Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

STUDI UCAPAN YAHUDI: “KAMI ADALAH PUTRA-PUTRA ALLAH DAN KEKASIH-KEKASIHNYA”.

STUDI UCAPAN YAHUDI: “KAMI ADALAH PUTRA PUTRA ALLAH DAN KEKASIH-KEKASIHNYA”

----

Di Tulis Oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

----

---

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN:
  • KLAIM YAHUDI SEBAGAI BANGSA PILIHAN DAN MESIAS
  • APA SEBABNYA ORANG YAHUDI MENGKLAIM SEBAGAI BANGSA PILIHAN?
  • YAHUDI DAN GOYIM PANDANGAN YAHUDI TERHADAP BANGSA-BANGSA LAIN
  • MANHAJ HAJER DAN TAHDZIR DALAM YAHUDI
  • PENUTUP:

=== 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN:

Allah SWT berfirman:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". [QS. Al-Maidah: 18]

Ayat lengkapnya:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ﴾

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). [QS. Al-Maidah: 18]

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنبِيَاءَ وَجَعَلَكُم مُّلُوكًا وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ﴾

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain". [QS. Al-Maidah: 20]

Dan firman Allah SWT:

﴿يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. [Baqarah: 47]

Al-Qurthubi rahimahullah ta'ala berkata:

يُرِيدُ عَلَى عَالَمِي زَمَانِهِمْ، وَأَهْلُ كُلِّ زَمَانٍ عَالَمٌ. وَقِيلَ: عَلَى كُلِّ الْعَالَمِينَ بِمَا جَعَلَ فِيهِمْ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، وَهَذَا خَاصَّةٌ لَهُمْ وَلَيْسَتْ لِغَيْرِهِمْ. اهـ

“Maksudnya adalah atas seluruh manusia pada zaman mereka, karena setiap zaman memiliki ‘alam (manusia)-nya. Ada juga yang mengatakan: atas seluruh manusia, karena pada mereka dijadikan para nabi, dan ini merupakan kekhususan bagi mereka yang tidak dimiliki oleh selain mereka.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 1/376)

Abu Ja’far ath-Thabari rahimahullah ta'ala menambahkan penjelasan dalam tafsirnya, beliau berkata:

وَيَعْنِي بِقَوْلِهِ: ﴿ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴾: أَنِّي فَضَّلْتُ أَسْلَافَكُمْ، فَنَسَبَ نِعَمَهُ عَلَى آبَائِهِمْ وَأَسْلَافِهِمْ إِلَى أَنَّهَا نِعَمٌ مِنْهُ عَلَيْهِمْ، إِذْ كَانَتْ مَآثِرُ الْآبَاءِ مَآثِرَ لِلْأَبْنَاءِ، وَالنِّعَمُ عِنْدَ الْآبَاءِ نِعَمًا عِنْدَ الْأَبْنَاءِ، لِكَوْنِ الْأَبْنَاءِ مِنَ الْآبَاءِ، وَأَخْرَجَ جَلَّ ذِكْرُهُ قَوْلَهُ: ﴿ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴾ مَخْرَجَ الْعُمُومِ، وَهُوَ يُرِيدُ بِهِ خُصُوصًا؛ لِأَنَّ الْمَعْنَى: وَإِنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى عَالَمٍ مَنْ كُنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَيْهِ وَفِي زَمَانِهِ. اهـ

“Yang dimaksud dengan firman-Nya: ‘Dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia’, yaitu Aku telah melebihkan para leluhur kalian. Maka Allah menisbatkan nikmat-Nya kepada nenek moyang mereka sebagai nikmat bagi mereka, karena kemuliaan para ayah adalah kemuliaan bagi anak-anak, dan nikmat yang ada pada ayah adalah nikmat bagi anak-anak, karena anak-anak berasal dari ayah mereka. Dan Allah جل ذكره menyebutkan firman-Nya ‘Dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia’ dalam bentuk umum, padahal yang dimaksud adalah khusus; karena maknanya: Aku telah melebihkan kalian atas manusia yang hidup bersama kalian dan pada zaman kalian.” (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 1/23/867)

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ta'ala dalam tafsir beliau terhadap bagian ayat: “Dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia”, menyebutkan faedah yang sangat berharga, beliau berkata:

"فَالْحَاصِلُ أَنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا شَكَّ أَفْضَلُ الْعَالَمِينَ حِينَ مَا كَانُوا عِبَادَ اللَّهِ الصَّالِحِينَ؛ أَمَّا حِينَ ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ، وَاللَّعْنَةُ، وَالصَّغَارُ فَإِنَّهُمْ لَيْسُوا أَفْضَلَ الْعَالَمِينَ؛ بَلْ مِنْهُمُ الْقِرَدَةُ، وَالْخَنَازِيرُ؛ وَهُمْ أَذَلُّ عِبَادِ اللَّهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 112]، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ﴾ [الْحَشْرِ: 14]..

وَيَدُلُّ لِذَلِكَ -أَيْ أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى-: ﴿فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ أَيْ فِي وَقْتِكُمْ، أَوْ فِيمَنْ سَبَقَكُمْ: قَوْلُهُ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ: ﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 110]؛ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ﴾ صَرِيحٌ فِي تَفْضِيلِهِمْ عَلَى النَّاسِ؛ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ﴾؛ وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّنَا نُوفِي سَبْعِينَ أُمَّةً، نَحْنُ أَكْرَمُهَا، وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.. وَهَذَا أَمْرٌ لَا شَكَّ فِيهِ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ." اهـ

Kesimpulannya, Bani Israil tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik manusia pada saat mereka menjadi hamba-hamba Allah yang saleh. Namun ketika mereka ditimpa kehinaan, laknat, dan kerendahan, maka mereka bukan lagi sebaik-baik manusia; bahkan di antara mereka ada yang menjadi kera dan babi, dan mereka adalah hamba Allah yang paling hina.

