Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

APAKAH BENAR BAHWA BUKA PUASA BERSAMA ITU HARAM DAN BID'AH SESAT?

APAKAH BENAR BAHWA BUKA PUASA BERSAMA ITU HARAM DAN BIDA'H SESAT?

Oleh Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---

----

DAFTAR ISI:

  • Hukum makan bersama:
  • Hukum buka puasa bersama
  • Fatwa para ulama tentang hukum buka puasa bersama
  • Hukum makan di masjid
  • Hukum buka puasa bersama di masjid
  • Pendapat pertama: boleh buka puasa bersama di masjid
  • Pendapat kedua: tidak disyariatkan
  • Pendapat ketiga: haram buka puasa bersama di masjid (Ini fatwa Syeikh Al-Albani)

*****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

*****

HUKUM MAKAN BERSAMA:

Allah SWT berfirman :

﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾

" Tidak ada keberatan [boleh] bagi kalian makan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri". [QS. An-Nuur : 61]

Dari Umar bin Al Khaththab, bahwa Rasulullah bersabda:

«كُلُوا جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ».

"Makanlah bersama-sama dan jangan berpencar-pencar, sesungguhnya barakah itu bersama jama'ah."

[HR. Ibnu Majah (3287), Ad-Dailami dalam "Al-Firdaus" (4711) secara ringkas, dan Al-‘Askari dalam "Al-Mawaidz" sebagaimana dalam "Al-Jami' As-Saghir" oleh Asy-Suyuti (2/167), dan lafal (teks) itu adalah miliknya. Dihasankan oleh al-Albaani dalam Shahih al-Jaami’ no. 4501].

Dari Wahsyi bin Harb dari Ayahnya dari Kakeknya :

أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا: "يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ"، قَالَ: «فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ».

“Bahwa para sahabat Nabi berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?"

Beliau bertanya : "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya."

Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya."

[HR. Abu Daud no. 3764 dan Ibnu Majah no. 2674 . Di hasankan oleh al-Albani dalamShahih Abu Daud dan Shahih Ibnu Majah ].

Dari Abdullah bin az-Zubair – radhiyallahu ‘anhu - dia berkata:

«أَكَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا فِي الْمَسْجِدِ لَحْمًا قَدْ شُوِيَ فَمَسَحْنَا أَيْدِيَنَا بِالْحَصْبَاءِ ثُمَّ قُمْنَا نُصَلِّي وَلَمْ نَتَوَضَّأْ»

(Kami makan bersama Rasulullah makanan di masjid , daging yang telah dipanggang, lalu kami menyeka tangan kami dengan kerikil, lalu kami bangun untuk sholat dan tidak berwudhu lagi ).

TAKHRIJ HADITS :

HR. Ibnu Majah -3302- (10/46, Ahmad dalam "Al-Musnad" (17752) dan (17709), Ibnu Abdil Hakam dalam "Fathu Misr" hal. 299-300, At-Tirmidzi dalam "Ash-Shamail" (166), Abu Ya'la (1541), Ath-Thahawi dalam "Syarh Ma'ani al-Athar" 1/66, dan Al-Baghawi dalam "Syarh As-Sunnah" (2847) dari jalur-jalur yang berasal dari Ibnu Luhay'ah dengan sanad (rantai perawi) ini.

Hadits ini shahih, Ibnu Luhay'ah -meskipun dia dianggap lemah-, namun dia meriwayatkan hadits ini dari Qutaibah bin Sa'id, dan riwayatnya dari Ibnu Luhay'ah ini bersambung sampai kepadanya.

Dan Al-Albani berkata: (Shahih - tanpa ada lafadz "menyeka tangan") Lihat: Sahih Ibn Majah(7/311)]

Riwayat Qutaibah bin Sa'id menurut At-Tirmidzi -dan dari jalur ini Al-Baghawi- disingkat dengan lafadz :

«أَكَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَوَاءَ فِي الْمَسْجِدِ»

"Kami makan bersama Rasulullah daging panggang di dalam masjid."

Ahmad juga meriwayatkan hadits ini (17705) dengan sanad yang berbeda dari jalur Abdullah bin Wahb, dari Haywah bin Syuraih, dari Uqbah bin Muslim, dari Abdullah bin Al-Harith bin Jaz'. Sanadnya dianggap sahih.

Basyir Farhan Al-‘Anazi berkata dalam kitab “Al-Masjid fi Ramadhan”:

«وَالْأَحَادِيثُ الدَّالَّةُ عَلَى جَوَازِ الْأَكْلِ فِي الْمَسْجِدِ مُتَكَاثِرَةٌ [نَيْلُ الْأَوْطَارِ 3/236]».

“Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya makan di masjid sangat banyak dan melimpah”. [Nailul Authar (3/236)]

====*****===

HUKUM BUKA PUASA BERSAMA

Ada beberapa ulama kontemporer dan beberapa ustadz di tanah air yang dengan tegas, keras dan lantang mengatakan bahwa buka puasa bersama di bulan Ramadhan yang dikenal dengan istilah BUK-BER adalah BID'AH, dan semua bid'ah adalah sesat , dan setiap yang sesat adalah haram , dan setiap yang haram pasti ke neraka . Maka buka bersama menurut mereka adalah kumpulan kerjasa sama dalam perbuatan dosa. Dan dosa bid’ah lebih besar dari pada dosa perbuatan maksiat apapun . Karena dosa bid’ah dampaknya pada agama dan umat , sementara dosa maksiat dampaknya pada individu pelaku maksiat .  

Untuk perbandingan , maka penulis di sini akan mencoba menyebutkan beberapa Fatwa Para Ulama Kontemporer yang membolehkannya dan juga fatwa ulama yang membid'ahkannya :

****

FATWA PARA ULAMA TENTANG HUKUM BUKA PUASA BERSAMA

===

PERTAMA : 
FATWA PARA ULAMA AL-LAJNAH AD-DAA'IMAH SAUDI ARABIA

[FATWA NO. 15616 ]:

PERTANYAAN : Al-Lajnah ad-Daaimah pernah di tanya sbb :

سَمِعتُ مِن بَعْضِ الإِخْوَةِ أَنَّ الإِفْطَارَ الجَمَاعِيَّ – أَكَانَ ذَلِكَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ فِي صِيَامِ النَّافِلَةِ – بِدْعَةٌ. فَهَلْ هَذَا صَحِيحٌ؟

Saya mendengar dari sebagian ikhwan bahwa berbuka puasa bersama [berjemaah], baik di bulan Ramadhan maupun puasa sunnah, adalah bid’ah. Apakah ini benar?

