HUKUM HAJI BADAL DAN BATASAN-BATASANNYA
----
Di Tulis Oleh Bin
Kardipan
KAJIAN NIDA
AL-ISLAM
---
-----
DAFTAR ISI:
- DALIL BADAL HAJI ATAS NAMA MAYIT & ORANG HIDUP YANG PERMANEN SUDAH TAK MAMPU
- HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA
- HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK SELAIN KEDUA ORANG TUA
- PERNYATAAN IMAM BUKHORI TENTANG QODHO PUASA WAJIB ATAS NAMA MAYIT:
- APAKAH BADAL HAJI ITU DI SYARIATKAN?
- KEUTAMAAN BADAL HAJI
- WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG YANG TELAH WAFAT?
- WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG HIDUP YANG PERMANEN TIDAK MAMPU?
- SYARAT-SYARAT BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
- SYARAT-SYARAT YANG HARUS ADA PADA WAKIL (PELAKU BADAL HAJI)
- HUKUM WANITA MELAKUKAN BADAL HAJI UNTUK PRIA
- HUKUM UPAH JASA BADAL HAJI DAN UMROH
- ATURAN DAN KETENTUAN DALAM BADAL HAJI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
====***====
DALIL
BADAL HAJI ATAS NAMA MAYIT DAN
ORANG HIDUP YANG PERMANEN SUDAH TAK MAMPU
HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA
====
HADITS
KE 1:
Dari Abdullah bin Buraidah radhiallahu anhu, dia
berkata:
بَيْنَا
أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ:
إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ فَقَالَ: وَجَبَ
أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ،
إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا ؟ قَالَ: صُومِي
عَنْهَا ، قَالَتْ: إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ:
حُجِّي عَنْهَا
Ketika kami duduk di sisi
Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang wanita
datang dan bertanya:
‘Sesungguhnya saya bersedekah
budak untuk ibuku yang telah meninggal.'
Beliau bersabda: ‘Anda telah
mendapatkan pahalanya dan dikembalikan kepada anda warisannya.'
Dia bertanya: ‘Wahai Rasulullah,
sesungguhnya beliau mempunyai (tanggungngan) puasa sebulan, apakah saya
puasakan untuknya?'
Beliau menjawab: ‘Berpuasa lah
untuknya.'
Dia bertanya lagi: ‘Sesungguhnya
beliau belum pernah haji sama sekali, apakah (boleh) saya menghajikan untuknya?
Beliau ﷺ menjawab: ‘Hajikan lah untuknya.’ (HR. Muslim, 1149)
----
HADITS
KE 2:
Dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas:
أنَّ
امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِنَّ أَبِي أَدْرَكَتْهُ
فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ
يَسْتَوِيَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ قَالَ فَحُجِّي عَنْهُ
“Bahwa seorang wanita dari
Khats'am berkata;
"Wahai Rasulullah, ayahku
telah terkena kewajiban Allah yang berupa haji, padahal dia telah lanjut usia
yang sudah tidak sanggup lagi duduk di atas kendaraannya?"
Beliau bersabda: "Berhajilah
untuknya!" ( HR. Bukhori no. 1854, Muslim no. 1334 dan Ahmad no. 1725
lafadz miliknya,).
----
HADITS
KE 3:
Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma
أَنَّ
امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي
نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ
نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ
قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
“Bahwa ada seorang wanita dari
suku Juhainah datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata:
"Sesungguhnya ibuku telah
bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga
meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?".
Beliau ﷺ menjawab: "Tunaikanlah haji untuknya. Bagaimana
pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?.
Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk
dibayar". ( HR. Bukhori no. 1720)
----
HADITS
KE 4:
Dari Abu Razin Al-'Uqaili radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّهُ أَتَى
النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ، لَا يَسْتَطِيعُ
الْحَجَّ، وَلَا الْعُمْرَةَ، وَلَا الظَّعْنَ قَالَ: «حُجَّ عَنْ أَبِيكَ، وَاعْتَمِرْ»
Bahwa ia datang kepada Rasulullah
ﷺ lalu berkata: “Wahai
Rasulullah ﷺ, sesungguhnya ayahku adalah
seorang yang sudah sangat tua. Ia tidak mampu menunaikan haji, tidak mampu
umrah, dan juga tidak mampu melakukan perjalanan.”
Maka beliau ﷺ bersabda: “Hajikanlah ayahmu
dan umrahkanlah dia.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu
Dawud no. 1810, At-Tirmidzi no. 930, An-Nasa'i no. 2621, Ibnu Majah no. 2906,
dan Ahmad bin Hanbal no. 16184].
Dishahihkan oleh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani dalam “Shahih Sunan An-Nasa’i” no. 2620 dan “Shahih Sunan
Abi Dawud” no. 1810.
----
HADITS
KE 5:
Dari Buraidah bin Al-Hushaib
radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
بَيْنَا
أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ: إِنِّي
تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ، وَإِنَّهَا مَاتَتْ، قَالَ: فَقَالَ: «وَجَبَ
أَجْرُكِ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ» قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ كَانَ
عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: «صُومِي عَنْهَا» قَالَتْ: إِنَّهَا
لَمْ تَحُجَّ قَطُّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «حُجِّي عَنْهَا».
Ketika aku sedang duduk di dekat
Rasulullah ﷺ, datanglah seorang wanita
lalu berkata, “Sesungguhnya aku pernah bersedekah kepada ibuku dengan seorang
budak perempuan, lalu ibuku meninggal dunia.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Pahalamu telah
tetap, dan budak itu kembali kepadamu melalui warisan.”
Wanita itu berkata lagi, “Wahai
Rasulullah ﷺ, sesungguhnya ibuku memiliki
kewajiban puasa selama sebulan. Apakah aku boleh berpuasa untuknya?”
Beliau ﷺ menjawab, “Berpuasalah untuknya.”
Wanita itu berkata lagi,
“Sesungguhnya ibuku sama sekali belum pernah berhaji. Apakah aku boleh
menghajikannya?”
Beliau ﷺ bersabda, “Berhajilah untuk dia.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh
Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih Muslim no. 1149].
Lafadz Tirmidzi Dari Abdullah bin
Buraidah dari bapaknya berkata;
جَاءَتْ
امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ
أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا
“Seorang wanita menemui Nabi ﷺ lalu bertanya; ‘Ibuku
meninggal dan belum melaksanakan haji, apakah saya dapat berhaji untuknya? ‘
Beliau menjawab: ‘Ya. Berhajilah
untuknya.’
( HR. Tirmidzi no. 851) (Abu Isa
At Tirmidzi) berkata; “Ini merupakan hadits shahih.”
An-Nawawi rahimahullah berkata:
"وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ
جَائِزَةٌ عَنِ الْمَيِّتِ وَالْعَاجِزِ الْمَيِّئُوسِ مِنْ بِرِّئِهِ،
وَاعْتَذَرَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ مُخَالَفَةِ مَذْهَبِهِمْ - أَيْ:
الْمَالِكِيَّةِ - لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي الصَّوْمِ عَنْ الْمَيِّتِ
وَالْحَجِّ عَنْهُ بِأَنَّهُ مُضْطَرَبٌ، وَهَذَا عُذْرٌ بَاطِلٌ، وَلَيْسَ فِي
الْحَدِيثِ اضْطِرَابٌ، وَيَكْفِي فِي صِحَّتِهِ احْتِجَاجُ مُسْلِمٍ بِهِ فِي
صَحِيحِهِ".
"Mayoritas (ulama)
mengatakan bahwa mengghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah
meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh.
Qadhi 'Iyadh berpendapat berbeda
dengan Madzhabnya –yakni Malikiyah- dengan tidak menganggap hadits (yang
membolehkan) menggantikan puasa bagi orang meninggal dan menghajikannya. Dia
berkesimpulan bahwa haditsnya mudhtharib (tidak tetap).
Alasan ini batil, karena
haditsnya tidak mudhtharib. Cukuplah bukti kesahihan hadits ini manakala Imam
Muslim menjadikannya sebagai hujah dalam Kitab shahihnya.
(Syarh An-Nawawi Ala Muslim,
8/27)
*****
HADITS-HADITS BADAL HAJI UNTUK SELAIN KEDUA ORANG TUA
===
HADITS
KE 1:
Dari Ibnu Abbas (radhiyallahu
‘anhuma):
"أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ
عَنْ شُبْرُمَةَ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» ، قَالَ: أَخٌ
لِي ، قَالَ: «هَلْ حَجَجْتَ؟» ، قَالَ: لَا ، قَالَ: «حُجَّ عَنْ
نَفْسِكَ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ»
“Bahwa Rosulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki (
berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji-
atas nama Syubrumah”,
Rasulullah ﷺ bertanya: " siapakah
Syubrumah?". Laki-laki tersebut menjawab: "saudaraku atau
kerabatku".
Rasulullah ﷺ bertanya: “ sudahkah engkau
pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.
Rasulullah ﷺ bersabda: “ Hajilah untuk
dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah untuk Syubrumah “.
TAKHRIJ HADITS:
[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah
(2903), Ibnu Hibban no. 3988, Ibnu Khizaimah no. 3039, Al-Bayhaqi (8936),
ath-Thabraani no. 12419 dan Ad-Daruquthni 3/318 no. 2648.
Ad-Daruquthni berkata:
هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
(
Ini adalah yang shahih dari Ibnu 'Abbaas).
Lafadz al-Baihaqi:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ: مَنْ
شُبْرُمَةُ؟ فَذَكَرَ أَخًا لَهُ أَوْ قَرَابَةً، قَالَ: أَحَجَجْتَ قَطُّ؟ قَالَ:
لَا، قَالَ: فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
“Bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki (
berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji-
atas nama Syubrumah”,
Rasulullah ﷺ bertanya: " siapakah
Syubrumah?". Maka Laki-laki tersebut menyebutkan: saudaranya atau
kerabatnya.
Rasulullah ﷺ bertanya: “ sudahkah engkau
pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.
Rasulullah ﷺ bersabda: “ Jadikan lah yang
ini atas nama dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah atas nama Syubrumah “.
[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah
(2903), dan Al-Bayhaqi (8936) dan kata-katanya adalah miliknya.
Lafadz Abu Daud:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شِبْرِمَةَ، قَالَ: مَنْ
شِبْرِمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي، قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟
قَالَ: لَا، قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شِبْرِمَةَ
“Bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki (
berniat untuk haji) mengatakan: " Aku sambut seruan-Mu -untuk berhaji-
atas nama Syubrumah”,
Rasulullah ﷺ bertanya: " siapakah
Syubrumah?". Maka Laki-laki tersebut menjawab: "saudaraku atau
kerabatku".
Rasulullah ﷺ bertanya: “ sudahkah engkau
pernah berhaji atas nama dirimu?”. Laki-laki itupun menjawab: “ belum “.
Rasulullah ﷺ bersabda: “ Hajilah atas nama
dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah atas nama Syubrumah “.
[HR. Abu Dawud (1811), Ibnu Majah
(2903), dan Al-Bayhaqi (8936) ".
Lafadz Ibnu Hibban dalam
Shahihnya (lihat : al-Ihsan no. 3988):
أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: "مَنْ شُبْرُمَةُ؟ ". قَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَرَابَةٌ. قَالَ:
"هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ؟ ". قَالَ: لَا. قَالَ: "فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ
نَفْسِكِ، ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شبرمة"
Bahwasanya Rasulullah ﷺ mendengar seorang lelaki
berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji atas
nama Syubrumah).”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapakah Syubrumah
itu?”
Ia menjawab: “Saudaraku, atau
salah seorang kerabatku.”
Beliau ﷺ bersabda: “Apakah engkau sudah pernah berhaji sebelumnya?”
Ia menjawab: “Belum.”
Beliau ﷺ bersabda: “Maka jadikan haji ini untuk dirimu sendiri terlebih
dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” [Selesai]
Lafadz Ibnu Jaarud dalam
al-Muntaqo hal. 132 no. 499:
أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟»
قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرَابَةٌ لِي قَالَ: «هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ؟» قَالَ: لَا، قَالَ:
«فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْكَ ثُمَّ لَبِّ عَنْ شُبْرُمَةَ»
Bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang lelaki
berkata: “Labbaik atas nama Syubrumah.”
Beliau bertanya: “Siapakah
Syubrumah itu?”
Orang itu menjawab: “Dia
saudaraku,” atau “kerabatku.”
Beliau ﷺ bersabda: “Apakah engkau sudah pernah berhaji?”
Ia menjawab: “Belum.”
Beliau ﷺ bersabda: “Kalau begitu, jadikan haji ini untuk dirimu terlebih
dahulu, kemudian setelah itu bertalbiyahlah untuk Syubrumah.”
DERAJAT HADITS:
Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu
Al-Jarud dalam al-Muntaqonya (2/113–114 no. 499), Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya
(4/345 no. 3039), Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (4/336) dan al-A’dzomi
dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah 4/345 dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma.
Imam Baihaqi berkata dalam
as-Sunan al-Kubro 4/336:
“إسْنَادُهُ صَحِيحٌ، لَيْسَ فِي هَذَا البَابِ أَصْحَ مِنْهُ
".
“Sanadnya Shahih, dalam BAB ini
tidak yang lebih shahih dari nya “. (Slsai).
Dan Ibnu Hibbaan dalam Shahihnya no.
3988 berkata:
وَإِسْنَاده
صَحِيح عَلَى شَرط مُسلِم
“Sanadnya shahih sesuai dengan
syarat Shahih Muslim”
Begitu pula Al-Nawawi mengatakan
dalam “Al-Majmu'” (7/117), dan Ibnu Al-Mulaqqin dalam al-Badr al-Muniir
6/45-46, “Khulasah Al-Badr Al -Munir” (1/345) dan Tuhfatul Muhtaaj 2/135:
إِسْنَاده
عَلَى شَرط مُسلم
“Sanadnya sesuai dengan syarat
Shahih Muslim”.
Dan di nilai SHAHIH oleh
Al-Daraqutni dalam ((Al-Sunan)) (2/517), Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaani
dalam “Al-Ishoobah” (2/ 136) dan Al-Juurqani dalam ((Al-Abaathil wa
Al-Manaakir)) (2/138),
Abu Abdillah al-Hamadzani
az-Zarqoni (wafat 543 H) dalam al-Abaathil wa al-Manaakir 2/137 no. 501
berkata:
هَذَا حَدِيثٌ
صَحِيحٌ، رَوَاهُ عَنْ عَبْدَةَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ: هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، وَالْحَسَنُ
بْنُ حَمَّادٍ سِجَّادَةُ، وَغَيْرُهُمَا.
وَعَزْرَةُ
هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُزَاعِيُّ، كُوفِيٌّ، قَالَ الدُّورِيُّ:
سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، يَقُولُ: عَزْرَةُ الَّذِي يَرْوِي عَنْهُ قَتَادَةُ
ثِقَةٌ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ:
عَزْرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ثِقَةٌ، رَوَى عَنْهُ قَتَادَةُ وَسُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ،
وَعَبْدُ الْكَرِيمِ الْجَزْرِيُّ وَغَيْرُهُمْ.
فَهَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
Ini adalah hadits shahih. Hadits
ini diriwayatkan dari ‘Abdah oleh sejumlah perawi, di antaranya Harun bin
Ishaq, Al-Hasan bin Hammad Sijjadah, dan selain keduanya.
Adapun ‘Azrah ini adalah Ibnu
‘Abdurrahman Al-Khuza’i, seorang penduduk Kufah. Ad-Duri berkata: “Aku
mendengar Yahya bin Ma’in berkata: ‘Azrah yang diriwayatkan darinya oleh
Qatadah adalah seorang yang tsiqah.’”
Ali bin Al-Madini berkata:
“‘Azrah bin ‘Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Telah meriwayatkan darinya
Qatadah, Sulaiman At-Taimi, ‘Abdul Karim Al-Jazari, dan selain mereka.”
Maka hadits ini shahih dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma”.
Hadits ini di Shahihkan pula
oleh AL-ALBANI dalam Shahih Ibnu Majah no. 2364, Shahih Abi Daud no.
2364 dan Irwaa al-Ghalil 4/171].
Dan di shahihkan pula oleh
Syu'aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud 3/318.
Syu’aib al-Arna’uth berkata dalam
Tahqiq “al-Ihsan Fii Taqrib Shahih Ibnu Hibban karya al-Fasi”:
إِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ رِجَالُ الشَّيْخَيْنِ، غَيْرُ عَزْرَةَ
-وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُزَاعِيُّ- فَمِنْ رِجَالِ مُسْلِمٍ. عَبْدَةُ:
هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ الْكِلَابِيُّ، وَسَعِيدٌ: هُوَ ابْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، وَقَتَادَةُ:
هُوَ ابْنُ دِعَامَةَ.
Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.
Para perawinya adalah perawi-perawi tsiqah yang merupakan perawi Al-Bukhari dan
Muslim, kecuali ‘Azrah — yaitu Ibnu ‘Abdurrahman Al-Khuza’i — yang termasuk
perawi Muslim saja.
‘Abdah adalah Ibnu Sulaiman Al-Kilabi, Sa’id adalah Ibnu Abi ‘Arubah, dan Qatadah adalah Ibnu Di’amah”. [Selesai]
ANTARA
MARFU’ DAN MAWQUF:
Ibnu Katsir berkata dalam “Irsyad
al-Faqih” (1/307):
الصَّحِيحُ
أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ كَمَا رَوَاهُ الْحَفَاظُ.
“Pandangan yang benar adalah
bahwa hal itu mauquuf pada Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh para
Hufaadz".
Akan tetapi Ibnu Khorroth
al-Isybily al-Andalusy (wafat 581 H) berkata dalam al-Ahkam al-Wusthoo 2/327 :
عَلَّلَهُ
بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ رُوِيَ مَوْقُوفًا، وَالَّذِي أَسْنَدَهُ ثِقَةٌ فَلَا يَضُرُّهُ
“Sebagian ulama menganggap
sanadnya cacat (ber-illat)
dengan alasan bahwa hadits tersebut diriwayatkan secara mauquf. Akan tetapi
perawi yang meriwayatkannya secara marfu‘ adalah seorang yang tsiqah, sehingga
hal itu tidak merusaknya”.
Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar
Al-'Asqalani berkata dalam kitab At-Talkhis Al-Habir 2/489:
وَرُوِيَ
مَوْقُوفًا، رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ سَعِيدٍ كَذَلِكَ، وَعَبْدَةُ نَفْسُهُ مُحْتَجٌّ
بِهِ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدْ تَابَعَهُ عَلَى رَفْعِهِ مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ،
وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ: أَثْبَتُ
النَّاسِ فِي سَعِيدٍ: عَبْدَةُ.
