BENARKAH SYADZ TAMBAHAN LAFADZ (وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ = Dan Setiap Kesesatan di Neraka) DALAM HADITS BID'AH?
Di Tulis
Oleh Bin Kardipan
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- SIKAP PARA ULAMA TERHADAP TAMBAHAN “وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”:
- Ada Dua Pendapat.
- PENJELASAN MASING-MASING DARI DUA PENDAPAT
- PENJELASAN PENDAPAT PERTAMA : TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SYADZ DAN DHO’IF.
- PENJELASAN PENDAPAT KEDUA : TAMBAHAN LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SHAHIH.
- PERTAMA: Kutipan
Dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.
- KEDUA: Kutipan dari Kedua : artikel “تَصْحِيحُ زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya Bin
Yusuf al-‘Amri.
- FIQIH HADITS DAN FAIDAH DARINYA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Lafadz Hadits Jabir radhiyallahu
‘anhu:
«وَشَرُّ
الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Dan
seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah
kesesatan”.
Para ulama ahli
hadits berbeda pendapat mengenai tambahan lafadz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” yang terdapat di
akhir hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu dalam khutbah hajat.
Status hukum Asal derajat
hadits ini disepakati kesahihannya tanpa tambahan tersebut, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdulluh dengan
lafadz: “كُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ” saja.
Adapun tambahan “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”, maka tambahan ini
diriwayatkan secara tunggal oleh sebagian para perawi.
Lafadz hadits Jabir pertama : tanpa tambahan “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”.
Ini adalah lafadz hadits Jabir yang tsabit (valid) dan di
sepakati, yaitu:
«وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
‘Dan seburuk-buruk
perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’
Inilah lafadz yang
valid dan terjaga dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir,
dari Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.
Ini sebagaimana
diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu:
[1]- ‘Abdul Wahhab
Ats-Tsaqafi.
[2] Sulaiman bin
Bilal.
[3] Sufyan ats-Tsauri
(Muslim no 45-(867), Ahmad no. 14984) dan Ibnu Majah no. 2426).
[4] Wuhaib bin
Khalid.
[5] Yahya bin Sa‘id
Al-Qaththan.
[6] ‘Abdul ‘Aziz
bin Muhammad.
[7] Yahya bin
Sulaim.
[8] Mush’ab bin
Salam (Musnad Ahmad no. 14334)
[9] Anas Bin
‘Iyadh, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah.
[10] dan juga yang lainnya.”
Lafadz hadits Jabir
kedua : terdapat
«وَشَرَّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
“Dan seburuk-buruk
perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah
bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam
neraka.”
Ini sebagaimana diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro. Dan ini hanya diriwayatkan melalui jalur : Abdullah bin Al-Mubarak dari Sufyan Ats-Tsauri dari Ja‘far bin Muhammad ... dst.
Adapun selain hadits Jabir, maka lafadz ini diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud secara mauquf oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan Al-Baihaqi hlm. 189. Namun sanad Al-Baihaqi ini lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di dalamnya terdapat Ayyub bin Al-Walid, yang biografinya disebutkan oleh Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 7/10, dan dia tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”.
===***===
SIKAP
PARA ULAMA TERHADAP TAMBAHAN
“وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”
Ada dua pendapat:
Pendapat
pertama: Ulama hadits yang menganggap nya syadz dan dho'if.
Sebagian para ulama hadits menilai tambahan ini adalah lemah dan tergolong syadz (asing dan melenceng), karena tambahan lafadz tersebut hanya diriwayatkan oleh
sebagian perawi yang menyelisihi mayoritas para perawi tsiqah yang meriwayatkan hadits
tersebut tanpa tambahan itu.
Imam Muslim bin
Al-Hajjaj, beliau tidak memasukkan tambahan ini dalam Shahih Muslim dan hanya
mencukupkan dengan lafadz: “وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ”.
Pendapat kedua : Ulama hadits yang menshahihkannya:
Imam an-Nasa’i:
Beliau memasukkan tambahan ini dalam as-Sunan al-Kubro.
Sebagian para
imam, baik dari kalangan ulama terdahulu maupun kontemporer, menshahihkan
tambahan ini karena menurut mereka hadits ini datang melalui beberapa jalur
yang shahih.
Di antara yang
menshahihkannya adalah Imam An-Nasa’i dalam As-Sunan, Syeikh Al-Albani, dan Syaikh Bin Baz.
TEXT LENGKAP HADITS JABIR:
---
Pertama
: Riwayat Tanpa Tambahan “وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”:
Imam Muslim
meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 867 melalui tiga jalur:
[1]- ‘Abdul Wahhab bin
Abdul Majid Ats-Tsaqofi.
[2]- Sulaiman bin
Bilal.
[3]- Waki’ dari
Sufyan ats-Tsauri
Ketiga-tiganya
meriwayatkan langsung: dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir
bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أَنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ
عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ
يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ».
وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ
كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى.
وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
ثُمَّ يَقُولُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ
مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ
ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»
Rasulullah ﷺ apabila
berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suara beliau meninggi, dan kemarahan
beliau sangat tampak, hingga seakan-akan beliau adalah seorang pemberi
peringatan terhadap datangnya pasukan musuh yang berkata: “Musuh akan menyerang
kalian pada pagi atau petang hari.”
Dan beliau ﷺ juga
bersabda: “Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua jari ini.” Lalu beliau
merapatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dan beliau ﷺ juga
bersabda:
“Amma ba’du,
sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang
diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.
Kemudian beliau ﷺ
bersabda: “Aku lebih berhak terhadap setiap mukmin daripada dirinya sendiri.
Barang siapa meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Dan barang siapa
meninggalkan utang atau tanggungan keluarga yang terlantar, maka itu menjadi
urusanku dan tanggunganku.”
Dan Imam Muslim
meriwayatkan pula dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan
ats-Tsauri, dari Ja‘far, dari ayahnya dari Jabir
radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَخْطُبُ النَّاسَ،
يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَخَيْرُ الْحَدِيثِ
كِتَابُ اللهِ» ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ
Rasulullah ﷺ biasa
berkhutbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan
pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda:
“Barang siapa
diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat
menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada seorang pun yang
dapat memberinya petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah.”
Kemudian perawi
melanjutkan hadits tersebut dengan lafadz yang semisal dengan hadits Ats-Tsaqofi”.
[Shahih Muslim 45-(867)]
Para pentahqiq
Musnad Imam Ahmad (Syu’aib Al-Arnauth, Adil Mursyid dan lainnya) berkata:
قُلْنَا: وَهٰذَا الْحَرْفُ: «كُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ» لَمْ يُرْوَ فِي هٰذَا الْحَدِيثِ إِلَّا مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَأَمَّا مِنْ غَيْرِ حَدِيثِ جَابِرٍ
فَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا عِنْدَ اللَّالَكَائِيِّ فِي «شَرْحِ
أُصُولِ الِاعْتِقَادِ» (85)، وَالْبَيْهَقِيِّ ص 189، وَإِسْنَادُ الْبَيْهَقِيِّ
ضَعِيفٌ، أَمَّا إِسْنَادُ اللَّالَكَائِيِّ فَفِيهِ أَيُّوبُ بْنُ الْوَلِيدِ، وَهُوَ
مُتَرْجَمٌ فِي «تَارِيخِ بَغْدَادَ» 7/10، وَلَمْ يَأْثُرِ الْخَطِيبُ فِيهِ جَرْحًا
وَلَا تَعْدِيلًا.
Kami katakan :
“Tambahan lafadz “setiap kesesatan di dalam neraka” ini tidak diriwayatkan
dalam hadits tersebut kecuali melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak dari Sufyan
Ats-Tsauri. Adapun selain hadits Jabir, maka lafadz itu diriwayatkan dari Ibnu
Mas’ud secara mauquf oleh Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan
Al-Baihaqi hlm. 189. Sanad Al-Baihaqi lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di
dalamnya terdapat Ayyub bin Al-Walid, yang biografinya disebutkan dalam Tarikh
Baghdad 7/10, dan Al-Khathib tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”. [Lihat:
Haamisy al-Musnad 23/235 no. 14984]
----
Kedua :
Riwayat Terdapat Tambahan “وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ”:
Dan An-Nasa’i
meriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubra 2/308 no. 1799 dan 5/384 no. 581: melalui
satu jalur yaitu:
Dar Ibnu
Al-Mubarak, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Ja‘far bin Muhammad,
dari ayahnya, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ : يَحْمَدُ اللهَ،
وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ، ثُمَّ يَقُولُ:
«مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ
كِتَابُ اللهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ».
ثُمَّ يَقُولُ:
«بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ مَعًا كَهَاتَيْنِ».
وَكَانَ إِذَا
ذُكِرَتِ السَّاعَةُ احْمَرَّتْ، وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ
كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ صَبَّحَتْكُمْ مَسَّتْكُمْ،
ثُمَّ قَالَ:
«مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا، فَعَلَيَّ
وَإِلَيَّ وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ»
Rasulullah ﷺ dahulu
dalam khutbahnya memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak
bagi-Nya, kemudian beliau bersabda:
‘Barangsiapa
diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara
adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah,
setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.’
Kemudian beliau
bersabda: ‘Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua ini.’
Dan apabila hari
kiamat disebutkan, kedua pipi beliau memerah, suara beliau meninggi, dan
kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan
terhadap pasukan musuh yang menyerang kalian pada pagi atau sore hari.
Kemudian beliau
bersabda: “Barangsiapa meninggalkan harta maka itu untuk keluarganya, dan
barangsiapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga, maka itu menjadi
tanggunganku dan menjadi urusanku, dan aku adalah wali bagi kaum mukminin.’”
[Selesai]
Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 3/143 no. 1785 dengan sanad
dan matan yang sama. Kemudian Ibnu Khuzaimah berkata setelahnya:
«هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ
مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ»
“Ini adalah lafaz
hadits Ibnu Al-Mubarak. Sedangkan lafaz Anas bin ‘Iyadh berbeda dengan lafaz
ini.”
===((*))====
PENJELASAN MASING-MASING DARI DUA PENDAPAT
===***===
PENJELASAN
PENDAPAT PERTAMA :
TAMBAHAN
LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ” ADALAH SYADZ DAN DHO’IF.
Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyah setelah menyebutkan lafadz hadits Jabir riwayat Muslim, ia berkata:
« وَلَمْ يَقُلْ ﷺ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ »
“Dan beliau ﷺ tidak
mengatakan: ‘dan setiap kesesatan di dalam neraka’.”
Kemudian Ibnu
Taimiyah menjelaskan:
«بَلْ يَضِلُّ عَنْ
الْحَقِّ مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدْ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجَزَ عَنْهُ فَلَا
يُعَاقَبُ وَقَدْ يَفْعَلُ بَعْضَ مَا أُمِرَ بِهِ فَيَكُونُ لَهُ أَجْرٌ عَلَى اجْتِهَادِهِ
وَخَطَؤُهُ الَّذِي ضَلَّ فِيهِ عَنْ حَقِيقَةِ الْأَمْرِ مَغْفُورٌ لَهُ. وَكَثِيرٌ
مِنْ مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَدْ قَالُوا وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ
وَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ إمَّا لِأَحَادِيثَ ضَعِيفَةٍ ظَنُّوهَا صَحِيحَةً
وَإِمَّا لِآيَاتِ فَهِمُوا مِنْهَا مَا لَمْ يُرَدْ مِنْهَا وَإِمَّا لِرَأْيٍ رَأَوْهُ
وَفِي الْمَسْأَلَةِ نُصُوصٌ لَمْ تَبْلُغْهُمْ
»
Bahkan seseorang
bisa tersesat dari kebenaran padahal ia bermaksud mencari kebenaran dan telah
bersungguh-sungguh dalam mencarinya, namun ia tidak mampu mencapainya, maka ia
tidak dihukum. Bisa jadi ia melakukan sebagian dari apa yang diperintahkan
kepadanya sehingga ia mendapatkan pahala atas ijtihadnya, sedangkan
kesalahannya yang membuatnya menyimpang dari hakikat perkara itu diampuni
baginya.
Banyak dari
kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang telah mengatakan dan melakukan
sesuatu yang merupakan bid’ah, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah
bid’ah. Hal itu bisa disebabkan oleh hadits-hadits lemah yang mereka sangka
shahih, atau karena ayat-ayat yang mereka pahami dengan pemahaman yang bukan
dimaksudkan darinya, atau karena suatu pendapat yang mereka anggap benar,
sementara dalam masalah tersebut terdapat nash-nash yang belum sampai kepada
mereka.” [Selesai]
Muhammad ‘Amr bin ‘Abdul Lathif Asy-Syinqithi
berkata dalam Ahadits wa Marwiyyat fil Mizan 2 – Hadits Al-Finah hlm. 5:
هَذَا هُوَ الثَّابِتُ
الْمَحْفُوظُ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ، عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ، كَمَا رَوَاهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ:
عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ بِلالٍ، وَوُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ،
وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَيَحْيَى
بْنُ سُلَيْمٍ، وَآخَرُونَ، وَمُقْتَضَى صَنِيعِ مُسْلِمٍ أَنْ يَكُونَ هُوَ لَفْظُ
وَكِيعٍ عَنِ الثَّوْرِيِّ عَنْ جَعْفَرٍ بِهِ، حَيْثُ أَحَالَ عَلَى رِوَايَةِ الثَّقَفِيِّ
وَقَالَ: «ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ».
لَكِنْ رَوَاهُ
أَحْمَدُ، وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ عَنْ وَكِيعٍ بِلَفْظِ: «وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»،
وَجَمَعَ بَيْنَهُمَا الْبَيْهَقِيُّ.
وَخَالَفَ جَمِيعَ
هَؤُلَاءِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، فَرَوَاهُ عَنِ الثَّوْرِيِّ عَنْ جَعْفَرٍ
بِهِ بِلَفْظِ: «وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
وَهَذِهِ اللَّفْظَةُ
تَحَاشَاهَا الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي «صَحِيحِهِ»، وَكَذَلِكَ ابْنُ حِبَّانَ، وَأَوْرَدَهَا
ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي «صَحِيحِهِ» بِالتَّحْوِيلِ مَعَ رِوَايَةِ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ
عَنْ جَعْفَرٍ، وَقَالَ: «
هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ
لِهَذَا اللَّفْظِ».
وَفِي الْحَقِيقَةِ
أَنَّ لَفْظَ جُمْهُورِ الرُّوَاةِ عَنْ جَعْفَرٍ كَذَلِكَ فِي هَذِهِ الزِّيَادَةِ
وَفِي السِّيَاقِ نَفْسِهِ.
وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ
ـ رَحِمَهُ اللَّهُ ـ وَإِنْ صَحَّحَ لَفْظَ النَّسَائِيِّ بِالزِّيَادَةِ فِي «إِقَامَةِ
الدَّلِيلِ عَلَى إِبْطَالِ التَّحْلِيلِ» مِنَ الْفَتَاوَى (3 / 58)، كَمَا فِي «خُطْبَةِ
الْحَاجَةِ» لِلْعَلَّامَةِ الْأَلْبَانِيِّ ـ رَحِمَهُ اللَّهُ ـ (ص 30)، فَقَدْ طَعَنَ
فِي ثُبُوتِهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي «مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى» (19/191)، فَقَالَ:
«وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، ثُمَّ شَرَعَ فِي بَيَانِ عَدَمِ
صِحَّةِ هَذَا الْمَعْنَى.
وَلَوْلَا أَنَّ
اللَّهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ قَيَّضَ لِي أَخًا كَرِيمًا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذِهِ اللَّفْظَةِ
مُنْذُ عِدَّةِ سَنَوَاتٍ، مَا تَفَطَّنْتُ إِلَى شُذُوذِهَا بَعْدَ التَّقَصِّي التَّامِّ
لِطُرُقِ هَذَا الْحَدِيثِ، وَإِنْ رُوِيَتْ عَنْ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ ـ رِضْوَانُ
اللَّهِ عَلَيْهِمَا ـ. انْتَهَى.
