SEBAB DHO’IF-NYA HADITS “BERSEDEKAP DIATAS DADA” SAAT BERDIRI DALAM SHALAT?
----
Di Tulis Oleh Bin Ali
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- Dasar utama mengenai posisi tangan dalam shalat, baik ketika berdiri maupun pada posisi lainnya
- PEMBAHASAN PERTAMA: LAFADZ-LAFADZ HADITS WA’IL BIN HUJUR YANG DIBAHAS DI SINI.
- PEMBAHASAN KE DUA: RIWAYAT TANPA TAMBAHAN LAFADZ “DI ATAS DADA-KU”.
- PEMBAHASAN KE TIGA: RIWAYAT YANG TERDAPAT TAMBAHAN LAFADZ “DI ATAS DADANYA”.
- STATUS SANAD & MATAN HADITS WA’IL YANG ADA TAMBAHAN “DI ATAS DADA”.
- RIWAYAT-RIWAYAT PENGUAT TAMBAHAN LAFADZ “DIATAS DADA”
- PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG SEMUA RIWAYAT TAMBAHAN LAFADZ “DI ATAS DADA”.
- PEMBAHASAN KETIGA : PREDIKAT PARA PERAWI HADITS YANG DISEBUTKAN DI ATAS SECARA ILMU JARH WA TA’DIL
- PEMBAHASAN KEEMPAT: PEMAHAMAN SALAF MAKNA LAFADZ TAMBAHAN “DIATAS DADA”
- ADAKAH ULAMA SALAF YANG MENGAMALKAN-NYA DI ATAS DADA?
- PEMBAHASAN KE LIMA: PENGARUH HADITS TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQAHA (Tentang Tempat Meletakkan Kedua Tangan Saat Berdiri dalam Shalat)
- HUKUM LETAK SEDEKAP DI DADA KIRI ATAU DI RUSUK KIRI
- PEMBAHASAN KE ENAM: MACAM-MACAM CARA BERSEDEKAP DALAM SHOLAT
- BENTUK SEDEKAP
- HUKUM SEDEKAP SETELAH RUKU’
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
PENDAHULUAN
Syeikh ath-Thuraifi berkata:
“Para ulama berbeda pendapat mengenai letak sedekap
sebagaimana yang telah di sebutkan di atas. Namun karena tidak ada hadits yang
shahih dari Nabi ﷺ tentang ini maka yang tepat tidak ada batasan letak
sedekap.
Dalam hal ini perkaranya luas. Sedekap boleh di atas dada,
di bawah dada, di perut, di atas pusar maupun di bawah pusar”. (lihat Sifat
Shalat Nabi Lit Thuraifi, 90).
Dan Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata:
وَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ، كُلُّهُ سُنَّةٌ، لَوْ سَدَلَهُمَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ،
وَلَوْ أَرْسَلَهُمَا كَمَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَلَكِنِ
السُّنَّةُ أَنْ يَضُمَّهُمَا إِلَى صَدْرِهِ وَلَا يُرْسِلَهُمَا، هَذَا هُوَ السُّنَّةُ.
وَلَا يَنْبَغِي فِي هَذَا النِّزَاعُ وَالْخِلَافُ وَالْجَدَلُ وَالْفُرْقَةُ،
بَلْ يَنْبَغِي فِي هَذَا التَّسَامُحُ وَالتَّيْسِيرُ؛ لِأَنَّ الِاجْتِمَاعَ وَالتَّعَاوُنَ
عَلَى الْخَيْرِ أَمْرٌ مَطْلُوبٌ.
Perkara ini luas. Semuanya termasuk sunnah. Jika
seseorang membiarkan kedua tangannya terjulur ke samping, maka shalatnya tetap
sah. Jika ia melepaskan kedua tangannya sebagaimana pendapat sebagian ulama,
maka shalatnya juga sah. Akan tetapi, yang sesuai sunnah adalah meletakkan
kedua tangan di dadanya dan tidak membiarkannya terjulur. Itulah sunnah.
Tidak sepantasnya dalam masalah ini terjadi pertengkaran,
perselisihan, perdebatan, dan perpecahan. Yang semestinya dilakukan adalah
bersikap toleran dan memudahkan, karena persatuan dan kerja sama dalam kebaikan
adalah sesuatu yang dituntut.
(Baca: Fatawa Nur 'Ala Ad-Darb karya Ibnu Baz,
8/143).
Dan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Islam Tanya
Jawab, no. pertanyaan 535837, tentang “Bagaimana cara menggenggam kedua tangan
bagi orang yang sedang berdiri dalam shalat?”, beliau menjawab:
وَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِطَلَبَةِ
الْعِلْمِ التَّنَازُعُ فِيهِ، وَجَعْلُ مَا يَتَرَجَّحُ لَدَيْهِمْ فِيهِ مِعْيَارًا
لِامْتِثَالِ السُّنَّةِ مِنْ عَدَمِهِ.
“Masalah ini bersifat luas dan lapang, insya Allah. Tidak
sepantasnya para penuntut ilmu berselisih dan berdebat dalam masalah ini, serta
menjadikan pendapat yang mereka anggap lebih kuat sebagai tolok ukur apakah
seseorang telah mengikuti sunnah atau tidak.”
Sholeh putra Imam Ahmad pernah bertanya kepada ayahnya:
قُلْتُ: كَيْفَ يَضَعُ الرَّجُلُ يَدَهُ بَعْدَ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ،
أَيَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى الشِّمَالِ أَمْ يُسْدِلُهَا؟
قَالَ: «أَرْجُو أَنْ لَا يَضِيقَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ».
Aku bertanya: “Bagaimana
seseorang meletakkan tangannya setelah mengangkat kepalanya dari rukuk? Apakah
ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya atau membiarkannya
terjulur ke bawah?”
Beliau menjawab: “Aku berharap perkara itu tidak sempit
(ada kelonggaran dalam masalah tersebut), insya Allah.” [Baca : Masail Imam
Ahmad riwayat putranya Sholeh 2/205 no. 776]
Dasar utama mengenai posisi
tangan dalam shalat,
baik ketika berdiri maupun pada
posisi lainnya
Yaitu adalah hadits Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu yang
berkata:
«قُلْتُ:
لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَيْفَ يُصَلِّي.
قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَكَبَّرَ، فَرَفَعَ
يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ، ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ.
فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَيْهِ
عَلَى رُكْبَتَيْهِ.
فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ.
فَلَمَّا سَجَدَ وَضَعَ رَأْسَهُ بِذَلِكَ الْمَنْزِلِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ.
ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى
فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ
ثِنْتَيْنِ، وَحَلَّقَ حَلْقَةً».
وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ: «هَكَذَا».
وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ.
“Aku berkata: ‘Sungguh aku akan memperhatikan bagaimana
Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat.’ Maka Rasulullah ﷺ berdiri menghadap kiblat, lalu bertakbir
dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian
beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.
Ketika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya
seperti itu lagi, lalu meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya.
Ketika mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengangkat
kedua tangannya seperti itu lagi.
Ketika sujud, beliau meletakkan kepalanya pada posisi di
antara kedua tangannya.
Kemudian beliau duduk dengan menghamparkan kaki kirinya,
meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan menempatkan siku kanannya
pada paha kanannya. Beliau menggenggam dua jarinya dan membentuk lingkaran. Aku
melihat beliau melakukan seperti itu.”
Bisyr (salah seorang perawi) membentuk lingkaran dengan
ibu jari dan jari tengahnya serta memberi isyarat dengan jari telunjuknya.
(HR. Abu Dawud no. 726. Dishahihkan oleh al-Albani, Syu’aib
al-Arna’uth dan lainnya)
Dalam riwayat An-Nasa'i terdapat rincian tambahan pada
sebagian posisi shalat:
«قُلْتُ:
لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَيْفَ يُصَلِّي.
فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ، فَقَامَ فَكَبَّرَ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ،
ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى، وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ.
فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا، قَالَ: وَوَضَعَ يَدَيْهِ
عَلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ لَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا. ثُمَّ سَجَدَ، فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ
أُذُنَيْهِ. ثُمَّ قَعَدَ وَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى
عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى
فَخِذِهِ الْيُمْنَى. ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ، وَحَلَّقَ حَلْقَةً،
ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ، فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا».
“Aku
berkata: ‘Sungguh aku akan memperhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat.’
Maka aku memperhatikannya. Beliau berdiri lalu bertakbir
dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian
beliau meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kiri, pergelangan
tangan, dan lengan bawah kirinya.
Ketika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya
seperti sebelumnya, lalu meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya.
Setelah mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya seperti
sebelumnya.
Kemudian beliau sujud dan menjadikan kedua telapak
tangannya sejajar dengan kedua telinganya. Setelah itu beliau duduk dengan
menghamparkan kaki kirinya, meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan
lutut kirinya, serta menempatkan ujung siku kanannya di atas paha kanannya.
Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jarinya dan
membentuk lingkaran. Setelah itu beliau mengangkat jari telunjuknya. Aku
melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa dengannya.”
Selain itu, terdapat hadits-hadits lain yang menjelaskan
tata cara shalat Nabi ﷺ dan menerangkan posisi kedua tangan pada berbagai gerakan dalam
shalat”.
[Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad no. 18870, Ad-Darimi
(no. 1357), Al-Bukhari dalam kitab Raf‘ul Yadain (no. 31), Abu Dawud (no. 727),
Ibnu Al-Jarud (no. 208), An-Nasa'i dalam Al-Mujtaba (2/126–127 dan 3/37), serta
dalam Al-Kubra (no. 1191), Ibnu Khuzaimah (no. 480 dan 714), Ibnu Hibban (no.
1860), Ath-Thabarani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir (22/82), dan Al-Baihaqi (2/27–28,
28, dan 132), melalui beberapa jalur yang semuanya berasal dari Za'idah dengan
sanad ini.
Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad berkata:
حَدِيثٌ صَحِيحٌ دُونَ قَوْلِهِ: «فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا»،
فَهُوَ شَاذٌّ، انْفَرَدَ بِهِ زَائِدَةُ - وَهُوَ ابْنُ قُدَامَةَ - مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِ
عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ، وَرِجَالُ الْإِسْنَادِ ثِقَاتٌ.
عَبْدُ الصَّمَدِ: هُوَ ابْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ الْعَنْبَرِيُّ.
Hadits ini sahih kecuali lafaz: “Lalu aku melihat
beliau menggerak-gerakkan jari itu sambil berdoa dengannya.”
Lafaz tersebut dinilai syadz, karena hanya diriwayatkan
secara menyendiri oleh Za'idah bin Qudamah di antara para murid Ashim bin
Kulaib
Para perawi dalam sanad hadits ini adalah perawi-perawi
yang terpercaya (tsiqah).
Adapun Abdul Shamad yang terdapat dalam sanad tersebut adalah Abdul Shamad bin Abdul Warits bin Sa'id Al-'Anbari.
===***===
PEMBAHASAN PERTAMA:
LAFADZ-LAFADZ HADITS WA’IL BIN
HUJUR YANG DIBAHAS DI SINI
Hadits ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur :
Pertama : dari jalur sebagian anggota
keluarga Abdul Jabbar, yaitu sbb:
(1) Ummu Abdul Jabbar,
(2) Alqamah bin Wa'il,
(3) Abdul Jabbar bin Wa'il,
(4) mawla mereka.
Kedua : dari jalur Kulaib bin
Syihab.
Kelima orang tersebut meriwayatkannya dari Wa'il
bin Hujr radhiyallahu ‘anhu.
Ada dua lafadz utama dalam riwayat matan hadits ini:
Lafadz pertama :
Lafadz yang disepakati, yaitu tanpa ada tambahan “عَلَى صَدْرِهِ (di atas dada)”
«وَوَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى»
“Peletakan tangan kanan di
atas tangan kiri”
Lafadz kedua :
Lafadz yang diperdebatkan, yaitu ada tambahan “عَلَى صَدْرِهِ (di atas dada)”.
«وَوَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Dan beliau ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas
dadanya”.
JALUR UTAMA RIWAYAT HADITS WA’IL
BIN HUJUR
Hadits Wa'il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu ini telah diriwayatkan melalui
beberapa jalur utama:
Pertama : dari jalur sebagian anggota
keluarga Abdul Jabbar, yaitu sbb:
(1) Ummu Abdul Jabbar,
(2) Alqamah bin Wa'il,
(3) Abdul Jabbar bin Wa'il,
(4) mawla (budak yang di merdekakan
oleh) mereka.
