BENARKAH
TIDAK BOLEH MENGUCAPKAN “SUBHANALLAH” SAAT MERASA TAKJUB & KAGUM PADA SESUATU?
----
Di Tulis oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NADI AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN :
- MAKNA AT-TA'AJJUB
- HUKUM MENGUCAPKAN SUBHANALLAH KETIKA ADA SESUATU YANG MENAKJUBKAN
- DALIL-DALIL
- PERNYATAAN SEBAGIAN PARA ULAMA
- HUKUM MENGUCAPKAN “WAHAI SUBHANALLAH !”?.
MENGUCAPKAN "SUBHANALLAH"
KETIKA ADA
SESUATU YANG MEMBUATNYA TAKJUB
----
﴿بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾
===***===
PENDAHULUAN:
Ada salah seorang da’i kondang di tanah air yang bergelar DOKTOR
-hafidzohullah-, dan beliau adalah salah seorang da’i yang sangat saya kagumi
akan keilmuannya, kecerdasannya, ketawadhu’annya dan kelembutan dalam berdakwah.
Namun ada salah satu materi ceramahnya yang betul-betul sangat menggelitik
hati saya. Yang deskripsi ceramahnya yaitu :
“Hati-hati Ucapan ‘SUBHANALLAH’ dan ‘MASYA
ALLAH’ tidak pada Tempat-nya”
Menurut beliau -hafidzohullah- ini, yang benar adalah sbb:
Ucapan “Subahanallah” itu hanya boleh diucapkan di saat menyaksikan
atau mendengar sesuatu yang bertentangan dengan sifat keagungan Allah swt, seperti
ketika keagungan Allah direndahkan atau disejajarkan dengan makhluk-Nya.
Contoh nya: Ketika mendengar ada orang berkata : “Allah Punya Anak”.
Maka saat itu pula katakanlah “Subahanallah”. Beliau berdalil dengan firman
Allah swt:
﴿ وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ
ۖ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ﴾
“Dan mereka berkata: ‘Allah mengambil seorang anak.’ Subhanah (Mahasuci
Dia). Bahkan milik-Nya lah apa yang ada di langit dan di bumi. Semua tunduk
patuh kepada-Nya.” [QS. Al-Baqara: 116].
Adapun, jika seseorang menyaksikan pemandangan yang indah menakjubkan
dan mengagumkan, maka menurut da’i kondang tersebut tidak boleh mengucapkan "Subhanallah", melainkan ucapkanlah “Masya Allah”, karena “maa” di sini kata beliau “lit ta’ajjub” untuk rasa ta'jub dan kagum....
dst.
Materi tentang “subhanallah” ini, terus diulang-ulang oleh Da’i ini dalam
banyak ceramahnya di tempat yang berbeda-beda dan tersebar luas di MedSos,
terutama di YouTube.
Dampaknya :
Fatwa da’i yang mulia ini telah menimbulkan kegaduhan pada sebagian kaum
muslimin. Diantaranya adalah kegaduhan yang pernah saya saksikan di airport Sukarno
Hataa Cengkareng antara sahabat saya yang berinisilal Haji (NC) dengan seorang
penganut dan penggemar da’i tersebut. Pertengkaran tersebut berawal ketika Haji
(NC) melihat pesawat sedang take off yang menakjubkannya, maka secara spontan
terucaplah dari mulutnya kata “Subanahallah”.
Ucapan dia ini tanpa sengaja terdengar oleh salah seorang pengagum
berat da’i tersebut, maka dia pun langsung marah dan menegurnya dengan mengatakan
“Yang anda katakan itu sangat tidak layak dan bukan pada tempat .... ” dst. Sahabat
saya pun merasa terheran-heran dengan kemarahan orang tersebut hanya karena ucapan
“Subhanallah”. Maka terjadilah kegaduhan diantara keduanya.
BENARKAH APA YANG DIKATAKAN DA’I INI?
MARI KITA KAJI DAN TELITI!
===***===
MAKNA AT-TA'AJJUB
التَّعَجُّبُ
[ Takjub , kagum , terheran-heran dan
tercengang ]
Syekh Dr. Muhammad Ibrahim Al-Hamd dalam artikelnya "التَّعَجُّبُ" [hal. 1-2] mengatakan :
وَالتَّعَجُّبُ:
انْفِعَالٌ يَحْدُثُ فِي النَّفْسِ؛ جَرَّاءَ الشُّعُورِ بِأَمْرٍ يَخْفَى سَبَبُهُ،
أَوْ رُؤْيَةٍ، أَوْ سَمَاعٍ لِشَيْءٍ خَارِجٍ عَنْ نَظَائِرِهِ؛ فَيَنْتُجُ عَنْهُ
إِظْهَارٌ لِذَلِكَ الْانْفِعَالِ، وَهُوَ مَا يُعْرَفُ بِالْعُجْبِ، أَوِ التَّعَجُّبِ.
