SEBAB PALSUNYA HADIST AISYAH RADHIYALLAHU 'ANHA:
“BAHWA NABI ﷺ ISRA & MI’RAJ HANYA DENGAN RUH-NYA SAJA”?
Di Tulis oleh : Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Atsar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini
diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq yang mengatakan:
Sebagian keluarga Abu Bakar
mengatakan kepada saya : bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan:
«مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ،
وَلَكِنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِرُوحِهِ»
“Tubuh Rasulullah ﷺ tidak hilang , akan tetapi Allah SWT meng isra kan nya dengan ruhnya“.
Sebagaiman disebutkan dalam “Al-Sirah Al-Nabawiyyah” karya Ibnu Hisyaam (2/46)
Lewat jalurnya ini Ibnu Jarir al-Thobari meriwayatkannya dalam tafsirnya no. (22175)
(14/445), dan juga al-Qoodli ‘Iyyaadl menyebutkannya dalam “الشِّفَا” (1/255).
Dan Ini adalah atsar yang DHOIF yang
tidak terbukti dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahkan sebagian para ulama telah
menghukumi bahwa itu PALSU.
Al-Qadhi
Iyadh berkata dalam Asy-Syifa' (1/255):
أَمَّا قَوْلُ عَائِشَةَ:
«مَا فُقِدَ جَسَدُهُ»، فَعَائِشَةُ لَمْ تُحَدِّثْ عَنْ مُشَاهَدَةٍ؛ لِأَنَّهَا لَمْ
تَكُنْ حِينَئِذٍ زَوْجَةً، وَلَا فِي سِنٍّ مَنْ يَضْبِطُ، وَلَعَلَّهَا لَمْ تَكُنْ
وُلِدَتْ بَعْدُ...
"Adapun
perkataan Aisyah, 'Jasad beliau tidak hilang,' maka Aisyah tidak
menceritakannya berdasarkan penyaksian langsung, karena pada saat itu beliau
belum menjadi istri Nabi ﷺ, dan juga belum berada pada usia yang memungkinkan untuk
mengingat dan memahami peristiwa tersebut. Bahkan boleh jadi saat itu beliau
belum lahir."
Beliau
juga berkata:
وَأَيْضًا فَلَيْسَ
حَدِيثُ عَائِشَةَ بِالثَّابِتِ، وَالْأَحَادِيثُ الْأُخْرَى أَثْبَتُ.
"Selain
itu, hadits Aisyah ini tidak sahih, sedangkan hadits-hadits lain lebih sahih
dan lebih kuat." (Asy-Syifa', 1: 256).
Al-Kautsari
berkata:
وَأَمَّا مَا يُرْوَى
عَنْ عَائِشَةَ مِنْ قَوْلِهَا: «مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، لَكِنَّهُ أُسْرِيَ
بِرُوحِهِ»، فَغَيْرُ ثَابِتٍ عَنْهَا الْبَتَّةَ؛ لِأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ
إِسْحَاقَ بِلَفْظِ: «حَدَّثَنِي بَعْضُ آلِ بَكْرٍ»، فَمَنْ هُوَ هَذَا؟ وَأَيْنَ
ابْنُ إِسْحَاقَ الْمُتَوَفَّى فِي مُنْتَصَفِ الْقَرْنِ الثَّانِي الْهِجْرِيِّ مِنْ
إِدْرَاكِ زَمَنِ عَائِشَةَ؟
"Adapun
riwayat yang dinisbatkan kepada Aisyah bahwa beliau berkata, 'Jasad Rasulullah ﷺ
tidak hilang, tetapi yang diperjalankan hanyalah ruh beliau,' maka riwayat itu
sama sekali tidak sahih dari Aisyah.
Sebab,
riwayat tersebut berasal dari Ibnu Ishaq dengan lafaz, 'Telah menceritakan
kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar.' Siapakah orang itu?
