WASPADA ISTIDRAJ KESUKSESAN DUNIAWI DAN
KEMUSTAJABAN DOA YANG DATANG DARI KEMURKAAN TUHAN
----
Di Tulis oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI :
- MAKNA ISTDRAJ
- KEPADA SIAPA SAJAKAH ISTIRAJ BISA MENIMPA ?
- CIRI-CIRI ORANG YANG TERKENA ISTIDRAJ
- MACAM-MACAM ISTIDRAJ
- CONTOH ORANG-ORANG DAHULU YANG TERKENA ISTIDRAJ DAN MACAMNYA
- ISTIDRAJ KESUKSESAN BERBISNIS DAN BERDAGANG . CONTOHNYA : KISAH ISTIDRAJ KESUKSESAN BISNISNYA QORUN :ISTIDRAJ KESUKSESAN USAHA BERKEBUN DAN BERCOCOK TANAM . CONTOHNYA : KISAH DALAM SURAT AL-KAHFI : TENTANG DUA ORANG BERSAHABAT YANG SALAH SATU-NYA TERKENA ISTIDRAJ KEKAYAAN
- ISTIDRAJ KEKUASAAN, KEKAYAAN DAN KEILMUAN
- CONTOH PERTAMA : ISTIDRAJ KEKUASAAN, KEKAYAAN DAN ILMU PENGETAHUAN PADA RAJA NAMRUD :
- CONTOH KEDUA : ISTIDRAJ KEKUASAAN DAN KAKAYAAN PADA FIR’AUN :
- ISTIDRAJ DOA MUSTAJAB, KAROMAH DAN ILMU KESAKTIAN
- CONTOH PERTAMA : KISAH ISTIDRAJ KEMUSTAJABAN DOA MUSA AS-SAAMIRY:
- CONTOH KEDUA : ISTIDRAJ KEMUSTAJABAN DO'A BAL'AM BIN BA'URA
- ISTIDRAJ SEMANGAT IBADAH LUAR BIASA, TAPI SOMBONG DAN MERASA SUCI
- CONTOH PERTAMA : ISTIDRAJ SEMANGAT IBADAHNYA IBLIS LAKNATULLAH
- CONTOH KEDUA : ISTIDRAJ SEMANGAT IBADAH KAUM KHAWARIJ
- LEBIH BAIK MENDUGA DIRINYA SENDIRI AHLI NERAKA, DARI PADA MENGKLAIM ORANG LAIN AHLI NERAKA, MESKIPUN AHLI MAKSIAT .
- KISAH AHLI MAKSIAT MASUK SYURGA :
- KISAH AHLI IBADAH YANG MASUK NERAKA
- KEKHAWATIRAN NABI ﷺ MENIMPA PADA UMATNYA.
*****
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
MAKNA ISTDRAJ
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:
"الِاسْتِدْرَاجُ هُوَ الْأَخْذُ بِالتَّدْرِيجِ،
مَنْزِلَةً بَعْدَ مَنْزِلَةٍ. وَالدَّرَجُ: لَفُّ الشَّيْءِ، يُقَالُ: أَدْرَجْتُهُ
وَدَرَّجْتُهُ. وَمِنْهُ أُدْرِجَ الْمَيِّتُ فِي أَكْفَانِهِ. وَقِيلَ: هُوَ مِنَ
الدَّرَجَةِ، فَالِاسْتِدْرَاجُ أَنْ يَحُطَّ دَرَجَةً بَعْدَ دَرَجَةٍ إِلَى الْمَقْصُودِ".
"Pengertian 'al-istidrāj' adalah
pengambilan secara bertahap, satu tingkat setelah tingkat lainnya. 'Ad-daraj':
melipat sesuatu, disebut: 'adrájtu-hu wa darrájtu-hu'. Termasuk di dalamnya
adalah mayit dimasukkan ke dalam kafan-kafannya. Dan dikatakan: ia datang dari
tingkat, maka 'al-istidrāj' adalah menurunkan tingkat demi
tingkat menuju tujuan yang diinginkan." Akhiri kutipan dari “Tafsir
Al-Qurtubi” (7/329).
Diantara sunnah Allah Ta'ala terhadap
hamba-hamba-Nya adalah: menguji mereka dengan istidraj kenikmatan [الاسْتِدْرَاجُ], peringatan kepada mereka dengan ancaman, kemudian menimpakan
kepada mereka dengan adzab kepedihan.
Syeikh Muhammad Shaleh al-Munajjid berkata :
مِنْ أَعْظَمِ الْعَلَامَاتِ الَّتِي
يَخَشَى عَلَى صَاحِبِهَا مِنْ اسْتِدْرَاجِ اللَّهِ لَهُ، وَمُكْرَهٌ بِهِ: أَنْ يُعْطِيَهُ
الرِّزْقَ، عِنْدَ مَعْصِيَتِهِ بِهَا، وَإِعْرَاضِهِ عَنْهُ.
Salah satu tanda terbesar seseorang
dikhawatirkan bahwa Allah menimpakan istidraj padanya dan orang tersebut tidak
mampu lepas darinya adalah bahwa Allah memberinya rezeki ketika orang tersebut
tidak bermaksiat pada-Nya dan berpaling dari-Nya. [Islamqa : 198964].
Allah Ta'ala menunjukkan sunnah ilahi ini
dalam firman-Nya:
﴿ وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ * وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ
كَيْدِيّ مَتِينٌ ﴾
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami, nanti Kami akan menimpakan kepada mereka istidraj [kenikmatan dan
keberhasilan yang menarik mereka dengan perlahan-lahan ke arah kebinasaan],
dari arah yang tidak mereka sadari. Dan Aku memberi tangguh [waktu panjang]
kepada mereka, sesungguhnya tipu daya-Ku amat teguh' (Surah Al-A'raf: 182-183).
Dan dalam ayat lain:
﴿ فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا
الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ * وَأُمْلِي لَهُمْ
إِنَّ كَيْدِيّ مَتِينٌ ﴾
Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan
orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur'an). Kelak akan Kami
timpakan istidraj [kenikmatan yang menarik mereka dengan perlahan-lahan ke arah
kebinasaan], dari arah yang tidak mereka sadari. Dan Aku memberi tangguh [waktu
panjang] kepada mereka, sesungguhnya tipu daya-Ku amat teguh'. (QS. Al-Qalam:
44)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsiri
ayat ini berkata:
قَالَ الضَّحَّاكُ: كُلَّمَا جَدَّدُوا
لَنَا مَعْصِيَةً جَدَّدْنَا لَهُمْ نِعْمَةً. وَقِيلَ لِذِي النُّونِ: مَا
أَقْصَى مَا يَخْدَعُ بِهِ الْعَبْدُ؟ قَالَ: بِالْأَلْطَافِ وَالْكَرَامَاتِ، لِذَلِكَ
قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:" سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ"
نُسْبِغُ عَلَيْهِمُ النِّعَمَ وَنُنْسِيهِمُ الشُّكْرَ، وَأُنْشِدُوا:
أَحْسَنْتَ ظَنَّكَ
بِالْأَيَّامِ إِذْ حَسُنَتْ … وَلَمْ تَخَفْ سُوءَ مَا يَأْتِي بِهِ الْقَدَرُ
وَسَالَمَتْكَ اللَّيَالِي
فَاغْتَرَرْتَ بِهَا … وَعِنْدَ صَفْوِ اللَّيَالِي يَحْدُثُ الكُدْرُ.
Adh-Dhahak bin Muzahim berkata: [Allah SWT
berfirman] : "Setiap kali mereka memperbaharui untuk kami suatu
kemaksiatan, maka kami memperbaharui untuk mereka suatu kenikmatan."
Dan ditanyakan kepada Dhul-Nun: Dengan cara
apakah, yang paling termudah agar seorang hamba bisa tertipu dan terpedaya?
Dia berkata: Dengan kebaikan-kebaikan dan
karomah-karomah.
Oleh karena itu Allah berkata: “Nanti Kami
akan menimpakan kepada mereka istidraj [kenikmatan dan keberhasilan yang
menarik mereka dengan perlahan-lahan ke arah kebinasaan], dari arah yang tidak
mereka sadari”
Kami melimpahkan nikmat kepada mereka dan Kami
lupakan mereka untuk bersyukur.
Kondisi mereka sebagaimana digambarkan dalam
syair :
Kamu senantia berprasangka yang terbaik dari
hari-hari yang baik *** Dan kamu tidak ada rasa takut akan keburukan yang bisa
terjadi
Kamu senantiasa merasa aman di malam hari dan
kamu tertipu olehnya *** Dan saat kebahagiaan malam turun, maka tiba-tiba
kesedihan terjadi
[Selesai kutipan dari "Tafsir
al-Qurtubi" (7/329).
Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu
‘Anhu, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ
مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: ﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾ [الأنعام: 44]
Apabila engkau melihat Allah memberikan
kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka
bermaksiat, maka itu hanyalah “istidraj” belaka, lalu Rasulullah ﷺ membacakan
ayat :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan
yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu
kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang
telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka
ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Al An’am: 44).
(HR. Ahmad No. 17311. Syaikh Syu’aib Al
Arnauth menyatakan: HASAN.
Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 17311. Dan
dishahihkan al-Albaani dalam Shahih al-Jami’ no. 561]
Hadits ini menunjukkan bahwa jika seorang
hamba senantiasa melakukan dosa, maka pemberian Allah Subhanahu wa Ta'ala
kepada hamba tersebut, yang ia sukai dan dambakan, adalah istidraj.
Sedangkan jika hamba tersebut melakukan
ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bersyukur, maka pemberian Allah
Subhanahu wa Ta'ala kepadanya bukanlah istidroj. Maka pertimbangkanlah hal ini
pada diri Anda sendiri, karena sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman:
﴿ بَلِ الْأِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ
بَصِيرَةٌ ﴾
'Bahkan manusia akan menjadi saksi atas dirinya sendiri.' (QS.
Al-Qiyamah: 14).
Ibnu Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr hal. 41
no. 116 dan Imam al-Baihaqi dalam al-Asma wa ash-Shifaat 2/443 no. 1024 dan Abu
Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Awliyaa 7/7 meriwayatkan:
عَنْ سُفْيَانَ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [الأعراف: 182] قَالَ: نُسْبِغُ
عَلَيْهِمِ النِّعَمَ وَنَمْنَعُهُمُ الشُّكْرَ.
قَالَ: وَقَالَ غَيْرُ سُفْيَانَ: كُلَّمَا
أَحْدَثُوا ذَنْبًا أَحْدَثْتُ لَهُمْ نِعْمَةً.
قَالَ ابْنُ دَاوُدَ: تَنْسَى [وَفِي رِوَايَةٍ: نَسُوا]
Dari Sufyan, penjelasan tentang firman Allah
Azza wa Jalla: "Sungguh, Kami akan membiarkan mereka berangsur-angsur
(menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui." (QS.
Al-A'raf: 182),
beliau berkata: "Kami melimpahkan kepada
mereka berbagai nikmat, namun Kami menghalangi mereka dari bersyukur."
Beliau juga berkata: "Selain Sufyan
berkata, 'Setiap kali mereka melakukan satu dosa, Aku datangkan kepada mereka
satu nikmat.'"
Ibnu Dawud berkata: "Itu membuat mereka
lupa." [Selesai]
Ibnu Qayyim -semoga Allah merahmatinya-
berkata dalam 'Madarij As-Salikin' 1/189:
"أَمَّا تَمْيِيزُ النِّعْمَةِ مِنَ الْفِتْنَةِ:
فَلْيُفَرِّقْ بَيْنَ النِّعْمَةِ الَّتِي يُرَى بِهَا الْإِحْسَانُ وَاللُّطْفُ،
وَيُعَانُ بِهَا عَلَى تَحْصِيلِ سَعَادَتِهِ الْأَبَدِيَّةِ، وَبَيْنَ النِّعْمَةِ
الَّتِي يُرَى بِهَا الِاسْتِدْرَاجُ، فَكَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ بِالنِّعَمِ وَهُوَ
لَا يَشْعُرُ، مَفْتُونٍ بِثَنَاءِ الْجُهَّالِ عَلَيْهِ، مَغْرُورٍ بِقَضَاءِ اللَّهِ
حَوَائِجَهُ وَسَتْرِهِ عَلَيْهِ!".
“Adapun untuk membedakan antara nikmat dan cobaan [fitnah]: Maka
hendaklah seseorang membedakan antara nikmat yang dengannya terlihat kebaikan
dan kelembutan, dan dia dibantu dengannya untuk mencapai kebahagiaan abadi, dan
antara nikmat yang dengannya terlihat Istidraj [tipu daya].
Seberapa banyak yang kena istidraj [ditipu
oleh nikmat] yang tanpa dia sadari, lalu dia tergoda oleh pujian orang-orang
bodoh terhadapnya, dan terpukau dengan keterpenuhan semua kebutuhannya dan
Allah senantiasa menjaga aibnya! [Selesai]."
Syekh Bin Baaz rahimahullah berkata:
قَدْ يُبْتَلَى الْإِنْسَانُ بِالسُّرُورِ
كَالْمَالِ الْعَظِيمِ وَالنِّسَاءِ وَالْأَوْلَادِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَلا يَنْبَغِي
أَنْ يَظُنَّ أَنَّهُ بِذَلِكَ يَكُونُ مَحْبُوبًا عِنْدَ اللَّهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ
مُسْتَقِيمًا عَلَى طَاعَتِهِ ، فَقَدْ يَكُونُ مَنْ حَصَلَ لَهُ ذَلِكَ مَحْبُوبًا
، وَقَدْ يَكُونُ مُبْغِضًا ، وَالْأَحْوَالُ تَخْتَلِفُ ، وَالْمُحَبَّةُ عِنْدَ اللَّهِ
لَيْسَتْ بِالْجَاهِ وَالْأَوْلَادِ وَالْمَالِ وَالْمُنَاصِبِ ، وَإِنَّمَا تَكُونُ
الْمُحَبَّةُ عِنْدَ اللَّهِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ ، وَالتَّقْوَى لِلَّهِ وَالْإِنَابَةِ
إِلَيْهِ ، وَالْقِيَامِ بِحَقِّهِ ، وَكُلُّ مَنْ كَانَ أَكْمَلَ تَقْوَى ، كَانَ
أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ .
وَقَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
أَنَّهُ قَالَ : «إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ
وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ» رَوَاهُ الْحَاكِمُ (94) وَصَحَّحَهُ
، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ .
فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ
أَحَبَّهُ ، وَمَنْ ابْتُلِيَ بِالْكُفْرِ وَالْمَعَاصِي فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ
مُبْغِضٌ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ .
ثُمَّ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ الِابْتِلَاءُ
اسْتِدْرَاجًا فَقَدْ يُبْتَلَى بِالنِّعَمِ يُسْتَدْرَجُ بِهَا حَتَّى يَقَعَ فِي
الشَّرِّ وَفِيمَا هُوَ أَسْوَأُ مِنْ حَالِهِ الْأُولَى ، قَالَ تَعَالَى : ﴿سَنَسْتَدْرِجُهُمْ
مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ* وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ﴾ الْأَعْرَاف/182-183
، وَقَدْ يُبْتَلَى النَّاسُ بِالْأَسْقَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، لَا
عَنْ بُغْضٍ وَلَكِنْ لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ ، مِنْهَا : رَفْعُ الدَّرَجَاتِ ، وَحَطُّ
الْخَطَايَا " .
“Seseorang bisa saja diuji dengan hal-hal
yang menyenangkan, seperti harta yang banyak, para istri, anak-anak, dan
lain-lain. Maka sebaiknya ia tidak boleh mengira bahwa dengan semua itu
pertanda bahwa dirinya dicintai oleh Allah selama dia tidak berprilaku lurus
diatas ketaatan kepada-Nya. Maka itu
bisa jadi pertanda bahwa dia dicintai oleh Allah dan bisa jadi pula
bahwa dirinya dimurkai oleh Allah . Dan keadaannya berbeda-beda.
Kecintaan di sisi Tuhan bukan dengan anugerah
pangkat kedudukan, anak-anak, harta dan jabatan. Melainkan, kecintaan di sisi
Allah adalah melalui amal shaleh, takwa kepada Allah, kembali mendekat diri
kepada-Nya, dan menunaikan hak-hak-Nya.
Dan barangsiapa yang ketakwaannya paling
sempurna, maka dia lebih dicintai Allah.
Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda : (Sesungguhnya Allah memberikan harta dunia
kepada orang-orang yang Dia cintai dan kepada orang-orang yang tidak Dia
cintai. Namun Dia tidak akan memberikan keimanan kecuali kepada orang-orang
yang Dia cintai.)
