Benarkah IBNU UMAR (RA) Beristighotsah Dengan Berseru “YA MUHAMMAD” Ketika Terkena KRAM atau KESEMUTAN atau KEBAS?
----
Di Tulis oleh : Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
---بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
RIWAYAT BUKHORI DALAM AL-ADAB AL-MUFROD:
Atsar Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al-Imam
al-Bukhari rahimahullah dengan sanad sebagai berikut:
“Telah menceritakan
kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan,
dari Abu Ishaaq, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’d, ia berkata :
" خَدِرَتْ
رِجْلُ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ،
فَقَالَ «يَا
مُحَمَّدٌ».
Kaki Ibnu ‘Umar pernah mati rasa (kram).
Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya : “Sebutlah/ ingat-ingatlah orang yang
paling engkau cintai”.
Ia (Ibnu ‘Umar) berkata : “Wahai
Muhammad”
[HR. Bukhori dalam Al-Adabul-Mufrad no.
964].
Makna الخَدَر adalah : mati rasa hingga tak dapat bergerak (kram/ kebas/ kesemutan) pada tubuh atau sebagian tubuh, seperti tangan atau kaki.
===
RIWAYAT IBNU AS-SINNI DALAM ‘AMALUL YAUM WA AL-LAILAH:
Dan atsar
Ibnu ‘Umar ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Sinny dalam kitabnya
(عَمَلُ
الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ) Bab : apa yang perlu di ucapkan ketika
kaki terasa letih dan kram hal. 169:
Dari jalur
Muhammad bin Mush’ab : telah berbicara kepada kami Israa’il dari Abu Ishaaq
dari al-Haitsam bin Hanasy , beliau berkata :
«كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اذْكُرْ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدٌ، قَالَ: فَقَامَ، فَكَأَنَّمَا
نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ».
"Suatu
saat ketika kami bersama Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, tiba-tiba
Abdullah bin Umar merasakan letih dan kram pada kakinya.
Maka seorang
lelaki berkata kepadanya : “Ingat-ingatlah orang yang paling engkau
cintai !!!”.
Maka Abdullah
bin Umar berkata: “Ya Muhammad ﷺ “.
Lalu
seakan-akan ia kembali segar bugar dan sembuh dari pegal dan kram”.
[Sanadnya
dho’if sebagaimana dikatakan Syu’aib al-Arna’uth dalam takhrij Al-Adzkar
an-Nawawiyah, hlm. 305]
===
RIWAYAT IMAM AN-NAWAWI DALAM AL-ADZKAR
Didalam
kitab Al-Adzkar hal. 305, Imam An-Nawawi menulis satu bab yang di beri judul:
(بَابُ
مَا يَقُولُهُ إِذَا خَدِرَتْ رِجْلُهُ)
(Bab: Apa
yang Diucapkan ketika Kakinya Mati Rasa/ kram)
Lalu beliau dalam
al-Adzkar no. 916 menyebutkan atsar Ibnu ‘Umar riwayat Ibnu as-Sinni
sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
Setelah itu Imam
an-Nawawi menyebutkan riwayat no. 917, berikut ini:
وَرَوَيْنَا فِيهِ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ:
"خَدِرَتْ رِجْلُ رَجُلٍ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: مُحَمَّدٌ
ﷺ، فَذَهَبَ خَدَرُهُ".
Dan juga
dikisahkan kepada kami di dalam kitab yang sama dari Mujahid, ia berkata :
"Seseorang
merasakan letih dan kram pada kakinya ketika ia berada bersama Ibnu Abbas,
maka Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata kepadanya : ‘Ingatlah manusia
yang paling kau cintai’.
Maka ia
menjawab : ‘Muhammad ﷺ’.
Maka
seketika itu hilang rasa kesemutannya."
[Sanadnya
dho’if sebagaimana dikatakan Syu’aib al-Arna’uth dalam takhrij Al-Adzkar
an-Nawawiyah, hlm. 305 — Bab: Apa yang Dibaca ketika Kaki Mati Rasa. Lihat
juga: Al-Kalim ath-Thayyib karya Ibnu Taimiyah, 1/173]
Lalu Imam an-Nawawi
menyebutkan riwayat no. 918:
وَرَوَيْنَا فِيهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُنْذِرِ
الْحِزَامِيِّ أَحَدِ شُيُوخِ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ فِي «صَحِيحِهِ»
قَالَ: أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَعْجَبُونَ مِنْ حُسْنِ بَيْتِ أَبِي الْعَتَاهِيَةِ:
وَتَخْدَرُ فِي بَعْضِ الْأَحَايِينِ رِجْلُهُ
* فَإِنْ لَمْ يَقُلْ يَا عُتْبَ لَمْ يَذْهَبِ الْخَدَرُ.
Dan kami
meriwayatkan di dalamnya, dari Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami, salah seorang
guru Imam al-Bukhari yang hadits-haditsnya diriwayatkan oleh beliau dalam
«Shahih-nya». Ia berkata: Penduduk Madinah mengagumi keindahan bait syair Abu
al-‘Atahiyah:
“Pada
sebagian waktu kakinya mati rasa; jika ia tidak mengatakan, ‘Wahai ‘Utbah,’
maka rasa kebas itu tidak akan hilang.” (Maksudnya: dalam riwayat Ibnu
as-Sunni tanpa ada sanad)
[Hanya
inilah yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar].
===***===
FIQIH ATSAR IBNU UMAR:
Berdasarkan
atsar Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas diatas, maka ada sebagian para ulama berpendapat
bahwa atsar tersebut merupakan dalil bolehnya dan dianjurkan Istighosah dengan
menyebut nama Nabi ﷺ.
Contohnya beristighotsah
dengan mengucapkan:
مُدَدْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ ......
“Turunkan
bantuan, wahai Rosulullah !”
Mereka berkata:
Jika seandainya istighosah merupakan suatu perbuat yang mungkar dan syirik,
maka sudah pasti Imam Nawawi juga tidak akan menyebutkan atsar-atsar tersebut
dalam kitabnya al-Adzkar. Namun beliau mengutipnya, tanpa mengingkarinya.
===***===
BANTAHAN-BANTAHAN :
Terdapat
tiga katagori bantahan :
Pertama –
Makna dan tujuan Atsar jika seandaianya riwayat atsar tersebut shahih .
Kedua –
tentang derajat keshahihan atsar Ibnu ‘Umar tersebut .
Ketiga –
tentang derajat keshahihan atsar Ibnu ‘Abbaas tersebut .
====
BANTAHAN
PERTAMA:
MAKNA DAN
TUJUAN ATSAR JIKA SEANDAINYA RIWAYAT TERSEBUT SHAHIH ADANYA.
Atsar ini di
sebutkan oleh Imam Bukhori , Ibnu Taimiyah , Ibnu Sinny dan lainnya , akan
tetapi mereka tidak menjadikan atsar ibnu ‘Umar imi sebagai dalil disyariatkan
nya beristighotsah kepada selain Allah swt , bahkan Ibnu ‘Allaan dalam
syarahnya menjadikan nya sebagi dalil akan kebathilan perbuatan tersebut .
Terus , bagaimanakah para Ahlul Ilmi dalam memahami atsar ini ?
Jawabannya adalah seperti berikut ini :
---
Jawaban
ke [1].
Jika seandainya kita menshahihkan Atsar Ibnu ‘Umar tersebut serta menshahihkan pula bahwa dalam perkataan Ibnu ‘Umar terdapat kata “ Wahai” yakni wahai Muhammad “ (يَا مُحَمَّدُ) – meskipun dalam lafadz riwayat Sufyan ats-Tsaury adalah (مُحَمَّدٌ) tidak ada huruf (يَا) nida nya- maka yang demikian itu bukan berarti dari kata-kata itu otomatis bertujuan istighotsah .
Kita semua berkeyakinan bahwa menggunakan
kata “Wahai / يَا“ jika hanya sebatas untuk memanggil, itu
bukan syirik.
Dan itu mirip dengan ucapan orang yang
sedang sholat (السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا
النَّبِيُّ) atau orang sedang meratap, seperti
perkataan Fathimah - rodhiyallohu ‘anhaa – ketika Rosulullah ﷺ
wafat :
«يَا أَبَتَاهْ: أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ، يَا
أَبَتَاهْ: جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُ، يَا أَبَتَاهْ: إِلَى جِبْرِيلَ
نَنْعَاهُ».
“ Wahai Ayahanda ,
engkau telah menyambut panggilan Tuhan. Wahai Ayahanda, surga Firdauslah
tempatmu. Wahai Ayahanda , kepada Jibril kami sampaikan berita duka ini” . ( HR. Bukhori no. 1841)
Dan perkataan Abu Bakar radhiyallahu
'anhu ketika Rosulullah ﷺ wafat :
«بِأَبِي أَنْتَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، لاَ يَجْمَعُ
اللَّهُ عَلَيْكَ مَوْتَتَيْنِ ، أَمَّا المَوْتَةُ الَّتِي كُتِبَتْ عَلَيْكَ
فَقَدْ مُتَّهَا».
“Ku tebus engkau dengan ayahku wahai
Nabiyullah , Allah swt tidak akan mengumpulkan pada dirimu
dua kali kematian , adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu telah
engkau alaminya “. ( HR. Bukhori no. 1197)
Dan juga doa Nabi ﷺ
ketika dalam safar ketika menjelang malam tiba :
«يَا أَرْضُ، رَبِّي وَرَبُّكِ اللَّهُ .........
»
“ Wahai Bumi ! Tuhanku dan Tuhanmu Allah …… “.
Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا سَافَرَ فَأَقْبَلَ اللَّيْلُ؛ قَالَ: يَا أَرْضُ! رَبِّي وَرَبُّكِ اللَّهُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكِ، وَشَرِّ مَا فِيكِ، وَشَرِّ مَا خَلَقَ فِيكِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَدِبُّ عَلَيْكِ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ أَسَدٍ وَأَسْوَدَ، وَمِنَ الْحَيَّةِ وَالْعَقْرَبِ، وَمِنْ سَاكِنِ الْبَلَدِ، وَمِنْ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ».
“Rasulullah ﷺ
apabila bepergian dan malam mulai
tiba, beliau berkata, ‘Wahai bumi! Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Aku
berlindung kepada Allah dari keburukanmu, keburukan yang ada padamu, keburukan
makhluk yang diciptakan di dalam dirimu, dan dari keburukan makhluk yang
berjalan di atasmu. Aku berlindung kepada Allah dari singa dan ular hitam, dari
ular dan kalajengking, dari penghuni negeri, serta dari orang yang melahirkan
dan apa yang dilahirkannya.’”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud
(2603), an-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (563), Ibnu Khuzaimah
(2572), al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah (5/146), dan Ahmad (2/132), dari
Syuraih bin ‘Ubaid al-Hadhrami, bahwa ia mendengar az-Zubair bin al-Walid
meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata ... lalu menyebutkan hadits
tersebut.
Abu Dawud tidak memberikan komentar
terhadap hadits tersebut. Namun beliau telah mengatakan dalam Risalah-nya
kepada penduduk Makkah:
"كُلُّ
مَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ صَالِحٌ"
"Setiap hadits yang aku diamkan, maka hadits tersebut layak (untuk dijadikan hujah)."
Saya Katakan: Sanad ini
lemah. Az-Zubair bin al-Walid adalah perawi yang majhul (tidak dikenal),
sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan adz-Dzahabi dalam Al-Mizan 2/68 no. 2848:
«تَفَرَّدَ
عَنْهُ شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ».
“Tidak ada yang meriwayatkan darinya
selain Syuraih bin ‘Ubaid.”
Saya katakan: Adapun Ibnu
Hibban, beliau menilainya tsiqah berdasarkan kaidah beliau dalam menilai tsiqah
para perawi yang majhul. Oleh karena itu, al-Hafizh tidak mengikutinya dalam
At-Taqrib. Beliau berkata tentangnya, “Maqbul.”
Maksudnya, ia diterima apabila terdapat
riwayat pendukung. Jika tidak, maka haditsnya layyin (lemah), sebagaimana
beliau tegaskan dalam mukadimah kitab tersebut.
Oleh karena itu, penilaian beliau dalam
Takhrij al-Adzkar, “Hasan!”, sebagaimana dinukil oleh Ibnu ‘Allan (5/164),
menurut saya tidak memiliki alasan yang kuat, kecuali jika hal tersebut
merupakan sikap pertengahan antara konsekuensi kelemahan akibat ketidakjelasan
perawi tersebut dan penilaian shahih al-Hakim terhadap hadits ini dalam
Al-Mustadrak (2/100).
Namun, ketidaktepatan dalam hal ini cukup
jelas. Meskipun adz-Dzahabi mengikuti al-Hakim dalam menilainya shahih, hal itu
juga bertentangan dengan sikap beliau yang menyatakan perawi tersebut majhul,
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, serta bertentangan dengan perkataan
an-Nasa’i setelah menyebutkannya:
«الزُّبَيْرُ
بْنُ الْوَلِيدِ شَامِيٌّ، مَا أَعْرِفُ لَهُ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ».
“Az-Zubair bin al-Walid adalah seorang
Syami. Aku tidak mengetahui riwayat lain darinya selain hadits ini.”
Catatan: Pen-tahqiq
Syarh as-Sunnah berkata setelah mentakhrij hadits tersebut:
«وَلَهُ
شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ عِنْدَ ابْنِ السُّنِّيِّ (١٦٨)، وَسَنَدُهُ
ضَعِيفٌ»!!.
“Hadits ini memiliki syahid dari Aisyah
menurut Ibnu as-Sunni (168), dan sanadnya lemah.”
Saya katakan: Ini
merupakan kekeliruan yang nyata. Syahid tersebut memiliki matan yang berbeda.
Awal haditsnya adalah:
كَانَ
إِذَا أَشْرَفَ عَلَى أَرْضٍ يُرِيدُ دُخُولَهَا؛ قَالَ: «اللَّهُمَّ؛ إِنِّي
أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الْأَرْضِ ...» الْحَدِيثُ.
“Apabila beliau melihat suatu negeri yang
hendak dimasukinya, beliau berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu kebaikan negeri ini ...’” dan seterusnya.
Lihat juga: Silsilah al-Ahadits
adh-Dha‘ifah wal-Maudhu‘ah karya Syaikh al-Albani].
----
FIQIH ATSAR:
Bila demikian adanya, maka kata-kata: “wahai
Muhammad“ dalam Atsar Ibnu ‘Umar ini tujuannya adalah berkeinginan untuk
menghadirkan kepribadian Nabi ﷺ yang sangat dicintainya dalam hatinya .
Atau seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar
al-Haitamy dalam kitabnya (الدُّرُّ
الْمَنْضُودُ) hal. 236: “Maksudnya adalah menghadirkan
kepribadian Nabi ﷺ dalam rangka untuk bersholawat padanya.
Maka perkiraan maknanya adalah :
«يَا مُحَمَّدُ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ».
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
قَوْلُهُ: «يَا
مُحَمَّدُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ» هَذَا وَأَمْثَالُهُ نِدَاءٌ يُطْلَبُ بِهِ
اسْتِحْضَارُ الْمُنَادَى فِي الْقَلْبِ، فَيُخَاطِبُ الْمَشْهُودَ بِالْقَلْبِ،
كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي: «السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ
اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ»، وَالْإِنْسَانُ يَفْعَلُ مِثْلَ هَذَا كَثِيرًا،
يُخَاطِبُ مَنْ يَتَصَوَّرُهُ فِي نَفْسِهِ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الْخَارِجِ
مَنْ يَسْمَعُ الْخِطَابَ.
“ Perkataan dia : ( Wahai Muhammad , Wahai Nabi
Allah ! ) ini dan yang semisalnya adalah panggilan / seruan yang digunakan
untuk menghadirkan orang yang diserunya ke dalam hati , maka dia bermukhothobah
( mengajak bicara ) al-masyhud ( orang yang disaksikan ) dengan hati . Ini Sama
seperti ucapan orang yang sedang sholat
«السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
وَبَرَكَاتُهُ»
Dan banyak manusia yang sering sekali melakukan
hal yang seperti ini , yaitu berbicara dengan orang tergambarkan dalam benaknya
, dan terkadang orang yang disekitarnya saja tidak ada yang mendengar
khithobnya ( perkataannya ) “. [Baca : اقْتِضَاءُ
الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ
(2/319)].
Dan kalau kita perhatikan perkataan imam
an-Nawawi dalam (الأَذْكَارُ
النَّوَوِيَّةُ )
hal.305 - ketika menyebutkan Atsar Ibnu ‘Umar ini - tidak ada suatu perkataan
beliau yang menunjukkan bolehnya beristighotsah dengan selain Allah swt .