وَقَدْ يَكُونُ
بَاعِثُ التَّعَجُّبِ خَوْفًا، أَوْ فَرَحًا، أَوْ دَهْشَةً، أَوْ اسْتِغْرَابًا، أَوْ
إِنْكَارًا، أَوْ طَرَبًا، أَوْ اهْتِزَازًا لِمَكْرُمَةٍ، أَوْ اسْتِبْعَادًا لِحُدُوثِ
أَمْرٍ مَا، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ.
وَقَدْ يَكُونُ
التَّعْبِيرُ عَنِ التَّعَجُّبِ عَبْرَ اسْتِعْمَالِ مَادَّةِ (عَجَبَ) بِمُخْتَلِفِ
تَصَارِيفِهَا، وَذَلِكَ كَثِيرٌ فِي الْقُرْآنِ، كَمَا فِي قَوْلِهِ -تَعَالَى- مُخْبِرًا
عَنِ الْجِنِّ لَمَّا اسْتَمَعُوا الْقُرْآنَ: ﴿إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا﴾
(الْجِنّ: 1)، وَكَمَا فِي قَوْلِهِ -تَعَالَى-: ﴿أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ
مِنْ رَبِّكُمْ﴾ (الْأَعْرَاف: 63)، وَقَوْلِهِ: ﴿أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا
إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ﴾ (يُونُس: 2)، وَقَوْلِهِ: ﴿قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ﴾ (هُود: 73)، وَقَوْلِهِ: ﴿وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ﴾ (الرَّعْد:
5)، وَقَوْلِهِ: ﴿بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ﴾ (الصَّافَّات: 12)، وَقَوْلِهِ: ﴿بَلْ
عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ﴾
(ق: 2).
وَقَدْ يَكُونُ
التَّعْبِيرُ بِاسْتِخْدَامِ إِحْدَى الصِّيَغِ السَّمَاعِيَّةِ كَمَا فِي قَوْلِهِ
-تَعَالَى-: ﴿قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا﴾ (الْإِسْرَاء:
93)، وَقَوْلِهِ: ﴿فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ﴾ (الْوَاقِعَة: 91).
Dan at-Ta'jjub itu adalah : interaksi yang terjadi dalam jiwa; akibat
merasakan sesuatu yang penyebabnya tersembunyi, atau melihat atau mendengar
sesuatu di luar kebiasaannya dan tandingannya; maka darinya menghasilkan
sesuatu yang menimbulkan reaksi emosional .
Dan itu yang kenal dengan istilah rasa kagum atau tercengang [ takjub]
.
Dan terkadang rasa takjub [ tercengang] itu muncul dari rasa ketakutan
atau kegembiraan atau keheranan atau keanehan atau pengingkaran atau kegirangan
atau bergetar hatinya karena suatu kehormatan atau terhindar dari suatu kejadian
, atau yang sejenisnya. ....... .
Terkadang ungkapan tentang at-Ta'ajjub itu melalui penggunaan asal kata
( عَجَبَ : heran) dalam berbagai bentuk katanya, dan ini banyak di dalam
Al-Qur'an.
Contohnya : seperti
dalam firman Allah Azza wa Jalla , yang menginformasikan tentang jin ketika
mereka mendengarkan Al-Qur'an :
﴿إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً﴾
Artinya : Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan
. [QS. Al-Jinn : 1]
Dan seperti dalam firman-Nya :
﴿أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ
رَبِّكُمْ﴾
Artinya : " Apakah kalian merasa heran [tidak percaya] bahwa
datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian". [ QS. Al-A'raf : 63 ]
.
Dan firman-Nya :
﴿أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَباً أَنْ أَوْحَيْنَا
إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ﴾
Artinya : " Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi
wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka". [ QS. Yunus : 2 ] .....
Dan Terkadang ungkapan tentang at-Ta'ajjub itu dengan menggunakan kalimat
yang menunjukkan expresi pendengaran [[ الصيغ
السماعية ]]
:
Contohnya ,
seperti dalam firman-Nya :
﴿قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلاَّ
بَشَراً رَسُولاً﴾
Katakanlah ( Muhammad ) : “Mahasuci Tuhanku [SUBHANA ROBBI],
aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi rosul ".