Diriwayatkan oleh Al- Hakim (94) dan
dishahikan oleh Adz-Dzahabi, dan Adz-Dzahabi sepakat dengannya dalam
menshahihkannya .
Barangsiapa yang diberi agama oleh Allah maka
Dia mencintainya. Dan barang siapa yang diuji dengan kekafiran dan perbuatn
dosa, maka itu adalah bukti bahwa ia dibenci oleh Allah sesuai dengan
keadaannya.
Kemudian juga bisa jadi ujian tersebut adalah
astidraj. Maka terkadang diuji dengan kenikmatan, sebagai istidraj [penyesatan
secara bertahap] sehingga membuatnya terjatuh dalam keburukan, yang mana lebih
buruk dari kondisi sebelumnya . Allah
Yang Maha Kuasa berfirman:
“Dan Aku memberi tangguh [waktu panjang]
kepada mereka, sesungguhnya tipu daya-Ku amat teguh' (Surah Al-A'raf: 182-183).
"Dan manusia kadang-kadang diuji dengan
penyakit dan berbagai macam penyakit, bukan karena kemurkaan, akan tetapi
karena hikmah yang sangat dalam, di antaranya: meningkatkan derajat dan
menghapus dosa-dosa."
[Kutipan akhir dari “Majmu’ Fataawa Syeikh Bin Baaz” (7/147-148)].
Syeikh al-Munajjid berkata:
وَالْعَبْدُ
يَنْبَغِي أَنْ يَغْلِبَ جَانِبَ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللَّهِ، عَلَى مَا أَعْطَاهُ مِنْ
نِعَمٍ، لَكِنْ مَعَ الِاعْتِنَاءِ بِشُكْرِهِ فِيهَا، وَالْجَمْعِ بَيْنَ ذَلِكَ وَالْخَوْفِ
مِنْ مَكْرِ اللَّهِ، فَيَجْمَعُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ بَيْنَ الرُّهْبَةِ وَالرَّغْبَةِ،
وَالرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ، وَالْمَحَبَّةِ وَالْخَشْيَةِ. .
Seorang hamba
seharusnya senantiasa mendominasi prasangka baik kepada Allah atas segala
nikmat yang diberikan-Nya. Namun tetap berusaha untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat
tersebut.
Seorang hamba
juga harus memadukan antara prasangka baik kepada Allah dan rasa takut akan
tipu daya Allah [istidraj], sehingga dalam perjalanan hidupnya menuju Allah, ia
menggabungkan antara rasa takut dari makar Allah, antara harapan dan ketakutan,
antara cinta dan kekhawatiran”. [Islamqa no. 198964].
Al-Marrudzi
berkata:
"قُلْتُ
لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ - يَعْنِي الإمامَ أَحْمَدَ -: مَا أَكْثَرَ الدَّاعِي لَكَ.
قَالَ: 'أَخَافُ أَنْ يَكُونَ هَذَا اسْتِدْرَاجًا، بِأَيِّ شَيْءٍ هَذَا؟'."
"Saya
berkata kepada Abu Abdullah - yaitu Imam Ahmad -: "Betapa banyaknya orang
yang berdoa untukmu." Dia berkata: "Saya khawatir ini adalah istidraj
(tipu daya Allah), dengan apa ini?" [Selesai kutipan dari "Tarikh
al-Islam" (18/76)].
****
CIRI-CIRI ORANG YANG TERKENA ISTIDRAJ
Istidraj memiliki sejumlah ciri-ciri
diantaranya yaitu:
1. Merasa semua kenikmatan yang didapatkan
semata-mata karena hasil usaha sendiri, bukan anugerah dari Allah SWT.
2. Rezeki berlimpah walaupun tidak pernah
mengingat Allah SWT.
3. Banyak mendapat kenikmatan, tapi keimanan menurun dan semakin jauh
dari Allah SWT.
4. Merasa tenang walaupun tidak pernah
beribadah dan sering melakukan maksiat.
5. Jarang terserang penyakit meskipun kerap
kali melakukan maksiat.
6. Jarang tertimpa musibah walaupun tidak
pernah mengingat Allah SWT.
7. Karir semakin meningkat, walau sering bermaksiat
8. Tidak berjalan diatas Syariat Allah SWT yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
9. Sombong, ujub, takabbur dan merasa suci .
*****
KEPADA SIAPA SAJAKAH ISTIRAJ BISA MENIMPA ?
Istiraj ilahi terhadap manusia, berlaku kepada individu maupun bangsa, dapat berupa nikmat jika diikuti dengan taubat, atau
dapat menjadi azab dan kehancuran jika diakhiri dengan adzab dan kebinasaan.
Allah Ta'ala memiliki hujjah yang sempurna (الحُجَّةُ البَالِغَةُ) atas makhluk-Nya, dan Dia memiliki hikmah yang luar biasa dalam menyelami mereka saat Dia menimpakan istidraj pada mereka dengan memberikan nikmat-Nya. Dia telah mengirimkan peringatan kepada mereka, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk berkilah."
===
PERTAMA : ISTIDRAJ MENIMPA PADA ORANG-ORANG
KAFIR:
Mereka dalam dunia diberi istidaraj dengan
kenikmatan yang mengantarkan pada adzab di akhirat . Allah SWT berfirman :
﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا
أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ
لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾
“Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu
mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik
baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah
agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang
menghinakan”. (QS. Ali 'Imran: 178)
Dan Allah SWT berfirman :
﴿لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ
كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ
الْمِهَادُ﴾
Janganlah sekali-kali kamu terpukau oleh
kebebasan orang-orang kafir berbuat apa saja di dalam negeri. Itu hanyalah
kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan
Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya . (QS. Ali Imran: 196-197).
Dan Allah SWT berfirman :
﴿فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ
رُوَيْدًا﴾
Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir
itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. (QS. At-Tariq: 17).
Istidraj juga bisa terjadi terhadap
orang-orang zalim.
Dan kekufuran adalah kezaliman yang paling
besar. Dan bisa jadi orang-orang yang yang melakukan kedzaliman akan ditunda
adzabnya oleh Allah Ta'ala. Sebagaimana dalam firman-Nya :
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الْأَبْصَارُ﴾
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad)
mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu
mata (mereka) terbelalak ketakutan”. (QS. Ibrahim: 42).
Dan firman-Nya :
﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا
وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
“Dan berapalah banyaknya kota yang Aku
tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku
azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). (QS. Al-Hajj:
48).
Dan Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِيُ لِلظَّالِمِ
حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ»، ثُمَّ قَرَأَ : ﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ
رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ
شَدِيدٌ﴾ [هُود: 102].
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta 'ala akan
menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zhalim. Dan apabila Allah telah
menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya." Kemudian
Rasulullah ﷺ membaca ayat yang berbunyi:
'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia
mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya
itu sangat pedih dan keras.' ' (QS. Hud: 102).'
(Muttafaq 'alaih. Shahih Bukhori no. 4686 dan
Muslim no. 2583)."
===
KEDUA : ISTIDRAJ MENIMPA PADA ORANG-ORANG MUNAFIK
:
Dan istidraj bagi orang-orang munafik,
sebagaimana sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي
كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ
يَذَّكَّرُون﴾
Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik)
memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka
tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? ' [At-Tawbah:
126].
Maka Allah Ta'ala menguji mereka dengan
musibah dan cobaan untuk memberi peringatan kepada mereka, kemudian memberi
kesempatan kepada mereka agar Dia dapat menarik mereka. Namun, mereka tetap
dalam sikap keras kepala dan terus tenggelam dalam kemunafikan mereka. Oleh
karena itu, Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya dengan firman-Nya yang
mulia:
﴿فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا
أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ﴾
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak
mereka membuat hatimu terkagum-kagum. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan
(memberi) harta benda dan anak-anak mereka itu untuk menyiksa mereka dalam
kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam
keadaan kafir”. [At-Tawbah: 55].
===
KETIGA : ISTIDRAJ MENIMPA KEPADA ORANG FASIK
DAN PELAKU MAKSIAT
Dan istidraj juga berlaku bagi orang-orang
yang berbuat kefasikan, maksiat, dan kekejian, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ *
ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ * مَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يُمَتَّعُونَ﴾
Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan
kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka
azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa
yang mereka selalu menikmatinya. [Ash-Shu'ara: 205-207].
Dari Uqbah bin Amir radhiallahu 'anhu, dari
Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ
مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»،
ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾ [الْأَنْعَامِ: 44]
'Jika engkau melihat Allah memberikan kepada
seorang hamba dari dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya, yang disukainya, maka
sesungguhnya itu adalah Istidraj. Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan ayat:
' Maka tatkala mereka melupakan peringatan
yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu
kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang
telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka
ketika itu mereka terdiam berputus.' [QS. Al-An'am: 44]."
===
KEEMPAT : SEMUA UMAT DAHULU YANG DITIMPA
ADZAB ITU AKIBAT ISTIDRAJ
"Dan setiap umat terdahulu yang diazab itu
terjadi setelah disusupi istidraj [tipu daya], dan sebelumnya mereka telah diberi
peringatan. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan :
﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا
وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
Dan berapalah banyaknya kota yang Aku beri
tangguh (azab-Ku) kepadanya, sedangkan penduduknya tetap berbuat zalim, kemudian
Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). [QS.
Al-Hajj: 48]
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ
رَسُوْلًا﴾
“Dan Kami tidak akan menimpakan adzab sebelum
Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al-Isra': 15)
Dan itulah sunah (ketetapan) yang tetap pada
setiap umat terdahulu, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ
نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ
يَضَّرَّعُونَ* ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا
وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ﴾
Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun
kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami
timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk
dengan merendahkan diri.
Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan
kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka
berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan
kesenangan", maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan
sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya”. [QS. Al-A'raf: 94-95].
Inilah cara umat-umat itu disusupi istidraj
[tipu daya] sebelum datang azab padanya.
Demikian pula, pada masing-masing individu,
juga disusupi istidraj [tipu daya] dengan kenikmatan sebelum bala dan adzab
menimpa mereka. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
﴿فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا
ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ
بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾
Maka apabila manusia merasakan kesusahan, dia
berdoa kepada Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami,
dia berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi ini karena ilmu yang aku miliki.'
Padahal itu hanya sebagai ujian, tetapi kebanyakan dari mereka tidak
mengetahui. [QS. Az-Zumar: 49]."
===****===
MACAM-MACAM ISTIDRAJ
Yakni anugerah dan kesuksesan yang secara perlahan
dan bertahap membinasakan serta membawanya pada kemurkaan Tuhan. Diantaranya
adalah sebagai berikut :
Pertama : Istidroj Sukes Usaha dan berbisnis
:
Seseorang Sukses berbisnis, namun dia semakin
jauh dari Allah SWT dan tidak berjalan diatas jalan syariat-Nya yang lurus dan
benar. Contohnya seperti Qorun .
Kedua : Istidroj Sukses Menjadi Penguasa.
Seseorang dianugerahi kesuksesan dalam
menggapai kekuasaan, namum kufur terhadap Tuhan-Nya Contohnya seperti Fir’aun,
Namrud, Jalut dan lainnya .
Ketiga : Istidroj Kesehatan Badan , Gagah dan
Kekuatan Fisik.
Seseorang dianugerahi kesehatan badan,
kekuatan fisik yang dahsyat bahkan sukses berkuasa namun dzalim dan kufur pada
Tuhan-nya . Contohnya seperti Namrud, Jalut dan lainnya.
Keempat : Istidraj menguasi ilmu pengetahuan,
sains dan tekhnologi .
Seseorang diberi anugerah menguasai ilmu pengetahuan
yang langka, sains dan tehnologi, namun semua itu telah membuatnya jauh dari
Tuhannya dan berlaku sombong . Contohnya adalah Raja Namrud .
Kelima : Istiraj doa mustajab dan karomah
Seseorang dianugerahi kemutsataban doa ,
namun amal perbuatannya menyelisi ajaran para Nabi dan Rasul. Contohnya adalah
Musa as-Saamiri dan Bal’am bin Ba’uurah .
Keenam : Istidraj menguasai Ilmu Sihir,
Pelet, Pesugihan, Kesaktian dan Kedigdayaan.
Seseorang dianugerahi ilmu sihir, pelet,
kesaktian dan kedigdayaan, tapi dia menjadi hamba jin khodam dan syeitan.
Contohnya para tukang sihir Fir’aun sebelum bertaubat dan para tukang sihir
Babilonia sehingga Allah SWT mengutus Harut dan Marut .
Ketujuh : Istidraj Semangat Ibadah Yang Luar
Biasa, Tapi Sombong Dan Merasa Takjub Dengan Dirinya.
Seorang Hamba dianugerahi semangat Ibadah,
namun dia merasa takjub dengan ibadahnya, serta sombong dan merasa suci .
Contohnya Iblis dan Kaum Khawarij.
Kedelapan : Istidroj Popularitas, Masyhur Dan
Terkenal Sebagai Ahli Ibadah Dan Ahli Ilmu Agama.
Seorang hamba yang sengaja tujuan dan niat
ibadahnya, dakwahnya dan keilmuan agamanya demi untuk mengejar popularitas dan
pujian manusia .
===*****===
CONTOH ORANG-ORANG DAHULU
YANG
TERKENA ISTIDRAJ DAN MACAMNYA
******
ISTIDRAJ KESUKSESAN BERBISNIS DAN BERDAGANG
---
CONTOHNYA :
KISAH ISTIDRAJ KESUKSESAN
BISNISNYA QORUN :
Diantara mereka yang terkena Istidraj yang
menyebabkannya masuk ke dalam siksa neraka adalah Qarun.
Allah SWT melimpahkan kekayaan dan kesuksesan
duniawi dengan ilmu bisnis yang ia kuasai , namun ini semua telah membuat Qorun
berlaku sombong dan tidak menyadarai bahwa itu semua adalah anugerah dari Allah
SWT, maka dia tidak mau bersyukur kepada-Nya.
Allah SWT berfirman :
﴿إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى
فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ
بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ
لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ﴾
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa,
maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan
kepadanya perbendaharaan harta [gudang-gudang harta] yang kunci-kuncinya
sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.
(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah
kamu terlalu berbangga diri; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
terlalu membanggakan diri". (QS. Al-Qasas: 76).
Dan firman Allah SWT berikutnya:
﴿قَالَ
اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ
قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً
وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ
زِيْنَتِهٖ ۗقَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا
مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ قَارُوْنُۙ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ۚوَلَا
يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ﴾
Dia (Karun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi
(harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa
Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan
lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu
ditanya tentang dosa-dosa mereka.
Maka keluarlah dia (Karun) kepada kaumnya
dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata,
“Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan
kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu
berkata, “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang
yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya
diperoleh oleh orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Qasas: 78-80)
Akibat dari kesombongannya dan
sewenang-wenangannya adalah:
﴿فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَ
ۗفَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖوَمَا كَانَ
مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ﴾
Maka Kami benamkan dia (Karun) bersama
rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya
selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang mendapat
pertolongan." (QS. Al-Qasas: 81).
Dan diantara mereka yang ditimpa Istidraj
dari umat ini adalah ayahnya Khalid bin Walid, yang bernama Walid bin Mughirah
al-Makhzumi. Dia mengingkari nikmat, mendustakan Nabi Muhammad ﷺ, dan menyakiti beliau. Dia biasa disebut sebagai orang yang
unik, merasa paling hebat di kalangan kaumnya.
Ibnu Abbas berkata:
«كَانَ الْوَلِيدُ يَقُولُ: أَنَا الْوَحِيدُ
بْنُ الْوَحِيدِ، لَيْسَ لِي فِي الْعَرَبِ نَظِيرٌ، وَلَا لِأَبِي الْمُغِيرَةِ
نَظِيرٌ»، وَكَانَ يُسَمَّى الْوَحِيدَ، فَنَزَلَ فِيهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿ذَرْنِي
وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا * وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا * وَبَنِينَ
شُهُودًا * وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا * ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ * كَلَّا
إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا * سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا﴾
"Walid biasa mengatakan: 'Saya,
al-Wahiid bin al-Wahiid, tak ada tandingan bagi saya di antara orang Arab,
begitu pula ayahku, al-Mughirah.' Dan dia dinamai al-Wahiid, maka turunlah
firman Allah tentangnya :
“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang
Aku telah menciptakannya sendirian [12].
