SALAH SATU KEAJAIBAN AL-QUR’AN:
“AIR
PERTAMA DI BUMI DITURUNKAN DARI LANGIT (LUAR ANGKASA)”.
INI SESUAI FAKTA ILMIYAH
Di
Tulis oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Apa yang dimaksud dengan
ayat al-Qur’an bahwa Allah menurunkan air dari langit ?
Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ
فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ﴾
“Dan Kami turunkan air dari langit dengan kadar yang sesuai; lalu
Kami menempatkannya di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk
membuat air itu pergi meninggalkan nya (menghilangkan dari bumi)”. (QS.
Al-Mukminun : 18)
Ilmu pengetahuan modern masih kebingungan
tentang sumber air pertama yang ada di planet bumi ini.
Teori-teori modern sepakat bahwa planet Bumi
dan kumpulan planet-planet tata surya terbentuk karena akumulasi ASAP yang
dihasilkan dari ledakan bintang raksasa dalam suatu peristiwa. disebut SUPERNOVA,
dan karena pengaruh daya gravitasi, partikel unsur-unsur mulai menumpuk satu
sama lain.
Beberapa juta atau miliaran tahun kemudian,
tata surya terbentuk, termasuk planet Bumi.
Allah SWT berfirman dalam Surat Fush-shilat
:
﴿قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ
بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ
ذَٰلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾
﴾9﴿
Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir
kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu
bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". (QS. Fushilat : 9)
﴿وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا
وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً
لِلسَّائِلِينَ﴾
﴾10﴿. Dan dia menciptakan di
bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanan (untuk para penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ
دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا
أَتَيْنَا طَائِعِينَ﴾
﴾11﴿. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan ASAP, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku, baik dengan suka hati maupun terpaksa".
Keduanya menjawab: "Kami datang
dengan suka hati".
﴿فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي
يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ
الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
﴾12﴿. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui. ( QS. Fush-shilat : 9-12 ).
ADA DUA PENDAPAT TENTANG TEORI ASAL USUL AIR DI BUMI:
****
PENDAPAT TEORI PERTAMA : AIR BERASAL DARI DALAM BUMI
Yaitu yang menyatakan bahwa Air di Bumi
bukan dari Langit , tapi dari Bumi itu sendiri dan sudah ada sejak awal
terciptanya bumi .
Teori ini adalah teori yang sudah lama
dikenal hingga saat ini tentang sumber air didasarkan pada kenyataan bahwa
air itu melekat pada bebatuan dan terakumulasi oleh gravitasi, dan setelah
permukaan bola bumi mendingin, uap air menebal dan jatuh dalam bentuk hujan,
yang membentuk lautan.
Di sana ada massa bebatuan yang berada di
atas lautan yang disebut Pangea, dan yang kemudian terjadi peretakan,
pembelahan dan pencerai beraian yang menyebabkan terbentuknya benua-benua
sekarang.
Diantara Argumentasi pendapat ini adalah: Salah satu bukti geologis air tertua di Bumi ditemukan pada formasi batuan di Nuvvuagittuq Greenstone Belt, Quebec, Kanada, yang diidentifikasi mengandung tanda-tanda keberadaan air sejak 3,8 hingga 4,28 miliar tahun yang lalu.
====
***
PENDAPAT TEORI KEDUA : AIR BERASAL DARI LUAR BUMI (LANGIT)
Yaitu yang menyatakan bahwa Air pertama di
Bumi diturunkan dari langit. Bumi pada awal terbentuknya masih belum ada air,
lalu Allah turunkan dari Langit .
Teori kedua ini didasarkan pada fakta ilmiyah
bahwa air lebih dahulu ada sebelum pembentukan tata surya.
Sebagian besar teori astronomi modern memang meyakini : bahwa air pertama di Bumi dibawa oleh asteroid (serta komet) purba
yang menghujani planet kita miliaran tahun yang lalu.
Pada masa tahapan kondensasi ( penebalan) dan akumulasi, bola bumi belum
dapat menahan air karena adanya tumbukan-tumbukan yang hebat, seperti suhu panas
permukaan bumi mencapai beberapa ribu derajat Celcius, yang berarti bahwa air saat
itu dalam keadaan gas (uap) .
Selain itu, Bumi pada tahap awal
pembentukannya belum memiliki atmosfer, dan hal yang sama berlaku untuk planet-planet
lainnya hingga orbit Mars.
Setelah Bumi terbentuk, ia
"dibombardir" oleh komet-komet atau meteor-meteor yang kaya akan air
dan mengandung banyak air, yang membentuk samudra-samudra dan lautan-lautan.
Namun, ada juga teori mutakhir yang
menyebutkan bahwa Bumi menyerap air dari piringan debu luar angkasa sejak awal
pembentukannya.
Berikut ini adalah rincian
teori-teori utama mengenai asal mula air di Bumi:
Hantaman Asteroid (Bombardir Kosmik) dan Komet:
Selama masa pembentukan awal tata surya, Bumi sering dihujani oleh asteroid dan
komet es.
Selama periode pembentukan awal Tata Surya,
Bumi adalah bola batuan panas.
Dan ketika menghantam permukaan Bumi yang panas, es tersebut mencair dan
terperangkap di atmosfer sebelum akhirnya mengembun menjadi hujan dan mengisi
cekungan laut.
