MAKNA TONGKAT DAN
HUKUM KHATHIB BERPEGANGAN TONGKAT SAAT KHUTBAH
Di Tulis oleh Abu
Haitsam Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI :
- MAKNA TONGKAT [عَصَا]
- FAIDAH TONGKAT DAN
- KEUTAMAANNYA .
- APAKAH MEMEGANG TONGKAT DALAM KHUTBAH JUMAT BAGIAN DARI SUNNAH?
***
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
===***===
MAKNA TONGKAT :
Tongkat :
adalah sepotong bambu atau rotan atau kayu, atau lainnya yang agak panjang
(untuk menopang atau pegangan ketika berjalan, menyokong, dan sebagainya).
Dalam bahasa
Arab, tongkat memiliki banyak nama, di antaranya al-'Ashoo,
"al-'Ukazah", "al-'Anzah", "al-Miqra'ah",
"al-Qoshib", atau "al-Mihjan".
Tongkat
biasanya terbuat dari kayu pohon dan kadang-kadang bisa memiliki besi atau
tombak di bagian bawahnya untuk tujuan menggali dan melindungi diri.
Tongkat Nabi ﷺ terbuat dari kayu pohon Syauhaṭh al-Jabali
(juga disebut sebagai pohon an-Naba' atau asy-Syaryan). "Al-Mamsyuuq"
adalah nama tongkat Nabi ﷺ.
Terkadang,
Nabi ﷺ membawa tongkat dari pelepah daun kurma. Nabi ﷺ kadang-kadang membawa tongkat sendiri atau meminta salah satu
sahabatnya untuk membawanya dan berjalan di depannya.
Ibnu Mandzur
dalam Lisanul 'Arob berkata :
«عَصَا: الْعَصَا: الْعُودُ، أُنْثَى. وَفِي التَّنْزِيلِ
الْعَزِيزِ: ﴿هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا﴾. وَفُلَانٌ صَلَبَ الْعَصَا وَصَلِيبُ
الْعَصَا، إِذَا كَانَ يُعَنِّفُ بِالْإِبِلِ فَيَضْرِبُهَا بِالْعَصَا».
[عَصَا] Tongkat : tongkat Kayu, (mu'annats) . Dan dalam Al-Quran yang
Maha Mulia di sebutkan :
﴿هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا﴾
"
Ia adalah tongkatku yang aku bersandar padanya".
Dan dikatakan
: si Fulan memukul dengan tongkat dan menyiksa dengan tongkat, ketika ia
menyiksa unta dengan memukulnya menggunakan tongkat." [ Lisanul 'Arob
10/179].
Allah SWT
berfirman :
﴿قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا
وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ﴾
"Berkata
Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku memukul
(daun) di sana untuk kambingku, dan bagiku padanya ada lagi keperluan-keperluan
yang lain". [QS. Thoha : 18].
Ibnu Katsir
berkata :
أَيْ: أَعْتَمِدُ
عَلَيْهَا فِي حَالِ الْمَشْيِ ﴿وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي﴾ أَيْ: أَهُزُّ بِهَا
الشَّجَرَةَ لِيَسْقُطَ وَرَقُهَا، لِتَرْعَاهُ غَنَمِي.
قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ الْقَاسِمِ: عَنِ الْإِمَامِ مَالِكٍ: وَالْهَشُّ: أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ المحْجَن
فِي الْغُصْنِ، ثُمَّ يُحَرِّكُهُ حَتَّى يُسْقِطَ وَرَقَهُ وثَمَره، وَلَا يَكْسِرُ
الْعُودَ، فَهَذَا الْهَشُّ، وَلَا يَخْبِطُ. وَكَذَا قَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ
أَيْضًا.
وَقَوْلُهُ: ﴿وَلِيَ
فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى﴾ أَيْ: مَصَالِحُ وَمَنَافِعُ وَحَاجَاتٌ أُخَرُ غَيْرُ ذَلِكَ
" Yaitu tongkat ini kujadikan sebagai sandaran saat aku
berjalan. Dan Firman-Nya : "Dan aku pukul (daun) dengannya untuk
kambingku.” (Thaha: 18) Yakni aku goyangkan dengannya tangkai pohon agar
dedaunannya rontok buat makan kambingku.
Abdur Rahman ibnul Qasim telah mengatakan dari Imam Malik :
bahwa al-husy artinya bila seseorang mencangkolkan (mengaitkan)
bagian yang bengkok dari tongkatnya ke dahan pohon, lalu ia
menggerak-gerakkannya hingga dedaunan dan buah-buahannya rontok, tetapi dahan
pohon (rantingnya) tidak patah. Itulah makna lafaz al-husy, yakni
bukan memukulkan.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Maimun ibnu Mahran.
Dan firman Allah Swt.: "Dan bagiku ada lagi keperluan yang lain
padanya. (Thaha: 18)
Yakni: mashlahat, kegunaan dan keperluan lainnya". [Tafsir Ibnu
Katsir 5/279].
Ini menunjukkan bahwa tongkat tersebut berukuran panjang . Begitu pula
dalam firman-Nya :
﴿ وَاِذِ اسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ
فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ
عَيْنًا ۗ ﴾
"Dan
(ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,
“Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas
mata air". (QS.
Al-Baqarah: 60)
Dan juga
firman-Nya :
﴿ فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ
اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ
الْعَظِيْمِ ۚ ﴾
"Lalu
Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu’. Maka
terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar”. (QS. Asy-Syu'ara': 63)
Nabi Sulaiman
(as) wafat dalam kondisi berdiri bersandar pada tongkatnya :
﴿فَلَمَّا
قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلا دَابَّةُ الأرْضِ
تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ﴾
"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang
menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan
tongkatnya". [QS. Saba :
14].
Al-Hafidz ibnu
Katsir dalam Tafsirnya 6/501 berkata :
"فَإِنَّهُ مَكَثَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَاهُ
-وَهِيَ مِنْسَأته-كَمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٌ، وَالْحَسَنُ، وَقَتَادَةُ
وَغَيْرُ وَاحِدٍ".
"Dan
sesungguhnya Sulaiman saat kematiannya dalam keadaan sedang bertopang pada
tongkatnya [عَصَاه], berdiri tegak. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas r.a.
Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah serta yang lain-lainnya yang bukan hanya seorang".
Al-Jawhari
berkata dalam Ash-Shihaah (1/68):
"وثَبَّجَ
الرّاعي بالعَصَا تَثْبيجاً ، إِذَا جَعَلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ وَجَعَلَ يَدَيْهِ مِن
وَرَائِهَا"
"
Penggembala mentatsbiij dengan tongkat ; yakni jika dia meletakkan tongkat di
punggungnya dan kedua tangannya di belakang tongkatnya " .
Ini juga menunjukkan bahwa tongkat tersebut
panjang.
Ibnu al-Anbari
berkata dalam al-Zahhir (1/417):
قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ
رَوَى الْأَصْمَعِيُّ عَنْ بَعْضِ شُيُوخِ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا
سُمِّيَّتِ (العصا) عَصَا لِأَنَّ الْيَدَ وَالْأَصَابِعَ تَجْتَمِعُ عَلَيْهَا وَقَالَ
هُوَ مَأْخُوذٌ مِّن قَوْلِ الْعَرَبِ قَدْ عَصَوْتُ الْقَوْمَ أَعْصُوهُمْ إِذَا جَمَعْتُهُمْ
عَلَى خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ.
Abu al-Abbas
mengutip dari al-Asma'iy dari beberapa syekh Bashrah bahwa ia mengatakan :
"Sungguh, (tongkat) disebut 'aṣhā ; karena tangan dan jari-jari berkumpul di
atasnya." Dan dia berkata : " Itu diambil dari perkataan orang
Arab : "Aku telah meng-ashoo orang-orang, maka akupun mengashoo-kan mereka
, jika aku telah berhasil mengumpulkan mereka, baik dalam kebaikan atau
keburukan".
Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma berkata:
طَافَ النَّبِيُّ ﷺ فِي حَجَّةِ
الْوَدَاعِ عَلَى بَعِيرٍ يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ
"Nabi
ﷺ melaksanakan thawaf ketika hajji wada' (perpisahan) diatas
untanya dan Beliau menyentuh Ar-Rukun (Al Hajar Al Aswad) menggunakan
tongkat". [HR. Bukhori no. 1607 dan Muslim no. 1272 ].
Makna
al-Mihjan :
المِحْجَنُ = العَصَا
ذَاتُ الطَّرَفِ المُنْحَنِي. وَمَا زَالَ فِي نَجْدٍ وَبَعْضِ مَنَاطِقِ الْمَمْلَكَةِ
يُسَمَّى (مِحْجَنًا) وَ(حَاجُوْنًا).
Mihjan =
tongkat yang ujungnya melengkung.
Hingga kini
masih disebut (Mahajn) dan (Hajoun) di Najd dan beberapa wilayah Kerajaan Arab
saudi .
Dari Jabir bin Abdullah (radhiyallahu ‘anhu) dia berkata;
خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي غَزَاةٍ فَأَبْطَأَ بِي جَمَلِي
فَأَتَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ لِي يَا جَابِرُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ
مَا شَأْنُكَ قُلْتُ أَبْطَأَ بِي جَمَلِي وَأَعْيَا فَتَخَلَّفْتُ فَنَزَلَ
فَحَجَنَهُ بِمِحْجَنِهِ ثُمَّ قَالَ ارْكَبْ فَرَكِبْتُ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي
أَكُفُّهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ أَتَزَوَّجْتَ فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ
أَبِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا فَقُلْتُ بَلْ ثَيِّبٌ قَالَ فَهَلَّا جَارِيَةً
تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ قُلْتُ إِنَّ لِي أَخَوَاتٍ فَأَحْبَبْتُ أَنْ
أَتَزَوَّجَ امْرَأَةً تَجْمَعُهُنَّ وَتَمْشُطُهُنَّ وَتَقُومُ عَلَيْهِنَّ قَالَ
أَمَا إِنَّكَ قَادِمٌ فَإِذَا قَدِمْتَ فَالْكَيْسَ الْكَيْسَ ثُمَّ قَالَ أَتَبِيعُ
جَمَلَكَ قُلْتُ نَعَمْ فَاشْتَرَاهُ مِنِّي بِأُوقِيَّةٍ ثُمَّ قَدِمَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ وَقَدِمْتُ بِالْغَدَاةِ فَجِئْتُ الْمَسْجِدَ فَوَجَدْتُهُ عَلَى بَابِ
الْمَسْجِدِ فَقَالَ الْآنَ حِينَ قَدِمْتَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَدَعْ جَمَلَكَ
وَادْخُلْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ قَالَ فَدَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ
فَأَمَرَ بِلَالًا أَنْ يَزِنَ لِي أُوقِيَّةً فَوَزَنَ لِي بِلَالٌ فَأَرْجَحَ
فِي الْمِيزَانِ قَالَ فَانْطَلَقْتُ فَلَمَّا وَلَّيْتُ قَالَ ادْعُ لِي جَابِرًا
فَدُعِيتُ فَقُلْتُ الْآنَ يَرُدُّ عَلَيَّ الْجَمَلَ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ
أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْهُ فَقَالَ خُذْ جَمَلَكَ وَلَكَ ثَمَنُهُ
Saya pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, aku menaiki untaku
yang jalannya sangat lamban, lalu Rasulullah ﷺ mendatangiku, dan memanggilku: "Wahai
Jabir?" Saya menjawab; "Ya."
Beliau ﷺ melanjutkan: "Kenapa
denganmu?"
Aku menjawab; "Untaku sangat lamban jalannya hingga saya
ketinggalan."
Kemudian beliau turun dan memukul unta tersebut dengan TONGKATNYA
[MIHJAN-NYA], kemudian beliau bersabda: "Naiklah."
Lalu saya menaikinya -sungguh saya ingat, seketika itu [untaku menjadi
kencang jalannya] maka aku menahan unta tersebut jangan sampai ia mendahului
Rasulullah ﷺ-.
Lalu beliau ﷺ bertanya: "Apakah
kamu sudah menikah?" Jawabku; "Ya, sudah."
Beliau ﷺ bertanya : "Apakah seorang gadis
ataukah janda yang kamu nikahi?"
Saya menjawab; "Seorang janda."
Beliau ﷺ berkata : "Kenapa
tidak yang masih gadis saja yang kamu nikahi, sehingga kamu bisa bercumbu rayu
dengannya dan dia bisa mencumbumu?"
Saya menjawab; "Sesungguhnya saya memiliki beberap saudara
perempuan, dan saya ingin menikahi seorang wanita yang dapat memelihara mereka,
menyisiri rambut mereka dan mengurus perkara mereka."
Beliau ﷺ berkata : "Sesungguhnya
kamu akan sampai, apabila kamu tiba maka berikanlah kesempatan istri agar
berdandan!"
Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Apakah
kamu akan menjual untamu?"
Saya menjawab; "Ya."
Lantas beliau membelinya dariku dengan satu 'uqiyah. Saya tiba di
Madinah di pagi hari setelah beliau tiba lebih dulu, saya mendatangi masjid,
ternyata beliau sudah berada di pintu Masjid, beliau ﷺ bersabda: "Apakah
kamu baru sampai."
Saya menjawab; "Ya."
Beliau ﷺ bersabda: "Tinggalkanlah
untamu dan masuklah ke dalam masjid untuk shalat dua raka'at."
Jabir berkata; "Lalu saya masuk masjid untuk mengerjakan shalat
sunnah dua raka'at. Setelah itu saya kembali kepada beliau, lalu beliau
menyuruh Bilal untuk menakar uang 'Uqiyah buatku, maka Bilal menakarnya dan
melibihkan dalam takarannya."
Jabir berkata; "Tatkala saya telah beranjak pergi, beliau ﷺ memanggil: "Panggilkan Jabir kepadaku."
Lalu saya dipanggil, saya berkata; "Ternyata sekarang unta tersebut
justru akan beliau kembali lagi kepadaku, padahal tidak ada sesuatu yang
menjengkelkanku selain unta itu."
Beliau ﷺ bersabda: "Ambillah
untamu dan harganya juga untukmu." [ HR. Muslim no. 715].
Ini juga
menunjukkan bahwa tongkat tersebut panjang.
Tongkat juga biasa digunakan untuk ibadah dan kata'atan :
Sebagaimana riwayat Malik dalam Muwatha dengan sanad yang shahīh dari Muhammad bin
Yusuf dari As Sāib bin Yazid (seorang tabi’in) beliau mengatakan:
أَمَرَ عُمَرُ
بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا
لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ
حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا
نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي بُزُوْغِ الفجرِ
”Umar bin Khaththāb ketika memerintahkan sahabat Ubay bin Ka’ab dan Tamīm Ad Dari untuk
menjadi imam shalat tarawih, beliau memerintahkan keduanya untuk mengerjakan
shalat tarawih sebelas raka’at.”
Kemudian As Sāib bin Yazid mengatakan:
”Dan sungguh Ubay bin Ka’ab dan Tamīm Ad Dari ini membaca Al Qur’ān ketika mengimani
shalat tarawih ratusan ayat sampai-sampai kami bertelekan [bersandarkan] pada
tongkat karena lamanya berdiri, dan kami tidak bubar dari shalat tarawih ini
kecuali di awal fajar (menjelang sahur).”.
[Lihat : al-Muwattha hal 74 no. 311. Pentahqiqnya berkata bahwa Atsar
ini adalah shahih yang diriwayatkan pula oleh al-Bayhaqi dalam "as-Sunan
al-Kubra" (5/329-4678).].
Ini juga menunjukkan bahwa tongkat tersebut panjang .
Tongkat adalah penopang bagi mereka yang bersandar pada nya dalam
langkah-langkah kaki mereka, dan dengan itu mereka memperpanjang langkah kaki mereka.
Lubayd al-'Amiri berkata, semoga Allah meridainya dalm syairnya :
أَلَيْسَ وَرَائِي
إِن تَرَاخَتْ مُنِيَّتِي ** لِزُومُ (العَصَا) تُحَنَّى عَلَيْهَا الْأَصَابِعُ
"Bukankah di belakangku,
jika kekuatanku meredup ** Dibutuhkan (tongkat) yang jari-jari melengkung
padanya.
أُخَبِّرُ أَخبارَ
القُرون الَّتي مَضَتْ ** أَدِبُّ كَأني كُلّما قمتُ راكعُ
Aku meriwayatkan kisah-kisah generasi yang telah berlalu ** Seolah-olah aku mendidik, setiap kali aku berdiri membungkuk."
Deskripsi tentang
cara penggembala dalam menggembalakan gembalaanya dari sisi kekerasan dan
kelembutan, terbentuk dengan kekerasan dan kelembutan dalam menggunakan tongkat
.
Sebagian dari mereka memperluas dalam mendeskripsi pemerintahan secara
umum dengan tongkat ini.
Abu an-Najm
berkata:
"(صُلْبُ العصا)
جافٍ على التغزُّل ** كالصَّقْرِ يَجْفُوْ عَنْ طِرَادِ الدُّخَلِ
'(Inti dari tongkat) kering
saat dipegang ** Seperti elang yang menjauhi penangkapan mangsa.'
Dan Ar-Raa'ii al-Namiri berkata:
(ضَعِيْفُ العَصَا)
بَادِيَ الْعُرُوْقِ تَرَى لَهُ ** عَلَيْهَا إِذَا مَا أَجْدَبَ النَّاسُ إِصْبَعًا"
'(Inti tongkat yang lemah) ,
urat-uratnya tampak jelas ** Di atasnya, ketika orang-orang tidak menarik jari
jemarinya.'"
====
FAIDAH DAN KEUTAMAAN TONGKAT
Al-Imam
Al-Qurthubi (W. 671 H) berkata dalam tafsirnya (11/188):
وَرُوِيَ عَنْهُ
مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ قَالَ: إِمْسَاكُ الْعَصَا سُنَّةٌ لِّلْأَنْبِيَاءِ، وَعَلَامَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِ.
وَقَالَ الْحَسَنُ
الْبَصْرِيُّ: فِيْهَا سِتُّ خِصَالٍ:
1- سُنَّةٌ لِّلْأَنْبِيَاءِ
2- وَزِيْنَةُ الصَّالِحِيْنَ
3- وَسِلَاحٌ عَلَى الْأَعْدَاءِ
4- وَعَوْنٌ لِّلضُّعَفَاءِ
5- وَغِمَّ الْمُنَافِقِيْنَ
6- وَزِيَادَةٌ فِي الطَّاعَاتِ
"Diceritakan
darinya bahwa Maimun bin Mihran berkata: 'Memegang tongkat adalah sunnah para
nabi, dan tanda bagi orang beriman.'
Dan Al-Hasan
al-Bashri berkata: 'Di dalamnya terdapat enam hal:
1]- Sunnah
para nabi
2]- Dan
perhiasan orang-orang saleh
3]- Dan
senjata terhadap musuh-musuh
4]- Dan
bantuan bagi yang lemah
5]- Dan
kesulitan bagi orang munafik
6]- Dan
peningkatan dalam ketaatan". Demikianlah akhir perkataannya.
Derajat Hadits
:
"حَمْلُ العصَا علامَةُ المؤمن وسُنَّةُ
الأنبياء"
"Membawa tongkat adalah tanda seorang mukmin dan sunnah
para nabi."
Syeikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani dalam adh-Dha'ifah (2 /20) berkata:
"مَوْضُوعٌ". "وَأَعْلَمُ أَنَّهُ
لَيْسَ فِي الْبَابِ فِي الْحَضِّ عَلَى حَمْلِ الْعَصَا حَدِيثٌ يَصِحُّ وَأَنَّ حَمْلَ
الْعَصَا مِنْ سُنَنِ الْعَادَةِ لَا الْعِبَادَةِ".
"Palsu
(maudhu'). Dan ketahuilah bahwa tidak terdapat dalam bab anjuran untuk
memegang tongkat hadits yang shahih, dan memegang tongkat adalah dari
kebiasaan, bukan dari ibadah."
Dan Syeikh
Al-Albani dalam "Adh-Dha'ifah" no. (535) juga mengatakan:
" مَوْضُوعٌ ". أُخْرِجَهُ الدِّيلَمِيُّ
فِي "مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ" (2 / 97 - زهْرَ الْفِرْدَوْسِ) مِنْ طَرِيقِ
يَحْيَى بْنِ هَاشِمِ الْغَسَّانِيِّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا. قُلْتُ:
وَهَذَا مَوْضُوعٌ، وَإِنَّ ذَكَرَهُ السُّيُوطِيُّ فِي "الْفَتَاوِي"
(2 / 201) وَسَكَتَ عَلَيْهِ! بَلْ أَوْرَدَهُ فِي "الْجَامِعِ الصَّغِيرِ"!
فَقَدْ تَعَقَّبَهُ شَارِحُهُ الْمُنَاوِيُّ بِأَنَّ الْغَسَّانِيَّ هَذَا قَالَ الذَّهْبِيُّ
فِي "الضَّعَفَاءِ": "قَالُوا: كَانَ يَضَعُّ الْحَدِيثَ".
"Palsu
(maudu). Disebutkan oleh Ad-Dailami dalam "Musnad al-Firdaus"
(2/97 - Zahr al-Firdaus) melalui jalur Yahya bin Hashim al-Ghassani dari
Qatadah dari Anas dalam bentuk hadits marfu'. Saya berkata : "Ini palsu
(maudu), meskipun as-Suyuti menyebutkannya dalam 'al-Fatawi' (2/201) dan dia
diam! Bahkan dia mencantumkannya dalam 'al-Jami' as-Saghir'! Kemudian
pensharahnya, al-Munawi, mengkritik dengan mengatakan bahwa al-Ghassani ini
telah dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam 'adh-Dhu'aafa': 'Mereka berkata : Dia
sering memalsukan hadits'".
Dan dia juga
mengatakan dalam "Adh-Dha'ifah" no. (536):
(وَاعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْبَابِ فِي الْحَضِّ
عَلَى حَمْلِ الْعَصَا، حَدِيثٌ يَصِحُّ، وَأَنَّ حَمْلَ الْعَصَا مِنْ سُنَنِ الْعَادَةِ
لَا الْعِبَادَةِ".
"(Dan
ketahuilah bahwa) tidak ada dalam bab dorongan memegang tongkat, hadits yang
sahi, dan bahwa memegang tongkat adalah dari kebiasaan, bukan ibadah."
APAKAH MEMEGANG TONGKAT DALAM KHUTBAH JUMAT BAGIAN DARI SUNNAH?
Para ulama
berbeda pendapat mengenai hukum bagi khatib untuk bersandar pada tongkat atau
perkakas serupa seperti busur atau pedang selama khutbah Jumat.
Terdapat
dua pendapat:
***
PENDAPAT PERTAMA :
SUNNAH BAGI KHATHIB BERSANDAR PADA TONGKAT
Sunnah dan mustahabb . Ini adalah pendapat mayoritas
ulama dari madzhab Maliki, Syafi'i, Hanbali dan sebagian madzhab Hanafi .
Referensi :
Madzhab Maliki
: Lihat: "Al-Mudawwanah" oleh Sakhnun (1/151-156), dan "Al-Syarh
al-Shaghir" oleh Ahmad al-Dardir (1/169), dan "Al-Fawakih
al-Dawani" oleh al-Nafrawi (1/307).
Madzhab
Syafi'i : Lihat: "Al-Umm" oleh asy-Syafi'i (1/200), dan
"Al-Majmu'" oleh al-Nawawi (4/447), dan "Tuhfat al-Muhtaj"
oleh Ibn Hajar al-Haytami (2/463), dan "Mughni al-Muhtaj" oleh al-Sharbini
(1/290).
Madzhab
Hanbali : Lihat: "Al-Mughni" oleh Ibn Qudamah (3/23), dan
"Al-Muharrar" oleh al-Majd Ibn Taymiyyah (1/151), dan
"Al-Furu'" oleh Ibn Muflih (2/119), dan "Al-Inshaf" oleh
al-Mardawi (2/387), dan "Al-Rawd al-Murbi''" oleh al-Buhuti (hal. 125).
Madzhab Hanafi
: Lihat: "Radd al-Muhtar" oleh Ibnu 'Abidin (2/163).
Imam Malik
rahimahullah berkata
:
" وَذَلِكَ مِمَّا يَسْتَحَبُّ لِلْأَئِمَّةِ
أَصْحَابِ الْمِنَابِرِ، أَن يَخْطُبُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَعَهُمُ الْعَصَيُّ
يَتَوَكَّؤُونَ عَلَيْهَا فِي قِيَامِهِمْ، وَهُوَ الَّذِي رَأَيْنَا وَسَمِعْنَا
". انتهى.
"Dan
ini adalah di antara hal-hal yang disunnahkan bagi para imam yang berdiri di
mimbar, yaitu untuk memberikan khutbah Jumat dengan membawa tongkat dan
bersandar padanya dalam posisi berdiri, dan inilah yang kami lihat dan
dengar." (Al-Mudawwanah al-Kubra 1/151).
Pendapat ini
juga menjadi pendapat yang mu'tamad di kalangan ulama Maliki kemudian, seperti
dalam "Jawahir al-Ikliil" (1/97) dan dalam "Hashiyah
al-Dusuqi" (1/382).
Al-Imam
Al-Qurtubi (W. 671 H) menyampaikan kata-kata yang panjang dan indah tentang
(tongkat). Ia mengatakan dalam tafsirnya (11/188):
وَالْإِجْمَاعُ
مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْخَطِيبَ يَخْطُبُ مُتَوَكِّئًا عَلَى سَيْفٍ أَوْ عَصَا،
فَالْعَصَا مَأْخُوْذَةٌ مِّنْ أَصْلٍ كَرِيْمٍ، وَمَعْدِنٍ شَرِيْفٍ، وَلَا يُنكِرُهَا
إِلَّا جَاهِلٌ. أ.هـ
"Dan
Ijma' [kesepakatan para ulama] telah tercapai bahwa khatib berkhutbah
dengan bersandar pada pedang atau tongkat. Maka, tongkat diambil dari sumber
yang mulia, dan merupakan bahan yang terhormat. Tidak ada yang menolaknya
kecuali orang yang bodoh."
Penulis katakan
: "Hikayat tentang Ijma ini perlu ditinjau ulang."
Imam
Syafi'i rahimahullah berkata :
"أَحَبُّ لِكُلِّ مَنْ خَطَبَ - أَيَّ خُطْبَةٍ
كَانَتْ - أَنْ يَعْتَمِدَ عَلَى شَيْءٍ" انتهى.
"Lebih
aku sukai bagi setiap orang yang memberikan khutbah, baik itu khutbah apa pun,
untuk bersandar pada sesuatu." (Al-Umm 1/272).
Ini adalah
pendapat yang mu'tamad dalam madzhab Syafi'i, seperti dalam "Nihayat
al-Muhtaj" (2/326) dan "Hashiyah Qalyubi wa 'Umairah" (1/272).
Al-Buhuti,
ulama madzhab Hanbali, berkata :
"وَيَسُنُّ أَنْ يَعْتَمِدَ عَلَى سَيْفٍ
أَوْ قَوْسٍ أَوْ عَصَا بِإِحْدَى يَدَيْهِ" انتهى.
"Sunnah
bagi khatib untuk bersandar pada pedang atau busur atau tongkat dengan salah
satu tangan." (Kashf al-Qina' 2/36), dan lihat juga "al-Insaf"
(2/397).
===
DALIL-DALIL :
Untuk mendukung
pendapat ini mereka berdalil dengan beberapa dalil berikut ini :
----
DALIL PERTAMA :
Hadits dari Al
Hakam bin Hazn Al Kulafi], (radhiyallahu ‘anhu) , dia berkata ;
وَفَدْتُ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ سَابِعَ سَبْعَةٍ أَوْ تَاسِعَ تِسْعَةٍ، فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ،
فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، زُرْنَاكَ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ، فَأَمَرَ
بِنَا أَوْ أَمَرَ لَنَا بِشَيْءٍ مِنَ التَّمْرِ، وَالشَّأْنُ إِذْ ذَاكَ دُونٌ، فَأَقَمْنَا
بِهَا أَيَّامًا، شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَامَ مُتَوَكِّئًا
عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ
طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ، ثُمَّ قَالَ:
«أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا،
أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا، كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ، وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا».
قَالَ أَبُو عَلِيٍّ:
سَمِعْتُ أَبَا دَاوُدَ قَالَ: «ثَبَّتَنِي فِي شَيْءٍ مِنْهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا،
وَقَدْ كَانَ انْقَطَعَ مِنَ الْقِرْطَاسِ».
"Aku
pernah menemui Rasulullah ﷺ bersama dengan tujuh atau
sembilan orang, setelah kami masuk menemui beliau, kami bertanya :
"Wahai
Rasulullah, kami mengunjungi anda, oleh karena itu, do'akanlah kebaikan untuk
kami."
Maka beliau
memerintahkan supaya kami di suguhi kurma, pada waktu itu, kondisi dalam
situasi lemah. Kami pun tinggal di Madinah beberapa hari, kami juga mengikuti
pelaksanaan shalat Jum'at bersama Rasulullah ﷺ, saat itu beliau berdiri BERSANDAR
pada TONGKAT atau BUSUR, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan
beberapa patah kata ringan, baik lagi penuh berkah, beliau bersabda:
"Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengerjakan semua yang
di perintahkan pada kalian, akan tetapi bertindaklah yang benar dan berilah
kabar gembira."
[HR. Abu Dawud
(1096). Al-Imam al-Nawawi berkata dalam "al-Majmu'" (4/526): "Hadits
ini hasan." Al-Albani juga mengatakan hadits ini shahih dalam "Sahih
Abi Dawud."
Namun, ada beberapa
ulama juga yang menganggap hadits ini lemah. Ibnu Katsir berkata dalam Irsyad
al-Faqiih 1/196:
لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِالْقَوِيِّ.
“Isnadnya tidak kuat”.
Dan Syeikh
al-Albaani mendhaifkannya dalam shahih Ibnu Khuzaimah no. 1452 .
----
DALIL KE DUA :
Dari Hisyam
bin Urwah, dia berkata:
"رَأَيْتُ
عَبْدَاللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ يَصْعَدُ الْمِنْبَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ،
وَفِي يَدِهِ عَصَا فَيُسَلِّمُ، ثُمَّ يَجْلِسُ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَيُؤَذِّنُ الْمُؤَذِّنُونَ،
فَإِذَا فَرَغُوا مِنْ آذَانِهِمْ؛ قَامَ فَتَوَكَّأَ عَلَى الْعَصَا، فَخَطَبَ، فَإِذَا
فَرَعَ مِنْ خُطْبَتِهِ؛ جَلَسَ دُونَ أَنْ يَتَكَلَّمَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ،
فَإِذَا فَرَغَ مِنْ خُطْبَتِهِ؛ نَزَلَ".
“Aku
melihat Abdullah bin Az-Zubair di Makkah naik mimbar pada hari Jumat, dengan
sebuah tongkat di tangannya, lalu dia memberi salam. Kemudian dia duduk di atas
mimbar, dan para muadzin berkumandang. Setelah mereka selesai dengan adzan, dia
berdiri dan bersandar pada tongkatnya, kemudian berkhutbah. Setelah ia memulai
khutbahnya, dia duduk tanpa berbicara, kemudian berdiri kembali dan berkhutbah
lagi. Setelah ia selesai berkhutbah, dia turun”.
Ini adalah Atsar
yang sahih, diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam "Tarikh Baghdad"
(14/38) melalui jalur Ali bin Musahhir, dari Hisham bin Urwah, dengan sanad
yang sahih.
Dan
diriwayatkan oleh Abdul Razzaq dalam "Musannaf"-nya (3/288/5659) dari
Ath-Thawri, dari Hisham bin Urwah, dengan sanad yang disingkat.
----
DALIL KE TIGA :
Dari Thalhah
bin Yahya, dia berkata:
((رَأَيْتُ عُمَرَ
بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَخْطُبُ وَبِيَدِهِ قَضِيبٌ)).
((Aku
melihat Umar bin Abdul Aziz sedang berkhutbah dan dalam tangannya ada sebatang
tongkat )).
Atsar yang
sahih, diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Mushonnaf"-nya (1/482/5563), dia berkata:
Telah mengabarkan kepada kami Waki', dari Thalhah bin Yahya, dengannya.
----
DALIL KE EMPAT :
Dan juga, Imam
Malik menggunakan dalil bahwa hal itu merupakan amalan penduduk Madinah. Dia
berkata:
((وَهُوَ مِنْ
عَمَلِ النَّاسِ الْقَدِيمِ))
"Ini
adalah dari amalan orang-orang zaman dahulu." (Lihat:
"Al-Mudawwanah" (1/156)).
Abu al-Mihaal
al-Abyadhi berkata :
قُلْتُ: وَهَذَا الْعَمَلُ يَجْرِي مَجْرَى النَّقْلِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهَذَا
الْعَمَلُ حُجَّةٌ، وَلَا يُعْرَفُ عَمَلٌ قَدِيمٌ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ خَالَفَ سُنَّةً
صَحِيحَةً.
Saya berkata:
Amalan ini mengikuti jalur riwayat dari Nabi ﷺ dan amalan ini merupakan
hujjah (dalil yang kuat). Tidak dikenal adanya amalan lama dari penduduk
Madinah yang menyelisihi sunnah yang shohih.
Lihat:
"Amalun Ahlil-Madinah" oleh Ahmad Nur Saif (hal. 113 - 132). [ Lihat
pula : Arsyif Multaqoo al-Hadits 27/160].
---
DALIL KE LIMA :
Tiga khalifah
setelah Rasulullah ﷺ (khulafa’ ar-rasyidin);
yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan, membawa tongkat yang
biasa Nabi bawa saat berkhutbah, dalam khutbah-khutbah mereka. Sebagaimana yang
diceritakan Ibnul Qayyim :
«وَكَانَ إِذَا قَامَ يَخْطُبُ أَخَذَ عَصًا
فَتَوَكَّأَ عَلَيْهَا وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ» ، كَذَا ذَكَرَهُ عَنْهُ أبو
داود عَنِ ابْنِ شِهَابٍ. وَكَانَ الْخُلَفَاءُ الثَّلَاثَةُ بَعْدَهُ يَفْعَلُونَ
ذَلِكَ، وَكَانَ أَحْيَانًا يَتَوَكَّأُ عَلَى قَوْسٍ".
Nabi ﷺ apabila berdiri untuk khutbah, beliau mengambil tongkat lalu
beliau bersandar pada tongkat tersebut saat beliau di atas mimbar. Demikian
yang diceritakan oleh Abu Dawud dari Ibnu Syihab. Kemudian perbuatan ini dilakukan
oleh 3 khulafa ar rasyidin sepeninggal Nabi. Dan terkadang beliau berpegangan
pada busur panah" (Zaadul Ma’ad 1/182).
Al-Hafidz Ibnu
Hajar dalam ad-Diraayah 1/215 di bawah hadits no. 276 berkata :
وَلَهُ فِي الْمَرَاسِلِ
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَبْدَأُ فَيَجْلِسُ عَلَى
الْمِنبَرِ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَخَطَبَ ثُمَّ جَلَسَ يَسِيرًا ثُمَّ
قَامَ فَخَطَبَ وَكَانَ إِذَا قَامَ أَخَذَ عَصَا فَتَوَكَّأَ عَلَيْهَا وَهُوَ قَائِمٌ
عَلَى الْمِنبَرِ ثُمَّ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ.
Dan bagi Abu
Daud dalam kitabnya al-Maraasiil dari Ibnu Syihab, telah sampai kepada kami
bahwa Rasulullah ﷺ biasanya memulai dengan
duduk di atas mimbar. Setelah muadzin diam, beliau berdiri untuk memberikan
khutbah, kemudian duduk sebentar, dan kemudian berdiri lagi untuk memberikan
khutbah. Ketika beliau berdiri, beliau mengambil sebatang tongkat dan bersandar
padanya saat berdiri di atas mimbar. Kemudian Abu Bakar, Umar, dan Utsman juga
melakukan hal yang sama".
----
PATAHNYA TONGKAT NABI ﷺ :
Tongkat Nabi ﷺ yang berada di mimbar Masjid Nabawi diwarisi oleh : Abu Bakar,
lalu oleh Umar, lalu oleh Utsman.
Al-Waqidi
berkata: "Telah mengabarkan kepadaku Usamah bin Zaid al-Laitsi dari Yahya
bin Abdul Rahman bin Hathib dari ayahnya, dia berkata:
بَيْنَا أَنَا أَنْظُرُ
إِلَى عُثْمَانَ يَخْطُبُ عَلَى عَصَا النَّبِيِّ ﷺ الَّتِي كَانَ يَخْطُبُ عَلَيْهَا،
وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَقَالَ لَهُ جُهْجَاهُ الْغِفَارِيُّ: «قُمْ يَا نَعْثَلُ»،
فَأَنْزَلَهُ عَنْ هَذَا الْمِنْبَرِ، وَأَخَذَ الْعَصَا فَكَسَرَهَا عَلَى رُكْبَتِهِ
الْيُمْنَى، فَدَخَلَتْ شَظِيَّةٌ مِنْهَا فِيهَا، فَبَقِيَ الْجُرْحُ حَتَّى أَصَابَتْهُ
الْأَكْلَةُ، فَرَأَيْتُهَا تَدُودُ، فَنَزَلَ عُثْمَانُ وَحَمَلُوهُ، وَأَمَرَ بِالْعَصَا
فَشَدُّوهَا، فَكَانَتْ مُضَبَّبَةً، فَمَا خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ الْيَوْمِ إِلَّا
خَرْجَةً أَوْ خَرْجَتَيْنِ، حَتَّى حُصِرَ فَقُتِلَ.
Ketika aku
melihat Utsman berkhutbah dengan bersandar pada tongkat yang digunakan oleh
Nabi ﷺ untuk berkhutbah, dan juga Abu Bakar dan Umar melakukan hal
yang sama.
Kemudian
Juhjah al-Ghifari berkata kepadanya: 'Bangunlah, wahai Na'tsul (sebutan
sindiran yang kasar).'
Maka dia turun
dari mimbar ini, lalu Juhjah mengambil tongkat itu dan mematahkannya pada lutut
kanan Utsman, sehingga serpihannya menancap masuk dan Luka itu semakin memburuk
dan bernanah hingga akhirnya terlihat belatung keluar.
Kemudian
Utsman turun dan diangkat oleh orang-orang, dan dia memerintahkan agar tongkat
itu diambil dan diikat kembali, maka tongkat itu menjadi kokoh lagi .
Setelah itu,
Utsman tidak pernah keluar, kecuali sekali, atau dua kali keluar, hingga dia
dikepung dan terbunuh."
[Lihat:
Taarikh ath-Thobari 3/400 dan al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir 7/196]
Dan dalam
al-Fitnah al-Kubro di sebutkan :
كَانَ عُثْمَانُ
يَخْطُبُ عَلَى مِنْبَرِ النَّبِيِّ ﷺ فَهَجَمَ عَلَيْهِ جُهْجَاهُ الْغَفَارِيُّ وَقَالَ
لَهُ: قُمْ نَعْثِلْ فَأَنزِلْ عَنْ هَذَا الْمِنبَرِ، وَأَخَذَ مِنْهُ الْعَصَا فَكَسَرَهَا
عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى فَدَخَلَتْ سَرَيْحَةٌ مِنْهَا رِجْلَهُ وَبَقِيَ جَرْحُهُ
يَزِيدُ وَيَتَعَفَّنُ حَتَّى خَرَجَ مِنْهُ الدَّوَادِ وَمَاتَ بِذَلِكَ قَبْلَ أَنْ
يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ. وَأَخَذَ عُثْمَانُ الْعَصَا الْمَكْسُورَةَ، وَأَمَرَ
بِهَا فَشَدُّوهَا، فَكَانَتْ مَضْبُوْبَةً، وَتَمَّتْ مُحَاصَرَتُهُ وَقَتْلُهُ بَعْدَ
هَذَا الْحَادِثِ بِأَسْبُوْعَيْنِ.
وَجُهْجَاهُ صَحَابِيٌّ
شَهِدَ بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ وَغَزْوَةَ الْمُرَيْسِيْعِ وَكَانَ يَعْمَلُ أَجِيْرًا
لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَهُوَ الَّذِي قَالَ فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ أَنَّ الْكَافِرَ
يَأْكُلُ سَبْعَةَ أمْعَاءٍ وَالْمُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي معى وَاحِدَةٍ، لِأَنَّهُ قَبْلَ
أَنْ يُسْلِمَ شَرِبَ حَلِيْبَ 7 شِيَاهٍ وَبَعْدَ إِسْلَامِهِ لَمْ يَسْتَتِمْ شُرَبُ
حَلِيْبِ شَاةٍ وَاحِدَةٍ.
Pada masa
fitnah besar, Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ﷺ, lalu Juhjah al-Ghafari
menyerangnya dan berkata: "Berdirilah, kami akan menjatuhkanmu dari mimbar
ini."
Ia pun merebut
tongkatnya dan mematahkannya di lutut kanannya, sehingga ujung tongkat tersebut
masuk ke dalam pahanya. Luka itu semakin memburuk dan bernanah hingga akhirnya
belatung keluar dan Utsman meninggal karena luka tersebut sebelum perubahan
kekuasaan terjadi atasnya.
Utsman
kemudian mengambil tongkat yang patah itu dan memerintahkan untuk
memperbaikinya, sehingga tongkat tersebut menjadi tumpul. Ia tetap dikepung dan
dibunuh dua minggu setelah peristiwa tersebut.
Juhjah al-Ghifari
adalah seorang sahabat yang menyaksikan Bai'at al-Ridwan dan Pertempuran
Muraisi'i. Ia bekerja sebagai pekerja upahan untuk Umar bin Khattab. Ia adalah
orang yang di dalam hadits Nabi ﷺ dikatakan :
«الْكَافِرَ يَأْكُلُ سَبْعَةَ أمْعَاءٍ وَالْمُؤْمِنَ
يَأْكُلُ فِي معى وَاحِدَةٍ»
bahwa orang
kafir makan dengan tujuh usus, sedangkan orang mukmin hanya makan dengan satu
usus. [HR. Bukhori no. 5393 dan Muslim no. 2060]
Hal ini karena
sebelum masuk Islam, Juhjah telah minum susu dari tujuh kambing, dan setelah
masuk Islam, ia hanya minum susu dari satu kambing".
Syaikh
Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (Mufti Kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh Ibnu Baz), menegaskan saat
menerangkan hadits dari Hakam bin Hizam, yang menceritakan bahwa Nabi
berkhutbah dengan bersandar pada tongkat (HR. Abu Dawud):
فِيهِ فَوَائِدَ:
مِنْهَا شَرْعِيَّةُ الِاعْتِمَادِ فِي الْخُطْبَةِ عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَلَى عَصَا.
وَذَلِكَ لِكُونِهِ أَرْفَقَ لِلْخَطِيبِ وَأَثْبَتَ لَهُ. لَاسِيمَا إِذَا كَانَ يَطُولُ
وَقُوفُهُ أَوْ مَقْصُودًا مُّهِمًّا. فَكُونَهُ مُعْتَمَدًا عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصَا
هُوَ السُّنَّةُ.
Ada beberapa
pelajaran dari hadits ini. Diantaranya, disyariatkan bersandar pada busur panah
atau tongkat saat khutbah. Hal ini karena lebih meringankan khatib dan lebih
menstabilkannya (saat berdiri). Terlebih apabila khutbahnya panjang atau karena
suatu tujuan penting. Maka bersandar pada busur panah atau tongkat, hukumnya
sunah. (Fatawa Wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Ibrahim 1/21).
****
PENDAPAT KEDUA :
MAKRUH (tidak disukai) BAGI KHATHIB BERSANDAR
PADA TONGKAT.
Ini adalah
mazhab Hanafi dan yang mu'tamad meskipun ada sebagian para ulama fiqih mereka
yang menyelisihinya .
Pemilik kitab
"Tatarkhaniah" - yang dikaitkan dengan pemilik "Al-Muhit
al-Burhani" - menyebutkan sebagai berikut:
"وَإِذَا خَطَبَ مُتَكَئًا عَلَى الْقَوْسِ
أَوْ عَلَى الْعَصَا جَازَ، إِلَّا أَنَّهُ يَكْرَهُ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ السُّنَّةِ"
انتهى.
"Dan
jika berkhutbah dengan bersandar pada busur atau tongkat, itu diperbolehkan,
tetapi makruh [tidak disukai], karena itu bertentangan dengan sunnah."
Selesai. ["Al-Fatawa al-Tatarkhaniah" (2/61)]
Dalam
"Al-Fatawa al-Hindiyyah" (1/148) mengikuti mazhab Hanafi:
"وَيَكْرَهُ أَنْ يَخْطُبَ مُتَكَئًا عَلَى
قَوْسٍ أَوْ عَصَا، كَذَا فِي الْخَلَصَةِ، وَهَكَذَا فِي الْمَحِيطِ، وَيَتَقَلَّدُ
الْخَطِيبُ السَّيْفَ فِي كُلِّ بَلَدَةٍ فُتِحَتْ بِالسَّيْفِ، كَذَا فِي شَرْحِ الطَّحَاوِيِّ"
انتهى.
"Dan
dimakruhkan [tidak disukai] jika khatib berkhutbah sambil bersandar pada busur
atau tongkat, seperti yang terdapat dalam kitab al-Khulashah dan juga dalam
kitab "Al-Muhit." Seorang Khatib mengalungkan pedang [saat
berkhutbah] di setiap wilayah yang ditaklukkan dengan pedang. Demikian pula
dalam Syarah ath-Thahawi." Selesai.
IBNU AL-QOYYIM:
Dalam
perkataan dari al-'allaamah Ibnu al-Qayyim menunjukkan bahwa bersandar pada
tongkat bukanlah bagian dari tuntunan Nabi ﷺ dalam berkhutbah di atas
mimbar.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata:
"وَلَمْ يَكُنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ سَيْفًا
وَلَا غَيْرَهُ، وَإِنَّمَا كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصَاٍ قَبْلَ أَنْ
يَتَّخِذَ اَلْمِنْبَرَ، وَكَانَ فِي اَلْحَرْبِ يَعْتَمِدُ عَلَى قَوْسٍ، وَفِي اَلْجُمُعَةِ
يَعْتَمِدُ عَلَى عَصَاٍ، وَلَمْ يُحَفَّظْ عَنْهُ أَنَّهُ اِعْتَمَدَ عَلَى سَيْفٍ،
وَمَا يَظُنُّهُ بَعْضُ اَلْجُهَّالِ أَنَّهُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى اَلسَّيْفِ دَائِمًا،
وَأَنَّ ذَلِكَ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ اَلدِّينَ قَامَ بِالسَّيْفِ: فَمِنْ فَرَطِ
جَهْلِهِ، فَإِنَّهُ لَا يُحَفَّظُ عَنْهُ بَعْدَ اِتِّخَاذِ اَلْمِنْبَرِ أَنَّهُ
كَانَ يَرْقَاهُ بِسَيْفٍ، وَلَا قَوْسٍ، وَلَا غَيْرِهِ، وَلَا قَبْلَ اِتِّخَاذِهِ
أَنَّهُ أَخَذَ بِيَدِهِ سَيْفًا اَلْبَتَّةِ، وَإِنَّمَا كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى عَصَاٍ
أَوْ قَوْسٍ" انتهى.
"Dan
beliau ﷺ tidak pernah tangannya memegang pedang atau yang lainnya saat
berkhutbah. Hanya saja beliau bersandar pada busur atau tongkat sebelum ada
mimbar tem[at khutbah. Di medan perang,
beliau bersandar pada busur, dan di hari Jumat beliau bersandar pada tongkat.
Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau bersandar pada pedang.
Namun, dugaan sebagain orang-orang bodoh bahwa beliau ﷺ selalu bersandar pada pedang dan bahwa hal itu merupakan isyarat bahwa agama didirikan dengan pedang, maka itu adalah karena kebodohan yang over.
Tidak ada riwayat yang bisa diterima yang menyatakan bahwa setelah ada mimbar beliau menaikinya sambil memegang pedang atau busur atau yang lainnya. Bahkan sebelum ada mimbar pun, beliau pun sama sekali tidak pernah memegang pedang saat berkhutbah . Beliau ﷺ hanya bersandar pada tongkat atau busur." Selesai. ["Zad al-Ma'ad" (1/429)]
Dan Syaikh
Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata:
"قَوْلُهُ: (وَيَعْتَمِدُ عَلَى سَيْفٍ أَوْ
قَوْسٍ أَوْ عَصَا) أَيْ: يَسُنُّ أَنْ يَعْتَمِدَ حَالَ الْخُطْبَةِ عَلَى سَيْفٍ،
أَوْ قَوْسٍ، أَوْ عَصَا، وَاسْتَدْلَوْا بِحَدِيثٍ يُرْوَى عَنْ النَّبِيِّ ﷺ فِي
صِحَّتِهِ نَظَرًا، وَعَلَى تَقْدِيرِ صِحَّتِهِ، قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ: إِنَّهُ
لَمْ يُحَفَّظْ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بَعْدَ اِتِّخَاذِهِ اَلْمِنْبَرَ أَنَّهُ اِعْتَمَدَ
عَلَى شَيْءٍ.
وَوَجَّهَ ذَلِكَ:
أَنَّ اَلْاِعْتِمَادَ إِنَّمَا يَكُونُ عِنْدَ اَلْحَاجَةِ، فَإِنَّ احْتِيَاجَ اَلْخَطِيبِ
إِلَى اِعْتِمَادٍ، مِثْلَ أَنْ يَكُونَ ضَعِيفًا يَحْتَاجُ اِلَى أَنْ يَعْتَمِدَ
عَلَى عَصَا فَهَذَا سُنَّةٌ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يُعِينُهُ عَلَى اَلْقِيَامِ اَلَّذِي
هُوَ سُنَّةٌ، وَمَا أَعَانَ عَلَى سُنَّةٍ فَهُوَ سُنَّةٌ، أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ
هُنَاكَ حَاجَةٌ، فَلَا حَاجَةَ اِلَى حَمْلِ اَلْعَصَا" انتهى.
"Perkataan-nya:
(Dan belaiu ﷺ bersandar pada pedang,
busur, atau tongkat)
yaitu: Disunnahkan bagi khatib bersandar saat khutbah pada pedang, busur, atau
tongkat. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ dalam ketersahihannya ada perbedaan pandangan. Ibnu Qayyim
berkata: Tidak ada yang mahfudz [tidak ada yan shahih] dari Nabi ﷺ setelah adanya mimbar bahwa beliau bersandar pada sesuatu.
Dan alasannya
adalah bahwa bersandar itu hanyalah dilakukan pada saat diperlukan. Karena sesungguhnya
kebutuhan khatib pada sandaran itu , seperti jika ia dalam keadaan lemah dan
dia membutuhkan sandaran pada tongkat, maka ini adalah sunnah karena itu akan
membantu dirinya untuk berdiri , yang juga berdiri itu merupakan sunnah. Apa
pun yang membantu dalam menjalankan sunnah, maka itu adalah sunnah. Namun, jika
tidak ada kebutuhan, maka tidak diperlukan untuk membawa tongkat"
berakhir. ["Asy-Syarh al-Mumti'" (5/62-63)].
Syaikh
Al-Albani rahimahullah telah mendukung ucapan Ibnu Qayyim, dan menolak adanya hadits-hadits
yang mendukung bahwa Nabi ﷺ, saat berkhutbah dari
mimbar, bersandar pada busur atau tongkat. [Ini tertera dalam kitab
"As-Silsilah Adh-Dha'ifah" (Hadits Nomor/964)].
Wallaahu A'lam.
0 Komentar