Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MAKSUD HADITS: “NABI ﷺ SHALAT DUA RAKAAT DI RUMAH SETELAH SHALAT IED”.

 MAKSUD HADITS : “NABI SHALAT DUA RAKAAT DI RUMAH SETELAH SHALAT IED”.

Di Tulis Abu Haitsam Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

===

====
CUPLIKAN:

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 2/404 no. 468 berkata:

وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْحُفَّاظِ ضَعَّفُوا هٰذَا الْحَدِيثَ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهَلْ نَقُولُ إِنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ رَاتِبَةٌ لِصَلَاةِ الْعِيدِ، أَوْ نَقُولُ إِنَّهُمَا رَكْعَتَا الضُّحَى؟ الظَّاهِرُ هٰذَا إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ

“Namun banyak dari para ulama huffazh telah menilai dho’if hadits ini (Nabi  shalat 2 rakaat di rumah setelah shalat Ied).

Dan andaikan hadits tersebut terbukti sahih, maka apakah kita mengatakan bahwa dua rakaat ini adalah sunnah rawatib untuk shalat ‘Id, ataukah kita mengatakan bahwa itu adalah dua rakaat shalat Dhuha?

Yang tampak adalah yang kedua ini (sholat Dhuha), jika hadits tersebut sahih”. [Selesai]


DAFTAR ISI :

  • HADITS PERTAMA : HADITS YANG MENIADAKAN SHALAT QOBLIYAH DAN BA’DIYAH IED:
  • FIQIH HADITS :
  • HADITS KEDUA : NABI SHALAT 2 RAKAAT DI RUMAH SETELAH SHALAT IED :
  • PENGGABUNGAN ANTARA DUA HADITS YANG NAMPAK SALING BERLAWANAN :
  • SHOLAT SUNNAH MUTLAK SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT IED
  • KESIMPULAN DARI MAJALLAH AL-BAYAN

****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

====****====

HADITS PERTAMA :
HADITS YANG MENIADAKAN SHALAT QOBLIYAH DAN BA’DIYAH IED :

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ صَلَّى يَومَ الفِطْرِ رَكعتَيْنِ لمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا ولَا بَعْدَهَا، ثُمَّ أتَى النِّسَاءَ ومعهُ بلَالٌ، فأمَرَهُنَّ بالصَّدَقَةِ، فَجَعَلْنَ يُلْقِينَ؛ تُلْقِي المَرْأَةُ خُرْصَها وسِخَابَها.

“Bahwa Nabi melaksanakan salat pada hari Idulfitri dua rakaat, beliau tidak melaksanakan salat sebelumnya maupun sesudahnya.

Kemudian beliau mendatangi para wanita bersama Bilal, lalu beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita pun mulai melemparkan (sedekah mereka), seorang wanita melemparkan anting dan kalungnya”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 964].

FIQIH HADITS :

Dalam hadis ini, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan tuntunan Nabi dalam Idulfitri. Ia mengabarkan bahwa Nabi melaksanakan salat Id dua rakaat saja, dan beliau tidak melakukan salat sunnah sebelum maupun sesudahnya. Kemudian beliau berkhutbah di hadapan orang-orang secara umum, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya. 

Setelah itu, beliau pergi menemui para wanita bersama Bilal radhiyallahu 'anhu, lalu mengingatkan mereka dan mendorong mereka untuk bersedekah. Para wanita pun terpengaruh oleh nasihat Nabi , sehingga mereka mulai melemparkan harta dan barang berharga yang mereka miliki. Seorang wanita melemparkan "khurs" dan "sikhāb"-nya. 

"Khurs" (خُرْص) – dengan huruf "kha’" yang bisa dibaca dhammah atau kasrah – adalah anting yang memiliki satu butir permata. Ada juga yang mengatakan bahwa khurs adalah cincin dari emas atau perak. 

**Sikhāb** (سِخَاب) adalah tali yang dirangkai dengan manik-manik dan biasa dipakai oleh anak-anak laki-laki dan perempuan. Ada pula yang mengatakan bahwa sikhāb adalah kalung yang dibuat dari bunga cengkeh atau sejenisnya, tanpa mengandung mutiara, batu permata, emas, atau perak. Pendapat lain menyatakan bahwa sikhāb mencakup semua jenis kalung, baik yang mengandung batu permata maupun tidak. 

Nabi mengumpulkan sedekah tersebut untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana kebiasaan beliau dalam mengelola sedekah dan zakat. 

