Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BACA DOA BUKA PUASA YANG MANA? BENARKAH DOA “ALLAHUMMA LAKA SHUMTU” ITU BID’AH ?

 BACA DOA BUKA PUASA YANG MANA? BENARKAH DOA “ALLAHUMMA LAKA SHUMTU” ITU BID’AH ?

<< DOWNLOAD PDF >>

Di susun oleh Abu Haitsam Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ---


*****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَن تَبِعَهُ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.

*****

ANJURAN BERDO’A DI SELA-SELA PUASA DAN SAAT BERBUKA

Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa disela-sela puasanya, begitu pula saat hendak berbuka puasa.

Pada dasarnya doa pada saat dan setelah ibadah mempunyai dasar pijakan yang besar dalam agama, seperti doa saat sedang sholat dan setelahnya, doa saat sedang melaksanakan manasik haji dan setelah menyelesaikannya. Dan ibadah PUASA (juga) tidak keluar dari itu insyaallah. Sungguh Allah telah sebutkan ayat doa dan anjuran untuk berdoa diantara ayat-ayat puasa yaitu dalam firmanNya:

((وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ))

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [QS. AL-Baqarah: 186].

Ayat ini Menunjukkan akan urgensinya berdoa dalam bulan Romadhan.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

أخبرَ سُبْحَانَهُ أنَّهُ قَرِيبٌ مِنْ عِبَادِهِ يُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَاهُ، فَهَذَا إِخْبَارٌ عَنْ رَبُوبِيتِهِ لَهُمْ وَإِعْطَائِهِ سُؤْلَهُمْ وَإِجَابَةِ دَعَائِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ إِذَا دَعَوْهُ فَقَدْ آمَنُوا بِرَبُوبِيتِهِ لَهُمْ... ، ثُمَّ أَمَرَهُمْ بِأَمْرَيْنِ فَقَالَ: فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ البَقَرَةِ / 186.

فَالْأَوَّلُ: أَنْ يَطِيعُوهُ فِيمَا أَمَرَهُمْ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَالِاسْتِعَانَةِ.

وَالثَّانِي: الْإِيمَانُ بِرَبُوبِيتِهِ وَأُلُوهِيتِهِ وَأَنَّهُ رَبُّهُمْ وَإِلَهُهُمْ وَلِهَذَا قِيلَ: إِجَابَةُ الدُّعَاءِ تَكُونُ عَنْ صِحَّةِ الْاِعْتِقَادِ وَعَنْ كَمَالِ الطَّاعَةِ لِأَنَّهُ عَقِبَ آيَةِ الدُّعَاءِ بِقَوْلِهِ: فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي. " مَجْمُوعُ الْفَتَاوَى " ( 14 / 33)

“Allah subhanahu wata’ala memberitahukan bahwa Dia adalah dekat dari hamba-hamba-NYa, mengabulkan doa bagi orang yang berdoa. Hal ini memberitahukan akan rububiyyaNya, memberikan permintaan dan mengabulkan doanya. Karena kalau mereka (umat islam) berdoa, berarti telah mengimani RububiyahNya. Kemudian setelah itu memerintahkan dengan dua perintah dengan firmanNya:

“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” SQ. AL-Baqarah: 186.

Pertama: hendaklah mentaati-Nya terhadap apa yang diperintahkan dari beribadah dan isti’anah.

Kedua: beriman dengan Rububiyah dan UluhiyahNya. Bahwa Dia adalah Tuhannya. Oleh karena itu dikatakan, dikabulkannya doa dengan akidah yang benar dan ketaatan yang sempurna. Oleh karena itu setelah ayat doa (Allah) berfirman:

‘Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku’. ( Kutipan Selesai. Lihat Majmu’ Fatawa, 14/33 ).

Apalagi do’anya orang yang berpuasa tidak ditolak. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad no (8030) , dari Abu Hurairah RA berkata, kami berkata:

قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا إِذَا رَأَيْنَاكَ رَقَّتْ قُلُوبُنَا وَكُنَّا مِنْ أَهْلِ الآخِرَةِ وَإِذَا فَارَقْنَاكَ أَعْجَبَتْنَا الدُّنْيَا وَشَمَمْنَا النِّسَاءَ وَالأَوْلادَ قَالَ لَوْ تَكُونُونَ أَوْ قَالَ لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَلَى الْحَالِ الَّتِي أَنْتُمْ عَلَيْهَا عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلائِكَةُ بِأَكُفِّهِمْ وَلَزَارَتْكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ كَيْ يَغْفِرَ لَهُمْ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنَا عَنْ الْجَــــنَّةِ مَا بِنَاؤُهَا قَالَ لَبِنَةُ ذَهَبٍ وَلَبِنَةُ فِضَّةٍ وَمِلاطُهَا الْمِسْكُ الأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ يَدْخُلُهَا يَنْعَمُ وَلا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ وَلا يَمُوتُ لا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلا يَفْنَى شَبَابُهُ ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ ).

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami ketika melihat anda hati kami tersentuh dan kami bagaikan melihat penduduk akhirat. Ketika kami berpisah dengan anda, dunia telah memperdayakan kami dan terlena dengan istri dan anak-anak.

(Beliau) bersabda: “Kalau sekiranya kamu semua “ ....

Atau beliau mengatakan: “Kalau sesungguhnya kamu semua tetap dalam kondisi seperti bersama denganku, para malaikat pasti akan menyalami kalian semua dengan tangannya dan akan mengunjungi ke rumah kalian semua. Kalau sekiranya anda semua tidak (pernah) berdosa, Allah akan datangkan suatu kamu yang mereka berdosa agar memaafkankan mereka”.

Berkata (Abu Hurairah): kami berkata: “Wahai Rasulullah, tolong beritahukan kepada kami tentang surga apa bangunannya.”

(Beliau) menjawab: “Batu bata dari emas, perak. Ubinnya dari minyak wangi misk Al-Adzfar, kerikilnya dari intan permata, debunya dari zakfaron.

Barangsiapa yang memasukinya akan merasa mendapatkan kenikmatan dan tidak putus asa. Kekal tidak mati, pakaiannya tidak kotor dan para pemuda tidak akan tua. Tiga (golongan) doanya tidak akan ditolak, imam yang adil, ORANG BERPUASA SAMPAI BERBUKA dan doanya orang yang didholimi. Dibawa oleh awan dan membuka pintu langit.

Sementara itu Allah Azza Wajalla berkata: “Dan demi KemulyaanKu, Saya akan menolong anda meskipun setelah (waktu) itu.

Hadits ini dishohehkan oleh Syu’aib Al-Arnauth di tahqiq Musnad Imam Ahmad.

Diriwayatkan oleh Turmudzi no. 2525 dengan teks:

"وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ "

“Dan orang berpuasa ketika berbuka”.