Dan Aku jadikan baginya harta benda yang
banyak, [12]
Dan anak-anak yang selalu bersama dia, [13]
Dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan)
dengan selapang-lapangnya [14]
Kemudian dia ingin sekali supaya Aku
menambahnya. [15]
Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena
sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran). [16]
Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang
memayahkan. [QS. Al-Muddatsir : 11-17]
[Lihat : Tafsir al-Qurthubi 19/71, al-Lubaab
Fii ‘Ualumil Kitab karya Abu Hafash an-Nu’maani 19/507, As-Siroojul Muniir oleh
al-Khothiib asy-Syarbiin asy-Syafi’i 4/429 dan Aysarut Tafaasiir oleh
al-Jazaari 5/465 ].
****
ISTIDRAJ KESUKSESAN USAHA BERKEBUN DAN BERCOCOK TANAM
----
CONTOHNYA :
KISAH DALAM SURAT AL-KAHFI TENTANG DUA
ORANG BERSAHABAT YANG SALAH SATU-NYA TERKENA ISTIDRAJ KEKAYAAN
Allah SWT berfirman :
﴿وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ
جَعَلْنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ اَعْنَابٍ وَّحَفَفْنٰهُمَا بِنَخْلٍ
وَّجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا﴾
Dan berikanlah (Muhammad) kepada mereka
sebuah perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang (yang kafir) Kami beri
dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon
kurma dan di antara keduanya (kebun itu) Kami buatkan ladang. (QS. Al-Kahf: 32)
﴿كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ اٰتَتْ اُكُلَهَا
وَلَمْ تَظْلِمْ مِّنْهُ شَيْـًٔا ۙ وَّفَجَّرْنَا خِلٰلَهُمَا نَهَرًا ﴾
Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan
tidak berkurang (buahnya) sedikit pun, dan di celah-celah kedua kebun itu Kami
alirkan sungai, (QS. Al-Kahf: 33)
﴿وَّكَانَ لَهٗ ثَمَرٌ ۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ
وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَنَا۠ اَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا﴾
dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia
berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia,
“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (QS.
Al-Kahf: 34)
﴿وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ
لِّنَفْسِهٖ ۚ قَالَ مَآ اَظُنُّ اَنْ تَبِيْدَ هٰذِهٖٓ اَبَدًا﴾
Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap
merugikan dirinya sendiri (karena angkuh dan sombong); dia berkata, “Aku kira
kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (QS. Al-Kahf: 35)
﴿وَّمَآ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَاۤىِٕمَةً
وَّلَىِٕنْ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّيْ لَاَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنْقَلَبًا﴾
dan aku kira hari Kiamat itu tidak akan
datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat
tempat kembali yang lebih baik dari pada ini.” (QS. Al-Kahf: 36)
﴿قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ
اَكَفَرْتَ بِالَّذِيْ خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوّٰىكَ
رَجُلًا﴾
Kawannya [yang sholeh] berkata kepadanya
sambil bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang
menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia
menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna? (QS. Al-Kahf: 37)
﴿لٰكِنَّا۠ هُوَ اللّٰهُ رَبِّيْ وَلَآ
اُشْرِكُ بِرَبِّيْٓ اَحَدًا﴾
Tetapi aku (percaya bahwa), Dialah Allah,
Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun. (QS.
Al-Kahf: 38)
﴿وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ
مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ
مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًا﴾
Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu
tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak
Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan)
Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.
(QS. Al-Kahf: 39)
﴿فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا
مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ
صَعِيدًا زَلَقًا﴾
“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi
kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia
mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu)
menjadi tanah yang licin; [QS. Al-Kahfi : 40]
﴿أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن
تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا﴾
“ Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah,
maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi". [QS. Al-Kahfi : 41]
﴿وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ
كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا
وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا﴾
Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia
membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah
belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan
dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun
dengan Tuhanku". [QS. Al-Kahfi : 42]
﴿وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن
دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا﴾
“ Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang
akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya”.
[QS. Al-Kahfi : 43]
****
ISTIDRAJ KEKUASAAN, KEKAYAAN DAN KEILMUAN
----
CONTOH PERTAMA :
ISTIDRAJ KEKUASAAN,
KEKAYAAN DAN ILMU PENGETAHUAN PADA RAJA NAMRUD:
BIOGARFI SINGKAT NAMRUD
Ribuan tahun sebelum masehi ada tokoh
supernatural yang dianggap sebagai dewa matahari namanya adalah Nimrod. Dalam
bahasa Ibrani, arti nama Nimrod berasal dari "marad" yang
berarti "ia memberontak kepada TUHAN".
Dia adalah dewa matahari yang paling terkenal
dalam sejarah di dunia.
Namrudz adalah keturunan ke-5 dari Nuh.
Silsilah lengkapnya adalah Namrudz bin Kanʻān bin Kush bin Ham bin Nuh. Raja Namrud (hidup sekitar tahun 2275
SM-1943 SM)
Ia memiliki gelar "a mighty hunter"
yang berarti "pemburu yang hebat" atau "pemburu yang
perkasa", karena kehebatannya dalam berburu.
Ia adalah orang yang berkuasa
di Babilonia ( Mesopotamia kuno , kini dikenal negara Irak ) yang
menjadi pusat peradaban dunia setelah banjir bah, yang wilayahnya
meliputi Asia Barat dan Timur Tengah. Menurut
catatan Kejadian 10:8-12, ia mendirikan kota-kota besar seperti Babel ,
Erekh , Akad yang kesemua kota itu terletak di tanah Sinear , lalu ia
pergi ke Asyur dan mendirikan Ninewe , Rehobot-ir , Kalah dan Resen .
Namanya terkenal karena usahanya sebagai
pendiri Menara Babel .
Sisa peninggalannya yang dapat ditemui berada
terletak di GUNUNG NAMRUD, sekitar 150 km dari kota Adiyaman. Adiyaman terletak
1220 km dari Istanbul .
Sebelum ini Gunung Namrudz dapat ditemukan di
Abul Gharah, Iraq, tempat Namrudz dan rakyatnya menyembah DEWA NABU yang
mereka anggap sebagai anak dari DEWA MARDUK. Gunung Namrudz yang mencapai
ketinggian 2100 m, terletak di Banda Antitorus. Kawasan ini pada masa lalu
termasuk dalam wilayah kekuasaan Babilonia.
Satu lagi kuil dan istana Namrudz dapat
ditemui lagi di Mosul, yang terletak 396 km dari Baghdad. Luas bekas kuil dan
istana ini mencapai 26.000 m2. Beberapa bagian dari kuil ini masih jelas
terlihat. Kuil dan istana ini sempat dibangun kembali oleh Kerajaan Assyria
sekitar tahun 1883-1859 SM.
Ia adalah orang pertama yang mendeklarasikan
diri sebagai raja atas seluruh manusia .
Nimrod merupakan seorang raja yang cerdas,
namun kecerdasannya itu membuatnya bersikap sombong dan mengaku dirinya sebagai
Tuhan .
Kecerdasan yang Allah berikan pada Namrud
telah membuatnya sangat dipuja dan diagungkan oleh rakyat sendiri dan ini semua
telah membuat dirinya semakin sombong terhadap Tuhannya . Namrud gunakan
kemampuan itu untuk menyesatkan rakyatnya. Antara lain menggunakan ilmu falak
untuk menciptakan berbagai sistem meramal nasib seperti horoskop dan meramal nasib palmistry.
Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak perlu Tuhan karena
manusia mampu memprediksi dan mengubah nasibnya dengan sendiri.
Namrud dengan kecerdasannya dan kekuasaannya
, dia membangun banyak bangunan dan berhala yang megah dan indah agar semakin
dipuja dan diagungkan oleh rakyatnya . Menara Babel yang berarti "Pintu
Gerbang yang Sempurna" merupakan kuil dimana pendeta-pendeta mengagungkan
Namrud. Tujuan pembangunannya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir
ath-Thabari untuk menaikkan sebuah bangunan yang mampu mencapai kerajaan Tuhan
nya Nabi Ibrahim di langit .
Ia berusaha mengajak seluruh manusia bersatu
dalam membentuk satu jenis manusia dengan ikatan perjanjian hanya berbuat dosa
terus-menerus dan melupakan Tuhan dengan membangun Menara Babel yang sangat
menjulang tinggi dengan harapan siapapun yang melihat menara itu teringat
dengan rencana tercela ini.
Menara Babel Namrud
----
---
Ayah Namrud adalah Kan’an, sedangkan ibunya adalah
Semiramis. Ibunya pada usia remaja telah menikah dengan ayahnya. Konon, sehari
setelah berhubungan kelamin dengan Semiramis, ayahnya meninggal dunia. Oleh
karena itu, saat Namrud lahir ia tidak mempunyai ayah. Ibunya adalah seorang
wanita yang cantik dan bijaksana.
Setelah ia lahir, konon dia tidak pernah
disentuh oleh manusia dan Namrudz dianggap anak yang suci. Ini telah menambah
keyakinan Namrud bahwa ia adalah anak tuhan. Ketika ia dewasa, ia menjadi
seorang yang tampan dan ibunya cemburu dengan teman wanitanya. Karena itu,
Semiramis menikah dengan Namrud yaitu anaknya sendiri.
----
KEBERHASILAN RAJA NAMRUD
Raja Namrud telah dianugerahi dengan daya
intelektual yang tinggi dan menjadi ahli dalam berbagai bidang seperti seni
desain, matematika dan ilmu falak.
Konon , Dia itu telah menemukan sistem
sexagesimal yang membagi lingkaran ke 360 derajat, satu jam ke 60 menit dan 1
menit ke 60 detik. Selain itu dia menetapkan bahwa satu hari dibagi menjadi 24
jam setiap jam ke 60 menit dan 1 menit ke 60 detik. Menurut dia hari dimulai
pada waktu tengah malam dan bukannya pada waktu matahari terbenam seperti yang
dipercaya oleh kaum sebelumnya.
Disamping itu, Namrud mahir dalam perhitungan matematika dalam konstruksi bangunan-bangunan besar, jembatan, kuil, istana dan bendungan. Antara lain kontribusinya adalah konstruksi sistem saluran irigasi di lembah Tigris dan Euphrates. Dialah orang pertama yang menggunakan batu-bata dari tanah liat yang dibakar (burnt clay) sebagai bahan bangunan. Bahkan Namrud terkenal sebagai arsitek Menara Babel yaitu bangunan pencakar langit yang pertama di dunia.
Sumber :
https://safinapaper.blogspot.com/2019/01/kisah-raja-namrud-menikahi-ibu.html
http://islamdongeng.blogspot.com/2014/04/sejarah-raja-namrud.html
---
PEMBANGKANGAN RAJA NAMRUD TERHADAP DAKWAH
NABI IBRAHIM -’alaihis salaam-
Kecerdasan yang Allah berikan pada Namrud
telah membuatnya sangat dipuja dan diagungkan oleh rakyat sendiri dan ini semua
telah membuat dirinya semakin sombong terhadap Tuhannya . Namrud gunakan
kemampuan itu untuk menyesatkan rakyatnya. Antara lain menggunakan ilmu falak
untuk menciptakan berbagai sistem meramal nasib seperti horoskop dan meramal
nasib palmistry. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak
perlu Tuhan karena manusia mampu memprediksi dan mengubah nasibnya dengan
sendiri.
Namrud dengan kecerdasannya dan kekuasaannya
, dia membangun banyak bangunan dan berhala yang megah dan indah agar semakin
dipuja dan diagungkan oleh rakyatnya . Menara Babel yang berarti "Pintu
Gerbang yang Sempurna" merupakan kuil dimana pendeta-pendeta mengagungkan
Namrud. Tujuan pembangunannya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir
ath-Thabari untuk menaikkan sebuah bangunan yang mampu mencapai kerajaan Tuhan
nya Nabi Ibrahim di langit .
Ia berusaha mengajak seluruh manusia bersatu
dalam membentuk satu jenis manusia dengan ikatan perjanjian hanya berbuat dosa
terus-menerus dan melupakan Tuhan dengan membangun Menara Babel yang sangat
menjulang tinggi dengan harapan siapapun yang melihat menara itu teringat
dengan rencana tercela ini.
Seorang penulis kristen yang bernama Yohanes
dalam kitab Wahyu , dia menyebutkan bahwa: Babilon -sebagai kota- memang sudah
hancur dan runtuh, seperti yang telah dinubuatkan para nabi (Yes. 15:19-22;
Yer. 51&52). Tetapi meskipun kota Babilon sudah hancur, konsep dan
kebiasaan dari agama Babilon tersebar diantara banyak bangsa di dunia.
Dalam salah satu referensi kristen , yaitu
buku BABYLON MYSTERY RELIGION karya Ralph Woodrow ( ringkasannya hal. 3 )
disebutkan bahwa : Sistem dewa- dewi menyebar dari Babilon ke bangsa-bangsa
lain, karena dari Babilonlah manusia tersebar ke seluruh dunia (Kej. 11:9).
Disebutkan dalam agama palsu-Babilon orang berdoa kepada bermacam-macam ilah /
tuhan ; ada kurang lebih 5000 dewa-dewi.
Ahmad Nizam menyatakan bahwa : Penyebaran
konsep dewa-dewi dari Babilon ini berawal dari keinginan Namrud dan ibunya
Semeramis ingin menguasai dunia di bawah satu pemerintahannya , itulah yang
kini disebut sebagai New World Order.
Dan beliau juga berkata : “ Berdasarkan
kesimpulan dari sejarah, legenda dan mitologi, maka Alexander Hislop menulis
secara rinci bagaimana agama Babilonia berkembang menjadi tradisi yang
berkaitan dengan Nimrod, Semiramis (isterinya) dan Tamuz (anak Semiramis dari
Nimrod ) “.
H.W. Armstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan:
“ Namrud cucu Ham Anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad” antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.
Namun usia Namrud tidak sepanjang ibunya .
Ketika Nimrod mati, tubuhnya dipotong-potong, kemudian dibakar dan disebar ke
berbagai daerah. Praktek serupa juga disebutkan dalam Alkitab (Hak. 19:29;
1Sam. 11:7).
Kematiannya sangat menyedihkan masyarakat
Babilon. Semiramis lalu menegaskan bahwa Nimrod adalah dewa matahari. Sementara
Semiramis sendiri mengikrarkan dirinya dewi perawan surga .
Ralph Woodrow menyatakan pula dalam buku
BABYLON MYSTERY RELIGIONpada hal. 4 bahwa : “ Dalam Alkitab ( Bibel / kitab
agama Kristen ) , agama misterius yang muncul dari Babilon digambarkan sebagai
wanita berpakaian merah darah yang dihiasi dengan emas dan batu permata dan
mutiara, sambil memegang cawan yang penuh hujatan dan kenajisan akibat
perzinahan (Why. 17:1- 6) “. Lalu Ralph Woodrow berkata : “ Tetapi lucunya
dalam Al-kitab "wanita" adalah lambang dari gereja “
===
DAKWAH IBRAHIM TERHADAP NAMRUD & KAUMNYA
:
Raja Namrud atau Nimrod atau Nimroe hidup dan
berkuasa menjelang kelahiran Nabi Ibrahim -’alaihis salaam- . Kemudian Allah
SWT mengutus nabi Ibrahim kepada Namrud dan kaumnya untuk mendakwahinya .
Tragedi Pembunuhan Bayi-Bayi Yang Baru Lahir
:
Ibnu Jarir Ath-Thobary dalam tafsirnya 11/481
no. 13464 dia berkata : Telah bercerita pada ku Muhammad bin Humeid , dia
berkata : telah bercerita pada kami Salamah bin Fadlel , dia berkata : telah
bercerita padaku Muhammad bin Ishaq tentang khabar yang telah di tuturkan pada
kami :
“ Bahwasannya antara masa Nabi Nuh -’alaihis
salaam- dan masa Nabi Ibrahim -’alaihis salaam- tidak ada nabi kecuali Nabi Hud
dan Nabi Soleh . Maka ketika telah dekat zaman Nabi Ibrahim -’alaihis salaam- ,
datanglah para ahli nujum ( para normal ) menghadap Namrud , lalu mereka
berkata kepadanya :
Pelajarilah ! sesungguhnya kami menemukan
dalam ilmu pengetahuan kami bahwa seorang anak laki-laki akan lahir di negeri
ini , dia diberi nama Ibrahim , dia memisahkan diri dari agama kalian dan akan
menghancurkan berhala-berhala kalian , yaitu pada bulan ini dan itu , di tahun
ini dan itu “ .
