Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

STUDI AYAT TENTANG SIFAT YAHUDI: “PENEBAR PERMUSUHAN & PENYULUT API PEPERANGAN”

 STUDI AYAT TENTANG KARAKTER YAHUDI: 

“PENEBAR PERMUSUHAN & PENYULUT API PEPERANGAN”

---

Di Tulis Oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

===

DAFTAR ISI:

  • AYAT YANG DI MAKSUD
  • MAKNA AYAT:
  • SYARAH DAN TAFSIR AYAT:
  • MEREKA PENEBAR API PERMUSUHAN DAN MENYIMPANG DARI FITRAH
  • PERTANYAAN-NYA: APAKAH ALLAH MEMADAMKAN-NYA DENGAN MENANAMKAN PERMUSUHAN DIANTARA MEREKA?
  • KAITAN AYAT INI DENGAN KONDISI SEKARANG.

 ====

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

AYAT YANG DI MAKSUD

Allah SWT berfirman tentang salah satu dari kebiasan prilaku orang-orang Yahudi:

﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾

Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.

Ayat lengkapnya sbb :

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾

Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.

Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka.

Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.

Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, maka Allah memadamkannya.

Dan mereka (senantiasa) berbuat kerusakan dimuka bumiDan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. [QS. Al-Maidah: 64]

****

MAKNA AYAT:

Abu Hilal al-Askari (w. 395 H) dalam al-Wujuh wa an-Nadzoo’ir hal. 468 menjelaskan:

"قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾ وَالْعَرَبُ تُشَبِّهُ الْحَرْبَ بِالنَّارِ، وَيَقُولُونَ: (فُلَانٌ مُحِشُّ حَرْبٍ)، إِذَا كَانَ يَقُومُ بِأَمْرِهَا، وَأَصْلُ الْحَشِّ الْإِيقَادُ".

Firman Allah Ta’ala: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.” Orang-orang Arab menyerupakan peperangan dengan api, dan mereka mengatakan: “Fulan adalah penyulut perang,” yaitu apabila ia mengobarkan dan menyulut-nya. Asal kata “al-hasy” adalah menyalakan.

Dan Abu Manshur al-Azahari dalam Tahdzib al-Lughoh 14/25 menjelaskan:

قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾ (الْمَائِدَة: 64) أَيْ أَهْمَدَهَا حَتَّى تَبْرُدَ، وَقَدْ طَفِئَتْ تَطْفَأُ طُفُوءًا، وَالنَّارُ سَكَنَ لَهَبُهَا وَجَمْرُهَا يَتَّقِدُ فَهِيَ خَامِدَةٌ، فَإِذَا سَكَنَ لَهَبُهَا وَبَرَدَ جَمْرُهَا فَهِيَ هَامِدَةٌ طَافِئَةٌ.

Allah Jalla wa ‘Azz berfirman: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.” [Al-Ma’idah: 64], yaitu Dia memadamkannya hingga menjadi dingin.

Dikatakan: api itu padam—ia padam dengan kepadaman yang sempurna. Api yang nyalanya telah tenang sementara bara apinya masih menyala disebut “khamidah” (meredup). Jika nyalanya telah tenang dan baranya menjadi dingin, maka ia disebut “hamidah” (padam) lagi “thafi’ah” (benar-benar padam). [Selesai]

===***===

SYARAH DAN TAFSIR AYAT:

Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotadah:

"قَوْلُهُ: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ﴾ قال: الْيَهُودُ".

“Firman-Nya: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan,” ia berkata: yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi”.

Begitu pula Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 10/460 no. 12252 dari Mujahid. Dan juga dari Qotadah (12253) dengan lafadz:

أُولَئِكَ أَعْدَاءُ اللَّهِ الْيَهُودُ، ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾

“Mereka itulah musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang Yahudi. Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya”.

Syeikh Masyari Rasyid al-‘Affaasi berkata :

صِفَاتُ الْيَهُودِ: حِرْصُهُمْ عَلَى إِيقَادِ الْحُرُوبِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ. قَالَ تَعَالَى: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا﴾

Diantara sifat-sifat orang Yahudi, adalah: mereka sangat bersemangat menyulut api peperangan dan membuat kerusakan di muka bumi..