Dishohehkan oleh al-Albany dalam shoheh Tirmizi.

*****

LAFADZ-LAFADZ HADITS DOA BERBUKA PUASA:

=====

HADITS PERTAMA:

Dari al-Husein bin Waqid, ia berkata : 

حَدَّثَنَا مَرْوَانُ المقفَّع، قَالَ: "‌رَأَيْتُ ‌ابْنَ ‌عُمَرَ ‌قَبَضَ ‌عَلَى ‌لِحْيَتِهِ ‌فَقَطَعَ ‌مَا ‌زَادَ عَلَى الْكَفِّ". 

وَقَالَ: "كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَفْطَرَقَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ»".

Marwan al-Muqoffa‘ telah menceritakan kepada kami, ia berkata:

“Aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya lalu memotong bagian yang melebihi genggaman tangannya. 

Dan ia (yakni; Marwan) berkata: 

"Rasulullah apabila berbuka, beliau mengucapkan:

'Dzahaba adz-dzoma’u, wabtallatil-‘uruqu, wa tsabatal-ajru in syaa Allah'.”

Artinya : ‘Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.’”

TAKHRIJ SINGKAT HADITS “DZAHABA ADZ-DZOMA’U”:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (no. 2357), an-Nasa’i dalam As-Sunan al-Kubra (no. 3315 dan 10058), dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (no. 299), Ibnu as-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (no. 479), al-Bazzar (no. 5395), ath-Thabarani (13/no. 14097), ad-Daruquthni (3/156), al-Hakim (1/422), al-Baihaqi (4/239) dan dalam Ad-Da‘awat al-Kabir (no. 499), al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah (no. 1740) dan dalam Al-Anwar fi Syama’il an-Nabi al-Mukhtar (no. 703), Qawwam as-Sunnah dalam At-Targhib (no. 1804), serta al-Mizzi dalam Tahdzib al-Kamal (27/391); semuanya melalui berbagai jalur dari ‘Ali bin al-Hasan bin Syaqiq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Marwan al-Muqaffa‘, lalu ia menyebutkannya (hadits tersebut).

STATUS SANAD HADITS :

HADITS INI DHO’IF, MUNKAR DAN SANADNYA MURSAL.

Yang benar hadits ini adalah dho’if, munkar dan sanadnya mursal, namun ada sebagian para ulama yang keliru dengan menghukuminya sebagai hadits yang hasan, bahkan ada pula yang menghukumi nya shahih.

PARA ULAMA YANG MENGHUKUMI HASAN DAN SHAHIH:

1] Ad-Daruquthni berkata:

«تَفَرَّدَ بِهِ الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ».

“Hadits ini hanya diriwayatkan secara menyendiri oleh al-Husain bin Waqid, dan sanadnya hasan.”

2] Al-Hakim berkata:

«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، فَقَدِ احْتَجَّا بِالْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ وَمَرْوَانَ بْنِ الْمُقَنَّعِ!».

“Hadits ini shohih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, karena keduanya telah berhujah (meriwayatkan) dengan al-Husain bin Waqid dan Marwan bin al-Muqanna‘.”

Al-Hafidz menukil dari al-Hakim dalam *Ithaf al-Maharah* (8/677) bahwa ia berkata:

«صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ».

“Sahih sesuai syarat al-Bukhari.”

Dan ini sejalan dengan apa yang dinukil oleh Al-Hafidz adz-Dzahabi dalam *Talkhis al-Mustadrak*.

3] Dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albaany dalam “Shahiih Sunan Abi Daawud” no. 2066 dan “Shahiih Al-Jaami‘ Ash-Shaghiir” 4/209.

YANG BENAR HADITS INI DHO’IF, MUNKAR DAN MURSAL

Yang lebih kuat dan benar adalah hadits ini dho’if, munkar dan sanadnya mursal, sebagaimana dikatakan DR. Abu Shuhaib al-Ha’ik berkata:

فَالْحَدِيثُ مُنْكَرٌ! وَالصَّوَابُ أَنَّهُ مُرْسَلٌ، وَلَا مَدْخَلَ لِابْنِ عُمَرَ فِيهِ!

“Maka hadits ini munkar! Dan yang benar hadits ini mursal, dan tidak ada hubungan dengan Ibnu Umar dalam hadits ini !” [[Sumber: artikel “Al-Maurid al-Ghamr” karya Abu Syuhaib al-Ha’ik]]

Abu Sami al-‘Abdan berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ.

“Sanadnya dhaif (lemah).”

(Sumber: Jami‘ al-Kutub al-Islamiyyah – Al-Ahadits adh-Dha‘ifah li Hasan at-Tammam, jilid pertama)

Dan dinilai dho’if pula oleh Abu Abdirrahman Yahya bin Ali al-Hajuri sebagaimana dijelaskan olehnya dalam Mawqi’ asy-Syabakah al-Ilmiyyah as-Salafiyyah – rekaman 23/08/2017.

[https://alilmia.com › sub_so...]

Al-Bazzar dalam al-Bahru az-Zakhkhor 12/24 berkata:

لَا نَعْلَمُهُ يُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ.

“Kami tidak mengetahui bahwa hadits ini diriwayatkan dari Nabi kecuali melalui jalur ini dengan sanad ini.”

Al-Hafidz Abu Abdillah — yaitu Ibnu Mandah — sebagaimana dalam *Tahdzib al-Kamal* (27/391) berkata:

غَرِيبٌ، لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ.

“Hadits ini gharib (asing), kami tidak menuliskannya kecuali dari riwayat Al-Husain bin Waqid.”

Syeikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah berkata :

فِيهِ نَظَرٌ مِنْ حَيْثُ الصِّحَّةِ

“Di dalamnya terdapat catatan (perlu ditinjau) dari sisi kesahihannya.”

Atau dengan ungkapan lain: “Status kesahihannya masih perlu diteliti.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 1/91].

Dan pada kesempatan lain Syeikh al-Utsaimin berkata “فِيهِ ضَعْفٌ”. [[Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 19/393]]

Namun demikian Syaikh Muhammad ash-Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وَالدُّعَاءُ الْمَأْثُورُ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»،

وَمِنْهُ أَيْضًا: قَوْلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»،

وَهَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَإِنْ كَانَ فِيهِمَا ضَعْفٌ لَكِنْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ حَسَّنَهُمَا، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِذَا دَعَوْتَ بِذَلِكَ أَوْ بِغَيْرِهِ عِنْدَ الْإِفْطَارِ فَإِنَّهُ مَوْطِنُ إِجَابَةٍ». انتهى.

“Doa yang ma’tsur (diriwayatkan) adalah:

‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.’

Artinya: “ Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka “.

Dan juga sabda Nabi :

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru in syaa Allah.

