MUKJIZAT ILMIAH AL-QUR'AN TENTANG PROSES AWAN CUMULUS BERTUMPUK (CUMULONIMBUS)
---
Di Susun Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
----
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- TITIK MUKJIZAT DALAM AYAT:
- PENJELASAN PARA AHLI TAFSIR TENTANG AYAT.
- AHLI TAFSIR TERDAHULU
- AHLI TAFSIR KONTEMPORER
- AWAN INI TERBENTUK DARI TIGA LAPISAN:
- “FAKTA ILMIYAH TAHAPAN TERBENTUKNYA AWAN KUMULUS BERTUMPUK”
- ASPEK KEMUKJIZATAN ILMIAH
- Kutipan dari Kompasiana.com dengan judul : "Awan Cumulonimbus dalam Al Qur’an dan Penjelasan Pakar" .
****
﴿بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾
PENDAHULUAN
Mukjizat ilmiah dalam ayat al-Qur'an:
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا
ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ
خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِن بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ
مَن يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَن مَّن يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴾
“Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan,
kemudian
mengumpulkannya,
lalu
Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk,
lalu
engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya
dan
Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari
(gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung,
maka
ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan
dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki.
Kilauan
kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.
(QS. An-Nur : 43)
Kata-kata Al-Qur’an ini sangat akurat dari
sisi ilmiah. Karena itu, marilah kita merenungkan kata Al-Qur’an ini dan
bagaimana kata tersebut menggambarkan kepada kita suatu hakikat ilmiah yang
baru.
Di dalam Al-Qur’an terdapat fenomena yang
menunjukkan bahwa ia diturunkan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Setiap kata di
dalamnya digunakan dengan penggunaan yang sangat tepat, dari awal Al-Qur’an
hingga akhirnya.
Dalam tulisan ini, kita merenungkan kata (يُزْجِي) yang
disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam konteks pembicaraan tentang
dua hal: Pertama tentang laut. Dan kedua tentang awan.
Allah SWT berfirman:
﴿رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ
الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴾
(Tuhan kalian adalah Dzat yang menggerakkan
untuk kalian kapal di laut agar kalian mencari sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Penyayang kepada kalian) [Al-Isra’: 60].
Kapal-kapal bergerak di laut dengan gerakan
bergelombang mengikuti gelombang laut. Oleh karena itu, Al-Qur’an menggunakan
kata (يُزْجِي)
bersama kata kapal laut, yaitu kapal-kapal lalut yang berlayar di laut dengan
nikmat dari Allah SWT.
Kemudian Allah SWT berfirman:
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ
اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ
رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ
مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ
مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴾
(Tidakkah engkau melihat bahwa Allah
menggerakkan awan, kemudian Dia mengumpulkan antara bagian-bagiannya, kemudian
Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari
celah-celahnya, dan Dia menurunkan dari langit dari awan-awan yang seperti
gunung-gunung padanya terdapat butiran es, maka Dia menimpakannya kepada siapa
yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki.
Hampir-hampir kilauan kilatnya menghilangkan penglihatan) [An-Nur: 43].
Ayat ini berbicara tentang awan. Maka
pertanyaannya di sini adalah:
Apa
persamaan antara gerakan kapal di lautan dan gerakan awan di langit?
Marilah kita melihat gambar ini yang
menunjukkan gerakan awan, yang diambil dari atas. Ini bukan gelombang laut,
tetapi gelombang awan.
Beginilah tampilan awan dalam pengambilan
gambar cepat.
Subhanallah, sungguh itu adalah gerakan yang
menyerupai gelombang laut. Dari sini menjadi jelas bagi kita bahwa Al-Qur’an
telah menggambarkan gerakan awan sebelum para ilmuwan menggambarkannya melalui
fotografi cepat. Hal ini menunjukkan bahwa Dzat yang menurunkan Al-Qur’an
melihat hakikat-hakikat dari atas.
Bagaimana mungkin Dia tidak melihatnya,
sedangkan Dia adalah Pencipta segala sesuatu, Subhanallah.