JAWABAN :

"لا بَأْسَ بِالإفْطَارِ جَمَاعِيًا فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِه، مَا لَمْ يُعْتَقَدْ هَذَا الِاجْتِمَاعُ عِبَادَة؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾ [النور: 61] لَكِنْ إِنْ خِيفَ بِالْإِفْطَارِ جَمَاعِيًا فِي النَّافِلَةِ الرِّيَاءَ وَالسَّمْعَةِ، لِتَمِيزِ الصَّائِمِينَ عَنْ غَيْرِهِم؛ كُرْهًا لَهُم بِذَلِكَ. وَبِاللهِ التَّوْفِيقِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ."

" Tidak mengapa berbuka puasa berjamaah di bulan Ramadhan dan di waktu lainnya, selama pertemuan ini tidak dianggap sebagai ibadah. Karena Allah SWT berfirman :

﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾

" Tidak ada halangan [boleh] bagi kalian makan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri". [QS. An-Nuur : 61]

Namun jika dikhawatirkan berbuka puasa berjamaah dalam puasa sunnah itu, menimbulkan rasa riya dan ingin dikenal bahwa diri mereka adalah orang-orang ahli puasa [ahli tirakat] yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang ; maka ini dimakruhkan atas mereka .....".

Para anggota Lajnah Terdiri dari :

Bakr Abu Zaid... Anggota

Abdul Aziz Al-Sheikh... Anggota

Shaleh Al-Fawzan... Anggota

Abdullah Bin Ghadian... Anggota

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ... Ketua .

SUMBER :

اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ لِلْبُحُوثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ (9/34-35) الْمَجْمُوعَةُ الثَّانِيَةُ:

Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Pengeluaran Fatwa (34-35/9), kelompok kedua:

*****

KEDUA : 
FATWA PARA ULAMA ISLAM.WEB

Tanggal terbit: Kamis 25 Syaban 1423 H - 31/10/2002 M . Nomor fatwa: 24425

PERTANYAAN :

مَا حُكْمُ الْفُطُورِ الْجَمَاعِيِّ فِي رَمَضَانَ؟ وَمَا حُكْمُهُ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ؟

Apa hukum buka bersama di bulan Ramadhan? Dan apa hukumnya di selain Ramadhan?

JAWABAN :

فَلَا بَأْسَ بِالْفُطُورِ الْجَمَاعِيِّ فِي رَمَضَانَ، أَوْ فِي غَيْرِهِ.

فَإِنَّ الْإِسْلَامَ يَدْعُو إِلَى الْأُلْفَةِ وَالْمَحَبَّةِ، وَتَوْثِيقِ الصِّلَاتِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ، فَإِذَا كَانَ الْإِفْطَارُ الْجَمَاعِيُّ بِدَعْوَةٍ مِنْ أَحَدِ الْأَشْخَاصِ لِتَفْطِيرِ الْجَمِيعِ، فَفِي هٰذَا مِنَ الْخَيْرِ مَا لَا يَخْفَى عَلَى الْمُسْلِمِ، فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

وَقَالَ ﷺ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ.

وَسَوَاءٌ كَانَ ذٰلِكَ مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ، فَهٰذَا كُلُّهُ مِمَّا يُوجِبُ الْوِئَامَ وَالْمَحَبَّةَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ، وَيَدْعُو إِلَى التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ، وَهٰذِهِ مَقَاصِدُ شَرْعِيَّةٌ كُبْرَى.

Tidak mengapa berbuka puasa bersama di bulan Ramadhan atau di waktu lainnya.

Islam menyerukan untuk mempererat persahabatan dan kasih sayang , serta memperkokoh ikatan tali silaturrahim antara sesama Muslim.

[Dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa] Nabi bersabda :

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5:192. Di Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi no. 807]

Dan Rosulullah bersabda :

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ»

'Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.'” (HR.at-Tirmidzi dan Ibnu Majah no. 2648 . Di Shahihkan al-Albaani dalam Shahih Ibnu Majah )

Dan apakah makanan itu dari salah satu dari mereka yang hadir atau dari yang lain, maka semua ini adalah sesuatu yang mengantarkan pada keharmonisan dan cinta di antara umat Islam, dan menyerukan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan ini adalah maksud tujuan syari'ah yang paling utama dan terbesar . [ Kutipan Selesai]

*****

KETIGA : 
DR. MASYHUR FAWWAAZ [PALESTINA]

Tanggal: 7/26/13 Nomor Pertanyaan: 13461

الْمَجْلِسُ الْإِسْلَامِيُّ لِلْإِفْتَاءِ – الدَّاخِلُ الْفِلَسْطِينِيُّ 48

Majlis Islami Untuk Fatwa – Palestina

PERTANYAAN :

مَا حُكْمُ الْإِفْطَارِ الْجَمَاعِيِّ؟

Apa hukum Buka Puasa bersama?

JAWABAN :

يَجُوزُ الْإِفْطَارُ الْجَمَاعِيُّ بِشَرْطِ عَدَمِ الِاخْتِلَاطِ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ الْأَجْنَبِيَّاتِ - غَيْرِ الْمَحَارِمِ -، فَإِنْ كَانَ هُنَالِكَ اخْتِلَاطٌ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَيَحْرُمُ الْمُشَارَكَةُ فِي مِثْلِ هٰذِهِ الْإِفْطَارَاتِ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

د. مَشْهُورٌ فَوَّازٌ

Boleh berbuka puasa secara berjamaah [BUK-BER] , asalkan tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan non mahram. Jika terjadi campur aduk antara laki-laki dan perempuan, maka dilarang ikut buka puasa tersebut.

DR. Masyhur Fawwaaz .