Artinya : ‘Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.’

Kedua hadits ini meskipun di dalamnya ada kelemahan, namun sebagian ahli ilmu menghasankannya. Bagaimanapun juga, jika engkau berdoa dengan doa tersebut atau dengan doa lainnya ketika berbuka, maka itu adalah waktu yang mustajab (dikabulkannya doa).” Selesai. 

(Sumber: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19 / pertanyaan no. 341).

PENJELASAN SINGKAT TENTANG SEBAB DHO’IFNYA SANAD HADITS
“DZAHABA ADZ-DZOMA’U”

Berikut ini kutipan sebagian kecil dari kitab “Al-Maurid al-Ghamr” karya DR. Abu Syuhaib al-Ha’ik.

DR. Abu Shuhaib al-Ha’ik berkata:

وَإِنَّمَا أُتِيَ الْأَمْرُ فِيمَنْ حَسِبَهُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ مِنْ طَرِيقَةِ سِيَاقِ الْحَدِيثِ، وَهُوَ بَعْدَ أَنْ ذَكَرَ أَنَّهُ رَأَى ابْنَ عُمَرَ، وَحَدَّثَ بِهٰذَا الْحَدِيثِ الْمُرْسَلِ، ظَنَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ قَوْلُهُ: «قَالَ» = يَعْنِي ابْنَ عُمَرَ!! وَلَيْسَ كَذٰلِكَ، وَإِنَّمَا الَّذِي «قَالَ» هُوَ نَفْسُهُ، كَمَا فِي رِوَايَةِ وَالِدِ أَبِي بَكْرٍ ابْنِ أَبِي الدُّنْيَا.

وَكَذٰلِكَ طَرِيقَةُ سِيَاقِ الْحَدِيثِ تَدُلُّ عَلَيْهِ، فَالْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ يَقُولُ: أَخْبَرَنَا مَرْوَانُ الْمُفَقَّعُ، قَالَ: «رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ، فَقَطَعَ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ».

وَقَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ».

فَالْقَائِلُ فِي كِلَيْهِمَا هُوَ: مَرْوَانُ الْمُفَقَّعُ.

فَالْحَدِيثُ يَرْوِيهِ حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ مَرْوَانَ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»، مُرْسَلًا.

فَلَا مَدْخَلَ لِابْنِ عُمَرَ فِي هٰذِهِ الرِّوَايَةِ، وَالْحَدِيثُ مُرْسَلٌ.

وَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ مَا أَخْبَرَ بِهِ مَرْوَانُ عَنْ قَصِّ اللِّحْيَةِ مِنْ فِعْلِ ابْنِ عُمَرَ، وَبَيْنَ حَدِيثِ دُعَاءِ الْإِفْطَارِ!

Kesalahpahaman terjadi pada orang yang mengira riwayat itu dari Ibnu Umar karena cara penyusunan redaksi hadits. Setelah disebutkan bahwa ia melihat Ibnu Umar, lalu ia menyampaikan hadits mursal tersebut, para ulama menyangka bahwa ucapan “قَالَ (ia berkata)” itu maksudnya adalah Ibnu Umar. Padahal bukan demikian. Yang dimaksud “ قَالَ (dia berkata)” itu adalah Marwan sendiri, sebagaimana dalam riwayat ayah Abu Bakr Ibnu Abi ad-Dunya.

Demikian pula, susunan redaksi hadits menunjukkan hal itu.

Husain bin Waqid berkata: “Marwan al-Mufaqqa‘ mengabarkan kepada kami, ia berkata

‘Aku melihat Abdullah bin Umar menggenggam janggutnya lalu memotong bagian yang melebihi genggaman.’

Dan ia (?) berkata: ‘

Rasulullah apabila berbuka, beliau mengucapkan: Dzahaba adz-dzoma’u, wabtallatil-‘uruqu, wa tsabatal-ajru in syaa Allah”.

Maka yang mengatakan keduanya adalah Marwan al-Mufaqqa‘.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Husain bin Waqid, dari Marwan, ia berkata:

“Rasulullah apabila berbuka, beliau mengucapkan: “Dzahaba adz-dzoma’u, wabtallatil-‘uruqu, wa tsabatal-ajru in syaa Allah.secara mursal.

Maka tidak ada keterlibatan Ibnu Umar dalam riwayat ini, dan hadits tersebut berstatus mursal.

Tidak ada hubungan antara apa yang diberitakan Marwan tentang pemotongan janggut sebagai perbuatan Ibnu Umar dengan hadits doa berbuka puasa tersebut”. [Selesai]

Lalu DR. Abu Shuhaib al-Ha’ik berkata:

قُلْتُ: فَمِثْلُ الْحُسَيْنِ لَا يُقْبَلُ تَفَرُّدُهُ بِحَدِيثٍ مَرْفُوعٍ!

فَلَوْ قُلْنَا بِأَنَّ الْحَدِيثَ يَرْوِيهِ مَرْوَانُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، فَلَا نَقْبَلُهُ مِنْ جِهَةِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ!

فَكَيْفَ نَقْبَلُ تَفَرُّدَهُ عَمَّنْ يَرْوِي عَنِ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثًا لَيْسَ مَعْرُوفًا عِنْدَ أَصْحَابِ ابْنِ عُمَرَ؟ مَعَ جَهَالَةِ حَالِ مَرْوَانَ هٰذَا!

فَالْحَدِيثُ مُنْكَرٌ! وَالصَّوَابُ أَنَّهُ مُرْسَلٌ، وَلَا مَدْخَلَ لِابْنِ عُمَرَ فِيهِ!

وَقَدِ اسْتَغْرَبَ الْأَئِمَّةُ هٰذَا الْحَدِيثَ كَالْبَزَّارِ، وَالدَّارَقُطْنِيِّ، وَابْنِ مَنْدَهْ. وَوَجْهُ الِاسْتِغْرَابِ: تَفَرُّدُ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ عَنْ رَجُلٍ مَجْهُولٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ! كَيْفَ يَنْفَرِدُ هٰذَا الْمَجْهُولُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ بِهٰذَا الْحَدِيثِ، وَلَا يُعْرَفُ عَنْ أَصْحَابِ ابْنِ عُمَرَ!

وَمَرْوَانُ هٰذَا مَجْهُولُ الْحَالِ، وَحَكَمَ ابْنُ حَجَرٍ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ «مَقْبُولٌ» عِنْدَ الْمُتَابَعَةِ، لَكِنَّهُ لَمْ يُتَابَعْ عَلَيْهِ.

Saya katakan:

Seperti halnya perawi yang bernama Husain bin Waqid, maka dia tidak dapat diterima riwayat tunggalnya dalam sebuah hadits marfu’!

Jika kita mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh Marwan dari Ibnu Umar, maka kita tidak menerimanya dari sisi Husain bin Waqid!

