HUKUM MENGURANGI KEWAJIBAN BAYAR
HUTANG DARI PENERIMA HUTANG
Dengan meminta di majukan waktu
pelunasannya
---
Oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
----Bismillah
Mengurangi kewajiban bayar hutang dari penerima hutang , itu termasuk
amal kebajikan. Apalagi jika menghapus hutangnya .
Allah SWT berfirman :
وَاِنْ كَانَ
ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ
اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“ Dan jika (orang berutang itu) dalam
kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan
jika kalian menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui “. ( QS.
Al-Baqarah : 280 )
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ رَجُلًا لَمْ
يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ وَكَانَ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَيَقُولُ لِرَسُولِهِ: خُذْ مَا
تَيَسَّرَ، وَاتْرُكْ مَا عَسُرَ، وَتَجَاوَزْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا
فَلَمَّا هَلَكَ. قَالَ لَهُ اللَّه - عز وجل -: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟، قَالَ:
لَا، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ لِي غُلَامٌ وَكُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا بَعَثْتُهُ
لِيَتَقَاضَى، قُلْتُ لَهُ: خُذْ مَا تَيَسَّرَ وَاتْرُكْ مَا عَسُرَ وَتَجَاوَزْ لَعَلَّ
اللَّهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا. قَالَ اللَّه تَعَالَى: قَدْ تَجَاوَزْتُ عَنْكَ
"Sesungguhnya terdapat seorang laki-laki
yang belum pernah berbuat kebaikan sama sekali, dan dia biasa memberikan hutang
kepada orang-orang. Kemudian dia berkata kepada utusannya ( penagih hutang ) :
" Ambillah apa yang mudah (orang yang
mudah membayarnya) dan tinggalkan apa yang sulit dan maafkan semoga Allah
ta'ala mengampuni kita !!!."
Kemudian tatkala dia meninggal, Allah 'azza
wajalla berfirman kepadanya: "Apakah engkau pernah mengerjakan
kebaikan?"
Dia berkata; "Tidak, hanya saja saya
memiliki seorang pembantu dan saya biasa memberikan hutang kepada orang-orang
kemudian apabila saya mengutusnya untuk menagih hutang, saya katakan kepadanya;
'Ambillah apa yang mudah dan tinggalkan apa yang sulit dan maafkan, semoga
Allah memaafkan kita."
Allah ta'ala berfirman : “ Sungguh Aku telah
memaafkanmu."
( HR. Bukhori No. 2078 , Muslim No. 1562 dan
Nasaa’i No. 4694
===***====
BAGAIMANA JIKA PENGURANGANNYA
DENGAN
SYARAT DI MAJUKAN PELUNASAN-NYA ???
Jika si pemberi hutang bersedia mengurangi
kewajiban bayar hutang dari si penerima hutang dengan syarat di majukan waktu
pelunasannya ; maka hukumnya tetap diperbolehkan .
Ini di kenal oleh para fuqaha dengan Istilah :
( ضَعْ
وتَعَجَّلْ :
kurangi dan segera dibayar )
Yakni : ketika orang yang berhutang lebih
cepat membayar hutangnya , maka si pemberi hutang boleh mengurangi pelunasan
hutangnya dari jumlah yang ditangguhkan atas orang yang berhutang dan mendiscont
darinya sebagai imbalan atas lebih cepatnya pembayaran kepada pemberi hutang.
Dalil Asal disyariatkannya qaidah ini adalah
apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari
hadits Az-Zuhri dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari Ka’ab radhiyallahu ‘anhu
:
أَنَّهُ
تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا كَانَ لَهُ عَلَيْهِ فِي المَسْجِدِ،
فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ فِي
بَيْتِهِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ، فَنَادَى: «يَا
كَعْبُ» قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «ضَعْ مِنْ دَيْنِكَ هَذَا»
وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ: أَيِ الشَّطْرَ، قَالَ: لَقَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ، قَالَ: «قُمْ فَاقْضِهِ».
Bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu
Abu Hadrad di dalam masjid hingga suara keduanya meninggi yang akhirnya
didengar oleh Rasulullah ﷺ yang berada di rumah. Beliau kemudian keluar
menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya,
Beliau bersabda: “Wahai Ka’ab!”
Ka’ab bin Malik menjawab: “Wahai Rasulullah,
aku penuhi panggilanmu.”
Beliau bersabda: “Bebaskanlah hutangmu ini.”
Beliau lalu memberi isyarat untuk membebaskan
setengahnya.
Ka’b bin Malik menjawab, “Sudah aku lakukan
wahai Rasulullah.”
Beliau lalu bersabda (kepada Ibnu Abu
Hadrad): “Sekarang bayarlah”. ( HR. Bukhori no. 2710 dan Muslim no. 4067 ).
Dan Al-Bayhaqi berkata:
وَرُوِّينَا عَنْ
عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ: «لَا يَرَى بَأْسًا أَنْ يَقُولَ
أُعَجِّلُ لَكَ وَتَضَعُ عَنِّي».
Dan diriwayatkan kepada kami dari Amr bin
Dinar bahwa dulu Ibnu Abbas berpendangan tidak mengapa jika seseorang berkata :
Aku siap mempercepat bayar hutang padamu , tapi kau kurangi kewajiban bayar
hutang ku itu .” ( Lihat “السنن الصغير” karya al-Baihaqi (2/285)
(2015)
Dan dalam bab ini ada kisah pengusiran Bani
al-Nadir dan Sabda Nabi ﷺ kepada mereka :
ضَعُوا وَتَعَجَّلُوا
( Kalian kurangilah dan mereka segera
membayar ))
Yaitu Apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan
al-Tabarani dari Ibnu Abbas :
أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ : لَمَّا أَمَرَ بِإِخْرَاجِ بَنِي النَّضِيرِ جَاءَهُ نَاسٌ مِنهُم فَقَالُوا :
يَا نَبِيَّ اللَّهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَ بِإِخْرَاجِنَا وَلَنَا عَلَى النَّاسِ دُيُونٌ
لَمْ تَحِلَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : ضَعُوا وَتَعَجَّلُوا
“Bahwa Nabi SAW: Ketika beliau memerintahkan
pengusiran Bani al-Nadlir, ada beberapa orang dari mereka datang kepadanya. Mereka
berkata : Wahai Nabi Allah, Anda telah memerintahkan kami untuk diusir, sementara
banyak orang punya hutang pada kami yang belum terselesaikan. Rasulullah ﷺ berkata: Letakkan dan cepatlah.
ضَعُوا وَتَعَجَّلُوا
( Kalian kurangilah dan mereka segera
membayar )
Ibnu Hajar al-Haitsami berkata dalam “مُجْمَعُ الزَّوَائِدِ” :
فِيهِ مُسْلِمُ
بْنِ خَالِدِ الزَّنْجِيِّ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَقَدْ وُثِّقَ اهـ.
Di dalam sanadnya terdapat Muslim ibn Khalid
al-Zanji , dia itu dhoif , tapi ada pula yang mentsiqohkannya “.
Dan Ibnul Qoyyim dlm “أَحْكَامُ أَهْلِ الذِّمَّةِ” (1/396) berkata :
وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ
لَيْسَ فِيهِ إِلَّا مُسْلِمُ بْنِ خَالِدٍ الزِّنْجِيِّ وَحَدِيثُهُ لَا يَنْحَطُّ
عَنْ رُتْبَةِ الحَسَنِ اهـ.
Sanadnya hasan, dan tidak ada seorang pun di
dalamnya kecuali Muslim bin Khalid al-Zanji, dan haditsnya tidak jatuh di bawah
peringkat al-Hasan”.