“(Tanpa tambahan lafadz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ”), Inilah lafadz yang valid dan terjaga
dari Ja‘far bin
Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, sebagaimana
diriwayatkan pula oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu: (1) ‘Abdul
Wahhab Ats-Tsaqafi, (2) Sulaiman bin Bilal, (3) Wuhaib bin Khalid, (4) Yahya bin
Sa‘id Al-Qaththan, (5) ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, (6) Yahya bin Sulaim, (7) dan yang
lainnya.
Konsekuensi dari metode Imam Muslim menunjukkan
bahwa begitu itu pula lafadz Waki‘ dari Sufyan Ats-Tsauri dari Ja‘far dengan sanad
tersebut, karena beliau merujukkan kepada riwayat Ats-Tsaqofi yang sebelumnya,
dengan berkata:
«ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ»
‘Kemudian beliau membawakan hadits semisal
hadits Ats-Tsaqafi.’
Akan tetapi Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim
meriwayatkannya dari Waki‘ dengan lafadz:
«وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»
‘Dan setiap perkara baru adalah bid’ah.’
Lalu Al-Baihaqi menggabungkan kedua
lafadz tersebut.
Seluruh perawi tadi diselisihi oleh ‘Abdullah
bin Al-Mubarak. Ia
meriwayatkannya dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ja‘far, dengan lafadz:
«وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
‘Dan seburuk-buruk perkara adalah
perkara-perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah
kesesatan, dan setiap kesesatan di dalam neraka.’
Lafadz tambahan ini dihindari oleh Imam Muslim
dalam Shahih-nya, demikian pula Ibnu Hibban.
Sedangkan Ibnu
Khuzaimah membawanya dalam Shahih-nya dengan cara pengalihan sanad bersama
riwayat Anas bin ‘Iyadh dari Ja’far, lalu beliau berkata:
«هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ
ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ»
“Ini adalah lafadz
hadits Ibnu Al-Mubarak. Adapun lafadz Anas bin ‘Iyadh berbeda dengan lafadz ini
(yakni; tanpa kata ‘setiap kesesatan di dalam neraka’)”.
Dan pada
hakikatnya, lafadz mayoritas perawi dari Ja’far juga berbeda dengan tambahan
ini dan dalam susunan konteks yang sama.
Syaikhul Islam rahimahullah, meskipun
menshahihkan lafadz riwayat An-Nasa’i yang memuat tambahan tersebut dalam kitab
“Iqamatud
Dalil ‘ala Ibtholit Tahlil” dari “Majmu‘ Al-Fatawa” (3/58),
sebagaimana disebutkan dalam Khuthbatul Hajah karya Al-‘Allamah Al-Albani
rahimahullah (hlm. 30), namun beliau juga mengkritik ketetapan tambahan itu
dari Nabi ﷺ
dalam Majmu‘ Al-Fatawa (19/191). Beliau berkata:
«وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»
‘Dan beliau tidak mengatakan: “Dan setiap
kesesatan di dalam neraka.”’
Kemudian beliau melanjutkan penjelasan tentang
tidak shahihnya makna tersebut.
Kalaulah bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla
menggerakkan seorang saudara mulia untuk bertanya kepadaku tentang lafadz ini
sejak beberapa tahun yang lalu, niscaya aku tidak akan menyadari ke-syadz-annya setelah
penelitian menyeluruh terhadap seluruh jalur hadits ini, meskipun lafadz
tersebut juga diriwayatkan dari ‘Umar dan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuma.” (Selesai).
Abdullah Al-Bassam rahimahullah dalam *Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram*, beliau berkata dalam melemahkan tambahan lafaz ini:
«فَفِي سَنَدِهَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَاشِمِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَأَخَذَ الْحَدِيثَ وِجَادَةً».
“Dalam sanadnya terdapat Ja’far bin Muhammad Al-Hasyimi, dan ia dha’if serta mengambil hadits secara wijadah.”
TAMBAHAN “كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” ADALAH SYADZ (شَاذَّةٌ)
Mereka mengatakan : Tambahan lafadz “كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” dianggap syadz (terasingkan), karena Abdullah bin al-Mubarak secara tunggal telah menyelisihi semua para perawi tsiqot (terpercaya) dari Jalur Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir dari Nabi ﷺ.
Syaikh Shalih
Al-‘Ushaimi berkata:
وَزَادَ النَّسَائِيُّ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ»، وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ شَاذَّةٌ لَا تَثْبُتُ؛ فَإِنَّ أَصْلَ الْحَدِيثِ
فِي «الصَّحِيحِ» وَغَيْرِهِ لَيْسَتْ فِيهِ هَذِهِ الزِّيَادَةُ، وَإِنَّمَا تَفَرَّدَ
بِهَا بَعْضُ الرُّوَاةِ.
“Imam An-Nasa’i
menambahkan lafadz: ‘وَكُلُّ
ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. Akan tetapi tambahan ini
syadz dan tidak tsabit, karena asal hadits tersebut dalam Shahih Muslim dan
kitab-kitab lainnya tidak terdapat tambahan ini. Tambahan tersebut hanya
diriwayatkan secara tersendiri (tunggal) oleh sebagian perawi.” [Sumber:
ceramahnya di Youtube]
Syeikh ‘Amr Abdul
Mun’im Salim dalam kitab *Shifah Khuthbah An-Nabi ﷺ (hal. 17), Ia berkata:
«وَزَادَ النَّسَائِيُّ
فِي رِوَايَةٍ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، وَهِيَ زِيَادَةٌ شَاذَّةٌ مِنْ
هَذِهِ الطَّرِيقِ، وَالْحَمْلُ فِيهَا عَلَى شَيْخِ النَّسَائِيِّ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ...».
“An-Nasa’i
menambahkan dalam salah satu riwayat: ‘dan setiap kesesatan berada di neraka’,
dan ini adalah tambahan yang syadz dari jalur ini. Tanggung jawabnya ada pada
guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah…”
Dan Syeikh Ahmad
Khulaif Shiddiq berkata dalam risalahnya (Dho‘fu Ziyadati “Wa Kullu
Dholalatin Fin Nar” Riwayatan wa Dirayatan):
هَذِهِ الزِّيَادَةُ شَاذَّةٌ، وَالشَّاذُّ
فِي عِدَادِ الْوَاهِي كَمَا قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي الْمُوقِظَةِ، وَالشَّاذُّ لَا
تَنْفَعُهُ الْمُتَابَعَاتُ وَالشَّوَاهِدُ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ؛ لِأَنَّهُ خَطَأٌ
مِنْ أَسَاسِهِ.
لَفْظُ الْحَدِيثِ: «وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» هَذَا هُوَ الثَّابِتُ الْمَحْفُوظُ عَنْ
جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ عِنْدَ مُسْلِمٍ
وَغَيْرِهِ كَمَا رَوَاهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ: عَبْدُ الْوَهَّابِ
الثَّقَفِيُّ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، وَوُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ، وَيَحْيَى بْنُ
سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَيَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ
وَآخَرُونَ.
“Tambahan lafadz
ini tergolong syadz, sedangkan hadits syadz termasuk dalam kategori hadits
lemah, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mauqizhah. Hadits syadz
tidak dapat dikuatkan dengan mutaba‘at maupun syawahid sebagaimana telah
dikenal dalam ilmu hadits, karena pada asalnya ia merupakan kekeliruan.
Lafadz hadits yang
tsabit adalah:
«وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
‘Dan seburuk-buruk
perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.’
Inilah lafadz yang
valid dan terjaga dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi
ﷺ sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya, sebagaimana
diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja‘far bin Muhammad, yaitu: (1) ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, (2) Sulaiman
bin Bilal, (3) Wuhaib bin Khalid, (4) Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, (5) ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, (6) Yahya bin Sulaim, (7) dan yang lainnya.” [Selesai]
Para pentahqiq
Musnad Imam Ahmad (yaitu; Syu’aib Al-Arnauth, Adil Mursyid dan lainnya), mereka
berkata:
قُلْنَا: وَهٰذَا الْحَرْفُ: «كُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ» لَمْ يُرْوَ فِي هٰذَا الْحَدِيثِ إِلَّا مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَأَمَّا مِنْ غَيْرِ حَدِيثِ جَابِرٍ
فَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا عِنْدَ اللَّالَكَائِيِّ فِي «شَرْحِ
أُصُولِ الِاعْتِقَادِ» (85)، وَالْبَيْهَقِيِّ ص 189، وَإِسْنَادُ الْبَيْهَقِيِّ
ضَعِيفٌ، أَمَّا إِسْنَادُ اللَّالَكَائِيِّ فَفِيهِ أَيُّوبُ بْنُ الْوَلِيدِ، وَهُوَ
مُتَرْجَمٌ فِي «تَارِيخِ بَغْدَادَ» 7/10، وَلَمْ يَأْثُرِ الْخَطِيبُ فِيهِ جَرْحًا
وَلَا تَعْدِيلًا.
Kami katakan :
“Tambahan lafadz “setiap kesesatan di dalam neraka” ini tidak
diriwayatkan dalam hadits Jabir tersebut kecuali melalui jalur Abdullah bin
Al-Mubarak dari Sufyan Ats-Tsauri.
Adapun selain
hadits Jabir, maka lafadz itu diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara mauquf oleh
Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad (85), dan Al-Baihaqi hlm. 189. Sanad
Al-Baihaqi lemah. Adapun sanad Al-Lalika’i, di dalamnya terdapat Ayyub bin
Al-Walid, yang biografinya disebutkan dalam Tarikh Baghdad 7/10, dan Al-Khathib
tidak menyebutkan padanya jarh maupun ta’dil”. [Lihat: Haamisy al-Musnad
23/235 no. 14984]
Dan di halaman lain
mereka juga berkata:
«وَفِي الرِّوَايَةِ
الْمَوْقُوفَةِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ وَاللَّالَكَائِيِّ زِيَادَةٌ: “كُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ”، وَهِيَ فِي بَعْضِ طُرُقِ جَابِرٍ».
“Dalam riwayat
mauquf yang ada pada Al-Baihaqi dan Al-Lalika’i terdapat tambahan: ‘setiap
kesesatan di dalam neraka’, dan tambahan ini terdapat pada sebagian jalur
hadits Jabir.” [Lihat: Haamisy al-Musnad 22/238 no. 14334]
Ibrahim bin Syarif
Al-Mili dalam *Majmu’ Fihi Mu’allafat li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah* (hal.
322, catatan kaki) ia berkata:
«وَقَدْ فَصَّلْتُ
الْقَوْلَ فِي بَيَانِ شُذُوذِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ فِي «بُلْغَةِ الْحَثِيثِ» أَعَانَ
اللَّهُ عَلَى طِبَاعَتِهِ».
“Aku telah
menjelaskan secara rinci tentang syadznya kalimat ini dalam kitab ‘Bulghah
Al-Hatsits’, semoga Allah memudahkan pencetakannya.”
Dan Muhammad ‘Amr bin Abdullathif asy-Syinqithi dalam Ahadits wa Marwiyyaat Fii al-Mizan hal. 5 catatan kaki no. (1) berkata:
تَعْلَمُ السَّبَبَ فِي إِعْرَاضِي عَنِ
اللَّفْظَةِ الْمَشْهُورَةِ جِدًّا: «وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَأَنَّهَا شَاذَّةٌ، وَ«الشَّاذُّ فِي
عِدَادِ الْوَاهِي» كَمَا قَالَ الْإِمَامُ الذَّهَبِيُّ ـ رَحِمَهُ اللهُ ـ فِي كِتَابِهِ
الْقَيِّمِ «الْمُوقِظَةِ»، وَمَعْنَاهَا أَيْضًا غَيْرُ صَحِيحٍ كَمَا فِي «مَجْمُوعِ
الْفَتَاوَى» (19 / 191).
Engkau akan
mengetahui sebab aku berpaling dari lafadz yang sangat masyhur :
“Setiap perkara
baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan di
dalam neraka.”
Bahwa lafadz
tersebut adalah syadz, sedangkan “hadits syadz termasuk kategori hadits yang
lemah” sebagaimana dikatakan Imam Adz-Dzahabi
rahimahullah dalam kitab beliau yang berharga Al-Muqizhah. Maknanya juga tidak
benar sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ Al-Fatawa (19/191).
Syaikhul Islam
dalam al-Fatawa al-Kubro 6/78 dan “Ibtholut Tahlil (3/122) mengatakan:
«رَوَاهُ النَّسَائِيُّ
بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»؛ ا هـ.»
“An-Nasa’i
meriwayatkannya dengan sanad shahih dan ada tambahan kata: ‘maka setiap
bid’ah di dalam neraka’.”
Beliau tidak secara
tegas menyatakan penshahihan lafadz tersebut, namun hanya menyebutkan bahwa itu
adalah tambahan dalam hadits an-Nasa’i. Dan hal ini tidak mengharuskan beliau
menshahihkannya, wallahu a’lam. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas
tentang pelemahan beliau terhadapnya dari sisi makna.
Dan berikut ini
text lengkapnya, Ibnu Taimiyah berkata:
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ: «أَمَّا بَعْدُ فَأَحْسَنُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ
وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
.
وَفِي لَفْظٍ
: .... وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ» رَوَاهُ
النَّسَائِيّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»
وَكَانَ عُمَرُ
- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يَخْطُبُ بِهَذَا الْخُطْبَةِ، وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ
- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «... أَلَا
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»
وَفِي لَفْظٍ:
«غَيْرَ أَنَّكُمْ سَتُحْدِثُونَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ فَكُلُّ مُحْدَثَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ
ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» .
وَهَذَا مَشْهُورٌ،
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَكَانَ يَخْطُبُ بِهِ كُلَّ خَمِيسٍ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ
ﷺ يَخْطُبُ بِهِ فِي الْجُمَعِ.
وَقَدْ رَوَاهُ
ابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ أَبِي عَاصِمٍ بِأَسَانِيدَ جَيِّدَةٍ ... عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ مَسْعُودٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: ... وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» . وَهَذَا إسْنَادٌ جَيِّدٌ لَكِنَّ الْمَشْهُورَ
أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ –
وَعَنْ الْعِرْبَاضِ
بْنِ سَارِيَةَ قَالَ رسول الله ﷺ : ... فَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» . رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ
وَأَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Jabir, bahwa
Rasulullah ﷺ biasa mengatakan dalam khutbah beliau:
“Amma ba’du,
maka sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang
diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Dalam lafadz lain: “...
dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap
perkara baru adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad
shahih, dan beliau menambahkan: “Maka setiap bid’ah di dalam neraka.”
Umar radhiyallahu
'anhu dahulu berkhutbah dengan khutbah ini. Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu
'anhu secara mauquf dan marfu’, bahwa beliau biasa mengatakan: “... Ketahuilah,
jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, karena sesungguhnya seburuk-buruk
perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan sesungguhnya setiap
perkara baru adalah bid’ah.”
Dalam lafadz lain: “Hanya
saja kalian akan mengada-adakan perkara-perkara baru dan akan diada-adakan pula
untuk kalian perkara-perkara baru, maka setiap perkara baru adalah kesesatan
dan setiap kesesatan di dalam neraka.”
Ini masyhur dari
Ibnu Mas’ud, dan beliau biasa berkhutbah dengannya setiap hari Kamis,
sebagaimana Nabi ﷺ biasa berkhutbah dengannya pada hari Jumat.
Ibnu Majah dan Ibnu
Abi ‘Ashim meriwayatkannya dengan sanad-sanad yang baik dari Abdullah bin
Mas’ud: “Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ... sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah
dan sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Ini adalah sanad
yang baik, namun yang masyhur adalah bahwa hadits itu mauquf pada Ibnu Mas’ud.