*****

KEEMPAT : 
FATWA SYEIKH BIN BAAZ RAHIMAHULLAH:

الْإِفْطَارُ الْجَمَاعِيُّ فِي صِيَامِ التَّطَوُّعِ

Buka puasa bersama dalam puasa sunnah

PERTANYAAN :

هُنَاكَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْجَمَاعَاتِ الْعَامِلِينَ فِي حَقْلِ الدَّعْوَةِ فِي مُعْظَمِ الْجَامِعَاتِ الْجَزَائِرِيَّةِ يَقُومُونَ بِالْإِعْلَانِ كُلَّ يَوْمِ أَحَدٍ عَلَى أَنَّهُ سَيَكُونُ إِفْطَارٌ جَمَاعِيٌّ، وَهُمْ يَصُومُونَ الِاثْنَيْنَ ثُمَّ يَجْتَمِعُونَ فِي قَاعَةٍ مِنَ الْقَاعَاتِ وَيُفْطِرُونَ مَعًا.

فَلَمَّا اسْتَفْسَرْنَا عَنْ هٰذَا الْعَمَلِ، قِيلَ لَنَا: إِنَّهُ لِصَالِحِ الدَّعْوَةِ، وَنَحْنُ نُرِيدُ أَنْ نَجْمَعَ صُفُوفَ الْمُسْلِمِينَ.

وَالسُّؤَالُ هُوَ حُكْمُ الشَّرْعِ حَوْلَ ذٰلِكَ؛ هَلْ هُوَ مِنْ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ أَمْ لَا؟ 

Di sebagian besar universitas-universitas di Al-Jazaa'ir, ada sekelompok dari kelompok-kelompok yang aktif di medan dakwah. Mereka pada setiap hari Ahad mengumumkan : bahwa besok akan ada buka puasa bersama . Lalu mereka berpuasa pada hari Senin, kemudian mereka berkumpul di salah satu aula dan berbuka puasa bersama.

Ketika kami bertanya tentang amalan ini, lalu kami diberitahu : Ini untuk kepentingan dakwah, dan kami ingin menyatukan barisan kaum muslimin.

Pertanyaannya adalah hukum Syariah tentang itu; Apakah itu salah satu hal yang baru dalam agama [bid'ah] atau bukan ?

JAWABAN SYEIKH BIN BAAZ :

إِذَا كَانَ الْأَمْرُ كَمَا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ فَلَا حَرَجَ فِي الِاجْتِمَاعِ الْمَذْكُورِ وَالْإِعْلَانِ عَنْهُ. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Jika masalahnya seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, maka itu tidaklah mengapa dengan buka puasa bersama tersebut dan mengumumkannya.

وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

[ Tautan artikel: http://iswy.co/e13c25 ]

*****

KELIMA: 
FATWA SYEIKH IBNU UTSAIMIN RAHIMAHULLAH

إِقَامَةُ إِفْطَارٍ جَمَاعِيٍّ لِتَشْجِيعِ النَّاسِ عَلَى صِيَامِ التَّطَوُّعِ

Mengorganisir buka puasa bersama untuk memberi semangat orang berpuasa sunnah

PERTANYAAN :

مَا رَأْيُكُمْ فِي تَشْجِيعِ عَامَّةِ النَّاسِ عَلَى صِيَامِ النَّافِلَةِ وَإِقَامَةِ الْفُطُورِ الْجَمَاعِيِّ؟

Apa pendapat Anda tentang memberi semangat masyarakat umum untuk berpuasa sunnah dan mengadakan buka puasa bersama?

JAWABAN :

الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَرَى أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ، لَكِنِ الْأَوْلَى تَرْكُهُ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَسْلُكُونَ هٰذِهِ الْأَسَالِيبَ، فَإِذَا رُغِّبَ النَّاسُ فِي صِيَامِ النَّافِلَةِ بِالْقَوْلِ، فَهُوَ كَافٍ عَنْ تَرْغِيبِهِمْ بِالْفِعْلِ.

Al-hamdulillah . Saya lihat bahwa itu tidak ada yang salah dengannya, tetapi lebih baik meninggalkannya, karena para sahabat radhiyallahu 'anhum tidak melakukan cara-cara seperti ini. Jika dia mengajak seseorang untuk berpuasa sunnah dengan kata-kata, maka itu sudah cukup , tidak perlu mengajak mereka dengan perbuatan.

[SUMBER : لِقَاءُ الْبَابِ الْمَفْتُوحِ oleh Ibnu al-'Utsaimiin 247 ].

===*****===

HUKUM MAKAN DI MASJID

Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ 2/174:

«لَا بَأْسَ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فِي الْمَسْجِدِ وَوَضْعِ الْمَائِدَةِ فِيهِ».

“Tidak mengapa makan dan minum di masjid serta membentangkan hidangan di dalamnya.”

Basyir Farhan Al-‘Anazi berkata dalam kitab Al-Masjid fi Ramadhan:

وَالْأَحَادِيثُ الدَّالَّةُ عَلَى جَوَازِ الْأَكْلِ فِي الْمَسْجِدِ مُتَكَاثِرَةٌ [نَيْلُ الْأَوْطَارِ (3/236)].

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya makan di masjid sangat banyak. [Nailul Authar (3/236)]

Falih Ash-Shaghir berkata dalam Al-Masyru’ wal Mamnu’ fil Masjid hlm. 31:

الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ: مِنَ الْأَشْيَاءِ الْمُبَاحَةِ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ فِي الْمَسْجِدِ، وَبِخَاصَّةٍ لِلْمُعْتَكِفِ.

Makan dan minum termasuk perkara yang dibolehkan di masjid, terlebih lagi bagi orang yang beri’tikaf.

Huthaibah berkata dalam Syarh At-Targhib wat-Tarhib karya Al-Mundziri 4/5:

وَلَا بَأْسَ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فِي الْمَسْجِدِ، وَوَضْعِ الْمَائِدَةِ فِيهِ، وَغَسْلِ الْيَدِ فِيهِ، فَيَجُوزُ لِلْمُعْتَكِفِينَ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ فِي الْمَسْجِدِ، وَلَكِنْ مَعَ مُرَاعَاةِ نَظَافَةِ أَرْضِ الْمَسْجِدِ، وَعَدَمِ تَقْذِيرِ فِرَاشِهِ.

Tidak mengapa makan dan minum di masjid, membentangkan hidangan di dalamnya, serta mencuci tangan di dalamnya. Maka boleh bagi orang-orang yang beri’tikaf untuk makan dan minum di masjid, namun tetap harus menjaga kebersihan lantai masjid dan tidak mengotorinya.

