Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTIB MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT DOA DALAM KHUTBAH JUM'AT

 PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTIB MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT DOA DALAM KHUTBAH JUM'AT

-----

Ditulis Oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

====

CUPLIKAN

FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:

(Seorang ulama  terkemuka asal Arab Saudi, mantan anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) Dan Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa).)

[Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa khutbah Jumat]

Pertanyaan:

Apakah imam boleh mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika berdoa? Dan apakah makmum juga boleh melakukannya?

Jawaban:

Mereka mengangkat tangan jika imam mengangkat tangan. haditsnya bersifat umum, yaitu sabda Nabi :

“Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.”

Dan juga disebutkan bahwa Nabi  dahulu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. Mengangkat kedua tangan termasuk bentuk memohon dan meminta kepada Allah Ta‘ala, dan itu merupakan sebab dikabulkannya pemberian. Selama demikian, maka imam mengangkat kedua tangannya, dan para makmum pun mengangkat tangan mereka untuk mengaminkan. Inilah pendapat yang benar.

Adapun hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang melarang hal tersebut, yaitu bahwa sebagian sahabat masuk (masjid) sementara seorang laki-laki dari Bani Umayyah sedang berkhutbah dan ia menggerakkan kedua tangannya, maka sahabat itu berkata:

Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu; Nabi  tidaklah menggerakkan (tangannya) kecuali jari (telunjuknya).” Maksudnya: ketika tasyahud.

Maka kami katakan: perbuatan khatib tersebut bukan dalam doamelainkan di tengah khutbah, dan ia banyak menggerakkan kedua tangannya sebagai bentuk penekanan terhadap pembicaraan. Maka yang diingkari adalah banyaknya mengulurkan, mengangkat, dan menggerakkan kedua tangan tersebut. Disebutkan bahwa beliau  ketika sedang berkhutbah hanya menggerakkan jari telunjuknya untuk tasyahud.

Mengangkat kedua tangan dalam doa bukanlah termasuk gerakan seperti itu. Yang diingkari adalah gerakan terus-menerus dan berulang-ulang dengan kedua tangan.

[Sumber: Syarh ‘Umdat al-Ahkam [37]: Hukum Mengangkat Kedua Tangan dalam Doa Khutbah Jumat (al-Maktabah asy-Syamilah 37/8)]

----

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTHIB MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BEDO’A DALAM KHUTBAH JUM’AT
  • URAIAN PERBEDAAN PENDAPAT DAN DALILNYA
  • PENDAPAT PERTAMA: SUNNAH
  • DALIL PENDAPAT SUNNAH
  • FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:
  • PENDAPAT KE DUA : MAKRUH
  • PENDAPAT KE TIGA: HARAM DAN BID’AH
  • DALIL-DALIL PENDAPAT KE 2 YANG MEMAKRUHKAN DAN KE 3 YANG MENGHARAMKAN (BID’AH). BESERTA MUNAQOSYAH DALILNYA
  • DALIL PERTAMA
  • DALIL KEDUA
  • DALIL KE TIGA
  • DALIL KEEMPAT
  • STUDI KRITIS SEPUTAR MATAN HADITS ‘UMARAH DIATAS
  • DALIL KE LIMA
  • DALIL KE ENAM
  • TARJIH
  • SIKAP BIJAK PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
  • PENUTUP

**** 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Termasuk perkara yang telah ditetapkan dalam sunnah Nabi adalah dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa secara umum; sebagai bentuk menampakkan kehinaan, ketundukan, dan kebutuhan kepada Allah SWT, serta sebagai bentuk permohonan dan pengharapan untuk meraih karunia-Nya. Hal itu merupakan bagian dari adab-adab doa yang telah disepakati, dan termasuk sebab dikabulkannya doa; karena di dalamnya terdapat penampakan kejujuran dalam berlindung dan kembali kepada Allah Azza wa Jalla serta pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda:

«أَيُّهَا النَّاسُ، ‌إِنَّ ‌اللهَ ‌طَيِّبٌ ‌لَا ‌يَقْبَلُ ‌إِلَّا ‌طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ:

﴿ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾ [المؤمنون: 51]

وَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ [البقرة: 172]

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟»

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul.

Maka Dia berfirman: ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ [Al-Mu’minun: 51].

 Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’ [Al-Baqarah: 172].

Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan panjang, dalam keadaan kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: ‘Wahai Rabb, wahai Rabb.’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].

Al-‘Allamah Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

"هَذَا الْكَلَامُ أَشَارَ فِيهِ ﷺ إِلَى آدَابِ الدُّعَاءِ، وَإِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَتَهُ، وَإِلَى مَا يَمْنَعُ مِنْ إِجَابَتِهِ، فَذَكَرَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَةَ الدُّعَاءِ أَرْبَعَةً ...

قَالَ: الثَّالِثُ: مَدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ الَّتِي يُرْجَى بِسَبَبِهَا إِجَابَتُهُ،

وَفِي حَدِيثِ سَلْمَانَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»؛ خَرَّجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ.

وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَغَيْرِهِمَا.

وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ بَدْرٍ يَسْتَنْصِرُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صِفَةِ رَفْعِ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ أَنْوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ...

قَالَ: وَمِنْهَا: رَفْعُ يَدَيْهِ، جَعْلُ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى الْأَرْضِ.

وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ فِي سُؤَالِ اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي غَيْرِ حَدِيثٍ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ سِيرِينَ: «أَنَّ هَذَا هُوَ الدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ»".

Ucapan dalam hadits ini menunjukkan bahwa Nabi mengisyaratkan adab-adab doa, sebab-sebab yang menjadikan doa dikabulkan, serta hal-hal yang menghalangi pengabulannya. Beliau menyebutkan empat sebab yang menjadikan doa dikabulkan…

Beliau berkata: yang ketiga adalah mengangkat kedua tangan ke langit, dan ini termasuk adab doa yang diharapkan menjadi sebab dikabulkannya doa.

Dalam hadits Salman, dari Nabi : “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia merasa malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Diriwayatkan pula yang semisalnya dari hadits Anas, Jabir, dan selain keduanya.

Nabi biasa mengangkat kedua tangannya dalam doa istisqa hingga terlihat putih kedua ketiaknya. Beliau juga mengangkat kedua tangannya pada hari Perang Badar ketika memohon pertolongan atas kaum musyrikin hingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya.

Telah diriwayatkan dari Nabi tentang tata cara mengangkat tangan dalam doa dengan berbagai bentuk…

Di antaranya: mengangkat kedua tangan dengan menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit dan bagian punggungnya ke arah bumi.

Perintah tentang hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits mengenai permohonan kepada Allah Azza wa Jalla. Dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin disebutkan: “Inilah bentuk doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla.” [Baca: Jami al-Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rojab 1/269 Tahqiq al-Arna’uth]

Syaikhul Islam Abu Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra 5/337 berkata:

«وَيُسَنُّ ‌لِلدَّاعِي ‌رَفْعُ ‌يَدَيْهِ ‌وَالِابْتِدَاءُ ‌بِالْحَمْدِ لِلَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَأَنْ يَخْتِمَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ وَبِالتَّأْمِينِ»

“Disunnahkan bagi orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi , dan hendaknya ia menutup doanya dengan semua itu serta dengan ucapan amin.”

Beliau juga 22/519 berkata:

«وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ ﷺ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌الدُّعَاءِ: ‌فَقَدْ ‌جَاءَ ‌فِيهِ ‌أَحَادِيثُ ‌كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ»

“Adapun pengangkatan tangan oleh Nabi dalam doa, maka telah datang banyak hadits shahih tentangnya.”

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim 6/190 di hadits no. 896:

قَدْ ثَبَتَ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ ‌وَقَدْ ‌جَمَعْتُ ‌مِنْهَا ‌نَحْوًا ‌مِنْ ‌ثَلَاثِينَ ‌حَدِيثًا مِنَ الصَّحِيحَيْنِ

“Telah ada ketetapan riwayat bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam doa pada berbagai keadaan selain istisqa, dan jumlahnya lebih banyak daripada yang dapat dibatasi. Aku telah mengumpulkan sekitar tiga puluh hadits tentang hal itu dari Ash-Shahihain”.

Dan telah diketahui bahwa pengangkatan kedua tangan dalam doa telah ditetapkan oleh hadits-hadits shahih yang mencapai derajat mutawatir maknawi.

Sungguh telah tersebar secara melimpah ruah berbagai riwayat hadits tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, sampai-sampai sejumlah ulama menggolongkannya sebagai hadits mutawatir secara maknawi.

As-Suyuthi berkata:

«مِمَّا تَوَاتَرَ مَعْنَاهُ كَأَحَادِيثِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ نَحْوُ مِائَةِ حَدِيثٍ فِيهَا رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَقَدْ جَمَعْتُهَا فِي جُزْءٍ، لَكِنَّهَا فِي قَضَايَا مُخْتَلِفَةٍ؛ فَكُلُّ قَضِيَّةٍ مِنْهَا لَمْ تَتَوَاتَرْ، وَالْقَدْرُ الْمُشْتَرَكُ فِيهَا وَهُوَ الرَّفْعُ عِنْدَ الدُّعَاءِ تَوَاتَرَ بِاعْتِبَارِ الْمَجْمُوعِ».

“Di antara yang maknanya mutawatir adalah hadits-hadits tentang mengangkat kedua tangan dalam doa. Telah diriwayatkan dari beliau sekitar seratus hadits yang menyebutkan pengangkatan kedua tangan dalam doa.

Aku telah mengumpulkannya dalam satu juz (risalah kecil), namun hadits-hadits itu berada dalam berbagai peristiwa yang berbeda-beda; maka setiap peristiwa tersebut tidak mencapai derajat mutawatir secara tersendiri. Akan tetapi, sisi yang sama di antara semuanya, yaitu pengangkatan tangan ketika berdoa, menjadi mutawatir jika dilihat secara keseluruhan.”

(Dalam *Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi* 2/631).

===***===

PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTHIB
MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BEDO’A DALAM KHUTBAH JUM’AT

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengangkat kedua tangan ketika berdoa setelah selesai khutbah kedua.

Ada dua pendapat :

PENDAPAT PERTAMA: SUNNAH

Ini adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah, pendapat dalam madzab Malikiyah, Ibnu Hajar al-Haytami dari kalangan Syafi‘iyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan Hanabilah

PENDAPAT KEDUA : MAKRUH

Ini adalah pendapat madzab Hanafiyah, Syafi‘iyah, Malikiyah menurut pendapat yang sahih, serta madzhab Hanabilah

PENDAPAT KETIGA : HARAM DAN BID’AH

 ===***===

RINCIAN PERBEDAAN PENDAPAT DAN DALILNYA

 ****

PENDAPAT PERTAMA: SUNNAH

Yakni disunnahkan bagi khothib Jum’at mengangkat kedua saat berdoa dalam khutbahnya.

Ini adalah pendapat sebagian para ulama salaf, sebagian ulama Hanafiyah, ulama Malikiyah dalam salah satu pendapat, sebagian ulama Malikiyah, sebagaimana disebutkan oleh Qadhi ‘Iyadh dalam *Ikmal al-Mu'lim bi Fawaid Muslim 3/277*.

Dan juga ini adalah pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dari kalangan Syafi’iyah, Ibnu Aqil dan orang-orang yang mengikutinya dari kalangan madzhab Hanabilah, sebagaimana disebutkan dalam *Al-Furu'* (3/594).

Dan ini juga pendapat Imam Bukhori, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Mubarakfuri, dia berkata:

«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»

“Pengangkatan (kedua tangan saat berdo’a dalam khutbah Jum’at) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja.

Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab *Ad-Da‘awat* dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak (tanpa batas).” (*Tuhfat al-Ahwadzi* 2/173).

Ibnu Baththol berkata dalam Syarh Shohih al-Bukhari li-Ibni Baththol (3/21, cet. Maktabah ar-Rusyd):

«قَالَ الْمُهَلَّبُ: رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَغَيْرِهِ مُسْتَحَبٌّ؛ لِأَنَّهُ خُضُوعٌ وَتَذَلُّلٌ، وَتَضَرُّعٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى» ا.هـ.

Al-Muhallab berkata: “Mengangkat kedua tangan dalam istisqa dan selainnya adalah mustahab (disunnahkan), karena itu merupakan bentuk ketundukan, kerendahan diri, dan permohonan kepada Allah Ta‘ala.” Selesai.

Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi berkata dalam Al-Binayah Syarah al-Hidayah (4/203, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah):

«(وَالرَّفْعُ سُنَّةُ الدُّعَاءِ) ش: أَيْ رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ» اهـ.

“(Dan mengangkat tangan adalah sunnah dalam doa),” maksudnya: mengangkat kedua tangan adalah sunnah.

Al-Khurosyi al-Maliki berkata dalam Syarah Mukhtasar Khalil lil-Kharshi (2/341, cet. Dar al-Fikr):

«وَعِبَارَةُ شَبٍّ: وَفِي رَفْعِ يَدَيْهِ قَوْلَانِ، قَالَ الْمُوَضِّحُ: مَذْهَبُ «الْمُدَوَّنَةِ» عَدَمُ الرَّفْعِ» اهـ.

“Dalam masalah mengangkat kedua tangannya terdapat dua pendapat. Al-Muwadhdhih berkata: Madzhab ‘Al-Mudawwanah’ adalah tidak mengangkat tangan.” Selesai.

Al-Bahuti al-Hanbali berkata dalam *Kasyaf al-Qina’* 2/37:

«(وَ) يُسَنُّ أَنْ (يَدْعُوَ لِلْمُسْلِمِينَ)؛ لِأَنَّ الدُّعَاءَ لَهُمْ مَسْنُونٌ فِي غَيْرِ الْخُطْبَةِ فَفِيهَا أَوْلَى … يُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ».

“(Dan) disunnahkan agar (mendoakan kaum Muslimin); karena mendoakan mereka disunnahkan di luar khutbah, maka dalam khutbah lebih utama lagi … Dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah”.

Ar-Ramli asy-Syafi‘i berkata dalam *Nihayah al-Muhtaj* 1/505:

«(وَ) يُسَنُّ (رَفْعُ يَدَيْهِ) فِيهِ (أَيْ فِي الْقُنُوتِ عِنْدَهُمْ)، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ اتِّبَاعًا، كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيهِ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا».

“(Dan) disunnahkan (mengangkat kedua tangan) di dalamnya (yakni dalam qunut menurut mereka), dan dalam seluruh doa lainnya sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah), sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam hal itu dengan sanad yang baik, dan dalam doa-doa lainnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya.”

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya dalam *Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* 1/252 tentang mengangkat tangan setelah selesai dua khutbah pada hari Jumat, apakah itu mustahab atau bid‘ah?

Beliau menjawab:

«رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا. وَعِبَارَةُ «الْعُبَابِ» مَعَ شَرْحِي لَهُ: (يُسَنُّ لِلدَّاعِي خَارِجَ الصَّلَاةِ رَفْعُ يَدَيْهِ الطَّاهِرَتَيْنِ) لِلِاتِّبَاعِ ...»

“Mengangkat kedua tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar shalat dan yang semisalnya. Siapa yang mengira bahwa Nabi tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar. Dalam kitab *Al-‘Ubab* beserta syarahku disebutkan: ‘Disunnahkan bagi orang yang berdoa di luar shalat untuk mengangkat kedua tangannya yang suci,’ karena mengikuti sunnah …

Beliau juga 1/252-153 berkata:

مَنْ ادَّعَى حَصْرَهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا، وَهَذِهِ لِكَوْنِهَا مُثْبِتَةً مُقَدَّمَةٌ عَلَى رِوَايَتِهِمَا: «كَانَ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ». وَاسْتَحَبَّ الْخَطَّابِيُّ كَشْفَهُمَا فِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ، وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُهُمَا فِي حَالِ الْخُطْبَةِ كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ.

‘Siapa yang mengklaim pembatasan (hanya pada istisqa) maka ia telah salah dengan kesalahan besar.’ Riwayat-riwayat yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan) didahulukan atas riwayat yang menyatakan bahwa Nabi tidak mengangkat kedua tangannya dalam suatu doa kecuali dalam istisqa. Al-Khaththabi menganjurkan membuka kedua tangan dalam seluruh doa. Dan dimakruhkan bagi khathib mengangkat keduanya ketika sedang khutbah, sebagaimana dikatakan oleh al-Baihaqi.”

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam Fath al-Bari (11/143, cet. Dar al-Ma‘rifah):

«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ، فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا» اهـ.

“Ath-Thobari menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami hadits itu secara zahir dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah memberi isyarat dengan satu jari. Pendapat ini dibantah, karena hal itu hanya disebutkan pada khatib ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam konteks hadits. Maka tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk melarang mengangkat kedua tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya riwayat-riwayat tentang disyariatkannya mengangkat tangan.” Selesai.

Qodhi ‘Iyadh berkata dalam Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Muslim (3/277, cet. Dar al-Wafa’):

«كَرِهَ قَوْمٌ مِنَ السَّلَفِ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ، وَحُجَّةُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ، وَأَجَازَهُ آخَرُونَ، وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ أَصْحَابِنَا، وَحُجَّتُهُمْ رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَدَّهُمَا فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ اسْتَسْقَى» اهـ.

“Sebagian ulama salaf memakruhkan mengangkat kedua tangan dalam khutbah dan doa, dan itu adalah pendapat Malik.

Dalil orang yang berpendapat demikian adalah hadits ini.

Sementara yang lain membolehkannya, dan itu adalah pendapat sebagian sahabat (ulama) kami. Dalil mereka adalah bahwa Nabi mengangkat dan menjulurkan kedua tangannya dalam khutbah dan doa pada hari Jumat ketika beliau beristisqa (meminta hujan).” Selesai.

Ibnu Hajar al-Haytami asy-Syafi‘i berkata dalam Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (1/252, cet. al-Maktabah al-Islamiyyah), ketika ditanya tentang mengangkat kedua tangan setelah selesai dua khutbah pada hari Jumat:

«رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا» اهـ.

“Mengangkat kedua tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar sholat dan semisalnya. Barang siapa mengira bahwa Nabi tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar.” Selesai.

Az-Zarkashi berkata dalam Syarah Mukhtasar al-Khiraqi (2/182, cet. Dar al-‘Ubaikan):

«(وَإِنْ أَرَادَ الْخَطِيبُ أَنْ يَدْعُوَ لِإِنْسَانٍ دَعَا).. وَيُسْتَحَبُّ رَفْعُ الْيَدِ فِي الدُّعَاءِ عِنْدَ ابْنِ عَقِيلٍ، لِعُمُومِ مَطْلُوبِيَّةِ رَفْعِ الْأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ». اهـ.

“(Jika khatib ingin mendoakan seseorang, maka ia berdoa)… dan disunnahkan mengangkat tangan dalam doa menurut Ibnu ‘Aqil, karena keumuman anjuran mengangkat tangan dalam doa.” Selesai.

Al-Munawi berkata dalam Fayd al-Qadir (2/228, cet. al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra):

«وَفِي "الْكَشَّافِ" هُوَ جَارٍ عَلَى سَبِيلِ التَّمْثِيلِ، وَفِيهِ نَدْبُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَرَدٌّ عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ كَرِهَ ذَلِكَ، قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَقَدْ وَرَدَ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ أَخْبَارٌ صَحِيحَةٌ صَرِيحَةٌ لَا تَقْبَلُ تَأْوِيلًا» اهـ.

“Dalam al-Kasysyaf disebutkan bahwa hal itu berjalan sebagai bentuk permisalan. Di dalamnya terdapat anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa, dan merupakan bantahan terhadap Malik yang memakruhkannya. Ibnu Hajar berkata: Telah datang riwayat-riwayat sahih dan tegas tentang mengangkat kedua tangan yang tidak menerima takwil (penafsiran lain).” Selesai.

Barangkali dasar disyariatkannya mengangkat kedua tangan dalam doa — sebagaimana dikatakan Al-Bujayrimi — yaitu:

«إِنَّ السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدُّعَاءِ، وَالطَّالِبُ لِشَيْءٍ يَبْسُطُ كَفَّيْهِ لِأَخْذِهِ، وَالدَّاعِي طَالِبٌ، وَلِأَنَّ حَوَائِجَ الْعِبَادِ فِي خِزَانَةٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَالدَّاعِي يَمُدُّ يَدَيْهِ لِحَاجَتِهِ، وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى مَا هُوَ وَصْفٌ لِلْمَدْعُوِّ مِنَ الْجَلَالِ وَالْكِبْرِيَاءِ».

“Sesungguhnya langit merupakan kiblat doa; orang yang meminta sesuatu akan membentangkan kedua telapak tangannya untuk mengambilnya; orang yang berdoa adalah orang yang meminta; dan karena kebutuhan para hamba berada dalam perbendaharaan di bawah ‘Arasy, maka orang yang berdoa membentangkan kedua tangannya untuk kebutuhannya. Di dalamnya juga terdapat isyarat terhadap sifat keagungan dan kebesaran Dzat yang dimohon”. [Lihat: Hashiyat al-Bujayrimi 'ala al-Khatib (1/176, cet. Dar al-Fikr)].

Berdasarkan uraian di atas, maka mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah Jumat dan di antara dua khutbah saat imam duduk adalah perkara yang dianjurkan; karena itu termasuk adab doa, sebab dikabulkannya doa, lebih mendorong untuk mendapatkan jawaban, serta mengandung kesempurnaan adab kepada Allah Ta‘ala dengan menampakkan kehinaan dan kebutuhan di hadapan-Nya, dan juga berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan anjuran tersebut.

===

DALIL PENDAPAT : SUNNAH

Argumentasinya: adalah keumuman dalil-dalil yang menunjukkan disunnahkannya mengangkat tangan dalam doa, dan karena Nabi pernah mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika melakukan doa istisqa (meminta hujan) dan do’a istsh-ha (meminta cuaca cerah).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَبَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْطُبُ عَلَى المِنْبَرِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَ المَالُ، وَجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا،

قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، قَالَ: فَثَارَ سَحَابٌ أَمْثَالُ الجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ،

قَالَ: فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَفِي الغَدِ، وَمِنْ بَعْدِ الغَدِ، وَالَّذِي يَلِيهِ إِلَى الجُمُعَةِ الأُخْرَى، فَقَامَ ذَلِكَ الأَعْرَابِيُّ - أَوْ رَجُلٌ غَيْرُهُ - فَقَالَ: ‌يَا ‌رَسُولَ ‌اللَّهِ، ‌تَهَدَّمَ ‌البِنَاءُ ‌وَغَرِقَ ‌المَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ، وَقَالَ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلَا عَلَيْنَا«»

قَالَ: فَمَا جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَّا تَفَرَّجَتْ، حَتَّى صَارَتِ المَدِينَةُ فِي مِثْلِ الجَوْبَةِ حَتَّى سَالَ الوَادِي، وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا، قَالَ: فَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ

“Manusia pernah ditimpa musim paceklik pada masa Rasulullah . Ketika Nabi sedang berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba seorang Arab Badui berdiri dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan anak-anak kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.’

Maka beliau mengangkat kedua tangannya, sementara kami tidak melihat di langit sedikit pun awan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, beliau belum menurunkan kedua tangannya hingga awan bergumpal seperti gunung-gunung. Beliau belum turun dari mimbarnya sampai aku melihat hujan mengalir dari jenggot beliau .

Maka kami pun diguyur hujan pada hari itu, keesokan harinya, hari berikutnya, dan seterusnya hingga Jumat berikutnya. Kemudian orang Arab Badui itu — atau orang lain — berdiri dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, bangunan-bangunan telah roboh dan harta benda tenggelam, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.’

Lalu beliau mengangkat tangannya dan berdoa: ‘Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan menimpa kami.’

Maka setiap kali beliau memberi isyarat dengan tangannya ke suatu arah awan, awan itu pun terbelah, hingga kota Madinah menjadi seperti sebuah cekungan (yang dikelilingi hujan). Lembah Qanah pun mengalir selama sebulan, dan tidak seorang pun datang dari suatu arah melainkan ia menceritakan tentang derasnya hujan tersebut.” [HR. Bukhori no. 1033 dan Muslim no. 897]

Dan ini adalah pendapat Imam Bukhori dan para ulama hadits lainnya. Al-Mubarakfuri berkata:

«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»

“Pengangkatan (dua tangan saat berdo’a dalam khutbah Jum’at) seperti ini, meskipun haditsnya dalam do’a istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak/ tanpa batas.” (*Tuhfat al-Ahwadzi* 2/173).

