STUDI BANDING TERHADAP FATWA SYEIKH AL-ALBANI:
BAHWA SHOLAT SUNNAH QOBLIYAH JUMAT ADALAH BID‘AH
TIDAK ADA DASARNYA & TIDAK ADA
SEORANG PUN DARI PARA SAHABAT DAN PARA IMAM YANG MEMBOLEHKAN-NYA
Di Tulis Oleh Ibnu Kardipan
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
====
DAFTAR ISI:
- TEXT FATWA AL-‘ALLAMAH AL-MUHADDITS AL-ALBANI RAHIMAHULLAH
- STUDI BANDING:
- PERTANYAAN DAN JAWABAN:
- PEMBAHASAN PERTAMA:
- PERTANYAAN: Benarkah tidak ada seorang pun dari kalangan para ulama yang mengatakannya (membolehkan-nya)?
- PEMBAHASAN KEDUA:
- PERTANYAAN: Benarkah tidak ada seorang pun dari para sahabat yang mengatakannya (membolehkan-nya)?
- PEMBAHASAN KE TIGA:
- PERTANYAAN: Benarkah tidak ada dasarnya dari as-Sunnah?
- DALIL-DALIL PENGUAT YANG MENUNJUKKAN BAHWA QOBLYAH JUM’AT BUKAN BID’AH SESAT.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
TEXT FATWA AL-‘ALLAMAH AL-MUHADDITS AL-ALBANI
Al-‘Allamah al-Muhaddits Kontemporer Syaikh Nashiruddin Al-Albani Bin
Haji Nuh -rahimahullah- dengan tegas mengatakan bahwa Shalat sunnah qabliyah
Jumat adalah bid’ah yang di ada-adakan. Beliau berkata dalam kitabnya yang berjudul
“Al-Ajwibah an-Nafi‘ah” halaman 71:
«وَإِنْ قَصَدَ الصَّلَاةَ بَيْنَ الْأَذَانِ الْمَشْرُوعِ
وَالْأَذَانِ الْمُحْدَثِ تِلْكَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا سُنَّةَ الْجُمُعَةِ
الْقَبْلِيَّةِ لَا أَصْلَ لَهَا فِي السُّنَّةِ، وَلَمْ يَقُلْ بِهَا أَحَدٌ مِنَ
الصَّحَابَةِ وَالْأَئِمَّةِ». اهـ.
“Apabila seseorang sengaja shalat antara adzan yang disyariatkan dan adzan
bid’ah (adzan pertama Jum’at), yaitu yang mereka namakan sunnah qobliyah Jumat,
maka hal itu tidak memiliki dasar dalam sunnah dan tidak ada seorang pun dari para
sahabat maupun para imam yang mengatakannya.” [Lihat juga: “Jami‘ Turats
al-‘Allamah al-Albani fi al-Fiqh” 6/67].
Ada 4 point yang bisa diambil dari perkataan
beliau tentang sholat qobliyah Jum’at ini:
Pertama: Bid’ah atau Muhdats. Dan setiap bid’ah menurut beliau pasti
sesat.
Kedua : tidak ada asalnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Ketiga : tidak ada seorang sahabat pun yang mengatakan bahwa sholat
sunnah qobliyah dzuhur itu diperbolehkan.
Keempat : tidak ada seorang imam pun yang mengatakan bahwa sholat
sunnah qobliyah dzuhur itu diperbolehkan.
STUDI BANDING
Tulisan saya
ini hanya sebatas penelitian yang saya mampu lakukan. Tentunya saya ini memiliki
banyak kekurangan dan keterbatasan. Maka tujuan dari tulisan ini hanya untuk study
banding, yakni; sebagai perbandingan saja.
Dan di sini saya sebagai penulis tidak mengklaim apa yang saya tulis
ini pasti benar. Bahkan kemungkinan salahnya jauh lebih besar. Wallahu a’lam.
----
DOA DAN HARAPAN PENULIS :
Penulis do’akan:
رَحِمَ ٱللَّهُ ٱلشُّيُوخَ ٱلَّذِينَ
يَزِنُونَ كَلَامَهُمْ بِمِيزَانِ ٱلْفِقْهِ وَيُكْرِهُونَ تَفَرُّقَ ٱلْمُسْلِمِينَ
وَٱخْتِلَافَهُمْ.
“Semoga Allah merahmati para syeikh yang menimbang
kata-kata mereka dengan neraca fikih serta membenci terjadinya perpecahan
diantara umat Islam dan perselisihan! “. Aamiin!!!
Dan penulis harapkan :
Mari kita ambil teladan dari apa yang telah
dilakukan oleh para imam mujtahid dulu, yang diriwayatkan lebih dari satu orang
bahwa sebagian dari mereka ada yang berkata:
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ ٱلْخَطَأَ،
وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ ٱلصَّوَابَ
Pendapat saya benar dan ada kemungkinan salah, dan
pendapat orang lain salah dan ada kemungkinan benar.
Dalam hadits ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu
‘anhu di sebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
" إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ
ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ
أَجْرٌ
".
“Apabila seorang Hakim berijtihad kemudian ia
benar, maka ia memperoleh dua pahala. Dan apabila ia berijtihad namun salah
maka ia memperoleh satu pahala.” [Mutafaqun 'alaihi].
Kami juga menginginkan agar para ulama yang
memperdebatkan hukum masalah-masalah furu’iyyah agar senantiasa memperhatikan
qaidah-qaidah dasar perdebatan yang sudah makruf, yaitu diantaranya:
ٱلدَّلِيلُ إِذَا تَطَرَّقَ إِلَيْهِ
ٱلْاِحْتِمَالُ سَقَطَ بِهِ ٱلْاِسْتِدْلَالُ فَلَا يَتَمَسَّكُ بِٱلدَّلِيلِ لِإِثْبَاتِ
ٱلْوُجُوبِ أَوِ ٱلْحُرْمَةِ إِذَا ٱحْتَمَلَ ٱلنَّدْبَ أَوِ ٱلْكَراهَةَ، وَٱلْاِحْتِمَالُ
قَدْ يَكُونُ فِي ثُبُوتِ ٱلدَّلِيلِ وَقَدْ يَكُونُ فِي دَلَٰلَتِهِ. وَيَكْفِي ٱلْمُتَعَبِّدِ
أَنْ يَصِلَ إِلَىٰ مَعْرِفَةِ ٱلْحُكْمِ وَلَوْ بِطَرِيقِ غَلَبَةِ ٱلظَّنِّ، فَذَٰلِكَ
وُسْعُهُ ٱلَّذِي لَا يُكَلِّفُهُ ٱللَّهُ إِلَّا بِهِ.
Sebuah Dalil jika padanya terdapat kemungkinan
untuk dalil yang lain atau kebalikannya, maka gagal-lah berdalil dengannya,
maka dia tidak boleh berpegang pada dalil tsb untuk menetapkan hukum wajib atau
haram jika ada kemungkinan untuk sunnah atau makruh. Dan kemungkinan itu
terkadang dalam ketetapan dalil dan terkadang dalam signifikansinya (dalil yang
diisyaaratkan darinya).
Dan cukuplah bagi seorang yang mau beribadah untuk
mendapatkan pengetahuan tentang hukum, meskipun dengan praduga yang rajih (غَلَبَةِ ٱلظَّنِّ), karena yang demikian itu sesuai dengan batas kemampuannya,
yang mana Allah ﷺ tidak akan membebaninya kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Al-Imam Asy-Syawkani berkata dalam Neilul
Awthor (2/231) :
“Perbedaan pendapat dan keilmuan jangan sampai
menimbulkan perpecahan dan fitnah di kalangan umat Islam”.
Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid berkata :
لَا نَرَى أَنْ يَتَعَامَلَ ٱلْمُسْلِمُ
مَعَ ٱلْمَسَائِلِ ٱلِاجْتِهَادِيَّةِ بَيْنَ أَهْلِ ٱلْعِلْمِ بِمِثْلِ هَذِهِ ٱلْحَسَّاسِيَّةِ،
فَيَجْعَلَ مِنْهَا سَبَبًا لِحُصُولِ ٱلْفُرْقَةِ وَٱلْفِتَنِ بَيْنَ ٱلْمُسْلِمِينَ.
Kami berpendapat bahwa umat Islam tidak boleh
sensitif dalam menghadapi perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah
dengan menjadikannya sebagai penyebab perpecahan dan fitnah di kalangan umat
Islam. [ ISALMQA : no. 9036 Publikasi : 09-10-2002].
Syekh Ibnu Utsaimin – rahimahullah- ketika melihat runcingnya perpecahan yang
disebabkan oleh perbedaan pendapat tentang rakaat tarawih, dia berkata :
"وَيُؤْسِفُنَا كَثِيرًا أَنْ نَجِدَ فِي
ٱلْأُمَّةِ ٱلْإِسْلَامِيَّةِ ٱلْمُتَفَتِّحَةِ فِئَةً تَخْتَلِفُ فِي أُمُورٍ يُسَاغُ
فِيهَا ٱلْخِلَافُ، فَتَجْعَلَ ٱلْخِلَافَ فِيهَا سَبَبًا لِٱخْتِلَافِ ٱلْقُلُوبِ،
فَٱلْخِلَافُ فِي ٱلْأُمَّةِ مَوْجُودٌ فِي عَهْدِ ٱلصَّحَابَةِ، وَمَعَ ذَٰلِكَ بَقِيَتْ
قُلُوبُهُمْ مُتَّفِقَةً.
فَٱلْوَاجِبُ عَلَى ٱلشَّبَابِ خَاصَّةً،
وَعَلَى كُلِّ ٱلْمُلْتَزِمِينَ أَنْ يَكُونُوا يَدًا وَاحِدَةً وَمَظْهَرًا وَاحِدًا؛
لِأَنَّ لَهُمْ أَعْدَاءً يَتَرَبَّصُونَ بِهِمُ ٱلدَّوَائِرَ."
“Sangat menyedihkan bagi kami bahwa kami menemukan
di antara umat Islam banyak kelompok yang berselisih tentang hal-hal di mana
perbedaan pendapat dapat diterima, dan mereka menjadikan perbedaan ini sebagai
sarana untuk menyebabkan perpecahan.
Padahal perbedaan-perbedaan dalam ummat ini telah
ada pada masa Sahabat, namun mereka tetap bersatu.
Para pemuda khususnya dan semua yang berkomitmen pada Islam harus tetap bersatu, karena diluar sana ada banyak musuh umat Islam yang terus memantau .” (Al-Sharh al-Mumti' 4/225)
===***===
PERTANYAAN DAN JAWABAN:
----
PERTANYAAN:
Pertama: Benarkah tidak ada seorang pun dari kalangan para ulama yang
memperbolehkan-nya?
Kedua : Benarkah tidak ada seorang pun dari para sahabat yang memperbolehkan-nya?
Ketiga : Benarkah tidak ada dasarnya dari as-Sunnah?
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA:
PERTANYAAN: Benarkah tidak ada seorang pun
dari kalangan para ulama yang mengatakannya (membolehkan-nya)?
****
JAWABAN-NYA :
Sholat
Sunnah Rawaatib Qobliyah Jum’at adalah pendapat para ulama salaf sebagai
berikut :
1].
Pendapat madzhab Hanafi,
2].
Madzhab Syafi'i menurut yang paling jelas dari dua pendapat (فِي أَظْهَرِ الْوَجْهَيْنِ).
3.
Madzhab Hanbali dalam salah satu dari dua riwayat.
4].
Al-Awzaa’i (wafat. tahun 157 H)
5].
Ats-Tsauri (w. 161 H)
6].
Abdullah Ibnu al-Mubaarak (w.181 H).
7].
Abu Mijlaz, Lahiq bin Humaid al-Bashri al-A’war (106 H)
8].
Thoowus bin Kiisan al-Yamaani, murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu (w. 106).
9].
An-Nakho’i, Ibrahim bin Yazid (w. 96 H).
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf (1/463):
عَنْ
أَبِي مِجْلَزٍ:
«أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي
فِي بَيْتِهِ رَكْعَتَيْنِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ،»
وَعَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ طَاوُوسٍ عَنْ أَبِيهِ: «أَنَّهُ
كَانَ لَا يَأْتِي الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ رَكْعَتَيْنِ»
وَعَنِ
الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: «كَانُوا
يُصَلُّونَ قَبْلَهَا أَيْ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا»
Dari Abu Mijlaz (wafat 106 H): bahwa beliau dahulu mengerjakan dua
rakaat di rumahnya pada hari Jumat.
Demikian pula dari ‘Abdullah bin Thawus, dari ayahnya Thowus (wafat 106
H), bahwa beliau tidak datang ke masjid pada hari Jumat sampai beliau
mengerjakan dua rakaat di rumahnya.
Dan dari Al-A‘masy, dari Ibrahim an-Nakho’i (wafat 96 H) , ia berkata:
“Mereka dahulu senantiasa mengerjakan empat rakaat qobliyah Jumat.”
Dari Ibnu Shihab, dari Tsa’labah bin Abi Malik
Al-Qurodzi (wafat 91 H -100 H):
«أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُمْ كَانُوا فِي زَمَانِ
عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ يُصَلُّونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَخْرُجَ عُمَرُ، فَإِذَا
خَرَجَ عُمَرُ وَجَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُونَ، قَالَ ثَعْلَبَةُ:
جَلَسْنَا نَتَحَدَّثُ، فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُونَ وَقَامَ عُمَرُ يَخْطُبُ، أَنْصَتْنَا
فَلَمْ يَتَكَلَّمْ مِنَّا أَحَدٌ».
(bahwasannya dia menceritakan padanya bahwa pada
masa Umar bin Al-Khattab mereka biasa shalat sunnah pada hari Jum’at hingga
Umar keluar.
Maka jika Umar keluar dan duduk di atas mimbar dan
para muadzin mengumandangkan adzan, Tsa’labah berkata: “Kami duduk berbicara,
dan jika para muadzin terdiam dan Umar menyampaikan khotbah, maka kami
mendengarkannya dan tidak seorang pun dari kami yang berbicara.
[HR. Malik (1/103) (7), Asy-Syafi'i dalam *Al-Umm*
(1/227), Ath-Thohawi dalam *Syarh Ma'ani Al-Atsar* (2174), dan Al-Tabarani
dalam *Musnad Asy-Syamiyyin* (3229). Al-Bayhaqi dalam *As-Sunan Al-Kubra*
(5684).
Di shahihkan oleh Al-Nawawi dalam “ٱلْخُلَاصَة” (2/808). Dan Adz-Dzahabi mengatakan dalam “المُهَذَّبُ” (3/1123).):
“فِيهِ ثَعْلَبَةُ احْتَجَّ بِهِ البُخَارِيُّ”
“Di dalam sanadnya terdapat Tsa’labah, al-Bukhori
berhujjah dengannya “.
Di shahihkan sanadnya oleh Al-Aini dalam “نُخَبُ الأفْكَار” (6/48), dan Al-Albani mengatakan dalam “تَمَامُ المِنَّةِ” (hal. 399):
لَهُ مُتَابِعٌ إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
Dia
memiliki mutaabi’ yang sanadnya nya shahih “.
---
IMAM BUKHORI dalam kitab
Shahih-nya menulis “BAB QOBLIYAH JUM'A'T”.
Mungkin
dengan adanya hadits-hadits yang dia sebutkan yang mendorong imam Al-Bukhari
untuk menulis Bab dalam “Shahih” nya:
بَابُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ وَقَبْلَهَا
BAB: Sholat setelah [Ba'diyah] Jum'at dan sebelum
nya [Qobliyah] ".
---
Ini
adalah pendapak mayoritas para ulama, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu
Rajab al-Hanbali.
Al-Hafidz Ibnu Rajab – rahimahullah- (wafat 795 H) adalah seorang Ahli Hadits terkemuka dan ahli Fiqih dari madzhab Hanbali. Beliau berkata dalam “فَتْحُ البَارِي” (8/333-334, Cetk. مَكْتَبَةُ الغُرَبَاءِ):
[وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي الصَّلَاةِ قَبْلَ الجُمُعَةِ: هَلْ هِيَ مِنَ
السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ كَسُنَّةِ الظُّهْرِ قَبْلَهَا، أَمْ هِيَ مُسْتَحَبَّةٌ مُرَغَّبٌ
فِيهَا كَالصَّلَاةِ قَبْلَ العَصْرِ؟ وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ
رَاتِبَةٌ، مِنْهُمْ: الأَوْزَاعِيُّ، وَالثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَأَصْحَابُهُ،
وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ أَحْمَدَ، وَقَدْ ذَكَرَهُ القَاضِي أَبُو يَعْلَى فِي
"شَرْح الْمَذْهَبِ" وَابْنُ عَقِيلٍ، وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ أَصْحَابِ
الشَّافِعِيِّ. وَقَالَ كَثِيرٌ مِنْ مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِنَا: لَيْسَتْ سُنَّةً
رَاتِبَةً، بَلْ مُسْتَحَبَّةٌ] إهـ.
[Telah
terjadi perbedaan pendapat tentang shalat sebelum sholat Jum’at:
Apakah
itu termasuk sunnah rawaatib, seperti sunnah qobliyah zuhur, ataukah itu adalah
sholat mustahabbah yang dianjurkan seperti sholat mustahabbah sebelum sholat
Ashar?
Mayoritas
para ulama menganggapnya sebagai sunnah rawaatib, diantaranya: Al-Awza'i (w. 157 H), Ats-Tsawri (w.
161 H), Abu Hanifah (w. 150), dan para sahabatnya, dan itu yang nampak dari
pendapat Imam Ahmad, dan Al-Qadhi Abu Ya'la menyebutkannya dalam " شَرْح الْمَذْهَبِ ", dan juga pendapat Ibnu Aqiil, dan yang shahih menurut
para sahabat Imam Al-Syafi'i.
Dan
banyak dari sahabat kita (Madzhab Hanbali. Pen.) dari kalangan Mutaakhirin
berkata: Bahwa Ini bukan sunnah rawaatib, melainkan mustahabbah “. (Selesai
kutipan).
