AMALAN PARA SAHABAT TANPA CONTOH DARI NABI ﷺ YANG DIBIARKAN OLEHNYA ATAU DITETAPKAN, BAHKAN
DIPUJI
Di Susun oleh Abu Haitsam Fakhri
KAIJIAN NIDA AL-ISLAM
===
===DAFTAR ISI:
- AMALAN PARA SAHABAT SEMASA NABI ﷺ:
- KATAGORI AMALAN PARA SAHABAT YANG DIIZINKAN ATAU
DIBIARKAN OLEH NABI ﷺ:
- APAKAH SUNNAH TAQRIRIYYAH ITU BID'AH HASANAH?
- KATAGORI PERTAMA: HADITS LARANGAN BID'AH SECARA UMUM DAN MUTLAK:
- KATAGORI KEDUA: LARANGAN BID'AH YANG AKAN MUNCUL SETELAH NABI WAFAT.
- DEFINISI BID'AH:
- KAPAN? KEPADA SIAPA DAN UNTUK SIAPA SABDA NABI SAW TENTANG LARANGAN BID'AH DI TUJUKAN?
- KLASIFIKASI AMALAN PARA SAHABAT SEMASA NABI SAW MASIH HIDUP?
- KASIFIKASI PERTAMA: AMALAN-AMALAN PARA SAHABAT YANG RINGAN DAN TIDAK MEMBERATKAN:
======
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
***====****
AMALAN PARA SAHABAT SEMASA NABI ﷺ:
Amalan para sahabat semasa Nabi ﷺ masih hidup dan beliau mengetahuinya lalu beliau
menetapkannya atau mendiamkannya adalah Sunnah Taqririyyah.
Definisi Sunnah Taqririyah:
مَا فُعِلَ بِحَضْرَةِ النَّبِيِّ
ﷺ فَأَقَرَّهُ، أَوْ عُلِمَ بِهِ فَسَكَتَ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ لَا يَسْكُتُ عَلَى
بَاطِلٍ، وَلَا يُقِرُّ إِلَّا حَقًّا.
Apa yang dia amalkan di hadapan Nabi ﷺ lalu baliau menyetujuinya, atau baliau
mengetahuinya, namun baliau tetap diam tentang hal itu, karena baliau tidak
akan tinggal diam terhadap kebatilan, dan juga baliau tidak akan mengakui apa
pun kecuali kebenaran.
Kesimpulannya:
Sunnah Taqririyyah adalah Persetujuan Rasulullah ﷺ dan sikap diamnya saat beliau ﷺ mengetahui amalan yang dilakukan oleh para sahabat.
Baik berupa ucapan maupun perbuatan. Baik kejadian tersebut disaksikan
Rasulullah ﷺ secara langsung maupun didengarnya.
MACAM-MACAM
AMALAN PARA SAHABAT
YANG DIIZINKAN ATAU DIBIARKAN OLEH NABI ﷺ:
Ada lima macam amalan para sahabat:
Pertama:
amalan sahabat yang ditanyakan terlebih dahulu kepada Nabi ﷺ, lalu
beliau mengizinkannya.
Kedua:
amalan sahabat yang tidak ditanyakan terlebih dahulu kepada Nabi ﷺ, lalu
beliau melihatnya atau mendengarnya. Setelah Nabi ﷺ melihatnya
atau mendengarnya, lalu beliau ﷺ memujinya
atau mendiamkannya.
Ketiga: amalan
sahabat yang tidak ditanyakan terlebih dahulu kepada Nabi ﷺ. Lalu
ada sebagian para sahabat yang mengadukannya kepada Nabi ﷺ. Setelah
itu beliau mengizinkannya.
Keempat: Amalan
sahabat yang tidak ditanyakan terlebih dahulu kepada Nabi ﷺ. Ketika
Nabi ﷺ mengetahuinya, maka Nabi ﷺ melaranganya,
akan tetapi sahabat tersebut tetap bersikeras ingin mengamalkannya. Pada
akhirnya Nabi ﷺ mengizinkannya
atau mendiamkannya.
Kelima: Amalan
sahabat yang berkemungkinan tidak diketahui oleh Nabi ﷺ hingga
beliau wafat.
*****
KATAGORI
DALIL AMALAN SAHABAT
YANG DIIZINKAN ATAU DIBIARKAN OLEH NABI ﷺ:
----------
APAKAH SUNNAH TAQRIRIYYAH ITU BID'AH HASANAH?
Jawabannya: Silahkan baca hadits-hadits tentang
larangan Bid'ah di bawah ini!.
Ada dua katagori subtansi hadits larangan bid'ah
Katagori Pertama: hadits yang melarang bid'ah secara umum, baik bid'ah yang muncul di masa Nabi ﷺ masih hidup serta wahyu masih turun, maupan bid'ah yang muncul setelah Nabi ﷺ wafat dan masa tasyri' telah berakhir.
Katagori Kedua: hadits yang melarang bid'ah setelah Nabi ﷺ wafat dan masa tasyri' telah berakhir.
-----****------
KATEGORI
PERTAMA:
HADITS
LARANGAN BID'AH SECARA UMUM DAN MUTLAK:
Yaitu hadits yang melarang bid'ah secara mutlak dan
umum, baik bid'ah yang muncul di masa Nabi ﷺ masih
hidup serta wahyu masih turun, maupan bid'ah yang muncul setelah Nabi ﷺ wafat dan masa tasyri' telah berakhir.
----
HADITS KE 1:
Hadits Jabir bin Abdullah ia berkata, bahwasanya;
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا
خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى
كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ
أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ
وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ
وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ
مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ
وَعَلَيَّ
Apabila Rasulullah ﷺ menyampaikan
khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya
berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada
bala tentaranya.
Beliau bersabda:
"Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi
dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua
jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah)."
Kemudian beliau melanjutkan sabdanya:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan
dan setiap bid'ah adalah sesat."
Kemudian beliau bersabda:
"Aku lebih utama bagi setiap muslim daripada
dirinya sendiri. Karena itu, siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu
adalah miliki keluarganya. Sedangkan siapa yang mati dengan meninggalkan hutang
atau keluarga yang terlantar, maka hal itu adalah tanggungjawabku." (HR.
Muslim no. 1435).
FIQIH
HADITS:
Perkataan Nabi ﷺ:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan
setiap bid'ah adalah sesat."
Perkataan ini senantiasa Nabi ﷺ sampaikan dalam khuthbahnya. Dan di tujukan kepada
para jemaah yang hadir. Mereka adalah para sahabat. Dan tentunya berlaku pula
untuk kaum muslimin yang datang sesudahnya.
----
HADITS KE
2:
Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau
berkata:
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إلى
بُيُوتِ أزْوَاجِ النَّبيِّ ﷺ، يَسْأَلُونَ عن عِبَادَةِ النَّبيِّ ﷺ، فَلَمَّا
أُخْبِرُوا كَأنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقالوا: وأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبيِّ ﷺ؟!
قدْ غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ وما تَأَخَّرَ، قالَ أحَدُهُمْ: أمَّا
أنَا فإنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أبَدًا، وقالَ آخَرُ: أنَا أصُومُ الدَّهْرَ ولَا
أُفْطِرُ، وقالَ آخَرُ: أنَا أعْتَزِلُ النِّسَاءَ فلا أتَزَوَّجُ أبَدًا، فَجَاءَ
رَسولُ اللَّهِ ﷺ إليهِم، فَقالَ: أنْتُمُ الَّذِينَ قُلتُمْ كَذَا وكَذَا؟! أَمَا
واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ
وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي
فليسَ مِنِّي.
Ada tiga orang mendatangi rumah para istri Nabi ﷺ bertanya tentang ibadahnya Nabi ﷺ.
Ketika mereka telah dikabari, seolah-olah mereka
menggangap sedikit ibadahnya Nabi ﷺ.
Mereka berkata: Dimanakah kita dari kedudukan Nabi ﷺ? Allah
telah mengampuni dosa beliau yang terdahulu maupun yang akan datang.
Salah seorang dari mereka berkata: Adapun aku maka
akan shalat malam terus.
Dan yang kedua berkata: Aku akan puasa sepanjang
waktu tidak akan berbuka.
Dan yang ketiga berkata: Aku akan menjauhi wanita
dan tidak akan menikah selama-lamanya.
Rasul ﷺ pun
mendatangi mereka seraya bersabda:
أنْتُمُ الَّذِينَ قُلتُمْ
كَذَا وكَذَا؟! أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له،
لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن
رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي.
Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu? Adapun
aku maka demi Allah adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling
bertakwa kepada-Nya. Akan tetapi aku berpuasa namun juga berbuka dan aku shalat
malam namun juga tidur dan aku menikahi perempuan-perempuan. Barangsiapa yang
tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.
(HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim)
----
HADITS KE
3:
Dari Aisyah RA, Rosulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ أحْدَثَ في أمرنا هذا ما لَيْسَ منهُ
فهو رَدٌّ»
"Barangsiapa yang menciptakan sesuatu yang baru
yang berkaitan dengan perkara agama kami ini yang bukan darinya maka ia di
tolak ". [HR. Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718]
Dalam riwayat lain bunyinya:
« منْ عَمِلَ عملاً ليس عليه
أمرُنا ، فَهو ردٌّ »
" Barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan
yang tidak diatas perkara agama kami, maka ia di tolak ". (HR. Muslim no.
1718).
Namun hadits ini utamanya terkait putusan hukum yang
dzalim dalam peradilan
Imam Al-Bukhari dalam shahihnya menyebutkan
hadits tersebut dalam :
٥٣ كِتَابُ الصُّلْحِ:
٥ بَابُ إِذَا اصْطَلَحُوا
عَلَى صُلْحِ جَوْرٍ فَهُوَ مَرْدُودٌ
“Kitab 53 Kitab Ash-Shulh:
Bab 5 tentang apabila mereka melakukan perdamaian di atas
perdamaian yang zalim, maka hal itu tertolak”.
Dan Imam Muslim dalam Shahih-nya menyebutkannya
dalam:
(٣٠) فِي الْأَقْضِيَةِ،
(٨) بَابُ نَقْضِ الْأَحْكَامِ الْبَاطِلَةِ، وَرَدِّ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ
“(30) pada Kitab Peradilan, (8) Bab Pembatalan
keputusan-keputusan yang batil dan penolakan perkara-perkara hukum yang
diada-adakan”.
Sementara al-Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan
al-Kubro 10/425 no. 21196 menyebutkannya dalam Bab:
بَابُ: عِلْمُ الْحَاكِمِ بِحَالِ مَنْ
قَضَى بِشَهَادَتِهِ
“Bab: Pengetahuan hakim tentang keadaan orang yang ia
putuskan perkara berdasarkan kesaksiannya”.
Maka ini menunjukkan bahwa hadits ini menurutnya
terkait erat dengan penetapan hukum peradilan yang dzalim.
Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qori Syarah
Shohih Bukhori 13/276 no. 7962, beliau menjelaskan makna judul Bab yng
disebutkan Bukhori, dengan mengatakan:
مُطَابَقَتُهُ لِلتَّرْجَمَةِ مِنْ حَيْثُ
إِنَّ مَنْ اصْطَلَحَ عَلَى صُلْحِ جَوْرٍ فَهُوَ دَاخِلٌ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ ﷺ:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا» الْحَدِيثُ.
“Kesesuaiannya dengan judul bab adalah dari
sisi bahwa siapa saja yang melakukan perdamaian di atas perdamaian yang zalim,
maka ia termasuk dalam ranah makna sabda Nabi ﷺ: “Siapa saja yang mengada-adakan
dalam urusan kami ini…”, yaitu hadits tersebut”. [Selesai]
Ada sebagian para ulama yang mengatakan bahwa makna
hadits ini umum, mencakup pula selain masalah keputusan hukum peradilan yang
dzalim.
Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hikam
1/177 (Tahqiq al-Arna’uth), dia berkata:
"فَالْمَعْنَى
إِذًا: أَنَّ مَنْ كَانَ عَمَلُهُ خَارِجًا عَنِ الشَّرْعِ لَيْسَ مُتَقَيِّدًا بِالشَّرْعِ،
فَهُوَ مَرْدُودٌ. وَقَوْلُهُ: «لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا» إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ
أَعْمَالَ الْعَامِلِينَ كُلِّهِمْ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ تَحْتَ أَحْكَامِ الشَّرِيعَةِ،
وَتَكُونُ أَحْكَامُ الشَّرِيعَةِ حَاكِمَةً عَلَيْهَا بِأَمْرِهَا وَنَهْيِهَا، فَمَنْ
كَانَ عَمَلُهُ جَارِيًا تَحْتَ أَحْكَامِ الشَّرْعِ مُوَافِقًا لَهَا، فَهُوَ مَقْبُولٌ،
وَمَنْ كَانَ خَارِجًا عَنْ ذَلِكَ، فَهُوَ مَرْدُودٌ".
“Maknanya adalah: bahwa siapa saja yang amalnya berada
di luar ranah syariat, tidak terikat dengan perkara syariat, maka amal itu
tertolak.
Sabdanya: “tidak berada di atas perintah kami”
merupakan isyarat bahwa seluruh amal para pelaku amal seharusnya berada di
bawah ranah hukum-hukum syariat, dan hukum-hukum syariatlah yang menjadi
penentu atasnya dengan perintah dan larangannya.
Maka siapa saja yang amalnya berjalan di bawah ranah
hukum-hukum syariat dan sesuai dengannya, maka amal itu diterima. Dan siapa
saja yang keluar dari hal itu, maka amalnya tertolak”.
Dan di halaman yang sama, Al-Hafidz Ibnu Rajab
berkata:
فَهَذَا الْحَدِيثُ بِمَنْطُوقِهِ يَدُلُّ
عَلَى أَنَّ كُلَّ عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُ الشَّارِعِ، فَهُوَ مَرْدُودٌ، وَيَدُلُّ
بِمَفْهُومِهِ عَلَى أَنَّ كُلَّ عَمَلٍ عَلَيْهِ أَمْرُهُ فَهُوَ غَيْرُ مَرْدُودٍ،
وَالْمُرَادُ بِأَمْرِهِ هَاهُنَا: دِينُهُ وَشَرْعُهُ
“Hadits ini dengan makna yang tersurat menunjukkan
bahwa setiap amal yang tidak berada di atas perkara (ranah) pembuat syariat,
maka amal itu tertolak. Dan dengan makna yang dipahami darinya menunjukkan
bahwa setiap amal yang berada di atas perkaranya, maka amal itu tidak tertolak.
Yang dimaksud dengan perkara-nya di sini adalah agamanya dan syariatnya”.
Begitu pula yang dijelaskan oleh Muhammad bin Ali
al-Ityubi dalam al-Bahrul Muhith ats-Tsajjaaj 30/154, sama seperti yang
dikatakan Ibnu Rojab diatas, namun ada sedikit tambahan:
فَأَمَّا الْعِبَادَاتُ فَمَا كَانَ مِنْهَا
خَارِجًا عَنْ حُكْمِ اللَّهِ تَعَالَى وَرَسُولِهِ ﷺ بِالْكُلِّيَّةِ فَهُوَ مَرْدُودٌ
عَلَى عَامِلِهِ.
“Adapun ibadah, maka yang di antaranya berada
di luar hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ secara keseluruhan, maka ia
tertolak atas orang yang melakukannya”.
----
HADITS KE
4:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau
berkata:
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إلى
بُيُوتِ أزْوَاجِ النَّبيِّ ﷺ، يَسْأَلُونَ عن عِبَادَةِ النَّبيِّ ﷺ، فَلَمَّا
أُخْبِرُوا كَأنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقالوا: وأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبيِّ ﷺ؟!
قدْ غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ وما تَأَخَّرَ، قالَ أحَدُهُمْ: أمَّا
أنَا فإنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أبَدًا، وقالَ آخَرُ: أنَا أصُومُ الدَّهْرَ ولَا
أُفْطِرُ، وقالَ آخَرُ: أنَا أعْتَزِلُ النِّسَاءَ فلا أتَزَوَّجُ أبَدًا، فَجَاءَ
رَسولُ اللَّهِ ﷺ إليهِم، فَقالَ: أنْتُمُ الَّذِينَ قُلتُمْ كَذَا وكَذَا؟! أَمَا
واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ
وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي
فليسَ مِنِّي.
Ada tiga orang mendatangi rumah para istri Nabi ﷺ bertanya tentang ibadahnya Nabi ﷺ. Ketika
mereka telah dikabari, seolah-olah mereka menggangap sedikit ibadahnya
Nabi ﷺ.
Mereka berkata: Dimanakah kita dari kedudukan Nabi ﷺ? Allah telah mengampuni dosa beliau yang
terdahulu maupun yang akan datang.
Salah seorang dari mereka berkata: Adapun aku maka
akan shalat malam terus. Dan yang kedua berkata: Aku akan puasa sepanjang waktu
tidak akan berbuka. Dan yang ketiga berkata: Aku akan menjauhi wanita dan tidak
akan menikah selama-lamanya.
Rasul ﷺ pun
mendatangi mereka seraya bersabda:
"Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu?
Adapun aku maka demi Allah adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang
paling bertakwa kepada-Nya. Akan tetapi aku berpuasa namun juga berbuka dan aku
shalat malam namun juga tidur dan aku menikahi perempuan-perempuan.
Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka
dia bukan dari golonganku ".
(HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim 4/129)
----****----
KATEGORI
KEDUA:
LARANGAN
BID'AH YANG AKAN MUNCUL SETELAH NABI WAFAT.
Ada Hadits yang lebih spesifik melarang bid'ah
setelah Nabi ﷺ wafat dan
masa tasyri' telah berakhir.
----
Pertama :
Hadits yang melarang bid'ah yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya
Dari Katsir bin Abdullah -dia adalah putra 'Amru
bin Auf Al Muzani- dari Ayahnya dari kakeknya, menyatakan : “Bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal bin Al Harits:
«أَنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِى
فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ يَرْضَاهَا
اللَّهُ وَرَسُولُهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ
ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا».
“Barang siapa
yang menghidupkan satu sunah daripada sunahku yang telah mati setelahku maka
baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkanya tanpa dikurangi
sedikitpun, Barang siapa yang membuat bid`ah dengan bid`ah yang dholalah yang
tidak diridhai Allah dan Rasulnya maka baginya dosa orang-orang yang
mengamalkanya dengan tanpa dikurangi sedikitpun”
[HR.
Tirmidzi no. 2601 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 110 .
Derajat
hadits ini adalah Dho’if Jiddan (lemah sekali), sebagaimana yang dinyatakan
oleh Syeikh al-Albani, dalam Dha‘if al-Jami‘ no. 5359, di mana beliau berkata :
(ضَعِيفٌ
جِدًّا).
Bagitu pula dalam Sunan Ibnu Majah (Tahqiq Fuad Abdul
Baqi) hadits no. 210, dia mengutip perkataan Syeikh al-Albani: (ضَعِيفٌ جِدًّا).
Basim Faishol al-Jawabirah
dalam Tahqiq kitab Ushul al-Iman karya Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi
an-Najdi hal. 134 no. 97 berkata :
قُلْتُ: فِيهِ
كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ضَعِيفٌ جِدًّا.
“Saya berkata: di dalamnya
terdapat Katsir bin Abdullah yang sangat lemah”.
Sementara Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij Sunan Ibnu
Majah berkata :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ كَثِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
“Sanadnya lemah karena kelemahan Katsir bin Abdullah
bin Amr”.
Syeikh Sulaiman Shuri berkata:
قُلْنَا: هَذَا الْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ
لَا يُحْتَجُّ بِهِ، فِي إِسْنَادِهِ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ مَتْرُوكٌ
“Hadits ini palsu dan tidak layak dijadikan hujjah,
karena dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah yang riwayatnya ditinggalkan
oleh para ulama hadits”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata tentang Katsir bin
Abdullah:
ضَعِيفٌ وَمِنْهُمْ مَنْ نَسَبَهُ إِلَى
الْكَذِبِ
“Ia lemah, dan di antara mereka ada yang menisbatkannya sebagai
pendusta”. [Lihat: at-Taqrib (2/132)].
Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam al-Kasyif (3/5):
وَاهٍ، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: كَذَّابٌ
“Sangat lemah; Abu Dawud berkata: dia pendusta”.
Pentahqiq kitab Mukhtashar Talkhish adz-Dzahabi karya Ibnu al-Mulaqqin
5/2314, Sa’ad bin Abdullah al-Hummaid berkata:
الْحَدِيثُ فِي سَنَدِهِ كَثِيرُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو الْمُزَنِيُّ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ - كَمَا فِي الْمُغْنِي
(٢/ ٥٣١ رَقْم ٥٠٨٤) -؛ كَذَّبَهُ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ،
عَنْ أَحْمَدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَحْمَدَ: ضَرَبَ أَبِي عَلَى حَدِيثِ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمُسْنَدِ،
وَلَمْ يُحَدِّثْنَا عَنْهُ، وَقَالَ أَبُو خَيْثَمَةَ: قَالَ لِي أَحْمَدُ: لَا تُحَدِّثْ
عَنْهُ شَيْئًا، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ،
وَقَالَ النَّسَائِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيُّ: مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ:
رَوَى عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ نُسْخَةً مَوْضُوعَةً لَا يَحِلُّ ذِكْرُهَا فِي
الْكُتُبِ، وَلَا الرِّوَايَةُ عَنْهُ إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّعَجُّبِ.
الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ جِدًّا بِهٰذَا الْإِسْنَادِ
لِشِدَّةِ ضَعْفِ كَثِيرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hadits ini dalam sanadnya terdapat Katsir bin Abdullah bin Amr Al-Muzani,
dan ia adalah perawi yang ditinggalkan—sebagaimana dalam Al-Mughni (2/531 no.
5084). Asy-Syafi‘i dan Abu Dawud menuduhnya sebagai pendusta.
Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad: haditsnya munkar, tidak ada nilainya.
Abdullah bin Ahmad berkata: ayahku mencoret hadits Katsir bin Abdullah
dari Al-Musnad dan tidak meriwayatkan sesuatu pun darinya kepada kami.
Abu Khaitsamah berkata: Ahmad berkata kepadaku: jangan meriwayatkan
sesuatu pun darinya.
Ibnu Ma‘in berkata: tidak ada nilainya, haditsnya tidak boleh ditulis.
An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni berkata: ia ditinggalkan haditsnya.
Ibnu Hibban berkata: ia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya sebuah
kumpulan riwayat yang dibuat-buat; tidak halal menyebutkannya dalam
kitab-kitab, dan tidak boleh meriwayatkannya kecuali dalam rangka menunjukkan
keanehannya.
Hadits ini sangat lemah dengan sanad ini karena sangat lemahnya Katsir.
Allah lebih mengetahui”.
[Lihat Al-Jarh wat-Ta'dil 7/154, Al-Kamil 7/187,
Tahdzibul Kamal 24/137].
----
Kedua :
Hadits
yang mengisyaratkan pada larangan jenis bid'ah yang berdampak pada perpecahan
dan pertumpahan darah , yang diantara sebabnya adalah munculnya bid'ah-bid'ah
yang menyebabkan perpecahan, permusuhan dan pertumpahan darah
seperti bid'ah faham Khawarij , oleh sebab itu Rasulullah ﷺ melarang hal-hal tersebut dan memerintahkan
umatnya agar taat kepada pemimpin meskipun pemimpinnya itu seorang hamba
habasyah [negro] yang cacat dan buntung.
Dari Khalid bin Ma'dan menceritakan kepadaku:
Abdurrahman bin Amru As-Sulami dan Hujr bin Hujr Al Kala'i menceritakan
kepadaku, keduanya berkata:
أَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ
سَارِيَةَ، وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ: ﴿وَلاَ عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا
أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ﴾،
فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا: أَتَيْنَاكَ زَائِرَيْنَ وَمُقْتَبِسَيْنِ، فَقَالَ
الْعِرْبَاضُ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ الصُّبْحَ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ
أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً، ذَرَفَتْ مِنْهَا
الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ
اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟
قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا
حَبَشِيًّا مُجَدَّعًا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا
كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
الْمَهْدِيِّينَ، فَتَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
Kami mendatangi 'Irbadh bin Sariyah, dan dia adalah
salah seorang yang diturunkan karenanya ayat:
﴿وَلاَ عَلَى الَّذِينَ إِذَا
مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ﴾
“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang
apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan [agar bisa
ikut berjihad bersama Nabi ﷺ. PEN], lalu kamu berkata: "Aku tidak
memperoleh kendaraan untuk membawa kalian." (Qs. At Taubah [9]: 92).
Kami mengucapkan salam dan berkata: "Kami
mendatangimu sebagai orang yang berkunjung dan penuntut ilmu."
Maka 'Irbadh berkata:
" Rasulullah ﷺ shalat
subuh bersama kami pada suatu pagi. Kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu
menasihati kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, membuat air mata mengalir
(dzarafat minha al 'uyuun) dan hati bergetar takut (wajilat minha al
quluub).
Lalu seseorang berkata: "Wahai Rasulullah,
seolah-olah ini adalah nasihat orang yang mengucapkan selamat tinggal. Maka apa
yang engkau wasiatkan kepada kami?"
Beliau ﷺ berkata:
"Aku mewasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mau
mendengarkan, patuh dan taat, meskipun kepada seorang budak hitam Habasyi yang
buntung (mujadda').
Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan
melihat perselisihan yang banyak. Maka ikutilah Sunnahku dan sunnah Khulafa'
Rasyidin yang diberi petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah
dia dengan gigi geraham.
