TAKHRIJ HADIST TERKABULNYA DOA NABI ﷺ MENGHIDUPKAN IBUNYA
AGAR DIA BERIMAN
Dari
‘Aisyah radhiyallaahu 'anha berkata:
«حَجَّ
بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَجَّةَ الْوَدَاعِ، فَمَرَّ بِي عَلَى عَقَبَةِ الْحَجُونِ،
وَهُوَ بَاكٍ حَزِينٌ مُغْتَمٌّ. فَبَكَيْتُ لِبُكَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ إِنَّهُ
نَزَلَ فَقَالَ: يَا حُمَيْرَاءُ اسْتَمْسِكِي. فَاسْتَنَدْتُ إِلَى جَنْبِ الْبَعِيرِ،
فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيلًا، ثُمَّ إِنَّهُ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ.
فَقُلْتُ لَهُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَزَلْتَ مِنْ عِنْدِي
وَأَنْتَ بَاكٍ حَزِينٌ مُغْتَمٌّ، فَبَكَيْتُ لِبُكَائِكَ، ثُمَّ إِنَّكَ عُدْتَ إِلَيَّ
وَأَنْتَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ، فَعَمَّ ذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
فَقَالَ: ذَهَبْتُ لِقَبْرِ أُمِّي آمِنَةَ، فَسَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يُحْيِيَهَا،
فَأَحْيَاهَا فَآمَنَتْ بِي، وَرَدَّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ».
“Kami melaksanakan haji wada’ bersama Rasulullah ﷺ. Lalu beliau dengan ku melewati di Aqobah al-Hujun (di situ
terdapat makam ibu Nabi ﷺ ) , dan beliau pun menangis menahan kesedihan mendalam. Maka aku pun ikut
menagis melihat tangisan Rosulullah ﷺ . Kemudian Beliau turun seraya berkata kepadaku :
"
Wahai Humairaa' ( si kecil yang kemerah-merahan) , tunggu di sini !!! ".
Lalu
aku bersandar pada sisi unta dan menunggu lama. Kemudian beliau kembali dalam
keadaan merasa terbebas sambil tersenyum gembira. Lantas aku berkata :
"Demi
bapak dan ibuku sebagai tebusan, engkau turun dalam keadaan menangis sedih dan
aku ikut menangis karenamu, kemudian engkau kembali dalam keadaan tersenyum
gembira, ada apa wahai Rasulullah?
Kemudian
beliau bersabda:
“Aku
pergi ke kuburan ibuku Aminah, lalu aku meminta kepada Allah agar
menghidupkannya, lantas Dia menghidupkannya dan ibuku beriman kepadaku, setelah
itu Allah mengembalikannya lagi”.
Lafadz
riwayat Ibnu Syahin :
أَنّ النَّبِيَّ أنزل إِلَى الْحَجُونِ كَئِيبًا حَزِينًا فَأَقَامَ بِهِ مَا
شَاءَ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ رَجَعَ مَسْرُورًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
نَزَلْتَ إِلَى الْحَجُونِ كَئِيبًا حَزِينًا فَأَقَمْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ رَجَعْتَ
مَسْرُورًا قَالَ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَأَحْيَا لِي أُمِّي فَآمَنَتْ بِي
ثُمَّ رَدَّهَا
Sesungguhnya
Nabi ﷺ turun ke Al-Hajun dalam keadaan sedih dan berduka, lalu beliau
tinggal di sana selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian beliau kembali
dalam keadaan gembira.
Maka
aku berkata: “Wahai Rasulullah ﷺ, engkau turun ke Al-Hajun dalam keadaan
sedih dan berduka, lalu engkau tinggal selama yang Allah kehendaki, kemudian
engkau kembali dalam keadaan gembira.”
Beliau
ﷺ bersabda: “Aku meminta kepada Rabbku ‘azza wa jalla, lalu Dia menghidupkan
untukku ibuku, maka ia beriman kepadaku, kemudian Allah mengembalikannya.”
TAKHRIJ
HADITS:
[Hadits
ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Syaahiin dalam "Al-Naasikh
wal-Mansuukh" (Lihat al-La’aali al-Mshnu’ah karya as-Suyuthi 1/245) dan
Al-Khathib Al-Baghdadi dalam "As-Saabiq wal-Laahiq",
("Al-Haawi" 2/440 karya As-Suyuti) dan Ibnu al-Jawzi Dalam kitab
“al-Mawdhu’aat” 1/283 ( kitab kumpulan hadits-hadits palsu]
Lihat
juga dengan lafaz yang berbeda dalam: Ibnu Syahin, Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin
‘Utsman: An-Nasikh wal-Mansukh min al-Hadits, tahqiq oleh ‘Ali Muhammad Mu‘awwadh
dan ‘Adil Ahmad ‘Abdul Mawjud (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan
pertama, 1412 H/1992 M), hadits nomor 631, halaman 284–285.
Al-Hujuun adalah nama sebuah tempat di Makkah .
STATUS
SANAD HADITS:
Ibnul
Jauzi mengomentari hadits ini dalam “al-Mawdhu’aat” 1/283 dengan mengatakan :
هٰذَا حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ بِلا شَكٍّ، وَالَّذِي وَضَعَهُ قَلِيلُ الْفَهْمِ عَدِيمُ
الْعِلْمِ، إِذْ لَوْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ لَعَلِمَ أَنَّ مَنْ مَاتَ كَافِرًا لَا يَنْفَعُهُ
أَنْ يُؤْمِنَ بَعْدَ الرَّجْعَةِ، لَا، بَلْ لَوْ آمَنَ عِنْدَ الْمُعَايَنَةِ لَمْ
يَنْتَفِعْ، وَيَكْفِي فِي رَدِّ هٰذَا الْحَدِيثِ قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَيَمُتْ وَهُوَ
كَافِرٌ).
وَقَوْلُهُ فِي الصَّحِيحِ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأَبِي
فَلَمْ يَأْذَنْ لِي».
وَمُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ هُوَ النَّقَّاشُ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ، وَأَحْمَدُ بْنُ
يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى مَجْهُولَانِ، وَقَدْ كَانَ أَقْوَامٌ يَضَعُونَ
أَحَادِيثَ وَيَدُسُّونَهَا فِي كُتُبِ الْمُغَفَّلِينَ فَيَرْوِيهَا أُولَٰئِكَ.
قَالَ شَيْخُنَا أَبُو الْفَضْلِ بْنُ نَاصِرٍ: هٰذَا حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ، وَأُمُّ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَاتَتْ بِالْأَبْوَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، وَدُفِنَتْ
هُنَاكَ وَلَيْسَتْ بِالْحَجُونِ.