Bahkan
Al-Hafidz Ibnu Rajab – rahimahullah- meriwayatkan adanya Ijma’
(kesepakatan para ulama dan umat) bahwa Qobliyah Juma’t itu di syari’atkan. Dalam
kitabnya "فَتْحُ البَارِي" Syarah Shahih Bukhori (8/331) beliau
berkata:
وَقَدْ رَوَى
ٱبْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ فِي "تَارِيخِهِ" مِنْ طَرِيقِ ٱلْأَعْمَشِ، عَنِ
ٱلنَّخَعِيِّ، قَالَ: مَا قُلْتُ لَكُمْ: كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ، فَهُوَ ٱلَّذِي
أَجْمَعُوا عَلَيْهِ.
Ibnu
Abi Khaitsamah meriwayatkan dalam “Taarikh”nya melalui jalur Al-A'mash, dari
Al-Nakho'ii, dia berkata:
“Apa
yang saya katakan: mereka menganggap mustahabb [empat rokaat sebelum sholat
Jum'at], oleh karena itu mereka telah ber IJMA' [sepakat dengan suara
bulat bahwa qobliyah Jum’at itu disunnahkan]”.
Lalu
Ibnu Rajab melanjutkan perkataan-nya :
وَمِمَّنْ
ذَهَبَ إِلَى ٱسْتِحْبَابِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ ٱلْجُمُعَةِ: حَبِيبُ بْنُ أَبِي
ثَابِتٍ، وَٱلنَّخَعِيُّ، وَٱلثَّوْرِيُّ، وَٱبْنُ ٱلْمُبَارَكِ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ.
وَرَوَى حَرْبٌ
بِإِسْنَادِهِ، عَنِ ٱبْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي يَوْمَ ٱلْجُمُعَةِ فِي
بَيْتِهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ يَأْتِي ٱلْمَسْجِدَ فَلَا يُصَلِّي قَبْلَهَا
وَلَا بَعْدَهَا.
وَهَذَا يَدُلُّ
عَلَىٰ أَنَّ سُنَّةَ ٱلْجُمُعَةِ عِنْدَ ٱبْنِ عَبَّاسٍ قَبْلَهَا لَا بَعْدَهَا.
Di
antara mereka yang berpendapat bahwa empat rakaat sebelum shalat Jum’at itu
mustahab adalah: Habib bin Abi Tsabit (wafat tahun 119 H.), Al-Nakho'ii
(w. 96 H.), Ats-Tsawri (w. 161 H.), Ibnu Al-Mubarak (w. 181 H.), Imam
Ahmad (w. 241 H.) dan Ishaq bin Rahawiah (w. 238 H.).
Harb
telah meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibnu Abbas, bahwa dia biasa sholat
Jum’at empat rakaat di rumahnya, kemudian dia pergi ke masjid dan dia tidak
sholat sebelum atau sesudah sholat Jum'at di masjid. [Fathul Baari karya Ibnu
Rojab 8/331 ]
Syeikhul
Islam Ibnu Taimiyah berkata:
"مَنْ فَعَلَ ذَٰلِكَ ذَٰلِكَ لَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ"
"Siapa
pun yang melakukan itu (Qobliyah Jum’at) ; maka tidak boleh di ingkari".
[Di nukil oleh al-Mardawaih dalam "Al-Inshāf" 2/406 ].
Ibnu
al-Arabi dari madzhab Maliki (wafat
543 ) berkata dalam Syarh Sunan al-Tirmidzi (2/312):
"وَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَهَا يَعْنِي الجُمُعَةَ فَإِنَّهُ
جَائِزٌ" ا هـ.
“Adapun
shalat qobliyah, yaitu sebelum shalat Jum’at, maka itu diperbolehkan.”
Al-‘Allaamah
Al-Mardawai al-Hanbali berkata
dalam “الإِنْصَاف” (5/266-267, cet. هجر):
وَعَنْهُ:
لَهَا (أَيْ لِلْجُمُعَةِ) رَكْعَتَانِ، اخْتَارَهُ ابْنُ عَقِيلٍ. قَالَ الشَّيْخُ
تَقِيُّ الدِّينِ: هُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الإِمَامِ أَحْمَدَ، قُلْتُ:
اخْتَارَهُ الْقَاضِي مُصَرَّحًا بِهِ فِي "شَرْح الْمَذْهَبِ"، قَالَهُ
ابْنُ رَجَبٍ فِي كِتَابِ "نَفْيِ الْبِدْعَةِ عَنِ الصَّلَاةِ قَبْلَ الْجُمُعَةِ".
وَعَنْهُ:
أَرْبَعٌ بِسَلَامٍ أَوْ سَلَامَيْنِ، قَالَهُ فِي "الرِّعَايَةِ" أَيْضًا،
قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ: هُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِنَا أَيْضًا،
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: رَأَيْتُ أَبِي يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ رَكَعَاتٍ، وَقَالَ: رَأَيْتُهُ يُصَلِّي رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْخُطْبَةِ،
فَإِذَا قَرُبَ الْأَذَانُ أَوِ الْخُطْبَةُ تَرَبَّعَ وَنَكَّسَ رَأْسَهُ. وَقَالَ
ابْنُ هَانِئٍ: رَأَيْتُهُ إِذَا أَخَذَ فِي الْأَذَانِ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ
أَوْ أَرْبَعًا، قَالَ: وَقَالَ: أَخْتَارُ قَبْلَهَا رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا سِتًّا،
وَصَلَاةُ أَحْمَدَ تَدُلُّ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ. ا.هـ.
[Dan
dari nya (yakni: dari sebagian riwayat-riwayat dari Imam Ahmad): Baginya (yaitu
bagi shalat Jum’at) ada dua rakaat, ini yang dipilih oleh Ibnu Aqiil. Syekh
Taqiyud-Diin berkata: Ini adalah pendapat sekelompok dari sahabat-sahabat Imam
Ahmad.
Aku
berkata: Ini adalah yang dipilih oleh al-Qodhi sebagaimana secara eksplisit
disebutkan dalam “شَرْح الْمَذْهَبِ”. Ibnu Rajab mengatakannya dalam kitab “نفي البِدْعَةِ عن الصَّلاةِ قبلَ الجُمُعَة” (menolak pengklaiman bid'ah tentang
shalat qobliyah Jum’at).”
Dan
dari nya (dari Imam Ahmad Pen.): “Empat rokaat dalam satu salam atau dua
salam”, disebutkan pula dalam "الرِّعَايَةِ" juga.
Syekh
Taqiyud-Din berkata: Ini
adalah perkataan sekelompok sahabat kita juga.
Abdullah
(bin Imam Ahmad) berkata:
“Saya
melihat ayah saya sholat beberapa rokaat di masjid ketika muadzin telah
mengumandangkan adzan pada hari Jum’at “. Dan dia berkata: “Saya melihatnya
sholat dua rakaat sebelum khutbah “.
Ibnu
Hani' berkata: “Aku
melihatnya (Imam Ahmad) jika Muzdin telah mengumandangkan adzan, maka dia
bangun dan sholat dua atau empat rakaat”.
Dia
berkata: “Dan dia berkata: Saya memilih dua rakaat sebelumnya (sebelum sholat
Juma’at Pen.) dan enam rokaat setelahnya. Dan dengan adanya shalat Imam Ahmad
ini menunjukkan bahwa itu adalah mustahab.] (Selesai).
Dan
dalam Matholib Ulin Nuha 1/782, ar-Rahaibani berkata:
قَالَ عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: رَأَيْتُ أَبِي يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ إِذَا
أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ.
Abdullah
bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku melihat ayahku shalat di masjid ketika
muadzin telah mengumandangkan azan sebanyak empat rakaat.”
Menurut
Madzhab Hanafi: Sunnah
Rawaatib Qobliyah Jum’at adalah empat Rokaat, dan sholat Sunnah Rawaatib
Ba’diyah juga empat rokaat.
Al-‘Allaamah
Ibnu Abidin al-Hanafi
mengatakan dalam “رَدُّ الْمُحْتَارِ عَلَى
الدُّرِّ الْمُخْتَارِ” (1/452,
Cet. إحياء التراث):
وَسُنَّ مُؤَكَّدًا
أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الْجُمُعَةِ، وَأَرْبَعٌ بَعْدَها بِتَسْلِيمَةٍ
اهـ.
[Adalah
disunnahkan sunnah muakkad empat rakaat sebelum sholat dzuhur, empat rakaat
sebelum Jum’at, dan empat rokaat setelahnya dengan satu kali salam ].
(Selesai).
[Lihat
pula kitab al-Ikhtiyar Li Ta’lil al-Mukhtaar (1/228) karya Abdullah bin Mahmud
bin Maudud Al-Maushili Al-Hanafi dan ad-Durr al-Muhtar karya al-Hashkafi hal.
91]
Madzhab
Syafi'i mengatakan: Minimal
rokaat sholat sunnah rawaatib adalah dua rakaat sebelumnya, dan dua rakaat
setelahnya. [المِنْهَاجُ (1/216)]
Al-‘Allaamah
al-Khothiib al-Sharbiini asy-Syafi'i
berkata dalam " مُغْنِي المُحْتَاج " (1/220, cet. Dar al-Fikr):
وَبَعْدَ
الْجُمُعَةِ أَرْبَعٌ، وَقَبْلَهَا مَا قَبْلَ الظُّهْرِ؛ أَيْ: رَكْعَتَانِ مُؤَكَّدَتَانِ
وَرَكْعَتَانِ غَيْرَ مُؤَكَّدَتَيْنِ اهـ.
[Dan
setelah Jum’at ada empat rokaat, dan yang sebelumnya sama seperti sebelum
sholat dzuhur; yaitu, dua rakaat yang sunnah muakkad dan dua rakaat yang tidak
mu’akkadi]. (Sls).
===***===
PEMBAHASAN KEDUA:
PERTANYAAN: Benarkah tidak ada seorang pun
dari para sahabat yang mengatakannya (membolehkan-nya)?
****
JAWABAN
Cukuplah sebagai dalil disyariatkannya dua rakaat qobliyah Jumat
perbuatan sahabat mulia Ibnu Mas‘ud, Ibnu Umar, dan Ummul Mukminin Shafiyyah
binti Huyayy radhiyallahu ‘anhum, juga perbuatan Abu Majlaz — yaitu Lahiq bin
Humaid, seorang tabi‘in yang mulia — serta Thawus bin Kaisan Al-Yamani, salah
seorang murid terbesar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan termasuk pembesar
tabi‘in serta orang-orang terpercaya mereka, juga Ibrahim bin Yazid An-Nakha‘i,
seorang tabi‘in tsiqah dan mufti penduduk Kufah pada zamannya, serta
persetujuan Sufyan Ats-Tsauri dan Ibnul Mubarak yang keduanya termasuk ulama
besar yang mengamalkan ilmunya.
Dan cukuplah pula tashih hadits tersebut oleh Al-Hafidz yang terpercaya
dan kokoh, yaitu Az-Zain Al-‘Iraqi — guru Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani —
dan selain beliau.
Sa'iid bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya:
أَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَكَانَ ابْنُ
مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ،
وَبَعْدَهَا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ.
Para sahabat, radhiyallahu 'anhum, biasa shalat
empat rakaat qobliyah Jum’at, dan Ibnu Mas’ud, radhiyallahu 'anhu, biasa shalat
empat rakaat sebelum shalat Jum’at., dan kemudian empat rakaat setelahnya.
[Lihat: Maʿrifat
as-Sunan wa al-Ātsār* 4/338, karya al-Baihaqi. Cet. Dār
al-Wa’y, asy-Syarhul Kabir ‘ala al-Muqni’ 5/267 dan juga
al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu karya az-Zuhailiy 2/1326]
Berikut ini diantara riwayat-riwayat atsar sahabat yang melakukan
amalan shalat sunnah Qobliyah Jum’at:
====
ATSAR SAHABAT PERTAMA:
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu:
Adapun hadits Ibnu Mas‘ud yang mauquf ada beberapa riwayat:
-----
Riwayat ke 1:
Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq dalam kitab Al-Mushannaf (3/246 no.
5524. Tahqiq al-A’dzomi) dari Ma‘mar, dari Qatadah:
«أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ
الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَبَعْدَهَا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ»
“Bahwasanya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu dahulu mengerjakan shalat
empat rakaat sebelum Jumat dan empat rakaat sesudahnya.”
Sanad atsar Ibnu Mas’ud ini dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam Talkhishul Habir (2/149 Cet. Qorthobah).
Dan Syeikh al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dho’ifah 3/83 no. 5524
berkata:
وَهٰذَا
سَنَدٌ صَحِيحٌ لَوْلَا أَنَّ قَتَادَةَ لَمْ يَسْمَعْ مِنِ ابْنِ مَسْعُودٍ كَمَا
قَالَ الْهَيْثَمِيُّ (2/195).
“Ini adalah sanad yang shahih seandainya Qatadah mendengar langsung
dari Ibnu Mas‘ud, sebagaimana dikatakan oleh Al-Haitsami (2/195)”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
"وَفِي الْبَابِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَلِيٍّ فِي الطَّبَرَانِيِّ
فِي الْأَوْسَطِ.
وَصَحَّ
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ فِعْلِهِ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ.
وَفِي
الطَّبَرَانِيِّ فِي الْأَوْسَطِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا
رَكْعَتَيْنِ» . رَوَاهُ فِي تَرْجَمَةِ أَحْمَدَ بْنِ عَمْرٍو".
“Dalam
bab ini juga terdapat riwayat dari Ibnu Mas‘ud dan ‘Ali dalam Al-Mu‘jam
Al-Awsath karya Ath-Thabarani.
Dan telah shahih dari perbuatan Ibnu Mas‘ud sendiri, yang
diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq.
Dalam Al-Mu‘jam Al-Awsath karya Ath-Thabarani, dari Abu Hurairah,
disebutkan: ‘Bahwasanya Nabi ﷺ dahulu mengerjakan shalat
dua rakaat sebelum Jumat dan dua rakaat sesudahnya.’ Riwayat ini disebutkan
dalam biografi Ahmad bin ‘Amr.” [Talkhishul Habir (2/149 Cet. Qorthobah)]
-----
Riwayat ke 2:
‘Abdur Razzaq juga dalam Al-Mushannaf (3/247 no. 5525) meriwayatkan dengan
sanad lain: Dari Ats-Tsauri, dari ‘Atha’ bin As-Sa’ib, dari Abu ‘Abdirrahman
As-Sulami, ia berkata:
كَانَ
عَبْدُ اللَّهِ يَأْمُرُنَا أَنْ نُصَلِّيَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا، وَبَعْدَهَا
أَرْبَعًا
“Bahwa Ibnu Mas‘ud dahulu memerintahkan kami agar kami mengerjakan
shalat empat rakaat sebelum Jumat, dan empat raka’at setelah Jum’at”.
Diriwayatkan pula oleh al-Tabarani dalam al-Mu`jam
al-Kabir 9/310.
Dalam kitab *Ad-Dirayah fi Takhrīj
Aḥādīth
al-Hidāyah*
1/217-218, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ
ابْنِ مَسْعُودٍ كَانَ يَأْمُرُ بِذَٰلِكَ. وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ.
“Diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq dari Ibnu Mas`ud:
“Bahwa dia dulu menyuruhnya untuk itu (sholat sunnah sebelum sholat Jum’at
Pen.). Perawinya dapat dipercaya “.
Dan Syeikh al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dho’ifah 3/83 berkata:
"قُلْتُ: وَهٰذَا سَنَدٌ صَحِيحٌ لَا عِلَّةَ فِيهِ، وَعَطَاءُ
بْنُ السَّائِبِ وَإِنْ كَانَ اخْتَلَطَ؛ فَالثَّوْرِيُّ قَدْ رَوَى عَنْهُ قَبْلَ
الِاخْتِلَاطِ".
Aku (al-Albani) katakan: “Ini adalah sanad yang shahih dan tidak
terdapat cacat di dalamnya. Meskipun ‘Atha’ bin As-Sa’ib mengalami ikhtilath,
namun Ats-Tsauri meriwayatkan darinya sebelum terjadinya ikhtilath tersebut.”
Dan dalam Majallah Jami’ah Ummul Quro 8/106 di sebutkan:
وَسَنَدُهُ
حَسَنٌ، عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ مُخْتَلِطٌ، لٰكِنْ سَمَاعُ الثَّوْرِيِّ مِنْهُ قَبْلَ
الِاخْتِلَاطِ، كَمَا قَالَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ الصَّلَاحِ
وَغَيْرُهُمْ.
وَأَمَّا
سَمَاعُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مِنِ ابْنِ مَسْعُودٍ فَنَفَاهُ شُعْبَةُ وَأَثْبَتَهُ
الْبُخَارِيُّ.
“Sanadnya hasan. ‘Atha’ bin As-Sa’ib memang mengalami ikhtilath, namun
riwayat Ats-Tsauri darinya adalah sebelum masa ikhtilath, sebagaimana dikatakan
oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Ash-Shalah, dan selain mereka.
Adapun riwayat Abu ‘Abdirrahman dari Ibnu Mas‘ud, maka Syu‘bah
menafikannya, sedangkan Al-Bukhari menetapkannya”.
Dan Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dalam Al-Mushannaf (1/463) :
أَنَّ
ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا.
“Bahwa Ibnu Mas‘ud dahulu senantiasa mengerjakan shalat empat rakaat
sebelum Jumat”.
Syeikh Ahmad Syarif an-Na’saan berkata dalam
fatwanya no. 4976:
وَجَاءَ فِي "آثَارِ السُّنَنِ":
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، وَهُوَ مَوْقُوفٌ فِي حُكْمِ الْمَرْفُوعِ، فَإِنَّ الظَّاهِرَ
أَنَّهُ إِنَّمَا أَمَرَ بِهٰذَا لِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ فِيهِ شَيْءٌ.
Dan itu ada dalam kitab “آثَارِ السُّنَنِ”: Sanadnya Shahih, dan itu MAUQUF dalam
hukum MARFU’, karena tampaknya dia tidak sekali-kali menyuruhnya kecuali karena
telah ada ketetapan dari Nabi ﷺ tentang
hal itu.