Dan firman-Nya :
﴿فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ﴾
" Maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan
kanan " [ QS. Al-Waqi'ah : 91]
===***===
HUKUM MENGUCAPKAN SUBHANALLAH
KETIKA ADA SESUATU YANG MENAKJUBKAN l
BOLEH. Hukum Mengucapkan “SUBHANALLAH [Maha Suci Allah[” ketika melihat
atau mendengar sesuatu yang membuatnya takjub adalah diperbolehkan dan tidak
ada larangan .
Al-'Allaamah Ibnu Utsaimin mengatakan dalam kitab Syarah Riyadhush
Sholihiin 6/666:
"إِذَا حَدَثَ لِلْإِنْسَانِ مَا يَتَعَجَّبُ
مِنْهُ فَلْيَقُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ كَمَا قَالَ ذَلِكَ الْأَنْصَارِيَّانِ وَأَقَرَّهُمَا
النَّبِيُّ ﷺ".
Jika ada sesuatu terjadi pada seseorang yang membuatnya TA'AJJUB [kagum
dan takjub], maka ucapkanlah olehnya kata “SUBHANALLAH [Maha Suci Allah]",
seperti yang diucapkan oleh dua sahabat Anshar , yang oleh Nabi ﷺ di taqrir nya [ tidak di salahkan ] ". [ SELESAI]
****
DALIL-DALIL
Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya mengucapkan
SUBHANALLAH ketika ada sesuatu yang membuatnya Takjub :
----
DALIL KE 1 :
Allah SWT berfirman :
﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
(Yaitu) orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk, atau berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) :
'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. MAHA
SUCI ENGKAU [سُبْحَانَكَ] peliharalah kami dari siksa
api neraka.'" (QS Ali Imran : 190-191).
----
DALIL KE 2 :
Dan Allah SWT berfirman :
﴿سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ
لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا
حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ﴾
Mahasuci Allah [ سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ], yang telah memperjalankan
hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang
telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
(QS. Al-Isra': 1)
----
DALIL KE 3 :
Dan Allah SWT berfirman :
﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا
وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ﴾
"Maha Suci Allah [ سُبْحٰنَ
الَّذِيْٓ]
yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami
". [ Az-Zukhruf : 13 ]
----
DALIL KE 4 :
Dan Allah SWT berfirman :
﴿هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا
وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ (12) وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ
بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ
بِهَا مَنْ يَشَاءُ ... (13) ﴾
Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepada kalian untuk menimbulkan
kekalutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.
Dan guruh itu BERTASBIH dengan memuji Allah, (demikian
pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan
halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki .... [ QS.
Ar-Ra'd, ayat 12-13]
---
DALIL KE 5 :
Dari Ummu Salamah rdhiyallhu ‘anha berkata :
"اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ
لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنْ الْفِتَنِ
وَمَاذَا فُتِحَ مِنْ الْخَزَائِنِ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الْحُجَرِ فَرُبَّ
كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ".
“Pada suatu malam Nabi ﷺ terbangun lalu bersabda:
“Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada
malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Romawi dan Persia)?
Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena
betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun
akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan).” [HR. Bukhori no.
112 ]
---
DALIL KE 6 :
Hadits Ucapan Tasbih saat Mendengar Petir . Dari Abdullah bin Zubair
radhiyallahu 'anhu :
"أنَّه كان إذا سمِعَ الرَّعدَ تركَ
الحديثَ وقال : سُبْحَانَ الَّذِي ﴿ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ
وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ ﴾ [الرعد: 13] ثمَّ يقولُ : إنَّ هذا لوعيدٌ
شديدٌ لأهلِ الأرضِ".
Jika dia mendengar guntur, dia segera menghentikan pembicaraan dan
berkata :
" Maha Suci Allah, yang membuat petir bertasbih dengan memuji-Nya,
dan begitu juga para malaikat karena takut kepada-Nya”.[QS. Ar-Ra'd: 13]".
Lalu dia berkata : " Ini adalah ancaman yang keras bagi para
penghuni bumi ".
[HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa’ 2/992 dan Al Bukhari dalam Adab Al
Mufrad no. 724 , dan Baihaqi dalam Al Kubra. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 556]
----
DALIL KE 7 :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu :
أَنَّهُ لَقِيَهُ
النَّبِيُّ ﷺ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ، وَهُوَ جُنُبٌ فَانْسَلَّ فَذَهَبَ
فَاغْتَسَلَ، فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ ﷺ فَلَمَّا جَاءَهُ قَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا
أَبَا هُرَيْرَةَ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ فَكَرِهْتُ
أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «سُبْحَانَ اللهِ
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ»
Bahwasanya dia bertemu Nabi ﷺ di salah satu jalan di Madinah, sedangkan
beliau dalam keadaan berjunub. Maka dia menyelinap yaitu mengelakkan diri dari
bertemu Rasulullah ﷺ dan pergi untuk mandi sehingga Rasulullah ﷺ mencari-carinya.
Ketika beliau datang kembali, beliau pun bertanya : "Ke mana kamu
pergi wahai Abu Hurairah!
Dia menjawab, "Wahai Rasulullah! Kamu ingin menemuiku sedangkan
aku dalam keadaan berjunub. Aku merasa tidak suka untuk duduk bersama kamu
hingga aku mandi.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda : " SUBAHANALLAH (Maha suci
Allah)! orang mukmin itu tidak najis." [ HR. Muslim no. 371 ]
-----
DALIL KE 8 :
Dalam Shahih Bukhori no. [3101] dan Shahih Muslim dari Shofiyyah
radhiyallahu 'anha, berkata :
"كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعْتَكِفًا
فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ
مَعِي يَقْلِبُنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ
رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ ﷺ أَسْرَعَا فَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا
سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ
الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا
شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا".
"Rasulullah ﷺ beri'tikaf, lalu saya datang mengunjunginya
pada malam hari, setelah berbincang-bincang saya pun berdiri untuk kembali,
lantas beliau berdiri untuk mengantarku -tempat tinggal Shafiyah adalah di
rumah Usamah bin Zaid-. Lalu lewatlah dua laki-laki Anshar, ketika mereka
melihat Nabi ﷺ mereka mempercepat langkah mereka.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda : "Perlahanlah, sesungguhnya
dia adalah Shafiyah binti Huyai."
Maka mereka pun berkata : "Wahai Rasulullah, “SUBHANALLAH"
!"
Beliau lantas bersabda: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri
manusia pada aliran darah, dan aku khawatir jika hati kalian menuduhku berbuat
tidak baik atau berkata yang tidak baik."
----
DALIL KE 9 :
Dari Abu Waqid al-Laitsi :
"أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمَّا خَرَجَ إِلَى
خَيْبَرَ، مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، يُعَلِّقُونَ
عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ
كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: سُبْحَانَ اللَّهِ! هَذَا كَمَا
قَالَ قَوْمُ مُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ﴾ [الْأَعْرَاف:
138]، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ".
” Tatkala Rasulullah ﷺ berangkat keluar menuju Khoibar. Lalu,
beliau melewati pohon orang musyrik yang Mula Dzatu Anwath. Mereka
menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka (para sahabat) berkata :
“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath
(menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”
Rasulullah ﷺ menjawab :
“SUBHANALLAH ! Ini seperti yang dikatakan oleh kaum Musa:
﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ﴾
Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki
sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A'raaf: 138).
Demi Dzat yang jiwa ku di tangan-Nya , sungguh kalian benar-benar akan
mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”
[ HR. Tirmidzi no. 2180. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan
shahih. Dan hadits ini di shahihkan pula oleh al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi
no. 2180 ].
===***===
PERNYATAAN SEBAGIAN PARA ULAMA
====
PERKATAAN IBNU KTSIR DALAM TAFSIRNYA :
Ibnu Katsir dalam Tafsirnya ketika menafsiri firman Allah SWT :
﴿هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا
وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ (12) وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ
بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ
بِهَا مَنْ يَشَاءُ ... (13) ﴾.
Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepada kalian untuk menimbulkan
kekalutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.
Dan guruh itu BERTASBIH dengan memuji Allah, (demikian
pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan
halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki .... [ QS. Ar-Ra’d,
ayat 12-13]
Ibnu Katsir berkata :
“ Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Ahmad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan
kepada kami Israil, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari Abu Hurairah yang
me-rafa’-kannya (sampai kepada Nabi Saw.). Disebutkan :
رَفَعَ
الْحَدِيثَ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ قَالَ: "سُبْحَانَ
مَنْ يُسبّح الرعْد بِحَمْدِهِ".