Ini
adalah hadits palsu tanpa keraguan. Orang yang membuatnya adalah orang yang
sedikit pemahaman dan tidak memiliki ilmu. Seandainya ia memiliki ilmu, tentu
ia akan mengetahui bahwa siapa yang mati dalam keadaan kafir tidak akan
bermanfaat baginya beriman setelah dikembalikan (hidup), bahkan jika ia beriman
ketika melihat (kematian), tetap tidak akan bermanfaat baginya.
Dan
cukuplah dalam menolak hadits ini firman Allah Ta’ala:
فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Lalu
dia meninggal dalam keadaan kafir, maka amal-amalnya di dunia dan akhirat akan
tertutup. Mereka itulah penduduk neraka sedangkan mereka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah: 217)” ).
Dan
Sabda beliau ﷺ dalam Shahih Muslim :
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أنْ أسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي،
واسْتَأْذَنْتُهُ أنْ أزُورَ قَبْرَها فأذِنَ لِي
" Aku meminta izin beristigfar untuk mendiang ibuku, tapi
Tuah tak mengizinkan. Dan aku minta izin menziarahi kuburannya, maka Tuhan
mengizinkan " ( HR. Muslim no. 976 )
Dan
Muhammad bin Ziyad itu adalah an-Naqqoosy , dan dia tidak dapat dipercaya. Dan
Ahmad bin Yahya dan Muhammad bin Yahya , dua perawi yang tidak dikenal (مَجْهُولَانِ). Dan mereka itu adalah orang-orang biasa memalsukan hadits-hadits
dan menyusupkannya ke dalam kitab-kitab orang-orang bodoh, lalu mereka yang
meriwayatkannya.
Syekh
kami Abu al-Fadhel bin Naahir berkata :
Ini
adalah hadits palsu, dan ibu Rasulullah ﷺ meninggal di al-Abwaa' , antara Mekah dan
Madinah dan dimakamkan di sana, bukan di al-Hujuun. " [ Selesai kutipan
dari Ibnul Jauzi].
Al-Hafidz
Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, berkata:
"
وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي ذَكَرَهُ السُّهَيْلِيُّ، وَذَكَرَ أَنَّ فِي إِسْنَادِهِ
مَجْهُولَيْنِ إِلَى أَبِي الزِّنَادِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سَأَلَ رَبَّهُ أَنْ يُحْيِيَ أَبَوَيْهِ، فَأَحْيَاهُمَا
وَآمَنَا بِهِ: إِنَّهُ حَدِيثٌ مُنْكَرٌ جِدًّا، وَإِنْ كَانَ مُمْكِنًا بِالنَّظَرِ
إِلَى قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى، لَكِنَّ الَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ يُعَارِضُهُ».
انتهى.
Adapun
hadits yang Al-Suhaili sebutkan dan di sebutkan di dalam sanad nya ada dua
perawi yang majhul / tidak dikenal meriwayatkan dari Abu Al-Zinad, dari Urwah,
dari Aisyah radhiyallahu 'anhaa, bahwa Rasulullah ﷺ memohon kepada Rabbnya untuk menghidupkan kembali kedua
orang tuanya, maka Allah menghidupkan dua-duanya lalu mereka berdua beriman
dengannya : SESUNGGUHNYA INI ADALAH HADITS MUNGKAR SEKALI , meskipun sangat
mungkin jika kita memandang kekuasaan Allah SWT, akan tetapi yang benar-benar
terbukti ada dalam hadits Sahih bertentangan dengan itu. [ Selesai . Lihat :
"al-Bidaayah wan Nihaayah 2/261 ".
Mulla
Ali Al-Qari berkata tentang hadits ini:
«مَوْضُوعٌ،
كَمَا قَالَ ابْنُ دِحْيَةَ، وَقَدْ وُضِعَتْ فِي هٰذِهِ الْمَسْأَلَةِ رِسَالَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ».
انتهى.
Itu dibuat-buat, seperti yang dikatakan Ibnu Dihyah, dan sebuah risalah
terpisah telah ditulis tentang masalah ini. [ Baca : "Al-Asrār Al-Marfū‘ah fī Al-Akhbār Al-Mawḍhū‘ah" hal. 83
].
Al-Halabi berkata:
«وَهٰذَا الْحَدِيثُ قَدْ حَكَمَ بِضَعْفِهِ جَمَاعَةٌ،
مِنْهُمُ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ نَاصِرِ الدِّينِ، وَالْجَوْزَقَانِيُّ،
وَابْنُ الْجَوْزِيِّ، وَالذَّهَبِيُّ فِي الْمِيزَانِ، وَأَقَرَّهُ ابْنُ حَجَرٍ فِي
لِسَانِ الْمِيزَانِ، وَجَعَلَهُ ابْنُ شَاهِينٍ وَمَنْ تَبِعَهُ نَاسِخًا لِأَحَادِيثِ
النَّهْيِ عَنِ الِاسْتِغْفَارِ، أَيْ لَهَا».
“Hadits ini telah dihukumi lemah oleh sejumlah ulama, di antaranya
Al-Hafizh Abu Al-Fadhl bin Nashiruddin, Al-Jauzqani, Ibnul Jauzi, dan
Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan. Hal ini juga diakui oleh Ibnu Hajar dalam Lisan
Al-Mizan. Sementara itu, Ibnu Syahin dan orang-orang yang mengikutinya
menjadikannya sebagai hadits yang menasakh (menghapus) hadits-hadits larangan
memohonkan ampun, yaitu terhadapnya.” (As-Sirah Al-Halabiyyah = Insan Al-‘Uyun,
jilid 1, halaman 155).
Syekh Islam Ibnu Taimiyah radhiyallahu 'anhu ditanya:
هَلْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَحْيَا لَهُ
أَبَوَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَا عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ مَاتَا بَعْدَ ذٰلِكَ؟
Apakah shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Allah
Ta'ala menghidupkan kembali kedua orang tuanya hingga mereka memeluk Islam di
hadapannya, lalu mereka wafat lagi setelah itu?
Maka beliau menjawab:
«لَمْ
يَصِحَّ ذٰلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ؛ بَلْ أَهْلُ الْمَعْرِفَةِ مُتَّفِقُونَ
عَلَى أَنَّ ذٰلِكَ كَذِبٌ مُخْتَلَقٌ، وَإِنْ كَانَ قَدْ رُوِيَ فِي ذٰلِكَ أَبُو
بَكْرٍ - يَعْنِي الْخَطِيبَ - فِي كِتَابِهِ "السَّابِقِ وَاللَّاحِقِ"،
وَذَكَرَهُ أَبُو الْقَاسِمِ السُّهَيْلِيُّ فِي "شَرْحِ السِّيرَةِ" بِإِسْنَادٍ
فِيهِ مَجَاهِيلُ.
وَذَكَرَهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْقُرْطُبِيُّ فِي "التَّذْكِرَةِ"
وَأَمْثَالُ هٰذِهِ الْمَوَاضِعِ، فَلَا نِزَاعَ بَيْنَ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ أَنَّهُ
مِنْ أَظْهَرِ الْمَوْضُوعَاتِ كَذِبًا، كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ أَهْلُ الْعِلْمِ، وَلَيْسَ
ذٰلِكَ فِي الْكُتُبِ الْمُعْتَمَدَةِ فِي الْحَدِيثِ؛ لَا فِي الصَّحِيحِ وَلَا فِي
السُّنَنِ وَلَا فِي الْمَسَانِيدِ وَنَحْوِ ذٰلِكَ مِنْ كُتُبِ الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفَةِ،
وَلَا ذَكَرَهُ أَهْلُ كُتُبِ الْمَغَازِي وَالتَّفْسِيرِ، وَإِنْ كَانُوا قَدْ يَرْوُونَ
الضَّعِيفَ مَعَ الصَّحِيحِ، لِأَنَّ ظُهُورَ كَذِبِ ذٰلِكَ لَا يَخْفَى عَلَى مُتَدَيِّنٍ،
فَإِنَّ مِثْلَ هٰذَا لَوْ وَقَعَ لَكَانَ مِمَّا تَتَوَافَرُ الْهِمَمُ وَالدَّوَاعِي
عَلَى نَقْلِهِ، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ خَرْقًا لِلْعَادَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:
مِنْ جِهَةِ إِحْيَاءِ الْمَوْتَى، وَمِنْ جِهَةِ الْإِيمَانِ بَعْدَ الْمَوْتِ، فَكَانَ
نَقْلُ مِثْلِ هٰذَا أَوْلَى مِنْ نَقْلِ غَيْرِهِ، فَلَمَّا لَمْ يَرْوِهِ أَحَدٌ
مِنَ الثِّقَاتِ عُلِمَ أَنَّهُ كَذِبٌ.
ثُمَّ هٰذَا خِلَافُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ وَالْإِجْمَاعِ. قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: (إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ
بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا)، وَقَالَ: (وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي
تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ). فَبَيَّنَ اللَّهُ تَعَالَى
أَنَّهُ لَا تَوْبَةَ لِمَنْ مَاتَ كَافِرًا. وَقَالَ تَعَالَى: (فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ
إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ
وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ)، فَأَخْبَرَ أَنَّ سُنَّتَهُ فِي عِبَادِهِ أَنَّهُ
لَا يَنْفَعُ الْإِيمَانُ بَعْدَ رُؤْيَةِ الْبَأْسِ؛ فَكَيْفَ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ وَنَحْوُ
ذٰلِكَ مِنَ النُّصُوصِ...». انتهى باختصار.
Itu
tidak shahih walau dari satu orang ahli hadits mana pun; bahkan sebaliknya,
para ahli makrifat dalam ilmu hadits sepakat bahwa itu adalah dusta yang
dibuat-buat, meskipun Abu Bakar – yakni al-Khothib al-Baghdadi –
meriwayatkannya dalam bukunya “As-Sasbiq wal Laahiq” , dan Abu al-Qasim
al-Suhaili menyebutkannya dalam "Sharhus Siirah " dengan sanad yang
di dalam terdapat para perawi yang majhul / tidak diketahui.
Abu
Abdullah al-Qurtubi menyebutkannya di “Al-Tadzkirah” dan tempat-tempat yang
semisal ini . Maka tidak ada perselisihan di antara para ahli makrifah hadits
bahwa itu adalah salah satu dari hadits-hadits palsu dan dusta , seperti yang
dinyatakan oleh para ulama.
Hadits
itu tidak ada dalam kitab-kitab yang mu'tamad dalam hadits; Tidak dalam Kitab
as-Sahih, atau dalam as-Sunan, atau dalam Musnad dan kotab-kitab hadits lainnya
yang dikenal. Juga tidak disebutkan oleh para penulis kitab al-Maghazi (sejarah
peperangan) dan Tafsir, meskipun mereka biasa meriwayatkan yang dho'if dengan
yang shahih , kenapa ? karena sangat nampak kebohongannya yang tidak akan samar
bagi orang yang berkarakter agamis .
Karena
jika hal seperti ini terjadi, maka itu akan menjadi salah satu materi yang
paling berpotensi untuk memberi semangat dan motivasi untuk mnyebar luaskannya,
karena itu adalah salah satu peristiwa terbesar sebagai Mukjizat yang mendobrak
hukum alam dalam dua sisi :
Sisi
pertama : menghidupkan orang mati,
Dan
sisi kedua : beriman setelah kematian.
Maka
meriwayatkan hadits seperti ini tentunya lebih utama dari pada meriwayatkan
yang lainnya . Akan tetapi ketika tidak ada seorang pun dari orang-oramg yang
dipercaya / tsiqoot yang meriwaytkannya , maka dari sini bisa diketahui bahwa
itu dusta .
Apalagi
ini bertentangan dengan Kitab dan Sunnah yang shahih dan Ijma'. Allah SWT
berfirman :
{اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّٰهِ
لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ
قَرِيْبٍ فَاُولٰۤىِٕكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا
حَكِيْمًا}
Sesungguhnya
bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan
karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang
diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana ( QS. An-Nisaa : 17 ).
Dan
Allah SWT berfirman :
{وَلَيْسَتِ
التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۚ حَتّٰىٓ اِذَا حَضَرَ
اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ اِنِّيْ تُبْتُ الْـٰٔنَ وَلَا الَّذِيْنَ
يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۗ اُولٰۤىِٕكَ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا
اَلِيْمًا}
Dan
tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga
apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia
mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima
tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi
orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih. ( QS. An-Nisaa : 18 )
Maka
Allah SWT menjelaskan bahwa tidak ada tobat bagi orang yang meninggal dalam
keadaan kafir.
Allah
SWT berfirman :
{فَلَمْ
يَكُ يَنْفَعُهُمْ اِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَا ۗسُنَّتَ اللّٰهِ
الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهِ ۚ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكٰفِرُوْنَ}
" Maka iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami
tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku
terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir". (QS.