“Hadits ini juga diriwayatkan
secara mauquf. Gundar meriwayatkannya dari Sa’id demikian pula. Sedangkan
‘Abdah sendiri adalah perawi yang dipakai hujjah dalam Shahih Al-Bukhari dan
Muslim. Dan ia telah diikuti dalam meriwayatkannya secara marfu‘ oleh Muhammad
bin Bisyr dan Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshari. Ibnu Ma’in berkata: ‘Orang
yang paling kuat riwayatnya dari Sa’id adalah ‘Abdah.’”
Lalu Al-Hafidz berkata:
وَكَذَا رَجَّحَ
عَبْدُ الْحَقِّ وَابْنُ الْقَطَّانِ رَفْعَهُ، وَأَمَّا الطَّحَاوِيُّ فَقَالَ: الصَّحِيحُ
أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: رَفْعُهُ خَطَأٌ، وَقَالَ ابْنُ
الْمُنْذِرِ: لَا يَثْبُتُ رَفْعُهُ.
“Demikian pula ‘Abdul Haq dan
Ibnu Al-Qaththan lebih menguatkan bahwa hadits tersebut marfu‘. Adapun
Ath-Thahawi berkata: ‘Yang shahih adalah bahwa hadits itu mauquf.’ Ahmad bin
Hanbal berkata: ‘Memarfu‘kannya adalah kesalahan.’ Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Tidak
tetap status marfu‘nya.’”
Kemudian
al-Hafidz berkata pula:
وَرَوَاهُ
سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ كَمَا قَالَ.
وَخَالَفَهُ
ابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَرَوَاهُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشَةَ، وَخَالَفَهُ الْحَسَنُ
بْنُ ذَكْوَانَ فَرَوَاهُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: إِنَّهُ أَصَحُّ.
قُلْتُ: وَهُوَ
كَمَا قَالَ، لَكِنَّهُ يُقَوِّي الْمَرْفُوعَ؛ لِأَنَّهُ عَنْ غَيْرِ رِجَالِهِ، وَقَدْ
رَوَاهُ الْإِسْمَاعِيلِيُّ فِي مُعْجَمِهِ مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ
عَنْ جَابِرٍ، وَفِي إِسْنَادِهَا مَنْ يَحْتَاجُ إِلَى النَّظَرِ فِي حَالِهِ، فَيَجْتَمِعُ
مِنْ هَذَا صِحَّةُ الْحَدِيثِ.
“Sa’id bin Manshur
meriwayatkannya dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari
Nabi ﷺ. Dan itu sebagaimana yang ia
katakan. Namun Ibnu Abi Laila menyelisihinya, lalu meriwayatkannya dari ‘Atha’,
dari ‘Aisyah. Kemudian Al-Hasan bin Dzakwan juga menyelisihinya, lalu
meriwayatkannya dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Atha’, dari Ibnu ‘Abbas.”
Ad-Daraquthni berkata: “Riwayat ini lebih shahih.”
Aku (yakni Ibnu Hajar) berkata: “Dan memang sebagaimana yang ia
katakan. Akan tetapi hal itu justru menguatkan riwayat marfu‘, karena datang
dari jalur para perawi yang berbeda. Al-Isma’ili juga meriwayatkannya dalam
Mu‘jam-nya melalui jalur lain dari Abu Az-Zubair, dari Jabir. Namun dalam
sanadnya ada perawi yang perlu diteliti keadaannya. Maka dari keseluruhan jalur
ini terkumpullah penilaian shahih bagi hadits tersebut.”
Dan Syu'aib al-Arnauth berkata
dalam Takhrij Sunan Abu Daud 3/318:
إسنادهُ
صَحِيحٌ، وقد اختلفَ في رَفْعِهِ ووَقْفِهِ. وصَحَّحَ المَرفُوعَ ابنُ حبانَ
والبيهقي، وقالَ البيهقي: "ولَيسَ في هذا البابِ أَصحُ مِنهُ".
وقد روي
موقوفًا.
والرفعُ
زيادةٌ يَتَعينُ قَبُولُها إذا جاءتْ مِن طريقِ ثِقَةٍ، وهي هاهُنا كَذلِكَ، لأنَّ
الذي رَفَعَهُ عبدةُ بنُ سُلَيمَانَ، قالَ الحافِظُ: وهُوَ ثِقَةٌ مُحتَجًا بهِ في
"الصَّحيحَينِ" وَتَابَعَهُ على رفعِهِ محمدُ بنُ بَشرٍ، وَمحمدُ بنُ
عبدِ اللهِ الأنصاري. وَكَذَا رَجَحَ عبدُ الحقِ وَابنُ القَطانِ رفعَهُ.
وقد
رَجَحَ الطَّحَاوِي وقْفَهُ، وَقالَ أَحمدُ: رَفْعُهُ خَطَأً، وَقالَ ابنُ
المُنذَرِ: لا يِثبُتُ رفعُهُ. ابنُ أَبي عَروبَةَ: هُوَ سَعِيدُ اليَشكُرِيِّ
العَدَوِيِّ، وَقَتَادَةَ: هُوَ ابنُ دَعَامَةَ السَّدُوسِيِّ، وَعَزرَةَ: هُوَ
ابنُ عَبدِ الرَّحمَنِ الخَزَّاعِيِّ.
Sanadnya sahih, dan ada perbedaan
pendapat tentang status Hadits ini (marfu' atau mauquf). Yang meriwayatkan
Hadits ini dalam bentuk marfu' diantaranya adalah Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi
yang menyatakan bahwa Hadits ini adalah yang paling sahih dalam masalah ini.
Hadits marfu' ini juga
diriwayatkan melalui jalur yang dapat dipercayai, seperti yang dilakukan oleh
Abdullah bin Bashr dan Muhammad bin Abdullah Al-Anshari.
Namun, ada juga yang meragukan
status Hadits ini dan menganggapnya sebagai Hadits mauquf (berhenti di tingkat
para sahabat). Yaitu para ulama seperti At-Tahawi dan Imam Ahmad bin Hanbal,
mereka menganggapnya sebagai Hadits mauquf dan mengatakan bahwa penyebutan Ibnu
Abi 'Arubah dalam sanadnya adalah salah.
Dalam kasus seperti ini,
terkadang pendapat ulama tentang status Hadits bisa berbeda.
Meskipun ada perbedaan pendapat,
namun Hadits ini tetap dianggap sebagai sumber ajaran Islam dan dapat diterima
sebagai hujjah (bukti) dalam hal-hal tertentu. [Lihat: Hamisy Sunan Abu Daud
3/318, Takhrij al-Arna'uth]
Syeikh Ibnu Utsaimiin berkata:
"وَقَالَ فِي الْفُرُوعِ: إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ احْتَجَّ بِهِ
أَحْمَدُ فِي رِوَايَةٍ صَالِحٍ، لَكِنَّهُ رَجَحَ فِي كَلَامٍ آخَرَ أَنَّهُ
مَوْقُوفٌ؛ فَإِنْ صَحَّ الْمَرْفُوعُ فَذَاكَ؛ وَإِلَّا فَهُوَ قَوْلُ صَحَابِيٍّ
لَمْ يَظْهَرْ لَهُ مُخَالِفٌ؛ فَهُوَ حُجَّةٌ، وَدَلِيلٌ عَلَى أَنَّ هَذَا
الْعَمَلَ كَانَ مِنَ الْمَعْلُومِ جَوَازُهُ عِنْدَهُمْ؛ ثُمَّ إِنَّهُ قَدْ
ثَبَتَ حَدِيثُ عَائِشَةَ فِي الصِّيَامِ: "مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ
صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ"، وَالْوَلِيُّ هُوَ الْوَارِثُ سَوَاءٌ كَانَ
وَلَدًا أَمْ غَيْرَ وَلَدٍ؛ وَإِذَا جَازَ ذَلِكَ فِي الصِّيَامِ مَعَ كَوْنِهِ
عِبَادَةً مُحْضَةً فَجَوَازُهُ بِالْحَجِّ الْمَشْهُوِّ بِالْمَالِ أَوْلَى،
وَأَحْرَى".
Dan dia berkata dalam al-Furuu':
Sanadnya baik. Ahmad berargumentasi dengannya dalam riwayat Shaleh, tetapi
dalam pernyataan lainnya, dia mentarjih bahwa Hadits ini mauquf [pernyataan
sahabat]. Jika seandainya sanad yang diriwayatkan adalah yang sahih, maka itu
menjadi dalil yang sah. Namun jika tidak, maka itu adalah pernyataan sahabat
yang tidak ada seorangpun yang menyelisihi pernyataannya, dan itu merupakan
argumen.
Ini menunjukkan bahwa amalan ini
adalah hal yang maklumi bersama akan bolehnya untuk diamalkan menurut mereka.
Selain itu, telah terbukti Hadits dari Aisyah dalam masalah puasa: "Barang
siapa yang meninggal dunia dalam keadaan berhutang puasa, maka walinya berpuasa
untuknya." Walinya adalah pewaris, baik itu anak atau bukan anak.
Maka jika hal itu diperbolehkan
dalam puasa, yang merupakan ibadah murni, maka dibolehkannya dalam ibadah haji
yang melibatkan harta jauh lebih tepat dan kuat".
[Sumber: "Majmu' Fatawa wa
Rosaail asy-Syaikh Muhammad Shaleh al-'Utsaimin – Jilid ke 2 - Bab
al-Bid'ah"].
====
HADITS
KE 2:
Dari Ibnu Abbas - semoga Allah
meridhainya - meriwayatkan:
سَمِعَ النَّبِيُّ
ﷺ رَجُلًا يُلَبِّي عَنْ نُبَيْشَةَ ، فَقَالَ: «أَيُّهَا الْمُلَبِّي عَنْ نُبَيْشَةَ
هَلْ حَجَجْتَ؟» ، قَالَ: لَا ، قَالَ: «فَهَذِهِ عَنْ نُبَيْشَةَ وَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ»
Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki
bertalbiyah untuk Nubaisyah, lalu beliau bersabda: “Wahai orang yang
bertalbiyah untuk Nubaisyah, apakah engkau sudah berhaji?” Ia menjawab:
“Belum.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, haji ini untuk dirimu sendiri terlebih
dahulu, kemudian berhajilah untuk Nubaisyah.”
[HR. Ad-Daruquthni 3/315 no. 2645
dan al-Baihaqi 9/238 no. 8756].
Ad-Daruquthni berkata:
تَفَرَّدَ
بِهِ الْحَسَنُ بْنُ عُمَارَةَ وَهُوَ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ ، وَالْمَحْفُوظُ عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثُ شُبْرُمَةَ
“Hadits ini diriwayatkan secara
sendirian oleh Al-Hasan bin ‘Umārah, dan ia adalah perawi yang
ditinggalkan haditsnya. Sedangkan riwayat yang mahfudz (terjaga) adalah dari
Ibnu ‘Abbās, hadits Syubrumah”.
Namun Abu al-Husein al-Qoduri
(wafat 428 H) berkata dalam at-Tajriid 4/1658 no. 7283:
قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ:
تَفَرَّدَ بِهِ الْحَسَنُ بْنُ عِمَارَةَ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَهَذَا غَلَطٌ؛ لِأَنَّ
الْحَسَنَ عَدَّلَهُ أَصْحَابُنَا.
“Ad-Dāruquṭnī
berkata: ‘Hadits ini hanya diriwayatkan sendiri oleh Al-Hasan bin ‘Imārah, dan ia adalah perawi yang lemah’.
Pernyataan ini keliru, karena Al-Hasan dinilai terpercaya oleh para ulama madzhab
kami”.
FIQIH HADITS:
Atas dasar hadits-hadits shahih
tersebut diatas, maka mayoritas Ulama, Hanafiyyah, Syafiiyyah dan Hanabilah,
memperkenankan haji atas nama orang lain dengan syarat sebagai berikut:
Pertama: Yang dihajikan/diwakili
sudah meninggal atau tidak mampu melaksanakan haji karena lemah fisik (
sebagamana hadits yang pertama dan kedua)
Kedua: Yang menghajikan/mewakili,
sudah pernah melaksanakan haji untuk dirinya sendiri.
Ketiga: Boleh membadalkan
haji untuk selain kedua orang tua, berdasarkan hadits Syubrumah.
===
PERNYATAAN IMAM BUKHORI
TENTANG QODHO PUASA WAJIB ATAS NAMA MAYIT:
Imam Bukhari rahimahullah berkata
dalam Shahih nya Bab (41):
بَابُ
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ
“Bab: Orang yang wafat dan
meninggalkan hutang puasa”
Dalam bab ini, imam Bukhari ingin
menjelaskan tetang hukum orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa, apakah
wajib bagi kerabatnya untuk menunaikanya atau tidak?
Dalam bab ini imam Bukhari
menyebutkan satu atsar dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, dan dua hadits
dari Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
وَقَالَ
الحَسَنُ: " إِنْ صَامَ عَنْهُ ثَلاَثُونَ رَجُلًا يَوْمًا وَاحِدًا جَازَ
".
Dan Al-Hasan berkata:
“Jika tiga puluh orang berpuasa untuknya [mengqadha puasa mayit] dalam satu
hari maka itu boleh”.
Kemudian Imam Bukhori
menyebutkan Hadits 'Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini.
Dari ‘Aisyah bahwasannya
Nabi ﷺ bersabda:
“مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ ".
“Barang siapa mati padahal
punya kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih.
Bukhori no. 1952 dan Muslim no. 1147)
TAKHRIIJ atsar Al-Hasan
Al-Bashri:
Diriwayatkan oleh Al-Hafidz Ibnu
Hajar rahimahullah dalam kitabnya “Tagliq At-Ta’liq” (3/189) melalui jalur imam
Ad-Daraqutniy rahimahullah dalam kitabnya “Al-Mudabbaj”, ia berkata:
ثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ مَخْلَدٍ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ الْفَلَّاسِ، أَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ
الطَّالَقَانِيُّ، أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، ثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ،
عَنْ أَشْعَثَ
Muhammad bin Makhlad menceritakan
kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Harun Al-Fallas menceritakan kepada kami,
ia berkata: Sa’id bin Ya’qub Ath-Thaliqaniy memberitahukan kepada kami, ia
berkata: Abdullah bin Al-Mubarak memberitakan kepada kami, ia berkata: Sa’id
bin ‘Amir menceritakan kepada kami, dari Asy’ats:
عَنِ الْحَسَنِ؛
فِيمَنْ عَلَيْهِ صَوْمُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، فَجَمَعَ لَهُ ثَلَاثِينَ رَجُلًا فَصَامُوا
عَنْهُ يَوْمًا وَاحِدًا، قَالَ: «أَجْزَأَ عَنْهُ».
Dari Al-Hasan ; Ia ditanya
tentang seseorang yang memiliki hutang puasa tiga puluh hari, kemudian ia
mengumpulkan tiga puluh orang kemudian masing-masing berpuasa untuknya sehari?
Al-Hasan menjawab: “Itu cukup
baginya”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah
mengomentari bahwa hal tersebut benar jika puasanya tidak disyaratkan untuk
dibayar secara berurutan, jika puasanya disyaratkan berurutan maka itu tidak
mecukupi karena puasa tersebut tidak berurutan. [Fathul Bariy 4/224]
====((*))====
APAKAH BADAL HAJI ITU DI SYARIATKAN?
Badal dalam ibadah haji adalah seseorang
melaksanakan haji atas nama orang lain. Hal ini disyariatkan, dan telah
terdapat banyak hadits tentangnya.
====
PENDAPAT MADZHAB HANAFIYYAH, SYAFI’IYYAH, DAN HANABILAH:
Madzhab Hanafiyyah,
Syafi’iyyah, dan Hanabilah berpendapat tentang
disyariatkannya badal haji (mewakilkan haji kepada orang lain).
Boleh hukumnya melaksanakan
badal haji untuk kedua orang tua atau kerabat, atau kaum muslimin secara umum,
baik mereka masih hidup namun tidak mampu maupun sudah meninggal, dengan syarat
orang yang menjadi wakil telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri terlebih
dahulu.
[Badā’i‘ Ash-Shanā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 3/271; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/98; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]
Al-Imam at-Tirmidzy dalam
as-Sunan 3/258 di bawah hadits no. 928 berkata:
وَالعَمَلُ
عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ، وَبِهِ يَقُولُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيُّ،
وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ يَرَوْنَ أَنْ يُحَجَّ عَنِ المَيِّتِ. وقَالَ مَالِكٌ:
«إِذَا أَوْصَى أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ حُجَّ عَنْهُ»، وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُهُمْ
أَنْ يُحَجَّ عَنِ الحَيِّ إِذَا كَانَ كَبِيرًا أَوْ بِحَالٍ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَحُجَّ،
وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ المُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيِّ
Dan amalan ini dijalankan
oleh para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan selain mereka. Pendapat ini juga dipegang oleh Sufyan
ats-Tsauri, Abdullah bin al-Mubarak, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, Ahmad bin
Hanbal, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa orang yang telah
meninggal boleh dihajikan.
Adapun Malik bin Anas
berkata: “Apabila seseorang berwasiat agar dihajikan, maka boleh dihajikan
untuknya”.
Sebagian ulama juga
memberikan keringanan untuk menghajikan orang yang masih hidup apabila ia sudah
tua atau berada dalam keadaan tidak mampu melaksanakan haji. Ini adalah
pendapat Abdullah bin al-Mubarak dan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i”. [Selesai]
Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85
menjelaskan:
وَلَا
خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ يَقَعُ الحَجُّ عَنِ الْغَيْرِ
تَطَوُّعًا، وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي وُقُوعِهِ فَرْضًا
“Dan tidak ada perbedaan
pendapat di antara kaum muslimin bahwa badal haji boleh dilakukan untuk orang
lain sebagai bentuk ibadah sukarela (tathawwu’), sedangkan yang menjadi
perbedaan pendapat adalah apakah hal itu dapat terjadi dalam bentuk kewajiban
(fardhu)”.
