Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BENARKAH SYADZ TAMBAHAN KATA (وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ = Dan Setiap Kesesatan di Neraka) DALAM HADITS BID'AH?

 BENARKAH SYADZ TAMBAHAN LAFADZ (وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ = Dan Setiap Kesesatan di Neraka) DALAM HADITS BID'AH? 

 ---

Di Tulis Oleh Bin Kardipan

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---

===

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • SIKAP PARA ULAMA TERHADAP TAMBAHAN “وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ”: 
  • Ada Dua Pendapat.
  • PENJELASAN MASING-MASING DARI DUA PENDAPAT
  • PENJELASAN PENDAPAT PERTAMA : TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SYADZ DAN DHO’IF.
  • PENJELASAN PENDAPAT KEDUA : TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SHAHIH.
  • PERTAMA: Kutipan Dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.
  • KEDUA: Kutipan dari Kedua : artikel “تَصْحِيحُ زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya Bin Yusuf al-‘Amri.
  • FIQIH HADITS DAN FAIDAH DARINYA

 ***

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Lafadz Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu:

«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

Para ulama ahli hadits berbeda pendapat mengenai tambahan lafadz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ yang terdapat di akhir hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu dalam khutbah hajat.

Status hukum Asal derajat hadits ini disepakati kesahihannya tanpa tambahan tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdulluh dengan lafadz: “كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ saja.

Adapun tambahan “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ, maka tambahan ini diriwayatkan secara tunggal oleh sebagian para perawi.

Lafadz hadits Jabir pertama : tanpa tambahan وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Ini adalah lafadz hadits Jabir yang tsabit (valid) dan di sepakati, yaitu:

«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

‘Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’

Inilah lafadz yang valid dan terjaga dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.

Ini sebagaimana diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu:

[1]- ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi.

[2] Sulaiman bin Bilal.

[3] Sufyan ats-Tsauri (Muslim no 45-(867), Ahmad no. 14984) dan Ibnu Majah no. 2426).

[4] Wuhaib bin Khalid.

[5] Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan.

[6] ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad.

[7] Yahya bin Sulaim.

[8] Mush’ab bin Salam (Musnad Ahmad no. 14334)

[9] Anas Bin ‘Iyadh, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah.

[10] dan juga yang lainnya.”

Lafadz hadits Jabir kedua : terdapat tambahan وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

«وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، ‌وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ».

“Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”

Ini sebagaimana diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro. Dan ini hanya diriwayatkan melalui jalur : Abdullah bin Al-Mubarak dari Sufyan Ats-Tsauri dari Ja‘far bin Muhammad ... dst. 

Adapun selain hadits Jabir, maka lafadz ini diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud secara mauquf oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan Al-Baihaqi hlm. 189. Namun sanad Al-Baihaqi ini lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di dalamnya terdapat Ayyub bin Al-Walid, yang biografinya disebutkan oleh Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 7/10, dan dia tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”.

===***===

SIKAP PARA ULAMA TERHADAP TAMBAHAN 
وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ

Ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Ulama hadits yang menganggap nya syadz dan dho'if.

Sebagian para ulama hadits menilai tambahan ini adalah lemah dan tergolong syadz (asing dan melenceng), karena tambahan lafadz tersebut hanya diriwayatkan oleh sebagian perawi yang menyelisihi mayoritas para perawi tsiqah yang meriwayatkan hadits tersebut tanpa tambahan itu.

Imam Muslim bin Al-Hajjaj, beliau tidak memasukkan tambahan ini dalam Shahih Muslim dan hanya mencukupkan dengan lafadz: “وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ”.

Pendapat kedua : Ulama hadits yang menshahihkannya:

Imam an-Nasa’i: Beliau memasukkan tambahan ini dalam as-Sunan al-Kubro.

Sebagian para imam, baik dari kalangan ulama terdahulu maupun kontemporer, menshahihkan tambahan ini karena menurut mereka hadits ini datang melalui beberapa jalur yang shahih.

Di antara yang menshahihkannya adalah Imam An-Nasa’i dalam As-Sunan, Syeikh Al-Albani, dan Syaikh Bin Baz.

TEXT LENGKAP HADITS JABIR:

---

Pertama : Riwayat Tanpa Tambahan “وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ”:

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 867 melalui tiga jalur:

[1]- ‘Abdul Wahhab bin Abdul Majid Ats-Tsaqofi.

[2]- Sulaiman bin Bilal.

[3]- Waki’ dari Sufyan ats-Tsauri

Ketiga-tiganya meriwayatkan langsung: dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ».

وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى.

وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

ثُمَّ يَقُولُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

Rasulullah apabila berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suara beliau meninggi, dan kemarahan beliau sangat tampak, hingga seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan terhadap datangnya pasukan musuh yang berkata: “Musuh akan menyerang kalian pada pagi atau petang hari.”

Dan beliau juga bersabda: “Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua jari ini.” Lalu beliau merapatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Dan beliau juga bersabda:

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

Kemudian beliau bersabda: “Aku lebih berhak terhadap setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Dan barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga yang terlantar, maka itu menjadi urusanku dan tanggunganku.”

Dan Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan ats-Tsauri, dari Ja‘far, dari ayahnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَخْطُبُ النَّاسَ، يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَخَيْرُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ» ‌ثُمَّ ‌سَاقَ ‌الْحَدِيثَ ‌بِمِثْلِ ‌حَدِيثِ ‌الثَّقَفِيِّ

Rasulullah biasa berkhutbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah.”

Kemudian perawi melanjutkan hadits tersebut dengan lafadz yang semisal dengan hadits Ats-Tsaqofi”. [Shahih Muslim 45-(867)]

Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad (Syu’aib Al-Arnauth, Adil Mursyid dan lainnya) berkata:

قُلْنَا: وَهٰذَا الْحَرْفُ: «كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» لَمْ يُرْوَ فِي هٰذَا الْحَدِيثِ إِلَّا مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَأَمَّا مِنْ غَيْرِ حَدِيثِ جَابِرٍ فَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا عِنْدَ اللَّالَكَائِيِّ فِي «شَرْحِ أُصُولِ الِاعْتِقَادِ» (85)، وَالْبَيْهَقِيِّ ص 189، وَإِسْنَادُ الْبَيْهَقِيِّ ضَعِيفٌ، أَمَّا إِسْنَادُ اللَّالَكَائِيِّ فَفِيهِ أَيُّوبُ بْنُ الْوَلِيدِ، وَهُوَ مُتَرْجَمٌ فِي «تَارِيخِ بَغْدَادَ» 7/10، وَلَمْ يَأْثُرِ الْخَطِيبُ فِيهِ جَرْحًا وَلَا تَعْدِيلًا.

Kami katakan : “Tambahan lafadz “setiap kesesatan di dalam neraka” ini tidak diriwayatkan dalam hadits tersebut kecuali melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak dari Sufyan Ats-Tsauri. Adapun selain hadits Jabir, maka lafadz itu diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara mauquf oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan Al-Baihaqi hlm. 189. Sanad Al-Baihaqi lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di dalamnya terdapat Ayyub bin Al-Walid, yang biografinya disebutkan dalam Tarikh Baghdad 7/10, dan Al-Khathib tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”. [Lihat: Haamisy al-Musnad 23/235 no. 14984]

----

Kedua : Riwayat Terdapat Tambahan “وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ:

Dan An-Nasa’i meriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubra 2/308 no. 1799 dan 5/384 no. 581: melalui satu jalur yaitu:

Dar Ibnu Al-Mubarak, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ : يَحْمَدُ اللهَ، وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ، ثُمَّ يَقُولُ:

«مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، ‌وَكُلَّ ‌ضَلَالَةٍ ‌فِي ‌النَّارِ ».

ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ مَعًا كَهَاتَيْنِ».

وَكَانَ إِذَا ذُكِرَتِ السَّاعَةُ احْمَرَّتْ، وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ صَبَّحَتْكُمْ مَسَّتْكُمْ،

ثُمَّ قَالَ: «مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا، فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ»

Rasulullah dahulu dalam khutbahnya memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian beliau bersabda:

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.

Kemudian beliau bersabda: ‘Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua ini.’

Dan apabila hari kiamat disebutkan, kedua pipi beliau memerah, suara beliau meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan terhadap pasukan musuh yang menyerang kalian pada pagi atau sore hari.

Kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan harta maka itu untuk keluarganya, dan barangsiapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka itu menjadi tanggunganku dan menjadi urusanku, dan aku adalah wali bagi kaum mukminin.’” [Selesai]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 3/143 no. 1785 dengan sanad dan matan yang sama. Kemudian Ibnu Khuzaimah berkata setelahnya:

«هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ»

“Ini adalah lafaz hadits Ibnu Al-Mubarak. Sedangkan lafaz Anas bin ‘Iyadh berbeda dengan lafaz ini.”

===((*))====

PENJELASAN MASING-MASING DARI DUA PENDAPAT

===***===

PENJELASAN PENDAPAT PERTAMA :
TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SYADZ DAN DHO’IF.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah menyebutkan lafadz hadits Jabir riwayat Muslim, ia berkata:

« وَلَمْ يَقُلْ ﷺ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ »

“Dan beliau tidak mengatakan: ‘dan setiap kesesatan di dalam neraka’.”

Kemudian Ibnu Taimiyah menjelaskan:

«بَلْ يَضِلُّ عَنْ الْحَقِّ مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدْ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجَزَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقَبُ وَقَدْ يَفْعَلُ بَعْضَ مَا أُمِرَ بِهِ فَيَكُونُ لَهُ أَجْرٌ عَلَى اجْتِهَادِهِ وَخَطَؤُهُ الَّذِي ضَلَّ فِيهِ عَنْ حَقِيقَةِ الْأَمْرِ مَغْفُورٌ لَهُ. وَكَثِيرٌ مِنْ مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَدْ قَالُوا وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ وَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ إمَّا لِأَحَادِيثَ ضَعِيفَةٍ ظَنُّوهَا صَحِيحَةً وَإِمَّا لِآيَاتِ فَهِمُوا مِنْهَا مَا لَمْ يُرَدْ مِنْهَا ‌وَإِمَّا ‌لِرَأْيٍ ‌رَأَوْهُ ‌وَفِي ‌الْمَسْأَلَةِ ‌نُصُوصٌ لَمْ تَبْلُغْهُمْ »

Bahkan seseorang bisa tersesat dari kebenaran padahal ia bermaksud mencari kebenaran dan telah bersungguh-sungguh dalam mencarinya, namun ia tidak mampu mencapainya, maka ia tidak dihukum. Bisa jadi ia melakukan sebagian dari apa yang diperintahkan kepadanya sehingga ia mendapatkan pahala atas ijtihadnya, sedangkan kesalahannya yang membuatnya menyimpang dari hakikat perkara itu diampuni baginya.

Banyak dari kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang telah mengatakan dan melakukan sesuatu yang merupakan bid’ah, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah bid’ah. Hal itu bisa disebabkan oleh hadits-hadits lemah yang mereka sangka shahih, atau karena ayat-ayat yang mereka pahami dengan pemahaman yang bukan dimaksudkan darinya, atau karena suatu pendapat yang mereka anggap benar, sementara dalam masalah tersebut terdapat nash-nash yang belum sampai kepada mereka.” [Selesai]

Muhammad ‘Amr bin ‘Abdul Lathif Asy-Syinqithi berkata dalam Ahadits wa Marwiyyat fil Mizan 2 – Hadits Al-Finah hlm. 5:

هَذَا هُوَ الثَّابِتُ الْمَحْفُوظُ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ، كَمَا رَوَاهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ: عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ بِلالٍ، وَوُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ، وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَيَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ، وَآخَرُونَ، وَمُقْتَضَى صَنِيعِ مُسْلِمٍ أَنْ يَكُونَ هُوَ لَفْظُ وَكِيعٍ عَنِ الثَّوْرِيِّ عَنْ جَعْفَرٍ بِهِ، حَيْثُ أَحَالَ عَلَى رِوَايَةِ الثَّقَفِيِّ وَقَالَ: «ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ».

لَكِنْ رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ عَنْ وَكِيعٍ بِلَفْظِ: «وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»، وَجَمَعَ بَيْنَهُمَا الْبَيْهَقِيُّ.

وَخَالَفَ جَمِيعَ هَؤُلَاءِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، فَرَوَاهُ عَنِ الثَّوْرِيِّ عَنْ جَعْفَرٍ بِهِ بِلَفْظِ: «وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

وَهَذِهِ اللَّفْظَةُ تَحَاشَاهَا الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي «صَحِيحِهِ»، وَكَذَلِكَ ابْنُ حِبَّانَ، وَأَوْرَدَهَا ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي «صَحِيحِهِ» بِالتَّحْوِيلِ مَعَ رِوَايَةِ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ عَنْ جَعْفَرٍ، وَقَالَ: « هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ».

وَفِي الْحَقِيقَةِ أَنَّ لَفْظَ جُمْهُورِ الرُّوَاةِ عَنْ جَعْفَرٍ كَذَلِكَ فِي هَذِهِ الزِّيَادَةِ وَفِي السِّيَاقِ نَفْسِهِ.

وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ ـ رَحِمَهُ اللَّهُ ـ وَإِنْ صَحَّحَ لَفْظَ النَّسَائِيِّ بِالزِّيَادَةِ فِي «إِقَامَةِ الدَّلِيلِ عَلَى إِبْطَالِ التَّحْلِيلِ» مِنَ الْفَتَاوَى (3 / 58)، كَمَا فِي «خُطْبَةِ الْحَاجَةِ» لِلْعَلَّامَةِ الْأَلْبَانِيِّ ـ رَحِمَهُ اللَّهُ ـ (ص 30)، فَقَدْ طَعَنَ فِي ثُبُوتِهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي «مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى» (19/191)، فَقَالَ: «وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، ثُمَّ شَرَعَ فِي بَيَانِ عَدَمِ صِحَّةِ هَذَا الْمَعْنَى.

وَلَوْلَا أَنَّ اللَّهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ قَيَّضَ لِي أَخًا كَرِيمًا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذِهِ اللَّفْظَةِ مُنْذُ عِدَّةِ سَنَوَاتٍ، مَا تَفَطَّنْتُ إِلَى شُذُوذِهَا بَعْدَ التَّقَصِّي التَّامِّ لِطُرُقِ هَذَا الْحَدِيثِ، وَإِنْ رُوِيَتْ عَنْ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ ـ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا ـ. انْتَهَى.