Gafir: 85)
Maka
Allah menyatakan bahwa Sunnahnya atas para hambanya adalah bahwa iman seseorang
itu tidak bermanfaat setelah melihat adzab menjelang kematian ; lalu bagaimana
jika setelah kematian? Dan nash-nash lainnya yang semisal itu .... [ Selesai
kutipan dari Ibnu Taimiyah . Lihat : "Majmu' al-Fataawaa " 4/325 ].
Ada
sebagian dari ahli tasawuf yang sudah tidak mampu mengshahihkan hadits-hadits
ini sesuai dengan kaida-kaidah ilmu hadits, lalu mereka menshahihkannya dengan
cara ilmu Al-Kasyaf (الْكَشْفُ) .
Al-Baijuurii
berkata:
«وَلَعَلَّ
هٰذَا الْحَدِيثَ - حَدِيثُ إِحْيَاءِ وَالِدَيِ النَّبِيِّ ﷺ وَإِيمَانِهِمَا ثُمَّ
مَوْتِهِمَا - صَحَّ عِنْدَ أَهْلِ الْحَقِيقَةِ بِطَرِيقِ الْكَشْفِ». انتهى.
Mungkin
hadits ini – yakni hadits tentang menghidupkan orang tua Nabi ﷺ dan berimannya mereka , kemudian wafatnya mereka kembali – adalah Shahih
menurut para Ahli HAKIKAT dengan cara AL-KASYAF / الْكَشْفُ . [ Baca «جَوْهَرَةُ التَّوْحِيدِ» hal. 30]
Syekh
al-Islam Ibn Taymiyyah, semoga Allah merahmatinya, mengatakan dalam menanggapi hal
seperti ini:
" وَعَامَّةُ هَؤُلَاءِ إِذَا خُوطِبُوا بِبَيَانِ فَسَادِ قَوْلِهِمْ قَالُوا مِنْ
جِنْسِ قَوْلِ النَّصَارَى: هٰذَا أَمْرٌ فَوْقَ الْعَقْلِ! وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ:
يَثْبُتُ عِنْدَنَا فِي الْكَشْفِ مَا يُنَاقِضُ صَرِيحَ الْعَقْلِ. انتهى باختصار.
Dan
orang-orang awam ini, jika mereka diajak bicara dengan penjelasan tentang rusaknya
apa yang mereka katakan , mereka akan menjawabnya dengan perkataan yang sama
dengan perkataan orang-orang Nasrani , yaitu :
هٰذَا أَمْرٌ فَوْقَ الْعَقْلِ
Ini perkara yang di luar nalar
manusia .
Sebagian
dari mereka ada yang mengatakan:
يَثْبُتُ عِنْدَنَا فِي الْكَشْفِ مَا يُنَاقِضُ صَرِيحَ الْعَقْلِ
Ini
terbukti shahih menurut kami berdasarkan "AL-KASYAF" yang
bertentangan dengan kasat Akal ". [ Selesai kutipan dari Ibnu Taimiyah .
Lihat : "الْجَوَابُ الصَّحِيحُ" 2/92 ]
KUTIPAN DARI FATAWA AR-RAMLI
Disebutkan
dalam Fatawa Ar-Ramli 4/324 dan setelahnya:
قَالَ مَجْهُولٌ السُّهَيْلِيُّ
فِي الرَّوْضِ الْأُنُفِ إنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَحْيَا لَهُ أَبَاهُ وَأُمَّهُ وَآمَنَا
بِهِ وَهَذَا نَاسِخٌ لِمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ «أَنَّ رَجُلًا قَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي فَقَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ قَالَ
إنَّ أَبِي، وَأَبَاك فِي النَّارِ» .
وَحَدِيثِ مَسْلَمَةَ
بْنِ بُرَيْدٍ الْجُعْفِيِّ وَفِيهِ فَلَمَّا رَأَى مَا دَخَلَ عَلَيَّ قَالَ وَأُمِّي
مَعَ أُمِّك وَقَدْ قِيلَ إنَّ الْحَدِيثَ فِي إيمَانِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ مَوْضُوعٌ
يَرُدُّهُ الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ قَالَ تَعَالَى {وَلا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ
كُفَّارٌ} [النساء: 18] وَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ {فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ} [البقرة:
217] فَمَنْ مَاتَ كَافِرًا لَمْ يَنْفَعْهُ الْإِيمَانُ بَعْدَ الرَّجْعَةِ بَلْ لَوْ
آمَنَ عِنْدَ الْمُعَايَنَةِ لَمْ يَنْفَعْهُ فَكَيْفَ بَعْدَ الْإِعَادَةِ وَفِي التَّفْسِيرِ
أَنَّهُ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - قَالَ «لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ
فَنَزَلَ قَوْله تَعَالَى {وَلا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ} [البقرة:
119] » وَقَدْ ذَكَرَهُ الْحَافِظُ أَبُو الْخَطَّابِ مُحَمَّدُ بْنُ دِحْيَةَ.
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ:
وَفِيهِ نَظَرٌ، وَذَلِكَ أَنَّ فَضَائِلَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
- وَخَصَائِصَهُ لَمْ تَزَلْ تَتَوَالَى وَتَتَتَابَعُ إلَى حِينِ مَمَاتِهِ فَيَكُونُ
هَذَا مِمَّا فَضَّلَهُ اللَّهُ تَعَالَى، وَأَكْرَمَهُ بِهِ وَلَيْسَ إحْيَاؤُهُمَا،
وَإِيمَانُهُمَا بِهِ يَمْتَنِعُ عَقْلًا وَلَا شَرْعًا فَقَدْ وَرَدَ فِي الْكِتَابِ
الْعَزِيزِ إحْيَاءُ قَتِيلِ بَنِي إسْرَائِيلَ، وَإِخْبَارُهُ بِقَاتِلِهِ وَكَانَ
عِيسَى - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - يُحْيِي الْمَوْتَى وَكَذَلِكَ نَبِيُّنَا
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَحْيَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَى يَدَيْهِ جَمَاعَةً
مِنْ الْمَوْتَى فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْ إيمَانِهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا
زِيَادَةً فِي كَرَامَتِهِ وَفَضِيلَتِهِ مَعَ مَا وَرَدَ مِنْ الْخَبَرِ فِي ذَلِكَ
فَيَكُونُ ذَلِكَ خُصُوصًا فِيمَنْ مَاتَ كَافِرًا
وَقَوْلُهُ فَمَنْ مَاتَ
كَافِرًا إلَى آخِرِ كَلَامِهِ مَرْدُودٌ لِمَا رُوِيَ مِنْ الْخَبَرِ أَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى رَدَّ الشَّمْسَ عَلَى نَبِيِّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَعْدَ
مَغِيبِهَا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الطَّحَاوِيُّ وَقَالَ إنَّهُ حَدِيثُ ثَابِتٍ فَلَوْ
لَمْ يَكُنْ رُجُوعُ الشَّمْسِ نَافِعًا، وَأَنَّهُ لَا يَتَجَدَّدُ بِتَجَدُّدِ الْوَقْتِ
لَمَا رَدَّهَا عَلَيْهِ فَكَذَلِكَ يَكُونُ إحْيَاءُ أَبَوَيْ النَّبِيِّ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نَافِعًا لِإِيمَانِهِمَا وَتَصْدِيقِهِمَا بِالنَّبِيِّ
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –
وَقَدْ قَبِلَ اللَّهُ
تَعَالَى إيمَانَ قَوْمِ يُونُسَ وَتَوْبَتَهُمْ مَعَ تَلَبُّسِهِمْ بِالْعَذَابِ فِيمَا
ذُكِرَ فِي بَعْضِ الْأَقْوَالِ، وَهُوَ ظَاهِرُ الْقُرْآنِ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ
الْآيَةِ فَيَكُونُ ذَلِكَ قَبْلَ إيمَانِهِمْ وَكَوْنِهِمَا فِي الْعَذَابِ. اهـ.
