APAKAH DISUNNAHKAN SENGAJA MEMBIARKAN KANCING-KANCING BAJU TERBUKA?
Di
Tulis Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- KUMPULAN HADITS & ATSAR TENTANG MEMBIARKAN KANCING BAJU TERBUKA
- FIQIH HADITS DAN ATSAR:
- TIDAK SEMUA PERBUATAN NABI ﷺ ITU
IBADAH ATAU AMALAN SUNNAH
- WARNING DARI AL-LAJNAH AD-DAIMAH TERHADAP BAHAYA-NYA KITAB Karya : Mahmud Imam Manshur Yang berjudul:
(تَذْكِيرُ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ بِبَعْضِ
السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ)
----
****
-----
===***===
KUMPULAN
HADITS & ATSAR
TENTANG
MEMBIARKAN KANCING BAJU TERBUKA
KUMPULAN HADITS:
----
HADITS
KE 1:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4082) dari
Mu'awiyah bin Qurrah, dari ayahnya — yaitu Qurrah bin Iyas bin Hilal
radhiyallahu 'anhu — ia berkata:
«أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فِي رَهْطٍ مِنْ
مُزَيْنَةَ، فَبَايَعْنَاهُ، وَإِنَّ قَمِيصَهُ لَمُطْلَقُ الْأَزْرَارِ»، قَالَ:
«فَبَايَعْتُهُ ثُمَّ أَدْخَلْتُ يَدَيَّ فِي جَيْبِ قَمِيصِهِ، فَمَسِسْتُ الْخَاتَمَ»
قَالَ عُرْوَةُ: «فَمَا رَأَيْتُ مُعَاوِيَةَ
وَلَا ابْنَهُ قَطُّ، إِلَّا مُطْلِقَيْ أَزْرَارِهِمَا فِي شِتَاءٍ وَلَا حَرٍّ، وَلَا
يُزَرِّرَانِ أَزْرَارَهُمَا أَبَدًا»
"Aku datang menemui Rasulullah ﷺ bersama
sekelompok orang dari kabilah Muzainah, lalu kami membaiat beliau, dan ketika
itu baju beliau dalam keadaan kancing-kancingnya terbuka."
Ia melanjutkan:
"Lalu aku membaiat beliau, kemudian aku
memasukkan tanganku ke dalam lubang leher baju beliau, lalu aku menyentuh
cincin kenabian."
Urwah berkata:
"Aku tidak pernah melihat Mu'awiyah
maupun putranya kecuali dalam keadaan kancing-kancing baju mereka terbuka, baik
pada musim dingin maupun musim panas. Mereka tidak pernah mengancingkan
kancing-kancing baju mereka sama sekali."
Takhrij Hadits:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah
(3578) melalui jalur Zuhair bin Mu'awiyah dengan sanad yang sama.
Hadits tersebut juga terdapat dalam Musnad
Ahmad (15581) dan Shahih Ibnu Hibban (5452).
Derajat hadits : shahih.
Hadits ini dinyatakan shahih oleh
An-Nawawi dalam Al-Majmu' (4/468), juga
oleh Syu’aib al-Arnauth Tahqiq Sunan Abu Daud 6/180 dan Al-Albani dalam Shahih
Abi Dawud 4/55 no. 4082.
-----
HADITS
KE 2:
Dari Umar bin Maimun, ia berkata:
«مَا أَخْطَأَنِي ابْنُ مَسْعُودٍ عَشِيَّةَ خَمِيسٍ
إِلَّا أَتَيْتُهُ، فَمَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ شَيْئًا قَطُّ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ، فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ عَشِيَّةٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ. قَالَ: فَنَظَرْتُ
إِلَيْهِ وَهُوَ قَائِمٌ مُحَلَّلَةً أَزْرَارُ قَمِيصِهِ».
“Aku tidak pernah melewatkan majelis Ibnu
Mas'ud pada setiap Kamis sore kecuali aku menghadirinya. Aku tidak pernah
mendengarnya berkata: ‘Rasulullah ﷺ bersabda.’
Namun pada suatu Kamis sore beliau berkata:
‘Rasulullah ﷺ
bersabda.’
Lalu aku memandang kepadanya, ternyata beliau
sedang berdiri sementara kancing-kancing bajunya terbuka.”
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (no. 23)
Ad-Darimi (270), Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (8617), dan Al-Hakim
dalam Al-Mustadrak (1/111) melalui dua jalur dari Ibnu Aun, dengan sanad yang
sama.
Hadits ini juga terdapat dalam Musnad Ahmad
(4321).
Dinilai Shohih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam
Takhrij Sunan Ibnu Majah 1/17 no. 23 dan al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah.
Al-Bushiri berkata dalam Misbah Az-Zujajah
(1/7):
هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ، احْتَجَّ الشَّيْخَانِ
بِجَمِيعِ رُوَاتِهِ.
“Ini adalah sanad yang shahih. Imam Al-Bukhari
dan Imam Muslim telah menjadikan seluruh perawinya sebagai hujjah (periwayat yang
diterima dan dijadikan dasar dalam Shahih mereka).”
As-Sindi berkata:
قَوْلُهُ: (مَا أَخْطَأَنِي ابْنُ مَسْعُودٍ)
أَيْ مَا فَاتَنِي لِقَاؤُهُ إِلَّا أَتَيْتُهُ فِيهِ
“Ucapan beliau: ‘مَا
أَخْطَأَنِي’ maksudnya adalah: ‘Aku tidak pernah luput
dari bertemu dengannya’, atau ‘Aku tidak pernah kehilangan kesempatan untuk
menemuinya.’”
[Hasyiah as-Sindi 1/14 no. 23]
----
HADITS
KE 3:
Dari Zaid bin Aslam, ia berkata:
رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُصَلِّي مَحْلُولَ
الْأَزْرَارِ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي
كَذَلِكَ».
“Aku melihat Ibnu Umar shalat dengan kancing
bajunya terbuka. Aku pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab:
‘Aku melihat Rasulullah ﷺ shalat demikian.’”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya
(Mawarid adz-Dzom’an 1/201 no. 99].
Hadits ini dinilai dho’if oleh al-Albani dalam
Dho’if Mawarid adz-Dzom’an hal. 17 no. 15 (11-99) dan dalam at-Ta’liq ar-Roghib
1/42
Husein Asad pentahqiq Mawarid adz-Dzom’an
1/201 berkata:
فِي سَنَدِهِ زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ.
قَالَ عَنْهُ الْبُخَارِيُّ: «مَا رَوَى عَنْهُ أَهْلُ الشَّامِ فَإِنَّهُ مَنَاكِيرُ،
وَمَا رَوَى عَنْهُ أَهْلُ الْبَصْرَةِ فَإِنَّهُ صَحِيحٌ». وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ:
«حَدَّثَ بِالشَّامِ مِنْ حِفْظِهِ فَأَكْثَرَ غَلَطُهُ»، وَهَذَا الْحَدِيثُ مِنْ
رِوَايَةِ الشَّامِيِّينَ عَنْهُ، وَقَدْ خَرَّجْتُهُ فِي مُسْنَدِ أَبِي يَعْلَى بِرَقْمِ
(5641)، وَنُضِيفُ هُنَا: وَهُوَ فِي الْإِحْسَانِ 7/401 بِرَقْمِ (5429). وَفِيهِ:
«يُصَلِّي مَحْلُولَ إِزَارِهِ».
وَأَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الصَّلَاةِ
2/240، بَابُ: الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّهُ يَزُرُّهُ إِنْ كَانَ جَيْبُهُ وَاسِعًا، مِنْ
طَرِيقِ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ،
بِهَذَا الْإِسْنَادِ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ 1/382 بِرَقْمِ (779).
Dalam sanad
hadits ini terdapat perawi bernama Zuhair bin Muhammad.
Imam
Al-Bukhari berkata tentangnya: “Apa yang diriwayatkan darinya oleh penduduk Syam,
maka di dalamnya terdapat hadits-hadits mungkar; sedangkan apa yang
diriwayatkan darinya oleh penduduk Bashrah, maka riwayat tersebut shahih.”
Abu Hatim
berkata: “Ia meriwayatkan hadits di negeri Syam berdasarkan hafalannya, sehingga
kesalahannya menjadi banyak.”
Hadits ini
termasuk riwayat penduduk Syam darinya. Hadits tersebut telah saya takhrij
dalam Musnad Abi Ya'la nomor (5641). Kami tambahkan di sini bahwa hadits ini
juga terdapat dalam Al-Ihsan (7/401) nomor (5429). Di dalamnya terdapat lafaz:
“Beliau
shalat dengan kainnya dalam keadaan tidak terikat (terbuka ikatannya).”
Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Kitab Ash-Shalah (2/240), pada bab:
“Dalil bahwa seseorang mengancingkan bajunya apabila bagian leher bajunya
luas”, melalui jalur Muhammad bin Muhammad bin Raja', dari Shafwan bin Shalih,
dengan sanad yang sama.
Dan hadits
ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitabnya (1/382) nomor (779).
ATSAR SAHABAT DAN TABI’IN
-----
ATSAR KE
1:
Dari
Tsabit, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ، وَابْنَ عَبَّاسٍ،
زَارَّيْنِ عَلَيْهِمَا قَمِيصَهُمَا قَطُّ».
“Aku tidak pernah melihat Ibnu Umar dan Ibnu
Abbas mengancingkan baju mereka sama sekali.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushonnaf 5/164 no. 24799 dan juga Mumahammad bin Sa’ad dalam
ath-Thobaqot al-Kubro 1/195 no. 109. Dinilai shahih sanadnya oleh Muhammad bin
Shomil as-Sulami dalam Tahqiq ath-Thobaqot al-Kubro 1/195 no. 109.
Lihat pula: al-Maktabah asy-Syamilah
al-Haditsah 3/151]
----
ATSAR KE
2:
Dari Sa'id Al-Muzani, ia berkata:
«كُنْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي جَنَازَةٍ
فَرَأَيْتُهُ مُصَفِّرَ اللِّحْيَةِ مُحَلِّلَ الْأَزْرَارِ».
“Aku pernah bersama Abu Hurairah dalam sebuah
pengurusan jenazah, lalu aku melihat beliau mewarnai jenggotnya dengan warna
kuning dan membiarkan kancing bajunya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 5/164 no. 24800]
----
ATSAR KE
3:
Dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain, ia
berkata:
«دَخَلْنَا عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ،
فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهِ سَأَلَ عَنَّا لِقَوْمٍ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ، فَقُلْتُ:
أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ. قَالَ: فَأَهْوَى بِيَدِهِ إِلَى رَأْسِي
فَحَلَّ زِرِّي الْأَعْلَى، ثُمَّ حَلَّ زِرِّي الْأَسْفَلَ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِكَ
وَأَهْلًا ابْنَ أَخِي، سَلْ عَمَّا شِئْتَ، فَسَأَلْتُهُ وَهُوَ أَعْمَى».
“Kami masuk menemui Jabir bin Abdullah. Ketika
kami sampai kepadanya, ia bertanya tentang kami satu per satu hingga giliranku.
Aku berkata: ‘Aku Muhammad bin Ali bin Al-Husain.’
Lalu beliau mengulurkan tangannya ke kepalaku,
kemudian membuka kancing bajuku yang atas, lalu membuka kancing yang bawah.
Setelah itu beliau berkata: ‘Selamat datang, wahai anak saudaraku. Tanyakan apa
saja yang engkau kehendaki ?.’
