BENARKAH HANYA BOLEH "ASTAGHFIRULLAH" 3x USAI SHALAT.
DAN BID’AH JIKA ADA TAMBAHAN "AL-ADZIM" ATAU TAMBAHAN YANG SEMISALNYA
ATAU MEMBACANYA LEBIH DARI 3x ???.
----
Di Tulis Oleh Kang Oji
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI :
- PENDAHULUAN:
- PEMBAHASAN PERTAMA: TENTANG HADITS-HADITS ISTIGHFAR, LAFADZNYA DAN WAKTU BACANYA.
- KALSIFIKASI PERTAMA : HADITS KEUTAMAAN DO’A ISTIGHFAR DENGAN LAFADZ: “Astaghfirullooh al-‘Adziim”.
- KLASIFIKASI KE DUA: HADITS MACAM-MACAM LAFADZ ISTRIGHFAR SETELAH SHOLAT
- KLASIFIKASI KE TIGA: HADITS ISTIGHFAR RASULULLAH ﷺ KADANG 70 KALI, HINGGA 100
KALI.
- KLASIFIKASI KE EMPAT: BACAAN ISTIGHFAR YANG MUTLAK TIDAK TERIKAT WAKTU DAN JUMLAH.
- KLASIFIKASI KE LIMA: FIRMAN-FIRMAN ALLAH YANG MEMERINTAHKAN BER-ISTIGHFAR
- PEMBAHASAN KE DUA : PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG BID’AHNYA TAMBAHAN “AL-‘ADZIM” ATAU LAINNYA PADA “ASTAGHFIRULLAH”
****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN:
Ada beberapa syeikh di Timur Tengah dan beberapa da’i Tanah Air yang mengharamkan tambahan al-Adzim atau tambahan lainnya dalam beristighfar setelah selesai shalat.
Menurut mereka
: istighfar yang sesuai sunnah dan yang boleh di ucapkan hanyalah :
“Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah”. Tiga kali
Tidak boleh ada tambahan kata apapun.
Serta membacanya tidak boleh kurang
dan tidak boleh lebih dari 3x.
Jika menambahinya atau menguranginya, maka semua itu adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk bid’ah.
Dan menurut mereka setiap bid’ah pasti sesat. Dan setiap kesesatan pasti akan mengantarkan pelakunya ke neraka.
Kemudian menurut mereka ini: dosa bid’ah jauh lebih besar dari pada dosa lainnya, termasuk lebih besar dari dosa makan babi, zina dan membunuh. Karena dampak negatif bid’ah mencakup seluruh umat dan perubahan agama, sementara dosa makan babi, zina dan membunuh, dampaknya hanya pada individu umat.
PERHATIAN !
Sebelum mengkaji dan membahas tentang perbedaan
pendapat para ulama kontemporer tentang masalah ini, maka terlebih dahulu
penulis memaparkan hadits-hadits “istighfar” (doa mohon ampun), baik
terkait dengan lafadznya maupun waktunya.
Adapun pembahasan tentang perbedaan pendapat tentang haram dan bid’ahnya baca astaghfirullah yang ada tambahan al-Adzim atau tambahan yang semisalnya atau membacanya kurang atau lebih dari 3 kali, maka penulis akan sebutkan pada akhir pembahasan, yaitu pembahasan kedua, di halaman terakhir Insya Allah
PEMBAHASAN PERTAMA:
TENTANG HADITS-HADITS ISTIGHFAR,
LAFADZNYA DAN WAKTU BACANYA.
Ada beberapa klasifiksi :
****
KALSIFIKASI PERTAMA :
HADITS KEUTAMAAN DO’A
ISTIGHFAR DENGAN LAFADZ:
«اسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ»
“Astaghfirullooh al-‘Adziim”.
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung)
Pertama : Hadits Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu :
Al-Hakim
meriwayatkan dalam al-Mustadrak (1/692 no. 1884) dengan sanadnya:
Bakr
bin Muhammad ash-Shayrafi telah mengabarkan kepada kami, Ahmad bin ‘Ubaidullah
an-Narsi telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sabiq telah mengabarkan
kepada kami, Israil telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Sinan, dari Abu
al-Ahwash, dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثًا، غُفِرَتْ لَهُ
ذُنُوبُهُ، وَإِنْ كَانَ فَارًّا مِنَ الزَّحْفِ».
“Barangsiapa
mengucapkan: ‘Astaghfirullooh al-'Adziim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), yang tidak ada
tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan segala urusan, dan aku
bertaubat kepada-Nya,’ sebanyak tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya, meskipun
ia pernah lari dari medan perang.”
Kajian
sanad:
Hadits
ini juga dicantumkan oleh as-Suyuthi dalam al-Jami‘ al-Kabir dan dinisbatkan
hanya kepada al-Hakim (1/812).
Al-Mundziri
juga menyebutkannya dalam at-Targhib dari Zaid secara marfu‘, dan menisbatkannya
kepada Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Zaid. Ia berkata: dan al-Hakim
meriwayatkannya dari hadits Ibnu Mas‘ud (2/470).
Al-Hakim
berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»
“Ini
adalah hadits yang sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya
tidak mengeluarkannya.”
Akan
tetapi adz-Dzahabi dalam at-Talkhish berkata:
فِيهِ أَبُو
سِنَانٍ، هُوَ ضِرَارُ بْنُ مُرَّةَ، لَمْ يُخَرِّجْ لَهُ الْبُخَارِيُّ، لَكِنْ خَرَّجَ
لَهُ مُسْلِمٌ
“Di dalam sanadnya terdapat Abu
Sinan, yaitu Dirar bin Murrah. Al-Bukhari tidak meriwayatkan hadits darinya, namun Muslim meriwayatkannya”.
Penulis katakan:
Abu Sinan adalah Dirar bin Murrah al-Kufi, Abu Sinan ash-Shaybani
al-Akbar. Dalam dalam Tahdzib at-Tahdzib (4/457) disebutkan :
قَالَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ عَنْ يَحْيَى
الْقَطَّانِ: كَانَ ثِقَةً. وَقَالَ أَحْمَدُ: كُوفِيٌّ ثَبْتٌ. وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ:
ثِقَةٌ لَا بَأْسَ بِهِ. وَقَالَ النَّسَائِيُّ: ثِقَةٌ. وَقَالَ الْعِجْلِيُّ: ثِقَةٌ
ثَبْتٌ فِي الْحَدِيثِ مَبْرُورٌ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ.
وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ ثِقَةٌ ثَبْتٌ
“Ibnu al-Madini meriwayatkan
dari Yahya al-Qattan: ia adalah orang yang terpercaya. Ahmad berkata: ia
seorang perawi Kufi yang teguh. Abu Hatim berkata: terpercaya, tidak mengapa.
An-Nasa’i berkata: terpercaya. Al-‘Ijli berkata: terpercaya, teguh dalam
hadits, lurus, pengikut sunnah. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam ats-Tsiqat.
Ibnu ‘Abdil Barr berkata: para ulama bersepakat bahwa ia terpercaya dan teguh”. [Selesai]
Ibnu
Hajar berkata dalam at-Taqrib (1/374): “ثِقَةٌ ثَبْتٌ (terpercaya lagi teguh)”..
Dalam
Tahdzib dan at-Taqrib diberi isyarat bahwa Muslim meriwayatkan hadits darinya
dalam Shahih-nya, sedangkan al-Bukhari meriwayatkan darinya dalam al-Adab
al-Mufrad, namun tidak meriwayatkannya dalam Shahih-nya.
Penilaian
terhadap kesahihan hadis:
Saya
katakan: berdasarkan paparan sebelumnya menjadi jelas bahwa Abu Sinan adalah seorang
perawi yang tsiqah lagi tsabit, hanya saja ia bukan termasuk perawi yang
digunakan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, tapi digunakan di dalam al-Adab al-Mufrod. Maka dengan demikian, hadis ini berstatus sahih, namun tidak memenuhi
syarat al-Bukhari.
Atas
dasar itu, kritik adz-Dzahabi berada pada tempatnya, karena Abu Sinan memang
tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya.
Dan
Adh-Dhiya’ Al-A‘dzomi berkata dalam Al-Jami‘ Al-Kamil 9/721:
صَحِيحٌ: رَوَاهُ
ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي التَّوَكُّلِ (كَمَا فِي إِتْحَافِ الْمَهَرَةِ 10/ 438)، وَالْحَاكِمُ
(1/ 511، وَ 2/ 117 - 118) ـ وَعَنْهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّعَوَاتِ (161) ـ مِنْ
طُرُقٍ عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنِ ابْنِ
مَسْعُودٍ فَذَكَرَهُ.
وَإِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ. وَأَبُو سِنَانٍ هُوَ ضِرَارُ بْنُ مَرَّةَ الْكُوفِيُّ، وَأَبُو الْأَحْوَصِ
هُوَ عَوْفُ بْنُ مَالِكِ بْنِ نَضْلَةَ الْجُشَمِيُّ.
وَقَالَ الْحَاكِمُ
فِي الْمَوْضِعِ الثَّانِي: «هٰذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ».
“Hadits ini sahih. Diriwayatkan
oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tawakkul (sebagaimana disebutkan dalam Ithaf
Al-Maharah 10/438), dan oleh Al-Hakim (1/511 serta 2/117–118), dan dari
Al-Hakim diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dalam Ad-Da‘awat (halaman 161),
melalui beberapa jalur dari Israil, dari Abu Sinan, dari Abu Al-Ahwash, dari
Ibnu Mas‘ud, lalu disebutkan hadits tersebut.
Sanadnya
sahih. Abu Sinan adalah Dhirar bin Marrah Al-Kufi, dan
Abu Al-Ahwash adalah ‘Auf bin Malik bin Nadhlah Al-Jusyami.
Dan
Al-Hakim berkata pada tempat yang kedua: “Hadits ini sahih menurut syarat Muslim.” [Selesai]
Selain
itu, hadis ini memiliki syahid dari Zaid, maula Rasulullah ﷺ, dengan lafaz yang mirip dengan hadis Ibnu Mas‘ud.
1]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam
Kitab ash-Shalat, Bab tentang istighfar (2/85) nomor 1517.
2]. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi
dalam Kitab ad-Da‘awat, Bab 119 (5/568–569) nomor 3577. Ia berkata: hadis ini
gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali melalui jalur ini.
Al-Mundziri
berkata dalam at-Targhib (2/470):
إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ مُتَّصِلٌ
“Sanadnya
jayyid dan muttashil (bersambung)”.
Lihat
pula : Silsilah ash-Shahihah karya Syeikh al-Albani 6/506-507 nomor (2727).
Kedua : Hadits Zaid bin
Haritsah radhiyallahu ‘anhu:
Ibnu
‘Asakir meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq jilid 4 halaman 265, di bawah hadis
nomor 1024, dengan sanadnya:
Telah
mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim bin as-Samarqandi, dari Abu al-Husain bin
an-Nuquur, dari ‘Isa bin ‘Ali bin ‘Isa, dari ‘Abdullah bin Muhammad al-Baghawi.
Ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Ali al-Jauzajani, dari
Abu Salamah, dari Hafsh bin ‘Umar ath-Tha’i, ia berkata: telah menceritakan
kepadaku ayahku, yaitu ‘Amr bin Murrah. Ia berkata: aku mendengar Bilal bin
Yasar bin Zaid, maula Nabi ﷺ, berkata: aku mendengar
ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ
إِلَيْهِ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ».
