، وَيَكُونُ رُؤْيَةُ بَيَاضِ إِبْطَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ.

Di dalam bab ini banyak hadist-hadist yang menyatakan tentang mengangkat tangan ketika berdo’a. Dan hadist-hadist tersebut sekaligus sebagai bantahan terhadap mereka yang meniadakan [atau melarang] mengangkat kedua tangan ketika berdo’a selain pada saat do'a Istisqo’ [ doa minta hujan ] saja berdasarkan hadist Anas yang shahih : " bahwa Nabi tidaklah mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali pada saat do'a Istisqo’ [ doa minta hujan] saja.

Maka aku jawab :

Bahwa yang dimaksud [ dalam hadits Anas tsb ] adalah meniadakan sifat dan cara khusus dalam berdo’a pada selain istisqo , bukan meniadakan mengangkat kedua tangan dalam berdoa secara muthlak.

Jadi cara mengangkat tangan dalam doa Istisqo itu berbeda dengan cara mengangkat tangan pada doa-doa selainnya .

Bisa jadi yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam hadits Anas diatas adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga menjadikan kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a lainnya , mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu . Dan dengan demikian maka terlihat putih dua ketiak beliau dalam doa istisqo nampak lebih jelas dibanding dengan penampakannya pada saat doa-doa di selainnya .

(Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhari 9 /197).

 ===***===

IMAM BUKHORI DALAM KITAB-NYA " AL-ADAB AL-MUFRAD " :

Selain di kitab Shahih-nya, Imam Bukhori juga menulis dalam kitab al-Adab al-Mufrad satu BAB yang berjudul :

بَابُ رَفْعِ الأيْدِي في الدُّعَاءِ

BAB : mengangkat tangan dalam berdo'a

Lalu beliau menyebutkan hadits-hadits yang menyebutkan Nabi berdoa dengan mengangkat kedua tangannya , diantaranya sbb :

----

Hadits ke 1 :

Hadits Abu Hurairah – radhiyallahu anhu – berkata :

" قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا ، فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ، فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ ، فَقَالَ : «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا، وَائْتِ بِهِمْ»".

At-Thufail Ibnu Amru Ad-Dausi datang kepada Rasulullah lalu berkata :

"Wahai Rasulullah!, sesungguhnya kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka berdoalah kepada Allah (semoga kemelaratan menyertai mereka)".

Lalu Rasulullah menghadap kiblat dan MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, kemudian orang-orang mengira bahwa Rasulullah mendoakan musibah atas mereka, lalu Rasulullah berdoa:

"Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkan hidayah itu bagi mereka."

[HR. Al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad 477/611 dan al-Baghowi dalam Mu'jam ash-Shohaabh no. 23928 .

Dishahihkan Syeikh al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrod no. 611/478 .

Dan al-Albaani berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah 6/1063 mengatakan : Sanadnya Jayyid].

Dalam Shahih Bukhari no. 2937 dan Shahih Muslim no. 2524 tidak ada lafadz : [[dan mengangkat kedua tangannya]].

Dan berikut ini lafadz nya :

قَدِمَ طُفَيْلُ بنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ وأَصْحَابُهُ علَى النبيِّ ﷺ، فَقالوا: يا رَسولَ اللَّهِ، إنَّ دَوْسًا عَصَتْ وأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا. فقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ. قالَ: «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وأْتِ بهِمْ».

Thufail bin ‘Amr ad-Dausi dan para sahabatnya datang kepada Nabi , lalu mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Daus telah membangkang dan menolak (dakwah), maka doakanlah keburukan atas mereka.”

Maka ada yang berkata: “Binasalah kaum Daus.”

Namun beliau berdo’a: “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaum Daus dan datangkanlah mereka (kepada kami)”.

----

Hadits ke 2 :

Hadits Jabir – radhiyallahu anhu - :

أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ وَمَنَعَةٍ؛ حِصْنِ دَوْسٍ؟ قَالَ: فَأَبَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، لِمَا ذَخَرَ اللَّهُ لِلْأَنْصَارِ. فَهَاجَرَ الطُّفَيْلُ، وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَمَرِضَ الرَّجُلُ فَضَجِرَ (أَوْ كَلِمَةٌ شَبِيهَةٌ بِهَا)، فَحَبَا إِلَى قَرْنٍ، فَأَخَذَ مِشْقَصًا، فَقَطَعَ وَدَجَيْهِ فَمَاتَ، فَرَآهُ الطُّفَيْلُ فِي الْمَنَامِ. قَالَ: مَا فُعِلَ بِكَ؟ قَالَ: غُفِرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: مَا شَأْنُ يَدَيْكَ؟ قَالَ: فَقِيلَ: إِنَّا لَا نُصْلِحُ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ مِنْ يَدَيْكَ. قَالَ: فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ، وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ»، وَرَفَعَ يَدَيْهِ.

"Bahwa ath-Thufail bin Amr [al-Dausi] datang kepada Nabi dan berkata: Apakah Anda membutuhkan perlindungan yang kuat dan benteng ? Benteng Suku Daus ?.

Rasulullah menolak tawaran ini, karena Allah SWT telah menitipkan (hak istimewa untuk melindungi Nabi-Nya ) kepada Anshar.

Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, At-Thufail bin 'Amru turut berhijrah bersama seorang lelaki dari kaumnya. Lelaki itu jatuh sakit dan tidak dapat menahan kesakitan itu, lalu dia merangkak ke arah tanduk lalu mengambil mata anak panah , kemudian dengannya memotong dua urat nadi ditangannya lalu dia mati.

At-Thufail melihat lelaki itu dalam mimpinya. Dia bertanya kepada lelaki itu: Apa yang telah Tuhan kamu lakukan kepada mu?

Lelaki itu menjawab : Tuhan ku telah mengampuni aku karena hijrah ku kepada Nabi .

At-Thufail bertanya lagi: Ada apa dengan kedua tangan mu ?

Lelaki itu menjawab: Dikatakan kepada ku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah engkau rusakkan kedua tanganmu.

At-Thufail menceritakan kepada Nabi hal itu. Lalu Rasulullah brdo'a : "Ya Allah, untuk tangannya itu, kau ampunilah".

Dan beliau MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA”.

[HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Bab Rof‘u Al-Aidi fi Ad-Du‘a, 614/94].

Sanadnya di shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 . Namun Di Dhaifkan oleh al-Albaani di Dha'if al-Adab al-Mufrad ]

Hadits ini di riwayatkan pula Imam Muslim dalam shahinya no. 116 , 329 dengan lafadz yang hampir sama dan lebih panjang , namun tidak ada tambahan lafadz : [[ Dan beliau mengangkat kedua tangannya ]].

Berikut ini lafadz Shahih Muslim :

أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ، أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنَعَةٍ – قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ – فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ ﷺ لِلَّذِي ذَخَرَ اللَّهُ لِلأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ فَرَآهُ وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ ﷺ فَقَالَ مَا لِي أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ ‏.‏ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏«اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ»

Sesungguhnya Thufail bin Amr Ad-Dausi datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berkenan berada di sebuah benteng yang kokoh dan memiliki perlindungan?”

Beliau berkata, “Benteng itu dahulu milik kabilah Daus pada masa jahiliah.”

Namun Rasulullah menolak tawaran tersebut, karena Allah telah menyiapkan perlindungan itu bagi kaum Anshar.

Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, Thufail bin Amr pun berhijrah menemui beliau. Bersamanya ikut berhijrah seorang laki-laki dari kaumnya. Mereka merasa tidak cocok tinggal di Madinah, lalu orang itu jatuh sakit. Karena sangat gelisah, ia mengambil anak panah miliknya, kemudian memotong ruas-ruas jari tangannya. Darah pun mengalir deras dari kedua tangannya hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Thufail bin Amr kemudian melihat orang itu dalam mimpinya. Ia melihat keadaannya baik, namun kedua tangannya tertutup. Thufail bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan Rabbmu kepadamu?”

Ia menjawab, “Allah telah mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya .”

Thufail bertanya lagi, “Mengapa aku melihat engkau menutupi kedua tanganmu?”

Ia menjawab, “Dikatakan kepadaku, ‘Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah engkau rusak sendiri.’”

Thufail lalu menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah .

Maka Rasulullah bersabda, “Ya Allah, ampunilah juga kedua tangannya.”

----

Hadits ke 3 :

Dari Ikrimah dari Aisyah radhiyallahu anha :

أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو رَافِعًا يَدَيْهِ ، يَقُولُ : «اللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَلا تُعَاقِبْنِي ، أَيُّمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ آذَيْتُهُ أَوْ شَتَمْتُه فَلاَ تَعَاقِبْنِي فِيْهِ».

Bahwa dia [Aisyah radhiyallahu ‘anha ] melihat Nabi berdoa sambil mengangkat kedua tangannya dengan mengucapkan :

"Ya Allah, aku hanyalah seorang manusia, maka janganlah hukum aku. Siapa saja orangnya dari kaum mukminin , yang pernaha aku sakiti atau akau caci maki ; maka janganlah Kau hukum aku karenanya ." [ HR. Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad no. 611 ]

Sanadnya di shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 dan dinyatakan oleh al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 610/477 : صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ [ Shahih lighoirihi ]

Al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 berkata:

رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad yang sahih. Kemudian beliau berkata di bagian akhirnya: “Hadis-hadits ini sahih dari Rasulullah dan dari para sahabatnya.” [Selesai]

 ===***===

DALIL-DALIL LAIN YANG MENUNJUKKAN
HUKUM ASAL MENGANGKAT TANGAN DALAM BERDOA ADALAH SUNNAH:

---

HADITS KE 1 :

Dari salman al farisy berkata rasulullah bersabda:

"ما رَفَعَ قوْمٌ أَكُفَّهم إلَى اللهِ عَزَّ وجَلَّ، يَسْألُونه شَيْئاً إلاَّ كانَ عَلى اللهِ حَقًّا أن يَضَعَ في أيْدِيْهِم الَّذِي سَألُوْا"

"Tidaklah suatu kaum mengangkat telapak tangan mereka kepada Allah meminta sesuatu pada NYA kecuali baginya hak pada Allah untuk meletakan pada tangan-tangan mereka apa yang mereka mintakan pada-Nya . [ HR. ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabiir 6/254]

Imam al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 10/169 :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ

"Hadist ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan para perawinya adalah para perawi ash-Shohih ".

----

HADITS KE 2 :

Dari Salman Al-Farisi rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah bersabda :

«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»

Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 3556 dan Ibnu Maajah no. 3131).

Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram no. 1580 berkata :

أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

Empat Imam meriwayatkannya, kecuali an-Nasa`i. Al-Hakim menilainya shahih

Dan dalam Fathul-Bari 11/142 , al-Haafidz Ibnu Hajar menjelaskan:

وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيّ وَحَسَّنَهُ وَغَيْرهمَا مِنْ حَدِيث سَلْمَان رَفَعَهُ:

«إِنَّ رَبّكُمْ حَيِيّ كَرِيم يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْده إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدّهُمَا صِفْرًا »

بِكَسْرِ الْمُهْمَلَة وَسُكُون الْفَاء أَيْ خَالِيَة وَسَنَده جَيِّد

Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan, dan at-Tirmidzi menilainya hasan, dari hadits Salman yang ia marfu’kan:

“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Mulia. Ia merasa malu dari hamba-Nya jika ia (berdo’a) mengangkat tangan kepada-Nya dengan mengembalikannya dalam keadaan kosong”

Dengan mengkasrah yang tidak bertitik (shad) dan mensukun fa (yakni shifr) maknanya kosong - dan SANADNYA BAIK ".