Beliau hanya mengatakan “ mengingat orang yang dicintai “ , bukan berseru
kepadanya .
Dan coba perhatikan pula perkataan beliau dalam
kitabnya (الْمَجْمُوعُ )
4/524 :
«وَإِذَا طَنَّتْ أُذُنُهُ صَلَّى عَلَى
النَّبِيِّ، وَقَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ بِخَيْرٍ مِمَّنْ ذَكَرَنِي. وَإِذَا
خَدِرَتْ رِجْلُهُ ذَكَرَ مَنْ يُحِبُّهُ»
Apabila telinganya berdenging, ia bershalawat kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Semoga Allah mengingatnya dengan kebaikan bagi orang yang mengingatku.” Dan apabila kakinya mati rasa, ia menyebut orang yang dicintainya”([1]).
Dan ketika kaki seseorang terasa kram atau kesemutan, ingatlah orang
yang dia cintai “. Beliau tidak mengatakan :
اِسْتَغَاثَ بِهِ أَوْ تَوَسَّلَ بِهِ
Ber istighotsah kepadanya atau bertawasul dengannya .
Di sini Imam an-Nawawi mengulang-ulang kata (ذِكْر) sebanyak 3 x , semuanya ini jelas tujuannya hanya sebatas
mengingat dan menghadirkannya dalam hati . Dan tidak ada kata-kata yang
menunjukan beristighotsah atau bertawassul atau meminta hajat .
Dengan demikian : Nidaa' di sini sama sekali tidak bermakna
panggilan Istighatsah karena seandainya maknanya demikian maka seharusnya
lelaki yang menyeru Abdullah Bin Umar – radhiyallahu 'Anhuma – untuk mengucapkan "ya Muhammad"
akan berkata: “اِسْتَغِثْ!“ (beristighatsahlah), dan ternyata lelaki
tersebut tidak mengucapkan kata itu, melainkan berkata: “اذْكُرْ!“
(sebutlah). Ini menunjukkan menguatkan bahwa makna Nidaa' di sini bukanlah
Nidaa' istighatsah melainkan hanya menyebut nama orang yang dicintai saja.
Sebagai tambahan saya sebutkan pula beberapa
perkataan para ulama lainnya :
Fadhlullah al-Jailani berkata:
«وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَصُورَةُ النِّدَاءِ
فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ لَيْسَ عَلَى حَقِيقَتِهِ، وَلَا يُتَوَهَّمُ أَنَّهُ
لِلِاسْتِعَانَةِ أَوِ الِاسْتِغَاثَةِ، وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ إِظْهَارُ الشَّوْقِ
وَإِضْرَامُ نَارِ الْمَحَبَّةِ، وَذِكْرُ الْمَحْبُوبِ يُسَخِّنُ الْقَلْبَ
وَيُنَشِّطُهُ فَيَذْهَبُ انْجِمَادُ الدَّمِ فَيَجْرِي فِي الْعُرُوقِ، وَهَذَا
هُوَ الْفَرَحُ، وَالْخِطَابُ قَدْ يَكُونُ لَا عَلَى إِرَادَةِ الْإِسْمَاعِ».
“Bagaimanapun juga, bentuk seruan dalam sebagian
riwayat tersebut bukanlah seruan dalam makna yang sebenarnya. Tidak boleh
dipahami bahwa seruan itu dimaksudkan untuk meminta pertolongan atau memohon
bantuan. Namun, yang dimaksud adalah menunjukkan kerinduan dan menyalakan api
kecintaan. Mengingat orang yang dicintai dapat menghangatkan dan menyegarkan
hati, sehingga pembekuan darah menjadi hilang dan darah mengalir di
pembuluh-pembuluh darah. Inilah yang disebut kegembiraan. Adapun suatu ucapan
yang ditujukan kepada seseorang, terkadang tidak dimaksudkan agar ucapan
tersebut didengar olehnya.”
Abu ‘Ali asy-Syaukani berkata:
«وَلَيْسَ فِي هَذَا مَا يُفِيدُ أَنَّ
لِذَلِكَ حُكْمَ الرَّفْعِ، فَقَدْ يَكُونُ مَرْجِعُ مِثْلِ هَذَا التَّجْرِيبِ،
وَالْمَحْبُوبُ الْأَعْظَمُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ؛ فَيَنْبَغِي
ذِكْرُهُ عِنْدَ ذَلِكَ كَمَا وَرَدَ مَا يُفِيدُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِثْلَ قَوْلِهِ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾
وَكَمَا فِي حَدِيثِ:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ
وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ».
وَأَمَّا أَهْلُ عِلْمِ
الطِّبِّ فَقَدْ ذَكَرُوا أَنَّ سَبَبَ الْخَدَرِ اخْتِلَاطَاتٌ بَلْغَمِيَّةٌ
وَرِيَاحٌ غَلِيظَةٌ».
“Tidak ada dalam hal ini sesuatu yang menunjukkan
bahwa riwayat tersebut berstatus marfu‘. Bisa jadi, hal semacam ini bersumber
dari pengalaman. Adapun orang yang paling dicintai oleh setiap Muslim adalah
Rasulullah ﷺ. Oleh
karena itu, hendaknya nama beliau disebut dalam keadaan seperti itu,
sebagaimana terdapat dalil yang menunjukkan hal tersebut dalam Kitab Allah Yang
Mahasuci dan Mahatinggi, seperti firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Jika kalian mencintai Allah, maka
ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian’.”
Demikian pula dalam hadits: ‘Tidaklah sempurna
iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada
keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.’
Adapun para ahli ilmu kedokteran menyebutkan
bahwa penyebab mati rasa adalah gangguan yang berkaitan dengan lendir tubuh dan
angin yang kental.”
Imam, alim, allamah, Syaikh Abdullah bin
Abdurrahman Aba Buthain rahimahullah berkata:
«وَاحْتَجَّ الْمُعْتَرِضُ بِمَا رُوِيَ
أَنَّهُ قِيلَ لِابْنِ عُمَرَ - حِينَ خَدِرَتْ رِجْلُهُ -: اذْكُرْ أَحَبَّ
النَّاسِ إِلَيْكَ. وَأَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَهُ لِآخَرَ. فَقَالَ أَحَدُهُمَا:
مُحَمَّدٌ. وَقَالَ الْآخَرُ: يَا مُحَمَّدُ.
وَلَيْسَ لَهُ فِي هَذَا
حُجَّةٌ عَلَى طَلَبِ الْحَاجَاتِ مِنَ الْأَمْوَاتِ وَالْغَائِبِينَ.
وَالْقَائِلُ لَمْ يَقُلْ: ادْعُ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. وَالْمَقُولُ لَهُ
لَمْ يَقُلْ: يَا مُحَمَّدُ أَزِلْ خَدَرَ رِجْلِي. فَإِنْ صَحَّ الْأَثَرُ؛
فَلَعَلَّ الْمَعْنَى فِي ذَلِكَ: أَنَّهُ تَوَسَّلَ إِلَى اللَّهِ بِمَحَبَّةِ
نَبِيِّهِ».
“Orang yang mengajukan keberatan berdalil dengan
riwayat yang menyebutkan bahwa ketika kaki Ibnu Umar mati rasa, dikatakan
kepadanya, ‘Sebutlah orang yang paling engkau cintai.’ Ibnu Abbas juga
mengucapkan hal tersebut kepada orang lain. Salah seorang dari keduanya
berkata, ‘Muhammad,’ sedangkan yang lainnya berkata, ‘Wahai Muhammad.’
Namun, riwayat tersebut tidak dapat dijadikan
hujah untuk meminta kebutuhan kepada orang-orang yang telah meninggal dan
orang-orang yang tidak hadir. Orang yang mengucapkan perintah tersebut tidak
mengatakan, ‘Berdoalah kepada orang yang paling engkau cintai.’ Demikian pula
orang yang diperintahkan tidak mengatakan, ‘Wahai Muhammad, hilangkanlah rasa
mati rasa pada kakiku.’ Jika atsar tersebut shahih, mungkin maknanya adalah
bahwa ia bertawassul kepada Allah dengan kecintaannya kepada Nabi-Nya.”
===
Jawaban ke [2].
Memanggil atau mengingat-ingat atau mengkhayalkan
nama seseorang yang paling dicintai konon adalah obat mati rasa di kalangan
bangsa Arab pada masa Jahiliyyah, dan banyak contoh Syair mereka yang
menceritakan kenyataan tersebut .
Imam an-Nawawi dalam (الأَذْكَارُ
النَّوَوِيَّةُ) hal. 305
-ketika menyebutkan Atsar Ibnu ‘Umar ini- tidak ada suatu perkataan beliau yang
menunjukkan bolehnya beristighotsah dengan selain Allah swt , melainkan hanya sebatas menyebut dan mengingat nama orang yang
dicintai bukan beristighotsah . Bahkan beliau telah
mengisyaratkan dalam kitabnya bahwa pengobatan kram atau mati rasa pada kaki
dengan cara mengingat-ingat dan menyebut nama sang kekasih itu sudah menjadi
tradisi dan budaya arab yang sudah lama . Untuk membuktikannya , mari kita
perhatikan perkataan beliau yang berikut nya setelah menyebutkan atsar Ibnu
‘Umar tadi :
«وَرَوَيْنَا فِيهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ
الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيِّ أَحَدِ شُيُوخِ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ
فِي صَحِيحِهِ قَالَ: أَهْلُ الْمَدِينَةِ يُعْجِبُونَ مِنْ حُسْنِ بَيْتِ أَبِي
الْعَتَّاهِيَةِ:
وتَخْدَرُ
فِيْ بعْضِ الأَحايِيْنِ رِجْلُه ** فإِنْ لم يقُلْ يا عُتْبَ لَمْ يَذْهَبِ
الْخَدَرُ»
Dan telah
diriwayatkan kepada kami juga dikitab yang sama, dari Ibrahim bin Mundzir
al-Hizami, ia adalah salah seorang guru dari Imam Bukhari yang dimana ia
meriwayatkan dari mereka didalam kitab "Shahihnya", ia berkata:
penduduk kota Madinah mengagumi keindahan bait syair Abu al-‘Ataahiyah :
Dan
ketika kakinya merasakan kram (kesemutan) dibeberapa waktu ** bila ia tidak memanggil "ya ‘Utba
(kekasihnya)", maka tidak akan sirna kram tersebut.
(Baca : الأَذْكَارُ
للنووي hal.
(210)
Disini Imam an-Nawawi tidak sekali-kali
menyebutkan bait syair Abu al-‘Ataahiyah , kecuali beliau ingin menunjukkan
akan adanya tradisi arab jahiliyah yang semisal dengan atsar Ibnu ‘Umar tadi ,
yaitu mengingat / menyebut nama orang yang dicintai ketika seseorang kakinya
terkena kram atau kesemutan.
Begitu
Juga Ibnu ‘Allaan dalam kitabnya: [الْفُتُوحَاتُ
الرَّبَّانِيَّةُ
(6/200)] syarah kitab (الأَذْكَارُ النَّوَوِيَّةُ) beliau berkata:
«مِنْ
حَيْثُ كَمَالُ الْمَحَبَّةِ بِهٰذَا الْمَحْبُوبِ حَتَّى تَمَكَّنَ حُبُّهُ مِنَ
الْفُؤَادِ حَتَّى إِذَا ذَكَرَهُ ذَهَبَ عَنْهُ الْخَدَرُ»
“Sebagai
bentuk kesempurnaan kecintaan seseorang terhadap kekasihnya, sehingga rasa
cinta dalam hatinya mampu menghilangkan rasa kesemutan darinya ketika
mengingatnya“.
Lalu
beliau berkata:
وَفِي كِتَابِ
ابْنِ السُّنِّيِّ أَيْضًا فِي مَعْنَى ذٰلِكَ: قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ
الْمَلِكِ فِي حَبَّابَةَ:
أَثِـيْبِـي
مُغرَماً كَلِفاً مُحِبّاً ** إذَا خَدَرَتْ لَهُ رِجْلٌ دَعَاكِ
Dalam Kitab nya Ibnu Sinny juga terdapat perkataan yang semakna itu :
Telah berkata al-Waleed bin Abdul Malik pada kekasihnya “ Habbaabah “:
Balaslah atau penuhilah oleh mu
seruan lelaki yang jatuh cinta (pada mu) yang kakinya sedang terkena mati rasa
ketika dia menyerumu !
[Makna مُغْرَمٌ
كَلِفٌ مُحِبٌّ =
seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Dalam kitab Hadzihi Mafahimuna, hlm. 47, disebutkan: (هَائِمًا كَلِفًا مُعَنًّى)].
Kemudian Ibnu ‘Allan berkata:
وَفِيهِ
أَيْضًا عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْهُذَلِيِّ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى مُحَمَّدٌ بْنِ
سِيرِينَ، وَقَدْ خَدِرَتْ رِجْلَاهُ؛ فَنَقَعَهُمَا فِي الْمَاءِ وَهُوَ يَقُولُ:
إِذَا خَدِرَتْ
رِجْلِي تَذَكَّرْتُ قَوْلَهَا ** فَنَادَيْتُ لُبْنَى بِاسْمِهَا وَدَعَوْتُ
دَعَوْتُ
الَّتِي لَوْ أَنَّ نَفْسِي تُطِيعُنِي ** لَأَلْقَيْتُ نَفْسِي نَحْوَهَا
فَقَضَيْتُ
فَقُلْتُ: يَا
أَبَا بَكْرٍ تُنْشِدُ مِثْلَ هَذَا الشِّعْرِ؟ فَقَالَ: يَا لُكَعُ وَهَلْ هُوَ
إِلَّا كَلَامٌ حَسَنُهُ كَحُسْنِ الْكَلَامِ، وَقَبِيحُهُ كَقَبِيحِهِ؟
Dan juga
di dalam nya (yakni, ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu as-Sunni, hlm. 115,
no. 171) dari Abu Bakar al-Hudzaly berkata : aku masuk kepada Muhammad ibnu
Siiriin , dan dia saat itu kedua kakinya sedang kena kram , maka dia
merendamnya di dalam air , dan dia membacakan syair :
Jika
kakiku mati rasa, aku teringat perkataan si dia , maka aku memanggilnya “
Lubnaa” (kekasihnya) dengan menyebut namanya , dan aku mengundangnya
Aku
mengundang si dia , yang kalau seandainya nafsuku menuruti keinginanku, sungguh
aku telah melemparkan nafsuku ke arahnya , maka aku telah menunaikannya.
Maka aku
(yakni Abu Hudzail) berkata (kepada Ibnu Siiriin): Wahai Abu Bakar , engkau
menyenandungkan bait syair seperti ini? Maka dia menjawab: Wahai Luka’, [Lihat:
‘Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu as-Sunni, hlm. 115, no. 171], itu hanya
sepenggal kalam (susunan kata-kata), bagusnya seperti bagusnya sepenggal kalam,
jeleknya juga sama seperti jeleknya sepenggal kalam. ( lihat :الْفُتُوحَاتُ الرَّبَّانِيَّةُ (6/200)
Dan coba
perhatikan perkataan Ibnu al-Jauzy dalam kitab nya ( زَادُ
الْمَسِيرِ )
4/344 :
«إِذَا
خَدِرَتْ رِجْلِي تَذَكَّرْتُ قَوْلَهَا ** فَنَادَيْتُ لُبْنَىٰ بِاسْمِهَا
وَدَعَوْتُ».
تَأَمَّلْ قَوْلَهُ: (تَذَكَّرْتُ)، ثُمَّ ذَكَرَ النِّدَاءَ
بِاسْمِهَا.
“ Jika kakiku mati rasa, aku teringat
perkataan si dia , maka aku memanggilnya “ Lubnaa” dengan menyebut namanya ,
dan aku mengundangnya
Renungkan dan
perhatikan kata-kata nya ((aku teringat)) kemudian dia menyebut kata (النِّدَاءُ
بِاسْمِهَا) memanggil dengan menyebut namanya !”.
Kemudian penyair lain Jamil
Butsainah ( جميلُ بثينةَ ) berkata
:
وأنتِ
لعَيْنِيْ قُرَّةٌ حين نَلْتَقِيْ ** وذِكْرُكِ يَشفِيْني إذا
خَدَرتْ رجلي
Engkau di mataku adalah sesuatu yang indah ketika
kita bertemu, dan apabila kakiku mati rasa maka menyebut namamu akan
mengobatiku
Dan penyair lainnya Al-Maushili (الموصلي
) berkata:
وَاللَّهِ
مَا خَدِرَتْ رِجْلِي وَمَا عَثَرَتْ ** إِلَّا ذَكَرْتُكِ حَتَّى يَذْهَبَ
الْخَدَرُ
Demi Allah, tiadalah kakiku keram dan sakit,
kecuali menyebutmu sehingga mati rasa itu sembuh.