Dar al-Ifta al-Masyriyyah dalam Fatawanya (9/17) menjelaskan:
فَقَدْ
جَاءَ فِي الْأَثَرِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي
قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا، قَالَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ:
وَكَانَ يَأْمُرُ النَّاسَ وَيُعَلِّمُهُمْ ذٰلِكَ، كَمَا جَاءَ فِي «إِطْفَاءِ الْفِتَنِ
عَلَى إِعْلَاءِ السُّنَنِ» لِحَكِيمِ الْهِنْدِ «أَشْرَفَ عَلَى التَّهَانَوِيِّ».
وَجَاءَ فِي «نَصْبِ الرَّايَةِ»: «كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَأْمُرُنَا أَنْ نُصَلِّيَ
قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا». رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ
فِي مُصَنَّفِهِ اهـ. وَفِي «الدِّرَايَةِ»: رِجَالُهُ ثِقَاتٌ. وَفِي «آثَارِ السُّنَنِ»:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ.
لَا
يُقَالُ: إِنَّ هٰذَا نَفْلٌ مُطْلَقٌ لَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ لِلْجُمُعَةِ، فَالنَّفْلُ
الْمُطْلَقُ يُرَغَّبُ فِيهِ تَرْغِيبًا عَامًّا، وَلَا يُعْتَمُّ وَلَا يُؤْمَرُ بِهِ
أَمْرَ إِرْشَادٍ بِهٰذِهِ الْعِنَايَةِ وَهٰذَا التَّأْكِيدِ مِنِ ابْنِ مَسْعُودٍ.
وَهٰذَا الْأَثَرُ الْمَوْقُوفُ لَهُ حُكْمُ الْمَرْفُوعِ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّهُ
قَدْ ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ شَيْءٌ، وَإِلَّا لَمَا أَمَرَ بِهِ.
يَقُولُ
الْكَمَالُ بْنُ الْهُمَامِ تَعْلِيقًا عَلَى قَوْلِ صَاحِبِ «الْهِدَايَةِ»: «وَلَمْ
يَكُنْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَّا هٰذَا الْأَذَانُ»: إِنَّ مَا رُوِيَ
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ ذَهَبَ إِلَيْهِ ابْنُ الْمُبَارَكِ وَالثَّوْرِيُّ.
Telah datang riwayat dari Ibnu Mas‘ud dengan sanad shahih bahwa beliau
dahulu melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Jumat dan empat rakaat
sesudahnya. Hal ini disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jami‘-nya. Beliau
juga memerintahkan manusia dan mengajarkan hal tersebut kepada mereka,
sebagaimana disebutkan dalam kitab Ithfa’ Al-Fitan ‘Ala I‘la’ As-Sunan karya
Hakimul Hind Asyraf At-Tahanawi.
Dan dalam Nashb Ar-Rayah disebutkan: “Abdullah (Ibnu Mas‘ud) dahulu
memerintahkan kami agar melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Jumat dan
empat rakaat sesudahnya.”
Riwayat ini dibawakan oleh Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf. Dalam
Ad-Dirayah disebutkan: “Para perawinya tsiqah.” Dan dalam Atsar As-Sunan
disebutkan: “Sanadnya shahih.”
Tidak boleh dikatakan bahwa ini hanyalah shalat sunnah mutlak dan bukan
sunnah ratibah Jumat. Sebab, shalat sunnah mutlak hanya dianjurkan secara umum,
tidak diperhatikan dan tidak diperintahkan dengan pengarahan serta perhatian
dan penegasan seperti ini dari Ibnu Mas‘ud.
Dan atsar mauquf ini memiliki hukum marfu‘, karena secara lahir tampak
bahwa beliau memiliki dasar dari Nabi ﷺ tentang masalah ini. Kalau
tidak demikian, tentu beliau tidak akan memerintahkannya.
Al-Kamal Ibnu Al-Humam berkata sebagai komentar terhadap ucapan penulis
Al-Hidayah: “Dan pada masa Rasulullah ﷺ tidak ada adzan selain ini.”
Beliau berkata: “Sesungguhnya apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud
itu juga menjadi pendapat Ibnu Al-Mubarak dan Ats-Tsauri.”
Syeikh Ahmad Syarif an-Na’saan berkata dalam
fatwanya no. 4976:
وَجَاءَ فِي "آثَارِ السُّنَنِ":
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، وَهُوَ مَوْقُوفٌ فِي حُكْمِ الْمَرْفُوعِ، فَإِنَّ الظَّاهِرَ
أَنَّهُ إِنَّمَا أَمَرَ بِهٰذَا لِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ فِيهِ شَيْءٌ.
Dan itu ada dalam kitab “آثَارِ السُّنَنِ”: Sanadnya Shahih, dan itu MAUQUF dalam
hukum MARFU’, karena tampaknya dia tidak sekali-kali menyuruhnya kecuali karena
telah ada ketetapan dari Nabi ﷺ tentang
hal itu.
Sa'iid bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya:
أَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَكَانَ ابْنُ
مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ،
وَبَعْدَهَا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ.
Para sahabat, radhiyallahu 'anhum, biasa shalat
empat rakaat sebelum shalat Jum’at, dan Ibnu Mas’ud, radhiyallahu 'anhu, biasa
shalat empat rakaat sebelum shalat Jum’at., dan kemudian empat rakaat
setelahnya. [Lihat pula: *Maʿrifat
as-Sunan wa al-Ātsār* 4/338, karya al-Baihaqi. Cet. Dār
al-Waʿy.]
===
BANTAHAN & KRITIKAN
Ada sebagian ulama yang berkomentar:
لَا يُقَالُ: إِنَّ هَذَا نَفْلٌ
مُطْلَقٌ لَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ لِلْجُمُعَةِ، فَالنَّفْلُ الْمُطْلَقُ يُرَغَّبُ فِيهِ
تَرْغِيبًا عَامًّا وَلَا يُعَلَّمُ وَلَا يُؤْمَرُ بِهِ أَمْرَ إِرْشَادٍ بِهَذِهِ
الْعِنَايَةِ وَهَذَا التَّأْكِيدِ مِنْ ابْنِ مَسْعُودٍ. وَهَذَا الْأَثَرُ ٱلْمَوْقُوفُ
لَهُ حُكْمُ ٱلْمَرْفُوعِ؛ لِأَنَّ ٱلظَّاهِرَ أَنَّهُ قَدْ ثَبَتَ عَنْهُ مِنَ النَّبِيِّ
ـ ﷺ ـ فِيهِ شَيْءٌ، وَإِلَّا لَمَا أَمَرَ بِهِ. يَقُولُ ٱلْكَمَالُ بْنُ ٱلْهَمَامِ
تَعْلِيقًا عَلَىٰ قَوْلِ صَاحِبِ "ٱلْهِدَايَةِ" "وَلَمْ يَكُنْ عَلَىٰ
عَهْدِ رَسُولِ ٱللَّهِ ـ ﷺ ـ إِلَّا هَذَا الْأَذَانِ": إِنَّ مَا رُوِيَ عَنْ
ابْنِ مَسْعُودٍ ذَهَبَ إِلَيْهِ ابْنُ ٱلْمُبَارَكِ وَٱلثَّوْرِيُّ.
Tidak boleh dikatakan: Ini adalah Sunnah mutlak,
bukan sunnah rawaatib untuk shalat Jum'at. Karena Sunnah mutlak itu anjurannya
bersifat umum, tidak diajarkan dan tidak diperintahkan dengan perintah
bimbingan yang penuh perhatian seperti ini, dan ini adalah ta’kiid/pengukuhan
dari Ibnu Mas’ud.
Dan atsar ini MAUQUF pada Ibnu Mas’ud namun
berhukum MARFU’, Karena tampaknya telah ada ketetapan dari Nabi ﷺ bahwa ada sesuatu di dalamnya, jika tidak, maka
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak akan memerintahkannya. (Selesai).
Al-Kamaal bin Al-Hamaam berkata, mengomentari
perkataan penulis kitab “الهداية”:
وَلَمْ يَكُنْ عَلَىٰ عَهْدِ رَسُولِ
ٱللَّهِ ـ ﷺ ـ إِلَّا هَذَا الْأَذَانُ.
“Pada masa Rasulullah ﷺ, tidak ada apa-apa selain adzan ini “.
----
JAWABAN ATAS BANTAHAN & KRITIKAN:
Jawabannya:
إِنَّ مَا رُوِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ
ذَهَبَ إِلَيْهِ ابْنُ ٱلْمُبَارَكِ وَٱلثَّوْرِيُّ.
Pada kenyataanya apa yang diriwayatkan dari Ibnu
Mas’ud, itu menjadi madzhab Ibnu al-Mubarak dan ats-Tsauri”.
[Lihat pula: *‘Awn al-Ma‘bud* 3/447. syarah hadits no. 1115.
====
ATSAR SAHABAT KEDUA:
Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhuma
Dari Nafi‘ mawla Ibnu Umar, ia berkata:
«كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ وَيُصَلِّي
بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَفْعَلُ
ذٰلِكَ».
“Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma- dahulu senantiasa memanjangkan
shalat sebelum Jumat dan mengerjakan dua rakaat setelahnya di rumahnya. Beliau
juga menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ dahulu melakukan hal
tersebut.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya pada Kitab
Ash-Shalah, Bab Shalat Setelah Jumat dan Ahmad dalam Musnad-nya (2/103).
Di shahihkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (lihat Al-Ihsan (4/84))
dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/168).
Dishahihkan pula sanadnya oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud 1/294
no. 1128 dan juga oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Sunan Abu Daud 2/341
no. 1128 dan dalam Tahqiq al-Ihsan 6/227 no. 2476]
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq (5526), dan Ahmad
(2/35) dari jalur Ma‘mar, serta An-Nasa’i (3/113) dalam Kitab Al-Jumu‘ah, Bab Memanjangkan
Dua Rakaat Setelah Jumat, dari jalur Syu‘bah. Keduanya meriwayatkannya dari
Ayyub, dengan lafaz yang semakna.
Dan Ahmad juga meriwayatkannya (2/75 dan 77) dari jalur ‘Ubaidullah,
dari Nafi‘, dengan riwayat yang lebih ringkas.
Dar al-Ifta al-Masyriyyah dalam Fatawanya (9/17) menjelaskan tentang
atsar Ibnu Umar ini:
قَالَ
الْعِرَاقِيُّ: إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ.
يَقُولُ
الزَّرْقَانِيُّ عَلَى الْمَوَاهِبِ اللَّدُنِّيَّةِ «ج 8 ص 29»: وَاحْتَجَّ بِهِ النَّوَوِيُّ
فِي الْخُلَاصَةِ عَلَى إِثْبَاتِ سُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا، لِأَنَّ
اسْمَ الْإِشَارَةِ (ذٰلِكَ) يَرْجِعُ إِلَى الْأَمْرَيْنِ: الصَّلَاةِ قَبْلَهَا،
وَالصَّلَاةِ بَعْدَهَا فِي الْبَيْتِ.
لٰكِنَّ
الصَّحِيحَ أَنَّ اسْمَ الْإِشَارَةِ رَاجِعٌ إِلَى الثَّانِي، وَهُوَ الصَّلَاةُ الْبَعْدِيَّةُ؛
لِمَا رَوَاهُ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ
إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ قَالَ:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُ ذٰلِكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
وَأَمَّا
إِطَالَةُ ابْنِ عُمَرَ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ، فَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بَعْدَ
دُخُولِ الْوَقْتِ، وَذٰلِكَ لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ كَانَ يَخْرُجُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، فَيَشْتَغِلُ بِالْخُطْبَةِ، ثُمَّ بِصَلَاةِ
الْجُمُعَةِ، وَلَا يَتَنَفَّلُ.
وَإِمَّا
أَنْ يَكُونَ قَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ، فَذٰلِكَ مُطْلَقُ نَافِلَةٍ لَا صَلَاةٌ رَاتِبَةٌ،
فَلَا حُجَّةَ فِيهِ لِسُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا، وَقَدْ وَرَدَ التَّرْغِيبُ
فِي التَّنَفُّلِ قَبْلَ وَقْتِ الْجُمُعَةِ. اهـ.
لٰكِنْ
يُرَدُّ عَلَى هٰذَا بِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا كَمَا
سَبَقَ فِي بَنْدِ (3)، وَكَانَ ذٰلِكَ فِي بَيْتِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى النَّاسِ
لِخُطْبَةِ الْجُمُعَةِ.
Al-‘Iraqi berkata: “Sanadnya shahih.”
Az-Zarqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah jilid 8 halaman 29
berkata:
“An-Nawawi berdalil dengan hadits ini dalam kitab Al-Khulashah untuk
menetapkan adanya sunnah qabliyah Jumat, karena isim isyarah ‘ذَلِكَ’ kembali kepada dua perkara sekaligus: shalat sebelum Jumat dan
shalat setelah Jumat di rumah. Akan tetapi, yang benar isim isyarah tersebut
kembali kepada perkara kedua, yaitu shalat ba‘diyah.
Hal ini berdasarkan riwayat Al-Laits bin Sa‘d dari Nafi‘ dari Ibnu Umar:
Bahwa apabila beliau telah melaksanakan shalat Jumat, beliau pulang
lalu shalat dua rakaat di rumahnya, kemudian berkata: ‘Nabi ﷺ dahulu melakukan demikian.’
Riwayat ini dikeluarkan oleh Muslim.
Adapun kebiasaan Ibnu Umar memanjangkan shalat sebelum Jumat, maka
kemungkinan itu dilakukan setelah masuk waktu. Namun hal itu tidak bisa
dihukumi marfu‘ kepada Nabi ﷺ, karena Nabi ﷺ dahulu keluar ketika matahari telah tergelincir, lalu beliau
sibuk dengan khutbah kemudian shalat Jumat dan tidak melakukan shalat sunnah.
Atau kemungkinan itu dilakukan sebelum masuk waktu, maka itu hanyalah
shalat sunnah mutlak, bukan shalat sunnah ratibah. Oleh karena itu, tidak ada
hujjah di dalamnya untuk menetapkan sunnah qabliyah Jumat. Memang telah ada
anjuran untuk melakukan shalat sunnah sebelum waktu Jumat.”
Namun pendapat ini dibantah bahwa Nabi ﷺ telah melaksanakan shalat
empat rakaat sebelum Jumat sebagaimana telah disebutkan pada poin ketiga, dan
hal itu dilakukan di rumah beliau sebelum keluar menemui manusia untuk khutbah
Jumat”. [Selesai]
====
ATSAR SAHABAT KE TIGA:
Ummul Mu’minin Shofiyyah binti Huyay, Istri
Nabi ﷺ:
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam ath-Thobaqot 8/491dari
Yazid bin Harun, dari Hammaad bin Salamah, dari Shoofiyah (صَافِيَة).
Hammaad mendengar Shoofiyah (صَافِيَة) berkata:
«رَأَيْتُ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ صَلَّتْ أَرْبَعًا قَبْلَ خُرُوجِ
الْإِمَامِ وَصَلَّتِ الْجُمُعَةَ مَعَ الْإِمَامِ رَكْعَتَيْنِ».
“Saya melihat Shofiyyah (صَفِيَّة) binti
Huyayy shalat empat rakaat sebelum imam keluar, dan dia shalat Jum’at bersama
imam dua rakaat.”
Dan Shofiyyah itu adalah istri Nabi ﷺ, maka
kemungkinan besar atau pada umumnya dia melihat Nabi ﷺ melakukan
itu sebelum beliau pergi ke masjid.
Az-Zaila'i (w. 762) menyebutkan dlam "Naṣhbur
Rāyah"
1/31:
أَنَّ ابْنَ سَعْدٍ رَوَى فِي ٱلطَّبَقَاتِ
أَنَّ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ صَلَّتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ خُرُوجِ ٱلْإِمَامِ
لِلْجُمُعَةِ ثُمَّ صَلَّتِ ٱلْجُمُعَةَ مَعَ ٱلْإِمَامِ رَكْعَتَيْنِ.
"Ibnu Saad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat
bahwa Shofiyyah binti Huyyay shalat empat rakaat sebelum imam keluar untuk
shalat Jum’at, kemudian shalat Jum’at bersama imam dua rakaat".
Di sebutkan pula oleh Ibnu Rojab dalam “فَتْحُ البَارِي (8/329), dia berkata:
رَوَى ابْنُ سَعْدٍ فِي "طَبَقَاتِهِ"
بِإِسْنَادِهِ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، أَنَّهَا صَلَّتِ
الْجُمُعَةَ مَعَ الْإِمَامِ، فَصَلَّتْ قَبْلَ خُرُوجِهِ أَرْبَعًا. وَقَالَ النَّخَعِيُّ:
كَانُوا يُحِبُّونَ أَنْ يُصَلُّوا قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا. خَرَّجَهُ ابْنُ
أَبِي الدُّنْيَا فِي "كِتَابِ الْعِيدَيْنِ" بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.
Ibnu Saad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat dengan
sanadnya dari Shofiyyah binti Huyyay Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha:
Bahwa dia shalat empat rakaat sebelum imam keluar
untuk shalat Jum’at, kemudian shalat Jum’at bersama imam dua rakaat.
An-Nakha'i berkata: Mereka menyukai shalat empat
rakaat sebelum sholat Jum’at.
Itu dimasukkan oleh Ibnu Abi al-Dunya dalam "كِتَابُ الْعِيدَيْنِ" dengan SANAD YANG SHAHIH". (Selesai).
Dan Ibnu Hajar menyebutkannya dalam “فَتْحُ البَارِي” (3/553):
وَرَوَى ابنُ سَعْدٍ عَنْ
صَفِيَّةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ مَوْقُوفًا نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shofiyyah, istri Nabi ﷺ dengan sanad mauquf, mirip hadits Abu Hurairah.
Dan al-Hafidz ibnu Hajar tidak berkomentar, ini
menunjukkan bahwa atsar tsb shahih atau hasan menurutnya seperti biasa nya.