Bagaimana kita bisa menerima riwayat tunggal seseorang yang meriwayatkan dari Ibnu Umar sebuah hadits yang tidak dikenal oleh para sahabat Ibnu Umar? Apalagi dengan ketidaktahuan kondisi Marwan ini! (yakni ; dia majhul al-haal)

Maka hadits ini munkar! Dan yang benar hadits ini mursal, dan tidak ada hubungan dengan Ibnu Umar!

Para imam merasa terheran-heran dengan hadits ini seperti Al-Bazzar, Ad-Daraqutni, dan Ibnu Manda.

Sisi keheranannya adalah: Husain bin Waqid meriwayatkannya dari seorang yang tidak dikenal (majhul) dari Ibnu Umar! Bagaimana orang yang tidak dikenal (majhul) ini bisa meriwaytakan secara tunggal (sendirian) dari Ibnu Umar dengan hadits ini, sementara tidak ada yang mengenalinya di kalangan sahabat Ibnu Umar?

Marwan ini kondisinya tidak jelas, dan penilaian Ibnu Hajar terhadapnya sebagai "مَقْبُوْلٌ (diterima)" berlaku jika ada mutaba’ah (pendukung), namun tidak ada yang memutaba’hi-nya”. (Selesai

[Sumber: artikel “Al-Maurid al-Ghamr” karya Abu Syuhaib al-Ha’ik]

Dan Abu Syuhaib al-Ha’ik juga berkata:

 وَأَمَّا الْأَلْبَانِيُّ فَحَدِّثْ وَلَا حَرَجَ! كَانَ مَشْرُوعُهُ تَنْقِيَةَ السُّنَّةِ مِنَ الضَّعِيفِ، فَمَلَأَهَا بِالضَّعِيفِ وَالْمُنْكَرَاتِ!!

“Dan adapun syeikh al-Albani, silahkan anda bercerita sesuka anda, tidak keberatan!  Proyek dia adalah memurnikan sunnah dari hadits-hadits dho'if, namun justru dia sendiri telah memadati kitab-kitabnya dengan hadits-hadits dho'if dan munkar”

[Sumber: artikel “Al-Maurid al-Ghamr” karya Abu Syuhaib al-Ha’ik]

---

Dan juga Abu Sami al-‘Abdan menjelaskan secara ringkasi sebab-sebab kedho’ifannya:

قُلْتُ: تَفَرَّدَ بِهِ مَرْوَانُ بْنُ سَالِمٍ الْمُقَفَّعُ، وَهُوَ مَجْهُولُ الْحَالِ، وَلَمْ يَرْوِ لَهُ الْبُخَارِيُّ شَيْئًا، إِنَّمَا رَوَى لَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ حَدِيثَ الْبَابِ فَقَطْ، فَكَيْفَ يُقَالُ إِنَّهُ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ؟! لَكِنْ قَالَ الْحَافِظُ فِي "تَهْذِيبِ التَّهْذِيبِ" 10/ 93: "وَلَعَلَّهُ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ بِمَرْوَانَ الْأَصْفَرِ".

وَلَمْ يَرْوِ عَنْهُ سِوَى الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ وَعَزْرَةَ بْنِ ثَابِتٍ، فَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَلَا تَرْتَفِعُ عَنْهُ سِوَى جَهَالَةُ الْعَيْنِ، وَتَبْقَى جَهَالَةُ حَالِهِ. وَاسْتَنْكَرَ الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثَ الَّذِي سَاقَهُ فِي تَرْجَمَتِهِ مِنْ "الْمِيزَانِ" 4/ 91.

وَأَمَّا ابْنُ حِبَّانَ فَقَدْ ذَكَرَهُ فِي كِتَابِهِ "الثِّقَاتِ" 5/ 424، وَهَذَا بِنَاءً عَلَى قَاعِدَتِهِ الْمَعْرُوفَةِ فِي تَوْثِيقِ الْمَجَاهِيلِ، وَلَمْ يَزِدْ عَلَى إِيرَادِ اسْمِهِ فَقَطْ. وَمَنْ لَمْ يُذْكَرْ سِوَى اسْمِهِ يَكُونُ مِنَ الطَّبَقَةِ الْخَامِسَةِ، وَهِيَ كَمَا قَالَ الْعَلَّامَةُ الْمُعَلِّمِيُّ فِي "التَّنْكِيلِ" 1/ 437: "لَا يُؤْمَنُ فِيهَا الْخَلَلُ".

وَهَذَا الرَّاوِي لَا يَنْفَعُهُ قَوْلُ الدَّارَقُطْنِيِّ: "إِسْنَادُهُ حَسَنٌ"، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ أَكْثَرَ الْمُتَقَدِّمِينَ يُطْلِقُونَ الْحُسْنَ، وَيَعْنُونَ بِهِ الْغَرَابَةَ. وَلِهَذَا قَالَ الْحَافِظُ فِي تَرْجَمَتِهِ مِنْ "التَّقْرِيبِ": "مَقْبُولٌ"، يَعْنِي حَيْثُ يُتَابَعُ، وَإِلَّا فَلَيِّنُ الْحَدِيثِ.

وَأَمَّا قَوْلُ الذَّهَبِيِّ فِي "الْكَاشِفِ" 2/ 253: "وُثِّقَ"، فَهُوَ إِشَارَةٌ مِنْهُ إِلَى أَنَّ ابْنَ حِبَّانَ وَثَّقَهُ. وَهَذَا التَّوْثِيقُ هُنَا غَيْرُ مُعْتَمَدٍ كَمَا تَقَدَّمَ، لِأَنَّ ابْنَ حِبَّانَ لَمْ يَزِدْ عَلَى إِيرَادِ اسْمِهِ فَقَطْ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Aku berkata: Hadits ini hanya diriwayatkan secara tunggal (sendirian) oleh Marwan bin Salim al-Muqaffa‘, dan dia adalah perawi yang majhul al-hal (tidak diketahui keadaannya). Al-Bukhari tidak meriwayatkan darinya sedikit pun. Yang meriwayatkan darinya hanyalah Abu Dawud dan an-Nasa’i, itu pun hanya hadits dalam bab ini saja. Maka bagaimana bisa dikatakan bahwa hadits ini sesuai dengan syarat al-Bukhari?!

Namun Al-Hafidz berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib (10/93): “Barangkali ia tertukar dengan Marwan al-Ashfar.”

Tidak ada yang meriwayatkan darinya selain al-Husain bin Waqid dan ‘Azrah bin Tsabit. Maka orang yang seperti ini hanya terangkat darinya جَهَالَةُ الْعَيْنِ (ketidakjelasan identitas), tetapi tetap tersisa جَهَالَةُ الْحَالِ (ketidakjelasan keadaan/periwayatannya).