Dan al-Hafidz Ibnu Hajar
Al-Asqalani rahimahullah berkata:
وَاتَّفَقَ
مَنْ أَجَازَ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ عَلَى أَنَّهَا لَا تُجْزِئُ فِي
الْفَرْضِ إِلَّا عَنْ مَوْتٍ أَوْ عَضْبٍ فَلَا يَدْخُلُ الْمَرِيضُ لِأَنَّهُ يُرْجَى
بُرْؤُهُ وَلَا الْمَجْنُونُ لِأَنَّهُ تُرْجَى إِفَاقَتُهُ وَلَا الْمَحْبُوسُ لِأَنَّهُ
يُرْجَى خَلَاصُهُ وَلَا الْفَقِيرُ لِأَنَّهُ يُمْكِنُ اسْتِغْنَاؤُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Para ulama yang membolehkan
badal haji sepakat bahwa badal haji dalam haji wajib tidak sah kecuali untuk
orang yang meninggal atau mengalami kelumpuhan (عَضْبٌ). Maka orang sakit tidak termasuk, karena masih diharapkan
sembuhnya. Demikian pula orang gila, karena masih diharapkan sadar kembali.
Tidak pula orang yang dipenjara, karena masih diharapkan bebas. Dan tidak pula
orang fakir, karena masih mungkin menjadi kaya.” [Fathul Bari, 4/70]
===
FATWA SYEIKH BIN BAZ:
Syeikh Bin Baz rahimahullah menegaskan
bahwa Badal haji diperbolehkan untuk orang lain itu, tidak khusus untuk kerabat
saja. Beliau berkata:
الْحَجُّ
عَنِ الْآخَرِينَ لَيْسَ خَاصًّا بِالْقَرَابَةِ، بَلْ يَجُوزُ لِلْقَرَابَةِ وَغَيْرِ
الْقَرَابَةِ؛ لِأَنَّ الرَّسُولَ ﷺ شَبَّهَهُ بِالدَّيْنِ، فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ
يَجُوزُ لِلْقَرَابَةِ وَغَيْرِ الْقَرَابَةِ. وَإِذَا أَخَذَ الْمَالَ وَهُوَ يَقْصِدُ
بِذَلِكَ الْمُشَاهَدَةَ لِلْمَشَاعِرِ الْعَظِيمَةِ، وَمُشَارَكَةَ إِخْوَانِهِ الْحُجَّاجِ،
وَالْمُشَارَكَةَ فِي الْخَيْرِ، فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ إِنْ شَاءَ اللهُ وَلَهُ أَجْرٌ.
أَمَّا
إِذَا كَانَ لَمْ يَقْصِدْ إِلَّا الدُّنْيَا، فَلَيْسَ لَهُ إِلَّا الدُّنْيَا، وَلَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى» مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ.
Badal haji untuk orang lain
tidak khusus terbatas pada kerabat, bahkan boleh dilakukan untuk kerabat maupun
non-kerabat. Karena Rasulullah ﷺ menyerupakan haji tersebut dengan hutang. Ini menunjukkan bahwa
badal haji boleh dilakukan baik untuk kerabat maupun selain kerabat.
Apabila seseorang mengambil
upah, sementara tujuannya adalah untuk menyaksikan syiar-syiar agung haji, ikut
bersama saudara-saudaranya para jamaah haji, dan berpartisipasi dalam kebaikan,
maka ia berada di atas kebaikan insya Allah dan mendapatkan pahala.
Adapun jika tujuannya hanya
dunia semata, maka ia tidak mendapatkan kecuali dunia saja. Tidak ada daya dan
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
ﷺ:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ
مَا نَوَى»
“Sesungguhnya amal-amal itu
tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang
ia niatkan.”
[Muttafaq ‘alaih.
Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Bad’ul Wahyi bab “Permulaan
Wahyu” no. 1, dan Sahih Muslim dalam Kitab Al-Imarah bab “Sabda Nabi ﷺ:
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat” no. 1907].
Pertanyaan ini dijawab
setelah ceramah yang disampaikan oleh Abdul Aziz bin Baz tentang haji pada
tanggal 8 Dzulhijjah di Mina tahun 1402 H. [Lihat: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu
Baz» 16/423.]
===
FATWA SYEIKH BIN BAZ TENTANG
BADAL UMRAH DAN HAJI:
Syeikh Bin Baz juga membolehkan badal umroh untuk
orang, baik untuk keuarganya, maupun orang lain. Beliau berkata:
لَا
بَأْسَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْعُمْرَةَ عَنْ وَالِدِهِ، وَيُكَلِّفَ شَخْصًا ثِقَةً يُؤَدِّي
عَنْهُ الْحَجَّ، لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، وَإِنْ تَوَلَّى بِنَفْسِهِ أَدَاءَ الْعُمْرَةِ
وَالْحَجِّ عَنْ وَالِدِهِ فَهَذَا أَكْمَلُ فِي الْبِرِّ، وَيَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَ
الْحَجَّ عَنْ وَالِدِهِ شَخْصٌ غَيْرُهُ وَهُوَ يُؤَدِّي الْعُمْرَةَ. كَمَا يَجُوزُ
أَنْ يَحُجَّ عَنْ شَخْصٍ وَيَعْتَمِرَ عَنْ شَخْصٍ آخَرَ، ...
Tidak mengapa bagi seseorang
menunaikan umrah atas nama orang tua-nya, begitu juga menugaskan orang lain
yang dapat dipercaya untuk menunaikan haji atas namanya , itu tidak lah mengapa
.
Dan jika dia sendiri
melakukan umrah dan haji atas nama orang tuanya, maka ini lebih sempurna dalam
amalan al-Birr [berbakti kepadanya] .
Namun dibolehkan baginya
menugaskan orang lain untuk melakukan haji atas nama orang tuanya, sementara
ibadah umrah untuk orang tuanya dia sendiri yang melakukan-nya .
Juga diperbolehkan untuk
melakukan haji atas nama seseorang , sementara melakukan umrahnya atas nama
orang lain lagi .
===
DALIL
SINGKAT DI SYARIATKAN-NYA BADAL HAJI:
Selain berdalil dengan
hadits-hadits yang telah di sebutkan di atas, mereka juga berdalil dengan dalil-dalil
berikut ini:
Dalil Pertama: Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ
سَبِيلًا﴾
“Dan wajib atas manusia untuk
melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan
menuju kepadanya.”(Surah Ali ‘Imran: 97)
Sisi pendalilannya:
Ayat ini menunjukkan bahwa
siapa yang mampu menunaikan haji dengan badan dan hartanya, maka haji wajib
atas dirinya. Jika ia tidak mampu melaksanakan haji dengan badannya namun mampu
dengan hartanya, maka ia wajib menunjuk orang lain untuk menggantikannya.
Dalil Kedua: dari sunnah.
Dari Abdullah bin Abbas, ia
berkata:
كَانَ
الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ
تَسْتَفْتِيهِ، فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ، قَالَتْ: يَا
رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، أَدْرَكَتْ أَبِي
شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ
عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ
“Al-Fadhl bin Abbas pernah
membonceng bersama Rasulullah ﷺ. Lalu datang seorang wanita dari Khats’am meminta fatwa kepada
beliau. Maka Al-Fadhl memandang wanita itu dan wanita itu pun memandang
Al-Fadhl. Rasulullah ﷺ lalu memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah lain.
Wanita itu berkata: ‘Wahai
Rasulullah, sesungguhnya kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya
mendapati ayahku dalam keadaan sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di
atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Ya.’ Dan itu terjadi pada Haji Wada’.”
Diriwayatkan oleh Sahih
al-Bukhari no. 1513 dan Sahih Muslim no. 1334, dan lafaz ini milik Muslim.
Sisi pendalilannya:
Nabi ﷺ membenarkan ucapan wanita tersebut bahwa haji atas ayahnya
adalah kewajiban, meskipun ayahnya tidak mampu secara fisik. Seandainya haji
tidak wajib atasnya, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan membenarkannya, karena tidak mungkin beliau
membiarkan kesalahan.
Hal ini menunjukkan bahwa
orang hidup yang tidak mampu secara fisik namun mampu secara harta wajib menunjuk
orang lain untuk membadalkannya.
Dalil Ketiga:
Karena haji adalah ibadah
yang apabila dirusak mewajibkan kaffarah, maka dibolehkan orang lain
menggantikan pelaksanaannya, sebagaimana puasa; apabila seseorang tidak mampu
melaksanakannya maka ia menebusnya dengan fidyah.
====
PENDAPAT MADZHAB MALIKIYYAH:
BADAL HAJI UNTUK MAYIT menurut Madzhab Malikiyyah:
Badruddin al-‘Aini dalam
‘Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhori 9/125 dan al-Mubarokfuri dalam Mir’atul
Mafaatiih 8/324 berkata tentang badal haji untuk mayit menurut madzhab Malikiyah:
قَالَ
مَالِكٌ وَاللَّيْثُ وَالْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ: لَا يَحُجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ إِلَّا
عَنْ مَيِّتٍ لَمْ يَحُجَّ حَجَّةَ الْإِسْلَامِ.
Imam Malik, Al-Laits, dan
Al-Hasan bin Shalih berkata: “Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain
kecuali untuk orang yang telah meninggal dunia dan belum menunaikan haji Islam
(haji wajib).” [Selesai]
Al-Imam at-Tirmidzy dalam
as-Sunan 3/258 di bawah hadits no. 928 berkata:
وقَالَ
مَالِكٌ: «إِذَا أَوْصَى أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ حُجَّ عَنْهُ»
Dan Malik bin Anas berkata:
“Apabila seseorang berwasiat agar dihajikan, maka boleh dihajikan untuknya”.
Ibnu ar-Rusyd dalam
Biadayatul Mujtahid 2/85 berkata:
وَإِنْ
كَانَ قَدْ أَدَّى الْفَرْضَ عَنْ نَفْسِهِ فَذَلِكَ أَفْضَلُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ
فِيمَنْ يَحُجُّ عَنِ الْمَيِّتِ، لِأَنَّ الْحَجَّ عِنْدَهُ عَنِ الْحَيِّ لَا يَقَعُ.
“Jika seseorang (yang
melakukan badal haji) telah menunaikan sebelumnya haji fardhu untuk dirinya
sendiri, maka itu lebih utama (lebih afdhol). Dan Imam Malik bin Anas
berpendapat demikian dalam masalah orang yang menghajikan untuk mayit, karena
menurut beliau haji badal untuk orang yang masih hidup, itu tidak sah dilakukan”.
BADAL HAJI UNTUK ORANG HIDUP
YANG SUDAH TIDAK MAMPU.
Para ulama madzhab malikiyah
berbeda pendapat tentang badal haji untuk orang hidup yang tidak sudah mampu
secara permanen (الْعَاجِزُ).
Badruddin al-‘Aini dalam
‘Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhori 9/125 dan al-Mubarokfuri dalam Mir’atul
Mafaatiih 8/324 menyebutkan ada tiga pendapat di kalangan Malikiyyah dalam hal
ini. Dan berikut ini kutipannya:
وَأَمَّا
الْعَاجِزُ فَحَكَى الْمُصَنِّفُ فِيهِ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ:
الْمَشْهُورُ:
عَدَمُ الْجَوَازِ؛ أَيْ: تُكْرَهُ. صَرَّحَ فِي الْجَلَّابِ بِذَلِكَ، وَكَلَامُ الْمُصَنِّفِ
لَا تُؤْخَذُ مِنْهُ الْكَرَاهَةُ بَلِ الْمَنْعُ. ابْنُ هَارُونَ: وَهُوَ ظَاهِرُ
مَا حَكَاهُ اللَّخْمِيُّ.
وَالْقَوْلُ
الثَّانِي: الْجَوَازُ مُطْلَقًا، وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ مَالِكٍ.
وَقَالَ
ابْنُ وَهْبٍ وَأَبُو مُصْعَبٍ: يَجُوزُ فِي حَقِّ الْوَلَدِ خَاصَّةً؛ لِأَنَّ الرُّخْصَةَ
وَرَدَتْ فِيهِ.
وَنُقِلَ
عَنْ ابْنِ وَهْبٍ أَنَّهُ أَجَازَ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ عَنْ قَرَابَتِهِ، وَلَمْ
يُخَصِّصِ الْوَلَدَ.
وَيَقُولُ
ابْنُ وَهْبٍ: الْقَوْلُ الْأَوَّلُ قَالَهُ ابْنُ حَبِيبٍ؛ لِأَنَّهُ قَالَ: قَدْ
جَاءَتِ الرُّخْصَةُ فِي الْحَجِّ عَنِ الْكَبِيرِ الَّذِي لَمْ يَنْهَضْ وَلَمْ يَحُجَّ،
وَعَنْ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ وَلَدُهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ
بِهِ، وَيُجْزِئُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Adapun orang hidup yang tidak
mampu (الْعَاجِزُ), maka al-mushonnif
(Kholil Al-Maliki) menyebutkan adanya tiga pendapat di dalamnya:
Pendapat yang masyhur:
Adalah tidak boleh; yaitu
dimakruhkan. Hal ini ditegaskan dalam kitab *Al-Jallab*. Namun, perkataan al-mushoonnif
(Kholil Al-Maliki) tidak menunjukkan makruh saja, bahkan menunjukkan larangan. Ibnu
Harun berkata: ini juga nampak (ظَاهِرٌ) dari apa yang dinukil oleh Al-Lakhmi.
Pendapat kedua:
Boleh secara mutlak, dan ini
diriwayatkan dari Malik bin Anas.
Abdullah bin Wahb dan Abu
Mush‘ab az-Zuhri berkata: boleh khusus bagi anak, karena keringanan (rukhsah)
memang datang dalam hal ini.
Pendapat ke tiga:
Diriwayatkan dari Ibnu Wahb
bahwa beliau membolehkan seseorang menghajikan untuk kerabatnya, dan tidak
mengkhususkan hanya boleh dilakukan oleh anak saja.
Ibnu Habib mengatakan bahwa
pendapat pertama (yakni larangan/makruh) dinisbatkan kepada Abdullah bin Wahb,
karena beliau berkata: telah datang rukhsoh tentang haji bagi orang tua yang
sudah lemah dan tidak mampu berdiri, dan bagi orang yang meninggal dan belum
berhaji, bahwa boleh dihajikan oleh anaknya meskipun tidak berwasiat, dan itu
mencukupinya insya Allah.
Di antara dalil bagi
pendapat pertama yang masyhur dalam madzhab Maliki, yaitu pendapat yang
memakruhkan-nya adalah sbb:
Dalil ke1.
Firman Allah Ta’ala:
﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾
“Dan bahwa manusia tidak
memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Surah An-Najm ayat 39)
Dalil ke 2.
Perkataan Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma:
«لَا يَحُجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ»
“Tidak ada seorang pun yang
menghajikan orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berpuasa untuk orang
lain.”
[Musannaf Ibni Abi Syaibah,
Maktabah Ar-Rusyd, 3/380 no. 15122]
Dalil ke 3.
Dengan qiyas kepada shalat
dan puasa, karena keduanya tidak menerima perwakilan meskipun dalam keadaan
tidak mampu. [Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]
BANTAHAN TERHADAP 3 DALIL DIATAS:
Bantahan dari Imam
asy-Syafi’i dalam al-Umm 2/125 terhadap dalil-dalil madzhab Maliki. Imam
Syafi’i berkata:
لَا
أَعْلَمُ أَحَدًا نُسِبَ إِلَى عِلْمٍ بِبَلَدٍ يُعْرَفُ أَهْلُهُ بِالْعِلْمِ خَالَفَنَا
فِي أَنْ يُحَجَّ عَنِ الْمَرْءِ إِذَا مَاتَ الْحَجَّةُ الْوَاجِبَةُ عَنْهُ إِلَّا
بَعْضُ مَنْ أَدْرَكْنَا بِالْمَدِينَةِ، وَأَعْلَامُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْأَكَابِرُ
مِنْ مَاضِي فُقَهَائِهِمْ تَأْمُرُ بِهِ مَعَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ أَمَرَ
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ بِهِ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ، وَابْنُ الْمُسَيَّبِ وَرَبِيعَةُ.
وَالَّذِي
قَالَ: «لَا يُحَجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ» قَالَهُ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
مِنْ ثَلَاثَةِ وُجُوهٍ سِوَى مَا رَوَى النَّاسُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ غَيْرِ ذَلِكَ،
أَنَّهُ أَمَرَ بَعْضَ مَنْ سَأَلَهُ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ تَرَكَ مَا
رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
وَاحْتَجَّ
لَهُ بَعْضُ مَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ بِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: «لَا يُحَجُّ أَحَدٌ
عَنْ أَحَدٍ»، وَهُوَ يَرْوِي عَنِ ابْنِ عُمَرَ ثَلَاثَةً وَسِتِّينَ حَدِيثًا يُخَالِفُ
ابْنَ عُمَرَ فِيهَا، مِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمِنْهَا
مَا يَدَعُهُ لِمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمِنْهَا مَا يَدَعُهُ
لِقَوْلِ رَجُلٍ مِنَ التَّابِعِينَ، وَمِنْهَا مَا يَدَعُهُ لِرَأْيِ نَفْسِهِ.
فَكَيْفَ
جَازَ لِأَحَدٍ نَسَبَ نَفْسَهُ إِلَى عِلْمٍ أَنْ يُحِلَّ قَوْلَ ابْنِ عُمَرَ عِنْدَهُ
فِي هَذَا الْمَحَلِّ، ثُمَّ يَجْعَلَهُ حُجَّةً عَلَى السُّنَّةِ، وَلَا يَجْعَلَهُ
حُجَّةً عَلَى قَوْلِ نَفْسِهِ؟
وَكَانَ
مِنْ حُجَّةِ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْقَوْلِ أَنْ قَالَ: كَيْفَ يَجُوزُ أَنْ يَعْمَلَ
رَجُلٌ عَنْ غَيْرِهِ، وَلَيْسَ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَّا اتِّبَاعُهَا
بِفَرْضِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
كَيْفَ،
وَالْمَسْأَلَةُ فِي شَيْءٍ قَدْ ثَبَتَتْ فِيهِ السُّنَّةُ مَا لَا يَسَعُ عَالِمًا
وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَلَوْ جَازَ هَذَا لِأَحَدٍ جَازَ عَلَيْهِ مِثْلُهُ، فَقَدْ
يُثْبِتُ الَّذِي قَالَ هَذَا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَشْيَاءَ بِأَضْعَفَ مِنْ إِسْنَادِ
أَمْرِ النَّبِيِّ ﷺ بَعْضَ النَّاسِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ بَعْضٍ.
Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang dinisbatkan kepada ilmu di
suatu negeri yang penduduknya dikenal sebagai ahli ilmu yang menyelisihi kami dalam
masalah bolehnya menghajikan seseorang setelah ia meninggal untuk menunaikan
haji wajibnya, kecuali sebagian orang yang kami jumpai di Madinah. Padahal para
ulama besar penduduk Madinah dan para fuqaha terdahulu mereka memerintahkan hal
itu, bersamaan dengan adanya sunnah Rasulullah ﷺ
tentangnya.