Dan
bagaimana mungkin Ibnu Ishaq, yang wafat pada pertengahan abad kedua Hijriah,
dapat menjangkau masa Aisyah?" (Lihat: Asy-Syifa', 1/245 dan seterusnya;
As-Sirah karya Adz-Dzahabi, hlm. 166, catatan kaki).
Prof. DR. Sa’ad al-Marshofi dalam al-Jami’ ash-Shohih Fii as-Siirah an-Nabawiyah 4/1527 mengatakan:
قُلْتُ: هَذَا غَيْرُ ثَابِتٍ، وَإِنْ صَرَّحَ ابْنُ إِسْحَاقَ بِالسَّمَاعِ، فَسَنَدُهُ مُنْقَطِعٌ (ابْنُ هِشَامٍ: ٢: ٤٦).
Saya berkata: Riwayat ini tidak sahih. Sekalipun Ibnu Ishaq secara tegas menyatakan bahwa ia mendengarnya secara langsung (sama'), sanadnya tetap terputus. (Ibnu Hisyam, 2: 46).
Az-Zarqani dalam
Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah 6/4 menyebutkan:
وَقَالَ ابْنُ دِحْيَةَ
فِي «التَّنْوِيرِ»: إِنَّهُ حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ عَلَيْهَا، وَقَالَ فِي «مِعْرَاجِهِ
الصَّغِيرِ»: قَالَ إِمَامُ الشَّافِعِيَّةِ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ: هَذَا
حَدِيثٌ لَا يَصِحُّ، وَإِنَّمَا وُضِعَ رَدًّا لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ!
Ibnu
Dihyah berkata dalam kitab At-Tanwir: "Riwayat ini adalah hadits palsu yang dinisbatkan kepada Aisyah.
Dan dia berkata dalam “مَعَارِجُ الصَّغِيرِ” : "Imam Syafi'i, Hakim Abu al-Abbas ibn Suraij, berkata: Hadits ini tidak shahih . Sebaliknya, hadits palsu ini sengaja dibuat sebagai bantahan terhadap hadits Shahih “. (Az-Zarqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah, 6/4).
Begitu pula Ash-Shoolihii dalam kitab
“Subul al-Huda wa ar-Rosyaad” (3/103), dia berkata:
«وَأَمَّا مَا يُعْزَى لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَلَمْ يَرِدْ بِسَنَدٍ يَصْلُحُ لِلْحُجَّةِ، بَلْ فِي سَنَدِهِ انْقِطَاعٌ وَرَاوٍ مَجْهُولٌ، كَمَا تَقَدَّمَ.
وَقَالَ أَبُو الْخَطَّابِ ابْنُ دِحْيَةَ فِي «التَّنْوِيرِ»: إِنَّهُ حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ عَلَيْهَا.
وَقَالَ فِي «مِعْرَاجِهِ الصَّغِيرِ»:
«قَالَ إِمَامُ الشَّافِعِيَّةِ الْقَاضِي أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ: هَذَا
حَدِيثٌ لَا يَصِحُّ، وَإِنَّمَا وُضِعَ رَدًّا لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ». اهـ.» انْتَهَى.
“Adapun riwayat yang dinisbatkan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, maka riwayat tersebut tidak datang melalui sanad yang layak dijadikan hujah. Bahkan, di dalam sanadnya terdapat keterputusan (inqitha') dan seorang perawi yang tidak dikenal (majhul), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Dan Abu Al-Khoththoob Bin Dihyah berkata dalam At-Tanwiir: Ini adalah hadits
yang palsu dengan mengatas namakannya .
Dan dia berkata pada “مَعَارِجُ الصَّغِيرِ” : "Imam Syafi'i,
Hakim Abu al-Abbas ibn Suraij, berkata: Hadits ini tidak shahih . Sebaliknya, hadits
palsu ini sengaja dibuat sebagai bantahan terhadap hadits Shahih “. (Kata-kata ash-Shoolihi berakhir)
Dalam penjelasan ini terdapat bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa peristiwa Isra' terjadi dalam mimpi.