Al-Hafidz adz-Dzahabi mengingkari hadits ini atasnya, sebagaimana disebutkan dalam biografinya di Al-Mizan (4/91). Adapun Ibnu Hibban, ia menyebutkannya dalam kitabnya Ats-Tsiqat (5/424), dan itu berdasarkan kaidahnya yang dikenal dalam mentautsiq (menilai tsiqah) para perawi majhul. Ia tidak menambahkan apa pun selain hanya mencantumkan namanya saja.

Orang yang hanya disebutkan namanya saja termasuk dalam tingkatan kelima, yang — sebagaimana dikatakan oleh al-‘Allamah al-Mu‘allimi dalam At-Tankil (1/437) —: “Tidak aman dari kekeliruan.”

Perawi seperti ini tidak terbantu dengan perkataan ad-Daruquthni bahwa “Sanadnya hasan,” karena telah diketahui bahwa kebanyakan ulama terdahulu menggunakan istilah hasan, namun yang mereka maksudkan adalah gharib (asing). Oleh karena itu Al-Hafidz berkata dalam biografinya di At-Taqrib: “Maqbul,” yaitu diterima jika ada mutaba‘ah (penguat), jika tidak maka haditsnya layyin (lemah).

Adapun perkataan adz-Dzahabi dalam Al-Kasyif (2/253): “Ditsiqahkan,” maka itu isyarat darinya bahwa Ibnu Hibban telah mentautsiqnya. Namun tautsiq ini di sini tidak dapat dijadikan sandaran sebagaimana telah dijelaskan, karena Ibnu Hibban tidak menambahkan selain hanya mencantumkan namanya saja. Wallahu a‘lam.

[Ditulis oleh : Abu Sami al-‘Abdan (Jami‘ al-Kutub al-Islamiyyah – Al-Ahadits adh-Dha‘ifah li Hasan at-Tammam, jilid pertama)]

DOA INI UNTUK BUKA PUASA RAMADHAN DI MUSIM PANAS:

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam *Al-Mumti’* 6/441 berkata:

إِذَا كَانَ الْيَوْمُ حَارًّا وَشَرِبَ بَعْدَ الْفُطُورِ، فَإِنَّهُ يَقُولُ:

«ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ». 

وَذَهَابُ الظَّمَإِ بِالشُّرْبِ وَاضِحٌ، وَابْتِلَالُ الْعُرُوقِ بِذَلِكَ وَاضِحٌ، فَالْإِنْسَانُ إِذَا شَرِبَ وَهُوَ عَطْشَانُ يَحِسُّ بِأَنَّ الْمَاءَ مِنْ حِينِ وُصُولِهِ إِلَى الْمَعِدَةِ يَتَفَرَّقُ فِي الْبَدَنِ، وَيَحِسُّ بِهِ إِحْسَاسًا ظَاهِرًا، فَيَقُولُ بِقَلْبِهِ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْحَكِيمِ الْعَلِيمِ الَّذِي فَرَّقَهُ بِهَذِهِ السُّرْعَةِ، وَظَاهِرُ الْحَدِيثِ أَنَّ هَذَا الذِّكْرَ فِيمَا إِذَا كَانَ الصَّائِمُ ظَمْآنَ وَالْعُرُوقُ يَابِسَةً.

“Jika hari itu bersuhu panas (terik) dan ia minum setelah berbuka, maka ia mengucapkan:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru in syaa Allah.

Artinya *‘Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.’*

Hilangnya rasa haus dengan minum itu jelas, dan basahnya urat-urat karena itu pun jelas.

Seseorang apabila minum dalam keadaan haus, ia merasakan bahwa air sejak sampai ke lambung langsung menyebar ke seluruh tubuh, dan ia merasakannya dengan sangat nyata. Maka ia berkata dalam hatinya: *Subhanallah al-Hakim al-‘Alim* (Mahasuci Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui) yang telah menyebarkannya dengan begitu cepat.

Dan dzohir hadits menunjukkan bahwa dzikir ini diucapkan ketika orang yang berpuasa dalam keadaan haus dan urat-uratnya kering.”

=====

HADITS KE DUA:

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dan al-Hakim dlm al-Mustadrok dari ‘Amr bin al-‘Aash RA:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي".

Saya mendengar Rasulullah  mengatakan bahwa orang yang berpuasa ketika berbuka puasa memiliki sebuah Doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي

Ya Allah , aku memohon kepda-Mu dengan rahmat-Mu, yang telah memperluas segala sesuatu, agar Engaku mengampuni dosa-dosaku “

Al-Haakim berkata tentang Sanad nya:

إِسْحَاقُ إِنْ كَانَ بِنْ عَبْدِ اللهِ مَوْلَى زَائِدَةَ فَقَدْ خَرَجَ عَنْهُ مُسْلِمٌ وَإِنْ كَانَ بِنْ أَبِي فِرْوَةَ فَإِنَّهُمَا لَمْ يَخْرُجَاهُ.

Perawi yang bernama Ishaq ini: Jika dia itu bin Abdullah , maka dia adalah maula / budak yang dimerdekakan oleh Zaidah, maka Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya, dan jika dia itu adalah bin Abi Farwah, maka Bukhori dan Muslim tidak meriwayatkan hadits darinya.

Dalam Riwayat Ibnu Majah:

Ibnu Abi Mulaikah berkata: Aku mendengar Abdullah bin ‘Amr bin al-’Aash RA, dia berkata: Aku mendengar Rosulullah  bersabda:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةَ مَا تُرَدُّ.

“ Orang yang berpuasa ketika berbuka puasanya baginya doa yang tidak akan ditolak “.

Lalu Ibnu Abi Mulaikah berkata: Saya mendengar Abdullah bin ‘Amr berkata ketika dia berbuka puasa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ، الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي.

Ya Allah , aku memohon kepda-Mu dengan rahmat-Mu, yang telah memperluas segala sesuatu, agar Engaku mengampuni dosa-dosaku “

Doa Abdullah bin ‘Amar dalam Riwayat Ibnu Majah ini DI HASANKAN oleh al-Haafidz Ibnu Hajar dlam “تخريج الأذكار”. Akan tetapi di Dhaifkan oleh syeikh al-Albani dalam Dhaif Ibnu Majah no. 345.

=====

HADITS KE TIGA:

Doa berbuka Puasa :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

"Allahumma laka sumtu wa 'ala rizqika afthartu."

Artinya: “ Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka “.

*****

STUDI HADITS “ALLAHUMMA LAKA SHUMTU”

Ada sebagian para ulama dan da’i yang menganggap bid’ah doa berbuka puasa “Allahumma laka sumtu wa 'ala rizqika afthartu”. Dengan alasan bahwa doa tersebut tidak shahih dari Nabi 

Abu Daud dalam Sunannya meriwaytkan dari Mua’dz bin Zuhroh bahwa dulu Nabi  ketika berbuka puasa beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

"Allahumma laka sumtu wa 'ala rizqika afthartu."