Di Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi no. 3556 dan Shahih Ibnu Majah no. 3131.

-----

HADITS KE 3 :

Dari Abu Musa Al-As’ary rodhiyallahu ‘anhu berkata :

«دَعَا النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»

Nabi berdo’a, kemudian mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak Beliau. (HR. Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 2498).

Dan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

دَعَا النَّبِيُّ ﷺ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «‌اللَّهُمَّ ‌اغْفِرْ ‌لِعُبَيْدٍ ‌أَبِي ‌عَامِرٍ» وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ»

Nabi meminta air, lalu beliau berwudhu dengannya, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.” Aku melihat putih kedua ketiaknya. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pada hari kiamat berada di atas banyak manusia dari makhluk-Mu.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4323 dan 6383, serta Muslim no. 165 (2498).

----

HADITS KE 4 :

Dari Anas radhiyallaahu anhu , ia berkata:

«رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»

‘Saya melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, sehingga kelihatan putihnya kedua ketiaknya’.” [ HR. Bukhori no. 1031 dan Muslim no. 895 ]

Dalam riwayat lain dari Yahya bin Sa’id dan Syariik , mereka berdua mendengar Anas menyebutkan :

أنَّ النَّبِيِّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ‏.‏

Bahwa Nabi mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak beliau SAW. (HR. Bukhari no. 1030 , 6341).

----

HADITS KE 5 :

Dari ‘Athoo, ia berkata: Berkatalah Usamah bin Zaid -radhiyallahu 'anhu - :

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ ﷺ بِعَرَفَاتٍ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ فَسَقَطَ خِطَامُهَا فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ اْلأُخْرَى

‘Saya membonceng Nabi di Arafah, maka beliau MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil berdo’a, lalu untanya condong miring , dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau mengambil tali kekang tersebut dengan salah satu tangannya, dan beliau tetap berdoa dengan mengangkat tangan lainnya’.”

[ HR. An-Nasaa'i no. 3011 dan Ahmad no. 21821 . Di shahihkan asy-Syaukani dalam Neil al-Awthaar 5/138 dan al-Albaani dalam Shahih an-Nasaa'i no. 3011].

----

HADITS KE 6 :

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata;

يْنَمَا أَتَرَمَّى بِأَسْهُمٍ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ كُسِفَتْ الشَّمْسُ فَنَبَذْتُهُنَّ وَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ مَا أَحْدَثَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ كُسُوفُ الشَّمْسِ الْيَوْمَ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يُسَبِّحُ وَيُحَمِّدُ وَيُهَلِّلُ وَيَدْعُو حَتَّى حُسِرَ عَنْ الشَّمْسِ فَقَرَأَ بِسُورَتَيْنِ وَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ

"Ketika kami melepaskan anak panah di masa hidupnya Rasulullah , tiba-tiba terjadi gerhana Matahari, lalu aku segera meletakkan anak panah tersebut dan berkata; "Sungguh aku akan melihat kejadian apa yang akan menimpa Rasulullah pada hari terjadinya gerhana Matahari ini."

Lalu aku menemui beliau, ternyata beliau sedang MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil bertasbih, tahmid dan bertahlil serta berdo'a hingga gerhana hilang dari matahari. Beliau membaca dua surat dan shalat dua raka'at."

[ HR. Muslim (913), Abu Dawud (1195), dan kata-katanya adalah miliknya, an-Nasa'i (1460), dan Ahmad (20636).

----

HADITS KE 7 :

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :

أنَّ النبيَّ ﷺ تَلا قَوْلَ اللهِ عزَّ وجلَّ في إبْراهِيمَ:

﴿رَبِّ إنَّهُنَّ أضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فمَن تَبِعَنِي فإنَّه مِنِّي﴾ [إبراهيم: 36] الآيَةَ،

وقالَ عِيسَى عليه السَّلامُ: ﴿إنْ تُعَذِّبْهُمْ فإنَّهُمْ عِبادُكَ وإنْ تَغْفِرْ لهمْ فإنَّكَ أنْتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ﴾ [المائدة: 118]،

فَرَفَعَ يَدَيْهِ وقالَ: «اللَّهُمَّ أُمَّتي أُمَّتِي، وبَكَى»

فقالَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: «يا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، ورَبُّكَ أعْلَمُ، فَسَلْهُ ما يُبْكِيكَ؟» فأتاهُ جِبْرِيلُ عليه الصَّلاةُ والسَّلامُ، فَسَأَلَهُ فأخْبَرَهُ رَسولُ اللهِ ﷺ بما قالَ، وهو أعْلَمُ، فقالَ اللَّهُ: «يا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إنَّا سَنُرْضِيكَ في أُمَّتِكَ، ولا نَسُوءُكَ»

"Nabi membaca ayat Allah SWT tentang Nabi Ibrahim:

﴿رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي﴾

'Ya Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia, maka siapa yang mengikutiku, orang itu termasuk golonganku'. (QS Ibrahim ayat 36)

Lalu Nabi membaca ayat tentang perkataan Nabi Isa alaihis salam :

﴿إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾

'Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau. Jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'. (QS Al-Maidah ayat 118)

Kemudian Nabi MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, dan berkata: 'Umatku, umatku'.

Beliau menangis. Maka Allah SWT berfirman : 'Wahai Jibril, temui Muhammad, dan Tuhanmu lebih mengetahui, tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis'?

Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka Allah berfirman :

'Wahai Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, 'Kami akan membuatmu ridha dalam masalah umatmu dan kami tidak akan menyakitimu'."

(HR Muslim No 202)

----

HADITS KE 8 :

Muhammad bin Qais berkata, saya mendengar Aisyah menceritakan, ia berkata;

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: ‌قَالَتْ: ‌لَمَّا ‌كَانَتْ ‌لَيْلَتِي ‌الَّتِي ‌كَانَ ‌النَّبِيُّ ﷺ فِيهَا عِنْدِي، انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ، وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ، وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ، فَاضْطَجَعَ، فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ، فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا، وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا، وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ، ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا، فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي، وَاخْتَمَرْتُ، وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي، ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ، حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ، فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ

"Maukah kalian aku ceritakan hadits tentang diriku dan tentang Rasulullah ?". Kami menjawab : "Ya, mau."

Aisyah - radhiyallahu 'anhaa - berkata :

" Pada suatu malam ketika giliran Rasulullah di rumahku, setelah beliau menanggalkan pakaiannya, meletakkan terompahnya dekat kaki dan membentangkan pinggir jubahnya di atas kasur, beliau lantas berbaring.

Setelah beberapa lama kemudian dan barangkali beliau menyangkaku telah tidur, beliau mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan beliau seperti itu, kukenakan pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain.

Kemudian aku mengikuti beliau dari belakang hingga sampai di Baqi'. Ketika sampai di sana beliau berdiri agak lama, kemudian beliau MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA tiga kali, sesudah itu beliau berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului beliau....."

[HR. Muslim no. 1619 dan Ibnu Hibbaan no. 7110].

-----

HADITS KE 9 :

Dari Abu Humaid Al-Sa`idi radhiyallaahu anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَجَاءَ فَقَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ:

«مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَجِيءُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أُمِّهِ أَوْ أَبِيهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا لَا يَأْتِي أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا فَلَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً فَلَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ»

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبِطَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ»

Bahwa Nabi mengangkat seorang laki-laki dari Azd yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai pegawai untuk mengurusi zakat, kemudian ia datang dan berkata; ini yang menjadi untuk anda dan yang ini dihadiahkan kepadaku.

Kemudian Nabi berdiri di atas mimbar lalu memuji Allah dan bersabda:

"Bagaimana dengan seorang pekerja yang kami utus, kemudian datang dan berkata; ini untuk anda dan ini dihadiahkan kepadaku.

Tidakkah sekiranya ia duduk di rumah ayah atau ibunya kemudian menunggu, apakah ia akan diberi hadiah atau tidak?

Tidaklah seseorang diantara kalian mengambil sesuatupun dari hal tersebut kecuali pada Hari Kiamat ia datang dengan membawanya pada lehernya, apabila sesuatu tersebut adalah unta maka unta tersebut bersuara unta, apabila atau sapi maka sapi tersebut bersuara sapi, dan kambing yang mengembik."

Kemudian Rasulullah MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA hingga kami melihat putih kedua ketiaknya. Kemudian beliau mengucapkan:

"Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?"

[ HR. Bukhori no. 2597 , 7174 , Muslim no. 1832 dan Abu Daud no. 2557 ]

----

HADITS KE 10 :

Hadits Abu Sa'iid Al-Khudri berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو لِعُثْمَانَ يقُوْلُ : «يَا رَبَّ عُثْمَانَ إنَّي رَضِيْتُ عَنْ عُثْمَانَ فَارْضَ عَنْه».

فَمَا زَالَ يَدْعُوْ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرَ فَنَزَلَتْ : ﴿اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ﴾.

Aku melihat Nabi sambil MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA berdoa untuk Utsman [bin Affaan] , dengan mengucapkan :

" Wahai Tuhan nya Utsman ! Sesungguhnya aku ridho dengan Utsman, maka Engkau ridhoi-lah Utsman !!! " .

Dan beliau terus berdoa hingga fajar terbit . Lalu turun wahyu :

" Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" [QS. Al-Baqarah : 262 ].

[ al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 :

أَخْرَجَهُ الْمُصَنِّفُ فِي جُزْءِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ

Diriwayatkan oleh al-Mushonnif [ yakni : al-Bukhori ] dalam sebuah Juz tentang mengangkat kedua tangan ".

Hadits ini di sebutkan pula oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir nya 3/306.

Dan di Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalm Fathul Baari 11/142 ]

----

HADITS KE 11 :

Hadits 'Aisyah radhiyallaahy anha :

دَخَلَ عَليَّ رسُولُ الله ﷺ فَرأَى لَحْمًا ، فَقَال : «مَنْ بَعَثَ بِهَذا ؟» قُلْتُ : عُثْمَان . قَالَتْ : فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ ، يَدْعُوْ لِعُثْمَانَ ".

Rasulullah masuk ke rumahku dan beliau melihat daging, maka beliau bertanya : Siapa yang mengirim ini? Aku menjawab : Utsman.

Dia berkata: Lalu aku melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya, berdoa untuk Utsman".

[HR. Al-Bazzaar ( Kasyful Astaar no. 2508 dan Jaami' al-Masaanid wa as-Sunan no. 225 )]

Ibnu Hajar al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14520 [cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah ]:

" رَوَاه البَزَّار بِإسْنَادٍ حَسَنٍ ".

"Diriwayatkan oleh al-Bazzaar dengan Sanad yang HASAN".

----

HADITS KE 12 :

Hadits Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «مَا هَذَا ؟» قَالُوا : "أَرْسَلَ بِهَا عُثْمَانُ هَدِيَّةً لَكَ" ، قَالَ : فَرَأَيْتُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو لِعُثْمَانَ، مَا سَمِعْتُهُ يَدْعُو لِأَحَدٍ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ : «اللَّهُمَّ أَعْطِ عُثْمَانَ ، وَافْعَلْ بِعُثْمَانَ»، رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ .

Rosulullah bertanya : " Apa ini ?"

Mereka menjawab : Usman mengirimkannya sebagai hadiah untukmu.

Dia [ Abu Mas'ud ] berkata: Aku melihat beliau mengangkat tangannya dan berdoa untuk Utsman, sebuah doa yang aku belum pernah mendengar beliau berdoa dengannya untuk siapapun sebelumnya atau sesudahnya , yaitu doa :

"Ya Allah, beri-lah Usman, dan lakukan-lah untuk Usman"

Sambil mengangkat kedua tangannya , hingga aku melihat putih kedua ketiaknya .