Kemudian Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, dan selain keduanya
dari para sahabat Nabi ﷺ juga
memerintahkan hal tersebut. Demikian pula Sa'id bin Al-Musayyib dan Rabi'ah
Ar-Ra'yi.
Adapun orang yang mengatakan, “Tidak boleh seseorang menghajikan orang
lain,” maka ia mengucapkannya, padahal telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui tiga jalur selain
riwayat-riwayat lain yang masyhur dari Nabi ﷺ,
bahwa beliau memerintahkan sebagian orang yang bertanya kepada beliau agar
menghajikan orang lain.
Lalu orang itu meninggalkan apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ tersebut. Sebagian pendukung
pendapatnya berhujjah dengan perkataan Abdullah bin Umar:
“Tidak boleh seorang pun menghajikan orang lain.”
Padahal ia sendiri meriwayatkan dari Ibnu Umar enam puluh tiga hadits
yang ia menyelisihi Ibnu Umar di dalamnya. Di antaranya ada yang ia tinggalkan
karena adanya hadits dari Nabi ﷺ,
ada yang ia tinggalkan karena pendapat sebagian sahabat Nabi ﷺ, ada yang ia tinggalkan
karena pendapat seorang tabi’in, bahkan ada yang ia tinggalkan karena pendapat
pribadinya sendiri.
Maka bagaimana mungkin seseorang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu
menjadikan perkataan Ibnu Umar sebagai hujjah dalam masalah ini untuk menentang
sunnah, namun tidak menjadikannya hujjah atas pendapat dirinya sendiri?
Di antara alasan orang yang berpendapat demikian adalah ucapannya:
“Bagaimana mungkin seseorang beramal untuk orang lain, padahal yang ada
dalam sunnah Rasulullah ﷺ
hanyalah kewajiban mengikuti perintah Allah ‘Azza wa Jalla?”
Padahal masalah ini termasuk perkara yang telah ada
ketetapan sunnahnya (valid), sehingga
tidak ada kelonggaran bagi seorang alim untuk mengabaikannya. Wallahu a’lam
Kalau cara seperti ini dibolehkan bagi seseorang, tentu akan berlaku
pula terhadap dirinya. Sebab orang yang mengatakan hal ini sendiri menetapkan
beberapa perkara atas nama Rasulullah ﷺ
dengan sanad yang lebih lemah dibanding sanad hadits tentang perintah Nabi ﷺ kepada sebagian orang untuk
menghajikan orang lain”. [Kutipan Selesai]
Imam An-Nawawi
rahimahullah berkata:
"وَالْجُمْهُورِ أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ عَنِ
الْمَيِّتِ وَالْعَاجِزِ الْمَأْيُوسِ مِنْ بُرْئِهِ وَاعْتَذَرَ الْقَاضِي عِيَاضٌ
عَنْ مُخَالَفَةِ مَذْهَبِهِمْ لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي الصَّوْمِ عَنِ الْمَيِّتِ
وَالْحَجِّ عَنْهُ بِأَنَّهُ مُضْطَرِبٌ وَهَذَا عُذْرٌ بَاطِلٌ وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ
اضْطِرَابٌ وَإِنَّمَا فِيهِ اخْتِلَافٌ جَمَعْنَا بَيْنَهُ كَمَا سَبَقَ وَيَكْفِي
فِي صِحَّتِهِ احْتِجَاجُ مُسْلِمٍ بِهِ فِي صَحِيحِهِ".
“Mayoritas ulama berpendapat
bahwa badal haji dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dan juga untuk orang
yang tidak mampu yang tidak diharapkan kesembuhannya.
Al-Qadhi ‘Iyadh memberikan udzur
terhadap penyelisihan madzhab mereka — yaitu Malikiyyah — terhadap
hadits-hadits tentang puasa dan haji untuk orang yang meninggal, dengan alasan
bahwa hadits tersebut mudhtharib.
Namun alasan ini batil,
karena tidak ada kegoncangan dalam hadits tersebut. Cukuplah sebagai bukti
kesahihannya bahwa Imam Muslim berhujjah dengannya dalam kitab Shahih-nya.”
[Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8/27]
Hadits yang dimaksud oleh
An-Nawawi rahimahullah, yang disebutkan bahwa sebagian ulama Malikiyyah
menghukuminya mudhtharib, adalah hadits dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya
radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
بَيْنَا
أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ: إِنِّي
تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ. فَقَالَ: «وَجَبَ أَجْرُكِ،
وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ». قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا
صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: «صُومِي عَنْهَا». قَالَتْ: إِنَّهَا لَمْ
تَحُجَّ قَطُّ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «حُجِّي عَنْهَا».
“Ketika aku sedang duduk di
sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang wanita lalu berkata: ‘Sesungguhnya
aku pernah menyedekahkan seorang budak perempuan kepada ibuku, lalu ibuku
meninggal dunia.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Pahalamu telah tetap, dan budak itu kembali kepadamu melalui
warisan.’
Wanita itu berkata: ‘Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ibuku memiliki kewajiban puasa sebulan. Apakah aku boleh berpuasa
untuknya?’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah untuknya.’
Wanita itu berkata:
‘Sesungguhnya ia belum pernah berhaji sama sekali. Apakah aku boleh
menghajikannya?’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Berhajilah untuknya.’” [Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih
Muslim no. 1149].
Barang siapa memiliki harta lebih dari kebutuhan dirinya dan nafkah
keluarganya, serta cukup untuk biaya haji, maka ia wajib berhaji sendiri. Jika
ia tidak mampu karena sakit atau usia tua, maka ia wajib menunjuk orang lain
untuk menghajikannya dengan hartanya.
Jika ia meninggal dunia sebelum berhaji, maka wajib dikeluarkan dari
harta peninggalannya biaya untuk menghajikannya, karena haji merupakan hutang
yang menjadi tanggungannya, dan hutang kepada Allah lebih berhak untuk
ditunaikan.
Sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasa'i no. 2639 dari Abdullah bin Abbas
radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
قَالَ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ
يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ
أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟» قَالَ، نَعَمْ قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ»
“Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah ﷺ,
sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan belum berhaji. Apakah aku boleh menghajikannya?’
Beliau bersabda: ‘Bagaimana pendapatmu jika ayahmu memiliki hutang, apakah
engkau akan melunasinya?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Maka hutang
kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.’”
[Hadits ini dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i].
===***===
KEUTAMAAN BADAL HAJI
Seorang muslim menghajikan
saudaranya sesama muslim merupakan bentuk bantuan dalam menunaikan syiar yang
wajib ini. Hal tersebut termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan
ketakwaan. Allah SWT berfirman:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى﴾
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS.
Al-Ma’idah: 2)
Badal haji juga termasuk
perbuatan baik, kebaikan, dan ihsan, terlebih jika dilakukan untuk kedua orang
tua atau salah satu kerabat.
Adapun hadits-hadits khusus
tentang keutamaan badal haji yang disebutkan dalam sebagian kitab, maka
hadits-hadits tersebut tidak shahih.
[An-Niyabah fil Hajj, karya Basim Qadhi, tesis
magister di Umm Al-Qura University, hlm. 38]
====***====
WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG YANG TELAH WAFAT?
Sesungguhnya seorang muslim yang telah meninggal dunia, baligh dan
berakal, jika tidak sempat menunaikan haji Islam karena tidak terpenuhinya
syarat kemampuan (istitha’ah), maka haji tersebut memang tidak wajib atasnya,
dan tidak ada seorang pun yang wajib menghajikannya—meskipun ia adalah ahli
warisnya—baik dari hartanya sendiri maupun dari harta orang lain, kecuali jika
ada yang menghajikannya secara sukarela. Hal ini dibolehkan menurut pendapat
yang lebih kuat dari para ulama.
Adapun jika orang yang meninggal tersebut semasa
hidupnya telah ada ketetapan kewajiban
haji atas dirinya namun belum menunaikannya, maka para ulama berbeda pendapat
tentang kewajiban menghajikannya.
Abu Hanifah dan Malik berpendapat: tidak dihajikan kecuali jika ia berwasiat
untuk itu, dan pelaksanaannya bersifat sukarela.
Sedangkan Syafi’i dan Ahmad berpendapat: wajib dihajikan dari harta peninggalannya,
baik ia meninggalkan haji karena kelalaian maupun bukan karena kelalaian, baik
ia berwasiat atau tidak.
Pendapat terakhir ini adalah yang lebih kuat, insyaAllah, berdasarkan riwayat al-Bukhari
dan selainnya dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ
فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا،
أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ،
فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ».
Bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada
Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya
ibuku bernazar untuk berhaji, tetapi ia belum sempat berhaji hingga meninggal
dunia. Apakah aku boleh menghajikannya?”
Beliau ﷺ bersabda:
“Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki utang,
apakah engkau akan melunasinya? Lunasilah utang kepada Allah, karena Allah
lebih berhak untuk ditunaikan.” [Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari (1953) dan Muslim (1148) dengan perbedaan redaksi yang sedikit]
Karena haji adalah hak yang telah tetap kewajibannya atas seseorang dan
dapat diwakilkan, maka ia tidak gugur dengan kematian sebagaimana utang. Biaya
haji diambil dari seluruh harta peninggalannya karena ia merupakan utang yang
telah menetap, sehingga kedudukannya seperti utang manusia.
Jika ia tidak meninggalkan harta warisan, maka kewajiban haji tetap
berada dalam tanggungannya, dan tidak wajib bagi ahli waris untuk
menghajikannya, namun dianjurkan bagi mereka untuk melakukannya.
Jika ahli waris menghajikannya sendiri, atau menyewa orang lain untuk
menghajikannya, atau ada orang lain yang menghajikannya meskipun tanpa izin
ahli waris, maka gugurlah kewajiban tersebut darinya. [Baca: Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 11/19265 no. 10177].
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
«مَتَى تُوُفِّيَ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ
الْحَجُّ وَلَمْ يَحُجَّ، وَجَبَ أَنْ يُخْرَجَ عَنْهُ مِنْ جَمِيعِ مَالِهِ مَا يُحَجُّ
بِهِ عَنْهُ وَيُعْتَمَرُ، سَوَاءٌ فَاتَهُ بِتَفْرِيطٍ أَوْ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ، وَبِهَذَا
قَالَ الْحَسَنُ، وَطَاوُسٌ، وَالشَّافِعِيُّ ....
وَيُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ يَكُونَ الْمَنُوبُ عَنْهُ عَاجِزًا
عَنِ الْحَجِّ الْوَاجِبِ بِنَفْسِهِ، وَأَنْ يَأْذَنَ لِلنَّائِبِ فِي الْحَجِّ عَنْهُ،
وَأَنْ يَنْوِيَ النَّائِبُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ الْحَجَّ عَنِ الْمَنُوبِ عَنْهُ،
وَأَنْ يَكُونَ قَدْ أَدَّى الْفَرِيضَةَ عَنْ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلُ، وَتَجُوزُ نِيَابَةُ
الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ فِي الْحَجِّ، بِدَلِيلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ
قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ
أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ،
فَهَلْ يُقْضَى عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ».
وَلِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ: «أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ
النَّبِيَّ ﷺ عَنْ أَبِيهَا، مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ؟ قَالَ: حُجِّي عَنْ أَبِيكِ»، وَعَنْهُ:
«أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، فَمَاتَتْ، فَأَتَى أَخُوهَا النَّبِيَّ ﷺ
فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ، أَمَا
كُنْتَ قَاضِيَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاقْضُوا دَيْنَ اللَّهِ، فَهُوَ أَحَقُّ
بِالْقَضَاءِ». رَوَاهُمَا النَّسَائِيُّ،
وَلِأَنَّهُ حَقٌّ اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ،
فَلَمْ يَسْقُطْ بِالْمَوْتِ كَالدَّيْنِ». انتهى
“Kapan saja seseorang yang wajib haji meninggal dunia sebelum berhaji,
maka wajib dikeluarkan dari seluruh hartanya biaya untuk menghajikan dan
mengumrahkannya, baik ia meninggalkannya karena meremehkan ataupun bukan karena
meremehkan. Ini adalah pendapat Al-Hasan, Thawus, dan Asy-Syafi’i.”
Disyaratkan dalam haji badal bahwa orang yang diwakili memang tidak
mampu melaksanakan haji wajib sendiri, dan ia memberi izin kepada orang yang
mewakilinya. Selain itu, orang yang mewakili harus berniat ketika ihram bahwa
hajinya untuk orang yang diwakili, dan ia juga harus sudah menunaikan haji wajib
untuk dirinya sendiri sebelumnya.
Wanita juga boleh menghajikan laki-laki. Dalilnya adalah hadits bahwa
seorang wanita dari Khats’am berkata:
“Wahai Rasulullah ﷺ,
kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan
sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh
menghajikannya?”
Beliau ﷺ
menjawab: “Ya.” [HR. Al-Bukhari no. 1854 dan Muslim no.
1334].
Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa seorang wanita bertanya
kepada Nabi ﷺ tentang ayahnya yang
meninggal dan belum berhaji. Beliau ﷺ
bersabda: “Hajikanlah ayahmu.”
Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang wanita bernazar untuk
berhaji lalu meninggal dunia. Saudara laki-lakinya datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang hal itu.
Maka beliau ﷺ bersabda: “Bagaimana
pendapatmu jika saudaramu memiliki hutang, bukankah engkau akan melunasinya?” Ia
menjawab: “Ya.”
Beliau ﷺ
bersabda: “Maka tunaikanlah hutang kepada Allah, karena itu lebih berhak untuk
ditunaikan.” [Kedua hadits ini diriwayatkan oleh
An-Nasa'i].
Karena haji adalah hak yang telah tetap menjadi tanggungannya dan
menerima perwakilan, maka kewajiban itu tidak gugur dengan kematian,
sebagaimana hutang.”
[Selesai dari kitab “Al-Mughni” (3/101) dengan ringkas].
Adapun jika seseorang ketika hidupnya tidak memiliki biaya haji yang
lebih dari kebutuhan dirinya dan keluarganya, maka haji tidak wajib atasnya,
dan tidak wajib pula dihajikan setelah meninggal, kecuali jika ada orang yang
secara sukarela menghajikannya.
===
FATWA
SYEIKH AL-UTSAIMIN:
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:
“Saya memiliki keponakan yang terkena penyakit kanker —semoga Allah
melindungi Anda dan seluruh kaum muslimin darinya— lalu ia meninggal dunia
tahun ini pada usia sembilan belas tahun dan belum menunaikan haji wajib.
Padahal ia telah terkena penyakit itu sejak lima tahun lalu. Apakah kami harus
menghajikannya? Apakah ada kafarah?”
Beliau menjawab:
«لَا بُدَّ أَنْ نَسْأَلَهُ: هَلْ
هَذَا الشَّابُّ عِنْدَهُ مَالٌ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَحُجَّ بِهِ؟ إِنْ كَانَ الْأَمْرُ
كَذَلِكَ فَلَا بُدَّ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَالٌ فَالْحَجُّ
لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ، وَقَدْ مَاتَ بَرِيئًا مِنَ الْفَرِيضَةِ، لَكِنْ إِنْ
أَرَادُوا أَنْ يَتَطَوَّعُوا وَيَحُجُّوا عَنْهُ فَلَا حَرَجَ» انْتَهَى.
“Kita harus bertanya terlebih dahulu: apakah pemuda ini memiliki harta
yang cukup untuk berhaji? Jika ya, maka ia harus dihajikan. Namun jika ia tidak
memiliki harta, maka haji tidak wajib atasnya dan ia meninggal dalam keadaan
bebas dari kewajiban tersebut. Akan tetapi jika keluarganya ingin secara
sukarela menghajikannya, maka tidak mengapa.” [Selesai dari “Al-Liqa Asy-Syahri”
(62/5)].
Berdasarkan hal tersebut, selama orang yang meninggal itu memiliki harta
yang cukup untuk berhaji, maka haji memang wajib atasnya. Karena itu, apa yang
dilakukan oleh penanya berupa menghajikannya adalah perbuatan yang benar,
bahkan didahulukan daripada hak ahli waris terhadap harta warisan. Namun
sebaiknya ahli waris diberitahu agar mereka tidak menghajikannya lagi dengan
anggapan hal itu masih wajib. Wallahu a’lam.
====
FATWA
SYEIKH BIN BAZ:
Beliau ditanya tentang hukum mewakilkan seseorang untuk berhaji atas
nama orang yang telah meninggal dunia.
Beliau menjawab:
«لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ أَنْ تُعْطِيَهُ
مِنْ مَالِكَ مَا يَحُجُّ بِهِ عَنْ وَالِدِكَ الْمُتَوَفَّى، لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ،
إِذَا كَانَ أَهْلًا لِذَلِكَ، إِنْ كَانَ مُسْلِمًا أَهْلًا لِذَلِكَ، تَخْتَارُ الرَّجُلَ
الطَّيِّبَ الَّذِي تَرْجُو أَنْ يَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْهُ؛ فَلَا بَأْسَ، تَرْجُو
الرَّجُلَ الطَّيِّبَ الْمَعْرُوفَ بِالْخَيْرِ، وَتَسْتَنِيبُهُ فِي الْحَجِّ عَنْ
وَالِدِكَ الْمَيِّتِ».
“Tidak mengapa engkau memberikan sebagian hartamu kepada seseorang agar
ia berhaji atas nama ayahmu yang telah meninggal. Tidak mengapa melakukan hal
itu jika orang tersebut memang layak, yaitu seorang muslim yang pantas untuk
tugas tersebut. Pilihlah orang saleh yang engkau harapkan Allah menerima
amalnya. Tidak masalah engkau menunjuk orang baik yang dikenal dengan
kebaikannya untuk berhaji atas nama ayahmu yang telah meninggal.”
[Sumber: situs resmi Abdul Aziz bin Baz
rahimahullah].
====***===
WAJIBKAH BADAL HAJI FARDHU BAGI ORANG HIDUP YANG PERMANEN TIDAK MAMPU?
Ada dua pendapat:
Pendapat pertama: wajib
Pendapat kedua : tidak wajib.
****
PENDAPAT PERTAMA:
Wajib bagi orang yang tidak
mampu karena usia lanjut atau penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya
untuk menunjuk orang yang menghajikannya apabila ia memiliki harta.
Ini merupakan madzhab
Syafi‘iyyah dan Hanabilah, juga merupakan salah satu riwayat dari Abu Hanifah,
pendapat dua murid beliau, serta pendapat sekelompok ulama salaf. Pendapat ini
dipilih oleh Al-Kamāl Ibnu Al-Humām, Ibnu Hazm, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin.
Disyaratkan bahwa udzur
tersebut bersifat terus-menerus, seperti pikun karena usia tua atau penyakit
kronis.