Dikatakan oleh
As-Suhaili—yang tidak diketahui namanya—dalam
Ar-Raudh Al-Unuf:
Bahwa Allah Ta’ala telah menghidupkan
kembali ayah dan ibu Nabi ﷺ, lalu
keduanya beriman kepadanya, dan ini dianggap sebagai penghapus (nasikh)
terhadap apa yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Anas:
“Bahwa seorang
laki-laki berkata: Wahai Rasulullah ﷺ,
di manakah ayahku?
Beliau menjawab: ‘Di neraka’.
Ketika orang itu
berpaling, beliau memanggilnya dan bersabda: ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka’.”
Dan juga hadits
Maslamah bin Buraid Al-Ju’fi, yang di dalamnya disebutkan:
“Ketika ia melihat
apa yang menimpaku, ia berkata: Dan ibuku bersama ibumu.”
Dikatakan: bahwa hadits tentang keimanan ayah dan ibu
beliau adalah hadits palsu yang ditolak oleh Al-Qur’an yang agung.
Allah Ta’ala
berfirman: “Dan tidak (diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan
kafir” (An-Nisa: 18).
Dan firman-Nya: “Lalu ia mati dalam
keadaan kafir” (Al-Baqarah: 217).
Maka siapa yang
mati dalam keadaan kafir, maka tidak
bermanfaat baginya iman setelah dikembalikan (hidup lagi), bahkan jika ia beriman
saat menyaksikan (azab), tetap tidak bermanfaat baginya. Maka bagaimana lagi
setelah dihidupkan kembali?
Dalam sebuah tafsir disebutkan bahwa beliau ﷺ bersabda: “Andai aku mengetahui apa
yang terjadi pada kedua orang tuaku,” lalu turun firman Allah Ta’ala: “Dan
engkau tidak akan ditanya tentang penghuni neraka” (Al-Baqarah: 119).
Hal ini telah
disebutkan oleh Al-Hafizh Abu Al-Khattab Muhammad bin Dihyah.
Al-Qurthubi menanggapinya dengan berkata:
Di
dalam perkataanya ada yang perlu ditinjau kembali. Sebab keutamaan dan kekhususan Nabi ﷺ terus berlanjut dan bertambah hingga waktu
wafat beliau. Maka hal ini bisa termasuk bentuk keutamaan yang Allah Ta’ala
berikan dan kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya.
Menghidupkan
keduanya dan keimanan mereka tidak mustahil secara akal maupun syariat.
Telah disebutkan
dalam al-Qur’an
Al-‘Aziz tentang dihidupkannya
orang yang terbunuh dari Bani Israil dan ia memberitakan siapa pembunuhnya.
Nabi Isa ‘alaihis salam juga menghidupkan orang mati, demikian pula Nabi kita ﷺ, Allah Ta’ala telah menghidupkan melalui
tangan beliau sejumlah orang mati.
Jika hal ini telah
ada ketetapan, maka
tidak menghalangi kemungkinan berimannya kedua orang tua beliau setelah
kematian mereka, sebagai tambahan kemuliaan dan keutamaan bagi beliau, apalagi
telah ada riwayat tentang hal tersebut.
Maka hal itu
menjadi kekhususan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir. Adapun pernyataan
“barang siapa mati dalam keadaan kafir…” hingga akhir ucapannya, maka
ditolak dengan riwayat bahwa Allah Ta’ala mengembalikan matahari untuk Nabi ﷺ setelah terbenamnya, sebagaimana
disebutkan oleh Abu Hafsh Ath-Thahawi, dan ia mengatakan bahwa itu hadits yang
tsabit. Seandainya kembalinya matahari tidak bermanfaat dan tidak memberikan
manfaat baru dengan perubahan waktu, tentu tidak akan dikembalikan kepadanya.
Demikian pula menghidupkan kedua orang tua Nabi ﷺ
bermanfaat bagi keimanan mereka dan pembenaran mereka terhadap Nabi ﷺ.
Dan sungguh Allah
Ta’ala telah menerima iman kaum Nabi Yunus dan taubat mereka meskipun mereka
telah ditimpa azab, sebagaimana disebutkan dalam sebagian pendapat, dan ini
tampak dari Al-Qur’an. Adapun jawaban terhadap ayat tersebut adalah bahwa itu
terjadi sebelum keimanan mereka dan sebelum keduanya berada dalam azab. (Selesai).