Dalil yang bisa diambil dari hadits-hadits ini
adalah jika boleh membeli waktu dengan mengurangi harga dan kewajiban utang
ketika dibayar, maka diperbolehkan juga menjual waktu dengan menaikkan harga
sebelum akad.
Karena Waktu itu memiliki harga dan bukan
sesuatu yang dibuang-buang, apalagi dengan kebutuhan mendesak pedagang akan
uang tunai dan likuiditas keuangan dalam transaksinya saat itu juga .
Gambaran ini sama sekali berbeda dengan
gambaran kenaikan harga ribawi pada saat jatuh tempo, karena kenaikan ini
merupakan beban yang menghimpit bagi yang berhutang. Adapun kenaikan harga
dalam penjualan kredit maka itu merupakan keluasan dan pilihan bagi pembeli.
---
TANYA JAWAB DENGAN AL-LAJNAH AD-DA’IMAH
Al-Lajnah ad-Daaimah pernah di tanya masalah ( ضَعْ
وتَعَجَّلْ :
dikurangi dan dibayar segera)??
JAWABANNYA :
هَذِهِ المَسْأَلَةُ
فِيهَا خِلَافٌ بَيْنَ أَهْلِ العِلْمِ، وَالصَّحِيحُ مِنْ قَوْلِهِمْ جَوَازُ الوَضْعِ
وَالتَّعْجِيلِ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ الإِمَامِ أَحْمَدَ وَاخْتِيَارُ الشَّيْخَيْنِ
ابْنِ تَيْمِيَةَ وَابْنِ القَيِّمِ وَمَنْسُوبٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا ... اهـ.
Masalah ini menjadi perselisihan di antara
para ahli ilmu, dan yang benar dari perkataan mereka adalah boleh hukum ( ضَعْ وتَعَجَّلْ : dikurangi dan dipercepat )
dan itu adalah riwayat dari Imam Ahmad dan pilihan dari dua syeikh Ibnu
Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim, dan itu dinisbatkan kepada Ibn Abbas - semoga
Allah meridhoi mereka berdua . (فتاوى
اللجنة
13/168).
Dan itu termasuk keputusan “قَرَارَاتُ المَجْمَعِ الفِقْهِيِّ” :
الحُطَيْطَةُ مِنَ
الدَّيْنِ المُؤَجَّلِ، لأَجْلِ تَعْجِيلِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِطَلَبِ الدَّائِنِ
أَوِ المَدِينِ، (ضَعْ وَتَعَجَّلْ) جَائِزَةٌ شَرْعًا، لَا تَدْخُلُ فِي الرِّبَا
الْمُحَرَّمِ اهـ
Pengurangan hutang yang ditangguhkan, demi
mempercepatnya, baik atas permintaan kreditur atau debitur, ( ضَعْ وتَعَجَّلْ : dikurangi dan dibayar
segera ) diperbolehkan menurut hukum Syariah, tidak masuk ke dalam riba yang
diharamkan.
Lihat: Majmu‘at Fatawa al-Hay’ah asy-Syar’iyah
– Perusahaan Perbankan dan Investasi al-Rajhi, Keputusan No. (1)
KESIMPULAN-NYA:
Pertama : Boleh hukumnya memindahkan
pembayaran hutang kepada orang lain .
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
» مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا
أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ«
“Penundaan (pembayaran hutang dari) seorang yang kaya adalah
sebuah kelaliman, maka jika salah seorang dari kalian di pindahkan kepada
seorang yang kaya maka ikutilah.” HR. Bukhari
Kedua : Boleh hukumnya pemberi hutang
mengurangi kewajiban bayar hutang dari penerima hutang .
Ketiga : Si C ( yang menerima peralihan
hutang piutang ) hanya berhak menerima pembayaran di si A hanya Rp. 90 juta ,
tidak boleh lebih . Jika ada lebihnya maka hukum lebihnya adalah Riba .
0 Komentar