Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HADITS LARANGAN MENJADIKAN ILMU AGAMA SEBAGAI ALAT UNTUK MENDAPATKAN HARTA DARI PENGUASA (PEMERINTAH)

Di susun oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

----


====

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

===*****===

HADITS-HADITS YANG MELARANG MENJADIKAN ILMU AGAMA DI JADIKAN ALAT UNTUK MENDAPATKAN HARTA DARI PARA PENGUASA (PEMERINTAH).

===

HADITS KE 1 :

Dari Ibnu Abbaas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi , bersabda :

»إِنَّ أُنَاسًا مِنْ أُمَّتِي سَيَتَفَقَّهُونَ فِي الدِّينِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَقُولُونَ : نَأْتِي الْأُمَرَاءَ فَنُصِيبُ مِنْ دُنْيَاهُمْ وَنَعْتَزِلُهُمْ بِدِينِنَا وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ كَمَا لَا يُجْتَنَى مِنْ الْقَتَادِ إِلَّا الشَّوْكُ كَذَلِكَ لَا يُجْتَنَى مِنْ قُرْبِهِمْ إِلَّا الْخَطَايَا«

“Sesungguhnya ada manusia-manusia dari kalangan umatku yang mereka mendalami ilmu agama dan membaca al-Quran, dan mereka berkata :

“Kami akan mendatangi para pemimpin dari pemerintah, hingga kami mendapatkan sebagian dunia mereka, tapi kami membatasi diri kami dari  mereka dengan agama kami (yakni : tidak ikut-ikutan melakukan perbuatan dosa-dosa dan kedzaliman)".

Yang demikian itu tidak mungkin terjadi (yakni : dapat uangnya penguasa sekaligus agamanya terselamatkan). Sebagaimana tidak ada orang yang memetik dari pohon al-Qataad (pohon yang hanya dipenuhi duri), kecuali hanya mendapatkan duri. 

Demikian pula, tidak ada seseorang yang memetik dari kedekatan dengan penguasa, kecuali dosa-dosa”. [HR. Imam Ibnu Majah No. 255 ]

Hadits ini di dhoifkan oleh syeikh al-Albani dalam “تَخْرِيجُ مِشْكَاةِ الْمَصَابِيحِ” No. 253 & 262  , “صَحِيحُ وَضَعِيفُ سُنَنِ ابْنِ مَاجَهْ” (1/327), “الضَّعِيفَةُ” no. 1250 dan “التَّعْلِيقُ الرَّغِيبُ” (1/69) . Lihat “الدُّرَرُ السَّنِيَّةُ” hadits No. 103321.

Dalam Syarah Sunan Ibnu Majah karya Abdul Aziz ar-Raajihi di sebutkan :

الْإِتْيَانُ إِلَى الْأُمَرَاءِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِمَصْلَحَةِ الدِّينِ، لِنَصْحِهِمْ وَإِبْلَاغِهِمْ مَا يَحْصُلُ مِنَ النَّاسِ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ: (الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ). وَأَئِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ هُمُ الْأُمَرَاءُ، فَإِذَا أَتَاهُمْ لِأَجْلِ النَّصِيحَةِ وَالْبَلَاغِ وَالْبَيَانِ فَهَذَا طَيِّبٌ، أَمَّا إِذَا جَاءَ الْأُمَرَاءَ مِنْ أَجْلِ الْمُدَاهَنَةِ، وَلِكَيْ يَحْصُلَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ رِزْقِهِمْ وَعَطَائِهِمْ فَهَذَا هُوَ الْمَذْمُومُ.

Mendatangi para penguasa sebaiknya demi kepentingan maslahat agama, yaitu untuk menasihati mereka dan memberitahu mereka tentang apa yang terjadi ditengah-tengah masyarakat , sebagaimana Nabi bersabda dalam hadits shahih :

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ 

“Agama adalah nasehat, kami berkata : Kepada siapa? beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya)”.  (HR.Bukhori dan Muslim)

Para imam kaum muslimin adalah para panguasa, jadi jika dia datang kepada mereka dengan tujuan tujuan untuk memberikan nasihat, menyampaikan informasi dan memberikan penjelasan, maka ini adalah baik, akan tetapi jika datang kepada para panguasa demi untuk menjilat , dan agar mendapatkan sesuatu dari rizki dan pemberian mereka, maka ini tercela ".