Syair lainnya dari Kutsair:
إِذَا خَدِرَتْ
رِجْلِي ذَكَرْتُكَ أَشْتَفِي ** بِذِكْرِكَ مِنْ خَدَرٍ بِهَا فَيَهُونُ
Jika kaki ku mati rasa , aku mengingatmu agar
dengan cara mengingatmu itu aku bisa sembuh dari mati rasa , maka seketika jadi
ringanlah
[Lihat: ‘Iyār asy-Syi‘r karya Ibnu Thabathaba
al-‘Alawi (situs: al-Warraq), Hadzihi Mafahimuna, hlm. 46]
Dan Syair lainnya :
صَبُّ
مُحِبٍّ إِذَا مَا رِجْلُهُ خَدِرَتْ ** نَادَى كُبَيْشَةَ حَتَّى يَذْهَبَ
الْخَدَرُ
Tumpah ruahkanlah rasa cintanya , pria yang
sedang jatuh cinta ketika kakinya terkena mati rasa , sambil memanggil “
Kubaisyah “ (nama kekasihnaya) hingga betul-betul hilang mati rasa nya.
Dan ada seorang wanita dari Bani Bakr bin Kilaab
bersyair:
إِذَا
خَدِرَتْ رِجْلِي دَعَوْتُ ابْنَ مُصْعَبٍ ** فَإِنْ قُلْتُ: عَبْدَ اللَّهِ!
أَجْلَى فُتُورَهَا
Jika kaki ku mati rasa , aku memanggil “
Ibnu Mush’ab “ , maka ketika aku mengatakan : “ hamba Allah !!!” terangkatlah
mati rasa nya.
[Lihat: Bulugh al-Arab fi Ma‘rifah Ahwal
al-‘Arab, 2/320; Hadzihi Mafahimuna, hlm. 46–47]
Al-Aaluusy dalam Tafsirnya “فَتْحُ
الْمَنَّانِ” hal. (375) berkata :
«أَفَيُقَالُ:
إِنَّ هٰؤُلَاءِ الشُّعَرَاءَ لَمَّا خَدِرَتْ أَرْجُلُهُمْ اسْتَغَاثُوا بِمَنْ
يُحِبُّونَهُ مِنِ امْرَأَةٍ أَوْ غُلَامٍ؟ لَا أَرَى مَنْ يَقُولُ بِذٰلِكَ
إِلَّا مَنْ خَدِرَ عَقْلُهُ، وَتَرَكَّبَ جَهْلُهُ».
“ Apakah bisa dikatakan : bahwa mereka para penyair ketika
kaki-kaki mereka terkena kram , lalu mereka beristighotsah dengan menyebut
orang yang mereka cintai , baik itu perempuan maupun bocah laki-laki ???? .
Saya tidak melihat orang yang bicara demikian
kecuali hanya orang yang otaknya terkena kram dan dungunya bertumpuk-tumpuk “.
Kesimpulannya :
Tradisi mengingat sambil menyebut nama
seseorang yang dicintainya ketika seseorang terkena mati rasa , kram atau rasa
kesemutan adalah perkara yang lama menyebar luas dikalangan bangsa arab . Telah ada banyak syair-syair mereka berkaitan
dengan tradisi ini . Begitu juga tradisi menggunakan kata seruan “ wahai” (يَاءُ
النِّدَاءِ) ketika seseorang mengingat sang kekasih
yang dicintainya dan menyebut namanya atau ketika dia menghadirkan sang kekasih yang diserunya ke
dalam lubuk hatinya .
Berobat dengan cara mengingat sang
kekasih untuk menghilangkan rasa kram dan kesemutan di kaki sudah menjadi
tradisi dan budaya lama mereka . Maka sudah menjadi kebiasan berkata kepada
orang yang sedang terkena kesemutan pada kakinya : “ ingat-ingat lah orang yang
paling kamu cintai !” .
Jadi yang benar , apa yang dia lakukan adalah hanya
sebatas mengingatnya , bukan bermaksud untuk beristighotsah dengannya.
Jika beranggapan bahwa Nidaa' di
sini bermakna Istighatsah, lantas apakah para penyair ini ketika kaki mereka
keram dan demi kesembuhannya kemudian mereka menyebut nama kekasihnya seraya
beristighatsah kepada para wanita pujaan mereka tersebut? tentunya tidak.
Apakah setiap orang yang tertimpa penyakit wabilkhusus mati rasa jika ia menyebut nama orang yang
paling ia cintai dan ternyata pemilik nama tersebut adalah orang fasiq atau
kafir, maka akankah terjadi kesembuhan? betapa mustahilnya islam akan
mengajarkan ummatnya memohon pertolongan darurat dari musibah (yang jalan
kesembuhannya hanyalah Allah) kepada makhluk, apalagi kepada makhluk yang fasiq
dan kafir. Maka dari sisi ini juga akan tertolak anggapan bahwa Nidaa'nya
Abdullah Bin Umar – Radhiyallahu
'Anhuma - dalam hadits ini
adalah bermakna Istighatsah.
Jika anda berkeyakinan bolehnya beritighotsah dengan berdalil haditst
Abdullah bin ‘Umar ini, berarti anda telah membenarkan perbuatan orang
jahiliyah , dan anda berkeyakinan bahwa setiap orang musyrik yang bertighotsah
kepada kekasihnya dan dia akan menolongnya . Dan anda juga berarti meyakini
bahwa Allah swt ridlo terhadap apa yang dilakukan oleh Jamiil Butsainah dan
para penyair jahiliyah lainnya .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata
tentang Istighatsah:
فَأَمَّا
مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُطْلَبَ
إِلَّا مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، لَا يُطْلَبُ ذٰلِكَ لَا مِنَ الْمَلَائِكَةِ،
وَلَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَلَا مِنْ غَيْرِهِمْ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ
لِغَيْرِ اللَّهِ: اغْفِرْ لِي، وَاسْقِنَا الْغَيْثَ، وَانْصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ، أَوِ اهْدِ قُلُوبَنَا، وَنَحْوَ ذٰلِكَ.
وَلِهٰذَا
رَوَى الطَّبَرَانِيُّ فِي مُعْجَمِهِ أَنَّهُ كَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ
مُنَافِقٌ يُؤْذِي الْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ الصِّدِّيقُ: قُومُوا بِنَا
نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ هٰذَا الْمُنَافِقِ، فَجَاءُوا إِلَيْهِ
فَقَالَ:
«إِنَّهُ
لَا يُسْتَغَاثُ بِي، وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ»
وَهٰذَا
فِي الِاسْتِعَانَةِ مِثْلُ ذٰلِكَ.
Artinya: “ Maka adapun perkara yang tidak
mampu diperbuat kecuali oleh Allah Ta'aala, maka tidak boleh memintanya kecuali
kepada Allah yang maha suci, perkara tersebut tidak boleh diminta kepada para
Malaikat, tidak kepada para nabi, dan tidak pula kepada selain mereka.
Tidak boleh mengatakan kepada selain
Allah : "Ampunilah aku", "curahkanlah kami hujan",
"tolonglah kami dari kaum yang kafir", atau "tunjukkanlah hati
kami", dan yang semisalnya .
Dari itulah Al-Thabrani – Rahimahullah -
di dalam kitab Mu'jamnya meriwayatkan:
"Bahwasanya dulu pada zaman Nabi ﷺ ada seorang munafik yang sering menyakiti kaum mukmin, maka
berkatalah Al-Shiddiq:
"Ayo kita bangkit berIstighatsah
kepada Rasulullah ﷺ dari orang yang munafik
ini!" maka mereka pun akhirnya datang kepada Nabi, maka Nabi ﷺ pun
bersabda:
"sesungguhnya
masalah ini tiadalah di Istighatsahkan denganku, namun hanya di Istighatsahkan
dengan Allah ",
Dan (Hadits) ini dalam perkara meminta
tolong sama seperti (hukum Istighatsah) itu”.
[Baca: *Majmū‘atul -Fatāwā li-Syaikh al-Islām Ibnu Taymiyyah* (1/229)]
[Takhrij Hadits :
Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (5/317/22758), ath-Thabrani dalam
Al-Mu‘jam al-Kabir—sebagaimana terdapat dalam Al-Majma‘ (10/246)—dan Ibnu Sa‘d
dalam Ath-Thabaqat (1/387), melalui jalur Musa bin Dawud, dari Ibnu Lahi‘ah,
dari al-Harits bin Yazid, dari ‘Ali bin Rabah:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ،
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قُومُوا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ
اللَّهِ ﷺ مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا يُقَامُ
لِي، إِنَّمَا يُقَامُ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى».
“Bahwa seorang laki-laki mendengar
‘Ubadah bin ash-Shamit berkata: Rasulullah ﷺ keluar menemui kami. Abu
Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Berdirilah, mari kita memohon pertolongan
kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini.’
Rasulullah ﷺ bersabda: «Janganlah berdiri untukku. Sesungguhnya berdiri itu
hanya untuk Allah Tabaraka wa Ta‘ala.»
Dalam redaksi ath-Thabrani disebutkan:
«إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، إِنَّمَا
يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ».
«Sesungguhnya tidak boleh memohon
pertolongan kepadaku; sesungguhnya pertolongan hanya dimohon kepada Allah.»”
Al-Haitsami berkata:
قَالَ
الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرَ
ابْنِ لَهِيعَةَ، وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيثِ. وَقَدْ رَوَاهُ أَحْمَدُ بِغَيْرِ
هَذَا السِّيَاقِ، وَهُوَ فِي الْأَدَبِ فِي بَابِ الْقِيَامِ.
“Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani. Para perawinya adalah para perawi kitab-kitab hadits shahih,
kecuali Ibnu Lahi‘ah, dan ia adalah perawi yang haditsnya hasan. Ahmad juga
meriwayatkannya dengan redaksi yang berbeda, dan hadits tersebut terdapat dalam
pembahasan adab, pada bab berdiri.” Lihat: Majma‘ az-Zawa’id karya Al-Haitsami
[jilid 10, hlm. 246].
Komentar Syu‘aib al-Arna’uth terhadap
Musnad Ahmad: “Sanadnya lemah karena kelemahan ‘Abdullah bin Lahi‘ah.” (Takhrij
Selesai)].
Dan beliau Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
juga berkata :
وَفِي
الْبَابِ حِكَايَاتٌ عَنْ بَعْضِ النَّاسِ، أَنَّهُ رَأَى مَنَامًا قِيلَ لَهُ
فِيهِ: ادْعُ بِكَذَا وَبِكَذَا، وَمِثْلُ هٰذَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ
دَلِيلًا بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ. وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضَ هٰذِهِ الْحِكَايَاتِ
مَنْ جَمَعَ فِي الْأَدْعِيَةِ.
وَرُوِيَ
فِي ذٰلِكَ أَثَرٌ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ، مِثْلُ مَا رَوَاهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا
فِي كِتَابِ مُجَابِي الدُّعَاءِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو هَاشِمٍ، سَمِعْتُ
كَثِيرَ بْنَ مُحَمَّدٍ بْنِ كَثِيرِ بْنِ رَفَاعَةَ يَقُولُ:
جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبْجَرٍ، فَجَسَّ بَطْنَهُ
فَقَالَ: بِكَ دَاءٌ لَا يَبْرَأُ. قَالَ: مَا هُوَ؟
قَالَ:
الدُّبَيْلَةُ.
قَالَ:
فَتَحَوَّلَ الرَّجُلُ فَقَالَ: اللَّهَ اللَّهَ، اللَّهُ رَبِّي، لَا أُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ
نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ﷺ تَسْلِيمًا، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى
رَبِّكَ وَرَبِّي يَرْحَمُنِي مِمَّا بِي. قَالَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ: قَدْ
بَرِئْتَ، مَا بِكَ عِلَّةٌ.
قُلْتُ:
فَهٰذَا الدُّعَاءُ وَنَحْوُهُ قَدْ رُوِيَ أَنَّهُ دَعَا بِهِ السَّلَفُ،
وَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي مَنْسَكِ الْمَرُّوذِيِّ التَّوَسُّلُ
بِالنَّبِيِّ ﷺ فِي الدُّعَاءِ، وَنَهَى بِهِ آخَرُونَ. فَإِنْ كَانَ مَقْصُودُ
الْمُتَوَسِّلِينَ التَّوَسُّلُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَبِمَحَبَّتِهِ
وَبِمُوَالَاتِهِ وَبِطَاعَتِهِ، فَلَا نِزَاعَ بَيْنَ الطَّائِفَتَيْنِ، وَإِنْ
كَانَ مَقْصُودُهُمُ التَّوَسُّلُ بِذَاتِهِ فَهُوَ مَحَلُّ النِّزَاعِ، وَمَا
تَنَازَعُوا فِيهِ يُرَدُّ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ. وَلَيْسَ مُجَرَّدُ كَوْنِ
الدُّعَاءِ حَصَلَ بِهِ الْمَقْصُودُ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ سَائِغٌ فِي
الشَّرِيعَةِ، فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنَ
الْكَوَاكِبِ وَالْمَخْلُوقِينَ، وَيَحْصُلُ مَا يَحْصُلُ مِنْ غَرَضِهِ.
وَبَعْضُ
النَّاسِ يَقْصِدُ الدُّعَاءَ عِنْدَ الْأَوْثَانِ وَالْكَنَائِسِ وَغَيْرِ
ذٰلِكَ، وَيَدْعُو التَّمَاثِيلَ الَّتِي فِي الْكَنَائِسِ، وَيَحْصُلُ مَا
يَحْصُلُ مِنْ غَرَضِهِ. وَبَعْضُ النَّاسِ يَدْعُو بِأَدْعِيَةٍ مُحَرَّمَةٍ
بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ، وَيَحْصُلُ مَا يَحْصُلُ مِنْ غَرَضِهِ. فَحُصُولُ
الْغَرَضِ بِبَعْضِ الْأُمُورِ لَا يَسْتَلْزِمُ إِبَاحَتَهَا، وَإِنْ كَانَ
الْغَرَضُ مُبَاحًا، فَإِنَّ ذٰلِكَ الْفِعْلَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ مَفْسَدَةٌ
رَاجِحَةٌ عَلَى مَصْلَحَتِهِ. وَالشَّرِيعَةُ جَاءَتْ بِتَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ
وَتَكْمِيلِهَا، وَتَعْطِيلِ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلِهَا، وَإِلَّا فَجَمِيعُ
الْمُحَرَّمَاتِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَالْفَوَاحِشِ
وَالظُّلْمِ قَدْ يَحْصُلُ لِصَاحِبِهِ بِهِ مِنَافِعُ وَمَقَاصِدُ، لَكِنْ لَمَّا
كَانَتْ مَفَاسِدُهَا رَاجِحَةً عَلَى مَصَالِحِهَا نَهَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ
عَنْهَا.
كَمَا
أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ كَالْعِبَادَاتِ وَالْجِهَادِ وَإِنْفَاقِ
الْأَمْوَالِ قَدْ تَكُونُ مُضِرَّةً، لَكِنْ لَمَّا كَانَتْ مَصْلَحَتُهَا
رَاجِحَةً عَلَى مَفْسَدَتِهَا أَمَرَ بِهَا الشَّارِعُ. فَهٰذَا أَصْلٌ يَجِبُ
اعْتِبَارُهُ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا
إِلَّا بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ يَقْتَضِي إِيجَابَهُ أَوِ اسْتِحْبَابَهُ.
وَالْعِبَادَاتُ لَا تَكُونُ إِلَّا وَاجِبَةً أَوْ مُسْتَحَبَّةً، فَمَا لَيْسَ
بِوَاجِبٍ وَلَا مُسْتَحَبٍّ فَلَيْسَ بِعِبَادَةٍ. وَالدُّعَاءُ لِلَّهِ تَعَالَى
عِبَادَةٌ إِنْ كَانَ الْمَطْلُوبُ بِهِ أَمْرًا مُبَاحًا.
وَفِي
الْجُمْلَةِ فَقَدْ نُقِلَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ بِهِ السُّؤَالُ
بِهِ، بِخِلَافِ دُعَاءِ الْمَوْتَى وَالْغَائِبِينَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمَلَائِكَةِ وَالصَّالِحِينَ، وَالِاسْتِغَاثَةِ بِهِمْ وَالشَّكْوَى
إِلَيْهِمْ، فَهٰذَا مِمَّا لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ السَّلَفِ، مِنَ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَلَا رَخَّصَ فِيهِ أَحَدٌ
مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ.
