HUKUM MEMANJANGKAN RAMBUT
---
Di Tulis Oleh Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
====
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
====[[[]]]===
APAKAH MEMANJANGKAN RAMBUT
TERMASUK SUNNAH NABI ﷺ?
Memanjangkan rambut bukanlah sunnah yang diberi pahala
bagi seorang muslim, karena hal itu termasuk perkara adat (kebiasaan).
Nabi ﷺ pernah
memanjangkan rambutnya dan juga pernah mencukurnya, namun beliau tidak
menjadikan memanjangkannya sebagai sesuatu yang berpahala, dan tidak pula
mencukurnya sebagai dosa. Hanya saja, beliau memerintahkan untuk memuliakan
rambut tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ لَهُ
شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ»
“Barang siapa yang memiliki rambut, hendaklah ia
memuliakannya.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4163), dan dihasankan
oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (10/368). Syeikh al-Albani berkata: ‘Hasan
Shahih”.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
«كُنْتُ أُرَجِّلُ
رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَنَا حَائِضٌ»
“Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ﷺ dalam keadaan aku haid.” Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari (291).
Makna “At-tarjil” adalah menyisir rambut.
===[[[]]]====
BAGAIMANA RAMBUT NABI ﷺ?
Rambut beliau ﷺ terkadang sampai ke daun telinga, terkadang antara telinga dan
bahu, dan terkadang menyentuh kedua pundaknya. Jika rambut beliau panjang, maka
beliau menjadikannya menjadi empat kepangan.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu:
«أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ كَانَ يَضْرِبُ شَعَرُهُ مَنْكِبَيْهِ»
“Bahwa rambut Nabi ﷺ mencapai kedua pundaknya”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5563)
dan Muslim (2338)].
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
«كَانَ شَعَرُ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ رَجِلًا ، لَيْسَ بِالسَّبِطِ وَلَا الجَعْدِ، بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ»
“Rambut Rasulullah ﷺ itu bergelombang, tidak lurus terurai dan tidak pula keriting,
berada antara telinga dan bahunya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5905) dan
Muslim (2338).
Dalam riwayat lain dari Muslim:
«كَانَ شَعْرُ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ»
“Rambut Rasulullah ﷺ sampai pertengahan kedua telinganya.”
[HR. Ahmad dalam al-Musnad 19/172 no. 12118. Syu’aib
al-Arna’ut berkata : “Sanadnya sahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan
Muslim”]
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
«كَانَ شَعَرُ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ فَوْقَ الْوَفْرَةِ وَدُونَ الْجُمَّةِ»
“Rambut Rasulullah ﷺ berada di atas wafrah dan di bawah jummah.” Diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi (1755) dan Abu Dawud (4187), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Shahih At-Tirmidzi.
Makna “Wafrah”: rambut kepala yang mencapai daun
telinga.
Makna “Jummah”: rambut kepala yang melandai hingga
kedua pundak.
Dari Ummu Hani’ radhiyallahu 'anha, ia berkata:
«قَدِمَ النَّبِيُّ
ﷺ مَكَّةَ وَلَهُ أَرْبَعُ غَدَائِرَ، تَعْنِي ضَفَائِرَ»
“Rasulullah ﷺ datang ke Makkah dalam keadaan memiliki empat kepangan rambut”.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1781), Abu Dawud
(4191), dan Ibnu Majah (3631). Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fath
al-Bari, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Asy-Syama’il (23).