Para Ilmuwan meyakini asteroid kaya karbon (tipe C) menabrak Bumi dan
melepaskan kandungan es di dalamnya, yang kemudian menguap dan membentuk lautan
purba.
Penyerapan Lingkungan Purba (Teori Spons
Angkasa):
Studi piringan bintang muda seperti V883
Orionis menunjukkan bahwa Bumi mungkin menyerap es dan uap air dari lingkungan
debu di sekelilingnya seperti spons saat Matahari masih sangat muda, tidak
hanya bergantung pada tabrakan besar.
Peran Komet:
Komet dari tepi Tata Surya yang kaya akan
es juga diyakini pernah menabrak Bumi dan menyumbang cadangan air, meskipun
penelitian isotop hidrogen menunjukkan porsi air dari asteroid jauh lebih
dominan
Dalam hal ini Allah Sang Pemrakarsa penciptaan
langit dan bumi , berfirman dalam surat al-Mukminun : 18 :
﴿وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً
بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّٰهُ فِي ٱلأَرْضِ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَٰدِرُونَ﴾
“Dan Kami turunkan air dari langit
sesuai dengan kadar yang dibutuhkan; lalu Kami menempatkannya di bumi. Dan
sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk membuat air itu pergi meninggalkan
nya (menghilangkannya dari bumi)” . ( QS. Al-Mukminun : 18 )
Tafsirnya : adalah air itu dari langit (dari luar bumi).
Dan mengenai firman-Nya :
﴿وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ﴾
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk membuat air itu
pergi meninggalkan nya (menghilangkan dari bumi)” . (
QS. Al-Mukminun : 18 )
Imam ath-Thobari berkata : Allah Ta'ala, berfirman
:
وَإِنَّا عَلَى الْمَاءِ الَّذِي أَسْكَنَّاهُ
فِي الْأَرْضِ لَقَادِرُونَ أَنْ نَذْهَبَ بِهِ فَتَهْلِكُوا أَيُّهَا النَّاسُ عَطَشًا،
وَتَخْرَبَ أَرْضُوكُمْ، فَلَا تُنْبِتَ زَرْعًا وَلَا غَرْسًا، وَتَهْلِكَ مَوَاشِيكُمْ،
يَقُولُ: فَمِنْ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ تَرْكِي ذَلِكَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ جَارِيًا.
Dan sesungguhnya kami terhadap air yang kami
tempatkan di bumi, maka kami sunguh mampu bagi kami untuk memnghilangkan nya ; maka
kalian akan binasa , wahai para manusia karena kehausan , dan bumi kalian
akan mejadi rusak ; maka tidak bisa menumbuhkan tanam-tanaman dan
tumbuh-tumbuhan , dan ternak-ternak kalian menjadi binasa “. Dia berfirman :
maka sebagian kenikmatan dariku atas kalian adalah aku tinggalkan air itu untuk
kalian mengalir di bumi “. ( Baca : Tafsir ath-Thobari 20/19 )
Dan firmannya :
﴿وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ
بِقَدَرٍ﴾
“Dan Kami turunkan air dari langit sesuai
dengan kadar yang dibutuhkan“.
Ibnu Katsir berkata tentang tafsirnya :
أَيْ: بِحَسَبِ الْحَاجَةِ؛ لَا كَثِيرًا
فَيُفْسِدَ الْأَرْضَ وَالْعُمْرَانَ، وَلَا قَلِيلًا فَلَا يَكْفِي الزُّرُوعَ وَالثِّمَارَ،
بَلْ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ مِنَ السَّقْيِ وَالشُّرْبِ وَالِانْتِفَاعِ بِهِ
“Yaitu: sesuai dengan kebutuhan; Tidak terlalu banyak , sehingga merusak
tanah dan bangunan, juga tidak terlalu sedikit, sehingga tidak cukup untuk
tanaman dan buah-buahan, tetapi sesuai dengan yang dibutuhkan untuk menyiram,
minum dan mengambil manfaat darinya”. [ baca : Tafsir Ibnu Katsir: 3/235]
Ini berarti bahwa air pada awalnya tidak ada
di bumi, tetapi Allah SWT menurunkan air dari langit dengan kadar yang tepat
dan menempatkannya di bumi.
Dan konteks serupa disebutkan pula dalam
surat al-Baqarah : 164:
﴿إِنَّ فِي خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلأَرْضِ وَٱخْتِلاَفِ ٱللَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِي تَجْرِي فِي
ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن
مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ
دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَاحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَرْضِ
لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut
membawa apa yang berguna bagi manusia.
Dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air.
Lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan
Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi ; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal“ . (
QS. al-Baqarah : 164).
Dengan ayat ini di mana Allah Ta’ala
menjelaskan kepada kita bahwa bumi dulunya mati , lalu Allah menghidupkannya
dengan air . Allah SWT berfirman :
﴿اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۗ وَجَعَلْنَا مِنَ
الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ﴾
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi
keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami belah (pisahkan) antara keduanya.
Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya': 30)
Seperti yang Allah Ta’ala jelaskan pula kepada kita
dengan apa yang tidak dapat diragukan , yaitu perbedaan antara firmannya
:
﴿أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ﴾
"
Allah turunkan dari langit berupa air "
dan
﴿ ٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ
وَٱلأَرْضِ ﴾
"Dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi"
Dimana awan itu bukan langit , melainkan
antara bumi dan langit .
