Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MENELAAH FATWA BOLEH MENYEMBELIH HEWAN DAM HAJI DI LUAR MEKAH (DI NEGARA MASING-MASING)

MENELAAH FATWA BOLEHNYA MENYEMBELIH HEWAN DAM HAJI DI LUAR MEKAH

(DI NEGARA MASING-MASING)

----

Di Tulis Oleh Kang Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---

----

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN:
  • FATWA ULAMA KONTEMPORER YANG MEMBOLEHKAN MENYEMBELIH HEWAN DAM HAJI DI LUAR MEKAH (DI NEGARA MASING MASING).
  • FATWA BOLEH PERTAMA: DAR AL-IFTA AL-MASHRIYYAH (MESIR)
  • FATWA BOLEH KE DUA: MUHAMMADIYAH – ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA
  • PENDAPAT PARA FUQAHA 4 MADZHAB MENGENAI TEMPAT PENYEMBELIHAN DAM FIDYAH
  • PENDAPAT PERTAMA: MADZHAB MALIKI DAN MADZHAB HANAFI DALAM SALAH SATU PENDAPAT
  • PENDAPAT KEDUA: MADZHAB HANAFI DAN YANG MU’TAMAD DALAM MADZHAB SYAFI’I :
  • PENDAPAT KETIGA: MADZHAB HANBALI TERDAPAT RINCIAN MASALAH
  • FATWA DAR AL-IFTA MESIR TERDAHULU TAHUN 1957 M.

 ****

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Meneliti dan menelaah hukum menyembelih dam fidyah di luar tanah haram dan sebab-sebab wajibnya dam bagi jamaah haji

Hukum menyembelih dam fidyah di luar tanah haram, telah sampai kepada penulis sebuah pertanyaan yang berbunyi:

Apa hukum menyembelih dam fidyah di luar tanah haram?

Disebutkan bahwa seseorang bertekad menunaikan ibadah haji tahun ini, dan pertanyaannya adalah:

Apabila ia wajib membayar dam fidyah karena melakukan salah satu larangan ihram, atau meninggalkan salah satu kewajiban haji, apakah boleh menyembelihnya di luar tanah haram, khususnya di negerinya sendiri?

 ****

SEBAB-SEBAB WAJIBNYA DAM FIDYAH BAGI JAMAAH HAJI

Haji termasuk syiar Allah Ta’ala yang mencakup banyak manasik dan bentuk pendekatan diri kepada-Nya, yang beragam dalam kadar, sifat, dan tata cara pelaksanaannya. Karena keadaan para jamaah haji dalam melaksanakannya berbeda-beda sesuai kemampuan mereka menanggung kesulitannya, serta karena banyaknya hukum dan amalan yang berkaitan dengannya, dan setiap syiar ditentukan waktu, sifat, serta tempatnya; maka seorang jamaah haji terkadang mengalami sesuatu yang menghalanginya untuk menyempurnakan sebagian manasik, atau terjatuh dalam salah satu larangannya. Oleh sebab itu Allah Ta’ala mewajibkan fidyah sebagai penutup kekurangan dan sebagai tebusan atas pelanggaran larangan tersebut.

===

FIDYAH INI BERBEDA-BEDA SESUAI SEBAB YANG MEWAJIBKANNYA:

[*] Di antaranya:

Fidyah yang wajib karena melakukan salah satu larangan ihram, seperti mencukur rambut kepala dan memotong kuku, baik karena udzur maupun tanpa udzur; berdasarkan firman Allah Ta’ala:

﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ﴾

“Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hewan hadyu sampai ke tempat penyembelihannya. Barang siapa di antara kalian sakit atau ada gangguan di kepalanya, maka wajib atasnya fidyah berupa puasa, sedekah, atau nusuk.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Yang dimaksud nusuk adalah fidyah berupa sembelihan.

Dari Ka‘ab bin ‘Ujrah radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَرَّ بِهِ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ، فَقَالَ: «قَدْ آذَاكَ هَوَامُّ رَأْسِكَ؟» قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «احْلِقْ، ثُمَّ اذْبَحْ شَاةً نُسُكًا، أَوْ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، أَوْ أَطْعِمْ ثَلَاثَةَ آصُعٍ مِنْ تَمْرٍ عَلَى سِتَّةِ مَسَاكِينَ»

Bahwa Rasulullah melewatinya pada masa Hudaibiyah lalu bersabda: “Apakah kutu-kutu di kepalamu telah mengganggumu?” Ia menjawab: “Ya.”

Maka Nabi bersabda: “Cukurlah rambutmu, lalu sembelihlah seekor kambing sebagai nusuk, atau berpuasalah tiga hari, atau berilah makan tiga sha’ kurma kepada enam orang miskin.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih, Abu Dawud dalam As-Sunan, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, dan Ibnu Hibban dalam Ash-Shahih.

Para ulama telah berijma’ bahwa fidyah wajib atas orang yang melakukan hal yang mewajibkannya. Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (2/239, cet. Awqaf Maroko):

[وَأَجْمَعُوا أَنَّ الْفِدْيَةَ وَاجِبَةٌ عَلَى مَنْ حَلَقَ رَأْسَهُ مِنْ عُذْرٍ وَضَرُورَةٍ، وَأَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِيمَا نَصَّ اللهُ وَرَسُولُهُ عَلَيْهِ مِمَّا ذَكَرْنَا] اهـ.

“Para ulama sepakat bahwa fidyah wajib atas orang yang mencukur kepalanya karena udzur dan keadaan darurat, dan ia diberi pilihan pada hal-hal yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang telah kami sebutkan.”

Alauddin Al-Mardawi berkata dalam Tashhih Al-Furu’ (5/410, cet. Muassasah Ar-Risalah):

[أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ الْمُحْرِمَ مَمْنُوعٌ مِنْ أَخْذِ أَظْفَارِهِ، وَعَلَيْهِ الْفِدْيَةُ بِأَخْذِهَا] اهـ.

“Ahli ilmu telah sepakat bahwa orang yang berihram dilarang memotong kukunya, dan ia wajib membayar fidyah karena memotongnya.”

Apabila fidyah wajib atas orang yang memiliki udzur dalam melakukan larangan, maka lebih utama lagi wajib atas orang yang melakukannya tanpa udzur.

[*] Di antaranya:

Fidyah yang wajib karena melanggar aturan berburu, yaitu berupa jazā (denda), berdasarkan firman Allah Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾ [المائدة: 95]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan ketika kalian sedang berihram. Barang siapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan hewan yang dibunuh itu, yang diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka‘bah.” (QS. Al-Ma’idah: 95)

[*] Di antaranya:

Fidyah yang wajib karena ihshar (الإِحْصَارُ), yaitu terhalangnya seseorang untuk sampai ke Mekah guna melaksanakan manasik setelah berihram, karena suatu udzur seperti sakit atau sulitnya perjalanan; berdasarkan firman Allah Ta’ala:

﴿وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ﴾ [البقرة: 196]

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah. Jika kalian terhalang, maka sembelihlah hadyu yang mudah diperoleh.” (QS. Al-Baqarah: 196)

[*] Di antaranya:

Bahwa orang yang meninggalkan salah satu kewajiban haji, maka tidak mencukupinya — menurut pendapat yang menyatakan bahwa yang ditinggalkan itu wajib — kecuali dengan dam; berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau berkata:

"مَنْ نَسِيَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئًا، أَوْ تَرَكَهُ؛ فَلْيُهْرِقْ دَمًا"

“Barang siapa lupa sesuatu dari manasiknya atau meninggalkannya, maka hendaklah ia menyembelihkan darah (dam).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’, Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan dan Ma‘rifah Al-Atsar, dan lafaz ini miliknya.

 ====((*))====

FATWA ULAMA KONTEMPORER YANG MEMBOLEHKAN 
MENYEMBELIH HEWAN DAM HAJI DI LUAR MEKAH (DI NEGARA MASING MASING).

Ada sebagian negara-negara arab dan organisasi Islam di Indonesia yang para muftinya memfatwakan boleh bayar dam dan menyembelih dam haji dan umroh di negara masing-masing jemaah.

Diantara mereka yang memfatwakan boleh, adalah sbb:

Pertama: Dar al-Ifta al-Masyriiyyah (Mesir).

Kedua: Organisasi Islam Muhammadiyah di Indonesia:

Berikut ini uraian pernyataan masing-masing: 

****

FATWA BOLEH PERTAMA:
DAR AL-IFTA AL-MASHRIYYAH (MESIR)

Dar Al-Ifta Mesir menegaskan bolehnya menyembelih fidyah yang wajib atas jamaah haji, baik karena melakukan larangan ihram maupun meninggalkan salah satu kewajiban haji, di negeri asalnya ataupun di dalam tanah haram Makkah, tanpa terikat pada tempat tertentu.

Dar Al-Ifta menjelaskan melalui halaman resmi Facebook mereka bahwa fidyah juga boleh ditunaikan pada musim haji ataupun pada waktu lain sepanjang tahun.

Pendapat ini didasarkan pada pandangan ulama mazhab Maliki yang membolehkan penyembelihan fidyah karena gangguan (فِدْيَةُ الأَذَى) atau karena meninggalkan kewajiban, di waktu dan tempat mana saja.

Mereka juga menjelaskan bahwa tujuan fidyah adalah menutupi kekurangan yang terjadi dalam ibadah, sekaligus memperhatikan kemaslahatan fakir miskin di mana pun mereka berada.

Namun demikian, Dar Al-Ifta menegaskan pentingnya memastikan fidyah tersebut sampai kepada orang-orang yang berhak menerimanya, agar ibadah nusuk menjadi sah dan amal diterima.

Dar Al-Ifta juga mengajak para jamaah haji agar tetap berpegang pada sunnah Nabi dan berusaha menyempurnakan manasik haji, sambil memanfaatkan rukhsah syar’i yang diakui dalam mazhab-mazhab fikih.

Berikut ini kutipan-kitipan fatwa DAR AL-IFTA MESIR:

 ===

KUTIPAN FATWA DAR AL-IFTA MESIR KE 1:

Di kutip dari : Shoda el-Balad (صَدَى الْبَلَدِ) 15 Mei 2024 M

هَلْ تَجُوزُ الْفِدْيَةُ خَارِجَ الْحَرَمِ عِنْدَ فِعْلِ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ؟ دَارُ الْإِفْتَاءِ تَرُدُّ؟

Apakah fidyah boleh dilakukan di luar tanah haram ketika melakukan pelanggaran ihram? Dar al-Ifta menjawab?

Telah sampai kepada Dar al-Ifta Mesir sebuah pertanyaan yang berbunyi:

(إِذَا وَجَبَ عَلَيَّ دَمُ الْفِدْيَةِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ؛ هَلْ يَجُوزُ ذَبْحُ هٰذَا خَارِجَ الْحَرَمِ، وَفِي بَلَدِي تَحْدِيدًا؟)

“Apabila saya wajib membayar dam fidyah karena melakukan salah satu larangan ihram atau meninggalkan salah satu kewajiban haji, apakah boleh menyembelihnya di luar tanah haram, khususnya di negara saya?”

Dar al-Ifta menjawab :

إِنَّهُ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْفِدْيَةَ وَاجِبَةٌ عَلَى مَنْ أَتَى بِمُوجِبِهَا.

وَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَا يُجْزِئُ مِنْ مَكَانِ ذَبْحِ دَمِ الْفِدْيَةِ إِذَا كَانَ هٰذَا الدَّمُ قَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِهِ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِهِ لِوَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ.

وَالْمُخْتَارُ لِلْفَتْوَى أَنَّهُ لَا حَرَجَ شَرْعًا عَلَى الْحَاجِّ أَنْ يَذْبَحَ فِي بَلَدِهِ دَمَ الْفِدْيَةِ الَّذِي وَجَبَ عَلَيْهِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ، وَلَا يَتَقَيَّدُ ذٰلِكَ بِالْحَرَمِ وَلَا بِزَمَانِ الْحَجِّ.

وَهُوَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْمَالِكِيَّةُ حَيْثُ قَالُوا: إِنَّ دَمَ الْفِدْيَةِ يَجُوزُ ذَبْحُهُ خَارِجَ الْحَرَمِ مُطْلَقًا بِلا قَيْدٍ، وَلَمْ يُفَرِّقُوا فِي ذٰلِكَ بَيْنَ أَنْ تَكُونَ اسْتِبَاحَةُ الْمَحْظُورِ لِعُذْرٍ أَوْ لِغَيْرِ عُذْرٍ، كَمَا لَمْ يُخَصُّوا الذَّبْحَ بِمَكَانٍ دُونَ مَكَانٍ؛ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الذَّبْحَ هُنَا نُسُكٌ وَلَيْسَ بِهَدْيٍ، وَالنُّسُكُ يُذْبَحُ حَيْثُ شَاءَ.

قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْمَالِكِيُّ فِي «التَّمْهِيدِ»: «وَاخْتَلَفُوا فِي مَوْضِعِ الْفِدْيَةِ الْمَذْكُورَةِ؛ فَقَالَ مَالِكٌ: يُفْعَلُ ذٰلِكَ أَيْنَ شَاءَ؛ إِنْ شَاءَ بِمَكَّةَ، وَإِنْ شَاءَ بِبَلَدِهِ، وَذَبْحُ النُّسُكِ وَالْإِطْعَامُ وَالصِّيَامُ عِنْدَهُ سَوَاءٌ؛ يُفْعَلُ مَا شَاءَ مِنْ ذٰلِكَ أَيْنَ شَاءَ، وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ، وَالذَّبْحُ هُنَا عِنْدَ مَالِكٍ نُسُكٌ وَلَيْسَ بِهَدْيٍ، قَالَ: وَالنُّسُكُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ».

وَقَالَ الْعَلَّامَةُ الدَّرْدِيرُ الْمَالِكِيُّ فِي «الشَّرْحِ الصَّغِيرِ»: «وَلَا تَخْتَصُّ الْفِدْيَةُ بِأَنْوَاعِهَا الثَّلَاثَةِ بِمَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ؛ فَيَجُوزُ تَأْخِيرُهَا لِبَلَدِهِ أَوْ غَيْرِهِ فِي أَيِّ وَقْتٍ شَاءَ».

قَالَ الْعَلَّامَةُ الصَّاوِي مُحَشِّيًا عَلَيْهِ: «يَجُوزُ الصَّوْمُ أَوِ الْإِطْعَامُ أَوِ الذَّبْحُ فِي أَيِّ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ شَاءَ؛ فَلَا تَخْتَصُّ بِزَمَانٍ كَأَيَّامِ مِنًى، وَلَا بِمَكَانٍ كَمَكَّةَ أَوْ مِنًى».

Bahwa para ulama telah sepakat bahwa fidyah wajib atas orang yang melakukannya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang sah untuk penyembelihan dam fidyah apabila dam tersebut wajib karena pelanggaran ihram atau karena meninggalkan kewajiban haji.

Pendapat yang dipilih untuk fatwa adalah bahwa tidak ada larangan secara syariat bagi jamaah haji untuk menyembelih di negaranya dam fidyah yang wajib atas dirinya karena melakukan pelanggaran ihram atau meninggalkan kewajiban haji, dan hal itu tidak dibatasi oleh tanah haram maupun waktu haji.

Pendapat ini juga dipegang oleh mazhab Maliki, yang menyatakan bahwa dam fidyah boleh disembelih di luar tanah haram secara mutlak tanpa batasan. Mereka tidak membedakan apakah pelanggaran tersebut dilakukan karena udzur atau tanpa udzur, dan tidak pula membatasi tempat penyembelihan pada lokasi tertentu, karena penyembelihan dalam hal ini adalah nusuk (ibadah), bukan hadyu, dan nusuk boleh dilakukan di mana saja.

Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata dalam At-Tamhid: “Para ulama berbeda pendapat tentang tempat fidyah tersebut. Malik berkata: hal itu dilakukan di mana saja yang diinginkan; jika mau di Mekah atau di negerinya. Penyembelihan, memberi makan, dan puasa menurutnya sama saja; dilakukan di mana saja yang dikehendaki. Ini juga pendapat Mujahid. Penyembelihan di sini menurut Malik adalah nusuk, bukan hadyu, dan nusuk boleh dilakukan di mana saja.”

Al-‘Allamah Ad-Dardir Al-Maliki berkata dalam Asy-Syarh As-Shaghir: “Fidyah tidak terbatas pada tiga jenisnya dalam tempat atau waktu; sehingga boleh dilakukan di negerinya atau di tempat lain kapan saja yang diinginkan.”

Al-‘Allamah As-Sawi yang memberi catatan atasnya menjelaskan: “Maksudnya: boleh puasa, memberi makan, atau menyembelih di tempat atau waktu mana pun yang diinginkan, sehingga tidak terbatas pada waktu seperti hari-hari Mina, dan tidak pula pada tempat seperti Mekah atau Mina.”

----

KUTIPAN FATWA DAR AL-IFTA MESIR KE 2:

Di kutip dari : موقع نبض https://nabd.com › حكم-دم-ال...

حُكْمُ دَمِ الْفِدْيَةِ لِلْحَاجِّ.. هَلِ الذَّبْحُ خَارِجَ الْحَرَمِ وَفِي غَيْرِ مَوْسِمِ الْحَجِّ جَائِزٌ شَرْعًا؟

أَكَّدَتْ دَارُ الْإِفْتَاءِ أَنَّ الْحَاجَّ الَّذِي وَجَبَ عَلَيْهِ ذَبْحُ دَمِ الْفِدْيَةِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِهِ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِهِ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ.

لَا حَرَجَ عَلَيْهِ شَرْعًا فِي أَنْ يَذْبَحَ دَمَ الْفِدْيَةِ فِي بَلَدِهِ. وَأَوْضَحَتْ أَنَّ الشَّرْعَ لَا يَشْتَرِطُ أَنْ يَتِمَّ الذَّبْحُ فِي مَكَّةَ أَوْ فِي حُدُودِ الْحَرَمِ، بَلْ يَجُوزُ لِلْحَاجِّ أَدَاءُ هٰذَا الْوَاجِبِ فِي أَيِّ مَكَانٍ.

لَا شَرْطَ لِلذَّبْحِ فِي زَمَنِ الْحَجِّ أَوْ بَعْدَهُ

وَأَشَارَتْ دَارُ الْإِفْتَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُذْبَحَ دَمُ الْفِدْيَةِ خِلَالَ فَتْرَةِ الْحَجِّ نَفْسِهَا أَوْ بَعْدَهَا مُبَاشَرَةً، بَلْ يَجُوزُ لِلْحَاجِّ تَأْدِيَةُ هٰذَا الْوَاجِبِ فِي أَيِّ وَقْتٍ بَعْدَ ذٰلِكَ. وَهٰذَا التَّوْضِيحُ يَهْدِفُ إِلَى إِزَالَةِ اللَّبْسِ الَّذِي قَدْ يَقَعُ...

Hukum dam fidyah bagi jamaah haji: apakah penyembelihan di luar tanah haram dan di luar musim haji (musim haji) diperbolehkan secara syariat?

Dar Al-Ifta menegaskan bahwa jamaah haji yang wajib menyembelih dam fidyah karena melakukan pelanggaran larangan ihram, atau meninggalkan kewajiban haji.

Tidak ada masalah (boleh) secara syariat jika ia menyembelih dam tersebut di negerinya sendiri.

Dijelaskan bahwa syariat tidak mensyaratkan penyembelihan harus dilakukan di Makkah atau di dalam batas tanah haram, tetapi diperbolehkan bagi jamaah untuk menunaikan kewajiban ini di mana saja.

Tidak ada syarat harus disembelih pada waktu haji atau setelahnya

Dar Al-Ifta juga menjelaskan bahwa tidak disyaratkan dam fidyah harus disembelih pada masa pelaksanaan haji atau segera setelahnya, tetapi jamaah boleh melaksanakannya kapan saja setelah itu. Penjelasan ini bertujuan untuk menghilangkan kerancuan yang mungkin terjadi.

----

KUTIPAN FATWA DAR AL-IFTA MESIR KE 3:

[Di kutip dar: Facebook resmi Dar al-Ifta Mesir, 31 Mei 2025 M]

لَا حَرَجَ شَرْعًا عَلَى الْحَاجِّ أَنْ يَذْبَحَ فِي بَلَدِهِ دَمَ الْفِدْيَةِ الَّذِي وَجَبَ عَلَيْهِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ، وَلَا يُشْتَرَطُ الذَّبْحُ فِي الْحَرَمِ أَوْ خَارِجِهِ كَمَا لَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَتِمَّ الذَّبْحُ فِي زَمَنِ الْحَجِّ أَوْ بَعْدَهُ.

“Tidak ada larangan secara syariat bagi seorang jamaah haji untuk menyembelih di negerinya dam fidyah yang wajib atas dirinya karena melakukan salah satu larangan ihram atau meninggalkan salah satu kewajiban haji. Tidak disyaratkan penyembelihan dilakukan di tanah haram atau di luarnya, sebagaimana juga tidak disyaratkan harus dilakukan pada masa haji atau setelahnya”.

----

KUTIPAN FATWA DAR AL-IFTA MESIR KE 4:

[KE 3: Di kutip dari : فيتو 16 Juni 2023 H. https://www.vetogate.com ›]

حُكْمُ ذَبْحِ دَمِ الْفِدْيَةِ خَارِجَ الْحَرَمِ: وَانْتَهَتْ دَارُ الْإِفْتَاءِ عَبْرَ مَوْقِعِهَا الرَّسْمِيِّ إِلَى أَنَّهُ بِنَاءً عَلَى ذٰلِكَ وَفِي وَاقِعَةِ السُّؤَالِ: فَإِذَا وَجَبَ عَلَى الشَّخْصِ الْمَذْكُورِ دَمُ الْفِدْيَةِ بِسَبَبِ ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ؛ فَإِنَّهُ يَجُوزُ شَرْعًا ذَبْحُهُ خَارِجَ الْحَرَمِ؛ سَوَاءٌ فِي بَلَدِهِ أَوْ غَيْرِهِ.

“Hukum penyembelihan dam fidyah di luar tanah haram:

Dar al-Ifta melalui situs resminya menyimpulkan bahwa berdasarkan penjelasan tersebut, dalam kasus yang ditanyakan: apabila seseorang wajib membayar dam fidyah karena melakukan salah satu larangan ihram atau meninggalkan salah satu kewajiban haji, maka secara syar‘i diperbolehkan menyembelihnya di luar tanah haram, baik di negerinya maupun di tempat lain”.

Mereka berkata:

وَيَدْخُلُ فِي هٰذَا الْمَعْنَى: حُصُولُ كِفَايَةِ مَسَاكِينِ الْحَرَمِ بِمَا أُهْدِيَ إِلَيْهِمْ، وَأَوْلَى مِنْ ذٰلِكَ: إِذَا لَمْ يُوجَدْ فِيهِ مَسَاكِينُ فِي عَامِهِ ذٰلِكَ، أَوْ كَانُوا مِنَ الْقِلَّةِ بِحَيْثُ يَفُوقُ لَحْمُ الْهَدَايَا وَالدِّمَاءِ الْوَاجِبَةِ حَاجَتَهُمْ، مَعَ تَحَقُّقِ وُجُودِ الْمَسَاكِينِ فِي مَكَانٍ آخَرَ؛ لِأَنَّ «الْإِنْسَانَ مُقَدَّمٌ عَلَى الْمَكَانِ»، وَهُوَ «أَوْلَى عِنْدَ اللهِ مِنَ الْكَعْبَةِ الْبُنْيَانِ»؛ فَفِي الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ: «إِنَّ هٰذَا الْإِنْسَانَ بُنْيَانُ اللهِ» ذَكَرَهُ الزَّمَخْشَرِيُّ فِي "الْكَشَّافِ".

Dan termasuk dalam makna dam ini adalah tercapainya tujuan untuk memberi kecukupan bagi orang-orang miskin tanah haram dengan apa yang diinfaqkan kepada mereka. Bahkan lebih utama lagi jika pada tahun tersebut tidak ditemukan orang miskin di sana, atau jumlah mereka sangat sedikit sehingga daging hadyu dan dam yang wajib melebihi kebutuhan mereka, sementara di tempat lain terdapat orang-orang miskin; karena ada alasan berikut ini:

«الْإِنْسَانَ مُقَدَّمٌ عَلَى الْمَكَانِ»، وَهُوَ «أَوْلَى عِنْدَ اللهِ مِنَ الْكَعْبَةِ الْبُنْيَانِ»؛ فَفِي الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ: «إِنَّ هٰذَا الْإِنْسَانَ بُنْيَانُ اللَّهِ، مَلْعُونٌ مَنْ هَدَمَ بُنْيَانَهُ»

Manusia didahulukan atas tempat, dan manusia lebih utama di sisi Allah daripada bangunan Ka‘bah. Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya manusia ini adalah bangunan milik Allah. Terkutuk orang yang merobohkan bangunan-Nya.”

Sebagaimana disebutkan oleh Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf 1/551.

Az-Zaila’i berkata dalam Takrij Ahaadits al-Kasysyaaf 1/346 : “غَرِيبٌ جِدًّا”.

****

FATWA BOLEH KE DUA:
MUHAMMADIYAH – ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA

Di kutip dari Bolg:

الْجَمْعِيَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ فِي إِنْدُونِيسِيَا

https://ar.muhammadiyah.or.id › ...

·berbahasa Arab dengan judul:

الْمُحَمَّدِيَّةُ تُؤَكِّدُ جَوَازَ ذَبْحِ هَدْيِ الْحَجِّ خَارِجَ الْحَرَمِ بِشُرُوطٍ .. إِلى آخِرِه

26 شَوَّال 1447 ه

Terjemahannya sbb :

Muhammadiyah menegaskan bolehnya menyembelih hadyu haji di luar tanah haram dengan syarat-syarat tertentu

26 Syawal 1447 H (2026 M)

Yogyakarta — Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Syaikh Hamim Ilyas, memberikan penjelasan rinci mengenai fatwa terbaru terkait bolehnya penyembelihan hadyu haji di luar tanah haram. Penjelasan ini disampaikan pada hari Rabu (8/4).