Hal ini berdasarkan firman Allah: ‘Ditimpakan kepada mereka kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan tali dari Allah dan tali dari manusia, dan mereka kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah’ (Ali ‘Imran: 112).

Dan firman-Nya: ‘Mereka tidak akan memerangi kalian secara bersama-sama kecuali di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dari balik tembok. Permusuhan di antara mereka sangat keras. Kalian mengira mereka bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal’ (al-Hasyr: 14).

Hal ini juga menunjukkan bahwa yang dimaksud firman Allah: ‘Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia’ adalah pada waktu mereka, atau atas orang-orang sebelum mereka. Hal ini diperkuat oleh firman Allah tentang umat ini, yaitu umat Muhammad : ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka’ (Ali ‘Imran: 110).

Maka firman-Nya: ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia’ secara jelas menunjukkan keutamaan mereka atas manusia. Oleh karena itu Allah berfirman: ‘Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka.’

Dan telah ada ketetapan dari Nabi bahwa kita menyempurnakan tujuh puluh umat, kita adalah yang paling mulia dan paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla. Ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Segala puji bagi Allah.” (Tafsir Ibnu ‘Utsaimin 3/119)

===***===

KLAIM YAHUDI SEBAGAI BANGSA PILIHAN DAN MESIAS

Dr. Herbert Louis, seorang Yahudi dan profesor bahasa Ibrani di Universitas Oxford, mengatakan bahwa agama Yahudi berdiri di atas dua dasar: keesaan Tuhan dan keterpilihan Israel. Sebelumnya telah dibahas tentang konsep keesaan dalam Yahudi, dan sekarang akan dibahas dasar yang kedua.

Diriwayatkan bahwa Yahweh telah membuat janji kepada Ibrahim untuk mengutamakan bangsa Yahudi atas seluruh bangsa (Wells: *The Outline of History*, Vol. II, hlm. 291). Dalam Taurat terdapat teks-teks berikut:

* “Akulah Tuhan Allahmu yang telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa; kamu akan menjadi kudus bagi-Ku, karena Aku Tuhan adalah kudus, dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa supaya kamu menjadi milik-Ku.” (Imamat 20: 24–26).

* “Sesungguhnya engkau, hai Israel, adalah umat yang kudus bagi Tuhan Allahmu. Engkaulah yang dipilih Tuhan Allahmu untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari segala bangsa di muka bumi. Bukan karena jumlahmu lebih banyak dari bangsa lain Tuhan mengasihi dan memilihmu, dan bukan pula karena kamu lebih sedikit, tetapi karena kasih Tuhan kepadamu dan karena Ia memegang sumpah yang telah diikrarkan kepada nenek moyangmu.” (Ulangan 7: 6–8).

Kitab Talmud dan *Protokol Para Tetua Zion*—yang akan dibahas kemudian—berlebihan dalam menjelaskan keunggulan dan keterpilihan bangsa Yahudi. Disebutkan bahwa perbedaan antara manusia dan hewan seperti perbedaan antara Yahudi dan manusia lainnya. Mereka juga menetapkan bahwa hanya orang Yahudi yang memiliki kehidupan abadi, dan ruh mereka berasal dari ruh Tuhan, tidak seperti bangsa lainnya.

****

APA SEBABNYA ORANG YAHUDI MENGKLAIM SEBAGAI BANGSA PILIHAN?

Ada ungkapan-ungkapan khusus yang digunakan oleh orang Yahudi untuk menjelaskan sumber keterpilihan ini, yang terkesan mengundang ejekan. Peneliti Arthur Hertzberg menyatakan bahwa di Sinai, ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa dan Bani Israel, terjadi semacam “pernikahan” antara Tuhan dan Israel, dan dibuatlah “akad pernikahan” antara keduanya dengan langit dan bumi sebagai saksi.

Berikut kutipannya:

“Terdapat sejumlah contoh dalam literatur Yahudi tentang adanya kontrak pernikahan antara Tuhan dan Israel dengan langit dan bumi sebagai saksi.” (*Judaism*, ed. Arthur Hertzberg, hlm. 119).

Orang Yahudi memandang bahwa keistimewaan yang mereka peroleh sekaligus merupakan tanggung jawab. Kegagalan mereka menjalankan tanggung jawab itu dengan jujur dan amanah menjadikan mereka sasaran penderitaan. Karena itu, mereka menafsirkan musibah yang menimpa mereka sebagai hukuman atas kelalaian tersebut. Para pemikir mereka juga menambahkan—sebagai pembelaan atas penderitaan mereka—bahwa orang Yahudi bukanlah yang paling banyak dosa atau paling jauh dari kebenaran, tetapi mereka menerima cobaan lebih banyak karena keterpilihan mereka menuntut ketaatan yang lebih tinggi; ketika mereka durhaka, hukuman mereka menjadi lebih berat (ibid., hlm. 13).

Dalam pembahasan sebelumnya tentang sifat rasial dalam agama Yahudi telah dijelaskan bahwa Zionisme dan Nazisme sama-sama mengklaim keunggulan mereka atas manusia lainnya. Ditambahkan di sini bahwa Nazisme didasarkan pada anggapan bahwa bangsa Jerman adalah ras unggul dan murni. Karena prinsip ini juga ada dalam keyakinan Yahudi, maka terjadi benturan besar antara keduanya, sebab masing-masing mengklaim dirinya paling unggul.