Dalam Majallah Jami’ah Ummul Quro 24-19 (8/110) di sebutkan:
وَفِي
إِسْنَادِهِ صَافِيَةُ، ذَكَرَهَا ابْنُ سَعْدٍ فِي الطَّبَقَاتِ، وَلَمْ يَذْكُرْ
فِيهَا جَرْحًا وَلَا تَعْدِيلًا.
“Dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi bernama Shoofiyah.
Ibnu Sa‘d menyebutkannya dalam kitab Ath-Thabaqat, namun beliau tidak
menyebutkan adanya penilaian jarh maupun ta‘dil terhadapnya”.
Dar al-Ifta al-Masyriyyah dalam Fatawanya (9/17) menjelaskan:
وَذَكَرَ
الزَّيْلَعِيُّ «ج 1 ص 31» أَنَّ ابْنَ سَعْدٍ رَوَى فِي الطَّبَقَاتِ أَنَّ صَفِيَّةَ
بِنْتَ حُيَيٍّ صَلَّتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ خُرُوجِ الْإِمَامِ لِلْجُمُعَةِ،
ثُمَّ صَلَّتِ الْجُمُعَةَ مَعَ الْإِمَامِ رَكْعَتَيْنِ.
وَذَكَرَهُ
ابْنُ حَجَرٍ فِي الْفَتْحِ «ج 3 ص 553»، فَهُوَ صَحِيحٌ أَوْ حَسَنٌ كَعَادَتِهِ.
وَصَفِيَّةُ
زَوْجُ النَّبِيِّ ﷺ، وَالْغَالِبُ أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ ﷺ يَفْعَلُ ذٰلِكَ قَبْلَ
خُرُوجِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ.
“Az-Zaila‘i menyebutkan dalam jilid 1 halaman 31 bahwa Ibnu Sa‘d
meriwayatkan dalam Ath-Thabaqat bahwa Shafiyyah binti Huyay melaksanakan shalat
empat rakaat sebelum imam keluar untuk shalat Jumat, kemudian beliau
melaksanakan shalat Jumat bersama imam sebanyak dua rakaat.
Ibnu Hajar juga menyebutkannya dalam Fath Al-Bari jilid 3 halaman 553,
sehingga riwayat tersebut shahih atau hasan sebagaimana kebiasaan beliau
dalam penilaian hadits.
Shafiyyah adalah istri Nabi ﷺ, dan yang tampak kuat adalah
bahwa beliau melihat Nabi ﷺ melakukan hal tersebut
sebelum keluar menuju masjid”. [Selesai]
****
PEMBAHASAN KE TIGA:
PERTANYAAN: Benarkah tidak ada dasarnya dari
as-Sunnah?
===
JAWABANNYA:
----
Pertama : Hadits Ali bin Abu Tholib radhiyallahu ‘anhu
Al-Hafidz Zainuddin Al-‘Iraqi dalam Syarah At-Tirmidzi menyebutkan:
أَنَّ
الْخُلَعِيَّ رَوَى فِي فَوَائِدِهِ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ مِنْ طَرِيقِ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ
عَنْ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ
يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا»
bahwa Al-Khulā’ī meriwayatkan
dalam kitab Fawā’id-nya dengan sanad yang jayyid
melalui jalur Abu Ishaq, dari ‘Ashim bin Dhamrah, dari Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu:
“Bahwa Nabi ﷺ dahulu senantiasa melaksanakan
shalat empat rakaat sebelum Jumat.”
Sanad hadits tersebut jayyid sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz
Waliuddin Al-‘Iraqi dalam kitab Thorḥu At-Tatsrīb fī Syarḥ At-Taqrīb (3/41–42).
Takhrij hadits Ali radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan dari Hushoin bin Nashr Abi Jaafar,
telah bercerita pada kami Khalifah, telah bercerita pada kami Muhammad bin
Abdur-Rahman al-Sahmi, telah bercerita pada kami Hushoin, dari Abu Ishaq, dari
Ashim bin Dhomroh dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
"كَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا ، وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا ؛
يَجْعَلُ التَّسْلِيمَ فِي آخِرِهِنَّ رَكْعَةً"
"Rasulullah ﷺ sholat sebelum Jum’at empat, dan
setelahnya empat; menjadikannya dalam satu salam diakhir rakaat keempat."
[HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath 6/249
No. 6318].
Ath-Thabarani berkata:
لَمْ
يَرْوِ هٰذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ إِلَّا حُصَيْنٌ، وَلَا رَوَاهُ عَنْ
حُصَيْنٍ إِلَّا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّهْمِيُّ. اهـ.
“Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Ishaq
kecuali oleh Hushain, dan tidak diriwayatkan dari Hushain kecuali oleh Muhammad
bin ‘Abdurrahman as-Sahmi.” Selesai.
Dan di dhaifkan sanadnya oleh al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam “فَتْحُ البَارِي (2/126)”.
Hadits ini disebutkan pula oleh al-Hafidz Ibnu
Hajar dengan sanadnya dalam "Lisān al-Mīzān" 5/245,
biografi no.849.
Di dalam sanad hadits terdapat perawi yang bernama
Muhammad bin Abdul Rahman Al-Sahmi. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ
السَّهْمِيُّ الْبَاهِلِيُّ عَنْ حُصَيْنٍ. قَالَ الْبُخَارِيُّ : "لَا يُتَابَعُ
عَلَى رِوَايَتِهِ". وَقَالَ الْفَلَّاسُ: "تُوُفِّيَ سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِينَ
وَمِائَةٍ". وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: "عِنْدِي لَا بَأْسَ بِهِ، رَوَى عَنْهُ
ابْنُ الْمُثَنَّى وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ. انْتَهَى. وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ:
"ضَعِيفٌ". وَنَقَلَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي
الثِّقَاتُ.
“(Riwayat) Muhammad ibnu Abdur-Rahman al-Sahmi
al-Baahili, dari Husain, Imam al-Bukhari berkata, “Dia tidak bisa di jadikan
mutaba’ah pada riwayatnya ”.
Al-Falas berkata, “Dia meninggal pada tahun seratus
delapan puluh tujuh.” Ibnu ‘Adiy berkata, “Tidak masalah dengannya, telah
meriwayatkan darinya Ibnu Al-Mutsanna dan Nashr bin Ali.(Sls).
Yahya bin Ma’in mengatakan: “dia lemah”. Dan itu
dikutip oleh Ibnu Abi Haatim.
Dan Ibnu Hibban menyebutkan dia dalam kitab “الثِّقَاتُ” (Yakni: kumpulan para perawi yang dipercaya)”. [Lihat
"Lisān
al-Mīzān"
5/245, biografi no. 849].
Ibnu ‘Adiy berkata dalam al-Kamil fi Dhu‘afa’
ar-Rijal, 6/226:
لَا بَأْسَ بِهِ،
لٰكِنْ تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرُ وَاحِدٍ.
“Tidak mengapa dengannya (yakni; Muhammad bin
‘Abdurrahman as-Sahmi), akan tetapi lebih dari satu ulama telah membicarakan
kelemahannya.”
Al-Bukhari berkata dalam at-Tarikh al-Kabir, 1/210:
لَا يُتَابَعُ فِي
حَدِيثِهِ.
“Haditsnya tidak diikuti oleh perawi lain.”
Ibnu Ma‘in juga melemahkannya. Lihat Tarikh Ibnu
Ma‘in riwayat ad-Duri, 3/531.
Abu Hatim berkata dalam al-Jarh wa at-Ta‘dil, 7/322:
“Ia bukan perawi yang masyhur.”
Dan periwayatan Muhammad bin ‘Abdurrahman dari Abu
Ishaq tidak jelas apakah dilakukan sebelum masa ikhtilath (bercampurnya
hafalan) atau setelahnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhish
al-Habir, 2/74:
رَوَاهُ الْأَثْرَمُ
وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ بِلَفْظِ … وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
السَّهْمِيُّ، وَهُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ، وَقَالَ الْأَثْرَمُ:
إِنَّهُ حَدِيثٌ وَاهٍ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh al-Athram dan
ath-Thabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsath dengan lafaz … Di dalam sanadnya
terdapat Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sahmi, dan ia dinilai lemah oleh
al-Bukhari dan selainnya. Al-Athram berkata: sesungguhnya hadits ini lemah.”
Meskipun di dalam sanadnya ada perawi yang
diperdebatkan tentang dirinya, yaitu Muhammad bin Abdul Rahman Al-Sahmi, namun
Syeikh ‘Ali Al-Qaari (w. 1014 H) mengatakan dalam kitabnya “مِرْقَاةُ الْمَفَاتِيحِ شَرْحُ مِشْكَاةِ
الْمَصَابِيحِ”:
وَقَدْ جَاءَ فِي إِسْنَادٍ جَيِّدٍ
– كَمَا قَالَ الْحَافِظُ الْعِرَاقِيُّ – أَنَّهُ ﷺ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا
“Diriwayatkan dengan Sanad Jayyid/bagus,
sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafidz al-‘Iraqi: “Bahwa Rasulullah ﷺ shalat
empat rakaat sebelum Jum’at”.
====
Kedua : Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma
----
Hadits Ibnu Umar ke 1:
Dari Nafi‘ mawla Ibnu Umar, ia berkata:
«كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ وَيُصَلِّي
بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَفْعَلُ
ذٰلِكَ».
“Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma- dahulu senantiasa memanjangkan
shalat sebelum Jumat dan mengerjakan dua rakaat setelahnya di rumahnya. Beliau
juga menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ dahulu melakukan hal
tersebut.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya pada Kitab
Ash-Shalah, Bab Shalat Setelah Jumat dan Ahmad dalam Musnad-nya (2/103).
Di shahihkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (lihat Al-Ihsan (4/84))
dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/168).
Dishahihkan pula sanadnya oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud 1/294
no. 1128 dan juga oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Sunan Abu Daud 2/341
no. 1128 dan dalam Tahqiq al-Ihsan 6/227 no. 2476]
Abu Iisa at-Tirmidzy berkata:
وقال عطاء: قَالَ رَأَيْتُ
ابْنَ عُمَرَ صَلَّى بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ صَلَّى بَعْدَ
ذَلِكَ أَرْبَعًا ".
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu
'anhu, bahwa beliau memerintahkan sholat setelah sholat Jum'at sebanyak dua
rakaat, kemudian empat rakaat.
'Atha rahimahullah berkata: "Aku melihat Ibnu
Umar sholat setelah sholat Jum'at sebanyak dua rakaat, lalu sholat setelah itu
empat rakaat."
(Sunan At-Tirmidzi No. 523 dan *Tuḥfat
al-Aḥwadhī*
3/47 no. 523 ]
Syeikh Ahmad Syarif an-Na’saan berkata dalam
fatwanya no. 4976:
رَوَى الطَّحَاوِيُّ وَإِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ كَمَا فِي «آثَارِ السُّنَنِ» عَنْ عَبْدِ الله بنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا: (أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الجُمُعَةِ أَرْبَعًا، لا يَفْصِلُ
بَيْنَهُنَّ بِسَلامٍ، ثُمَّ بَعْدَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ أَرْبَعًا)".
Ath-Thohaawi meriwayatkan - dan sanadnya SHAHIH,
seperti dalam atsar-atsar Sunan, dari Abdullah bin Umar - semoga Allah meridhoi
keduanya -:
(Bahwa Dia biasa shalat empat rakaat sebelum Jum’at,
tidak memisahkan antara empat rakaat tsb dengan Salam, kemudian setelah Jum’at
dua rakaat kemudian empat “.
Abu ‘Abdirrahman Syaraf Al-Haqq Al-‘Adzim Abadi berkata dalam ‘Aunul
Ma‘bud Syarh Sunan Abi Dawud (1/438):
«وَالْحَدِيثُ - أَيْ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ الْمُتَقَدِّمُ - يَدُلُّ
عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الصَّلَاةِ قَبْلَ الْجُمُعَةِ، وَلَمْ يَتَمَسَّكِ الْمَانِعُ
مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا بِحَدِيثِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ وَقْتَ الزَّوَالِ، وَهُوَ
مَعَ كَوْنِ عُمُومِهِ مُخَصَّصًا بِيَوْمِ الْجُمُعَةِ لَيْسَ فِيهِ مَا يَدُلُّ عَلَى
الْمَنْعِ مِنَ الصَّلَاةِ قَبْلَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ، وَغَايَةُ مَا فِيهِ
الْمَنْعُ فِي وَقْتِ الزَّوَالِ، وَهُوَ غَيْرُ مَحَلِّ النِّزَاعِ، وَالْحَاصِلُ
أَنَّ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ مُرَغَّبٌ فِيهَا عُمُومًا».
“Hadits — yaitu hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan — menunjukkan disyariatkannya
shalat qobliyah Jumat. Tidak ada dalil yang dipakai oleh pihak yang
melarang hal tersebut kecuali hadits larangan shalat ketika matahari tepat di
tengah langit. Padahal, selain keumumannya telah dikhususkan untuk hari Jumat,
hadits itu juga tidak menunjukkan larangan shalat sebelum Jumat secara mutlak.
Paling jauh hanya menunjukkan larangan pada waktu zawal, dan itu bukan titik
perselisihan.
Kesimpulannya,
shalat sebelum Jumat dianjurkan secara umum.”
Kemudian beliau berkata:
«قُلْتُ: حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ الَّذِي شَرَحَهُ قَالَ النَّوَوِيُّ
فِي الْخُلَاصَةِ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، وَقَالَ الْعِرَاقِيُّ فِي
شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ لَا جَرَمَ، وَأَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ
فِي صَحِيحِهِ» اهـ.
“Aku berkata: Hadits Ibnu Umar yang sedang dijelaskan ini, An-Nawawi
berkata dalam Al-Khulashah: ‘Shahih sesuai syarat Al-Bukhari.’ Dan Al-‘Iraqi
berkata dalam Syarh At-Tirmidzi: ‘Sanadnya shahih.’ Bahkan Ibnu Hibban juga
meriwayatkannya dalam Shahih-nya.” (Selesai).
Di shahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbaan.
Dalam kitab "Khulāṣat al-Aḥkām" 2/812, Imam an-Nawawi menyatakan:
أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ فِي
"سُنَنِهِ"، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ فِي "صَحِيحَيْهِمَا"،
وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ.
“Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Ibnu
Khuzaymah dalam shahinya dan Ibnu Hibban dalam Shahih nya. Dan Sanadnya sesuai
dengan syarat Shahih al-Bukhari “.
[Di nukil pula dalam "Naṣhbur Rāyah" 2/244 karya az-Zaila’i w. 762 ].
Lafadz dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Naafi’,
ia berkata:
كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُهَجِّرُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَيُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ الْإِمَامُ
Dulu Ibnu ‘Umar bergegas-gegas (berangkat ke
masjid) pada hari Jum’at, lalu memanjangkan shalatnya sebelum imam keluar
(untuk berkhuthbah)”
[HR. Ibnu Abi Syaibah 2/129 (4/114) no. 5403;
sanadnya shahih].
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2/426:
ٱحْتَجَّ بِهِ النَّوَوِيُّ فِي
ٱلْخُلَاصَةِ عَلَى إِثْبَاتِ سُنَّةِ ٱلْجُمُعَةِ ٱلَّتِي قَبْلَهَا.
“Dengan hadits ini Al-Nawawi dalam “ٱلْخُلَاصَة” berargumentasi untuk menetapkan Sunnah nya sholat Qoblyah
Jum’at “.
===
BANTAHAN & KRITIKAN:
Al-Zarqani mengatakan pada "Al-Mawāhib
al-Laduniyyah" 8/29:
وَٱحْتَجَّ بِهِ ٱلنَّوَوِيُّ فِي
ٱلْخُلَاصَةِ عَلَى إِثْبَاتِ سُنَّةِ ٱلْجُمُعَةِ ٱلَّتِي قَبْلَهَا؛ لِأَنَّ ٱسْمَ
ٱلْإِشَارَةِ (ذَلِكَ) يَرْجِعُ إِلَى ٱلْأَمْرَيْنِ ـ ٱلصَّلَاةِ قَبْلَهَا وَٱلصَّلَاةِ
بَعْدَهَا فِي ٱلْبَيْتِ ـ لَٰكِنِ ٱلصَّحِيحُ أَنَّ ٱسْمَ ٱلْإِشَارَةِ رَاجِعٌ إِلَى
ٱلثَّانِي ـ ٱلصَّلَاةِ ٱلْبَعْدِيَّةِ ـ لِمَا رَوَاهُ ٱللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ
نَافِعٍ عَنِ ٱبْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى ٱلْجُمُعَةَ ٱنْصَرَفَ فَسَجَدَ
سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ: كَانَ ٱلنَّبِيُّ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ. رَوَاهُ
مُسْلِمٌ.
وَأَمَّا إِطَالَةُ ٱبْنِ عُمَرَ
ٱلصَّلَاةَ قَبْلَ ٱلْجُمُعَةِ فَإِمَّا أَنْ تَكُونَ بَعْدَ دُخُولِ ٱلْوَقْتِ، وَذَٰلِكَ
لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا؛ لِأَنَّ ٱلنَّبِيَّ كَانَ يَخْرُجُ إِذَا زَالَتِ
ٱلشَّمْسُ فَيَشْتَغِلُ بِٱلْخُطْبَةِ ثُمَّ بِصَلَاةِ ٱلْجُمُعَةِ وَلَا يَتَنَفَّلُ،
وَإِمَّا أَنْ تَكُونَ قَبْلَ دُخُولِ ٱلْوَقْتِ فَذَٰلِكَ مُطْلَقُ نَافِلَةٍ لَا
صَلَاةَ رَاتِبَةٍ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ لِسُنَّةِ ٱلْجُمُعَةِ ٱلَّتِي قَبْلَهَا، وَقَدْ
وُرِدَ ٱلتَّرْغِيبُ فِي ٱلتَّنَفُّلِ قَبْلَ وَقْتِ ٱلْجُمُعَةِ. أهـ.