TITIK MUKJIZAT DALAM AYAT:
Mukjizat ini terletak pada penjelasannya yang
sangat tepat dan akurat tentang tahapan terbentuknya awan kumulonimbus (awan
bertumpuk) sebagaimana telah dibuktikan oleh ilmu meteorologi modern:
penggerakan awan (يُزْجِى), penggabungan dan penyatuannya (yu’allifu bainahu), serta
penumpukannya secara vertikal (yaj‘aluhu rukaman) untuk menghasilkan hujan dan
kilat, dalam rincian yang belum diketahui pada masa turunnya Al-Qur’an.
Firman-Nya (يُزْجِى
سَحَابًۭا) : kata izja’ berarti menggerakkan dengan
lembut, dan ini menunjukkan angin yang mendorong potongan-potongan awan kecil
(cumulus) pada tahap awal.
Firman-Nya (يُؤَلِّفُ
بَيْنَهُ) : ilmu modern menjelaskan proses
penggabungan dan penyatuan antara awan-awan kecil tersebut serta pengumpulannya
dengan bantuan arus udara.
Firman-Nya (يَجْعَلُهُۥ
رُكَامًۭا) : awan diangkat secara vertikal sehingga
menjadi bertumpuk di atas sebagian yang lain (cumulonimbus), dan jenis awan ini
bertanggung jawab atas hujan lebat, kilat, dan guntur, sebagaimana sesuai
dengan firman Allah Ta’ala:
﴿يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ
بِٱلْأَبْصَارِ﴾
“Hampir-hampir kilatnya menghilangkan
penglihatan.”
Tahapan-tahapan rinci dalam mekanisme awan dan
pembentukannya menjadi bertumpuk ini menunjukkan suatu fakta ilmiah yang baru
ditemukan pada masa modern, dan dianggap sebagai bagian dari dalil-dalil
kemukjizatan ilmiah al-Qur’an.
===***===
PENJELASAN PARA AHLI TAFSIR TENTANG AYAT
****
PENJELASAN AHLI TAFSIR TERDAHULU
Imam Ath-Thabari menyebutkan dalam tafsirnya
sebagai berikut:
﴿أَلَمْ تَرَ﴾ يَا مُحَمَّدُ ﴿أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي﴾
يَعْنِي: يَسُوقُ ﴿سَحَابًا﴾ حَيْثُ يُرِيدُ ﴿ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ﴾ وَتَأْلِيفُ
اللَّهِ السَّحَابَ: جَمْعُهُ بَيْنَ مُتَفَرِّقِهَا.
وَقَوْلُهُ: ﴿ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا﴾
يَقُولُ: ثُمَّ يَجْعَلُ السَّحَابَ الَّذِي يُزْجِيهِ، وَيُؤَلِّفُ بَعْضَهُ إِلَى
بَعْضٍ رُكَامًا، يَعْنِي: مُتَرَاكِمًا بَعْضُهُ عَلَى بَعْضٍ....،
وَقَوْلُهُ: ﴿فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ
مِنْ خِلَالِهِ﴾ يَقُولُ: فَتَرَى الْمَطَرَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ السَّحَابِ.....،
وَقَوْلُهُ: ﴿وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ
مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ﴾ قِيلَ فِي ذَلِكَ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ
مَعْنَاهُ أَنَّ اللَّهَ يُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِي السَّمَاءِ مِنْ
بَرَدٍ مَخْلُوقَةٍ هُنَالِكَ خَلَقَهُ، كَأَنَّ الْجِبَالَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ
هِيَ مِنْ بَرَدٍ،...
وَالْقَوْلُ الْآخَرُ: أَنَّ اللَّهَ
يُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ قَدْرَ جِبَالٍ، وَأَمْثَالَ جِبَالٍ مِنْ بَرَدٍ إِلَى
الْأَرْضِ،......