===
PENDAPAT
TEORI YANG PALING KUAT
Berdasarkan nash al-Qur’an
dan fakta ilmiyah :
Tampaknya TEORI KEDUA, yang mengatakan
bahwa air di bumi itu awalnya diturunkan dari langit , dan air sudah ada di
langit sebelum terbentuknya matahari dan planet-planet , teori ini lebih dekat
dengan apa yang Allah SWT uraikan kepada kita dalam Surat Hud : 7 :
﴿ وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَق ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلأَرْضَ
فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى ٱلْمَآءِ ﴾
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan
adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air”. ( QS. Hud : 7 ).
di mana tafsir nya dan tafsir firman-Nya “dan
adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air” , YAKNI : sebelum Dia
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya . Dan setelah
bumi terbentuk , lalu Allah menurunkan air ke atasnya.
[[Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam (Sahihnya) dari
Abdullah bin Amr bin Al-‘Aash, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
"كَتَبَ
اللَّهُ مَقَادِيرُ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ
بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ"
"Allah telah menetapkan kadar semua
mahluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan Arsy Allah berada
di atas air." (HR. Muslim no. 2653)]].
MAKALAH ILMIYAH TENTANG AIR TURUN DARI LANGIT :
Untuk memperkuat pendapat teori yang kedua
ini , penulis akan sebutkan sebuah artikel berbahasa arab yang telah
diterjemahkan oleh penulis sendiri , yaitu sebuah artikel yang berjudul :
نُزُولُ الْمَاءِ مِنَ السَّمَاءِ.. حَقِيقَةٌ
عِلْمِيَّةٌ وَقُرْآنِيَّةٌ
AIR
TURUN DARI LANGIT .... FAKTA ILMIYAH DAN SESUAI NASH AL-QUR’AN
بِقَلَمِ عَبْدِ الدَّائِمِ الْكُحَيْلِ.
karya
Abdul-Daa’im Al-Kuhail
“Air adalah zat yang membedakan planet kita
dan memberinya warna biru ketika kita melihatnya dari luar angkasa . Air adalah
asal mula kehidupan di bumi, dan air adalah zat yang tanpanya manusia tidak
akan pernah bisa hidup!
Air menutupi lebih dari 70 persen permukaan
bumi, dan membentuk lebih dari 70 persen tubuh kita, dan air terdiri dari
hidrogen dan oksigen .
Para ilmuwan mengatakan bahwa hidrogen
adalah unsur pertama yang terbentuk di alam semesta karena merupakan salah satu
unsur paling ringan di alam semesta.
Adapun oksigen adalah unsur (elemen) yang
kedelapan dari 99 unsur-unsur yang tetap stabil di alam semesta. Kedua unsur
ini terbentuk di galaksi yang jauh, dan kemudian kedua-duanya dibawa dengan
meteor dan komet yang membombardir Bumi dalam jumlah besar selama jutaan tahun,
yaitu empat ribu juta tahun yang lalu.
Meteorit yang jatuh ke bumi biasanya sarat
dengan jejak air dan jejak kehidupan, dan inilah yang dicatat para ilmuwan
ketika menganalisis beberapa meteorit yang baru jatuh yang menembus atmosfer
dan mencapai permukaan bumi.
Meteorit ini juga menabrak bulan dan membuatnya
berlubang saking kerasnya , tetapi air tidak dapat bertahan di permukaan bulan
karena gravitasinya yang rendah.
Sementara Bumi, Allah menciptakannya dengan
kadar-kadar ukuran (مَقَادِيرُ) yang tepat yang
menyebabkan terjadinya gravitasi yang tepat dan berimbang untuk menarik air dari meteorit ini
dan menyimpannya di permukaannya tanpa kembali beterbangan ke luar angkasa.
Seiring dengan zaman , Bumi menerima jutaan
meteorit dan beberapa komet juga menabrak Bumi, dan komet biasanya memiliki
ekor salju, sehingga Bumi menerima sejumlah besar air yang membentuk samudra-samudra
dan lautan-lautan, dan berkontribusi pada pembentukan atmosfer. .
Sebuah penelitian ilmiah baru (tahun 2012)
yang diterbitkan di situs luar angkasa Amerika menegaskan bahwa air Bumi
berasal dari sumber yang sama dengan air Mars, setelah mempelajari sifat air di
kedua planet. Dengan mempelajari dan menganalisis meteorit yang berasal dari
Mars.
Sejumlah penelitian ilmiah menegaskan
keberadaan sejumlah besar air yang tersebar di luar angkasa dalam bentuk salju
yang didistribusikan di tata surya kita dan dalam debu antar bintang, di mana
para ilmuwan telah menemukan bahwa asap kosmik mengandung molekul air yang
melekat pada atomnya .
Meteor-meteor tsb datang ke Bumi miliaran
tahun yang lalu , sarat dengan jumlah air dan besi, sehingga para ilmuwan hari ini menegaskan bahwa
air turun dari langit juga besi ...