Al-Nawawi berargumentasi dengannya dalam “ٱلْخُلَاصَة” sebagai dalil akan Sunnahnya Qobliyah Jum’at. Karena isim
Isyarah/kata tunjuk (ذَلِكَ) di sini mengacu pada dua hal - sholat sebelum dan sholat
sesudahnya di rumah -.
Akan tetapi yang shahih bahwa isim isyarah/kata
tunjuk tsb mengacu pada yang kedua – yaitu setelah sholat Jum’at, berdasarkan
hadits riwayat al-Laits bin Sa’ad dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu
‘anhu:
أنَّهُ كانَ إذَا صَلَّى
الجُمُعَةَ انْصَرَفَ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ في بَيْتِهِ، ثُمَّ قالَ: كانَ
رَسولُ اللهِ ﷺ يَصْنَعُ ذلكَ
Bahwa ketika dia selesai shalat Jum’at, maka dia
pulang dan melakukan sholat dua rokaat di rumahnya, lalu dia berkata:
Rasulullah ﷺ
senantiasa melakukan demikian “. (HR. Muslim no. 882).
Adapun Ibnu Umar yang memanjangkan shalat-nya
sebelum shalat Jum'at, jika itu terjadi setelah masuknya waktu, maka itu tidak
bisa dikatakan Marfu’ kepada Nabi ﷺ, Karena Nabi biasa keluar ketika matahari
telah condong ke barat (masuk waktu dzuhur), maka beliau akan sibuk
menyampaikan khotbah, kemudian sibuk dengan sholat Jum’at, maka beliau tidak
akan punya waktu untuk sholat sunnah (Qobliyah).
Dan jika sholat sunnahnya sebelum waktunya, maka
itu adalah shalat sunnah mutlak, bukan sunnah rawaatib, dengan demikian maka
tidak ada dalil di dalamnya untuk sunnah qobliyah Jum'at, dan adapun adanya
anjuran untuk sholat sunnah itu maka itu sebelum masuk waktu sholat Jum'at”.
(Selesai kutipan).
Al-Hafidz Ibnu Hajar juga dlam (فَتْحُ البَارِي (2/125), syarah hadits no. 937) berkata mirip seperti diatas:
وَأَمَّا قَوْلُهُ كَانَ
يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ فَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ بَعْدَ دُخُولِ
الْوَقْتِ فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا لِأَنَّهُ ﷺ كَانَ يَخْرُجُ
إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَيَشْتَغِلُ بِالْخُطْبَةِ ثُمَّ بِصَلَاةِ الْجُمُعَةِ
وَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ قَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ فَذَلِكَ مُطْلَقُ نَافِلَةٍ
لَا صَلَاةٌ رَاتِبَةٌ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ لِسُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي
قَبْلَهَا بَلْ هُوَ تَنَفُّلٌ مُطْلَقٌ وَقَدْ وَرَدَ التَّرْغِيبُ فِيهِ
“Dan adapaun perkataanya: “memperpanjang shalat
sebelum Jum'at “, maka jika yang dimaksud adalah setelah masuk waktunya ; maka
itu tidak shahih dinyatakan marfu’ kepada Nabi ﷺ ; karena beliau ﷺ biasa keluar ketika matahari tergelincir
condong ke barat, maka beliau disibukkan dengan khuthbah kamudian sholat
Jum’at.
Dan jika yang dimaksud itu sebelum masuk waktunya ;
maka itu sholat sunnah mutlak, bukan sholat sunnah rawaatib, maka tidak bisa di
jadikan hujjah untuk sunnah qobliyah Jum’at, melainkan sunnah muthlaq, karena
telah ada hadits yang menganjurkannya “. [Selesai].
----
JAWABAN ATAS BANTAHAN DI ATAS:
Jawaban pertama:
Abu Abdur-Rahman Syarf al-Haq al-‘Adziim Abaadi
mengatakan dalam kitab "ʿAwn
al-Maʿbūd" 1/438:
وَٱلْحَدِيثُ - أَيِ ٱلْحَدِيثُ
ٱبْنِ عُمَرَ ٱلْمُتَقَدِّمُ - يَدُلُّ عَلَىٰ مَشْرُوعِيَّةِ ٱلصَّلَاةِ قَبْلَ ٱلْجُمُعَةِ
وَلَمْ يَتَمَسَّكِ ٱلْمَانِعُ مِنْ ذَٰلِكَ إِلَّا بِحَدِيثِ ٱلنَّهْيِ عَنْ ٱلصَّلَاةِ
وَقْتَ ٱلزَّوَالِ وَهُوَ مَعَ كَوْنِ عُمُومِهِ مُخَصَّصًا بِيَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ لَيْسَ
فِيهِ مَا يَدُلُّ عَلَىٰ ٱلْمَنَعِ مِنَ ٱلصَّلَاةِ قَبْلَ ٱلْجُمُعَةِ عَلَىٰ ٱلْإِطْلَاقِ
وَغَايَةُ مَا فِيهِ ٱلْمَنَعُ فِي وَقْتِ ٱلزَّوَالِ وَهُوَ غَيْرُ مَحِلِّ ٱلنِّزَاعِ
وَٱلْحَاصِلُ أَنَّ ٱلصَّلَاةَ قَبْلَ ٱلْجُمُعَةِ مُرَغَّبٌ فِيهَا عُمُومًا.
Dan hadits – yaitu hadits Ibnu Umar sebelumnya –
menunjukkan disyariatkannya shalat qobliyah Jum’at, dan seseorang tidak bisa
melarangnya kecuali jika ada hadits larangan sholat pada waktu zawaal (dzuhur),
dan itu meskipun berpredikat umum yang dikhusuhkan dengan hari jum’at, namun
itu tidak ada dalil yang menunjukkan larangan sholat sebelum sholat Jum’at
secara mutlak atau absolut. Ujung-ujungnya dalam permasalahan ini adalah
larangan sholat pada waktu zawaal (matahari tergelincir condong ke barat), dan itu
diluar masalah yang kita perdebatkan. Dan kesimpulannya shalat sebelum Jum’at
pada umumnya dianjurkan”.
Jawaban ke dua:
Nabi ﷺ telah shalat empat rakaat atau dua rokaat
sebelum khutbah Jum’at, itu dilakukan di rumahnya sebelum beliau pergi ke
mesjid untuk khotbah Jum’at.
Dalam riwayat Bukhori: Dari Abdullah bin Umar:
أنَّ رَسولَ اللَّهِ ﷺ كانَ
يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ، وبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ، وبَعْدَ
المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ في بَيْتِهِ، وبَعْدَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ، وكانَ لا
يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حتَّى يَنْصَرِفَ، فيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ.
"Bahwa Rosulullah ﷺ biasa melaksanakan dua rakaat sebelum
Zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dan
dua rakaat sesudah Isya. Dan beliau tidak mengerjakan sholat setelah
pelaksanaan Sholat JUM’AT hingga beliau pulang, lalu sholat dua rakaat."
(HR. Bukhori no. 937)
Dan Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan Qobliyah Dzuhur,
termasuk pada hari Jum'at. Dalam lafadz lain dari hadits Ibnu 'Umar, beliau
berkata:
كَانَتْ صَلاةُ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ الَّتِي لَا يَدَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ.
Dulu Sholat Rasulullah ﷺ yang
tidak pernah beliau ﷺ tinggalkan adalah dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua dua rokaat setelah Isya, dan dua
rakaat sebelum Shubuh. (HR. Ahmad no. 7/126, Sanadnya dishahihkan oleh Ahmad
Syaakir).
Ibnul Qoyyim dalam "Zād al-Ma'ād" 1/425 berkata:
قَدْ ذَكَرَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ
إِبْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى فِي ٱلْمَسْجِدِ صَلَّى أَرْبَعًا، وَإِذَا
صَلَّى فِي بَيْتِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.
“Abu Dawud telah menyebutkan dari Ibnu Umar bahwa
ketika dia sholat di masjid dia sholat empat rokaat, dan ketika dia akan sholat
di rumahnya ; sholat dua rokaat.”
[Lihat: Sunan al-Tirmidzi No. (523), Syarah Shahih
al-Bukhari oleh Ibnu Battal 2/525, Zad al-Ma'ad 1/425, Tuhfat al-Ahwadzi 3/48,
"Hujjatullah al-Bālighah" 2/25, "Mirqāt al-Mafātīḥī Sharḥ Mishkāt al-Maṣābīḥ" 4/143]
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam "Ath-Ṭhabaqāt"
8/491 dari Yazid bin Harun, dari Hammaad bin Salamah, dari Shaafiyyah (صَافِيَة). Hammaad
mendengar Shaafiyyah (صَافِيَة) berkata:
"
رَأَيْتُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيِّ صَلَّتْ أَرْبَعًا
قَبْلَ خُرُوجِ الإمَامِ وَ صَلَّتْ الجُمْعَةَ مَع الإمَامِ
رَكْعَتَيْنِ".
“Saya melihat Shofiyyah (صَفِيَّة) binti
Huyayy shalat empat rakaat sebelum imam keluar, dan dia shalat Jum’at bersama
imam dua rakaat.”
Az-Zaila'i (w. 762) menyebutkan dalam "Naṣhbur
Rāyah"
1/31:
أَنَّ ابْنَ سَعِيدٍ رَوَى فِي ٱلطَّبَقَٰتِ
أَنَّ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ صَلَّتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ خُرُوجِ ٱلْإِمَامِ
لِلْجُمُعَةِ ثُمَّ صَلَّتِ ٱلْجُمُعَةَ مَعَ ٱلْإِمَامِ رَكْعَتَيْنِ.
Ibnu Saad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat bahwa
Shofiyyah binti Huyyay shalat empat rakaat sebelum imam keluar untuk shalat
Jum’at, kemudian shalat Jum’at bersama imam dua rakaat.
Dan Ibnu Hajar menyebutkannya dalam “فَتْحُ البَارِي” (3/553):
وَرَوَى ابنُ سَعْدٍ عَنْ
صَفِيَّةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ مَوْقُوفًا نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shofiyyah, istri Nabi ﷺ dengan
sanad mauquf, mirip hadits Abu Hurairah.
Dan al-Hafidz ibnu Hajar tidak berkomentar, ini
menunjukkan bahwa atsar tsb shahih atau hasan menurutnya seperti biasa nya.
Shofiyyah itu adalah istri Nabi ﷺ, maka
kemungkinan besar atau pada umumnya dia melihat Nabi ﷺ melakukan itu sebelum beliau pergi ke
masjid.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Al Hasan
Abdurrahman bin Muhammad bin Yasir dalam (hadits Abu Qasim Ali bin Ya’kub, 108)
dari Ishaq bin Idris, telah menceritakan kepada kami Aban, telah bercerita
kepada kami, Ashim Al-Ahwal dari Nafi’ dari ‘Aisyah secara marfu’ dengan
lafazh:
كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ
الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي أَهْلِهِ
“Rasulullah ﷺ biasa shalat dua raka’at sebelum Jum’at di rumahnya”.
Maka hadits ini batil lagi palsu. Ishaq telah
merusaknya. Dia adalah al-Aswari al-Bashari. Ibnu Mu’ayyan berkata tentang
Ishaq,” Dia seorang pendusta, pemalsu hadits.” (Lihat "الِأَجْوِبَةِ ٱلنَّافِعَةِ" hlm. 28). Ishaq ini, hanya seorang diri dalam
meriwayatkan hadits ini.
Namun ada riwayat hadits lain masih dari 'Aisyah
radhiyallaahu ‘anha, disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Fathul Baari
8/334:
وَفِي "صَحِيحِ ابْنِ حِبَّانِ"،
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا خَرَجَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.
وَرَوَيْنَاهُ مِنْ وَجْهِ آخَرَ
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: مَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ عِندِي قَطُّ إِلَّا صَلَّى
رَكْعَتَيْنِ.
" Dalam Shahih Ibnu Hibban, dari Aisyah
radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Dulu Rasulullah ﷺ terbiasa jika hendak keluar, maka dia
sholat dua rakaat terlebih dahulu.
Dan
kami meriwayatkannya dari sisi lain dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhu, dia
berkata: Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah keluar dari rumah ku kecuali setelah
shalat dua rakaat". (Sls)
----
Hadits Ibnu Umar ke 2:
Imam Bukhori dalam Shahihnya membuat bab:
بَابُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ وَقَبْلَهَا
BAB: Sholat setelah Jum'at [Ba'diyah] dan sebelum
nya [Qobliyah] “
Lalu Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Umar:
«أَنَّ
رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ،
وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَبَعْدَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ،
وَكَانَ لَا يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ»
“Rasulullah
ﷺ dahulu mengerjakan dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dan dua rakaat setelah
Isya. Dan beliau tidak mengerjakan shalat setelah Jumat sampai beliau pulang
lalu mengerjakan dua rakaat.” [HR. Bukhari no. (937)]
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (2/426):
«وَلَمْ يَذْكُرْ شَيْئًا فِي الصَّلَاةِ قَبْلَهَا» يَعْنِي الْجُمُعَةَ.
قَالَ
ابْنُ الْمُنَيِّرِ فِي الْحَاشِيَةِ: «كَأَنَّهُ يَقُولُ: الْأَصْلُ اسْتِوَاءُ الظُّهْرِ
وَالْجُمُعَةِ حَتَّى يَدُلَّ دَلِيلٌ عَلَى خِلَافِهِ؛ لِأَنَّ الْجُمُعَةَ بَدَلُ
الظُّهْرِ».
قَالَ:
«وَكَانَتْ عِنَايَتُهُ بِحُكْمِ الصَّلَاةِ بَعْدَهَا أَكْثَرَ، وَلِذٰلِكَ قَدَّمَهُ
فِي التَّرْجَمَةِ عَلَى خِلَافِ الْعَادَةِ فِي تَقْدِيمِ الْقَبْلِ عَلَى الْبَعْدِ»
اهـ.
“Beliau tidak menyebutkan sesuatu pun tentang shalat sebelum Jumat.”
Maksudnya adalah shalat sebelum Jumat.
Ibnu Al-Munayyir berkata dalam Hasyiyahnya (catatan pinggirnya):
“Seakan-akan Al-Bukhari ingin mengatakan bahwa hukum asal Jumat dan Zuhur
adalah sama sampai ada dalil yang menunjukkan perbedaan antara keduanya, karena
Jumat merupakan pengganti Zuhur.”
Dia berkata: “Perhatian Al-Bukhari terhadap hukum shalat setelah Jumat
lebih besar, karena itu beliau mendahulukannya dalam judul bab, berbeda dengan
kebiasaan yang biasanya mendahulukan shalat qobliyah daripada ba‘diyah.”
Selesai.
Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
ثُمَّ
قَالَ: «وَقَالَ ابْنُ التِّينِ: لَمْ يَقَعْ ذِكْرُ الصَّلَاةِ قَبْلَ الْجُمُعَةِ
فِي هٰذَا الْحَدِيثِ، فَلَعَلَّ الْبُخَارِيَّ أَرَادَ إِثْبَاتَهَا قِيَاسًا عَلَى
الظُّهْرِ». انْتَهَى.
وَقَوَّاهُ
الزَّيْنُ ابْنُ الْمُنَيِّرِ بِأَنَّهُ قَصَدَ التَّسْوِيَةَ بَيْنَ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ
فِي الْحُكْمِ، وَذٰلِكَ يَقْتَضِي أَنَّ النَّافِلَةَ لَهُمَا سَوَاءٌ.
انْتَهَى
وَالَّذِي
يَظْهَرُ أَنَّ الْبُخَارِيَّ أَشَارَ إِلَى مَا وَقَعَ فِي بَعْضِ طُرُقِ حَدِيثِ
الْبَابِ، وَهُوَ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ حِبَّانَ مِنْ طَرِيقِ أَيُّوبَ
عَنْ نَافِعٍ قَالَ: «كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ وَيُصَلِّي
بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَفْعَلُ
ذٰلِكَ»، احْتَجَّ بِهِ النَّوَوِيُّ فِي الْخُلَاصَةِ عَلَى إِثْبَاتِ سُنَّةِ الْجُمُعَةِ
الَّتِي قَبْلَهَا» اهـ.
Kemudian beliau berkata: “Ibnu At-Tin berkata: Tidak terdapat
penyebutan shalat sebelum Jumat dalam hadits ini. Barangkali Al-Bukhari ingin
menetapkannya dengan qiyas kepada shalat Zuhur.” Selesai.
Pendapat ini dikuatkan oleh Az-Zain Ibnu Al-Munayyir bahwa Al-Bukhari
bermaksud menyamakan hukum imam dan makmum dalam masalah ini, dan hal itu
menunjukkan bahwa shalat sunnah bagi keduanya sama.
Dia berkata: Yang tampak, Al-Bukhari mengisyaratkan kepada salah satu
jalur hadits dalam bab tersebut, yaitu riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dari
jalur Ayyub, dari Nafi‘, ia berkata: “Ibnu ‘Umar dahulu memanjangkan shalat
sebelum Jumat dan mengerjakan dua rakaat setelahnya di rumahnya. Dan beliau
menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ dahulu melakukan hal
tersebut.”
An-Nawawi berhujjah dengan hadits ini dalam Al-Khulashah untuk
menetapkan adanya sunnah qobliyah Jumat”. [SELESAI]
Az-Zaila‘i berkata dalam Nashbur Rayah li Ahaditsil Hidayah (2/207):
وَلَمْ
يَذْكُرِ الشَّيْخُ مُحْيِي الدِّينِ النَّوَوِيُّ فِي الْبَابِ غَيْرَ حَدِيثِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ»،
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، ذَكَرَهُ فِي «كِتَابِ الصَّلَاةِ».
وَذَكَرَ
أَيْضًا حَدِيثَ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ،
وَيُصَلِّي بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ كَانَ يَفْعَلُ ذٰلِكَ، انْتَهَى.
قَالَ:
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، انْتَهَى.