===****====

HUKUM BUKA PUASA BERSAMA DI MASJID

****

PENDAPAT PERTAMA : 
BOLEH BUKA PUASA BERSAMA DI MASJID  

====

PERTAMA : 
FATWA SYEIKH BASYIIR FARHAN AL-'ANZII :

Syeikh Basyir Farhan al-'Anziy dalam Tulisannya "المسجد في رمضان" menyebutkan tanya jawab tentang buka bersama puasa Ramadhan di Masjid , dia berkata :

فإنَّ ممَّا يَهْتَمُّ بِهِ المُسْلِمُونَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِقَامَةُ الإِفْطَارِ الجَمَاعِيِّ فِي الْمَسَاجِدِ، حَيْثُ يُشَارِكُ فِيهَا أَهْلُ هَذَا الْحَيِّ وَذَاكَ، وَذَلِكَ بِإِعْدَادِ الْوَجِبَاتِ خَلَالَ لَيَالِي هَذَا الشَّهْرِ الْكَرِيمِ؛ وَهَذَا الْعَمَلُ بِدَورِهِ يُؤْدِي إِلَى زِيَادَةِ الْأَلَفَةِ وَالتَّرَابُطِ بَيْنَ أَهْلِ الْحَيِّ، وَيُسَاعِدُ عَلَى التَّعَارُفِ بَيْنَهُمْ مِمَّا لَا يَجْعَلُ لِلشَّخْصِ مَسْوَغًا لِلتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ، وَنَشِيرُ إِلَى أَنَّهُ قَدِ اتَّخَذَ إِعْدَادُ الإِفْطَارِ الجَمَاعِيِّ وَسَائِلَ مِنْهَا جَمْعَ التَّبَرُّعَاتِ وَإِيصَالِهَا إِلَى الْمُؤَسَّسَاتِ الَّتِي تَدِيرُ مِثْلَ هَذِهِ الْمَشَارِيعِ، وَمِنْهَا جَمْعُ الطَّعَامِ مِنْ مَجْمُوعَةِ الْبُيُوتِ بِشَكْلٍ يَوْمِيٍّ وَهَذَا يَكُونُ غَالِبًا فِي الْقُرَى، وَلَكِنْ قَدْ يَتَسَاؤَلُ الْبَعْضُ عَنْ حُكْمِ إِفْطَارِ جَمَاعَةِ الْمَسْجِدِ فِيهِ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَإِتْمَامِ ذَلِكَ بَعْدَهَا؟!"

Salah satu hal yang dipedulikan umat Islam selama bulan Ramadhan adalah mengadakan buka puasa bersama di masjid-masjid, di mana orang-orang di lingkungan ini dan lingkungan itu.

Dan itu membantu untuk saling mengenal diantara mereka, yang tidak membuat orang tersebut menjadi pembenaran untuk tidak shalat berjamaah, dan kami mengisyaratkan tentang strategi dan cara agar bisa menyiapkan buka puasa bersama , diantaranya :

Dengan cara mengumpulkan donasi dan mengantarkannya ke lembaga yang menjalankan proyek tersebut

Dan mengumpulkan makanan dari sekelompok rumah setiap hari, dan ini sering terjadi di desa-desa.

PERTANYAAN : Namun ada yang bertanya tentang hukum berbuka puasa para jemaah masjid di dalamnya sebelum sholat dan melanjutkannya setelah shalat ?!.

JAWABAN : Syeikh al-'Anziy berkata :

وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ الْأَكْلَ فِي الْمَسْجِدِ مَا دَامَ لَا يُلَوِّثُهُ وَيُحَافِظُ عَلَى فُرُشِهِ وَلَا يُهَانُ بِفِعْلِ ذٰلِكَ، فَإِنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ لِمَا فِيهِ مِنَ التَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، إِذْ أَنَّ ذٰلِكَ سَبَبٌ لِجَمْعِ النَّاسِ عَلَى صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ، وَفِيهِ إِطْعَامٌ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ الَّذِينَ يُشَارِكُونَ الصَّائِمِينَ وَجْبَةَ إِفْطَارِهِمْ فِي هٰذَا الْمَسْجِدِ وَذَاكَ، وَيُضَافُ إِلَى ذٰلِكَ مِنَ الْإِيجَابِيَّاتِ أَنَّ فِيهِ إِطْعَامًا لِابْنِ السَّبِيلِ الَّذِي يَمُرُّ مِنْ هٰذَا الْحَيِّ وَتِلْكَ الْقَرْيَةِ فَيُفْطِرُ مَعَ إِخْوَانِهِ، وَقَدْ ثَبَتَ مِنَ الْوَقَائِعِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ إِبَاحَةُ ذٰلِكَ.

وَمِنْ تِلْكَ الْوَقَائِعِ وَالْأَحْدَاثِ سُكْنَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فِي الْمَسْجِدِ، الثَّابِتِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ؛ فَإِنَّ كَوْنَهُمْ لَا مَسْكَنَ لَهُمْ سِوَاهُ يَسْتَلْزِمُ أَكْلَهُمُ الطَّعَامَ فِيهِ.

وَمِنْهَا حَدِيثُ رَبْطِ الرَّجُلِ الْأَسِيرِ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، وَفِي بَعْضِ طُرُقِهِ أَنَّهُ اسْتَمَرَّ مَرْبُوطًا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.

وَمِنْهَا ضَرْبُ الْخِيَامِ فِي الْمَسْجِدِ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالسَّوْدَاءِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ.

وَمِنْهَا إِنْزَالُ وَفْدِ ثَقِيفٍ الْمَسْجِدَ وَغَيْرِهِمْ، وَالْأَحَادِيثُ الدَّالَّةُ عَلَى جَوَازِ الْأَكْلِ فِي الْمَسْجِدِ مُتَكَاثِرَةٌ.

يَقُولُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَلَا بَأْسَ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فِي الْمَسْجِدِ وَوَضْعِ الْمَائِدَةِ فِيهِ.

وَمِمَّا يَشْهَدُ لِذٰلِكَ أَيْضًا مَا كَانَ يَفْعَلُهُ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ أَكْلِهِمْ فِي الْمَسْجِدِ، مِنْ ذٰلِكَ مَا رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَكَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا فِي الْمَسْجِدِ لَحْمًا قَدْ شُوِيَ، فَمَسَحْنَا أَيْدِيَنَا بِالْحَصْبَاءِ، ثُمَّ قُمْنَا نُصَلِّي وَلَمْ نَتَوَضَّأْ.