[HR. Imam Ahmad dalam Fadhail ash-Shahabah 1/234 no. 287 cet. Muassasah ar-Risalah dan ath-Thabrani 17/249]

Ibnu Hajar al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14523 [cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah ]:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ، وَهُوَ ضَعِيفٌ. وَرَوَاهُ فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ رُؤْيَا رَآهَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

" Diriwayatkan oleh al-Tabarani, dan dalam sanadnya ada Sa'id bin Muhammad al-Warraq, dan dia itu lemah. Dan dia meriwayatkannya juga dalam al-Awshath , dan di dalamnya ada kisah mimpi bahwa Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma melihat-nya dalam mimpi ".

----

HADITS KE 13 :

Dari Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu , dia berkata:

"كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ سُمِعَ عِنْدَ وَجْهِهِ دوِي كَدَوِيِّ النَّحْل فأُنزِل عَلَيْهِ يَوْمًا فَمَكَثْنَا سَاعَةً فَسُرِّيَ عَنْهُ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ:

«اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا»

ثُمَّ قَالَ: «أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْرُ آيَاتٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ» ثُمَّ قَرَأَ: ﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ﴾ حَتَّى خَتَمَ عَشْرَ آيَاتٍ".

Bila turun wahyu kepada nabi SAW, maka didekat wajah beliau terdengar seperti dengungan lebah.

Pada suatu hari, turun wahyu kepada beliau, kami diam sejenak, beliau terlihat gembira lalu menghadap kiblat dan berdoa:

"Ya Allah, tambahilah kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan hinakan kami, berilah kami dan jangan cegah kami, kedepankan kami dan jangan kesampingkan kami, ridhailah kami dan ridhailah perbuatan-perbuatan kami."

Setelah itu nabi bersabda: "Sepuluh ayat diturunkan padaku, barangsiapa menunaikannya akan masuk surga."

Beliau membaca:

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ﴾

"Sungguhnya beruntung orang-orang yang beriman."

Hingga sepuluh ayat. (Al Mu`minuun: 1-10 )

[ HR. Tirmudzi no. 3097 ]

Di Hasankan oleh al-Haafidz Ibnu Hajar dalam Muqoddimah Takhrij Misykaat al-Mashaabiih 3/32

Dan di dhaifkan oleh al-Munawi dalam Takhriij Ahaadits al-Mashaabiih 2/349 , al-Albaani dalam Dhaif Tirmidzi no. 3173 dan Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij al-Musnad no. 223 .

Al-Mubaarakfuuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 8/148 berkata :

فِي سَنَدِهِ يُونُسُ بْنُ سُلَيْمٍ الصَّنْعَانِيُّ، قَالَ فِي الْمِيزَانِ: تُكُلِّمَ فِيهِ وَلَمْ يُعْتَمَدْ فِي الرِّوَايَةِ، وَمَشَّاهُ غَيْرُهُ. وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ: لَا يُتَابَعُ عَلَى حَدِيثِهِ وَلَا يُعْرَفُ إِلَّا بِهِ.

Dalam sanadnya ada Yunus bin Salim Al-Shan'aani . Adz-Dzahabi mengatakan dalam Al-Mizan : " Dia itu masih diperbincangkan ", dan dia itu tidak mu'tamad dalam riwayatnya. Tapi ada sebagian yang meloloskannya . Dan al-'Uqaili berkata : Dia haditsnya tidak bisa di beri mutabaah , dan tidak dikenal kecuali dengan kondisi seperti ini ".

----

HADITS KE 14 :

Abdurrozzaaq meriwayatkan : Dari Muammar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِقَوْمٍ مِنَ الْأَعْرَابِ كَانُوا قَدْ أَسْلَمُوا، وَكَانَتِ الْأَحْزَابُ خَرَّبَتْ بِلَادَهُمْ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو لَهُمْ بَاسِطًا يَدَيْهِ قِبَلَ وَجْهِهِ.

Bahwa Rasulullah melewati sekelompok orang Arab yang telah masuk Islam. Pasukan ahzaab [sekutu] telah menghancurkan negeri mereka, maka Rasulullah mengangkat [tangannya] berdoa untuk mereka dengan merentangkan kedua tangannya di depan wajahnya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 53 ].

Sanadnya Mursal .

---

HADITS KE 15 :

Dari Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا مَدَّ يَدَيهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Apabila Rasulullah mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a, dia tidak mengembalikannya (menurunkannya) hingga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR. At-Tirmidzi no. 3386).

Abu Isa Tirmidzi berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى، وَقَدِ انْفَرَدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ، وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ ثِقَةٌ، وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. اهـ.

Ini adalah hadits SHAHIH GHORIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, dan dia sendirian di dalamnya dan dia memiliki sedikit hadits, dan Handzala bin Abi Sufyan tsiqoh , di tautsiq oleh Yahya bin Sa'iid al-Qaththaan ".

Al-Haafidz Ibnu Hajar rohimahullah dalam Bulughul Maram berkata :

أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، لَهُ شَوَاهِدُ مِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ، وَغَيْرِهِ، وَمَجْمُوعُهَا يَقْضِي بِأَنَّهُ حَدِيثٌ حَسَنٌ.

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rohimahullah, dan ada beberapa hadist lainnya yang semakna dengan hadist ini. Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas didalam Sunan Abi Dawud dan lainnya, yang secara keseluruhan menyebabkan derajat hadist ini menjadi hadist hasan. [ Lihat : kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Marom 2/709 ]

----

HADITS KE 16 :

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

رَأَيْتُ امْرَأَةَ الْوَلِيدِ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ ‌تَشْكُو ‌إِلَيْهِ ‌زَوْجَهَا ‌أَنَّهُ ‌يَضْرِبُهَا فَقَالَ لَهَا: " اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَذَهَبَتْ ثُمَّ رَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنَّهُ عَادَ يَضْرِبُنِي فَقَالَ لَهَا: " اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَكَ " ، فَذَهَبَتْ ثُمَّ عَادَتْ ، فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي فَقَالَ: " اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي‌‌ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْوَلِيدِ»

Aku melihat istri Al-Walid datang kepada Nabi mengadukan suaminya karena ia memukulnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.”

Ia pun pergi, lalu kembali dan berkata, “Sesungguhnya ia kembali memukulku.”

Beliau berkata kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Nabi mengatakan kepadamu (begini dan begini).”

Ia pun pergi, kemudian kembali lagi dan berkata, “Sesungguhnya ia memukulku.”

Beliau kembali bersabda, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.” Ia berkata lagi, “Sesungguhnya ia memukulku.”

Maka Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, (hukumlah) Al-Walid.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam *Qurratul ‘Aynain fi Raf‘il Yadain fis Shalah* hlm. 66 no. 92, dan oleh Ibnul Imam dalam *Silahul Mu’min fid Du‘a* hlm. 114 no. 175].

----

HADITS KE 17:

Dari Aisyah radhiyallahu ta‘ala ‘anha, ia berkata:

«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى بَدَا ضَبْعَاهُ، يَدْعُو لِعَوْدِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ»

“Aku melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya, beliau berdoa untuk kesembuhan (kembalinya kesehatan) Utsman radhiyallahu ta‘ala ‘anhu.”

[Di kutip dari kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510]

----

HADITS KE 18 :

Dan dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, ia berkata:

«أَخْبَرَنِي مَنْ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو عِنْدَ أَحْجَارِ الزَّيْتِ بَاسِطًا كَفَّيْهِ».

“Telah mengabarkan kepadaku seseorang yang melihat Nabi berdoa di dekat Ahjar Az-Zait dengan membentangkan kedua telapak tangannya.”

[Di kutip dari kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510-511]

-----

HADITS KE 19 :

Dan dari Abu Utsman, ia berkata:

«كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ»

“Umar radhiyallahu ‘anhu biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”

[Di kutip dari kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511].

----

HADITS KE 20:

Dari al-Qoosim bin Muhammad bin Abu Bakar , dia berkata :

«‌رَأَيْت ا‌بن ‌عُمَرَ ‌يَدْعُو ‌عِنْدَ ‌الْقَاصِّ ‌يَرْفَعُ ‌يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ بَاطِنُهُمَا مِمَّا يَلِيهِ وَظَاهِرُهُمَا مِمَّا يَلِي وَجْهَهُ»

Aku melihat Ibnu Umar berdoa disisi pendongeng, sambil mengangkat kedua tangannya hingga tinggi sejajar dua bahu nya , sisi dalam telapaknya di setelah bahunya , sementara sisi punggung telapaknya di setelah wajahnya.

Diriwayatkan al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad dan di Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 .

----

HADITS KE 21:

Dan dari Al-Aswad:

«أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ».

bahwa Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”

Di kutip dari kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511.

Lalu Al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 menisbatkan hadits-hadits diatas kepada riwayat al-Imam al-Bukhori dalam Kitabnya Rof’ul Yadain.

Al-Imam An-Nawawi berkata

رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ ‌وَفِي ‌الْمَسْأَلَةِ ‌أَحَادِيثُ ‌كَثِيرَةٌ ‌غَيْرُ ‌مَا ‌ذَكَرْتُهُ وَفِيمَا ذَكَرْتُهُ كِفَايَةٌ وَالْمَقْصُودُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنْ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتْ الْأَحَادِيثُ بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad yang sahih. Kemudian beliau berkata di bagian akhirnya:

Hadis-hadits ini sahih dari Rasulullah dan dari para sahabat beliau.

Dan dalam masalah ini terdapat banyak hadits selain yang telah aku sebutkan. Apa yang telah aku sebutkan sudah mencukupi.

Maksudnya adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang sangat nyata. Wallaahu Ta’aala A’lam”.

 ****

HADITS DO’A DALAM SHALAT SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN

Dari Sahl bin Sa‘d As-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ.

وَحَانَتِ الصَّلَاةُ. فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ.

فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ.

فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ. فَصَفَّقَ النَّاسُ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ.

فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ مِنَ التَّصْفِيقِ، الْتَفَتَ أَبُو بَكْرٍ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ «فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ».

فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ ‌يَدَيْهِ، ‌فَحَمِدَ ‌اللَّهَ ‌عَلَى ‌مَا ‌أَمَرَهُ ‌بِهِ ‌رَسُولُ ‌اللَّهِ ﷺ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ. وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ.

فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ»،

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ، أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمْ مِنَ التَّصْفِيحِ؟ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ. فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ»

bahwa Rasulullah pergi kepada Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka. Ketika waktu sholat tiba, muazin datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Apakah engkau akan mengimami manusia agar aku menegakkan iqamah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Abu Bakar pun mengimami salat.

Kemudian Rasulullah datang sementara orang-orang sedang dalam salat. Beliau berjalan menyelinap hingga berdiri di dalam saf. Orang-orang pun bertepuk tangan, sedangkan Abu Bakar tidak biasa menoleh dalam salatnya. Ketika orang-orang semakin banyak bertepuk tangan, Abu Bakar pun menoleh, lalu melihat Rasulullah . Maka Rasulullah memberi isyarat kepadanya agar tetap di tempatnya.

Lalu Abu Bakar mengangkat kedua tangannya dan memuji Allah atas perintah Rasulullah tersebut, kemudian ia mundur hingga berdiri rata di dalam saf. Rasulullah pun maju lalu mengimami salat.

Setelah selesai, beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk tetap (di tempatmu) ketika aku memerintahkanmu?”

Abu Bakar menjawab, “Tidaklah pantas bagi Ibnu Abi Quhafah untuk sholat di hadapan Rasulullah .”

