BENARKAH WAKTU IMSAK PUASA SEBELUM
MENDEKATI WAKTU FAJAR ITU BID’AH MUNKAROH ?
DAN LAGI-LAGI DA’I DARI KELOMPOK ITU
MENGATAKAN : BAHWA IMSAK ADALAH BID’AH MUNKAROH MADE IN INDONESIA
*****
Disusun oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
====
DAFTAR ISI :
- PENDAHULUAN
- PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG WAKTU IMSAK PUASA :
- DALIL PENDAPAT KETIGA (Imsak 50 Ayat Sebelum Fajar) :
- KATA-KATA INDAH SEBAGIAN PARA ULAMA DAHULU TENTANG IMSAK:
- FATWA PARA ULAMA KONTEMPORER:
- BANTAHAN TUDUHAN BAHWA IBNU HAJAR MENGATAKAN “BID’AH MUNKARAH”
- TEXS LENGKAP TENTANG IMSAK DARI KITAB
" بِدَايَةُ الْمُجْتَهِدِ
وَنِهَايَةُ الْمُقْتَصِد":
- TENTANG KALENDER JADWAL WAKTU SHALAT :
====
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
----
PENDAHULUAN
IMSAK adalah batas awal waktu menahan
diri dari larangan ketika berpuasa.
IMSAK adalah batas awal waktu menahan diri dari larangan ketika berpuasa.
Ada sebagian para syeikh di timur
tengah yang mengatakan dalam ceramahnya bahwa waktu Imsak sebelum mendekati
waktu Fajar adalah Bid’ah Mungkaroh. Kemudian pernyataan ini diikuti oleh
sebagian para da'i tanah air yang menisbatkan dirinya pada kelompok manhaj
tertentu. Kelompok ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya: Suudz dzon dan kata celaan “pemuja hawa nafsu” terhadap siapa saja yang menyelisihinya dalam
perbedaan pendapat meski dalam masalah yang sangat layak diperselisihkan,
termasuk masalah imsak.
Sebagian mereka -salah kaprah- mengutip
perkataan al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa imsak adalah BID'AH MUNKAROH, padahal yang
dimaksud Ibnu Hajar adalah me-maju-kan adzan Shubuh sebelum waktunya tiba,
bukan imsak sahur, oleh sebab itu Ibnu Hajar mengkhawatirkan kedepannya akan
muncul pendapat me-maju-kan adzan Maghrib sebelum waktunya tiba, demi
mengamalkan sunnahnya ta'jil (mempercepat) buka puasa ... dst.
Bahkan salah satu dari mereka
mengatakan dalam ceramahnya:
"Imsak Sebelum Shubuh adalah
Bid'ah Made In Indonesia".
Da’i ini tidak pernah berfikir dan
memperhitungkan akan dampak negatifnya terhadap umat dari kata-kata celaannya
ini. Dan itu sering ia keluarkan dari mulutnya di ceramah-ceramah materi
lainnya. Dengan bangganya ia sebarkan ceramahnya itu di Youtube dan Medsos.
Dan ada pula seorang da’i kondang dari
kelompok itu yang bergelar Doktor MA Lc jebolan UIM dengan lantang mengatakan:
“Penetapan imsak itu sama saja
dengan mengharamkan apa yang Allah halalkan”.
Ini ungkapan yang sangat berbahaya, padahal
imsak sebelum mendekati fajar ini tujuannya adalah untuk kehati-hatian, apalagi
di zaman sekarang ini penetapan waktu shubuh itu merujuk kepada jadwal waktu
sholat di kalender, bukan melihat langsung terbitnya Fajar di langit. Dan ini juga diperselisihkan
hukumnya, sebagaimana yang akan penulis bahas di akhir artikel ini.
Dan lagi pula imsak sebelum mendekati
fajar ini sudah lama diamalkan, bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa
pengamalannya itu sudah ada semenjak zaman para sahabat radhiyallahu 'anhum dan
tabi’iin, termasuk Imam Bukhori, lalu diamalkan oleh banyak kaum Muslimin di
hampir seluruh belahan dunia, termasuk di negara-negara Teluk, di negara-negara
Afrika seperti Mesir, di Eropa dan negara-negara Asia seperti Indonesia.
Silahkan anda berbeda pendapat dalam
masalah ini, namun jangan lah anda menyesat-nyesatkan orang yang ber-imsak!
Apalagi menuduh mengharamkan apa yang Allah halalkan, karena yang demikian itu
ada indikasi mengkafirkan dan memurtadkan orang yang ber-imsak atau menuduhnya
melakukan syirik rububiyyah.
===***===
PERBEDAAN PENDAPAT
TENTANG WAKTU IMSAK PUASA :
Dan perbedaan pendapat para ulama
tentang awal mulai imsak puasa Ramadhan ini sudah lama terjadi.
Al-Imam Ibnu Rusyd (lahir: 520 H –
wafat: 595 H) menyebutkan dalam kitabnya:
بِدَايَةُ
الْمُجْتَهِدِ وَنِهَايَةُ الْمُقْتَصِدِ.
(lihat: "al-hidayah fi takhrij
ahadits al-bidayah." 5/139-143)
ada 3 pendapat dalam masalah ini:
PENDAPAT PERTAMA :
Jumhur ulama berpendapat bahwa dimulainya imsak
semenjak munculnya fajar kedua yang bergaris putih.
Kemudian pendapat pertama ini terpecah
menjadi dua pendapat tentang orang yang tidak melihat fajar, padahal sebenarnya
fajar sudah terbit, namun dia masih tetap makan dan minum:
Pertama: Tidak sah puasanya dan wajib
mengqodlo.
Kedua: Sah puasanya dan tidak wajib
mengqodlo.
PENDAPAT KEDUA :
Sekitar bacaan 50 ayat al-Quran Sebelum
waktu shubuh (sebelum Fajar shoodiq terbit).
PENDAPAT KETIGA :
Imsak di mulai sejak munculnya Cahaya
Fajar merah di langit setelah datangnya cahaya fajar putih bersamaan tampaknya
dengan mega merah, yaitu ketika mendekati saat matahari terbit. Ini
diriwayatkan dari Hudzaifah, lbnu Mas'ud dan lainnya.
===***===
PERHATIAN :
Di
sini penulis hanya akan membahas tentang "Pendapat Kedua",
yaitu yang menyatakan bahwa mulai waktu Imsak itu Sebelum waktu shubuh Sekitar
bacaan 50 ayat al-Quran. Untuk bertabayyun, apakah benar bahwa penetapan waktu
imsak itu bid'ah munkaroh dan sesat ? Mari kita telusuri adakah
dalil-dalilnya?
*****
DALIL PENDAPAT KETIGA
(Imsak 50 Ayat Sebelum Fajar) ADALAH SBB:
-----
Dalil Pertama:
Firman Allah SWT:
وَكُلُوْا
وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ
الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا
تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ
اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ
Makan dan minumlah hingga jelas bagi
kalian (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian
sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka,
ketika kalian beriktikaf dalam masjid. Itulah batasan-batasan Allah, maka
janganlah kalian mendekatinya (QS. Al-Baqarah: 187).
Firman Allah SWT: "تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا
تَقْرَبُوْهَاۗ"
artinya: Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kalian
mendekatinya". Ini mirip dengan Firman-Nya:
{وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ
ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا}
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". (QS:
Al-Isra: 32)
Hal-hal yang bisa mendekatkan kepada
perbuatan zina, itu di haramkan. Begitu juga dengan puasa, maka hal-hal yang
bisa mendekatkan diri pada batal dan tidak sahnya, maka harus dijauhi.
-----
Dalil Kedua:
Imam Bukhari no. (1821) meriwayatkan dari Anas dari
Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu dia berkata,
«تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ قَامَ
إِلَى الصَّلَاةِ»، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: «قَدْرُ
خَمْسِينَ آيَةً»
"Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk shalat."
Aku berkata, "Berapa lama
perkiraan waktu antara adzan dan sahurnya". Beliau berkata, "sekadar
(membaca) 50 ayat."
Dan Imam Bukhori sendiri menulis sebuah
BAB khusus dalam Shahih nya dengan judul:
بَابُ قَدْرِ كَمْ
بَيْنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ
"BAB: Berapa lama kadar waktu
antara Sahur dan sholat subuh"
Lalu Imam Bukhori menyebutkan hadits
Anas diatas, yaitu sbb:
No. 1821. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu
'anhu, ia berkata:
«تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ قَامَ
إِلَى الصَّلَاةِ»، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: «قَدْرُ
خَمْسِينَ آيَةً».
Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau berdiri menuju shalat.
Aku bertanya: “Berapa lama jarak antara adzan
dan sahur?” Ia menjawab: “Sekadar lima puluh ayat”.