Subhanallah , inilah yang diisyaratkan oleh
ayat-ayat Alquran, Allah Ta’aala berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ
لَقَادِرُونَ﴾
“Dan Kami turunkan air dari langit dengan kadar yang sesuai; lalu
Kami menempatkannya di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk
membuat air itu pergi meninggalkan nya (menghilangkan dari bumi)” . ( QS. Al-Mukminun : 18 )
[[Tambahan penulis :
Dan Allah SWT berfirman :
﴿وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ
شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ﴾
“Dan Kami TURUNKAN BESI yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)“. ( QS. Al-Hadiid : 25 ) PEN]].
Dengan demikian jelas bahwa air yang kita
lihat di sekitar kita telah turun dari langit, dan karena itu kita menemukan Al - Qur'an selalu menekankan fakta
hakiki ini dengan firman Allah yang Haq :
﴿ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ
لَقَادِرُونَ ﴾
“Dan Kami turunkan air dari langit dengan kadar yang sesuai; lalu
Kami menempatkannya di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk
membuat air itu pergi meninggalkan nya (menghilangkan dari bumi )’ . ( QS. Al-Mukminun : 18 )
Dan demikianlah, banyak ayat-ayat yang menggunakan
bentuk kata : “ Menurunkan air dari langit”.
Pembaca yang budiman, renungkanlah
bagaimana ayat mulia itu datang untuk menegaskan bahwa air yang diturunkan Allah
dari langit agar menetap di bumi, dan jika seandainya gravitasi bumi sedikit
lebih kecil darinya, air itu akan pergi dan terbang ke luar angkasa.
Dan juga jika gravitasi bumi itu berlebihan
, terlalu besar untuk kadar yg dibutuhkan atau lebih besar dari itu, maka bumi
akan menangkap sejumlah besar air , maka air akan membanjiri permukaan bumi dan
bumi pun tidak akan layak untuk kehidupan .
[[ Tambahan Penulis :
Allah SWT berfirman :
﴿ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلرَّجْعِ ﴾
“Demi langit yang memiliki daya tarik
mengembalikan sesuatu (daya gravitasi)”. (QS. At-Thooriq: 11 ) PEN.]]
Tetapi mungkin ada orang yang mengatakan
:
Bahwa ada ayat-ayat yang berbicara tentang
air yang turun dari awan, dan awan itu jatuh di atmosfer bumi, lalu bagaimana
mungkin air itu turun dari langit?
Kami jawab :
Bahwa salah satu kehebatan mukjizat
Al-Qur’an adalah bahwa ayat tersebut memberi kita banyak makna, dan semuanya
benar.
Air pertama kali yang ada di bumi, Allah
menurunkannya dari langit, dan menetapkannya di bumi, karena ukuran besarnya bumi
cocok untuk penempatan air di dalamnya.
Demikian juga, Allah menjadikan atmosfer
sebagai langit bagi kita, karena langit itu adalah atap . Allah SWT berfirman :
﴿ وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا
وَهُمْ عَنْ آَيَاتِهَا مُعْرِضُونَ ﴾
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai
atap yang dijaga, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan
Allah) yang terdapat padanya “. ( QS. Al-Anbiyaa :
32 ).
Di sini ayat tersebut mengacu pada ATMOSFIR
yang melindungi bumi dari sinar kosmik dan sinar ultraviolet yang merusak dan
berbahaya, yang jika sampai ke tubuh kita akan membakarnya, juga melindungi
bumi dari miliaran meteor, batu-batu, dan radiasi yang mempengaruhi bumi. , maka
dengan demikian atmosfir menjauhkan semua itu dan mencerai beraikannya. Dan
melalui atmosfir ini Allah SWT memelihara kehidupan bagi kita di bumi.
Ketika Allah SWT berfirman :
﴿ وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ
بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا *
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا
وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا * وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى
أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا ﴾
“Dialah yang mengirimkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat
sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang
amat suci ( bersih ).
agar Kami menghidupkan dengan air itu
negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian
besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.
Dan sesungguhnya Kami telah
mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran
(dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari
(nikmat)”. (QS. Al-Furqoon : 48-50 ) .
Ayat ini berbicara tentang air yang turun
dari awan, tetapi mengandung petunjuk tersembunyi bahwa asal mula air turun
dari langit, dan Al-Qur’an adalah kitab yang agung dan mengandung banyak isyarat-isyarat
yang samar-samar dan tersembunyi.
Dan dengan berikutnya , kita dapat
menganggap bahwa ungkapan :
﴿ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ﴾
“Dan
kami turunkan air dari langit “.
Ini mencakup dua arti :
Pertama : adalah
bahwa air turun
dari langit yang di dalam atmosfer, karena atmosfer adalah langit bagi kita.
Dan yang kedua : adalah bahwa air itu awal mulanya turun dari langit dari luar angkasa lalu menetap di bumi.
Jadi ketika para ilmuwan baru-baru ini
melihat banyak tanda dan sinyal untuk turunnya air dari langit dan air itu
datang dari luar angkasa, dan kita melihat bahwa Al
- Qur'an berisi beberapa sinyal yang
mengkonfirmasi hal ini, maka ini menunjukkan adanya keserasian antara ilmu
pengetahuan (sains) dengan Al
- Qur'an. Allah Ta’aala berfirman :
﴿ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴾
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran?
Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya’. ( QS. An-Nisaa : 82 ).
Ada penemuan ilmiah yang mengatakan bahwa
alam semesta mengandung sejumlah besar bintang yang membuang air !