Dan jauhilah perkara-perkara baru yang
diada-adakan. Sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan itu adalah
bid'ah. Dan setiap bid'ah itu sesat." [3: 6].
(HR. Abu Dawud (4607), At Tirmidzi (2676), Ibnu
Majah (42, 43, 44), Ahmad (4/126), Ad Darimi (95) At Thabrani dalam Al Kabir
(263), Ibnu Hibban (1/178), Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/176) dan Al Baihaqi
dalam Al Kubra (10/114).
Dishahihkan oleh Tirmidzi, Al Hakim, Ibnu Hibban
dan juga Al Albani di dalam Irwa Al Ghalil (no. 2455).
====
FIQIH HADITS:
Tidak ada keraguan bahwa hadits tsb shahih dari
Nabi ﷺ. Akan
tetapi kita juga harus tahu kapan dan pada saat apa Rosulullah ﷺ menyampaikan nya, kemudian dalam prakteknya
bagaimana Beliau menjalankannya ????
Bid'ah pertama yang menimpa pada umat Islam dalam
sejarah adalah bid'ah khawari , yaitu bid’ah pembelotan alias keluar
memisahkan diri dari pemerintahan yang sah atau keluar memisahkan diri dari
jemaah kaum muslimin .
Badruddiin Al-'Ayni berkata :
أَوَّلُ بِدْعَةٍ وَقَعَتْ فِي الْإِسْلَامِ
بِدْعَةُ الْخَوَارِجِ، ثُمَّ كَانَ ظُهُورُهُمْ فِي أَيَّامِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ،
رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، ثُمَّ تَشَعَّبَتْ مِنْهُمْ شُعُوبٌ وَقَبَائِلُ وَآرَاءٌ
وَأَهْوَاءٌ وَنِحَلٌ كَثِيرَةٌ مُنْتَشِرَةٌ.
Bid'ah pertama yang terjadi dalam Islam adalah
bid'ah kaum Khawarij, kemudian kemunculan mereka pada zaman Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu. Kemudian cabang dari mereka ini muncul pula bangsa-bangsa ,
suku-suku , ideologi-ideologi , ambisi-ambisi , sekte-sekte yang banyak
yang menyebar ". ['Umdatul Qoori' 18/139].
Ibnu Taimiyyah berkata:
" وَأَوَّلُ بِدْعَةٍ حَدَثَتْ فِي الْإِسْلَامِ
بِدْعَةُ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ حَدَثَتَا فِي أَثْنَاءِ خِلَافَةِ أَمِيرِ
الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَعَاقَبَ الطَّائِفَتَيْنِ. أَمَّا
الْخَوَارِجُ فَقَاتَلُوهُ فَقَتَلَهُمْ وَأَمَّا الشِّيعَةُ فَحَرَّقَ
غَالِيَتَهُمْ بِالنَّارِ وَطَلَبَ قَتْلَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ فَهَرَبَ
مِنْهُ وَأَمَرَ بِجَلْدِ مَنْ يُفَضِّلُهُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ. وَرُوِيَ
عَنْهُ مِنْ وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ أَنَّهُ قَالَ: خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ
نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ، وَرَوَاهُ عَنْهُ الْبُخَارِيُّ فِي
صَحِيحِهِ".
" Bid'ah pertama yang terjadi dalam Islam
adalah bid'ah Khawarij dan Syi'ah, yang terjadi pada masa kekhalifahan Amirul
Mukminin, Ali bin Abi Thalib, sehingga dia menghukum kedua kelompok tersebut.
Adapun Khawarij, mereka memeranginya, maka beliau
membunuh mereka. Dan adapun terhadap Syiah, maka beliau membakar mereka yang
mengkultuskan Ali dengan api, dan memerintahkan untuk membunuh Abdullah bin
Saba, namun dia telah melarikan diri.
Dan dia memerintahkan untuk mencambuk siapa pun
yang menganggap Ali lebih afdhol daripada Abu Bakar dan Umar. Dan ini telah
diriwayatkan darinya dalam banyak jalur bahwa dia berkata : Yang terbaik dari
umat ini setelah Nabi-Nya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, dan al-Bukhari
meriwayatkan dari Ali , dalam Shahihnya". [Majmu' al-Fatawa 3/279].
=====
DEFINISI BID'AH:
Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus
adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom.
Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي
الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا
المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang
dibuat-buat yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika
menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang
khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).
Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna
bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah
طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ
تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ
بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ
Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat dan
menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat
tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk
mendekatkan diri pada Allah).
(Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah)
Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan:
وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ
الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ
وَالْعِبَادَاتِ
“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang
menyelishi (bertentangan dengan) Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’
(kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)
(Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz
Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul
Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)
Sebenarnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam mendefinisikan bid’ah secara istilah.
Pendapat petama: mendefinisikan bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi ﷺ).
Ini sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
Asy Syatibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al
Hambali dan Az Zarkasi.
Pendapat kedua: mendefinisikan bid’ah
secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah ﷺ baik yang terpuji maupun yang tercela.
Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i,
Al ‘Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Pendapat yang
lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang
mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah.
(Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bida’
Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri)
====
KAPAN? DI TUJUKAN KEPADA
SIAPAKAH SABDA NABI ﷺ TENTANG LARANGAN BID'AH?
Yang pasti Rosulullah ﷺ menyampaikannya
dihadapan para sahabatnya dengan tujuan untuk menasihati mereka dan agar mereka
menyampaikannya pula kepada yang lain. Baik kepada kaum muslimin yang hidup
semasanya maupun yang sesudahnya.
Akan tetapi: Ada sebagian para ulama yang mengatakan bahwa
hadits larangan bid’ah ini tidak berlaku terhadap para sahabat semasa Nabi ﷺ masih hidup mereka, dengan alasan karena saat itu
adalah dalam masa-masa tasyri’ dan wahyu masih turun. Dengan demikian, maka para
sahabat diperbolehkan untuk mengada-adakan amalan tanpa contoh dari Nabi ﷺ, yang di kenal dengan amalan para sahabat, bukan bid’ah para sahabat.
Namun ada pula sebagian dari mereka yang mengatakan
bahwa hadits larangan bid'ah itu berlaku pula pada para sahabat semasa Nabi masih
hidup; karena khithob sabda Nabi ﷺ tersebut dihadapkan langsung kepada para
sahabat yang hadir saat itu , bukan kepada umat Islam yang belum lahir di dunia. Dan kandungan sabdanya itu mutlak tidak dibatasi dengan waktu. Oleh
sebab itu mereka juga mengatakan bahwa Sunnah Taqririyyah adalah Bid'ah
Hasanah.
Pendapat ini diperkuat dengan apa yang tersirat
dalam perkataan sahabat Abu Umamah al-Baahily radhiyallahu
anhu. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Nasher al-Marwazi (
w. 294 H ) dari Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu , bahwa beliau berkata :
" إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمْ صِيَامَ
رَمَضَانَ وَلَمْ يَكْتُبْ قِيَامَهُ ، وَإِنَّمَا الْقِيَامُ شَيْءٌ أَحْدَثْتُمُوهُ
فَدُومُوا عَلَيْهِ وَلَا تَتْرُكُوهُ فَإِنَّ نَاسًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
ابْتَدَعُوا بِدْعَةً لَمْ يَكْتُبْهَا اللَّهُ عَلَيْهِمُ ابْتَغَوْا بِهَا
رِضْوَانَ اللَّهِ فَلَمْ يَرْعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَعَابَهُمُ اللَّهُ
بِتَرْكِهَا ، فَقَالَ: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا
عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا﴾
[الحديد: 27]".
“Allah mewajibkan puasa Ramadhan pada kalian , dan
Dia tidak mewajibkan shalat qiyamullail nya [Tarawihnya]. Dan adapun shalat
qiyamullail adalah sesuatu yang baru yang kalian ada-adakan , maka kalian harus
mendawamkannya [ memeliharanya] dan janganlah kalian meninggalkannya; karena
dulu ada segolongan manusia dari Bani Israil mengada-adakan amalan bid'ah yang
tidak pernah diperintahkan Allah atas mereka, yang mana mereka melakukan semua
itu dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah dengannya.
Namun ternyata mereka itu tidak memeliharanya
sebagaimana mestinya, maka Allah SWT mencela mereka karena meninggalkannya, dan
Allah SWT berfirman :
﴿وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا
كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ
رِعَايَتِهَا﴾
“Dan mereka mengada-adakan bid'ah rahbaniyah, padahal Kami tidak
mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan
pemeliharaan yang semestinya”.
[QS. Al-Hadiid : 27]
[Lihat: مُخْتَصَرُ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامِ
رَمَضَانَ وَكِتَابُ الْوِتْرِ (1/23) karya Muhammad bin Nasher al-Marwazi]
Dan Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya ketika
menafsiri ayat di atas berkata :
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan
kepada kami Ishaq ibnu Abu Hamzah alias Abu Ya’qub Ar-Razi, telah menceritakan
kepada kami As-Sirri ibnu Abdi Rabbihi, telah menceritakan kepada kami Bukair
ibnu Ma’ruf, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Al-Qasim ibnu Abdur Rahman ibnu
Abdullah ibnu Mas’ud, dari ayahnya dari kakeknya (yaitu IBNU MAS'UD) yang telah
mengatakan :
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya :
"يَا ابْنَ مَسْعُودٍ". قُلْتُ:
لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ.
قَالَ: "هَلْ عَلِمْتَ
أَنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً؟
لَمْ يَنْجُ مِنْهَا إِلَّا ثَلَاثُ فِرَقٍ، قَامَتْ بَيْنَ الْمُلُوكِ وَالْجَبَابِرَةِ
بَعْدَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَدَعَتْ إِلَى دِينِ اللَّهِ
وَدِينِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، فَقَاتَلَتِ الْجَبَابِرَةَ فقُتلت فَصَبَرَتْ
وَنَجَتْ، ثُمَّ قَامَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يَكُنْ لَهَا قُوَّةٌ
بِالْقِتَالِ، فَقَامَتْ بَيْنَ الْمُلُوكِ وَالْجَبَابِرَةِ فَدَعَوْا إِلَى
دِينِ اللَّهِ وَدِينِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، فَقُتِّلَتْ وَقُطِّعَتْ
بِالْمَنَاشِيرِ وَحُرِّقَتْ بِالنِّيرَانِ، فَصَبَرَتْ وَنَجَتْ. ثُمَّ قَامَتْ
طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يَكُنْ لَهَا قُوَّةٌ بِالْقِتَالِ وَلَمْ تُطِقِ
الْقِيَامَ بِالْقِسْطِ، فَلَحِقَتْ بِالْجِبَالِ فَتَعَبَّدَتْ وَتَرَهَّبَتْ،
وَهُمُ الَّذِينَ ذَكَرَهُمُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ﴾
“Hai Ibnu Mas’ud!” Aku menjawab, “Labbaika, ya
Rasulullah.”
Rasulullah ﷺ bersabda: Tahukah kamu bahwa orang-orang
Bani Israil telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan? Tiada suatu
golongan pun yang selamat kecuali tiga golongan, yang hidup di antara para raja
dan orang-orang yang melampaui batas sesudah Isa putra Maryam a.s.
Mereka menyeru kepada agama Allah dan agama Isa
putra Maryam, lalu mereka memerangi orang-orang yang melampaui batas, tetapi
akhirnya mereka terbunuh , mereka tetap bersabar dan akhirnya mereka selamat [
yakni mati syahid dan khusnul khotimah . PEN].
Kemudian bangkit lagi golongan lainnya yang tidak
mempunyai kekuatan untuk berperang, mereka bangkit di antara para raja dan
orang-orang yang lalim dan menyeru mereka kepada agama Allah dan agama Isa
putra Maryam. Tetapi akhirnya mereka sendirilah yang dibunuh dan dipotong
dengan memakai gergaji serta dibakar, mereka sabar dan akhirnya mereka selamat
[ yakni mati syahid dan khusnul khotimah PEN ].
Kemudian bangkit lagi golongan lainnya yang juga
tidak mempunyai kekuatan untuk berperang. Dan mereka tidak mampu untuk
menegakkan keadilan .
Akhirnya mereka mengasingkan diri ke gunung-gunung
(daerah pedalaman), lalu mereka menyembah Allah dan mengada-adakan
bid'ah rahbaniyah .
Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh
Allah Swt. di dalam firman-Nya :
“Dan mereka mengada-adakan bid'ah rahbaniyyah,
padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.” (Al-Hadid: 27)
[ Penulis katakan : Al-Thabarani
meriwayatkannya dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (10/211) melalui Hisyam bin Ammar,
dari Al-Walid bin Muslim, dari Bukair bin Ma'ruuf, serupa dengannya. Dan Bukair
bin Ma'ruuf seorang perawi yang diperbincangkan ].
Dan dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia
berkata;
خَرَجْتُ مع عُمَرَ بنِ
الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنْه لَيْلَةً في رَمَضَانَ إلى المَسْجِدِ، فَإِذَا
النَّاسُ أوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ؛ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، ويُصَلِّي
الرَّجُلُ فيُصَلِّي بصَلَاتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: إنِّي أرَى لو
جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ علَى قَارِئٍ واحِدٍ، لَكانَ أمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ،
فَجَمعهُمْ علَى أُبَيِّ بنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ معهُ لَيْلَةً أُخْرَى
والنَّاسُ يُصَلُّونَ بصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ البِدْعَةُ
هذِه، والَّتي يَنَامُونَ عَنْهَا أفْضَلُ مِنَ الَّتي يَقُومُونَ. يُرِيدُ آخِرَ
اللَّيْلِ، وكانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أوَّلَهُ.
"Aku keluar bersama ['Umar bin Al Khaththob
radliallahu 'anhu] pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang
shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan
ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh
orang.
Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya
mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih
baik".
Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu
mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab.
Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata
orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam.
Lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah
adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik
daripada yang shalat awal malam”, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di
akhir malam, sedangkan orang-orang pada umumnya melakukan shalat pada awal
malam. [HR. Bukhori no. 2010]
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah terdapat tambahan
sesudahnya :
وَكَانُوا يَلْعَنُونَ الْكَفَرَةَ
فِي النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ،
وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَلَا يُؤْمِنُونَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ،
وَأَلْقِ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلَهَ
الْحَقِّ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَيَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ بِمَا اسْتَطَاعَ
مِنْ خَيْرٍ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ. قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ إِذَا فَرَغَ
مِنْ لَعْنَةِ الْكَفَرَةِ وَصَلَاتِهِ عَلَى النَّبِيِّ، وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَمَسْأَلَتِهِ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي
وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ
عَذَابَكَ الْجِدَّ، إِنَّ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ، ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِي
سَاجِدًا.
Dulu mereka [dalam qunutnya] berdo’a dengan do’a
laknat bagi orang kafir pada separuh bulan Ramadhan, yaitu doa:
'Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang menghalangi
(manusia) dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu dan tidak beriman dengan
janji-Mu. Cerai-beraikan persatuan mereka dan timpakanlah rasa takut di
hati-hati mereka, serta timpakan siksaan dan adzab-Mu atas mereka, wahai
sesembahan yang haq,' kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan berdoa untuk kebaikan kaum muslimin semampunya, kemudian memohon
ampunan untuk kaum mukminin".
[HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1100. Di
shahihkan Ibnu Khuzaimah dan al-Albaani ].
Imam
asy-Suyuthi dalam kitabnya al-Haawi lil Fatawa 1/276-277 berkata :
وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادِهِ فِي مَنَاقِبِ
الشَّافِعِيِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ قَالَ الْمُحَدِّثَاتُ مِنَ الْأُمُورِ
ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا - مَا أَحْدَثَ مِمَّا يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً
أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ الضَّلَالَةُ. وَالثَّانِي -
مَا أَحْدَثَ مِنَ الْخَيْرِ ، لَا خِلَافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، وَهَذِهِ
مُحَدَّثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٌ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي
قِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ يَعْنِي أَنَّهَا مُحَدَّثَةٌ
لَمْ تَكُنْ وَإِذَا كَانَتْ فَلَيْسَ فِيهَا رَدٌّ لِمَا مَضَى.
“Hal
baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah,
atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari
kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut,
maka tidak ada khilaf bagi seorangpun mengenainya bahwa hal baru ini tidak
tercela.. dan Umar telah
berkata dalam berkaitan dengan qiyamullail di bulan Ramadlan : “Sebaik-baik
bid’ah adalah ini “, yakni ia adalah perkara baru yang belum pernah ada , kalau
seandainya iya pernah ada , kenapa tidak mengatakan : kembalikan kepada asalnya
!
Dan Imam as-Subki dalam Fatawa-nya 3/240 berkata :
وَمَا أَحْسَنَ وَأَصْوَبَ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ حَيْثُ قَالَ : الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ أَحَدُهُمَا : مَا
أُحْدِثَ مِمَّا يُخَالِفُ كِتَابًا ، أَوْ سُنَّةً ، أَوْ أَثَرًا ، أَوْ
إجْمَاعًا فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ ضَلَالَةٌ .وَالثَّانِي : مَا أُحْدِثَ مِنْ
الْخَيْرِ لَا خِلَافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ
مَذْمُومَةٍ وَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ
نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، تَعَيَّنَ أَنَّهَا مُحْدَثَةٌ لَمْ تَكُنْ ،
وَإِذَا كَانَتْ لَيْسَ فِيهَا رَدٌّ لِمَا مَضَى.
“Lihatlah
bagaimana Imam Syafii menyatakan bahwa tidak ada khilaf sedikitpun mengenai
kebolehan hal baru yang baik, ini menunjukkan bahwa para ulama di zaman Imam
Syafii hampir seluruhnya telah memilah bid`ah kepada yang baik dan yang buruk.
Masih banyak lagi ulama Ahlu sunnah yang membagi
bid`ah (baik dalam agama atau selainnya), menjadi bid`ah yang bisa diterima dan
bid`ah yang ditolak. Diantaranya Imam Izudin bin Abdussalam, Imam Ghozali, Imam
Nawawi, Imam Subki, Imam Suyuthi, Imam Ibn Hajar, Imam Asy Syaukhani dalam
Nailul Author, Al Qostholani dalam Irsyadus saari, Az Zarqani dalam Syarah
Muwatha, Al Halabi, dan masih banyak ulama lain yang tidak mungkin disebut satu
per satu”.
===***====
KLASIFIKASI AMALAN PARA SAHABAT SEMASA NABI ﷺ MASIH HIDUP?
Dalam hal ini ada empat macam amalan:
Pertama: Amalan-amalan ringan yang tidak terlalu memberatkan.
Kedua: Amalan yang menyelisihi Sunnah.
Ketiga: Amalan-amalan yang sangat memberatkan dan membahayakan kesehatan atau membahayakan nyawanya.
Keempat: Amalan-amalan yang mengganggu hak dan kepentingan orang lain.
------
KLASIFIKASI
PERTAMA:
AMALAN-AMALAN PARA SAHABAT YANG RINGAN DAN TIDAK MEMBERATKAN:
*****
Amalan-amalan para sahabat yang ringan dan tidak
memberatkan , maka oleh Rosulullah SAW dibiarkan, kadang ditetapkan sebagai
sunnah , bahkan kadang beliau memujinya . Contohnya adalah sbb:
===
AMALAN SAHABAT KE 1:
Bacaan sahabat dalam shalat yang di benarkan bahkan
dipuji oleh Nabi ﷺ padahal
bacaan tersebut bukan dari Nabi ﷺ.
Dari Anas bin Malik (radhiyallahu ‘anhu):
أنَّ رجلًا كانَ يلزَمُ قراءةَ:
﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ في
الصَّلاةِ في كلِّ سورةٍ وَهوَ يؤمُّ أصحابَهُ، فَقالَ لَهُ رسولُ اللَّهِ ﷺ: ما
يُلزِمُكَ هذِهِ السُّورةَ ؟ قالَ: إنِّي أحبُّها. قالَ: حبُّها أدخلَكَ الجنَّةَ.
Bahwa seorang pria bermulazamah membaca: " Qul
Hualloohu Ahad" dalam sholat pada setiap selesai baca surat, dan dia
menjadi imam shalat para sahabatnya.
Maka Rosulullah ﷺ bertanya
kepada nya: " Apa yang mendorongmu untuk bermulazamah membaca surat ini?
".
Dia menjawab: " Sesungguhnya aku mencintainya
".
Lalu Beliau ﷺ bersabda:
" Kecintaan-mu pada nya akan memasukanmu ke dalam syurga".
[Hadits ini di hasankan oleh al-Waadi'i dalam
ash-Shahih al-Musnad no. 87].
Riwayat lain dari Anas bin Malik (radhiyallahu ‘anhu):
كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ
يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ
لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ
يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ
تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ
بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا
وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ
أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا
يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ
النَّبِيُّ ﷺ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا
يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي
كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ
Dari [Anas bin Malik] ia berkata; "
Seorang sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid
Quba`, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah al fatihah -pent)
dalam shalat, ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga
selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain, dan ia selalu melakukannya
di setiap rakaat.
Lantas para sahabatnya berbicara padanya, kata
mereka; "Kamu membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu,
hingga kamu melanjutkannya dengan surat yang lain, bacalah surat tersebut atau
tinggalkan lalu bacalah surat yang lain!."
Sahabat Anshar itu berkata; "Aku tidak akan
meninggalkannya, bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya,
maka aku akan melakukannya dan bila kalian tidak suka, aku akan meninggalkan
kalian."
Sementara mereka menilainya sebagai orang yang
paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain.
Saat Nabi ﷺ mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah
itu.
Lalu beliau bertanya: "Hai fulan, apa yang
menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang
mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?"
Ia menjawab ; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya
aku menyukainya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga."
[Al-Bukhari meriwayakannya dalam Shahihnya secara
mu'allaq dengan shighat Jazm (774), Dan diriwayatkan secara maushul oleh
Tirmidzi no. (2826, 2901), Ahmad (Hadits no. 11982 dan 12054) dan al-Darimi (Hadits
no. 3300).
Abu Isa at-Tirmidzy berkata ;
Hadits ini hasan gharib, shahih dari jalur ini dari
hadits 'Ubaidullah bin Umar dari Tsabit. [Mubarak bin Fadlalah] meriwayatkan
dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa seseorang berkata; "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku menyukai surat ini, yaitu QUL HUWALLAAHU AHAD." Beliau
bersabda: "Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam
surga."
===
AMALAN SAHABAT KE 2:
Sama seperti di atas, yaitu Taqrir Nabi ﷺ terhadap seorang imam shalat yang selalu mengakhiri
bacaan suratnya dengan "Qul Huwallahu Ahad."
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أنَّ النبيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا
علَى سَرِيَّةٍ، وكانَ يَقْرَأُ لأصْحَابِهِ في صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بقُلْ هو
اللَّهُ أحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذلكَ للنبيِّ ﷺ، فَقالَ: سَلُوهُ لأيِّ
شيءٍ يَصْنَعُ ذلكَ؟، فَسَأَلُوهُ، فَقالَ: لأنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وأَنَا
أُحِبُّ أنْ أقْرَأَ بهَا، فَقالَ النبيُّ ﷺ: أخْبِرُوهُ أنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.
"Bahwa Rasulullah ﷺ mengutus
seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk
operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para
sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan "Qul Huwallahu
Ahad."
Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut
kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: "Tanyakanlah kepadanya kenapa
ia melakukan hal itu?"
Lalu merekapun menanyakan kepadanya. Ia menjawab, "Karena
didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu
membacanya."
Mendengar itu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta'ala juga mencintainya." (HR.
Bukhori no. 7375 dan Muslim no. 813).
====
AMALAN SAHABAT KE 3:
Do’a al-Istiftaah amalan Sahabat dalam shalat yang
dipuji oleh Nabi ﷺ:
Dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma dia berkata;
بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ الْقَائِلُ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ
أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ
السَّمَاءِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
"Ketika kami sedang shalat bersama
Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum
mengucapkan;
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
(Maha Besar Allah, segala puji bagi Allah dengan
pujian yang banyak, dan Maha suci Allah di pagi dan sore hari)
Lantas Rasulullah ﷺ bertanya:
"Siapa yang mengatakan demikian dan demikian?
Lelaki tersebut menjawab; "Saya ya
Rasulullah."
Maka Rasululah ﷺ bersabda:
"Aku merasa kagum terhadapnya, karena dengannya pintu-pintu langit telah
di buka."
Ibu Umar berkata; "Oleh karena itu, aku tidak
pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ."
(HR. Muslim No. 601, Ahmad 8/79 no. 4399 dan
Turmudzi No. 3516)
Abu Isa at-Turmudzi berkata;
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ هُوَ حَجَّاجُ بْنُ
مَيْسَرَةَ الصَّوَّافُ وَيُكْنَى أَبَا الصَّلْتِ وَهُوَ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ
الْحَدِيثِ
"Hadits ini derajatnya hasan gharib melalui
jalur ini, Dan Hajjaj bin Abu Utsman adalah Hajjaj bin Maisarah Ash Shawwaf
yang di juluki dengan Abu Shalt menurut ahli hadits, ia adalah seorang yang
tsiqah (dapat dipercaya)."
