Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BENAR-KAH IBNU MAS'UD MENGHUKUMI BID'AH DZIKIR BERSAMA? LALU SHOHIH-KAH SANAD ATSAR-NYA?

BENAR-KAH IBNU MAS'UD MENGHUKUMI BID'AH DZIKIR BERSAMA? LALU SHOHIH-KAH SANAD ATSAR-NYA?

====

Di Tulis Oleh Kang Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---


=====

DAFTAR ISI :

  • PENDAHULUAN
  • KUMPULAN HADITS IBNU MAS’UD YANG DIANGGAP MELARANG DZIKIR BERSAMA
  • PERTAMA : RIWAYAT AD-DARIMI :
  • KEDUA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ DAN ATH-THOBRONI:
  • KETIGA : RIWAYAT IMAM AHMAD DAN ABU NU’AIM AL-ASHFAHANI:
  • KEEMPAT : RIWAYAT IBNU WADHDHOOH :
  • KELIMA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ :
  • KESIMPULAN STATUS SANAD DAN FIQIH ATSAR IBNU MAS’UD
  • PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG ATSAR IBNU MAS’UD
  • HUKUM DUDUK BERSAMA DI MAJLIS DZIKIR
  • APAKAH DAPAT PAHALA ATAS NIAT-NYA, JIKA TIDAK TAHU BAHWA ITU BID’AH?
  • FAIDAH

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 ===***===

PENDAHULUAN

Imam as-Suyuthi rahimahullah ta’ala berkata dalam kitab *al-Hawi lil-Fatawi* (1/379):

"فَإِنْ قُلْتَ: فَقَدْ نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ.

قُلْتُ: هَذَا الْأَثَرُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ يَحْتَاجُ إِلَى بَيَانِ سَنَدِهِ وَمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْحُفَّاظِ فِي كُتُبِهِمْ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهُوَ مُعَارَضٌ بِالْأَحَادِيثِ الْكَثِيرَةِ الثَّابِتَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَهِيَ مُقَدَّمَةٌ عَلَيْهِ عِنْدَ التَّعَارُضِ، ثُمَّ رَأَيْتُ مَا يَقْتَضِي إِنْكَارَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ:

ثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: «هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُ عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ»".

Jika engkau berkata: telah dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid, lalu beliau berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid.

Aku jawab: atsar dari Ibnu Mas’ud ini perlu diteliti sanadnya dan siapa saja dari kalangan para imam hafidz yang meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka.

Dan seandainya pun atsar itu sahih, maka ia bertentangan dengan banyak hadits sahih yang telah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis tersebut harus didahulukan atasnya ketika terjadi pertentangan. Kemudian aku melihat riwayat yang menunjukkan pengingkaran terhadap penisbatan atsar tersebut kepada Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam kitab *az-Zuhd*: telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami al-Mas’udi, dari Amir bin Syaqiq, dari Abu Wa’il, ia berkata:

“Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah bin Mas’ud melarang dzikir bersama itu tidak benar. Aku tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam suatu majelis pun kecuali di dalamnya ada dzikir (bersama) kepada Allah.” [Selesai]

Disebutkan pula oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam *al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* (1/177).

Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 3/221 no. 5409 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 9/125 no. 8630 meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu al-Bakhtari, bahwa ia berkata:

"رَأَى ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ: «أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؟»

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً".

Ibnu Mas’ud melihat dua halaqah dzikir di Masjid Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata: “Yang manakah di antara halaqah kalian berdua yang lebih dahulu ada sebelum  yang lain?”

Salah satunya berkata: “Kami”.

Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan bergabunglah dengan mereka”, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah dzikir. [SELESAI]

Atsar ini di nilai shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 5/11-12 no. 2005.

Dari Al-Aghar Abu Muslim, ia berkata:

أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri bahwa keduanya bersaksi atas Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”

(HR. Muslim no. 2700 dan at-Tirmidzi no. 3587)

Dalam hadits di atas, Rasulullah tidak membatasi cara berdzikirnya. Dan masih ada beberapa hadits sahih lainnya yang semakna yang redaksinya lebih panjang, yang penulis sebutkan di akhir artikel ini. Silahkan lihat daftar isi!

===***===

KUMPULAN HADITS IBNU MAS’UD 
YANG DIKLAIM MELARANG DZIKIR BERSAMA

****

PERTAMA : RIWAYAT AD-DARIMI :

Imam Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi rahimahullah ta'ala berkata dalam Sunan-nya (210):

Telah mengabarkan kepada kami al-Hakam bin al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah, ia berkata: aku mendengar ayahku bercerita dari ayahnya, ia berkata:

" كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ ؟

قُلْنَا: لَا، بَعْدُ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا،

فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ - وَالْحَمْدُ لِلَّهِ - إِلَّا خَيْرًا.

قَالَ: فَمَا هُوَ؟

فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ ، قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً ، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً.

قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟.

قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتظارَ أَمْرِكَ.

قَالَ : " أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ".

ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: " مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟"

قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ.

قَالَ: " فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ ﷺ مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ"،

قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.

قَالَ: " وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ".

ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ " .

“Kami biasa duduk di depan pintu Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu sebelum sholat Subuh. Apabila beliau keluar, kami berjalan bersama beliau menuju masjid.

Lalu datanglah kepada kami Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: ‘apakah Abu Abdurrahman sudah keluar menemui kalian?’.

Kami menjawab: ‘belum’.

Maka ia pun duduk bersama kami hingga Abdullah bin Mas'ud keluar. Ketika beliau keluar, kami semua berdiri menuju beliau.

Abu Musa berkata kepadanya: ‘wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari, namun demi Allah aku tidak berpendapat kecuali itu adalah kebaikan’.

Ia berkata: ‘Apakah itu?’.

Abu Musa berkata: ‘Jika engkau masih hidup, engkau akan melihatnya. Aku melihat di masjid sekelompok orang duduk berhalaqah menunggu sholat. Pada setiap halaqah ada seorang lelaki, dan di tangan mereka ada kerikil. Ia berkata: bertakbirlah seratus kali, maka mereka bertakbir seratus kali. Ia berkata: bertahlillah seratus kali, maka mereka bertahlil seratus kali. Ia berkata: bertasbihlah seratus kali, maka mereka bertasbih seratus kali’.

Abdullah bin Mas'ud berkata: ‘Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka?’.

Ia menjawab: ‘Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka, menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu’.

Ia berkata: ‘Tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, dan engkau menjamin kepada mereka bahwa tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan mereka’.

Kemudian Ibnu Mas’ud berjalan dan kami pun berjalan bersamanya hingga beliau mendatangi salah satu halaqah tersebut. Beliau berdiri di hadapan mereka lalu berkata: ‘Apakah ini yang aku lihat kalian lakukan?’.

Mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih’.

Ia berkata: ‘Hitunglah dosa-dosa kalian, karena aku menjamin bahwa tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan kalian. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat Nabi kalian masih banyak, pakaian beliau belum usang, dan bejana-bejana beliau belum pecah. 

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian merasa berada di atas suatu ajaran yang lebih mendapat petunjuk daripada ajaran Muhammad , atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?’.

Mereka berkata: ‘Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan’.

Ia berkata: ‘Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah telah menceritakan kepada kami bahwa akan ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian’.

Kemudian beliau berpaling dari mereka.

Amru bin Salamah berkata: ‘Kami melihat kebanyakan dari halaqah-halaqah tersebut memerangi kami pada hari Nahrawan bersama kaum Khawarij’. [SELESAI]

----

Demikian pula diriwayatkan oleh Bahsyal dalam Tarikh Wasith halaman 198 melalui jalur Amru bin Yahya bin Amru bin Salamah al-Hamdani. Ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata:

" كُنَّا جُلُوسًا عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ....".

kami duduk di depan pintu Abdullah bin Mas'ud, lalu ia menyebutkan kisah tersebut.

---

STATUS SANAD ATSAR :

Dalam Majalah Universitas Islam Madinah al-Munawwarah 33/32 ditetapkan hasil penelitian sbb:

فَهٰذِهِ الْمَقُولَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ لَمْ يَصِحَّ سَنَدُهَا فَمَعْنَاهَا صَحِيحٌ

“Maka perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas‘ud ini, meskipun sanadnya tidak sahih, namun maknanya shahih”.

Penulis katakan:

Telah ada perbedaan pendapat tentang keshahihan sanad atsar Ibnu Mas’ud ini :

----

Pendapat pertama : Tidak Shahih (dho'if).

Sanad hadits ini dho'if (tidak sahih), karena dalam sanadnya terdapat dua perawi yang dipermasalahkan:

Perawi pertama: al-Hakam bin Mubarak.

Al-Dzahabi berkata:

«الحُكْمُ بْنُ الْمُبَارَكِ التِّ الْخَاشِيِّ الْبَلْخِيِّ، عَنْ مَالِكٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُولِيِّ، وَعَنْهُ أَبُو مُحَمَّدٍ الدَّارِمِيُّ وَجَمَاعَةٌ. وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَابْنُ مَنْدَةَ. وَأَمَّا ابْنُ عَدِيٍّ فَإِنَّهُ لَوَّحَ فِي تَرْجَمَةِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْوَهْبِيِّ بِأَنَّهُ مِمَّنْ يَسْرِقُ الْحَدِيثَ، لَكِنْ مَا أَفْرَدَ لَهُ فِي الْكَامِلِ تَرْجَمَةً. وَهُوَ صَدُوقٌ»

“Al-Hakam bin Al-Mubarak Al-Khasi Al-Balkhi meriwayatkan dari Malik dan Muhammad bin Rasyid Al-Mak-huli, dan darinya meriwayatkan Abu Muhammad Al-Darimi dan sekelompok ulama.

Ia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Mandah.

Adapun Ibnu ‘Adi, ia memberi isyarat dalam biografi Ahmad bin ‘Abdurrahman Al-Wahbi bahwa ia termasuk orang yang mencuri hadis, namun ia tidak menyebutkan biografi tersendiri baginya dalam kitab Al-Kamil. Dan ia adalah seorang yang shaduq.” [Baca : Mizan Al-I‘tidal fi Naqd Al-Rijal (2/345)].