إِلَّا أَنَّهُ يَنْبَغِي التَّنَبُّهُ لِعُيُوبٍ مَوْجُودَةٍ وَظَوَاهِرَ سَلْبِيَّةٍ فِي بَعْضِ الصَّائِمِينَ فِي الْمَسَاجِدِ، مِنْ ذٰلِكَ:

الْأَكْلُ فِي الْمَسْجِدِ مِنَ الطَّعَامِ ذِي الرَّائِحَةِ الْكَرِيهَةِ، فَيَكْرَهُهُ الدَّاخِلُونَ إِلَيْهِ وَالْمُتَعَبِّدُونَ فِيهِ، وَمِنَ الْعُيُوبِ أَنَّ بَعْضَ الْمَسَاجِدِ طَغَتْ عَلَى مُهِمَّتِهَا فِي الْحَقِيقَةِ كَثْرَةُ الطَّعَامِ، وَجَعْلُ الْأَكْلِ فِي الْمَسْجِدِ ظَاهِرَةً مُتَفَشِّيَةً.

وَمِنْ ذٰلِكَ: إِهَانَةُ الْمَسْجِدِ وَعَدَمُ الْعِنَايَةِ بِنَظَافَتِهِ، أَوْ تَوْسِيخُهُ بِبَعْضِ مُخَلَّفَاتِ الْأَكْلِ.

وَإِلَيْكَ أَخِي الصَّائِمُ وَالْمُحْسِنُ الْكَرِيمُ بَعْضَ الْمُقْتَرَحَاتِ بِشَأْنِ تَفْطِيرِ الصَّائِمِينَ فِي الْمَسَاجِدِ:

أَوَّلًا: أَنْ يَكُونَ الْإِفْطَارُ خَارِجَ الْمَسْجِدِ إِنْ تَيَسَّرَ، أَوْ بِجِوَارِهِ فِي مُخَيَّمٍ مُنَاسِبٍ، حَتَّى يَتَسَنَّى إِقَامَةُ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ فِي وَقْتِهَا دُونَ مَشَقَّةٍ.

ثَانِيًا: أَنْ يُسْنَدَ الْإِشْرَافُ عَلَى تَفْطِيرِ الصَّائِمِينَ فِي الْمَسَاجِدِ إِلَى أَئِمَّةِ الْمَسَاجِدِ وَصَالِحِي الْحَيِّ، أَوْ مُؤَسَّسَةٍ خَيْرِيَّةٍ بِحَسَبِ ظُرُوفِ وَبِيئَةِ الْمَسْجِدِ.

ثَالِثًا: أَنْ يُكَلَّفَ خَدَمُ الْمَسْجِدِ بِسُرْعَةِ تَنْظِيفِ مَكَانِ الْإِفْطَارِ، وَلَا مَانِعَ مِنْ مُسَاعَدَةِ مَنْ حَضَرَ لِلْإِفْطَارِ، فَهُوَ مِنَ التَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ.

رَابِعًا: يُقْتَرَحُ أَنْ يَكُونَ الْإِفْطَارُ عَلَى التَّمْرِ وَاللَّبَنِ وَالْكِيكِ وَالْقَهْوَةِ، لَا عَلَى اللُّحُومِ الدَّسِمَةِ؛ لِأَنَّهَا تُكَلِّفُ فِي تَنْظِيفِ الْمَكَانِ الَّذِي أُكِلَ فِيهِ، وَإِنْ كَانَ وَلَا بُدَّ مِنَ الْأَطْعِمَةِ الدَّسِمَةِ فَيُمْكِنُ الِاتِّفَاقُ مَعَ مَطَاعِمَ مُعَيَّنَةٍ يَسْتَلِمُ الصَّائِمُ كَرْتًا لِتَنَاوُلِ وَجْبَتِهِ فِيهَا فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ.

وَفَّقَ اللَّهُ الْجَمِيعَ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

" Pada hakikatnya makan di masjid selama tidak mengotori dan bisa menjaga kebersihan karpetnya dan tidak melecehkannya, tidaklah mengapa. Karena itu termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, karena ini adalah sebab dan wasilah untuk mengumpulkan orang-orang shalat berjamaah di mesjid, termasuk memberi makan fakir dan miskin yang ikut serta menikmati hidangan buka puasa dengan orang-orang yang berpuasa, di mesjid ini dan itu, dan selain itu salah satu kelebihannya adalah bahwa di dalamnya ada makanan bagi para musafir yang melewati lingkungan ini dan desa itu lalu berbuka puasa bersama saudara-saudaranya.

Dan telah ada ketetapan yang shahih dari fakta-fakta yang menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal.

Di antara fakta dan peristiwa tersebut adalah tempat tinggal Ahli ash-Shuffah di masjid, yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan lain-lain ; Fakta bahwa mereka tidak memiliki rumah selain itu yang mengharuskan mereka makan makanan di dalamnya. [Sahih Al-Bukhari-567- (2/460)]

Dan diantara lainya adalah : hadits tentang mengikat tawanan ke tiang dari tiang-tiang masjid, dan di sebagian jalan-jalan ke arahnya , dia tetap terikat selama tiga hari. [HR. Al-Bukhari -2244- (8/272), Muslim -3310- (9/216), Abu Dawud -2304- (7/286), dan Ahmad -9457- (19/500).].

Dan diantara lainya adalah mendirikan tenda di mesjid untuk Saad bin Mu'adz -radhiyallahu 'anhu . [HR. Ahmad -23945- (51/102), dan Ibnu Hibban -7154- (29/96) dan digolongkan sebagai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah -67- (1/143).]

Dan wanita kulit hitam yang biasa mengurus masjid - seperti dalam Dua Kitab Sahih. [HR. Al-Bukhari-440- (2/257) dan Muslim-1588- (5/59).]