Yang dimaksud dengan “ghadair” adalah kepangan rambut.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
"وَمَا دَلَّ
عَلَيْهِ الْحَدِيثُ مِنْ كَوْنِ شَعْرِهِ ﷺ كَانَ إِلَى قُرْبِ مَنْكِبَيْهِ كَانَ
غَالِبَ أَحْوَالِهِ، وَكَانَ رُبَّمَا طَالَ حَتَّى يَصِيرَ ذُؤَابَةً، وَيَتَّخِذُ
مِنْهُ عَقَائِصَ وَضَفَائِرَ، كَمَا أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ بِسَنَدٍ
حَسَنٍ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ: (قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَكَّةَ وَلَهُ
أَرْبَعُ غَدَائِرَ)، وَفِي لَفْظٍ: (أَرْبَعُ ضَفَائِرَ)، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ مَاجَهْ:
(أَرْبَعُ غَدَائِرَ يَعْنِي ضَفَائِرَ). وَهَذَا مَحْمُولٌ عَلَى الْحَالِ الَّتِي
يَبْعُدُ عَهْدُهُ بِتَعَهُّدِ شَعْرِهِ فِيهَا، وَهِيَ حَالَةُ الشُّغْلِ بِالسَّفَرِ
وَنَحْوِهِ." انتهى باختصار.
“Apa yang ditunjukkan oleh hadits bahwa rambut Nabi ﷺ sampai mendekati kedua pundaknya merupakan
kondisi beliau yang paling sering. Namun terkadang rambutnya memanjang hingga menjadi
ujung (kuncir), dan beliau menjadikannya dalam bentuk ikatan atau kepangan.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
At-Tirmidzi dengan sanad hasan dari hadits Ummu Hani’, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ datang ke Makkah dengan empat ghadair.’
Dalam lafaz lain: ‘empat kepangan.’ Dan dalam riwayat
Ibnu Majah: ‘empat ghadair, yaitu kepangan.’
Hal ini dipahami pada kondisi ketika telah lama beliau
tidak merawat rambutnya, yaitu saat sibuk dalam perjalanan dan semisalnya.”
Selesai secara ringkas. (Fathul Bari 10/360).
===[[]]===
PERAN ADAT DALAM HUKUM MEMANJANGKAN RAMBUT
Hal ini pada masa Nabi ﷺ dan masa para sahabat, merupakan sesuatu
yang sudah ma’ruf dan diterima dalam adat masyarakat. Namun jika adat berbeda,
dan seorang muslim berada di tempat yang penduduknya tidak terbiasa dengan hal
itu, atau mereka memandang pelakunya sebagai orang yang menyerupai ahli
kefasikan, maka tidak sepantasnya hal tersebut dilakukan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
berkata:
"إِطَالَةُ
شَعْرِ الرَّأْسِ لَا بَأْسَ بِهَا، فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَهُ شَعْرٌ يَقْرُبُ
أَحْيَانًا إِلَى مَنْكِبَيْهِ، فَهُوَ عَلَى الْأَصْلِ، لَا بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنْ
مَعَ ذَلِكَ هُوَ خَاضِعٌ لِلْعَادَاتِ وَالْعُرْفِ،
فَإِذَا جَرَى الْعُرْفُ وَاسْتَقَرَّتِ
الْعَادَةُ بِأَنَّهُ لَا يُسْتَعْمَلُ هَذَا الشَّيْءُ إِلَّا طَائِفَةٌ مُعَيَّنَةٌ
نَازِلَةٌ فِي عَادَاتِ النَّاسِ وَأَعْرَافِهِمْ؛ فَلَا يَنْبَغِي لِذَوِي الْمُرُوءَةِ
أَنْ يَسْتَعْمِلُوا إِطَالَةَ الشَّعْرِ، حَيْثُ إِنَّهُ لَدَى النَّاسِ وَعَادَاتِهِمْ
وَأَعْرَافِهِمْ لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ ذَوِي الْمَنْزِلَةِ السَّافِلَةِ!