Para ilmuwan telah menemukan sebuah bintang
yang berjarak 750 tahun cahaya dari kita yang memuntahkan banyak air (setiap
detik ia memuntahkan jumlah air yang diperkirakan 100 juta kali lipat dari
kandungan air di Sungai Amazon)
. Air ini sangat panas, dengan suhu lebih dari
100.000 derajat Celcius.
Akhirnya, kami ingin menunjukkan bahwa para
ilmuwan baru-baru ini (sejak tahun 2010) mulai menemukan air di langit, dan
menemukan sebuah bintang yang dikelilingi oleh sejumlah besar uap air panas,
dan mereka menyatakan pendapat bahwa air telah ada sejak awal penciptaan dan
menyertai proses pembentukan langit dan bumi!!
Artinya, miliaran tahun yang lalu.
Inilah yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an
dalam sebuah ayat yang mulia.
Allah Yang Mahakuasa berfirman :
﴿ وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ
الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ ﴾
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (enam
masa), dan adalah ‘Arasy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji
siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya, dan jika kalian berkata
(kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah
mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini
tidak lain hanyalah sihir yang nyata".
(QS. Hud : 17).
Maka kalian lihatlah bersamaku pada firman Allah :
﴿ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ﴾
“Dia menciptakan
langit dan bumi”
Dan pada saat yang sama Dia berfirman :
﴿ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ﴾
“ Dan
Arsy-Nya berada di atas air”
yang berarti bahwa air telah ada selama
penciptaan langit dan bumi dan ini adalah apa yang para ilmuwan konfirmasikan
pada hari ini, Subhaanallaah !!!
_____
Diterjemahan oleh Abu Haitsam Fakhry dari
Artikel karya Abdul-Daa’imm Al-Kuhail yang berjudul :
==
نُزُولُ الْمَاءِ مِنَ السَّمَاءِ.. حَقِيقَةٌ
عِلْمِيَّةٌ وَقُرْآنِيَّةٌ.
Air turun dari langit..fakta ilmiah dan Al-Qur'an
Referensi :
1. Water
on Mars and Earth Had Similar Origins, http://www.space.com/18571-mars-water-formation-earth.html
2. Origin
of water on Earth, http://en.wikipedia.org/wiki/Origin_of_water_on_Earth
3. New
theory on the origin of water on Earth, http://phys.org/news/2010-12-theory-earth.html
4. Solar
System Ice: Source of Earth’s Water
http://www.sciencedaily.com/releases/2012/07/120712144743.htm
http://earthsky.org/space/did-comets-bring-water-to-earth
5. Scientists
discover recipe for water in space.
http://edition.cnn.com/2010/WORLD/europe/09/03/space.starlight.water/index.html
6. Star Found
Shooting Water “Bullets”.
http://news.nationalgeographic.com/news/2011/06/110613-space-science-star-water-bullets-kristensen/
AIR SUDAH SUDAH ADA, SEBELUM PEMBENTUKAN TATA SURYA
Dan di antara
dalilnya adalah sbb:
KE 1. Dari Abu
Razin, ia berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟
قَالَ: «كَانَ فِي
عَمَاءٍ، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ».
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan
makhluk-Nya?" Beliau bersabda: “Dia berada di dalam ‘ama’ (kabut tebal),
yang di bawah-Nya tidak ada udara dan yang di atas-Nya tidak ada udara, lalu
Dia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air.”
Diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi (3109) dan Ibnu Majah (182).
Lafaznya dalam
riwayat Ibnu Majah – dan Ahmad (26/108) – adalah:
«ثُمَّ خَلَقَ
عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ»
“Kemudian Dia
menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air.”
Hadits ini
disahihkan oleh ath-Thabari, dihasankan oleh at-Tirmidzi, adz-Dzahabi, dan Ibnu
Taimiyah, namun dilemahkan oleh al-Albani dalam *Dha’if at-Tirmidzi*.
At-Tirmidzi
berkata: Ahmad bin Mani’ berkata: Yazid bin Harun berkata:
الْعَمَاءُ:
أَيْ: لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ.
"Al-‘ama’"
artinya: tidak ada sesuatu pun bersamanya. (*Sunan at-Tirmidzi* 5/288).
Ada juga yang
mengatakan :
مَعْنَى
"عَمَاءٍ": السَّحَابُ الْأَبْيَضُ.
“Makna
"‘ama’" adalah: awan putih”.
Ath-Thabari
rahimahullah – yang berpendapat bahwa pena adalah makhluk pertama secara mutlak
dan bahwa ia diciptakan sebelum air dan sebelum ‘arsy – berkata:
وَأَوْلَى الْقَوْلَيْنِ
فِي ذَلِكَ عِنْدِي بِالصَّوَابِ: قَوْلُ مَنْ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
خَلَقَ الْمَاءَ قَبْلَ الْعَرْشِ؛ لِصِحَّةِ الْخَبَرِ الَّذِي ذَكَرْتُ قَبْلُ عَنْ
أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ حِينَ سُئِلَ:
أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟
قَالَ: «كَانَ فِي
عَمَاءٍ، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ، وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى
الْمَاءِ».