وَسُنَّةُ
الْجُمُعَةِ ذَكَرَهَا صَاحِبُ «الْكِتَابِ فِي الِاعْتِكَافِ»، فَقَالَ: السُّنَّةُ
قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعٌ، وَبَعْدَهَا أَرْبَعٌ، وَأَشَارَ إِلَيْهَا فِي إِدْرَاكِ
الْفَرِيضَةِ، فَقَالَ: وَلَوْ أُقِيمَتْ، وَهُوَ فِي الظُّهْرِ أَوِ الْجُمُعَةِ،
فَإِنَّهُ يَقْطَعُ عَلَى رَأْسِ الرَّكْعَتَيْنِ، وَقِيلَ: يُتِمُّهَا، انْتَهَى.
“Imam Muhyiddin An-Nawawi tidak menyebutkan dalam bab ini selain hadits
‘Abdullah bin Mughaffal, bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Di antara setiap
dua adzan terdapat shalat.’
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan beliau
menyebutkannya dalam Kitab Ash-Shalah.
Beliau juga menyebutkan hadits dari Nafi‘, ia berkata: ‘Ibnu Umar
dahulu memperpanjang shalat sebelum Jumat dan mengerjakan dua rakaat setelahnya
di rumahnya, dan beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal tersebut.’”
Beliau berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad
sesuai syarat Al-Bukhari.” Selesai.
Dan sunnah Jumat disebutkan oleh penulis kitab Al-Hidayah dalam
pembahasan i‘tikaf, beliau berkata: “Sunnah sebelum Jumat adalah empat rakaat
dan sesudahnya empat rakaat.” Beliau juga menyinggungnya dalam pembahasan
mendapatkan fardhu, dengan mengatakan: “Apabila iqamah telah dikumandangkan
sementara seseorang sedang mengerjakan shalat Zuhur atau Jumat, maka ia
memutuskannya pada akhir dua rakaat. Dan ada yang mengatakan: ia
menyempurnakannya.” Selesai.
[Kitab Al-Binayah Syarh Al-Hidayah karya Badruddin Al-‘Aini, 2/564]
====
KETIGA :
Hadits Abu Hurairah dan Jabir
radhiyallahu ‘anhuma
Dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dan dari Abu Sufyan, dari Jabir,
keduanya berkata:
جَاءَ
سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَخْطُبُ، فَقَالَ لَهُ: أَصَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ؟ قَالَ:
لَا، قَالَ: فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا».
“Sulaik Al-Ghathafani datang ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah. Maka
beliau bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau sudah shalat dua rakaat sebelum
datang?’ Ia menjawab: ‘Belum.’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Kalau begitu, shalatlah dua
rakaat dan ringankanlah keduanya.’”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1117 dan Ibnu Majah no 1114.
Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 931 dan 1166 secara
terpisah tanpa menyebut nama “Sulaik Al-Ghathafani”, serta oleh Muslim
no. 875 dengan sedikit perbedaan lafaz].
Di shahihkan oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq Sunan Abu Daud dan
Ibnu Majah.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam “Talkhis al-Habir” (2/149
Cet. Qurthubah):
«فَائِدَةٌ: لَمْ يَذْكُرِ الرَّافِعِيُّ فِي سُنَّةِ الْجُمُعَةِ
الَّتِي قَبْلَهَا حَدِيثًا، وَأَصَحُّ مَا فِيهِ مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ
دَاوُدَ بْنِ رَشِيدٍ عَنْ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي
صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَعَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَا: جَاءَ
سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَخْطُبُ، فَقَالَ لَهُ: أَصَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ؟ قَالَ:
لَا، قَالَ: فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا».
قَالَ
الْمَجْدُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي الْمُنْتَقَى: قَوْلُهُ:
«قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ» دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُمَا سُنَّةُ الْجُمُعَةِ الَّتِي
قَبْلَهَا لَا تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ، وَتَعَقَّبَهُ الْمِزِّيُّ بِأَنَّ
الصَّوَابَ: أَصَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسَ؟ فَصَحَّفَهُ بَعْضُ
الرُّوَاةِ.
وَفِي
ابْنِ مَاجَهْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَرْكَعُ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لَا يَفْصِلُ
بَيْنَهُنَّ بِشَيْءٍ»، وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ
مَسْعُودٍ وَعَلِيٍّ فِي الطَّبَرَانِيِّ الْأَوْسَطِ». اهـ.
“Faedah: Ar-Rafi‘i tidak menyebutkan hadits tentang sunnah Jumat
sebelumnya. Hadits paling kuat dalam bab ini adalah riwayat Ibnu Majah dari
Dawud bin Rasyid, dari Hafsh bin Ghiyats, dari Al-A‘masy, dari Abu Shalih, dari
Abu Hurairah dan dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdullah, keduanya berkata:
Sulaik Al-Ghathafani datang sementara Rasulullah ﷺ sedang berkhotbah. Maka
beliau bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau telah salat dua rakaat sebelum
datang?’ Ia menjawab: ‘Belum.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu salatlah dua
rakaat dan ringankanlah keduanya.’”
Al-Majd Ibnu Taimiyah berkata dalam “Al-Muntaqa”:
“Ucapan ‘sebelum datang’ menunjukkan bahwa dua rakaat tersebut adalah
sunnah Jumat sebelumnya, bukan tahiyyatul masjid.”
Namun Al-Mizzi mengkritik pendapat itu dengan mengatakan bahwa lafaz
yang benar adalah: “Apakah engkau telah salat dua rakaat sebelum duduk?” Akan
tetapi sebagian perawi telah melakukan tashif (kesalahan
penulisan/periwayatan).
Dalam Sunan Ibnu Majah juga terdapat riwayat dari Abdullah bin Abbas:
“Dahulu Nabi ﷺ salat empat rakaat sebelum
Jumat tanpa memisahkan di antara rakaat-rakaat itu dengan sesuatu pun.”
Akan tetapi sanadnya sangat lemah.
Dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Abdullah bin Masud dan Ali bin
Abi Thalib dalam Mu‘jam Al-Awsath karya ath-Thabarani”. [Selesai Kutipan
dari al-Hafidz Ibnu Hajar]
Al-Hafidz Waliuddin Al-Iraqi berkata dalam “Tharh at-Tatsrib fi Syarh
at-Taqrib” (3/42) tentang hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu:
«رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ فِي سُنَنِهِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ». اهـ.
“Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dengan sanad yang shahih.”
Beliau juga berkata tentang hadits Jabir yang juga diriwayatkan oleh Ibnu
Majah:
«قَالَ وَالِدِي – يَعْنِي الْحَافِظَ عَبْدَ الرَّحِيمِ
الْعِرَاقِيَّ – رَحِمَهُ اللَّهُ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ: وَإِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ». اهـ
“Ayahku — yaitu Al-Hafidz Abdurrahim Al-Iraqi rahimahullah ta‘ala —
berkata dalam Syarh at-Tirmidzi: sanadnya shahih.” [Tharh at-Tatsrib fi Syarh
at-Taqrib (3/42)].
Dan dalam al-Mu’jam al-Ausath karya Imam
ath-Thabrani dari Abu Hurairah:
كَانَ النَّبِيّ ﷺ يُصَلِّي
قَبْلَ الجُمْعَةِ رَكْعَتَيْن وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ
“Dulu Nabi ﷺ senantiasa melaksanakan shalat dua rakaat
sebelum Jum’at dan dua rakaat setelahnya”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan
hadits ini dalam “Fathul
Bari” (2/426), beliau berkata:
«وَوَرَدَ فِي سُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا أَحَادِيثُ
أُخْرَى ضَعِيفَةٌ، مِنْهَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَوَاهُ الْبَزَّارُ بِلَفْظِ: "كَانَ
يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا"، وَفِي سَنَدِهِ
ضَعْفٌ». اهـ.
“Telah datang hadits-hadits lain tentang sunnah Jumat sebelumnya, namun
lemah. Di antaranya riwayat dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar
dengan lafaz: ‘Nabi ﷺ biasa salat dua rakaat
sebelum Jumat dan empat rakaat setelahnya.’ Dalam sanadnya terdapat kelemahan.”
FIQIH HADITS
Majdud-Diin Ibnu Taimiyah al-Hanbali berkata dalam
“مُنْتَقَى ٱلْأَخْبَار” (di cetak dengan syarahnya "Nayl al-Awthār"
4/355 Cet. Dār
Ibnu al-Qayyim):
وَقَوْلُهُ: «قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ»
يَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ سُنَّةٌ لِلْجُمُعَةِ قَبْلَهَا، وَلَيْسَتْ
تَحِيَّةً لِلْمَسْجِدِ. ا.هـ.
[Dan ucapan beliau ﷺ: "sebelum kamu datang" ini
menunjukkan bahwa dua rakaat ini adalah sholat Sunnah sebelum shalat Jum’at
(Sunnah Qobliyah Jum’at), dan bukan sebagai tahiyyatul masjid.] (Sls).
===
BANTAHAN & KRITIKAN:
Pernyataan Majdud-Diin Ibnu Taimiyah ini di bantah
oleh cucunya yaitu Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan juga oleh al-Hafidz al-Mizzy,
dan diikuti oleh Ibnu al-Qoyyim serta lainnya dengan mengatakan bahwa itu
adalah تَصْحِيفٌ (ada
yang dirubah) dari riwayat “sebelum kamu duduk”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah berkata:
لَمْ يَذْكُرْ الرَّافِعِيُّ
فِي سُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا حَدِيثًا، وَأَصَحُّ مَا فِيهِ مَا
رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ دَاوُد بْنِ رُشَيْدٍ، عَنْ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، عَنْ
الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَعَنْ أَبِي سُفْيَانَ،
عَنْ جَابِرِ قَالَ: «جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ: أَصْلَيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ؟ قَالَ: لَا،
قَالَ: فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا». قَالَ الْمَجْدُ ابْنُ
تَيْمِيَّةَ فِي الْمُنْتَقَى: قَوْلُهُ: «قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ» دَلِيلٌ عَلَى
أَنَّهُمَا سُنَّةُ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا، لَا تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ.
وَتَعَقَّبَهُ الْمَزِيُّ: بِأَنَّ الصَّوَابَ: أَصَلَّيْت رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ
أَنْ تَجْلِسَ؟ فَصَحَّفَهُ بَعْضُ الرُّوَاةِ
“Ar-Raafi’iy tidak menyebutkan hadits tentang
shalat sunnah qabliyyah Jum’at. Dan hadits yang paling shahih tentangnya adalah
adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dari Daud bin Rusyaid, dari Hafsh
bin Ghiyaats, dari Al-A’masy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dan dari Abu
Sufyaan, dari Jaabir, keduanya berkata:
Sulaik Al-Ghothofaaniy datang (ke masjid) sedangkan
Rasulullah ﷺ sedang
berkhuthbah. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: “Apakah engkau sudah shalat dua raka’at
sebelum engkau datang ?”. Ia berkata: “Belum”. Beliau ﷺ bersabda: “Shalatlah dua raka’at, dan
cepatkanlah”.
Al-Majd bin Taimiyyah berkata dalam Al-Muntaqaa:
“Sabda beliau ﷺ: ‘sebelum engkau datang’, merupakan dalil bahwa shalat dua
raka’at tersebut adalah shalat sunnah qabliyyah Jum’at, bukan
tahiyyatul-masjid”.
Al-Mizziy mengkritiknya bahwasannya yang benar:
‘Apakah engkau sudah shalat dua raka’at sebelum engkau duduk ?’. Sebagian
perawinya telah melakukan tashhiif (terjadi perubahan)” [التَّلْخِيصُ الْحَبِيرُ (2/149)].
Perkataan Al-Mizziy ini dinukil juga oleh
Ibnul-Qayyim [زَادُ المَعَادِ (1/434)] dan Al-Mubaarakfuriy [تُحْفَةُ الأَحْوَذِي (2/61)].
----
JAWABAN ATAS BANTAHAN DAN KRITIKAN:
Imam Ibnu Al-Mulaqqin Al-Syafi'i menjawab bantahan
diatas dalam Risalah nya diberi judul: “اَلتَّكْلِيمُ
عَلَىٰ سُنَّةِ الْجُمُعَةِ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا” (hal. 37-38, Cet. حلب). Dia berkata:
لَا شَكَّ فِي بُعْدِ هَذَا عَنْ
ٱلتَّصْحِيفِ؛ فَٱلنُّسَخُ ٱلْمُتَقَنَةُ: «قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ»، وَكَذَٰلِكَ وَقَعَ
فِي سَمْعِنَا، وَهِيَ زِيَادَةٌ مِّنْ ثِقَةٍ، مِنْ غَيْرِ مُعَارَضَةٍ لِمَا فِي
ٱلصَّحِيحِ فَتُقْبَلُ، وَقَدْ أَفْصَحَ بِمَا قُلْنَا الشَّيْخُ مَجْدُ ٱلدِّينِ بْنُ
تَيْمِيَّةَ. اهـ
Tidak ada keraguan bahwa ini jauh dari adanya تَصْحِيفٌ
(perubahan tulisan) ; karena nuskhoh nya (salinannya) sempurna dan meyakinkan,
yaitu: "sebelum kamu datang" dan begitu pula yang terjadi dalam
pendengaran kami (simaa’/سِمَاعٌ), dan itu adalah tambahan lafadz hadits dari orang yang
tsiqoh/dipercaya, tanpa adanya pertentangan dengan yang terdapat dalam kitab
ash-Shahih (Shahih Muslim. Pen), maka (tambahan ini) harus diterima. Dan apa
yang kami katakan ini, telah di jelaskan oleh Syekh Majdud-Din bin Taimiyyah
dengan gamblang “.
Al-‘Allaamah Muhammad Anwar Shah al-Kashmiri dalam
“فَيْضُ ٱلْبَارِي عَلَىٰ صَحِيحِ ٱلْبُخَارِيّ” (2/443, Cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyya)
mengatakan:
كَيْفَ يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِٱلتَّصْحِيفِ
وَمَعَ أَنَّ ٱلْإِمَامَ ٱلْأَوْزَاعِيَّ وَإِسْحَاقَ بْنَ رَاهُوَيْهِ رَحِمَهُمَا
ٱللَّهُ تَعَالَىٰ بَنَيَا عَلَيْهِ مَذْهَبَهُمَا، فَذَهَبَآ إِلَىٰ أَنَّهُۥ يُصَلِّيهِمَا
فِي ٱلْبَيْتِ وَإِلَّا فَفِي ٱلْمَسْجِدِ، وَإِنْ دَخَلَ ٱلْإِمَامُ فِي ٱلْخُطْبَةِ،
وَقَدْ مَرَّ مَعَنَآ أَنَّ ٱلْحَدِيثَ إِذَا ظَهَرَ بِهِ ٱلْعَمَلُ انْقَطَعَ عَنْهُ
ٱلْجَدَلُ. اهـ
Bagaimana bisa itu dihukumi adanya تَصْحِيفٌ
(perubahan tulisan) padahal Imam Al-Awza'i (w. 157 H) dan Ishaq bin Rahawayh
(w. 238 H) =rahimahumallah-, mereka berdua telah membangun madzhabnya dalam hal
tersebut diatas hadits ini, sehingga mereka berdua berpendapat bahwa seseorang
shalat dua rokaat di rumahnya, dan jika tidak maka di masjid, meskipun imam
sudah masuk dalam khutbahnya.
Dan telah lewat pembahasan bersama kami bahwa jika
ada sebuah hadits sudah nampak diamalkan ; maka putuslah perdebatan “.
Al-Hafidz berkata dalam التَّلْخِيصُ
الْحَبِيرُ (2/149):
وَفِي ابْنِ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْكَعُ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لَا
يُفَصِّلُ بَيْنَهُنَّ بِشَيْءٍ، وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا. وَفِي الْبَابِ عَنْ
ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَلِيٍّ -رَضِيَ اللَّهِ عَنْهُ- فِي الطَّبَرَانِيِّ ٱلْأَوْسَطِ.
وَصَحَّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ فِعْلِهِ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَفِي الطَّبَرَانِيِّ
ٱلْأَوْسَطِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ
رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ رَوَاهُ فِي تَرْجَمَةِ أَحْمَدَ بْنِ عَمْرٍو.
Dan dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas: Nabi ﷺ dulu
melakukan sholat empat rakaat sebelum shalat Jum’at, tidak dipisahkan oleh apa
pun, dan sanadnya sangat lemah.
Dalam bab ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ali
- semoga Allah meridhoinya - oleh al-Tabarani dalam al-Awsath.
Dan telah Shahih dari Ibnu Mas'ud dari amalannya,
itu diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq.
Dan al-Tabarani dalam al-Awsat meriwayatkan dari
Abu Huraira bahwa Nabi ﷺ biasa shalat dua rakaat sebelum shalat Jum’at dan kemudian dua
rakaat sesudahnya, diriwayatkan dalam biografi Ahmad bin Amr. [Liahat التَّلْخِيصُ الْحَبِيرُ (2/149) Cet. مؤسسة قرطبة].
Dalam "Ad-Diroyah" 1/217-218 al-Hafidz
Ibnu Hajar berkata:
أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ
ابْنِ مَسْعُودٍ كَانَ يَأْمُرُ بِذَٰلِكَ. وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ.
Diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq dari Ibnu Mas`ud:
“Bahwa dia menyuruh untuk itu”. Perawinya dapat dipercaya
===
KEEMPAT:
Hadits Ibnu Abbaas radhiyallahu
‘anhuma:
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْكَعُ قَبْلَ الْجُمُعَةِ
أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا، لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ».
“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat empat rakaat
sebelum Jumat dan empat rakaat sesudahnya, tanpa memisahkan di antara
rakaat-rakaat tersebut.”
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam
al-Mu‘jam al-Kabir (11/179, no. 11420), melalui jalur Baqiyyah bin al-Walid,
dari Mubasysyir bin ‘Ubaid, dari al-Hajjaj bin Artha’ah, dari ‘Athiyyah
al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad tersebut. Akan tetapi sanadnya sangat
lemah.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam
Sunan Ibnu Majah (1/349 no. 1136), melalui jalur yang sama, namun tanpa
menyebutkan empat rakaat setelah Jumat.