Dan di sebutkan pula :

"وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْأُمَرَاءَ يُزَارُونَ لِلْبَلَاغِ وَالنَّصِيحَةِ وَالْبَيَانِ، وَإِذَا كَانَتِ الزِّيَارَةُ لِلسَّلَامِ فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ مَعَهَا نَصِيحَةٌ وَبَيَانٌ وَإِبْلَاغٌ وَإِظْهَارٌ لِلشَّفَقَةِ وَالنُّصْحِ ".

Yang dimaksud dengan kunjungan kepada para penguasa adalah untuk menyampaikan informasi, nasehat dan klarifikasi. Dan jika kunjungan itu untuk perdamaian, maka harus disertai dengan nasihat, klarifikasi, menginformasikan dan menunjukkan kasih sayang dan nasihat. [ Lihat : الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ الْحَدِيثَةُ (17/8)]

====

HADITS KE 2 :

Dari Ibnu Abbaas radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rosulullah bersabda :

" إِنَّ نَاسًا مِنْ أُمَّتِي سَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ ، وَيَتَعَمَّقُونَ فِي الدِّينِ ، يَأْتِيهِمُ الشَّيْطَانُ , يَقُولُ : لَوْ مَا أَتَيْتُمُ الْمُلُوكَ فَأَصَبْتُمْ مِنْ دُنْيَاهُمْ، بِدِينِكُمْ ، إلا وَلا يَكُونُ ذَلِكَ ، إلا كَمَا لا يُجْتَنَى مِنَ الْقَتَادِ ، إلا الشَّوْكَ ، كَذَلِكَ لا يُجْتَنَى مِنْ قُرْبِهِمْ ، إلا الْخَطَايَا

"Sungguh akan ada manusia dari umatku , mereka membaca Alquran, dan memperdalam ilmu agama, lalu setan mendatangi mereka dan berkata : Jika kalian mendatangi para raja-raja, maka kalian mendapatkan sebagian dari harta mereka dengan ilmu agama kalian

Akan tetapi , yang demikian itu tidak mungkin terjadi (yakni : dapat uangnya penguasa sekaligus agamanya terselamatkan). Kecuali , sebagaimana tidak ada orang yang memetik dari pohon al-Qataad ( pohon yang hanya dipenuhi duri ), melainkan hanya mendapatkan duri. 

Begitu pula tidak ada yang bisa dipetik dari mendekati mereka kecuali dosa-dosa dan kesalahan ".

[ HR. Thabrani dalam al-Awsath no. 8456 dan ad-Daulabi dalam al-Kunaa wal Asmaa no. 2860 ]

Thabrani berkata :

لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، إلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : هِشَامٌ عَمَّارٌ .

"Hadits ini tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas, kecuali dengan sanad ini, diriwayatkan hanya oleh: Hisyam Ammar sendirian ".

Penulis katakan : Di dalam sanadnya terdapat : Abdullah bin Al-Mughirah Al-Kinaani , dia adalah Abi Al-Mughirah Ubaidillah bin Al-Mughirah . Dia itu Majhul (Tidak Diketahui siapa dia?).

====

HADITS KE 3 :

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi bersabda:

"تعوَّذوا باللهِ من جُبِّ الحَزَنِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ وما جُبُّ الحزَنِ ؟ قال : وادٍ في جهنَّمَ تتعوَّذُ منه جهنَّمُ كلَّ يومٍ أربعَمائةِ مرَّةٍ . قيل : يا رسولَ اللهِ من يدخلُه ؟ قال : أُعِدَّ للقُرَّاءِ المُرائين بأعمالِهم ، وإنَّ من أبغضِ القُرَّاءِ إلى اللهِ الَّذين يُزورُون الأمراءَ الجَوَرةَ "

“Berlindunglah kalian kepada Allah swt dari “jubb al-hazan”. 

Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apa “jubb al-hazan”? 

Nabi menjawab, “Sebuah lembah di Jahannam, yang mana Jahannam berlindung dari jubb al-hazan, 400 kali setiap hari”. 

Para shahabat bertanya, “Siapa yang memasukinya?

Nabi menjawab : “ [Jub al-hazan] disediakan bagi para pembaca al-Quran yang riya` (ingin dipuji manusia) dengan amal perbuatan mereka.  Sesungguhnya, para pembaca al-Quran yang paling dibenci Allah adalah mereka yang mengunjungi para penguasa yang lalim tidak adil”.

