Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SYARAH & PENJELASAN HADITS: “PENGUASA ADALAH NAUNGAN ALLAH DI MUKA BUMI”.

SYARAH DAN PENJELASAN HADITS
“PENGUASA ADALAH NAUNGAN ALLAH DI MUKA BUMI”. 

 ----

Di Tulis Oleh Kang Oji

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----


----

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • KUMPULAN HADITS: “PENGUASA ADALAH NAUNGAN ALLAH DI MUKA BUMI”
  • MAKNA HADITS:
  • SYARAH HADITS:
  • KEUTAMAAN PENGUASA:
  • BERKUASA ADALAH KEWAJIBAN YANG PALING AGUNG

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

====***====

PENDAHULUAN

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

«لَوْلَا السُّلْطَانُ لَأَكَلَ النَّاسُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَلَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ»

“Kalau bukan karena penguasa, niscaya manusia akan saling memakan satu sama lain, dan kalau bukan karena para ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang.” [Baca: Mufid al-‘Ulum wa Mubid al-Humum hal. 409]

Ibnu Jama’ah Badruddin al-Kinani asy-Syafi’i dalam kitabnya Tahrir al-Ahkam fi Tadbir Ahl al-Islam halaman 50 berkata:

«وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ خَيْرٌ مِنْ مَطَرٍ وَابِلٍ. وَذٰلِكَ لِأَنَّ النَّاسَ عَلَى دِينِ الْمَلِكِ، فَإِذَا عَدَلَ لَزِمَتِ الرَّعِيَّةُ الْعَدْلَ وَقَوَانِينَهُ، فَانْتَعَشَ الْحَقُّ، وَتَنَاصَفَ النَّاسُ، وَذَهَبَ الْجَوْرُ، فَتُرْسِلُ السَّمَاءُ بَرَكَاتِهَا، وَتُخْرِجُ الْأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَتَكْثُرُ الْخَيْرَاتُ وَتَنْمُو التِّجَارَاتُ.

وَقِيلَ: لَيْسَ فَوْقَ رُتْبَةِ السُّلْطَانِ الْعَادِلِ رُتْبَةٌ إِلَّا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ أَوْ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ».

Dari Ali radhiyallahu 'anhu: “Penguasa (pemimpin) yang adil, lebih baik daripada hujan lebat.”

Hal itu karena manusia mengikuti agama penguasanya. Jika ia adil, maka rakyat akan berpegang pada keadilan dan hukum-hukumnya, sehingga kebenaran hidup kembali, manusia saling berlaku adil, kezaliman hilang, lalu langit menurunkan keberkahannya, bumi menumbuhkan tanamannya, kebaikan melimpah, dan perdagangan berkembang.

Dikatakan pula: “Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada penguasa yang adil, kecuali nabi yang diutus atau malaikat yang didekatkan.” (Selesai)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta'ala berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa 28/390:

"يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلَايَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّينِ؛ بَلْ لَا قِيَامَ لِلدِّينِ وَلَا لِلدُّنْيَا إلَّا بِهَا. فَإِنَّ بَنِي آدَمَ لَا تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ إلَّا بِالِاجْتِمَاعِ لِحَاجَةِ بَعْضِهِمْ إلَى بَعْضٍ

وَلَا بُدَّ لَهُمْ عِنْدَ الِاجْتِمَاعِ مِنْ رَأْسٍ حَتَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ".

Wajib diketahui bahwa kekuasaan untuk mengatur urusan manusia termasuk kewajiban terbesar dalam agama. Bahkan agama dan dunia tidak akan tegak kecuali dengannya. Hal itu karena Bani Adam tidak akan sempurna kemaslahatannya kecuali dengan hidup berkelompok, karena sebagian mereka membutuhkan sebagian yang lain.

Dan ketika mereka berkumpul, pasti membutuhkan seorang pemimpin. Sampai sampai Nabi bersabda: “Jika tiga orang keluar dalam suatu perjalanan, hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. (Selesai)

Abu Bakr al-Khawarizmi Muhammad bin al-‘Abbas yang wafat tahun 383 H berkata dalam kitab Mufid al-‘Ulum wa Mubid al-Humum halaman 409 dan seterusnya:

"اعْلَمْ أَنَّ السُّلْطَنَةَ مِنْ مُهِمَّاتِ الْأُمُورِ وَمُهِمَّاتِ الْإِسْلَامِ، وَالسُّلْطَنَةُ تَلُو الْخِلَافَةَ وَأُخْتُهَا، وَالْخِلَافَةُ تَلُو النُّبُوَّةَ، وَلَا قِوَامَ لِلدِّينِ إِلَّا بِإِمَامٍ مُطَاعٍ يُقِيمُ الْحُدُودَ، وَيُؤَمِّنُ السُّبُلَ، وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ، وَيُوصِلُهَا إِلَى مُسْتَحِقِّيهَا، وَالْخِلَافَةُ وَاجِبَةٌ شَرْعًا، وَقَالَ قَوْمٌ: وَاجِبَةٌ عَقْلًا.

وَالسُّلْطَنَةُ وَالْإِمَامَةُ قَدْ تَكُونُ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ، وَقَدْ تَتَعَيَّنُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ، فَتَتَقَدَّمُ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ، وَالسَّيْفُ وَالْقَلَمُ تَوْأَمَانِ، وَهُمَا رَضِيعَا لِبَانٍ، وَفَرَسَا رِهَانٍ، لَا قِوَامَ لِأَحَدِهِمَا إِلَّا بِالْآخَرِ، فَمَنْ أَطَاعَ السُّلْطَانَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ أَهَانَهُ فَقَدْ أَهَانَ اللَّهَ، عَرَفَهُ مَنْ عَرَفَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ". (انتهى)

Ketahuilah bahwa kekuasaan adalah termasuk perkara yang sangat penting, bahkan termasuk perkara penting dalam agama Islam. Kekuasaan itu mengikuti khilafah dan menjadi saudaranya, sedangkan khilafah mengikuti kenabian. Tidak akan tegak agama kecuali dengan adanya pemimpin yang ditaati, yang menegakkan hudud, mengamankan jalan, menunaikan hak-hak, dan menyampaikannya kepada yang berhak. Khilafah itu wajib secara syariat. Sebagian ulama mengatakan wajib secara akal.

Kekuasaan dan kepemimpinan terkadang termasuk fardhu kifayah, dan dalam sebagian kondisi bisa menjadi kewajiban yang harus dilakukan secara langsung, sehingga didahulukan atas ibadah-ibadah sunnah.

Pedang dan pena adalah dua hal yang saling berpasangan, keduanya seperti dua saudara yang menyusu dari satu sumber dan seperti dua kuda yang berlomba; tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lain.

Barang siapa menaati penguasa, maka ia telah menaati Allah, dan barang siapa menghinakannya, maka ia telah menghinakan Allah. Hal ini diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Wallahu a’lam. (Selesai).

Abu Abdullah Muhammad al-Qal’i asy-Syafi’i yang wafat tahun 630 H dalam kitabnya Tahdzib ar-Riyasah wa Tartib as-Siyasah halaman 74 berkata:

"بَابٌ فِي ذِكْرِ وُجُوبِ الْإِمَامَةِ وَالِاحْتِيَاجِ إِلَى السُّلْطَانِ وَعَدَمِ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ قَاطِبَةً إِلَّا مَنْ لَا يُعْتَدُّ بِخِلَافِهِ عَلَى وُجُوبِ نَصْبِ الْإِمَامِ عَلَى الْإِطْلَاقِ، وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي أَوْصَافِهِ وَشَرَائِطِهِ

فَأَقُولُ: نِظَامُ أَمْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا مَقْصُودٌ، وَلَا يَحْصُلُ ذٰلِكَ إِلَّا بِإِمَامٍ مَوْجُودٍ، لَوْ نُقِلَ بِوُجُوبِ الْإِمَامَةِ لَأَدَّى ذٰلِكَ إِلَى دَوَامِ الِاخْتِلَافِ وَالْهَرْجِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ إِمَامٌ مُطَاعٌ لَانْثَلَمَ شَرَفُ الْإِسْلَامِ وَضَاعَ، لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلْأُمَّةِ إِمَامٌ قَاهِرٌ لَتَعَطَّلَتِ الْمَحَارِيبُ وَالْمَنَاظِرُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ لِلْوَارِدِ وَالصَّادِرِ، لَوْ خَلَا عَصْرٌ مِنْ إِمَامٍ لَتَعَطَّلَتْ فِيهِ الْأَحْكَامُ وَضَاعَتِ الْأَيْتَامُ وَلَمْ يُحَجَّ الْبَيْتُ الْحَرَامُ، لَوْلَا الْأَئِمَّةُ وَالْقُضَاةُ وَالسَّلَاطِينُ وَالْوُلَاةُ لَمَا نُكِحَتِ الْأَيَامَى وَلَا كُفِلَتِ الْيَتَامَى، لَوْلَا السُّلْطَانُ لَكَانَتِ النَّاسُ فَوْضَى وَلَأَكَلَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَفِي الْحَدِيثِ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ»".

Bab: tentang kewajiban adanya imamah (kepemimpinan), kebutuhan terhadap penguasa, dan tidak bisa lepas darinya di setiap zaman.

Umat Islam telah bersepakat seluruhnya kecuali pihak yang tidak dianggap perselisihannya, tentang wajibnya mengangkat pemimpin (penguasa) secara mutlak, meskipun mereka berbeda pendapat dalam sifat dan syaratnya.

Aku katakan: teraturnya urusan agama dan dunia adalah tujuan, dan hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan adanya seorang imam. Jika kewajiban imamah tidak diakui, maka hal itu akan menyebabkan terus-menerusnya perselisihan dan kekacauan hingga hari kiamat. Jika manusia tidak memiliki pemimpin yang ditaati, maka kemuliaan Islam akan rusak dan hilang. Jika umat tidak memiliki imam yang berwibawa, maka masjid-masjid akan terbengkalai, jalan-jalan terputus bagi yang datang dan pergi. Jika suatu masa kosong dari imam, maka hukum-hukum akan terabaikan, anak-anak yatim akan terlantar, dan tidak akan dilaksanakan ibadah haji ke Baitul Haram.

Kalau bukan karena para imam, hakim, penguasa, dan para pejabat, niscaya para janda tidak akan dinikahi dan anak-anak yatim tidak akan terurus. Kalau bukan karena penguasa, manusia akan hidup dalam kekacauan dan sebagian mereka akan memakan sebagian yang lain. Dalam hadits disebutkan: “Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung setiap orang yang dizalimi.”(Selesai)

Ibnu Al-Azraq Al-Gharnathi yang wafat tahun 896 H berkata dalam kitab Bada’i As-Suluk fi Thaba’i Al-Mulk 1/110:

وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْقُدَمَاءِ: «لَوْ رُفِعَ السُّلْطَانُ مِنَ الْأَرْضِ مَا كَانَ لَهُ تَعَالَى فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ حَاجَةٍ».

“Oleh karena itu, sebagian ulama terdahulu berkata: seandainya kekuasaan (sulthan) lenyap dari bumi, niscaya tidak ada lagi bagi Allah Ta'ala kepentingan terhadap penduduk bumi”. (Selesai)

===***===

KUMPULAN HADITS:
“PENGUASA ADALAH NAUNGAN ALLAH DI MUKA BUMI”

Berikut ini riwayat hadits-hadits terkait bab ini:

===

HADITS PERTAMA:

Dari Ziyad bin Kusaib dari Abu Bakrah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda:

«‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَ اللَّهَ، وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللَّهُ»

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barang siapa memuliakannya, maka Allah akan memuliakannya. Dan barang siapa menghinakannya, maka Allah akan menghinakannya.

[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ashim dalam As-Sunnah 2/492 no. 1024].

Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman 9/478 no. 6988:

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad al-Muqri’, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bukair, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Sa’id al-Khaulani, telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mihran, dari Sa’d bin Aus, dari Ziyad bin Kusaib, ia berkata:

شَهِدْتُ أَبَا بَكْرَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ - وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ قَصَبٌ - وَعَلَى النَّاسِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَامِرٍ، فَخَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ مُرَقَّقٌ وَبُرْدَانِ، مُرَجِّلًا رَأْسَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

«‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَ اللَّهَ، وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللَّهُ»

Aku menyaksikan Abu Bakrah pada hari Jumat — itu sebelum masjid dibangun, saat itu masih berupa bangunan dari batang-batang — dan yang memimpin manusia saat itu adalah Abdullah bin ‘Amir. Ia keluar menemui manusia dengan mengenakan pakaian tipis dan dua kain selendang, dengan rambut yang disisir rapi.

Maka Abu Bakrah berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda: “Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barang siapa memuliakannya, maka Allah akan memuliakannya. Dan barang siapa menghinakannya, maka Allah akan menghinakannya.

DERAJAT HADITS: SHAHIH.

Hadits ini disahihkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan oleh Syeikh Al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no. 1024 dan (Syu’ab al-Iman) no. 7373.

Al-Albani berkata dalam Zhilal al-Jannah (bersama As-Sunnah karya Ibnu ‘Ashim 2/492 no. 1024): “Hadits hasan.”

