HADITS LARANGAN BERPAKAIN WARNA MERAH ITU DHO’IF. JUSTRU HADITS YANG MEMBOLEHKAN-NYA
----
Di Tulis Oleh Abu Haitsam
Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- HADITS YANG MEMBOLEHKAN BERPAKAIAN WARNA MERAH ADALAH SHAHIH
- SEMUA HADITS LARANGAN BERPAKAIAN WARNA MERAH ADALAH DHO’IF
- PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQOHA TENTANG BERPAKAIAN WARNA MERAH BAGI KAUM PRIA:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang
hadits-hadits yang melarang memakai pakaian berwarna merah bagi kaum lelaki:
«حَدِيثٌ ضَعِيفُ
الْإِسْنَادِ... وَعَلَى تَقْدِيرِ أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُحْتَجُّ بِهِ فَقَدْ عَارَضَهُ
مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ، وَهُوَ وَاقِعَةُ عَيْنٍ».
“Haditsnya lemah sanadnya... dan andaikan bisa
dijadikan hujjah, maka ia bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya,
yaitu kejadian nyata (hadits lain yang membolehkan)”. Lihat: Fath al-Bari
(1/485).
===***===
HADITS YANG MEMBOLEHKAN BERPAKAIAN
WARNA MERAH
ADALAH SHAHIH
===
HADITS KE 1
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (5848) dari Abu Ishaq, ia mendengar
al-Bara’ bin al-'Azib radhiyallahu 'anhu berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ مَرْبُوعًا،
وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ، مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ»
“Nabi ﷺ adalah seorang yang bertubuh sedang, dan aku pernah melihat
beliau mengenakan pakaian merah, aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang
lebih indah darinya.”
Lafadz lain no. 3551:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ «مَرْبُوعًا، بَعِيدَ
مَا بَيْنَ المَنْكِبَيْنِ، لَهُ شَعَرٌ يَبْلُغُ شَحْمَةَ أُذُنِهِ، رَأَيْتُهُ
فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ، لَمْ أَرَ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ»
قَالَ يُوسُفُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ،
عَنْ أَبِيهِ: «إِلَى مَنْكِبَيْهِ»
Nabi ﷺ adalah
seorang yang bertubuh sedang, dengan jarak antara kedua bahunya lebar. Beliau
memiliki rambut yang mencapai bagian bawah telinganya. Aku pernah melihat
beliau mengenakan pakaian merah, dan aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang
lebih indah darinya.
Yusuf bin Abi Ishaq berkata dari ayahnya: “(Rambutnya)
sampai ke kedua bahunya.”
===
HADITS KE 2:
Dari ‘Aun bin Abi Juhayfah:
أَنَّ أَبَاهُ
رَأَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ، وَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخْرَجَ
وَضُوءًا، فَرَأَيْتُ النَّاسَ يَبْتَدِرُونَ ذَلِكَ الْوَضُوءَ، فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ
شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ،
ثُمَّ رَأَيْتُ بِلَالًا أَخْرَجَ عَنَزَةً فَرَكَزَهَا
«وَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مُشَمِّرًا فَصَلَّى
إِلَى الْعَنَزَةِ بِالنَّاسِ رَكْعَتَيْنِ، وَرَأَيْتُ النَّاسَ وَالدَّوَابَّ يَمُرُّونَ
بَيْنَ يَدَيِ الْعَنَزَةِ»
“Bahwa ayahnya (Abu Juhaifah rdhiyallahu ‘anhu)
melihat Rasulullah ﷺ berada di
dalam sebuah kemah merah dari kulit. Aku melihat Bilal mengeluarkan air wudhu,
lalu aku melihat orang-orang bersegera mengambil bekas air wudhu tersebut.
Siapa yang mendapatkan sebagian darinya, ia mengusapnya (ke tubuhnya), dan
siapa yang tidak mendapatkannya, ia mengambil dari basahnya tangan temannya.
Kemudian aku melihat Bilal mengeluarkan ‘anazah
(tongkat pendek) lalu menancapkannya. Lalu Rasulullah ﷺ keluar dengan mengenakan pakaian merah
sambil menyingsingkan pakaiannya, kemudian beliau shalat menghadap ‘anazah itu
bersama orang-orang dua rakaat. Dan aku melihat manusia serta hewan-hewan lewat
di depan ‘anazah tersebut.
[HR. Bukhori no. 376 dan Muslim no. 250 –(503)]
===
HADITS KE 3:
Dari ‘Amir bin ‘Amr al-Muzani, ayah Hilal, ia berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِمِنًى يَخْطُبُ
عَلَى بَغْلَةٍ، وَعَلَيْهِ بُرْدٌ أَحْمَرُ، وَعَلِيٌّ أَمَامَهُ يُعَبِّرُ عَنْهُ.