Maka ketika memasuki tahun yang telah
diinformasikan oleh para ahli nujum kepada Namrud tadi , dia pun menyebarkan
para pesuruhnya ke setiap wanita hamil di negerinya , lalu menahannya dan
menempatkannya di sisinya kecuali calon ibu Nabi Ibrahim , istri Aazar, karena
kehamilannya tidak diketahui , yang demikian itu disebabkan dia adalah seorang
wanita yang masih sangat muda belia , jadi tidak ada yang mengetahui
kehamilannya .
Namrud berniat untuk membunuh setiap anak
lelaki yang lahir pada saat itu karena dia khawatir atas tahta kerajaannya .
Ketika sudah tiba masa kelahiran yang ditunggu-tunggu yaitu di bulan dan tahun
yang sudah ditetapkan , maka Namrud pun merealisasikan keinginanya , maka tidak
ada seorangpun dari para wanita yang melahirkan anak laki-laki dalam bulan tsb kecuali
dia memerintahkannya untuk menyembelihnya .
Sementara ibu Ibrahim yang sedang hamil
ketika menemukan dirinya bebas , maka beliau segera keluar di malam hari menuju
sebuah goa yang tidak jauh dari tempat tinggalnya , lalu beliaupun melahirkan
Ibrahim dan merawat bayi itu sebagaimana layaknya merawat bayi yang baru lahir.
Setelah melahirkan beliau menempatkan bayinya di dalam goa serta menutup
pintunya rapat-rapat , lalu beliau pulang ke rumah .
Beliau pun tidak lupa untuk selalu menengok
si jabang bayinya di goa tadi . Di saat beliau pertama kali menengoknya ,
beliau melihatnya dalam keadaan sedang mengisap - isap jempol tangannya .
Wallahu a'lam . ( Riwayat Ibnu Jarir dlm Tafsirnya ).
Dakwah Nabi Ibrahim -’alaihis salaam- kepada
Raja Namrud dan Kaumnya :
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam
al-Qu’ran :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ
إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ
رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ
فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ
الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
Artinya : “ Apakah kamu tidak memperhatikan
orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah
memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan).
Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku
ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya
dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya
Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,"
lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim. ( QS. Al-Baqarah : 258 )
Nabi Ibrahim Di Bakar hidup-hidup oleh
kaumnya setelah dia mendakwahinya serta membakar patung-patung berhala mereka .
Allah swt berfirman :
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا اِلَّا
كَبِيْرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ اِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ﴿58﴾
قَالُوْا مَنْ فَعَلَ هٰذَا
بِاٰلِهَتِنَآ اِنَّهٗ لَمِنَ الظّٰلِمِيْنَ ﴿59﴾
قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى
يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ ﴿60﴾
قَالُوْا فَأْتُوْا بِهٖ عَلٰٓى
اَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُوْنَ ﴿61﴾
قَالُوْٓا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا
بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۗ ﴿62﴾
قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ
هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ ﴿63﴾
فَرَجَعُوْٓا اِلٰٓى اَنْفُسِهِمْ
فَقَالُوْٓا اِنَّكُمْ اَنْتُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۙ ﴿64﴾
ثُمَّ نُكِسُوْا عَلٰى رُءُوْسِهِمْ
ۚ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هٰٓؤُلَاۤءِ يَنْطِقُوْنَ ﴿65﴾
قَالَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ
اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يَضُرُّكُمْ ۗ ﴿66﴾
اُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ
مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗاَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ﴿67﴾
قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا
اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ ﴿68﴾
قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا
وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ ﴿69﴾
وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا
فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ ﴿70﴾
وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى
الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ ﴿71﴾
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ
وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً ۗوَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ ﴿72﴾
وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً
يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ
الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَ ۙ ﴿73﴾
Artinya :
Maka dia (Ibrahim) menghancurkan
(berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar
mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (QS. Al-Anbiya': 58)
Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan
(perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang
zalim.” (QS. Al-Anbiya': 59)
Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar
ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (QS.
Al-Anbiya': 60)
Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia
dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS.
Al-Anbiya': 61)
Mereka bertanya, “Apakah engkau yang
melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” (QS.
Al-Anbiya': 62)
Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung)
besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat
berbicara.” (QS. Al-Anbiya': 63)
Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka
dan berkata, “Sesungguhnya kalian lah yang menzalimi (diri sendiri).” (QS.
Al-Anbiya': 64)
Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu
berkata), “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat
berbicara.” (QS. Al-Anbiya': 65)
Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kalian
menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun,
dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kalian? (QS. Al-Anbiya': 66)
Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah! Tidakkah
kalian mengerti?” (QS. Al-Anbiya': 67)
Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat.” (QS. Al-Anbiya':
68)
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah
kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya': 69)
Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap
Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. (QS.
Al-Anbiya': 70)
Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah
Kami berkahi untuk seluruh alam. (QS. Al-Anbiya': 71)
Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim)
Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang
yang saleh. (QS. Al-Anbiya': 72)
Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan
kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat,
dan hanya kepada Kami mereka menyembah. (QS. Al-Anbiya': 73)
Ibnu Jarir dalam tafsirnya 18/465 berkata :
telah bercerita pada kami Ibnu Humeid, dia berkata : telah bercerita kepada
kami Salamah dari Ibnu Ishaq , dia berkata :
" Telah berkumpul Namrud dan kaumnya
terhadap Ibrahim -’alaihis salaam- , lalu mereka berkata : "Bakarlah dia
dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak".
Maksudnya : Tidak ada cara lain untuk
menolong berhala-berhala kalian darinya kecuali dengan cara membakarnya dengan
api jika kalian betul-betul ingin menolongnya ".
Bukan hanya berhenti di situ Namrud pun terus
berusaha mengejar dan menelusuri jejak keberadaan Tuhan yang di sembah oleh
Nabi Ibrahim SWT .
Dalam Al-Quran surat Ibrahim Allah SWT
berfirman :
) وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ
كَانَ مَكْرُهُم ْلِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ( .
" Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar
padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar
mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (
QS. Ibrahim : 46 ).
====
AKHIR PERJALANAN NAMRUD :
Ibnu Jarir Ath-Thobary dalam tafsirnya
meriwayatkan dari Said bin Jubeir tentang tafsir perbuatan makar dan pelakunya
yang terdapat dalam ayat ini , Said berkata :
" Sesungguhnya Namrud pemilik
burung-burung elang ( yang terlatih ) telah menyiapkan sebuah peti ( tabut ),
maka dia masuk ke dalamnya bersama seseorang lainnya , kemudian memerintahkan
burung-burung elang itu mengangkat peti itu naik ( untuk menelusuri keberadaan Tuhannya
nabi Ibrahim ) , maka ketika sudah terangkat naik dia bertanya kepada seseorang
yang ikut bersamanya : " Apa saja yang kamu lihat ? . Dia menjawab : Aku
melihat air dan pulau-pulau .
Kemudian naik lagi , lalu bertanya lagi
kepada seseorang tadi : " Apa saja yang kamu lihat ? " Dia menjawab :
Kita semakin naik ke langit , malah semakin jauh . Lalu Namrud berkata :
turunlah !.
Kemudian Ibnu Jarir dalam tafsirnya 17/132
meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suday, bahwa dia telah berkata :
" Burung-burung elang tsb terbang dari
Baitul Maqdis dan turun di Gunung Dukhon . Setelah dia ( Namrud ) melihat
dirinya tidak mampu menemukan Tuhannya Ibrahim dengan cara terbang dengan
burung-burung elang tadi , maka dia mengambil cara lain , yaitu dengan membangun
menara , lalu dia bangunlah menara itu sehingga ketika sudah menjulang tinggi
ke langit , diapun naik keatasnya lalu memandang ke sekelilingnya barang kali
di sana dia bisa menemukan Tuhannya Ibrahim . Maka dia adalah orang pertama
kali yang mendirikan bangunan menara itu ".
Kemudian Allah SWT merobohkan menara itu dari
dasar pondasi-pondasinya . Dalam
Al-Quran Allah SWT berfirman :
) قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ
بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِن ْفَوْقِهِمْ
وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لايَشْعُرُونَ( .
" Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah
mengadakan makar, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari
fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah
azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. ( QS. An-Nahl : 26
) .
Lalu Namrud yang sombong itu diadzab dan mati
dengan cara yang mengenaskan . Yaitu dengan cara Allah U mengirim kepada Namrud seekor nyamuk ,
makhluk Allah yang amat kecil , lemah dan tak bertulang , kemudian ia masuk ke
dalam hidungnya.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu
Ubaidah :
bahwasannya telah ada salah seorang penguasa
yang sombong dan lalim berkata : "Saya tidak akan berhenti sehingga aku
bisa melihat orang yang ada di langit ( maksudnya Tuhannya Nabi Ibrahim SWT ) ,
maka ( Allah ) mengirim makhluknya yang paling lemah kepada nya , yaitu seekor
nyamuk , lalu ia masuk ke dalam hidungnya , hingga merenggut nyawanya , sebelum
meninggal dia berkata : Tolong , kalian pukullah kepalaku ! Maka mereka pun
memukulnya sehingga otak dari kepalanya berceceran .
Dalam kisah israiliyat Ibnu Katsir dalam
tafsirnya 4/566 meriwayatkan dari Abdur Razaq , dari Ma'mar , dari Zaid bin
Aslam , dia berkata :
أولُ جَبَّارٍ كانَ فِي الأَرْضِ
نَمْرُوْدُ ، فبعث الله عليه بَعُوضة ً، فدَخَلَتْ في منخرةٍ ، فمكَث أربعمائة
ُسنةٍ يضرِبُ رأسَه بالمطارق، وأرحمُ الناسِ به مَنْ جَمَع يديه فضرب بهما رأسه،
وكان جبارا أربعمائة سنة، فعذبه الله أربعمائة سنة كملكه، ثم أماته الله. وهو الذي
كان بنى صرحًا إلى السماء، وهو الذي قال الله : ) فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ(.
" Pertama ada penguasa yang lalim di permukaan bumi adalah
Namrud , maka Allah mengutus seekor nyamuk kepadanya , maka ia masuk kedalam
lubang hidungnya , selama 400 tahun dia memukuli kepalanya sendiri dengan
palu-palu ( atau martil-martil ) , dan manusia yang paling belas kasihan pada
dirinya adalah orang yang mengepalkan dua tangannya lalu memukuli kepala Namrud
dengannya. Namrud ini, dia telah menjadi penguasa yang lalim selama 400 tahun ,
maka Allah mengadzabnya selama 400 tahun sama dengan masa kekuasaanya ,
kemudian Allah mewafatkannya .
Dan dialah orang yang pertama kali membangun
menara tinggi menjulang ke langit, dan dia pula yang di maksud dalam firman
Allah :
﴿فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ
الْقَوَاعِدِ﴾
" Maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari
fondasi-fondasinya ". (Lihat tafsir Al-Qur'anul 'Adzim karya Ibnu Katsir
4/566 ).
Dalam versi agama kristen ketika Namrud mati,
tubuhnya dipotong-potong, kemudian dibakar dan disebar ke berbagai daerah.
Praktek serupa juga disebutkan dalam kitab suci agama Kristen Alkitab/Bibel
(Hak. 19:29; 1Sam. 11:7). Kematiannya sangat menyedihkan masyarakat Babilon.
Semiramis ibu Namrud yang juga istrinya dia menegaskan dan mengikrarkan bahwa
Nimrod adalah dewa matahari.
Namrud si dewa matahari memang sudah mati ,
namun konsep , ajaran dan tradisinya terus diwarisi oleh para pemujanya yaitu
rakyat Babylon , kemudian berkembang dan menyebar kemana-mana .
Setelah kepergian Namrud , negeri Babylon ini
di samping sebagai sumber lahirnya agama dewa Matahari -Namrud- dan agama-agama
sesat lainnya , Babylon juga adalah pusat merajalela dan berkembangnya Ilmu
Sihir , kebatinan , kejadugan , ilmu pelet dan ilmu-ilmu syeitan lainnya ,
sehingga pada puncaknya Allah SWT mengutus dua malaikat Harut dan Marut seperti
Yang Allah swt isyaratkan dalam surat al-Baqarah ayat 102 .
****
CONTOH KEDUA :
ISTIDRAJ KEKUASAAN DAN
KAKAYAAN PADA FIR’AUN :
Diantara mereka yang terkena istidraj [tipu
daya] yang mengantarkan mereka pada adzab dan kebinasaan adalah Fir'aun.
Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadanya
kekuasaan dan kekayaan serta telah mengirimkan kepadanya seorang Rasul untuk
pemberi peringatan, yaitu Musa, akan tetapi dia tidak berpikir dan justru
semakin bertambah dalam kesombongannya dan kedurhakaannya.
Fir’aun menantang Tuhan-nya Musa -alaihis
salam- , sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Qashash :
﴿وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي
صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأسْبَابَ (36) أَسْبَابَ
السَّمَوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا
وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا
كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلا فِي تَبَابٍ (37)﴾
Dan berkatalah Fir’aun, "Hai Haman,
buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,
(yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan
sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun
memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang
benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.
Allah Swt. menceritakan tentang sikap Fir'aun
yang melampaui batas, keingkarannya dan kebohongan yang dilakukannya dalam
mendustakan Musa a.s. Disebutkan bahwa pada suatu hari ia memerintahkan kepada
patihnya yang bernama Haman agar membangunkan sebuah menara tinggi untuknya.
Bangunan yang tinggi (tower) tersebut terbuat dari batu bata alias tanah liat
yang dibakar, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
﴿فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ
فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا (38)﴾
Maka bakarlah, hai Haman, untukku tanah liat;
kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi. (Al-Qasas: 38)
Ibrahim An-Nakha'i mengatakan bahwa mereka
tidak suka membuat bangunan dari batu bata, dan mereka hanya menjadikannya
untuk kuburan mereka. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu
Hatim.
Firman Allah Swt. mengisahkan ucapan Fir'aun,
yaitu:
﴿لَعَلِّي أَبْلُغُ الأسْبَابَ أَسْبَابَ
السَّمَوَاتِ﴾
supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu)
pintu-pintu langit. (Al-Mu’min: 36-37)
Sa'id ibnu Jubair dan Abu Saleh mengatakan
bahwa yang dimaksud adalah pintu-pintu langit. Menurut pendapat yang lain ialah
jalan-jalan menuju ke langit.
﴿فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي
لأظُنُّهُ كَاذِبًا﴾
supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan
sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta. (Al-Mu’min: 37)
Ini menggambarkan kekafiran dan
keingkarannya. Dia tidak percaya bahwa Musa a.s. diutus oleh Allah Swt.
kepadanya. Dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:
﴿وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ
وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ﴾
Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik
perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar). (Al-Mu’min
37)
Yakni karena perbuatannya itu yang bertujuan
untuk mengelabui rakyatnya, bahwa dia melakukan suatu upaya yang dijadikan
sarana baginya untuk mendustakan Musa a.s. Karena itulah dalam ayat selanjutnya
disebutkan oleh firman-Nya:
﴿وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلا فِي تَبَابٍ﴾
“Dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain
hanyalah membawa kerugian”. (Al-Mu’min: 37)
Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan bahwa tabab
artinya kerugian.
[Di kutip dari Tafsir Ibnu Katsir]
Allah SWT berfirman :
﴿فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ
وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ
فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ﴾
“Maka Kami kirimkan kepada mereka angin angin
taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas terperinci,
tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa”
(QS. Al-A'raf: 133).
Nikmat-nikmat bagi keluarga Fir'aun terus
bertambah dan melimpah , sebagai bentuk Istidraj [pengelabuan] dari Allah Yang
Maha Tinggi, seperti yang terungkap dalam doa Nabi Musa atas mereka:
﴿ وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ
آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ
وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ
الْأَلِيمَ * قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ
سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴾
Musa berkata: "Ya Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya
perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami -- akibatnya
mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah
harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman
hingga mereka melihat siksaan yang pedih".
Dia Allah berfirman, “Sungguh, telah
diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan
yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak
mengetahui.” (QS. Yunus: 88-89)
Kemudian datanglah siksaan dengan
tenggelamnya mereka:
﴿ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَكُلٌّ
كَانُوا ظَالِمِينَ ﴾
"Dan Kami tenggelamkan keluarga Fir'aun,
sedang semuanya adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anfal: 54).