Hadis ini juga menunjukkan bahwa ketika para wanita menghadiri salat dan perkumpulan kaum laki-laki, mereka harus berada di tempat yang terpisah demi menghindari fitnah, pandangan yang tidak semestinya, atau hal-hal yang serupa. 

Selain itu, hadis ini menegaskan disyariatkannya bagi seorang alim untuk memberikan nasihat dan mengajarkan ilmu khusus kepada kaum wanita.

FATWA SYEIKH AL-UTSAIMIN :

Dalam Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala, disebutkan: 

“Seseorang bertanya kepada Fadhilatusy Syaikh rahimahullah ta’ala: "Apakah tanah lapang tempat salat Id (mushalla) dianggap sebagai masjid sehingga disunnahkan untuk melaksanakan salat tahiyatul masjid? Dan apakah boleh melaksanakan salat sunnah selain tahiyatul masjid?”. 

Beliau menjawab: 

نَعَمْ، مُصَلَّى العِيدِ مَسْجِدٌ، وَلِهَذَا مَنَعَ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الحُيَّضَ أَنْ يَمْكُثْنَ فِيهِ، وَأَمَرَهُنَّ بِاعْتِزَالِهِ، فَعَلَى هَذَا إِذَا دَخَلَهُ الإِنْسَانُ فَلَا يَجْلِسُ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَلَكِنْ لَا يَتَنَفَّلُ بِغَيْرِهَا، لَا قَبْلَ الصَّلَاةِ وَلَا بَعْدَهَا، لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا؛ لَكِنْ تَحِيَّةُ المَسْجِدِ لَهَا سَبَبٌ. انْتَهَى.

"Ya, mushalla Id adalah masjid. Oleh karena itu, Rasulullah melarang wanita haid untuk berdiam di dalamnya dan memerintahkan mereka untuk menjauhinya. Maka, jika seseorang memasukinya, ia tidak boleh duduk sebelum melaksanakan dua rakaat salat. Namun, selain itu, tidak ada salat sunnah lain yang dilakukan, baik sebelum maupun setelah salat Id, karena **Nabi tidak melaksanakan salat sebelum atau sesudahnya**. Akan tetapi, salat tahiyatul masjid memiliki sebab yang jelas." 

Selesai. Wallahu a‘lam. [al-Makatabah asy-Syamilah al-Haditsah 116/51].

===****===

HADITA KEDUA :
NABI SHALAT 2 RAKAAT DI RUMAH SETELAH SHALAT IED :

Dalam bab ini, terdapat riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan lafaz:_

" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي قَبْلَ العِيدِ شَيْئًا، فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ".

"Rasulullah tidak melaksanakan salat apa pun sebelum salat Id. Namun, ketika beliau kembali ke rumahnya, beliau mengerjakan dua rakaat." 

TAKHRIJ:

Diriwayatkan oleh: Ahmad (3/28), Ibnu Majah (1293), Al-Bazzar sebagaimana dalam *Kasyf al-Astar* (652), Abu Ya’la (1347), Ibnu Khuzaimah (1469) dengan tahqiq saya, dan Al-Hakim (1/297). Lihat pula: *Al-Ilmam* (487) dan *Al-Muharrar* (476).

STATUS SANAD : DHO’IF

Syu’aib al-Arna’uth, Adil Mursyid, Muhammad Kamil Qoroh Balalaa dan Abdullathif Hirzullah dalam Tahqiq Sunan Ibnu Majah 2/334 no. 1293, mereka berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، وَفِي الشَّطْرِ الثَّانِي مِنْهُ - وَهُوَ صَلَاتُهُ فِي الْبَيْتِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ - مُخَالَفَةٌ لِلْحَدِيثَيْنِ السَّالِفَيْنِ قَبْلَهُ.

“Sanadnya lemah (dho’if) karena lemahnya ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan pada bagian kedua darinya—yaitu shalatnya di rumah dua rakaat setelah shalat ‘Id—bertentangan dengan dua hadits sebelumnya”.

Begitu pula DR. Mahir al-Fahal menegaskan bahwa sanad hadits ini dho’if, dia berkata :

إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ؛ فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، وَالرَّاجِحُ أَنَّهُ ضَعِيفٌ.