===
AMALAN SAHABAT KE 4:
Do’a al-Istiftaah amalan Sahabat dalam shalat yang
dipuji oleh Nabi ﷺ:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
" أَنَّ رَجُلًا جَاءَ ، فَدَخَلَ
الصَّفَّ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا
طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاتَهُ ، قَالَ:
(أَيُّكُمُ الْمُتَكَلِّمُ بِالْكَلِمَاتِ ؟) ، فَأَرَمَّ الْقَوْمُ – يعني: سكتوا
- ، فَقَالَ: (أَيُّكُمُ الْمُتَكَلِّمُ بِهَا ؟ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا) ،
فَقَالَ رَجُلٌ: جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا ، فَقَالَ:
(لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ
يَرْفَعُهَا)
“ Bahwa seorang laki-laki datang dan masuk shaff (barisan) sementara nafasnya
masih terengah-engah, lalu mengucapkan:
" الْحَمْدُ لِلَّهِ
حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ "
Artinya: (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang
banyak, baik, lagi penuh berkah di dalamnya).”
Seusai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya:
“Siapakah diantara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” Para sahabat terdiam.
Beliau ﷺ mengulangi
pertanyaannya; “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi, karena hal itu tidak
masalah baginya.”
Lantas seorang sahabat berkata ; “Aku tadi datang,
sementara napasku masih terengah-engah, maka kuucapkan kalimat itu.”
Beliau bersabda: “TADI AKU MELIHAT DUA BELAS
MALAIKAT BEREBUT MENGANGKAT UCAPAN ITU”.
(HR. Muslim no. 600 dan an-Nasaa’i no. 901)
====
AMALAN SAHABAT KE 5:
Doa I'tidal amalan Sahabat yang di puji oleh Nabi ﷺ:
Dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi radhiyallahu ‘anhu
berkata:
" كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ
النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ
لِمَنْ حَمِدَهُ، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا
كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: مَنِ
الْمُتَكَلِّمُ؟ قَالَ: أَنَا، قَالَ: رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا
يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ "
"Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika
mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan:
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
(Semoga Allah mendengar punjian orang yang
memuji-Nya) '. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau
membaca;
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا
كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
(Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku
memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) '."
Selesai shalat beliau bertanya: "Siapa orang
yang membaca kalimat tadi?"
Orang itu menjawab, "Saya."
Beliau ﷺ bersabda:
"Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka
yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut."
(HR. Bukhori no. 757 dan Muslim no. 617)
CATATAN:
Kami mendengar dari banyak jamaah, ketika bangun dari rukuk, mengatakan:
(رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ
والشُّكْرُ)
(Tuhan kami bagi-Mu, pujian dan syukur)
Dan setelah pencarian yang panjang, kami menemukan
bahwa riwayat bangun dari rukuk terkait dengan zikir ini adalah sebagai
berikut:
(رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ)
(Ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu)
(رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ)
(Ya Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji)
(اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ
الحَمْدُ)
(Ya Allah). Ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu)
(اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ
الحَمْدُ)
(Ya Allah, Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji)
Penulis katakan:
Yang lebih afdlol dan lebih baik adalah tanpa
mengucapkan kata “وَالشُّكْرُ” setelah mengatakan: “رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ”; Karena kata (“وَالشُّكْرُ”dan terima kasih) setelah mengatakan: “رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ” adalah tambahan yang tidak disebutkan dalam Sunnah, dan yang
utama adalah meninggalkannya.
Syeikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah merahmatinya, berkata:
لَا شَكَّ أَنَّ التَّقَيُّدَ بِالْأَذْكَارِ
الْوَارِدَةِ هُوَ الْأَفْضَلُ، فَإِذَا رَفَعَ الْإِنْسَانُ مِنَ الرُّكُوعِ فَلْيَقُلْ:
«رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ»، وَلَا يَزِدْ: «وَالشُّكْرُ» لِعَدَمِ وُرُودِهَا.
“Tidak ada keraguan bahwa berpegang dengan
mengamalkan dzikir-dzikir yang terdapat dalam hadits-hadits adalah yang
terbaik, Jadi jika seseorang bangun dari ruku’, maka dia ucapkanlah: “رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ”. Tanpa menambahi kata “وَالشُّكْرُ” karena tidak ada dalilnya.”
CATATAN:
Bahwa siapa pun yang memabacanya dengan tambahan (“وَالشُّكْرُ”dan terima kasih) “, kami tidak mengatakan
tentang orang tsb bahwa dia melakukan amalan yang diharamkan atau bid’ah
mungkaroh atau melakukan sesuatu yang membatalkan sholatnya, tetapi lebih
afdhol membatasi dirinya pada apa yang disebutkan dalam Sunnah.
Syeikh Bin Baaz, semoga Allah merahmatinya,
berkata:
الْأَفْضَلُ أَنْ يَقُولَ: «رَبَّنَا
وَلَكَ الْحَمْدُ»، وَيَكْفِي وَلَا يَزِيدُ: «وَالشُّكْرُ»، وَإِنْ زَادَ كَلِمَةَ
«وَالشُّكْرُ» لَا يَضُرُّهُ، وَيُعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ مَشْرُوعٍ.
"Lebih baik baginya untuk mengatakan: “رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ / Tuhan kami, segala puji bagi-Mu”, dan itu cukup dan tidak
menambah (“وَالشُّكْرُ”dan terima kasih).
Dan jika kata “وَالشُّكْرُ” ditambahkan itu tidak membahayakannya,
dan dikasih tahu bahwa itu tidak disyariatkan”.
===
AMALAN SAHABAT KE 6:
Doa dalam Tasyahhud dari amalan Sahabat yang di
taqrir oleh Nabi ﷺ:
Dari Abu Shalih dari sebagian para sahabat
Nabi ﷺ,
mereka berkata:
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِرَجُلٍ
كَيْفَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ أَمَا إِنِّي لَا أُحْسِنُ
دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ
Nabi ﷺ pernah
bertanya kepada seorang laki-laki: "Bagaimana kamu berdo'a dalam
shalat?"
Laki-laki tersebut menjawab ; "Aku membaca
tasyahhud dan mengucapkan;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ
" Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga
dan berlindung kepada Engkau dari api neraka.
Kami tidak bisa memperbagus senandung doa
(merangkai kata-kata yang bagus dalam berdo'a) seperti senandung Engkau dan
senandung Mu’adz ".
Lalu Rosulullah ﷺ bersabda:
"Seputar itulah kami bersenandung (dalam berdo’a)".
(HR. Ahmad No. 15333 dan Abu Daud No. 672 dan di
shahihkan oleh Syeikh al-Albaani).
Lalu Abu Daud menyebutkan riwayat lain dengan
sanadnya: dari Jabir radhiyallahu ‘anhu -dia menyebutkan kisahnya Mu'adz-
dengan mengatakan ;
وَقَالَ يَعْنِي النَّبِيَّ ﷺ
لِلْفَتَى كَيْفَ تَصْنَعُ يَا ابْنَ أَخِي إِذَا صَلَّيْتَ قَالَ أَقْرَأُ
بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنْ
النَّارِ وَإِنِّي لَا أَدْرِي مَا دَنْدَنَتُكَ وَلَا دَنْدَنَةُ مُعَاذٍ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنِّي وَمُعَاذًا حَوْلَ هَاتَيْنِ أَوْ نَحْوَ هَذَا
"Nabi ﷺ bertanya
kepada seorang pemuda: "Wahai anak saudaraku, apa yang kamu perbuat (baca)
ketika mengerjakan shalat?"
Pemuda itu menjawab; "Aku membaca surat Al
Fatihah dan memohon surga-Nya Allah dan berlindung dari api nerakanya Allah,
sesungguhnya aku tidak bisa memperbagus senandung doa (merangkai kata-kata yang
bagus dalam berdo'a) seperti senandung Engkau dan senandung Mu’adz.
Lalu Rosulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku dan Mu'adz (juga berdo'a) sekitar dua hal itu “. Atau
kata-kata yang semisalnya. (HR. Abu Daud no. 792).
Dalam riwayat Abu Hurairah –semoga Allah
meridhainya- ia berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
لِرَجُلٍ مَا تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَسْأَلُ اللَّهَ
الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنَ النَّارِ أَمَا وَاللَّهِ مَا أُحْسِنُ
دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ فَقَالَ حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ
Rasulullah ﷺ bertanya
kepada seorang laki-laki: " Apa yang engkau baca dalam sholat?
Laki-laki itu menjawab:
Aku bertasyahhud kemudian memohon kepada Allah
Surga dan berlindung kepada-Nya dari Api Neraka.
Aku tidak bisa merangkai untaian kata-kata dalam
doa dengan baik seperti untaian doa anda dan untaian doa Muadz.
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Berkisar pada itulah tujuan kami merangkai untaian kata-kata dalam doa (yakni:
permohonan Surga dan berlindung dari Neraka)
(H.R Abu Dawud no. 792 dan Ibnu Majah no. 898)
Di Shahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana
dalam الفتوحات الربانية 3/17 dan dishahihkan pula oleh al-Albaani dalam Shahih
Abu Daud no. 792.
===
AMALAN SAHABAT KE 7:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
Adzan waktu shalat 5 waktu dari mimpi Sahabat:
Dari Mu’az ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu yang
menceritakan tentang Adzan pertama kali di kumandangkan:
وَكَانُوا يَجْتَمِعُونَ لِلصَّلَاةِ
وَيُؤْذِنُ بِهَا بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى نَقَسُوا أَوْ كَادُوا يَنْقُسُونَ.
قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ
زَيْدٍ أَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي رَأَيْتُ
فِيمَا يَرَى النَّائِمُ وَلَوْ قُلْتُ إِنِّي لَمْ أَكُنْ نَائِمًا لَصَدَقْتُ،
إِنِّي بَيْنَا أَنَا بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إِذْ رَأَيْتُ شَخْصًا
عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَقَالَ: اللهُ
أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، مَثْنَى
مَثْنَى حَتَّى فَرَغَ مِنَ الْأَذَانِ، ثُمَّ أَمْهَلَ سَاعَةً. قَالَ: ثُمَّ
قَالَ مِثْلَ الَّذِي قَالَ غَيْرَ أَنَّهُ يَزِيدُ فِي ذَلِكَ قَدْ قَامَتِ
الصَّلَاةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: " عَلِّمْهَا
بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ بِهَا ". فَكَانَ بِلَالٌ أَوَّلَ مَنْ أَذَّنَ
بِهَا. قَالَ: وَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ،
إِنَّهُ قَدْ طَافَ بِي مِثْلُ الَّذِي أَطَافَ بِهِ غَيْرَ أَنَّهُ سَبَقَنِي
Bahwa pada mulanya mereka berkumpul untuk
menunaikan shalat dengan cara sebagian dari mereka mengundang sebagian lainnya
hingga akhirnya mereka membuat kentong atau hampir saja mereka membuat kentong
untuk tujuan tersebut.
Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Anshar -
yang dikenal dengan nama Abdullah ibnu Zaid ibnu Abdu Rabbih - datang kepada
Rasulullah ﷺ. Lelaki itu berkata:
"Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku melihat
dalam mimpiku suatu peristiwa yang jika aku tidak tidur, niscaya aku percaya
kepada apa yang kulihat itu.
Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan antara tidur
dan terjaga, tiba-tiba aku melihat seseorang yang memakai baju rangkap yang
kedua-duanya berwarna hijau.
Lelaki itu menghadap ke arah Kiblat, lalu mengucapkan:
‘Allahu Akbar, Allahu Akbar (Allah Mahabesar, Allah
Mahabesar), asyhadu allaa ilaha illallah (aku bersaksi tidak ada Tuhan selain
Allah).’ Ia membacanya dua kali-dua kali hingga selesai adzannya.
Kemudian berhenti sesaat. Setelah itu ia mengucapkan
hal yang sama, hanya kali ini dia menambahkan kalimat " qod qoomatish
sholaah " (sesungguhnya shalat akan didirikan) sebanyak 2 kali."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
" Ajarkanlah itu kepada Bilal! ".
Maka Bilal menyerukan Adzan dengan kalimat ini.
Maka Bilal adalah orang yang mula-mula menyerukan Adzan dengan kalimat ini.
Mu’az bin Jabal radhiyallahu ‘anhu melanjutkan
kisahnya:
Bahwa lalu datanglah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
dan mengatakan: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pun pernah bermimpi
melihat seperti apa yang dilihatnya, hanya saja dia lebih dahulu dariku."
[HR. Ahmad 36/438, Abu Daud 1/140 no. 507, al-Hakim
2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah al-Musykil 1/417 no. 478]
Di Shahihkan oleh al-Hakim dengan mengatakan:
" Shahih sesuai syarat Shahih bukhori dan Muslim ". Dan disetujui
oleh adz-Dzahabi. Di shahihkan pula oleh al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no.
478 dan dalam al-Irwaa 4/20.
Namun hadits ini di Dhaifkan oleh Syu'aib
al-Arnauth dalam Takhriij Musnad Imam Ahmad..
===
AMALAN SAHABAT KE 8:
Lafadz: " اَلصَّلاَةُ
خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ [ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUM] Tambahan
Bilal pada Adzan Shubuh.
Bilal bin Abi Robaah (radhiyallahu ‘anhu) menambahi
" Ash-Sholaatu Khairum Minan Naum " dalam Adzan Shubuh, lalu Nabi ﷺ mentaqrir nya.
Ada beberapa riwayat, diantaranya:
----
Riwayat
Ke 1: HADITS IBNU UMAR Radhiyallaahu anhuma
Dari Salim dari Ayahnya [Abdullah bin Umar], dia
menceritakan:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَشَارَ
النَّاسَ لِمَا يُهِمُّهُمْ إِلَى الصَّلَاةِ، فَذَكَرُوا الْبُوقَ، فَكَرِهَهُ
مِنْ أَجْلِ الْيَهُودِ، ثُمَّ ذَكَرُوا النَّاقُوسَ، فَكَرِهَهُ مِنْ
أَجْلِ النَّصَارَى، فَأُرِيَ النِّدَاءَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ مِنَ
الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ، وَعُمَرُ بْنُ
الْخَطَّابِ، فَطَرَقَ الْأَنْصَارِيُّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَيْلًا، فَأَمَرَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «بِلَالًا بِهِ، فَأَذَّنَ» قَالَ: الزُّهْرِيُّ، وَزَادَ
بِلَالٌ فِي نِدَاءِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ،
فَأَقَرَّهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ
رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى، وَلَكِنَّهُ سَبَقَنِي
Nabi ﷺ meminta
pendapat para sahabat terhadap sesuatu yang membuat mereka berangkat menuju
shalat. Maka mereka menyebutkan terompet, tetapi beliau tidak menyukainya
karena menyerupai orang-orang Yahudi, kemudian mereka menyebutkan lonceng,
tetapi beliau tidak menyukai pula karena menyerupai orang-orang Nasrani.
Maka pada malam itu seorang sahabat Anshar bermimpi
tentang (lafadz) adzan, sahabat itu dikenal dengan nama Abdullah bin Zaid, dan
begitu juga Umar bin Al Khatthab telah memimpikannya. Maka pada saat malam
seorang sahabat Anshar mendatangi Rasulullah ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan
adzan."
Az Zuhri berkata: Bilal menambah dalam adzan SHUBUH
; ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUM (Shalat itu lebih baik dari pada
tidur).
Maka Rasulullah ﷺ pun
menetapkannya.
Lantas Umar berkata ; "Ya Rasulullah, aku juga
bermimpi seperti apa yang dia mimpikan, tetapi dia telah mendahuluiku."
[HR. Ibnu Majah no. 699 dengan lafadz diatas, Abu
Ya'la (5503, 5504) secara terpencar, dan al-Tabarani (12/288) (13140) dengan
sedikit perbedaan]
Dihasankan oleh al-Albaani dalam Shahih Ibnu Majah
no. 132.
---
Riwayat
Ke 2: HADITS ABDULLAH BIN ZAID (radhiyallahu ‘anhu):
Dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Abdu robbihi berkata:
لَمَّا أَجْمَعَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ أَنْ يَضْرِبَ بِالنَّاقُوْسِ يَجْمَعُ
لِلصَّلاَةِ النَّاسَ وَهُوَ لَهُ كَارِهٌ لِمُوَافَقَتِهِ النَّصَارَى طَافَ بِيْ
مِنَ اللَّيْلِ طَائِفٌ وَ أَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ
وَ فِي يَدِهِ نَاقُوْسٌ يَحْمِلُهُ
قَالَ فَقُلْتُ لَهُ: يَا
عَبْدَ اللهِ أَتَبِيْعُ النَّاقُوْسَ. قَالَ: وَ مَا تَصْنَعُ بِهِ.
قُلْتُ: نَدْعُو بِهِ إِلَى
الصَّلاَةِ. قاَلَ: أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذلِكَ. قَالَ فَقُلْتُ:
بَلى. قَالَ: تَقُوْلُ:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ
اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ
عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَ عَلَى اْلفَلاَحِ حَيَّ
عَلَى اْلفَلاَحِ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
قَالَ: ثُمَّ اسْتَأْخَرْتُ
غَيْرَ بَعِيْدٍ. قَالَ: ثُمَّ تَقُوْلُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلاَةَ:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ
الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ
قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ
أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا
رَأَيْتُ.
قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ هذِهِ لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ
ثُمَّ أَمَرَ بِالتَّأْذِيْنِ فَكَانَ بِلاَلٌ مَوْلىَ أَبِى بَكْرٍ يُؤَذِّنُ
بِذلِكَ وَيَدْعُو رَسُوْلَ اللهِ ﷺ إِلَى الصَّلاَةِ.
قَالَ: فَجَاءَهُ فَدَعَاهُ
ذَاتَ غَداَةٍ إِلَى الْفَجْرِ فَقِيْلَ لَهُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ نَائِمٌ.
قَالَ فَصَرَخَ بِلاَلٌ
بِأَعْلَى صَوْتِهِ: " اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ".
قَالَ سَعِيْدُ بْنُ
اْلمُسَيَّبِ: " فَأُدْخِلَتْ هذِهِ اْلكَلِمَةُ فِى التَّأْذِيْنِ إِلَى
صَلاَةِ الْفَجْرِ ".
Tatkala Rasulullah ﷺ memutuskan
agar memukul lonceng untuk mengumpulkan orang-orang agar melakukan shalat, yang
sebenarnya beliau benci karena menyamai orang-orang nasrani, saya bermimpi ada
seorang lelaki lewat di hadapanku dengan memakai dua kain hijau dan membawa
lonceng di tangannya.
Berkata (‘Abdullah): Aku bertanya padanya: “Wahai
hamba Allah! Apakah engkau akan menjual lonceng itu?”
Dia berkata: Apa yang hendak engkau perbuat
dengannya?
Maka saya pun berkata: Kami akan memanggil
orang-orang dengannya untuk shalat.
Dia berkata: Maukah engkau aku tunjuki yang lebih
baik dari itu?
Berkata (‘Abdullah): Maka saya pun berkata, ”Ya”.
Dia berkata: Engkau ucapkan:
Allahu Akbar-Allahu Akbar, Allahu Akbar-Allahu
Akbar (Allah Maha Besar),
Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah (Saya bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan selain Allah),
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah (Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),
Hayya ‘alash shalah, Hayya ‘alash shalah (Marilah
shalat),
Hayya ‘alal falah, Hayya ‘alal falah (Marilah
menuju kebahagiaan)
Allahu Akbar-Allahu Akbar,
La ilaha illallah (Tiada sesembahan selain Allah).
Kemudian aku mundur tidak begitu jauh, lalu dia
berkata: Apabila engkau mengiqamahi shalat engkau mengucapkan:
Allahu Akbar-Allahu Akbar,
Asyhadu alla ilaha illallah,
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,
Hayya ‘alash shalah,
Hayya ‘alal falah,
Qad qamatish shalah-Qad qamatish shalah,
Allahu Akbar-Allahu Akbar,
La ilaha illallah
Berkata (‘Abdullah): Maka keesokan harinya saya
mendatangi Rasulullah ﷺ lalu
menceritakan kepadanya apa yang telah saya lihat (dalam mimpi).
Berkata (‘Abdullah): Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ini merupakan mimpi yang
benar, insya-Allah”.
Kemudian beliau memerintahkan agar (dikumandangkan)
adzan, maka Bilal -seorang budak yang dimerdekakan Abu Bakar- senantiasa
mengumandangkan adzan dan memanggil Rasulullah ﷺ untuk
shalat.
Berkata (‘Abdullah): Lalu pada suatu pagi, dia
[Bilal] datang memanggil beliau untuk shalat fajar, lalu ada yang mengatakan
kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ masih
tidur”.
Berkata (‘Abdullah): Maka Bilal pun meneriakkan: ASH-SHALAATU
KHAIRUM MINAN-NAUM (Shalat itu lebih baik dari pada tidur). Dengan sekeras
suaranya.
Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Lalu kata tersebut:
(“Ash-Shalatu khairum minan naum”) dimasukkan dalam adzan untuk shalat fajar.
[HR. Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad 4/42-43,
Musnad Madaniyyin
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/129 no. 499, Al-Baihaqi 1/414 dan
1/422-423 dan ‘Abdurrazaq dalam Mushannafnya 1/455-456 no. 1774]
Sanadnya HASAN.
----
Riwayat
Ke 3: HADITS BILAL RADHIYALLAHU ANHU:
Dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyab dari Bilal
(radhiyallahu ‘anhu):
أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ
يُؤْذِنُهُ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَقِيلَ هُوَ نَائِمٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ
مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فَأُقِرَّتْ فِي تَأْذِينِ
الْفَجْرِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ
bahwa ia mendatangi Nabi ﷺ untuk
adzan shalat subuh, lalu dikatakan kepadanya: "Beliau sedang tidur."
Maka bilal pun berkata ; "ASH SHALAATU KHAIRUN
MINAN NAUM. ASH SHALAATU KHAIRUN MINAN NAUM (Shalat itu lebih baik daripada
tidur. Shalat itu lebih baik daripada tidur)."
Hingga lafadz itu ditetapkan untuk dikumandangkan
pada adzan subuh dan perkaranya menjadi tetap seperti itu."
[HR. Ibn Majah (716), al-Tabarani (1/354) (1081),
dan al-Bayhaqi (2063) dengan sedikit perbedaan.]
Di Shahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih Ibnu
Majah no. 592. Dan Di Hasankan oleh Ibnu Hajar dalam Nataa'ij al-Afkaar 1/324.
====
AMALAN SAHABAT KE 9:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
tata cara shalat makmum yang masbuk. Di ambil dari amalan salah seorang
sahabat.
Dari Mu’az ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu:
وَكَانُوا يَأْتُونَ
الصَّلَاةَ، وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ
يُشِيرُ إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ
اثْنَتَيْنِ فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ:
فَجَاءَ مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ
عَلَيْهَا، ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ
النَّبِيُّ ﷺ بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ
صَلَاتَهُ قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: " إِنَّهُ قَدْ سَنَّ
لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا
Bahwa pada mulanya para sahabat sering datang
terlambat di tempat shalat, mereka datang ketika Nabi ﷺ telah
menyelesaikan sebagian dari shalatnya.
Maka seorang lelaki dari mereka bertanya kepada
salah seorang yang sedang shalat melalui isyarat yang maksudnya ialah: "
berapa rakaat shalat yang telah dikerjakan?".
Lelaki yang ditanya menjawabnya dengan isyarat:
" satu atau dua rakaat ".
Lalu dia mengerjakan shalat yang tertinggal itu
sendirian. Setelah itu ia baru masuk ke dalam sholat berjamaah, menggabungkan
diri dengan bermakmum kepada Nabi ﷺ.
Perawi mengatakan: Lalu datanglah Mu’adz.
Muazd berkata: "Tidak sekali-kali ada suatu
tahapan yang baru yang dialami oleh Nabi ﷺ melainkan
aku terlibat di dalamnya."
Pada suatu hari Muadz datang, sedangkan Nabi ﷺ telah mendahuluinya dengan sebagian salatnya. Maka
Mu’az langsung ikut bermakmum kepada Nabi ﷺ.
Setelah Nabi ﷺ menyelesaikan
salatnya, lalu bangkitlah Mu’az untuk melanjutkan shalatnya yang ketinggalan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
" Sesungguhnya Mu’az telah membuat suatu
peraturan bagi kalian [yakni: tata cara sholat makmum masbuq. PEN]; maka
tirulah oleh kalian perbuatannya itu"
(yakni: langsung masuk ke dalam sholat berjamaah.
Dan apabila imam selesai dari salatnya, baru ia menyelesaikan rakaat yang
tertinggal, dengan shalat sendirian).
[HR. Ahmad 36/438, Abu Daud 1/140 no. 507, al-Hakim
2/274 dan ath-Thohaawi dalam Syarah al-Musykil 1/417 no. 478]
Di Shahihkan oleh al-Hakim dengan mengatakan:
" Shahih sesuai syarat Shahih bukhori dan Muslim ". Dan disetujui
oleh adz-Dzahabi. Di shahihkan pula oleh al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no.
478 dan dalam al-Irwaa 4/20.
Namun hadits ini di Dhaifkan oleh Syu'aib
al-Arnauth dalam Takhriij Musnad Imam Ahmad..
====
AMALAN SAHABAT KE 10:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
sahabat yang ketika shalat, dia berjalan menuju shaff:
Dari Al-Hasan al-Bashry
أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ
وَرَسُولُ اللَّهِ رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ
فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ﷺ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الَّذِي رَكَعَ دُونَ
الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا فَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ
“Bahwasanya Abu Bakrah datang, sedangkan Rasulullah
ﷺ dalam keadaan ruku', lalu dia ruku' di luar shaf,
kemudian berjalan menuju shaf.
Tatkala Nabi ﷺ selesai
shalat, beliau bersabda: "Siapakah di antara kalian yang ruku di luar shaf
kemudian berjalan masuk ke shaf?"
Abu Bakrah menjawab: " Saya".