Barang
siapa mengucapkan, “Astaghfirullooh al-‘Adziim, yang tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha
Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya,”
maka Allah akan mengampuninya, walaupun ia pernah lari dari medan pertempuran. [Selesai]
Zurraq
Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad al-Fasi, yang wafat tahun 899 H, berkata dalam
kitab ‘Uddah al-Murid ash-Shadiq halaman 310:
وَحَدِيثُ الِاسْتِغْفَارِ
ثَلَاثًا بِلَفْظِ: «أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ عَنْ
بِلَالِ بْنِ يَسَارٍ، وَالْحَاكِمُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَقَالَ: ثَلَاثًا، وَصَحِيحٌ
عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.
Hadis
tentang istighfar tiga kali dengan lafaz: “Astaghfirullooh
al-‘Adziim, yang
tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan
aku bertobat kepada-Nya,” diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi dari
Bilal bin Yasar, dan oleh al-Hakim dari Ibnu Mas‘ud. “Ia berkata: dibaca tiga kali”, dan hadis ini sahih menurut syarat Muslim. [Selesai]
Ash-Shadiq
al-Gharyani, pentahqiq kitab ‘Uddah al-Murid ash-Shadiq halaman 310 catatan
kaki nomor 4, berkata:
"وَحَدِيثُ بِلَالِ بْنِ يَسَارٍ خَرَّجَهُ التِّرْمِذِيُّ ٥/
٥٦٩ حَدِيثُ رَقْمِ ٣٥٧٧ بِلَفْظِ: «مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ
كَانَ فَارًّا مِنَ الزَّحْفِ»، قَالَ التِّرْمِذِيُّ: غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا
مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، قَالَ الْمُنْذِرِيُّ بَعْدَ أَنْ نَقَلَ كَلَامَ التِّرْمِذِيِّ
هَذَا: وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ مُتَّصِلٌ".
“Hadis Bilal bin Yasar
diriwayatkan oleh at-Tirmidzi jilid 5 halaman 569 nomor hadis 3577 dengan
lafaz: “Barang siapa mengucapkan:
‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim, yang tidak ada sesembahan selain
Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya,’
maka ia akan diampuni walaupun ia lari dari medan pertempuran.”
At-Tirmidzi
berkata: ‘hadis ini gharib, kami tidak mengetahuinya
kecuali melalui jalur ini’.
Al-Mundziri,
setelah menukil perkataan at-Tirmidzi tersebut, berkata: ‘sanadnya
jayyid dan bersambung’.” [Selesai]
Hadis
ini juga dinilai sahih oleh Sami Muhammad dalam kitabnya al-‘Amal ash-Shalih
halaman 315 nomor 887.
Muhammad
Nashruddin ‘Uwaidhah berkata dalam kitabnya Fashl al-Khithab jilid 7 halaman
519:
(حَدِيثُ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الثَّابِتُ فِي
صَحِيحِ التِّرْمِذِيِّ).
“Hadis Zaid bin Haritsah
radhiyallahu ‘anhu yang tetap dan tercantum dalam Sahih at-Tirmidzi”.
Hadis
ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam as-Sirah jilid 4 halaman 623 dan dalam
Asad al-Ghabah jilid 2 halaman 126.
Dan
disebutkan dalam *Nadhrah an-Na‘im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim* 4/1251
catatan kaki nomor 4:
رَوَاهُ أَبُو
دَاوُدَ (١٥١٧) مِنْ حَدِيثِ بِلَالِ بْنِ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ. وَالْحَاكِمُ (١/ ٥١١) وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ
وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ. وَهَذَا لَفْظُهُ.
“Diriwayatkan oleh Abu Dawud
(1517) dari hadis Bilal bin Yasar bin Zaid, mantan budak Rasulullah ﷺ.
Juga
diriwayatkan oleh al-Hakim (1/511) dan ia berkata: Hadis ini sahih sesuai
dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.
Penilaian ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Inilah redaksinya”.
Dan
pada jilid 4 halaman 1289 catatan kaki nomor 5 disebutkan:
رَوَاهُ أَبُو
دَاوُدَ (١٥١٧) وَهَذَا لَفْظُهُ مِنْ حَدِيثِ بِلَالِ بْنِ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَالتِّرْمِذِيُّ (٣٣٩٧) وَفِيهِ زِيَادَةٌ. وَقَالَ مُحَقِّقُ
جَامِعِ الْأُصُولِ: حَسَنٌ (٤/ ٣٨٩). رَوَاهُ الْحَاكِمُ (١/ ٥١١) وَقَالَ: هَذَا
حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ،
وَهَذَا لَفْظُهُ.
“Hadis ini diriwayatkan oleh
Abu Dawud (1517) dengan redaksi ini, dari hadis Bilal bin Yasar bin Zaid,
mantan budak Rasulullah ﷺ. Juga diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi (3397) dengan tambahan lafaz. Peneliti kitab Jami’ al-Ushul
menyatakan hadis ini hasan (4/389). Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim
(1/511), dan ia berkata: Hadis ini sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan
Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Penilaian ini disepakati oleh
adz-Dzahabi, dan inilah redaksinya”.
Sementara Syekh al-Albani dalam as-Silsilah
ash-Shahihah 6/508 berkata :
أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِي
وَابْن أَبِي خَيْثَمَة فِي "التَّارِيخ" (250 - مُصَوَّرَةُ الجَامِعَةِ
الإِسْلَامِيَّةِ) وَابْن سَعْد (7 / 66) وَاسْتَغْرَبَهُ التِّرْمِذِي، وُجُودُ إِسْنَادِهِ
الْمُنْذِرِي، وَفِيهِ جَهَالَةٌ كَمَا بَيَّنْتُهُ فِي "صَحِيح أَبِي دَاوُد"
(1358) وَلَكِنَّهُ صَحِيحٌ بِمَا قَبْلَهُ، وَمَا بَعْدَهُ
“Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Abi
Khaithamah dalam "At-Tarikh" (250 – versi photo copy manuscrift
Universitas Islam Madinah), serta oleh Ibnu Sa’d (7/66). Tirmidzi menganggapnya
aneh karena adanya isnad Al-Mundziri, yang mengandung keraguan seperti yang
telah dijelaskan dalam "Shahih Abi Dawud" (1358), tetapi hadits
ini shahih bila digabungkan dengan riwayat sebelumnya dan sesudahnya”.
Ketiga : Hadits Abu Sa’id
al-Khudri ardhiyallahu ‘anhu:
Ibnu
Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannaf 6/57 nomor 29447:
Affan
menceritakan kepada kami, Bukair bin Abi as-Sumayth menceritakan kepada kami,
Manshur bin Zadan menceritakan kepada kami, dari Abu ash-Shiddiq an-Naji, dari
Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«مَنْ قَالَ:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ خَمْسَ مَرَّاتٍ غُفِرَ لَهُ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ
مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ».
“Barang siapa mengucapkan: ‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim, yang tidak ada sesembahan yang
berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku
bertobat kepada-Nya, sebanyak lima kali, maka diampuni
baginya dosanya, meskipun dosanya sebanyak buih di lautan”. [Selesai]
Al-Mundziri
berkata dalam at-Targhib wat-Tarhib 1/416 nomor 12:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي
إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ، وَإِنْ كَانَتْ
مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ، وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ، وَإِنْ كَانَتْ
عَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ، وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا».
“Dari Abu Sa‘id al-Khudri
radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: Barang
siapa mengucapkan ketika hendak berbaring di tempat tidurnya:
‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim (Aku memohon ampun kepada Allah
Yang Mahabesar), yang tidak ada sesembahan
yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan
aku bertobat kepada-Nya’,
maka
diampuni baginya dosa-dosanya, meskipun dosanya seperti buih di lautan,
meskipun sebanyak daun-daun pepohonan, meskipun sebanyak pasir ‘Alij, dan
meskipun sebanyak hari-hari dunia”. [Selesai]
Dan
Ahmad meriwayatkannya dalam al-Musnad 17/130 nomor 11074 dari Abu Sa‘id
al-Khudri dengan lafaz:
«مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ
الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،
غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ، وَإِنْ كَانَتْ
مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ عَدَدِ وَرَقِ الشَّجَرِ»
“Barang siapa mengucapkan
ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: “Astaghfirullooh (Aku mohon ampun kepada Allah) yang
tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha
Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya”, sebanyak tiga kali, maka Allah mengampuni dosa-dosanya, meskipun
dosanya seperti buih di lautan, meskipun seperti pasir ‘Alij, dan meskipun
sebanyak jumlah daun-daun pepohonan”.
Syu’aib al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad 17/130 berkata :
“Sanadnya sangat lemah.
Ubaidullah
bin al-Walid al-Washafi. Ahmad berkata: hadisnya tidak kuat, hadisnya ditulis
hanya untuk pengenalan.
Yahya
dan Abu Dawud berkata: tidak bernilai apa-apa. Yahya pada tempat lain, juga Abu
Zur‘ah dan Abu Hatim berkata: hadisnya lemah.
An-Nasa’i
dan al-Fallas berkata: hadisnya ditinggalkan.
Al-‘Uqaili
berkata: dalam hadis-hadisnya terdapat kemungkaran dan ia tidak diikuti pada
banyak hadisnya.
Ibnu
Hibban berkata: sangat mungkar hadisnya, ia meriwayatkan dari para perawi
terpercaya sesuatu yang tidak menyerupai hadis orang-orang yang kuat hafalannya.
Ibnu
‘Adi berkata: hadisnya sangat lemah, kelemahannya tampak jelas dari
hadis-hadisnya. ‘Athiyyah al-‘Aufi juga lemah. Abu Mu‘awiyah adalah Muhammad
bin Khazim ad-Dharir”. [Selesai]
Hadis
ini dinilai
lemah oleh al-Albani dalam Takhrij al-Kalim ath-Thayyib
halaman 79 nomor 40.
Ash-Shadiq
al-Ghiryani berkata dalam tahqiq kitab ‘Uddah al-Murid ash-Shadiq karya Zarruq
halaman 310:
وَفِي سَنَدِهِ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْوَصَّافِيُّ، وَعَطِيَّةُ الْعَوْفِيُّ ضَعِيفَانِ
“Dalam sanadnya terdapat
Abdullah bin al-Walid al-Washafi dan ‘Athiyyah al-‘Aufi, keduanya lemah”.
Dan
hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3397), dan oleh al-Baihaqi
secara ringkas dalam al-Asma wa ash-Shifat halaman 112–113, serta oleh
al-Baghawi (1320), melalui beberapa jalur dari Abu Mu‘awiyah dengan sanad ini.
Pada
riwayat at-Tirmidzi dan al-Baghawi terdapat tambahan lafaz:
«وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ عَدَدِ أَيَّامِ الدُّنْيَا»
“Meskipun sebanyak jumlah hari dunia.”
At-Tirmidzi
berkata:
هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ! غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Hadits
ini hasan, gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.
Keempat : Hadits Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu:
Al-Imam adz-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal 3/63 no.
5606 meriwayatkan : Urwah bin Zuhair meriwayatkan dari Tsabit al-Bunani, dari
Anas, sebuah hadis:
«مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ، ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ نَفَسًا مِنْ قَلْبِهِ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ»
“Barang siapa mengucapkan istighfar ‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim, (Aku memohon ampun kepada
Allah Yang Maha Agung), yang tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Hidup
lagi Maha Berdiri sendiri’ sebanyak tiga kali dengan sepenuh jiwa dari hatinya,
maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya”.
Kemudian adz-Dzahabi berkata:
قَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَمْ يَرْوِهِ غَيْرُهُ.
وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: سَمِعَ مِنْهُ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، لَا يُتَابَعُ
عَلَيْهِ.
“Ibnu ‘Adi berkata: Hadis ini tidak diriwayatkan
kecuali olehnya saja. Al-Bukhari berkata: ‘Abdul Hamid bin Ja‘far pernah
mendengar darinya, namun ia tidak memiliki mutaba‘ah (tidak ada penguat
riwayat)”.
Syeikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 6/508
berkata:
أَخْرَجَهُ ابْنُ عَدِيٍّ فِي "
الْكَامِل " (ق 260 / 1) وَقَالَ: " عُرْوَةُ هَذَا لا أَعْرِفُ لَهُ غَيْرَ
هَذَا الْحَدِيثِ. وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: لَا يُتَابِعُ عَلَيْهِ ". وَنَقَلَ
الْعَقِيلِيُّ (3 / 364) عَنْ الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: " مُنْكَرُ الْحَدِيثِ
". وَأَمَّا ابْنُ حِبَّانَ فَذَكَرَهُ فِي " الثِّقَاتِ " (7 /
288)
“Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab
"Al-Kamil" (hal. manuscrift 260/1) dan ia berkata: "Urwah ini,
saya tidak mengetahui hadits lain darinya selain hadits ini.
Dan Bukhari berkata: ‘Ia tidak mengikuti (riwayatnya)’."
Al-‘Aqili (3/364) menukil dari Bukhari bahwa ia berkata: "Hadits ini
munkar."
Sedangkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab "Ats-Tsiqaat"
(7/288)”. [Selesai]
Hadis ini diriwayatkan pula oleh al-Khatib (8/381) dan
Ibnu ‘Asakir (51/108).
Dalam Jami‘ al-Ahadits 3/395 nomor 2439 disebutkan:
«إِذَا قَالَ الْعَبْدُ:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ،
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ، وَإِنْ كَانَ مُوَلِّيًا مِنَ الزَّحْفِ». (الْخَطِيبُ، وَابْنُ عَسَاكِرَ، وَابْنُ النَّجَّارِ
عَنْ دِينَارٍ عَنْ أَنَسٍ)
“Apabila seorang hamba mengucapkan istighfar ‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim, (Aku memohon ampun kepada
Allah Yang Maha Agung), yang tidak ada sesembahan selain Dia, Yang Maha Hidup
lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya’, maka diampuni
dosanya walaupun ia termasuk orang yang lari dari medan pertempuran.
Diriwayatkan oleh al-Khatib, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu
an-Najjar dari Dinar, dari Anas”. [Selesai]
‘Dan Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam
al-Hilyah 5/33 meriwayatkan:
Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad
bin Ahmad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amr Ahmad bin
Muhammad al-Hiri. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Muhammad bin
Muhammad al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Mahmud. Keduanya
berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin al-Hasan bin Abi ‘Isa, telah menceritakan
kepada kami Abu Jabir, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Abi Ja‘far,
dari Muhammad bin Juhadah, dari Zubaid, dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata:
«مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ
اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ
وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ
كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»
“Barang siapa mengucapkan: Maha Suci Allah, segala
puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah
Mahabesar, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah
Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun
sebanyak buih di lautan”.
Zubaid berkata: lalu Mu‘adz berkata:
«أَلَا أَدُلُّكَ
عَلَى مَا هُوَ أَهْوَنُ مِنْ ذَلِكَ؟ مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ»
“Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih
ringan daripada itu? Tidaklah seorang hamba mengucapkan:
‘‘Astaghfirullooh al-‘Adziim (Aku
memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), yang tidak ada sesembahan yang
berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Menegakkan, dan aku
bertobat kepada-Nya, sebanyak tiga kali, melainkan dosa-dosanya akan diampuni
walaupun ia pernah lari dari medan pertempuran.”
Lalu Abu Nu‘aim berkata :
غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ زُبَيْدٍ، عَنْ
أَنَسٍ، لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
“Hadis ini gharib dari riwayat Zubaid, dari Anas, dan
kami tidak menuliskannya kecuali melalui jalur ini”. [Selesai]
PERHATIAN :
Disebutkan dalam Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah
9/4644 nomor 95191:
وَأَمَّا حَدِيثُ: «إِذَا قَالَ الْعَبْدُ: أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، ثُمَّ عَادَ، ثُمَّ قَالَهَا، ثُمَّ عَادَ، ثُمَّ قَالَهَا،
ثُمَّ عَادَ، ثُمَّ قَالَهَا، ثُمَّ عَادَ ثُمَّ قَالَهَا كَتَبَهُ اللَّهُ فِي الرَّابِعَةِ
مِنَ الْكَاذِبِينَ». فَهُوَ ضَعِيفٌ
جِدًّا، قَالَ الشَّوْكَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: فِي إِسْنَادِهِ الْفَضْلُ بْنُ عِيسَى
كَذَّابٌ. اهـ
“Adapun hadis: “Apabila seorang hamba mengucapkan: Aku
memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya, kemudian ia
mengulanginya, lalu mengucapkannya lagi, kemudian mengulanginya, lalu
mengucapkannya lagi, kemudian mengulanginya, lalu mengucapkannya lagi, kemudian
mengulanginya, maka Allah mencatatnya pada kali keempat termasuk golongan para
pendusta,” maka hadis ini sangat lemah.
Asy-Syaukani rahimahullah berkata: Dalam sanadnya
terdapat al-Fadhl bin ‘Isa yang seorang pendusta”. [Selesai]
Dan Ibnu Baththal berkata dalam Syarh Shahih
al-Bukhari 10/78:
وَرَوَى أَبُو عُثْمَانَ عَنْ سَلْمَانَ
قَالَ: «إِذَا كَانَ الْعَبْدُ يَدْعُو اللَّهَ
فِي الرَّخَاءِ، فَنَزَلَ بِهِ الْبَلَاءُ فَدَعَا، قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: صَوْتٌ
مَعْرُوفٌ مِنِ امْرِئٍ ضَعِيفٍ، فَيَشْفَعُونَ لَهُ، وَإِذَا كَانَ لَا يُكْثِرُ مِنَ
الدُّعَاءِ فِي الرَّخَاءِ، فَنَزَلَ بِهِ الْبَلَاءُ فَدَعَا، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ:
صَوْتٌ مُنْكَرٌ مِنِ امْرِئٍ ضَعِيفٍ، فَلَا يَشْفَعُونَ لَهُ»
“Dan diriwayatkan oleh Abu ‘Utsman dari Salman, ia
berkata: Apabila seorang hamba berdoa kepada Allah pada masa lapang, lalu ia
ditimpa musibah kemudian ia berdoa, maka para malaikat berkata: “Ini suara yang
dikenal dari seorang hamba yang lemah,” lalu mereka memberi syafaat untuknya.
Namun apabila ia tidak banyak berdoa pada masa lapang, kemudian ia ditimpa
musibah lalu ia berdoa, maka para malaikat berkata: “Ini suara yang asing dari
seorang hamba yang lemah,” maka mereka tidak memberi syafaat untuknya”.
KLASIFIKASI KE DUA:
MACAM-MACAM LAFADZ HADITS ISTRIGHFAR
SETELAH SHOLAT
Pertama : Hadits Tsauban
radhiyallahu :
Imam Muslim dalam Shahihnya 135 –(591) meriwayatkan
dengan sanadnya:
Telah menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid, telah
menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, dari Al-Auza’i,
dari Abu ‘Ammar yang bernama Syaddad bin Abdullah, dari Abu Asma’,
dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, mawla (mantan budak) Rasulullah ﷺ, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا انْصَرَفَ
مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ
السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ:
" كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ
اللهَ "
Rasulullah ﷺ apabila selesai dari sholatnya, beliau beristigfar tiga kali,
lalu berdoa: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah
kesejahteraan, Mahasuci dan Mahaberkah Engkau, wahai Dzat Yang memiliki
keagungan dan kemuliaan.”
Al-Walid berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza‘i:
“Bagaimana beristighfar itu?”
Ia menjawab: “Engkau mengucapkan: “Astaghfirullah,
astaghfirullah (aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada
Allah).”
NOTE:
[1] Kata “Astaghfirullah, astaghfirullah” dalam
hadits ini adalah perkataan al-Awza’i sebagai jawaban atas pertanyaan al-Walid
bin Muslim.
[2] al-Walid hanya menanyakan istitighfar itu bagaimana?
Dia tidak menanyakan bagaimana cara khusus Nabi ﷺ dalam beristighfar?.
[3] Ungkapan Al-Awza’i “Astaghfirullah,
astaghfirullah”, bertujuan menjelaskan cara beristighfar dengan simpel dan singkat
agar mudah di fahami oleh si penanya.
[4] Al-Awza’i sendiri bukan perawi langsung dari
Tsauban radhiyallahu ‘anhu.
Hadits Tsauban ini adalah hadits tentang istighfar yang diungkapkan secara singkat dan simple sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pakar hadits As-Sindi, dia berkata:
أَيْ اِنْصَرَفَ وَاسْتَغْفَرَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ فَفِيهِ اخْتِصَارٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Maksudnya adalah: beliau ﷺ setelah selesai (dari sholat) langsung beristigfar setelah benar-benar selesai.
Pada redaksi hadits ini terdapat pemendekan ungkapan (secara ringkas), wallaahu a’lam.” [Lihat: foot note Musnad Imam Ahmad 37/49 di bawah hadits no. 22366]
Dan dalam riwayat ad-Darimi tidak ada sama sekali penjelasan tentang bagaimana cara ber-istighfar. Ad-Darimi berkata :
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mughirah, telah menceritakan kepada kami al-Auza’i, dari Syaddad Abu ‘Ammar, dari Abu Asma’ ar-Rahabi, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ مِنْ صَلَاتِهِ، اسْتَغْفَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
Rasulullah ﷺ apabila hendak selesai dari salatnya, beliau beristigfar sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah segala kesejahteraan. Mahasuci dan Mahaagung Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
[Sunan ad-Darimi 2/850 no. 1388. Dan dinilai shahih oleh Husen Asad Ad-Daroni, pentahqiqnya]
Abdul Haq al-Bukhori adz-Dzahlawi (wafat 958) dalam kitabnya Lam’aat at-Tanqiih 3/92 no. 961 berkata :
وَقَدْ جَاءَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ: «يَقُولُ ثَلَاثًا: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ»
Dan telah datang dalam riwayat Abu Dawud: “Beliau ﷺ mengucapkan tiga kali:
“Astaghfirullah alladzi la ilaha illa huwa al-hayyul qoyyum”
Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri.” [Selesai]
Kedua : hadits Mu’adz bin
Jabal radhiyallahu ‘anhu:
Dalam Jami‘ al-Ahadits 21/126 nomor 23130 disebutkan
dari Mu‘adz bin Jabal bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ قَالَ بَعْدَ
الْفَجْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَبَعْدَ الْعَصْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ
إِلَيْهِ، كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»
(ابْنُ السُّنِّيِّ،
وَابْنُ النَّجَّارِ عَنْ مُعَاذٍ) أَخْرَجَهُ أَيْضًا: الدَّيْلَمِيُّ (3/477، رَقْمُ
5476)
“Barang siapa mengucapkan setelah salat Subuh tiga
kali dan setelah salat Asar tiga kali: “‘Astaghfirullooh al-‘Adziim
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), yang tidak ada sesembahan
yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan
aku bertobat kepada-Nya”, maka dihapuskan darinya dosa-dosanya, meskipun
sebanyak buih di lautan.