Maka aku pun bertanya kepadanya, sementara
saat itu beliau sudah buta.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3074, Ishaq
bin Rahawiyah dalam al-Musnad 5/3 no. 2098 dan al-Baihaqi dalam ad-Dala’il
an-Nubuwwah 5/433.
Di nilai shahih Oleh Syu’aib al-Arnauth dalam
Takhrij Sunan Ibnu Majah 4/262 dan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah]
----
ATSAR KE
4:
Dari Tsabit bin Ubaid:
أَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ مُحَلَّلَ
الْأَزْرَارِ.
“Bahwa ia melihat Zaid bin Tsabit dengan
kancing-kancing bajunya terbuka.”
[Di riwayatkan oleh Syeikh asy-Syabab, Abu Zur’ah
(wafat 281) dalam Tarikh Abi Zur’ah ad-Dimasyqi hal. 633. Dia berkata : Telah
menceritakan kepadaku Sulaiman bin Abdurrahman, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Tsabit bin Ubaid: ....
Sanadnya shahih].
----
ATSAR KE
5:
Dari Sa'id bin Abi Ayyub, ia berkata:
حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: «مَا رَأَيْتُ
عُبَيْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ قَطُّ إِلَّا مَحْلُولَ الْأَزْرَارِ».
“Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata:
‘Aku tidak pernah melihat Ubaidillah bin Umar kecuali dalam keadaan kancing
bajunya terbuka.’”
[Diriwyatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan
al-Kubro 2/340 no. 3297 dan juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf no.
25176.
Disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam
al-Muhadzdzab Fii Ikhtshor as-Sunan al-Kabiir 2/679 no. 2926].
Lalu al-Baihaqi berkata :
«وَرُوِّينَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مِثْلُ مَا
رُوِّينَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ نَفْسِهِ وَهُوَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَحْمُولٌ
عِنْدَنَا عَلَى مَا لَوْ كَانَ الْجَيْبُ ضَيِّقًا، وَاللهُ أَعْلَمُ»
“Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Ibnu
Abbas hal yang serupa dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar sendiri.
Apabila perbuatan itu dilakukan dalam shalat, maka menurut kami hal itu
dipahami pada keadaan ketika lubang leher baju (juyub) sempit. Wallahu a’lam”.
----
ATSAR KE
6:
Dari Muhammad bin Qais, ia berkata:
«رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ مُعْتَمًّا قَدْ أَرْسَلَهُمَا
بَيْنَ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ، وَلَا أَدْرِي أَيُّهُمَا أَطْوَلُ». قَالَ: «وَرَأَيْتُهُ
مُصَفِّرًا لِحْيَتَهُ». قَالَ: «وَرَأَيْتُهُ مُحَلِّلٌ أَزْرَارَ الْقَمِيصِ».
“Aku melihat Ibnu Umar mengenakan sorban yang
kedua ujungnya dibiarkan terurai di depan dan di belakangnya, dan aku tidak
tahu mana yang lebih panjang.”
Ia berkata: “Aku juga
melihat beliau mewarnai jenggotnya dengan warna kuning.”
Ia berkata lagi: “Dan aku
melihat beliau membiarkan kancing-kancing bajunya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’ad dalam al-Musnad
hal. 325 no. 2228].
----
ATSAR KE
7:
Dari Usamah, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ سَالِمًا أَزَرَّ عَلَيْهِ».
“Aku tidak pernah melihat Salim (bin Abdullah
bin Umar) mengancingkan bajunya.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 5/165 no. 24802. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Waki', dari Usamah, ia berkata: ….
Sanadnya shohih.
----
ATSAR KE
8:
Dari Katsir bin Yazid, ia berkata:
«رَأَيْتُ سَالِمًا وَهُوَ يُصَلِّي مُحَلَّلَةً
أَزْرَارُهُ».
“Aku melihat Salim sedang shalat dengan
kancing-kancing bajunya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 1/304 no. 3480. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki',
dari Katsir bin Yazid, ia berkata: ….
Sanadnya shohih.
----
ATSAR KE
9:
Dari Rabi' bin Al-Mundzir, dari ayahnya:
«أَنَّهُ رَأَى عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ
حِبَرَةً مُحَلَّلَةَ الْأَزْرَارِ، وَكَانَ لَهُ بُرْنُسُ قَزٍّ»
“Bahwa ia melihat Muhammad bin Al-Hanafiyyah (putra
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu) mengenakan pakaian hibarah yang
kancing-kancingnya terbuka. Dan beliau memiliki burnus (jubah bertudung) dari
sutra.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 5/165 no. 24804. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq
bin Manshur, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' bin
Al-Mundzir, dari ayahnya: ....
----
ATSAR KE
10:
Dari Sahl bin Shalih Al-Marwazi, ia berkata:
«رَأَيْتُ عَبَّادَ بْنَ عَبْدِ الصَّمَدِ فِي
يَوْمٍ شَدِيدِ الْبَرْدِ مَحْلُولَ الْأَزْرَارِ».
“Aku melihat Abbad bin Abdul Shamad pada hari
yang sangat dingin dalam keadaan kancing-kancing bajunya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam al-Kamil
5/552 no. 1171dengan sanadnya. Lalu Ibnu ‘Adiy berkata:
عَبَّادُ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ أَبُو
مَعْمَرٍ، يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسٍ بِالْمَنَاكِيرِ. سَمِعْتُ ابْنَ حَمَّادٍ يَقُولُ:
قَالَ الْبُخَارِيُّ: «عَبَّادُ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ، سَمِعَ أَنَسًا، مُنْكَرٌ».
Abbad bin Abdul Shamad Abu Ma'mar meriwayatkan
hadits dari Anas bin Malik dengan riwayat-riwayat yang mungkar.
Aku mendengar Ibnu Hammad berkata: “Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari berkata: ‘Abbad bin Abdul Shamad, yang meriwayatkan dari
Anas, adalah (perawi yang memiliki riwayat) mungkar.’”
-----
ATSAR KE
11:
Dari Hilal bin Maimunah, ia berkata:
«مَا رَأَيْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ
مُحَلِّلًا أَزْرَارَهُ».
“Aku melihat Sa'id bin Al-Musayyib membiarkan
kancing-kancing bajunya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushonnaf 5/165 no. 24805. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Waki', dari Hilal bin Abi Maimunah, ia berkata: …
-----
ATSAR KE
12:
Dari Zuhrah bin Ma'bad, ia berkata:
«رَأَيْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، وَأَبَا
حَازِمٍ، وَمُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ، يُصَلُّونَ وَأَزْرَارُ
قُمُصِهِمْ مُطْلَقَةٌ».
‘Aku melihat Sa'id bin Al-Musayyib, Abu Hazim,
dan Muhammad bin Al-Munkadir rahimahumullah shalat sementara kancing-kancing
baju mereka terbuka.”
[Diriwyatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan
al-Kubro 2/340 no. 3297 dan juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf no.
25176.
Disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam
al-Muhadzdzab Fii Ikhtshor as-Sunan al-Kabiir 2/679 no. 2926].
----
ATSAR KE
13:
Humaid bin Mihran berkata:
«رَأَيْتُ الْحَكَمَ بْنَ عُتَيْبَةَ بِوَاسِطٍ
يُصَلِّي فِي قَمِيصٍ مَحْلُولِ الْأَزْرَارِ».
“Aku melihat Al-Hakam bin Utaibah di Wasith
shalat dengan mengenakan baju yang kancing-kancingnya terbuka.”
[Diriwayatkan oleh Abu al-Hasan, Bakhsyal
al-Wasithy dalam Tarikh Wasith hal. 179. Dia berkata: Telah menceritakan kepada
kami Aslam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Idris bin Hatim, ia
berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: “Kakekmu, Humaid bin Mihran,
menceritakan kepadaku.” Idris berkata: “Dia adalah kakekku dari pihak ibu.” Lalu
Humaid bin Mihran berkata: ….
----
ATSAR KE
14:
Abu Dawud berkata:
«كُنْتُ أَرَى أَزْرَارَ عَبْدِ اللَّهِ (أَحْمَدَ
بْنِ حَنْبَلٍ) مَحْلُولَةً».
“Aku pernah melihat kancing-kancing baju
Abdullah (yaitu Imam Ahmad bin Hanbal) dalam keadaan terbuka.” [al-Maktabah
asy-Syamilah al-Haditsah 3/151]
Selain itu, hal tersebut juga disebutkan oleh
Ibnu Al-Jauzi dalam Manaqib Al-Imam Ahmad, serta oleh Ibnu Khuzaimah dan
Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kabir, bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu
'anhuma juga melakukan hal itu. Demikian pula Asy-Sya'bi, dan juga Qurrah bin
Iyas, yang senantiasa melakukannya secara terus-menerus.
[Sumber: Bawwābah Turāts Al-Imām Al-Albānī/ Ṣawtiyyāt wa Tafrīghāt Al-Imām Al-Albānī/ Fatāwā 'Abra Al-Hātif wa As-Sayyārah/ Hal Hunāka Dalālah 'Alā Anna Ḥalla Azrār Al-Qumuṣ Mustaḥabb? Kaset : 116]
===***====
FIQIH HADITS DAN ATSAR:
Mayoritas ulama kontemporer berpendapat bahwa membuka kancing baju, termasuk dalam kategori adat (kebiasaan), yakni perbuatan yang dilakukan Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari kebiasaan hidup beliau. Oleh karena itu, perbuatan tersebut tidak termasuk sunnah ibadah.
Namun ada sebagain para ulama kontemporer, diantaranya
Mahmud Imam Manshur, beliau berpandangan bahwa hadits dan atsar diatas menunjukkan
disunnahkan bagi seorang pria muslim bersengaja membiarkan kancing-kancing baju-nya terbuka.
Akan tetapi yang shahih dan benar bahwa hadits-hadits
dan atsar-atsar diatas ini tidak menunjukkan disunnahkannya hal tersebut,
melainkan hanya sebatas mubah saja hukumnya.
Maka dengan demikian tidak mengapa bagi
seorang pria muslim untuk membuka kancing pertama atau kedua pada bajunya,
selama hal itu tidak mengakibatkan terbukanya aurat.
Diantara para ulam kontemporer yang menghukuminya
dengan hukum mubah bukan sunnah adalah sbb: Syeikh Bin Baz, Syeikh al-Utsaimin,
para mufti al-Lajnah ad-Daimah Saudi Arabia, Syeikh al-Albani, Syeikah Muhammad
Sholeh al-Munajjid, Syeikh ‘Abdu Aziz ar-Rajihi dan lainnya.
Syeikh Muhammad Sholeh al-Munajjid berkata:
«وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ
إِطْلَاقَ الْأَزْرَارِ (يَعْنِي: فَتْحَهَا) عِبَادَةٌ يُثَابُ الْمُسْلِمُ عَلَيْهَا».
“Hadits ini tidak menunjukkan bahwa membiarkan
kancing baju terbuka merupakan suatu ibadah yang pelakunya mendapatkan pahala”.
[Sumber: Islamqa no. 214574]
Bahkan sebagian para ulama menjadikan hadits
Qurrah bin Iyas sebagai dalil atas bolehnya membuka kancing baju, bukan sebagai
dalil bahwa hal itu merupakan sunnah.
Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya membuat bab
dengan judul sbb:
«ذِكْرُ الْإِبَاحَةِ لِلْمَرْءِ أَنْ يَكُونَ
مُطْلِقَ الْإِزَارِ فِي الْأَحْوَالِ»
"Penyebutan tentang bolehnya seseorang
membiarkan kancing-kancing bajunya terbuka dalam berbagai keadaan."