(Tanpa tambahan lafadz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”), Inilah lafadz yang valid dan terjaga dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, sebagaimana diriwayatkan pula oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu: (1) ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, (2) Sulaiman bin Bilal, (3) Wuhaib bin Khalid, (4) Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, (5) ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, (6) Yahya bin Sulaim, (7) dan yang lainnya.

Konsekuensi dari metode Imam Muslim menunjukkan bahwa begitu itu pula lafadz Waki‘ dari Sufyan Ats-Tsauri dari Ja‘far dengan sanad tersebut, karena beliau merujukkan kepada riwayat Ats-Tsaqofi yang sebelumnya, dengan berkata:

«ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ»

‘Kemudian beliau membawakan hadits semisal hadits Ats-Tsaqafi.’

Akan tetapi Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkannya dari Waki‘ dengan lafadz:

«وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»

‘Dan setiap perkara baru adalah bid’ah.’

Lalu Al-Baihaqi menggabungkan kedua lafadz tersebut.

Seluruh perawi tadi diselisihi oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak. Ia meriwayatkannya dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ja‘far, dengan lafadz:

«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

‘Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan di dalam neraka.’

Lafadz tambahan ini dihindari oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, demikian pula Ibnu Hibban.

Sedangkan Ibnu Khuzaimah membawanya dalam Shahih-nya dengan cara pengalihan sanad bersama riwayat Anas bin ‘Iyadh dari Ja’far, lalu beliau berkata:

«هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. ‌وَلَفْظُ ‌أَنَسِ ‌بْنِ ‌عِيَاضٍ ‌مُخَالِفٌ ‌لِهَذَا ‌اللَّفْظِ»

“Ini adalah lafadz hadits Ibnu Al-Mubarak. Adapun lafadz Anas bin ‘Iyadh berbeda dengan lafadz ini (yakni; tanpa kata ‘setiap kesesatan di dalam neraka’)”.

Dan pada hakikatnya, lafadz mayoritas perawi dari Ja’far juga berbeda dengan tambahan ini dan dalam susunan konteks yang sama.

Syaikhul Islam rahimahullah, meskipun menshahihkan lafadz riwayat An-Nasa’i yang memuat tambahan tersebut dalam kitab Iqamatud Dalil ‘ala Ibtholit Tahlil dari Majmu‘ Al-Fatawa (3/58), sebagaimana disebutkan dalam Khuthbatul Hajah karya Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah (hlm. 30), namun beliau juga mengkritik ketetapan tambahan itu dari Nabi dalam Majmu‘ Al-Fatawa (19/191). Beliau berkata:

«وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

‘Dan beliau tidak mengatakan: “Dan setiap kesesatan di dalam neraka.”’

Kemudian beliau melanjutkan penjelasan tentang tidak shahihnya makna tersebut.

Kalaulah bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla menggerakkan seorang saudara mulia untuk bertanya kepadaku tentang lafadz ini sejak beberapa tahun yang lalu, niscaya aku tidak akan menyadari ke-syadz-annya setelah penelitian menyeluruh terhadap seluruh jalur hadits ini, meskipun lafadz tersebut juga diriwayatkan dari ‘Umar dan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuma.” (Selesai).

Abdullah Al-Bassam rahimahullah dalam *Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram*, beliau berkata dalam melemahkan tambahan lafaz ini:

«فَفِي سَنَدِهَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَاشِمِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَأَخَذَ الْحَدِيثَ وِجَادَةً».

“Dalam sanadnya terdapat Ja’far bin Muhammad Al-Hasyimi, dan ia dha’if serta mengambil hadits secara wijadah.”

TAMBAHAN كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِADALAH SYADZ (شَاذَّةٌ)

Mereka mengatakan : Tambahan lafadz “كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” dianggap syadz (terasingkan), karena Abdullah bin al-Mubarak secara tunggal telah menyelisihi semua para perawi tsiqot (terpercaya) dari Jalur  Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir dari Nabi .

Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi berkata:

وَزَادَ النَّسَائِيُّ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ شَاذَّةٌ لَا تَثْبُتُ؛ فَإِنَّ أَصْلَ الْحَدِيثِ فِي «الصَّحِيحِ» وَغَيْرِهِ لَيْسَتْ فِيهِ هَذِهِ الزِّيَادَةُ، وَإِنَّمَا تَفَرَّدَ بِهَا بَعْضُ الرُّوَاةِ.

“Imam An-Nasa’i menambahkan lafadz: ‘وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. Akan tetapi tambahan ini syadz dan tidak tsabit, karena asal hadits tersebut dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya tidak terdapat tambahan ini. Tambahan tersebut hanya diriwayatkan secara tersendiri (tunggal) oleh sebagian perawi.” [Sumber: ceramahnya di Youtube]

Syeikh ‘Amr Abdul Mun’im Salim dalam kitab *Shifah Khuthbah An-Nabi (hal. 17), Ia berkata:

«وَزَادَ النَّسَائِيُّ فِي رِوَايَةٍ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، وَهِيَ زِيَادَةٌ شَاذَّةٌ مِنْ هَذِهِ الطَّرِيقِ، وَالْحَمْلُ فِيهَا عَلَى شَيْخِ النَّسَائِيِّ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ...».

“An-Nasa’i menambahkan dalam salah satu riwayat: ‘dan setiap kesesatan berada di neraka’, dan ini adalah tambahan yang syadz dari jalur ini. Tanggung jawabnya ada pada guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah…”

Dan Syeikh Ahmad Khulaif Shiddiq berkata dalam risalahnya (Dho‘fu Ziyadati “Wa Kullu Dholalatin Fin Nar” Riwayatan wa Dirayatan):

هَذِهِ الزِّيَادَةُ شَاذَّةٌ، وَالشَّاذُّ فِي عِدَادِ الْوَاهِي كَمَا قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي الْمُوقِظَةِ، وَالشَّاذُّ لَا تَنْفَعُهُ الْمُتَابَعَاتُ وَالشَّوَاهِدُ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ؛ لِأَنَّهُ خَطَأٌ مِنْ أَسَاسِهِ.

لَفْظُ الْحَدِيثِ: «وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» هَذَا هُوَ الثَّابِتُ الْمَحْفُوظُ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ كَمَا رَوَاهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ: عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، وَوُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ، وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَيَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ وَآخَرُونَ.

“Tambahan lafadz ini tergolong syadz, sedangkan hadits syadz termasuk dalam kategori hadits lemah, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mauqizhah. Hadits syadz tidak dapat dikuatkan dengan mutaba‘at maupun syawahid sebagaimana telah dikenal dalam ilmu hadits, karena pada asalnya ia merupakan kekeliruan.

Lafadz hadits yang tsabit adalah:

«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

‘Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’

Inilah lafadz yang valid dan terjaga dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya, sebagaimana diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu: (1) ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, (2) Sulaiman bin Bilal, (3) Wuhaib bin Khalid, (4) Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, (5) ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, (6) Yahya bin Sulaim, (7) dan yang lainnya.” [Selesai]

Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad (yaitu; Syu’aib Al-Arnauth, Adil Mursyid dan lainnya), mereka berkata:

قُلْنَا: وَهٰذَا الْحَرْفُ: «كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» لَمْ يُرْوَ فِي هٰذَا الْحَدِيثِ إِلَّا مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَأَمَّا مِنْ غَيْرِ حَدِيثِ جَابِرٍ فَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا عِنْدَ اللَّالَكَائِيِّ فِي «شَرْحِ أُصُولِ الِاعْتِقَادِ» (85)، وَالْبَيْهَقِيِّ ص 189، وَإِسْنَادُ الْبَيْهَقِيِّ ضَعِيفٌ، أَمَّا إِسْنَادُ اللَّالَكَائِيِّ فَفِيهِ أَيُّوبُ بْنُ الْوَلِيدِ، وَهُوَ مُتَرْجَمٌ فِي «تَارِيخِ بَغْدَادَ» 7/10، وَلَمْ يَأْثُرِ الْخَطِيبُ فِيهِ جَرْحًا وَلَا تَعْدِيلًا.

Kami katakan : “Tambahan lafadz “setiap kesesatan di dalam neraka” ini tidak diriwayatkan dalam hadits Jabir tersebut kecuali melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak dari Sufyan Ats-Tsauri.

Adapun selain hadits Jabir, maka lafadz itu diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara mauquf oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan Al-Baihaqi hlm. 189. Sanad Al-Baihaqi lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di dalamnya terdapat Ayyub bin Al-Walid, yang biografinya disebutkan dalam Tarikh Baghdad 7/10, dan Al-Khathib tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”. [Lihat: Haamisy al-Musnad 23/235 no. 14984]

Dan di halaman lain mereka juga berkata:

«وَفِي الرِّوَايَةِ الْمَوْقُوفَةِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ وَاللَّالَكَائِيِّ زِيَادَةٌ: “كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”، وَهِيَ فِي بَعْضِ طُرُقِ جَابِرٍ».

“Dalam riwayat mauquf yang ada pada Al-Baihaqi dan Al-Lalika’i terdapat tambahan: ‘setiap kesesatan di dalam neraka’, dan tambahan ini terdapat pada sebagian jalur hadits Jabir.” [Lihat: Haamisy al-Musnad 22/238 no. 14334]

Ibrahim bin Syarif Al-Mili dalam *Majmu’ Fihi Mu’allafat li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah* (hal. 322, catatan kaki) ia berkata:

«وَقَدْ فَصَّلْتُ الْقَوْلَ فِي بَيَانِ شُذُوذِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ فِي «بُلْغَةِ الْحَثِيثِ» أَعَانَ اللَّهُ عَلَى طِبَاعَتِهِ».

“Aku telah menjelaskan secara rinci tentang syadznya kalimat ini dalam kitab ‘Bulghah Al-Hatsits’, semoga Allah memudahkan pencetakannya.”

Dan Muhammad ‘Amr bin Abdullathif asy-Syinqithi dalam Ahadits wa Marwiyyaat Fii al-Mizan hal. 5 catatan kaki no. (1) berkata:

تَعْلَمُ السَّبَبَ فِي إِعْرَاضِي عَنِ اللَّفْظَةِ الْمَشْهُورَةِ جِدًّا: «وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَأَنَّهَا شَاذَّةٌ، وَ«الشَّاذُّ فِي عِدَادِ الْوَاهِي» كَمَا قَالَ الْإِمَامُ الذَّهَبِيُّ ـ رَحِمَهُ اللهُ ـ فِي كِتَابِهِ الْقَيِّمِ «الْمُوقِظَةِ»، وَمَعْنَاهَا أَيْضًا غَيْرُ صَحِيحٍ كَمَا فِي «مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى» (19 / 191).

Engkau akan mengetahui sebab aku berpaling dari lafadz yang sangat masyhur :

“Setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan di dalam neraka.

Bahwa lafadz tersebut adalah syadz, sedangkan “hadits syadz termasuk kategori hadits yang lemah” sebagaimana dikatakan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab beliau yang berharga Al-Muqizhah. Maknanya juga tidak benar sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ Al-Fatawa (19/191).

Syaikhul Islam dalam al-Fatawa al-Kubro 6/78 dan “Ibtholut Tahlil (3/122) mengatakan:

«رَوَاهُ النَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»؛ ا هـ.»

“An-Nasa’i meriwayatkannya dengan sanad shahih dan ada tambahan kata: ‘maka setiap bid’ah di dalam neraka’.”

Beliau tidak secara tegas menyatakan penshahihan lafadz tersebut, namun hanya menyebutkan bahwa itu adalah tambahan dalam hadits an-Nasa’i. Dan hal ini tidak mengharuskan beliau menshahihkannya, wallahu a’lam. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas tentang pelemahan beliau terhadapnya dari sisi makna.

Dan berikut ini text lengkapnya, Ibnu Taimiyah berkata:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ: «أَمَّا بَعْدُ فَأَحْسَنُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» .

وَفِي لَفْظٍ : .... وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»

وَكَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يَخْطُبُ بِهَذَا الْخُطْبَةِ، وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «... أَلَا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»

وَفِي لَفْظٍ: «غَيْرَ أَنَّكُمْ سَتُحْدِثُونَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ فَكُلُّ مُحْدَثَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» .

وَهَذَا مَشْهُورٌ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَكَانَ يَخْطُبُ بِهِ كُلَّ خَمِيسٍ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ بِهِ فِي الْجُمَعِ.

وَقَدْ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ بِأَسَانِيدَ جَيِّدَةٍ ... عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: ... وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» . وَهَذَا إسْنَادٌ جَيِّدٌ لَكِنَّ الْمَشْهُورَ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ –

وَعَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ رسول الله : ... فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» . رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Jabir, bahwa Rasulullah biasa mengatakan dalam khutbah beliau:

“Amma ba’du, maka sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

Dalam lafadz lain: “... dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara baru adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad shahih, dan beliau menambahkan: “Maka setiap bid’ah di dalam neraka.”

Umar radhiyallahu 'anhu dahulu berkhutbah dengan khutbah ini. Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu secara mauquf dan marfu’, bahwa beliau biasa mengatakan: “... Ketahuilah, jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, karena sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah.”

Dalam lafadz lain: “Hanya saja kalian akan mengada-adakan perkara-perkara baru dan akan diada-adakan pula untuk kalian perkara-perkara baru, maka setiap perkara baru adalah kesesatan dan setiap kesesatan di dalam neraka.”

Ini masyhur dari Ibnu Mas’ud, dan beliau biasa berkhutbah dengannya setiap hari Kamis, sebagaimana Nabi biasa berkhutbah dengannya pada hari Jumat.

Ibnu Majah dan Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkannya dengan sanad-sanad yang baik dari Abdullah bin Mas’ud: “Bahwa Rasulullah bersabda: ... sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Ini adalah sanad yang baik, namun yang masyhur adalah bahwa hadits itu mauquf pada Ibnu Mas’ud.

Dan dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “... sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” [al-Fatawa al-Kubro 6/78 karya Ibnu Taimiyah].

===

Pertanyaan :

Bagaimana dengan Abu Nu‘aim yang meriwayatkan dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (1953) melalui jalur sbb :

[1] Al-Firyabi dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan.

[2] Al-Firyabi dari ‘Utsman dari Waki‘ dari Sufyan.

[3] ‘Ubaid bin Ghannam dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan dari Ja‘far, dari ayahnya, dari Jabir dia berkata dengan lafadz:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ:

«مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ أَصْدَقُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ»

ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ».

وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ:

«صَبَّحَتْكُمْ مَسَّتْكُمْ» ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ تَرَكَ مَالا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ»

Rasulullah dahulu dalam khutbahnya memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian beliau bersabda:

”Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”

Kemudian beliau bersabda: ”Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua ini.”

Apabila beliau menyebut hari kiamat, kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan terhadap pasukan musuh: “Musuh menyerang kalian pada pagi atau sore hari.”

Kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan harta maka itu untuk keluarganya, dan barangsiapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga maka itu menjadi tanggunganku dan kewajibanku, dan aku adalah wali bagi kaum mukminin.”

Jawaban:

Jawaban mereka adalah : yang tampak, perbedaan ini berasal dari Sufyan Ats-Tsauri sendiri.”

 ===***===

PENJELASAN PENDAPAT KEDUA :
TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SHAHIH.

Penulis kutip pembahasan pendapat kedua ini dari dua kitab:

Pertama : kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.

Kedua : artikel “تَصْحِيحُ زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya bin Yusuf al-‘Amri.

*****

PERTAMA:
Kutipan Dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.

Hal 97 (al-Maktabah asy-Syamilah)

Diterjemahkan oleh penulis dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia

====

Abu Al-Mundzir Al-Minyawi  dalam Kitab Al-Bid‘ah Asy-Syar‘iyyah hlm. 97, Al-Maktabah Asy-Syamilah, berkata:

“Rasulullah bersabda:

«كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Ini merupakan bagian dari hadits Jabir dengan lafadz yang semisal dalam khutbatul hajah, yang diriwayatkan dari Nabi melalui jalur Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir.

Hadits tersebut diriwayatkan dari Ja‘far dengan sanad ini oleh ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdul Hamid, Sulaiman bin Bilal, Yahya bin Sulaim, Mush‘ab bin Salamah, Wuhaib, Yahya bin Sa‘id, dan Abu Musa Ishaq bin Musa, tanpa menyebut tambahan lafadz:

«وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Hadits itu juga diriwayatkan darinya oleh Sufyan — yaitu Ats-Tsauri sebagaimana disebutkan secara tegas dalam riwayat Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah — dengan menyebut tambahan tersebut. Akan tetapi terjadi perbedaan riwayat darinya mengenai tambahan itu. Tambahan tersebut diriwayatkan dari Sufyan oleh Ibnul Mubarak dan Waki‘.

Adapun Ibnu Al-Mubarak, maka ia menambahkan lafadz:

«وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Dan setiap kesesatan berada di neraka”

dalam riwayat An-Nasa’i, Muhammad ibn Ishaq Ibn Khuzaymah, Ahmad ibn al-Husayn al-Bayhaqi, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah, dan selain mereka.

Sedangkan Waki‘, maka terjadi perbedaan riwayat darinya. Hadits itu diriwayatkan darinya dari Sufyan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, ‘Utsman, dan Salim bin Junadah.

Adapun Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, maka terjadi perbedaan riwayat darinya. Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkannya dalam Shahih-nya tanpa menyebut tambahan tersebut. Sedangkan Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam Al-Mustakhraj melalui jalur Al-Firyabi dan ‘Ubaid bin Ghannam darinya dengan menyebut tambahan itu.

Adapun ‘Utsman dan Salim bin Junadah, maka keduanya meriwayatkannya dari Waki‘ dengan menyebut tambahan tersebut sebagaimana terdapat dalam Al-Mustakhraj karya Abu Nu‘aim.

Kesimpulannya, bahwa Sufyan memang meriwayatkan tambahan lafadz tersebut, namun tetap terdapat perselisihan riwayat darinya.

Ibnul Mubarak meriwayatkannya dari Sufyan tanpa perbedaan riwayat, sedangkan Waki‘ meriwayatkannya dengan perbedaan: kadang menyebut tambahan itu, dan kadang tidak menyebutnya.

Sufyan tidak sendirian dalam meriwayatkan tambahan lafaz ini, karena ia juga diikuti oleh Muhammad bin Manshur Az-Za‘farani dari Ja‘far dengan tambahan lafaz tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Baththah (w. 387 H) dalam Al-Ibanah (2/85) hadits no. 1491. Muhammad bin Manshur ini dikatakan oleh Ibnu Baththah:

وَكَانَ ثِقَةً.

“Ia adalah seorang yang tsiqah.”

[Note: Penulis belum menemukan biografi “Muhammad bin Manshur Az-Za‘farani” dalam kitab-kitab Tarojim dan Jarh wa Ta’diil]

Pertama: bahwa tambahan lafaz ini bersifat penjelas dan tidak bertentangan, karena bid’ah itu terbatas pada perkara yang haram dan makruh tahrim. Hal itu termasuk perkara yang menyebabkan masuk neraka. Maka, berdasarkan makna ini, keluarnya bid’ah yang makruh tanzih dari kategori bid’ah tidak dianggap sebagai pertentangan, bahkan tambahan lafaz tersebut menjadi tambahan penjelas yang dapat diterima.

Kedua: bahwa tambahan lafaz ini telah datang melalui jalur-jalur periwayatan lain. Meskipun sebagian jalurnya tidak lepas dari pembicaraan dan kritikan, namun secara keseluruhan cukup layak dijadikan hujjah dan menunjukkan bahwa Sufyan memang hafal tambahan lafaz tersebut, yaitu:

Ke 1. Riwayat yang dibawakan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya:

“Telah mengabarkan kepada kami Abul Qasim ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Bayan, telah mengabarkan kepada kami Abul Faraj Al-Husain bin ‘Ali bin ‘Ubaidillah Ath-Thanajiri pada tahun 437 H, telah mengabarkan kepada kami Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin Syahin, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Utsman Al-‘Utsmani, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A‘la bin Hammad An-Narsi, ‘Utsman bin ‘Umar, telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari ‘Abdurrahman, ia berkata:

دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ، فَإِذَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ يُحَدِّثُهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالْبِدَعَ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ تَصِيرُ إِلَى النَّارِ».

Aku masuk ke Masjid Damaskus, lalu ada seorang sahabat Nabi sedang menyampaikan hadits kepada mereka. Ia berkata: Rasulullah bersabda:

‘Jauhilah oleh kalian perkara-perkara bid’ah, karena setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan akan berakhir di neraka.’”

Abu Mundzir al-Minyawi berkata:

وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ، فَلَيْسَ مِنْ رُوَاتِهِ مُتَّهَمٌ، إِلَّا أَنَّنِي لَمْ أُمَيِّزْ عِكْرِمَةَ، وَأَظُنُّهُ عِكْرِمَةَ بْنَ عَمَّارٍ الْعِجْلِيَّ. وَقَالَ عَنْهُ ابْنُ حَجَرٍ: صَدُوقٌ يَهِمُ.

“Ini adalah sanad yang hasan. Tidak ada perawi yang tertuduh dalam sanad tersebut. Hanya saja penulis belum dapat memastikan siapa ‘Ikrimah yang dimaksud, dan tampaknya ia adalah ‘Ikrimah bin ‘Ammar Al-‘Ijli. Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Shaduq namun terkadang keliru.”

[Note: Penulis Katakan:

Tapi nama sahabatnya majhul (tidak diketahui, siapa dia?), oleh sebab itu as-Suyuthi dalam Jam’ul Jawam’ 3/379 (192/9363) dan dalam Jami’ al-Ahaadits 10/334 no. 9747 berkata:

رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ رَجُلٍ

“Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari seorang laki-laki”].

Ke 2. Riwayat yang dibawakan Ath-Thabarani melalui jalur ‘Isa bin Maimun, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Quradzi, dari Ibnu ‘Abbas dan dari Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, keduanya berkata:

Kemudian Rasulullah masuk ke masjid, sementara terdengar suara seperti dengungan lebah dari bacaan Al-Qur’an. Maka beliau bersabda:

ثُمَّ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا أَصْوَاتٌ كَدَوِيِّ النَّحْلِ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ، فَقَالَ: «إِنَّ الْإِسْلَامَ يَشِيعُ، ثُمَّ تَكُونُ لَهُ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غُلُوٍّ وَبِدْعَةٍ، فَأُولَئِكَ أَهْلُ النَّارِ».

“Sesungguhnya Islam akan tersebar, kemudian akan mengalami masa kelemahan. Maka barangsiapa ketika masa lemahnya condong kepada sikap ghuluw dan bid’ah, maka mereka itulah penghuni neraka.”

Ini adalah sanad yang lemah. Di dalamnya terdapat ‘Isa bin Maimun. Dalam At-Taqrib disebutkan: “Lemah.” Hadits ini juga dilemahkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Dha‘if Al-Jami‘ [no. 1413].

[Note: Penulis katakan:

Dalam al-Matholib al-Aliyah 13/362 karya al-Hafidz Ibnu Hajar, para pentahqiqnya menjelaskan tentang hadits ini dengan mengatakan:

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مَسْرُوقُ بْنُ الْمَرْزُبَانِ صَدُوقٌ لَهُ أَوْهَامٌ، قَالَهُ الْحَافِظُ فِي التَّقْرِيبِ (ص 528)، وَفِيهِ الْمُسَيِّبُ بْنُ شَرِيكٍ، قَالَ الذَّهَبِيُّ: تَرَكُوهُ (الْمُغْنِي 2/659)، وَعِيسَى بْنُ مَيْمُونٍ هُوَ الْمَدَنِيُّ، قَالَ الْحَافِظُ: ضَعِيفٌ (التَّقْرِيب ص 441).

[Sanadnya sangat lemah sekali. Masrūq bin Al-Marzubān adalah seorang yang jujur namun memiliki banyak kekeliruan, sebagaimana dikatakan Al-Hafizh dalam At-Taqrīb (hlm. 528).

Di dalam sanadnya juga terdapat Al-Musayyib bin Syarīk. Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Para ulama meninggalkannya.” (Al-Mughnī, 2/659).

Dan ‘Īsā bin Maimūn adalah Al-Madani. Al-Hafizh berkata tentangnya: “Lemah.” (At-Taqrīb, hlm. 441)].

Ke 3. Riwayat yang dibawakan oleh Abu Hatim Al-Khuza‘i dalam juz-nya, Ad-Daraquthni dalam Al-Afrad, dan Al-Qazwini dalam Akhbar Qazwin, dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu secara marfu‘:

«أَصْحَابُ الْبِدَعِ كِلَابُ النَّارِ»

“Para pelaku bid’ah adalah anjing-anjing neraka.”

Hadits ini juga dilemahkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Dha‘if Al-Jami‘ [no. 885].

[Note: Penulis katakan:

Dalam Jami’ al-Ahadits 4/464 no. 3554 dijelaskan tentang hadits ini dengan penjelasan sbb:

Ad-Dāruquthni berkata:

فِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبَانٍ لَيْسَ بِشَيْءٍ

“Di dalam sanadnya terdapat Ismāīl bin Abān, ia tidak ada nilainya.”

Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَ بِأَحَادِيثَ مَوْضُوعَةٍ

“Ia meriwayatkan hadits-hadits palsu (maudhu’).”

Ibnu Hibban berkata:

يَضَعُ عَلَى الثِّقَاتِ

“Ia membuat-buat hadits palsu atas nama para perawi tsiqah.”

[Baca: Al-‘Ilal Al-Mutanāhiyah fil Ahādīts Al-Wāhiyah karya Ibnu al-Jauzi (1/163)]

Al-Ghumārī juga menyebutkannya dalam Al-Mudāwī (1/579), lalu berkata:

هَذَا حَدِيثٌ فِيهِ تَصَرُّفٌ مِنَ الرَّاوِي فِي لَفْظِهِ فَرَوَاهُ بِمَعْنَاهُ … وَأَصْلُ الْحَدِيثِ بِلَفْظِ: الْخَوَارِجُ كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ.

“Ini adalah hadits yang terjadi perubahan lafaz dari perawinya, sehingga ia meriwayatkannya dengan makna …”

Sedangkan asal hadits tersebut dengan lafaz: “Khawarij adalah anjing-anjing penghuni neraka.

Al-Albani menisbatkannya dalam As-Silsilah Adh-Dha‘īfah (6/309, no. 2792) kepada Ibnul Bannā’ dalam Ar-Radd ‘alal Mubtadi‘ah (3/1)].

Ibnu al-Qaisarooni (wafat 507) dalam Athroof al-Ghroib wa al-Afrood 4/182 no. 3999 berkata:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَهْلُ الْبِدَعِ كِلَابُ النَّارِ». وَرَوَاهُ سَلَامُ بْنُ أَبِي عُمَرَ أَبُو يَحْيَى عَنْ حَسَّانَ الْخُرَاسَانِيِّ، لَمْ يَرْوِهِ هَكَذَا إِلَّا عَنْ أَبِي غَالِبٍ بِهَذَا اللَّفْظِ أَيْضًا، وَتَفَرَّدَ بِهِ الْمَخْرَمِيُّ أَيْضًا.

“Dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda: “Ahlul bid‘ah adalah anjing-anjing neraka.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Sallām bin Abi ‘Amr Abu Yahya, dari Hassan Al-Khurasani. Tidak ada yang meriwayatkannya dengan lafaz seperti ini dari Abu Ghalib selain jalur tersebut, dan Al-Makhrami juga meriwayatkannya secara menyendiri”.

Ad-Daruquthni dalam al-‘Ilal 12/268 no. 2701 menjelaskan:

Bahwa beliau pernah ditanya tentang hadits Abu Ghalib dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah bersabda:

«أَهْلُ الْبِدَعِ كِلَابُ النَّارِ»

“Ahlul bid‘ah adalah anjing-anjing neraka.”

Maka beliau menjawab: “Hadits itu diriwayatkan oleh Ismāīl bin Abān, dari Hafsh bin Ghiyāts, dari Al-A‘masy, dari Abu Ghalib dengan lafaz tersebut.

Sedangkan selain dia meriwayatkannya dari Al-A‘masy, dari Husain bin Wāqid, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dari Nabi dengan lafaz:

«الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»

‘Khawarij adalah anjing-anjing neraka’

Lalu ad-Daruqutni berkata:

«وَهُوَ الْمَحْفُوظُ»

“Dan inilah lafadz yang valid dan terjaga (mahfuzh)”.]

Ke 4. Tambahan lafaz ini juga datang dari perkataan ‘Umar radhiyallahu 'anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhoh dengan sanad hasan.

Ke 5. Tambahan ini juga diriwayatkan dari perkataan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu 'anhu melalui dua sanad yang keduanya memiliki kelemahan.