Kedua : dari jalur Kulaib bin
Syihab.
Kelima orang tersebut meriwayatkannya dari Wa'il bin
Hujr radhiyallahu ‘anhu.
===***===
PEMBAHASAN KE DUA:
RIWAYAT TANPA TAMBAHAN LAFADZ “DI
ATAS DADA-KU”
Lafadz tanpa ada tambahan “عَلَى صَدْرِهِ (di atas dada)”, yaitu:
«وَوَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى»
“Peletakan tangan kanan di
atas tangan kiri”
Ini
adalah lafadz yang disepakati oleh para fuqoha dan para ahli hadits.
Dan berikut ini lafadz lengkap
riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya no. 401:
Dari Abdul Jabbar bin Wa'il dari Alqamah bin Wa'il dan
seorang maula mereka, bahwa keduanya menceritakan kepadanya dari ayahnya, yaitu
Wa'il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ، فَكَبَّرَ
- وَصَفَ هَمَّامٌ: حِيَالَ أُذُنَيْهِ - ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى.
فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ، ثُمَّ رَفَعَهُمَا،
ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ.
فَلَمَّا قَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» رَفَعَ يَدَيْهِ.
فَلَمَّا سَجَدَ، سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ.
“Bahwa ia melihat Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika memulai
shalat lalu bertakbir.” Hammam menjelaskan: “Sejajar dengan kedua telinganya.”
Kemudian beliau menyelimuti dirinya dengan pakaiannya,
lalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.
Ketika beliau hendak rukuk, beliau mengeluarkan kedua
tangannya dari pakaian tersebut, kemudian mengangkat keduanya, lalu bertakbir
dan rukuk.
Ketika beliau mengucapkan, ‘Sami'allahu liman hamidah,’
beliau mengangkat kedua tangannya.
Kemudian ketika sujud, beliau sujud di antara kedua telapak tangannya.”
----
SIAPA SAJAKAH?
Siapa
sajakah para perawi yang meriwayatkan hadits Wa’il bin Hujur tanpa tambahan “di
atas dadanya” atau “di dekat dadanya”?
Berikut
ini uraiannya :
PERTAMA:
Hadits tanpa tambahan tersebut
telah diriwayatkan dari Sufyan oleh sbb:
[1] Abdullah bin Al-Walid (diriwayatkan oleh Ahmad, 4/318)
[2] dan Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi (diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, 22/78). Keduanya meriwayatkan dari
Sufyan tanpa menyebutkan tambahan lafadz tersebut.
KEDUA:
Hadits itu juga diriwayatkan dari
Ashim bin Kulaib oleh:
[1] Abdullah bin Idris (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah
no. 3935, Ibnu Majah no. 810, Ibnu Khuzaimah no. 477, dan Ibnu Hibban 5/271),
[2] Syu’bah bin Al-Hajjaj (diriwayatkan oleh Ahmad,
4/319),
[3] Za’idah bin Qudamah (diriwayatkan oleh Ahmad, 4/318,
Ad-Darimi no. 1364, Abu Dawud no. 727, An-Nasa’i 2/126, Ibnu Al-Jarud no. 208,
Ibnu Khuzaimah no. 480, Ibnu Hibban 5/170, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam
Al-Kabir 22/82, dan Al-Baihaqi 2/28),
[4] Muhammad bin Fudhail (diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
no. 478),
[5] Zuhair bin Mu’awiyah (diriwayatkan oleh Ahmad, 4/318
dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 22/84),
[6] Abu ‘Awanah (diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam
Al-Mu’jam Al-Kabir 22/90),
[7] Qais bin Ar-Rabi’ (diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 22/79),
[8] Abu Al-Ahwash (diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no.
1020 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 22/80),
[9] Abdul Wahid bin Ziyad (diriwayatkan oleh Ahmad, 4/316
dan Al-Baihaqi 2/72),
[10] Bisyr bin Al-Mufadhdhal (diriwayatkan oleh Abu Dawud
no. 726 dan 957, Ibnu Majah no. 810, An-Nasa’i 3/35, dan Ath-Thabarani dalam
Al-Mu’jam Al-Kabir 22/86),
[11] serta Abu Ishaq (diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 22/91).
Seluruh perawi tersebut meriwayatkannya dari
Ashim bin Kulaib, dari Kulaib, tanpa menyebutkan tambahan lafadz tersebut.
KETIGA:
Hadits tersebut juga diriwayatkan
dari Wa'il oleh sbb:
[1] Sebagian anggota keluarga Wa’il bin Hujur
(diriwayatkan oleh Ahmad 4/316 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir
22/76),
[2] dan oleh Alqamah bin Wa'il secara tersendiri
(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 3938, Abu Dawud no. 723, Ibnu Khuzaimah
no. 905, dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir 22/61),
[3] dan oleh Abdul Jabbar bin Wa'il (diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir 22/51 dan 53),
[4] serta oleh Alqamah bin Wa'il dan seorang maula mereka
secara bersamaan (diriwayatkan oleh Ahmad 4/317–318).
Seluruh mereka meriwayatkannya dari Wa'il bin Hujr
radhiyallahu ‘anhu tanpa menyebutkan tambahan lafadz tersebut.
PEMBAHASAN KE TIGA:
RIWAYAT YANG TERDAPAT TAMBAHAN LAFADZ
“DI ATAS DADANYA”
Dari Muammal bin Isma'il, dari
Sufyan Ats-Tsauri, dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya (Kulaib bin
Syihab), dari Wa'il bin Hujur, ia berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ
الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di
atas dadanya.”
Di sini perawi yang bernama Mu’ammal bin Isma'il,
dia menambahkan dalam riwayat yang
dari jalur Sufyan Ats-Tsauri, dari Ashim bin Kulaib, dari
ayahnya (Kulaib bin Syihab) tambahan kalimat:
«عَلَى
صَدْرِهِ»
“di atas dadanya.”
Namun, Mu’ammal sendiri mengalami kelabilan (الاضْطِرَاب) dalam meriwayatkan lafadz matan hadits ini dari Sufyan. Ada
dua lafadz:
Pertama : Kadang ia meriwayatkannya
dengan lafadz:
«عَلَى
صَدْرِهِ»
“di atas dadanya”
(riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 479),
Kedua : kadang dengan lafadz:
«عِنْدَ
صَدْرِهِ»
“di dekat dadanya”
(riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam
Thabaqat Al-Muhadditsin, 2/268),
Ini dipertegas oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari
2/224, dia berkata:
"قَدْ
روى بن خُزَيْمَةَ مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ أَنَّهُ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ
وَالْبَزَّارُ عِنْدَ صَدْرِهِ وَعِنْدَ أَحْمَدَ فِي حَدِيثِ هُلْبٍ الطَّائِيِّ
نَحْوُهُ".
““Ibnu Khuzaimah (479) telah meriwayatkan
dari hadits Wa'il bahwa beliau meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.
Al-Bazzar (268) meriwayatkan dengan lafadz: ‘di dekat dadanya’.
Dan dalam riwayat Ahmad pada hadits Hulb Ath-Tha'i terdapat lafadz yang semakna
dengan itu (di dekat dadanya).””
Ketiga : Dan kadang tanpa menyebut
tambahan tersebut sama sekali (riwayat ini dikeluarkan oleh Ath-Thahawi
dalam Syarh Ma'ani Al-Atsar, (1/196) dengan lafadz:
«رَأَيْتُ
النَّبِيَّ ﷺ حِينَ يُكَبِّرُ لِلصَّلَاةِ، يَرْفَعُ يَدَيْهِ حِيَالَ أُذُنَيْهِ».
“Aku melihat Nabi ﷺ ketika bertakbir untuk shalat, beliau
mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.”
Pada (1/223) dengan lafadz:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حِينَ يُكَبِّرُ لِلصَّلَاةِ، وَحِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ
يَرْفَعُ يَدَيْهِ حِيَالَ أُذُنَيْهِ»
“Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika bertakbir untuk shalat dan ketika
mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan
kedua telinganya.”
Dan pada (1/257) dengan lafadz:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا سَجَدَ كَانَتْ يَدَاهُ حِيَالَ أُذُنَيْهِ»
“Rasulullah ﷺ apabila sujud, kedua tangannya sejajar
dengan kedua telinganya.”
STATUS SANAD & MATAN HADITS WA’IL YANG ADA TAMBAHAN “DI ATAS DADA”.
Yakni; Hadits Muammal bin Isma'il,
dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya (Kulaib bin
Syihab), dari Wa'il bin Hujur, ia berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ
الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di
atas dadanya.”
----
STATUS SANAD
Syeikh al-Albani dalam Ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah 1/240
no. 479:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِأَنَّ مُؤَمَّلًا وَهُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ سَيِّئُ الْحِفْظِ.
“Sanadnya lemah karena Muammal, yaitu Muammal bin Isma'il,
memiliki hafalan yang buruk”.
Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad 36/300 no. (21967)
berkata:
وَفِي بَابِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ فِي الصَّلَاةِ عَنْ وَائِلِ
بْنِ حُجْرٍ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ (479)، وَالْبَيْهَقِيِّ 2/30، بِإِسْنَادَيْنِ
ضَعِيفَيْنِ.
“Dalam masalah meletakkan kedua tangan di atas dada ketika
shalat terdapat hadits Wa'il bin Hujr yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
(no. 479) dan Al-Baihaqi (2/30), namun diriwayatkan melalui dua sanad yang
lemah”.
----
Sekilas Biografi Tentang Perawi
Bernama Mu’ammal bin Isma’il.
Dia adalah Muammal bin Isma'il Al-'Adawi, maula keluarga Al-Khaththab,
dan ada yang mengatakan maula Bani Bakr. Nama kunyahnya adalah Abu Abdurrahman
Al-Bashri. Ia meriwayatkan hadits dari Syu'bah, dua orang Sufyan (Sufyan
Ats-Tsauri dan Sufyan bin 'Uyainah), serta selain keduanya. Hadits-haditsnya
diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Ali bin Al-Madini, dan
yang lainnya.
Abu Hatim berkata: "Shaduq, sangat kuat berpegang
kepada sunnah, tetapi banyak melakukan kesalahan."
Ibnu Sa'd berkata: "Tsiqah, namun banyak melakukan
kekeliruan."
Yang lain berkata: “Ia mengubur kitab-kitabnya lalu
meriwayatkan dari hafalannya sehingga kesalahannya menjadi banyak.”
Namun Ibnu Abi Khaitsamah menukil dari Ibnu Ma'in bahwa
beliau berkata: "Tsiqah."
Utsman Ad-Darimi berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Ma'in,
"Bagaimana keadaan Muammal?" Beliau menjawab: "Tsiqah."
Ia wafat di Makkah pada bulan Ramadhan tahun 205 H atau
206 H.
Al-Mizzi berkata dalam Tahdzib Al-Kamal 29/178:
وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: صَدُوقٌ، شَدِيدٌ فِي السُّنَّةِ، كَثِيرُ الْخَطَإِ.
وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ.
Abu Hatim berkata: “Shaduq, sangat kuat berpegang kepada
sunnah, tetapi banyak melakukan kesalahan.”
Al-Bukhari berkata: “Munkarul hadits.”
Demikian pula yang dikatakan Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal
4/228 dan dalam Siyar A’lam An-Nubala’ 10/111. Kemudian beliau berkata:
وَقَالَ أَبُو زُرْعَةَ: فِي حَدِيثِهِ خَطَأٌ كَثِيرٌ.
وَأَمَّا أَبُو دَاوُدَ، فَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَعَظَّمَهُ، وَرَفَعَ مِنْ شَأْنِهِ،
ثُمَّ قَالَ: إِلَّا أَنَّهُ يَهِمُ فِي الشَّيْءِ.
Abu Zur’ah berkata: “Dalam hadits-haditsnya terdapat
banyak kesalahan.”
Adapun Abu Dawud, maka beliau memujinya, mengagungkannya,
dan mengangkat kedudukannya. Kemudian beliau berkata: “Hanya saja ia suka
keliru dalam beberapa hal.”