ISTIDRAJ DOA MUSTAJAB, KAROMAH DAN ILMU KESAKTIAN
====
CONTOH PERTAMA :
KISAH ISTIDRAJ KEMUSTAJABAN DOA MUSA AS-SAAMIRY:
Allah SWT
berfirman mengisyaratkan tentang istidraj kemustajabaan doa Musa as-Saamiri:
﴿قَالَ
فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ (95) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ
فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ
لِي نَفْسِي (96)﴾
Berkata Musa,
"Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri
menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku
ambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan demikianlah
nafsuku membujukku.” ( QS. Toha : 95 & 96 ) .
Siapa kah MUSA
AS-SAMIRI itu ??? :
Dia bernama Musa
bin Zafar , tapi lebih terkenal dengan sebutan AS-SAAMIRI .
Ibnu Abbas
berkata dlm hadits al-Futuun :
“As-Saamiri
adalah seorang pria dari kaum yang menyembah sapi , tetangga bani Israail, dan
dia bukan salah satu dari Bani Israel, lalu dia ikut numpang pergi bersama
rombongan Musa -alaihissalaam- dan Bani Israel ketika mereka berangkat “.
Ia memiliki ilmu
kebatinan dan sihir , sebuah ilmu yang ia dipelajari sewaktu berada di Mesir.
Dia pemeluk agama paganisme yang terdapat di Mesir Kuno. Sebuah bukti penting
yang mendukung kesimpulan ini adalah Samiri pernah membuat patung anak sapi
betina terbuat dari emas dengan doa mustajabnya.
Samiri telah
membuat berhala itu untuk bani Israel selama Musa pergi untuk mendapatkan
wahyu. Oleh Samiri dimasukkan segumpal tanah, diyakini tanah itu bekas dilalui
tapak kaki kuda malaikat Jibril ketika Musa dan pengikutnya menyeberangi Laut
Merah. Sehingga mulut sapi betina itu bisa mengeluarkan suara.
Samiri membuat
patung tersebut terpengaruh oleh agama paganisme Mesir Kuno, ia meniru dewa
Hathor dan Aphis, dewa-dewi Mesir kuno,
disembah sebagai sapi dewata dari akhir 2700 S.M. selama dinasti kedua.
Diantara doa
Mustajab Musa as-Samiry . Dalam hadits al-Futuun, Ibnu
Abbaas berkata :
فلمَّا
رأى قومُ مُوسى عليه السَّلامُ أنَّه لم يرجِعْ إليهم للأجَلِ ساءَهم ذلك، وكان
هارونُ عليه السَّلامُ قد خطَبَهم، فقال لهم:
خرجْتُم مِن مِصْرَ
ولقومِ فرعونَ عندي عواري وودائعُ، ولكم فيهم مثلُ ذلك، وأنا أرى أنْ تحتَسِبوا ما
لكم عندهم، ولا أحلَّ لكم وديعةً اسْتُودِعْتُمُوها، ولا عاريَّةً، ولسنا برادِّين
إليهم شيئًا مِن ذلك،
ولا مُمْسِكيه لأنفُسِنا، فحفَرَ حفيرًا، وأمَرَ كلَّ قومٍ عليهم شَيءٌ مِن ذلك؛ مِن متاعٍ
أو حِليةٍ أنْ يَقْذِفوه في ذلك الحفيرِ، ثمَّ أوقَدَ عليه النَّارَ، فأحرَقَه، فقال: لا
يكونُ لنا، ولا لهم.
وكان
السَّامريُّ رجلًا مِن قومٍ
يَعْبُدون البقرَ جيرانٍ لهم، ولم يكُنْ مِن بني
إسرائيلَ، فاحتملَ مع مُوسى عليه السَّلامُ وبني إسرائيلَ حين احْتملوا، فقُضِيَ
له أنْ رأى أثرًا، فأخَذَ منه بقبْضَتِه، فمَرَّ بهارونَ،
فقال له
هارونُ عليه السَّلامُ: يا سامريُّ، ألَا تُلْقي ما في يدَيْك؟ وهو قابضٌ عليه لا
يَراه أحدٌ طوالَ ذلك،
فقال: هذه
قبْضةٌ مِن أثرِ
الرَّسولِ الَّذي جاوَزَ بكم البحرَ، ولا أُلْقيها لشَيءٍ إلَّا أنْ تَدْعُوَ
اللهَ إذا ألقيْتُها أنْ تكونَ ما أُرِيدُ، فألْقاها، ودعا اللهَ هارونُ عليه
السَّلامُ، فقال: أريدُ
أنْ يكونَ عِجْلًا، واجتمَعَ ما كان في الحُفرةِ مِن متاعٍ
له، أو حِلْيةٍ، أو نحاسٍ، أو حديدٍ، فصار عِجْلًا أجوفَ ليس فيه رُوحٌ، له
خُوارٌ.
قال
ابنُ عبَّاسٍ: لا واللهِ ما كان له صوتٌ قطُّ، إنَّما كانت الرِّيحُ تدخُلُ مِن دُبُرِه
وتخرُجُ مِن فَمِه،
فكان ذلك الصَّوتُ مِن ذلك.
فتفرَّقَ بنو إسرائيلَ فِرَقًا؛
فقالت
فِرقةٌ: يا سامريُّ، ما هذا فأنت
أعلَمُ به؟ قال: هذا ربُّكم
عَزَّ وجَلَّ، ولكنَّ مُوسى عليه السَّلامُ أضَلَّ الطَّريقَ.
وقالت
فِرقةٌ: لا نُكذِّب بهذا حتَّى يرجِعَ إلينا مُوسى، فإنْ كان ربَّنا لم نكُنْ
ضيَّعْناه وعجَزْنا فيه حِينَ رأيْناه، وإنْ لم يكُنْ ربَّنا، فإنَّا نتَّبِعُ
قولَ مُوسى عليه السَّلامُ.
وقالت
فِرقةٌ: هذا عمَلُ
الشَّيطانِ، وليس بربِّنا، ولا نُؤْمِنُ، ولا نُصدِّقُ.
وأُشْرِبَ
فِرقةٌ في قُلوبِهم التَّصديقَ بما قال السَّامريُّ في العجلِ، وأعْلَنوا
التَّكذيبَ،
فقال لهم
هارونُ عليه السَّلامُ: ﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ﴾ [طه: 90]، وإنَّ
ربَّكم ليس هكذا،
قالوا:
فما بالُ مُوسى عليه السَّلامُ؛ وعَدَنا ثلاثينَ يومًا ثمَّ أخلَفَنا، فهذه
أربعونَ قد مَضَت؟!
فقال سُفهاؤُهم:
أخطَأَ ربَّه، فهو يطلُبُه ويتبَعُه. فلمَّا كلَّمَ اللهُ عَزَّ وجَلَّ مُوسى عليه
السَّلامُ وقال له ما قال، أخبَرَه بما لقِيَ قومُه بعده.
﴿فَرَجَعَ
مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا﴾ [طه: 86]، وقال لهم ما سمِعْتُم في
القُرآنِ وأخَذَ برأْسِ أخِيه، وألْقى الألواحَ مِن الغضَبِ،
ثمَّ عذَرَ أخاه بعُذْرِه، واستغفَرَ له، وانصرَفَ إلى السَّامريِّ،
فقال له:
ما حمَلَك على ما صنعْتَ؟
قال:
قبَضْتُ قبضةً مِن أثرِ
الرَّسولِ وفطِنْتُ لها، وعُمِّيَت عليكم، فقَذفْتُها؛ وكذلك سوَّلَت لي نَفْسي.
قَالَ
فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ
مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ
عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا [طه: 97]، ولو كان إلهًا لم يُخْلَصْ إلى ذلك منه.
فاستيقَنَ
بنو إسرائيلَ بالفتنةِ، واغْتَبَطَ الَّذين كان رأيُهم فيه مثلَ رأيِ هارونَ عليه
السَّلامُ، فقالوا بجماعتِهم لمُوسى عليه السَّلامُ: سَلْ لنا ربَّك عَزَّ وجَلَّ
أنْ يفتَحَ لنا بابَ توبةٍ نصنَعُها؛ فيُكَفِّرَ عنَّا ما عمِلْنا،
Ketika kaum Nabi
Musa -alaihissalaam- melihat bahwa Musa -alaihissalaam- belum juga datang
kembali kepada mereka pada waktu yang telah ditentukan , ini memperburuk
pikiran mereka, dan Nabi Harun -alaihissalaam- pun berusaha menenangkannya
dengan mengkhutbahi mereka, Lalu dia berkata kepada mereka : “ Kalian ini
keluar dari Mesir , sementara kaumnya Firaun memiliki barang-barang simpanan
(perhiasan dan lainnya) yang dititipkan kepada kalian dan juga barang-barang mereka yang kalian
pinjam dari mereka . Begitu juga mereka sebaliknya terhadap barang-barang
(perhiasan dan lainnya) milik kalian.
Dan saya lihat
sebaiknya kalian memperhitungkan apa-apa yang kalian miliki pada mereka, dan
tidak diperbolehkan bagi kalian untuk memiliki simpanan yang telah kalian
titipkan pada mereka , begitu juga apa-apa yang kalian pinjamkan kepada mereka
, dan kami juga tidak akan mengembalikan kepada mereka apapun dari semua itu,
dan kami juga tidak menyimpannya untuk diri kami sendiri “.
Lalu beliau
menggali lubang , dan memerintahkan atas setiap orang untuk melakukan sesuatu.
Yaitu melempar barang-barang tsb ke dalam lubang itu, lalu menyalakan api di
atasnya, lalu membakarnya, dan dia berkata: “ Barang-barang Itu bukan untuk
kita, dan bukan untuk mereka “.
As-Saamiri
adalah seorang pria dari kaum yang menyembah sapi , tetangga bani Iraail , dan
dia bukan salah satu dari Bani Israel, lalu dia ikut numpang pergi bersama
rombongan Musa -alaihissalaam- dan Bani Israel ketika mereka berangkat .
Lalu dia
mengklaim bahwa dirinya melihat jejak Rosul , dan dia mengambil darinya dengan
genggamannya. Maka dia lewat di depan Nabi Harun , lalu Harun berkata kepadanya
: Wahai Samiri , tidak kah segera kau lemparkan apa yang ada di kedua tangan mu
!
Dan sebetulnya
dia itu sudah lama menggenggam nya akan tetapi selama itu pula tidak ada
seorang pun yang melihatnya .
Dia berkata: Ini
adalah genggaman dari jejak Rasul yang membantu kalian melewati laut, dan aku
tidak akan melemparkannya untuk apa pun kecuali jika kamu berdoa kepada Allah
bahwa jika aku melemparkannya , maka ia berubah menjadi apa yang
kuinginkan, jika engkau bersedia maka
aku siap melemparkannya.
Dan Nabi Harun
pun berdoa kepada Allah SWT , dan as-Saamiri berkata : “ Aku ingin dari
genggaman ini menjadi anak sapi “, dan semua yang ada di dalam lubang dari
berbagai jenis barang baik perhiasan, tembaga, atau pun besinya terhimpun jadi
satu, lalu itu semua berubah menjadi anak lembu yang berlubang yang tiada
ruhnya namun mengeluarkan KHOAR ( خُوَار
= suara sapi ) .
Ibn Abbas
berkata: Tidak, demi Tuhan, dia tidak pernah bersuara, melainkan angin masuk
dari duburnya dan keluar lewat mulutnya, dan suara itu berasal dari sana.
Maka Bani Israel
terpecah menjadi beberapa kelompok
Sekelompok orang
berkata
: Hai Samiri, apa ini , dan kamu lebih alim dalam hal ini ? Dia
berkata: Ini adalah Tuhanmu Yang Maha Mulia dan Maha Agung , akan tetapi Musa
itu tersesat.
Dan sekelompok
yang lain berkata: Kami tidak akan mendustakannya sampai Musa kembali kepada
kami. Maka jika dia itu adalah Tuhan kami, kami tidak menyia-nyiakannya dan
kami merasa tidak mampu terhadap nya ketika kami melihatnya . Dan jika dia
bukan Tuhan kami, maka kami mengikuti perkataan Musa -alaihis salam -.
Sebuah kelompok
berkata: Ini adalah pekerjaan Setan, dan itu bukan Tuhan kami, dan kami tidak
mengimaninya dan tidak pula membenarkannya .
Dan ada
sekelompok orang yang diresapkanlah ke dalam hati mereka itu rasa percaya
terhadap apa yang di katakan Saamiri tentang patung anak sapi , bahkan mereka
terang-terangan mendustakan Musa -alaihissalaam- .
Harun -alaihissalaam-
berkata kepada mereka:
﴿يَا
قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ﴾
“Wahai kaumku!
Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi)
itu" [Taha: 90],
Dan Tuhanmu
tidak seperti itu.
Mereka berkata:
Lalu Apa yang telah menimpa Musa, dia telah menjajikan kepada kami tiga puluh
hari , kemudian dia menyelisihi kami, dan ini empat puluh hari telah berlalu ?!
Orang-orang
bodoh berkata: Dia itu salah memilih tuhan, tapi dia masih terus mencarinya dan
mengikutinya.
Maka ketika
Allah Azza wa Jalla berbicara kepada Musa -alaihissalaam- , Dia mengatakan
kepadanya apa yang di katakan oleh sebagian kaumnya , dan Dia memberi tahu
kepadanya apa yang terjadi dengan kaumnya setelah kepergiannya .
﴿فَرَجَعَ
مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا﴾
“ Kemudian Musa
kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati” (QS. Taha: 86)
Ibnu Abbas
berkata : Dan dia memberi tahu mereka apa yang kamu dengar dalam Al-Qur'an dan
dia memegang kepala saudara laki-lakinya dan melemparkan louh-louh itu karena
marah, lalu dia memaafkan saudaranya setelah mendengar alasannya, dan
Musa memohonkan
ampunan untuknya , dan mendatangi Samiri, lalu Musa -alaihissalaam- berkata
kepadanya: Apa yang mendorongmu untuk melakukan ini ?
Samiri menjawab
: aku ambil segenggam dari jejak rasul dan aku benar-benar melihatnya,
sementara kalian dibutakan , lalu aku melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku
membujukku.”.
قَالَ
فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ
مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ
عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا
Berkata Musa, "Pergilah
kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan dunia ini (hanya
dapat) mengatakan, "Janganlah menyentuh (aku).' Dan sesungguhnya
bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat
menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya.
Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan
menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan) ”. ( QS. Toha : 97
)
Jika dia itu
benar tuhan, maka dia tidak akan bisa dilenyapkan olehnya.
Maka Bani Israel
semakin yakin akan godaan itu, dan mereka yang sependapat dengan Nabi Harun
merasa senang , lalu mereka dengan jemaahnya berkata kepada Musa -alaihissalaam-
:
“ Mohonkanlah
kepada Rabb mu Azza wa Jalla untuk kami agar Dia membukakan untuk kami pintu taubat
agar kami melakukannya , lalu Dia menghapus dari kami dosa yang telah kami
lakukan “.
[[Diriwayatkan
oleh al-Imam al-Buushairy dalam kitab “إتحاف الخيرة المهرة”
6/234 dengan SANAD YANG SHAHIH menurutnya . Dan di sebutkan pula oleh Ibnu
katsir dlm kitab “البداية والنهاية”
16/225]].
====
CONTOH KEDUA :
ISTIDRAJ KEMUSTAJABAN DO'A BAL'AM BIN BA'URA
Dalam Surat
Al-A'raf, ayat 175-177, Allah SWT berfirman :
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177) ﴾
Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat
itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,
maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
(kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan kepada diri mereka sendirilah
mereka berbuat zalim. [QS. Al-A'raf : 175-177]
Al-Hafidz Ibnu
Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya 3/507 :
Abdur Razzaq
telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Al-A'masy dan Mansur, dari Abud
Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas'ud -radhiyallahu ‘anhu- sehubungan
dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah
Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi AlKitab),
kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 175), hingga akhir
ayat.
Dia adalah seorang
lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama panggilan :
“BAL'AM IBNU
BA'URA”.
Hal yang sama
telah diriwayatkan oleh Syu'bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari
Mansur, dengan sanad yang sama.
Sa'id ibnu Abu
Arubah mengatakan dari Qatadah, dari Ibnu Abbas : Bahwa telaki tersebut bernama
“Saifi ibnur Rahib”.
Qatadah
mengatakan, Ka'b pernah menceritakan : “Bahwa dia adalah seorang telaki dari
kalangan penduduk Al-Balqa, mengetahui tentang Ismul Akbar [nama Allah yang
Agung], dan tinggal di Baitul Maqdis dengan orang-orang yang angkara murka”.
