BENARKAH ALLAH SWT TURUN KE LANGIT DUNIA PADA MALAM
PERTENGAHAN SYABAN?
====
Di Susun Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Masalah ini terdapat dalam beberapa hadits, namun
para ulama memiliki banyak pendapat terkait dengan keshahihannya. Realitanya,
tidak ada hadits yang shahih terkait dengan keutamaan malam pertengahan bulan
Sya’ban.
Berikut ini haditsnya:
Dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari radhiyallahu ‘anhusulullah
sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ
مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
"Sungguh Allah akan melihat di malam Nishfu
Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau atau
orang yang bermusuhan"
(HR. Ibnu Majah no. 1380, Thabrani no. 2238 &
Baihaqi no. 3942).
Lafadz Riwayat Abu Bakar, bahwa Rosullah SAW
bersabda:
يَنْزلُ ربُّنا تَبَارَك وَتعَالى ليْلةَ النّصْفِ
مِن شَعْبان، فَيَغْفِر لكلِّ نَفْسِ، إلا مُشْرِكٌ بِاللهِ، وَمُشَاحِن
“Allah SWT turun ke bumi pada malam Nishfu Sya’ban.
Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik atau orang yang
bermusuhan”
Referensi:
(Di riwayatkan oleh Utsman bin Sa'idd Ad-Darimi
dalam ((ar-Rodd Jahmiyyah)) (No. 136), Ibnu Abi Asim dalam ((as-Sunnah)) (No.
509) dan Al-Marwazi dalam “Musnad Abu Bakar Al-Siddiq” (No. 104), Al-Daraqutni
dalam “Al-Nuzul” (No. 75 dan 76), Ibnu Khuzayma dalam “Al-Tawheed” (hal. 136
atau No. 200 - Al-Rushd), dan Abu Naim dalam “Akhbar Ashfahaan” (2 / 2), Abu
al-Sheikh dalam “Tabaqat al-Muhadditsin” dalam Isfahan (2/102-103), al-Uqaili
dalam “Ad-Dhu'aafa al-Kabir” (3/39), dan al-Baghawi dalam “Sharh al-Sunnah” (4)
/ 127 / No. 993, Al-Bazzar dalam “Al-Bahr Al-Zakhoor” (1/206-207/No.80, atau
2/435/No.2045-“Kashf Al-Ashtar”), dan Al-Bayhaqi dalam “Shu'ab Al -Iman”
(7/412/No. 3547) 3548 – Cet. Hindi, atau 3/381 / No. 3828, 3829 - Dar al-Kutub
al-Ilmiyya, Ibnu Adiy in ((Al-Kamil)) (5/1946), dan Al-Lalaaka'i (( Syarah
Ushul I'tiqood Ahlu as-Sunnah)) (3/438 - 439/No. 750). ), dan Ibnu al-Jawzi
dalam ((Illal Al-Mutanaahia” (2/ 66 - 67), dan Ibnu Al-Dubaytsi dalam “Lailah
Nisfu min Sya’ban” (No. 1)).
Kata Al-Musyaahin (مُشَاحِن) tentang hadits diatas, maksudnya adalah
adanya permusuhan antara dia dengan saudaranya.
Dalam kitab Az-Zawaid karya Ibnu Hajar al-Haitsami:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ؛ لِضَعْفِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ لَهِيعَةَ،
وَتَدْلِيسِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ.
Riwayat ini sanadnya lemah karena
lemahnya Abdullah bin Lahi’ah dan tadlis-nya Al-Walid bin Muslim.
Dalam hadits terdapat idhtirab (simpang siur) yang
dijelaskan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Ilal, 6/50, 51. Dia berkomentar
tentang hadits ini, "Hadits ini tidak tetap (tsabit)."
Ibnu radhiyallahu ‘anhujab Al-Hanbali berkomentar:
وَفِي فَضْلِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ أَحَادِيثُ مُتَعَدِّدَةٌ،
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَضَعَّفَهَا الْأَكْثَرُونَ، وَصَحَّحَ ابْنُ حِبَّانَ بَعْضَهَا.