وَقَوْلُهُ: ﴿يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ
يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴾ يَقُولُ: يَكَادُ شِدَّةُ ضَوْءِ بَرْقِ هَذَا السَّحَابِ
يَذْهَبُ بِأَبْصَارِ مَنْ لَاقَى بَصَرُهُ، وَالسَّنَا مَقْصُورٌ، وَهُوَ ضَوْءُ الْبَرْقِ".
“Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad)
bahwa Allah mengarak (yakni: menggiring) awan ke tempat yang Dia kehendaki,
kemudian Dia mengumpulkan antara bagian-bagiannya (dan penggabungan awan oleh
Allah adalah mengumpulkan bagian-bagiannya yang terpencar).....
Dan firman-Nya: ‘kemudian Dia menjadikannya
bertumpuk-tumpuk’, maksudnya Allah menjadikan awan yang Dia giring dan Dia
gabungkan sebagian dengan sebagian lainnya menjadi bertumpuk-tumpuk, yakni
sebagian di atas sebagian yang lain....
Dan firman-Nya: ‘lalu engkau melihat hujan
keluar dari celah-celahnya’, maksudnya engkau melihat hujan keluar dari antara
awan.....
Dan firman-Nya: ‘dan Dia menurunkan dari
langit, dari gunung-gunung yang ada padanya, berupa es’, tentang hal ini ada
dua pendapat: pertama, bahwa maknanya Allah menurunkan dari langit es dari
gunung-gunung yang ada di langit, yang diciptakan di sana, seakan-akan
gunung-gunung itu terdiri dari es....
Pendapat kedua, bahwa Allah menurunkan dari
langit es ke bumi sebesar gunung-gunung dan sebesar semisal gunung-gunung.....
Dan firman-Nya: ‘hampir-hampir kilatnya
menghilangkan penglihatan’, maksudnya hampir-hampir kuatnya cahaya kilat dari
awan ini menghilangkan penglihatan orang yang melihatnya. Dan as-sana adalah
cahaya kilat.....”. [Tafsir ath-Thobari 19/201 Cet. Dar at-Tarbiyah].
Dalam Shofwatut Tafaasir 2/314, Muhammad
ash-Shobuni menjelaskan:
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا﴾
أَيْ يَسُوقُ بِقُدْرَتِهِ السَّحَابَ إِلَى حَيْثُ يَشَاءُ
﴿ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ﴾ أَيْ يَجْمَعُهُ بَعْدَ
تَفَرُّقِهِ ﴿ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا﴾ أَيْ يَجْعَلُهُ كَثِيفًا مُتَرَاكِمًا بَعْضُهُ
فَوْقَ بَعْضٍ
﴿فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ﴾
أَيْ فَتَرَى الْمَطَرَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ السَّحَابِ الْكَثِيفِ
﴿وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا
مِنْ بَرَدٍ﴾ أَيْ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّحَابِ الَّذِي هُوَ كَأَمْثَالِ الْجِبَالِ
بَرَدًا
﴿فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ﴾ أَيْ فَيُصِيبُ
بِذَلِكَ الْبَرَدِ مَنْ يَشَاءُ مِنَ الْعِبَادِ فَيَضُرُّهُ فِي زَرْعِهِ وَثَمَرَتِهِ
وَمَاشِيَتِهِ
﴿وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ﴾ أَيْ وَيَدْفَعُهُ
عَمَّنْ يَشَاءُ فَلَا يَضُرُّهُ.
قَالَ الصَّاوِيُّ: كَمَا يَنْزِلُ الْمَطَرُ
مِنَ السَّمَاءِ وَهُوَ نَفْعٌ لِلْعِبَادِ، كَذَلِكَ يَنْزِلُ مِنْهَا الْبَرَدُ وَهُوَ
ضَرَرٌ لِلْعِبَادِ، فَسُبْحَانَ مَنْ جَعَلَ السَّمَاءَ مَنْشَأً لِلْخَيْرِ وَالشَّرِّ.