Muhammad al-Amin berkata:

قُلْتُ سَرِقَةُ الْحَدِيثِ يَعْنِي أَنَّ الرَّاوِيَ يَبْلُغُهُ حَدِيثٌ يَرْوِيهِ بَعْضُهُمْ فَيَسْرِقُهُ مِنْهُ وَيُرَكِّبُ عَلَيْهِ إِسْنَادًا مِنْ أَسَانِيدِهِ، ثُمَّ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَهِيَ تُهْمَةٌ مَعْنَاهَا الِاتِّهَامُ بِالْكَذِبِ وَوَضْعِ الْحَدِيثِ. أَيْ إِنَّهَا تُهْمَةٌ فِي غَايَةِ الْخُطُورَةِ.

Aku berkata: Yang dimaksud dengan “mencuri hadis” adalah bahwa seorang perawi mendengar sebuah hadits yang diriwayatkan oleh orang lain, lalu ia mengambil hadits tersebut darinya dan menyusunnya dengan salah satu sanad miliknya, kemudian ia marfu‘kan kepada Nabi . Tuduhan ini bermakna tuduhan berdusta dan membuat-buat hadis. Artinya, ini adalah tuduhan yang sangat berbahaya. [Dikutip dari: Arsyif Multaqa Ahl al-Hadits (al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah) 44/18]

Perawi kedua : Amr bin Yahya bin Amr, dan ia telah dinilai lemah (dho'if) oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Kharasy, Ibnu ‘Adiy dan lain-nya.

Ibnu ‘Adiy berkata:

عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عِصْمَةَ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ يَقُولُ: عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ لَيْسَ بِشَيْءٍ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثَنَا اللَّيْثُ بْنُ عَبْدَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ يَقُولُ: عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ سَمِعْتُ مِنْهُ لَمْ يَكُنْ يُرْضِي. وَعَمْرُو هَذَا لَيْسَ لَهُ كَثِيرُ رِوَايَةٍ، وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ فَأَذْكُرَهُ.

“Tentang Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Ishmah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Yahya, ia berkata: aku mendengar Yahya bin Ma‘in berkata: Amr bin Yahya bin Salamah tidak bernilai sama sekali.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ali, telah menceritakan kepada kami al-Laits bin ‘Abdah, ia berkata: aku mendengar Yahya bin Ma‘in berkata: Amr bin Yahya bin Salamah, aku pernah mendengar darinya bahwa ia tidak ridho menerima riwayatnya.

Amr ini tidak memiliki banyak riwayat, dan tidak ada sesuatu pun darinya yang terlintas di benakku sehingga aku dapat menyebutkannya.” [Al-Kamil fi Du‘afa ar-Rijal (5/122)].

Imam adz-Dzahabi berkata dalam 3 kitabnya “Mizan al-I‘tidal” (3/293), “al-Mughni Fii adh-Dhu’afaa” (2/491 no. 4729) dan “Diiwan adh-Dhu’afaa” (hal. 307 no. 3229):

"عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ، قَدْ رَأَيْتُهُ، وَذَكَرَهُ ابْنُ عَدِيٍّ مُخْتَصَرًا. اِنْتَهَى، وَقَالَ ابْنُ خِرَاشٍ: لَيْسَ بِمَرْضِيٍّ. وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَيْسَ لَهُ كَبِيرُ شَيْءٍ وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ". اهـ

Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa pun, aku pernah melihatnya.” Ibnu ‘Adi juga menyebutkannya secara ringkas. Selesai. Ibnu Kharasy berkata: “Ia tidak dapat diterima.”

Ibnu ‘Adi berkata: “Ia tidak memiliki sesuatu yang berarti, dan tidak terlintas bagiku satu pun hadits darinya.”

Taqiyuddin al-Muqraizi dalam Mukhtashor al-Kamil Fii adh-Dhu’afaa hal. 541 no. 1287 berkata:

عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ. قَالَ ابْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ بِشَيْءٍ. وَمَرَّةً قَالَ: سَمِعْتُ مِنْهُ، لَمْ يَكُنْ بِمَرْضِيٍّ.

Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Ibnu Ma’in berkata: “Ia tidak bernilai apa pun.” Dan pada kesempatan lain ia berkata: “Aku pernah mendengar darinya, namun ia tidak dapat diterima.”

Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab ad-Dhu‘afa’ wal-Matrukin (2/233 no. 2601):

"عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ، وَقَالَ مَرَّةً: لَمْ يَكُنْ بِمَرْضِيٍّ". اهـ

Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah. Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa pun,” dan pada kesempatan lain ia berkata: “Ia tidak dapat diterima.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan 6/232 no. 5852 berkata:

عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ.

قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: لَيْسَ حَدِيثُهُ بِشَيْءٍ، قَدْ رَأَيْتُهُ.

وَقَالَ ابْنُ خِرَاشٍ: لَيْسَ بِمَرْضِيٍّ.

وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: لَيْسَ لَهُ كَبِيرُ رِوَايَةٍ، وَلَمْ يَحْضُرْنِي لَهُ شَيْءٌ.

Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah.

Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya tidak bernilai apa pun, aku pernah melihatnya.”

Ibnu Kharasy berkata: “Ia tidak dapat diterima.”

Ibnu ‘Adi berkata: “Ia tidak memiliki riwayat yang berarti, dan tidak terlintas bagiku satu pun riwayat darinya.” [Selesai]

Telah keliru orang yang mengiranya sebagai Umar bin Yahya.

[Lihat: kitab Itmam al-Ihtimam bi Musnad Abi Muhammad bin Bahram (ad-Darimi), risalah “al-Hiththoh bi Rijal ad-Darimi Khoorij al-Kutub as-Sittah” halaman 687].

Dan adapun ayahnya, yaitu Yahya bin ‘Amr bin Salamah, maka Ibnu Abi Hatim berkata:

يَحْيَى بْنُ عَمْرُو بْنِ سَلَمَةَ الْهَمْدَانِيُّ، وَيُقَالُ الْكِنْدِيُّ، رَوَى عَنْ أَبِيهِ، وَرَوَى عَنْهُ شُعْبَةُ وَالثَّوْرِيُّ وَالْمَسْعُودِيُّ وَقَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ وَابْنُهُ عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ ذَلِكَ.

“Yahya bin Amr bin Salamah al-Hamdani, dan ada yang mengatakan al-Kindi. Ia meriwayatkan dari ayahnya. Yang meriwayatkan darinya antara lain Syu‘bah, ats-Tsauri, al-Mas‘udi, Qais bin ar-Rabi‘, dan putranya Amr bin Yahya. Aku mendengar ayahku mengatakan hal tersebut”. [Lihat : al-Jarh wa at-Ta'dil 9/176].

Sementara kakeknya, yaitu Amr bin Salamah, dinilai tsiqah oleh Ibnu Sa'd dan Ibnu Hibban. [Lihat Tahdzib at-Tahdzib 8/38].

Dan dia dinilai tsiqah pula oleh al-'Ijli dalam ats-Tsiqat hal. 364 no. 1263 dan Ibnu Hajar dalam at-Taqrib 2/71.

Kesimpulan pendapat pertama, mereka mengatakan:

فَابْنُ عَدِيٍّ يَنْقُلُ مِنْ سَنَدَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ تَضْعِيفَ ابْنِ حِبَّانَ لَهُ، وَكَذَلِكَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ يَنْقُلُ تَضْعِيفَ ابْنِ خِرَاشٍ لَهُ. فَلَا شَكَّ فِي ضَعْفِ سَنَدِ هَذَا الْحَدِيثِ

“Maka Ibnu ‘Adi menukil penilaian pelemahan terhadapnya dari Ibnu Hibban melalui dua sanad yang berbeda, dan demikian pula Ibnu Hajar al-‘Asqalani menukil penilaian pelemahan terhadapnya dari Ibnu Kharasy. Dengan demikian, tidak ada keraguan bahwa sanad hadits ini lemah”.

[Dikutip dari: Arsyif Multaqa Ahl al-Hadits (al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah) 44/18]

----

Pendapat ke dua : Sanadnya shahih

Atsar ini dinilai shahih dengan sanad ini oleh Syaikh al-Albani rahimahullah ta'ala dalam ash-Shahihah 5/12 no. 2005.

Alasan al-Albani adalah : karena Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah dinilai tsiqoh oleh Ibnu Ma'in, sebagaimana disebutkan dalam al-Jarh wa at-Ta'dil 6/269.

Penulis katakan: Berikut ini text perkataan Ibnu Abi Hatim:

عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ ثِقَةٌ

“Dari Yahya bin Ma’in bahwa ia berkata: Amr bin Yahya bin Salamah adalah tsiqah”.

Disini saya sebagai penulis, menjadi bingung, apakah yang dimaksud perkataan Ibnu Ma’in yang dikutip Ibnu Hatim ini adalah Amr bin Yahya bin ‘Amr (cucu) atau Amr bin Salamah (kakeknya)?

Ada 3 faktor yang membuat saya bingung tentang kutipan dari Ibnu Ma’in ini:

Faktor pertama: lafadz nya membingungkan.

Faktor Kedua : semua ulama pakar hadits selain Ibnu Abi Hatim, mereka telah mengutip dari Ibnu Ma’in pernyataan sebaliknya tentang Amr bin Yahya, yakni mendho’ifkannya.

Faktor ketiga: yang di tautsiq oleh para ulama hadits itu adalah kakeknya, yaitu Amr bin salamah. Diantaranya adalah oleh al-Ijly dalam ats-Tsiqoot hal. 364 no. 1263, dia berkata :

عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: «كُوفِيٌّ»، تَابِعِيٌّ، ثِقَةٌ

“Amru bin Salamah: berasal dari Kufah, seorang tabi'in, terpercaya”.

Begitu pula oleh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib 2/71:

عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيُّ الْكُوفِيُّ: ثِقَةٌ مِنَ الثَّالِثَةِ

“Amr bin Salamah bin al-Harits al-Hamdani al-Kufi: terpercaya, termasuk generasi ketiga”.

Adapun cucunya, yaitu Amr bin Yahya bin ‘Amr bin Salamah, maka sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, tidak ada yang mentautsiqnya.