Bahwa Nabi Saw. membaca doa berikut apabila mendengar suara
guruh: SUBHANA MAN [Mahasuci Tuhan] yang guruh bertasbih dengan
memuji-Nya.
[[ Tafsir al-Tabari (16/389) dan diriwayatkan oleh Ibnu Mardawayh dalam
tafsirnya seperti dalam Takhrij al-Kashshaf (2/184) melalui Muhammad bin Yahya,
dari Ahmad Ibn Ishaq, dari Abu Ahmad, dari 'Ataab Ibn Ziyad, dari seorang
laki-laki, dari Abu Hurairah, hadits marfu' kepada Nabi ﷺ . . . dst . PEN ]]
Lalu Ibnu Katsir berkata :
“Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّهُ كَانَ إِذَا
سَمِعَ صَوْتَ الرَّعْدِ قَالَ: سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَتْ لَهُ.
bahwa apabila ia mendengar suara guruh mengucapkan doa berikut:
"Mahasuci Tuhan yang engkau bertasbih kepada-Nya."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Tawus, dan Al-Aswad
ibnu Yazid, bahwa mereka mengucapkan doa tersebut.
Al-Auza'i mengatakan : "Ibnu Zakaria pernah berkata :
مَنْ قَالَ حِينَ
يَسْمَعُ الرَّعْدَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، لَمْ تُصِبْهُ صَاعِقَةٌ
Bahwa barang siapa yang mendengar suara guruh, lalu membaca doa ini :
'Mahasuci Allah [SUBHANALLAH] dan dengan memuji kepada-Nya,' niscaya dia tidak
akan disambar petir."
Dari Abdullah ibnuz Zubair, disebutkan :
أَنَّهُ كَانَ إِذَا
سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيثَ وَقَالَ: سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرعدُ بِحَمْدِهِ
وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ، وَيَقُولُ: إِنَّ هَذَا لَوَعِيدٌ شديدٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ
Bahwa apabila ia mendengar suara guruh, sedangkan ia dalam keadaan
berbicara, maka ia menghentikan pembicaraannya dan mengucapkan doa :
"Mahasuci Tuhan [ سُبْحَانَ
الَّذِي ] yang
guruh dan para malaikat bertasbih kepada-Nya dengan memuji-Nya karena takut
kepada-Nya."
Lalu ia berkata, "Sesungguhnya suara ini benar-benar merupakan
peringatan yang keras bagi penduduk bumi."
Demikianlah menurut riwayat Imam Malik di dalam kitab Muwata-nya 2/992 dan
Imam Bukhari di dalam Kitabul Adab no. 724”.
[ SELESAI KUTIPAN DARI TAFSIR IBNU KATSIR]
====
FATWA SYABAKAH ISLAMIYAH :
Fatwa Syabakah Islamiyah [9/813] Tanggal Fatwa 19 Muharram 1429 H
حُكْمُ قَوْلِ سُبْحَانَ
اللَّهِ عِنْدَمَا يَرَى أَوْ يَسْمَعُ مَا يَتَعَجَّبُ مِنْهُ.
Hukum Mengucapkan “SUBHANALLAH [Maha
Suci Allah” ketika melihat atau mendengar sesuatu yang membuatnya takjub
PERTANYAAN :
مَا حُكْمُ مَنْ
يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ عِنْدَمَا يُحْكَى لَهُ شَخْصٌ التَّدَهْوُرَ الْمَوْجُودَ
فِي مَكَانٍ مَا؟
Apa hukumnya seseorang yang mengatakan “SUBHANALLAH [Maha Suci Allah]”
ketika ada seseorang mengkisahkan padanya tentang adanya kemerosotan [kemunduran]
di suatu tempat?
----
JAWABAN :
الْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا
بَعْدُ:
فَلَا مَانِعَ شَرْعًا
مِنْ قَوْلِ الْمُسْلِمِ: سُبْحَانَ اللَّهِ، عِنْدَمَا يَرَى أَوْ يَسْمَعُ مَا يَتَعَجَّبُ
مِنْهُ، فَكَثِيرًا مَا يَرِدُ هَذَا اللَّفْظُ (سُبْحَانَ اللَّهِ) عَلَى لِسَانِ
رَسُولِ اللَّهِ -ﷺ- وَعَلَى لِسَانِ صَحَابَتِهِ عِنْدَ التَّعَجُّبِ، فَمِنْ ذَلِكَ
مَا جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ: "اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ:
سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ، وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ
الْخَزَائِنِ، أَيْقِظُوا صَوَاحِبَ الْحُجَرِ، فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ
فِي الْآخِرَةِ".