(Selesai). [Lihat Shahih Ibnu Hibban (12/266 sebelum hadits no. 5452)]
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
«يَجُوزُ لُبْسُ الْقَمِيصِ وَالْقَبَاءِ وَالْفَرَجِيَّةِ
[نَوْعٌ مِنَ الثِّيَابِ] وَنَحْوِهَا مُزَرَّرًا، وَمَحْلُولَ الْأَزْرَارِ إِذَا
لَمْ تَبْدُ عَوْرَتُهُ، وَلَا كَرَاهَةَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا، لِحَدِيثِ قُرَّةَ
الصَّحَابِيِّ...». انْتَهَى.
"Boleh mengenakan gamis, qaba',
farajiyyah (sejenis pakaian), dan semisalnya dalam keadaan berkancing maupun
terbuka kancingnya selama auratnya tidak terlihat.
Tidak ada kemakruhan pada salah satu dari
keduanya. Hal ini berdasarkan hadits Qurrah, seorang sahabat..." Kemudian
beliau menyebutkan hadits tersebut. [Selesai dari Al-Majmu' Syarh
Al-Muhadzdzab (4/468)].
Syeikh Al-'Utsaimin rahimahullah pernah
ditanya:
«مَا حُكْمُ الِاقْتِدَاءِ بِالنَّبِيِّ ﷺ فِي
الْأَفْعَالِ الَّتِي فَعَلَهَا وَلَمْ يَظْهَرْ فِيهَا قَصْدُ الْقُرْبَةِ، كَإِطَالَةِ
الشَّعْرِ (شَعْرِ الرَّأْسِ) وَفَتْحِ الْأَزْرَارِ؟»
"Apa hukum meneladani Nabi ﷺ dalam
perbuatan-perbuatan yang beliau lakukan namun tidak tampak adanya tujuan ibadah
di dalamnya, seperti memanjangkan rambut kepala dan membuka kancing baju?"
Beliau menjawab:
«هَذِهِ لَيْسَ لَهَا حُكْمٌ [يَعْنِي أَنَّهَا
لَا تُوصَفُ لَا بِوُجُوبٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ]، ثُمَّ إِنْ كَانَتْ خِلَافَ عَادَةِ
الْبَلَدِ صَارَ ذَلِكَ مُخَالِفًا لِلسُّنَّةِ، لِأَنَّ السُّنَّةَ مُوَافَقَةُ أَهْلِ
الْبَلَدِ فِي غَيْرِ مَا هُوَ مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ.
وَقَدْ مَثَّلْتَ بِفَكِّ الْأَزْرَارِ،
وَالْوَاقِعُ أَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ ﷺ الرَّاتِبَةِ، وَلَكِنَّ
مُعَاوِيَةَ بْنَ قُرَّةَ رَآهُ قَدْ فَتَحَ أَزْرَارَهُ، وَهَذَا لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ
لَهُ سَبَبٌ، إِمَّا حَرٌّ شَدِيدٌ، أَوْ حَرَارَةٌ فِي جِلْدِهِ، أَوْ نِسْيَانًا
لِزِرِّهِ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ.
لِأَنَّهُ مِنَ الْمَعْلُومِ بِالْعَقْلِ
أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَضَعَ الْإِنْسَانُ أَزْرَارًا عَلَى ثَوْبِهِ ثُمَّ لَا
يَزُرَّهُ، إِنَّ هَذَا يَكُونُ عَبَثًا لَا إِشْكَالَ فِيهِ. وَالنَّبِيُّ ﷺ كُلُّ
أَفْعَالِهِ خَيْرٌ وَجِدٌّ، لَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ عَبَثٌ». انْتَهَى.
"Perbuatan-perbuatan ini tidak memiliki
hukum khusus [maksudnya tidak disifati sebagai wajib ataupun sunnah].
Kemudian, apabila hal tersebut bertentangan
dengan kebiasaan masyarakat setempat, maka justru menjadi perbuatan yang
menyelisihi sunnah. Sebab sunnah adalah menyesuaikan diri dengan kebiasaan
masyarakat dalam perkara-perkara yang bukan maksiat kepada Allah.
Anda mencontohkan masalah membuka kancing
baju. Pada hakikatnya, hal itu bukanlah kebiasaan tetap Nabi ﷺ. Akan
tetapi Mu'awiyah bin Qurrah pernah melihat beliau membuka kancing bajunya. Ini
pasti ada sebabnya; mungkin karena cuaca yang sangat panas, atau karena panas
pada kulit beliau, atau karena beliau lupa mengancingkannya, atau sebab
lainnya.
Sebab secara logika diketahui bahwa tidak
mungkin seseorang memasang kancing pada bajunya lalu tidak mengancingkannya.
Hal itu tentu menjadi perbuatan sia-sia.
Sedangkan Nabi ﷺ seluruh perbuatannya penuh dengan hikmah dan kebaikan, tidak
ada sedikit pun yang sia-sia." (Selesai). [https://bit.ly/3jiguC4]
Fatwa
Syeikh Abdul Aziz ar-Rajihi dalam Kitab Fatawa Munawwa’ah 8/54:
Beliau pernah di tanya dengan pertanyaan sbb:
Apakah
termasuk sunnah membuka kancing baju bagian atas?
Jawaban beliau:
«ذَلِكَ لَا يَضُرُّ، أَمَّا كَوْنُهُ يَفْتَحُ
الْأَزْرَارَ بِحَيْثُ يُبْقِي الصَّدْرَ مَفْتُوحًا، فَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ
هَذَا مِنْ خَوَارِمِ الْمُرُوءَةِ، وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَمُدَّ رِجْلَهُ أَمَامَ النَّاسِ،
فَهَذَا مِنْ خَوَارِمِ الْمُرُوءَةِ أَيْضًا.
أَمَّا كَوْنُهُ يَفْتَحُ الزِّرَّ الْأَعْلَى
لِأَنَّهُ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ فَذَلِكَ لَا يَضُرُّ».
“Hal itu tidak mengapa. Adapun jika seseorang
membuka beberapa kancing sehingga dadanya tetap terbuka, maka para ulama telah
menyebutkan bahwa hal tersebut termasuk perkara yang merusak muruah (kehormatan
dan kewibawaan seseorang). Di antara contohnya juga adalah menjulurkan kaki di
hadapan orang-orang, karena hal itu termasuk perbuatan yang mengurangi muruah.
Adapun jika seseorang membuka kancing bagian
atas karena cuaca sangat panas atau karena merasa kepanasan, maka hal itu tidak
mengapa. [Selesai]
===***===
TIDAK
SEMUA PERBUATAN NABI ﷺ ITU IBADAH ATAU AMALAN SUNNAH
Syeikh Muhammad sholeh al-Munajjid berkata:
فَلَيْسَ كُلُّ مَا فَعَلَهُ الرَّسُولُ
ﷺ عِبَادَةً يَنْبَغِي التَّأَسِّي بِهِ فِيهَا، بَلْ يَنْبَغِي التَّفْرِيقُ بَيْنَ
مَا فَعَلَهُ الرَّسُولُ ﷺ عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ،
وَمَا فَعَلَهُ بِحُكْمِ طَبِيعَتِهِ الْبَشَرِيَّةِ، أَوْ مُوَافَقَةً لِعَادَةِ النَّاسِ
فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ ... وَنَحْوِ ذَلِكَ.
فَالنَّوْعُ الْأَوَّلُ (وَهُوَ مَا فَعَلَهُ
عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ) هُوَ الَّذِي يُشْرَعُ التَّأَسِّي بِهِ فِيهِ ﷺ، وَيَكُونُ
مُسْتَحَبًّا أَوْ وَاجِبًا حَسَبَ مَا تَدُلُّ عَلَيْهِ الْأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ.
وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي فَلَا يَزِيدُ
عَلَى كَوْنِهِ مُبَاحًا.
لَا يُعَدُّ إِطْلَاقُ وَفَتْحُ شَيْءٍ
مِنْ أَزْرَارِ الثَّوْبِ مِنَ السُّنَّةِ الَّتِي يُثَابُ فَاعِلُهَا، بَلْ ذَلِكَ
مِنَ الْأُمُورِ الْمُبَاحَةِ الَّتِي مَنْ فَعَلَهَا فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ، بِشَرْطِ
أَنْ لَا يَكُونَ ذَلِكَ مُخَالِفًا لِعَادَةِ النَّاسِ.
وَذَلِكَ لِأَنَّ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ
ﷺ وَلَمْ يَقْصِدْ بِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ لَا يَدُلُّ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ
إِبَاحَةِ ذَلِكَ الْفِعْلِ، وَلَا يَدُلُّ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ.
Sebab, tidak semua perbuatan Rasulullah ﷺ
merupakan ibadah yang harus diteladani sebagai bentuk pendekatan diri kepada
Allah.
Perlu dibedakan:
antara perbuatan yang dilakukan Rasulullah ﷺ sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, dengan
perbuatan yang beliau lakukan karena sifat kemanusiaan beliau, atau karena
menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat pada waktu itu, dan semisalnya.
Jenis pertama,
yaitu perbuatan yang beliau lakukan dalam rangka ibadah, itulah yang
disyariatkan untuk diteladani. Hukumnya bisa menjadi sunnah atau wajib sesuai
dengan dalil-dalil syariat yang menunjukkannya
Adapun jenis kedua, maka tidak lebih dari sekadar perkara yang mubah (boleh).
Karena itu, membiarkan atau membuka sebagian
kancing baju tidak termasuk sunnah yang pelakunya diberi pahala secara khusus.
Hal tersebut hanyalah perkara mubah; siapa yang melakukannya tidak berdosa,
dengan syarat tidak bertentangan dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Hal ini karena perbuatan yang dilakukan Nabi ﷺ tanpa
maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak menunjukkan lebih dari sekadar
kebolehan perbuatan tersebut, dan tidak menunjukkan bahwa perbuatan itu
dianjurkan (mustahab). [Sumber: Islamqa no. 214574]
Disebutkan dalam kitab Al-Musawwadah fi Ushul
Al-Fiqh (hlm. 71):
«فِعْلُ النَّبِيِّ ﷺ يُفِيدُ الْإِبَاحَةَ إِذَا
لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَعْنَى الْقُرْبَةِ فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ». انْتَهَى.
"Perbuatan Nabi ﷺ menunjukkan hukum mubah apabila tidak mengandung makna
pendekatan diri kepada Allah (qurbah), menurut pendapat jumhur ulama."
[Selesai].
---
Dr. Muhammad Al-Asyqar rahimahullah berkata:
«الْفِعْلُ (الْعَادِيُّ) مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ
ﷺ جَرْيًا عَلَى عَادَةِ قَوْمِهِ وَمَأْلُوفِهِمْ، كَبَعْضِ الْأُمُورِ الَّتِي تَتَّصِلُ
بِالْعِنَايَةِ بِالْبَدَنِ، أَوِ الْعَوَائِدِ الْجَارِيَةِ بَيْنَ الْأَقْوَامِ فِي
الْمُنَاسَبَاتِ الْحَيَوِيَّةِ، كَالزَّوَاجِ وَالْوِلَادَةِ وَالْوَفَاةِ.