Aku melihat Rasulullah ﷺ di Mina sedang berkhutbah di atas seekor
bagal, dan beliau mengenakan burd (selendang) merah. Sementara ‘Ali berada di
depan beliau menyampaikan (mengulang) ucapan beliau kepada orang-orang.
TAKHRIJ:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (4073) dan
al-Baihaqi (6050) dengan lafaz yang sama, serta oleh Ahmad (15921) dengan
sedikit perbedaan.
STATUS SANAD:
Sanadnya dinilai hasan oleh Ibnu al-Mulaqqin dalam
al-Badr al-Munir (4/677).
===
HADITS KE 5:
Hajjaj bin Artho’ah meriwayatkannya, dari Abu Ja‘far
Muhammad bin ‘Ali, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَلْبَسُ بُرْدَةً
حَمْرَاءَ فِي الْعِيدَيْنِ وَالْجُمُعَةِ.
Rasulullah ﷺ biasa mengenakan burd (selendang) merah pada dua hari raya dan
pada hari Jumat.
[Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam
as-Sunan al-Kubra no. 6051, Ibnu Sa‘d dalam ath-Thobaqoot (1/451), dan Ibnu
‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4/203) melalui jalur Hafsh bin Ghiyats dengan
sanad tersebut].
Adz-Dzahabi dalam al-Muhadzdzab 3/1216 berkata:
قُلْتُ: حَجَّاجٌ لَيِّنٌ
“Aku berkata: Hajjaj itu lemah”.
Dan hadits ini di nilai dho’if oleh al-Imam an-Nawawi
dalam Khulashoh al-Ahkam 2/280 no. 2889.
Namun Hushaym menyelisihinya, ia meriwayatkannya dari
Hajjaj, dari Abu Ja‘far secara mursal:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَلْبَسُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ، وَيَعْتَمُّ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ.
“Bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengenakan burd merah pada hari Jumat dan mengenakan
imamah (sorban) pada dua hari raya”.
[Lihat: Siyar al-A’lam an-Nubala karya adz-Dzahabi
2/418]
===***===
SEMUA HADITS LARANGAN BERPAKAIAN WARNA MERAH ADALAH DHO’IF
----
HADITS KE 1:
Dari
Abu Yahya, dari Mujahid, dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
«مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ
ﷺ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَحْمَرَانِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَرُدَّ
عَلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ»
“Seorang
laki-laki melewati Nabi ﷺ dengan mengenakan dua pakaian
berwarna merah, lalu ia mengucapkan salam kepada beliau, namun Nabi ﷺ tidak menjawab salamnya.”
TAKHRIJ HADITS:
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Libas, Bab tentang warna merah, no.
4065; at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Adab, Bab tentang makruhnya memakai
pakaian mu‘ashfar bagi laki-laki dan al-qasi (2807); al-Bazzar (6/366) no.
2381; ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 1350; dan al-Hakim (4/190).
Hadits
ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3015) melalui jalur Ishaq bin Manshur
dengan sanad ini. Ia berkata:
هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.
Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.
STATUS SANAD : ADALAH DHO’IF
Hadits ini dinilai dho’if oleh
Ibnu Hajar mendho’ifkannya
dalam Fath al-Bari (10/306).
Abu
al-Hasan as-Sindi dalam Fath al-Wadud (4/111) no. 4069 berkata:
"وَنُقِلَ
عَنِ الْحَافِظِ أَنَّهُ قَالَ فِي الْفَتْحِ: هُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ،
وَإِنْ وَقَعَ فِي بَعْضِ نُسَخِ التِّرْمِذِيِّ قَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ".
“Dinukil
dari al-Hafizh bahwa ia berkata dalam al-Fath: hadits ini lemah sanadnya,
meskipun dalam sebagian naskah at-Tirmidzi disebutkan: hadits hasan.”
Hadits ini dinilai dho’if pula oleh al-Albani dalam Dha’if Sunan Abi Dawud no. 4065 dan dalam
al-Misykaat (4353), dan juga dinilai dhoif oleh Mahmud as-Subki dalam ad-Din al-Khalish (6/144).
Syu‘aib
al-Arna’uth dalam takhrij Sunan Abi Dawud (6/172) berkata:
إِسْنَادُهُ
ضَعِيفٌ لِضَعْفِ أَبِي يَحْيَى – وَهُوَ الْقَتَّاتُ – مُجَاهِدٌ: هُوَ ابْنُ جَبْرٍ
الْمَكِّيُّ، وَإِسْرَائِيلُ: هُوَ ابْنُ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيعِيِّ،
وَإِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ: هُوَ السَّلُولِيُّ مَوْلَاهُمْ الْكُوفِيُّ.
