APAKAH UCAPAN SELAMAT HARI RAYA ITU HARUS DENGAN
REDAKSI TERTENTU ?
Di Tulis Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
===
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Hari
raya dalam Islam adalah salah satu simbol dan syiar dari simbol-simbol dan
syiar-syiar Islam, sehingga pengagungannya termasuk dalam firman Allah :
{ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ
فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ}
Demikianlah
(perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [QS. al-Hajj : 32]
Dan
Allah SWT telah menjadikan bagi umat Islam sebagaimana bagi umat-umat sebelum
mereka.
Dalam
hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu di sebutkan :
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي
الْجَاهِلِيَّةِ. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا
خَيْرًا مِنْهُمَا ؛ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ.
“Rasulullah
ﷺ datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari
di mana mereka bermain-main (bersenang-senang) di dalam keduanya.
Maka
beliau ﷺ bertanya
: “Apakah dua hari ini?”
Mereka
menjawab: “Dahulu kami biasa bermain-main ( bersenang-senang ) di dua hari ini
semasa Jahiliyah.”
Lalu
Beliau ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah
menggantikannya dengan dua hari yang LEBIH BAIK, yaitu Idul Fitri dan Idul
Adha.”
(HR
Ahmad no. 13131 & 12006 , Abu Dawud no. 1134, an-Nasaa’i no. 1556 .
Dihukumi
shahih oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dlm Fathul Baari 2/368 dan al-Albani dalam
Shahih Sunan Abi Dawud, 4/297).
Dan
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata :
دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي
جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتِ
الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ. قَالَتْ: وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ. فَقَالَ
أَبُو بَكْرٍ: أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ في بَيْتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ وَذَلِكَ فِي
يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : يَا
أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا
و حَدَّثَنَاه يَحْيَى بْنُ
يَحْيَى وَأَبُو كُرَيْبٍ جَمِيعًا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ عَنْ هِشَامٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ
وَفِيهِ جَارِيَتَانِ تَلْعَبَانِ بِدُفٍّ
“Abu
Bakar masuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan dari wanita
Anshar sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan orang-orang Anshar pada masa
Bu’ats (perang di masa jahiliah antara suku Aus dan Khazraj).”
Aisyah
berkata: “Keduanya bukanlah orang berprofesi sebagai penyanyi.” Abu Bakar lalu
berkata: “Apakah seruling-seruling setan di rumah Rasulullah ﷺ!?”
Saat
itu sedang hari raya, maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Abu Bakar, biarkan mereka
(bernyanyi) karena sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah
hari raya kita.”
Lalu
Imam Bukhori berkata : Dan telah menceritakannya kepada kami [Yahya bin Yahya]
dan [Abu Kuraib] semuanya dari [Abu Mu'awiyah] dari [Hisyam] dengan isnad ini.
Dan di dalamnya dikatakan : “ Dua budak wanita yang BERMAIN REBANA“.
(HR.
Bukhari, Kitab Al-‘Iedain, Bab Sunnatul ‘Iedain li Ahlil Islam no. 909)
Dalam
hadits riwayat Bukhari no.944 disebutkan bahwa : dua anak perempuan tersebut
memainkan rebana di hari-hari Mina (hari-hari Tasyrik , 3 hari setelah Iedul
Adlha ).
Setelah
itu Umat Islam mulai merayakan dua hari raya tersebut. Idul Fitri dan Idul
Adha; Karena keagungan dan pentingnya dua kesempatan ini bagi umat Islam,
karena waktu keduanya datang setelah hari-hari yang penuh berkah .
Dan
para sahabat Rasulullah radhiyallahu 'anhum saling memberi selamat pada hari
raya itu, seperti yang diriwayatkan oleh Jubair bin Nufair, yang mengatakan:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ :
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .
"Dulu
para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika saling berjumpa
pada hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha), maka satu sama lain saling
mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami
dan amal anda ).”
[Al-Mahaamili
meriwayatkannya dalam “Kitab Shalat Ied” 2/129/2]
Di
Hasankan sanadnya oleh al-Haafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath 2/446 dan as-Suyuthi
dalam al-Haawi lil Fataawaa 1/94.