[HR. Al-Mundziri dalam “التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ” (4/341), at-Turmudzy No. 2383 dan Ibnu Majah No. 256 .  Di dhoifkan oleh Syeikh al-Albani dalam “ضَعِيفُ ابْنِ مَاجَهْ” no. 50 . Dan al-Mundziri dalam “التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ” 1/51 berkata : “لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ اِحْتِمَالُ التَّحْسِينِ” ].

====

HADITS KE 4 :

Dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda :

" تعوَّذوا باللهِ من جُبِّ الحزَنِ أو وادي الحزَنِ ، قيل : يا رسولَ اللهِ وما جُبُّ الحزَنِ أو وادي الحزَنِ ؟ قال : وادٍ في جهنَّمَ تتعوَّذُ منه جهنَّمُ كلَّ يومٍ سبعين مرَّةً أعدَّه اللهُ للقُرَّاءِ المُرائين ".

“Berlindunglah kalian kepada Allah swt dari jubb al-hazan.  Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apa jubb al-hazan?  Nabi menjawab, “Sebuah lembah di Jahannam, yang mana Jahannam berlindung dari jubb al-hazan, 70 kali setiap hari”. Allah swt telah menyiapkannya untuk para qori al-Qura’an yang riya ( ingin dipuji manusia ) “.

( Lihat : “التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ للمنذري” karya al-Mundziri 4/341 . Sanad nya Hasan . Lihat “الدُّرَرُ السَّنِيَّةُ” hadits no. 112 )

====

HADITS KE 5 :

Dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata;

خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ خَمْسَةٌ وَأَرْبَعَةٌ أَحَدُ الْعَدَدَيْنِ مِنْ الْعَرَبِ وَالْآخَرُ مِنْ الْعَجَمِ فَقَالَ اسْمَعُوا هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Rasulullah keluar kepada kami dan kami berjumlah sembilan, lima dan empat, salah satu dari dua kelompok dari Arab dan yang lainnya dari orang selain Arab.

Kemudian beliau bersabda:

"Apakah kalian pernah mendengar bahwa akan ada setelahku para pemimpin, barang siapa yang menemui mereka dan membenarkan kedustaan mereka serta membantu kezhaliman mereka maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan darinya.

Ia tidak akan menemuiku di telaga, serta tidak menemui mereka dan barang siapa yang tidak mempercayai kedustaan mereka dan tidak membantu kezhaliman mereka maka ia termasuk golonganku dan aku bagian darinya, ia akan menemuiku di telaga."

[ HR.  Tirmidzi no 2259 , an Nasai no 4219 dan Ibnu Hibban no 508, 279 ]

Imam Tirmidzi berkata : " Shahih Ghoriib ".

====

HADITS KE 6 :

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah bersabda:

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لَا يَفْعَلُونَ فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَنْ يَرِدَ عَلَيَّ الْحَوْضَ

"Akan ada para pemimpin yang berkuasa atas kalian, mereka menyuruh kalian apa yang tidak mereka lakukan. Barangsiapa membenarkan kedustaan mereka, dan mendukung kedzaliman mereka berarti dia bukan golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak bakalan memasuki telaga."

[HR. Imam Ahmad no. 64461] . Di Shahihkan Sanadnya oleh Ahmad Syaakir [ Musnad Ahmad 8/62].

===***===

ATSAR SAHABAT : ‘AMR BIN AN-NU’MAAN AL-BAYADHI AL-ANSHARY.

Dari Abi Iyyaas radhiyallhu ‘anhu, berkata :

كُنْتُ نَازِلاً عَلَى عَمْرِو بْنِ النُّعْمَانِ فَأَتَاهُ رَسُولُ مُصْعَبِ ابْنِ الزُّبَيْرِ حِينَ حَضَرَهُ رَمَضَانُ بِأَلْفَيْ دِرْهَمٍ فَقَالَ : إِنَّ الأَمِيرَ يُقْرِئُكَ السَّلامَ وَقَالَ إِنَّا لَمْ نَدَعْ قَارِئًا شَرِيفًا إِلا وَقَدْ وَصَلَ إِلَيْهِ مِنَّا مَعْرُوفٌ فَاسْتَعِنْ بِهَذَيْنِ عَلَى نَفَقَةِ شَهْرِكَ هَذَا .فَقَالَ : (أَقْرِئِ الأمِيرَ السَّلامَ وَقُلْ لَهُ إِنَّا وَاللَّهِ مَا قَرَأْنَا الْقُرْآنَ نُرِيدُ بِهِ الدُّنْيَا وَدِرْهَمَهَا).