Imam an-Nawawi berkata dalam Khulashah al-Ahkam, (2/731):
هُوَ حَدِيثٌ بَاطِلٌ،
اجْتَمَعَ فِيهِ هٰؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةُ وَهُمْ ضُعَفَاءُ، وَمُبَشِّرٌ وَضَّاعٌ صَاحِبُ
أَبَاطِيلَ.
“Ini adalah hadits batil. Berkumpul di dalam
sanadnya empat orang perawi yang lemah, dan Mubasysyir adalah seorang pemalsu
hadits yang meriwayatkan berbagai hadits batil.”
Az-Zaila‘i berkata dalam Nashb ar-Rayah (2/206) :
وَسَنَدُهُ وَاهٍ
جِدًّا، فَمُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ مَعْدُودٌ فِي الْوَضَّاعِينَ، وَالْحَجَّاجُ وَعَطِيَّةُ
ضَعِيفَانِ.
“Sanadnya sangat lemah. Mubasysyir bin ‘Ubaid
termasuk orang-orang yang dituduh memalsukan hadits, sedangkan al-Hajjaj dan
‘Athiyyah adalah dua perawi yang lemah.”
Al-Bushiri berkata dalam Mishbah az-Zujajah (1/141):
هٰذَا إِسْنَادٌ
مُسَلْسَلٌ بِالضُّعَفَاءِ، عَطِيَّةُ مُتَّفَقٌ عَلَى تَضْعِيفِهِ، وَالْحَجَّاجُ
مُدَلِّسٌ، وَمُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ كَذَّابٌ، وَبَقِيَّةُ هُوَ ابْنُ الْوَلِيدِ
يُدَلِّسُ تَدْلِيسَ التَّسْوِيَةِ.
“Ini adalah sanad yang seluruh rantainya dipenuhi
para perawi lemah. ‘Athiyyah telah disepakati kelemahannya, al-Hajjaj adalah
seorang mudallis, Mubasysyir bin ‘Ubaid adalah pendusta, dan Baqiyyah bin
al-Walid melakukan tadlis taswiyah.”
Al-Haitsami berkata dalam Majma‘ az-Zawa’id (2/185):
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
فِي الْكَبِيرِ، وَفِيهِ الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَأَةَ وَعَطِيَّةُ الْعَوْفِيُّ، وَكِلَاهُمَا
فِيهِمَا كَلَامٌ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam
al-Mu‘jam al-Kabir, dan di dalam sanadnya terdapat al-Hajjaj bin Artha’ah dan
‘Athiyyah al-‘Aufi, sedangkan keduanya diperselisihkan dan dibicarakan oleh
para ulama hadits.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhish
al-Habir (2/74): “Sanadnya sangat lemah.”
Beliau juga berkata dalam Fath al-Bari (2/426):
أَخْرَجَهُ ابْنُ
مَاجَهْ بِسَنَدٍ وَاهٍ، قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْخُلَاصَةِ: إِنَّهُ حَدِيثٌ بَاطِلٌ.
“Ibnu Majah meriwayatkannya dengan sanad yang
lemah. An-Nawawi berkata dalam al-Khulashah: sesungguhnya hadits itu batil.”
Dan Al-Hafidz berkata dalam “التَّلْخِيصُ الْحَبِيرُ” (2/149):
وَفِي ابْنِ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَرْكَعُ قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لَا
يُفَصِّلُ بَيْنَهُنَّ بِشَيْءٍ، وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا.
Dan dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas: Nabi ﷺ dulu
melakukan sholat empat rakaat sebelum shalat Jum’at, tidak dipisahkan oleh apa
pun, dan sanadnya sangat lemah. [Liahat التَّلْخِيصُ
الْحَبِيرُ (2/149) Cet. مؤسسة
قرطبة].
Dan dalam *‘Awn al-Ma‘būd* 3/477 dalam syarah Hadits no. 1115 di katakan:
وَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا
وَلَا تَقُومُ بِهِ الْحُجَّةُ، بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ كَثِيرُ التَّدْلِيسِ، وَمُبَشِّرٌ
مُنْكِرُ الْحَدِيثِ. قَالَ أَحْمَدُ: كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ. وَالْحَجَّاجُ بْنُ
أَرْطَأَةَ تَرَكَهُ يَحْيَى الْقَطَّانُ وَابْنُ مَهْدِيٍّ، وَعَطِيَّةُ ضَعَّفَهُ
الْجُمُهُورُ.
" Hadits ini sangat lemah dan tidak bisa di
jadikan hujjah. Baqiyyah ibnu al-Waliid adalah banyak melakukan tadliis, dan
Mubasyar hadits nya munkar. Ahmad berkata: Dia biasa memalsukan hadits.
Al-Hajjaj bin Artho'ah ditinggalkan haditsnya oleh Yahya Al-Qaththan dan Ibnu
Mahdii, dan Athiyyah dilemahkan oleh Jumhur "
Syeikh al-Albaani berkata dalam الِأَجْوِبَةِ ٱلنَّافِعَةِ no. 32: "Dho'if sekali ".
Ibnu Qudamah mengatakan dalam “Al-Mughni”:
فَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ الْجُمُعَةِ
فَلَا أَعْلَمُ فِيهِ إِلَّا مَا رُوِيَ: "أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَرْكَعُ
مِنْ قَبْلِ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا". رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ.
وَرَوَى عَمْرُو بْنُ سَعِيدِ بْنِ
الْعَاصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنْتُ أَلْقَى أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِذَا
زَالَتِ الشَّمْسُ قَامُوا فَصَلَّوْا أَرْبَعًا.
“Adapun shalat Qobliyah Jum’at, saya tidak tahu
apa-apa tentang itu kecuali apa yang diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ dulu
pernah sholat empat rakaat sebelum shalat Jum'at”. Diriwayatkan oleh Ibnu
Majah.
Dan Amr bin Sa’id bin Al-‘Aash meriwayatkan dari
ayahnya, dia berkata:
Saya bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ, maka
ketika matahari tergelincir condong ke barat, mereka berdiri lalu shalat empat
rakaat “.
Kemudian Ibnu Qudamah menyebutkan sebagian dari apa
yang digunakan para ulama madzhab Syafi'i sebagai dalil untuk Madzhab nya [ٱلْمُغْنِي (4/220)].
Pernyataan Ibnu Qudaamah di atas mengisyaratkan
akan keshahihan riwayat Sunnah Qobliyah Jum'at dari Nabi ﷺ.
Wallaahu a'lam.
====
KELIMA :
Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu:
Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:
أَنَّهُ
كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا.
“Bahwa beliau biasa melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Jumat dan
empat rakaat sesudahnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsath,
jilid 4, halaman 8, nomor hadits 3495, melalui jalur ‘Attab bin Basyir, dari
Khushaif, dari Abu ‘Unaizah, dari Ibnu Mas‘ud dengan sanad tersebut. Akan
tetapi sanadnya lemah.
Ath-Thabarani berkata:
لَمْ
يَرْوِ هٰذَا الْحَدِيثَ عَنْ خُصَيْفٍ إِلَّا عَتَّابُ بْنُ بَشِيرٍ.
“Hadits ini tidak diriwayatkan dari Khushaif kecuali oleh ‘Attab bin
Basyir.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhish al-Habir (2/74):
وَفِي
إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ وَانْقِطَاعٌ. لٰكِنَّهُ صَحَّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ
مَوْقُوفًا.
“Dalam sanadnya terdapat kelemahan dan keterputusan.” Namun, riwayat
tersebut shahih dari Ibnu Mas‘ud sebagai perkataan dan perbuatan beliau sendiri
(mauquf).
Lihat Pula: Majallah Jami’ah Ummul Quro 8/106 di sebutkan:
Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (2/426):
«وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ أَيْضًا مِثْلُهُ،
وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ وَانْقِطَاعٌ، وَرَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنِ ابْنِ
مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا، وَهُوَ الصَّوَابُ». اهـ.
“Dan dari Ibnu Mas‘ud dalam riwayat Ath-Thabarani juga semisal itu,
namun dalam sanadnya terdapat kelemahan dan keterputusan. Abdurrazzaq
meriwayatkannya dari Ibnu Mas‘ud secara mauquf, dan itulah yang benar”..
Lalu Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
«وَأَقْوَى مَا يَتَمَسَّكُ بِهِ فِي مَشْرُوعِيَّةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ
الْجُمُعَةِ عُمُومُ مَا صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ مَرْفُوعًا: "مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ
يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ".
وَمِثْلُهُ
حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمَاضِي فِي وَقْتِ الْمَغْرِبِ: "بَيْنَ
كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ" اهـ.»
“Dalil terkuat yang dijadikan pegangan tentang disyariatkannya dua
rakaat sebelum Jumat adalah keumuman hadits yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban
dalam Shahih-nya (lihat Al-Ihsan 4/77-78), dari hadits ‘Abdullah bin Az-Zubair
secara marfu‘:
‘Tidak ada satu shalat fardhu pun kecuali
sebelumnya terdapat dua rakaat.’
Demikian pula hadits ‘Abdullah bin Mughaffal yang telah lalu dalam
pembahasan waktu Maghrib:
‘Di antara setiap dua adzan terdapat shalat.’” (Selesai).
[[Fathul Bari (2/426). Lihat Pula: Al-Ihsan bi Tartib Ibni Hibban
(2/48-49 dan 7/523)]
===***===
DALIL-DALIL PENGUAT YANG MENUNJUKKAN
BAHWA
QOBLYAH JUM’AT BUKAN BID’AH SESAT.
Di samping dalil-dalil yang telah disebutkan dalam tiga pembahasan di
atas, juga masih banyak dalil lain yang memperkuat bahwa sholat sunnah qobliyah
jum’at bukanlah bid’ah sesat.
Dalam hal ini ada beberapa klasifikasi dalil, diantaranya adalah sbb:
****
KLASIFIKASI DALIL PERTAMA:
DALIL UMUM TENTANG FADLHILAH DAN ANJURAN SHOLAT
SUNNAH SEBELUM SHOLAT DZUHUR:
Fadhilah dan anjuran dalam hadits-hadits berikut
ini bersifat umum, baik di hari Jum'at maupun lainnya. Wallahu A'lam
KE 1: Dari Ummu Habiibah radhiyallahu ‘anhu dari
Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"
مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ
الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ ".
"Barang siapa yang menjaga shalat empat rakaat
sebelum sholat Dzuhur dan sesudahnya, maka haram baginya api neraka."
(HR. Abu Daud, no. 1269 dan Tirmizi, no. 428. Abu
Isa berkata: "Hadits Hasan Shahih". Dishahihkan oleh An-Nawawi dalam
Al-Majmu, 4/7, dan Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)
KE 2: Dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan radhiyallahu
‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
"مَنْ
صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي
الجَنَّةِ: أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ
صَلَاةِ الْفَجْرِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ".
Barang siapa yang shalat sehari-semalam dua belas
rakaat, maka akan dibangunkan rumah di surga, yaitu: empat rakaat sebelum
Zhuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat
setelah Isya, dan dua rakaat sebelum shalat Fajar, yakni shalat Subuh.”
(HR. Tirmidzi no. 415, ia berkata, “Hasan shahih”.
Dishahihkan oleh Syeikh al-Albaani dalam Shahih Turmudzi. Dan Imam Muslim
meriwayatkannya secara ringkas).
KE 3: Dari Abdullah bin as-Saib radhiyallahu ‘anhu
أَنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ كانَ
يُصَلِّي أَرْبعًا بعْدَ أَن تَزول الشَّمْسُ قَبْلَ الظُّهْرِ، وقَالَ:إِنَّهَا
سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبوابُ السَّمَاءِ، فأُحِبُّ أَن يَصعَدَ لِي فيهَا
عمَلٌ صَالِحٌ
"Bahwasanya Rasulullah ﷺ shalat empat rakaat sunnah setelah matahari lingsir
-tergelincir- yaitu sebelum shalat Zuhur -yang wajib- dan bersabda:
"Bahwasanya ini adalah saat dibukanya
pintu-pintu langit, maka saya senang kalau amalan shalihku naik di saat
itu."
(HR. Ahmad no. 15396 [Syu'aib Al-Arna'oot
mengatakan: Sanadnya Shahih]dan Al-Tirmidzi no. 478 dan berkata: Hasan Shahih
[dan Sheikh Ahmad Syaakir mengatakan itu Shahih dan dan sanadnya muttashil],
dan Muhammad at-Tibriizy dalam “Mishkat Al-Mashaabih” no. 1169 [dan Al-Albani
menshahihkannya]).
****
KLASIFIKASI DALIL KEDUA:
AMALAN NABI ﷺ DALAM
MENJAGA SHALAT SUNNAH SEBELUM SHOLAT DZUHUR:
Nabi ﷺ tidak
pernah meninggalkan Qobliyah Dzuhur, dan mungkin termasuk pada hari Jum'at.
KE 1:
Dalam hadits Ibnu 'Umar dikatakan:
كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ
الَّتِي لَا يَدَعُ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ.
Dulu Sholat Rasulullah ﷺ yang
tidak pernah beliau tinggalkan adalah dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua dua rokaat setelah Isya, dan dua
rakaat sebelum Shubuh. (HR. Ahmad no. 7/126, Sanadnya dishahihkan oleh Ahmad
Syaakir).
KE 2:
Dari Aisyah radhiallahu 'anha
أنَّ النَّبيَّ ﷺ كَانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ
Bahwasanya Nabi ﷺ itu
tidak meninggalkan shalat sunnah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur."
(HR. Bukhari. Dikutip dari Riyadhush sholihin no. 1114)
KE 3:
Dari Aisyah radhiallahu 'anha:
أنَّ النَّبيَّ ﷺ كَانَ إذا لَمْ يُصَلِّ أربَعًا قَبلَ
الظُّهْرِ، صَلاَّهُنَّ بَعْدَهَا.
"Bahwasanya Nabi ﷺ apabila
tidak shalat empat rakaat sebelum Zuhur, maka beliau ﷺ shalat
empat rakaat itu sesudah Zuhur."
(HR. Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah hadis hasan. Dikutip dari Riyadhush sholihin no. 1113)
KE 4:
Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula, katanya:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي في بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أرْبَعًا،
ثُمَّ يَخْرُجُ، فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ.
وَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ المَغْرِبَ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ،
وَيُصَلِّي بِالنَّاسِ العِشَاءِ، وَيَدْخُلُ بَيتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ.
"Nabi ﷺ shalat
di rumahku empat rakaat sebelum Zuhur kemudian keluar lalu shalat bersama orang
banyak, terus masuk rumah lagi lalu shalat dua rakaat. Beliau ﷺ itu juga shalat Maghrib bersama orang banyak lalu
masuk rumah terus shalat dua rakaat sunnah dan beliau ﷺ shalat
Isya' dengan orang banyak dan masuk rumah lalu shalat dua rakaat sunnah. (HR.
Muslim no. 730, Ahmad no. 24019 dan Abu Daud no. 1251. Dikutip dari Riyadhush
sholihin no. 1115)
KE 5:
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya:
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ
رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا.
"Saya shalat bersama Rasulullah ﷺ dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat
sesudahnya." (Muttafaq 'alaih B. 1165. Dikutip dari Riyadhush sholihin no.
1113)
Ibnul Qoyyim dalam "زَادُ
المَعَادِ (1/425) berkata:
"
قَدْ ذَكَرَ أبو داود عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ
كَانَ إِذَا صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ صَلَّى أَرْبَعًا، وَإِذَا صَلَّى فِي
بَيْتِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ".
“Abu Dawud telah menyebutkan dari Ibnu Umar bahwa
ketika dia sholat di masjid dia sholat empat rokaat, dan ketika dia akan sholat
di rumahnya ; sholat dua rokaat.”
[Lihat: Sunan al-Tirmidzi No. (523), Syarah Shahih
al-Bukhari oleh Ibnu Battal 2/525, Zad al-Ma'ad 1/425, Tuhfat al-Ahwadzi 3/48,
Hujjatullah al-Bālighah 2/25 dan Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ* 4/143].
****
KLASIFIKASI DALIL KETIGA:
SHOLAT JUM’AT ADALAH PENGGANTI SHOLAT DZUHUR.
Adapun bilangan rokaat nya dua rokaat, maka ada
beberapa hadits yang menjelaskan bahwa pada asalnya sholat dzuhur itu dua
rokaat, diantaranya:
Dari 'Aisyah radliyallaahu 'anha, dia berkata:
"
أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ اَلصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ ،
فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ اَلسَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ اَلْحَضَرِ".
"Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat,
lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam safar (perjalanan jauh), dan sholat
dalam keadaan mukim disempurnakan (ditambah)". Muttafaq Alaihi. (Bukhori.
No.350 dan Muslim no. 1107. Lihat pula Bulughul Maraam no. 453)
Menurut riwayat Bukhari:
"ثُمَّ
هَاجَرَ، فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا، وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ اَلسَّفَرِ عَلَى اَلْأَوَّلِ ".
Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat
empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula. [Lihat
Bulughul Maraam no. 454 ]
Ahmad menambahkan:
إِلَّا اَلْمَغْرِبَ فَإِنَّهَا
وِتْرُ اَلنَّهَارِ، وَإِلَّا اَلصُّبْحَ، فَإِنَّهَا تَطُولُ فِيهَا
اَلْقِرَاءَةُ
Kecuali Maghrib karena ia witir sholat siang dan
kecuali Shubuh karena bacaan di dalamnya panjang. [Lihat Bulughul Maraam no.
455 ]
Dan Waktu shalat Jum'at adalah waktu shalat dzuhur,
maka sunnahnya sama seperti sunnah shalat dzuhur.
Ada hadits dari Ummu Habiibah radhiyallahu ‘anhu dari
Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"
مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ
الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ ".
"Barang siapa yang menjaga shalat empat rakaat
sebelum Dzuhur dan sesudahnya, maka haram baginya api neraka."