Beliau juga berkata dalam Dzilal al-Jannah 2/489 no. 1017:

"حَدِيثٌ حَسَنٌ، وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ غَيْرُ زِيَادٍ، وَهُوَ ابْنُ كُسَيْبٍ، كَمَا يَأْتِي بَعْدَ سِتَّةِ أَحَادِيثَ، وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي يَلِيهِ، وَلَمْ يُوَثِّقْهُ غَيْرُ ابْنِ حِبَّانَ، وَقَالَ الْحَافِظُ: مَقْبُولٌ، يَعْنِي: عِنْدَ الْمُتَابَعَةِ، وَقَدْ تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ كَمَا يَأْتِي بِرَقْمِ 1025، وَمِنْ أَجْلِ ذٰلِكَ حَسَّنْتُهُ وَأَوْرَدْتُهُ فِي الصَّحِيحَةِ 2297".

“Hadits hasan, dan para perawinya terpercaya selain Ziyad, yaitu Ibnu Kusaib, sebagaimana akan disebutkan setelah enam hadits berikutnya dan pada hadits setelahnya. Tidak ada yang menilainya tsiqah selain Ibnu Hibban, dan Al-Hafizh berkata: maqbul, yaitu jika ada penguat. Dan ia telah dikuatkan oleh Abdurrahman bin Abi Bakrah sebagaimana akan disebutkan pada no. 1025. Karena itu aku menilainya hasan dan memasukkannya dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2297.

Al-Albani juga berkata dalam As-Silsilah adh-Dha’ifah 4/161 no. 1662:

«فَأَوْرَدْتُهَا فِي "الصَّحِيحَةِ" (2297) وَحَسَّنْتُهُ، وَفِي "الظِّلَالِ" (1017 - 1018)».

“Maka aku memasukkannya dalam Ash-Shahihah (2297) dan menilainya hasan, dan dalam Adz-Dzilal (1017–1018).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa 35/45:

وَأَمَّا الْحَدِيثُ النَّبَوِيُّ «‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ يَأْوِي إلَيْهِ كُلُّ ضَعِيفٍ وَمَلْهُوفٍ» وَهَذَا صَحِيحٌ؛ فَإِنَّ الظِّلَّ مُفْتَقِرٌ إلَى آوٍ وَهُوَ رَفِيقٌ لَهُ مُطَابِقٌ لَهُ نَوْعًا مِنْ الْمُطَابَقَةِ وَالْآوِي إلَى الظِّلِّ الْمُكْتَنِفِ بِالْمُظِلِّ صَاحِبُ الظِّلِّ فَالسُّلْطَانُ عَبْدُ اللَّهِ مَخْلُوقٌ مُفْتَقِرٌ إلَيْهِ لَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ؛ وَفِيهِ مِنْ الْقُدْرَةِ وَالسُّلْطَانِ وَالْحِفْظِ وَالنُّصْرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَعَانِي السُّؤْدُدِ وَالصَّمَدِيَّةِ الَّتِي بِهَا قِوَامُ الْخَلْقِ مَا يُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ ظِلَّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، وَهُوَ أَقْوَى الْأَسْبَابِ الَّتِي بِهَا يُصْلِحُ أُمُورَ خَلْقِهِ وَعِبَادِهِ فَإِذَا صَلَحَ ذُو السُّلْطَانِ صَلَحَتْ أُمُورُ النَّاسِ وَإِذَا فَسَدَ فَسَدَتْ بِحَسَبِ فَسَادِهِ؛ وَلَا تَفْسُدُ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ؛ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ مَصَالِحَ؛ إذْ هُوَ ظِلُّ اللَّهِ؛ لَكِنَّ الظِّلَّ تَارَةً يَكُونُ كَامِلًا مَانِعًا مِنْ جَمِيعِ الْأَذَى. وَتَارَةً لَا يَمْنَعُ إلَّا بَعْضَ الْأَذَى. وَأَمَّا إذَا عُدِمَ الظِّلُّ فَسَدَ الْأَمْرُ كَعَدَمِ سِرِّ الرُّبُوبِيَّةِ الَّتِي بِهَا قِيَامُ الْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ. وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Adapun hadits Nabi : “Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung bagi setiap orang yang lemah dan yang membutuhkan pertolongan,” maka ini adalah hadits yang sahih. Sesungguhnya naungan membutuhkan tempat berlindung, dan ia bersifat lembut serta memiliki kesesuaian dengannya dalam satu sisi. Orang yang berlindung di bawah naungan yang menaungi adalah orang yang berada di bawah pemilik naungan tersebut.

Maka penguasa adalah hamba Allah, makhluk yang membutuhkan-Nya dan tidak bisa lepas dari-Nya walau sekejap mata. Pada dirinya terdapat kemampuan, kekuasaan, penjagaan, pertolongan, dan makna-makna kepemimpinan serta kemandirian yang dengannya tegak kehidupan makhluk, yang menyerupai bahwa ia adalah naungan Allah di bumi. Ia termasuk sebab paling kuat yang dengannya Allah memperbaiki urusan makhluk dan hamba-hamba-Nya.

Apabila penguasa itu baik, maka baik pula urusan manusia. Jika ia rusak, maka rusak pula urusan manusia sesuai dengan tingkat kerusakannya. Namun tidak rusak dari semua sisi, bahkan pasti masih ada kemaslahatan, karena ia adalah naungan Allah. Hanya saja, terkadang naungan itu sempurna sehingga mampu melindungi dari seluruh gangguan, dan terkadang hanya melindungi dari sebagian gangguan. Adapun jika naungan itu tidak ada, maka rusaklah seluruh urusan, seperti hilangnya rahasia rububiyyah yang dengannya tegak kehidupan umat manusia. Wallahu a’lam”.

====

HADITS KE DUA:

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman 9/475 no. 6984:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’d al-Malini, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad bin ‘Adi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ali bin ‘Umar Rawwad, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sinan, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Katsir bin Murrah, dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:

" إِنَّ ‌السُّلْطَانَ ‌ظِلُّ ‌اللهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا عَدَلَ كَانَ لَهُ الْأَجْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الشُّكْرُ، وَإِذَا جَارَ كَانَ عَلَيْهِ الْإِصْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الصَّبْرُ، وَإِذَا جَارَتِ الْوُلَاةُ قَحِطَتِ السَّمَاءُ، وَإِذَا مُنِعَتِ الزَّكَاةُ هَلَكَتِ الْمَوَاشِي، وَإِذَا ظَهَرَ الزِّنَا ظَهَرَ الْفَقْرُ وَالْمَسْكَنَةُ، وَإِذَا خُفِرَتِ الذِّمَّةُ أُدِيلَ الْكُفَّارُ "

Sesungguhnya penguasa adalah naungan Allah di bumi. Setiap orang yang dizalimi dari hamba-hamba-Nya berlindung kepadanya. Jika ia berlaku adil, maka baginya pahala dan atas rakyat kewajiban bersyukur. Jika ia berbuat zalim, maka atasnya dosa dan atas rakyat kewajiban bersabar. Jika para penguasa berbuat zalim, maka langit akan menahan hujan. Jika zakat ditahan, maka binatang ternak akan binasa. Jika zina telah tampak, maka akan tampak kemiskinan dan kefakiran. Jika perjanjian dilanggar, maka orang-orang kafir akan diberi kemenangan.”

Lalu al-Baihaqi berkata:Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Yunus bin ‘Abd al-A’la, dari Bisyr bin Bakr. Adapun Abu al-Mahdi Sa’id bin Sinan adalah lemah menurut para ahli hadits.

Dan Ibnu Zanjawaih meriwayatkannya dalam al-Amwal 1/77 no. 32:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Katsir bin Murrah, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah bersabda:

«إِنَّ ‌السُّلْطَانَ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا عَدَلَ كَانَ لَهُ الْأَجْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الشُّكْرُ، وَإِذَا جَارَ كَانَ عَلَيْهِ الْإِصْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الصَّبْرُ»

“Sesungguhnya penguasa adalah naungan Allah di bumi. Setiap orang yang dizalimi dari hamba-hamba-Nya berlindung kepadanya. Jika ia berlaku adil, maka baginya pahala dan atas rakyat kewajiban bersyukur. Jika ia berbuat zalim, maka atasnya dosa dan atas rakyat kewajiban bersabar.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Jami’ al-Masanid wa as-Sunan 7/151:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى: هٰذَا حَدِيثٌ مُرْسَلٌ، وَكَثِيرُ بْنُ مُرَّةَ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِي الصَّحَابَةِ سِوَى عَبْدَانَ.

قُلْتُ: هُوَ كَثِيرُ بْنُ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيُّ، وَيُقَالُ: الْحَضْرَمِيُّ أَبُو شَجَرَةَ الرَّهَاوِيُّ، ثُمَّ الْحِمْصِيُّ، رَوَى عَنْ عُمَرَ، وَمَنْ بَعْدَهُ مِنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ، وَقَالَ لَهُ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ: إِنِّي لَأَرَاكَ رَجُلًا صَالِحًا. وَوَافَقَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ.

Al-Hafizh Abu Musa berkata: hadits ini mursal, dan Katsir bin Murrah tidak disebutkan oleh seorang pun sebagai sahabat kecuali oleh ‘Abdan.

Aku (Ibnu Katsir) berkata: dia adalah Katsir bin Murrah al-Hadhrami, juga disebut al-Hadhrami Abu Syajarah ar-Rahawi, kemudian al-Himsi. Ia meriwayatkan dari Umar dan selainnya dari kalangan sahabat besar serta yang lainnya. ‘Auf bin Malik berkata kepadanya: “Aku melihatmu sebagai seorang yang saleh.” Pendapat ini juga disepakati oleh lebih dari satu imam rahimahumullah.

Lihat juga: Asad al-Ghabah 4/462

===

HADITS KE TIGA:

Al-Bazzar meriwayatkan dalam al-Bahr az-Zakhkhar 12/17 no. 5383:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abu al-Yaman al-Hakam bin Nafi’, telah menceritakan kepada kami Abu al-Mahdi Sa’id bin Sinan, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Katsir bin Murrah, dari Ibnu Umar, dari Nabi , beliau bersabda:

«إِن ‌السُّلْطَانَ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ مِنْ عِبَادِهِ فَإِنْ عَدَلَ كَانَ لَهُ الأَجْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الشُّكْرُ، وَإِنْ جَارَ أَوْ حَافَ أَوْ ظَلَمَ كَانَ عَلَيْهِ الْوِزْرُ وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الصَّبْرُ، وَإذا جَارَتِ الوُلاةُ قَحَطَتِ السَّمَاءُ، وَإذا مُنِعَتِ الزَّكَاةُ هَلَكَتِ الْمَوَاشِيَ، وَإذا ظَهَرَ الزِّنَا ظَهَرَتِ الْفِتَنُ وَالْمَسْكَنَةُ، وَإِذَا أُخْفِرَتِ الذِّمَّةُ أُدِيلَ الْكُفَّارُ» ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهُ

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Setiap orang yang dizalimi dari hamba-hamba-Nya berlindung kepadanya. Jika ia berlaku adil, maka baginya pahala, dan atas rakyat kewajiban bersyukur. Jika ia berbuat zalim, atau menyimpang, atau berbuat aniaya, maka atasnya dosa dan atas rakyat kewajiban bersabar. Jika para penguasa berbuat zalim, maka langit akan mengalami kekeringan. Jika zakat ditahan, maka binatang ternak akan binasa. Jika zina telah tampak, maka akan tampak kemiskinan dan kefakiran. Jika perjanjian dilanggar, maka orang-orang kafir akan diberi kekuasaan,” atau lafaz yang semakna dengannya.

TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil fi Du’afa ar-Rijal 4/402, dan melalui jalurnya oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (6/15 no. 7369), Al-Bazzar dalam Musnadnya “Kasyf al-Astar” (2/233 no. 1590), Al-Qudha’i dalam “Asy-Syihab” (1/201 no. 304) secara ringkas, dan Ad-Dailami dalam al-Firdaus (2/343 no. 3553).

Al-Albani menisbatkannya dalam As-Silsilah adh-Dha’ifah (2/70) kepada Adh-Dhiya’ dalam “al-Muntaqa min Masmu’atihi bi Marw” (2/27).

Al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wa at-Tarhib 3/169 no. 14: “Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.”

Al-Albani berkata dalam Dha’if al-Jami’ no. 3352: maudhu’ (palsu).

Makna “jika perjanjian dilanggar, maka orang-orang kafir akan diberi kekuasaan” adalah:

ضَاعَتِ الْأَمَانَةُ وَانْتَقَضَ الْعَهْدُ وَفَشَا الْغَدْرُ. جُعِلَ لِلْكُفَّارِ سُلْطَةٌ وَقَوِيَتْ دَوْلَتُهُمْ، وَزَادَتْ شَوْكَتُهُمْ، إِنْذَارَاتٌ لِلْمُسْلِمِينَ تُسَاقُ أَدِلَّةُ الْخَرَابِ.

Amanah hilang, perjanjian dilanggar, dan pengkhianatan merajalela.

Jika orang-orang kafir diberi kekuasaan,  negara mereka menjadi kuat, dan kekuatan mereka bertambah; maka ini merupakan peringatan bagi kaum Muslimin yang menunjukkan sebab-sebab akan kehancuran umat Islam.

[Lihat: catatan kaki at-Targhib wa at-Tarhib karya Al-Mundziri 3/169].