فَالْمَسْأَلَةُ إِذًا بِالنِّسْبَةِ
لِتَطْوِيلِ الرَّجُلِ لِرَأْسِهِ مِنْ بَابِ الْأَشْيَاءِ الْمُبَاحَةِ الَّتِي تَخْضَعُ
لِأَعْرَافِ النَّاسِ وَعَادَاتِهِمْ
فَإِذَا جَرَى بِهَا الْعُرْفُ وَصَارَتْ
لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ شَرِيفِهِمْ وَوَضِيعِهِمْ؛ فَلَا بَأْسَ بِهِ، أَمَّا إِذَا كَانَتْ
لَا تُسْتَعْمَلُ إِلَّا عِنْدَ أَهْلِ الضَّعَةِ؛ فَلَا يَنْبَغِي لِذَوِي الشَّرَفِ
وَالْجَاهِ أَنْ يَسْتَعْمِلُوهَا، وَلَا يَرِدُ عَلَى هَذَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ -
وَهُوَ أَشْرَفُ النَّاسِ وَأَعْظَمُهُمْ جَاهًا - كَانَ يَتَّخِذُ الشَّعْرَ؛ لِأَنَّنَا
نَرَى فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ اتِّخَاذَ الشَّعْرِ لَيْسَ مِنْ بَابِ السُّنَّةِ
وَالتَّعَبُّدِ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ اتِّبَاعِ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ."
“Memanjangkan rambut kepala tidak mengapa, karena Nabi
ﷺ memiliki
rambut yang terkadang mendekati kedua pundaknya. Maka hal itu kembali kepada
hukum asalnya, yaitu boleh.
Namun demikian, hal ini tetap mengikuti adat dan
kebiasaan. Jika dalam adat yang berlaku hal itu hanya dilakukan oleh kelompok
tertentu yang rendah dalam pandangan masyarakat, maka tidak pantas bagi orang
yang memiliki kehormatan untuk melakukannya. Karena dalam pandangan masyarakat,
hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang kedudukannya rendah.
Dengan demikian, masalah memanjangkan rambut bagi
laki-laki termasuk perkara mubah yang mengikuti adat dan kebiasaan. Jika sudah
menjadi kebiasaan umum bagi semua kalangan, baik yang terhormat maupun yang
biasa, maka tidak mengapa. Namun jika hanya dilakukan oleh kalangan rendah,
maka tidak sepantasnya bagi orang yang memiliki kehormatan dan kedudukan
melakukannya.
Tidak bisa dijadikan bantahan bahwa Nabi ﷺ -yang paling mulia dan
tinggi kedudukannya- memanjangkan rambut, karena dalam masalah ini memanjangkan
rambut bukan termasuk sunnah ibadah, melainkan termasuk mengikuti adat dan
kebiasaan.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb 22/2).
Dan Ibnu Utsaimin rahimahullah juga berkata:
"لَيْسَ مِنَ
السُّنَّةِ – إِطَالَةُ الشَّعْرِ –؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اتَّخَذَهُ حَيْثُ إِنَّ
النَّاسَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ يَتَّخِذُونَهُ، وَلِهَذَا لَمَّا رَأَى صَبِيًّا قَدْ
حَلَقَ بَعْضَ رَأْسِهِ قَالَ: (احْلِقْهُ كُلَّهُ أَوِ اتْرُكْهُ كُلَّهُ)، وَلَوْ
كَانَ الشَّعْرُ مِمَّا يَنْبَغِي اتِّخَاذُهُ لَقَالَ: أَبْقِهِ.
وَعَلَى هَذَا فَنَقُولُ: اتِّخَاذُ الشَّعْرِ
لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ، لَكِنْ إِنْ كَانَ النَّاسُ يَعْتَادُونَ ذَلِكَ فَافْعَلْ،
وَإِلَّا فَافْعَلْ مَا يَعْتَادُهُ النَّاسُ؛ لِأَنَّ السُّنَّةَ قَدْ تَكُونُ سُنَّةً
بِعَيْنِهَا، وَقَدْ تَكُونُ سُنَّةً بِجِنْسِهَا. فَمَثَلًا: الْأَلْبِسَةُ إِذَا
لَمْ تَكُنْ مُحَرَّمَةً، وَالْهَيْئَاتُ إِذَا لَمْ تَكُنْ مُحَرَّمَةً، فَالسُّنَّةُ
فِيهَا اتِّبَاعُ مَا عَلَيْهِ النَّاسُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ فَعَلَهَا اتِّبَاعًا
لِعَادَةِ النَّاسِ. فَنَقُولُ الْآنَ: جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ أَلَّا يُتَّخَذَ الشَّعْرُ؛
وَلِذَلِكَ عُلَمَاؤُنَا الْكِبَارُ، أَوَّلُ مَنْ نَذْكُرُ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْكِبَارِ
شَيْخُنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ السَّعْدِيِّ، وَكَذَلِكَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ
بْنُ بَازٍ، وَكَذَلِكَ الْمَشَايِخُ الْآخَرُونَ كَالشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ
وَإِخْوَانِهِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ، لَا يَتَّخِذُونَ الشَّعْرَ؛
لِأَنَّهُمْ لَا يَرَوْنَ أَنَّ هَذَا سُنَّةٌ، وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ لَوْ رَأَوْا
أَنَّ هَذَا سُنَّةٌ لَكَانُوا مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَحَرِّيًا لِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ.