Riwayat pertama dibawakan oleh Ath-Thabarani dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:

" ‌إِنَّمَا ‌هُمَا ‌اثْنَتَانِ: ‌الْهَدْيُ ‌وَالْكَلَامُ، ‌وَأَصْدَقُ ‌الْحَدِيثِ كَلَامُ اللهِ وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ "

“Hanyalah ada dua perkara: petunjuk dan ucapan. Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”

Di dalam sanadnya terdapat Ibrahim Al-Hajri. Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam Al-Kasyif: “Lemah.” Ibnu Hajar berkata dalam At-Taqrib: “Layinul hadits.”

Riwayat lain dibawakan oleh Al-Marwazi dalam As-Sunnah melalui jalur Abdullah bin Mirdas, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:

«كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”

Di dalam sanadnya terdapat periwayatan Al-A‘masy dengan bentuk ‘an‘anah, sementara ia seorang mudallis. Selain itu, Abdullah bin Mirdas juga majhulul hal. Namun Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat.

[SELESAI Kutipan dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi]

 *****

KEDUA:
Kutipan dari Kedua : artikel “تَصْحِيحُ زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya bin Yusuf al-‘Amri.

Diterjemahkan oleh penulis dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia

==== 

Pensahihan tambahan lafaz “Dan setiap kesesatan berada di neraka” dalam hadits Jabir radhiyallahu 'anhu serta bantahan terhadap orang yang melemahkannya.

Bin Yusuf Al-‘Umari berkata:

“Ini adalah sebuah pembahasan hadits yang menarik, mengenai penjelasan tentang sahihnya tambahan lafaz:

﴿وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ﴾

“Dan setiap kesesatan berada di neraka” yang datang melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak dalam hadits Jabir radhiyallahu 'anhu tentang khutbah hajat.

Hal itu karena beberapa bulan yang lalu saya mendengarkan seorang khatib masjid di ibu kota menyampaikan khutbah hajat, kemudian menutupnya dengan ucapan:

"وَلَا أَقُولُ: كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ؛ لِأَنَّهَا لَمْ تَرِدْ فِي أَصْلِ الْحَدِيثِ".

“Dan saya tidak mengatakan: ‘setiap kesesatan berada di neraka’, karena lafaz itu tidak terdapat dalam asal hadits.”

Yang pertama kali terlintas dalam benak saya saat itu adalah bahwa ia sedang membicarakan riwayat An-Nasa’i yang di dalamnya terdapat tambahan lafaz tersebut. Namun setelah itu saya sibuk mendengarkan khutbah dan menunaikan shalat.

Kemudian setelahnya saya meneliti apakah ada ulama sebelumnya yang berpendapat demikian. Lalu saya menemukan penjelasan Syaikh ‘Amr Abdul Lathif Al-Mishri rahimahullah yang menyimpulkan kelemahan lafaz tersebut dengan makna yang sama seperti ucapan khatib tadi.

Sebenarnya saya tidak berniat melanjutkan penelitian ini, kalau bukan karena saya melihat bahwa syaikh yang mulia tersebut berdalil — untuk menguatkan pendapatnya — dengan perkataan Ibnu Taimiyah yang maknanya menunjukkan bahwa tambahan lafaz itu juga dianggap lemah oleh beliau.

Syaikh ‘Amr dalam muqaddimah kitabnya “Ahadits wa Marwiyyat fil Mizan” Ia menyatakan sbb :

[1] menilai lafaz tambahan ini sebagai syadz.

[2] bahwa Abdullah bin Al-Mubarak telah menyelisihi “jumhur murid Ja‘far bin Muhammad”

[3] dan bahwa lafaz tersebut “dihindari” oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, demikian pula Ibnu Hibban.

[4] sedangkan Ibnu Khuzaimah membawakannya dengan metode tahwil sanad.

Dari cara penilaiannya tampak bahwa ia membangun penelitiannya di atas kaidah bahwa hadits syadz adalah riwayat seorang tsiqah yang menyelisihi perawi lain yang jumlahnya lebih banyak darinya, tanpa memperhatikan keadaan perawi tersebut, tanpa mempertimbangkan kaidah para ahli hadits dalam pembahasan ziyadatuts tsiqah (tambahan lafaz dari perawi tsiqah), dan tanpa berusaha mengompromikan “asal hadits” dengan tambahan-tambahan lafaz yang datang padanya serta menggabungkannya sesuai syarat-syaratnya.

Dan karena Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah telah menjelaskan secara luas dan mendalam dalam risalah beliau “Khuthbatul Hajah” tentang jalur keluarnya hadits ini dan kesahihannya — dengan penjelasan yang tidak lagi membutuhkan pengulangan penelitian tentang “asal hadits” — serta karena risalah beliau tersedia dalam berbagai cetakan, maka yang tersisa untuk diteliti adalah klaim Syaikh ‘Amr Abdul Lathif yang melemahkan tambahan lafaz ini dan menilainya sebagai syadz.

Maka aku berkata dengan memohon pertolongan hanya kepada Allah dalam masalah ini:

Hadits Jabir tentang khutbah hajat dengan tambahan lafaz ini telah diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan (3/188-189) dan Al-Kubra (5861 dan 1799), Ibnu Khuzaimah dalam Ash-Shahih (1875), Al-Firyabi dalam Al-Qadar (447), dan melalui jalurnya diriwayatkan pula oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah (90), demikian juga oleh Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqad (hlm. 127) dan Al-Asma’ wash Shifat (103-104), serta Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/189) dan Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (2/455), juga Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (1491). Semuanya melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir dengan hadits tersebut. Dan pada akhirnya terdapat tambahan lafaz:

﴿ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ﴾

“Dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Syaikh ‘Amr berkata dalam catatan kaki — setelah menyebutkan khutbah hajat tanpa tambahan lafaz tersebut —:

"هَذَا هُوَ الثَّابِتُ الْمَحْفُوظُ... كَمَا رَوَاهُ عَنْهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرٍ...

“Inilah lafaz yang tetap dan terjaga... sebagaimana diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja’far...”

kemudian beliau berkata:

"وَخَالَفَ جَمِيعَ هَؤُلَاءِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ..."

“Dan yang menyelisihi mereka semua adalah Abdullah bin Al-Mubarak...”

Aku katakan:

Yang sebenarnya menyelisihi mereka — jika dilihat dari tingkatan para perawi — adalah Sufyan Ats-Tsauri, bukan Ibnu Al-Mubarak. Karena Ibnu Al-Mubarak tidak disebut dalam jajaran murid Ja’far bin Muhammad, dan tidak pula berada pada tingkatan guru-guru mereka. Maka ungkapan syaikh tersebut kurang tepat.

Seharusnya beliau mengatakan:

Tambahan lafaz ini hanya datang melalui jalur Ibnu Al-Mubarak dari Sufyan,” atau “Tidak ada yang membawakan tambahan ini kecuali Abdullah bin Al-Mubarak,” atau ungkapan lain yang semakna. Karena memang demikianlah kenyataannya.

Terlebih lagi apabila diketahui bahwa Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut melalui jalur Waki’ dari Sufyan tanpa tambahan lafaz tadi, sebagaimana yang tampak dari cara beliau membawakan hadits itu dalam Shahih-nya, dan hal inilah yang tampaknya membuat Syaikh ‘Amr terpengaruh dalam penilaiannya. Akan tetapi, Abu Nu’aim meriwayatkannya dalam Al-Mustakhraj melalui jalur yang sama, dari Waki’ dari Sufyan, dengan lafaz yang lebih lengkap dan menyebutkan tambahan tersebut. Dan nanti akan kami sebutkan riwayat itu.

Yang terpenting sekarang adalah penyebutan tambahan lafaz tersebut oleh Abdullah bin Al-Mubarak dalam hadits Jabir, serta klaim kelemahannya berdasarkan konsep syadz menurut penjelasan Syaikh ‘Amr di satu sisi, dan berdasarkan kaidah tambahan perawi tsiqah menurut para ahli hadits di sisi lain.

Ad-Daraquthni telah menyinggung pembahasan ini dan menjelaskan bahwa tambahan dari perawi tsiqah tidak selalu dianggap syadz dalam setiap keadaan. As-Sulami menyebutkan dalam Su’alat-nya:

"أَنَّ الدَّارَقُطْنِيَّ سُئِلَ عَنِ الْحَدِيثِ إِذَا اخْتَلَفَ فِيهِ الثِّقَاتُ؟ قَالَ: يُنْظَرُ مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ ثِقَتَانِ فَيُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ، أَوْ مَنْ جَاءَ بِزِيَادَةٍ فَتُقْبَلُ مِنْ مُتْقِنٍ، وَيُحْكَمُ لِأَكْثَرِهِمْ حِفْظًا، وَيُبْنَى عَلَى مَا دُونَهُ".

“Bahwa Ad-Daraquthni ditanya tentang hadits yang diperselisihkan oleh para perawi tsiqah. Beliau menjawab: Dilihat mana yang disepakati oleh dua orang tsiqah, maka dihukumi shahih. Atau apabila salah seorang datang dengan tambahan lafaz, maka tambahan itu diterima apabila berasal dari perawi yang kokoh hafalannya. Dan didahulukan pendapat yang paling kuat hafalannya, lalu dibangun hukum di atas yang lebih rendah darinya.”

Al-Hafizh menyebutkan ucapan ini dalam An-Nukat (2/689), lalu menambahkan:

"وَقَدِ اسْتَعْمَلَ الدَّارَقُطْنِيُّ ذَلِكَ فِي "الْعِلَلِ" وَ"السُّنَنِ" كَثِيرًا".

“Dan Ad-Daraquthni telah banyak menerapkan kaidah ini dalam Al-‘Ilal dan As-Sunan.”

Dan Imam Muslim telah menjelaskan masalah ini dengan sangat terang dalam Muqaddimah Shahih-nya, pada bab tentang penjelasan riwayat yang dibawakan secara tersendiri oleh seorang muhaddits. Beliau berkata:

"أَنْ يَكُونَ قَدْ شَارَكَ الثِّقَاتِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْحِفْظِ فِي بَعْضِ مَا رَوَوْا وَأَمْعَنَ فِي ذَلِكَ عَلَى الْمُوَافَقَةِ لَهُمْ إِذَا وُجِدَ ذَلِكَ، ثُمَّ إِذَا زَادَ بَعْدَ ذَلِكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ قُبِلَتْ زِيَادَتُهُ".

“Yaitu apabila seorang perawi telah turut meriwayatkan bersama para perawi tsiqah dan ahli hafalan dalam sebagian hadits yang mereka riwayatkan, serta ia banyak menyepakati mereka dalam riwayat-riwayat tersebut. Kemudian setelah itu ia menambahkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh rekan-rekannya, maka tambahan tersebut diterima.”

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani juga memiliki penjelasan yang sangat berharga tentang tambahan dari perawi tsiqah, serta pentingnya memperhatikan tingkatan dan keadaan para perawi. Beliau berkata dalam An-Nukat (2/693) sebagai komentar atas ucapan Ibnu Ash-Shalah:

"وَالَّذِي نَخْتَارُهُ أَنَّ الزِّيَادَةَ مَقْبُولَةٌ إِذَا كَانَ رَاوِيهَا عَدْلًا حَافِظًا وَمُتْقِنًا ضَابِطًا".

“Pendapat yang kami pilih adalah bahwa tambahan itu diterima apabila perawinya seorang yang adil, hafizh, mutqin, dan dhabith.”

Al-Hafizh berkata:

"قُلْتُ: وَهُوَ تَوَسُّطٌ بَيْنَ الْمَذْهَبَيْنِ، فَلَا تُرَدُّ الزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ مُطْلَقًا، وَلَا نَقْبَلُهَا مُطْلَقًا؛ وَقَدْ تَقَدَّمَ مِثْلُهُ عَنِ ابْنِ خُزَيْمَةَ وَغَيْرِهِ، وَكَذَا قَالَ ابْنُ طَاهِرٍ: إِنَّ الزِّيَادَةَ إِنَّمَا تُقْبَلُ عِنْدَ أَهْلِ الصَّنْعَةِ مِنَ الثِّقَةِ الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ".

“Aku berkata: Ini adalah sikap pertengahan antara dua madzhab. Maka tambahan dari perawi tsiqah tidak ditolak secara mutlak, dan tidak pula diterima secara mutlak. Telah lewat sebelumnya pendapat serupa dari Ibnu Khuzaimah dan selainnya. Demikian pula Ibnu Thahir berkata: Sesungguhnya tambahan itu hanya diterima menurut ahli bidang ini apabila berasal dari perawi tsiqah yang telah disepakati ketsiqahannya.”

Maka perhatikanlah ucapan para ulama dalam masalah ini, dan betapa besar kehati-hatian mereka dalam menerima tambahan dari perawi tsiqah. Namun bersamaan dengan itu, mereka juga sangat berhati-hati agar tidak mengingkari atau menolak hadits para perawi tsiqah hanya karena adanya perbedaan atau tambahan semata. Akan tetapi, mereka melihat keadaan perawi, kedudukannya di antara rekan-rekannya, serta sejauh mana ia turut menyamai mereka dalam hafalan dan ketelitian.

Kemudian, andaikata klaim Syaikh ‘Amr benar bahwa Ibnu Al-Mubarak menyelisihi orang-orang yang beliau sebut sebagai “mayoritas murid Ja’far bin Muhammad”, apakah penyelisihan tersebut otomatis melemahkan tambahan lafaz yang ia riwayatkan? Ini sekadar mengikuti asumsi beliau saja, agar kita bisa meninjau penerapan kaidah yang telah disebutkan oleh para imam dalam bidang ini serta mendalami penerapan prinsip-prinsipnya.

Di antara nama-nama yang disebut Syaikh sebagai pihak yang menyelisihi adalah: Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, Sulaiman bin Bilal, Wuhaib bin Khalid, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abdul Aziz bin Muhammad, Yahya bin Sulaim, dan selain mereka.

Karena di antara mereka ada yang dikritik dari sisi ketelitian dan kekuatan hafalannya, dan ada pula yang tingkatannya berada di bawah Ibnu Al-Mubarak meskipun tetap tsiqah. Kecuali Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, yang disebut oleh Al-Hafizh sebagai:

«الْإِمَامُ الثِّقَةُ الْمُتْقِنُ الْحَافِظُ الْقُدْوَةُ»

“Imam yang tsiqah, mutqin, hafizh, dan teladan.”