وَمِنْ أَمْثِلَتِهَا أَنَّهُ ﷺ لَبِسَ
الْمِرْطَ الْمُرَحَّلَ، وَالْمُخَطَّطَ [ثِيَابٌ مَنْقُوشٌ عَلَيْهَا صُورَةُ رِحَالِ
الْإِبِلِ أَوْ يَكُونُ بِهَا خُطُوطٌ]، وَالْجُبَّةَ، وَالْعِمَامَةَ، وَالْقَبَاءَ،
وَأَطَالَ شَعْرَهُ، وَاسْتَعْمَلَ الْقِرَبَ الْجِلْدِيَّةَ فِي خَزْنِ الْمَاءِ...
وَأَيْضًا: كَانَتِ الْعَرُوسُ تُزَفُّ
إِلَيْهِ فِي بَيْتِهِ، لَا فِي بَيْتِ أَبِيهَا كَمَا هِيَ عَادَةُ بَعْضِ الْبِلَادِ
الْإِسْلَامِيَّةِ الْآنَ...
وَحُكْمُ هَذِهِ الْأُمُورِ الْعَادِيَّةِ
وَأَمْثَالِهَا، كَنَظَائِرِهَا مِنَ الْأَفْعَالِ الْجِبِلِّيَّةِ، وَالْأَصْلُ فِيهَا
جَمِيعًا أَنَّهَا تَدُلُّ عَلَى الْإِبَاحَةِ لَا غَيْرَ، إِلَّا فِي حَالَيْنِ:
١. أَنْ يَرِدَ قَوْلٌ يَأْمُرُ بِهَا أَوْ يُرَغِّبُ
فِيهَا، فَيَظْهَرُ أَنَّهَا حِينَئِذٍ تَكُونُ شَرْعِيَّةً.
٢. أَنْ يَظْهَرَ ارْتِبَاطُهَا بِالشَّرْعِ بِقَرِينَةٍ
غَيْرِ قَوْلِيَّةٍ، كَتَوْجِيهِ الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ، فَإِنَّ
ارْتِبَاطَ ذَلِكَ بِالشَّرْعِ لَا خَفَاءَ بِهِ». انْتَهَى.
"Perbuatan yang bersifat adat (kebiasaan)
adalah perbuatan yang dilakukan Nabi ﷺ sesuai dengan kebiasaan dan tradisi yang berlaku di tengah
kaumnya. Contohnya adalah beberapa perkara yang berkaitan dengan
perawatan tubuh, atau adat-istiadat yang lazim dilakukan masyarakat dalam
berbagai peristiwa penting kehidupan, seperti pernikahan, kelahiran, dan
kematian.
Di antara contohnya, Nabi ﷺ mengenakan mirt murahhal dan pakaian bergaris (yaitu pakaian
yang bergambar pelana unta atau memiliki garis-garis), memakai jubah, sorban,
qaba' (sejenis mantel), memanjangkan rambut, serta menggunakan kantong-kantong
kulit untuk menyimpan air.
Contoh lainnya,
pengantin wanita dahulu diantarkan kepada beliau di rumah beliau, bukan di
rumah ayahnya sebagaimana menjadi kebiasaan di sebagian negeri Islam pada masa
sekarang.
Hukum perkara-perkara yang bersifat adat
seperti ini, dan yang semisalnya dari perbuatan-perbuatan yang bersifat tabiat
manusia, pada asalnya semuanya menunjukkan hukum mubah dan tidak lebih dari
itu, kecuali dalam dua keadaan:
1]. Apabila terdapat ucapan (dalil) yang
memerintahkan atau menganjurkannya, maka pada saat itu tampak bahwa perbuatan
tersebut menjadi bagian dari syariat.
2]. Apabila tampak adanya keterkaitan dengan
syariat melalui petunjuk selain ucapan, seperti menghadapkan mayit ke arah
kiblat ketika diletakkan di dalam kuburnya. Keterkaitan hal tersebut dengan
syariat sangat jelas dan tidak samar."
[Selesai dari kitab Af'al Ar-Rasul ﷺ wa
Dalalatuha 'Ala Al-Ahkam (1/237)].
Mengikuti Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan menyesuaikan diri pada bentuk
lahiriahnya saja, tetapi juga harus sesuai dalam tujuan dan niatnya.
Syeikh Muhammad sholeh al-Munajjid berkata:
فَمَنْ أَتَى إِلَى مَا فَعَلَهُ الرَّسُولُ
ﷺ وَلَمْ يَقْصِدْ بِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ، بَلْ فَعَلَهُ بِحُكْمِ بَشَرِيَّتِهِ
أَوْ مُوَافَقَةً لِعَادَةِ النَّاسِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ، فَمَنْ أَتَى إِلَى هَذَا
وَفَعَلَهُ بِقَصْدِ الْقُرْبَةِ وَالْعِبَادَةِ لَمْ يَكُنْ قَدْ تَابَعَ الرَّسُولَ
ﷺ، بَلْ يَكُونُ مُخَالِفًا لَهُ.
“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang
pernah dilakukan Rasulullah ﷺ, padahal Rasulullah ﷺ tidak melakukannya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,
melainkan karena sifat kemanusiaan beliau atau karena mengikuti kebiasaan
masyarakat pada masa itu, lalu orang tersebut melakukannya dengan niat ibadah
dan pendekatan diri kepada Allah, maka sebenarnya ia belum mengikuti Rasulullah
ﷺ. Bahkan
ia telah menyelisihi beliau ﷺ”. [Sumber: Islamqa no. 214574]
Penjelasan mengenai hal ini akan datang dalam
perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam artikel ini.
Dan para ulama dan fuqaha dari kalangan
sahabat radhiyallahu 'anhum memahami perbedaan antara kedua jenis perbuatan
tersebut.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya no.
234 -(1264) dari Abu Ath-Thufail bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Abbas
radhiyallahu 'anhuma:
«أَخْبِرْنِي عَنِ الطَّوَافِ بَيْنَ الصَّفَا
وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا، أَسُنَّةٌ هُوَ؟ فَإِنَّ قَوْمَكَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُ سُنَّةٌ؟»
قَالَ: «صَدَقُوا وَكَذَبُوا!»
قَالَ: قُلْتُ: وَمَا قَوْلُكَ صَدَقُوا
وَكَذَبُوا؟
قَالَ: «إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَثُرَ
عَلَيْهِ النَّاسُ يَقُولُونَ: هَذَا مُحَمَّدٌ، هَذَا مُحَمَّدٌ، حَتَّى خَرَجَ الْعَوَاتِقُ
مِنَ الْبُيُوتِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يُضْرَبُ النَّاسُ بَيْنَ يَدَيْهِ،
فَلَمَّا كَثُرَ عَلَيْهِ رَكِبَ وَمَشَى، وَالسَّعْيُ أَفْضَلُ».
"Beritahukan kepadaku tentang thawaf
(sa'i) antara Shafa dan Marwah dengan berkendaraan. Apakah itu sunnah? Karena
kaummu menganggap bahwa hal itu sunnah."
Ibnu Abbas menjawab: "Mereka benar dan
mereka juga salah."
Aku bertanya: "Apa maksud ucapanmu bahwa
mereka benar dan salah?"
Beliau menjawab: "Sesungguhnya
orang-orang berdesakan mengelilingi Rasulullah ﷺ sambil berkata, 'Ini Muhammad, ini Muhammad,' hingga para gadis
keluar dari rumah-rumah mereka. Rasulullah ﷺ tidak suka orang-orang dipukul atau disingkirkan dari hadapan
beliau. Ketika orang-orang semakin banyak mengerumuni beliau, maka beliau
melakukan sa'i dengan berkendaraan dan juga berjalan. Padahal sa'i dengan
berjalan lebih utama." (Selesai)
Dalam riwayat Abu Dawud (1885) disebutkan:
«قَالَ: صَدَقُوا، قَدْ طَافَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَلَى بَعِيرِهِ، وَكَذَبُوا، لَيْسَ بِسُنَّةٍ».
"Ibnu Abbas berkata: 'Mereka benar,
karena Rasulullah ﷺ memang melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah di atas untanya.
Namun mereka salah, karena hal itu bukanlah sunnah.'"
Ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang
sa'i dengan berkendaraan, "hal itu bukan sunnah (لَيْسَ
بِسُنَّةٍ)", padahal terbukti bahwa Nabi ﷺ pernah
melakukannya, menunjukkan bahwa ada perbedaan antara perbuatan yang dilakukan
Rasulullah ﷺ sebagai
bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah dengan perbuatan yang beliau
lakukan karena tujuan lain.
Jenis pertama itulah sunnah yang disyariatkan
untuk diteladani, sedangkan jenis kedua bukanlah sunnah.
Adapun adanya riwayat bahwa sebagian salaf
membiarkan kancing baju terbuka, maka memang hal itu diriwayatkan dari Ibnu
Umar, Qurrah bin Iyas, dan selain keduanya. Akan tetapi, hal tersebut tidak
diriwayatkan dari para sahabat senior dan para fuqaha mereka, seperti Khulafaur
Rasyidin yang empat dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ini menunjukkan bahwa mereka
tidak memandangnya sebagai amalan yang dianjurkan.
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma
berpendapat bahwa mengikuti Rasulullah ﷺ disyariatkan dalam setiap perbuatan yang beliau lakukan, baik
yang dilakukan sebagai ibadah maupun bukan. Akan tetapi, pendapat ini
diselisihi oleh mayoritas sahabat dan para sahabat senior radhiyallahu 'anhum.
---
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu'
Al-Fatawa (1/280):
«وَكَذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ كَانَ يَتَحَرَّى أَنْ
يَسِيرَ مَوَاضِعَ سَيْرِ النَّبِيِّ ﷺ، وَيَنْزِلَ مَوَاضِعَ مَنْزِلِهِ، وَيَتَوَضَّأَ
فِي السَّفَرِ حَيْثُ رَآهُ يَتَوَضَّأُ، وَيَصُبَّ فَضْلَ مَائِهِ عَلَى شَجَرَةٍ
صَبَّ عَلَيْهَا، وَنَحْوَ ذَلِكَ مِمَّا اسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ،
وَرَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا.
وَلَمْ يَسْتَحِبَّ ذَلِكَ جُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ، كَمَا لَمْ يَسْتَحِبُّوهُ وَلَمْ يَفْعَلْهُ أَكَابِرُ الصَّحَابَةِ،
كَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
وَغَيْرِهِمْ، لَمْ يَفْعَلُوا مِثْلَ مَا فَعَلَ ابْنُ عُمَرَ، وَلَوْ رَأَوْهُ مُسْتَحَبًّا
لَفَعَلُوهُ كَمَا كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ مُتَابَعَتَهُ وَالِاقْتِدَاءَ بِهِ.
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُتَابَعَةَ أَنْ
يَفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي فَعَلَ، فَإِذَا فَعَلَ فِعْلًا
عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ شُرِعَ لَنَا أَنْ نَفْعَلَهُ عَلَى وَجْهِ الْعِبَادَةِ...
وَأَمَّا مَا فَعَلَهُ بِحُكْمِ الِاتِّفَاقِ وَلَمْ يَقْصِدْهُ، مِثْلَ أَنْ يَنْزِلَ
بِمَكَانٍ وَيُصَلِّيَ فِيهِ لِكَوْنِهِ نَزَلَهُ، لَا قَصْدًا لِتَخْصِيصِهِ بِالصَّلَاةِ
وَالنُّزُولِ فِيهِ، فَإِذَا قَصَدْنَا تَخْصِيصَ ذَلِكَ الْمَكَانِ بِالصَّلَاةِ فِيهِ
أَوِ النُّزُولِ، لَمْ نَكُنْ مُتَّبِعِينَ، بَلْ هَذَا مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي كَانَ
يَنْهَى عَنْهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ». انْتَهَى.