Dari konsep keterpilihan ini lahir pula keyakinan lain dalam agama Yahudi, yaitu keyakinan tentang Mesias yang dinantikan. Orang Yahudi mendapati bahwa mereka tidak menjadi manusia terbaik seperti yang mereka klaim, juga tidak mencapai kedudukan yang mereka harapkan, bahkan sering menjadi sasaran musibah. Karena itu, para pemikir mereka pada masa-masa akhir mengarahkan harapan kepada seorang penyelamat yang akan mengangkat mereka dari keadaan tersebut dan menempatkan mereka pada kedudukan yang diinginkan. Penyelamat ini disebut “Mesias yang dinantikan”, yang digambarkan sebagai utusan langit dan pemimpin yang akan membawa bangsa pilihan mencapai kekuasaan dan kemuliaan (*The Jews*, James Hosmer, hlm. 85).

Dari deskripsi yang diberikan oleh Guignebert, tampak bahwa Mesias yang dinantikan bukan manusia biasa, melainkan manusia langit (*heavenly person*), makhluk luar biasa yang diciptakan Tuhan sebelum zaman, dan tetap berada di langit hingga tiba saat pengutusannya. Ketika diutus, Tuhan memberinya kekuatan. Ia menyandang gelar “Anak Manusia”, artinya ia akan tampil dalam bentuk manusia (*The Jewish World in the Time of Jesus*, hlm. 140), meskipun hakikatnya menggabungkan sifat ketuhanan dan kemanusiaan (ibid., hlm. 141).

Sebagai catatan, disebutkan bahwa kaum Nasrani kemudian mengambil seluruh gambaran ini dan menisbatkannya kepada Isa putra Maryam.

Kata *al-Masīḥ* (Mesias) berarti “yang diurapi (dengan minyak keberkahan)”, karena mereka dahulu mengurapi para raja, nabi, pendeta, dan patriark dengan minyak tersebut. Pada awalnya, mereka memandang Mesias sebagai seorang raja penakluk yang berjaya dari keturunan Daud, yang mereka sebut sebagai “anak Tuhan”. Mereka meyakini bahwa ia akan datang untuk mengembalikan kejayaan Israel, mengumpulkan orang-orang Yahudi yang tercerai-berai di Palestina, dan menegakkan hukum Taurat. Namun, terkadang mereka juga menggunakan istilah “Mesias” untuk siapa saja yang menghukum musuh-musuh mereka, meskipun bukan dari keturunan Daud, sebagaimana Nabi Yesaya menyebut Koresy dengan sebutan itu.

Ketika penantian mereka terhadap Mesias penakluk yang berjaya semakin panjang dan ia tidak kunjung datang, terkadang mereka membayangkan bahwa Mesias akan datang sebagai seorang pembaharu sosial yang adil dan lembut (*Judaism*, ed. Arthur Hertzberg, hlm. 215–218).

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, gagasan tentang Mesias muncul dalam pemikiran Yahudi pada masa yang relatif akhir. Kajian terhadap Kitab Suci menunjukkan bahwa gagasan ini tidak muncul kecuali setelah runtuhnya negara mereka dan pembuangan mereka ke Babilonia, kemudian berada di bawah kekuasaan Persia (lihat Kitab Daniel). Waktu kemunculan ini mendorong banyak peneliti untuk berpendapat bahwa ide tentang penyelamat ini dipinjam dari ajaran Zoroastrianisme yang dianut oleh bangsa Persia (al-‘Aqqād, *Allah*, hlm. 117).

Guignebert menjelaskan hubungan antara pemikiran Persia dan Yahudi dalam masalah Mesias. Ia mengatakan bahwa pemikiran Persia menggambarkan kemenangan kebaikan atas kejahatan dalam perjuangan panjang antara keduanya. Apa yang disebut bangsa Persia sebagai kebaikan” itulah yang oleh orang Yahudi disebut “Mesias”. Ia juga menambahkan bahwa gagasan tentang adanya raja ideal yang memerintah seluruh dunia merupakan ide yang umum di kalangan bangsa-bangsa Semitik, dan ini mengandaikan adanya dunia ideal, yang oleh orang Yahudi—dan kemudian oleh orang Kristen—disebut “Kerajaan Tuhan” (*The Jewish World in the Time of Jesus*, hlm. 141).

Guignebert juga menelusuri gagasan Mesias dalam Yahudi hingga masa sebelum periode Persia. Ia melihat bahwa istilah yang digunakan bersama konsep Mesias adalah *Expectation* (harapan/penantian), yang menurutnya menunjukkan bahwa Mesias telah dikenal sebelumnya, dan penantiannya hanyalah harapan akan kembalinya. Ia menyebutkan bahwa sebagian peneliti telah menantikan Mesias sejak zaman Musa, bahkan ada penyair yang menggambarkan Daud sebagai Mesias yang dinantikan. Hal ini dijadikannya sebagai bukti bahwa gagasan Mesias telah ada sebelum pembuangan ke Babilonia (ibid., hlm. 139).

Tidak mustahil bahwa istilah *Messiah (Masīyā = al-Masīḥ)* merupakan simbol bagi sosok penyelamat yang selalu diserukan oleh orang Yahudi setiap kali mereka ditimpa bencana—dan memang bencana itu sering menimpa mereka (*The Jewish World in the Time of Jesus*, hlm. 139).

Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa gagasan tentang “Mahdi yang dinantikan” dalam kalangan Syiah dipinjam dari konsep Mesias yang dinantikan dalam Yahudi (*A History of the Jewish People*, Margolis and Marx, hlm. 258).