===

FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:

(Seorang ulama terkemuka asal Arab Saudi, Serta mantan anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) Dan Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa).)

Tanya jawab dengan Syeikh Abdullah bin Jibrin tentang hukum mengangkat kedua tangan dalam doa khutbah Jumat:

[حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ]

السُّؤَالُ:

هَلْ لِلْإِمَامِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ لِلدُّعَاءِ، وَكَذَلِكَ الْمَأْمُومُونَ هَلْ لَهُمْ ذَلِكَ؟

الْجَوَابُ:

يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ إِذَا رَفَعَ الْإِمَامُ، وَالْحَدِيثُ عَامٌّ، وَهُوَ قَوْلُهُ: (إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا)، وَ(أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ)، وَأَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ مِنْ بَابِ الِاسْتِجْدَاءِ وَالِاسْتِعْطَاءِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَهُوَ سَبَبٌ لِلْعَطَاءِ، وَمَا دَامَ كَذَلِكَ فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَالْمَأْمُومُونَ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ لِلتَّأْمِينِ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ.

وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ مَنْ يَنْهَى عَنْ ذَلِكَ، وَهُوَ أَنَّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ دَخَلَ وَرَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ يَخْطُبُ وَهُوَ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ، فَقَالَ: (قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ؛ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُحَرِّكُ إِلَّا إِصْبَعَهُ)، يَعْنِي: لِلتَّشَهُّدِ.

فَنَقُولُ: فِعْلُ هَذَا الْخَطِيبِ لَيْسَ فِي الدُّعَاءِ، إِنَّمَا هُوَ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ بِكَثْرَةٍ، يُحَرِّكُ يَدَيْهِ مِنْ بَابِ الِاهْتِمَامِ بِالْأَمْرِ، فَأُنْكِرَ عَلَيْهِ كَثْرَةُ مَدِّ الْيَدَيْنِ وَرَفْعُهُمَا وَتَحْرِيكُهُمَا، فَذُكِرَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ إِنَّمَا كَانَ يُحَرِّكُ إِصْبَعَهُ لِلتَّشَهُّدِ، وَلَيْسَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ لِلدُّعَاءِ تَحْرِيكًا، إِنَّمَا الَّذِي أُنْكِرَ هُوَ التَّحْرِيكُ الَّذِي هُوَ مُسْتَمِرٌّ بِاطِّرَادٍ بِيَدَيْهِ.

[Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa khutbah Jumat]

Pertanyaan:

Apakah imam boleh mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika berdoa? Dan apakah makmum juga boleh melakukannya?

Jawaban:

Mereka mengangkat tangan jika imam mengangkat tangan. haditsnya bersifat umum, yaitu sabda Nabi :

“Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.”

Dan juga disebutkan bahwa Nabi dahulu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. Mengangkat tangan termasuk bentuk memohon dan meminta kepada Allah Ta‘ala, dan itu merupakan sebab dikabulkannya pemberian. Selama demikian, maka imam mengangkat kedua tangannya, dan para makmum pun mengangkat tangan mereka untuk mengaminkan. Inilah pendapat yang benar.

Adapun hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang melarang hal tersebut, yaitu bahwa sebagian sahabat masuk (masjid) sementara seorang laki-laki dari Bani Umayyah sedang berkhutbah dan ia menggerakkan kedua tangannya, maka sahabat itu berkata:

Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu; Nabi tidaklah menggerakkan (tangannya) kecuali jari (telunjuknya).” Maksudnya: ketika tasyahud.

Maka kami katakan: perbuatan khatib tersebut bukan dalam doa, melainkan di tengah khutbah, dan ia banyak menggerakkan kedua tangannya sebagai bentuk penekanan terhadap pembicaraan. Maka yang diingkari adalah banyaknya mengulurkan, mengangkat, dan menggerakkan kedua tangan tersebut. Disebutkan bahwa beliau ketika sedang berkhutbah hanya menggerakkan jari telunjuknya untuk tasyahud.

Mengangkat kedua tangan dalam doa bukanlah termasuk gerakan seperti itu. Yang diingkari adalah gerakan terus-menerus dan berulang-ulang dengan kedua tangan.

[Sumber: Syarh ‘Umdat al-Ahkam [37]: Hukum Mengangkat Kedua Tangan dalam Doa Khutbah Jumat (al-Maktabah asy-Syamilah 37/8)].

****

PENDAPAT KEDUA : MAKRUH

Madzhab Hanafiyah, Syafi‘iyah, Malikiyah menurut pendapat yang sahih, dan Hanabilah berpendapat bahwa makruh bagi khatib mengangkat kedua tangan ketika berdoa setelah selesai khutbah kedua.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan pada nomor 5493: Dari Muhammad bin Sirin, bahwa ia berkata:

«أَوَّلُ مَنْ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الْجُمُعَةِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْمَرٍ»

“Orang pertama yang mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Ma‘mar.”

Dan Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan pada nomor 5494: Dari Thawus, ia berkata:

«كَانَ يَكْرَهُ دُعَاءَهُمُ الَّذِي يَدْعُونَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَكَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ»

“Dia tidak menyukai doa mereka yang mereka panjatkan pada hari Jumat itu, dan ia tidak mengangkat kedua tangannya.”

Qodhi ‘Iyadh berkata dalam Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Muslim (3/277, cet. Dar al-Wafa’):

«كَرِهَ قَوْمٌ مِنَ السَّلَفِ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ» اهـ.

“Sebagian ulama salaf memakruhkan mengangkat kedua tangan dalam khutbah dan doa, dan itu adalah pendapat Malik.” Selesai.

Dan Al-Khurosyi al-Maliki berkata dalam Syarah Mukhtasar Khalil lil-Kharshi (2/341, cet. Dar al-Fikr):

«وَعِبَارَةُ شَبٍّ: وَفِي رَفْعِ يَدَيْهِ قَوْلَانِ، قَالَ الْمُوَضِّحُ: مَذْهَبُ «الْمُدَوَّنَةِ» عَدَمُ الرَّفْعِ» اهـ.

“Dalam masalah mengangkat kedua tangannya terdapat dua pendapat. Al-Muwadhdhih berkata: Madzhab ‘Al-Mudawwanah’ adalah tidak mengangkat tangan.” Selesai.

Dan Muhammad al-Khurosyi juga berkata (2/341):

«وَضَعَّفَ مَالِكٌ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي جَمِيعِ الْمَشَاعِرِ وَالِاسْتِسْقَاءِ، وَقَدْ رُئِيَ رَافِعًا يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَقَدْ جَعَلَ بُطُونَهُمَا إِلَى الْأَرْضِ وَقَالَ: إِنْ كَانَ الرَّفْعُ فَهَكَذَا، انْتَهَى». ا.هـ.

“Malik melemahkan (tidak menganjurkan) mengangkat kedua tangan di seluruh tempat ibadah dan dalam istisqa. Namun pernah terlihat beliau mengangkat kedua tangannya dalam istisqa, dan beliau menjadikan bagian dalam kedua telapak tangannya menghadap ke tanah seraya berkata: ‘Jika mengangkat tangan, maka beginilah caranya.’ Selesai.”

Al-Imam an-Nawawi berkata:

أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ لَا يَرْفَعَ الْيَدَ فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ، وَحَكَى الْقَاضِي عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَبَعْضِ الْمَالِكِيَّةِ إِبَاحَتَهُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ حِينَ اسْتَسْقَى، وَأَجَابَ الْأَوَّلُونَ بِأَنَّ هَذَا الرَّفْعَ كَانَ لِعَارِضٍ.

“Sesungguhnya yang sunnah adalah tidak mengangkat tangan dalam khutbah. Ini adalah pendapat Malik Ibnu Anas, pendapat kami (ulama Syafi‘iyah), dan selain mereka.

Al-Qadhi (Iyadh) menukil dari sebagian ulama salaf dan sebagian Malikiyah bahwa hal itu dibolehkan, karena Nabi pernah mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika melakukan istisqa (meminta hujan).

Pendapat pertama menjawab bahwa pengangkatan tangan tersebut terjadi karena suatu sebab khusus (insidental).” [Baca : Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim*, 6/162)].

Syamsuddin ar-Ramli, ulama madzhab Syafi’i, berkata dalam Nihayat al-Muhtaj (1/506, cet. Dar al-Fikr):

«وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الْخُطْبَةِ، قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ» اهـ.

“Dimakruhkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya ketika sedang berkhutbah. Ini yang katakan oleh al-Baihaqi.” Selesai.

Syeikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata:

«وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ أَصَحُّ الْوَجْهَيْنِ لِأَصْحَابِنَا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ إِنَّمَا كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا، وَأَمَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ لَمَّا اسْتَسْقَى عَلَى الْمِنْبَرِ»

“Dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah. Inilah pendapat yang lebih sahih dari dua pendapat di kalangan sahabat (ulama) kami; karena Nabi ketika berdoa hanya berisyarat dengan jari beliau. Adapun dalam istisqa (shalat minta hujan), maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika meminta hujan di atas mimbar.” (*Al-Ikhtiyārāt*, hlm. 98).

Mansur al-Buhuti, ulama Hanbali berkata dalam Kashshaf al-Qina' (2/37, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah):

«وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ» اهـ.

“Dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah.” Selesai.

Imam asy-Syaukani berkata dalam *Nail al-Awthar* 3/322:

«الْحَدِيثَانِ الْمَذْكُورَانِ فِي الْبَابِ يَدُلَّانِ عَلَى كَرَاهَةِ رَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمِنْبَرِ حَالَ الدُّعَاءِ»

“Dua hadits yang disebutkan dalam bab ini menunjukkan makruhnya mengangkat tangan di atas mimbar ketika berdoa”.

****

PENDAPAT KE TIGA : HARAM DAN BID’AH

Ada sebagian para ulama bahwa haram hukumnya bagi khothib Jum’at mengangkat kedua tangan saat berdo’a . Dan itu adalah bid‘ah sesat.

Ini adalah pendapat az-Zuhri, Masruq, al-Baqoli dalam madzhab Hanafi dan al-Majd dari madzhab Hanbali.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam *Al-Mushannaf* (1/475 no. 5492): Dari Az-Zuhri, ia berkata:

«رَفْعُ الْأَيْدِي يَوْمَ الْجُمُعَةِ مُحْدَثٌ»

“Mengangkat tangan pada hari Jumat adalah perkara yang diada-adakan (muhdats).”

Dan Ibnu Abi Syaubah juga meriwayatkan pada nomor 5495: Dari Masruq, ia berkata:

«رَفَعَ الْإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَدَيْهِ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ» فَقَالَ مَسْرُوقٌ: «قَطَعَ اللَّهُ أَيْدِيَهُمْ».

“Seorang imam pada hari Jumat mengangkat kedua tangannya di atas mimbar, maka orang-orang pun mengangkat tangan mereka.”

Lalu Masruq berkata: “Semoga Allah memotong tangan-tangan mereka.”

Ibnu Abidin berkata dalam Radd al-Muhtar (2/158, cet. Dar al-Fikr):

[قَالَ الْبَقَّالِيُّ فِي «مُخْتَصَرِهِ»: وَإِذَا شَرَعَ الْخَطِيبُ فِي الدُّعَاءِ لَا يَجُوزُ لِلْقَوْمِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ وَلَا تَأْمِينٌ بِاللِّسَانِ جَهْرًا، فَإِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ أَثِمُوا، وَقِيلَ أَسَاؤُوا وَلَا إِثْمَ عَلَيْهِمْ] اهـ.

Al-Baqali berkata dalam *Mukhtashar*-nya: “Apabila khatib mulai berdoa, maka tidak boleh bagi jamaah mengangkat tangan dan tidak boleh pula mengaminkan dengan lisan secara keras. Jika mereka melakukannya, maka mereka berdosa; dan ada yang mengatakan mereka berbuat buruk namun tidak berdosa.” Selesai.

Ibnu Muflih berkata:

«قَالَ الْمَجْدُ: هُوَ بِدْعَةٌ، وِفَاقًا لِلْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ»

“Al-Majd berkata: Itu adalah bid‘ah, sejalan dengan pendapat Malikiyah, Syafi‘iyah, dan selain mereka.” (*Al-Mubdi‘ fī Syar al-Muqni‘*).