Artinya:
Dan pada pembahasan bab ini juga terdapat beberapa cerita yang berasal dari
sebagian orang, bahwasanya ia melihat di dalam mimpi ada yang berkata
kepadanya: berdoalah dengan doa ini dan yang ini, maka mimpi seperti ini tidak
boleh menjadi dalil berdasarkan kesepakatan para ulama, dan sungguh sebagian
cerita-cerita ini telah disebutkan dari beberapa ulama dalam beberapa doa.
Dan telah diriwayatkan pada yang demikian itu
suatu Atsar yang berasal dari sebagian salaf, seperti Atsar yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abiddunya di dalam kitab Majabuddu'a (مُجَابُو
الدُّعَاءِ)
beliau berkata: Abu Haitsam telah mengatakan kepada kami: aku telah mendengar
Katsir Bin Muhammad Bin katsir Bin Rifa'ah berkata:
“Seorang lelaki datang kepada Abdul Malik Bin
Sa'id Bin Abjar, tiba-tiba ia memegang perutnya, maka (Abdul malik) bertanya:
sepertinya kamu terkena penyakit yang tiada akan sembuh. Lelaki itu berkata:
penyakit apakah itu?
Abdul Malik berkata: "Ad-Dubailah"
(الدُّبَيْلَةُ).
Dan Katsir Bin Rifa'ah berkata: Maka orang itu
pun pergi dan berkata: "Allah, Allah, Allah adalah tuhanku, tiadalah aku
menyekutukannya dengan apapun, ya Allah sesungguhnya aku menghadap kepadamu
dengan Nabimu Muhammad, yang adalah sebagai Nabi Rahmah , wahai muhammad
sesunguhnya aku menghadap denganmu kepada Tuhanmu dan Tuhanku agar ia mengasihani
diriku dari penyakit yang ada padaku “.
Katsir Bin Rifa'ah berkata: maka lelaki itu
meraba perutnya, dan Abdul malik berkata: sungguh telah sembuh penyakit yang
ada pada dirimu “.
[Takhrij: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
ad-Dunya dalam kitabnya Mujabu ad-Du‘a, hlm. 154. Ibnu Taimiyah meriwayatkannya
dengan menggunakan redaksi yang menunjukkan ketidakpastian riwayat, yaitu
“diriwayatkan”. Hal ini merupakan isyarat bahwa riwayat tersebut lemah.
Riwayat ini lemah. Di dalam sanadnya terdapat
Katsir bin Muhammad. Jika yang dimaksud adalah al-‘Ajali, maka ia adalah perawi
yang majhul (tidak dikenal) (Lihat: Al-Jarh wat-Ta‘dil, 7/157; Mizan
al-I‘tidal, 5/495; Al-Mughni fi adh-Dhu‘afa, 2/531).
Jika yang dimaksud adalah al-Bajali, maka ia juga
majhul (Lihat: Lisan al-Mizan, 4/483).
Tidak ditemukan biografi Katsir bin Muhammad bin
Katsir bin Rifa‘ah. (Takhrij selesai) PEN.]
---
(
Bantahan Dari Ibnu Taimiyah )
Aku katakan: jelasnya doa ini dan yang semisalnya,
sebenarnya telah diriwayatkan bahwasanya generasi Salaf pernah berdoa
dengannya, dan telah dinukilkan dari imam Ahmad Bin Hanbal di dalam kitab
Mansakul Marruudzi tentang Tawassul dengan Nabi ﷺ dalam berdoa, dan sebagian ulama lainnya
melarang akan hal ini.
Yang jelas apabila tujuan orang yang bertawassul
itu adalah berwasilah dengan Iman kepadanya (Nabi), dengan mencintainya, dengan
loyalitas penuh kepadanya, dan berwasilah dengan mentaatinya, maka sebenarnya
tiadalah ada sengketa di antara kedua belah pihak, namun jika tujuan mereka
yang bertawassul adalah berwasilah dengan diri nabi, maka hal inilah yang
menjadi letak sengketa, dan perkara apa saja yang orang orang saling
bersengketa padanya harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul.Dan bukanlah
sekedar dari adanya doa yang dapat mewujudkan keinginan lantas akan menjadi
suatu petunjuk atas bahwasanya hal itu terhitung boleh di dalam Syariat. Karena
sebenarnya banyak orang-orang yang berdoa kepada selain Allah seperti berdoa
kepada bintang-bintang dan makhluk-makhluk lalu kemudian mereka mendapatkan apa
yang mereka inginkan.
Dan ada sebagian manusia mendatangi
berhala-berhala dan gereja-gereja dan lainnya untuk berdoa disisinya , ternyata
mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Begitu juga ada sebagian manuisa
berdoa dengan doa-doa yang diharamkan - sesuai kesepakatan ulama akan
keharamannya – namun mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam doanya .
Maka keberhasilan mendapatakan apa yang
diharapkan dengan mengamalkan perkara-perkara tertentu bukanlah standar
bolehnya suatu amalan , meskipun tujuannya untuk perkara mubah , karena bisa
jadi amalan tersebut terdapat mafsadah yang lebih kuat dari pada mashlahatnya .
Dan syariat in datang dalam rangka untuk
menggapai mashlahat-mashlahat dan menyempurnakannya serta membatalkan
perkara-perkara mafsadah dan menghilangkannya . Jika tidak , maka banyak sekali
perkara-perkara yang diharamkan seperti kesyirikan , khomr , judi , zina dan
kedzaliman , itu semua bisa jadi ada manfaat dan maksud yang diinginkannya ,
akan tetapi ketika mafsadat-mafsadat nya lebih kuat dibanding
mashlahat-mashlahatnya , maka Allah dan Rosul-Nya melarangnya .
Kesimpulannya,
telah dinukil dari sebagian salaf dan para ulamanya pernyataan seperti ini
ketika ditanya tentang hal tersebut . Berbeda dengan menyeru orang-orang mati
dan ghaib ( yang tidak hadir di hadapannya ) dari kalangan para nabi , para
malaikat dan orang-orang shaleh , begitu juga beritsighotsah dan mengadu
kepadanya , maka ini semua tidak ada satu pun ulama salaf yang melakukannya ,
baik dari kalangan para sahabat , tabi’iin serta tidak satupun dari kalangan
para imam dari kaum muslimin yang meberikan rukhsoh dalam masalah ini “.
(Selesai perkataan Ibnu Taimiyah . Lihat *Majmūʿ al-Fatāwā* 1/264, *Qāʿidah
Jalīlah fī at-Tawassul wa al-Wasīlah* hlm. 8)
CATATAN:
Makna ad-Dubailah dalam hadits Katsir bin Muhammad bin
Katsir di atas adalah sbb:
Empiema (الدُّبَيْلَةُ) adalah penumpukan nanah dan cairan dalam
rongga pleura. Nama ini berasal dari kata Yunani Empyein, yang berarti
“menghasilkan nanah”. Dokter Yunani Hippocrates merupakan orang pertama yang
mendeskripsikan diagnosis awal empiema, lebih dari 2.400 tahun yang lalu.
Terkadang empiema (الدُّبَيْلَةُ) yang terdapat
di rongga pleura disebut “empiema toraks” (Thoracic empyema), untuk
membedakannya dari kondisi empiema yang lebih jarang terjadi, yang dapat
mengenai kantung empedu atau bagian tubuh lainnya.
Meskipun
empiema (الدُّبَيْلَةُ) dapat
menyerang siapa saja dari berbagai usia dan kelompok, kondisi ini lebih banyak
ditemukan pada pasien yang lebih tua (orang dewasa), khususnya mereka yang
secara umum memiliki kondisi kesehatan yang lemah. Pada kelompok ini, penyakit
tersebut biasanya lebih berat dan lebih sulit ditangani. (Sumber: WebMD)
BANTAHAN
KE DUA :
BERKAITAN
DENGAN DERAJAT KESHAHIHAN ATSAR IBNU ‘UMAR
Poros semua sanad-sanad Atsar
Ibnu ‘Umar ini bermuara pada ABU ISHAQ AS-SUBAI’IY .
---
SIAPAKAH
ABU ISHAQ AS-SUBAI’IY
ITU ??? :
Abu
Ishaaq As-Sabii’iy namanya adalah : ‘Amru bin ‘Abdillah bin ‘Ubaid, Abu
Ishaaq As-Sabii’iy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, mukatstsir,
lagi ‘aabid, namun mengalami ikhtilaath di akhir hayatnya.
Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 129 H, atau dikatakan sebelum
itu. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy,
dan Ibnu Maajah
Dia adalah orang yang tsiqoh tapi dia seorang mudallis .
Al-Hafidz Ibnu Hajar meyebutkannya dalam martabat ke tiga dari maratib
al-Mudallisiin. [Taqriibut-Tahdziib,
hal. 739 no. 5100].
Begitu juga Ibnu Hibbaan , al-Karoobisy dan Abu Ja’far ath-Thobary
.
[Ta‘rif Ahl
at-Taqdis bi Maratib al-Maushufin bi at-Tadlis, hlm. 101, biografi no. 91,
cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Lihat juga kitab at-Tabyin li Asma’
al-Mudallisin karya Burhanuddin al-Halabi, Sibth Ibnu al-‘Ajami, hlm. 160,
biografi no. 58.]
Syu’bah berkata : “ Dia tidak mendengar dari Harits al-A’war kecuali
empat hadits. [Tahdzib at-Tahdzib, 8/66]
Yakni yang selebihnya itu dia mentadlisnya . Dia juga berkata : “ Dan
dia tidak mendengar dari Abu Wail kecuali dua hadits“. [Siyar A‘lam an-Nubala’, 5/398;
Tahdzib at-Tahdzib, 8/65]
Al-‘Ijliy berkata : “ Dan sisanya , sesungguhnya dia itu hanya
mengambil kitab “ .
Dan ada Jemaah yang memasukkan dia termasuk orang yang ngaku-ngaku
meriwayatkan dari mereka padahal tidak .
Dan al-Hafidz Ibnu Sholah dalam Muqoddimahnya menyebutkannya dalam
kelompok mudallisiin .
Begitu juga al-Haafidz al-‘Irooqy dalam (التَّقْيِيدُ) hal. 445 , Ibnu Hibban
dalam (الثِّقَاتُ) (5/177) , al-Hakim dalam (مَعْرِفَةُ
عُلُومِ الْحَدِيثِ)
hal. 105 , an-Nasaai (مِيزَانُ
الِاعْتِدَالِ للذهبي ) (1/360) dan al-‘Allaai dalam (جَامِعُ التَّحْصِيلِ ) hal. 108.
----
ADA
5 PERAWI YANG MERIWAYATKAN NYA DARI ABU ISHAQ AS-SUBAI’IY .
Mereka
itu adalah sbb :
1]. Sufyaan ats-Tsauriy (سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ).
2]. Zuhair bin Mu’awiyah (زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ).
3]. Syu’bah (شُعْبَةُ).
4]. Israiil bin Yunus (إِسْرَائِيلُ بْنُ يُونُسَ).
5]. Abu Bakar bin ‘Ayyaasy (أَبُو بَكْرٍ بْنُ عَيَّاشٍ).
Akan tetapi mereka berlima berbeda-beda sanadnya dalam meriwayatkan atsar dari Abu Ishaq as-Subai’iy (أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ), yaitu seperti berikut ini. ([2])
KE [1].
Sufyan ats-Tsauri
meriwayatkan dari Abu Ishaq as-Sabi‘i dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia berkata:
خَدِرَتْ رِجْلُ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ:
اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. فَقَالَ: مُحَمَّدٌ.
kaki Ibnu Umar mengalami
kesemutan, lalu seorang lelaki berkata kepadanya, “Sebutlah orang yang paling
engkau cintai.” Maka ia pun berkata, “Muhammad. ([3])”
KE [2].
Zuhair bin Mu‘awiyah
meriwayatkan dari Abu Ishaq as-Sabi‘i dari Abdurrahman bin Sa‘d:
جِئْتُ ابْنَ عُمَرَ فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ: مَا
لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا. قُلْتُ: ادْعُ أَحَبَّ النَّاسِ
إِلَيْكَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ. فَبَسَطَهَا.
Aku datang menemui Ibnu Umar,
lalu kakinya mengalami kesemutan. Aku bertanya, “Apa yang terjadi pada kakimu?”
Ia menjawab, “Otot-ototnya saling bertumpuk.” Aku berkata, “Panggillah orang
yang paling engkau cintai.” Maka ia berkata, “Ya Muhammad.” Lalu kakinya
kembali lurus (pulih).
[Diriwayatkan oleh Ali bin
al-Ja‘d dalam Al-Musnad (hlm. 369), Ibrahim al-Harbi dalam Gharib al-Hadits
(2/674), Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat (4/154), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh
Dimasyq (31/177), dari Zuhair dengan sanad tersebut]
KE
[3].
Syu‘bah meriwayatkan dari Abu
Ishaq as-Sabi‘i dari seseorang yang mendengar Ibnu Umar berkata:
خَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقِيلَ: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ،
قَالَ: يَا مُحَمَّدُ.
Kakinya mengalami kesemutan,
lalu dikatakan kepadanya: “Sebutlah orang yang paling engkau cintai.” Maka ia
berkata, “Ya Muhammad.”
[Diriwayatkan oleh Ibrahim
al-Harbi dalam Gharib al-Hadits (2/673). Dalam sanadnya terdapat kelemahan
karena perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Umar tidak disebutkan identitasnya]
KE [4].
Israil meriwayatkan dari Abu
Ishaq as-Sabi‘i dari al-Haitsam bin Hanzh, ia berkata:
كُنَّا عِندَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ
رِجْلُهُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا
مُحَمَّدُ، قَالَ: فَقَامَ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ.
Kami berada di sisi Abdullah
bin Umar, lalu kakinya mengalami kesemutan. Seorang lelaki berkata kepadanya,
“Sebutlah orang yang paling engkau cintai.” Maka ia berkata, “Ya Muhammad.”
Lalu ia berdiri, seakan-akan ia lepas dari ikatan tali.
[Diriwayatkan oleh Ibnu
as-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (no. 169). Sanad ini juga lemah]
KE [5].
Abu Bakr bin ‘Ayyasy
meriwayatkan dari Abu Ishaq as-Sabi‘i dari Abu Syu‘bah, ia berkata:
كُنْتُ أَمْشِي مَعَ ابْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ،
فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا
مُحَمَّدَاهْ، فَقَامَ فَمَشَى.
Aku berjalan bersama Ibnu
Umar, lalu kakinya mengalami kesemutan dan ia pun duduk. Seorang lelaki berkata
kepadanya, “Sebutlah orang yang paling engkau cintai.” Maka ia berkata, “Ya
Muhammadah.” Lalu ia pun bangkit dan berjalan.
[Ibnu as-Sunni juga
meriwayatkannya dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (no. 168). Sanad ini juga
lemah].
===
BERIKUT
INI PENJELASAN MASING-MASING
DARI LIMA JALUR SANAD YANG LEBIH RINCI :
---
PERTAMA :
JALUR SANAD DARI SUFYAN ATS-TSAURY([4]) DAN ZUHAIR BIN MU’AAWIYAH([5]):
Dari
Abu Ishaaq As-Sabii’iy, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’d([6]),
dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz :
"خَدِرَتْ رِجْلُ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اذْكُرْ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. فَقَالَ: مُحَمَّدٌ".
Kaki
Ibnu ‘Umar mati rasa atau kram . Maka seorang pria berkata kepadanya :
ingat-ingatlah – sebutlah – orang yang paling kamu cintai ! maka beliau
menjawab :
“
Muhammad “.
Jalur
ini adalah sebagaimana jalur riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhaariy dalam
kitabnya al-Adabul Mufrod no. 964 dan Imam Ad-Daruquthni dalam kitab (الْعِلَلُ) 13/242 .
Riwayat
Imam Bukhory ini adalah yang paling shahih dibanding riwayat-riwayat yang
lainnya . Karena ini adalah riwayat dari Sufyan ats-Tsaury . Beliau adalah (مِنَ
الْحُفَّاظِ وَالْأَثْبَاتِ
) termasuk orang-orang yang hafidz dan kokoh hafalannya .
Dr. Saad al-Humeid berkata :
"
أَرْجَحُ هَذِهِ الطُّرُقِ رِوَايَةُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ"
“
Jalur yang paling rajih adalah riwayat Sufyan at-Tsaury “
Dan dalam riwayat beliau ( Bukhory ) ini lafadznya (مُحَمَّدٌ) tdk
ada huruf nida, bukan (يَا مُحَمَّدُ).