Namun adh-Dhiyaa al-A’dzomi dalam al-Jami’ al-Kamil 2/483
berkata:
تَنْبِيهٌ: وَقَعَ فِي التَّهْذِيبِ وَأَصْلُهُ تَهْذِيبُ الْكَمَالِ، وَمِيزَانُ الذَّهَبِيِّ
(4/228)، أَنَّ الْبُخَارِيَّ قَالَ فِي مُؤَمَّلِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ: «مُنْكَرُ الْحَدِيثِ».
وَالْبُخَارِيُّ تَرْجَمَ لِمُؤَمَّلِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ فِي التَّارِيخِ الْكَبِيرِ
(8/49)، وَالصَّغِيرِ (219)، وَلَمْ يَقُلْ فِيهِ: «مُنْكَرُ الْحَدِيثِ»، بَلْ لَمْ
يَذْكُرْ فِيهِ جَرْحًا وَلَا تَعْدِيلًا، وَأَمَّا الضُّعَفَاءُ فَلَمْ يَتَرْجِمْ
لَهُ فِيهِ.
فَأَخْشَى أَنْ يَكُونَ هَذَا مِنْ سَبْقِ نَظَرٍ، فَإِنَّهُ تَرْجَمَ بَعْدَ
مُؤَمَّلِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ مُؤَمَّلَ بْنَ سَعِيدٍ، وَقَالَ فِيهِ: «مُنْكَرُ الْحَدِيثِ»،
فَتَنَبَّهْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Catatan: Dalam Tahdzib At-Tahdzib, asalnya
yaitu Tahdzib Al-Kamal, dan juga dalam Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzahabi
(4/228), disebutkan bahwa Al-Bukhari berkata tentang Muammal bin Isma’il: “Munkarul
hadits.”
Padahal Al-Bukhari mencantumkan biografi Muammal bin Isma’il
dalam At-Tarikh Al-Kabir (8/49) dan At-Tarikh Ash-Shaghir (hlm. 219), namun
beliau tidak mengatakan tentangnya: “Munkarul hadits”. Bahkan beliau tidak
menyebutkan jarh maupun ta’dil terhadapnya. Adapun dalam kitab Adh-Dhu’afa’,
Al-Bukhari juga tidak mencantumkan biografinya.
Karena itu, saya khawatir ini merupakan kekeliruan
pandangan, sebab setelah menerjemahkan biografi Muammal bin Isma’il, Al-Bukhari
menerjemahkan Muammal bin Sa’id dan berkata tentangnya: “Munkarul hadits.” Maka
hendaknya hal ini diperhatikan. Wallahu a’lam.
Lihat: At-Tarikh Al-Kabir karya Al-Bukhari 8/49, At-Tarikh
Ash-Shaghir 2/306–307, Tahdzib Al-Kamal 7/284 no. 6914, Al-Kasyif 2/309 no.
5747, Mizan Al-I’tidal 4/228–229, Siyar A’lam An-Nubala’ 10/110–111, dan
Khulashah Tadzhib Tahdzib Al-Kamal hlm. 393.
===
TERKAIT LAFADZ TAMBAHAN “DI ATAS
DADA-NYA”.
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam ad-Diroyah 1/128 no. 146:
وَهُوَ فِي مُسْلِمٍ دُونَ قَوْلِ: «عَلَى صَدْرِهِ».
“Dan hadits tersebut terdapat dalam Shahih Muslim tanpa
lafadz: ‘di atas dadanya’.”
Ibnu Qoyyim dalam I’lam al-Muwaqqi’iin 2/289 berkata:
وَلَمْ يَقُلْ: «عَلَى صَدْرِهِ» غَيْرُ مُؤَمَّلِ بْنِ إسْمَاعِيلَ، وَفِي
صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْهُ أَنَّهُ: " رَأَى «النَّبِيَّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ
دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ ثُمَّ كَبَّرَ، ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ
الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى»
“Dan tidak ada seorang pun yang meriwayatkan lafadz: “di
atas dadanya” selain Muammal bin Isma’il.
Sedangkan dalam Shahih Muslim terdapat riwayat darinya
(Wa’il bin Hujur) :
“Bahwa ia melihat Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika memulai
shalat, kemudian bertakbir, lalu menyelimuti dirinya dengan pakaiannya,
kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.”
Syeikh Mahir Yasin Fahl Al-Haiti (ahli hadits ‘Iraq) dalam
Takhrij Bulughul Maram hal. 137 no. 278, hamisy no. 1, dia berkata:
زِيَادَةُ: «عَلَى صَدْرِهِ» شَاذَّةٌ؛ شَذَّ بِهَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ،
وَاضْطَرَبَ بِهَذِهِ الزِّيَادَةِ، وَخَالَفَ الرُّوَاةَ عَنْ سُفْيَانَ، وَالرُّوَاةَ
عَنْ عَاصِمٍ، وَالرُّوَاةَ عَنْ وَائِلٍ. وَانْظُرْ كِتَابِي: «الْجَامِعُ فِي الْعِلَلِ
وَالْفَوَائِدِ» 3/162.
“Tambahan lafadz: “di atas dadanya” adalah syadz (asing).
Lafadz ini diriwayatkan secara syadz dan hanya oleh Muammal bin Isma’il
sendirian, dan ia mengalami kelabilan (الاضْطِرَابُ) dalam meriwayatkan tambahan tersebut. Ia
juga menyelisihi para perawi yang meriwayatkan dari Sufyan, para perawi yang
meriwayatkan dari Ashim, dan para perawi yang meriwayatkan dari Wa’il.
Lihat penjelasan lebih detail dalam kitab saya ‘Al-Jami’
fi Al-‘Ilal wa Al-Fawa’id’, jilid 3 halaman 162”. [Kutipan selesai]
Dan Syaikh Mahir Yasin Fahl Al-Haiti juga berkata (hlm.
377):
وَقَدْ تُرَدُّ الزِّيَادَةُ لِلِاخْتِلَافِ فِيهَا وَشِدَّةِ فَرْدِيَّتِهَا،
مِثَالُ ذَلِكَ حَدِيثُ مُؤَمَّلِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمِ
بْنِ كُلَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ.
Terkadang suatu tambahan riwayat (ziyadah) ditolak karena
adanya perbedaan dalam periwayatannya serta karena sangat menyendirinya
tambahan tersebut.
Contohnya adalah hadits Muammal bin Isma'il, dari Sufyan,
dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr, ia berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ
الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
di atas dadanya.”
Berbeda dengan pendapat Syaikh
Al-Albani dalam kitab Shifat Shalat An-Nabi hlm. 69, maka dia berkata:
«وَضْعُهُمَا
عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ، وَخِلَافُهُ إِمَّا ضَعِيفٌ،
أَوْ لَا أَصْلَ لَهُ» انْتَهَى.
“Meletakkan kedua tangan di atas dada adalah yang terbukti
dalam sunnah. Adapun selain itu, maka antara lemah atau tidak memiliki asal
sama sekali (palsu).” [Selesai kutipan dari Shifat Shalat An-Nabi hlm. 69].
Namun Syu'aib Al-Arna'uth dalam tahqiq kitab Al-'Awashim
wa Al-Qawashim (3/7), menanggapinya dengan mengatakan:
وَقَوْلُ الشَّيْخِ نَاصِرِ الْأَلْبَانِيِّ فِي «صِفَةِ الصَّلَاةِ» ص 79: «وَضْعُهُمَا
عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ» فِيهِ مَا فِيهِ.
Adapun pernyataan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam
Shifat Ash-Shalah hlm. 79: "Meletakkan kedua tangan di atas dada adalah
yang terbukti dalam sunnah," maka pernyataan tersebut masih perlu
ditinjau’. [Selesai kutipan dari al-Arna’uth]
Begitu pula yang dikatakan para pentahqiq Musnad Imam
Ahmad 36/300 (21967), mereka berkata:
قُلْنَا: وَقَوْلُ الْأَلْبَانِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «صِفَةِ الصَّلَاةِ»:
«وَضْعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ»، تَعَنُّتٌ لَا
وَجْهَ لَهُ.
فَفِي «بَدَائِعِ الْفَوَائِدِ» 3/91 لِابْنِ الْقَيِّمِ: وَاخْتُلِفَ فِي مَوْضِعِ الْوَضْعِ، فَعَنْهُ
[أَيْ: عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ] فَوْقَ السُّرَّةِ، وَعَنْهُ: تَحْتَهَا، وَعَنْهُ:
قَالَ أَبُو طَالِبٍ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ: أَيْنَ يَضَعُ يَدَهُ إِذَا
كَانَ يُصَلِّي؟ قَالَ: عَلَى السُّرَّةِ أَوْ أَسْفَلَ. وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ عِنْدَهُ، إِنْ وَضَعَ
فَوْقَ السُّرَّةِ أَوْ عَلَيْهَا أَوْ تَحْتَهَا.
Kami berkata: “Adapun pernyataan Al-Albani
rahimahullah dalam kitab Shifat Ash-Shalah: ‘Meletakkan kedua tangan di atas
dada adalah yang terbukti shahih dalam sunnah’, maka itu merupakan sikap
yang keras kepala (terlalu memaksakan pendapat) dan tidak memiliki dasar
yang kuat”.
Dalam Bada'i' Al-Fawa'id (3/91), Ibnul Qayyim berkata:
“Para ulama berbeda pendapat tentang tempat meletakkan
kedua tangan.
Dari Imam Ahmad terdapat riwayat bahwa keduanya diletakkan
di atas pusar.
Ada pula riwayat bahwa keduanya diletakkan di bawah pusar.
Dan dalam riwayat lain, Abu Thalib berkata: Aku bertanya
kepada Ahmad bin Hanbal, ‘Di mana seseorang meletakkan tangannya ketika
shalat?’ Beliau menjawab, ‘Di atas pusar atau di bawahnya.’
Semua itu menurut beliau merupakan perkara yang luas
(boleh semuanya); baik diletakkan di atas pusar, tepat pada pusar, maupun di
bawahnya.” [Selesai]
***
RIWAYAT-RIWAYAT PENGUAT TAMBAHAN LAFADZ “DIATAS DADA”
===
RIWAYAT PENGUAT KE 1:
Riwayat mutaba’ah : Al-Baihaqi (2/30) meriwayatkan melalui
jalur Muhammad bin Hajar Al-Hadhrami, dari Sa'id bin Abdul Jabbar bin Wa'il,
dari ayahnya, dari ibunya, dari Wa'il bin Hujr, ia berkata:
حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَوْ حِينَ نَهَضَ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَدَخَلَ
الْمِحْرَابَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ بِالتَّكْبِيرِ، ثُمَّ وَضَعَ يُمْنَاهُ عَلَى
يُسْرَاهُ عَلَى صَدْرِهِ.
"Aku menghadiri Rasulullah ﷺ ketika beliau datang atau ketika beliau berangkat menuju
masjid. Beliau masuk ke mihrab, lalu mengangkat kedua tangannya untuk
bertakbir, kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas
dadanya."
Ibnu At-Turkumani dalam al-Jawhar an-Naqiy 2/30 berkata:
مُحَمَّدُ بْنُ حَجَرِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ، عَنْ عَمِّهِ سَعِيدٍ،
لَهُ مَنَاكِيرُ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ، وَأُمُّ عَبْدِ الْجَبَّارِ هِيَ أُمُّ يَحْيَى،
لَمْ أَعْرِفْ حَالَهَا وَلَا اسْمَهَا.
"Muhammad bin Hajar bin
Abdul Jabbar bin Wa'il meriwayatkan dari pamannya, Sa'id, beberapa hadits
munkar."
Demikian yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi.
Sedangkan ibu Abdul Jabbar adalah Ummu Yahya. Aku tidak
mengetahui keadaan dirinya dan juga tidak mengetahui namanya”. [[Selesai]]
Dan Syeikh Mahir Yasin Fahl Al-Haiti (ahli hadits ‘Iraq)
dalam kitab Atsar Ikhtilaf Al-Asanid wa Al-Mutun fi Ikhtilaf Al-Fuqaha' hlm.
377 mengkritisi riwayat mutaba’ah tsb dengan mengatakan:
إِلَّا أَنَّهَا مُتَابَعَةٌ ضَعِيفَةٌ، فَمُحَمَّدُ بْنُ حَجَرٍ قَالَ عَنْهُ
الْبُخَارِيُّ: كُوفِيٌّ، فِيهِ بَعْضُ النَّظَرِ (انْظُرْ: الضُّعَفَاءُ الْكَبِيرُ
لِلْعُقَيْلِيِّ 4/59، وَالْكَامِلُ فِي ضُعَفَاءِ الرِّجَالِ لِابْنِ عَدِيٍّ
7/343).
وَرِوَايَةُ مُؤَمَّلٍ مَعَ شِدَّةِ فَرْدِيَّتِهَا، وَاضْطِرَابِهِ فِيهَا، لَا
تَصِحُّ لِشِدَّةِ مُخَالَفَتِهِ بِهَا الرُّوَاةَ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَالرُّوَاةَ
عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ، وَالرُّوَاةَ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ.
Akan tetapi, mutaba'ah ini lemah. Sebab, Muhammad bin
Hajar dinilai oleh Al-Bukhari:
كُوفِيٌّ، فِيهِ بَعْضُ النَّظَرِ.
“Seorang dari Kufah yang pada
dirinya terdapat beberapa hal yang perlu ditinjau.”
(Lihat: Adh-Dhu'afa' Al-Kabir karya Al-Uqaili, 4/59, dan
Al-Kamil fi Dhu'afa' Ar-Rijal karya Ibnu Adi, 7/343).
Riwayat Mu’ammal, di samping sangat menyendiri, juga
mengalami kegoncangan dalam periwayatannya. Oleh karena itu, riwayat tersebut
tidak sahih karena kuatnya penyelisihan yang ia lakukan terhadap para perawi
yang meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, para perawi yang meriwayatkan dari
Ashim bin Kulaib, dan para perawi yang meriwayatkan dari Wa'il bin Hujr”. [Selesai]
====
RIWAYAT PENGUAT KE 2:
Abu Dawud meriwayatkan dalam As-Sunan 2/71 no. 759 dan
dalam Al-Marasil hlm. 89 no. 33: Dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus, ia
berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدَهُ الْيُسْرَى
ثُمَّ يَشُدُّ بِهِمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ»
“Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan
kirinya, kemudian merapatkan keduanya pada dadanya ketika beliau sedang
shalat.”
STATUS SANAD:
Syu'aib Al-Arna'uth berkata dalam ta'liq beliau terhadap
kitab Al-'Awashim wa Al-Qawashim 3/7 dan 3/9:
وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ غَيْرُ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى الدِّمَشْقِيِّ، فَفِيهِ
لِينٌ، وَخُلِّطَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِقَلِيلٍ، ثُمَّ هُوَ مُرْسَلٌ.
“Para perawinya tsiqah selain Sulaiman bin Musa
Ad-Dimasyqi, yang padanya terdapat kelemahan. Ia juga mengalami ikhtilath
(kekacauan hafalan) sesaat sebelum wafatnya. Di samping itu, hadits ini berstatus
mursal (terputus sanadnya karena riwayat seorang tabi’i langsung dari Nab ﷺ, dan itu tidak mungkin).”
Dr. Muhammad Abdullah Walad Karim berkata dalam tahqiq
kitab Al-Qabas fi Syarh Al-Muwaththa' hlm. 993 catatan kaki no. 1:
وَسُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى هُوَ الْأَشْدَقُ الدِّمَشْقِيُّ الْأُمَوِيُّ، صَدُوقٌ
فَقِيهٌ، فِي حَدِيثِهِ بَعْضُ لِينٍ، وَخُولِطَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِقَلِيلٍ، مِنَ الْخَامِسَةِ،
م 4. «التَّقْرِيبُ» ص 255.
وَقَالَ الْحَافِظُ فِي «التَّهْذِيبِ»: قَالَ الْبُخَارِيُّ: عِنْدَهُ مَنَاكِيرُ.
وَقَالَ النَّسَائِيُّ: أَحَدُ الْفُقَهَاءِ، وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ.
«التَّهْذِيبُ» 4/227.
“Sulaiman bin Musa adalah Al-Asydaq Ad-Dimasyqi Al-Umawi.
Ia seorang shaduq dan faqih, namun dalam haditsnya terdapat sedikit kelemahan.
Ia juga mengalami ikhtilath sesaat sebelum wafatnya. Ia termasuk perawi
thabaqah kelima. Wafat pada tahun 4 H.” (At-Taqrib, hlm. 255).
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam At-Tahdzib: “Al-Bukhari
berkata: ‘Pada dirinya terdapat hadits-hadits munkar.’”
An-Nasa'i berkata: “Ia termasuk salah seorang fuqaha,
tetapi tidak kuat dalam hadits.” (Tahdzib At-Tahdzib, 4/227).
As-Sindi
dalam Hasyiyahnya 1/270 no. 809 berkata:
وَهَذَا الْحَدِيثُ وَإِنْ كَانَ مُرْسَلًا، لَكِنَّ الْمُرْسَلَ حُجَّةٌ عِنْدَ
الْكُلِّ.
“Hadits ini, meskipun berstatus mursal, namun hadits mursal merupakan hujjah (dalil) menurut semua pihak”.
====
RIWAYAT PENGUAT KE 3:
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad 36/299 no. 21967 melalui
jalur Qabishah bin Hulb, dari ayahnya, ia berkata:
«رَأَيْتُ
النَّبِيَّ ﷺ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ، وَرَأَيْتُهُ يَضَعُ هَذِهِ
عَلَى صَدْرِهِ» وَصَفَ يَحْيَى: الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ.
“Aku melihat Nabi ﷺ berpaling ke kanan dan ke kiri (setelah
salam). Dan aku melihat beliau meletakkan yang ini di atas dadanya.”
Yahya menjelaskan dengan isyarat: “tangan kanan di atas
tangan kiri, di atas pergelangan tangan”.
STATUS SANAD:
Syu'aib Al-Arna'uth dan para peneliti Al-Musnad 36/300
(21967) berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ دُونَ قَوْلِهِ: «يَضَعُ هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ»، وَهَذَا
إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ لِجَهَالَةِ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ.
“Hadits ini sahih lighoirihi, tanpa tambahan lafadz: ‘meletakkan
yang ini di atas dadanya’. Adapun bagian tambahan ini, maka sanadnya lemah
karena Qabishah bin Hulb berstatus majhul (tidak dikenal).”
===***===
PERNYATAAN PARA ULAMA
TENTANG SEMUA RIWAYAT TAMBAHAN
LAFADZ “DI ATAS DADA”.
Pertama : Para pentahqiq Musnad Imam Ahmad.
Mereka dalam hamisy Musnad Imam Ahmad 36/300 (21967) berkata:
صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ دُونَ قَوْلِهِ: «يَضَعُ هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ»، وَهَذَا
إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ لِجَهَالَةِ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ.
وَفِي بَابِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ فِي الصَّلَاةِ عَنْ وَائِلِ
بْنِ حُجْرٍ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ (479)، وَالْبَيْهَقِيِّ 2/30، بِإِسْنَادَيْنِ
ضَعِيفَيْنِ.
وَعَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفًا عِنْدَ الطَّبَرِيِّ فِي «التَّفْسِيرِ» 30/325، وَالْبَيْهَقِيِّ
2/20 وَ30، وَهُوَ ضَعِيفٌ لِاضْطِرَابِ سَنَدِهِ وَمَتْنِهِ كَمَا قَالَ ابْنُ التُّرْكُمَانِيِّ.
وَعَنْ طَاوُوسٍ مُرْسَلًا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ (759) ...
قُلْنَا: وَقَوْلُ الْأَلْبَانِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «صِفَةِ الصَّلَاةِ»:
«وَضْعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ»، تَعَنُّتٌ لَا
وَجْهَ لَهُ.
فَفِي «بَدَائِعِ الْفَوَائِدِ» 3/91 لِابْنِ الْقَيِّمِ: وَاخْتُلِفَ فِي مَوْضِعِ الْوَضْعِ، فَعَنْهُ
[أَيْ: عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ] فَوْقَ السُّرَّةِ، وَعَنْهُ: تَحْتَهَا، وَعَنْهُ:
قَالَ أَبُو طَالِبٍ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ: أَيْنَ يَضَعُ يَدَهُ إِذَا
كَانَ يُصَلِّي؟ قَالَ: عَلَى السُّرَّةِ أَوْ أَسْفَلَ. وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ عِنْدَهُ، إِنْ وَضَعَ
فَوْقَ السُّرَّةِ أَوْ عَلَيْهَا أَوْ تَحْتَهَا.
“Hadits ini sahih karena adanya penguat-penguat (shahih li
ghairihi), tanpa lafadz: ‘meletakkan yang ini di atas dadanya’. Adapun
bagian ini, maka sanadnya lemah karena Qabishah bin Hulb berstatus majhul
(tidak dikenal).”
Dalam masalah meletakkan kedua tangan di atas dada ketika
shalat terdapat riwayat Wa'il bin Hujr yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
(no. 479) dan Al-Baihaqi (2/30), namun diriwayatkan melalui dua sanad yang
lemah.
Juga terdapat riwayat mauquf dari Ali yang diriwayatkan
oleh Ath-Thabari dalam At-Tafsir 30/325 dan Al-Baihaqi 2/20 serta 2/30. Riwayat
ini lemah karena adanya kegoncangan pada sanad dan matannya, sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu At-Turkumani.
Demikian pula terdapat riwayat mursal dari Thawus yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 759).
Kami katakan :
Adapun pernyataan Al-Albani rahimahullah dalam Shifat
Ash-Shalah: “Meletakkan kedua tangan di atas dada adalah yang terbukti dalam
sunnah,” maka itu merupakan sikap yang terlalu memaksakan pendapat dan tidak
memiliki dasar yang kuat.
Dalam Bada'i' Al-Fawa'id (3/91), Ibnul Qayyim berkata:
“Para ulama berbeda pendapat tentang tempat meletakkan
kedua tangan. Dari Imam Ahmad terdapat riwayat bahwa keduanya diletakkan di
atas pusar. Ada pula riwayat bahwa keduanya diletakkan di bawah pusar. Dan
dalam riwayat lain, Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal,
‘Di mana seseorang meletakkan tangannya ketika shalat?’ Beliau menjawab, ‘Di
atas pusar atau di bawahnya.’ Semua itu menurut beliau merupakan perkara yang
luas; baik diletakkan di atas pusar, tepat pada pusar, maupun di bawahnya.”
===
Kedua : Syeikh Mahir Yasin Fahl Al-Haiti
Beliau dalam kitab Atsar Ikhtilaf Al-Asanid wa Al-Mutun fi
Ikhtilaf Al-Fuqaha' hlm. 377 berkata:
فَزِيَادَةٌ فِي هَذَا الْمُنْتَهَى مِنَ الْمُخَالَفَةِ لَا يُمْكِنُ قَبُولُهَا،
لَا سِيَّمَا وَأَنَّ مَدَارَ زِيَادَةِ مُؤَمَّلٍ عَلَى سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَمَذْهَبُ
سُفْيَانَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَضْعُ الْيَدَيْنِ تَحْتَ السُّرَّةِ [انْظُرْ:
الْمُغْنِي 1/515، وَالْمَجْمُوع 3/259].
فَلَوْ كَانَتْ هَذِهِ الزِّيَادَةُ ثَابِتَةً مِنْ طَرِيقِهِ لَمَا خَالَفَهَا.
وَيُضَافُ إِلَى هَذَا أَنَّنِي لَمْ أَجِدْ نَقْلًا قَوِيًّا عَنْ أَحَدٍ مِنَ
السَّلَفِ يَقُولُ بِوَضْعِ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى عَلَى الصَّدْرِ؛
فَهِيَ زِيَادَةٌ أَيْضًا مُخَالِفَةٌ بِعَدَمِ عَمَلِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَا، وَاللَّهُ
أَعْلَمُ.
Maka tambahan lafadz yang berada pada tingkat puncak
penyelisihan seperti ini, tidak mungkin bisa diterima, terlebih lagi
karena poros tambahan riwayat Muammal ini kembali kepada Sufyan Ats-Tsauri,
sementara pendapat Sufyan dalam masalah ini adalah meletakkan kedua tangan di
bawah pusar (lihat: Al-Mughni 1/515 dan Al-Majmu' 3/259).
Seandainya tambahan lafadz tersebut benar-benar ada ketetapan
(valid) dan sahih dari jalurnya, tentu ia tidak akan menyelisihinya.
