PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTIB MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT DOA DALAM KHUTBAH JUM'AT
-----
Ditulis
Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
CUPLIKAN
FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:
(Seorang ulama terkemuka asal Arab Saudi, mantan anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) Dan Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa).)
[Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa khutbah Jumat]
Pertanyaan:
Apakah imam boleh mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika berdoa? Dan apakah makmum juga boleh melakukannya?
Jawaban:
Mereka mengangkat tangan jika imam mengangkat tangan. haditsnya bersifat umum, yaitu sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.”
Dan juga disebutkan bahwa Nabi ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. Mengangkat kedua tangan termasuk bentuk memohon dan meminta kepada Allah Ta‘ala, dan itu merupakan sebab dikabulkannya pemberian. Selama demikian, maka imam mengangkat kedua tangannya, dan para makmum pun mengangkat tangan mereka untuk mengaminkan. Inilah pendapat yang benar.
Adapun hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang melarang hal tersebut, yaitu bahwa sebagian sahabat masuk (masjid) sementara seorang laki-laki dari Bani Umayyah sedang berkhutbah dan ia menggerakkan kedua tangannya, maka sahabat itu berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu; Nabi ﷺ tidaklah menggerakkan (tangannya) kecuali jari (telunjuknya).” Maksudnya: ketika tasyahud.
Maka kami katakan: perbuatan khatib tersebut bukan dalam doa, melainkan di tengah khutbah, dan ia banyak menggerakkan kedua tangannya sebagai bentuk penekanan terhadap pembicaraan. Maka yang diingkari adalah banyaknya mengulurkan, mengangkat, dan menggerakkan kedua tangan tersebut. Disebutkan bahwa beliau ﷺ ketika sedang berkhutbah hanya menggerakkan jari telunjuknya untuk tasyahud.
Mengangkat kedua tangan dalam doa bukanlah termasuk gerakan seperti itu. Yang diingkari adalah gerakan terus-menerus dan berulang-ulang dengan kedua tangan.
[Sumber: Syarh ‘Umdat al-Ahkam [37]: Hukum Mengangkat Kedua Tangan dalam Doa Khutbah Jumat (al-Maktabah asy-Syamilah 37/8)]
----
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM KHOTHIB MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BEDO’A DALAM KHUTBAH JUM’AT
- URAIAN PERBEDAAN PENDAPAT DAN DALILNYA
- PENDAPAT PERTAMA: SUNNAH
- DALIL PENDAPAT SUNNAH
- FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:
- PENDAPAT KE DUA : MAKRUH
- PENDAPAT KE TIGA: HARAM DAN BID’AH
- DALIL-DALIL PENDAPAT KE 2 YANG MEMAKRUHKAN DAN KE 3 YANG MENGHARAMKAN (BID’AH). BESERTA MUNAQOSYAH DALILNYA
- DALIL PERTAMA
- DALIL KEDUA
- DALIL KE TIGA
- DALIL KEEMPAT
- STUDI KRITIS SEPUTAR MATAN HADITS ‘UMARAH DIATAS
- DALIL KE LIMA
- DALIL KE ENAM
- TARJIH
- SIKAP BIJAK PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT MENGANGKAT DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
- PENUTUP
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Termasuk perkara
yang telah ditetapkan dalam sunnah Nabi ﷺ adalah dianjurkannya
mengangkat kedua tangan ketika berdoa secara umum; sebagai bentuk menampakkan
kehinaan, ketundukan, dan kebutuhan kepada Allah SWT, serta sebagai bentuk
permohonan dan pengharapan untuk meraih karunia-Nya. Hal itu merupakan bagian dari
adab-adab doa yang telah disepakati, dan termasuk sebab dikabulkannya doa;
karena di dalamnya terdapat penampakan kejujuran dalam berlindung dan kembali
kepada Allah Azza wa Jalla serta pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
«أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ
لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا
أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ:
﴿ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ
كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
[المؤمنون: 51]
وَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ [البقرة: 172]
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ
السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا
رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ،
وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟»
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana Dia
memerintahkan kepada para rasul.
Maka Dia berfirman:
‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ [Al-Mu’minun: 51].
Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang
beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’
[Al-Baqarah: 172].
Kemudian beliau
menyebutkan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan panjang, dalam
keadaan kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya
berkata: ‘Wahai Rabb, wahai Rabb.’ Namun makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin
doanya akan dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].
Al-‘Allamah Ibnu
Rajab Al-Hanbali berkata:
"هَذَا
الْكَلَامُ أَشَارَ فِيهِ ﷺ إِلَى آدَابِ الدُّعَاءِ، وَإِلَى الْأَسْبَابِ
الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَتَهُ، وَإِلَى مَا يَمْنَعُ مِنْ إِجَابَتِهِ، فَذَكَرَ
مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَقْتَضِي إِجَابَةَ الدُّعَاءِ أَرْبَعَةً ...
قَالَ: الثَّالِثُ: مَدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ الَّتِي يُرْجَى بِسَبَبِهَا
إِجَابَتُهُ،
وَفِي حَدِيثِ سَلْمَانَ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ»؛ خَرَّجَهُ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ.
وَرُوِيَ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ
أَنَسٍ وَجَابِرٍ وَغَيْرِهِمَا.
وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ
يَوْمَ بَدْرٍ يَسْتَنْصِرُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ
مَنْكِبَيْهِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صِفَةِ رَفْعِ يَدَيْهِ فِي
الدُّعَاءِ أَنْوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ...
قَالَ: وَمِنْهَا: رَفْعُ يَدَيْهِ،
جَعْلُ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى الْأَرْضِ.
وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ
فِي سُؤَالِ اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي غَيْرِ حَدِيثٍ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ،
وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ سِيرِينَ: «أَنَّ هَذَا هُوَ الدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ
لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ»".
Ucapan dalam hadits
ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengisyaratkan adab-adab doa, sebab-sebab yang menjadikan doa
dikabulkan, serta hal-hal yang menghalangi pengabulannya. Beliau menyebutkan
empat sebab yang menjadikan doa dikabulkan…
Beliau berkata:
yang ketiga adalah mengangkat kedua tangan ke langit, dan ini termasuk adab doa
yang diharapkan menjadi sebab dikabulkannya doa.
Dalam hadits
Salman, dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia merasa
malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia
mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
Diriwayatkan pula yang semisalnya dari hadits Anas, Jabir, dan selain keduanya.
Nabi ﷺ biasa
mengangkat kedua tangannya dalam doa istisqa hingga terlihat putih kedua
ketiaknya. Beliau juga mengangkat kedua tangannya pada hari Perang Badar ketika
memohon pertolongan atas kaum musyrikin hingga selendangnya terjatuh dari kedua
pundaknya.
Telah diriwayatkan
dari Nabi ﷺ tentang tata cara mengangkat tangan dalam doa dengan berbagai
bentuk…
Di antaranya:
mengangkat kedua tangan dengan menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke
langit dan bagian punggungnya ke arah bumi.
Perintah tentang
hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits mengenai permohonan kepada Allah
Azza wa Jalla. Dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin disebutkan: “Inilah
bentuk doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla.” [Baca: Jami
al-Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rojab 1/269 Tahqiq al-Arna’uth]
Syaikhul Islam Abu
Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra 5/337 berkata:
«وَيُسَنُّ لِلدَّاعِي
رَفْعُ يَدَيْهِ وَالِابْتِدَاءُ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ،
وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَأَنْ يَخْتِمَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ
وَبِالتَّأْمِينِ»
“Disunnahkan bagi
orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah
dan menyanjung-Nya, serta bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan
hendaknya ia menutup doanya dengan semua itu serta dengan ucapan amin.”
Beliau juga 22/519
berkata:
«وَأَمَّا
رَفْعُ النَّبِيِّ ﷺ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ
كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ»
“Adapun
pengangkatan tangan oleh Nabi ﷺ dalam doa, maka telah datang banyak hadits shahih tentangnya.”
Imam An-Nawawi
berkata dalam Syarh Muslim 6/190 di hadits no. 896:
قَدْ ثَبَتَ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي
الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ
تُحْصَرَ وَقَدْ جَمَعْتُ مِنْهَا نَحْوًا مِنْ ثَلَاثِينَ حَدِيثًا مِنَ الصَّحِيحَيْنِ
“Telah ada
ketetapan riwayat bahwa beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya
dalam doa pada berbagai keadaan selain istisqa, dan jumlahnya lebih banyak
daripada yang dapat dibatasi. Aku telah mengumpulkan sekitar tiga puluh hadits
tentang hal itu dari Ash-Shahihain”.
Dan telah diketahui
bahwa pengangkatan kedua tangan dalam doa telah ditetapkan oleh hadits-hadits
shahih yang mencapai derajat mutawatir maknawi.
Sungguh telah
tersebar secara melimpah ruah berbagai riwayat hadits tentang mengangkat kedua
tangan ketika berdoa, sampai-sampai sejumlah ulama menggolongkannya sebagai hadits
mutawatir secara maknawi.
As-Suyuthi berkata:
«مِمَّا تَوَاتَرَ
مَعْنَاهُ كَأَحَادِيثِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ ﷺ
نَحْوُ مِائَةِ حَدِيثٍ فِيهَا رَفْعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَقَدْ جَمَعْتُهَا
فِي جُزْءٍ، لَكِنَّهَا فِي قَضَايَا مُخْتَلِفَةٍ؛ فَكُلُّ قَضِيَّةٍ مِنْهَا لَمْ
تَتَوَاتَرْ، وَالْقَدْرُ الْمُشْتَرَكُ فِيهَا وَهُوَ الرَّفْعُ عِنْدَ الدُّعَاءِ
تَوَاتَرَ بِاعْتِبَارِ الْمَجْمُوعِ».
“Di antara yang
maknanya mutawatir adalah hadits-hadits tentang mengangkat kedua tangan dalam
doa. Telah diriwayatkan dari beliau ﷺ sekitar seratus hadits yang
menyebutkan pengangkatan kedua tangan dalam doa.
Aku telah
mengumpulkannya dalam satu juz (risalah kecil), namun hadits-hadits itu berada
dalam berbagai peristiwa yang berbeda-beda; maka setiap peristiwa tersebut
tidak mencapai derajat mutawatir secara tersendiri. Akan tetapi, sisi yang sama
di antara semuanya, yaitu pengangkatan tangan ketika berdoa, menjadi mutawatir
jika dilihat secara keseluruhan.”
(Dalam *Tadrib
ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi* 2/631).
===***===
PERBEDAAN
PENDAPAT HUKUM KHOTHIB
MENGANGKAT
KEDUA TANGAN SAAT BEDO’A DALAM KHUTBAH JUM’AT
Para ulama berbeda
pendapat tentang hukum mengangkat kedua tangan ketika berdoa setelah selesai
khutbah kedua.
Ada dua pendapat :
PENDAPAT PERTAMA:
SUNNAH
Ini adalah pendapat
sebagian ulama Hanafiyah, pendapat dalam madzab Malikiyah, Ibnu Hajar
al-Haytami dari kalangan Syafi‘iyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan Hanabilah
PENDAPAT KEDUA :
MAKRUH
Ini adalah pendapat
madzab Hanafiyah, Syafi‘iyah, Malikiyah menurut pendapat yang sahih, serta
madzhab Hanabilah
PENDAPAT KETIGA :
HARAM DAN BID’AH
RINCIAN PERBEDAAN PENDAPAT DAN DALILNYA
PENDAPAT PERTAMA: SUNNAH
Yakni disunnahkan
bagi khothib Jum’at mengangkat kedua saat berdoa dalam khutbahnya.
Ini adalah pendapat
sebagian para ulama salaf, sebagian ulama Hanafiyah, ulama Malikiyah dalam
salah satu pendapat, sebagian ulama Malikiyah, sebagaimana disebutkan oleh
Qadhi ‘Iyadh dalam *Ikmal al-Mu'lim bi Fawaid Muslim 3/277*.
Dan juga ini adalah
pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dari kalangan Syafi’iyah, Ibnu Aqil dan
orang-orang yang mengikutinya dari kalangan madzhab Hanabilah, sebagaimana
disebutkan dalam *Al-Furu'* (3/594).
Dan ini juga
pendapat Imam Bukhori, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Mubarakfuri, dia
berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا
الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (kedua
tangan saat berdo’a dalam khutbah Jum’at) seperti ini, meskipun terjadi dalam
doa istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja.
Oleh karena itu, Al-Bukhari
berdalil dalam Kitab *Ad-Da‘awat* dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat
kedua tangan dalam doa secara mutlak (tanpa batas).” (*Tuhfat al-Ahwadzi*
2/173).
Ibnu Baththol
berkata dalam Syarh Shohih al-Bukhari li-Ibni Baththol (3/21, cet. Maktabah
ar-Rusyd):
«قَالَ الْمُهَلَّبُ:
رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَغَيْرِهِ مُسْتَحَبٌّ؛ لِأَنَّهُ خُضُوعٌ
وَتَذَلُّلٌ، وَتَضَرُّعٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى» ا.هـ.
Al-Muhallab berkata:
“Mengangkat kedua tangan dalam istisqa dan selainnya adalah mustahab
(disunnahkan), karena itu merupakan bentuk ketundukan, kerendahan diri, dan
permohonan kepada Allah Ta‘ala.” Selesai.
Badruddin al-‘Ayni
al-Hanafi berkata dalam Al-Binayah Syarah al-Hidayah (4/203, cet. Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah):
«(وَالرَّفْعُ سُنَّةُ
الدُّعَاءِ) ش: أَيْ رَفْعُ الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ» اهـ.
“(Dan mengangkat
tangan adalah sunnah dalam doa),” maksudnya: mengangkat kedua tangan adalah
sunnah.
Al-Khurosyi al-Maliki
berkata dalam Syarah Mukhtasar Khalil lil-Kharshi (2/341, cet. Dar al-Fikr):
«وَعِبَارَةُ شَبٍّ:
وَفِي رَفْعِ يَدَيْهِ قَوْلَانِ، قَالَ الْمُوَضِّحُ: مَذْهَبُ «الْمُدَوَّنَةِ» عَدَمُ
الرَّفْعِ» اهـ.
“Dalam masalah
mengangkat kedua tangannya terdapat dua pendapat. Al-Muwadhdhih berkata:
Madzhab ‘Al-Mudawwanah’ adalah tidak mengangkat tangan.” Selesai.
Al-Bahuti
al-Hanbali berkata dalam *Kasyaf al-Qina’* 2/37:
«(وَ) يُسَنُّ
أَنْ (يَدْعُوَ لِلْمُسْلِمِينَ)؛ لِأَنَّ الدُّعَاءَ لَهُمْ مَسْنُونٌ فِي غَيْرِ
الْخُطْبَةِ فَفِيهَا أَوْلَى … يُكْرَهُ لِلْإِمَامِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ
الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ».
“(Dan) disunnahkan
agar (mendoakan kaum Muslimin); karena mendoakan mereka disunnahkan di luar
khutbah, maka dalam khutbah lebih utama lagi … Dimakruhkan bagi imam mengangkat
kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah”.