Diriwayatkan oleh Ibnu as-Sunni dan Ibnu an-Najjar
dari Mu‘adz. Juga diriwayatkan oleh ad-Dailami (3/477, nomor 5476)”. [Selesai]
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu as-Sunni dalam Amal
al-Yaum wa al-Lailah nomor 126, ad-Dailami dalam al-Firdaus nomor 5476, dan Abu
al-Qasim Ibnu al-Junaid dalam Fawaid at-Tamam nomor 1084, melalui jalur
Muhammad bin Jami‘ al-‘Aththar. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Ahmad bin ‘Amr al-Muzani al-Mushili, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
‘Ikrimah bin Ibrahim, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, ia
berkata: telah menceritakan kepadaku Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَالَ
بَعْدَ الْفَجْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَبَعْدَ الْعَصْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ،
كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»
“Barang siapa mengucapkan setelah salat
Subuh tiga kali dan setelah salat Asar tiga kali: ‘Astaghfirullooh (Aku
memohon ampun kepada Allah) yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia,
Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya’,
maka dihapuskan darinya dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya sebanyak buih di
lautan.”
Saya katakan:
Sanad hadits ini sangat lemah, karena memiliki dua
cacat.
Pertama: ‘Ikrimah bin
Ibrahim. Ibnu Hibban berkata: ia termasuk orang yang membolak-balikkan riwayat
dan memarfu‘kan hadits mursal, sehingga tidak boleh dijadikan hujah.
Abu Dawud dan Ibnu Ma‘in berkata: ia tidak bernilai
apa-apa.
An-Nasa’i berkata: ia tidak tsiqah. Al-Fasawi berkata:
haditsnya munkar. Ia juga dilemahkan oleh al-Bazzar, al-‘Uqaili, Abu Ahmad
al-Hakim, dan selain mereka.
Adz-Dzahabi berkata dalam al-Mughni: para ulama
sepakat melemahkannya. [Lihat al-Lisan 4/181].
Kedua: Muhammad bin Jami‘
al-‘Aththar adalah perawi yang lemah, dan Ahmad bin ‘Amr al-Muzani aku tidak
menemukan biografinya. Wallahu a’lam.
Ketiga : Hadits Abu Yasar
radhiyallahu ‘anhu:
Dalam situs Islam Su’al wa Jawab / Islamqa 7/540 no.
39775 di sebutkan :
4- عَنْ أَبِي يَسَارٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
قَالَ: «مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ
وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ».
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ (3577) وَأَبُو دَاوُدَ (1517)
4- Dari Abu Yasar, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Barang siapa mengucapkan: ‘‘Astaghfirullooh
al-‘Adziim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), tiada
tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat
kepada-Nya,’ maka dosanya diampuni, walaupun ia sedang melarikan diri dari
medan perang.”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3577) dan Abu Dawud
(1517).
Keempat : Hadits al-Barraa
bin al-‘Azib radhiyallahu ‘anhu
Diriwayatkan
oleh Abu al-Abbas al-Bushiri dalam Ittihaf al-Khiyarah al-Maharah 2/229 nomor 1400 dengan sanadnya:
Dan
Abu Ya’la al-Maushili berkata: telah menceritakan kepada kami Amru bin Hafsh,
telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Rasyid, dari al-Hasan bin Dzakwan,
dari Abu Ishaq, dari al-Bara’, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثلاث مرارٍ فَقَالَ:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا الله. هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبَهُ، وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ».
“Barang siapa memohon ampun
kepada Allah pada setiap selesai salat sebanyak tiga kali, lalu ia mengucapkan:
‘Astaghfirullooh (Aku memohon ampun kepada Allah) yang tidak ada tuhan selain Dia, Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri
Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya’, maka dosa-dosanya akan diampuni, meskipun ia pernah melarikan diri
dari medan pertempuran”.
Adz-Dzahabi
berkata dalam Dzakhirah al-Huffazh 4/2355 nomor 5463:
حَدِيثٌ: «مَنْ
قَالَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ،
غُفِرَ لَهُ، وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ». رَوَاهُ عُمَرُ بْنُ فَرْقَدٍ الْبَاهِلِيُّ:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُخْتَارِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ. وَعُمَرُ
هَذَا مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ.
“Sebuah hadis: ‘Barang siapa mengucapkan pada setiap selesai salat: Aku memohon ampun
kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, maka akan diampuni dosanya,
meskipun ia pernah melarikan diri dari medan pertempuran’. Hadis ini diriwayatkan oleh Umar bin Farqad al-Bahili, dari Abdullah
bin al-Mukhtar, dari Abu Ishaq, dari al-Bara’.
Dan
Umar ini adalah seorang yang ditinggalkan hadisnya”. [Selesai]
Akan
tetapi al-Busheiri berkata:
"قُلْتُ: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْأَوْسَطِ،
وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، رَوَاهُ ابْنُ السُّنِّيِّ فِي كِتَابِهِ".
“Aku katakan, hadis ini juga
diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir dan al-Mu’jam
al-Awsath.
Dan
hadis ini memiliki penguat dari hadis Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang
diriwayatkan oleh Ibnu as-Sunni dalam kitabnya”.
Syihabuddin
az-Zurqani berkata dalam *Syarh al-Mawahib al-Ladunniyyah* 12/50:
"قَالَ الْحَافِظُ: وَمِنْ أَوْضَحِ مَا جَاءَ فِي الِاسْتِغْفَارِ
مَا أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ مَرْفُوعًا:
«مَنْ قَالَ:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ،
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ، وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ».
قَالَ أَبُو
نُعَيْمٍ: هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بَعْضَ الْكَبَائِرِ يُغْفَرُ بِبَعْضِ الْعَمَلِ
الصَّالِحِ، وَضَابِطُهُ الذُّنُوبُ الَّتِي لَا تُوجِبُ عَلَى مُرْتَكِبِهَا حُكْمًا
فِي نَفْسٍ وَلَا مَالٍ".
“Al-Hafizh
berkata: Di antara keterangan yang paling jelas tentang istigfar adalah riwayat
yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya secara marfu‘: ‘Barang siapa
mengucapkan: Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada sesembahan selain
Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya,
maka dosa-dosanya diampuni meskipun ia pernah lari dari medan pertempuran.’
Abu
Nu‘aim berkata: Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dosa besar dapat diampuni
dengan sebagian amal saleh. Kaidahnya adalah dosa-dosa yang tidak mewajibkan
atas pelakunya suatu hukuman yang berkaitan dengan jiwa atau harta.”
Kelima : Hadits Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan
oleh Abu Sa’id Ibnu al-Arabi dalam Al-Mu’jam 1/405 nomor 782 dengan sanadnya:
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Dawud al-Tayalisi, Muhammad bin
Imran, bukan Sulaiman, dari Hisham bin Hassan, dari Khulaid al-Asri, dari Anas
bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ مُوَلِّيًا
مِنَ الصَّفِّ»
"Barangsiapa
mengatakan: 'Astagfirullah Alladzi laa ilaha illallah al-Hayyul-Qayyum wa atubu
ilaih', dosanya diampuni, meskipun ia sedang mundur
dari barisan perang."
Ibnu al-Jawzy dalam al-Ilal al-Mutanahiyah 2/349 no.
1395 berkata:
هَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ قَالَ ابْنُ
عَدِيٍّ: "دِينَارٌ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ ذَاهِبٌ شِبْهَ الْمَجْهُولِ قَالَ وَغُلاَمُ
خَلِيلٍ كَانَ يَقُولُ وَضَعْنَا أَحَادِيثَ لِنَرَقِّقَ بِهَا قُلُوبَ الْعَامَّةِ".
"Ini
adalah hadits yang tidak sahih. Ibnu ‘Adi berkata: 'Dinar adalah hadits munkar,
hampir termasuk yang tidak dikenal. Dan anak Khalil biasa berkata: Kami menulis
hadits untuk melunakkan hati orang awam.'"
Dan Nabil Sa’aduddin Jarrar dalam
tahqiq kitab Al-Ima’ ila Zawaid al-Amali wal-Ajza’ 1/448 nomor 600 berkata:
إِسْنَادُهُ
ضَعِيفٌ بِسَبَبِ الْكُدَيْمِيِّ، وَالْمَتْنُ صَحِيحٌ بِمَجْمُوعِ شَوَاهِدِهِ
"Sanadnya
lemah karena Al-Kudaimi, sedangkan matannya shohih dengan keseluruhan riwayat
pendukungnya."
[Lihat juga Al-Silsilah
al-Sahihah karya al-Albani no. (2727)].
Keenam : Hadits ‘Aisyah rdhiyallahu
‘anha:
Dan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ الله ﷺ يُكْثِرُ أنْ يَقُولَ
قَبلَ مَوْتِهِ: «سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوبُ إلَيْهِ»
Dulu Rasulullah ﷺ menjelang wafatnya sering mengucapkan: “Subhanallah wa
bihamdihi, astaghfirullah wa atuubu ilaih.” [Hadits ini Muttafaq
‘Alaihi].
KLASIFIKASI KE TIGA:
HADITS ISTIGHFAR RASULULLAH ﷺ KADANG 70 KALI, HINGGA 100
KALI.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَاللهِ إنِّي لأسْتَغْفِرُ
اللهَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»
“Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampun
kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”
[Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6307].
Dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إنَّهُ لَيُغَانُ
عَلىٰ قَلْبي، وَإنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ في الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
“Sesungguhnya hatiku benar-benar tertutupi, dan
sungguh aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
[Diriwayatkan oleh Muslim 41- (2702)].
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata:
كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ الله ﷺ في المَجْلِسِ الْوَاحِدِ مائَةَ مَرَّةٍ:
«رَبِّ اغْفِرْ لي، وَتُبْ عَليَّ إنَّكَ أَنْتَ التَوَّابُ الرَّحِيمُ».
Kami benar-benar menghitung untuk Rasulullah ﷺ dalam satu majelis sebanyak seratus kali
beliau mengucapkan: “Wahai Rabb-ku, ampunilah aku dan terimalah tobatku,
sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1516 dan at-Tirmidzi
no. 3434, dan ia berkata: “Hadits ini shahih”. Di hukumi shohih oleh al-Albani].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ تَعَالىٰ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ
يُذْنبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ الله تَعَالىٰ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ»
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah Ta'ala akan melenyapkan
kalian, lalu Dia akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, kemudian
mereka memohon ampun kepada Allah Ta'ala, lalu Dia mengampuni mereka.”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 11- ()2749).
----
HADITS ISTIGHFAR NABI ﷺ 100 KALI SETELAH SHALAT DAN LAINNYA
Hadis istighfar Nabi ﷺ dengan ucapan-nya:
«اللهُمَّ اغْفِرْ
لِي ـ وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ »، مِائَةَ مَرَّةٍ
(Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun)
sebanyak seratus kali,
Hadits ini diriwayatkan dari Hisyin bin Abdurrahman
dari Hilal bin Yasaf, dari Zadzān, dari seorang
lelaki dari sahabat Nabi ﷺ dari
kalangan Anshar.
Hadis ini diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang
tsiqah (terpercaya) dari Hisyin bin Abdurrahman, dengan variasi redaksi dan
tempat:
KE 1]. Diriwayatkan melalui jalur Syu’bah bin
al-Hajjaj
Imam Ahmad dalam Musnadnya 38/223 nomor 23150
meriwayatkan melalui jalur: Syu‘bah, dari Hisyin, dari Hilal bin Yasaf dari
Zadzān, dari seorang
lelaki dari sahabat Nabi ﷺ dari
kalangan Anshar, dia berkata — Syu’bah atau seorang lelaki dari Anshar :
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ فِي صَلَاةٍ
وَهُوَ يَقُولُ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي» ـ
قَالَ شُعْبَةُ: أَوْ قَالَ: «اللهُمَّ
اغْفِرْ لِي ـ وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ»، مِائَةَ مَرَّةٍ
Bahwa dia mendengar Nabi ﷺ dalam shalatnya mengucapkan:
“Rabbighfir li (wahai Tuhanku
ampunilah aku).