Abu Abdullah al-Qudha’i yang wafat tahun 454 H berkata dalam kitabnya Musnad asy-Syihab 1/201 no. 304:

Telah mengabarkan kepada kami Hibahullah bin Ibrahim bin Umar al-Khaulani, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amr Ghazwan bin al-Qasim al-Muqri’, telah menceritakan kepada kami Ahmad, yaitu Ibnu Jami’, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya bin Khalid bin Hayyan, telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sinan, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Katsir bin Murrah, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ»

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung bagi setiap orang yang dizalimi.”

====

HADITS KE EMPAT:

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam As-Sunan al-Kubra 8/281 no. 16650:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad as-Sukkari, telah mengabarkan kepada kami Isma’il ash-Shaffar, telah menceritakan kepada kami ‘Abbas bin ‘Abdullah at-Tarqufi, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abdullah ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’ bin Shubaih, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah , beliau bersabda:

" إِذَا مَرَرْتَ بِبَلْدَةٍ لَيْسَ فِيهَا سُلْطَانٌ فَلَا تَدْخُلْهَا، إِنَّمَا ‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، وَرُمْحُهُ فِي الْأَرْضِ"

“Jika engkau melewati suatu negeri yang tidak memiliki penguasa, maka janganlah engkau memasukinya. Sesungguhnya penguasa adalah naungan Allah di bumi dan tombak-Nya di bumi.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman 9/480 no. 6990:

Dan dalam riwayat lain dari Anas dengan lafaz:

السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌الله ‌فِي ‌الأَرْضِ فَإِذَا دَخَلَ أحَدُكُمْ بَلَداً لَيْسَ بِهِ سُلْطَانٌ فَلَا يُقِيمَنَّ به

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Jika salah seorang dari kalian memasuki suatu negeri yang tidak memiliki penguasa, maka janganlah ia menetap di dalamnya.”

Disebutkan oleh As-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu no. 7092. Dan dinilai lemah oleh Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam Dha’if al-Jami’ no. 3349.

Abu Nu’aim al-Ashbahani yang wafat tahun 430 H meriwayatkan dalam kitabnya Fadhilah al-‘Adilin min al-Wulah halaman 142 no. 32:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin al-Husain bin Ma’bad al-Malti, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ayyub al-Mukharrimi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Dawud bin al-Muhabbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Uqbah bin ‘Abdullah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ، فَمَنْ نَصَحَهُمْ وَدَعَا لَهُمُ اهْتَدَى، وَمَنْ غَشَّهُمْ وَدَعَا عَلَيْهِمْ ضَلَّ»

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barang siapa menasihati mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka, maka ia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa menipu mereka serta mendoakan keburukan atas mereka, maka ia akan sesat.”

Abu Nu’aim berkata:

وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ مُظَلَّلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي أَشْوَفِ الْمَنَازِلِ

“Dan pemimpin yang adil akan dinaungi pada hari kiamat di tempat yang paling tinggi kedudukannya.

Diriwayatkan pula dengan sanad yang sama oleh Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afa al-Kabir 3/353.

As-Suyuthi berkata dalam Jam’ al-Jawami’ 3/762 no. 11036: “Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Anas, dan sanadnya lemah.”

Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-‘Ilal 6/538 no. 2735:

سَأَلْتُ أَبِي عَنْ حَدِيثٍ رَوَاهُ خَالِدُ بْنُ خِدَاشٍ، عَنْ أَبِي عَوْنِ بْنِ أَبِي رُكْبَةَ - وَقَالَ خَالِدٌ مَرَّةً: عَوْنُ بْنُ أَبِي رُكْبَةَ -، عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَنَسٍ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ؟»

قَالَ أَبِي: هٰذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ، وَابْنُ أَبِي رُكْبَةَ مَجْهُولٌ [انْتَهَى]

Aku bertanya kepada ayahku tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Khalid bin Khidasy, dari Abu ‘Aun bin Abi Rukbah — dan Khalid kadang berkata: ‘Aun bin Abi Rukbah — dari Ghailan bin Jarir, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah bersabda:

Penguasa adalah naungan Allah di bumi?

Ayahku berkata: hadits ini mungkar, dan Ibnu Abi Rukbah itu majhul (tidak dikenal).

Saya katakan:

Dalam biografi Abu ‘Aun bin Abi Rukbah dalam al-Jarh wa at-Ta’dil (9/414 no. 2021), Ibnu Abi Hatim berkata:

«سَأَلْتُ أَبِي عَنْهُ؟ فَقَالَ: هُوَ مَجْهُولٌ، وَالْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ مُنْكَرٌ»

“Aku bertanya kepada ayahku tentangnya, maka ia berkata: dia majhul, dan hadits yang ia riwayatkan adalah mungkar.”

Hadits ini juga memiliki jalur-jalur lain dari Anas, lihat dalam: adh-Dhu’afa karya al-‘Uqaili (3/354), Gharib al-Hadits karya al-Khattabi (1/707), Fadhilah al-‘Adilin karya Abu Nu’aim (no. 32), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (8/162) dan Syu’ab al-Iman (no. 6990), al-Maqashid al-Hasanah karya as-Sakhawi (no. 207), serta As-Silsilah adh-Dha’ifah karya Syaikh al-Albani (no. 745 dan 1661).

===

HADITS KE LIMA:

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman 9/476 no. 6985:

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali bin Syadzan, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Sufyan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Qais al-Jazari, telah menceritakan kepada kami Husain bin al-‘Ala, dari Sahl bin Syu’aib, dari seorang laki-laki dari Bani Azd, dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah bersabda:

" أُشْهِدُ اللهَ عَلَى الْوَالِي مِنْ بَعْدِي لَمَا رَقَّ عَلَى جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ، وَرَحِمَ صَغِيَرهُمْ، وَأَجَلَّ كَبِيرَهُمْ، وَأَعْطَى عُمَّالَهُمْ، لَا يَضْرِبْهُمْ فَيُذلَّهُمْ، وَلَا يَحْمِدْهُمْ فَيَقْطَعَ نَسْلَهُمْ، وَلَا يُغْلَقْ بَابَهُ دُونَهُمْ فَيَأْكلَ قَوِيُّهُمْ ضَعِيفَهُمْ، وَلَا يَجْعَلِ الْمَالَ دُوَلَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْهُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللهُمَّ اشْهَدْ "

“Aku menjadikan Allah sebagai saksi atas para penguasa setelahku agar mereka bersikap lembut terhadap kaum Muslimin, menyayangi yang kecil di antara mereka, menghormati yang besar di antara mereka, dan memberikan hak kepada para pekerja mereka. Janganlah mereka memukul mereka hingga menghinakan mereka, jangan pula memuji mereka sehingga memutus keturunan mereka, jangan menutup pintu dari mereka sehingga yang kuat memakan yang lemah, dan jangan menjadikan harta beredar hanya di kalangan orang-orang kaya di antara mereka. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

Dan diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dalam 9/479 no. 6989:

Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Yusuf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bukair, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami al-‘Awwam bin Hausyab, telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin ‘Auf asy-Syaibani, dari seorang laki-laki, dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah berkhutbah kepada kami lalu bersabda:

"إِنْهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلِّوهُ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ، وَلَيْسَ بِمَقْبُولٍ تَوْبَتُهُ حَتَّى يَسُدَّ الثُّلْمَةَ الَّتِي ثَلَمَ، وَيَعُودَ فَيَكُونَ فِيمَنْ نَصَرَهُ " أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَنْ لَا نُغْلَبَ عَلَى ثَلَاثٍ: أَنْ نَأْمُرَ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَنُعَلِّمَ النَّاسَ السُّنَنَ "

"Sesungguhnya akan ada setelahku para penguasa, maka janganlah kalian merendahkan mereka. Barang siapa ingin merendahkan mereka, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, dan tidak diterima taubatnya hingga ia menutup kerusakan yang telah ia buat dan kembali menjadi bagian dari orang-orang yang menolongnya.”

Rasulullah memerintahkan kami: “Agar kita tidak dikalahkan dalam tiga perkara: memerintahkan kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, dan mengajarkan sunnah kepada manusia.”

====

HADITS KE ENAM

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman 9/477 no. 6986:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Janah bin Nadzir bin Janah di Kufah, telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far bin Duhain, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hazim, telah mengabarkan kepada kami Yunus bin ‘Abd ar-Rahim al-‘Asqalani, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari Muhammad bin Abi Humaid, dari Muhammad bin Zaid bin al-Muhajir, dari ayahnya, dari Umar bin al-Khattab, ia berkata: Rasulullah bersabda:

" إِنَّ أَفْضَلَ عِبَادِ اللهِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِمَامٌ عَادِلٌ رَفِيقٌ، وَإِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِمَامٌ جَائِرٌ خَرِقٌ "

“Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah di sisi Allah pada hari kiamat dari segi kedudukan adalah pemimpin yang adil dan lembut. Dan sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya pada hari kiamat adalah pemimpin yang zalim dan kasar.”

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman no. 6987:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad al-Husain bin ‘Ali bin al-Mu’ammal, telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Utsman ‘Amr bin ‘Abdullah al-Bashri, telah menceritakan kepada kami al-Fadhl bin Muhammad al-Baihaqi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Fudaik, dari Musa bin Ya’qub ar-Raba’i, dari ‘Abd al-A’la bin Musa bin ‘Abdullah bin Qais bin Makhramah, bahwa Isma’il bin Rafi’, maula al-Muzaniyyin, mengabarkan kepadanya bahwa Zaid bin Aslam mengabarkan kepadanya bahwa ayahnya Aslam mengabarkan kepadanya:

أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ حَتَّى قَدِمَ عَلَى أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ وَهُوَ بِبَابِ الْجَابِيَةِ، فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ: يَا أَسْلَمُ هَلِ اسْتَعْمَلَكَ عُمَرُ مِنْ مَوَالِيهِ وَأَهْلِهِ؟ فَقُلْتُ: لَا، قَالَ: فَأَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: " لَا تَسُبُّوا السُّلْطَانَ، فَإِنَّهُمْ ظِلُّ اللهِ فِي أَرْضِهِ "

“Bahwa ia keluar bersama Umar bin al-Khattab hingga datang kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah yang berada di Bab al-Jabiyah. Maka Abu ‘Ubaidah berkata: wahai Aslam, apakah Umar mengangkatmu dari kalangan mawla dan keluarganya? Aku menjawab: tidak. Ia berkata: maka aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda:

Janganlah kalian mencela penguasa, karena mereka adalah naungan Allah di bumi-Nya.

Dan dalam riwayat lain dari Umar bin al-Khattab sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah adh-Dha’ifah 4/162 no. 1664:

«السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَهُمُ الْأَجْرُ وَعَلَيْكُمُ الشُّكْرُ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَعَلَيْكُمُ الصَّبْرُ وَعَلَيْهِمُ الْإِصْرُ، لَا يَحْمِلَنَّكُمْ إِسَاءَتُهُ عَلَى أَنْ تَخْرُجُوا مِنْ طَاعَتِهِ، فَإِنَّ الذُّلَّ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ خُلُودٍ فِي النَّارِ، لَوْلَاهُمْ مَا صَلُحَ النَّاسُ».

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Jika mereka berbuat baik, maka bagi mereka pahala dan atas kalian kewajiban bersyukur. Jika mereka berbuat buruk, maka atas kalian kewajiban bersabar dan atas mereka dosa. Jangan sampai keburukan mereka mendorong kalian keluar dari ketaatan kepada mereka, karena kehinaan dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada kekekalan dalam neraka. Kalau bukan karena mereka, niscaya manusia tidak akan baik.”

Syeikh Al-Albani berkata:

ضَعِيفٌ جِدًّا. رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي «فَضِيلَةِ الْعَادِلِينَ مِنَ الْوُلَاةِ» (227 / 2) عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَمْرٍو الْفَقِيمِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَعْبَدٍ الْأَنْصَارِيِّ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي طُوَالَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ هَذَا السُّلْطَانِ الَّذِي ذَلَّتْ لَهُ الرِّقَابُ، وَخَضَعَتْ لَهُ الْأَجْسَادُ، مَا هُوَ؟ قَالَ: «هُوَ ظِلُّ اللَّهِ …».

Sangat lemah. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Fadhilah al-‘Adilin min al-Wulah (227/2) dari ‘Amr bin ‘Abd al-Ghaffar, dari al-Hasan bin ‘Amr al-Faqimi, dari Sa’id bin Ma’bad al-Anshari dan ‘Abdullah bin ‘Abd ar-Rahman bin Abi Tuwalah, dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya, dari Umar bin al-Khattab, ia berkata:

Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang penguasa ini yang tunduk kepadanya leher-leher dan merendah kepadanya badan-badan, apakah hakikatnya?