Maka Nabi ﷺ bersabda:
"Semoga Allah menambahkan semangat untukmu melakukan kebaikan, dan tidak
usah kamu mengulanginya."
(HR. Bukhori No. 741, Abu Daud no. 586, Nasaa’i no.
861 dan Imam Ahmad no. 19510).
===
AMALAN SAHABAT KE 11:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
amalan sahabat Bilal dalam menjaga wudhu-nya dan shalat dua rokaat setelah
wudhu dan dua rokaat setelah adzan.
Dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami
meriwayatkan:
أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
فَدَعَا بِلَالًا فَقَالَ يَا بِلَالُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الْجَنَّةِ مَا
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلَّا سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي إِنِّي دَخَلْتُ
الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مِنْ
ذَهَبٍ مُرْتَفِعٍ مُشْرِفٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ
مِنْ الْعَرَبِ قُلْتُ أَنَا عَرَبِيٌّ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ
مِنْ الْمُسْلِمِينَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ قُلْتُ فَأَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ
هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
لَوْلَا غَيْرَتُكَ يَا عُمَرُ لَدَخَلْتُ الْقَصْرَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
مَا كُنْتُ لِأَغَارَ عَلَيْكَ قَالَ وَقَالَ لِبِلَالٍ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى
الْجَنَّةِ قَالَ مَا أَحْدَثْتُ إِلَّا تَوَضَّأْتُ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِهَذَا
“Rasulullah ﷺ bangun
di pagi hari dan beliau ﷺ memanggil
Bilal dan berkata:
" Wahai Bilal! Dengan amalan apa engkau
mendahuluiku ke Surga? Aku sama sekali tidak masuk Surga kecuali aku mendengar
suara terompahmu di depanku. Sungguh tadi malam aku masuk ke dalam syurga, lalu
aku mendengar suara terompahmu.
Lalu aku mendatangi istana Emas yang tinggi dan
menjulang, dan aku bertanya: Untuk siapa ini?
Mereka menjawab: Untuk seorang dari umatmu.
Lalu aku berkata: “ Aku lah Muhammad, untuk siapa
Istana Ini?
Mereka menjawab: Untuk Umar Bin al-Khaththaab “.
Lalu Rosulullah ﷺ bersabda:
" Jika bukan karena kecemburuanmu, Umar, aku akan memasuki istana itu
".
Dan Umar berkata: “ Wahai Rasulullah, sungguh aku
tidak akan cemburu pada mu “.
Bilal menjawab: " Wahai Rasulullah! saya tidak
sekali-kali ditimpa hadats kecuali saya berwudhu dan shalat dua rokaat ".
Maka Rosulullah ﷺ bersabda:
" Dengan ini ".
Dalam lafadz lain:
فَقَالَ بِلَالٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلَّا صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ إِلَّا
تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا، وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: بِهِمَا.
Maka Bilal (radhiyallahu ‘anhu) berkata: "
Wahai Rasulullah! Saya tidak sekali-kali mengumandangkan adzan kecuali setelah
itu saya sholat dua rokaat.
Dan saya tidak sekali-kali ditimpa hadats kecuali
saya berwudhu di sisi-Nya dan saya melihat bahwa Allah memiliki hak dua rakaat
atas diri saya".
Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Dengan keduanya!”-
(HR. At-Tirmizi no. 3689 dan Ahmad no. 21918, 23046).
Dishahihkan oleh Abdul Haq al-Isybiili dalam
al-Ahkaam ash-Shugra no. 110, oleh Syeikh al-Albaani dlm Shahih Turmudzi no.
3689 dan al-Waadi’i dlam “الصحيح المسند” no. 166.
===
AMALAN SAHABAT KE 12:
Rosulullah ﷺ mentaqrir
shalat makmum yang memisahkan diri dari sholat berjemaah karena bacaan imam
terlalu panjang. Dan Rosulullah ﷺ mencela
imam yang bacaannya dalam shalat fardhu terlalu panjang.
Jabir bin Abdullah berkata:
كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ، فَيَأُمُّهُمْ، فَأَخَّرَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ الْعِشَاءَ، ثُمَّ يَرْجِعُ مُعَاذٌ يَؤُمُّ
قَوْمَهُ، فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ، فَتَنَحَّى رَجُلٌ وَصَلَّى
نَاحِيَةً، ثُمَّ خَرَجَ فَقَالُوا: مَا لَكَ يَا فُلَانُ؟ نَافَقْتَ؟ قَالَ: مَا
نَافَقْتُ، وَلَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَلَأُخْبِرَنَّهُ
قَالَ: فَذَهَبَ إِلَى
النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ مُعَاذًا يُصَلِّي مَعَكَ ثُمَّ
يَرْجِعُ فَيَؤُمُّنَا، وَإِنَّكَ أَخَّرْتَ الْعِشَاءَ الْبَارِحَةَ، ثُمَّ جَاءَ
يَؤُمُّنَا فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّمَا نَحْنُ أَصْحَابُ
نَوَاضِحَ، وَإِنَّمَا نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟ اقْرَأْ بِسُورَةِ كَذَا، وَسُورَةِ كَذَا» ،
فَقُلْنَا لِعَمْرٍو: إِنَّ
أَبَا الزُّبَيْرِ يَقُولُ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ، وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ؟
فَقَالَ: هُوَ نَحْوُ هَذَا
"Mu'adz adalah salah seorang sahabat yang senantiasa
melaksanakan shalat berjama'ah bersama Rasulullah ﷺ. Setelah memahami tata cara shalat
berjama'ah, maka Mu'adz dipercaya untuk menjadi imam bagi sahabat yang lain.
Pada suatu hari, Rasulullah terlambat datang ke masjid untuk shalat berjama'ah.
Lalu Mu'adz didaulat untuk menjadi imam bagi para
sahabat yang lain. Akhirnya Mu'adz menjadi imam dan memulai rakaat pertama
dengan membaca surah Al Baqarah.
Ternyata ada seorang sahabat yang memisahkan diri
dari jama'ah dan melaksanakan shalat sendiri di sisi samping.
Usai melaksanakan shalat, para sahabat yang lain
bertanya kepada sahabat yang memisahkan diri dari jama'ah dan melaksanakan
shalat sendirian itu:
'Hai fulan, seru para sahabat, 'Apakah kamu telah menjadi orang
munafik?'
Sahabat itu menjawab: "Tidak. Aku tidak
menjadi orang munafik. Akan tetapi, aku akan menemui Rasulullah untuk
menceritakan (apa yang aku alami).'
Esok harinya laki-laki itu pergi menemui Rasulullah
dan berkata kepadanya: 'Wahai Rasulullah, Mu'adz sering ikut shalat berjama'ah
bersama anda. Lalu ia dipercaya untuk menjadi imam bagi para sahabat yang lain.
Kemarin anda datang terlambat untuk shalat isya bersama para sahabat yang lain,
maka Mu'adz lah yang ditunjuk untuk menjadi imam shalat kami. Hanya saja pada
rakaat pertama, Mu'adz membaca surah yang panjang, yaitu Al Baqarah. Ketahuilah
hai Rasulullah, kami ini adalah kaum pekerja yang sibuk dengan tugas
kami."
Akhirnya Rasulullah ﷺ memanggil
Mu'adz seraya berseru kepadanya:
"Hai Mu 'adz, apakah kamu orang yang suka menebar bencana?
(apabila kamu menjadi imam Shalat) maka bacalah surah ini dan surah itu"
Kemudian kami berkata kepada Amr: " Abu Zubair
telah berkata: 'ayat yang dimaksud itu adalah 'Sabbihisma rabbika' dan 'Was
samaai waththooriq'."
Amr berkata, "Hadits itu sama seperti hadits
ini."
[HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1609]
RIWAYAT LAIN:
Dari Jabir bin Abdullah (radhiyallahu ‘anhu) dia
berkata:
كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ
النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ يَؤُمُّهُمْ فَأَخَّرَ ذَاتَ لَيْلَةٍ
الصَّلَاةَ وَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ يَؤُمُّهُمْ
فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَلَمَّا سَمِعَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ تَأَخَّرَ
فَصَلَّى ثُمَّ خَرَجَ فَقَالُوا نَافَقْتَ يَا فُلَانُ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا
نَافَقْتُ وَلَآتِيَنَّ النَّبِيَّ ﷺ فَأُخْبِرُهُ فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ مُعَاذًا يُصَلِّي مَعَكَ ثُمَّ يَأْتِينَا
فَيَؤُمُّنَا وَإِنَّكَ أَخَّرْتَ الصَّلَاةَ الْبَارِحَةَ فَصَلَّى مَعَكَ ثُمَّ
رَجَعَ فَأَمَّنَا فَاسْتَفْتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَلَمَّا سَمِعْتُ ذَلِكَ
تَأَخَّرْتُ فَصَلَّيْتُ وَإِنَّمَا نَحْنُ أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ
بِأَيْدِينَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ
بِسُورَةِ كَذَا وَسُورَةِ كَذَا
قال أبو الزُّبَيرِ بـ ﴿سَبِّحِ
اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾ ﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى﴾.
وفي روايةٍ: يا مُعاذُ، لا
تكُنْ فتَّانًا؛ فإنَّه يصَلِّي وراءك الكبيرُ والضَّعيفُ وذو الحاجةِ والمسافِرُ!
"Mua'dz shalat bersama Nabi ﷺ, kemudian ia kembali kepada kaumnya
dan mengimami shalat mereka di malam hari dan ia (Mua'dz) memanjangkan shalatnya.
Kemudian Muadz shalat bersama Rasulullah, lalu ia
kembali kepada kaumnya dan mengimami shalat mereka, dan ia membaca surat Al
Baqarah.
Ketika salah seorang kaumnya mendengar Muadz lama
bacaannya dalam shalat, maka ia mundur kebelakang dan menyelesaikan shalatnya
lalu pergi keluar.
Maka kaumnya berkata kepadanya: 'Kamu munafik wahai
fulan'.
Orang itu menjawab: 'Demi Allah, aku tidak munafik.
Aku akan mendatangi dan menceritakan hal ini pada Nabi ﷺ'.
Lalu orang itu mendatangi Nabi ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, Muadz shalat bersama Anda.
kemudian ia kembali dan mengimami shalat kami. Anda shalat kemarin malam agak
terlambat, lalu Muadz shalat dengan Anda, kemudian dia kembali dan mengimami
kami, dan ia memulai shalat dengan membaca surat Albaqarah. Ketika aku
mendengarnya membaca surat Albaqarah. maka aku mundur dan shalat sendiri,
karena kami pekerja keras yang bekerja dengan tangan kami".
Rasulullah ﷺ lalu
bersabda: 'Wahai Muadz, apakah kamu ingin menimbulkan fitnah? Bacalah surat ini
dan surat ini (maksudnya surat yang pendek) '."
Abu Az-Zubair berkata: “سَبِّحِ
اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى” dan
" وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى "
Dan dalam sebuah riwayat:
" Wahai Muadz, janganlah kamu memjadi penebar
fitnah ; karena yang shalat di belakang mu ada yang tua, yang lemah, yang punya
hajat, dan yang musafir".
[HR. Al-Bukhari (701), Muslim (465), Abu Daud
(790), Al-Nasa'i (835), Ibn Majah (986), dan Ahmad (14307).
Dan ini adalah lafadz Abu Daud.
DALAM RIWAYAT LAIN:
Dari Jabir bin Abdullah (radhiyallahu ‘anhu) dia berkata:
أَنَّ مُعَاذَ بْنَ
جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كانَ يُصَلِّي مع النَّبيِّ ﷺ، ثُمَّ يَأْتي
قَوْمَهُ فيُصَلِّي بهِمُ الصَّلَاةَ، فَقَرَأَ بهِمُ البَقَرَةَ، قالَ:
فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلَاةً خَفِيفَةً، فَبَلَغَ ذلكَ مُعَاذًا، فَقالَ:
إنَّه مُنَافِقٌ، فَبَلَغَ ذلكَ الرَّجُلَ، فأتَى النَّبيَّ ﷺ فَقالَ: يا رَسولَ
اللَّهِ، إنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بأَيْدِينَا، ونَسْقِي بنَوَاضِحِنَا، وإنَّ
مُعَاذًا صَلَّى بنَا البَارِحَةَ، فَقَرَأَ البَقَرَةَ، فَتَجَوَّزْتُ، فَزَعَمَ
أنِّي مُنَافِقٌ، فَقالَ النَّبيُّ ﷺ: يا مُعَاذُ، أفَتَّانٌ أنْتَ؟! -ثَلَاثًا-
اقْرَأْ: والشَّمْسِ وضُحَاهَا، وسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى، ونَحْوَهَا.
Sesungguhnya Muadz bin Jabal pernah shalat (di
belakang) Rasulullah ﷺ, kemudian dia kembali ke kaumnya untuk mengimami shalat
bersama mereka dengan membaca surah Al-Baqarah.
Jabir melanjutkan kisahnya ; ‘Maka ada seorang
laki-laki yang memisahkan diri dan ia shalat dengan shalat yang ringan. Lalu
hal itu sampai beritanya kepada Muadz, maka dia berkata:
‘Sesungguhnya dia adalah seorang munafik.’
Ketika ucapan Muadz sampai pada laki-laki tersebut,
laki-laki itu langsung mendatangi Nabi ﷺ lalu
berkata ;
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum
yang memiliki pekerjaan untuk menyiram ladang, sementara semalam Muadz shalat
mengimami kami dengan membaca surat Al-Baqarah, hingga saya memisahakan diri
dan mempersingkat shalat, lalu dia mengiraku seorang munafik.’
Nabi ﷺ bersabda
; ‘Wahai Muadz, apakah kamu pembuat fitnah?’ - Beliau mengucapkannya tiga kali
- ‘Bacalah surah ‘Wasy syamsi wa dhuhaha dan sabbihisma rabbikal a’la atau yang
serupa dengannya.’
----
FIQIH HADITS:
Dari hadits ini, para ulama beritinbath bahwa di
antara udzur yang memperbolehkan seorang makmum memisahkan diri dari sholat
imam adalah ketika imam terlalu lama dan sangat panjang melaksanakan shalat,
dinataranya karena membaca surah Al-Quran yang panjang.
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya Fath al-Bari
Syarh Shahih al-Bukhari 6/212 berkata:
فَيُسْتَدَلُّ بِهَذَا عَلَى أَنَّ
الْإِمَامَ إِذَا طَوَّلَ عَلَى الْمَأْمُومِ وَشَقَّ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ
مَعَهُ لِتَعَبِهِ أَوْ غَلَبَهُ النُّعَاسُ عَلَيْهِ، أَنَّ لَهُ أَنْ يَقْطَعَ صَلَاتَهُ
مَعَهُ، وَيَكُونُ ذَلِكَ عُذْرًا فِي قَطْعِ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ، وَفِي سُقُوطِ
الْجَمَاعَةِ فِي هَذِهِ الْحَالِ، وَأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُصَلِّيَ لِنَفْسِهِ مُنْفَرِدًا
فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ يَذْهَبَ، وَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ يُصَلِّي فِيهِ بِالنَّاسِ.
“Dengan hadits ini bisa dijadikan dalil bahwa jika
seorang imam memperpanjang bacaannya, dan memberatkan makmum untuk menyelesikan
shalat dengan imam tersebut, disebabkan karena makmum tersebut dalam kondisi
lelah atau tidak bisa menahan rasa ngantuk, maka makmum tersebut boleh memutus
shalatnya bersama imam.
Dan hal itu adalah udzur untuk memutus shalat
fardhu dan menggugurkan kewajiban shalat berjamaah pada kondisi tersebut.
Diperbolehkan bagi makmum tersebut untuk melakukan
shalat sendirian (munfarid) di dalam masjid tersebut kemudian pulang, walau pun
imam masih melakukan shalat jamaah bersama makmum-makmum yang lain ".
===
AMALAN SAHABAT KE 13:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
amalan sahabat shalat qobliyah shubuh di qodho setelah selesai sholat shubuh.
Dari Qais bin Amr bin shal al-Anshari radhiallahu
anhu dia berkata;
رأى رسولُ اللَّهِ ﷺ رجُلًا
يصلِّي بعدَ صلاةِ الصُّبحِ رَكْعَتَيْن فقالَ رسولُ اللَّهِ ﷺ صلاةُ الصُّبحِ
ركعتان فقالَ الرَّجلُ إنِّي لم أَكن صلَّيتُ الرَّكعتينِ اللَّتينِ قبلَهما
فصلَّيتُهما الآنَ فسَكتَ رسولُ اللَّهِ ﷺ
“Suatu ketika Rasulullah ﷺ pernah
melihat seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua rakaat lagi setelah
shalat subuh. Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
“Shalat subuh itu hanya dua raka’at.” Laki-laki itu menjawab, “Sesungguhnya aku
belum mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at yang diseharusnya dikerjakan
sebelumnya, karena itu aku mengerjakannya sekarang ini.” Maka Rasulullah ﷺ diam.”
(HR. Abu Daud no. 1267 dan dinyatakan shahih oleh
Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 1267 dan Al-Misykah: 1/329)
Dan diamnya Nabi ﷺ menunjukkan persetujuan beliau terhadapnya.
====
AMALAN SAHABAT KE 14:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
amalan seorang anak sahabat yang mengambil kembali harta ayahnya yang hendak di
sedekahkan:
Dari Abu Yazid, yaitu: Ma’an bin Yazid bin Akhnas
radhiyallahu ‘anhu (Ia, ayahnya, dan kakeknya adalah termasuk golongan para sahabat
Rosulullah ﷺ). Dia
berkata:
" كَانَ أبي يَزِيدُ أَخْرَجَ
دَنَانِيرَ يَتصَدَّقُ بِهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ فَجِئْتُ
فَأَخَذْتُهَا فَأَتيْتُهُ بِهَا. فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ،
فَخَاصمْتُهُ إِلَى رسولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: “لَكَ مَا نويْتَ يَا يَزِيدُ،
وَلَكَ مَا أَخذْتَ يَا مَعْنُ“
“Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar
untuk sedekah, dinar-dinar tersebut ia letakkan di sisi seorang pria di masjid.
Lalu aku -Ma’an anak Yazid- datang dan
mengambilnya, kemudian aku menemui ayahku dengan menunjukkan dinar-dinar tadi.
Ayahku berkata: “Demi Alloh, bukan engkau yang
kuhendaki (tapi untuk sedekah) ”.
Lalu aku adukan pada Rosulullah ﷺ,
Beliaupun bersabda:
" Bagimu adalah apa yang engkau niatkan wahai
Yazid, sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil wahai Ma’an ”. [HR Bukhori
no. 1422]
Maksudnya:
Perkataan: “Bagimu adalah apa yang engkau niatkan wahai Yazid: yaitu bahwa
engkau wahai Yazid, telah memperoleh pahala sesuai dengan niatmu untuk
bersedekah -
Perkataan: “ Sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil wahai Ma’an”: yaitu
bahwa engkau wahai Ma’an boleh memiliki dinar-dinar tersebut, karena engkau
putranya lebih berhak dari pada orang lain”.
SUBHANALLAH, DUA-DUANYA DIBENARKAN oleh
Rosulullah ﷺ, sejuk sekali mendengarnya.
====
AMALAN SAHABAT KE 15:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
seorang suami yang miskin mengambil zakat harta istrinya dan seorang anak yang
miskin mengambil zakat harta ibunya:
Dari Abu Sa'id Al Khurdri radhiyallahu ‘anhu ;
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي
أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ
وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى
النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ
أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ
عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا
مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ
زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ
مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ
اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي
فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ
أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ صَدَقَ ابْنُ
مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ
Rasulullah ﷺ keluar
menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat 'Iedul Adhha atau
'Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan
memerintahkan mereka untuk bersedekah (berzakat) seraya bersabda:
"Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakatlah)!
".
Kemudian Beliau mendatangi jama'ah wanita lalu
bersabda:
"Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh
aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni
neraka".
Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai
Rasulullah?".
Beliau ﷺ menjawab:
"Kalian banyak melaknat dan mengingkari pemberian (suami). Tidaklah aku
melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian,
wahai para wanita".
Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi.
Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah
Zainab, isteri Ibu Mas'ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada
Beliau ; "Wahai Rasulullah ﷺ, ini adalah Zainab".
Beliau bertanya: "Zainab siapa?".
Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu
Mas'ud".
Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah
dia".
Maka dia diizinkan kemudian berkata: "Wahai
Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan untuk bershadaqah
(berzakat), sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak untuk bersedekah
[membayar zakat] dengannya, namun Ibnu Mas'ud mengatakan:
" Bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap
apa yang akan aku sedekahkan [zakatkan] ini dibandingkan mereka (mustahiq)”.
Maka Nabi ﷺ bersabda:
"Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan
shadaqah [zakat] dari pada mereka". (HR. Bukhori No. 1369)
Dalam riwayat lain di sebutkan: Dari Ubaidillah bin
Abdullah bin 'Utbah:
عَنْ رَائِطَةَ امْرَأَةِ
عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَأُمِّ وَلَدِهِ، وَكَانَتْ امْرَأَةً صَنَاعَ
الْيَدِ، قَالَ: فَكَانَتْ تُنْفِقُ عَلَيْهِ وَعَلَى وَلَدِهِ مِنْ صَنْعَتِهَا،
قَالَتْ: فَقُلْتُ لِعَبْدِ
اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ: لَقَدْ شَغَلْتَنِي أَنْتَ وَوَلَدُكَ عَنِ الصَّدَقَةِ،
فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَتَصَدَّقَ مَعَكُمْ بِشَيْءٍ.
فَقَالَ لَهَا عَبْدُ اللهِ:
وَاللهِ مَا أُحِبُّ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ أَجْرٌ أَنْ تَفْعَلِي،
فَأَتَتْ رَسُولَ اللهِ ﷺ،
فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ ذَاتُ صَنْعَةٍ أَبِيعُ مِنْهَا،
وَلَيْسَ لِي وَلَا لِوَلَدِي وَلَا لِزَوْجِي نَفَقَةٌ غَيْرَهَا، وَقَدْ
شَغَلُونِي عَنِ الصَّدَقَةِ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ،
فَهَلْ لِي مِنْ أَجْرٍ فِيمَا أَنْفَقْتُ؟
قَالَ: فَقَالَ لَهَا رَسُولُ
اللهِ ﷺ: ” أَنْفِقِي عَلَيْهِمْ فَإِنَّ لَكِ فِي ذَلِكَ أَجْرَ مَا أَنْفَقْتِ
عَلَيْهِمْ
Dari Rooithoh, istri Abdullah bin Mas’ud dan ummu
waladnya (budak wanita yang melahirkan dari tuannya), dan dia seorang wanita
yang bekerja membuat barang-barang dengan tangannya. Dengan hasil pekerjaannya
dia berinfaq kepada suaminya dan anaknya.
Dia [istrinya] berkata: Aku berkata kepada Abdullah
bin Mas’ud (suaminya): “Engkau dan anakmu telah menyibukkan aku dari
bersedekah. Aku tidak mampu bersedekah dengan sesuatupun bersama kalian.
Maka Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya
(istrinya): “Demi Alloh, aku tidak suka engkau melakukannya jika hal itu tidak
ada pahalanya”.
Maka Rooithoh mendatangi Rosulullah ﷺ,
lalu berkata:
“Wahai Rosulullah, aku adalah seorang wanita yang
bekerja membuat barang-barang, aku menjualnya. Aku tidak memiliki nafkah
untukku, untuk anakku, dan untuk suamiku, selainnya. Mereka telah menyibukkanku
dari bersedekah. Aku tidak mampu bersedekah dengan sesuatupun. Apakah aku
mendapatkan pahala dari apa yang telah aku infaqkan (kepada suamiku dan
anakku)?”
Maka Rosulullah ﷺ berkata
kepadanya:
“Infaqlah kepada mereka, sesungguhnya engkau
mendapatkan pahala dari apa yang telah engkau infaqkan kepada mereka.”
(HR. Ahmad, no. 16086, Ath-Thohawi (1/308), Abu
Ubaid (1877), Ibnu Hibban (831) dari beberapa jalur dari Hisyam bin Urwah dari
ayahnya dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari-nya.
Dishahihkan oleh Badruddin al-'Aini dalam Umdatul
Qori Syarah Shahih al-Bukhori 9/32, oleh Syeikh al-Albaani dalam al-Irwaa'
3/390 dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth di dalam takhrij Musnad Ahmad)
----
FIQIH HADITS:
PERTAMA:
Badruddin
al-'Aini berkata:
احتج بهذا الحديث الشافعي وأحمد
في رواية ، وأبو ثور وأبو عبيد وأشهب من المالكية ، وابن المنذر وأبو يوسف ومحمد
وأهل الظاهر ، وقالوا: يجوز للمرأة أن تعطي زكاتها إلى زوجها الفقير
Hadits ini dijadikan dalil oleh al-Syafi'i dan
Ahmad dalam sebuah riwayat, dan Abu Tsur, Abu Ubayd dan Asyhab dari mazhab
Maliki, Ibnu al-Mundzir, Abu Yusuf, Muhammad dan orang-orang ahli adz-Dzahir,
mereka berkata: " Dibolehkan bagi seorang wanita untuk memberikan zakatnya
kepada suaminya yang miskin". [Umdatul Qori Syarah Shahih al-Bukhori 9/32]
KEDUA:
Hadits di atas menunjukkan pula bahwa Agama Islam
membolehkan wanita bekerja
Walaupun tugas utama wanita adalah mengurusi rumah tangganya, namun wanita
boleh bekerja untuk menghasilkan uang, dengan tidak melalaikan kewajiban utamanya.
