HUKUM NIAT BELAJAR ILMU AGAMA
DEMI UNTUK MENDAPATKAN IJAZAH
& MATA PENCAHARIAN
Di Susun Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
BERIKUT INI HADITS- HADITS NABI ﷺ
TENTANG MENCARI ILMU UNTUK HARTA
DUNIA :
===
HADITS KE 1 :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah ﷺ bersabada:
(
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ
يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا )
“
Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu
wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan
harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat
kelak.
( HR. Abu Daud
no. 3664 , Ibnu Majah no. 252 dan imam Ahmad no. 8457 ) Hadits ini di Shahihkan
oleh imam an-Nawawi , syeikh bin Baaz dan syeikh al-Albaani . Lihat : “رياض الصالحين” [No. 139 &
1620] dan “صحيح الترغيب” no. 105 ).
Kalau dalam hadits disebutkan masalah
ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan
sanjungan ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada
ahli ilmu sebagai pewaris para nabi,
وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama adalah
pewaris para nabi.”
(HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh
Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin atau ilmu agama.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
“Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau menurut ulama
Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang dimaksudkan
dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Ketika disebut ilmu, maka
yang dimaksud adalah ilmu syar’i.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 302)
===
HADITS KE 2 :
Dan Turmudzy meriwayatkanya dari Ibnu Umar Nabi ﷺ bersabda :
"مَن تعلَّمَ عِلمًا لغَيرِ اللهِ، أو
أرادَ به غَيرَ اللهِ، فلْيَتبوَّأْ مَقعَدَه من النَّارِ
“ Barang siapa yang menuntut Ilmu karena selain Allah , atau dengannya menghendaki selain Allah; maka dia
telah menyiapkan tempat duduk untuk dirinya dari api Neraka “.
( HR. At-Turmudzi no. 2655 dan An-Nasa’i dalam “As-Sunan
Al-Kubra” no. 5910 dalam hadits yang panjang.
Al-Mizzi berkata dalam kitabnya “Tahdzib Al-Kamal”: “Di dalam sanadnya
terdapat Muhammad bin ‘Abbad Al-Hanna’i, telah berkata Abu Hatim: dia itu
shoduq”.
Al-Mubarakfuri dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwadzi” 7/68: sanadnya
terputus.
Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Dhaif At-Tirmidzi”
no. 2655, “As-Silsilah Adh-Dhaifah” no. 5017, “Dhaif At-Targhib” no. 85 dan
“Dhaif Al-Jami’” no. 1768 dan 5530)
===
HADITS KE 3
Orang durhaka adalah orang yang makan dan minumnya dari hasil al-Qur'an
:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia mengatakan : bahwa ia pernah
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"يكون خَلْفٌ من بعد
السِّتِّينَ سنةً أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ غَيًّا ثم يكون خَلْفٌ يقرؤونَ القرآنَ لا يعْدو تراقيهم
ويقرأ القرآنَ ثلاثٌ مؤمنٌ ومنافقٌ وفاجرٌ ".
قال بَشِيْر
: قُلْتُ للوَلِيْد : مَا هَؤلَاء الثَّلاثةُ؟ قَالَ : المُؤْمِن مُؤْمِنٌ
بِه، والمُنافِقُ كَافِرٌ به، والفَاجِرُ يَأكُلُ بِهِ
Kelak akan ada generasi pengganti sesudah enam puluh tahun, mereka
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.
Kemudian akan muncul pula pengganti lainnya yang pandai membaca
Al-Quran, tetapi tidak sampai meresap ke dalam hati mereka.
Saat itu yang membaca Al-Quran ada tiga macam orang, yaitu orang
Mukmin, orang munafiq, dan orang durhaka.
Basyir mengatakan bahwa ia bertanya kepada Al-Walid tentang pengertian
dari ketiga macam orang tersebut : "Siapa sajakah mereka itu?"