Sanadnya
lemah karena kelemahan Abu Yahya—yaitu al-Qattat. Mujahid adalah Ibnu Jabr
al-Makki, Israil adalah Ibnu Yunus bin Abi Ishaq as-Sabi‘i, dan Ishaq bin
Manshur adalah as-Saluli maula mereka dari Kufah”.
Al-Mundziri
dalam Mukhtashar Abi Dawud (3/35) no. 4065 berkata:
وَفِي إِسْنَادِهِ:
أَبُو يَحْيَى الْقَتَّاتُ، وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي اسْمِهِ، فَقِيلَ: عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ دِينَارٍ، وَيُقَالُ: اسْمُهُ زَاذَانُ، وَيُقَالُ: عِمْرَانُ، وَيُقَالُ: مُسْلِمٌ،
وَيُقَالُ: زِيَادٌ، وَيُقَالُ: يَزِيدُ، وَيُقَالُ: دِينَارٌ، وَهُوَ كُوفِيٌّ، وَلَا
يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ، وَهُوَ مَنْسُوبٌ إِلَى بَيْعِ الْقَتِّ.
وَقَالَ أَبُو
بَكْرٍ الْبَزَّارُ: وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا نَعْلَمُهُ يُرْوَى بِهَذَا اللَّفْظِ
إِلَّا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَلَا نَعْلَمُ لَهُ طَرِيقًا إِلَّا هَذَا
الطَّرِيقَ، وَلَا نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنْ إِسْرَائِيلَ إِلَّا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ.
Dalam
sanadnya terdapat Abu Yahya al-Qattat. Terjadi perbedaan pendapat tentang
namanya: ada yang mengatakan Abdurrahman bin Dinar, ada yang mengatakan namanya
Zazan, ada yang mengatakan Imran, ada yang mengatakan Muslim, ada yang
mengatakan Ziyad, ada yang mengatakan Yazid, ada yang mengatakan Dinar. Ia
berasal dari Kufah, dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah. Ia dinisbatkan
kepada penjual “qat” (sejenis makanan).
Abu
Bakar al-Bazzar berkata: “Kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan dengan
lafaz ini kecuali dari Abdullah bin ‘Amr, dan kami tidak mengetahui jalannya
kecuali melalui jalur ini, serta tidak diketahui ada yang meriwayatkannya dari
Israil kecuali Ishaq bin Manshur.”
Adh-Dhiya
dalam al-Jami’ al-Kamil (12/16) berkata:
قُلْتُ: إِسْنَادُهُ
ضَعِيفٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي يَحْيَى، وَهُوَ الْقَتَّاتُ – بِالْقَافِ وَالتَّاءِ –
قَالَ أَحْمَدُ: "رَوَى عَنْهُ إِسْرَائِيلُ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً مَنَاكِيرَ
جِدًّا". وَضَعَّفَهُ ابْنُ مَعِينٍ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ.
Aku
katakan: sanadnya lemah karena Abu Yahya, yaitu al-Qattat—dengan huruf qaf dan
ta. Ahmad berkata: “Israil meriwayatkan darinya banyak hadits yang sangat
mungkar.” Hadits ini juga dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, an-Nasa’i, Ibnu Hibban,
dan selain mereka.
Ath-Thabarani
berkata:
"لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي يَحْيَى إِلَّا إِسْرَائِيلُ،
تَفَرَّدَ بِهِ: إِسْحَاقُ ".
“Hadits
ini tidak diriwayatkan dari Abu Yahya kecuali oleh Israil, dan yang menyendiri
meriwayatkannya adalah Ishaq.”
At-Tirmidzi
berkata:
مَعْنَاهُ عِنْدَ
أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَرِهَ الْمُعَصْفَرَ، وَرَأَوْا أَنَّ مَا صُبِغَ بِالْحُمْرَةِ
فَلَا بَأْسَ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مُعَصْفَرًا.
maknanya
menurut ahli hadits adalah bahwa mereka memakruhkan pakaian mu‘ashfar, dan
mereka berpendapat bahwa pakaian yang dicelup dengan warna merah tidak mengapa
selama bukan mu‘ashfar (disebutkan oleh ash-Shan‘ani dalam Fath al-Ghaffar
1/247 no. 764).