Sanadnya lemah; di dalamnya terdapat Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa ia lemah. [Lihat : Hamisy Bulughul Maram, hal. 207 no. 493 ditahqiq oleh DR. Mahir al-Fahal]

Begitu pula dalam Majallah al-Buhuts al-Ilmiyyah 52/205 di jelaskan:

وَإِسْنَادُهُ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ، مِنْ أَجْلِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، فَهُوَ ضَعِيفٌ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ. يُنْظَرُ تَهْذِيبُ التَّهْذِيبِ 6/ 16، 17، وَقَالَ الْحَافِظُ فِي التَّقْرِيبِ: "صَدُوقٌ، فِي حَدِيثِهِ لِينٌ، وَيُقَالُ: تَغَيَّرَ بِآخِرِهِ".

“Dan sanadnya tidak kuat, karena adanya Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, maka ia dinilai lemah dari sisi hafalannya. Lihat Tahdzib At-Tahdzib 6/16–17. Dan Al-Hafizh berkata dalam At-Taqrib: “Shaduq, namun dalam haditsnya terdapat kelemahan, dan dikatakan bahwa ia berubah (hafalannya) di akhir hidupnya.”

[Sekilas tentang majalah al-Buhuts al-Ilmiyyah: Majalah ini adalah jurnal ilmiah berkala yang ditelaah (peer-reviewed), yang penerbitannya diawasi oleh Sekretariat Jenderal Hai’ah Kibar al-‘Ulama’ Saudi Arabia, dan berfokus pada penelitian serta studi-studi syar‘i.]

Al-Imam as-Sayuthi dan lainnya dalam asy-Syama’il asy-Syarifah hal. 249 no. 428:

قَالَ غَيره فِيهِ الْهَيْثَم بن جميل أوردهُ الذَّهَبِيّ فِي الضُّعَفَاء وَقَالَ حَافظ لَهُ مَنَاكِير وَعبد الله بن مُحَمَّد بن عقيل أوردهُ فيهم أَيْضا وَقَالَ كَانَ أَحْمد وَابْن رَاهْوَيْةِ يحتجان بِهِ

“Selain Ibnu Hajar ada yang berkata: di dalam sanadnya terdapat Al-Haitsam bin Jamil, yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam kitab Adh-Dhu‘afā (kitab kumpulan para perawi yang lemah).

Dan ia berkata: dia seorang hafidz namun memiliki riwayat-riwayat mungkar. Dan karena Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil juga disebutkan di dalamnya.

Dan ia juga berkata: Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawayh berhujjah dengannya”. [Selesai]

Akan tetapi Al-Hakim berkata, _"Sanadnya sahih,"_ dan Adz-Dzahabi menyetujuinya.

Dinilai Hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/476, dan Al-Bushiri dalam *Misbah az-Zujajah* (1/153).

Dan juga dinilai hasan oleh al-Albaani dalam Shahih al-Jami’ no. 8990 dan al-Irwa 3/100 no. 631.

Namun Mahmud as-Subki dalam al-Manhal al-‘Adzb al-Mawruud 6/341 memberikan tanggapan :

(لَكِنْ) تَصْحِيحُ هٰذَا الْحَدِيثِ وَتَحْسِينُهُ غَيْرُ مُسَلَّمٍ، فَإِنَّ فِيهِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، وَقَدْ ضَعَّفَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ

“Akan tetapi, penshahihan dan penghasanan hadits ini tidak dapat diterima, karena di dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan ia telah dinilai dho’if oleh lebih dari satu ulama”.

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 2/404 no. 468 juga berkomentar:

وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْحُفَّاظِ ضَعَّفُوا هٰذَا الْحَدِيثَ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهَلْ نَقُولُ إِنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ رَاتِبَةٌ لِصَلَاةِ الْعِيدِ، أَوْ نَقُولُ إِنَّهُمَا رَكْعَتَا الضُّحَى؟ الظَّاهِرُ هٰذَا إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ

“Namun banyak dari para ulama huffazh telah menilai dho’if hadits ini.

Dan andaikan hadits tersebut terbukti sahih, maka apakah kita mengatakan bahwa dua rakaat ini adalah sunnah rawatib untuk shalat ‘Id, ataukah kita mengatakan bahwa itu adalah dua rakaat shalat Dhuha? Yang tampak adalah yang kedua ini (sholat Dhuha), jika hadits tersebut sahih”. [Selesai]

==***===

PENGGABUNGAN ANTARA DUA HADITS YANG NAMPAK SALING BERLAWANAN :

Bahwa shalat Nabi ﷺ dua rakaat di rumahnya setelah shalat Ied, itu adalah shalat sunnah mutlak yang tidak ada kaitannya dengan shalat Ied.  