Al-Mardawi berkata:

«وَقِيلَ: يَرْفَعُهُمَا، وَجَزَمَ بِهِ فِي "الْفُصُولِ"، وَهُوَ مِنَ الْمُفْرَدَاتِ، وَقِيلَ: لَا يُسْتَحَبُّ. قَالَ الْمَجْدُ: هُوَ بِدْعَةٌ».

“Dan ada yang berpendapat: Ia (imam) mengangkat keduanya (tangannya), dan pendapat ini ditegaskan dalam *Al-Fuṣūl*, dan itu termasuk pendapat yang menyendiri (dalam mazhab). Dan ada pula yang mengatakan: Tidak disunnahkan. Al-Majd berkata: Itu adalah bid‘ah.”

 ===***===

DALIL-DALIL PENDAPAT
KE 2 YANG MEMAKRUHKAN DAN KE 3 YANG MENGHARAMKAN (BID’AH)
BESERTA MUNAQOSYAH DALILNYA

Dalil-dalil mereka yang menghukumi haram dan bid’ah sesat mengangkat kedua tangan saat khothib berdoa, adalah sbb :

*****

DALIL PERTAMA

Bahwa hal itu tidak dinukil dari para sahabat, padahal Nabi telah melaksanakan sholat Jumat berkali-kali.

-----

BANTAHAN TERHADAP DALIL DIATAS

[*] Dikatakan:

عَدَمُ الْعِلْمِ لَا يَعْنِي الْعِلْمَ بِالْعَدَمِ.

Bahwa tidak mengetahui sesuatu itu tidak berarti mengetahui ketiadaan-nya.

[*] Selain itu, apa yang mereka katakan dibantah oleh keumuman hadits-hadits menyariatkan berdoa sambil mengangkat dua tangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

[*] Juga karena kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa mengangkat kedua tangan termasuk adab berdoa secara umum, dan tidak keluar dari keumuman ini kecuali dengan dalil yang melarangnya.

[*] Dan membatasi bolehnya mengangkat tangan dalam doa hanya pada tempat-tempat yang sahih dari Nabi saja adalah kekeliruan semata.

Oleh sebab itu Imam An-Nawawi berkata:

«وَالْمَقْصُودُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنِ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا».

“Yang dimaksud adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang sangat parah.” [Baca : al-Majmu’ 3/511]

****

DALIL KE DUA:

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ فِي الدُّعَاءِ عَلَى مِنْبَرٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَكِنِّي رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا، ‌وَأَشَارَ ‌بِالسَّبَّابَةِ ‌وَعَقَدَ ‌الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ»

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di atas mimbar sama sekali, dan tidak pula di tempat lainnya. Namun aku melihat beliau berdoa seperti ini,” lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan menggenggam jari tengah dengan ibu jari.

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1105, Ibnu Abi Syaibah (2/486 dan 10/377–378), Ahmad (22855), Ibnu Khuzaimah (1450), Abu Ya’la (7551), Ibnu Hibban (883), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (6023), Al-Hakim (1/535–536), dan Al-Baihaqi (3/210), melalui beberapa jalur dari Abdurrahman bin Ishaq, dengan sanad ini].

SISI PENDALILAN

Mereka berdalil dengan hadits Sa’ad bin Sahl ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan bagi seorang khothib jum’at mengangkat kedua tangannya saat berdo’a dalam khitbahnya. Dan ini adalah termasuk perbuatan bid’ah sesat dan terlarang dalam agama.

Imam Al-Baihaqi berkata:

«وَالْقَصْدُ مِنَ الْحَدِيثَيْنِ إِثْبَاتُ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، ثُمَّ فِيهِ مِنَ السُّنَّةِ أَلَّا يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَيَقْتَصِرَ عَلَى أَنْ يُشِيرَ بِأُصْبُعِهِ. وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ مَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا، وَذَلِكَ حِينَ اسْتَسْقَى فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ».

"Maksud dari kedua hadits ini adalah menetapkan adanya doa dalam khutbah.

Kemudian di dalamnya terdapat sunnah bahwa tidak mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah, dan cukup dengan memberi isyarat dengan jari.

Dan telah ada ketetapan dari Anas bin Malik, dari Nabi , bahwa beliau membentangkan kedua tangannya dan berdoa, yaitu ketika beliau meminta hujan dalam khutbah Jumat.”

[Lihat: As-Sunan Al-Kubra (3/289)].

-----

BANTAHAN TERHADAP DALIL DIATAS

HADITS INI DHO’IF:

Hadits ini dinilai lemah (dho’if) oleh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud (204) dan lainnya.

Dan dinilai dho’if pula oleh Syu’aib Al-Arnauth. Dia berkata dalam takhrij Sunan Abi Dawud (2/324):

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ - وَهُوَ ابْنُ الْحُوَيْرِثِ الْمَدَنِيُّ - ابْنُ أَبِي ذُبَابٍ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ.

Sanadnya lemah (dho’if) karena lemahnya Abdurrahman bin Mu’awiyah — yaitu Ibnu Al-Huwairits Al-Madani. Sedangkan Ibnu Abi Dhubab adalah Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Harits.

Makna hadits :

Al-‘Adzim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud 3/320 no. 1105 berkata:

(شَاهِرًا يَدَيْهِ) أَيْ مُظْهِرًا رَافِعًا يَدَيْهِ حَيْثُ يَظْهَرُ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ أَوْ نَحْوُهُ وَكَأَنَّهُ أَرَادَ الْمُبَالَغَةَ وَإِلَّا فَالرَّفْعُ مَعْلُومٌ عِنْدَ الدُّعَاءِ (وَلَا غَيْرِهِ) أَيِ الْمِنْبَرِ فَلَمْ يَكُنْ مِنْ دَأْبِهِ ﷺ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ إِلَى هَذَا الْحَدِّ (يَقُولُ هَكَذَا) أَيْ يُشِيرُ هَكَذَا (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ) كَأَنَّهُ يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ

وَهَذَا الْحَدِيثُ وَقَعَ جَوَابًا وَكَأَنَّ سَائِلًا سَأَلَ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى الْمِنْبَرِ شَاهِرًا يَدَيْهِ فَأَجَابَ سَهْلٌ بِأَنَّهُ مَا رَأَيْتُ ذَلِكَ يَفْعَلُهُ بِالْوَصْفِ الْمَذْكُورِ إِنَّمَا رَأَيْتُهُ يُشِيرُ وَقْتَ الْمَوْعِظَةِ بِالسَّبَّابَةِ وَيَعْقِدُ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ كَأَنَّهُ يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

وَقَالَ الْمُنْذِرِيُّ فِي إِسْنَادِهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ الْقُرَشِيُّ الْمَدَنِيُّ وَيُقَالُ لَهُ عَبَّادُ بْنُ إِسْحَاقَ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاوِيَةَ وَفِيهِمَا مَقَالٌ

“Ucapannya : “(شَاهِرًا يَدَيْهِ) yakni menampakkan dan mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat putih kedua ketiaknya atau semisalnya. Seakan-akan yang dimaksud adalah berlebih-lebihan dalam mengangkat; kalau tidak, maka mengangkat tangan saat berdoa itu sudah maklum.

Ucapannya : (وَلَا غَيْرِهِ) yakni selain mimbar; jadi bukan termasuk kebiasaan beliau untuk mengangkat kedua tangannya sampai pada batas seperti itu.

Ucapannya : (يَقُولُ هَكَذَا) yakni beliau memberi isyarat seperti ini.

Ucapannya : (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ) yakni beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk, seakan-akan beliau mengangkatnya sebagaimana ketika tasyahud.

Hadis ini datang sebagai jawaban, seakan-akan ada seseorang yang bertanya kepada Sahl bin Sa‘d: “Apakah Nabi berdoa di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi?” Maka Sahl menjawab: “Aku tidak pernah melihat beliau melakukan hal itu dengan cara yang disebutkan tersebut. Aku hanya melihat beliau memberi isyarat ketika menyampaikan nasihat dengan jari telunjuk, dan beliau melingkarkan jari tengah dengan ibu jari, seakan-akan beliau mengangkatnya sebagaimana ketika tasyahud.” Dan Allah lebih mengetahui.

Al-Mundziri berkata: Dalam sanadnya terdapat ‘Abdurrahman bin Ishaq al-Qurasyi al-Madani, yang juga disebut ‘Abbad bin Ishaq dan ‘Abdurrahman bin Mu‘awiyah; dan pada keduanya terdapat pembicaraan (kritik dari para ulama hadits).”

****

DALIL KE TIGA:

Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:

Dari Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat junior):

أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:

«مَا ‌مِنْ ‌أُمَّةٍ ‌تُحْدِثُ ‌فِي ‌دِينِهَا ‌بِدْعَةً ‌إِلَّا ‌ضَاعَتْ ‌مِثْلُهَا ‌مِنَ ‌السُّنَّةِ».

فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً

Bahwa Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat tangan-tangan di atas mimbar.

Maka ia menjawab: Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan. Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu. Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah suatu umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan yang semisal dengannya dari sunnah”.

Maka berpegang teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.

[Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf al-Astar (1/82) nomor (131).

Dan melalui jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].

Juga di riwayatkan oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.

SISI PENDALILAN

Perkataan Ghudhaif bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu diatas, meskipun tidak secara tegas menyatakan bid’ah, namun dia mengisyaratkan bahwa mengangkat kedua tangan khothib di atas mimbar saat berdoa itu termasuk perbuatan bid’ah.

-----

BANTAHAN TERHADAP DALIL DIATAS

Sanad Atsar ini sangatLemah Sekali

Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

*] الْحُسَيْنُ بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ

*] يُونُسُ بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ

*] عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ

*] ابْنُ الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ

Sanadnya lemah.

*] Al-Husain bin Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).

*] Yunus bin Yahya al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi, dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.

*] ‘Abdul Malik bin Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi, dan ia lemah.

*] Ibnu al-Majishun adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]

Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):

فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ”.

Di dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.

Hadits ini juga dinilai do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan “Dho’if at-Targhib” no. 37.

Dan dinyatakan dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.]

****

DALIL KE EMPAT:

Mereka berdalil dengan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.

Pertama :  Hadits Umarah melalui jalur Ibnu Fudhoil dari Hushoin :

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam al-Musnad no. 18299:

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami Hushain, dari ‘Umarah bin Ruwaibah:

أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو، فَقَالَ: "لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ يَدْعُو وَهُوَ يُشِيرُ بِإِصْبَعٍ".

“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil memberi isyarat dengan kedua jarinya, dia berseru (berdo’a).

Maka ia mencelanya : “Semoga Allah melaknat kedua tangan kecil ini. Aku telah melihat Rasulullah di atas mimbar menyeru (berdo’a) dan beliau hanya memberi isyarat dengan satu jari.”

Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (30/232):

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. صَحَابِيُّهُ مِنْ رِجَالِهِ، وَبَاقِي رِجَالِ الْإِسْنَادِ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ. ابْنُ فُضَيْلٍ: هُوَ مُحَمَّدٌ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Muslim. Sahabat dalam sanad ini termasuk perawi Muslim, dan selainnya adalah perawi dua Syaikh. Ibnu Fudhail adalah Muhammad, dan Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.

Kedua : Hadits Umarah Melalui jalur Zaidah, Syu’bah, Husyaim dan Syarik dari Hushoin.

Abu Nu‘aim al-Ashbahani berkata dalam Al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (2/459 no. 1962):

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja‘far, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah dan Za’idah dari Hushoin, ia berkata: ‘Umarah bin Ru’aibah melihat…

Dan telah menceritakan kepada kami Habib bin al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Yusuf al-Qadhi, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Marzuq, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah dari Hushoin dari ‘Umarah…

Dan telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Hushoin, telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Abd al-Hamid, telah menceritakan kepada kami Mandal, Husyaim, dan Syarik

Dan telah menceritakan kepada kami Habib, telah menceritakan kepada kami Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi‘, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah mengabarkan kepada kami Hushoin

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ash-Shawwaf, telah menceritakan kepada kami al-Husain bin ‘Umar bin Abi al-Ahwas, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Za’idah dari Hushoin, ia berkata:

شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُؤَيْبَةَ الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ عِيدٍ وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَالَ عُمَارَةُ ‌قَبَّحَ ‌اللَّهُ ‌هَاتَيْنِ ‌الْيَدَيْنِ ‌الْقَصِيرَتَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ

Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi pada hari raya, sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam doa, maka ‘Umarah berkata:

“Semoga Allah memburukkan kedua tangan yang pendek ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah , dan beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini, seraya beliau memberi isyarat dengan jarinya”. [Selesai]

Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/147 no. 1793 berkata :

Telah meriwayatkan kepada kami Yusuf bin Musa al-Qaththan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Hushain.