Maka Al-Walid menjawab : "Orang Mukmin adalah orang yang
beriman kepada Al-Quran , orang Munafiq adalah orang yang
ingkar terhadap Al-Quran , sedangkan orang yang DURHAKA adalah orang yang
mencari makan (nafkah) dengan Al-Quran."
[HR. Ahmad no. 11340].
Derajat Hadits :
Ibnu Katsir dalam kitab البداية والنهاية (6/233)
berkata :
إِسْنَادُهُ
جَيِّدٌ قَوِيٌّ عَلَى شَرْطِ السُّنَنِ
"Sanad nya bagus dan kuat sesuai syarat kitab-kitab as-Sunan".
Dan Syeikh al-Albaani dalam السِّلْسِلَةُ الصَّحِيحَةُ (1/520)
berkata :
"رِجَالُهُ ثِقَاتٌ غَيْرُ
الوَلِيدِ، فَحَدِيثُهُ يَحْتَمِلُ التَّحْسِينِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ حَالٍ شَاهِدٌ
صَالِحٌ".
"Para perawinya tsiqoot [dipercaya] selain al-Wallid, maka
haditsnya bisa dibawa ke derajat Hasan , dan haditst tsb bagaimana pun juga
layak dan baik sebagai syahid ".
===
HADITS KE 4:
Dari Habashi bin Junadah As-Salluuli bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِنِّيْ لَأُعِطِيْ الرَّجُلَ
الْعَطِيَّةَ فَيَنْطَلِقُ بِهَا تَحْتَ إِبْطِهِ وَمَا هِيَ إِلاَّ النَّارُ». فَقَالَ
لَهُ عُمَرُ: وَلِمَ تُعْطِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا هُوَ نَارٌ؟ فَقَالَ: «أَبىَ
اللهُ لِيْ الْبُخْلَ، وَأَبَوا إِلاَّ مَسْأَلَتِيْ»
“Sesungguhnya aku benar-benar akan memberi seseorang suatu pemberian,
lalu dia beranjak pergi dengan membawa pemberian itu dibawah ketiaknya, padahal
tidaklah pemberian itu melainkan api Neraka.”
Maka Umar berkata kepada beliau: ‘Lantas mengapa Anda
memberinya wahai Rasulullah, padahal ia adalah api?’
Maka beliau bersabda: ‘Allah tidak menyukai kebakhilan
untukku, namun mereka tetap membangkang kecuali meminta kepadaku.”
[HR. Ahmad (11139, 11017), Ibnu Hibban (3414), Abu Ya’la
(1328)]. Di Shahihkan Ibnu Hibbaan dan al-Albaani dalam Shahiih at-Targhiib wa
at-Tarhiib (815, 844), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid,
6/179]
===
HADITS KE 5:
Belajar Ilmu agama demi untuk mendapatkan gelar . Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“ورَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ،
وعَلَّمَهُ وقَرَأَ القُرْآنَ، فَأُتِيَ به فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَها،
قالَ: فَما عَمِلْتَ فيها؟ قالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ، وعَلَّمْتُهُ وقَرَأْتُ
فِيكَ القُرْآنَ، قالَ: كَذَبْتَ، ولَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ العِلْمَ
لِيُقالَ: عالِمٌ، وقَرَأْتَ القُرْآنَ لِيُقالَ: هو قارِئٌ،
فقَدْ قيلَ، ثُمَّ أُمِرَ به فَسُحِبَ علَى وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ”.
Dan [kelak pada hari Kiamat] didatangkan pula seseorang yang BELAJAR
ILMU AGAMA dan MENGAJARKAN-NYA, serta MEMBACA AL-QUR'AN. Lalu diperlihatkan
kepadanya kenikmatan [didunia hasil dari gelar dan amalannya itu] sehingga ia
mengetahuinya dengan jelas.
Allah bertanya kepadanya: 'Apa yang telah kamu amalkan dengannya? ' Dia
menjawab: 'Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al
Qur'an demi untuk Engkau.'
Allah berfirman: 'Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan
mengajarkannya agar di sebut 'ALIM [yakni: orang berilmu / ulama /
Ustadz / Kyai] serta membaca Al Qur'an agar disebut QORI [Mahir
baca al-Qur'an atau hafidz]. Dan kini kamu telah mendapatkan sebutan itu".
Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan
ke dalam api neraka. [HR. Muslim no. 1905].
FATWA AL-LAJNAH AD-DAIMAH
حُكْمُ دِرَاسَةِ
الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ مَعَ إِرَادَةِ الشَّهَادَةِ وَالْوَظِيفَةِ
Hukum mempelajari ilmu Syar'i dengan
tujuan untuk mendapatkan Ijazah , pekerjaan atau jabatan .
Al-Lajnah ad-Daaimah lil Iftaa Saudi Arabia pernah ditanya :
هَلْ يَجُوزُ الدِّرَاسَةُ
الدِّينِيَّةُ مِنْ أَجْلِ الشَّهَادَةِ؟
Apakah diperbolehkan belajar ilmu
agama demi Ijazah ?
Jawabannya:
لَا بَأْسَ أَنْ
يَدْرُسَ لِأَخْذِ الشَّهَادَةِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ فِي إِصْلَاحِ
النِّيَّةِ حَتَّى تَكُونَ الدِّرَاسَةُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَأَنْ يَكُونَ أَخْذُ الشَّهَادَةِ
لِيَسْتَعِينَ بِهَا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَخِدْمَةِ الْمُسْلِمِينَ.
Tidak apa-apa dia menuntut ilmu agama untuk mendapatkan ijazah, akan
tetapi dia harus berjuang pada dirinya untuk memperbaiki niat agar belajarnya betul-betul
hanya untuk Allah. Dan agar niat mengambil Ijazahnya itu untuk digunakan dalam
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk melayani umat Islam.” [ Selesai
]
[ Fatawa Al-Lajnah ad-Daaimah 12/103].
====
FATWA SYEIKH AL-'UTSAIMIIN KE 1:
هَلْ طَلَبُ الْعِلْمِ
لِأَجْلِ الدُّنْيَا شِرْكٌ أَصْغَرُ؟
Apakah mencari ilmu syar'i demi dunia
termasuk syirik yang kecil?
Pertanyaan :
الْآنَ يُقَالُ
عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ: إِذَا أَرَادَ إِنْسَانٌ بِعِلْمِهِ ابْتِغَاءَ الدُّنْيَا
فَقَطْ لَا يُرِيدُ الْآخِرَةَ فَهَذَا شِرْكٌ، فَهَلِ الْمَقْصُودُ بِالشِّرْكِ الشِّرْكُ
الْأَصْغَرُ أَمِ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ؟
Sekarang ini dikatakan oleh sebagian para ulama : Jika seseorang dengan
ilmu [agama] nya berkeinginan untuk mencari dunia saja dan tidak menginginkan
akhirat, maka ini adalah syirik.
Namun apakah yang dimaksud dengan syirik di sini syirik kecil atau
syirik besar?
Jawaban :
شِرْكٌ أَصْغَرُ،
وَلِهَذَا جَعَلُوا عَلَى مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ
لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَنَالَ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ.
أَمَّا عُلُومُ الدُّنْيَا فَلَا بَأْسَ كَالْهِنْدَسَةِ وَالصِّنَاعَةِ وَمَا أَشْبَهَ
ذَلِكَ، لَكِنْ عِلْمُ الشَّرِيعَةِ لَا تَنْوِ بِهِ إِلَّا حِفْظَ الشَّرِيعَةِ.
Itu adalah Syirik kecil. Oleh karena itu mereka [ para ulama ] telah menetapkan
terhadap orang yang mencari ilmu agama yang fungsinya untuk menghadap wajah
Allah, lalu dia mencarinya tidak bertujuan kecuali untuk mendapatkan materi
dari dunia ; maka dia tidak akan pernah mencium aroma surga.
Adapun ilmu-ilmu duniawi, maka tidak ada masalah dengannya [yakni ;
tidak mengapa bertujuan mencari dunia] seperti ilmu teknik, industri, dan
sejenisnya.