﴿يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ﴾ أَيْ يَقْرُبُ ضَوْءُ
بَرْقِ السَّحَابِ
﴿يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴾ أَيْ يَخْطَفُ أَبْصَارَ
النَّاظِرِينَ مِنْ شِدَّةِ إِضَاءَتِهِ وَقُوَّةِ لَمَعَانِهِ.
(Tidakkah engkau melihat bahwa Allah
menggiring awan), yaitu Dia menggerakkan awan dengan kekuasaan-Nya ke mana
saja yang Dia kehendaki.
(Kemudian Dia menyatukan antara
bagian-bagiannya), yaitu mengumpulkannya setelah sebelumnya terpisah-pisah.
(Kemudian Dia menjadikannya
bertumpuk-tumpuk), yaitu menjadikannya tebal dan bertumpuk sebagian di atas
sebagian yang lain.
(Maka engkau melihat hujan keluar dari
celah-celahnya), yaitu engkau melihat hujan keluar dari antara awan yang
tebal itu.
(Dan Dia menurunkan dari langit, dari
gunung-gunung yang ada padanya butiran es), yaitu Dia menurunkan dari awan
yang menyerupai gunung-gunung itu butiran es.
(Maka Dia menimpakan dengannya kepada siapa
yang Dia kehendaki), yaitu Dia menimpakan es itu kepada siapa yang Dia
kehendaki dari hamba-hamba-Nya sehingga membahayakan tanaman, buah-buahan, dan
ternak mereka.
(Dan Dia memalingkannya dari siapa yang Dia
kehendaki), yaitu Dia menolak es itu dari siapa yang Dia kehendaki sehingga
tidak membahayakan mereka.
Ahmad ash-Shawi berkata: sebagaimana hujan
turun dari langit dan itu merupakan manfaat bagi para hamba, demikian pula es
turun darinya dan itu merupakan mudarat bagi para hamba. Maha suci Zat yang
menjadikan langit sebagai sumber kebaikan dan juga keburukan.
(Hampir-hampir kilauan kilatnya
menghilangkan penglihatan), yaitu cahaya kilat itu hampir menyambar
penglihatan orang-orang yang melihatnya karena sangat kuat cahayanya dan
dahsyat kilauannya. [Kutipan Selesai]
Ini secara ringkas adalah apa yang dikatakan
oleh para ahli tafsir terdahulu dalam menafsirkan ayat ini.
****
PENJELASAN AHLI TAFSIR KONTEMPORER
Adapun apa yang dikenal dengan tafsir ilmiah
di kalangan ulama kontemporer seperti Syaikh Az-Zindani, mereka menyebutkan
dalam pembahasan tentang i’jaz ilmiah dalam Al-Qur’an Al-Karim bahwa ayat ini
adalah salah satu dari tiga ayat dalam Al-Qur’an Al-Karim yang berbicara
tentang hujan dan jenis-jenis awan.
Ayat tersebut adalah ayat yang disebutkan di
sini, dan firman Allah Ta’ala:
﴿اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ
فَتُثِيرُ سَحَاباً فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ
كِسَفاً فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ
يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴾
(Allah adalah Dzat yang mengirim angin,
lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit
sebagaimana yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau
melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, tiba-tiba mereka bergembira)
[Ar-Rum: 48].
Dan firman-Nya:
﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً
ثَجَّاجاً لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً * وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً﴾
(Dan Kami menurunkan dari awan yang
mengandung air, air yang tercurah dengan deras, agar Kami mengeluarkan
dengannya biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang lebat)
[An-Naba’: 15–16].
Para ahli meteorologi di abad modern telah
membagi jenis-jenis awan menjadi tiga jenis utama:
Awan kumulus bertumpuk (السُّحُبُ الرُّكَامِيَّةُ): dan inilah yang ditunjukkan oleh ayat pertama (ayat dalam
Surah An-Nur).
Awan yang terbentang (السُّحُبُ
الْمَبْسُوطَةُ): dan inilah yang ditunjukkan oleh ayat
kedua (ayat dalam Surah Ar-Rum).