Ar-Ramli
asy-Syafi‘i berkata dalam *Nihayah al-Muhtaj* 1/505:
«(وَ) يُسَنُّ
(رَفْعُ يَدَيْهِ) فِيهِ (أَيْ فِي الْقُنُوتِ عِنْدَهُمْ)، وَفِي سَائِرِ
الْأَدْعِيَةِ اتِّبَاعًا، كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِيهِ بِإِسْنَادٍ
جَيِّدٍ، وَفِي سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ الشَّيْخَانِ وَغَيْرُهُمَا».
“(Dan) disunnahkan
(mengangkat kedua tangan) di dalamnya (yakni dalam qunut menurut mereka), dan
dalam seluruh doa lainnya sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah),
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam hal itu dengan sanad yang baik,
dan dalam doa-doa lainnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta yang
lainnya.”
Ibnu Hajar
al-Haitami pernah ditanya dalam *Al-Fatawa
al-Fiqhiyyah al-Kubra* 1/252 tentang mengangkat tangan setelah selesai dua
khutbah pada hari Jumat, apakah itu mustahab atau bid‘ah?
Beliau menjawab:
«رَفْعُ
الْيَدَيْنِ سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ
زَعَمَ أَنَّهُ ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ
سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا. وَعِبَارَةُ «الْعُبَابِ» مَعَ
شَرْحِي لَهُ: (يُسَنُّ لِلدَّاعِي خَارِجَ الصَّلَاةِ رَفْعُ يَدَيْهِ
الطَّاهِرَتَيْنِ) لِلِاتِّبَاعِ ...»
“Mengangkat kedua
tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar shalat dan yang semisalnya. Siapa
yang mengira bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia
telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar.
Dalam kitab *Al-‘Ubab* beserta syarahku disebutkan: ‘Disunnahkan bagi orang
yang berdoa di luar shalat untuk mengangkat kedua tangannya yang suci,’ karena
mengikuti sunnah …
Beliau juga
1/252-153 berkata:
مَنْ ادَّعَى حَصْرَهَا فَهُوَ
غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا، وَهَذِهِ لِكَوْنِهَا مُثْبِتَةً مُقَدَّمَةٌ عَلَى
رِوَايَتِهِمَا: «كَانَ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ
إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ». وَاسْتَحَبَّ الْخَطَّابِيُّ كَشْفَهُمَا فِي
سَائِرِ الْأَدْعِيَةِ، وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ رَفْعُهُمَا فِي حَالِ الْخُطْبَةِ
كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ.
‘Siapa yang
mengklaim pembatasan (hanya pada istisqa) maka ia telah salah dengan kesalahan
besar.’ Riwayat-riwayat yang menetapkan (adanya pengangkatan tangan)
didahulukan atas riwayat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak
mengangkat kedua tangannya dalam suatu doa kecuali dalam istisqa. Al-Khaththabi
menganjurkan membuka kedua tangan dalam seluruh doa. Dan dimakruhkan bagi
khathib mengangkat keduanya ketika sedang khutbah, sebagaimana dikatakan oleh
al-Baihaqi.”
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam Fath al-Bari (11/143, cet. Dar
al-Ma‘rifah):
«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ
وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ
إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ،
فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ
ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا» اهـ.
“Ath-Thobari menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami
hadits itu secara zahir dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah
memberi isyarat dengan satu jari. Pendapat ini dibantah, karena hal itu hanya
disebutkan pada khatib ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam
konteks hadits. Maka tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk
melarang mengangkat kedua tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya
riwayat-riwayat tentang disyariatkannya mengangkat tangan.” Selesai.
Qodhi ‘Iyadh
berkata dalam Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Muslim (3/277, cet. Dar al-Wafa’):
«كَرِهَ قَوْمٌ مِنَ
السَّلَفِ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ،
وَحُجَّةُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ، وَأَجَازَهُ آخَرُونَ، وَهُوَ قَوْلُ
بَعْضِ أَصْحَابِنَا، وَحُجَّتُهُمْ رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَدَّهُمَا فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
حِينَ اسْتَسْقَى» اهـ.
“Sebagian ulama
salaf memakruhkan mengangkat kedua tangan dalam khutbah dan doa, dan itu adalah
pendapat Malik.
Dalil orang yang
berpendapat demikian adalah hadits ini.
Sementara yang lain
membolehkannya, dan itu adalah pendapat sebagian sahabat (ulama) kami. Dalil
mereka adalah bahwa Nabi ﷺ mengangkat dan menjulurkan kedua tangannya dalam khutbah dan
doa pada hari Jumat ketika beliau beristisqa (meminta hujan).” Selesai.
Ibnu Hajar
al-Haytami asy-Syafi‘i berkata dalam Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (1/252,
cet. al-Maktabah al-Islamiyyah), ketika ditanya tentang mengangkat kedua tangan
setelah selesai dua khutbah pada hari Jumat:
«رَفْعُ الْيَدَيْنِ
سُنَّةٌ فِي كُلِّ دُعَاءٍ خَارِجَ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ
ﷺ لَمْ يَرْفَعْهُمَا إِلَّا فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَدْ سَهَا سَهْوًا بَيِّنًا
وَغَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا» اهـ.
“Mengangkat kedua
tangan adalah sunnah dalam setiap doa di luar sholat dan semisalnya. Barang
siapa mengira bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat keduanya kecuali dalam doa istisqa, maka ia
telah keliru dengan kekeliruan yang nyata dan melakukan kesalahan yang besar.” Selesai.
Az-Zarkashi berkata
dalam Syarah Mukhtasar al-Khiraqi (2/182, cet. Dar al-‘Ubaikan):
«(وَإِنْ أَرَادَ
الْخَطِيبُ أَنْ يَدْعُوَ لِإِنْسَانٍ دَعَا).. وَيُسْتَحَبُّ رَفْعُ الْيَدِ فِي الدُّعَاءِ
عِنْدَ ابْنِ عَقِيلٍ، لِعُمُومِ مَطْلُوبِيَّةِ رَفْعِ الْأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ».
اهـ.
“(Jika khatib ingin
mendoakan seseorang, maka ia berdoa)… dan disunnahkan mengangkat tangan dalam
doa menurut Ibnu ‘Aqil, karena keumuman anjuran mengangkat tangan dalam doa.”
Selesai.
Al-Munawi berkata
dalam Fayd al-Qadir (2/228, cet. al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra):
«وَفِي "الْكَشَّافِ"
هُوَ جَارٍ عَلَى سَبِيلِ التَّمْثِيلِ، وَفِيهِ نَدْبُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ،
وَرَدٌّ عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ كَرِهَ ذَلِكَ، قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَقَدْ وَرَدَ فِي
رَفْعِ الْيَدَيْنِ أَخْبَارٌ صَحِيحَةٌ صَرِيحَةٌ لَا تَقْبَلُ تَأْوِيلًا» اهـ.
“Dalam al-Kasysyaf
disebutkan bahwa hal itu berjalan sebagai bentuk permisalan. Di dalamnya
terdapat anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa, dan merupakan bantahan
terhadap Malik yang memakruhkannya. Ibnu Hajar berkata: Telah datang
riwayat-riwayat sahih dan tegas tentang mengangkat kedua tangan yang tidak
menerima takwil (penafsiran lain).” Selesai.
Barangkali dasar
disyariatkannya mengangkat kedua tangan dalam doa — sebagaimana dikatakan
Al-Bujayrimi — yaitu:
«إِنَّ السَّمَاءَ
قِبْلَةُ الدُّعَاءِ، وَالطَّالِبُ لِشَيْءٍ يَبْسُطُ كَفَّيْهِ لِأَخْذِهِ، وَالدَّاعِي
طَالِبٌ، وَلِأَنَّ حَوَائِجَ الْعِبَادِ فِي خِزَانَةٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَالدَّاعِي
يَمُدُّ يَدَيْهِ لِحَاجَتِهِ، وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى مَا هُوَ وَصْفٌ لِلْمَدْعُوِّ
مِنَ الْجَلَالِ وَالْكِبْرِيَاءِ».
“Sesungguhnya
langit merupakan kiblat doa; orang yang meminta sesuatu akan membentangkan
kedua telapak tangannya untuk mengambilnya; orang yang berdoa adalah orang yang
meminta; dan karena kebutuhan para hamba berada dalam perbendaharaan di bawah
‘Arasy, maka orang yang berdoa membentangkan kedua tangannya untuk
kebutuhannya. Di dalamnya juga terdapat isyarat terhadap sifat keagungan dan
kebesaran Dzat yang dimohon”. [Lihat: Hashiyat al-Bujayrimi 'ala al-Khatib
(1/176, cet. Dar al-Fikr)].
Berdasarkan uraian
di atas, maka mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam khutbah Jumat dan di
antara dua khutbah saat imam duduk adalah perkara yang dianjurkan; karena itu
termasuk adab doa, sebab dikabulkannya doa, lebih mendorong untuk mendapatkan
jawaban, serta mengandung kesempurnaan adab kepada Allah Ta‘ala dengan
menampakkan kehinaan dan kebutuhan di hadapan-Nya, dan juga berdasarkan
keumuman dalil-dalil yang menunjukkan anjuran tersebut.
===
DALIL PENDAPAT : SUNNAH
Argumentasinya:
adalah keumuman dalil-dalil yang menunjukkan disunnahkannya mengangkat tangan
dalam doa, dan karena Nabi ﷺ pernah mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika
melakukan doa istisqa (meminta hujan) dan do’a istsh-ha (meminta cuaca cerah).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أَصَابَتِ النَّاسَ
سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَبَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْطُبُ عَلَى
المِنْبَرِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَ
المَالُ، وَجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا،
قَالَ: فَرَفَعَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ، قَالَ: فَثَارَ سَحَابٌ
أَمْثَالُ الجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ
يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ،
قَالَ: فَمُطِرْنَا
يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَفِي الغَدِ، وَمِنْ بَعْدِ الغَدِ، وَالَّذِي يَلِيهِ إِلَى الجُمُعَةِ
الأُخْرَى، فَقَامَ ذَلِكَ الأَعْرَابِيُّ - أَوْ رَجُلٌ غَيْرُهُ - فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، تَهَدَّمَ البِنَاءُ وَغَرِقَ المَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا،
فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ، وَقَالَ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلَا عَلَيْنَا«»
قَالَ: فَمَا
جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَّا
تَفَرَّجَتْ، حَتَّى صَارَتِ المَدِينَةُ فِي مِثْلِ الجَوْبَةِ حَتَّى سَالَ الوَادِي،
وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا، قَالَ: فَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ
بِالْجَوْدِ
“Manusia pernah ditimpa musim paceklik pada
masa Rasulullah ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ
sedang berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba seorang Arab Badui berdiri dan
berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan anak-anak kelaparan, maka
berdoalah kepada Allah untuk kami.’
Maka beliau mengangkat kedua tangannya,
sementara kami tidak melihat di langit sedikit pun awan. Demi Dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, beliau belum menurunkan kedua tangannya hingga awan
bergumpal seperti gunung-gunung. Beliau belum turun dari mimbarnya sampai aku
melihat hujan mengalir dari jenggot beliau ﷺ.
Maka kami pun diguyur hujan pada hari itu,
keesokan harinya, hari berikutnya, dan seterusnya hingga Jumat berikutnya.
Kemudian orang Arab Badui itu — atau orang lain — berdiri dan berkata: ‘Wahai
Rasulullah, bangunan-bangunan telah roboh dan harta benda tenggelam, maka
berdoalah kepada Allah untuk kami.’
Lalu beliau mengangkat tangannya dan berdoa:
‘Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan menimpa kami.’
Maka setiap kali beliau memberi isyarat dengan
tangannya ke suatu arah awan, awan itu pun terbelah, hingga kota Madinah
menjadi seperti sebuah cekungan (yang dikelilingi hujan). Lembah Qanah pun
mengalir selama sebulan, dan tidak seorang pun datang dari suatu arah melainkan
ia menceritakan tentang derasnya hujan tersebut.” [HR.
Bukhori no. 1033 dan Muslim no. 897]
Dan ini adalah
pendapat Imam Bukhori dan para ulama hadits lainnya. Al-Mubarakfuri berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ "الدَّعَوَاتِ" بِهَذَا
الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan (dua
tangan saat berdo’a dalam khutbah Jum’at) seperti ini, meskipun haditsnya dalam
do’a istisqa (meminta hujan), namun ini tidak khusus untuk itu saja. Oleh
karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab “Ad-Da‘awat” dengan hadits ini atas
bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa secara mutlak/ tanpa batas.” (*Tuhfat
al-Ahwadzi* 2/173).
===
FATWA ABDULLAH BIN JIBRIN:
(Seorang
ulama terkemuka asal Arab Saudi, Serta mantan anggota Hai’ah
Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) Dan Al-Lajnah ad-Da’imah lil-Ifta’
(Komite Tetap untuk Fatwa).)
Tanya jawab dengan
Syeikh Abdullah bin Jibrin tentang hukum mengangkat kedua tangan dalam doa
khutbah Jumat:
[حُكْمُ
رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ]
السُّؤَالُ:
هَلْ لِلْإِمَامِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ
فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ لِلدُّعَاءِ، وَكَذَلِكَ الْمَأْمُومُونَ هَلْ لَهُمْ ذَلِكَ؟
الْجَوَابُ:
يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ إِذَا رَفَعَ
الْإِمَامُ، وَالْحَدِيثُ عَامٌّ، وَهُوَ قَوْلُهُ: (إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ،
يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا)،
وَ(أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ)، وَأَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ
مِنْ بَابِ الِاسْتِجْدَاءِ وَالِاسْتِعْطَاءِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَهُوَ سَبَبٌ
لِلْعَطَاءِ، وَمَا دَامَ كَذَلِكَ فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَالْمَأْمُومُونَ
يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ لِلتَّأْمِينِ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ.
وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُسْتَدَلُّ
بِهِ مَنْ يَنْهَى عَنْ ذَلِكَ، وَهُوَ أَنَّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ دَخَلَ وَرَجُلٌ
مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ يَخْطُبُ وَهُوَ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ، فَقَالَ: (قَبَّحَ اللَّهُ
هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ؛ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُحَرِّكُ إِلَّا إِصْبَعَهُ)، يَعْنِي:
لِلتَّشَهُّدِ.
فَنَقُولُ: فِعْلُ هَذَا الْخَطِيبِ لَيْسَ
فِي الدُّعَاءِ، إِنَّمَا هُوَ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ يُحَرِّكُ يَدَيْهِ
بِكَثْرَةٍ، يُحَرِّكُ يَدَيْهِ مِنْ بَابِ الِاهْتِمَامِ بِالْأَمْرِ، فَأُنْكِرَ
عَلَيْهِ كَثْرَةُ مَدِّ الْيَدَيْنِ وَرَفْعُهُمَا وَتَحْرِيكُهُمَا، فَذُكِرَ أَنَّهُ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ إِنَّمَا كَانَ يُحَرِّكُ
إِصْبَعَهُ لِلتَّشَهُّدِ، وَلَيْسَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ لِلدُّعَاءِ تَحْرِيكًا، إِنَّمَا
الَّذِي أُنْكِرَ هُوَ التَّحْرِيكُ الَّذِي هُوَ مُسْتَمِرٌّ بِاطِّرَادٍ بِيَدَيْهِ.