Al-Hafidz telah merinci pendapat para imam dalam masalah ini dalam “Fath al-Bari” (2/476), kemudian beliau berkata:

وَالْحَاصِلُ أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا سُنَّةٌ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا خِلَافًا لِمَنْ قَاسَهَا عَلَى الْجُمُعَةِ، وَأَمَّا مُطْلَقُ النَّفْلِ فَلَمْ يَثْبُتْ فِيهِ مَنْعٌ بِدَلِيلٍ خَاصٍّ إِلَّا إِنْ كَانَ ذَلِكَ فِي وَقْتِ الْكَرَاهَةِ الَّذِي فِي جَمِيعِ الْأَيَّامِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Kesimpulannya, shalat Id tidak memiliki sunnah yang tetap baik sebelum (qobliyah) maupun sesudahnya (ba’diyah), berbeda dengan orang yang mengqiyaskannya dengan shalat Jumat.

Adapun shalat sunnah secara mutlak, maka tidak ada larangan khusus padanya kecuali jika dilakukan pada waktu-waktu yang dimakruhkan yang berlaku pada setiap hari. Wallahu a’lam”.

Syeikh Abdul Qodir Syaibatul Hamdi berkata :

وَلَا مُعَارَضَةَ بَيْنَ هَذَا الحَدِيثِ وَبَيْنَ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ المُتَقَدِّمِ الَّذِي أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَفِيهِ: أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا؛ لِأَنَّ الصَّلَاةَ المَنْفِيَّةَ هِيَ مَا كَانَتْ فِي مُصَلَّى العِيدِ، أَمَّا إِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ وَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ، فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ؛ كَمَا يُفِيدُهُ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ هَذَا.

Tidak ada pertentangan antara hadis ini dengan hadis Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya, yang diriwayatkan oleh tujuh imam, di mana disebutkan bahwa Nabi tidak melaksanakan salat sebelum maupun sesudahnya. Sebab, salat yang dinafikan adalah salat yang dilakukan di tempat salat Id (musholla). Adapun jika beliau kembali ke rumahnya dan ingin melaksanakan salat sunnah, maka tidak ada larangan baginya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Abu Sa’id Al-Khudri ini.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:

وَالتَّوْفِيقُ بَيْنَ هَذَا الحَدِيثِ وَبَيْنَ الأَحَادِيثِ المُتَقَدِّمَةِ النَّافِيَةِ لِلصَّلَاةِ بَعْدَ العِيدِ، بِأَنَّ النَّفْيَ إِنَّمَا وَقَعَ عَلَى الصَّلَاةِ فِي المُصَلَّى، كَمَا أَفَادَ الحَافِظُ فِي " التَّلْخِيصِ " (ص 144)، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Penggabungan antara hadis ini dengan hadis-hadis sebelumnya yang menafikan adanya salat setelah salat Id adalah bahwa larangan tersebut berlaku untuk salat di tempat shalat Ied, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh dalam *At-Talkhis* (hal. 144). Wallahu a‘lam.*(Baca : Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil, 3/100)*

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 2/404 no. 468 juga berkomentar:

وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْحُفَّاظِ ضَعَّفُوا هٰذَا الْحَدِيثَ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهَلْ نَقُولُ إِنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ رَاتِبَةٌ لِصَلَاةِ الْعِيدِ، أَوْ نَقُولُ إِنَّهُمَا رَكْعَتَا الضُّحَى؟ الظَّاهِرُ هٰذَا إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ

“Namun banyak dari para ulama huffazh telah menilai dho’if hadits ini (Nabi shalat 2 rakaat di rumah setelah shalat Ied).

Dan andaikan hadits tersebut terbukti sahih, maka apakah kita mengatakan bahwa dua rakaat ini adalah sunnah rawatib untuk shalat ‘Id, ataukah kita mengatakan bahwa itu adalah dua rakaat shalat Dhuha?