فَأَخْبَرَ ﷺ أَنَّ
اللَّهَ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، وَمُحَالٌ ـ إِذْ كَانَ خَلَقَهُ عَلَى الْمَاءِ
ـ أَنْ يَكُونَ خَلَقَهُ عَلَيْهِ، وَالَّذِي خَلَقَهُ عَلَيْهِ غَيْرُ مَوْجُودٍ،
إِمَّا قَبْلَهُ أَوْ مَعَهُ.
فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ
كَذَلِكَ: فَالْعَرْشُ لَا يَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ خُلِقَ
بَعْدَ خَلْقِ اللَّهِ الْمَاءَ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ خُلِقَ هُوَ وَالْمَاءُ مَعًا،
فَأَمَّا أَنْ يَكُونَ خَلْقُهُ قَبْلَ خَلْقِ الْمَاءِ: فَذَلِكَ غَيْرُ جَائِزٍ صِحَّتُهُ
عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي رَزِينٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Pendapat yang
paling benar menurutku adalah pendapat yang mengatakan bahwa Allah Tabaraka wa
Ta’ala menciptakan air sebelum ‘arsy, karena adanya hadits yang sahih yang
telah aku sebutkan sebelumnya dari Abu Razin al-‘Uqaili dari Rasulullah ﷺ bahwa ketika beliau ditanya, “Di
mana Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?”
Beliau ﷺ bersabda: “Dia berada dalam ‘ama’, yang di
bawah-Nya tidak ada udara dan yang di atas-Nya tidak ada udara, kemudian Dia
menciptakan ‘arsy-Nya di atas air.”
Maka Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah
menciptakan ‘arsy-Nya di atas air. Dan tidak masuk akal – jika memang Dia
menciptakan ‘arsy di atas air – bahwa Dia menciptakannya sedangkan air yang
menjadi tempatnya belum ada, baik sebelumnya maupun bersamaan dengannya.
Jika memang
demikian, maka ‘arsy tidak lepas dari dua kemungkinan: pertama, diciptakan
setelah Allah menciptakan air; atau kedua, diciptakan bersamaan dengan air.
Adapun jika dikatakan bahwa penciptaan ‘arsy lebih dahulu dari air, maka itu
tidak mungkin kebenarannya berdasarkan riwayat dari Abu Razin dari Nabi ﷺ. (Baca : *Tarikh ath-Thabari*
1/32)
Dan al-Hafizh
Ibnu Hajar menegaskan bahwa hadits dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu
menunjukkan bahwa air lebih dahulu ada daripada ‘arsy. Lihat: *Fath al-Bari*
(6/289).
KE 2. Dari Abu
Hurairah, ia berkata:
قُلْتُ : يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي
فَأَنْبِئْنِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ فَقَالَ : «كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنْ مَاءٍ».
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya bila aku melihatmu, jiwaku menjadi tenang dan
mataku sejuk. Maka beritahukanlah kepadaku tentang segala sesuatu.” Beliau
bersabda: “Segala sesuatu diciptakan dari air.”
Diriwayatkan oleh
Ahmad (13/314), dan al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam *Fath al-Bari* (5/29):
“sanadnya sahih”. Dan juga disahihkan oleh para pentahqiq *Musnad Ahmad*.
KE 3. Dari Abu
Hurairah, ia berkata:
قُلْتُ : يَا
رَسُولَ اللهِ مِمَّ خُلِقَ الخَلْقُ ؟ قَالَ : «مِنَ الْمَاءِ»
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, dari apa diciptakan makhluk?” Beliau menjawab: “Dari air.”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2526).
Syaikh al-Albani
berkata dalam *Shahih at-Tirmidzi*:
صَحِيحٌ دُونَ قَوْلِهِ:
«مِمَّ خُلِقَ الْخَلْقُ». انْتَهَى.
“Shahih tanpa
lafaz “dari apa diciptakan makhluk”.
Saya katakan: dan
hadits sebelumnya menjadi penguatnya. Maka paling tidak, lafaz tersebut
berstatus hasan.
Ibnu Rajab
al-Hanbali rahimahullah berkata:
وَقَوْلُهُ ﷺ
لِأَبِي هُرَيْرَةَ لَمَّا سَأَلَهُ: "مِمَّ خُلِقَ الخَلْقُ" فَقَالَ
لَهُ: «مِنَ الْمَاءِ» يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ أَصْلُ جَمِيعِ
الْمَخْلُوقَاتِ، وَمَادَّتُهَا، وَجَمِيعُ الْمَخْلُوقَاتِ خُلِقَتْ مِنْهُ.
وَقَالَ:
وَقَدْ حَكَى ابْنُ جَرِيرٍ وَغَيْرُهُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَطَائِفَةٍ مِنَ
السَّلَفِ: أَنَّ أَوَّلَ الْمَخْلُوقَاتِ الْمَاءُ.
Sabda Nabi ﷺ kepada Abu Hurairah ketika
ditanya, “Dari apa diciptakan makhluk?” lalu beliau menjawab: “Dari air”,
menunjukkan bahwa air adalah asal semua makhluk dan materi penciptaannya, dan
seluruh makhluk diciptakan darinya.
Ia juga berkata:
Ibnu Jarir dan selainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan sekelompok
ulama salaf bahwa makhluk pertama yang diciptakan adalah air. [Selesai] (*Latha’if
al-Ma’arif*, hlm. 21–22).