Allah Ta’ala berfirman: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi.” [X Alafasy 21 April 2011].

Dan Syeikh Alawi Abdul Qodir as-Saqqof dalam ad-Duror as-Saniyah berkata :

لِلْيَهُودِ أَوْصَافٌ قَبِيحَةٌ، وَأَخْلَاقٌ ذَمِيمَةٌ مَرْذُولَةٌ، وَالْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ حَافِلَانِ فِي بَيَانِ ذَلِكَ.

كَمَا أَنَّ شَوَاهِدَ التَّارِيخِ وَالْوَاقِعِ شَاهِدَانِ عَلَى الْيَهُودِ بِالسُّوءِ وَالْفَسَادِ.

فَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَصِفَاتِهِمْ عَلَى سَبِيلِ الْإِجْمَالِ: الْكِبْرُ، وَالْحَسَدُ، وَالظُّلْمُ، وَكِتْمَانُ الْحَقِّ، وَتَحْرِيفُ الْكَلِمِ عَنْ مَوَاضِعِهِ.

وَمِنْهَا الْخِيَانَةُ، وَالْغَدْرُ، وَسُوءُ الْأَدَبِ، وَاحْتِقَارُ الْآخَرِينَ، وَالسَّعْيُ فِي الْفَسَادِ، وَإِثَارَةُ الْفِتَنِ وَالْحُرُوبِ.

وَمِنْهَا الْكَذِبُ، وَالْجَشَعُ، وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَمَحَبَّةُ إِشَاعَةِ الْفَاحِشَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا.

“Orang-orang Yahudi memiliki sifat-sifat yang buruk dan akhlak yang tercela lagi rendah. Al-Kitab dan As-Sunnah penuh dengan penjelasan tentang hal tersebut.

Demikian pula bukti-bukti sejarah dan realitas menjadi saksi atas keburukan dan kerusakan mereka.

Di antara akhlak dan sifat mereka secara umum adalah kesombongan, hasad, kezaliman, menyembunyikan kebenaran, dan memutarbalikkan perkataan dari tempatnya.

Di antaranya juga pengkhianatan, tipu daya, buruknya adab, merendahkan orang lain, berusaha membuat kerusakan, serta menimbulkan fitnah dan menyulut api peperangan.

Di antaranya pula adalah dusta, kerakusan, kerasnya hati, senang menyebarkan perbuatan keji, dan memakan riba”. [Selesai]

Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Tafsirnya 10/460 no. 12254 (Cet. Dar at-Tarbiyah) meriwayatkan dengan sanadnya:

عَنِ السُّدِّيِّ قَوْلُهُ: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾، قَالَ: كُلَّمَا أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ عَلَى شَيْءٍ فَرَّقَهُ اللَّهُ، وَأَطْفَأَ حَدَّهُمْ وَنَارَهُمْ، وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ.

Dari As-Suddi tentang firman-Nya: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya,” ia berkata: setiap kali mereka bersepakat dalam urusan mereka untuk suatu perkara (menyulut api peperangan), maka Allah mencerai-beraikannya, memadamkan kekuatan dan api mereka, serta melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka”.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat tersebut:

وَقَوْلُهُ: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾ أَيْ: كُلَّمَا عَقَّدُوا أَسْبَابًا يَكِيدُونَكَ بِهَا، ‌وَكُلَّمَا ‌أَبْرَمُوا ‌أُمُورًا ‌يُحَارِبُونَكَ ‌بِهَا يُبْطِلُهَا اللَّهُ وَيَرُدُّ كَيْدَهُمْ عَلَيْهِمْ، وَيَحِيقُ مَكْرُهُمُ السَّيِّئُ بِهِمْ.

﴿وَيَسْعَوْنَ فِي الأرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾ أَيْ: مِنْ سَجِيَّتِهِمْ أَنَّهُمْ دَائِمًا يسعوْن فِي الْإِفْسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ مَنْ هَذِهِ صِفَتُهُ

Dan firman-Nya: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya,” artinya: setiap kali mereka menyusun berbagai sebab untuk melakukan tipu daya terhadapmu, dan setiap kali mereka menetapkan berbagai rencana untuk memerangimu, Allah membatalkannya, mengembalikan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri, dan makar buruk mereka pun menimpa mereka.