فَالصَّوَابُ: أَنَّهُ تَبَعٌ لِعَادَةِ
النَّاسِ، إِنْ كُنْتَ فِي مَكَانٍ يَعْتَادُ النَّاسُ فِيهِ اتِّخَاذَ الشَّعْرِ فَاتَّخِذْهُ،
وَإِلَّا فَلَا." انتهى.
“Memanjangkan rambut bukan termasuk sunnah, karena
Nabi ﷺ
melakukannya pada masa ketika orang-orang memang biasa melakukannya. Oleh
karena itu ketika beliau melihat seorang anak yang mencukur sebagian rambutnya,
beliau bersabda: ‘Cukurlah semuanya atau biarkan semuanya.’ Seandainya
memanjangkan rambut itu dianjurkan, tentu beliau akan mengatakan: biarkan saja.
Maka kita katakan: memanjangkan rambut bukan sunnah.
Namun jika masyarakat terbiasa melakukannya, maka lakukanlah. Jika tidak, maka
ikutilah kebiasaan masyarakat. Karena sunnah terkadang berupa bentuk tertentu,
dan terkadang berupa jenisnya. Misalnya dalam pakaian dan penampilan selama
tidak haram, maka sunnahnya adalah mengikuti kebiasaan masyarakat, karena Nabi ﷺ melakukannya sesuai kebiasaan mereka.
Pada zaman sekarang, kebiasaan masyarakat adalah tidak
memanjangkan rambut. Oleh karena itu para ulama besar seperti Syaikh
Abdurrahman bin As-Sa’di, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin
Ibrahim dan selain mereka tidak memanjangkan rambut, karena mereka tidak
menganggapnya sebagai sunnah. Kita tahu bahwa jika mereka menganggapnya sunnah,
tentu mereka termasuk orang yang paling semangat mengamalkannya.
Kesimpulannya: hal ini kembali kepada kebiasaan
masyarakat. Jika engkau berada di tempat yang biasa memanjangkan rambut, maka
lakukanlah. Jika tidak, maka jangan.” Selesai.
(Liqa’ al-Bab al-Maftuh, pertemuan no. 126, pertanyaan
no. 16).
Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyatakan bahwa pada
zamannya, memanjangkan rambut telah menjadi ciri orang-orang lemah akalnya, dan
ditinggalkan oleh para ulama serta orang-orang saleh. Ini juga merupakan kebiasaan
umum di banyak negeri Islam.
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
صَارَ أَهْلُ عَصْرِنَا لَا يَحْبِسُ
الشَّعْرَ مِنْهُمْ إِلَّا الْجُنْدُ، عِنْدَنَا لَهُمُ الْجِمَمُ وَالْوَفَرَاتُ
– جَمْعُ جُمَّةٍ وَوَفْرَةٍ، وَسَبَقَ بَيَانُ مَعَانِيهَا –، وَأَضْرَبَ عَنْهَا
أَهْلُ الصَّلَاحِ وَالسِّتْرِ وَالْعِلْمِ، حَتَّى صَارَ ذَلِكَ عَلَامَةً مِنْ عَلَامَاتِهِمْ،
وَصَارَتِ الْجِمَمُ الْيَوْمَ عِنْدَنَا تَكَادُ تَكُونُ عَلَامَةَ السُّفَهَاءِ!