Artinya: “ Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka “.

( HR. Abu Daud dlm kitab “المراسيل” no. 203 dan Sunan Abi Daud no. 2358 dengan sanad yang MURSAL.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu al-Mubaarok dlm kitab “الزهد” dan al-Baihaqi dlm as-Sunan al-Kubroo no. 8392 ).

Jadi Abu Daud meriwayatkannya dengan sanad yang Mursal , akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits ini, sementara beliau pernah mengatakan dalam “رسالته لأهل مكة” di hal. 27:

وَمَا كَانَ فِي كِتَابِي مِنْ حَدِيثٍ فِيهِ وَهْنٌ شَدِيدٌ فَقَدْ بَيَّنْتُهُ، وَمِنْهُ مَالَا يَصْحُ سَنَدُهُ.

Dan apapun hadits dalam kitabku yang terdapat kelemahan yang parah / “وَهن شَدِيد” maka sungguh telah aku menjelaskannya, dan sebagian hadits ada yang yang tidak shahih sanadnya”.

Lalu Abu Daud berkata:

مَا لَمْ أَذْكُر فِيهِ شَيْئًا فَهُوَ صَالِحٌ، وَبَعْضُهَا أَصَحُّ مِنْ بَعْضٍ. انتهى

Hadits yang saya ( diam ) tidak menyebutkan apapun di dalamnya maka itu hadits yang Sholeh / bagus, bahkan beberapa di antaranya lebih shahih daripada yang lain “. Kutipan selesai.

Dan beliau Abu Daud berkata pula dalam “
رسالته لأهل مكة” hal. 25:

" وَأما الْمَرَاسِيل: فقد كَانَ يحْتَج بهَا الْعلمَاء فِيمَا مضى ، مثل سُفْيَان الثَّوْريّ وَمَالك بن أنس وَالْأَوْزَاعِيّ ، حَتَّى جَاءَ الشَّافِعِي فَتكلم فِيهَا ، وَتَابعه على ذَلِك أَحْمد بن حَنْبَل وَغَيره رضوَان الله عَلَيْهِم ، فَإِذا لم يكن مُسْند غير الْمَرَاسِيل ، وَلم يُوجد الْمسند: فالمرسل يحْتَج بِهِ ، وَلَيْسَ هُوَ مثل الْمُتَّصِل فِي الْقُوَّة ". انتهى

“Adapun hadits-hadits MURSAL: maka telah dijadikan hujjah oleh para ulama di masa lalu, seperti Sufyan Al-Tsauri, Malik bin Anas, dan Al-Awza’i, sampai Al-Syafi'i datang dan berbicara tentang hadits-hadits mursal tsb ( yakni: mempermasalahkannya ). Lalu Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya mengikutinya - semoga Allah meridhoi mereka -. Maka Jika tidak ada hadits yang musnad selain hadits-hadist mursal, alias hadits Musnad tidak ditemukan, maka hadits mursal dijadikan hujjah , namun demikian hadits mursal tidaklah seperti hadits yang muttashil sanadnya dalam segi kekuatan hujjahnya “.

Dan Abu Daud berkata pula dalam “رسالته لأهل مكة” di hal. 30:

وقال في "رسالته لأهل مكة" (ص30) في موضع آخر:" وَإِن من الْأَحَادِيث فِي كتابي السّنَن مَا لَيْسَ بِمُتَّصِل ، وَهُوَ مُرْسل ومدلس ، وَهُوَ إِذا لم تُوجد الصِّحَاح عِنْد عَامَّة أهل الحَدِيث على معنى أَنه مُتَّصِل ". انتهى

Dan jika ada hadits dalam Kitab Sunnahku yang tidak muttashil sanadnya, maka itu adalah Mursal dan mudallas (مدلَّس = perkataan perawi yang susupkan). Dan yang demikian itu jika tidak ditemukan hadits-hadits sahih yang semakna pada para pakar hadits pada umumnya, maka sesungguhnya itu dianggap Muttashil".

Dan Beliau juga menyatakan : Bahwa Dalam penulisan kitab Sunan, beliau tidak sekedar mengeluarkan hadis-hadis shahih saja, namun juga hadis-hadis yang disepakati ulama untuk tidak meninggalkannya , yakni meskipun tidak shahih akan tetapi di amalkan oleh sebagian ulama.

Syeikh Zakariya bin Muhammad bin Zakariya al-Anshaari ( W. 926 H ) dalam kitabnya “أسنى المطالب في شرح روض الطالب ” berkata:

"رواهُ أبو داودَ بإسنادٍ حَسَنٍ لَكِنَّهُ مُرْسَلٌ."

“Abu Daud meriwayatkannya dengan sanad Hasan akan tetapi Mursal".

Namun hadits ini di Dhoifkan oleh Syeikh al-Albaani dlm “إرواء الغليل” 4/38 dan Dhaif Sunan Abi Daud no. 510, Syeikh al’Utsaimin dlm “مجموع فتاوى ابن عثيمين” 19/363 dan lainnya.

Akan tetapi Syeikh Abdul Qadir al-Arna`uth berkata tentang hadits ini dalam tahqiqnya terhadap hadits-hidts kitab “
الأذكار” 1/162 karya Imam al-Nawawi:

"وَلَكِنَّهُ لَهُ شَوَاهِدُ يُقَوَّى بِهَا".

“Akan Tetapi hadits ini memiliki saksi-saksi yang menguatkannya .

Begitu juga dalam catatan kaki Kitab “جامع الأصول ” karya Ibnul Atsir (w. 606 H), dengan tahqiq Abdul Qadir Arna’uth dan disempurnakan Basyir ‘Uyûn, Maktabah Dârul Bayân, juz 6 hal. 378 dinyatakan:

رَقَمُ (2358) فِي الصَّوْمِ، بَابُ القَوْلِ عِنْدَ الإفْطَارِ، مُرْسَلًا، وَلَكِنَّ لِلْحَدِيثِ شَوَاهِدُ يُقَوَّى بِهَا.

“ Hadits Nomor (2358) dalam (kitab) Puasa, bab perkataan saat berbuka, itu hadits mursal, akan tetapi hadits ini memiliki syawâhid yang memperkuat-nya”.

PENULIS KATAKAN:

Syahid-syahid tsb adalah riwayat-riwayat berikut ini:

Pertama: Hadits Ibnu Abbas:

Nabi  ketika berbuka puasa beliau mengucapakan:

اللَّهمَّ لكَ صُمْتُ وعلى رِزقِكَ أفطَرْتُ، فتقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنتَ السَّميعُ العليمُ.