Dulu aku pernah singgah di rumah ‘Amr bin Nu’maan . Lalu datanglah kepadanya utusan Mush’ab bin Zubair ketika Bulan Ramadhan tiba sambil membawa uang 2000 dirham , maka dia berkata :

“ Sesungguhnya gubernur berkirim salam pada anda , dan dia berkata : Sesungguhnya kami tidak akan membiarkan seorang qoori’ yang terhormat kecuali aku mengirim untuknya bantuan kebaikan , maka dengan uang 2000 dirhan ini semoga bisa membantu mu untuk nafkah satu bulan ini “.

Maka beliau menjawab : Sampaikan salamku kepada Gubernur , dan tolong sampaikan pula padanya : Demi Allah sesungguhnya kami membaca al-Qur’an bukan karena dunia dan dirhamnya .

( HR, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 7/164 ).

====

ATSAR TABI’II : ABDURRAHMAN BIN MA’QIL BIN MUQORRIN AL-MUZANI.

Dari Ubeid bin al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, berkata :

قَالَ قَسَمَ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ مَالاً فِي قُرَّاءِ أَهْلِ الْكُوفَةِ حِينَ دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَبَعَثَ إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْقِلٍ بِأَلْفَيْ دِرْهَمٍ فَقَالَ لَهُ اسْتَعِنْ بِهَا فِي شَهْرِكَ هَذَا ، فَرَدَّهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْقِلٍ وَقَالَ :{ لَمْ نَقْرَأِ الْقُرْآنَ لِهَذَا }

Mush’ab bin az-Zubeir bagi-bagi uang untuk para Qoori’ Ahli Kuufah ketika masuk bulan Romadhan , lalu dia mengirim untuk Abdurrahman bin Mi’qool 2000 dirham , dan berkata kepadanya : “ Semoga dengan 2000 dirham ini bisa membantumu untuk satu bulan ini “.

Maka Abdurrahman bin Mi’qool menolaknya dan mengambalikannya , sambil berkata : “ Kami membaca al-Qur’an bukan untuk ini “.

( HR. Ad-Daarimii dalam Sunan nya , di Muqoddimah , bab Shiyanatul ilmi 1/152 no. 574 )

===***===

KAIDAH UMUM DALAM MASALAH IBADAH :

الْأَصْلُ فِي أَعْمَالِ الْقُرَبِ كَتَعْلِيمِ الْعِلْمِ الدِّينِيِّ وَنَحْوِهِ أَنْ يَقُومَ بِهَا الْإِنْسَانُ مُحْتَسِبًا مُخْلِصًا لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يُرِيدُ بِذَلِكَ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، وَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ بِلَا شَكٍّ، وَهُوَ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ.

Pada asalnya hukum semua amalan yang diperuntukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti mengajarkan ilmu agama dan sejenisnya, adalah seseorang melakukannya harus betul-betul ikhlas semata-mata karena Allah dan dengan tujuan agar mendapatkan pahala dari-Nya. Tidak bertujuan untuk memperoleh dunia , dan Ini adalah yang paling afdlol tidak diragukan lagi, dan itulah yang diamalkan oleh para Sahabat dan Taabi'in

 ----

Ringkasnya : Belajar dan mengajar ilmu agama serta berdakwah dan berjihad itu masuk dalam katagori IBADAH .

-----

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَالصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَتَابِعُو التَّابِعِينَ وَغَيْرُهُمْ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْمَشْهُورِينَ عِنْدَ الْأُمَّةِ بِالْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ وَالْفِقْهِ إِنَّمَا كَانُوا يُعَلِّمُونَ بِغَيْرِ أُجْرَةٍ، وَلَمْ يَكُنْ فِيهِمْ مَنْ يُعَلِّمُ بِأُجْرَةٍ أَصْلًا. ا.هـ.

Para Sahabat, Tabi’iin, Tabi’it Tabi’iin , dan ulama lainnya yang masyhur akan keilmuannya di kalangan Umat dalam bidang ilmu Al-Qur'an, Hadits dan Fikih, sesungguhnya mereka itu mengajar tanpa upah , dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengenal tentang upah dalam berdakwah sama sekali . ( Baca : مُخْتَصَرُ الْفَتَاوَى الْمِصْرِيَّةُ hal. 481 dan مَجْمُوعُ الْفَتَاوَى jilid 30 hal. 204).