Dan (diriwayatkan pula) kepada kami ‘Ali bin Muslim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hushain, ia berkata: aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi berkata:

خَطَبَ بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُو ، فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَمَا يَقُولُ إِلَّا هَكَذَا - يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ - "

“Bisyr bin Marwan berkhutbah dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil berdoa. Maka ‘Umarah berkata: ‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini! Sungguh aku telah melihat Rasulullah di atas mimbar, dan beliau tidak melakukan lebih dari seperti ini — sambil memberi isyarat dengan jari telunjuknya.”

Ini adalah riwayat Jarir.

Sedangkan dalam riwayat Husyaim disebutkan:

شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ عِيدٍ ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ

“Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi pada hari raya, sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam doa.”

Dan ia (perawi) menambahkan:

وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ.

“Husyaim memberi isyarat dengan jari telunjuknya.”

Abu Bakr (Ibnu Khuzaimah) berkata: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syu‘bah dan ats-Tsauri dari Hushain, dan keduanya mengatakan:

"رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ "

Ia (‘Umarah) melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar pada hari Jumat.” [Kutipan Selesai]

Ketiga : Hadits Umarah melalui jalur Husyaim dari Hushoin :

At-Tirmidzi dalam Sunannya no. 515 berkata :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hushoin, dia berkata:  

"سَمِعْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ، ‌وَبِشْرُ ‌بْنُ ‌مَرْوَانَ ‌يَخْطُبُ، ‌فَرَفَعَ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌الدُّعَاءِ، فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ اليُدَيَّتَيْنِ القُصَيَّرَتَيْنِ، «لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا»، وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ".

Aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah, sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah, lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam doa. Maka ‘Umarah berkata:

“Semoga Allah memburukkan kedua tangan kecil yang pendek ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah , dan beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini”.

Dan Husyaim pun memberi isyarat dengan jari telunjuknya. [Selesai]

Lalu Abu Isa at-Tirmidzi berkata:

«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

“Ini adalah hadits hasan sahih”.

Diriwayatkan pula melalui jalur Abu Isa at-Tirmidzi oleh Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah, Bab Makruhnya Mengangkat Kedua Tangan dalam Khutbah (4/255 no. 1079).

SISI PENDALILAN

Mereka berdalil dengan hadits ‘Umarah bin Ru’aibah ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan dan bid’ahnya berdo’a sambil mengangkat kedua tangan saat khotib jum’at berdo’a. Larangan tersebut berlaku pada imam dan makmum.

****

BANTAHAN TERHADAP ISTIDLAL DENGAN HADITS ‘UMARAH DIATAS

====

BANTAHAN PERTAMA :

Yang dimaksud mengangkat kedua tangan dalam hadits Umarah ini adalah mengangkat kedua tangan sambil memberi isyarat dengan dua jari, bukan membuka kedua telapak tangan.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Umarah diatas yang di riwayatkan Imam Ahmad:

« أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو»

“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil memberi isyarat dengan kedua jarinya, dia berseru (berdo’a)”.

====

BANTAHAN KE DUA :

Pengangkatan kedua tangan Bisyr bin Marwan yang dicela oleh sahabat Umarah ini adalah  Pengangkatan kedua tangan yang benar-benar sangat melampaui batas, yang hampir-hampir saja dia terjengkang terlentang ke belakang.

Sebagaiama yang jelaskan sahabat Umarah dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah.

Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Hushoin, dari ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو حَتَّى كَادَ يَسْتَلْقِي خَلْفَهُ.

“Bahwa ia (Umarah) melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berseru (atau berdoa), hingga hampir-hampir ia terjengkang (terlentang) ke belakangnya”.

[[Lihat al-Mushoonaf no. 5538 [Tarqim Muhammad ‘Awanah (الرِّئَاسَةُ العَامَّةُ لِلْبُحُوثِ العِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ)] atau no. 5607 [Tarqim asy-Syatsri (مَوْسُوعَةُ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ)]].

Lafadz nuskhoh al-Mushonnaf Tahqiq Kamal al-Huut 1/475 no. 5496 :

«أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، حَتَّى كَادَ يَتَلَقَّى خَلْفَهُ»

“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir ia terjatuh (terjungkal) ke belakangnya”.

Status sanad hadits :

Hadits ini dinilai shahih sanad-nya oleh asy-Syatsri pentahqiq al-Mushonnaf no. 5607].

Penulis katakan:

Pertama : Inilah alasan yang paling tepat, yang menyebabkan sahabat Umarah radhiyallahu ‘anhu mengutuk kedua tangan Bisyar bin Marwan. Sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad diatas :

" لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ".

“Semoga Allah melaknat kedua tangan kecil ini.”

Jika tidak, layakkah seorang sahabat Nabi yang mulia, dia mengutuk seorang imam, gubernur Irak dan putra khalifah Marwan bin al-Hakam dari Bani Umayyah, hanya karena mengangkat kedua tangan dalam berdoa saat khutbah?

Jangankan mengutuk khothib dan penguasa, bukankah bicara yang biasa saja tidak diperbolehkan ketika khotib berkhutbah?

Bukankah Nabi pernah bersabda:

وَمَنْ قَالَ: صَهْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَا، وَمَنْ لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ.

“Barang siapa berkata: ‘Diam-lah!’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh ia telah berbuat sia-sia (laghwu). Dan barang siapa berbuat sia-sia, maka tidak ada Jumat baginya.”

Jangan kan makmum, seorang imam dan khothib pun tidak boleh mencela penguasa dalam khutbahnya atau di depan publik, apalagi mengutuknya ??.  

Kedua : Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah, sahabat yang meriwayatkan hadits ini?

Dia adalah ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki status sahabat dan dia terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia menetap di Kufah. (jarak tempuh antara Kufah dan Madinah sekitar 1500 KM)

Dia pernah berziarah ke Madinah, dan berjumpa dengan Nabi . Dan dia pernah sekali menghadiri Nabi berkhutbah pada hari Jum’at.

Ia tidak pernah tinggal di Madinah di masa Nabi , oleh sebab itu dia hanya memiliki dua hadits dari Nabi . Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya. Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushoin bin Abdurrahman. [Baca: al-Ishobah karya Ibnu Hajar 4/478]

Al-Mizzi menyebutkan dalam at-Tahdzib :

أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ، فَإِنَّ الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ

“Bahwa ia memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan, karena perawi dari Ali tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan Ali pernah memberinya pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil, sehingga keduanya berbeda dari dua sisi.

[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar 4/478.

====

BANTAHAN KETIGA:

Matan hadits ini mudhthorib (labil), padahal semua sanad hadits Umarah ini berkisar kepada Hushoin.

Di antaranya: waktu kejadian nya berbeda-beda. Dalam riwayat Abu Daud kejadiannya pada saat khubah Jum’at, dalam riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani terjadi pada hari raya, sementara pada riwayat-riwayat yang lainnya hanya menyebut lafadz Khuthbah tanpa menentukan khutbah apa?

====

BANTAHAN KEEMPAT:

Hadits Umarah radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Hushoin bin Abdurrhman ini, dalam penyebutan kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”, mayoritas para perawi hadits meriwaytakannya tanpa menyebutkannya kata tersebut.

Adapun yang menyebutkan kata “do’a”, maka hanya Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Nu’aim al-Ashbahani. Itu pun dalam dalam salah satu riwayat mereka.

Dan riwayat yang paling kuat adalah tanpa penyebutan lafadz kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”. Berikut ini riwayat-riwayat tersebut dan jalur-jalur sanadnya:

----

JALUR KE [1] :

Melalui jalur Abdullah bin Idris dari Hushoin bin Abdurrahman, dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:

أَنَّهُ ‌رَأَى ‌بِشْرَ ‌بْنَ ‌مَرْوَانَ ‌عَلَى ‌الْمِنْبَرِ ‌رَافِعًا ‌يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»

Bahwa dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu ia berkata:

“Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah , beliau tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya”.

Diriwayatkan oleh sbb:

[1] Muslim dalam shahihnya no. 53 –(874),

[2] Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1451.

[3] Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam al-Musnad al-Mutakhroj no. 1961.

[4] Ibnu al-Khorroth dalam al-Ahkam asy-Syar’iyyah al-Kubra (2/472)

[5] Ibnu Abi ‘Aashim dalam al-Aahaad wa al-Matsaani 3/221 no. 1581.

[6] Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 2/116, 147-148.

[7] Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 882

Semuanya melalui jalur Abdullah bin Idris dari Hushoin ..... dst.

Disebutkan pula oleh sbb:

[1]- al-Humadi dalam al-Jam’ Baina ash-Shohihain no. 3113.

[2] Qodhi ‘Iyadh dalam Ikmal al-Mu’allim 3/277.

[3] Ibnu al-Atsiir dalam Jami’ al-Ushul no. 3972.

[4] an-Nawawi dalam Khulashotul Ahkam no. 2822.

[5] al-Khothib at-Tibrizy dalam Misyakatul Mshobih no. 1417.

[6] al-Mizzy dalam Tuhfatul Asyroof no. 10377.

[7] az-Zarkasyi dalam Syarah Mukhtashor al-Khiroqi 2/182 no. 850.

[8] Muhammad al-‘Aaquuli dalam ar-Roshef 1/268 no. 579.

[9] Ibnu al-Mulaqqin dalam Tuhfatul Muhtaaj 1/500 no. 614.

[10] Muhammad asy-Syami dalam Subul al-Huda wa ar-Rosyad 8/217

[11] dan lain-nya, masih banyak.

----

JALUR KE [2]

Melalui jalur Abu ‘Awaanah dari Hushoin.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 874 melalui jalur Abu ‘Awaanah, dia berkata :

رَأَيْتُ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ، يَوْمَ جُمُعَةٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ، فَقَالَ: عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ

“Aku melihat Bisyr bin Marwan pada hari Jumat mengangkat kedua tangannya, maka ‘Umarah bin Ru’aibah berkata”, lalu ia menyebutkan yang semakna dengannya.

Diriwayatkan pula lengkap dengan sanadnya oleh adz-Dzahabi dalam al-Mu’jam al-Mukhtash-sh Bi al-Muhadditssin hal. 107.

Lalu adz-Dzahabi berkata :

وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ: أَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، نَا وَكِيعٌ، نَا سُفْيَانُ، عَنْ حُصَيْنٍ، أَنَا بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ. رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: «مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى هَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ» . هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ.

“Dengan sanad tersebut, Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Waki‘, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hushoin:

Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat, lalu ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata: “Rasulullah tidak menambah dari ini,” seraya beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya.

Ini adalah hadits yang sahih”.

-----

JALUR KE [3]

Melalui jalur Waki’ dari Sufyan dari Hushoin:

Imam Ahmad dalam al-Musnad no. 17219 dan 17221 dan an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 1727 meriwayatkan dengan sanadnya: Telah menceritakan kepada kami Waki‘ dari Sufyan dari Hushain:

أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ ‌رَفَعَ ‌يَدَيْهِ ‌يَوْمَ ‌الْجُمُعَةِ ‌عَلَى ‌الْمِنْبَرِ. فَقَالَ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ: " مَا زَادَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى هَذَا " وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ

“Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di atas mimbar. Maka ‘Umarah bin Ruwaibah berkata: “Rasulullah tidak menambah dari ini,” seraya ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh sbb:

[1] an-Nasa’i dalam Al-Mujtaba (3/108), dalam kitab Shalat Jumat no. 67.

[2] Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf no. 5279

[3] ad-Darimi dalam as-Sunan 1/366.

[4] Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal-Matsani 3/221 (1582).

[5] Ibnu Khuzaimah (1794) melalui jalur Waki‘ dengan sanad ini.

Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (28/457):

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ، غَيْرَ صَحَابِيِّهِ فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ. وَكِيعٌ: هُوَ ابْنُ الْجَرَّاحِ الرُّؤَاسِيُّ، وَسُفْيَانُ: هُوَ الثَّوْرِيُّ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.

“Sanadnya sahih, para perawinya tsiqah, perawi-perawinya adalah perawi dua Syaikh (al-Bukhari dan Muslim), selain sahabatnya maka termasuk perawi Muslim. Waki‘ adalah Ibnu al-Jarrah ar-Ru’asi, Sufyan adalah ats-Tsauri, dan Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.

****

PERNYATAAN PARA ULAMA HADITS
TENTANG SAAT KAPAN BISYR MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM KHUTBAH

Dalam Majallah al-Bayan 130/8 di sebutkan :

وَاخْتَلَفَ الرُّوَاةُ عَنْ حُصَيْنٍ؛ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَبَعْضُهُمْ لَمْ يَذْكُرِ الدُّعَاءَ؛ لِذَا اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي فَهْمِ الْحَدِيثِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

[1] فَفَهِمَ الْبَيْهَقِيُّ وَالشَّوْكَانِيُّ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ: وَهُوَ ذِكْرُ الدُّعَاءِ، وَقَالُوا: لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ.

[2] وَفَهِمَ الطِّيبِيُّ الْمَعْنَى الثَّانِيَ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِالنَّهْيِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ أَثْنَاءَ الْكَلَامِ حَالَ الْخُطْبَةِ كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ.

Para perawi berbeda pendapat dalam meriwayatkan dari Hushain; sebagian mereka mengatakan: dalam keadaan mengangkat kedua tangannya ia berdoa, dan sebagian lainnya tidak menyebutkan doa. Karena itu para ulama berbeda dalam memahami hadits tersebut menjadi dua pendapat:

[1]- Al-Baihaqi dan asy-Syaukani memahami makna pertama, yaitu adanya penyebutan doa, dan mereka berkata: tidak termasuk sunnah mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah.

[2]- Ath-Thibi memahami makna kedua, dan ia menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan larangan adalah mengangkat kedua tangan saat berbicara (bukan saat berdoa) dalam khutbah sebagaimana kebiasaan para penceramah dan tukang kisah”.

Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafaatiih 4/510 berkata:

وَفَهِمَ النَّسَائِيُّ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالطِّيبِيُّ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الرَّفْعُ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ التَّكَلُّمِ وَخِطَابِ النَّاسِ، كَمَا هِيَ عَادَةُ الْخُطَبَاءِ وَالْوُعَّاظِ أَنَّهُمْ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا يُنَبِّهُونَ النَّاسَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.

“Al-Nasai, Ibnu Abi Syaibah, dan Ath-Thiibi memahami bahwa yang dimaksud (dengan teguran ‘Umarah terhadap Bisyr dalam hadits ini) adalah pengangkatan dua tangan ketika berbicara dan berkhutbah kepada manusia, sebagaimana kebiasaan para khatib dan penceramah yang mengangkat tangan mereka ke kanan dan ke kiri untuk mengingatkan orang-orang agar memperhatikan dan mendengarkan.”

Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:

قُلْتُ : وَهَلِ الْمُرَادُ فِي حَدِيثِ عُمَارَةَ بِالرَّفْعِ الْمَذْكُورِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ عَلَى الْمِنْبَرِ أَوِ الْمُرَادُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ لَا وَقْتَ الدُّعَاءِ بَلْ عِنْدَ التَّكَلُّمِ كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ أَنَّهُمْ يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهمْ يَمِينًا وَشِمَالًا يُنَبِّهُونَ السَّامِعِينَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ

فَحَدِيثُ عُمَارَةَ يَدُورُ إِسْنَادُهُ عَلَى حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَرُوَاتُهُ اخْتَلَفُوا عَلَيْهِ

فَرِوَايَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ وَأَبِي عَوَانَةَ وَسُفْيَانَ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي وَلِذَا بَوَّبَ النَّسَائِيُّ بَابَ الإشارة في الخطبة وبوب بن أَبِي شَيْبَةَ الرَّجُلَ يَخْطُبُ يُشِيرُ بِيَدِهِ وَهَكَذَا فهم الطيبي

ورواية هشيم وزائدة وبن فُضَيْلٍ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الْأَوَّلِ وَهَكَذَا فَهِمَ النَّوَوِيُّ.

وَأَمَّا تَرْجَمَةُ الْمُؤَلِّفِ وَكَذَا التِّرْمِذِيِّ فَمُتَحَمِّلٌ لِمَعْنَيَيْنِ.

وَعِنْدِي لِلْمَعْنَى الثَّانِي تَرْجِيحٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

الْأَوَّلُ: أَنَّ أَبَا عَوَانَةَ الْوَضَّاحَ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ إِدْرِيسَ أَوْثَقُ وَأَثْبَتُ مِنْ هُشَيْمِ بْنِ بَشِيرٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلٍ وَإِنْ كَانَ زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ فِي الْحِفْظِ فَتُعَارَضُ رِوَايَةُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ الْحُفَّاظِ بِرِوَايَةِ زَائِدَةَ بْنِ قُدَامَةَ. وَالْعَدَدُ الْكَثِيرُ أَوْلَى بِالْحِفْظِ

وَالثَّانِي أَنَّ قَوْلَهَ الْآتِي "لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ: يُؤَيِّدُ هَذَا الْمَعْنَى الْأَخِيرَ لِأَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مَأْثُورًا بِهَذِهِ الصِّفَةِ بَلْ أَرَادَ الرَّاوِي أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ كِلْتَيْهِمَا لِتَخَاطُبِ السَّامِعِينَ لَيْسَ مِنْ دَأْبِ النَّبِيِّ ﷺ بَلْ إِنَّمَا يُشِيرُ النَّبِيُّ ﷺ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ. انْتَهَى مُخْتَصَرًا مِنْ غَايَةِ الْمَقْصُودِ

Aku katakan :

Apakah yang dimaksud dalam hadits ‘Umarah dengan pengangkatan yang disebutkan itu adalah mengangkat kedua tangan ketika berdoa di atas mimbar?

Ataukah yang dimaksud adalah mengangkat kedua tangan bukan pada waktu berdoa, tetapi ketika berbicara sebagaimana kebiasaan para penceramah dan tukang kisah, yaitu mereka menggerakkan tangan mereka ke kanan dan ke kiri untuk mengingatkan para pendengar agar memperhatikan?

Hadits ‘Umarah sanadnya berkisar pada Hushain bin ‘Abdurrahman, dan para perawinya berbeda-berda lafadz dalam meriwayatkannya darinya.

Riwayat ‘Abdullah bin Idris, Abu ‘Awanah, dan Sufyan, semuanya dari Hushain, menunjukkan makna kedua (diluar do’a). Karena itu an-Nasa’i membuat “bab tentang isyarat dalam khutbah”, dan Ibnu Abi Syaibah membuat “bab tentang orang yang berkhutbah memberi isyarat dengan tangannya”. Demikian pula ath-Thibi memahaminya.

Adapun riwayat Husyaim, Za’idah, dan Ibnu Fudhail, semuanya dari Hushain, menunjukkan makna pertama (saat berdo’a). Demikian pula yang dipahami oleh Imam an-Nawawi.

Adapun judul bab yang dibuat oleh al-mu’allif (yakni; Abu Daud) dan juga oleh at-Tirmidzi, maka dapat mencakup kedua makna tersebut.

Menurutku, makna kedua (di luar do’a) lebih kuat dari dua sisi:

Pertama, bahwa Abu ‘Awanah al-Wadhdhah, Sufyan ats-Tsauri, dan ‘Abdullah bin Idris lebih tsiqah dan lebih kokoh hafalannya dibandingkan Husyaim bin Basyir dan Muhammad bin Fudhail. Meskipun Za’idah bin Qudamah setara dengan tiga orang tersebut dalam hafalan, namun riwayat tiga hafizh ini berhadapan dengan riwayat Za’idah bin Qudamah, dan jumlah yang lebih banyak lebih kuat dalam hafalan.

Kedua, bahwa ucapannya yang akan datang: “Sungguh aku telah melihat Rasulullah ketika beliau berada di atas mimbar, tidak menambah dari ini,” yaitu jari telunjuk yang berada di samping ibu jari, mendukung makna terakhir ini. Karena mengangkat kedua tangan dalam doa tidak diriwayatkan dengan sifat seperti ini. Akan tetapi yang dimaksud perawi adalah bahwa mengangkat kedua tangan sekaligus untuk berbicara kepada para pendengar bukanlah kebiasaan Nabi , melainkan Nabi hanya memberi isyarat dengan jari telunjuknya. Selesai, diringkas dari Ghayah al-Maqshud”. [Selesai]

Dan Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 juga berkata:

قَالَ فِي الْمِرْقَاةِ: قَوْلُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ أَيْ عِنْدَ التَّكَلُّمِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ إِذَا حَمُوا، يَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ الْآتِي: وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ. قَالَهُ الطِّيبِيُّ.

Ia berkata dalam Al-Mirqat: Perkataannya “dalam keadaan mengangkat kedua tangannya” maksudnya ketika berbicara, sebagaimana kebiasaan para penceramah apabila mereka bersemangat. Hal ini dikuatkan oleh perkataannya yang akan datang: “dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya,” demikian dikatakan oleh ath-Thibi. [Selesai]

Lalu Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:

(مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ) وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: (مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الْمُسَبِّحَةِ)

وَلَفْظُ النَّسَائِيِّ: (مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى هَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ).

قَالَ الطِّيبِيُّ : "وَالْمَعْنَى أَيْ يُشِيرُ عِنْدَ التَّكَلُّمِ فِي الْخُطْبَةِ بِأُصْبُعِهِ يُخَاطِبُ النَّاسَ وَيُنَبِّهُهُمْ عَلَى الِاسْتِمَاعِ".

(“Tidak lebih dari ini”)

Dalam lafaz Sahih Muslim disebutkan: “Beliau tidak lebih dari hanya memberi isyarat dengan tangannya seperti ini,” dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya.

Dan dalam lafaz Sunan an-Nasa'i: “Rasulullah tidak menambah atas ini,” dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya.

Ath-Thibi berkata: “Maknanya adalah beliau memberi isyarat ketika berbicara (bukan do’a) dalam khutbah dengan jarinya untuk berbicara kepada manusia dan mengingatkan mereka agar mendengarkan.” [Selesai]

Mahmud Muhammad as-Subki dalam al-Minhal al-‘Adzeb al-Mawruud Syarah Sunan Abi Daud 6/268-269 berkata:

مَعْنَى الْحَدِيثِ: (قَوْلُهُ وَهُوَ يَدْعُو فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ) ... يُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِقَوْلِهِ يَدْعُو أَيْ يُشِيرُ بِيَدَيْهِ فِي الْخُطْبَةِ حَالَ الْوَعْظِ وَالْإِرْشَادِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ، يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا، يُنَبِّهُونَ الْحَاضِرَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.

وَيُؤَيِّدُهُ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ. "الْحَدِيثُ".

وَمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ سُفْيَانَ عَنْ حُصَيْنٍ أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى هَذَا، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ.

Makna hadits:

(Ucapannya: “sementara ia berdoa pada hari Jumat”) … kemungkinan yang dimaksud dengan kata “berdoa” di sini adalah memberi isyarat dengan kedua tangannya ketika berkhutbah dalam keadaan memberi nasihat dan bimbingan, sebagaimana kebiasaan para penceramah; mereka menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri untuk mengingatkan orang yang hadir agar memperhatikan.

Hal ini dikuatkan oleh riwayat Sahih Muslim melalui jalur ‘Abdullah bin Idris dari Hushain, dari ‘Umarah bin Ru’aibah, ia berkata:

Bisyr bin Marwan terlihat di atas mimbar mengangkat kedua tangannya, lalu ia berkata, “Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu,” (kemudian disebutkan haditsnya).

Dan juga oleh riwayat Sunan an-Nasa'i melalui jalur Sufyan dari Hushain:

Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di atas mimbar, maka ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata, “Rasulullah tidak menambah dari ini,” sambil ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya. [Kutipan Selesai]

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam Fath al-Bari (11/143, cet. Dar al-Ma‘rifah):

«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ، فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا» اهـ.

“Ath-Thobari menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami hadits itu secara zahir dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah memberi isyarat dengan satu jari.

Pendapat ini dibantah, karena hal itu hanya disebutkan pada khatib ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam konteks hadits. Maka tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk melarang mengangkat kedua tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya riwayat-riwayat tentang disyariatkannya mengangkat tangan.” Selesai.

Dan Ibnu Jibrin berkata:

«فَأَمَّا حَدِيثُ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، وَفِيهِ قَوْلُهُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِلَّا يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ — أَوْ كَمَا قَالَ — فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَنْكَرَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ عِنْدَ التَّشَهُّدِ، أَوْ عِنْدَ ذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّ الثَّابِتَ عِنْدَ التَّشَهُّدِ الْإِشَارَةُ بِالسَّبَّابَةِ وَحْدَهَا، وَهِيَ عَلَامَةُ التَّوْحِيدِ، وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِمَنْ رَفَعَ إِصْبَعَيْهِ: أَحِّدْ أَحِّدْ، لَا تُشِرْ إِلَّا بِوَاحِدَةٍ.

وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ الْخَطِيبُ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ كَثِيرًا أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ رَفْعًا وَخَفْضًا فِي غَيْرِ حَالَةِ الدُّعَاءِ، فَأَمَّا رَفْعُهُمَا فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»

“Adapun hadits ‘Umarah bin Ru’aibah, yang di dalamnya terdapat ucapannya: ‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Aku tidak pernah melihat Rasulullah kecuali beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ‘— atau sebagaimana ia katakan — maka yang tampak adalah bahwa ia mengingkari pengangkatan kedua tangan saat tasyahud atau ketika menyebut nama Allah Ta‘ala.

Karena yang telah ada ketetapan (diajarkan) dalam tasyahud adalah berisyarat dengan telunjuk saja, dan itu adalah tanda tauhid.

Oleh karena itu sebagian sahabat berkata kepada orang yang mengangkat dua jarinya: ‘Esakan, esakan (Allah), janganlah engkau berisyarat kecuali dengan satu (jari).’

Bisa jadi pula khatib tersebut banyak menggerakkan kedua tangannya saat khutbah, naik dan turun, bukan dalam keadaan berdoa. Adapun mengangkat keduanya saat berdoa, maka itu tidak termasuk dalam larangan tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.”

(Sumber: Fatawa Ibnu Jibrin).

====

BANTAHAN KE LIMA:

[*] Pendalilan mereka dengan hadits Umarah radhiyallahu anhu ini tidaklah lebih utama daripada pendalilan dengan hadits Abu Hurairah tentang diangkatnya kedua tangan Nabi ketika beliau berdoa di atas mimbar untuk meminta hujan (istisqa) dan istish-ha (cuaca cerah).

[*] Selain itu, pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr berdasarkan apa yang ia lihat dari Nabi yang hanya ber-isyarat dengan jarinya, tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat tangan; karena ‘Umarah meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan orang lain melihat Nabi dalam keadaan yang berbeda.

[*] Lagi pula ‘Umarah ini penduduk Kufah, dia datang berkunjung ke Madinah, hanya sesekali menyaksikan Nabi berkhutbah. Oleh sebab itu beliau hanya meriwatkan dua hadits dari Nabi . Sementara para sahabat lain, terutama para sahabat senior yang senantiasa bersama Nabi dan berkali-kali menyaksikan khutbah Jum’at Nabi , mereka tidak ada yang meriwayatkan apa yang ‘Umarah riwayatkan.

[*] Ditambah lagi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dijelaskan bahwa yang dimaksud mengangkat kedua tangan di sini adalah yang dilakukan dengan cara sangat berlebihan, sehingga hampir-hampir saja Bisyr bin Marwan terjengkang ke belakang.

DR. Kholid Kaarah berkata:

إِنَّ إِنْكَارَ عُمَارَةَ عَلَى بِشْرٍ بِرُؤْيَتِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ لَا يُعَدُّ دَلِيلًا بِمُفْرَدِهِ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ؛ لِأَنَّ عُمَارَةَ رَوَى مَا رَأَى، وَهَذَا لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُ رَآهُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْهَيْئَةِ، فَيَبْقَى الْأَمْرُ عَلَى أَصْلِهِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَقُولُ فِي هَذَا التَّعْلِيلِ مَا قُلْتُ فِي سَابِقِهِ.

Sesungguhnya pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr karena ia melihat Nabi berisyarat dengan jarinya tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat kedua tangan. Sebab ‘Umarah hanya meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan bahwa orang lain melihat beliau dalam keadaan yang berbeda dari cara tersebut.

Maka hukum asalnya tetap sebagaimana semula, yaitu mengangkat kedua tangan dalam doa. Dan tentang alasan ini, aku mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan pada alasan sebelumnya.

[Baca: “Tanbīhul Arīb li ukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 350) karya DR. Kholid Kaarah]

****

DALIL KE LIMA:

Mereka berdalil dengan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا ‌يَرْفَعُ ‌يَدَيْهِ ‌فِي ‌شَيْءٍ ‌مِنْ ‌دُعَائِهِ ‌إِلَّا ‌فِي ‌الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»

“Nabi tidak mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu pun dari doanya kecuali dalam istisqa, dan beliau mengangkatnya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori no. 3565 dan Muslim no. 895]

SISI PENDALILAN

Hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwa Nabi mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a itu hanya diperbolehkan dalam do’a istisqo (minta hujan) saja.

Berdasarkan hadits ini, maka sebagian para ulama telah menghukumi makruh mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak dalam semua do’a selain istisqo. [Lihat Tafsiir al-Qurthubi 7/255]

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 berkata :

وَكَرِهَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاء ابن عُمَرَ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ وَرَأَى شُرَيْحٌ رَجُلًا يَرْفَعُ يَدَيْهِ دَاعِيًا فَقَالَ : " مَنْ تَتَنَاوَلُ بِهِمَا لَا أُمَّ لَكَ" . وَسَاقَ الطَّبَرِيُّ ذَلِكَ بِأَسَانِيدِهِ عَنْهُم

Ibnu Umar dan Jubair ibnu Muth'iim membenci seseorang mengangkat kedua tangan saat berdoa.

Dan Syuraih pernah melihat seseorang pria mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , maka dia berkata :

"Siapa saja dari kamu yang mengangkat kedua tangannya dalam berdoa maka tiada Ibu bagimu ".

Dan ath-Thobari meriwayatkannya dengan sanad-sanadnya dari mereka .

Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :

وَذكر بن التِّينِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ أَنَّهُ نَقَلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مِنْ أَمْرِ الْفُقَهَاءِ

Dan Ibnu at-Tiin menyebutkan dari Abdullah bin Umar bin Ghoonim bahwasanya telah dinukil dari Malik bahwa mengangkat tangan dalam berdoa itu bukan bagian dari perkara para Fuqohaa .  

====

BANTAHAN TERHADAP DALIL DIATAS

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawab pendalilan dengan hadits Anas bin Malik ini dalam “Fathul Bari11/142 dengan mengatakan:

أَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ لَا أَصْلُ الرَّفْعِ ‌وَقَدْ ‌أَشَرْتُ ‌إِلَى ‌ذَلِكَ ‌فِي ‌أَبْوَابِ ‌الِاسْتِسْقَاءِ

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ الْمَنْكِبَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنَّ الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ السَّمَاءَ.

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ وَبِتَقْدِيرِ تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ.

قُلْتُ: وَلَا سِيَّمَا مَعَ كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً وَعَقَدَ لَهَا الْبُخَارِيُّ أَيْضًا فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ بَابًا

“Bahwa yang dinafikan itu adalah sifat (cara) tertentu, bukan asal mengangkat tangan itu sendiri.

Aku telah mengisyaratkan hal tersebut dalam bab-bab tentang istisqa.

Ringkasnya, cara mengangkat tangan dalam istisqa berbeda dengan selainnya; bisa jadi dengan mengangkatnya secara lebih tinggi hingga kedua tangan sejajar dengan wajah misalnya, sedangkan dalam doa biasa hingga sejajar dengan kedua pundak.

Tidaklah mengganggu penjelasan ini bahwa dalam keduanya disebutkan riwayat “hingga terlihat putih kedua ketiaknya”, karena dapat dikompromikan bahwa terlihatnya putih ketiak dalam istisqa lebih nyata daripada dalam selainnya. Atau bisa juga bahwa dalam istisqa kedua telapak tangan menghadap ke bumi, sedangkan dalam doa biasa menghadap ke langit.

Al-Mundziri berkata: “Apabila tidak memungkinkan untuk mengompromikan (kedua dalil), maka sisi penetapan (itsbat) itu lebih kuat.”

Aku (Ibnu Hajar) berkata: Terlebih lagi dengan banyaknya hadits yang datang dalam masalah ini. Sungguh terdapat banyak hadits tentang hal tersebut, yang dikumpulkan secara khusus oleh Al-Mundziri dalam sebuah risalah tersendiri. An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah darinya dalam *Al-Adzkar* dan dalam *Syarh Al-Muhadzdzab*. Bahkan Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus tentangnya dalam *Al-Adab Al-Mufrad*.” [Kutipan Selesai]

Jadi: Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa penafian (peniadaan riwayat penolakan) dari Anas itu hanyalah terhadap bentuk tertentu dari mengangkat tangan, yaitu pengangkatan yang berlebihan sampai terlihat putih ketiaknya, bukan penafian terhadap asal mengangkat kedua tangan itu sendiri secara mutlak.

Oleh sebab itu beliau berkata:

«وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ إِنَّمَا الْمُرَادُ بِهِ مَدُّ الْيَدَيْنِ وَبَسْطُهُمَا عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَأَنَّهُ عِنْدَ الِاسْتِسْقَاءِ مَعَ ذَلِكَ زَادَ فَرَفَعَهُمَا إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ حَتَّى حَاذَى بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ»

“Yang menguatkannya adalah bahwa kebanyakan hadits yang datang tentang mengangkat tangan dalam doa, yang dimaksud adalah membentangkan dan membuka kedua tangan ketika berdoa. Seakan-akan ketika istisqa’ (meminta hujan), beliau menambah dari itu dengan mengangkatnya lebih tinggi ke arah langit hingga sejajar dengan kedua pundaknya.” (Baca: *Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari* 2/517).

An-Nawawi berkata:

«وَيُتَأَوَّلُ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ، فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ».

“Hadits ini ditakwilkan bahwa beliau tidak mengangkat dengan pengangkatan yang sangat tinggi sampai terlihat putih ketiaknya kecuali ketika istisqa’. Atau maksudnya: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat’, padahal orang lain melihat beliau mengangkat. Maka riwayat yang menetapkan (mengangkat tangan) didahulukan dalam banyak tempat, dan mereka adalah sejumlah orang, atas satu orang yang tidak menyaksikan hal tersebut. Dan hadits ini memang harus ditakwil.” (*Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj* 6/190).

Al-Mubarakfuri berkata:

«وَفِي الْحَدِيثِ - أَيْ حَدِيثِ سَلْمَانَ - دَلَالَةٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَالْأَحَادِيثُ فِيهِ كَثِيرَةٌ. وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، فَالْمُرَادُ بِهِ الْمُبَالَغَةُ فِي الرَّفْعِ».

“Dalam hadits — yaitu hadits Salman — terdapat dalil tentang dianjurkannya mengangkat kedua tangan dalam doa, dan hadits-hadits tentang hal itu banyak. Adapun hadits Anas: ‘Nabi tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun kecuali pada istisqa’, maka yang dimaksud adalah pengangkatan yang berlebihan.”

(*Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami‘ at-Tirmidzi* 9/382).

---

KRITIKAN:

Ada yang mengkritik terhadap takwil di atas ini dengan mengatakan:

Takwil (penafsiran) ini perlu ditinjau kembali dan tidak dapat begitu saja diterima, karena telah tetap adanya pengangkatan tangan yang sangat tinggi (hingga terlihat ketiak) dalam doa Nabi selain pada istisqa’.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy‘ari yang terdapat dalam kitab sahih dan telah disebutkan sebelumnya:

“Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.’” Ia berkata, “Maka aku melihat putih ketiaknya.”