Dalam riwayat lain dalam Shahih Al-Bukhari
no. 576 disebutkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ
ﷺ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ: «تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا، قَامَ نَبِيُّ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَصَلَّى»، قُلْنَا لِأَنَسٍ:
كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ؟
قَالَ: «قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً»
Bahwa Nabi Allah ﷺ dan Zaid bin Tsabit
radhiyallahu 'anhu makan sahur. Ketika keduanya telah selesai dari sahur
mereka, Nabi Allah ﷺ berdiri menuju shalat, lalu
beliau melaksanakan shalat.
Kami berkata kepada Anas: Berapa lama jarak
antara selesainya keduanya dari sahur dan masuknya keduanya ke dalam shalat?
Ia menjawab: Sekadar seseorang membaca lima
puluh ayat”. [Selesai]
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya
"فَتْحُ الْبَارِي (4/164) ketika mensyarahi hadits Anas ini, beliau berkata:
"قَوْلُهُ: (بَابُ قَدْرِ
كَمْ بَيْنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ) أَيّ: انْتِهَاءُ السُّحُورِ
وَابْتِدَاءُ الصَّلَاةِ؛ لِأَنَّ الْمُرَادَ تَقْدِيرُ الزَّمَانِ الَّذِي تَرُكَ
فِيهِ الْأَكْلُ، وَالْمُرَادُ بِفِعْلِ الصَّلَاةِ أَوَّلُ الشُّرُوعِ فِيهَا
قَالَهُ الزَّيْنُ بْنُ الْمُنِيرِ".
"Perkataan Imam Bukhory: (Bab:
seberapa lama kadar waktu antara Sahur dan sholat Subuh), Yakni: berakhirnya
waktu sahur dan awal mulainya waktu shalat (Shubuh); Karena yang dimaksud
adalah perkiraaan waktu yang tersisa meninggalkan makan sahur. Dan yang
dimaksud dengan mengerjakan shalat adalah permulaan masuk waktu sholat, seperti
yang dikemukakan oleh Al-Zein bin Al-Muniir".
Lalu al-Hafidz berkata:
قَوْلُهُ: (قَالَ:
قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً) أَيّ: مُتَوَسِّطَةٌ لَا طَوِيلَةٌ وَلَا قَصِيرَةٌ، لَا
سَرِيعَةٌ وَلَا بَطِيئَةٌ...
وَقَالَ
الْقُرْطُبِيُّ: فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ
قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، فَهُوَ مُعَارِضٌ لِقَوْلِ حُذَيْفَةَ "هُوَ
النَّهَارُ إِلَّا أَنَّ الشَّمْسَ لَمْ تَطْلُعْ". انْتَهَى.
وَالْجَوَابُ أَنْ
لَا مُعَارِضَةَ بَلْ تَحْمِلٌ عَلَى اخْتِلَافِ الْحَالِ، فَلَيْسَ فِي رِوَايَةٍ
وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مَا يُشْعِرُ بِالْمُوَاظِبَةِ، فَتَكُونُ قِصَّةُ حُذَيْفَةَ
سَابِقَةً.
Kata-kata: (Dia berkata: perkiraan lima
puluh ayat) yaitu: sedang, tidak panjang, tidak pendek, tidak cepat dan tidak
lambat....
Al-Qurthubi berkata: "Ini
menandakan bahwa selesainya makan sahur sebelum fajar terbit. Maka ini
bertentangan dengan perkataan Hudzaifah, "Itu sudah siang akan tetapi
matahari belum terbit."(selesai perktaan al-Qurthubi).
(Ibnu Hajar berkata:) Jawabannya
adalah: tidak ada pertentangan, tetapi masing-masing diarahkan sesuai dengan
keadaan yang berbeda, karena dalam salah satu dari dua riwayat tersebut tidak
menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan secara kesinambungan atau terus
menerus. Maka kisah Hudzaifah itu terjadi lebih dulu. (Selesai kutipan dari
al-Hafidz Ibnu Hajar)
[Baca pula: "عُمْدَةُ الْقَارِئِ" karya al-‘Aini 10/299].
Penulisan Imam Bukhori Bab di atas
mengisyaratkan bahwa dirinya termasuk yang berpendapat waktu mulai Imsak itu
beberapa saat sebelum Fajar terbit.
Dalil yang di ambil dari hadits diatas
bahwa Hadits tersebut menunjukkan bahwa waktu sahur Rasulullah ﷺ adalah beberapa saat sebelum adzan, sekitar bacaan al-Qur’an 50
ayat.
Oleh sebab itu Waliid Ibnu ash-Sholah dalam Mawqi’
nya berkata :
فَمَنْ أَمْسَكَ
عَنِ الشَّرَابِ وَالطَّعَامِ وَسَائِرِ المُفَطِّرَاتِ قَبْلَ أَذَانِ الفَجْرِ بِمِقْدَارِ
خَمْسِينَ آيَةً مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً، وَبِقِرَاءَةٍ لَا سَرِيعَةٍ
وَلَا بَطِيئَةٍ، وَيُمْكِنُ تَقْدِيرُهَا مَا بَيْنَ العَشْرِ دَقَائِقَ وَالثُّلُثِ
سَاعَةٍ، فَقَدْ أَصَابَ مَا كَانَ يَفْعَلُهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ.
Barang siapa yang menahan diri dari minum,
makan, dan seluruh pembatal puasa sebelum adzan fajar dengan kadar membaca lima
puluh ayat yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, serta dengan
bacaan yang tidak cepat dan tidak lambat, dan dapat diperkirakan antara sepuluh
menit hingga sepertiga jam, maka ia telah melakukan apa yang dahulu
dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.
[ الموقع
الرسمي للدكتور وليد ابن الصلاح https://drwaleedbinalsalah.com
›]
----
Jika ada yang membantah:
Bahwa hadits ini bukan menyatakan bahwa
Nabi ﷺ memulai puasa dan menahan diri tidak makan dan minum beberapa
saat sebelum fajar.
Waktu sahur "Berbeda dengan
"waktu imsak" (menahan tidak makan dan minum). Sebagaimana anda
mengatakan, ‘Aku sahur jam dua sebelum fajar, itu artinya bukan anda memulai
puasa dari waktu tersebut, tapi hanya mengabarkan tentang waktu sahur tersebut.
Dalam kitab "شَرْحُ أَحَادِيثِ عُمْدَةِ الأَحْكَامِ. " karya Abdurrahman bin
Abdullah as-Suhaim hadits ini di gabungkan (الْجَمْعُ)
dengan hadits Adzan Bilal waktu shubuh, yaitu sbb:
وَيُحْمَلُ
الْأَذَانُ الْوَارِدُ فِي حَدِيثِ الْبَابِ فِي قَوْلِهِ: "كَمْ كَانَ
بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟" عَلَى الْإِقَامَةِ؛ لِأَنَّ الْإِقَامَةَ
يُطْلَقُ عَلَيْهَا أَذَانٌ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ: "بَيْنَ كُلِّ
أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ". مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَالْمَقْصُودُ بَيْنَ الْأَذَانِ
وَالْإِقَامَةِ.
"Adzan yang tersebut
dalam hadits BAB ini, yaitu perkataannya: "Berapa lama waktu antara adzan
dan sahur? "adzan di sini di artikan "Iqomat"; Karena iqamah
juga disebut adzan, seperti dalam sabda beliau ﷺ:
"Di antara dua adzan itu ada sholat". Hadits Muttafqun alaihi. Yang
dimaksud adalah antara adzan dan iqomat". (Selesai)
Jawaban atas bantahan tersebut adalah:
Sesungguhnya hadits tentang menahan diri dari
pembatal-pembatal puasa sebelum adzan fajar pada bulan puasa diriwayatkan dalam
Shahih Al-Bukhari dengan beberapa riwayat, semua itu menunukkan bahwa yang
dimaksud dengan imsak adalah antara sahur dan adzan fajar, bukan antara adzan
dan iqomat. Di antaranya adalah:
Riwayat dari Anas bin Malik (576), di
dalamnya:
«قُلْنَا لِأَنَسٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا
مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ؟».
Kami berkata kepada Anas: “Berapa lama jarak
antara selesainya keduanya (Nabi ﷺ dan Zaid bin Tasbit) dari
sahur dan masuknya keduanya ke dalam shalat?”.
Dan riwayat dari Anas, dari Zaid bin Tsabit
(1921), di dalamnya bahwa Anas bertanya kepada Zaid:
«كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟»
“Berapa lama jarak antara adzan dan
sahur?”
Kedua riwayat ini saling menjelaskan satu
sama lain, dan dapat digabungkan dengan mengatakan:
Sesungguhnya yang dimaksud dengan ucapannya:
( وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ / dan masuknya keduanya ke dalam shalat),
yang disebutkan dalam riwayat pertama, adalah sebagaimana yang disebutkan dalam
riwayat kedua dengan ucapannya: (كَمْ
كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ
/ berapa lama jarak antara adzan, sehingga yang dimaksud dengan masuknya
keduanya ke dalam shalat adalah masuknya keduanya ke dalam waktu shalat, yang
terwujud dengan adzan.