===
HADITS KE DUA :
Muhammad
bin ‘Amr bin ‘Atha’ meriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Bani Haritsah
menceritakan kepadanya, bahwa Rafi‘ bin Khadij radhiyallahu 'anhu menceritakan
kepada mereka:
أَنَّهُمْ خَرَجُوا
مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي سَفَرٍ، قَالَ: فَلَمَّا نَزَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلْغَدَاءِ
قَالَ: عَلَّقَ كُلُّ رَجُلٍ بِخِطَامِ نَاقَتِهِ، ثُمَّ أَرْسَلْنَاهُنَّ فِي الشَّجَرِ،
قَالَ: ثُمَّ
جَلَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، قَالَ: وَرِحَالُنَا عَلَى أَبَاعِرِنَا،
قَالَ: فَرَفَعَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ رَأْسَهُ، فَرَأَى أَكْسِيَةً لَنَا فِيهَا خُيُوطٌ مِنْ عِهْنٍ أَحْمَرَ،
قَالَ: فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَلَا أَرَى هَذِهِ الْحُمْرَةَ قَدْ عَلَتْكُمْ»
قَالَ: فَقُمْنَا
سِرَاعًا لِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ حَتَّى نَفَرَ بَعْضُ إِبِلِنَا فَأَخَذْنَا الْأَكْسِيَةَ
فَنَزَعْنَاهَا مِنْهَا
Bahwa
mereka keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam
suatu perjalanan. Ia berkata: ketika Rasulullah ﷺ singgah untuk makan siang, beliau bersabda: “Setiap orang
mengikatkan tali kendali untanya.” Lalu kami melepaskan unta-unta itu di
pepohonan.
Kemudian
kami duduk bersama Rasulullah ﷺ, sementara pelana-pelana kami
masih berada di atas unta-unta kami. Lalu Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan melihat kain-kain milik kami yang
terdapat benang-benang dari wol merah. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidakkah aku melihat warna merah ini telah menutupi
kalian?”
Ia
berkata: maka kami segera berdiri karena sabda Rasulullah ﷺ, hingga sebagian unta kami lari. Lalu kami mengambil kain-kain
itu dan mencabutnya dari unta-unta tersebut.
TAKHRIJ HADITS:
Hadits
ini diriwayatkan oleh Ahmad (25/114) no. 15807, Abu
Dawud dalam Kitab al-Libas, Bab tentang warna merah, no. 4070, Ibnu Abi Syaibah
dalam al-Mushonnaf no. 25239 dan ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 4449.
STATUS SANAD HADITS :
Hadits
ini dinilai lemah oleh al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud no. 4070 dan oleh Syu’aib
al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Abu Daud 6/173.
Al-Mundziri dalam Mukhtashor Sunan Abu Daud 3/35 no.
4070 berkata :
فِي إِسْنَادِهِ رَجُلٌ مَجْهُولٌ
“Di dalam sanadnya terdapat perawi yang majhul (tidak
dikenal)”
Syu‘aib
al-Arna’uth dan para pentahqiq Musnad (25/115) no. 15807 berkata:
إِسْنَادُهُ
ضَعِيفٌ لِإِبْهَامِ رَاوِيهِ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، وَبَاقِي رِجَالِ الْإِسْنَادِ
ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ غَيْرُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، فَقَدْ رَوَى لَهُ
مُسْلِمٌ مُتَابَعَةً، وَهُوَ صَدُوقٌ. يَعْقُوبُ: هُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدِ
بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الزُّهْرِيِّ.
“Sanadnya lemah karena adanya perawi
yang tidak disebutkan namanya dari Rafi‘ bin Khadij. Adapun perawi lainnya
tsiqah sebagaimana perawi dalam Shahihain, kecuali Muhammad bin Ishaq—Muslim
meriwayatkan darinya sebagai mutaba‘ah, dan ia seorang yang jujur. Ya‘qub
adalah Ibnu Ibrahim bin Sa‘d bin Ibrahim bin Abdurrahman az-Zuhri”.
===
HADITS KE TIGA:
Dan
dari seorang wanita dari Bani Asad dalam riwayat Abu Dawud (4071), ia berkata:
«كُنْتُ يَوْمًا عِنْدَ زَيْنَبَ امْرَأَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَنَحْنُ
نَصْبُغُ ثِيَابًا لَهَا بِمَغْرَةٍ، فَبَيْنَا نَحْنُ كَذَلِكَ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَلَمَّا رَأَى الْمَغْرَةَ رَجَعَ، فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ
عَلِمَتْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَدْ كَرِهَ مَا فَعَلَتْ، فَأَخَذَتْ فَغَسَلَتْ
ثِيَابَهَا، وَوَارَتْ كُلَّ حُمْرَةٍ، ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَجَعَ فَاطَّلَعَ،
فَلَمَّا لَمْ يَرَ شَيْئًا دَخَلَ»
Aku pernah suatu hari berada di
sisi Zainab, istri Rasulullah ﷺ, sementara kami sedang
mewarnai pakaian miliknya dengan maghrah (tanah merah). Di tengah keadaan itu,
Rasulullah ﷺ datang kepada kami. Ketika beliau melihat
maghrah tersebut, beliau berbalik.