وَمِنْهُ قَوْلُهُ
ﷺ لِأَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَمَا كَانَ جُنُبًا: "… سُبْحَانَ اللَّهِ! إِنَّ الْمُؤْمِنَ
لَا يَنْجُسُ"، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيْنِ.
وَالتَّسْبِيحُ
مَعْنَاهُ التَّنْزِيهُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ مَعْنَاهَا: أُنَزِّهُ اللَّهَ عَمَّا
لَا يَلِيقُ بِكَمَالِهِ وَعَظَمَتِهِ، وَهَذَا مِنْ أَفْضَلِ أَنْوَاعِ الذِّكْرِ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada
Rasulullah beserta keluarga dan para sahabatnya, Adapun yang berikut ini:
Tidak ada larangan hukum bagi seorang Muslim mengatakan: “SUBHANALLAH
[Maha Suci Allah]”, ketika dia melihat atau mendengar sesuatu yang membuatnya
TAKJUB. Ungkapan ini “SUBHANALLAH [Maha Suci Allah]” sering terucap pada lisan
Rasulullah ﷺ dan [ada lisan para sahabatnya ketika dia merasa TAKJUB , inilah yang
terdapat dalam hadits Bukhori dan Muslim:
Dari Ummu Salamah berkata :
اسْتَيْقَظَ
النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ
اللَّيْلَةَ مِنْ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنْ الْخَزَائِنِ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ
الْحُجَرِ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ
“Pada suatu malam Nabi ﷺ terbangun lalu bersabda:
“Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada
malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Romawi dan Persia)?
Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena
betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun
akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan).” [HR. Bukhori no.
112 ]
Dan juga dianatarnya adalah apa yang beliau ﷺ katakan kepada Abu Hurairah ketika dia junub:
«سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا
يَنْجُسُ»
" Subhaanallah (Maha suci Allah)! orang mukmin itu tidak
najis.".
Dan itu ada dalam dua kitab hadits Sahih [ Bukhori dan Muslim ] .
Dan bertasbih [ ucapan subhanallah] itu berarti mensucikan , dan
“SUBHANALLAH [Maha Suci Allah] itu berarti: Allah telah mensucikan dirinya apa
yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan kebesaran-Nya, dan ini adalah salah
satu jenis dzikir yang terbaik dan ter afdhal .
===
FATWA ISLAM WEB :
Fatwa Islam Web . No Fatwa : 209593 .
لَا حَرَجَ فِي
التَّسْبِيحِ عِنْدَ رُؤْيَةِ مَا يُتَعَجَّبُ مِنْهُ.
Tidak ada salahnya bertasbih ketika
melihat sesuatu yang membuatnya Takjub
---
PERTANYAAN :
أَقُولُ سُبْحَانَ
اللَّهِ كَثِيرًا فِي كُلِّ وَقْتٍ ـ إِذَا رَأَيْتُ زَهْرَةً جَمِيلَةً أَقُولُ سُبْحَانَ
اللَّهِ، وَإِذَا رَأَيْتُ حَادِثَ سَيَّارَةٍ أَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ ـ أَيْ أَنَّ
سُبْحَانَ اللَّهِ أَصْبَحَتْ جُزْءًا مِنْ كَلَامِي ـ
وَأَحَدُ زُمَلَائِي
قَالَ لِي: أَنْزِلْهَا مَنْزِلَتَهَا وَلَا تَقُلْهَا فِي كُلِّ وَقْتٍ، فَهَلْ أَسْمَعُ
كَلَامَهُ؟ أَمْ أَسْتَمِرُّ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ؟ وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا.
Saya sudah terbiasa setiap waktu banyak mengucapkan “SUBHANALLAH [Maha
Suci Allah]. Jika saya melihat bunga
yang indah saya mengatakan “SUBHANALLAH". Dan jika saya melihat kecelakaan
mobil , maka saya mengatakan “SUBHANALLAH" .
Artinya Ucapan “SUBHANALLAH" ini telah menjadi bagian dari ucapan
saya.
Namun ada salah satu rekan saya mengatakan kepada saya : " Tempatkanlah
ucapan “SUBHANALLAH" itu pada tempatnya dan janganlah kamu mengucapkannya
di setiap waktu!!".