Awan badai atau awan tornado (سُحُبُ الأَعَاصِيرِ): dan inilah yang ditunjukkan oleh ayat ketiga (ayat dalam
Surah An-Naba’).
Ketiga jenis ini memiliki banyak cabang dan
variasi. Sebagian ahli menyebutkan jumlahnya mencapai delapan puluh jenis, dan
sebagian lainnya merangkumnya menjadi dua belas jenis, namun pada dasarnya
semuanya kembali kepada tiga jenis utama yang disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim
tersebut.
Dalam bahasa Inggris, jenis-jenis ini disebut:
Cumulus, Cirrus, dan Tornado clouds.
Al-Qur’an Al-Karim berbicara tentang setiap
jenis ini dan menjelaskan sifat-sifat serta ciri-cirinya. Kami akan
menyampaikan kepada Anda ringkasan dari apa yang dikatakan para ahli
meteorologi di abad modern tentang jenis pertama, yaitu yang disebutkan dalam
ayat yang Anda tanyakan, yaitu awan kumulus bertumpuk.
Mereka mengatakan: sifat awan jenis ini adalah
besar dan sangat masif, namun luas wilayahnya relatif kecil, biasanya
membentang sekitar delapan kilometer, dan jika meluas maka tidak melebihi
sepuluh kilometer. Akan tetapi, awan ini tumbuh secara vertikal dan saling
bertumpuk satu sama lain hingga ukuran satu awan dapat mencapai sekitar dua
puluh kilometer, seolah-olah seperti sebuah gunung.
[Lihat: Islamweb nomor 24129]
*****
AWAN INI TERBENTUK DARI TIGA LAPISAN:
Lapisan bawah:
yaitu lapisan yang paling dekat dengan kita, dipenuhi oleh titik-titik air
kecil.
Adapun lapisan tengah: di dalamnya terdapat uap air yang suhunya di bawah nol, karena berada
pada tekanan yang lebih rendah dari tekanan atmosfer. Uap air ini membeku
dengan cepat ketika bertabrakan dengan benda padat apa pun.
Adapun lapisan atas: di dalamnya terdapat kristal-kristal es yang padat. Ketika
kristal-kristal ini turun, ia bertabrakan dengan uap air di lapisan tengah yang
siap membeku, maka uap air itu membeku di sekelilingnya, sehingga terbentuklah
butiran es (hujan es). Kemudian butiran es itu mulai turun, lalu mengenai
titik-titik air di lapisan bawah, sehingga titik-titik air tersebut berkumpul
di sekelilingnya, lalu turun sebagai hujan.
Jenis awan ini memiliki arus udara yang kuat
di dalamnya, yang naik ke atas sehingga menjadi dingin, dan turun ke bawah
sehingga menjadi hangat.
Proses naik dan turunnya berlangsung
terus-menerus, demikian pula proses pemanasan dan
pendinginan berlangsung terus-menerus. Butiran es yang mengumpulkan air di
sekelilingnya, karena kuatnya arus udara, terdorong ke atas, lalu dilapisi lagi
oleh lebih banyak es sehingga menjadi lebih besar dan lebih berat. Kemudian ia
turun dan mengenai lebih banyak uap air yang telah didinginkan, sehingga uap
air itu berkumpul di sekelilingnya dan membuatnya semakin berat, lalu ia turun
lebih jauh. Kemudian arus udara kembali mengangkatnya ke atas. Proses ini terus
berlangsung hingga tiba saatnya arus udara tidak mampu lagi mengangkatnya,
karena telah menjadi sangat berat. Maka ia mulai turun, dan mencair sedikit
demi sedikit hingga mencapai permukaan bumi dalam ukuran yang lebih kecil.
Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa jenis
awan ini (awan kumulus bertumpuk) berbeda dari jenis awan lainnya. Pada awan
inilah terjadi kilat dan petir. Allah SWT berfirman:
﴿يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ
بِالْأَبْصَارِ﴾
(Hampir-hampir
kilauan kilatnya menghilangkan penglihatan).