Maka Rasulullah bersabda, “Mengapa aku melihat kalian banyak bertepuk tangan? Barang siapa yang mengalami sesuatu dalam salatnya, hendaklah ia bertasbih. Karena jika ia bertasbih, maka akan diperhatikan. Adapun tepuk tangan itu khusus bagi para wanita.”

[HR. Bukhori no. 684 dan Muslim no. 421]

Dan telah diketahui bahwa peristiwa itu terjadi di dalam salat; maka di luar salat tentu lebih utama dan lebih layak.

Al-Baji berkata dalam *Al-Muntaqa* 1/289:

وَرَفْعُ ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌الصَّلَاةِ ‌لِلدُّعَاءِ ‌دَلِيلٌ ‌عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ جَوَازُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مَوْضِعِ الدُّعَاءِ

“Diangkatnya kedua tangan Abu Bakar dalam salat untuk berdoa merupakan dalil bolehnya hal itu dalam salat. Dan telah diriwayatkan dari Malik bolehnya mengangkat kedua tangan pada tempat doa.”

Tidak keluar dari kaidah ini kecuali apa yang telah tetap dari Nabi bahwa beliau berdoa namun tidak mengangkat kedua tangannya, seperti doa di antara dua sujud, pada akhir tasyahud, doa istiftah, dan doa dalam khutbah Jumat bagi imam — selain dalam istisqa — karena sunnah di dalamnya adalah berisyarat dengan jari. Maka dalil-dalil dalam hal ini bersifat khusus”. [Selesai]

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu tentang kisah para qurra’ (para penghafal Al-Qur’an) yang terbunuh, Anas berkata:

«لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ كُلَّمَا ‌صَلَّى ‌الْغَدَاةَ ‌رَفَعَ ‌يَدَيْهِ ‌يَدْعُو ‌عَلَيْهِمْ» يَعْنِي: عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوهُمْ.

“Sungguh aku telah melihat Rasulullah , setiap kali beliau salat Subuh, beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa atas mereka,” maksudnya: atas orang-orang yang telah membunuh para qurra’ tersebut.

[Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (3/137), Ath-Thabrani dalam *Al-Mu‘jam Al-Kabir* (4/51 no. 3606), dan Al-Baihaqi (2/211)].

An-Nawawi berkata dalam *Al-Majmu‘* (3/508): “Sanadnya sahih atau hasan.”

Ibnu Al-Mulaqqin berkata dalam *Tuhfatul Muhtaj* (1/307): “Sanadnya jayyid (baik).”

Al-‘Iraqi berkata dalam *Takhrij Al-Ihya’* (1/240): “Sanadnya jayyid.”

Al-Bushiri dalam *Ithaf Al-Khairah Al-Maharah* (7/120) menisbatkannya kepada Ahmad bin Mani‘ dan berkata: “Para perawinya tsiqah (terpercaya).”

Al-Albani berkata dalam *Ashlu Shifati Shalatin Nabi * (hlm. 957): “Sanadnya sahih.”

 ****

HADITS DO’A ISTISQOO SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN

Dari Anas radhiyallahu 'anhu , dia berkata:

أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ مِنْ أَهْلِ البَدْوِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَتِ المَاشِيَةُ، هَلَكَ العِيَالُ هَلَكَ النَّاسُ، «فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ، يَدْعُو، ‌وَرَفَعَ ‌النَّاسُ ‌أَيْدِيَهُمْ ‌مَعَهُ ‌يَدْعُونَ»،

قَالَ: فَمَا خَرَجْنَا مِنَ المَسْجِدِ حَتَّى مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا نُمْطَرُ حَتَّى كَانَتِ الجُمُعَةُ الأُخْرَى، فَأَتَى الرَّجُلُ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَشِقَ المُسَافِرُ وَمُنِعَ الطَّرِيقُ

Seorang laki-laki Arab Badui dari penduduk pedalaman datang kepada Muhammad pada hari Jumat, lalu ia berkata:

“Wahai Rasulullah , ternak telah binasa, keluarga telah binasa, dan manusia telah binasa.”

Maka Rasulullah mengangkat kedua tangan beliau berdoa, dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka bersama beliau sambil berdoa.

Ia berkata: Maka kami belum keluar dari masjid sampai kami dituruni hujan. Dan hujan terus turun kepada kami sampai datang Jumat berikutnya.

Lalu laki-laki itu datang lagi kepada Nabi dan berkata:

“Wahai Rasulullah , para musafir telah mengalami kesulitan dan jalan-jalan terputus.”

[HR. Bukhori no. 1029]

Dalam lafadz riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّهُ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»

“Bahwa beliau mengangkat kedua tangannya hingga aku melihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 1030]

Dalam lafadz riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:

بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ وَهَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا

"Ketika Nabi berkhutbah pada hari Jum’at, berdirilah seseorang dan berkata: ‘Hai Rasulullah, lembu-lembu dan kambing-kambing telah mati, dan telah mati pula biri-biri, maka berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan minum kepada kita!’.

Kemudian beliau mengulurkan kedua tangannya dan berdo’a.”

(HR. al-Bukhariy no. 932 dan Muslim no. 897 ).

Telah ada ketetapan yang shahih bahwa mengangkat kedua tangan dalam istisqa dari Nabi , diriwayatkan oleh sejumlah para sahabat

An-Nawawi berkata dalam *Al-Majmu‘* 3/507-508:

(فَرْعٌ) ‌فِي ‌اسْتِحْبَابِ ‌رَفْعِ ‌الْيَدَيْنِ ‌فِي ‌الدُّعَاءِ ‌خَارِجَ ‌الصَّلَاةِ وَبَيَانِ جُمْلَةٍ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِيهِ: اعْلَمْ أَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ لِمَا سَنَذْكُرُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الْجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ مِنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ مِنْ لِحْيَتِهِ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَرَوَيَا بِمَعْنَاهُ عَنْ أَنَسٍ مِنْ طُرُقٍ كَثِيرَةٍ.

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: «فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدْعُونَ، فَمَا خَرَجْنَا مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا بِمَطَرٍ حَتَّى كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْأُخْرَى، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ».

“Cabang pembahasan: tentang anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa di luar salat, serta penjelasan sejumlah Hadits yang diriwayatkan tentangnya. Ketahuilah bahwa hal itu disunnahkan; berdasarkan apa yang akan kami sebutkan insya Allah Ta‘ala, dari Anas radhiyallahu ‘anhu: ‘Bahwa Nabi melakukan istisqa dan mengangkat kedua tangannya, sementara di langit tidak ada sepotong awan pun. Lalu muncul awan seperti gunung-gunung, dan beliau tidak turun dari mimbarnya hingga aku melihat hujan mengalir dari janggutnya.’”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Keduanya juga meriwayatkan maknanya dari Anas melalui banyak jalur.

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka bersama Rasulullah untuk berdoa. Kami tidak keluar dari masjid hingga kami diguyur hujan, dan hujan itu terus turun hingga Jumat berikutnya,” lalu disebutkan kelanjutan Hadits tersebut”. [Selesai]

 ***

HADITS DO’A ZIARAH KUBUR SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadisnya yang panjang tentang keluarnya Nabi pada malam hari ke Baqi‘ untuk mendoakan dan memohonkan ampun bagi penghuni Baqi‘, ia berkata:

أَتَى الْبَقِيعَ؛ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ، وَقَالَ: «إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَانِي فَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ وَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ».

“Beliau mendatangi Baqi‘, lalu berdiri dan memperpanjang berdirinya, kemudian mengangkat kedua tangannya tiga kali, lalu berpaling. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam mendatangiku dan berkata: Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu untuk mendatangi penghuni Baqi‘ dan memohonkan ampun bagi mereka.’”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 974.

 ***

HADITS DO’A SAAT PERANG SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN

===

HADITS KE 1

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Umar bin Al-Khattab menceritakan kepadaku, ia berkata:

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، قَالَ: فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ:

«اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ أَيْنَ مَا وَعَدْتَنِي؟! اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا».

فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ، مَادًّا يَدَيْهِ، مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ.

فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ، فَأَخَذَ رِدَاءَهُ، فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ، فَقَالَ: "يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ﴾ [الْأَنْفَالِ: ٩]، فَأَمَدَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْمَلَائِكَةِ.

“Ketika terjadi Perang Badar, Nabi Allah melihat kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang, sedangkan para sahabat beliau berjumlah tiga ratus sembilan belas orang. Maka Nabi Allah menghadap kiblat, kemudian mengulurkan kedua tangannya dan terus berseru kepada Rabb-nya:

‘Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, di manakah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku? Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini dari kalangan kaum Muslimin, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi selamanya.’

Beliau terus berseru kepada Rabb-nya dengan mengulurkan kedua tangannya dan menghadap kiblat hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar mendatanginya, mengambil selendangnya dan meletakkannya kembali di atas kedua pundaknya, kemudian memeluknya dari belakang seraya berkata:

‘Wahai Nabi Allah, cukuplah engkau memohon dengan sungguh-sungguh kepada Rabb-mu, karena sesungguhnya Dia pasti akan menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu.’

Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)

Lalu Allah ‘Azza wa Jalla pun membantu beliau dengan para malaikat.”

(HR.Muslim no. 58 -(1763), Ahmad (no.208), at-Tirmidzi (no.3081)).

----

HADITS KE 2

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

صَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْبَرَ بُكْرَةً، وَقَدْ خَرَجُوا بِالْمَسَاحِي، فَلَمَّا رَأَوْهُ قَالُوا: مُحَمَّدٌ وَالخَمِيسُ، وَأَحَالُوا إِلَى الحِصْنِ يَسْعَوْنَ، فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَيْهِ وَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، خَرِبَتْ خَيْبَرُ، ‌إِنَّا ‌إِذَا ‌نَزَلْنَا ‌بِسَاحَةِ ‌قَوْمٍ ‌﴿فَسَاءَ صَبَاحُ المُنْذَرِينَ﴾»

Rasulullah menyerang Khaibar pada pagi hari, sementara penduduknya telah keluar membawa cangkul-cangkul mereka. Ketika mereka melihat beliau, mereka berkata, “Muhammad dan pasukannya!”

Lalu mereka bergegas kembali ke benteng sambil berlari.

Maka Nabi mengangkat kedua tangannya dan bersabda, “Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Sesungguhnya apabila kami turun di halaman suatu kaum, maka amat buruklah pagi bagi orang-orang yang telah diperingatkan.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3647 dan Muslim no. 1365.

 ****

HADITS DO’A SAAT IBADAH HAJI SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN

----

HADITS KE 1

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ، فَيَقُومَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، ‌فَيَقُومُ ‌طَوِيلًا، ‌وَيَدْعُو ‌وَيَرْفَعُ ‌يَدَيْهِ، ‌ثُمَّ ‌يَرْمِي ‌الوُسْطَى، ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ، وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، فَيَقُومُ طَوِيلًا، وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَيَقُومُ طَوِيلًا، ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ العَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الوَادِي، وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُولُ «هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَفْعَلُهُ»

“Bahwa ia melempar jumrah yang pertama (Al-Jumrah Ad-Dunya) dengan tujuh batu kecil, sambil bertakbir setiap selesai melempar satu batu. Kemudian ia maju hingga sampai di tempat yang lapang, lalu berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama, berdoa dan mengangkat kedua tangannya.

Kemudian ia melempar jumrah yang tengah (Al-Wustha), lalu mengambil arah sebelah kiri dan menuju tempat yang lapang, kemudian berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama, berdoa dan mengangkat kedua tangannya, serta berdiri lama.