Namun Para Fuqohaa telah sepakat akan bolehnya menerima tunjangan dari baitul maal (Kas Negara) atas pengajaran ilmu-ilmu syar’i yang membawa manfaat dan yang semisalnya .

Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih 1/655 nomor 1136 meriwayatkan dengan sanadnya: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

«لَوْ أَنَّ ‌حَمَلَةَ ‌الْعِلْمِ ‌أَخَذُوهُ ‌بِحَقِّهِ ‌وَمَا ‌يَنْبَغِي ‌لَأَحَبَّهُمُ ‌اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ وَالصَّالِحُونَ وَلَهَابَهُمُ النَّاسُ، وَلَكِنْ طَلَبُوا بِهِ الدُّنْيَا فَأَبْغَضَهُمُ اللَّهُ وَهَانُوا عَلَى النَّاسِ»

“Seandainya para pemikul ilmu mengambilnya dengan haknya (mencari pahala akhirat) dan sebagaimana yang semestinya, niscaya Allah, para malaikat-Nya, dan orang-orang saleh akan mencintai mereka, dan manusia pun akan segan kepada mereka.

Akan tetapi mereka menjadikan ilmu itu sebagai sarana untuk mencari dunia, maka Allah membenci mereka dan mereka pun menjadi hina di mata manusia”.

Wallahu a'lam.

 ===***===

KEBANYAKAN ORANG MUNAFIQ DARI UMAT INI ADALAH PARA QORI AL-QUR’AN.

Yaitu para qori yang ibadah membaca al-Qur’an dan mengajarkan-nya disertai rasa ria dan demi mendapatkan harta dunia, tidak murni karena Allah SWT.

Mereka makan minum hasil dari al-Qur'an, mereka membaca-nya karena riya, berniat untuk mendapat pujian manusia, dan mereka membaca-nya karena untuk mendapatkan upah (bayaran). Sudah bagitu, mereka juga congkak karena merasa suci, kemudian mereka ingin dimuliakan dan diagungkan.

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda:

" إِنَّ ‌أَكْثَرَ ‌مُنَافِقِي ‌أُمَّتِي ‌قُرَّاؤُهَا "

“Sesungguhnya kebanyakan orang munafik dari umatku adalah para qori-nya”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad 11/209 no. 6633, Ibnu Al-Mubarak dalam Az-Zuhd war-Raqaiq 1/152 no. 451, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 7/79 no. 34335.

Dan melalui jalur Ibnu Al-Mubarak, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad (121), dan At-Tarikh Al-Kabir 1/257, dan Al-Firyabi dalam Shifatul Munafiq (36), serta Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (6959), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wat-Tarikh 2/528, Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ hlm. 88, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/75.

Dinyatakan shahih sanadnya oleh Ahmad Syakir dalam “Tahqiq Al-Musnad” 6/193 no. 6633.

Dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Al-Musnad 11/209 no. 6633 berkata:

حَديثٌ صَحيحٌ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ، شَرَاحِيلُ بْنُ يَزِيدَ: هُوَ الْمَعَافِرِيُّ الْمِصْرِيُّ، رَوَى عَنْهُ جَمْعٌ، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي «الثِّقَاتِ»، وَوَثَّقَهُ الذَّهَبِيُّ فِي «الْكَاشِفِ»، وَقَالَ الْحَافِظُ فِي «التَّقْرِيبِ»: صَدُوقٌ. وَمُحَمَّدُ بْنُ هُدَيَّةَ ـ بِالْيَاءِ الْمَثْنَاةِ التَّحْتِيَّةِ، وَتَصَحَّفَ فِي غَيْرِ مَا كِتَابٍ إِلَى هَدْبَةَ، بِالْمُوَحَّدَةِ ـ، ذَكَرَهُ يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ فِي «تَارِيخِهِ» ٢/٥٢٨ فِي الثِّقَاتِ مِنْ تَابِعِي أَهْلِ مِصْرَ.

وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي «التَّقْرِيبِ»: مَقْبُولٌ، وَنَقَلَ فِي «التَّهْذِيبِ» عَنْ ابْنِ يُونُسَ قَوْلَهُ: لَيْسَ لَهُ غَيْرُ حَدِيثٍ وَاحِدٍ.