Beliau bersabda: “Ia adalah naungan Allah…”

Lalu al-Albani berkata:

قُلْتُ: وَهٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ جِدًّا، آفَتُهُ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ الْغَفَّارِ وَهُوَ الْفَقِيمِيُّ، قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ فِي «الْكَامِلِ» (275 / 1): «لَيْسَ بِالثَّبْتِ فِي الْحَدِيثِ، حَدَّثَ بِالْمُنَاكِيرِ فِي فَضَائِلِ عَلِيٍّ وَغَيْرِهِ، وَهُوَ مُتَّهَمٌ إِذَا رَوَى شَيْئًا مِنَ الْفَضَائِلِ، وَكَانَ السَّلَفُ يَتَّهِمُونَهُ بِأَنَّهُ يَضَعُ فِي فَضَائِلِ أَهْلِ الْبَيْتِ، وَفِي مَثَالِبِ غَيْرِهِمْ».

“Sanad ini sangat lemah, cacatnya ada pada ‘Amr bin ‘Abd al-Ghaffar, yaitu al-Faqimi. Ibnu ‘Adi berkata dalam al-Kamil (1/275): “Ia tidak kuat dalam hadits, meriwayatkan hadits-hadits munkar dalam keutamaan Ali dan selainnya, dan ia tertuduh apabila meriwayatkan sesuatu tentang keutamaan. Para ulama salaf menuduhnya bahwa ia membuat-buat hadits tentang keutamaan Ahlul Bait dan celaan terhadap selain mereka.”

===

HADITS KE TUJUH

Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam Tarikh Baghdad wa Dzuyuluhu 17/72:

Dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Sa’id bin al-Musayyib, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ الضَّعِيفُ، وَبِهِ يَنْتَصِرُ الْمَظْلُومُ، وَمَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung bagi orang yang lemah, dan dengannya orang yang dizalimi memperoleh pertolongan. Barang siapa memuliakan penguasa Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat.”

Lihat juga hadits ini dalam: at-Targhib wa at-Tarhib 3/169, Majma’ az-Zawaid 4/96, dan al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 604 dan 475.

Hadits ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ no. 3352.

Al-Albani berkata dalam As-Silsilah adh-Dha’ifah 4/161 no. 1663:

قُلْتُ: وَهٰذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ، رِجَالُهُ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ رِجَالُ مُسْلِمٍ، إِلَّا أَنَّ أَحْمَدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هٰذَا، قَدْ طَعَنُوا فِيهِ، وَلِذٰلِكَ أَوْرَدَهُ الذَّهَبِيُّ فِي «الضُّعَفَاءِ وَالْمَتْرُوكِينَ».

“Aku katakan: Sanad ini lemah. Para perawinya semuanya tsiqah, yaitu perawi-perawi Muslim, kecuali Ahmad bin ‘Abd ar-Rahman ini, yang telah dikritik oleh para ulama, sehingga Adz-Dzahabi memasukkannya dalam kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin.

===***====

MAKNA HADITS:

Abu al-Fadhl ‘Iyadh al-Busti yang wafat tahun 544 H berkata dalam kitab Masyariq al-Anwar ‘ala Shihah al-Atsar 1/328:

قَوْلُهُ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ» أَيْ خَاصَّتُهُ، وَقِيلَ: سِتْرُهُ، وَقِيلَ: عِزُّهُ، وَقَدْ يَكُونُ بِمَعْنَى الرَّاحَةِ وَالنَّعِيمِ، كَمَا قِيلَ: عَيْشٌ ظَلِيلٌ، أَيْ طَيِّبٌ، وَمِنْهُ الْحَدِيثُ الْآخَرُ فِي الْجَنَّةِ: شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا، كَذَا قِيلَ: فِي ذِرَاهَا وَكَنَفِهَا، وَيَحْتَمِلُ أَنْ مَعْنَاهُ فِي رَوْحِهَا وَنَعِيمِهَا.

‘Sabda beliau : “penguasa adalah naungan Allah di bumi” maksudnya adalah orang yang memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya. Ada yang mengatakan maksudnya adalah perlindungan-Nya. Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah kemuliaan-Nya. Bisa juga bermakna kenyamanan dan kenikmatan, sebagaimana dikatakan “kehidupan yang teduh”, yaitu kehidupan yang baik. Termasuk dalam hal ini hadits lain tentang pohon di surga yang seorang penunggang berjalan di bawah naungannya; dikatakan maksudnya di dalam lindungan dan penjagaannya, atau bisa juga bermakna dalam kenyamanan dan kenikmatannya’.

Demikian pula dikatakan oleh Abu Ishaq Ibnu Qarqol yang wafat tahun 569 H dalam kitab Mathali’ al-Anwar ‘ala Shihah al-Atsar 3/305:

قَوْلُهُ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ» أَيْ: خَاصَّتُهُ، وَقِيلَ: سِتْرُهُ، وَقِيلَ: عِزُّهُ.

وَقَدْ يَكُونُ: الرَّاحَةُ وَالنَّعِيمُ، كَمَا يُقَالُ: عَيْشٌ ظَلِيلٌ، أَيْ: طَيِّبٌ، وَمِنْهُ فِي ظِلِّ شَجَرَةِ الْجَنَّةِ: «يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا خَمْسَمِائَةَ عَامٍ» أَيْ: فِي ذِرَاهَا وَكَنَفِهَا، أَوْ رَاحَتِهَا وَنَعِيمِهَا.

Sabda beliau : “penguasa adalah naungan Allah di bumi” maksudnya adalah orang yang memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya. Ada yang mengatakan maksudnya perlindungan-Nya, dan ada yang mengatakan kemuliaan-Nya.

Bisa juga bermakna kenyamanan dan kenikmatan, sebagaimana dikatakan “kehidupan yang teduh”, yaitu kehidupan yang baik. Termasuk dalam hal ini naungan pohon di surga: “seorang penunggang berjalan di bawah naungannya selama lima ratus tahun” (HR. Bukhari no. 3252 dan Muslim no. 2826), yaitu dalam lindungan dan penjagaannya, atau dalam kenyamanan dan kenikmatannya.

Imam Fakhruddin ar-Razi berkata dalam Mafatih al-Ghaib 10/108:

"قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ: «‌السُّلْطَانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّه ‌فِي ‌الْأَرْضِ»

فَإِذَا كَانَ الظِّلُّ عِبَارَةً عَنِ الرَّاحَةِ كَانَ الظَّلِيلُ كِنَايَةً عَنِ الْمُبَالَغَةِ الْعَظِيمَةِ فِي الرَّاحَةِ، هَذَا مَا يَمِيلُ إِلَيْهِ خَاطِرِي، وَبِهَذَا الطَّرِيقِ يَنْدَفِعُ سُؤَالُ مَنْ يَقُولُ: إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْجَنَّةِ شَمْسٌ تُؤْذِي بِحَرِّهَا فَمَا فَائِدَةُ وَصْفِهَا بِالظِّلِّ الظَّلِيلِ. وَأَيْضًا نَرَى فِي الدُّنْيَا أَنَّ الْمَوَاضِعَ الَّتِي يَدُومُ الظِّلُّ فِيهَا وَلَا يَصِلُ نُورُ الشَّمْسِ إِلَيْهَا يَكُونُ هَوَاؤُهَا عَفِنًا فَاسِدًا مُؤْذِيًا فَمَا مَعْنَى وَصْفُ هَوَاءِ الْجَنَّةِ بِذَلِكَ لِأَنَّ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ الَّذِي لَخَّصْنَاهُ تَنْدَفِعُ هَذِهِ الشُّبُهَاتُ".

Nabi bersabda: “penguasa adalah naungan Allah di bumi.” Jika yang dimaksud dengan naungan adalah kenyamanan, maka ungkapan “naungan yang teduh” merupakan kiasan untuk menunjukkan tingkat kenyamanan yang sangat tinggi. Inilah yang cenderung kepada pemahamanku.

Dengan penjelasan ini, hilanglah keraguan orang yang mengatakan: jika di surga tidak ada matahari yang menyakiti dengan panasnya, maka apa faedah penyifatan dengan “naungan yang teduh”?

Demikian pula kita melihat di dunia bahwa tempat-tempat yang terus-menerus teduh dan tidak terkena sinar matahari, udaranya menjadi busuk dan membahayakan. Maka apa makna penyifatan udara surga dengan hal itu? Dengan penjelasan yang telah kami ringkas ini, semua syubhat tersebut dapat terjawab.

Ibnu al-Atsir berkata dalam an-Nihayah 3/160:

«‌السُّلطانُ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ» لِأَنَّهُ يدفَعُ الأذَى عَنِ النَّاسِ كَمَا يَدْفَع الظِّلُّ أَذَى حَرِّ الشمسِ. وَقَدْ يُكَنَّى بالظِّلِّ عَنِ الكَنَف والناحِية".

Sabda beliau : “Penguasa adalah naungan Allah di bumi”, karena ia menolak gangguan dari manusia sebagaimana naungan menolak panas matahari. Terkadang kata naungan juga digunakan sebagai kiasan untuk perlindungan dan sisi penjagaan.

Ibnu al-Jauzi berkata dalam Mir’at az-Zaman 4/390:

قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَلْهُوفٍ». وَاخْتَلَفُوا فِيهِ، فَقَالَ قَوْمٌ: هَذَا مَثَلٌ، لِأَنَّ الظِّلَّ رَاحَةٌ يَسْتَرِيحُ إِلَيْهَا كُلُّ مُتْعَبٍ، وَكَذَا السُّلْطَانُ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} أَيْ: رَاحَةٌ دَائِمَةٌ، وَمِنْهُ ظِلُّ الشَّجَرَةِ.

وَقَالَ آخَرُونَ: الظِّلُّ عَامٌّ، وَكَذَا السُّلْطَانُ عَامٌّ، وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: الظِّلُّ لَا يَدُومُ، وَكَذَا السُّلْطَانُ لَا يَدُومُ. وَقَالَ سَهْلٌ: أَظْهَرَ اللَّهُ آثَارَ الْهَيْبَةِ فِي الْأَرْضِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: عَلَى الْكَعْبَةِ بَهَاءَهُ، وَعَلَى الْقُرْآنِ هَيْبَتَهُ، وَعَلَى الْقُلُوبِ نُورَهُ، وَعَلَى السُّلْطَانِ ظِلَّهُ. قَالَ: وَإِنَّمَا يَكُونُ السُّلْطَانُ فِي ظِلِّ اللَّهِ إِذَا كَانَ عَادِلًا صَالِحًا جَوَادًا مُتَوَاضِعًا، أَمَّا إِذَا كَانَ ظَالِمًا فَاجِرًا جَبَانًا بَخِيلًا قَاسِيًا مُتَجَبِّرًا مُتَكَبِّرًا، فَإِنَّهُ يَكُونُ سَمُومًا وَعَذَابًا لَا ظِلًّا.

Sabda beliau : “penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung bagi setiap orang yang membutuhkan.” Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Sebagian mengatakan ini adalah perumpamaan, karena naungan adalah tempat kenyamanan yang menjadi tempat istirahat bagi setiap orang yang lelah, demikian pula penguasa menjadi tempat berlindung bagi orang yang terzalimi. Termasuk dalam hal ini firman Allah: “dan naungan yang terbentang luas” (Al-Waqi’ah: 30), yaitu kenyamanan yang terus-menerus, seperti naungan pohon.

Sebagian lain mengatakan bahwa naungan bersifat umum, demikian pula penguasa bersifat umum. Sahl bin ‘Abdullah berkata: naungan itu tidak kekal, demikian pula penguasa tidak kekal. Ia juga berkata: Allah menampakkan pengaruh kewibawaan di bumi pada empat hal: pada Ka’bah dengan keagungannya, pada Al-Qur’an dengan kewibawaannya, pada hati dengan cahayanya, dan pada penguasa dengan naungan-Nya.

Ia berkata: penguasa itu berada dalam naungan Allah apabila ia adil, saleh, dermawan, dan tawadhu. Adapun jika ia zalim, fajir, penakut, kikir, keras, sombong, dan angkuh, maka ia menjadi panas yang menyengat dan azab, bukan naungan.

Al-Munawi berkata dalam Faidh al-Qadir 4/142 no. 4815:

«السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ» لِأَنَّهُ يَدْفَعُ الْأَذَى عَنِ النَّاسِ كَمَا يَدْفَعُ الظِّلُّ حَرَّ الشَّمْسِ، وَقَدْ يُكَنَّى بِالظِّلِّ عَنِ الْكَنَفِ وَالنَّاحِيَةِ، ذَكَرَهُ ابْنُ الْأَثِيرِ، وَهَذَا تَشْبِيهٌ بَدِيعٌ سَتَقِفُ عَلَى وَجْهِهِ، وَأَضَافَهُ إِلَى اللَّهِ تَشْرِيفًا لَهُ، كَيَدِ اللَّهِ وَنَاقَةِ اللَّهِ، وَإِيذَانًا بِأَنَّهُ ظِلٌّ لَيْسَ كَسَائِرِ الظِّلَالِ، بَلْ لَهُ شَأْنٌ وَمَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِاللَّهِ، بِمَا جَعَلَهُ خَلِيفَةً فِي أَرْضِهِ يَنْشُرُ عَدْلَهُ وَإِحْسَانَهُ فِي عِبَادِهِ، وَلَمَّا كَانَ فِي الدُّنْيَا ظِلَّ اللَّهِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَلْهُوفٍ، اسْتَوْجَبَ أَنْ يَأْوِي فِي الْآخِرَةِ إِلَى ظِلِّ الْعَرْشِ.