Dan yang dimaksud dengan ucapannya: (وَالسَّحُورِ /dan sahur), yang disebutkan dalam riwayat kedua, adalah
sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat pertama dengan ucapannya:
«كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا»
“Berapa lama jarak antara selesainya keduanya dari sahur”,
sehingga yang dimaksud dengan sahur adalah selesai darinya.
Dan jawabannya dalam kedua riwayat tersebut
adalah:
«قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً»
sekadar seseorang membaca lima puluh
ayat,
Atau
«قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً»
“Sekadar lima puluh ayat”.
Dengan demikian, menjadi jelas dari apa yang
telah kami sebutkan bahwa yang dimaksud adalah perkiraan waktu ketika
Rasulullah ﷺ meninggalkan makan sebelum adzan, yang diperkirakan dengan
bacaan lima puluh ayat, dan itu memakan waktu antara sepuluh menit hingga
sepertiga jam, dan Allah Ta’ala lebih mengetahui.
Penulis katakan :
Paling tidak, mereka yang menolak hukum disyari’atkannya
waktu imsak sahur, mereka tidak terus menerus berteriak-teriak di medsos atau di
artikel dengan mengklaim bid’ah sesat terhadap orang-orang yang mempraktekkan
imsak, apalagi mengeluarkan kata-kata yang mengindikasikan pengkafiran dan
pemurtadan orang yang ber-imsak, seperti tuduhan mengharamkan apa yang Allah
halalkan.
----
Dalil Ketiga:
Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ
وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ
يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ
اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ
الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلاَ
وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ ".
"Sesungguhnya perkara yang halal
itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya
terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia.
Barang siapa yang menjaga diri dari
perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan
kehormatannya.
Barang siapa terjatuh ke dalam perkara
syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti seorang
penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan (hima),
dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya.
Ketahuilah, bahwa setiap raja itu
mempunyai hima, ketahuilah bahwa hima Allah SWT adalah segala yang Allah SWT
haramkan.
(HR. Imam al Bukhari no. 52, 2051 dan
Muslim no. 1599).
----
Dalil Keempat:
Dari Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib,
ia berkata, "Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah ﷺ:
دَعْ مَا
يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu
ambillah yang tidak meragukanmu’."
Al-Imam Ahmad (1/201), an-Nasa’i (no.
5615), at-Tirmidzi no. 2637, dan ia nyatakan sahih.
Hadits ini sahih, disahihkan oleh para
imam ahli hadits, termasuk di antaranya asy-Syaikh Muqbil dalam kitabnya "الصَّحِيحُ الْمُسْنَدُ مِمَّا لَيْسَ فِي
الصَّحِيحَيْنِ."
(1/222—224)
===***===
KATA-KATA INDAH SEBAGIAN PARA ULAMA TENTANG IMSAK:
Sebagian ungkapan para ulama dalam
menanggapi perbedaan pendapat tentang waktu Imsak:
----
PERKATAAN IBNU RUSYD (wafat 595 H):
Betapa indahnya perkataan Ibnu Rusyd
salah seorang ulama besar Madzhab Maliki, penulis kitab Fiqih "بِدَايَةُ الْمُجْتَهِدِ وَنِهَايَةُ
الْمُقْتَصِدِ.",
kitab ini menjadi kuri kulum di UIM dan perguruan tinggi lainnya di Timur
Tengah. Beliau berkata tentang perbedaan pendapat ini:
وَالْمَشْهُورُ
عَنْ مَالِكٍ وَعَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّ الْأَكْلَ يَجُوزُ أَنْ يَتَصَلَّ
بِالطُّلُوعِ وَقِيلَ: بَلْ يَجِبُ الْإِمْسَاكُ قَبْلَ الطُّلُوعِ. وَالْحُجَّةُ
لِلْقَوْلِ الْأَوَّلِ مَا فِي كِتَابِ الْبُخَارِيِّ - فِي بَعْضِ رِوَايَاتِهِ -
قَالَ النَّبِيُّ -ﷺ-: "وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ
مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُنَادِي حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ" وَهُوَ نَصٌّ
فِي مَوْضِعِ الْخِلَافِ أَوْ كَالنَّصِّ وَالْمُوَافَقُ لِظَاهِرِ قَوْلِهِ
تَعَالَى: {وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ}- الْآيَةُ.
"وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى
أَنَّهُ يَجِبُ الْإِمْسَاكُ قَبْلَ الْفَجْرِ فَجَرْيًا عَلَى الِاحْتِيَاطِ
وَسَدًّا لِلذَّرِيعَةِ وَهُوَ أَوْرَعُ الْقَوْلَيْنِ ، وَالْأَوَّلُ أَقْيَسُ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ".
Artinya: "Dan yang masyhur dari
Imam Malik sesuai dengan pendapat jumhur, batasnya adalah boleh makan hingga
bersentuhan dengan eksistensi terbitnya fajar, bukan hanya sebatas tampaknya
fajar, bahkan sebagian ulama membatasi sebelum terbit fajar.
Dasar pendapat Malik dan jumhur adalah hadits dalam kitab Bukhari, saya kira
dalam sebagian riwayatnya, Nabi ﷺ
bersabda:
وَكلُواْ واشربُواْ
حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أمِّ مَكتُوم فإنَّهُ لا يُنَادِي حتَّى يَطْلُعَ الفَجْرْ
"Makan dan minumlah hingga ibnu
Ummi Maktuum mengumandangkan adzan, sesungguhnya dia tidak menyeru hingga
terbit fajar". (HR. Bukhori no. 617, 622 dan 2656).
Ini adalah Nash yang memutuskan perselisihan atau nash hadits yang sesuai
dengan makna dzohir Firman Allah SWT: "كلُواْ واشربُواْ"....
dst.
Mereka yang berpendapat : batas makan
sahur itu (beberapa saat) sebelum terbit fajar, mereka berjalan diatas tindakan
hati-hati dan preventif (jaga-jaga).
Dan INI ADALAH PENDAPAT YANG PALING
WARO’ (paling extra hati-hati).
Adapun pendapat yang pertama (Imam
Malik dan jumhur yaitu hingga terbit fajar), ini lebih analogis. Wallohu a'lam.
(selesai dari Ibnu Rusyd. Lihat: "الْهِدَايَةُ فِي تَخْرِيجِ أَحَادِيثِ الْبِدَايَةِ." 5/143)
----
PERNYATAAN IMAM MALIK
Abu Bakr at-Tamimi ash-Shoqly (wafat 451 H)
dalam kitabnya al-Jami’ Lii Masa’il al-Mudawwanah 3/1084 berkata:
وَكَرِهَ مَالِكٌ
لِمَنْ شَكَّ فِي الْفَجْرِ أَنْ يَأْكُلَ.
قَالَ مَالِكٌ:
وَمَنْ أَكَلَ فِي رَمَضَانَ، ثُمَّ شَكَّ أَنْ يَكُونَ أَكَلَ قَبْلَ الْفَجْرِ أَوْ
بَعْدَهُ، فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ، إِذْ لَا يَرْتَفِعُ فَرْضٌ بِغَيْرِ يَقِينٍ.
قَالَ ابْنُ حَبِيبٍ:
وَإِنْ كَانَ قَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي مَنْ شَكَّ فِي الْفَجْرِ أَنْ يَأْكُلَ،
فَلْيَأْكُلْ حَتَّى يُوقِنَ بِهِ، وَهُوَ الْقِيَاسُ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ}،
وَهُوَ الْعِلْمُ بِهِ، وَلَيْسَ الشَّكُّ عِلْمًا بِهِ، وَلَكِنِ الِاحْتِيَاطُ أَحَبُّ
إِلَيْنَا أَنْ لَا يَأْكُلَ فِي الشَّكِّ، قَالَ مَالِكٌ.
فَإِنْ أَكَلَ بَعْدَ
شَكِّهِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ اسْتِحْبَابًا، إِلَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ أَنَّهُ أَكَلَ
بَعْدَ الْفَجْرِ، فَيَكُونُ وَاجِبًا.
“Imam Malik memakruhkan bagi orang yang ragu
tentang terbitnya fajar untuk makan (sahur).
Imam Malik berkata: Barang siapa makan (sahur) pada
bulan Ramadhan, kemudian ia ragu apakah ia makan sebelum fajar atau setelahnya,
maka wajib baginya mengqadha, karena suatu kewajiban tidak gugur kecuali dengan
keyakinan.