Ditambah lagi, saya tidak menemukan satu pun riwayat
yang kuat dari kalangan salaf yang menyatakan bahwa tangan kanan
diletakkan di atas tangan kiri di atas dada. Dengan demikian, tambahan lafadz
ini juga menyelisihi karena tidak diamalkan oleh para ulama. Wallahu a'lam”. [Kutipan
Selesai]
====
Ketiga : Syu'aib Al-Arna'uth
Beliau berkata dalam tahqiq kitab
Al-'Awashim wa Al-Qawashim karya Ibnu Al-Wazir (3/7):
فَقَوْلُهُ: «عَلَى صَدْرِهِ» زِيَادَةٌ انْفَرَدَ بِهَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ
مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِ الثَّوْرِيِّ، وَهُوَ سَيِّئُ الْحِفْظِ، وَأَصْحَابُ عَاصِمٍ
الَّذِينَ رَوَوْا هَذَا الْحَدِيثَ عَنْهُ لَمْ يَذْكُرُوا هَذِهِ اللَّفْظَةَ، فَهِيَ
شَاذَّةٌ.
وَرَوَى أَبُو دَاوُودَ (759) مِنْ طَرِيقِ أَبِي تَوْبَةَ، عَنِ الْهَيْثَمِ
بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، عَنْ طَاوُوسٍ قَالَ: كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى، ثُمَّ يَشُدُّ
بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ. سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى: هُوَ
الدِّمَشْقِيُّ الْأَشْدَقُ، فِي حَدِيثِهِ بَعْضُ لِينٍ، وَخَلَّطَ قَبْلَ مَوْتِهِ
بِقَلِيلٍ، ثُمَّ هُوَ مُرْسَلٌ.
وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ 2/30 مِنْ طَرِيقِ مُحَمَّدِ بْنِ حَجَرٍ الْحَضْرَمِيِّ،
عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ
وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذْ أَوْ حِينَ نَهَضَ إِلَى
الْمَسْجِدِ، فَدَخَلَ الْمِحْرَابَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ بِالتَّكْبِيرِ، ثُمَّ
وَضَعَ يُمْنَاهُ عَلَى يُسْرَاهُ عَلَى صَدْرِهِ.
فَقَالَ ابْنُ التُّرْكُمَانِيِّ: مُحَمَّدُ بْنُ حَجَرِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ
بْنِ وَائِلٍ، عَنْ عَمِّهِ سَعِيدٍ، لَهُ مَنَاكِيرُ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ، وَأُمُّ
عَبْدِ الْجَبَّارِ هِيَ أُمُّ يَحْيَى، لَمْ أَعْرِفْ حَالَهَا وَلَا اسْمَهَا.
Adapun lafadz "di atas dadanya" merupakan
tambahan yang hanya diriwayatkan oleh Muammal bin Isma'il di antara para murid
Ats-Tsauri. Padahal ia buruk hafalannya. Para murid Ashim yang meriwayatkan
hadits ini darinya juga tidak menyebutkan lafadz tersebut. Oleh karena itu,
tambahan ini termasuk riwayat syadz.
Abu Dawud (no. 759) meriwayatkan melalui jalur Abu Taubah,
dari Al-Haitsam bin Humaid, dari Tsaur, dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus, ia
berkata:
"Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, kemudian
menggenggam keduanya di atas dadanya ketika sedang shalat."
Sulaiman bin Musa adalah Ad-Dimasyqi Al-Asydaq. Dalam
haditsnya terdapat sedikit kelemahan, dan ia mengalami kekeliruan pada akhir
hayatnya sesaat sebelum wafat. Selain itu, hadits tersebut berstatus mursal.
Al-Baihaqi (2/30) meriwayatkan melalui jalur Muhammad bin
Hajar Al-Hadhrami, dari Sa'id bin Abdul Jabbar bin Wa'il, dari ayahnya, dari
ibunya, dari Wa'il bin Hujr, ia berkata:
"Aku menghadiri Rasulullah ﷺ ketika beliau datang atau ketika beliau berangkat menuju
masjid. Beliau masuk ke mihrab, lalu mengangkat kedua tangannya untuk
bertakbir, kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas
dadanya."
Ibnu At-Turkumani berkata:
"Muhammad bin Hajar bin
Abdul Jabbar bin Wa'il meriwayatkan dari pamannya, Sa'id, beberapa hadits
munkar."
Demikian yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi.
Sedangkan ibu Abdul Jabbar adalah Ummu Yahya. Aku tidak
mengetahui keadaan dirinya dan juga tidak mengetahui namanya. [[Selesai
kutipan dari al-Arna’uth]]
====
Keempat: Syeikh al-Albani
Syaikh Al-Albani dalam kitab Shifat Shalat An-Nabi hlm. 69,
maka dia berkata:
«وَضْعُهُمَا
عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ، وَخِلَافُهُ إِمَّا ضَعِيفٌ،
أَوْ لَا أَصْلَ لَهُ» انْتَهَى.
“Meletakkan kedua tangan di atas dada adalah yang terbukti
dalam sunnah. Adapun selain itu, maka antara lemah atau tidak memiliki asal
(dasar riwayat) sama sekali.” [Selesai kutipan dari Shifat Shalat An-Nabi hlm.
69].
Syeikh al-Albani dalam Ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah 1/240
no. 479:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ؛ لِأَنَّ مُؤَمَّلًا وَهُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ سَيِّئُ الْحِفْظِ،
لَكِنَّ الْحَدِيثَ صَحِيحٌ، جَاءَ مِنْ طُرُقٍ أُخْرَى بِمَعْنَاهُ، وَفِي الْوَضْعِ
عَلَى الصَّدْرِ أَحَادِيثُ تَشْهَدُ لَهُ.
“Sanadnya lemah karena Muammal, yaitu Muammal bin Isma'il,
memiliki hafalan yang buruk. Namun hadits tersebut sahih karena datang melalui
jalur-jalur lain yang semakna dengannya. Dan mengenai peletakan kedua tangan di
atas dada, terdapat beberapa hadits yang menjadi penguat dan saksi bagi makna
tersebut”. [Selesai]
Namun Syu'aib Al-Arna'uth dalam tahqiq kitab
Al-'Awashim wa Al-Qawashim (3/7), menanggapinya dengan mengatakan:
وَقَوْلُ الشَّيْخِ نَاصِرِ الْأَلْبَانِيِّ فِي «صِفَةِ الصَّلَاةِ» ص 79: «وَضْعُهُمَا
عَلَى الصَّدْرِ هُوَ الَّذِي ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ» فِيهِ مَا فِيهِ.
Adapun pernyataan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam
Shifat Ash-Shalah hlm. 79: "Meletakkan kedua tangan di atas dada adalah
yang terbukti dalam sunnah," maka pernyataan tersebut masih perlu
ditinjau’. [Selesai kutipan dari al-Arna’uth]
Imam Ibnul Qayyim berkata dalam Bada'i' Al-Fawa'id (3/91):
وَاخْتُلِفَ فِي مَوْضِعِ الْوَضْعِ، فَعَنْهُ (أَيْ: عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ):
فَوْقَ السُّرَّةِ، وَعَنْهُ: تَحْتَهَا، وَعَنْهُ: قَالَ أَبُو طَالِبٍ: سَأَلْتُ
أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ أَيْنَ يَضَعُ يَدَهُ إِذَا كَانَ يُصَلِّي؟ قَالَ: عَلَى السُّرَّةِ
أَوْ أَسْفَلَ، وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ عِنْدَهُ إِنْ وَضَعَ فَوْقَ السُّرَّةِ، أَوْ
عَلَيْهَا، أَوْ تَحْتَهَا.
"Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat
meletakkan kedua tangan.
Dari Imam Ahmad terdapat riwayat bahwa keduanya diletakkan
di atas pusar.
Ada pula riwayat bahwa keduanya diletakkan di bawah pusar.
Dan Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin
Hanbal, 'Di manakah seseorang meletakkan tangannya ketika shalat?' Beliau
menjawab, 'Di atas pusar atau di bawahnya.'
Menurut beliau semua itu luas (diperbolehkan); baik
diletakkan di atas pusar, tepat pada pusar, maupun di bawahnya." [kutipan
selesai]
====
Kelima : adh-Dhiyaa al-A’dzomi
Beliau dalam al-Jami’ al-Kamil 2/483 berkata:
فَمِثْلُ هَذَا يُعْتَبَرُ حَدِيثُهُ إِذَا وَافَقَ عَلَيْهِ الثِّقَاتُ الْآخَرُونَ،
وَقَدْ وَجَدْنَا مَنْ وَافَقَ عَلَى رِوَايَتِهِ حَدِيثَ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى
الصَّدْرِ. انْظُرْ فِي ذَلِكَ: «فَتْحُ الْغَفُورِ فِي وَضْعِ الْأَيْدِي عَلَى الصُّدُورِ»
“Orang seperti Muammal ini, haditsnya dapat
dipertimbangkan apabila didukung dan sesuai dengan riwayat para perawi tsiqah
lainnya.
Dan kami telah menemukan adanya perawi lain yang mendukung
riwayatnya dalam hadits tentang meletakkan kedua tangan di atas dada. Lihat
pembahasan tersebut dalam kitab Fath Al-Ghafur fi Wadh' Al-Aydi 'ala
Ash-Shudur”.
Akan tetapi Mahir Yasin Fahl Al-Haiti dalam kitab Atsar
Ikhtilaf Al-Asanid wa Al-Mutun fi Ikhtilaf Al-Fuqaha' hlm. 377 berkata:
إِلَّا أَنَّهَا مُتَابَعَةٌ ضَعِيفَةٌ، فَمُحَمَّدُ بْنُ حَجَرٍ قَالَ عَنْهُ
الْبُخَارِيُّ: كُوفِيٌّ، فِيهِ بَعْضُ النَّظَرِ (انْظُرْ: الضُّعَفَاءُ الْكَبِيرُ
لِلْعُقَيْلِيِّ 4/59، وَالْكَامِلُ فِي ضُعَفَاءِ الرِّجَالِ لِابْنِ عَدِيٍّ
7/343).
وَرِوَايَةُ مُؤَمَّلٍ مَعَ شِدَّةِ فَرْدِيَّتِهَا، وَاضْطِرَابِهِ فِيهَا، لَا
تَصِحُّ لِشِدَّةِ مُخَالَفَتِهِ بِهَا الرُّوَاةَ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَالرُّوَاةَ
عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ، وَالرُّوَاةَ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ.
Akan tetapi, mutaba'ah ini lemah. Sebab, Muhammad bin
Hajar dinilai oleh Al-Bukhari:
كُوفِيٌّ، فِيهِ بَعْضُ النَّظَرِ.
“Seorang Kufah yang pada dirinya terdapat beberapa hal
yang perlu ditinjau.”
(Lihat: Adh-Dhu'afa' Al-Kabir karya Al-Uqaili, 4/59, dan
Al-Kamil fi Dhu'afa' Ar-Rijal karya Ibnu Adi, 7/343).
Riwayat Muammal, di samping sangat menyendiri, juga
mengalami kegoncangan dalam periwayatannya. Oleh karena itu, riwayat tersebut
tidak sahih karena kuatnya penyelisihan yang ia lakukan terhadap para perawi
yang meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, para perawi yang meriwayatkan dari
Ashim bin Kulaib, dan para perawi yang meriwayatkan dari Wa'il bin Hujr”. [Selesai]
Dan Mahir Yasin Fahl Al-Haiti berkata pula dalam kitab
Atsar Ikhtilaf Al-Asanid wa Al-Mutun fi Ikhtilaf Al-Fuqaha' hlm. 377:
وَقَدْ تُرَدُّ الزِّيَادَةُ لِلِاخْتِلَافِ فِيهَا وَشِدَّةِ فَرْدِيَّتِهَا،
مِثَالُ ذَلِكَ حَدِيثُ مُؤَمَّلِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمِ
بْنِ كُلَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ.
Terkadang suatu tambahan riwayat (ziyadah) ditolak karena
adanya perbedaan dalam periwayatannya serta karena sangat menyendirinya
tambahan tersebut.
Contohnya adalah hadits Muammal bin Isma'il, dari Sufyan,
dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr, ia berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ
الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
di atas dadanya.”
===***===
PEMBAHASAN KETIGA:
PREDIKAT PARA PERAWI HADITS YANG
DISEBUTKAN DI ATAS
SECARA ILMU JARH WA TA’DIL
-----
PERAWI KE [1]
Alqamah bin Wa'il bin Hujr Al-Hadhrami Al-Kufi: seorang
yang jujur (shaduq), hanya saja ia tidak mendengar hadits langsung dari
ayahnya. (Tahdzib Al-Kamal 5/221 no. 4609, Al-Kasyif 2/34 no. 3876, At-Taqrib
no. 4684).
----
PERAWI KE [2]
Abdul Jabbar bin Wa'il bin Hujr: seorang perawi tsiqah,
namun meriwayatkan secara mursal dari ayahnya. Wafat pada tahun 112 H.
----
PERAWI KE [3]
Ashim bin Kulaib bin Syihab bin Al-Majnun Al-Jarmi
Al-Kufi. Ia seorang yang utama dan ahli ibadah. Abu Bakr Al-Atsram menukil dari
Ahmad bin Hanbal: “Tidak mengapa dengan haditsnya.” Ahmad bin Sa'd menukil dari
Yahya bin Ma'in: “Tsiqah.” Demikian pula An-Nasa'i menilainya tsiqah. Abu Hatim
berkata: “Shalih.” Abu Dawud berkata: “Ia adalah orang terbaik pada masanya dan
termasuk ahli ibadah.” Syarik berkata: “Ia seorang Murji'ah.” Ibnu Al-Madini
berkata: “Tidak dijadikan hujjah pada riwayat yang hanya ia sendiri
meriwayatkannya.” Ibnu Sa'd berkata: “Ia seorang tsiqah yang dijadikan hujjah,
namun haditsnya tidak banyak.” Wafat pada tahun 137 H.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 4/19 no. 3011, Al-Kasyif 1/521 no.
2516, Mizan Al-I'tidal 2/356, Tarikh Al-Islam (Wafat tahun 137 H) hlm. 457, dan
Tahdzib At-Tahdzib 5/55–56.
----
PERAWI KE [4]
Kulaib bin Syihab bin Al-Majnun Al-Jarmi Al-Kufi: seorang
yang jujur (shaduq), termasuk generasi tabi'in tingkat kedua. Keliru orang yang
memasukkannya ke dalam golongan sahabat. Abu Zur'ah berkata: “Tsiqah.”
An-Nasa'i berkata: “Kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkan darinya selain
putranya Ashim dan Ibrahim bin Muhajir.” Muhammad bin Sa'd berkata: “Ia seorang
tsiqah dari kabilah Qudha'ah. Aku melihat para ulama memandang baik haditsnya
dan berhujjah dengannya.”
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 6/174 no. 5580 dan At-Taqrib no.
5660.
---
PERAWI KE [5]
Imam hafizh yang sangat teliti, Abu Ishaq Ibrahim bin
Sa'id Al-Jauhari Al-Baghdadi. Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: “Ia banyak
meriwayatkan hadits dan sangat kokoh hafalannya.” Ia menyusun kitab Musnad.
Terdapat perbedaan pendapat tentang tahun wafatnya; ada yang mengatakan tahun
249 H, ada yang mengatakan 247 H, ada yang mengatakan 249 H, dan ada yang
mengatakan 253 H.
Lihat: Tarikh Baghdad 6/93–95, Tahdzib Al-Kamal 1/112 no.
172, dan Siyar A'lam An-Nubala' 12/149–151. Hadits tersebut diriwayatkan oleh
Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyf Al-Astar no. 268, Ibnu Adi dalam Al-Kamil
7/344, dan Al-Baihaqi 2/30.
---
PERAWI KE [6]
Sa'id bin Abdul Jabbar bin Wa'il bin Hujr. Al-Bukhari
berkata tentangnya: “Padanya terdapat masalah.” An-Nasa'i berkata: “Tidak
kuat.” Ibnu Adi berkata: “Ia tidak memiliki banyak hadits.” Ibnu Hajar berkata:
“Lemah.”
Lihat: At-Tarikh Al-Kabir 3/495, Al-Kamil fi Dhu'afa'
Ar-Rijal 4/438, Tahdzib Al-Kamal 3/178 no. 2289, Tahdzib At-Tahdzib 4/53–54,
dan At-Taqrib no. 2344.
----
PERAWI KE [7]
Abdullah bin Al-Walid bin Maimun, Abu Muhammad Al-Makki,
yang dikenal dengan Al-'Adani: seorang yang jujur (shaduq), namun terkadang
melakukan kesalahan.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 4/316 no. 3631, Al-Kasyif 1/606
no. 3046, dan At-Taqrib no. 3692.
-----
PERAWI KE [8]
Za'idah bin Qudamah Ats-Tsaqafi, Abu Ash-Shalt Al-Kufi:
seorang perawi tsiqah yang kokoh dan pengikut sunnah. Wafat pada tahun 161 H,
dan ada yang mengatakan tahun 160 H.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 3/7 no. 1935, Al-Kasyif 1/400 no.
1608, dan At-Taqrib no. 1982.
----
PERAWI KE [9]
Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan Adh-Dhabbi, maula mereka,
Abu Abdurrahman Al-Kufi: seorang yang jujur (shaduq), berilmu, namun dituduh
memiliki kecenderungan Syiah. Wafat pada tahun 195 H, dan ada yang mengatakan
tahun 194 H.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 6/478 no. 6139, Al-Kasyif 2/211
no. 5115, dan At-Taqrib no. 6227.
----
PERAWI KE [10]
Zuhair bin Mu'awiyah bin Hudaij, Abu Khaitsamah Al-Ju'fi
Al-Kufi: seorang perawi tsiqah dan kokoh hafalannya, hanya saja periwayatannya
dari Abu Ishaq berasal dari masa akhir kehidupan Abu Ishaq. Wafat pada tahun
173 H.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 3/38 no. 2004, Al-Kasyif 1/408 no.
1668, dan At-Taqrib no. 2051.
----
PERAWI KE [11]
Qais bin Ar-Rabi' Al-Asadi, Abu Muhammad Al-Kufi: seorang
yang jujur (shaduq). Hafalannya berubah ketika telah tua, dan putranya
memasukkan ke dalam riwayatnya hadits-hadits yang bukan berasal darinya lalu ia
meriwayatkannya. Wafat sekitar tahun 160-an Hijriah.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 6/133 no. 5492, Al-Kasyif 2/139
no. 4600, dan At-Taqrib no. 5573.
---
PERAWI KE [12]
Abdul Wahid bin Ziyad Al-'Abdi, maula mereka, penduduk
Bashrah: seorang perawi tsiqah. Hanya saja terdapat pembicaraan ulama mengenai
riwayatnya dari Al-A'masy secara khusus. Wafat pada tahun 176 H.
Lihat: Tahdzib Al-Kamal 5/7 no. 4173, Al-Kasyif 1/672 no.
3501, dan At-Taqrib no. 4240.
PEMBAHASAN KEEMPAT:
PEMAHAMAN SALAF MAKNA LAFADZ TAMBAHAN “DIATAS
DADA”
Para fuqoha dari Syafi’iyyah dan madzhab Malikiyyah
memaknai bahwa maksud lafadz “عَلَى صَدْرِهِ” adalah bagian bawah akhir dari dada.
Disebutkan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah
(38/369):
«وَمَكَانُ
وَضْعِ الْيَدَيْنِ، بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ: هُوَ تَحْتَ الصَّدْرِ، وَفَوْقَ السُّرَّةِ.
وَهَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ.
وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، لِمَا رَوَى وَائِلُ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: صَلَّيْتُ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى
صَدْرِهِ».
“Tempat meletakkan kedua tangan dengan tata cara tersebut
adalah di bawah dada dan di atas pusar. Ini merupakan pendapat Malikiyah,
Syafi'iyah, dan salah satu riwayat dalam mazhab Hanabilah. Demikian pula
pendapat Sa'id bin Jubair.
Hal ini berdasarkan hadits Wa'il bin Hujr yang berkata: ‘Aku
shalat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di
atas tangan kirinya pada dadanya.’”
Dan masih dalam al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah
27/28, di sebutkan:
وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُسَنُّ وَضْعُ الْيَدَيْنِ تَحْتَ الصَّدْرِ
وَفَوْقَ السُّرَّةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ فِي الْقَبْضِ فِي النَّفْل،
لِحَدِيثِ وَائِل بْنِ حُجْرٍ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى
عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ قَالُوا: أَيْ آخِرُهُ فَتَكُونُ الْيَدُ
تَحْتَهُ بِقَرِينَةِ رِوَايَةِ (تَحْتَ صَدْرِهِ) ، وَالْحِكْمَةُ فِي جَعْلِهِمَا
تَحْتَ صَدْرِهِ: أَنْ يَكُونَ فَوْقَ أَشْرَفِ الأَْعْضَاءِ وَهُوَ الْقَلْبُ، فَإِنَّهُ
تَحْتَ الصَّدْرِ.
قَال الإِْمَامُ: وَالْقَصْدُ مِنَ الْقَبْضِ الْمَذْكُورِ تَسْكِينُ الْجَوَارِحِ، فَإِنْ أَرْسَلَهُمَا
وَلَمْ يَعْبَثْ بِهِمَا فَلَا بَأْسَ، كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الأُْمِّ
Artinya : “Madzhab Syafi'iyyah berpendapat bahwa
disunnahkan meletakkan kedua tangan di bawah dada dan di atas pusar. Ini juga
merupakan Madzhab Malikiyyah dalam masalah qabdh (bersedekap) pada shalat
sunnah.
Dalilnya adalah hadits Wa'il bin Hujr:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى
عَلَى صَدْرِهِ
‘Aku shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
di atas dadanya’.
Mereka berkata: Yang dimaksud adalah bagian akhir
(bawah) dada, sehingga posisi tangan berada di bawah dada. Hal ini diperkuat
oleh riwayat yang berbunyi:
(تَحْتَ
صَدْرِهِ)
“di bawah dadanya”.
Adapun hikmah diletakkannya kedua tangan di bawah dada
adalah agar keduanya berada di atas anggota tubuh yang paling mulia, yaitu
hati, karena hati berada di bawah dada.
Imam (An-Nawawi) berkata: “Tujuan dari qabdh (bersedekap)
yang disebutkan tersebut adalah untuk menenangkan anggota badan. Jika seseorang
melepaskan kedua tangannya (tidak bersedekap) dan tidak mempermainkannya, maka
tidak mengapa, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Al-Umm.”
Ibnul Qayyim dalam kitab Badā'i‘ Al-Fawā’id
(3/91) menukil dari Imam Ahmad mengenai tempat meletakkan tangan dalam shalat.
Beliau berkata:
وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْعَلَهَا عَلَى الصَّدْرِ، وَذَلِكَ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ أَنَّهُ نَهَى عَنِ التَّكْفِيرِ، وَهُوَ وَضْعُ الْيَدِ عَلَى الصَّدْرِ.
‘Dimakruhkan menjadikan kedua tangan di atas dada, karena
diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang at-takfīr, yaitu meletakkan tangan di atas dada.”
Al-Hafidz Ibnu al-Mulaqqin (wafat 804 H) dalam ‘Ujaalatul
Muhtaaj 1/222 berkata:
وَجَعْلُ يَدَيْهِ تَحْتَ صَدْرِهِ آخِذًا بِيَمِينِهِ يَسَارَهُ؛ لِمَا رَوَى
ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ. وَلِلْبَزَّارِ: «عِنْدَ صَدْرِهِ». وَكَأَنَّ
الْمُرَادَ آخِرُ الصَّدْرِ.
Dan seseorang menjadikan kedua tangannya di bawah dadanya,
dengan tangan kanan memegang tangan kirinya. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu
Khuzaimah dari Wa’il bin Hujr yang berkata:
‘Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di
atas dadanya’.
Dalam riwayat Al-Bazzar disebutkan: ‘Di dekat
dadanya.’
Seakan-akan yang dimaksud adalah bagian akhir (bawah)
dada”. [Selesai]
Abu al-Baqoo ad-Dumairi asy-Syafi’i dalam an-Najmul
Wahhaaj 2/180 berkata:
قَالَ: «وَجَعْلُ يَدَيْهِ تَحْتَ صَدْرِهِ»؛ لِمَا رَوَى ابْنُ خُزَيْمَةَ
[479] عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: «صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَوَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ».
وَعِبَارَةُ الْأَصْحَابِ: تَحْتَ صَدْرِهِ، فَكَأَنَّهُمْ جَعَلُوا التَّفَاوُتَ
بَيْنَهُمَا يَسِيرًا.
Beliau (an-Nawawi) berkata: “Dan menjadikan kedua
tangannya di bawah dadanya.”
Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Khuzaimah (no. 479) dari
Wa’il bin Hujr yang berkata:
“Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di
atas tangan kirinya di atas dadanya.”
Sedangkan redaksi para ulama Madzhab Syafi’i (ashhab)
adalah: “di bawah dadanya.”
Seakan-akan mereka memandang bahwa perbedaan antara kedua
ungkapan tersebut hanyalah sedikit”. [Selesai]
Dan Zakaria al-Anshari dalam Asnaa al-Matholib 1/145
berkata:
"رَوَى
ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ عَنْ «وَائِلِ بْنِ حُجْرٌ صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ
- ﷺ - فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
أَيْ آخِرِهِ فَتَكُونُ الْيَدُ تَحْتَهُ بِقَرِينَةِ رِوَايَةِ تَحْتَ صَدْرِهِ ...
وَالْحِكْمَةُ فِي جَعْلِهِمَا تَحْتَ الصَّدْرِ أَنْ يَكُونَا فَوْقَ أَشْرَفِ
الْأَعْضَاءِ وَهُوَ الْقَلْبُ فَإِنَّهُ تَحْتَ الصَّدْرِ وَقِيلَ الْحِكْمَةُ فِيهِ
أَنَّ الْقَلْبَ مَحَلُّ النِّيَّةِ، وَالْعَادَةُ جَارِيَةٌ بِأَنَّ مَنْ احْتَفَظَ
عَلَى شَيْءٍ جَعَلَ يَدَيْهِ عَلَيْهِ وَلِهَذَا يُقَالُ فِي الْمُبَالَغَةِ أَخَذَهُ
بِكِلْتَا يَدَيْهِ؟.
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Wa’il
bin Hujr:
“Aku shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
di atas dadanya.”
Maksudnya adalah pada bagian akhir (bawah) dada, sehingga
posisi tangan berada di bawah dada. Hal ini diperkuat oleh riwayat yang
menyebutkan: “di bawah dadanya.” ....
Hikmah diletakkannya kedua tangan di bawah dada adalah
agar keduanya berada di atas anggota tubuh yang paling mulia, yaitu hati,
karena hati terletak di bawah dada.
Ada pula yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena
hati merupakan tempat niat. Kebiasaan yang berlaku menunjukkan bahwa seseorang
yang menjaga atau memelihara sesuatu akan meletakkan kedua tangannya di
atasnya.
Karena itulah dalam ungkapan yang menunjukkan penegasan
atau kesungguhan dikatakan: “Ia mengambilnya dengan kedua tangannya.”
ADAKAH ULAMA SALAF YANG MENGAMALKAN-NYA DI ATAS DADA?
Yakni adakah para ulama salaf terdahulu yang memahami lafadz
“di atas dada” dalam hadits tersebut dengan mempraktekannya meletakkan kedua
tangannya di atas dada saat sholat?
Dalam hal ini, Syeikh Mahir Yasin Fahl Al-Haiti, pakar
hadits dari Iraq, dalam kitab Atsar Ikhtilaf Al-Asanid wa Al-Mutun fi Ikhtilaf
Al-Fuqaha’ hlm. 377 menegaskan:
أَنَّنِي لَمْ أَجِدْ نَقْلًا قَوِيًّا عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ يَقُولُ بِوَضْعِ
الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى عَلَى الصَّدْرِ؛ فَهِيَ زِيَادَةٌ أَيْضًا مُخَالِفَةٌ
بِعَدَمِ عَمَلِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Sungguh saya tidak menemukan satu pun riwayat yang kuat
dari kalangan salaf yang menyatakan bahwa tangan kanan diletakkan di
atas tangan kiri DI ATAS DADA. Dengan demikian, tambahan lafadz ini juga
menyelisihi (amalan salaf) karena tidak diamalkan oleh para ahli ilmu. Wallahu
a’lam”. [Kutipan Selesai]
Syaikh Abdul Aziz Al-Khathib Al-Hasani, salah seorang
ulama Damaskus, pernah ditanya:
مَا حُكْمُ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ فِي الصَّلَاةِ كَمَا يَفْعَلُهُ
الْجَهَلَةُ؟
“Apa hukum meletakkan kedua
tangan di atas dada dalam shalat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang
awam yang tidak berilmu?”
Jawaban Beliau:
الْقَوْلُ بِوَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ فِي الصَّلَاةِ هُوَ مِنْ بِدَعِ
الْمُتَأَخِّرِينَ، وَلَمْ يَرِدْ أَبَدًا عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ أَوِ السَّلَفِ
أَوْ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْقَوْلُ بِوَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ أَبَدًا.
وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْهُمْ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ، بِحَسَبِ تَعَدُّدِ أَفْعَالِ
سَيِّدِنَا النَّبِيِّ ﷺ وَنَقْلِ الصَّحَابَةِ عَنْهُ، وَهِيَ:
1-
وَضْعُهُمَا فَوْقَ السُّرَّةِ تَحْتَ الصَّدْرِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلٌ
لِأَحْمَدَ.
2-
وَضْعُهُمَا تَحْتَ السُّرَّةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ.
3-
الْإِسْبَالُ عَلَى الْجَانِبَيْنِ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ.
وَأَمَّا وَضْعُ الْيَدَيْنِ عَلَى الصَّدْرِ فَلَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ مِنَ
السَّلَفِ، بَلْ نَصَّ الْأَئِمَّةُ عَلَى كَرَاهَتِهِ.
قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ مُفْلِحٍ الْحَنْبَلِيُّ فِي «الْفُرُوعِ»: (وَيُكْرَهُ
وَضْعُهُمَا عَلَى صَدْرِهِ، نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ).
وَقَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي «بَدَائِعِ الْفَوَائِدِ»: (وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْعَلَهُمَا
عَلَى الصَّدْرِ، وَذَلِكَ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ نَهَى عَنِ التَّكْفِيرِ،
وَهُوَ وَضْعُ الْيَدِ عَلَى الصَّدْرِ).
وَقَالَ الْإِمَامُ الْبُهُوتِيُّ الْحَنْبَلِيُّ: (وَيُكْرَهُ جَعْلُ يَدَيْهِ عَلَى صَدْرِهِ،
نَصَّ عَلَيْهِ مَعَ أَنَّهُ رَوَاهُ).
وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَتَضَعُ يَدَيْهَا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ عَلَى صَدْرِهَا،
كَمَا نَقَلَهُ الْكَاسَانِيُّ فِي «بَدَائِعِ الصَّنَائِعِ».
Pendapat yang mengatakan bahwa kedua tangan diletakkan di
atas dada dalam shalat merupakan bid'ah yang muncul pada kalangan ulama
belakangan. Tidak pernah diriwayatkan sama sekali dari seorang pun sahabat,
salaf, ataupun imam-imam Madzhab pendapat yang menyatakan bahwa kedua tangan
diletakkan di atas dada.
Yang diriwayatkan dari mereka hanyalah tiga pendapat,
sesuai dengan beragamnya praktik yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan yang dinukil oleh para sahabat dari beliau, yaitu:
1]. Meletakkan kedua tangan di atas pusar dan di bawah
dada. Ini adalah Madzhab Imam Asy-Syafi'i dan salah satu riwayat dari Imam
Ahmad.
2]. Meletakkan kedua tangan di bawah pusar. Ini adalah Madzhab
Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.
3]. Melepaskan kedua tangan di samping badan (isbal). Ini
adalah salah satu pendapat dalam Madzhab Malikiyyah.
Adapun meletakkan kedua tangan di atas dada, maka tidak
seorang pun dari kalangan salaf yang berpendapat demikian. Bahkan para imam
secara tegas menyatakan makruhnya hal tersebut.
Imam Ibn Muflih berkata dalam Al-Furu':
“Makruh meletakkan kedua tangan di atas dada. Imam Ahmad telah
menegaskan hal itu.” [Lihat: al-Furu’ 1/361 (cetakan Mu'assasah
Ar-Risalah, tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki)]
Ibnul Qayyim berkata dalam Bada'i'
Al-Fawa'id: “Dimakruhkan menjadikan kedua tangan di atas dada. Hal itu
karena diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang takfir, yaitu meletakkan tangan di atas
dada.” [Lihat: Bada'i' Al-Fawa'id 3/78-79]
Imam Al-Buhuti berkata: “Dimakruhkan
menjadikan kedua tangannya di atas dadanya. Imam Ahmad telah menegaskan hal itu,
meskipun beliau meriwayatkannya.” [Lihat: Kasyaf al-Qinaa’ 1/334]
Adapun wanita, maka menurut Madzhab Hanafiyyah ia
meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, sebagaimana dinukil oleh Al-Kasani
dalam Bada'i' Ash-Shana'i'. [Kutipan Selesai]
Berbeda dengan Al-Mala’ al-Qori ( wafat 1014 H / 1606 M)
dalam Mirqootul Mafaatiih 2/569, maka dia berkata:
فَمَا ادَّعَاهُ ابْنُ حَجَرٍ مِنْ أَنَّ سُنَّةَ الْوَضْعِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ
سُرَّتِهِ وَصَدْرِهِ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ: «أَنَّهُ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – وَضَعَ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»، أَيْ: آخِرَهُ فَيَكُونَانِ
تَحْتَهُ بِقَرِينَةِ رِوَايَةِ «تَحْتَ صَدْرِهِ»، غَيْرُ صَحِيحٍ، وَإِلَّا فَيَحْتَاجُ
إِلَى تَصْرِيحٍ.
ثُمَّ قَالَ: وَجَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى:
﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾ [الكوثر: 2]، أَيْ: وَضْعُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى
تَحْتَ النَّحْرِ. اهـ.
وَقَدْ تَقَدَّمَ الْجَوَابُ عَنْهُ.
ثُمَّ قَالَ: وَالسُّنَّةُ أَنْ يَقْبِضَ بِكَفِّ الْيُمْنَى كُوعَ الْيُسْرَى،
وَهُوَ الْعَظْمُ الَّذِي يَلِي الْإِبْهَامَ، وَبَعْضَ رُسْغِهَا، وَهُوَ الْمِفْصَلُ
بَيْنَ الْكَفِّ وَالسَّاعِدِ، وَسَاعِدَهَا، وَبِأَصَابِعِهَا مِفْصَلَ الْيُسْرَى؛
لِأَنَّهُ صَحَّ «عَنْهُ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – أَنَّهُ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى
عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى، وَالرُّسْغِ، وَالسَّاعِدِ»، وَرَوَى الشَّيْخَانِ:
«أَنَّهُ أَخَذَ بِيَمِينِهِ يَسَارَهُ» فِي الصَّلَاةِ.
وَمَحَلُّ الْوَضْعِ مِنْهَا كُلُّ قِيَامٍ فِيهِ ذِكْرٌ مَشْرُوعٌ. (رَوَاهُ
الْبُخَارِيُّ).
Adapun apa yang diklaim oleh Ibnu Hajar (wafat 852 H/ 1449
M) bahwa sunnahnya meletakkan kedua tangan adalah di antara pusar dan dada
berdasarkan hadits sahih: “Bahwa beliau ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan
kirinya di atas dadanya,” yakni pada bagian akhir (bawah) dada sehingga kedua tangan
berada di bawahnya, dengan petunjuk dari riwayat yang berbunyi “di bawah
dadanya”.
Maka pendapat ini tidak tepat. Sebab, kalau memang
demikian maksudnya, tentu memerlukan penjelasan yang tegas.
Kemudian beliau (Ibnu Hajar) berkata:
“Dan telah datang riwayat dari Ibnu Abbas dalam tafsir
firman Allah Ta'ala: ‘Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.’
(Al-Kautsar: 2), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah
leher bagian atas (an-nahr).”
Maka jawaban terhadap dalil ini telah
dijelaskan sebelumnya.
Kemudian beliau berkata:
“Dan sunnahnya adalah menggenggam dengan telapak tangan
kanan bagian الكُوْعُ (tulang yang berada di sisi ibu jari) dari tangan kiri, serta
sebagian pergelangannya. Pergelangan itu adalah sendi yang menghubungkan
telapak tangan dengan lengan bawah. Juga menggenggam lengan bawahnya dan sendi
tangan kiri dengan jari-jari tangan kanan.