[Hukum
mengangkat kedua tangan dalam doa khutbah Jumat]
Pertanyaan:
Apakah imam boleh
mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika berdoa? Dan apakah makmum
juga boleh melakukannya?
Jawaban:
Mereka mengangkat
tangan jika imam mengangkat tangan. haditsnya bersifat umum, yaitu sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Tuhan
kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.”
Dan juga disebutkan
bahwa Nabi ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. Mengangkat
tangan termasuk bentuk memohon dan meminta kepada Allah Ta‘ala, dan itu
merupakan sebab dikabulkannya pemberian. Selama demikian, maka imam mengangkat
kedua tangannya, dan para makmum pun mengangkat tangan mereka untuk
mengaminkan. Inilah pendapat yang benar.
Adapun hadits yang
dijadikan dalil oleh orang yang melarang hal tersebut, yaitu bahwa sebagian
sahabat masuk (masjid) sementara seorang laki-laki dari Bani Umayyah sedang
berkhutbah dan ia menggerakkan kedua tangannya, maka sahabat itu berkata:
“Semoga Allah
memburukkan kedua tangan itu; Nabi ﷺ tidaklah menggerakkan
(tangannya) kecuali jari (telunjuknya).” Maksudnya:
ketika tasyahud.
Maka kami
katakan: perbuatan khatib tersebut bukan dalam doa,
melainkan di tengah khutbah, dan ia banyak menggerakkan kedua tangannya
sebagai bentuk penekanan terhadap pembicaraan. Maka yang diingkari adalah
banyaknya mengulurkan, mengangkat, dan menggerakkan kedua tangan tersebut. Disebutkan
bahwa beliau ﷺ ketika sedang berkhutbah hanya menggerakkan jari telunjuknya
untuk tasyahud.
Mengangkat kedua
tangan dalam doa bukanlah termasuk gerakan seperti itu. Yang diingkari adalah
gerakan terus-menerus dan berulang-ulang dengan kedua tangan.
[Sumber:
Syarh ‘Umdat al-Ahkam [37]: Hukum Mengangkat Kedua Tangan dalam Doa Khutbah
Jumat (al-Maktabah asy-Syamilah 37/8)].
****
PENDAPAT KEDUA : MAKRUH
Madzhab Hanafiyah,
Syafi‘iyah, Malikiyah menurut pendapat yang sahih, dan Hanabilah berpendapat
bahwa makruh bagi khatib mengangkat kedua tangan ketika berdoa setelah selesai
khutbah kedua.
Ibnu Abi Syaibah
meriwayatkan pada nomor 5493: Dari Muhammad bin Sirin, bahwa ia berkata:
«أَوَّلُ مَنْ رَفَعَ
يَدَيْهِ فِي الْجُمُعَةِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْمَرٍ»
“Orang pertama yang
mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin
Ma‘mar.”
Dan Ibnu Abi
Syaibah juga meriwayatkan pada nomor 5494: Dari Thawus, ia berkata:
«كَانَ يَكْرَهُ
دُعَاءَهُمُ الَّذِي يَدْعُونَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَكَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ»
“Dia tidak menyukai
doa mereka yang mereka panjatkan pada hari Jumat itu, dan ia tidak mengangkat
kedua tangannya.”
Qodhi ‘Iyadh
berkata dalam Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Muslim (3/277, cet. Dar al-Wafa’):
«كَرِهَ قَوْمٌ مِنَ
السَّلَفِ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ وَالدُّعَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ»
اهـ.
“Sebagian ulama
salaf memakruhkan mengangkat kedua tangan dalam khutbah dan doa, dan itu adalah
pendapat Malik.” Selesai.
Dan Al-Khurosyi
al-Maliki berkata dalam Syarah Mukhtasar Khalil lil-Kharshi (2/341, cet. Dar
al-Fikr):
«وَعِبَارَةُ شَبٍّ:
وَفِي رَفْعِ يَدَيْهِ قَوْلَانِ، قَالَ الْمُوَضِّحُ: مَذْهَبُ «الْمُدَوَّنَةِ» عَدَمُ
الرَّفْعِ» اهـ.
“Dalam masalah
mengangkat kedua tangannya terdapat dua pendapat. Al-Muwadhdhih berkata:
Madzhab ‘Al-Mudawwanah’ adalah tidak mengangkat tangan.” Selesai.
Dan Muhammad
al-Khurosyi juga berkata (2/341):
«وَضَعَّفَ مَالِكٌ
رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي جَمِيعِ الْمَشَاعِرِ وَالِاسْتِسْقَاءِ، وَقَدْ رُئِيَ رَافِعًا
يَدَيْهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَقَدْ جَعَلَ بُطُونَهُمَا إِلَى الْأَرْضِ وَقَالَ:
إِنْ كَانَ الرَّفْعُ فَهَكَذَا، انْتَهَى». ا.هـ.
“Malik melemahkan
(tidak menganjurkan) mengangkat kedua tangan di seluruh tempat ibadah dan dalam
istisqa. Namun pernah terlihat beliau mengangkat kedua tangannya dalam istisqa,
dan beliau menjadikan bagian dalam kedua telapak tangannya menghadap ke tanah
seraya berkata: ‘Jika mengangkat tangan, maka beginilah caranya.’ Selesai.”
Al-Imam an-Nawawi
berkata:
أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ لَا يَرْفَعَ الْيَدَ
فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ، وَحَكَى الْقَاضِي
عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَبَعْضِ الْمَالِكِيَّةِ إِبَاحَتَهُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ حِينَ اسْتَسْقَى،
وَأَجَابَ الْأَوَّلُونَ بِأَنَّ هَذَا الرَّفْعَ كَانَ لِعَارِضٍ.
“Sesungguhnya yang
sunnah adalah tidak mengangkat tangan dalam khutbah. Ini adalah pendapat Malik Ibnu
Anas, pendapat kami (ulama Syafi‘iyah), dan selain mereka.
Al-Qadhi (Iyadh)
menukil dari sebagian ulama salaf dan sebagian Malikiyah bahwa hal itu dibolehkan,
karena Nabi ﷺ pernah mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jumat ketika
melakukan istisqa (meminta hujan).
Pendapat pertama
menjawab bahwa pengangkatan tangan tersebut terjadi karena suatu sebab khusus
(insidental).” [Baca : Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim*, 6/162)].
Syamsuddin ar-Ramli,
ulama madzhab Syafi’i, berkata dalam Nihayat al-Muhtaj (1/506, cet. Dar
al-Fikr):
«وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيبِ
رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الْخُطْبَةِ، قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ» اهـ.
“Dimakruhkan bagi
khatib mengangkat kedua tangannya ketika sedang berkhutbah. Ini yang katakan
oleh al-Baihaqi.” Selesai.
Syeikhul Islam Ibnu
Taymiyyah berkata:
«وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ
رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَهُوَ أَصَحُّ الْوَجْهَيْنِ لِأَصْحَابِنَا؛
لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ إِنَّمَا كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا، وَأَمَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ فَرَفَعَ
يَدَيْهِ لَمَّا اسْتَسْقَى عَلَى الْمِنْبَرِ»
“Dimakruhkan bagi
imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah. Inilah pendapat
yang lebih sahih dari dua pendapat di kalangan sahabat (ulama) kami; karena
Nabi ﷺ ketika berdoa hanya berisyarat dengan jari beliau. Adapun dalam
istisqa (shalat minta hujan), maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika
meminta hujan di atas mimbar.” (*Al-Ikhtiyārāt*, hlm. 98).
Mansur al-Buhuti,
ulama Hanbali berkata dalam Kashshaf al-Qina' (2/37, cet. Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah):
«وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ
رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ» اهـ.
“Dimakruhkan bagi
imam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah.” Selesai.
Imam asy-Syaukani
berkata dalam *Nail al-Awthar* 3/322:
«الْحَدِيثَانِ
الْمَذْكُورَانِ فِي الْبَابِ يَدُلَّانِ عَلَى كَرَاهَةِ رَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى
الْمِنْبَرِ حَالَ الدُّعَاءِ»
“Dua hadits yang
disebutkan dalam bab ini menunjukkan makruhnya mengangkat tangan di atas mimbar
ketika berdoa”.
****
PENDAPAT KE TIGA : HARAM DAN BID’AH
Ada sebagian para
ulama bahwa haram hukumnya bagi khothib Jum’at mengangkat kedua tangan saat
berdo’a . Dan itu adalah bid‘ah sesat.
Ini adalah pendapat
az-Zuhri, Masruq, al-Baqoli dalam madzhab Hanafi dan al-Majd dari madzhab
Hanbali.
Ibnu Abi Syaibah
meriwayatkan dalam *Al-Mushannaf* (1/475 no. 5492): Dari Az-Zuhri, ia berkata:
«رَفْعُ الْأَيْدِي يَوْمَ الْجُمُعَةِ
مُحْدَثٌ»
“Mengangkat tangan
pada hari Jumat adalah perkara yang diada-adakan (muhdats).”
Dan Ibnu Abi
Syaubah juga meriwayatkan pada nomor 5495: Dari Masruq, ia berkata:
«رَفَعَ الْإِمَامُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَدَيْهِ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ» فَقَالَ
مَسْرُوقٌ: «قَطَعَ اللَّهُ أَيْدِيَهُمْ».
“Seorang imam pada
hari Jumat mengangkat kedua tangannya di atas mimbar, maka orang-orang pun mengangkat
tangan mereka.”
Lalu Masruq
berkata: “Semoga Allah memotong tangan-tangan mereka.”
Ibnu Abidin berkata
dalam Radd al-Muhtar (2/158, cet. Dar al-Fikr):
[قَالَ الْبَقَّالِيُّ
فِي «مُخْتَصَرِهِ»: وَإِذَا شَرَعَ الْخَطِيبُ فِي الدُّعَاءِ لَا يَجُوزُ لِلْقَوْمِ
رَفْعُ الْيَدَيْنِ وَلَا تَأْمِينٌ بِاللِّسَانِ جَهْرًا، فَإِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ
أَثِمُوا، وَقِيلَ أَسَاؤُوا وَلَا إِثْمَ عَلَيْهِمْ] اهـ.
Al-Baqali berkata
dalam *Mukhtashar*-nya: “Apabila khatib mulai berdoa, maka tidak boleh bagi
jamaah mengangkat tangan dan tidak boleh pula mengaminkan dengan lisan secara
keras. Jika mereka melakukannya, maka mereka berdosa; dan ada yang mengatakan
mereka berbuat buruk namun tidak berdosa.” Selesai.
Ibnu Muflih
berkata:
«قَالَ الْمَجْدُ:
هُوَ بِدْعَةٌ، وِفَاقًا لِلْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ»
“Al-Majd berkata:
Itu adalah bid‘ah, sejalan dengan pendapat Malikiyah, Syafi‘iyah, dan selain
mereka.” (*Al-Mubdi‘ fī Syarḥ al-Muqni‘*).
Al-Mardawi berkata:
«وَقِيلَ: يَرْفَعُهُمَا،
وَجَزَمَ بِهِ فِي "الْفُصُولِ"، وَهُوَ مِنَ الْمُفْرَدَاتِ، وَقِيلَ: لَا
يُسْتَحَبُّ. قَالَ الْمَجْدُ: هُوَ بِدْعَةٌ».
“Dan ada yang
berpendapat: Ia (imam) mengangkat keduanya (tangannya), dan pendapat ini
ditegaskan dalam *Al-Fuṣūl*, dan itu termasuk
pendapat yang menyendiri (dalam mazhab). Dan ada pula yang mengatakan: Tidak
disunnahkan. Al-Majd berkata: Itu adalah bid‘ah.”
DALIL-DALIL
PENDAPAT
KE 2
YANG MEMAKRUHKAN DAN KE 3 YANG MENGHARAMKAN (BID’AH)
BESERTA
MUNAQOSYAH DALILNYA
Dalil-dalil mereka
yang menghukumi haram dan bid’ah sesat mengangkat kedua tangan saat khothib
berdoa, adalah sbb :
*****
DALIL PERTAMA
Bahwa hal itu tidak
dinukil dari para sahabat, padahal Nabi ﷺ telah melaksanakan sholat Jumat
berkali-kali.
-----
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS
[*] Dikatakan:
عَدَمُ الْعِلْمِ
لَا يَعْنِي الْعِلْمَ بِالْعَدَمِ.
Bahwa
tidak mengetahui sesuatu itu tidak berarti mengetahui ketiadaan-nya.
[*] Selain itu, apa
yang mereka katakan dibantah oleh keumuman hadits-hadits menyariatkan berdoa
sambil mengangkat dua tangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
[*] Juga karena
kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa mengangkat kedua tangan termasuk adab
berdoa secara umum, dan tidak keluar dari keumuman ini kecuali dengan dalil
yang melarangnya.
[*] Dan membatasi
bolehnya mengangkat tangan dalam doa hanya pada tempat-tempat yang sahih dari
Nabi ﷺ saja adalah kekeliruan semata.
Oleh sebab itu Imam
An-Nawawi berkata:
«وَالْمَقْصُودُ
أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ مَنِ ادَّعَى حَصْرَ الْمَوَاضِعِ الَّتِي وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ
بِالرَّفْعِ فِيهَا فَهُوَ غَالِطٌ غَلَطًا فَاحِشًا».
“Yang dimaksud
adalah agar diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim pembatasan tempat-tempat
yang terdapat hadits tentang mengangkat tangan di dalamnya, maka ia telah
keliru dengan kekeliruan yang sangat parah.” [Baca : al-Majmu’ 3/511]
****
DALIL KE DUA:
Dari Sahl bin Sa’d
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ
اللهِ ﷺ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ فِي الدُّعَاءِ عَلَى مِنْبَرٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَكِنِّي
رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ»
“Aku tidak pernah
melihat Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di atas mimbar sama
sekali, dan tidak pula di tempat lainnya. Namun aku melihat beliau berdoa
seperti ini,” lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan
menggenggam jari tengah dengan ibu jari.
[Diriwayatkan oleh
Abu Dawud no. 1105, Ibnu Abi Syaibah (2/486 dan 10/377–378), Ahmad (22855),
Ibnu Khuzaimah (1450), Abu Ya’la (7551), Ibnu Hibban (883), Ath-Thabrani dalam
Al-Kabir (6023), Al-Hakim (1/535–536), dan Al-Baihaqi (3/210), melalui beberapa
jalur dari Abdurrahman bin Ishaq, dengan sanad ini].