Berbeda dengan ilmu syariat , maka tidak boleh punya maksud dan tujuan
kecuali untuk memelihara dan menjaga syariat.
Sumber :
Syekh Ibnu Utsaimin dari Pertemuan Pintu Terbuka (لقاءات الباب المفتوح), pertemuan No. (213)
====
FATWA SYEIKH AL-'UTSAIMIIN KE 2:
Mencari Ilmu Syar'i Bertujuan Untuk Mendapatkan Ijazah
Syekh Ibnu Utsaimin radhiyallahu 'anhu, pernah ditanya :
يَتَحَرَّجُ بَعْضُ
طَلَبَةِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ عِنْدَ قَصْدِهِمُ الْعِلْمَ وَالشَّهَادَةَ، فَكَيْفَ
يَتَخَلَّصُ طَالِبُ الْعِلْمِ مِنْ هَذَا الْحَرَجِ؟
Sebagian para pelajar ilmu syar'i merasa berat hati ketika mereka
mencari ilmu syar'i bertujuan untuk Ijazah , lalu bagaimana caranya agar
seorang pelajar ilmu syar'i bisa lepas dari perasaan berat hati ini?
Beliau menjawab :
يُجَابُ عَلَى ذَلِكَ
بِأُمُورٍ:
أَحَدُهَا: أَنْ
لَا يَقْصِدُوا بِذَلِكَ الشَّهَادَةَ لِذَاتِهَا، بَلْ يَتَّخِذُونَ هَذِهِ الشَّهَادَاتِ
وَسِيلَةً لِلْعَمَلِ فِي الْحُقُولِ النَّافِعَةِ لِلْخَلْقِ؛ لِأَنَّ الْأَعْمَالَ
فِي الْوَقْتِ الْحَاضِرِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الشَّهَادَاتِ، وَالنَّاسُ غَالِبًا لَا
يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ إِلَى مَنْفَعَةِ الْخَلْقِ إِلَّا بِهَذِهِ الْوَسِيلَةِ،
وَبِذَلِكَ تَكُونُ النِّيَّةُ سَلِيمَةً.
الثَّانِي: أَنَّ مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ، قَدْ لَا يَجِدُهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْكُلِّيَّاتِ، فَيَدْخُلُ فِيهَا بِنِيَّةِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَلَا يُؤَثِّرُ عَلَيْهِ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنَ الشَّهَادَةِ فِيمَا بَعْدُ.
الثَّالِثُ: أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَرَادَ بِعَمَلِهِ الْحُسْنَيَيْنِ، حُسْنَى الدُّنْيَا وَحُسْنَى الْآخِرَةِ: فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ؛ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} الطَّلَاقُ/٢-٣، وَهَذَا تَرْغِيبٌ فِي التَّقَوِّي بِأَمْرٍ دُنْيَوِيٍّ.
“Itu bisa dijawab dengan beberapa hal:
Salah satunya : Mereka ketika hendak mencari ilmu Syar'i ; maka jangan bertujuan murni untuk ijazah itu sendiri, melainkan mereka mengambil Ijazah itu sebagai sarana untuk beramal di bidang-bidang yang bermanfaat bagi makhluk ; karena segala pekerjaan atau kegiatan di masa sekarang ini dibangun di atas Ijazah .
Dan orang-orang sekarang ini pada umunya tidak bisa mencapai pada
kegiatan untuk memberikan manfaat kepada makhluk kecuali dengan wasilah Ijazah
ini. Jika demikian ; maka niatnya adalah lurus dan selamat .
Kedua: bahwa orang yang menginginkan ilmu syar'i , terkadang dia tidak bisa mendapatkannya kecuali di perguruan-perguruan tinggi ini, maka dia memasuki perguruan tinggi tsb dengan niat mencari ilmu. Dan Ijazah yang dia peroleh di kemudian hari maka tidak mempengaruhi niat lurusnya.