KE 4. Riwayat
Imam As-Suddi dalam kitab Tafsirnya dengan beberapa sanad:
«أَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى لَمْ يَخْلُقْ شَيْئًا مِمَّا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ».
“Bahwa
Allah Ta'ala tidak menciptakan sesuatu pun dari ciptaan-Nya sebelum menciptakan
air”.
Imam Ibnu
Khuzaimah berkata dalam Kitab at-Tauhid (jilid 1, halaman 569):
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الأَوْدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَمْرُو
بْنُ حَمَّادٍ ، يَعْنِي ابْنَ طَلْحَةَ الْقَنَّادَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا
أَسْبَاطُ وَهُوَ ابْنُ نَصْرٍ الْهَمْدَانِيُّ عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ أَبِي
مَالِكٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
وَعَنْ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيِّ ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ :
﴿هُوَ الَّذِي
خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ﴾
قَالَ : «إِنَّ
اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَلَمْ يَخْلُقْ
شَيْئًا غَيْرَ مَا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ ...»
“Ahmad bin Utsman
bin Hakim al-Audi menceritakan kepada kami, ia berkata: Amru bin Hammad, yaitu
Ibn Thalhah al-Qannad, menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath bin Nashr
al-Hamdani menceritakan kepada kami, dari As-Suddi, dari Abu Malik, dari Abu
Shalih, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan dari Murrah al-Hamdani, dari
Ibnu Mas'ud, dari sekelompok sahabat Nabi ﷺ:
"Dialah yang menciptakan untuk kalian apa yang ada di bumi seluruhnya,
kemudian Dia menuju ke langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit."
Mereka berkata: Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala, Arsy-Nya berada di atas
air dan Dia belum menciptakan sesuatu pun selain apa yang telah Dia ciptakan
sebelum air...”.
Riwayat ini juga
disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsirnya (jilid 1, halaman 74–75),
dan oleh Ath-Thabari dalam kitab Tafsirnya (jilid 1, halaman 435–436).
Sanad As-Suddi
ini memang diperdebatkan, tetapi yang tampak adalah bahwa sanadnya baik dan
hasan. Adapun isi matannya mengandung keanehan, dan ini termasuk di antaranya.
Kemungkinan besar sebagian isinya diambil dari kisah-kisah Bani Israil.
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
كَمَا أَنَّ
السُّدِّيَّ أَيْضًا يَذْكُرُ تَفْسِيرَهُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَعَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ، وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَيْسَتْ تِلْكَ
أَلْفَاظُهُمْ بِعَيْنِهَا، بَلْ نَقْلُ هَؤُلَاءِ شَبِيهٌ بِنَقْلِ أَهْلِ
الْمَغَازِي وَالسِّيَرِ، وَهُوَ مِمَّا يُسْتَشْهَدُ بِهِ وَيُعْتَبَرُ بِهِ،
وَبِضَمِّ بَعْضِهِ إِلَى بَعْضٍ يَصِيرُ حُجَّةً، وَأَمَّا ثُبُوتُ شَيْءٍ بِمُجَرَّدِ
هَذَا النَّقْلِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: فَهَذَا لَا يَكُونُ عِنْدَ أَهْلِ
الْمَعْرِفَةِ بِالْمَنْقُولَاتِ.
As-Suddi
menyebutkan tafsirnya dari Ibnu Mas'ud, dari Ibnu Abbas, dan dari
sahabat-sahabat Nabi ﷺ
lainnya, namun bukan dengan redaksi mereka secara langsung, melainkan seperti
riwayat ahli sejarah dan peperangan. Riwayat semacam ini digunakan sebagai
pendukung dan bahan pertimbangan. Jika digabungkan satu dengan yang lain, maka
bisa menjadi hujjah. Tetapi jika menetapkan sesuatu hanya berdasarkan riwayat
semacam ini dari Ibnu Abbas, maka hal itu tidak diterima di kalangan ahli ilmu
dalam bidang riwayat. (dalam kitab Naqdhu at-Ta’sis/ نَقْضُ التَّأْسِيسِ, jilid 3, halaman 41).
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata:
هٰذَا
الْإِسْنَادُ يَذْكُرُ بِهِ "السُّدِّيُّ" أَشْيَاءَ كَثِيرَةً فِيهَا
غَرَابَةٌ، وَكَأَنَّ كَثِيرًا مِنْهَا مُتَلَقًّى مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ.
Sanad ini
digunakan oleh As-Suddi untuk menyebutkan banyak hal yang di dalamnya terdapat
keanehan, dan tampaknya banyak di antaranya diambil dari kisah-kisah
Israiliyat. (dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 1, halaman 19).
Syaikh Ahmad
Syakir rahimahullah memberikan komentar panjang tentang sanad As-Suddi ini.
Silakan lihat dalam tahqiq beliau terhadap Tafsir Ath-Thabari (jilid 1, halaman
156).
Syaikh Abu Ishaq
al-Huwaini juga memberikan komentar dalam tahqiq-nya terhadap Tafsir Ibnu
Katsir tentang sanad As-Suddi ini (jilid 1, halaman 488–490), dan di akhir
komentarnya beliau berkata:
"وَجُمْلَةُ
الْقَوْلِ: أَنَّ إِسْنَادَ تَفْسِيرِ السُّدِّيِّ جَيِّدٌ حَسَنٌ".