Syu’bah berkata : atau dia berkata:
“Allahumma ighfir li, wa tub
‘alayya, innaka anta at-Tawwāb al-Ghafūr,”
Artinya : Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah
taubatku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun.
Sebanyak seratus kali”. [Selesai]
Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth
dalam “Tahqiq al-Musnad”, di mana beliau berkata:
إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتُ
رِجَالِ الصَّحِيحِ غَيْرُ صَحَابِيِّهِ. حَصِينٌ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلْمِيِّ.
“Isnadnya sahih, para perawinya tsiqat dari kalangan
perawi sahih kecuali sahabatnya. Hisyin: yaitu Ibnu ‘Abdurrahman as-Salmi”.
Dan diriwayatkan juga oleh an-Nasa’i dalam “Amal
al-Yawm wa al-Lailah” (104) dari jalur Khalid bin al-Harith, dari Shuba, dengan
isnad ini.
KE 2]. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Fudhail, dengan
redaksi:
سمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ فِي
دُبُرِ الصَّلَاةِ: «اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ
التَّوَّابُ الْغَفُورُ» مِئَةَ مَرَّةٍ
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ setelah selesai shalat mengucapkan: Allahumma
ghfir li wa tub ‘alayya, innaka anta at-Tawwab al-Ghafur, Seratus kali.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam *al-Musannaf*
(15/136) dan An-Nasa’i dalam *Sunan al-Kubra* (9/45).
Sanadnya shahih. Al-Haitsami berkata dalam kitab
Majma’ az-Zawaid (10/143): “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya adalah
perawi-perawi kitab Shahih.”
KE 3]. Diriwayatkan oleh ‘Abbad bin al-Awwam, dengan
redaksi:
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى رَكْعَتَيْ
الضُّحَى، فَلَمَّا جَلَسَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ: «رَبِّ اعْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ،
إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ» حَتَّى بَلَغَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Bahwa dia melihat Nabi ﷺ shalat dua rakaat dhuha, lalu ketika duduk
mendengar beliau berkata: (Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka anta
at-Tawwab ar-Rahim) hingga mencapai seratus kali.”
Diriwayatkan An-Nasa’i dalam *Sunan al-Kubra* (9/45 no.
9863).
KE 4]. Diriwayatkan oleh Khalid ath-Thahan, dengan
redaksi:
صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ الضُّحَى، ثُمَّ
قَالَ: «اللهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ»،
حَتَّى قَالَهَا مِئَةَ مَرَّةٍ
“Rasulullah ﷺ shalat dhuha, lalu mengucapkan: (Allahumma ghfir li wa tub
‘alayya, innaka anta at-Tawwab ar-Rahim), hingga beliau mengucapkannya
seratus kali.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam *al-Adab al-Mufrad*
(hlm. 217) dan An-Nasa’i dalam *Sunan al-Kubra* (9/46).
Di shahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Adab
al-Mufrod no. 619/ 483
KE 5]. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Idris, dengan
redaksi:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ فِي
دُبُرِ الصَّلَاةِ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّائِبُ
- أَوِ التَّوَّابُ - الْغَفُورُ»، مِئَةَ مَرَّةٍ
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkata setelah shalat: (Allahumma
ghfir li wa tub ‘alayya innaka anta at-Tayyib – atau at-Tawwab – al-Ghafur),
seratus kali.”
Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam *al-Musnad* (2/415 no. 943) dan dalam
al-Mushonnaf no. 29266. Juga oleh al-Baihaqi dalam al-Kubro no. 9851.
KE 6]. Diriwayatkan oleh Sufyan ats-Tsauri, dengan
redaksi:
كَانَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللهِ ﷺ:
«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ»، مِئَةَ
مَرَّةٍ
“Istighfar Rasulullah ﷺ: (Allahumma ghfir li wa tub ‘alayya, innaka anta at-Tawwab
al-Ghafur), seratus kali.”
Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam *Ma’rifat al-Sahabah*
(6/3088), namun dalam sanadnya kepada Sufyan terdapat kelemahan.
7. Diriwayatkan oleh ‘Abd al-‘Aziz bin Muslim dari
Hisyin bin Abdurrahman, dari Hilal bin Yasaf, dari Zadzān, dari seorang lelaki dari kalangan Anshar, dia
berkata:
مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهُوَ
يُصَلِّي الضُّحَى، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ،
إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ»، حَتَّى عَدَدْتُ مِئَةَ مَرَّةٍ
“Aku melewati Rasulullah ﷺ sedang shalat dhuha, lalu mendengar beliau
berkata: (Allahumma ghfir li wa tub ‘alayya, innaka anta at-Tawwab
al-Ghafur), hingga aku menghitung seratus kali.”
Diriwayatkan An-Nasa’i dalam *Sunan al-Kubra* (9/46).
-----
Intisari dari
riwayat-riwayat ini:
Bahwa riwayat Syu’bah jelas menunjukkan bahwa beliau ﷺ mengucapkan dzikir ini selama shalat.
Sedangkan riwayat Muhammad bin Fudail, ‘Ubad bin
Al-‘Awam, ‘Abdullah bin Idris, Khalid Ath-Thaḥḥan, dan Sufyan Ats-Tsauri jelas menunjukkan bahwa
beliau ﷺ
mengucapkannya di luar shalat.
Adapun riwayat ‘Abd Al-‘Aziz bin Muslim bersifat
mungkin.
Yang lebih kuat dari semua riwayat ini adalah bahwa
beliau ﷺ
mengucapkannya di luar shalat, sebagaimana riwayat mayoritas. Ini sesuai dengan
perkiraan An-Nasa’i, karena beliau meriwayatkan hadits ini dengan perbedaan
redaksi dalam dzikir setelah shalat.
Al-Baihaqi dalam kitab Al-Da‘awat Al-Kabir (2/10) menempatkannya
dalam bab:
«بَابُ
الْقَوْلِ وَالدُّعَاءِ عَقِيبَ صَلَاةِ الضُّحَى»
“Bab ucapan dan doa setelah
shalat dhuha”.
Beberapa alasan yang memperkuat hal ini:
Pertama: Sulit membayangkan
dzikir ini menjadi bagian dari dzikir dalam shalat, karena mengucapkannya
seratus kali setara dengan hampir seratus ayat. Jika Nabi ﷺ melakukannya dalam shalat, tentu sahabat
yang selalu menyertai beliau akan memperhatikannya dan menjadi terkenal. Sulit
membayangkan mereka tidak mengetahui bahwa beliau mengucapkan seratus kali
dzikir ini.
Selain itu, jumlah pengulangan seperti ini bukan
termasuk dzikir beliau yang biasa dilakukan selama shalat, melainkan mirip
dengan dzikir yang dikhususkan di luar shalat.
Kedua: Dari sunah Nabi ﷺ diketahui bahwa beliau biasa istighfar
seratus kali dalam satu majelis.
Riwayat Ahmad (4726), Abu Dawud (1516), Tirmidzi
(3434), dan Ibnu Majah (3814) dari Ibnu Umar, beliau berkata:
«إِنْ كُنَّا لِنَعُدَّ
لِرَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِئَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ
عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ».
“Kami menghitung bahwa Rasulullah ﷺ dalam satu majelis mengucapkan seratus
kali: ‘Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka anta at-Tawwaab ar-Rahiim’.”
Ini menunjukkan bahwa dzikir seratus kali termasuk
dzikir umum yang boleh dilakukan kapan saja dalam sehari semalam, bukan bagian
dari dzikir shalat.
Dalam Shahih Bukhari (6307) dari Abu Hurairah, beliau
mendengar Nabi ﷺ bersabda:
«وَاللَّهِ إِنِّي
لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ
مَرَّةً»
“Demi Allah, aku lebih sering istighfar dan bertobat
kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”
Ketiga: Tidak ditemukan
seorang ulama pun yang menegaskan keutamaan mengucapkan dzikir ini seratus kali
dalam shalat, dan dalam jejak sahabat maupun tabi‘in tidak ada yang menunjukkan
hal semacam ini.
Kesimpulannya:
Apakah doa ini
termasuk dzikir yang dibaca setelah shalat fardhu atau dzikir setelah shalat
dhuha?
Yang tampak jelas adalah bahwa dzikir ini termasuk
dzikir umum yang bisa dibaca kapan saja di siang dan malam, sebagaimana hadits
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jika saja dzikir ini khusus dilakukan setelah
shalat tertentu, tentu akan tercatat dan terkenal secara jelas.
Yang terjadi hanyalah bahwa Nabi ﷺ kadang mengucapkannya setelah shalat
tertentu, baik dhuha atau selainnya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa
riwayat, namun hal ini tidak menunjukkan bahwa dzikir ini khusus untuk shalat
tersebut, melainkan tetap menjadi dzikir umum yang dianjurkan untuk banyak
dibaca kapan saja.
KLASIFIKASI KE EMPAT:
BACAAN ISTIGHFAR YANG MUTLAK
TIDAK TERIKAT WAKTU DAN JUMLAH
Hadits ke 1:
Dari Shaddad bin Aws radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ
أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ: اللهم أَنْتَ رَبّي، لا إلهَ إلَّا أَنْتَ خَلَقْتَني وَأَنا
عَبْدُكَ، وأَنا عَلىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ
مَا صَنَعْتُ، أبوءُ لَكَ بِنــعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بذَنْبي، فَاغْفِرْ لِي،
فَإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذِّنُوبَ إلاَ أنْتَ. وَمَنْ قَالَها مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً
بهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَن يُمْسِي، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ
قَالَها مِنَ اللَّيْلِ، وَهُوَ مُوقِنٌ بها، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ
مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»
“Sebaik-baik istighfar adalah ketika seorang hamba
berkata:
‘Ya Allah, Engkaulah
Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau. Engkau yang menciptakanku dan aku adalah
hamba-Mu, aku berusaha menepati janji-Mu sebisaku. Aku berlindung kepada-Mu
dari kejahatan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atas diriku,
dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena tiada yang mengampuni
dosa selain Engkau’.
Barang siapa mengucapkannya pada siang hari dengan
yakin, kemudian meninggal sebelum malam, maka dia termasuk penghuni surga. Dan
barang siapa mengucapkannya pada malam hari dengan yakin, kemudian meninggal
sebelum pagi, maka dia termasuk penghuni surga.’”
[Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5947].
Hadits ke 2:
Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ
اللهَ الَّذي لا إلهَ إلَّا هُوَ الحَيَّ الْقيُّومَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ،
وَإنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ»
“Barang siapa mengucapkan: ‘Aku memohon ampun kepada
Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri,
dan aku bertaubat kepada-Nya,’ maka dosanya diampuni, walaupun ia sedang
melarikan diri dari medan perang.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan
al-Hakim, dan beliau berkata:
حَدِيثٌ صَحيحٌ عَلىٰ شَرْطِ البُخارِيّ
ومسلم
“Hadits ini shahih menurut syarat al-Bukhari dan
Muslim.”
Hadits ke 3 :
Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa
ia berkata kepada Rasulullah ﷺ:
عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي
صَلَاتِي، فَقَالَ: «قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَإِنَّهُ
لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي
إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»
“Ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang aku baca dalam
salatku.”
Beliau ﷺ bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku telah
menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang
mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari
sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”
[Diriwayatkan oleh al-Bukhari nomor 799 dan Muslim
nomor 2705].