Apakah saya harus mendengar kata-katanya? Atau apakah saya boleh meneruskan
kebiasaan saya tsb ? Jazaa kumullaah khairan [ Semoga Allah membalas antum
dengan kebaikan]
----
JAWABAN :
الْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ التَّسْبِيحَ
عِنْدَ رُؤْيَةِ مَا يَتَعَجَّبُ مِنْهُ أَوْ يَتَّعِظُ بِهِ مَشْرُوعٌ، فَفِي الصَّحِيحَيْنِ
عَنْ صَفِيَّةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ
لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ، فَقَامَ مَعِي لِيُقَلِّبَنِي،
وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ،
فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ ﷺ أَسْرَعَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: عَلَى رِسْلِكُمَا
إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ، فَقَالَا: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ!
قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ
أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا.
قَالَ الْعَلَّامَةُ
ابْنُ عُثَيْمِينَ فِي شَرْحِ رِيَاضِ الصَّالِحِينَ: إِذَا حَدَثَ لِلْإِنْسَانِ مَا
يَتَعَجَّبُ مِنْهُ فَلْيَقُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ كَمَا قَالَ ذَلِكَ الْأَنْصَارِيَّانِ
وَأَقَرَّهُمَا النَّبِيُّ ﷺ. اهـ.
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasulullah
beserta keluarga dan para sahabatnya, adapun sebagai berikut:
Maka sesungguhnya bertsabih ketika melihat sesuatu yang mengagumkan
atau sesuatu yang terdapat mau'idzoh [nasihat dan pelajaran] di dalamnya , itu
adalah di syariatkan .
Maka dalam Shahih Bukhori no. [3101] dan Shahih Muslim dari Shofiyyah
radhiyallahu 'anha, berkata :
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ
فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي يَقْلِبُنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ
بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ ﷺ
أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ
حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ
يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي
قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا
"Rasulullah ﷺ beri'tikaf, lalu saya datang mengunjunginya
pada malam hari, setelah berbincang-bincang saya pun berdiri untuk kembali,
lantas beliau berdiri untuk mengantarku -tempat tinggal Shafiyah adalah di
rumah Usamah bin Zaid-. Lalu lewatlah dua laki-laki Anshar, ketika mereka
melihat Nabi ﷺ mereka mempercepat langkah mereka.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda : "Perlahanlah, sesungguhnya
dia adalah Shafiyah binti Huyai."
Maka mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, “SUBHANALLAH" !"
Beliau lantas bersabda: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri
manusia pada aliran darah, dan aku khawatir jika hati kalian menuduhku berbuat
tidak baik atau berkata yang tidak baik."
Al-'Allaamah Ibnu Utsaimin mengatakan dalam kitab Syarah Riyadhush
Sholihiin 6/666:
" إِذَا حَدَثَ لِلْإِنْسَانِ مَا يَتَعَجَّبُ
مِنْهُ فَلْيَقُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ كَمَا قَالَ ذَلِكَ الْأَنْصَارِيَّانِ وَأَقَرَّهُمَا
النَّبِيُّ ﷺ ".
Jika ada sesuatu terjadi pada seseorang yang membuatnya TA'AJJUB [kagum
dan takjub], maka ucapkanlah olehnya kata “SUBHANALLAH [Maha Suci Allah]",
seperti yang diucapkan oleh dua sahabat Anshar , yang oleh Nabi ﷺ di taqrir nya [ tidak di salahkan ] ". [ SELESAI]
****
HUKUM MENGUCAPKAN “WAHAI SUBHANALLAH !”?.
“يَا سُبْحَانَ اللَّهِ"
Bagaimana hukum ungkapan kalimat “Wahai Subhanallah ! (يَا سُبْحَانَ اللَّهِ!)”, yakni ditambahi kata
“Wahai (يَا)”, ketika merasa takjub
terhadap sesuatu ?
Dalam Fatwa Islam.web no. 164621 terdapat jawaban :
وَأَمَّا قَوْلُ
الْقَائِلِ: “يَا سُبْحَانَ اللَّهِ" عِنْدَ التَّعَجُّبِ فَلَا حَرَجَ
فِيهِ ـ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى ـ فَقَدْ جَرَى بِهِ أَلْسِنَةُ السَّلَفِ الصَّالِحِ
مِنَ الصَّحَابَةِ الْكِرَامِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى يَوْمِنَا
هَذَا، بَلْ وَرَدَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ الْمَرْفُوعَةِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ.
فَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ
ﷺ رَدًّا عَلَى مَا جَاءَ فِي كِتَابِ هِرَقْلَ مِنْ قَوْلِهِ:
“تَدْعُونِي إِلَى
جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ فَأَيْنَ النَّارُ إِذًا؟” فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: “يَا سُبْحَانَ اللَّهِ! إِذَا جَاءَ اللَّيْلُ فَأَيْنَ النَّهَارُ؟” رَوَاهُ
أَبُو يَعْلَى فِي مُسْنَدِهِ.
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ
“عَائِشَةَ” ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ـ فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ حَدِيثِ الْمَرْأَةِ
الَّتِي قَالَتْ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا؟” قَالَتْ “عَائِشَةُ”:
“فَقُلْتُ لَهَا أَنَا: يَا سُبْحَانَ اللَّهِ! تَتَّبِعِينَ آثَارَ الدَّمِ؟” وَهَذِهِ
الرِّوَايَةُ فِي مُسْنَدِ الطَّيَالِسِي.
وَمِنْهُ قَوْلُ
“عُمَرَ” ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ـ لِسَوَادِ بْنِ قَارِبٍ عِنْدَمَا غَضِبَ مِنْ
قَوْلِهِ: “فَأَنْتَ عَلَى مَا كُنْتَ عَلَيْهِ مِنْ كِهَانَتِكَ؟” فَقَالَ “عُمَرُ”:
“يَا سُبْحَانَ اللَّهِ! وَاللَّهِ مَا كُنَّا عَلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ مِنْ
كِهَانَتِكَ.” رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ.
وَلِذَلِكَ لَا
تَأْثِيرَ لِهَذَا الْقَوْلِ عَلَى صَوْمِكَ وَلَا عَلَى عَقِيدَتِكَ ـ إِنْ شَاءَ
اللَّهُ تَعَالَى ـ وَالَّذِي نَنْصَحُكَ بِهِ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى الْبُعْدُ
عَنِ الْوَسْوَاسِ وَمَا يُؤَدِّي إِلَيْهِ.
Adapun perkataan seseorang “Ya Subhanallah“ ketika merasa takjub, maka
tidak mengapa mengucapkannya—insyaallah—karena hal itu telah lazim diucapkan
oleh lisan para ulama terdahulu dari kalangan sahabat yang mulia dan
orang-orang setelah mereka dari kalangan ahli ilmu hingga hari ini. Bahkan, hal
ini juga disebutkan dalam beberapa hadits yang disandarkan kepada Nabi ﷺ.
Di antara hadits tersebut adalah sabda Nabi ﷺ ketika menanggapi isi surat
Kaisar Heraklius yang berkata: “Engkau mengajakku kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi, lalu di mana neraka itu?"“ Maka Rasulullah ﷺ menjawab: “"Ya Subhanallah! Jika malam datang, lalu di
mana siang?"“ Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (no.
1597. Pentahqiqinya berkata : Para Perawinya tsiqoot).
Demikian pula terdapat perkataan “Aisyah radhiyallahu 'anha” dalam
salah satu riwayat hadits mengenai seorang wanita yang bertanya: “"Wahai
Rasulullah, bagaimana cara aku bersuci dengannya?"“ Maka “Aisyah” berkata:
“"Aku pun menjawabnya: 'Ya Subhanallah! Engkau harus mengikuti bekas darah
itu!'"“ Riwayat ini terdapat dalam Musnad Ath-Thayalisi. (no. 1667. Di shahihkan
Syu’aib al-Arna’uth dalam tahqiq Sunan Abu Daud 1/232 no. 3154).
Begitu juga dalam perkataan “Umar radhiyallahu 'anhu” kepada Suwad bin
Qarib, ketika ia marah karena ditanya: “"Apakah engkau masih tetap dalam
keadaan seperti dahulu, yakni sebagai seorang dukun?"“ Maka “Umar”
berkata: “"Ya Subhanallah! Demi Allah, dahulu kemusyrikan yang kami anut
lebih besar daripada sekadar perdukunanmu!"“ Hadits ini diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir (no. 6475. Dan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrok
no. 6558. Sanadnya lemah).
Oleh karena itu, ucapan ini tidak mempengaruhi puasa atau
akidahmu—insyaallah. Yang kami nasihatkan kepadamu, setelah bertakwa kepada
Allah Ta'ala, adalah menjauhi was-was serta segala sesuatu yang mengarah
kepadanya”. [Kutipan Selesai]
0 Komentar