Dan bermalamnya delegasi Thaqif di masjid dan delegasi lainnya, serta hadits-hadits yang menunjukkan kebolehan makan di masjid itu banyak melimpah. [ Baca : Nail al-Awthar (3/236)]

Imam An-Nawawi rahimaullah mengatakan :

«وَلَا بَأْسَ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فِي الْمَسْجِدِ وَوَضْعِ الْمَائِدَةِ فِيهِ»

" Tidak ada salahnya makan dan minum di masjid dan meletakkan meja makan di sana". [Raudhatuth Tholibiin 1/109 dan al-Majmu' 2/174]

Dan juga termasuk yang membuktikan hal ini adalah apa yang biasa dilakukan oleh sebagian para Sahabat, semoga Allah meridhoi mereka, ketika mereka makan di masjid, diantaranya apa yang diriwayatkan al-Tabarani dalam al-Mu'jam al-Kabiir dari Abdullah bin az-Zubair - semoga Tuhan meridhoi dia - dia berkata:

«أَكَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا فِي الْمَسْجِدِ لَحْمًا قَدْ شُوِيَ فَمَسَحْنَا أَيْدِيَنَا بِالْحَصْبَاءِ ثُمَّ قُمْنَا نُصَلِّي وَلَمْ نتوضأ»

(Kami makan bersama Rasulullah makanan di masjid , daging yang telah dipanggang, lalu kami menyeka tangan kami dengan kerikil, lalu kami bangun untuk sholat dan tidak berwudhu lagi ). [ HR. Ibnu Majah -3302- (10/46) Dan Al-Albani berkata: (Shahih - tanpa ada lafadz "menyeka tangan") Lihat: Sahih Ibn Majah(7/311)]

Namun perlu diwaspadai kecacatan yang ada dan fenomena negatif pada sebagian orang yang berpuasa di masjid, antara lain:

Makan di mesjid adalah makanan yang berbau tidak sedap, sehingga membuat orang-orang yang masuk maupun yang beribadah tidak menyukainya.

Dan sebagian dari kecacatannya adalah ada beberapa masjid melampaui kepentingan nya – pada kentayataannya – dengan melimpahnya makanan sehingga membuat makanan di mesjid nampak berserakan .

Dan termasuk itu adalah : menghinakan masjid dan tidak menjaga kebersihannya atau mengotorinya dengan sisa makanan.

Berikut ini wahai saudaraku yang berpuasa dan yang dermawan yang mulia , ada beberapa usulan terkait penyediaan makanan di masjid untuk orang-orang yang buka puasa:

Pertama:

Buka puasanya di luar masjid - jika memungkinkan - atau di sebelahnya di kemah yang sesuai sehingga memungkinkan untuk menunaikan sholat di masjid tepat waktu tanpa ada kesulitan.

Kedua:

Pengawasan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa di masjid harus dipercayakan kepada imam masjid dan orang-orang shalih dari lingkungan atau lembaga amal, sesuai dengan keadaan dan lingkungan masjid.

Ketiga: Para pelayan masjid harus ditugaskan untuk bertindak cepat dalam membersihkan tempat berbuka puasa .

Keempat: Disarankan berbuka puasa dengan kurma, susu, kue dan qahwah [kopi arab], bukan daging berlemak ; karena susah untuk membersihkan tempat makannya. Dan jika perlu makan makanan berlemak, maka dimungkinkan untuk bikin kesepakatan dengan restoran tertentu di mana orang yang berpuasa menerima kartu untuk makan pada waktu yang tepat.

Semoga Allah memberikan taufiiq bagi semua orang untuk mendapatkan apa yang Allah cintai dan ridhoi. Wallahu a'lam .

Dan semoga sholawat dan salam Allah dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, atas keluarganya dan para sahabatnya.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

====

KEDUA : 
FATWA SYEIKH IBNU UTSAIMIN:

الْإِعْلَانُ عَنْ إِفْطَارٍ جَمَاعِيٍّ فِي الْمَسْجِدِ لِمَنْ صَامَ

Pengumuman Buka Puasa Bersama Di Masjid Bagi Yang Berpuasa

PERTANYAAN :

أُعْلِنَ فِي أَحَدِ الْمَسَاجِدِ أَنَّهُ يُوجَدُ إِفْطَارٌ لِكُلِّ مَنْ يُرِيدُ الصِّيَامَ فِي كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ، فَمَا حُكْمُ ذٰلِكَ؟

Di sebuah masjid diumumkan penyelenggaraan buka puasa bersama bagi yang hendak berpuasa pada setiap hari kamis, bagaimanakah hukumnya?

JAWABAN :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

فَهٰذَا الْإِعْلَانُ لَا بَأْسَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ إِعْلَانٌ فِيهِ دَعْوَةٌ لِلْخَيْرِ، وَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِهِ بَيْعًا وَلَا شِرَاءً، وَالْمُحَرَّمُ أَنْ يُعْلَنَ عَنِ الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ أَوْ تَأْجِيرٍ وَاسْتِئْجَارٍ مِمَّا لَمْ تُبْنَ الْمَسَاجِدُ مِنْ أَجْلِهِ، وَأَمَّا الدَّعْوَةُ إِلَى الْخَيْرِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّدَقَةُ فَلَا بَأْسَ بِهِ.

وَأَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِكَوْنِهِ هَلْ هُوَ اجْتِمَاعٌ غَيْرُ مَشْرُوعٍ عَلَى الْعِبَادَةِ، فَإِنَّهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ لَمْ يُعْلِنُوا عَنِ الصِّيَامِ الْجَمَاعِيِّ، وَإِنَّمَا أَعْلَنُوا عَنِ الْإِفْطَارِ فَقَطْ، فَلَا بَأْسَ بِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam, kepada keluarga serta segenap sahabat beliau.

Pengumuman seperti ini boleh-boleh saja. Sebab di dalamnya berisi seruan berbuat kebaikan bukan bertujuan melakukan transaksi jual beli.

Yang dilarang adalah mengumumkan transaksi jual beli, transaksi persewaan atau transaksi-transaksi lainnya yang bukan merupakan tujuan dibangunnya sebuah masjid.

Adapun seruan kepada kebaikan, pemberian makan, sedekah dan amal-amal kebaikan lainnya tidaklah terlarang dilakukan di masjid.

Menyangkut persoalan apakah cara seperti itu dibenarkan ataukah tidak, maka menurut sepengetahuan saya yang mereka umumkan bukanlah puasa bersama, namun yang diumumkan hanyalah buka puasa bersama. Hal seperti itu boleh-boleh saja. wallahu A'lam.