Maka orang sakit yang masih
diharapkan sembuh tidak termasuk, demikian pula orang gila karena masih
diharapkan sadar kembali, orang yang dipenjara karena masih diharapkan bebas,
dan orang fakir karena masih mungkin menjadi mampu.
["Asy-Syarḥ Al-Kabīr" karya Syamsuddin
Ibnu Qudamah "3/179". "Fatḥul Bārī" karya Ibnu Hajar "4/70"].
Di antara yang berpendapat
demikian adalah Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan Al-Bashri, Ats-Tsauri, Abu Hanifah
dan para pengikutnya, Ibnu Al-Mubarak, Ahmad, dan Ishaq.
["Al-Majmū’" karya An-Nawawi "7/100", "Tafsīr Al-Qurṭubī" "4/151" dan "Fatḥ Al-Qadīr" karya Al-Kamāl Ibnu Al-Humām "2/416"].
[Referensi lainnya: "Al-Majmū’" karya An-Nawawi "7/94", "Mughnī Al-Muḥtāj" karya Asy-Syarbini "1/469". "Syarḥ Muntahā Al-Irādāt" karya Al-Buhuti "1/519". Lihat
juga: "Al-Mughnī" karya Ibnu Qudamah
"3/222", "Asy-Syarḥ Al-Mumti‘" karya Ibnu
Utsaimin "7/31". "Al-Mabsūṭ"
karya As-Sarakhsi "4/275". "Tabyīn Al-Ḥaqā’iq" dan "Ḥāsyiyah Asy-Syalabī" "2/85", "Fatḥ Al-Qadīr" karya Al-Kamāl Ibnu Al-Humām "2/416"].
Syeikh Bin Baz berkata:
« الْعَاجِزُ لِكِبَرِ سِنٍّ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ؛ فَإِنَّهُ
يَلْزَمُهُ أَنْ يُنِيبَ مَنْ يُؤَدِّي عَنْهُ الْحَجَّ الْمَفْرُوضَ وَالْعُمْرَةَ
الْمَفْرُوضَةَ، إِذَا كَانَ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ بِمَالِهِ؛ لِعُمُومِ قَوْلِ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ
سَبِيلًا﴾ آلُ عِمْرَانَ: ٩٧.
“Orang yang tidak mampu
karena usia lanjut atau penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka
wajib baginya untuk mewakilkan orang yang menunaikan haji wajib dan umrah wajib
atas namanya apabila ia mampu secara finansial. Hal ini berdasarkan keumuman
firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā: ‘Dan wajib bagi manusia terhadap Allah untuk
menunaikan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke
sana.’” "Ali ‘Imran: 97". "Majmū’ Fatāwā Ibni Bāz" "16/122".
Ibnu Utsaimin berkata:
«إِنْ كَانَ الْإِنْسَانُ قَادِرًا بِمَالِهِ دُونَ بَدَنِهِ، فَإِنَّهُ
يُنِيبُ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ؛ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ
امْرَأَةً خَثْعَمِيَّةً سَأَلَتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ
أَبِي أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ، شَيْخًا كَبِيرًا
لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَذَلِكَ فِي
حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَفِي قَوْلِهَا: أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ
فِي الْحَجِّ، وَإِقْرَارِ النَّبِيِّ ﷺ ذَلِكَ؛ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ قَادِرًا
بِمَالِهِ دُونَ بَدَنِهِ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقِيمَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ
».
“Apabila seseorang mampu
dengan hartanya tetapi tidak mampu dengan badannya, maka ia boleh mewakilkan
orang yang menghajikannya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma bahwa seorang wanita dari Khats‘am bertanya kepada Nabi ﷺ:
‘Wahai Rasulullah,
kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya telah menimpa ayahku dalam
keadaan ia seorang tua renta yang tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan.
Apakah aku boleh menghajikannya?’
Beliau menjawab: ‘Ya.’
Peristiwa itu terjadi pada Haji Wada‘.
Dalam ucapannya: ‘Kewajiban
haji dari Allah telah menimpa ayahku,’ dan persetujuan Nabi ﷺ
terhadap ucapan tersebut terdapat dalil bahwa orang yang mampu dengan hartanya
namun tidak mampu dengan badannya, wajib baginya menunjuk orang yang
menghajikannya.” [Majmū’ Fatāwā wa Rasā’il
Al-‘Utsaimīn "21/15"].
*****
PENDAPAT KEDUA :
Tidak wajib adanya badal haji
jika ia sendiri tidak mampu melaksanakannya secara langsung. Ini adalah
pendapat Malik bin Anas dan Abu Hanifah.
Ibnu Rusyd al-Maliki dalam
kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/84-86 telah menjelaskan dengan sangat baik
perbedaan pendapat tentang hukum wajibnya badal haji dalam masalah ini dan
asal-usulnya. Dia berkata:
وَأَمَّا
وُجُوبُهُ بِاسْتِطَاعَةِ النِّيَابَةِ مَعَ الْعَجْزِ عَنِ الْمُبَاشَرَةِ: فَعِنْدَ
مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنْ لَا تَلْزَمَهُ النِّيَابَةُ إِذَا اسْتُطِيعَتْ مَعَ
الْعَجْزِ عَنِ الْمُبَاشَرَةِ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا تَلْزَمُ، فَيَلْزَمُ
عَلَى مَذْهَبِهِ الَّذِي عِنْدَهُ مَالٌ يَقْدِرُ أَنْ يُحَجَّ بِهِ عَنْهُ غَيْرُهُ
إِذَا لَمْ يَقْدِرْ هُوَ بِبَدَنِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ غَيْرُهُ بِمَالِهِ، وَإِنْ
وَجَدَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ بِمَالِهِ وَبَدَنِهِ مِنْ أَخٍ أَوْ قَرِيبٍ سَقَطَ ذَلِكَ
عَنْهُ، وَهِيَ الَّتِي يَعْرِفُونَهَا بِالْمَعْضُوبِ - وَهُوَ الَّذِي لَا يَثْبُتُ
عَلَى الرَّاحِلَةِ.
وَكَذَلِكَ
عِنْدَهُ الَّذِي يَأْتِيهِ الْمَوْتُ وَلَمْ يَحُجَّ يَلْزَمُ وَرَثَتَهُ أَنْ يُخْرِجُوا
مِنْ مَالِهِ مَا يُحَجُّ بِهِ عَنْهُ.
وَسَبَبُ
الْخِلَافِ فِي هَذَا: مُعَارَضَةُ الْقِيَاسِ لِلْأَثَرِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْقِيَاسَ
يَقْتَضِي أَنَّ الْعِبَادَاتِ لَا يَنْوبُ فِيهَا أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، فَإِنَّهُ لَا
يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ بِاتِّفَاقٍ، وَلَا يُزَكِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ.
وَأَمَّا
الْأَثَرُ الْمُعَارِضُ لِهَذَا، فَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ الْمَشْهُورُ، خَرَّجَهُ
الشَّيْخَانِ، وَفِيهِ: «أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ
ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ
أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ
عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ» وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَهَذَا فِي الْحَيِّ.
وَأَمَّا
فِي الْمَيِّتِ فَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَيْضًا خَرَّجَهُ الْبُخَارِيُّ، قَالَ:
«جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ جُهَيْنَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
إِنَّ أُمِّي نَذَرَتِ الْحَجَّ فَمَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: حُجِّي عَنْهَا،
أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ دَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ
بِالْقَضَاءِ».
وَلَا
خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ يَقَعُ عَنْ الْغَيْرِ تَطَوُّعًا، وَإِنَّمَا
الْخِلَافُ فِي وُقُوعِهِ فَرْضًا.
“Adapun tentang kewajiban haji dengan kemampuan melalui BADAL ketika seseorang tidak
mampu melaksanakannya secara langsung, maka menurut Imam Malik dan
Abu Hanifah, seseorang tidak wajib di-badal-kan hajinya jika ia mampu
dari sisi biaya tetapi tidak mampu melaksanakannya sendiri secara fisik.
Sedangkan menurut Imam
Syafi’i, hal itu wajib. Maka menurut Madzhab beliau,
seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk membiayai orang lain berhaji
atas namanya, sementara dirinya tidak mampu berhaji secara fisik, maka wajib dibadalkan oleh
orang lain untuk
menghajikan-nya dengan hartanya. Namun apabila ada saudara
atau kerabat yang bersedia menghajikannya dengan tenaga dan biaya mereka
sendiri, maka gugurlah kewajiban tersebut darinya. Orang seperti ini dikenal
dengan istilah “al-ma’dhub”, yaitu orang yang tidak mampu bertahan di atas
kendaraan karena kelemahan fisiknya.
Demikian pula menurut beliau,
seseorang yang meninggal dunia sebelum menunaikan haji, maka ahli warisnya
wajib mengeluarkan biaya dari hartanya untuk menghajikannya.
Penyebab perbedaan
pendapat dalam masalah ini adalah adanya pertentangan
antara qiyas dengan atsar (dalil hadits).
Qiyas menghendaki bahwa
ibadah tidak dapat diwakilkan oleh seseorang kepada orang lain. Sebab tidak ada
seorang pun yang boleh shalat menggantikan orang lain berdasarkan kesepakatan
ulama, dan tidak pula seseorang membayar zakat atas nama orang lain.
Adapun atsar yang
bertentangan dengan qiyas tersebut adalah hadits Ibnu Abbas yang masyhur, yang
diriwayatkan oleh dua imam hadits, Al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits itu
disebutkan:
«أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا
كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ:
نَعَمْ».
“Seorang wanita dari Khats’am
berkata kepada Rasulullah ﷺ: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati
ayahku dalam keadaan sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan.
Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’”
Peristiwa ini terjadi pada
Haji Wada’.
Ini adalah dalil tentang
badal haji untuk orang yang masih hidup.
Sedangkan tentang orang
yang telah meninggal, maka terdapat pula hadits Ibnu
Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:
«جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ جُهَيْنَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي نَذَرَتِ الْحَجَّ فَمَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟
قَالَ: حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟
دَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ».
“Seorang wanita dari Juhainah
datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, ibuku bernazar untuk berhaji, namun ia meninggal sebelum
berhaji. Apakah aku boleh menghajikannya?’ Beliau bersabda: ‘Hajikanlah dia.
Bagaimana pendapatmu jika ia memiliki hutang, apakah engkau akan melunasinya?
Hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.’”
Dan tidak ada perbedaan
pendapat di antara kaum muslimin bahwa badal haji boleh dilakukan untuk orang
lain sebagai bentuk ibadah sukarela (tathawwu’), sedangkan yang menjadi
perbedaan pendapat adalah apakah hal itu dapat terjadi dalam bentuk kewajiban
(fardhu)”. (Selesai)
[Dikutip Pula Oleh
al-Mubarokfury dalam Mir’atul Mafaatih 8/321]
===
TANGGAPAN MADZHAB
MALIKIYAH TERHADAP HADITS KHOTS’AMIYAH DIATAS
Di antara jawaban ulama
Malikiyyah terhadap hadis Khats’amiyyah dan Juhainiyyah adalah apa yang
disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam *Al-Mufhim* (3/443), beliau berkata:
وَإِنَّمَا
قَالَ لَهَا ذَلِكَ - يُرِيدُ أَمْرَ النَّبِيِّ ﷺ الْخَثْعَمِيَّةَ بِالْحَجِّ عَنْ
أَبِيهَا - لِمَا رَأَى مِنْ حِرْصِهَا عَلَى إِيصَالِ الْخَيْرِ وَالثَّوَابِ لِأَبِيهَا،
فَأَجَابَهَا إِلَى ذَلِكَ، كَمَا قَالَ لِلْأُخْرَى (امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ) الَّتِي
قَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ
عَنْهَا؟ فَقَالَ: حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ
قَاضِيَتَهُ عَنْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ.
فَفِي
هَذَا مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ مِنْ بَابِ التَّطَوُّعَاتِ، وَإِيصَالِ الْخَيْرِ
وَالْبِرِّ لِلْأَمْوَاتِ، أَلَا تَرَى أَنَّهُ قَدْ شَبَّهَ فِعْلَ الْحَجِّ بِالدَّيْنِ!
وَبِالْإِجْمَاعِ: لَوْ مَاتَ مَيِّتٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ لَمْ يَجِبْ عَلَى وَلِيِّهِ
قَضَاؤُهُ مِنْ مَالِهِ، فَإِنْ تَطَوَّعَ بِذَلِكَ تَأَدَّى الدَّيْنُ عَنْهُ. وَانْتَهَى.
“Sesungguhnya Nabi ﷺ
memerintahkan hal itu -maksudnya perintah Nabi ﷺ kepada
wanita Khats’am untuk menghajikan ayahnya yang sudah sangat tua dan tidak mampu
duduk tegak di atas kendaraan- karena beliau melihat
semangatnya dalam menyampaikan kebaikan dan pahala kepada ayahnya, maka beliau
mengabulkannya. Sebagaimana beliau juga menjawab wanita lain (Seorang wanita
dari Juhaynah) yang berkata:
‘Sesungguhnya ibuku
bernazar untuk berhaji, tetapi belum sempat berhaji hingga meninggal, apakah
aku boleh menghajikannya?’
Maka beliau ﷺ
bersabda: ‘Hajikanlah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki
hutang, apakah engkau akan melunasinya?’. Ia menjawab: ‘Ya.’”
Dalam hal ini terdapat
petunjuk bahwa masalah ini termasuk dalam “بَابِ
التَّطَوُّعَاتِ” (ibadah sunnah), dan bentuk menyampaikan
kebaikan serta bakti kepada orang yang telah meninggal. Tidakkah engkau melihat
bahwa beliau menyerupakan haji dengan hutang! Dan berdasarkan ijma’, jika
seseorang meninggal dan memiliki hutang, maka walinya tidak wajib melunasinya
dari hartanya sendiri; namun jika ia menunaikannya secara sukarela, maka hutang
itu tertunaikan darinya. (Selesai).
------
JAWABAN
terhadap TANGGAPAN DIATAS:
Memang benar Imam Malik bin
Anas tidak menyebutkan hadis Juhainiyyah dalam *Al-Muwaththa’*, dan tidak
ditemukan adanya penilaian lemah (tadh‘if) terhadap hadis tersebut darinya.
Namun Tidak adanya penyebutan
dalam *Al-Muwaththa’* dan tidak adanya pengamalan terhadapnya, tidak berarti
bahwa beliau melemahkan hadis itu. Sebab beliau juga menyebutkan hadis
Khats’amiyyah dalam *Al-Muwaththa’*, namun beliau tidak mengamalkannya, karena
beliau memahaminya sebagai kasus khusus bagi ayah wanita tersebut—sebagaimana
disebutkan oleh Ibnu Abdul Barr dalam *At-Tamhid*.
Secara keseluruhan, madzhab
jumhur ulama dalam mewajibkan haji atas orang hidup yang sudah tidak mampu secara permanen dan orang yang telah meninggal yang belum
menunaikan haji adalah lebih kuat dan lebih rajih dari sisi dalil.
Adapun para ulama besar umat
yang tidak mengambil konsekuensi dari hadis ini, maka sudah pasti mereka
memiliki udzur (alasan yang dapat diterima). Karena tidak seorang pun dari ulama
umat yang dikenal adil dan amanah sengaja menyelisihi hadis sahih kecuali
karena suatu alasan, seperti keyakinan bahwa hadis tersebut lemah, atau
dianggap khusus, atau telah di-nasakh, atau ditakwil dengan makna yang tidak
zahir, dan alasan-alasan lain yang telah dijelaskan para ulama.
Silakan merujuk kitab *Raf‘u
al-Malam ‘an al-Aimmah al-A‘lam* karya Ibnu Taymiyyah rahimahullah.
Wallahu a‘lam.
====****====
SYARAT-SYARAT BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
[1]. Orang yang dibadali sudah
tidak mampu menunaikan haji wajib sendiri
Para ulama kaum muslimin
bersepakat bahwa tidak boleh orang yang mampu berhaji mewakilkan hajinya kepada
orang lain dalam haji wajib. Sebab Nabi ﷺ hanya memberikan keringanan untuk menghajikan orang yang tidak
mampu dan orang yang sudah meninggal, dan tidak memberi keringanan bagi orang
yang mampu. Tidak boleh pula diqiyaskan karena adanya perbedaan antara
keduanya. Kalau tetap dilakukan, maka tidak sah.
[Al-Ijma’, karya Ibnu
Al-Mundzir, Maktabah Makkah Ats-Tsaqafiyyah, hlm. 67; An-Niyabah fil Hajj,
karya Basim Qadhi, hlm. 47]
[2]. Adanya izin dari orang
yang diwakili apabila masih hidup
Para ulama yang membolehkan
badal haji bagi orang hidup menurut pendapat mu’tamad mereka sepakat bahwa
tidak boleh menghajikannya kecuali dengan izinnya. Karena haji adalah ibadah
yang dapat diwakilkan, maka tidak boleh dilakukan tanpa izinnya.
[Fathul Qadir, karya Ibnu
Al-Humam, Dār Ihyā’ At-Turats
Al-‘Arabi, 2/326; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/93; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/19]
[3]. Berniat untuk orang yang
dihajikan ketika ihram
Disyaratkan dalam badal haji
agar orang yang mewakili berniat haji untuk orang yang diwakili ketika ihram.
Karena ia berhaji bukan untuk dirinya sendiri, maka harus ada niat tersebut.
Yang lebih utama adalah mengucapkan dengan lisannya: “Labbaika ‘an fulan (aku
memenuhi panggilan-Mu untuk fulan).” Sebagaimana ketika ia berhaji untuk
dirinya sendiri. Dan cukup apabila ia berniat untuk orang yang mewakilkan
meskipun tidak menyebut namanya secara lisan.
[Badā’i‘ Ash-Shanā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2/213; Al-Majmū’, karya Imam An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/100]
[4]. Orang yang mewakili
sudah berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu
Madzhab Syafi’iyyah dan
Hanabilah berpendapat bahwa orang yang belum menunaikan haji Islam tidak boleh
menghajikan orang lain. Jika ia melakukannya, maka ihramnya terhitung sebagai
haji Islam untuk dirinya sendiri.
[Al-Majmū‘, karya Imam
An-Nawawi, Dār Al-Fikr, 7/117; Al-Mughnī, karya Ibnu Qudamah, Dār Hajr, 5/42]
Dalil mereka adalah hadits
Abdullah bin Abbas:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: «لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ»، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟»
قَالَ: أَخٌ لِي - أَوْ قَرِيبٌ لِي - قَالَ: «حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟» قَالَ: لَا،
قَالَ: «حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».