"Demikian pula Ibnu Umar, beliau sangat
berusaha untuk berjalan di tempat-tempat yang pernah dilalui Nabi ﷺ,
singgah di tempat-tempat yang pernah menjadi tempat singgah beliau, berwudhu
dalam perjalanan di tempat yang beliau lihat Nabi ﷺ berwudhu, dan menuangkan sisa air wudhunya pada sebuah pohon
yang pernah disiram oleh Nabi ﷺ, serta amalan-amalan serupa lainnya yang dipandang mustahab
oleh sebagian ulama dan mereka anggap sebagai sesuatu yang dianjurkan.
Namun, mayoritas ulama tidak menganggap hal
tersebut sebagai amalan yang dianjurkan. Demikian pula para sahabat senior
tidak menganggapnya demikian dan tidak melakukannya, seperti Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali, Ibnu Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, dan selain mereka. Mereka tidak
melakukan sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar. Seandainya mereka memandangnya
sebagai amalan yang dianjurkan, niscaya mereka akan melakukannya, sebagaimana
mereka sangat berusaha mengikuti dan meneladani Nabi ﷺ.
Hal itu karena hakikat mengikuti (ittiba')
adalah melakukan seperti yang beliau lakukan dengan cara dan tujuan yang sama
sebagaimana beliau melakukannya. Jika beliau melakukan suatu perbuatan sebagai
bentuk ibadah, maka disyariatkan bagi kita untuk melakukannya sebagai ibadah
pula.
Adapun jika beliau melakukan suatu perbuatan
karena kebetulan terjadi dan bukan karena tujuan tertentu, seperti singgah di
suatu tempat lalu shalat di sana karena kebetulan beliau singgah di tempat itu,
bukan dengan tujuan mengkhususkan tempat tersebut untuk shalat dan singgah,
maka apabila kita sengaja mengkhususkan tempat itu untuk shalat atau singgah,
berarti kita bukan sedang mengikuti beliau. Bahkan hal itu termasuk bid'ah yang
dahulu Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu melarangnya." (Selesai).
Beliau juga berkata dalam Majmu' Al-Fatawa
(17/466):
«وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
رَجُلًا صَالِحًا شَدِيدَ الِاتِّبَاعِ، فَرَأَى هَذَا مِنَ الِاتِّبَاعِ، وَأَمَّا
أَبُوهُ وَسَائِرُ الصَّحَابَةِ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ
وَسَائِرُ الْعَشَرَةِ وَغَيْرُهُمْ مِثْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَلَمْ يَكُونُوا يَفْعَلُونَ مَا فَعَلَ ابْنُ عُمَرَ، وَقَوْلُ
الْجُمْهُورِ أَصَحُّ». انْتَهَى.
"Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma adalah
seorang yang saleh dan sangat kuat dalam mengikuti Nabi ﷺ,
sehingga beliau memandang hal tersebut sebagai bagian dari ittiba'. Adapun
ayahnya (Umar) dan para sahabat lainnya seperti para Khulafaur Rasyidin, yaitu
Utsman dan Ali, juga seluruh sahabat yang dijamin masuk surga dan selain mereka
seperti Ibnu Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka'ab, mereka tidak
melakukan apa yang dilakukan Ibnu Umar. Pendapat mayoritas ulama lebih
tepat." (Selesai).
Kemudian beliau menjelaskan alasan mengapa
Umar radhiyallahu 'anhu mengingkari upaya meniru Nabi ﷺ dalam perkara-perkara tersebut. Beliau berkata:
«رَأَى عُمَرُ أَنَّ مُشَارَكَتَهُ فِي صُورَةِ
الْفِعْلِ مِنْ غَيْرِ مُوَافَقَةٍ لَهُ فِي قَصْدِهِ لَيْسَ مُتَابَعَةً... وَهَذَا
هُوَ الْأَصْلُ، فَإِنَّ الْمُتَابَعَةَ فِي السُّنَّةِ أَبْلَغُ مِنَ الْمُتَابَعَةِ
فِي صُورَةِ الْعَمَلِ». انْتَهَى.
"Umar berpandangan bahwa kesamaan dalam
bentuk lahiriah suatu perbuatan tanpa adanya kesesuaian dengan tujuan yang dimaksud
Nabi ﷺ
bukanlah ittiba' (mengikuti) yang sebenarnya.
Inilah prinsip yang benar. Sebab, mengikuti
sunnah dalam tujuan dan maknanya lebih tinggi nilainya daripada sekadar
mengikuti bentuk lahiriah suatu amalan." (Selesai).
----
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-'Ilmiyyah wal Ifta') pernah ditanya tentang sebuah buku kecil (كُتَيْب) yang penulisnya menyebutkan:
أَنَّهُ يُسَنُّ الِاقْتِدَاءُ بِالنَّبِيِّ
ﷺ فِي أَشْيَاءَ لَمْ يَفْعَلْهَا الرَّسُولُ ﷺ بِقَصْدِ الْعِبَادَةِ، وَمِنْهَا:
«فَكُّ الْأَزْرَارِ».
“Bahwa disunnahkan meneladani Nabi ﷺ dalam
beberapa perkara yang tidak beliau lakukan dengan tujuan ibadah, di antaranya
membuka kancing baju”.
’Maka para ulama al-Lajnah ad-Daimah menjawabnya dengan mengakatan:
«فَإِنَّ اللَّجْنَةَ الدَّائِمَةَ لِلْبُحُوثِ
الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ اسْتَعْرَضَتْ مَا وَرَدَ إِلَيْهَا مِنْ بَعْضِ النَّاصِحِينَ
الْمُقَيَّدِ بِالْأَمَانَةِ الْعَامَّةِ لِهَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ بِرَقْمِ
(779) وَتَارِيخِ 6/2/1421 هـ، مَشْفُوعًا بِهِ نُسْخَةٌ مِنْ كِتَابٍ بِاسْمِ: (تَذْكِيرُ
الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ بِبَعْضِ السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ) جَمْعُ الْمَدْعُوِّ:
مَحْمُودِ إِمَامِ مَنْصُورٍ، طَبَعَ دَارُ الْمَآثِرِ بِمَدِينَةِ النَّبِيِّ ﷺ عَامَ
1420 هـ.
وَبِدِرَاسَةِ هَذَا الْكِتَابِ وُجِدَ
أَنَّ كَاتِبَهُ بَنَاهُ عَلَى قَاعِدَةٍ أَسَّسَهَا مِنْ عِنْدِهِ، وَهِيَ: أَنَّ
أَفْعَالَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى سَبِيلِ الْعَادَةِ لَهَا حُكْمُ التَّشْرِيعِ وَالسُّنِّيَّةِ،
كَأَفْعَالِهِ ﷺ الَّتِي يَفْعَلُهَا عَلَى سَبِيلِ الْعِبَادَةِ، كَمَا فِي (ص
17).
وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْخَلْطَ بَيْنَ الْأَفْعَالِ
الْعَادِيَّةِ الْجِبِلِّيَّةِ وَالتَّشْرِيعِيَّةِ غَلَطٌ مَحْضٌ، وَتَقْعِيدٌ مَغْلُوطٌ،
كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ فِي مَحَلِّهِ مِنْ كُتُبِ الْأُصُولِ.
وَبِنَاءً عَلَى هَذَا التَّقْعِيدِ الْمَغْلُوطِ
الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الْمُؤَلِّفُ كِتَابَهُ، وَقَعَ فِي عَدَدٍ كَثِيرٍ مِنَ الْأَخْطَاءِ
الْعِلْمِيَّةِ وَالشُّذُوذَاتِ الْفِقْهِيَّةِ، بَلْ قَالَ بِسُنِّيَّةِ مَا قَرَّرَ
الْمُحَقِّقُونَ أَنَّ فِعْلَهُ عَلَى سَبِيلِ التَّسَنُّنِ بِدْعَةٌ.
وَمِنْ هَذِهِ الْفُرُوعِ الَّتِي غَلِطَ
الْكَاتِبُ بِالْقَوْلِ بِسُنِّيَّتِهَا: سُنِّيَّةُ الِاضْطِجَاعِ بَعْدَ رَكْعَتَيِ
الْفَجْرِ (ص 51)، وَسُنِّيَّةُ السُّكُوتِ بَعْدَ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ (ص 66). بَلْ ثَبَتَ عَنْهُ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَتَحَدَّثُ مَعَ زَوْجَتِهِ
أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ،
كَمَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ... وَسُنِّيَّةُ حَلِّ الْأَزْرَارِ (ص
212)، وَسُنِّيَّةُ لُبْسِ الْعِمَامَةِ الْمُحَنَّكَةِ (ص 222)... إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ
مِنَ التَّسَنُّنِ بِمَا لَيْسَ بِسُنَّةٍ، وَالتَّشْوِيشِ عَلَى النَّاسِ بِذَلِكَ.
لِهَذَا فَإِنَّ اللَّجْنَةَ الدَّائِمَةَ
لِلْبُحُوثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ تَرَى مَنْعَ هَذَا الْكِتَابِ مِنَ الْبَيْعِ
وَالتَّدَاوُلِ، وَتَنْصَحُ كَاتِبَهُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ عَلَى الْعُلَمَاءِ
الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالْعِلْمِ وَالْفَضْلِ وَسَلَامَةِ الْمُعْتَقَدِ وَصِحَّةِ
الْفَهْمِ وَسَلَامَتِهِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ». انْتَهَى.
Terjemahnya :
"Sesungguhnya Komite Tetap untuk Riset
Ilmiah dan Fatwa telah menelaah laporan yang disampaikan oleh sebagian
penasihat yang terdaftar di Sekretariat Umum Hai'ah Kibar Al-'Ulama dengan
nomor 779 tertanggal 6/2/1421 H, yang dilampiri salinan sebuah buku berjudul:
(تَذْكِيرُ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ بِبَعْضِ
السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ)
"Mengingatkan
Thoifah Mansuroh tentang Sebagian Sunnah-Sunnah yang Ditinggalkan "
Karya seseorang bernama Mahmud Imam Manshur,
dicetak oleh Dar Al-Ma'atsir di Kota Nabi ﷺ pada tahun 1420 H.
Setelah mengkaji buku tersebut, ditemukan
bahwa penulisnya membangun pembahasannya di atas suatu kaidah yang ia buat
sendiri, yaitu:
أَنَّ أَفْعَالَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى سَبِيلِ
الْعَادَةِ لَهَا حُكْمُ التَّشْرِيعِ وَالسُّنِّيَّةِ كَأَفْعَالِهِ ﷺ الَّتِي يَفْعَلُهَا
عَلَى سَبِيلِ الْعِبَادَةِ
“Bahwa
perbuatan-perbuatan Nabi ﷺ yang dilakukan sebagai kebiasaan memiliki hukum tasyri'
(pensyariatan) dan kesunnahan sebagaimana perbuatan-perbuatan beliau ﷺ yang
dilakukan sebagai ibadah”
Sebagaimana disebutkan pada halaman 17.
Padahal telah diketahui bahwa mencampuradukkan
antara perbuatan-perbuatan adat yang bersifat tabiat manusia dengan
perbuatan-perbuatan yang bersifat tasyri' merupakan kesalahan murni dan kaidah
yang keliru, sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab-kitab ushul fikih pada
tempatnya.
