HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN MENGAMINI DO’A IMAM SAAT KHUTHBAH JUM’AT
Ditulis
Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya dua tangan, maka hukum asalnya adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa. Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.’
Namun ada keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah (misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang mengangkat kedua tangannya dengan berpegang pada kaidah bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh diingkari.
Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangannya karena melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang dan luas.” [Lihat: Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
Al-Mubarakfuri berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (dua tangan saat berdo’a) seperti ini, meskipun haditsnya dalam do’a istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Imam Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadis ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (Lihat:Tuhfat al-Ahwadzi 2/173).
DR. Kholid Kaarah berkata :
وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى أَنَّ الْمُسْتَمِعَ لِلْخُطْبَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ دُعَاءِ الْخَطِيبِ، وَذَلِكَ بَقَاءً عَلَى الْأَصْلِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ مُطْلَقًا، وَلَا يُمْنَعُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ إِلَّا فِي الْأَمَاكِنِ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ، كَالْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ فِي الصَّلَاةِ.
“Dan mayoritas para ahli ilmu berpendapat bahwa orang yang mendengarkan khutbah dianjurkan mengangkat kedua tangannya ketika khathib berdoa. Hal itu karena berpegang kepada hukum asal, yaitu anjuran mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak.
Dan tidak dilarang mengangkat kedua tangan kecuali pada tempat-tempat yang memang terdapat dalil tidak boleh mengangkat tangan, seperti saat duduk di antara dua sujud dan doa istiftah dalam shalat”.
[Lihat: “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” karya DR. Kholid Kaarah (Halaman 349)]
DAFTAR ISI :
- Muqodimah
- Hukum Makmum Mengangkat Kedua Tangan Saat Mengamini Doa Khatib Jumat
- Rincian Perbedaan Pendapat Para Ulama
- Pendapat Pertama: Tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan.
- Pendapat Kedua: Disyariatkan mengangkat kedua tangan.
- Dalil Masing-Masing dari Dua Pendapat Beserta
Munāqasyah Dalil:
- Dalil Pendapat Pertama: Tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan.
- Dalil Pertama: Tidak ada riwayat dari sahabat.
- Dalil Kedua: Qiyas makmum kepada imam (khatib).
- Dalil Ketiga: Hadits larangan khatib mengangkat kedua tangan saat khutbah.
- Pernyataan para ulama hadits tentang kapan Bisy r mengangkat kedua tangan dalam khutbah.
- Dalil Keempat: Hadits larangan mutlak mengangkat dua tangan saat doa selain istisqa.
- Dalil Pendapat Kedua: Disyariatkan mengangkat kedua tangan.
- Hukum asal mengangkat kedua tangan saat berdoa
- Imam Bukhori dalam kitab Shahih-nya
- Imam Bukhori dalam kitab-nya “Al-Adab al-Mufrad”:
- Dalil-dalil lain yang menunjukkan hukum asal mengangkat tangan dalam berdoa adalah sunnah:
- Hadits doa dalam shalat sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa istisqoo sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa ziarah kubur sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa saat perang sambil mengangkat dua tangan
- Hadits doa saat ibadah haji sambil mengangkat kedua tangan
- Hadits mengusap wajah setelah berdoa
- Sikap bijak para ulama terhadap perbedaan pendapat mengangkat dua tangan saat khotib Jumat berdoa
- Penutup
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi
Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, kepada
keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang setia mengikuti
beliau.
===***===
MUQODIMAH
Termasuk perkara
yang telah ditetapkan dalam sunnah Nabi ﷺ adalah dianjurkannya
mengangkat kedua tangan ketika berdoa secara umum; sebagai bentuk menampakkan
kehinaan, ketundukan, dan kebutuhan kepada Allah SWT, serta sebagai bentuk
permohonan dan pengharapan untuk meraih karunia-Nya. Hal itu merupakan bagian
dari adab-adab doa yang telah disepakati, dan termasuk sebab dikabulkannya doa;
karena di dalamnya terdapat penampakan kejujuran dalam berlindung dan kembali kepada
Allah Azza wa Jalla serta pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
" أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ
طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
[المؤمنون: 51] وَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ،
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ "
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Dia
memerintahkan kepada para rasul.
Maka Dia berfirman:
‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ [Al-Mu’minun: 51].
Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang
beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’
[Al-Baqarah: 172].
Kemudian beliau
menyebutkan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan panjang, dalam
keadaan kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya
berkata: ‘Wahai Rabb, wahai Rabb.’ Namun makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin
doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].
Al-‘Allamah Ibnu
Rajab Al-Hanbali berkata:
هَذَا الْكَلَامُ أَشَارَ فِيهِ ﷺ
إِلَى آدَابِ الدُّعَاءِ، وَإِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَتَهُ،
وَإِلَى مَا يَمْنَعُ مِنْ إِجَابَتِهِ، فَذَكَرَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي
تَقْتَضِي إِجَابَةَ الدُّعَاءِ أَرْبَعَةً ...
قَالَ: الثَّالِثُ: مَدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ الَّتِي يُرْجَى بِسَبَبِهَا إِجَابَتُهُ،
وَفِي حَدِيثِ سَلْمَانَ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»؛ خَرَّجَهُ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ.
وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ
أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَغَيْرِهِمَا.
وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ
يَوْمَ بَدْرٍ يَسْتَنْصِرُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ،
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صِفَةِ رَفْعِ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ
أَنْوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ...
قَالَ: وَمِنْهَا: رَفْعُ يَدَيْهِ،
جَعْلُ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى الْأَرْضِ.
وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ
فِي سُؤَالِ اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي غَيْرِ حَدِيثٍ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ،
وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ سِيرِينَ: «أَنَّ هَذَا هُوَ الدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ
لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ».
Ucapan dalam hadits
ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengisyaratkan adab-adab doa, sebab-sebab yang menjadikan doa
dikabulkan, serta hal-hal yang menghalangi pengabulannya. Beliau menyebutkan
empat sebab yang menjadikan doa dikabulkan…
Beliau berkata:
yang ketiga adalah mengangkat kedua tangan ke langit, dan ini termasuk adab doa
yang diharapkan menjadi sebab dikabulkannya doa.
Dalam hadits
Salman, dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia merasa
malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia
mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
Diriwayatkan pula yang semisalnya dari hadits Anas, Jabir, dan selain keduanya.
Nabi ﷺ biasa
mengangkat kedua tangannya dalam doa istisqa hingga terlihat putih kedua ketiaknya.
Beliau juga mengangkat kedua tangannya pada hari Perang Badar ketika memohon
pertolongan atas kaum musyrikin hingga selendangnya terjatuh dari kedua
pundaknya.
Telah diriwayatkan
dari Nabi ﷺ tentang tata cara mengangkat tangan dalam doa dengan berbagai
bentuk…
Di antaranya:
mengangkat kedua tangan dengan menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke
langit dan bagian punggungnya ke arah bumi.
Perintah tentang
hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits mengenai permohonan kepada Allah
Azza wa Jalla. Dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin disebutkan: “Inilah
bentuk doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla.” [Baca: Jami
al-Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rojab 1/269 Tahqiq al-Arna’uth]
Syaikhul Islam Abu
Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra 5/337 berkata:
وَيُسَنُّ لِلدَّاعِي رَفْعُ يَدَيْهِ
وَالِابْتِدَاءُ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ وَأَنْ يَخْتِمَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ وَبِالتَّأْمِينِ
“Disunnahkan bagi
orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah
dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan
hendaknya ia menutup doanya dengan semua itu serta dengan ucapan amin.”
Beliau juga 22/519
berkata:
وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ ﷺ يَدَيْهِ
فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ
“Adapun
pengangkatan tangan oleh Nabi ﷺ dalam doa, maka telah datang banyak hadits shahih tentangnya.”
Imam An-Nawawi
berkata dalam Syarh Muslim 6/190 di hadits no. 896:
قَدْ ثَبَتَ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي
الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ
تُحْصَرَ وَقَدْ جَمَعْتُ مِنْهَا نَحْوًا مِنْ ثَلَاثِينَ حَدِيثًا مِنَ
الصَّحِيحَيْنِ
“Telah ada
ketetapan riwayat bahwa beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya
dalam doa pada berbagai keadaan selain istisqa, dan jumlahnya lebih banyak
daripada yang dapat dibatasi. Aku telah mengumpulkan sekitar tiga puluh hadits
tentang hal itu dari Ash-Shahihain”.
Sungguh telah tersebar secara melimpah ruah berbagai riwayat hadits tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, sampai-sampai sejumlah ulama menggolongkannya sebagai hadis mutawatir secara maknawi.
Al-Imam As-Suyuthi berkata:
«مِمَّا تَوَاتَرَ
مَعْنَاهُ كَأَحَادِيثِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ
نَحْوُ مِائَةِ حَدِيثٍ فِيهَا رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَقَدْ جَمَعْتُهَا
فِي جُزْءٍ، لَكِنَّهَا فِي قَضَايَا مُخْتَلِفَةٍ؛ فَكُلُّ قَضِيَّةٍ مِنْهَا لَمْ
تَتَوَاتَرْ، وَالْقَدْرُ الْمُشْتَرَكُ فِيهَا وَهُوَ الرَّفْعُ عِنْدَ الدُّعَاءِ
تَوَاتَرَ بِاعْتِبَارِ الْمَجْمُوعِ».
“Di antara yang
maknanya mutawatir adalah hadis-hadis tentang mengangkat kedua tangan dalam
doa. Telah diriwayatkan dari beliau ﷺ sekitar seratus hadis yang
menyebutkan pengangkatan kedua tangan dalam doa.
Aku telah
mengumpulkannya dalam satu juz (risalah kecil), namun hadis-hadis itu berada
dalam berbagai peristiwa yang berbeda-beda; maka setiap peristiwa tersebut
tidak mencapai derajat mutawatir secara tersendiri. Akan tetapi, sisi yang sama
di antara semuanya, yaitu pengangkatan tangan ketika berdoa, menjadi mutawatir
jika dilihat secara keseluruhan.”
(Dalam *Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi* 2/631).
Dan Imam As-Suyuthi
berkata dalam Al-Alfiyah hal. 25:
204
- خَمْسٌ وَسَبْعُونَ رَوَوْا"مَنْ كَذَبَا" … وَمِنْهُمُ
الْعَشْرَةُ ثُمَّ انْتَسَبَا
205
- لَهَا حَدِيثُ "الرَّفْعِ لِلْيَدَيْنِ" …
وَ"الْحَوْضِ"وَ"الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ
“Tujuh puluh lima
orang meriwayatkan hadits ‘Barang siapa berdusta…’
Dan di antaranya
sepuluh (sahabat yang dijamin surga) termasuk dalam sanadnya.
Termasuk pula
hadits tentang ‘mengangkat kedua tangan’,
Tentang ‘telaga
(Al-Haudh)’, dan ‘mengusap dua khuf’.” [Selesai]
***====****===***
HUKUM
MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN
SAAT
MENGAMINI DO’A KHOTHIB JUM’AT
Telah ada perbedaan
pendapat para ulama kontemporer tentang hukum mengangkat kedua tangan para
makmum saat mengamini doa khothib ketika berkhutbah.
Ada dua
pendapat:
Pendapat Pertama : tidak di syariatkan .
Pendapat Kedua : mustahab atau di sunnahkan.
Dan ini adalah
pendapat mayoritas.
Berikut ini rincian
masing-masing pendapat beserta dalilnya :
===***===
RINCIAN
PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA
TENTANG HUKUM MAKMUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT KHOTHIB BERDO'A
===***===
PENDAPAT
PERTAMA:
TIDAK
DISYARIATKAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Ada sebagian para
ulama kontemporer yang berpendapat bahwa para makmum tidak disunnahkan
mengangkat kedua tangan saat khothib berdo’a ketika berkhutbah, sebagimana yang
dikatakan Syeikh Bin Baz.
Sebagian yang lain
mengatakan tidak di syari’atkan, sebagaimana dikatakan Syeikh
al-Munajjid.
Sebagian yang lain
mengatakan tidak sepatutnya, sebagaimana dikatakan Syeikh al-Utsaimin.
Dan sebagian yang
lain mengatakan tidak boleh, haram dan bid’ah sesat, sebagaimana
dikatakan sebagian para da’i muda di tanah air, tersebar di MEDSOS.
Syeikh Muhammad
Sholeh al-Munajjid berkata:
وَإِذَا لَمْ يُشْرَعْ رَفْعُ الْيَدَيْنِ
لِلْخَطِيبِ فَالْمَأْمُومُونَ مِثْلُهُ؛ لِأَنَّهُمْ يَقْتَدُونَ بِهِ.
لَكِنْ إِذَا دَعَا الْإِمَامُ لِلِاسْتِسْقَاءِ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَالسُّنَّةُ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ،
وَيَرْفَعَ الْمَأْمُومُونَ أَيْدِيَهُمْ وَيَدْعُونَ مَعَهُ.
“Apabila tidak
disyariatkan mengangkat tangan bagi khatib, maka para makmum juga
demikian, karena mereka mengikuti (meneladani) imamnya.
Namun, apabila imam
berdoa untuk istisqa (meminta hujan) pada hari Jumat ketika ia berada di atas
mimbar, maka yang sunnah adalah ia mengangkat kedua tangannya, dan para makmum
pun mengangkat tangan mereka serta berdoa bersamanya”. [Islamqa no. 31897]
Dan Syeikh Bin Baaz
rahimahullah berkata:
أَمَّا حَالَ الْخُطْبَةِ فَلَا يَرْفَعُ
الْإِمَامُ، وَلَا يَرْفَعُ الْمَأْمُومُونَ، يُنْصِتُونَ، وَلَا يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ،
وَلَا يَرْفَعُونَهَا فِي الْخُطْبَةِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، إِذَا اسْتَسْقَى
طَلَبَ الْغَوْثَ، طَلَبَ الْمَطَرَ؛ يَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ
مَعَهُ، كَمَا فَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ وَالصَّحَابَةُ لَمَّا اسْتَسْقَى -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ- أَمَّا الْخُطْبَةُ الْعَادِيَّةُ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا اسْتِسْقَاءٌ،
فَإِنَّ السُّنَّةَ أَنَّهُ لَا يَرْفَعُ هُوَ، وَلَا يَرْفَعُونَ هُمْ، وَلَوْ دَعَا،
يَدْعُو لَكِنْ مِنْ دُونِ رَفْعٍ.
“Adapun ketika
khutbah, maka imam tidak mengangkat kedua tangan dan para makmum juga tidak
mengangkat kedua tangan. Mereka harus mendengarkan khutbah dengan saksama,
tidak mengangkat kedua tangan mereka, dan tidak mengangkatnya saat khutbah
kecuali dalam doa istisqa (do’a minta hujan).
Jika imam melakukan
istisqa, yakni meminta pertolongan dan memohon turunnya hujan, maka ia
mengangkat kedua tangannya dan para makmum pun ikut serta mengangkat kedua
tangan mereka bersamanya, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ dan
para sahabat ketika beliau melakukan do’a istisqa.
Adapun khutbah
biasa yang tidak ada istisqa di dalamnya, maka yang sunnah adalah imam tidak
mengangkat kedua tangan dan para makmum pun tidak mengangkat kedua tangan,
meskipun ia berdoa. Ia tetap berdoa, namun tanpa mengangkat kedua tangan”.
[Sumber:
*Nur ‘ala ad-Darb*, pembahasan tentang hukum mengangkat tangan dalam doa bagi
makmum saat khutbah Jumat].
Al-‘Allamah
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:
مَا هُوَ حُكْمُ رَفْعِ الْأَيْدِي وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ؟
“Apa hukum
mengangkat tangan ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat?”
Beliau menjawab:
رَفْعُ الْأَيْدِي وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ لَيْسَ بِمَشْرُوعٍ، وَقَدْ أَنْكَرَ الصَّحَابَةُ عَلَى بِشْرِ
بْنِ مَرْوَانَ حِينَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ، لَكِنْ يُسْتَثْنَى
مِنْ ذَلِكَ الدُّعَاءُ بِالِاسْتِسْقَاءِ، فَإِنَّهُ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ
رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالْغَيْثِ وَهُوَ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ،
وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ، وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَنْبَغِي
رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ. اهـ.
“Mengangkat tangan
ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat tidaklah disyariatkan. Para
sahabat telah mengingkari Bisyr bin Marwan ketika ia mengangkat kedua tangannya
dalam khutbah Jumat.
Namun, dikecualikan
dari hal itu adalah doa istisqa (meminta hujan), karena telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa
beliau mengangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar
diturunkan hujan ketika beliau sedang berkhutbah Jumat, dan para sahabat pun
mengangkat tangan mereka bersama beliau.
Adapun selain itu,
maka tidak sepatutnya mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam
khutbah Jumat.” (Fatawa Arkan al-Islam, hlm. 392).
Namun demikian
Syeikh al-Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ
يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ
آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ
يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ
الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا
يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ
الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ
فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى
أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ
فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak
terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya
adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa.
Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya
Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.’
Namun ada
keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan
meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah
(misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu
berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan
dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang
mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah
bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh
diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena
melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak
boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat:
Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
*****
PENDAPAT
KEDUA:
DISYARI’ATKAN
MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Ini adalah pendapat
mayoritas para ulama, sebagaimana yang katakan oleh DR. Kholid Kaarah, dia berkata:
وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى
أَنَّ الْمُسْتَمِعَ لِلْخُطْبَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ دُعَاءِ الْخَطِيبِ، وَذَلِكَ
بَقَاءً عَلَى الْأَصْلِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ مُطْلَقًا،
وَلَا يُمْنَعُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ إِلَّا فِي الْأَمَاكِنِ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا
عَدَمُ الرَّفْعِ، كَالْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ
فِي الصَّلَاةِ.
“Dan mayoritas para
ahli ilmu berpendapat bahwa orang yang mendengarkan khutbah dianjurkan
mengangkat kedua tangannya ketika khathib berdoa. Hal itu karena berpegang
kepada hukum asal, yaitu mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak.
Dan tidak dilarang
mengangkat kedua tangan kecuali pada tempat-tempat yang memang terdapat dalil
tidak boleh mengangkat tangan, seperti saat duduk di antara dua sujud dan doa
istiftah dalam shalat”. [Baca : “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb”, karya DR Kholid
Kaarah (Halaman 349),]
Dan ini adalah
pendapat Imam Bukhori, dan sebagian para ulama hadits lainnya. Sebagaimana dikutip oleh Al-Mubarakfuri, dia berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا
الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (dua
tangan saat berdo’a) seperti ini, meskipun haditsnya dalam do’a istisqa
(meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu,
Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadits ini atas bolehnya
mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfat al-Ahwadzi* 2/173).
Dan ini merupakan pendapat
Syeikh Abdullah Bin Jibrin (mantan anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Dewan
Ulama Senior) Dan Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’ (Komite Tetap untuk
Fatwa – Saudi Arabia).
Beliau pernah ditanya
:
«هَلْ لِلْإِمَامِ
أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ لِلدُّعَاءِ، وَكَذَلِكَ الْمَأْمُومُونَ
هَلْ لَهُمْ ذَلِكَ؟»
Apakah imam
boleh mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika berdoa? Dan apakah makmum
juga boleh melakukannya?
Maka beliau
menjawab :
"يَرْفَعُونَ
أَيْدِيَهُمْ إِذَا رَفَعَ الْإِمَامُ، وَالْحَدِيثُ عَامٌّ، وَهُوَ قَوْلُهُ: «إِنَّ
رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ
أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»، وَ«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ»،
وَأَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ مِنْ بَابِ الِاسْتِجْدَاءِ وَالِاسْتِعْطَاءِ مِنَ اللَّهِ
تَعَالَى، فَهُوَ سَبَبٌ لِلْعَطَاءِ.
وَمَا دَامَ كَذَلِكَ فَإِنَّ الْإِمَامَ
يَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَالْمَأْمُومُونَ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ لِلتَّأْمِينِ، وَهَذَا
هُوَ الصَّحِيحُ".
Mereka semua mengangkat
tangan jika imam mengangkat tangan. Karena haditsnya bersifat umum, yaitu sabda
Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Tuhan
kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.”
Dan juga disebutkan
bahwa Nabi ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa.
Mengangkat tangan
termasuk bentuk memohon dan meminta kepada Allah Ta‘ala, dan itu merupakan
sebab dikabulkannya pemberian.
Selama demikian,
maka imam mengangkat kedua tangannya, dan para makmum pun mengangkat kedua tangan
mereka untuk mengaminkan. Inilah pendapat yang benar”.
[Sumber:
Syarh ‘Umdat al-Ahkam [37]: Hukum Mengangkat Kedua Tangan dalam Doa Khutbah
Jumat (al-Maktabah asy-Syamilah 37/8)].
Dan ini merupakan
fatwa Prof. DR. Syauqi Ibrahim ‘Allaam dari Dar al-Ifta – Mesir, fatwa no.
7788, dia berkata:
«رَفْعُ الْيَدَيْنِ
بِالدُّعَاءِ أَثْنَاءَ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ وَبَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ أَثْنَاءَ جَلْسَةِ
الْإِمَامِ؛ أَمْرٌ مُسْتَحَبٌّ؛ لِكَوْنِهِ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ
قَبُولِهِ، وَأَدْعَى لِإِجَابَتِهِ، وَلِمَا فِيهِ مِنْ كَمَالِ الْأَدَبِ مَعَ اللَّهِ
تَعَالَى وَإِظْهَارِ الذِّلَّةِ وَالْفَقْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلِعُمُومِ النُّصُوصِ
الدَّالَّةِ عَلَى اسْتِحْبَابِ ذَلِكَ».
“Mengangkat kedua
tangan ketika berdoa saat khutbah Jumat dan di antara dua khutbah ketika imam
duduk adalah perkara yang dianjurkan (mustahab); karena hal itu termasuk adab
dalam berdoa dan sebab dikabulkannya doa, serta lebih mendorong untuk
diperkenankan.