Al-Aufi telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- : “ Bahwa dia adalah seorang
lelaki dari kalangan penduduk negeri Yaman, dikenal dengan nama Bal'am; ia
dianugerahi pengetahuan tentang isi Al-Kitab, tetapi ia meninggalkannya”.
Malik ibnu Dinar
mengatakan :
“Bahwa orang itu
adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab
doanya; mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa
-’alaihis salaam- mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar
menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasaannya
dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan
agama Nabi Musa -’alaihis salaam-
Sufyan ibnu
Uyaynah telah meriwayatkan dari Husain, dari Imran ibnul Haris, dari Ibnu
Abbas, bahwa orang tersebut adalah Bal'am ibnu Ba'ura. Hal yang sama telah
dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah .....
Adapun asar yang
termasyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat yang mulia ini hanyalah
menceritakan perihal seorang lelaki di masa dahulu, yaitu di zaman kaum Bani
Israil, seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas'ud dan lain-lainnya dari
kalangan ulama Salaf.
Ali ibnu Abu
Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia adalah seorang lelaki dari
kota orang-orang yang gagah perkasa, dikenal dengan nama Bal'am. Dia mengetahui
Asma Allah Yang Mahabesar....
Ali ibnu Abu
Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Musa dan
orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri
orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal'am (yang bertempat tinggal di negeri
itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya.
Lalu mereka
berkata : "Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan
mempunyai bala tentara yang banyak. Sesungguhnya dia jika menang atas kita,
niscaya dia akan membinasakan kita. Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia
mengusir Musa dan bala tentaranya dari kita”.
Bal'am menjawab,
"Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan
orang-orang yang bersamanya dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan
akhiratku."
Mereka terus
mendesaknya hingga akhirnya Bal'am mau berdoa. Maka Allah melucuti apa yang ada
pada dirinya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
﴿فَانْسَلَخَ
مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴾
kemudian dia
melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia
tergoda). (Al-A'raf: 175), hingga akhir ayat.
As-Saddi
mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang
disebutkan di dalam firman Nya :
﴿فَإِنَّهَا
مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً﴾
“Maka
sesungguhnya negeri ini diharamkan atas mereka [Bani Israil] selama empat puluh
tahun”. (Al-Maidah: 26) .
Maka Allah
mengutus Yusya' ibnu Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya' menyeru kaum Bani
Israil (untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya
adalah seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang
yang gagah perkasa. Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya .
Kemudian ada
seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal'am
berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa. Dia adalah orang yang
mengetahui tentang Ismul A'zam yang rahasia (apabila dibaca, maka semua
permintaannya dikabulkan seketika). Tetapi ia kafir dan berkata kepada
orang-orang yang gagah perkasa :
"Janganlah
kalian takut kepada Bani Israil. Karena sesungguhnya jika kalian berangkat
untuk memerangi mereka, maka saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan
akhirnya mereka pasti hancur."
Bal'am hidup di
kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara duniawi yang dikehendakinya,
hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan wanita karena wanita orang-orang
yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya. Maka Bal'am hanya dapat menggauli
keledainya. Kisah inilah yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
﴿فَانْسَلَخَ
مِنْهَا﴾
“Kemudian dia melepaskan
diri dari ayat-ayat itu” (Al-A'raf: I75)
Adapun Firman
Allah Swt.:
﴿فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ﴾
“Lalu
dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda)”. (Al-A'raf: 175)
Maka artinya,
setan telah menguasai dirinya dan urusannya; sehingga apabila setan menganjurkan
sesuatu kepadanya, ia langsung mengerjakan dan menaatinya. Karena itulah dalam
firman selanjutnya disebutkan :
﴿فَكَانَ
مِنَ الْغَاوِينَ﴾
makajadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat. (Al-A'raf: 175)
Ia termasuk
orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.
Lalu Ibnu Katsir
dalam Tafsirnya 3/509 berkata :
Firman Allah
Swt.:
﴿وَلَوْ
شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ﴾
Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat
itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang
rendah. (Al-A'raf: 176)
Sedangkan firman
Allah Swt.:
﴿وَلَوْ
شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا﴾
Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan
ayat-ayat itu. (Al-A'raf: 176)
Maksudnya,
niscaya Kami mengangkatnya dari pencemaran kekotoran duniawi dengan ayat-ayat
yang telah Kami berikan kepadanya.
﴿وَلَكِنَّهُ
أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ﴾
tetapi dia
cenderung kepada dunia. (Al-A'raf: 176)
Yakni cenderung
kepada perhiasan kehidupan dunia dan kegemerlapannya. Dia lebih menyukai
kelezatan, kenikmatan, dan bujuk rayunya. Dia teperdaya oleh kesenangan duniawi
sebagaimana teperdaya orang-orang yang tidak mempunyai pandangan hati dan akal.
Imam Abu Ja'far
ibnu Jarir mengatakan : bahwa, kisah yang menyangkut lelaki ini antara lain
ialah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Abdul A'la.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir, dari ayahnya yang
ditanya mengenai makna ayat ini, yaitu firman-Nya:
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا ﴾
Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat
Kami (pengetahuan tentang isi AlKitab). (Al-A'raf: 175)
Maka ayahnya
menceritakan kisah yang pernah ia terima dari Sayyar :
Bahwa dahulu
kala ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Bal'am. Bal'am adalah orang
yang doanya mustajab [senantiasa dikabulkan]. Kemudian Nabi Musa berangkat
dengan pasukan kaum Bani Israil menuju negeri tempat Bal'am berada, atau negeri
Syam.
Lalu penduduk
negeri tersebut merasa sangat takut dan gentar terhadap Musa -’alaihis salaam-
Maka mereka mendatangi Bal'am dan mengatakan kepadanya :
"Doakanlah
kepada Allah untuk kehancuran lelaki ini (yakni Nabi Musa -’alaihis salaam-)
dan bala tentaranya."
Bal'am menjawab,
"Tunggulah sampai aku meminta saran dari Tuhanku, atau aku diberi izin
oleh-Nya."
Bal'am meminta
saran dari Tuhannya dalam doanya yang memohon untuk kehancuran Musa dan
pasukannya. Maka dijawab, "Janganlah kamu mendoakan buat kehancuran
mereka, karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Ku, dan di antara mereka
terdapat nabi mereka."
Maka Bal'am
melapor kepada kaumnya, "Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku
dalam doaku yang memohon untuk kehancuran mereka, tetapi aku dilarang
melakukannya”.
Maka mereka
memberikan suatu hadiah kepada Bal'am dan Bal'am menerimanya. Kemudian mereka
kembali kepada Bal'am dan mengatakan kepadanya : "Doakanlah untuk
kehancuran mereka".
Bal'am menjawab
: 'Tunggulah, aku akan meminta saran kepada Tuhanku."
Lalu Bal’am
meminta saran Kepada Nya, ternyata Dia tidak memerintahkan sesuatu pun
kepadanya. Maka Bal'am berkata (kepada kaumnya) :
"Sesungguhnya
aku telah meminta saran kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak memerintahkan sesuatu
pun kepadaku."
Kaumnya berkata
: "Sekiranya Tuhanmu tidak suka engkau mendoakan untuk kehancuran mereka,
niscaya Dia akan melarangmu pula sebagaimana Dia melarangmu pada pertama
kalinya.”
Bal'am terpaksa
berdoa untuk kebinasaan mereka. Tetapi apabila ia mendoakan untuk kehancuran
mereka (Musa dan pasukannya), maka yang terucapkan oleh lisannya justru
mendoakan untuk kehancuran kaumnya. Dan apabila ia mendoakan untuk kemenangan
kaumnya, justru lisannya mendoakan untuk kemenangan Musa dan pasukannya atau
hal yang semacam itu, seperti apa yang dikehendaki oleh Allah.
Maka kaumnya
berkata, "Kami tidak melihatmu berdoa melainkan hanya untuk kehancuran
kami."
Bal'am menjawab
: "Tiada yang terucapkan oleh lisanku melainkan hanya itu. Sekiranya aku
tetap mendoakan untuk kehancurannya, niscaya aku tidak diperkenankan. Tetapi
aku akan menunjukkan kepada kalian suatu perkara yang mudah-mudahan dapat
menghancurkan mereka. Sesungguhnya Allah murka terhadap perbuatan zina, dan
sesungguhnya jika mereka terjerumus ke dalam perbuatan zina, niscaya mereka
akan binasa; dan aku berharap semoga Allah membinasakan mereka melalui jalan
ini."
Bal'am
melanjutkan ucapannya : "Karena itu, keluarkanlah kaum wanita kalian untuk
menyambut mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sedang musafir,
mudah-mudahan saja mereka mau berzina sehingga binasalah mereka."
Kemudian mereka
melakukan hal itu dan mengeluarkan kaum wanita mereka menyambut pasukan Nabi
Musa -’alaihis salaam- Tersebutlah bahwa raja mereka mempunyai seorang anak
perempuan - perawi menyebutkan perihal kebesaran tubuhnya wallaahu a’lam -.
Lalu ayahnya
atau Bal'am berpesan kepadanya : "Janganlah engkau serahkan dirimu selain
kepada Musa."
Akhirnya pasukan
Bani Israil terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kemudian datanglah kepada
wanita tadi seorang pemimpin dari salah satu kabilah Bani Israil yang
menginginkan dirinya. Maka wanita itu berkata, "Saya tidak mau menyerahkan
diri saya selain kepada Musa."
Pemimpin suatu
Kabilah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu adalah anu dan anu, dan keadaanku
anu dan anu."
Akhirnya si
wanita mengirim utusan kepada ayahnya meminta saran darinya. Maka ayahnya
berkata kepadanya : "Serahkanlah dirimu kepadanya."
Lalu pemimpin
kabilah itu menzinainya. Ketika mereka berdua sedang berzina, datanglah seorang
lelaki dari Bani Harun seraya membawa tombak, lalu menusuk keduanya.
Allah memberinya
kekuatan yang dahsyat sehingga keduanya menjadi satu tersatekan oleh tombaknya,
kemudian ia mengangkat keduanya dengan tombaknya itu, sehingga semua orang
melihatnya. Maka Allah menimpakan penyakit ta'un kepada mereka, sehingga
matilah tujuh puluh ribu orang dari kalangan pasukan Bani Israil.
Abul Mu'tamir
mengatakan, Sayyar telah menceritakan kepadanya bahwa Bal'am mengendarai
keledainya hingga sampai di suatu tempat yang dikenal dengan nama Al-Ma'luli
atau suatu jalan yang menuju Al-Ma'luli. Lalu Bal'am memukuli keledainya,
tetapi keledainya itu tidak mau maju, bahkan hanya berdiri saja di tempat.
Lalu keledai itu
berkata kepadanya, "Mengapa engkau terus memukuliku? Tidakkah engkau
melihat apa yang ada di hadapanmu ini?"
Tiba-tiba setan
menampakkan diri di hadapan Bal'am. Lalu Bal'am turun dan bersujud kepada setan
itu. Inilah yang disebutkan oleh firman Allah Swt.:
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)﴾
Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat
itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,
maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
(kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. [Surat Al-A'raf, ayat
175-176]
Al-Hafidz Ibnu
Katsir lalu menyebutkan riwayat lainnya :
Muhammad ibnu
lshaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Salim Abun Nadr; ia pernah
menceritakan :
Bahwa Musa
-’alaihis salaam- ketika turun di negeri Kan'an—bagian dari wilayah Syam—maka
kaum Bal'am datang menghadap kepada Bal'am dan mengatakan kepadanya :
"Musa ibnu
Imran telah datang bersama dengan pasukan Bani Israil. Dia datang untuk
mengusir kita dari negeri kita dan akan membunuh kita, lalu membiarkan tanah
ini dikuasai oleh Bani Israil. Dan sesungguhnya kami adalah kaummu yang dalam
waktu yang dekat tidak akan mempunyai tempat tinggal lagi, sedangkan engkau
adalah seorang lelaki yang doanya mustajab dan selalu dikabulkan Tuhan. Maka
keluarlah engkau dan berdoalah untuk kehancuran mereka."
Bal'am menjawab
: "Celakalah kalian! Nabi Allah ditemani oleh para malaikat dan
orang-orang mukmin, maka mana mungkin saya pergi mendoakan untuk kehancuran
mereka, sedangkan saya mengetahui Allah tidak akan menyukai hal itu?"
Mereka
mengatakan kepada Bal'am, "Kami tidak akan memiliki tempat tinggal
lagi."
Mereka terus-menerus
meminta dengan memohon belas kasihan dan berendah diri kepada Bal'am untuk
membujuknya. Akhirnya Bal'am terbujuk. Lalu Bal'am menaiki keledai kendaraannya
menuju ke arah sebuah bukit sehingga ia dapat melihat perkemahan pasukan kaum
Bani Israil, yaitu Bukit Hasban.
Setelah berjalan
tidak begitu jauh, keledainya mogok, tidak mau jalan. Maka Bal'am turun dari
keledainya dan memukulinya hingga keledainya mau bangkit dan berjalan, lalu
Bal'am menaikinya.
Tetapi setelah
berjalan tidak jauh, keledainya itu mogok lagi, dan Bal'am memukulinya kembali,
lalu menjewer telinganya. Maka secara aneh keledainya dapat berbicara -
memprotes tindakannya - seraya mengatakan :
"Celakalah
kamu. hai Bal’am, ke manakah kamu akan pergi. Tidakkah engkau melihat para
malaikat berada di hadapanku menghalang-halangi jalanku? Apakah engkau akan
pergi untuk mendoakan buat kehancuran Nabi Allah dan kaum mukminin?"
Bal'am tidak
menggubris protesnya dan terus memukulinya, maka Allah memberikan jalan kepada
keledai itu setelah Bal'am memukulinya. Lalu keledai itu berjalan membawa
Bal'am hingga sampailah di atas puncak Bukit Hasban, di atas perkemahan pasukan
Nabi Musa dan kaum Bani Israil.
Setelah ia
sampai di tempat itu, maka ia berdoa untuk kehancuran mereka. Tidak sekali-kali
Bal'am mendoakan keburukan untuk Musa dan pasukannya, melainkan Allah
memalingkan lisannya hingga berbalik mendoakan keburukan bagi kaumnya. Dan
tidak sekali-kali Bal'am mendoakan kebaikan buat kaumnya, melainkan Allah
memalingkan lisannya hingga mendoakan kebaikan buat Bani Israil.
Maka kaumnya
berkata kepadanya : "Tahukah engkau, hai Bal'am, apakah yang telah kamu
lakukan? Sesungguhnya yang kamu doakan hanyalah untuk kemenangan mereka dan
kekalahan kami."
Bal'am menjawab,
"Ini adalah suatu hal yang tidak saya kuasai, hal ini merupakan sesuatu
yang telah ditakdirkan oleh Allah."
Maka ketika itu
lidah Bal'am menjulur keluar sampai sebatas dadanya, lalu ia berkata kepada
kaumnya : "Kini telah lenyaplah dariku dunia dan akhiratku, dan sekarang
tiada jalan lain bagiku kecuali harus melancarkan tipu muslihat dan kilah yang
jahat. Maka aku akan melancarkan tipu muslihat buat kepentingan kalian.
Sekarang percantiklah wanita-wanita kalian dan berikanlah kepada mereka
berbagai macam barang dagangan. Setelah itu lepaskanlah mereka pergi menuju
tempat perkemahan pasukan Bani Israil untuk melakukan jual beli di tempat
mereka, dan perintahkanlah kepada kaum wanita kalian agar jangan sekali-kali
ada seorang wanita yang menolak bila dirinya diajak berbuat mesum dengan lelaki
dari kalangan mereka. Karena sesungguhnya jika ada seseorang dari mereka
berbuat zina, maka kalian akan dapat mengalahkan mereka."
Lalu kaum Bal'am
melakukan apa yang telah diperintahkan.
Ketika kaum
wanita itu memasuki perkemahan pasukan Bani Israil seorang wanita dari Kan'an
(kaum Bal'am) yang dikenal dengan nama Kusbati, anak perempuan pemimpin kaumnya
bersua dengan seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum Bani Israil. Lelaki
tersebut bernama Zumri ibnu Syalum, pemimpin kabilah Syam'un ibnu Ya'qub ibnu
Ishaq ibnu Ibrahim.
Ketika Zumri
melihat Kusbati, ia terpesona oleh kecantikannya. Lalu ia bangkit dan memegang
tangan Kusbati, kemudian membawanya menghadap kepada Nabi Musa.