Demikian pula pengangkatan yang tinggi juga terjadi selain dalam istisqa’, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Umar bin Al-Khaththab, ia berkata:

“Ketika terjadi Perang Badar, … Nabi menghadap kiblat, kemudian membentangkan kedua tangannya, lalu beliau terus-menerus berseru kepada Rabb-nya … Beliau terus berseru kepada Rabb-nya dengan membentangkan kedua tangannya, menghadap kiblat, hingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya …”

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar.

Demikian pula Nabi mengangkat tangannya dengan tinggi ketika berdoa untuk Utsman, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya ketika beliau berdoa untuk Utsman.”

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitabnya *Qurratul ‘Ainain bi Raf‘il Yadain fis Shalah*).

-----

JAWABAN ATAS KRITIKAN:

Bisa jadi hadits Abu Musa Al-Asy‘ari dan hadits Aisyah tersebut tidak sampai kepada Anas bin Malik atau dia tidak hadir dalam kejadian. Lagi pula pada masa tersebut belum ada kitab-kitab hadits. Oleh sebab itu hadits Anas tersebut tidak ada yang meriwayatkannya kecuali dia sendiri. Bagitu pula hadits Abu Musa dan hadits Aisyah.

Dalam hadits Anas tersebut, dia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, dia tidak bermaksud mengharamkan berdoa dengan mengangkat kedua tangan pada selain do’a istisqo.

Lalu apakah hadits Anas ini, yang diriwayatkan secara tunggal dan yang hanya berisi cerita pengalamannya ini, layak dijadikan dalil haram sebagai pengecualian dalil umum yang menghalalkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir???. 

Karena jika benar bisa jadikan dalil larangan, maka konsekwensi dari perkataan Anas ini adalah berlaku larangan mengangkat kedua tangan pada semua doa selain doa istisqo, bahkan oleh sebagian mereka mengklaimnya sebagai bid’ah sesat.

---

Penulis katakan :

Yang benar adalah hadits Anas tersebut berisi penafian penglihatan; Anas menafikan bahwa ia melihat (Nabi mengangkat tangan) selain pada istisqa’. Namun hal itu tidak mengharuskan tidak adanya kejadian tersebut, atau menafikan bahwa orang lain melihatnya.

Dan orang yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan) menjadi hujah atas orang yang tidak menetapkannya. Maka mengamalkan hadits-hadits tentang mengangkat tangan lebih utama.

An-Nawawi berkata:

«إِنَّ مُرَادَ أَنَسٍ لَمْ أَرَهُ يَرْفَعُ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ يَرْفَعُ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ مَقْبُولَةٌ، وَالْإِثْبَاتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّفْيِ».

“Sesungguhnya maksud Anas adalah: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat tangan,’ padahal orang lain melihat beliau mengangkatnya. Tambahan riwayat dari perawi yang terpercaya dapat diterima, dan penetapan didahulukan atas penafian.” (Lihat: *Al-Majmu‘*, 5/83).

Dan diriwayatkan pula dari Anas  bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara Nabi mengangkat kedua tangannya saat do’a istisqoo:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ».

“Bahwa Nabi melakukan istisqa’, lalu beliau mengisyaratkan dengan punggung kedua telapak tangannya ke arah langit.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam *Al-Musnad* nomor 12554.

Syu‘aib Al-Arna’uth berkata dalam tahqiq (penelitian) *Al-Musnad* 20/25:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ.

“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah (terpercaya), termasuk perawi kedua kitab sahih (Al-Bukhari dan Muslim), kecuali Hammad bin Salamah, yang termasuk perawi Muslim.”

Dan Al-Mubarakfuri juga berkata:

«هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ، وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ *الدَّعَوَاتِ* بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»

“Pengangkatan (tangan) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab *Ad-Da‘awat* dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak.” (*Tuhfatul Ahwadzi* 2/173)

Imam An-Nawawi berkata:

«قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ كَالْقَحْطِ وَنَحْوِهِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ»

“Sejumlah sahabat kami dan selain mereka mengatakan: Sunnah dalam setiap doa untuk mengangkat bala (musibah) seperti kekeringan dan semisalnya adalah mengangkat kedua tangan dan menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit. Adapun jika berdoa untuk meminta sesuatu dan memperolehnya, maka menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap ke langit. Mereka berdalil dengan hadits ini.”

(*Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj* 6/190)

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata ketika menjelaskan tata cara mengangkat tangan dalam berdoa Istisqo:

«وَيَكُونُ الرَّفْعُ بِأَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ عَلَى حِذَاءِ الصَّدْرِ، وَتَضُمَّ بَعْضَهُمَا إِلَى بَعْضٍ. وَدُعَاءُ الِابْتِهَالِ تُرْفَعُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، حَتَّى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَثِيرًا، حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّ ظُهُورَهُمَا نَحْوَ السَّمَاءِ مِنْ شِدَّةِ الرَّفْعِ، وَكُلَّمَا بَالَغْتَ فِي الِابْتِهَالِ فَبَالِغْ فِي الرَّفْعِ».

“Cara mengangkatnya adalah dengan mengangkat kedua tangan sejajar dada dan merapatkan keduanya. Adapun doa ibtihal (permohonan yang sangat sungguh-sungguh), maka diangkat lebih tinggi dari itu. Bahkan Nabi dalam doa istisqa’ mengangkat kedua tangannya dengan sangat tinggi, sampai orang yang melihat menyangka bahwa punggung kedua tangannya menghadap ke langit karena begitu tingginya angkatan tersebut. Dan semakin engkau bersungguh-sungguh dalam ibtihal, maka semakin tinggi pula angkatan tanganmu.” (Baca: *Syarh Al-Arba‘in An-Nawawiyah* hal. 150).

**** 

AT-TARJIH

Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama yang menyatakan disunnahkannya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak, karena keumuman dalil-dalil yang menunjukkan anjuran tersebut, yang bahkan telah mencapai derajat mutawatir.

Bahkan hal itu lebih mendorong untuk dikabulkannya doa; berdasarkan riwayat Al-Tirmidhi dalam Sunan al-Tirmidhi dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ».

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”

===

FAIDAH TAMBAHAN

Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:

وَفِي الْمُصَنَّفِ لِابْنِ أَبِي شَيْبَةَ: حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ: قُلْتُ لَهُ: كَيْفَ كَانَ يَخْطُبُ النُّعْمَانُ؟ قَالَ: كَانَ يَلْمَعُ بِيَدَيْهِ. قَالَ: وَكَانَ الضَّحَّاكُ بْنُ قَيْسٍ إِذَا خَطَبَ ضَمَّ يَدَهُ عَلَى فِيهِ.

حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: أَذِنَ الْإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْ يُشِيرَ بِيَدِهِ. حَدَّثَنَا ابْنُ الْمَهْدِيِّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ: كَانُوا يَسْتَأْذِنُونَ الْإِمَامَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَلَمَّا كَانَ زِيَادٌ وَكَثُرَ ذَلِكَ قَالَ: مَنْ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى أَنْفِهِ فَهُوَ إِذْنُهُ. انْتَهَى.

Dalam Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah disebutkan: telah menceritakan kepada kami Gundar dari Syu‘bah dari Simak bin Harb, ia berkata:

Aku bertanya kepadanya, “Bagaimana an-Nu‘man berkhutbah?”

Ia menjawab: “Ia menggerakkan kedua tangannya.”

Ia berkata: “Dan adh-Dhahhak bin Qais apabila berkhutbah, ia meletakkan tangannya pada mulutnya.”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, ia berkata: Imam pada hari Jumat memberi izin untuk memberi isyarat dengan tangannya.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Mahdi dari Sufyan dari Khalid dari Ibnu Sirin, ia berkata: Dahulu mereka meminta izin kepada imam ketika ia berada di atas mimbar. Ketika masa Ziyad dan hal itu menjadi banyak, ia berkata: “Siapa yang meletakkan tangannya di atas hidungnya, maka itulah izinnya.” Selesai.

 ===***===

SIKAP BIJAK PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT
MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:

"مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،

لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ – مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:

فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.

وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".

“Apa yang tidak terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa. Nabi bersabda:

‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.’

Namun ada keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah (misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.

Siapa yang mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat: Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]

Imam an-Nasafi (madzhab Hanafi) berkata:

«إِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا إِذَا سُئِلْنَا عَنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ مُخَالِفِنَا فِي الْفُرُوعِ أَنْ نُجِيبَ بِأَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ».

“Wajib bagi kita apabila ditanya tentang madzhab kita dan madzhab orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang (furu‘), kita menjawab bahwa madzhab kita benar namun mengandung kemungkinan salah, dan madzhab yang berbeda dengan kita salah namun mengandung kemungkinan benar.” [Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra 4/313]

Betapa indahnya ucapan az-Zarkasyi:

«قَدْ رَاعَى الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ خِلَافَ الْخَصْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ، وَهَذَا إِنَّمَا يَتَمَشَّى عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ مُدَّعِيَ الْإِصَابَةِ لَا يَقْطَعُ بِخَطَإِ مُخَالِفِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَمَّا كَانَ يُجَوِّزُ خِلَافَ مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَنَظَرَ فِي مُتَمَسَّكِ خَصْمِهِ فَرَأَى لَهُ مَوْقِعًا رَاعَاهُ عَلَى وَجْهٍ لَا يُخِلُّ بِمَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَأَكْثَرُهُ مِنْ بَابِ الِاحْتِيَاطِ وَالْوَرَعِ، وَهَذَا مِنْ دَقِيقِ النَّظَرِ وَالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ».

“Imam asy-Syafi‘i dan para sahabat (pengikut) beliau telah mempertimbangkan pendapat lawan dalam banyak persoalan.

Hal itu berjalan di atas prinsip bahwa orang yang mengklaim kebenaran tidak memastikan kesalahan pihak yang berbeda dengannya.

Karena seorang mujtahid itu membolehkan kemungkinan berbeda dari apa yang lebih kuat dalam sangkaannya. Ia melihat dalil lawannya dan mendapati ada pijakan padanya, maka ia mempertimbangkannya dengan cara yang tidak merusak apa yang lebih kuat dalam sangkaannya.

Kebanyakan hal itu termasuk dalam bab kehati-hatian dan wara‘. Ini termasuk ketelitian pandangan dan sikap mengambil jalan yang lebih selamat.” [Baca : al-Bahrul Muhith Fii Ushul al-Fiqhi 8/310]

Al-Qurthubi juga berkata:

«وَلِذَلِكَ رَاعَى مَالِكٌ الْخِلَافَ، قَالَ: وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يُرَاعِي صُورَةَ الْخِلَافِ، وَهُوَ جَهْلٌ أَوْ عَدَمُ إِنْصَافٍ. وَكَيْفَ هَذَا وَهُوَ لَمْ يُرَاعِ كُلَّ خِلَافٍ وَإِنَّمَا رَاعَى خِلَافًا لِشِدَّةِ قُوَّتِهِ». اهـ

“Karena itulah Malik mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian pengikutnya mengira bahwa beliau hanya mempertimbangkan bentuk lahiriah perbedaan, dan itu adalah kebodohan atau kurangnya keadilan. Bagaimana mungkin demikian, padahal beliau tidak mempertimbangkan setiap perbedaan, tetapi hanya mempertimbangkan perbedaan yang kuat dalilnya.” [Selesai. Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra 4/313].

===***===

PENUTUP

Dari Al-Awza‘i (Tabi’i), dia berkata:

"العِلْمُ مَا جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ‌ومَا ‌لَمْ ‌يَجِيء ‌عَنْهُم ‌فَلَيسَ ‌بِعِلْمٍ"

Ilmu adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad , dan apa yang tidak datang dari mereka, maka itu bukan ilmu.

[Lihat "Jami‘ Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644), dan "Al-Bidayah wa an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]

---

Dan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:

«لَا ‌يَزَالُ ‌النَّاسُ ‌بِخَيْرٍ ‌مَا ‌أَتَاهُمُ ‌الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»

“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad dan para senior (kibaar) mereka. Namun, apabila ilmu datang dari para junior (shigoor) di antara mereka, maka saat itulah mereka binasa.”

Diriwayatkan oleh Mu‘ammar dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan disebutkan oleh Al-Haitsami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:

رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ

“Para perawinya dapat dipercaya”.

Dan Al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”

 

 

Posting Komentar

0 Komentar