Syaikh Hamim menjelaskan bahwa fatwa tersebut muncul sebagai jawaban atas banyak pertanyaan dari berbagai pihak, mulai dari anggota Muhammadiyah, pembimbing jamaah haji Indonesia, para pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan, hingga lembaga pemerintah seperti Kementerian Agama dan institusi penyelenggara haji.

Beliau berkata,

«أَصْدَرَ الْمَجْلِسُ هٰذِهِ الْفَتْوَى اسْتِجَابَةً لِطَلَبَاتٍ وَاسْتِفْسَارَاتٍ عَدِيدَةٍ مِنَ الْجُمْهُورِ».

“Majelis mengeluarkan fatwa ini sebagai respons terhadap banyak permintaan dan pertanyaan dari masyarakat.”

Beliau juga menjelaskan bahwa pembahasan mengenai fatwa ini telah berlangsung sejak tahun 2022, dan merupakan proses diskusi panjang yang berjalan hampir empat tahun. Bahkan, kajian tersebut sudah dimulai sejak masa kepemimpinan sebelumnya di Majelis Tarjih.

Setelah melalui serangkaian diskusi mendalam dan kajian ilmiah, Majelis Tarjih akhirnya memutuskan bolehnya memindahkan penyembelihan hewan hadyu jamaah haji dari tanah haram Makkah ke Indonesia dengan syarat-syarat tertentu.

----

TIGA SYARAT

ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ

Beliau menjelaskan bahwa ada tiga syarat utama yang membolehkan pemindahan penyembelihan hewan hadyu jamaah haji.

Pertama, apabila penyembelihan di tanah haram Makkah berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Beliau menyinggung banyaknya jumlah hewan yang disembelih selama musim haji yang bisa mencapai jutaan ekor, sehingga berpotensi mencemari air dan udara.

Beliau menjelaskan:

«إِنَّ ذَبْحَ أَعْدَادٍ كَبِيرَةٍ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ قَدْ يُسَبِّبُ التَّلَوُّثَ، سَوَاءً مِنَ الدَّمِ أَوْ مِنْ مُخَلَّفَاتِ الْحَيَوَانَاتِ».

“Penyembelihan hewan dalam jumlah besar dapat menyebabkan pencemaran, baik dari darah maupun limbah hewan.”

Kedua, adanya risiko hilangnya manfaat daging kurban. Dalam banyak kasus, menurut beliau, terdapat praktik penyembelihan yang tidak memanfaatkan daging secara optimal sehingga manfaat besar yang seharusnya diperoleh menjadi terbuang.

Padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa penyembelihan hadyu memiliki fungsi untuk menopang kehidupan, termasuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya protein hewani.

Beliau menegaskan:

«إِذَا لَمْ تُسْتَغَلَّ هٰذِهِ اللُّحُومُ فَإِنَّ الْإِمْكَانَاتِ الْكَبِيرَةَ لِتَحْسِينِ جَوْدَةِ حَيَاةِ الْإِنْسَانِ تُهْدَرُ».

“Jika daging-daging tersebut tidak dimanfaatkan, maka potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup manusia akan terbuang sia-sia.”

Ketiga, kebolehan ini berlaku apabila kemiskinan masih ada di negara asal seperti Indonesia dan kebutuhan pangan masyarakat belum terpenuhi. Dalam kondisi seperti itu, distribusi daging kurban secara lokal dianggap lebih bermanfaat.

Beliau menjelaskan bahwa fatwa ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hajj ayat 36, yang memerintahkan untuk memakan daging hadyu dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan, baik yang meminta maupun yang tidak meminta.

Ayat tersebut menunjukkan adanya alasan syariat, yaitu memenuhi kebutuhan pangan jamaah haji dan masyarakat di sekitar mereka.

Namun beliau menjelaskan bahwa kondisi saat ini telah berubah, karena kebutuhan pangan jamaah haji sudah terpenuhi melalui pelayanan dan fasilitas pemerintah. Oleh karena itu, alasan syariat tersebut tidak lagi sepenuhnya relevan.

Beliau juga menyinggung kaidah usul fikih:

«الْحُكْمُ يَعْتَمِدُ عَلَى وُجُودِ الْعِلَّةِ أَوْ عَدَمِهَا».

“Hukum itu berputar bersama illatnya, ada atau tidak adanya.”

Artinya, hukum bergantung pada keberadaan sebabnya. Maka apabila illat berubah, hukum pun dapat berubah.

----

TAFSIR KONTEKSTUAL DAN QARINAH SYAR‘I

التَّفْسِيرُ السِّيَاقِيُّ وَالْقَرِينَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Majelis Fatwa dalam fatwanya memberikan penafsiran kontekstual terhadap ungkapan ﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾, yang tidak hanya dipahami secara fisik sebagai membawa hewan ke Ka‘bah, tetapi juga sebagai simbol diterimanya ibadah oleh Allah.

Makna ini ditegaskan oleh firman Allah Ta‘ala:

﴿ لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ﴾

“Daging-daging dan darah-darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”

Selain itu, diperhatikan pula prinsip kemudahan dalam ibadah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa pelaksanaan hukum-hukum syariat dilakukan sesuai kemampuan dan kemudahan.

Syekh Hamim menegaskan bahwa kebolehan menyembelih hadyu di luar tanah haram bukanlah hal baru. Dalam kitab-kitab fikih disebutkan bahwa sejumlah ulama dari berbagai mazhab fikih membolehkan hal tersebut dengan syarat-syarat tertentu.

Beliau berkata:

«هٰذِهِ الْفَتْوَى لَيْسَتِ الْأُولَى، بَلْ هِيَ تَأْكِيدٌ يُرَاعِي الظُّرُوفَ الرَّاهِنَةَ».

“Fatwa ini bukanlah yang pertama, tetapi merupakan penegasan yang mempertimbangkan kondisi masa kini.”

Beliau juga menjelaskan bahwa penyembelihan pada masa Nabi tidak terbatas di sekitar Ka‘bah saja, tetapi juga meluas ke berbagai tempat di Makkah. Hal ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam penentuan tempat penyembelihan.

Dalam konteks masa kini, perluasan tersebut dapat dipahami lebih luas lagi hingga mencakup wilayah di luar tanah haram apabila dibutuhkan demi kemaslahatan umum.

Syekh Hamim menegaskan bahwa tujuan utama fatwa ini adalah mewujudkan manfaat terbesar dari hadyu haji bagi masyarakat. Beliau menekankan agar potensi besar dari sembelihan haji tidak disia-siakan, tetapi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Beliau berkata:

«يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ ذَبِيحَةُ الْحَجِّ وَسِيلَةً لِإِنْعَاشِ حَيَاةِ الْبَشَرِيَّةِ، لَا أَنْ تُهْدَرَ فَوَائِدُهَا».

“Hendaknya sembelihan haji menjadi sarana untuk menghidupkan kehidupan manusia, bukan justru menyia-nyiakan manfaatnya.” [KUTIPAN SELESAI]

 ===((*))===

PENDAPAT PARA FUQAHA 4 MADZHAB
MENGENAI TEMPAT PENYEMBELIHAN DAM FIDYAH

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai tempat yang sah untuk menyembelih dam fidyah apabila dam tersebut wajib karena seseorang melakukan salah satu larangan ihram, atau meninggalkan salah satu kewajiban haji.

****

PENDAPAT PERTAMA:
MADHAB MALIKI DAN MADZHAB HANAFI DALAM SALAH SATU PENDAPAT
Dam fidyah boleh disembelih di luar tanah haram secara mutlak tanpa batasan

 ----

Mazhab Maliki dan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi tentang tempat penyembelihan dam fidyah

Mazhab Hanafi dalam satu pendapat dan mazhab Maliki berpendapat bahwa dam fidyah boleh disembelih di luar tanah haram secara mutlak tanpa batasan. Mereka tidak membedakan apakah pelanggaran larangan ihram itu dilakukan karena udzur atau tanpa udzur, sebagaimana mereka juga tidak mengkhususkan penyembelihan pada satu tempat tertentu. Hal ini karena penyembelihan di sini dianggap sebagai nusuk (ibadah penyembelihan), bukan hadyu, dan nusuk boleh disembelih di mana saja yang dikehendaki.

Burhanuddin Ibnu Mazah Al-Hanafi berkata dalam Al-Muhith Al-Burhani fi Al-Fiqh An-Nu’mani (2/456, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah):

[وَلَوْ ذَبَحَ حَاجٌّ الْهَدْيَ ذَبَحَهُ فِي الْحَرَمِ، وَلَوْ ذَبَحَ خَارِجَ الْحَرَمِ: يُجْزِئُهُ، إِلَّا أَنَّهُ إِذَا سُرِقَ لَحْمُهُ بَعْدَ الذَّبْحِ وَقَدْ كَانَ الذَّبْحُ فِي الْحَرَمِ فَلَيْسَ عَلَيْهِ بَدَلُهُ، وَإِنْ كَانَ الذَّبْحُ خَارِجَ الْحَرَمِ فَعَلَيْهِ بَدَلُهُ إِذَا سُرِقَ؛ هٰكَذَا ذَكَرَهُ النَّاطِفِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي "أَجْنَاسِهِ"] اهـ.

“Jika seorang jamaah haji menyembelih hadyu, maka ia menyembelihnya di tanah haram. Jika ia menyembelih di luar tanah haram, maka tetap sah. Namun jika dagingnya dicuri setelah penyembelihan dan penyembelihan itu dilakukan di tanah haram, maka ia tidak wajib menggantinya. Tetapi jika penyembelihan dilakukan di luar tanah haram, maka ia wajib menggantinya jika dagingnya dicuri. Demikian yang disebutkan oleh An-Nathafi dalam kitabnya.”

Al-Muzhiri (w. 727 H) berkata dalam Al-Mafatih fi Syarh Al-Mashabih (3/298, cet. Awqaf Kuwait):

[وَكُلُّ دَمٍ وَجَبَ عَلَى الْمُحْرِمِ وَجَبَ ذَبْحُهُ فِي الْحَرَمِ، وَيُفَرَّقُ لَحْمُهُ عَلَى مَسَاكِينِ الْحَرَمِ؛ فَإِنْ ذَبَحَ خَارِجَ الْحَرَمِ فَأَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ، وَفِي قَوْلٍ: يَجُوزُ] اهـ.

“Setiap darah yang wajib atas orang yang ihram wajib disembelih di tanah haram, dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang miskin tanah haram. Jika disembelih di luar tanah haram, maka menurut pendapat yang paling sahih tidak sah, dan dalam satu pendapat: boleh.”

Hal ini juga dinukil oleh Al-Ghazali dari Imam Abu Hanifah dalam Al-Wasith fi Al-Mazhab (2/712):

[وَأَمَّا الْمَكَانُ: فَيَخْتَصُّ جَوَازُ الْإِرَاقَةِ بِالْحَرَمِ، خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ] اهـ.

“Adapun tempatnya: maka kebolehan penyembelihan khusus di tanah haram, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.”

Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata dalam At-Tamhid (2/240, cet. Awqaf Maroko):

[وَاخْتَلَفُوا فِي مَوْضِعِ الْفِدْيَةِ الْمَذْكُورَةِ؛ فَقَالَ مَالِكٌ: يُفْعَلُ ذٰلِكَ أَيْنَ شَاءَ؛ إِنْ شَاءَ بِمَكَّةَ، وَإِنْ شَاءَ بِبَلَدِهِ، وَذَبْحُ النُّسُكِ وَالْإِطْعَامِ وَالصِّيَامِ عِنْدَهُ سَوَاءٌ؛ يَفْعَلُ مَا شَاءَ مِنْ ذٰلِكَ أَيْنَ شَاءَ، وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ، وَالذَّبْحُ هٰهُنَا عِنْدَ مَالِكٍ نُسُكٌ وَلَيْسَ بِهَدْيٍ، قَالَ: وَالنُّسُكُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ] اهـ.

“Malik berkata: hal itu dilakukan di mana saja yang ia kehendaki; jika mau di Mekah atau di negerinya, dan menurutnya penyembelihan nusuk, pemberian makanan, dan puasa sama saja; dilakukan di mana saja yang ia kehendaki. Dan ini adalah pendapat Mujahid. Penyembelihan di sini menurut Malik adalah nusuk, bukan hadyu, dan nusuk dilakukan di mana saja.”

Al-Khurosyi Al-Maliki berkata dalam Syarh Mukhtashar Khalil (2/358 Cet. Dar al-Fikir):

[وَلَمْ يَخْتَصَّ بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ، إِلَّا أَنْ يَنْوِيَ بِالذَّبْحِ الْهَدْيَ: فَكَحُكْمِهِ؛ أَيْ: لَمْ يَخْتَصَّ النُّسُكُ ذَبْحًا أَوْ نَحْرًا أَوْ إِطْعَامًا أَوْ صِيَامًا بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ كَاخْتِصَاصِ الْهَدْيِ بِأَيَّامِ مِنًى وَبِمَكَّةَ] اهـ.

“Tidak dibatasi oleh waktu atau tempat, kecuali jika ia meniatkan sebagai hadyu, maka hukumnya mengikuti hadyu. Adapun nusuk tidak dibatasi oleh waktu atau tempat seperti hadyu yang terikat dengan hari-hari Mina dan Mekah.”

Al-Dardir Al-Maliki berkata dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir (2/93- Cet Dar al-Awqof bersama Hasyiah ash-Showi):

[(وَلَا تَخْتَصُّ) الْفِدْيَةُ بِأَنْوَاعِهَا الثَّلَاثَةِ (بِمَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ)؛ فَيَجُوزُ تَأْخِيرُهَا لِبَلَدِهِ أَوْ غَيْرِهِ فِي أَيِّ وَقْتٍ شَاءَ] اهـ.

“Fidyah tidak dibatasi oleh tempat atau waktu dalam tiga bentuknya; boleh dilakukan di negeri sendiri atau di tempat lain pada waktu yang ia kehendaki.”

Ash-Showi dalam Hasyiah ash-Showi 2/93 menjelaskan:

[قَوْلُهُ: (فِي أَيِّ وَقْتٍ شَاءَ) أَيْ: فَيَجُوزُ الصَّوْمُ أَوِ الْإِطْعَامُ أَوِ الذَّبْحُ فِي أَيِّ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ شَاءَ؛ فَلَا تَخْتَصُّ بِزَمَانٍ كَأَيَّامِ مِنًى، وَلَا بِمَكَانٍ كَمَكَّةَ أَوْ مِنًى] اهـ.

“Boleh puasa, memberi makan, atau menyembelih di tempat dan waktu mana saja yang ia kehendaki; tidak terikat dengan hari Mina atau tempat seperti Mekah atau Mina.”

Al-Qurtubi berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (2/385 Cet. Alam al-Kutub):

[قَالَ مَالِكٌ: يُفْعَلُ ذٰلِكَ أَيْنَ شَاءَ، وَهُوَ الصَّحِيحُ مِنَ الْقَوْلِ، وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ] اهـ.

“Malik berkata: hal itu dilakukan di mana saja yang ia kehendaki, dan ini adalah pendapat yang benar.”

Daar al-Ifta al-Mishriyyah mentarjih sbb :

الْمُخْتَارُ لِلْفَتْوَى فِي حُكْمِ ذَبْحِ دَمِ الْفِدْيَةِ خَارِجَ الْحَرَمِ: الْأَخْذُ بِجَوَازِ ذَبْحِ الْفِدْيَةِ خَارِجَ الْحَرَمِ هُوَ الْأَوْفَقُ فِي زَمَانِنَا لِمَقَاصِدِ الدِّينِ، وَالْأَرْفَقُ بِحَاجَةِ الْمَسَاكِينِ عَلَى الْعُمُومِ دُونَ تَخْصِيصِ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ؛ فَإِنَّ الْمُرَادَ مِنْ هٰذِهِ الدِّمَاءِ الصَّدَقَةُ وَإِطْعَامُ لُحُومِهَا لِلْمُحْتَاجِينَ، وَإِشْبَاعُ الْجَائِعِينَ، وَجَبْرُ الْفُقَرَاءِ وَالْمُعْوِزِينَ، وَإِلَى هٰذَا الْمَعْنَى يُشِيرُ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى:

﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾ [الْحَجِّ: 36-37].

Pilihan fatwa dalam hukum penyembelihan dam fidyah di luar tanah haram:

Pendapat yang membolehkan penyembelihan fidyah di luar tanah haram adalah yang lebih sesuai pada zaman sekarang dengan tujuan-tujuan syariat, dan lebih sesuai dengan kebutuhan orang-orang miskin secara umum tanpa dibatasi oleh tempat atau waktu tertentu. Hal ini karena yang dimaksud dari dam-dam tersebut adalah sedekah dan memberikan dagingnya kepada orang yang membutuhkan, mengenyangkan orang yang lapar, serta membantu orang-orang fakir dan miskin.

Makna ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:

Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta. Demikianlah Kami menundukkannya untuk kalian agar kalian bersyukur. Daging-dagingnya tidak akan sampai kepada Allah dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (Al-Hajj: 36–37)

Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata dalam At-Tamhid (2/240–241) dalam penjelasan dalil mazhab Maliki:

وَالذَّبْحُ هَاهُنَا عِنْدَ مَالِكٍ: نُسُكٌ، وَلَيْسَ بِهَدْيٍ. قَالَ: وَالنُّسُكُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ، وَالْهَدْيُ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَكَّةَ.

وَحُجَّتُهُ فِي أَنَّ النُّسُكُ يَكُونُ بِغَيْرِ مَكَّةَ: حَدِيثُهُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ كَانَ مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، وَخَرَجَ مَعَهُ مِنَ الْمَدِينَةِ، فَمَرُّوا عَلَى حُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَهُوَ مَرِيضٌ بِالسُّقْيَا، فَأَقَامَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَتَّى إِذَا خَافَ الْمَوْتَ خَرَجَ وَبَعَثَ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَأَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ وَهُمَا بِالْمَدِينَةِ، فَقَدِمَا عَلَيْهِ، ثُمَّ إِنَّ حُسَيْنًا أَشَارَ إِلَى رَأْسِهِ، فَأَمَرَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِرَأْسِهِ فَحُلِقَ، ثُمَّ نُسِكَ عَنْهُ بِالسُّقْيَا فَنَحَرَ عَنْهُ بَعِيرًا.

قَالَ مَالِكٌ: قَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ: وَكَانَ حُسَيْنٌ خَرَجَ مَعَ عُثْمَانَ فِي سَفَرِهِ إِلَى مَكَّةَ.

فَهٰذَا وَاضِحٌ فِي أَنَّ الذَّبْحَ فِي فِدْيَةِ الْأَذَى جَائِزٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ، وَجَائِزٌ عِنْدَ مَالِكٍ فِي الْهَدْيِ إِذَا نُحِرَ فِي الْحَرَمِ أَنْ يُعْطَاهُ غَيْرُ أَهْلِ الْحَرَمِ؛ لِأَنَّ الْبُغْيَةَ فِيهِ إِطْعَامُ مَسَاكِينِ الْمُسْلِمِينَ.

قَالَ: وَلَمَّا جَازَ الصَّوْمُ أَنْ يُؤْتَى بِهِ فِي غَيْرِ الْحَرَمِ؛ جَازَ إِطْعَامُ غَيْرِ أَهْلِ الْحَرَمِ.

ذَكَرَ إِسْمَاعِيلُ الْقَاضِي حَدِيثَ عَلِيٍّ حِينَ حَلَقَ رَأْسَ حُسَيْنٍ ابْنِهِ بِالسُّقْيَا وَنُسِكَ عَنْهُ فِي مَوْضِعِهِ مِنْ حَدِيثِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، ثُمَّ قَالَ: “هٰذَا أَبْيَنُ مَا جَاءَ فِي هٰذَا الْبَابِ وَأَصَحُّهُ، وَفِيهِ جَوَازُ الذَّبْحِ فِي فِدْيَةِ الْأَذَى بِغَيْرِ مَكَّةَ”.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: الْحُجَّةُ فِي ذٰلِكَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾، ثُمَّ قَالَ: ﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ﴾، وَلَمْ يَقُلْ فِي مَوْضِعٍ دُونَ مَوْضِعٍ؛ فَالظَّاهِرُ: أَنَّهُ حَيْثُمَا فَعَلَ أَجْزَأَ.

وَقَدْ سَمَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا يُذْبَحُ فِي فِدْيَةِ الْأَذَى نُسُكًا وَلَمْ يُسَمِّهِ هَدْيًا، فَلَا يَلْزَمُنَا أَنْ نَرُدَّهُ قِيَاسًا عَلَى الْهَدْيِ، وَلَا أَنْ نَعْتَبِرَهُ بِالْهَدْيِ مَعَ مَا جَاءَ فِي ذٰلِكَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَمَعَ اسْتِعْمَالِ ظَاهِرِ الْحَدِيثِ فِي ذٰلِكَ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

Penyembelihan di sini menurut Malik adalah nusuk, bukan hadyu. Ia berkata: nusuk boleh dilakukan di mana saja, sedangkan hadyu tidak dilakukan kecuali di Mekah. Dalilnya bahwa nusuk dapat dilakukan di luar Mekah adalah hadis yang diriwayatkan dari Yahya bin Sa‘id, dari Ya‘qub bin Khalid Al-Makhzumi, dari Abu Asma, budak Abdullah bin Ja‘far, bahwa ia menceritakan: ia pernah bersama Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhuma, lalu keluar bersamanya dari Madinah. Mereka melewati Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang sedang sakit di As-Suqya, lalu Abdullah bin Ja‘far tinggal bersamanya hingga ia khawatir akan wafat. Kemudian ia keluar dan mengutus kepada Ali bin Abi Thalib dan Asma binti ‘Umais, keduanya berada di Madinah, lalu keduanya datang kepadanya.

Kemudian Al-Hasan memberi isyarat ke kepalanya, maka Ali bin Abi Thalib memerintahkan agar kepalanya dicukur. Lalu dilakukan nusuk atasnya di As-Suqya, dan disembelihkan untuknya seekor unta. Malik berkata: Yahya bin Sa‘id berkata: Al-Hasan keluar bersama Utsman dalam perjalanannya ke Mekah.

Ini jelas menunjukkan bahwa penyembelihan dalam fidyah gangguan (di kepala) boleh dilakukan di luar Mekah, dan menurut Malik juga boleh dalam hadyu jika disembelih di tanah haram lalu dagingnya diberikan kepada selain penduduk haram, karena tujuan utamanya adalah memberi makan orang-orang miskin kaum muslimin. Ia berkata: sebagaimana puasa boleh dilakukan di luar tanah haram, maka memberi makan juga boleh kepada selain penduduk tanah haram.

Disebutkan oleh Isma‘il Al-Qadhi hadis Ali ketika mencukur kepala Al-Hasan di As-Suqya dan melakukan nusuk di tempat itu, dari riwayat Malik dan lainnya dari Yahya bin Sa‘id, kemudian ia berkata: “Ini adalah penjelasan paling jelas dan paling sahih dalam BAB ini, dan di dalamnya terdapat kebolehan penyembelihan fidyah gangguan di luar Mekah.”

Abu Umar berkata: dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan jangan kalian mencukur kepala kalian sampai hadyu sampai ke tempat penyembelihannya.” Kemudian Dia berfirman: “Barang siapa di antara kalian sakit atau memiliki gangguan di kepalanya maka fidyah berupa puasa, sedekah, atau nusuk.” Allah tidak menyebutkan satu tempat tertentu, sehingga secara dzohir menunjukkan bahwa di mana saja dilakukan maka mencukupi.

Nabi juga menamai apa yang disembelih dalam fidyah gangguan sebagai nusuk dan tidak menamakannya hadyu, sehingga tidak wajib dikembalikan kepada qiyas hadyu, dan tidak pula harus disamakan dengan hadyu, apalagi dengan adanya riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu dan penggunaan makna zahir hadis tersebut. Wallahu a’lam”.

Ringkasan perkataan Ibnu Abdil Barr diatas:

Penyembelihan di sini menurut Malik adalah nusuk, bukan hadyu. Ia berkata: nusuk dilakukan di mana saja yang dikehendaki, sedangkan hadyu tidak dilakukan kecuali di Mekah. Dalilnya bahwa nusuk boleh dilakukan di luar Mekah adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib mencukur kepala Al-Husain di suatu tempat ketika ia sakit, lalu melakukan fidyah di tempat itu dengan menyembelih seekor unta.”

Hal ini menunjukkan bahwa penyembelihan fidyah boleh dilakukan di luar Mekah. Menurut Malik, daging hadyu yang disembelih di tanah haram boleh diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan karena tujuan utamanya adalah memberi makan orang miskin. Sebagaimana puasa boleh dilakukan di luar tanah haram, maka pemberian makanan juga boleh dilakukan di luar tanah haram.

Ibnu Abdil Barr juga menegaskan bahwa dalilnya adalah ayat yang memerintahkan agar hewan hadyu sampai ke tempat penyembelihannya, serta ayat tentang fidyah gangguan di kepala yang tidak menentukan tempat tertentu. Karena itu secara dzohir dalil, boleh dilakukan di mana saja. Nabi juga menyebut fidyah tersebut sebagai nusuk, bukan hadyu, sehingga tidak harus disamakan dengan hadyu.

Hal itu juga ditegaskan oleh Imam Al-Qurthubi dalam “Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an” (2/385–386), dan beliau menambahkan dalil lain, beliau berkata:

وَأَيْضًا: فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا أَمَرَ كَعْبًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِالْفِدْيَةِ مَا كَانَ فِي الْحَرَمِ؛ فَصَحَّ أَنَّ ذٰلِكَ كُلَّهُ يَكُونُ خَارِجَ الْحَرَمِ. اهـ.