Zumri berkata :
"Sesungguhnya aku menduga engkau akan mengatakan bahwa ini diharamkan atas
dirimu, janganlah kamu mendekatinya."
Musa -’alaihis
salaam- berkata : "Dia haram bagimu!"
Zumri menjawab :
"Demi Allah, saya tidak mau tunduk kepada perintahmu dalam hal ini."
Lalu Zumri
membawa Kusbati masuk ke dalam kemahnya dan menyetubuhinya. Maka Allah Swt.
mengirimkan penyakit ta'un kepada kaum Bani Israil di perkemahan mereka. Pada
saat Zumri ibnu Syalum melakukan perbuatan mesum itu Fanhas ibnul Aizar ibnu
Harun —pengawal pribadi Musa— sedang tidak ada di tempat.
Penyakit ta'un
datang melanda mereka, dan tersiarlah berita itu. Lalu Fanhas mengambil
tombaknya yang seluruhnya terbuat dari besi, kemudian ia memasuki kemah Zumri
yang saat itu sedang berbuat zina, lalu Fanhas menyate keduanya dengan
tombaknya. Ia keluar seraya mengangkat keduanya setinggi-tingginya dengan
tombaknya. Tombaknya itu ia jepitkan ke lengannya dengan bertumpu ke bagian
pinggangnya, sedangkan batangnya ia sandarkan ke janggutnya.
Dia (Fanhas)
adalah anak pertama Al-Aizar. Kemudian ia berdoa : "Ya Allah, demikianlah
pembalasan yang kami lakukan terhadap orang yang berbuat durhaka kepada
Engkau."
Maka ketika itu
juga penyakit ta'un lenyap. Lalu dihitunglah orang-orang Bani Israil yang mati
karena penyakit ta'un sejak Zumri berbuat zina dengan wanita itu hingga Fanhas
membunuhnya, ternyata seluruhnya berjumlah tujuh puluh ribu orang.
Sedangkan
menurut perhitungan orang yang meminimkan jumlahnya dari kalangan mereka, dua
puluh ribu jiwa telah melayang dalam jarak waktu satu jam di siang hari.
Sejak saat
itulah kaum Bani Israil memberikan kepada anak-anak Fanhas dari setiap korban
yang mereka sembelih, yaitu bagian leher, kaki depan, dan janggut korbannya,
serta anak yang pertama dari ternak mereka dan yang paling disayangi, karena
Fanhas adalah anak pertama dari ayahnya yang bernama Al-Aizura.
Sehubungan
dengan Bal'am ibnu Ba'ura ini, kisahnya disebutkan oleh Allah Swt.:
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) ﴾
Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat
itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,
maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
(kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. [Surat Al-A'raf, ayat
175-176]
Dari Abu Sa'id
Al Khudri dari Nabi ﷺ
bersabda:
إنَّ
الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وإنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ
كيفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ؛ فإنَّ أَوَّلَ
فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ.
"Sesungguhnya
dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepada kalian
sekalian. Kemudian Allah memperhatikan apa yang kalian kerjakan (di dunia itu).
Oleh karena itu,
maka kalian takutlah [waspadalah] terhadap dunia dan takutlah [waspadalah]
terhadap wanita, karena sesungguhnya awal fitnah [bencana] menimpa pada Bani
Isarail adalah karena wanita." [HR. Muslim no. 2742].
Lalu Ibnu
Katsir dalam Tafsirnya 3/509 berkata :
Adapun firman
Allah Swt.:
﴿فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ﴾
“Maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya,
dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)“. (Al-A'raf: 176)
Para ahli tafsir
berbeda pendapat mengenai maknanya. Menurut teks Ibnu Ishaq, dari Salim, dari
Abun Nadr, lidah Bal'am terjulur sampai dadanya. Lalu dia diserupakan dengan
anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, yakni
jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan
lidahnya.
Menurut pendapat
lain, makna yang dimaksud ialah 'Bal'am menjadi seperti anjing dalam hal
kesesatannya dan keberlangsungannya di dalam kesesatan serta tidak adanya
kemauan memanfaatkan doanya untuk keimanan.
Perihalnya
diumpamakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan
tersebut, jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap
menjulurkan lidahnya tanpa ada perubahan. Demikian pula keadaan Bal'am, dia
tidak memanfaatkan pelajaran dan doanya buat keimanan; perihalnya sama dengan
orang yang tidak memilikinya”. [Tafsir Ibnu Katsir 3/509]
****
KISAH ORANG YANG DIANUGERAHI 3 DOA MUSTAJAB :
Ibnu Katsir
dalam Tafsirnya 3/509 berkata :
Ibnu Abu Hatim
mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada
kami Ibnu Abu Namir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sa'id
Al-A'war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175)﴾
“Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi AlKitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu
(Al-A'raf: 175)”
Bahwa dia adalah
seorang lelaki yang dianugerahi tiga doa mustajab, dan ia mempunyai seorang
istri yang memberinya seorang anak laki-laki. Lalu istrinya berkata,
"Berikanlah sebuah doa darinya untukku."
Ia menjawab,
"Saya berikan satu doa kepadamu, apakah yang kamu kehendaki?"
Si istri
menjawab, "Berdoalah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku wanita yang
tercantik di kalangan Bani Israil."
Maka lelaki itu
berdoa kepada Allah, lalu Allah menjadikan istrinya seorang wanita yang
tercantik di kalangan kaum Bani Israil. Setelah si istri mengetahui bahwa
dirinyalah yang paling cantik di kalangan mereka tanpa tandingan, maka ia
membenci suaminya dan menghendaki hal yang lain.
Akhirnya si
lelaki berdoa kepada Allah agar menjadikan istrinya seekor anjing betina,
akhirnya jadilah istrinya seekor anjing betina.
Dua doanya telah
hilang. Kemudian datanglah anak-anaknya, lalu mereka mengatakan, "Kami
tidak dapat hidup tenang lagi, karena ibu kami telah menjadi anjing betina
sehingga menjadi cercaan orang-orang. Maka doakanlah kepada Allah semoga Dia
mengembalikan ibu kami seperti sediakala."
Maka lelaki itu
berdoa kepada Allah, lalu kembalilah ujud istrinya seperti keadaan semula.
Dengan demikian, ketiga doa yang mustajab itu telah lenyap darinya, kemudian
wanita itu diberi nama Al Basus. [Atsar ini gharib].
*****
ISTIDRAJ SEMANGAT IBADAH LUAR BIASA
TAPI SOMBONG DAN MERASA SUCI
===
CONTOH PERTAMA :
ISTIDRAJ SEMANGAT IBADAHNYA
IBLIS LAKNATULLAH
Ada riwayat yang mengatakan bahwa Azaazil
[Iblis] menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah swt mengangkatnya ke
langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah
swt selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua. Dan begitu
seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam dan penghulu para
malaikat . Ibadahnya kepada Allah paling banyak hingga mengalahkan ibadah
para malaikat al-Muqorrobiin.
Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah
kepada Allah selama 80,000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak
dijadikan tempat sujudnya ke hadrat Allah.
Dan Azaaziil pun berhasil menduduki posisi
yang paling tinggi di atas para malaikat .
Dalam lubuk hati Azazil ada rasa ujub dan
takabbur, timbul rasa sangat bangga , merasa sangat mulia , dan berkeyakinan
bahwa tidak akan ada seorang pun yang mampu melakukan apa yang telah dia
lakukan , dan tidak akan ada orang yang bisa sampai pada kemampuan seperti
dirinya dalam segi kemuliaan dan ilmu pengetahuan serta kedudukannya di sisi
Rabb semesta alam .
Kaab bin al-Ahbaar berkata : Nama Azaaziil
ini di langit dunia di kenal sebgai al-‘Aabid [ahli ibadah] . Di langit kedua
sebagai az-Zaahid [ahli zuhud] . Di langit ke tiga sebagai al-‘Aarif [Ahli
ma’rifat] . Di langit ke empat sebagai al-Waliy [Kekasih Allah] . Di langit
keenam sebagai al-Khoozin [Penjaga Perbendaharaan Surga]. Di langit ke tujuh
sebagai Azaazil . Dan di Lauh Mahfudz sebagai Iblis . Dan kata Iblis sendiri
dari bahasa ajam bukan dari bahasa arab. Dari asal kata al-Iblaas ( الإبْلاَسُ ) yakni (الإِبْعَادُ ) terjauhkan atau terusir.
Tidak ada yang mengetahui apa-apa yang
tersimpan dalam jiwa Azaaziil kecuali Allah swt . Adapun para malaikat maka
mereka tidak tahu sama sekali . Kemudian terjadi sesuatu yang di luar perkiraan
, yaitu Azazil menemukan dalam setiap tempat sujudnya tulisan : Iblis diusir,
Iblis dikutuk , Iblis dihinakan , dan dia melihat tulisan terpampang di atas
lingkaran pintu surga :
“ Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba
dari kalangan al-Muqorrobiin , Aku telah menyuruhnya , tapi dia tidak mau
melaksanakan perintah-Ku , melainkan dia bermaksiat dan bermaksiat , maka aku
mengusirnya , mengutuknya dan menjadikan semua ketaatan dan amalnya bagaikan
debu yang beterbangan “.
Azazil kaget dan bertanya-tanya , lalu
berkata : Siapakah Iblis yang terusir ini ? Kami berlindung kepada Allah dari
hal itu ! . Kemudian dia menghadap kepada Allah dan berkata: Wahai Rabb-ku
Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut
mengutuknya , izinkanlah aku untuk mengutuknya !Maka Dia mengizinkannya . Lalu
Azazil pun mengutuknya seribu kali .
Azazil tidak sadar bahwa tulisan di pintu
syurga itu boleh menimpa kepada sesiapa saja, termasuk dirinya.
Bukan hanya Azazil yang melihat perkara ini ,
ternyata dan bahkan para malaikat pun mengetahuinya dari malaikat Isrofil ,
yaitu ketika Israfil memperhatikan ke arah Lauh Mahfudz dia mendapati perkataan
yang sama , maka setelah melihat itu dia menangis tersedu-sedu sehingga para
malaikat merasa kasihan dan iba terhadapnya , maka mereka berkumpullah dan
menanyakannya apa yang membuatnya menangis ???
Israfil menjawab : “Aku telah menemukan
sebuah rahasia dari rahasia-rahasia Rabb ku“.
Lalu dia mengkisahkannya kepada mereka , maka
para malaikat pun semuanya menangis , dan mereka berteriak :
“ Tidak ada
pilihan bagi kita kecuali kita harus pergi mendatangi Azazil , karena
sesungguhnya dialah satu-satunya orang yang mustajab doanya dan termasuk
orang-orang yang dekat kedudukannya di sisi Allah , mari kita minta bantuan
kepadanya agar dia berkenan berdo’a kepada Allah untuk kita !”.
Maka para malaikatpun bersegera mendatangi
Azaaziil dan menceritakan nya . Lalu Azaazil mengangkat kedua tangannya seraya
berdoa :
“Wahai Rabb , amankan lah mereka dari
pemutusan rahmat mu ! “.
Azaaziil hanya mendoakan mereka dan lupa
mendoakkan dirinya karena dia terkelabui oleh perasaan ujubnya sendiri karena
merasa dirinya berada pada derajat yang menurutnya tidak mungkin , mustahil
bahkan tidak tergambarkan sedikitpun dalam benaknya bahwa dirinya itu adalah iblis yang terusir dan
terkutuk itu …. .
Allah swt mengabulkan doa Azazil untuk para
malaikat dan Allah menandai iblis dengan sebuah tanda celaka .
Dan ketika adanya ketakaburan atau
kesombongan dalam diri Azazil sementara para malaikat tidak ada yang
mengetahuinya , maka Allah yang maha bijak lagi maha adil berkehendak
mengungkap niat dan tujuan yang sebenarnya ibadah Azazil selama ini serta
kesombangannya , yaitu dengan cara Allah menciptakan Adam . Dengan tujuan kelak
nanti Azazil dan seluruh malaikat diuji kepatuhan dan ketulusannya kepada Allah
dengan perintah sujud kepada Adam.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam
al-Quran Surat al-Hijr 26-40 :
﴿ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ
صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (26) وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ
نَارِ السَّمُومِ (27),وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ
بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (28).فَإِذَا سَوَّيْتُهُ
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29) فَسَجَدَ
الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (30) إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ
مَعَ السَّاجِدِينَ ( 31 ) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ
السَّاجِدِينَ (32) قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ
صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (33) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
(34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ (35)﴾
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah
meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam)
dari api yang sangat panas.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud.
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya
bersama-sama , Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud
itu.
Allah berfirman: "Hai iblis, apa
sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?"
Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak
akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk".
Allah berfirman: "Keluarlah dari surga,
karena sesungguhnya kamu terkutuk,
Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu
sampai hari kiamat".(QS. Al-Hijr : 26 – 35)
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا
لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ
رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ
عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا﴾
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada
para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali
Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.
Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain
daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai
pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. [QS. Al-Kahfi : 50]
[ Baca : Konsep Dewa Dewi oleh Abu Haitsam Fakhry]
====
CONTOH KEDUA :
ISTIDRAJ SEMANGAT
IBADAH KAUM KHAWARIJ
Tidak diragukan lagi bahwa Khawarij adalah
orang-orang yang sangat kuat dan extrem dalam ketaatan dan rajin beribadah.
Mereka sangat bersemangat dalam memegang teguh agama dan menerapkan
hukum-hukumnya, serta menjauhi semua yang dilarang oleh Islam. Mereka juga
sangat berhati-hati untuk tidak terlibat dalam perbuatan dosa atau kesalahan
apa pun yang bertentangan dengan Islam.
Hal ini menjadi ciri khas yang sangat
mencolok dalam kelompok ini, yang tidak ada yang bisa menandinginya dalam hal
ini. Bahkan, tidak ada dalil tentang ciri khas ini yang lebih jelas dari
perkataan Rasulullah ﷺ:
« يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ
قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ
بِشَيْءٍ وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ ».
'Mereka membaca Al-Quran, yang mana bacaan kalian sama sekali
tidak ada apa-apanya dibanding dengan bacaan mereka, dan mereka berpuasa, yang
mana puasa kalian sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dengan puasa
mereka .'[HR. Muslim no. 1066]
Lafadz lain :
«لَيْسَ صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ بِشَيْءٍ
وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ وَلَا قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ
بِشَيْءٍ»
"Shalat kalian sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding
dengan shalat mereka, puasa kalian sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding
dengan puasa mereka, dan bacaan al-Qur'an kalian sama sekali tidak ada
apa-apanya dibanding dengan bacaan mereka. (Sebagaimana dalam shahih Muslim no.
2467 dari Ali bin Abi Thalib).
Dan dalam riwayat lain, disebutkan :
«تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ»
"Bahwa shalat kalian dianggap remeh dan hina dibandingkan
dengan shalat mereka".
Dan Ibnu Abbas (ra) bercerita :
«فَدَخَلْتُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ أَرَ أَشَدَّ
اجْتِهَادًا مِنْهُمْ، أَيْدِيهِمْ كَأَنَّهَا ثِفَنُ الْإِبِلِ [أيْ غَلِيْظَة]،
وَوُجُوهُهُمْ مُعَلَّمَةٌ مِنْ آثَارِ السُّجُودِ»
Lalu aku pun masuk ke tengah-tengah kaum yang
aku tidak pernah melihat orang yang puncak semangat dan kesungguhan dalam
ibadahnya yang melebihi mereka, tangan-tangan mereka seperti lutut unta (kasar),
dan wajah-wajah mereka terdapat tanda-tanda BEKAS SUJUD.
[Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam
al-Mushannaf 10/157 no. 18678 dan Baihaqi dalam al-Kubra 8/179 ]. Al-Haytsami
berkata dalam Al-Majma’ 6/239:
" رَوَاهُ الطَّبَرَانِي وَأَحْمَد بِبَعْضِهِ
وَرِجَالُهُمَا رِجَالُ الصَّحِيْح ".
" Diriwayatkan oleh Al-Tabarani dan Ahmad dengan
sebagiannya, dan perawi mereka adalah para perawi kitab Ash-Shahih".
Lihat pula : Fathul Baari 12/289 , al-Bahr
al-Muhith ats-Tsajjaaj 20/228 dan Masyaariqul Anwaar al-Wahhaajah 3/492 .