Kemudian ia melempar Jumrah Aqabah dari tengah lembah dan tidak berhenti di sana. Setelah itu ia pergi seraya berkata, “Beginilah aku melihat Nabi melakukannya.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1751].

---

HADITS KE 2 :

Dari Abdullah bin Umar radhiyallaahu anhumaa :

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ ‌إِذَا ‌رَمَى ‌الجَمْرَةَ ‌الَّتِي ‌تَلِي ‌مَسْجِدَ ‌مِنًى ‌يَرْمِيهَا ‌بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ تَقَدَّمَ أَمَامَهَا، فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَكَانَ يُطِيلُ الوُقُوفَ، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ اليَسَارِ، مِمَّا يَلِي الوَادِيَ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ العَقَبَةِ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا»

Bahwa Rasulullah saw, apabila melempar jamrah yang berada di dekat Masjid Mina, beliau melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu maju ke depan dan berdiri sambil menghadap qiblat dan berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA, dan beliau berhenti lama.

Lalu mendatangi jamrah kedua dan melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu turun ke arah kiri, di sebelah lembah, dan berdiri menghadap qiblat serta berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA, lalu mendatangi jamrah ‘aqabah, lalu melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu pergi dan tidak berhenti di situ.

[HR. Bukhori no. 1753 ]

 ****

HADITS MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO’A

----

Hadits ke 1 :

Hadits Ibnu Abbaas , bahwa Nabi bersabda :

«سَلُوا اللهَ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا، فَإِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ»

Mintalah kepada Allah dengan perut telapak tangan kalian , dan jangan meminta kepada-Nya dengan punggung telapak tangan kalian , lalu ketika kalian selesai berdoa, maka usapkanlah ke wajah-wajah kalian dengan nya .

[ HR. Abu Daud dalam kitab "Sujud Al-Qur'an" dalam BAB ad-Du'aa (1485) dan lafadz ini lafadz Abu Daud . Dan riwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam kitab “ad-Du'a” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam Doa” Hadits no. (3866), Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dalam kitab “ad-Du'aa” (1/719) Hadits (1968) dan Al-Bayhaqi dalam “Al-Sunan Al-Kubra” dalam kitab “Doa” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam Qunut” no. (3276)]

Lafadz Ibnu Majah :

إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ، وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ.

Jika kamu berdoa kepada Allah, berdoalah dengan bagian dalam dua telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggung nya , dan jika kamu telah selesai, maka usaplah wajahmu dengan nya .

Abu Daud berkata :

رُوِيَ هٰذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ، كُلُّهَا وَاهِيَةٌ، وَهٰذَا الطَّرِيقُ أَمْثَلُهَا، وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا.

Hadits ini diriwayatkan dari lebih dari satu sisi dari Muhammad bin Ka'b, semuanya lemah, dan jalur ini adalah yang terbaik darinya, dan ini juga lemah."

Dan di dhaifkan oleh al-Albaani dalam Dhaif Ibnu Maajh no. 222

Sebab lemahnya : Karena kelemahan Saleh bin Hasan; Didha'ifkan oleh Ahmad, Ibn Ma'in, Abu Hatim dan Al-Daraqutni.

Dan Al-Bukhari berkata: Haditsnya munkar, dan Abu Na`im al-Asbahani berkata: Hadits munkar itu ditinggalkan.

Ibn Hibban berkata: Dia adalah pemilik Qainat dan Samaa', dan dia biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dengan mengatasakan namakan dari orang-orang yang kokoh terpercata . Ibnu al-Jawzi mengatakan tentang hadits ini: Itu tidak shahih; di dalamnya terdapat eh bin Hasan

Namun As-Suyuthi mengutip pernyataan al-Haafidz Ibnu Hajar dalam kitab "Amaalii" nya yang mengatakan bahwa hadits ini adalah HADITS HASAN . [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ hal 74 ]

----

Hadits ke 2 :

Hadits Yazid bin Sa'id bin Tsumamah :

أنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيهِ

Bahwa Nabi ketika dia berdoa maka beliau mengangkat tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

[ Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad (4/221) no. (17972), dan Abu Daud dalam kitab “Sujud Al-Qur’an” dalam BAB “ad-Du'aa” no. (1492)].

----

Hadits ke 3 :

Riwayat az-Zuhri :

Abdul Razzaq berkata : Muammar memberi tahu kami dari al-Zuhri :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِي الدُّعَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ.

Rasulullah biasa mengangkat kedua tangannya ke sisi dada saat berdoa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 52 ] .

Hadits ini mursal .

----

Hadits Ke 4 :

Atsar Ibnu Umar dan Ibnu al-Zubair :

Dan dari Abu Nu'aym, dan dia adalah Wahb, yang mengatakan:

رَأَيتُ ابنَ عُمَرَ وابنَ الزُّبَيرِ يَدْعُوانِ يُدِيرَانِ بِالرَّاحَتَينِ عَلَى الوَجْهِ

"Saya melihat Ibnu Umar dan Ibnu al-Zubair berdoa sembil memutar-mutarkan kedua telapak tangannya ke wajah ."

[ Di riwayatkan oleh Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad hal. 214]

Di dalam sanadnya ada Muhammad bin Falih dan ayahnya , yaitu Falih bin Suleiman diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Sahihnya dan Bukhori berhujjah dengan kedua perawi tsb .

----

Hadits ke 5 :

Atsar al-Hasan al-Bashry :

Dan As-Suyuti meriwayatkan dalam “فَضُّ الْوِعَاءِ” dari Al-Hasan Al-Bashri : Bahwa dia mengusap wajah dengan tangan setelah berdoa

“Al-Firyabi berkata: Ishaq bin Raahwayh menceritakan kepada kami: Al-Mu`tamar bin Suleiman mengkabarkan kepada kami, dia berkata:

" رَأَيْتُ أَبَا كَعْبٍ صَاحِبَ الْحَرِيرِ يَدْعُو رَافِعًا يَدَيْهِ، فَإِذَا فَرَغَ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ، فَقُلْتُ لَهُ: مَنْ رَأَيْتَ يَفْعَلُ هَذَا؟ قَالَ: الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الْحَسَنِ".

Saya melihat Abu Ka'b – pemilik al-Hariir - berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, dan ketika dia selesai, maka dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya .

Saya bertanya kepadanya : " Siapa yang Anda lihat orang yang melakukan ini?

Dia menjawab : Al-Hasan bin Abu Al-Hasan [ Yasaar al-Bashry ]

As-Suyuthi berkata : " ISNADNYA HASAN ". [ فَضُّ الْوِعَاءِ hal. 101 ]

Adapun apa yang diriwayatkan dari Imam al-Izz ibnu Abdus-Salam : " bahwa hanya orang bodoh yang mengusap wajah setelah berdoa", Maka Az-Zarkashi menjawab dalam kitabnya “الأُزْهِيَّةُ فِي الأَدْعِيَةِ” tentang itu dengan mengatakan :

وَأَمَّا قَوْلُ الْعِزِّ فِي فَتَاوِيهِ الْمَوْصِلِيَّةِ: مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدِ بِدْعَةٌ فِي الدُّعَاءِ لَا يَفْعَلُهُ إِلَّا جَاهِلٌ، فَمَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى هَذِهِ الْأَحَادِيثِ، وَهِيَ وَإِنْ كَانَتْ أَسَانِيدُهَا لَيِّنَةً لَكِنَّهَا تَتَقَوَّى بِاجْتِمَاعِ طُرُقِهَا.

Adapun perkataan Al-Izz dalam Fatawaa Al-Maushiliyyah-nya : bahwa Mengusap wajah dengan tangan merupakan bid'ah dalam berdoa yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang bodoh" , maka perkataan dia ini dianggap bahwa dia tidak membaca hadits-hadits tersebut.

Hadits-hadits tsb meskipun sanadnya layyin [lembut], namun bisa diperkuat dengan menggabungkan jalur-jalurnya " .

[ Di kutip dari جُزْءٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ karya Bakr Abu Zaid hal. 25 ]

===***==== 

HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA
SAAT MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM’AT

Dalam “Tanbīhul Arīb li ukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 349), Doktor Kholid Kaarah berkata :

وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى أَنَّ الْمُسْتَمِعَ لِلْخُطْبَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ دُعَاءِ الْخَطِيبِ، وَذَلِكَ بَقَاءً عَلَى الْأَصْلِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ مُطْلَقًا، وَلَا يُمْنَعُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ إِلَّا فِي الْأَمَاكِنِ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ، كَالْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ فِي الصَّلَاةِ.

“Dan mayoritas para ahli ilmu berpendapat bahwa orang yang mendengarkan khutbah dianjurkan mengangkat kedua tangannya ketika khathib berdoa. Hal itu karena berpegang kepada hukum asal, yaitu anjuran mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak.

Dan tidak dilarang mengangkat kedua tangan kecuali pada tempat-tempat yang memang terdapat dalil tidak boleh mengangkat tangan, seperti saat duduk di antara dua sujud dan doa istiftah dalam shalat”.

Dan ini adalah pendapat Imam Bukhori, al-Mubarokfuri dan para ulama hadits lainnya. Al-Mubarakfuri berkata:

«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»

“Pengangkatan (dua tangan saat berdo’a) seperti ini, meskipun haditsnya dalam do’a istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadis ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfat al-Ahwadzi* 2/173).

*****

PENDAPAT LAIN: YANG MELARANG MENGANGKAT DUA TANGAN

Ada sebagian para ulama kontemporer telah berfatwa bahwa mengangkat kedua tangan ketika mengaminkan do'a khothib Jum'at adalah haram dan bid‘ah sesat.

DALIL: Dalil-dalil mereka yang menghukumi haram dan bid’ah sesat mengangkat kedua tangan saat khothib berdoa, adalah sbb :

===

DALIL PERTAMA

Bahwa hal itu tidak dinukil dari para sahabat, padahal Nabi telah melaksanakan salat Jumat berkali-kali.

----

Bantahan terhadap dalil diatas:

[*] Dikatakan:

عَدَمُ الْعِلْمِ لَا يَعْنِي الْعِلْمَ بِالْعَدَمِ.

Bahwa tidak mengetahui sesuatu itu tidak berarti mengetahui ketiadaan-nya.

[*] Selain itu, apa yang mereka katakan dibantah oleh keumuman hadits-hadits menyariatkan berdoa sambil mengangkat dua tangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

[*] Juga karena kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa mengangkat kedua tangan termasuk adab berdoa secara umum, dan tidak keluar dari keumuman ini kecuali dengan dalil yang melarangnya.

[*] Dan membatasi bolehnya mengangkat tangan dalam doa hanya pada tempat-tempat yang sahih dari Nabi saja adalah kekeliruan semata. Oleh sebab itu Imam An-Nawawi berkata:

«وَالْمَقْصُودُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنِ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا».

“Yang dimaksud adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat yang terdapat hadis tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang sangat parah.” [Baca : al-Majmu’ 3/511]

 ====

DALIL KE DUA:

Mereka berdalil dengan hadits riwayat Hushain, dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:

أَنَّهُ ‌رَأَى ‌بِشْرَ ‌بْنَ ‌مَرْوَانَ ‌عَلَى ‌الْمِنْبَرِ ‌رَافِعًا ‌يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»

Bahwa dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu ia berkata:

“Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah , beliau tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. [HR. Muslim no. 53 –(874)]

Lafadz riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf:

Ibnu Abi Syaibah berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Hushain, dari ‘Imarah bin Ruwaibah:

أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو حَتَّى كَادَ يَسْتَلْقِي خَلْفَهُ.

“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir saja ia terjengkang (terlentang) ke belakangnya”.

[[Lihat al-Mushoonaf no. 5538 [Tarqim Muhammad ‘Awanah (الرِّئَاسَةُ العَامَّةُ لِلْبُحُوثِ العِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ)] atau no. 5607 [Tarqim asy-Syatsri (مَوْسُوعَةُ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ)]].

Lafadz nuskhoh al-Mushonnaf Tahqiq Kamal al-Huut 1/475 no. 5496 :

«أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، حَتَّى كَادَ يَتَلَقَّى خَلْفَهُ»

“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir saja ia terjatuh (terjungkal) ke belakangnya”.

Status sanad hadits :

Hadits ini dinilai shahih sanad-nya oleh asy-Syatsri pentahqiq al-Mushonnaf hadits no. 5607].

Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah, sahabat yang meriwayatkan hadits ini?

Dia adalah ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah. (Jarak tempuh antara Kufah dan Madinah sekitar 1500 KM)

Dia pernah datang ke Madinah, dan berjumpa dengan Nabi . Dan dia pernah sekali menghadiri Nabi berkhutbah pada hari Jum’at.

Ia tidak pernah tinggal di Madinah di masa Nabi , oleh sebab itu dia hanya memiliki dua hadits dari Nabi . Dua haditsnya ini diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya. Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushain bin Abdurrahman. [Baca: al-Ishobah karya Ibnu Hajar 4/478]

Al-Mizzi menyebutkan dalam at-Tahdzib :

أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ، فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ

“Bahwa ia memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda dari dua sisi.

[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.

Sisi pendalilan:

Mereka berdalil dengan hadits ‘Umarah bin Ru’aibah ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan dan bid’ahnya berdo’a sambil mengangkat kedua tangan saat khotib jum’at berdo’a. Larangan tersebut berlaku pada imam dan makmum.

------

Bantahan terhadap dalil diatas:

Bantahan-nya adalah sbb:

[*] Bahwa hadits ini lebih khusus daripada pokok permasalahan yang diperselisihkan; karena ia khusus berkaitan dengan imam dan tidak mencakup makmum.

[*] Kalaupun kita menerima bahwa ia juga mencakup mereka, maka hadits itu menunjukkan dianjurkannya mengangkat jari ketika berdoa pada hari Jumat, sementara mereka juga tidak berpendapat demikian.

[*] Kemudian, pendalilan mereka dengan hadits ini tidaklah lebih utama daripada pendalilan dengan hadits Abu Hurairah tentang diangkatnya kedua tangan Nabi ketika beliau berdoa di atas mimbar untuk meminta hujan (istisqa).

[*] Jika dikatakan bahwa pengangkatan tangan itu khusus untuk doa istisqa, maka kami katakan: demikian pula hadits ‘Umarah bin Ruwaibah itu khusus bagi imam, bukan makmum.

[*] Selain itu, pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr berdasarkan apa yang ia lihat dari Nabi yang hanya ber-isyarat dengan jarinya, tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat tangan; karena ‘Umarah meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan orang lain melihat Nabi dalam keadaan yang berbeda.

[*] Lagi pula ‘Umarah ini penduduk Kufah, dia datang berkunjung ke Madinah, hanya sesekali menyaksikan Nabi berkhutbah. Oleh sebab itu beliau hanya meriwatkan dua hadits. Sementara para sahabat lain, terutama para sahabat senior yang senantiasa bersama Nabi dan berkali-kali menyaksikan khutbah Jum’at Nabi , mereka tidak ada yang meriwayatkan apa yang ‘Umarah riwayatkan.

[*] Ditambah lagi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dijelaskan bahwa yang dimaksud mengangkat kedua tangan di sini adalah yang dilakukan dengan cara sangat berlebihan, sehingga hampir-hampir saja Bisyr bin Marwan terjengkang ke belakang. 

DR. Kholid Kaarah berkata:

إِنَّ إِنْكَارَ عُمَارَةَ عَلَى بِشْرٍ بِرُؤْيَتِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ لَا يُعَدُّ دَلِيلًا بِمُفْرَدِهِ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ؛ لِأَنَّ عُمَارَةَ رَوَى مَا رَأَى، وَهَذَا لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُ رَآهُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْهَيْئَةِ، فَيَبْقَى الْأَمْرُ عَلَى أَصْلِهِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَقُولُ فِي هَذَا التَّعْلِيلِ مَا قُلْتُ فِي سَابِقِهِ.

Sesungguhnya pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr karena ia melihat Nabi berisyarat dengan jarinya tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat kedua tangan. Sebab ‘Umarah hanya meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan bahwa orang lain melihat beliau dalam keadaan yang berbeda dari cara tersebut.

Maka hukum asalnya tetap sebagaimana semula, yaitu mengangkat kedua tangan dalam doa. Dan tentang alasan ini, aku mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan pada alasan sebelumnya.

[Baca: “Tanbīhul Arīb li ukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 350) karya DR. Kholid Kaarah]

Dan Syeikh Ibnu Jibrin berkata:

«فَأَمَّا حَدِيثُ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، وَفِيهِ قَوْلُهُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِلَّا يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ — أَوْ كَمَا قَالَ — فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَنْكَرَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ عِنْدَ التَّشَهُّدِ، أَوْ عِنْدَ ذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّ الثَّابِتَ عِنْدَ التَّشَهُّدِ الْإِشَارَةُ بِالسَّبَّابَةِ وَحْدَهَا، وَهِيَ عَلَامَةُ التَّوْحِيدِ، وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِمَنْ رَفَعَ إِصْبَعَيْهِ: أَحِّدْ أَحِّدْ، لَا تُشِرْ إِلَّا بِوَاحِدَةٍ.

وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ الْخَطِيبُ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ كَثِيرًا أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ رَفْعًا وَخَفْضًا فِي غَيْرِ حَالَةِ الدُّعَاءِ، فَأَمَّا رَفْعُهُمَا فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»

“Adapun hadis ‘Umarah bin Ru’aibah, yang di dalamnya terdapat ucapannya: 

‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Aku tidak pernah melihat Rasulullah kecuali beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ‘— atau sebagaimana ia katakan —, 

Maka yang tampak adalah bahwa ia mengingkari pengangkatan kedua tangan saat tasyahud atau ketika menyebut nama Allah Ta‘ala. Karena yang telah ada ketetapan (diajarkan) dalam tasyahud adalah berisyarat dengan telunjuk saja, dan itu adalah tanda tauhid. Oleh karena itu sebagian sahabat berkata kepada orang yang mengangkat dua jarinya: ‘Esakan, esakan (Allah), janganlah engkau berisyarat kecuali dengan satu (jari).’

Bisa jadi pula khatib tersebut banyak menggerakkan kedua tangannya saat khutbah, naik dan turun, bukan dalam keadaan berdoa. Adapun mengangkat keduanya saat berdoa, maka itu tidak termasuk dalam larangan tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.”

(Sumber: Fatawa Ibnu Jibrin).

===

DALIL KE TIGA:

Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:

Dari Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat junior):

أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:

«مَا ‌مِنْ ‌أُمَّةٍ ‌تُحْدِثُ ‌فِي ‌دِينِهَا ‌بِدْعَةً ‌إِلَّا ‌ضَاعَتْ ‌مِثْلُهَا ‌مِنَ ‌السُّنَّةِ».

فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً

Bahwa Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat tangan-tangan di atas mimbar.

Maka ia menjawab: Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu. Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah”.

Maka berpegang teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.

[Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131).

Dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].

Juga di riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.

Sisi Pendalilan:

Perkataan Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu diatas, meskipun tidak tegas menyatakan bid’ah, namun dia mengisyaratkan bahwa mengangkat kedua tangan khothib di atas mimbar saat berdoa itu termasuk perbuatan bid’ah.

-----

Bantahan atas dalil diatas:

Sanad Atsar ini sangatLemah Sekali

Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

*] الْحُسَيْنُ بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ

*] يُونُسُ بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ

*] عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ

*] ابْنُ الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ

Sanadnya lemah.

*] Al-Husain bin Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).

*] Yunus bin Yahya al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi, dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.

*] ‘Abdul Malik bin Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi, dan ia lemah.

*] Ibnu al-Majishun adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]

Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):

فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ”.

Di dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.

Hadits ini juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.

Dan dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.]

====

DALIL KE EMPAT:

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ فِي الدُّعَاءِ عَلَى مِنْبَرٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَكِنِّي رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا، ‌وَأَشَارَ ‌بِالسَّبَّابَةِ ‌وَعَقَدَ ‌الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ»

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di atas mimbar sama sekali, dan tidak pula di tempat lainnya. Namun aku melihat beliau berdoa seperti ini,” lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan menggenggam jari tengah dengan ibu jari.

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1105, Ibnu Abi Syaibah (2/486 dan 10/377–378), Ahmad (22855), Ibnu Khuzaimah (1450), Abu Ya’la (7551), Ibnu Hibban (883), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (6023), Al-Hakim (1/535–536), dan Al-Baihaqi (3/210), melalui beberapa jalur dari Abdurrahman bin Ishaq, dengan sanad ini].

----

Bantahan terhadap dalil diatas:

HADITS INI DHO’IF:

Hadits ini dinilai lemah (dho’if) oleh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud (204) dan lainnya.

Dan Syu’aib Al-Arnauth berkata dalam takhrij Sunan Abi Dawud (2/324):

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ - وَهُوَ ابْنُ الْحُوَيْرِثِ الْمَدَنِيُّ - ابْنُ أَبِي ذُبَابٍ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ.

Sanadnya lemah (dho’if) karena lemahnya Abdurrahman bin Mu’awiyah — yaitu Ibnu Al-Huwairits Al-Madani. Sedangkan Ibnu Abi Dhubab adalah Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Harits.

Al-Baihaqi berkata:

«وَالْقَصْدُ مِنَ الْحَدِيثَيْنِ إِثْبَاتُ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، ثُمَّ فِيهِ مِنَ السُّنَّةِ أَلَّا يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَيَقْتَصِرَ عَلَى أَنْ يُشِيرَ بِأُصْبُعِهِ. وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ مَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا، وَذَلِكَ حِينَ اسْتَسْقَى فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ».

"Maksud dari kedua hadits ini adalah menetapkan adanya doa dalam khutbah.

Kemudian di dalamnya terdapat sunnah bahwa tidak mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah, dan cukup dengan memberi isyarat dengan jari.

Dan telah ada ketetapan dari Anas bin Malik, dari Nabi , bahwa beliau membentangkan kedua tangannya dan berdoa, yaitu ketika beliau meminta hujan dalam khutbah Jumat.”

[Lihat: As-Sunan Al-Kubra (3/289)].

===

DALIL KELIMA:

Mereka berdalil dengan hadits Anas bin Malik, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا ‌يَرْفَعُ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌شَيْءٍ ‌مِنْ ‌دُعَائِهِ ‌إِلَّا ‌فِي ‌الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»

“Nabi  tidak mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu pun dari doanya kecuali dalam istisqa, dan beliau mengangkatnya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 3565 dan Muslim no. 895]

Sisi Pendalilan:

Hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwa Nabi  mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a itu hanya dalam do’a istisqo (minta hujan) saja.

Berdasarkan hadits ini, maka ada sebagian para ulama telah menghukumi makruh mengangkat kedua tangan dalam semua do’a selain do'a istisqo (do'a minta hujan). [Lihat Tafsiir al-Qurthubi 7/255]

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 berkata :

وَكَرِهَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاء ابن عُمَرَ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ وَرَأَى شُرَيْحٌ رَجُلًا يَرْفَعُ يَدَيْهِ دَاعِيًا فَقَالَ : " مَنْ تَتَنَاوَلُ بِهِمَا لَا أُمَّ لَكَ" . وَسَاقَ الطَّبَرِيُّ ذَلِكَ بِأَسَانِيدِهِ عَنْهُم

Ibnu Umar dan Jubair ibnu Muth'iim membenci seseorang mengangkat kedua tangan saat berdoa.

Dan Syuraih pernah melihat seseorang pria mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , maka dia berkata :

"Siapa saja dari kamu yang mengangkat kedua tangannya dalam berdoa maka tiada Ibu bagimu ".

Dan ath-Thobari meriwayatkannya dengan sanad-sanadnya dari mereka .

Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :

وَذكر بن التِّينِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ أَنَّهُ نَقَلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مِنْ أَمْرِ الْفُقَهَاءِ

Dan Ibnu at-Tiin menyebutkan dari Abdullah bin Umar bin Ghoonim bahwasanya telah dinukil dari Malik bahwa mengangkat tangan dalam berdoa itu bukan bagian dari perkara para Fuqohaa .

------

Bantahan terhadap dalil diatas:

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawab pendalilan dengan hadits Anas bin Malik ini dalam “Fathul Bari11/142 dengan mengatakan:

أَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ ‌وَقَدْ ‌أَشَرْتُ ‌إِلَى ‌ذَلِكَ ‌فِي ‌أَبْوَابِ ‌الِاسْتِسْقَاءِ. 

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ. 

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ وَبِتَقْدِيرِ تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ.

قُلْتُ وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً وَعَقَدَ لَهَا الْبُخَارِيُّ أَيْضًا فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ بَابًا

“Bahwa yang dinafikan itu adalah sifat (cara) tertentu, bukan asal mengangkat tangan itu sendiri.

Aku telah mengisyaratkan hal tersebut dalam bab-bab tentang istisqa. 

Ringkasnya, cara mengangkat tangan dalam istisqa berbeda dengan selainnya; bisa jadi dengan mengangkatnya secara lebih tinggi hingga kedua tangan sejajar dengan wajah misalnya, sedangkan dalam doa biasa hingga sejajar dengan kedua pundak.

Tidaklah mengganggu penjelasan ini bahwa dalam keduanya disebutkan riwayat “hingga terlihat putih kedua ketiaknya”, karena dapat dikompromikan bahwa terlihatnya putih ketiak dalam istisqa lebih nyata daripada dalam selainnya. Atau bisa juga bahwa dalam istisqa kedua telapak tangan menghadap ke bumi, sedangkan dalam doa biasa menghadap ke langit.

Al-Mundziri berkata: “Apabila tidak memungkinkan untuk mengompromikan (kedua dalil), maka sisi penetapan (itsbat) itu lebih kuat.”

Aku (Ibnu Hajar) berkata: Terlebih lagi dengan banyaknya hadits yang datang dalam masalah ini. Sungguh terdapat banyak hadits tentang hal tersebut, yang dikumpulkan secara khusus oleh Al-Mundziri dalam sebuah risalah tersendiri. An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah darinya dalam *Al-Adzkar* dan dalam *Syarh Al-Muhadzdzab*. Bahkan Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus tentangnya dalam *Al-Adab Al-Mufrad*.” [KUTIPAN SELESAI]

Jadi: Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa penafian (peniadaan riwayat penolakan) dari Anas itu hanyalah terhadap bentuk tertentu dari mengangkat tangan, yaitu pengangkatan yang berlebihan sampai terlihat putih ketiaknya, bukan penafian terhadap asal mengangkat kedua tangan itu sendiri secara mutlak.

Oleh sebab itu beliau berkata:

«وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ إِنَّمَا الْمُرَادُ بِهِ مَدُّ الْيَدَيْنِ وَبَسْطُهُمَا عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَأَنَّهُ عِنْدَ الِاسْتِسْقَاءِ مَعَ ذَلِكَ زَادَ فَرَفَعَهُمَا إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ حَتَّى حَاذَى بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ»

“Yang menguatkannya adalah bahwa kebanyakan hadis yang datang tentang mengangkat tangan dalam doa, yang dimaksud adalah membentangkan dan membuka kedua tangan ketika berdoa. Seakan-akan ketika istisqa’ (meminta hujan), beliau menambah dari itu dengan mengangkatnya lebih tinggi ke arah langit hingga sejajar dengan kedua pundaknya.” (Baca: *Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari* 2/517).

An-Nawawi berkata:

«وَيُتَأَوَّلُ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ، فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ».

“Hadis ini ditakwilkan bahwa beliau tidak mengangkat dengan pengangkatan yang sangat tinggi sampai terlihat putih ketiaknya kecuali ketika istisqa’. Atau maksudnya: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat’, padahal orang lain melihat beliau mengangkat. Maka riwayat yang menetapkan (mengangkat tangan) didahulukan dalam banyak tempat, dan mereka adalah sejumlah orang, atas satu orang yang tidak menyaksikan hal tersebut. Dan hadis ini memang harus ditakwil.” (*Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj* 6/190).

Al-Mubarakfuri berkata:

«وَفِي الْحَدِيثِ ـ أَيْ حَدِيثِ سَلْمَانَ ـ دَلَالَةٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَالْأَحَادِيثُ فِيهِ كَثِيرَةٌ. وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، فَالْمُرَادُ بِهِ الْمُبَالَغَةُ فِي الرَّفْعِ».

“Dalam hadis — yaitu hadis Salman — terdapat dalil tentang dianjurkannya mengangkat kedua tangan dalam doa, dan hadis-hadis tentang hal itu banyak. Adapun hadis Anas: ‘Nabi tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun kecuali pada istisqa’, maka yang dimaksud adalah pengangkatan yang berlebihan.”

(*Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami‘ at-Tirmidzi* 9/382).

KRITIKAN:

Ada yang mengkritik terhadap takwil di atas ini dengan mengatakan:

Takwil (penafsiran) ini perlu ditinjau kembali dan tidak dapat begitu saja diterima, karena telah tetap adanya pengangkatan tangan yang sangat tinggi (hingga terlihat ketiak) dalam doa Nabi selain pada istisqa’.

Dalam hadis Abu Musa Al-Asy‘ari yang terdapat dalam kitab sahih dan telah disebutkan sebelumnya:

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.’” Ia berkata, “Maka aku melihat putih ketiaknya.

Demikian pula pengangkatan yang tinggi juga terjadi selain dalam istisqa’, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab, ia berkata:

Ketika terjadi Perang Badar, … Nabi menghadap kiblat, kemudian membentangkan kedua tangannya, lalu beliau terus-menerus berseru kepada Rabb-nya … Beliau terus berseru kepada Rabb-nya dengan membentangkan kedua tangannya, menghadap kiblat, hingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya …

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar.

Demikian pula Nabi mengangkat tangannya dengan tinggi ketika berdoa untuk Utsman, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya ketika beliau berdoa untuk Utsman.”

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitabnya *Qurratul ‘Ainain bi Raf‘il Yadain fis Shalah*).

JAWABAN ATAS KRITIKAN:

Bisa jadi hadits Abu Musa Al-Asy‘ari dan hadits Aisyah tersebut tidak sampai kepada Anas bin Malik atau dia tidak hadir dalam kejadian. Lagi pula pada masa tersebut belum ada kitab-kitab hadits. Oleh sebab itu hadits Anas tersebut tidak ada yang meriwayatkannya kecuali dia sendiri. Bagitu pula hadits Abu Musa dan hadits Aisyah.

Dalam hadits Anas tersebut, dia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, dia tidak bermaksud mengharamkan berdoa dengan mengangkat kedua tangan pada selain do’a istisqo.

Lalu apakah hadits Anas ini, yang diriwayatkan secara tunggal dan yang hanya berisi cerita pengalamannya ini, layak dijadikan dalil haram sebagai pengecualian dalil umum yang menghalalkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir???.  

Karena jika benar bisa jadikan dalil larangan, maka konsekwensi dari perkataan Anas ini adalah berlaku larangan mengangkat kedua tangan pada semua doa selain doa istisqo, bahkan oleh sebagian mereka mengklaimnya sebagai bid’ah sesat.

Penulis katakan :

Yang benar adalah hadis Anas tersebut berisi penafian penglihatan; Anas menafikan bahwa ia melihat (Nabi mengangkat tangan) selain pada istisqa’. Namun hal itu tidak mengharuskan tidak adanya kejadian tersebut, atau menafikan bahwa orang lain melihatnya.

Dan orang yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan) menjadi hujah atas orang yang tidak menetapkannya. Maka mengamalkan hadis-hadis tentang mengangkat tangan lebih utama.

An-Nawawi berkata:

«إِنَّ مُرَادَ أَنَسٍ لَمْ أَرَهُ يَرْفَعُ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ يَرْفَعُ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ مَقْبُولَةٌ، وَالْإِثْبَاتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّفْيِ».

“Sesungguhnya maksud Anas adalah: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat tangan,’ padahal orang lain melihat beliau mengangkatnya. Tambahan riwayat dari perawi yang terpercaya dapat diterima, dan penetapan didahulukan atas penafian.” (Lihat: *Al-Majmu‘*, 5/83).

Dan diriwayatkan pula dari Anas  bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara Nabi mengangkat kedua tangannya saat do’a istisqoo:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ».

“Bahwa Nabi melakukan istisqa’, lalu beliau mengisyaratkan dengan punggung kedua telapak tangannya ke arah langit.”

[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam *Al-Musnad* nomor 12554].

Syu‘aib Al-Arna’uth berkata dalam tahqiq (penelitian) *Al-Musnad* 20/25:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ.

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah (terpercaya), termasuk perawi kedua kitab sahih (Al-Bukhari dan Muslim), kecuali Hammad bin Salamah, yang termasuk perawi Muslim.”

Al-Mubarakfuri berkata:

«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ *الدَّعَوَاتِ* بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»

“Pengangkatan (dua tangan saat berdo'a) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab *Ad-Da‘awat* dengan hadis ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfatul Ahwadzi* 2/173)

Imam An-Nawawi berkata:

«قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ كَالْقَحْطِ وَنَحْوِهِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ»

“Sejumlah sahabat kami dan selain mereka mengatakan: Sunnah dalam setiap doa untuk mengangkat bala (musibah) seperti kekeringan dan semisalnya adalah mengangkat kedua tangan dan menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit. Adapun jika berdoa untuk meminta sesuatu dan memperolehnya, maka menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap ke langit. Mereka berdalil dengan hadis ini.” (Baca : *Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj* 6/190)

Ibnu Utsaimin berkata ketika menjelaskan tata cara mengangkat tangan dalam berdoa Istisqo:

«وَيَكُونُ الرَّفْعُ بِأَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ عَلَى حِذَاءِ الصَّدْرِ، وَتَضُمَّ بَعْضَهُمَا إِلَى بَعْضٍ. وَدُعَاءُ الِابْتِهَالِ تُرْفَعُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، حَتَّى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَثِيرًا، حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّ ظُهُورَهُمَا نَحْوَ السَّمَاءِ مِنْ شِدَّةِ الرَّفْعِ، وَكُلَّمَا بَالَغْتَ فِي الِابْتِهَالِ فَبَالِغْ فِي الرَّفْعِ».

“Cara mengangkatnya adalah dengan mengangkat kedua tangan sejajar dada dan merapatkan keduanya. Adapun doa ibtihal (permohonan yang sangat sungguh-sungguh), maka diangkat lebih tinggi dari itu. Bahkan Nabi dalam doa istisqa’ mengangkat kedua tangannya dengan sangat tinggi, sampai orang yang melihat menyangka bahwa punggung kedua tangannya menghadap ke langit karena begitu tingginya angkatan tersebut. Dan semakin engkau bersungguh-sungguh dalam ibtihal, maka semakin tinggi pula angkatan tanganmu.” (Baca: *Syarh Al-Arba‘in An-Nawawiyah* hal. 150).