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
– أَوْ حُشِرَ مَعَهُمْ –، فَقِيلَ: مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ فِي أَفْعَالِهِمْ، وَقِيلَ:
مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ فِي هَيْئَاتِهِمْ، وَحَسْبُكَ بِهَذَا، فَهُوَ مُجْمَلٌ فِي
الِاقْتِدَاءِ بِهَدْيِ الصَّالِحِينَ عَلَى أَيِّ حَالٍ كَانُوا، وَالشَّعْرُ وَالْحَلْقُ
لَا يُغْنِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَيْئًا، وَإِنَّمَا الْمُجَازَاةُ عَلَى النِّيَّاتِ
وَالْأَعْمَالِ، فَرُبَّ مَحْلُوقٍ خَيْرٌ مِنْ ذِي شَعْرٍ، وَرُبَّ ذِي شَعْرٍ رَجُلًا
صَالِحًا.
“Pada masa kami, tidak ada yang memanjangkan rambut
kecuali para tentara. Mereka memiliki rambut panjang (jummah dan wafrah)—yakni
bentuk-bentuk rambut yang telah dijelaskan sebelumnya. Adapun para ahli
kesalehan, kehormatan, dan ilmu telah meninggalkannya, hingga hal itu menjadi
tanda bagi selain mereka. Bahkan pada masa kami, rambut panjang hampir menjadi
tanda orang-orang yang kurang akal.
Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Barang siapa
menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka’—atau akan dikumpulkan
bersama mereka.
Dikatakan: yang dimaksud adalah menyerupai mereka
dalam perbuatan, dan dikatakan pula dalam penampilan. Cukuplah ini sebagai
peringatan untuk mengikuti petunjuk orang-orang saleh dalam keadaan apa pun.
Rambut atau mencukurnya tidak memberikan manfaat apa
pun pada hari kiamat.
Yang menjadi balasan adalah niat dan amal. Bisa jadi
orang yang mencukur rambut lebih baik daripada yang berambut, dan bisa jadi
orang berambut termasuk orang saleh.” (At-Tamhid 6/80).
Syeikh al-Munajjid Dalam مَوْقِعُ إِسْلَامِ سُؤَالٍ وَجَوَابٍ no. (128184) berkata:
وَعَلَى هَذَا، فَيُرْجَعُ فِي إِطَالَةِ
الرَّجُلِ شَعْرَهُ إِلَى مَا تَعَارَفَ عَلَيْهِ النَّاسُ، فَفِي الْمُجْتَمَعَاتِ
الَّتِي لَا يُطِيلُ فِيهَا الرِّجَالُ شُعُورَهُمْ لَا يَنْبَغِي إِطَالَتُهُ، وَعَقْدُهُ
مِنَ الْخَلْفِ أَشَدُّ قُبْحًا، إِذْ فِيهِ تَشَبُّهٌ بِالنِّسَاءِ وَالْفُسَّاقِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Berdasarkan hal ini, maka memanjangkan rambut bagi
laki-laki dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat. Di lingkungan yang para
laki-lakinya tidak memanjangkan rambut, maka tidak pantas untuk
memanjangkannya. Dan mengikatnya ke belakang lebih buruk lagi, karena
menyerupai wanita dan orang-orang fasik. Wallahu a’lam”.
Penulis katakan pula:
Nabi ﷺ memiliki
empat kepangan rambut kepala. Namun itu tidak berarti bahwa hal tersebut
merupakan sunnah yang berpahala jika dilakukan. Dalam hal ini harus
memperhatikan adat dan kebiasaan masyarakat, yang sekarang telah banyak berbeda
dengan masa dahulu di kebanyakan negeri.
Kesimpulannya: hendaknya mengikuti adat dan kebiasaan
dalam hal ini, agar seorang muslim tidak membuka peluang dirinya menjadi bahan
ejekan dan ghibah manusia.
0 Komentar