Adapun selain beliau, maka kami cukupkan dengan penilaian Al-Hafizh terhadap mereka dalam At-Taqrib, demi menghindari pembahasan yang terlalu panjang, bukan karena lari dari penelitian keadaan mereka. Juga agar segera dapat dibandingkan dengan kedudukan Ibnu Al-Mubarak, bukan untuk merendahkan posisi mereka atau menjatuhkan riwayat-riwayat mereka.

1]. Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi. Al-Hafizh berkata:

   «ثِقَةٌ تَغَيَّرَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثِ سِنِينَ».

“Tsiqah, namun berubah hafalannya tiga tahun sebelum wafatnya.”

2]. Wuhaib bin Khalid. Beliau berkata:

   «ثِقَةٌ ثَبْتٌ لَكِنَّهُ تَغَيَّرَ قَلِيلًا بِآخِرِهِ».

“Tsiqah lagi kokoh, tetapi mengalami sedikit perubahan di akhir hayatnya.”

3. Abdul Aziz bin Muhammad. Beliau berkata:

«صَدُوقٌ كَانَ يُحَدِّثُ مِنْ كُتُبِ غَيْرِهِ فَيُخْطِئُ».

“Shaduq, namun biasa meriwayatkan dari kitab orang lain sehingga terkadang keliru.”

4. Yahya bin Sulaim Ath-Tha’ifi. Al-Hafizh berkata:

«صَدُوقٌ سَيِّئُ الْحِفْظِ».

   “Shaduq tetapi buruk hafalannya.”

5. Sulaiman bin Bilal. Beliau berkata: “Tsiqah.”

Inilah ringkasan penelitian Ibnu Hajar Al-‘Asqalani tentang keadaan sebagian perawi tersebut, yang dijadikan oleh Syaikh ‘Amr sebagai alasan untuk menghukumi tambahan lafaz itu sebagai syadz karena dianggap Ibnu Al-Mubarak menyelisihi mereka.

Di antara para perawi yang meriwayatkan hadits Jabir tanpa tambahan lafaz tersebut namun tidak disebut oleh syaikh yang mulia itu, melainkan hanya diisyaratkan dengan perkataannya “dan selain mereka”, adalah:

6. Muhammad bin Ja’far bin Muhammad. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan:

«تُكُلِّمَ فِيهِ»؛ وَأَقَرَّهُ الْحَافِظُ فِي «اللِّسَانِ».

“Ada pembicaraan terhadapnya.” 

Dan Al-Hafizh menyetujui penilaian itu dalam Lisan Al-Mizan.

7. Mush’ab bin Salam. Beliau berkata:

«صَدُوقٌ لَهُ أَوْهَامٌ».

“Shaduq, tetapi memiliki beberapa kekeliruan.”

8. Anas bin ‘Iyadh. Beliau berkata: “Tsiqah.”

Adapun Abdullah bin Al-Mubarak, maka Al-Hafizh berkata tentangnya:

«ثِقَةٌ ثَبْتٌ فَقِيهٌ عَالِمٌ جَوَادٌ مُجَاهِدٌ».

“Tsiqah, kokoh, faqih, alim, dermawan, dan mujahid.”

Dan ketika Al-Mizzi menulis biografinya dalam Tahdzib Al-Kamal, beliau menyebutnya dengan judul:

«أَحَدُ الْأَئِمَّةِ الْأَعْلَامِ وَحُفَّاظِ الْإِسْلَامِ»

“Salah satu imam besar dan para hafizh Islam.”

Judul itu beliau jadikan sebagai pengantar bagi biografinya yang panjang, yang ditutup dengan ucapan Ibnu Sa’d tentangnya:

«وَكَانَ ثِقَةً مَأْمُونًا إِمَامًا حُجَّةً كَثِيرَ الْحَدِيثِ».

“Beliau adalah seorang yang tsiqah, terpercaya, imam, hujjah, dan sangat banyak meriwayatkan hadits.”

Lalu bagaimana mungkin tambahan lafaz dari seorang “tsiqqah, kokoh, imam, dan hujjah” seperti ini dianggap cacat, ditempatkan sebagai bentuk penyelisihan, lalu dihukumi syadz?

Kalaupun Ibnu Al-Mubarak tidak memiliki kedudukan setinggi itu, maka beliau tetap setara dengan para perawi yang telah disebutkan — bahkan selain mereka — seperti Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan para imam sejawatnya dari kalangan ahli ketelitian, kepercayaan, dan hafalan. Sebelumnya telah kami bawakan kepada Anda ucapan para ulama tentang diterimanya tambahan dari perawi tsiqah atas para sejawatnya, khususnya perkataan Ibnu Ash-Shalah yang sangat jelas, dan penjelasan Al-Hafizh yang menyebut pendapat itu sebagai sikap pertengahan. Maka silakan kembali merujuk kepadanya.

Kemudian, tambahan lafaz tersebut juga diikuti oleh Waki’ dari Sufyan dengan sanad yang sama.

Demikianlah riwayat yang dibawakan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam Al-Mustakhraj melalui jalur Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Utsman — keduanya digandeng bersama — serta melalui jalur Salim bin Junadah darinya dengan tambahan lafaz:

﴿وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ﴾.

Kemudian beliau mengisyaratkan kepada riwayat Muslim dengan mengatakan:

«وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ عَنْ وَكِيعٍ».

“Dan Muslim meriwayatkannya dari Abu Bakr dari Waki’.”

Adapun klaim Syaikh ‘Amr bahwa Imam Muslim “menghindari” lafaz ini, sebenarnya hanyalah kesimpulan yang beliau ambil dari metode Imam Muslim ketika meriwayatkan hadits tersebut dalam Shahih-nya melalui jalur Abdul Wahhab bin Abdul Majid Ats-Tsaqafi dari Ja’far tanpa tambahan lafaz tersebut.

Setelah itu beliau menyebut jalur Waki’ dari Sufyan dari Ja’far, namun tidak membawakan lafaznya secara lengkap, melainkan hanya berkata:

«ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ».

“Kemudian beliau membawakan hadits semisal hadits Ats-Tsaqafi.”

Padahal dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Imam Muslim “menghindari” lafaz tersebut. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa beliau melakukan itu untuk menjelaskan adanya perbedaan lafaz antara riwayat Waki’ dan riwayat Ats-Tsaqafi, baik dalam urutan maupun sebagian lafaznya, maka pendapat itu masih berada di jalur yang benar. Sebab, dalam sanad kedua beliau memang membawakan sebagian lafaz yang menunjukkan adanya perbedaan tersebut, berupa pendahuluan sebagian kalimat atas yang lain dibanding susunan sanad pertama, dan beliau merasa cukup dengan kadar itu saja.

Beliau sama sekali tidak menyinggung lafaz yang sedang kita bahas tentang keabsahannya ini. Dan sesuai metode Syaikh ‘Amr sendiri, maka tindakan Abu Nu’aim dalam Al-Mustakhraj menunjukkan bahwa lafaz Waki’ dari Sufyan memang memuat tambahan tersebut. Imam Muslim hanya meringkas sebagian riwayatnya, sedangkan perbedaan antara lafaz Waki’ dan lafaz Ats-Tsaqafi hanyalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Hal itu karena Abu Nu’aim membawakannya secara lengkap dengan tambahan lafaz tersebut dari jalur yang sama dengan jalur Muslim, dan beliau telah mengisyaratkan hal itu sebagaimana telah lewat.

Mari kita andaikan menerima pernyataan Syaikh ‘Amr bahwa Imam Muslim memang “menghindari” tambahan lafaz ini. Apakah hal itu cukup untuk mencacatkan keabsahannya? Tentu tidak. Karena metode seperti ini tidak pernah disebut dalam kitab-kitab musthalah hadits sebagai cacat yang merusak hadits. Bahkan para ulama telah mengingkari orang yang mengklaim bahwa tidak ada lagi hadits sahih di luar Ash-Shahihain kecuali sedikit sekali. Kalau bukan karena itu, tentu kitab-kitab mustakhraj atas Shahihain tidak akan ditulis. Bahkan kitab Al-Mustadrak karya Al-Hakim An-Naisaburi menjadi bukti paling jelas akan hal tersebut, meskipun sebagian hadits di dalamnya mendapat kritikan.

Ibnu Katsir berkata dalam Al-Mukhtashar (1/109 bersama Al-Ba’its):

«وَقَدْ خُرِّجَتْ كُتُبٌ كَثِيرَةٌ عَلَى «الصَّحِيحَيْنِ» قَدْ يُوجَدُ فِيهَا زِيَادَاتٌ مُفِيدَةٌ، وَأَسَانِيدُ جَيِّدَةٌ كَـ: .... وَأَبِي نُعَيْمٍ..» (يَعْنِي مُسْتَخْرَجَهُ).

“Telah disusun banyak kitab berdasarkan Ash-Shahihain yang di dalamnya terdapat tambahan-tambahan bermanfaat dan sanad-sanad yang bagus, seperti karya … Abu Nu’aim…” yakni Al-Mustakhraj beliau.

Kemudian Syaikh ‘Amr menambahkan bahwa:

“konsekuensi metode Imam Muslim menunjukkan bahwa itulah lafaz Waki’ dari Ats-Tsauri dari Ja’far,” maksudnya sesuai dengan lafaz hadits Ats-Tsaqafi.

Ini termasuk hal paling aneh yang pernah saya lihat dari beliau rahimahullah, dan paling jauh dari sikap ilmiah yang teliti. Sebab lafaz Waki’ berbeda dengan lafaz Ats-Tsaqafi, baik dalam urutan sebagian kalimat maupun beberapa lafaznya, sebagaimana telah lewat penjelasannya. Justru itulah salah satu sebab Imam Muslim meriwayatkannya. Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa itu adalah lafaz Waki’?

Kemudian beliau membawakan perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (19/191) tentang hadits ini. Beliau membawakan riwayat Muslim, lalu berkata:

«وَلَمْ يَقُلْ: كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Dan beliau tidak mengatakan: ‘wa kullu dhalalatin fin nar’.”

Setelah itu Ibnu Taimiyah menjelaskan alasannya, yaitu:

«يَضِلُّ عَنِ الْحَقِّ مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدِ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجَزَ عَنْهُ فَلَا يُعَاتَبُ».

“Seseorang bisa tersesat dari kebenaran padahal ia menginginkan kebenaran dan telah bersungguh-sungguh mencarinya namun tidak mampu mencapainya, maka ia tidak dicela.”

Hingga beliau berkata:

«وَكَثِيرٌ مِنْ مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلْفِ قَدْ قَالُوا وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ وَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ».

“Banyak dari kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang berkata dan berbuat bid’ah, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu bid’ah.”

Meskipun ucapan ini tampak menolak tambahan lafaz tersebut dari sisi makna saja, namun dari beliau sendiri juga terdapat ucapan yang justru kebalikannya secara total: yaitu menshahihkan lafaz itu, berdalil dengannya, menjelaskan serta mengarahkan maknanya dengan penjelasan yang layak.

Beliau berkata dalam Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim (hal. 229) setelah membawakan hadits Jabir menurut riwayat Muslim:

«وَفِي رِوَايَةٍ لِلنَّسَائِيِّ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Dalam riwayat An-Nasa’i terdapat tambahan: ‘Dan setiap kesesatan berada di neraka.’”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa:

«هَذِهِ قَاعِدَةٌ قَدْ دَلَّتْ عَلَيْهَا السُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ مَعَ مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الدَّلَالَةِ عَلَيْهَا أَيْضًا».

“Ini adalah kaidah yang telah ditunjukkan oleh Sunnah dan ijma’, di samping dalil-dalil dari Kitabullah yang juga menunjukkan hal itu.”

Lalu beliau berkata lagi (hal. 232):

«أَمَّا الْقَوْلُ إِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ الْمُحْدَثَاتُ (كَذَا؟) وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنَ الْأُمُورِ الْمُحْدَثَاتِ، فَهَذَا نَصُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَدْفَعَ دَلَالَتَهُ عَلَى ذَمِّ الْبِدَعِ، وَمَنْ نَازَعَ فِي دَلَالَتِهِ فَهُوَ مُرَاغِمٌ».

“Adapun sabda bahwa seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka, serta peringatan dari perkara-perkara baru dalam agama, maka ini adalah nash dari Rasulullah . Tidak halal bagi siapa pun menolak petunjuk hadits ini dalam mencela bid’ah. Barang siapa membantah petunjuknya, maka ia sedang menentang.”

Tidaklah pantas setelah ini bagi siapa pun untuk saling mempertentangkan dua perkataan beliau, atau mendahulukan ucapannya: “dan beliau tidak mengatakan…” atas nukilan yang telah kami sebutkan dari kitab *Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim*, karena tidak ada dalil yang menunjukkan pendahuluan salah satunya atas yang lain. Hanya saja, apa yang terdapat dalam *Iqtidha’* lebih dekat kepada pendapat beliau dalam masalah ini, sebagaimana diketahui oleh orang yang mendalami ilmunya atau menelaah karya-karyanya.

Beliau juga menyebut hadits ini dalam *Al-Fatawa Al-Kubra* (3/124 – ad-dalīl ‘alā ibṭhool at-talīl), lalu berkata:

«رَوَاهُ النَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَزَادَ: فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ (هَكَذَا فِي الْمَطْبُوعِ وَلَعَلَّهُ تَصْحِيفٌ)».

“Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad yang shahih, dan ia menambahkan: ‘maka setiap bid’ah di neraka’ (demikian dalam cetakan, dan mungkin ada kesalahan penyalinan).”

Beliau juga berdalil atas keshahihan tambahan ini dengan amalan para sahabat, dengan mengatakan:

«وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْطُبُ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ. وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ..»

“Dan Umar radhiyallahu ‘anhu berkhutbah dengan khutbah ini. Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara mauquf dan marfu’ bahwa beliau berkata…”

Lalu beliau menyebutkannya hingga berkata:

«فَكُلُّ مُحْدَثَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“maka setiap perkara baru adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Kemudian beliau menambahkan:

«وَهَذَا مَشْهُورٌ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَكَانَ يَخْطُبُ بِهِ كُلَّ خَمِيسٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ بِهِ فِي الْجُمَعِ».

“Dan ini masyhur (terkenal) dari Ibnu Mas’ud, dan beliau biasa berkhutbah dengannya setiap hari Kamis sebagaimana Nabi berkhutbah dengannya pada hari Jumat.”