Bahwa Nabi ﷺ
mendengar seorang lelaki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah.”
Beliau bertanya: “Siapakah
Syubrumah?”. Ia menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.”
Beliau bertanya: “Apakah
engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab: “Belum.”
Beliau bersabda: “Berhajilah
untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” [Sunan
Abi Dawud no. 1811]
Adapun madzhab Hanafiyyah
berpendapat bahwa badal haji tetap sah, baik orang yang mewakili sudah berhaji untuk
dirinya sendiri maupun belum. Akan tetapi yang lebih utama adalah ia sudah
berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Orang seperti ini disebut dengan
“hajj ash-sharurah (حَجُّ الصَّرُورَةِ)”.
[Badā’i‘ Ash-Shonā’i‘, karya Al-Kasani, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2/213]
====***====
SYARAT-SYARAT YANG HARUS ADA PADA WAKIL (PELAKU BADAL HAJI)
Syarat-syarat bagi wakil (yang membadalkan haji)
[1] Hendaknya orang yang ingin mewakilkan haji memilih orang yang akan menjadi wakilnya dari kalangan orang-orang yang memiliki agama dan amanah, agar ia merasa tenang bahwa wakil tersebut benar-benar menunaikan kewajiban dengan baik.
Lihat: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (kelompok pertama), 11/53.
[2] Wakil tersebut harus sudah pernah menunaikan haji fardhu untuk dirinya sendiri
Disyaratkan bagi wakil bahwa ia telah menunaikan haji Islam (haji wajib) untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika belum, maka haji yang ia lakukan akan jatuh untuk dirinya sendiri dan tidak sah sebagai pengganti bagi orang yang diwakilinya.
Ini adalah madzhab Muhammad bin Idris asy-Syafi'i dan madzhab Ahmad bin Hanbal, juga merupakan pendapat sekelompok ulama salaf. Pendapat ini dipilih oleh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, dan menjadi fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah.
Lihat: Al-Majmu’ karya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (7/117), Al-Hawi Al-Kabir karya Ali bin Muhammad al-Mawardi (4/20–21), Al-Mubdi’ Syarh Al-Muqni’ karya Ibnu Muflih (3/43) dan Syarh Muntaha Al-Iradat karya Mansur al-Buhuti (1/520).
Di antara ulama salaf yang berpendapat demikian adalah Abdullah bin Abbas, Al-Auza'i, dan Ishaq bin Rahuyah.
Lihat: Al-Hawi Al-Kabir (4/21), dan Al-Majmu’ (7/118).
Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata:
«فَتَحَصَّلَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ: أَنَّ الْحَدِيثَ صَالِحٌ لِلِاحْتِجَاجِ، وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ النَّائِبَ فِي الْحَجِّ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ».
“Maka kesimpulan dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa hadits tersebut layak dijadikan hujjah. Di dalamnya terdapat dalil bahwa seorang wakil dalam haji harus sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri.”
Beliau juga berkata:
«الْأَظْهَرُ تَقْدِيمُ الْحَدِيثِ الْخَاصِّ الَّذِي فِيهِ قِصَّةُ شُبْرُمَةَ؛ لِأَنَّهُ لَا يَتَعَارَضُ عَامٌّ وَخَاصٌّ، فَلَا يَحُجُّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ حَتَّى يَحُجَّ عَنْ نَفْسِهِ حَجَّةَ الْإِسْلَامِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى».
“Yang lebih kuat adalah mendahulukan hadits khusus yang berisi kisah Syubrumah, karena dalil umum dan dalil khusus tidak saling bertentangan. Maka tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sampai ia terlebih dahulu menunaikan haji Islam untuk dirinya sendiri. Dan ilmu itu di sisi Allah Ta’ala.” [Aḍwa’ Al-Bayan, 4/329]
[Lihat juga: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (kelompok pertama), 11/50].
DALIL – DALIL:
Dalil Pertama: dari sunnah:
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَرِيبٌ لِي. قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».
bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah).”
Beliau ﷺ bertanya: “Siapakah Syubrumah?” Laki-laki itu menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.”
Beliau ﷺ kembali bertanya: “Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab: “Belum.”
Maka Nabi ﷺ bersabda: “Hajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”
Dalam sebagian lafaz hadits disebutkan:
«هَذِهِ عَنْكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».
“Ini untukmu terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (1811), Ibnu Majah (2903), dan Al-Baihaqi (8936)].
Hadits ini dishahihkan oleh Ad-Daraquthni dalam As-Sunan (2/517). Al-Baihaqi juga menshahihkan sanadnya dan berkata: “Tidak ada hadits dalam bab ini yang lebih shahih darinya.”
Demikian pula hadits ini dishahihkan oleh Al-Jurqani dalam Al-Abathil wal Manakir (2/138).
Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (7/117), dan Ibnu al-Mulaqqin berkata dalam Khulashah Al-Badr Al-Munir (1/345): “Sanadnya sesuai syarat Muslim bin al-Hajjaj.”
Adapun Ibnu Katsir berkata dalam Irsyad Al-Faqih (1/307): “Yang benar, hadits ini mauquf pada Abdullah bin Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh para huffazh.”
Dan hadits ini juga dishahihkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah (2/136).
Dalil Kedua:
Tinjauan syariat menunjukkan bahwa seseorang harus mendahulukan dirinya sendiri sebelum orang lain. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:
«ابْدَأْ بِنَفْسِكَ»
“Mulailah dari dirimu sendiri.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj no. 997 dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.
Karena itu, diri seseorang lebih berhak untuk didahulukan daripada orang lain.
[Lihat: Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin (7/32)].
Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85 menjelaskan tentang perbedaan pendapat masalah ini:
وَاخْتَلَفُوا مِنْ هَذَا الْبَابِ فِي الَّذِي يَحُجُّ عَنْ غَيْرِهِ سَوَاءٌ كَانَ حَيًّا أَوْ مَيِّتًا: هَلْ مِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ أَمْ لَا؟ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ مِنْ شَرْطِهِ، وَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّى الْفَرْضَ عَنْ نَفْسِهِ فَذَلِكَ أَفْضَلُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ فِيمَنْ يَحُجُّ عَنْ الْمَيِّتِ، لِأَنَّ الْحَجَّ عِنْدَهُ عَنْ الْحَيِّ لَا يَقَعُ. وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّ مِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ قَدْ قَضَى فَرِيضَةَ نَفْسِهِ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّهُ إِنْ حَجَّ عَنْ غَيْرِهِ مَنْ لَمْ يَقْضِ فَرْضَ نَفْسِهِ انْقَلَبَ إِلَى فَرْضِ نَفْسِهِ، وَعُمْدَةُ هَؤُلَاءِ حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: وَمَنْ شُبْرُمَةُ؟ فَقَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَالَ: قَرِيبٌ لِي، قَالَ: أَفَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ». وَالطَّائِفَةُ الْأُولَى عَلَّلَتْ هَذَا الْحَدِيثَ بِأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ.
Mereka juga berselisih dalam masalah orang yang menghajikan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal:
Apakah disyaratkan bahwa orang tersebut sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri atau tidak?
Sebagian ulama berpendapat: bahwa itu bukan syarat, meskipun apabila ia sudah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri maka itu lebih baik. Ini adalah pendapat Imam Malik dalam masalah menghajikan orang yang telah meninggal, karena menurut beliau haji atas nama orang hidup tidak sah.
Sebagian ulama lain berpendapat: bahwa syaratnya adalah orang tersebut harus sudah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan selain beliau.
Menurut mereka, apabila seseorang yang belum berhaji untuk dirinya sendiri lalu berhaji atas nama orang lain, maka hajinya otomatis terhitung untuk dirinya sendiri.
Dalil mereka adalah hadits Ibnu Abbas:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: وَمَنْ شُبْرُمَةُ؟ فَقَالَ: أَخٌ لِي، أَوْ قَالَ: قَرِيبٌ لِي، قَالَ: أَفَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ».
“Nabi ﷺ mendengar seseorang berkata: ‘Labbaik atas nama Syubrumah.’
Beliau ﷺ bertanya: ‘Siapakah Syubrumah?’ Ia menjawab: ‘Saudaraku’ atau ‘kerabatku.’
Beliau ﷺ bertanya: ‘Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?’ Ia menjawab: ‘Belum.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.’”
Golongan pertama menilai hadits ini dengan alasan bahwa hadits tersebut juga diriwayatkan secara mauquf sampai kepada Ibnu Abbas saja”. [Selesai]
====***====
HUKUM WANITA MELAKUKAN BADAL HAJI UNTUK PRIA
Boleh melakukan badal haji, baik yang melakukan badalnya laki-laki maupun perempuan.
Hal ini disepakati oleh empat madzhab fikih, yaitu madzhab Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal. Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama, bahkan dinukil adanya ijma’ dalam masalah ini.
[Lihat: Al-Fatawa Al-Hindiyyah (1/257), Bada’i Ash-Shana’i karya Al-Kasani (2/213) dan An-Nutaf fil Fatawa karya As-Sughdi (1/215)].
Adapun dalam madzhab Hanafi disebutkan bahwa dimakruhkan wanita menghajikan laki-laki.
[Lihat: Mawahib Al-Jalil karya Al-Haththab (4/8), dan Al-Mudawwanah karya Sahnun (1/486). Lihat pula: Al-Umm karya Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (2/135) dan Al-Bayan karya Al-Umrani (4/52)].
Ibnu Qudamah berkata:
«يَجُوزُ أَنْ يَنُوبَ الرَّجُلُ عَنِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةُ عَنِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، فِي الْحَجِّ، فِي قَوْلِ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ. لَا نَعْلَمُ فِيهِ مُخَالِفًا، إِلَّا الْحَسَنَ بْنَ صَالِحٍ، فَإِنَّهُ كَرِهَ حَجَّ الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ.
قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: هَذِهِ غَفْلَةٌ عَنْ ظَاهِرِ السُّنَّةِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ الْمَرْأَةَ أَنْ تَحُجَّ عَنْ أَبِيهَا، وَعَلَيْهِ؛ يَعْتَمِدُ مَنْ أَجَازَ حَجَّ الْمَرْءِ عَنْ غَيْرِهِ، وَفِي الْبَابِ حَدِيثُ أَبِي رَزِينٍ، وَأَحَادِيثُ سِوَاهُ»
“Boleh seorang laki-laki menjadi wakil bagi laki-laki maupun perempuan, dan perempuan menjadi wakil bagi laki-laki maupun perempuan dalam haji. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Kami tidak mengetahui adanya yang menyelisihi hal ini kecuali Al-Hasan bin Sholeh, karena beliau memakruhkan wanita menghajikan laki-laki.
Ibnu al-Mundzir berkata: ‘Ini merupakan kelalaian dari memahami zahir sunnah, karena Nabi ﷺ telah memerintahkan seorang wanita untuk menghajikan ayahnya. Inilah yang menjadi sandaran bagi ulama yang membolehkan seseorang menghajikan orang lain. Dalam bab ini juga terdapat hadits Abu Razin al-Uqaili dan hadits-hadits lainnya.’” (Al-Mughni, 3/226)
Ibnu Taimiyah berkata:
«يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَحُجَّ عَنْ امْرَأَةٍ أُخْرَى بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِنْتَهَا أَوْ غَيْرَ بِنْتِهَا، وَكَذَلِكَ يَجُوزُ أَنْ تَحُجَّ الْمَرْأَةُ عَنِ الرَّجُلِ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَجُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ»
“Boleh bagi seorang wanita menghajikan wanita lain menurut kesepakatan ulama, baik wanita itu anaknya maupun bukan. Demikian pula, wanita boleh menghajikan laki-laki menurut empat imam madzhab dan mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 26/13)
Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata:
«دَلَّتِ الْأَحَادِيثُ الْمَذْكُورَةُ عَلَى جَوَازِ حَجِّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ وَعَكْسِهِ، وَعَلَيْهِ عَامَّةُ الْعُلَمَاءِ، وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا الْحَسَنُ بْنُ صَالِحِ بْنِ حَيٍّ، وَالْأَحَادِيثُ الْمَذْكُورَةُ حُجَّةٌ عَلَيْهِ»
“Hadits-hadits yang telah disebutkan menunjukkan bolehnya laki-laki menghajikan perempuan dan sebaliknya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak ada yang menyelisihi dalam hal ini selain Al-Hasan bin Sholeh, dan hadits-hadits tersebut merupakan hujjah yang membantah pendapatnya.” (Aḍwa’ Al-Bayan, 4/327)
Ibnu Baththal berkata:
«وَلَا خِلَافَ فِي حَجِّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ، إِلَّا الْحَسَنَ ابْنَ صَالِحٍ» «شَرْحُ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ» «4/525».
“Tidak ada perselisihan tentang bolehnya laki-laki menghajikan perempuan dan perempuan menghajikan laki-laki, kecuali Al-Hasan bin Sholeh.” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 4/525)
Ibnu al-Mundzir berkata:
«وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ حَجَّ الرَّجُلِ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ: يُجْزِئُ، وَانْفَرَدَ الْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ: فَكَرِهَ ذَلِكَ»
“Para ulama bersepakat bahwa laki-laki menghajikan perempuan dan perempuan menghajikan laki-laki adalah sah. Hanya Al-Hasan bin Sholeh yang menyendiri dengan memakruhkannya.” (Al-Ijma’, hlm. 60)
Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata:
«اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ حَجِّ الْمَرْأَةِ عَنِ الرَّجُلِ إِلَّا الْحَسَنَ بْنَ صَالِحٍ فَمَنَعَهُ، وَكَذَا يَمْنَعُهُ مَنْ مَنَعَ أَصْلَ الِاسْتِنَابَةِ مُطْلَقًا».
“Para ulama sepakat tentang bolehnya wanita menghajikan laki-laki, kecuali Al-Hasan bin Sholeh yang melarangnya. Demikian pula orang yang menolak konsep perwakilan dalam haji secara mutlak.” (Syarh Shahih Muslim, 9/98)
Dalil dari sunnah:
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, bahwa ada seorang wanita dari kabilah Khats’am datang kepada beliau ﷺ untuk meminta fatwa. Ia berkata:
«أَنَّهُ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمٍ تَسْتَفْتِيهِ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ؛ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ».
“Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya kewajiban haji yang Allah tetapkan atas para hamba-Nya mendapati ayahku dalam keadaan sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?”
Beliau ﷺ menjawab: “Ya.”
[Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari no. 1513 dan Sahih Muslim no. 1334, dan lafaz ini milik Muslim].
Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
«هَذِهِ أَخْبَارٌ مُتَظَاهِرَةٌ مُتَوَاتِرَةٌ مِنْ طُرُقٍ صِحَاحٍ، عَنْ خَمْسَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: الْفَضْلِ، وَعَبْدِ اللهِ، وَعُبَيْدِ اللهِ بْنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَابْنِ الزُّبَيْرِ، وَأَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ».
“Ini adalah riwayat-riwayat yang saling menguatkan dan mencapai derajat mutawatir, melalui jalur-jalur sanad yang shahih, dari lima orang sahabat radhiyallahu 'anhum: Al-Fadhl, Abdullah, Ubaidullah bin Al-Abbas bin Abdul Muththalib, Ibnu Az-Zubair, dan Abu Razin Al-‘Uqaili.” [al-Muhallah 7/57].
Sisi pendalilan: Bahwa Nabi ﷺ memberikan izin kepada seorang wanita untuk menghajikan ayahnya, padahal ihram laki-laki lebih sempurna daripada ihram wanita.
===***===
HUKUM UPAH JASA BADAL HAJI DAN UMROH
Ibnu Rusyd dalam kitab “Bidayatul Mujtahid” 2/85 menjelaskan:
وَاخْتَلَفُوا مِنْ هَذَا الْبَابِ فِي الرَّجُلِ يُؤَاجِرُ نَفْسَهُ فِي الْحَجِّ، فَكَرِهَ ذَلِكَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ، وَقَالَا: إِنْ وَقَعَ ذَلِكَ جَازَ، وَلَمْ يُجِزْ ذَلِكَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَعُمْدَتُهُ أَنَّهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - فَلَا تَجُوزُ الْإِجَارَةُ عَلَيْهِ، وَعُمْدَةُ الطَّائِفَةِ الْأُولَى إِجْمَاعُهُمْ عَلَى جَوَازِ الْإِجَارَةِ فِي كُتُبِ الْمَصَاحِفِ وَبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ، وَهِيَ قُرْبَةٌ.
وَالْإِجَارَةُ فِي الْحَجِّ عِنْدَ مَالِكٍ نَوْعَانِ:
أَحَدُهُمَا: الَّذِي يُسَمِّيهِ أَصْحَابُهُ عَلَى الْبَلَاغِ، وَهُوَ أَنْ يُؤَاجِرَ نَفْسَهُ عَلَى مَا يُبَلِّغُهُ مِنَ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ، فَإِنْ نَقَصَ مَا أَخَذَهُ عَنِ الْبَلَاغِ وَفَّاهُ مَا يُبَلِّغُهُ، وَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذَلِكَ شَيْءٌ رَدَّهُ.
وَالثَّانِي: عَلَى سُنَّةِ الْإِجَارَةِ، وَإِنْ نَقَصَ شَيْءٌ وَفَّاهُ مِنْ عِنْدِهِ، وَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلَهُ.
Mereka para ulama juga berselisih dalam masalah seseorang menyewakan dirinya untuk melaksanakan haji.
Imam Malik dan Imam Syafi’i memakruhkan hal itu, namun apabila dilakukan maka sah. Sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya sama sekali.
Dalil Abu Hanifah adalah karena haji merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah ﷻ, sehingga tidak boleh mengambil upah darinya.
Sedangkan dalil kelompok pertama adalah ijma’ ulama tentang bolehnya mengambil upah dalam penulisan mushaf dan pembangunan masjid, padahal keduanya juga termasuk ibadah pendekatan diri kepada Allah.
Menurut Imam Malik, akad upah dalam haji ada dua macam:
Pertama, yang disebut oleh para pengikut Madzhabnya dengan “ala al-balagh”, yaitu seseorang menyewakan dirinya berdasarkan biaya yang cukup untuk bekal dan kendaraan. Jika biaya yang diberikan kurang, maka kekurangannya dilengkapi. Dan jika ada sisa, maka sisanya dikembalikan.
Kedua, akad sewa biasa. Jika biaya kurang maka ia menanggung sendiri kekurangannya, dan jika ada sisa maka itu menjadi haknya. [SELESAI KUTIPAN DARI IBNU RUSYD]
===**===
ATURAN DAN KETENTUAN DALAM BADAL HAJI
Banyak orang bermudah-mudahan
dalam masalah badal haji, padahal badal haji memiliki ketentuan, syarat, dan
hukum-hukum tertentu. Berikut beberapa hal yang mudah untuk disebutkan, semoga
Allah memberi manfaat dengannya:
KE 1].