Ketiga: bahwa seseorang jika menginginkan dengan amalnya itu untuk
mendapatkan dua kebaikan , yaitu kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,
maka itu tidak mengapa baginya untuk itu ; Karena Allah SWT berfirman :
{وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ
بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا}
Artinya : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.” (QS. Ath Thalaaq: 2-3)
Ayat-ayat ini adalah dorongan untuk memperkuat dengan kekuatan ekonomi
.
JIKA ADA YANG BERTANYA :
Jika ada yang mengatakan :
مَنْ أَرَادَ بِعَمَلِهِ
الدُّنْيَا كَيْفَ يُقَالُ بِأَنَّهُ مُخْلِصٌ؟
Orang yang menginginkan dunia dengan amalannya, bagaimana bisa
dikatakan bahwa dia itu ikhlas karena Allah ?
JAWABNYA :
أَنَّهُ أَخْلَصَ
الْعِبَادَةَ وَلَمْ يُرِدْ بِهَا الْخَلْقَ إِطْلَاقًا، فَلَمْ يَقْصِدْ مُرَاءَاةَ
النَّاسِ وَمَدْحَهُمْ عَلَى عِبَادَتِهِ، بَلْ قَصَدَ أَمْرًا مَادِّيًّا مِنْ ثَمَرَاتِ
الْعِبَادَةِ.
فَلَيْسَ كَالْمُرَائِي
الَّذِي يَتَقَرَّبُ إِلَى النَّاسِ بِمَا يَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ، وَيُرِيدُ
أَنْ يَمْدَحُوهُ بِهِ.
لَكِنَّهُ بِإِرَادَةِ
هَذَا الْأَمْرِ الْمَادِّيِّ نَقَصَ إِخْلَاصُهُ، فَصَارَ مَعَهُ نَوْعٌ مِنَ الشِّرْكِ،
وَصَارَتْ مَنْزِلَتُهُ دُونَ مَنْزِلَةِ مَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ إِرَادَةً مَحْضَةً.
وَبِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ
أَوَدُّ أَنْ أُنَبِّهَ عَلَى أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ عِنْدَمَا يَتَكَلَّمُونَ عَلَى
فَوَائِدِ الْعِبَادَاتِ يُحَوِّلُونَهَا إِلَى فَوَائِدَ دُنْيَوِيَّةٍ؛ فَمَثَلًا
يَقُولُونَ: فِي الصَّلَاةِ رِيَاضَةٌ وَإِفَادَةٌ لِلْأَعْصَابِ، وَفِي الصِّيَامِ
فَائِدَةٌ لِإِزَالَةِ الْفَضَلَاتِ وَتَرْتِيبِ الْوَجَبَاتِ، وَالْمَفْرُوضُ أَلَّا
تُجْعَلَ الْفَوَائِدُ الدُّنْيَوِيَّةُ هِيَ الْأَصْلَ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى
إِضْعَافِ الْإِخْلَاصِ وَالْغَفْلَةِ عَنْ إِرَادَةِ الْآخِرَةِ، وَلِذَلِكَ بَيَّنَ
اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ حِكْمَةَ الصَّوْمِ - مَثَلًا - أَنَّهُ سَبَبٌ لِلتَّقْوَى،
فَالْفَوَائِدُ الدِّينِيَّةُ هِيَ الْأَصْلُ، وَالدُّنْيَوِيَّةُ ثَانَوِيَّةٌ.
وَعِنْدَمَا نَتَكَلَّمُ
عِنْدَ عَامَّةِ النَّاسِ فَإِنَّنَا نُخَاطِبُهُمْ بِالنَّوَاحِي الدِّينِيَّةِ، وَعِنْدَمَا
نَتَكَلَّمُ عِنْدَ مَنْ لَا يَقْتَنِعُ إِلَّا بِشَيْءٍ مَادِّيٍّ فَإِنَّنَا نُخَاطِبُهُ
بِالنَّوَاحِي الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ، وَلِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ.
انْتَهَى مِنْ كِتَابِ
«الْعِلْمِ» لِلشَّيْخِ ابْنِ عُثَيْمِينَ رَحِمَهُ اللَّهُ، ص ٧٦.