Ibnu Habib berkata: Meskipun telah
diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang orang yang ragu mengenai fajar, bahwa ia
boleh makan (sahur), maka hendaklah ia makan sampai ia yakin tentangnya.
Ini sesuai dengan qiyas, berdasarkan firman
Allah:
“Hingga jelas bagi kalian benang putih dari
benang hitam, yaitu fajar,”
Maksudnya adalah pengetahuan yang yakin
tentangnya, sedangkan keraguan bukanlah pengetahuan. Akan tetapi sikap
berhati-hati lebih kami sukai, yaitu agar tidak makan dalam keadaan ragu, kata
Imam Malik.
Jika ia makan setelah keraguannya, maka wajib
baginya mengqadha sebagai anjuran (ihtiyath), kecuali jika jelas bahwa ia makan
setelah terbit fajar, maka qadha tersebut menjadi wajib”.
----
PERKATAAN AL-IMAM ASY-SYAFI’I (wafat 204 H):
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
وأَسْتَحِبُّ
التَّأَنِّيَ بالسَّحُوْرِ مَا لَمْ يَكُنْ فِي وَقْتِ مُقَارِبٍ يُخَافُ أن
يَّكوْنَ الفَجْرُ طَلَعَ ، فَإنِّي أُحِبُّ قَطْعَه فِي ذَلِكَ الوَقْتِ
"Aku menganggap mustahabb
perbuatan teliti dan tidak gegabah dalam bersahur, bersahurlah selagi belum sampai
pada waktu yang mendekati (fajar/subuh) yang mana dikhawatirkan fajar terbit.
Aku menyukai untuk menghentikan sahur
pada saat itu (sesaat sebelum mendekati waktu subuh)". (Baca: al-Umm 2/105
cetakan Dar al Fikr, tahun 1410 H)
----
PERKATAAN IMAM AHMAD
Ibnu Quddamah dalam al-Mughni 4/433 (Tahqiq
at-Turki) berkata:
قَالَ أَحْمَدُ:
يُعْجِبُنِي تَأْخِيرُ السَّحُورِ؛ لِمَا رَوَى زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، قَالَ: «تَسَحَّرْنَا
مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ
ذَلِكَ؟ قَالَ: خَمْسِينَ آيَةً». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Imam Ahmad berkata: aku menyukai mengakhirkan
sahur, karena apa yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, ia berkata: kami
bersahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami berdiri untuk
shalat. Aku berkata: berapa jarak antara keduanya? Ia menjawab: sekitar lima
puluh ayat. Muttafaq ‘alaih”. [Lihat pula Asy-Syarah al-Kabiir karya
Ibnu Qudamah 7/490 (Tahqiq at-Turki)].
----
PERKATAAN IMAM GHOZALI
Al-Imam al-Ghozali dalam al-Wasith fii
al-Madzhab 2/536 menyebutkan ada 8 sunnah dalam puasa Ramadhan, diantaranya dia
berkata:
الثَّانِي تَأْخِيرُ
السُّحُورِ مَعَ الِاسْتِظْهَارِ بِالْيَقِينِ، وَقَدْ كَانَ بَيْنَ تَسَحُّرِ رَسُولِ
اللهِ ﷺ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.
“Kedua: mengakhirkan sahur dengan tetap
berhati-hati dengan hal yang yakin, yaitu jarak antara sahur Rasulullah ﷺ dan shalat subuh adalah sekitar bacaan lima puluh ayat”.
----
AL-HAFIDZ IBNU KATSIR DALAM TAFSIR-NYA 1/514 :
وَيُسْتَحَبُّ
تَأْخِيرُهُ إِلَى قَرِيبِ انْفِجَارِ الْفَجْرِ، كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ،
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قَالَ أَنَسٌ: قُلْتُ
لِزَيْدٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ
آيَةً ....
وَقَدْ رُوي عَنْ
طَائِفَةٍ كَثِيرَةٍ مِنَ السَّلَفِ أنَّهم تَسَامَحُوا فِي السُّحُورِ عِنْدَ
مُقَارَبَةِ الْفَجْرِ. رُوِيَ مِثْلُ هَذَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ،
وَعَلِيٍّ، وَابْنِ مَسْعُودٍ، وَحُذَيْفَةَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَابْنِ عُمَرَ،
وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَعَنْ طَائِفَةٍ كَثِيرَةٍ مِنَ
التَّابِعِينَ، مِنْهُمْ: مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، وَأَبُو
مِجْلز، وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعَي، وَأَبُو الضُّحَى، وَأَبُو وَائِلٍ، وَغَيْرُهُ
مِنْ أَصْحَابِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَطَاءٌ، وَالْحَسَنُ، وَالْحَكَمُ بْنُ
عُيَيْنَةَ وَمُجَاهِدٌ، وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، وَأَبُو الشَّعْثَاءِ
جَابِرُ بْنُ زيد. وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْأَعْمَشُ وَمَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ".
“Dan disunnahkan untuk mengakhirkan sahur hingga
mendekati waktu fajar, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain dari
Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Kami makan sahur
bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami bangkit untuk
salat." Anas berkata, "Aku bertanya kepada Zaid, 'Berapa lama jarak
antara azan dan sahur?' Zaid menjawab, 'Sekitar bacaan lima puluh ayat.'"
Dan telah diriwayatkan dari sekelompok
besar ulama salaf bahwa mereka memberi keringanan dalam sahur ketika mendekati
waktu fajar. Riwayat seperti ini juga disebutkan dari Abu Bakar, Umar, Ali,
Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit,
serta sekelompok besar tabi’in, di antaranya Muhammad bin Ali bin Husain, Abu
Majliz, Ibrahim An-Nakha’i, Abu Dhuhā, Abu Wā’il, dan lainnya dari sahabat Ibnu Mas’ud, juga Atha’, Al-Hasan, Al-Hakam
bin Uyaynah, Mujahid, Urwah bin Zubair, dan Abu Sya’tsa’ Jābir bin Zaid.
Pendapat ini juga diikuti oleh Al-A’masy dan Ma’mar bin Rasyid”.
---
PERKATAAN IBNU AQIIL AL-HANBALI
‘Ala’ud-Dīn al-Mardāwai berkata dalam kitab al-Inṣhof fī Ma‘rifat ar-Rājiḥ min al-Khilāf (7/487–488):
وَذَكَرَ ابْنُ
عَقِيلٍ فِي الْفُصُولِ: إذَا خَافَ طُلُوعَ الْفَجْرِ، وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ
جُزْءًا مِنْ اللَّيْلِ. لِيَتَحَقَّقَ لَهُ صَوْمُ جَمِيعِ الْيَوْمِ، وَجَعَلَهُ
أَصْلًا لِوُجُوبِ صَوْمِ يَوْمِ لَيْلَةِ الْغَيْمِ، وَقَالَ: لَا فَرْقَ.
Ibnu ‘Aqīl menyebutkan
dalam kitab al-Fuṣūl: apabila seseorang khawatir
terbitnya fajar, maka wajib baginya untuk imsak (menahan diri dari makan dan
minum) pada sebagian akhir malam, agar ia benar-benar memastikan telah berpuasa
sepanjang hari secara sempurna. Ia menjadikan hal ini sebagai dasar bagi
kewajiban berpuasa pada hari ketika malamnya tertutup awan, dan ia berkata:
tidak ada perbedaan antara keduanya.
---
PERKATAAN AZ-ZARQONI
Abdul Baqi Az-Zarqani al-Mishri (wafat 1099
H) berkata dalam kitab Syarh Az-Zarqani ‘ala Mukhtashar Khalil wa Hasyiyah
al-Banani 2/350:
وَوَقْتُ تَأْخِيرِ
السُّحُورِ يَدْخُلُ ابْتِدَاؤُهُ مِنْ نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ، وَكُلَّمَا تَأَخَّرَ
كَانَ أَفْضَلَ، فَقَدْ كَانَ بَيْنَ سُحُورِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَالْفَجْرِ
قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الْقَارِئُ خَمْسِينَ آيَةً، كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ.
Waktu mengakhirkan sahur mulai masuk sejak
permulaan setengah malam terakhir, dan semakin diakhirkan maka semakin utama.
Sungguh, jarak antara sahur beliau ﷺ dan waktu fajar adalah
sekitar kadar waktu yang dibutuhkan seorang pembaca untuk membaca lima puluh
ayat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Bukhari.