"Allahumma laka sumtu wa 'ala rizqika aftartu, fataqabbal minna innaka anta assami'u al-'aliimu."

Artinya: “ Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka , maka terimalah amal ibadah dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

(HR. Ibnu As-Sunni dlm “
عمل اليوم والليلة” no. 480 dan ad-Daaruquthni 2/185 dengan adanya sedikit perbadaan lafadz.

Ibnu Qoyyim dlm Kitab “زاد المعاد” 2/49 berkata tentang hadits ini: “لا يثبت / tidak ada ketetapan”.

Dan Ibnu al-Mulaqqin dlm “البدر المنير” 5/711 berkata: “ Di dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin Harun , mereka mendhaifkannya “.

Dan al-Qostholaani dlm “المواهب اللدنية” 3/418 berkata: “ إسناده واه جدّا “.

Dan di dhoifkan oleh syeikh al-Albaani dalam “ضعيف الجامع” no. 4350.

Kedua: Hadits Anas Bin Malik RA:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

Dulu Nabi  ketika berbuka puasa beliau mengucapakan:

"Bismillahi, Allahumma laka sumtu, wa 'ala rizqika aftartu."

Artinya: “ Bismillah , Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka“.

HR. Abu Daud no. 3854 , an-Nasaa’i dlm “السنن الكبرى” no. 6901 Thobrooni dlm “المعجم الأوسط” 7/208 dan Imam Ahmad no. 12177 dengan perbedaan sedikit lafadznya.

Thobrooni dlm “المعجم الأوسط” 7/208 berkata:

لَمْ يُرَوِّ هَذَا الحَدِيثَ عَنْ شُعْبَةَ إِلاَّ دَاوُدَ بْنَ الزَّبْرَقَانَ، تَفْرُدَ بِهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ.

Hadits ini tidak diriwayatkan dari Shu'bah kecuali oleh Daud bin Al-Zabarqon. Dan dengannya Ismail bin Umar meriwayatkannya sendirian.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dlm “التلخيص الحبير” 2/802 dan asy-Syaukani dlm “نيل الأوطار” 4/301 berkata: “ Sanadnya Dhaif “.

Ketiga: Hadits Anas bin Malik RA.

Rosulullah  bersabda:

إذا قُرِّبَ إلى أحدِكُم طَعَامٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ.

Jika makanan telah dihidangkan kepada salah satu dari kalian saat dia berpuasa, maka ucapkan olehnya:

"Bismillahi walhamdu lillahi, Allahumma laka sumtu, wa 'ala rizqika aftartu, wa 'alayka tawakkaltu, subhanaka wa bihamdika, taqabbal minni innaka anta assami'u al-'aliimu."

Artinya : “ Dengan nama Allah , dan segala puji bagi Allah , Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dengan rizki-Mu aku berbuka , hanya kepada-Mu aku bertawakkal , Maha Suci Engkau dan dengan memuji-Mu terimalah amal ibadah dari ku , sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

( HR. Ad-Daaruquthni – lihat “أطراف الغرائب” karya Ibnu Thoohir no. 699 – dan asy-Syajari dlm “ترتيب الأمالي” no. 1213. Syeikh al-Albaani dlm “السلسلة الضعيفة” no. 6996 mengatakan: “منكر جدا / Mungkar sekali “ ).

*****

PARA ULAMA YANG MENGAMALKAN DOA "ALLAHUMMA LAKA SHUMTU":

Banyak Kaum Muslimin di belahan dunia termasuk di Indonesia apabila berbuka puasa biasa membaca do’a berikut:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ.

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”.

Pembacaan do’a seperti ini – dengan variasi tambahan dan pengurangan – merupakan warisan turun-temurun dari sebagian para Ulama empat madzhab sebelumnya, yaitu sebagaimana berikut ini :

-----

Pertama: Madzhab Hanafi:

Dari Ulama Madzhab Hanafi misalnya kita menemukan penjelasan dari Ahli Hadits Al-Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az-Zaila’i:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت.

Artinya: Di antara Sunnat adalah ketika berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (Lihat kitab “تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق ” karya Al Imam Az Zaila’i 4/178).

-----

Kedua: Madzhab Maliki:

Dari Ulama Madzhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab “الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني” karya Syekh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi:

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ: اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ: اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ.

Artinya: Dan Sunnat ketika berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 hal. 386).

-----

Ketiga: Madzhab Syafi’i:

Dari Madzhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafizh Al Imam An Nawawi dalam “المجموع”:

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ إِفْطَارِهِ: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ" لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ "كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَامَ ثُمَّ أَفْطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ".

Artinya: Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa itu adalah mengucapkan:

"Allahumma laka sumtu wa 'ala rizqika aftartu." (Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka).

Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah  itu apabila berpuasa kemudian berbuka membaca “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. (Lihat “المجموع” 6/363).

-----

Keempat: Madzhab Hanbali:

Dari Madzhab Hanbali antara lain dikemukakan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi.

وَيُسْتَحَبُّ تَعْجِيلُ الإِفْطَارِ وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ، وَأَنْ يَفْطُرَ عَلَى التَّمْرِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَى الْمَاءِ، وَأَنْ يَقُولَ عِنْدَ فِطْرِهِ: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ ، وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، سُبْحَانَك وَبِحَمْدِك ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ".

Artinya: Dan disunnahkan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Dianjurkan agar berbuka dengan kurma atau jika tidak ada, dengan air. Dan ketika berbuka hendaklah membaca:

"Allahumma laka sumtu, wa 'ala rizqika aftartu, subhanaka wa bihamdika, Allahumma taqabbal minni innaka anta assami'u al-'aliimu."

Artinya : “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Maha Suci Engkau ya Allah dan segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, terimalah ibadahku sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” ( Lihat “الشرح الكبير” karya Ibnu Qudamah 3/76)

Para Ulama itu mengamalkan do’a tersebut berdasarkan warisan ilmu yang diterima secara turun temurun dari generasi ke genarasi.

------

SYEIKH MUHAMMAD BIN SHALEH AL-‘UTSAIMIIN pernah di tanya:

Untuk orang yang berpuasa ada doa yang terkabulkan ketika berbuka, kapan (waktunya) apakah sebelum, disela-sela atau sesudah berbuka?

Dan apakah ada doa-doa dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam atau doa yang dapat anda tunjukkan seperti pada waktu ini?