SISI
PENDALILAN
Mereka berdalil
dengan hadits Sa’ad bin Sahl ini bahwa hadits ini menunjukkan larangan bagi
seorang khothib jum’at mengangkat kedua tangannya saat berdo’a dalam khitbahnya.
Dan ini adalah termasuk perbuatan bid’ah sesat dan terlarang dalam agama.
Imam Al-Baihaqi
berkata:
«وَالْقَصْدُ مِنَ
الْحَدِيثَيْنِ إِثْبَاتُ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، ثُمَّ فِيهِ مِنَ السُّنَّةِ
أَلَّا يَرْفَعَ يَدَيْهِ فِي حَالِ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ، وَيَقْتَصِرَ عَلَى
أَنْ يُشِيرَ بِأُصْبُعِهِ. وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
أَنَّهُ مَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا، وَذَلِكَ حِينَ اسْتَسْقَى فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ».
"Maksud dari kedua hadits ini adalah
menetapkan adanya doa dalam khutbah.
Kemudian di
dalamnya terdapat sunnah bahwa tidak mengangkat kedua tangan ketika berdoa
dalam khutbah, dan cukup dengan memberi isyarat dengan jari.
Dan telah ada
ketetapan dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau membentangkan
kedua tangannya dan berdoa, yaitu ketika beliau meminta hujan dalam khutbah
Jumat.”
[Lihat: As-Sunan
Al-Kubra (3/289)].
-----
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS
HADITS INI
DHO’IF:
Hadits ini dinilai
lemah (dho’if) oleh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud (204) dan lainnya.
Dan dinilai dho’if
pula oleh Syu’aib Al-Arnauth. Dia berkata dalam takhrij Sunan Abi Dawud
(2/324):
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ - وَهُوَ ابْنُ الْحُوَيْرِثِ الْمَدَنِيُّ - ابْنُ أَبِي
ذُبَابٍ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ.
Sanadnya lemah
(dho’if) karena lemahnya Abdurrahman bin Mu’awiyah — yaitu Ibnu Al-Huwairits
Al-Madani. Sedangkan Ibnu Abi Dhubab adalah Abdullah bin Abdurrahman bin
Al-Harits.
Makna hadits :
Al-‘Adzim Abadi
dalam ‘Aunul Ma’bud 3/320 no. 1105 berkata:
(شَاهِرًا يَدَيْهِ)
أَيْ مُظْهِرًا رَافِعًا يَدَيْهِ حَيْثُ يَظْهَرُ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ أَوْ نَحْوُهُ
وَكَأَنَّهُ أَرَادَ الْمُبَالَغَةَ وَإِلَّا فَالرَّفْعُ مَعْلُومٌ عِنْدَ الدُّعَاءِ
(وَلَا غَيْرِهِ) أَيِ الْمِنْبَرِ فَلَمْ يَكُنْ مِنْ دَأْبِهِ ﷺ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ
إِلَى هَذَا الْحَدِّ (يَقُولُ هَكَذَا) أَيْ يُشِيرُ هَكَذَا (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ)
كَأَنَّهُ يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ
وَهَذَا الْحَدِيثُ وَقَعَ جَوَابًا وَكَأَنَّ
سَائِلًا سَأَلَ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى الْمِنْبَرِ شَاهِرًا يَدَيْهِ فَأَجَابَ سَهْلٌ بِأَنَّهُ
مَا رَأَيْتُ ذَلِكَ يَفْعَلُهُ بِالْوَصْفِ الْمَذْكُورِ إِنَّمَا رَأَيْتُهُ يُشِيرُ
وَقْتَ الْمَوْعِظَةِ بِالسَّبَّابَةِ وَيَعْقِدُ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ كَأَنَّهُ
يَرْفَعُهَا عِنْدَ التَّشَهُّدِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
وَقَالَ الْمُنْذِرِيُّ فِي إِسْنَادِهِ
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ الْقُرَشِيُّ الْمَدَنِيُّ وَيُقَالُ لَهُ عَبَّادُ
بْنُ إِسْحَاقَ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاوِيَةَ وَفِيهِمَا مَقَالٌ
“Ucapannya : “(شَاهِرًا يَدَيْهِ) yakni menampakkan dan mengangkat kedua tangannya sehingga
terlihat putih kedua ketiaknya atau semisalnya. Seakan-akan yang dimaksud
adalah berlebih-lebihan dalam mengangkat; kalau tidak, maka mengangkat tangan
saat berdoa itu sudah maklum.
Ucapannya : (وَلَا غَيْرِهِ) yakni
selain mimbar; jadi bukan termasuk kebiasaan beliau ﷺ untuk
mengangkat kedua tangannya sampai pada batas seperti itu.
Ucapannya : (يَقُولُ هَكَذَا) yakni beliau memberi isyarat seperti ini.
Ucapannya : (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ) yakni beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk, seakan-akan
beliau mengangkatnya sebagaimana ketika tasyahud.
Hadis ini datang
sebagai jawaban, seakan-akan ada seseorang yang bertanya kepada Sahl bin Sa‘d:
“Apakah Nabi ﷺ berdoa di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya
tinggi-tinggi?” Maka Sahl menjawab: “Aku tidak pernah melihat beliau melakukan
hal itu dengan cara yang disebutkan tersebut. Aku hanya melihat beliau memberi
isyarat ketika menyampaikan nasihat dengan jari telunjuk, dan beliau
melingkarkan jari tengah dengan ibu jari, seakan-akan beliau mengangkatnya
sebagaimana ketika tasyahud.” Dan Allah lebih mengetahui.
Al-Mundziri
berkata: Dalam sanadnya terdapat ‘Abdurrahman bin Ishaq al-Qurasyi al-Madani,
yang juga disebut ‘Abbad bin Ishaq dan ‘Abdurrahman bin Mu‘awiyah; dan pada
keduanya terdapat pembicaraan (kritik dari para ulama hadits).”
****
DALIL KE TIGA:
Ibnu Syabbah dalam
Tarikh al-Madinah 1/9 meriwayatkan dengan sanadnya :
Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Janab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Isa bin
Yunus, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Habib bin Ubaid:
Dari Ghudhaif bin
al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu (Ia termasuk dalam golongan sahabat
junior):
أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ
مَرْوَانَ سَأَلَهُ عَنِ الْقَصَصِ وَرَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمَنَابِرِ
فَقَالَ: إِنَّهُ لَمِنْ أَمْثَلِ مَا أَحْدَثْتُمْ، فَأَمَّا أَنَا فَلَا
أُجِيبُكَ إِلَيْهِمَا، إِنِّي حُدِّثْتُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«مَا مِنْ أُمَّةٍ
تُحْدِثُ فِي دِينِهَا بِدْعَةً إِلَّا ضَاعَتْ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ».
فَالتَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْدِثَ بِدْعَةً
Bahwa Abdul Malik
bin Marwan bertanya kepadanya (Ghudhiaf) tentang kisah-kisah dan mengangkat
tangan-tangan di atas mimbar.
Maka ia menjawab:
Sesungguhnya hal itu termasuk sebaik-baik perkara yang kalian ada-adakan.
Adapun aku sendiri, maka aku tidak akan menjawab kalian dalam dua perkara itu.
Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku dari Nabi ﷺ bahwa
beliau bersabda:
“Tidaklah suatu
umat mengada-adakan bid’ah dalam agamanya melainkan mereka akan menyia-nyiakan
yang semisal dengannya dari sunnah”.
Maka berpegang
teguh dengan sunnah lebih aku cintai daripada mengada-adakan bid’ah.
[Diriwayatkan pula
oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/105), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul
al-I’tiqod 1/102 no. 121) dan al-Bazzar sebagaimana disebutkan dalam Kasyf
al-Astar (1/82) nomor (131).
Dan melalui
jalurnya oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (18/99) nomor (178)].
Juga di riwayatkan
oleh al-Marwazi dalam as-Sunnah hal. 32 no. 97, Abu Hilal al-Askari dalam
al-Awaa’il hal. 369-370, al-Lalaka’i dalam as-Sunnah nomor (121) dan Abu Syamah
dalam al-Baa’its hal. 17 no. 2.
SISI
PENDALILAN
Perkataan Ghudhaif
bin al-Harits ats-Tsumali radhiyallahu ‘anhu diatas, meskipun tidak secara tegas
menyatakan bid’ah, namun dia mengisyaratkan bahwa mengangkat kedua tangan
khothib di atas mimbar saat berdoa itu termasuk perbuatan bid’ah.
-----
BANTAHAN TERHADAP DALIL DIATAS
Sanad Atsar ini
sangatLemah Sekali
Dikutip dari “بَصَائِرُ وَرَسَائِلُ فِقْهِيَّة”:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ
*] الْحُسَيْنُ
بْنُ يَعْقُوبَ، الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ
يَعْقُوبَ، أَبُو عَلِيٍّ الْبَجَانِيُّ مَجْهُولٌ
*] يُونُسُ
بْنُ يَحْيَى الْمُفَامِيُّ خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ يُوسُفُ، وَالْمُفَامِيُّ
أَيْضًا خَطَأٌ بِالْفَاءِ، إِنَّمَا هُوَ بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ نِسْبَةً
إِلَى قَرْيَةٍ اسْمُهَا مُغَامَةُ
*] عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ هُوَ السُّلَمِيُّ أَبُو مَرْوَانَ، وَلَيْسَ الْبَزَّارَ
الْمِصِّيصِيَّ، ضَعِيفٌ
*] ابْنُ
الْمَاجِشُونِ هُوَ عَبْدُ الْمَلِكِ، يُكْنَى أَبَا مَرْوَانَ، ضَعِيفٌ
Sanadnya lemah.
*] Al-Husain bin
Ya‘qub, yaitu Al-Husain bin Abdullah bin Al-Husain bin Ya‘qub, Abu ‘Ali
al-Bajani, statusnya majhul (tidak dikenal, siapa dia?).
*] Yunus bin Yahya
al-Mufami adalah keliru, yang benar adalah Yusuf. Penisbatan al-Mufami juga
keliru dengan huruf fa, yang benar dengan huruf ghain, yaitu al-Mughamawi,
dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Mughamah.
*] ‘Abdul Malik bin
Habib adalah as-Sulami, kunyah-nya Abu Marwan, bukan al-Bazzar al-Mushayshi,
dan ia lemah.
*] Ibnu al-Majishun
adalah ‘Abdul Malik, kunyah-nya Abu Marwan, dan ia lemah. [Selesai]
Al-Haitsami
berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (1/188):
“فِي
إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَهُوَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ”.
Di dalam sanadnya
terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam, dan ia adalah perawi yang munkar haditsnya.
Hadits ini juga dinilai
do’if oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir nomor (4985) dan
“Dho’if at-Targhib” no. 37.
Dan dinyatakan
dho’if sanadnya oleh Muhammad al-Qosimi dalam Ishlah al-Masajid min
al-Bida’ wa al-‘Awa’id hal. 13.]
****
DALIL KE EMPAT:
Mereka berdalil
dengan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.
Pertama : Hadits Umarah melalui
jalur Ibnu Fudhoil dari Hushoin :
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam al-Musnad no. 18299:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada
kami Hushain, dari ‘Umarah bin Ruwaibah:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو، فَقَالَ: "لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ يَدْعُو وَهُوَ يُشِيرُ بِإِصْبَعٍ".
“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat
kedua tangannya sambil memberi isyarat dengan kedua jarinya,
dia berseru (berdo’a).
Maka ia mencelanya : “Semoga Allah melaknat kedua tangan kecil ini. Aku
telah melihat Rasulullah ﷺ di atas
mimbar menyeru (berdo’a) dan beliau hanya memberi isyarat dengan satu jari.”
Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (30/232):
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ. صَحَابِيُّهُ مِنْ
رِجَالِهِ، وَبَاقِي رِجَالِ الْإِسْنَادِ مِنْ رِجَالِ الشَّيْخَيْنِ. ابْنُ فُضَيْلٍ:
هُوَ مُحَمَّدٌ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.
“Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Muslim. Sahabat dalam sanad ini
termasuk perawi Muslim, dan selainnya adalah perawi dua Syaikh. Ibnu Fudhail
adalah Muhammad, dan Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.
Kedua : Hadits Umarah Melalui jalur Zaidah, Syu’bah, Husyaim dan Syarik
dari Hushoin.
Abu Nu‘aim al-Ashbahani berkata dalam Al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala
Shahih Muslim (2/459 no. 1962):
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja‘far, telah menceritakan
kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan
kepada kami Syu‘bah dan Za’idah dari Hushoin, ia berkata: ‘Umarah
bin Ru’aibah melihat…
Dan telah menceritakan kepada kami Habib bin al-Hasan, telah
menceritakan kepada kami Yusuf al-Qadhi, telah menceritakan kepada kami ‘Amr
bin Marzuq, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah dari Hushoin dari
‘Umarah…
Dan telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Abu Hushoin, telah menceritakan kepada kami Yahya bin
‘Abd al-Hamid, telah menceritakan kepada kami Mandal, Husyaim, dan Syarik…
Dan telah menceritakan kepada kami Habib, telah menceritakan kepada
kami Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi‘, telah menceritakan
kepada kami Husyaim, telah mengabarkan kepada kami Hushoin…
Dan telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ash-Shawwaf, telah
menceritakan kepada kami al-Husain bin ‘Umar bin Abi al-Ahwas, telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Za’idah
dari Hushoin, ia berkata:
شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُؤَيْبَةَ
الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ عِيدٍ وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ
فِي الدُّعَاءِ فَقَالَ عُمَارَةُ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ الْقَصِيرَتَيْنِ
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا وَأَشَارَ
بِإِصْبَعِهِ
Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi pada hari raya,
sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia mengangkat
kedua tangannya dalam doa, maka ‘Umarah berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan yang pendek ini. Sungguh aku
telah melihat Rasulullah ﷺ, dan
beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini, seraya beliau
memberi isyarat dengan jarinya”. [Selesai]
Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/147 no. 1793 berkata :
Telah meriwayatkan kepada kami Yusuf bin Musa al-Qaththan, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Hushain.
Dan (diriwayatkan pula) kepada kami ‘Ali bin Muslim, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami
Hushain, ia berkata: aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi berkata:
خَطَبَ بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُو
، فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَمَا يَقُولُ إِلَّا هَكَذَا
- يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ - "
“Bisyr bin Marwan berkhutbah dalam keadaan mengangkat kedua tangannya
sambil berdoa. Maka ‘Umarah berkata: ‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan
ini! Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ di atas mimbar, dan beliau tidak melakukan lebih dari seperti
ini’ — sambil
memberi isyarat dengan jari telunjuknya.”
Ini adalah riwayat Jarir.
Sedangkan dalam riwayat Husyaim disebutkan:
شَهِدْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيَّ فِي يَوْمِ
عِيدٍ ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ
“Aku menyaksikan ‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi pada hari raya,
sementara Bisyr bin Marwan sedang berkhutbah kepada kami. Lalu ia mengangkat
kedua tangannya dalam doa.”