Lalu ar-Ramli melanjutkan perkataanya:
وَقَالَ الْحَافِظُ
شَمْسُ الدِّينِ بْنُ نَاصِرٍ الدِّمَشْقِيُّ:
حَبَا اللَّهُ النَّبِيَّ
مَزِيدَ فَضْلٍ … عَلَى فَضْلٍ وَكَانَ بِهِ رَءُوفًا
فَأَحْيَا أُمَّهُ وَكَذَا
أَبَاهُ … لِإِيمَانٍ بِهِ فَضْلًا لَطِيفًا
فَسَلِّمْ فَالْقَدِيمُ
بِذَا قَدِيرٌ
وَإِنْ كَانَ الْحَدِيثُ
بِهِ ضَعِيفًا وَحِينَئِذٍ فَقَدْ صَارُوا مِنْ السُّعَدَاءِ الْفَائِزِينَ؛
لِقَوْلِهِ تَعَالَى
{قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ} [الأنفال:
38]
وَقَوْلِهِ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ»
وقَوْله تَعَالَى {وَلَسَوْفَ
يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى} [الضحى: 5]. وَمِنْ رِضَاهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ - أَنْ لَا يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْ أَبَوَيْهِ النَّارَ وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ
حُصَيْنٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «سَأَلْت
رَبِّي أَنْ لَا يُدْخِلَ النَّارَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَأَعْطَانِي ذَلِكَ»
أَوْرَدَهُ الْحَافِظُ
مُحِبُّ الدِّينِ الطَّبَرِيُّ فِي كِتَابِهِ ذَخَائِرِ الْعُقْبَى
وَلِهَذَا لَمَّا سُئِلَ
الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الْعَرَبِيِّ أَحَدُ أَئِمَّةِ الْمَالِكِيَّةِ عَنْ رَجُلٍ
قَالَ إنَّ أَبَا النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي النَّارِ فَأَجَابَ
بِأَنَّ مَنْ قَالَ إنَّ أَبَا النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي
النَّارِ فَهُوَ مَلْعُونٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ} [الأحزاب: 57]
قَالَ وَلَا أَعْظَمُ
مِنْ أَنْ يُقَالَ عَنْ أَبِيهِ إنَّهُ فِي النَّارِ
فَإِنْ قِيلَ:
فِي الِاسْتِدْلَالِ
عَلَى كَوْنِهِمَا لَمْ يَكُونَا كَافِرَيْنِ أَنَّهُمَا مَاتَا قَبْلَ الْبَعْثَةِ
وَلَا تَعْذِيبَ قَبْلَهَا لِقَوْلِهِ {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ
رَسُولا} [الإسراء: 15]
وَقَدْ أَطْبَقَتْ أَئِمَّةُ
الْأَشْعَرِيَّةِ مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ وَالْأُصُولِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْفُقَهَاءِ
عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ وَلَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ يَمُوتُ نَاجِيًا، وَأَنَّهُ
لَا يُقَاتَلُ حَتَّى يُدْعَى إلَى الْإِسْلَامِ؟
فَالْجَوَابُ:
أَنَّهُ لَا تَمَسُّكَ
لِهَذَا الْقَائِلِ بِهَذِهِ الْآيَةِ فَإِنَّ مَعْنَى {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ
حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا} [الإسراء: 15] يُبَيِّنُ الْحُجَجَ وَيُمَهِّدُ الشَّرَائِعَ
فَمَدْلُولُهَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُعَذِّبُ أَحَدًا قَبْلَ وُرُودِ الشَّرْعِ
بِبَعْثِهِ أَحَدًا مِنْ رُسُلِهِ وَيُسَمَّى ذَلِكَ الزَّمَنُ زَمَنَ الْفَتْرَةِ
فَالزَّمَنُ الَّذِي بَيْنَ بَعْثَةِ عِيسَى وَبَعْثَةِ نَبِيِّنَا - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَيْسَ زَمَنَ فَتْرَةٍ؛ لِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوا مُتَعَبِّدِينَ
بِشَرِيعَةِ عِيسَى - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حَتَّى نُسِخَتْ بِشَرِيعَةِ
نَبِيِّنَا - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَأَبُوهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ - كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ حَالَ تَعَبُّدِهِمْ
بِشَرِيعَةِ عِيسَى - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلِهَذَا قَالَ أَئِمَّتُنَا
مَنْ دَخَلَ آبَاؤُهُ فِي دِينِ الْيَهُودِيَّةِ بَعْدَ بَعْثَةِ عِيسَى - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَمْ يُقِرَّ بِالْجِزْيَةِ؛ لِأَنَّهُمْ تَمَسَّكُوا بِدِينٍ
بَاطِلٍ وَسَقَطَتْ فَضِيلَةٌ.
Dan Syamsuddin Ibn
Nashir ad-Dimasyqi berkata:
“Allah telah menganugerahkan kepada Nabi tambahan
keutamaan di atas keutamaan, dan Dia sangat penyayang kepadanya.
Maka Dia menghidupkan ibunya, demikian pula ayahnya,
agar keduanya beriman kepadanya sebagai tambahan kemuliaan yang lembut.
Maka terimalah hal ini, karena Allah Yang Maha Dahulu
Maha Kuasa atas itu, meskipun hadits tentangnya lemah.”
Dengan demikian,
keduanya termasuk orang-orang yang berbahagia dan beruntung, berdasarkan firman
Allah Ta’ala:
“Katakanlah
kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti, niscaya akan diampuni bagi
mereka apa yang telah lalu” (Al-Anfal: 38),
Dan sabda Nabi ﷺ:
“Islam menghapus apa yang sebelumnya,”
Serta firman-Nya: “Dan sungguh Tuhanmu
pasti akan memberimu sehingga engkau ridha” (Adh-Dhuha: 5).
Di antara bentuk
keridhaan beliau ﷺ adalah
tidak masuknya kedua orang tuanya ke dalam neraka.
Dari Imran bin
Hushain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Aku memohon
kepada Tuhanku agar tidak memasukkan seorang pun dari keluargaku ke dalam
neraka, maka Dia mengabulkannya.”
Hadits ini
disebutkan oleh Muhibbuddin ath-Thabari dalam kitab Dzakhair al-Uqba.
Karena itu, ketika
Abu Bakar Ibn al-Arabi—salah satu imam mazhab Maliki—ditanya tentang seseorang
yang mengatakan bahwa ayah Nabi ﷺ
berada di neraka, beliau menjawab:
“Barang siapa
mengatakan bahwa ayah Nabi ﷺ di neraka,
maka ia terlaknat,”
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia
dan akhirat” (Al-Ahzab: 57).
Beliau berkata:
tidak ada yang lebih besar daripada mengatakan tentang ayah beliau bahwa ia di
neraka.
Jika ada yang mengatakan:
Sebagai dalil bahwa keduanya tidak kafir
karena meninggal sebelum diutusnya Nabi ﷺ,
dan tidak ada azab sebelum itu, berdasarkan firman Allah:
“Kami tidak
akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Al-Isra: 15),
Dan para imam dari kalangan Asy’ariyyah,
ahli kalam, ushul, Syafi’iyyah, dan para fuqaha telah sepakat bahwa orang yang
meninggal sebelum sampai dakwah kepadanya maka ia selamat, serta tidak boleh
diperangi hingga diajak kepada Islam—
Maka jawabannya adalah:
Ayat ini tidak bisa dijadikan pegangan
seperti yang mereka maksud.