Inilah yang dinukil dari Syaikhul Islam tentang para sahabat, bahwa lafaz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” tersebut diucapkan di atas mimbar. Dengan apa yang telah kami nukilkan dari *Iqtidha’*, hal ini menjadi arah penjelasan terhadap ucapan beliau sebelumnya yang dijadikan pegangan oleh Syaikh ‘Amr ketika berkata:

«وَمَعْنَاهَا أَيْضًا غَيْرُ صَحِيحٍ كَمَا فِي مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى».

“Dan maknanya juga tidak benar sebagaimana dalam *Majmu’ Al-Fatawa*.”

Tambahan lafaz ini juga termasuk syahid yang dapat dibawakan untuk menguatkan dan menetapkan keabsahannya.

Adapun atsar dari Umar, maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Waddah dalam kitab *Al-Bida’ wan Nahyu ‘Anha* (hal. 24) melalui jalur Abdullah bin ‘Ukaym dari Umar, bahwa beliau biasa mengatakan:

«أَصْدَقُ الْقِيلِ قِيلُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Ucapan yang paling benar adalah firman Allah, petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad , setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Sanadnya shahih. Hanya saja lafaz “Hilal Al-Warraq” dalam sanad merupakan tashif atau kesalahan cetak. Yang benar adalah Hilal Al-Wazzan, yaitu Ibnu Abi Humaid Ash-Shairafi, seorang perawi tsiqah dari kalangan rijal Asy-Syaikhain.

[Note: Penulis katakan: Abdullah bin Fahd menyebutkan dalam ash-Shohih al-Musnad 1/78 no. 28:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَنْبَأَ سُفْيَانُ، عَنْ هِلَالٍ الْوَزَّانِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُكَيْمٍ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ يَقُولُ: «إِنَّ أَصْدَقَ الْقِيلِ قِيلُ اللَّهِ، وَإِنَّ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا».

أَقُولُ: إِسْحَاقُ هُوَ ابْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، وَسُفْيَانُ هُوَ ابْنُ عُيَيْنَةَ.

Telah menceritakan kepada kami Ishaq, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Hilal Al-Wazzan, dari Abdullah bin ‘Ukaym, ia berkata: “Umar biasa berkata:

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah firman Allah, petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad , dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan.’”

Aku berkata: Ishaq di sini adalah Ibnu Abi Isra’il, sedangkan Sufyan adalah Ibnu ‘Uyainah.

Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam (*Taqrib At-Tahdzib*, hlm. 27) berkata:

هُوَ إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ كَامَجْر – بِفَتْحِ الْمِيمِ وَسُكُونِ الْجِيمِ – أَبُو يَعْقُوبَ الْمَرْوَزِيُّ، نَزِيلُ بَغْدَادَ. صَدُوقٌ تُكُلِّمَ فِيهِ لِتَوَقُّفِهِ فِي مَسْأَلَةِ خَلْقِ الْقُرْآنِ. مَاتَ سَنَةَ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ، وَقِيلَ: سِتٍّ، وَلَهُ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ سَنَةً..

“Dia adalah Ishaq bin Abi Isra’il Ibrahim bin Kamajir — dengan fathah pada huruf mim dan sukun pada huruf jim — Abu Ya’qub Al-Marwazi, yang tinggal di Baghdad. Ia seorang shaduq, namun diperselisihkan karena sikap tawaqquf-nya dalam masalah khalqul Qur’an. Ia wafat tahun 245 H, dan ada yang mengatakan 246 H, pada usia 75 tahun”.

Dalam al-Jami’ Li ‘Ulumi al-Imam Ahmad 16/196 no. 287 disebutkan:

إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، إِبْرَاهِيمُ بْنُ كَامَجْرَ.

قَالَ ابْنُ هَانِئٍ: قِيلَ لَهُ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ عَنِ الضُّعَفَاءِ، مِثْلَ عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، وَعَمْرِو بْنِ حُكَّامٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، وَعَلِيِّ بْنِ الْجَعْدِ، وَإِسْحَاقَ بْنِ أَبِي إِسْرَائِيلَ؟

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: لَا يُعْجِبُنِي أَنْ يُحَدِّثَ عَنْ بَعْضِهِمْ.

قَالَ ابْنُ هَانِئٍ: قِيلَ لَهُ: فَيُحَدِّثُ بِالصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِهِمْ؟

قَالَ: أَعْفِنِي مِنْهُ، قَدْ رَوَوْا بِمَكَّةَ عَنْ قَوْمٍ ثِقَاتٍ، مِثْلَ أَبِي الْمَلِيحِ وَغَيْرِهِ، أَحَادِيثَ مَنَاكِيرَ.

Ishaq bin Abi Isra’il, Ibrahim bin Kamajir.

Ibnu Hani berkata: Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Apakah seseorang meriwayatkan hadits dari para perawi lemah seperti ‘Amr bin Marzuq, ‘Amr bin Hukkam, Muhammad bin Mu’awiyah, ‘Ali bin Al-Ja’d, dan Ishaq bin Abi Isra’il?”

Maka Abu Abdillah berkata: “Aku tidak menyukai ia meriwayatkan dari sebagian mereka.”

Ibnu Hani berkata: Lalu ditanyakan lagi kepada beliau:“Bagaimana jika ia meriwayatkan hadits shahih dari mereka?”

Beliau menjawab: “Jauhkan aku dari hal itu. Mereka pernah meriwayatkan di Makkah dari sejumlah perawi tsiqah seperti Abu Al-Malih dan selainnya hadits-hadits mungkar.”

Dan dalam Su’aalat Ibnu Junaid hal. 331 no. 232 disebutkan:

قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: «وَهَذَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ يُحَدِّثُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَابِرٍ، وَلَيْسَ بِثِقَةٍ».

Yahya bin Ma'in berkata: “Dan ini adalah Ishaq bin Abi Isra’il yang meriwayatkan dari Muhammad bin Jabir, sedangkan ia bukanlah orang yang tsiqah.”

Disebutkan dalam kitab-kitab Tarajim dan Jarh wa Ta’dil disebutkan:

سُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: «كَانَ عِنْدِي إِنَّهُ لَا يَكْذِبُ». فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ أَبَا حَاتِمٍ قَالَ: مَا مَاتَ حَتَّى حَدَّثَ بِالْكَذِبِ. فَقَالَ: «حَدَّثَ بِحَدِيثٍ مُنْكَرٍ، وَتُرِكَ الْحَدِيثُ عَنْهُ».

Ditanyakan kepada Abu Zur'ah Ar-Razi tentang dirinya, maka beliau berkata: “Menurutku dia tidak berdusta.”

Lalu dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya Abu Hatim Ar-Razi berkata: ‘Ia tidak meninggal hingga dia meriwayatkan dengan kedustaan.’”

Maka beliau menjawab: “Ia meriwayatkan sebuah hadits mungkar, lalu haditsnya pun ditinggalkan darinya.”

Lihat: *Al-Jarh wat Ta’dil* jilid 1 bagian 1 halaman 210. Dalam *Tahdzib At-Tahdzib* jilid 1 halaman 224–225, Ibnu Hajar Al-'Asqalani meringkasnya dengan mengatakan:

 «قَالَ أَبُو زُرْعَةَ: عِنْدِي أَنَّهُ لَا يَكْذِبُ، وَحَدَّثَ بِحَدِيثٍ مُنْكَرٍ».

“Abu Zur’ah berkata: ‘Menurutku dia tidak berdusta, namun ia meriwayatkan sebuah hadits mungkar.’”

Sementara Zainuddin al-Iraqi dalam Takhrij Ahadits al-Ihya 1/225 berkata:

قَالَ ابْنُ السُّبْكِيِّ: (6/290) «لَمْ أَجِدْ لَهُ إِسْنَادًا».

Tajuddin As-Subki berkata: “Aku tidak menemukan sanad untuknya.” (6/290]

Adapun atsar dari Abdullah bin Mas'ud, maka Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya (Kitab Ilmu, bab “Orang yang menentukan hari-hari tertentu untuk mengajar ilmu”) dari Abu Wa’il, ia berkata:

«كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ كُلَّ خَمِيسٍ».

“Abdullah biasa memberi nasihat kepada manusia setiap hari Kamis.”

Namun beliau tidak menyebutkan Khutbah Hajat di dalamnya. Riwayat tersebut ada dalam *Al-Bida’* karya Ibnu Waddah (hal. 24) dari Rabah An-Nakha’i dan Yahya bin ‘Aqil darinya. Ibnu Al-A’rabi juga meriwayatkannya dalam *Al-Mu’jam* (2/568–569) secara marfu’ dengan lafaz:

«كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».

“Setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat menurut para ulama adalah bahwa riwayat mauquf lebih shahih dan lebih rajih.

Ketika Al-Baihaqi menyebut ucapan Ibnu Mas’ud dalam *Al-Asma’ wash Shifat* (hal. 246):

«إِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ........ إِلَى قَوْلِهِ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Hanyalah ada dua perkara…” hingga perkataannya: “dan setiap kesesatan berada di neraka,” beliau berkata:

«وَهَذَا مِنْ قَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَخَذَهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ».

“Ini adalah ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan tampaknya beliau mengambilnya dari Nabi .”

Ketahuilah pula bahwa tambahan lafaz dalam hadits Jabir ini telah dishahihkan oleh sejumlah ulama. Di antara mereka ada yang menegaskannya secara langsung, seperti Abu Nu'aim Al-Ashbahani dalam *Al-Hilyah* (3/189), beliau berkata:

«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ثَابِتٌ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، رَوَاهُ وَكِيعٌ وَغَيْرُهُ عَنِ الثَّوْرِيِّ»

“Ini adalah hadits shahih dan tsabit dari hadits Muhammad bin ‘Ali; diriwayatkan oleh Waki’ dan selainnya dari Ats-Tsauri.”

Demikian pula Al-Baihaqi dalam *Al-I’tiqad* (hal. 127), beliau berkata:

رَوَيْنَا فِي الْحَدِيثِ الثَّابِتِ»

“Kami meriwayatkannya dalam hadits yang tsabit,” kemudian beliau menyebut hadits Jabir dengan tambahan lafaz tersebut.

Di antara ulama ada pula yang menshahihkannya secara tidak langsung dengan menjelaskannya atau menjadikannya sebagai penguat, seperti Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, As-Suyuthi, Asy-Syaukani dan selain mereka.

Bahkan di antara mereka ada yang menakwilkannya, seperti Ash-Shan'ani dan As-Sindi. Keduanya berkata:

«أَيْ صَاحِبُهَا فِي النَّارِ»

“Maksudnya adalah pelaku kesesatan itu berada di neraka.”

Dan tambahan lafaz ini juga dishahihkan oleh para ulama masa ini seperti Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.

Setelah selesai menulis baris-baris ini, saya menemukan pelemahan terhadap tambahan lafaz ini pada tiga sumber lain selain yang ditulis oleh ‘Amr Abdul Lathif.

Pertama: sebuah kitab berjudul *Majmu’ Fihi Mu’allafat li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah*, yang memuat sekumpulan risalah beliau, dengan tahqiq dan catatan oleh Ibrahim bin Syarif Al-Mili. Saya mendapati muhaqqiq tersebut juga berpendapat melemahkan tambahan lafaz ini dengan metode dan argumentasi yang sama seperti Syaikh ‘Amr, bahkan menilainya cacat dengan sebab yang sama. Ia berkata (hal. 322, catatan kaki):

«وَقَدْ فَصَّلْتُ الْقَوْلَ فِي بَيَانِ شُذُوذِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ فِي «بُلْغَةِ الْحَثِيثِ» أَعَانَ اللَّهُ عَلَى طِبَاعَتِهِ».

“Aku telah menjelaskan secara rinci tentang syadznya kalimat ini dalam kitab ‘Bulghah Al-Hatsits’, semoga Allah memudahkan pencetakannya.”

Maka saya katakan: jika rincian dalam kitab yang ia sebut itu bergantung pada penelitian Syaikh ‘Amr, maka kami telah menjelaskan kelemahannya dengan cukup. Namun jika berbeda, maka perlu ditinjau kembali.

Kedua: kitab *Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram* karya Abdullah Al-Bassam rahimahullah. Beliau berkata dalam melemahkan tambahan lafaz ini:

«فَفِي سَنَدِهَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَاشِمِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَأَخَذَ الْحَدِيثَ وِجَادَةً».

“Dalam sanadnya terdapat Ja’far bin Muhammad Al-Hasyimi, dan ia dha’if serta mengambil hadits secara wijadah.”

Demikian ucapan beliau. Ini termasuk hal paling aneh yang saya temukan. Sebab seluruh jalur hadits Jabir ini, baik dengan tambahan lafaz maupun tanpa tambahan lafaz, berporos pada Ja’far tersebut. Dengan ucapan ini, tanpa disadari beliau sebenarnya juga melemahkan jalur riwayat Imam Muslim yang beliau syarah tanpa tambahan lafaz itu.

Adapun Ja’far bin Muhammad, maka Ibnu Hajar Al-'Asqalani berkata tentangnya:

«صَدُوقٌ فَقِيهٌ إِمَامٌ».

“Shaduq, faqih, imam.”

Ia juga dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Yahya, dan Abu Hatim. Bahkan Abu Hatim menambahkan:

«لَا يُسْأَلُ عَنْ مِثْلِهِ».

“Orang seperti dia tidak perlu dipertanyakan lagi.”

Adapun masalah wijadah, maka Ibnu Hajar Al-'Asqalani telah menjawabnya dengan penjelasan yang kuat dalam *At-Tahdzib*, maka silakan merujuk kepadanya jika ingin. Lagi pula, wijadah termasuk metode tahammul hadits yang diterima sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab musthalah hadits.

Ketiga: kitab *Shifah Khuthbah An-Nabi * karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim. Ia berkata di dalamnya (hal. 17):

«وَزَادَ النَّسَائِيُّ فِي رِوَايَةٍ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، وَهِيَ زِيَادَةٌ شَاذَّةٌ مِنْ هَذِهِ الطَّرِيقِ، وَالْحَمْلُ فِيهَا عَلَى شَيْخِ النَّسَائِيِّ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ...».

“An-Nasa’i menambahkan dalam salah satu riwayat: ‘dan setiap kesesatan berada di neraka’, dan ini adalah tambahan yang syadz dari jalur ini. Tanggung jawabnya ada pada guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah…”

Demikian ucapannya.