Menurut Wells, gagasan Mesias dalam Yahudi merupakan perkembangan alami dari gagasan-gagasan sebelumnya, yaitu keyakinan bahwa manusia tidak semuanya berasal dari keturunan Ibrahim, melainkan terdiri dari berbagai bangsa dan suku; bahwa bangsa Yahudi adalah yang paling unggul di antara mereka; dan bahwa Tuhan mereka, Yahweh, adalah yang paling agung dan paling kuat di antara tuhan-tuhan suku. Dari ketiga gagasan ini lahirlah konsep Mesias sebagai penyelamat, dengan harapan ia akan mewujudkan janji-janji Yahweh yang telah lama tertunda (*The Outline of History*, Vol. II, hlm. 292).

Orang-orang Yahudi bahkan berlebihan dalam menggambarkan sosok Mesias yang mereka nantikan. Mereka menyebutkan bahwa pada masanya, manusia tidak hanya hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan, tetapi seluruh makhluk juga ikut merasakannya: serigala akan hidup damai bersama domba, dan anak sapi akan bermain dengan singa.

Berikut kami kutip beberapa bagian dari Kitab Yesaya yang berbicara tentang Mesias yang dinantikan:

* “Sesungguhnya seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.” (Yesaya 7:15).

* “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; dan pemerintahan ada di atas bahunya. Namanya disebut Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Untuk memperbesar pemerintahannya, ia akan duduk di atas takhta Daud dan atas kerajaannya, untuk menegakkannya dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yesaya 9:6–7).

* “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan suatu cabang akan tumbuh dari akarnya. Roh Tuhan akan ada padanya: roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan kekuatan, roh pengetahuan dan takut akan Tuhan. Ia tidak akan menghakimi berdasarkan apa yang dilihat matanya atau memutuskan berdasarkan apa yang didengar telinganya, tetapi dengan keadilan ia akan menghakimi orang miskin dan dengan kejujuran memutuskan perkara orang-orang yang tertindas di bumi.” (Yesaya 11:1–5).

* “Serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul akan berbaring bersama kambing, anak lembu dan singa muda akan bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggembalakannya. Sapi dan beruang akan makan bersama, anak-anaknya akan berbaring bersama, dan singa akan makan jerami seperti lembu. Bayi akan bermain di sarang ular, dan anak yang disapih akan mengulurkan tangannya ke liang ular berbisa. Mereka tidak akan berbuat jahat atau merusak di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang Tuhan seperti air menutupi laut. Pada hari itu, akar Isai akan berdiri sebagai panji bagi bangsa-bangsa; bangsa-bangsa akan mencarinya, dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” (Yesaya 11:6–10).

* “Pada hari itu Tuhan akan kembali mengulurkan tangan-Nya untuk kedua kalinya guna memperoleh sisa umat-Nya yang masih tinggal dari Asyur, Mesir, Hamat, dan pulau-pulau laut; Dia akan mengangkat panji bagi bangsa-bangsa, mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan menghimpun orang-orang Yehuda yang tercerai-berai dari keempat penjuru bumi.” (Yesaya 11:11).

Nabi Yeremia dan Amos juga mengulang makna-makna yang sama seperti yang disampaikan oleh Yesaya, dan pembaca kitab mereka akan menemukan gagasan-gagasan tersebut tersebar di berbagai bagian.

Opini umum Yahudi pun telah siap menerima Mesias ini, dan harapan akan kedatangannya selalu diperbarui setiap kali mereka ditimpa bencana dan cobaan. Ketika Isa putra Maryam muncul dan menyatakan bahwa dialah Mesias yang dinantikan oleh orang Yahudi, mayoritas dari mereka menolak klaim tersebut, menentang dakwah Isa, menangkapnya, dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya (lihat kitab *al-Masīḥiyyah* karya Ahmad Syalabi).

Dalam kitab Talmud dikatakan tentangnya bahwa Yesus orang Nazaret berada di kedalaman neraka, di antara ter dan api, dan bahwa ibunya mengandungnya melalui jalan dosa.

Telah berlalu masa yang panjang tanpa datangnya Mesias yang dinantikan oleh orang-orang Yahudi. Sebagian dari mereka memanfaatkan keadaan penantian ini, lalu masing-masing mengaku sebagai Mesias. Sejarah mencatat dari waktu ke waktu munculnya para Mesias palsu, terutama di negeri Persia, di mana tersebar pula keyakinan tentang Mahdi yang dinantikan di kalangan Syiah, sehingga membangkitkan semangat untuk menantikan munculnya Mesias.

Di kota Shirīn, pada abad kedelapan Masehi, muncul seorang Yahudi yang mengaku sebagai Mesias yang dinantikan dan berjanji akan mewujudkan mukjizat dengan mengembalikan Palestina (A History of the Jewish People, Margolis and Marx, hlm. 259).

Pada abad yang sama, muncul pula seorang Persia lain di kota Isfahan bernama Abu Isa, yang mengaku sebagai Mesias. Ia mengatakan bahwa kembalinya Palestina tidak akan terwujud kecuali dengan ujung-ujung tombak. Ia mempersiapkan pasukan yang terdiri dari sepuluh ribu tentara Yahudi. Ia memanfaatkan masa kekacauan yang dialami dunia Islam ketika runtuhnya Daulah Umayyah dan berdirinya Daulah Abbasiyah. Gerakan Abu Isa sempat bertahan karena Abu al-‘Abbas as-Saffah sibuk dengan berbagai persoalan di awal pemerintahan Abbasiyah. Namun, ketika kekuasaan berada di tangan Khalifah al-Mansur, ia melancarkan serangan keras terhadap pasukan Yahudi, mengalahkannya, dan Abu Isa melarikan diri ke arah utara sambil menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan salah satu pemimpin Yahudi yang bersembunyi untuk bekerja sama dalam mengembalikan Palestina (ibid., hlm. 259).