Hadits ke 4:
Dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi
ﷺ:
أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ:
«رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ،
وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ، وَعَمْدِي
وَجَهْلِي وَهَزْلِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ
وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
Bahwa beliau ﷺ biasa berdoa dengan doa ini:
“Wahai Tuhanku, ampunilah kesalahanku, kebodohanku,
dan sikap berlebih-lebihanku dalam seluruh urusanku, serta apa yang Engkau
lebih mengetahuinya daripadaku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, baik yang
disengaja maupun yang tidak disengaja, kebodohanku dan candaanku, dan semua itu
ada padaku. Ya Allah, ampunilah apa yang telah aku lakukan terdahulu dan yang
kemudian, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan. Engkaulah Yang
Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala
sesuatu.”
[Diriwayatkan oleh al-Bukhari nomor 6035 dan Muslim
nomor 2719].
Hadits ke 5 :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِﷺ
فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ»، مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya kami benar-benar menghitung bahwa
Rasulullah ﷺ dalam satu
majelis mengucapkan: ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang,’ sebanyak
seratus kali.”
[Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod
no. 618, at-Tirmidzi nomor 3434, dan dalam riwayatnya disebutkan lafaz
«التَّوَّابُ
الْغَفُورُ»
“Yang Maha Penerima Tobat
lagi Maha Pengampun”,
serta diriwayatkan pula oleh Abu Dawud nomor 1516 dan
Ibnu Majah nomor 3814.
Dihukumi Shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrod
no. 618/ 482.
KLASIFIKASI KE LIMA:
FIRMAN-FIRMAN ALLAH YANG MEMERINTAHKAN
BER-ISTIGHFAR
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَٱستَغفِر لِذَنبِكَ وَلِلمُؤمِنِينَ﴾
“Dan mohonlah ampun atas dosamu dan atas
dosa orang-orang mukmin.” (Muhammad: 19).
Dan Dia Ta'ala berfirman:
﴿وَٱستَغفِرِ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ
غَفُورا رَّحِيما﴾
“Dan mohonlah ampun kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa: 106).
Dan Dia Ta'ala berfirman:
﴿فَسَبِّح بِحَمدِ رَبِّكَ وَٱستَغفِرهُ
إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَا﴾
“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu
dan mohonlah ampun kepada-Nya; sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat.”
(an-Nashr: 3).
Dan Dia Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang
bertakwa di sisi Rabb mereka:
﴿لِلَّذِينَ ٱتَّقَواْ عِندَ رَبِّهِم
جَنَّٰت تَجرِي مِن تَحتِهَا ٱلأَنهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا﴾
“Bagi orang-orang yang bertakwa di sisi
Rabb mereka terdapat surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,
mereka kekal di dalamnya,”
sampai firman-Nya Yang Mahamulia:
﴿وَٱلمُستَغفِرِينَ بِٱلأَسحَارِ﴾
“dan orang-orang yang memohon ampun pada
waktu sahur.” (Ali ‘Imran: 15–17).
Dan Dia Ta'ala berfirman:
﴿وَمَن يَعمَل سُوءًا أَو يَظلِم نَفسَهُۥ
ثُمَّ يَستَغفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورا رَّحِيما﴾
“Dan barang siapa melakukan keburukan atau
menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia
mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa: 110).
Dan Dia Ta'ala berfirman:
﴿وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم
وَأَنتَ فِيهِم وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُم وَهُم يَستَغفِرُونَ﴾
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka
selama engkau berada di tengah-tengah mereka, dan Allah tidak akan mengazab
mereka selama mereka memohon ampun.” (al-Anfal: 33).
Dan Dia Ta'ala berfirman:
﴿وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً
أَو ظَلَمُواْ أَنفُسَهُم ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱستَغفَرُواْ لِذُنُوبِهِم وَمَن يَغفِرُ
ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَم يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُم يَعلَمُونَ﴾
“Dan orang-orang yang apabila mereka
melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat
Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain Allah—dan mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan
yang mereka lakukan, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 135).
Dan Allah Ta'ala juga memuji orang-orang yang memohon
ampun pada waktu sahur dengan firman-Nya:
﴿وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾
“Dan pada waktu sahur mereka memohon
ampun.” (adz-Dzariyat: 18).
Ayat-ayat dalam bab ini sangat banyak dan telah
diketahui.
PEMBAHASAN KE DUA :
PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG BID’AHNYA
TAMBAHAN “AL-‘ADZIM” ATAU LAINNYA PADA “ASTAGHFIRULLAH”
Ada dua pendapat :
Pendapat pertama : haram dan termasuk bid’ah sesat.
Pendapat ini masya Allah Tabarokallah telah mengguncang umat Islam diberbagai
belahan dunia.
Diantara para ulama tanah air dan Timur Tengah yang melarangnya dan menghukuminya sebagai bid’ah
sesat adalah sbb:
1]. al-Ustadz Badrus Salam, LC (hafidzohullah)
2]. Al-Ustadz Mizan Qudsiyyah, LC, MA (hafidzohullah)
3]. Al-Ustadz Muhtarom (hafidzohullah)
4]. Prof. DR. Aziz Farhan al-‘Anziy dari Saudi Arabia (hafidzohullah)
5]. Syeikh Utsman al-Khomis dari Saudi Arabia
(hafidzohullah).
SYEIKH BIN BAZ:
Sementara Syeikh Bin Baz -rahimahullah- dalam fatwanya
berkata:
السُّنَّةُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ ثَلَاثًا،
كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ثَوْبَانَ رضي الله عنه، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَلَّمَ
مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ
السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ». قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ
فِي تَفْسِيرِ ذَلِكَ: يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ.
هٰذِهِ السُّنَّةُ، فَإِذَا اسْتَغْفَرْتَ
أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا أَوْ عَشْرًا، فَهٰذِهِ زِيَادَةٌ بِدْعَةٌ، لٰكِنْ
إِذَا اسْتَغْفَرْتَ بَعْدَ ذٰلِكَ، بَعْدَ الذِّكْرِ، فَلَا بَأْسَ، أَمَّا مِنْ أَوَّلِ
مَا تُسَلِّمُ اقْتَصَرْتَ عَلَى ثَلَاثٍ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
Sunnahnya
adalah beristighfar sebanyak tiga kali, sebagaimana telah tetap dalam hadits
sahih dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
“Rasulullah ﷺ apabila selesai salat dengan salam, beliau
beristighfar tiga kali, dan berdoa: ‘Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera,
dan dari-Mu datangnya kesejahteraan. Maha Berkah Engkau, wahai Dzat yang
memiliki keagungan dan kemuliaan.’”
Al-Auza‘i menafsirkan hal itu dengan ucapannya:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah”.
Inilah sunnah. Maka jika seseorang beristighfar empat
kali, lima kali, atau sepuluh kali, maka itu adalah tambahan yang
bid‘ah.
Namun jika ia beristighfar setelah itu, yaitu setelah
selesai zikir, maka tidak mengapa. Adapun sejak awal selesai salam, maka cukup
dibatasi tiga kali: Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.
[Di kutip dari Nur ‘ala ad-darb (al-istighfar al-masyrū adbāra ash-shalawāt)].
---
Tanya jawab bersama Syaikh
Al-‘Utsaimin rahimahullah ta‘ala:
Penanya berkata:
نَسْمَعُ بَعْضَ
الْمُصَلِّينَ يَقُولُ بَعْدَ السَّلَامِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
الْجَلِيلَ الْكَرِيمَ التَّوَّابَ الرَّحِيمَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا
الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، فَمَا صِحَّةُ هَذَا؟
"Kami mendengar sebagian orang
yang shalat mengucapkan setelah salam:
“Astaghfirullah al-‘Adzim
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang
Maha Agung), Maha Mulia, Maha Pemurah,
Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau, wahai Dzat
Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Bagaimana kebenaran hal ini?".
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ta‘ala menjawab:
الصَّحِيحُ أَنْ
يَقُولَ الْمُصَلِّي بَعْدَ السَّلَامِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ
يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، ثُمَّ يَشْرَعُ فِي الْأَذْكَارِ الْوَارِدَةِ،
هَذَا هُوَ السُّنَّةُ، فَإِذَا سَمِعْتَ أَحَدًا يَأْتِي بِمَا يُخَالِفُ هَذَا أَنْصَحُهُ
وَأُبَيِّنُ لَهُ أَنَّ السُّنَّةَ كَذَا وَكَذَا، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ
لَا بُدَّ أَنْ يَفْعَلَ مَا هُوَ أَصْوَبُ وَأَرْضَى لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
"Yang benar dan shahih, orang yang shalat
setelah salam mengucapkan:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah (artinya; Aku memohon ampun kepada Allah 3x). Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera dan dari-Mu kesejahteraan.
Mahasuci Engkau, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Kemudian setelah itu ia
melanjutkan dzikir-dzikir yang ada riwayatnya dari
Nabi ﷺ. Inilah sunnah.
Jika engkau mendengar
seseorang melakukan hal yang menyelisihi ini, maka nasihatilah dia dan jelaskan
kepadanya bahwa sunnahnya adalah demikian dan demikian.
Seorang mukmin yang
menginginkan kebaikan harus melakukan apa yang paling benar dan paling diridhai
oleh Allah Azza wa Jalla.
[Dikutip dari Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 8/2].
----
DALILNYA :
Imam Muslim dalam Shahihnya 135 –(591) meriwayatkan
dengan sanadnya:
Telah menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid, telah
menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, dari Al-Auza’i,
dari Abu ‘Ammar yang bernama Syaddad bin Abdullah, dari Abu Asma’,
dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, mawla (mantan budak) Rasulullah ﷺ, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا انْصَرَفَ
مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ
السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ:
" كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ
اللهَ "
Rasulullah ﷺ apabila selesai dari sholatnya, beliau beristigfar tiga kali,
lalu berdoa: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah
kesejahteraan, Mahasuci dan Mahaberkah Engkau, wahai Dzat Yang memiliki
keagungan dan kemuliaan.”
Al-Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada
Al-Auza‘i: “Bagaimana beristighfar itu?”
Al-Auza‘i menjawab: “Engkau mengucapkan: “Astaghfirullah,
astaghfirullah (aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada
Allah).”
NOTE:
[1] Kata “Astaghfirullah, astaghfirullah” dalam
hadits ini adalah perkataan al-Awza’i sebagai jawaban atas pertanyaan al-Walid
bin Muslim.
[2] al-Walid hanya menanyakan istitighfar itu bagaimana?
Dia tidak menanyakan bagaimana cara khusus Nabi ﷺ dalam beristighfar?.
[3] Ungkapan Al-Awza’i “Astaghfirullah,
astaghfirullah”, bertujuan menjelaskan cara beristighfar dengan simpel dan singkat
agar mudah di fahami oleh si penanya.
[4] Al-Awza’i sendiri bukan perawi langsung dari
Tsauban radhiyallahu ‘anhu.
Oleh sebab itu, As-Sindi berkata:
أَيْ اِنْصَرَفَ وَاسْتَغْفَرَ بَعْدَ
الِانْصِرَافِ فَفِيهِ اخْتِصَارٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Maksudnya adalah: beliau ﷺ setelah selesai (dari sholat) langsung beristigfar setelah benar-benar selesai.
Pada redaksi hadits ini terdapat pemendekan ungkapan (secara ringkas), wallaahu a’lam.” [Lihat: foot note Musnad Imam Ahmad 37/49 di bawah hadits no. 22366]
Dan dalam riwayat ad-Darimi tidak ada sama sekali penjelasan tentang
bagaimana cara ber-istighfar. Ad-Darimi berkata :
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mughirah,
telah menceritakan kepada kami al-Auza’i, dari Syaddad Abu ‘Ammar, dari
Abu Asma’ ar-Rahabi, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَرَادَ
أَنْ يَنْصَرِفَ مِنْ صَلَاتِهِ، اسْتَغْفَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ
أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
Rasulullah ﷺ apabila hendak selesai dari salatnya, beliau beristigfar sebanyak
tiga kali, kemudian beliau mengucapkan:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu
lah segala kesejahteraan. Mahasuci dan Mahaagung Engkau, wahai Dzat yang
memiliki keagungan dan kemuliaan.”