Yang tampak adalah yang kedua ini (sholat Dhuha), jika hadits tersebut sahih”. [Selesai]

Begitu pula Syeikh Abdul Karim Khudhoir dalam Syarah al-Muharrar Fii al-Hadits 48/21, dia berkata:

"لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا" وَلَا بَعْدَهَا فِي مَكَانِهَا، لَكِنْ إِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ هُمَا رَكْعَتَا الضُّحَى، وَقَدْ جَاءَ الْحَثُّ عَلَيْهِمَا

“Ia tidak shalat apa pun sebelum shalat ‘Id, dan tidak pula setelahnya di tempat pelaksanaannya. Namun jika ia kembali ke rumahnya, ia shalat dua rakaat, yaitu dua rakaat shalat Dhuha. Dan telah datang anjuran untuk melaksanakannya”.

Muhammad al-Itsyuby al-Wallawi berkata :

وَنَقَلَ بَعْضُ المَالِكِيَّةِ الإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّ الإِمَامَ لَا يَتَنَفَّلُ فِي المُصَلَّى. 

وَقَالَ ابْنُ العَرَبِيِّ: التَّنَفُّلُ فِي المُصَلَّى لَوْ فُعِلَ لَنُقِلَ، وَمَنْ أَجَازَهُ رَأَى أَنَّهُ وَقْتٌ مُطْلَقٌ لِلصَّلَاةِ، وَمَنْ تَرَكَهُ رَأَى أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَمْ يَفْعَلْهُ، وَمَنْ اقْتَدَى فَقَدِ اهْتَدَى انْتَهَى. 

وَالحَاصِلُ أَنَّ صَلَاةَ العِيدِ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا سُنَّةٌ قَبْلَهَا، وَلَا بَعْدَهَا، خِلَافًا لِمَنْ قَاسَهَا عَلَى الجُمُعَةِ، وَأَمَّا مُطْلَقُ النَّفْلِ فَلَمْ يَثْبُتْ فِيهِ مَنْعٌ بِدَلِيلٍ خَاصٍّ، إِلَّا إِنْ كَانَ ذَلِكَ فِي وَقْتِ الكَرَاهَةِ الَّذِي فِي جَمِيعِ الأَيَّامِ. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. انْتَهَى مَا فِي "الفَتْحِ" (3/159). 

قَالَ الجَامِعُ - عَفَا اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: عِنْدِي أَنَّ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ العَرَبِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - هُوَ الأَرْجَحُ. 

وَحَاصِلُهُ عَدَمُ مَشْرُوعِيَّةِ التَّنَفُّلِ فِي المُصَلَّى؛ لِعَدَمِ ثُبُوتِهِ عَنِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -.

Sebagian ulama Malikiyah menukil adanya ijmak bahwa imam tidak melakukan salat sunnah di tempat salat Id. 

Ibnu Al-Arabi berkata: "Seandainya salat sunnah di tempat salat Id dilakukan, niscaya akan dinukil. Orang yang membolehkannya berpendapat bahwa itu adalah waktu mutlak untuk salat, sedangkan orang yang meninggalkannya berpendapat bahwa Nabi tidak melakukannya. Barang siapa yang meneladani Nabi, maka ia telah mendapat petunjuk." Selesai. 

Kesimpulannya, tidak ada dalil yang menetapkan adanya salat sunnah sebelum atau sesudah salat Id, berbeda dengan pendapat yang menganalogikannya dengan salat Jumat. Adapun salat sunnah secara mutlak, tidak ada larangan khusus mengenainya dengan dalil yang jelas, kecuali jika dilakukan pada waktu yang terlarang, sebagaimana dalam semua hari lainnya. Hanya Allah Ta'ala yang Maha Mengetahui. Selesai nukilan dari *Fath* (3/159). 

Penulis kitab *Al-Jami'* – semoga Allah Ta'ala mengampuninya – berkata: "Menurut saya, pendapat yang diisyaratkan oleh Ibnu Al-Arabi – rahimahullah Ta'ala – adalah yang lebih kuat. Kesimpulannya, tidak disyariatkan melakukan salat sunnah di tempat salat Id, karena tidak ada riwayat yang sahih dari Nabi tentang hal itu."

[Baca : Dzakhiratul ‘Uqbaa Fii Syarhil Mujtabaa 17/227].