“Tentang keutamaan malam pertengahan Sya’ban
terdapat banyak hadits, akan tetapi banyak perselisihan. Kebanyakan (ulama)
melemahkannya, sebagiannya dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban” (Lathaiful
Ma’arif, hal. 261)
Turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia tidak
dikhususkan pada malam pertengahan Sya’ban saja, bahkan dinyatakan dalam dua
kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) dan lainnya, bahwa Allah Ta’ala turun ke
langit dunia pada setiap malam di sepertiga akhir malam. Dan malam pertengahan
Sya’ban termasuk dalam keumuman ini.
Ketika Abdullah bin Mubarok ditanya tentang turunnya
Allah Ta’ala di malam pertengahan Sya’ban, beliau berkata kepada si penanya:
يَا ضَعِيفُ! لَيْلَةُ النِّصْفِ!؟ يَنْزِلُ فِي كُلِّ
لَيْلَةٍ.
"Wahai si dho'if ! Malam pertengahan
(Sya'ban)?!. (Yang benar adalah bahwa Allah) turun pada setiap malam."
(Diriwayatkan oleh Utsman As-Shabuni dalam kitab
‘I’tiqad Ahlis Sunnah, no.92)
Al-Uqaili radhiyallahu ‘anhuhimahullah berkata:
وَفِي النُّزُولِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
أَحَادِيثُ فِيهَا لِينٌ، وَالرِّوَايَةُ فِي النُّزُولِ كُلَّ لَيْلَةٍ أَحَادِيثُ
ثَابِتَةٌ صَحِيحَةٌ، فَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ دَاخِلَةٌ فِيهَا إِنْ شَاءَ
اللَّهُ.
"Terkait masalah turunnya Allah pada malam
pertengahan Sya’ban ada hadits-hadits yang lemah dalam hal tersebut.
Adapun riwayat tentang turunnya Allah setiap malam,
maka terdapat dalam hadits yang shahih. Dan malam pertengahan Sya’ban termasuk
di dalamnya insya Allah." (Ad-Dhu’afa’, 3/29)
Hadits Abu Musa ini diriwayatkan pula dari hadits
Muadz bin Jabal, Aisyah, Abu Hurairah, Abu Tsa’labah dan lainnya dengan adanya
sedikit perbedaan lafadz nya. (Akan tetapi) jalur periwayatan hadits ini tidak
lepas dari adanya kelemahan, sebagiannya sangat lemah.
Berikut ini derajat hadits dari sahabat-sahabat
tsb:
Ke 1: Hadits ini diriwayat kan dari Abu Musa
al-Asy'ari.
Ibnu al-Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanaahiya 2/561
berkta: " لاَ يَصِحُّ (Tidak
Shahih)".
Ke 2: Hadits ini diriwayat kan dari Abu Hurairah:
Ibnu al-Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanaahiya 2/561
berkta: " لاَ يَصِحُّ (Tidak
Shahih)".
Ke 3: Hadits ini diriwayat kan dari Abdullah bin
'Amr:
Al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wa at-Tarhiib
3/392: إِسْنَادُهُ لَيِّنٌ (sanadnya
lemah).
Al-Albaani berkata dalam Dhoif at-Targhiib no. 621 dan 1652: Dho'iif.
Ke 4: Hadits ini diriwayat kan dari Abu Bakar
ash-Shiddiiq
Al-Bazzaar berkata dalam al-Bahru az-Zakhoor 1/157:
Isnadnya dhoif.
Ibnu Adiy dalam Lisaan al-Miizaan 5/269 berkata:
Isnadnya Munkar.
Ibnu al-Qoisaraani dalam Dzakhiiroh al-Huffadz
5/2805 berkata: Munkar.
Ibnu al-Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanaahiya 2/557
berkta: " لَا يَصِحُّ لَا يَثْبُتُ (Tidak
Shahih dan tidak valid)".
Syu'aib al-Arna'uth dalam Takhriij Musnad Abu Bakar
no. 104 berkata: Isnadnya Dho'if.
Ke 5: Hadits ini diriwayat kan dari 'Aisyah
radhiyallahu ‘anha
Al-Albaani berkata dalam Dhoif at-Targhiib no. 1654
dan Dho'if al-Jaami' no. 1738: Dho'iif.
Ke 6: Hadits ini diriwayat kan dari Abu Tsa'labah
al-Khusyani:
Ibnu al-Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanaahiya 2/560
berkta: " لَا يَصِحُّ (Tidak
Shahih)".
0 Komentar