Sabda beliau : “Penguasa adalah naungan Allah di bumi”, karena ia menolak gangguan dari manusia sebagaimana naungan menolak panas matahari. Terkadang naungan juga digunakan sebagai kiasan untuk perlindungan dan sisi penjagaan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Atsir. Ini adalah perumpamaan yang indah. Penyandarannya kepada Allah adalah sebagai bentuk pemuliaan, seperti ungkapan “tangan Allah” dan “unta Allah”, serta menunjukkan bahwa naungan ini bukan seperti naungan lainnya, tetapi memiliki kedudukan khusus di sisi Allah, karena Allah menjadikannya sebagai khalifah di bumi untuk menyebarkan keadilan dan kebaikan di antara hamba-hamba-Nya. Karena di dunia ia menjadi naungan Allah tempat berlindung bagi setiap yang membutuhkan, maka ia berhak mendapatkan naungan di akhirat di bawah naungan ‘Arsy.

===***===

SYARAH HADITS:

Ar-Raghib al-Ashbahani yang wafat tahun 502 H dalam tafsirnya 1/505 berkata:

الْمُلْكُ لِمَنْ جَمَعَ أَرْبَعَةَ مَعَانٍ:

«الْعِلْمُ، وَالْقُدْرَةُ، وَالسِّيَاسَةُ، وَعَدَدًا يُسَاوِيهِمْ»، وَبَيَانُ ذٰلِكَ أَنَّ الْأَمْرَ بِالْعِلْمِ مُدَبَّرٌ، وَبِالْقُدْرَةِ يُنَفَّذُ، وَبِالسِّيَاسَةِ يُنَظَّمُ، وَبِالْجَمْعِ يُحْفَظُ، وَلِهٰذَا كَانَ اللَّهُ الْمَلِكَ الْحَقَّ، وَمَنْ عَدَلَهُ فَكَالظِّلِّ لَهُ، وَلِهٰذَا قَالَ: «السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ» أَيْ خَلِيفَتُهُ، وَمَحْفُوظٌ كَالظِّلِّ الَّذِي يُظِلُّ، وَلَا يَصِحُّ اسْتِحْقَاقُهُ إِلَّا لِمَنْ قَامَ بِحَقِّهِ عَلَى مُقْتَضَى الشَّرْعِ، وَلِأَجْلِ تَعَذُّرِ الْقِيَامِ بِذِكْرِهِ التَّسْمِيَةُ بِهِ، لِأَنَّ الْمُتَسَمِّيَ بِالْمُلْكِ مَا لَمْ يُوفِ حَقَّهُ لَابِسُ ثَوْبَيْ زُورٍ، وَتَكَلَّفَ لِلنَّاسِ التَّقَوُّلَ بِهِ، وَسَأَلَهُمْ إِيَّاهُ الْمُلْكَ لِيُقَابِلُوا مَعَهُ لِعِلْمِهِمْ أَنَّ مَنْزِلَةَ الْمَلِكِ مِنَ الرَّعِيَّةِ مَنْزِلَةُ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ الَّذِي لَا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِهِ

وَعَلَى ذٰلِكَ قَالَ الشَّاعِرُ:

كَأَنَّ الْخَلْقَ رَكْبٌ فِي مِثَالٍ .. لَهُ جَسَدٌ وَأَنْتَ عَلَيْهِ رَأْسٌ

Kekuasaan (pemimpinan) itu hanya layak bagi orang yang menghimpun empat perkara:

Ilmu, kemampuan, politik (pengaturan), dan jumlah pendukung yang memadai.

Penjelasannya adalah bahwa suatu urusan dengan ilmu akan terkelola, dengan kemampuan akan terlaksana, dengan politik akan tertata, dan dengan adanya pengikut akan terjaga. Oleh karena itu Allah adalah Raja yang sebenar-benarnya, dan selain-Nya hanyalah seperti bayangan bagi-Nya.

Karena itu dalam sebuah hadits dikatakan: “Penguasa adalah naungan Allah di bumi,” yaitu sebagai wakil-Nya, dan terjaga seperti bayangan yang menaungi.

Tidak sah seseorang menyandang kedudukan sebagai penguasa kecuali jika ia menunaikan hak dan kewajiban-nya sesuai tuntunan syariat. Karena sulitnya menunaikan hak tersebut, maka penyebutan dengan gelar itu menjadi berat, sebab orang yang menamai dirinya sebagai raja sementara tidak menunaikan haknya, maka ia seperti mengenakan dua pakaian dusta, dan memaksakan manusia untuk menyebutnya demikian serta meminta mereka mengakuinya sebagai raja, agar mereka memperlakukannya sesuai kedudukannya, karena mereka mengetahui bahwa kedudukan raja bagi rakyat seperti kedudukan kepala bagi tubuh yang tidak akan tegak tanpa kepala.

Seorang penyair berkata:

Seakan-akan manusia adalah satu tubuh dalam satu bentuk

yang memiliki jasad, dan engkau adalah kepala di atasnya. (Selesai)

Abu Manshur Ats-Tsa’alibi rahimahullah ta'ala berkata dalam kitab At-Tamtsil wal-Muhadharah halaman 130:

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ. السُّلْطَانُ يَأْخُذُ أَخْذَ الْأَسَدِ، وَيَغْضَبُ غَضَبَ الصَّبِيِّ. مَنْ عَصَى السُّلْطَانَ فَقَدْ أَطَاعَ الشَّيْطَانَ. الْمُلْكُ عَقِيمٌ. لَا أَرْحَامَ بَيْنَ الْمُلُوكِ وَبَيْنَ أَحَدٍ. جَاوِرْ مَلِكًا أَوْ بَحْرًا. لِلْمُلُوكِ بَدَوَاتٌ. الْمُلْكُ يَبْقَى عَلَى الْكُفْرِ، وَلَا يَبْقَى عَلَى الظُّلْمِ. سُكْرُ السُّلْطَانِ أَشَدُّ مِنْ سُكْرِ الشَّرَابِ. شَرُّ السَّلَاطِينِ مَنْ خَافَهُ الْبَرِيءُ. السُّلْطَانُ كَالنَّارِ، إِنْ بَاعَدْتَهَا بَطَلَ نَفْعُهَا، وَإِنْ قَارَبْتَهَا عَظُمَ ضَرَرُهَا. الْمُلُوكُ يُؤَدَّبُونَ بِالْهِجْرَانِ، وَلَا يُعَاقَبُونَ بِالْحِرْمَانِ. إِقْبَالُ السُّلْطَانِ تَعَبٌ وَفِتْنَةٌ، وَإِعْرَاضُهُ حَسْرَةٌ وَمَذَلَّةٌ.

صَاحِبُ السُّلْطَانِ كَرَاكِبِ الْأَسَدِ، يَهَابُهُ النَّاسُ، وَهُوَ لِمَرْكَبِهِ أَهْيَبُ. أَجْرَأُ النَّاسِ عَلَى الْأَسَدِ أَكْثَرُهُمْ لَهُ رُؤْيَةً. السُّلْطَانُ سُوقٌ، مَا نَفَقَ فِيهَا جُلِبَ إِلَيْهَا. السُّلْطَانُ إِذَا قَالَ لِعُمَّالِهِ: هَاتُوا، فَقَدْ قَالَ لَهُمْ: خُذُوا. النَّاسُ عَلَى دِينِ مُلُوكِهِمْ. مَنْ مَلَكَ اسْتَأْثَرَ. إِذَا تَغَيَّرَ السُّلْطَانُ تَغَيَّرَ الزَّمَانُ. عَفْوُ الْمَلِكِ أَبْقَى لِلْمُلْكِ. مَنْ خَدَمَ السُّلْطَانَ خَدَمَهُ الْإِخْوَانُ. ثَلَاثَةٌ لَا أَمَانَ لَهَا: الْبَحْرُ، وَالسُّلْطَانُ، وَالزَّمَانُ. لِيَكُنِ السُّلْطَانُ عِنْدَكَ كَالنَّارِ، لَا تَدْنُ مِنْهَا إِلَّا عِنْدَ الْحَاجَةِ، فَإِذَا اقْتَبَسْتَ مِنْهَا فَعَلَى حَذَرٍ. أَدْوَمُ التَّعَبِ خِدْمَةُ السُّلْطَانِ. مَنْ أَكَلَ مِنْ مَالِ السُّلْطَانِ زَبِيبَةً أَدَّاهَا تَمْرَةً. مَنْ تَحَسَّى مَرَقَةَ السُّلْطَانِ احْتَرَقَتْ شَفَتَاهُ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ. مَثَلُ أَصْحَابِ السُّلْطَانِ كَقَوْمٍ رَقُوا جَبَلًا، ثُمَّ وَقَعُوا مِنْهُ، فَكَانَ أَبْعَدُهُمْ فِي الْمَرْقَى أَقْرَبَهُمْ إِلَى التَّلَفِ. مَثَلُ السُّلْطَانِ كَالْجَبَلِ الصَّعْبِ الَّذِي فِيهِ كُلُّ ثَمَرَةٍ طَيِّبَةٍ، وَكُلُّ سَبُعٍ حَطُومٍ، فَالِارْتِقَاءُ إِلَيْهِ شَدِيدٌ، وَالْمُقَامُ فِيهِ أَشَدُّ. الْمَالُ لِلْمُلُوكِ فَرِيضَةٌ، وَلِلرَّعِيَّةِ نَافِلَةٌ.

Sultan adalah naungan Allah di bumi.

Sultan mengambil seperti singa mengambil, dan marah seperti anak kecil marah. Barang siapa bermaksiat kepada sultan maka ia telah menaati setan.

Kekuasaan itu tidak mengenal hubungan kekerabatan. Tidak ada hubungan nasab antara para raja dengan siapa pun. Bertetangga dengan raja seperti bertetangga dengan laut. Para raja memiliki sifat-sifat keras. Kekuasaan bisa tetap bersama kekufuran, tetapi tidak akan tetap bersama kezaliman.

Mabuknya penguasa lebih dahsyat daripada mabuk minuman. Seburuk-buruk penguasa adalah yang ditakuti oleh orang yang tidak bersalah.

Sultan itu seperti api, jika engkau menjauhinya hilang manfaatnya, jika engkau mendekatinya besar bahayanya. Para raja dididik dengan dijauhi, bukan dengan dihalangi. Mendekatnya penguasa adalah keletihan dan fitnah, berpalingnya adalah penyesalan dan kehinaan.

Orang yang dekat dengan penguasa seperti penunggang singa, orang-orang takut kepadanya, namun ia sendiri lebih takut terhadap tunggangannya. Orang yang paling berani terhadap singa adalah yang paling sering melihatnya. Sultan itu seperti pasar, apa yang laku di sana akan dibawa ke sana. Jika penguasa berkata kepada para pegawainya “berikanlah”, maka seakan ia berkata “ambillah”.

Manusia mengikuti agama para penguasanya.

Siapa yang berkuasa akan cenderung memonopoli.

Jika penguasa berubah maka zaman pun berubah. Pemaafan penguasa lebih menjaga kekuasaannya. Siapa yang melayani penguasa, akan dilayani oleh saudara-saudaranya.

Tiga perkara yang tidak ada keamanan padanya: laut, penguasa, dan waktu. Jadikan penguasa seperti api bagimu, jangan dekati kecuali saat kebutuhan, dan jika engkau mengambil manfaat darinya maka dengan penuh kehati-hatian.

Pekerjaan paling melelahkan adalah melayani penguasa. Siapa yang memakan harta penguasa sedikit, maka ia akan menggantinya banyak.

Siapa yang mencicipi kuah penguasa, akan terbakar bibirnya meskipun setelah waktu lama. Perumpamaan orang-orang di sekitar penguasa seperti orang yang naik gunung lalu jatuh darinya, yang paling tinggi naiknya justru paling dekat dengan kebinasaan.

Penguasa seperti gunung yang sulit didaki, di dalamnya ada buah yang baik dan juga binatang buas, naik kepadanya sulit dan tinggal di dalamnya lebih sulit.

Harta bagi raja adalah kewajiban, sedangkan bagi rakyat adalah tambahan. (Selesai)

===***===

KEUTAMAAN PENGUASA

Abu Bakr al-Khawarizmi Muhammad bin al-‘Abbas yang wafat tahun 383 H berkata dalam kitab Mufid al-‘Ulum wa Mubid al-Humum halaman 409 dan seterusnya:

(الْبَابُ الثَّانِي فِي فَضِيلَةِ السُّلْطَانِ)

اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: أَرَادَ بِهِ الْأُمَرَاءَ وَالْمُلُوكَ.

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: الْإِمَامُ مِنْكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ، فَلَا تَضْرِبْهُ إِنْ ضَرَبَكَ، وَلَا تَسُبَّهُ إِنْ سَبَّكَ.

وَقَالَ لِمُعَاذٍ: أَطِعْ كُلَّ أَمِيرٍ، وَصَلِّ خَلْفَ كُلِّ إِمَامٍ، وَلَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي.

وَقَالَ: السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا عَدَلَ كَانَ لَهُ الْأَجْرُ، وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الشُّكْرُ، وَإِذَا جَارَ كَانَ عَلَيْهِ الْإِثْمُ، وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الصَّبْرُ.

وَقَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، عَدْلُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً، قِيَامِ لَيْلِهَا وَصِيَامِ نَهَارِهَا. يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، جَوْرُ سَاعَةٍ فِي حُكْمِ اللَّهِ أَشَدُّ وَأَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ مَعَاصِي سِتِّينَ سَنَةً.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ

قَالَ: لَوْلَا السُّلْطَانُ لَأَكَلَ النَّاسُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَلَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، قُلُوبُ الْمُلُوكِ بِيَدِي، فَأَيُّ عِبَادٍ أَطَاعُونِي حَوَّلْتُ قُلُوبَ مُلُوكِهِمْ عَلَيْهِمْ بِالرَّأْفَةِ وَالرَّحْمَةِ، وَأَيُّ عِبَادٍ عَصَوْنِي حَوَّلْتُ قُلُوبَ مُلُوكِهِمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّخَطِ وَالنِّقْمَةِ، فَسَامُوهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ، وَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلَكِنِ اشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ، أَكْفِكُمْ أَمْرَ مُلُوكِكُمْ.

وَعَنْ بَعْضِهِمْ: أَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى حُرَّاسًا، فَحُرَّاسُهُ فِي السَّمَاءِ الْمَلَائِكَةُ، وَحُرَّاسُهُ فِي الْأَرْضِ الَّذِينَ يَأْخُذُونَ الدِّيوَانَ.

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ فَقَدْ أَكْرَمَ اللَّهَ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فَقَدْ أَهَانَ اللَّهَ تَعَالَى.

(Bab kedua tentang keutamaan penguasa)

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.

Para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para penguasa dan para raja.

Nabi bersabda: “Pemimpin di antara kalian kedudukannya seperti orang tua, maka janganlah kalian memukulnya jika ia memukul kalian dan janganlah kalian mencelanya jika ia mencela kalian.

Beliau juga bersabda kepada Mu’adz: “Taatilah setiap pemimpin, shalatlah di belakang setiap imam, dan janganlah engkau mencela seorang pun dari para sahabatku.”

Beliau juga bersabda: “Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung setiap orang yang terzalimi dari hamba-Nya. Jika ia adil, maka baginya pahala dan atas rakyat kewajiban bersyukur. Jika ia zalim, maka atasnya dosa dan atas rakyat kewajiban bersabar.”

Beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, keadilan satu saat lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun, berupa shalat malam dan puasa di siang harinya. Wahai Abu Hurairah, kezaliman satu saat dalam menetapkan hukum Allah lebih berat dan lebih besar di sisi Allah daripada kemaksiatan enam puluh tahun.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi.” Beliau berkata: “Kalau bukan karena penguasa, niscaya manusia akan saling memakan satu sama lain, dan kalau bukan karena para ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang.”

Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku. Hati para raja berada di tangan-Ku. Siapa saja dari hamba-Ku yang taat kepada-Ku, Aku akan memalingkan hati para raja kepada mereka dengan kasih sayang dan rahmat. Dan siapa saja yang bermaksiat kepada-Ku, Aku akan memalingkan hati para raja kepada mereka dengan kemurkaan dan hukuman, sehingga mereka merasakan azab yang buruk. Maka janganlah kalian sibuk mendoakan keburukan atas para penguasa, tetapi sibukkanlah diri kalian dengan dzikir dan merendahkan diri kepada-Ku, niscaya Aku akan mencukupkan urusan para penguasa bagi kalian.”

Sebagian ulama berkata: ‘Sesungguhnya Allah memiliki para penjaga. Penjaga-Nya di langit adalah para malaikat, dan penjaga-Nya di bumi adalah mereka yang mengurus catatan-catatan’.

Nabi bersabda: “Barang siapa memuliakan penguasa Allah, maka ia telah memuliakan Allah. Dan barang siapa menghinakan penguasa Allah, maka ia telah menghinakan Allah Ta’ala.” [Selesai]

Abu Sa’d Al-Aabi rahimahullah ta'ala berkata dalam kitab Natsr Ad-Durr fi Al-Muhadharat 1/176:

وَقَالَ ﷺ: «مَا مِنْ أَحَدٍ أَفْضَلُ مَنْزِلَةً مِنْ إِمَامٍ إِنْ قَالَ صَدَقَ، وَإِنْ حَكَمَ عَدَلَ، وَإِنِ اسْتُرْحِمَ رَحِمَ».

وَقَالَ: «إِنَّ السُّلْطَانَ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا عَدَلَ كَانَ لَهُ الْأَجْرُ، وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الشُّكْرُ، وَإِذَا جَارَ كَانَ عَلَيْهِ الْإِصْرُ، وَعَلَى الرَّعِيَّةِ الصَّبْرُ». وَ«إِذَا جَارَتِ الْوُلَاةُ قَحَطَتِ السَّمَاءُ».

Dan Nabi bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih tinggi kedudukannya daripada seorang imam yang jika berbicara jujur, jika memutuskan hukum berlaku adil, dan jika dimintai kasih sayang maka ia menyayangi.”

Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya sultan adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung setiap orang yang terzalimi dari hamba-Nya. Jika ia adil maka baginya pahala dan atas rakyat kewajiban bersyukur. Jika ia zalim maka atasnya dosa dan atas rakyat kewajiban bersabar.” Dan: “Jika para penguasa berlaku zalim maka langit akan menahan hujan.”

Imam Al-Mawardi rahimahullah ta'ala berkata dalam kitab Adab Ad-Dunya wad-Din halaman 134:

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْأَدَبُ أَدَبَانِ: أَدَبُ شَرِيعَةٍ وَأَدَبُ سِيَاسَةٍ. فَأَدَبُ الشَّرِيعَةِ مَا أَدَّى الْفَرْضَ، وَأَدَبُ السِّيَاسَةِ مَا عَمَرَ الْأَرْضَ. وَكِلَاهُمَا يَرْجِعُ إلَى الْعَدْلِ الَّذِي بِهِ سَلَامَةُ السُّلْطَانِ، وَعِمَارَةُ الْبُلْدَانِ؛ لِأَنَّ مَنْ تَرَكَ الْفَرْضَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ، وَمَنْ خَرَّبَ الْأَرْضَ فَقَدْ ظَلَمَ غَيْرَهُ. وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ حُمَيْدٍ:

مَا صِحَّةٌ أَبَدًا بِنَافِعَةٍ … حَتَّى يَصِحَّ الدِّينُ وَالْخُلُقُ

وَأَمَّا الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: فَهِيَ سُلْطَانٌ قَاهِرٌ تَتَأَلَّفُ مِنْ رَهْبَتِهِ الْأَهْوَاءُ الْمُخْتَلِفَةُ، وَتَجْتَمِعُ لِهَيْبَتِهِ الْقُلُوبُ الْمُتَفَرِّقَةُ، وَتَكُفُّ بِسَطْوَتِهِ الْأَيْدِي الْمُتَغَالِبَةُ، وَتَمْتَنِعُ مِنْ خَوْفِهِ النُّفُوسُ الْعَادِيَةُ؛ لِأَنَّ فِي طِبَاعِ النَّاسِ مِنْ حُبِّ الْمُغَالَبَةِ عَلَى مَا آثَرُوهُ وَالْقَهْرِ لِمَنْ عَانَدُوهُ، مَا لَا يَنْكَفُّونَ عَنْهُ إلَّا بِمَانِعٍ قَوِيٍّ، وَرَادِعٍ مَلِيٍّ. وَقَدْ أَفْصَحَ الْمُتَنَبِّي بِذَلِكَ فِي قَوْلِهِ:

لَا يَسْلَمُ الشَّرَفُ الرَّفِيعُ مِنْ الْأَذَى … حَتَّى يُرَاقَ عَلَى جَوَانِبِهِ الدَّمُ

«السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ يَأْوِي إلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ» .

وَرُوِيَ عَنْهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: «إنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ أَكْثَرَ مِمَّا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ» . وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: «إنَّ لِلَّهِ حُرَّاسًا فِي السَّمَاءِ وَحُرَّاسًا فِي الْأَرْضِ، فَحُرَّاسُهُ فِي السَّمَاءِ الْمَلَائِكَةُ، وَحُرَّاسُهُ فِي الْأَرْضِ الَّذِينَ يَقْبِضُونَ أَرْزَاقَهُمْ يَذُبُّونَ عَنْ النَّاسِ» .

وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: «الْإِمَامُ الْجَائِرُ خَيْرٌ مِنْ الْفِتْنَةِ، وَكُلٌّ لَا خَيْرَ فِيهِ، وَفِي بَعْضِ الشَّرِّ خَيْرٌ» . وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «سُبَّتْ الْعَجَمُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: لَا تَسُبُّوهَا فَإِنَّهَا عَمَّرَتْ بِلَادَ اللَّهِ تَعَالَى فَعَاشَ فِيهَا عِبَادُ اللَّهِ تَعَالَى» . وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: السُّلْطَانُ فِي نَفْسِهِ إمَامٌ مَتْبُوعٌ، وَفِي سِيرَتِهِ دِينٌ مَشْرُوعٌ، فَإِنْ ظَلَمَ لَمْ يَعْدِلْ أَحَدٌ فِي حُكْمٍ، وَإِنْ عَدَلَ لَمْ يَجْسُرْ أَحَدٌ عَلَى ظُلْمٍ.

وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: إنَّ أَقْرَبَ الدَّعَوَاتِ مِنْ الْإِجَابَةِ دَعْوَةُ السُّلْطَانِ الصَّالِحِ، وَأَوْلَى الْحَسَنَاتِ بِالْأَجْرِ وَالثَّوَابِ أَمْرُهُ وَنَهْيُهُ فِي وُجُوهِ الْمَصَالِحِ.

فَهَذِهِ آثَارُ السُّلْطَانِ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا وَمَا يَنْتَظِمُ بِهِ أُمُورُهَا. ثُمَّ لِمَا فِي السُّلْطَانِ مِنْ حِرَاسَةِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالذَّبِّ عَنْهُمَا وَدَفْعِ الْأَهْوَاءِ مِنْهُ، وَحِرَاسَةِ التَّبْدِيلِ فِيهِ، وَزَجْرِ مَنْ شَذَّ عَنْهُ بِارْتِدَادٍ، أَوْ بَغَى فِيهِ بِعِنَادٍ، أَوْ سَعَى فِيهِ بِفَسَادٍ. وَهَذِهِ أُمُورٌ إنْ لَمْ تَنْحَسِمْ عَنْ الدِّينِ بِسُلْطَانٍ قَوِيٍّ وَرِعَايَةٍ وَافِيَةٍ أَسْرَعَ فِيهِ تَبْدِيلُ ذَوِي الْأَهْوَاءِ، وَتَحْرِيفُ ذَوِي الْآرَاءِ، فَلَيْسَ دِينٌ زَالَ سُلْطَانُهُ إلَّا بُدِّلَتْ أَحْكَامُهُ، وَطُمِسَتْ أَعْلَامُهُ. وَكَانَ لِكُلِّ زَعِيمٍ فِيهِ بِدْعَةٌ، وَلِكُلِّ عَصْرٍ فِيهِ وِهَايَةُ أَثَرٍ.

كَمَا أَنَّ السُّلْطَانَ إنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى دِينٍ تَجْتَمِعُ بِهِ الْقُلُوبُ حَتَّى يَرَى أَهْلُهُ الطَّاعَةَ فِيهِ فَرْضًا، وَالتَّنَاصُرَ عَلَيْهِ حَتْمًا، لَمْ يَكُنْ لِلسُّلْطَانِ لُبْثٌ وَلَا لِأَيَّامِهِ صَفْوٌ، وَكَانَ سُلْطَانَ قَهْرٍ، وَمَفْسَدَةَ دَهْرٍ. وَمِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ وَجَبَ إقَامَةُ إمَامٍ يَكُونُ سُلْطَانَ الْوَقْتِ وَزَعِيمَ الْأُمَّةِ لِيَكُونَ الدِّينُ مَحْرُوسًا بِسُلْطَانِهِ، وَالسُّلْطَانُ جَارِيًا عَلَى سُنَنِ الدِّينِ وَأَحْكَامِهِ.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُعْتَزِّ: الْمُلْكُ بِالدِّينِ يَبْقَى، وَالدِّينُ بِالْمُلْكِ يَقْوَى. وَاخْتَلَفَ النَّاسُ هَلْ وَجَبَ ذَلِكَ بِالْعَقْلِ أَوْ بِالشَّرْعِ. فَقَالَتْ طَائِفَةٌ وَجَبَ بِالْعَقْلِ؛ لِأَنَّهُ مَعْلُومٌ مِنْ حَالِ الْعُقَلَاءِ عَلَى اخْتِلَافِهِمْ، الْفَزَعُ إلَى زَعِيمٍ مَنْدُوبٍ لِلنَّظَرِ فِي مَصَالِحِهِمْ. وَذَهَبَ آخَرُونَ إلَى وُجُوبِهِ بِالشَّرْعِ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالْإِمَامِ الْقِيَامُ بِأُمُورٍ شَرْعِيَّةٍ، كَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ، وَقَدْ كَانَ يَجُوزُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا بِأَنْ لَا يُرَادَ التَّعَبُّدُ بِهَا فَبِأَنْ يَجُوزَ الِاسْتِغْنَاءِ عَمَّا يُرَادُ إلَّا لَهَا أَوْلَى

Sebagian ahli hikmah berkata: adab itu ada dua: adab syariat dan adab politik. Adab syariat adalah yang menunaikan kewajiban, dan adab politik adalah yang memakmurkan bumi. Keduanya kembali kepada keadilan, yang dengannya keselamatan kekuasaan dan kemakmuran negeri terwujud. Karena siapa yang meninggalkan kewajiban berarti menzalimi dirinya, dan siapa yang merusak bumi berarti menzalimi orang lain.