===

SEKILAS FIQIH ATSAR IBNU MAS'UD INI:

Jika seandainya atsar Ibnu Mas’ud ini shahih, Muhammad al-Amin berkata:

"وَلَا أَدْرِي كَيْفَ حُشِرَ هَذَا الْحَدِيثُ (بَلْ هُوَ أَثَرٌ مَوْقُوفٌ) فِي صِنْفِ أَدِلَّةِ عَدَمِ جَوَازِ الذِّكْرِ الْجَمَاعِيِّ، إِذْ لَا عَلَاقَةَ لَهُ بِمَوْضُوعِنَا. فَإِنْكَارُ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ لَمْ يَكُنْ عَنْ ذِكْرِهِمْ لِرَبِّهِمْ وَلَا أَدْرِي كَيْفَ اعْتَقَدُوا ذَلِكَ، إِنَّمَا أَنْكَرَ عَدَّهُمْ لِحَسَنَاتِهِمْ لِأَنَّهُ خَافَ أَنْ يَغْتَرُّوا بِعَمَلِهِمْ. اُنْظُرْ قَوْلَهُ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ».

وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ». بَلْ هَذَا الْحَدِيثُ هُوَ حُجَّةٌ عَلَيْهِمْ لِأَنَّ أَبَا مُوسَى لَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمُ الذِّكْرَ الْجَمَاعِيَّ إِنَّمَا مُجَرَّدَ عَدِّهِ.

وَهَذَا طَبْعًا لَوْ صَحَّ سَنَدُ الْحَدِيثِ، فَمَا بَالُكَ لَوْ عَلِمْتَ أَنَّ الْحَدِيثَ ضَعِيفٌ أَصْلًا؟".

“Saya tidak tahu bagaimana hadits ini (bahkan sebenarnya ia adalah atsar mauquf) dimasukkan ke dalam kategori dalil yang menyatakan tidak bolehnya dzikir berjamaah, padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembahasan kita.

Penolakan Abu Musa al-Asy’ari dalam atsar ini bukanlah terhadap dzikir mereka kepada Rabb mereka, dan saya tidak tahu bagaimana mereka bisa beranggapan demikian. Yang beliau ingkari hanyalah perhitungan mereka terhadap kebaikan-kebaikan mereka, karena beliau khawatir mereka akan tertipu oleh amal mereka sendiri.

Perhatikan ucapannya: “Mengapa tidak kalian perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, dan aku menjamin bahwa tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan mereka.

Demikian pula ucapannya:

“Hitunglah dosa-dosa kalian, karena aku menjamin tidak akan hilang sedikit pun dari kebaikan-kebaikan kalian.”

Bahkan hadits ini justru menjadi hujah atas mereka, karena Abu Musa tidak mengingkari dzikir berjamaah, melainkan hanya mengingkari perhitungan (amal) tersebut saja.

Dan itu pun tentu jika sanad hadits ini sahih. Lalu bagaimana jika diketahui bahwa hadits ini pada asalnya memang lemah?”. [Kutipan Selesai]

[Sumber: Arsip Multaqa Ahl al-Hadits (al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah) 44/18 dan seterusnya].

 ****

KEDUA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ DAN ATH-THOBRONI:

Atsar ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 3/221 no. 5409 dan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 9/125 no. 8630 .

Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, dari Abdurrazzaq, dari Ja‘far bin Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Atho’ bin as-Sa’ib, aku tidak mengetahuinya kecuali dari Abu al-Bakhtari, ia berkata:

بَلَغَ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ ‌أَنَّ ‌قَوْمًا، ‌يَقْعُدُونَ ‌مِنَ ‌الْمَغْرِبِ ‌إِلَى ‌الْعِشَاءِ ‌يُسَبِّحُونَ ‌يَقُولُونَ: "قُولُوا كَذَا وَقُولُوا كَذَا". قَالَ عَبْدُ اللهِ: «إِنْ قَعَدُوا فَآذِنُونِي».

فَلَمَّا جَلَسُوا أَتَوْهُ فَانْطَلَقَ فَدَخَلَ مَعَهُمْ فَجَلَسَ وَعَلَيْهِ بُرْنُسٌ، فَأَخَذُوا فِي تَسْبِيحِهِمْ فَحَسَرَ عَبْدُ اللهِ عَنْ رَأْسِهِ الْبُرْنُسَ، وَقَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ» ، فَسَكَتَ الْقَوْمُ،

فَقَالَ: «لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظَلْمَاءَ، أَوْ لَقَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا» ،

فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ: مَا جِئْنَا بِبِدْعَةٍ ظَلْمَاءَ، وَلَا فَضَلْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا.

فَقَالَ عَمْرُو بْنُ عُتْبَةَ بْنِ فَرْقَدٍ: "أَسْتَغْفِرُ اللهَ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ". فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَتَفَرَّقُوا.

قَالَ: وَرَأَى ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ: «أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؟»

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً

“Sampai kepada Abdullah bin Mas‘ud kabar bahwa ada sekelompok orang yang duduk dari setelah magrib hingga isya sambil bertasbih, mereka berkata: “Ucapkan ini dan ucapkan itu!”.

Abdullah berkata: “Jika mereka telah duduk, maka beritahukanlah kepadaku!”.

Ketika mereka telah duduk, mereka pun mendatanginya. Maka ia berangkat lalu masuk bersama mereka dan duduk di tengah-tengah mereka, sementara ia mengenakan burnus.

Mereka mulai dengan tasbih mereka, lalu Abdullah membuka penutup kepalanya dan berkata: “Aku adalah Abdullah bin Mas‘ud”.

Maka kaum itu pun terdiam. Ia berkata: “Sungguh kalian telah datang dengan suatu bid‘ah yang gelap gulita, atau sungguh kalian telah melampaui para sahabat Muhammad dalam hal ilmu”.

Maka seorang lelaki dari Bani Tamim berkata: “Kami tidak datang dengan bid‘ah yang gelap dan kami tidak melampaui para sahabat Muhammad dalam hal ilmu”.

Lalu ‘Amr bin ‘Utbah bin Farqad berkata: “Aku memohon ampun kepada Allah, wahai Ibnu Mas‘ud, dan aku bertobat kepada-Nya”.

Maka ia memerintahkan mereka agar berpisah.

Ia berkata: Ibnu Mas‘ud juga melihat dua halaqah dzikir di Masjid Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata:

“Yang manakah di antara halaqah kalian berdua yang lebih dahulu ada sebelum yang lain?”

Salah satunya berkata: “Kami”.

Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan bergabunglah dengan mereka, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah dzikir”.

===

STATUS SANAD ATSAR:

Sanadnya lemah :

Al-Haitsami berkata dalam al-Majma' 1/181:

"رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ، وَفِيهِ مُجَالِدُ بْنُ سَعِيدٍ، وَثَّقَهُ النَّسَائِيُّ، وَضَعَّفَهُ الْبُخَارِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى".

“Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir, dan di dalamnya terdapat Mujalid bin Sa'id. Ia dinilai tsiqah oleh an-Nasa'i, namun dilemahkan oleh al-Bukhari, Ahmad bin Hanbal, dan Yahya”.

Dan apabila kita meneliti sanad atsar ini, kita dapati beberapa hal berikut ini:

Pertama:

Bahwa Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, meskipun ia dinilai “صَدُوْقٌ”, namun dia mendengar hadits dari Abdurrazzaq terjadi setelah Abdurrazzaq mengalami ikhtilath (ambu radul hafalannya).

Lagi pula Imam Abdurrazzaq wafat ketika usia ad-Dabari masih 6 atau 7 tahun, dia benar-benar masih bocil.

Jika demikian, maka yang benar kira-kira kapan dia bisa mendengar hadits darinya? Jika bukan pada dua tahun terakhir dari kehidupan Abdurrazzaq.

Al-‘Allamah Ibrahim bin Musa al-Abnasi berkata dalam asy-Syadza al-Fayyah min ‘Ulum Ibnu ash-Shalah (2/747):

"قُلْتُ وَقَدْ وَجَدْتُ فِيمَا رُوِيَ عَنِ الطَّبْرَانِيِّ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ أَحَادِيثَ اسْتَنْكَرْتُهَا جِدًّا، فَأَحَلْتُ أَمْرَهَا عَلَى ذَلِكَ، فَإِنَّ سَمَاعَ الدَّبَرِيِّ مِنْهُ مُتَأَخِّرٌ جِدًّا، قَالَ إِبْرَاهِيمُ الحَرْبِيُّ مَاتَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَلِلدَّبَرِيِّ سِتُّ سِنِينَ أَوْ سَبْعُ سِنِينٍ". اهـ

“Aku berkata: aku telah mendapati dalam riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari dari Abdurrazzaq beberapa hadits yang sangat aku ingkari, maka aku mengembalikan perkaranya kepada hal ini, karena ad-Dabari mendengar hadits darinya sangat terlambat. Ibrahim al-Harbi berkata: Abdurrazzaq wafat ketika ad-Dabari berusia 6 atau 7 tahun”. [Selesai].

Al-‘Allamah al-Muhaddits as-Sakhawi berkata dalam Fathul Mughits (3/377):

"وَقَالَ شَيْخُنَا - ابْنُ حَجَرٍ العَسْقَلَانِيُّ -: الْمَنَاكِيرُ الْوَاقِعَةُ فِي حَدِيثِ الدَّبَرِيِّ إِنَّمَا سَبَبُهَا أَنَّهُ سَمِعَ مِنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ، فَمَا يُوجَدُ مِنْ حَدِيثِ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ فِي مُصَنَّفَاتِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ فَلَا يُلْحَقُ الدَّبَرِيُّ مِنْهُ تَبِعَةً، إِلَّا إِنْ صُحُفٌ وَحَرْفٌ". اهـ

“Dan guru kami, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, berkata: kemungkaran-kemungkaran yang terdapat dalam hadits ad-Dabari sebabnya adalah karena ia mendengar dari Abdurrazzaq setelah Abdurrazzaq mengalami ikhtilath. Adapun hadis-hadis ad-Dabari dari Abdurrazzaq yang terdapat dalam mushannaf Abdurrazzaq, maka ad-Dabari tidak menanggung kesalahan darinya, kecuali jika ia melakukan tashif atau tahrif”. (Selesai).