“Juga, ketika Nabi memerintahkan Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu untuk membayar fidyah, saat itu beliau tidak berada di tanah haram. Maka terbukti bahwa seluruh hal tersebut boleh dilakukan di luar tanah haram.”

MADZHAB SYAFI’I YANG TIDAK MU’TAMAD : Membolehkan penyembelihan dam di luar tanah haram

Mazhab Syafi’i dalam pendapat selain yang paling shahih membolehkan penyembelihan di luar tanah haram, dengan syarat dagingnya dibagikan di tanah haram sebelum berubah atau rusak.

Hujjatul Islam Al-Ghazali berkata dalam Al-Wasith (2/712, cet. Darus Salam):

[وَالْأَفْضَلُ النَّحْرُ فِي الْحَجِّ بِمِنًى، وَفِي الْعُمْرَةِ عِنْدَ الْمَرْوَةِ؛ لِأَنَّهُمَا مَحَلُّ تَحَلُّلِهَا، وَقَدْ قِيلَ: لَوْ ذَبَحَ عَلَى طَرَفِ الْحَرَمِ وَفُرِّقَ غَضًّا طَرِيًّا عَلَى مَسَاكِينِ الْحَرَمِ: جَازَ] اهـ.

“Yang lebih utama dalam haji adalah menyembelih di Mina, dan dalam umrah di dekat Marwah; karena keduanya merupakan tempat tahallulnya. Dan ada pendapat yang mengatakan: apabila seseorang menyembelih di pinggir tanah haram lalu dagingnya dibagikan dalam keadaan segar kepada orang-orang miskin di tanah haram, maka hal itu diperbolehkan.”

Imam Ar-Rafi’i berkata dalam Al-‘Aziz Syarh Al-Wajiz (3/548, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah):

[وَهَلْ يَخْتَصُّ ذَبْحُهَا بِالْحَرَمِ؟ فِيهِ قَوْلَانِ: أَصَحُّهُمَا: نَعَمْ.. وَالثَّانِي: لَا يَخْتَصُّ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ اللَّحْمُ، فَإِذَا وَقَعَتْ تَفْرِقَتُهُ فِي الْحَرَمِ وَانْصَرَفَ إِلَى مَسَاكِينِهِ حَصَلَ الْغَرَضُ. فَعَلَى الْأَوَّلِ: لَوْ ذَبَحَ خَارِجَ الْحَرَمِ لَمْ يُعْتَدَّ بِهِ، وَعَلَى الثَّانِي: لَوْ ذَبَحَ خَارِجَ الْحَرَمِ وَنُقِلَ إِلَيْهِ وَفَرَّقَهُ: جَازَ، لَكِنْ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ النَّقْلُ وَالتَّفْرِيقُ قَبْلَ تَغَيُّرِ اللَّحْمِ] اهـ.

“Apakah penyembelihannya harus khusus di tanah haram? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling shahih mengatakan: ya. Sedangkan pendapat kedua mengatakan: tidak harus khusus di tanah haram; karena tujuan utamanya adalah dagingnya. Maka apabila pembagiannya dilakukan di tanah haram dan diberikan kepada orang-orang miskin di sana, tujuan tersebut telah tercapai. Berdasarkan pendapat pertama, jika disembelih di luar tanah haram maka tidak dianggap sah. Sedangkan berdasarkan pendapat kedua, jika disembelih di luar tanah haram lalu dipindahkan ke sana dan dibagikan, maka diperbolehkan. Akan tetapi disyaratkan pemindahan dan pembagiannya dilakukan sebelum daging berubah atau rusak.”

Al-Khatib Asy-Syarbini berkata dalam Mughni Al-Muhtaj (2/311, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah):

[(وَيَخْتَصُّ ذَبْحُهُ) بِأَيِّ مَكَانٍ (بِالْحَرَمِ فِي الْأَظْهَرِ)..

وَالثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يُذْبَحَ خَارِجَ الْحَرَمِ بِشَرْطِ أَنْ يُنْقَلَ إِلَيْهِ وَيُفَرَّقَ لَحْمُهُ فِيهِ قَبْلَ تَغَيُّرِهِ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ هُوَ اللَّحْمُ، فَإِذَا وَقَعَتْ تَفْرِقَتُهُ عَلَى مَسَاكِينِ الْحَرَمِ حَصَلَ الْغَرَضُ.. وَظَاهِرُ كَلَامِهِ: أَنَّ هَذَا الْحُكْمَ كُلَّهُ فِي الدَّمِ الْوَاجِبِ بِفِعْلِ حَرَامٍ أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ، وَلَيْسَ مُرَادًا؛ بَلْ دَمُ التَّمَتُّعِ وَالْقِرَانِ كَذَلِكَ] اهـ.

“Penyembelihannya, di mana pun tempatnya, menurut pendapat yang lebih kuat harus dilakukan di tanah haram... Sedangkan pendapat kedua membolehkan penyembelihan di luar tanah haram dengan syarat dagingnya dipindahkan ke tanah haram dan dibagikan di sana sebelum berubah atau rusak; karena yang menjadi tujuan adalah dagingnya. Maka apabila daging itu dibagikan kepada orang-orang miskin di tanah haram, tujuan tersebut telah tercapai... Zhahir perkataannya menunjukkan bahwa hukum ini seluruhnya berkaitan dengan dam yang wajib karena melakukan sesuatu yang haram atau meninggalkan kewajiban, padahal bukan itu maksudnya; bahkan dam tamattu’ dan qiran juga termasuk dalam hukum ini.”

****

PENDAPAT KEDUA:
MADZHAB HANAFI DAN YANG MU’TAMAD DALAM MADZHAB SYAFI’I :
Tempat penyembelihan hewan dam adalah harus di tanah haram, tidak boleh di luar tanah haram.

Mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i dalam pendapat yang mu’tamad berpendapat bahwa tempat penyembelihannya adalah tanah haram; karena tujuan terbesarnya adalah memuliakan orang-orang miskin di sana dan mencukupi kebutuhan penduduknya.

Selain itu, hadyu dan yang semisalnya berupa fidyah dan kafarat disyariatkan agar sampai ke Baitul Haram sebagai bentuk pengagungan dan pemuliaan terhadapnya, serta sebagai bentuk hubungan baik dengan penduduk dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Oleh karena itu tanah haram menjadi tujuan yang ditentukan secara khusus, bukan selainnya. Hal ini ditunjukkan oleh zahir nash-nash syariat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾ [البقرة: 196]

“Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hadyu sampai ke tempat penyembelihannya.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Dan firman-Nya SWT:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾ [المائدة: 95]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan ketika kalian sedang berihram. Barang siapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan hewan yang dibunuh itu, yang diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka‘bah.” (QS. Al-Ma’idah: 95)

Dan firman-Nya Yang Maha Agung:

﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾ [الحج: 33]

“Kemudian tempat penyembelihannya adalah di Baitul ‘Atiq.” (QS. Al-Hajj: 33)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

«نَحَرْتُ هَاهُنَا، وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ، فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ»

“Aku menyembelih di sini, dan seluruh Mina adalah tempat penyembelihan, maka sembelihlah di tempat-tempat kalian.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih.

Dalam riwayat lain disebutkan:

«وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ طَرِيقٌ وَمَنْحَرٌ»

“Dan seluruh jalan-jalan di Mekah adalah jalan dan tempat penyembelihan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, Ad-Darimi, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

"فَتَلْتُ قَلَائِدَ هَدْيِ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ أَشْعَرَهَا وَقَلَّدَهَا، ثُمَّ بَعَثَ بِهَا إِلَى البَيْتِ، وَأَقَامَ بِالْمَدِينَةِ فَمَا حَرُمَ عَلَيْهِ شَيْءٌ كَانَ لَهُ حِلٌّ"

“Aku memintal kalung-kalung untuk hadyu Nabi , kemudian beliau memberi tanda padanya dan mengalunginya, lalu mengirimkannya ke Baitullah, sementara beliau tetap tinggal di Madinah. Maka tidak ada sesuatu yang sebelumnya halal bagi beliau menjadi haram karenanya.”

Hadits ini muttafaq ‘alaih. Hadits ini menunjukkan bahwa tempat penyembelihan adalah tanah haram.

Kamaluddin Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata dalam Fathul Qadir (3/163, cet. Darul Fikr):

[لَا يَجُوزُ ذَبْحُ الْهَدَايَا إِلَّا فِي الْحَرَمِ؛ سَوَاءٌ كَانَ تَطَوُّعًا أَوْ غَيْرَهُ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ: ﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾، فَصَارَ أَصْلًا فِي كُلِّ دَمٍ هُوَ كَفَّارَةٌ، وَقَالَ تَعَالَى فِي دَمِ الْإِحْصَارِ: ﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾، وَقَالَ تَعَالَى فِي الْهَدَايَا مُطْلَقًا: ﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾، وَلِأَنَّ الْهَدْيَ: اسْمٌ لِمَا يُهْدَى إِلَى مَكَانٍ؛ فَالْإِضَافَةُ ثَابِتَةٌ فِي مَفْهُومِهِ، وَهُوَ الْحَرَمُ بِالْإِجْمَاعِ، فَالْقُرْبَةُ بِالْإِهْدَاءِ تَتِمُّ بِالنَّقْلِ إِلَى الْحَرَمِ وَالذَّبْحِ بِهِ تَعْظِيمًا لَهُ، وَلِذَا لَوْ سُرِقَ لَمْ يَلْزَمْهُ غَيْرُهُ وَبِذَلِكَ انْتَهَى مَدْلُولُهُ وَيَصِيرُ لَحْمًا؛ قَالَ ﷺ: «مِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ، وَفِجَاجُ مَكَّةَ كُلُّهَا مَنْحَرٌ»، فَيَجُوزُ الذَّبْحُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ شَاءَ مِنَ الْحَرَمِ، وَلَا يَخْتَصُّ بِمِنًى] اهـ.

“Tidak boleh menyembelih hadyu kecuali di tanah haram, baik hadyu sunnah maupun selainnya; berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang denda berburu:

﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾

“Sebagai hadyu (kurban) yang dibawa sampai ke Ka‘bah.”

maka ayat ini menjadi dasar bagi setiap darah yang merupakan kafarat. Allah Ta’ala juga berfirman tentang dam ihshar:

﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾

“Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sampai hadyu (hewan kurban) mencapai tempat penyembelihannya.”

dan Allah Ta’ala berfirman secara umum tentang hadyu:

﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾

“Kemudian tempat penyembelihannya adalah di Baitul ‘Atiq.”

Karena hadyu adalah nama bagi sesuatu yang dihadiahkan ke suatu tempat, maka penyandaran tempat sudah termasuk dalam maknanya, yaitu tanah haram menurut ijma’. Maka ibadah dengan menghadiahkannya menjadi sempurna dengan membawanya ke tanah haram dan menyembelihnya di sana sebagai bentuk pengagungan terhadapnya. Oleh sebab itu apabila hewan itu dicuri, maka tidak wajib menggantinya lagi, dan dengan itu selesailah statusnya sebagai hadyu lalu berubah menjadi daging. Nabi bersabda:

«مِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ، وَفِجَاجُ مَكَّةَ كُلُّهَا مَنْحَرٌ»

“Seluruh Mina adalah tempat penyembelihan, dan seluruh jalan-jalan Mekah adalah tempat penyembelihan.”

Maka boleh menyembelih di tempat mana saja yang dikehendaki di tanah haram, dan tidak khusus di Mina.”

Kemudian beliau berkata lagi (3/177):

[فَتَحَصَّلَ: أَنَّ الدِّمَاءَ قِسْمَانِ: مَا يَخْتَصُّ بِالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَمَا يَخْتَصُّ بِالْمَكَانِ فَقَطْ؛ وَبِنَاءً عَلَيْهِ: فَيَلْزَمُهُ أَلَّا يَذْبَحَ إِلَّا فِي الْحَرَمِ، فَإِنْ كَانَ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ؛ فَالسُّنَّةُ ذَبْحُهُ بِمِنًى، وَإِلَّا فَفِي مَكَّةَ، وَلَهُ أَنْ يَذْبَحَهُ حَيْثُ شَاءَ مِنْ أَرْضِ الْحَرَمِ، وَلِهَذَا لَوْ نَذَرَ أَنَّ عَلَيْهِ هَدْيًا وَصَرَّحَ بِالْهَدْيِ؛ يَتَعَيَّنُ الْحَرَمُ] اهـ.

“Maka hasil pembahasannya adalah bahwa darah-darah sembelihan terbagi menjadi dua: ada yang terkait dengan waktu dan tempat, dan ada yang hanya terkait dengan tempat. Berdasarkan itu, wajib baginya untuk tidak menyembelih kecuali di tanah haram. Jika dilakukan pada hari-hari penyembelihan, maka sunnahnya menyembelih di Mina, dan jika tidak maka di Mekah. Ia juga boleh menyembelih di mana saja di wilayah tanah haram. Oleh sebab itu, jika seseorang bernazar untuk menyembelih hadyu dan ia menyebutkan kata hadyu secara jelas, maka tanah haram menjadi tempat yang wajib ditentukan.”