Ibnu Abdil Barr berkata:
«وَإِنْكَارُ عَائِشَةَ الْإِسْرَاءَ بِجَسَدِهِ:
لَا يَصِحُّ عَنْهَا، وَلَا يَثْبُتُ قَوْلُهَا: (مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، وَلَكِنْ أُسْرِيَ بِرُوحِهِ).
وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ
عَنْهَا: (مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ)؛ وَهَذَا مِنَ
الْكَذِبِ الْوَاضِحِ؛ لِأَنَّ عَائِشَةَ لَمْ تَكُنْ وَقْتَ الْإِسْرَاءِ مَعَهُ،
وَإِنَّمَا ضَمَّهَا بَعْدَ ذَلِكَ بِسِنِينَ كَثِيرَةٍ بِالْمَدِينَةِ». انْتَهَى.
“Dan Penyangkalan Aisyah bahwa Isra
Miraj dengan tubuhnya : Itu tidak shahih darinya, dan tidak bisa dibuktikan
perkataannya :
«مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ،
وَلَكِنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِرُوحِهِ»
“Tubuh Rasulullah ﷺ tidak hilang , akan tetapi Allah SWT meng isra kan nya dengan ruhnya“.
Bahkan sebagian dari mereka
mengatakan tentang perkataan A’isyah radhiyallahu ‘anha :
“Jasad Rasulullah ﷺ tidak hilang malam itu“.
Ini adalah DUSTA YANG TERANG BENDERANG; Karena
Aisyah radhiyallahu ‘anha saat terjadi Isra Miraj belum bersama Nabi ﷺ . Sebaliknya, Nabi ﷺ berkumpul serumah dengan Aisyah setelah
beberapa tahun kemudian di Madinah “.
[Berakhir dari kitab “الْأَجْوِبَةُ الْمُسْتَوْعِبَةُ
عَنِ الْمَسَائِلِ الْمُسْتَغْرَبَةِ
karya Ibn Abd al-Barr (134-135) cet. Dar Ibn Affan]
Yang benar adalah : Allah SWT meng
Isra Miraj kan Nabi ﷺ dengan Jasad dan Ruhnya . Namun benar jika
setelah itu Beliau mengalami mimpi-mimpi kelanjutan dari Isra Miraj .
Muhammad Abu Syahbah dalam “Kitāb As-Sīrah An-Nabawiyyah fī Ḍau'il-Qur'ān was-Sunnah” 1/411 menjelaskan:
وَهُوَ حَدِيثٌ
غَيْرُ ثَابِتٍ، وَهَّنَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ فِي «الشِّفَا» سَنَدًا وَمَتْنًا، وَحَكَمَ
عَلَيْهِ الْحَافِظُ ابْنُ دِحْيَةَ بِالْوَضْعِ، وَمِمَّا يُضَعِّفُ هَذَا الْأَثَرَ
وَيَرُدُّهُ أَنَّ السَّيِّدَةَ عَائِشَةَ لَمْ تَكُنْ حِينَئِذٍ قَدْ دَخَلَ بِهَا
النَّبِيُّ ﷺ، فَإِنَّ مِنَ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمْ يَبْنِ
بِهَا إِلَّا بَعْدَ الْهِجْرَةِ، وَإِنْ خَطَبَهَا قَبْلَهَا بِسَنَةٍ، وَقِيلَ: بِسَنَتَيْنِ،
وَيَرُدُّ ذَلِكَ أَيْضًا أَنَّ الثَّابِتَ عَنْهَا أَنَّهَا كَانَتْ تُنْكِرُ عَلَى
مَنْ يَقُولُ: إِنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ.