Dan mereka berusaha membuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Artinya: sudah menjadi tabiat mereka bahwa mereka senantiasa berusaha melakukan kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang yang memiliki sifat seperti itu. [Tafsir Ibnu Katsir 3/147 (Tahqiq as-Salamah)]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:

﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ﴾ لِيَكِيدُوا بِهَا الإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ، وَأَبْدَوْا وَأَعَادُوا، وَأَجْلَبُوا بِخَيْلِهِمْ وَرَجِلِهِمْ، أَطْفَأَهَا اللَّهُ بِخِذْلَانِهِمْ وَتَفَرُّقِ جُنُودِهِمْ، وَانْتِصَارِ الْمُسْلِمِينَ عَلَيْهِمْ.

“Setiap kali mereka menyalakan api peperangan untuk memusuhi Islam dan pemeluknya, serta mengerahkan seluruh kekuatan mereka, baik pasukan berkuda maupun infanteri, Allah memadamkannya dengan menjadikan mereka kalah, memecah-belah pasukan mereka, dan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin atas mereka.” [Tafsir as-Sa’di hal. 237]

Dan Ibnu Jarir juga 10/458 menjelaskannya dengan lebih luas:

القَوْلُ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾ [المَائِدَةِ: 64] يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: كُلَّمَا جَمَعُوا أَمْرَهُمْ عَلَى شَيْءٍ فَاسْتَقَامَ وَاسْتَوَى فَأَرَادُوا مُنَاهَضَةَ مَنْ نَاوَأَهُمْ، شَتَّتَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَأَفْسَدَهُ، لِسُوءِ فِعَالِهِمْ وَخُبْثِ نِيَّاتِهِمْ. كَالَّذِي:

حَدَّثَنِي المُثَنَّى، قَالَ: ثَنَا إِسْحَاقُ، قَالَ: ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الرَّبِيعِ، فِي قَوْلِهِ: ﴿لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ﴾ [الإِسْرَاءِ: 5]

قَالَ: "كَانَ الفَسَادُ الأَوَّلُ، فَبَعَثَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا، فَاسْتَبَاحُوا الدِّيَارَ وَاسْتَنْكَحُوا النِّسَاءَ وَاسْتَعْبَدُوا الوِلْدَانَ وَخَرَّبُوا المَسْجِدَ. فَغَبَرُوا زَمَانًا، ثُمَّ بَعَثَ اللَّهُ فِيهِمْ نَبِيًّا، وَعَادَ أَمْرُهُمْ إِلَى أَحْسَنِ مَا كَانَ. ثُمَّ كَانَ الفَسَادُ الثَّانِي بِقَتْلِهِمُ الأَنْبِيَاءَ، حَتَّى قَتَلُوا يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا، فَبَعَثَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بُخْتَنَصَّرَ، قَتَلَ مَنْ قَتَلَ مِنْهُمْ وَسَبَى مَنْ سَبَى وَخَرَّبَ المَسْجِدَ، فَكَانَ بُخْتَنَصَّرُ لِلفَسَادِ الثَّانِي. قَالَ: وَالفَسَادُ: المَعْصِيَةُ.

ثُمَّ قَالَ: ﴿فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا المَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ﴾ إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا﴾ [الإِسْرَاءِ: 8] فَبَعَثَ اللَّهُ لَهُمْ عُزَيْرًا، وَقَدْ كَانَ عَلِمَ التَّوْرَاةَ وَحَفِظَهَا فِي صَدْرِهِ، وَكَتَبَهَا لَهُمْ. فَقَامَ بِهَا ذَلِكَ القَرْنُ، وَلَبِثُوا وَنَسُوا. وَمَاتَ عُزَيْرٌ، وَكَانَتْ أَحْدَاثٌ، وَنَسُوا العَهْدَ، وَبَخِلُوا رَبَّهُمْ،