Saya menduga ia telah membaca perkataan Syaikh Abdul Lathif lalu menganggapnya baik, namun ia tidak berani membebankan pertentangan itu kepada Abdullah bin Al-Mubarak sehingga ia mengalihkannya kepada guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah bin ‘Utbah Al-Yahmadi, yang dinilai: “صَدُوقٌ” (Shaduq) oleh Ibnu Hajar Al-'Asqalani. Dan Imam An-Nasa'i berkata: “لَا بَأْسَ بِهِ” (Tidak mengapa dengannya).

Selain itu, ia juga tidak sendirian meriwayatkan tambahan lafaz ini dari Ibnu Al-Mubarak, sebab ia diikuti oleh Hibban bin Musa, seorang perawi tsiqah dari kalangan rijal Asy-Syaikhain.

Bahkan ‘Amr Abdul Mun’im sendiri telah menshahihkan tambahan lafaz ini dalam hadits Jabir ketika memberi ta’liq terhadap kitab *Al-Qadar* karya Al-Firyabi.

Sampai di sini sudah cukup. Allah-lah yang mengetahui tujuan yang benar dan Dia pula yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. [SELESAI]

Ditulis oleh: Bin Yusuf Al-‘Umari Pada 23 Muharram 1430 H.

 ===***===

FIQIH HADITS DAN FAIDAH DARI-NYA  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta'ala berkata:

"وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فِي خُطْبَةِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ: "خَيْرُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ" وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ بَلْ يَضِلُّ عَنْ الْحَقِّ مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدْ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجزَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقَبُ وَقَدْ يَفْعَلُ بَعْضَ مَا أُمِرَ بِهِ فَيَكُونُ لَهُ أَجْرٌ عَلَى اجْتِهَادِهِ، وَخَطَؤُهُ الَّذِي ضَلَّ فِيهِ عَنْ حَقِيقَةِ الْأَمْرِ مَغْفُورٌ لَهُ. وَكَثِيرٌ مِنْ مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَدْ قَالُوا وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ وَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ؛ إمَّا لِأَحَادِيثَ ضَعِيفَةٍ ظَنُّوهَا صَحِيحَةً، وَإِمَّا لِآيَاتِ فَهِمُوا مِنْهَا مَا لَمْ يُرَدْ مِنْهَا، وَإِمَّا لِرَأْيٍ رَأَوْهُ وَفِي الْمَسْأَلَةِ نُصُوصٌ لَمْ تَبْلُغْهُمْ. وَإِذَا اتَّقَى الرَّجُلُ رَبَّهُ مَا اسْتَطَاعَ دَخَلَ فِي قَوْلِهِ﴿ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ﴾ [البقرة: 286] وَفِي الصَّحِيحِ أَنَّ اللَّهَ قَالَ: "قَدْ فَعَلْت" وَبَسْطُ هَذَا لَهُ مَوْضِعٌ آخَرُ

“Nabi dahulu bersabda dalam hadits shahih pada khutbah hari Jumat:

‘Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’

Dan beliau tidak mengatakan: ‘dan setiap kesesatan di dalam neraka.’

Bahkan seseorang bisa tersesat dari kebenaran padahal ia bermaksud mencari kebenaran dan telah bersungguh-sungguh dalam mencarinya, namun ia tidak mampu mencapainya, maka ia tidak dihukum. Bisa jadi ia melakukan sebagian dari apa yang diperintahkan kepadanya sehingga ia mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Sedangkan kesalahannya yang membuatnya menyimpang dari hakikat perkara tersebut diampuni baginya.

Banyak dari kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang telah mengatakan dan melakukan sesuatu yang merupakan bid’ah, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah bid’ah. Hal itu bisa disebabkan oleh hadits-hadits lemah yang mereka sangka shahih, atau karena ayat-ayat yang mereka pahami dengan pemahaman yang bukan dimaksudkan darinya, atau karena suatu pendapat yang mereka anggap benar, sementara dalam masalah tersebut terdapat nash-nash yang belum sampai kepada mereka.

Apabila seseorang bertakwa kepada Rabb-nya semampunya, maka ia termasuk dalam firman Allah:‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’ (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan dalam hadits shahih disebutkan bahwa Allah berfirman: ‘Aku telah melakukannya.

Penjelasan lebih luas tentang masalah ini memiliki tempat pembahasan tersendiri.” [Majmu’ Al-Fatawa 19/191]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki ketelitian yang sangat mendalam dalam mengkritik matan hadits, karena luasnya pengetahuan beliau terhadap sunnah serta keluasan penguasaannya terhadap riwayat dan dirayah. Adz-Dzahabi berkata tentang beliau sebagaimana dalam Dzail Thabaqat Al-Hanabilah (2/390):

«كُلُّ حَدِيثٍ لَا يَعْرِفُهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَلَيْسَ بِحَدِيثٍ»

“Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah maka itu bukan hadits.

Dan cukuplah itu sebagai sebuah persaksian.

Di antara faedah dan perhatian beliau yang halus serta penting terhadap matan Khutbatul Hajah —dan kami menyebutkannya di sini karena relevan dengan pembahasan— adalah perkataan beliau:

الْأَذْكَارُ الثَّلَاثَةُ الَّتِي اشْتَمَلَتْ عَلَيْهَا خُطْبَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ، وَهِيَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ»، هِيَ الَّتِي يُرْوَى عَنْ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ، ثُمَّ أَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ، أَنَّهَا جَوَامِعُ الْكَلَامِ النَّافِعِ. وَهِيَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ».

وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ: أَمْرٍ يَفْعَلُهُ اللَّهُ بِهِ، فَهِيَ نِعَمُ اللَّهِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَيْهِ، فَتَحْتَاجُ إِلَى الشُّكْرِ. وَأَمْرٍ يَفْعَلُهُ هُوَ، إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا شَرٌّ. فَالْخَيْرُ يَفْتَقِرُ إِلَى مَعُونَةِ اللَّهِ لَهُ، فَيَحْتَاجُ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ، وَالشَّرُّ يَفْتَقِرُ إِلَى الِاسْتِغْفَارِ لِيَمْحُوَ أَثَرَهُ.

Dzikir-dzikir yang tiga yang terkandung dalam khutbah Ibnu Mas’ud dan selainnya, yaitu:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ»

“Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, dan kami memohon ampun kepada-Nya”.

Itulah yang diriwayatkan dari Syaikh Abdul Qadir kemudian Abu Al-Hasan Asy-Syadzili, bahwa kalimat-kalimat tersebut merupakan ungkapan yang mencakup seluruh ucapan yang bermanfaat. Yaitu:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Segala puji bagi Allah, aku memohon ampun kepada Allah, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Hal itu karena seorang hamba berada di antara dua perkara:

[1] perkara yang Allah lakukan terhadap dirinya, yaitu nikmat-nikmat Allah yang turun kepadanya sehingga membutuhkan rasa syukur.

[2] Dan perkara yang dilakukan oleh dirinya sendiri, yang bisa berupa kebaikan ataupun keburukan. Maka kebaikan membutuhkan pertolongan Allah baginya sehingga ia memerlukan isti’anah (memohon pertolongan), sedangkan keburukan membutuhkan istighfar agar terhapus bekasnya.

------

Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَجَاءَ فِي حَدِيثِ ضِمَادٍ الْأَزْدِيِّ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ» فَقَطْ، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، حَيْثُ قُسِّمَتْ نِصْفَيْنِ: نِصْفًا لِلرَّبِّ، وَنِصْفًا لِلْعَبْدِ. فَنِصْفُ الرَّبِّ مُفْتَتَحٌ بِـ«الْحَمْدُ لِلَّهِ»، وَنِصْفُ الْعَبْدِ مُفْتَتَحٌ بِالِاسْتِعَانَةِ بِهِ، فَقَالَ: «نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ».

وَقَدْ يُقْرَنُ بَيْنَ الْحَمْدِ وَالِاسْتِغْفَارِ، كَمَا فِي الْأَثَرِ الَّذِي رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ: «أَنَّ رَجُلًا كَانَ عَلَى عَهْدِ الْحَسَنِ، فَقِيلَ لَهُ: تَلَقَّيْنَا هَذِهِ الْخُطْبَةَ عَنِ الْوَالِدِ عَنْ وَالِدِهِ، كَمَا يَقُولُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا».

فَأَمَّا «نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ» فَفِي حَدِيثِ ضِمَادٍ، وَ«نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ» فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ. وَأَمَّا «نَسْتَهْدِيهِ» فَفِي فَاتِحَةِ الْكِتَابِ؛ لِأَنَّ نِصْفَهَا لِلرَّبِّ وَهُوَ الْحَمْدُ، وَنِصْفَهَا لِلْعَبْدِ وَهُوَ الِاسْتِعَانَةُ وَالِاسْتِهْدَاءُ. وَلَيْسَ فِيهَا الِاسْتِغْفَارُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا مَعَ الذَّنْبِ، وَالسُّورَةُ أَصْلُ الْإِيمَانِ، وَالْفَاتِحَةُ بَابُ السَّعَادَةِ الْمَانِعَةُ مِنَ الذُّنُوبِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾ [العنكبوت: 45].

Dalam hadits Dhimad Al-Azdi disebutkan:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ»

“Alhamdulillah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya” saja.

Ini sesuai dengan kandungan Surah Al-Fatihah yang terbagi menjadi dua bagian: satu bagian untuk Rabb, dan satu bagian untuk hamba. Bagian yang berkaitan dengan Rabb dibuka dengan “Alhamdulillah”, sedangkan bagian yang berkaitan dengan hamba dibuka dengan permohonan pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itu disebutkan: “Kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.”

Terkadang pula digabungkan antara pujian dan istighfar, sebagaimana dalam atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd: “Bahwa ada seorang lelaki pada masa Al-Hasan, lalu dikatakan kepadanya: Kami menerima khutbah ini dari ayah kami, dari kakeknya, sebagaimana banyak orang mengucapkannya:

«أَنَّ رَجُلًا كَانَ عَلَى عَهْدِ الْحَسَنِ، فَقِيلَ لَهُ: تَلَقَّيْنَا هَذِهِ الْخُطْبَةَ عَنِ الْوَالِدِ عَنْ وَالِدِهِ، كَمَا يَقُولُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا».

‘Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon petunjuk kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari keburukan amal-amal kami.’”

Adapun ucapan

«نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ»

“kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya”, maka itu terdapat dalam hadits Dhimad.

Sedangkan ucapan:

«نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ»

“kami memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya”, terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud.

Adapun ucapan

«نَسْتَهْدِيهِ»

“kami memohon petunjuk kepada-Nya”, maka itu terdapat dalam Surah Al-Fatihah, karena separuhnya untuk Rabb yaitu pujian, dan separuhnya lagi untuk hamba yaitu permohonan pertolongan dan permohonan hidayah.

Di dalam Al-Fatihah tidak disebutkan istighfar, karena istighfar itu berkaitan dengan adanya dosa. Sementara surah tersebut merupakan pokok keimanan, dan Al-Fatihah adalah pintu kebahagiaan yang mencegah dari dosa-dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

-----

Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ ضِمَادًا قَدِمَ مَكَّةَ، وَكَانَ مِنْ أَزْدِ شَنُوءَةَ، وَكَانَ يَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يَقُولُونَ: إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُونٌ. فَقَالَ: لَوْ أَنِّي رَأَيْتُ هَذَا الرَّجُلَ، لَعَلَّ اللَّهَ يَشْفِيهِ عَلَى يَدَيَّ.

قَالَ: فَلَقِيَهُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللَّهَ يَشْفِي عَلَى يَدَيَّ مَنْ شَاءَ اللَّهُ، فَهَلْ لَكَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ».

قَالَ: فَقَالَ: أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ. فَأَعَادَهُنَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. قَالَ: فَقَالَ: لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ بِمِثْلِ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْتَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ.

قَالَ: فَقَالَ: هَاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى الْإِسْلَامِ. قَالَ: فَبَايَعَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَعَلَى قَوْمِكَ؟» فَقَالَ: وَعَلَى قَوْمِي. رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ.

وَلِهَذَا اسْتُحِبَّتْ وَفُعِلَتْ فِي مُخَاطَبَةِ النَّاسِ بِالْعِلْمِ عُمُومًا وَخُصُوصًا، مِنْ تَعْلِيمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْفِقْهِ فِي ذَلِكَ، وَمَوْعِظَةِ النَّاسِ وَمُجَادَلَتِهِمْ، أَنْ يُفْتَتَحَ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ الشَّرْعِيَّةِ النَّبَوِيَّةِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Dhimad datang ke Makkah. Ia berasal dari kabilah Azd Syanu’ah dan biasa melakukan ruqyah untuk penyakit semacam gangguan angin atau gangguan jiwa.

Lalu ia mendengar sebagian orang bodoh dari penduduk Makkah berkata: “Sesungguhnya Muhammad itu gila.

Maka Dhimad berkata: “Seandainya aku dapat menemui orang ini, mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian Dhimad bertemu dengan Nabi , lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku biasa meruqyah penyakit seperti ini, dan Allah menyembuhkan siapa yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apakah engkau mau?

Maka Rasulullah bersabda:

«إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ».

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.”

Dhimad berkata: “Ulangilah kata-katamu itu kepadaku.

Maka Rasulullah mengulanginya sebanyak tiga kali. Setelah itu Dhimad berkata:

“Sungguh aku telah mendengar ucapan para dukun, ucapan para penyihir, dan ucapan para penyair, namun aku belum pernah mendengar perkataan seperti kata-katamu ini. Sungguh perkataanmu telah mencapai kedalaman samudera.

Kemudian Dhimad berkata: “Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.

Lalu ia berbaiat kepada beliau . Kemudian Rasulullah bersabda: “Dan juga untuk kaummu?

Dhimad menjawab: “Dan juga untuk kaumku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam kitab Shahih-nya.

Karena itu, khutbah ini dianjurkan dan dipraktikkan dalam berbicara kepada manusia tentang ilmu, baik secara umum maupun khusus, seperti dalam pengajaran Al-Qur’an, As-Sunnah, dan fiqih, juga dalam memberi nasihat kepada manusia dan berdialog dengan mereka. Hendaknya semua itu dibuka dengan khutbah syar’i nabawi ini.

