KHUTBAH IDUL FITRI
2020
LANGKAH-LANGKAH
SYARI’ DALAM MENGHADAPI WABAH
-----
-----
Di Tulis Oleh Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
===***===
KHUTBAH IDUL FITRI 2020
LANGKAH-LANGKAH SYARI’ DALAM MENGHADAPI WABAH
---
إنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ ونَستَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنا مَنْ
يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ ومن يُضْلِلْ فَلا هَادِي لَهُ، أَشْهَدُ أنْ لا
إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه
ورَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ
إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
﴿يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
﴿يَاأَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا ﴾ [ النساء : 1 ] .
﴿يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا﴾ .
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَالْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه
وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا أَلَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
===
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
----
Bulan yang penuh berkah dan kemulian, bulan ramadhan thn 1442
H / 2021 M, telah melewati kita. Bulan
penuh ampunan dan maghfirah telah memotong umur kita pada tahun ini untuk
kembali pada tahun berikutnya. Bisa jadi, kita masih bertemu dengan bulan ini
pada tahun berikutnya, namun tidak menutup kemungkinan, ramadhan lalu adalah
ramadhan terakhir yang kita lakukan di dunia ini.
Seperti yang kita ketahui
bersama bahwa sudah hampir setahun satengah sejak awal Januari 2019 hingga hari ini 13 Mei 2021 umat
Manusia diberbagai manca Negara sedang dihadapkan pada wabah Covid 19 .
Semoga Allah swt melidungi
kita semua dari wabah tsb , dan semoga Allah swt segara mengangkatnya . Amiin
Ada beberapa hal yang di
syariatkan dalam agama Islam dalam menghadapi berbagai macam wabah penyakit
menular .
===
A.
WAJIB TAAT KEPADA PEMERINTAH
DALAM HAL YANG MA’RUF
Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ
اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah
dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Apabila kalian
berselisih pada suatu perkara, maka kembalikanlah perkara tersebut kepada Allah
(Al-Qur'an) dan Rasul-Nya (Hadits). Jika kalian benar-benar beriman kepada
Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An Nisa: 59).
---
Siapakah yang berhak menyebarkan berita tentang KEAMANAN
atau KECEMASAN...???
Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ
أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي
الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا
فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا
قَلِيلًا﴾
“Dan
apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka terus menyebarkannya. Dan jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan
Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
keabsahannya (akan dapat) mengetahuinya daripada mereka (Rasul dan Ulil Amri).
Jika tidak kerana kurnia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti
syaitan, melainkan sebahagian kecil sahaja (di antara kamu).” (Surah an-Nisaa’,
4: 83)
====
B.
TIDAK BOLEH MENYEBAR BERITA SEMBARANGAN
Dalam
hal ini, terdapat hadis yang berbentuk tegahan keras daripada Rasulullah ﷺ, yang mana
antaranya beliau bersabda:
«كَفَى
بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah
seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa
sahaja yang dia dengar.” (Mukaqaddimah Shahih Muslim. Bab: Larangan Menyebarkan
Setiap Apa Yang Ia Dengar)
===
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
----
DARURAT
MEMPERTAHNKAN NYAWA :
Dalam syariat Islam Menjaga
Nyawa adalah salah satu Dharûriyyâtul-khams (الضَّرُورِيَّاتُ الْخَمْسُ) lima darurat yang wajib di jaga . Lima
darurat tsb meliputi penjagaan terhadap dîn (agama), jiwa, keturunan, akal, dan
harta.
Konsekwensinya
harus sejalan Qoidah Fiqhiyah yang berbunyi :
---
مَا لَا
يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa
saja yang kewajiban itu tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka ia menjadi
wajib pula hukumnya.”
---
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ
مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Menolak
mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
---
الضَّرُورَاتُ
تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ
Kondisi
darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.
---
لَا حَرَامَ
مَعَ الضَّرُورَةِ وَلَا كَرَاهَةَ مَعَ الْحَاجَةِ
Tidak
ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh ketika ada
hajat.
---
الْحَاجَةُ
قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُورَةِ
Kebutuhan
(hajat) terkadang menempati posisi darurat.
---
إِذَا تَعَارَضَتِ
الْمَفْسَدَتَانِ رُوعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا
Apabila
bertentangan dua mafsadah, maka diperhatikan mafsadah yang lebih besar bahayanya
dengan melakukan mafsadah yang lebih ringan.
Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka
tinggalkanlah mafsadah yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan.
===
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
NILAI SATU NYAWA DI SISI ALLAH SWT :
Dari
Al Barra’ bin ‘Adzib radhiyallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ bersabda:
«لَزَوَالُ
الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ»
“Sesungguhnya
musnahnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang muslim.”
Allah
Ta’ala berfirman,
﴿مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ
فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا
فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا﴾
“Barangsiapa yang menghilangkan
nyawa seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al
Maidah: 32).