---
PERKATAAN AL-ADAWI
Abu al-Hasan al-‘Adawi dalam kitab Hasyiyah
Al-‘Adawi ‘ala Kifayah Ath-Thalib Ar-Rabbani 1/443 berkata :
[قَوْلُهُ: بَعْدَ تَحَقُّقِ بَقَاءِ جُزْءٍ مِنْ
اللَّيْلِ] وَقَدْرُ التَّأْخِيرِ الْأَكْمَلِ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ
أَنْ يَبْقَى بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إلَى الْفَجْرِ قَدْرُ
مَا يَقْرَأُ الْقَارِئُ خَمْسِينَ آيَةً، (وَلَعَلَّ الْمُرَادَ الْقَارِئُ الْمُتَمَهِّلُ
فِي قِرَاءَتِهِ)
وَفِي بَعْضِ الشُّرُوحِ
وَوَقْتُ تَأْخِيرِ السُّحُورِ يَدْخُلُ ابْتِدَاؤُهُ بِنِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ،
وَكُلَّمَا تَأَخَّرَ كَانَ أَفْضَلَ.
Perkataannya: “setelah memastikan masih ada
waktu tersisa sebagian dari malam.”
Ukuran pengakhiran yang paling sempurna dalam
keutamaan, sebagaimana dalam hadits, adalah masih tersisa waktu setelah
selesai makan dan minum hingga terbit fajar kira-kira selama seorang qori
membaca lima puluh ayat (dan barangkali yang dimaksud adalah qori yang
tenang dalam bacaannya).
Dan dalam sebagian kitab syarah disebutkan
bahwa yang dimaksud dengan pengakhiran waktu sahur, adalah dimulai sejak
pertengahan malam terakhir, dan semakin diakhirkan maka semakin utama”.
Ahmad ath-Thahthawi al-Hanafi dalam Hasyiyah
ath-Thahthawi ‘Alaa Maraaqii al-Falah hal. 683 berkata :
«تَأْخِيرُ السُّحُورِ» وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُهُ
إِلَى وَقْتٍ يَقَعُ فِيهِ الشَّكُّ. [هِنْدِيَّةٌ]
“Mengakhirkan sahur.” Dan dimakruhkan mengakhirkannya hingga
waktu yang terjadi keraguan (tentang terbitnya fajar). [Fatawa Al-Hindiyyah].
===
FATWA PARA ULAMA KONTEMPORER:
----
Ahmad bin Abdul’aziz Al-Haddaad,
Ketua
Mufti, Direktur Departemen Iftaa di Dubai
Sumber: Blog "الإمارات اليوم (13 Agustus 2010), Dengan Judul
WAKTU IMSAK SEBELUM ADZAN
PERTANYAAN :
وَعَلَيْكُمُ
السَّلَامُ:
لَوْ سَمِحْتَ
كُنْتُ أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَ عَنْ وَقْتِ الْإِمْسَاكِ عَنْ الطَّعَامِ قَبْلَ
الْأَذَانِ. يَقُولُونَ أَنَّ هُنَاكَ وَقْتًا يَجِبُ أَنْ نَكُونَ صَائِمِينَ
فِيهِ قَبْلَ أَذَانِ الْفَجْرِ وَالَّذِي يُدْعَى بِالْإِمْسَاكِيَّةِ، قَبْلَ ١٠
دَقَائِقَ مِنْ أَذَانِ الْفَجْرِ. هَلْ هُوَ فَرْضٌ أَمْ سُنَّةٌ؟
Assalaamu’alaikum.
Jika anda berkenan, saya ingin menanyakan tentang waktu untuk Imsak (menahan
diri) dari makan sebelum adzan ! Mereka mengatakan di sana ada waktu, di mana
kita harus berpuasa sebelum adzan Subuh, yang disebut Imsakiyah, 10 menit
sebelum adzan Subuh. Apakah itu wajib atau sunnah?
الجَوَابُ
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ:
نَعَمْ يُسَنُّ
الْإِمْسَاكُ قَبْلَ أَذَانِ الْفَجْرِ بِنَحْوِ عَشْرِ دَقَائِقَ اِتِّبَاعًا
لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَدْ كَانَ بَيْنَ أَذَانِهِ وَسَحُورِهِ قَدْرُ خَمْسِينَ
آيَةً، وَذَلِكَ حَتَّى لَا يَقَعَ فِي شَكٍّ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ، وَهُوَ مِنَ
الِاحْتِيَاطِ وَلَيْسَ مِنَ الْعِزَائِمِ.
وَلَوْ أَنَّ
الْمَرْءَ أَكَلَ حَتَّى قَبْلَ أَذَانِ الْفَجْرِ لَصَحَّ وَجَازَ لَهُ ذَلِكَ
بِشَرْطِ عَدَمِ التَّمَادِي فِي الْأَكْلِ بَعْدَ سَمَاعِ الْأَذَانِ، فَقَدْ
قَالَ ﷺ: "إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلًا - يَعْنِي الْأَذَانَ
الْأَوَّلَ الَّذِي يَكُونُ لِيَسْتَرِيحَ الْقَائِمُ وَيَقُومُ النَّائِمُ -
فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ" أَيْ الْأَذَانَ
الثَّانِيَ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ دُخُولِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ وَهُوَ الْوَقْتُ
الَّذِي تَصْحَ فِيهِ صَلَاةُ الْفَجْرِ.
وَاللَّهُ تَعَالَى
أَعْلَمُ
الدُّكْتُورُ
أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَالْعَزِيزِ الْحَدَّادُ كَبِيرُ مُفْتِينَ مُدِيرُ إِدَارَةِ
الْإِفْتَاءِ فِي دُبَيِّ
JAWABNYA, wabillaahi at-taufiiq:
Ya, di Sunnahkan untuk Imsak sekitar
sepuluh menit sebelum adzan Subuh, mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ, yang mana jarak antara adzan dan sahurnya sekitar lima puluh
ayat. Itu agar dia tidak ragu-ragu tentang terbitnya fajar, dan itu adalah
tindakan kehati-hatian tapi bukan keharusan.
Jika seseorang makan bahkan sebelum
adzan Subuh, maka sah dan dibolehkan melakukannya dengan syarat tidak kelamaan
makannya setelah mendengar adzan.
Karena Beliau ﷺ bersabda: "Bilal
mengumandangkan adzan di malam hari - yang berarti adzan pertama, yang agar
orang yang sedang sholat qiyamullail segera beristirahat dan yang sedang tidur
agar bangun - maka makan dan minumlah kalian sampai Ibn Umm Maktoum
mengumandangkan adzan. "
Artinya, adzan kedua yang terjadi di
awal munculnya fajar shodiq, yaitu saat sahnya untuk shalat Subuh.
Wallaahu a’lam.
-----
FATWA LAIN:
Fatwa "islamweb.net" No.
30009 (30/03/2003 M) dengan judul:
IMSAK SEBELUM ADZAN FAJAR, BUKAN
TERMASUK BID’AH
الإمْسَاكُ قَبْلَ
أَذَانِ الْفَجْرِ لَا يُعَدُّ بِدْعَةً.
Di sebutkan di dalamnya:
وَأَمَّا كَوْنُ
الْإِمْسَاكِ قَبْلَ الْأَذَانِ بِدْعَةً فَلَيْسَ ذَلِكَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّ
الْأَمْرَ عَلَى الْإِبَاحَةِ وَلَيْسَ عَلَى الْوُجُوبِ أَنْ يَأْكُلَ وَيَشْرَبَ
حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ.
وَقَدْ كَانَ
الصَّحَابَةُ مِنْهُمْ مَنْ يَمْسَكُ قَبْلَ الْفَجْرِ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ
الْبُخَارِيِّ
عَنْ زَيْدِ بْنِ
ثَابِتٍ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَسَحَّرُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ
يَقُومُونَ لِلصَّلَاةِ فُسِئِلَ كَمْ كَانَ بَيْنَ ذَلِكَ فَقَالَ: (مَقْدَارُ
خَمْسِينَ آيَةً).
Adapun Imsak sebelum adzan dikatakan
Bid’ah, itu tidak benar, karena hal itu adalah perkara yang mubah, dan tidak
ada kewajiba makan dan minum sampai fajar terbit.
Dulu juga ada sebagian para sahabat
radhiyallahu ‘anhum yang melakukan Imsak sebelum fajar, dan ada hadits dalam
Sahih al-Bukhari dari Zaid bin Thabit:
أَنَّهُمْ كَانُوا
يَتَسَحَّرُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ يَقُومُونَ لِلصَّلَاةِ فُسِئِلَ
كَمْ كَانَ بَيْنَ ذَلِكَ فَقَالَ: (مَقْدَارُ خَمْسِينَ آيَةً).
Bahwa mereka biasa makan sahur dengan
Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya damai, dan kemudian
berdiri untuk berdoa". (Kutipan Selesai)
===***===
BANTAHAN ATAS TUDUHAN
BAHWA IBNU HAJAR
MENGATAKAN “BID’AH MUNKARAH”
Ada sebagian Para syeikh di timur
tengah dan beberapa para ustadz di Tanah Air yang mengklaim bahwa Imsak sebelum
Fajar itu:
"BID’AH MUNGKAROH
"بِدْعَةٌ مُنْكَرَةٌ"
Mereka rata-rata mengutip perkataan
Bid’ah Munkaroh ini dari perkataan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya
"Fathul Bari Syarah Shahih Bukhori" di awal Bab " تَعْجِيلُ الْإِفْطَارِ".