===****===

SHOLAT SUNNAH MUTLAK SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT IED

Al-Imam an-Nawawi berkata dalam Khulashotul Ahkam 2/830 :

(بَاب جَوَاز التَّطَوُّع قبلهَا وَبعدهَا لغير الإِمَام، لَا عَلَى أَنه سنة لَهَا)

فِيهِ الْأَحَادِيث الصَّحِيحَة الْمُطلقَة بِالصَّلَاةِ فِي غير الْأَوْقَات الْخَمْسَة، وَلم يثبت هُنَا نهَى. وَرَوَى الْبَيْهَقِيّ عَن جماعات من الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ التَّنَفُّل قبل الْعِيد مِنْهُم:

2924 - ابْن عمر،

2925 - وَابْن عَبَّاس

2926 - وَأنس،

2927 - وَبُرَيْدَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهم

**(Bab Bolehnya Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Id bagi Selain Imam, Bukan sebagai Sunnah Khusus untuk Shalat Id)** 

Dalam bab ini terdapat hadits-hadits shahih yang bersifat umum mengenai shalat (sunnah) di luar lima waktu yang telah ditetapkan, dan tidak ada larangan yang terbukti dalam hal ini. 

Al-Baihaqi meriwayatkan dari sekelompok sahabat dan tabi'in yang melakukan shalat sunnah sebelum shalat Id, di antaranya: 

2924* - Ibnu Umar, 

2925* - Ibnu Abbas, 

2926* - Anas, 

2927* - Buraidah radhiyallahu 'anhum.

===***===

KESIMPULAN DARI MAJALLAH AL-BAYAN

Dalam Majllah al-Bayan 135/8 di sebutkan:

فَمِنْ خِلَالِ هٰذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ يَظْهَرُ مَا يَلِي:

1- أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ لَيْسَ لَهَا رَاتِبَةٌ لَا قَبْلِيَّةٌ وَلَا بَعْدِيَّةٌ؛ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ.

2- أَنَّهُ لَوْ صَلَّى بَعْدَهَا فِي الْبَيْتِ أَصَابَ السُّنَّةَ إِنْ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنْ يُصَلِّيَ الضُّحَى، لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ.

3- إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا يَجْلِسُ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ؛ لِحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: (إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ).

4- إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْعِيدِ فِي الْمُصَلَّى فَلَا يَجْلِسُ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ؛ لِأَنَّ مُصَلَّى الْعِيدِ لَهُ حُكْمُ الْمَسْجِدِ بِدَلِيلِ أَمْرِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى، وَهٰذَا عَلَى رَأْيِ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ.

5- التَّنَفُّلُ الْمُطْلَقُ لَا يَخْلُو مِنْ حَالَتَيْنِ:

أ - إِمَّا أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الْعِيدِ فِي وَقْتِ النَّهْيِ؛ فَلَا يَجُوزُ لِعُمُومِ النَّهْيِ عَنْ ذٰلِكَ.

ب - وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الْعِيدِ وَلٰكِنْ لَيْسَ فِي وَقْتِ النَّهْيِ كَمَا لَوْ أَخَّرُوا صَلَاةَ الْعِيدِ، أَوْ بَعْدَ الْعِيدِ، وَهٰذَا هُوَ الَّذِي وَقَعَ فِيهِ الْخِلَافُ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ مُطْلَقًا، وَمِنْهُمْ مَنْ مَنَعَهُ مُطْلَقًا، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ بَعْدَهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ لِلْمَأْمُومِ دُونَ الْإِمَامِ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ فِي الْمَسْجِدِ لَا فِي الْمُصَلَّى.

وَالَّذِي يَظْهَرُ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- الْجَوَازُ لِعَدَمِ الدَّلِيلِ عَلَى الْمَنْعِ، وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَهُوَ يَحْكِي فِعْلَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، وَهُوَ إِمَّا يَنْتَظِرُ إِذَا حَضَرَ صَلَّى بِهِمْ، وَإِذَا انْتَهَى انْصَرَفَ كَمَا فِي الْجُمُعَةِ، ثُمَّ لَا يَدُلُّ عَدَمُ فِعْلِهِ عَلَى الْمَنْعِ مِنْهُ.

قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: (الصَّلَاةُ فِعْلُ خَيْرٍ فَلَا يَجِبُ الْمَنْعُ مِنْهَا إِلَّا بِدَلِيلٍ لَا مُعَارِضَ لَهُ فِيهِ، وَقَدْ أَجْمَعُوا أَنَّ يَوْمَ الْعِيدِ كَغَيْرِهِ فِي الْأَوْقَاتِ الْمَنْهِيِّ عَنِ الصَّلَاةِ فِيهَا، فَالْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ كَغَيْرِهِ فِي الْإِبَاحَةِ).

وَقَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ بَعْدَ أَنْ عَرَضَ الْخِلَافَ: (وَالْحَاصِلُ أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا سُنَّةٌ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا خِلَافًا لِمَنْ قَاسَهَا عَلَى الْجُمُعَةِ، وَأَمَّا مُطْلَقُ النَّفْلِ فَلَمْ يَثْبُتْ فِيهِ مَنْعٌ بِدَلِيلٍ خَاصٍّ؛ إِلَّا إِنْ كَانَ فِي وَقْتِ الْكَرَاهَةِ الَّذِي فِي جَمِيعِ الْأَيَّامِ، وَرَجَّحَ عَدَمَ الْمَنْعِ ابْنُ الْمُنْذِرِ).

وَلٰكِنْ إِذَا كَانَ التَّنَفُّلُ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ فَقَدْ تَرَكَ صَاحِبُهُ الْفَاضِلَ إِلَى الْمَفْضُولِ؛ لِأَنَّ عِبَادَةَ التَّكْبِيرِ فِي وَقْتِهِ الْمَأْمُورِ بِهِ أَفْضَلُ مِنْ مُطْلَقِ النَّفْلِ.

Maka melalui dua hadits diatas ini tampak beberapa hal berikut:

1- Bahwa shalat ‘Id tidak memiliki sunnah rawatib, baik sebelum maupun sesudahnya; berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas.

2- Bahwa jika seseorang shalat setelahnya di rumah, maka ia telah mendapatkan sunnah, jika memang kebiasaannya adalah melaksanakan shalat Dhuha; berdasarkan hadits Abu Sa‘id.

3- Jika shalat ‘Id dilaksanakan di masjid, maka jangan duduk hingga shalat dua rakaat; berdasarkan hadits Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum duduk.”

4- Jika shalat ‘Id dilaksanakan di mushalla (lapangan), maka jangan duduk hingga shalat dua rakaat; karena mushalla ‘Id memiliki hukum seperti masjid, berdasarkan dalil perintah Nabi kepada wanita haid agar menjauh dari mushalla. Ini menurut pendapat sebagian ulama.

5- Shalat sunnah mutlak tidak lepas dari dua keadaan:

a- Bisa jadi dilakukan sebelum shalat ‘Id pada waktu terlarang; maka tidak boleh, karena adanya larangan umum tentang hal itu.

b- Atau dilakukan sebelum shalat ‘Id namun bukan pada waktu terlarang, seperti jika shalat ‘Id diakhirkan, atau dilakukan setelah shalat ‘Id. Inilah yang diperselisihkan para ulama: sebagian membolehkannya secara mutlak, sebagian melarangnya secara mutlak, sebagian membolehkan sebelum shalat ‘Id, sebagian membolehkan setelahnya, sebagian membolehkan untuk makmum tanpa imam, dan sebagian membolehkan di masjid tetapi tidak di mushalla.

Pendapat yang tampak kuat—wallahu a‘lam—adalah kebolehannya, karena tidak ada dalil yang melarang. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, itu hanya menceritakan perbuatan Nabi : beliau jika telah hadir maka shalat bersama mereka, dan jika selesai maka beliau langsung pergi sebagaimana pada shalat Jumat. Dan tidak dilakukannya sesuatu oleh beliau tidak menunjukkan adanya larangan terhadapnya.

Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Shalat adalah perbuatan kebaikan, maka tidak boleh dilarang kecuali dengan dalil yang tidak memiliki penentang. Dan para ulama telah sepakat bahwa hari ‘Id seperti hari lainnya dalam hal waktu-waktu yang dilarang untuk shalat, sehingga wajib dianggap sama dalam hal kebolehannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata setelah memaparkan perbedaan pendapat: “Kesimpulannya, shalat ‘Id tidak memiliki sunnah sebelum maupun sesudahnya, berbeda dengan orang yang mengqiyaskannya dengan shalat Jumat. Adapun shalat sunnah mutlak, tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dilakukan pada waktu-waktu makruh yang berlaku setiap hari.” Dan Ibnu Al-Mundzir lebih menguatkan tidak adanya larangan.

Namun, jika seseorang melakukan shalat sunnah sebelum shalat ‘Id, maka ia telah meninggalkan yang lebih utama menuju yang kurang utama; karena ibadah takbir pada waktunya yang diperintahkan lebih utama daripada shalat sunnah mutlak.

===

LALU BAGAIMANA DENGAN PERKATAAN USTADZ INI ?

 


Posting Komentar

0 Komentar