Dan ia (perawi) menambahkan:
وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ.
“Husyaim memberi isyarat dengan jari telunjuknya.”
Abu Bakr (Ibnu Khuzaimah) berkata: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh
Syu‘bah dan ats-Tsauri dari Hushain, dan keduanya mengatakan:
"رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
"
Ia (‘Umarah) melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar pada hari Jumat.” [Kutipan Selesai]
Ketiga : Hadits Umarah melalui jalur Husyaim
dari Hushoin :
At-Tirmidzi dalam Sunannya no. 515 berkata :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan
kepada kami Hushoin, dia berkata:
"سَمِعْتُ عُمَارَةَ بْنَ رُوَيْبَةَ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ
يَخْطُبُ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، فَقَالَ عُمَارَةُ: قَبَّحَ اللَّهُ
هَاتَيْنِ اليُدَيَّتَيْنِ القُصَيَّرَتَيْنِ، «لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ،
وَمَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا»، وَأَشَارَ هُشَيْمٌ بِالسَّبَّابَةِ".
Aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaibah, sementara Bisyr bin Marwan sedang
berkhutbah, lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam doa. Maka ‘Umarah berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan kecil yang pendek ini. Sungguh
aku telah melihat Rasulullah ﷺ, dan
beliau tidak menambah dari sekadar mengatakan seperti ini”.
Dan Husyaim pun memberi isyarat dengan jari telunjuknya. [Selesai]
Lalu Abu Isa at-Tirmidzi berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»
“Ini adalah hadits hasan sahih”.
Diriwayatkan pula melalui jalur Abu Isa at-Tirmidzi oleh Al-Baghawi
dalam Syarh as-Sunnah, Bab Makruhnya Mengangkat Kedua Tangan dalam Khutbah
(4/255 no. 1079).
SISI PENDALILAN
Mereka berdalil dengan hadits ‘Umarah bin Ru’aibah ini bahwa hadits ini
menunjukkan larangan dan bid’ahnya berdo’a sambil mengangkat kedua tangan saat
khotib jum’at berdo’a. Larangan tersebut berlaku pada imam dan makmum.
****
BANTAHAN TERHADAP ISTIDLAL DENGAN HADITS ‘UMARAH DIATAS
====
BANTAHAN PERTAMA :
Yang dimaksud mengangkat kedua tangan dalam hadits Umarah ini adalah
mengangkat kedua tangan sambil memberi isyarat dengan dua jari,
bukan membuka kedua telapak tangan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Umarah diatas yang di
riwayatkan Imam Ahmad:
« أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا
يَدَيْهِ يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ يَدْعُو»
“Bahwa ia melihat Bisyr bin
Marwan di atas mimbar dalam keadaan mengangkat kedua tangannya sambil memberi
isyarat dengan kedua jarinya, dia berseru (berdo’a)”.
====
BANTAHAN KE DUA :
Pengangkatan kedua tangan Bisyr bin Marwan yang dicela oleh sahabat
Umarah ini adalah Pengangkatan kedua
tangan yang benar-benar sangat melampaui batas, yang hampir-hampir
saja dia terjengkang terlentang ke belakang.
Sebagaiama yang jelaskan sahabat Umarah dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah.
Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Hushoin,
dari ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ
يَدْعُو حَتَّى كَادَ يَسْتَلْقِي خَلْفَهُ.
“Bahwa ia (Umarah) melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi-tinggi
kedua tangannya (secara berlebihan) sambil berseru (atau berdoa), hingga
hampir-hampir ia terjengkang (terlentang) ke belakangnya”.
[[Lihat al-Mushoonaf no. 5538 [Tarqim Muhammad
‘Awanah (الرِّئَاسَةُ العَامَّةُ لِلْبُحُوثِ
العِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ)] atau no. 5607
[Tarqim asy-Syatsri (مَوْسُوعَةُ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ)]].
Lafadz nuskhoh al-Mushonnaf Tahqiq Kamal
al-Huut 1/475 no. 5496 :
«أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو،
حَتَّى كَادَ يَتَلَقَّى خَلْفَهُ»
“Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tinggi kedua tangannya
(secara berlebihan) sambil berdoa, hingga hampir-hampir ia terjatuh
(terjungkal) ke belakangnya”.
Status sanad hadits :
Hadits ini dinilai shahih sanad-nya oleh asy-Syatsri pentahqiq
al-Mushonnaf no. 5607].
Penulis katakan:
Pertama : Inilah alasan yang paling tepat, yang menyebabkan sahabat
Umarah radhiyallahu ‘anhu mengutuk kedua tangan Bisyar bin Marwan. Sebagaimana
dalam riwayat Imam Ahmad diatas :
" لَعَنَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيُدَيَّتَيْنِ".
“Semoga Allah melaknat kedua
tangan kecil ini.”
Jika tidak, layakkah seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia, dia mengutuk seorang imam, gubernur Irak dan putra
khalifah Marwan bin al-Hakam dari Bani Umayyah, hanya karena mengangkat kedua
tangan dalam berdoa saat khutbah?
Jangankan mengutuk khothib dan penguasa, bukankah bicara yang biasa saja
tidak diperbolehkan ketika khotib berkhutbah?
Bukankah Nabi ﷺ pernah
bersabda:
وَمَنْ قَالَ: صَهْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَا، وَمَنْ
لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ.
“Barang siapa berkata: ‘Diam-lah!’ sementara imam sedang berkhutbah,
maka sungguh ia telah berbuat sia-sia (laghwu). Dan barang siapa berbuat
sia-sia, maka tidak ada Jumat baginya.”
Jangan kan makmum, seorang imam dan khothib pun tidak boleh mencela
penguasa dalam khutbahnya atau di depan publik, apalagi mengutuknya ??.
Kedua : Siapakah ‘Umarah bin Ru’aibah, sahabat yang meriwayatkan
hadits ini?
Dia adalah ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi Abu Zahrah. Ia memiliki
status sahabat dan dia terhitung sebagai penduduk Kufah. Karena ia
menetap di Kufah. (jarak tempuh antara Kufah dan Madinah sekitar 1500 KM)
Dia pernah berziarah ke Madinah, dan berjumpa dengan Nabi ﷺ. Dan dia pernah sekali menghadiri Nabi ﷺ berkhutbah pada hari Jum’at.
Ia tidak pernah tinggal di Madinah di masa Nabi ﷺ, oleh sebab itu dia hanya memiliki dua hadits dari Nabi ﷺ. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim dan seseorang selainnya.
Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Hushoin bin Abdurrahman. [Baca:
al-Ishobah karya Ibnu Hajar 4/478]
Al-Mizzi menyebutkan dalam at-Tahdzib :
أَنَّ لَهُ رِوَايَةً عَنْ عَلِيٍّ، فَوَهِمَ، فَإِنَّ
الرَّاوِيَّ عَنْ عَلِيٍّ حَرْمِيٌّ، وَخَيَّرَهُ عَلِيٌّ بَيْنَ أَبِيهِ
وَأُمِّهِ، وَهُوَ صَغِيرٌ، فَافْتَرَقَا مِنْ وَجْهَيْنِ
“Bahwa ia memiliki riwayat dari Ali, namun itu adalah kekeliruan,
karena perawi dari Ali tersebut adalah seorang anak kecil bernama Harmi, dan
Ali pernah memberinya pilihan antara ayah dan ibunya, saat ia masih kecil,
sehingga keduanya berbeda dari dua sisi.
[Lihat : Al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shohabah karya al-Hafidz Ibnu Hajar
4/478.
====
BANTAHAN KETIGA:
Matan hadits ini mudhthorib (labil), padahal semua sanad hadits Umarah
ini berkisar kepada Hushoin.
Di antaranya: waktu kejadian nya berbeda-beda. Dalam riwayat Abu Daud
kejadiannya pada saat khubah Jum’at, dalam riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani
terjadi pada hari raya, sementara pada riwayat-riwayat yang lainnya hanya
menyebut lafadz Khuthbah tanpa menentukan khutbah apa?
====
BANTAHAN KEEMPAT:
Hadits Umarah radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Hushoin bin Abdurrhman
ini, dalam penyebutan kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”, mayoritas para perawi hadits meriwaytakannya tanpa
menyebutkannya kata tersebut.
Adapun yang menyebutkan kata “do’a”, maka hanya Imam Ahmad, Tirmidzi,
Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Nu’aim al-Ashbahani. Itu pun dalam dalam
salah satu riwayat mereka.
Dan riwayat yang paling kuat adalah tanpa penyebutan lafadz kata “يَدْعُو” atau “الدُّعَاء”. Berikut ini
riwayat-riwayat tersebut dan jalur-jalur sanadnya:
----
JALUR KE [1] :
Melalui jalur Abdullah bin Idris dari Hushoin bin Abdurrahman,
dari Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ
رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا،
وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ»
Bahwa dirinya pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat
kedua tangannya, lalu ia berkata:
“Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat
Rasulullah ﷺ, beliau
tidak menambah selain hanya berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia
memberi isyarat dengan jari telunjuknya”.
Diriwayatkan oleh sbb:
[1] Muslim dalam shahihnya no. 53 –(874),
[2] Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1451.
[3] Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam al-Musnad
al-Mutakhroj no. 1961.
[4] Ibnu al-Khorroth dalam al-Ahkam
asy-Syar’iyyah al-Kubra (2/472)
[5] Ibnu Abi ‘Aashim dalam al-Aahaad wa al-Matsaani 3/221 no. 1581.
[6] Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf 2/116,
147-148.
[7] Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 882
Semuanya melalui jalur Abdullah bin Idris
dari Hushoin ..... dst.
Disebutkan pula oleh sbb:
[1]- al-Humadi dalam al-Jam’ Baina ash-Shohihain no. 3113.
[2] Qodhi ‘Iyadh dalam Ikmal al-Mu’allim 3/277.
[3] Ibnu al-Atsiir dalam Jami’ al-Ushul no. 3972.
[4] an-Nawawi dalam Khulashotul Ahkam no. 2822.
[5] al-Khothib at-Tibrizy dalam Misyakatul Mshobih no. 1417.
[6] al-Mizzy dalam Tuhfatul Asyroof no. 10377.
[7] az-Zarkasyi dalam Syarah Mukhtashor al-Khiroqi 2/182 no. 850.
[8] Muhammad al-‘Aaquuli dalam ar-Roshef 1/268 no. 579.
[9] Ibnu al-Mulaqqin dalam Tuhfatul Muhtaaj 1/500 no. 614.
[10] Muhammad asy-Syami dalam Subul al-Huda wa ar-Rosyad 8/217
[11] dan lain-nya, masih banyak.
----
JALUR KE [2]
Melalui jalur Abu ‘Awaanah
dari Hushoin.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 874 melalui jalur Abu ‘Awaanah, dia
berkata :
رَأَيْتُ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ، يَوْمَ جُمُعَةٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ،
فَقَالَ: عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ
“Aku melihat Bisyr bin Marwan pada hari Jumat mengangkat kedua
tangannya, maka ‘Umarah bin Ru’aibah berkata”, lalu ia
menyebutkan yang semakna dengannya.
Diriwayatkan pula lengkap dengan sanadnya oleh adz-Dzahabi dalam
al-Mu’jam al-Mukhtash-sh Bi al-Muhadditssin hal. 107.
Lalu adz-Dzahabi berkata :
وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ: أَنَا مَحْمُودُ
بْنُ غَيْلَانَ، نَا وَكِيعٌ، نَا سُفْيَانُ، عَنْ حُصَيْنٍ، أَنَا بِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ. رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَسَبَّهُ عُمَارَةُ
بْنُ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: «مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى هَذَا
وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ» . هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ.
“Dengan sanad tersebut, Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada
kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Waki‘, telah
menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hushoin:
Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat, lalu
‘Umarah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata: “Rasulullah ﷺ tidak menambah dari ini,” seraya beliau memberi isyarat dengan
jari telunjuknya.
Ini adalah hadits yang sahih”.
-----
JALUR KE [3]
Melalui jalur Waki’ dari
Sufyan dari Hushoin:
Imam Ahmad dalam al-Musnad no. 17219 dan 17221
dan an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro no. 1727 meriwayatkan dengan
sanadnya: Telah menceritakan kepada kami Waki‘ dari Sufyan dari Hushain:
أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
عَلَى الْمِنْبَرِ. فَقَالَ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ: " مَا زَادَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ عَلَى هَذَا " وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ
“Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di
atas mimbar. Maka ‘Umarah bin Ruwaibah berkata: “Rasulullah ﷺ tidak menambah dari ini,” seraya ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh sbb:
[1] an-Nasa’i dalam Al-Mujtaba (3/108), dalam kitab Shalat Jumat no. 67.
[2] Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf no. 5279
[3] ad-Darimi dalam as-Sunan 1/366.
[4] Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal-Matsani 3/221 (1582).
[5] Ibnu Khuzaimah (1794) melalui jalur Waki‘ dengan sanad ini.
Syu‘aib al-Arna’uth berkata dalam tahqiq Al-Musnad (28/457):
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ،
غَيْرَ صَحَابِيِّهِ فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ. وَكِيعٌ: هُوَ ابْنُ الْجَرَّاحِ الرُّؤَاسِيُّ،
وَسُفْيَانُ: هُوَ الثَّوْرِيُّ، وَحُصَيْنٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ.
“Sanadnya sahih, para perawinya tsiqah, perawi-perawinya adalah perawi
dua Syaikh (al-Bukhari dan Muslim), selain sahabatnya maka termasuk perawi
Muslim. Waki‘ adalah Ibnu al-Jarrah ar-Ru’asi, Sufyan adalah ats-Tsauri, dan
Hushain adalah Ibnu ‘Abdurrahman as-Sulami”.
****
PERNYATAAN PARA ULAMA HADITS
TENTANG SAAT KAPAN BISYR
MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM KHUTBAH
Dalam Majallah al-Bayan 130/8 di sebutkan :
وَاخْتَلَفَ الرُّوَاةُ عَنْ حُصَيْنٍ؛ فَقَالَ بَعْضُهُمْ:
رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَبَعْضُهُمْ لَمْ يَذْكُرِ الدُّعَاءَ؛ لِذَا اخْتَلَفَ
الْعُلَمَاءُ فِي فَهْمِ الْحَدِيثِ عَلَى قَوْلَيْنِ:
[1] فَفَهِمَ
الْبَيْهَقِيُّ وَالشَّوْكَانِيُّ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ: وَهُوَ ذِكْرُ الدُّعَاءِ،
وَقَالُوا: لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ حَالَ الدُّعَاءِ فِي الْخُطْبَةِ.
[2] وَفَهِمَ الطِّيبِيُّ الْمَعْنَى الثَّانِيَ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمَقْصُودَ
بِالنَّهْيِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ أَثْنَاءَ الْكَلَامِ حَالَ الْخُطْبَةِ كَمَا هُوَ
دَأْبُ الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ.