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata dalam Al-Majmu’ (8/190, cet. Darul Fikr):

[وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى أَنَّ ذَبْحَ الْهَدْيِ يَخْتَصُّ بِالْحَرَمِ، وَلَا يَجُوزُ فِي غَيْرِهِ، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ شَاءَ مِنَ الْحَرَمِ، وَلَا يَخْتَصُّ بِمِنًى] اهـ.

“Nash-nash Imam Asy-Syafi’i dan para ulama mazhab sepakat bahwa penyembelihan hadyu khusus dilakukan di tanah haram dan tidak boleh di selainnya. Mereka juga sepakat bahwa boleh dilakukan di tempat mana saja di tanah haram dan tidak khusus di Mina.”

****

PENDAPAT KETIGA:
MADZHAB HANBALI TERDAPAT RINCIAN MASALAH

Mazhab Hanbali mengenai tempat penyembelihan dam fidyah bagi orang yang melakukan salah satu larangan ihram

Mereka berpendapat bahwa setiap bentuk dam fidyah (pemberian makanan) yang berkaitan dengan tanah haram, maka wajib disembelih di tanah haram.

Akan tetapi, orang yang melakukan salah satu larangan ihram di luar tanah haram, maka sah baginya menyembelih dam fidyah di luar tanah haram, yaitu di tempat ia melakukan pelanggaran tersebut, bukan di tempat lain.

Adapun dam yang timbul karena meninggalkan kewajiban haji, maka tidak sah disembelih kecuali di tanah haram.

Imam Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni (3/468, cet. Maktabah Al-Qahirah):

[وَكُلُّ هَدْيٍ أَوْ إِطْعَامٍ فَهُوَ لِمَسَاكِينِ الْحَرَمِ إِنْ قَدَرَ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ، إِلَّا مَنْ أَصَابَهُ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ؛ فَيُفَرِّقُهُ عَلَى الْمَسَاكِينِ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي حَلَقَ فِيهِ] اهـ.

“Setiap hadyu atau pemberian makanan diperuntukkan bagi orang-orang miskin tanah haram apabila ia mampu menyampaikannya kepada mereka, kecuali orang yang terkena gangguan di kepalanya; maka ia membagikannya kepada orang-orang miskin di tempat ia mencukur rambutnya.”

Alauddin Al-Mardawi berkata dalam Al-Inshaf (3/531, cet. Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi):

[(وَكُلُّ هَدْيٍ أَوْ إِطْعَامٍ فَهُوَ لِمَسَاكِينِ الْحَرَمِ إِنْ قَدَرَ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ).. كَذَا مَا وَجَبَ لِتَرْكِ وَاجِبٍ كَالْإِحْرَامِ مِنَ الْمِيقَاتِ.. وَكَذَا أَجْزَاءُ الْمَحْظُورَاتِ إِذَا فَعَلَهَا فِي الْحَرَمِ؛ نَصَّ عَلَيْهِ: فَيَجِبُ نَحْرُهُ بِالْحَرَمِ] اهـ.

“Setiap hadyu atau pemberian makanan diperuntukkan bagi orang-orang miskin tanah haram apabila ia mampu menyampaikannya kepada mereka... Demikian pula yang wajib karena meninggalkan kewajiban seperti ihram dari miqat... Demikian juga denda larangan ihram apabila dilakukan di tanah haram; hal ini telah ditegaskan dalam nash, maka wajib menyembelihnya di tanah haram.”

Abus Sa‘adat Al-Buhuti berkata dalam Syarh Muntaha Al-Iradat (1/558-559, cet. ‘Alam Al-Kutub):

[وَكُلُّ هَدْيٍ أَوْ إِطْعَامٍ تَعَلَّقَ بِحَرَمٍ أَوْ إِحْرَامٍ؛ كَجَزَاءِ صَيْدِ حَرَمٍ أَوْ إِحْرَامٍ (وَمَا وَجَبَ) مِنْ فِدْيَةٍ (لِتَرْكِ وَاجِبٍ أَوْ) لِـ(فَوَاتِ) حَجٍّ (أَوْ) وَجَبَ (بِفِعْلِ مَحْظُورٍ فِي حَرَمٍ) كَلُبْسٍ وَوَطْءٍ فِيهِ؛ فَهُوَ لِمَسَاكِينِ الْحَرَمِ؛ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: "الْهَدْيُ وَالْإِطْعَامُ بِمَكَّةَ"، (وَ) كَذَا (هَدْيُ تَمَتُّعٍ وَقِرَانٍ) وَمَنْذُورٍ وَنَحْوُهَا؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾، وَقَالَ فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ: ﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾، وَقِيسَ عَلَيْهِ الْبَاقِي (يَلْزَمُ ذَبْحُهُ) أَيْ: الْهَدْيُ (فِي الْحَرَمِ)، قَالَ أَحْمَدُ: مَكَّةُ.. (وَتُجْزِئُ فِدْيَةُ أَذًى وَ) فِدْيَةُ (لُبْسٍ وَ) فِدْيَةُ (طِيبٍ وَنَحْوُهَا) كَتَغْطِيَةِ رَأْسٍ (وَ) سَائِرُ (مَا وَجَبَ بِفِعْلِ مَحْظُورٍ فَعَلَهُ خَارِجَ الْحَرَمِ: بِهِ) مُتَعَلِّقٌ بِـ"يُجْزِئُ" أَيْ: الْحَرَمِ، (وَلَوْ) فَعَلَهُ (لِغَيْرِ عُذْرٍ) كَسَائِرِ الْهَدْيِ، (وَ) يُجْزِئُ أَيْضًا (حَيْثُ وُجِدَ) الْمَحْظُورُ] اهـ.

“Setiap hadyu atau pemberian makanan yang berkaitan dengan tanah haram atau ihram, seperti denda berburu di tanah haram atau ketika ihram, dan yang wajib berupa fidyah karena meninggalkan kewajiban, atau karena luputnya haji, atau yang wajib karena melakukan larangan di tanah haram seperti memakai pakaian atau berhubungan suami istri di dalamnya; maka semuanya diperuntukkan bagi orang-orang miskin tanah haram. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: ‘Hadyu dan pemberian makanan dilakukan di Mekah.’ Demikian pula hadyu tamattu’, qiran, nazar, dan semisalnya; berdasarkan firman Allah Ta’ala:

﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾

‘Kemudian tempat penyembelihannya adalah di Baitul ‘Atiq.’

Dan firman-Nya tentang denda berburu:

﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾

‘Sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka‘bah.’

Dan hal-hal selainnya diqiyaskan kepada itu semua. Maka wajib menyembelih hadyu tersebut di tanah haram. Imam Ahmad berkata: di Mekah... Dan sah fidyah karena gangguan, fidyah karena memakai pakaian, fidyah karena memakai wewangian, dan semisalnya seperti menutup kepala, serta seluruh yang wajib karena melakukan larangan yang dilakukan di luar tanah haram, untuk disembelih di sana — yaitu di tanah haram — meskipun dilakukan tanpa udzur sebagaimana seluruh hadyu lainnya. Dan juga sah disembelih di tempat terjadinya pelanggaran tersebut.”

PENDAPAT MADZHAB HANBALI YANG LAIN:

Sebagian fuqaha Hanbali membatasi bolehnya penyembelihan di tempat terjadinya pelanggaran larangan ihram dengan syarat bahwa orang yang berihram melakukannya karena udzur. Adapun jika ia melakukannya tanpa udzur, maka penyembelihannya khusus di tanah haram.

Alā’uddin Al-Mardawi berkata dalam Al-Inshaf (3/533) mengenai penyembelihan fidyah di luar tanah haram:

[وَاعْتَبَرَ فِي "الْمُجَرَّدِ" وَ"الْفُصُولِ": الْعُذْرَ فِي الْمَحْظُورِ، وَإِلَّا فَغَيْرُ الْمَعْذُورِ كَسَائِرِ الْهَدْيِ. قَالَ الزَّرْكَشِيُّ: وَقَالَ الْقَاضِي، وَابْنُ عَقِيلٍ، وَأَبُو الْبَرَكَاتِ: مَا فَعَلَهُ لِعُذْرٍ: يَنْحَرُ هَدْيَهُ حَيْثُ اسْتَبَاحَهُ، وَمَا فَعَلَهُ لِغَيْرِ عُذْرٍ: اخْتَصَّ بِالْحَرَمِ] اهـ.

“Dalam Al-Mujarrad dan Al-Fushul disebutkan adanya pertimbangan udzur dalam pelanggaran larangan ihram; jika tidak ada udzur maka pelakunya seperti hadyu lainnya. Az-Zarkasyi berkata: Qadhi, Ibnu ‘Aqil, dan Abu Al-Barakat berkata: apa yang dilakukan karena udzur, maka hadyunya disembelih di tempat ia melakukan pelanggaran tersebut; sedangkan yang dilakukan tanpa udzur, maka khusus di tanah haram.”

Hal ini juga dibatasi dalam pendapat yang sahih dari dua riwayat di kalangan mereka dengan terpenuhinya tujuan darinya, yaitu :

Sampainya daging tersebut kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Jika jamaah haji tidak mampu menyampaikannya kepada mereka karena sebab apa pun, maka boleh baginya menyembelih di luar tanah haram dan membagikan dagingnya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat penyembelihan atau yang datang ke sana.

Burhānuddin Ibnu Muflih (w. 884 H) berkata dalam Al-Mubdi’ (3/172, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah):

[وَكُلُّ هَدْيٍ أَوْ إِطْعَامٍ مُتَعَلِّقٌ بِالْحَرَمِ أَوِ الْإِحْرَامِ فَهُوَ لِمَسَاكِينِ الْحَرَمِ إِنْ قَدَرَ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ.. وَيَجِبُ نَحْرُهُ بِالْحَرَمِ.. وَيَجِبُ تَفْرِقَةُ لَحْمِهِ بِالْحَرَمِ أَوْ إِطْلَاقُهُ لِمَسَاكِينِهِ؛ لِأَنَّهُ مَقْصُودٌ كَالدَّبْحِ، وَالتَّوْسِعَةُ عَلَيْهِمْ مَقْصُودَةٌ.. فَإِنْ تَعَذَّرَ إِيصَالُهُ إِلَى فُقَرَاءِ الْحَرَمِ؛ فَالْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَجُوزُ ذَبْحُهُ وَتَفْرِقَتُهُ فِي غَيْرِهِ] اهـ.

“Setiap hadyu atau pemberian makanan yang berkaitan dengan tanah haram atau ihram diperuntukkan bagi orang-orang miskin tanah haram jika mampu menyampaikannya kepada mereka... dan wajib disembelih di tanah haram... serta wajib membagikan dagingnya di tanah haram atau menyerahkannya kepada orang-orang miskin di sana; karena itu adalah tujuan sebagaimana penyembelihan, dan memberi kelapangan kepada mereka juga merupakan tujuan...

Jika tidak memungkinkan menyampaikannya kepada fakir miskin tanah haram, maka pendapat yang lebih kuat adalah boleh disembelih dan dibagikan di tempat lain.”

Alā’uddin Al-Mardawi berkata dalam Al-Inshaf (3/531):

[تَنْبِيهٌ: مَفْهُومُ قَوْلِهِ: (إِنْ قَدَرَ عَلَى إِيصَالِهِ) أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ: أَنَّهُ يَجُوزُ ذَبْحُهُ وَتَفْرِقَتُهُ هُوَ وَالطَّعَامُ فِي غَيْرِ الْحَرَمِ، وَهُوَ صَحِيحٌ، وَالصَّحِيحُ مِنَ الرِّوَايَتَيْنِ؛ قَالَ فِي "الْفُرُوعِ": وَالْجَوَازُ أَظْهَرُ، وَجَزَمَ بِهِ الشَّارِحُ، وَقَدَّمَهُ فِي "الرِّعَايَةِ". وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ: لَا يَجُوزُ، وَهُوَ قَوْلٌ فِي "الرِّعَايَةِ"] اهـ.

Catatan: makna dari ucapannya ‘jika mampu menyampaikannya’ adalah bahwa jika tidak mampu menyampaikannya kepada mereka, maka boleh menyembelihnya dan membagikan daging maupun makanan tersebut di luar tanah haram.

Ini benar dan merupakan salah satu dari dua riwayat yang sahih.

Dalam Al-Furu’ disebutkan: kebolehan ini lebih kuat, dan dipastikan oleh Pensyarah, serta didahulukan dalam “Ar-Ri’ayah”. Adapun riwayat kedua: tidak boleh, dan ini juga merupakan satu pendapat dalam Ar-Ri’ayah.”