(HR. Abu Daud, no. 1269 dan Tirmizi, no. 428. Abu
Isa berkata: "Hadits Hasan Shahih". Dishahihkan oleh An-Nawawi dalam
Al-Majmu, 4/7, dan Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)
Dan Nabi ﷺ tidak
pernah meninggalkan Qobliyah Dzuhur, termasuk pada hari Jum'at.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha
أنَّ النَّبيَّ ﷺ كَانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ
Bahwasanya Nabi ﷺ itu
tidak pernah meninggalkan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dzuhur." (HR.
Bukhari. Dikutip dari Riyadhush sholihin no. 1114)
Dari Aisyah radhiallahu 'anha:
أنَّ النَّبيَّ ﷺ كَانَ إذا لَمْ يُصَلِّ أربَعًا قَبلَ
الظُّهْرِ، صَلاَّهُنَّ بَعْدَهَا.
Bahwasanya Nabi ﷺ apabila
tidak sempat shalat empat rakaat sebelum Zuhur, maka beliau ﷺ shalat empat rakaat itu sesudah Zuhur."
Dan dalam hadits Ibnu 'Umar dikatakan:
كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ الَّتِي لَا يَدَعُ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ.
Dulu Sholat Rasulullah ﷺ yang
tidak pernah beliau tinggalkan adalah dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua dua rokaat setelah Isya, dan dua
rakaat sebelum Shubuh. (HR. Ahmad no. 7/126, Sanadnya dishahihkan oleh Ahmad
Syaakir).
IMAM BUKHORI menulis BAB QOBLIYAH JUM'A'T
Mungkin dengan adanya hadits-hadits yang di
sebutkan yang mendorong imam Al-Bukhari untuk menulis Bab dalam “Shahih” nya:
بَابُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
وَقَبْلَهَا
BAB: Sholat setelah [Ba'diyah] Jum'at dan sebelum
nya [Qobliyah] ".
Kemudian Imam Bukhori menyebutkan hadits Abdullah
bin Umar radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ
يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَ
الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ وَبَعْدَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ
لَا يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
Bahwa Rosulullah ﷺ biasa
melaksanakan dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat
setelah Maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sesudah Isya. Dan beliau tidak
mengerjakan sholat setelah pelaksanaan Sholat Jum’at hingga beliau pulang ke
rumah, lalu beliau ﷺ sholat
dua rakaat." (HR. Bukhori no. 895).
Dalam hal ini Imam al-Bukhari rahimahullah
berpandangan bahwa shalat Jum'at sama seperti sholat Dzuhur, meskipun Ibnu Umar
radhiyallahu 'anhuma menyebutkan dua rakaat shalat setelah shalat Jum’at, dan
tidak menyebutkan apa pun sebelumnya.
Dengan demikian, maka Imam al-Bukhari berpendapat
bahwa sholat sunnah qobliyah Jum'at itu adalah sholat qobliyah yang disebutkan
oleh Ibnu Umar sebelum sholat dzuhur, oleh karena itu Imam Bukhori berkata:
بَابُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
وَقَبْلَهَا
"BAB: Sholat setelah [Ba'diyah] Jum'at dan
sebelum nya [Qobliyah]".
Imam an-Nawawi berkata dalam “مِنْهَاجُ الطَّالِبِينَ” (hal. 36, Cet. Dar al-Fikr):
قُلتُ: هُمَا سُنَّةٌ عَلَى الصَّحِيحِ؛
فِي "صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ" الْأَمْرُ بِهِمَا وَبَعْدَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعٌ،
وَقَبْلَهَا مَا قَبْلَ الظُّهْرِ.
[Aku berkata: Dua rokaat itu adalah Sunnah menurut
pendapat yang Shahih; karena dalam "Shahih Al-Bukhari" ada perintah
untuk melakukannya, dan empat setelah Jum’at, dan adapun sebelum Jum’at maka
sama dengan sebelum sholat Dzuhur ]
Al-Hafidz Ibnu Hajar dlam “فَتْحُ
البَارِي” 2/126 berkata:
قَالَ ابن الْمُنِيرِ فِي الْحَاشِيَةُ
كَأَنَّهُ يَقُولُ الْأَصْلُ اسْتِوَاءُ الظُّهْرِ وَالْجُمُعَةِ حَتَّى يَدُلَّ
دَلِيلٌ عَلَى خِلَافِهِ لِأَنَّ الْجُمُعَةَ بَدَلُ الظُّهْرِ قَالَ وَكَانَتْ
عِنَايَتُهُ بِحُكْمِ الصَّلَاةِ بَعْدَهَا أَكْثَرَ وَلِذَلِكَ قَدَّمَهُ فِي
التَّرْجَمَةِ عَلَى خِلَافِ الْعَادَةِ فِي تَقْدِيمِ الْقَبْلِ عَلَى الْبَعْدِ
انْتَهَى
Ibnu al-Munir mengatakan dalam “الْحَاشِيَةُ”: seolah-olah dia (Bukhori) mengatakan bahwa pada hukum asalnya
Dzuhur dan Jum’at itu sama rata, sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa Jum’at
berbeda dengan dzuhur ; Karena sebenarnya Jum’at itu pengganti Dzuhur.
Dia mengatakan: bahwa perhatiannya (Bukhori)
terhadap shalat sunnah Qobliyah lebih banyak dari pada Ba’diyah oleh karena itu
dia mendahulukan penyebutannya dalam BAB, yang mana itu menyelisihi
kebiasaannya dalam hal mendahulukan pembahasan qobliyah dari pada Ba’diyah “.
****
KLASIFIKASI DALIL KEEMPAT :
SETIAP SHOLAT FARDHU TERDAPAT SHOLAT SUNNAH
QOBLIYAH:
Shalat Jum'at adalah shalat FARDHU.
الأصْلُ أَنْ كُلَّ صَلاةٍ مَفْرُوضَةٍ
يُشْرَعُ قَبْلَهَا صَلاةُ رَكْعَتَيْنِ.
“Pada prinsip dasarnya adalah bahwa setiap shalat
fardhu disyariatkan sholat sunnah dua rakaat sebelumnya”.
Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma, dia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ
يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ»
“Tidak ada shalat furdhu. kecuali sebelumnya ada
dua raka 'at."
Hadis ini dimasukkan oleh Abbas At-Tarqufi di dalam
kitab hadisnya (Q.14/1). Ibnu Nasher di dalam Qiyamul-Lail (hal. 26). Ar-Ruyani
di dalam Musnad-nya (Q. 1/238).
Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya (hadis no.
615), Ath-Thabrani di dalam Al-Mu'jamid-kabir (juz II/210/69), lbnu Adi di
dalam Al-Kamil (Q/46), dan Ad-Daruquthni di dalam kitab Sunan-nya (hal. 99),
dari dua jalur yang berasal dari Tsabit bin Ijlan. dari Sulaim bin Amir dari
Abdillah bin Zubair secara marfu'.
Hadits ini di Shahihkan oleh Ibnu Hibbaan dan Ibnu
as-Sakan.
Syeikh al-Albaani dalam *Silsilat al-Aḥādīth
al-Ṣaḥīḥah*
109/118 no. 232 berkata:
“Saya menilai: Dengan demikian maka hadisnya
SHAHIH. Sebab ia tidak berbeda dengan perawi-perawi tsiqah. Bahkan sesuai
dengan hadis Abdullah bin Mughaffal yang diriwayatkannya secara marfu', dengan
matan:
«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ
أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ»
"Di antara dua adzan terdapat shalat. Di
antara dua adzan terdapat shalat “. Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga
kalinya: “Bagi siapa saja yang menghendakinya ". (Mutataqun alaihi /Al-Bukhari
(627) dan Muslim (838)). (Selesai kutipan dari al-Albaani).
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “فَتْحُ البَارِي” 3/351, berkata:
وَأَقْوَى مَا يَتَمَسَّكُ بِهِ
مِن مَشْرُوعِيَّةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْجُمُعَةِ عُمُومُ مَا صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانٍ
مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ مَرْفُوعًا: (مَا مِنْ صَلاةٍ مَفْرُوضَةٍ
إِلَّا بَيْنَ يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ).
"Dalil yang paling kuat yang dijadikan
pegangan dalam hal disyariatkannya dua rakaat sebelum shalat Jum'at adalah
keumuman dari hadits yang shahihkan oleh Ibnu Hibban dari Abdullah bin
Al-Zubair radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang marfu':
«مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ
يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ»
“Tidak ada shalat furdhu. kecuali sebelumnya ada
dua raka 'at."
Begitu pula sholat sunnah sebelum sholat Maghrib:
Dari Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu ‘anhu bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ
المَغْرِبِ، قالَ في الثَّالِثةِ: لِمَن شاءَ؛ كَراهيةَ أنْ يَتَّخِذَها النَّاسُ
سُنَّةً.
"Shalatlah kalian sebelum Maghrib."
Kemudian beliau ber¬sabda untuk yang ketiga kalinya '' Bagi siapa saja vang
menghendakinya ". Beliau khawatir manusia akan menganggapnya sunnah."
(HR. Bukhori no. 1183).
Dalam lafadz Riwayat Abdullah al-Muzani
radhiyallahu ‘anhu
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى
قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ: (صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ).
ثُمَّ قَالَ عِندَ الثَّالِثَةِ: (لِمَن شَاءَ) خَافَ أَنْ يَحْسَبَها النَّاسُ سُنَّةً.
Bahwa Rosulullah ﷺ sholat
dua rokaat sebelum maghrib, kemudian beliau bersabda:
"Shalatlah dua raka'at sebelum Maghrib".
Kemudian beliau ber¬sabda untuk yang ketiga kalinya'' Bagi siapa saja yang
menghendakinya. Beliau khawatir manusia akan menganggapnya sunnah." (HR.
Ibnu Hibbaan dalam Shahihnya no. 1588)
Maksud dari kata: " Beliau khawatir manusia
akan menganggapnya sunnah."
يَعْنِي: طَرِيقَةً لَازِمَةً يُوَاظِبُونَ
عَلَيْهَا، وَيُنكِرُونَ تَرْكَهَا؛ لِأَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أُمِرُوا بِأَمْرٍ اَلْتَزَمُوهُ
حَتَّى يَظُنَّ الظَّانُّ أَنَّهُ وَاجِبٌ عَلَيْهِمْ.
Yakni: khawatir di kiranya sebuah keharusan yang
harus mereka lakukan terus menerus, dan orang-orang akan mengingkari jika
meninggalkannya; Karena biasanya jika mereka diperintahkan untuk melakukan
sesuatu, mereka akan mematuhinya dan menekuninya sehingga ada yang mengira
bahwa itu diwajibkan atas mereka.
====
FAIDAH DAN MANFAAT SHOLAT SUNNAH QOBLIYAH
Imam Abu al-Fath Ibnu Daqiiq al-‘Eid berkata dalam
“إِحْكَامُ الْأَحْكَامِ” (1/1999, Cet. مطبعة
السنة المحمدية):
[وَفِي تَقْدِيمِ السُّنَنِ عَلَى الْفَرَائِضِ
وَتَأْخِيرِهَا عَنْهَا: مَعْنًى لَطِيفٌ مُنَاسِبٌ.
أَمَّا فِي التَّقْدِيمِ: فَلَأَنَّ
الْإِنسَانَ يَشْتَغِلُ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَأَسْبَابِهَا، فَتَتَكَيَّفُ النَّفْسُ
مِنْ ذَٰلِكَ بِحَالَةٍ بَعِيدَةٍ عَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ وَالْخُشُوعِ
فِيهَا الَّذِي هُوَ رُوحُهَا، فَإِذَا قُدِّمَتِ السُّنَنُ عَلَى الْفَرِيضَةِ تَأَنَّسَتِ
النَّفْسُ بِالْعِبَادَةِ، وَتَكَيَّفَتْ بِحَالَةٍ تَقْرُبُ مِنَ الْخُشُوعِ، فَيَدْخُلُ
فِي الْفَرَائِضِ عَلَى حَالَةٍ حَسَنَةٍ لَمْ تَكُنْ تَحْصُلُ لَهُ لَوْ لَمْ تُقَدَّمِ
السُّنَّةُ؛ فَإِنَّ النَّفْسَ مَجْبُولَةٌ عَلَى التَّكَيُّفِ بِمَا هِيَ فِيهِ، لَا
سِيَّمَا إِذَا كَثُرَ أَوْ طَالَ، وَوُرُودُ الْحَالَةِ الْمُنَافِيَةِ لِمَا قَبْلَهَا
قَدْ يَمْحُوْ أَثَرَ الْحَالَةِ السَّابِقَةِ أَوْ يُضْعِفُهُ.
وَأَمَّا السُّنَنُ الْمُتَأَخِّرَةُ:
فَلِمَا وَرَدَ أَنْ النَّوَافِلَ جَابِرَةٌ لِلنُّقْصَانِ فِي الْفَرَائِضِ. فَإِذَا
وَقَعَ الْفَرْضُ نَاسَبَ أَنْ يَكُونَ بَعْدَهُ مَا يُجَبِّرُ خَلَلًا فِيهِ إِنْ
وَقَعَ.]. اهـ.
[Dalam mendahulukan (sholat) Sunnah sebagai
pendahuluan sebelum melaksanakan sholat-sholat Fardhu dan mengakhirkannya
setelah sholat sunnah terdapat makna yang lembut dan tepat sesuai kondisi.
Adapun sholat sunnah dijadikan pendahuluan: karena
seseorang itu disibukkan dengan hal-hal duniawi dan sebab-sebabnya, maka jiwa
akan berusaha menyesuaikan diri dengan suasana ibadah dari kondisi sebelumnya
yang jauh dari suasana kehadiran hati dalam ibadah dan kekhusyu’an di dalamnya,
yaitu RUH-nya.
Jika sunnah didahulukan dari yang wajib, maka jiwa
menjadi siap dan familiar untuk ibadah, dan telah terkondisikan dengan keadaan
khusyuk. Ketika dia masuk ke dalam ibadah fardhu maka dia dalam kondisi yang
bagus yang tidak akan bisa didapatkan jika sunnah tidak didahulukan. Karena
karakter jiwa itu butuh beradaptasi dengan apa yang ada di dalamnya, apalagi
jika itu sering atau berkepanjangan.
Dan terjadinya keadaan yang bertentangan dengan apa
yang mendahuluinya dapat menghapus efek dari keadaan sebelumnya atau
melemahkannya.
Adapun sunnah-sunnah yang sesudah sholat Fardhu
(Sunnah Ba’diyah): maka karena adanya keterangan bahwa sunnah-sunnah itu untuk
menutupi kekurangan dalam shalat-shalat Fardhu. Dengan demikian jika selesai
malaksankan yang Fardhu, maka setelah itu akan ada sesuatu yang bisa menutupi
cacat di dalamnya, jika itu benar terjadi adanya”. ((Selesai kutipan))
****
KLASIFIKASI DALIL KELIMA :
ANTARA ADZAN DAN IQOMAH ADA SHOLAT SUNNAH:
Hadits Abdullah bin Mughaffal رضي الله عنه bahwa Rosulullah ﷺ bersabda:
«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ
أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ»
"Di antara dua adzan terdapat shalat. Di
antara dua adzan terdapat shalat “. Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga
kalinya: “Bagi siapa saja yang menghendakinya ".
(Hadits Mutataqun alaihi /Al-Bukhari (627) dan
Muslim (838))..
Dan Imam Al-Nawawi menyebutkan dalam “المَجْمُوعُ” (4/10 Cet. Dar Al-Fikr):
أَنْ هَذَا الْحَدِيثُ هُوَ الْعُمْدَةُ
فِي مَشْرُوعِيَّةِ سُنَّةِ الْجُمُعَةِ القَبْلِيَّةِ.
“Hadits ini merupakan pilar utama dalam
pensyariatan sholat sunnah qobliyah Jum’at”.
Imam Ibnu al-Mulaqqin al-Syaafi'i mengatakan dalam
Risalah-nya tentang masalah ini:
[الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ ﷺ: «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ»:
الْأَذَانُ وَالإِقَامَةُ، وَمَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ ذَٰلِكَ] اهـ.
[Apa yang dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ:
"di antara setiap dua adzan": yakni adzan dan iqaamah, dan apa yang
kita bahas di sini (Qobliyah Jum’at) adalah bagian dari itu] (Sls). [Lihat Sharḥ Ṣaḥīḥ
al-Bukhārī
2/252 karya Ibnu Baththool]
Ibn Baththool dalam Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 2/252 dan Ibnu Hajar dalam “فَتْحُ البَارِي” 2/106 menukil IJMA’ tentang sunnahnya sholat dua rakaat di antara dua
adzan.
Kecuali di MAGHRIB ; Mereka berbeda pendapat dalam
hal qobliyah maghrib. Namun ada beberapa hadits shahih tentang Qobliyah
Maghrib, diantaranya hadits Anas radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:
كُنَّا بِالمَدِينَةِ فَإذَا
أذَّنَ المُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ المَغْرِبِ، ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ، فَرَكَعُوا
رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى إنَّ الرَّجُلَ الغَريبَ لَيَدْخُلُ المَسْجِدَ فَيَحْسَبُ
أنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا
"Kita semua ada di Madinah, maka jikalau
muazzin telah selesai adzan untuk shalat Maghrib, maka orang-orang sama
bersegera ke ruang dalam masjid lalu shalat dua rakaat, sehingga sesungguhnya
seorang yang asing -yang tempatnya bukan di Madinah-, kalau ia masuk masjid
pasti mengira bahwa shalat wajib Maghrib sudah selesai dikerjakan karena
banyaknya orang yang shalat sunnah dua rakaat sebelum Maghrib itu."
(HR. Bukhori no. 625 dan Muslim no. 837. Dan ini
lafadz Muslim).
Hadits Abdullah bin Mughaffal, dan Abdullah bin
Al-Zubair radhiyallahu ‘anhuma yang disebutkan diatas adalah hadits yang paling
kuat dijadikan pegangan dalam pensyaritan sholat Sunnah Qobliyah Jum’at ;
Seperti yang dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “فَتْحُ البَارِي” (4/3 Cet. Dar Al-Ma’rifah).
0 Komentar