[ SUMBER : ISALMQA No. Fatwa 3468 - Tanggal Tayang : 10-04-2002]

===

KETIGA : 
FATWA SYEIKH ABDULLAH AL-JIBRIIN

PERTANYAAN :

مَا تَعْلِيقُكُمْ عَلَى إِفْطَارِ جَمَاعَةِ الْمَسْجِدِ فِيهِ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَإِتْمَامِ ذٰلِكَ بَعْدَهَا؟

Apa komentar Anda tentang berbuka puasa jamaah masjid sebelum shalat dan menyelesaikannya setelah shalat ?

JAWABAN :

(يَجُوزُ ذٰلِكَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ اغْتِنَامًا لِلْوَقْتِ وَلِلْمَسْجِدِ لِضِيقِ الْأَمَاكِنِ، وَلَا بَأْسَ فِي غَيْرِهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ، كَمَنْ لَيْسَ لَهُ مَنْزِلٌ، وَإِلَّا فَيُكْرَهُ، فَالْأَصْلُ تَنَاوُلُ طَعَامِ الْإِفْطَارِ فِي الْمَنْزِلِ) ا-هـ.

(Diperbolehkan melakukan ini di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk memanfaatkan waktu dan masjid karena kekurangan tempat, dan tidak ada salahnya di selain masjid ketika dibutuhkan , seperti seseorang yang tidak memiliki rumah, jika tidak maka itu dimakruhkan , karena hukum asalnya buka puasa itu di rumah) [Selesai ]

[ Baca : كِتَابُ فَتَاوَى الشَّيْخِ ابْنِ جِبْرِينٍ – الْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ (24/54) ]

*****

PENDAPAT KEDUA : TIDAK DI SYARIATKAN

===

FATWA SYEIKH SHOLEH AL-FAUZAN

حُكْمُ الْإِفْطَارِ الْجَمَاعِيِّ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ لِلْفَوْزَانِ؟

Hukum buka puasa bersama di bulan Ramadhan dan lainnya oleh Syeikh Al-Fauzan ?

PERTANYAAN :

هٰذَا سَائِلٌ يَقُولُ: يَقُومُ بَعْضُ الْجِيرَانِ فِي أَثْنَاءِ رَمَضَانَ بِالْإِفْطَارِ الْجَمَاعِيِّ فِي الْمَسْجِدِ بِقَصْدِ التَّوَاصُلِ وَتَقْوِيَةِ الرَّابِطَةِ بَيْنَهُمْ، فَمَا رَأْيُ فَضِيلَتِكُمْ؟

Penanya ini mengatakan : Ada sebagian para tetangga pada bulan Ramadhan berbuka puasa bersama di masjid dengan maksud agar bisa saling berkomunikasi dan mempererat tali silaturrahmi di antara mereka.

JAWABAN :

هٰذَا شَيْءٌ لَمْ يَعْمَلْهُ السَّلَفُ، أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَقَصَّدُونَ الِاجْتِمَاعَ عَلَى الْإِفْطَارِ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ.

أَمَّا إِذَا كَانَ الْغَرَضُ مِنْ هٰذَا هُوَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُفْطِرَ عِنْدَهُ الْفُقَرَاءُ وَالْمُحْتَاجُونَ، يَعْرِضُونَ الْإِفْطَارَ فِي الْمَسْجِدِ مِنْ أَجْلِ الْمُحْتَاجِينَ وَالْفُقَرَاءِ؛ فَلَا بَأْسَ.

أَمَّا إِذَا كَانُوا يَجْتَمِعُونَ هُمْ وَحْدَهُمْ، وَيَقُولُونَ هٰذَا فِيهِ فَضِيلَةٌ، فَهٰذَا لَيْسَ مِنْ عَمَلِ السَّلَفِ.

فَإِذَا كَانُوا مُعْتَكِفِينَ فِي الْمَسْجِدِ، إِذَا كَانُوا مُعْتَكِفِينَ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَجْتَمِعُوا عَلَى الْإِفْطَارِ أَوْ عَلَى الْعَشَاءِ، لَا بَأْسَ.

أَمَّا أَنَّهُمْ يَجِيئُونَ لِلْمَسْجِدِ عَلَى شَانِ (لِأَجْلِ) الْإِفْطَارِ فَقَطْ، وَلَيْسَ هٰذَا لِغَرَضِ إِطْعَامِ الْمَسَاكِينِ؛ فَهٰذَا الشَّيْءُ غَيْرُ مَشْرُوعٍ. اهـ.

Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh para Salaf , bahwa mereka biasa berkumpul untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan dan tidak pula puasa di waktu-waktu lainnya.

Tetapi jika tujuannya adalah agar orang miskin dan yang membutuhkan bisa berbuka puasa dengannya, lalu mereka menawarkan berbuka puasa di masjid demi untuk orang-orang yang membutuhkan dan para fakir miskin; maka itu tidak apa-apa.

Adapun jika mereka buka puasa bersama untuk kelompok mereka sendiri , dan mengatakan : "ini memiliki fadhilah dan keutamaan"; maka ini bukanlah amalan para Salaf .

Jika mereka ber-i'tikaf di masjid, maka jika ber-i'tikaf di masjid ; tidaklah mengapa untuk buka puasa bersama atau makan malam bersama , tidak ada masalah.

Adapun jika mereka datang ke mesjid hanya untuk berbuka puasa saja , dan ini bukan untuk memberi makan fakir miskin; maka ini adalah sesuatu yang tidak di syariatkan .

[ SUMBER : حُكْمُ الْإِفْطَارِ الْجَمَاعِيِّ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ لِلْفَوْزَانِ؟  /

ajurry.com [https://www.ajurry.com › 35...]

*****

PENDAPAT KETIAGA : 
FATWA HARAM BUKA PUASA BERSAMA DI MASJID

===

FATWA SYEIKH AL-ALBAANI

هَلْ يَجُوزُ الْأَكْلُ فِي الْمَسْجِدِ، وَهَلْ يَجُوزُ صُنْعُ الْإِفْطَارِ الْجَمَاعِيِّ فِي الْمَسْجِدِ؟

Apakah boleh makan di masjid, dan apakah boleh berbuka puasa bersama di masjid?