Dan
di shahihkan sanad oleh Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354-355) .
Namun
Syeikh al-Albaani berkata :
قَالَ الْحَافِظُ: إِسْنَادُهُ حَسَنٌ.
قُلْتُ: الْمُرَادُ بِـ "الْحَافِظِ" عِنْدَ الْإِطْلَاقِ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ،
وَلَمْ أَقِفْ عَلَى هٰذَا التَّحْسِينِ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِهِ.
[Sayid
Saabiq berkata] : "Al-Hafiz berkata: sanadnya hasan . Saya [al-Albaani]
berkata: Yang dimaksud dengan "al-Hafidz" secara mutlak adalah Ibnu
Hajar al-Asqalani, dan saya tidak menemukan penghasanan ini dalam
kitab-kitabnya".
Penulis
katakan : " Penulis menemukannya dalam kitabnya Fathul Baari 2/446 cet.
Daarul Ma'rifah Beirut . Al-Hadidz berkata :
"
وَرَوَيْنَا فِي الْمَحَامِلِيَّاتِ بِإِسْنَادٍ
حَسَنٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : .... إِلَى آخِرِه ".
Dan
kami meriwayatkan dalam Al-Mahamaliat dengan SANAD HASAN dari Jubair bin
Nufair, yang berkata: "...dst."
Dan
ada keterangan dalam “al-Fatawaa al-Kubraa” oleh Syeikhul-Islam Ibnu Taimiyah
tentang ucapan Selamat Hari Raya :
"
أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ
بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ: تَقَبَّلَ اللَّهُ
مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك، وَنَحْوُ ذَلِكَ، فَهَذَا قَدْ
رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ
وَرَخَّصَ فِيهِ، الْأَئِمَّةُ، كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ .
لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ: أَنَا
لَا أَبْتَدِئُ أَحَدًا، فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته، وَذَلِكَ لِأَنَّ
جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ، وَأَمَّا الِابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ
سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا، وَلَا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ، فَمَنْ فَعَلَهُ
فَلَهُ قُدْوَةٌ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ. وَاَللَّهُ أَعْلَمُ".
“Adapun
ucapan selamat pada hari Idul Fitri dengan mengatakan satu sama lain jika
mereka bertemu dengannya setelah sholat Idul Fitri:
"
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَأَحَالَهُ
اللهُ عَلَيْك".
"
Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian, dan semoga Allah
menghaulkannya [menjumpakan kembali hari raya tahun depan] kepada Anda",
dan yang semisalnya,
Ini
diriwayatkan dari sekelompok sahabat, dan jelas bahwa mereka biasa
melakukannya. Dan para para imam memperbolehkannya , seperti Ahmad dan lainnya.
Akan
tetapi Ahmad berkata: “Saya tidak akan memulai untuk mengucapkan selamat kepada
seseorang, namun jika seseorang memulainya saya akan menjawabnya; karena
menjawab ucapan selamat itu wajib, sedangkan memulainya bukan termasuk sunnah
yang diperintahkan atau yang dilarang. Barang siapa yang melakukannya maka
baginya qudwah yang baik, dan barang siapa yang tidak melakukannya maka baginya
qudwah yang baik pula”. Wallahu a’lam". [ Kutipan selesai]
===***===
APAKAH HARUS DENGAN REDAKSI TERTENTU ? :
Syeikh
Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:
مَا حُكْمُ التَّهْنِئَةِ بِالْعِيدِ؟
وَهَلْ لَهَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ؟
Apa
hukum mengucapkan selamat hari raya?, apakah upacan selamat tersebut memiliki
REDAKSI tertentu?
Beliau
menjawab:
التَّهْنِئَةُ بِالْعِيدِ جَائِزَةٌ،
وَلَيْسَ لَهَا تَهْنِئَةٌ مَخْصُوصَةٌ، بَلْ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ فَهُوَ جَائِزٌ
مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا. اهـ.
“Ucapan
selamat hari raya itu boleh-boleh saja, dan tidak ada redaksi tertentu, dan apa
yang biasa dilakukan dan diucapkan oleh masyarakat itu boleh-boleh saja, selama
tidak mengandung dosa”.