[Sunan ad-Darimi 2/850 no. 1388. Dan dinilai shahih
oleh Husen Asad Ad-Daroni, pentahqiqnya]
Abdul Haq al-Bukhori adz-Dzahlawi (wafat 958) dalam
kitabnya Lam’aat at-Tanqiih 3/92 no. 961 berkata :
وَقَدْ جَاءَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ:
«يَقُولُ ثَلَاثًا: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ»
Dan telah datang dalam riwayat Abu Dawud: “Beliau ﷺ mengucapkan tiga kali:
“Astaghfirullah
alladzi la ilaha illa huwa al-hayyul qoyyum”
Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri.” [Selesai]
Semakna dengan hadist
Tsauban diatas, diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari hadits Aisyah
radhiyallahu ‘anha, namun tanpa ada kata istighfar di dalamnya:
Imam Muslim berkata : Telah meriwayatkan kepada kami Abu
Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair, keduanya berkata: telah meriwayatkan
kepada kami Abu Mu‘awiyah, dari ‘Ashim, dari ‘Abdullah bin
Al-Harits, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَلَّمَ لَمْ
يَقْعُدْ إِلَّا مِقْدَارَ مَا يَقُولُ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ،
تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ».
وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ «يَا
ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
Nabi ﷺ apabila
selesai salam, beliau tidak duduk kecuali sekadar mengucapkan:
“Ya Allah, Engkau adalah
As-Salam dan dari-Mu keselamatan. Mahaberkah Engkau, wahai Dzat yang memiliki
keagungan dan kemuliaan.”
Dan dalam riwayat Ibnu Numair disebutkan:
“Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan”. [HR. Muslim no. 136 –(592)]
Pendapat kedua : boleh dan tidak mengapa.
Fatwa asy-Syabakah al-Islamiyah
11/6914 No. 62116 :
[السُّؤَالُ]
ـ[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَوْلَانَا رَسُولِ اللَّهِ وَآلِهِ وَبَعْدُ:
فَضِيلَةَ الشَّيْخِ هُنَاكَ قَضِيَّةٌ
شَغَلَتْنِي كَثِيرًا وَجَعَلَتْنِي أَبْحَثُ كَثِيرًا عَنْ هٰذَا الْمَوْضُوعِ وَلَمْ
أَصِلْ إِلَىٰ مَنْ يُقْنِعُنِي، وَهُوَ الذِّكْرُ الَّذِي يُؤْخَذُ بَعْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
«أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»،
إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ مَنْ يَقُولُ إِنَّهُ
بِدْعَةٌ لَمْ يَفْعَلْهَا رَسُولُ اللَّهِ، وَذٰلِكَ بِدُونِ دَلِيلٍ، بِالرَّغْمِ
أَنَّ هٰذَا الذِّكْرَ هُوَ اسْتِغْفَارٌ لِلَّهِ، فَهَلْ لَكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ
أَنْ تُفْتُونِي عَنْ هٰذَا الْمَوْضُوعِ سَوَاءٌ كَانَ بِدْعَةً أَمْ لَا، وَذٰلِكَ
بِدَلَائِلَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ، وَأَرْجُو مِنَ اللَّهِ أَنْ يُقْنِعَنِي اسْتِفْسَارُكُمْ؟
وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ.]ـ
[الْفَتْوَى]
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَقَدْ تَقَدَّمَ فِي الْفَتْوَى رَقْمَ:
٤٨١٧ ذِكْرُ بَعْضِ الْأَذْكَارِ الْوَارِدَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بَعْدَ الصَّلَاةِ،
وَهٰذِهِ الصِّيغَةُ الْمَذْكُورَةُ رَغْمَ أَنَّنَا لَمْ نَجِدْهَا فِي الصِّيغِ الْوَارِدَةِ
بَعْدَ الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَعْنِي أَنَّ الْإِتْيَانَ بِهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ
بِدْعَةٌ، بَلْ إِنَّهَا صِيغَةُ اسْتِغْفَارٍ صَحِيحَةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، وَلَمْ يُعَيَّنْ لَهَا وَقْتًا فِي رِوَايَةٍ صَحِيحَةٍ، بَلْ قَالَ: «مَنْ قَالَ:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ». رَوَاهُ أَبُو
دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ بِهٰذَا اللَّفْظِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ.
وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَىٰ لِلتِّرْمِذِيِّ:
«مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَىٰ فِرَاشِهِ..» إِلَىٰ آخِرِ الْحَدِيثِ، وَضَعَّفَهَا
الْأَلْبَانِيُّ.
وَخُلَاصَةُ الْقَوْلِ أَنَّ هٰذَا ذِكْرٌ
وَارِدٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَالْإِتْيَانُ بِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَيْسَ بِدْعَةً،
بَلْ إِنَّهُ دُعَاءٌ، وَالدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلَاةِ مُرَغَّبٌ فِيهِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ
ﷺ لَمَّا سُئِلَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ، قَالَ:
«جَوْفُ اللَّيْلِ
الْآخِرِ، وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ».
رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَرَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
أَيْضًا، وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ.
PERTANYAAN:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kami Rasulullah ﷺ beserta keluarga beliau.
Amma ba‘du.
Wahai Syaikh yang mulia, ada sebuah persoalan yang
sangat menyita perhatian saya dan mendorong saya untuk banyak meneliti masalah
ini, namun saya belum menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan. Persoalan
tersebut adalah tentang dzikir yang dibaca setelah setiap shalat, yaitu: “Aku
memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesembahan yang
berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku
bertobat kepada-Nya.”
Sebagian orang mengatakan bahwa dzikir ini adalah bid‘ah
dan tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, tanpa disertai dalil, padahal dzikir tersebut adalah bentuk
istighfar kepada Allah. Oleh karena itu, wahai Syaikh yang mulia, saya memohon
fatwa Anda mengenai masalah ini: apakah dzikir tersebut bid‘ah atau tidak,
dengan disertai dalil dari Rasulullah ﷺ. Saya berharap Allah menjadikan penjelasan Anda dapat
menenteramkan hati saya. Jazakumullahu khairal jaza’.
FATWA (JAWABAN):
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah ﷺ, beserta
keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba‘du.
Telah disebutkan sebelumnya dalam fatwa nomor 4817
beberapa dzikir yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ setelah shalat.
Lafaz dzikir yang ditanyakan ini, meskipun kami tidak
menemukannya secara khusus di antara lafaz-lafaz dzikir yang diriwayatkan
dibaca setelah shalat, namun hal itu tidak berarti bahwa membacanya setelah
shalat termasuk bid‘ah.
Bahkan, lafaz tersebut adalah bentuk istighfar yang
sahih dan benar, yang diriwayatkan secara shahih tsabit dari Rasulullah ﷺ, tanpa penentuan waktu tertentu dalam
riwayat yang sahih.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengucapkan: ‘Aku memohon ampun
kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat
kepada-Nya’, maka diampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi
dengan lafaz tersebut, dan dinilai sahih oleh al-Albani.
Dalam riwayat lain dari at-Tirmidzi disebutkan: “Barang
siapa mengucapkannya ketika hendak berbaring di tempat tidurnya …” hingga
akhir hadits, namun riwayat ini dinilai lemah oleh al-Albani.
Kesimpulannya, dzikir ini
merupakan dzikir yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, dan membacanya setelah shalat bukanlah
bid‘ah. Bahkan, ia termasuk doa, dan berdoa setelah shalat adalah sesuatu yang
dianjurkan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika ditanya: “Doa manakah yang paling didengar?”
Beliau ﷺ menjawab: “Doa pada sepertiga malam terakhir dan setelah
shalat-shalat wajib.”
Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan juga oleh
at-Tirmidzi, serta dinilai hasan oleh al-Albani. [Kutipan Selesai]
Fatwa Islam.Web no. 406744:
السُّؤَالُ
هَلْ يَجُوزُ أَنْ أُصَلِّيَ وَأُسَلِّمَ
عَلَى النَّبِيِّ أَوْ أَسْتَغْفِرَ دُونَ مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ، وَفِي أَوْقَاتٍ
مُعَيَّنَةٍ، قَبْلَ الصَّلَاةِ مَثَلًا. هَلْ يُعْتَبَرُ ذَلِكَ بِدْعَةً. جَزَاكُمُ
اللَّهُ خَيْرًا.
الإِجَابَةُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَلَا شَكَّ أَنَّ الِاسْتِغْفَارَ، وَالصَّلَاةَ
عَلَى النَّبِيِّ ﷺ بِالصِّيَغِ الْوَارِدَةِ فِي السُّنَّةِ أَفْضَلُ وَأَعْظَمُ أَجْرًا،
وَأَكْثَرُ بَرَكَةً، وَمَعَ ذَلِكَ فَلَوِ اسْتَغْفَرَ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ
ﷺ بِصِيغَةٍ أُخْرَى مِنْ غَيْرِ أَنْ يَلْتَزِمَهَا بِعَيْنِهَا، فَإِنَّهُ لَا حَرَجَ
فِي ذَلِكَ، وَتَكُونُ الصِّيغَةُ أَيْضًا خَالِيَةً مِمَّا هُوَ مَمْنُوعٌ شَرْعًا؛
كَالْغُلُوِّ، وَوَصْفِ النَّبِيِّ ﷺ بِمَا لَا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِهِ.
وَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ،
وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ، وَلَوْ فِي غَيْرِ الْأَوْقَاتِ
الَّتِي وَرَدَتْ فِي الشَّرْعِ؛ لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْأَذْكَارِ الْمُطْلَقَةِ أَيْضًا،
وَالَّتِي يُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنْهَا، وَلَا تَتَقَيَّدُ بِزَمَنٍ مُعَيَّنٍ،
وَلَكِنْ تَخْصِيصُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ، أَوِ الِاسْتِغْفَارِ فِي وَقْتٍ مُعَيَّنٍ
لَمْ يَأْتِ بِهِ الشَّرْعُ بِحَيْثُ لَا يُفْعَلُ إِلَّا فِيهِ، هَذَا التَّخْصِيصُ
مُشْعِرٌ بِاعْتِقَادِ أَفْضَلِيَّةِ ذَلِكَ الْوَقْتِ، فَهَذَا قَدْ يُوقِعُ الْمَرْءَ
فِي الْبِدْعَةِ.
PERTANYAAN :
“Apakah boleh saya melaksanakan shalat, bershalawat
kepada Nabi, atau beristigfar dengan lafaz yang tidak disebutkan dalam sunnah,
dan pada waktu-waktu tertentu, misalnya sebelum shalat. Apakah hal itu dianggap
bidah. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.
JAWABAN :
“Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah ﷺ, beserta
keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du:
Tidak diragukan bahwa istigfar dan shalawat kepada
Nabi ﷺ dengan
lafaz-lafaz yang diriwayatkan dalam sunnah adalah yang paling utama, paling
besar pahalanya, dan paling banyak keberkahannya.
Namun demikian, apabila seseorang beristigfar dan
bershalawat kepada Nabi ﷺ dengan
lafaz lain, tanpa menetapkannya sebagai lafaz tertentu yang harus dipakai, maka
tidak mengapa. Lafaz tersebut juga harus bersih dari hal-hal yang dilarang
secara syariat, seperti berlebihan dan menyifati Nabi ﷺ dengan sifat yang tidak boleh disematkan
kepada beliau.