وَقَالُوا: ﴿يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ﴾ [المَائِدَةِ: 64]

وَقَالُوا فِي عُزَيْرٍ: إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَهُ وَلَدًا. وَكَانُوا يَعِيبُونَ ذَلِكَ عَلَى النَّصَارَى فِي قَوْلِهِمْ فِي المَسِيحِ، فَخَالَفُوا مَا نُهُوا عَنْهُ وَعَمِلُوا بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ عَلَيْهِ. فَسَبَقَ مِنَ اللَّهِ كَلِمَةٌ عِنْدَ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَمْ يُظْهِرُوا عَلَى عَدُوٍّ آخِرَ الدَّهْرِ، فَقَالَ:

﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ المُفْسِدِينَ﴾ [المَائِدَةِ: 64]

فَبَعَثَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ المَجُوسَ الثَّلَاثَةَ أَرْبَابًا، فَلَمْ يَزَالُوا كَذَلِكَ وَالمَجُوسُ عَلَى رِقَابِهِمْ وَهُمْ يَقُولُونَ: يَا لَيْتَنَا أَدْرَكْنَا هَذَا النَّبِيَّ الَّذِي نَجِدُهُ مَكْتُوبًا عِنْدَنَا، عَسَى اللَّهُ أَنْ يَفُكَّنَا بِهِ مِنَ المَجُوسِ وَالعَذَابِ الهَوْنِ، فَبَعَثَ مُحَمَّدًا ﷺ، وَاسْمُهُ مُحَمَّدٌ، وَاسْمُهُ فِي الإِنْجِيلِ أَحْمَدُ ﴿فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ﴾ [البَقَرَةِ: 89] قَالَ: "﴿فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الكَافِرِينَ﴾ [البَقَرَةِ: 89] وَقَالَ: ﴿فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ﴾".

Perkataan tentang penafsiran firman Allah Ta’ala: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.” [Al-Ma’idah: 64].

Allah Ta’ala berfirman: “Setiap kali mereka bersepakat dalam urusan mereka pada suatu perkara hingga menjadi kokoh dan teratur, lalu mereka ingin menghadapi orang yang memusuhi mereka, maka Allah mencerai-beraikan urusan itu atas mereka dan merusaknya, karena buruknya perbuatan mereka dan rusaknya niat mereka. Seperti yang diriwayatkan:

Telah menceritakan kepadaku Al-Mutsanna, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Ja’far, dari ayahnya, dari Ar-Rabi’, tentang firman-Nya: “Sungguh kalian akan membuat kerusakan di bumi dua kali dan kalian akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang janji yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang memiliki kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itu adalah janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami kembalikan kepada kalian giliran untuk mengalahkan mereka.” [Al-Isra’: 5]

Ia berkata:

“Kerusakan yang pertama, maka Allah mengirimkan kepada mereka musuh, lalu mereka menguasai negeri-negeri, menawan wanita, memperbudak anak-anak, dan menghancurkan masjid. Mereka pun berada dalam keadaan demikian selama beberapa waktu.

Kemudian Allah mengutus kepada mereka seorang nabi, lalu keadaan mereka kembali menjadi sebaik sebelumnya.

Kemudian terjadi kerusakan yang kedua dengan mereka membunuh para nabi, hingga mereka membunuh Yahya bin Zakariya. Maka Allah mengirimkan kepada mereka Bukhtanashar, yang membunuh siapa yang dibunuh dari mereka, menawan siapa yang ditawan, dan menghancurkan masjid. Maka Bukhtanashar adalah untuk kerusakan yang kedua.”

Ia berkata: “Dan kerusakan itu adalah maksiat.”

Kemudian Allah berfirman: “Maka apabila datang janji yang terakhir, (Kami datangkan mereka) untuk menyuramkan wajah-wajah kalian dan agar mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana mereka memasukinya pertama kali...” sampai firman-Nya: “Dan jika kalian kembali (berbuat kerusakan), niscaya Kami kembali (mengazab kalian).” [Al-Isra’: 8].