Para perawi berbeda pendapat dalam meriwayatkan dari Hushain; sebagian
mereka mengatakan: dalam keadaan mengangkat kedua tangannya ia berdoa, dan
sebagian lainnya tidak menyebutkan doa. Karena itu para ulama berbeda dalam
memahami hadits tersebut menjadi dua pendapat:
[1]- Al-Baihaqi dan asy-Syaukani memahami makna pertama, yaitu adanya
penyebutan doa, dan mereka berkata: tidak termasuk sunnah mengangkat kedua
tangan ketika berdoa dalam khutbah.
[2]-
Ath-Thibi memahami makna kedua, dan ia menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
larangan adalah mengangkat kedua tangan saat berbicara (bukan saat berdoa)
dalam khutbah sebagaimana kebiasaan para penceramah dan tukang kisah”.
Al-Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafaatiih 4/510 berkata:
وَفَهِمَ النَّسَائِيُّ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالطِّيبِيُّ
أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الرَّفْعُ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ التَّكَلُّمِ وَخِطَابِ النَّاسِ،
كَمَا هِيَ عَادَةُ الْخُطَبَاءِ وَالْوُعَّاظِ أَنَّهُمْ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ
يَمِينًا وَشِمَالًا يُنَبِّهُونَ النَّاسَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.
“Al-Nasai, Ibnu Abi Syaibah, dan Ath-Thiibi memahami bahwa yang
dimaksud (dengan teguran ‘Umarah terhadap Bisyr dalam hadits ini) adalah
pengangkatan dua tangan ketika berbicara dan berkhutbah kepada manusia,
sebagaimana kebiasaan para khatib dan penceramah yang mengangkat tangan mereka
ke kanan dan ke kiri untuk mengingatkan orang-orang agar memperhatikan dan
mendengarkan.”
Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:
قُلْتُ : وَهَلِ الْمُرَادُ فِي حَدِيثِ عُمَارَةَ بِالرَّفْعِ
الْمَذْكُورِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ الدُّعَاءِ عَلَى الْمِنْبَرِ أَوِ الْمُرَادُ
رَفْعُ الْيَدَيْنِ لَا وَقْتَ الدُّعَاءِ بَلْ عِنْدَ التَّكَلُّمِ كَمَا هُوَ دَأْبُ
الْوُعَّاظِ وَالْقُصَّاصِ أَنَّهُمْ يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهمْ يَمِينًا وَشِمَالًا
يُنَبِّهُونَ السَّامِعِينَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ
فَحَدِيثُ عُمَارَةَ يَدُورُ إِسْنَادُهُ عَلَى حُصَيْنِ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَرُوَاتُهُ اخْتَلَفُوا عَلَيْهِ
فَرِوَايَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ وَأَبِي عَوَانَةَ
وَسُفْيَانَ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي وَلِذَا بَوَّبَ
النَّسَائِيُّ بَابَ الإشارة في الخطبة وبوب بن أَبِي شَيْبَةَ الرَّجُلَ يَخْطُبُ
يُشِيرُ بِيَدِهِ وَهَكَذَا فهم الطيبي
ورواية هشيم وزائدة وبن فُضَيْلٍ كُلُّهمْ عَنْ حُصَيْنٍ تَدُلُّ
عَلَى الْمَعْنَى الْأَوَّلِ وَهَكَذَا فَهِمَ النَّوَوِيُّ.
وَأَمَّا تَرْجَمَةُ الْمُؤَلِّفِ وَكَذَا التِّرْمِذِيِّ فَمُتَحَمِّلٌ
لِمَعْنَيَيْنِ.
وَعِنْدِي لِلْمَعْنَى الثَّانِي تَرْجِيحٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:
الْأَوَّلُ: أَنَّ أَبَا عَوَانَةَ الْوَضَّاحَ وَسُفْيَانَ
الثَّوْرِيَّ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ إِدْرِيسَ أَوْثَقُ وَأَثْبَتُ مِنْ هُشَيْمِ بْنِ
بَشِيرٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلٍ وَإِنْ كَانَ زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ
الثَّلَاثَةِ فِي الْحِفْظِ فَتُعَارَضُ رِوَايَةُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ الْحُفَّاظِ
بِرِوَايَةِ زَائِدَةَ بْنِ قُدَامَةَ. وَالْعَدَدُ الْكَثِيرُ أَوْلَى بِالْحِفْظِ
وَالثَّانِي أَنَّ قَوْلَهَ الْآتِي "لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ
الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ: يُؤَيِّدُ هَذَا الْمَعْنَى الْأَخِيرَ لِأَنَّ رَفْعَ
الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مَأْثُورًا بِهَذِهِ الصِّفَةِ بَلْ أَرَادَ الرَّاوِي
أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ كِلْتَيْهِمَا لِتَخَاطُبِ السَّامِعِينَ لَيْسَ مِنْ دَأْبِ
النَّبِيِّ ﷺ بَلْ إِنَّمَا يُشِيرُ النَّبِيُّ ﷺ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ. انْتَهَى
مُخْتَصَرًا مِنْ غَايَةِ الْمَقْصُودِ
Aku katakan :
Apakah yang dimaksud dalam hadits ‘Umarah dengan pengangkatan yang
disebutkan itu adalah mengangkat kedua tangan ketika berdoa di atas mimbar?
Ataukah yang dimaksud adalah mengangkat kedua tangan bukan pada waktu
berdoa, tetapi ketika berbicara sebagaimana kebiasaan para penceramah dan
tukang kisah, yaitu mereka menggerakkan tangan mereka ke kanan dan ke kiri
untuk mengingatkan para pendengar agar memperhatikan?
Hadits ‘Umarah sanadnya berkisar pada Hushain bin ‘Abdurrahman, dan
para perawinya berbeda-berda lafadz dalam meriwayatkannya darinya.
Riwayat ‘Abdullah bin Idris, Abu ‘Awanah, dan Sufyan, semuanya dari
Hushain, menunjukkan makna kedua (diluar do’a). Karena itu an-Nasa’i membuat “bab
tentang isyarat dalam khutbah”, dan Ibnu Abi Syaibah membuat “bab tentang
orang yang berkhutbah memberi isyarat dengan tangannya”. Demikian pula
ath-Thibi memahaminya.
Adapun riwayat Husyaim, Za’idah, dan Ibnu Fudhail, semuanya dari
Hushain, menunjukkan makna pertama (saat berdo’a). Demikian pula yang dipahami
oleh Imam an-Nawawi.
Adapun judul bab yang dibuat oleh al-mu’allif (yakni; Abu Daud) dan
juga oleh at-Tirmidzi, maka dapat mencakup kedua makna tersebut.
Menurutku, makna kedua (di luar do’a) lebih kuat dari dua sisi:
Pertama, bahwa Abu ‘Awanah al-Wadhdhah, Sufyan
ats-Tsauri, dan ‘Abdullah bin Idris lebih tsiqah dan lebih kokoh hafalannya
dibandingkan Husyaim bin Basyir dan Muhammad bin Fudhail. Meskipun Za’idah bin
Qudamah setara dengan tiga orang tersebut dalam hafalan, namun riwayat tiga hafizh
ini berhadapan dengan riwayat Za’idah bin Qudamah, dan jumlah yang lebih banyak
lebih kuat dalam hafalan.
Kedua, bahwa ucapannya yang akan datang:
“Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ ketika beliau berada di atas mimbar, tidak menambah dari ini,”
yaitu jari telunjuk yang berada di samping ibu jari, mendukung makna terakhir
ini. Karena mengangkat kedua tangan dalam doa tidak diriwayatkan dengan sifat
seperti ini. Akan tetapi yang dimaksud perawi adalah bahwa mengangkat kedua
tangan sekaligus untuk berbicara kepada para pendengar bukanlah kebiasaan Nabi ﷺ, melainkan Nabi ﷺ hanya
memberi isyarat dengan jari telunjuknya. Selesai, diringkas dari Ghayah
al-Maqshud”. [Selesai]
Dan Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 juga berkata:
قَالَ فِي الْمِرْقَاةِ: قَوْلُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ أَيْ عِنْدَ
التَّكَلُّمِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ إِذَا حَمُوا، يَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ
الْآتِي: وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ. قَالَهُ الطِّيبِيُّ.
Ia berkata dalam Al-Mirqat: Perkataannya “dalam keadaan mengangkat
kedua tangannya” maksudnya ketika berbicara, sebagaimana kebiasaan para
penceramah apabila mereka bersemangat. Hal ini dikuatkan oleh perkataannya yang
akan datang: “dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya,” demikian
dikatakan oleh ath-Thibi. [Selesai]
Lalu Al-Adzim Aabaadi dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:
(مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ) وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: (مَا يَزِيدُ عَلَى
أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الْمُسَبِّحَةِ)
وَلَفْظُ النَّسَائِيِّ: (مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى
هَذَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ).
قَالَ الطِّيبِيُّ : "وَالْمَعْنَى أَيْ يُشِيرُ عِنْدَ
التَّكَلُّمِ فِي الْخُطْبَةِ بِأُصْبُعِهِ يُخَاطِبُ النَّاسَ وَيُنَبِّهُهُمْ عَلَى
الِاسْتِمَاعِ".
(“Tidak lebih dari ini”)
Dalam lafaz Sahih Muslim disebutkan: “Beliau tidak lebih dari hanya
memberi isyarat dengan tangannya seperti ini,” dan beliau memberi isyarat
dengan jari telunjuknya.
Dan dalam lafaz Sunan an-Nasa'i: “Rasulullah ﷺ tidak menambah atas ini,” dan beliau memberi isyarat dengan
jari telunjuknya.
Ath-Thibi berkata: “Maknanya adalah beliau memberi isyarat ketika
berbicara (bukan do’a) dalam khutbah dengan jarinya untuk berbicara kepada
manusia dan mengingatkan mereka agar mendengarkan.” [Selesai]
Mahmud Muhammad as-Subki dalam al-Minhal al-‘Adzeb al-Mawruud Syarah
Sunan Abi Daud 6/268-269 berkata:
مَعْنَى الْحَدِيثِ: (قَوْلُهُ وَهُوَ يَدْعُو فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ)
... يُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِقَوْلِهِ يَدْعُو أَيْ يُشِيرُ بِيَدَيْهِ فِي الْخُطْبَةِ
حَالَ الْوَعْظِ وَالْإِرْشَادِ، كَمَا هُوَ دَأْبُ الْوُعَّاظِ، يُحَرِّكُونَ أَيْدِيَهُمْ
يَمِينًا وَشِمَالًا، يُنَبِّهُونَ الْحَاضِرَ عَلَى الِاسْتِمَاعِ.
وَيُؤَيِّدُهُ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ إِدْرِيسَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، قَالَ: رَأَى بِشْرَ
بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ
الْيَدَيْنِ. "الْحَدِيثُ".
وَمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ سُفْيَانَ عَنْ حُصَيْنٍ
أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ،
فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، وَقَالَ: مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ عَلَى هَذَا، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ.
Makna hadits:
(Ucapannya: “sementara ia berdoa pada hari Jumat”) … kemungkinan
yang dimaksud dengan kata “berdoa” di sini adalah memberi isyarat dengan
kedua tangannya ketika berkhutbah dalam keadaan memberi nasihat dan bimbingan,
sebagaimana kebiasaan para penceramah; mereka menggerakkan tangan ke kanan dan
ke kiri untuk mengingatkan orang yang hadir agar memperhatikan.
Hal ini dikuatkan oleh riwayat Sahih Muslim melalui jalur ‘Abdullah bin
Idris dari Hushain, dari ‘Umarah bin Ru’aibah, ia berkata:
Bisyr bin Marwan terlihat di atas mimbar mengangkat kedua tangannya,
lalu ia berkata, “Semoga Allah memburukkan kedua tangan itu,” (kemudian
disebutkan haditsnya).
Dan juga oleh riwayat Sunan an-Nasa'i melalui jalur Sufyan dari
Hushain:
Bahwa Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat di
atas mimbar, maka ‘Umarah bin Ru’aibah ats-Tsaqafi mencelanya dan berkata, “Rasulullah
ﷺ tidak
menambah dari ini,” sambil ia memberi isyarat dengan
jari telunjuknya. [Kutipan Selesai]
Ibnu Hajar
al-Asqalani berkata dalam Fath al-Bari (11/143, cet. Dar al-Ma‘rifah):
«قَدْ حَكَى الطَّبَرِيُّ
عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَقَالَ: السُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ
الدَّاعِي بِإِصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَرَدَّهُ بِأَنَّهُ إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْخَطِيبِ
حَالَ الْخُطْبَةِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي سِيَاقِ الْحَدِيثِ، فَلَا مَعْنَى لِلتَّمَسُّكِ
بِهِ فِي مَنْعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ مَعَ ثُبُوتِ الْأَخْبَارِ بِمَشْرُوعِيَّتِهَا»
اهـ.
“Ath-Thobari
menukil dari sebagian ulama salaf bahwa mereka memahami hadits itu secara zahir
dan mengatakan: Sunnahnya orang yang berdoa adalah memberi isyarat dengan satu
jari.
Pendapat ini
dibantah, karena hal itu hanya disebutkan pada khatib
ketika sedang berkhutbah, dan hal itu tampak jelas dalam konteks hadits. Maka
tidak ada alasan menjadikannya sebagai dalil untuk melarang mengangkat kedua
tangan dalam doa, sementara telah tetap adanya riwayat-riwayat tentang disyariatkannya
mengangkat tangan.” Selesai.
Dan Ibnu Jibrin berkata:
«فَأَمَّا حَدِيثُ
عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ، وَفِيهِ قَوْلُهُ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ،
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِلَّا يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ — أَوْ كَمَا قَالَ —
فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَنْكَرَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ عِنْدَ التَّشَهُّدِ، أَوْ عِنْدَ
ذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَإِنَّ الثَّابِتَ عِنْدَ التَّشَهُّدِ الْإِشَارَةُ
بِالسَّبَّابَةِ وَحْدَهَا، وَهِيَ عَلَامَةُ التَّوْحِيدِ، وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ
الصَّحَابَةِ لِمَنْ رَفَعَ إِصْبَعَيْهِ: أَحِّدْ أَحِّدْ، لَا تُشِرْ إِلَّا بِوَاحِدَةٍ.
وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ الْخَطِيبُ يُحَرِّكُ
يَدَيْهِ كَثِيرًا أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ رَفْعًا وَخَفْضًا فِي غَيْرِ حَالَةِ الدُّعَاءِ،
فَأَمَّا رَفْعُهُمَا فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»
“Adapun hadits ‘Umarah bin Ru’aibah, yang di dalamnya
terdapat ucapannya: ‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini. Aku
tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ kecuali
beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ‘— atau sebagaimana ia
katakan — maka yang tampak adalah bahwa ia mengingkari pengangkatan kedua
tangan saat tasyahud atau ketika menyebut nama Allah Ta‘ala.
Karena yang telah ada ketetapan (diajarkan) dalam
tasyahud adalah berisyarat dengan telunjuk saja, dan itu adalah tanda tauhid.