Barangkali sebagian ulama yang mensahihkan riwayat ad-Dabari dari Abdurrazzaq beralasan bahwa ad-Dabari meriwayatkan dari kitab-kitab Abdurrazzaq, bukan langsung dari hafalannya.

Kedua:

Bahwa Ja‘far bin Sulaiman adh-Dhob‘i mendengar dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib setelah terjadi ikhtilath (campur aduk hafalan-nya), sebagaimana ditegaskan oleh Imam adz-Dzahabi dalam al-Kawakib an-Nayirat (halaman 61):

حَكَمُوا بِتَوْثِيقِهِ - أَيْ عَطَاءٍ - وَصَلاَحِهِ وَبِاخْتِلَاطِهِ، اخْتَلَطَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: ثِقَةٌ رَجُلٌ صَالِحٌ مَنْ سَمِعَ مِنْهُ قَدِيمًا فَسَمَاعُهُ صَحِيحٌ وَمَنْ سَمِعَ مِنْهُ حَدِيثًا فَسَمَاعُهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ... وَمِمَّنْ سَمِعَ مِنْهُ - أَيْ مِنْ عَطَاءٍ - أَيْضًا بِآخِرَةٍ مِنَ البَصْرَيْنِ جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضَّبْعِيُّ. اهـ

Para ulama menetapkan ketsiqahan ‘Atha’, kesalihannya, dan juga ikhtilathnya. Ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Ahmad bin Hanbal berkata: ia seorang yang tsiqah dan saleh. Siapa yang mendengar darinya pada masa awal, maka pendengarannya sahih.

Adapun siapa yang mendengar darinya pada masa akhir, maka pendengarannya tidak bernilai apa-apa. Termasuk yang mendengar darinya pada masa akhir dari kalangan Bashrah adalah Ja‘far bin Sulaiman ad-Dab‘i. [Selesai].

Ketiga:

Bahwa dalam riwayat ‘Atha’ bin as-Sa’ib dari Abu al-Bukhtari terdapat kelemahan. Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kawakib an-Nayirat (hal. 61):

"وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَلِيَّةَ: قَالَ لِي شُعْبَةُ: مَا حَدَّثَكَ عَطَاءٌ عَنْ رِجَالِهِ زَاذَانَ وَمَيْسَرَةَ وَأَبِي البَخْتَرِيِّ فَلَا تَكْتُبْهُ، وَمَا حَدَّثَكَ عَنْ رَجُلٍ بِعَيْنِهِ فَاكْتُبْهُ". اهـ

“Isma‘il bin ‘Ulayyah berkata: Syu‘bah berkata kepadaku: apa saja yang diriwayatkan ‘Atha’ kepadamu dari para perawinya seperti Zadzan, Maysarah, dan Abu al-Bukhtari, maka jangan engkau tulis. Adapun apa yang ia riwayatkan kepadamu dari seorang perawi tertentu secara jelas, maka tulislah”. [Selesai].

Dengan demikian, sanad ini tidak mungkin dinilai sahih.

****

KETIGA : RIWAYAT IMAM AHMAD DAN ABU NU’AIM AL-ASHFAHANI:

Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam az-Zuhud hal. 289 no. 2081 dan Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Awliyaa 4/380.

Abu Nu’aim al-Ashfahani berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail.

Dan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Harb.

Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Atha bin as-Sa’ib, dari Abu al-Bakhtari, ia berkata:

أَخْبَرَ رَجُلٌ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ أَنَّ قَوْمًا يَجْلِسُونَ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، فِيهِمْ رَجُلٌ يَقُولُ: كَبِّرُوا اللهَ كَذَا وَكَذَا، سَبِّحُوا اللهَ كَذَا وَكَذَا، وَاحْمَدُوا اللهَ كَذَا وَكَذَا.

قَالَ عَبْدُ اللهِ: «فَيَقُولُونَ». قَالَ: نَعَمْ.

قَالَ: «فَإِذَا رَأَيْتَهُمْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَأْتِنِي فَأَخْبِرْنِي بِمَجْلِسِهِمْ»، فَأَتَاهُمْ وَعَلَيْهِ بُرْنُسٌ لَهُ فَجَلَسَ، فَلَمَّا سَمِعَ مَا يَقُولُونَ قَامَ، وَكَانَ رَجُلًا حَدِيدًا،

فَقَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ، وَاللهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظُلْمًا، أَوْ لَقَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا». ‌

فَقَالَ ‌مِعْضَدٌ: ‌وَاللهِ ‌مَا ‌جِئْنَا ‌بِبِدْعَةٍ ‌ظُلْمًا، وَلَا فَضَلْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عِلْمًا. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ عُتْبَةَ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، نَسْتَغْفِرُ اللهَ.

قَالَ: «عَلَيْكُمْ بِالطَّرِيقِ فَالْزَمُوهُ، فَوَاللهِ لَئِنْ فَعَلْتُمْ لَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، وَلَئِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَتَضِلُّنَّ ضَلَالًا بَعِيدًا»

seseorang mengabarkan kepada Abdullah bin Mas‘ud bahwa ada sekelompok orang yang duduk di masjid setelah salat Magrib. Di antara mereka ada seorang yang berkata: “Bertakbirlah kepada Allah sekian dan sekian, bertasbihlah kepada Allah sekian dan sekian, dan bertahmidlah kepada Allah sekian dan sekian.”

Abdullah berkata: “Apakah mereka mengucapkannya?”

Ia menjawab: “Ya.”

Abdullah berkata: “Jika engkau melihat mereka melakukan hal itu, datanglah kepadaku dan beritahukan kepadaku tempat duduk mereka.”

Lalu Abdullah mendatangi mereka dengan mengenakan burdus dan duduk bersama mereka. Ketika ia mendengar apa yang mereka ucapkan, ia pun berdiri. Ia adalah seorang yang tegas. Ia berkata: “Aku adalah Abdullah bin Mas‘ud. Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, sungguh kalian telah mendatangkan suatu bid‘ah yang zalim, atau sungguh kalian telah mengungguli para sahabat Muhammad dalam hal ilmu.”

Maka Mi‘dhad berkata: “Demi Allah, kami tidak datang membawa bid‘ah yang zalim dan kami tidak mengungguli para sahabat Muhammad dalam hal ilmu.”

Lalu Amru bin Utbah berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, kami memohon ampun kepada Allah.”

Abdullah berkata: “Hendaklah kalian tetap berada di jalan yang benar dan berpegang teguhlah padanya. Demi Allah, jika kalian melakukannya, sungguh kalian akan mendahului dengan keunggulan yang jauh. Dan jika kalian mengambil jalan ke kanan dan ke kiri, niscaya kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh.”

Abu Nu’aim berkata setelahnya:

"رَوَاهُ زَائِدَةُ وَجَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَطَاءٍ، وَرَوَاهُ قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، وَأَبُو الزَّعْرَاءِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ". انتهى .

“Atsar ini diriwayatkan oleh Zaidah dan Ja’far bin Sulaiman dari Atha, dan diriwayatkan pula oleh Qais bin Abi Hazim dan Abu az-Za’ra’ dari Abdullah bin Mas’ud”. [Selesai].

===

STATUS SANAD ATSAR:

Pertama :

Di dalam sanad terdapat Abdu Salam bin Harb. Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra 6/360 no. 2692 berkata :

عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ الْمُلَائِيُّ. وَيُكْنَى أَبَا بَكْرٍ. تُوُفِّيَ بِالْكُوفَةِ سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِينَ وَمِائَةٍ فِي خِلَافَةِ هَارُونَ. وَكَانَ بِهِ ضَعْفٌ فِي الْحَدِيثِ. وَكَانَ عَسِرًا.

“Abdus Salam bin Harb al-Mula’i. Kunyah-nya Abu Bakar. Ia wafat di Kufah pada tahun 187 H, pada masa kekhalifahan Harun. Ia memiliki kelemahan dalam periwayatan hadis, dan ia dikenal bersikap sulit”.

Namun ada yang mengatakan :

عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبِ بْنِ سَلَمَةَ النَّهْدِيُّ الْمُلَائِيُّ الْكُوفِيُّ ثِقَةٌ حَافِظٌ، إِلَّا أَنَّهُ لَهُ مَنَاكِيرُ.

“Abdussalam bin Harb bin Salamah an-Nahdi al-Mula’i al-Kufi adalah seorang perawi yang tsiqah dan hafidzh. Namun, ia memiliki sejumlah riwayat hadits yang munkar”. (Muslim 88, al-Jarh 6/46, at-Taqrib 1/505)

Kedua :

Bahwa dalam riwayat ‘Atha’ bin as-Sa’ib dari Abu al-Bukhtari terdapat kelemahan. Atha bin as-Sa’ib mengalami ikhtilath (kekacauan hafalan) pada akhir hidupnya. Karena itu, hadis-hadisnya dari para perawi generasi awal seperti Abu al-Bakhtari dinilai lemah, sedangkan riwayatnya dari para perawi generasi belakangan dinilai lebih kuat.

Adz-Dzahabi berkata dalam al-Kawakib an-Nayirat (hal. 61):

وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَلِيَّةَ: قَالَ لِي شُعْبَةُ: مَا حَدَّثَكَ عَطَاءٌ عَنْ رِجَالِهِ زَاذَانَ وَمَيْسَرَةَ وَأَبِي البَخْتَرِيِّ فَلَا تَكْتُبْهُ، وَمَا حَدَّثَكَ عَنْ رَجُلٍ بِعَيْنِهِ فَاكْتُبْهُ. اهـ

“Isma‘il bin ‘Ulayyah berkata: Syu‘bah berkata kepadaku: apa saja yang diriwayatkan ‘Atha’ kepadamu dari para perawinya seperti Zadzan, Maysarah, dan Abu al-Bukhtari, maka jangan engkau tulis. Adapun apa yang ia riwayatkan kepadamu dari seorang perawi tertentu secara jelas, maka tulislah”. [Selesai].