===
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
HATI-HATI DALAM
BERIJTIHAD DAN BERFATWA YANG MENYANGKUT NYAWA MANUSIA !!!!
Dalam Hadis dari Jabir bin
Abdullah, Rasul menyebutkan bahwa sungguh kebodohan itu penyakit berbahaya dan
obatnya hanyalah bertanya kepada orang yang benar-benar tahu.
Sahabat Jabir berkata :
« خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ
فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ، فَسَأَلَ
أَصْحَابَهُ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوا: مَا
نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا
قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ:
قَتَلُوهُ! قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا؛ فَإِنَّمَا شِفَاءُ
الْعِيِّ السُّؤَالُ؟ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ
-شَكَّ مُوسَى- عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا ».
“ Kami pernah bepergian, kemudian salah
seorang dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Kemudian ia bermimpi
basah dan bertanya kepada sahabatnya, “Apakah padaku ada keringanan untuk
bertayamum?”
Maka sahabatnya mengatakan, “Kami tidak
menemukan keringanan untukmu sedang kamu mampu menggunakan air”, sehingga ia
pun mandi, kemudian mati.
Maka ketika kembali dan menemui Rasulullah
kami pun menceritakan hal tersebut, dan beliau bersabda:
“Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah
membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena
obat dari tidak tahu adalah bertanya. Padahal cukup baginya hanya dengan
bertayamum dan menutup lukanya dengan kain kemudian mengusapnya.” (HR. Abu Daud).
====
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
KITA DIWAJIBKAN
BERUSAHA UNTUK SELALU MENGHINDARI MARABAHAYA :
Fisik dan nyawa kita adalah
amanah . Maka wajib bagi setiap insan untuk menjaga nya . Allah swt berfirman
tentang amanat yang diemban manusia :
﴿اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا
وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا
جَهُوْلًا ﴾ ﴿الأحزاب : ۷۲﴾
“ Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi
dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh”,
Dan Firman Allah swt tentang kewajiban
menjaga amanat dari kebinasan :
﴿وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ
ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ﴾ ﴿البقرة : ۱۹۵﴾
“ Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan
berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “.
Demi menjaga nyawa para
hambanya , Allah swt menghalalkan apa yang Ia haramkan . Allah swt berfirman :
﴿اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ
وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ
اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ﴾﴿البقرة : ۱۷۳﴾
“ Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah,
daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang “.
Bahkan dlm Islam dilarang ibadah berlebihan tanpa
memperhatikan hak-hak badan :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu , dia bercerita
دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ
فَقَالَ: « مَا هَذَا الْحَبْلُ؟ » قَالُوا: هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبَ، فَإِذَا فَتَرَتْ
تَعَلَّقَتْ بِهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « حُلُّوهُ،
لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ، فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ ».
“ Bahwa Nabi ﷺ pernah
masuk masjid, dan ternyata di dalamnya terdapat tambang yang terikat di antara
dua tiang.
Maka beliau bertanya: “Tali apa ini ?”
Para sahabat menjawab: “ Ini adalah tali
milik Zainab, jika dia merasa lelah (beribadah), dia berpegangan pada tali
tersebut.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Lepaskanlah tali itu. Hendaklah salah seorang di antara kalian mengerjakan
sholat pada waktu semangat, dan jika dia merasa malas, maka hendaklah dia
berbaring (tidur).” (Muttafaqun ‘alaih).
===
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
Islam membenarkan akan adanya penyakit menular, namun
tentu-nya dengan izin Allah swt .
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra bahwa seorang lelaki yang berkata kepada Nabi ﷺ bahwa onta yang
berpenyakit kudis ketika berada di antara onta-onta yang sehat tiba-tiba semua
onta tersebut terkena kudis, maka beliau bersabda:
«فَمَنْ
أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟»
“Kalau begitu siapa yang menulari (onta) yang pertama ?”5
===
PERINTAH MENJAUHI WABAH :
Diantara
dalil-dalil yang memerintahkan kita agar menjauhi wabah penyakit menular.
Dari
Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda,
«لاَ
يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ»
“Janganlah
unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.2
Dan
Sabda beliau,
«فِرَّ
مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ»
“Larilah
dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.
===
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
Usaha positif yang diajarkan oleh Rasulullah dalam
menangkal penyebaran wabah antara lain:
---
1.
Menjaga higienitas makanan .
Memastikan
makanan dan minuman selalu dalam kondisi higienis adalah langkah antisipasi
yang penting untuk menangkal penyakit atau wabah. Ini adalah langkah yang
seyogianya dilakukan setiap Muslim setiap harinya.
Rasulullah
ﷺ menginstruksikan:
«غَطُّوا
الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا
وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ
عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ »
“Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah
tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada
wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat
air yang tidak tertutup” (HR. Muslim).