Berdasarkan kaidah yang keliru inilah penulis
membangun bukunya, sehingga ia terjatuh ke dalam banyak kesalahan ilmiah dan
pendapat fikih yang menyimpang. Bahkan ia menganggap sunnah beberapa perkara
yang oleh para ulama peneliti telah ditegaskan bahwa menjadikannya sebagai
amalan sunnah justru merupakan bid'ah.
Di antara cabang masalah yang penulis keliru
ketika menyatakan kesunnahannya adalah:
[*] Kesunnahan berbaring setelah dua rakaat
sunnah fajar (hlm. 51).
[*] Kesunnahan diam setelah dua rakaat sunnah
fajar hingga matahari terbit (hlm. 66).
Padahal telah ada ketetapan dalam riwayat yang
shahih bahwa Nabi ﷺ berbincang dengan istri beliau, Ummul Mukminin Aisyah
radhiyallahu 'anha, setelah shalat Subuh sebagaimana terdapat dalam Shahih
Al-Bukhari dan kitab-kitab lainnya.
[*] Kesunnahan membuka kancing baju (hlm.
212).
[*] Kesunnahan memakai sorban yang dililitkan
di bawah dagu (hlm. 222).
Dan masih banyak lagi bentuk menganggap sunnah
perkara-perkara yang sebenarnya bukan sunnah, serta menimbulkan kerancuan di
tengah masyarakat dengan hal tersebut.
Oleh karena itu, Komite Tetap untuk Riset
Ilmiah dan Fatwa berpendapat bahwa buku ini harus dicegah dari penjualan dan
peredarannya.
Komite juga menasihati penulisnya agar menuntut ilmu syar'i kepada para ulama yang dikenal memiliki ilmu, keutamaan, akidah yang lurus, pemahaman yang benar, dan keselamatan manhaj. Dan Allah-lah yang memberi taufik". (Selesai). [Lihat: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (Kumpulan Kedua, 11/21)]
---
Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang pendapat yang menyatakan dianjurkannya membuka
kancing baju dan menjadikan hadits Mu'awiyah bin Qurrah dari ayahnya sebagai
dalil, disertai adanya riwayat bahwa sebagian salaf juga melakukannya.
Beliau menjawab:
«هَذَا يَنْبَنِي عَلَى التَّفْرِيقِ بَيْنَ سُنَنِ
الْعَادَةِ وَسُنَنِ الْعِبَادَةِ ... »
"Masalah ini dibangun di atas pembedaan
antara sunnah yang bersifat adat dan sunnah yang bersifat ibadah..."
Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh
yang menjelaskan perbedaan antara kedua jenis sunnah tersebut, lalu berkata:
«كَانَ الرَّسُولُ ﷺ يَكْرَهُ أَكْلَ الضَّبِّ»،
وَلَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَكْرَهَ الْمُسْلِمُ أَكْلَهُ.
وَ«كَانَ الرَّسُولُ ﷺ يُحِبُّ الْعَسَلَ»،
وَمَنْ لَمْ يُحِبَّ الْعَسَلَ لَا يُقَالُ: إِنَّهُ خَالَفَ السُّنَّةَ.
وَ«كَانَ الرَّسُولُ ﷺ يُطِيلُ شَعْرَ
رَأْسِهِ، حَتَّى إِنَّهُ ﷺ دَخَلَ مَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ وَقَدْ جَعَلَ شَعْرَ رَأْسِهِ
أَرْبَعَ ضَفَائِرَ».
وَلَا يُقَالُ لِمَنْ لَمْ يَجْعَلْ شَعْرَهُ
ضَفَائِرَ: إِنَّهُ خَالَفَ السُّنَّةَ.
إِذَنْ: هُنَاكَ سُنَّةُ عَادَةٍ، وَسُنَّةُ
عِبَادَةٍ، وَهَذِهِ الْأَمْثِلَةُ تُؤَكِّدُ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ فِعْلٍ فَعَلَهُ
الرَّسُولُ ﷺ هُوَ سُنَّةَ عِبَادَةٍ، لِأَنَّهُ قَدْ يَفْعَلُ الشَّيْءَ بِحُكْمِ
الطَّبِيعَةِ وَمِزَاجِهِ، أَيْ: يُحِبُّ شَيْئًا مِنَ الْأَطْعِمَةِ وَيَكْرَهُ شَيْئًا
مِنْهَا، هَذَا لَيْسَ لَهُ عَلَاقَةٌ بِالدِّينِ.
كَذَلِكَ إِطَالَةُ الشَّعْرِ، فَعَلَ
ذَلِكَ ﷺ لِأَنَّهُ عَادَةُ الْعَرَبِ، وَكَانُوا يَجْعَلُونَهُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ
ضَفَائِرَ.
وَلَا يَقُولُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ
وَالْفِقْهِ: إِنَّ جَعْلَ الشَّعْرِ ضَفَائِرَ مِنَ السُّنَّةِ، مَعَ أَنَّ الرَّسُولَ
ﷺ قَدْ فَعَلَ ذَلِكَ.
كَذَلِكَ الْيَوْمَ نَلْبَسُ «الصَّنْدَلَ»
وَفِيهِ فَتْحَةٌ وَاحِدَةٌ لِأَصَابِعِ الرَّجُلِ الْخَمْسَةِ، بَيْنَمَا كَانَ نَعْلُ
الرَّسُولِ ﷺ فِيهِ فَتْحَةٌ لِلْإِبْهَامِ، وَفَتْحَةٌ أُخْرَى لِسَائِرِ الْأَصَابِعِ،
كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
فَإِذَا نَحْنُ لَبِسْنَا النِّعَالَ
الَّتِي نَلْبَسُهَا الْيَوْمَ لَا يُقَالُ: إِنَّنَا خَالَفْنَا السُّنَّةَ، لِأَنَّ
هَذِهِ الْأُمُورَ عَادِيَّةٌ.
فَهَذَا التَّفْصِيلُ يُرِيحُ طَالِبَ
الْعِلْمِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُمُورِ، مِنْهَا: قَضِيَّةُ فَكِّ الْأَزْرَارِ، فَيُمْكِنُ
أَنَّ الرَّسُولَ ﷺ مِنْ بَابِ التَّرْوِيحِ وَالنَّشَاطِ فِي جَوٍّ حَارٍّ كَانَ يَفْتَحُ
الْقَمِيصَ، فَيَتَرَوَّحُ، لَيْسَ هُنَاكَ مَانِعٌ مِنْ ذَلِكَ.
أَمَّا مَنْ جَعَلَهَا عِبَادَةً مَقْصُودَةً،
كَجَعْلِ الثَّوْبِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَهَذَا فِيهِ أَحَادِيثُ عَنِ الرَّسُولِ
ﷺ، حَيْثُ قَالَ: «إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ»، فَجَعَلَهَا عَلَامَةً
لِلْمُؤْمِنِ، فَهَذَا شَيْءٌ، وَفَكُّ أَزْرَارِ الْقَمِيصِ شَيْءٌ آخَرُ.
فَإِذَا عَرَفْتَ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ:
أَنَّ السُّنَّةَ سُنَّتَانِ: سُنَّةُ عِبَادَةٍ، وَسُنَّةُ عَادَةٍ، فَيَجِبُ عَلَى
طَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا فَعَلَهُ الرَّسُولُ ﷺ، هَلْ صَدَرَ ذَلِكَ
الْفِعْلُ مِنْهُ بِقَصْدِ الْعِبَادَةِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ؟ أَمْ هُوَ عَادَةٌ
أَوْ جِبِلَّةٌ أَوْ ... أَوْ ... إِلَى آخِرِ مَا هُنَاكَ مِنَ الْحَوَافِزِ وَالْحَوَامِلِ؟
إِذَا عَرَفْتَ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ اسْتَرَحْتَ
فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُمُورِ، مِنْهَا: «أَزْرَارُ الْقَمِيصِ». انْتَهَى.
"’Rasulullah ﷺ tidak
menyukai daging dhobb’ (sejenis biawak gurun), namun
tidak termasuk sunnah bagi seorang muslim untuk membencinya.
‘Rasulullah ﷺ menyukai madu’, tetapi orang yang
tidak menyukai madu tidak dikatakan telah menyelisihi sunnah.
‘Rasulullah ﷺ memanjangkan rambut beliau’. Bahkan
ketika memasuki Makkah pada tahun Fathu Makkah, ‘beliau memiliki empat
kepangan rambut’.
Namun tidak dikatakan kepada orang yang tidak
mengepang rambutnya bahwa ia telah menyelisihi sunnah.
Dengan demikian, ada sunnah adat dan ada
sunnah ibadah.
Contoh-contoh ini menegaskan bahwa tidak
setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah ﷺ merupakan sunnah ibadah. Sebab, terkadang beliau melakukan
sesuatu karena tabiat dan selera pribadi beliau; menyukai sebagian makanan dan
tidak menyukai sebagian yang lain. Hal seperti ini tidak berkaitan dengan
agama.
Demikian pula memanjangkan rambut.
Rasulullah ﷺ
melakukannya karena itu merupakan kebiasaan orang Arab pada waktu itu. Mereka
terkadang mengepang rambut mereka.
Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama dan
ahli fikih yang mengatakan bahwa mengepang rambut merupakan sunnah, padahal
Rasulullah ﷺ pernah melakukannya.
Demikian pula pada zaman sekarang kita memakai
sandal yang memiliki satu celah untuk kelima jari kaki. Sedangkan sandal
Rasulullah ﷺ
memiliki satu tali untuk ibu jari dan satu tali lagi untuk jari-jari lainnya,
sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Jika kita memakai sandal seperti yang
digunakan sekarang, tidak dikatakan bahwa kita telah menyelisihi sunnah, karena
perkara-perkara ini termasuk urusan kebiasaan.
Penjelasan seperti ini memberikan kemudahan
bagi penuntut ilmu dalam banyak masalah, di antaranya masalah membuka kancing
baju. Bisa jadi Rasulullah ﷺ membuka kancing bajunya untuk mendapatkan kesejukan dan
kenyamanan ketika cuaca panas. Tidak ada larangan dalam hal itu.
Namun orang yang menjadikannya sebagai ibadah
yang memang sengaja dituju, maka ini berbeda dengan misalnya menjadikan pakaian
sampai pertengahan betis. Dalam masalah itu terdapat hadits-hadits dari
Rasulullah ﷺ, di
antaranya sabda beliau:
'Pakaian seorang mukmin adalah sampai
pertengahan betis.'
Beliau menjadikannya sebagai ciri seorang
mukmin. Maka ini satu perkara, sedangkan membuka kancing baju adalah perkara
yang lain.
Apabila engkau memahami kaidah ini, yaitu
bahwa sunnah itu ada dua: sunnah ibadah dan sunnah adat, maka seorang penuntut
ilmu harus memperhatikan perbuatan yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Apakah
perbuatan tersebut dilakukan dengan tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada
Allah, ataukah hanya karena kebiasaan, tabiat, atau faktor-faktor lain yang
mendorongnya?
Jika engkau memahami kaidah ini, maka engkau akan
merasa mudah dalam memahami banyak persoalan, di antaranya masalah kancing
baju." (Selesai).
Kaset nomor 785 dari Silsilah Al-Huda wan Nur.