BENARKAH AL-HAFIDZ IBNU HAJAR
MENGATAKAN: "IMSAK ADALAH BID’AH MUNKAROH"?
Diantara mereka yang mengutip
perkataan Ibnu Hajar ini adalah al-Ustadz al-Faadhil al-Haafidz Berik Said
hafidzohullah dalam tulisannya yang berjudul:
"Benarkah Imsak Adalah Batas
Akhir Waktu Sahur ?"
www.dakwahmanhajsalaf.com, Juni 08,
2019.
Beliau menyebutkan di dalamnya:
"Izinkan ana mengutipkan perkataan
pakar hadits dan fiqih terbesar Madzhab Syafi'i, yakni Ibnu Hajar Al-Ashqalani
rahimahullah, yang juga mengingkari masalah batas imsak ini, yang rupanya
masalah ini juga telah muncul di zaman beliau ratusan tahun yang lampau.
Berikut kutipan perkataan beliau:
مِنَ الْبِدْعِ
الْمُنْكَرَةِ مَا أَحْدَثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ مِنْ إِيقَاعِ الْأَذَانِ
الثَّانِي قَبْلَ الْفَجْرِ بِنَحْوِ ثُلُثِ سَاعَةٍ فِي رَمَضَانَ وَإِطْفَاءِ
الْمَصَابِيحِ التِّي جَعَلَتْ عَلَامَةً لِتَحْرِيمِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ عَلَى
مَنْ يُرِيدُ الصِّيَامَ.
Artinya: "Termasuk bid'ah yang
munkaroh adalah apa yang di ada-adakan di zaman ini (zaman hidupnya beliau
ratusan tahun lampau -pent), yakni dikumandangkannya adzan yang kedua sebelum
subuh yang waktunya sekitar 15 menit pada bulan Ramadhan serta memadamkan
lampu-lampu sebagai pertanda telah datangnya waktu haram untuk makan dan minum
(sahur) bagi yang akan berpuasa esok harinya". (Fathul Baari
4/199)
Perhatikan tokoh terbesar Madzhab
Syafi'i ini berpendirian bahwa menganggap waktu imsak sebagai waktu sahur
sebagai bid'ah yang munkar". (Selesai kutipan dari al-‘Allaamah
Berik Said).
===
PENULIS COBA JELASKAN
(maaf, penulis tidak bermaksud
menentang mereka !):
Menurut pemahaman penulis yang awam
ini: dari apa yang dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar di atas, adalah bukan
membid’ahkan imsak makan sahur pada waktu tersebut, akan tetapi yang di maksud
bid’ah munkaroh di sini adalah "memajukan adzan Shubuh sekitar 1/3 jam (20
menit) sebelum waktunya "sebagai pertanda Imsak.
Oleh karena itu al-Haafidz berkata
setelah itu: "Jika sekarang saja waktu sholat shubuh diajukan 1/3 jam
sebelum waktunya dengan alasan untuk kehati-hatian waktu sahur, maka bisa jadi
suatu saat adzan maghribpun akan di undurkan, dengan alasan untuk memastikan
waktu berbuka puasa".
Berikut ini texs lengkap perkataan
al-Hafidz Ibnu Hajar:
((تَنْبِيهٌ: مِنَ
الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ مَا أُحْدِثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ مِنْ إِيقَاعِ
الْأَذَانِ الثَّانِي قَبْلَ الْفَجْرِ بِنَحْوِ ثُلُثِ سَاعَةٍ فِي رَمَضَانَ،
وَإِطْفَاءِ الْمَصَابِيحِ الَّتِي جُعِلَتْ عَلَامَةً لِتَحْرِيمِ الْأَكْلِ
وَالشُّرْبِ عَلَى مَنْ يُرِيدُ الصِّيَامَ، زَعَمًا مَمَّنْ أَحْدَثَهُ أَنَّهُ
لِلاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَةِ!!، وَلَا يَعْلَمُ بِذَلِكَ إلَّا آحَادُ
النَّاسِ، وَقَدْ جَرَّهُمْ ذَلِكَ إلَى أَنَّ صَارُوا لَا يُؤَذِّنُونَ إلَّا
بَعْدَ الْغُرُوبِ بِدَرَجَةٍ لِتَمْكِينِ الْوَقْتِ زَعَمُوا، فَأَخْرَوْا
الْفِطْرَ وَعَجَّلُوا السُّحُورَ، وَخَالَفُوا السُّنَّةَ، فَلِذَلِكَ قُلَّ
عَنْهُمُ الْخَيْرُ وَكَثُرَ فِيهِمُ الشَّرُّ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ)).
"Perhatian: Termasuk bid’ah yang
mungkar adalah bid’ah yang diadakan pada masa ini, yakni dengan mengumandangkan
adzan kedua di Bulan Romadhon sebelum terbitnya fajar sekitar 20 menit dan
memadamkan lentera-lentera yang dijadikan tanda haramnya makan dan minum bagi
mereka yang hendak puasa. Orang yang mengada-adakan hal itu menganggapnya
sebagai bentuk kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah, dan tidak diketahui yang
demikian itu kecuali hanya segelintir orang saja.
Dan Sikap hati-hati yang demikian, juga
akan mengantarkan mereka untuk tidak mengumandangkan Adzan kecuali setelah
matahari terbenam beberapa saat, mereka mengira bahwa itu untuk lebih
memastikan waktu. Akibatnya mereka suka mengakhirkan waktu berbuka puasa, suka
menyegerakan waktu sahur, dan suka menyelisihi Sunnah. Oleh sebab itulah mereka
sedikit mendapatkan kebaikan, tetapi banyak mendapatkan keburukan". (Lihat:
Fathul bari 4/199, Bab: mempercepat buka puasa, syarah hadits No. 1908)
Prof. Dr. Muhammad bin Ibrohim
Ash-Shubaihi mengomentari:
"Sesungguhnya berdalil dengan
perkataan Al-hafidz Ibnu Hajar -rohimahulloh- ini, tidak pas dengan pembahasan
kita, karena perkataan beliau ini menyangkut orang yang (sengaja
mengumandangkan adzan kedua) lebih cepat dari waktu terbitnya fajar shodiq
sekitar 20 menit, dan (pada masalah kita) kecepatan itu tidak ada di kalender
Ummul Quro.
Adapun titik khilaf antara kita adalah
kapan fajar dianggap telah terbit. Oleh karena itu perkataan Al-Hafidz ini
tidak ada hubungannya dengan masalah kita ini, wallohu a’lam". (Kutipan
selesai). ("طُلُوعُ الْفَجْرِ
الصَّادِقِ."
hal: 121)
Penulis katakan:
Dan sebagai bukti dan penguat bahwa
al-Hafidz Ibnu Hajar tidak membid’ahkan Imsak sebelum shubuh, bisa kita baca
dalam "فَتْحُ الْبَارِي. (4/164) dalam Bab:
بَابٌ: قَدْرُ كَمْ
بَيْنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ.
"BAB: Berapa lama kadar waktu
antara Sahur dan sholat subuh"
Yaitu ketika beliau mensyarahi hadits
Anas dari Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu:
تَسَحَّرْنَا مَعَ
النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ
وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.
"Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk shalat." Aku berkata,
"Berapa lama antara adzan dan sahurnya," Beliau berkata,
"sekedar (membaca) 50 ayat."
Dalam Bab ini Al-Hafidz Ibnu
Hajar sama sekali tidak membid’ahkan Imsak sebelum shubuh, dan beliau
berkata:
"قَوْلُهُ:
(بَابُ قَدْرِ كَمْ بَيْنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ) أَي: انْتِهَاءُ
السُّحُورِ وَابْتِدَاءُ الصَّلَاةِ؛ لِأَنَّ الْمُرَادَ تَقْدِيرُ الزَّمَانِ
الَّذِي تَرُكَ فِيهِ الْأَكْلُ، وَالْمُرَادُ بِفِعْلِ الصَّلَاةِ أَوَّلَ
الشُّرُوعِ فِيهَا قَالَهُ الزَّيْنُ بْنُ الْمُنِيرِ".
"Perkataan Imam Bukhory: (Bab:
seberapa lama waktu antara Sahur dan sholat Subuh), Yakni: berakhirnya
waktu sahur dan awal mulainya waktu shalat (Shubuh); Karena yang dimaksud
adalah perkiraaan waktu yang tersisa meninggalkan makan sahur. Dan yang
dimaksud dengan mengerjakan shalat adalah permulaan masuk waktu sholat, seperti
yang dikemukakan oleh Al-Zein bin Al-Muniir ".