****

KEEMPAT : RIWAYAT IBNU WADHDHOOH :

===

Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke 1 :

Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Waddah al-Qurtubi dalam *al-Bida‘ wa al-Nahy ‘anha* (hal. 21), beliau berkata: Aku meriwayatkan dari Asad dari Jarir bin Hazim dari al-Salt bin Bahram, ia berkata:

‌مَرَّ ‌ابْنُ ‌مَسْعُودٍ ‌بِامْرَأَةٍ ‌مَعَهَا ‌تَسْبِيحٌ ‌تُسَبِّحُ ‌بِهِ ، ‌فَقَطَعَهُ ‌وَأَلْقَاهُ ، ثُمَّ مَرَّ بِرَجُلٍ يُسَبِّحُ بِحَصًا ، فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ثُمَّ قَالَ: «لَقَدْ سُبِقْتُمْ ، رَكِبْتُمْ بِدْعَةً ظُلْمًا ، أَوْ لَقَدْ غَلَبْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا»

“Ibnu Mas‘ud melewati seorang wanita yang membawa tasbih untuk berdzikir, lalu beliau memotongnya lalu melemparnya.

Kemudian ia melewati seorang laki-laki yang berdzikir dengan kerikil, lalu beliau menendangnya dengan kakinya.

Kemudian ia berkata: ‘Sungguh kalian telah mendahului (melakukan) suatu bid‘ah secara dzalim, atau kalian telah mengungguli para sahabat Nabi Muhammad dalam ilmu.’”

STATUS SANAD ATSAR:

Sanad ini lemah; karena adanya keterputusan antara ash-Sholt bin Bahram dan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas‘ud wafat di Madinah pada tahun 32 H, sebagaimana diperkirakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam *al-Ishobah*, sedangkan ash-Sholt bin Bahram termasuk tabi’ut tabi‘in dan tidak mungkin memiliki riwayat dari sahabat generasi setelah Nabi , apalagi dari Abdullah bin Mas‘ud yang wafat pada masa kekhalifahan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa ash-Sholt termasuk tabi’ut tabi‘in sebagaimana disebut dalam *Tahdzib* (4/432).

Ibnu Waddah juga meriwayatkannya melalui Aban bin Abi ‘Ayash, yang diketahui pendusta.

Ibnu Abi Hatim dalam *al-Jarh wa al-Ta‘dil* (1/134) berkata:

قَالَ شُعْبَةُ: لِأَنْ أَرْتَكِبَ سَبْعِينَ كَبِيرَةً أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عِيَاشٍ. اهـ

Syu‘bah berkata: “Lebih baik bagiku melakukan tujuh puluh dosa besar daripada meriwayatkan dari Aban bin Abi ‘Ayash.”

Imam an-Nasa’i dalam *al-Du‘afa’ wa al-Matrukin* (hlm. 14) berkata:

أَبَانُ بْنُ أَبِي عِيَاشٍ مَتْرُوكُ الحَدِيثِ وَهُوَ أَبَانُ بْنُ فِيرُوزَ أَبُو إِسْمَاعِيلَ. اهـ

“Aban bin Abi ‘Ayash ditinggalkan riwayatnya, ia adalah Aban bin Fayruz Abu Isma‘il.”

===

Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke 2 :

Ibnu Waddah juga meriwayatkannya dalam *al-Bida‘ wa al-Nahy ‘anha* (hlm. 38 no. 16), ia berkata: “Aku meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Rajaa‘ dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Yasar Abu al-Hakam:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ حُدِّثَ أَنَّ أُنَاسًا بِالْكُوفَةِ يُسَبِّحُونَ بِالْحَصَا فِي الْمَسْجِدِ ، فَأَتَاهُمْ ، وَقَدْ كَوَّمَ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَوْمَةَ حَصًا ، قَالَ: فَلَمْ يَزَلْ يَحْصِبُهُمْ بِالْحَصَا حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ ، وَيَقُولُ: «لَقَدْ أَحْدَثْتُمْ بِدْعَةً ظُلْمًا ، أَوْ قَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا»

Bahwa Abdullah bin Mas’ud diceritakan kepadanya bahwa ada sekelompok orang di Kufah yang bertasbih menggunakan kerikil di masjid. Maka ia mendatangi mereka, sedangkan setiap orang dari mereka telah menumpuk kerikil di depannya. Ia pun terus melemparkan kerikil kepada mereka sampai mengusir mereka dari masjid, seraya berkata:

“Sesungguhnya kalian telah membuat bid’ah secara zalim, atau kalian telah mengungguli para sahabat Muhammad dalam ilmu.”

STATUS SANAD :

Sanad ini juga lemah; karena terputus antara Sayyar Abu al-Hakam dan Abdullah bin Mas‘ud. Sayyar termasuk tabi’ut tabi‘in sebagaimana dijelaskan oleh hafidzh Ibnu Hajar dalam *Tahdzib* (4/291).

===

Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke 3 :

Ibnu Waddah juga meriwayatkannya dalam *al-Bida‘ wa al-Nahy ‘anha* (hlm. 39 no. 17)

Ia berkata : Telah menceritakan kepada saya Ibrahim bin Muhammad, dari Harmalah, dari Ibn Wahb, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibn Sam’an, ia berkata:

بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى أُنَاسًا يُسَبِّحُونَ بِالْحَصَا ، فَقَالَ: «عَلَى اللَّهِ تُحْصُونَ ، لَقَدْ سَبَقْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عِلْمًا ، أَوْ لَقَدْ أَحْدَثْتُمْ بِدْعَةً ظُلْمًا»

Kami diberitakan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia melihat sekelompok orang yang bertasbih menggunakan kerikil, lalu ia berkata:

“Kepada Allah kalian menghitungnya (menghitung amal kalian), sesungguhnya kalian telah mendahului para sahabat Muhammad dalam ilmu, atau sesungguhnya kalian telah menciptakan bid’ah secara zalim.”

STATUS SANAD:

Sanad ini batil; karena dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Ziyad bin Samaan yang pendusta.

Ibnu Abi Hatim dalam *al-Jarh wa al-Ta‘dil* (5/60) berkata:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ قَالَ: سَأَلْتُ مَالِكًا عَنْ بْنِ سَمْعَانَ فَقَالَ كَذَّابٌ... قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْوَرُ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ يَعْنِي عَبْدَ الْوَاحِدِ بْنَ وَاصِلٍ قَالَ: كَانَ عِنْدَهُ بْنُ سَمْعَانَ وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقٍ فَقَالَ بْنُ سَمْعَانَ: حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ. فَقَالَ بْنُ إِسْحَاقٍ: كَذَبَ وَاللَّهُ، أَنَا أَكْبَرُ مِنْهُ، وَمَا رَأَيْتُ

“Dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim, ia berkata: Aku bertanya kepada Malik tentang Ibnu Samaan, ia berkata: “Ia pendusta.” Yahya bin Ma’in berkata: “Al-Hajjaj bin Muhammad al-A‘war meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah, maksudnya ‘Abd al-Wahid bin Wasil, ia berkata: ‘Di hadapannya ada Ibnu Samaan dan Muhammad bin Ishaq.’ Ibnu Samaan berkata: ‘Mujahid meriwayatkan kepadaku.’ Ibnu Ishaq berkata: ‘Dusta, demi Allah, aku lebih tua darinya dan aku belum pernah melihatnya…’” [Selesai]

Dan lihat: Mizān al-I‘tidāl Jilid 2/423, dan lihat: al-Majrūḥīn karya Ibn Hibban Jilid 2/15. Ibn Sam‘ān adalah: (madq) ‘Abdullāh bin Ziyād bin Sulaymān bin Sam‘ān al-Makhzūmī, Abu ‘Abdurrahmān al-Madani, mawla Umm Salamah, ditinggalkan (matrūk). Ia dituduh oleh Abu Dawud dan dicap berdusta.

Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wa al-Ta‘dil Jilid 5/62:

أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ يَقُولُ: أَظُنُّ ابْنَ سَمْعَانَ كَانَ يَضَعُ لِلنَّاسِ، يَعْنِي الْحَدِيثَ.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: ابْنُ سَمْعَانَ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ، سَبِيلُهُ سَبِيلُ التَّرْكِ. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: امْتَنَعَ أَبُو زُرْعَةَ مِنْ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْنَا حَدِيثَ ابْنِ سَمْعَانَ، وَقَالَ: هُوَ لَا شَيْءَ.

Ahmad bin Shalih berkata: Aku menduga Ibnu Sam’an biasa membuat-buatkan untuk orang-orang, maksudnya hadits palsu.

Abdurrahman berkata: Aku mendengar ayahku berkata, “Ibnu Sam’an lemah dalam hadis, cara menyikapinya adalah sebagaimana menyikapi orang yang ditinggalkan.”

Abu Muhammad berkata: Abu Zur‘ah enggan membacakan kepada kami hadits Ibnu Sam’an dan berkata, “Ia tidak ada nilainya.”

Dan lihat: Tahdzīb al-Tahdzīb Jilid 5/220–221.

===

Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke 4 :

Ibnu Waddah dalam al-Bida’ hal. 39 no. 18 berkata : Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Sa‘id, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Asad bin Musa, dari Yahya bin ‘Isa, dari al-A‘masy, dari sebagian kawan-nya, ia berkata:

"‌مَرَّ ‌عَبْدُ ‌اللَّهِ ‌بِرَجُلٍ ‌يَقُصُّ ‌فِي ‌الْمَسْجِدِ ‌عَلَى ‌أَصْحَابِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: سَبِّحُوا عَشْرًا، وَهَلِّلُوا عَشْرًا، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: إِنَّكُمْ لَأَهْدَى مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَضَلُّ، بَلْ هَذِهِ، بَلْ هَذِهِ، يَعْنِي: أَضَلُّ".

“Abdullah melewati seorang lelaki yang sedang bercerita di masjid kepada para sahabatnya, sementara ia berkata: “Bertasbihlah sepuluh kali dan bertahlillah sepuluh kali.” Maka Abdullah berkata: “Sungguh kalian ini lebih mendapat petunjuk daripada para sahabat Muhammad ataukah lebih sesat.” Lalu ia berkata: “Bahkan ini, bahkan ini,” maksudnya: lebih sesat”.

STATUS SANAD :

Sanadnya lemah sekali; karena di dalam sanadnya terdapat dua ilat:

[1] Perawi yang tidak disebutkan namanya, yaitu salah seorang kawannya al-A’masy.

[2] Yahya bin Isa, dia shoduq dan sering salah dalam periwayatan.