Makna ayat
tersebut adalah bahwa Allah menjelaskan hujjah dan menetapkan syariat; yaitu Allah
tidak mengazab seseorang sebelum datangnya syariat melalui pengutusan rasul.
Masa itu disebut masa fatrah.
Adapun masa antara
diutusnya Nabi Isa dan Nabi kita ﷺ
bukanlah masa fatrah, karena manusia masih tetap terikat dengan syariat Nabi
Isa hingga kemudian dihapus oleh syariat Nabi ﷺ.
Sedangkan ayah
Nabi ﷺ termasuk orang-orang musyrik yang
menyembah berhala pada masa berlakunya syariat Nabi Isa.
Oleh karena itu,
para ulama menyatakan: siapa yang masuk ke dalam agama Yahudi setelah diutusnya
Nabi Isa, maka tidak diterima darinya jizyah, karena mereka berpegang pada
agama yang batil dan telah gugur keutamaannya.
Lalu ar-Ramli melanjutkan perkataannya:
وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ
ابْنُ حَجَرٍ فِي كِتَابِ «الْإِصَابَةِ»:
وَبُحَيْرَى الرَّاهِبُ
الَّذِي بَشَّرَ بِالنَّبِيِّ ﷺ، مَا أَدْرِي أَدْرَكَ الْبَعْثَةَ أَمْ لَا؟
وَقَدْ ذَكَرَهُ ابْنُ
مَنْدَهْ وَأَبُو نُعَيْمٍ فِي كِتَابَيْهِمَا فِي الصَّحَابَةِ. وَبِالْجُمْلَةِ:
فَقَدْ مَاتَ عَلَى دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ قَبْلَ نَسْخِهِ بِالْبَعْثَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ.
فَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى:
{الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ} [الشعراء: 218] {وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ}
[الشعراء: 219] فَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ لَمَّا فُرِضَ قِيَامُ اللَّيْلِ، طَافَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ عَلَى بُيُوتِ الصَّحَابَةِ؛ لِيَنْظُرَ مَاذَا يَصْنَعُونَ، لِشِدَّةِ حِرْصِهِ
عَلَى مَا يَظْهَرُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ. فَوَجَدَهَا كَبُيُوتِ الزَّنَانِيرِ؛
لِكَثْرَةِ مَا سُمِعَ مِنْ قِرَاءَتِهِمْ وَتَسْبِيحِهِمْ وَتَهْلِيلِهِمْ.
فَالْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ:
{وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ} أَحَدُ مَعَانٍ:
أَوَّلًا: طَوَافُهُ
ﷺ عَلَى السَّاجِدِينَ.
ثَانِيًا: كَوْنُهُ
ﷺ مَعَ الْجَمَاعَةِ، فَتَقَلُّبُهُ فِيهِمْ أَيْ وُجُودُهُ بَيْنَهُمْ فِي الْقِيَامِ
وَالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
ثَالِثًا: أَنَّهُ لَا
يَخْفَى حَالُهُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى كُلَّمَا قَامَ وَتَقَلَّبَ فِي السَّاجِدِينَ.
رَابِعًا: أَنَّهُ تَقَلُّبُ
بَصَرِهِ فِيمَنْ يُصَلِّي خَلْفَهُ، لِقَوْلِهِ ﷺ: «أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ،
فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي».
وَأَمَّا قِرَاءَةُ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَالزُّهْرِيِّ، وَابْنِ مُحَيْصِنٍ، فِي
قَوْلِهِ تَعَالَى: {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ} [التوبة: 128] بِفَتْحِ
الْفَاءِ، فَمَعْنَاهُ: مِنْ أَشْرَفِكُمْ، وَأَفْضَلِكُمْ، وَأَعَزِّكُمْ نَسَبًا.
كَمَا فِي الْحَدِيثِ
الصَّحِيحِ فِي سُؤَالِ هِرَقْلَ لِأَبِي سُفْيَانَ: «كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟» قَالَ:
هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ. فَقَالَ هِرَقْلُ: «وَكَذَلِكَ تُبْعَثُ الرُّسُلُ فِي نَسَبٍ
مِنْ قَوْمِهَا».
وَأَمَّا قَوْلُهُ ﷺ:
«لَمْ أَزَلْ أُنْقَلُ مِنْ أَصْلَابِ الطَّاهِرِينَ إِلَى أَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ»
فَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ لَمْ يَقَعْ فِي نَسَبِهِ ﷺ سِفَاحٌ.
وَقَدْ قَالَ الْكَلْبِيُّ:
كَتَبْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ خَمْسَمِائَةَ أُمٍّ، فَمَا وَجَدْتُ فِيهِ سِفَاحًا، وَلَا
شَيْئًا مِمَّا كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَاهِلِيَّةُ.
فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ
قَوْلَهُ تَعَالَى: {وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ} [الأنعام: 74] يَدُلُّ
عَلَى أَنَّ آزَرَ كَانَ عَمَّهُ لَا أَبَاهُ؛ لِأَنَّهُ قُرِئَ «آزَرُ» بِضَمِّ الرَّاءِ
عَلَى النِّدَاءِ، وَمُنَادَاةُ الْأَبِ بِاسْمِهِ فِيهَا جَفَاءٌ، وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ
إِبْرَاهِيمَ بِالْحِلْمِ، فَقَالَ: {إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ}
[هود: 75]
فَكَيْفَ يَلِيقُ بِهِ
هَذَا؟ وَقَالَ تَعَالَى: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا} {فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا} [الإسراء: 23]
وَلَمَّا بَعَثَ اللَّهُ
مُوسَى إِلَى فِرْعَوْنَ، أَمَرَهُ بِاللِّينِ، فَقَالَ: {فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا}
[طه: 44] فَالْأَبُ أَوْلَى بِالرِّفْقِ.
فَالْجَوَابُ: أَنَّ
أَبَاهُ لَمَّا أَصَرَّ عَلَى كُفْرِهِ، اسْتَحَقَّ التَّغْلِيظَ وَالزَّجْرَ.
وَقَدْ قَالَ فُقَهَاؤُنَا:
يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ قَتْلُ قَرِيبِهِ الْكَافِرِ الْحَرْبِيِّ، سَوَاءٌ كَانَ مَحْرَمًا
أَوْ غَيْرَ مَحْرَمٍ، وَإِنْ كَانَ مَكْرُوهًا كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ، إِلَّا إِذَا
سَبَّ اللَّهَ أَوْ رَسُولَهُ ﷺ، فَلَا يُكْرَهُ قَتْلُهُ.