Jawabannya adalah:
Dia adalah orang tsb telah mengikhlaskan ibadahnya dan dia sama sekali tidak
berniat karena makhluk, maka dia tidak bermaksud untuk pamer pada manusia dan tidak
untuk mendapatkan pujian mereka atas ibadahnya, melainkan dia menginginkan
sesuatu yang sifatnya materi dari buah ibadahnya [ yang ikhlas karna Allah ].
Dia tidak seperti orang riya / pamer yang mendekatkan diri pada manusia
yang dengannya dia juga mendekatkan diri kepada Allah, dan ingin agar mereka
memujinya karenanya.
Akan tetapi dengan diringi keinginannya terhadap materi ini, maka nilai
keikhlasannya jadi berkurang, sehingga bersamanya ia menjadi semacam ada unsur kemusyrikan,
dan statusnya menjadi kurang dari seseorang yang menginginkan akhirat secara
murni.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan bahwa ada sebagian manusia
, ketika mereka berbicara tentang manfaat-manfaat ibadah, mereka mengarahkannya
kepada manfaat-manfaat duniawi. Misalnya, mereka mengatakan bahwa manfaat
shalat adalah olahraga dan juga bermanfaat bagi saraf , dan ibadah puasa
memiliki manfaat membuang kotoran dan mengatur pola makan. Mestinya anda tidak
seharusnya menjadikan manfaat duniawi sebagai prinsip dasar dalam ibadah .
Karena hal itu menyebabkan melemahnya keikhlasan dan melalaikan tujuan akhirat.
Itulah sebabnya Allah SWT menjelaskan dalam Kitab-Nya hikmah puasa -
misalnya, bahwa puasa itu adalah sarana untuk meningkatkan ketakwaan , maka
manfat-manfaat agama adalah yang paling utama, dan manfaat duniawi adalah yang
kedua.
Dan ketika kita berbicara dengan orang-orang pada umumnya, maka kita
berbicara kepada mereka cukup dengan aspek-aspek agama saja .
Dan ketika kita berbicara dengan mereka yang tidak mau menerrimanya
kecuali jika dikaitkan dengan aspek materi , maka kita berbicara kepada mereka
dengan menggabungkan antara aspek agama dan aspek duniawi. [ Selesai ]
[[ Di kutip dari kitab al-Ilmu hal. 76 karya Syeikh Ibnu Utsaimiin ]].
NASIHAT SEBAGIAN PARA ULAMA UNTUK
PARA PENUNTUT ILMU SYAR'I :
Pertama :
Seorang ulama ada yang berkata :
فَالنَّصِيحَةُ
لَكَ: أَنْ تَطْلُبَ الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ، وَتُخْلِصَ فِيهِ النِّيَّةَ، بِأَنْ
يَكُونَ لِلَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ مُرَاءَاةً لِلنَّاسِ، وَأَنْ تَسْتَحْضِرَ مَا
رَتَّبَ اللَّهُ عَلَى الْعِلْمِ مِنَ الْفَضْلِ وَالثَّوَابِ، وَلَا حَرَجَ مَعَ ذَلِكَ
أَنْ تَطْمَحَ إِلَى الْحُصُولِ عَلَى الشَّهَادَةِ وَمَا يُعْقِبُهَا مِنَ الْوَظِيفَةِ
وَالرَّاتِبِ، فَتَكُونَ قَدْ جَمَعْتَ بَيْنَ حُسْنَيَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
وَلَيْسَ هَذَا
مِنَ الشِّرْكِ، وَلَا يَدْخُلُ فِي مَنْ (اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
التَّوْبَةِ/٩، فَإِنَّ الْمُرَادَ بِذَلِكَ: مَنْ اعْتَاضَ عَنْ اتِّبَاعِ آيَاتِ
اللَّهِ بِمَا الْتَهَى بِهِ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا الْخَسِيسَةِ، كَمَا قَالَ ابْنُ
كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي تَفْسِيرِهِ (٤/ ١١٦). وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Maka nasehat kami kepada anda:
Belajarlah ilmu-ilmu agama Islam, dan ikhlaskanlah niat anda di
dalamnya, yaitu : bahwa belajar ilmu Syar'i itu niatnya untuk Allah Azza wa
Jalla dan tidak untuk pamer atau riya kepada manusia. Dan fokuskan niatnya
untuk mendapatkan janji Allah SWT berupa keutamaan pahala di sisinya .