Pada abad ketujuh belas, di Salonika muncul seorang Yahudi bernama Sabbetai Zevi. Ia memiliki pengetahuan luas tentang budaya Yahudi, sehingga akrab dengan berbagai pandangan mereka tentang Mesias yang dinantikan. Ia menyaksikan penderitaan orang Yahudi dalam Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa, yang berlangsung sejak masa kecil hingga masa mudanya, di mana orang Yahudi menjadi korban utama. Hal ini mendorongnya untuk mengumumkan dirinya sebagai Mesias yang dinantikan. Ia pun memperbanyak ibadah, berpuasa, dan berkeliling ke berbagai negeri untuk mengajak orang mengikuti dirinya serta mengumumkan dekatnya kemunculan Mesias yang diberkahi.

Ketika tahun 1666 tiba, Zevi mengumumkan risalah pertamanya kepada orang-orang Yahudi. Ia memilih hari yang biasanya mereka jalani dengan puasa dan kesedihan karena berkaitan dengan kenangan pahit. Dalam risalah itu ia berkata:

Dari putra Tuhan, Sabbetai Zevi, sang Mesias, penyelamat bangsa Israel, kepada seluruh anak-anak Israel… salam… karena kalian telah ditakdirkan untuk menyaksikan hari agung dan terpenuhinya janji Tuhan kepada anak-anak-Nya, maka kalian harus mengubah kesedihan kalian menjadi kegembiraan dan puasa kalian menjadi sukacita. Kalian tidak akan menangis lagi mulai sekarang. Bersukacitalah, bernyanyilah, dan jadikan hari yang dahulu dihabiskan dalam kesedihan dan penderitaan sebagai hari raya, karena aku telah muncul…”.

Dan Zifi mengumumkan bahwa ia akan merebut kembali Palestina untuk orang-orang Yahudi, serta mengembalikan kejayaan Zion yang dahulu pernah diwujudkan oleh Daud dan Sulaiman. Hosmer telah menyebutkan kepada kita rincian yang cukup teliti tentang Sabtai Zifi dan gerakannya, maka kita akan menukil sebagian paragraf darinya yang menggambarkan gerakan berbahaya ini serta akhirnya. Hosmer berkata: Sabtai Zifi lahir pada tahun 1626 M, ia adalah anak seorang pedagang Yahudi yang bekerja sebagai manajer cabang dari sebuah perusahaan dagang besar Inggris. Sabtai adalah seorang yang menarik, berakhlak tenang, dan sangat bersemangat dalam menjalankan kewajiban agama serta tradisi Yahudi, sehingga menarik perhatian banyak orang. Ketika ia mencapai usia dua puluh lima tahun, ia mengumumkan bahwa dirinya adalah al-Masih yang dinantikan (The Jews, James Hosmer, hlm. 216–218).

Dengan cepat, banyak kelompok manusia mempercayainya, dan ia pun memiliki para pengikut yang semakin bertambah dari hari ke hari. Sabtai mulai berpindah-pindah antara Yunani, Suriah, dan Mesir. Sebagian pengikutnya yang fanatik mendahuluinya ke tempat-tempat yang ia tuju untuk mempersiapkan suasana bagi kedatangannya dan mengumpulkan massa untuk menyambutnya.

Di Kairo, terdapat seorang gadis Yahudi Polandia yang sangat cantik, yang melarikan diri secara ajaib dari pembantaian Cossack. Ketika Sabtai bertemu dengannya, ia terpikat oleh kecantikannya, lalu menikahinya, dan mengumumkan bahwa sejak dahulu telah ditakdirkan gadis itu menjadi pasangan hidupnya. Sabtai kemudian dengan penuh semangat berpindah ke sana kemari melanjutkan dakwahnya. Para rabbi tidak mampu menghentikan gerakannya yang terus menyebar di kalangan Yahudi di berbagai tempat, hingga ia memiliki pengikut di Amsterdam, Hamburg, dan London, selain para pengikutnya di wilayah Timur. Kepercayaan terhadapnya mencapai tingkat yang sangat besar, sampai-sampai sebagian pengikutnya menjual harta benda mereka, mengumpulkan kekayaan, dan bersiap-siap kembali dari perantauan menuju Palestina mengikuti Sabtai.

Di Persia, para pekerja Yahudi berhenti menaati tuan-tuan mereka dan menolak melanjutkan pekerjaan mengolah tanah. Orang-orang Yahudi di berbagai tempat seakan-akan diliputi semacam kegilaan, dan mereka menjadi hamba dari harapan yang diperbarui oleh dakwah Zifi.

Zifi pun mabuk oleh kemenangan yang diraihnya, lalu mulai melakukan perubahan-perubahan kecil dalam tradisi dan sistem Yahudi. Ia mengubah waktu puasa dan jadwal hari raya sebagaimana disebutkan dalam risalahnya yang telah disebutkan sebelumnya. Kegembiraan itu membawanya hingga membayangkan dirinya sebagai penguasa dengan kekuasaan menyeluruh. Ia mulai membagikan mahkota kepada saudara-saudara dan sahabat dekatnya, setelah menetapkan masing-masing dari mereka sebagai raja atas wilayah-wilayah yang ia yakini akan berada di bawah kekuasaannya, sementara ia sendiri menyandang gelar “Raja segala raja”.

Dalam perjalanannya, Zifi sampai ke Konstantinopel, ibu kota Khilafah Utsmaniyah. Dapat diperhatikan bahwa khalifah Muslim sebelumnya tidak mengganggunya, tampaknya karena tidak ingin menghadapi gelombang semangat dan kegemparan yang mengiringi nama Sabtai pada awal kemunculannya. Sikap ini justru mendorong Sabtai untuk memasuki ibu kota khilafah. Di sana, khalifah akhirnya menangkapnya, mengikatnya dengan ketat, dan memenjarakannya di benteng Dardanella. Untuk beberapa waktu, khalifah hanya melakukan hal itu, sementara Sabtai mendapatkan perlakuan baik dan penghormatan.