Al-‘Allamah Al-Hajjawi berkata dalam Al-Iqna’ (1/372, cet. Darul Ma’rifah):

[(فَصْلٌ: وَكُلُّ هَدْيٍ أَوْ إِطْعَامٍ يَتَعَلَّقُ بِحَرَمٍ أَوْ إِحْرَامٍ) كَجَزَاءِ صَيْدٍ، وَمَا وَجَبَ لِتَرْكِ وَاجِبٍ، أَوْ فَوَاتٍ، أَوْ بِفِعْلِ مَحْظُورٍ فِي الْحَرَمِ، وَهَدْيُ تَمَتُّعٍ وَقِرَانٍ وَمَنْذُورٍ وَنَحْوِهِمَا: يَلْزَمُ ذَبْحُهُ فِي الْحَرَمِ وَتَفْرِقَةُ لَحْمِهِ فِيهِ، أَوْ إِطْلَاقُهُ بَعْدَ ذَبْحِهِ لِمَسَاكِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِنْ قَدَرَ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ بِنَفْسِهِ أَوْ بِمَنْ يُرْسِلُهُ مَعَهُ؛ وَهُمْ: مَنْ كَانَ بِهِ أَوْ وَارِدًا إِلَيْهِ مِنْ حَاجٍّ وَغَيْرِهِ مِمَّنْ لَهُ أَخْذُ زَكَاةٍ لِحَاجَةٍ..

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِمْ جَازَ نَحْرُهُ فِي غَيْرِ الْحَرَمِ وَتَفْرِقَتُهُ هُوَ وَالطَّعَامُ حَيْثُ نَحَرَهُ، وَفِدْيَةُ الْأَذَى وَاللِّبْسِ وَنَحْوِهِمَا؛ كَطِيبٍ، وَدَمِ الْمُبَاشَرَةِ دُونَ الْفَرْجِ إِذَا لَمْ يُنْزِلْ، وَمَا وَجَبَ بِفِعْلِ مَحْظُورٍ خَارِجَ الْحَرَمِ وَلَوْ لِغَيْرِ عُذْرٍ: فَلَهُ تَفْرِقَتُهَا حَيْثُ وُجِدَ سَبَبُهَا، وَفِي الْحَرَمِ أَيْضًا] اهـ.

“(Fasal: setiap hadyu atau pemberian makanan yang berkaitan dengan tanah haram atau ihram) seperti denda berburu, apa yang wajib karena meninggalkan kewajiban, karena luput, atau karena melakukan larangan di tanah haram, serta hadyu (dam) tamattu’, (dam) qiran, nadzar dan semisalnya: wajib disembelih di tanah haram dan dagingnya dibagikan di sana, atau diserahkan setelah disembelih kepada orang-orang miskin kaum muslimin jika mampu menyampaikannya kepada mereka sendiri atau melalui orang yang diutus bersamanya... yaitu orang yang ada di sana atau yang datang ke sana dari jamaah haji dan selainnya yang boleh menerima zakat karena kebutuhan...

Jika tidak mampu menyampaikannya kepada mereka, maka boleh disembelih di luar tanah haram dan dibagikan di tempat penyembelihan, demikian juga makanan.

Adapun fidyah gangguan, pakaian, dan semisalnya seperti wewangian, serta dam karena hubungan suami istri tanpa keluar mani, serta yang wajib karena melakukan larangan di luar tanah haram meskipun tanpa udzur: boleh dibagikan di tempat terjadinya sebabnya, dan juga di tanah haram.”

Dalam Dar al-Ifta Mesir di sebutkan:

وَيَدْخُلُ فِي هٰذَا الْمَعْنَى: حُصُولُ كِفَايَةِ مَسَاكِينِ الْحَرَمِ بِمَا أُهْدِيَ إِلَيْهِمْ، وَأَوْلَى مِنْ ذٰلِكَ: إِذَا لَمْ يُوجَدْ فِيهِ مَسَاكِينُ فِي عَامِهِ ذٰلِكَ، أَوْ كَانُوا مِنَ الْقِلَّةِ بِحَيْثُ يَفُوقُ لَحْمُ الْهَدَايَا وَالدِّمَاءِ الْوَاجِبَةِ حَاجَتَهُمْ، مَعَ تَحَقُّقِ وُجُودِ الْمَسَاكِينِ فِي مَكَانٍ آخَرَ؛ لِأَنَّ "الْإِنْسَانَ مُقَدَّمٌ عَلَى الْمَكَانِ"، وَهُوَ "أَوْلَى عِنْدَ اللهِ مِنَ الْكَعْبَةِ الْبُنْيَانِ"؛ فَفِي الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ: «إِنَّ هٰذَا الْإِنْسَانَ بُنْيَانُ اللهِ» ذَكَرَهُ الزَّمَخْشَرِيُّ فِي "الْكَشَّافِ".

“Dan termasuk dalam makna ini adalah tercapainya tujuan untuk memberi kecukupan orang-orang miskin tanah haram dengan apa yang dihadiahkan kepada mereka. Bahkan lebih utama lagi jika pada tahun tersebut tidak ditemukan orang miskin di sana, atau jumlah mereka sangat sedikit sehingga daging hadyu dan dam yang wajib melebihi kebutuhan mereka, sementara di tempat lain terdapat orang-orang miskin; karena manusia didahulukan atas tempat, dan manusia lebih utama di sisi Allah daripada bangunan Ka‘bah. Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya manusia ini adalah bangunan Allah,” sebagaimana disebutkan oleh Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf.

 ===

FATWA SYEKH ABDUL AZIZ BIN BAZ:
APA HUKUM MEMINDAHKAN KURBAN HADYU KE LUAR MAKKAH?

مَا حُكْمُ نَقْلِ الْهَدْيِ خَارِجَ مَكَّةَ؟

Pertanyaan:

Bagaimana hukum perusahaan-perusahaan yang mengambil hewan hadyu lalu memindahkannya ke luar Saudi?

Jawaban:

يُجْزِئُ، لٰكِنْ كَوْنُهُ يَذْبَحُ الضَّحَايَا فِي بَلَدِهِ لِيُطْعِمَ جِيرَانَهُ وَأَهْلَهُ أَفْضَلُ وَأَوْلَى، أَمَّا الْهَدْيَةُ الَّتِي هِيَ وَاجِبَةٌ عَنْ مَحْظُورٍ أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ فَهِيَ تُذْبَحُ فِي مَكَّةَ لِلْفُقَرَاءِ مِنَ الْحُجَّاجِ، أَمَّا الضَّحَايَا وَهَدَايَا التَّطَوُّعِ وَهَدْيُ التَّمَتُّعِ وَالْقِرَانِ فَهٰذَا يُؤْكَلُ وَيُطْعَمُ، سَوَاءٌ فِي مَكَّةَ أَوْ فِي غَيْرِ مَكَّةَ.

“Itu sah, mencukupi. Namun, jika seseorang menyembelih hewan kurbannya di negerinya sendiri untuk diberikan kepada tetangga dan keluarganya, maka itu lebih utama dan lebih baik.

Adapun hadyu yang wajib karena melakukan larangan ihram atau meninggalkan kewajiban, maka disembelih di Makkah untuk fakir miskin dari kalangan jamaah haji.

Sedangkan kurban, hadyu tathawwu’, serta hadyu (dam) haji Tamattu’ dan (dam) haji Qiran, maka boleh dimakan dan dibagikan, baik di Makkah maupun di luar Makkah.”

[Sumber: Situs resmi Syekh Imam Bin Baz. [Fatwa pelajaran: Apa hukum memindahkan hadyu ke luar Makkah?]

الْمَصْدَرُ: الْمَوْقِعُ الرَّسْمِيُّ لِسَمَاحَةِ الشَّيْخِ الْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ. [فَتَاوَى الدُّرُوسِ: مَا حُكْمُ نَقْلِ الْهَدْيِ خَارِجَ مَكَّةَ؟]

 ===

FATWA ISLAMWEB NOMOR 31166:

PERTANYAAN:

Seorang wanita pergi umrah, padahal ia berasal dari Thaif. Karena ketidaktahuannya, ia tidak berihram dari miqat (As-Sail Al-Kabir), tetapi berihram dari Tan‘im (Masjid Umrah). Saya telah membaca dalam fatwa-fatwa sebelumnya bahwa ia wajib membayar dam yang dibagikan kepada fakir miskin tanah haram. Pertanyaan saya: apakah boleh dam tersebut dibagikan di tempat lain seperti negeri asalnya (misalnya India)? Apakah boleh bersedekah dengan nilainya, baik di tanah haram maupun di negerinya? Lalu bagaimana cara mengetahui siapa fakir miskin tanah haram?

JAWABAN:

فَقَدْ سَبَقَتِ الْإِجَابَةُ عَلَى حُكْمِ مَنْ تَجَاوَزَ الْمِيقَاتَ بِقَصْدِ الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ وَلَمْ يُحْرِمْ فِي الْفَتْوَى رَقْمِ: ١٠٩٠٢، وَإِذَا تَبَيَّنَ أَنَّ الْحُكْمَ هُوَ لُزُومُ الْهَدْيِ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مَحِلُّ ذَبْحِهِ بِمَكَّةَ؛ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾ [الْمَائِدَةِ: ٩٥]، وَهٰذَا مَحَلُّ اتِّفَاقٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ.

قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ فِي «أَحْكَامِ الْقُرْآنِ»: وَلَا خِلَافَ فِي أَنَّ الْهَدْيَ لَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْحَرَمِ. انْتَهَى.

وَقَالَ صَاحِبُ «تَبْيِينِ الْحَقَائِقِ» الْحَنَفِيُّ: كُلُّ دَمٍ يَجِبُ عَلَى الْحَاجِّ يَخْتَصُّ بِالْحَرَمِ؛ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾ [الْبَقَرَةِ: ١٩٦]، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾ [الْحَجِّ: ٣٣]، وَلِأَنَّ الْهَدْيَ اسْمٌ لِمَا يُهْدَى إِلَى مَكَانٍ، وَلَا مَكَانَ لَهُ غَيْرُ الْحَرَمِ، فَتَعَيَّنَ لَهُ. انْتَهَى.

وَيَجُوزُ الذَّبْحُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ مِنَ الْحَرَمِ، وَلَا يَخُصُّ ذٰلِكَ بِمِنًى؛ لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «مِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ، وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ طَرِيقٌ وَمَنْحَرٌ».

وَمِنْ هٰذَا يَتَّضِحُ عَدَمُ جَوَازِ ذَبْحِ الْهَدْيِ فِي أَيِّ مَكَانٍ خَارِجَ الْحَرَمِ، أَمَّا بِخُصُوصِ التَّصَدُّقِ بِثَمَنِهِ عَلَى الْفُقَرَاءِ، فَهٰذَا أَيْضًا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَغَيْرُ مُجْزِئٍ. وَاللهُ أَعْلَمُ.

Telah dijelaskan sebelumnya hukum orang yang melewati miqat dengan niat haji atau umrah namun tidak berihram, sebagaimana dalam fatwa nomor 10902. Jika ternyata hukumnya wajib hadyu, maka tempat penyembelihannya harus di Makkah berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

“Sebagai hadyu yang sampai ke Ka‘bah.” (QS. Al-Ma’idah: 95)

Ini merupakan kesepakatan para fuqaha tanpa pengecualian. Ibn al-Arabi berkata dalam Ahkamul Qur’an:

“Tidak ada perselisihan bahwa hadyu harus berada di tanah haram.”

Penulis kitab Tabyinul Haqa’iq dari mazhab Hanafi juga berkata:

“Setiap dam yang wajib atas jamaah haji harus dilakukan di tanah haram berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

‘Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sampai hadyu sampai ke tempatnya.’ (QS. Al-Baqarah: 196)

Dan firman-Nya:

‘Tempat penyembelihannya sampai ke Baitul ‘Atiq.’ (QS. Al-Hajj: 33)

Karena hadyu adalah sesuatu yang dihadiahkan ke suatu tempat, dan tidak ada tempat baginya selain tanah haram, maka hal itu menjadi ketentuan.”

Penyembelihan boleh dilakukan di bagian mana saja dari tanah haram dan tidak khusus di Mina, berdasarkan riwayat Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda:

“Seluruh Mina adalah tempat penyembelihan, dan seluruh jalan-jalan Makkah adalah jalan dan tempat penyembelihan.”

Dari sini menjadi jelas bahwa tidak boleh menyembelih hadyu di tempat mana pun di luar tanah haram. Adapun bersedekah dengan nilai uangnya kepada fakir miskin, maka itu juga tidak disyariatkan dan tidak mencukupi kewajiban.

Wallahu a‘lam.

 ===***===

FATWA DAR AL-IFTA MESIR TERDAHULU TAHUN 1957 M.

Kitab Dar al-Ifta al-Misriyyah – Al-Maktabah al-Syamilah 1/207

مَكَانُ وَزَمَانُ ذَبْحِ الْهَدْيِ فِي الْحَجِّ

[Tempat dan Waktu Penyembelihan Hadyu dalam Ibadah Haji]

Mufti: Hasan Mamun

19 Dzulqa’dah 1376 H – 17 Juni 1957 M

Prinsip-prinsip:

1]. Diperbolehkan menyembelih dam tathawwu’ (hewan sembelihan sunnah) sebelum hari-hari penyembelihan (hari nahr), dan menyembelihnya pada hari-hari tersebut lebih utama. Adapun dam tamattu’ dan qiran tidak boleh disembelih kecuali pada hari-hari nahr.

2]. Tidak diperbolehkan menyembelih seluruh hadyu kecuali di dalam wilayah al-Haram, dan boleh dilakukan di bagian mana pun darinya, serta tidak khusus di Mina.