اِنْتَهَى.
“Kesimpulan:
sanad tafsir As-Suddi adalah baik dan hasan.” Selesai.
===
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
وَقَدْ جَاءَتِ
الْآثَارُ الْمُتَعَدِّدَةُ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ
بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَمَّا كَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ: خَلَقَ
السَّمَاءَ مِنْ بُخَارِ الْمَاءِ، وَأَيْبَسَ الْأَرْضَ.
وَهَكَذَا فِي
أَوَّلِ التَّوْرَاةِ الْإِخْبَارُ بِأَنَّ الْمَاءَ كَانَ مَوْجُودًا.
وَأَنَّ
الرِّيحَ كَانَتْ تَرِفُّ عَلَيْهِ، وَأَنَّ اللَّهَ خَلَقَ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ
السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَهٰذِهِ الْأَخْبَارُ الثَّابِتَةُ عَنْ نَبِيِّنَا ﷺ
فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مُطَابِقَةٌ لِمَا عِنْدَ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنَ
الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى مِمَّا فِي التَّوْرَاةِ، وَكُلُّ ذَلِكَ يُصَدِّقُ
بَعْضُهُ بَعْضًا، وَيُخْبِرُ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ هٰذَا الْعَالَمَ -
سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضَهُ - فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ،
وَأَنَّهُ كَانَ قَبْلَ ذٰلِكَ مَخْلُوقَاتٌ، كَالْمَاءِ، وَالْعَرْشِ، فَلَيْسَ
فِي أَخْبَارِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أُبْدِعَتَا مِنْ
غَيْرِ شَيْءٍ، وَلَا أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ قَبْلَهُمَا شَيْءٌ مِنَ
الْمَخْلُوقَاتِ.
Telah datang
berbagai atsar dari para sahabat, tabi'in, dan selain mereka bahwa ketika Arsy
Allah Subhanahu berada di atas air, Allah menciptakan langit dari uap air dan
mengeringkan bumi. Demikian pula disebutkan dalam permulaan kitab Taurat bahwa
air telah ada, dan angin berhembus di atasnya, lalu Allah menciptakan dari air
itu langit dan bumi. Maka berita-berita yang shahih dari Nabi kita ﷺ dalam Al-Qur'an dan sunnah
sesuai dengan apa yang ada pada Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani
dalam Taurat. Semua berita itu saling membenarkan dan mengabarkan bahwa Allah
menciptakan alam ini—langit dan bumi—dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di
atas Arsy. Dan bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi, sudah ada makhluk
lain, seperti air dan Arsy. Maka tidak terdapat dalam berita dari Allah Ta'ala
bahwa langit dan bumi diciptakan dari ketiadaan mutlak, atau bahwa tidak ada
makhluk apa pun sebelum keduanya.
(Kitab
Ash-Shafadiyyah, jilid 2, halaman 82–83; lihat juga Majmu' Al-Fatawa, jilid 6,
halaman 598; Tafsir Al-Qurthubi, jilid 1, halaman 255).
Allah swt
berfirman :
﴿وَهُوَ الَّذِي
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى
الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا﴾
Dan Dialah yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan Arsy-Nya berada di atas air,
agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. (Hud:
7)
Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhu berkata:
خَلَقَ
الأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَاءَ ، ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى
السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ فِي يَوْمَيْنِ آخَرَيْنِ ، ثُمَّ دَحَا الأَرْضَ -
وَدَحْوُهَا : أَنْ أَخْرَجَ مِنْهَا الْمَاءَ وَالْمَرْعَى - ، وَخَلَقَ
الْجِبَالَ ، وَالْجِمَالَ ، وَالآكَامَ ، وَمَا بَيْنَهُمَا : فِي يَوْمَيْنِ
آخَرَيْنِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ﴿دَحَاهَا﴾ وَقَوْلُهُ ﴿خَلَقَ الأَرْضَ فِي
يَوْمَيْنِ﴾ ، فَجُعِلَتْ الأَرْضُ وَمَا فِيهَا مِنْ شَيْءٍ فِي أَرْبَعَةِ
أَيَّامٍ ، وَخُلِقَتْ السَّمَوَاتُ فِي يَوْمَيْنِ .
Allah menciptakan
bumi dalam dua hari, kemudian menciptakan langit, lalu Dia menuju ke langit dan
menyempurnakannya dalam dua hari yang lain. Kemudian Dia membentangkan bumi—dan
makna "membentangkannya" adalah bahwa Dia mengeluarkan darinya air
dan padang rumput—dan Dia menciptakan gunung-gunung, hewan-hewan ternak,
bukit-bukit, dan apa yang ada di antara semuanya itu dalam dua hari yang lain.
Maka itulah makna firman-Nya: "Dia membentangkannya," dan firman-Nya:
"Dia menciptakan bumi dalam dua hari." Maka dijadikanlah bumi dan
segala isinya dalam empat hari, dan langit diciptakan dalam dua hari.
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari secara mu'allaq, dan lihat juga dalam kitab *Fathul Bari* (jilid 8,
halaman 556).
Allah SWT
berfirman :
﴿هُوَ الَّذِي
خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
Dialah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah: 29]
0 Komentar