Dianjurkan untuk memperbanyak istigfar dan shalawat
kepada Nabi ﷺ pada siang
dan malam hari, meskipun dilakukan di luar waktu-waktu yang secara khusus
disebutkan dalam syariat. Hal itu karena istigfar dan shalawat termasuk
zikir-zikir yang bersifat umum, yang dianjurkan untuk diperbanyak dan tidak
terikat dengan waktu tertentu.
Namun, mengkhususkan shalawat kepada Nabi ﷺ atau istigfar pada waktu tertentu yang
tidak ditetapkan oleh syariat, dengan keyakinan bahwa waktu tersebut memiliki
keutamaan khusus sehingga amalan itu hanya dilakukan pada waktu tersebut, maka
pengkhususan semacam ini memberi kesan adanya keyakinan akan keutamaan waktu
tersebut, dan hal itu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam bidah”.
===***===
PERHATIAN:
***
TERSEBAR DALAM FATWA-FATWA BIN BAZ DAN IBNU UTSAIMIN
BAHWA LAFADZ "Astaghfirullah, ... 3x" ADALAH SABDA NABI ﷺ
Telah tersebar luas dalam kitab-kitab fatwa Syeikh Bin
Baz rahimahullah dan juga Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang dengan tegas
dan jelas menyatakan bahwa lafadz “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah’
itu adalah sabda Nabi ﷺ
ketika
beristigfar 3 x setelah salam usai shalat.
Saya sebagai penulis yang masih sangat awam dan masih tahap belajar ini, telah berusaha menelusurinya, namun yang saya temukan hanya perkataan Tsauban radhiyallahu ‘anhu “beristighfar 3x”, secara mutlak dan umum dan tidak membatasi dengan lafadz istighfar tertentu. Adapun “Astaghfirullah, Astaghfirullah” adalah perkataan al-Auza’i, sebagaimana yang telas saya jelaskan diatas.
Hadits Tsauban ini adalah hadits tentang istigfar yang diungkapkan secara singkat dan simple sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pakar hadits As-Sindi, dia berkata:
أَيْ اِنْصَرَفَ وَاسْتَغْفَرَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ فَفِيهِ اخْتِصَارٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Maksudnya adalah: beliau ﷺ setelah selesai (dari sholat) langsung beristigfar setelah benar-benar selesai.
Pada redaksi hadits ini terdapat pemendekan ungkapan (secara ringkas), wallaahu a’lam.” [Lihat: foot note Musnad Imam Ahmad 37/49 di bawah hadits no. 22366]
Adapun perkataan Syeikh Bin Baz dan Syeikh Utsaimin
yang menunjukan bahwa lafadz tersebut adalah sabda Nabi ﷺ dengan tegas dan pasti, maka
diantaranya adalah sbb:
====
PERTAMA : SYAIKH BIN BAZ
---
1] Dari Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 9/63, dan juga disebutkan dalam Tuhfatul
Ikhwan halaman 132.
SYAIKH
BIN BAZ rahimahullah
berkata:
"ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ:
أَنَّهُ كَانَ
يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الْفَرِيضَةِ – الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ،
وَالْعِشَاءِ، وَالْفَجْرِ – يَقُولُ: «أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ ثَلَاثًا، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ،
تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ».
ثَبَتَ هَذَا
عَنْهُ فِي حَدِيثِ ثَوْبَانَ، وَثَبَتَ بَعْضُ ذَلِكَ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا، فَالسُّنَّةُ لِجَمِيعِ الْمُصَلِّينَ إِمَامًا أَوْ مَأْمُومًا أَوْ
مُنْفَرِدًا إِذَا سَلَّمَ مِنَ الْفَرِيضَةِ أَنْ يَقُولَ:
«أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ
وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ».
ثُمَّ يَنْصَرِفُ
إِلَى النَّاسِ، إِنْ كَانَ إِمَامًا وَيَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ، وَيُعْطِيهِمْ وَجْهَهُ".
[مِنْ فَتَاوَى نُورٍ عَلَى الدَّرْبِ 9/63 وَكَذَا ذَكَرَهُ فِي تُحْفَةِ
الْإِخْوَانِ ص 132].
Telah
ada ketetapan dari Nabi ﷺ dalam hadits-hadits
yang sahih : Bahwa beliau ﷺ apabila selesai salam dari salat
fardu – Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh – beliau mengucapkan: “Astaghfirullah” sebanyak tiga kali:
Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah.
Kemudian
beliau mengucapkan: “Ya Allah, Engkaulah As-Salam dan dari-Mu lah
keselamatan, Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Hal
ini telah shahih dari beliau ﷺ dalam
hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu.
Dan sebagian lafaznya juga telah ada ketetapan yang shahih dalam hadits Aisyah radhiyallahu
‘anha.
Maka
sunnah bagi seluruh orang yang salat, baik imam, makmum, maupun orang yang
salat sendirian, apabila selesai salam dari salat fardu, hendaknya mengucapkan:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah. Ya Allah, Engkaulah As-Salam
dan dari-Mu lah keselamatan, Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan
kemuliaan”.
Kemudian
setelah itu, jika ia seorang imam, ia berpaling menghadap kepada jamaah dan menghadap
dengan wajahnya kepada mereka.
---
2] Dari Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 9/93:
Dan
Syeikh Bin Baz juga berkata:
أَنَّهُ ﷺ كَانَ
يَرْفَعُ الصَّوْتَ بِالذِّكْرِ، وَهَكَذَا الصَّحَابَةُ بَعْدَ السَّلَامِ، وَلِهَذَا
سَمِعَهُ الصَّحَابَةُ، وَنَقَلُوا ذِكْرَهُ ﷺ، سَمِعُوهُ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ:
«أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ».
[مِنْ فَتَاوَى نُورٍ عَلَى الدَّرْبِ 9/93].
Bahwa
Nabi ﷺ mengeraskan suara dalam berzikir, demikian
pula para sahabat setelah salam. Oleh karena itu para sahabat mendengarnya dan
meriwayatkan zikir beliau ﷺ. Mereka mendengarnya
mengucapkan ketika selesai salam:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah. Ya Allah, Engkaulah As-Salam dan dari-Mu lah keselamatan, Mahaberkah
Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan”.
---
3] Dari Majmu‘ Fatawa wa Maqalat
Mutanawwi‘ah karya SYAIKH BIN BAZ 11/195 dan 25/158.
Dan Syeikh Bin Baz
rahimahullah juga berkata:
فَقَدْ دَلَّتِ
الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ فِي دُبُرِ الصَّلَاةِ بَعْدَ السَّلَامِ.
وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَقُولَ حِينَ يُسَلِّمُ:
«أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالْإِكْرَامِ»، سَوَاءً كَانَ إِمَامًا أَوْ مَأْمُومًا أَوْ مُنْفَرِدًا.
[مِنْ مَجْمُوعِ فَتَاوَى وَمَقَالَاتٍ مُتَنَوِّعَةٍ لِلشَّيْخِ بْنِ
بَازٍ 11/195 وَ 25/158].
Hadits-hadits yang sahih telah menunjukkan bahwa zikir tersebut dibaca pada akhir salat setelah salam. Di antaranya adalah mengucapkan ketika selesai salam:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah. Ya Allah, Engkaulah As-Salam dan dari-Mu lah keselamatan, Mahaberkah
Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, baik ia seorang imam, makmum,
maupun orang yang salat sendirian”.
----
KEDUA : SYEIKH IBNU
UTSAIMAIN
SYAIKH
AL-UTSAIMIN rahimahullah berkata:
هَذَا ثَابِتٌ
عَنِ الرَّسُولِ ﷺ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ فَقَالَ: أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَنْتَ
السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. [مِنْ
فَتَاوَى نُورٍ عَلَى الدَّرْبِ 8/2].
Hadits ini telah ada ketetapan yang shahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau apabila selesai salam, beliau beristighfar dengan mengucapkan:
“Astaghfirullah, Astaghfirullah,
Astaghfirullah”.
Kemudian
beliau mengucapkan:
“Ya Allah, Engkaulah As-Salam dan dari-Mu lah keselamatan, Mahaberkah
Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan”.
[Dari Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 8/2].
*****
CATATAN :
Jika ada yang berkata:
“Al-Auza'i adalah perawi
hadits. Dia lebih tahu terhadap apa yang ia riwayat-kan. Maka dengan pasti, bahwa itulah cara istighfar Nabi ﷺ setelah salam selesai shalat".
Jawabannya adalah:
Hadits ini, ada dua sanad:
Sanad Pertama adalah : Al-Walid dari al-Awza’i
dari Abu ‘Ammar dari Abu Asma dari Tsauban dari Nabi ﷺ.
Sanad Kedua adalah : Abu al-Mughiroh dari al-Awza’i
dari Abu ‘Ammar dari Abu Asma dari Tsauban dari Nabi ﷺ.
Permasalahannya adalah sbb:
Ke 1]. Dalam sanad
pertama, ungkapan “astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah”
kenapa munculnya dari al-Awza’i, seoarang perawi urutan ke tiga setelah Tsauban
radhiyallahu ‘anhu.
Dan munculnya karena adanya sebuah pertanyaan dari
al-Walid kepada al-Awza’i, dan pertanyaannya bersifat umum, yaitu : “ber
istighfar itu bagaimana?”. Tidak mengatakan : “Cara istighfar Nabi ﷺ itu bagaimana?”.
Ke 2]. Kenapa tiga perawi diatas al-Awza’i (Yaitu dari Abu Ammar dari Abu Asma
dari Tsaubun) tidak ada satu pun yang menjelaskan-nya bahwa istighfar Nabi ﷺ itu adalah “astaghfirullah,
astaghfirullah, astaghfirullah”,
terutama Tsauban radhiyallahu anhu, perawi langsung dari Nabi ﷺ.
Ke 3]. Dalam sanad yang
kedua, al-Awza’i diam tidak menjelaskan bagaimana cara ber-istighfar itu?. Hanya
karena Abu al-Mughirah tidak menanyakannya kepadanya.
Ke 4]. Orang-orang yang
mengklaim bahwa “astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah” itu
bagian sabda Nabi ﷺ dalam
hadits Tsauban, kenapa harus mengklaim sesat dan bid’ah terhadap orang yang
menyelisihi klaiman mereka.
Termasuk menghukumi bid’ah sesat terhadap orang yang
mengucapkan “Astaghfirullah al-‘Adzim”. Apalagi lebih dari pada itu, sebagaimana
yang dikatakan oleh sebagian mereka tentang bid’ah sesatnya orang yang mengucapkan setelah shalat:
«أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا
إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
Juga ada yang mengklaim bid’ah sesat beristighfar usai
shalat lebih dari 3 kali, padahal Nabi ﷺ kadang bertisghfar 70 kali, bahkan hingga 100 kali usai shalat.
Lalu mereka mewajibkan para pengikutnya untuk menegur
dan meluruskan seluruh umat Islam yang menyelisihi mereka.
KE 6]. Hadits Tsauban ini
adalah hadits tentang istighfar yang diungkapkan secara singkat dan simple
sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pakar hadits As-Sindi, dia berkata:
أَيْ اِنْصَرَفَ وَاسْتَغْفَرَ بَعْدَ
الِانْصِرَافِ فَفِيهِ اخْتِصَارٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Maksudnya adalah: beliau ﷺ setelah selesai (dari sholat) langsung
beristigfar setelah benar-benar selesai.
Pada redaksi hadits ini terdapat pemendekan ungkapan (secara ringkas), wallaahu a’lam.” [Lihat: foot note Musnad Imam Ahmad 37/49 di bawah hadits no. 22366]
0 Komentar