Dan tidak ada salahnya jika Anda bercita-cita untuk mendapatkan ijazah
dan setelah itu dengannya bisa mendapat pekerjaan serta gaji , sehingga Anda
telah menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat.
Ini bukan dari kemusyrikan, dan tidak termasuk dalam ayat :
اشْتَرَوْا
بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu
mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa
yang mereka kerjakan itu. [ QS. At-Taubah : 9]
Karena yang dimaksud dengan ayat ini adalah : orang yang ingin
menggantikan ayat-ayat Allah dengan sesuatu yang menyenangkan dari hal-hal
duniawi yang hina, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Katsir, semoga Allah
merahmatinya, dalam tafsirnya (4/11) .
[Di kutip dari blog الإِسْلَامُ
سُؤَالٌ وَجَوَابٌ
di bawah bimbingan Muhammad Shaleh al-Munajjid]
Kedua :
Fatwa Syekh Khalid bin Abdul Mun'im ar-Rifaa'ii :
إِنَّ إِخْلَاصَ
النِّيَّةِ فِي طَلَبِ العِلْمِ الشَّرْعِيِّ وَفِي كُلِّ مَا هُوَ مَشْرُوعٌ مِنَ
الوَاجِبَاتِ المُحْتَمَاتِ، فَتُنَوِّي بِهِ أَوَّلًا رَفْعَ الجَهْلِ عَنْ نَفْسِكَ
ثُمَّ عَنْ غَيْرِكَ، وَحَتَّى إِنْ كَانَ مِنْ جُمْلَةِ النِّيَّاتِ الصَّالِحَةِ
لِلْحُصُولِ عَلَى المُؤَهِّلِ العِلْمِيِّ الشَّرْعِيِّ التَّرْشِيحِ لِوَظِيفَةٍ
مُنَاسِبَةٍ، فَهَذَا لَا حَرَجَ فِيهِ، كَمَا لَا حَرَجَ مِنَ السَّعْيِ لِلِالْتِحَاقِ
بِكُلِّيَّةٍ شَرْعِيَّةٍ، فَتَخْلُصُ النِّيَّةُ لِلَّهِ، وَتَقْصِدُ أَيْضًا تَحْسِينَ
وَضْعِكَ المَادِّيِّ وَالاجْتِمَاعِيِّ، وَتَسْتَعِينُ بِتِلْكَ الوَظِيفَةِ عَلَى
طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَخِدْمَةِ المُسْلِمِينَ.
وَإِنَّمَا المَحْظُورُ
هُوَ أَنْ تَكُونَ نِيَّتُكَ مُحْصُورَةً فِي مُتَاعِ الدُّنْيَا وَحَسْبُ؛ أَي: الحُصُولُ
عَلَى المُؤَهِّلِ مِنْ أَجْلِ الوَظِيفَةِ وَالرَّاتِبِ أَوِ المَنْصِبِ وَنَحْوِهَا
مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا، دُونَ أَنْ يَخْطُرَ بِخَاطِرِكَ النِّيَّاتُ الصَّالِحَةُ
الَّتِي أَشَرْنَا لِبَعْضِهَا، فَهَذَا هُوَ الَّذِي يُخْشَى عَلَى صَاحِبِهِ مِنَ
الدُّخُولِ فِي الوَعِيدِ الشَّدِيدِ الوَارِدِ فِي الحَدِيثِ الشَّرِيفِ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ
عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ»؛ يَعْنِي: رِيحَهَا؛ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ
الأَلْبَانِي فِي صَحِيحِ أَبِي دَاوُد.