Beliau
juga berkata:
التَّهْنِئَةُ بِالْعِيدِ قَدْ وَقَعَتْ
مِنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَعَلَى فَرْضِ أَنَّهَا لَمْ تَقَعْ
فَإِنَّهَا الْآنَ مِنَ الْأُمُورِ الْعَادِيَّةِ الَّتِي اعْتَادَهَا النَّاسُ، يُهَنِّئُ
بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِبُلُوغِ الْعِيدِ وَاسْتِكْمَالِ الصَّوْمِ وَالْقِيَامِ. اهـ.
“Ucapan
selamat hari raya itu telah dilakukan oleh sebagian para sahabat –radhiyallahu
‘anhum-. Kalau saja kita anggap mereka tidak melakukannya, ucapan selamat itu
sekarang sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat, mereka saling
mengucapkan selamat satu sama lain dengan datangnya hari raya, dan telah menyempurnakan
puasa dan qiyamul lail”.
Beliau
juga ditanya:
مَا حُكْمُ الْمُصَافَحَةِ، وَالْمُعَانَقَةِ،
وَالتَّهْنِئَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ؟
Apa
hukumnya berjabat tangan, berpelukan, dan ucapan selamat seusai shalat id?
Beliau
menjawab:
هٰذِهِ الْأَشْيَاءُ لَا بَأْسَ
بِهَا؛ لِأَنَّ النَّاسَ لَا يَتَّخِذُونَهَا عَلَى سَبِيلِ التَّعَبُّدِ وَالتَّقَرُّبِ
إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّمَا يَتَّخِذُونَهَا عَلَى سَبِيلِ الْعَادَةِ،
وَالْإِكْرَامِ وَالِاحْتِرَامِ، وَمَا دَامَتْ عَادَةً لَمْ يَرِدِ الشَّرْعُ بِالنَّهْيِ
عَنْهَا فَإِنَّ الْأَصْلَ فِيهَا الْإِبَاحَةُ. اهـ
“Semua
itu boleh dilakukan; karena umat tidak menjadikannya sebagai sarana ibadah dan
bertaqarrub kepada Allah, akan tetapi mereka menjadikannya sebagai adat kebiasaan,
dan penghormatan. Selama menjadi adat kebiasaan dan tidak ada larangan dari agama,
maka hukum dasar adat kebiasaan itu mubah”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin.
16/208-210).
Dan
Nabi ﷺ menetapkan dua hari raya bagi umat Islam, di mana
mereka berdzikir untuk mengingat Allah di dalamnya , bermain dan bersukacita,
dan saling memberi selamat, dan menjadikan mereka pada hari-hari di mana mereka
menghadap Tuhan mereka, dan mereka aktif dalam beramal shaleh, termasuk saling
berkunjung , bersilaturrahim dan menjunjung tinggi tali kekerabatan.
Bertepatan
dengan ini, orang-orang biasa bertukar ucapan selamat dengan frasa dan susunan
kata yang berbeda, ada beberapa di antaranya serupa di semua negara, dan
lainnya khusus untuk orang-orang tertentu dan negara tertentu.
Demikian
pula, beberapa ucapan selamat ini diucapkan dalam dialek sehari-hari di negara
ini dan negara itu, dan lainnya ada juga dalam bahasa Arab yang fasih
disebutkan di semua negara.
===***===
UCAPAN SELAMAT HARI RAYA YANG TERPOPULER DI ARAB
Diantara
ucapan selamat hari Raya yang paling populer di Negara Arab adalah :
"عَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِهِ".
" Semoga kalian termasuk orang-orang yang bisa
berhari raya kembali pada tahun berikutnya".
Makna
" 'Asaakum Min 'Awwaadihi " :
" هُوَ أَنْ تُعَادَ تِلْكَ الْأَيَّامُ
السَّعِيدَةُ الْمُمَيَّزَةُ عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَى فِي السَّنَةِ الْقَادِمَةِ،
وَهِيَ أَيَّامُ الْعِيدِ الْأَعْيَادِ الْمُخْتَلِفَةِ سَوَاءُ الْفِطْرِ أَوِ الْأَضْحَى،
وَكَذٰلِكَ شَهْرُ رَمَضَانَ الْمُبَارَكُ وَغَيْرُهُ مِنَ الْمُنَاسَبَاتِ السَّنَوِيَّةِ.