Mereka mengatakan bahwa kilat disebabkan oleh
butiran es yang bergerak dari bawah ke atas, sehingga muatan listriknya
berubah. Dengan perpindahan dan terkumpulnya muatan listrik itu, terjadilah
pelepasan muatan yang menghasilkan percikan, dan setelahnya terjadi suara petir
akibat terganggunya udara. Dari sinilah terjadi petir dan kilat.
Karena itu Allah SWT berfirman:
﴿يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ
بِالْأَبْصَارِ﴾
(Hampir-hampir
kilauan kilatnya menghilangkan penglihatan).
Kata ganti pada (kilatnya) kembali kepada
butiran es, karena itu adalah yang paling dekat disebutkan, dan ada juga yang
mengatakan kembali kepada awan.
Apabila kita membaca ayat yang mulia ini dan
memperhatikan apa yang disebutkan oleh para ilmuwan meteorologi, maka kita
mengetahui bahwa Al-Qur’an ini berasal dari Allah SWT, dan bahwa ia merupakan
mukjizat Islam yang abadi. Maha benar Allah SWT ketika berfirman:
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي
أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
(Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda Kami di ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa ia adalah kebenaran) [Fushshilat: 53].
[Lihat: Islamweb nomor 24129]
===***===
“FAKTA ILMIYAH TAHAPAN TERBENTUKNYA AWAN KUMULUS BERTUMPUK”
Allah SWT berfirman:
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى
سَحَابًۭا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًۭا فَتَرَى
ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍۢ
فِيهَا مِنۢ بَرَدٍۢ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن
يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَارِ﴾
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah
menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia
menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari
celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit,
(yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka
ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan
dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir
menghilangkan penglihatan”. (QS. An-Nur : 43)
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa
tahapan terbentuknya awan kumulus bertumpuk adalah sebagai berikut:
A]. Awal pembentukan
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى
سَحَابًۭا﴾
(Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah mengarak awan)
Pembentukan awan kumulus bertumpuk dimulai
ketika angin menggiring potongan-potongan awan kecil ke wilayah-wilayah
pengumpulan tertentu. Penggiringan potongan awan ini menyebabkan peningkatan
jumlah uap air, dan penggiringan ini penting untuk perkembangan awan kumulus
bertumpuk di wilayah pengumpulan, dan proses ini memerlukan beberapa jam.
B]. Perkembangan awan kumulus (penggabungan)
﴿ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ﴾
(kemudian
Dia mengumpulkan antara bagian-bagiannya):
Kecepatan awan lebih lambat daripada kecepatan
angin yang menggerakkannya. Semakin besar ukuran awan, semakin lambat
kecepatannya. Dan secara umum, kecepatan angin berkurang ketika menuju wilayah
pengumpulan. Kedua faktor ini menyebabkan potongan-potongan awan saling
mendekat, kemudian bergabung dan menyatu, yaitu proses penggabungan.
C]. Penumpukan
﴿ثُمَّ
يَجْعَلُهُۥ رُكَامًۭا﴾
(kemudian
Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk)
Apabila dua awan atau lebih telah menyatu,
maka arus udara yang naik di dalam awan umumnya meningkat, dan hal ini
menyebabkan semakin banyak uap air yang terbawa dari dasar awan. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa penyatuan awan menyebabkan peningkatan besar dalam
penumpukan, dan akibatnya meningkatkan ketebalan awan.
Dua
gambar dari satelit yang menjelaskan tahap berkumpulnya awan-awan kecil di
wilayah tertentu.
Setelah tahap penumpukan, muncul beberapa
fenomena cuaca yang menyertai jenis awan kumulus bertumpuk ini, sebagai
berikut:
[1]. Terjadinya curahan hujan atau hujan es,
atau keduanya:
﴿فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ
خِلَٰلِهِ﴾
“Maka
engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
[2]. Terjadinya kilat:
﴿ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ
بِٱلْأَبْصَارِ﴾
“Hampir-hampir
kilatnya menghilangkan penglihatan.”