Banyak orang Yahudi datang ke Konstantinopel untuk melihat nasib pemimpin mereka. Namun, salah seorang rabbi Yahudi dari Polandia mengumumkan bahwa Sabtai adalah seorang pendusta, dan bahwa gerakannya mengancam keamanan dan ketenteraman.

Sultan Muhammad IV memanfaatkan perselisihan ini, lalu menghadirkan Sabtai di hadapannya dalam sebuah pertemuan besar. Ia telah menyiapkan beberapa prajurit terampil untuk membunuhnya. Kemudian sultan tersebut menyatakan kesiapannya untuk masuk agama Yahudi jika Sabtai, yang mengaku sebagai anak Tuhan dan al-Masih penyelamat, mampu mencegah peluru ditembakkan.

Pada saat yang sama, khalifah memberi kesempatan kepada Sabtai untuk mengakui bahwa dirinya pendusta dan masuk Islam jika ia tahu bahwa ia tidak mampu menghentikan peluru. Dengan cepat, Sabtai memilih masuk Islam dan menamai dirinya Muhammad Afandi. Dengan demikian berakhirlah gejolak yang ditimbulkan oleh orang yang mengaku-ngaku ini. Hingga kini, orang-orang Yahudi masih menantikan kedatangan al-Masih (A History of the Jewish People, Margolis dan Marx, hlm. 704).

===***===

YAHUDI DAN GOYIM
PANDANGAN YAHUDI TERHADAP BANGSA-BANGSA LAIN

“Ujim (أُوجِيمْ)” (atau Goyim (غُوَيِيمْ)/Aghyar – Goyim /Goy) dalam Talmud dan tradisi Yahudi adalah sebuah kata Ibrani yang berarti “bangsa-bangsa” atau “umat-umat”, dan digunakan untuk merujuk kepada selain Yahudi (non-Yahudi).

Bentuk jamaknya adalah “Goyim (غُوَيِيمْ)” dan bentuk tunggalnya “Goy (غُوَيٌّ)”, dan dalam konteks Talmud sering kali mengandung makna yang membedakan antara Yahudi dan selainnya dalam aspek hukum agama dan sosial.

Orang Yahudi meyakini bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dianggap oleh Allah, dan bahwa seluruh bangsa lain, sejak zaman Adam hingga selamanya, adalah bangsa yang sama sekali tidak memiliki nilai di sisi-Nya. Bahkan mereka dipandang sebagai bangsa yang remeh, rendah, tidak memiliki keutamaan apa pun, dan tidak layak disifati kecuali dengan berbagai keburukan. Karena itu, mereka tidak pernah disamakan dengan Yahudi, melainkan diciptakan hanya untuk melayani dan memenuhi kepentingan mereka. Oleh sebab itu, mereka menyebutnya dengan istilah “Goyim (غُوَيِيمْ)” atau “Aghyar” sebagai bentuk merendahkan dan menghina.

Kata “Goyim (غُوَيِيمْ)” adalah bentuk jamak dari “Goy”, yang pada asalnya dalam bahasa-bahasa Semit, termasuk Ibrani, digunakan untuk menunjukkan hewan-hewan yang berkumpul dalam satu kawanan, atau burung, serangga, dan makhluk kecil yang bergerak dalam kelompok. Kemudian maknanya berkembang menjadi sekumpulan manusia yang bercampur, lalu kepada golongan yang rendah dan buruk di antara mereka. Dari sinilah, sejak dahulu, rasisme Yahudi mengkhususkan istilah ini untuk seluruh manusia non-Yahudi. Lalu para pendeta Yahudi memperluas maknanya dengan menambahkan arti kotor secara fisik dan spiritual serta kekafiran, hingga kata “Goy” menjadi sebuah celaan menurut mereka.

Tidak cukup dengan itu, dalam kegemaran mereka merendahkan bangsa lain, muncul pula sejumlah istilah celaan lain, yang paling terkenal di antaranya adalah “Arel”, yang berarti orang yang tidak disunat atau tidak disucikan, tetap dalam keadaan alami yang primitif, dan dalam kondisi itu dianggap kotor sekaligus kafir. Ada juga istilah “Hamzir” yang berarti “anak zina”, yang digunakan sebagai julukan bagi penduduk Palestina dari Asdod, dan juga digunakan untuk menyebut setiap bangsa yang hina dan bercampur nasabnya dalam banyak bagian teks keagamaan mereka.

Akhirnya, pola pikir Yahudi yang diliputi fanatisme rasial mengkhususkan penggunaan dua istilah celaan ini.

Kata “Arel” ditujukan kepada orang-orang Nasrani karena khitan tidak umum di kalangan mereka. Sedangkan kata “Hamzir”, yang berarti anak haram, diarahkan kepada kaum Muslimin, karena menurut anggapan mereka, kaum Muslimin berasal dari keturunan Ibrahim melalui Hajar yang mereka anggap sebagai wanita asing dan budak. Maka setiap orang yang bernasab atau beragama mengikuti Muhammad yang merupakan keturunan Ibrahim—dianggap dalam pemikiran rasial Yahudi sebagai anak haram (Hamzir).

Disebutkan bahwa tujuh puluh pendeta Yahudi berkumpul dan menulis sebuah kitab yang disebut Talmud, yang menurut klaim mereka berisi ajaran-ajaran lisan yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Musa kemudian menyampaikannya secara rahasia kepada para pendeta tersebut dari generasi ke generasi. Jika seseorang membuka kitab Talmud ini, menurut narasi tersebut, ia akan menemukan hal-hal yang sangat buruk.