3]. Menurut mazhab Hanafi, orang yang berhadyu boleh memakan sebagian dari hadyu tamattu’, qiran, dan tathawwu’. Adapun menurut mazhab Syafi’i, tidak boleh makan kecuali dari dam tathawwu’. Selain itu, orang yang berhadyu boleh mensedekahkan hadyu kepada fakir di wilayah al-Haram maupun fakir lainnya.

4]. Orang yang bertindak sebagai wakil dalam penyembelihan (di al-Haram) menggantikan orang yang bersedekah, seperti petugas pembimbing (al-mutawwif), dan hal itu mencukupi serta menggugurkan kewajiban.

PERTANYAAN:

Dari saudara F. A. K meminta penjelasan hukum hal-hal berikut:

Pertama, tempat dan waktu penyembelihan hadyu dalam haji, baik hadyu qiran, tamattu’, maupun tathawwu’, serta akibat jika menyelisihi ketentuan tersebut.

Kedua, seluruh jenis hadyu biasanya diambil oleh para mutawwif, lalu mereka memakan sebagian dan menyedekahkan sebagian. Apakah dalam keadaan ini kewajiban orang yang berhadyu sudah gugur?

Ketiga, hukum bermalam di Mina, waktunya, lamanya, serta akibat jika meninggalkannya.

JAWABAN:

أَوَّلًا - الْهَدْيُ اسْمٌ لِمَا يُهْدَى إِلَى الْحَرَمِ مِنَ النَّعَمِ لِيَتَقَرَّبَ بِهِ إِبِلًا أَوْ بَقَرًا أَوْ غَنَمًا، وَأَقَلُّهُ شَاةٌ، وَهِيَ جَائِزَةٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا فِي مَوْضِعَيْنِ: مَنْ طَافَ طَوَافَ الزِّيَارَةِ جُنُبًا، وَمَنْ جَامَعَ بَعْدَ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ، فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ فِيهَا إِلَّا الْإِبِلُ. وَالْهَدْيُ أَنْوَاعٌ مِنْهَا هَدْيُ التَّطَوُّعِ وَهُوَ الْمُتْعَةُ، وَهَدْيُ الْقِرَانِ.

وَهَدْيُ التَّطَوُّعِ يَجُوزُ ذَبْحُهُ قَبْلَ يَوْمِ النَّحْرِ، وَذَبْحُهُ يَوْمَ النَّحْرِ أَفْضَلُ؛ لِأَنَّ الْقُرْبَةَ فِي التَّطَوُّعَاتِ بِاعْتِبَارِ أَنَّهَا هَدَايَا، وَذَلِكَ بِتَحْقِيقِ تَبْلِيغِهَا إِلَى الْحَرَمِ، فَإِذَا وُجِدَ ذَلِكَ جَازَ ذَبْحُهَا فِي غَيْرِ يَوْمِ النَّحْرِ، وَفِي أَيَّامِ النَّحْرِ أَفْضَلُ؛ لِأَنَّ مَعْنَى الْقُرْبَةِ فِي إِرَاقَةِ الدَّمِ فِيهَا أَظْهَرُ.

أَمَّا دَمُ الْمُتْعَةِ وَالْقِرَانِ فَيَخْتَصُّ ذَبْحُهُ بِأَيَّامِ النَّحْرِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ﴾، وَقَضَاءُ التَّفَثِ يَخْتَصُّ بِيَوْمِ النَّحْرِ، وَلِأَنَّهُ دَمُ نُسُكٍ فَيَخْتَصُّ بِيَوْمِ النَّحْرِ كَالْأُضْحِيَّةِ.

وَلَا يَجُوزُ ذَبْحُ جَمِيعِ الْهَدَايَا إِلَّا فِي الْحَرَمِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ: ﴿هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ﴾، فَصَارَ أَصْلًا فِي كُلِّ دَمٍ هُوَ كَفَّارَةٌ، وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي دَمِ الْإِحْصَارِ: ﴿وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ﴾، وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الْهَدَايَا مُطْلَقًا: ﴿ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾، وَلِأَنَّ الْهَدْيَ اسْمٌ لِمَا يُهْدَى إِلَى مَكَانٍ، فَالْإِضَافَةُ ثَابِتَةٌ فِي مَفْهُومِهِ وَهُوَ الْحَرَمُ بِالْإِجْمَاعِ.

وَيَجُوزُ الذَّبْحُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ شَاءَ مِنَ الْحَرَمِ، وَلَا يَخْتَصُّ بِمِنًى، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ قَالَ: لَا يَجُوزُ إِلَّا بِمِنًى، وَالصَّحِيحُ مَا قُلْنَا، قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «كُلُّ عَرَفَةَ مَوْقِفٌ، وَكُلُّ مِنًى مَنْحَرٌ، وَكُلُّ الْمُزْدَلِفَةِ مَوْقِفٌ، وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ طَرِيقٌ وَمَنْحَرٌ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ.

ثُمَّ قَالَ صَاحِبُ الْفَتْحِ: فَتَحَصَّلَ أَنَّ الدِّمَاءَ قِسْمَانِ: مَا يَخْتَصُّ بِالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَمَا يَخْتَصُّ بِالْمَكَانِ فَقَطْ.

وَيَتَّضِحُ مِمَّا سَبَقَ أَنَّهُ يَجُوزُ ذَبْحُ دَمِ التَّطَوُّعِ قَبْلَ أَيَّامِ النَّحْرِ، وَذَبْحُهُ فِيهَا أَفْضَلُ، وَأَمَّا دَمُ الْمُتْعَةِ وَالْقِرَانِ فَلَا يَجُوزُ إِلَّا فِي أَيَّامِ النَّحْرِ، وَيَتَعَيَّنُ ذَبْحُ الثَّلَاثَةِ فِي الْحَرَمِ وَمِنْهُ مِنًى.

ثَانِيًا - وَيَجُوزُ لِلْمُهْدِي أَنْ يَأْكُلَ اسْتِحْبَابًا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ مِنْ دَمِ الْمُتْعَةِ وَالْقِرَانِ وَالتَّطَوُّعِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مِنْ دَمِ التَّطَوُّعِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْ غَيْرِهَا لِأَنَّهَا عِنْدَهُمْ دِمَاءُ كَفَّارَاتٍ، وَلَوْ أَكَلَ مِنْهَا ضَمِنَ خِلَافًا لِمَالِكٍ.

وَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِالْهَدْيِ عَلَى فَقِيرِ الْحَرَمِ وَغَيْرِهِ مِنَ الْفُقَرَاءِ الْمُسْتَحِقِّينَ، لِأَنَّ الصَّدَقَةَ قُرْبَةٌ مَنْقُولَةٌ، وَالصَّدَقَةَ عَلَى كُلِّ فَقِيرٍ قُرْبَةٌ خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ.

وَيَقُومُ مَقَامَ تَصَدُّقِ الْمُهْدِي بِنَفْسِهِ تَصَدُّقُ وَكِيلِهِ أَوْ نَائِبِهِ بِالْحَرَمِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ مُجْزِيًا وَمُسْقِطًا لِلطَّلَبِ عَنِ الْمُهْدِي.

ثَالِثًا - وَفِي يَوْمِ التَّرْوِيَةِ وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّامِنُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ يَخْرُجُ الْحَاجُّ مِنْ مَكَّةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ إِلَى مِنًى، فَيُقِيمُ بِهَا حَتَّى يُصَلِّيَ فَجْرَ يَوْمِ عَرَفَةَ، ثُمَّ يَمْكُثُ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ، ثُمَّ يَتَوَجَّهُ إِلَى عَرَفَاتٍ فَيَقِفُ بِهَا، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى مِنًى يَوْمَ النَّحْرِ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ.

فَيَبْدَأُ بِرَمْيِ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَتُقْطَعُ التَّلْبِيَةُ بِأَوَّلِهَا، ثُمَّ يَذْبَحُ دَمَ التَّطَوُّعِ إِنْ أَحَبَّ، ثُمَّ يَحْلِقُ وَهُوَ أَفْضَلُ أَوْ يُقَصِّرُ، وَقَدْ حَلَّ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ إِلَّا النِّسَاءَ عَلَى خِلَافٍ بَيْنَ الْمَذَاهِبِ.

ثُمَّ يَذْهَبُ فِي يَوْمِهِ أَوِ الْغَدِ أَوْ بَعْدَهُ إِلَى مَكَّةَ فَيَطُوفُ طَوَافَ الزِّيَارَةِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ، وَهُوَ رُكْنٌ فِي الْحَجِّ، وَالنُّزُولُ بِمِنًى عَلَى الْوَجْهِ السَّابِقِ مِنْ سُنَنِ الْحَجِّ، وَتَارِكُهُ يَكُونُ مُسِيئًا.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Pertama, hadyu adalah nama untuk hewan ternak yang dihadiahkan ke tanah haram untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik unta, sapi, maupun kambing, dan minimalnya adalah kambing.

Hadyu boleh dalam segala bentuk kecuali dalam dua keadaan:

*] orang yang melakukan tawaf ziyarah dalam keadaan junub,

*] orang yang berhubungan suami istri setelah wukuf di Arafah.

  Dalam dua keadaan ini tidak sah kecuali dengan unta.

Hadyu terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya hadyu tathawwu’, hadyu tamattu’, dan hadyu qiran. Hadyu tathawwu’ boleh disembelih sebelum hari nahr, dan menyembelih pada hari nahr lebih utama, karena hakikat ibadah sunnah adalah sebagai persembahan yang sampai ke tanah haram. Jika sudah sampai ke tanah haram, maka boleh disembelih di luar hari nahr, meskipun pada hari nahr lebih utama karena makna ibadah pada pengaliran darah lebih tampak.

Adapun dam tamattu’ dan qiran, maka penyembelihannya khusus pada hari-hari nahr berdasarkan firman Allah, “maka makanlah darinya dan berikan kepada orang fakir.” Penyempurnaan ibadah (tafath) juga terkait dengan hari nahr, dan karena itu ia termasuk (دَمٌ نُسُك) seperti kurban.

Tidak boleh menyembelih hadyu kecuali di tanah haram berdasarkan firman Allah tentang (جَزَاءُ الصَّيْدِ): “hadya sampai ke Ka’bah”, serta firman-Nya tentang (الحِصَارُ): “jangan mencukur kepala kalian sampai hadyu sampai ke tempatnya”, dan firman-Nya secara umum: “kemudian tempat penyembelihannya adalah di Baitul ‘Atiq”. Karena hadyu adalah sesuatu yang dihadiahkan ke suatu tempat, dan tempat itu berdasarkan ijma’ adalah tanah haram.

Penyembelihan boleh dilakukan di bagian mana saja dari tanah haram dan tidak khusus di Mina. Sebagian ulama mengatakan harus di Mina, tetapi yang benar adalah pendapat pertama.

Nabi bersabda: “Arafah adalah tempat wukuf, seluruh Mina adalah tempat penyembelihan, seluruh Muzdalifah adalah tempat wukuf, dan seluruh jalan di Mekah adalah jalan dan tempat penyembelihan.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah dari Jabir)

Imam al-Fath menyimpulkan bahwa darah ada dua jenis: yang terikat waktu dan tempat, dan yang hanya terikat tempat.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan: hadyu tathawwu’ boleh disembelih sebelum hari nahr, dan pada hari nahr lebih utama. Adapun tamattu’ dan qiran tidak boleh kecuali pada hari nahr. Ketiganya wajib disembelih di tanah haram termasuk Mina.

Kedua, orang yang berhadyu menurut mazhab Hanafi dianjurkan boleh memakan sebagian dari hadyu tamattu’, qiran, dan tathawwu’. Menurut mazhab Syafi’i, tidak boleh memakan kecuali dari hadyu tathawwu’. Selain itu, ia boleh menyedekahkan hadyu kepada fakir di tanah haram maupun selainnya karena sedekah adalah ibadah yang luas.

Jika orang yang berhadyu mewakilkan kepada orang lain di tanah haram untuk menyedekahkan hadyu, maka hal itu sah dan menggugurkan kewajiban darinya.

Ketiga, pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), jamaah haji keluar dari Mekah menuju Mina setelah Subuh dan tinggal di sana hingga Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah). Setelah itu menuju Arafah untuk wukuf, kemudian kembali ke Mina pada hari nahr sebelum matahari terbit.

Di Mina ia melakukan lempar jumrah Aqabah dengan tujuh batu, bertakbir setiap lemparan, lalu berhenti dari talbiyah. Setelah itu menyembelih hadyu jika ingin, kemudian mencukur rambut (lebih utama) atau memendekkannya. Dengan itu semua larangan ihram menjadi halal kecuali hubungan suami istri menurut sebagian mazhab.

Kemudian ia menuju Mekah pada hari itu, atau hari berikutnya, atau setelahnya untuk melakukan thawaf ifadah sebanyak tujuh putaran yang merupakan rukun haji.

Mabit (bermalam) di Mina seperti yang disebutkan adalah sunnah haji, dan siapa yang meninggalkannya dianggap melakukan kesalahan. [Wallahu a’lam].

  

Posting Komentar

0 Komentar