Para ahli meteorologi telah menemukan bahwa
sumber muatan negatif untuk pelepasan listrik berulang dari awan ke bumi berada
pada ketinggian yang terbatas antara dua lapisan yang berdekatan dengan suhu
masing-masing (-15) dan (-25) derajat, dan hal ini sesuai dengan wilayah
keberadaan hujan dan salju di antara kedua lapisan tersebut.
Fenomena cuaca (hujan, hujan es, dan kilat)
yang menyertai jenis awan kumulus bertumpuk ini.
****
ASPEK KEMUKJIZATAN ILMIAH
Kemukjizatan tampak pada tingkat ayat yang
mulia ini melalui dua hal.
Pertama,
penyebutannya secara tepat tentang tahapan terbentuknya awan kumulus bertumpuk
sebagaimana dikenal dalam ilmu meteorologi.
Kedua,
penyebutannya tentang fenomena cuaca yang menyertai jenis awan tersebut. Maka
siapakah yang memberitahukan kepada Al-Mushthafa ﷺ tentang fakta-fakta ilmiah yang menakjubkan ini?
Sumber : وَصْفُ
أَنْوَاعِ الرِّيَاحِ، السَّحَابِ، الْمَطَرِ.
Disusun oleh Prof. Dr. Yahya Waziri, Profesor
Teknik Arsitektur dan Direktur Ilmiah Pusat tersebut, serta diteliti secara
ilmiah berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh sekelompok peneliti (1421
H). Deskripsi tentang jenis-jenis angin, awan, dan hujan. Lembaga Kemukjizatan
Ilmiah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, Makkah Al-Mukarramah.
Kutipan
dari Kompasiana.com dengan judul :
"Awan
Cumulonimbus dalam Al Qur’an dan Penjelasan Pakar" .
Setelah musibah yang menimpa AirAsia QZ8501, CUMULONIMBUS
menjadi sangat terkenal. Lantas bagaimana informasi tentang awan ini di dalam
Al Quran? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿أَلَمْ
تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ
رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ
مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ
مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴾
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak
awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya
bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan
Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari
(gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya
(butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya
dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir
menghilangkan penglihatan,” (QS An-Nuur : 43).
Ustadz Rofi’ Munawar dalam Kaleidoskop
Dunia Islam 2014 di Masjid Namira Lamongan, Rabu (31/12/2014) malam
menilai ayat ini menjelaskan tentang awan cumulonimbus (Ibnu K., 2015)
Subhanallah… Terus bagaimana penjelasan ilmiah
tentang awan ini?
Berikut adalah penjelasan khusus Prof. Handoko
pakar Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB tentang awan ini.
Catatan : Saat ini Prof. Handoko adalah salah satu Direktur di SEAMEO BIOTROP
yang berbasis di Bangkok.
Cumulonimbus adalah salah satu bentuk awan
sedangkan awan merupakan kumpulan butir-butir air atau es yang melayang-layang
di udara. Awan bukan hanya uap air karena jika hanya uap air maka tidak
akan terlihat oleh mata.
Cumulonimbus berasal dari kata
"cumulus" yaitu awan rendah pada ketinggian hingga sekitar 2000 m dan
"nimbus" yang artinya raksasa atau besar.
Klasifikasi awan secara umum dibagi menjadi
tiga yaitu (1) awan rendah yaitu cumulus dan stratus pada ketinggian sekitar
1000-2000 m, (2) awan menengah yang umumnya diberi kata "alto"
seperti altocumulus dan altostratus, dan (3) awan tinggi yang biasanya
berkaitan dengan kata "cirro" seperti awan cirrus, cirrostratus dan
cirrocumulus.
Ketinggian 2000 m adalah tinggi dasar awan
(Cloud Level Condensation) sedangkan puncak Cb bisa sampai setinggi awan-awan
tinggi (Cirrus) atau puncak troposfer (lebih 10 000 m).