Dan berkata Sa’id bin Humaid:

Tidak ada kesehatan yang bermanfaat sama sekali sampai agama dan akhlak menjadi baik.

Adapun prinsip kedua adalah adanya kekuasaan yang kuat, yang dengan kewibawaannya berbagai hawa nafsu yang berbeda dapat disatukan, dengan kehebatannya hati yang tercerai-berai dapat berkumpul, dengan kekuasaannya tangan-tangan yang saling bermusuhan dapat dicegah, dan dengan rasa takut kepadanya jiwa-jiwa yang melampaui batas dapat ditahan. Karena dalam tabiat manusia terdapat kecenderungan untuk saling mengalahkan dan menindas, yang tidak akan terhenti kecuali dengan penghalang yang kuat dan pencegah yang tegas.

Al-Mutanabbi telah mengungkapkan hal itu dalam syairnya:

“Kemuliaan yang tinggi tidak akan selamat dari gangguan, sampai darah tertumpah di sekelilingnya.”

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung setiap orang yang terzalimi.”

Dan diriwayatkan dari Nabi : “Sesungguhnya Allah mencegah (kejahatan) dengan kekuasaan lebih daripada dengan Al-Qur’an.”

Dan diriwayatkan dari Nabi : “Sesungguhnya Allah memiliki penjaga di langit dan penjaga di bumi. Penjaga di langit adalah para malaikat, dan penjaga di bumi adalah mereka yang menegakkan urusan manusia dan melindungi mereka.

Dan diriwayatkan dari Nabi : “Pemimpin yang zalim lebih baik daripada fitnah, dan keduanya tidak baik, namun dalam sebagian keburukan terdapat kebaikan.”

Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

Orang-orang non-Arab pernah dicela di hadapan Rasulullah , maka beliau melarang hal itu dan bersabda: “Janganlah kalian mencela mereka, karena mereka telah memakmurkan negeri-negeri Allah sehingga hamba-hamba Allah dapat hidup di dalamnya.”

Sebagian ahli sastra berkata: penguasa pada dirinya adalah imam yang diikuti, dan dalam perilakunya terdapat aturan yang dijadikan pedoman. Jika ia zalim maka tidak ada seorang pun yang akan adil, dan jika ia adil maka tidak ada seorang pun yang berani berbuat zalim.

Sebagian ahli sastra lainnya berkata: doa yang paling dekat untuk dikabulkan adalah doa pemimpin yang saleh, dan kebaikan yang paling layak mendapat pahala adalah perintah dan larangannya dalam perkara kemaslahatan.

Inilah pengaruh kekuasaan dalam kehidupan dunia dan keteraturan urusannya. Dan karena dalam kekuasaan terdapat penjagaan agama dan dunia, perlindungan dari kerusakan, pencegahan hawa nafsu, serta penjagaan dari perubahan dan penyimpangan, serta penindakan terhadap orang yang menyimpang, maka jika semua itu tidak dijaga dengan kekuasaan yang kuat, niscaya agama akan cepat berubah oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan diputarbalikkan oleh orang-orang yang menyimpang. Tidak ada agama yang hilang kekuasaannya kecuali akan berubah hukum-hukumnya dan hilang tanda-tandanya.

Demikian pula jika kekuasaan tidak berdiri di atas agama yang menyatukan hati, sehingga masyarakat memandang ketaatan kepadanya sebagai kewajiban, maka kekuasaan itu tidak akan bertahan lama dan akan menjadi kekuasaan yang menindas serta sumber kerusakan.

Dari dua sisi inilah wajib adanya seorang imam yang menjadi pemimpin zaman dan pemimpin umat, agar agama terjaga dengan kekuasaannya dan kekuasaan berjalan sesuai dengan aturan agama.

Abdullah bin Al-Mu’tazz berkata: “Kekuasaan akan tetap dengan agama, dan agama akan kuat dengan kekuasaan.

Para ulama berbeda pendapat, apakah kewajiban ini ditetapkan oleh akal atau oleh syariat. Sebagian mengatakan wajib secara akal, karena diketahui bahwa manusia membutuhkan pemimpin untuk mengatur kemaslahatan mereka. Yang lain mengatakan wajib secara syariat, karena tujuan adanya imam adalah menegakkan perkara-perkara syariat seperti hudud dan penunaian hak-hak. Jika hal itu mungkin ditinggalkan, maka lebih mungkin lagi meninggalkan hal-hal yang menjadi sarana baginya. (Selesai)

 ===***====

BERKUASA ADALAH KEWAJIBAN YANG PALING AGUNG

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta'ala berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa 28/390:

يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلَايَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّينِ؛ بَلْ لَا قِيَامَ لِلدِّينِ وَلَا لِلدُّنْيَا إلَّا بِهَا. فَإِنَّ بَنِي آدَمَ لَا تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ إلَّا بِالِاجْتِمَاعِ لِحَاجَةِ بَعْضِهِمْ إلَى بَعْضٍ

وَلَا بُدَّ لَهُمْ عِنْدَ الِاجْتِمَاعِ مِنْ رَأْسٍ حَتَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُد مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ.

وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَد فِي الْمُسْنَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُونُونَ بِفَلَاةِ مِنْ الْأَرْضِ إلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ» فَأَوْجَبَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأْمِيرَ الْوَاحِدِ فِي الِاجْتِمَاعِ الْقَلِيلِ الْعَارِضِ فِي السَّفَرِ تَنْبِيهًا بِذَلِكَ عَلَى سَائِرِ أَنْوَاعِ الِاجْتِمَاعِ.

وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ وَلَا يَتِمُّ ذَلِكَ إلَّا بِقُوَّةِ وَإِمَارَةٍ.

وَكَذَلِكَ سَائِرُ مَا أَوْجَبَهُ مِنْ الْجِهَادِ وَالْعَدْلِ وَإِقَامَةِ الْحَجِّ وَالْجُمَعِ وَالْأَعْيَادِ وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ. وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ لَا تَتِمُّ إلَّا بِالْقُوَّةِ وَالْإِمَارَةِ؛ وَلِهَذَا رُوِيَ: «أَنَّ ‌السُّلْطَانَ ‌ظِلُّ ‌اللَّهِ ‌فِي ‌الْأَرْضِ»

وَيُقَالُ «سِتُّونَ سَنَةً مِنْ إمَامٍ جَائِرٍ أَصْلَحُ مِنْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ بِلَا سُلْطَانٍ» . وَالتَّجْرِبَةُ تُبَيِّنُ ذَلِكَ. وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ - كالْفُضَيْل بْنِ عِيَاضٍ وَأَحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ وَغَيْرِهِمَا - يَقُولُونَ: لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُجَابَةٌ لَدَعَوْنَا بِهَا لِلسُّلْطَانِ.

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا: أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَأَنْ تَنَاصَحُوا مِنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

وَقَالَ: «ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأُمُورِ وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ» . رَوَاهُ أَهْلُ السُّنَنِ.

وَفِي الصَّحِيحِ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ الدِّينُ النَّصِيحَةُ الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قَالُوا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ» .

فَالْوَاجِبُ اتِّخَاذُ الْأَمَارَةِ دِينًا وَقُرْبَةً يَتَقَرَّبُ بِهَا إلَى اللَّهِ؛ فَإِنَّ التَّقَرُّبَ إلَيْهِ فِيهَا بِطَاعَتِهِ وَطَاعَةُ رَسُولِهِ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ".

Wajib diketahui bahwa kepemimpinan dalam mengatur urusan manusia termasuk kewajiban terbesar dalam agama. Bahkan agama dan dunia tidak akan tegak kecuali dengannya. Hal itu karena Bani Adam tidak akan sempurna kemaslahatannya kecuali dengan hidup berkelompok, karena sebagian mereka membutuhkan sebagian yang lain.

Dan ketika mereka berkumpul, pasti membutuhkan seorang pemimpin. Sampai sampai Nabi bersabda: “Jika tiga orang keluar dalam suatu perjalanan, hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi bersabda: “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu tempat di bumi kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” Maka Nabi mewajibkan pengangkatan seorang pemimpin dalam perkumpulan kecil yang bersifat sementara dalam safar, sebagai isyarat bagi seluruh bentuk perkumpulan lainnya.

Dan karena Allah ta’ala telah mewajibkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan.

Demikian pula seluruh kewajiban seperti jihad, keadilan, pelaksanaan haji, shalat Jumat, hari raya, menolong orang yang terzalimi, dan penegakan hudud, tidak akan sempurna kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan. Oleh karena itu diriwayatkan: “Sesungguhnya sultan adalah naungan Allah di bumi.”

Dan dikatakan: “Enam puluh tahun di bawah pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.” Pengalaman menunjukkan hal tersebut.

Karena itu para salaf seperti Al-Fudhail bin ‘Iyadh dan Ahmad bin Hanbal serta selain keduanya berkata: “Seandainya kami memiliki satu doa yang mustajab, niscaya kami akan mendoakannya untuk penguasa.”

Dan Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara: kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh kepada tali Allah seluruhnya dan tidak berpecah belah, serta kalian saling menasihati terhadap orang yang Allah jadikan memimpin urusan kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dan beliau bersabda: “Tiga perkara yang hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya: ikhlas dalam beramal karena Allah, menasihati para pemimpin, dan berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin, karena doa mereka meliputi orang-orang di belakang mereka.” Diriwayatkan oleh para ahli sunan.

Dan dalam hadits shahih beliau bersabda: “Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.” Mereka bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.”

Maka wajib menjadikan kepemimpinan sebagai bagian dari agama dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena mendekatkan diri kepada-Nya melalui kepemimpinan dengan menaati Allah dan Rasul-Nya termasuk amalan yang paling utama. (Selesai)

Abu Bakr al-Khawarizmi Muhammad bin al-‘Abbas yang wafat tahun 383 H berkata dalam kitab Mufid al-‘Ulum wa Mubid al-Humum halaman 409 dan seterusnya:

«فَصْلٌ: اعْلَمْ أَنَّ السُّلْطَنَةَ مِنْ مُهِمَّاتِ الْأُمُورِ وَمُهِمَّاتِ الْإِسْلَامِ، وَالسُّلْطَنَةُ تَلُو الْخِلَافَةَ وَأُخْتُهَا، وَالْخِلَافَةُ تَلُو النُّبُوَّةَ، وَلَا قِوَامَ لِلدِّينِ إِلَّا بِإِمَامٍ مُطَاعٍ يُقِيمُ الْحُدُودَ، وَيُؤَمِّنُ السُّبُلَ، وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ، وَيُوصِلُهَا إِلَى مُسْتَحِقِّيهَا، وَالْخِلَافَةُ وَاجِبَةٌ شَرْعًا، وَقَالَ قَوْمٌ: وَاجِبَةٌ عَقْلًا.

وَالسُّلْطَنَةُ وَالْإِمَامَةُ قَدْ تَكُونُ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ، وَقَدْ تَتَعَيَّنُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ، فَتَتَقَدَّمُ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ، وَالسَّيْفُ وَالْقَلَمُ تَوْأَمَانِ، وَهُمَا رَضِيعَا لِبَانٍ، وَفَرَسَا رِهَانٍ، لَا قِوَامَ لِأَحَدِهِمَا إِلَّا بِالْآخَرِ، فَمَنْ أَطَاعَ السُّلْطَانَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ أَهَانَهُ فَقَدْ أَهَانَ اللَّهَ، عَرَفَهُ مَنْ عَرَفَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ». (انتهى)

PASAL: Ketahuilah bahwa kekuasaan adalah termasuk perkara yang sangat penting, bahkan termasuk perkara penting dalam agama Islam. Kekuasaan itu mengikuti khilafah dan menjadi saudaranya, sedangkan khilafah mengikuti kenabian. Tidak akan tegak agama kecuali dengan adanya pemimpin yang ditaati, yang menegakkan hudud, mengamankan jalan, menunaikan hak-hak, dan menyampaikannya kepada yang berhak. Khilafah itu wajib secara syariat. Sebagian ulama mengatakan wajib secara akal.

Kekuasaan dan kepemimpinan terkadang termasuk fardhu kifayah, dan dalam sebagian kondisi bisa menjadi kewajiban yang harus dilakukan secara langsung, sehingga didahulukan atas ibadah-ibadah sunnah.

Pedang dan pena adalah dua hal yang saling berpasangan, keduanya seperti dua saudara yang menyusu dari satu sumber dan seperti dua kuda yang berlomba; tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lain.

Barang siapa menaati penguasa, maka ia telah menaati Allah, dan barang siapa menghinakannya, maka ia telah menghinakan Allah. Hal ini diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Wallahu a’lam. (Selesai).