وَبِالْجُمْلَةِ: فَيَنْبَغِي
لِهَذَا الْقَائِلِ أَنْ يَرْجِعَ عَنْ قَوْلِهِ الْمُوَافِقِ لِأَهْلِ الْبِدْعَةِ،
إِلَى اعْتِقَادِ الْحَقِّ الَّذِي أَجْمَعَ عَلَيْهِ السَّلَفُ وَالْخَلَفُ.
وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ
ﷺ: «سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي ثَلَاثًا وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا
وَاحِدَةً، وَهِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي». ....
Dan Ibnu Hajar
al-Asqalani berkata dalam kitab Al-Ishabah:
Buhairaa sang rahib yang memberi kabar gembira tentang Nabi ﷺ, aku tidak mengetahui apakah ia sempat
mendapati masa diutusnya Nabi atau tidak. Ia telah disebutkan oleh Ibnu Mandah
dan Abu Nu’aim dalam kitab-kitab mereka tentang para sahabat. Secara umum, ia
wafat di atas agama Nasrani sebelum agama tersebut dihapus oleh risalah Nabi
Muhammad ﷺ.
Adapun firman
Allah Ta’ala: ”Yang
melihatmu ketika engkau berdiri” (Asy-Syu’ara: 218). Dan firman-Nya:“Dan (melihat) pergerakanmu di antara orang-orang yang
sujud” (Asy-Syu’ara: 219),
Maka maknanya adalah: ketika diwajibkan shalat malam, Rasulullah
ﷺ berkeliling ke rumah-rumah para sahabat
untuk melihat apa yang mereka lakukan, karena besarnya perhatian beliau
terhadap amal ketaatan yang tampak dari mereka. Maka beliau mendapati
rumah-rumah mereka seperti sarang lebah, karena banyaknya bacaan Al-Qur’an,
tasbih, dan tahlil yang terdengar.
Maksud dari
firman-Nya “dan
pergerakanmu di antara orang-orang yang sujud” adalah sbb:
*] beliau ﷺ
berkeliling di antara orang-orang yang sujud, atau
*] beliau berada bersama mereka dalam shalat berjamaah,
sehingga pergerakannya di antara mereka berarti keberadaannya di tengah-tengah
mereka dalam keadaan berdiri, rukuk, dan sujud, atau
*] maknanya bahwa keadaanmu tidak tersembunyi dari Allah
setiap kali engkau berdiri dan bergerak di antara orang-orang yang sujud, yaitu
bersama mereka dalam kesibukan urusan agama, atau
*] maknanya adalah pergerakan pandangan beliau kepada
orang-orang yang shalat di belakangnya, berdasarkan sabda beliau ﷺ:
“Sempurnakanlah rukuk dan sujud, karena aku
melihat kalian dari belakang punggungku.”
Adapun qira’ah
Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhuma, Az-Zuhri, dan Ibnu Muhayshin terhadap firman Allah Ta’ala:
“Sungguh telah
datang kepada kalian seorang rasul dari diri kalian sendiri” (At-Taubah: 128),
dengan membaca “anfusikum”
(dengan fathah pada huruf fa), maka maknanya adalah: dari kalangan yang
paling mulia, paling utama, dan paling tinggi nasabnya di antara kalian.
Sebagaimana dalam
hadits shahih tentang pertanyaan Heraklius kepada Abu Sufyan: “Bagaimana nasabnya di tengah kalian?”
Aku menjawab: “Ia
memiliki nasab yang mulia di antara kami.”
Heraklius
berkata: “Demikianlah para
rasul diutus dari kalangan yang memiliki nasab di tengah kaumnya.”
Adapun sabda Nabi ﷺ: “Aku
senantiasa dipindahkan dari sulbi-sulbi yang suci ke rahim-rahim yang suci,” maknanya
adalah bahwa dalam nasab beliau ﷺ
tidak terjadi perzinaan.
Al-Kalbi
berkata: Aku telah
meneliti nasab Nabi ﷺ hingga lima
ratus ibu, dan aku tidak menemukan adanya perzinaan atau sesuatu dari praktik
jahiliah.
Jika ada yang mengatakan:
Bahwa firman Allah Ta’ala:“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata
kepada ayahnya Azar” (Al-An’am:
74) menunjukkan bahwa Azar adalah pamannya,
bukan ayahnya -karena dibaca “Azaru” dengan dhammah
sebagai panggilan, dan memanggil ayah dengan nama asli termasuk bentuk
ketidaksopanan- padahal Allah menyifati
Ibrahim sebagai orang yang penyantun:
“Sesungguhnya
Ibrahim benar-benar penyantun lagi sangat lembut hatinya” (Hud: 75),
maka bagaimana
mungkin orang yang penyantun bersikap keras seperti itu kepada ayahnya?
Dan Allah juga
berfirman:
“Dan Tuhanmu
telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia dan berbuat baik
kepada kedua orang tua”
(Al-Isra: 23),
Serta: “Janganlah kamu berkata ‘ah’
kepada keduanya dan jangan membentak mereka.”
Dan ketika Allah
mengutus Musa kepada Fir’aun, Dia memerintahkannya untuk berkata lembut: “Maka berbicaralah kepadanya dengan
kata-kata yang lemah lembut” (Thaha: 44), sebagai
bentuk penghormatan atas jasa pendidikan Fir’aun terhadapnya. Maka ayah tentu
lebih berhak untuk diperlakukan dengan kelembutan.
Jawabannya
adalah:
Ketika ayah Ibrahim tetap bersikeras dalam
kekufurannya, maka ia berhak mendapatkan sikap tegas dan keras sebagai bentuk
peringatan agar berhenti dari keburukan tersebut.
Para fuqaha kami
menyatakan: boleh bagi seorang muslim membunuh kerabatnya yang kafir harbi,
baik ia mahram maupun bukan, meskipun hukumnya makruh (makruh tanzih), kecuali
jika ia mendengar kerabatnya itu mencela Allah atau Rasul-Nya ﷺ, maka tidak dimakruhkan untuk membunuhnya.
Kesimpulannya, orang yang berpendapat demikian hendaknya
kembali dari pendapat tersebut—yang sejalan dengan ahli bid’ah—kepada keyakinan
yang benar, yang telah disepakati oleh generasi salaf dan khalaf.
Dan Nabi ﷺ bersabda:
“Umatku akan
terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu,
yaitu yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
0 Komentar