Selain itu, di
dalamnya terdapat kesempurnaan adab kepada Allah Ta‘ala serta menampakkan
kerendahan dan kefakiran di hadapan-Nya, dan juga berdasarkan keumuman
dalil-dalil yang menunjukkan dianjurkannya hal tersebut”.
Ibnu Hajar
al-Asqalani berkata dalam Fathul Bari (11/143, cet. Dar al-Ma‘rifah):
«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ
عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ
الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ
حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ، فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ
بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا»
اهـ.
“Ath-Thobari
menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami hadits itu secara zahir
dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah memberi isyarat dengan satu
jari.
Pendapat ini
dibantah, karena hal itu hanya disebutkan pada khathib
ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam konteks hadis. Maka
tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk melarang mengangkat kedua
tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya riwayat-riwayat tentang
disyariatkannya mengangkat tangan.” Selesai.
Al-Qodhi ‘Iyadh
berkata dalam Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Muslim (3/277, cet. Dar al-Wafa’):
«كَرِهَ قَوْمٌ مِنَ
السَّلَفِ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ،
وَحُجَّةُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ، وَأَجَازَهُ آخَرُونَ، وَهُوَ قَوْلُ
بَعْضِ أَصْحَابِنَا، وَحُجَّتُهُمْ رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَدَّهُمَا فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
حِينَ اسْتَسْقَى» اهـ.
“Sebagian ulama salaf memakruhkan mengangkat kedua tangan dalam khutbah dan dalam semua doa, dan itu adalah pendapat Malik. Dalil orang yang berpendapat demikian adalah hadits ini.
Sementara yang lain
membolehkannya, dan itu adalah pendapat sebagian sahabat kami (dari para ulama).
Dalil mereka adalah bahwa Nabi ﷺ mengangkat dan menjulurkan
kedua tangannya dalam khutbah dan doa pada hari Jumat ketika beliau beristisqa
(meminta hujan).” Selesai.
Badruddin al-‘Ayni
al-Hanafi berkata dalam Al-Binayah Sharh al-Hidayah (4/203, cet. Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah):
«(وَالرَّفْعُ سُنَّةُ
الدُّعَاءِ) ش: أَيْ رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ» اهـ.
“(Dan mengangkat
tangan adalah sunnah dalam doa),” maksudnya: mengangkat kedua tangan adalah
sunnah.
Ar-Ramli
asy-Syafi‘i berkata dalam *Nihayah al-Muhtaj* 1/505:
«(وَ) يُسَنُّ
(رَفْعُ يَدَيْهِ) فِيهِ (أَيْ فِي الْقُنُوتِ عِنْدَهُمْ)، وَفِي سَائِرِ
الْأَدْعِيَةِ اتِّبَاعًا، كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيهِ بِإِسْنَادٍ
جَيِّدٍ، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا».
“(Dan) disunnahkan
(mengangkat kedua tangan) di dalamnya (yakni dalam qunut menurut mereka), dan
dalam seluruh doa lainnya sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah),
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam hal itu dengan sanad yang baik,
dan dalam doa-doa lainnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta yang
lainnya.”
Ibnu Hajar
al-Haitami dalam *Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* (1/252,
cet. al-Maktabah al-Islamiyyah).
Beliau pernah
ditanya tentang mengangkat tangan setelah selesai dua khutbah pada hari Jumat,
apakah itu mustahab atau bid‘ah?
Beliau menjawab:
«رَفْعُ
الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ
زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ
سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا. وَعِبَارَةُ "الْعُبَابِ"
مَعَ شَرْحِي لَهُ: (يُسَنُّ لِلدَّاعِي خَارِجَ الصَّلَاةِ رَفْعُ يَدَيْهِ
الطَّاهِرَتَيْنِ) لِلِاتِّبَاعِ ... »
“Mengangkat kedua
tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar shalat dan yang semisalnya. Siapa
yang mengira bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia
telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar.
Dalam kitab *Al-‘Ubab* beserta syarahku disebutkan: ‘Disunnahkan bagi orang
yang berdoa di luar shalat untuk mengangkat kedua tangannya yang suci,’ karena
mengikuti sunnah …
Beliau juga
1/252-153 berkata:
"مَنْ
ادَّعَى حَصْرَهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا، وَهَذِهِ لِكَوْنِهَا
مُثْبِتَةً مُقَدَّمَةٌ عَلَى رِوَايَتِهِمَا: «كَانَ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي
شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ». وَاسْتَحَبَّ الْخَطَّابِيُّ
كَشْفَهُمَا فِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ، وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُهُمَا فِي
حَالِ الْخُطْبَةِ كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ".
‘Siapa yang
mengklaim pembatasan (hanya pada istisqa) maka ia telah salah dengan kesalahan
besar.’ Riwayat-riwayat yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan)
didahulukan atas riwayat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak
mengangkat kedua tangannya dalam suatu doa kecuali dalam istisqa. Al-Khaththabi
menganjurkan membuka kedua tangan dalam seluruh doa. Dan dimakruhkan bagi
khathib mengangkat keduanya ketika sedang khutbah, sebagaimana dikatakan oleh
al-Baihaqi.”
Az-Zarkashi berkata
dalam Sharh Mukhtasar al-Khiraqi (2/182, cet. Dar al-‘Ubaikan):
«(وَإِنْ أَرَادَ
الْخَطِيبُ أَنْ يَدْعُوَ لِإِنْسَانٍ دَعَا).. وَيُسْتَحَبُّ رَفْعُ الْيَدِ فِي الدُّعَاءِ
عِنْدَ ابْنِ عَقِيلٍ، لِعُمُومِ مَطْلُوبِيَّةِ رَفْعِ الْأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ»
اهـ.
“(Jika khatib ingin
mendoakan seseorang, maka ia berdoa)… dan disunnahkan mengangkat tangan dalam
doa menurut Ibnu ‘Aqil, karena keumuman anjuran mengangkat tangan dalam doa.”
Selesai.
Ibnu Baththol
berkata dalam Sharh Sahih al-Bukhari li-Ibni Baththol (3/21, cet. Maktabah
ar-Rusyd):
«قَالَ الْمُهَلَّبُ:
رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَغَيْرِهِ مُسْتَحَبٌّ؛ لِأَنَّهُ خُضُوعٌ
وَتَذَلُّلٌ، وَتَضَرُّعٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى» اهـ.
Al-Muhallab
berkata: “Mengangkat kedua tangan dalam istisqa dan selainnya adalah mustahab
(dianjurkan), karena itu merupakan bentuk ketundukan, kerendahan diri, dan
permohonan kepada Allah Ta‘ala.” Selesai.
Al-Munawi berkata
dalam Fayd al-Qadir (2/228, cet. al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra):
«وَفِي "الْكَشَّافِ"
هُوَ جَارٍ عَلَى سَبِيلِ التَّمْثِيلِ، وَفِيهِ نَدْبُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ،
وَرَدٌّ عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ كَرِهَ ذَلِكَ، قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَقَدْ وَرَدَ فِي
رَفْعِ الْيَدَيْنِ أَخْبَارٌ صَحِيحَةٌ صَرِيحَةٌ لَا تَقْبَلُ تَأْوِيلًا» اهـ.
“Dalam al-Kasysyaf
disebutkan bahwa hal itu berjalan sebagai bentuk permisalan. Di dalamnya
terdapat anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa, dan merupakan bantahan
terhadap Malik yang memakruhkannya. Ibnu Hajar berkata: Telah datang
riwayat-riwayat sahih dan tegas tentang mengangkat kedua tangan yang tidak
menerima takwil (penafsiran lain).” Selesai.
Barangkali dasar
disyariatkannya mengangkat kedua tangan dalam doa — sebagaimana dikatakan
Al-Bujayrimi — yaitu:
«إِنَّ السَّمَاءَ
قِبْلَةُ الدُّعَاءِ، وَالطَّالِبُ لِشَيْءٍ يَبْسُطُ كَفَّيْهِ لِأَخْذِهِ، وَالدَّاعِي
طَالِبٌ، وَلِأَنَّ حَوَائِجَ الْعِبَادِ فِي خِزَانَةٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَالدَّاعِي
يَمُدُّ يَدَيْهِ لِحَاجَتِهِ، وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى مَا هُوَ وَصْفٌ لِلْمَدْعُوِّ
مِنَ الْجَلَالِ وَالْكِبْرِيَاءِ».
“Sesungguhnya
langit merupakan kiblat doa; orang yang meminta sesuatu akan membentangkan
kedua telapak tangannya untuk mengambilnya; orang yang berdoa adalah orang yang
meminta; dan karena kebutuhan para hamba berada dalam perbendaharaan di bawah
‘Arasy, maka orang yang berdoa membentangkan kedua tangannya untuk
kebutuhannya. Di dalamnya juga terdapat isyarat terhadap sifat keagungan dan
kebesaran Dzat yang dimohon”. [Lihat: Hashiyat al-Bujayrimi 'ala al-Khatib
(1/176, cet. Dar al-Fikr)].
Berdasarkan uraian di
atas, maka mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah Jumat dan di
antara dua khutbah saat imam duduk adalah perkara yang dianjurkan; karena itu
termasuk adab doa, sebab dikabulkannya doa, lebih mendorong untuk mendapatkan
jawaban, serta mengandung kesempurnaan adab kepada Allah Ta‘ala dengan
menampakkan kehinaan dan kebutuhan di hadapan-Nya, dan juga berdasarkan
keumuman dalil-dalil yang menunjukkan anjuran tersebut.
****====****
DALIL
MASING-MASING DARI DUA PENDAPAT
BESERTA
MUNAQOSAY DALIL:
===***===
DALIL
PENDAPAT PERTAMA:
PENDAPAT TIDAK DISYARI’ATKAN
MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Dalil-dalil mereka,
baik yang mengatakan, tidak di syariatkan, atau tidak di sunnahkan, atau tidak
sepetutnya, atau haram dan bid’ah sesat mengangkat kedua tangan saat khothib
berdoa, adalah sbb :
*****
DALIL
PERTAMA :
KARENA TIDAK ADA RIWAYAT DARI SAHABAT
Bahwa hal itu tidak
ada riwayat dari para sahabat, padahal Nabi ﷺ telah melaksanakan shalat
Jumat berkali-kali.
Hudzaifah bin
al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma berkata :
«كُلُّ عِبَادَةٍ
لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَلَا تَتَعَبَّدُوا بِهَا؛ فَإِنَّ
الْأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلْآخِرِ مَقَالًا؛ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ،
خُذُوا طَرِيقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ».
“Setiap ibadah yang
tidak dilakukan sebagai bentuk ibadah oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, maka
janganlah kalian melakukannya sebagai ibadah. Karena generasi awal tidak
meninggalkan celah pembicaraan bagi generasi akhir. Maka bertakwalah kepada
Allah wahai para qari, dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian.”
Bantahan
terhadap dalil diatas:
[*] Penulis
katakan : Atsar Hudzaifah dengan lafadz matan diatas, tidak diketemukan
bersanad alias lafadznya PALSU.
[*] Kemudian dikatakan
pula:
عَدَمُ الْعِلْمِ
لَا يَعْنِي الْعِلْمَ بِالْعَدَمِ.
Bahwa
tidak mengetahui sesuatu itu tidak berarti mengetahui ketiadaan-nya.
[*] Selain itu, apa
yang mereka katakan dibantah oleh keumuman hadits-hadits menyariatkan berdoa
sambil mengangkat dua tangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
[*] Juga karena
kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa mengangkat kedua tangan termasuk adab
berdoa secara umum, dan tidak keluar dari keumuman ini kecuali dengan dalil
yang melarangnya.
[*] Dan membatasi
bolehnya mengangkat tangan dalam doa hanya pada tempat-tempat yang sahih dari
Nabi ﷺ saja adalah kekeliruan semata.
Oleh sebab itu Imam
An-Nawawi berkata:
«وَالْمَقْصُودُ
أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنِ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ
بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا».
“Yang dimaksud
adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat
yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah
keliru dengan kekeliruan yang sangat parah.” [Baca : al-Majmu’ 3/511]
****
DALIL
KE DUA :
QIYAS MAKMUM
KEPADA IMAM (KHOTHIB)
Mereka berdalail
dengan menganalogikan (mengqiyaskan) makmum dengan khathib.
Mereka berkata:
Telah ada ketetapan
bahwa khathib tidak boleh mengangkat kedua tangannya ketika berdoa di atas
mimbar, dan ia hanya boleh memberi isyarat dengan jarinya saja. Tidak ada
riwayat yang menetapkan pengangkatan tangan kecuali dalam do’a istisqa’ saat
berkhutbah berdasarkan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu. Maka demikian pula
berlaku atas makmum, dianalogikan kepada khotib Jum’at.
====
BANTAHAN
TERHADAP DALIL QIYAS INI:
PERTAMA:
Salah satu syarat مَقِيْسٌ
عَلَيْه (hukum asal dalam qiyas)
adalah tidak diperselihkan hukumnya.
يَجِبُ أَنْ يَكُونَ حُكْمُ الْأَصْلِ
ثَابِتًا بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ كَالْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ
الْإِجْمَاعِ.
“Wajib adanya hukum
asal (pokok) itu telah ada ketetapan yang shahih dengan dalil syar‘i yang
disepakati (tidak ada khilaf), seperti Al-Kitab (Al-Qur’an), As-Sunnah, atau
Ijma‘ (kesepakatan para ulama)”.
Sementara hukum imam
(khothib) mengangkat kedua tangan saat do’a dalam khuthbah, itu masalah yang
diperselisihkan hukumnya, ada sebagian mensyariatkannya dan ada pula yang
melarangnya.
KEDUA :
Adapun qiyas
(analogi) mereka antara makmum dengan khathib, maka itu adalah qiyas yang tidak
tepat (qiyas ma‘al fariq), karena khathib memang berbeda dengan makmum dalam
beberapa hukum.
Di antaranya:
A] Bahwa khathib boleh berbicara ketika khutbah, sedangkan makmum tidak
boleh melakukan hal itu.
B] Bahwa khathib masuk lalu langsung duduk di atas mimbar, dan tidak
dituntut untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid, berbeda dengan makmum.
C] Bahwa khathib dituntut untuk berdiri ketika khutbah, sedangkan makmum
tidak dituntut demikian.
D] Bahwa bagi khathib dimakruhkan menghadap kiblat ketika khutbah,
sedangkan bagi makmum tidak ada kemakruhan dalam hal itu.
Maka jika hal ini
telah jelas, mengqiyaskan makmum kepada khathib dalam hukum mengangkat kedua
tangan ketika berdoa sama sekali tidak tepat.
Kemudian, jika
memang qiyas makmum kepada khathib dalam dua hadits ‘Umarah bin Ru’aibah dan
Sahl bin Sa’d itu dianggap sah, tentu mereka juga harus mengatakan bahwa sunnah
bagi makmum adalah memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika khathib berdoa.
Padahal mereka tidak mengatakan demikian.
****
DALIL KETIGA:
HADITS LARANGAN
KHOTHIB MENGANGKAT KEDUA TANGAN
SAAT DO'A DALAM KHUTBAH
Hadits-hadits larangan atas imam (khothib)
mengangkat kedua tangan saat berdo’a dalam khutbah ini, oleh mereka dijadikan hukum
asal qiyas (analogi) makmum kepada imam dalam masalah ini.
Berikut ini hadits-haditsnya:
====
HADITS PERTAMA:
Dari Sahl bin Sa’d
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ
اللهِ ﷺ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ فِي الدُّعَاءِ عَلَى مِنْبَرٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَكِنِّي
رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ»
“Aku tidak pernah
melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di atas mimbar sama
sekali, dan tidak pula di tempat lainnya. Namun aku melihat beliau berdoa
seperti ini,” lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan
menggenggam jari tengah dengan ibu jari.
[Diriwayatkan oleh
Abu Dawud no. 1105, Ibnu Abi Syaibah (2/486 dan 10/377–378), Ahmad (22855),
Ibnu Khuzaimah (1450), Abu Ya’la (7551), Ibnu Hibban (883), Ath-Thabrani dalam
Al-Kabir (6023), Al-Hakim (1/535–536), dan Al-Baihaqi (3/210), melalui beberapa
jalur dari Abdurrahman bin Ishaq, dengan sanad ini].
SISI
PENDALILAN
Mereka berdalil
dengan hadits Sa’ad bin Sahl ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan bagi
seorang khothib jum’at mengangkat kedua tangannya saat berdo’a dalam
khitbahnya. Dan ini adalah termasuk perbuatan bid’ah sesat dan terlarang dalam
agama.
Imam Al-Baihaqi
berkata:
«وَالْقَصْدُ مِنَ
الْحَدِيثَيْنِ إِثْبَاتُ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، ثُمَّ فِيهِ مِنَ السُّنَّةِ
أَلَّا يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَيَقْتَصِرَ عَلَى
أَنْ يُشِيرَ بِأُصْبُعِهِ. وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
أَنَّهُ مَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا، وَذَلِكَ حِينَ اسْتَسْقَى فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ».
"Maksud dari kedua hadits ini adalah menetapkan
adanya doa dalam khutbah.
Kemudian di
dalamnya terdapat sunnah bahwa tidak mengangkat kedua tangan ketika berdoa
dalam khutbah, dan cukup dengan memberi isyarat dengan jari.
Dan telah ada
ketetapan dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau membentangkan
kedua tangannya dan berdoa, yaitu ketika beliau meminta hujan dalam khutbah
Jumat.”
[Lihat: As-Sunan
Al-Kubra (3/289)].
------
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS
HADITS INI
DHO’IF:
Hadits ini dinilai
lemah (dho’if) oleh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud (204) dan lainnya.
Dan dinilai dho’if
pula oleh Syu’aib Al-Arnauth. Dia berkata dalam takhrij Sunan Abi Dawud
(2/324):
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ - وَهُوَ ابْنُ الْحُوَيْرِثِ الْمَدَنِيُّ - ابْنُ أَبِي
ذُبَابٍ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ.
Sanadnya lemah
(dho’if) karena lemahnya Abdurrahman bin Mu’awiyah — yaitu Ibnu Al-Huwairits
Al-Madani. Sedangkan Ibnu Abi Dhubab adalah Abdullah bin Abdurrahman bin
Al-Harits.
Makna hadits :
Al-‘Adzim Abadi
dalam ‘Aunul Ma’bud 3/320 no. 1105 berkata:
(شَاهِرًا يَدَيْهِ)
أَيْ مُظْهِرًا رَافِعًا يَدَيْهِ حَيْثُ يَظْهَرُ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ أَوْ نَحْوُهُ
وَكَأَنَّهُ أَرَادَ الْمُبَالَغَةَ وَإِلَّا فَالرَّفْعُ مَعْلُومٌ عِنْدَ الدُّعَاءِ
(وَلَا غَيْرِهِ) أَيِ الْمِنْبَرِ فَلَمْ يَكُنْ مِنْ دَأْبِهِ ﷺ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ
إِلَى هَذَا الْحَدِّ (يَقُولُ هَكَذَا) أَيْ يُشِيرُ هَكَذَا (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ)
كَأَنَّهُ يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ
وَهَذَا الْحَدِيثُ وَقَعَ جَوَابًا وَكَأَنَّ
سَائِلًا سَأَلَ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى الْمِنْبَرِ شَاهِرًا يَدَيْهِ فَأَجَابَ سَهْلٌ بِأَنَّهُ
مَا رَأَيْتُ ذَلِكَ يَفْعَلُهُ بِالْوَصْفِ الْمَذْكُورِ إِنَّمَا رَأَيْتُهُ يُشِيرُ
وَقْتَ الْمَوْعِظَةِ بِالسَّبَّابَةِ وَيَعْقِدُ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ كَأَنَّهُ
يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
وَقَالَ الْمُنْذِرِيُّ فِي إِسْنَادِهِ
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ الْقُرَشِيُّ الْمَدَنِيُّ وَيُقَالُ لَهُ عَبَّادُ
بْنُ إِسْحَاقَ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاوِيَةَ وَفِيهِمَا مَقَالٌ
“Ucapannya : “(شَاهِرًا يَدَيْهِ) yakni menampakkan dan mengangkat kedua tangannya sehingga
terlihat putih kedua ketiaknya atau semisalnya. Seakan-akan yang dimaksud
adalah berlebih-lebihan dalam mengangkat; kalau tidak, maka mengangkat tangan
saat berdoa itu sudah maklum.
Ucapannya : (وَلَا غَيْرِهِ) yakni
selain mimbar; jadi bukan termasuk kebiasaan beliau ﷺ untuk mengangkat kedua tangannya sampai pada batas seperti itu.
Ucapannya : (يَقُولُ هَكَذَا) yakni beliau memberi isyarat seperti ini.
Ucapannya : (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ) yakni beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk, seakan-akan
beliau mengangkatnya sebagaimana ketika tasyahud.
Hadits ini datang
sebagai jawaban, seakan-akan ada seseorang yang bertanya kepada Sahl bin Sa‘d:
“Apakah Nabi ﷺ berdoa
di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi?”
Maka Sahl menjawab: “Aku tidak pernah melihat
beliau melakukan hal itu dengan cara yang disebutkan tersebut. Aku hanya
melihat beliau memberi isyarat ketika menyampaikan nasihat dengan jari
telunjuk, dan beliau melingkarkan jari tengah dengan ibu jari, seakan-akan
beliau mengangkatnya sebagaimana ketika tasyahud.” Wallahu a’lam.
Al-Mundziri
berkata: Dalam sanadnya terdapat ‘Abdurrahman bin Ishaq al-Qurasyi al-Madani,
yang juga disebut ‘Abbad bin Ishaq dan ‘Abdurrahman bin Mu‘awiyah; dan pada
keduanya terdapat pembicaraan (kritik dari para ulama hadits).”
====
HADITS
KE DUA:
Ibnu Syabbah dalam
Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin
Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
Dari Ghudhaif bin
al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat
junior):
أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ
مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ
فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا
أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ
تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا ضَاعَتْ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ».
فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً
Bahwa Abdul Malik
bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat
tangan-tangan di atas mimbar.
Maka ia menjawab:
Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan.
Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa
beliau bersabda:
“Tidaklah suatu
umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan
yang semisal dengannya dari sunnah”.
Maka berpegang
teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.
[Diriwayatkan pula
oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul
al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf
al-Astar (1/82) nomor (131).
Dan melalui
jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].
Juga di riwayatkan
oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam
al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah
dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
SISI
PENDALILAN
Perkataan Ghudhaif
bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu diatas, meskipun tidak secara tegas
menyatakan bid’ah, namun dia mengisyaratkan bahwa mengangkat kedua tangan
khothib di atas mimbar saat berdoa itu termasuk perbuatan bid’ah.
-----
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS:
Sanad Atsar ini
sangatLemah Sekali
Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ
*] الْحُسَيْنُ
بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ
يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ
*] يُونُسُ
بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ
أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً
إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ
*] عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ
الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ
*] ابْنُ
الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ
Sanadnya lemah.
*] Al-Husain bin
Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali
al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).
*] Yunus bin Yahya
al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga
keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi,
dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.
*] ‘Abdul Malik bin
Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi,
dan ia lemah.
*] Ibnu al-Majishun
adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]
Al-Haitsami
berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
“فِي
إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ”.
Di dalam sanadnya
terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.
Hadits ini juga dinilai
do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan
“Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan
dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min
al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.]
=====
DALIL
KE TIGA:
Mereka berdalil
dengan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits Umarah ini memiliki beberapa lafadz matan yang berbeda dan juga memiliki banyak jalur sanad yang berbeda-beda. Namun semua jalur sanadnya berporos pada HUSHOIN BIN ABDURRAHMAN.
Berikut ini lafadz dan jalur sanad yang digunakan sebagai dalil pendapat ini.
Pertama : Hadits Umarah melalui
jalur Ibnu Fudhoil dari Hushoin :
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam al-Musnad no. 18299:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada
kami Hushoin, dari ‘Umarah bin Ruwaibah:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو، فَقَالَ: "لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ يَدْعُو وَهُوَ يُشِيرُ بِإِصْبَعٍ".
“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat
kedua tangannya sambil memberi isyarat dengan kedua jarinya,
dia berseru (berdo’a).
Maka ia mencelanya : “Semoga Allah melaknat kedua tangan kecil ini. Aku
telah melihat Rasulullah ﷺ di atas
mimbar menyeru (berdo’a) dan beliau hanya memberi isyarat dengan satu jari.”
Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (30/232):
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. صَحَابِيُّهُ مِنْ
رِجَالِهِ، وَبَاقِي رِجَالِ الْإِسْنَادِ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ. ابْنُ فُضَيْلٍ:
هُوَ مُحَمَّدٌ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.
“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Muslim. Sahabat dalam sanad ini
termasuk perawi Muslim, dan selainnya adalah perawi dua Syaikh. Ibnu Fudhail
adalah Muhammad, dan Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.
Dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/147 no. 1793 meriwayatkan :
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muslim, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami
Hushoin, ia berkata:
شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ
عِيدٍ ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ. وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ
“Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi pada HARI
RAYA, sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia
mengangkat kedua tangannya dalam doa.”
Husyaim memberi isyarat dengan (kedua) jari telunjuknya.”
Lalu Abu Bakr (Ibnu Khuzaimah) berkata:
“Hadits ini juga diriwayatkan oleh Syu‘bah dan ats-Tsauri dari Hushoin,
dan keduanya mengatakan:
"رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ"
Ia (‘Umarah) melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar pada HARI
JUM’AT.”
Kedua : Hadits Umarah Melalui jalur Zaidah, Syu’bah, Husyaim dan Syarik
dari Hushoin.
Abu Nu‘aim al-Ashbahani berkata dalam Al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala
Shahih Muslim (2/459 no. 1962):
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja‘far, telah menceritakan
kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan
kepada kami Syu‘bah dan Za’idah dari Hushoin, ia berkata: ‘Umarah
bin Ru’aibah melihat…
Dan telah menceritakan kepada kami Habib bin al-Hasan, telah
menceritakan kepada kami Yusuf al-Qadhi, telah menceritakan kepada kami ‘Amr
bin Marzuq, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah dari Hushoin dari
‘Umarah…
Dan telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Abu Hushoin, telah menceritakan kepada kami Yahya bin
‘Abd al-Hamid, telah menceritakan kepada kami Mandal, Husyaim, dan Syarik…
Dan telah menceritakan kepada kami Habib, telah menceritakan kepada
kami Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi‘, telah menceritakan
kepada kami Husyaim, telah mengabarkan kepada kami Hushoin…
Dan telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ash-Shawwaf, telah
menceritakan kepada kami al-Husain bin ‘Umar bin Abi al-Ahwas, telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Za’idah
dari Hushoin, ia berkata:
شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُؤَيْبَةَ
الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ عِيدٍ وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ
فِي الدُّعَاءِ فَقَالَ عُمَارَةُ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ الْقَصِيرَتَيْنِ
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا وَأَشَارَ
بِإِصْبَعِهِ
Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi pada hari raya,
sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia mengangkat
kedua tangannya dalam doa, maka ‘Umarah berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan yang pendek ini. Sungguh aku
telah melihat Rasulullah ﷺ, dan
beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini, seraya beliau
memberi isyarat dengan jarinya”. [Selesai]
Dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/147 no. 1793 berkata :
Telah meriwayatkan kepada kami Yusuf bin Musa al-Qaththan, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Hushain, ia berkata:
aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi berkata:
خَطَبَ بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُو،
فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَمَا يَقُولُ إِلَّا هَكَذَا - يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ -
"
“Bisyr bin Marwan berkhutbah dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil
menyeru (berdoa). Maka ‘Umarah berkata: ‘Semoga Allah memburukkan kedua
tangan ini! Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ di atas mimbar, dan beliau tidak melakukan lebih dari seperti
ini’ — sambil
memberi isyarat dengan jari telunjuknya.”
Ketiga : Hadits Umarah melalui jalur
Husyaim dari Hushoin :
At-Tirmidzi dalam Sunannya no. 515 berkata :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan
kepada kami Hushoin, dia berkata:
"سَمِعْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ
يَخْطُبُ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ
هَاتَيْنِ اليُدَيَّتَيْنِ القُصَيَّرَتَيْنِ، «لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ،
وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا»، وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ".
Aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah, sementara Bisyr bin Marwan sedang
berkhutbah, lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam doa. Maka ‘Umarah berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan kecil yang pendek ini. Sungguh
aku telah melihat Rasulullah ﷺ, dan
beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini”.
Dan Husyaim pun memberi isyarat dengan jari telunjuknya. [Selesai]
Lalu Abu Isa at-Tirmidzi berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»
“Ini adalah hadits hasan sahih”.
Diriwayatkan pula melalui jalur Abu Isa at-Tirmidzi oleh Al-Baghawi
dalam Syarh as-Sunnah, Bab Makruhnya Mengangkat Kedua Tangan dalam Khutbah
(4/255 no. 1079).
SISI PENDALILAN
Mereka berdalil dengan hadits ‘Umarah bin Ru’aibah ini bahwa hadits ini
menunjukkan larangan dan bid’ahnya berdo’a sambil mengangkat kedua tangan saat
khotib jum’at berdo’a. Larangan tersebut berlaku pada imam dan makmum.
====--*--====
BANTAHAN TERHADAP ISTIDLAL MEREKA DENGAN HADITS ‘UMARAH DIATAS
=====
BANTAHAN PERTAMA :
Yang dimaksud dengan mengangkat kedua tangan yang dicela oleh sahabat Umarah dalam hadits ini adalah mengangkat kedua tangan sambil memberi isyarat dengan dua jari telunjuk, bukan membuka kedua telapak tangan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Umarah diatas yang di
riwayatkan Imam Ahmad:
« أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو»
“Bahwa ia melihat Bisyr bin
Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil memberi
isyarat dengan kedua jari telunjuknya, dia berseru (berdo’a)”.
Ibnu Jibrin berkata:
«فَأَمَّا حَدِيثُ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، وَفِيهِ قَوْلُهُ: قَبَّحَ
اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِلَّا يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ
— أَوْ كَمَا قَالَ — فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَنْكَرَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ عِنْدَ التَّشَهُّدِ،
أَوْ عِنْدَ ذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّ الثَّابِتَ عِنْدَ التَّشَهُّدِ
الْإِشَارَةُ بِالسَّبَّابَةِ وَحْدَهَا، وَهِيَ عَلَامَةُ التَّوْحِيدِ، وَلِهَذَا
قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِمَنْ رَفَعَ إِصْبَعَيْهِ: أَحِّدْ أَحِّدْ، لَا تُشِرْ
إِلَّا بِوَاحِدَةٍ.
وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ الْخَطِيبُ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ كَثِيرًا
أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ رَفْعًا وَخَفْضًا فِي غَيْرِ حَالَةِ الدُّعَاءِ، فَأَمَّا
رَفْعُهُمَا فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»
“Adapun hadits
‘Umarah bin Ru’aibah, yang di dalamnya terdapat ucapannya: ‘Semoga Allah
memburukkan kedua tangan ini. Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ kecuali beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ‘— atau sebagaimana ia katakan — maka yang tampak
adalah bahwa ia mengingkari pengangkatan kedua jari telunjuknya saat tasyahud atau ketika
menyebut nama Allah Ta‘ala.
Karena yang telah
ada ketetapan (diajarkan) dalam tasyahud adalah berisyarat dengan satu jari telunjuk
saja, dan itu adalah tanda tauhid.
Oleh karena itu
sebagian sahabat berkata kepada orang yang mengangkat dua jari telunjuknya: ‘Esakan,
esakan (Allah), janganlah engkau berisyarat kecuali dengan satu (jari).’
Bisa jadi pula
khatib tersebut banyak menggerakkan kedua tangannya saat khutbah, naik dan
turun, bukan dalam keadaan berdoa. Adapun mengangkat keduanya saat berdoa, maka
itu tidak termasuk dalam larangan tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.”
(Sumber: Fatawa Ibnu Jibrin).
====
BANTAHAN KE DUA :
Pengangkatan kedua tangan Bisyr bin Marwan yang dicela oleh sahabat
Umarah ini adalah Pengangkatan kedua
tangan yang benar-benar sangat melampaui batas, yang hampir-hampir
saja dia terjengkang terlentang ke belakang.
Sebagaiama yang jelaskan sahabat Umarah dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah.
Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Hushoin,
dari ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ
يَدْعُو حَتَّى كَادَ يَسْتَلْقِي خَلْفَهُ.
“Bahwa ia (Umarah) melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi-tinggi
kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berseru (atau berdoa), hingga
hampir-hampir ia terjengkang (terlentang) ke belakangnya”.
[[Lihat al-Mushoonaf no. 5538 [Tarqim Muhammad
‘Awanah (الرِّئَاسَةُ العَامَّةُ لِلْبُحُوثِ
العِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ)] atau no. 5607
[Tarqim asy-Syatsri (مَوْسُوعَةُ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ)]].
Lafadz nuskhoh al-Mushonnaf Tahqiq Kamal
al-Huut 1/475 no. 5496 :
«أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو،
حَتَّى كَادَ يَتَلَقَّى خَلْفَهُ»
“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya
(secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir ia terjatuh
(terjungkal) ke belakangnya”.
Status sanad hadits :
Hadits ini dinilai shahih sanad-nya oleh asy-Syatsri pentahqiq
al-Mushonnaf no. 5607].
Penulis katakan:
Pertama : Inilah alasan yang paling tepat, yang menyebabkan sahabat
Umarah radhiyallahu ‘anhu mengutuk kedua tangan Bisyar bin Marwan. Sebagaimana
dalam riwayat Imam Ahmad diatas :
" لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ".
“Semoga Allah melaknat kedua
tangan kecil ini.”
Jika tidak, layakkah seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia, dia mengutuk seorang imam, gubernur Irak dan putra
khalifah Marwan bin al-Hakam dari Bani Umayyah, hanya karena mengangkat kedua
tangan dalam berdoa saat khutbah?
Jangankan mengutuk khothib dan penguasa, bukankah bicara yang biasa
saja tidak diperbolehkan ketika khotib berkhutbah?
Bukankah Nabi ﷺ pernah
bersabda:
وَمَنْ قَالَ: صَهْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَا، وَمَنْ
لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ.
“Barang siapa berkata: ‘Diam-lah!’ sementara imam sedang berkhutbah,
maka sungguh ia telah berbuat sia-sia (laghwu). Dan barang siapa berbuat
sia-sia, maka tidak ada Jumat baginya.”
Jangan kan makmum, seorang imam dan khothib pun tidak boleh mencela
penguasa dalam khutbahnya atau di depan publik, apalagi mengutuknya ??.
Kedua : Pertanyaan-nya ?
Kenapa hanya sahabat Umarah Bin Ru'aibah, yang meriwayatkannya, dia penduduk Kufah, yang datang berkunjung ke Madinah saat itu, yang mungkin cuma sekali menghadiri khutbah Juma't Nabi ﷺ?
Lalu kenapa para sahabat penduduk Madinah dari Muhajirin dan Anshar tidak ada satu pun yang meriwayatkan hal tersebut? Padahal mereka senantiasa menghadiri khutbah Jum'at Nabi ﷺ. Mereka kemana?
Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah, sahabat yang meriwayatkan hadits ini?
Dia adalah ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki
status sahabat dan dia terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia
menetap di Kufah. (jarak tempuh antara Kufah dan Madinah sekitar 1500 KM)
Dia pernah berziarah ke Madinah, dan berjumpa dengan Nabi ﷺ. Dan dia pernah sekali menghadiri Nabi ﷺ berkhutbah pada hari Jum’at.
Ia tidak pernah tinggal di Madinah di masa Nabi ﷺ, oleh sebab itu dia hanya memiliki dua hadits dari Nabi ﷺ. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya.
Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushoin bin Abdurrahman. [Baca:
al-Ishobah karya Ibnu Hajar 4/478]
Al-Mizzi menyebutkan dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ، فَإِنَّ
الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ
وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan,
karena perawi dari Ali tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan
Ali pernah memberinya pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil,
sehingga keduanya berbeda dari dua sisi.
[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar
4/478.
Ketiga : Siapakah Bisyr bin Marwan ini?
Ia adalah Bisyer bin Marwan bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash al-Umawi
al-Qurasyi (wafat 75 H).
Dia putra Khalifah Marwan bin al-Hakam dan saudara Khalifah ‘Abdul
Malik bin Marwan.
Dia seorang amir dan panglima militer dari Bani Umayyah. Ia pernah
menjabat sebagai gubernur dua wilayah Irak (Kufah dan Basrah) atas penunjukan
saudaranya, Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan.
Ia dikenal karena keberaniannya, kedermawanannya, serta kepemimpinannya
yang baik ketika menjabat, di mana ia bersikap lembut dan berwajah ramah.
Ia turut serta dalam Perang Marj Rahith, dan wafat dalam usia muda
(baru 40 tahun) di Basrah setelah terkena penyakit “qarhah” (sejenis luka atau
borok) di tangannya.
Disebutkan bahwa ia terkena luka (borok) di tangannya yang kemudian
menyebar hingga ke bahu, dan ia wafat karenanya. Ia diratapi oleh penyair Al-Farazdaq.
====
BANTAHAN KE TIGA:
Matan hadits ini mudhthorib (labil), padahal semua sanad hadits Umarah
ini berkisar kepada Hushoin.
Di antaranya: waktu kejadian nya berbeda-beda. Dalam riwayat Abu Daud
kejadiannya pada saat khubah Jum’at, dalam riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani
terjadi pada hari raya, sementara pada riwayat-riwayat yang lainnya hanya
menyebut lafadz Khuthbah tanpa menentukan khutbah apa?
====
BANTAHAN KE EMPAT
Hadits Umarah radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Hushoin bin Abdurrhman
ini, dalam penyebutan kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”, mayoritas para perawi hadits meriwaytakannya tanpa
menyebutkannya kata tersebut.
Adapun yang menyebutkan kata “do’a”, maka hanya Imam Ahmad, Tirmidzi,
Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Nu’aim al-Ashbahani. Itu pun dalam dalam
salah satu riwayat mereka.
Dan riwayat yang paling kuat adalah tanpa penyebutan lafadz kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”. Berikut ini
riwayat-riwayat tersebut dan jalur-jalur sanadnya:
----
JALUR KE [1] :
Melalui jalur Abdullah bin Idris dari Hushoin bin Abdurrahman,
dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ
رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا،
وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat
kedua tangannya, lalu ia berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat
Rasulullah ﷺ, beliau
tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia
memberi isyarat dengan jari telunjuknya”.
Diriwayatkan oleh sbb:
[1] Muslim dalam shahihnya no. 53 –(874),
[2] Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1451.
[3] Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam al-Musnad
al-Mutakhroj no. 1961.
[4] Ibnu al-Khorroth dalam al-Ahkam
asy-Syar’iyyah al-Kubra (2/472)
[5] Ibnu Abi ‘Aashim dalam al-Aahaad wa al-Matsaani 3/221 no. 1581.
[6] Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 2/116,
147-148.
[7] Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 882
Semuanya melalui jalur Abdullah bin Idris
dari Hushoin ..... dst.
Disebutkan pula oleh sbb:
[1]- al-Humadi dalam al-Jam’ Baina ash-Shohihain no. 3113.
[2] Qodhi ‘Iyadh dalam Ikmal al-Mu’allim 3/277.
[3] Ibnu al-Atsiir dalam Jami’ al-Ushul no. 3972.
[4] an-Nawawi dalam Khulashotul Ahkam no. 2822.
[5] al-Khothib at-Tibrizy dalam Misyakatul Mshobih no. 1417.
[6] al-Mizzy dalam Tuhfatul Asyroof no. 10377.
[7] az-Zarkasyi dalam Syarah Mukhtashor al-Khiroqi 2/182 no. 850.
[8] Muhammad al-‘Aaquuli dalam ar-Roshef 1/268 no. 579.
[9] Ibnu al-Mulaqqin dalam Tuhfatul Muhtaaj 1/500 no. 614.
[10] Muhammad asy-Syami dalam Subul al-Huda wa ar-Rosyad 8/217
[11] dan lain-nya, masih banyak.
----
JALUR KE [2]
Melalui jalur Abu ‘Awaanah
dari Hushoin.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 874 melalui jalur Abu ‘Awaanah, dia
berkata :
رَأَيْتُ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ، يَوْمَ جُمُعَةٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ،
فَقَالَ: عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ
“Aku melihat Bisyr bin Marwan pada hari Jumat mengangkat kedua
tangannya, maka ‘Umarah bin Ru’aibah berkata”, lalu ia
menyebutkan yang semakna dengannya.
Diriwayatkan pula lengkap dengan sanadnya oleh adz-Dzahabi dalam
al-Mu’jam al-Mukhtash-sh Bi al-Muhadditssin hal. 107.
Lalu adz-Dzahabi berkata :
وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ: أَنَا مَحْمُودُ
بْنُ غَيْلَانَ، نَا وَكِيعٌ، نَا سُفْيَانُ، عَنْ حُصَيْنٍ، أَنَا بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ. رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَسَبَّهُ عُمَارَةُ
بْنُ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: «مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى هَذَا
وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ» . هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ.
“Dengan sanad tersebut, Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada
kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Waki‘, telah
menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hushoin:
Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat, lalu
‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata: “Rasulullah ﷺ tidak menambah dari ini,” seraya beliau memberi isyarat dengan
jari telunjuknya.
Ini adalah hadits yang sahih”.
----
JALUR KE [3]
Melalui jalur Waki’ dari
Sufyan dari Hushoin:
Imam Ahmad dalam al-Musnad no. 17219 dan 17221
dan an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 1727 meriwayatkan dengan
sanadnya: Telah menceritakan kepada kami Waki‘ dari Sufyan dari Hushain:
أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
عَلَى الْمِنْبَرِ. فَقَالَ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ: " مَا زَادَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ عَلَى هَذَا " وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ
“Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di
atas mimbar. Maka ‘Umarah bin Ruwaibah berkata: “Rasulullah ﷺ tidak menambah dari ini,” seraya ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh sbb:
[1] an-Nasa’i dalam Al-Mujtaba (3/108), dalam kitab Shalat Jumat no. 67.
[2] Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf no. 5279
[3] ad-Darimi dalam as-Sunan 1/366.
[4] Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal-Matsani 3/221 (1582).
[5] Ibnu Khuzaimah (1794) melalui jalur Waki‘ dengan sanad ini.
Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (28/457):
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ،
غَيْرَ صَحَابِيِّهِ فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ. وَكِيعٌ: هُوَ ابْنُ الْجَرَّاحِ الرُّؤَاسِيُّ،
وَسُفْيَانُ: هُوَ الثَّوْرِيُّ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.
“Sanadnya sahih, para perawinya tsiqah, perawi-perawinya adalah perawi
dua Syaikh (al-Bukhari dan Muslim), selain sahabatnya maka termasuk perawi
Muslim. Waki‘ adalah Ibnu al-Jarrah ar-Ru’asi, Sufyan adalah ats-Tsauri, dan
Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.
=====
PERNYATAAN PARA ULAMA HADITS
TENTANG SAAT KAPAN BISYR
MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM KHUTBAH
Dalam Majallah al-Bayan 130/8 di sebutkan :
وَاخْتَلَفَ الرُّوَاةُ عَنْ حُصَيْنٍ؛ فَقَالَ بَعْضُهُمْ:
رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَبَعْضُهُمْ لَمْ يَذْكُرِ الدُّعَاءَ؛ لِذَا اخْتَلَفَ
الْعُلَمَاءُ فِي فَهْمِ الْحَدِيثِ عَلَى قَوْلَيْنِ:
[1] فَفَهِمَ
الْبَيْهَقِيُّ وَالشَّوْكَانِيُّ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ: وَهُوَ ذِكْرُ الدُّعَاءِ،
وَقَالُوا: لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ.
[2] وَفَهِمَ الطِّيبِيُّ الْمَعْنَى الثَّانِيَ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمَقْصُودَ
بِالنَّهْيِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ أَثْنَاءَ الْكَلَامِ حَالَ الْخُطْبَةِ كَمَا هُوَ
دَأْبُ الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ.
Para perawi berbeda pendapat dalam meriwayatkan dari Hushain; sebagian
mereka mengatakan: dalam keadaan mengangkat kedua tangannya ia berdoa, dan
sebagian lainnya tidak menyebutkan doa. Karena itu para ulama berbeda dalam memahami
hadits tersebut menjadi dua pendapat:
[1]- Al-Baihaqi dan asy-Syaukani memahami makna pertama, yaitu adanya
penyebutan doa, dan mereka berkata: tidak termasuk sunnah mengangkat kedua
tangan ketika berdoa dalam khutbah.
[2]-
Ath-Thibi memahami makna kedua, dan ia menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
larangan adalah mengangkat kedua tangan saat berbicara (bukan saat berdoa)
dalam khutbah sebagaimana kebiasaan para penceramah dan tukang kisah”.
Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafaatiih 4/510 berkata:
وَفَهِمَ النَّسَائِيُّ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالطِّيبِيُّ
أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الرَّفْعُ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ التَّكَلُّمِ وَخِطَابِ النَّاسِ،
كَمَا هِيَ عَادَةُ الْخُطَبَاءِ وَالْوُعَّاظِ أَنَّهُمْ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ
يَمِينًا وَشِمَالًا يُنَبِّهُونَ النَّاسَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.
“Al-Nasai, Ibnu Abi Syaibah, dan Ath-Thiibi memahami bahwa yang
dimaksud (dengan teguran ‘Umarah terhadap Bisyr dalam hadits ini) adalah
pengangkatan dua tangan ketika berbicara dan berkhutbah kepada manusia, sebagaimana
kebiasaan para khatib dan penceramah yang mengangkat tangan mereka ke kanan dan
ke kiri untuk mengingatkan orang-orang agar memperhatikan dan mendengarkan.”
Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:
قُلْتُ : وَهَلِ الْمُرَادُ فِي حَدِيثِ عُمَارَةَ بِالرَّفْعِ
الْمَذْكُورِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ عَلَى الْمِنْبَرِ أَوِ الْمُرَادُ
رَفْعُ الْيَدَيْنِ لَا وَقْتَ الدُّعَاءِ بَلْ عِنْدَ التَّكَلُّمِ كَمَا هُوَ دَأْبُ
الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ أَنَّهُمْ يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهمْ يَمِينًا وَشِمَالًا
يُنَبِّهُونَ السَّامِعِينَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ
فَحَدِيثُ عُمَارَةَ يَدُورُ إِسْنَادُهُ عَلَى حُصَيْنِ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَرُوَاتُهُ اخْتَلَفُوا عَلَيْهِ
فَرِوَايَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ وَأَبِي عَوَانَةَ
وَسُفْيَانَ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي وَلِذَا بَوَّبَ
النَّسَائِيُّ بَابَ الإشارة في الخطبة وبوب بن أَبِي شَيْبَةَ الرَّجُلَ يَخْطُبُ
يُشِيرُ بِيَدِهِ وَهَكَذَا فهم الطيبي
وَرِوَايَةُ هُشَيْمٍ وَزَائِدَةَ وَابْنِ فُضَيْلٍ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ
عَلَى الْمَعْنَى الْأَوَّلِ وَهَكَذَا فَهِمَ النَّوَوِيُّ.
وَأَمَّا تَرْجَمَةُ الْمُؤَلِّفِ وَكَذَا التِّرْمِذِيِّ فَمُتَحَمِّلٌ
لِمَعْنَيَيْنِ.
وَعِنْدِي لِلْمَعْنَى الثَّانِي تَرْجِيحٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:
الْأَوَّلُ: أَنَّ أَبَا عَوَانَةَ الْوَضَّاحَ وَسُفْيَانَ
الثَّوْرِيَّ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ إِدْرِيسَ أَوْثَقُ وَأَثْبَتُ مِنْ هُشَيْمِ بْنِ
بَشِيرٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلٍ وَإِنْ كَانَ زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ
الثَّلَاثَةِ فِي الْحِفْظِ فَتُعَارَضُ رِوَايَةُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ الْحُفَّاظِ
بِرِوَايَةِ زَائِدَةَ بْنِ قُدَامَةَ. وَالْعَدَدُ الْكَثِيرُ أَوْلَى بِالْحِفْظِ
وَالثَّانِي أَنَّ قَوْلَهَ الْآتِي "لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ
الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ: يُؤَيِّدُ هَذَا الْمَعْنَى الْأَخِيرَ لِأَنَّ رَفْعَ
الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مَأْثُورًا بِهَذِهِ الصِّفَةِ بَلْ أَرَادَ الرَّاوِي
أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ كِلْتَيْهِمَا لِتَخَاطُبِ السَّامِعِينَ لَيْسَ مِنْ دَأْبِ
النَّبِيِّ ﷺ بَلْ إِنَّمَا يُشِيرُ النَّبِيُّ ﷺ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ. انْتَهَى
مُخْتَصَرًا مِنْ غَايَةِ الْمَقْصُودِ
Aku katakan :
Apakah yang dimaksud dalam hadits ‘Umarah dengan pengangkatan yang
disebutkan itu adalah mengangkat kedua tangan ketika berdoa di atas mimbar?
Ataukah yang dimaksud adalah mengangkat kedua tangan bukan pada waktu
berdoa, tetapi ketika berbicara sebagaimana kebiasaan para penceramah dan
tukang kisah, yaitu mereka menggerakkan tangan mereka ke kanan dan ke kiri
untuk mengingatkan para pendengar agar memperhatikan?
Hadits ‘Umarah sanadnya berkisar pada Hushain bin ‘Abdurrahman, dan
para perawinya berbeda-berda lafadz dalam meriwayatkannya darinya.
Riwayat ‘Abdullah bin Idris, Abu ‘Awanah, dan Sufyan, semuanya dari
Hushain, menunjukkan makna kedua (diluar do’a). Karena itu an-Nasa’i membuat “bab
tentang isyarat dalam khutbah”, dan Ibnu Abi Syaibah membuat “bab
tentang orang yang berkhutbah memberi isyarat dengan tangannya”. Demikian
pula ath-Thibi memahaminya.
Adapun riwayat Husyaim, Za’idah, dan Ibnu Fudhail, semuanya dari
Hushain, menunjukkan makna pertama (saat berdo’a). Demikian pula yang dipahami
oleh Imam an-Nawawi.
Adapun judul bab yang dibuat oleh al-mu’allif (yakni; Abu Daud) dan
juga oleh at-Tirmidzi, maka dapat mencakup kedua makna tersebut.
Menurutku, makna kedua (di luar do’a) lebih kuat dari dua sisi:
Pertama, bahwa Abu ‘Awanah al-Wadhdhah, Sufyan
ats-Tsauri, dan ‘Abdullah bin Idris lebih tsiqah dan lebih kokoh hafalannya
dibandingkan Husyaim bin Basyir dan Muhammad bin Fudhail. Meskipun Za’idah bin
Qudamah setara dengan tiga orang tersebut dalam hafalan, namun riwayat tiga
hafizh ini berhadapan dengan riwayat Za’idah bin Qudamah, dan jumlah yang lebih
banyak lebih kuat dalam hafalan.
Kedua, bahwa ucapannya yang akan datang:
“Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ ketika beliau berada di atas mimbar, tidak menambah dari ini,”
yaitu jari telunjuk yang berada di samping ibu jari, mendukung makna terakhir
ini. Karena mengangkat kedua tangan dalam doa tidak diriwayatkan dengan sifat
seperti ini. Akan tetapi yang dimaksud perawi adalah bahwa mengangkat kedua
tangan sekaligus untuk berbicara kepada para pendengar bukanlah kebiasaan Nabi ﷺ, melainkan Nabi ﷺ hanya
memberi isyarat dengan jari telunjuknya. Selesai, diringkas dari Ghayah
al-Maqshud”. [Selesai]
Dan Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 juga berkata:
قَالَ فِي الْمِرْقَاةِ: قَوْلُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ أَيْ عِنْدَ
التَّكَلُّمِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ إِذَا حَمُوا، يَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ
الْآتِي: وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ. قَالَهُ الطِّيبِيُّ.
Ia berkata dalam Al-Mirqat: Perkataannya “dalam keadaan mengangkat
kedua tangannya” maksudnya ketika berbicara, sebagaimana kebiasaan para
penceramah apabila mereka bersemangat. Hal ini dikuatkan oleh perkataannya yang
akan datang: “dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya,” demikian
dikatakan oleh ath-Thibi. [Selesai]
Lalu Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:
(مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ) وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: (مَا يَزِيدُ عَلَى
أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الْمُسَبِّحَةِ)
وَلَفْظُ النَّسَائِيِّ: (مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى
هَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ).
قَالَ الطِّيبِيُّ : "وَالْمَعْنَى أَيْ يُشِيرُ عِنْدَ
التَّكَلُّمِ فِي الْخُطْبَةِ بِأُصْبُعِهِ يُخَاطِبُ النَّاسَ وَيُنَبِّهُهُمْ عَلَى
الِاسْتِمَاعِ".
(“Tidak lebih dari ini”)
Dalam lafaz Sahih Muslim disebutkan: “Beliau tidak lebih dari hanya
memberi isyarat dengan tangannya seperti ini,” dan beliau memberi isyarat
dengan jari telunjuknya.
Dan dalam lafaz Sunan an-Nasa'i: “Rasulullah ﷺ tidak menambah atas ini,” dan beliau memberi isyarat dengan
jari telunjuknya.
Ath-Thibi berkata: “Maknanya adalah beliau memberi isyarat ketika
berbicara (bukan do’a) dalam khutbah dengan jarinya untuk berbicara kepada
manusia dan mengingatkan mereka agar mendengarkan.” [Selesai]
Mahmud Muhammad as-Subki dalam al-Minhal al-‘Adzeb al-Mawruud Syarah
Sunan Abi Daud 6/268-269 berkata:
مَعْنَى الْحَدِيثِ: (قَوْلُهُ وَهُوَ يَدْعُو فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ)
... يُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِقَوْلِهِ يَدْعُو أَيْ يُشِيرُ بِيَدَيْهِ فِي الْخُطْبَةِ
حَالَ الْوَعْظِ وَالْإِرْشَادِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ، يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهُمْ
يَمِينًا وَشِمَالًا، يُنَبِّهُونَ الْحَاضِرَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.
وَيُؤَيِّدُهُ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ إِدْرِيسَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، قَالَ: رَأَى بِشْرَ
بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ
الْيَدَيْنِ. "الْحَدِيثُ".
وَمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ سُفْيَانَ عَنْ حُصَيْنٍ
أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ،
فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ عَلَى هَذَا، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ.
Makna hadits:
(Ucapannya: “sementara ia berdoa pada hari Jumat”) … kemungkinan
yang dimaksud dengan kata “berdoa” di sini adalah memberi isyarat dengan
kedua tangannya ketika berkhutbah dalam keadaan memberi nasihat dan bimbingan,
sebagaimana kebiasaan para penceramah; mereka menggerakkan tangan ke kanan dan
ke kiri untuk mengingatkan orang yang hadir agar memperhatikan.
Hal ini dikuatkan oleh riwayat Sahih Muslim melalui jalur ‘Abdullah bin
Idris dari Hushain, dari ‘Umarah bin Ru’aibah, ia berkata:
Bisyr bin Marwan terlihat di atas mimbar mengangkat kedua tangannya,
lalu ia berkata, “Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu,” (kemudian
disebutkan haditsnya).
Dan juga oleh riwayat Sunan an-Nasa'i melalui jalur Sufyan dari
Hushain:
Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di
atas mimbar, maka ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata, “Rasulullah
ﷺ tidak
menambah dari ini,” sambil ia memberi isyarat dengan
jari telunjuknya. [Kutipan Selesai]
Ibnu Hajar
al-Asqalani berkata dalam Fath al-Bari (11/143, cet. Dar al-Ma‘rifah):
«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ
عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ
الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ
حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ، فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ
بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا»
اهـ.
“Ath-Thobari
menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami hadits itu secara zahir
dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah memberi isyarat dengan satu
jari.
Pendapat ini
dibantah, karena hal itu hanya disebutkan pada khatib
ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam konteks hadits. Maka
tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk melarang mengangkat kedua
tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya riwayat-riwayat tentang
disyariatkannya mengangkat tangan.” Selesai.
===
BANTAHAN KEENAM:
[*] Bahwa hadits ini lebih khusus daripada pokok permasalahan yang
diperselisihkan; karena ia khusus berkaitan dengan imam dan tidak mencakup
makmum.
[*] Kalaupun kita menerima bahwa ia juga mencakup mereka, maka hadits itu
menunjukkan dianjurkannya mengangkat jari ketika berdoa pada hari Jumat,
sementara mereka juga tidak berpendapat demikian.
[*] Kemudian, pendalilan mereka dengan hadits ini tidaklah lebih utama
daripada pendalilan dengan hadits Abu Hurairah tentang diangkatnya kedua tangan
Nabi ﷺ ketika beliau berdoa di atas mimbar untuk meminta hujan
(istisqa).
[*] Jika dikatakan bahwa pengangkatan tangan itu khusus untuk doa istisqa,
maka kami katakan: demikian pula hadits ‘Umarah bin Ruwaibah itu khusus bagi
imam, bukan makmum.
[*] Selain itu, pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr berdasarkan apa yang ia
lihat dari Nabi ﷺ yang hanya ber-isyarat dengan jarinya, tidak dapat dijadikan
dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat tangan; karena ‘Umarah
meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan orang
lain melihat Nabi ﷺ dalam keadaan yang berbeda.
[*] Lagi pula ‘Umarah ini penduduk Kufah, dia datang berkunjung ke Madinah,
hanya sesekali menyaksikan Nabi ﷺ berkhutbah. Oleh sebab itu
beliau hanya meriwatkan dua hadits. Sementara para sahabat lain, terutama para
sahabat senior yang senantiasa bersama Nabi ﷺ dan berkali-kali menyaksikan
khutbah Jum’at Nabi ﷺ, mereka tidak ada yang meriwayatkan apa yang ‘Umarah
riwayatkan.
[*] Ditambah lagi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dijelaskan bahwa yang
dimaksud mengangkat kedua tangan di sini adalah yang dilakukan dengan cara
sangat berlebihan, sehingga hampir-hampir saja Bisyr bin Marwan terjengkang ke
belakang.
DR. Kholid
Kaarah berkata:
إِنَّ إِنْكَارَ عُمَارَةَ عَلَى بِشْرٍ
بِرُؤْيَتِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ لَا يُعَدُّ دَلِيلًا بِمُفْرَدِهِ
عَلَى عَدَمِ جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ؛ لِأَنَّ عُمَارَةَ رَوَى مَا رَأَى، وَهَذَا
لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُ رَآهُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْهَيْئَةِ، فَيَبْقَى
الْأَمْرُ عَلَى أَصْلِهِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَقُولُ فِي
هَذَا التَّعْلِيلِ مَا قُلْتُ فِي سَابِقِهِ.
Sesungguhnya
pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr karena ia melihat Nabi ﷺ
berisyarat dengan jarinya tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak
bolehnya mengangkat kedua tangan. Sebab ‘Umarah hanya meriwayatkan apa yang ia
lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan bahwa orang lain melihat beliau
dalam keadaan yang berbeda dari cara tersebut.
Maka hukum asalnya
tetap sebagaimana semula, yaitu mengangkat kedua tangan dalam doa. Dan tentang
alasan ini, aku mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan pada alasan
sebelumnya.
[Baca: “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 350) karya
DR. Kholid Kaarah]
****
DALIL KEEMPAT:
HADITS
LARANGAN MUTLAK MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT DO’A DI SELAIN ISTISQO
Mereka berdalil
dengan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh, ia berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي
الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»
“Nabi ﷺ tidak
mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu pun dari doanya kecuali dalam istisqa,
dan beliau mengangkatnya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori
no. 3565 dan Muslim no. 895]
SISI
PENDALILAN
Hadits ini
menunjukkan dengan tegas bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya
dalam berdo’a itu hanya diperbolehkan dalam do’a istisqo (minta hujan) saja.
Berdasarkan hadits ini, maka sebagian para
ulama telah menghukumi makruh mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak
dalam semua do’a selain istisqo. [Lihat Tafsiir al-Qurthubi 7/255]
Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 berkata :
وَكَرِهَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي
الدُّعَاء ابن عُمَرَ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ وَرَأَى شُرَيْحٌ رَجُلًا يَرْفَعُ
يَدَيْهِ دَاعِيًا فَقَالَ : " مَنْ تَتَنَاوَلُ بِهِمَا لَا أُمَّ
لَكَ" . وَسَاقَ الطَّبَرِيُّ ذَلِكَ بِأَسَانِيدِهِ عَنْهُم
Ibnu Umar
dan Jubair ibnu Muth'iim membenci seseorang mengangkat kedua tangan saat
berdoa.
Dan Syuraih
pernah melihat seseorang pria mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , maka
dia berkata :
"Siapa
saja dari kamu yang mengangkat kedua tangannya dalam berdoa maka tiada Ibu
bagimu ".
Dan
ath-Thobari meriwayatkannya dengan sanad-sanadnya dari mereka .
Lalu
al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :
وَذكر بن التِّينِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ أَنَّهُ نَقَلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ
فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مِنْ أَمْرِ الْفُقَهَاءِ
Dan Ibnu at-Tiin menyebutkan dari Abdullah bin
Umar bin Ghoonim bahwasanya telah dinukil dari Malik bahwa mengangkat tangan
dalam berdoa itu bukan bagian dari perkara para Fuqohaa .
===
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS
Al-Hafidz Ibnu
Hajar menjawab pendalilan dengan hadits Anas bin Malik ini dalam “Fathul
Bari11/142 dengan mengatakan:
أَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ
لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ الِاسْتِسْقَاءِ
وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي
الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ
الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ
الْمَنْكِبَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا
حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ
الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنَّ
الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ
السَّمَاءَ.
قَالَ الْمُنْذِرِيُّ وَبِتَقْدِيرِ
تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ.
قُلْتُ: وَلَا سِيَّمَا مَعَ
كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ
كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي
الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً وَعَقَدَ لَهَا الْبُخَارِيُّ
أَيْضًا فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ بَابًا
“Bahwa yang
dinafikan itu adalah sifat (cara) tertentu, bukan asal mengangkat tangan itu
sendiri.
Aku telah
mengisyaratkan hal tersebut dalam bab-bab tentang istisqa.
Ringkasnya, cara
mengangkat tangan dalam istisqa berbeda dengan selainnya; bisa jadi dengan
mengangkatnya secara lebih tinggi hingga kedua tangan sejajar dengan wajah
misalnya, sedangkan dalam doa biasa hingga sejajar dengan kedua pundak.
Tidaklah mengganggu
penjelasan ini bahwa dalam keduanya disebutkan riwayat “hingga terlihat
putih kedua ketiaknya”, karena dapat dikompromikan bahwa terlihatnya putih
ketiak dalam istisqa lebih nyata daripada dalam selainnya. Atau bisa juga bahwa
dalam istisqa kedua telapak tangan menghadap ke bumi, sedangkan dalam doa biasa
menghadap ke langit.
Al-Mundziri berkata: “Apabila tidak memungkinkan untuk mengompromikan (kedua
dalil), maka sisi penetapan (itsbat) itu lebih kuat.”
Aku (Ibnu Hajar)
berkata: Terlebih lagi dengan banyaknya hadits yang datang dalam masalah ini.
Sungguh terdapat banyak hadits tentang hal tersebut, yang dikumpulkan secara
khusus oleh Al-Mundziri dalam sebuah risalah tersendiri. An-Nawawi juga
menyebutkan sejumlah darinya dalam *Al-Adzkar* dan dalam *Syarh Al-Muhadzdzab*.
Bahkan Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus tentangnya dalam *Al-Adab
Al-Mufrad*.” [Kutipan Selesai]
Jadi: Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa penafian (peniadaan riwayat
penolakan) dari Anas itu hanyalah terhadap bentuk tertentu dari mengangkat
tangan, yaitu pengangkatan yang berlebihan sampai terlihat putih ketiaknya,
bukan penafian terhadap asal mengangkat kedua tangan itu sendiri secara mutlak.
Oleh sebab itu
beliau berkata:
«وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ
غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ إِنَّمَا
الْمُرَادُ بِهِ مَدُّ الْيَدَيْنِ وَبَسْطُهُمَا عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَأَنَّهُ عِنْدَ
الِاسْتِسْقَاءِ مَعَ ذَلِكَ زَادَ فَرَفَعَهُمَا إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ حَتَّى حَاذَى
بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ»
“Yang menguatkannya
adalah bahwa kebanyakan hadits yang datang tentang mengangkat tangan dalam doa,
yang dimaksud adalah membentangkan dan membuka kedua tangan ketika berdoa.
Seakan-akan ketika istisqa’ (meminta hujan), beliau menambah dari itu dengan
mengangkatnya lebih tinggi ke arah langit hingga sejajar dengan kedua
pundaknya.” (Baca: *Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari* 2/517).
An-Nawawi berkata:
«وَيُتَأَوَّلُ هَذَا
الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ
إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ،
وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ، فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ
وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ».