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas berkata :
«فَدَخَلْتُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ أَرَ قَوْمًا قَطُّ
أَشَدَّ مِنْهُمُ اجْتِهَادًا، جِبَاهُهُمْ قَرِحَتْ مِنَ السُّجُودِ، وَأَيْدِيهِمْ
كَأَنَّهَا بَقَرُ الْإِبِلِ، وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مرحضَةٌ، مُشَمِّرِينَ، مُسْهَمَةٌ
وُجُوهُهُم مِنَ السُّهْرِ»
"Kemudian saya masuk ke suatu kaum yang tidak pernah saya
lihat sebelumnya orang yang lebih tekun daripada mereka. Dahi mereka berbekas
karena sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mengenakan pakaian
yang sudah jelek dan lusuh, mencingkrangkan pakaian, dan wajah mereka pucat karena kurang tidur
malam ."
[Diriwayatkan oleh Abu Yausuf al-Fasawi dalam
al-Ma'rifat wat Taarikh 1/522 dan Ibnu al-Jauzi dalam Takbiis Ibliis hal. 83]
Makna : مُشَمَّرُوْن :
"(مُشَمِّر الإِزَار) إِزَارُهُ مَرْفُوع
عَنْ كَعْبِهِ".
(Menyingsingkan sarung) artinya kain sarungnya diangkat atau
diikat lebih tinggi dari mata kakinya [ Baca : Ta'liq Shahih al-Bukhori oleh
Mustafa al-Baghoo 4/163 no. 4351 Cet. as-Sulthaniyyah].
Dan dari Jundub radhiyallahu 'anhu , dia
berkata:
«لَمَّا فَارَقَتِ الْخَوَارِجُ عَلِيًّا
خَرَجَ فِي طَلَبِهِمْ، وَخَرَجْنَا مَعَهُ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى عَسْكَرِ الْقَوْمِ،
وَإِذَا لَهُمْ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ،
وَإِذَا فِيهِمْ أَصْحَابُ الثَّفِنَاتِ، وَأَصْحَابُ الْبَرَانِسِ».
Ketika kaum Khawarij memisahkan diri
meninggalkan Ali (radhiyallahu 'anhu), maka beliau pergi mengejar mereka, dan
kami pergi bersamanya, hingga kami tiba di tempat pasukan kaum Khawarij ,
tiba-tiba terdengar dari mereka suara seperti suara dengung lebah dari gemuruh
suara mereka baca Al-Qur'an, ternyata tangan-tangan mereka kasar seperti
dengkul unta dan memakai baju burnus ( baju luar panjang bertutup kepala).
[Al-Haytsami dalam al-Majma' 6/242 no. 10451 ]
YAKNI : mereka adalah orang-orang yang
bersungguh-sungguh dalam ibadah, mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan
itu adalah murni untuk beribadah, menghabiskan waktunya dan mengorbankan
segalanya untuk Allah , karena begitu besar semangatnya dalam beribadah,
terutama ibadah shalat dan banyak bersujud sehingga membuat telapak tangan dan
lututnya menjadi kasar seperti dengkul unta .
Dan tanpa mereka sadari bahwa doktrin-doktrin
mereka membawa kehancuran pada umat manusia pada umumnya dan perpecahan umat
Islam pada khsususnya. Jadi, kaum Khawarij ini menggabungkan antara kebaikan
lahiriah dan kerusakan batiniyiah.
Kebaikan yang nampak dalam ibadah yakni dalam
hal apa yang ada antara dia dan Allah. Adapun apa yang ada di antara dia dan
manusia adalah membuat keretakan dan kehancuran.
Dan apa yang ada antara dia dan Allah adalah
'aqidah ghuluww [keyakinan ekstrem], meskipun ada unsur ibadah di dalamnya,
namun itu ghuluww [berlebihan].
Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ berkata tentang mereka:
«فَاقْتُلُوهُمْ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ»
" Maka bunuhlah mereka ! mereka adalah makhluk yang paling
buruk".
Rosulullah ﷺ pernah berjanji jika
berjumpa dengan kelompok yang bermanhaj seperti ini akan membantai-nya
sebagaimana Allah SWT membinasakan kaum 'Aad dan Tsamud.
Dan Rosulullah ﷺ bersabda :
«لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ
لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ»
"Seandainya aku bertemu dengan mereka pasti aku akan bunuh
mereka sebagaimana kaum 'Aad dibantai". [HR. Bukhari no. 3344 dan Muslim
no. 1064]
Dalam lafazd riwayat lain :
«لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ
قَتْلَ ثَمُودَ».
"Seandainya aku hadir pada masa itu, aku akan membunuh
mereka sebagaimana bangsa Tsamud dibinasakan." [ HR. Bukhori no. 7432 dan
Muslim no. 1064].
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata:
"وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْمُتَدَيِّنُ
الْمُتَوَرِّعُ إلَى عِلْمٍ كَثِيرٍ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْفِقْهِ فِي
الدِّينِ وَإِلَّا فَقَدَ يُفْسِدُ تَوَرُّعُهُ الْفَاسِدَ أَكْثَرَ مِمَّا
يُصْلِحُهُ كَمَا فَعَلَهُ الْكُفَّارُ وَأَهْلُ الْبِدَعِ مِنْ الْخَوَارِجِ
وَالرَّوَافِضِ وَغَيْرِهِمْ".
“Untuk itu, bagi orang yang bertaqwa [Waroo'] perlu memiliki
banyak pengetahuan tentang Kitab, Sunnah, dan fikih dalam agama. Jika tidak,
maka keshalehannya yang rusak dapat merusak lebih parah dari pada yang
memperbaikinya , seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan para ahli
bid'ah dari Khawarij, Rawafidh dan lainnya. [ Majmu al-Fataawaa 20/141-142]
Sejarah mereka dipenuhi dengan pemberontakan
terhadap pemimpin Islam dan membiarkan para penyembah berhala. (Referensi:
Al-Khawarij fi al-Ashr al-Umawi 108 & 125 oleh Dr. Suhair al-Qalamawi)
Kesimpulannya :
Mereka sangat keras beribadah dan sangat
bersungguh-sungguh, akan tetapi dengan kejahilan dan minimnya fiqih. Mereka
mengkafirkan siapa saja yang melakukan dosa besar dari kaum muslimin.
Demikianlah ciri-ciri mereka sebagaimana disebutkan beberapa hadits dan
disebutkan para ulama.
Namun demikian seseorang tidak boleh menuduh
orang lain sebagai khawarij , yang semata-mata karena dia berbeda pendapat
dengannya atau semata karena dia memandang bahwa orang tersebut cenderung punya
sifat keras.
Tidak semua yang dianggap keras lantas
disebut khawarij jika sejalan dengan pemahaman salafush shaleh .
Golongan khawarij terpecah menjadi beberapa
golongan kecil , yang masing-masing mempunyai prinsip mereka sendiri-sendiri,
selain prinsip itu mereka terpecah belah kedalam beberapa aliran yang saling
bertentangan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perbedaan pendapat
diantara mereka, yang kadang-kadang hanya masalah sepele, dan masing-masing
mempertahankan pendapatnya.
****
LEBIH BAIK MENDUGA DIRINYA SENDIRI
AHLI NERAKA
DARI PADA MENGKLAIM ORANG LAIN AHLI NERAKA,
MESKIPUN DIA AHLI MAKSIAT
.
KISAH AHLI MAKSIAT MASUK SYURGA :
Dari Abu
Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi ﷺ
bersabda:
«كَانَ
رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، قَالَ لِبَنِيهِ: "إِذَا
أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ
فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَر عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ
أَحَدًا".
فَلَمَّا
مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ فَقَالَ: "اجْمَعِي مَا
فِيكِ مِنْهُ"، فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ" مَا حَمَلَكَ
عَلَى مَا صَنَعْتَ؟"، قَالَ: "يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ"،
وَقَالَ غَيْرُهُ: "مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ"».
"Ada
seseorang yang melampaui batas atas dirinya (banyak dan berlebihan dalam
berbuat dosa) dan ketika kematiannya sudah hampir dekat dia berpesan kepada
anak-anaknya;
"Jika
nanti aku meninggal dunia, bakarlah jasadku lalu tumbuklah menjadi debu
kemudian terbangkanlah pada angin. Demi Allah, seandainya Rabbku telah
menetapkan pasti aku akan disiksa dengan siksaan yang tidak akan ditimpakan
kepada seorangpun".
Ketika orang itu
meninggal dunia, perintahnya pun dilaksanakan. Kemudian Allah memerintahkan
bumi dengan berfirman: "Kumpulkanlah apa yang ada padamu".
Maka bumi
melaksanakan perintah Allah dan orang tadi berdiri menghadap, lalu Allah Ta'ala
bertanya kepadanya: "Apa yang mendorongmu melakukan itu?".
Orang itu
menjawab: "Wahai Rabb, karena aku takut kepada-Mu". Allah Ta'ala pun
mengampuninya".
Dan perawi yang
lain berkata; "Karena takut kepada-Mu, wahai Rabb". (menggunakan kata
khauf sebagai ganti kata khasyyah). [[HR. [Bukhori no. 7508 dan Muslim no.
2756]]
Syeikhul Islam
Ibnu Taimiyah berkomentar tentang hadits ini dengan mengatakan:
“Orang ini
meragukan kekuasaan Allah dan ragu bahwa Allah akan memulihkannya jika
jenazahnya tercerai-berai. Bahkan dia berkeyakinan bahwa dia tidak akan
dibangkitkan, yang mana itu adalah merupakan kekufuran menurut kesepakatan umat
Islam. Akan tetapi dia itu bodoh dan tidak tahu tentang itu. Namun
demikian, dia adalah seorang mukmin yang takut bahwa Allah akan mengazab-nya,
maka Allah memaafkannya dan mengampuninya karena itu.
Dengan demikian:
Seorang penta'wil yang memenuhi syarat untuk melakukan ijtihaad dan dia tulus
dalam keinginannya untuk mengikuti Rasul (SAW) maka dia lebih pantas
mendapatkan pengampunan daripada orang seperti dalam hadits itu". [Akhiri
kutipan]. (Majmu’ Fataawaa Ibn Taymiyyah, 3/231)
====
KISAH AHLI IBADAH YANG MASUK NERAKA
Berikut ini :
Hadits tentang Ahli Ibadah yang masuk Neraka karena tidak bisa menjaga mulut
dan hatinya :
Diriwayatkan
dari Dhamdham bin Jaus al-Yamami beliau berkata:
Aku masuk ke
dalam masjid Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam, di sana ada seorang
lelaki itu tua yang diinai rambutnya, putih giginya. Bersama-samanya adalah
seorang anak muda yang tampan wajahnya, lalu lelaki tua itu berkata:
«يَا
يَمَامِيُّ تَعَالَ ، لاَ تَقُولَنَّ لِرَجُلٍ أَبَدًا : لاَ يَغْفِرُ اللَّهُ
لَكَ ، وَاللَّهِ لاَ يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ أَبَدًا»
Wahai Yamami,
mari ke sini. Janganlah engkau berkata selama-lamanya kepada seseorang: Allah
tidak akan mengampuni engkau, Allah tidak akan memasukkan engkau ke dalam
syurga selamanya.
Aku bertanya:
Siapakah engkau, semoga Allah merahmati engkau?
Lelaki tua itu
menjawab:
Aku adalah Abu
Hurairah. Aku pun berkata: Sesungguhnya perkataan seumpama ini biasa seseorang
sebutkan kepada sebahagian keluarganya atau pembantunya apabila dia marah.
Abu Hurairah pun
berkata: Janganlah engkau menyebutkan perkataan sebegitu. Sesungguhnya Aku
mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كَانَ
رَجُلَانِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ ، أَحَدُهُمَا مُجْتَهِدٌ فِي
الْعِبَادَةِ ، وَالْآخَرُ مُذْنِبٌ ، فَأَبْصَرَ الْمُجْتَهِدُ الْمُذْنِبَ عَلَى
ذَنْبٍ ، فَقَالَ لَهُ : أَقْصِرْ ، فَقَالَ لَهُ : خَلِّنِي وَرَبِّي
، قَالَ : وَكَانَ يُعِيدُ ذَلِكَ عَلَيْهِ ، وَيَقُولُ : خَلِّنِي وَرَبِّي ،
حَتَّى وَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ ، فَاسْتَعْظَمَهُ ، فَقَالَ : وَيْحَكَ أَقْصِرْ
قَالَ : خَلِّنِي وَرَبِّي ، أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا ؟ فَقَالَ : وَاللَّهِ
لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَبَدًا ، أَوْ قَالَ : لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ
الْجَنَّةَ أَبَدًا ، فَبُعِثَ إِلَيْهِمَا مَلَكٌ فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا ،
فَاجْتَمَعَا عِنْدَهُ جَلَّ وَعَلَا ، فَقَالَ رَبُّنَا لِلْمُجْتَهِدِ :
أَكُنْتَ عَالِمًا ؟ أَمْ كُنْتَ قَادِرًا عَلَى مَا فِي يَدِي ؟ أَمْ تَحْظُرُ
رَحْمَتِي عَلَى عَبْدِي ؟ اذْهَبْ إِلَى الْجَنَّةِ يُرِيدُ الْمُذْنِبَ وَقَالَ
لِلْآخَرِ : اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ»
"Ada dua
orang laki-laki dari bani Isra'il yang saling berbeda arah. Salah seorang dari
mereka suka berbuat dosa sementara yang lain giat dalam beribadah. Orang yang
giat dalam beribdah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia
berkata, "Berhentilah."
Lalu pada suatu
hari ia kembali mendapati suadaranya berbuat dosa, ia berkata lagi,
"Berhentilah."
Orang yang suka
berbuat dosa itu berkata, "Biarkanlah aku bersama Tuhanku, apakah engkau
diutus untuk selalu mengawasiku!"
Ahli ibadah itu
berkata, "Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu, atau tidak
akan memasukkanmu ke dalam surga."
Allah kemudian
mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam.
Allah kemudian
bertanya kepada ahli ibadah: "Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah
kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?"
Allah lalu
berkata kepada pelaku dosa: "Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan
rahmat-Ku." Dan berkata kepada ahli ibadah: "Pergilah kamu ke dalam
neraka."
Abu Hurairah berkata,
«فَوَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ
وَآخِرَتَهُ»
"Demi
Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan
yang mampu merusak dunia dan akhiratnya."
( HR. Abu Daud
4318 Ibnu Hibban 5804 Abdullah bin al-Mubaarok dlm al-Musnad No. 36. Di
shahihkan oleh Ibnu Hibban dan Syeikh Muqbil al-wadi’i )
====
KEKHAWATIRAN NABI ﷺ .
Dari Huzaifah ibnul Yaman -radhiyallahu
‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
«إن مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رجُل
قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُؤِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْء
الْإِسْلَامِ اعْتَرَاهُ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، انْسَلَخَ مِنْهُ،
وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ
بِالشِّرْكِ». قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى
بِالشِّرْكِ
: الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: «بَلِ الرَّامِي».
“Sesungguhnya di antara hal yang saya
takutkan terhadap kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an,
hingga manakala keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah
sikap dan perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah,
maka ia melepaskan diri dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur'an ia lemparkan di belakang
punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan senjata
dan menuduhnya telah musyrik”.
Huzaifah ibnul Yaman bertanya : "Wahai
Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang yang
dituduhnya ataukah si penuduhnya?"
Rasulullah ﷺ menjawab : "Tidak,
bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik)."
[ Abu Ya'la Al-Mausuli dalam Musnad-nya
(Tafsir Ibnu Katsir 3/509) dan Al-Bazzar dalam Musnadnya no. (175) .
Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma' (1/188):
'Sanadnya hasan.'"
Ibnu Katsir berkata :
"هَذَا إِسْنَادٌ جَيِّدٌ. وَالصَّلْتُ
بْنُ بَهْرَامَ كَانَ مِنْ ثِقَاتِ الْكُوفِيِّينَ، وَلَمْ يُرْمَ بِشَيْءٍ سِوَى
الْإِرْجَاءِ، وَقَدْ وَثَّقَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ
مَعِينٍ، وَغَيْرُهُمَا".
Sanad hadis ini berpredikat jayyid. As-Silt
ibnu Bahram termasuk ulama siqah dari kalangan penduduk Kufah, dia tidak pernah
dituduh melakukan sesuatu hal yang membuatnya cela selain dari Irja (salah satu
aliran dalam mazhab tauhid). Imam Ahmad ibnu Hambal menilainya siqah, demikian
pula Yahya ibnu Mu'in dan lain-lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir 3/509)
0 Komentar