------

Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَكَانَ الَّذِي عَلَيْهِ شُيُوخُ زَمَانِنَا الَّذِينَ أَدْرَكْنَاهُمْ وَأَخَذْنَا عَنْهُمْ وَغَيْرِهِمْ، يَفْتَتِحُونَ مَجْلِسَ التَّفْسِيرِ أَوِ الْفِقْهِ فِي الْجَوَامِعِ وَالْمَدَارِسِ وَغَيْرِهَا بِخُطْبَةٍ أُخْرَى، مِثْلَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللَّهُ عَنَّا وَعَنْكُمْ وَعَنْ مَشَايِخِنَا وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»، أَوْ: «وَعَنِ السَّادَةِ الْحَاضِرِينَ وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ».

كَمَا رَأَيْتُ قَوْمًا يَخْطُبُونَ لِلنِّكَاحِ بِغَيْرِ الْخُطْبَةِ الْمَشْرُوعَةِ، وَكُلُّ قَوْمٍ لَهُمْ نَوْعٌ غَيْرُ نَوْعِ الْآخَرِينَ. فَإِنَّ حَدِيثَ ابْنِ مَسْعُودٍ لَمْ يَخُصَّ النِّكَاحَ، وَإِنَّمَا هِيَ خُطْبَةٌ لِكُلِّ حَاجَةٍ فِي مُخَاطَبَةِ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَالنِّكَاحُ مِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ.

فَإِنَّ مُرَاعَاةَ السُّنَنِ الشَّرْعِيَّةِ فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ وَالْعَادَاتِ، هُوَ كَمَالُ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْهِيًّا عَنْهُ فَإِنَّهُ مَنْقُوصٌ مَرْجُوحٌ؛ إِذْ خَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ.

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ» هِيَ الْجَوَامِعُ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَخَوَاتِمَهُ وَفَوَاتِحَهُ.

فَإِنَّ الِاسْتِهْدَاءَ يَدْخُلُ فِي الِاسْتِعَانَةِ، وَتَكْرِيرَ «نَحْمَدُهُ» قَدِ اسْتُغْنِيَ عَنْهُ بِقَوْلِهِ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ». فَإِذَا فَصَلْتَ جَازَ، كَمَا فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَنَشْكُرُكَ وَلَا نُكَفِّرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ».

فَهَذِهِ إِحْدَى سُورَتَيْ أُبَيٍّ، وَهِيَ مُفْتَتَحَةٌ بِالِاسْتِعَانَةِ الَّتِي هِيَ نِصْفُ الْعَبْدِ، مَعَ مَا بَعْدَهَا مِنْ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

وَفِي السُّورَةِ الثَّانِيَةِ: «اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ».

فَهَذَا مُفْتَتَحٌ بِالْعِبَادَةِ الَّتِي هِيَ نِصْفُ الرَّبِّ، مَعَ مَا قَبْلَهَا مِنَ الْفَاتِحَةِ. فَفِي سُورَتَيِ الْقُنُوتِ مُنَاسَبَةٌ لِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَفِيهِمَا جَمِيعًا مُنَاسَبَةٌ لِخُطْبَةِ الْحَاجَةِ، وَذَلِكَ جَمِيعُهُ مِنْ فَوَاتِحِ الْكَلِمِ وَجَوَامِعِهِ وَخَوَاتِمِهِ.

Para masyayikh pada zaman kami yang sempat kami jumpai, belajar dari mereka, dan juga selain mereka, biasa membuka majelis tafsir atau fiqih di masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan tempat lainnya dengan khutbah yang lain, seperti:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللَّهُ عَنَّا وَعَنْكُمْ وَعَنْ مَشَايِخِنَا وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat tercurah kepada Muhammad penutup para rasul, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Semoga Allah meridhai kami, kalian, para guru kami, dan seluruh kaum muslimin.”

Atau dengan ucapan:

«وَعَنِ السَّادَةِ الْحَاضِرِينَ وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»

“Dan juga kepada para hadirin yang mulia serta seluruh kaum muslimin.”

Sebagaimana aku juga melihat sebagian orang menyampaikan khutbah nikah dengan selain khutbah yang disyariatkan. Setiap kelompok memiliki bentuk yang berbeda dengan kelompok lainnya. Padahal hadits Ibnu Mas’ud tidaklah khusus untuk nikah saja, tetapi ia adalah khutbah untuk setiap kebutuhan dalam percakapan dan interaksi manusia satu sama lain, dan nikah termasuk bagian dari itu.

Sesungguhnya menjaga sunnah-sunnah syariat dalam ucapan dan perbuatan, pada seluruh ibadah maupun kebiasaan, merupakan kesempurnaan jalan yang lurus. Adapun selain itu, selama tidak terlarang, maka tetap saja nilainya kurang dan tidak lebih utama, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad .

Penjelasan yang tepat adalah bahwa ucapan:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ»

“Alhamdulillah, kami memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya”, merupakan جَوَامِعُ الكَلِمِ (kalimat-kalimat yang sangat padat makna), sebagaimana terdapat dalam hadits nabawi dari hadits Ibnu Mas’ud. Nabi telah dianugerahi جَوَامِعُ الكَلِمِ, yaitu ucapan yang singkat namun mengandung makna yang luas, baik pada pembukaan maupun penutupnya.

Permohonan petunjuk sebenarnya sudah masuk dalam makna permohonan pertolongan. Sedangkan pengulangan ucapan “kami memuji-Nya” sudah dianggap cukup dengan ucapan “Alhamdulillah”. Namun jika dipisahkan maka hal itu juga boleh, sebagaimana dalam doa qunut:

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَنَشْكُرُكَ وَلَا نُكَفِّرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ»

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu, memohon petunjuk kepada-Mu, memohon ampun kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, memuji-Mu dengan seluruh kebaikan, bersyukur kepada-Mu dan tidak mengingkari-Mu. Kami memutuskan diri dan meninggalkan orang yang durhaka kepada-Mu.”

Maka ini adalah salah satu dari dua surah Ubay bin Ka‘b, dan surah tersebut dibuka dengan permohonan pertolongan kepada Allah, yang merupakan bagian hamba, bersama kandungan setelahnya yang sejalan dengan Surah Al-Fatihah.

Dan pada surah yang kedua terdapat doa:

«اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ».

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah, untuk-Mu kami shalat dan bersujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera, kami mengharap rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu yang sungguh keras pasti akan menimpa orang-orang kafir.”

Maka surah ini dibuka dengan ibadah, yang merupakan bagian untuk Rabb, bersama kandungan sebelumnya yang sesuai dengan Surah Al-Fatihah. Dengan demikian, pada dua surah qunut itu terdapat kesesuaian dengan Surah Al-Fatihah, dan keduanya juga memiliki kesesuaian dengan khutbatul hajah. Semua itu termasuk pembukaan ucapan yang paling sempurna, kalimat-kalimat yang padat makna, serta penutup-penutup ucapan yang indah.

------- 

Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَأَمَّا قَوْلُهُ: «وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»، فَإِنَّ الْمُسْتَعَاذَ مِنْهُ نَوْعَانِ: فَنَوْعٌ مَوْجُودٌ يُسْتَعَاذُ مِنْ ضَرَرِهِ الَّذِي لَمْ يُوجَدْ بَعْدُ، وَنَوْعٌ مَفْقُودٌ يُسْتَعَاذُ مِنْ وُجُودِهِ؛ فَإِنَّ نَفْسَ وُجُودِهِ ضَرَرٌ.

مِثَالُ الْأَوَّلِ: «أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»، وَمِثْلُ الثَّانِي: ﴿ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ۝ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ﴾ [المؤمنون: 97-98]، وَ«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ».

وَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۝ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴾ [الفلق: 1-5]، فَيَشْتَرِكُ فِيهِ النَّوْعَانِ؛ فَإِنَّهُ يُسْتَعَاذُ مِنَ الشَّرِّ الْمَوْجُودِ أَلَّا يُضَرَّ، وَيُسْتَعَاذُ مِنَ الشَّرِّ الضَّارِّ الْمَفْقُودِ أَلَّا يُوجَدَ.

فَقَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ: «وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا» يَحْتَمِلُ الْقِسْمَيْنِ: يَحْتَمِلُ «نَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ يَكُونَ مِنْهَا شَرٌّ»، وَ«نَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ يُصِيبَنَا شَرُّهَا»، وَهَذَا أَشْبَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

وَقَوْلُهُ: «وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا» السَّيِّئَاتُ هِيَ عُقُوبَاتُ الْأَعْمَالِ كَقَوْلِهِ﴿ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا ﴾ [غافر: 45]، فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ يُرَادُ بِهَا النِّعَمُ وَالنِّقَمُ كَثِيرًا كَمَا يُرَادُ بِهَا الطَّاعَاتُ وَالْمَعَاصِي وَإِنْ حُمِلَتْ عَلَى السَّيِّئَاتِ الَّتِي هِيَ الْمَعَاصِي فَيَكُونُ قَدْ اسْتَعَاذَ أَنْ يَعْمَلَ السَّيِّئَاتِ أَوْ أَنْ تَضُرَّهُ، وَعَلَى الْأَوَّلِ وَهُوَ أَشْبَهُ فَقَد اسْتَعَاذَ مِنْ عُقُوبَةِ أَعْمَالِهِ أَنْ تُصِيبَهُ وَهَذَا أَشْبَهُ.

فَيَكُونُ الْحَدِيثُ قَدْ اشْتَمَلَ عَلَى الِاسْتِعَاذَةِ مِنْ الضَّرَرِ الْفَاعِلِيِّ وَالضَّرَرِ الغائي، فَإِنَّ سَبَبَ الضَّرَرِ هُوَ شَرُّ النَّفْسِ، وَغَايَتُهُ عُقُوبَةُ الذَّنْبِ، وَعَلَى هَذَا فَيَكُونُ قَدْ اسْتَعَاذَ مِن الضَّرَرِ الْمَفْقُودِ الَّذِي انْعَقَدَ سَبَبُهُ أَلَّا يَكُونَ، فَإِنَّ النَّفْسَ مُقْتَضِيَةٌ لِلشَّرِّ، وَالْأَعْمَالَ مُقْتَضِيَةٌ لِلْعُقُوبَةِ، فَاسْتَعَاذَ أَنْ يَكُونَ شَرَّ نَفْسِهِ، أَوْ أَنْ تَكُونَ عُقُوبَةَ عَمَلِهِ، وَقَدْ يُقَالُ: بَلْ الشَّرُّ هُوَ الصِّفَةُ الْقَائِمَةُ بِالنَّفْسِ الْمُوجِبَةِ لِلذُّنُوبِ وَتِلْكَ مَوْجُودَةٌ كَوُجُودِ الشَّيْطَانِ، فَاسْتَعَاذَ مِنْهَا أَنْ تَضُرَّهُ أَوْ تُصِيبَهُ كَمَا يُقَالُ: «أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ» وَإِنْ حَمَلَ عَلَى الشُّرُورِ الْوَاقِعَةِ وَهِيَ الذُّنُوبُ مِنْ النَّفْسِ فَهَذَا قِسْمٌ ثَالِثٌ"

Adapun ucapan:

«وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»

Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari keburukan amal-amal kami,” maka sesuatu yang dimintakan perlindungan darinya ada dua jenis:

Jenis pertama adalah sesuatu yang sudah ada, lalu dimintakan perlindungan dari dampak buruknya yang belum terjadi.

Jenis kedua adalah sesuatu yang belum ada, lalu dimintakan perlindungan agar ia tidak sampai terjadi, karena keberadaannya sendiri merupakan keburukan.

Contoh jenis pertama adalah ucapan:

«أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Sedangkan contoh jenis kedua adalah firman Allah Ta’ala:

﴿ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ۝ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ﴾

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu wahai Rabbku agar mereka tidak mendatangiku.” (QS. Al-Mu’minun: 97–98)

Demikian pula doa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ»

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan.”

Adapun firman Allah Ta’ala:

﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۝ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan para peniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1–5), maka pada ayat ini terkandung kedua jenis tersebut sekaligus. Sebab seseorang berlindung dari keburukan yang sudah ada agar tidak terkena mudaratnya, dan juga berlindung dari keburukan yang belum terjadi agar tidak sampai muncul.

Ucapan dalam hadits:

«وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا»

Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami”, mengandung dua kemungkinan itu sekaligus. Bisa bermakna:

Kami berlindung kepada Allah agar tidak muncul keburukan dari diri kami,”

atau:

Kami berlindung kepada Allah agar keburukan diri kami tidak menimpa kami.”

Makna kedua ini lebih dekat, wallahu a’lam.

Adapun ucapan:

«وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»

Dan dari keburukan amal-amal kami,” maka yang dimaksud dengan “keburukan” di sini adalah hukuman dari amal-amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا ﴾

“Akibat buruk dari tipu daya mereka.” (QS. Ghafir: 45)

Sebab istilah “hasanat” dan “sayyi’at” terkadang bermakna nikmat dan musibah, sebagaimana juga digunakan untuk makna ketaatan dan kemaksiatan.

Jika makna “keburukan amal-amal kami” dibawa kepada dosa-dosa dan maksiat, maka artinya seseorang berlindung kepada Allah agar tidak melakukan keburukan itu atau agar keburukan tersebut tidak membahayakannya.

Namun makna pertama lebih kuat, yaitu bahwa seseorang berlindung dari hukuman akibat amal-amalnya agar tidak menimpanya, dan ini lebih sesuai dengan konteks.

Dengan demikian, hadits ini mencakup permohonan perlindungan dari sebab keburukan dan dari akibat akhirnya. Sebab munculnya mudarat adalah keburukan jiwa, sedangkan akhirnya adalah hukuman atas dosa.

Atas dasar ini, maka seseorang berarti memohon perlindungan dari keburukan yang belum terjadi tetapi sebab-sebabnya sudah ada, agar ia tidak sampai terjadi. Karena jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada keburukan, sedangkan amal dapat menimbulkan hukuman. Maka ia berlindung agar keburukan jiwanya tidak muncul, atau agar hukuman amalnya tidak menimpanya.

Bisa juga dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “keburukan” adalah sifat buruk yang ada dalam jiwa yang menyebabkan dosa-dosa. Sifat itu memang ada, sebagaimana adanya setan. Maka seseorang berlindung agar sifat itu tidak membahayakan atau menimpanya, sebagaimana ucapan:

«أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Namun jika keburukan itu dimaknai sebagai dosa-dosa yang benar-benar dilakukan oleh jiwa, maka ini menjadi jenis ketiga”. [Lihat: Majmu‘ Al-Fatawa (18/285–290)].

Ini termasuk penelitian dan penjelasan ilmiah yang sangat langka, yang jarang sekali ditemukan kecuali pada Ahmad bin Taymiyyah rahimahullah ta'ala.

 ======

Posting Komentar

0 Komentar