“Hadits ini
ditakwilkan bahwa beliau tidak mengangkat dengan pengangkatan yang sangat
tinggi sampai terlihat putih ketiaknya kecuali ketika istisqa’. Atau maksudnya:
‘Aku tidak melihat beliau mengangkat’, padahal orang lain melihat beliau
mengangkat. Maka riwayat yang menetapkan (mengangkat tangan) didahulukan dalam
banyak tempat, dan mereka adalah sejumlah orang, atas satu orang yang tidak
menyaksikan hal tersebut. Dan hadits ini memang harus ditakwil.” (*Al-Minhaj
Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj* 6/190).
Al-Mubarakfuri
berkata:
«وَفِي الْحَدِيثِ
- أَيْ حَدِيثِ سَلْمَانَ -
دَلَالَةٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَالْأَحَادِيثُ
فِيهِ كَثِيرَةٌ. وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ
فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، فَالْمُرَادُ بِهِ الْمُبَالَغَةُ
فِي الرَّفْعِ».
“Dalam hadits —
yaitu hadits Salman — terdapat dalil tentang dianjurkannya mengangkat kedua
tangan dalam doa, dan hadits-hadits tentang hal itu banyak. Adapun hadits Anas:
‘Nabi ﷺ tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun
kecuali pada istisqa’, maka yang dimaksud adalah pengangkatan yang berlebihan.”
(*Tuhfatul Ahwadzi
bi Syarh Jami‘ at-Tirmidzi* 9/382).
----
KRITIKAN:
Ada yang mengkritik
terhadap takwil di atas ini dengan mengatakan:
Takwil (penafsiran)
ini perlu ditinjau kembali dan tidak dapat begitu saja diterima, karena telah ada
ketetapan pengangkatan tangan yang sangat tinggi (hingga terlihat ketiak) dalam
doa Nabi ﷺ selain pada istisqa’.
Dalam hadits Abu
Musa Al-Asy‘ari yang terdapat dalam kitab sahih dan telah disebutkan
sebelumnya:
“Kemudian beliau
mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu
‘Amir.’” Ia berkata, “Maka aku melihat putih ketiaknya.”
Demikian pula
pengangkatan yang tinggi juga terjadi selain dalam istisqa’, sebagaimana telah
disebutkan dalam hadits Umar bin Al-Khaththab, ia berkata:
“Ketika terjadi
Perang Badar, … Nabi ﷺ menghadap kiblat, kemudian membentangkan kedua tangannya, lalu
beliau terus-menerus berseru kepada Rabb-nya … Beliau terus berseru kepada
Rabb-nya dengan membentangkan kedua tangannya, menghadap kiblat, hingga
selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya …”
Diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar.
Demikian pula Nabi ﷺ
mengangkat tangannya dengan tinggi ketika berdoa untuk Utsman, sebagaimana
telah disebutkan sebelumnya.
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Aku melihat
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya
ketika beliau berdoa untuk Utsman.”
(Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam kitabnya *Qurratul ‘Ainain bi Raf‘il Yadain fis Shalah*).
JAWABAN ATAS
KRITIKAN:
Bisa jadi hadits
Abu Musa Al-Asy‘ari dan hadits Aisyah tersebut tidak sampai kepada Anas bin
Malik atau dia tidak hadir dalam kejadian. Lagi pula pada masa tersebut belum
ada kitab-kitab hadits. Oleh sebab itu hadits Anas tersebut tidak ada yang
meriwayatkannya kecuali dia sendiri. Bagitu pula hadits Abu Musa dan hadits
Aisyah.
Dalam hadits Anas
tersebut, dia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, dia tidak bermaksud
mengharamkan berdoa dengan mengangkat kedua tangan pada selain do’a istisqo.
Lalu apakah hadits
Anas ini, yang diriwayatkan secara tunggal dan yang hanya berisi cerita
pengalamannya ini, layak dijadikan dalil haram sebagai pengecualian dalil umum
yang menghalalkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir???.
Karena jika benar
bisa jadikan dalil larangan, maka konsekwensi dari perkataan Anas ini adalah
berlaku larangan mengangkat kedua tangan pada semua doa selain doa istisqo,
bahkan oleh sebagian mereka mengklaimnya sebagai bid’ah sesat.
---
PENULIS (Abu Haitsam) katakan :
Yang benar adalah hadits
Anas tersebut berisi penafian penglihatan; Anas menafikan bahwa ia melihat
(Nabi ﷺ mengangkat tangan) selain pada istisqa’.
Namun hal itu tidak mengharuskan tidak adanya kejadian tersebut, atau menafikan
bahwa orang lain melihatnya.
Dan orang yang
menetapkan (adanya pengangkatan tangan) menjadi hujah atas orang yang tidak
menetapkannya. Maka mengamalkan hadits-hadits tentang mengangkat tangan lebih
utama.
An-Nawawi berkata:
«إِنَّ مُرَادَ أَنَسٍ
لَمْ أَرَهُ يَرْفَعُ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ يَرْفَعُ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ
مَقْبُولَةٌ، وَالْإِثْبَاتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّفْيِ».
“Sesungguhnya
maksud Anas adalah: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat tangan,’ padahal orang
lain melihat beliau mengangkatnya. Tambahan riwayat dari perawi yang terpercaya
dapat diterima, dan penetapan didahulukan atas penafian.” (Lihat: *Al-Majmu‘*,
5/83).
Dan diriwayatkan
pula dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu tentang tata cara Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya saat do’a istisqoo:
«أَنَّ رَسُولَ اللهِ
ﷺ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ».
“Bahwa Nabi ﷺ
melakukan istisqa’, lalu beliau mengisyaratkan dengan punggung kedua telapak
tangannya ke arah langit.”
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam *Al-Musnad* nomor 12554.
Syu‘aib Al-Arna’uth
berkata dalam tahqiq (penelitian) *Al-Musnad* 20/25:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ،
رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمِنْ رِجَالِ
مُسْلِمٍ.
“Sanadnya sahih
sesuai dengan syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah
(terpercaya), termasuk perawi kedua kitab sahih (Al-Bukhari dan Muslim),
kecuali Hammad bin Salamah, yang termasuk perawi Muslim.”
Dan Al-Mubarakfuri juga berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ *الدَّعَوَاتِ* بِهَذَا الْحَدِيثِ
عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan
(tangan) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun
tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab
*Ad-Da‘awat* dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa
secara mutlak.” (*Tuhfatul Ahwadzi* 2/173)
Imam An-Nawawi
berkata:
«قَالَ جَمَاعَةٌ
مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ كَالْقَحْطِ
وَنَحْوِهِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ»
“Sejumlah sahabat
kami dan selain mereka mengatakan: Sunnah dalam setiap doa untuk mengangkat
bala (musibah) seperti kekeringan dan semisalnya adalah mengangkat kedua tangan
dan menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit. Adapun jika
berdoa untuk meminta sesuatu dan memperolehnya, maka menjadikan bagian dalam
kedua telapak tangan menghadap ke langit. Mereka berdalil dengan hadits ini.”
(*Al-Minhaj Syarh
Shahih Muslim bin Al-Hajjaj* 6/190)
Syeikh Ibnu
Utsaimin berkata ketika menjelaskan tata cara mengangkat tangan dalam berdoa
Istisqo:
«وَيَكُونُ الرَّفْعُ
بِأَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ عَلَى حِذَاءِ الصَّدْرِ، وَتَضُمَّ بَعْضَهُمَا إِلَى بَعْضٍ.
وَدُعَاءُ الِابْتِهَالِ تُرْفَعُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، حَتَّى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ
فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَثِيرًا، حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّ
ظُهُورَهُمَا نَحْوَ السَّمَاءِ مِنْ شِدَّةِ الرَّفْعِ، وَكُلَّمَا بَالَغْتَ فِي
الِابْتِهَالِ فَبَالِغْ فِي الرَّفْعِ».
“Cara mengangkatnya
adalah dengan mengangkat kedua tangan sejajar dada dan merapatkan keduanya.
Adapun doa ibtihal (permohonan yang sangat sungguh-sungguh), maka diangkat
lebih tinggi dari itu. Bahkan Nabi ﷺ dalam doa istisqa’
mengangkat kedua tangannya dengan sangat tinggi, sampai orang yang melihat
menyangka bahwa punggung kedua tangannya menghadap ke langit karena begitu
tingginya angkatan tersebut. Dan semakin engkau bersungguh-sungguh dalam
ibtihal, maka semakin tinggi pula angkatan tanganmu.” (Baca: *Syarh
Al-Arba‘in An-Nawawiyah* hal. 150).
****
DALIL PENDAPAT
KEDUA:
“DISYARI’ATKAN
MENGANGKAT KEDUA TANGAN”
Dalil mereka :
adalah keumuman dalil-dalil yang menunjukkan disunnahkannya mengangkat tangan
dalam doa, dan karena Nabi ﷺ pernah mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika
melakukan doa istisqa (meminta hujan) dan do’a istsh-ha (meminta cuaca cerah).
Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu, ia berkata:
أَصَابَتِ النَّاسَ
سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَبَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْطُبُ عَلَى
المِنْبَرِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَ
المَالُ، وَجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا،
قَالَ: فَرَفَعَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، قَالَ: فَثَارَ سَحَابٌ
أَمْثَالُ الجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ
يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ،
قَالَ: فَمُطِرْنَا
يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَفِي الغَدِ، وَمِنْ بَعْدِ الغَدِ، وَالَّذِي يَلِيهِ إِلَى الجُمُعَةِ
الأُخْرَى، فَقَامَ ذَلِكَ الأَعْرَابِيُّ - أَوْ رَجُلٌ غَيْرُهُ - فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، تَهَدَّمَ البِنَاءُ وَغَرِقَ المَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا،
فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ، وَقَالَ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلَا عَلَيْنَا»
قَالَ: فَمَا
جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَّا
تَفَرَّجَتْ، حَتَّى صَارَتِ المَدِينَةُ فِي مِثْلِ الجَوْبَةِ حَتَّى سَالَ الوَادِي،
وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا، قَالَ: فَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ
بِالْجَوْدِ
“Manusia pernah ditimpa musim paceklik pada
masa Rasulullah ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ
sedang berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba seorang Arab Badui berdiri dan
berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan anak-anak kelaparan, maka
berdoalah kepada Allah untuk kami.’
Maka beliau mengangkat kedua tangannya,
sementara kami tidak melihat di langit sedikit pun awan. Demi Dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, beliau belum menurunkan kedua tangannya hingga awan
bergumpal seperti gunung-gunung. Beliau belum turun dari mimbarnya sampai aku
melihat hujan mengalir dari jenggot beliau ﷺ.
Maka kami pun diguyur hujan pada hari itu,
keesokan harinya, hari berikutnya, dan seterusnya hingga Jumat berikutnya.
Kemudian orang Arab Badui itu — atau orang lain — berdiri dan berkata: ‘Wahai
Rasulullah, bangunan-bangunan telah roboh dan harta benda tenggelam, maka
berdoalah kepada Allah untuk kami.’
Lalu beliau mengangkat tangannya dan berdoa:
‘Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan menimpa kami.’
Maka setiap kali beliau memberi isyarat dengan
tangannya ke suatu arah awan, awan itu pun terbelah, hingga kota Madinah
menjadi seperti sebuah cekungan (yang dikelilingi hujan). Lembah Qanah pun
mengalir selama sebulan, dan tidak seorang pun datang dari suatu arah melainkan
ia menceritakan tentang derasnya hujan tersebut.” [HR.
Bukhori no. 1033 dan Muslim no. 897]
***===***
HUKUM ASAL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BERDO’A
===***===
AL-IMAM AL-BUKHORI DALAM KITAB SHAHIH-NYA
Al-Imam
Al-Bukhari telah menuliskan satu BAB untuk masalah ini yang diberi judul :
بَابُ رَفْعِ الأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ
"Bab :
tentang Mengangkat Tangan dalam Doa"
Lalu dia
menyebutkan dalam judul BAB ini dua hadits berikut ini dan hadits lainnya.
===
Hadits
pertama :
Imam
Bukhori menyebutkan Hadits Abu Musa al-'Asy'ari :
لَمَّا فَرَغَ النبيُّ ﷺ، مِن حُنَيْنٍ .....
قالَ أَبُو مُوسَى: وَبَعَثَنِي مع أَبِي
عَامِرٍ، قالَ: فَرُمِيَ أَبُو عَامِرٍ في رُكْبَتِهِ، رَمَاهُ رَجُلٌ مِن بَنِي
جُشَمٍ بسَهْمٍ وَمَكَثَ يَسِيرًا ثُمَّ إنَّه مَاتَ، فَلَمَّا رَجَعْتُ إلى
النبيِّ ﷺ دَخَلْتُ عليه فأخْبَرْتُهُ بخَبَرِنَا وَخَبَرِ أَبِي عَامِرٍ، وَقُلتُ
له: قالَ: "قُلْ له: يَسْتَغْفِرْ لِي".
فَدَعَا رَسولُ اللهِ ﷺ بمَاءٍ،
فَتَوَضَّأَ منه، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، ثُمَّ قالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ» حتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إبْطَيْهِ، ثُمَّ قالَ:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَومَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِن خَلْقِكَ، أَوْ مِنَ
النَّاسِ».
فَقُلتُ: وَلِي، يا رَسولَ اللهِ،
فَاسْتَغْفِرْ، فَقالَ النبيُّ ﷺ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بنِ قَيْسٍ
ذَنْبَهُ، وَأَدْخِلْهُ يَومَ القِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا».
Ketika Nabi
ﷺ
selesai perang Hunein…
Abu Musa
berkata: " Beliau ﷺ menugsakanku bersama Abu Amir" . Kemudian Abu Musa
berkata: Lalu Abu Amir terkena lemparan panah di lututnya dari seorang pria
dari Bani Jahm.
Dia hanya
bertahan sebentar dan kemudian meningga . Maka ketika aku kembali ke Nabi ﷺ
, akupun langsung menghadap kepada beliau ﷺ .
Lalu aku
mengabarkan kepada Nabi ﷺ tentang kabar kami dan kabar Abu Amir . Dan aku sampaikan
kepada beliau ﷺ bahwa Abu Amir sebelum meninggal, dia berpesan :
“Sampaikan
kepada beliau ﷺ agar beliau memohonkan ampunan kepada Allah untuk diriku.”
Maka
Rasulullah ﷺ
meminta air wudhu’ , lalu beliau berwudhu’ , kemudian MENGANGKAT KEDUA
TANGANNYA sambil mengucapkan doa:
“Ya Allah,
ampunilah Ubaid Abu Amir! Aku (Abu Musa)" , hingga aku melihat putih kedua
ketiak Rasulullah ketika mengangkat tangannya [ dalam berdoa ].
Selanjutnya
beliau berdoa lagi :
‘Ya Allah,
tempatkanlah Abu Amir, pada hari kiamat kelak, di atas kebanyakan makhluk-Mu
(di Surga)!”
Lalu Aku
(Abu Musa) berkata kepada Rasulullah ﷺ : ‘Ya Rasulullah, mohonkanlah ampunan
untuk aku juga!
Lalu
Rasulullah ﷺ
berdoa : ‘Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (nama asli Abu Musa) dan
masukkanlah ia ke tempat yang mulia pada hari kiamat ! (Yaitu di Surga).
[ HR.
Bukhori no. 4323 dan Muslim no. 2498 ].
===
Hadits
kedua :
Imam
Bukhori menyebutkan hadits Salim dari Ayahnya berkata :
بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَالِدَ بْنَ
الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ
يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا
صَبَأْنَا فَجَعَلَ خَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ وَيَأْسِرُ وَدَفَعَ إِلَى كُلِّ
رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمٌ أَمَرَ خَالِدٌ أَنْ يَقْتُلَ
كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ فَقُلْتُ: "وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ أَسِيرِي
وَلَا يَقْتُلُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِي أَسِيرَهُ حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَهُ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ
إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ» مَرَّتَيْنِ".
Nabi ﷺ
suatu kali mengirim Khalid bin Al Walid ke bani Jidzamah dengan misi mengajak
mereka masuk Islam, namun rupanya mereka belum fasih mengucapkan;
"Aslamnaa" (kami masuk Islam) sehingga mereka keceplosan mengucapkan
Shabba'naa (yang makna secara harfiah kami sembah matahari), mereka terus saja
mengucapkan Shabba'na, Shabba'na -sekalipun maksudnya aslamnaa- Maka Khalid
membantai diantara mereka dan sebagian lain ia tawan, dan ia serahi
masing-masing kami seorang tawanan yang ia perintahkan untuk dibunuh di hari
selanjutnya.
Aku protes
: "Demi Allah, aku tak akan membunuh tawananku, dan setiap kawanku juga
tak akan membunuh tawanannya."
Hingga
akhirnya kami menemui Nabi ﷺ dan kami utarakan kasusnya kepada beliau ﷺ
. Serta merta Nabi ﷺ MENGANGKAT TANGAN-NYA sembari mengucapkan do'a :
(Ya Allah,
aku berlepas diri kepada-MU dari perbuatan-perbuatan Khalid bin Al Walid).
Beliau
ulang dua kali . [ HR. Bukhori no. 4339].
Artinya
Rasulullah ﷺ
juga mengangkat tangan, namun tidak setinggi seperti saat shalat Istisqo’.
PENJELASAN AL-HAFIDZ IBNU HAJAR
TERHADAP
APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:
Al-Haafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 memberi penjelasan tentang BAB dan dua
hadits diatas yang di sebutkan Imam Bukhori , dengan mengatakan :
وَفِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ رَدُّ مَنْ
قَالَ لَا يَرْفَعُ كَذَا إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ بَلْ فِيهِ .
وَفِي الَّذِي بَعْدَهُ رَدٌّ عَلَى مَنْ
قَالَ لَا يَرْفَعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ غَيْرَ الِاسْتِسْقَاءِ أَصْلًا
وَتَمَسَّكَ بِحَدِيثِ أَنَسٍ لَمْ يَكُنِ النَّبِيَّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي
شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَهُوَ صَحِيحٌ لَكِنْ جُمِعَ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحَادِيثِ الْبَابِ وَمَا فِي مَعْنَاهَا بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ
صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ
الِاسْتِسْقَاءِ وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ
إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ
مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ
وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ
ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ
تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ .
وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي
الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ
قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَبِتَقْدِيرِ
تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ
قُلْتُ وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ
الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً
أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي
الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً
Pada hadist
yang pertama adalah bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ
tidak mengangkat tangan ketika berdo’a seperti itu kecuali pada shalat istisqo’
saja.
Akan tetapi
hadist setelahnya adalah bantahan terhadap mereka yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ
tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a selain istisqo’; mereka
berpegang pada hadist Anas yang meniadakan Nabi ﷺ mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali
pada shalat Istisqo’ saja. Hadistnya shahih.
Namun
setelah dikumpulkan kedua hadist tersebut dan hadist-hadist di bab ini dan
hadist yang semakna dengannya ; diketahui bahwa yang dimaksud adalah meniadakan
sifat khusus , bukan meniadakan mengangkat tangan secara mutlak .
Dan aku
telah mengisyaratkan hal itu pada bab-bab tentang shalat istisqo’, dan hasilnya
bahwa cara mengangkat tangan ketika berdo’a pada doa istisqo’ itu berbeda
dengan cara mengangkat tangan pada saat doa di selainnya.
Bisa jadi
yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam
hadits adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga menjadikan
kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a lainnya ,
mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu .
Dan jangan
membenturkan-nya dengan mengatakan bahwa: "beliau ﷺ
berdoa dengan mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua
ketiaknya", telah ada
ketetapan pada masing-masing dari keduanya [yakni ketika doa istisqo dan
lainya] , akan tetapi digabungkan dengan kesimpulan bahwa terlihat putihnya
kedua ketiak Nabi ﷺ dalam doa istisqo itu lebih nampak jelas dibanding dengan yang
nampak pada kesempatan lainnya .
Dan bisa
jadi kedua kedua telapak tangan beliau ﷺ ketika doa Istsisqo mengikuti arah bumi. Dan
dalam doa biasa , kedua telapak tangannnya mengikuti arah langit ".
Al-Mundhiri
berkata: " Dan jika dengan perkiraan tidak mungkin untuk digabungkan, maka
sisi peng itsbat-an lebih rajih dari pada peniadaan ".
Aku katakan
: Apalagi dengan banyaknya hadits yang yang berkaitan dengan hal ini. Karena
dalam masalah ini banyak hadits yang disebutkan secara khusus oleh Al-Mundziri
dalam satu Juz , yang mana dari Juz tsb Imam an-Nawawi memaparkannya dalam
kitab "al-Adzkaar" dalam “Al-Adzkaar” dan dalam “Sharh Al
-Muhadhdhab” seluruhnya.
(Baca :
Fathul Baari 11/142).
PENJELASAN
AL-QASTHALANI
TERHADAP
APA YANG DISEBUTKAN IMAM BUKHORI DI ATAS:
Imam
Al-Qasthalany dalam kitabnya "Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhari"
memberi penjelasan tentang BAB dan dua hadits diatas yang di sebutkan Imam
Bukhori , dengan mengatakan :
وَفِي الْبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
يَطُولُ سَرْدُهَا، وَفِيهَا رَدٌّ عَلَى الْقَائِلِ بِعَدَمِ الرَّفْعِ إِلَّا
فِي الِاسْتِسْقَاءِ، لِحَدِيثِ أَنَسٍ الصَّحِيحِ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ
يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ.
وَأُجِيبَ: بِأَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ
خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ، فَالرَّفْعُ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ
غَيْرَهُ، إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ
الْوَجْهِ مَثَلًا، وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى الْمَنْكِبَيْنِ، وَيَكُونُ رُؤْيَةُ
بَيَاضِ إِبْطَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ.
Di dalam
bab ini banyak hadist-hadist yang menyatakan tentang mengangkat tangan ketika
berdo’a. Dan hadist-hadist tersebut sekaligus sebagai bantahan terhadap mereka
yang meniadakan [atau melarang] mengangkat kedua tangan ketika berdo’a selain
pada saat do'a Istisqo’ [ doa minta hujan ] saja berdasarkan hadist Anas yang shahih
: " bahwa Nabi ﷺ tidaklah mengangkat tangan ketika berdo’a kecuali pada saat
do'a Istisqo’ [ doa minta hujan] saja.
Maka aku
jawab :
Bahwa yang
dimaksud [ dalam hadits Anas tsb ] adalah meniadakan sifat dan cara khusus
dalam berdo’a pada selain istisqo , bukan meniadakan mengangkat kedua tangan
dalam berdoa secara muthlak.
Jadi cara
mengangkat tangan dalam doa Istisqo itu berbeda dengan cara mengangkat tangan
pada doa-doa selainnya .
Bisa jadi
yang dimaksud dengan kata [[tidak mengangkat tangan di selain istisqo]] dalam
hadits Anas diatas adalah tidak berlebihan dalam mengangkat tangan, sehingga
menjadikan kedua tangannya setinggi wajah misalnya , sementara dalam berdo’a
lainnya , mengangkat kedua tangannya hanya setinggi kedua bahu . Dan dengan demikian
maka terlihat putih dua ketiak beliau ﷺ dalam doa istisqo nampak lebih jelas
dibanding dengan penampakannya pada saat doa-doa di selainnya .
(Irsyaadus
Saari Syarah Shahih Bukhari 9 /197).
IMAM BUKHORI DALAM KITAB-NYA " AL-ADAB AL-MUFRAD " :
Selain di
kitab Shahih-nya, Imam Bukhori juga menulis dalam kitab al-Adab al-Mufrad satu
BAB yang berjudul :
بَابُ رَفْعِ الأيْدِي في الدُّعَاءِ
BAB :
mengangkat tangan dalam berdo'a
Lalu beliau
menyebutkan hadits-hadits yang menyebutkan Nabi ﷺ berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ,
diantaranya sbb :
----
Hadits ke 1
:
Hadits Abu
Hurairah – radhiyallahu anhu – berkata :
" قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو
الدَّوْسِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ
دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا ، فَاسْتَقْبَلَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ، فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ
يَدْعُو عَلَيْهِمْ ، فَقَالَ : «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا، وَائْتِ
بِهِمْ»".
At-Thufail
Ibnu Amru Ad-Dausi datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata :
"Wahai
Rasulullah!, sesungguhnya kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka
berdoalah kepada Allah (semoga kemelaratan menyertai mereka)".
Lalu
Rasulullah ﷺ
menghadap kiblat dan MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, kemudian orang-orang mengira
bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan musibah atas mereka, lalu Rasulullah berdoa:
"Ya
Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkan hidayah itu bagi
mereka."
[HR.
Al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad 477/611 dan al-Baghowi dalam Mu'jam
ash-Shohaabh no. 23928 .
Dishahihkan
Syeikh al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrod no. 611/478 .
Dan
al-Albaani berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah 6/1063 mengatakan : Sanadnya
Jayyid].
Dalam
Shahih Bukhari no. 2937 dan Shahih Muslim no. 2524 tidak ada lafadz : [[dan
mengangkat kedua tangannya]].
Dan berikut
ini lafadz nya :
قَدِمَ طُفَيْلُ بنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ
وأَصْحَابُهُ علَى النبيِّ ﷺ، فَقالوا: يا رَسولَ اللَّهِ، إنَّ دَوْسًا عَصَتْ
وأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا. فقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ. قالَ: «اللَّهُمَّ
اهْدِ دَوْسًا وأْتِ بهِمْ».
Thufail bin
‘Amr ad-Dausi dan para sahabatnya datang kepada Nabi ﷺ, lalu mereka berkata:
“Wahai
Rasulullah, sesungguhnya kaum Daus telah membangkang dan menolak (dakwah), maka
doakanlah keburukan atas mereka.”
Maka ada
yang berkata: “Binasalah kaum Daus.”
Namun beliau
ﷺ
berdo’a: “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaum Daus dan datangkanlah mereka
(kepada kami)”.
----
Hadits ke 2
:
Hadits
Jabir – radhiyallahu anhu - :
أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو قَالَ
لِلنَّبِيِّ ﷺ: هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ وَمَنَعَةٍ؛ حِصْنِ دَوْسٍ؟ قَالَ: فَأَبَى
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، لِمَا ذَخَرَ اللَّهُ لِلْأَنْصَارِ. فَهَاجَرَ الطُّفَيْلُ،
وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَمَرِضَ الرَّجُلُ فَضَجِرَ (أَوْ
كَلِمَةٌ شَبِيهَةٌ بِهَا)، فَحَبَا إِلَى قَرْنٍ، فَأَخَذَ مِشْقَصًا، فَقَطَعَ
وَدَجَيْهِ فَمَاتَ، فَرَآهُ الطُّفَيْلُ فِي الْمَنَامِ. قَالَ: مَا فُعِلَ بِكَ؟
قَالَ: غُفِرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: مَا شَأْنُ يَدَيْكَ؟
قَالَ: فَقِيلَ: إِنَّا لَا نُصْلِحُ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ مِنْ يَدَيْكَ. قَالَ:
فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ، وَلِيَدَيْهِ
فَاغْفِرْ»، وَرَفَعَ يَدَيْهِ.
"Bahwa
ath-Thufail bin Amr [al-Dausi] datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: Apakah Anda membutuhkan
perlindungan yang kuat dan benteng ? Benteng Suku Daus ?.
Rasulullah ﷺ
menolak tawaran ini, karena Allah SWT telah menitipkan (hak istimewa untuk
melindungi Nabi-Nya ) kepada Anshar.
Ketika Nabi
ﷺ
berhijrah ke Madinah, At-Thufail bin 'Amru turut berhijrah bersama seorang
lelaki dari kaumnya. Lelaki itu jatuh sakit dan tidak dapat menahan kesakitan
itu, lalu dia merangkak ke arah tanduk lalu mengambil mata anak panah ,
kemudian dengannya memotong dua urat nadi ditangannya lalu dia mati.
At-Thufail
melihat lelaki itu dalam mimpinya. Dia bertanya kepada lelaki itu: Apa yang
telah Tuhan kamu lakukan kepada mu?
Lelaki itu
menjawab : Tuhan ku telah mengampuni aku karena hijrah ku kepada Nabi ﷺ.
At-Thufail
bertanya lagi: Ada apa dengan kedua tangan mu ?
Lelaki itu
menjawab: Dikatakan kepada ku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah
engkau rusakkan kedua tanganmu.
At-Thufail
menceritakan kepada Nabi ﷺ hal itu. Lalu Rasulullah ﷺ brdo'a : "Ya Allah, untuk tangannya
itu, kau ampunilah".
Dan beliau ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA”.
[HR.
Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Bab Rof‘u Al-Aidi fi Ad-Du‘a, 614/94].
Sanadnya di
shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 . Namun Di Dhaifkan
oleh al-Albaani di Dha'if al-Adab al-Mufrad ]
Hadits ini
di riwayatkan pula Imam Muslim dalam shahinya no. 116 , 329 dengan lafadz yang
hampir sama dan lebih panjang , namun tidak ada tambahan lafadz : [[ Dan beliau
ﷺ
mengangkat kedua tangannya ]].
Berikut ini
lafadz Shahih Muslim :
أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو
الدَّوْسِيَّ، أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِي
حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنَعَةٍ – قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ –
فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ ﷺ لِلَّذِي ذَخَرَ اللَّهُ لِلأَنْصَارِ فَلَمَّا
هَاجَرَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ
عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ
فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ
يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ فَرَآهُ
وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا صَنَعَ بِكَ
رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ ﷺ فَقَالَ مَا لِي
أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ
. فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ «اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ»
Sesungguhnya
Thufail bin Amr Ad-Dausi datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah
engkau berkenan berada di sebuah benteng yang kokoh dan memiliki perlindungan?”
Beliau ﷺ
berkata, “Benteng itu dahulu milik kabilah Daus pada masa jahiliah.”
Namun
Rasulullah ﷺ
menolak tawaran tersebut, karena Allah telah menyiapkan perlindungan itu bagi
kaum Anshar.
Ketika
Rasulullah ﷺ
berhijrah ke Madinah, Thufail bin Amr pun berhijrah menemui beliau. Bersamanya
ikut berhijrah seorang laki-laki dari kaumnya. Mereka merasa tidak cocok
tinggal di Madinah, lalu orang itu jatuh sakit. Karena sangat gelisah, ia
mengambil anak panah miliknya, kemudian memotong ruas-ruas jari tangannya.
Darah pun mengalir deras dari kedua tangannya hingga akhirnya ia meninggal
dunia.
Thufail bin
Amr kemudian melihat orang itu dalam mimpinya. Ia melihat keadaannya baik,
namun kedua tangannya tertutup. Thufail bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan
Rabbmu kepadamu?”
Ia
menjawab, “Allah telah mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya ﷺ.”
Thufail
bertanya lagi, “Mengapa aku melihat engkau menutupi kedua tanganmu?”
Ia
menjawab, “Dikatakan kepadaku, ‘Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah engkau
rusak sendiri.’”
Thufail
lalu menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah ﷺ.
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Ya Allah, ampunilah juga kedua tangannya.”
----
Hadits ke 3
:
Dari
Ikrimah dari Aisyah radhiyallahu anha :
أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو رَافِعًا
يَدَيْهِ ، يَقُولُ : «اللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَلا تُعَاقِبْنِي ،
أَيُّمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ آذَيْتُهُ أَوْ شَتَمْتُه فَلاَ تَعَاقِبْنِي
فِيْهِ».
Bahwa dia
[Aisyah radhiyallahu ‘anha ] melihat Nabi ﷺ berdoa sambil mengangkat kedua tangannya
dengan mengucapkan :
"Ya
Allah, aku hanyalah seorang manusia, maka janganlah hukum aku. Siapa saja
orangnya dari kaum mukminin , yang pernaha aku sakiti atau akau caci maki ;
maka janganlah Kau hukum aku karenanya ." [ HR. Bukhori dalam al-Adab
al-Mufrad no. 611 ]
Sanadnya di
shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/142 dan dinyatakan oleh
al-Albaani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 610/477 : صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ [ Shahih lighoirihi ]
Al-Imam
an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 berkata:
رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ
الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابِهِ
Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad
yang sahih. Kemudian beliau berkata di bagian akhirnya: “Hadis-hadits ini sahih
dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabatnya.” [Selesai]
DALIL-DALIL
LAIN YANG MENUNJUKKAN
HUKUM ASAL MENGANGKAT
TANGAN DALAM BERDOA ADALAH SUNNAH:
---
HADITS KE 1
:
Dari salman
al farisy berkata rasulullah bersabda:
"ما رَفَعَ قوْمٌ أَكُفَّهم إلَى اللهِ
عَزَّ وجَلَّ، يَسْألُونه شَيْئاً إلاَّ كانَ عَلى اللهِ حَقًّا أن يَضَعَ في
أيْدِيْهِم الَّذِي سَألُوْا"
"Tidaklah
suatu kaum mengangkat telapak tangan mereka kepada Allah meminta sesuatu pada
NYA kecuali baginya hak pada Allah untuk meletakan pada tangan-tangan mereka
apa yang mereka mintakan pada-Nya . [ HR. ath-Thabrani dalam al-Mu'jam
al-Kabiir 6/254]
Imam
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 10/169 :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ
رِجَالُ الصَّحِيحِ
"Hadist
ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan para perawinya adalah para perawi
ash-Shohih ".
----
HADITS KE 2
:
Dari Salman
Al-Farisi rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»
Sesungguhnya
Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu dia mengembalikannya
dalam keadaan kosong dan hampa. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 3556 dan Ibnu
Maajah no. 3131).
Al-Hafidz
Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram no. 1580 berkata :
أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا
النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ
Empat Imam
meriwayatkannya, kecuali an-Nasa`i. Al-Hakim menilainya shahih
Dan dalam
Fathul-Bari 11/142 , al-Haafidz Ibnu Hajar menjelaskan:
وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ
وَالتِّرْمِذِيّ وَحَسَّنَهُ وَغَيْرهمَا مِنْ حَدِيث سَلْمَان رَفَعَهُ:
«إِنَّ رَبّكُمْ حَيِيّ كَرِيم
يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْده إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدّهُمَا صِفْرًا
»
بِكَسْرِ الْمُهْمَلَة وَسُكُون الْفَاء
أَيْ خَالِيَة وَسَنَده جَيِّد
Abu Dawud,
at-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan, dan at-Tirmidzi menilainya hasan,
dari hadits Salman yang ia marfu’kan:
“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Mulia. Ia merasa malu
dari hamba-Nya jika ia (berdo’a) mengangkat tangan kepada-Nya dengan
mengembalikannya dalam keadaan kosong”
Dengan
mengkasrah yang tidak bertitik (shad) dan mensukun fa (yakni shifr) maknanya
kosong - dan SANADNYA BAIK ".
Di
Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi no. 3556 dan Shahih Ibnu Majah no.
3131.
-----
HADITS KE 3
:
Dari Abu
Musa Al-As’ary rodhiyallahu ‘anhu berkata :
«دَعَا
النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»
Nabi ﷺ
berdo’a, kemudian mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua
ketiak Beliau. (HR. Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 2498).
Dan dari Abu Musa
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
دَعَا النَّبِيُّ ﷺ بِمَاءٍ
فَتَوَضَّأَ بِهِ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ
أَبِي عَامِرٍ» وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ
يَوْمَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ»
Nabi ﷺ meminta
air, lalu beliau berwudhu dengannya, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya
dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.” Aku melihat putih kedua
ketiaknya. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pada hari kiamat
berada di atas banyak manusia dari makhluk-Mu.”
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari no. 4323 dan 6383, serta Muslim no. 165 (2498).
----
HADITS KE 4
:
Dari Anas
radhiyallaahu anhu , ia berkata:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللهِ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ
إِبْطَيْهِ»
‘Saya
melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, sehingga kelihatan
putihnya kedua ketiaknya’.” [ HR. Bukhori no. 1031 dan Muslim no. 895 ]
Dalam
riwayat lain dari Yahya bin Sa’id dan Syariik , mereka berdua mendengar Anas
menyebutkan :
أنَّ النَّبِيِّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى
رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ.
Bahwa Nabi ﷺ
mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak beliau SAW.
(HR. Bukhari no. 1030 , 6341).
----
HADITS KE 5
:
Dari
‘Athoo, ia berkata: Berkatalah Usamah bin Zaid -radhiyallahu 'anhu - :
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ ﷺ بِعَرَفَاتٍ
فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ فَسَقَطَ خِطَامُهَا
فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ اْلأُخْرَى
‘Saya
membonceng Nabi ﷺ di Arafah, maka beliau MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil
berdo’a, lalu untanya condong miring , dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau
mengambil tali kekang tersebut dengan salah satu tangannya, dan beliau tetap
berdoa dengan mengangkat tangan lainnya’.”
[ HR.
An-Nasaa'i no. 3011 dan Ahmad no. 21821 . Di shahihkan asy-Syaukani dalam Neil
al-Awthaar 5/138 dan al-Albaani dalam Shahih an-Nasaa'i no. 3011].
----
HADITS KE 6
:
Dari
Abdurrahman bin Samurah dia berkata;
يْنَمَا أَتَرَمَّى بِأَسْهُمٍ فِي
حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ كُسِفَتْ الشَّمْسُ فَنَبَذْتُهُنَّ وَقُلْتُ
لَأَنْظُرَنَّ مَا أَحْدَثَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ كُسُوفُ الشَّمْسِ الْيَوْمَ
فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يُسَبِّحُ وَيُحَمِّدُ وَيُهَلِّلُ
وَيَدْعُو حَتَّى حُسِرَ عَنْ الشَّمْسِ فَقَرَأَ بِسُورَتَيْنِ وَرَكَعَ
رَكْعَتَيْنِ
"Ketika
kami melepaskan anak panah di masa hidupnya Rasulullah ﷺ, tiba-tiba terjadi gerhana Matahari, lalu
aku segera meletakkan anak panah tersebut dan berkata; "Sungguh aku akan
melihat kejadian apa yang akan menimpa Rasulullah ﷺ pada hari terjadinya gerhana Matahari
ini."
Lalu aku
menemui beliau, ternyata beliau sedang MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA sambil
bertasbih, tahmid dan bertahlil serta berdo'a hingga gerhana hilang dari
matahari. Beliau membaca dua surat dan shalat dua raka'at."
[ HR.
Muslim (913), Abu Dawud (1195), dan kata-katanya adalah miliknya, an-Nasa'i
(1460), dan Ahmad (20636).
----
HADITS KE 7
:
Abdullah
bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :
أنَّ النبيَّ ﷺ تَلا قَوْلَ اللهِ عزَّ
وجلَّ في إبْراهِيمَ:
﴿رَبِّ إنَّهُنَّ
أضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فمَن تَبِعَنِي فإنَّه مِنِّي﴾ [إبراهيم: 36]
الآيَةَ،
وقالَ عِيسَى عليه السَّلامُ: ﴿إنْ
تُعَذِّبْهُمْ فإنَّهُمْ عِبادُكَ وإنْ تَغْفِرْ لهمْ فإنَّكَ أنْتَ العَزِيزُ
الحَكِيمُ﴾ [المائدة: 118]،
فَرَفَعَ يَدَيْهِ وقالَ: «اللَّهُمَّ
أُمَّتي أُمَّتِي، وبَكَى»
فقالَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: «يا جِبْرِيلُ
اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، ورَبُّكَ أعْلَمُ، فَسَلْهُ ما يُبْكِيكَ؟» فأتاهُ
جِبْرِيلُ عليه الصَّلاةُ والسَّلامُ، فَسَأَلَهُ فأخْبَرَهُ رَسولُ اللهِ ﷺ بما
قالَ، وهو أعْلَمُ، فقالَ اللَّهُ: «يا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إلى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ:
إنَّا سَنُرْضِيكَ في أُمَّتِكَ، ولا نَسُوءُكَ»
"Nabi ﷺ
membaca ayat Allah SWT tentang Nabi Ibrahim:
﴿رَبِّ
إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ
مِنِّي﴾
'Ya
Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia, maka siapa yang
mengikutiku, orang itu termasuk golonganku'. (QS Ibrahim ayat 36)
Lalu Nabi ﷺ
membaca ayat tentang perkataan Nabi Isa alaihis salam :
﴿إِنْ
تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
'Jika
Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau. Jika
Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana'. (QS Al-Maidah ayat 118)
Kemudian
Nabi ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA, dan berkata: 'Umatku, umatku'.
Beliau
menangis. Maka Allah SWT berfirman : 'Wahai Jibril, temui Muhammad, dan Tuhanmu
lebih mengetahui, tanyakan kepadanya, apa yang membuatnya menangis'?
Maka Jibril
mendatanginya dan menanyakannya. Rasulullah ﷺ memberitahukan apa yang dia ucapkan. Maka
Allah berfirman :
'Wahai
Jibril, temuilah Muhamad dan katakan, 'Kami akan membuatmu ridha dalam masalah
umatmu dan kami tidak akan menyakitimu'."
(HR Muslim
No 202)
----
HADITS KE 8
:
Muhammad
bin Qais berkata, saya mendengar Aisyah menceritakan, ia berkata;
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ
رَسُولِ اللهِ ﷺ قُلْنَا: بَلَى، قَالَ: قَالَتْ: لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِي الَّتِي
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِيهَا عِنْدِي، انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ، وَخَلَعَ
نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ، وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى
فِرَاشِهِ، فَاضْطَجَعَ، فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ
رَقَدْتُ، فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا، وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا، وَفَتَحَ
الْبَابَ فَخَرَجَ، ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا، فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي،
وَاخْتَمَرْتُ، وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي، ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ، حَتَّى
جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ، فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ
"Maukah
kalian aku ceritakan hadits tentang diriku dan tentang Rasulullah ﷺ?".
Kami menjawab : "Ya, mau."
Aisyah -
radhiyallahu 'anhaa - berkata :
" Pada
suatu malam ketika giliran Rasulullah ﷺ di rumahku, setelah beliau menanggalkan
pakaiannya, meletakkan terompahnya dekat kaki dan membentangkan pinggir
jubahnya di atas kasur, beliau lantas berbaring.
Setelah
beberapa lama kemudian dan barangkali beliau menyangkaku telah tidur, beliau
mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian
ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan beliau seperti itu, kukenakan
pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain.
Kemudian
aku mengikuti beliau dari belakang hingga sampai di Baqi'. Ketika sampai di
sana beliau berdiri agak lama, kemudian beliau MENGANGKAT KEDUA TANGAN-NYA tiga
kali, sesudah itu beliau berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului
beliau....."
[HR. Muslim
no. 1619 dan Ibnu Hibbaan no. 7110].
-----
HADITS KE 9
:
Dari Abu
Humaid Al-Sa`idi radhiyallaahu anhu :
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا
مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَجَاءَ
فَقَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى
الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ:
«مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ
فَيَجِيءُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ
أُمِّهِ أَوْ أَبِيهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا لَا يَأْتِي أَحَدٌ
مِنْكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنْ كَانَ
بَعِيرًا فَلَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً فَلَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ»
ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا
عُفْرَةَ إِبِطَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ
بَلَّغْتُ»
Bahwa Nabi ﷺ
mengangkat seorang laki-laki dari Azd yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai
pegawai untuk mengurusi zakat, kemudian ia datang dan berkata; ini yang menjadi
untuk anda dan yang ini dihadiahkan kepadaku.
Kemudian
Nabi ﷺ
berdiri di atas mimbar lalu memuji Allah dan bersabda:
"Bagaimana
dengan seorang pekerja yang kami utus, kemudian datang dan berkata; ini untuk
anda dan ini dihadiahkan kepadaku.
Tidakkah
sekiranya ia duduk di rumah ayah atau ibunya kemudian menunggu, apakah ia akan
diberi hadiah atau tidak?
Tidaklah
seseorang diantara kalian mengambil sesuatupun dari hal tersebut kecuali pada
Hari Kiamat ia datang dengan membawanya pada lehernya, apabila sesuatu tersebut
adalah unta maka unta tersebut bersuara unta, apabila atau sapi maka sapi
tersebut bersuara sapi, dan kambing yang mengembik."
Kemudian
Rasulullah ﷺ
MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA hingga kami melihat putih kedua ketiaknya. Kemudian
beliau mengucapkan:
"Ya
Allah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, bukankah aku telah
menyampaikan?"
[ HR.
Bukhori no. 2597 , 7174 , Muslim no. 1832 dan Abu Daud no. 2557 ]
----
HADITS KE 10
:
Hadits Abu
Sa'iid Al-Khudri berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ
يَدْعُو لِعُثْمَانَ يقُوْلُ : «يَا رَبَّ عُثْمَانَ إنَّي رَضِيْتُ عَنْ
عُثْمَانَ فَارْضَ عَنْه».
فَمَا زَالَ يَدْعُوْ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرَ
فَنَزَلَتْ : ﴿اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ
اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ﴾.
Aku melihat
Nabi ﷺ
sambil MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA berdoa untuk Utsman [bin Affaan] , dengan
mengucapkan :
"
Wahai Tuhan nya Utsman ! Sesungguhnya aku ridho dengan Utsman, maka Engkau
ridhoi-lah Utsman !!! " .
Dan beliau ﷺ
terus berdoa hingga fajar terbit . Lalu turun wahyu :
"
Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa
yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan
penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut
pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" [QS. Al-Baqarah : 262 ].
[ al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 :
أَخْرَجَهُ الْمُصَنِّفُ فِي جُزْءِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ
Diriwayatkan
oleh al-Mushonnif [ yakni : al-Bukhori ] dalam sebuah Juz tentang mengangkat
kedua tangan ".
Hadits ini
di sebutkan pula oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir nya 3/306.
Dan di
Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalm Fathul Baari 11/142 ]
----
HADITS KE 11
:
Hadits
'Aisyah radhiyallaahy anha :
دَخَلَ عَليَّ رسُولُ الله ﷺ فَرأَى
لَحْمًا ، فَقَال : «مَنْ بَعَثَ بِهَذا ؟» قُلْتُ : عُثْمَان . قَالَتْ :
فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ ، يَدْعُوْ لِعُثْمَانَ ".
Rasulullah ﷺ
masuk ke rumahku dan beliau melihat daging, maka beliau bertanya : Siapa yang
mengirim ini? Aku menjawab : Utsman.
Dia
berkata: Lalu aku melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya, berdoa untuk
Utsman".
[HR.
Al-Bazzaar ( Kasyful Astaar no. 2508 dan Jaami' al-Masaanid wa as-Sunan no. 225
)]
Ibnu Hajar
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14520 [cet. Darul
Kutub al-Ilmiyyah ]:
" رَوَاه البَزَّار بِإسْنَادٍ حَسَنٍ ".
"Diriwayatkan
oleh al-Bazzaar dengan Sanad yang HASAN".
----
HADITS KE 12
:
Hadits Abu
Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «مَا هَذَا ؟»
قَالُوا : "أَرْسَلَ بِهَا عُثْمَانُ هَدِيَّةً لَكَ" ، قَالَ :
فَرَأَيْتُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو لِعُثْمَانَ، مَا سَمِعْتُهُ يَدْعُو
لِأَحَدٍ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ : «اللَّهُمَّ أَعْطِ عُثْمَانَ ، وَافْعَلْ
بِعُثْمَانَ»، رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ .
Rosulullah ﷺ
bertanya : " Apa ini ?"
Mereka
menjawab : Usman mengirimkannya sebagai hadiah untukmu.
Dia [ Abu
Mas'ud ] berkata: Aku melihat beliau ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa untuk
Utsman, sebuah doa yang aku belum pernah mendengar beliau ﷺ
berdoa dengannya untuk siapapun sebelumnya atau sesudahnya , yaitu doa :
"Ya
Allah, beri-lah Usman, dan lakukan-lah untuk Usman"
Sambil
mengangkat kedua tangannya , hingga aku melihat putih kedua ketiaknya .
[HR. Imam
Ahmad dalam Fadhail ash-Shahabah 1/234 no. 287 cet. Muassasah ar-Risalah dan
ath-Thabrani 17/249]
Ibnu Hajar
al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaa'id 9/64-65 no. 14523 [cet. Darul
Kutub al-Ilmiyyah ]:
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ سَعِيدُ
بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ، وَهُوَ ضَعِيفٌ. وَرَوَاهُ فِي الْأَوْسَطِ، وَفِيهِ
رُؤْيَا رَآهَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
"
Diriwayatkan oleh al-Tabarani, dan dalam sanadnya ada Sa'id bin Muhammad
al-Warraq, dan dia itu lemah. Dan dia meriwayatkannya juga dalam al-Awshath ,
dan di dalamnya ada kisah mimpi bahwa Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma
melihat-nya dalam mimpi ".
----
HADITS KE 13
:
Dari Umar
bin Al Khaththab radliallahu 'anhu , dia berkata:
"كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ سُمِعَ عِنْدَ وَجْهِهِ دوِي
كَدَوِيِّ النَّحْل فأُنزِل عَلَيْهِ يَوْمًا فَمَكَثْنَا سَاعَةً فَسُرِّيَ
عَنْهُ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ:
«اللَّهُمَّ
زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلَا
تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا»
ثُمَّ قَالَ: «أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْرُ
آيَاتٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ» ثُمَّ قَرَأَ: ﴿قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ﴾ حَتَّى خَتَمَ عَشْرَ آيَاتٍ".
Bila turun
wahyu kepada nabi SAW, maka didekat wajah beliau terdengar seperti dengungan
lebah.
Pada suatu
hari, turun wahyu kepada beliau, kami diam sejenak, beliau terlihat gembira
lalu menghadap kiblat dan berdoa:
"Ya
Allah, tambahilah kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan
hinakan kami, berilah kami dan jangan cegah kami, kedepankan kami dan jangan
kesampingkan kami, ridhailah kami dan ridhailah perbuatan-perbuatan kami."
Setelah itu
nabi ﷺ
bersabda: "Sepuluh ayat diturunkan padaku, barangsiapa menunaikannya akan
masuk surga."
Beliau
membaca:
﴿قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ﴾
"Sungguhnya
beruntung orang-orang yang beriman."
Hingga
sepuluh ayat. (Al Mu`minuun: 1-10 )
[ HR.
Tirmudzi no. 3097 ]
Di Hasankan
oleh al-Haafidz Ibnu Hajar dalam Muqoddimah Takhrij Misykaat al-Mashaabiih 3/32
Dan di
dhaifkan oleh al-Munawi dalam Takhriij Ahaadits al-Mashaabiih 2/349 ,
al-Albaani dalam Dhaif Tirmidzi no. 3173 dan Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij
al-Musnad no. 223 .
Al-Mubaarakfuuri
dalam Tuhfatul Ahwadzi 8/148 berkata :
فِي سَنَدِهِ يُونُسُ بْنُ سُلَيْمٍ
الصَّنْعَانِيُّ، قَالَ فِي الْمِيزَانِ: تُكُلِّمَ فِيهِ وَلَمْ يُعْتَمَدْ فِي
الرِّوَايَةِ، وَمَشَّاهُ غَيْرُهُ. وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ: لَا يُتَابَعُ عَلَى
حَدِيثِهِ وَلَا يُعْرَفُ إِلَّا بِهِ.
Dalam
sanadnya ada Yunus bin Salim Al-Shan'aani . Adz-Dzahabi mengatakan dalam
Al-Mizan : " Dia itu masih diperbincangkan ", dan dia itu tidak
mu'tamad dalam riwayatnya. Tapi ada sebagian yang meloloskannya . Dan
al-'Uqaili berkata : Dia haditsnya tidak bisa di beri mutabaah , dan tidak
dikenal kecuali dengan kondisi seperti ini ".
----
HADITS KE 14
:
Abdurrozzaaq
meriwayatkan : Dari Muammar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِقَوْمٍ
مِنَ الْأَعْرَابِ كَانُوا قَدْ أَسْلَمُوا، وَكَانَتِ الْأَحْزَابُ خَرَّبَتْ
بِلَادَهُمْ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو لَهُمْ بَاسِطًا يَدَيْهِ قِبَلَ
وَجْهِهِ.
Bahwa
Rasulullah ﷺ
melewati sekelompok orang Arab yang telah masuk Islam. Pasukan ahzaab [sekutu]
telah menghancurkan negeri mereka, maka Rasulullah ﷺ mengangkat [tangannya] berdoa untuk mereka
dengan merentangkan kedua tangannya di depan wajahnya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 53 ].
Sanadnya
Mursal .
---
HADITS KE 15
:
Dari Umar
rodhiyallahu ‘anhu berkata :
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا مَدَّ
يَدَيهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
Apabila
Rasulullah ﷺ
mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a, dia tidak mengembalikannya
(menurunkannya) hingga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR.
At-Tirmidzi no. 3386).
Abu Isa
Tirmidzi berkata :
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ، لَا
نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى، وَقَدِ انْفَرَدَ بِهِ
وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ، وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ ثِقَةٌ، وَثَّقَهُ
يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. اهـ.
Ini adalah
hadits SHAHIH GHORIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin
Isa, dan dia sendirian di dalamnya dan dia memiliki sedikit hadits, dan
Handzala bin Abi Sufyan tsiqoh , di tautsiq oleh Yahya bin Sa'iid al-Qaththaan
".
Al-Haafidz
Ibnu Hajar rohimahullah dalam Bulughul Maram berkata :
أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، لَهُ
شَوَاهِدُ مِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ، وَغَيْرِهِ،
وَمَجْمُوعُهَا يَقْضِي بِأَنَّهُ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Hadist ini
diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rohimahullah, dan ada beberapa hadist
lainnya yang semakna dengan hadist ini. Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas didalam Sunan Abi Dawud dan lainnya, yang secara keseluruhan
menyebabkan derajat hadist ini menjadi hadist hasan. [ Lihat : kitab Subulus
Salam Syarah Bulughul Marom 2/709 ]
----
HADITS
KE 16 :
Dari Ali
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
رَأَيْتُ امْرَأَةَ الْوَلِيدِ
جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ تَشْكُو إِلَيْهِ زَوْجَهَا أَنَّهُ يَضْرِبُهَا
فَقَالَ لَهَا: " اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَذَهَبَتْ
ثُمَّ رَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنَّهُ عَادَ يَضْرِبُنِي فَقَالَ لَهَا: "
اذْهَبِي فَقُولِي لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَكَ " ، فَذَهَبَتْ
ثُمَّ عَادَتْ ، فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي فَقَالَ: " اذْهَبِي
فَقُولِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ " فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي فَرَفَعَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْوَلِيدِ»
Aku melihat istri
Al-Walid datang kepada Nabi ﷺ mengadukan suaminya karena ia memukulnya. Maka beliau berkata
kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.”
Ia pun pergi, lalu
kembali dan berkata, “Sesungguhnya ia kembali memukulku.”
Beliau ﷺ berkata
kepadanya, “Pergilah dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Nabi ﷺ
mengatakan kepadamu (begini dan begini).”
Ia pun pergi,
kemudian kembali lagi dan berkata, “Sesungguhnya ia memukulku.”
Beliau ﷺ kembali
bersabda, “Pergilah dan katakan kepadanya begini dan begini.” Ia berkata lagi,
“Sesungguhnya ia memukulku.”
Maka Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah,
(hukumlah) Al-Walid.”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam *Qurratul ‘Aynain fi Raf‘il Yadain fis Shalah* hlm. 66 no. 92,
dan oleh Ibnul Imam dalam *Silahul Mu’min fid Du‘a* hlm. 114 no. 175].
----
HADITS
KE 17:
Dari Aisyah
radhiyallahu ta‘ala ‘anha, ia berkata:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى بَدَا ضَبْعَاهُ، يَدْعُو لِعَوْدِ
عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ»
“Aku melihat
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya,
beliau berdoa untuk kesembuhan (kembalinya kesehatan) Utsman radhiyallahu
ta‘ala ‘anhu.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510]
----
HADITS
KE 18 :
Dan dari Muhammad
bin Ibrahim At-Taimi, ia berkata:
«أَخْبَرَنِي
مَنْ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يَدْعُو عِنْدَ أَحْجَارِ الزَّيْتِ بَاسِطًا كَفَّيْهِ».
“Telah mengabarkan
kepadaku seseorang yang melihat Nabi ﷺ berdoa di dekat Ahjar
Az-Zait dengan membentangkan kedua telapak tangannya.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/510-511]
-----
HADITS
KE 19 :
Dan dari Abu
Utsman, ia berkata:
«كَانَ عُمَرُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ»
“Umar radhiyallahu
‘anhu biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”
[Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511].
----
HADITS KE 20:
Dari
al-Qoosim bin Muhammad bin Abu Bakar , dia berkata :
«رَأَيْت ابن عُمَرَ
يَدْعُو عِنْدَ الْقَاصِّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا
مَنْكِبَيْهِ بَاطِنُهُمَا مِمَّا يَلِيهِ وَظَاهِرُهُمَا مِمَّا يَلِي وَجْهَهُ»
Aku melihat
Ibnu Umar berdoa disisi pendongeng, sambil mengangkat kedua tangannya hingga
tinggi sejajar dua bahu nya , sisi dalam telapaknya di setelah bahunya ,
sementara sisi punggung telapaknya di setelah wajahnya.
Diriwayatkan
al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad dan di Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam Fathul Baari 11/142 .
----
HADITS KE 21:
Dan dari Al-Aswad:
«أَنَّ ابْنَ
مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الْقُنُوتِ».
bahwa Ibnu Mas‘ud
radhiyallahu ‘anhu juga biasa mengangkat kedua tangannya dalam qunut.”
Di kutip dari
kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab Karya an-Nawawi 3/511.
Lalu Al-Imam
an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/511 menisbatkan hadits-hadits diatas kepada riwayat
al-Imam al-Bukhori dalam Kitabnya Rof’ul Yadain.
Al-Imam An-Nawawi
berkata
رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِهَا هَذِهِ
الْأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله تعالي عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابِهِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ غَيْرُ مَا ذَكَرْتُهُ
وَفِيمَا ذَكَرْتُهُ كِفَايَةٌ وَالْمَقْصُودُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنْ ادَّعَى
حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتْ الْأَحَادِيثُ بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ
غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam *Kitab Raf‘ul Yadain* dengan sanad-sanad yang sahih. Kemudian
beliau berkata di bagian akhirnya:
Hadis-hadits ini
sahih dari Rasulullah ﷺ dan dari para sahabat beliau.
Dan dalam masalah
ini terdapat banyak hadits selain yang telah aku sebutkan. Apa yang telah aku
sebutkan sudah mencukupi.
Maksudnya
adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat
yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah
keliru dengan kekeliruan yang sangat nyata. Wallaahu Ta’aala A’lam”.
HADITS DO’A DALAM SHALAT SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
Dari Sahl
bin Sa‘d As-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذَهَبَ إِلَى
بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ.
وَحَانَتِ الصَّلَاةُ. فَجَاءَ
الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ
فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ.
فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ، وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ.
فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ.
فَصَفَّقَ النَّاسُ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ.
فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ مِنَ
التَّصْفِيقِ، الْتَفَتَ أَبُو بَكْرٍ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ «فَأَشَارَ
إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ».
فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ
بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ حَتَّى اسْتَوَى فِي
الصَّفِّ. وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ.
فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ
أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ»،
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ
أَبِي قُحَافَةَ، أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا لِي
رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمْ مِنَ التَّصْفِيحِ؟ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ
فَلْيُسَبِّحْ. فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا
التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ»
bahwa
Rasulullah ﷺ
pergi kepada Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka. Ketika waktu sholat
tiba, muazin datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Apakah engkau
akan mengimami manusia agar aku menegakkan iqamah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Abu
Bakar pun mengimami salat.
Kemudian
Rasulullah ﷺ
datang sementara orang-orang sedang dalam salat. Beliau berjalan menyelinap
hingga berdiri di dalam saf. Orang-orang pun bertepuk tangan, sedangkan Abu
Bakar tidak biasa menoleh dalam salatnya. Ketika orang-orang semakin banyak
bertepuk tangan, Abu Bakar pun menoleh, lalu melihat Rasulullah ﷺ.
Maka Rasulullah ﷺ memberi isyarat kepadanya agar tetap di tempatnya.
Lalu Abu
Bakar mengangkat kedua tangannya dan memuji Allah atas perintah Rasulullah ﷺ
tersebut, kemudian ia mundur hingga berdiri rata di dalam saf. Rasulullah ﷺ
pun maju lalu mengimami salat.
Setelah
selesai, beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk tetap
(di tempatmu) ketika aku memerintahkanmu?”
Abu Bakar
menjawab, “Tidaklah pantas bagi Ibnu Abi Quhafah untuk sholat di hadapan
Rasulullah ﷺ.”
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Mengapa aku melihat kalian banyak bertepuk tangan? Barang siapa yang
mengalami sesuatu dalam salatnya, hendaklah ia bertasbih. Karena jika ia
bertasbih, maka akan diperhatikan. Adapun tepuk tangan itu khusus bagi para
wanita.”
[HR.
Bukhori no. 684 dan Muslim no. 421]
Dan telah diketahui
bahwa peristiwa itu terjadi di dalam salat; maka di luar salat tentu lebih
utama dan lebih layak.
Al-Baji berkata
dalam *Al-Muntaqa* 1/289:
وَرَفْعُ أَبِي بَكْرٍ يَدَيْهِ فِي
الصَّلَاةِ لِلدُّعَاءِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ. وَقَدْ
رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ جَوَازُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مَوْضِعِ الدُّعَاءِ
“Diangkatnya kedua
tangan Abu Bakar dalam salat untuk berdoa merupakan dalil bolehnya hal itu
dalam salat. Dan telah diriwayatkan dari Malik bolehnya mengangkat kedua tangan
pada tempat doa.”
Tidak keluar dari
kaidah ini kecuali apa yang telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa
beliau berdoa namun tidak mengangkat kedua tangannya, seperti doa di antara dua
sujud, pada akhir tasyahud, doa istiftah, dan doa dalam khutbah Jumat bagi imam
— selain dalam istisqa — karena sunnah di dalamnya adalah berisyarat dengan
jari. Maka dalil-dalil dalam hal ini bersifat khusus”. [Selesai]
Dan dari Anas
radhiyallahu ‘anhu tentang kisah para qurra’ (para penghafal Al-Qur’an) yang
terbunuh, Anas berkata:
«لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو
عَلَيْهِمْ» يَعْنِي: عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوهُمْ.
“Sungguh aku telah
melihat Rasulullah ﷺ, setiap kali beliau salat Subuh, beliau mengangkat kedua
tangannya dan berdoa atas mereka,” maksudnya: atas orang-orang yang telah membunuh
para qurra’ tersebut.
[Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad (3/137), Ath-Thabrani dalam *Al-Mu‘jam Al-Kabir* (4/51
no. 3606), dan Al-Baihaqi (2/211)].
An-Nawawi berkata
dalam *Al-Majmu‘* (3/508): “Sanadnya sahih atau hasan.”
Ibnu Al-Mulaqqin
berkata dalam *Tuhfatul Muhtaj* (1/307): “Sanadnya jayyid (baik).”
Al-‘Iraqi berkata
dalam *Takhrij Al-Ihya’* (1/240): “Sanadnya jayyid.”
Al-Bushiri dalam
*Ithaf Al-Khairah Al-Maharah* (7/120) menisbatkannya kepada Ahmad bin Mani‘ dan
berkata: “Para perawinya tsiqah (terpercaya).”
Al-Albani
berkata dalam *Ashlu Shifati Shalatin Nabi ﷺ* (hlm. 957): “Sanadnya sahih.”
HADITS DO’A ISTISQOO SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Dari Anas
radhiyallahu 'anhu , dia berkata:
أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ مِنْ أَهْلِ البَدْوِ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَتِ
المَاشِيَةُ، هَلَكَ العِيَالُ هَلَكَ النَّاسُ، «فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ،
يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ يَدْعُونَ»،
قَالَ: فَمَا خَرَجْنَا مِنَ المَسْجِدِ حَتَّى
مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا نُمْطَرُ حَتَّى كَانَتِ الجُمُعَةُ الأُخْرَى، فَأَتَى الرَّجُلُ
إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَشِقَ المُسَافِرُ وَمُنِعَ
الطَّرِيقُ
Seorang
laki-laki Arab Badui dari penduduk pedalaman datang kepada Muhammad ﷺ
pada hari Jumat, lalu ia berkata:
“Wahai
Rasulullah ﷺ,
ternak telah binasa, keluarga telah binasa, dan manusia telah binasa.”
Maka
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan beliau berdoa, dan orang-orang pun
mengangkat tangan mereka bersama beliau sambil berdoa.
Ia berkata:
Maka kami belum keluar dari masjid sampai kami dituruni hujan. Dan hujan terus
turun kepada kami sampai datang Jumat berikutnya.
Lalu
laki-laki itu datang lagi kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai
Rasulullah ﷺ,
para musafir telah mengalami kesulitan dan jalan-jalan terputus.”
[HR.