TANYA JAWAB:

السَّائِلُ: يَجُوزُ الْأَكْلُ فِي الْمَسْجِدِ وَصُنْعُ إِفْطَارٍ جَمَاعِيٍّ فِي الْمَسْجِدِ؟

الشَّيْخُ: إِي نَعَمْ، اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي الْمَسْجِدِ وَجَعْلُ ذٰلِكَ عَادَةً هٰذَا لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهٰذَا، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ، لٰكِنْ إِذَا يَعْنِي دَفَّتْ دَافَّةٌ وَنَزَلَتْ جَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ وَهُمْ فُقَرَاءُ وَبِحَاجَةٍ إِلَى طَعَامٍ وَشَرَابٍ، وَلَا يُمْكِنُ إِنْزَالُهُمْ لِسَبَبٍ أَوْ آخَرَ فِي دَارٍ لِضِيقِ الدُّورِ يَوْمَئِذٍ، أَوْ فِي الصَّحْرَاءِ أَوْ فِي الْعَرَاءِ، فَيَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ وَيَأْكُلُونَ لِهٰذَا الْأَمْرِ الْعَارِضِ.

أَمَّا أَنْ يَصِيرَ الْمَسْجِدُ كَمَطْعَمٍ وَلَوْ فِي بَعْضِ الْأَشْهُرِ كَرَمَضَانَ مَثَلًا، وَكَمَا يَفْعَلُونَ فِي بَعْضِ الْمَسَاجِدِ، فَهٰذَا مِمَّا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ عَمَلُ السَّلَفِ أَوَّلًا، ثُمَّ هُوَ يُنَافِي مَبْدَأَ قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «إِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهٰذَا».

السَّائِلُ: شَيْخَنَا، هُوَ فِي رَمَضَانَ فِي الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ.

الشَّيْخُ: وَهٰذَا قُلْنَا خَلِّيهَا مَسْتُورَةً يَا أُسْتَاذُ.

الشَّيْخُ وَالْحُضُورُ يَضْحَكُونَ.

السَّائِلُ: السُّفْرَةُ الطَّوِيلَةُ الْعَرِيضَةُ.

PENANYA : Bolehkah makan di mesjid ? Dan berbuka puasa bersama di mesjid ?.

SYEIKH AL-ABAANI :

Ya, membawa makanan ke masjid untuk makan-makan di dalamnya dan menjadikannya sebagai kebiasaan ; maka itu tidak diperbolehkan karena masjid tidak dibangun untuk itu, seperti yang disebutkan dalam hadits shahih.

Tetapi jika itu bertujuan untuk memberi kehangatan [dimusim dingin] dan ada banyak orang menginap dan mereka mereka adalah orang-orang miskin yang membutuhkan makanan dan minuman, dan tidak mungkin bagi mereka untuk menginap di selain masjid karena satu dan lain hal , seperti karena di penginapan yang sempit pada hari itu , atau di padang pasir atau di tempat terbuka, kemudian mereka masuk masjid dan makan karena hal yang mendadak.

Adapun menjadikan masjid seperti restoran, meskipun di beberapa bulan seperti Ramadhan dan yang semisalnya, seperti yang mereka lakukan di beberapa masjid, maka ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh para Salaf , ini yang pertama , kemudian ini bertentangan dengan prinsip sabda Nabi :

«إِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهٰذَا»

(Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak dibangun untuk ini).

PENANYA : Syekh kami , tapi itu terjadi pada bulan Ramadhan di Madinah [Mesjid Nabawi] dan Mekkah [Mesjid al-Haram] .

SYEIKH AL-ABAANI  : Dan ini kami katakan [pesan]: biarkan masalah ini dirahasiakan , hai Ustadz !

[Beliau bermaksud menyindir para pelaku BUK-BER di masjid Nabawi dan Mesjidil Haram Mekkah, sehingga orang-orang yang hadir ikut serta mentertawakannya. Mungkin dalam hati mereka tersirat : betapa dungunya orang-orang yang bukber di mesjid Nabawi dan Mesjidil Haram Mekkah ini , sehingga membuat mereka terbahak-bahak] .

SYEIKH AL-ABAANI : Rupanya para hadirin tertawa terbahak-bahak semuanya [mendengar jawaban ku ini] ha ha ha ....

PENANYA : Shufrahnya panjaaang dan lebaaar. [ Kutipan Selesai ]

[SUMBER : بَوَّابَةُ تُرَاثِ الْإِمَامِ الْأَلْبَانِيِّ / سِلْسِلَةُ الْهُدَى وَالنُّورِ no. 1071]

Mereka semua yang hadir dalam kajian asy-Syeikh al-Albanu, ikut serta mentertawakan orang-orang yang berbuka puasa bersama di mesjid al-Haram dan mesjid Nabawi.

Tidak sekali-kali mereka mentertawakannya, kecuali karena perbuatan tersebut menurut mereka sangat layak untuk ditertawakan.

NOTE :

As-Sufrah [السُّفْرَة] adalah : plastik tempat makanan yang digelar untuk makan bersama .

Dan Hadits yang dimaksud oleh Syeikh al-Albaani adalah hadits tentang larangan menjadikan masjid sebagai sarana pengumuman barang hilang dan larangan jual beli di masjid, yaitu hadits berikut ini :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda :

" مَن سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضالَّةً في المَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لا رَدَّها اللَّهُ عَلَيْكَ فإنَّ المَساجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهذا".

"Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barangnya yang hilang di dalam masjid, maka doakanlah, 'Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.' Karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk ini." (HR. Muslim, no. 568).

Dan hadits lain yang semakna dengannya :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

"Jika kalian melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah; Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu. Jika kalian melihat orang yang mengumumkan sesuatu yang hilang di dalamnya maka katakanlah; Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu." 

[ HR. Tirmidzi no. (1321), al-Darimi no. (1401), dan al-Nasa’i in ((as-Sunan al-Kubra )) no. (10004)]. Di Shahihkan oleh al-Albaani dalam Shahih Tirmidzi no. 1321].

Abu Isa Tirmidzi berkata :

حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَدْ رَخَّصَ فِيهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فِي الْمَسْجِدِ

" Hadits HASAN ghariib . Dalam pengamalan hadits ini : ada sebagian para ahli ilmu yang menganggap makruh jual beli di masjid, dan itu adalah perkataan Imam Ahmad dan Isahq . Namun ada sebagian para ulama yang membolehkan jual beli di masjid".

===


 ===




Posting Komentar

0 Komentar