Maka Allah mengutus untuk mereka ‘Uzair, dan ia telah mengetahui Taurat serta menghafalnya dalam dadanya, lalu ia menuliskannya untuk mereka. Maka generasi itu menegakkannya, kemudian berlalu waktu dan mereka melupakannya.

‘Uzair pun wafat, terjadi berbagai peristiwa, mereka melupakan perjanjian, dan mereka bersikap kikir terhadap Rabb mereka.

Mereka berkata: “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu, dan mereka dilaknat karena apa yang mereka katakan. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka, Dia memberi sebagaimana yang Dia kehendaki. [Al-Ma’idah: 64]

Dan mereka berkata tentang ‘Uzair: bahwa Allah menjadikannya sebagai anak. Padahal mereka mencela orang-orang Nasrani atas ucapan mereka tentang Al-Masih. Maka mereka menyelisihi apa yang mereka dilarang darinya, dan melakukan apa yang dahulu mereka kafiri. Maka telah berlaku ketetapan dari Allah saat itu bahwa mereka tidak akan menang atas musuh hingga akhir zaman.

Maka Allah berfirman: “Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” [Al-Ma’idah: 64]

Maka Allah mengirimkan kepada mereka tiga penguasa dari kalangan Majusi, lalu mereka terus berada dalam keadaan demikian, sementara orang-orang Majusi menguasai mereka.

Dan mereka berkata: “Seandainya kami mendapati nabi ini yang kami dapati tertulis di sisi kami, semoga Allah membebaskan kami dengannya dari orang-orang Majusi dan azab yang menghinakan.”

Maka Allah mengutus Muhammad , namanya Muhammad, dan namanya dalam Injil adalah Ahmad. “Maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka justru mengingkarinya.” [Al-Baqarah: 89]

Allah berfirman: “Maka laknat Allah atas orang-orang yang kafir.” [Al-Baqarah: 89] dan firman-Nya: “Maka mereka kembali dengan kemurkaan di atas kemurkaan.” [Selesai]

===***===

MEREKA PENEBAR API PERMUSUHAN DAN MENYIMPANG DARI FITRAH

Ayat yang telah disebutkan diatas ini dengan jelas menggambarkan jiwa orang-orang Yahudi yang rusak, yang dibangun di atas permusuhan terhadap pihak yang berbeda dengan mereka, serta keinginan kuat untuk melakukan tipu daya dan membinasakan siapa saja yang tidak sejalan dengan arah mereka. Dan yang paling menjadi sasaran permusuhan mereka adalah orang-orang beriman, para pengikut risalah Nabi Muhammad .

Golongan Yahudi yang menyimpang dari fitrah dan berpaling dari jalan kebenaran telah tampak pada mereka berbagai bentuk keburukan dan kejahatan, baik secara lahir maupun batin. Mereka adalah pemakan yang haram, pendengar kebohongan, penyebar kegelisahan di muka bumi, serta menginginkan kerusakan yang tidak membuat jiwa mereka tenang kecuali dengannya. Mereka berusaha dalam segala hal yang dapat menyebabkan kehancuran dunia demi mewujudkan kepentingan mereka.

Perhatikanlah perjalanan sejarah, wahai saudaraku !!!

[*] Apakah engkau mendapati keburukan, kerusakan, dan fitnah di muka bumi tanpa adanya peran mereka (orang Yahudi) di dalamnya dan tanpa mereka mengambil manfaat darinya?

[*] Siapa yang memerangi para nabi dan membunuh para wali serta orang-orang pilihan?

[*] Siapa yang berusaha meruntuhkan peradaban bangsa-bangsa dan menjatuhkan negara-negara?

[*] Siapa yang menyebarkan praktik riba di muka bumi serta merencanakannya?

[*] Siapa yang mempromosikan perdagangan budak?

[*] Siapa yang menjadi penguasa manipulasi media dan penipuan pemikiran?

[*] Siapa para pedagang senjata dan siapa yang menyalakan api fitnah serta peperangan di dunia demi minyak?

Semua itu dan masih banyak lagi merupakan hasil dan produk mereka—sebagaimana disaksikan oleh Kitab Rabb kita dan Sunnah Nabi kita Muhammad , serta disaksikan pula oleh sejarah dan realitas masa kini. Namun, meskipun dengan berbagai tipu daya besar itu, Allah telah menetapkan kegagalan bagi mereka.

----

Walaupun tampak bagi manusia bahwa mereka menang dan berkuasa pada masa tertentu, Allah telah menetapkan atas mereka kehinaan dan kerendahan. Mereka kembali dengan kemurkaan di atas kemurkaan, dan Allah menyiapkan bagi mereka azab yang menghinakan. Kesengsaraan selalu menyertai mereka, dan musibah selalu mengikuti mereka. 

Setiap kali mereka menyalakan api atau fitnah untuk memerangi agama Allah, maka Allah memadamkannya. Dan setiap kali mereka menginfakkan harta untuk memerangi agama, maka Allah menjadikannya sebagai penyesalan bagi mereka, mengalahkan mereka, dan mengumpulkan mereka bersama golongan orang-orang yang gagal.

Orang-orang Yahudi telah menempuh berbagai cara untuk merusak dunia dengan berbagai bentuk kerusakan. Di antaranya adalah dengan menyalakan api peperangan.

Mereka berusaha membenturkan satu bagian dunia dengan bagian lainnya melalui peperangan sebagai sarana untuk melemahkan secara materi, menyebarkan kekacauan, merusak nilai dan akhlak, serta memanfaatkan peluang untuk memperkaya diri, kemudian menggunakan harta tersebut untuk kejahatan lainnya.

Sejak dahulu, mereka berada di balik peperangan antara kerajaan-kerajaan besar di Timur (Persia, Romawi, Fir’aun, dan para raja Syam), dengan saling memanfaatkan satu pihak terhadap pihak lainnya, merusak hubungan di antara mereka, dan menanamkan kebencian.

Mereka juga berada di balik berbagai fitnah dan pemberontakan di negeri Arab, mulai dari peperangan di masa jahiliah melawan Rasulullah dan dakwah beliau, perang riddah (murtaddin), hingga gerakan Abdullah bin Saba’, pemberontakan Zanj, Babak Al-Khurrami, gerakan Qaramithah, dan kelompok Hashshashin.

Demikian pula peperangan antara Prancis dan Inggris, Perang Dunia Pertama, konspirasi terhadap Khilafah Utsmaniyah dan penghancurannya, serta Perang Dunia Kedua yang dinyalakan oleh para pedagang senjata dari kalangan mereka, yang menyebabkan jutaan manusia terbunuh.

Ketika menelusuri sejarah yang kelam dari kelompok kecil ini, tujuan penulis adalah untuk menyingkap sebagian kecil dari sejarah panjang mereka yang penuh dengan pertumpahan darah. Mereka adalah kelompok yang terbiasa menempuh jalan-jalan keburukan. Allah telah menjelaskan sifat-sifat mereka dalam Al-Qur’an dan menerangkan keadaan mereka sebagai pelajaran dan peringatan. Mereka berani mengatakan terhadap Allah :

﴿إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ﴾

“Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami adalah kaya raya

Dan mereka juga berkata:

﴿يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ﴾

“Tangan Allah terbelenggu.”

Mereka juga melakukan kejahatan besar terhadap para nabi dan rasul, tanpa mempedulikan agama, perjanjian, maupun tanggung jawab.

Orang-orang Yahudi digambarkan sebagai penyakit zaman di setiap masa. Memusuhi, membenci, dan memerangi mereka dianggap sebagai bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang harus dilakukan oleh seorang muslim.

Seorang mukmin meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa kelompok seperti ini tidak akan tampak kuat seperti itu kecuali karena adanya sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik dari sisi ketetapan-Nya maupun dari sisi manusia. Ketika kaum muslimin melemah, menjauh dari agama Allah, dan meninggalkan sebab-sebab syar’i, maka tampaklah pengaruh tipu daya mereka. Dan ketika kaum muslimin kembali kepada agama mereka, maka akibat yang pasti adalah kemenangan atas mereka dan menyempitnya kekuatan mereka.

Meskipun pada masa sekarang mereka tampak memiliki kekuatan, kezaliman, dan kesombongan yang besar, tanda-tanda kemunduran kekuasaan mereka dan berkurangnya kejahatan mereka mulai tampak bagi orang yang memiliki pandangan yang jernih. Hal itu karena Allah tidak akan memperbaiki perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan. Kezaliman, betapapun panjang masanya, pasti akan berakhir.

Api peperangan yang mereka nyalakan untuk memadamkan cahaya Allah akan berbalik membakar mereka sendiri, menghancurkan mereka dan apa yang mereka agungkan. Sebagaimana firman Allah:

﴿ وَانظُرْ إِلَىٰ إِلَٰهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۖ لَّنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا﴾

“Dan lihatlah tuhanmu yang dahulu engkau tetap menyembahnya, pasti akan kami bakar, kemudian kami hamburkan ke laut dengan sebenar-benarnya.” [QS. Thoha: 97]

==***===

PERTANYAAN-NYA:
APAKAH ALLAH MEMADAMKAN-NYA DENGAN MENANAMKAN PERMUSUHAN DIANTARA MEREKA?

Dalam hal ini Allah berfirman:

﴿وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا﴾

“Dan Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, maka Allah memadamkannya.

Dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” [QS. Al-Maidah: 64]

Maha benar Allah dengan semua firman-Nya.

Apakah kita memahami dari nash ayat yang mulia ini bahwa Allah Ta’ala memadamkan api peperangan yang dinyalakan oleh orang-orang Yahudi dengan apa yang Dia tanamkan di dalam hati mereka berupa permusuhan dan kebencian sesama mereka?

===

JAWABAN-NYA

Ayat yang mulia dari Surah Al-Ma’idah (ayat 64) ini berbicara tentang keadaan orang-orang Yahudi serta hubungan mereka satu sama lain dan dengan selain mereka.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menanamkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat, dan bahwa setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah Ta’ala memadamkannya, serta mereka berusaha membuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

----

Pemahaman yang diambil dari ayat:

Permusuhan dan kebencian di antara mereka menjadikan mereka selalu berada dalam perselisihan dan perpecahan yang terus-menerus, yang memengaruhi kemampuan mereka untuk bersatu dan bekerja sama secara efektif.

Pemadaman peperangan oleh Allah:

Ungkapan ini dapat dipahami bahwa Allah campur tangan untuk memadamkan api peperangan yang mereka nyalakan, baik secara langsung dengan menimbulkan peristiwa-peristiwa yang menggagalkan rencana mereka, ataupun melalui pengaruh permusuhan dan kebencian di antara mereka, yang menyebabkan kegagalan rencana-rencana tersebut. Sering kali, permusuhan itu menjadi sebab kelemahan dan perpecahan mereka.

---

Peristiwa sejarah yang mendukung pemahaman ini:

---

Periode setelah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

Setelah wafatnya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, kerajaan mereka terpecah menjadi dua bagian. Terjadi banyak peperangan dan konflik di antara keduanya, yang memudahkan kekalahan mereka di tangan bangsa Babilonia pada tahun 587 sebelum Masehi. Penaklukan Babilonia menyebabkan kehancuran kerajaan mereka secara total dan penawanan orang-orang yang masih hidup ke Babilonia.

Periode Romawi dan sebelumnya:

Orang-orang Yahudi berada dalam konflik terus-menerus dengan kekuatan di sekitar mereka, dan secara internal mereka terpecah ke dalam berbagai kelompok seperti Saduki dan Farisi. Perpecahan internal ini menjadi salah satu sebab kehancuran kerajaan mereka kembali di tangan bangsa Romawi pada tahun 70 Masehi, karena mereka tidak mampu bersatu menghadapi ancaman luar.

Pemberontakan Yahudi terhadap Romawi:

Antara tahun 66 hingga 135 Masehi, mereka melakukan beberapa pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi, yang paling terkenal adalah pemberontakan Bar Kokhba. Namun, pemberontakan-pemberontakan ini berakhir dengan kegagalan, dan sering kali perpecahan internal menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada kegagalan tersebut.