Lalu al-Hafidz berkata:
قَوْلُهُ: (قَالَ:
قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً) أَي: مُتَوَسِّطَةٌ لَا طَوِيلَةٌ وَلَا قَصِيرَةٌ لَا
سَرِيعَةٌ وَلَا بَطِيئَةٌ...
وَقَالَ
الْقُرْطُبِيُّ: فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ
قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، فَهُوَ مُعَارِضٌ لِقَوْلِ حُذَيْفَةَ "هُوَ
النَّهَارُ إلَّا أَنْ الشَّمْسَ لَمْ تَطْلُعْ". انْتَهَى.
وَالْجَوَابُ أَنَّ
لَا مُعَارِضَةً بَلْ تَحْمِلٌ عَلَى اخْتِلَافِ الْحَالِ، فَلَيْسَ فِي رَوَايَةٍ
وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مَا يَشْعُرُ بِالْمُوَاظَبَةِ، فَتَكُونُ قِصَّةُ حُذَيْفَةَ
سَابِقَةً.
Kata-kata beliau: (Dia berkata: sekitar
lima puluh ayat) yaitu: sedang, tidak panjang, tidak pendek, tidak cepat dan
tidak lambat....
Al-Qurthubi berkata: Ini menandakan
bahwa selesai makan sahur sebelum fajar terbit. Maka ini bertentangan dengan
perkataan Hudzaifah, "Itu sudah siang akan tetapi matahari belum
terbit."(selesai perktaan al-Qurthubi).
(Ibnu Hajar berkata) Jawabannya adalah:
tidak ada pertentangan, tetapi masing-masing diarahkan sesuai dengan keadaan
yang berbeda, karena dalam salah satu dari dua riwayat tersebut tidak
menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan secara kesinambungan atau terus
menerus. Maka kisah Hudzaifah itu terjadi lebih dulu". (Selesai
kutipan dari al-Hafidz Ibnu Hajar)
Wallahu a’lam.
===**===
TEXS LENGKAP TENTANG IMSAK DARI KITAB
"بِدَايَةُ
الْمُجْتَهِدِ وَنِهَايَةُ الْمُقْتَصِدِ"
Berikut ini texs lengkap berikut
terjemahannya tentang perbedaan pendapat tentang Imsak yang di tulis oleh Ibnu
Rusyd dalam kitabnya " بِدَايَةُ
الْمُجْتَهِدِ وَنِهَايَةُ الْمُقْتَصِدِ.":
وأما التي تتعلق بزمان الإمساك: فإنهم اتفقوا على أن آخره غيبوبة الشمس
لقوله – تعالى: (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) واختلفوا في أوله ،
فقال الجمهور: هو طلوع الفجر الثاني المستطير الأبيض لثبوت ذلك عن رسول الله - صلى
الله عليه وسلم - أعني: حده بالمستطير - ولظاهر قوله – تعالى: (حَتَّىٰ
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ) الآية. وشذت فرقة فقالوا: هو الفجر
الأحمر الذي يكون بعد الأبيض وهو نظير الشفق الأحمر ، وهو مروي عن حذيفة وابن
مسعود.
وسبب هذا الخلاف هو: اختلاف الآثار في ذلك ، واشتراك اسم الفجر - أعني: أنه
يقال على الأبيض والأحمر.
وأما الآثار التي احتجوا بها: فمنها حديث ذر عن حذيفة قال: "تسحرت مع النبي -
صلى الله عليه وسلم - ولو أشاء أن أقول هو النهار إلا أن الشمس لم تطلع ".
وخرج أبو داود عن قيس بن طلق عن أبيه أنه - عليه الصلاة والسلام - قال: "كلوا
واشربوا ولا يهيدنكم الساطع المصعد، فكلوا واشربوا حتى يعترض لكم الأحمر ".
قال أبو داود: هذا ما تفرد به أهل اليمامة وهذا شذوذ ، فإن قوله – تعالى: (حَتَّىٰ
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ) نص في ذلك أو كالنص.
والذين رأوا أنه الفجر الأبيض المستطير - وهم الجمهور والمعتمد - اختلفوا
في الحد المحرم للأكل فقال قوم: هو طلوع الفجر نفسه. وقال قوم: هو تبينه عند
الناظر إليه ومن لم يتبينه ، فالأكل مباح له حتى يتبينه وإن كان قد طلع. وفائدة
الفرق: أنه إذا انكشف أن ما ظن من أنه لم يطلع كان قد طلع ، فمن كان الحد عنده هو
الطلوع نفسه أوجب عليه القضاء ، ومن قال: هو العلم الحاصل به لم يوجب عليه قضاء.
وسبب الاختلاف في ذلك: الاحتمال الذي في قوله – تعالى: (وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ
الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) هل الإمساك بالتبيين نفسه أو بالشيء المتبين ؟ لأن
العرب تتجوز فتستعمل لاحق الشيء بدل الشيء على وجه الاستعارة فكأنه قال – تعالى:
(وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ
الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ) ؛ لأنه إذا تبين في نفسه تبين لنا ، فإذا إضافة التبيين
لنا هي التي أوقعت الخلاف ، لأنه قد يتبين في نفسه ويتميز ولا يتبين لنا ، وظاهر
اللفظ يوجب تعلق الإمساك بالعلم ، والقياس يوجب تعلقه بالطلوع نفسه - أعني: قياسا
على الغروب وعلى سائر حدود الأوقات الشرعية كالزوال وغيره - ، فإن الاعتبار في جميعها
في الشرع هو بالأمر نفسه لا بالعلم المتعلق به.
والمشهور عن مالك وعليه الجمهور أن الأكل يجوز أن يتصل بالطلوع ، وقيل بل
يجب الإمساك قبل الطلوع.
والحجة للقول الأول ما في كتاب البخاري أظنه في بعض رواياته ، قال النبي - صلى
الله عليه وسلم -: "وكلوا واشربوا حتى ينادي ابن أم مكتوم ، فإنه لا ينادي
حتى يطلع الفجر ". وهو نص في موضع الخلاف أو كالنص ، والموافق لظاهر قوله –
تعالى: (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا) الآية. ومن ذهب إلى أنه يجب الإمساك قبل الفجر
فجريا على الاحتياط وسدا للذريعة ، وهو أورع القولين ، والأول أقيس - والله أعلم.
----
Mengenai batas awal waktu Imsak, para ulama berbeda pendapat:
- Jumhur ulama berpendapat
batasnya adalah munculnya fajar kedua yang bergaris putih berdasarkan
ketetapan dari Rasulullah ﷺ dan firman Allah SWT,
"Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam,
yaitufajar."(Qs. Al Baqarah [2]: 187)
- Sebagian ulama berpendapat
syadz, bahwa batasannya adalah fajar merah yang muncul sesudah fajar putih
bersamaan tampaknya dengan mega merah (terbit Matahari). Ini diriwayatkan dari Hudzaifah dan
lbnu Mas'ud.
Sebab perbedaan pendapat:
Perbedaan
atsar-atar dan isytirak nama fajar, yang bisa diartikan fajar putih dan fajar
merah. Hadits-hadits yang dijadikan dasar tersebut adalah: Hadits Zin dari
Hudzaifah, dia berkata,
"تَسَحَّرْتُ مَعَ
النَّبِيِّ ﷺ وَلَوْ أَشَاءُ أَنْ أَقُولَ هُوَ النَّهَارُ إِلَّا أَنَّ الشَّمْسَ
لَمْ تَطْلُعْ ".
"Saya makan sahur bersama
Rasulullah ﷺ, seandainya saya mau mengatakannya: saat itu sudah siang, hanya
saja matahari belum muncul".
"كُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلَا يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصَعَّدُ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا
حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الْأَحْمَرُ "
"Makan dan minumlah dan janganlah
kamu menjadi bimbang karena cahaya yang memancar ke atas. Makanlah dan minumlah
sehingga tampak melebar (melintang) pada kalian CAHAYA MERAH."
Abu Daud berkata:
هَذَا مَا
تَفَرَّدَ بِهِ أَهْلُ الْيَمَامَةِ وَهَذَا شُذُوذٌ ، فَإِنَّ قَوْلَهُ -
تَعَالَى -: {حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ} نَصٌّ فِي ذَلِكَ
أَوْ كَالنَّصِّ. انتهى
Ini adalah hadits yang di riwayatkan
oleh penduduk Yamamah secara tunggal dan ini termasuk syaadz karena nash Al
Qur'an telah jelas: "Hingga nampak jelas bagi kalian benang
putih...".
[Sunan Abu Daud 2/760 di hadits no.