---
2. Mengisolasi area wabah
Yaitu yang dikenal dengan Konsep
“lockdown” atau Karantina Wilayah
Yaitu mencegah dan melarang orang
masuk di suatu wilayah serta melarang orang keluar dari suatu wilayah untuk
mencegah wabah masuk maupun keluar. Konsep ini adalah konsep Islam sejak dahulu
kala di mana Rasulullah ﷺ bersabda,
«إِذَا سَمِعْتُمُ
الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ
فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا». متفق عَلَيْه
“Apabila kalian mendengar wabah
tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya.
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits ini
menunjukkan terlarangnya mendatangi daerah yang terkena wabah tha’un dan
larangan untuk keluar dengan tujuan menghindari wabah, Adapun keluar karena ada
keperluan, maka tidaklah mengapa (misalnya untuk belanja keperluan makanan ke
negeri tetangga).” [Syarh Shahih Muslim, 14: 205-207
---
3. Berusaha
meminimalkan interaksi, bertemu, berkumpul dalam jumlah massa yang banyak untuk
sementara.
Yang demikian itu dikenal dengan Konsep “Social Distancing”
Dan ternyata konsep “social distancing” ini telah
diterapkan sejak dulu oleh sahabat Rasulullah ﷺ ,
yaitu sahabat ‘Amr bin ‘Ash. Kisahnya ketika terjadi wabah di Syam.
Para sejarawan muslim mencatat sekitar 25.000 sampai
30.000 korban meninggal akibat wabah tha’un di Syam. Dua gubernur sebelumnya,
sahabat yang mulia Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal meninggal
karena wabah. Ketika ‘Amr bin ‘Ash menjadi gubernur, beliau memerintahkan agar
kaum muslimin berpencar dan pergi tinggal ke gunung-gunung dengan cara saling
menjauh satu sama lainnya.
Beliau berkata,
أيها الناسُ إنّ هذا الوَجْعُ إذَا وَقَعَ فإنّمَا يَشْتَعِلُ اشتِعالَ النَّارِ
فَتَجَبَّلُوا مِنْهُ في الجِبَالِ.
“Wahai manusia, sesungguhnya wabah
ini terjadi seperti api yang menyala (semakin dahsyat jika bahan bakarnya
berkumpul), maka hendaknya kalian menyebar tinggal di gunung-gunung.” [Musnad
Ahmad no. 1697]
---
4. Tidak Bersentuhan atau Berjabat Tangan , bahkan tidak
menjumpai:
Wabah juga cepat menular dengan
salah satunya caranya adalah sentuhan serta berjabat tangan dengan orang lain
(close contact). Para ahli kesehatan memberikan himbauan akan hal ini, dan
kembali ajaran Islam yang jauh sebelumnya telah mengajarkannya.
Dari ‘Amr bin Asy-Syarid dari
bapaknya, beliau berkata,
كَانَ فِي وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ فَارْجِعْ».
“Dahulu pernah ada delegasi dari
Tsaqif yang hendak berbaiat kpd Nabi ﷺ namun di dalam delegasi tsb terdapat seseorang yang terkena kusta. Maka
Nabi ﷺ segera mengirim utusan kepadanya agar tidak menjumpai Nabi ﷺ dan beliau menyampaikan pesan, “Sungguh kami telah membaiat
Anda, maka pulanglah.” [HR. Muslim no. 328
===
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
---
JIKA TELAH BERUSAHA
LALU MASIH TERKENA WABAH ; MAKA WAJIB BEROBAT :
Rosulullah ﷺ bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا
أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
Artinya: “ Semua penyakit itu ada obatnya.
Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh
dengan seizin Allah Azza wa Jalla” (H.R. Muslim).
«مَا
أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً»
“ Allah tidaklah menurunkan suatu
penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut ” (H.R.
Bukhari)
Dari Usamah bin Syarik radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau
berkata:
كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ،
أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: «نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ،
تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ
شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ».
قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: «الْهَرَمُ»
Aku pernah berada di samping Rasulullah ﷺ. Lalu datanglah serombongan Arab dusun.
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab:
“Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali
satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit
tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu
Majah, dan At-Tirmidzi
Jika tidak kunjung sembuh
juga , Rosulullah ﷺ bersabda tentang seseorang yang wafat disebabkan wabah tho’un
:
«أنَّه
كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً
لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ
صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ
له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ»
Bahwa tha’un (penyakit sampar, pes, lepra)
adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki .Dan
sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin dan
tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat
tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak
terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia
mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid” (HR. al-Bukhari).
----
باَرَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ وَنَفَعَنِيْ وَاِياَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
===****===
KHUTBAH KE DUA
Allahu Akbar 3x wa lillahil Hamd
اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ
تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ .
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى
اِلىَ رِضْوَانِهِ
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى نبينَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا
اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى :
اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ
اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى نبينَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ نبيِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى
بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ
اَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ
يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ
اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَالسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
0 Komentar