Badal haji tidak sah untuk
haji Islam bagi orang yang mampu menunaikan haji dengan badannya sendiri.
Ibnu Qudamah rahimahullah
berkata:
«لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَنِيبَ فِي الْحَجِّ الْوَاجِبِ مَنْ يَقْدِرُ
عَلَى الْحَجِّ بِنَفْسِهِ إِجْمَاعًا، قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ
عَلَى أَنَّ مَنْ عَلَيْهِ حَجَّةُ الْإِسْلَامِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَحُجَّ
لَا يُجْزِئُ عَنْهُ أَنْ يَحُجَّ غَيْرُهُ عَنْهُ». انْتَهَى.
“Tidak boleh mewakilkan haji
wajib kepada orang lain bagi orang yang mampu berhaji sendiri, berdasarkan
ijma’. Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Para ulama sepakat bahwa orang yang wajib
menunaikan haji Islam dan mampu melaksanakannya sendiri, maka tidak sah apabila
orang lain menghajikannya.’” [Al-Mughni, 3/185]
KE 2].
Badal haji hanya berlaku bagi
orang yang sakit dengan penyakit yang tidak diharapkan sembuhnya, atau orang
yang tidak mampu secara fisik, atau orang yang telah meninggal. Tidak berlaku
bagi orang miskin atau orang yang terhalang karena kondisi politik atau
keamanan.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah pernah ditanya:
“Apakah boleh seorang muslim
yang sudah menunaikan haji wajib menghajikan salah satu kerabatnya di negeri
Cina karena kerabat tersebut tidak mampu datang untuk menunaikan haji?”
Mereka menjawab:
«يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ الَّذِي قَدْ أَدَّى حَجَّ الْفَرِيضَةِ عَنْ
نَفْسِهِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ الْغَيْرُ لَا يَسْتَطِيعُ
الْحَجَّ بِنَفْسِهِ لِكِبَرِ سِنِّهِ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ أَوْ لِكَوْنِهِ
مَيِّتًا؛ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ.
أَمَّا
إِنْ كَانَ مَنْ يُرَادُ الْحَجُّ عَنْهُ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ لِأَمْرٍ عَارِضٍ
يُرْجَى زَوَالُهُ، كَالْمَرَضِ الَّذِي يُرْجَى بُرْؤُهُ، وَكَالْعُذْرِ السِّيَاسِيِّ،
وَكَعَدَمِ أَمْنِ الطَّرِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ لَا يُجْزِئُ الْحَجُّ عَنْهُ».
انْتَهَى.
“Boleh bagi seorang muslim
yang telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri menghajikan orang lain
apabila orang tersebut tidak mampu berhaji sendiri karena usia lanjut, penyakit
yang tidak diharapkan sembuhnya, atau karena telah meninggal dunia, berdasarkan
hadits-hadits shahih yang menjelaskan hal itu.
Adapun apabila orang yang
hendak dihajikan tidak mampu berhaji karena sebab sementara yang diharapkan
hilang, seperti penyakit yang masih diharapkan sembuh, kendala politik, tidak
amannya perjalanan, dan semisalnya, maka tidak sah menghajikannya.”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, dan Abdullah bin Qu'ud. [Fatawa
Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/51]
KE [3].
Badal haji tidak berlaku bagi
orang yang tidak mampu secara finansial, karena kewajiban haji gugur dari orang
fakir. Badal haji hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu secara fisik.
Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah
juga ditanya:
“Apakah boleh seseorang
melakukan umrah atau haji untuk kerabatnya yang tinggal jauh dari Makkah dan
tidak memiliki biaya untuk sampai ke sana, padahal ia mampu melakukan thawaf?”
Mereka menjawab:
«قَرِيبُكَ الْمَذْكُورُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحَجُّ مَا دَامَ لَا
يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ مَالِيًّا، وَلَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ عَنْهُ فِي الْحَجِّ وَلَا
فِي الْعُمْرَةِ؛ لِأَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَدَاءِ كُلٍّ مِنْهُمَا بِبَدَنِهِ لَوْ
حَضَرَ بِنَفْسِهِ فِي الْمَشَاعِرِ، وَإِنَّمَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ فِيهِمَا عَنِ
الْمَيِّتِ، وَالْعَاجِزِ عَنْ مُبَاشَرَةِ ذَلِكَ بِبَدَنِهِ». انْتَهَى.
“Kerabat yang disebutkan itu
tidak wajib berhaji selama ia tidak mampu secara finansial. Dan tidak sah
mewakilkan haji maupun umrah untuknya, karena sebenarnya ia mampu melaksanakan
keduanya dengan badannya sendiri apabila ia hadir langsung di tempat-tempat
manasik. Badal hanya sah untuk orang yang telah meninggal atau orang yang tidak
mampu melaksanakannya secara fisik.”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, dan Abdullah bin Ghudayyan. [Fatawa
Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/52]
KE [4].
Tidak boleh seseorang
menghajikan orang lain kecuali setelah ia berhaji untuk dirinya sendiri
terlebih dahulu. Jika ia tetap melakukannya, maka hajinya terhitung untuk
dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«لَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ قَبْلَ حَجِّهِ
عَنْ نَفْسِهِ، وَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ مَا رَوَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ،
قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ عَنْ
شُبْرُمَةَ». انْتَهَى.
“Tidak boleh seseorang
menghajikan orang lain sebelum ia berhaji untuk dirinya sendiri. Dasar dalam
masalah ini adalah riwayat dari Abdullah bin Abbas : bahwa Nabi ﷺ
mendengar seorang lelaki berkata: ‘Labbaika ‘an Syubrumah.’
Beliau ﷺ
bertanya: ‘Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?’
Ia menjawab: ‘Belum.’
Beliau ﷺ
bersabda: ‘Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk
Syubrumah.’”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz dan Abdullah bin Ghudayyan. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah,
11/50]
Ke [5].
Wanita boleh menghajikan
laki-laki, sebagaimana laki-laki juga boleh menghajikan wanita.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«وَالنِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ جَائِزَةٌ، إِذَا كَانَ النَّائِبُ قَدْ
حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ، وَكَذَلِكَ الْحَالُ فِيمَا تَدْفَعُهُ لِلْمَرْأَةِ لِتَحُجَّ
بِهِ عَنْ أُمِّكَ، فَإِنَّ نِيَابَةَ الْمَرْأَةِ فِي الْحَجِّ عَنِ الْمَرْأَةِ وَعَنِ
الرَّجُلِ جَائِزَةٌ؛ لِوُرُودِ الْأَدِلَّةِ الثَّابِتَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
فِي ذَلِكَ». انْتَهَى..
“Badal haji dibolehkan
apabila orang yang mewakili telah berhaji untuk dirinya sendiri. Demikian pula
harta yang diberikan kepada seorang wanita agar ia menghajikan ibumu, maka hal
itu dibolehkan. Sebab wanita boleh menjadi wakil dalam haji untuk wanita maupun
laki-laki, berdasarkan dalil-dalil shahih dari Rasulullah ﷺ tentang
hal tersebut.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/52]
KE [6].
Tidak boleh seseorang
menghajikan dua orang atau lebih dalam satu ibadah haji. Akan tetapi, ia boleh
melakukan umrah untuk dirinya sendiri — atau untuk orang lain — lalu berhaji
untuk orang lain pada tahun yang sama.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«تَجُوزُ النِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ عَنِ الْمَيِّتِ، وَعَنِ الْمَوْجُودِ
الَّذِي لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ، وَلَا يَجُوزُ لِلشَّخْصِ أَنْ يَحُجَّ مَرَّةً
وَاحِدَةً وَيَجْعَلَهَا لِشَخْصَيْنِ، فَالْحَجُّ لَا يُجْزِئُ إِلَّا عَنْ وَاحِدٍ،
وَكَذَلِكَ الْعُمْرَةُ، لَكِنْ لَوْ حَجَّ عَنْ شَخْصٍ وَاعْتَمَرَ عَنْ آخَرَ فِي
سَنَةٍ وَاحِدَةٍ أَجْزَأَهُ إِذَا كَانَ الْحَاجُّ قَدْ حَجَّ عَنْ نَفْسِهِ وَاعْتَمَرَ
عَنْهَا». انْتَهَى.
“Badal haji dibolehkan untuk
orang yang telah meninggal dan untuk orang hidup yang tidak mampu berhaji.
Tidak boleh seseorang berhaji satu kali lalu menjadikannya untuk dua orang,
karena satu haji hanya sah untuk satu orang, demikian pula umrah.
Namun apabila seseorang
berhaji untuk satu orang dan berumrah untuk orang lain dalam satu tahun, maka
hal itu sah apabila orang yang menghajikan tersebut telah berhaji dan berumrah
untuk dirinya sendiri sebelumnya.”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah
bin Qu'ud.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah,
11/58]
KE [7].
Tidak boleh seseorang
menjadikan tujuan berhaji untuk orang lain semata-mata demi mengambil uang.
Hendaknya tujuannya adalah berhaji, mendatangi tempat-tempat suci tersebut, dan
berbuat baik kepada saudaranya dengan menghajikannya.
Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
«النِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ جَاءَتْ بِهَا السُّنَّةُ؛ فَإِنَّ الرَّسُولَ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَأَلَتْهُ امْرَأَةٌ وَقَالَتْ: (إِنَّ فَرِيضَةَ
اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَثْبُتُ
عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ)، وَالِاسْتِنَابَةُ بِالْحَجِّ
بِعِوَضٍ: إِنْ كَانَ الْإِنْسَانُ قَصْدُهُ الْعِوَضَ؛ فَقَدْ قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ
رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ حَجَّ لِيَأْكُلَ فَلَيْسَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
– أَيْ: نَصِيبٌ – وَأَمَّا مَنْ أَخَذَ لِيَحُجَّ: فَلَا بَأْسَ بِهِ، فَيَنْبَغِي
لِمَنْ أَخَذَ النِّيَابَةَ أَنْ يَنْوِيَ الِاسْتِعَانَةَ بِهَذَا الَّذِي أَخَذَ
عَلَى الْحَجِّ، وَأَنْ يَنْوِيَ أَيْضًا قَضَاءَ حَاجَةِ صَاحِبِهِ؛ لِأَنَّ الَّذِي
اسْتَنَابَهُ مُحْتَاجٌ، وَيَفْرَحُ إِذَا وَجَدَ أَحَدًا يَقُومُ مَقَامَهُ، فَيَنْوِي
بِذَلِكَ أَنَّهُ أَحْسَنَ إِلَيْهِ فِي قَضَاءِ الْحَجِّ، وَتَكُونُ نِيَّتُهُ طَيِّبَةً».
انْتَهَى.
“Badal haji telah ditetapkan
oleh sunnah. Sesungguhnya seorang wanita pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ dan
berkata: ‘Sesungguhnya kewajiban haji dari Allah atas hamba-hamba-Nya mendapati
ayahku sudah sangat tua dan tidak mampu duduk tegak di atas kendaraan. Apakah
aku boleh menghajikannya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’
Adapun menerima upah untuk
badal haji, jika tujuan seseorang hanyalah upah tersebut, maka Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata: ‘Barang siapa berhaji untuk mencari makan, maka ia tidak
memiliki bagian di akhirat.’
Namun jika ia mengambil biaya
agar dapat berhaji, maka tidak mengapa. Maka seharusnya orang yang menerima
tugas badal haji berniat menjadikan biaya tersebut sebagai sarana untuk
membantunya berhaji. Ia juga hendaknya berniat memenuhi kebutuhan saudaranya,
karena orang yang meminta badal haji adalah orang yang membutuhkan, dan ia akan
senang apabila ada orang yang menggantikannya. Maka hendaknya ia berniat
berbuat ihsan kepadanya dengan melaksanakan haji tersebut, sehingga niatnya
menjadi baik.” [Liqā’āt Al-Bāb Al-Maftūh, 89/6]
Beliau juga berkata:
«وَإِنَّ مِنَ الْمُؤْسِفِ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ
يَحُجُّونَ عَنْ غَيْرِهِمْ إِنَّمَا يَحُجُّونَ مِنْ أَجْلِ كَسْبِ الْمَالِ فَقَطْ،
وَهَذَا حَرَامٌ عَلَيْهِمْ؛ فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ لَا يَجُوزُ لِلْعَبْدِ أَنْ يَقْصِدَ
بِهَا الدُّنْيَا، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾، وَيَقُولُ تَعَالَى: ﴿فَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ
خَلَاقٍ﴾، فَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ عَبْدٍ عِبَادَةً لَا يَبْتَغِي بِهَا
وَجْهَهُ، وَلَقَدْ حَمَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَمَاكِنَ الْعِبَادَةِ مِنَ التَّكَسُّبِ
لِلدُّنْيَا، فَقَالَ ﷺ: (إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ،
فَقُولُوا: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ)، فَإِذَا كَانَ هَذَا فِيمَنْ جَعَلَ
مَوْضِعَ الْعِبَادَةِ مَكَانًا لِلتَّكَسُّبِ يُدْعَى عَلَيْهِ أَنْ لَا يُرْبِحَ
اللَّهُ تِجَارَتَهُ؛ فَكَيْفَ بِمَنْ جَعَلَ الْعِبَادَةَ نَفْسَهَا غَرَضًا لِلتَّكَسُّبِ
الدُّنْيَوِيِّ كَأَنَّ الْحَجَّ سِلْعَةٌ، أَوْ عَمَلُ حِرْفَةٍ لِبِنَاءِ بَيْتٍ،
أَوْ إِقَامَةِ جِدَارٍ؟ تَجِدُ الَّذِي تُعْرَضُ عَلَيْهِ النِّيَابَةُ يُكَاسِرُ
وَيُمَاكِسُ: هَذِهِ دَرَاهِمُ قَلِيلَةٌ، هَذِهِ لَا تَكْفِي، زِدْ، أَنَا أَعْطَانِي
فُلَانٌ كَذَا، أَوْ أُعْطِيَ فُلَانٌ حَجَّةً بِكَذَا، أَوْ نَحْوَ هَذَا الْكَلَامِ
مِمَّا يُقَلِّبُ الْعِبَادَةَ إِلَى حِرْفَةٍ وَصِنَاعَةٍ، وَلِهَذَا صَرَّحَ فُقَهَاءُ
الْحَنَابِلَةِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ بِأَنَّ تَأْجِيرَ الرَّجُلِ لِيَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ
غَيْرُ صَحِيحٍ، وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ: مَنْ حَجَّ لِيَأْخُذَ
الْمَالَ، فَلَيْسَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ، لَكِنْ إِذَا أَخَذَ النِّيَابَةَ
لِغَرَضٍ دِينِيٍّ مِثْلَ أَنْ يَقْصِدَ نَفْعَ أَخِيهِ بِالْحَجِّ عَنْهُ، أَوْ يَقْصِدَ
زِيَادَةَ الطَّاعَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ فِي الْمَشَاعِرِ: فَهَذَا لَا بَأْسَ
بِهِ، وَهِيَ نِيَّةٌ سَلِيمَةٌ.
إِنَّ
عَلَى الَّذِينَ يَأْخُذُونَ النِّيَابَةَ فِي الْحَجِّ أَنْ يُخْلِصُوا النِّيَّةَ
لِلَّهِ تَعَالَى، وَأَنْ تَكُونَ نِيَّتُهُمْ قَضَاءَ وَطَرِهِمْ بِالتَّعَبُّدِ حَوْلَ
بَيْتِ اللَّهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ، مَعَ قَضَاءِ حَاجَةِ إِخْوَانِهِمْ بِالْحَجِّ
عَنْهُمْ، وَأَنْ يَبْتَعِدُوا عَنِ النِّيَّةِ الدَّنِيئَةِ بِقَصْدِ التَّكَسُّبِ
بِالْمَالِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي نُفُوسِهِمْ إِلَّا التَّكَسُّبُ بِالْمَالِ: فَإِنَّهُ
لَا يَحِلُّ لَهُمْ أَخْذُ النِّيَابَةِ حِينَئِذٍ، وَمَتَى أَخَذَ النِّيَابَةَ بِنِيَّةٍ
صَالِحَةٍ: فَالْمَالُ الَّذِي يَأْخُذُهُ كُلُّهُ لَهُ، إِلَّا أَنْ يُشْتَرَطَ عَلَيْهِ
رَدُّ مَا بَقِيَ». انْتَهَى.
“Sungguh sangat disayangkan,
banyak orang yang berhaji untuk orang lain hanya demi mendapatkan uang semata.
Ini haram bagi mereka, karena ibadah tidak boleh dijadikan sarana mencari
dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ
لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
‘Barang siapa menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan balasan sempurna bagi
mereka di dunia, dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun. Mereka itulah
orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh selain neraka. Dan lenyaplah apa
yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang dahulu mereka
kerjakan.’
Dan Allah Ta’ala juga
berfirman:
﴿فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا
لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾
‘Di antara manusia ada yang
berkata: Wahai Rabb kami, berilah kami di dunia. Dan dia tidak mendapatkan
bagian di akhirat.’
Allah tidak menerima ibadah
seorang hamba apabila ia tidak mengharap wajah-Nya.
Rasulullah ﷺ bahkan
melindungi tempat-tempat ibadah dari dijadikan sarana mencari keuntungan dunia.
Beliau bersabda:
‘Jika kalian melihat orang
yang berjual beli di masjid, maka katakanlah: Semoga Allah tidak memberi
keuntungan pada perniagaanmu.’
Jika orang yang menjadikan
tempat ibadah sebagai sarana mencari keuntungan dunia saja didoakan demikian,
maka bagaimana lagi dengan orang yang menjadikan ibadah itu sendiri sebagai
alat mencari penghasilan dunia, seakan-akan haji itu barang dagangan atau profesi
untuk membangun rumah dan semisalnya?
Engkau dapati sebagian orang
yang ditawari badal haji malah tawar-menawar: ‘Uang ini sedikit, tidak cukup,
tambahkan lagi. Si fulan memberiku sekian,’ dan ucapan lainnya yang mengubah
ibadah menjadi pekerjaan dan profesi.
Karena itulah para fuqaha
Hanabilah dengan tegas menyatakan bahwa menyewa seseorang untuk berhaji bagi
orang lain tidak sah. Dan Ibnu Taimiyah berkata: ‘Barang siapa berhaji demi
mengambil uang, maka ia tidak memiliki bagian di akhirat.’