Keikhlasan niat dalam mencari ilmu agama Islam dan dalam segala hal
yang disyariatkan adalah salah satu kewajiban yang tak terelakkan, maka dengan
itu pertama-tama niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan
kemudian dari orang lain.
Meskipun jika sebagian niat baik untuk mendapatkan keahlian dalam ilmu
syar'i nya itu bertujuan agar bisa mendaftarkan dirinya untuk sebuah pekerjaan atau
jabatan yang sesuai, maka yang demikian itu tidak ada yang salah.
Seperti halnya tidak ada salahnya mencoba masuk fakultas Syari'ah , lalu
niatkan dengan ikhlas karena Allah, dan juga niat untuk memperbaiki keadaan
keuangan dan sosial, dan hasil pekerjaannya itu di gunakan untuk mentaati Allah
SWT dan melayani umat Islam.
Adapun yang dilarang hanyalah jika niat Anda terbatas pada tujuan
kesenangan duniawi semata , yaitu hanya agar memperoleh keahlian untuk
mendapatkan pekerjaan, gaji atau jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya , tanpa
terlintas di benak Anda niat baik seperti yang sebagiannya telah kami sebutkan.
Dan inilah yang dikhawatirkan pelakunya kelak akan masuk ke dalam
ancaman berat yang terkandung dalam hadits mulia bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
(مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ
يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا)
“ Barang siapa
menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ;
tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda
dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak. ( HR.
Abu Daud dan di shahihkan oleh Syeikh al-Albaani ]
===***===
SIAPAKAH DA’I YANG LEBIH BAHAYA DARI PADA DUA SRIGALA KELAPARAN?:
Di antara sarana terbesar yang akan merusak seseorang untuk sampai
kepada Rabbnya adalah: seseorang dengan agamanya sengaja bertujuan untuk
mengeruk keuntungan duniawi dan menggapai kemuliaan di dunia.
Orang seperti ini lebih buruk dan lebih merusak dari pada dua ekor
serigala kelaparan yang dilepas dikawanan kambing. Sebagaimana di sebutkan
dalam hadits Ka’ab bin Malik bahwa: “Rasulullah –ﷺ-
bersabda:
(مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ
أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ
وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ)
‘Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas kepada kawanan kambing,
tidak lebih besar kerusakan yang dibuatnya dibandingkan dengan kerusakan agama
seseorang akibat ketamakannya terhadap harta dan ambisi kehormatan dengannya’.
[HR. Ahmad no. 15794, Tirmidzi (2376), Nasaa'i dalam al-Kubra
no. 11796, Ibnu Abi Syaibah no. 34380 dan ad-Daarimi no. 2772. Abu Isa Turmudzi
berkata: " Hadits Hasan Shahih".
(Dishahihkan oleh Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhrij al-Musnad no. 15794
dan al-Albani dalam Shahih Al Jami’: 5620)
Syeikh Islam –rahimahullah- berkata:
“فَبَيَّنَ ﷺ أَنَّ الْحِرْصَ
عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ فِي فَسَادِ الدِّينِ لَا يَنْقُصُ عَنْ فَسَادِ
الذِّئْبَيْنِ الْجَائِعَيْنِ لِزَرِيبَةِ الْغَنَمِ وَذَلِكَ بَيِّنٌ ؛ فَإِنَّ
الدِّينَ السَّلِيمَ لَا يَكُونُ فِيهِ هَذَا الْحِرْصُ وَذَلِكَ أَنَّ الْقَلْبَ
إذَا ذَاقَ حَلَاوَةَ عُبُودِيَّتِهِ لِلَّهِ وَمَحَبَّتِهِ لَهُ لَمْ يَكُنْ
شَيْءٌ أَحَبَّ إلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى يُقَدِّمَهُ عَلَيْهِ وَبِذَلِكَ
يُصْرَفُ عَنْ أَهْلِ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ السُّوءُ وَالْفَحْشَاءُ ".
0 Komentar