Ketika
Zainab melihat hal itu, ia mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ tidak menyukai apa yang ia lakukan. Maka ia segera mengambil
pakaian-pakaian itu, mencucinya, dan menghilangkan seluruh warna merahnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ kembali dan melihat; ketika
beliau tidak melihat apa pun, beliau pun masuk.
TAKHRIJ:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim
dalam al-Ahad wa al-Matsani (3096) dan (3460), serta oleh ath-Thabarani dalam
al-Kabir (24/149) dan (25/456) melalui jalur Muhammad bin Isma‘il bin ‘Ayyasy
dengan sanad ini.
STATUS SANAD:
Dinilai dhoif oleh al-Albani dalam Dho’if Abu Daud dan
Syu’aib al-Arna’uth beserta para pentahqiq
al-Musnad 25/115.
Al-Arna’uth dalam Tahqiq Sunan Abu Daud 6/173 berkata:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِجَهَالَةِ حُرَيْثِ
بْنِ الْأَبَحِّ السَّلِيحِيِّ. إِسْمَاعِيلُ: هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ، وَابْنُ عَوْفٍ:
هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ الْحِمْصِيُّ.
Sanadnya lemah karena tidak dikenalnya (majhul)
Huraits bin al-Abah as-Salihiy. Isma‘il adalah Ibnu ‘Ayyasy, dan Ibnu ‘Auf
adalah Muhammad bin ‘Auf al-Himshi.
MUFRODAT:
وَالْمَغْرَةُ،
وَيُحَرَّكُ: طِينٌ أَحْمَرُ، وَالْمُمَغَّرُ كَمُعَظَّمٍ: الْمَصْبُوغُ بِهَا.
Al-maghrah
adalah tanah merah, dan pakaian yang “mumagghar” adalah yang dicelup dengan
tanah merah tersebut.
===
HADITS KE EMPAT:
Telah shahih pula larangan terhadap warna merah pada pelana
kuda, di antaranya:
Dari al-Bara’ bin al-‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia
berkata:
«نَهَانَا النَّبِيُّ
ﷺ عَنِ المَيَاثِرِ الحُمْرِ وَالقَسِّيِّ»
“Nabi ﷺ melarang kami dari miitsarah (pelana) merah dan kain qassi.” [HR.
al-Bukhari no. (5838)]
[Miitsarah artinya pelana kuda atau unta)]
Dan dari hadits Ali radhiyallahu 'anhu dalam riwayat
Abu Dawud (4051), at-Tirmidzi (2808), an-Nasa’i (8/165), dan Ibnu Majah (3654).
Lafaz dalam riwayat Abu Dawud : Ali Bin Abi Tholib
radhiyallahu ‘anhu berkata:
«نَهَانِي رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ، وَعَنْ لُبْسِ الْقَسِّيِّ، وَالْمِيثَرَةِ
الْحَمْرَاءِ»
“Rasulullah ﷺ melarangku dari cincin emas, dari memakai kain qassi, dan
miitsarah merah.”
At-Tirmidzi berkata: hasan shahih.
Hadits ini juga dishahihkan oleh Ibnu Hibban (5438),
dan telah disebutkan sebelumnya no. (722).
Namun Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq al-Musnad
25/116 berkata :
وَفِي سَنَدِهِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ
“Di dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak
disebutkan namanya”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar
berkata:
وَقَالَ الطَّبَرِيُّ هُوَ وِطَاءٌ يُوضَعُ
عَلَى سَرْجِ الْفَرَسِ أَوْ رَحْلِ الْبَعِيرِ كَانَتِ النِّسَاءُ تَصْنَعُهُ
لِأَزْوَاجِهِنَّ مِنَ الْأُرْجُوَانِ الْأَحْمَرِ وَمِنَ الدِّيبَاجِ وَكَانَتْ مَرَاكِبَ
الْعَجَمِ وَقِيلَ هِيَ أَغْشِيَةٌ لِلسُّرُوجِ مِنَ الْحَرِيرِ وَقِيلَ هِيَ سُرُوجٌ
مِنَ الدِّيبَاجِ فَحَصَلْنَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْوَالٍ فِي تَفْسِيرِ الْمِيثَرَةِ
هَلْ هِيَ وِطَاءٌ لِلدَّابَّةِ أَوْ لِرَاكِبِهَا أَوْ هِيَ السَّرْجُ نَفْسُهُ أَوْ
غِشَاوَةٌ وَقَالَ أَبُو عُبَيْدٍ الْمَيَاثِرُ الْحُمُرُ كَانَتْ مِنْ مَرَاكِبِ الْعَجَمِ
مِنْ حَرِيرٍ أَوْ دِيبَاجٍ
Ath-Thabari berkata: Miitsarah adalah alas yang
diletakkan di atas pelana kuda atau pelana unta. Dahulu para wanita membuatnya
untuk suami-suami mereka dari kain merah (arjuwan) dan dari sutra (dibaj), dan
itu termasuk perlengkapan tunggangan orang-orang ‘Ajam.