Awan dapat terbentuk jika permukaan bumi
(daratan atau lautan) menerima energi radiasi matahari yang digunakan untuk
mengubah air menjadi uap dan energi tersebut disimpan sebagai "energi
laten dalam uap air".
Syarat terpenting pembentukan awan apabila
udara bergerak ke atas (ke tekanan yang lebih rendah) sehingga suhu udara
semakin rendah dan pada ketinggian tertentu yang disebut "Cloud Level
Condensation" (CLC) mulailah terjadi kondensasi uap air tersebut menjadi
butir-butir air atau es (udara di ketinggian 10 000 m dapat mencapai -40 oC
sedang es terbentuk pada +4oC).
Ketinggian CLC tersebut merupakan dasar
awan. Syarat pembentukan butir air/es disamping suhu dan uap air itu
sendiri adalah "inti kondensasi" tempat berpegang uap air tersebut
menjadi butir air/es. Di alam, inti kondensasi adalah debu atau
garam-garam halus yang melayang-layang di atmosfer.
Teknologi hujan buatan pada prinsipnya adalah
menebarkan inti kondensasi yang juga bersifat higroskopis untuk menyedot
uap air tersebut berupa garam-garam yang telah digiling hingga ukuran mikro
Jika selama perjalanan udara yang berisi uap
air ke atas tersebut tidak ditemukan inti kondensasi, maka semakin tinggi
altitude kelembabannya bisa mencapai lebih 100%, bahkan dapat mencapai 400%
(yang disebut super-cooled water).
Sebaliknya jika energi untuk penguapan air di
permukaan bumi (lautan) sangat besar, sehingga uap air yang dikandung udara
sangat banyak, dan udara lembab yang naik tersebut selalu memperoleh inti
kondensasi maka butir-butir air akan selalu terbentuk ditambah dorongan
terhadap massa udara untuk naik ke atas oleh energi laten yang dilepaskan
menjadi panas terasa (sensible heat) selama proses kondensasi, sampai
ketinggian awan menengah maupun awan tinggi.
Dalam hal ini awan cumulus telah berkembang
menjadi sangat besar mulai dari dasarnya di ketinggian awan rendah hingga
mencapai puncaknya di ketinggian awan tinggi, yang selanjutnya awan raksasa ini
disebut "cumulonimbus".
Berapa jumlah energi laten yang dilepas
kembali ke atmosfer selama proses kondensasi dari uap menjadi butir-butir air
atau es?
Bayangkan jika cumulonimbus tersebut menjadi
hujan seluas 1000 ha dengan curah hujan 50 mm saja, maka volume air yang jatuh
adalah = 1000 x 10 000 m2 x 50/1000 m = 500 000 m3 = 500 000 ton = 500 juta
kg. Jika panas laten yang dilepaskan adalah 2.3 mega Joule/kg, maka panas
laten yang dilepaskan dalam awan comulonimbus adalah 2.3 MJ/kg x 5 juta kg =
11.5 x 1012 joule atau 11,5 juta MJ.
Dengan jumlah energi yang besar tersebut, maka
akan terjadi turbulensi udara dalam awan cumulonimbus yang menghasilkan aliran
listrik bagaikan turbin bendungan pembangkit tenaga listrik yang sangat
besar. Besarnya energi listrik yang dihasilkan, menyebabkan terjadi
lompatan elektron dari permukaan bumi ke dasar awan berupa kilat/halilintar.
Dalam penutupan penjelasannya Prof. Handoko
mengatakan : "memang tidak mengherankan jika cumulonimbus sangat
ditakuti oleh para pilot dan mereka seharusnyalah memang menghindari awan
raksasa ini".
SUMBER :
1.Catatan khusus Prof. Handoko tentang awan
Comulonimbus.
2.http://bersamadakwah.net/2015/01/menguak-penyebab-jatuhnya-airasia-ini-kata-quran-tentang-awan-cumulonimbus/
Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/rrnoor/54f918d2a33311ae068b46c4/awan-cumulonimbus-dalam-al-quran-dan-penjelasan-pakar
0 Komentar