Terutama ketika dilakukan di dalam rumahnya, seperti menjahit atau membuat
barang-barang yang bisa dijual, atau lainnya. Sebagaimana sebagian wanita di
zaman Nabi ﷺ berbuat demikian.
Wallaahu alam
===
AMALAN SAHABAT KE 16:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
amalan sahabat dalam meruqyah orang sakit dengan cara membaca al-Fatihah dan
meludah ke telapak tangannya lalu mengusapkannya pada bagian yang sakit:
Hadits Abu Sa’id berikut, ia berkata:
انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ
أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ
مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ،
فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ
شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ
نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ،
فَقَالُوا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟
فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ
لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى
تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الغَنَمِ،
فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ،
قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ
بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ
ﷺ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَذَكَرُوا لَهُ، فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ»
، ثُمَّ قَالَ: «قَدْ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا، وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا»
فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
“Sebagian sahabat Nabi ﷺ pergi
dalam suatu safar yang mereka lakukan. Mereka singgah di sebuah perkampungan
Arab, lalu mereka meminta jamuan kepada mereka (penduduk tersebut), tetapi
penduduk tersebut menolaknya.
Lalu kepala kampung tersebut terkena sengatan,
kemudian penduduknya telah bersusah payah mencari sesuatu untuk mengobatinya
tetapi belum juga sembuh.
Kemudian sebagian mereka berkata:
“Bagaimana kalau kalian mendatangi orang-orang yang
singgah itu (para sahabat). Mungkin saja mereka mempunyai sesuatu (untuk
menyembuhkan)?”
Maka mereka pun mendatangi para sahabat lalu
berkata:
“Wahai kafilah! Sesungguhnya pemimpin kami terkena
sengatan dan kami telah berusaha mencari sesuatu untuk(mengobati)nya, tetapi
tidak berhasil. Maka apakah salah seorang di antara kamu punya sesuatu (untuk
mengobatinya)?”
Lalu di antara sahabat ada yang berkata:
“Ya. Demi Allah, saya bisa meruqyah. Tetapi, demi
Allah, kami telah meminta jamuan kepada kamu namun kamu tidak memberikannya
kepada kami. Oleh karena itu, aku tidak akan meruqyah untuk kalian sampai
kalian mau mejadikan untuk kami JU’AL (جعلا).”
Maka mereka pun sepakat untuk memberikan sekawanan
kambing, lalu ia pun pergi (mendatangi kepala kampung tersebut), kemudian
meniupnya dan membaca “Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin,” (surat Al Fatihah),
maka tiba-tiba ia seperti baru lepas dari ikatan, ia pun dapat berjalan kembali
tanpa merasakan sakit.
Kemudian mereka memberikan imbalan yang mereka
sepakati itu, kemudian sebagian sahabat berkata: “Bagikanlah.”
Tetapi sahabat yang meruqyah berkata:
“Jangan kalian lakukan sampai kita mendatangi Nabi ﷺ lalu kita sampaikan kepadanya masalahnya, kemudian
kita perhatikan apa yang Beliau perintahkan kepada kita.”
Kemudian mereka pun datang menemui Rasulullah ﷺ dan menyebutkan masalah itu.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda:
“Dari mana kamu tahu, bahwa Al Fatihah bisa sebagai ruqyah?”
Kemudian Beliau bersabda: “Kamu telah bersikap
benar! Bagikanlah dan sertakanlah aku bersama kalian dalam bagian itu.”
(HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201)
NOTE:
bahwa orang yang diruqyah dan dimintai JU’AL itu orang Kafir.
Dalam lafadz lain:
Diriwayatkan dari Sahabat Abi Said Al-Khudri
Radliyallahu ‘Anhu:
أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ،
فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ، فَقَالُوا: هَلْ
مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا، وَلاَ
نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ
الشَّاءِ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ،
فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ، فَقَالُوا: لاَ نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ
النَّبِيَّ ﷺ، فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ: «وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ،
خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ
Bahwa sekelompok sahabat mendatangi suatu kabilah
dari beberapa kabilah Arab, namun mereka tidak mempersilakan masuk terhadap
para sahabat. Hal itu terus berlangsung, sampai suatu ketika pemuka kabilah
tersebut digigit (ular).
Lalu mereka berkata: ‘Apakah kalian membawa obat
atau adakah orang yang bisa meruqyah?’
Para sahabat pun menjawab:
‘Kalian tidak mempersilakan masuk pada kami, kami
tidak akan meruqyahnya (mengobatinya) sampai kalian memberikan upah pada kami.’
Lalu mereka pun memberikan beberapa potongan
kambing sebagai upah, lalu seorang sahabat membaca Surat Al-Fatihah, dan
mengumpulkan air liurnya lalu mengeluarkannya (baca: melepeh) hingga sembuhlah
pemuka kabilah yang tergigit ular, dan mereka memberikan kambing.
Para sahabat berkata: ‘Kami tidak akan
mengambilnya, sampai kami bertanya pada Rasulullah.’
Mereka pun menanyakan perihal kejadian tersebut
pada Rasulullah, beliau lalu tertawa dan berkata:
" Dari mana kamu tahu bahwa itu Ruqyah?
Ambillah, dan berilah bagian untukku’.” (HR Bukhari no. 5736)
====
AMALAN SAHABAT KE 17:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
amalan sahabat yang di dapat dari syeithan.
Rosulullah ﷺ membenarkan
sebuah amalan yang diajarkan dari si pendusta jika kandungan amalan itu benar.
Dan beliau ﷺ membolehkan untuk mengamalkannya. Sebagaimana yang
terdapat dalam hadits shahih berikut ini:
Hadits Shahih Bukhari dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ،
فَأَخَذْتُهُ.
وَقُلْتُ وَاللَّهِ
لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
قَالَ إِنِّى مُحْتَاجٌ ،
وَعَلَىَّ عِيَالٌ ، وَلِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ.
قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ
فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ ﷺ:« يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ
الْبَارِحَةَ ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً
وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ.
قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ
كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ «.
فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ
لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِنَّهُ سَيَعُودُ. فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ
الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
قَالَ: دَعْنِى فَإِنِّى
مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ ، فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ
سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ.
فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
« يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ. قَالَ «
أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ «.
فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ
فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُودُ
ثُمَّ تَعُودُ.
قَالَ: دَعْنِى أُعَلِّمْكَ
كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا. قُلْتُ: مَا هُوَ ؟
قَالَ: " إِذَا أَوَيْتَ
إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ (اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ
الْحَىُّ الْقَيُّومُ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ
مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ".
فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ
فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ
الْبَارِحَةَ ».
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ
زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ
سَبِيلَهُ. قَالَ « مَا هِىَ ؟ ».
قُلْتُ: قَالَ لِى: إِذَا
أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى
تَخْتِمَ (اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ) وَقَالَ لِى لَنْ
يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى
تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ.
فَقَالَ النَّبِىُّ ﷺ « أَمَا
إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ
لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ؟».
قَالَ لاَ. قَالَ « ذَاكَ
شَيْطَانٌ»
Artinya:
Rasulullah ﷺ pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat
Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan
dan mengambilnya.
Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar
akan mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ.”
Lalu ia berkata: “Aku ini benar-benar dalam keadaan
butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.”
Abu Hurairah berkata: “Aku membiarkannya. Lantas di
pagi hari, Nabi ﷺ berkata
padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?”
Aku pun menjawab: “Wahai Rasulullah, dia mengadukan
bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku
begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.”
Nabi ﷺ bersabda:
“Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“
Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana
yang Rasulullah ﷺ katakan.
Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia
mengambilnya.
Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan
mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ.”
Lalu ia berkata: “Biarkanlah aku, aku ini
benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan
kembali setelah ini.”
Abu Hurairah berkata: “Aku pun menaruh kasihan
padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi ﷺ berkata
padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?”
Aku pun menjawab: “Wahai Rasulullah, dia mengadukan
bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku
begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.”
Nabi ﷺ bersabda:
“Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“
Pada hari ketiga: aku terus mengawasinya, ia pun
datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya.
Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan
mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan
tidak akan kembali namun ternyata masih kembali.
Ia pun berkata: “Biarkan aku. Aku akan mengajari
suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.”
Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?”
Ia pun menjawab: “Jika engkau hendak tidur di
ranjangmu, bacalah ayat kursi: ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘
hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Maka Allah akan senantiasa menjagamu
dan Syaithon tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.”
Abu Hurairah berkata: “Aku pun melepaskan dirinya
dan ketika pagi hari Rasulullah ﷺ bertanya
padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?”
Abu Hurairah menjawab: “Wahai Rasulullah, ia
mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika
membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.”
Nabi ﷺ bertanya,
“Apa kalimat tersebut?”
Abu Hurairah menjawab: “Ia mengatakan padaku, jika
aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai
yaitu bacaan: ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’........
Lalu ia mengatakan padaku: bahwa Allah akan
senantiasa menjagaku dan Syaithon pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.
Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan
kebaikan.”
Nabi ﷺ pun
bersabda: “Adapun dia, untuk kali ini sungguh telah berkata benar pada mu,
padahal aslinya dia itu pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu
sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?”
Dia menjawab: “Tidak”.
Lalu Nabi ﷺ berkata:
“Dia adalah Syaithon.” (HR. Bukhari no. 2311).
===
AMALAN SAHABAT KE 18:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
Sahabat yang sujud diatas bajunya dalam sholat ketika lantai Masjid panas kena
terik matahari:
Dari [Anas bin Malik] berkata:
"كُنَّا نُصَلِّي مع النبيِّ ﷺ،
فَيَضَعُ أحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِن شِدَّةِ الحَرِّ في مَكَانِ
السُّجُودِ"
"Kami shalat bersama Nabi ﷺ,
lalu salah seorang dari kami meletakkan salah satu dari ujung bajunya di
tempat sujudnya karena panasnya tempat sujud."
[HR. Bukhori no. 372 dan Muslim no. 620]
===
AMALAN SAHABAT KE 19:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
sahabat yang junub, lalu mengimami shalat dengan bertayammum tanpa mandi junub
terlebih dahulu karena takut kedinginan:
Dari Abdirrahman ibn Jubair, dari ‘Amr bin ‘Ash, ia
berkata:
" احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ
فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ
فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ
لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ
فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنْ الاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ
اللَّهَ يَقُولُ: ﴿وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ
رَحِيمًا﴾ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا "
Aku mimpi basah (junub) di suatu malam yang dingin
di Perang Dzatu as-Salaasil. Aku khawatir jika aku mandi (janabah) aku akan
binasa (mati/sakit), maka aku pun bertayammum. Lalu aku memimpin sholat Shubuh
para sahabatku. Kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ.
Maka beliau ﷺ bertanya:
" Wahai Amr, apakah engkau memimpin sholat para sahabatmu sedangkan engkau
dalam keadaan junub? ".
Maka aku ceritakan alasan yang menghalangiku untuk
mandi (janabah). Aku pun berkata: Sesungguhnya aku mendengar Allah SWT
berfirman:
﴿وَلا
تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴾
Janganlah kalian bunuh diri kalian sendiri,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian (QS An-Nisa: 29).
Maka Rasulullah ﷺ pun
tertawa dan beliau tidak mengatakan apa-apa.
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (334). Dan Al-Bukhari
meriwayatkan nya dengan cara mu'allaq].
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Abi Dawud (323)
===
AMALAN SAHABAT KE 20:
Taqrir Nabi ﷺ dan
izinnya terhadap para sahabat yang berpuasa dalam safar dan yang tidak
berpuasa.
Ada beberapa hadist, diantaranya sbb:
Pertama:
hadits Abu Sa’id Al-Khudri dan Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma,
keduanya mengatakan:
سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ فَيَصُومُ الصَّائِمُ وَيُفْطِرُ الْمُفْطِرُ فَلَا يَعِيبُ بَعْضُهُمْ عَلَى
بَعْضٍ
Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ. Ada
orang-orang yang berpuasa dan ada orang-orang yang tidak berpuasa. Sebagian
mereka tidak mencela sebagian yang lain.
[HR. Muslim no. 1117]
Kedua:
hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى
الصَّائِمِ
“Kami pernah bersafar bersama Rasulullah, yang
berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka juga tidak mencela yang
berpuasa.”
(HR. Al-Bukhari No. 1947; HR. Muslim No. 1121)
Ketiga:
Dari Anas bin Malik dari Hamzah bin 'Amru:
أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ عَنْ الصَّوْمِ فِي السَّفَرِ قَالَ إِنْ شِئْتَ أَنْ تَصُومَ فَصُمْ وَإِنْ
شِئْتَ أَنْ تُفْطِرَ فَأَفْطِرْ
Bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang puasa dalam perjalanan? Beliau bersabda:
"Jika engkau ingin berpuasa, berpuasalah dan jika engkau ingin berbuka,
maka berbukalah."
[HR. Nasaa’i no. 2260] Hadits ini shahih
sebagaimana disebutkan oleh Dr. Hamzah Ahmad Az-Zain dalam Shihah Al-Ahadits Fima
Ittafaqa ‘Alaihi Ahl Al-Hadits 9/221 no. 17866]
Keempat: Dari Hamzah bin 'Amru al-Aslami, dia berkata;
كُنْتُ أَسْرُدُ
الصِّيَامَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي
أَسْرُدُ الصِّيَامَ فِي السَّفَرِ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ
فَأَفْطِرْ
"Di masa Rasulullah ﷺ aku
berpuasa terus-menerus. Lalu aku bertanya; "Wahai Rasulullah ﷺ,
aku puasa terus-menerus dalam perjalanan?
Maka beliau bersabda: "Jika engkau ingin
berpuasa, maka berpuasalah dan jika engkau ingin berbuka, maka
berbukalah."
[HR. Nasaa'i no. 2261] Di Shahihkan oleh al-Albaani
dalam Shahih an-Nasaa'i no. 2299.
Kelima:
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata:
أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو
الْأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ
الصِّيَامِ، فَقَالَ: إنَّ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
Bahwasanya Hamzah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Wahai Rasulullah ﷺ, aku berpuasa dalam perjalanan safar? [ia orang yang
banyak berpuasa]? Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika engkau ingin berpuasa, berpuasalah dan jika engkau ingin berbuka,
berbukalah."
[HR. Bukhori no. 1943 dan Nasaa'i no. 2267]
Keenam:
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata:
أَنَّ حَمْزَةَ الْأَسْلَمِيَّ
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ الصَّوْمِ فِي السَّفَرِ وَكَانَ رَجُلًا يَسْرُدُ
الصِّيَامَ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
Bahwasannya Hamzah Al Aslami pernah bertanya kepada
Rasulullah ﷺ tentang berpuasa dalam perjalanan -ia adalah orang
yang sering berpuasa-. Maka beliau bersabda: "Jika engkau ingin berpuasa,
maka berpuasalah dan jika engkau ingin berbuka, maka berbukalah."
[HR. Bukhori no. 1943, Muslim no. 1121 dan Nasaa'i
no. 2269]
Ketujuh:
Dari Abu Darda radhiyallahu anhu, dia berkata:
«خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، حَتَّى إنْ كَانَ أَحَدُنَا
لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ
إلَّا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَعبداللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ ».
"Kami pernah bepergian bersama Rosululloh ﷺ pada bulan Ramadhan ketika musim panas sekali,
sampai salah seorang diantara kami meletakan tangannya di atas kepalanya karena
panas yang sangat menyengat. Tidak ada yang berpuasa diantara kami kecuali
Rosululloh ﷺ dan Abdulloh bin Abi Rawahah”.
[HR. Bukhori no. 1945 dan Muslim no. 1122]
NAMUN:
ketika Nabi ﷺ melihat kondisi berpuasa dalam safar itu
membahayakan kesehatan dan nyawa atau ketika pergi berperang dan melihat lokasi
keberadaan musuh dalam peperangan sudah dekat, maka Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk segera berbuka
puasa, sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini:
KE 1:
dari Jabir bin 'Abdullah:
كانَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ في
سَفَرٍ، فَرَأَى زِحَامًا ورَجُلًا قدْ ظُلِّلَ عليه، فَقالَ: ما هذا؟ فَقالوا:
صَائِمٌ، فَقالَ: ليسَ مِنَ البِرِّ الصَّوْمُ في السَّفَرِ.
Bahwa Rasulullah ﷺ melihat
seseorang yang menaungi dirinya dengan sesuatu -karena panas dan dahaga- dalam
perjalanan, lalu beliau ﷺ bertanya:
Apa ini? Mereka menjawab: Dia berpuasa ".
Maka beliau bersabda: "Bukan termasuk
kebajikan berpuasa dalam perjalanan."
[HR. Bukhori no. 1946 dan Muslim no. 1115]
KE 2:
dari Jabir bin 'Abdullah:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَأَى
نَاسًا مُجْتَمِعِينَ عَلَى رَجُلٍ فَسَأَلَ فَقَالُوا رَجُلٌ أَجْهَدَهُ
الصَّوْمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah
melihat sekelompok orang yang sedang berkumpul mengerumuni seseorang, lalu
beliau bertanya? mereka menjawab; "Ia adalah orang yang sangat menderita
-karena- puasa." Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukan termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan." [HR. Nasaa'i
no. 2225]
KE 3:
Dari Jabir bin 'Abdullah:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ
بِرَجُلٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يُرَشُّ عَلَيْهِ الْمَاءُ قَالَ مَا بَالُ
صَاحِبِكُمْ هَذَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَائِمٌ قَالَ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ
الْبِرِّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ
Bahwa Rasulullah ﷺ melewati
seseorang yang berada di bawah naungan pohon, dirinya disiram air, beliau
bertanya: "Apa yang telah terjadi pada teman kalian ini?!" mereka
menjawab; "Wahai Rasulullah ﷺ, ia sedang berpuasa." Beliau
bersabda: "Bukan termasuk kebajikan jika kalian berpuasa dalam
perjalanan."
[HR. Bukhori no. 1942, 1943 dan Muslim no. 1121]
Dan diriwayatkan Nasaa'i no. 2226 dengan tambahan
lafadz akhir:
وَعَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ
اللَّهِ الَّتِي رَخَّصَ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا
" Dan hendaklah kalian mengambil
keringanan yang Allah berikan kepada kalian, terimalah keringanan
tersebut"
Di Shahihkan oleh al-'Aini dalam نخب الأفكار (8/234). Ibnu al-Qoththon berkata: Isnadnya hasan
muttashil sebagaimana yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar dlm at-Talkhish
2/393
Ke 4:
Dari Jabir, dia berkata;
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى
مَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ
فَصَامَ النَّاسُ فَبَلَغَهُ أَنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمْ الصِّيَامُ
فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ الْمَاءِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَشَرِبَ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
فَأَفْطَرَ بَعْضُ النَّاسِ وَصَامَ بَعْضٌ فَبَلَغَهُ أَنَّ نَاسًا صَامُوا
فَقَالَ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ
Rasulullah ﷺ berangkat
ke Mekkah pada tahun kemenangan kota Mekkah di bulan Ramadlan, lalu beliau
berpuasa hingga sampai di Kura' Al Ghamim dan orang-orang ikut berpuasa,
kemudian berita sampai kepada beliau, bahwa orang-orang merasa berat untuk
berpuasa.
Lalu setelah Ashar beliau meminta segelas air,
kemudian minum dan orang-orang melihatnya, maka sebagian orang berbuka dan
sebagian lainnya berpuasa, setelah sampai berita kepada beliau bahwa -ada
sebagian- orang yang berpuasa.
Beliau ﷺ bersabda:
"Mereka adalah orang-orang yang durhaka."
[HR. Muslim no. 1140, Nasaa'i no. 2230]
KE 5:
Dari Ibnu Abbas ia berkata:
«خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَامَ
الْفَتْحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى مَرَّ بِغَدِيرٍ فِي الطَّرِيقِ،
وَذَلِكَ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ، قَالَ: فَعَطِشَ النَّاسُ، فَجَعَلُوا
يَمُدُّونَ أَعْنَاقَهُمْ وَتَتُوقُ أَنْفُسُهُمْ إلَيْهِ، قَالَ: فَدَعَا رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ، فَأَمْسَكَهُ عَلَى يَدِهِ حَتَّى رَآهُ
النَّاسُ، ثُمَّ شَرِبَ فَشَرِبَ النَّاسُ»
Rasulullah ﷺ keluar
ke Makkah pada tahun penaklukan Makkah di bulan Ramadlan, lalu beliau berpuasa
hingga melewati sungai di perjalanan, dan itu ketika telah terik matahari. Ia
berkata; Maka orang-orang merasa haus hingga mereka mendongakkan leher-leher
mereka dan jiwa mereka sangat menginginkannya. Ia berkata lagi; Lalu Rasulullah
ﷺ meminta wadah yang berisi air kemudian beliau
memegang dengan tangannya hingga orang-orang melihatnya. Kemudian beliau minum,
maka orang-orang pun ikut minum.
[HR. Ahmad 1/366 dan Imam Bukhori dlam Shahih nya
secara Mu'allaq 3/8]
KE 6:
Dari Abu Sa'id al Khudriy radhiallahu anhu berkata:
سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ إِلَى مَكَّةَ -يعني في فتح مكة- وَنَحْنُ صِيَامٌ ، فَنَزَلْنَا
مَنْزِلا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّكُمْ قَدْ دَنَوْتُمْ مِنْ
عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ. فَكَانَتْ رُخْصَةً ، فَمِنَّا مَنْ
صَامَ ، وَمِنَّا مَنْ أَفْطَرَ ، ثُمَّ نَزَلْنَا مَنْزِلا آخَرَ ، فَقَالَ:
إِنَّكُمْ مُصَبِّحُو عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ ، فَأَفْطِرُوا.
وَكَانَتْ عَزْمَةً فَأَفْطَرْنَا. ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتَنَا نَصُومُ بَعْدَ
ذَلِكَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي السَّفَرِ
'Kami pernah mengadakan perjalanan bersama Nabi ﷺ ke Mekkah, yakni fathu Mekkah, ketika itu kami
dalam keadaan berpuasa.
Lalu kami singgah di sebuah tempat, maka Rasulullah
ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya kalian telah mendekati musuh,
maka berbuka lebih menguatkan kalian."
Dan itu merupakan rukhsah (dispensasi) bagi kami.
Di antara kami ada yang tetap berpuasa. Dan sebagian kami berbuka.
Lalu kami singgah di tempat lain, beliau bersabda:
"Sesungguhnya kalian sudah berada di depan
musuh, dan berbuka lebih menguatkan kalian, maka berbukalah."
Abu Said berkata: ini adalah sebuah
azimah/keharusan. Sehingga kami pun berbuka.”
Kemudian Anda telah melihat kami berpuasa setelah
itu dengan Rasulullah ﷺ saat
bepergian. [HR. Muslim no. 1120]
====
AMALAN SAHABAT KE 21:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
wanita muslimah yang berpisah dari suaminya yang masih musyrik, lalu kumpul
kembali dengan suaminya setelah suaminya masuk Islam, tanpa memeperbaharui akad
nikah.
Dari Ikrimah bin Khalid radhiyallahu 'anhu:
أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ
فَرَّ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَكَتَبَتْ إِلَيْهِ امْرَأَتُهُ فَرَدَّتْهُ فَأَسْلَمَ،
وَكَانَتْ قَدْ أَسْلَمَتْ قَبْلَ ذَلِكَ، فَأَقَرَّهُمَا النَّبِيُّ ﷺ عَلَى نِكَاحِهِمَا.
“Bahwa Ikrimah bin Abi Jahal melarikan diri pada
hari penaklukan Makkah. Lalu istrinya menulis surat kepadanya, maka dengan
surat itu istrinya bisa mengembalikanya ke Makkah, lalu Ikrimah pun memeluk
Islam. Sementara istrinya telah masuk Islam sebelum itu. Lalu Nabi ﷺ mentaqrir [menyetujui] mereka untuk pernikahan
mereka
[Yakni: pernikahan mereka berdua sebelum Islam,
padahal ketika istrinya masuk Islam, suaminya masih tetap musyrik. Kemudian
ketika suaminya menyusul masuk Islam, Nabi ﷺ tidak
menyuruh mereka berdua untuk mengulang akada nikahnya].
[HR. Abdurrozzaaq dalam al-Muhonnaf no. 12647]
Syeikh al-Albaani berkata dalam Irwaa al-Ghaliil
6/340:
مُرْسَلٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ
Mursal Shahih Sanadnya
====
AMALAN SAHABAT KE 22:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
hiburan para sahabat, bersenang-senang dan bermain-main di Masjid, di Rumah
atau lainnya
KE 1:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyaalu 'anha, dia
berkata:
دَخَلَتِ الْحَبَشَةُ الْمَسْجِدَ
يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: يَا حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّينَ أَنْ تَنْظُرِي
إِلَيْهِمْ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ.
فَقَامَ بِالْبَابِ، وَجِئْتُهُ،
فَوَضَعْتُ ذَقْنِي عَلَى عَاتِقِهِ، وَأَسْنَدْتُ وَجْهِي إِلَى خَدِّهِ. قَالَتْ:
وَمِنْ قَوْلِهِمْ يَوْمَئِذٍ: أَبَا الْقَاسِمِ طَيِّبًا.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: حَسْبُكِ.
فَقُلْتُ: لَا تَعْجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ.
فَقَامَ لِي، ثُمَّ قَالَ: حَسْبُكِ.
قُلْتُ: لَا تَعْجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ.
قَالَتْ: وَمَا لِي حُبُّ النَّظَرِ
إِلَيْهِمْ، وَلَكِنِّي أَحْبَبْتُ أَنْ يَبْلُغَ النِّسَاءَ مَقَامُهُ لِي وَمَكَانِي
مِنْهُ.