قُلْنَا: يَعْنِي هٰذَا الْحَدِيثَ، وَبَاقِي رِجَالِهِ ثِقَاتٌ، رِجَالُ الصَّحِيحِ.

Hadits ini shahih, dan sanadnya hasan. Syarahîl bin Yazid adalah Al-Ma’afiri Al-Mishri, sejumlah perawi meriwayatkan darinya, dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat, Adz-Dzahabi menilainya tsiqah dalam Al-Kasyf, dan Al-Hafizh dalam At-Taqrib berkata: shaduq.

Muhammad bin Hudayyah —dengan huruf ya’ bawah, dan di beberapa kitab tercetak menjadi Hudbah dengan ba’— disebutkan oleh Ya’qub bin Sufyan dalam Tarikhnya 2/528 sebagai perawi tsiqah dari kalangan tabi’in Mesir.

Ibnu Hajar dalam At-Taqrib berkata: maqbul, dan dalam At-Tahdzib ia menukil dari Ibnu Yunus bahwa ia tidak memiliki selain satu hadits.

Kami berkata: yakni hadits ini, dan seluruh perawi lainnya adalah tsiqah, para perawi kitab shahih”. [Selesai].

RIWAYAT DARI SAHABAT LAIN, UQBAH BIN AMIR :

Dari Uqbah bin Amir, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda:

«‌أَكْثَرُ ‌مُنَافِقِي ‌هَذِهِ ‌الْأُمَّةِ ‌قُرَّاؤُهَا»

Kebanyakan orang munafik dari umat ini adalah para qori-nya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 28/268 no. (17410 dan 17411) dari Abu Abdurrahman, ia berkata: Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, Abu Al-Mush’ab menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Uqbah bin Amir, kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dalam “Kholqu Af’aalil Ibaad” (614), Ibnu Qutaybah dalam “Gharib al-Hadits” 1/453, dan oleh al-Firyabi dalam “Sifat al-Munafiq” (34 dan 35).

Hadits ini hasan.

Dinilai Hasan oleh al-Fattani dalam Tadzkiratul Mawdhu’at hal. 24.

Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahqiq al-Musnad 28/268 berkata :

حَسَنٌ لِغَيْرِهِ، وَهٰذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ فِي الْمُتَابَعَاتِ وَالشَّوَاهِدِ.

“Hasan li ghoirihi, dan sanad ini hasan dalam al-Mutaba’at dan asy-Syawahid”.

Sementara adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 2/92 berkata :

وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ أَبِي الْمُصْعَبِ، وَهُوَ مُشَرَّحُ بْنُ هَاعَانَ، وَهُوَ مُخْتَلَفٌ فِيهِ، فَوَثَّقَهُ ابْنُ مَعِينٍ، وَالْعِجْلِيُّ، وَالذَّهَبِيُّ فِي «الْكَاشِفِ»، وَقَالَ فِي «الْمِيزَانِ»: "صَدُوقٌ". وَذَكَرَهُ ابْنُ عَدِيٍّ فِي «الْكَامِلِ» فَقَالَ: أَرْجُو أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ.

وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، أَحَدُ الْعَبَادِلَةِ الَّذِينَ سَمِعُوا ابْنَ لَهِيعَةَ قَبْلَ اخْتِلَاطِهِ.

“Sanadnya hasan karena Abu Al-Mush’ab, yaitu Misyrasy bin Haa’an. Ia diperselisihkan, namun Ibnu Ma’in, Al-Ajli, dan Adz-Dzahabi dalam Al-Kasyf menilainya tsiqah. Dalam Al-Mizan disebutkan: ia jujur. Ibnu Adi menyebutkannya dalam Al-Kamil dan berkata: aku berharap tidak mengapa dengannya.

Adapun Abu Abdurrahman adalah Abdullah bin Yazid Al-Muqri’, salah satu di antara perawi yang mendengar dari Ibnu Lahi’ah sebelum beliau mengalami perubahan hafalan”. [Selesai]

MAKNA HADITS :

Adh-Dhiya al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 2/92 :

قَوْلُهُ: "أَكْثَرُ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا". نَقَلَ الْمُنَاوِيُّ فِي «فَيْضِ الْقَدِيرِ» (٢/ ٨٠) عَنِ الزَّمَخْشَرِيِّ قَوْلَهُ: "أَرَادَ بِالنِّفَاقِ الرِّيَاءَ؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا إِرَادَةُ مَا فِي الظَّاهِرِ خِلَافَ مَا فِي الْبَاطِنِ".