Kecuali riwayat yang terdapat dalam kitab (الْعِلَلُ) 13/242 karya ad-Daruquthni,
maka terdapat huruf nidanya (يَا مُحَمَّدُ). Begitu juga yang
diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam (الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَى) 4/395 dari jalan Sufyaan
Ats-Tsauriy dan Zuhair dari Abu Ishaaq yang selanjutnya seperti riwayat Zuhair
di atas.
Telah terjadi perbedaan pendapat antar para ulama hadits dalam tingkat
keshahihan atsar ini . Ada yang menshahihkan dan ada pula yang men dhoif kan
.
Yang menshahihkan atsar ini tidaklah banyak, berbeda dengan yang mendlaifkannya
dari kalangan ulama mu’asiriin . Dan ‘illat (عِلَّةٌ) yang paling kuat penyebab dloifnya atsar ini
adalah terdapat kelabilan (الِاضْطِرَابُ) dalam sanadnya .
Namun demikian kebanyakan para ulama yang menshahihkannya menyatakan
bahwa kandungan matannya ini tidak layak untuk dijadikan dalil akan bolehnya
bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati.
Diantara ulama yang menshahihkan atsar ini adalah asy-Syeikh Abdullah
bin Abdurrahman as-Saad , beliau menshahihkan atsar ini , dan telah ditanyakan
kepadanya tentang istighotsah berdasarkan atsar ini ? maka beliau menjawab : “
Ini tidak shahih “.
Begitu juga Syaikh al-Huwaini (lahir 1375 H), murid Syeikh Al-Albani,
beliau menshahihkan riwayat Ibnu Umar dalam al-Adab al-Mufrad , beliau
menyelisihi Syeikh al-Albaany gurunya .
Al-Huwaini berkata:
أَخْرَجَهُ
الْبُخَارِيُّ فِي (الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ) (٩٦٤)، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو
نُعَيْمٍ: ثَنَا سُفْيَانُ بِهِ، وَالثَّوْرِيُّ أَثْبَتُ فِي أَبِي إِسْحَاقَ
مِنْ إِسْرَائِيلُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍ ثِقَةٌ، فَهٰذَا الْوَجْهُ
قَوِيٌّ ..... وَالْمُعْتَمَدُ رِوَايَةُ الثَّوْرِيِّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Bukhory telah meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad
(964) , dia berkata : telah bercerita kepada kami Abu Nai’im , telah bercerita
kepada kami Sufyaan … dst . Sufyan Ats-Tsaury ini lebih tsabat dalam riwayat
Abu Ishaq dari pada Israaiil . Sementara Abdurrahman bin Saad adalah Tsiqoh .
Maka riwayat ini adalah kuat ….. Dan yang mu'tamad adalah riwayat
al-Tsauri" . ( الْفَتَاوَى
الْحَدِيثِيَّةُ
(1/126 ).
Dan ada pula para ulama yang hanya menyebutkannya saja dan mereka diam
tanpa menghukumi shahih dan dhoif nya , seperti Imam Nawawi , Ibnu ‘Allaan dan
lainnya .
Adapun yang mendhoifkan atsar ini diantaranya Syeikh al-Albaany [(Dha‘if
Al-Adab al-Mufrad), no. 964.], Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid [Dalam
kitabnya «Tashih ad-Du‘a», hlm. 362.], Syeikh Ibnu Saad , mereka semua adalah
ulama-ulama besar pakar hadits . Dan ada beberapa ulama ahlul hadits terdahulu
yang mendloifkan atsar Ibnu ‘Umar ini seperti yang termaktub dalam kitab-kitab
mereka .
Menurut mereka ada beberapa illat yang menyebabkan atsar ini dhoif
sekali , diantaranya adalah sbb :
Pertama : Atsar ini termasuk atsar yang Abu Ishaq As-Subai’iy sendirian
yang meriwayatkannya (مِمَّا
تَفَرَّدَ بِهِ إِسْحَاقُ السَّبِيعِيُّ) . Semua sanadnya berporos pada beliau :
[زُهَيْرُ
بْنُ مُعَاوِيَةَ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ؛ هُوَ: [عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ]..
وَالرَّاوِي عَنْهُ السَّبِيعِيُّ عِنْدَهُ: [عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍ]
[سُفْيَانُ
الثَّوْرِيُّ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ؛ هُوَ: [أَبُو نُعَيْمٍ الْفَضْلُ بْنُ
دُكَيْنٍ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ السَّبِيعِيُّ عِنْدَهُ: [عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍ]
[سُفْيَانُ وَزُهَيْرٌ]
مَقْرُونَيْنِ.. وَالرَّاوِي عَنْهُمَا؛ هُوَ: [أَبُو نُعَيْمٍ الْفَضْلُ بْنُ
دُكَيْنٍ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ السَّبِيعِيُّ عِنْدَهُ: [عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍ].
[شُعْبَةُ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ؛
هُوَ: [عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ السَّبِيعِيُّ
عِنْدَهُ: [مَجْهُولٌ لَا يُعْرَفْ لَمْ يُسَمَّ].
[إِسْرَائِيلُ بْنُ يُونُسَ]..
وَالرَّاوِي عَنْهُ؛ هُوَ: [مُحَمَّدُ بْنُ مُصْعَبٍ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ
السَّبِيعِيُّ عِنْدَهُ: [الْهَيْثَمُ بْنُ حَنَشٍ]
[أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ]..
وَالرَّاوِي عَنْهُ؛ هُوَ: [مُحَمَّدُ بْنُ خُدَاشٍ].. وَالرَّاوِي عَنْهُ
السَّبِيعِيُّ عِنْدَهُ: [أَبُو شُعْبَةُ] وَفِي نُسْخَةٍ [أَبُو
سَعِيدٍ]
Disini antara sanad Sufyan dan Zuhair
sama dan sepakat , tapi berbeda dengan sanad Syu’bah , Israaiil dan Abu Bakar …
. illat satu ini saja sudah cukup untuk melemahkan sanad kisah ini karena
adanya kelabilan (الِاضْطِرَابُ) . Dan juga karena Abu Ishaq
as-Subai’iy ini telah kacau balau hafalannya (اخْتَلَطَ) diakhir usianya , maka dia
mengalami kesulitan untuk men tamyiznya . Jadi illat ini saja sebetulnya sudah
cukup untuk men dhoif kan atsar ini .
Kedua : sebab ‘an’anah (عَنْعَنَةٌ) Abu Ishaaq As-Sabii’iy dan
beliau termasuk perawi mudallis (مُدَلَّسٌ) yang masyhur . Disini
dalam semua jalur sanadnya sama sekali tidak ada riwayat beliau yang menyatakan
dengan kata-kata (حَدَّثَنَا) atau yang semisalnya . Ini
adalah illat yang lain yang tidak boleh dianggap enteng . Karena as-Subai’iy
ini telah banyak meriwayatkan banyak hadits dari orang-orang yang tidak dikenal
, dan diantara meraka ada yang dhoif , ditambah lagi beliau meriwayatkannya
sendirian dari mereka.
Al-hafidz
Ibnu Hajar memasukkan Abu Ishaaq As-Sabii’iy dalam tingkatan ketiga
perawi mudallis, sehingga tidak diterima riwayatnya kecuali jika ia
menjelaskan penyimakan riwayatnya.
[Ta’riifu
Ahlit-Taqdiis oleh Ibnu Hajar, hal. 101 no. 91
dan Riwaayatul-Mudallisiin fii Shahiih Al-Bukhaariy oleh Dr. ‘Awwaad
Al-Khalaf, hal. 454].
Catatan : Sufyaan Ats-Tsauriy mendengar hadits Abu
Ishaaq sebelum masa ikhtilaath-nya.
Sufyaan
ats-Tauriy dalam periwayatan dari Abu Ishaaq mempunyai mutaba’ah
dari Zuhair bin Mu’aawiyyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Sa’d 4/395, ‘Aliy bin Ja’d no. 2539, Al-Harbiy
dalam Ghariibul-Hadiits 2/674 dan Ibnus-Sunniy dalam
‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 172, Ibnu ‘Asaakir dalam At Taariikh 131/177,
dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 17/143.
Riwayat
dari jalur ini dhoif dengan sebab ( عَنْعَنَةٌ ) Abu Ishaaq As-Sabii’iy.
---
KEDUA
:
JALUR SANAD DARI RIWAYAT SYU’BAH ( شُعْبَةُ([7])
) :
Dari Abu Ishaaq As-Sabii’iy, dari seseorang yang mendengar riwayat dari
Ibnu ‘Umar, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
Diriwayatkan
oleh al-Imam Al-Harbiy dalam Ghariibul-Hadiits 2/673 : Telah
menceritakan kepada kami ‘Affaan([8]) :
Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaaq, dari orang yang
mendengar riwayat dari Ibnu ‘Umar.
Syu’bah
mendengar hadits Abu Ishaaq sebelum ikhtilaath-nya.
Riwayat
dari jalur ini lemah (ضَعِيفٌ)
dengan
sebab mubham-nya syaikh dari Abu Ishaaq As-Sabii’iy. Adapun
faktor ‘an’anah-nya Abu Ishaaq pada jalur riwayat ini tidak memudlaratkan
karena riwayat Abu Ishaaq ini berasal Syu’bah. Syu’bah berkata :
كَفَيْتُكُمْ
تَدْلِيسَ ثَلَاثَةٍ: الْأَعْمَشِ، وَأَبِي إِسْحَاقَ، وَقَتَادَةَ
“Aku
cukupkan bagi kalian tadlis dari tiga orang : Al-A’masy, Abu Ishaaq,
dan Qataadah” [Ma’rifatu Sunan wal-Atsar lil-Baihaqiy, no. 29].
Oleh
karena itu, ‘an’anah (عَنْعَنَةٌ) Abu Ishaaq yang
diriwayatkan oleh Syu’bah dihukumi muttashil (bersambung sanadnya).
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَرَوَيْنَا
فِي الْمَعْرِفَةِ لِلْبَيْهَقِي وَفِيْهَا عَنْ شُعْبَةَ أَنَّهُ قَالَ
"كَفَيْتُكُمْ تَدْلِيسٌ ثَلاَثَةٍ: اْلأَعْمَشِ وَأَبِي إِسْحَاقَ
وَقَتَادَةَ" وَهِيَ قَاعِدَةٌ حَسَنَةٌ تٌقْبَلُ أَحَادِيْثُ هَؤُلاَءِ
إِذَا كَانَ عَنْ شُعْبَةَ وَلَوْ عَنْعَنُوْهَا
"Syu'bah
berkata: "Aku cukupkan kalian dari tadlisnya 3 orang, al-A'masy, Abu Ishaq
dan Qatadah". Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Ini adalah kaidah yang
bagus, yakni riwayat orang-orang tersebut diterima jika disampaikan melalui
Syu'bah meskipun secara mu'an'an (menggunakan redaksi 'dari')" (Baca:
Nukat Kitab Ibni Shalah, 2/630)
---
KETIGA
:
JALUR SANAD DARI RIWAYAT ISRAA’IIL (إِسْرَائِيلُ) :
Dari
Abu Ishaaq As-Sabii’iy, dari Al-Haitsam bin Hanasy, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu
‘anhumaa.
Diriwayatkan
oleh Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 170:
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Khaalid bin Muhammad Al-Bardza’iy : Telah
menceritakan kepada kami Haajib bin Sulaimaan : Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Mush’ab : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu
Ishaaq, dari Al-Haitsam bin Hanasy, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu
‘anhumaa.
Sanad
atsar ini lemah sekali , karean terdapat beberapa ilat :
A]. Riwayat dari jalur ini lemah karena
di dalam sanadnya terdapat seorang perawi dari Israaiil (إِسْرَائِيلُ) yang bernama Muhammad bin Mush’ab bin Shadaqah
Al-Qarqasaaniy, Abu ‘Abdillah/ Abul-Hasan .
Dia
seorang yang shaduuq, namun banyak kesalahannya (katsiirul-ghalath).
Termasuk thabaqah ke-9,
dan wafat tahun 208 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy dan Ibnu Maajah
[Taqriibut-Tahdziib, hal. 897 no. 6342].
Dia di
dloifkan oleh Ibnu Ma’iin dan an-Nasaai . Yahya bin Ma’in berkata :
"لَيْسَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ وَكَانَ مُغَفَّلًا".
“Dia
tidak ada apa-apanya , bukan golongan ahli hadits , dan dia itu bodoh lemah
ingatan”. [Baca : الْعِبَرُ لِلذَّهَبِيِّ (1/279) dan تَهْذِيبُ
التَّهْذِيبِ (9/458 )].
Ibnu
Hibbaan berkata : “ Dia buruk hafalannya , dia itu memutarbalikan sanad-sanad
dan memarfu’kan haditst-hadits mursal , tidak boleh berhujjah dengannya “ .
Al-Khothiib
berkata : “ Dia banyak salah ketika meriwayatkan hadits dari hafalannya “.
Akan
tetapi Imam Ahmad berkata : “( لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ ) lumayan / tidak mengapa
dengannya “. Begitu juga perkataan Ibnu ‘Adiy . Bahkan dia juga di tautsiq (
dipercaya ) oleh Ibnu Naafi’ , akan tetapi Ibnu Naafi’ termasuk orang-orang
yang bermudah-mudahan dalam mentautsiq “.
Ibnu Ma‘in berkata,
لَمْ يَكُنْ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ،
كَانَ مُغَفَّلًا. وَقَالَ النَّسَائِيُّ: ضَعِيفٌ، وَمِثْلُهُ عَنْ أَبِي حَاتِمٍ
الرَّازِيِّ.
“Ia bukan termasuk ahli hadits, ia
seorang yang lalai.” An-Nasa’i berkata, “Lemah.” Demikian pula penilaian Abu
Hatim ar-Razi terhadapnya.
Ibnu Hibban berkata, “Ia
membolak-balik sanad dan memarfu‘kan hadits-hadits mursal. Tidak boleh berhujah
dengannya.”
Al-Isma‘ili berkata, “Muhammad bin
Mush‘ab termasuk perawi yang lemah.”
Al-Khatib berkata, “Ia banyak
melakukan kesalahan karena meriwayatkan hadits berdasarkan hafalannya.”
Ahmad berkata, “Tidak ada masalah
dengannya.” Penilaian yang serupa juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Adi.
Ibnu Qani‘ menilainya tsiqah,
sedangkan Ibnu Qani‘ termasuk ulama yang bermudah-mudah dalam memberikan
penilaian tsiqah. Dari sini jelaslah kelemahannya, sebagaimana yang menjadi
pendapat para imam ahli ilmu.
Adapun perkataan Ahmad, “Tidak ada
masalah dengannya,” maksudnya adalah bahwa secara pribadi ia seorang yang jujur.
Namun, dalam periwayatan hadits, ia dinilai lemah.
(Lihat: Hadzihi Mafahimuna karya
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, hlm. 44.)
Syeikh
Soleh Aalu as-Syeikh berkata : “ Dari Sini jelaslah akan ke dhoifan Muhammad
bin Mush’ab seperti yang dikatakan ahlul ‘ilmi . Adapun perkataan Imam Ahmad (لَيْسَ
بِهِ بَأْسٌ),
maksudnya dalam dirinya , namun dalam haditsnya tetap Dho’iif. (Baca: هٰذِهِ
مَفَاهِيمُنَا
hal. 44)
B]. Kemudian di dalam sanadnya juga
terdapat Al-Haitsam bin Hanasy .
Biografinya
disebutkan dalam (التَّارِيخُ
الْكَبِيرُ)
8/213 , dan dalam (الْجَرْحُ
وَالتَّعْدِيلُ)
9/79 bahwa dirinya tidak ada seorang pun dari ahlul ilmi yang mentautsiq dan
men tajriih . Maka dia itu kondisinya tidak dikenal (مَجْهُولُ
الْحَالِ)
seperti yang di tamtsilkan oleh al-Khothiib al-Baghdady dalam (الْكِفَايَةُ) hal. 88 tentang orang-orang yang tidak dikenal (الْمَجَاهِيلُ).
Al-Khatib
berkata dalam Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah, hlm. 88:
«الْمَجْهُولُ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ هُوَ كُلُّ مَنْ لَمْ يَشْتَهِرْ
بِطَلَبِ الْعِلْمِ فِي نَفْسِهِ، وَلَا عَرَفَهُ الْعُلَمَاءُ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يُعْرَفْ
حَدِيثُهُ إِلَّا مِنْ جِهَةِ رَاوٍ وَاحِدٍ، مِثْلُ: عَمْرِو ذِي مَرٍّ، وَجَبَّارٍ
الطَّائِيِّ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَغَرَّ الْهَمْدَانِيِّ، وَالْهَيْثَمِ بْنِ حَنَشٍ
... هَؤُلَاءِ كُلُّهُمْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُمْ غَيْرُ أَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيعِيِّ».