Ada yang mengatakan: itu adalah penutup pelana dari
sutra.
Dan ada yang mengatakan: itu adalah pelana itu sendiri
yang terbuat dari sutra (dibaj).
Maka diperoleh empat pendapat dalam menafsirkan
al-miitsarah: apakah ia merupakan alas bagi hewan tunggangan, atau bagi
penunggangnya, ataukah ia adalah pelana itu sendiri, atau hanya sebagai
penutupnya.
Abu ‘Ubaid berkata: miitsarah merah adalah bagian dari
perlengkapan tunggangan orang-orang ‘Ajam, terbuat dari sutra atau dibaj.
[Fathul Bari 10/293]
Abu
al-‘Abbas al-Qurthubi berkata:
قَالَ عَاصِمٌ،
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ: قُلْنَا لِعَلِيٍّ مَا الْقَسِّيَّةُ؟ قَالَ: ثِيَابٌ أَتَتْنَا
مِنَ الشَّامِ أَوْ مِصْرَ، مُضَلَّعَةٌ بِالْحَرِيرِ، وَفِيهَا أَشْكَالُ الْأُتْرُجِّ،
وَالْمِيثَرَةُ كَانَتِ النِّسَاءُ تَصْنَعُهُ لِبُعُولَتِهِنَّ مِثْلَ الْقَطَائِفِ.
‘Ashim
berkata, dari Abu Burdah: kami bertanya kepada ‘Ali radhiyallahu 'anhu, “Apa
itu al-qassiyyah?”
Ia
menjawab: “Itu adalah pakaian yang datang kepada kami dari Syam atau Mesir,
yang bergaris (berhias) dengan sutra, dan padanya terdapat motif seperti buah
utruj (sejenis jeruk besar).
Adapun
al-miitsarah, dahulu para wanita membuatnya untuk suami-suami mereka seperti
qathaif (semacam permadani tebal).” [Lihat: Ikhtishar Shahih al-Bukhari wa
Bayan Gharibihi 4/407 no. 2600].
Dzohir hadits ini menunjukkan makruhnya memakai warna
merah, bahkan makruh pula apa yang terdapat garis-garis merah padanya.
---
FIQIH HADITS :
Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan dalam pembahasan ini
ringkasan pendapat para salaf tentang memakai pakaian merah, yaitu tujuh
pendapat. Setelah menyebutkannya, ia berkata:
وَالتَّحْقِيقُ فِي هَذَا الْمَقَامِ
أَنَّ النَّهْيَ عَنْ لُبْسِ الْأَحْمَرِ إِنْ كَانَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ لُبْسُ
الْكُفَّارِ فَالْقَوْلُ فِيهِ كَالْقَوْلِ فِي الْمِيثَرَةِ الْحَمْرَاءِ كَمَا سَيَأْتِي
وَإِنْ كَانَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ زِيُّ النِّسَاءِ فَهُوَ رَاجِعٌ إِلَى الزَّجْرِ
عَنِ التَّشَبُّهِ بِالنِّسَاءِ فَيَكُونُ النَّهْيُ عَنْهُ لَا لِذَاتِهِ وَإِنْ كَانَ
مِنْ أَجْلِ الشُّهْرَةِ أَوْ خَرْمِ الْمُرُوءَةِ فَيُمْنَعُ حَيْثُ يَقَعُ ذَلِكَ
وَإِلَّا فَيَقْوَى مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مَالِكٌ مِنَ التَّفْرِقَةِ بَيْنَ الْمَحَافِلِ
وَالْبُيُوتِ
Kesimpulan dalam masalah ini adalah bahwa larangan
memakai warna merah, jika karena itu merupakan pakaian orang kafir, maka
hukumnya seperti larangan pada miitsarah merah sebagaimana akan disebutkan.