Bukhori no. 1029]
Dalam lafadz
riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّهُ رَفَعَ يَدَيْهِ
حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ»
“Bahwa beliau mengangkat kedua tangannya hingga aku melihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 1030]
Dalam lafadz riwayat lain, masih dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ
وَهَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا
"Ketika Nabi
ﷺ
berkhutbah pada hari Jum’at, berdirilah seseorang dan berkata: ‘Hai Rasulullah,
lembu-lembu dan kambing-kambing telah mati, dan telah mati pula biri-biri, maka
berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan minum kepada kita!’.
Kemudian
beliau mengulurkan kedua tangannya dan berdo’a.”
(HR.
al-Bukhariy no. 932 dan Muslim no. 897 ).
Telah ada ketetapan
yang shahih bahwa mengangkat kedua tangan dalam istisqa dari Nabi ﷺ,
diriwayatkan oleh sejumlah para sahabat
An-Nawawi berkata
dalam *Al-Majmu‘* 3/507-508:
(فَرْعٌ) فِي اسْتِحْبَابِ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَبَيَانِ جُمْلَةٍ
مِنَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِيهِ: اعْلَمْ أَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ لِمَا
سَنَذْكُرُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، وَرَفَعَ
يَدَيْهِ، وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الْجِبَالِ،
ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ مِنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ مِنْ
لِحْيَتِهِ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَرَوَيَا بِمَعْنَاهُ عَنْ
أَنَسٍ مِنْ طُرُقٍ كَثِيرَةٍ.
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ:
«فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدْعُونَ، فَمَا خَرَجْنَا مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى
مُطِرْنَا، فَمَا زِلْنَا بِمَطَرٍ حَتَّى كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْأُخْرَى،
وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ».
“Cabang
pembahasan: tentang anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa di luar salat,
serta penjelasan sejumlah Hadits yang diriwayatkan tentangnya. Ketahuilah bahwa
hal itu disunnahkan; berdasarkan apa yang akan kami sebutkan insya Allah
Ta‘ala, dari Anas radhiyallahu ‘anhu: ‘Bahwa Nabi ﷺ
melakukan istisqa dan mengangkat kedua tangannya, sementara di langit tidak ada
sepotong awan pun. Lalu muncul awan seperti gunung-gunung, dan beliau tidak
turun dari mimbarnya hingga aku melihat hujan mengalir dari janggutnya.’”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Keduanya juga meriwayatkan maknanya
dari Anas melalui banyak jalur.
Dalam riwayat
Al-Bukhari disebutkan:
“Rasulullah ﷺ
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan orang-orang pun mengangkat tangan
mereka bersama Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Kami tidak keluar dari masjid hingga kami diguyur
hujan, dan hujan itu terus turun hingga Jumat berikutnya,” lalu disebutkan
kelanjutan Hadits tersebut”. [Selesai]
HADITS DO’A ZIARAH KUBUR SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha dalam hadisnya yang panjang tentang keluarnya Nabi ﷺ pada
malam hari ke Baqi‘ untuk mendoakan dan memohonkan ampun bagi penghuni Baqi‘,
ia berkata:
أَتَى الْبَقِيعَ؛ فَقَامَ فَأَطَالَ
الْقِيَامَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْحَرَفَ، وَقَالَ:
«إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَانِي فَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ
أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ وَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ».
“Beliau mendatangi
Baqi‘, lalu berdiri dan memperpanjang berdirinya, kemudian mengangkat kedua
tangannya tiga kali, lalu berpaling. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Jibril
‘alaihis salam mendatangiku dan berkata: Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu
untuk mendatangi penghuni Baqi‘ dan memohonkan ampun bagi mereka.’”
[Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim no. 974.
HADITS DO’A SAAT PERANG SAMBIL MENGANGKAT DUA TANGAN
===
HADITS
KE 1
Dari Abdullah bin
Abbas, ia berkata: Umar bin Al-Khattab menceritakan kepadaku, ia berkata:
لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ
نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ
ثَلَاثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، قَالَ: فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ
ﷺ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ:
«اللَّهُمَّ
أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ أَيْنَ مَا وَعَدْتَنِي؟! اللَّهُمَّ
إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي
الْأَرْضِ أَبَدًا».
فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ،
مَادًّا يَدَيْهِ، مُسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةِ، حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ.
فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ، فَأَخَذَ
رِدَاءَهُ، فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ،
فَقَالَ: "يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فَإِنَّهُ
سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذْ
تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ
الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ﴾ [الْأَنْفَالِ: ٩]، فَأَمَدَّهُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ بِالْمَلَائِكَةِ.
“Ketika terjadi
Perang Badar, Nabi Allah ﷺ melihat kepada kaum musyrikin yang
berjumlah seribu orang, sedangkan para sahabat beliau berjumlah tiga ratus
sembilan belas orang. Maka Nabi Allah ﷺ menghadap kiblat, kemudian mengulurkan
kedua tangannya dan terus berseru kepada Rabb-nya:
‘Ya Allah, penuhilah
untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, di manakah apa yang
telah Engkau janjikan kepadaku? Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini
dari kalangan kaum Muslimin, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka
bumi selamanya.’
Beliau ﷺ terus
berseru kepada Rabb-nya dengan mengulurkan kedua tangannya dan menghadap kiblat hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya. Lalu
Abu Bakar mendatanginya, mengambil selendangnya dan meletakkannya kembali di
atas kedua pundaknya, kemudian memeluknya dari belakang seraya berkata:
‘Wahai Nabi Allah,
cukuplah engkau memohon dengan sungguh-sungguh kepada Rabb-mu, karena
sesungguhnya Dia pasti akan menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu.’
Maka Allah ‘Azza wa
Jalla menurunkan firman-Nya:
“(Ingatlah) ketika
kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu:
‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)
Lalu Allah ‘Azza wa
Jalla pun membantu beliau dengan para malaikat.”
(HR.Muslim no. 58 -(1763), Ahmad (no.208), at-Tirmidzi
(no.3081)).
----
HADITS
KE 2
Dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
صَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْبَرَ
بُكْرَةً، وَقَدْ خَرَجُوا بِالْمَسَاحِي، فَلَمَّا رَأَوْهُ قَالُوا: مُحَمَّدٌ
وَالخَمِيسُ، وَأَحَالُوا إِلَى الحِصْنِ يَسْعَوْنَ، فَرَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ
يَدَيْهِ وَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، خَرِبَتْ خَيْبَرُ، إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا
بِسَاحَةِ قَوْمٍ ﴿فَسَاءَ صَبَاحُ المُنْذَرِينَ﴾»
Rasulullah ﷺ
menyerang Khaibar pada pagi hari, sementara penduduknya telah keluar membawa
cangkul-cangkul mereka. Ketika mereka melihat beliau, mereka berkata, “Muhammad
dan pasukannya!”
Lalu mereka
bergegas kembali ke benteng sambil berlari.
Maka Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya dan bersabda,
“Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Sesungguhnya apabila kami turun di halaman
suatu kaum, maka amat buruklah pagi bagi orang-orang yang telah diperingatkan.”
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari no. 3647 dan Muslim no. 1365.
HADITS DO’A SAAT IBADAH HAJI SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN
----
HADITS
KE 1
Dari Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الجَمْرَةَ
الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ
يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ، فَيَقُومَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، فَيَقُومُ طَوِيلًا،
وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَرْمِي الوُسْطَى، ثُمَّ يَأْخُذُ
ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ، وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، فَيَقُومُ
طَوِيلًا، وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَيَقُومُ طَوِيلًا، ثُمَّ يَرْمِي
جَمْرَةَ ذَاتِ العَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الوَادِي، وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا، ثُمَّ
يَنْصَرِفُ، فَيَقُولُ «هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَفْعَلُهُ»
“Bahwa ia melempar
jumrah yang pertama (Al-Jumrah Ad-Dunya) dengan tujuh batu kecil, sambil
bertakbir setiap selesai melempar satu batu. Kemudian ia maju hingga sampai di
tempat yang lapang, lalu berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama, berdoa
dan mengangkat kedua tangannya.
Kemudian ia
melempar jumrah yang tengah (Al-Wustha), lalu mengambil arah sebelah kiri dan
menuju tempat yang lapang, kemudian berdiri menghadap kiblat. Ia berdiri lama,
berdoa dan mengangkat kedua tangannya, serta berdiri lama.
Kemudian ia
melempar Jumrah Aqabah dari tengah lembah dan tidak berhenti di sana. Setelah
itu ia pergi seraya berkata, “Beginilah aku melihat Nabi ﷺ
melakukannya.”
[Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari no. 1751].
---
HADITS KE 2
:
Dari
Abdullah bin Umar radhiyallaahu anhumaa :
«أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا رَمَى الجَمْرَةَ الَّتِي تَلِي مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا
بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ تَقَدَّمَ
أَمَامَهَا، فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو،
وَكَانَ يُطِيلُ الوُقُوفَ، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ، فَيَرْمِيهَا
بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ
اليَسَارِ، مِمَّا يَلِي الوَادِيَ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يَدْعُو، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ العَقَبَةِ،
فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ
يَنْصَرِفُ وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا»
Bahwa
Rasulullah saw, apabila melempar jamrah yang berada di dekat Masjid Mina,
beliau melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan
satu kerikil, lalu maju ke depan dan berdiri sambil menghadap qiblat dan
berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA, dan beliau berhenti lama.
Lalu
mendatangi jamrah kedua dan melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir
setiap melemparkan satu kerikil, lalu turun ke arah kiri, di sebelah lembah,
dan berdiri menghadap qiblat serta berdo’a dengan MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA,
lalu mendatangi jamrah ‘aqabah, lalu melemparnya dengan tujuh kerikil sambil
bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu pergi dan tidak berhenti di
situ.
[HR.
Bukhori no. 1753 ]
HADITS MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO’A
----
Hadits ke 1
:
Hadits Ibnu
Abbaas , bahwa Nabi ﷺ bersabda :
«سَلُوا اللهَ
بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا، فَإِذَا فَرَغْتُمْ
فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ»
Mintalah
kepada Allah dengan perut telapak tangan kalian , dan jangan meminta kepada-Nya
dengan punggung telapak tangan kalian , lalu ketika kalian selesai berdoa, maka
usapkanlah ke wajah-wajah kalian dengan nya .
[ HR. Abu
Daud dalam kitab "Sujud Al-Qur'an" dalam BAB ad-Du'aa (1485) dan
lafadz ini lafadz Abu Daud . Dan riwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam kitab
“ad-Du'a” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam Doa” Hadits no. (3866), Al-Hakim
dalam Mustadrak-nya dalam kitab “ad-Du'aa” (1/719) Hadits (1968) dan Al-Bayhaqi
dalam “Al-Sunan Al-Kubra” dalam kitab “Doa” dalam bab “Mengangkat Tangan dalam
Qunut” no. (3276)]
Lafadz Ibnu
Majah :
إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ
كَفَّيْكَ، وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا
وَجْهَكَ.
Jika kamu
berdoa kepada Allah, berdoalah dengan bagian dalam dua telapak tanganmu, dan
jangan berdoa dengan punggung nya , dan jika kamu telah selesai, maka usaplah
wajahmu dengan nya .
Abu Daud
berkata :
رُوِيَ هٰذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ
وَجْهٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ، كُلُّهَا وَاهِيَةٌ، وَهٰذَا الطَّرِيقُ
أَمْثَلُهَا، وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا.
Hadits ini
diriwayatkan dari lebih dari satu sisi dari Muhammad bin Ka'b, semuanya lemah,
dan jalur ini adalah yang terbaik darinya, dan ini juga lemah."
Dan di
dhaifkan oleh al-Albaani dalam Dhaif Ibnu Maajh no. 222
Sebab
lemahnya : Karena kelemahan Saleh bin Hasan; Didha'ifkan oleh Ahmad, Ibn Ma'in,
Abu Hatim dan Al-Daraqutni.
Dan
Al-Bukhari berkata: Haditsnya munkar, dan Abu Na`im al-Asbahani berkata: Hadits
munkar itu ditinggalkan.
Ibn Hibban
berkata: Dia adalah pemilik Qainat dan Samaa', dan dia biasa meriwayatkan
hadits-hadits palsu dengan mengatasakan namakan dari orang-orang yang kokoh
terpercata . Ibnu al-Jawzi mengatakan tentang hadits ini: Itu tidak shahih; di
dalamnya terdapat eh bin Hasan
Namun
As-Suyuthi mengutip pernyataan al-Haafidz Ibnu Hajar dalam kitab
"Amaalii" nya yang mengatakan bahwa hadits ini adalah HADITS HASAN .
[ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ hal 74 ]
----
Hadits ke 2
:
Hadits
Yazid bin Sa'id bin Tsumamah :
أنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَعَا
فَرَفَعَ يَدَيهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيهِ
Bahwa Nabi ﷺ
ketika dia berdoa maka beliau mengangkat tangannya, lalu mengusap wajahnya
dengan kedua tangannya.
[
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad (4/221) no. (17972), dan Abu Daud dalam
kitab “Sujud Al-Qur’an” dalam BAB “ad-Du'aa” no. (1492)].
----
Hadits ke 3
:
Riwayat
az-Zuhri :
Abdul
Razzaq berkata : Muammar memberi tahu kami dari al-Zuhri :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِي الدُّعَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ.
Rasulullah ﷺ
biasa mengangkat kedua tangannya ke sisi dada saat berdoa, lalu mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya. [ Baca : فَضُّ الْوِعَاءِ no. 52 ] .
Hadits ini
mursal .
----
Hadits Ke 4
:
Atsar Ibnu
Umar dan Ibnu al-Zubair :
Dan dari
Abu Nu'aym, dan dia adalah Wahb, yang mengatakan:
رَأَيتُ ابنَ عُمَرَ وابنَ الزُّبَيرِ
يَدْعُوانِ يُدِيرَانِ بِالرَّاحَتَينِ عَلَى الوَجْهِ
"Saya
melihat Ibnu Umar dan Ibnu al-Zubair berdoa sembil memutar-mutarkan kedua
telapak tangannya ke wajah ."
[ Di
riwayatkan oleh Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad hal. 214]
Di dalam
sanadnya ada Muhammad bin Falih dan ayahnya , yaitu Falih bin Suleiman
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Sahihnya dan Bukhori berhujjah dengan kedua
perawi tsb .
----
Hadits ke 5 :
Atsar
al-Hasan al-Bashry :
Dan
As-Suyuti meriwayatkan dalam “فَضُّ الْوِعَاءِ” dari Al-Hasan Al-Bashri : Bahwa dia mengusap wajah dengan
tangan setelah berdoa
“Al-Firyabi
berkata: Ishaq bin Raahwayh menceritakan kepada kami: Al-Mu`tamar bin Suleiman
mengkabarkan kepada kami, dia berkata:
" رَأَيْتُ أَبَا كَعْبٍ صَاحِبَ الْحَرِيرِ
يَدْعُو رَافِعًا يَدَيْهِ، فَإِذَا فَرَغَ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ، فَقُلْتُ
لَهُ: مَنْ رَأَيْتَ يَفْعَلُ هَذَا؟ قَالَ: الْحَسَنُ بْنُ أَبِي
الْحَسَنِ".
Saya
melihat Abu Ka'b – pemilik al-Hariir - berdoa dengan mengangkat kedua
tangannya, dan ketika dia selesai, maka dia mengusap wajahnya dengan kedua
telapak tangannya .
Saya
bertanya kepadanya : " Siapa yang Anda lihat orang yang melakukan ini?
Dia
menjawab : Al-Hasan bin Abu Al-Hasan [ Yasaar al-Bashry ]
As-Suyuthi
berkata : " ISNADNYA HASAN ". [ فَضُّ الْوِعَاءِ hal. 101 ]
Adapun apa yang diriwayatkan dari Imam al-Izz Ibnu Abdus-Salam : " bahwa hanya orang bodoh yang mengusap wajah setelah berdoa", Maka Az-Zarkashi menjawab dalam kitabnya “الأُزْهِيَّةُ فِي الأَدْعِيَةِ” tentang itu dengan mengatakan :
وَأَمَّا قَوْلُ الْعِزِّ فِي فَتَاوِيهِ
الْمَوْصِلِيَّةِ: مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدِ بِدْعَةٌ فِي الدُّعَاءِ لَا
يَفْعَلُهُ إِلَّا جَاهِلٌ، فَمَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى
هَذِهِ الْأَحَادِيثِ، وَهِيَ وَإِنْ كَانَتْ أَسَانِيدُهَا لَيِّنَةً لَكِنَّهَا
تَتَقَوَّى بِاجْتِمَاعِ طُرُقِهَا.
Adapun
perkataan Al-Izz dalam Fatawaa Al-Maushiliyyah-nya : bahwa Mengusap wajah
dengan tangan merupakan bid'ah dalam berdoa yang hanya bisa dilakukan oleh
orang yang bodoh" , maka perkataan dia ini dianggap bahwa dia tidak
membaca hadits-hadits tersebut.
Hadits-hadits
tsb meskipun sanadnya layyin [lembut], namun bisa diperkuat dengan
menggabungkan jalur-jalurnya " .
[ Di kutip
dari جُزْءٌ فِي مَسْحِ الْوَجْهِ بَعْدَ الدُّعَاءِ karya Bakr Abu Zaid hal. 25 ]
SIKAP BIJAK
PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT
MENGANGKAT
DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
Al-‘Allamah
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ
يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ
آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ
يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ
الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا
يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ
الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ
فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى
أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ
فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak
terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya dua tangan, maka hukum asalnya
adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa.
Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya
Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.’
Namun ada
keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan
meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah
(misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu
berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan
dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang
mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah
bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh
diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena
melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak
boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat:
Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
Imam an-Nasafi (madzhab
Hanafi) berkata:
«إِنَّهُ يَجِبُ
عَلَيْنَا إِذَا سُئِلْنَا عَنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ مُخَالِفِنَا فِي
الْفُرُوعِ أَنْ نُجِيبَ بِأَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ،
وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ».
“Wajib bagi kita
apabila ditanya tentang madzhab kita dan madzhab orang yang berbeda dengan kita
dalam masalah cabang (furu‘), kita menjawab bahwa madzhab kita benar namun
mengandung kemungkinan salah, dan madzhab yang berbeda dengan kita salah namun
mengandung kemungkinan benar.” [Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra
4/313]
Betapa indahnya
ucapan az-Zarkasyi:
«قَدْ رَاعَى
الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ خِلَافَ الْخَصْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ، وَهَذَا
إِنَّمَا يَتَمَشَّى عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ مُدَّعِيَ الْإِصَابَةِ لَا يَقْطَعُ
بِخَطَإِ مُخَالِفِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَمَّا كَانَ يُجَوِّزُ
خِلَافَ مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَنَظَرَ فِي مُتَمَسَّكِ خَصْمِهِ فَرَأَى لَهُ
مَوْقِعًا رَاعَاهُ عَلَى وَجْهٍ لَا يُخِلُّ بِمَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ،
وَأَكْثَرُهُ مِنْ بَابِ الِاحْتِيَاطِ وَالْوَرَعِ، وَهَذَا مِنْ دَقِيقِ
النَّظَرِ وَالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ».
“Imam asy-Syafi‘i dan
para sahabat (pengikut) beliau telah mempertimbangkan pendapat lawan dalam
banyak persoalan.
Hal itu berjalan di
atas prinsip bahwa orang yang mengklaim kebenaran tidak memastikan kesalahan
pihak yang berbeda dengannya.
Karena seorang
mujtahid itu membolehkan kemungkinan berbeda dari apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya. Ia melihat dalil lawannya dan mendapati ada pijakan padanya, maka
ia mempertimbangkannya dengan cara yang tidak merusak apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya.
Kebanyakan hal itu
termasuk dalam bab kehati-hatian dan wara‘. Ini termasuk ketelitian pandangan
dan sikap mengambil jalan yang lebih selamat.” [Baca : al-Bahrul Muhith Fii
Ushul al-Fiqhi 8/310]
Al-Qurthubi juga
berkata:
«وَلِذَلِكَ
رَاعَى مَالِكٌ الْخِلَافَ، قَالَ: وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ
يُرَاعِي صُورَةَ الْخِلَافِ، وَهُوَ جَهْلٌ أَوْ عَدَمُ إِنْصَافٍ. وَكَيْفَ
هَذَا وَهُوَ لَمْ يُرَاعِ كُلَّ خِلَافٍ وَإِنَّمَا رَاعَى خِلَافًا لِشِدَّةِ
قُوَّتِهِ». اهـ
“Karena itulah
Malik mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian pengikutnya mengira
bahwa beliau hanya mempertimbangkan bentuk lahiriah perbedaan, dan itu adalah
kebodohan atau kurangnya keadilan. Bagaimana mungkin demikian, padahal beliau
tidak mempertimbangkan setiap perbedaan, tetapi hanya mempertimbangkan
perbedaan yang kuat dalilnya.” [Selesai. Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah
al-Kubra 4/313].
===***===
PENUTUP
Dari Al-Awza‘i
(Tabi’i), dia berkata:
"العِلْمُ
مَا جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ومَا لَمْ يَجِيء عَنْهُم فَلَيسَ بِعِلْمٍ"
"Ilmu agama adalah apa
yang datang dari para sahabat Muhammad ﷺ, dan apa yang tidak datang
dari mereka, maka itu bukan ilmu".
[Lihat "Jami‘
Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644), dan "Al-Bidayah wa
an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]
---
Dan dari sahabat
Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
«لَا يَزَالُ النَّاسُ
بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ،
وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ،
فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»
“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad ﷺ dan para senior mereka (kibaar sahabat). Namun, apabila ilmu datang dari para junior (shigoor shabat) di antara mereka, maka saat itulah mereka binasa.”
Diriwayatkan oleh
Mu‘ammar dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan
disebutkan oleh Al-Haitsami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:
رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ
“Para perawinya
dapat dipercaya”.
Dan Al-Albani
berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”
0 Komentar