Hadits ini tidak sahih. Al-Qadhi
Iyadh menilainya lemah, baik dari sisi sanad maupun matannya, sebagaimana
disebutkan dalam kitab Asy-Syifa' (1/156–157, cet. Utsmaniyah).
Al-Hafizh Ibnu Dihyah bahkan menghukuminya sebagai hadits
maudhu' (palsu).
Di antara hal yang semakin melemahkan
dan membantah riwayat ini adalah bahwa Isra Mi’raj terjadi ketika Aisyah belum
tinggal serumah dengan Nabi ﷺ. Sebab, telah disepakati
bahwa Rasulullah ﷺ baru mulai hidup bersama
beliau setelah hijrah, meskipun beliau telah melamarnya setahun sebelumnya, dan
menurut pendapat lain dua tahun sebelumnya.
Selain itu, riwayat ini juga dibantah
oleh riwayat yang shahih dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa beliau
mengingkari orang yang mengatakan bahwa Muhammad ﷺ melihat Rabb-Nya pada malam
Isra Mi’raj (yakni; di Sidartul Muntaha).
Syeikh ‘Alawi Al-Saqqaaf berkata
dalam "تَخْرِيجُ أَحَادِيثِ الظِّلَالِ" (hal. 229) :
«ضَعِيفٌ، رَوَاهُ ابْنُ إِسْحَاقَ بِإِسْنَادٍ
مُنْقَطِعٍ». انْتَهَى.
"Itu Dho’if . Itu diriwayatkan
oleh Ibn Ishaq dengan Isnad yang terputus." Selesai.
Dan Ibnu Ishaq juga meriwayatkan hal
serupa dari Mu`awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anha .
Syeikh Muhammad Rasyiid Ridlo berkata
:
«قَدْ تَجِدُ حَدِيثَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ وَمُعَاوِيَةَ،
يُفْهِمَانِ أَنَّ الْإِسْرَاءَ لَمْ يَكُنْ بِجَسَدِهِ الشَّرِيفِ، وَهُمَا حَدِيثَانِ
لَيْسَا مِمَّا يُحْتَجُّ بِمِثْلِهِمَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ، وَقَدْ
رَوَاهُمَا ابْنُ إِسْحَاقَ فِي السِّيرَةِ، قَالَ: حَدَّثَنِي بَعْضُ آلِ أَبِي بَكْرٍ
أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقُولُ: «مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَكِنَّ
اللَّهَ أَسْرَى بِرُوحِهِ».
فَإِنَّهُمَا خَبَرَانِ
ضَعِيفَانِ، لَيْسَ لَهُمَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ، وَقَدْ أَطَلْتُ الْبَحْثَ عَنْهُمَا،
فَلَمْ أَجِدْ لَهُمَا إِسْنَادًا غَيْرَ مَا ذَكَرَ ابْنُ إِسْحَاقَ.
أَمَّا خَبَرُ مُعَاوِيَةَ،
فَإِنَّهُ مُنْقَطِعٌ؛ لِأَنَّ رَاوِيَهُ يَعْقُوبُ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ
بْنِ الْأَخْنَسِ، لَمْ يُدْرِكْ مُعَاوِيَةَ، وَلَمْ يُدْرِكْ أَحَدًا مِنَ الصَّحَابَةِ
أَصْلًا، وَإِنَّمَا يَرْوِي عَنِ التَّابِعِينَ فَقَطْ، وَمَاتَ سَنَةَ ١٢٨ هـ، وَمُعَاوِيَةُ
مَاتَ سَنَةَ ٦٠ هـ.