Jika karena itu merupakan ciri khas wanita, maka kembali kepada larangan
menyerupai wanita, sehingga larangan tersebut bukan karena zatnya. Jika karena
termasuk pakaian syuhrah (mencolok) atau merusak kehormatan (muru’ah), maka
dilarang dalam kondisi tersebut, jika tidak maka pendapat Malik yang membedakan
antara di tempat umum dan di rumah menjadi kuat. [Fathul Bari 10/306]
===***===
PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQOHA
TENTANG BERPAKAIAN WARNA MERAH BAGI KAUM PRIA:
Para fuqaha sepakat tentang bolehnya memakai pakaian
merah yang bercampur dengan warna lain.
Adapun jika merahnya murni (polos), maka ada dua
pendapat:
Pertama : Mazhab Syafi‘i menetapkan bolehnya memakai
merah murni tanpa kemakruhan, berdasarkan hadits al-Bara’ bin ‘Azib
radhiyallahu 'anhu:
(رَأَيتُ
النَّبِيَّ ﷺ فِي حُلَّةٍ حَمرَاءَ)
“Aku melihat Nabi ﷺ mengenakan pakaian merah.” Muttafaq ‘alaih.
Kedua: Mazhab Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat
makruh memakai merah murni, berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash
radhiyallahu 'anhuma:
(مَرَّ عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَحْمَرَانِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَلَمْ
يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ)
“Seorang laki-laki melewati Nabi ﷺ dengan mengenakan dua pakaian merah, lalu
ia mengucapkan salam kepada beliau, namun Nabi ﷺ tidak menjawab salamnya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4069.
Namun al-Hafidz Ibnu Hajar
rahimahullah berkata:
«حَدِيثٌ ضَعِيفُ
الْإِسْنَادِ... وَعَلَى تَقْدِيرِ أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُحْتَجُّ بِهِ فَقَدْ عَارَضَهُ
مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ، وَهُوَ وَاقِعَةُ عَيْنٍ، فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ تَرْكُ
الرَّدِّ عَلَيْهِ بِسَبَبٍ آخَرَ».
“Haditsnya lemah sanadnya... dan andaikan bisa
dijadikan hujjah, maka ia bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya,
yaitu kejadian nyata (hadits lain). Maka mungkin saja Nabi ﷺ tidak menjawab salam karena sebab lain.”
Lihat: Fath al-Bari (1/485).
Masalah ini termasuk masalah khilaf yang panjang, di
mana terdapat riwayat-riwayat yang saling bertentangan dari kalangan sahabat
dan tabi‘in, hingga al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan tujuh pendapat dalam
masalah ini.
Akan tetapi, dalil yang membolehkan lebih kuat dan
lebih jelas, sehingga pendapat ini dipilih oleh mazhab Malikiyah dan juga
sebagian Hanabilah.
Ibnu Qudamah rahimahullah
berkata:
«وَالْأَحَادِيثُ
الْأُوَلُ - يَعْنِي أَدِلَّةَ الْجَوَازِ - أَثْبَتُ وَأَبْيَنُ فِي الْحُكْمِ؛ فَإِنَّ
تَرْكَ النَّبِيِّ ﷺ لِرَدِّ السَّلَامِ عَلَيْهِ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ لِمَعْنًى
غَيْرِ الْحُمْرَةِ... وَلِأَنَّ الْحُمْرَةَ لَوْنٌ، فَهِيَ كَسَائِرِ الْأَلْوَانِ».
“Hadits-hadits yang pertama—yakni dalil
kebolehan—lebih kuat dan lebih jelas dalam penetapan hukum. Karena tidak
dijawabnya salam oleh Nabi ﷺ bisa jadi
karena sebab selain warna merah... dan karena merah hanyalah warna, maka ia
seperti warna-warna lainnya.” (al-Mughni 1/420).
Lajnah al-Ifta no. 1906 menjelaskan
:
وَمِمَّا يَقْتَضِي التَّنْبِيهَ عَلَيْهِ
أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي هَذِهِ الْفَتْوَى هُوَ الثَّوْبُ الْمَصْبُوغُ بِاللَّوْنِ
الْأَحْمَرِ، وَلَيْسَ الْمُعَصْفَرَ أَوِ الْمُزَعْفَرَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dalam
pembahasan ini adalah pakaian yang diwarnai merah biasa, bukan yang dicelup
dengan ‘ushfur (pewarna tertentu) atau za‘faran. Wallahu a’lam
Fatwa
Islamweb no. 3370:
لَيْسَ هُنَاكَ
لَوْنٌ مُحَرَّمٌ أَوْ مَكْرُوهٌ عَلَى الرَّجُلِ لِبْسُهُ، فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَلْبَسَ
الْأَحْمَرَ وَالْأَخْضَرَ وَالْأَصْفَرَ وَالْأَسْوَدَ، وَمَا نُسِجَ مِنْ قُطْنٍ
وَكِتَّانٍ، وَغَيْرِ ذَلِكَ، إِلَّا الْحَرِيرَ.