Bahwa suatu ketika orang-orang Habasyah masuk
masjid dan menunjukkan atraksi permainan.
Lalu Rasulullah ﷺ berkata
kepadaku:
يَا حُمَيْرَاءُ أَتُحِبِّيْنَ
أَنْ تَنْظُرِي إِلَيْهِمْ
“Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?”
Lalu aku menjawab: “Iya.” Maka Nabi ﷺ berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku
letakkan daguku pada pundak Rasulullah ﷺ dan
aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.”
Lalu ia mengatakan: “Di antara perkataan mereka
tatkala itu adalah:
أباَ القاسم طيِّبًا
‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.”
Maka Rasulullah mengatakan, “Apakah sudah cukup
wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.”
Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi mengulangi
lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab:
“Jangan terburu-buru wahai Rasulullah,
Lalu pada akhir hadits, Aisyah mengatakan:
وَمَالِيَ حُبُّ النَّظَرِ
إِلَيْهِمْ وَلَكِنِّي أَحْبَبْتُ أَنْ يَبْلُغَ النِّسَاءَ مَقَامُهُ لِيْ
وَمَكاَنِي مِنْهُ
“Sebenarnya bukan karena aku senang melihat
permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita
bagaimana kedudukan Nabi ﷺ terhadapku
dan kedudukanku terhadapnya.”
[HR. An-Nasa'i dalam "Al-Sunan Al-Kubra"
(8951), dan Ath-Thahawi dalam "Sharh Mushkil Al-Atsaar" (292) dengan
sedikit perbedaan.]
Di Shahihkan oleh Ibnu al-Qoth-thon dalam
" أحكام النظر " no. 360.
Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Sanad hadits (yang
diriwayatkan oleh AN-Nasa’i) ini shahih dan tidak ada satupun hadits shahih
yang menyebutkan ‘humaira’ kecuali dalam hadits ini.” [Fathul Bari]
KE 2:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثَ، فَاضْطَجَعَ عَلَى
الْفِرَاشِ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ، وَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ
مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ
اللَّهِ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ فَقَالَ " دَعْهُمَا " فَلَمَّا
غَفَلَ غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا.
وَكَانَ يَوْمَ عِيدٍ يَلْعَبُ
السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالْحِرَابِ، فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَإِمَّا
قَالَ " تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ ". فَقُلْتُ نَعَمْ.
فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ خَدِّي عَلَى خَدِّهِ، وَهُوَ يَقُولُ " دُونَكُمْ
يَا بَنِي أَرْفِدَةَ ". حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ قَالَ " حَسْبُكِ
". قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ " فَاذْهَبِي ".
" (Pada Hari Raya) Rasulullah ﷺ masuk
menemuiku, ketika itu di sisiku ada dua budak perempuan yang sedang bernyanyi,
menyanyikan lagu-lagu (tentang perang) Bu'ats (Yakni peperangan terakhir antara
dua suku Ansar, Khazraj dan Aus, sebelum Islam Pen.).
Lalu beliau ﷺ berbaring
di atas Tikar sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Kemudian masuklah Abu
Bakar sambil membentakku, dengan mengatakan:
"Seruling-seruling syeitan (kalian
perdengarkan) di hadapan Nabi ﷺ!"
Rasulullah ﷺ lantas
menghadapkan pandangannya kepada Abu Bakar seraya berkata:
"Biarkanlah keduanya (bernyanyi)."
Dan ketika beliau sudah tidak menghiraukan lagi,
maka aku segera memberi isyarat kepada kedua budak tersebut agar lekas pergi,
lalu keduanya pun pergi.
Saat itu adalah Hari Raya ('Ied). Dan ada
budak-budak hitam yang mempertontonkan kebolehannya dalam mempermainkan tombak
dan perisai.
Maka terkadang aku sendiri yang meminta kepada Nabi
ﷺ dan terkadang beliau ﷺ yang
menawarkan kepadaku:
"Apakah kamu mau melihatnya (menonton
nya)?"
Maka akupun jawab, "Ya, mau."
Lalu beliau menempatkan aku berdiri di belakangnya,
sementara pipiku bertemu dengan pipinya sambil beliau berkata: "Teruskan,
hai Bani Arfadah!"
Demikianlah seterusnya sampai aku merasa bosan,
lalu beliau berkata: "Apakah kamu merasa sudah cukup?" Aku jawab,
"Ya, sudah." Beliau lalu berkata: "Kalau begitu pergilah."
(HR. Bukhori no. 949 & 950)
Al-Haafidz Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fathul Baari
2/442:
قَوْلُهُ: «وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ»:
وَفِي رِوَايَةِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ: «دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ»، وَكَأَنَّهُ
جَاءَ زَائِرًا لَهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ بَيْتَهُ». انْتَهَى.
Perkataan: “ Dan Abu Bakar datang “ lafadz dalam
riwayat Hisham bin Urwah: " Abu Bakar masuk menemuiku " seolah-olah
dia datang sebagai PENGUNJUNG bersilaturrahmi kepada Aisyah setelah Nabi ﷺ datang dan masuk ke rumah ‘Aisyah. (selesai
perkataan Ibnu Hajar).
Saya katakan: Hadits tsb mengisyaratkan bolehnya berkumpul dan
bersilaturrahmi dengan keluarga dan lainnya. Bahkan bolehnya nonton hiburan
bareng-bareng.
===
AMALAN
SAHABAT KE 23:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
hiburan dalam walimah nikah para sahabatnya:
Ada beberapa hadits, di antaranya adalah sbb:
Pertama: Hadits
Rabi’ binti Mu’awwadz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anha, dia menceritakan:
دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ
غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي،
وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ
يَوْمَ بَدْرٍ، حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي
غَدٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ
”Nabi ﷺ datang
menemuiku pada pagi hari ketika aku menikah, lalu beliau ﷺ duduk di atas tempat tidurku seperti kamu duduk di
dekatku.
Lalu gadis-gadis kecil kami memukul rebana dan
mengenang kebaikan bapak-bapak kami yang gugur dalam perang Badar.
Ketika salah seorang dari mereka melantunkan kata:
وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا
فِي غَدٍ
’Dan di tengah kita ada seorang Nabi yang
mengetahui apa yang akan terjadi besok’
Maka beliau ﷺ berkata:
’Tinggalkan (perkataan) itu, dan katakanlah apa yang telah engkau ucapkan
sebelumnya.’”
(HR. Bukhari no. 4001, Abu Dawud no. 4922, dan
Tirmidzi no. 1090)
Hadits ini menunjukkan bahwa nyanyian (sebagai
perbuatan tersendiri) menjadi haram jika mengandung perkataan yang bertentangan
dengan agama.
Asy Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar
berkata:
“Hadits tersebut mengandung dalil bolehnya ditabuh
rebana dalam pesta pernikahan. Boleh juga didendangkan kalimat-kalimat semisal
(syair), seperti: kami datang kami datang dst. Asalkan bukan lagu yang
membangkitkan kekejian dan kejahatan.”
Kedua: Hadits
Aisyah radhiallahu anha:
أنَّها زَفَّتِ امْرَأَةً إلى
رَجُلٍ مِنَ الأنْصارِ، فقالَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ: يا عائِشَةُ، ما كانَ معكُمْ
لَهْوٌ؟ فإنَّ الأنْصارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ
Dia ikut menghadiri pernikahan seorang wanita
dengan laki-laki dari kalangan Anshar. Maka Nabiyullah ﷺ bersabda:
يَا عَائِشَة مَا كَانَ
مَعَكُمْ لَهْوٌ ؟ فَإِنَّ الْأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمْ اللَّهْوُ
“Wahai Aisyah, apakah kalian tidak memiliki hiburan
[menabuh rebana dan nyayi-nyayi]? Sesungguhnya orang-orang Anshar menyenangi
hiburan.” (HR. Bukhari, no. 4765).
Dalam al-Mausu'ah al-Haditsiyah di jelaskan:
والمرادُ باللَّهْوِ: ضَربُ
الدُّفِّ والتَّغنِّي بشِعرٍ ليس فيه إثمٌ، وليس بالأغانِي المُهيِّجةِ للشُّرورِ
المُشتملةِ على وَصْفِ الجَمالِ والفُجورِ، والمُصاحبةِ لأنواع المعازِفِ
المُختلِفةِ؛ فإنَّ ذلك مَنْهيٌّ عنه في النِّكاحِ كما في غيرِه، وقوله: «فإنَّ
الأنصارَ يُعجبُهمُ اللَّهوُ» أي: يُحبُّون مِثلَ هذا النَّوعَ مِن اللَّهْوِ؛
لِمَا فيهم مِن الرِّقَّةِ وحُبِّ الفَرَحِ.
وفي الحَديثِ: مُراعاةُ أعرافِ
المُجتمَعِ بما لا يُخالِفُ شَرْعَ اللهِ عزَّ وجلَّ.
وفيه: مَشروعيَّةُ خُروجِ
المرأةِ مِن بَيْتِها لأمرٍ مُباحٍ.
وفيه: مشاركةُ المرأةِ غَيْرَها
من النِّساءِ في الأفراحِ والمناسَباتِ.
Yang dimaksud dengan al-Lahwu dalam hadits adalah:
Memukul rebana dan menyanyikan lagu-lagu dengan
puisi yang tidak ada kata-kata mengandung dosa di dalamnya, dan bukan dengan
lagu-lagu yang membangkitkan keburukan, seperti yang mengandung deskripsi
tentang kecantikan dan kekejian serta diiringi dengan berbagai macam jenis alat
musik, yang mana hal ini adalah diharamkan dalam pernikahan dan yang lainnya.
Dan perkataan beliau ﷺ: “Orang Anshar menyukai hiburan” artinya:
mereka menyukai hiburan semacam ini ; Karena pada diri mereka terdapat
kelembutan dan karena kecintaan mereka akan hal-hal yang menggembirakan.
Dan dalam hadits terdapat faidah-faidah sbb:
1]. Melestarikan adat istiadat masyarakat dengan
cara yang tidak melanggar hukum Allah SWT.
2]. Di syariatkannya bagi seorang wanita
meninggalkan rumahnya untuk hal yang diperbolehkan.
3]. Partisipasi wanita dengan wanita lain dalam
acara-acara bersuka ria dan acara-acara lainnya yang berhubungan dengan sesuatu
".
===
AMALAN SAHABAT KE 24:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
budak wanita hitam yang memainkan musik Duff dan bernyanyi di hadapan beliau
dalam rangka menunaikan nadzarnya.
Dari Abdullah bin Bardah dari bapaknya,:
أَنَّ أَمَةً سَوْدَاءَ أَتَتْ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ -وَرَجَعَ مِنْ بَعْضِ مَغَازِيهِ- فَقَالَتْ: إِنِّي كُنْتُ نَذَرْتُ إِنْ
رَدَّكَ اللَّهُ صَالِحًا (وَفِي رِوَايَةٍ: سَالِمًا) أَنْ أَضْرِبَ عِنْدَكَ بِالدُّفِّ
[وَأَتَغَنَّى]؟
قَالَ: «إِنْ كُنْتِ فَعَلْتِ (وَفِي
الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى: نَذَرْتِ)، فَافْعَلِي، وَإِنْ كُنْتِ لَمْ تَفْعَلِي فَلَا
تَفْعَلِي».
فَضَرَبَتْ، فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ
وَهِيَ تَضْرِبُ، وَدَخَلَ غَيْرُهُ وَهِيَ تَضْرِبُ.
ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ، قَالَ: فَجَعَلَتْ
دُفَّهَا خَلْفَهَا، (وَفِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى: تَحْتَ اسْتِهَا ثُمَّ قَعَدَتْ
عَلَيْهِ)، وَهِيَ مُقَنَّعَةٌ.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ
الشَّيْطَانَ لَيَفِرُّ (وَفِي رِوَايَةٍ: لَيَخَافُ) مِنْكَ يَا عُمَرُ! أَنَا جَالِسٌ
هَهُنَا [وَهِيَ تَضْرِبُ]، وَدَخَلَ هَؤُلَاءِ [وَهِيَ تَضْرِبُ]، فَلَمَّا أَنْ دَخَلْتَ
[أَنْتَ يَا عُمَرُ] فَعَلَتْ مَا فَعَلَتْ، (وَفِي الرِّوَايَةِ: أَلْقَتِ الدُّفَّ).
“Sesungguhnya budak perempuan hitam menghampiri Rasulullah ﷺ - sepulang salah satu dari perang-nya -.
Lalu dia berkata: " sesungguhnya saya bernadzar jika Allah memulangkan
engkau dalam keadaan selamat, saya akan menabuh rebana dan bernyanyi.
Rasulullah ﷺ menjawab:
" Kalau kamu bernadzar, maka lakukanlah. Tapi kalau kalau kamu tidak nadzar,
maka jangan kamu lakukan!".
Maka ia menabuh rebana.
Lalu Abu Bakar masuk, namun ia tetap menabuh rebana
dan menyanyi. Dan yang lain juga masuk, dan ia pun tetap menabuh rebana dan
menyanyi.
Lalu Umar masuk, maka ia segera menaruh rebana itu
di belakangnya.
Sebagian riwayat menyebutkan: ditaruh di bawah
bokongnya dan didudukinya. Ia diam.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
" Sesungguhnya setan benar-benar takut padamu
wahai Umar. Aku duduk di sini, lalu orang-orang ini masuk dan ia tetap
memainkan Rebana.
Namun begitu kamu masuk, wahai Umar, dia langsung
berhenti seperti itu.
Sebagian riwayat: " melempar rebananya”.
(HR. Turmudzi 2/293-294, Ibnu Hibbaan no. 1193 dan
2186, Baihaqi 10/77 dan Imam Ahmad 5/353 dan 356].
Turmudzi berkata: Hadits Hasan Shahih Ghoriib “.
Hadits ini di shahihkan oleh Ibnu Hibbaan dan Ibnu
al-Qath-than sebagaimana yang disebutkan oleh al-Albaani dlm ash-Shahihah no.
1609 dan 2261.
Dan Syeikh al-Baani dalam إرواء
الغليل (8/218)
berkata: Sanadnya Shahih sesuai syarat Muslim
SUBHANALLAH! seorang budak perempuan hitam tidak
takut kepada Rosulullah ﷺ, akan tetapi takut kepada Umar. Ini menunjukkan kelemah
lembutan karakater Nabi ﷺ.
===
AMALAN SAHABAT KE 25:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
Nadzar wanita bermain alat musik Duff di hadapan Nabi ﷺ. Dan
Nadzar menyembelih kurban di sebuah tempat diluar hari Raya Idul Adlha.
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash:
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ
النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَضْرِبَ عَلَى
رَأْسِكَ بِالدُّفِّ قَالَ أَوْفِي بِنَذْرِكِ قَالَتْ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ
أَذْبَحَ بِمَكَانِ كَذَا وَكَذَا مَكَانٌ كَانَ يَذْبَحُ فِيهِ أَهْلُ
الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ لِصَنَمٍ قَالَتْ لَا قَالَ لِوَثَنٍ قَالَتْ لَا قَالَ
أَوْفِي بِنَذْرِكِ
Bahwasanya seorang perempuan datang kepada
Rasulullah ﷺ lalu berkata:
"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bernadzar
untuk memukul rebana di hadapanmu."
Rasulullah ﷺ berkata:
"Laksanakanlah nadzarmu itu!
Perempuan tersebut berkata: "Sesungguhnya aku
bernadzar menyembelih di tempat ini dan itu - tempat yang biasa digunakan
menyembelih orang-orang Jahiliyah -.
Rasulullah ﷺ bertanya:
"Apakah untuk berhala?"
Perempuan itu menjawab: "Tidak."
Rasulullah ﷺ bertanya
lagi: "Untuk patung?"
Perempuan itu menjawab: "Tidak."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tepatilah nadzarmu itu!"
[HR. Abu Daud No. 3312 dan Baihaqi no. 20596]
Di Hasankan oleh al-Albaani dalam Al-Irwa' no.
(4587), Takhriij al-Misykaat no. 3371. Sementara dalam Shahih Abu Daud No.
3312, beliau mengatakan: Hasan Shahih.
====
AMALAN SAHABAT KE 26:
Taqriir Nabi ﷺ terhadap
amalan sahabat yang bernadzar menyembelih kurban di sebuah tempat diluar Hari
Raya Idul Adlha.
Ada beberapa riwayat:
Ke 1:
Dari Tsabit bin Adh-Dhahak Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ
رَسُولِ اَللَّهِ ﷺ أَنْ يَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ, فَأَتَى رَسُولَ اَللَّهِ ﷺ
فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ يُعْبَدُ? قَالَ: لَا. قَالَ:
فَهَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ? فَقَالَ: لَا. فَقَالَ: أَوْفِ
بِنَذْرِكَ; فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اَللَّهِ, وَلَا فِي
قَطِيعَةِ رَحِمٍ, وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ اِبْنُ آدَمَ
Pada zaman Rasulullah ﷺ ada
seorang laki-laki yang bernadzar bahwa dia akan berqurban Unta di Buwanah. Lalu
dia mendatangi Rasulullah ﷺ.
Lalu nabi pun bertanya kepadanya: “Apakah di sana
ada berhala yang disembah?” Beliau menjawab: ” Tidak.”
Nabi ﷺ bertanya
lagi: “Apakah di sana dirayakah salah satu hari raya mereka?” Beliau menjawab:
“Tidak.”
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
“Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar yang mengandung
maksiat kepada Allah, nadzar untuk memutuskan silaturahim, dan tidak pula
nadzar pada harta yang tidak dimiliki manusia.”
(HR. Abu Daud no. 3313 dan ini adalah lafadznya.Di
riwayatkan pula oleh Ath-Thabarani no. 2/76 no. 1341 dan al-Baihaqi no. 20634.
Di Shahihkan isnadnya oleh al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam Buluughul Maram dan oleh al-Jawroqooni dalam al-Abaathiil wal Manaakiir
2/202 dan al-Albaani dalam al-Misykaah no. 3437)
Ke 2: Dalam
Sunan Abu Daud No. 3314. Dari Maimunah binti Kardam, ia berkata:
خَرَجْتُ مَعَ أَبِي فِي
حِجَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَسَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَجَعَلْتُ أُبِدُّهُ بَصَرِي فَدَنَا إِلَيْهِ أَبِي وَهُوَ
عَلَى نَاقَةٍ لَهُ مَعَهُ دِرَّةٌ كَدِرَّةِ الْكُتَّابِ فَسَمِعْتُ الْأَعْرَابَ
وَالنَّاسَ يَقُولُونَ الطَّبْطَبِيَّةَ الطَّبْطَبِيَّةَ فَدَنَا إِلَيْهِ أَبِي
فَأَخَذَ بِقَدَمِهِ قَالَتْ فَأَقَرَّ لَهُ وَوَقَفَ فَاسْتَمَعَ مِنْهُ فَقَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ وُلِدَ لِي وَلَدٌ ذَكَرٌ أَنْ أَنْحَرَ
عَلَى رَأْسِ بُوَانَةَ فِي عَقَبَةٍ مِنْ الثَّنَايَا عِدَّةً مِنْ الْغَنَمِ
قَالَ لَا أَعْلَمُ إِلَّا أَنَّهَا قَالَتْ خَمْسِينَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
هَلْ بِهَا مِنْ الْأَوْثَانِ شَيْءٌ قَالَ لَا قَالَ فَأَوْفِ بِمَا نَذَرْتَ
بِهِ لِلَّهِ قَالَتْ فَجَمَعَهَا فَجَعَلَ يَذْبَحُهَا فَانْفَلَتَتْ مِنْهَا
شَاةٌ فَطَلَبَهَا وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَوْفِ عَنِّي نَذْرِي فَظَفِرَهَا
فَذَبَحَهَا
Aku keluar bersama ayahku dalam haji yang dilakukan
oleh Rasulullah ﷺ, lalu aku melihat Rasulullah ﷺ dan
aku mendengar orang-orang berkata: "Rasulullah."
Pandanganku terus mengikuti Rasulullah, lalu ayahku
mendekatinya dalam keadaan berkendaraan onta dan membawa cambuk seperti cambuk
para juru tulis.
Aku mendengar orang-orang badui dan yang lain
berkata: "Pembawa cambuk! Pembawa cambuk!".
Ayahku mendekati Rasulullah lalu memegang kakinya.
Maimunah melanjutkann kisahnya:
Kemudian ayahku mengakui (risalah Rasulullah ﷺ) dan
berdiri mendengarkannya. Setelah itu ayahku berkata:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bernadzar,
jika mempunyai anak laki-laki, aku akan menyembelih beberapa kambing di atas
Gunung Buwanah, yaitu di jalan tanjakan gunung."
-Perawi hadits berkata: Aku tidak tahu kecuali
perempuan (Maimunah) itu mengucapkan lima puluh (50) ekor kambing –
Rasulullah ﷺ bertanya:
"Apakah di sana ada berhalanya?" Ayahku menjawab, "Tidak."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tepatilah apa yang kamu nadzarkan itu karena Allah.'"
Maimunah melanjutkan kisahnya:
Kemudian ayahku mengumpulkan kambing-kambing itu
dan menyembelihnya. Akan tetapi ada satu kambing yang terlepas, lalu ayahku
mengejarnya dan berdoa:
"Ya Allah, tepatilah dariku nadzarku."
Maka kambing yang terlepas itu tertangkap lalu
disembelih ayahku.
(Di shahihkan al-Albaani dalam Shahih Abu Daud no.
3314 dan Ibnu Majah no. 2131).
Ke 3:
Dalam Sunan Abu Daud No. 3315. Dari Maimunah binti Kardam bin Sufyan dari
ayahnya... seperti hadits di atas.
قَالَ هَلْ بِهَا وَثَنٌ أَوْ
عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِ الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ لَا قُلْتُ إِنَّ أُمِّي هَذِهِ
عَلَيْهَا نَذْرٌ وَمَشْيٌ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا وَرُبَّمَا قَالَ ابْنُ بَشَّارٍ
أَنَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah di sana ada berhalanya atau ada hari raya Jahiliyah?" Ayahku
menjawab, 'Tidak."
Aku berkata: "Sesungguhnya ibuku mempunyai
nadzar BERJALAN, apakah aku menunaikan nadzar ibuku itu?"
-terkadang Ibnu Basyar (perawi) meriwayatkan:
Apakah kami yang menunaikan nadzar ibuku itu?—
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ya."
(Di shahihkan al-Albaani dalam Shahih Ibnu Majah
no. 2131).
====
AMALAN SAHABAT KE 27:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
sahabat yang memainkan alat musik sejenis kecapi:
Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas (radhiyallahu ‘anhu):
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ
وقَدْ رَشَّ حَسَّانُ فِنَاءَ أَطِمِهِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ سِمَاطَينِ
وَبَيْنَهُمْ جَارِيةٌ لِحسَّانَ يُقَالُ لَـهَا سِيرِينُ، وَمَعَهَا مِزْهَرٌ
لَهَا تُغَنِّيهِمْ وَهِيَ تَقُولُ فِي غِنَائِهَا:
هَلْ عَلَيَّ وَيْحَكُمْ * إنْ
لَهَوْتُ مِنْ حَرَجٍ.
فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ،
وَقَالَ: لَا حَرَجَ
Bahwasanya Rasulullah ﷺ keluar
ketika Hassan (radhiyallahu ‘anhu) telah menyirami halaman tempat tinggalnya,
sementara para sahabat (radhiyallahu ‘anhu) duduk dua shaf, di tengah-tengah
mereka budak perempuan milik Hassan (radhiyallahu ‘anhu) bernama Sirin membawa
mizhar-nya (sejenis alat musik berdawai seperti kecapi) berdendang untuk para
sahabat. Dalam nyanyiannya dia mengatakan:
“Celaka! Apakah ada dosa atas diriku jika aku
berdendang?”
Maka Rasulullah ﷺ tersenyum
seraya bersabda: “Tidak mengapa (tidak ada dosa atas dirimu).”
DERAJAT KESHAHIHAN HADITS:
Ibnu ‘Asaakir menyebutkan hadits Abdullah bin
‘Abbas (radhiyallahu ‘anhu) di atas dalam kitab beliau Tarikh Dimasyq (12/415)
dari jalan Abu Uwais, dari Al-Husain bin Abdillah, dari ‘Ikrimah, dari Abdullah
bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (radhiyallahu ‘anhu).
Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah ﷺ,
bahkan tergolong hadits yang maudhu’ (palsu).
Abul Faraj Ibnul Jauzi memasukkannya dalam kitab
beliau Al-Maudhu’aat (3/115-116) pada bab Fi Ibahatil Ghina (Bab Tentang
Bolehnya Nyanyian).
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam takhrij
risalah "Adaa Maa Wajaba Min Bayan Wadh'il Wadhdha'iin fi Rajab"
karya Abu Khoth-thob (hal. 150) mengatakan bahwa hadits ini bathil.
===
AMALAN SAHABAT KE 28:
Amalan para sahabat saling mengucapkan " تَقبَّلَ اللهُ مِنَّا ومِنْكُم " pada hari Raya terhadap sesama
sahabat yang lain.
Dari Jubair bin Nufair, dia berkata:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ
مِنَّا وَمِنْكُمْ.
'Para shahabat Rasulullah ﷺ apabila
saling berjumpa pada hari Ied, mereka satu sama lain saling mengucapkan, taqabbalallahu
minna wa minkum.'
Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam “Tuhfat
Idul Fitri” sebagaimana Al-Suyuti mengaitkannya dalam “Al-Hawi fi Al-Fatawa”
(1/94).
Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan sanadnya dalam
“Fathul-Bari” (2/446), dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Albani dalam ((تَمَامُ المِنَّةِ) (354).
====
AMALAN SAHABAT KE 29:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
bacaan para sahabat ketika berangkat dari Mina menuju Arafah pada waktu
menunaikan ibadah Haji.
Dari Muhammad bin Abu Bakar Ats-Tsaqafiy:
أَنَّهُ سَأَلَ أَنَسَ بْنَ
مَالِكٍ وَهُمَا غَادِيَانِ مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَةَ كَيْفَ كُنْتُمْ
تَصْنَعُونَ فِي هَذَا الْيَوْمِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ كَانَ يُهِلُّ
مِنَّا الْمُهِلُّ فَلَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ وَيُكَبِّرُ مِنَّا الْمُكَبِّرُ فَلَا
يُنْكِرُ عَلَيْهِ
Bahwa dia bertanya kepada Anas bin Malik saat
keduanya berangkat dari Mina menuju 'Arafah: "Apa yang kalian kerjakan
pada hari ini bersama Rasulullah ﷺ?"
Dia menjawab: "Diantara kami ada orang yang
membaca talbiyyah, Beliau tidak mengingkarinya. Dan juga ada orang yang
bertakbir namun Beliau juga tidak mengingkarinya". [HR. Bukhori no. 1549]
===
AMALAN SAHABAT KE 30:
Taqrir Nabi ﷺ membiarkan
seorang penunggang keledai lewat di depannya ketika beliau ﷺ mengimami shalat.
Dan Taqrir beliau ﷺ dengan
membiarkan penunggang keledai lewat depan shaff para makmum.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ كَانَ عَلَى حِمَارٍ
هُوَ وَغُلَامٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَمَرَّ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ
يُصَلِّي فَلَمْ يَنْصَرِفْ وَجَاءَتْ جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ فَأَخَذَتَا بِرُكْبَتَيْ النَّبِيِّ ﷺ فَفَرَّعَ بَيْنَهُمَا أَوْ
فَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَلَمْ يَنْصَرِفْ
Bahwa ia menunggang keledai bersama seorang anak
dari bani Hasyim lewat di depan Nabi ﷺ yang
sedang shalat, namun beliau tidak bergeming (dari shalatnya). Lalu datang dua
anak perempuan dari bani Abdul Muththalib, keduanya memegangi kedua lutut
Nabi ﷺ,
lalu beliau memisahkan keduanya dan beliau juga tidak bergeming (dari
shalatnya).
(HR. Ahmad no. 2295, 3001, an-Nasaa’i no. 746, Abu
Daud no. 716) Dishahihkan sanadnya oleh Syu’aib al-Arna’uth dlm “تخريج المسند” no. 2295.
Dari Ibnu “Abbaas:
كَانَ الْفَضْلُ أَكْبَرَ مِنِّي،
فَكَانَ يُرْدِفُنِي، فَأَكُونُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَارْتَدَفْتُ أَنَا وَأَخِي عَلَى
حِمَارَةٍ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِعَرَفَةَ،
فَنَزَلْنَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَصَلَّيْنَا، وَتَرَكْنَاهَا تَرْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ،
فَلَمْ يَقْطَعْ صَلَاتَهُ.
Al-Fadhel lebih besar dari saya, jadi dia selalu
memboncengkan saya, maka saya pun duduk di depannya, lalu saya dan saudara saya
mengayuh keledai, hingga kami sampai kepada Nabi, ﷺ dan
Beliau sedang shalat dengan orang-orang di Arafah, maka kami turun di
hadapannya, lalu kami pun ikut shalat, dan kami meninggalkan keledai merumput
didepannya, dan beliau tidak menghentikan shalatnya.” (HR. Thabrani dalam
al-Mu’jam al-Kabiir no. 2639)
Imam Thabrani berkata:
لَمْ يَرْوِهِ عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ
مُجَاهِدٍ، إِلَّا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ
Tidak ada yang meriwayatkan dari al-Hakam, dari
Mujahid, kecuali Isma’il bin Muslim “.
Dan masih dari Ibnu ‘Abbaas:
رُبَّمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ
يُصَلِّي، وَالْحُمُرُ تَعْتَرِكُ بَيْنَ يَدَيْهِ.
“ Terkadang aku melihat Nabi ﷺ sedang sholat, dan keledai bertarung di hadapannya”
(HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsaath no. 2699)
Dan Thabrani berkata:
لَا نَعْلَمُهُ يُرْوَى إِلَّا عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ، وَرُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ.
Kami tidak tahu hadits ini diriwayatkan kecuali
dari Ibnu Abbas. Dan hadits ini diriwayatkan pula dari dia lewat jalur lain
dengan kata-kata yang berbeda-beda.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ كَانَ عَلَى حِمَارٍ
هُوَ وَغُلَامٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَمَرَّ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ
يُصَلِّي فَلَمْ يَنْصَرِفْ وَجَاءَتْ جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ فَأَخَذَتَا بِرُكْبَتَيْ النَّبِيِّ ﷺ فَفَرَّعَ بَيْنَهُمَا أَوْ
فَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَلَمْ يَنْصَرِفْ
Bahwa ia menunggang keledai bersama seorang anak
dari bani Hasyim lewat di depan Nabi ﷺ yang
sedang shalat, namun beliau tidak bergeming (dari shalatnya). Lalu datang dua
anak perempuan dari bani Abdul Muththalib, keduanya memegangi kedua lutut
Nabi ﷺ,
lalu beliau memisahkan keduanya dan beliau juga tidak bergeming (dari
shalatnya).
(HR. Ahmad no. 2295, 3001, an-Nasaa’i no. 746, Abu Daud no. 716) Dishahihkan
sanadnya oleh Syu’aib al-Arna’uth dlm “تخريج
المسند” no. 2295.
===
AMALAN SAHABAT KE 31:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
Sahabat yang ketika sholat hanya memakai satu sarung saja, sementara pundak dan
dadanya terbuka.
Dari Abu Nadlrah dia berkata, Ubai bin Ka'b
berkata:
الصَّلَاةُ فِي الثَّوْبِ
الْوَاحِدِ سُنَّةٌ كُنَّا نَفْعَلُهُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَا يُعَابُ
عَلَيْنَا.
فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ:
إِنَّمَا كَانَ ذَاكَ إِذْ كَانَ فِي الثِّيَابِ قِلَّةٌ فَأَمَّا إِذْ وَسَّعَ
اللَّهُ فَالصَّلَاةُ فِي الثَّوْبَيْنِ أَزْكَى
"Shalat dengan menggunakan satu pakaian adalah sunnah yang
pernah kami lakukan bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak mencela kami.
Kemudian Ibnu Mas'ud berkata:
"Hanyasannya yang demikian itu dilakukan
ketika pakaian hanya sedikit, adapun ketika Allah memberikan kelapangan maka
shalat dengan menggunakan dua pakaian adalah lebih baik."
[HR. Ahmad no. 20316 dan Abdullah Bin Ahmad dalam
Zawaid al-Musnad no. 21276] Di Shahihkan oleh Syu'aib al-Arna'uth dalam
Takhriij al-Musnad no. 21276.
Hadits ini jadi dalil bolehnya shalat dengan kain
terbatas hanya satu pakaian saja. Yakni: satu helai kain sebagai izaar atau
sarung yaitu seperti kain ihram penutup bagian bawah, tanpa memakai ridaa'
yaitu seperti kain ihram penutup bagian atas.
Ibnu Rusyd mengatakan: “Para ulama sepakat bahwa
seorang laki-laki sah memakai pakaian dalam shalat dengan satu pakaian saja.”
(Baca: Bidayah Al-Mujtahid, 1/286. Dan lihat pula Minhah Al-‘Allam, 2:331).
===
AMALAN SAHABAT KE 32:
Amalan sahabat yang tidak ditanyakan terlebih
dahulu kepada Nabi ﷺ sebelum
mengamalkan. Ketika Nabi ﷺ mengetahuinya,
maka Nabi ﷺ melaranganya, akan tetapi sahabat tersebut tetap
bersikeras ingin mengamalkannya. Pada akhirnya Nabi ﷺ mengizinkannya
atau mendiamkannya.
Diantaranya: amalan sahabat yang berpuasa setiap hari dan
mengkhatamkan al-Quran setiap malam.
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu anhu, ia
berkata;
أَنْكَحَنِي أَبِي امْرَأَةً
ذَاتَ حَسَبٍ فَكَانَ يَتَعَاهَدُ كَنَّتَهُ فَيَسْأَلُهَا عَنْ بَعْلِهَا
فَتَقُولُ: نِعْمَ الرَّجُلُ مِنْ رَجُلٍ لَمْ يَطَأْ لَنَا فِرَاشًا وَلَمْ
يُفَتِّشْ لَنَا كَنَفًا مُنْذُ أَتَيْنَاهُ.
فَلَمَّا طَالَ ذَلِكَ عَلَيْهِ
ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: "الْقَنِي بِهِ". فَلَقِيتُهُ بَعْدُ.
فَقَالَ: كَيْفَ تَصُومُ. قَالَ: كُلَّ يَوْمٍ. قَالَ: وَكَيْفَ تَخْتِمُ. قَالَ:
كُلَّ لَيْلَةٍ.
قَالَ: صُمْ فِي كُلِّ شَهْرٍ
ثَلَاثَةً وَاقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ. قَالَ: قُلْتُ: أُطِيقُ
أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.
قَالَ: صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ
فِي الْجُمُعَةِ. قُلْتُ: أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.
قَالَ: أَفْطِرْ يَوْمَيْنِ
وَصُمْ يَوْمًا. قَالَ: قُلْتُ: أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.
قَالَ: صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ
صَوْمَ دَاوُدَ صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ وَاقْرَأْ فِي كُلِّ سَبْعِ
لَيَالٍ مَرَّةً ".
فَلَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَذَاكَ أَنِّي كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ.
فَكَانَ يَقْرَأُ عَلَى بَعْضِ
أَهْلِهِ السُّبْعَ مِنْ الْقُرْآنِ بِالنَّهَارِ. وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ
يَعْرِضُهُ مِنْ النَّهَارِ لِيَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ بِاللَّيْلِ.
وَإِذَا أَرَادَ أَنْ
يَتَقَوَّى أَفْطَرَ أَيَّامًا وَأَحْصَى وَصَامَ مِثْلَهُنَّ كَرَاهِيَةَ أَنْ
يَتْرُكَ شَيْئًا فَارَقَ النَّبِيَّ ﷺ عَلَيْهِ.
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ
وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فِي ثَلَاثٍ وَفِي خَمْسٍ وَأَكْثَرُهُمْ عَلَى سَبْعٍ
Bapakku menikahkanku dengan seorang wanita yang
memiliki kemuliaan leluhur. Lalu bapakku bertanya pada sang menantunya mengenai
suaminya.
Maka sang menantu pun berkata: "Dia adalah
laki-laki terbaik, ia belum pernah meniduriku dan tidak juga memelukku mesra
semenjak aku menemuinya."
Maka setelah selang beberapa lama, bapakku pun
mengadukan hal itu pada Nabi ﷺ.
Akhirnya beliau ﷺ bersabda:
"Bawalah ia kemari." Maka setelah itu, aku pun datang menemui beliau.
Dan beliau ﷺ bersabda:
"Bagaimanakah ibadah puasamu?" aku menjawab, "Yaitu setiap
hari."
Beliau bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan
Khataman Al Qur`anmu?" aku menjawab, "Yaitu setiap malam."
Akhirnya beliau ﷺ bersabda:
"Berpuasalah tiga hari pada setiap bulannya. Dan bacalah (Khatamkanlah) Al
Qur`an sekali pada setiap bulannya." Aku katakan, "Aku mampu lebih
dari itu."
Beliau ﷺ bersabda:
"Kalau begitu, berpuasalah tiga hari dalam satu pekan." Aku berkata,
"Aku masih mampu lebih dari itu."
Beliau ﷺ bersabda:
"Kalau begitu, berbukalah sehari dan berpuasalah sehari." Aku
katakan, "Aku masih mampu lebih dari itu."
Beliau ﷺ bersabda:
"Berpuasalah dengan puasa yang paling utama, yakni puasa Dawud, yaitu
berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan khatamkanlah Al Qur`an sekali dalam
tujuh hari."
Maka sekiranya aku menerima keringanan yang
diberikan Nabi ﷺ ketika
aku masih kuat, sementara sekarang aku telah menjadi lemah.
Mujahid berkata; Lalu ia membacakan sepertujuh dari Al Qur`an
kepada keluarganya pada siang hari.
Dan ayat yang ia baca, ia perlihatkan pada siang
harinya agar pada malam harinya ia bisa lebih mudah membacanya.
Dan apabila dia ingin memperoleh kekuatan, maka ia
akan berbuka beberapa hari dan menghitungnya, lalu ia berpuasa sebanyak itu
pula. Itu semua ia lakukan disebabkan karena ia tak suka meninggalkan sesuatu,
setelah Nabi ﷺ wafat.
Abu Abdullah berkata ; Dan sebagian mereka berkata;
Tiga [hari], atau lima, dan yang terbanyak adalah tujuh. [HR. Bukhori no. 4664]
====
AMALAN SAHABAT KE 33:
Amalan Nabi ﷺ yang tidak boleh di amalkan oleh para sahabatnya,
namun sebagian mereka ada yang bersikeras mengamalkannya. Diantaranya: LARANGAN
PUASA WISHAL.
Pertama:
Hadits Abu Hurairah radliallahu 'anhu mengatakan;
نَهَى رَسولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ
الوِصَالِ، فَقالَ له رِجَالٌ مِنَ المُسْلِمِينَ: فإنَّكَ -يا رَسولَ اللَّهِ-
تُوَاصِلُ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: أيُّكُمْ مِثْلِي؟! إنِّي أبِيتُ يُطْعِمُنِي
رَبِّي ويَسْقِينِ. فَلَمَّا أبَوْا أنْ يَنْتَهُوا عَنِ الوِصَالِ واصَلَ بهِمْ
يَوْمًا، ثُمَّ يَوْمًا، ثُمَّ رَأَوُا الهِلَالَ، فَقالَ: لو تَأَخَّرَ
لَزِدْتُكُمْ. كَالْمُنَكِّلِ بهِمْ حِينَ أبَوْا.
Rasulullah ﷺ melarang
puasa wishool.
Maka beberapa orang kaum muslimin bertanya; 'engkau
sendiri ya Rasulullah melakukan puasa wishool.'
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Mana mungkin kalian sanggup melakukannya seperti aku, sebab kalau aku
pada malamnya Rabb-ku memberiku makan dan minum."
Tatkala mereka masih enggan menghentikan puasa
wishool, maka Nabi pun melakukan puasa wishool bersama mereka hari demi hari.
Kemudian ketika mereka melihat bulan sabit muncul ;
maka Nabi bersabda: "Kalaulah bulan sabit itu terlambat, niscaya kutambah
untuk kalian!"
Seolah-olah beliau hendak menghukum mereka tatkala
mereka menolak nya.
[HR. Bukhori no. 6851 dan Muslim no. 1103]
Definisi Puasa wishool adalah: menyambungkan puasa ke hari berikutnya tanpa
berbuka di malam hari.
Kadua:
hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ
إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ».
قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ «إِنِّى لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إِنِّى أَبِيتُ لِى
مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِى وَسَاقٍ يَسْقِينِ»
“Janganlah kalian melakukan puasa wishool. Jika
salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishool, maka lakukanlah hingga
sahur (menjelang Shubuh).”
Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishool.”
Rasul ﷺ bersabda,
“Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum.”
(HR. Bukhari no. 1963).
===
AMALAN SAHABAT KE 34:
Diantara Amalan para sahabat pada masa Nabi ﷺ yang tidak ada contoh dari beliau adalah: 'AZL [عَزْلٌ] artinya
dikeluarkan diluar.
Definisi ‘AZL (coitus interuptus) adalah:
Dikeluarkannya air mani laki-laki diluar vagina
saat mencapai puncak kenikmatan dalam berhubungan badan, dalam usaha mencegah
kehamilan, dan inilah metode kontrasepsi tertua.
Hadits-hadits tentang 'AZL cukup banyak,
diantaranya adalah sbb:
Ke 1:
Dari [Jabir] dia berkata ;
كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ
زَادَ إِسْحَقُ قَالَ سُفْيَانُ لَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا
عَنْهُ الْقُرْآنُ
“Kami biasa melakukan 'AZL di saat Al Qur`an masih
turun.”
[Ishaq] menambahkan; [Sufyan] berkata; Sekiranya
'AZL dilarang, tentu Al Qur`an akan melarang perbuatan kami.
[HR. Muslim Nomor 1440]
Ke 2:
Dari [Jabir] dia berkata ;
كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى
عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ يَنْهَنَا
“Kami melakukan 'AZL di masa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, kemudian hal itu disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, namun beliau tidak melarang kami.”
[HR. Muslim Nomor 1440, 2610]
Ke 3:
Dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya Saad bin Abu Waqqosh]
أَنَّهُ كَانَ يَعْزِلُ
Bahwa dia pernah melakukan ‘'AZL.”
[HR. Malik Nomor 1091, 1263]
Ke 4:
Dari Ummu Walad milik Abu Ayyub Al Anshari:
أَنَّهُ كَانَ يَعْزِلُ
Bahwa dia pernah melakukan ‘'AZL.
[HR. Malik Nomor 1092, 1264]
Ke 5:
Dari [Al Hajjaj bin ‘Amru bin Ghaziyyah]
أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا عِنْدَ
زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ فَجَاءَهُ ابْنُ قَهْدٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ
يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّ عِنْدِي جَوَارِيَ لِي لَيْسَ نِسَائِي اللَّاتِي أُكِنُّ
بِأَعْجَبَ إِلَيَّ مِنْهُنَّ وَلَيْسَ كُلُّهُنَّ يُعْجِبُنِي أَنْ تَحْمِلَ
مِنِّي أَفَأَعْزِلُ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ أَفْتِهِ يَا حَجَّاجُ قَالَ
فَقُلْتُ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ إِنَّمَا نَجْلِسُ عِنْدَكَ لِنَتَعَلَّمَ مِنْكَ
قَالَ أَفْتِهِ قَالَ فَقُلْتُ هُوَ حَرْثُكَ إِنْ شِئْتَ سَقَيْتَهُ وَإِنْ
شِئْتَ أَعْطَشْتَهُ قَالَ وَكُنْتُ أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْ زَيْدٍ فَقَالَ زَيْدٌ
صَدَقَ
Bahwasanya ia pernah duduk-duduk di sisi [Zaid bin
Tsabit]. Lalu Ibnu Qahd, seorang laki-laki dari Yaman, datang menemuinya dan
berkata:
“Wahai Abu Sa’id, aku mempunyai beberapa budak wanita.
Dan isteri-isteriku tidak lebih menarik cantik dari mereka, tetapi tidak semua
dari mereka yang aku inginkan hamil dariku. Maka apakah aku boleh melakukan
‘'AZL?”
Zaid bin Tsabit lalu berkata ; “Wahai Hajjaj,
berilah fatwa kepadanya! ”
Al Hajjaj bin ‘Amru berkata; “Aku lalu berkata,
“Semoga Allah mengampunimu. Padahal tidaklah kami duduk di sini kecuali untuk
belajar darimu.”
Zaid bin Tsabit kembali berkata; “Berilah fatwa
kepadanya! ”
Al Hajjaj bin ‘Amru berkata; “Maka aku pun berkata,
‘Itu adalah ladangmu. Jika mau, kamu bisa menyiraminya dan jika mau kamu boleh
membiarkannya tandus.”
Al-Hajjaj meneruskan, “Aku dengar hal itu dari
Zaid.”
Zaid menyahut, “Dia benar.”
[HR. Malik Nomor 1094, 1266]
Ke 7:
Dari Humaid bin Qois al-Makkii dari seseorang yang bernama [Dzafiif] berkata ;
أَنَّهُ قَالَ سُئِلَ ابْنُ
عَبَّاسٍ عَنْ الْعَزْلِ فَدَعَا جَارِيَةً لَهُ فَقَالَ أَخْبِرِيهِمْ
فَكَأَنَّهَا اسْتَحْيَتْ فَقَالَ هُوَ ذَلِكَ أَمَّا أَنَا فَأَفْعَلُهُ يَعْنِي
أَنَّهُ يَعْزِلُ
” [Ibnu Abbas] pernah ditanya perihal ‘'AZL, lalu
ia memanggil salah seorang budak wanitanya, seraya berkata; ‘Kabarkan pada
mereka.” -budak wanita itu terlihat malu-
Ibnu Abbas lalu berkata; “Itu boleh, aku juga
melakukannya.” Yakni, Ibnu Abbas juga melakukan ‘'AZL.
[HR. Malik Nomor 1095, 1267]
Ke 8:
Dari Abu Sa’id Al Khudri:
أَنَّهُ أَخْبَرَهُ قَالَ
أَصَبْنَا سَبَايَا فَكُنَّا نَعْزِلُ ثُمَّ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ
ذَلِكَ فَقَالَ لَنَا وَإِنَّكُمْ لَتَفْعَلُونَ وَإِنَّكُمْ لَتَفْعَلُونَ وَإِنَّكُمْ
لَتَفْعَلُونَ مَا مِنْ نَسَمَةٍ كَائِنَةٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا هِيَ
كَائِنَةٌ
Bahwa dia telah mengabarkan kepadanya, dia berkata
;
Kami mendapatkan tawanan wanita, dan kami hendak
menyetubuhinya dengan cara ‘'AZL, lalu kami tanyakan hal itu kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda kepada kami:
“Apakah kalian benar-benar melakukannya? Apakah
kalian benar-benar melakukannya? Apakah kalian benar-benar melakukannya?
Tidaklah ruh yang tercipta sampai Hari Kiamat, melainkan ia akan tetap
tercipta.”
[HR. Muslim Nomor 1438, 2600]
===
AMALAN SAHABAT KE 35:
Taqrir dan diamnya Rosulullah ﷺ terhadap sahabat yang mengambil keringat dan rambut
beliau untuk bertabarruk atau ngalap berkah:
Dari Anas bin Malik dia berkata;
دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ ﷺ
فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ
الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا
هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ
مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ
Nabi ﷺ pernah
berkunjung ke rumah kami. kemudian beliau tidur siang sebentar (Qailulah) di
rumah kami hingga berkeringat. Lalu Ibu saya mengambil sebuah botol dan berupaya
memasukkan KERINGAT Rasulullah ﷺ itu
ke dalam botol tersebut.
Tiba-tiba Rasulullah ﷺ terjaga
sambil berkata kepada ibu saya;
'Hai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan terhadap
diriku?
Ibu saya menjawab; 'Ini keringat engkau, kami ingin
menjadikannya dalam minyak wangi kami.'
Keringat beliau merupakan salah satu wewangian yang
paling harum wanginya.
(HR. Muslim No. 4300 & 4302 dan Imam Ahmad No.
11947)
Dalam sebagian riwayat:
فَقالَ: ما تَصْنَعِينَ؟ يا
أُمَّ سُلَيْمٍ فَقالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا،
قالَ: أَصَبْتِ.
Lalu Rasulullah ﷺ bertanya,
“Apa yang sedang engkau perbuat?”
Ummu Sulaim menjawab, “ Wahai Rosulullah, Kami
mengharapkan barokah keringat engkau ini untuk anak-anak kami.”
Rasulullah ﷺ pun
berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim No. 2331).
Dalam Riwayat Imam Bukhori dari Tsumamah dari Anas:
أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَانَتْ تَبْسُطُ
لِلنَّبِيِّ ﷺ نِطَعًا، فَيَقِيلُ عِنْدَهَا عَلَى ذَلِكَ النِّطَعِ، فَإِذَا نَامَ
النَّبِيُّ ﷺ أَخَذَتْ مِنْ عَرَقِهِ وَشَعَرِهِ، فَجَمَعَتْهُ فِي قَارُورَةٍ، ثُمَّ
جَمَعَتْهُ فِي سُكٍّ. قَالَ [الْقَائِلُ هُوَ ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
أَنَسٍ]: فَلَمَّا حَضَرَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ الْوَفَاةُ، أَوْصَى إِلَيَّ أَنْ يُجْعَلَ
فِي حَنُوطِهِ مِنْ ذَلِكَ السُّكِّ. قَالَ: فَجُعِلَ فِي حَنُوطِهِ.
"Bahwa Ummu Sulaim, bahwa dia biasa
membentangkan tikar dari kulit untuk Nabi ﷺ, lalu beliau istirahat siang di atas
tikar tersebut,
Anas melanjutkan;
"Apabila Nabi ﷺ telah
tidur, maka Ummu Sulaim mengambil KERINGAT dan RAMBUTNYA yang terjatuh dan
meletakkannya di wadah kaca, setelah itu ia mengumpulkannya di sukk (ramuan
minyak wangi),
Tsumamah berkata;
'Ketika Anas bin Malik hendak meninggal dunia, maka
dia berwasiat supaya ramuan tersebut dicampurkan ke dalam hanuth (ramuan yang
digunakan untuk meminyaki mayyit), akhirnya ramuan tersebut diletakkan di
hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyaki mayyit)." (HR. Bukhori No.
5809 & 628)
===
AMALAN SAHABAT KE 36:
Taqrir dan diamnya Nabi ﷺ terhadap
para sahabat yang bertabarruk dengan dahak Nabi ﷺ dan
air bekas wudlunya
Dari Al Miswar bin Makhramah dan Marwan dimana
setiap perawi saling membenarkan perkataan perawi lainnya, keduanya menyebutkan
kisah yang panjang tentang Rasulullah ﷺ dan
para sahabatnya keluar pada waktu perjanjian Hudaibiyah.