وَأَمَّا حَدِيثُ
عَائِشَةَ، فَإِنَّهُ كَمَا تَرَوْنَ: لَا إِسْنَادَ لَهُ؛ لِأَنَّ قَوْلَ ابْنِ إِسْحَاقَ:
«حَدَّثَنِي بَعْضُ آلِ أَبِي بَكْرٍ» إِبْهَامٌ لِلرَّاوِي، فَلَا نَعْرِفُ مِنْهُ
مَنِ الَّذِي حَدَّثَهُ، وَهَلْ هُوَ ثِقَةٌ أَوْ لَيْسَ بِثِقَةٍ؟ وَهَلْ أَدْرَكَ
عَائِشَةَ أَوْ لَمْ يُدْرِكْهَا؟
فَكِلَا الْحَدِيثَيْنِ
مُنْقَطِعُ الْإِسْنَادِ، مَجْهُولُ الرَّاوِي، لَا يُحْتَجُّ بِمِثْلِهِ عِنْدَ أَهْلِ
الْعِلْمِ».
انْتَهَى مِنْ
«مَجَلَّةِ الْمَنَارِ» (٤٩/١٤)، الشَّامِلَةُ.
“Anda mungkin menemukan dua hadits
dari Aisyah dan Muawiyah, yang memahami bahwa Al-Israa tidak dengan tubuh Nabi
yang mulia. Dan dua-duanya adalah hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah oleh
para ulama ahli hadits .
Dan Ibnu Ishaq telah meriwayatkannya
dalam "as-Sirah an-Nabawiyah" dia berkata :
«مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَكِنَّ
اللَّهَ أَسْرَى بِرُوحِهِ»
“Tubuh Rasulullah ﷺ tidak hilang , akan tetapi Allah SWT meng isra kan nya dengan ruhnya“.
Karena dua-duanya adalah dua atsar dhoif
, dan dua-duanya tidak memiliki Sanad yang shahih, dan saya telah mencarinya
secara ekstensif, namun saya tidak menemukan isnaad untuk dua atsar tsb ,
kecuali yang dari apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq.
Adapun Atsar Mu’awiyah , maka itu
sanadnya terputus. Karena diriwayatkan oleh Ya’qub bin ‘Utbah bin al-Mughirah
bin al-Akhnas , dia tidak hidup sezaman dengan Muawiyah, dan dia juga tidak
pernah berjumpa dengan satupun dari para sahabat sama sekali. Akan tetapi dia
hanya meriwayatkan dari para tabiin saja, dan karena dia itu meninggal pada
tahun 128 H, dan Muawiyah meninggal pada 60 H.
Adapun hadits Aisyah , maka seperti
yang kalian lihat : tidak ada sanad untuk nya , karena Ibnu Ishaq mengatakan :
“ Beberapa keluarga Abu Bakar
mengatakan kepada saya “ , ini menunjukkan ketidakjelasan sang perawi, maka
kami tidak tahu dari dia : siapa yang meriwayatkannya ?. Apakah dia itu
dipercaya atau tidak? Dan Apakah dia hidup sezaman dan berjumpa dengan Aisyah
atau tidak?
Maka kedua hadits tersebut terputus
sanadnya, perawinya tidak diketahui / majhul, dan hadits yang semisal ini tidak
bisa dijadikan hujjah oleh para ulama. ”
[Selesai kutipan dari “ Majallah
al-Manar (49/14) karya Muhammad Rasyid Ridha “الشَّامِلَةُ”].
Dan Syaikh Al-Albani mendho’ifkan atsar Mu'awiyah seperti halnya beliau mendho’ifkan pula atsar dari ‘Aisyah , lalu beliau
berkata :
«لَمْ يَصِحَّ ذَلِكَ عَنْهُمَا».
“Itu tidak ada yang shahih dari
dua-duanya”.
(Baca “تَحْقِيقُ شَرْحِ الْعَقِيدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ” hal. 246 ).
Salinan-salinan manuscift kitab tsb terdapat
perbedaan tulisan dalam kata-kata Atsar ini, di antaranya di beberapa salinan
tertulis : ( “مَا فَقَدْتُ” Saya tidak kehilangan ..)
dengan Taa Al-Mutakallim . Sementara di beberapa salinan lainnya tertulis : ( “ما
فُقِدَ” dia
tidak hilang ) .