إِلَّا أَنَّهُ
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ الثِّيَابَ الْبِيضَ؛ لِقَوْلِهِ ﷺ: «الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ
الْبَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ».
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ.
وَالْقَمِيصُ
الْأَحْمَرُ وَالشَّمَاغُ الْأَحْمَرُ كَذَلِكَ يَجُوزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَلْبَسَهُمَا،
فَقَدْ وَرَدَتِ السُّنَّةُ بِمَا يَدُلُّ عَلَى جَوَازِهِ، فَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ
عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَرْبُوعًا، وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ فِي حُلَّةٍ
حَمْرَاءَ، مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
وَبَوَّبَ الْبُخَارِيُّ
بَابًا فَقَالَ: بَابُ الصَّلَاةِ فِي الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ، وَسَاقَ حَدِيثًا عَنْ
أَبِي جُحَيْفَةَ، وَفِيهِ: وَخَرَجَ ﷺ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مُشَمِّرًا.
Tidak
ada warna yang haram atau makruh bagi laki-laki untuk dipakai. Maka boleh
baginya memakai warna merah, hijau, kuning, hitam, serta pakaian yang terbuat
dari kapas, linen, dan selainnya, kecuali sutra.
Namun
dianjurkan untuk memakai pakaian berwarna putih, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Pakailah pakaian putih kalian, karena itu termasuk
sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah orang-orang yang meninggal di antara
kalian dengannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
Baju
merah dan syimagh (penutup kepala) merah juga boleh dipakai oleh laki-laki,
karena terdapat sunnah yang menunjukkan kebolehannya. Dari al-Bara’ bin ‘Azib
radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ adalah
seorang yang bertubuh sedang, dan sungguh aku pernah melihat beliau mengenakan
pakaian merah, aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang lebih indah darinya.
Muttafaq ‘alaih.
Al-Bukhari
juga membuat sebuah bab dengan judul: “Bab shalat dengan pakaian merah”, lalu
beliau menyebutkan hadits dari Abu Juhayfah, yang di dalamnya disebutkan:
“Rasulullah ﷺ keluar dengan mengenakan pakaian merah
sambil menyingsingkan pakaiannya.”
Prof. Basyir bin Baba‘Ali
berkata:
الرَّاجِحُ مِنَ الْأَقْوَالِ جَوَازُ
لُبْسِ الْأَحْمَرِ لِلرِّجَالِ بِشُرُوطٍ:
1/ أَلَّا يَكُونَ
لُبْسُ الْأَحْمَرِ خَاصًّا بِالنِّسَاءِ فِي عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ.
2/ أَلَّا يَكُونَ
لُبْسُ أَهْلِ الشُّهْرَةِ.
3/ أَلَّا يَكُونَ
فِيهِ تَشَبُّهٌ بِالْكُفَّارِ فِي اللِّبَاسِ الْخَاصِّ بِعَقِيدَتِهِمْ.
4/ أَلَّا يَكُونَ
فِيهِ تَشَبُّهٌ بِالْفُسَّاقِ وَالْمُخَنَّثِينَ وَعَدِيمِي الْمُرُوءَةِ.
إِنَّ مُرَاعَاةَ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ
وَالْعَادَةِ فِي اللِّبَاسِ مِنَ الْمُرُوءَةِ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، وَفِي مُخَالَفَةِ
لِبَاسِ أَهْلِ الْبَلَدِ وَعَادَتِهِمْ ضَرْبٌ مِنَ الشُّهْرَةِ.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.
Pendapat yang lebih kuat adalah bolehnya laki-laki
memakai pakaian merah dengan beberapa syarat:
1. Tidak memakai pakaian khusus wanita menurut
kebiasaan masyarakat setempat.
2. Tidak termasuk pakaian syuhrah (mencolok/untuk
mencari perhatian).
3. Tidak mengandung penyerupaan dengan orang-orang
kafir dalam pakaian yang menjadi ciri khas akidah mereka.
4. Tidak mengandung penyerupaan dengan orang-orang fasik,
banci, dan orang yang tidak memiliki muru’ah.
Memperhatikan waktu, tempat, dan adat dalam berpakaian
termasuk bagian dari muru’ah selama tidak mengandung dosa. Menyelisihi pakaian
dan kebiasaan masyarakat setempat dapat termasuk bentuk syuhrah.
Dan Allah Subhanahu wa Ta‘ala lebih mengetahui.
0 Komentar