Pentahqiq al-I’tishom karya asy-Syathibi 2/339 (Cet. Dar Ibnu al-Jauzi) menjelaskan:

وَشَيْخُ الْأَعْمَشِ لَمْ يُسَمَّ، وَيَحْيَى بْنُ عِيسَى صَدُوقٌ يُخْطِئُ، كَمَا فِي «التَّقْرِيبِ» (٧٦٦٩)

“Syeikhnya al-A‘masy tidak disebutkan namanya, dan Yahya bin ‘Isa adalah seorang yang shoduuq tetapi sering melakukan kesalahan, sebagaimana disebutkan dalam kitab “at-Taqrib” nomor 7669”.

===

Riwayat Ibnu Wadhdhoh ke 5.

Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’ wa an-Nahyi ‘anha hal. 40 no. 22 berkata:

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Mu‘awiyah, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Zar‘a, ia berkata:

"‌جَاءَ ‌الْمُسَيِّبُ ‌بْنُ ‌نُجَيْدٍ ‌إِلَى ‌عَبْدِ ‌اللَّهِ ‌فَقَالَ: إِنِّي تَرَكْتُ فِي الْمَسْجِدِ رِجَالًا يَقُولُونَ: سَبِّحُوا ثَلَاثَمِائَةٍ وَسِتِّينَ، فَقَالَ: قُمْ يَا عَلْقَمَةُ وَاشْغَلْ عَنِّي أَبْصَارَ الْقَوْمِ، فَجَاءَ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَسَمِعَهُمْ يَقُولُونَ فَقَالَ: «إِنَّكُمْ لَتُمْسِكُونَ بِأَذْنَابِ ضَلَالٍ، أَوْ إِنَّكُمْ لَأَهْدَى مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ نَحْوَ هَذَا»

Al-Musayyib bin Nujayd datang kepada Abdullah (bin Mas’ud), lalu berkata: “Sesungguhnya aku meninggalkan di masjid beberapa orang yang berkata: ‘Bertasbihlah tiga ratus enam puluh kali.’”

Maka ia berkata: “Berdirilah wahai Alqamah dan alihkan pandangan orang-orang itu dariku.”

Lalu ia datang dan berdiri di hadapan mereka, kemudian mendengar apa yang mereka ucapkan, lalu ia berkata: “Sungguh kalian benar-benar berpegang pada ujung-ujung kesesatan, atau sungguh kalian lebih mendapat petunjuk daripada para sahabat Muhammad , atau semisal ucapan ini.”

STATUS SANAD :

Al-Baihaqi dalam al-Ba’tsu wa an-Nusyuur hal. 357 berkata :

أَبُو الزَّعْرَاءُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَانِئٍ الْكُوفِيُّ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ. قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَلَا يُتَابَعُ فِي حَدِيثِهِ

Abu Za’raa’ adalah Abdullah bin Hani al-Kufi, meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Al-Bukhari berkata, “Ia tidak ada mutaba’ah (penguat) dalam hadisnya.” (Lihat: at-Tarikh al-Kabir 5/221).

Al-Aini dalam Syarah Sunan Abu Daud 6/403 di bawah hadits no. 1769 berkata:

أَبُو الزَّعْرَاءِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَانِي الْكُوفِيُّ الْكِنْدِيُّ. سَمِعَ: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ. رَوَى عَنْهُ: سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ. قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَلَا يُتَابَعُ فِي حَدِيثِهِ. وَقَالَ النَّسَائِيُّ وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ: لَا نَعْلَمُ أَحَدًا رَوَى عَنْهُ إِلَّا سَلَمَةَ بْنَ كُهَيْلٍ. وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: وَالَّذِي قَالَ النَّسَائِيُّ كَمَا قَالَ، وَيَرْوِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ عَنْ أَبِي الزَّعْرَاءِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ كَانَ قَدْ سَمِعَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَيَرْوِي عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِيهِ، وَغَيْرِهِمْ.

Abu Az-Za‘rā, dia adalah Abdullah bin Hāni al-Kūfi al-Kindi.

Ia mendengar dari Abdullah bin Mas‘ud. Yang meriwayatkan darinya adalah Salamah bin Kuhail.

Al-Bukhari berkata: hadisnya tidak memiliki mutābi‘.

An-Nasā’i dan ‘Ali bin al-Madini berkata: kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan darinya selain Salamah bin Kuhail.

Ibnu ‘Adi berkata: apa yang dikatakan an-Nasā’i adalah sebagaimana adanya, dan Salamah bin Kuhail meriwayatkan dari Abu Az-Za‘rā’, dari Ibnu Mas’ud jika memang ia mendengar dari Abdullah bin Mas‘ud, dan juga meriwayatkan dari Abu al-Ahwash, dari ayahnya, serta dari selain mereka”.

***

KELIMA : RIWAYAT ABDUR ROZZAQ :

Di antaranya adalah riwayat yang dibawakan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 3/222 dari Ma’mar, dari Atha bin as-Saib. Ia berkata:

سَمِعَ ‌ابْنَ ‌مَسْعُودٍ، ‌بِقَوْمٍ ‌يَخْرُجُونَ ‌إِلَى ‌الْبَرِّيَّةِ مَعَهُمْ قَاصٌّ يَقُولُ: سَبِّحُوا، ثُمَّ قَالَ: «أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، وَلَقَدْ فَضَلْتُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمَا، أَوْ لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظَلْمَاءَ، وَإِنْ تَكُونُوا قَدْ أَخَذْتُمْ بِطَرِيقَتِهِمْ، فَقَدْ سَبَقُوا سَبْقًا بَعِيدًا، وَإِنْ تَكُونُوا خَالَفْتُمُوهُمْ فَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا، عَلَى مَا تُعَدِّدُونَ أَمْرَ اللَّهِ؟»

Ibnu Mas’ud mendengar tentang suatu kaum yang keluar ke padang pasir bersama seorang penceramah yang berkata: “bertasbihlah!”.

Kemudian ia berkata:

“Aku adalah Abdullah bin Mas’ud. Sungguh kalian telah mengungguli para sahabat Muhammad dalam ilmu, atau sungguh kalian telah datang dengan bid’ah yang gelap gulita.

Jika kalian telah mengambil jalan mereka (para sahabat), maka sungguh mereka telah mendahului dengan jarak yang sangat jauh. Namun jika kalian menyelisihi mereka, maka sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh. Atas dasar apa kalian menghitung perintah Allah?”.

STATUS SANAD :

Sanadnya terputus , lemah sekali.

Karena Atha bin as-Sa’ib ats-Tsaqafi(wafat 136 H, dia adalah seorang tabi‘in dan ahli hadits Kufah dari kalangan maula Bani Tsaqif.

Sementara Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 32 H.

===***=== 

KESIMPULAN STATUS SANAD DAN FIQIH ATSAR IBNU MAS’UD

Secara umum, atsar ini dengan seluruh redaksi yang ada di dalamnya sama sekali tidak mungkin dipertentangkan dengan hadis-hadis sahih yang tetap dan marfu’ kepada Nabi yang menunjukkan dianjurkannya dzikir berjamaah, karena beberapa alasan:

Pertama: atsar dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tersebut diperselisihkan antara shahih dan tidaknya.

Namun dalam Majallah al-Jami’ah al-Islamiyah- al-Madinah al-Munawwarah 33/32 di katakan:

فَهٰذِهِ الْمَقُولَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ إِنْ لَمْ يَصِحَّ سَنَدُهَا فَمَعْنَاهَا صَحِيحٌ

“Maka perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas‘ud ini, meskipun sanadnya tidak sahih, namun maknanya shahih”.

Kedua: andaikata dianggap sahih, maka atsar sahabat tetap tidak dapat menandingi hadis-hadis Nabi . Bahkan hadis-hadis itu pasti didahulukan ketika terjadi pertentangan, karena atsar tersebut hanyalah perbuatan seorang sahabat dan bukan hujah. Hujah yang sebenarnya hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketiga: atsar itu dipahami bahwa orang-orang tersebut mengeraskan suara dengan sangat berlebihan, sehingga larangan diarahkan kepada mereka.

Keempat: hanya saja mereka benar-benar mengganggu orang-orang yang berada di masjid ketika mereka berdzikir dengan suara nyaring yang berlebihan.

Kelima: telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam atsar yang sama yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, bahwa beliau memerintahkan halaqah yang datang belakangan untuk bergabung dengan halaqah yang lebih dahulu. Seandainya duduk berhalaqah untuk berzikir itu bid’ah, tentu Abdullah bin Mas’ud tidak akan meridhai satu halaqah pun, apalagi lebih dari satu.

Dimana dalam riwayat Abdur Rozzaq dan Ath-Thobroni di sebutkan:

قَالَ: وَرَأَى ابْنُ مَسْعُودٍ حَلْقَتَيْنِ فِي مَسْجِدِ الْكُوفَةِ فَقَامَ مِنْهُمَا فَقَالَ: «أَيَّتُكُمَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؟»

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا: نَحْنُ، فَقَالَ لِلْأُخْرَى: «قُومَا إِلَيْهَا» فَجَعَلَهُمْ وَاحِدَةً

Ia berkata: Ibnu Mas‘ud juga melihat dua halaqah di Masjid Kufah, lalu ia berdiri di hadapan keduanya dan berkata:

“Yang manakah di antara kalian berdua yang lebih dahulu ada sebelum yang lain?”

Salah satunya berkata: “Kami”.

Maka ia berkata kepada yang lain: “Berdirilah dan bergabunglah dengan mereka, lalu ia menjadikan keduanya satu halaqah”. [SELESAI]

Keenam: hal itu dinafikan dari Ibnu Mas’ud oleh tabi’i Abu Wa’il. Ia berkata bahwa orang-orang yang mengklaim Abdullah melarang dzikir itu tidak benar, karena ia tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam suatu majelis pun kecuali di dalamnya ada dzikir kepada Allah.