Dan kata pertama menunjukkan bahwa
itu dusta ;
karena Al-Isra dan Al-Mi’raaj terjadi di Makkah sebelum hijrah, dan Nabi ﷺ belum tinggal bersama Aisyah kecuali ketika di Madinah setelah hijrah,
jadi bagaimana mungkin Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Saya tidak
kehilangan tubuh Rasulullah ﷺ “.
Dalam
Syarh Al-Mawahib disebutkan:
أَنَّ الشَّامِيَّ
نَقَلَ فِي قَوْلِ عَائِشَةَ: «مَا فُقِدَ» بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ، وَ«مَا فَقَدْتُ»
بِالْبِنَاءِ لِلْفَاعِلِ، وَإِسْنَادِ الْفِعْلِ لِتَاءِ الْمُتَكَلِّمِ، وَقَدْ حَكَاهُمَا
فِي الشِّفَا رِوَايَتَيْنِ، فَقَالَ أَوَّلًا: وَأَمَّا قَوْلُ عَائِشَةَ: «مَا فُقِدَ
جَسَدُهُ»، فَهِيَ لَمْ تُحَدِّثْ عَنْ مُشَاهَدَةٍ... إِلَخْ.
ثُمَّ قَالَ: وَأَيْضًا
فَقَدْ رُوِيَ: «مَا فَقَدْتُ»، قَالَ: وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا النَّبِيُّ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَّا بِالْمَدِينَةِ!
Bahwa Asy-Syami
menukil dua redaksi ucapan Aisyah. Yang pertama berbunyi: "مَا فُقِدَ"
(jasad beliau tidak hilang), dengan bentuk kata kerja pasif. Yang kedua
berbunyi: "مَا فَقَدْتُ" (aku tidak kehilangan), dengan
bentuk kata kerja aktif yang disandarkan kepada kata ganti orang pertama.
Al-Qadhi
Iyadh juga menyebutkan kedua redaksi itu sebagai dua riwayat. Beliau mula-mula
berkata: "Adapun
perkataan Aisyah, 'Jasad beliau tidak hilang,' maka beliau tidak
menceritakannya berdasarkan penyaksian langsung..."
Kemudian
beliau melanjutkan: "Selain
itu, diriwayatkan pula lafaz, 'Aku tidak kehilangan (Rasulullah).' Akan tetapi,
Nabi ﷺ baru
mulai hidup bersama Aisyah setelah berada di Madinah." (Az-Zarqani dalam
Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah, 6/4 dan seterusnya, dengan sedikit penyesuaian).
Dan Ash-Shoolihii juga berkata dalam kitab
“Subul al-Huda wa ar-Rosyaad” (3/101):
«كَذَا فِيمَا وَقَفْتُ عَلَيْهِ مِنْ نُسَخِ
السِّيرَةِ: (فُقِدَ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ، وَفِي الَّذِي وَقَفْتُ عَلَيْهِ
مِنْ نُسَخِ الشِّفَا لِلْقَاضِي: (مَا فَقَدْتُ) بِالْبِنَاءِ لِلْفَاعِلِ، وَإِسْنَادِ
الْفِعْلِ إِلَى تَاءِ الْمُتَكَلِّمِ». انْتَهَى.
Demikianlah yang saya dapati pada
naskah-naskah kitab As-Sīrah, yaitu menggunakan lafaz «فُقِدَ» (dia hilang) dalam bentuk pasif (majhūl). Adapun
pada naskah-naskah kitab Asy-Syifa’ karya Al-Qāḍī yang saya
periksa, lafaznya adalah «مَا فَقَدْتُ» (saya tidak kehilangan)
dalam bentuk aktif (ma‘lūm), dengan kata kerja disandarkan
kepada tāa’ al-mutakallim (kata ganti orang pertama: “aku”). Selesai.
Wallaahu A'lam .
0 Komentar