2348. Baca juga: الْهِدَايَةُ فِي
تَخْرِيجِ أَحَادِيثِ الْبِدَايَةِ. (5/141)]
Mereka yang berpendapat batasnya adalah
fajar putih yang bergaris - yaitu jumhur dan pendapat yang mu'tamad - mereka
berselisih tentang batas mulai diharamkannya makan:
Maka menurut sebagian ulama, batasnya: adalah sejak terbit fajar itu sendiri.
Menurut sebagian yang lain, batasnya: adalah sejak fajar itu tampak jelas bagi
orang yang melihatnya. Adapun bagi orang yang tidak nampak jelas melihat fajar,
walaupun sebenarnya sudah terbit fajar, boleh makan hingga dia melihat fajar.
Masalah ini berkembang sebagai berikut:
Jika fajar telah muncul, namun dikira
belum (dan dia masih terus makan):
- Maka bagi ulama yang
berpendapat bahwa awal puasa itu sejak munculnya fajar, maka puasanya
wajib diqadha.
- Sedang bagi ulama yang
berpendapat awal puasa itu sejak mengetahui fajar, maka puasa tersebut
tidak wajib diqadha.
Perbedaan tersebut berpangkal pada
penafsiran yang berbeda terhadap firman Allah:
{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْر}
"… dan makan minumlah hingga
terang bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar". (QS
Al-Baqoroh 187)
Apakah batasnya / imsak itu sejak
terbit fajar itu sendiri atau ada orang melihat fajar? Orang Arab terbiasa
menggunakan kata isti'aaroh (kata pinjaman / personifikasi) yang dipakai tidak
sebagai arti hakiki, mungkin maskud ayat tersebut adalah "apabila fajar
terbit artinya tampak oleh kita ", yang mengandung perbedaan pendapat
adalah, "Hingga terang dan jelas bagi kita ", karena jika fajar
benar-benar terbit tentu akan tampak dengan jelas.
Menurut dzohir lafadz, batasnya adalah
kita melihat fajar itu.
Sedangkan menurut qiyas, batasnya
adalah sejak terbit fajar itu sendiri. (Maksudnya, diqiyaskan dengan terbenam
matahari dan batas-batas waktu syar'iyyah, seperti condongnya matahari ke arah
barat dan sebagainya.
Masalah syar'i kesemuannya terkait
dengan eksistensinya / betul-betul fajar terbit, bukan terkait semata dengan
pengetahuan yang terkait dengannya).
Dan yang masyhur dari Imam Malik sesuai
dengan pendapat jumhur, batasnya adalah boleh makan hingga bersentuhan dengan
eksistensi terbitnya fajar, bukan hanya sebatas tampaknya fajar, bahkan
sebagian ulama membatasi sebelum terbit fajar.
Dasar pendapat Malik dan jumhur adalah
hadits dalam kitab Bukhari, saya kira dalam sebagian riwayatnya, Nabi ﷺ bersabda:
"وَكلُواْ واشربُواْ
حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أمِّ مَكتُوم فإنَّهُ لا يُنَادِي حتَّى يَطْلُعَ الفَجْرْ".
"Makan dan minumlah hingga ibnu Ummi Maktuum
mengumandangkan adzan, sesungguhnya dia tidak menyeru hingga terbit
fajar". (HR. Bukhori no. 617, 622 dan 2656).
Ini adalah Nash yang memutuskan
perselisihan atau nash hadits yang sesuai dengan makna dzohir Firman Allah SWT:
"كلُواْ واشربُواْ".... dst.
Mereka yang berpendapat: batas (imsak) makan
sahur itu sebelum terbit fajar, mereka berjalan diatas tindakan hati-hati dan
preventif (jaga-jaga). Dan ini adalah pendapat yang lebih Waro’ (lebih
hati-hati).
Adapun pendapat yang pertama (Imam
Malik dan jumhur yaitu hingga terbit fajar) lebih analogis. Wallohu
a'lam. (Kutipan dari "بداية المجتهد"
Berakhir).
===***===
TENTANG KALENDER JADWAL WAKTU SHALAT :
PENULIS KATAKAN:
Al-hamdulillah untuk zaman sekarang
sudah ada kalender yang terdapat di dalam nya jadwal waktu sholat, termasuk
waktu fajar dan syuruq. Begitu juga sudah ada Jam Digital yang ada jadwal waktu
sholatnya.
Lalu bagaimana menanggapi adanya
sebagian para ulama yang mengatakan bahwa jadwal waktu sholat yang tersebar itu
tidak akurat. Terutama waktu terbitnya Fajar Shodiq / waktu shubuh. Mereka
mengatakan yang tercantum di jadwal itu terlalu cepat antara 15 hingga 30 menit
sebelum Fajar terbit.
Bahkan ada yang mengira bahwa Syeikh
Utsaimin mendukung pendapat yang mengatakan fajar shodiq kita terlalu cepat
15-30 menit, padahal itu tidak benar, inilah perkataan beliau:
بَعْضُ النَّاسِ
الْآنَ يُشَكِّكُونَ فِي التَّقْوِيمِ الَّذِي بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ،
يَقُولُونَ: إِنَّهُ مُتَقَدِّمٌ عَلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ، وَقَدْ خَرَجْنَا إِلَى
الْبَرِّ وَلَيْسَ حَوْلَنَا أَنْوَارٌ، وَرَأَيْنَا الْفَجْرَ يَتَأَخَّرُ،
حَتَّى بَالَغَ بَعْضُهُمْ وَقَالَ: يَتَأَخَّرُ ثُلُثَ سَاعَةٍ، وَلَكِنَّ
الظَّاهِرَ أَنَّ هَذَا مُبَالَغَةٌ لَا تَصِحُّ، وَالَّذِي نَرَاهُ أَنَّ
التَّقْوِيمَ الَّذِي بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ الْآنَ فِيهِ تَقْدِيمُ خَمْسِ
دَقَائِقَ فِي الْفَجْرِ خَاصَّةً.
Di masa sekarang ini, ada sebagian
orang yang meragukan kebenaran kalender yang dipakai oleh orang-orang, mereka
mengatakan, bahwa waktu kalender itu lebih cepat dari terbitnya fajar. Sungguh
kami telah mencoba keluar ke padang pasir sehingga tidak ada polusi cahaya di
sekitar kami, dan memang kami melihat fajar terlambat, hingga ada sebagian
orang yang melebih-lebihkan dan mengatakan fajarnya terlambat hingga 20 menit.
Tapi yang jelas, pendapat ini tidak benar dan terlalu berlebihan. Yang kami
pandang benar, kalender yang dipakai oleh orang-orang sekarang ini, terlalu
cepat 5 menit khusus dalam waktu fajar saja. (Majmu’ fatawa Syeikh
Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, 19/302)
Dalam perkataan ini, beliau mengatakan
bahwa pendapat yang mengatakan fajar kita terlalu cepat 20 menit, itu pendapat
yang tidak benar dan terlalu berlebih-lebihan. Kemudian beliau menyebutkan
pendapat yang dipilihnya, yakni waktu fajar kita terlalu cepat 5 menit.
Penulis katakan:
Namun demikian, Syeikh Ibnu Utsaimin termasuk yang menganggap bid’ah adanya jadwal waktu Imsak.
Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya
tentang apa yang terdapat pada sebagian kalender berupa penentuan waktu imsak
sebelum fajar sekitar seperempat jam, maka beliau menjawab:
هَذَا مِنَ الْبِدَعِ،
وَلَيْسَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ السُّنَّةِ، بَلِ السُّنَّةُ عَلَى خِلَافِهِ، لِأَنَّ اللَّهَ
قَالَ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) البقرة/187. وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا
أَذَانَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ).
وَهَذَا الْإِمْسَاكُ الَّذِي يَصْنَعُهُ بَعْضُ النَّاسِ زِيَادَةٌ عَلَى مَا فَرَضَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَكُونُ بَاطِلًا، وَهُوَ مِنَ التَّنَطُّعِ فِي دِينِ اللَّهِ،
وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ،
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ (2670). اهـ.
Ini termasuk bid’ah dan tidak memiliki
asal dari sunnah, bahkan sunnah justru bertentangan dengannya, karena Allah
berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Dan makan serta minumlah kalian sampai
jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187).
Dan Nabi ﷺ
bersabda: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka
makan dan minumlah kalian sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummu Maktum,
karena ia tidak mengumandangkan adzan sampai terbit fajar.”
Dan imsak yang dilakukan oleh sebagian
orang ini merupakan tambahan atas apa yang telah diwajibkan Allah Azza wa Jalla,
sehingga hal itu menjadi batil dan termasuk sikap berlebihan dalam agama Allah.
Nabi ﷺ telah bersabda:
“Binasalah orang-orang yang
berlebih-lebihan, binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, binasalah
orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Diriwayatkan oleh Muslim (2670). Selesai.
[Sumber: Fatawa Arkan Al-Islam hal. (482)]
0 Komentar