 ****

PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG ATSAR IBNU MAS’UD

Berikut ini, wahai pembaca yang mulia, beberapa pernyataan para ulama tentang atsar ini:

Imam as-Suyuthi rahimahullah ta’ala berkata dalam kitab *al-Hawi lil-Fatawi* (1/379):

فَإِنْ قُلْتَ، فَقَدْ نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ. قُلْتُ: هَذَا الْأَثَرُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ يَحْتَاجُ إِلَى بَيَانِ سَنَدِهِ وَمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْحُفَّاظِ فِي كُتُبِهِمْ، وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَهُوَ مُعَارَضٌ بِالْأَحَادِيثِ الْكَثِيرَةِ الثَّابِتَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَهِيَ مُقَدَّمَةٌ عَلَيْهِ عِنْدَ التَّعَارُضِ، ثُمَّ رَأَيْتُ مَا يَقْتَضِي إِنْكَارَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ: ثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُ عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ.

Jika engkau berkata: telah dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid, lalu beliau berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid.

Aku jawab: atsar dari Ibnu Mas’ud ini perlu diteliti sanadnya dan siapa saja dari kalangan para imam hafidzh yang meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka.

Dan seandainya pun atsar itu sahih, maka ia bertentangan dengan banyak hadits sahih yang telah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis tersebut harus didahulukan atasnya ketika terjadi pertentangan. Kemudian aku melihat riwayat yang menunjukkan pengingkaran terhadap penisbatan atsar tersebut kepada Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam kitab *az-Zuhd*: telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami al-Mas’udi, dari Amir bin Syaqiq, dari Abu Wa’il, ia berkata: “Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah bin Mas’ud melarang dzikir itu tidak benar. Aku tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam suatu majelis pun kecuali di dalamnya ada dzikir kepada Allah.”

Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam *al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra* (1/177):

وَأَمَّا مَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَلَمْ يَصِحَّ عَنْهُ بَلْ لَمْ يَرِدْ؛ وَمِنْ ثَمَّ أَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ؛ مَا جَالَسْتُ عَبْدَ اللَّهِ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. اِنْتَهَى.

“Adapun apa yang dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau melihat suatu kaum yang bertahlil dengan mengeraskan suara di masjid lalu berkata: “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid, maka hal itu tidak sahih dinisbatkan kepadanya, bahkan tidak tetap. Oleh karena itu, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata: “Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah bin Mas’ud melarang dzikir itu tidak benar. Aku tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam suatu majelis pun kecuali di dalamnya ada dzikir kepada Allah.” Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya”. [Selesai].

Dan imam ahli hadits al-Manawi berkata dalam Faidh al-Qadir (1/457):

وَأَمَّا مَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ، وَأَمَرَ بِإِخْرَاجِهِمْ، فَغَيْرُ ثَابِتٍ. وَبِفَرْضِ ثُبُوتِهِ يُعَارِضُهُ مَا فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لِأَحْمَدَ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يَنْهَى عَنِ الذِّكْرِ، مَا جَالَسْتُهُ مَجْلِسًا قَطُّ إِلَّا ذَكَرَ اللَّهَ فِيهِ. اهـ

Adapun riwayat yang dinukil dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau melihat sekelompok orang bertahlil dengan suara keras di masjid lalu berkata, Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,” Kemudian beliau memerintahkan agar mereka dikeluarkan, maka riwayat itu tidak tsabit (tidak sahih). 

Dan andaikata pun dianggap sahih, maka ia bertentangan dengan riwayat yang ada dalam Kitab az-Zuhd karya Ahmad dari Syaqiq bin Abi Wa’il yang berkata:

Orang-orang yang mengklaim bahwa Abdullah pernah melarang dzikir (bersama), maka aku tidak pernah duduk bersama Abdullah dalam satu majelis pun kecuali ia selalu berdzikir kepada Allah di dalamnya.” [Selesai].

Dan al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata dalam Ruh al-Ma‘ani (6/163):

وَمَا ذُكِرَ فِي الْوَاقِعَاتِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مِنْ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُهَلِّلُونَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ: مَا أَرَاكُمْ إِلَّا مُبْتَدِعِينَ حَتَّى أَخْرَجَهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ، لَا يَصِحُّ عِنْدَ الْحُفَّاظِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُحَدِّثِينَ، وَعَلَى فَرْضِ صِحَّتِهِ هُوَ مُعَارِضٌ بِمَا يَدُلُّ عَلَى ثُبُوتِ الْجَهْرِ مِنْهُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، مِمَّا رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْحُفَّاظِ، أَوْ مَحْمُولٌ عَلَى الْجَهْرِ الْبَالِغِ. انْتَهَى

Apa yang disebutkan dalam sebagian riwayat tentang Ibnu Mas’ud bahwa beliau melihat sekelompok orang bertahlil dengan suara keras di masjid lalu berkata, “Aku tidak melihat kalian kecuali sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah,” hingga beliau mengeluarkan mereka dari masjid, maka hal itu tidak sahih menurut para imam ahli hadits dari kalangan para hafidz.

Dan seandainya pun dianggap sahih, maka ia bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan adanya dzikir dengan suara keras dari beliau radhiyallahu ta’ala ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh lebih dari satu orang dari kalangan para hafidz, atau dipahami bahwa yang dilarang adalah suara yang terlalu keras”. [Selesai].

===***===

HUKUM DUDUK BERSAMA DI MAJLIS DZIKIR

Berkata al-Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar halaman 9:

اِعْلَمْ أَنَّهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ الذِّكْرُ يُسْتَحَبُّ الْجُلُوسُ فِي حِلَقِ أَهْلِهِ، وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ، وَسَتَرِدُ فِي مَوَاضِعِهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، وَيَكْفِي فِي ذَلِكَ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا».

قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟!

قَالَ: «حِلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّارَاتٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ».

“Ketahuilah bahwa sebagaimana dianjurkan untuk berdzikir, dianjurkan pula untuk duduk dalam majelis-majelis orang yang berdzikir.

Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak dan saling menguatkan, dan akan disebutkan pada tempat-tempatnya insya Allah ta‘ala. Cukuplah dalam hal ini hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Rasulullah bersabda: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah di sana.”

Para sahabat bertanya: “Apakah taman-taman surga itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Majelis-majelis dzikir. Sesungguhnya Allah ta‘ala memiliki para malaikat yang berkeliling, mereka mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukannya, mereka mengelilinginya.” [Selesai]

Al-Imam an-Nawawi menisbatkan hadits ini kepada Ibnu Umar sebagaimana terlihat, namun tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkannya darinya.

Yang benar hadits ini terdapat dalam Musnad, Sunan at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman dari jalur Anas. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir dari Ibnu Abbas, oleh at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dan oleh Ibnu Abi ad-Dunya, Abu Ya‘la, ath-Thabrani, al-Bazzar, al-Hakim, serta al-Baihaqi dari hadits Jabir.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam al-Amaali ‘Alaa Al-Adzkar:

لَمْ أَجِدْهُ، يَعْنِي، الْحَدِيثَ، مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ، وَلَا بَعْضَهُ لَا فِي الْكُتُبِ الْمَشْهُورَةِ، وَلَا فِي الْأَجْزَاءِ الْمَنْثُورَةِ

“Aku tidak menemukannya, maksudnya hadits tersebut, dari jalur Ibnu Umar, baik seluruhnya maupun sebagiannya, tidak dalam kitab-kitab yang masyhur dan tidak pula dalam juz-juz yang terpisah.” [Lihat: Tuhfatul Abroor oleh as-Sayuthi hal. 26 dan al-Futuhat ar-Rabbaniyah oleh Ibnu ‘Alan 1/93]

Al-Hafidz as-Suyuthi berkata dalam Tuhfat al-Abrar bi Nukat al-Adzkar hal. (26):

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ فِي (أَمَالِي الْأَذْكَارِ): وَإِنَّمَا وَجَدْتُهُ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ بِمَعْنَاهُ مُخْتَصَرًا، قَالَ: وَأَخْرَجَ أَبُو نُعَيْمٍ فِي (الْحِلْيَةِ) مِنْ طَرِيقِ يُوسُفَ الْقَاضِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرِّقَادِ – فِي الْأَصْلِ: الزِّنَا، وَهُوَ تَحْرِيفٌ – حَدَّثَنَا زِيَادٌ النُّمَيْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا». قَالُوا: وَأَيْنَ لَنَا بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فِي الدُّنْيَا؟ قَالَ: «إِنَّهَا فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ».

وَأَخْرَجَ أَبُو نُعَيْمٍ أَيْضًا مِنْ طَرِيقِ الْحَسَنِ بْنِ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرِّقَادِ، عَنْ زِيَادٍ النُّمَيْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ لِلَّهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ، وَبَعَثُوا رَائِدَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ سُبْحَانَهُ، فَيَقُولُ وَهُوَ أَعْلَمُ: أَتَيْنَا عَلَى عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُونَ آلَاءَكَ، وَيَتْلُونَ كِتَابَكَ، وَيُصَلُّونَ عَلَى نَبِيِّكَ، وَيَسْأَلُونَ لِآخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ، فَيَقُولُ: غَشُّوهُمْ رَحْمَتِي، هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى جَلِيسُهُمْ».

قُلْتُ: الظَّاهِرُ أَنَّ الْحَدِيثَيْنِ حَدِيثٌ وَاحِدٌ لِاتِّحَادِ الرُّوَاةِ، فَجَمَعَ النَّوَوِيُّ بَيْنَهُمَا، وَاخْتَصَرَ بَقِيَّةَ الْحَدِيثِ، وَأَرَادَ أَنْ يَقُولَ: حَدِيثُ أَنَسٍ، فَسَبَقَ قَلَمُهُ إِلَى ابْنِ عُمَرَ.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Amali al-Adzkar: “Aku hanya menemukannya dari hadits Jabir dengan makna yang serupa secara ringkas.” Ia berkata:

Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam al-Hilyah melalui jalur Yusuf al-Qadhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bakr, telah menceritakan kepada kami Zaidah bin Abi ar-Raqqad, dalam naskah tertulis ‘az-zina’ dan itu adalah kesalahan tulis, telah menceritakan kepada kami Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.”

Mereka bertanya: “Di mana kami mendapatkan taman-taman surga di dunia?”

Beliau menjawab: “Ia ada pada majelis-majelis dzikir.”

Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur al-Hasan bin Sufyan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bakr, telah menceritakan kepada kami Zaidah bin Abi ar-Raqqad, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas, dari Nabi , beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukannya, mereka mengelilinginya dan mengutus wakil mereka ke langit, kepada Rabb Yang Maha Perkasa. Maka Allah bertanya, padahal Dia Maha Mengetahui: ‘Apa yang mereka lakukan?’