قُلْتُ: وَهٰذَا أَقْرَبُ مَا فُسِّرَ بِهِ هٰذَا الْحَدِيثُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Perkataannya: “Kebanyakan orang munafik dari umatku adalah para pembacanya.” Al-Manawi dalam Faid al-Qadir 2/80 menukil dari Az-Zamakhsyari bahwa beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kemunafikan di sini adalah riya, karena keduanya sama-sama menginginkan sesuatu yang tampak berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati.”

Saya berkata: Inilah penafsiran yang paling tepat mengenai hadits ini, wallahu a’lam”.

[Pernyataan az-Zamakhsari ini dikutip pula dalam adz-Dzakhoir wa al-‘Abqoriyaat 1/187 karya Abdurrahman al-Barquqi al-Adiib[.

Sementara Muhammad Rasyid Ridho dalam Majallah al-Manar 4/35 dia berkata :

وَالْقُرَّاءُ: الْعُلَمَاءُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Yang dimaksud para qori di sini adalah para ulama”. Wallahu a’lam

Dan Al-Ghazali berkata:

الْمَعْنَى طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِأَنْ يُرِيَهُمْ الْخِصَالَ الْمَحْمُودَةَ، وَالْمُرَائِي هُوَ الْعَامِلُ.

“Maknanya adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan menunjukkan sifat-sifat terpuji, sedangkan orang yang riya adalah yang melakukannya”.

[Dikutip dari Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 11/336 dan Nadhrotun Naim 11/5605].

Dan Ibnu Rajab berkata:

وَمِنْ أَعْظَمِ خِصَالِ النِّفَاقِ الْعَمَلِيِّ، أَنْ يَعْمَلَ الْإِنْسَانُ عَمَلًا وَيُظْهِرُ أَنَّهُ قَصَدَ بِهِ الْخَيْرَ، وَإِنَّمَا عَمَلُهُ لِيَتَوَصَّلَ بِهِ إِلَى غَرَضٍ لَهُ سَيِّئٌ فَيَتِمُّ لَهُ ذَلِكَ وَيَتَوَصَّلُ بِهَذِهِ الْخُدِيعَةِ إِلَى غَرَضٍ وَيَفْرَحُ بِمَكْرِهِ وَخِدَاعِهِ وَحَمْدِ النَّاسِ لَهُ عَلَى مَا أَظْهَرَهُ وَيَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى غَرَضِهِ السَّيِّئِ الَّذِي أَبْطَنَهُ.

“Salah satu sifat munafik dalam amal perbuatan yang paling besar adalah ketika seseorang melakukan suatu amal dan menampakkan seolah-olah ia berniat untuk kebaikan, padahal sesungguhnya amal itu ia lakukan untuk mencapai tujuan yang buruk, sehingga tujuannya tercapai.

Dengan tipuan ini ia mencapai maksudnya, bergembira dengan tipu muslihat dan penipuannya, dipuji manusia atas apa yang ditampakkannya, dan melalui itu ia mencapai tujuan buruk yang ia sembunyikan”.

[Dikutip dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (378) dan Nadhrotun Naim 11/5605].

Al-Imam al-Gozali dalam al-Ihya 1/123 berkata :

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَقْرَبُ النَّاسِ مِنَ النِّفَاقِ مَنْ يَرَى أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنَ النِّفَاقِ.

“Dan sebagian ulama berkata: Orang yang paling dekat dengan sifat munafik adalah orang yang merasa dirinya bersih dari kemunafikan”.

Riya dalam ibadah termasuk dosa besar. Dua imam, Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar, telah sepakat tentang hal ini serta menyebutkan dalil-dalilnya dalam kedua kitab mereka. Lihat: Al-Kabair karya Adz-Dzahabi (143-146) dan Az-Zawajir karya Ibnu Hajar (49-64).

Allah SWT berfirman tentang sifat utama orang-orang munafiq dalam beribadah :

﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. [QS. An-Nisa: 142]

Tempat mereka di neraka yang paling dasar karena mereka tidak mau mensyukuri nikmat hidayah iman dan Islam dengan beribadah murni karena Allah, termasuk beribadah baca al-Qur’an serta mengajarkannya kepada orang lain.

Allah SWT berfirman :

﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.

Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka hanya karena Allah semata. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. [QS. An-Nisa: 145-146]


Posting Komentar

0 Komentar