===

DALIL KE ENAM : QIYAS (ANALOGI)

Mereka Menganalogikan makmum dengan khathib. Mereka berkata:

Telah ada ketetapan bahwa khathib tidak boleh mengangkat kedua tangannya ketika berdoa di atas mimbar, dan ia hanya boleh memberi isyarat dengan jarinya saja. Tidak ada riwayat yang menetapkan pengangkatan tangan kecuali dalam istisqa’ berdasarkan hadis Anas.

Maka demikian pula berlaku atas makmum, dianalogikan kepada khotib Jum’at.

Bantahan terhadap dalil Qiyas diatas:

Adapun qiyas (analogi) mereka antara makmum dengan khathib, maka itu adalah qiyas yang tidak tepat (qiyas ma‘al fariq), karena khathib memang berbeda dengan makmum dalam beberapa hukum.

Di antaranya:

A] Bahwa khathib boleh berbicara ketika khutbah, sedangkan makmum tidak boleh melakukan hal itu.

B] Bahwa khathib ketika masuk masjid, maka dia langsung duduk di atas mimbar, dan tidak dainjurkan untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid, berbeda dengan makmum.

C] Bahwa khathib dituntut untuk berdiri ketika khutbah, sedangkan makmum tidak dituntut demikian.

D] Bahwa bagi khathib dimakruhkan menghadap kiblat ketika khutbah, sedangkan bagi makmum tidak ada kemakruhan dalam hal itu.

Jika hal ini telah jelas, maka mengqiyaskan makmum kepada khathib dalam hukum mengangkat kedua tangan ketika berdoa, itu sama sekali tidak tepat.

Kemudian, jika memang qiyas makmum kepada khathib dalam dua hadis ‘Umarah bin Ru’aibah dan Sahl bin Sa’d itu dianggap sah, maka tentu mereka juga harus mengatakan bahwa sunnah bagi makmum adalah memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika khathib berdoa. Padahal mereka sendiri tidak mengatakan demikian.

 ****

PERNYATAAN PARA ULAMA
TENTANG MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

«وَرَدَّهُ – يَعْنِي الْإِمَامَ الطَّبَرِيَّ – بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ؛ فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا».

“Ia (yakni Imam ath-Thabari) membantahnya bahwa hadits tersebut hanya berkaitan dengan khatib ketika sedang berkhutbah, dan itu tampak jelas dari konteks hadis; maka tidak ada alasan untuk berpegang dengannya guna melarang mengangkat tangan dalam doa, sementara telah tetap berbagai riwayat tentang disyariatkannya hal itu.” [Lihat: Fathul Bari 11/143]

Syaikhul Islam berkata dalam *Al-Fatawa al-Kubra 5/356*:

«وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ أَصَحُّ الْوَجْهَيْنِ لِأَصْحَابِنَا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ إِنَّمَا كَانَ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ إِذَا دَعَا، وَأَمَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ لَمَّا اسْتَسْقَى عَلَى الْمِنْبَرِ».

Dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah, dan ini adalah pendapat yang lebih sahih menurut dua riwayat dalam madzhab kami; karena Nabi hanya berisyarat dengan jarinya ketika berdoa. Adapun dalam istisqa, beliau mengangkat kedua tangannya ketika meminta hujan di atas mimbar.”

Al-Bahuti berkata dalam *Kasyaf al-Qina’* 2/37:

«(وَ) يُسَنُّ أَنْ (يَدْعُوَ لِلْمُسْلِمِينَ)؛ لِأَنَّ الدُّعَاءَ لَهُمْ مَسْنُونٌ فِي غَيْرِ الْخُطْبَةِ فَفِيهَا أَوْلَى … يُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ».

“(Dan) disunnahkan agar (mendoakan kaum Muslimin); karena mendoakan mereka disunnahkan di luar khutbah, maka dalam khutbah lebih utama lagi … Dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah”.

Imam asy-Syaukani berkata dalam *Nail al-Awthar* 3/322:

«الْحَدِيثَانِ الْمَذْكُورَانِ فِي الْبَابِ يَدُلَّانِ عَلَى كَرَاهَةِ رَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمِنْبَرِ حَالَ الدُّعَاءِ»

“Dua hadits yang disebutkan dalam bab ini menunjukkan makruhnya mengangkat tangan di atas mimbar ketika berdoa”.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dimakruhkan-nya mengangkat kedua tangan dalam doa pada khutbah Jumat dibatasi pada imam saja, bukan makmum.

Ar-Ramli asy-Syafi‘i berkata dalam *Nihayah al-Muhtaj* 1/505:

«(وَ) يُسَنُّ (رَفْعُ يَدَيْهِ) فِيهِ (أَيْ فِي الْقُنُوتِ عِنْدَهُمْ)، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ اتِّبَاعًا، كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيهِ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا».

“(Dan) disunnahkan (mengangkat kedua tangan) di dalamnya (yakni dalam qunut menurut mereka), dan dalam seluruh doa lainnya sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah), sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam hal itu dengan sanad yang baik, dan dalam doa-doa lainnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya.”

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya dalam *Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* 1/252 tentang mengangkat tangan setelah selesai dua khutbah pada hari Jumat, apakah itu mustahab atau bid‘ah?

Beliau menjawab:

رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا. وَعِبَارَةُ «الْعُبَابِ» مَعَ شَرْحِي لَهُ: (يُسَنُّ لِلدَّاعِي خَارِجَ الصَّلَاةِ رَفْعُ يَدَيْهِ الطَّاهِرَتَيْنِ) لِلِاتِّبَاعِ ...

“Mengangkat kedua tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar shalat dan yang semisalnya. Siapa yang mengira bahwa Nabi tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar. Dalam kitab *Al-‘Ubab* beserta syarahku disebutkan: ‘Disunnahkan bagi orang yang berdoa di luar shalat untuk mengangkat kedua tangannya yang suci,’ karena mengikuti sunnah …

Beliau juga 1/252-153 berkata:

مَنْ ادَّعَى حَصْرَهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا، وَهَذِهِ لِكَوْنِهَا مُثْبِتَةً مُقَدَّمَةٌ عَلَى رِوَايَتِهِمَا: «كَانَ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ». وَاسْتَحَبَّ الْخَطَّابِيُّ كَشْفَهُمَا فِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ، وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُهُمَا فِي حَالِ الْخُطْبَةِ كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ.

‘Siapa yang mengklaim pembatasan (hanya pada istisqa) maka ia telah salah dengan kesalahan besar.’ Riwayat-riwayat yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan) didahulukan atas riwayat yang menyatakan bahwa Nabi tidak mengangkat kedua tangannya dalam suatu doa kecuali dalam istisqa. Al-Khaththabi menganjurkan membuka kedua tangan dalam seluruh doa. Dan dimakruhkan bagi khatib mengangkat keduanya ketika sedang khutbah, sebagaimana dikatakan oleh al-Baihaqi.”

 ****

SIKAP BIJAK PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT
MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:

"مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،

لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:

فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.

وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".

“Apa yang tidak terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa. Nabi bersabda:

‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.’

Namun ada keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah (misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.

Siapa yang mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat: Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]

Imam an-Nasafi (madzhab Hanafi) berkata:

«إِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا إِذَا سُئِلْنَا عَنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ مُخَالِفِنَا فِي الْفُرُوعِ أَنْ نُجِيبَ بِأَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ».

“Wajib bagi kita apabila ditanya tentang madzhab kita dan madzhab orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang (furu‘), kita menjawab bahwa madzhab kita benar namun mengandung kemungkinan salah, dan madzhab yang berbeda dengan kita salah namun mengandung kemungkinan benar.” [Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra 4/313]

Betapa indahnya ucapan az-Zarkasyi:

«قَدْ رَاعَى الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ خِلَافَ الْخَصْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ، وَهَذَا إِنَّمَا يَتَمَشَّى عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ مُدَّعِيَ الْإِصَابَةِ لَا يَقْطَعُ بِخَطَإِ مُخَالِفِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَمَّا كَانَ يُجَوِّزُ خِلَافَ مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَنَظَرَ فِي مُتَمَسَّكِ خَصْمِهِ فَرَأَى لَهُ مَوْقِعًا رَاعَاهُ عَلَى وَجْهٍ لَا يُخِلُّ بِمَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَأَكْثَرُهُ مِنْ بَابِ الِاحْتِيَاطِ وَالْوَرَعِ، وَهَذَا مِنْ دَقِيقِ النَّظَرِ وَالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ».

“Imam asy-Syafi‘i dan para sahabat (pengikut) beliau telah mempertimbangkan pendapat lawan dalam banyak persoalan.

Hal itu berjalan di atas prinsip bahwa orang yang mengklaim kebenaran tidak memastikan kesalahan pihak yang berbeda dengannya.

Karena seorang mujtahid itu membolehkan kemungkinan berbeda dari apa yang lebih kuat dalam sangkaannya. Ia melihat dalil lawannya dan mendapati ada pijakan padanya, maka ia mempertimbangkannya dengan cara yang tidak merusak apa yang lebih kuat dalam sangkaannya.

Kebanyakan hal itu termasuk dalam bab kehati-hatian dan wara‘. Ini termasuk ketelitian pandangan dan sikap mengambil jalan yang lebih selamat.” [Baca : al-Bahrul Muhith Fii Ushul al-Fiqhi 8/310]

Al-Qurthubi juga berkata:

«وَلِذَلِكَ رَاعَى مَالِكٌ الْخِلَافَ، قَالَ: وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يُرَاعِي صُورَةَ الْخِلَافِ، وَهُوَ جَهْلٌ أَوْ عَدَمُ إِنْصَافٍ. وَكَيْفَ هَذَا وَهُوَ لَمْ يُرَاعِ كُلَّ خِلَافٍ وَإِنَّمَا رَاعَى خِلَافًا لِشِدَّةِ قُوَّتِهِ». اهـ

“Karena itulah Malik mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian pengikutnya mengira bahwa beliau hanya mempertimbangkan bentuk lahiriah perbedaan, dan itu adalah kebodohan atau kurangnya keadilan. Bagaimana mungkin demikian, padahal beliau tidak mempertimbangkan setiap perbedaan, tetapi hanya mempertimbangkan perbedaan yang kuat dalilnya.” [Selesai. Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra 4/313].

===***===

PENUTUP

Dari Al-Awza‘i (Tabi’i), dia berkata:

"العِلْمُ مَا جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ‌ومَا ‌لَمْ ‌يَجِيء ‌عَنْهُم ‌فَلَيسَ ‌بِعِلْمٍ"

Ilmu adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad , dan apa yang tidak datang dari mereka, maka itu bukan ilmu.

[Lihat "Jami‘ Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644), dan "Al-Bidayah wa an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]

---

Dan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:

«لَا ‌يَزَالُ ‌النَّاسُ ‌بِخَيْرٍ ‌مَا ‌أَتَاهُمُ ‌الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»

“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad dan para senior (kibaar) mereka. Namun, apabila ilmu datang dari para junior (shigoor) di antara mereka, maka saat itulah mereka binasa.”

Diriwayatkan oleh Mu‘ammar dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan disebutkan oleh Al-Haitsami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:

رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ

“Para perawinya dapat dipercaya”.

Dan Al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”

 

Posting Komentar

0 Komentar