وَيَدْعُو الشَّخْصُ لِمَنْ يُهَنِّئُهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللَّهُ مِنَ الْأَحْيَاءِ
مِنْ أَجْلِ أَنْ تَحْضُرَ تِلْكَ الْأَيَّامُ فِي السَّنَةِ الْقَادِمَةِ.
Artinya,
hari-hari bahagia yang istimewa itu akan terulang lagi kepadamu pada tahun yang
akan datang , yaitu hari-hari raya yang berbeda-berda , baik al-Fitri maupun
al-Adha, serta bulan Ramadhan yang diberkahi dan acara-acara tahunan lainnya.
Dan
orang tersebut mendoakan mereka yang mengucapkan selamat kepadanya agar Allah
SWT menjadikan-nya termasuk orang-orang yang masih hidup untuk menghadiri
hari-hari itu di tahun yang akan datang".
Makna
lain “'Asaakum Min 'Awwaadih” :
أَنْ تُعَادَ هٰذِهِ الْأَيَّامُ
الْمُبَارَكَةُ السَّعِيدَةُ؛ أَيْ أَيَّامُ الْعِيدِ، عَلَيْكُمْ بِخَيْرٍ لِتَتَبَادَلُوا
التَّهْنِئَةَ مَعَ الْآخَرِينَ، وَكَذٰلِكَ أَنْ يَجْعَلَكُمُ اللَّهُ مِنَ الْأَحْيَاءِ
الَّذِينَ يَعُودُ عَلَيْهِمْ هٰذَا الْعِيدُ فِي السَّنَةِ الْمُقْبِلَةِ، أَوْ أَنْ
يُبْقِيَكُمُ اللَّهُ فَتَشْهَدُوا مَعَنَا هٰذَا الْعِيدَ الْعَامَ الْمُقْبِلَ.
adalah
ungkapan doa agar hari-hari raya yang penuh berkah dan bahagia ini bisa
terulang kembali di tahun yang akan datang pada kalian dalam keadaan penuh
kebaikan , sehingga kalian bisa saling mengucapan selamat hari raya kembali
dengan orang lain.
Dan
juga bahwa Allah menjadikan kalian termasuk orang-orang yang masih hidup
sehingga bisa bertemu kembali dengan hari raya di tahun yang akan datang, atau
bahwa Allah menjaga Anda agar Anda bisa menyaksikan hari raya bersama kami pada
tahun depan".
Kesimpulannya
ungkapan ini secara keseluruhan merupakan doa kebaikan untuk yang lain.
===
TENTANG UNGKAPAN :
MINAL A'IDZIN WALFAIZIN
منَ العَائِدِين وَالْفَائِزِيْن
Penulis
katakan :
Ucapan
" 'Asaakum min 'uwwaadih " semakna dengan ucapan "Minal
'Aidin wal faizin di
negara kita Indonesia .
Makna
"Minal 'Aidin wal faizin [
منَ العَائِدِين وَالْفَائِزِيْن ] :
الدُّعَاءُ: عَسَى اللَّهُ - عَزَّ
وَجَلَّ - أَنْ يَجْعَلَهُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ لِهٰذَا الشَّهْرِ فِي الْأَعْوَامِ
التَّالِيَةِ، وَأَنْ يَكُونُوا مِنَ الْفَائِزِينَ بِرِضَا اللَّهِ - سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى - فِيهِ لِمَا قَدَّمُوهُ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ، مِنَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ
وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالصَّدَقَةِ وَفِعْلِ الْخَيْرِ.
"
Doa: Semoga Allaah Azza wa Jalla menjadikan mereka termasuk orang-orang yang
bisa kembali ke bulan ini di tahun-tahun berikutnya, dan semoga mereka termasuk
orang-orang yang mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala - di dalamnya atas
amal-amal baik yang telah mereka kerjakan, seperti puasa, shalat, membaca
Al-Qur'an, bersedekah dan berbuat kebaikan".
Ada
pula yang mengatakan :
الْعَائِدِينَ: بِالْعِيدِ كُلَّ
عَامٍ دَعْوَةٌ أَنْ يَعُودَ عَلَيْنَا الْعِيدُ أَعْوَامًا عَدِيدَةً بِصِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ.
الْفَائِزِينَ: أَنْ تَكُونَ مِنَ
الْفَائِزِينَ بِرِضَا اللَّهِ وَغُفْرَانِهِ.
Al-Aidin:
Pada Idul Fitri setiap tahun, kami berdoa agar Idul Fitri akan kembali kepada
kami selama bertahun-tahun dalam kesehatan dan kesejahteraan.
Al-Faizin:
Menjadi salah satu pemenang ridha dan ampunan Allah
Ungkapan
" 'Asaakum Min 'Awwaadih ", menyebar luas di
negara-negara Arab, menjadi salah satu kalimat ucapan selamat hari raya yang
paling populer, tidak hanya di Teluk tetapi di semua negara Arab.
Di
Madinah al-Munawwarah sejak tahun 1989 M saat penulis pertama kali tinggal di
Kota Madinah , ungkapan ini sudah biasa diucapkan oleh orang-orang di sana .
Di
negara-negara Teluk Arab, frasa ucapan selamat "'Asaakum Min
'Awwaadihi ", telah menyebar dan terkenal di semua negara Arab,
meskipun diucapkan dalam bahasa gaul masyarakat Teluk sehari-hari, namun ucapan
itu telah menjadi populer , dan bahkan sebagian orang-orang Arab dari
negara-negara non-Teluk pun telah ikut-ikutan menyebutkannya dalam ucapan
selamat hari raya antar sesama.
Ucapan
" 'Asaakum Min 'Awwaadih " adalah Ungkapan ucapan
selamat hari raya di negara-negara Teluk yang terpopuler .
Sekarang
ungkapan ini sudah menyebar lewat berbagai macam media , bukan saja lewat
ucapan lisan , bahkan melalui situs jejaring sosial , pesan telepon , SMS , WA
dan lainnya .
Dan
seandainya bukan karena kehalusan, kemanisan, dan keindahan makna "
'Asaakum Min 'Awwaadih ", maka ungkapan ini tidak akan memiliki efek
sedahsyat itu, dan orang-orang non-negara Teluk pun tidak akan memilihnya
sebagai ekspresi untuk berlemah lembut pada orang lain. Lewat ucapan itu mereka
bisa mengungkapkan rasa cinta, kebaikan, kasih sayang dan kedamaian yang ada
dalam lubuk hati mereka.
Begitu
pula halnya dengan ungkapan "Minal 'Aaidin Wal Faizin"
.
Patut
dicatat pula bahwa ungkapan "'Asaakum Min 'Awwaadih" ini
pada awalnya hanya menyebar di jalan-jalan negara Teluk Arab, namun sekarang
tidak lagi terbatas di sana saja, melainkan telah meningkat menjadi salah satu
ungkapan yang paling menonjol beredar dalam sesi ucapan selamat pada acara-acara
perkumpulan dan pertemuan dalam rangka untuk silaturrahmi dan saling
mengucapkan selamat hari raya, baik pada hari Idul Fitri maupun Idul Adha.
Diantara
ungkapannya adalah sbb :
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ
بِخَيْرٍ، وَعَسَانَا وَإيّاكُمْ مِنْ عَوَّادِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَعِيْدِ
الفِطْرِ مِنْ جَدِيْدٍ
"
Semoga Setiap tahun kalian baik-baik saja, dan semoga kami dan kalian termasuk
orang-orang yang bisa kembali lagi bersama Ramadhan dan Idul Fitri yang baru
".
===***===
CONTOH LAIN KATA-KATA PELENGKAP UNGKAPAN
"
'ASAAKUM MIN 'AWWAADIH ".
[1]
عَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِ شَهْرِ
الْخَيْرِ وَغَانِمِينَ عِيدَ الْفِطْرِ الْمُبَارَكَ، كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Semoga kalian termasuk orang-orang yang kembali menjumpai bulan
kebaikan dan meraih kemenangan di hari Idul Fitri yang diberkahi, setiap tahun
kalian dalam kebaikan.
[2]
أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْمَعَنَا
وَإِيَّاكُمْ فِي ظِلِّ الرَّحْمٰنِ، وَيُبَلِّغَنَا سَوِيًّا بَرَكَةَ الْعِتْقِ مِنَ
النَّارِ فِي رَمَضَانَ، وَمَغْفِرَةً مِنَ اللَّهِ الْكَرِيمِ الْمَنَّانِ، وَأَنْ
يَجْمَعَنَا فِي دَارِ الْجِنَانِ، عَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِهِ.
Aku memohon kepada Allah agar mengumpulkan kami dan kalian di bawah
naungan Ar-Rahman, mempertemukan kita bersama dengan keberkahan terbebas dari
neraka di bulan Ramadhan, serta ampunan dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha
Pemberi, dan agar Dia mengumpulkan kita di surga, semoga kalian termasuk
orang-orang yang kembali menjumpainya.
[3]
أَسْأَلُ اللَّهَ لَكُمْ أَيَّامًا
عَامِرَةً بِالْبَرَكَةِ وَالرَّخَاءِ بَعْدَ شَهْرِ الْخَيْرِ وَالْكَرَمِ وَالْجُودِ،
تَهَانِي لَكُمْ مِنْ قَلْبٍ وَدُودٍ، أَسْأَلُ أَنْ يُعِيدَهُ عَلَيْنَا وَعَلَيْكُمْ
سَنَوَاتٍ وَسَنَوَاتٍ، عَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Aku memohon kepada Allah agar kalian mendapatkan hari-hari yang penuh
dengan keberkahan dan kelapangan setelah bulan kebaikan, kemurahan, dan
kedermawanan. Ucapan selamat untuk kalian dari hati yang penuh kasih. Aku
memohon agar Allah mengembalikannya kepada kita dan kalian selama
bertahun-tahun, semoga kalian termasuk orang-orang yang kembali menjumpainya
insya Allah.
[4]
فِطْرٌ سَعِيدٌ، عَسَاكُمْ مِنْ
عَوَّادِ أَيَّامِ الشَّهْرِ الْفَضِيلِ وَبَرَكَاتِ الْعِيدِ السَّعِيدِ، بَارَكَ
اللَّهُ لَكُمْ وَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ.
Selamat Idul Fitri, semoga kalian termasuk orang-orang yang kembali
menjumpai hari-hari bulan yang mulia dan keberkahan hari raya yang bahagia.
Semoga Allah memberkahi kalian dan menerima amalan kalian.
[5]
أَكْرَمَكُمُ اللَّهُ بِنِعْمَةِ
الْقَبُولِ، وَحَشَرَكُمْ بِجِنَانِهِ مَعَ الرَّسُولِ، كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ،
وَعَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِهِ، وَأَيَّامُكُمْ نُورٌ عَلَى نُورٍ.
Semoga Allah memuliakan kalian dengan nikmat diterimanya amal, dan
mengumpulkan kalian di surga-Nya bersama Rasulullah ﷺ. Setiap tahun kalian dalam
kebaikan, semoga kalian termasuk orang-orang yang kembali menjumpainya, dan
hari-hari kalian penuh cahaya di atas cahaya.
[6]
نَسْأَلُ اللَّهَ لَكُمُ الْقَبُولَ
عَنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْ يَجْعَلَكُمْ مِنْ عُتَقَائِهِ مِنَ النِّيرَانِ، كُلَّ
عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ، عَسَاكُمْ مِنْ عَوَّادِهِ، وَمُبَارَكٌ عَلَيْكُمُ الْعِيدُ.
Kami memohon kepada Allah agar menerima amalan kalian di bulan
Ramadhan, dan menjadikan kalian termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api
neraka. Setiap tahun kalian dalam kebaikan, semoga kalian termasuk orang-orang
yang kembali menjumpainya, dan selamat hari raya untuk kalian.
PERHATIAN !
Ada sebagian para ikhwan di tanah air yang menghukumi bid’ah sesat
ungkapan selamat hari raya selain daripada “Taqobbalallahu minnaa wa minkum”. Mereka menghukumi bid'ah ungkapam "minal 'aidzin wal fa'izin".
0 Komentar