Oleh karena itu sebagian sahabat berkata kepada orang
yang mengangkat dua jarinya: ‘Esakan, esakan (Allah), janganlah engkau
berisyarat kecuali dengan satu (jari).’
Bisa jadi pula khatib tersebut banyak menggerakkan
kedua tangannya saat khutbah, naik dan turun, bukan dalam keadaan berdoa.
Adapun mengangkat keduanya saat berdoa, maka itu tidak termasuk dalam larangan
tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.”
(Sumber: Fatawa Ibnu Jibrin).
====
BANTAHAN
KE LIMA:
[*] Pendalilan mereka dengan hadits Umarah radhiyallahu anhu ini tidaklah
lebih utama daripada pendalilan dengan hadits Abu Hurairah tentang diangkatnya
kedua tangan Nabi ﷺ ketika beliau berdoa di atas mimbar untuk meminta hujan
(istisqa) dan istish-ha (cuaca cerah).
[*] Selain itu, pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr berdasarkan apa yang ia
lihat dari Nabi ﷺ yang hanya ber-isyarat dengan jarinya, tidak dapat dijadikan
dalil tersendiri atas tidak bolehnya mengangkat tangan; karena ‘Umarah
meriwayatkan apa yang ia lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan orang
lain melihat Nabi ﷺ dalam keadaan yang berbeda.
[*] Lagi pula ‘Umarah ini penduduk Kufah, dia datang berkunjung ke Madinah,
hanya sesekali menyaksikan Nabi ﷺ berkhutbah. Oleh sebab itu
beliau hanya meriwatkan dua hadits dari Nabi ﷺ .
Sementara para sahabat lain, terutama para sahabat senior yang senantiasa
bersama Nabi ﷺ dan berkali-kali menyaksikan khutbah Jum’at Nabi ﷺ, mereka
tidak ada yang meriwayatkan apa yang ‘Umarah riwayatkan.
[*] Ditambah lagi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, dijelaskan bahwa yang
dimaksud mengangkat kedua tangan di sini adalah yang dilakukan dengan cara
sangat berlebihan, sehingga hampir-hampir saja Bisyr bin Marwan terjengkang ke
belakang.
DR. Kholid
Kaarah berkata:
إِنَّ إِنْكَارَ عُمَارَةَ عَلَى بِشْرٍ
بِرُؤْيَتِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ لَا يُعَدُّ دَلِيلًا بِمُفْرَدِهِ
عَلَى عَدَمِ جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ؛ لِأَنَّ عُمَارَةَ رَوَى مَا رَأَى، وَهَذَا
لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُ رَآهُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْهَيْئَةِ، فَيَبْقَى
الْأَمْرُ عَلَى أَصْلِهِ، وَهُوَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَقُولُ فِي
هَذَا التَّعْلِيلِ مَا قُلْتُ فِي سَابِقِهِ.
Sesungguhnya
pengingkaran ‘Umarah terhadap Bisyr karena ia melihat Nabi ﷺ
berisyarat dengan jarinya tidak dapat dijadikan dalil tersendiri atas tidak
bolehnya mengangkat kedua tangan. Sebab ‘Umarah hanya meriwayatkan apa yang ia
lihat, dan hal itu tidak menafikan kemungkinan bahwa orang lain melihat beliau
dalam keadaan yang berbeda dari cara tersebut.
Maka hukum asalnya
tetap sebagaimana semula, yaitu mengangkat kedua tangan dalam doa. Dan tentang alasan
ini, aku mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan pada alasan sebelumnya.
[Baca: “Tanbīhul Arīb li Ḥukmi Raf‘il Yadain Ḥaala At-Ta’mīn ‘alā Du‘ā’il Khoṭhīb” (Halaman 350) karya
DR. Kholid Kaarah]
****
DALIL KE LIMA:
Mereka berdalil
dengan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh, ia berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي
الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»
“Nabi ﷺ tidak
mengangkat kedua tangannya dalam sesuatu pun dari doanya kecuali dalam istisqa,
dan beliau mengangkatnya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” [HR. Bukhori
no. 3565 dan Muslim no. 895]
SISI
PENDALILAN
Hadits ini
menunjukkan dengan tegas bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya
dalam berdo’a itu hanya diperbolehkan dalam do’a istisqo (minta hujan) saja.
Berdasarkan hadits ini, maka sebagian para
ulama telah menghukumi makruh mengangkat kedua tangan saat berdoa secara mutlak
dalam semua do’a selain istisqo. [Lihat Tafsiir al-Qurthubi 7/255]
Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/142 berkata :
وَكَرِهَ رَفْعَ الْيَدَيْنِ فِي
الدُّعَاء ابن عُمَرَ وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ وَرَأَى شُرَيْحٌ رَجُلًا يَرْفَعُ
يَدَيْهِ دَاعِيًا فَقَالَ : " مَنْ تَتَنَاوَلُ بِهِمَا لَا أُمَّ
لَكَ" . وَسَاقَ الطَّبَرِيُّ ذَلِكَ بِأَسَانِيدِهِ عَنْهُم
Ibnu Umar
dan Jubair ibnu Muth'iim membenci seseorang mengangkat kedua tangan saat
berdoa.
Dan Syuraih
pernah melihat seseorang pria mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , maka
dia berkata :
"Siapa
saja dari kamu yang mengangkat kedua tangannya dalam berdoa maka tiada Ibu
bagimu ".
Dan
ath-Thobari meriwayatkannya dengan sanad-sanadnya dari mereka .
Lalu
al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :
وَذكر بن التِّينِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ أَنَّهُ نَقَلَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّ رَفْعَ الْيَدَيْنِ
فِي الدُّعَاءِ لَيْسَ مِنْ أَمْرِ الْفُقَهَاءِ
Dan Ibnu at-Tiin menyebutkan dari Abdullah bin
Umar bin Ghoonim bahwasanya telah dinukil dari Malik bahwa mengangkat tangan
dalam berdoa itu bukan bagian dari perkara para Fuqohaa .
====
BANTAHAN
TERHADAP DALIL DIATAS
Al-Hafidz Ibnu
Hajar menjawab pendalilan dengan hadits Anas bin Malik ini dalam “Fathul
Bari11/142 dengan mengatakan:
أَنَّ الْمَنْفِيَّ صِفَةٌ خَاصَّةٌ
لَا أَصْلُ الرَّفْعِ وَقَدْ أَشَرْتُ إِلَى ذَلِكَ فِي أَبْوَابِ الِاسْتِسْقَاءِ
وَحَاصِلُهُ أَنَّ الرَّفْعَ فِي
الِاسْتِسْقَاءِ يُخَالِفُ غَيْرَهُ إِمَّا بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى أَنْ تَصِيرَ
الْيَدَانِ فِي حَذْوِ الْوَجْهِ مَثَلًا وَفِي الدُّعَاءِ إِلَى حَذْوِ
الْمَنْكِبَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ ثَبَتَ فِي كُلٍّ مِنْهُمَا
حَتَّى يَرَى بَيَاضَ إِبْطَيْهِ بَلْ يُجْمَعُ بِأَنْ تَكُونَ رُؤْيَةُ
الْبَيَاضِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَبْلَغَ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنَّ
الْكَفَّيْنِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ يَلِيَانِ الْأَرْضَ وَفِي الدُّعَاءِ يَلِيَانِ
السَّمَاءَ.
قَالَ الْمُنْذِرِيُّ وَبِتَقْدِيرِ
تَعَذُّرِ الْجَمْعِ فَجَانِبُ الْإِثْبَاتِ أَرْجَحُ.
قُلْتُ: وَلَا سِيَّمَا مَعَ
كَثْرَةِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ فَإِنَّ فِيهِ أَحَادِيثَ
كَثِيرَةً أَفْرَدَهَا الْمُنْذِرِيُّ فِي جُزْءٍ سَرَدَ مِنْهَا النَّوَوِيُّ فِي
الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ جُمْلَةً وَعَقَدَ لَهَا الْبُخَارِيُّ
أَيْضًا فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ بَابًا
“Bahwa yang
dinafikan itu adalah sifat (cara) tertentu, bukan asal mengangkat tangan itu
sendiri.
Aku telah
mengisyaratkan hal tersebut dalam bab-bab tentang istisqa.
Ringkasnya, cara
mengangkat tangan dalam istisqa berbeda dengan selainnya; bisa jadi dengan
mengangkatnya secara lebih tinggi hingga kedua tangan sejajar dengan wajah
misalnya, sedangkan dalam doa biasa hingga sejajar dengan kedua pundak.
Tidaklah mengganggu
penjelasan ini bahwa dalam keduanya disebutkan riwayat “hingga terlihat
putih kedua ketiaknya”, karena dapat dikompromikan bahwa terlihatnya putih
ketiak dalam istisqa lebih nyata daripada dalam selainnya. Atau bisa juga bahwa
dalam istisqa kedua telapak tangan menghadap ke bumi, sedangkan dalam doa biasa
menghadap ke langit.
Al-Mundziri berkata: “Apabila tidak memungkinkan untuk mengompromikan (kedua
dalil), maka sisi penetapan (itsbat) itu lebih kuat.”
Aku (Ibnu Hajar)
berkata: Terlebih lagi dengan banyaknya hadits yang datang dalam masalah ini.
Sungguh terdapat banyak hadits tentang hal tersebut, yang dikumpulkan secara
khusus oleh Al-Mundziri dalam sebuah risalah tersendiri. An-Nawawi juga
menyebutkan sejumlah darinya dalam *Al-Adzkar* dan dalam *Syarh Al-Muhadzdzab*.
Bahkan Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus tentangnya dalam *Al-Adab
Al-Mufrad*.” [Kutipan Selesai]
Jadi: Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa penafian (peniadaan riwayat
penolakan) dari Anas itu hanyalah terhadap bentuk tertentu dari mengangkat
tangan, yaitu pengangkatan yang berlebihan sampai terlihat putih ketiaknya,
bukan penafian terhadap asal mengangkat kedua tangan itu sendiri secara mutlak.
Oleh sebab itu
beliau berkata:
«وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ
غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ إِنَّمَا
الْمُرَادُ بِهِ مَدُّ الْيَدَيْنِ وَبَسْطُهُمَا عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَأَنَّهُ عِنْدَ
الِاسْتِسْقَاءِ مَعَ ذَلِكَ زَادَ فَرَفَعَهُمَا إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ حَتَّى حَاذَى
بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ»
“Yang menguatkannya
adalah bahwa kebanyakan hadits yang datang tentang mengangkat tangan dalam doa,
yang dimaksud adalah membentangkan dan membuka kedua tangan ketika berdoa.
Seakan-akan ketika istisqa’ (meminta hujan), beliau menambah dari itu dengan
mengangkatnya lebih tinggi ke arah langit hingga sejajar dengan kedua
pundaknya.” (Baca: *Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari* 2/517).
An-Nawawi berkata:
«وَيُتَأَوَّلُ هَذَا
الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ
إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ،
وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ، فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ
وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ».
“Hadits ini
ditakwilkan bahwa beliau tidak mengangkat dengan pengangkatan yang sangat
tinggi sampai terlihat putih ketiaknya kecuali ketika istisqa’. Atau maksudnya:
‘Aku tidak melihat beliau mengangkat’, padahal orang lain melihat beliau
mengangkat. Maka riwayat yang menetapkan (mengangkat tangan) didahulukan dalam
banyak tempat, dan mereka adalah sejumlah orang, atas satu orang yang tidak
menyaksikan hal tersebut. Dan hadits ini memang harus ditakwil.” (*Al-Minhaj
Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj* 6/190).
Al-Mubarakfuri
berkata:
«وَفِي الْحَدِيثِ
- أَيْ حَدِيثِ سَلْمَانَ -
دَلَالَةٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الدُّعَاءِ، وَالْأَحَادِيثُ
فِيهِ كَثِيرَةٌ. وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَرْفَعُ يَدَيْهِ
فِي شَيْءٍ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، فَالْمُرَادُ بِهِ الْمُبَالَغَةُ
فِي الرَّفْعِ».
“Dalam hadits —
yaitu hadits Salman — terdapat dalil tentang dianjurkannya mengangkat kedua
tangan dalam doa, dan hadits-hadits tentang hal itu banyak. Adapun hadits Anas:
‘Nabi ﷺ tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun
kecuali pada istisqa’, maka yang dimaksud adalah pengangkatan yang berlebihan.”
(*Tuhfatul Ahwadzi
bi Syarh Jami‘ at-Tirmidzi* 9/382).
---
KRITIKAN:
Ada yang mengkritik
terhadap takwil di atas ini dengan mengatakan:
Takwil (penafsiran)
ini perlu ditinjau kembali dan tidak dapat begitu saja diterima, karena telah
tetap adanya pengangkatan tangan yang sangat tinggi (hingga terlihat ketiak)
dalam doa Nabi ﷺ selain pada istisqa’.
Dalam hadits Abu
Musa Al-Asy‘ari yang terdapat dalam kitab sahih dan telah disebutkan
sebelumnya:
“Kemudian beliau
mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu
‘Amir.’” Ia berkata, “Maka aku melihat putih ketiaknya.”
Demikian pula
pengangkatan yang tinggi juga terjadi selain dalam istisqa’, sebagaimana telah
disebutkan dalam hadits Umar bin Al-Khaththab, ia berkata:
“Ketika terjadi
Perang Badar, … Nabi ﷺ menghadap kiblat, kemudian membentangkan kedua tangannya, lalu
beliau terus-menerus berseru kepada Rabb-nya … Beliau terus berseru kepada
Rabb-nya dengan membentangkan kedua tangannya, menghadap kiblat, hingga
selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya …”
Diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad was-Siyar.
Demikian pula Nabi ﷺ
mengangkat tangannya dengan tinggi ketika berdoa untuk Utsman, sebagaimana
telah disebutkan sebelumnya.
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Aku melihat
Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga tampak kedua lengan atasnya
ketika beliau berdoa untuk Utsman.”
(Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam kitabnya *Qurratul ‘Ainain bi Raf‘il Yadain fis Shalah*).
-----
JAWABAN ATAS
KRITIKAN:
Bisa jadi hadits
Abu Musa Al-Asy‘ari dan hadits Aisyah tersebut tidak sampai kepada Anas bin
Malik atau dia tidak hadir dalam kejadian. Lagi pula pada masa tersebut belum
ada kitab-kitab hadits. Oleh sebab itu hadits Anas tersebut tidak ada yang
meriwayatkannya kecuali dia sendiri. Bagitu pula hadits Abu Musa dan hadits
Aisyah.
Dalam hadits Anas
tersebut, dia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, dia tidak bermaksud
mengharamkan berdoa dengan mengangkat kedua tangan pada selain do’a istisqo.
Lalu apakah hadits
Anas ini, yang diriwayatkan secara tunggal dan yang hanya berisi cerita
pengalamannya ini, layak dijadikan dalil haram sebagai pengecualian dalil umum
yang menghalalkan apa yang diriwayatkan secara mutawatir???.