Kitab Talmud—yang merupakan salah satu kitab utama dalam pemikiran Yahudi—menyebutkan berbagai sifat bagi “Goyim (غُوَيِيمْ)” dengan rincian dan keluasan:

“Bahwa mereka semua selain Yahudi adalah orang-orang kafir penyembah berhala yang tidak diterima ibadah dan amalnya oleh Allah”.

“Mereka dianggap najis sejak asal penciptaannya, karena tidak berasal dari esensi ketuhanan, melainkan diciptakan dari unsur setan”.

“Mereka juga dianggap sebagai hewan dalam bentuk manusia, dan bentuk tersebut hanya diberikan untuk memuliakan orang Yahudi, agar mereka merasa nyaman dengan rupa pelayan mereka, yang pada dasarnya tidak diciptakan kecuali untuk tugas tersebut.

Dan di antara kutipan lainnya yang disebutkan dalam Talmud adalah sbb:

“Jika seorang Yahudi ingin melakukan keburukan, maka hendaklah ia pergi ke negeri yang tidak mengenalnya untuk melakukan keburukan tersebut.”

“Meskipun non-Yahudi menyerupai Yahudi dalam bentuk manusia, perbandingan antara mereka seperti perbandingan manusia dengan kera.”

“Hubungan antara non-Yahudi seperti hubungan antar hewan, tidak ada perbedaan.”

“Perempuan hamil non-Yahudi tidak berbeda dengan hewan betina yang sedang hamil.”

“Ketika engkau membunuh non-Yahudi, maka itu adalah persembahan bagi Tuhan.”

“Jika engkau menemukan barang hilang milik non-Yahudi, maka tidak wajib mengembalikannya.”

“Jika seorang Yahudi membunuh non-Yahudi, maka tidak ada hukuman atasnya.”

“Apa yang dicuri oleh Yahudi dari non-Yahudi boleh ia miliki.”

“Semua anak-anak non-Yahudi adalah seperti hewan.”

Dan masih banyak lagi selain itu yang tidak cukup waktu untuk disebutkan.

Dikutip dari riwayat “Al-Qadimun”.

===***===

MANHAJ HAJER DAN TAHDZIR DALAM YAHUDI

Sungguh sangat disayangkan bahwa khurafat-khurafat yang diyakini oleh orang Yahudi ini telah menjadikan hamba-hamba Allah menjadi dua golongan:

Pertama : golongan yang sangat istimewa yaitu Yahudi.

Kedua: golongan yang sangat hina yaitu selain Yahudi dari seluruh manusia.

Sungguh disayangkan bahwa khurafat-khurafat ini mereka jadikan dalil dengan teks-teks suci yang dinisbatkan secara dusta dan bohong kepada Allah dan para rasul-Nya.

Dari situlah mereka membangun sistem kehidupan, ibadah, dan muamalah mereka dengan orang lain, serta menjadikannya sebagai alasan untuk menghalalkan segala sesuatu terhadap “goyim (non Yahudi)”: darah mereka, kehormatan mereka, harta mereka, martabat mereka, dan seluruh bentuk perlakuan terhadap mereka.

Orang Yahudi telah mengalami banyak kebencian dan penindasan dari orang lain karena sebab dari diri mereka sendiri. Namun demikian, mereka juga mempraktikkan kebencian terhadap orang lain sejak awal, sehingga hati mereka dipenuhi dengan kedengkian, perasaan lebih unggul, dan kesombongan atas mereka.

Mereka melarang duduk-duduk bersama dengan selain Yahudi.

Orang Yahudi di Rusia Tsar dahulu menolak makan bersama orang Kristen Rusia dan memandang mereka dengan sikap merendahkan.

Seorang rabi bernama Meir Kahane berkata: “Kami adalah bangsa pilihan, bangsa khusus, bangsa yang unggul. Kami diciptakan jauh dari segala hal yang hina. Kami adalah bangsa yang harus hidup terpisah dari orang lain dan dengan cara yang berbeda agar terhindar dari percampuran dengan peradaban yang tidak suci.”

Seorang rabi lain, Ishaq Gnorj, dalam sebuah persidangan tahun 1985 setelah terjadinya gejolak di Nablus, berkata: “Bangsa Israel harus bangkit dan menyatakan kepada semua orang bahwa orang Yahudi tidak sama dengan non-Yahudi, jauh dari itu. Setiap pengadilan yang didasarkan pada persamaan antara Yahudi dan bangsa lain adalah gambaran keadilan yang palsu.”

Manhaj hajr (pengucilan/ pengasingan) dan Tahdzir (peringatan) dalam konteks Yahudi mencakup dimensi historis dan arkeologis.

Batu-batu peringatan kuno, seperti yang dipamerkan di Museum Israel, menunjukkan adanya larangan bagi non-Yahudi untuk memasuki area tertentu di dalam Bait Suci.

Sementara itu, manhaj hajer mereka secara historis berkaitan dengan pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah mereka, khususnya setelah penindasan Romawi terhadap pemberontakan Bar Kokhba, sebagaimana disebutkan dalam sejarah Yahudi di Wikipedia.

Mereka senantiasa berusaha memperbudak suku dan bangsa lain dan menganggapnya sebagai hewan.

Di antara doa Ishaq kepada anaknya Ya’qub, dengan pensucian keduanya dari apa yang mereka nisbatkan, setelah Ya’qub bersama ibunya menipunya sebagaimana yang mereka klaim, dan mengambil keberkahan yang sebelumnya dijanjikan untuk saudaranya ‘Isu:

“Hendaklah bangsa-bangsa lain menjadi hamba bagimu, dan suku-suku lain bersujud kepadamu” (Kitab Kejadian, pasal 27).