Mereka menjawab: ‘Kami mendatangi hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, membaca kitab-Mu, bershalawat kepada Nabi-Mu, dan memohon untuk akhirat dan dunia mereka.’

Maka Allah berfirman: ‘Limpahkanlah rahmat-Ku kepada mereka, mereka adalah kaum yang siapa pun yang duduk bersama mereka tidak akan celaka.’”

Aku berkata (as-Sayuthi) : Yang tampak adalah bahwa kedua hadits ini sebenarnya satu hadits karena kesamaan para perawinya. Maka an-Nawawi menggabungkan keduanya dan meringkas sisa haditsnya, dan beliau bermaksud menyebut hadits Anas, namun pena beliau tergelincir menyebut Ibnu Umar”. [Kutipan Selesai]

Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij al-Adzkar hal. 9 berkata :

أَقُولُ: وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ بِطُرُقِهِ وَشَوَاهِدِهِ، وَلِذَلِكَ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ.

“Aku katakan: Hadits ini hasan dengan berbagai jalur dan penguatnya, oleh karena itu at-Tirmidzi dan selainnya juga menghasankannya”. [Sls]

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri, ia berkata:

خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ، قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي،

وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا،

قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ،

قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»

Mu‘awiyah datang menemui sebuah halaqah di masjid, lalu bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk di sini?”

Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah.”

Ia berkata, “Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.”

Ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, dan tidak ada seorang pun yang kedudukannya di sisi Rasulullah lebih sedikit meriwayatkan hadis darinya selain aku. Sesungguhnya Rasulullah pernah mendatangi sebuah halaqah dari para sahabatnya, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang membuat kalian duduk?’

Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada kami menuju Islam dan karunia-Nya kepada kami.’

Beliau bersabda, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?’

Mereka menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.’

Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, tetapi Jibril telah datang kepadaku dan memberitahuku bahwa Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.’”

[HR. Muslim no. 2701]

Dari Al-Aghar Abu Muslim, ia berkata:

أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri bahwa keduanya bersaksi atas Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”

(HR. Muslim no. 2700 dan at-Tirmidzi no. 3587)

Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah tidak membatasi cara berdzikirnya.

 ===***===

APAKAH DAPAT PAHALA ATAS NIAT-NYA, JIKA TIDAK TAHU BAHWA ITU BID’AH?

Apakah seseorang diberi pahala apabila ia bermaksud melakukan kebaikan, namun tidak mengetahui bahwa perbuatan itu termasuk bid‘ah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab al-Iqtidho’ (hlm. 290), ketika menjelaskan makna pembahasan sebelumnya:

لَا رَيْبَ أَنَّ مَنْ فَعَلَهَا مُتَأَوِّلًا مُجْتَهِدًا أَوْ مُقَلِّدًا كَانَ لَهُ أَجْرٌ عَلَى حُسْنِ قَصْدِهِ وَعَلَى عَمَلِهِ؛ مِنْ حَيْثُ مَا فِيهِ مِنَ الْمَشْرُوعِ، وَكَانَ مَا فِيهِ مِنَ الْمُبْتَدَعِ مَغْفُورًا لَهُ إِذَا كَانَ فِي اجْتِهَادِهِ أَوْ تَقْلِيدِهِ مِنَ الْمَعْذُورِينَ؛ اهـ

“Tidak diragukan bahwa orang yang melakukannya dengan takwil, karena ijtihad, atau karena taqlid, maka ia memperoleh pahala atas niat baiknya dan atas amalnya dari sisi yang disyariatkan. Adapun bagian yang mengandung bid‘ah, maka hal itu diampuni baginya apabila dalam ijtihad atau taqlidnya ia termasuk orang yang mendapat uzur”. [SELESAI]

Di antaranya adalah:

A] Perkataan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuma, serta para tabi‘in al-Hasan al-Bashri dan Sa‘id bin Jubair rahimahumallah: Telah diriwayatkan dari mereka ucapan:

«لَا يَنْفَعُ قَوْلٌ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا عَمَلٌ إِلَّا بِقَوْلٍ، وَلَا قَوْلٌ وَعَمَلٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا نِيَّةٌ إِلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ»

“Tidak bermanfaat suatu ucapan kecuali dengan amal, tidak bermanfaat amal kecuali dengan ucapan, tidak bermanfaat ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak bermanfaat niat kecuali dengan kesesuaian dengan sunnah”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah 2/803 (1089)].

Bagian yang menjadi penekanan adalah kalimat terakhir, yang secara tegas menafikan manfaat niat kecuali apabila disertai dengan kesesuaian dengan sunnah, yaitu:

«..وَلَا نِيَّةٌ إِلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ».

“dan tidak bermanfaat niat kecuali dengan kesesuaian dengan sunnah”.

Ibnu Baththah meriwayatkan dalam al-Ibanah 2/803 (1090), dan al-Lalikai dalam Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah 1/63 (18), dari al-Hasan yang berkata:

«الْإِيمَانُ قَوْلٌ، وَلَا قَوْلَ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا قَوْلَ وَعَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا قَوْلَ وَعَمَلَ وَنِيَّةَ إِلَّا بِسُنَّةٍ».

“Iman adalah ucapan, tidak ada ucapan kecuali dengan amal, tidak ada ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak ada ucapan, amal, dan niat kecuali dengan sunnah”.

Al-Lalikai meriwayatkan dalam as-Sunnah 1/64 (20) dari Sa‘id bin Jubair, ia berkata:

«لَا يُقْبَلُ قَوْلٌ إِلَّا بِعَمَلٍ، وَلَا يُقْبَلُ عَمَلٌ إِلَّا بِقَوْلٍ، وَلَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ، وَلَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ إِلَّا بِنِيَّةٍ مُوَافِقَةٍ لِلسُّنَّةِ».

“Tidak diterima suatu ucapan kecuali dengan amal, tidak diterima amal kecuali dengan ucapan, tidak diterima ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak diterima ucapan, amal, dan niat kecuali dengan niat yang sesuai dengan sunnah”.

****

FAIDAH:

Di kutip dari al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro 1/177 karya Abul Abbas, Ibnu Hajar al-Haitami :

(وَسُئِلَ) - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - عَمَّا لَفْظُهُ: صَحَّتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ بِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ» ، وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ مُسْنَدٍ وَمَرَاسِيلَ النَّهْيُ عَنْهُ، فَمَا التَّوْفِيقُ بَيْنَهُمَا وَمَا حُكْمُ كَرَاهَتِهِ؟

(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ: الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُ أَئِمَّتِنَا حَمْلُ كَرَاهَتِهِ عَلَى مَا إذَا كَانَ بِالْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ، وَكَذَا إنْ كَانَ قَاصِدًا الْمَسْجِدَ لِلصَّلَاةِ مُتَطَهِّرًا، كَمَا بَحَثَهُ بَعْضُهُمْ مُسْتَدِلًّا بِخَبَرِ أَبِي دَاوُد:

«إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ بِيَدِهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ أَوْ كَانَ مُصَلِّيًا» .

وَحِكْمَةُ الْكَرَاهَةِ حِينَئِذٍ أَنَّهُ عَبَثٌ لَا يَلِيقُ بِكُلٍّ مِنْ هَذَيْنِ، مَعَ أَنَّهُ يُوجِبُ النَّوْمَ الْمُوجِبَ لِلْحَدَثِ، وَمَعَ أَنَّ صُورَتَهُ تُشْبِهُ صُورَةَ الِاخْتِلَافِ، وَقَدْ قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِلْمُسْلِمِينَ:

«وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ» وَحَمْلُ إبَاحَتِهِ عَلَى مَا عَدَا ذَلِكَ وَاَلَّذِي عَلَيْهِ الْأَكْثَرُ تَخْصِيصُ النَّهْيِ بِالصَّلَاةِ لَا غَيْرُ.

وَصَحَّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «رَأَيْت النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ مُحْتَبِيًا بِيَدَيْهِ هَكَذَا.» زَادَ الْبَيْهَقِيّ: «وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.»

PERTANYAAN:

Beliau ditanya tentang suatu persoalan, yang bunyinya:

“Telah sahih banyak hadis yang menyebutkan bahwa Nabi menyela-nyelakan jari-jarinya. Namun terdapat pula hadis musnad dan hadis-hadis mursal yang melarang hal tersebut. Lalu bagaimana cara mengompromikan keduanya, dan bagaimana hukum kemakruhannya?”

JAWABAN :

Beliau menjawab dengan perkataannya:

“Yang ditunjukkan oleh keterangan para imam kami adalah bahwa kemakruhan menyela-nyelakan jari-jari itu dibawa pada kondisi apabila seseorang berada di masjid sedang menunggu salat, demikian pula apabila ia sedang menuju masjid untuk salat dalam keadaan telah bersuci. Sebagaimana hal ini dibahas oleh sebagian ulama dengan berdalil pada hadis Abu Dawud:

‘Apabila salah seorang dari kalian berwudu lalu menyempurnakan wudunya, kemudian keluar dengan sengaja menuju masjid, maka janganlah ia menyela-nyelakan jari-jarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam keadaan salat, atau ia sedang melaksanakan salat.’

Adapun hikmah kemakruhan dalam keadaan tersebut adalah karena perbuatan itu termasuk perbuatan sia-sia yang tidak pantas bagi kedua keadaan tersebut. Selain itu, perbuatan tersebut dapat menyebabkan rasa kantuk yang berpotensi menimbulkan hadas. Juga karena bentuknya menyerupai gambaran perpecahan, padahal Nabi telah bersabda kepada kaum muslimin:

‘Janganlah kalian berselisih, karena akan menyebabkan hati kalian berselisih.’

Adapun kebolehannya dibawa pada selain kondisi tersebut. Dan pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa larangan itu dikhususkan pada keadaan salat saja, tidak selainnya.

Dan telah sahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

‘Aku melihat Nabi di pelataran Ka’bah dalam keadaan duduk dengan bertopang pada kedua tangannya seperti ini.’

Al-Baihaqi menambahkan:

‘Dan beliau menyela-nyelakan jari-jarinya.’ [SELESAI]

Posting Komentar

0 Komentar