Karena jika benar
bisa jadikan dalil larangan, maka konsekwensi dari perkataan Anas ini adalah
berlaku larangan mengangkat kedua tangan pada semua doa selain doa istisqo,
bahkan oleh sebagian mereka mengklaimnya sebagai bid’ah sesat.
---
Penulis katakan :
Yang benar adalah hadits
Anas tersebut berisi penafian penglihatan; Anas menafikan bahwa ia melihat
(Nabi mengangkat tangan) selain pada istisqa’. Namun hal itu tidak mengharuskan
tidak adanya kejadian tersebut, atau menafikan bahwa orang lain melihatnya.
Dan orang yang
menetapkan (adanya pengangkatan tangan) menjadi hujah atas orang yang tidak
menetapkannya. Maka mengamalkan hadits-hadits tentang mengangkat tangan lebih
utama.
An-Nawawi berkata:
«إِنَّ مُرَادَ أَنَسٍ
لَمْ أَرَهُ يَرْفَعُ، وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ يَرْفَعُ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ
مَقْبُولَةٌ، وَالْإِثْبَاتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّفْيِ».
“Sesungguhnya
maksud Anas adalah: ‘Aku tidak melihat beliau mengangkat tangan,’ padahal orang
lain melihat beliau mengangkatnya. Tambahan riwayat dari perawi yang terpercaya
dapat diterima, dan penetapan didahulukan atas penafian.” (Lihat: *Al-Majmu‘*,
5/83).
Dan diriwayatkan
pula dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu tentang tata cara Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya saat do’a istisqoo:
«أَنَّ رَسُولَ اللهِ
ﷺ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ».
“Bahwa Nabi ﷺ
melakukan istisqa’, lalu beliau mengisyaratkan dengan punggung kedua telapak
tangannya ke arah langit.”
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam *Al-Musnad* nomor 12554.
Syu‘aib Al-Arna’uth
berkata dalam tahqiq (penelitian) *Al-Musnad* 20/25:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ،
رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمِنْ رِجَالِ
مُسْلِمٍ.
“Sanadnya sahih
sesuai dengan syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah
(terpercaya), termasuk perawi kedua kitab sahih (Al-Bukhari dan Muslim),
kecuali Hammad bin Salamah, yang termasuk perawi Muslim.”
Dan Al-Mubarakfuri juga berkata:
«هَذَا الرَّفْعُ
هَكَذَا، وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ،
وَلِذَلِكَ اسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ *الدَّعَوَاتِ* بِهَذَا الْحَدِيثِ
عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ»
“Pengangkatan
(tangan) seperti ini, meskipun terjadi dalam doa istisqa (meminta hujan), namun
tidak khusus untuk itu saja. Oleh karena itu, Al-Bukhari berdalil dalam Kitab
*Ad-Da‘awat* dengan hadits ini atas bolehnya mengangkat kedua tangan dalam doa
secara mutlak.” (*Tuhfatul Ahwadzi* 2/173)
Imam An-Nawawi
berkata:
«قَالَ جَمَاعَةٌ
مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ كَالْقَحْطِ
وَنَحْوِهِ أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ»
“Sejumlah sahabat
kami dan selain mereka mengatakan: Sunnah dalam setiap doa untuk mengangkat
bala (musibah) seperti kekeringan dan semisalnya adalah mengangkat kedua tangan
dan menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit. Adapun jika
berdoa untuk meminta sesuatu dan memperolehnya, maka menjadikan bagian dalam
kedua telapak tangan menghadap ke langit. Mereka berdalil dengan hadits ini.”
(*Al-Minhaj Syarh
Shahih Muslim bin Al-Hajjaj* 6/190)
Syeikh Ibnu
Utsaimin berkata ketika menjelaskan tata cara mengangkat tangan dalam berdoa
Istisqo:
«وَيَكُونُ الرَّفْعُ
بِأَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ عَلَى حِذَاءِ الصَّدْرِ، وَتَضُمَّ بَعْضَهُمَا إِلَى بَعْضٍ.
وَدُعَاءُ الِابْتِهَالِ تُرْفَعُ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، حَتَّى إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ
فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَثِيرًا، حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّ
ظُهُورَهُمَا نَحْوَ السَّمَاءِ مِنْ شِدَّةِ الرَّفْعِ، وَكُلَّمَا بَالَغْتَ فِي
الِابْتِهَالِ فَبَالِغْ فِي الرَّفْعِ».
“Cara mengangkatnya
adalah dengan mengangkat kedua tangan sejajar dada dan merapatkan keduanya.
Adapun doa ibtihal (permohonan yang sangat sungguh-sungguh), maka diangkat
lebih tinggi dari itu. Bahkan Nabi ﷺ dalam doa istisqa’
mengangkat kedua tangannya dengan sangat tinggi, sampai orang yang melihat
menyangka bahwa punggung kedua tangannya menghadap ke langit karena begitu
tingginya angkatan tersebut. Dan semakin engkau bersungguh-sungguh dalam
ibtihal, maka semakin tinggi pula angkatan tanganmu.” (Baca: *Syarh
Al-Arba‘in An-Nawawiyah* hal. 150).
AT-TARJIH
Pendapat yang rajih
adalah pendapat pertama yang menyatakan disunnahkannya mengangkat kedua tangan
dalam doa secara mutlak, karena keumuman dalil-dalil yang menunjukkan anjuran
tersebut, yang bahkan telah mencapai derajat mutawatir.
Bahkan hal itu
lebih mendorong untuk dikabulkannya doa; berdasarkan riwayat Al-Tirmidhi dalam
Sunan al-Tirmidhi dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ
كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
خَائِبَتَيْنِ».
“Sesungguhnya Allah
Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya
kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa.”
===
FAIDAH TAMBAHAN
Al-Adzim Aabaadi
dalam ‘Aunul Ma’buud 3/318-319 berkata:
وَفِي الْمُصَنَّفِ لِابْنِ أَبِي شَيْبَةَ:
حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ: قُلْتُ لَهُ: كَيْفَ
كَانَ يَخْطُبُ النُّعْمَانُ؟ قَالَ: كَانَ يَلْمَعُ بِيَدَيْهِ. قَالَ: وَكَانَ الضَّحَّاكُ
بْنُ قَيْسٍ إِذَا خَطَبَ ضَمَّ يَدَهُ عَلَى فِيهِ.
حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ ابْنِ
أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: أَذِنَ الْإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْ يُشِيرَ
بِيَدِهِ. حَدَّثَنَا ابْنُ الْمَهْدِيِّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ
قَالَ: كَانُوا يَسْتَأْذِنُونَ الْإِمَامَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَلَمَّا كَانَ
زِيَادٌ وَكَثُرَ ذَلِكَ قَالَ: مَنْ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى أَنْفِهِ فَهُوَ إِذْنُهُ.
انْتَهَى.
Dalam Al-Mushannaf
karya Ibnu Abi Syaibah disebutkan: telah menceritakan kepada kami Gundar dari
Syu‘bah dari Simak bin Harb, ia berkata:
Aku bertanya
kepadanya, “Bagaimana an-Nu‘man berkhutbah?”
Ia menjawab: “Ia
menggerakkan kedua tangannya.”
Ia berkata: “Dan
adh-Dhahhak bin Qais apabila berkhutbah, ia meletakkan tangannya pada
mulutnya.”
Telah menceritakan
kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, ia berkata: Imam
pada hari Jumat memberi izin untuk memberi isyarat dengan tangannya.
Telah menceritakan
kepada kami Ibnu al-Mahdi dari Sufyan dari Khalid dari Ibnu Sirin, ia berkata:
Dahulu mereka meminta izin kepada imam ketika ia berada di atas mimbar. Ketika
masa Ziyad dan hal itu menjadi banyak, ia berkata: “Siapa yang meletakkan
tangannya di atas hidungnya, maka itulah izinnya.” Selesai.
SIKAP
BIJAK PARA ULAMA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT
MENGANGKAT
DUA TANGAN SAAT KHOTHIB JUM’AT BERDO’A
Al-‘Allamah
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
"مَا لَمْ
يَرِدْ فِيهِ الرَّفْعُ وَلَا عَدَمُهُ؛ فَالْأَصْلُ الرَّفْعُ؛ لِأَنَّهُ مِنْ
آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ؛ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ
حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ
يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»،
لَكِنْ هُنَاكَ أَحْوَالٌ قَدْ يُرَجَّحُ
فِيهَا عَدَمُ الرَّفْعِ وَإِنْ لَمْ يَرِدْ؛ كَالدُّعَاءِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ
– مَثَلًا – فَهُنَا لَا نَعْلَمُ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَدْعُونَ
فَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَرَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي
هَذِهِ الْحَالِ مَحَلُّ نَظَرٍ:
فَمَنْ رَفَعَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ
فِي الدُّعَاءِ رَفْعُ الْيَدَيْنِ؛ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
وَمَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِنَاءً عَلَى
أَنَّ هَذَا ظَاهِرُ عَمَلِ الصَّحَابَةِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ؛ فَالْأَمْرُ
فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسِعٌ".
“Apa yang tidak
terdapat keterangan tentang diangkat atau tidaknya tangan, maka hukum asalnya
adalah diangkat; karena itu termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa.
Nabi ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya
Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila ia
mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan
kosong.’
Namun ada
keadaan-keadaan yang mungkin lebih kuat untuk tidak mengangkat kedua tangan
meskipun tidak ada riwayat khusus; seperti doa di antara dua khutbah
(misalnya). Dalam keadaan ini kita tidak mengetahui bahwa para sahabat dahulu
berdoa sambil mengangkat tangan di antara dua khutbah. Maka mengangkat tangan
dalam keadaan ini menjadi bahan pertimbangan.
Siapa yang
mengangkat kedua tangan dengan berpegang pada kaidah
bahwa hukum asal dalam doa adalah mengangkat tangan, maka tidak boleh
diingkari. Dan siapa yang tidak mengangkat kedua tangan karena
melihat bahwa inilah yang tampak dari praktik para sahabat, maka juga tidak
boleh diingkari. Jadi, perkara ini insya Allah bersifat lapang.” [Lihat:
Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 151]
Imam an-Nasafi
(madzhab Hanafi) berkata:
«إِنَّهُ يَجِبُ
عَلَيْنَا إِذَا سُئِلْنَا عَنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ مُخَالِفِنَا فِي
الْفُرُوعِ أَنْ نُجِيبَ بِأَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ،
وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ».
“Wajib bagi kita
apabila ditanya tentang madzhab kita dan madzhab orang yang berbeda dengan kita
dalam masalah cabang (furu‘), kita menjawab bahwa madzhab kita benar namun
mengandung kemungkinan salah, dan madzhab yang berbeda dengan kita salah namun
mengandung kemungkinan benar.” [Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra
4/313]
Betapa indahnya
ucapan az-Zarkasyi:
«قَدْ رَاعَى
الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ خِلَافَ الْخَصْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ، وَهَذَا
إِنَّمَا يَتَمَشَّى عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ مُدَّعِيَ الْإِصَابَةِ لَا يَقْطَعُ
بِخَطَإِ مُخَالِفِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَمَّا كَانَ يُجَوِّزُ
خِلَافَ مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَنَظَرَ فِي مُتَمَسَّكِ خَصْمِهِ فَرَأَى
لَهُ مَوْقِعًا رَاعَاهُ عَلَى وَجْهٍ لَا يُخِلُّ بِمَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ،
وَأَكْثَرُهُ مِنْ بَابِ الِاحْتِيَاطِ وَالْوَرَعِ، وَهَذَا مِنْ دَقِيقِ
النَّظَرِ وَالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ».
“Imam asy-Syafi‘i
dan para sahabat (pengikut) beliau telah mempertimbangkan pendapat lawan dalam
banyak persoalan.
Hal itu berjalan di
atas prinsip bahwa orang yang mengklaim kebenaran tidak memastikan kesalahan
pihak yang berbeda dengannya.
Karena seorang
mujtahid itu membolehkan kemungkinan berbeda dari apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya. Ia melihat dalil lawannya dan mendapati ada pijakan padanya, maka
ia mempertimbangkannya dengan cara yang tidak merusak apa yang lebih kuat dalam
sangkaannya.
Kebanyakan hal itu
termasuk dalam bab kehati-hatian dan wara‘. Ini termasuk ketelitian pandangan
dan sikap mengambil jalan yang lebih selamat.” [Baca : al-Bahrul Muhith Fii
Ushul al-Fiqhi 8/310]
Al-Qurthubi juga
berkata:
«وَلِذَلِكَ
رَاعَى مَالِكٌ الْخِلَافَ، قَالَ: وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ
يُرَاعِي صُورَةَ الْخِلَافِ، وَهُوَ جَهْلٌ أَوْ عَدَمُ إِنْصَافٍ. وَكَيْفَ
هَذَا وَهُوَ لَمْ يُرَاعِ كُلَّ خِلَافٍ وَإِنَّمَا رَاعَى خِلَافًا لِشِدَّةِ
قُوَّتِهِ». اهـ
“Karena itulah
Malik mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian pengikutnya mengira
bahwa beliau hanya mempertimbangkan bentuk lahiriah perbedaan, dan itu adalah
kebodohan atau kurangnya keadilan. Bagaimana mungkin demikian, padahal beliau
tidak mempertimbangkan setiap perbedaan, tetapi hanya mempertimbangkan
perbedaan yang kuat dalilnya.” [Selesai. Dinukil dari Al-Fatawa al-Fiqhiyyah
al-Kubra 4/313].
===***===
PENUTUP
Dari Al-Awza‘i
(Tabi’i), dia berkata:
"العِلْمُ
مَا جَاءَ عَنْ أصْحَابِ مُحَمَّدٍ، ومَا لَمْ يَجِيء عَنْهُم فَلَيسَ بِعِلْمٍ"
Ilmu adalah apa
yang datang dari para sahabat Muhammad ﷺ, dan apa yang tidak datang
dari mereka, maka itu bukan ilmu.
[Lihat "Jami‘
Bayan al-‘Ilm" karya Ibnu ‘Abd al-Barr (1/644), dan "Al-Bidayah wa
an-Nihayah" karya Ibnu Katsir (10/117).]
---
Dan dari sahabat
Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
«لَا يَزَالُ النَّاسُ
بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ،
وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ،
فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا»
“Manusia akan tetap
dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari sahabat-sahabat Muhammad ﷺ dan
para senior (kibaar) mereka. Namun, apabila ilmu datang dari para junior
(shigoor) di antara mereka, maka saat itulah mereka binasa.”
Diriwayatkan oleh
Mu‘ammar dalam “Jami‘” (20446), dan Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” (9/120), dan
disebutkan oleh Al-Haitsami dalam “Al-Majma‘” (1/135), beliau mengatakan:
رِجَالُهُ مُوثُوقُونَ
“Para perawinya
dapat dipercaya”.
Dan Al-Albani
berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/310): “Sanadnya sahih.”
0 Komentar