Video ceramah: [YouTube - Silsilah Al-Huda wan
Nur 785]
(https://www.youtube.com/watch?v=73NIJYh7SU8&utm_source=chatgpt.com)
----
Demikian pula, Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan: bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini
(membuka kancing baju) bahkan tidak termasuk sunnah adat yang layak diikuti
secara khusus. Sebab Nabi ﷺ tidak terus-menerus melakukan perbuatan tersebut. Yang paling
jauh disebutkan dalam riwayat hanyalah bahwa Rasulullah ﷺ pernah
melakukannya sekali atau dua kali, dan tentu ada sebab yang
melatarbelakanginya.
Syeikh Al-'Utsaimin rahimahullah pernah
ditanya:
مَا حُكْمُ الِاقْتِدَاءِ بِالنَّبِيِّ
ﷺ فِي الْأَفْعَالِ الَّتِي فَعَلَهَا وَلَمْ يَظْهَرْ فِيهَا قَصْدُ الْقُرْبَةِ،
كَإِطَالَةِ الشَّعْرِ (شَعْرِ الرَّأْسِ) وَفَتْحِ الْأَزْرَارِ؟
"Apa hukum meneladani Nabi ﷺ dalam
perbuatan-perbuatan yang beliau lakukan namun tidak tampak adanya tujuan ibadah
di dalamnya, seperti memanjangkan rambut kepala dan membuka kancing baju?"
Beliau menjawab:
«هَذِهِ لَيْسَ لَهَا حُكْمٌ [يَعْنِي أَنَّهَا
لَا تُوصَفُ لَا بِوُجُوبٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهُوَ بِمَعْنَى كَلَامِ الشَّيْخِ
الْأَلْبَانِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ السَّابِقِ: هَذَا لَيْسَ لَهُ عَلَاقَةٌ بِالدِّينِ]،
ثُمَّ إِنْ كَانَتْ خِلَافَ عَادَةِ الْبَلَدِ صَارَ ذَلِكَ مُخَالِفًا لِلسُّنَّةِ،
لِأَنَّ السُّنَّةَ مُوَافَقَةُ أَهْلِ الْبَلَدِ فِي غَيْرِ مَا هُوَ مِنْ مَعْصِيَةِ
اللَّهِ.
وَقَدْ مَثَّلْتَ بِفَكِّ الْأَزْرَارِ،
وَالْوَاقِعُ أَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ ﷺ الرَّاتِبَةِ، وَلَكِنَّ
مُعَاوِيَةَ بْنَ قُرَّةَ رَآهُ قَدْ فَتَحَ أَزْرَارَهُ، وَهَذَا لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ
لَهُ سَبَبٌ، إِمَّا حَرٌّ شَدِيدٌ، أَوْ حَرَارَةٌ فِي جِلْدِهِ، أَوْ نِسْيَانًا
لِزِرِّهِ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ.
لِأَنَّهُ مِنَ الْمَعْلُومِ بِالْعَقْلِ
أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَضَعَ الْإِنْسَانُ أَزْرَارًا عَلَى ثَوْبِهِ ثُمَّ لَا
يَزُرَّهُ، إِنَّ هَذَا يَكُونُ عَبَثًا لَا إِشْكَالَ فِيهِ. وَالنَّبِيُّ ﷺ كُلُّ
أَفْعَالِهِ خَيْرٌ وَجِدٌّ، لَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ عَبَثٌ». انْتَهَى.
"Perbuatan-perbuatan ini tidak memiliki
hukum khusus [maksudnya tidak disifati sebagai wajib ataupun sunnah. Ini
sejalan dengan penjelasan Syaikh Al-Albani rahimahullah sebelumnya bahwa
perkara ini tidak berkaitan dengan agama].
Kemudian, apabila hal tersebut bertentangan
dengan kebiasaan masyarakat setempat, maka justru menjadi perbuatan yang
menyelisihi sunnah. Sebab sunnah adalah menyesuaikan diri dengan kebiasaan
masyarakat dalam perkara-perkara yang bukan maksiat kepada Allah.
Anda mencontohkan masalah membuka kancing
baju. Pada hakikatnya, hal itu bukanlah kebiasaan tetap Nabi ﷺ. Akan
tetapi Mu'awiyah bin Qurrah pernah melihat beliau membuka kancing bajunya. Ini
pasti ada sebabnya; mungkin karena cuaca yang sangat panas, atau karena panas
pada kulit beliau, atau karena beliau lupa mengancingkannya, atau sebab
lainnya.
Sebab secara logika diketahui bahwa tidak
mungkin seseorang memasang kancing pada bajunya lalu tidak mengancingkannya.
Hal itu tentu menjadi perbuatan sia-sia.
Sedangkan Nabi ﷺ seluruh perbuatannya penuh dengan hikmah dan kebaikan, tidak
ada sedikit pun yang sia-sia." (Selesai). [https://bit.ly/3jiguC4]
Beliau juga berkata dalam syarah Riyadhus Sholihin
(4/278):
«فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِدَّةُ فَوَائِدَ:
مِنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَشَرٌ،
يَنَالُهُ مَا يَنَالُ الْبَشَرَ مِنَ الْأُمُورِ الطَّبِيعِيَّةِ، يَبْرُدُ كَمَا
يَبْرُدُ النَّاسُ، وَيَحْتَرُّ كَمَا يَحْتَرُّ النَّاسُ، وَلِهَذَا رَآهُ مَرَّةً
مُعَاوِيَةُ وَقَدْ فَكَّ أَزْرَارَ الْقَمِيصِ، لِأَنَّهُ - وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ-كَانَ
مُحْتَرًّا فَفَكَّ الْأَزْرَارَ، فَظَنَّ مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ
هَذَا مِنَ السُّنَّةِ، وَهُوَ لَيْسَ مِنَ السُّنَنِ الْمُطْلَقَةِ، لَكِنْ مِنَ السُّنَّةِ
إِذَا كَانَ فِيهِ تَخْفِيفٌ عَلَى الْبَدَنِ، لِأَنَّ كُلَّ مَا يُخَفِّفُ عَنِ الْبَدَنِ
فَهُوَ خَيْرٌ.
فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُحْتَرًّا
وَأَرَادَ أَنْ يَفْتَحَ الْأَزْرَارَ الْأَعْلَى وَالَّذِي يَلِيهِ فَلَا بَأْسَ،
وَيَكُونُ هَذَا مِنَ السُّنَّةِ.
أَمَّا بِدُونِ سَبَبٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ
مِنَ السُّنَّةِ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ مِنَ السُّنَّةِ لَكَانَ وَضْعُ الْأَزْرَارِ
عَبَثًا لَا فَائِدَةَ مِنْهُ، وَالدِّينُ الْإِسْلَامِيُّ لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ عَبَثٌ،
فَكُلُّهُ جِدٌّ». انْتَهَى.
"Dalam hadits ini terdapat beberapa
faedah.
Di antaranya, bahwa Rasulullah ﷺ adalah
seorang manusia. Beliau mengalami hal-hal alami yang juga dialami manusia
lainnya. Beliau merasakan dingin sebagaimana manusia merasakan dingin, dan
merasakan panas sebagaimana manusia merasakan panas.
Karena itulah Mu'awiyah pernah melihat beliau
membuka kancing bajunya, karena —wallahu a'lam— beliau sedang merasa kepanasan
sehingga membuka kancing tersebut. Lalu Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu mengira
bahwa hal itu termasuk sunnah.
Padahal itu bukan sunnah yang berlaku secara
mutlak. Akan tetapi, jika membuka kancing tersebut memberikan keringanan dan
kenyamanan bagi tubuh, maka hal itu termasuk sunnah dalam kondisi tersebut.
Sebab segala sesuatu yang memberikan kenyamanan bagi tubuh adalah baik.
Karena itu, apabila seseorang merasa kepanasan
lalu ingin membuka kancing bagian atas atau kancing setelahnya, maka tidak
mengapa, dan hal itu termasuk sunnah dalam kondisi tersebut.
Adapun tanpa adanya sebab, maka hal itu bukan
sunnah. Sebab jika memang membuka kancing tanpa sebab merupakan sunnah, maka
keberadaan kancing pada baju menjadi sesuatu yang sia-sia dan tidak memiliki
manfaat.
Padahal agama Islam tidak mengandung sesuatu
yang sia-sia. Seluruh ajarannya dibangun di atas kesungguhan dan hikmah."
(Selesai).
===
PERHATIAN:
Meskipun membuka kancing baju hukumnya mubah
(boleh), namun kebolehan tersebut disyaratkan tidak bertentangan dengan
kebiasaan masyarakat setempat.
Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah dalam fatwa beliau yang telah disebutkan
sebelumnya.
Pada masa sekarang, membuka kancing baju
hingga dada terlihat bukan termasuk kebiasaan orang-orang yang menjaga muru’ah
(kehormatan diri) dan keadilan, melainkan lebih dikenal sebagai kebiasaan
sebagian orang yang tidak memperhatikan hal tersebut.
Oleh karena itu, Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi
hafizhahullah pernah ditanya:
هَلْ مِنَ السُّنَّةِ فَتْحُ الزِّرِّ
الْأَعْلَى مِنَ الْقَمِيصِ؟
"Apakah membuka kancing baju bagian atas
termasuk sunnah?"
Beliau menjawab:
«أَمَّا كَوْنُهُ يَفْتَحُ الْأَزْرَارَ بِحَيْثُ
يُبْقِي الصَّدْرَ مَفْتُوحًا، فَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ هَذَا مِنْ خَوَارِمِ
الْمُرُوءَةِ...
أَمَّا كَوْنُهُ يَفْتَحُ الزِّرَّ الْأَعْلَى
لِأَنَّهُ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ فَذَلِكَ لَا يَضُرُّ». انْتَهَى
"Adapun membuka beberapa kancing sehingga
dada tetap terbuka, maka para ulama telah menyebutkan bahwa hal itu termasuk
perkara yang merusak muruah (kehormatan diri).
Namun apabila seseorang membuka kancing bagian
atas karena cuaca sangat panas atau karena merasa gerah, maka hal itu tidak
mengapa." (Selesai).
Dinukil dari Fatawa Munawwa'ah (8/54,
penomoran Maktabah Syamilah otomatis).
BAGAIMANA
DENGAN HADITS YANG MENGATAKAN
BUKA KANCING BAJU ITU MENYERUPAI KAUM LUTH?
Bagaimana dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Ad-Dailami dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa membuka kancing pakaian
termasuk perbuatan kaum Nabi Luth?.
Jawaban :
Hadits tersebut adalah maudhu' (palsu),
sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam As-Silsilah
Adh-Dha'ifah 3/379 no. 1233.
Ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad
Al-Firdaus 3/36 no. 4081 dari Ibnu Abbas secara marfu' bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
عَشَرَةٌ مِنْ أَخْلَاقِ قَوْمِ لُوطٍ:
الْخَذْفُ فِي النَّادِي، وَمَضْغُ الْعِلْكِ، وَالسِّوَاكُ عَلَى ظَهْرِ الطَّرِيقِ،
وَالصَّفِيرُ بِالْحَمَامِ، وَالْجَلَاهِقُ، وَالْعِمَامَةُ الَّتِي لَا يَتَلَحَّى
بِهَا، وَالسَّبْتِيَّةُ، وَالتَّطْرِيفُ بِالْحِنَّاءِ، وَحَلُّ أَزْرَارِ الْأَقْبِيَةِ،
وَالْمَشْيُ فِي الْأَسْوَاقِ وَالْأَفْخَاذُ بَادِيَةٌ.