Namun jika ia menerima badal
haji untuk tujuan agama, seperti ingin memberi manfaat kepada saudaranya dengan
menghajikannya, atau ingin menambah ketaatan, doa, dan dzikir di tempat-tempat
manasik, maka hal itu tidak mengapa. Ini adalah niat yang baik dan lurus.
Maka wajib bagi orang-orang
yang menerima badal haji untuk mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala, dan
hendaknya tujuan mereka adalah memenuhi kebutuhan ibadah di sekitar Baitullah,
berdzikir dan berdoa kepada Allah, sekaligus membantu kebutuhan saudara mereka
dengan menghajikannya. Mereka harus menjauhi niat rendah berupa mencari
keuntungan materi.
Jika yang ada dalam hati
mereka hanyalah mencari uang, maka tidak halal bagi mereka menerima badal haji
ketika itu. Namun apabila ia menerima badal haji dengan niat yang baik, maka
seluruh uang yang diterimanya halal baginya, kecuali jika disyaratkan untuk
mengembalikan sisa uang tersebut.”
[Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuthab Al-Jawāmi‘, 2/477–478]
KE [8].
Jika seorang muslim meninggal
dunia sebelum menunaikan haji wajib, padahal seluruh syarat wajib haji telah
terpenuhi pada dirinya, maka wajib dihajikan dari harta peninggalannya, baik ia
berwasiat tentang hal itu maupun tidak.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«إِذَا مَاتَ الْمُسْلِمُ وَلَمْ يَقْضِ فَرِيضَةَ الْحَجِّ وَهُوَ
مُسْتَكْمِلٌ لِشُرُوطِ وُجُوبِهَا وَجَبَ أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ مِنْ مَالِهِ الَّذِي
خَلَّفَهُ سَوَاءٌ أَوْصَى بِذَلِكَ أَوْ لَمْ يُوصِ، وَإِذَا حَجَّ عَنْهُ غَيْرُهُ
مِمَّنْ يَصِحُّ مِنْهُ الْحَجُّ وَكَانَ قَدْ أَدَّى فَرِيضَةَ الْحَجِّ عَنْ نَفْسِهِ:
صَحَّ حَجُّهُ عَنْهُ، وَأَجْزَأَ فِي سُقُوطِ الْفَرْضِ عَنْهُ». انْتَهَى.
“Jika seorang muslim
meninggal dunia sebelum menunaikan haji wajib, sedangkan seluruh syarat wajib
haji telah terpenuhi padanya, maka wajib dihajikan dari harta yang ia
tinggalkan, baik ia berwasiat tentang itu ataupun tidak.
Apabila ada orang lain yang
menghajikannya, dan orang tersebut memang sah untuk melakukan badal haji serta
telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri, maka hajinya sah untuk orang
yang meninggal tersebut dan gugurlah kewajiban hajinya.”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah
bin Mani'. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/100]
KE [9].
Apakah orang yang menghajikan
orang lain mendapatkan pahala haji secara sempurna dan kembali seperti hari
dilahirkan ibunya?
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«وَأَمَّا تَقْوِيمُ حَجِّ الْمَرْءِ عَنْ غَيْرِهِ هَلْ هُوَ كَحَجِّهِ
عَنْ نَفْسِهِ أَوْ أَقَلُّ فَضْلًا أَوْ أَكْثَرُ: فَذَلِكَ رَاجِعٌ إِلَى اللَّهِ
سُبْحَانَهُ». انْتَهَى.
“Adapun penilaian apakah haji
seseorang untuk orang lain itu seperti hajinya untuk dirinya sendiri, atau
kurang utama, atau lebih utama, maka hal itu dikembalikan kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala.”
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Baz, Abdur Razzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdullah
bin Mani'. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/100]
Mereka juga berkata:
«مَنْ حَجَّ أَوِ اعْتَمَرَ عَنْ غَيْرِهِ بِأُجْرَةٍ أَوْ بِدُونِهَا
فَثَوَابُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ لِمَنْ نَابَ عَنْهُ، وَيُرْجَى لَهُ أَيْضًا أَجْرٌ
عَظِيمٌ عَلَى حَسَبِ إِخْلَاصِهِ وَرَغْبَتِهِ لِلْخَيْرِ، وَكُلُّ مَنْ وَصَلَ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَأَكْثَرَ فِيهِ مِنْ نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ وَأَنْوَاعِ
الْقُرُبَاتِ: فَإِنَّهُ يُرْجَى لَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ إِذَا أَخْلَصَ عَمَلَهُ لِلَّهِ».
انْتَهَى.
“Barang siapa berhaji atau
berumrah untuk orang lain, baik dengan upah ataupun tanpa upah, maka pahala
haji dan umrah tersebut untuk orang yang diwakilinya. Namun diharapkan pula
baginya pahala yang besar sesuai kadar keikhlasan dan keinginannya dalam
melakukan kebaikan.
Setiap orang yang datang ke
Masjidil Haram lalu memperbanyak ibadah sunnah dan berbagai bentuk pendekatan
diri kepada Allah di sana, maka diharapkan baginya kebaikan yang banyak apabila
ia mengikhlaskan amalnya karena Allah.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/77–78]
Ibnu Hazm rahimahullah
berkata:
عَنْ
دَاوُدَ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ،
لِأَيِّهِمَا الْأَجْرُ أَلِلْحَاجِّ أَمْ لِلْمَحْجُوجِ عَنْهُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَاسِعٌ لَهُمَا جَمِيعًا.
Dari Daud Azh-Zhahiri, ia
berkata: “Aku berkata kepada Sa'id bin Al-Musayyib: ‘Wahai Abu Muhammad, pahala
itu untuk siapa? Apakah untuk orang yang berhaji atau untuk orang yang
dihajikan?’ Maka Sa’id menjawab: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Luas
karunia-Nya untuk keduanya.’”
Ibnu Hazm berkata:
صَدَقَ
سَعِيدٌ رَحِمَهُ اللَّهُ.
“Sa’id rahimahullah benar.”
[Al-Muhalla, 7/61]
Adapun amal-amal yang
dilakukan oleh orang yang mewakili di luar rangkaian manasik, seperti shalat di
Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan lainnya, maka pahalanya khusus untuk
dirinya sendiri, bukan untuk orang yang mewakilkannya.
Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
«وَثَوَابُ الْأَعْمَالِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالنُّسُكِ كُلُّهَا لِمَنْ
وَكَّلَهُ، أَمَّا مُضَاعَفَةُ الْأَجْرِ بِالصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ الَّذِي يَتَطَوَّعُ
بِهِ خَارِجًا عَنِ النُّسُكِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَلِمَنْ حَجَّ لَا لِلْمُوَكِّلِ».
انْتَهَى.
“Pahala amalan-amalan yang
berkaitan langsung dengan manasik semuanya untuk orang yang mewakilkannya.
Adapun pelipatgandaan pahala dari shalat, thawaf sunnah di luar manasik, dan
membaca Al-Qur’an, maka itu untuk orang yang berhaji, bukan untuk orang yang
mewakilkannya.” [Adh-Dhiyā’ Al-Lāmi‘ min Al-Khuthab Al-Jawāmi‘, 2/478]
KE [10].
Yang lebih utama adalah
seorang anak menghajikan kedua orang tuanya, dan seorang kerabat menghajikan
kerabatnya. Namun apabila ia menyewa orang lain untuk menghajikannya, maka hal
itu dibolehkan.
Abdul Aziz bin Baz
rahimahullah pernah ditanya:
“Ibu saya meninggal ketika
saya masih kecil. Saya telah menyewa seseorang yang terpercaya untuk
menghajikannya. Demikian pula ayah saya telah meninggal, dan saya mendengar
dari sebagian kerabat bahwa beliau sudah pernah berhaji.
Apakah boleh saya menyewa
orang untuk menghajikan ibu saya, ataukah saya harus menghajikannya sendiri?
Dan untuk ayah saya, apakah saya perlu menghajikannya juga padahal saya mendengar
beliau sudah pernah berhaji?”
Beliau menjawab:
" «إِنْ حَجَجْتَ عَنْهُمَا بِنَفْسِكَ وَاجْتَهَدْتَ
فِي إِكْمَالِ حَجِّكَ عَلَى الْوَجْهِ الشَّرْعِيِّ: فَهُوَ الْأَفْضَلُ، وَإِنِ اسْتَأْجَرْتَ
مَنْ يَحُجُّ عَنْهُمَا مِنْ أَهْلِ الدِّينِ وَالْأَمَانَةِ: فَلَا بَأْسَ.
وَالْأَفْضَلُ
أَنْ تُؤَدِّيَ عَنْهُمَا حَجًّا وَعُمْرَةً، وَهَكَذَا مَنْ تَسْتَنِيبُهُ فِي ذَلِكَ
يُشْرَعُ لَكَ أَنْ تَأْمُرَهُ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُمَا وَيَعْتَمِرَ، وَهَذَا مِنْ
بِرِّكَ لَهُمَا وَإِحْسَانِكَ إِلَيْهِمَا، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ». انْتَهَى.
“Jika engkau menghajikan
keduanya sendiri, dan engkau bersungguh-sungguh menyempurnakan hajimu sesuai
tuntunan syariat, maka itu lebih utama. Namun jika engkau menyewa orang yang
memiliki agama dan amanah untuk menghajikan keduanya, maka tidak mengapa.
Yang lebih utama adalah
engkau melaksanakan haji dan umrah untuk keduanya. Demikian pula orang yang
engkau tunjuk sebagai wakil, disyariatkan bagimu untuk memerintahkannya agar
menghajikan dan mengumrahkan keduanya. Ini termasuk bentuk bakti dan kebaikanmu
kepada keduanya. Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.” [Fatawa
Asy-Syaikh Ibnu Baz, 16/408]
KE [11].
Tidak disyaratkan orang yang
dihajikan harus diketahui namanya. Cukup dengan niat menghajikannya.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah pernah ditanya:
“Saya memiliki sekitar empat
orang yang telah meninggal dunia, terdiri dari paman dan kakek, laki-laki
maupun perempuan. Sebagian nama mereka tidak saya ketahui. Saya ingin mengirim
orang untuk menghajikan masing-masing dari mereka dengan biaya pribadi saya.
Bagaimana hukumnya?”
Mereka menjawab:
«إِذَا كَانَ الْأَمْرُ كَمَا ذُكِرَ: فَمَنْ عَرَفْتَ اسْمَهُ مِنَ
الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ: فَلَا إِشْكَالَ فِيهِ، وَمَنْ لَمْ تَعْرِفِ اسْمَهُ: فَإِنَّهُ
يَجُوزُ لَكَ أَنْ تَنْوِيَ عَنِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مِنَ الْأَعْمَامِ وَالْأَخْوَالِ
عَلَى حَسَبِ تَرْتِيبِ أَعْمَارِهِمْ وَأَوْصَافِهِمْ، وَتَكْفِي النِّيَّةُ فِي ذَلِكَ،
وَإِنْ لَمْ تَعْرِفِ الِاسْمَ». انْتَهَى.
“Jika keadaannya sebagaimana
yang disebutkan, maka bagi orang-orang yang engkau ketahui namanya dari
kalangan laki-laki dan perempuan tidak ada masalah.
Adapun yang tidak engkau
ketahui namanya, maka engkau boleh berniat menghajikan para lelaki dan
perempuan dari kalangan paman dan bibi sesuai urutan usia dan sifat-sifat
mereka. Niat saja sudah mencukupi dalam hal ini, walaupun nama mereka tidak
diketahui.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 11/172]
KE [12].
Tidak boleh bagi orang yang
diberi kuasa untuk menghajikan orang lain kemudian mewakilkannya lagi kepada
orang lain, kecuali dengan izin dari orang yang memberinya kuasa.
Muhammad bin Sholeh
al-Utsaimin rahimahullah berkata:
«وَلَا يَحِلُّ لِمَنْ أَخَذَ النِّيَابَةَ أَنْ يُوَكِّلَ غَيْرَهُ
فِيهَا لَا بِقَلِيلٍ، وَلَا بِكَثِيرٍ إِلَّا بِرِضَا مِنْ صَاحِبِهَا الَّذِي أَعْطَاهُ
إِيَّاهَا». انْتَهَى.
“Tidak halal bagi orang yang
menerima perwakilan haji untuk mewakilkannya lagi kepada orang lain, baik
sebagian maupun seluruhnya, kecuali dengan keridhaan dari orang yang
menyerahkan amanah tersebut kepadanya.” [Adh-Dhiya’ Al-Lami’ min Al-Khuthab
Al-Jawami’, 2/478]
KE [13].
Apakah boleh mewakilkan haji
sunnah?
Dalam masalah ini terdapat
perselisihan di antara para ulama. Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah
memilih pendapat bahwa perwakilan hanya dibolehkan dalam haji wajib saja.
Beliau rahimahullah berkata:
«إِذَا كَانَ الرَّجُلُ قَدْ أَدَّى الْفَرِيضَةَ، وَأَرَادَ أَنْ يُوَكِّلَ
عَنْهُ مَنْ يَحُجُّ أَوْ يَعْتَمِرُ نَافِلَةً، فَإِنَّ فِي ذَلِكَ خِلَافًا بَيْنَ
أَهْلِ الْعِلْمِ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ مَنَعَهُ، وَالْأَقْرَبُ
عِنْدِي: الْمَنْعُ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُوَكِّلَ أَحَدًا يَحُجُّ
عَنْهُ أَوْ يَعْتَمِرُ إِذَا كَانَ ذَلِكَ نَافِلَةً؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ
أَنْ يَقُومَ بِهَا الْإِنْسَانُ بِنَفْسِهِ، وَكَمَا أَنَّهُ لَا يُوَكِّلُ الْإِنْسَانُ
أَحَدًا يَصُومُ عَنْهُ - مَعَ أَنَّهُ لَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ فَرْضٍ صَامَ
عَنْهُ وَلِيُّهُ - ، كَذَلِكَ فِي الْحَجِّ، وَالْحَجُّ عِبَادَةٌ يَقُومُ فِيهَا
الْإِنْسَانُ بِبَدَنِهِ، وَلَيْسَتْ مَالِيَّةً يُقْصَدُ بِهَا الْغَيْرُ، وَإِذَا
كَانَتْ عِبَادَةً بَدَنِيَّةً يَقُومُ بِهَا الْإِنْسَانُ بِبَدَنِهِ: فَإِنَّهَا
لَا تَصِحُّ مِنْ غَيْرِهِ عَنْهُ إِلَّا فِيمَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ، وَلَمْ
تَرِدِ السُّنَّةُ فِي حَجِّ الْإِنْسَانِ عَنْ غَيْرِهِ حَجَّ نَفْلٍ، وَهَذِهِ إِحْدَى
الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ: أَعْنِي أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَصِحُّ أَنْ يُوَكِّلَ
غَيْرَهُ فِي نَفْلِ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ سَوَاءٌ كَانَ قَادِرًا أَوْ غَيْرَ قَادِرٍ.
وَنَحْنُ
إِذَا قُلْنَا بِهَذَا الْقَوْلِ صَارَ فِي ذَلِكَ حَثٌّ لِلْأَغْنِيَاءِ الْقَادِرِينَ
عَلَى الْحَجِّ بِأَنْفُسِهِمْ؛ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ تَمْضِي عَلَيْهِ السَّنَوَاتُ
الْكَثِيرَةُ مَا ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ اعْتِمَادًا عَلَى أَنَّهُ يُوَكِّلُ مَنْ يَحُجُّ
عَنْهُ كُلَّ عَامٍ، فَيَفُوتُهُ الْحَجُّ عَلَى أَسَاسِ أَنَّهُ يُوَكِّلُ مَنْ يَحُجُّ
عَنْهُ». انْتَهَى.
“Apabila seseorang telah
menunaikan haji wajib, lalu ia ingin mewakilkan orang lain untuk menghajikan
atau mengumrahkannya sebagai ibadah sunnah, maka dalam hal ini terdapat
perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkannya dan sebagian
melarangnya.
Pendapat yang lebih dekat
menurutku adalah larangan, yaitu tidak boleh seseorang mewakilkan orang lain
untuk menghajikan atau mengumrahkannya apabila itu ibadah sunnah. Karena hukum
asal ibadah adalah seseorang melaksanakannya sendiri.
Sebagaimana seseorang tidak
mewakilkan orang lain untuk berpuasa menggantikannya — padahal jika ia
meninggal dan masih memiliki hutang puasa wajib maka walinya boleh berpuasa
untuknya — demikian pula dalam masalah haji.
Haji adalah ibadah badaniyah
yang dilakukan dengan badan, bukan ibadah maliyah yang tujuan utamanya untuk
manfaat orang lain. Jika ibadah itu merupakan ibadah badaniyah yang dilakukan
dengan tubuh seseorang, maka tidak sah dilakukan oleh orang lain atas namanya
kecuali dalam perkara yang terdapat dalil sunnah padanya.
Dan tidak ada sunnah yang
menunjukkan bolehnya seseorang menghajikan orang lain dalam haji sunnah. Ini
adalah salah satu riwayat dari Ahmad bin Hanbal, yaitu bahwa seseorang tidak
sah mewakilkan orang lain dalam haji atau umrah sunnah, baik ia mampu maupun
tidak mampu.
Apabila kita mengambil
pendapat ini, maka di dalamnya terdapat dorongan bagi orang-orang kaya yang
mampu agar berhaji sendiri. Karena sebagian orang berlalu bertahun-tahun tanpa
pergi ke Makkah, sebab ia hanya mengandalkan orang lain untuk menghajikannya
setiap tahun. Akibatnya ia kehilangan keutamaan berhaji sendiri karena hanya
mengandalkan perwakilan.” [Fatawa Islamiyyah, 2/192–193]
KE [14].
Hendaknya memilih orang-orang
yang baik, jujur, amanah, dan memahami manasik haji untuk melaksanakan badal
haji.
Para ulama Al-Lajnah
Ad-Da’imah berkata:
«يَنْبَغِي لِمَنْ يُرِيدُ أَنْ يُنِيبَ فِي الْحَجِّ أَنْ يَتَحَرَّى
فِيمَنْ يَسْتَنِيبُهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ وَالْأَمَانَةِ حَتَّى يَطْمَئِنَّ
إِلَى قِيَامِهِ بِالْوَاجِبِ». انْتَهَى.
“Hendaknya orang yang ingin
mewakilkan haji benar-benar memilih orang yang akan menjadi wakilnya, yaitu
dari kalangan orang yang memiliki agama dan amanah, agar ia merasa tenang bahwa
wakil tersebut benar-benar menunaikan kewajibannya.” [Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da’imah, 11/53]. Wallahu a’lam.
0 Komentar