JAWAB:

الدُّعَاءُ يَكُونُ قَبْلَ الإِفْطَارِ عِنْدَ الغُرُوبِ؛ لأَنَّهُ يَجْتَمِعُ فِيهِ انْكِسَارُ النَّفْسِ وَالذُّلُّ وَأَنَّهُ صَائِمٌ، وَكُلُّ هَذِهِ أَسْبَابٌ لِلإِجَابَةِ وَأَمَّا بَعْدَ الفِطْرِ فَإِنَّ النَّفْسَ قَدْ اسْتَرَاحَتْ وَفَرِحَتْ وَرُبَّمَا حَصَلَتْ غَفْلَةٌ، لَكِنَّ وَرَدَ دُعَاءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَحَّ فَإِنَّهُ يَكُونُ بَعْدَ الإِفْطَارِ وَهُوَ: "ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ"، رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَحَسَّنَهُ الأَلْبَانِيُّ فِي صَحِيحِ سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ (2066)، فَهَذَا لَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ الفِطْرِ، وَكَذَلِكَ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ قَوْلُهُ: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ".

“Doa (dilakukan) sebelum berbuka ketika (akan) terbenam, karena didalamnya terkumpul jiwa merana, ketertundukan dan dia dalam kondisi berpuasa. Semuanya ini ada sebagai sebab untuk dikabulkannya. Sementara kalau sesudah berbuka, maka jiwa telah istirahat dan gembira terkadang lupa. Akan tetapi telah ada doa dari Nabi  kalau sekiranya shoheh maka (dilakukan) setelah berbuka yaitu:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang rasa haus, dan terbasahi tenggorokan serta pahala tetap insyaAllah.’ HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh AL-Bany di shoheh Sunan Abi Dawud, 2066.

Hal ini (dilakukan) sehabis berbuka.

Begitu juga telah ada dari sebagian shahabat dengan berdoa:

"اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ".

“Ya Allah, hanya kepadaMu saya berpuasa dan dengan rizkiMu saya berbuka’

Maka anda dapat berdoa sesuai dengan apa yang anda rasa tepat. ( Selesai ).

(Lihat: Al-Liqa’ As-Syahri No. 8 Karangan Syekh Muhammad Bin Sholeh AL-Utsaimin Rahimahullah).

Dan dalam kesempatan yang lain Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata:

وَأَمَّا مَا وَرَدَ قَوْلُهُ عِنْدَ الفِطْرِ، فَمِنْهُ قَوْلٌ: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ" وَوُرِدَتْ آثَارٌ أُخْرَى وَالجَمِيعُ فِي أَسَانِيدِهَا مَا فِيهَا، لَكِنْ إِذَا قَالَهَا الإِنْسَانُ فَلا بَأْسَ.

“Adapun doa yang yang telah datang dari ucapan beliau –Shallallahu'alaihi wa sallam- ketika berbuka puasa, diantaranya:

“ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU, ALLAHUMMA TAQABBAL MINNI, INNAKA ANTA AS-SAMI’ AL-‘ALIM”

(Artinya : Ya Allah, aku puasa karena-Mu, dan aku berbuka atas rejeki-Mu. Ya Allah ! terimalah puasa dariku, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui ).

Telah datang berbagai atsar yang lain, dan seluruh sanad-sanadnya ada sesuatu di dalamnya. Akan tetapi jika diucapkan oleh seorang insan, MAKA TIDAK APA-APA (BOLEH).”

------

SYEIKH SHALEH AL-FAUZAAN :

Dan Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafidzahullah- berkata:

ويستحب أن يدعو عند إفطاره بما أحب، قال صلى الله عليه وسلم: "إن للصائم عند فطره دعوة ما ترد"، ومن الدعاء الوارد أن يقول: "اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت"

“ Dianjurkan untuk berdoa ketika puasa dengan doa apapun yang dia inginkan.
Nabi 
 bersabda: “Sesungguhnya seorang yang puasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka.”. Dan diantara doa yang datang, hendaknya seorang berdoa: “ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU”.

[ Lihat: Al-Mulakhash Al-Fiqhi: 1/381].

-----

FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH :

Dan berikut ini FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH ( اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء ):

السؤال الرابع من الفتوى رقم (16328):

مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمَطْلُوبُ مِنَ الصَّائِمِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِالإِفْطَارِ؟

الجَوَاب:

يُشَرَّعُ الدُّعَاءُ عِنْدَ الإِفْطَارِ مِنَ الصِّيَامِ، وَمِنْ ذَلِكَ مَا فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا- قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهَرَةَ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ، وَالمُسْتَحَبُّ أَنْ يَكْثُرَ مِنَ الدُّعَاءِ بِمَا يَسَّرَ اللَّهُ لَهُ مِنَ الأَدْعِيَةِ الطَّيِّبَةِ؛ لأَنَّ الصَّائِمَ لَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ حَالَ صِيَامِهِ وَعِنْدَ إِفْطَارِهِ. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ لِلْبُحُوثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالإِفْتَاءِ 9/180-181:

المَجْمُوعَةُ الثَّانِيَةُ: 1. بَكْرُ أَبُو زَيْدٍ... عَضَوٌ. 2. عَبْدُ العَزِيزِ آلُ الشَّيْخِ... عَضَوٌ. 3. صَالِحُ الفَوْزَانِ... عَضَوٌ. 4. عَبْدُ اللَّهِ بْنُ غُدَيَّانَ... عَضَوٌ. 5. عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَفِيفِي... نَائِبُ الرَّئِيسِ. 6. عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَازٍ... الرَّئِيسُ

Pertanyaan keempat dari Fatwa No. 16328:

“ Doa apakah yang dibutuhkan orang yang berpuasa sebelum berbuka puasa?”

JAWAB:

Disyariatkan untuk berdoa pada saat berbuka puasa, termasuk apa yang ada dalam sunan Abu Daud dari Ibn Umar - semoga Allah SWT meridhoi keduanya – berkata: “ Dulu Rosulullah 
 jika berbuka puasa mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang rasa haus, dan terbasahi tenggorokan serta pahala tetap insya Allah.’

Dan dari Mua’dz bin Zuhroh bahwa dulu Nabi  ketika berbuka puasa beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»

Artinya: “ Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka “. Abu Daud telah meriwayatkannya dengan sanad Dhoif.

Dan mustahab baginya untuk memperbanyak berdoa dengan doa-doa yang baik yang Allah mudahkan untuknya. Karena baginya terdapat doa mustajab ketika dia sedang berpuasa dan ketika berbuka puasa.

وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan berfatwa ( اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء ) 9/180-181:

Gelombang ke dua: 1. Bakr Abu Zaid.... anggota. 2. Abdul Azziz ‘Alu Syiekh.... anggota. 3. Sholeh Fauzaan... anggota. 4. Abdullah bin Gudaiyaan... anggota. 5. Abdur Rozzaaq ‘Afiifii... wakil ketua. 6. Abdul Aziz bin Abdullaah bin Baaz... KETUA.

Wallahu a’lam

Al-hamdulillah. Semoga bermanfaat.

 



 

 

Posting Komentar

0 Komentar