Abad pertengahan:

Pada masa ini, orang-orang Yahudi berpindah dari satu negeri ke negeri lain karena penindasan. Mereka tidak mampu membentuk kekuatan yang bersatu atau masyarakat yang stabil. Sering kali terjadi perpecahan internal di antara mereka yang semakin melemahkan kondisi mereka.

Abad ke-20 dan gerakan Zionisme:

Bahkan pada abad ke-20, meskipun mereka menduduki tanah Palestina dengan dukungan kekuatan kolonial dan mendirikan negara yang mereka sebut “Israel”, tetap terdapat perselisihan dan perbedaan besar di antara berbagai kelompok mereka (sekuler dan religius, sayap kanan dan kiri). Perbedaan ini memengaruhi kebijakan internal dan eksternal mereka, dan terkadang menyebabkan ketidakstabilan.

Kesimpulan:

Pemadaman Allah terhadap api peperangan yang mereka nyalakan, sebagaimana disebutkan dalam ayat, dapat dipahami sebagai akibat dari permusuhan dan kebencian di antara mereka, yang menjadikan mereka tidak mampu mewujudkan tujuan-tujuan agresif mereka secara efektif. Sejarah mereka dipenuhi dengan contoh yang menunjukkan bagaimana perpecahan internal dan tidak adanya persatuan menyebabkan kelemahan dan kehancuran mereka di hadapan musuh-musuh mereka.

Pemahaman ini menunjukkan hikmah Allah dalam mengatur urusan, dan bagaimana permusuhan serta kebencian dapat menjadi sebab gagalnya rencana kerusakan. Maha benar Allah ketika berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ ‌لَا ‌يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak memperbaiki amal orang-orang yang membuat kerusakan.” [QS. Yunus: 81]

Dan Allah telah memperingatkan kaum beriman dari perpecahan dan perselisihan karena dampaknya berupa kegagalan dan kehancuran, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ‌وَلَا ‌تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ، وَاصْبِرُوا، إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya , dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Anfal: 46]

===***===

KAITAN AYAT INI DENGAN KONDISI SEKARANG

﴿كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ﴾

“Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.”

Ini adalah bagian dari ayat yang agung lagi mulia dalam kitab yang penuh hikmah, yang menggambarkan—dengan penjelasan yang indah dan mengagumkan—salah satu keadaan orang-orang Yahudi, serta tabiat dan sifat yang terus melekat pada diri mereka sepanjang zaman dan tersebar di berbagai tempat.

Mereka adalah orang-orang yang kafir, ingkar, dan membangkang, yang telah mencapai puncak dalam kekufuran mereka.

Mereka mengatakan terhadap Rabb mereka yang Mahamulia suatu perkataan yang besar lagi penuh dosa, yang menyebabkan mereka berhak mendapatkan laknat dan azab-Nya. Namun demikian, mereka senantiasa menjadi musuh bagi hakikat iman dan membenci agama Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾

“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu, dan mereka dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekufuran bagi banyak dari mereka. Dan Kami jadikan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” [Al-Ma’idah: 64].

Dan Dia Yang Mahamulia berfirman:

﴿لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا﴾

“Sungguh engkau akan mendapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” [QS. Al-Ma’idah: 82].

Betapa keadaan hari ini sangat mirip dengan masa lalu. Orang-orang Yahudi pada masa sekarang—seperti halnya orang-orang Yahudi dahulu—menebarkan racun kebencian mereka yang gelap terhadap orang-orang Arab dan kaum muslimin, serta menyalakan api peperangan setiap saat, lalu Allah memadamkannya. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana peristiwa-peristiwa telah menunjukkan hal itu berulang kali sejak mereka merampas tanah Palestina lebih dari enam puluh tahun yang lalu. 

Pertolongan Allah bagi kaum muslimin pasti akan datang, sebagaimana janji Allah SWT dalam firman-Nya:

﴿وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا. فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا﴾

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. [QS. Al Isra: 4-5]


Posting Komentar

0 Komentar