اهـ.
“Perawi
majhul menurut ahli hadits adalah setiap orang yang tidak dikenal secara
pribadi sebagai penuntut ilmu dan tidak dikenal oleh para ulama sebagai seorang
yang memiliki ilmu. Termasuk pula orang yang haditsnya tidak dikenal kecuali
melalui satu orang perawi saja. Contohnya adalah ‘Amr Dzi Mirr, Jabbar
ath-Tha’i, Abdullah bin Aghar al-Hamdani, dan al-Haitsam bin Hanasy. Mereka
semua tidak ada yang meriwayatkan dari mereka selain Abu Ishaq as-Sabi‘i.”
Selesai kutipan.
[Lihat:
Al-‘Ibar karya adz-Dzahabi, 1/279; dan Tahdzib at-Tahdzib, 9/458].
Akan tetapi Al-Imam Ibnu al-Mulaqqin di
dalam kitabnya Al-Muqni’ berkata tentang Haitsam sekaligus membantah dan
menjawab komentar al-Khathib :
وَذَكَرَ الْخَطِيبُ أَيْضًا أَنَّهُ لَمْ
يَرْوِ "عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ حَنَشٍ" غَيْرُ أَبِي إِسْحَاقَ هٰذَا
وَلَيْسَ كَمَا قَالَ فَقَدْ رَوَى عَنْهُ أَيْضًا سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ
“ Dan Al-Khothiib juga berkata “
Bahwasanya tidak meriwatyatkan dari Haitsam bin Hanasy selain Abu Ishaq “,
sungguh ini bukan seperti yang dikatakan Al-Khothiib tsb, sungguh telah
meriwayatkan juga darinya Salmah bin Kuhail “.
[Lihat:
Al-Qaul al-Fashl al-Musaddad fi Shihhati Hadits “Ya Muhammad”, karya Syaikh
Majdi Ghassan Ma‘ruf.]
Ibnu
Abi Haatim ar-Raazy dalam ( الْجَرْحُ
وَالتَّعْدِيلُ )
320/15975 berkata :
الْهَيْثَمُ بْنُ حَنَشٍ
النَّخَعِيُّ كُوفِيٌّ رَوَى عَنْ ابْنِ عُمَرَ، رَوَى عَنْهُ أَبُو إِسْحَاقَ
الْهَمْدَانِيُّ وَسَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ، سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ ذَلِكَ.
“ Haitsam bin Hanasy an-Nakho’iy ,
ahli kufah , meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar. Telah meriwayatkan dari beliau Abu
Ishaq al-Hamdany dan Salamah bin Kuhail . Aku mendengar ayahku berkata demikian
“.
Al-Hafidz ‘Alauddin
Mughlathoy di dalam Syarh Sunan Ibnu Majah mengatakan :
"رَوَى أَبُو نُعَيْمٍ – أَيِ
الْإِمَامُ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ – فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ
عَلَى رَسْمِ الْـبُسْتِيِّ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ
الْهَيْثَمِ بْنِ حَنَشٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفًا: اللَّهُمَّ اجْعَلْكَ
أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيَّ وَأَحْسَنَ شَيْءٍ عِنْدِي".
“ Abu Nu’aim meriwayatkan
di dalam kitab sholat dengan sanad yang Shahih atas rosem al-Basti dari Abi Al-Ahwash
dari Abi Ishaq dari Haitsam bin Hanasy dari Ibnu Umar scara Mauquf “ Ya Allah
aku jadukan Engkau yang paling aku cintai dan yang paling baik di sisiku“.
[Lihat:
Al-Qaul al-Fashl al-Musaddad fi Shihhati Hadits “Ya Muhammad”, karya Syaikh
Majdi Ghassan Ma‘ruf]
C]. Illat berikutnya yaitu terdapat Abu
Ishaq as-Sabii’iy , dia seorang Mudallis , dan disini dia meriwayatkannya
dengan shighoh ‘an’anah (عَنْعَنَةٌ).
Catatan : Ad-Daaruquthny menyebutkannya
dalam kitabnya (الْعِلَلُ) 13/242 bahwa Israaiil telah
meriwayatkannya dari Abu Ishaaq dan Ibnu ‘Umar secara mursal . Namun saya tidak
menemukan riwayat tersebut di dalamnya .
---
KEEMPAT
:
JALUR DARI RIWAYAT ABU BAKAR BIN ‘AYYAASY :
Dari
Abu Ishaaq As-Sabii’iy, dari Abu Syu’bah([9]),
dari Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan oleh Ibnus-Sunniy dalam (عَمَلُ
الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ) no.
168 :
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ الْأَنْمَاطِيُّ، وَعَمْرُو بْنُ الْجُنَيْدِ بْنِ عِيسَى، قَالَا:
ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خُدَاشٍ، ثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، ثَنَا أَبُو
إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ، عَنْ أَبِي شُعْبَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ ابْنِ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ
رَجُلٌ: اذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. فَقَالَ: "يَا
مُحَمَّدَاهْ" فَقَامَ فَمَشَى.
Telah
menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibraahiim Al-Anmaathiy dan ‘Amru bin Al-Junaid
bin ‘Iisaa, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Khidaasy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy : Telah
menceritakan kepada kami Abu Ishaaq as-Sabii’iy, dari Abu Syu’bah, dari Ibnu
‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
Riwayat
ini lemah dengan beberapa sebab :
A]. Muhammad bin Ibrahim
al-Anmaathiy . Telah berkata Ibnu Abi Haatim ar-Raazy dalam ( الْجَرْحُ
وَالتَّعْدِيلُ )
7/187 :
"أَدْرَكْتُهُ وَلَمْ أَكْتُبْ
عَنْهُ".
Aku telah menjumpainya dan aku tidak mau menulis
darinya “.
B]. ‘Amr bin Junaid bin
‘Isa . Beliau tidak dikenal
C] Muhammad bin Khidaasy,
seorang yang majhuul
(مَجْهُولٌ لَا يُعْرَفُ حَالُهُ وَلَا
عَيْنُهُ)
(tidak dikenal, tidak diketahui keadaan
maupun identitasnya)
dan
(كَانَ يَرْوِي عَنْ جَدِّهِ الَّذِي كَانَ
يَرْوِي الْمَكْذُوبَاتِ)
(dia biasa meriwayatkan dari kakeknya yang
terbiasa meriwayatkan riwayat-riwayat yang dusta)
Berbeda
dengan perkataan Majdi Ghossan Ma’ruf dalam kitabnya “Al-Qaul al-Fashl
al-Musaddad fi Shihhati Hadits ‘Ya Muhammad’”. Dia berkata:
«مُحَمَّدُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَيْرُوزَ الْأَنْمَاطِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَافِظٌ ثِقَةٌ
مَشْهُورٌ. وَمَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ - فِي بَعْضِ الْكُتُبِ مُحَمَّدُ بْنُ خِدَاشٍ
- وَالَّذِي رَوَى عَنْهُ الْأَنْمَاطِيُّ إِنَّمَا هُوَ مَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ إِمَامٌ
ثِقَةٌ، كَمَا فِي تَهْذِيبِ الْكَمَالِ لِلْحَافِظِ الْمِزِّيِّ. مَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ
الْإِمَامُ الْحَافِظُ الثِّقَةُ، أَبُو مُحَمَّدٍ الطَّالَقَانِيُّ ثُمَّ الْبَغْدَادِيُّ».
“Muhammad bin Ibrahim bin Nairuuz
al-Anmaathy, hafidz, tsiqoh, masyhur . Dan Mamhmud bin Khodaasy – di sebagian
kitab-kitab ‘Muhammad bin Khidasy’ -. Dan orang yang al-Anmaathy meriwayatkan
darinya: sesungguhnya dia itu adalah Mahmud bin Khidasy , Imam , tsiqoh ,
seperti yang terdapat dalam Tahdziibul kamal karya al-Haafidz al-Mizzy. Mahmud bin Khidasy adalah Imam, Tsiqoh, Hafidz,
Abu Muhammad ath-Thooliqoony, kemudian al-Baghdaady“.
D]. ABU BAKAR BIN ‘AYYAASY
.
مُتَكَلَّمٌ فِيهِ.. وَكَانَ كَثِيرَ
الْخَطَإِ، وَقَدِ اخْتَلَطَ فِي آخِرِهِ، وَإِذَا رَوَى عَنْهُ الضُّعَفَاءُ وَالْمَجَاهِيلُ
فَلَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ
“Diperbincangkan tentang
dirinya … dan dia banyak salah , dan sungguh dia telah terjadi kekeliruan di
akhir usianya . Dan jika orang yang meriwayatkan dari dia itu orang-orang yang
lemah dan orang-orang yang tidak dikenal maka hadits nya tidak ada nilainya
“.
Ibnu Thohman dalam (سُؤَالَاتُ ابْنِ طَهْمَانَ) hal. 34 berkata :
"سُئِلَ
يَحْيَى عَنْ حَدِيثٍ رَوَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ فَلَمْ يَلْتَفِتْ
إِلَيْهِ، قَالَ: لَمْ يَرْوِهِ شُعْبَةُ وَلَا سُفْيَانُ، لَوْ رَوَوْهُ كَانَ
أَبُو بَكْرٍ صَدُوقًا".
“ Yahya ( bin Ma’in ) pernah ditanya
tentang hadits yang diriwaytakan oleh Abu Bakar bin ‘Ayyaasy , maka beliau
tidak mau melirik kepadanya . Dia berkata : Baik Syu’bah maupun Sufyan tidak
meriwayatkan hadits darinya , kalau seandainya mereka meriwayatkan darinya maka
kedudukan dia adalah shoduuq ( صَدُوقٌ ) “.
Bahkan nash Imam Ahmad menyatakan
bahwa Ibnu ‘Ayyash ini labil (يَضْطَرِبُ) dalam hadits As-Subai’iy …. . Telah
berkata Ya’qub bin Sufyan dalam (الْمَعْرِفَةُ وَالتَّارِيخُ) 2/103:
(حَدَّثَنِي
الْفَضْلُ قَالَ: قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: أَبُو بَكْرٍ يَضْطَرِبُ فِي
حَدِيثِ هٰؤُلَاءِ الصِّغَارِ، فَأَمَّا حَدِيثُهُ عَنْ أُولٰئِكَ الْكِبَارِ
وَمَا أَقْرَبَهُ عَنْ أَبِي حُصَيْنٍ وَعَاصِمٍ وَأَنَّهُ لَيَضْطَرِبُ عَنْ
أَبِي إِسْحَاقَ أَوْ نَحْوَ ذَا. ثُمَّ قَالَ: لَيْسَ هُوَ مِثْلَ زَائِدَةَ
وَزُهَيْرٍ وَسُفْيَانَ، وَكَانَ سُفْيَانُ فَوْقَ هٰؤُلَاءِ وَأَحْفَظَ)
“ Telah bercerita padaku al-Fadlel , dia
berkata bahwa Abu Abdillah berkata : Abu Bakar labil dalam hadits mereka yang muda-muda.
Adapun haditsnya dari mereka yang tua-tua maka yang paling dekat kebenarannya
adalah dari Abu Hushoin dan ‘Ashiim . Dan sungguh dia itu labil jika
meriwayatkan dari Abu Ishaq atau yang sejajar dengannya“.
Kemudian beliau berkata lagi: “Dia tidak
setara dengan Zaaidah, Zuhair dan Sufyan. Sementara Sufyana diatas semuanya dan
lebih kuat hafalannya“.
Dengan demikian, jika saja Abu Bakar
bin ‘Ayyaasy labil dalam hadits Abi Ishaq As-Subai’iy, dan Abu Ishaq
As-Subai’iy juga sama labilnya ketika diusia ikhtilath alias kacau balau dalam
riwayat haditsnya, maka dia tidak tahu apa yang disampaikannya, dan tidak
diketahui kapan Ibnu ‘Ayyas mendengar hadits dari Abu Ishaq as-Subai’iy?
Maka
dapat kita lihat bahwa semua jalur di atas – yang berporos pada Abu Ishaaq –
terdapat kelemahan.
Diantaranya dalam riwayat Abu
Ishaq ini terdapat kelabilan (الِاضْطِرَابُ) yang nyata dan jelas sekali. Ini
menunjukkan bahwa Abu Ishaq meriwayatkannya setelah masa ikhtilath (الِاخْتِلَاطُ) ([10])
dan sebagai bukti akan adanya ikhtilath dalam hadits ini bahwa beliau kadang
meriwayatkannya Abu Syu’bah atau Abu Sa’id , dan terkadang dari Abdurrahman bin
Saad . Ini adalah kelabilan yang menyebabkan tertolaknya periwayatan hadits .
Bahkan al-Juuzajaany telah menuduhnya dengan tuduhan fanatik syiah (التَّشَيُّعُ) dari kalangan para pemimpin ahli hadits Kuufah . Dan dari
Ma’an , beliau berkata :
"أَفْسَدَ
حَدِيثَ أَهْلِ الْكُوفَةِ الْأَعْمَشُ وَأَبُو إِسْحَاقَ يَعْنِي لِلتَّدْلِيسِ،
وَرَوَى عَنْ أُنَاسٍ لَمْ يُعْرَفُوا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا مَا حَكَى
هُوَ عَنْهُمْ. فَإِذَا رَوَى تِلْكَ الْأَشْيَاءَ عَنْهُمْ كَانَ التَّوَقُّفُ
أَوْلَى"
“Hadits masyarakat
Kuufah telah dirusak oleh al-A’masy dan Abu Ishaq , yakni dengan cara Tadliis.
Dia meriwayatkan hadits dari orang-orang yang tidak dikenal oleh dikalangan
ahlul ilmi, kecuali apa yang dia riwayatkan dari mereka. Maka jika dia
meriwayatkan sesuatu-sesuatu itu dari mereka, maka berhenti utk tidak
mengambilnya itu lebih baik“. [Baca: تَهْذِيبُ التَّهْذِيبِ (8/66)]
Telah meng itsbat kan akan
ikhtilath nya Abu Ishaq As-Subai’iy masing-masing dari Al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam (تَقْرِيبُ
التَّهْذِيبِ hal. 639) dan (مُقَدِّمَةُ فَتْحِ الْبَارِيِ hal. 431), Imam an-Nawawi dalam (شَرْحُ صَحِيحِ مُسْلِمٍ (1/34)) dan Burhanuddin al-Halaby dalam risalahnya (الِاغْتِبَاطُ). Begitu juga Ibnul Kayyal telah meng itsbat kan ikhtilathnya
dalam (الْكَوَاكِبُ
النَّيِّرَاتُ). Dan juga al-Haafidz Ibnu Sholah seperti
yang dihikayatkan oleh Ibnu Kayyal dari nya ([11]).
Sementara al-Juzajany
menghikayatkan tentang Abu Ishaq as-Subai’iy :
"أَنَّهُ
وَاحِدٌ مِمَّنْ لَا يُحْمَدُ النَّاسُ مَذَاهِبَهُمْ".
Bahwa
dia adalah salah seorang dari orang-orang yang madzhabnya tidak terpuji([12]).
Ditambah lagi adanya sebagian
para perawi yang diperselisihkan ketsiqohannya seperti Abu Ishaq itu sendiri .
Kalau seandainya kita menganggapnya tsiqoh , maka tetap saja kita tidak bisa
menerima dalam penshahihan sanad di sebabkan adanya ketidak jelasan dan
kelabilan ( الْجَهَالَةُ
والِاضْطِرَابُ ). Kelabilan Abu Ishaq di sanad ini sangat
nampak jelas tidak bisa dipungkiri . Wallahu a’lam bish showaaab .
APAKAH
riwayat Syu’bah (jalur kedua) dapat menguatkan riwayat Ats-Tsauriy dan Zuhair
(jalur pertama) – sehingga dapat disimpulkan bahwa perawi mubham dalam riwayat
Syu’bah adalah ‘Abdurrahmaan bin Sa’d ?.
JAWABNYA
: Tidak, dengan sebab :
1]. Riwayat
Ats-Tsauriy tidak shahih hingga ‘Abdurrahmaan karena ‘an’anah Abu
Ishaaq, sedangkan riwayat Syu’bah shahih hingga
perawi mubham tersebut. Atau dengan kalimat singkat : Riwayat Syu’bah
lebih shahih hingga tingkatan syaikh-nya Abu Ishaaq daripada riwayat
Ats-Tsauriy.
2].
Jalur riwayat ketiga dan keempat merupakan qarinah tambahan adanya
idlthiraab dalam periwayatan Abu Ishaaq.