"Sepuluh perkara termasuk akhlak kaum
Nabi Luth: bermain ketapel di tempat pertemuan, mengunyah permen karet,
bersiwak di tengah jalan, bersiul, memelihara burung merpati, bermain jalahiq
(alat sejenis ketapel), memakai sorban tanpa melilitkannya di bawah dagu,
memakai sandal sabtiyyah, menghias ujung jari dengan pacar, membuka
kancing-kancing jubah, dan berjalan di pasar-pasar dengan paha yang
terbuka."
Al-Muttaqi al-Hindi dalam Kitab Kanzul 'Ummal 16/100
no. 44058 berkata:
رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ مِنْ طَرِيقِ
إِبْرَاهِيمَ الطَّيَّانِ، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ الْقَاسِمِ الزَّاهِدِ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ
بْنِ أَبِي زِيَادٍ الشَّاشِيِّ، عَنْ جُوَيْبِرٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
وَالطَّيَّانُ وَالثَّلَاثَةُ فَوْقَهُ كَذَّابُونَ.
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami
melalui jalur Ibrahim Ath-Thayyan, dari Al-Husain bin Al-Qasim Az-Zahid, dari
Isma'il bin Abi Ziyad Asy-Syasyi, dari Juwaibir, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu
Abbas. Sedangkan Ath-Thayyan dan tiga perawi di atasnya adalah para
pendusta."
Dengan demikian, hadits yang menjadikan
membuka kancing pakaian sebagai perbuatan kaum Nabi Luth tidak sahih dan tidak
dapat dijadikan dalil. Oleh karena itu, hukum asal membuka kancing pertama atau
kedua pada baju adalah boleh, selama tidak menimbulkan pelanggaran syariat
seperti membuka aurat atau menimbulkan penampilan yang tidak pantas menurut
kebiasaan masyarakat yang baik.
WARNING
DARI AL-LAJNAH AD-DAIMAH TERHADAP BAHAYA-NYA KITAB
(تَذْكِيرُ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ بِبَعْضِ
السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ)
" Mengingatkan
Thoifah Mansuroh tentang Sebagian Sunnah-Sunnah yang Ditinggalkan. "
Karya :
Mahmud Imam Manshur
=
Al-Lajnah
Ad-Da'imah lil Buhuts Al-'Ilmiyyah wal Ifta'
Fatwa
Nomor (21342) - Kumpulan Kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.. أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ اللَّجْنَةَ الدَّائِمَةَ لِلْبُحُوثِ
الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ اسْتَعْرَضَتْ مَا وَرَدَ إِلَيْهَا مِنْ بَعْضِ النَّاصِحِينَ
الْمُقَيَّدِ بِالْأَمَانَةِ الْعَامَّةِ لِهَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ بِرَقْمِ
(٧٧٩) وَتَارِيخِ ٦/٢/١٤٢١هـ، مَشْفُوعًا بِهِ نُسْخَةٌ مِنْ كِتَابٍ بِاسْمِ: (تَذْكِيرُ
الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ بِبَعْضِ السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ) جَمْعُ الْمَدْعُوِّ:
مَحْمُودِ إِمَامِ مَنْصُورٍ، طَبَعَ دَارُ الْمَآثِرِ بِمَدِينَةِ النَّبِيِّ ﷺ عَامَ
١٤٢٠ هـ.
وَبِدِرَاسَةِ هَذَا الْكِتَابِ وُجِدَ
أَنَّ كَاتِبَهُ بَنَاهُ عَلَى قَاعِدَةٍ أَسَّسَهَا مِنْ عِنْدِهِ، وَهِيَ: أَنَّ
أَفْعَالَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى سَبِيلِ الْعَادَةِ لَهَا حُكْمُ التَّشْرِيعِ وَالسُّنِّيَّةِ
كَأَفْعَالِهِ ﷺ الَّتِي يَفْعَلُهَا عَلَى سَبِيلِ الْعِبَادَةِ، كَمَا فِي (ص
١٧)، وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْخَلْطَ بَيْنَ الْأَفْعَالِ الْعَادِيَّةِ الْجِبِلِّيَّةِ
وَالتَّشْرِيعِيَّةِ غَلَطٌ مَحْضٌ، وَتَقْعِيدٌ مَغْلُوطٌ، كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ فِي
مَحَلِّهِ مِنْ كُتُبِ الْأُصُولِ.
وَبِنَاءً عَلَى هَذَا التَّقْعِيدِ الْمَغْلُوطِ
الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الْمُؤَلِّفُ كِتَابَهُ، وَقَعَ فِي عَدَدٍ كَثِيرٍ مِنَ الْأَخْطَاءِ
الْعِلْمِيَّةِ وَالشُّذُوذَاتِ الْفِقْهِيَّةِ، بَلْ قَالَ بِسُنِّيَّةِ مَا قَرَّرَ
الْمُحَقِّقُونَ أَنَّ فِعْلَهُ عَلَى سَبِيلِ التَّسَنُّنِ بِدْعَةٌ.
وَمِنْ هَذِهِ الْفُرُوعِ الَّتِي غَلِطَ
الْكَاتِبُ بِالْقَوْلِ بِسُنِّيَّتِهَا: سُنِّيَّةُ الِاضْطِجَاعِ بَعْدَ رَكْعَتَيِ
الْفَجْرِ (ص ٥١)، وَسُنِّيَّةُ السُّكُوتِ بَعْدَ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ (ص ٦٦)، بَلْ ثَبَتَ عَنْهُ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَتَحَدَّثُ مَعَ زَوْجَتِهِ
أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ،
كَمَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ، وَسُنِّيَّةُ ضَمِّ الْعَقِبَيْنِ فِي
السُّجُودِ (ص ٨٦)، وَالسُّنَّةُ الْمُجَافَاةُ وَالتَّفْرِيقُ بِلَا تَكَلُّفٍ، وَقَصْرُ
دَرَجَاتِ الْمِنْبَرِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ (ص ١٣١)، وَسُنِّيَّةُ حَلِّ الْأَزْرَارِ
(ص ٢١٢)، وَسُنِّيَّةُ لُبْسِ الْعِمَامَةِ الْمُحَنَّكَةِ (ص ٢٢٢)، وَقَوْلُهُ بِبِدْعِيَّةِ
الْإِفْطَارِ عَلَى صَوْتِ الْمِدْفَعِ (ص ١٣٥)، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ التَّسَنُّنِ
بِمَا لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَالتَّشْوِيشِ عَلَى النَّاسِ بِذَلِكَ.
لِهَذَا فَإِنَّ اللَّجْنَةَ الدَّائِمَةَ
لِلْبُحُوثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ تَرَى مَنْعَ هَذَا الْكِتَابِ مِنَ الْبَيْعِ
وَالتَّدَاوُلِ، وَتَنْصَحُ كَاتِبَهُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ عَلَى الْعُلَمَاءِ
الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالْعِلْمِ وَالْفَضْلِ وَسَلَامَةِ الْمُعْتَقَدِ وَصِحَّةِ
الْفَهْمِ وَسَلَامَتِهِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Segala puji hanya bagi Allah, dan shalawat
serta salam semoga tercurah kepada orang yang tidak ada nabi setelahnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya Al-Lajnah Ad-Da'imah untuk Riset
Ilmiah dan Fatwa telah menelaah surat yang diterimanya dari sebagian para
penasihat, yang tercatat di Sekretariat Jenderal Hay'at Kibar Al-'Ulama dengan
nomor (779) tertanggal 6/2/1421 H, yang dilampiri sebuah buku berjudul:
(تَذْكِيرُ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ
بِبَعْضِ السُّنَنِ الْمَهْجُورَةِ)
" Mengingatkan
Thoifah Mansuroh tentang Sebagian Sunnah-Sunnah yang Ditinggalkan. "
Yang
disusun oleh seseorang bernama Mahmud Imam Manshur, diterbitkan oleh Dar
Al-Ma'atsir di Kota Nabi ﷺ pada tahun 1420 H.
Setelah mengkaji buku tersebut, didapati bahwa
penulisnya membangun pondasinya di atas suatu kaidah yang ia buat sendiri,
yaitu:
أَنَّ أَفْعَالَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى سَبِيلِ
الْعَادَةِ لَهَا حُكْمُ التَّشْرِيعِ وَالسُّنِّيَّةِ
كَأَفْعَالِهِ ﷺ الَّتِي يَفْعَلُهَا
عَلَى سَبِيلِ الْعِبَادَةِ
“Bahwa
perbuatan-perbuatan Nabi ﷺ yang dilakukan sebagai kebiasaan memiliki hukum tasyri'
(pensyariatan) dan kesunnahan sebagaimana perbuatan-perbuatan beliau ﷺ yang
dilakukan sebagai ibadah”
Sebagaimana disebutkan pada halaman 17.
Padahal, telah diketahui bahwa
mencampuradukkan antara perbuatan-perbuatan kebiasaan (al-af'al al-'adiyyah
al-jibilliyyah) dan perbuatan-perbuatan tasyri'iyyah merupakan kesalahan murni
dan peletakan kaidah yang keliru, sebagaimana telah ditetapkan dalam
kitab-kitab ushul fikih.
Berdasarkan kaidah yang keliru inilah, yang
dijadikan fondasi oleh penulis dalam bukunya, ia terjatuh ke dalam banyak
kesalahan ilmiah dan penyimpangan fikih. Bahkan, ia menyatakan sunnah terhadap
hal-hal yang para ulama muhaqqiq telah menetapkan bahwa melakukannya sebagai
bentuk bertasyannun (menganggapnya sebagai sunnah) justru merupakan bid'ah.
Di antara cabang-cabang masalah yang penulis
keliru dengan menyatakan kesunnahannya adalah:
• Menganggap sunnah berbaring setelah dua rakaat sunnah fajar (hlm. 51).
• Menganggap sunnah diam setelah dua rakaat sunnah fajar hingga matahari
terbit (hlm. 66), padahal telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa beliau berbincang dengan istrinya, Ummul Mukminin Aisyah
setelah shalat Subuh, sebagaimana terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan
kitab-kitab lainnya.
• Menganggap sunnah merapatkan kedua tumit saat sujud (hlm. 86), padahal
yang sunnah adalah menjauhkan dan merenggangkannya tanpa dibuat-buat.
• Membatasi jumlah anak tangga mimbar hanya tiga tingkatan (hlm. 131).
• Menganggap sunnah membuka kancing baju (hlm. 212).
• Menganggap sunnah memakai sorban muhanakkah (sorban yang ujungnya
dililitkan di bawah dagu) (hlm. 222).
• Pernyataannya bahwa berbuka puasa dengan suara meriam adalah bid'ah
(hlm. 135).
Dan masih banyak lagi bentuk bertasyannun
terhadap perkara yang bukan sunnah serta menimbulkan kebingungan di tengah
masyarakat.
Oleh karena itu, Al-Lajnah Ad-Da'imah untuk
Riset Ilmiah dan Fatwa berpendapat bahwa buku ini harus dilarang untuk
diperjualbelikan dan diedarkan. Komite juga menasihati penulisnya agar menuntut
ilmu syar'i kepada para ulama yang diakui keilmuannya, keutamaannya,
keselamatan akidahnya, serta kebenaran dan kelurusan pemahamannya.
Dan Allah-lah Yang Maha Memberi Taufik.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi
kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Al-Lajnah Ad-Da'imah untuk Riset Ilmiah dan
Fatwa:
Anggota: Bakr Abu Zayd
Anggota: Shalih Al-Fauzan
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
0 Komentar