Dan dari Al-‘Irbadh
bin Sariyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “...
sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah
kesesatan.”
Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata:
“Hadits hasan shahih.” [al-Fatawa al-Kubro 6/78 karya Ibnu Taimiyah].
===
Pertanyaan :
Bagaimana dengan Abu
Nu‘aim yang meriwayatkan dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim
(1953) melalui jalur sbb :
[1] Al-Firyabi dari
Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan.
[2] Al-Firyabi dari
‘Utsman dari Waki‘ dari Sufyan.
[3] ‘Ubaid bin
Ghannam dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Waki‘ dari Sufyan dari
Ja‘far, dari ayahnya, dari Jabir dia berkata dengan lafadz:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا
هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ:
«مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ أَصْدَقُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنُ
الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ
ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ»
ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ».
وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ
وَجْنَتَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ:
«صَبَّحَتْكُمْ مَسَّتْكُمْ» ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ تَرَكَ مَالا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ
تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ»
Rasulullah ﷺ dahulu
dalam khutbahnya memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak
bagi-Nya, kemudian beliau bersabda:
”Barangsiapa
diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang
diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah
kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”
Kemudian beliau
bersabda: ”Aku diutus bersama hari kiamat seperti dua ini.”
Apabila beliau
menyebut hari kiamat, kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan
kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan
terhadap pasukan musuh: “Musuh menyerang kalian pada pagi atau sore hari.”
Kemudian beliau
bersabda:
“Barangsiapa meninggalkan harta maka itu untuk keluarganya, dan
barangsiapa meninggalkan utang atau tanggungan keluarga maka itu menjadi
tanggunganku dan kewajibanku, dan aku adalah wali bagi kaum mukminin.”
Jawaban:
Jawaban mereka adalah : yang tampak, perbedaan ini berasal dari Sufyan Ats-Tsauri sendiri.”
PENJELASAN
PENDAPAT KEDUA :
TAMBAHAN
LAFADZ “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ” ADALAH SHAHIH.
Penulis kutip pembahasan
pendapat kedua ini dari dua kitab:
Pertama : kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.
Kedua : artikel “تَصْحِيحُ زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya
bin Yusuf al-‘Amri.
*****
PERTAMA:
Kutipan
Dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi.
Hal 97 (al-Maktabah
asy-Syamilah)
Diterjemahkan
oleh penulis dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia
====
Abu Al-Mundzir
Al-Minyawi dalam Kitab Al-Bid‘ah
Asy-Syar‘iyyah hlm. 97, Al-Maktabah Asy-Syamilah, berkata:
“Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
“Setiap bid’ah
adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”
Ini merupakan
bagian dari hadits Jabir dengan lafadz yang semisal dalam khutbatul hajah, yang
diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui jalur Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir.
Hadits tersebut
diriwayatkan dari Ja‘far dengan sanad ini oleh ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdul Hamid,
Sulaiman bin Bilal, Yahya bin Sulaim, Mush‘ab bin Salamah, Wuhaib, Yahya bin
Sa‘id, dan Abu Musa Ishaq bin Musa, tanpa menyebut tambahan lafadz:
«وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ».
“Dan setiap
kesesatan berada di neraka.”
Hadits itu juga
diriwayatkan darinya oleh Sufyan — yaitu Ats-Tsauri sebagaimana disebutkan
secara tegas dalam riwayat Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah — dengan menyebut
tambahan tersebut. Akan tetapi terjadi perbedaan riwayat darinya mengenai
tambahan itu. Tambahan tersebut diriwayatkan dari Sufyan oleh Ibnul Mubarak dan
Waki‘.
Adapun Ibnu
Al-Mubarak, maka ia menambahkan lafadz:
«وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ».
“Dan setiap
kesesatan berada di neraka”
dalam riwayat
An-Nasa’i, Muhammad ibn Ishaq Ibn Khuzaymah, Ahmad ibn al-Husayn al-Bayhaqi,
Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah, dan selain mereka.
Sedangkan Waki‘,
maka terjadi perbedaan riwayat darinya. Hadits itu diriwayatkan darinya dari
Sufyan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, ‘Utsman, dan Salim bin Junadah.
Adapun Abu Bakr
Ibnu Abi Syaibah, maka terjadi perbedaan riwayat darinya. Muslim bin al-Hajjaj
meriwayatkannya dalam Shahih-nya tanpa menyebut tambahan tersebut. Sedangkan
Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam Al-Mustakhraj melalui jalur Al-Firyabi dan
‘Ubaid bin Ghannam darinya dengan menyebut tambahan itu.
Adapun ‘Utsman dan
Salim bin Junadah, maka keduanya meriwayatkannya dari Waki‘ dengan menyebut
tambahan tersebut sebagaimana terdapat dalam Al-Mustakhraj karya Abu Nu‘aim.
Kesimpulannya,
bahwa Sufyan memang meriwayatkan tambahan lafadz tersebut, namun tetap terdapat
perselisihan riwayat darinya.
Ibnul Mubarak
meriwayatkannya dari Sufyan tanpa perbedaan riwayat, sedangkan Waki‘
meriwayatkannya dengan perbedaan: kadang menyebut tambahan itu, dan kadang
tidak menyebutnya.
Sufyan tidak
sendirian dalam meriwayatkan tambahan lafaz ini, karena ia juga diikuti oleh Muhammad
bin Manshur Az-Za‘farani dari Ja‘far dengan tambahan lafaz tersebut,
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Baththah (w. 387 H) dalam Al-Ibanah (2/85)
hadits no. 1491. Muhammad bin Manshur ini dikatakan oleh Ibnu Baththah:
وَكَانَ ثِقَةً.
“Ia adalah seorang
yang tsiqah.”
[Note: Penulis
belum menemukan biografi “Muhammad bin Manshur Az-Za‘farani” dalam kitab-kitab
Tarojim dan Jarh wa Ta’diil]
Pertama: bahwa
tambahan lafaz ini bersifat penjelas dan tidak bertentangan, karena bid’ah itu
terbatas pada perkara yang haram dan makruh tahrim. Hal itu termasuk perkara
yang menyebabkan masuk neraka. Maka, berdasarkan makna ini, keluarnya bid’ah
yang makruh tanzih dari kategori bid’ah tidak dianggap sebagai pertentangan,
bahkan tambahan lafaz tersebut menjadi tambahan penjelas yang dapat diterima.
Kedua: bahwa
tambahan lafaz ini telah datang melalui jalur-jalur periwayatan lain. Meskipun
sebagian jalurnya tidak lepas dari pembicaraan dan kritikan, namun secara
keseluruhan cukup layak dijadikan hujjah dan menunjukkan bahwa Sufyan memang
hafal tambahan lafaz tersebut, yaitu:
Ke 1. Riwayat yang
dibawakan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya:
“Telah mengabarkan
kepada kami Abul Qasim ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Bayan, telah mengabarkan
kepada kami Abul Faraj Al-Husain bin ‘Ali bin ‘Ubaidillah Ath-Thanajiri pada
tahun 437 H, telah mengabarkan kepada kami Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin
Syahin, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Utsman Al-‘Utsmani,
telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A‘la bin Hammad An-Narsi, ‘Utsman bin
‘Umar, telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah, telah menceritakan kepada kami
‘Auf, dari ‘Abdurrahman, ia berkata:
دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ، فَإِذَا
رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ يُحَدِّثُهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِيَّاكُمْ وَالْبِدَعَ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ تَصِيرُ
إِلَى النَّارِ».
Aku masuk ke Masjid
Damaskus, lalu ada seorang sahabat Nabi ﷺ sedang menyampaikan hadits
kepada mereka. Ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Jauhilah oleh
kalian perkara-perkara bid’ah, karena setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap
kesesatan akan berakhir di neraka.’”
Abu Mundzir
al-Minyawi berkata:
وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ، فَلَيْسَ مِنْ
رُوَاتِهِ مُتَّهَمٌ، إِلَّا أَنَّنِي لَمْ أُمَيِّزْ عِكْرِمَةَ، وَأَظُنُّهُ عِكْرِمَةَ
بْنَ عَمَّارٍ الْعِجْلِيَّ. وَقَالَ عَنْهُ ابْنُ حَجَرٍ: صَدُوقٌ يَهِمُ.
“Ini adalah sanad
yang hasan. Tidak ada perawi yang tertuduh dalam sanad tersebut. Hanya saja
penulis belum dapat memastikan siapa ‘Ikrimah yang dimaksud, dan tampaknya ia
adalah ‘Ikrimah bin ‘Ammar Al-‘Ijli. Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Shaduq
namun terkadang keliru.”
[Note: Penulis
Katakan:
Tapi nama
sahabatnya majhul (tidak diketahui, siapa dia?), oleh sebab itu as-Suyuthi dalam
Jam’ul Jawam’ 3/379 (192/9363) dan dalam Jami’ al-Ahaadits 10/334 no. 9747 berkata:
رَوَاهُ ابْنُ
عَسَاكِرَ عَنْ رَجُلٍ
“Diriwayatkan
oleh Ibnu ‘Asakir dari seorang laki-laki”].
Ke 2. Riwayat yang
dibawakan Ath-Thabarani melalui jalur ‘Isa bin Maimun, dari Muhammad bin Ka‘b
Al-Quradzi, dari Ibnu ‘Abbas dan dari Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah
radhiyallahu 'anha, keduanya berkata:
Kemudian Rasulullah
ﷺ masuk ke masjid, sementara terdengar suara seperti dengungan
lebah dari bacaan Al-Qur’an. Maka beliau bersabda:
ثُمَّ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَسْجِدَ،
فَإِذَا أَصْوَاتٌ كَدَوِيِّ النَّحْلِ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ، فَقَالَ: «إِنَّ الْإِسْلَامَ
يَشِيعُ، ثُمَّ تَكُونُ لَهُ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غُلُوٍّ وَبِدْعَةٍ،
فَأُولَئِكَ أَهْلُ النَّارِ».
“Sesungguhnya Islam
akan tersebar, kemudian akan mengalami masa kelemahan. Maka barangsiapa ketika
masa lemahnya condong kepada sikap ghuluw dan bid’ah, maka mereka itulah
penghuni neraka.”
Ini adalah sanad
yang lemah. Di dalamnya terdapat ‘Isa bin Maimun. Dalam At-Taqrib disebutkan:
“Lemah.” Hadits ini juga dilemahkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam
Dha‘if Al-Jami‘ [no. 1413].
[Note: Penulis
katakan:
Dalam al-Matholib
al-Aliyah 13/362 karya al-Hafidz Ibnu Hajar, para pentahqiqnya menjelaskan
tentang hadits ini dengan mengatakan:
وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدًّا، مَسْرُوقُ
بْنُ الْمَرْزُبَانِ صَدُوقٌ لَهُ أَوْهَامٌ، قَالَهُ الْحَافِظُ فِي التَّقْرِيبِ
(ص 528)، وَفِيهِ الْمُسَيِّبُ بْنُ شَرِيكٍ، قَالَ الذَّهَبِيُّ: تَرَكُوهُ (الْمُغْنِي
2/659)، وَعِيسَى بْنُ مَيْمُونٍ هُوَ الْمَدَنِيُّ، قَالَ الْحَافِظُ: ضَعِيفٌ (التَّقْرِيب
ص 441).
[Sanadnya sangat
lemah sekali. Masrūq bin Al-Marzubān adalah seorang yang jujur namun memiliki banyak kekeliruan,
sebagaimana dikatakan Al-Hafizh dalam At-Taqrīb (hlm. 528).
Di dalam sanadnya
juga terdapat Al-Musayyib bin Syarīk. Adz-Dzahabi berkata
tentangnya: “Para ulama meninggalkannya.” (Al-Mughnī, 2/659).
Dan ‘Īsā bin Maimūn adalah
Al-Madani. Al-Hafizh berkata tentangnya: “Lemah.” (At-Taqrīb, hlm. 441)].
Ke 3. Riwayat yang
dibawakan oleh Abu Hatim Al-Khuza‘i dalam juz-nya, Ad-Daraquthni dalam
Al-Afrad, dan Al-Qazwini dalam Akhbar Qazwin, dari Abu Umamah radhiyallahu
'anhu secara marfu‘:
«أَصْحَابُ الْبِدَعِ
كِلَابُ النَّارِ»
“Para pelaku bid’ah
adalah anjing-anjing neraka.”
Hadits ini juga
dilemahkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Dha‘if Al-Jami‘ [no. 885].
[Note: Penulis
katakan:
Dalam Jami’ al-Ahadits
4/464 no. 3554 dijelaskan tentang hadits ini dengan penjelasan sbb:
Ad-Dāruquthni berkata:
فِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبَانٍ لَيْسَ
بِشَيْءٍ
“Di dalam sanadnya
terdapat Ismā’īl bin Abān, ia tidak ada nilainya.”
Imam Ahmad berkata:
حَدَّثَ بِأَحَادِيثَ مَوْضُوعَةٍ
“Ia meriwayatkan
hadits-hadits palsu (maudhu’).”
Ibnu Hibban
berkata:
يَضَعُ عَلَى الثِّقَاتِ
“Ia membuat-buat
hadits palsu atas nama para perawi tsiqah.”
[Baca: Al-‘Ilal
Al-Mutanāhiyah fil Ahādīts Al-Wāhiyah karya
Ibnu al-Jauzi (1/163)]
Al-Ghumārī juga menyebutkannya dalam Al-Mudāwī (1/579), lalu berkata:
هَذَا حَدِيثٌ فِيهِ تَصَرُّفٌ مِنَ الرَّاوِي
فِي لَفْظِهِ فَرَوَاهُ بِمَعْنَاهُ … وَأَصْلُ الْحَدِيثِ بِلَفْظِ: الْخَوَارِجُ
كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ.
“Ini adalah hadits
yang terjadi perubahan lafaz dari perawinya, sehingga ia meriwayatkannya dengan
makna …”
Sedangkan asal
hadits tersebut dengan lafaz: “Khawarij adalah anjing-anjing penghuni
neraka.”
Al-Albani
menisbatkannya dalam As-Silsilah Adh-Dha‘īfah (6/309,
no. 2792) kepada Ibnul Bannā’ dalam Ar-Radd ‘alal
Mubtadi‘ah (3/1)].
Ibnu al-Qaisarooni
(wafat 507) dalam Athroof al-Ghroib wa al-Afrood 4/182 no. 3999 berkata:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ: «أَهْلُ الْبِدَعِ كِلَابُ النَّارِ». وَرَوَاهُ سَلَامُ بْنُ أَبِي عُمَرَ أَبُو
يَحْيَى عَنْ حَسَّانَ الْخُرَاسَانِيِّ، لَمْ يَرْوِهِ هَكَذَا إِلَّا عَنْ أَبِي
غَالِبٍ بِهَذَا اللَّفْظِ أَيْضًا، وَتَفَرَّدَ بِهِ الْمَخْرَمِيُّ أَيْضًا.
“Dari Abu Umamah,
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ahlul bid‘ah adalah anjing-anjing neraka.”
Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Sallām bin Abi ‘Amr Abu Yahya,
dari Hassan Al-Khurasani. Tidak ada yang meriwayatkannya dengan lafaz seperti
ini dari Abu Ghalib selain jalur tersebut, dan Al-Makhrami juga
meriwayatkannya secara menyendiri”.
Ad-Daruquthni dalam
al-‘Ilal 12/268 no. 2701 menjelaskan:
Bahwa beliau pernah
ditanya tentang hadits Abu Ghalib dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَهْلُ الْبِدَعِ
كِلَابُ النَّارِ»
“Ahlul bid‘ah
adalah anjing-anjing neraka.”
Maka beliau
menjawab: “Hadits itu diriwayatkan oleh Ismā’īl bin Abān, dari
Hafsh bin Ghiyāts, dari Al-A‘masy, dari
Abu Ghalib dengan lafaz tersebut.
Sedangkan selain
dia meriwayatkannya dari Al-A‘masy, dari Husain bin Wāqid, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ dengan
lafaz:
«الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»
‘Khawarij
adalah anjing-anjing neraka’
Lalu ad-Daruqutni
berkata:
«وَهُوَ الْمَحْفُوظُ»
“Dan inilah lafadz
yang valid dan terjaga (mahfuzh)”.]
Ke 4. Tambahan lafaz ini juga datang dari perkataan ‘Umar
radhiyallahu 'anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhoh dengan sanad
hasan.
Ke 5. Tambahan ini juga diriwayatkan dari perkataan Ibnu Mas‘ud
radhiyallahu 'anhu melalui dua sanad yang keduanya memiliki kelemahan.
Riwayat pertama
dibawakan oleh Ath-Thabarani dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas‘ud, ia
berkata:
" إِنَّمَا
هُمَا اثْنَتَانِ: الْهَدْيُ وَالْكَلَامُ، وَأَصْدَقُ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللهِ
وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ
ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ "
“Hanyalah ada dua
perkara: petunjuk dan ucapan. Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah,
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara
adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bid’ah,
setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.”
Di dalam sanadnya
terdapat Ibrahim Al-Hajri. Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam Al-Kasyif:
“Lemah.” Ibnu Hajar berkata dalam At-Taqrib: “Layinul hadits.”
Riwayat lain
dibawakan oleh Al-Marwazi dalam As-Sunnah melalui jalur Abdullah bin Mirdas,
dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:
«كُلُّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»
“Setiap perkara
baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada
di dalam neraka.”
Di dalam sanadnya
terdapat periwayatan Al-A‘masy dengan bentuk ‘an‘anah, sementara ia seorang
mudallis. Selain itu, Abdullah bin Mirdas juga majhulul hal. Namun Ibnu Hibban
menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat.
[SELESAI Kutipan
dari kitab “الْبِدْعَةُ الشَّرْعِيَّةُ” karya Abu Mundzir al-Minyawi]
KEDUA:
Kutipan
dari Kedua : artikel “تَصْحِيحُ
زِيَادَةِ «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ ضَعَّفَهَا” karya bin Yusuf al-‘Amri.
Diterjemahkan
oleh penulis dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia
Pensahihan tambahan
lafaz “Dan setiap kesesatan berada di neraka” dalam hadits Jabir radhiyallahu
'anhu serta bantahan terhadap orang yang melemahkannya.
Bin Yusuf Al-‘Umari berkata:
“Ini adalah sebuah
pembahasan hadits yang menarik, mengenai penjelasan tentang sahihnya tambahan
lafaz:
﴿وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ﴾
“Dan setiap
kesesatan berada di neraka” yang datang melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak
dalam hadits Jabir radhiyallahu 'anhu tentang khutbah hajat.
Hal itu karena
beberapa bulan yang lalu saya mendengarkan seorang khatib masjid di ibu kota
menyampaikan khutbah hajat, kemudian menutupnya dengan ucapan:
"وَلَا أَقُولُ:
كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ؛ لِأَنَّهَا لَمْ تَرِدْ فِي أَصْلِ الْحَدِيثِ".
“Dan saya tidak
mengatakan: ‘setiap kesesatan berada di neraka’, karena lafaz itu tidak
terdapat dalam asal hadits.”
Yang pertama kali
terlintas dalam benak saya saat itu adalah bahwa ia sedang membicarakan riwayat
An-Nasa’i yang di dalamnya terdapat tambahan lafaz tersebut. Namun setelah itu
saya sibuk mendengarkan khutbah dan menunaikan shalat.
Kemudian setelahnya
saya meneliti apakah ada ulama sebelumnya yang berpendapat demikian. Lalu saya
menemukan penjelasan Syaikh ‘Amr Abdul Lathif Al-Mishri rahimahullah yang
menyimpulkan kelemahan lafaz tersebut dengan makna yang sama seperti ucapan
khatib tadi.
Sebenarnya saya
tidak berniat melanjutkan penelitian ini, kalau bukan karena saya melihat bahwa
syaikh yang mulia tersebut berdalil — untuk menguatkan pendapatnya — dengan
perkataan Ibnu Taimiyah yang maknanya menunjukkan bahwa tambahan lafaz itu juga
dianggap lemah oleh beliau.
Syaikh ‘Amr dalam
muqaddimah kitabnya “Ahadits wa Marwiyyat fil Mizan” Ia menyatakan sbb :
[1] menilai lafaz
tambahan ini sebagai syadz.
[2] bahwa Abdullah
bin Al-Mubarak telah menyelisihi “jumhur murid Ja‘far bin Muhammad”
[3] dan bahwa lafaz
tersebut “dihindari” oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, demikian pula Ibnu
Hibban.
[4] sedangkan Ibnu
Khuzaimah membawakannya dengan metode tahwil sanad.
Dari cara
penilaiannya tampak bahwa ia membangun penelitiannya di atas kaidah bahwa
hadits syadz adalah riwayat seorang tsiqah yang menyelisihi perawi lain yang
jumlahnya lebih banyak darinya, tanpa memperhatikan keadaan perawi tersebut,
tanpa mempertimbangkan kaidah para ahli hadits dalam pembahasan ziyadatuts
tsiqah (tambahan lafaz dari perawi tsiqah), dan tanpa berusaha mengompromikan
“asal hadits” dengan tambahan-tambahan lafaz yang datang padanya serta
menggabungkannya sesuai syarat-syaratnya.
Dan karena Syaikh
Nashiruddin Al-Albani rahimahullah telah menjelaskan secara luas dan mendalam
dalam risalah beliau “Khuthbatul Hajah” tentang jalur keluarnya hadits ini dan
kesahihannya — dengan penjelasan yang tidak lagi membutuhkan pengulangan
penelitian tentang “asal hadits” — serta karena risalah beliau tersedia dalam
berbagai cetakan, maka yang tersisa untuk diteliti adalah klaim Syaikh ‘Amr
Abdul Lathif yang melemahkan tambahan lafaz ini dan menilainya sebagai syadz.
Maka aku berkata
dengan memohon pertolongan hanya kepada Allah dalam masalah ini:
Hadits Jabir
tentang khutbah hajat dengan tambahan lafaz ini telah diriwayatkan oleh
An-Nasa’i dalam As-Sunan (3/188-189) dan Al-Kubra (5861 dan 1799), Ibnu
Khuzaimah dalam Ash-Shahih (1875), Al-Firyabi dalam Al-Qadar (447), dan melalui
jalurnya diriwayatkan pula oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah (90), demikian
juga oleh Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqad (hlm. 127) dan Al-Asma’ wash Shifat
(103-104), serta Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/189) dan Al-Mustakhraj ‘ala
Shahih Muslim (2/455), juga Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (1491). Semuanya
melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ja’far bin
Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir dengan hadits tersebut. Dan pada akhirnya
terdapat tambahan lafaz:
﴿ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ ﴾
“Dan setiap
kesesatan berada di neraka.”
Syaikh ‘Amr berkata
dalam catatan kaki — setelah menyebutkan khutbah hajat tanpa tambahan lafaz
tersebut —:
"هَذَا هُوَ
الثَّابِتُ الْمَحْفُوظُ... كَمَا رَوَاهُ عَنْهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِ جَعْفَرٍ...
“Inilah lafaz yang
tetap dan terjaga... sebagaimana diriwayatkan oleh mayoritas murid Ja’far...”
kemudian beliau
berkata:
"وَخَالَفَ
جَمِيعَ هَؤُلَاءِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ..."
“Dan yang
menyelisihi mereka semua adalah Abdullah bin Al-Mubarak...”
Aku katakan:
Yang sebenarnya
menyelisihi mereka — jika dilihat dari tingkatan para perawi — adalah Sufyan
Ats-Tsauri, bukan Ibnu Al-Mubarak. Karena Ibnu Al-Mubarak tidak disebut dalam
jajaran murid Ja’far bin Muhammad, dan tidak pula berada pada tingkatan
guru-guru mereka. Maka ungkapan syaikh tersebut kurang tepat.
Seharusnya beliau
mengatakan:
“Tambahan lafaz
ini hanya datang melalui jalur Ibnu Al-Mubarak dari Sufyan,” atau “Tidak
ada yang membawakan tambahan ini kecuali Abdullah bin Al-Mubarak,” atau
ungkapan lain yang semakna. Karena memang demikianlah kenyataannya.
Terlebih lagi
apabila diketahui bahwa Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut melalui jalur
Waki’ dari Sufyan tanpa tambahan lafaz tadi, sebagaimana yang tampak dari cara
beliau membawakan hadits itu dalam Shahih-nya, dan hal inilah yang tampaknya
membuat Syaikh ‘Amr terpengaruh dalam penilaiannya. Akan tetapi, Abu Nu’aim
meriwayatkannya dalam Al-Mustakhraj melalui jalur yang sama, dari Waki’ dari
Sufyan, dengan lafaz yang lebih lengkap dan menyebutkan tambahan tersebut. Dan
nanti akan kami sebutkan riwayat itu.
Yang terpenting
sekarang adalah penyebutan tambahan lafaz tersebut oleh Abdullah bin Al-Mubarak
dalam hadits Jabir, serta klaim kelemahannya berdasarkan konsep syadz menurut
penjelasan Syaikh ‘Amr di satu sisi, dan berdasarkan kaidah tambahan perawi
tsiqah menurut para ahli hadits di sisi lain.
Ad-Daraquthni telah
menyinggung pembahasan ini dan menjelaskan bahwa tambahan dari perawi tsiqah
tidak selalu dianggap syadz dalam setiap keadaan. As-Sulami menyebutkan dalam
Su’alat-nya:
"أَنَّ الدَّارَقُطْنِيَّ
سُئِلَ عَنِ الْحَدِيثِ إِذَا اخْتَلَفَ فِيهِ الثِّقَاتُ؟ قَالَ: يُنْظَرُ مَا اجْتَمَعَ
عَلَيْهِ ثِقَتَانِ فَيُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ، أَوْ مَنْ جَاءَ بِزِيَادَةٍ فَتُقْبَلُ
مِنْ مُتْقِنٍ، وَيُحْكَمُ لِأَكْثَرِهِمْ حِفْظًا، وَيُبْنَى عَلَى مَا دُونَهُ".
“Bahwa
Ad-Daraquthni ditanya tentang hadits yang diperselisihkan oleh para perawi
tsiqah. Beliau menjawab: Dilihat mana yang disepakati oleh dua orang tsiqah,
maka dihukumi shahih. Atau apabila salah seorang datang dengan tambahan lafaz,
maka tambahan itu diterima apabila berasal dari perawi yang kokoh hafalannya.
Dan didahulukan pendapat yang paling kuat hafalannya, lalu dibangun hukum di
atas yang lebih rendah darinya.”
Al-Hafizh
menyebutkan ucapan ini dalam An-Nukat (2/689), lalu menambahkan:
"وَقَدِ اسْتَعْمَلَ
الدَّارَقُطْنِيُّ ذَلِكَ فِي "الْعِلَلِ" وَ"السُّنَنِ" كَثِيرًا".
“Dan Ad-Daraquthni
telah banyak menerapkan kaidah ini dalam Al-‘Ilal dan As-Sunan.”
Dan Imam Muslim
telah menjelaskan masalah ini dengan sangat terang dalam Muqaddimah Shahih-nya,
pada bab tentang penjelasan riwayat yang dibawakan secara tersendiri oleh
seorang muhaddits. Beliau berkata:
"أَنْ يَكُونَ
قَدْ شَارَكَ الثِّقَاتِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْحِفْظِ فِي بَعْضِ مَا رَوَوْا
وَأَمْعَنَ فِي ذَلِكَ عَلَى الْمُوَافَقَةِ لَهُمْ إِذَا وُجِدَ ذَلِكَ، ثُمَّ إِذَا
زَادَ بَعْدَ ذَلِكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ قُبِلَتْ زِيَادَتُهُ".
“Yaitu apabila
seorang perawi telah turut meriwayatkan bersama para perawi tsiqah dan ahli
hafalan dalam sebagian hadits yang mereka riwayatkan, serta ia banyak
menyepakati mereka dalam riwayat-riwayat tersebut. Kemudian setelah itu ia
menambahkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh rekan-rekannya, maka tambahan
tersebut diterima.”
Dan Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-‘Asqalani juga memiliki penjelasan yang sangat berharga tentang
tambahan dari perawi tsiqah, serta pentingnya memperhatikan tingkatan dan
keadaan para perawi. Beliau berkata dalam An-Nukat (2/693) sebagai komentar
atas ucapan Ibnu Ash-Shalah:
"وَالَّذِي
نَخْتَارُهُ أَنَّ الزِّيَادَةَ مَقْبُولَةٌ إِذَا كَانَ رَاوِيهَا عَدْلًا حَافِظًا
وَمُتْقِنًا ضَابِطًا".
“Pendapat yang kami
pilih adalah bahwa tambahan itu diterima apabila perawinya seorang yang adil,
hafizh, mutqin, dan dhabith.”
Al-Hafizh berkata:
"قُلْتُ: وَهُوَ
تَوَسُّطٌ بَيْنَ الْمَذْهَبَيْنِ، فَلَا تُرَدُّ الزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ مُطْلَقًا،
وَلَا نَقْبَلُهَا مُطْلَقًا؛ وَقَدْ تَقَدَّمَ مِثْلُهُ عَنِ ابْنِ خُزَيْمَةَ وَغَيْرِهِ،
وَكَذَا قَالَ ابْنُ طَاهِرٍ: إِنَّ الزِّيَادَةَ إِنَّمَا تُقْبَلُ عِنْدَ أَهْلِ
الصَّنْعَةِ مِنَ الثِّقَةِ الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ".
“Aku berkata: Ini
adalah sikap pertengahan antara dua madzhab. Maka tambahan dari perawi tsiqah
tidak ditolak secara mutlak, dan tidak pula diterima secara mutlak. Telah lewat
sebelumnya pendapat serupa dari Ibnu Khuzaimah dan selainnya. Demikian pula
Ibnu Thahir berkata: Sesungguhnya tambahan itu hanya diterima menurut ahli
bidang ini apabila berasal dari perawi tsiqah yang telah disepakati
ketsiqahannya.”
Maka perhatikanlah
ucapan para ulama dalam masalah ini, dan betapa besar kehati-hatian mereka
dalam menerima tambahan dari perawi tsiqah. Namun bersamaan dengan itu, mereka
juga sangat berhati-hati agar tidak mengingkari atau menolak hadits para perawi
tsiqah hanya karena adanya perbedaan atau tambahan semata. Akan tetapi, mereka
melihat keadaan perawi, kedudukannya di antara rekan-rekannya, serta sejauh
mana ia turut menyamai mereka dalam hafalan dan ketelitian.
Kemudian, andaikata
klaim Syaikh ‘Amr benar bahwa Ibnu Al-Mubarak menyelisihi orang-orang yang
beliau sebut sebagai “mayoritas murid Ja’far bin Muhammad”, apakah penyelisihan
tersebut otomatis melemahkan tambahan lafaz yang ia riwayatkan? Ini sekadar
mengikuti asumsi beliau saja, agar kita bisa meninjau penerapan kaidah yang
telah disebutkan oleh para imam dalam bidang ini serta mendalami penerapan
prinsip-prinsipnya.
Di antara nama-nama
yang disebut Syaikh sebagai pihak yang menyelisihi adalah: Abdul Wahhab
Ats-Tsaqafi, Sulaiman bin Bilal, Wuhaib bin Khalid, Yahya bin Sa’id
Al-Qaththan, Abdul Aziz bin Muhammad, Yahya bin Sulaim, dan selain mereka.
Karena di antara mereka
ada yang dikritik dari sisi ketelitian dan kekuatan hafalannya, dan ada pula
yang tingkatannya berada di bawah Ibnu Al-Mubarak meskipun tetap tsiqah.
Kecuali Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, yang disebut oleh Al-Hafizh sebagai:
«الْإِمَامُ الثِّقَةُ
الْمُتْقِنُ الْحَافِظُ الْقُدْوَةُ»
“Imam yang tsiqah,
mutqin, hafizh, dan teladan.”
Adapun selain
beliau, maka kami cukupkan dengan penilaian Al-Hafizh terhadap mereka dalam
At-Taqrib, demi menghindari pembahasan yang terlalu panjang, bukan karena lari
dari penelitian keadaan mereka. Juga agar segera dapat dibandingkan dengan
kedudukan Ibnu Al-Mubarak, bukan untuk merendahkan posisi mereka atau
menjatuhkan riwayat-riwayat mereka.
1]. Abdul Wahhab
Ats-Tsaqafi. Al-Hafizh berkata:
«ثِقَةٌ تَغَيَّرَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثِ
سِنِينَ».
“Tsiqah, namun
berubah hafalannya tiga tahun sebelum wafatnya.”
2]. Wuhaib bin
Khalid. Beliau berkata:
«ثِقَةٌ ثَبْتٌ لَكِنَّهُ تَغَيَّرَ قَلِيلًا
بِآخِرِهِ».
“Tsiqah lagi kokoh,
tetapi mengalami sedikit perubahan di akhir hayatnya.”
3. Abdul Aziz bin
Muhammad. Beliau berkata:
«صَدُوقٌ كَانَ يُحَدِّثُ
مِنْ كُتُبِ غَيْرِهِ فَيُخْطِئُ».
“Shaduq, namun
biasa meriwayatkan dari kitab orang lain sehingga terkadang keliru.”
4. Yahya bin Sulaim
Ath-Tha’ifi. Al-Hafizh berkata:
«صَدُوقٌ سَيِّئُ
الْحِفْظِ».
“Shaduq tetapi buruk hafalannya.”
5. Sulaiman bin
Bilal. Beliau berkata: “Tsiqah.”
Inilah ringkasan
penelitian Ibnu Hajar Al-‘Asqalani tentang keadaan sebagian perawi tersebut,
yang dijadikan oleh Syaikh ‘Amr sebagai alasan untuk menghukumi tambahan lafaz
itu sebagai syadz karena dianggap Ibnu Al-Mubarak menyelisihi mereka.
Di antara para
perawi yang meriwayatkan hadits Jabir tanpa tambahan lafaz tersebut namun tidak
disebut oleh syaikh yang mulia itu, melainkan hanya diisyaratkan dengan
perkataannya “dan selain mereka”, adalah:
6. Muhammad bin
Ja’far bin Muhammad. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan:
«تُكُلِّمَ فِيهِ»؛
وَأَقَرَّهُ الْحَافِظُ فِي «اللِّسَانِ».
“Ada pembicaraan
terhadapnya.”
Dan Al-Hafizh
menyetujui penilaian itu dalam Lisan Al-Mizan.
7. Mush’ab bin
Salam. Beliau berkata:
«صَدُوقٌ لَهُ أَوْهَامٌ».
“Shaduq, tetapi
memiliki beberapa kekeliruan.”
8. Anas bin ‘Iyadh.
Beliau berkata: “Tsiqah.”
Adapun Abdullah bin
Al-Mubarak, maka Al-Hafizh berkata tentangnya:
«ثِقَةٌ ثَبْتٌ فَقِيهٌ
عَالِمٌ جَوَادٌ مُجَاهِدٌ».
“Tsiqah, kokoh,
faqih, alim, dermawan, dan mujahid.”
Dan ketika Al-Mizzi
menulis biografinya dalam Tahdzib Al-Kamal, beliau menyebutnya dengan judul:
«أَحَدُ الْأَئِمَّةِ
الْأَعْلَامِ وَحُفَّاظِ الْإِسْلَامِ»
“Salah satu imam
besar dan para hafizh Islam.”
Judul itu beliau
jadikan sebagai pengantar bagi biografinya yang panjang, yang ditutup dengan
ucapan Ibnu Sa’d tentangnya:
«وَكَانَ ثِقَةً
مَأْمُونًا إِمَامًا حُجَّةً كَثِيرَ الْحَدِيثِ».
“Beliau adalah
seorang yang tsiqah, terpercaya, imam, hujjah, dan sangat banyak meriwayatkan
hadits.”
Lalu bagaimana
mungkin tambahan lafaz dari seorang “tsiqqah, kokoh, imam, dan hujjah” seperti
ini dianggap cacat, ditempatkan sebagai bentuk penyelisihan, lalu dihukumi
syadz?
Kalaupun Ibnu
Al-Mubarak tidak memiliki kedudukan setinggi itu, maka beliau tetap setara
dengan para perawi yang telah disebutkan — bahkan selain mereka — seperti Yahya
bin Sa’id Al-Qaththan dan para imam sejawatnya dari kalangan ahli ketelitian,
kepercayaan, dan hafalan. Sebelumnya telah kami bawakan kepada Anda ucapan para
ulama tentang diterimanya tambahan dari perawi tsiqah atas para sejawatnya,
khususnya perkataan Ibnu Ash-Shalah yang sangat jelas, dan penjelasan Al-Hafizh
yang menyebut pendapat itu sebagai sikap pertengahan. Maka silakan kembali
merujuk kepadanya.
Kemudian, tambahan
lafaz tersebut juga diikuti oleh Waki’ dari Sufyan dengan sanad yang sama.
Demikianlah riwayat
yang dibawakan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam Al-Mustakhraj melalui jalur
Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Utsman — keduanya digandeng bersama — serta melalui
jalur Salim bin Junadah darinya dengan tambahan lafaz:
﴿وَكُلُّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ﴾.
Kemudian beliau
mengisyaratkan kepada riwayat Muslim dengan mengatakan:
«وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ
عَنْ أَبِي بَكْرٍ عَنْ وَكِيعٍ».
“Dan Muslim
meriwayatkannya dari Abu Bakr dari Waki’.”
Adapun klaim Syaikh
‘Amr bahwa Imam Muslim “menghindari” lafaz ini, sebenarnya hanyalah kesimpulan
yang beliau ambil dari metode Imam Muslim ketika meriwayatkan hadits tersebut
dalam Shahih-nya melalui jalur Abdul Wahhab bin Abdul Majid Ats-Tsaqafi dari Ja’far
tanpa tambahan lafaz tersebut.
Setelah itu beliau
menyebut jalur Waki’ dari Sufyan dari Ja’far, namun tidak membawakan lafaznya
secara lengkap, melainkan hanya berkata:
«ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ
بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ».
“Kemudian beliau
membawakan hadits semisal hadits Ats-Tsaqafi.”
Padahal dalam hal
ini tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Imam Muslim “menghindari” lafaz
tersebut. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa beliau melakukan itu untuk
menjelaskan adanya perbedaan lafaz antara riwayat Waki’ dan riwayat
Ats-Tsaqafi, baik dalam urutan maupun sebagian lafaznya, maka pendapat itu
masih berada di jalur yang benar. Sebab, dalam sanad kedua beliau memang
membawakan sebagian lafaz yang menunjukkan adanya perbedaan tersebut, berupa
pendahuluan sebagian kalimat atas yang lain dibanding susunan sanad pertama,
dan beliau merasa cukup dengan kadar itu saja.
Beliau sama sekali
tidak menyinggung lafaz yang sedang kita bahas tentang keabsahannya ini. Dan
sesuai metode Syaikh ‘Amr sendiri, maka tindakan Abu Nu’aim dalam Al-Mustakhraj
menunjukkan bahwa lafaz Waki’ dari Sufyan memang memuat tambahan tersebut. Imam
Muslim hanya meringkas sebagian riwayatnya, sedangkan perbedaan antara lafaz
Waki’ dan lafaz Ats-Tsaqafi hanyalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.
Hal itu karena Abu
Nu’aim membawakannya secara lengkap dengan tambahan lafaz tersebut dari jalur
yang sama dengan jalur Muslim, dan beliau telah mengisyaratkan hal itu
sebagaimana telah lewat.
Mari kita andaikan menerima
pernyataan Syaikh ‘Amr bahwa Imam Muslim memang “menghindari” tambahan lafaz
ini. Apakah hal itu cukup untuk mencacatkan keabsahannya? Tentu tidak. Karena
metode seperti ini tidak pernah disebut dalam kitab-kitab musthalah hadits
sebagai cacat yang merusak hadits. Bahkan para ulama telah mengingkari orang
yang mengklaim bahwa tidak ada lagi hadits sahih di luar Ash-Shahihain kecuali
sedikit sekali. Kalau bukan karena itu, tentu kitab-kitab mustakhraj atas
Shahihain tidak akan ditulis. Bahkan kitab Al-Mustadrak karya Al-Hakim An-Naisaburi
menjadi bukti paling jelas akan hal tersebut, meskipun sebagian hadits di
dalamnya mendapat kritikan.
Ibnu Katsir berkata
dalam Al-Mukhtashar (1/109 bersama Al-Ba’its):
«وَقَدْ خُرِّجَتْ
كُتُبٌ كَثِيرَةٌ عَلَى «الصَّحِيحَيْنِ» قَدْ يُوجَدُ فِيهَا زِيَادَاتٌ مُفِيدَةٌ،
وَأَسَانِيدُ جَيِّدَةٌ كَـ: .... وَأَبِي نُعَيْمٍ..» (يَعْنِي مُسْتَخْرَجَهُ).
“Telah disusun
banyak kitab berdasarkan Ash-Shahihain yang di dalamnya terdapat
tambahan-tambahan bermanfaat dan sanad-sanad yang bagus, seperti karya … Abu
Nu’aim…” yakni Al-Mustakhraj beliau.
Kemudian Syaikh
‘Amr menambahkan bahwa:
“konsekuensi metode
Imam Muslim menunjukkan bahwa itulah lafaz Waki’ dari Ats-Tsauri dari Ja’far,”
maksudnya sesuai dengan lafaz hadits Ats-Tsaqafi.
Ini termasuk hal
paling aneh yang pernah saya lihat dari beliau rahimahullah, dan paling jauh
dari sikap ilmiah yang teliti. Sebab lafaz Waki’ berbeda dengan lafaz
Ats-Tsaqafi, baik dalam urutan sebagian kalimat maupun beberapa lafaznya,
sebagaimana telah lewat penjelasannya. Justru itulah salah satu sebab Imam
Muslim meriwayatkannya. Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa itu adalah lafaz
Waki’?
Kemudian beliau
membawakan perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (19/191) tentang
hadits ini. Beliau membawakan riwayat Muslim, lalu berkata:
«وَلَمْ يَقُلْ:
كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
“Dan beliau ﷺ tidak mengatakan: ‘wa kullu dhalalatin fin nar’.”
Setelah itu Ibnu Taimiyah
menjelaskan alasannya, yaitu:
«يَضِلُّ عَنِ الْحَقِّ
مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدِ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجَزَ عَنْهُ فَلَا يُعَاتَبُ».
“Seseorang bisa
tersesat dari kebenaran padahal ia menginginkan kebenaran dan telah
bersungguh-sungguh mencarinya namun tidak mampu mencapainya, maka ia tidak
dicela.”
Hingga beliau
berkata:
«وَكَثِيرٌ مِنْ
مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلْفِ قَدْ قَالُوا وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ وَلَمْ
يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ».
“Banyak dari
kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang berkata dan berbuat bid’ah, namun
mereka tidak mengetahui bahwa itu bid’ah.”
Meskipun ucapan ini
tampak menolak tambahan lafaz tersebut dari sisi makna saja, namun dari beliau
sendiri juga terdapat ucapan yang justru kebalikannya secara total: yaitu
menshahihkan lafaz itu, berdalil dengannya, menjelaskan serta mengarahkan
maknanya dengan penjelasan yang layak.
Beliau berkata
dalam Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim (hal. 229) setelah membawakan hadits
Jabir menurut riwayat Muslim:
«وَفِي رِوَايَةٍ
لِلنَّسَائِيِّ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»
“Dalam riwayat
An-Nasa’i terdapat tambahan: ‘Dan setiap kesesatan berada di neraka.’”
Kemudian beliau
menjelaskan bahwa:
«هَذِهِ قَاعِدَةٌ
قَدْ دَلَّتْ عَلَيْهَا السُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ مَعَ مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ
الدَّلَالَةِ عَلَيْهَا أَيْضًا».
“Ini adalah kaidah
yang telah ditunjukkan oleh Sunnah dan ijma’, di samping dalil-dalil dari
Kitabullah yang juga menunjukkan hal itu.”
Lalu beliau berkata
lagi (hal. 232):
«أَمَّا الْقَوْلُ
إِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ الْمُحْدَثَاتُ (كَذَا؟) وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنَ الْأُمُورِ الْمُحْدَثَاتِ، فَهَذَا
نَصُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَدْفَعَ دَلَالَتَهُ عَلَى
ذَمِّ الْبِدَعِ، وَمَنْ نَازَعَ فِي دَلَالَتِهِ فَهُوَ مُرَاغِمٌ».
“Adapun sabda bahwa
seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, bahwa setiap bid’ah
adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka, serta peringatan dari
perkara-perkara baru dalam agama, maka ini adalah nash dari Rasulullah ﷺ. Tidak
halal bagi siapa pun menolak petunjuk hadits ini dalam mencela bid’ah. Barang
siapa membantah petunjuknya, maka ia sedang menentang.”
Tidaklah pantas
setelah ini bagi siapa pun untuk saling mempertentangkan dua perkataan beliau,
atau mendahulukan ucapannya: “dan beliau ﷺ tidak
mengatakan…” atas nukilan yang telah kami sebutkan dari kitab *Iqtidha’
Ash-Shirath Al-Mustaqim*, karena tidak ada dalil yang menunjukkan pendahuluan
salah satunya atas yang lain. Hanya saja, apa yang terdapat dalam *Iqtidha’*
lebih dekat kepada pendapat beliau dalam masalah ini, sebagaimana diketahui
oleh orang yang mendalami ilmunya atau menelaah karya-karyanya.
Beliau juga
menyebut hadits ini dalam *Al-Fatawa Al-Kubra* (3/124 – ad-dalīl ‘alā ibṭhool at-taḥlīl), lalu berkata:
«رَوَاهُ النَّسَائِيُّ
بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَزَادَ: فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ (هَكَذَا فِي الْمَطْبُوعِ
وَلَعَلَّهُ تَصْحِيفٌ)».
“Diriwayatkan oleh
An-Nasa’i dengan sanad yang shahih, dan ia menambahkan: ‘maka setiap bid’ah di
neraka’ (demikian dalam cetakan, dan mungkin ada kesalahan penyalinan).”
Beliau juga
berdalil atas keshahihan tambahan ini dengan amalan para sahabat, dengan
mengatakan:
«وَكَانَ عُمَرُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْطُبُ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ. وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ..»
“Dan Umar
radhiyallahu ‘anhu berkhutbah dengan khutbah ini. Dan dari Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu secara mauquf dan marfu’ bahwa beliau berkata…”
Lalu beliau
menyebutkannya hingga berkata:
«فَكُلُّ مُحْدَثَةٍ
ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»
“maka setiap
perkara baru adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”
Kemudian beliau
menambahkan:
«وَهَذَا مَشْهُورٌ
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَكَانَ يَخْطُبُ بِهِ كُلَّ خَمِيسٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ
ﷺ يَخْطُبُ بِهِ فِي الْجُمَعِ».
“Dan ini masyhur
(terkenal) dari Ibnu Mas’ud, dan beliau biasa berkhutbah dengannya setiap hari
Kamis sebagaimana Nabi ﷺ berkhutbah dengannya pada hari Jumat.”
Inilah yang dinukil
dari Syaikhul Islam tentang para sahabat, bahwa lafaz “وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ” tersebut diucapkan di atas mimbar. Dengan apa yang telah kami
nukilkan dari *Iqtidha’*, hal ini menjadi arah penjelasan terhadap ucapan
beliau sebelumnya yang dijadikan pegangan oleh Syaikh ‘Amr ketika berkata:
«وَمَعْنَاهَا أَيْضًا
غَيْرُ صَحِيحٍ كَمَا فِي مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى».
“Dan maknanya juga
tidak benar sebagaimana dalam *Majmu’ Al-Fatawa*.”
Tambahan lafaz ini
juga termasuk syahid yang dapat dibawakan untuk menguatkan dan menetapkan
keabsahannya.
Adapun atsar dari
Umar, maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Waddah dalam kitab *Al-Bida’ wan Nahyu
‘Anha* (hal. 24) melalui jalur Abdullah bin ‘Ukaym dari Umar, bahwa beliau
biasa mengatakan:
«أَصْدَقُ الْقِيلِ
قِيلُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
“Ucapan yang paling
benar adalah firman Allah, petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad ﷺ, setiap
perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap
kesesatan berada di neraka.”
Sanadnya shahih.
Hanya saja lafaz “Hilal Al-Warraq” dalam sanad merupakan tashif atau kesalahan
cetak. Yang benar adalah Hilal Al-Wazzan, yaitu Ibnu Abi Humaid Ash-Shairafi,
seorang perawi tsiqah dari kalangan rijal Asy-Syaikhain.
[Note: Penulis
katakan: Abdullah bin Fahd menyebutkan dalam ash-Shohih al-Musnad 1/78 no. 28:
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَنْبَأَ سُفْيَانُ،
عَنْ هِلَالٍ الْوَزَّانِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُكَيْمٍ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ
يَقُولُ: «إِنَّ أَصْدَقَ الْقِيلِ قِيلُ اللَّهِ، وَإِنَّ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا».
أَقُولُ: إِسْحَاقُ هُوَ ابْنُ أَبِي
إِسْرَائِيلَ، وَسُفْيَانُ هُوَ ابْنُ عُيَيْنَةَ.
Telah menceritakan
kepada kami Ishaq, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Hilal
Al-Wazzan, dari Abdullah bin ‘Ukaym, ia berkata: “Umar biasa berkata:
‘Sesungguhnya
ucapan yang paling benar adalah firman Allah, petunjuk yang terbaik adalah
petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang
diada-adakan.’”
Aku berkata: Ishaq
di sini adalah Ibnu Abi Isra’il, sedangkan Sufyan adalah Ibnu ‘Uyainah.
Ibnu Hajar
Al-'Asqalani dalam (*Taqrib At-Tahdzib*, hlm. 27) berkata:
هُوَ إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ كَامَجْر – بِفَتْحِ الْمِيمِ وَسُكُونِ الْجِيمِ – أَبُو يَعْقُوبَ
الْمَرْوَزِيُّ، نَزِيلُ بَغْدَادَ. صَدُوقٌ تُكُلِّمَ فِيهِ لِتَوَقُّفِهِ فِي مَسْأَلَةِ
خَلْقِ الْقُرْآنِ. مَاتَ سَنَةَ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ، وَقِيلَ: سِتٍّ، وَلَهُ خَمْسٌ
وَسَبْعُونَ سَنَةً..
“Dia adalah Ishaq bin Abi Isra’il Ibrahim bin Kamajir — dengan fathah pada huruf mim dan sukun pada huruf jim — Abu Ya’qub Al-Marwazi, yang tinggal di Baghdad. Ia seorang shaduq, namun diperselisihkan karena sikap tawaqquf-nya dalam masalah khalqul Qur’an. Ia wafat tahun 245 H, dan ada yang mengatakan 246 H, pada usia 75 tahun”.
Dalam al-Jami’ Li ‘Ulumi al-Imam Ahmad 16/196 no. 287 disebutkan:
إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، إِبْرَاهِيمُ
بْنُ كَامَجْرَ.
قَالَ ابْنُ هَانِئٍ: قِيلَ لَهُ: يُحَدِّثُ
الرَّجُلُ عَنِ الضُّعَفَاءِ، مِثْلَ عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، وَعَمْرِو بْنِ حُكَّامٍ،
وَمُحَمَّدِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، وَعَلِيِّ بْنِ الْجَعْدِ، وَإِسْحَاقَ بْنِ أَبِي إِسْرَائِيلَ؟
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: لَا يُعْجِبُنِي
أَنْ يُحَدِّثَ عَنْ بَعْضِهِمْ.
قَالَ ابْنُ هَانِئٍ: قِيلَ لَهُ: فَيُحَدِّثُ
بِالصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِهِمْ؟
قَالَ: أَعْفِنِي مِنْهُ، قَدْ رَوَوْا
بِمَكَّةَ عَنْ قَوْمٍ ثِقَاتٍ، مِثْلَ أَبِي الْمَلِيحِ وَغَيْرِهِ، أَحَادِيثَ مَنَاكِيرَ.
Ishaq bin Abi
Isra’il, Ibrahim bin Kamajir.
Ibnu Hani berkata: Ditanyakan
kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Apakah seseorang meriwayatkan hadits dari para
perawi lemah seperti ‘Amr bin Marzuq, ‘Amr bin Hukkam, Muhammad bin Mu’awiyah,
‘Ali bin Al-Ja’d, dan Ishaq bin Abi Isra’il?”
Maka Abu Abdillah
berkata: “Aku tidak menyukai ia meriwayatkan dari sebagian mereka.”
Ibnu Hani berkata: Lalu
ditanyakan lagi kepada beliau:“Bagaimana jika ia meriwayatkan hadits shahih
dari mereka?”
Beliau menjawab: “Jauhkan aku dari hal itu. Mereka pernah meriwayatkan di Makkah dari sejumlah perawi tsiqah seperti Abu Al-Malih dan selainnya hadits-hadits mungkar.”
Dan dalam Su’aalat Ibnu Junaid hal. 331 no. 232 disebutkan:
قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: «وَهَذَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ يُحَدِّثُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَابِرٍ، وَلَيْسَ بِثِقَةٍ».
Yahya bin Ma'in berkata: “Dan ini adalah Ishaq bin Abi Isra’il yang meriwayatkan dari Muhammad bin Jabir, sedangkan ia bukanlah orang yang tsiqah.”
Disebutkan dalam
kitab-kitab Tarajim dan Jarh wa Ta’dil disebutkan:
سُئِلَ أَبُو زُرْعَةَ عَنْهُ؟ فَقَالَ:
«كَانَ عِنْدِي إِنَّهُ لَا يَكْذِبُ». فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ أَبَا حَاتِمٍ قَالَ: مَا
مَاتَ حَتَّى حَدَّثَ بِالْكَذِبِ. فَقَالَ: «حَدَّثَ بِحَدِيثٍ مُنْكَرٍ، وَتُرِكَ
الْحَدِيثُ عَنْهُ».
Ditanyakan kepada
Abu Zur'ah Ar-Razi tentang dirinya, maka beliau berkata: “Menurutku dia tidak
berdusta.”
Lalu dikatakan
kepada beliau: “Sesungguhnya Abu Hatim Ar-Razi berkata: ‘Ia tidak meninggal
hingga dia meriwayatkan dengan kedustaan.’”
Maka beliau
menjawab: “Ia meriwayatkan sebuah hadits mungkar, lalu haditsnya pun ditinggalkan
darinya.”
Lihat: *Al-Jarh wat
Ta’dil* jilid 1 bagian 1 halaman 210. Dalam *Tahdzib At-Tahdzib* jilid 1
halaman 224–225, Ibnu Hajar Al-'Asqalani meringkasnya dengan mengatakan:
“Abu Zur’ah berkata: ‘Menurutku dia tidak berdusta, namun ia meriwayatkan sebuah hadits mungkar.’”
Sementara Zainuddin al-Iraqi dalam Takhrij Ahadits al-Ihya 1/225 berkata:
قَالَ ابْنُ السُّبْكِيِّ: (6/290) «لَمْ
أَجِدْ لَهُ إِسْنَادًا».
Tajuddin As-Subki berkata: “Aku tidak menemukan sanad untuknya.” (6/290]
Adapun atsar dari
Abdullah bin Mas'ud, maka Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya (Kitab
Ilmu, bab “Orang yang menentukan hari-hari tertentu untuk mengajar ilmu”) dari
Abu Wa’il, ia berkata:
«كَانَ عَبْدُ اللَّهِ
يُذَكِّرُ النَّاسَ كُلَّ خَمِيسٍ».
“Abdullah biasa
memberi nasihat kepada manusia setiap hari Kamis.”
Namun beliau tidak
menyebutkan Khutbah Hajat di dalamnya. Riwayat tersebut ada dalam *Al-Bida’*
karya Ibnu Waddah (hal. 24) dari Rabah An-Nakha’i dan Yahya bin ‘Aqil darinya.
Ibnu Al-A’rabi juga meriwayatkannya dalam *Al-Mu’jam* (2/568–569) secara marfu’
dengan lafaz:
«كُلُّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
“Setiap perkara
baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada
di neraka.”
Akan tetapi,
pendapat yang lebih kuat menurut para ulama adalah bahwa riwayat mauquf lebih
shahih dan lebih rajih.
Ketika Al-Baihaqi
menyebut ucapan Ibnu Mas’ud dalam *Al-Asma’ wash Shifat* (hal. 246):
«إِنَّمَا هُمَا
اثْنَتَانِ........ إِلَى قَوْلِهِ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»
“Hanyalah ada dua
perkara…” hingga perkataannya: “dan setiap kesesatan berada di neraka,” beliau
berkata:
«وَهَذَا مِنْ قَوْلِ
ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ أَخَذَهُ مِنَ النَّبِيِّ
ﷺ».
“Ini adalah ucapan
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan tampaknya beliau mengambilnya dari Nabi ﷺ.”
Ketahuilah pula
bahwa tambahan lafaz dalam hadits Jabir ini telah dishahihkan oleh sejumlah
ulama. Di antara mereka ada yang menegaskannya secara langsung, seperti Abu
Nu'aim Al-Ashbahani dalam *Al-Hilyah* (3/189), beliau berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ
ثَابِتٌ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، رَوَاهُ وَكِيعٌ وَغَيْرُهُ عَنِ الثَّوْرِيِّ»
“Ini adalah hadits
shahih dan tsabit dari hadits Muhammad bin ‘Ali; diriwayatkan oleh Waki’ dan
selainnya dari Ats-Tsauri.”
Demikian pula
Al-Baihaqi dalam *Al-I’tiqad* (hal. 127), beliau berkata:
رَوَيْنَا فِي الْحَدِيثِ الثَّابِتِ»
“Kami
meriwayatkannya dalam hadits yang tsabit,” kemudian beliau menyebut hadits
Jabir dengan tambahan lafaz tersebut.
Di antara ulama ada
pula yang menshahihkannya secara tidak langsung dengan menjelaskannya atau
menjadikannya sebagai penguat, seperti Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir,
Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, As-Suyuthi, Asy-Syaukani dan selain
mereka.
Bahkan di antara
mereka ada yang menakwilkannya, seperti Ash-Shan'ani dan As-Sindi. Keduanya
berkata:
«أَيْ صَاحِبُهَا
فِي النَّارِ»
“Maksudnya adalah
pelaku kesesatan itu berada di neraka.”
Dan tambahan lafaz
ini juga dishahihkan oleh para ulama masa ini seperti Abdul Aziz bin Baz,
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
rahimahumullah.
Setelah selesai
menulis baris-baris ini, saya menemukan pelemahan terhadap tambahan lafaz ini
pada tiga sumber lain selain yang ditulis oleh ‘Amr Abdul Lathif.
Pertama: sebuah
kitab berjudul *Majmu’ Fihi Mu’allafat li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah*, yang
memuat sekumpulan risalah beliau, dengan tahqiq dan catatan oleh Ibrahim bin
Syarif Al-Mili. Saya mendapati muhaqqiq tersebut juga berpendapat melemahkan
tambahan lafaz ini dengan metode dan argumentasi yang sama seperti Syaikh ‘Amr,
bahkan menilainya cacat dengan sebab yang sama. Ia berkata (hal. 322, catatan
kaki):
«وَقَدْ فَصَّلْتُ
الْقَوْلَ فِي بَيَانِ شُذُوذِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ فِي «بُلْغَةِ الْحَثِيثِ» أَعَانَ
اللَّهُ عَلَى طِبَاعَتِهِ».
“Aku telah
menjelaskan secara rinci tentang syadznya kalimat ini dalam kitab ‘Bulghah
Al-Hatsits’, semoga Allah memudahkan pencetakannya.”
Maka saya katakan:
jika rincian dalam kitab yang ia sebut itu bergantung pada penelitian Syaikh
‘Amr, maka kami telah menjelaskan kelemahannya dengan cukup. Namun jika
berbeda, maka perlu ditinjau kembali.
Kedua: kitab
*Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram* karya Abdullah Al-Bassam rahimahullah.
Beliau berkata dalam melemahkan tambahan lafaz ini:
«فَفِي سَنَدِهَا
جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَاشِمِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَأَخَذَ الْحَدِيثَ وِجَادَةً».
“Dalam sanadnya
terdapat Ja’far bin Muhammad Al-Hasyimi, dan ia dha’if serta mengambil hadits
secara wijadah.”
Demikian ucapan
beliau. Ini termasuk hal paling aneh yang saya temukan. Sebab seluruh jalur
hadits Jabir ini, baik dengan tambahan lafaz maupun tanpa tambahan lafaz,
berporos pada Ja’far tersebut. Dengan ucapan ini, tanpa disadari beliau
sebenarnya juga melemahkan jalur riwayat Imam Muslim yang beliau syarah tanpa
tambahan lafaz itu.
Adapun Ja’far bin
Muhammad, maka Ibnu Hajar Al-'Asqalani berkata tentangnya:
«صَدُوقٌ فَقِيهٌ
إِمَامٌ».
“Shaduq, faqih,
imam.”
Ia juga dinilai
tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Yahya, dan Abu Hatim. Bahkan Abu Hatim menambahkan:
«لَا يُسْأَلُ عَنْ
مِثْلِهِ».
“Orang seperti dia
tidak perlu dipertanyakan lagi.”
Adapun masalah
wijadah, maka Ibnu Hajar Al-'Asqalani telah menjawabnya dengan penjelasan yang
kuat dalam *At-Tahdzib*, maka silakan merujuk kepadanya jika ingin. Lagi pula,
wijadah termasuk metode tahammul hadits yang diterima sebagaimana dijelaskan
dalam kitab-kitab musthalah hadits.
Ketiga: kitab
*Shifah Khuthbah An-Nabi ﷺ* karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim. Ia berkata di dalamnya (hal.
17):
«وَزَادَ النَّسَائِيُّ
فِي رِوَايَةٍ: «وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»، وَهِيَ زِيَادَةٌ شَاذَّةٌ مِنْ
هَذِهِ الطَّرِيقِ، وَالْحَمْلُ فِيهَا عَلَى شَيْخِ النَّسَائِيِّ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ...».
“An-Nasa’i
menambahkan dalam salah satu riwayat: ‘dan setiap kesesatan berada di neraka’,
dan ini adalah tambahan yang syadz dari jalur ini. Tanggung jawabnya ada pada
guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah…”
Demikian ucapannya.
Saya menduga ia
telah membaca perkataan Syaikh Abdul Lathif lalu menganggapnya baik, namun ia
tidak berani membebankan pertentangan itu kepada Abdullah bin Al-Mubarak
sehingga ia mengalihkannya kepada guru An-Nasa’i, yaitu ‘Utbah bin Abdullah bin
‘Utbah Al-Yahmadi, yang dinilai: “صَدُوقٌ” (Shaduq) oleh Ibnu Hajar
Al-'Asqalani. Dan Imam An-Nasa'i berkata: “لَا بَأْسَ بِهِ” (Tidak mengapa dengannya).
Selain itu, ia juga
tidak sendirian meriwayatkan tambahan lafaz ini dari Ibnu Al-Mubarak, sebab ia
diikuti oleh Hibban bin Musa, seorang perawi tsiqah dari kalangan rijal
Asy-Syaikhain.
Bahkan ‘Amr Abdul
Mun’im sendiri telah menshahihkan tambahan lafaz ini dalam hadits Jabir ketika
memberi ta’liq terhadap kitab *Al-Qadar* karya Al-Firyabi.
Sampai di sini
sudah cukup. Allah-lah yang mengetahui tujuan yang benar dan Dia pula yang
memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
[SELESAI]
Ditulis oleh: Bin
Yusuf Al-‘Umari Pada 23 Muharram 1430 H.
FIQIH HADITS DAN FAIDAH DARI-NYA
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah ta'ala berkata:
"وَقَدْ
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فِي خُطْبَةِ يَوْمِ
الْجُمُعَةِ: "خَيْرُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ" وَلَمْ يَقُلْ: وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ بَلْ يَضِلُّ عَنْ
الْحَقِّ مَنْ قَصَدَ الْحَقَّ وَقَدْ اجْتَهَدَ فِي طَلَبِهِ فَعَجزَ عَنْهُ
فَلَا يُعَاقَبُ وَقَدْ يَفْعَلُ بَعْضَ مَا أُمِرَ بِهِ فَيَكُونُ لَهُ أَجْرٌ
عَلَى اجْتِهَادِهِ، وَخَطَؤُهُ الَّذِي ضَلَّ فِيهِ عَنْ حَقِيقَةِ الْأَمْرِ
مَغْفُورٌ لَهُ. وَكَثِيرٌ مِنْ مُجْتَهِدِي السَّلَفِ وَالْخَلَفِ قَدْ قَالُوا
وَفَعَلُوا مَا هُوَ بِدْعَةٌ وَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ بِدْعَةٌ؛ إمَّا
لِأَحَادِيثَ ضَعِيفَةٍ ظَنُّوهَا صَحِيحَةً، وَإِمَّا لِآيَاتِ فَهِمُوا مِنْهَا
مَا لَمْ يُرَدْ مِنْهَا، وَإِمَّا لِرَأْيٍ رَأَوْهُ وَفِي الْمَسْأَلَةِ نُصُوصٌ
لَمْ تَبْلُغْهُمْ. وَإِذَا اتَّقَى الرَّجُلُ رَبَّهُ مَا اسْتَطَاعَ دَخَلَ فِي
قَوْلِهِ: ﴿ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا ﴾ [البقرة: 286] وَفِي الصَّحِيحِ أَنَّ اللَّهَ قَالَ:
"قَدْ فَعَلْت" وَبَسْطُ هَذَا لَهُ مَوْضِعٌ آخَرُ
“Nabi ﷺ dahulu
bersabda dalam hadits shahih pada khutbah hari Jumat:
‘Sebaik-baik
perkataan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ,
seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap
bid’ah adalah kesesatan.’
Dan beliau tidak
mengatakan: ‘dan setiap kesesatan di dalam neraka.’
Bahkan seseorang
bisa tersesat dari kebenaran padahal ia bermaksud mencari kebenaran dan telah
bersungguh-sungguh dalam mencarinya, namun ia tidak mampu mencapainya, maka ia
tidak dihukum. Bisa jadi ia melakukan sebagian dari apa yang diperintahkan
kepadanya sehingga ia mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Sedangkan
kesalahannya yang membuatnya menyimpang dari hakikat perkara tersebut diampuni
baginya.
Banyak dari
kalangan mujtahid salaf maupun khalaf yang telah mengatakan dan melakukan
sesuatu yang merupakan bid’ah, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah
bid’ah. Hal itu bisa disebabkan oleh hadits-hadits lemah yang mereka sangka
shahih, atau karena ayat-ayat yang mereka pahami dengan pemahaman yang bukan
dimaksudkan darinya, atau karena suatu pendapat yang mereka anggap benar,
sementara dalam masalah tersebut terdapat nash-nash yang belum sampai kepada
mereka.
Apabila seseorang
bertakwa kepada Rabb-nya semampunya, maka ia termasuk dalam firman Allah:‘Wahai
Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’
(QS. Al-Baqarah: 286)
Dan dalam hadits
shahih disebutkan bahwa Allah berfirman: ‘Aku telah melakukannya.’
Penjelasan lebih
luas tentang masalah ini memiliki tempat pembahasan tersendiri.” [Majmu’
Al-Fatawa 19/191]
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah memiliki ketelitian yang sangat mendalam dalam mengkritik matan
hadits, karena luasnya pengetahuan beliau terhadap sunnah serta keluasan
penguasaannya terhadap riwayat dan dirayah. Adz-Dzahabi berkata tentang beliau
sebagaimana dalam Dzail Thabaqat Al-Hanabilah (2/390):
«كُلُّ حَدِيثٍ لَا
يَعْرِفُهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَلَيْسَ بِحَدِيثٍ»
“Setiap hadits yang
tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah maka itu bukan hadits.”
Dan cukuplah itu
sebagai sebuah persaksian.
Di antara faedah
dan perhatian beliau yang halus serta penting terhadap matan Khutbatul Hajah
—dan kami menyebutkannya di sini karena relevan dengan pembahasan— adalah
perkataan beliau:
الْأَذْكَارُ الثَّلَاثَةُ الَّتِي اشْتَمَلَتْ
عَلَيْهَا خُطْبَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ، وَهِيَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ،
وَنَسْتَغْفِرُهُ»، هِيَ الَّتِي يُرْوَى عَنْ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ، ثُمَّ
أَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ، أَنَّهَا جَوَامِعُ الْكَلَامِ النَّافِعِ. وَهِيَ:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ».
وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ:
أَمْرٍ يَفْعَلُهُ اللَّهُ بِهِ، فَهِيَ نِعَمُ اللَّهِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَيْهِ،
فَتَحْتَاجُ إِلَى الشُّكْرِ. وَأَمْرٍ يَفْعَلُهُ هُوَ، إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا شَرٌّ.
فَالْخَيْرُ يَفْتَقِرُ إِلَى مَعُونَةِ اللَّهِ لَهُ، فَيَحْتَاجُ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ،
وَالشَّرُّ يَفْتَقِرُ إِلَى الِاسْتِغْفَارِ لِيَمْحُوَ أَثَرَهُ.
Dzikir-dzikir yang
tiga yang terkandung dalam khutbah Ibnu Mas’ud dan selainnya, yaitu:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ،
نَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ»
“Segala puji bagi
Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, dan kami memohon ampun kepada-Nya”.
Itulah yang
diriwayatkan dari Syaikh Abdul Qadir kemudian Abu Al-Hasan Asy-Syadzili, bahwa
kalimat-kalimat tersebut merupakan ungkapan yang mencakup seluruh ucapan yang
bermanfaat. Yaitu:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Segala puji bagi
Allah, aku memohon ampun kepada Allah, dan tidak ada daya serta kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah.”
Hal itu karena
seorang hamba berada di antara dua perkara:
[1] perkara yang
Allah lakukan terhadap dirinya, yaitu nikmat-nikmat Allah yang turun kepadanya
sehingga membutuhkan rasa syukur.
[2] Dan perkara
yang dilakukan oleh dirinya sendiri, yang bisa berupa kebaikan ataupun
keburukan. Maka kebaikan membutuhkan pertolongan Allah baginya sehingga ia
memerlukan isti’anah (memohon pertolongan), sedangkan keburukan membutuhkan
istighfar agar terhapus bekasnya.
------
Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وَجَاءَ فِي حَدِيثِ ضِمَادٍ الْأَزْدِيِّ:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ» فَقَطْ، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ، حَيْثُ قُسِّمَتْ نِصْفَيْنِ: نِصْفًا لِلرَّبِّ، وَنِصْفًا لِلْعَبْدِ.
فَنِصْفُ الرَّبِّ مُفْتَتَحٌ بِـ«الْحَمْدُ لِلَّهِ»، وَنِصْفُ الْعَبْدِ مُفْتَتَحٌ
بِالِاسْتِعَانَةِ بِهِ، فَقَالَ: «نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ».
وَقَدْ يُقْرَنُ بَيْنَ الْحَمْدِ وَالِاسْتِغْفَارِ،
كَمَا فِي الْأَثَرِ الَّذِي رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ: «أَنَّ رَجُلًا كَانَ
عَلَى عَهْدِ الْحَسَنِ، فَقِيلَ لَهُ: تَلَقَّيْنَا هَذِهِ الْخُطْبَةَ عَنِ الْوَالِدِ
عَنْ وَالِدِهِ، كَمَا يَقُولُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا».
فَأَمَّا «نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ»
فَفِي حَدِيثِ ضِمَادٍ، وَ«نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ» فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ.
وَأَمَّا «نَسْتَهْدِيهِ» فَفِي فَاتِحَةِ الْكِتَابِ؛ لِأَنَّ نِصْفَهَا لِلرَّبِّ
وَهُوَ الْحَمْدُ، وَنِصْفَهَا لِلْعَبْدِ وَهُوَ الِاسْتِعَانَةُ وَالِاسْتِهْدَاءُ.
وَلَيْسَ فِيهَا الِاسْتِغْفَارُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا مَعَ الذَّنْبِ، وَالسُّورَةُ
أَصْلُ الْإِيمَانِ، وَالْفَاتِحَةُ بَابُ السَّعَادَةِ الْمَانِعَةُ مِنَ الذُّنُوبِ،
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
﴾ [العنكبوت: 45].
Dalam hadits Dhimad
Al-Azdi disebutkan:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ»
“Alhamdulillah,
kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya” saja.
Ini sesuai dengan
kandungan Surah Al-Fatihah yang terbagi menjadi dua bagian: satu bagian untuk
Rabb, dan satu bagian untuk hamba. Bagian yang berkaitan dengan Rabb dibuka
dengan “Alhamdulillah”, sedangkan bagian yang berkaitan dengan hamba dibuka
dengan permohonan pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itu disebutkan: “Kami
memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.”
Terkadang pula
digabungkan antara pujian dan istighfar, sebagaimana dalam atsar yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd: “Bahwa ada seorang lelaki pada
masa Al-Hasan, lalu dikatakan kepadanya: Kami menerima khutbah ini dari ayah
kami, dari kakeknya, sebagaimana banyak orang mengucapkannya:
«أَنَّ رَجُلًا كَانَ
عَلَى عَهْدِ الْحَسَنِ، فَقِيلَ لَهُ: تَلَقَّيْنَا هَذِهِ الْخُطْبَةَ عَنِ الْوَالِدِ
عَنْ وَالِدِهِ، كَمَا يَقُولُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا».
‘Segala puji bagi
Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon petunjuk
kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari
keburukan diri kami dan dari keburukan amal-amal kami.’”
Adapun ucapan
«نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ»
“kami memuji-Nya dan
memohon pertolongan kepada-Nya”, maka itu terdapat dalam hadits Dhimad.
Sedangkan ucapan:
«نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ»
“kami memohon
pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya”, terdapat dalam hadits
Ibnu Mas’ud.
Adapun ucapan
«نَسْتَهْدِيهِ»
“kami memohon
petunjuk kepada-Nya”, maka itu terdapat dalam Surah Al-Fatihah, karena
separuhnya untuk Rabb yaitu pujian, dan separuhnya lagi untuk hamba yaitu
permohonan pertolongan dan permohonan hidayah.
Di dalam Al-Fatihah
tidak disebutkan istighfar, karena istighfar itu berkaitan dengan adanya dosa.
Sementara surah tersebut merupakan pokok keimanan, dan Al-Fatihah adalah pintu
kebahagiaan yang mencegah dari dosa-dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ
تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾
“Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
-----
Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ ضِمَادًا
قَدِمَ مَكَّةَ، وَكَانَ مِنْ أَزْدِ شَنُوءَةَ، وَكَانَ يَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ،
فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يَقُولُونَ: إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُونٌ. فَقَالَ:
لَوْ أَنِّي رَأَيْتُ هَذَا الرَّجُلَ، لَعَلَّ اللَّهَ يَشْفِيهِ عَلَى يَدَيَّ.
قَالَ: فَلَقِيَهُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ،
إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللَّهَ يَشْفِي عَلَى يَدَيَّ مَنْ
شَاءَ اللَّهُ، فَهَلْ لَكَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ،
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ».
قَالَ: فَقَالَ: أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ
هَؤُلَاءِ. فَأَعَادَهُنَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. قَالَ: فَقَالَ:
لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ،
فَمَا سَمِعْتُ بِمِثْلِ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْتَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ.
قَالَ: فَقَالَ: هَاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ
عَلَى الْإِسْلَامِ. قَالَ: فَبَايَعَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَعَلَى قَوْمِكَ؟»
فَقَالَ: وَعَلَى قَوْمِي. رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ.
وَلِهَذَا اسْتُحِبَّتْ وَفُعِلَتْ فِي
مُخَاطَبَةِ النَّاسِ بِالْعِلْمِ عُمُومًا وَخُصُوصًا، مِنْ تَعْلِيمِ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ وَالْفِقْهِ فِي ذَلِكَ، وَمَوْعِظَةِ النَّاسِ وَمُجَادَلَتِهِمْ، أَنْ
يُفْتَتَحَ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ الشَّرْعِيَّةِ النَّبَوِيَّةِ.
Dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Dhimad datang ke Makkah. Ia berasal dari kabilah
Azd Syanu’ah dan biasa melakukan ruqyah untuk penyakit semacam gangguan angin
atau gangguan jiwa.
Lalu ia mendengar
sebagian orang bodoh dari penduduk Makkah berkata: “Sesungguhnya Muhammad
itu gila.”
Maka Dhimad
berkata: “Seandainya aku dapat menemui orang ini, mudah-mudahan Allah
menyembuhkannya melalui tanganku.”
Ibnu ‘Abbas
berkata: Kemudian Dhimad bertemu dengan Nabi ﷺ, lalu berkata: “Wahai
Muhammad, sesungguhnya aku biasa meruqyah penyakit seperti ini, dan Allah
menyembuhkan siapa yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apakah engkau mau?”
Maka Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ».
“Sesungguhnya
segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya dan memohon pertolongan
kepada-Nya. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat
memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.”
Dhimad berkata: “Ulangilah
kata-katamu itu kepadaku.”
Maka Rasulullah ﷺ mengulanginya
sebanyak tiga kali. Setelah itu Dhimad berkata:
“Sungguh aku
telah mendengar ucapan para dukun, ucapan para penyihir, dan ucapan para
penyair, namun aku belum pernah mendengar perkataan seperti kata-katamu ini.
Sungguh perkataanmu telah mencapai kedalaman samudera.”
Kemudian Dhimad
berkata: “Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.”
Lalu ia berbaiat
kepada beliau ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan juga untuk
kaummu?”
Dhimad menjawab: “Dan
juga untuk kaumku.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam kitab Shahih-nya.
Karena itu, khutbah
ini dianjurkan dan dipraktikkan dalam berbicara kepada manusia tentang ilmu,
baik secara umum maupun khusus, seperti dalam pengajaran Al-Qur’an, As-Sunnah,
dan fiqih, juga dalam memberi nasihat kepada manusia dan berdialog dengan
mereka. Hendaknya semua itu dibuka dengan khutbah syar’i nabawi ini.
------
Lalu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وَكَانَ الَّذِي عَلَيْهِ شُيُوخُ زَمَانِنَا
الَّذِينَ أَدْرَكْنَاهُمْ وَأَخَذْنَا عَنْهُمْ وَغَيْرِهِمْ، يَفْتَتِحُونَ مَجْلِسَ
التَّفْسِيرِ أَوِ الْفِقْهِ فِي الْجَوَامِعِ وَالْمَدَارِسِ وَغَيْرِهَا بِخُطْبَةٍ
أُخْرَى، مِثْلَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ
اللَّهُ عَنَّا وَعَنْكُمْ وَعَنْ مَشَايِخِنَا وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»، أَوْ:
«وَعَنِ السَّادَةِ الْحَاضِرِينَ وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ».
كَمَا رَأَيْتُ قَوْمًا يَخْطُبُونَ لِلنِّكَاحِ
بِغَيْرِ الْخُطْبَةِ الْمَشْرُوعَةِ، وَكُلُّ قَوْمٍ لَهُمْ نَوْعٌ غَيْرُ نَوْعِ
الْآخَرِينَ. فَإِنَّ حَدِيثَ ابْنِ مَسْعُودٍ لَمْ يَخُصَّ النِّكَاحَ، وَإِنَّمَا
هِيَ خُطْبَةٌ لِكُلِّ حَاجَةٍ فِي مُخَاطَبَةِ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَالنِّكَاحُ
مِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ.
فَإِنَّ مُرَاعَاةَ السُّنَنِ الشَّرْعِيَّةِ
فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ وَالْعَادَاتِ، هُوَ كَمَالُ
الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْهِيًّا عَنْهُ
فَإِنَّهُ مَنْقُوصٌ مَرْجُوحٌ؛ إِذْ خَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ.
وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ قَوْلَهُ: «الْحَمْدُ
لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ» هِيَ الْجَوَامِعُ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ
النَّبَوِيِّ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ
وَخَوَاتِمَهُ وَفَوَاتِحَهُ.
فَإِنَّ الِاسْتِهْدَاءَ يَدْخُلُ فِي
الِاسْتِعَانَةِ، وَتَكْرِيرَ «نَحْمَدُهُ» قَدِ اسْتُغْنِيَ عَنْهُ بِقَوْلِهِ: «الْحَمْدُ
لِلَّهِ». فَإِذَا فَصَلْتَ جَازَ، كَمَا فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ: «اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ
وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَنَشْكُرُكَ وَلَا نُكَفِّرُكَ، وَنَخْلَعُ
وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ».
فَهَذِهِ إِحْدَى سُورَتَيْ أُبَيٍّ،
وَهِيَ مُفْتَتَحَةٌ بِالِاسْتِعَانَةِ الَّتِي هِيَ نِصْفُ الْعَبْدِ، مَعَ مَا بَعْدَهَا
مِنْ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
وَفِي السُّورَةِ الثَّانِيَةِ: «اللَّهُمَّ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو
رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ».
فَهَذَا مُفْتَتَحٌ بِالْعِبَادَةِ الَّتِي
هِيَ نِصْفُ الرَّبِّ، مَعَ مَا قَبْلَهَا مِنَ الْفَاتِحَةِ. فَفِي سُورَتَيِ الْقُنُوتِ
مُنَاسَبَةٌ لِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَفِيهِمَا جَمِيعًا مُنَاسَبَةٌ لِخُطْبَةِ الْحَاجَةِ،
وَذَلِكَ جَمِيعُهُ مِنْ فَوَاتِحِ الْكَلِمِ وَجَوَامِعِهِ وَخَوَاتِمِهِ.
Para masyayikh pada
zaman kami yang sempat kami jumpai, belajar dari mereka, dan juga selain
mereka, biasa membuka majelis tafsir atau fiqih di masjid-masjid,
sekolah-sekolah, dan tempat lainnya dengan khutbah yang lain, seperti:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللَّهُ عَنَّا وَعَنْكُمْ وَعَنْ مَشَايِخِنَا
وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»
“Segala puji bagi
Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat tercurah kepada Muhammad penutup para
rasul, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Semoga Allah meridhai
kami, kalian, para guru kami, dan seluruh kaum muslimin.”
Atau dengan ucapan:
«وَعَنِ السَّادَةِ
الْحَاضِرِينَ وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ»
“Dan juga kepada
para hadirin yang mulia serta seluruh kaum muslimin.”
Sebagaimana aku
juga melihat sebagian orang menyampaikan khutbah nikah dengan selain khutbah
yang disyariatkan. Setiap kelompok memiliki bentuk yang berbeda dengan kelompok
lainnya. Padahal hadits Ibnu Mas’ud tidaklah khusus untuk nikah saja, tetapi ia
adalah khutbah untuk setiap kebutuhan dalam percakapan dan interaksi manusia
satu sama lain, dan nikah termasuk bagian dari itu.
Sesungguhnya
menjaga sunnah-sunnah syariat dalam ucapan dan perbuatan, pada seluruh ibadah
maupun kebiasaan, merupakan kesempurnaan jalan yang lurus. Adapun selain itu,
selama tidak terlarang, maka tetap saja nilainya kurang dan tidak lebih utama,
karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.
Penjelasan yang
tepat adalah bahwa ucapan:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ
نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ»
“Alhamdulillah,
kami memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya”, merupakan جَوَامِعُ الكَلِمِ (kalimat-kalimat yang sangat padat makna), sebagaimana terdapat
dalam hadits nabawi dari hadits Ibnu Mas’ud. Nabi ﷺ telah
dianugerahi جَوَامِعُ الكَلِمِ, yaitu ucapan yang singkat namun mengandung makna yang luas,
baik pada pembukaan maupun penutupnya.
Permohonan petunjuk
sebenarnya sudah masuk dalam makna permohonan pertolongan. Sedangkan
pengulangan ucapan “kami memuji-Nya” sudah dianggap cukup dengan ucapan
“Alhamdulillah”. Namun jika dipisahkan maka hal itu juga boleh, sebagaimana
dalam doa qunut:
«اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ
وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَنَشْكُرُكَ وَلَا نُكَفِّرُكَ، وَنَخْلَعُ
وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ»
“Ya Allah,
sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu, memohon petunjuk kepada-Mu,
memohon ampun kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, memuji-Mu
dengan seluruh kebaikan, bersyukur kepada-Mu dan tidak mengingkari-Mu. Kami
memutuskan diri dan meninggalkan orang yang durhaka kepada-Mu.”
Maka ini adalah
salah satu dari dua surah Ubay bin Ka‘b, dan surah tersebut dibuka dengan
permohonan pertolongan kepada Allah, yang merupakan bagian hamba, bersama
kandungan setelahnya yang sejalan dengan Surah Al-Fatihah.
Dan pada surah yang
kedua terdapat doa:
«اللَّهُمَّ إِيَّاكَ
نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ،
وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ».
“Ya Allah, hanya
kepada-Mu kami beribadah, untuk-Mu kami shalat dan bersujud, kepada-Mu kami
berusaha dan bersegera, kami mengharap rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu.
Sesungguhnya azab-Mu yang sungguh keras pasti akan menimpa orang-orang kafir.”
Maka surah ini
dibuka dengan ibadah, yang merupakan bagian untuk Rabb, bersama kandungan
sebelumnya yang sesuai dengan Surah Al-Fatihah. Dengan demikian, pada dua surah
qunut itu terdapat kesesuaian dengan Surah Al-Fatihah, dan keduanya juga
memiliki kesesuaian dengan khutbatul hajah. Semua itu termasuk pembukaan ucapan
yang paling sempurna, kalimat-kalimat yang padat makna, serta penutup-penutup
ucapan yang indah.
وَأَمَّا قَوْلُهُ: «وَنَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»، فَإِنَّ الْمُسْتَعَاذَ
مِنْهُ نَوْعَانِ: فَنَوْعٌ مَوْجُودٌ يُسْتَعَاذُ مِنْ ضَرَرِهِ الَّذِي لَمْ يُوجَدْ
بَعْدُ، وَنَوْعٌ مَفْقُودٌ يُسْتَعَاذُ مِنْ وُجُودِهِ؛ فَإِنَّ نَفْسَ وُجُودِهِ
ضَرَرٌ.
مِثَالُ الْأَوَّلِ: «أَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»، وَمِثْلُ الثَّانِي: ﴿ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ
الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ﴾ [المؤمنون: 97-98]، وَ«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ».
وَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ قُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ الْفَلَقِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴾
[الفلق: 1-5]، فَيَشْتَرِكُ فِيهِ النَّوْعَانِ؛ فَإِنَّهُ يُسْتَعَاذُ مِنَ الشَّرِّ
الْمَوْجُودِ أَلَّا يُضَرَّ، وَيُسْتَعَاذُ مِنَ الشَّرِّ الضَّارِّ الْمَفْقُودِ
أَلَّا يُوجَدَ.
فَقَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ: «وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا» يَحْتَمِلُ الْقِسْمَيْنِ: يَحْتَمِلُ «نَعُوذُ
بِاللَّهِ أَنْ يَكُونَ مِنْهَا شَرٌّ»، وَ«نَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ يُصِيبَنَا شَرُّهَا»،
وَهَذَا أَشْبَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
وَقَوْلُهُ: «وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا» السَّيِّئَاتُ هِيَ عُقُوبَاتُ الْأَعْمَالِ كَقَوْلِهِ: ﴿ سَيِّئَاتِ
مَا مَكَرُوا ﴾ [غافر: 45]، فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ
يُرَادُ بِهَا النِّعَمُ وَالنِّقَمُ كَثِيرًا كَمَا يُرَادُ بِهَا الطَّاعَاتُ
وَالْمَعَاصِي وَإِنْ حُمِلَتْ عَلَى السَّيِّئَاتِ الَّتِي هِيَ الْمَعَاصِي
فَيَكُونُ قَدْ اسْتَعَاذَ أَنْ يَعْمَلَ السَّيِّئَاتِ أَوْ أَنْ تَضُرَّهُ،
وَعَلَى الْأَوَّلِ وَهُوَ أَشْبَهُ فَقَد اسْتَعَاذَ مِنْ عُقُوبَةِ أَعْمَالِهِ
أَنْ تُصِيبَهُ وَهَذَا أَشْبَهُ.
فَيَكُونُ الْحَدِيثُ قَدْ اشْتَمَلَ
عَلَى الِاسْتِعَاذَةِ مِنْ الضَّرَرِ الْفَاعِلِيِّ وَالضَّرَرِ الغائي، فَإِنَّ
سَبَبَ الضَّرَرِ هُوَ شَرُّ النَّفْسِ، وَغَايَتُهُ عُقُوبَةُ الذَّنْبِ، وَعَلَى
هَذَا فَيَكُونُ قَدْ اسْتَعَاذَ مِن الضَّرَرِ الْمَفْقُودِ الَّذِي انْعَقَدَ
سَبَبُهُ أَلَّا يَكُونَ، فَإِنَّ النَّفْسَ مُقْتَضِيَةٌ لِلشَّرِّ،
وَالْأَعْمَالَ مُقْتَضِيَةٌ لِلْعُقُوبَةِ، فَاسْتَعَاذَ أَنْ يَكُونَ شَرَّ
نَفْسِهِ، أَوْ أَنْ تَكُونَ عُقُوبَةَ عَمَلِهِ، وَقَدْ يُقَالُ: بَلْ الشَّرُّ
هُوَ الصِّفَةُ الْقَائِمَةُ بِالنَّفْسِ الْمُوجِبَةِ لِلذُّنُوبِ وَتِلْكَ
مَوْجُودَةٌ كَوُجُودِ الشَّيْطَانِ، فَاسْتَعَاذَ مِنْهَا أَنْ تَضُرَّهُ أَوْ
تُصِيبَهُ كَمَا يُقَالُ: «أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
وَإِنْ حَمَلَ عَلَى الشُّرُورِ الْوَاقِعَةِ وَهِيَ الذُّنُوبُ مِنْ النَّفْسِ
فَهَذَا قِسْمٌ ثَالِثٌ"
Adapun ucapan:
«وَنَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»
“Dan kami
berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari keburukan
amal-amal kami,” maka sesuatu yang dimintakan perlindungan darinya ada dua
jenis:
Jenis pertama
adalah sesuatu yang sudah ada, lalu dimintakan perlindungan dari dampak
buruknya yang belum terjadi.
Jenis kedua adalah
sesuatu yang belum ada, lalu dimintakan perlindungan agar ia tidak sampai
terjadi, karena keberadaannya sendiri merupakan keburukan.
Contoh jenis
pertama adalah ucapan:
«أَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
“Aku berlindung
kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Sedangkan contoh
jenis kedua adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ رَبِّ أَعُوذُ
بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ﴾
“Wahai Rabbku, aku
berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu
wahai Rabbku agar mereka tidak mendatangiku.” (QS. Al-Mu’minun: 97–98)
Demikian pula doa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ»
“Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan,
tergelincir atau digelincirkan.”
Adapun firman Allah
Ta’ala:
﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ
الْفَلَقِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِنْ شَرِّ
النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴾
“Katakanlah: Aku
berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dari
kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan para peniup pada
buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1–5), maka pada ayat ini terkandung kedua jenis
tersebut sekaligus. Sebab seseorang berlindung dari keburukan yang sudah ada
agar tidak terkena mudaratnya, dan juga berlindung dari keburukan yang belum
terjadi agar tidak sampai muncul.
Ucapan dalam
hadits:
«وَنَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا»
“Dan kami
berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami”, mengandung dua
kemungkinan itu sekaligus. Bisa bermakna:
“Kami berlindung
kepada Allah agar tidak muncul keburukan dari diri kami,”
atau:
“Kami berlindung
kepada Allah agar keburukan diri kami tidak menimpa kami.”
Makna kedua ini
lebih dekat, wallahu a’lam.
Adapun ucapan:
«وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»
“Dan dari
keburukan amal-amal kami,” maka yang dimaksud dengan “keburukan” di sini
adalah hukuman dari amal-amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿ سَيِّئَاتِ مَا
مَكَرُوا ﴾
“Akibat buruk dari
tipu daya mereka.” (QS. Ghafir: 45)
Sebab istilah
“hasanat” dan “sayyi’at” terkadang bermakna nikmat dan musibah, sebagaimana
juga digunakan untuk makna ketaatan dan kemaksiatan.
Jika makna
“keburukan amal-amal kami” dibawa kepada dosa-dosa dan maksiat, maka artinya
seseorang berlindung kepada Allah agar tidak melakukan keburukan itu atau agar
keburukan tersebut tidak membahayakannya.
Namun makna pertama
lebih kuat, yaitu bahwa seseorang berlindung dari hukuman akibat amal-amalnya
agar tidak menimpanya, dan ini lebih sesuai dengan konteks.
Dengan demikian,
hadits ini mencakup permohonan perlindungan dari sebab keburukan dan dari
akibat akhirnya. Sebab munculnya mudarat adalah keburukan jiwa, sedangkan
akhirnya adalah hukuman atas dosa.
Atas dasar ini,
maka seseorang berarti memohon perlindungan dari keburukan yang belum terjadi
tetapi sebab-sebabnya sudah ada, agar ia tidak sampai terjadi. Karena jiwa
manusia memiliki kecenderungan kepada keburukan, sedangkan amal dapat
menimbulkan hukuman. Maka ia berlindung agar keburukan jiwanya tidak muncul,
atau agar hukuman amalnya tidak menimpanya.
Bisa juga dikatakan
bahwa yang dimaksud dengan “keburukan” adalah sifat buruk yang ada dalam jiwa
yang menyebabkan dosa-dosa. Sifat itu memang ada, sebagaimana adanya setan.
Maka seseorang berlindung agar sifat itu tidak membahayakan atau menimpanya,
sebagaimana ucapan:
«أَعُوذُ بِاللَّهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
“Aku berlindung
kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Namun jika
keburukan itu dimaknai sebagai dosa-dosa yang benar-benar dilakukan oleh jiwa,
maka ini menjadi jenis ketiga”. [Lihat: Majmu‘ Al-Fatawa (18/285–290)].
Ini termasuk
penelitian dan penjelasan ilmiah yang sangat langka, yang jarang sekali
ditemukan kecuali pada Ahmad bin Taymiyyah rahimahullah ta'ala.
0 Komentar