Selain
itu, matan riwayat tersebut juga mengandung nakarah dengan adanya
permintaan doa kepada selain Allah ta’ala ketika tertimpa musibah.
Hal ini bertentangan dengan firman Allah ta’ala :
﴿أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ﴾
“Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia)
sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat
sedikitlah kamu mengingati (Nya)” [QS. An-Nam : 62].
KESIMPULANNYA :
Hadits
ini Dho’if. Asy-Syeikh Al-Albaaniy rahimahullah melemahkan atsar Ibnu
Umar ini dalam Dla’iif Al-Adabil-Mufrad hal. 87.
===
BANTAHAN KE TIGA :
BERKAITAN DENGAN DERAJAT
KESHAHIHAN ATSAR IBNU ‘ABBAAS
Atsar
ini diriwayatkan Ibnu Sinny dalam (عَمَلُ
الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ)
no.169 , dia berkata :
Telah bercerita kepada kami Ja’far bin
‘Isa Abu Ahmad, telah bercerita kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Rouh, telah
bercerita kepada kami Salam bin Sulaiman, telah bercerita kepada kami Ghoyyats
bin Ibrahim, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Mujahid, dari Ibnu
Abbaas.
Dia berkata:
خَدِرَتْ
رِجْلُ رَجُلٍ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: اذْكُرْ أَحَبَّ
النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، فَذَهَبَ خَدَرُهُ.
Telah mengalami kram kaki seorang pria
disisi Ibnu ‘Abbaas , maka Ibnu ‘Abbas berkata : “ Ingat-ingatlah orang yang
paling kamu cintai , maka dia berkata : “ Muhammad “. Maka hilanglah rasa
kramnya “.
Riwayat ini lemah karena terdapat
Ghoyyats bin Ibrahim . Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang dia : “orang-orang
meninggalkan haditsnya”. Dan Imam Bukhori juga berkata : “ Mereka meninggalkannya”.
Ditambah lagi masih ada beberapa perawi yang lemah . ( Lihat: مِيزَانُ
الِاعْتِدَالِ 5/406)
“Ghiyats bin Ibrahim” adalah seorang pendusta. “Ia biasa
memalsukan hadits.”
(Lihat: Lisan al-Mizan, 4/490; Al-Kamil karya Ibnu ‘Adi, 6/2036.)
Syeikh
Soleh ‘Aalu asy-Syeikh dalam kitabnya (هٰذِهِ
مَفَاهِيمُنَا)
hal. 45-46 berkata :
"وَفِي إِسْنَادِهِ: غِيَاثُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ كَذَّبُوهُ. قَالَ ابْنُ مَعِينٍ: كَذَّابٌ خَبِيثٌ. وَلَفْظُهُ فِي
تَذْكِرَةِ (مُحَمَّدًا) مُجَرَّدٌ مِنْ حَرْفِ النِّدَاءِ. فَلَا حُجَّةَ
فِيهِ"..
“Di dalam sanadnya terdapat Ghoyyaats bin Ibrahim, mereka
menganggapnya pendusta.
Ibnu Ma’iin berkata: Dia pendusta busuk.
Dan dalam “تَذْكِرَةُ“ lafadznya (مُحَمَّدٌ) tanpa adanya (يَا) huruf nida, maka jika demikian tidak ada hujjah di dalam nya”.
Atsar ini di dhoifkan pula oleh Sheikh
al-Albaany dalam (ضَعِيفٌ الأَدَبُ المُفْرَدُ) hal. Dan Syeikh Bakr Abu Zaid dalam (تَصْحِيحُ
الدُّعَاءِ) hal. 362 .
SELESAI AL-HAMDULILLAAH ,
SEMOGA BERMANFAAT
وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
****
ABU HAITSAM FAKHRY
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
[1]) Imam an-Nawawi mengisyaratkan kepada Sabda Nabi ﷺ :
(( إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي
وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللَّهُ بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي )).
“Jika telinga seseorang di antara kalian
berdengung, sebutlah aku dan bershalawatlah kepadadu, dan bacalah; (Semoga Allah mengingatnya dengan kebaikan bagi orang yang mengingatku).” ( HR. Thabrani dll )
Ibnu
Qoyyim , Ibnu Muflih , Syeikh al-Baany dan Syeikh bin Baaz berkata : Hadits ini
palsu .
Berikut
ini uraian takhrijnya :
Ibnu
‘Allan berkata dalam Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah Syarh al-Adzkar an-Nawawiyyah
(jilid 6, hlm. 198): As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaul al-Badi‘:
رَوَاهُ
الطَّبَرَانِيُّ، وَابْنُ عَدِيٍّ، وَابْنُ السُّنِّيِّ فِي الْيَوْمِ
وَاللَّيْلَةِ، وَالْخَرَائِطِيُّ فِي الْمَكَارِمِ، وَأَبُو مُوسَى
الْمَدِينِيُّ، وَابْنُ بَشْكُوَالٍ، وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ.
“Hadits
ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Ibnu ‘Adi, dan Ibnu as-Sunni dalam Al-Yaum
wa al-Lailah, al-Khara’ithi dalam Al-Makarim, Abu Musa al-Madini, dan Ibnu
Basyskuwal. Sanadnya lemah.”
Dalam
salah satu riwayat mereka disebutkan:
«إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ
فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي
بِخَيْرٍ».
“Apabila
telinga salah seorang di antara kalian berdenging, hendaknya ia mengingatku,
bershalawat kepadaku, dan mengucapkan: ‘Semoga Allah menyebut orang yang
mengingatku dengan kebaikan.’”
Saya
berkata: Ini adalah riwayat Ibnu as-Sunni.
As-Sakhawi
berkata:
وَقَدْ
أَخْرَجَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ، وَمِنْ طَرِيقِهِ أَبُو الْيَمَنِ
بْنُ عَسَاكِرَ، وَذَلِكَ عَجِيبٌ، لِأَنَّ إِسْنَادَهُ غَرِيبٌ؛ كَمَا صَرَّحَ
بِهِ أَبُو الْيَمَنِ وَغَيْرُهُ. وَفِي ثُبُوتِهِ نَظَرٌ، وَقَدْ قَالَ أَبُو
جَعْفَرٍ الْعُقَيْلِيُّ: إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ. اهـ.
“Ibnu
Khuzaimah juga meriwayatkannya dalam Shahih-nya, dan melalui jalurnya Abu
al-Yaman bin ‘Asakir meriwayatkannya. Hal ini mengherankan, karena sanadnya
gharib, sebagaimana ditegaskan oleh Abu al-Yaman dan ulama lainnya. Keabsahan
riwayat ini perlu ditinjau. Abu Ja‘far al-‘Uqaili bahkan berkata bahwa hadits
ini tidak memiliki dasar.”
Hadits
ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim, sebagaimana dinukil oleh
al-Qasthalani dalam Masalik al-Hunafa.
Ibnu
Hajar al-Haitami berkata dalam Ad-Durr al-Mandhud: “Hadits ini diriwayatkan
oleh sejumlah ulama dengan sanad yang lemah.”
Adapun
pencantuman hadits ini oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya merupakan sesuatu
yang mengherankan, karena sanadnya gharib. Bahkan al-‘Uqaili berkata, “Hadits
ini tidak memiliki dasar.” Selesai kutipan.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Hadits
ini diriwayatkan melalui Muhammad bin ‘Abdullah bin Abi Rafi‘, dan terdapat
perbedaan riwayat darinya:
Ma‘mar
bin Muhammad bin ‘Ubaidillah meriwayatkannya dari ayahnya, Muhammad, dari
ayahnya, ‘Ubaidillah, dari ayahnya, Abu Rafi‘, secara marfu‘.
Hibban
bin ‘Ali menyelisihinya dalam riwayat yang masyhur darinya. Ia meriwayatkannya
dari Muhammad bin ‘Ubaidillah, dari saudaranya, ‘Abdullah, dari ayahnya, dari
kakeknya, secara marfu‘.
Diriwayatkan
pula dari Hibban tanpa menyebutkan “dari saudaranya”, sehingga sesuai dengan
riwayat Ma‘mar.
Mandal
bin ‘Ali juga meriwayatkannya dari Muhammad, tanpa menyebutkan “dari
saudaranya”.
Adapun
riwayat Ma‘mar:
Riwayat
ini diriwayatkan oleh al-Bazzar (9/328), ar-Ruyani (1/473), dan Ibnu Khuzaimah
dalam Shahih-nya (sebagaimana terdapat dalam Jala’ al-Afham, hlm. 98; Tafsir
Ibnu Katsir, 3/517; Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, 3/134, dan selainnya)—dan
melalui jalurnya diriwayatkan oleh Abu al-Yaman bin ‘Asakir (sebagaimana
terdapat dalam Al-Qaul al-Badi‘, hlm. 323)—serta al-‘Uqaili (4/261),
ath-Thabrani dalam Al-Ausath (9/92) dan Ash-Shaghir (2/245), Ibnu ‘Adi (6/450),
Ibnu al-Jauzi dalam Al-Maudhu‘at (3/76), dan asy-Syajari dalam Al-Amali
(1/129), melalui jalur Ma‘mar, dari ayahnya, dari ayahnya, dari ayahnya secara
marfu‘.
Ma‘mar
adalah perawi yang sangat lemah, khususnya dalam riwayat yang ia sampaikan dari
ayahnya. Ayahnya juga sama lemahnya! Al-‘Uqaili berkata tentang Ma‘mar,
“Haditsnya tidak memiliki riwayat pendukung dan tidak dikenal kecuali melalui
jalurnya.” Ath-Thabrani berkata, “Sesungguhnya Ma‘mar meriwayatkannya secara
tafarrud (sendirian).” Ibnu ‘Adi berkata, “Sesungguhnya Ma‘mar tidak memiliki
riwayat pendukung dalam hadits ini.” Adz-Dzahabi menyetujuinya dalam Al-Mizan
(4/157). Abu al-Yaman dan ulama lainnya berkata, “Sanadnya gharib.”
Adapun
jalur Hibban:
Hadits
ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Ash-Shalah ‘ala an-Nabi ﷺ (81), al-‘Uqaili (4/1263, tahqiq Hamdi as-Salafi; sanadnya
tidak tercantum dalam cetakan Qal‘aji, 4/104), al-Hakim at-Tirmidzi dalam
Nawadir al-Ushul (3/241/A, naskah asli 283), ath-Thabrani dalam Al-Kabir
(1/321), Ibnu as-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (166), Ibnu ‘Adi
(6/113), al-Baihaqi dalam Ad-Da‘awat al-Kabir (439 dan 440), Ibnu ‘Asakir
(6/415), as-Salafi dalam Al-Masyikhah al-Baghdadiyyah (35/280/A), Ibnu
Basyskuwal dalam Al-Qurbah (96), Abu Musa al-Madini dalam Al-Latha’if (890),
dan Ibnu al-Jauzi dalam Al-Maudhu‘at (3/76), melalui jalur Hibban bin ‘Ali,
dari Muhammad bin ‘Ubaidillah bin Abi Rafi‘, dari saudaranya, ‘Abdullah bin
‘Ubaidillah bin Abi Rafi‘, dari ayahnya, dari kakeknya.
Inilah
jalur yang masyhur dari Hibban.
Hadits
ini juga diriwayatkan oleh Abu Ya‘la (sebagaimana terdapat dalam Jami‘
al-Masanid karya Ibnu Katsir, 9/521, dan Al-Mathalib al-‘Aliyah, 13/895), Ibnu
Hibban dalam Al-Majruhin (2/250), dan Ibnu Basyskuwal dalam Al-Qurbah (95),
melalui jalur Hibban, dari Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam jalur
ini tidak disebutkan ‘Abdullah, saudara Muhammad.
Al-Khara’ithi
juga meriwayatkannya dalam Makarim al-Akhlaq (545, Al-Muntaqa), melalui jalur
al-Haitsam bin Jamil—dan ia adalah perawi yang tsiqah—dari Hibban dan Mandal,
keduanya putra ‘Ali, keduanya dari Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam
jalur ini juga tidak disebutkan ‘Abdullah, saudara Muhammad.
Hibban
dan Mandal, keduanya adalah perawi yang lemah. Guru keduanya adalah perawi yang
matruk, dan kelemahannya semakin berat karena ia meriwayatkan dari ayahnya.
Adapun saudaranya, ‘Abdullah, adalah seorang yang majhul al-hal (tidak
diketahui keadaannya).
Oleh
karena itu, hadits ini berdasarkan kedua sanad tersebut adalah maudhu‘ (palsu).
Hadits
ini dinisbatkan oleh as-Sakhawi dalam Al-Qaul al-Badi‘ kepada al-Khurasani
dalam haditsnya yang kedelapan.
Di
antara penilaian para ulama hadits terhadap hadits ini:
Al-‘Uqaili
berkata, “Hadits ini tidak memiliki dasar.” Ibnu Hibban dan Ibnu ‘Adi
mengingkarinya.
Al-Baihaqi berkata, “Ini adalah sanad yang lemah.”
Ibnu
Thahir juga
melemahkannya dalam Dzakhirah al-Huffazh (1/336) dan At-Tadzkirah (66).
Ibnu
al-Jauzi
berkata, “Ini adalah hadits maudhu‘ (palsu).”
Adz-Dzahabi memasukkannya dalam Al-Mizan (3/645) sebagai
salah satu hadits munkar Muhammad bin ‘Ubaidillah. Beliau juga melemahkannya
dalam Talkhish al-Maudhu‘at (737).
Ibnu
al-Qayyim memasukkannya
dalam Al-Manar al-Munif (25) sebagai salah satu hadits maudhu‘ (palsu), dan
berkata, “Setiap hadits tentang telinga berdenging adalah dusta.”
Ibnu
Muflih berkata
dalam Al-Adab asy-Syar‘iyyah (2/318), “Riwayat ini maudhu‘ (palsu) atau lemah.”
Ibnu
Katsir berkata,
“Jika riwayat tersebut benar dalam masalah ini.” Beliau juga berkata, “Sanadnya
gharib dan keabsahannya perlu ditinjau.”
Al-‘Iraqi berkata dalam Takhrij al-Ihya’ (1065), “Sanadnya
lemah.”
As-Sakhawi berkata dalam Al-Maqashid al-Hasanah (70),
“Sanadnya lemah. Bahkan al-‘Uqaili berkata, ‘Hadits ini tidak memiliki dasar.’”
Beliau
juga melemahkannya dalam Al-Qaul al-Badi‘ (323) dengan pernyataan yang semakna,
dan berkata, “Keabsahannya perlu ditinjau.”
Al-Qasthalani juga melemahkannya dalam Masalik al-Hunafa
(419), demikian pula ulama muta’akhirin lainnya.
Al-Albani berkata dalam Adh-Dha‘ifah (2631), “Maudhu‘
(palsu).”
Namun,
al-Haitsemi memberikan penilaian yang sangat berbeda. Ia berkata dalam Majma‘
az-Zawa’id (10/138), “Sanad ath-Thabrani hasan!”
Adapun
pencantuman hadits ini oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, maka hal itu tidak mengharuskan bahwa
beliau menshahihkannya.
Betapa
banyak hadits lemah yang beliau cantumkan dalam Shahih-nya dengan memberikan
peringatan tentang kelemahannya dan menjelaskan ‘illat-nya.
Saya
tidak menemukan hadits ini dalam edisi cetak kitab tersebut maupun dalam Ithaf
al-Maharah karya Ibnu Hajar. Oleh karena itu, siapa yang mengklaim bahwa Ibnu
Khuzaimah menshahihkan hadits ini, hendaknya ia memberikan bukti.
Saya
menyebutkan hal ini karena sebagian ulama muta’akhirin—yang bukan termasuk ahli
hadits yang mendalam dalam penelitian—terpedaya dengan pencantuman hadits ini
oleh Ibnu Khuzaimah dan perkataan al-Haitsami, sehingga mereka menguatkan
hadits tersebut. Di antara mereka adalah al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (1/399)
dan At-Taisir (1/114), al-‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ (1/110), dan selain
mereka. Oleh karena itu, hal ini perlu dijelaskan. Wallahu a‘lam.
[2]) Tahdzib al-Kamal — al-Mizzi, jilid 17, hlm. 143:
Abu al-Hasan Ibnu al-Bukhari
dan Zainab binti Makki telah mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: Abu
Hafsh bin Thabarzadz telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Al-Hafizh Abu
al-Barakat al-Anmathi telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abu Muhammad
ash-Sharifini telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abu al-Qasim bin
Hababah telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abdullah bin Muhammad
al-Baghawi telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ali bin al-Ja‘d telah
menceritakan kepada kami. Ia berkata: Zuhair telah mengabarkan kepada kami,
dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، مَا
لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَاهُنَا. قَالَ: قُلْتُ: ادْعُ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَانْبَسَطَتْ.