Berkata Ibnu Abi Zamanin al-Maliki yang wafat tahun 399 H dalam kitab Usul as-Sunnah halaman 275:

"وَمِنْ قَوْلِ أَهْلِ اَلسُّنَّةِ «أَنَّ ‌اَلسُّلْطَانَ ‌ظِلُّ ‌اَللَّهِ ‌فِي ‌اَلْأَرْضِ»، وَأَنَّهُ مَنْ لَمْ يَرَ عَلَى نَفْسِهِ سُلْطَانًا بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا فَهُوَ عَلَى خِلَافِ اَلسُّنَّةِ.

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {أَطِيعُوا اَللَّهَ وَأَطِيعُوا اَلرَّسُولَ وَأُولِي اَلْأَمْرِ مِنْكُمْ} وَفَسَّرَ أَهْلُ اَلْعِلْمِ هَذِهِ اَلْآيَةَ بِتَفَاسِيرَ تَئُولُ إِلَى مَعْنًى وَاحِدٍ إِذَا تَعَقَّبَهَا مُتَعَقِّبٌ.

كَانَ اَلْحَسَنُ يَقُولُ: هُمْ اَلْعُلَمَاءُ، وَكَانَ اِبْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: «هُمْ أُمَرَاءُ اَلسَّرَايَا كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا، وَأَمَرَهُمْ أَنْ لَا يُخَالِفُوهُ وَأَنْ يَسْمَعُوا لَهُ وَيُطِيعُوا»

وَكَانَ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ يَقُولُ: «هُمْ اَلْوُلَاةُ أَلَّا تَرَى أَنَّهُ بَدَأَ بِهِمْ فَقَالَ: إِنَّ اَللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اَلْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا يَعْنِي: اَلْفَيْءَ وَالصَّدَقَاتِ اَلَّتِي اِسْتَأْمَنَهُمْ عَلَى جَمْعِهَا وَقَسْمِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ اَلنَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ».

قَالَ: فَأَمَرَ اَلْوُلَاةَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا نَحْنُ فَقَالَ: أَطِيعُوا اَللَّهَ وَأَطِيعُوا اَلرَّسُولَ وَأُولِي اَلْأَمْرِ مِنْكُمْ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيكُمْ مَالٌ، قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ: كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ اَلْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا عَاقِبَةً".

Di antara perkataan Ahlus Sunnah adalah bahwa penguasa adalah bayangan Allah di bumi, dan bahwa siapa saja yang tidak mengakui adanya pemimpin atas dirinya, baik pemimpin itu saleh maupun fajir, maka ia berada di atas penyelisihan terhadap sunnah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” Para ulama menafsirkan ayat ini dengan berbagai tafsir yang semuanya kembali kepada satu makna apabila diteliti.

Al-Hasan berkata: mereka adalah para ulama.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: mereka adalah para pemimpin pasukan. Dahulu Rasulullah apabila mengutus suatu pasukan, beliau mengangkat seorang pemimpin atas mereka dan memerintahkan agar mereka tidak menyelisihinya, serta agar mereka mendengar dan taat kepadanya.

Zaid bin Aslam berkata: mereka adalah para penguasa. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah memulai dengan mereka ketika berfirman: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” yaitu harta fai’ dan sedekah yang mereka diberi amanah untuk mengumpulkan dan membagikannya, “dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, maka hendaklah kalian berhukum dengan adil.”

Ia berkata: maka Allah memerintahkan para penguasa, kemudian beralih kepada kita dengan firman-Nya: “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian,” jika tidak ada harta di tengah kalian.

Kemudian Allah berfirman: “Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, maka yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.”

Lalu Ibnu Abi Zamanin al-Maliki berkata:

فَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِوُلَاةِ اَلْأَمْرِ أَمْرٌ وَاجِبٌ وَمَهْمَا قَصَّرُوا فِي ذَاتِهِمْ فَلَمْ يَبْلُغُوا اَلْوَاجِبَ عَلَيْهِمْ، غَيْرَ أَنَّهُمْ يُدْعَوْنَ إِلَى اَلْحَقِّ، وَيُؤْمَرُونَ بِهِ، وَيَدُلُّونَ عَلَيْهِ، فَعَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَى رَعَايَاهُمْ مَا حُمِّلُوا مِنْ اَلسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لَهُمْ

Maka mendengar dan taat kepada para pemimpin adalah perkara yang wajib. Bagaimanapun mereka memiliki kekurangan pada diri mereka sehingga tidak mencapai kewajiban yang semestinya mereka tunaikan, tetap saja mereka harus diajak kepada kebenaran, diperintahkan dengannya, dan ditunjukkan kepadanya.

Maka atas mereka tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, dan atas rakyat mereka tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka berupa mendengar dan taat kepada para pemimpin tersebut.

Abu Abdullah Muhammad al-Qal’i asy-Syafi’i yang wafat tahun 630 H dalam kitabnya Tahdzib ar-Riyasah wa Tartib as-Siyasah halaman 74 berkata:

"بَابٌ فِي ذِكْرِ وُجُوبِ الْإِمَامَةِ وَالِاحْتِيَاجِ إِلَى السُّلْطَانِ وَعَدَمِ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ قَاطِبَةً إِلَّا مَنْ لَا يُعْتَدُّ بِخِلَافِهِ عَلَى وُجُوبِ نَصْبِ الْإِمَامِ عَلَى الْإِطْلَاقِ، وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي أَوْصَافِهِ وَشَرَائِطِهِ

فَأَقُولُ: نِظَامُ أَمْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا مَقْصُودٌ، وَلَا يَحْصُلُ ذٰلِكَ إِلَّا بِإِمَامٍ مَوْجُودٍ، لَوْ نُقِلَ بِوُجُوبِ الْإِمَامَةِ لَأَدَّى ذٰلِكَ إِلَى دَوَامِ الِاخْتِلَافِ وَالْهَرْجِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ إِمَامٌ مُطَاعٌ لَانْثَلَمَ شَرَفُ الْإِسْلَامِ وَضَاعَ، لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلْأُمَّةِ إِمَامٌ قَاهِرٌ لَتَعَطَّلَتِ الْمَحَارِيبُ وَالْمَنَاظِرُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ لِلْوَارِدِ وَالصَّادِرِ، لَوْ خَلَا عَصْرٌ مِنْ إِمَامٍ لَتَعَطَّلَتْ فِيهِ الْأَحْكَامُ وَضَاعَتِ الْأَيْتَامُ وَلَمْ يُحَجَّ الْبَيْتُ الْحَرَامُ، لَوْلَا الْأَئِمَّةُ وَالْقُضَاةُ وَالسَّلَاطِينُ وَالْوُلَاةُ لَمَا نُكِحَتِ الْأَيَامَى وَلَا كُفِلَتِ الْيَتَامَى، لَوْلَا السُّلْطَانُ لَكَانَتِ النَّاسُ فَوْضَى وَلَأَكَلَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَفِي الْحَدِيثِ: السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُومٍ

وَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «مَا يَزَعُ اللَّهُ بِالسُّلْطَانِ أَكْثَرُ مِمَّا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ»، وَمَعْنَى يَزَعُ أَيْ يَمْنَعُ وَيَكُفُّ وَيَرْدَعُ،

وَقَالَ بَعْضُ الْقُدَمَاءِ: «الدِّينُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ، وَقِيلَ: الدِّينُ أَسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، فَمَا لَا أَسَّ لَهُ فَمَهْدُومٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ»

وَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ: «إِمَامٌ عَادِلٌ خَيْرٌ مِنْ مَطَرٍ وَابِلٍ، وَأَسَدٌ حَطُومٌ خَيْرٌ مِنْ سُلْطَانٍ غَشُومٍ، وَسُلْطَانٌ غَشُومٌ خَيْرٌ مِنْ فِتْنَةٍ تَدُومُ»

وَقَالَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ: «مَثَلُ الْإِسْلَامِ وَالسُّلْطَانِ مِثْلُ عَمُودٍ وَفُسْطَاطٍ، فَالْفُسْطَاطُ الْإِسْلَامُ وَالْعَمُودُ السُّلْطَانُ وَالْأَوْتَادُ النَّاسُ، وَلَا يَصْلُحُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ»

وَقَالَ الْأَفْوَهُ الْأَوْدِيُّ:

(لَا يَصْلُحُ النَّاسُ فَوْضَى لَا سَرَاةَ لَهُمْ … وَلَا سَرَاةَ إِذَا جُهَّالُهُمْ سَادُوا)

(كَالْبَيْتِ لَا يُبْنَى إِلَّا لَهُ عُمُدٌ … وَلَا عَمُودَ إِذَا لَمْ تُرْسَ أَوْتَادُ)

(فَإِنْ تَجْتَمِعْ أَوْتَادٌ وَأَعْمِدَةٌ … وَسَاكِنٌ بَلَغُوا الْأَمْرَ الَّذِي كَادُوا)

وَقَالَ ابْنُ الْمُعْتَزِّ: «فَسَادُ الرَّعِيَّةِ بِلَا مَلِكٍ كَفَسَادِ الْجِسْمِ بِلَا رُوحٍ».

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: «السُّلْطَانُ زِمَامُ الْمِلَّةِ وَنِظَامُ الْجُمْلَةِ وَجَلَاءُ الْغُمَّةِ وَرِبَاطُ الْبَيْضَةِ وَعِمَادُ الْحَوْزَةِ».

وَقَالَ آخَرُ: «السُّلْطَانُ يُدَافِعُ عَنْ سَوَادِ الْأُمَّةِ بِبَيَاضِ الدَّعْوَةِ».

Bab: tentang kewajiban adanya imamah (kepemimpinan), kebutuhan terhadap penguasa, dan tidak bisa lepas darinya di setiap zaman.

Umat Islam telah bersepakat seluruhnya kecuali pihak yang tidak dianggap perselisihannya, tentang wajibnya mengangkat pemimpin (penguasa) secara mutlak, meskipun mereka berbeda pendapat dalam sifat dan syaratnya.

Aku katakan: teraturnya urusan agama dan dunia adalah tujuan, dan hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan adanya seorang imam. Jika kewajiban imamah tidak diakui, maka hal itu akan menyebabkan terus-menerusnya perselisihan dan kekacauan hingga hari kiamat. Jika manusia tidak memiliki pemimpin yang ditaati, maka kemuliaan Islam akan rusak dan hilang. Jika umat tidak memiliki imam yang berwibawa, maka masjid-masjid akan terbengkalai, jalan-jalan terputus bagi yang datang dan pergi. Jika suatu masa kosong dari imam, maka hukum-hukum akan terabaikan, anak-anak yatim akan terlantar, dan tidak akan dilaksanakan ibadah haji ke Baitul Haram.

Kalau bukan karena para imam, hakim, penguasa, dan para pejabat, niscaya para janda tidak akan dinikahi dan anak-anak yatim tidak akan terurus. Kalau bukan karena penguasa, manusia akan hidup dalam kekacauan dan sebagian mereka akan memakan sebagian yang lain.

Dalam hadits disebutkan: “Penguasa adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung setiap orang yang dizalimi.

Utsman radhiyallahu 'anhu berkata: “Apa yang Allah cegah dengan penguasa lebih besar daripada apa yang Dia cegah dengan Al-Qur’an.” Makna “mencegah” adalah menahan, menghalangi, dan mengendalikan.

Sebagian ulama terdahulu berkata: agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar.

Dikatakan pula: agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Apa yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, dan apa yang tidak memiliki penjaga akan hilang.

Amr bin al-Ash berkata: “Pemimpin yang adil lebih baik daripada hujan lebat, dan singa yang ganas lebih baik daripada penguasa yang zalim, dan penguasa yang zalim lebih baik daripada fitnah yang berkepanjangan.”

Ka’ab al-Ahbar berkata: Islam itu seperti tenda dan penguasa adalah tiangnya. Tenda itu adalah Islam, tiangnya adalah penguasa, dan pasaknya adalah manusia. Sebagian tidak akan baik tanpa sebagian yang lain.

Al-Afwah al-Awdi berkata:

“Tidak akan baik manusia dalam keadaan kacau tanpa pemimpin

dan tidak ada pemimpin jika orang-orang bodoh yang memimpin

Seperti rumah tidak akan berdiri kecuali dengan tiang

dan tidak ada tiang jika tidak ditancapkan pasak

Jika tiang dan pasak berkumpul

maka penghuni akan mencapai tujuan yang mereka inginkan”

Ibnu al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat tanpa raja seperti rusaknya tubuh tanpa ruh”.

Sebagian ahli balaghah berkata: “Penguasa adalah pengendali umat, penata keseluruhan, penghilang kesusahan, penjaga kekuatan, dan penopang wilayah. Yang lain berkata: penguasa membela mayoritas umat dengan kemurnian dakwah”. (Selesai)

Ibnu Al-Azraq Al-Gharnathi yang wafat tahun 896 H berkata dalam kitab Bada’i As-Suluk fi Thaba’i Al-Mulk 1/110:

وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْقُدَمَاءِ: لَوْ رُفِعَ السُّلْطَانُ مِنَ الْأَرْضِ مَا كَانَ لَهُ تَعَالَى فِي أَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ حَاجَةٍ.

“Oleh karena itu, sebagian ulama terdahulu berkata: seandainya kekuasaan (sulthan) lenyap dari bumi, niscaya tidak ada lagi bagi Allah Ta'ala kepentingan terhadap penduduk bumi”.

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar