Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HUKUM HAJI BADAL DAN BATASAN-BATASANNYA

 HUKUM HAJI BADAL DAN BATASAN-BATASANNYA

----

Di Tulis Oleh Bin Kardipan

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---

-----

DAFTAR ISI:

  • DALIL BADAL HAJI ATAS NAMA MAYIT & ORANG HIDUP YANG PERMANEN SUDAH TAK MAMPU
  • HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA
  • HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK SELAIN KEDUA ORANG TUA
  • PERNYATAAN IMAM BUKHORI TENTANG QODHO PUASA WAJIB ATAS NAMA MAYIT:
  • APAKAH BADAL HAJI ITU DI SYARIATKAN?
  • KEUTAMAAN BADAL HAJI
  • WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG YANG TELAH WAFAT?
  • WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG HIDUP YANG PERMANEN TIDAK MAMPU?
  • SYARAT-SYARAT BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
  • SYARAT-SYARAT YANG HARUS ADA PADA WAKIL (PELAKU BADAL HAJI)
  • HUKUM WANITA MELAKUKAN BADAL HAJI UNTUK PRIA
  • HUKUM UPAH JASA BADAL HAJI DAN UMROH
  • ATURAN DAN KETENTUAN DALAM BADAL HAJI

 ****

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

====***====

DALIL BADAL HAJI ATAS NAMA MAYIT DAN
 ORANG HIDUP YANG PERMANEN SUDAH TAK MAMPU

 ****

HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA

====

HADITS KE 1:

Dari Abdullah bin Buraidah radhiallahu anhu, dia berkata:

بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ فَقَالَ: وَجَبَ أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا ؟ قَالَ: صُومِي عَنْهَا ، قَالَتْ: إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ: حُجِّي عَنْهَا

Ketika kami duduk di sisi Rasulullah , tiba-tiba ada seorang wanita datang dan bertanya:

‘Sesungguhnya saya bersedekah budak untuk ibuku yang telah meninggal.'

Beliau bersabda: ‘Anda telah mendapatkan pahalanya dan dikembalikan kepada anda warisannya.'

Dia bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya beliau mempunyai (tanggungngan) puasa sebulan, apakah saya puasakan untuknya?'

Beliau menjawab: ‘Berpuasa lah untuknya.'

Dia bertanya lagi: ‘Sesungguhnya beliau belum pernah haji sama sekali, apakah (boleh) saya menghajikan untuknya?

Beliau menjawab: ‘Hajikan lah untuknya.’ (HR. Muslim, 1149)

----

HADITS KE 2:

Dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas:

أنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِنَّ أَبِي أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ قَالَ فَحُجِّي عَنْهُ

“Bahwa seorang wanita dari Khats'am berkata;

"Wahai Rasulullah, ayahku telah terkena kewajiban Allah yang berupa haji, padahal dia telah lanjut usia yang sudah tidak sanggup lagi duduk di atas kendaraannya?"

Beliau bersabda: "Berhajilah untuknya!" ( HR. Bukhori no. 1854, Muslim no. 1334 dan Ahmad no. 1725 lafadz miliknya,).

----

HADITS KE 3:

Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“Bahwa ada seorang wanita dari suku Juhainah datang menemui Nabi lalu berkata:

"Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?".

Beliau menjawab: "Tunaikanlah haji untuknya. Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar". ( HR. Bukhori no. 1720)

----

HADITS KE 4:

Dari Abu Razin Al-'Uqaili radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ، ‌لَا ‌يَسْتَطِيعُ ‌الْحَجَّ، ‌وَلَا ‌الْعُمْرَةَ، ‌وَلَا ‌الظَّعْنَ قَالَ: «حُجَّ عَنْ أَبِيكَ، وَاعْتَمِرْ»

Bahwa ia datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Wahai Rasulullah , sesungguhnya ayahku adalah seorang yang sudah sangat tua. Ia tidak mampu menunaikan haji, tidak mampu umrah, dan juga tidak mampu melakukan perjalanan.”

Maka beliau bersabda: “Hajikanlah ayahmu dan umrahkanlah dia.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1810, At-Tirmidzi no. 930, An-Nasa'i no. 2621, Ibnu Majah no. 2906, dan Ahmad bin Hanbal no. 16184].

Dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam “Shahih Sunan An-Nasa’i” no. 2620 dan “Shahih Sunan Abi Dawud” no. 1810.

----

HADITS KE 5:

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ: ‌إِنِّي ‌تَصَدَّقْتُ ‌عَلَى ‌أُمِّي ‌بِجَارِيَةٍ، وَإِنَّهَا مَاتَتْ، قَالَ: فَقَالَ: «وَجَبَ أَجْرُكِ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ» قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: «صُومِي عَنْهَا» قَالَتْ: إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «حُجِّي عَنْهَا».

Ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah , datanglah seorang wanita lalu berkata, “Sesungguhnya aku pernah bersedekah kepada ibuku dengan seorang budak perempuan, lalu ibuku meninggal dunia.”

Maka Rasulullah bersabda, “Pahalamu telah tetap, dan budak itu kembali kepadamu melalui warisan.”

Wanita itu berkata lagi, “Wahai Rasulullah , sesungguhnya ibuku memiliki kewajiban puasa selama sebulan. Apakah aku boleh berpuasa untuknya?”

Beliau menjawab, “Berpuasalah untuknya.”

Wanita itu berkata lagi, “Sesungguhnya ibuku sama sekali belum pernah berhaji. Apakah aku boleh menghajikannya?”

Beliau bersabda, “Berhajilah untuk dia.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih Muslim no. 1149].

Lafadz Tirmidzi Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya berkata;

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Seorang wanita menemui Nabi lalu bertanya; ‘Ibuku meninggal dan belum melaksanakan haji, apakah saya dapat berhaji untuknya? ‘

Beliau menjawab: ‘Ya. Berhajilah untuknya.’

( HR. Tirmidzi no. 851) (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; “Ini merupakan hadits shahih.”

An-Nawawi rahimahullah berkata:

"وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ عَنِ الْمَيِّتِ وَالْعَاجِزِ الْمَيِّئُوسِ مِنْ بِرِّئِهِ، وَاعْتَذَرَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ مُخَالَفَةِ مَذْهَبِهِمْ - أَيْ: الْمَالِكِيَّةِ - لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي الصَّوْمِ عَنْ الْمَيِّتِ وَالْحَجِّ عَنْهُ بِأَنَّهُ مُضْطَرَبٌ، وَهَذَا عُذْرٌ بَاطِلٌ، وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ اضْطِرَابٌ، وَيَكْفِي فِي صِحَّتِهِ احْتِجَاجُ مُسْلِمٍ بِهِ فِي صَحِيحِهِ".

 "Mayoritas (ulama) mengatakan bahwa mengghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh.

Qadhi 'Iyadh berpendapat berbeda dengan Madzhabnya –yakni Malikiyah- dengan tidak menganggap hadits (yang membolehkan) menggantikan puasa bagi orang meninggal dan menghajikannya. Dia berkesimpulan bahwa haditsnya mudhtharib (tidak tetap).

Alasan ini batil, karena haditsnya tidak mudhtharib. Cukuplah bukti kesahihan hadits ini manakala Imam Muslim menjadikannya sebagai hujah dalam Kitab shahihnya.

(Syarh An-Nawawi Ala Muslim, 8/27)

*****

HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK SELAIN KEDUA ORANG TUA

===

HADITS KE 1:

Dari Ibnu Abbas (radhiyallahu ‘anhuma):

"أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» ، قَالَ: أَخٌ لِي ، قَالَ: «هَلْ حَجَجْتَ؟» ، قَالَ: لَا ، قَالَ: «حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ»

“Bahwa Rosulullah mendengar seorang laki-laki ( berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji- atas nama Syubrumah”,

Rasulullah bertanya: " siapakah Syubrumah?". Laki-laki tersebut menjawab: "saudaraku atau kerabatku".

Rasulullah bertanya: “ sudahkah engkau pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.

Rasulullah bersabda: “ Hajilah untuk dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah untuk Syubrumah “.

TAKHRIJ HADITS:

[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah (2903), Ibnu Hibban no. 3988, Ibnu Khizaimah no. 3039, Al-Bayhaqi (8936), ath-Thabraani no. 12419 dan Ad-Daruquthni 3/318 no. 2648.

Ad-Daruquthni berkata:

هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

( Ini adalah yang shahih dari Ibnu 'Abbaas).

Lafadz al-Baihaqi:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ فَذَكَرَ أَخًا لَهُ أَوْ قَرَابَةً، قَالَ: أَحَجَجْتَ قَطُّ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

“Bahwa Nabi mendengar seorang laki-laki ( berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji- atas nama Syubrumah”,

Rasulullah bertanya: " siapakah Syubrumah?". Maka Laki-laki tersebut menyebutkan: saudaranya atau kerabatnya.

Rasulullah bertanya: “ sudahkah engkau pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.

Rasulullah bersabda: “ Jadikan lah yang ini atas nama dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah atas nama Syubrumah “.

[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah (2903), dan Al-Bayhaqi (8936) dan kata-katanya adalah miliknya.

Lafadz Abu Daud:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شِبْرِمَةَ، قَالَ: مَنْ شِبْرِمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي، قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شِبْرِمَةَ

“Bahwa Nabi mendengar seorang laki-laki ( berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji- atas nama Syubrumah”,

Rasulullah bertanya: " siapakah Syubrumah?". Maka Laki-laki tersebut menjawab: "saudaraku atau kerabatku".

Rasulullah bertanya: “ sudahkah engkau pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.

Rasulullah bersabda: “ Hajilah atas nama dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah atas nama Syubrumah “.

[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah (2903), dan Al-Bayhaqi (8936) ".

Lafadz Ibnu Hibban dalam Shahihnya (lihat : al-Ihsan no. 3988):

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: ‌لَبَّيْكَ ‌عَنْ ‌شُبْرُمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَنْ شُبْرُمَةُ؟ ". قَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَرَابَةٌ. قَالَ: "هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ؟ ". قَالَ: لَا. قَالَ: "فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ نَفْسِكِ، ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شبرمة"

Bahwasanya Rasulullah mendengar seorang lelaki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji atas nama Syubrumah).”

Lalu Rasulullah bersabda: “Siapakah Syubrumah itu?”

Ia menjawab: “Saudaraku, atau salah seorang kerabatku.”

Beliau bersabda: “Apakah engkau sudah pernah berhaji sebelumnya?”

Ia menjawab: “Belum.”

Beliau bersabda: “Maka jadikan haji ini untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” [Selesai]

Lafadz Ibnu Jaarud dalam al-Muntaqo hal. 132 no. 499:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: ‌لَبَّيْكَ ‌عَنْ ‌شُبْرُمَةَ، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرَابَةٌ لِي قَالَ: «هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْكَ ثُمَّ لَبِّ عَنْ شُبْرُمَةَ»

Bahwa Nabi mendengar seorang lelaki berkata: “Labbaik atas nama Syubrumah.”

Beliau bertanya: “Siapakah Syubrumah itu?”

Orang itu menjawab: “Dia saudaraku,” atau “kerabatku.”

Beliau bersabda: “Apakah engkau sudah pernah berhaji?”

Ia menjawab: “Belum.”

Beliau bersabda: “Kalau begitu, jadikan haji ini untuk dirimu terlebih dahulu, kemudian setelah itu bertalbiyahlah untuk Syubrumah.”

DERAJAT HADITS:

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Al-Jarud dalam al-Muntaqonya (2/113–114 no. 499), Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (4/345 no. 3039), Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (4/336) dan al-A’dzomi dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah 4/345 dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Imam Baihaqi berkata dalam as-Sunan al-Kubro 4/336:

“إسْنَادُهُ صَحِيحٌ، لَيْسَ فِي هَذَا البَابِ أَصْحَ مِنْهُ ".

“Sanadnya Shahih, dalam BAB ini tidak yang lebih shahih dari nya “. (Slsai).

Dan Ibnu Hibbaan dalam Shahihnya no. 3988 berkata:

وَإِسْنَاده صَحِيح عَلَى شَرط مُسلِم

“Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim”

Begitu pula Al-Nawawi mengatakan dalam “Al-Majmu'” (7/117), dan Ibnu Al-Mulaqqin dalam al-Badr al-Muniir 6/45-46, “Khulasah Al-Badr Al -Munir” (1/345) dan Tuhfatul Muhtaaj 2/135:

إِسْنَاده عَلَى شَرط مُسلم

“Sanadnya sesuai dengan syarat Shahih Muslim”.

Dan di nilai SHAHIH oleh Al-Daraqutni dalam ((Al-Sunan)) (2/517), Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaani dalam “Al-Ishoobah” (2/ 136) dan Al-Juurqani dalam ((Al-Abaathil wa Al-Manaakir)) (2/138),

Abu Abdillah al-Hamadzani az-Zarqoni (wafat 543 H) dalam al-Abaathil wa al-Manaakir 2/137 no. 501 berkata:

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ، رَوَاهُ عَنْ عَبْدَةَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ: هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، وَالْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ سِجَّادَةُ، وَغَيْرُهُمَا.

وَعَزْرَةُ هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُزَاعِيُّ، كُوفِيٌّ، قَالَ الدُّورِيُّ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، يَقُولُ: عَزْرَةُ الَّذِي يَرْوِي عَنْهُ قَتَادَةُ ثِقَةٌ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ: عَزْرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ثِقَةٌ، رَوَى عَنْهُ قَتَادَةُ وَسُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، وَعَبْدُ الْكَرِيمِ الْجَزْرِيُّ وَغَيْرُهُمْ.

فَهَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Ini adalah hadits shahih. Hadits ini diriwayatkan dari ‘Abdah oleh sejumlah perawi, di antaranya Harun bin Ishaq, Al-Hasan bin Hammad Sijjadah, dan selain keduanya.

Adapun ‘Azrah ini adalah Ibnu ‘Abdurrahman Al-Khuza’i, seorang penduduk Kufah. Ad-Duri berkata: “Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: ‘Azrah yang diriwayatkan darinya oleh Qatadah adalah seorang yang tsiqah.’”

Ali bin Al-Madini berkata: “‘Azrah bin ‘Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Telah meriwayatkan darinya Qatadah, Sulaiman At-Taimi, ‘Abdul Karim Al-Jazari, dan selain mereka.”

Maka hadits ini shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma”.

Hadits ini di Shahihkan pula oleh AL-ALBANI dalam Shahih Ibnu Majah no. 2364, Shahih Abi Daud no. 2364 dan Irwaa al-Ghalil 4/171].

Dan di shahihkan pula oleh Syu'aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud 3/318.

Syu’aib al-Arna’uth berkata dalam Tahqiq “al-Ihsan Fii Taqrib Shahih Ibnu Hibban karya al-Fasi”:

إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ، غَيْرُ عَزْرَةَ -وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُزَاعِيُّ- فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ. عَبْدَةُ: هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ الْكِلَابِيُّ، وَسَعِيدٌ: هُوَ ابْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، وَقَتَادَةُ: هُوَ ابْنُ دِعَامَةَ.

Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim. Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah yang merupakan perawi Al-Bukhari dan Muslim, kecuali ‘Azrah — yaitu Ibnu ‘Abdurrahman Al-Khuza’i — yang termasuk perawi Muslim saja.

‘Abdah adalah Ibnu Sulaiman Al-Kilabi, Sa’id adalah Ibnu Abi ‘Arubah, dan Qatadah adalah Ibnu Di’amah”. [Selesai]

ANTARA MARFU’ DAN MAWQUF:

Ibnu Katsir berkata dalam “Irsyad al-Faqih” (1/307):

الصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ كَمَا رَوَاهُ الْحَفَاظُ.

“Pandangan yang benar adalah bahwa hal itu mauquuf pada Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh para Hufaadz".

Akan tetapi Ibnu Khorroth al-Isybily al-Andalusy (wafat 581 H) berkata dalam al-Ahkam al-Wusthoo 2/327 :

عَلَّلَهُ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ رُوِيَ مَوْقُوفًا، وَالَّذِي أَسْنَدَهُ ثِقَةٌ فَلَا يَضُرُّهُ

“Sebagian ulama menganggap sanadnya cacat (ber-illat) dengan alasan bahwa hadits tersebut diriwayatkan secara mauquf. Akan tetapi perawi yang meriwayatkannya secara marfu‘ adalah seorang yang tsiqah, sehingga hal itu tidak merusaknya”.

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani berkata dalam kitab At-Talkhis Al-Habir 2/489:

وَرُوِيَ مَوْقُوفًا، رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ سَعِيدٍ كَذَلِكَ، وَعَبْدَةُ نَفْسُهُ مُحْتَجٌّ بِهِ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدْ تَابَعَهُ عَلَى رَفْعِهِ مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: أَثْبَتُ النَّاسِ فِي سَعِيدٍ: عَبْدَةُ.

“Hadits ini juga diriwayatkan secara mauquf. Gundar meriwayatkannya dari Sa’id demikian pula. Sedangkan ‘Abdah sendiri adalah perawi yang dipakai hujjah dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Dan ia telah diikuti dalam meriwayatkannya secara marfu‘ oleh Muhammad bin Bisyr dan Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshari. Ibnu Ma’in berkata: ‘Orang yang paling kuat riwayatnya dari Sa’id adalah ‘Abdah.’”

Lalu Al-Hafidz berkata:

وَكَذَا رَجَّحَ عَبْدُ الْحَقِّ وَابْنُ الْقَطَّانِ رَفْعَهُ، وَأَمَّا الطَّحَاوِيُّ فَقَالَ: الصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: رَفْعُهُ خَطَأٌ، وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: لَا يَثْبُتُ رَفْعُهُ.

“Demikian pula ‘Abdul Haq dan Ibnu Al-Qaththan lebih menguatkan bahwa hadits tersebut marfu‘. Adapun Ath-Thahawi berkata: ‘Yang shahih adalah bahwa hadits itu mauquf.’ Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Memarfu‘kannya adalah kesalahan.’ Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Tidak tetap status marfu‘nya.’”

Kemudian al-Hafidz  berkata pula:

وَرَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ كَمَا قَالَ.

وَخَالَفَهُ ابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَرَوَاهُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشَةَ، وَخَالَفَهُ الْحَسَنُ بْنُ ذَكْوَانَ فَرَوَاهُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: إِنَّهُ أَصَحُّ.

قُلْتُ: وَهُوَ كَمَا قَالَ، لَكِنَّهُ يُقَوِّي الْمَرْفُوعَ؛ لِأَنَّهُ عَنْ غَيْرِ رِجَالِهِ، وَقَدْ رَوَاهُ الْإِسْمَاعِيلِيُّ فِي مُعْجَمِهِ مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ، وَفِي إِسْنَادِهَا مَنْ يَحْتَاجُ إِلَى النَّظَرِ فِي حَالِهِ، فَيَجْتَمِعُ مِنْ هَذَا صِحَّةُ الْحَدِيثِ.

“Sa’id bin Manshur meriwayatkannya dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Nabi . Dan itu sebagaimana yang ia katakan. Namun Ibnu Abi Laila menyelisihinya, lalu meriwayatkannya dari ‘Atha’, dari ‘Aisyah. Kemudian Al-Hasan bin Dzakwan juga menyelisihinya, lalu meriwayatkannya dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Atha’, dari Ibnu ‘Abbas.”

Ad-Daraquthni berkata: Riwayat ini lebih shahih.”

Aku (yakni Ibnu Hajar) berkata: “Dan memang sebagaimana yang ia katakan. Akan tetapi hal itu justru menguatkan riwayat marfu‘, karena datang dari jalur para perawi yang berbeda. Al-Isma’ili juga meriwayatkannya dalam Mu‘jam-nya melalui jalur lain dari Abu Az-Zubair, dari Jabir. Namun dalam sanadnya ada perawi yang perlu diteliti keadaannya. Maka dari keseluruhan jalur ini terkumpullah penilaian shahih bagi hadits tersebut.”

Dan Syu'aib al-Arnauth berkata dalam Takhrij Sunan Abu Daud 3/318:

إسنادهُ صَحِيحٌ، وقد اختلفَ في رَفْعِهِ ووَقْفِهِ. وصَحَّحَ المَرفُوعَ ابنُ حبانَ والبيهقي، وقالَ البيهقي: "ولَيسَ في هذا البابِ أَصحُ مِنهُ".

وقد روي موقوفًا.

والرفعُ زيادةٌ يَتَعينُ قَبُولُها إذا جاءتْ مِن طريقِ ثِقَةٍ، وهي هاهُنا كَذلِكَ، لأنَّ الذي رَفَعَهُ عبدةُ بنُ سُلَيمَانَ، قالَ الحافِظُ: وهُوَ ثِقَةٌ مُحتَجًا بهِ في "الصَّحيحَينِ" وَتَابَعَهُ على رفعِهِ محمدُ بنُ بَشرٍ، وَمحمدُ بنُ عبدِ اللهِ الأنصاري. وَكَذَا رَجَحَ عبدُ الحقِ وَابنُ القَطانِ رفعَهُ.

وقد رَجَحَ الطَّحَاوِي وقْفَهُ، وَقالَ أَحمدُ: رَفْعُهُ خَطَأً، وَقالَ ابنُ المُنذَرِ: لا يِثبُتُ رفعُهُ. ابنُ أَبي عَروبَةَ: هُوَ سَعِيدُ اليَشكُرِيِّ العَدَوِيِّ، وَقَتَادَةَ: هُوَ ابنُ دَعَامَةَ السَّدُوسِيِّ، وَعَزرَةَ: هُوَ ابنُ عَبدِ الرَّحمَنِ الخَزَّاعِيِّ.

Sanadnya sahih, dan ada perbedaan pendapat tentang status Hadits ini (marfu' atau mauquf). Yang meriwayatkan Hadits ini dalam bentuk marfu' diantaranya adalah Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi yang menyatakan bahwa Hadits ini adalah yang paling sahih dalam masalah ini.

Hadits marfu' ini juga diriwayatkan melalui jalur yang dapat dipercayai, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Bashr dan Muhammad bin Abdullah Al-Anshari.

Namun, ada juga yang meragukan status Hadits ini dan menganggapnya sebagai Hadits mauquf (berhenti di tingkat para sahabat). Yaitu para ulama seperti At-Tahawi dan Imam Ahmad bin Hanbal, mereka menganggapnya sebagai Hadits mauquf dan mengatakan bahwa penyebutan Ibnu Abi 'Arubah dalam sanadnya adalah salah.

Dalam kasus seperti ini, terkadang pendapat ulama tentang status Hadits bisa berbeda.

Meskipun ada perbedaan pendapat, namun Hadits ini tetap dianggap sebagai sumber ajaran Islam dan dapat diterima sebagai hujjah (bukti) dalam hal-hal tertentu. [Lihat: Hamisy Sunan Abu Daud 3/318, Takhrij al-Arna'uth]

Syeikh Ibnu Utsaimiin berkata:

"وَقَالَ فِي الْفُرُوعِ: إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ احْتَجَّ بِهِ أَحْمَدُ فِي رِوَايَةٍ صَالِحٍ، لَكِنَّهُ رَجَحَ فِي كَلَامٍ آخَرَ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ؛ فَإِنْ صَحَّ الْمَرْفُوعُ فَذَاكَ؛ وَإِلَّا فَهُوَ قَوْلُ صَحَابِيٍّ لَمْ يَظْهَرْ لَهُ مُخَالِفٌ؛ فَهُوَ حُجَّةٌ، وَدَلِيلٌ عَلَى أَنَّ هَذَا الْعَمَلَ كَانَ مِنَ الْمَعْلُومِ جَوَازُهُ عِنْدَهُمْ؛ ثُمَّ إِنَّهُ قَدْ ثَبَتَ حَدِيثُ عَائِشَةَ فِي الصِّيَامِ: "مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ"، وَالْوَلِيُّ هُوَ الْوَارِثُ سَوَاءٌ كَانَ وَلَدًا أَمْ غَيْرَ وَلَدٍ؛ وَإِذَا جَازَ ذَلِكَ فِي الصِّيَامِ مَعَ كَوْنِهِ عِبَادَةً مُحْضَةً فَجَوَازُهُ بِالْحَجِّ الْمَشْهُوِّ بِالْمَالِ أَوْلَى، وَأَحْرَى".

Dan dia berkata dalam al-Furuu': Sanadnya baik. Ahmad berargumentasi dengannya dalam riwayat Shaleh, tetapi dalam pernyataan lainnya, dia mentarjih bahwa Hadits ini mauquf [pernyataan sahabat]. Jika seandainya sanad yang diriwayatkan adalah yang sahih, maka itu menjadi dalil yang sah. Namun jika tidak, maka itu adalah pernyataan sahabat yang tidak ada seorangpun yang menyelisihi pernyataannya, dan itu merupakan argumen.

Ini menunjukkan bahwa amalan ini adalah hal yang maklumi bersama akan bolehnya untuk diamalkan menurut mereka. Selain itu, telah terbukti Hadits dari Aisyah dalam masalah puasa: "Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan berhutang puasa, maka walinya berpuasa untuknya." Walinya adalah pewaris, baik itu anak atau bukan anak.

Maka jika hal itu diperbolehkan dalam puasa, yang merupakan ibadah murni, maka dibolehkannya dalam ibadah haji yang melibatkan harta jauh lebih tepat dan kuat".

[Sumber: "Majmu' Fatawa wa Rosaail asy-Syaikh Muhammad Shaleh al-'Utsaimin – Jilid ke 2 - Bab al-Bid'ah"].

====

HADITS KE 2:

Dari Ibnu Abbas - semoga Allah meridhainya - meriwayatkan:

سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ رَجُلًا يُلَبِّي عَنْ نُبَيْشَةَ ، فَقَالَ: «‌أَيُّهَا ‌الْمُلَبِّي ‌عَنْ ‌نُبَيْشَةَ هَلْ حَجَجْتَ؟» ، قَالَ: لَا ، قَالَ: «فَهَذِهِ عَنْ نُبَيْشَةَ وَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ»

Rasulullah mendengar seorang laki-laki bertalbiyah untuk Nubaisyah, lalu beliau bersabda: “Wahai orang yang bertalbiyah untuk Nubaisyah, apakah engkau sudah berhaji?” Ia menjawab: “Belum.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, haji ini untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Nubaisyah.”

[HR. Ad-Daruquthni 3/315 no. 2645 dan al-Baihaqi 9/238 no. 8756].

Ad-Daruquthni berkata:

تَفَرَّدَ بِهِ الْحَسَنُ بْنُ عُمَارَةَ وَهُوَ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ ، ‌وَالْمَحْفُوظُ ‌عَنِ ‌ابْنِ ‌عَبَّاسٍ ‌حَدِيثُ ‌شُبْرُمَةَ

“Hadits ini diriwayatkan secara sendirian oleh Al-Hasan bin ‘Umārah, dan ia adalah perawi yang ditinggalkan haditsnya. Sedangkan riwayat yang mahfudz (terjaga) adalah dari Ibnu ‘Abbās, hadits Syubrumah”.

Namun Abu al-Husein al-Qoduri (wafat 428 H) berkata dalam at-Tajriid 4/1658 no. 7283:

قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: تَفَرَّدَ بِهِ الْحَسَنُ بْنُ عِمَارَةَ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَهَذَا غَلَطٌ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَ عَدَّلَهُ أَصْحَابُنَا.

“Ad-Dāruqunī berkata: ‘Hadits ini hanya diriwayatkan sendiri oleh Al-Hasan bin ‘Imārah, dan ia adalah perawi yang lemah’. Pernyataan ini keliru, karena Al-Hasan dinilai terpercaya oleh para ulama madzhab kami”.

FIQIH HADITS:

Atas dasar hadits-hadits shahih tersebut diatas, maka mayoritas Ulama, Hanafiyyah, Syafiiyyah dan Hanabilah, memperkenankan haji atas nama orang lain dengan syarat sebagai berikut:

Pertama: Yang dihajikan/diwakili sudah meninggal atau tidak mampu melaksanakan haji karena lemah fisik ( sebagamana hadits yang pertama dan kedua)

Kedua: Yang menghajikan/mewakili, sudah pernah melaksanakan haji untuk dirinya sendiri.

Ketiga: Boleh membadalkan haji untuk selain kedua orang tua, berdasarkan hadits Syubrumah.

===

PERNYATAAN IMAM BUKHORI 
TENTANG QODHO PUASA WAJIB ATAS NAMA MAYIT:

Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih nya Bab (41):

بَابُ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ

“Bab: Orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa”

Dalam bab ini, imam Bukhari ingin menjelaskan tetang hukum orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa, apakah wajib bagi kerabatnya untuk menunaikanya atau tidak?

Dalam bab ini imam Bukhari menyebutkan satu atsar dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, dan dua hadits dari Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَالَ الحَسَنُ: " إِنْ صَامَ عَنْهُ ثَلاَثُونَ رَجُلًا يَوْمًا وَاحِدًا جَازَ ".

Dan Al-Hasan berkata: “Jika tiga puluh orang berpuasa untuknya [mengqadha puasa mayit] dalam satu hari maka itu boleh”.

Kemudian Imam Bukhori menyebutkan Hadits 'Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini.

Dari ‘Aisyah bahwasannya Nabi bersabda:

“مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ ".

“Barang siapa mati padahal punya kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih. Bukhori no. 1952 dan Muslim no. 1147)

TAKHRIIJ atsar Al-Hasan Al-Bashri:

Diriwayatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya “Tagliq At-Ta’liq” (3/189) melalui jalur imam Ad-Daraqutniy rahimahullah dalam kitabnya “Al-Mudabbaj”, ia berkata:

ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ الْفَلَّاسِ، أَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالَقَانِيُّ، أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، ثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ، عَنْ أَشْعَثَ

Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Harun Al-Fallas menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Ya’qub Ath-Thaliqaniy memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Al-Mubarak memberitakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin ‘Amir menceritakan kepada kami, dari Asy’ats:

عَنِ الْحَسَنِ؛ فِيمَنْ عَلَيْهِ صَوْمُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، فَجَمَعَ لَهُ ثَلَاثِينَ رَجُلًا فَصَامُوا عَنْهُ يَوْمًا وَاحِدًا، قَالَ: «أَجْزَأَ عَنْهُ».

Dari Al-Hasan ; Ia ditanya tentang seseorang yang memiliki hutang puasa tiga puluh hari, kemudian ia mengumpulkan tiga puluh orang kemudian masing-masing berpuasa untuknya sehari?

Al-Hasan menjawab: “Itu cukup baginya”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari bahwa hal tersebut benar jika puasanya tidak disyaratkan untuk dibayar secara berurutan, jika puasanya disyaratkan berurutan maka itu tidak mecukupi karena puasa tersebut tidak berurutan. [Fathul Bariy 4/224]

====((*))====

APAKAH BADAL HAJI ITU DI SYARIATKAN?

Badal dalam ibadah haji adalah seseorang melaksanakan haji atas nama orang lain. Hal ini disyariatkan, dan telah terdapat banyak hadits tentangnya.

====

PENDAPAT MADZHAB HANAFIYYAH, SYAFI’IYYAH, DAN HANABILAH:

Madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah berpendapat tentang disyariatkannya badal haji (mewakilkan haji kepada orang lain).

Boleh hukumnya melaksanakan badal haji untuk kedua orang tua atau kerabat, atau kaum muslimin secara umum, baik mereka masih hidup namun tidak mampu maupun sudah meninggal, dengan syarat orang yang menjadi wakil telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.

[Badā’i‘ Ash-Shanā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 3/271; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/98; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]

Al-Imam at-Tirmidzy dalam as-Sunan 3/258 di bawah hadits no. 928 berkata:

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ، وَبِهِ يَقُولُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ يَرَوْنَ أَنْ يُحَجَّ عَنِ المَيِّتِ. ‌وقَالَ ‌مَالِكٌ: «‌إِذَا ‌أَوْصَى ‌أَنْ ‌يُحَجَّ ‌عَنْهُ ‌حُجَّ ‌عَنْهُ»، وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُحَجَّ عَنِ الحَيِّ إِذَا كَانَ كَبِيرًا أَوْ بِحَالٍ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَحُجَّ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيِّ

Dan amalan ini dijalankan oleh para ulama dari kalangan sahabat Nabi dan selain mereka. Pendapat ini juga dipegang oleh Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin al-Mubarak, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa orang yang telah meninggal boleh dihajikan.

Adapun Malik bin Anas berkata: “Apabila seseorang berwasiat agar dihajikan, maka boleh dihajikan untuknya”.

Sebagian ulama juga memberikan keringanan untuk menghajikan orang yang masih hidup apabila ia sudah tua atau berada dalam keadaan tidak mampu melaksanakan haji. Ini adalah pendapat Abdullah bin al-Mubarak dan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i”. [Selesai]

Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85 menjelaskan:

وَلَا خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ يَقَعُ الحَجُّ عَنِ الْغَيْرِ تَطَوُّعًا، وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي وُقُوعِهِ فَرْضًا

“Dan tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin bahwa badal haji boleh dilakukan untuk orang lain sebagai bentuk ibadah sukarela (tathawwu’), sedangkan yang menjadi perbedaan pendapat adalah apakah hal itu dapat terjadi dalam bentuk kewajiban (fardhu)”.

Dan al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata:

وَاتَّفَقَ ‌مَنْ ‌أَجَازَ ‌النِّيَابَةَ ‌فِي ‌الْحَجِّ ‌عَلَى ‌أَنَّهَا ‌لَا ‌تُجْزِئُ فِي الْفَرْضِ إِلَّا عَنْ مَوْتٍ أَوْ عَضْبٍ فَلَا يَدْخُلُ الْمَرِيضُ لِأَنَّهُ يُرْجَى بُرْؤُهُ وَلَا الْمَجْنُونُ لِأَنَّهُ تُرْجَى إِفَاقَتُهُ وَلَا الْمَحْبُوسُ لِأَنَّهُ يُرْجَى خَلَاصُهُ وَلَا الْفَقِيرُ لِأَنَّهُ يُمْكِنُ اسْتِغْنَاؤُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Para ulama yang membolehkan badal haji sepakat bahwa badal haji dalam haji wajib tidak sah kecuali untuk orang yang meninggal atau mengalami kelumpuhan (عَضْبٌ). Maka orang sakit tidak termasuk, karena masih diharapkan sembuhnya. Demikian pula orang gila, karena masih diharapkan sadar kembali. Tidak pula orang yang dipenjara, karena masih diharapkan bebas. Dan tidak pula orang fakir, karena masih mungkin menjadi kaya.” [Fathul Bari, 4/70]

===

FATWA SYEIKH BIN BAZ:

Syeikh Bin Baz rahimahullah menegaskan bahwa Badal haji diperbolehkan untuk orang lain itu, tidak khusus untuk kerabat saja. Beliau berkata:

الْحَجُّ عَنِ الْآخَرِينَ لَيْسَ خَاصًّا بِالْقَرَابَةِ، بَلْ يَجُوزُ لِلْقَرَابَةِ وَغَيْرِ الْقَرَابَةِ؛ لِأَنَّ الرَّسُولَ ﷺ شَبَّهَهُ بِالدَّيْنِ، فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْقَرَابَةِ وَغَيْرِ الْقَرَابَةِ. وَإِذَا أَخَذَ الْمَالَ وَهُوَ يَقْصِدُ بِذَلِكَ الْمُشَاهَدَةَ لِلْمَشَاعِرِ الْعَظِيمَةِ، وَمُشَارَكَةَ إِخْوَانِهِ الْحُجَّاجِ، وَالْمُشَارَكَةَ فِي الْخَيْرِ، فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ إِنْ شَاءَ اللهُ وَلَهُ أَجْرٌ.

أَمَّا إِذَا كَانَ لَمْ يَقْصِدْ إِلَّا الدُّنْيَا، فَلَيْسَ لَهُ إِلَّا الدُّنْيَا، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى» مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ.

Badal haji untuk orang lain tidak khusus terbatas pada kerabat, bahkan boleh dilakukan untuk kerabat maupun non-kerabat. Karena Rasulullah menyerupakan haji tersebut dengan hutang. Ini menunjukkan bahwa badal haji boleh dilakukan baik untuk kerabat maupun selain kerabat.

Apabila seseorang mengambil upah, sementara tujuannya adalah untuk menyaksikan syiar-syiar agung haji, ikut bersama saudara-saudaranya para jamaah haji, dan berpartisipasi dalam kebaikan, maka ia berada di atas kebaikan insya Allah dan mendapatkan pahala.

Adapun jika tujuannya hanya dunia semata, maka ia tidak mendapatkan kecuali dunia saja. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

[Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Bad’ul Wahyi bab “Permulaan Wahyu” no. 1, dan Sahih Muslim dalam Kitab Al-Imarah bab “Sabda Nabi : Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat” no. 1907].

Pertanyaan ini dijawab setelah ceramah yang disampaikan oleh Abdul Aziz bin Baz tentang haji pada tanggal 8 Dzulhijjah di Mina tahun 1402 H. [Lihat: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz» 16/423.]

===

FATWA SYEIKH BIN BAZ TENTANG BADAL UMRAH DAN HAJI:

Syeikh  Bin Baz juga membolehkan badal umroh untuk orang, baik untuk keuarganya, maupun orang lain. Beliau berkata:

لَا بَأْسَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْعُمْرَةَ عَنْ وَالِدِهِ، وَيُكَلِّفَ شَخْصًا ثِقَةً يُؤَدِّي عَنْهُ الْحَجَّ، لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، وَإِنْ تَوَلَّى بِنَفْسِهِ أَدَاءَ الْعُمْرَةِ وَالْحَجِّ عَنْ وَالِدِهِ فَهَذَا أَكْمَلُ فِي الْبِرِّ، وَيَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَ الْحَجَّ عَنْ وَالِدِهِ شَخْصٌ غَيْرُهُ وَهُوَ يُؤَدِّي الْعُمْرَةَ. كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَحُجَّ عَنْ شَخْصٍ وَيَعْتَمِرَ عَنْ شَخْصٍ آخَرَ، ...

Tidak mengapa bagi seseorang menunaikan umrah atas nama orang tua-nya, begitu juga menugaskan orang lain yang dapat dipercaya untuk menunaikan haji atas namanya , itu tidak lah mengapa .

Dan jika dia sendiri melakukan umrah dan haji atas nama orang tuanya, maka ini lebih sempurna dalam amalan al-Birr [berbakti kepadanya]  .

Namun dibolehkan baginya menugaskan orang lain untuk melakukan haji atas nama orang tuanya, sementara ibadah umrah untuk orang tuanya dia sendiri yang melakukan-nya .

Juga diperbolehkan untuk melakukan haji atas nama seseorang , sementara melakukan umrahnya atas nama orang lain lagi .

===

DALIL SINGKAT DI SYARIATKAN-NYA BADAL HAJI:

Selain berdalil dengan hadits-hadits yang telah di sebutkan di atas, mereka juga berdalil dengan dalil-dalil berikut ini:

Dalil Pertama: Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾

“Dan wajib atas manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan menuju kepadanya.”(Surah Ali ‘Imran: 97)

Sisi pendalilannya:

Ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang mampu menunaikan haji dengan badan dan hartanya, maka haji wajib atas dirinya. Jika ia tidak mampu melaksanakan haji dengan badannya namun mampu dengan hartanya, maka ia wajib menunjuk orang lain untuk menggantikannya.

Dalil Kedua: dari sunnah.

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata:

كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ، فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، ‌أَدْرَكَتْ ‌أَبِي ‌شَيْخًا ‌كَبِيرًا ‌لَا ‌يَسْتَطِيعُ ‌أَنْ ‌يَثْبُتَ ‌عَلَى ‌الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Al-Fadhl bin Abbas pernah membonceng bersama Rasulullah . Lalu datang seorang wanita dari Khats’am meminta fatwa kepada beliau. Maka Al-Fadhl memandang wanita itu dan wanita itu pun memandang Al-Fadhl. Rasulullah lalu memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah lain.

Wanita itu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?’

Beliau menjawab: ‘Ya.’ Dan itu terjadi pada Haji Wada’.”

Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari no. 1513 dan Sahih Muslim no. 1334, dan lafaz ini milik Muslim.

Sisi pendalilannya:

Nabi membenarkan ucapan wanita tersebut bahwa haji atas ayahnya adalah kewajiban, meskipun ayahnya tidak mampu secara fisik. Seandainya haji tidak wajib atasnya, tentu Rasulullah tidak akan membenarkannya, karena tidak mungkin beliau membiarkan kesalahan.

Hal ini menunjukkan bahwa orang hidup yang tidak mampu secara fisik namun mampu secara harta wajib menunjuk orang lain untuk membadalkannya.

Dalil Ketiga: 

Karena haji adalah ibadah yang apabila dirusak mewajibkan kaffarah, maka dibolehkan orang lain menggantikan pelaksanaannya, sebagaimana puasa; apabila seseorang tidak mampu melaksanakannya maka ia menebusnya dengan fidyah.

====

PENDAPAT MADZHAB MALIKIYYAH:

BADAL HAJI UNTUK MAYIT menurut Madzhab Malikiyyah:

Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhori 9/125 dan al-Mubarokfuri dalam Mir’atul Mafaatiih 8/324 berkata tentang badal haji untuk mayit menurut madzhab Malikiyah:

قَالَ مَالِكٌ وَاللَّيْثُ وَالْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ: لَا يَحُجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ إِلَّا عَنْ مَيِّتٍ لَمْ يَحُجَّ حَجَّةَ الْإِسْلَامِ. ‌

Imam Malik, Al-Laits, dan Al-Hasan bin Shalih berkata: “Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain kecuali untuk orang yang telah meninggal dunia dan belum menunaikan haji Islam (haji wajib).” [Selesai]

Al-Imam at-Tirmidzy dalam as-Sunan 3/258 di bawah hadits no. 928 berkata:

‌وقَالَ ‌مَالِكٌ: «‌إِذَا ‌أَوْصَى ‌أَنْ ‌يُحَجَّ ‌عَنْهُ ‌حُجَّ ‌عَنْهُ»

Dan Malik bin Anas berkata: “Apabila seseorang berwasiat agar dihajikan, maka boleh dihajikan untuknya”.

Ibnu ar-Rusyd dalam Biadayatul Mujtahid 2/85 berkata:

وَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّى الْفَرْضَ عَنْ نَفْسِهِ فَذَلِكَ أَفْضَلُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ فِيمَنْ يَحُجُّ عَنِ الْمَيِّتِ، لِأَنَّ الْحَجَّ عِنْدَهُ عَنِ الْحَيِّ لَا يَقَعُ.

“Jika seseorang (yang melakukan badal haji) telah menunaikan sebelumnya haji fardhu untuk dirinya sendiri, maka itu lebih utama (lebih afdhol). Dan Imam Malik bin Anas berpendapat demikian dalam masalah orang yang menghajikan untuk mayit, karena menurut beliau haji badal untuk orang yang masih hidup, itu tidak sah dilakukan”.

BADAL HAJI UNTUK ORANG HIDUP YANG SUDAH TIDAK MAMPU.

Para ulama madzhab malikiyah berbeda pendapat tentang badal haji untuk orang hidup yang tidak sudah mampu secara permanen (الْعَاجِزُ).

Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhori 9/125 dan al-Mubarokfuri dalam Mir’atul Mafaatiih 8/324 menyebutkan ada tiga pendapat di kalangan Malikiyyah dalam hal ini. Dan berikut ini kutipannya:

وَأَمَّا الْعَاجِزُ فَحَكَى الْمُصَنِّفُ فِيهِ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ:

الْمَشْهُورُ: عَدَمُ الْجَوَازِ؛ أَيْ: تُكْرَهُ. صَرَّحَ فِي الْجَلَّابِ بِذَلِكَ، وَكَلَامُ الْمُصَنِّفِ لَا تُؤْخَذُ مِنْهُ الْكَرَاهَةُ بَلِ الْمَنْعُ. ابْنُ هَارُونَ: وَهُوَ ظَاهِرُ مَا حَكَاهُ اللَّخْمِيُّ.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْجَوَازُ مُطْلَقًا، وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ مَالِكٍ.

وَقَالَ ابْنُ وَهْبٍ وَأَبُو مُصْعَبٍ: يَجُوزُ فِي حَقِّ الْوَلَدِ خَاصَّةً؛ لِأَنَّ الرُّخْصَةَ وَرَدَتْ فِيهِ.

وَنُقِلَ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ أَنَّهُ أَجَازَ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ عَنْ قَرَابَتِهِ، وَلَمْ يُخَصِّصِ الْوَلَدَ.

وَيَقُولُ ابْنُ وَهْبٍ: الْقَوْلُ الْأَوَّلُ قَالَهُ ابْنُ حَبِيبٍ؛ لِأَنَّهُ قَالَ: قَدْ جَاءَتِ الرُّخْصَةُ فِي الْحَجِّ عَنِ الْكَبِيرِ الَّذِي لَمْ يَنْهَضْ وَلَمْ يَحُجَّ، وَعَنْ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ وَلَدُهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ بِهِ، وَيُجْزِئُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Adapun orang hidup yang tidak mampu (الْعَاجِزُ), maka al-mushonnif (Kholil Al-Maliki) menyebutkan adanya tiga pendapat di dalamnya:

Pendapat yang masyhur:

Adalah tidak boleh; yaitu dimakruhkan. Hal ini ditegaskan dalam kitab *Al-Jallab*. Namun, perkataan al-mushoonnif (Kholil Al-Maliki) tidak menunjukkan makruh saja, bahkan menunjukkan larangan. Ibnu Harun berkata: ini juga nampak (ظَاهِرٌ) dari apa yang dinukil oleh Al-Lakhmi.

Pendapat kedua:

Boleh secara mutlak, dan ini diriwayatkan dari Malik bin Anas.

Abdullah bin Wahb dan Abu Mush‘ab az-Zuhri berkata: boleh khusus bagi anak, karena keringanan (rukhsah) memang datang dalam hal ini.

Pendapat ke tiga:

Diriwayatkan dari Ibnu Wahb bahwa beliau membolehkan seseorang menghajikan untuk kerabatnya, dan tidak mengkhususkan hanya boleh dilakukan oleh anak saja.

Ibnu Habib mengatakan bahwa pendapat pertama (yakni larangan/makruh) dinisbatkan kepada Abdullah bin Wahb, karena beliau berkata: telah datang rukhsoh tentang haji bagi orang tua yang sudah lemah dan tidak mampu berdiri, dan bagi orang yang meninggal dan belum berhaji, bahwa boleh dihajikan oleh anaknya meskipun tidak berwasiat, dan itu mencukupinya insya Allah.

Di antara dalil bagi pendapat pertama yang masyhur dalam madzhab Maliki, yaitu pendapat yang memakruhkan-nya adalah sbb:

Dalil ke1.

Firman Allah Ta’ala:

﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Surah An-Najm ayat 39)

Dalil ke 2.

Perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

«‌لَا ‌يَحُجُّ ‌أَحَدٌ ‌عَنْ ‌أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ»

“Tidak ada seorang pun yang menghajikan orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berpuasa untuk orang lain.”

[Musannaf Ibni Abi Syaibah, Maktabah Ar-Rusyd, 3/380 no. 15122]

Dalil ke 3.

Dengan qiyas kepada shalat dan puasa, karena keduanya tidak menerima perwakilan meskipun dalam keadaan tidak mampu. [Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]

BANTAHAN TERHADAP 3 DALIL DIATAS:

Bantahan dari Imam asy-Syafi’i dalam al-Umm 2/125 terhadap dalil-dalil madzhab Maliki. Imam Syafi’i berkata:

لَا أَعْلَمُ أَحَدًا نُسِبَ إِلَى عِلْمٍ بِبَلَدٍ يُعْرَفُ أَهْلُهُ بِالْعِلْمِ خَالَفَنَا فِي أَنْ يُحَجَّ عَنِ الْمَرْءِ إِذَا مَاتَ الْحَجَّةُ الْوَاجِبَةُ عَنْهُ إِلَّا بَعْضُ مَنْ أَدْرَكْنَا بِالْمَدِينَةِ، وَأَعْلَامُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْأَكَابِرُ مِنْ مَاضِي فُقَهَائِهِمْ تَأْمُرُ بِهِ مَعَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ أَمَرَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ بِهِ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَابْنُ الْمُسَيَّبِ وَرَبِيعَةُ.

وَالَّذِي قَالَ: «لَا يُحَجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ» قَالَهُ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ ثَلَاثَةِ وُجُوهٍ سِوَى مَا رَوَى النَّاسُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ غَيْرِ ذَلِكَ، أَنَّهُ أَمَرَ بَعْضَ مَنْ سَأَلَهُ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ تَرَكَ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

وَاحْتَجَّ لَهُ بَعْضُ مَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ بِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: «لَا يُحَجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ»، وَهُوَ يَرْوِي عَنِ ابْنِ عُمَرَ ثَلَاثَةً وَسِتِّينَ حَدِيثًا يُخَالِفُ ابْنَ عُمَرَ فِيهَا، مِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِقَوْلِ رَجُلٍ مِنَ التَّابِعِينَ، وَمِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِرَأْيِ نَفْسِهِ.

فَكَيْفَ جَازَ لِأَحَدٍ نَسَبَ نَفْسَهُ إِلَى عِلْمٍ أَنْ يُحِلَّ قَوْلَ ابْنِ عُمَرَ عِنْدَهُ فِي هَذَا الْمَحَلِّ، ثُمَّ يَجْعَلَهُ حُجَّةً عَلَى السُّنَّةِ، وَلَا يَجْعَلَهُ حُجَّةً عَلَى قَوْلِ نَفْسِهِ؟

وَكَانَ مِنْ حُجَّةِ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْقَوْلِ أَنْ قَالَ: كَيْفَ يَجُوزُ أَنْ يَعْمَلَ رَجُلٌ عَنْ غَيْرِهِ، وَلَيْسَ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَّا اتِّبَاعُهَا بِفَرْضِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟

كَيْفَ، وَالْمَسْأَلَةُ فِي شَيْءٍ قَدْ ثَبَتَتْ فِيهِ السُّنَّةُ مَا لَا يَسَعُ عَالِمًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَلَوْ جَازَ هَذَا لِأَحَدٍ جَازَ عَلَيْهِ مِثْلُهُ، فَقَدْ يُثْبِتُ الَّذِي قَالَ هَذَا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَشْيَاءَ بِأَضْعَفَ مِنْ إِسْنَادِ أَمْرِ النَّبِيِّ ﷺ بَعْضَ النَّاسِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ بَعْضٍ.

Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang dinisbatkan kepada ilmu di suatu negeri yang penduduknya dikenal sebagai ahli ilmu yang menyelisihi kami dalam masalah bolehnya menghajikan seseorang setelah ia meninggal untuk menunaikan haji wajibnya, kecuali sebagian orang yang kami jumpai di Madinah. Padahal para ulama besar penduduk Madinah dan para fuqaha terdahulu mereka memerintahkan hal itu, bersamaan dengan adanya sunnah Rasulullah tentangnya.

Kemudian Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, dan selain keduanya dari para sahabat Nabi juga memerintahkan hal tersebut. Demikian pula Sa'id bin Al-Musayyib dan Rabi'ah Ar-Ra'yi.

Adapun orang yang mengatakan, “Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain,” maka ia mengucapkannya, padahal telah diriwayatkan dari Nabi melalui tiga jalur selain riwayat-riwayat lain yang masyhur dari Nabi , bahwa beliau memerintahkan sebagian orang yang bertanya kepada beliau agar menghajikan orang lain.

Lalu orang itu meninggalkan apa yang diriwayatkan dari Nabi tersebut. Sebagian pendukung pendapatnya berhujjah dengan perkataan Abdullah bin Umar:

“Tidak boleh seorang pun menghajikan orang lain.”

Padahal ia sendiri meriwayatkan dari Ibnu Umar enam puluh tiga hadits yang ia menyelisihi Ibnu Umar di dalamnya. Di antaranya ada yang ia tinggalkan karena adanya hadits dari Nabi , ada yang ia tinggalkan karena pendapat sebagian sahabat Nabi , ada yang ia tinggalkan karena pendapat seorang tabi’in, bahkan ada yang ia tinggalkan karena pendapat pribadinya sendiri.

Maka bagaimana mungkin seseorang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu menjadikan perkataan Ibnu Umar sebagai hujjah dalam masalah ini untuk menentang sunnah, namun tidak menjadikannya hujjah atas pendapat dirinya sendiri?

Di antara alasan orang yang berpendapat demikian adalah ucapannya:

“Bagaimana mungkin seseorang beramal untuk orang lain, padahal yang ada dalam sunnah Rasulullah hanyalah kewajiban mengikuti perintah Allah ‘Azza wa Jalla?”

Padahal masalah ini termasuk perkara yang telah ada ketetapan sunnahnya (valid), sehingga tidak ada kelonggaran bagi seorang alim untuk mengabaikannya. Wallahu a’lam

Kalau cara seperti ini dibolehkan bagi seseorang, tentu akan berlaku pula terhadap dirinya. Sebab orang yang mengatakan hal ini sendiri menetapkan beberapa perkara atas nama Rasulullah dengan sanad yang lebih lemah dibanding sanad hadits tentang perintah Nabi kepada sebagian orang untuk menghajikan orang lain. [Kutipan Selesai]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

"وَالْجُمْهُورِ أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ عَنِ الْمَيِّتِ وَالْعَاجِزِ الْمَأْيُوسِ مِنْ بُرْئِهِ وَاعْتَذَرَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ مُخَالَفَةِ مَذْهَبِهِمْ لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي الصَّوْمِ عَنِ الْمَيِّتِ وَالْحَجِّ عَنْهُ بِأَنَّهُ مُضْطَرِبٌ وَهَذَا عُذْرٌ بَاطِلٌ وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ اضْطِرَابٌ وَإِنَّمَا فِيهِ اخْتِلَافٌ جَمَعْنَا بَيْنَهُ كَمَا سَبَقَ ‌وَيَكْفِي ‌فِي ‌صِحَّتِهِ ‌احْتِجَاجُ ‌مُسْلِمٍ ‌بِهِ ‌فِي ‌صَحِيحِهِ".

“Mayoritas ulama berpendapat bahwa badal haji dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dan juga untuk orang yang tidak mampu yang tidak diharapkan kesembuhannya.

Al-Qadhi ‘Iyadh memberikan udzur terhadap penyelisihan madzhab mereka — yaitu Malikiyyah — terhadap hadits-hadits tentang puasa dan haji untuk orang yang meninggal, dengan alasan bahwa hadits tersebut mudhtharib.

Namun alasan ini batil, karena tidak ada kegoncangan dalam hadits tersebut. Cukuplah sebagai bukti kesahihannya bahwa Imam Muslim berhujjah dengannya dalam kitab Shahih-nya.” [Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8/27]

Hadits yang dimaksud oleh An-Nawawi rahimahullah, yang disebutkan bahwa sebagian ulama Malikiyyah menghukuminya mudhtharib, adalah hadits dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:

بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ: إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ. فَقَالَ: «وَجَبَ أَجْرُكِ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ». قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: «صُومِي عَنْهَا». قَالَتْ: إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «حُجِّي عَنْهَا».

“Ketika aku sedang duduk di sisi Rasulullah , tiba-tiba datang seorang wanita lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku pernah menyedekahkan seorang budak perempuan kepada ibuku, lalu ibuku meninggal dunia.’

Beliau bersabda: ‘Pahalamu telah tetap, dan budak itu kembali kepadamu melalui warisan.’

Wanita itu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku memiliki kewajiban puasa sebulan. Apakah aku boleh berpuasa untuknya?’

Beliau bersabda: ‘Berpuasalah untuknya.’

Wanita itu berkata: ‘Sesungguhnya ia belum pernah berhaji sama sekali. Apakah aku boleh menghajikannya?’

Beliau bersabda: ‘Berhajilah untuknya.’” [Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim no. 1149].

Barang siapa memiliki harta lebih dari kebutuhan dirinya dan nafkah keluarganya, serta cukup untuk biaya haji, maka ia wajib berhaji sendiri. Jika ia tidak mampu karena sakit atau usia tua, maka ia wajib menunjuk orang lain untuk menghajikannya dengan hartanya.

Jika ia meninggal dunia sebelum berhaji, maka wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya biaya untuk menghajikannya, karena haji merupakan hutang yang menjadi tanggungannya, dan hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasa'i no. 2639 dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «‌أَرَأَيْتَ ‌لَوْ ‌كَانَ ‌عَلَى ‌أَبِيكَ ‌دَيْنٌ ‌أَكُنْتَ ‌قَاضِيَهُ؟» قَالَ، نَعَمْ قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ»

“Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah , sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan belum berhaji. Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau bersabda: ‘Bagaimana pendapatmu jika ayahmu memiliki hutang, apakah engkau akan melunasinya?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.’”

[Hadits ini dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i].

===***===

KEUTAMAAN BADAL HAJI

Seorang muslim menghajikan saudaranya sesama muslim merupakan bentuk bantuan dalam menunaikan syiar yang wajib ini. Hal tersebut termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى﴾

Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Badal haji juga termasuk perbuatan baik, kebaikan, dan ihsan, terlebih jika dilakukan untuk kedua orang tua atau salah satu kerabat.

Adapun hadits-hadits khusus tentang keutamaan badal haji yang disebutkan dalam sebagian kitab, maka hadits-hadits tersebut tidak shahih.

[An-Niyabah fil Hajj, karya Basim Qadhi, tesis magister di Umm Al-Qura University, hlm. 38]

====***====

WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG YANG TELAH WAFAT?

Sesungguhnya seorang muslim yang telah meninggal dunia, baligh dan berakal, jika tidak sempat menunaikan haji Islam karena tidak terpenuhinya syarat kemampuan (istitha’ah), maka haji tersebut memang tidak wajib atasnya, dan tidak ada seorang pun yang wajib menghajikannya—meskipun ia adalah ahli warisnya—baik dari hartanya sendiri maupun dari harta orang lain, kecuali jika ada yang menghajikannya secara sukarela. Hal ini dibolehkan menurut pendapat yang lebih kuat dari para ulama.

Adapun jika orang yang meninggal tersebut semasa hidupnya telah ada ketetapan kewajiban haji atas dirinya namun belum menunaikannya, maka para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban menghajikannya.

Abu Hanifah dan Malik berpendapat: tidak dihajikan kecuali jika ia berwasiat untuk itu, dan pelaksanaannya bersifat sukarela.

Sedangkan Syafi’i dan Ahmad berpendapat: wajib dihajikan dari harta peninggalannya, baik ia meninggalkan haji karena kelalaian maupun bukan karena kelalaian, baik ia berwasiat atau tidak.

Pendapat terakhir ini adalah yang lebih kuat, insyaAllah, berdasarkan riwayat al-Bukhari dan selainnya dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».

Bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi dan berkata: “Sesungguhnya ibuku bernazar untuk berhaji, tetapi ia belum sempat berhaji hingga meninggal dunia. Apakah aku boleh menghajikannya?”

Beliau bersabda: “Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya? Lunasilah utang kepada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditunaikan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1953) dan Muslim (1148) dengan perbedaan redaksi yang sedikit]

Karena haji adalah hak yang telah tetap kewajibannya atas seseorang dan dapat diwakilkan, maka ia tidak gugur dengan kematian sebagaimana utang. Biaya haji diambil dari seluruh harta peninggalannya karena ia merupakan utang yang telah menetap, sehingga kedudukannya seperti utang manusia.

Jika ia tidak meninggalkan harta warisan, maka kewajiban haji tetap berada dalam tanggungannya, dan tidak wajib bagi ahli waris untuk menghajikannya, namun dianjurkan bagi mereka untuk melakukannya.

Jika ahli waris menghajikannya sendiri, atau menyewa orang lain untuk menghajikannya, atau ada orang lain yang menghajikannya meskipun tanpa izin ahli waris, maka gugurlah kewajiban tersebut darinya. [Baca: Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 11/19265 no. 10177].

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

«مَتَى تُوُفِّيَ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْحَجُّ وَلَمْ يَحُجَّ، وَجَبَ أَنْ يُخْرَجَ عَنْهُ مِنْ جَمِيعِ مَالِهِ مَا يُحَجُّ بِهِ عَنْهُ وَيُعْتَمَرُ، سَوَاءٌ فَاتَهُ بِتَفْرِيطٍ أَوْ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ، وَبِهَذَا قَالَ الْحَسَنُ، وَطَاوُسٌ، وَالشَّافِعِيُّ ....

وَيُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ يَكُونَ الْمَنُوبُ عَنْهُ عَاجِزًا عَنِ الْحَجِّ الْوَاجِبِ بِنَفْسِهِ، وَأَنْ يَأْذَنَ لِلنَّائِبِ فِي الْحَجِّ عَنْهُ، وَأَنْ يَنْوِيَ النَّائِبُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ الْحَجَّ عَنِ الْمَنُوبِ عَنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ قَدْ أَدَّى الْفَرِيضَةَ عَنْ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلُ، وَتَجُوزُ نِيَابَةُ الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ فِي الْحَجِّ، بِدَلِيلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، فَهَلْ يُقْضَى عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ».

وَلِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ: «أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النَّبِيَّ ﷺ عَنْ أَبِيهَا، مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ؟ قَالَ: حُجِّي عَنْ أَبِيكِ»، وَعَنْهُ: «أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، فَمَاتَتْ، فَأَتَى أَخُوهَا النَّبِيَّ ﷺ فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ، أَمَا كُنْتَ قَاضِيَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاقْضُوا دَيْنَ اللَّهِ، فَهُوَ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ». رَوَاهُمَا النَّسَائِيُّ،

وَلِأَنَّهُ حَقٌّ اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ، فَلَمْ يَسْقُطْ بِالْمَوْتِ كَالدَّيْنِ». انتهى

“Kapan saja seseorang yang wajib haji meninggal dunia sebelum berhaji, maka wajib dikeluarkan dari seluruh hartanya biaya untuk menghajikan dan mengumrahkannya, baik ia meninggalkannya karena meremehkan ataupun bukan karena meremehkan. Ini adalah pendapat Al-Hasan, Thawus, dan Asy-Syafi’i.”

Disyaratkan dalam haji badal bahwa orang yang diwakili memang tidak mampu melaksanakan haji wajib sendiri, dan ia memberi izin kepada orang yang mewakilinya. Selain itu, orang yang mewakili harus berniat ketika ihram bahwa hajinya untuk orang yang diwakili, dan ia juga harus sudah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri sebelumnya.

Wanita juga boleh menghajikan laki-laki. Dalilnya adalah hadits bahwa seorang wanita dari Khats’am berkata:

“Wahai Rasulullah , kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?”

Beliau menjawab: Ya.” [HR. Al-Bukhari no. 1854 dan Muslim no. 1334].

Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi tentang ayahnya yang meninggal dan belum berhaji. Beliau bersabda:Hajikanlah ayahmu.”

Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang wanita bernazar untuk berhaji lalu meninggal dunia. Saudara laki-lakinya datang kepada Nabi dan bertanya tentang hal itu. Maka beliau bersabda:Bagaimana pendapatmu jika saudaramu memiliki hutang, bukankah engkau akan melunasinya?” Ia menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda: “Maka tunaikanlah hutang kepada Allah, karena itu lebih berhak untuk ditunaikan.” [Kedua hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i].

Karena haji adalah hak yang telah tetap menjadi tanggungannya dan menerima perwakilan, maka kewajiban itu tidak gugur dengan kematian, sebagaimana hutang.”

[Selesai dari kitab “Al-Mughni” (3/101) dengan ringkas].

Adapun jika seseorang ketika hidupnya tidak memiliki biaya haji yang lebih dari kebutuhan dirinya dan keluarganya, maka haji tidak wajib atasnya, dan tidak wajib pula dihajikan setelah meninggal, kecuali jika ada orang yang secara sukarela menghajikannya.

===

FATWA SYEIKH AL-UTSAIMIN:

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Saya memiliki keponakan yang terkena penyakit kanker —semoga Allah melindungi Anda dan seluruh kaum muslimin darinya— lalu ia meninggal dunia tahun ini pada usia sembilan belas tahun dan belum menunaikan haji wajib. Padahal ia telah terkena penyakit itu sejak lima tahun lalu. Apakah kami harus menghajikannya? Apakah ada kafarah?”

Beliau menjawab:

«لَا بُدَّ أَنْ نَسْأَلَهُ: هَلْ هَذَا الشَّابُّ عِنْدَهُ مَالٌ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَحُجَّ بِهِ؟ إِنْ كَانَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ فَلَا بُدَّ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَالٌ فَالْحَجُّ لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ، وَقَدْ مَاتَ بَرِيئًا مِنَ الْفَرِيضَةِ، لَكِنْ إِنْ أَرَادُوا أَنْ يَتَطَوَّعُوا وَيَحُجُّوا عَنْهُ فَلَا حَرَجَ» انْتَهَى.

“Kita harus bertanya terlebih dahulu: apakah pemuda ini memiliki harta yang cukup untuk berhaji? Jika ya, maka ia harus dihajikan. Namun jika ia tidak memiliki harta, maka haji tidak wajib atasnya dan ia meninggal dalam keadaan bebas dari kewajiban tersebut. Akan tetapi jika keluarganya ingin secara sukarela menghajikannya, maka tidak mengapa.” [Selesai dari “Al-Liqa Asy-Syahri” (62/5)].

Berdasarkan hal tersebut, selama orang yang meninggal itu memiliki harta yang cukup untuk berhaji, maka haji memang wajib atasnya. Karena itu, apa yang dilakukan oleh penanya berupa menghajikannya adalah perbuatan yang benar, bahkan didahulukan daripada hak ahli waris terhadap harta warisan. Namun sebaiknya ahli waris diberitahu agar mereka tidak menghajikannya lagi dengan anggapan hal itu masih wajib. Wallahu a’lam.

====

FATWA SYEIKH BIN BAZ:

Beliau ditanya tentang hukum mewakilkan seseorang untuk berhaji atas nama orang yang telah meninggal dunia.

Beliau menjawab:

«لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ أَنْ تُعْطِيَهُ مِنْ مَالِكَ مَا يَحُجُّ بِهِ عَنْ وَالِدِكَ الْمُتَوَفَّى، لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ، إِذَا كَانَ أَهْلًا لِذَلِكَ، إِنْ كَانَ مُسْلِمًا أَهْلًا لِذَلِكَ، تَخْتَارُ الرَّجُلَ الطَّيِّبَ الَّذِي تَرْجُو أَنْ يَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْهُ؛ فَلَا بَأْسَ، تَرْجُو الرَّجُلَ الطَّيِّبَ الْمَعْرُوفَ بِالْخَيْرِ، وَتَسْتَنِيبُهُ فِي الْحَجِّ عَنْ وَالِدِكَ الْمَيِّتِ».

“Tidak mengapa engkau memberikan sebagian hartamu kepada seseorang agar ia berhaji atas nama ayahmu yang telah meninggal. Tidak mengapa melakukan hal itu jika orang tersebut memang layak, yaitu seorang muslim yang pantas untuk tugas tersebut. Pilihlah orang saleh yang engkau harapkan Allah menerima amalnya. Tidak masalah engkau menunjuk orang baik yang dikenal dengan kebaikannya untuk berhaji atas nama ayahmu yang telah meninggal.”

[Sumber: situs resmi Abdul Aziz bin Baz rahimahullah].

====***===

WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG HIDUP YANG PERMANEN TIDAK MAMPU?

Ada dua pendapat:

Pendapat pertama: wajib

Pendapat kedua : tidak wajib.

****

PENDAPAT PERTAMA:

Wajib bagi orang yang tidak mampu karena usia lanjut atau penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya untuk menunjuk orang yang menghajikannya apabila ia memiliki harta.

Ini merupakan madzhab Syafi‘iyyah dan Hanabilah, juga merupakan salah satu riwayat dari Abu Hanifah, pendapat dua murid beliau, serta pendapat sekelompok ulama salaf. Pendapat ini dipilih oleh Al-Kamāl Ibnu Al-Humām, Ibnu Hazm, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin.

Disyaratkan bahwa udzur tersebut bersifat terus-menerus, seperti pikun karena usia tua atau penyakit kronis.

Maka orang sakit yang masih diharapkan sembuh tidak termasuk, demikian pula orang gila karena masih diharapkan sadar kembali, orang yang dipenjara karena masih diharapkan bebas, dan orang fakir karena masih mungkin menjadi mampu.

["Asy-Syar Al-Kabīr" karya Syamsuddin Ibnu Qudamah "3/179". "Fatul Bārī" karya Ibnu Hajar "4/70"].

Di antara yang berpendapat demikian adalah Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan Al-Bashri, Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan para pengikutnya, Ibnu Al-Mubarak, Ahmad, dan Ishaq.

["Al-Majmū’" karya An-Nawawi "7/100", "Tafsīr Al-Qurubī" "4/151" dan "Fat Al-Qadīr" karya Al-Kamāl Ibnu Al-Humām "2/416"].

[Referensi lainnya: "Al-Majmū’" karya An-Nawawi "7/94", "Mughnī Al-Mutāj" karya Asy-Syarbini "1/469". "Syar Muntahā Al-Irādāt" karya Al-Buhuti "1/519". Lihat juga: "Al-Mughnī" karya Ibnu Qudamah "3/222", "Asy-Syar Al-Mumti‘" karya Ibnu Utsaimin "7/31". "Al-Mabsūṭ" karya As-Sarakhsi "4/275". "Tabyīn Al-aqā’iq" dan "Ḥāsyiyah Asy-Syalabī" "2/85", "Fat Al-Qadīr" karya Al-Kamāl Ibnu Al-Humām "2/416"].

Syeikh Bin Baz berkata:

« الْعَاجِزُ لِكِبَرِ سِنٍّ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ؛ فَإِنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُنِيبَ مَنْ يُؤَدِّي عَنْهُ الْحَجَّ الْمَفْرُوضَ وَالْعُمْرَةَ الْمَفْرُوضَةَ، إِذَا كَانَ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ بِمَالِهِ؛ لِعُمُومِ قَوْلِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾ آلُ عِمْرَانَ: ٩٧.

“Orang yang tidak mampu karena usia lanjut atau penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka wajib baginya untuk mewakilkan orang yang menunaikan haji wajib dan umrah wajib atas namanya apabila ia mampu secara finansial. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā: ‘Dan wajib bagi manusia terhadap Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.’” "Ali ‘Imran: 97". "Majmū’ Fatāwā Ibni Bāz" "16/122".

Ibnu Utsaimin berkata:

«إِنْ كَانَ الْإِنْسَانُ قَادِرًا بِمَالِهِ دُونَ بَدَنِهِ، فَإِنَّهُ يُنِيبُ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ؛ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً خَثْعَمِيَّةً سَأَلَتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبِي أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَفِي قَوْلِهَا: أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، وَإِقْرَارِ النَّبِيِّ ﷺ ذَلِكَ؛ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ قَادِرًا بِمَالِهِ دُونَ بَدَنِهِ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقِيمَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ ».

“Apabila seseorang mampu dengan hartanya tetapi tidak mampu dengan badannya, maka ia boleh mewakilkan orang yang menghajikannya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang wanita dari Khats‘am bertanya kepada Nabi :

‘Wahai Rasulullah, kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya telah menimpa ayahku dalam keadaan ia seorang tua renta yang tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?’

Beliau menjawab: ‘Ya.’ Peristiwa itu terjadi pada Haji Wada‘.

Dalam ucapannya: ‘Kewajiban haji dari Allah telah menimpa ayahku,’ dan persetujuan Nabi terhadap ucapan tersebut terdapat dalil bahwa orang yang mampu dengan hartanya namun tidak mampu dengan badannya, wajib baginya menunjuk orang yang menghajikannya.” [Majmū’ Fatāwā wa Rasā’il Al-‘Utsaimīn "21/15"].

*****

PENDAPAT KEDUA :

Tidak wajib adanya badal haji jika ia sendiri tidak mampu melaksanakannya secara langsung. Ini adalah pendapat Malik bin Anas dan Abu Hanifah.

Ibnu Rusyd al-Maliki dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/84-86 telah menjelaskan dengan sangat baik perbedaan pendapat tentang hukum wajibnya badal haji dalam masalah ini dan asal-usulnya. Dia berkata:

وَأَمَّا وُجُوبُهُ بِاسْتِطَاعَةِ النِّيَابَةِ مَعَ الْعَجْزِ عَنِ الْمُبَاشَرَةِ: فَعِنْدَ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنْ لَا تَلْزَمَهُ النِّيَابَةُ إِذَا اسْتُطِيعَتْ مَعَ الْعَجْزِ عَنِ الْمُبَاشَرَةِ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا تَلْزَمُ، فَيَلْزَمُ عَلَى مَذْهَبِهِ الَّذِي عِنْدَهُ مَالٌ يَقْدِرُ أَنْ يُحَجَّ بِهِ عَنْهُ غَيْرُهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ هُوَ بِبَدَنِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ غَيْرُهُ بِمَالِهِ، وَإِنْ وَجَدَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ بِمَالِهِ وَبَدَنِهِ مِنْ أَخٍ أَوْ قَرِيبٍ سَقَطَ ذَلِكَ عَنْهُ، وَهِيَ الَّتِي يَعْرِفُونَهَا بِالْمَعْضُوبِ - وَهُوَ الَّذِي لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ.

وَكَذَلِكَ عِنْدَهُ الَّذِي يَأْتِيهِ الْمَوْتُ وَلَمْ يَحُجَّ يَلْزَمُ وَرَثَتَهُ أَنْ يُخْرِجُوا مِنْ مَالِهِ مَا يُحَجُّ بِهِ عَنْهُ.

وَسَبَبُ الْخِلَافِ فِي هَذَا: مُعَارَضَةُ الْقِيَاسِ لِلْأَثَرِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْقِيَاسَ يَقْتَضِي أَنَّ الْعِبَادَاتِ لَا يَنْوبُ فِيهَا أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، فَإِنَّهُ لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ بِاتِّفَاقٍ، وَلَا يُزَكِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ.

وَأَمَّا الْأَثَرُ الْمُعَارِضُ لِهَذَا، فَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ الْمَشْهُورُ، خَرَّجَهُ الشَّيْخَانِ، وَفِيهِ: «أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ» وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَهَذَا فِي الْحَيِّ.

وَأَمَّا فِي الْمَيِّتِ فَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَيْضًا خَرَّجَهُ الْبُخَارِيُّ، قَالَ: «جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ جُهَيْنَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي نَذَرَتِ الْحَجَّ فَمَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ دَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ».

وَلَا خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ يَقَعُ عَنْ الْغَيْرِ تَطَوُّعًا، وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي وُقُوعِهِ فَرْضًا.

Adapun tentang kewajiban haji dengan kemampuan melalui BADAL ketika seseorang tidak mampu melaksanakannya secara langsung, maka menurut Imam Malik dan Abu Hanifah, seseorang tidak wajib di-badal-kan hajinya jika ia mampu dari sisi biaya tetapi tidak mampu melaksanakannya sendiri secara fisik.

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, hal itu wajib. Maka menurut Madzhab beliau, seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk membiayai orang lain berhaji atas namanya, sementara dirinya tidak mampu berhaji secara fisik, maka wajib dibadalkan oleh orang lain untuk menghajikan-nya dengan hartanya. Namun apabila ada saudara atau kerabat yang bersedia menghajikannya dengan tenaga dan biaya mereka sendiri, maka gugurlah kewajiban tersebut darinya. Orang seperti ini dikenal dengan istilah “al-ma’dhub”, yaitu orang yang tidak mampu bertahan di atas kendaraan karena kelemahan fisiknya.

Demikian pula menurut beliau, seseorang yang meninggal dunia sebelum menunaikan haji, maka ahli warisnya wajib mengeluarkan biaya dari hartanya untuk menghajikannya.

Penyebab perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah adanya pertentangan antara qiyas dengan atsar (dalil hadits).

Qiyas menghendaki bahwa ibadah tidak dapat diwakilkan oleh seseorang kepada orang lain. Sebab tidak ada seorang pun yang boleh shalat menggantikan orang lain berdasarkan kesepakatan ulama, dan tidak pula seseorang membayar zakat atas nama orang lain.

Adapun atsar yang bertentangan dengan qiyas tersebut adalah hadits Ibnu Abbas yang masyhur, yang diriwayatkan oleh dua imam hadits, Al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits itu disebutkan:

«أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ».

“Seorang wanita dari Khats’am berkata kepada Rasulullah : ‘Wahai Rasulullah , kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’”

Peristiwa ini terjadi pada Haji Wada’.

Ini adalah dalil tentang badal haji untuk orang yang masih hidup.

Sedangkan tentang orang yang telah meninggal, maka terdapat pula hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

«جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ جُهَيْنَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي نَذَرَتِ الْحَجَّ فَمَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ دَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ».

“Seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah , ibuku bernazar untuk berhaji, namun ia meninggal sebelum berhaji. Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau bersabda: ‘Hajikanlah dia. Bagaimana pendapatmu jika ia memiliki hutang, apakah engkau akan melunasinya? Hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.’”

Dan tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin bahwa badal haji boleh dilakukan untuk orang lain sebagai bentuk ibadah sukarela (tathawwu’), sedangkan yang menjadi perbedaan pendapat adalah apakah hal itu dapat terjadi dalam bentuk kewajiban (fardhu)”. (Selesai)

[Dikutip Pula Oleh al-Mubarokfury dalam Mir’atul Mafaatih 8/321]

===

TANGGAPAN MADZHAB MALIKIYAH TERHADAP HADITS KHOTS’AMIYAH DIATAS

Di antara jawaban ulama Malikiyyah terhadap hadis Khats’amiyyah dan Juhainiyyah adalah apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam *Al-Mufhim* (3/443), beliau berkata:

وَإِنَّمَا قَالَ لَهَا ذَلِكَ - يُرِيدُ أَمْرَ النَّبِيِّ ﷺ الْخَثْعَمِيَّةَ بِالْحَجِّ عَنْ أَبِيهَا - لِمَا رَأَى مِنْ حِرْصِهَا عَلَى إِيصَالِ الْخَيْرِ وَالثَّوَابِ لِأَبِيهَا، فَأَجَابَهَا إِلَى ذَلِكَ، كَمَا قَالَ لِلْأُخْرَى (امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ) الَّتِي قَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ فَقَالَ: حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ عَنْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ.

فَفِي هَذَا مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ مِنْ بَابِ التَّطَوُّعَاتِ، وَإِيصَالِ الْخَيْرِ وَالْبِرِّ لِلْأَمْوَاتِ، أَلَا تَرَى أَنَّهُ قَدْ شَبَّهَ فِعْلَ الْحَجِّ بِالدَّيْنِ! وَبِالْإِجْمَاعِ: لَوْ مَاتَ مَيِّتٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ لَمْ يَجِبْ عَلَى وَلِيِّهِ قَضَاؤُهُ مِنْ مَالِهِ، فَإِنْ تَطَوَّعَ بِذَلِكَ تَأَدَّى الدَّيْنُ عَنْهُ. وَانْتَهَى.

“Sesungguhnya Nabi memerintahkan hal itu -maksudnya perintah Nabi kepada wanita Khats’am untuk menghajikan ayahnya yang sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan- karena beliau melihat semangatnya dalam menyampaikan kebaikan dan pahala kepada ayahnya, maka beliau mengabulkannya. Sebagaimana beliau juga menjawab wanita lain (Seorang wanita dari Juhaynah) yang berkata:

‘Sesungguhnya ibuku bernazar untuk berhaji, tetapi belum sempat berhaji hingga meninggal, apakah aku boleh menghajikannya?’

Maka beliau bersabda: ‘Hajikanlah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan melunasinya?’. Ia menjawab: ‘Ya.’”

Dalam hal ini terdapat petunjuk bahwa masalah ini termasuk dalam “بَابِ التَّطَوُّعَاتِ” (ibadah sunnah), dan bentuk menyampaikan kebaikan serta bakti kepada orang yang telah meninggal. Tidakkah engkau melihat bahwa beliau menyerupakan haji dengan hutang! Dan berdasarkan ijma’, jika seseorang meninggal dan memiliki hutang, maka walinya tidak wajib melunasinya dari hartanya sendiri; namun jika ia menunaikannya secara sukarela, maka hutang itu tertunaikan darinya. (Selesai).

------

JAWABAN terhadap TANGGAPAN DIATAS:

Memang benar Imam Malik bin Anas tidak menyebutkan hadis Juhainiyyah dalam *Al-Muwaththa’*, dan tidak ditemukan adanya penilaian lemah (tadh‘if) terhadap hadis tersebut darinya.

Namun Tidak adanya penyebutan dalam *Al-Muwaththa’* dan tidak adanya pengamalan terhadapnya, tidak berarti bahwa beliau melemahkan hadis itu. Sebab beliau juga menyebutkan hadis Khats’amiyyah dalam *Al-Muwaththa’*, namun beliau tidak mengamalkannya, karena beliau memahaminya sebagai kasus khusus bagi ayah wanita tersebut—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdul Barr dalam *At-Tamhid*.

Secara keseluruhan, madzhab jumhur ulama dalam mewajibkan haji atas orang hidup yang sudah tidak mampu secara permanen dan orang yang telah meninggal yang belum menunaikan haji adalah lebih kuat dan lebih rajih dari sisi dalil.

Adapun para ulama besar umat yang tidak mengambil konsekuensi dari hadis ini, maka sudah pasti mereka memiliki udzur (alasan yang dapat diterima). Karena tidak seorang pun dari ulama umat yang dikenal adil dan amanah sengaja menyelisihi hadis sahih kecuali karena suatu alasan, seperti keyakinan bahwa hadis tersebut lemah, atau dianggap khusus, atau telah di-nasakh, atau ditakwil dengan makna yang tidak zahir, dan alasan-alasan lain yang telah dijelaskan para ulama.

Silakan merujuk kitab *Raf‘u al-Malam ‘an al-Aimmah al-A‘lam* karya Ibnu Taymiyyah rahimahullah.

Wallahu a‘lam.

====****====

SYARAT-SYARAT BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP

[1]. Orang yang dibadali sudah tidak mampu menunaikan haji wajib sendiri

Para ulama kaum muslimin bersepakat bahwa tidak boleh orang yang mampu berhaji mewakilkan hajinya kepada orang lain dalam haji wajib. Sebab Nabi hanya memberikan keringanan untuk menghajikan orang yang tidak mampu dan orang yang sudah meninggal, dan tidak memberi keringanan bagi orang yang mampu. Tidak boleh pula diqiyaskan karena adanya perbedaan antara keduanya. Kalau tetap dilakukan, maka tidak sah.

[Al-Ijma’, karya Ibnu Al-Mundzir, Maktabah Makkah Ats-Tsaqafiyyah, hlm. 67; An-Niyabah fil Hajj, karya Basim Qadhi, hlm. 47]

[2]. Adanya izin dari orang yang diwakili apabila masih hidup

Para ulama yang membolehkan badal haji bagi orang hidup menurut pendapat mu’tamad mereka sepakat bahwa tidak boleh menghajikannya kecuali dengan izinnya. Karena haji adalah ibadah yang dapat diwakilkan, maka tidak boleh dilakukan tanpa izinnya.

[Fathul Qadir, karya Ibnu Al-Humam, Dār Ihyā’ At-Turats Al-‘Arabi, 2/326; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/93; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]

[3]. Berniat untuk orang yang dihajikan ketika ihram

Disyaratkan dalam badal haji agar orang yang mewakili berniat haji untuk orang yang diwakili ketika ihram. Karena ia berhaji bukan untuk dirinya sendiri, maka harus ada niat tersebut. Yang lebih utama adalah mengucapkan dengan lisannya: “Labbaika ‘an fulan (aku memenuhi panggilan-Mu untuk fulan).” Sebagaimana ketika ia berhaji untuk dirinya sendiri. Dan cukup apabila ia berniat untuk orang yang mewakilkan meskipun tidak menyebut namanya secara lisan.

[Badā’i‘ Ash-Shanā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2/213; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/100]

[4]. Orang yang mewakili sudah berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu

Madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa orang yang belum menunaikan haji Islam tidak boleh menghajikan orang lain. Jika ia melakukannya, maka ihramnya terhitung sebagai haji Islam untuk dirinya sendiri.

[Al-Majmū, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/117; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/42]

Dalil mereka adalah hadits Abdullah bin Abbas:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: «لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ»، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» قَالَ: أَخٌ لِي - أَوْ قَرِيبٌ لِي - قَالَ: «حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».

Bahwa Nabi mendengar seorang lelaki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah.”

Beliau bertanya: “Siapakah Syubrumah?”. Ia menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.”

Beliau bertanya: “Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab: “Belum.”

Beliau bersabda: “Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” [Sunan Abi Dawud no. 1811]

Adapun madzhab Hanafiyyah berpendapat bahwa badal haji tetap sah, baik orang yang mewakili sudah berhaji untuk dirinya sendiri maupun belum. Akan tetapi yang lebih utama adalah ia sudah berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Orang seperti ini disebut dengan “hajj ash-sharurah (حَجُّ الصَّرُورَةِ)”.

[Badā’i‘ Ash-Shonā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2/213]

====***====

SYARAT-SYARAT YANG HARUS ADA PADA WAKIL (PELAKU BADAL HAJI)

Syarat-syarat bagi wakil (yang membadalkan haji)

[1] Hendaknya orang yang ingin mewakilkan haji memilih orang yang akan menjadi wakilnya dari kalangan orang-orang yang memiliki agama dan amanah, agar ia merasa tenang bahwa wakil tersebut benar-benar menunaikan kewajiban dengan baik.

Lihat: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (kelompok pertama), 11/53.

[2] Wakil tersebut harus sudah pernah menunaikan haji fardhu untuk dirinya sendiri

Disyaratkan bagi wakil bahwa ia telah menunaikan haji Islam (haji wajib) untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika belum, maka haji yang ia lakukan akan jatuh untuk dirinya sendiri dan tidak sah sebagai pengganti bagi orang yang diwakilinya.

Ini adalah madzhab Muhammad bin Idris asy-Syafi'i dan madzhab Ahmad bin Hanbal, juga merupakan pendapat sekelompok ulama salaf. Pendapat ini dipilih oleh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, dan menjadi fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah.

Lihat:  Al-Majmu’ karya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (7/117), Al-Hawi Al-Kabir karya Ali bin Muhammad al-Mawardi (4/20–21), Al-Mubdi’ Syarh Al-Muqni’ karya Ibnu Muflih (3/43) dan Syarh Muntaha Al-Iradat karya Mansur al-Buhuti (1/520).

Di antara ulama salaf yang berpendapat demikian adalah Abdullah bin Abbas, Al-Auza'i, dan Ishaq bin Rahuyah.

Lihat: Al-Hawi Al-Kabir (4/21), dan Al-Majmu’ (7/118).

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata:

«فَتَحَصَّلَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ: أَنَّ الْحَدِيثَ صَالِحٌ لِلِاحْتِجَاجِ، وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ النَّائِبَ فِي الْحَجِّ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ».

“Maka kesimpulan dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa hadits tersebut layak dijadikan hujjah. Di dalamnya terdapat dalil bahwa seorang wakil dalam haji harus sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri.”

Beliau juga berkata:

«الْأَظْهَرُ تَقْدِيمُ الْحَدِيثِ الْخَاصِّ الَّذِي فِيهِ قِصَّةُ شُبْرُمَةَ؛ لِأَنَّهُ لَا يَتَعَارَضُ عَامٌّ وَخَاصٌّ، فَلَا يَحُجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ حَتَّى يَحُجَّ عَنْ نَفْسِهِ حَجَّةَ الْإِسْلَامِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى».

“Yang lebih kuat adalah mendahulukan hadits khusus yang berisi kisah Syubrumah, karena dalil umum dan dalil khusus tidak saling bertentangan. Maka tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sampai ia terlebih dahulu menunaikan haji Islam untuk dirinya sendiri. Dan ilmu itu di sisi Allah Ta’ala.” [Awa’ Al-Bayan, 4/329]

[Lihat juga: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (kelompok pertama), 11/50].

DALIL – DALIL:

Dalil Pertama: dari sunnah:

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma:

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَرِيبٌ لِي. قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».

bahwa Nabi mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah).”

Beliau bertanya: “Siapakah Syubrumah?” Laki-laki itu menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.”

Beliau kembali bertanya: “Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab: “Belum.”

Maka Nabi bersabda: “Hajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”

Dalam sebagian lafaz hadits disebutkan:

«هَذِهِ عَنْكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».

“Ini untukmu terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (1811), Ibnu Majah (2903), dan Al-Baihaqi (8936)].

Hadits ini dishahihkan oleh Ad-Daraquthni dalam As-Sunan (2/517). Al-Baihaqi juga menshahihkan sanadnya dan berkata: “Tidak ada hadits dalam bab ini yang lebih shahih darinya.”

Demikian pula hadits ini dishahihkan oleh Al-Jurqani dalam Al-Abathil wal Manakir (2/138).

Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (7/117), dan Ibnu al-Mulaqqin berkata dalam Khulashah Al-Badr Al-Munir (1/345): “Sanadnya sesuai syarat Muslim bin al-Hajjaj.”

Adapun Ibnu Katsir berkata dalam Irsyad Al-Faqih (1/307): “Yang benar, hadits ini mauquf pada Abdullah bin Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh para huffazh.”

Dan hadits ini juga dishahihkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah (2/136).

Dalil Kedua:

Tinjauan syariat menunjukkan bahwa seseorang harus mendahulukan dirinya sendiri sebelum orang lain. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi :

«ابْدَأْ بِنَفْسِكَ»

“Mulailah dari dirimu sendiri.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj no. 997 dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.

Karena itu, diri seseorang lebih berhak untuk didahulukan daripada orang lain.

[Lihat: Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin (7/32)].

Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85 menjelaskan tentang perbedaan pendapat masalah ini:

وَاخْتَلَفُوا مِنْ هَذَا الْبَابِ فِي الَّذِي يَحُجُّ عَنْ غَيْرِهِ سَوَاءٌ كَانَ حَيًّا أَوْ مَيِّتًا: هَلْ مِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ أَمْ لَا؟ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ مِنْ شَرْطِهِ، وَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّى الْفَرْضَ عَنْ نَفْسِهِ فَذَلِكَ أَفْضَلُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ فِيمَنْ يَحُجُّ عَنْ الْمَيِّتِ، لِأَنَّ الْحَجَّ عِنْدَهُ عَنْ الْحَيِّ لَا يَقَعُ. وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّ مِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ قَدْ قَضَى فَرِيضَةَ نَفْسِهِ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّهُ إِنْ حَجَّ عَنْ غَيْرِهِ مَنْ لَمْ يَقْضِ فَرْضَ نَفْسِهِ انْقَلَبَ إِلَى فَرْضِ نَفْسِهِ، وَعُمْدَةُ هَؤُلَاءِ حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: وَمَنْ شُبْرُمَةُ؟ فَقَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَالَ: قَرِيبٌ لِي، قَالَ: أَفَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ». وَالطَّائِفَةُ الْأُولَى عَلَّلَتْ هَذَا الْحَدِيثَ بِأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ.

Mereka juga berselisih dalam masalah orang yang menghajikan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal:

Apakah disyaratkan bahwa orang tersebut sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri atau tidak?

Sebagian ulama berpendapat: bahwa itu bukan syarat, meskipun apabila ia sudah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri maka itu lebih baik. Ini adalah pendapat Imam Malik dalam masalah menghajikan orang yang telah meninggal, karena menurut beliau haji atas nama orang hidup tidak sah.

Sebagian ulama lain berpendapat: bahwa syaratnya adalah orang tersebut harus sudah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan selain beliau.

Menurut mereka, apabila seseorang yang belum berhaji untuk dirinya sendiri lalu berhaji atas nama orang lain, maka hajinya otomatis terhitung untuk dirinya sendiri.

Dalil mereka adalah hadits Ibnu Abbas:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: وَمَنْ شُبْرُمَةُ؟ فَقَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَالَ: قَرِيبٌ لِي، قَالَ: أَفَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».

“Nabi mendengar seseorang berkata: ‘Labbaik atas nama Syubrumah.’

Beliau bertanya: ‘Siapakah Syubrumah?’ Ia menjawab: ‘Saudaraku’ atau ‘kerabatku.’

Beliau bertanya: ‘Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?’ Ia menjawab: ‘Belum.’

Beliau bersabda: ‘Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.’”

Golongan pertama menilai hadits ini dengan alasan bahwa hadits tersebut juga diriwayatkan secara mauquf sampai kepada Ibnu Abbas saja”. [Selesai]

====***====

HUKUM WANITA MELAKUKAN BADAL HAJI UNTUK PRIA

Boleh melakukan badal haji, baik yang melakukan badalnya laki-laki maupun perempuan.

Hal ini disepakati oleh empat madzhab fikih, yaitu madzhab Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal. Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama, bahkan dinukil adanya ijma’ dalam masalah ini.

[Lihat: Al-Fatawa Al-Hindiyyah (1/257), Bada’i Ash-Shana’i karya Al-Kasani (2/213) dan An-Nutaf fil Fatawa karya As-Sughdi (1/215)].

Adapun dalam madzhab Hanafi disebutkan bahwa dimakruhkan wanita menghajikan laki-laki.

[Lihat: Mawahib Al-Jalil karya Al-Haththab (4/8), dan Al-Mudawwanah karya Sahnun (1/486). Lihat pula: Al-Umm karya Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (2/135) dan Al-Bayan karya Al-Umrani (4/52)].

Ibnu Qudamah berkata:

«يَجُوزُ أَنْ يَنُوبَ الرَّجُلُ عَنِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةُ عَنِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، فِي الْحَجِّ، فِي قَوْلِ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ. لَا نَعْلَمُ فِيهِ مُخَالِفًا، إِلَّا الْحَسَنَ بْنَ صَالِحٍ، فَإِنَّهُ كَرِهَ حَجَّ الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ.

قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: هَذِهِ غَفْلَةٌ عَنْ ظَاهِرِ السُّنَّةِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ الْمَرْأَةَ أَنْ تَحُجَّ عَنْ أَبِيهَا، وَعَلَيْهِ؛ يَعْتَمِدُ مَنْ أَجَازَ حَجَّ الْمَرْءِ عَنْ غَيْرِهِ، وَفِي الْبَابِ حَدِيثُ أَبِي رَزِينٍ، وَأَحَادِيثُ سِوَاهُ»

“Boleh seorang laki-laki menjadi wakil bagi laki-laki maupun perempuan, dan perempuan menjadi wakil bagi laki-laki maupun perempuan dalam haji. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Kami tidak mengetahui adanya yang menyelisihi hal ini kecuali Al-Hasan bin Sholeh, karena beliau memakruhkan wanita menghajikan laki-laki.

Ibnu al-Mundzir berkata: ‘Ini merupakan kelalaian dari memahami zahir sunnah, karena Nabi telah memerintahkan seorang wanita untuk menghajikan ayahnya. Inilah yang menjadi sandaran bagi ulama yang membolehkan seseorang menghajikan orang lain. Dalam bab ini juga terdapat hadits Abu Razin al-Uqaili dan hadits-hadits lainnya.’” (Al-Mughni, 3/226)

Ibnu Taimiyah berkata:

«يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَحُجَّ عَنْ امْرَأَةٍ أُخْرَى بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِنْتَهَا أَوْ غَيْرَ بِنْتِهَا، وَكَذَلِكَ يَجُوزُ أَنْ تَحُجَّ الْمَرْأَةُ عَنِ الرَّجُلِ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَجُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ»

“Boleh bagi seorang wanita menghajikan wanita lain menurut kesepakatan ulama, baik wanita itu anaknya maupun bukan. Demikian pula, wanita boleh menghajikan laki-laki menurut empat imam madzhab dan mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 26/13)

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata:

«دَلَّتِ الْأَحَادِيثُ الْمَذْكُورَةُ عَلَى جَوَازِ حَجِّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ وَعَكْسِهِ، وَعَلَيْهِ عَامَّةُ الْعُلَمَاءِ، وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا الْحَسَنُ بْنُ صَالِحِ بْنِ حَيٍّ، وَالْأَحَادِيثُ الْمَذْكُورَةُ حُجَّةٌ عَلَيْهِ»

“Hadits-hadits yang telah disebutkan menunjukkan bolehnya laki-laki menghajikan perempuan dan sebaliknya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak ada yang menyelisihi dalam hal ini selain Al-Hasan bin Sholeh, dan hadits-hadits tersebut merupakan hujjah yang membantah pendapatnya.” (Awa’ Al-Bayan, 4/327)

Ibnu Baththal berkata:

«وَلَا خِلَافَ فِي حَجِّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ، إِلَّا الْحَسَنَ ابْنَ صَالِحٍ» «شَرْحُ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ» «4/525».

“Tidak ada perselisihan tentang bolehnya laki-laki menghajikan perempuan dan perempuan menghajikan laki-laki, kecuali Al-Hasan bin Sholeh.” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 4/525)

Ibnu al-Mundzir berkata:

«وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ حَجَّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ: يُجْزِئُ، وَانْفَرَدَ الْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ: فَكَرِهَ ذَلِكَ»

“Para ulama bersepakat bahwa laki-laki menghajikan perempuan dan perempuan menghajikan laki-laki adalah sah. Hanya Al-Hasan bin Sholeh yang menyendiri dengan memakruhkannya.” (Al-Ijma’, hlm. 60)

Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata:

«اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ حَجِّ الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ إِلَّا الْحَسَنَ بْنَ صَالِحٍ فَمَنَعَهُ، وَكَذَا يَمْنَعُهُ مَنْ مَنَعَ أَصْلَ الِاسْتِنَابَةِ مُطْلَقًا».

“Para ulama sepakat tentang bolehnya wanita menghajikan laki-laki, kecuali Al-Hasan bin Sholeh yang melarangnya. Demikian pula orang yang menolak konsep perwakilan dalam haji secara mutlak.” (Syarh Shahih Muslim, 9/98)

Dalil dari sunnah:

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi , bahwa ada seorang wanita dari kabilah Khats’am datang kepada beliau untuk meminta fatwa. Ia berkata:

«أَنَّهُ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمٍ تَسْتَفْتِيهِ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ؛ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ».

“Wahai Rasulullah , sesungguhnya kewajiban haji yang Allah tetapkan atas para hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?”

Beliau menjawab: “Ya.”

[Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari no. 1513 dan Sahih Muslim no. 1334, dan lafaz ini milik Muslim].

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

«هَذِهِ أَخْبَارٌ مُتَظَاهِرَةٌ مُتَوَاتِرَةٌ مِنْ طُرُقٍ صِحَاحٍ، عَنْ خَمْسَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: الْفَضْلِ، وَعَبْدِ اللهِ، وَعُبَيْدِ اللهِ بْنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَابْنِ الزُّبَيْرِ، وَأَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ».

“Ini adalah riwayat-riwayat yang saling menguatkan dan mencapai derajat mutawatir, melalui jalur-jalur sanad yang shahih, dari lima orang sahabat radhiyallahu 'anhum: Al-Fadhl, Abdullah, Ubaidullah bin Al-Abbas bin Abdul Muththalib, Ibnu Az-Zubair, dan Abu Razin Al-‘Uqaili.” [al-Muhallah 7/57].

Sisi pendalilan: Bahwa Nabi memberikan izin kepada seorang wanita untuk menghajikan ayahnya, padahal ihram laki-laki lebih sempurna daripada ihram wanita.

===***===

HUKUM UPAH JASA BADAL HAJI DAN UMROH

Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85 menjelaskan:

وَاخْتَلَفُوا مِنْ هَذَا الْبَابِ فِي الرَّجُلِ يُؤَاجِرُ نَفْسَهُ فِي الْحَجِّ، فَكَرِهَ ذَلِكَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ، وَقَالَا: إِنْ وَقَعَ ذَلِكَ جَازَ، وَلَمْ يُجِزْ ذَلِكَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَعُمْدَتُهُ أَنَّهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فَلَا تَجُوزُ الْإِجَارَةُ عَلَيْهِ، وَعُمْدَةُ الطَّائِفَةِ الْأُولَى إِجْمَاعُهُمْ عَلَى جَوَازِ الْإِجَارَةِ فِي كُتُبِ الْمَصَاحِفِ وَبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ، وَهِيَ قُرْبَةٌ.

وَالْإِجَارَةُ فِي الْحَجِّ عِنْدَ مَالِكٍ نَوْعَانِ:

أَحَدُهُمَا: الَّذِي يُسَمِّيهِ أَصْحَابُهُ عَلَى الْبَلَاغِ، وَهُوَ أَنْ يُؤَاجِرَ نَفْسَهُ عَلَى مَا يُبَلِّغُهُ مِنَ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ، فَإِنْ نَقَصَ مَا أَخَذَهُ عَنِ الْبَلَاغِ وَفَّاهُ مَا يُبَلِّغُهُ، وَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذَلِكَ شَيْءٌ رَدَّهُ.

وَالثَّانِي: عَلَى سُنَّةِ الْإِجَارَةِ، وَإِنْ نَقَصَ شَيْءٌ وَفَّاهُ مِنْ عِنْدِهِ، وَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلَهُ.

Mereka para ulama juga berselisih dalam masalah seseorang menyewakan dirinya untuk melaksanakan haji.

Imam Malik dan Imam Syafi’i memakruhkan hal itu, namun apabila dilakukan maka sah. Sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya sama sekali.

Dalil Abu Hanifah adalah karena haji merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah , sehingga tidak boleh mengambil upah darinya.

Sedangkan dalil kelompok pertama adalah ijma’ ulama tentang bolehnya mengambil upah dalam penulisan mushaf dan pembangunan masjid, padahal keduanya juga termasuk ibadah pendekatan diri kepada Allah.

Menurut Imam Malik, akad upah dalam haji ada dua macam:

Pertama, yang disebut oleh para pengikut Madzhabnya dengan “ala al-balagh”, yaitu seseorang menyewakan dirinya berdasarkan biaya yang cukup untuk bekal dan kendaraan. Jika biaya yang diberikan kurang, maka kekurangannya dilengkapi. Dan jika ada sisa, maka sisanya dikembalikan.

Kedua, akad sewa biasa. Jika biaya kurang maka ia menanggung sendiri kekurangannya, dan jika ada sisa maka itu menjadi haknya. [SELESAI KUTIPAN DARI IBNU RUSYD]

===**===

ATURAN DAN KETENTUAN DALAM BADAL HAJI

Banyak orang bermudah-mudahan dalam masalah badal haji, padahal badal haji memiliki ketentuan, syarat, dan hukum-hukum tertentu. Berikut beberapa hal yang mudah untuk disebutkan, semoga Allah memberi manfaat dengannya:

KE 1].

Badal haji tidak sah untuk haji Islam bagi orang yang mampu menunaikan haji dengan badannya sendiri.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

«لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَنِيبَ فِي الْحَجِّ الْوَاجِبِ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى الْحَجِّ بِنَفْسِهِ إِجْمَاعًا، قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ مَنْ عَلَيْهِ حَجَّةُ الْإِسْلَامِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَحُجَّ لَا يُجْزِئُ عَنْهُ أَنْ يَحُجَّ غَيْرُهُ عَنْهُ». انْتَهَى.

“Tidak boleh mewakilkan haji wajib kepada orang lain bagi orang yang mampu berhaji sendiri, berdasarkan ijma’. Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Para ulama sepakat bahwa orang yang wajib menunaikan haji Islam dan mampu melaksanakannya sendiri, maka tidak sah apabila orang lain menghajikannya.’” [Al-Mughni, 3/185]

KE 2].

Badal haji hanya berlaku bagi orang yang sakit dengan penyakit yang tidak diharapkan sembuhnya, atau orang yang tidak mampu secara fisik, atau orang yang telah meninggal. Tidak berlaku bagi orang miskin atau orang yang terhalang karena kondisi politik atau keamanan.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah pernah ditanya:

“Apakah boleh seorang muslim yang sudah menunaikan haji wajib menghajikan salah satu kerabatnya di negeri Cina karena kerabat tersebut tidak mampu datang untuk menunaikan haji?”

Mereka menjawab:

«يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ الَّذِي قَدْ أَدَّى حَجَّ الْفَرِيضَةِ عَنْ نَفْسِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ الْغَيْرُ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ بِنَفْسِهِ لِكِبَرِ سِنِّهِ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ أَوْ لِكَوْنِهِ مَيِّتًا؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ.

أَمَّا إِنْ كَانَ مَنْ يُرَادُ الْحَجُّ عَنْهُ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ لِأَمْرٍ عَارِضٍ يُرْجَى زَوَالُهُ، كَالْمَرَضِ الَّذِي يُرْجَى بُرْؤُهُ، وَكَالْعُذْرِ السِّيَاسِيِّ، وَكَعَدَمِ أَمْنِ الطَّرِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ لَا يُجْزِئُ الْحَجُّ عَنْهُ». انْتَهَى.

“Boleh bagi seorang muslim yang telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri menghajikan orang lain apabila orang tersebut tidak mampu berhaji sendiri karena usia lanjut, penyakit yang tidak diharapkan sembuhnya, atau karena telah meninggal dunia, berdasarkan hadits-hadits shahih yang menjelaskan hal itu.

Adapun apabila orang yang hendak dihajikan tidak mampu berhaji karena sebab sementara yang diharapkan hilang, seperti penyakit yang masih diharapkan sembuh, kendala politik, tidak amannya perjalanan, dan semisalnya, maka tidak sah menghajikannya.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, dan Abdullah bin Qu'ud. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/51]

KE [3].

Badal haji tidak berlaku bagi orang yang tidak mampu secara finansial, karena kewajiban haji gugur dari orang fakir. Badal haji hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu secara fisik.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah juga ditanya:

“Apakah boleh seseorang melakukan umrah atau haji untuk kerabatnya yang tinggal jauh dari Makkah dan tidak memiliki biaya untuk sampai ke sana, padahal ia mampu melakukan thawaf?”

Mereka menjawab:

«قَرِيبُكَ الْمَذْكُورُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحَجُّ مَا دَامَ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ مَالِيًّا، وَلَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ عَنْهُ فِي الْحَجِّ وَلَا فِي الْعُمْرَةِ؛ لِأَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَدَاءِ كُلٍّ مِنْهُمَا بِبَدَنِهِ لَوْ حَضَرَ بِنَفْسِهِ فِي الْمَشَاعِرِ، وَإِنَّمَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ فِيهِمَا عَنِ الْمَيِّتِ، وَالْعَاجِزِ عَنْ مُبَاشَرَةِ ذَلِكَ بِبَدَنِهِ». انْتَهَى.

“Kerabat yang disebutkan itu tidak wajib berhaji selama ia tidak mampu secara finansial. Dan tidak sah mewakilkan haji maupun umrah untuknya, karena sebenarnya ia mampu melaksanakan keduanya dengan badannya sendiri apabila ia hadir langsung di tempat-tempat manasik. Badal hanya sah untuk orang yang telah meninggal atau orang yang tidak mampu melaksanakannya secara fisik.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, dan Abdullah bin Ghudayyan. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/52]

KE [4].

Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain kecuali setelah ia berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika ia tetap melakukannya, maka hajinya terhitung untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«لَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ قَبْلَ حَجِّهِ عَنْ نَفْسِهِ، وَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ مَا رَوَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ عَنْ شُبْرُمَةَ». انْتَهَى.

“Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sebelum ia berhaji untuk dirinya sendiri. Dasar dalam masalah ini adalah riwayat dari Abdullah bin Abbas : bahwa Nabi mendengar seorang lelaki berkata: ‘Labbaika ‘an Syubrumah.’

Beliau bertanya: ‘Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?’

Ia menjawab: ‘Belum.’

Beliau bersabda: ‘Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk Syubrumah.’”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz dan Abdullah bin Ghudayyan. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/50]

Ke [5].

Wanita boleh menghajikan laki-laki, sebagaimana laki-laki juga boleh menghajikan wanita.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«وَالنِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ، إِذَا كَانَ النَّائِبُ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ، وَكَذَلِكَ الْحَالُ فِيمَا تَدْفَعُهُ لِلْمَرْأَةِ لِتَحُجَّ بِهِ عَنْ أُمِّكَ، فَإِنَّ نِيَابَةَ الْمَرْأَةِ فِي الْحَجِّ عَنِ الْمَرْأَةِ وَعَنِ الرَّجُلِ جَائِزَةٌ؛ لِوُرُودِ الْأَدِلَّةِ الثَّابِتَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي ذَلِكَ». انْتَهَى..

“Badal haji dibolehkan apabila orang yang mewakili telah berhaji untuk dirinya sendiri. Demikian pula harta yang diberikan kepada seorang wanita agar ia menghajikan ibumu, maka hal itu dibolehkan. Sebab wanita boleh menjadi wakil dalam haji untuk wanita maupun laki-laki, berdasarkan dalil-dalil shahih dari Rasulullah tentang hal tersebut.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/52]

KE [6].

Tidak boleh seseorang menghajikan dua orang atau lebih dalam satu ibadah haji. Akan tetapi, ia boleh melakukan umrah untuk dirinya sendiri — atau untuk orang lain — lalu berhaji untuk orang lain pada tahun yang sama.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«تَجُوزُ النِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ عَنِ الْمَيِّتِ، وَعَنِ الْمَوْجُودِ الَّذِي لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ، وَلَا يَجُوزُ لِلشَّخْصِ أَنْ يَحُجَّ مَرَّةً وَاحِدَةً وَيَجْعَلَهَا لِشَخْصَيْنِ، فَالْحَجُّ لَا يُجْزِئُ إِلَّا عَنْ وَاحِدٍ، وَكَذَلِكَ الْعُمْرَةُ، لَكِنْ لَوْ حَجَّ عَنْ شَخْصٍ وَاعْتَمَرَ عَنْ آخَرَ فِي سَنَةٍ وَاحِدَةٍ أَجْزَأَهُ إِذَا كَانَ الْحَاجُّ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ وَاعْتَمَرَ عَنْهَا». انْتَهَى.

“Badal haji dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dan untuk orang hidup yang tidak mampu berhaji. Tidak boleh seseorang berhaji satu kali lalu menjadikannya untuk dua orang, karena satu haji hanya sah untuk satu orang, demikian pula umrah.

Namun apabila seseorang berhaji untuk satu orang dan berumrah untuk orang lain dalam satu tahun, maka hal itu sah apabila orang yang menghajikan tersebut telah berhaji dan berumrah untuk dirinya sendiri sebelumnya.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah bin Qu'ud.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/58]

KE [7].

Tidak boleh seseorang menjadikan tujuan berhaji untuk orang lain semata-mata demi mengambil uang. Hendaknya tujuannya adalah berhaji, mendatangi tempat-tempat suci tersebut, dan berbuat baik kepada saudaranya dengan menghajikannya.

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

«النِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ جَاءَتْ بِهَا السُّنَّةُ؛ فَإِنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَأَلَتْهُ امْرَأَةٌ وَقَالَتْ: (إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ)، وَالِاسْتِنَابَةُ بِالْحَجِّ بِعِوَضٍ: إِنْ كَانَ الْإِنْسَانُ قَصْدُهُ الْعِوَضَ؛ فَقَدْ قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ حَجَّ لِيَأْكُلَ فَلَيْسَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ – أَيْ: نَصِيبٌ – وَأَمَّا مَنْ أَخَذَ لِيَحُجَّ: فَلَا بَأْسَ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِمَنْ أَخَذَ النِّيَابَةَ أَنْ يَنْوِيَ الِاسْتِعَانَةَ بِهَذَا الَّذِي أَخَذَ عَلَى الْحَجِّ، وَأَنْ يَنْوِيَ أَيْضًا قَضَاءَ حَاجَةِ صَاحِبِهِ؛ لِأَنَّ الَّذِي اسْتَنَابَهُ مُحْتَاجٌ، وَيَفْرَحُ إِذَا وَجَدَ أَحَدًا يَقُومُ مَقَامَهُ، فَيَنْوِي بِذَلِكَ أَنَّهُ أَحْسَنَ إِلَيْهِ فِي قَضَاءِ الْحَجِّ، وَتَكُونُ نِيَّتُهُ طَيِّبَةً». انْتَهَى.

“Badal haji telah ditetapkan oleh sunnah. Sesungguhnya seorang wanita pernah bertanya kepada Rasulullah dan berkata: ‘Sesungguhnya kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati ayahku sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’

Adapun menerima upah untuk badal haji, jika tujuan seseorang hanyalah upah tersebut, maka Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Barang siapa berhaji untuk mencari makan, maka ia tidak memiliki bagian di akhirat.’

Namun jika ia mengambil biaya agar dapat berhaji, maka tidak mengapa. Maka seharusnya orang yang menerima tugas badal haji berniat menjadikan biaya tersebut sebagai sarana untuk membantunya berhaji. Ia juga hendaknya berniat memenuhi kebutuhan saudaranya, karena orang yang meminta badal haji adalah orang yang membutuhkan, dan ia akan senang apabila ada orang yang menggantikannya. Maka hendaknya ia berniat berbuat ihsan kepadanya dengan melaksanakan haji tersebut, sehingga niatnya menjadi baik.” [Liqāāt Al-Bāb Al-Maftūh, 89/6]

Beliau juga berkata:

«وَإِنَّ مِنَ الْمُؤْسِفِ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ يَحُجُّونَ عَنْ غَيْرِهِمْ إِنَّمَا يَحُجُّونَ مِنْ أَجْلِ كَسْبِ الْمَالِ فَقَطْ، وَهَذَا حَرَامٌ عَلَيْهِمْ؛ فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ لَا يَجُوزُ لِلْعَبْدِ أَنْ يَقْصِدَ بِهَا الدُّنْيَا، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾، وَيَقُولُ تَعَالَى: ﴿فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾، فَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ عَبْدٍ عِبَادَةً لَا يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَهُ، وَلَقَدْ حَمَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَمَاكِنَ الْعِبَادَةِ مِنَ التَّكَسُّبِ لِلدُّنْيَا، فَقَالَ ﷺ: (إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقُولُوا: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ)، فَإِذَا كَانَ هَذَا فِيمَنْ جَعَلَ مَوْضِعَ الْعِبَادَةِ مَكَانًا لِلتَّكَسُّبِ يُدْعَى عَلَيْهِ أَنْ لَا يُرْبِحَ اللَّهُ تِجَارَتَهُ؛ فَكَيْفَ بِمَنْ جَعَلَ الْعِبَادَةَ نَفْسَهَا غَرَضًا لِلتَّكَسُّبِ الدُّنْيَوِيِّ كَأَنَّ الْحَجَّ سِلْعَةٌ، أَوْ عَمَلُ حِرْفَةٍ لِبِنَاءِ بَيْتٍ، أَوْ إِقَامَةِ جِدَارٍ؟ تَجِدُ الَّذِي تُعْرَضُ عَلَيْهِ النِّيَابَةُ يُكَاسِرُ وَيُمَاكِسُ: هَذِهِ دَرَاهِمُ قَلِيلَةٌ، هَذِهِ لَا تَكْفِي، زِدْ، أَنَا أَعْطَانِي فُلَانٌ كَذَا، أَوْ أُعْطِيَ فُلَانٌ حَجَّةً بِكَذَا، أَوْ نَحْوَ هَذَا الْكَلَامِ مِمَّا يُقَلِّبُ الْعِبَادَةَ إِلَى حِرْفَةٍ وَصِنَاعَةٍ، وَلِهَذَا صَرَّحَ فُقَهَاءُ الْحَنَابِلَةِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ بِأَنَّ تَأْجِيرَ الرَّجُلِ لِيَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ غَيْرُ صَحِيحٍ، وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ: مَنْ حَجَّ لِيَأْخُذَ الْمَالَ، فَلَيْسَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ، لَكِنْ إِذَا أَخَذَ النِّيَابَةَ لِغَرَضٍ دِينِيٍّ مِثْلَ أَنْ يَقْصِدَ نَفْعَ أَخِيهِ بِالْحَجِّ عَنْهُ، أَوْ يَقْصِدَ زِيَادَةَ الطَّاعَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ فِي الْمَشَاعِرِ: فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، وَهِيَ نِيَّةٌ سَلِيمَةٌ.

إِنَّ عَلَى الَّذِينَ يَأْخُذُونَ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ أَنْ يُخْلِصُوا النِّيَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى، وَأَنْ تَكُونَ نِيَّتُهُمْ قَضَاءَ وَطَرِهِمْ بِالتَّعَبُّدِ حَوْلَ بَيْتِ اللَّهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ، مَعَ قَضَاءِ حَاجَةِ إِخْوَانِهِمْ بِالْحَجِّ عَنْهُمْ، وَأَنْ يَبْتَعِدُوا عَنِ النِّيَّةِ الدَّنِيئَةِ بِقَصْدِ التَّكَسُّبِ بِالْمَالِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي نُفُوسِهِمْ إِلَّا التَّكَسُّبُ بِالْمَالِ: فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُمْ أَخْذُ النِّيَابَةِ حِينَئِذٍ، وَمَتَى أَخَذَ النِّيَابَةَ بِنِيَّةٍ صَالِحَةٍ: فَالْمَالُ الَّذِي يَأْخُذُهُ كُلُّهُ لَهُ، إِلَّا أَنْ يُشْتَرَطَ عَلَيْهِ رَدُّ مَا بَقِيَ». انْتَهَى.

“Sungguh sangat disayangkan, banyak orang yang berhaji untuk orang lain hanya demi mendapatkan uang semata. Ini haram bagi mereka, karena ibadah tidak boleh dijadikan sarana mencari dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

‘Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan balasan sempurna bagi mereka di dunia, dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun. Mereka itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh selain neraka. Dan lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.’

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾

‘Di antara manusia ada yang berkata: Wahai Rabb kami, berilah kami di dunia. Dan dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.’

Allah tidak menerima ibadah seorang hamba apabila ia tidak mengharap wajah-Nya.

Rasulullah bahkan melindungi tempat-tempat ibadah dari dijadikan sarana mencari keuntungan dunia. Beliau bersabda:

‘Jika kalian melihat orang yang berjual beli di masjid, maka katakanlah: Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perniagaanmu.’

Jika orang yang menjadikan tempat ibadah sebagai sarana mencari keuntungan dunia saja didoakan demikian, maka bagaimana lagi dengan orang yang menjadikan ibadah itu sendiri sebagai alat mencari penghasilan dunia, seakan-akan haji itu barang dagangan atau profesi untuk membangun rumah dan semisalnya?

Engkau dapati sebagian orang yang ditawari badal haji malah tawar-menawar: ‘Uang ini sedikit, tidak cukup, tambahkan lagi. Si fulan memberiku sekian,’ dan ucapan lainnya yang mengubah ibadah menjadi pekerjaan dan profesi.

Karena itulah para fuqaha Hanabilah dengan tegas menyatakan bahwa menyewa seseorang untuk berhaji bagi orang lain tidak sah. Dan Ibnu Taimiyah berkata: ‘Barang siapa berhaji demi mengambil uang, maka ia tidak memiliki bagian di akhirat.’

Namun jika ia menerima badal haji untuk tujuan agama, seperti ingin memberi manfaat kepada saudaranya dengan menghajikannya, atau ingin menambah ketaatan, doa, dan dzikir di tempat-tempat manasik, maka hal itu tidak mengapa. Ini adalah niat yang baik dan lurus.

Maka wajib bagi orang-orang yang menerima badal haji untuk mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala, dan hendaknya tujuan mereka adalah memenuhi kebutuhan ibadah di sekitar Baitullah, berdzikir dan berdoa kepada Allah, sekaligus membantu kebutuhan saudara mereka dengan menghajikannya. Mereka harus menjauhi niat rendah berupa mencari keuntungan materi.

Jika yang ada dalam hati mereka hanyalah mencari uang, maka tidak halal bagi mereka menerima badal haji ketika itu. Namun apabila ia menerima badal haji dengan niat yang baik, maka seluruh uang yang diterimanya halal baginya, kecuali jika disyaratkan untuk mengembalikan sisa uang tersebut.”

[Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuthab Al-Jawāmi‘, 2/477–478]

KE [8].

Jika seorang muslim meninggal dunia sebelum menunaikan haji wajib, padahal seluruh syarat wajib haji telah terpenuhi pada dirinya, maka wajib dihajikan dari harta peninggalannya, baik ia berwasiat tentang hal itu maupun tidak.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«إِذَا مَاتَ الْمُسْلِمُ وَلَمْ يَقْضِ فَرِيضَةَ الْحَجِّ وَهُوَ مُسْتَكْمِلٌ لِشُرُوطِ وُجُوبِهَا وَجَبَ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ مِنْ مَالِهِ الَّذِي خَلَّفَهُ سَوَاءٌ أَوْصَى بِذَلِكَ أَوْ لَمْ يُوصِ، وَإِذَا حَجَّ عَنْهُ غَيْرُهُ مِمَّنْ يَصِحُّ مِنْهُ الْحَجُّ وَكَانَ قَدْ أَدَّى فَرِيضَةَ الْحَجِّ عَنْ نَفْسِهِ: صَحَّ حَجُّهُ عَنْهُ، وَأَجْزَأَ فِي سُقُوطِ الْفَرْضِ عَنْهُ». انْتَهَى.

“Jika seorang muslim meninggal dunia sebelum menunaikan haji wajib, sedangkan seluruh syarat wajib haji telah terpenuhi padanya, maka wajib dihajikan dari harta yang ia tinggalkan, baik ia berwasiat tentang itu ataupun tidak.

Apabila ada orang lain yang menghajikannya, dan orang tersebut memang sah untuk melakukan badal haji serta telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri, maka hajinya sah untuk orang yang meninggal tersebut dan gugurlah kewajiban hajinya.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah bin Mani'. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/100]

KE [9].

Apakah orang yang menghajikan orang lain mendapatkan pahala haji secara sempurna dan kembali seperti hari dilahirkan ibunya?

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«وَأَمَّا تَقْوِيمُ حَجِّ الْمَرْءِ عَنْ غَيْرِهِ هَلْ هُوَ كَحَجِّهِ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ أَقَلُّ فَضْلًا أَوْ أَكْثَرُ: فَذَلِكَ رَاجِعٌ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ». انْتَهَى.

“Adapun penilaian apakah haji seseorang untuk orang lain itu seperti hajinya untuk dirinya sendiri, atau kurang utama, atau lebih utama, maka hal itu dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah bin Mani'. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/100]

Mereka juga berkata:

«مَنْ حَجَّ أَوِ اعْتَمَرَ عَنْ غَيْرِهِ بِأُجْرَةٍ أَوْ بِدُونِهَا فَثَوَابُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ لِمَنْ نَابَ عَنْهُ، وَيُرْجَى لَهُ أَيْضًا أَجْرٌ عَظِيمٌ عَلَى حَسَبِ إِخْلَاصِهِ وَرَغْبَتِهِ لِلْخَيْرِ، وَكُلُّ مَنْ وَصَلَ إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَأَكْثَرَ فِيهِ مِنْ نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ وَأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ: فَإِنَّهُ يُرْجَى لَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ إِذَا أَخْلَصَ عَمَلَهُ لِلَّهِ». انْتَهَى.

“Barang siapa berhaji atau berumrah untuk orang lain, baik dengan upah ataupun tanpa upah, maka pahala haji dan umrah tersebut untuk orang yang diwakilinya. Namun diharapkan pula baginya pahala yang besar sesuai kadar keikhlasan dan keinginannya dalam melakukan kebaikan.

Setiap orang yang datang ke Masjidil Haram lalu memperbanyak ibadah sunnah dan berbagai bentuk pendekatan diri kepada Allah di sana, maka diharapkan baginya kebaikan yang banyak apabila ia mengikhlaskan amalnya karena Allah.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/77–78]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

عَنْ دَاوُدَ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، لِأَيِّهِمَا الْأَجْرُ أَلِلْحَاجِّ أَمْ لِلْمَحْجُوجِ عَنْهُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَاسِعٌ لَهُمَا جَمِيعًا.

Dari Daud Azh-Zhahiri, ia berkata: “Aku berkata kepada Sa'id bin Al-Musayyib: ‘Wahai Abu Muhammad, pahala itu untuk siapa? Apakah untuk orang yang berhaji atau untuk orang yang dihajikan?’ Maka Sa’id menjawab: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Luas karunia-Nya untuk keduanya.’”

Ibnu Hazm berkata:

صَدَقَ سَعِيدٌ رَحِمَهُ اللَّهُ.

“Sa’id rahimahullah benar.” [Al-Muhalla, 7/61]

Adapun amal-amal yang dilakukan oleh orang yang mewakili di luar rangkaian manasik, seperti shalat di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan lainnya, maka pahalanya khusus untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang yang mewakilkannya.

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

«وَثَوَابُ الْأَعْمَالِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالنُّسُكِ كُلُّهَا لِمَنْ وَكَّلَهُ، أَمَّا مُضَاعَفَةُ الْأَجْرِ بِالصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ الَّذِي يَتَطَوَّعُ بِهِ خَارِجًا عَنِ النُّسُكِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَلِمَنْ حَجَّ لَا لِلْمُوَكِّلِ». انْتَهَى.

“Pahala amalan-amalan yang berkaitan langsung dengan manasik semuanya untuk orang yang mewakilkannya. Adapun pelipatgandaan pahala dari shalat, thawaf sunnah di luar manasik, dan membaca Al-Qur’an, maka itu untuk orang yang berhaji, bukan untuk orang yang mewakilkannya.” [Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuthab Al-Jawāmi‘, 2/478]

KE [10].

Yang lebih utama adalah seorang anak menghajikan kedua orang tuanya, dan seorang kerabat menghajikan kerabatnya. Namun apabila ia menyewa orang lain untuk menghajikannya, maka hal itu dibolehkan.

Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:

“Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil. Saya telah menyewa seseorang yang terpercaya untuk menghajikannya. Demikian pula ayah saya telah meninggal, dan saya mendengar dari sebagian kerabat bahwa beliau sudah pernah berhaji.

Apakah boleh saya menyewa orang untuk menghajikan ibu saya, ataukah saya harus menghajikannya sendiri? Dan untuk ayah saya, apakah saya perlu menghajikannya juga padahal saya mendengar beliau sudah pernah berhaji?”

Beliau menjawab:

" «إِنْ حَجَجْتَ عَنْهُمَا بِنَفْسِكَ وَاجْتَهَدْتَ فِي إِكْمَالِ حَجِّكَ عَلَى الْوَجْهِ الشَّرْعِيِّ: فَهُوَ الْأَفْضَلُ، وَإِنِ اسْتَأْجَرْتَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُمَا مِنْ أَهْلِ الدِّينِ وَالْأَمَانَةِ: فَلَا بَأْسَ.

وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُؤَدِّيَ عَنْهُمَا حَجًّا وَعُمْرَةً، وَهَكَذَا مَنْ تَسْتَنِيبُهُ فِي ذَلِكَ يُشْرَعُ لَكَ أَنْ تَأْمُرَهُ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُمَا وَيَعْتَمِرَ، وَهَذَا مِنْ بِرِّكَ لَهُمَا وَإِحْسَانِكَ إِلَيْهِمَا، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ». انْتَهَى.

“Jika engkau menghajikan keduanya sendiri, dan engkau bersungguh-sungguh menyempurnakan hajimu sesuai tuntunan syariat, maka itu lebih utama. Namun jika engkau menyewa orang yang memiliki agama dan amanah untuk menghajikan keduanya, maka tidak mengapa.

Yang lebih utama adalah engkau melaksanakan haji dan umrah untuk keduanya. Demikian pula orang yang engkau tunjuk sebagai wakil, disyariatkan bagimu untuk memerintahkannya agar menghajikan dan mengumrahkan keduanya. Ini termasuk bentuk bakti dan kebaikanmu kepada keduanya. Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.” [Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz, 16/408]

KE [11].

Tidak disyaratkan orang yang dihajikan harus diketahui namanya. Cukup dengan niat menghajikannya.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah pernah ditanya:

“Saya memiliki sekitar empat orang yang telah meninggal dunia, terdiri dari paman dan kakek, laki-laki maupun perempuan. Sebagian nama mereka tidak saya ketahui. Saya ingin mengirim orang untuk menghajikan masing-masing dari mereka dengan biaya pribadi saya. Bagaimana hukumnya?”

Mereka menjawab:

«إِذَا كَانَ الْأَمْرُ كَمَا ذُكِرَ: فَمَنْ عَرَفْتَ اسْمَهُ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ: فَلَا إِشْكَالَ فِيهِ، وَمَنْ لَمْ تَعْرِفِ اسْمَهُ: فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَكَ أَنْ تَنْوِيَ عَنِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مِنَ الْأَعْمَامِ وَالْأَخْوَالِ عَلَى حَسَبِ تَرْتِيبِ أَعْمَارِهِمْ وَأَوْصَافِهِمْ، وَتَكْفِي النِّيَّةُ فِي ذَلِكَ، وَإِنْ لَمْ تَعْرِفِ الِاسْمَ». انْتَهَى.

“Jika keadaannya sebagaimana yang disebutkan, maka bagi orang-orang yang engkau ketahui namanya dari kalangan laki-laki dan perempuan tidak ada masalah.

Adapun yang tidak engkau ketahui namanya, maka engkau boleh berniat menghajikan para lelaki dan perempuan dari kalangan paman dan bibi sesuai urutan usia dan sifat-sifat mereka. Niat saja sudah mencukupi dalam hal ini, walaupun nama mereka tidak diketahui.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/172]

KE [12].

Tidak boleh bagi orang yang diberi kuasa untuk menghajikan orang lain kemudian mewakilkannya lagi kepada orang lain, kecuali dengan izin dari orang yang memberinya kuasa.

Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah berkata:

«وَلَا يَحِلُّ لِمَنْ أَخَذَ النِّيَابَةَ أَنْ يُوَكِّلَ غَيْرَهُ فِيهَا لَا بِقَلِيلٍ، وَلَا بِكَثِيرٍ إِلَّا بِرِضَا مِنْ صَاحِبِهَا الَّذِي أَعْطَاهُ إِيَّاهَا». انْتَهَى.

“Tidak halal bagi orang yang menerima perwakilan haji untuk mewakilkannya lagi kepada orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya, kecuali dengan keridhaan dari orang yang menyerahkan amanah tersebut kepadanya.” [Adh-Dhiya’ Al-Lami’ min Al-Khuthab Al-Jawami’, 2/478]

KE [13].

Apakah boleh mewakilkan haji sunnah?

Dalam masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama. Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah memilih pendapat bahwa perwakilan hanya dibolehkan dalam haji wajib saja.

Beliau rahimahullah berkata:

«إِذَا كَانَ الرَّجُلُ قَدْ أَدَّى الْفَرِيضَةَ، وَأَرَادَ أَنْ يُوَكِّلَ عَنْهُ مَنْ يَحُجُّ أَوْ يَعْتَمِرُ نَافِلَةً، فَإِنَّ فِي ذَلِكَ خِلَافًا بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ مَنَعَهُ، وَالْأَقْرَبُ عِنْدِي: الْمَنْعُ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُوَكِّلَ أَحَدًا يَحُجُّ عَنْهُ أَوْ يَعْتَمِرُ إِذَا كَانَ ذَلِكَ نَافِلَةً؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ أَنْ يَقُومَ بِهَا الْإِنْسَانُ بِنَفْسِهِ، وَكَمَا أَنَّهُ لَا يُوَكِّلُ الْإِنْسَانُ أَحَدًا يَصُومُ عَنْهُ - مَعَ أَنَّهُ لَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ فَرْضٍ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ - ، كَذَلِكَ فِي الْحَجِّ، وَالْحَجُّ عِبَادَةٌ يَقُومُ فِيهَا الْإِنْسَانُ بِبَدَنِهِ، وَلَيْسَتْ مَالِيَّةً يُقْصَدُ بِهَا الْغَيْرُ، وَإِذَا كَانَتْ عِبَادَةً بَدَنِيَّةً يَقُومُ بِهَا الْإِنْسَانُ بِبَدَنِهِ: فَإِنَّهَا لَا تَصِحُّ مِنْ غَيْرِهِ عَنْهُ إِلَّا فِيمَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ، وَلَمْ تَرِدِ السُّنَّةُ فِي حَجِّ الْإِنْسَانِ عَنْ غَيْرِهِ حَجَّ نَفْلٍ، وَهَذِهِ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ: أَعْنِي أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَصِحُّ أَنْ يُوَكِّلَ غَيْرَهُ فِي نَفْلِ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ سَوَاءٌ كَانَ قَادِرًا أَوْ غَيْرَ قَادِرٍ.

وَنَحْنُ إِذَا قُلْنَا بِهَذَا الْقَوْلِ صَارَ فِي ذَلِكَ حَثٌّ لِلْأَغْنِيَاءِ الْقَادِرِينَ عَلَى الْحَجِّ بِأَنْفُسِهِمْ؛ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ تَمْضِي عَلَيْهِ السَّنَوَاتُ الْكَثِيرَةُ مَا ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ اعْتِمَادًا عَلَى أَنَّهُ يُوَكِّلُ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ كُلَّ عَامٍ، فَيَفُوتُهُ الْحَجُّ عَلَى أَسَاسِ أَنَّهُ يُوَكِّلُ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ». انْتَهَى.

“Apabila seseorang telah menunaikan haji wajib, lalu ia ingin mewakilkan orang lain untuk menghajikan atau mengumrahkannya sebagai ibadah sunnah, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkannya dan sebagian melarangnya.

Pendapat yang lebih dekat menurutku adalah larangan, yaitu tidak boleh seseorang mewakilkan orang lain untuk menghajikan atau mengumrahkannya apabila itu ibadah sunnah. Karena hukum asal ibadah adalah seseorang melaksanakannya sendiri.

Sebagaimana seseorang tidak mewakilkan orang lain untuk berpuasa menggantikannya — padahal jika ia meninggal dan masih memiliki hutang puasa wajib maka walinya boleh berpuasa untuknya — demikian pula dalam masalah haji.

Haji adalah ibadah badaniyah yang dilakukan dengan badan, bukan ibadah maliyah yang tujuan utamanya untuk manfaat orang lain. Jika ibadah itu merupakan ibadah badaniyah yang dilakukan dengan tubuh seseorang, maka tidak sah dilakukan oleh orang lain atas namanya kecuali dalam perkara yang terdapat dalil sunnah padanya.

Dan tidak ada sunnah yang menunjukkan bolehnya seseorang menghajikan orang lain dalam haji sunnah. Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad bin Hanbal, yaitu bahwa seseorang tidak sah mewakilkan orang lain dalam haji atau umrah sunnah, baik ia mampu maupun tidak mampu.

Apabila kita mengambil pendapat ini, maka di dalamnya terdapat dorongan bagi orang-orang kaya yang mampu agar berhaji sendiri. Karena sebagian orang berlalu bertahun-tahun tanpa pergi ke Makkah, sebab ia hanya mengandalkan orang lain untuk menghajikannya setiap tahun. Akibatnya ia kehilangan keutamaan berhaji sendiri karena hanya mengandalkan perwakilan.” [Fatawa Islamiyyah, 2/192–193]

KE [14].

Hendaknya memilih orang-orang yang baik, jujur, amanah, dan memahami manasik haji untuk melaksanakan badal haji.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah berkata:

«يَنْبَغِي لِمَنْ يُرِيدُ أَنْ يُنِيبَ فِي الْحَجِّ أَنْ يَتَحَرَّى فِيمَنْ يَسْتَنِيبُهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ وَالْأَمَانَةِ حَتَّى يَطْمَئِنَّ إِلَى قِيَامِهِ بِالْوَاجِبِ». انْتَهَى.

“Hendaknya orang yang ingin mewakilkan haji benar-benar memilih orang yang akan menjadi wakilnya, yaitu dari kalangan orang yang memiliki agama dan amanah, agar ia merasa tenang bahwa wakil tersebut benar-benar menunaikan kewajibannya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/53]. Wallahu a’lam.

 

Posting Komentar

0 Komentar