“Aku pernah berada di sisi
Abdullah bin Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai
Abdurrahman, apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya berkumpul
di bagian sini.’ Ia berkata: Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling engkau
cintai.’ Ia pun berkata, ‘Wahai Muhammad,’ maka kakinya kembali terbentang.”
Musnad Ibnu al-Ja‘d — Ali bin al-Ja‘d bin Ubaid,
hlm. 369:
Ali telah menceritakan kepada
kami. Ia berkata: Zuhair telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari
Amr bin al-Harits al-Hadli, saudara Juwayriyah binti al-Harits, ia berkata:
لَا وَاللَّهِ، مَا تَرَكَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عِنْدَ مَوْتِهِ دِينَارًا، ابْنَ دِرْهَمٍ، ابْنَ عَبْدٍ،
ابْنَ أَمَةٍ، ابْنَ شَيْءٍ، إِلَّا بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ، وَسِلَاحَهُ،
وَأَرْضًا تَرَكَهَا صَدَقَةً.
“Tidak, demi Allah! Rasulullah
ﷺ ketika
wafat tidak meninggalkan satu dinar pun, tidak pula dirham, budak laki-laki,
budak perempuan, atau sesuatu apa pun, kecuali baghal putih beliau, senjata
beliau, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah.”
Dengan sanad yang sama, dari Abu
Ishaq, dari Hubairah bin Yarim, ia berkata:
رَأَيْتُ قَيْسَ بْنَ سَعْدِ
بْنِ عُبَادَةَ عَلَى شَطِّ دِجْلَةَ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْنِ لَهُ
مِنْ أَرَنْدَجٍ، فَرَأَيْتُ أَثَرَ أَصَابِعِهِ عَلَى الْخُفَّيْنِ.
“Aku melihat Qais bin Sa‘d bin
Ubadah berada di tepi Sungai Tigris. Ia berwudhu dan mengusap kedua khuf
miliknya yang terbuat dari arandaj. Aku melihat bekas jari-jarinya pada kedua
khuf tersebut.”
Dan dengan sanad yang sama,
dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ،
مَا لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَا هُنَا. قُلْتُ: ادْعُ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَانْبَسَطَتْ.
“Aku pernah berada di sisi
Abdullah bin Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai
Abu Abdurrahman, apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya
berkumpul di bagian sini.’ Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling engkau
cintai.’ Ia berkata, ‘Wahai Muhammad,’ maka kakinya kembali terbentang.”
Tahdzib al-Kamal — al-Mizzi, jilid 17, hlm. 143:
Abu al-Hasan Ibnu al-Bukhari
dan Zainab binti Makki telah mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: Abu
Hafsh bin Thabarzadz telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Al-Hafizh Abu
al-Barakat al-Anmathi telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abu Muhammad
ash-Sharifini telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abu al-Qasim bin
Hababah telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Abdullah bin Muhammad al-Baghawi
telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ali bin al-Ja‘d telah menceritakan
kepada kami. Ia berkata: Zuhair telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq,
dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، مَا
لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَاهُنَا. قَالَ: قُلْتُ: ادْعُ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَانْبَسَطَتْ.
“Aku pernah berada di sisi
Abdullah bin Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai
Abdurrahman, apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya berkumpul
di bagian sini.’ Ia berkata: Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling engkau
cintai.’ Ia pun berkata, ‘Wahai Muhammad,’ maka kakinya kembali terbentang.”
Musnad Ibnu al-Ja‘d — Ali bin al-Ja‘d bin Ubaid,
hlm. 369:
Ali telah menceritakan kepada
kami. Ia berkata: Zuhair telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari
Amr bin al-Harits al-Hadli, saudara Juwayriyah binti al-Harits, ia berkata:
لَا وَاللَّهِ، مَا تَرَكَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عِنْدَ مَوْتِهِ دِينَارًا ابْنَ دِرْهَمٍ ابْنَ عَبْدٍ ابْنَ
أَمَةٍ ابْنَ شَيْءٍ إِلَّا بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ وَسِلَاحَهُ وَأَرْضًا
تَرَكَهَا صَدَقَةً.
“Tidak, demi Allah! Rasulullah
ﷺ ketika
wafat tidak meninggalkan satu dinar pun, tidak pula dirham, budak laki-laki,
budak perempuan, atau sesuatu apa pun, kecuali baghal putih beliau, senjata
beliau, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah.”
Dengan sanad yang sama, dari
Abu Ishaq, dari Hubairah bin Yarim, ia berkata:
رَأَيْتُ قَيْسَ بْنَ سَعْدِ
بْنِ عُبَادَةَ عَلَى شَطِّ دِجْلَةَ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْنِ لَهُ
مِنْ أَرَنْدَجٍ، فَرَأَيْتُ أَثَرَ أَصَابِعِهِ عَلَى الْخُفَّيْنِ.
“Aku melihat Qais bin Sa‘d bin
Ubadah berada di tepi Sungai Tigris. Ia berwudhu dan mengusap kedua khuf
miliknya yang terbuat dari arandaj. Aku melihat bekas jari-jarinya pada kedua
khuf tersebut.”
Dan dengan sanad yang sama,
dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ،
مَا لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَا هُنَا. قُلْتُ: ادْعُ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ فَانْبَسَطَتْ.
“Aku pernah berada di sisi
Abdullah bin Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai
Abu Abdurrahman, apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya
berkumpul di bagian sini.’ Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling engkau
cintai.’ Ia berkata, ‘Wahai Muhammad,’ maka kakinya kembali terbentang.”
Tarikh Madinah Dimasyq — Ibnu Asakir, jilid 31,
hlm. 177:
Abu Abdullah Muhammad bin
Thalhah bin Ali ar-Razi dan Abu al-Qasim Ismail bin Ahmad telah mengabarkan
kepada kami. Keduanya berkata: Abu Muhammad ash-Sharifini telah mengabarkan
kepada kami. Ia berkata: Abu al-Qasim bin Hababah telah mengabarkan kepada
kami. Ia berkata: Abu al-Qasim al-Baghawi telah menceritakan kepada kami. Ia
berkata: Ali bin al-Ja‘d telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Zuhair telah
mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa‘d, ia
berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ، فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ،
مَا لِرِجْلِكَ؟ قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَا هُنَا. قَالَ: قُلْتُ: ادْعُ
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَانْبَسَطَتْ.
“Aku pernah berada di sisi
Abdullah bin Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai
Abu Abdurrahman, apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya
berkumpul di bagian sini.’ Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling engkau
cintai.’ Ia pun berkata, ‘Wahai Muhammad,’ maka kakinya kembali terbentang.”
Ath-Thabaqat al-Kubra — Muhammad bin Sa‘d, jilid 4,
hlm. 154:
Ia berkata: Al-Fadhl bin
Dukain telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Sufyan dan Zuhair bin
Mu‘awiyah telah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin
Sa‘d, ia berkata:
كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ،
فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا لِرِجْلِكَ؟
قَالَ: اجْتَمَعَ عَصَبُهَا مِنْ هَاهُنَا.
هَذَا فِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ
وَحْدَهُ. قَالَ: قُلْتُ: ادْعُ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ،
فَبَسَطَهَا.
“Aku pernah berada di sisi
Ibnu Umar. Tiba-tiba kakinya mati rasa. Aku berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman,
apa yang terjadi dengan kakimu?’ Ia menjawab, ‘Sarafnya berkumpul di bagian
sini.’”
Ini terdapat dalam riwayat
Zuhair secara khusus. Ia berkata: “Aku berkata, ‘Panggillah orang yang paling
engkau cintai.’ Ia berkata, ‘Wahai Muhammad,’ lalu ia membentangkan kakinya.”
[3] ) رواه
البخاري في " الأدب المفرد " (رقم/964)، والدارقطني في " العلل
" (13/242) عن سفيان الثوري باللفظ السابق ، إلا أنه عند الدارقطني بلفظ :
" يا محمد ".
[4] ) Sufyaan bin
Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauriy , Abu ‘Abdillah Al-Kuufiy ; seorang yang tsiqoh,
hafidzh, faqiih, ‘aabid, imam,
lagi hujjah. Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 97 H, dan
wafat tahun 161 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 394 no. 2458].
[5] ) Zuhair bin
Mu’aawiyyah bin Hudaij bin Ar-Ruhail bin Zuhair bin Khaitsamah, Abu
Khaitsamah Al-Ju’fiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat,
kecuali riwayatnya dari Abu Ishaaq adalah dla’iif, karena ia mendengar
riwayat darinya setelah ikhtilath-nya (di akhir usia Abu Ishaaq).
Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 100 H, dan wafat tahun 172 H/173
H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy,
dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 342 no. 2062].
[6] ) ‘Abdurrahman bin
Sa’d Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy A-Kuufiy, maulaa Ibni ‘Umar ; dikatakan Ibnu Hajar
: “Telah ditsiqahkan oleh An-Nasaa’iy”. Termasukthabaqah ke-3. Dipakai
oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad [Taqriibut-Tahdziib, hal.
580 no. 3902].
[7] ) Syu’bah bin
Al-Hajjaaj bin Al-Ward Al-‘Atakiy Al-Azdi, Abu Busthaam Al-Waasithiy; seorang
yang tsiqah, haafidh, mutqin, dan disebut Ats-Tsauriy
sebagai amiirul-mukminiin fil-hadiits. Termasuk thabaqah ke-7,
wafat tahun 160 H di Bashrah. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud,
At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 436 no.
2805].
[8] ) ‘Affaan bin
Muslim bin ‘Abdillah Al-Baahiliy, Abu ‘Utsmaan Ash-Shaffaar Al-Bashriy; seorang
yang tsiqah lagi tsabat, namun kadang ragu. Termasuk thabaqah ke-10,
wafat setelah tahun 219 H di Baghdaad. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu
Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal.
681 no. 4659].
[9] ) Abu
Syu’bah Al-Kuufiy Al-Muzanniy maulaa Suwaid bin Muqarran Al-Muzanniy;
seorang yang maqbuul. Termasuk thabaqah ke-3. Dipakai
Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, dan An-Nasaa’iy
[Taqriibut-Tahdziib, hal. 1159 no. 8221].
[10] ) Para ulama ahli hadits berselisih tentang ikhtilathnya Abu
Ishaq. Dalam hal ini al-Hafidz adz-Dzahabi berkata dalam (مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ) 3/270 :
" عَمْرُو بْنُ عَبْدِاللهِ أَبُوْ إِسْحَاقَ السَّبِيْعِى
مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِيْنَ بِالْكُوْفَةِ وَأَثْبَاتِهِمْ إِلاَّ أَنَّهُ
شَاخَ وَنَسِيَ وَلَمْ يَخْتَلِطْ "
"Amr bin Abdillah, Abu Ishaq
as-Sabi'i. Salahsatu imam tabi'in di Kufah dan yang paling kokoh. Hanya saja
dia menjadi tua dan lupa, tapi tidak ikhtilath" .
Dan dalam kitabnya (الرُّوَاةُ الثِّقَاتُ الْمُتَكَلَّمُ
فِيهِمْ بِمَا لَا يُوجِبُ رَدَّهُمْ) hal. 203 adz-Dahaby berkata :
" أَبُوْ اِسْحَاقَ السَّبِيْعِي ثِقَةٌ إِمَامٌ لَكِنَّهُ
كَبُرَ وَسَاءَ حِفْظُهُ وَمَا اخْتَلَطَ "
"Abu Ishaq as-Sabi'i adalah terpercaya dan imam. Hanya saja
dia menajdi tua dan hafalannya buruk, tapi tidak ikhtilath" .
al-Hafidz al-'Ala'i (الْعَلَائِيُّ) dalam kitabnya ( الْمُخْتَلِطِينَ hal. 93 ) berkata:
عَمْرُو بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَبُو إِسْحَاقَ
السَّبِيعِيُّ: أَحَدُ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ الْمُتَّفَقُ عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِهِ.
وَقَالَ يَعْقُوبُ الْفَسَوِيُّ: قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: كَانَ قَدِ اخْتَلَطَ.
وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: سَمِعْتُ حُمَيْدَ الرُّؤَاسِيَّ يَقُولُ: إِنَّمَا
سَمِعَ ابْنُ عُيَيْنَةَ مِنْ أَبِي إِسْحَاقَ بَعْدَ مَا اخْتَلَطَ. وَكَذَلِكَ قَالَ
أَبُو زُرْعَةَ فِي أَبِي خَيْثَمَةَ زُهَيْرِ بْنِ مُعَاوِيَةَ: إِنَّهُ سَمِعَ مِنْ
أَبِي إِسْحَاقَ بَعْدَ الِاخْتِلَاطِ. وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: إِنَّمَا أَصْحَابُ
أَبِي إِسْحَاقَ شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ.
قُلْتُ: وَمِثْلُهُمْ أَيْضًا إِسْرَائِيلُ
بْنُ يُونُسَ وَأَقْرَانُهُ وَلَمْ يَعْتَبِرْ أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ مَا
ذُكِرَ مِنِ اخْتِلاَطِ أَبِي إِسْحَاقَ اِحْتَجُّوْا بِهِ مُطْلَقًا وَذَلِكَ
يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَخْتَلِطْ فِي شَيْءٍ مِنْ حَدِيْثِهِ ".
"Amr bin Abdullah Abu Ishaq al-Sabi'i adalah salah satu
imam tabi'in yang disepakati untuk dijadikan hujjah. Dan Ya’qub al-Fasawi
berkata : “ sebagian ahlul ilmi berkata : Dia sungguh telah ikhtalath “. Dan Yahya bin Ma’in berkata : aku
mendengar Humeid ar-Ruaasy berkata : sesungguh nya Ibnu ‘Uyaynah itu hanya
mendengar dari Abu Ishaq ketika dia telah ikhtalath . Begitu juga Abu Zur’ah
beliau berkata tentang Abu Khoitsamah Zuheir bin Mu’aawiyah : “ Sesungguh dia
mendengar dari Abu Ishaq setelah dia ikhtalath “.
Dan Yahya bin Ma’in berkata: “
Sesungguhnya sahabat-sahabat Abu Ishaq itu adalah Syu’bah dan Sufyan ats-Tsaury
“.
Aku katakan : “ Dan ada yang
semisal mereka juga yaitu Israaiil bin Yunus dan orang-orang yang sejajar dengannya tidak ada satupun para
imam yang mempermasalahkan ikhtilathnya Abu Ishaq. Mereka berhujjah dengan Abu
Ishaq. Dan ini menunjukkan bahwa ia tidak mengalami ikhtilath sedikitpun dalam
hadisnya" (al-Mukhtalithin 93)
Jawaban atas nukilan perkataan
adz-Dzahabi :
Ketika
adz-Dzahabi menafikan bahwa as-Sabi‘i mengalami ikhtilath, ia tetap menetapkan
bahwa hafalannya memburuk. Ia berkata:
«لَمَّا وَقَعَ فِي هَرَمِ الشَّيْخُوخَةِ نَقَصَ حِفْظُهُ وَسَاءَ
ذِهْنُهُ وَمَا اخْتَلَطَ».
“Ketika ia
memasuki usia sangat tua, hafalannya berkurang, daya pikirnya memburuk, tetapi
ia tidak mengalami ikhtilath.”
Dalam redaksi lain disebutkan:
«شَاخَ وَنَسِيَ وَلَمْ يَخْتَلِطْ، وَقَدْ تَغَيَّرَ قَلِيلًا».
“Ia telah lanjut usia dan banyak lupa,
tetapi tidak mengalami ikhtilath. Ia hanya mengalami sedikit perubahan.”
Kemudian ia menukil dari Imam al-Fasawi
bahwa sebagian ulama berkata:
«كَانَ قَدِ اخْتَلَطَ، وَإِنَّمَا تَرَكُوهُ مَعَ ابْنِ عُيَيْنَةَ
لِاخْتِلَاطِهِ».
“Ia memang telah mengalami ikhtilath.
Mereka meninggalkan periwayatan darinya bersama Ibnu ‘Uyainah karena ikhtilath
yang dialaminya.”
(Lihat: Mizan al-I‘tidal,
biografi no. 5335 dan 6393.)
[11]
) انظر : تقريب التهذيب ( 639 ) ، ومقدمة فتح الباري ص 431 والاغتباط ص 87 ترجمة رقم ( 85 ) ط : دار الكتاب العربي، والكواكب النيرات في معرفة من اختلط من الرواة الثقاة ص 84 ط : دار الكتب العلمية.
[12]
) انظر : أحوال الرجال 79 ( 102 (
0 Komentar