Jelas bahwa dalam teks ini terdapat dukungan terhadap perbudakan orang Yahudi atas goyim (غُوَيِيمْ).

Disebutkan dalam Kitab Yesaya (61:5–6): “Orang-orang asing akan berdiri dan menggembalakan ternakmu, anak-anak orang asing akan menjadi petani dan tukang kebunmu. Adapun kalian akan disebut imam Tuhan, kalian akan memakan kekayaan bangsa-bangsa, dan atas kemuliaan mereka kalian berkuasa.

Diriwayatkan: Bahwa Israel bertanya kepada Tuhannya: mengapa Engkau menciptakan makhluk selain umat pilihan-Mu? Maka dijawab: agar kalian menunggangi punggung mereka, menghisap darah mereka, membakar tanaman mereka, mengotori yang bersih dari mereka, dan meruntuhkan yang mereka bangun.

Disebutkan pula dalam kitab Talmud:

“Ruh orang Yahudi memiliki keistimewaan karena merupakan bagian dari Tuhan, sedangkan benih non-Yahudi seperti benih hewan.

Neraka adalah tempat bagi orang kafir, bagian mereka di dalamnya adalah tangisan dan rasa sakit.

Kaum Muslimin akan kekal di dalamnya karena mereka hanya mencuci tangan dan kaki, dan orang Nasrani juga akan kekal di dalamnya karena mereka tidak berkhitan.

Orang Yahudi adalah golongan terbaik dari manusia, sedangkan selain mereka adalah anjing, bahkan anjing lebih baik dari mereka.

Tidak boleh bagi orang Yahudi merasa kasihan kepada mereka atau memberi salam kecuali karena takut bahaya, dan salam tersebut hanyalah kemunafikan yang dibolehkan terhadap orang kafir di luar agama Yahudi.

Seluruh dunia adalah milik orang Yahudi. Seorang Yahudi tidak boleh mencuri dari sesama Yahudi, sedangkan harta dan kehormatan non-Yahudi halal baginya.

Tidak boleh seorang Yahudi memberi pinjaman kepada non-Yahudi tanpa riba.

Dan diharamkan bagi seorang Yahudi menyelamatkan non-Yahudi dari kebinasaan atau mengeluarkannya dari lubang tempat ia jatuh, dan berbagai perkara kotor lainnya”. [Selesai]

Tinggalkanlah seluruh teks yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, karena tidak diragukan bahwa itu adalah buatan mereka sendiri dan kedustaan atas Allah dan para rasul-Nya, namun hal itu telah memikat mereka sehingga mereka mempercayainya dan mengamalkannya. Cukuplah bagi pembaca satu teks yang jelas dan benar dari Al-Qur’an yang memuat kaidah mereka dalam bermuamalah dengan bangsa lain. Mereka berkata sebagaimana dalam Al-Qur’an:

﴿لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ﴾

Tidak ada dosa atas kami terhadap orang-orang ummi” (Ali ‘Imran: 75).

Yakni; tidak ada kehormatan sama sekali menurut mereka bagi orang selain Yahudi. Maka nyawa, harta, dan kehormatan mereka halal bagi mereka, dan mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan terhadap mereka.

Ayat lengkapnya sbb:

﴿۞ وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾

Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.

Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.

Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”. [Al Imran: 75]

Bahkan disebutkan dalam kitab Talmud dan Midrash : “Bahwa siapa saja dari goyim (غُوَيِيمْ) yang mempelajari Taurat harus dibunuh, karena mereka hanya diwajibkan menjalankan tujuh wasiat saja dari sepuluh wasiat yang diperuntukkan bagi mereka.

Jika seorang dari goyim (غُوَيِيمْ) mengambil waktu istirahat dalam satu hari dalam sepekan, meskipun bukan hari Sabtu, maka ia harus dibunuh”.

Dalam kitab Talmud juga disebutkan:

“Bahwa diharamkan bagi wanita Yahudi menyusui anak tetangganya yang non-Yahudi, meskipun anak itu terancam mati karena kelaparan”.

Sebagai penutup dari pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada orang Yahudi terhadap “goyim (غُوَيِيمْ)”, terdapat doa harian yang diucapkan setiap Yahudi:

“Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau tidak menjadikanku seorang non-Yahudi” dan doa ini ditujukan kepada Allah SWT.

===***===

PENUTUP

Tidak diragukan lagi—wahai para pembaca—bahwa apa yang telah disebutkan pada baris-baris sebelumnya berupa ucapan dan perbuatan telah sangat mengganggu kita semua; di dalamnya terdapat permusuhan, kesombongan, serta kedustaan dan kebohongan dari orang-orang Yahudi yang jumlahnya kurang dari satu per seribu dari total penduduk bumi, terhadap seluruh bangsa lain yang mereka sebut “goyim (غُوَيِيمْ)”.

Namun janganlah kita khawatir, karena risalah langit terakhir yang dibawa oleh penutup para nabi, Muhammad , menyatakan hal yang berbeda dan menetapkan kebenaran yang adil dan jujur.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat: 13).

Tinggalkanlah kebohongan-kebohongan dan omong kosong Yahudi yang tidak masuk akal itu, yang sebenarnya juga diingkari dan diremehkan oleh sebagian kecil dari mereka yang bersikap adil—meskipun jumlahnya sedikit—karena mereka tidaklah sama semuanya.

REFERENSI:

[1] Al-Yahudiyyah karya Ahmad Syalabi hal. 208 dan sesudahnya:

[2] Al-Yahūd wa al-Ghuwayīm - Itiqār al-Yahūd al-Umam al-Ukhrā – oleh Robithoh Ulama Suriah - Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2009, kemudian diperbarui tata letaknya dan dipublikasikan kembali pada tanggal 31/12/2018.

Posting Komentar

0 Komentar