Salah seorang perawi berkata:
فَوَاللَّهِ مَا تَنَخَّمَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ
بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ وَإِذَا
تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا
أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ
فَرَجَعَ عُرْوَةُ إِلَى
أَصْحَابِهِ فَقَالَ أَيْ قَوْمِ وَاللَّهِ لَقَدْ وَفَدْتُ عَلَى الْمُلُوكِ
وَوَفَدْتُ عَلَى قَيْصَرَ وَكِسْرَى وَالنَّجَاشِيِّ وَاللَّهِ إِنْ رَأَيْتُ
مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أَصْحَابُهُ مَا يُعَظِّمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ
مُحَمَّدًا وَاللَّهِ إِنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ
مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا
أَمْرَهُ وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ وَإِذَا
تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ
تَعْظِيمًا لَهُ وَإِنَّهُ قَدْ عَرَضَ عَلَيْكُمْ خُطَّةَ رُشْدٍ فَاقْبَلُوهَا
"Demi Allah, tidaklah Rasulullah ﷺ apabila
membuang dahak lalu DAHAK Beliau tepat jatuh di telapak tangan salah seorang
dari sahabat melainkan orang itu menggosokkannya pada wajah dan kulitnya.
Dan bila Beliau ﷺ menyuruh
mereka, merekapun segera begegas melaksanakan perintah Beliau.
Dan apabila Beliau ﷺ hendak
BERWUDLU', selalu mereka hampir berkelahi karena berebut untuk menyiapkan air
untuk wudhu' Beliau.
Bila Beliau ﷺ berbicara,
mereka merendahkan suara mereka di hadapan Beliau
Dan mereka tidaklah menajamkan pandangan kepada
Beliau sebagai pengagungan mereka terhadap Beliau.
Maka 'Urwah (utusan dari kaum musyrikin Makkah) pun
kembali kepada kaumnya lalu berkata:
"Wahai kaum, demi Allah, sungguh aku pernah
menjadi utusan yang diutus mengahadap raja-raja, juga Qaisar (raja Romawi) dan
Kisra (raja Parsia) juga kepada raja an-Najasiy.
Demi Allah, tidak pernah aku melihat seorang
rajapun yang begitu diagungkan seperti para sahabat Muhamad ﷺ mengagungkan Muhammad.
Sungguh tidaklah dia berdahak lalu mengenai telapak
seorang dari mereka kecuali dia akan membasuhkan dahak itu ke wajah dan
kulitnya.
Dan jika dia memerintahkan mereka maka mereka
segera berebut melaksnakannya
Dan apabila dia berwudhu' hampir-hampir mereka
berkelahi karena memperebutkan sisa air wudhu'nya itu
Dan jika dia berbicara maka mereka merendahkan
suara mereka (mendengarkan dengan seksama)
Dan tidaklah mereka mengarahkan pandangan kepadanya
karena sangat menghormatinya.
Sungguh dia telah menawarkan kepada kalian satu tawaran yang membawa kepada
kebaikan, maka terimalah". (HR. Bukhori No. 2529)
===
AMALAN SAHABAT KE 37:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
Sahabat yang meminta baju mantelnya untuk di jadikan sebagai kafan jasadnya
kelak ketika dia mati.
Dari Sahl bin Sa'd dia berkata;
جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى
النَّبِيِّ ﷺ بِبُرْدَةٍ.
فَقَالَ سَهْلٌ لِلْقَوْمِ:
" أَتَدْرُونَ مَا الْبُرْدَةُ ؟ ". فَقَالَ الْقَوْمُ: هِيَ
الشَّمْلَةُ. فَقَالَ سَهْلٌ: هِيَ شَمْلَةٌ مَنْسُوجَةٌ فِيهَا حَاشِيَتُهَا.
فَقَالَتْ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَكْسُوكَ هَذِهِ! "
فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ ﷺ
مُحْتَاجًا إِلَيْهَا ، فَلَبِسَهَا ، فَرَآهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الصَّحَابَةِ
فَقَالَ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَحْسَنَ هَذِهِ فَاكْسُنِيهَا! ".
فَقَالَ: " نَعَمْ ".
فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ ﷺ
لَامَهُ أَصْحَابُهُ ، قَالُوا: " مَا أَحْسَنْتَ حِينَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ ﷺ
أَخَذَهَا مُحْتَاجًا إِلَيْهَا ثُمَّ سَأَلْتَهُ إِيَّاهَا وَقَدْ عَرَفْتَ
أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ شَيْئًا فَيَمْنَعَهُ ".
فَقَالَ: " رَجَوْتُ
بَرَكَتَهَا حِينَ لَبِسَهَا النَّبِيُّ ﷺ لَعَلِّي أُكَفَّنُ فِيهَا ".
"Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dengan
membawa kain Burdah [Kain bergaris untuk diperselimutkan pada badan] ".
Sahal bertanya: Apa kalian tahu Burdah apakah itu?
Mereka menjawab; "Ya, ia adalah Syamlah
[sejenis jubah toga atau mantel]."
Sahal berkata ; Ia adalah mantel bersulam yang ada
rendanya. Lalu wanita itu berkata;
"Wahai Rasulullah! aku membawanya untuk
mengenakannya pada anda."
Lalu Nabi ﷺ mengambilnya
karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut
ternyata salah seorang dari sahabat melihat beliau mengenakan mantel itu lalu
berkata;
"Alangkah bagusnya mantel ini, kenakanlah
untukku wahai Rasulullah!"
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ya."
Ketika Nabi ﷺ beranjak
pergi, orang-orang pun mencela sahabat tersebut sambil berkata;
"Demi Allah, betapa kurang ajarnya kamu ini.
Kamu tahu, Rasulullah ﷺ diberi
mantel itu saat beliau memerlukannya, malahan kau memintanya, padahal kau tahu
beliau tidak pernah menolak seorang peminta pun."
Sahabat itu berkata; "Aku hanya mengharap
keberkahannya ketika Nabi ﷺ mengenakannya
semoga kain itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal." (HR. Bukhori No.
5576)
===
AMALAN SAHABAT KE 38:
Taqrir dan diamnya Nabi ﷺ terhadap
Sahabat yang mencium dan mengecup tangan dan kaki beliau ﷺ:
Dari Ummu Aban bintil Wazi’ bin Zari’ dari kakeknya
Zari’ saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata,
لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ
فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ ﷺ
وَرِجْلَهُ.
قَالَ: وَانْتَظَرَ الْمُنْذِرُ
الْأَشَجُّ حَتَّى أَتَى عَيْبَتَهُ فَلَبِسَ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ
فَقَالَ: " لَهُ إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ
وَالْأَنَاةُ ".
قَالَ: " يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمْ اللَّهُ جَبَلَنِي عَلَيْهِمَا ؟ "
قَالَ: " بَلْ اللَّهُ
جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ".
قَالَ: " الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ
".
“Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu
kendaraan kami, lalu kami mencium dan mengecup tangan Nabi ﷺ dan kaki beliau.”
Ia (perawi) berkata: “Al Mundzir Al Asyaj masih
menunggu hingga tempat pakaiannya tiba, lalu ia kenakan pakaiannya tersebut.
Setelah itu ia datang menemui Nabi ﷺ.
Beliau ﷺ lantas
bersabda kepada Al Mundzir: “Sesungguhnya engkau mempunyai dua tabiat yang
disukai oleh Allah dan rasul-Nya; santun dan sabar.”
Al Mundir bertanya, “Wahai Rasulullah, memang aku berakhlak
demikian atau Allah yang memberikan itu kepadaku?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Allah yang memberikan itu kepadamu.”
Al Mundzir berkata, “Segala puji milik Allah yang telah memberiku dua tabiat
yang disukai oleh Allah dan rasul-Nya.”
(HR. Abu Daud No. 5227. Di anggap bagus sanadnya
oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab “فتح
الباري (11/57) dan di Hasankan oleh Syeikh al-Albaani dlm
Shahih Sunan Abi Daud, dan beliau berkata: “ Hasan, tanpa menyebutkan dua kaki
“.
Abu Daud membuatkan Bab untuk hadits ini, dengan
mengatakan:
بَاب فِي قُبْلَةِ الرِّجْلِ
“Bab tentang mencium kaki ”
----
HADITS-HADITS LAIN TENTANG MENCIUM TANGAN DAN KAKI
NABI ﷺ:
Ibnu Qaani’ dalam Mu’jamush-Shahaabah no. 2206
meriwayatkan dari Yaziid bin Al-Aswad radliyallaahu ‘anhu dengan redaksi:
قَبَّلْتُ يَدَ النَّبِيِّ ﷺ
فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ "
“Aku mencium tangan Nabi ﷺ, dan ternyata ia lebih dingin dibandingkan salju dan
lebih wangi dibandingkan misik”
[Sanadnya shahih].
Di kutip dari kitab kumpulan hadits “جَامِعُ السُّنَّةِ وَشُرُوحِهَا“:
HADITS KE 1: Hadits Usamah bin Syariik:
وَمِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ
شَرِيكٍ قَالَ قُمْنَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ
“ Dan dari hadits Usamah bin Shraik, dia berkata,
Kami bangkit menghadap Nabi ﷺ, dan kami mencium tangannya, dan
SANADNYA KUAT. (Lihat: “جَامِعُ السُّنَّةِ
وَشُرُوحِهَا“ No.
6265)
HADITS KE 2: Hadits Jabir:
وَمِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ أَنَّ
عُمَرَ قَامَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَبَّلَ يَدَهُ
Dan dari Hadits Jabir bahwa Umar berdiri menyambut
Nabi ﷺ lalu mencium tangannya. (Lihat: “جَامِعُ السُّنَّةِ وَشُرُوحِهَا“ No. 6265)
HADITS KE 3: hadits Buraidah:
وَمِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي
قِصَّةِ الْأَعْرَابِيِّ وَالشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي
أَنْ أُقَبِّلَ رَأَسَكَ وَرِجْلَيْكَ فَأَذِنَ لَهُ
Dan dari hadits Buraidah dalam Kisah al-A’raabi dan
kisah pohon. Dia berkata, ‘Ya Rasulullah, beri saya izin untuk mencium kepala
engkau dan kedua kaki engkau, lalu beliau mengizinkannya. (Lihat: “جَامِعُ السُّنَّةِ وَشُرُوحِهَا“ No. 6265)
HADITS KE 4:
Imam Bukhori berkata: telah bercerita kepada kami
Aththaf bin Khalid berkata, telah bercerita padaku Abdul Rahman bin Raziin
berkata:
مَرَرْنَا بِالرَّبَذَةِ
فَقِيلَ لَنَا : " هَا هُنَا سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ "،
فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ، فَأَخْرَجَ يَدَيْهِ فَقَالَ : "
بَايَعْتُ بِهَاتَيْنِ نَبِيَّ اللهِ ﷺ ". فَأَخْرَجَ كَفًّا لَهُ ضَخْمَةً
كَأَنَّهَا كَفُّ بَعِيرٍ ، فَقُمْنَا إِلَيْهَا فَقَبَّلْنَاهَا.
Kami melewati Rabdzah, dan diberitahu kepada kami:
“ Di sini lah Salamah ibn al-Akwa“. Lalu kami mendatanginya dan kami
mengucapkan salam padanya.
Lalu dia mengulurkan kedua tangannya dan berkata:
“Dengan kedua tangan ini aku membaiat Rasulullah ﷺ “.
Dia mengulurkan telapak tangannya yang besar
seakan-akan telapak kaki unta, lalu kami bangkit dan kami menciumnya. “
(HR. Bukhori dlm “Al-Adab Al-Mufrad” dan dihasankan
oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Adab Al-Mufrad” 747/973 hal. 372).
====
AMALAN SAHABAT KE 39:
Taqrir Nabi ﷺ dan
diamnya beliau terhadap orang-orang yang Yahudi yang mencium dan mengecup
tangan dan kaki beliau ﷺ:
Dari Abdullah bin Salamah dari Shafwan bin ‘Assal
ia berkata;
قَالَ يَهُودِيٌّ لِصَاحِبِهِ:
" اذْهَبْ بِنَا إِلَى هَذَا النَّبِيِّ! ". فَقَالَ صَاحِبُهُ: "
لَا تَقُلْ نَبِيٌّ إِنَّهُ لَوْ سَمِعَكَ كَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَعْيُنٍ".
فَأَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
فَسَأَلَاهُ عَنْ تِسْعِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ. فَقَالَ لَهُمْ: " لَا
تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَسْرِقُوا ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا
تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَمْشُوا
بِبَرِيءٍ إِلَى ذِي سُلْطَانٍ لِيَقْتُلَهُ ، وَلَا تَسْحَرُوا ، وَلَا تَأْكُلُوا
الرِّبَا ، وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً ، وَلَا تُوَلُّوا الْفِرَارَ يَوْمَ
الزَّحْفِ ، وَعَلَيْكُمْ خَاصَّةً الْيَهُودَ أَنْ لَا تَعْتَدُوا فِي السَّبْتِ
".
قَالَ: فَقَبَّلُوا يَدَهُ
وَرِجْلَهُ ، فَقَالَا: " نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ ". قَالَ: " فَمَا
يَمْنَعُكُمْ أَنْ تَتَّبِعُونِي ". قَالُوا: " إِنَّ دَاوُدَ دَعَا
رَبَّهُ أَنْ لَا يَزَالَ فِي ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ
تَبِعْنَاكَ أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُ ".
وَفِي الْبَاب عَنْ يَزِيدَ
بْنِ الْأَسْوَدِ وَابْنِ عُمَرَ وَكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya; “Marilah kita berangkat bersama
menemui Nabi ini!” Sahabatnya menjawab: “Jangan katakan Nabi, sungguh apabila
dia mendengar perkataanmu, maka dia akan memiliki empat mata (bahasa kiasan
dari senang) “.
Lalu keduanya mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya kepada beliau tentang sembilan ayat
bayyinat, beliau ﷺ bersabda
kepada mereka:
“Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu
apapun, jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh jiwa yang diharamkan
oleh Allah kecuali dengan benar, jangan menjelek-jelekkan orang yang tidak
bersalah kepada penguasa agar penguasa membunuhnya, jangan melakukan sihir,
jangan memakan riba, jangan menuduh (berbuat zina) wanita-wanita suci, jangan
berpaling lari dari medan pertempuran, dan kepada kalian khususnya wahai
orang-orang Yahudi, janganlah kalian melampaui batas pada hari sabtu.”
Shafwan berkata; Mereka langsung mencium kedua
tangan dan kaki beliau, lalu keduanya mengatakan; “Kami bersaksi bahwa engkau
adalah Nabi.”
Beliau ﷺ bertanya:
“Lalu apa yang menghalangi kalian tidak mengikutiku?”
Shafwan berkata; Mereka mengatakan: “Sesungguhnya
Nabi Daud berdo’a kepada Rabbnya agar senantiasa ada dari keturunannya seorang
nabi, sesungguhnya kami takut jika mengikutimu orang-orang Yahudi akan membunuh
kami.”
Dan dalam bab ini, ada hadits lain dari Yazid bin
Al Aswad, Ibnu Umar dan Ka’ab bin Malik.
(HR. Turmudzi No. 2733, Nasa’i No. 4078 dan Ibnu
Majah No. 3705).
Abu Isa Turmudzi berkata; “ Hadits ini HASAN SHAHIH
“. Dan Al-Turmudzi telah menjadikan bab untuk hadits ini dengan judul:
بَابُ مَا جَاءَ فِي قُبْلَةِ الْيَدِ
وَالرِّجْلِ
"Bab tentang apa yang datang keterangan
tentang mencium tangan dan Kaki."
Dan hadits ini dishahihkan oleh banyak para ulama,
di antaranya: Al-Hafidz Ibnu Hajar dlm “At-Talkhis Al-Habir” 5/240, Ibnu
Al-Mulaqqin dlm “Al-Badr Al-Munir” 9/48 dan Imam An-Nawawi dlm “Al-Majmu’”
4/640 dan “Riyadh Ash-Shalihin” hadits no. 889.
Namun didhaifkan oleh Al-Albani dalam “Dhaif
At-Tirmidzi”.
===
AMALAN SAHABAT KE 40:
Taqrir dan diamnya Nabi ﷺ terhadap
para sahabat yang berebut kedua tangan beliau lalu mengusapkannya ke wajah
masing-masing setelah mereka shalat berjemaah dalam perjalanan safar.
Dari Abu Juhaifah as-Sawaa'i berkata:
" خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ
رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ".
قَالَ شُعْبَةُ: وَزَادَ فِيهِ
عَوْنٌ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا
الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ
بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ: فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي،
فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ
"
“Rasulullah ﷺ keluar
pada siang hari yang sangat panas menuju Bathhaa’. Beliau ﷺ berwudlu, lalu shalat Dhuhur dua raka’at dan shalat
‘Ashar dua raka’at.
Di hadapan beliau ada ‘anazah (tombak kecil – untuk dijadikan sutrah)”.
Syu’bah berkata: ‘Aun menambahkan dalam hadits itu:
Dari ayahnya Abu Juhaifah, ia berkata:
“Waktu itu, seorang wanita berjalan lewat di
belakang ‘anazah itu dan orang-orang berebutan memegang kedua tangan beliau dan
mengusapkannya ke wajah-wajah mereka”.
Abu Juhaifah berkata: “Lalu aku pun memegang tangan
beliau dan aku letakkan ke wajahku. Ternyata ia lebih dingin dibandingkan salju
dan lebih wangi dibandingkan misik”
[HR. Al-Bukhori no. 3553 dan Muslim no. 503].
Makna al-Bath-haa:
الْمَكَانُ الْمُتَّسِعُ يَمُرُّ
بِهِ السَّيْلُ، فَيَتْرُكُ فِيهِ الرَّمْلَ وَالْحَصَى الصِّغَارَ.
“Tempat luas di mana [ketika hujan turun] arus
deras mengalir, meninggalkan pasir dan kerikil kecil di dalamnya.”
===
AMALAN SAHABAT KE 41:
Taqrir Nabi ﷺ membiarkan
para sahabat yang bertabarruk dengan mengusapkan bekas air wudhu Nabi ﷺ ke badan mereka.
Dari Abu Juhaifah as-Sawaa'i berkata:
رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ ﷺ في
قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِن أدَمٍ، ورَأَيْتُ بلَالًا أخَذَ وضُوءَ رَسولِ اللَّهِ ﷺ،
ورَأَيْتُ النَّاسَ يَبْتَدِرُونَ ذَاكَ الوَضُوءَ، فمَن أصَابَ منه شيئًا
تَمَسَّحَ به، ومَن لَمْ يُصِبْ منه شيئًا أخَذَ مِن بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ، ثُمَّ
رَأَيْتُ بلَالًا أخَذَ عَنَزَةً، فَرَكَزَهَا وخَرَجَ النبيُّ ﷺ في حُلَّةٍ
حَمْرَاءَ، مُشَمِّرًا صَلَّى إلى العَنَزَةِ بالنَّاسِ رَكْعَتَيْنِ، ورَأَيْتُ
النَّاسَ والدَّوَابَّ يَمُرُّونَ مِن بَيْنِ يَدَيِ العَنَزَةِ
"Aku melihat Rasulullah ﷺ berada dalam kemah merah yang terbuat dari kulit
yang disamak.
Dan aku lihat Bilal mengambilkan air wudlu untuk
Rasulullah ﷺ.
Dan aku lihat orang-orang saling berebut air
tersebut. Orang yang mendapatkanya ; maka ia langsung mengusapkannya.
Dan bagi yang tidak ; maka ia mengambilnya dari
tangan temannya yang basah.
Kemudian aku lihat Bilal mengambil tombak kecil dan
menancapkannya di tanah, lalu Nabi ﷺ keluar
dengan mengenakan pakaian merah menghadap ke arah tombak kecil dan memimpin
orang orang shalat sebanyak dua raka'at.
Dan aku lihat orang-orang dan hewan berlalu lalang
melewati depan tombak tersebut."
[HR. Al-Bukhori no. 376 dan Muslim no. 503].
===
AMALAN SAHABAT KE 42:
Taqrir Nabi ﷺ terhadap
para pembantu sahabat yang bertabarruk dengan mencelupkan tangan Nabi ﷺ ke dalam air dibejana.
Dari Anas bin Malik, ia berkata:
" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا صَلَّى
الْغَدَاةَ، جَاءَ خَدَمُ الْمَدِينَةِ بِآنِيَتِهِمْ فِيهَا الْمَاءُ، فَمَا
يُؤْتَى بِإِنَاءٍ إِلَّا غَمَسَ يَدَهُ فِيهَا، فَرُبَّمَا جَاءُوهُ فِي
الْغَدَاةِ الْبَارِدَةِ، فَيَغْمِسُ يَدَهُ فِيهَا "
“Dulu Rasulullah ﷺ ketika
melaksanakan shalat Shubuh, para pembantu di Madiinah berdatangan sambil
membawa bejana-bejana mereka yang berisi air.
Tidak ada satu pun dari bejana-bejana tersebut,
kecuali beliau ﷺ mencelupkan
tangannya ke dalam bejana tersebut.
Bahkan kadang-kadang mereka mendatangi beliau ﷺ di waktu Shubuh yang dingin, namun beliau tetap
mencelupkan tangannya ke dalam bejana tersebut”
[HR. Muslim no. 2324].
===
AMALAN SAHABAT KE 43 :
Dari Qais bin Sa'd radliyallahu'ahu berkata;
« زَارَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي
مَنْزِلِنَا فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ سَعْدٌ
رَدًّا خَفِيًّا قَالَ قَيْسٌ فَقُلْتُ أَلَا تَأْذَنُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
فَقَالَ ذَرْهُ يُكْثِرُ عَلَيْنَا مِنَ السَّلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ سَعْدُ رَدًّا خَفِيًّا ثُمَّ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ثُمَّ رَجَعَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَاتَّبَعَهُ سَعْدٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ
أَسْمَعُ تَسْلِيمَكَ وَأَرُدُّ عَلَيْكَ رَدًّا خَفِيًّا لِتُكْثِرَ عَلَيْنَا
مِنَ السَّلَامِ قَالَ فَانْصَرَفَ مَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَأَمَرَ لَهُ سَعْدٌ
بِغُسْلٍ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ نَاوَلَهُ مِلْحَفَةً مَصْبُوغَةً بِزَعْفَرَانٍ أَوْ
وَرْسٍ فَاشْتَمَلَ بِهَا ثُمَّ رَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ
قَالَ ثُمَّ أَصَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الطَّعَامِ فَلَمَّا أَرَادَ
الِانْصِرَافَ قَرَّبَ لَهُ سَعْدٌ حِمَارًا قَدْ وَطَّأَ عَلَيْهِ بِقَطِيفَةٍ
فَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ سَعْدٌ يَا قَيْسُ اصْحَبْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
قَالَ قَيْسٌ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ارْكَبْ فَأَبَيْتُ ثُمَّ قَالَ
إِمَّا أَنْ تَرْكَبَ وَإِمَّا أَنْ تَنْصَرِفَ قَالَ فَانْصَرَفْتُ »
Rasulullah ﷺ pernah
mengunjungi kami di rumah kami, dan beliau mengucapkan salam : "Assalaamu
'alaikum warohmatullah"
(Qais radliyallahu'ahu) berkata; maka Sa'd menjawabnya dengan
suara pelan, lalu Rasulullah ﷺ mengulangi
salamnya dan Sa'd juga menjawabnya dengan suara pelan.
Lalu dia berkata; Wahai Rasulullah, saya mendengar
salam anda, saya menjawabnya dengan pelan supaya anda memperbanyak salam atas
kami.
(Qais radliyallahu'ahu) berkata; lalu dia pergi
bersama Rasulullah ﷺ dan
menyuruh orang untuk menyiapkan pemandian (Rasulullah ﷺ hingga
beliau mandi.
Lalu (Saad radliyallahu'anhu) memberikan atau (Qais
radliyallahu'ahu) berkata; lalu mereka memberikan kepada beliau selembar
selimut yang telah dilumuri dengan minyak wangi za'faron dan waros, lalu
(Rasulullah ﷺ memakainya.
Lalu (Rasulullah ﷺ mengangkat
kedua tangannya dengan membaca: "Ya Allah, jadikan kesejahteraan dan
rahmat Mu atas keluarga Sa'd bin 'Ubadah"
(Qais radliyallahu'ahu) berkata; lalu
(Rasulullah ﷺ) menyantap makanan, tatkala beliau hendak pergi, Sa'd
memberikan keledai kepadanya yang telah dilapisi pelana di atasnya, lalu
Rasulullah ﷺ naik.
Sa'd berkata; Wahai Qais, temani Rasulullah ﷺ.
Qais berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
"Naiklah", namun saya menolaknya.
Lalu beliau bersabda: "Kamu naik atau kamu
meninggalkan saya saja",
(Qais radliyallahu'ahu) berkata; lalu saya
meninggalkannya.
[ HR. Ahmad no. 14928 dan Abu Daud no. 5185 .
Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Abdul Wahid dan Ibnu Sammaa’ah dari
al-Awza’i dengan sanad mursal].
PENULIS CUKUPKAN SEKIAN SAJA PENYEBUTAN AMALAN PARA
SAHABAT YANG DI TAQRIR OLEH NABI ﷺ.
DAN SEBETULNYA MASIH BANYAK SEKALI.
0 Komentar