Karena telah sahih dari beliau ﷺ bahwa beliau meletakkan tangan kanannya di
atas punggung telapak tangan kirinya, pergelangannya, dan lengan bawahnya.
Dan Al-Bukhari serta Muslim meriwayatkan: ‘bahwa beliau
ﷺ menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanannya.”
(Dalam shalat), tempat peletakan tangan tersebut adalah
pada setiap posisi berdiri yang di dalamnya terdapat dzikir yang disyariatkan.
Riwayat ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari”. [Selesai]
Penulis katakan:
Pertama : al-Mala’ al-Qori ini hanya melihat
text hadits yang ada, tapi tidak melihat realita praktek amalan dan pemahaman
yang sudah diakui secara turun temurun sejak masa salaf.
Kemudian Al-Hafidz Ibnu Hajar yang dikritisi oleh al-Mala’,
dia lebih senior, masa tenggang wafatnya
sekitar 162 tahun, tentunya dia lebih tahu hal itu.
Kedua : terkait astar Ibnu Abbas
tentang tafsir kata “surat al-Kautsar ayat no. 2, al-Imam Ibnu Jarir ath-Thobari
dalam Tafsirnya 24/562 meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali bin Abi Tholib
radhiyallahu ‘anhu, bukan dari Ibnu Abbas. Begitu pula al-Imam al-Qurthubi
dalam Tafsirnya 20/219 dan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 8/503.
Al-Hafidz Ibnu Katsir:
وَقِيلَ: الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: ﴿وَانْحَرْ﴾ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى
الْيُسْرَى تَحْتَ النَّحْرِ. يُرْوَى هَذَا عَنْ عَلِيٍّ، وَلَا يَصِحُّ. وَعَنِ الشَّعْبِيِّ
مِثْلَهُ
“Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman
Allah Ta'ala (وَانْحَرْ) adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah
leher bagian bawah (an-nahr). Pendapat ini diriwayatkan dari Ali, namun tidak
sahih darinya. Dan dari Asy-Sya'bi juga diriwayatkan pendapat yang serupa”.
Kemudian Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
وَالصَّحِيحُ الْقَوْلُ الْأَوَّلُ، أَنَّ الْمُرَادَ بِالنَّحْرِ ذَبْحُ الْمَنَاسِكِ؛
وَلِهَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي الْعِيدَ، ثُمَّ يَنْحَرُ نُسُكَهُ، وَيَقُولُ: «مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا،
فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَا نُسُكَ لَهُ».
فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَسَكْتُ
شَاتِي قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ».
قَالَ: «شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ».
قَالَ: «فَإِنَّ عِنْدِي عِنَاقًا هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتُجْزِئُ
عَنِّي؟». قَالَ: «تُجْزِئُكَ، وَلَا تُجْزِئُ أَحَدًا بَعْدَكَ».
“Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu bahwa
yang dimaksud dengan an-nahr adalah menyembelih hewan kurban. Oleh karena itu
Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat Id kemudian menyembelih hewan
kurbannya dan bersabda:
‘Barang siapa melaksanakan shalat seperti shalat kami dan
menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan ibadah
kurban. Dan barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka tidak ada kurban
baginya.’
Lalu Abu Burdah bin Niyar berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku
telah menyembelih kambingku sebelum shalat, dan aku mengetahui bahwa hari ini
adalah hari ketika orang-orang menginginkan daging.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Kambingmu hanyalah kambing untuk daging.’
Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku memiliki seekor anak kambing
betina yang lebih aku sukai daripada dua ekor kambing. Apakah itu cukup
untukku?’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Itu mencukupimu dan tidak akan mencukupi seorang pun
setelahmu.’”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 983
dari hadits Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu]. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir
8/503)
Dan pendapat al-Mala’ al-Qori
ini, diikuti oleh sbb:
As-Sindi rahimahullah (wafat 1138 H) Ash-Shan’ani (wafat 1182
H/ 1768 M) dalam Subul As-Salam 1/168,
Asy-Syawkani (wafat 1250 H/ dalam Neil al-Awthor 2/220, Al-Mubarakfuri
(wafat 1353 H/ 1934) dalam Tuhfat Al-Ahwadzi 2/84 dan juga oleh penulis kitab ‘Aun
Al-Ma’bud 1/325.
Abul Hasan Muhammad As-Sindi rahimahullah (wafat tahun
1138 H) berkata:
وَبِالْجُمْلَةِ فَكَمَا صَحَّ أَنَّ الْوَضْعَ هُوَ السُّنَّةُ دُونَ الْإِرْسَالِ
ثَبَتَ أَنَّ مَحَلَّهُ الصَّدْرُ لَا غَيْرَ
“Secara keseluruhan, sebagaimana telah sahih bahwa
meletakkan tangan (qabdh) adalah sunnah, bukan melepaskannya (irsal), maka
telah tetap pula bahwa tempatnya adalah di dada dan bukan yang lain.” (Hasyiyah
As-Sindi 'ala Sunan Ibni Majah, 1/271).
Dan Asy-Syawkani (wafat 1250 H/ dalam Neil al-Awthor 2/220,
dia berkata:
وَاحْتَجَّتْ الشَّافِعِيَّةُ لِمَا ذَهَبَتْ إلَيْهِ بِمَا أَخْرَجَهُ ابْنُ
خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ وَصَحَّحَهُ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ «صَلَّيْت
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى
صَدْرِهِ» وَهَذَا الْحَدِيثُ لَا يَدُلُّ عَلَى مَا ذَهَبُوا إلَيْهِ لِأَنَّهُمْ
قَالُوا: إنَّ الْوَضْعَ يَكُونُ تَحْتَ الصَّدْرِ كَمَا تَقَدَّمَ
وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِأَنَّ الْوَضْعَ عَلَى الصَّدْرِ وَكَذَلِكَ حَدِيثُ
طَاوُسٍ الْمُتَقَدِّمُ وَلَا شَيْءَ فِي الْبَابِ أَصَحَّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ الْمَذْكُورِ
وَهُوَ الْمُنَاسِبُ لِمَا أَسْلَفْنَا مِنْ تَفْسِيرِ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ لِقَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾ [الكوثر: 2] بِأَنَّ النَّحْرَ وَضْعُ الْيُمْنَى
عَلَى الشِّمَالِ فِي مَحَلِّ النَّحْرِ وَالصَّدْرِ
Madzhab Syafi'iyyah berdalil
untuk pendapat mereka dengan hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam
Shahih-nya dan beliau mensahihkannya, dari hadits Wa'il bin Hujr, ia berkata:
“Aku shalat bersama Rasulullah
ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
di atas dadanya.”
Namun hadits ini tidak
menunjukkan pendapat yang mereka pilih, karena mereka berpendapat bahwa letak
kedua tangan adalah di bawah dada, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Sedangkan hadits tersebut
secara tegas menyatakan bahwa peletakan tangan itu berada di atas dada.
Demikian pula hadits Thawus yang telah disebutkan sebelumnya.
Tidak ada hadits dalam
pembahasan ini yang lebih sahih daripada hadits Wa'il tersebut. Hadits itu juga
sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya dari penafsiran Ali dan
Ibnu Abbas terhadap firman Allah Ta'ala:
“Maka dirikanlah shalat karena
Rabbmu dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 2)
Bahwa yang dimaksud dengan
an-nahr adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada daerah
an-nahr (pangkal leher bagian bawah) dan dada”. [Selesai]
Dan pendapat al-Mala’ al-Qori ini, dipilih oleh al-Allamah
Syeikh al-Albani rahimahullah.
PEMBAHASAN KE LIMA
PENGARUH HADITS TERHADAP
PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQAHA.
(Tentang Tempat Meletakkan Kedua
Tangan Saat Berdiri dalam Shalat)
Berikut ini penjelasan perbedaan
pendapat para fuqaha dalam masalah ini:
====
PENDAPAT PERTAMA:
Kedua tangan diletakkan di bawah
pusar.
Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah, Anas bin
Malik, dan Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam salah satu riwayat
darinya.
[Lihat: Syarh Muslim 2/39, Al-Mughni 1/515, Al-Muhalla
4/113, Asy-Syarh Al-Kabir 1/514, dan Nail Al-Authar 2/188.]
Ini juga merupakan Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad
dalam salah satu riwayat darinya, Sufyan Ats-Tsauri, Ishaq bin Rahuyah, Abu
Ishaq dari kalangan sahabat Imam Asy-Syafi’i, Abu Majlaz, dan An-Nakha’i.
[Lihat: Al-Hidayah 1/47, Al-Ikhtiyar li Ta’lil Al-Mukhtar
1/49, Bada’i’ Ash-Shana’i’ 1/201, Syarh Fath Al-Qadir 1/201, Al-Muhalla karya
Ibnu Hazm 4/114, Nail Al-Authar 2/188, Tabyin Al-Haqa’iq 1/111, At-Tamhid karya
Ibnu Abdil Barr 20/75, Al-Mughni 1/515, Syarh Az-Zarkasyi 1/298, Nail Al-Authar
2/189, Al-Muharrar 1/53, Asy-Syarh Al-Kabir 1/514, Syarh Muslim 2/39, Nail
Al-Authar 2/188, dan Al-Bahr Az-Zakhkhar 2/242.]
Dalam salah satu riwayat dari Imam Ahmad disebutkan bahwa
beliau memakruhkan meletakkan kedua tangan di atas dada, sebagaimana dinukil
darinya.
[Lihat: Al-Mubdi’ 1/432 dan Al-Furu’ 1/361.]
Ibnul Qayyim dalam kitab Badā'i‘ Al-Fawā’id
(3/91) menukil dari Imam Ahmad mengenai tempat meletakkan tangan dalam shalat.
Beliau berkata:
فَوْقَ السُّرَّةِ. وَعَنْهُ: تَحْتَهَا. وَعَنْهُ أَبُو طَالِبٍ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ
أَيْنَ يَضَعُ يَدَهُ إِذَا كَانَ يُصَلِّي؟ قَالَ: عَلَى السُّرَّةِ أَوْ أَسْفَلَ،
وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ عِنْدَهُ إِنْ وَضَعَ فَوْقَ السُّرَّةِ أَوْ عَلَيْهَا أَوْ
تَحْتَهَا.
وَقَالَ فِي رِوَايَةِ الْمُزَنِيِّ: أَسْفَلَ السُّرَّةِ بِقَلِيلٍ
“Ada riwayat dari beliau bahwa tangan diletakkan di atas
pusar. Ada pula riwayat lain bahwa diletakkan di bawah pusar.
Dan dalam riwayat Abu Thalib, ia berkata: ‘Aku bertanya
kepada Ahmad: Di manakah seseorang meletakkan tangannya ketika sedang shalat?’
Beliau menjawab: ‘Di atas pusar atau di bawahnya.’
Semua itu menurut beliau adalah perkara yang luas
(diperbolehkan). Baik diletakkan di atas pusar, tepat pada pusar, maupun di
bawah pusar.”
Dan dalam riwayat Al-Muzani disebutkan: “Sedikit di bawah
pusar.”
Imam An-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim (4/115):
وَأَمَّا حَدِيثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ مِنَ
السُّنَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَضْعُ الْأَكُفِّ عَلَى الْأَكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ
ضَعِيفٌ مُتَّفَقٌ عَلَى تَضْعِيفِهِ رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ
مِنْ رِوَايَةِ أَبِي شَيْبَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ الْوَاسِطِيِّ
وَهُوَ ضَعِيفٌ بِالِاتِّفَاقِ
“Adapun hadits Ali radhiyallahu 'anhu yang menyatakan: ‘Termasuk
sunnah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan
yang lain di bawah pusar,’ maka hadits tersebut adalah dhaif, dan para
ulama sepakat melemahkannya. Hadits itu diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan
Al-Baihaqi melalui riwayat Abu Syaibah, yaitu Abdurrahman bin Ishaq Al-Wasithi,
dan ia adalah perawi yang dhaif berdasarkan kesepakatan para ulama”.
====
PENDAPAT KEDUA:
Kedua tangan diletakkan di atas
pusar dan di bawah dada.
Ini adalah Madzhab jumhur ulama, sebagaimana disebutkan
oleh An-Nawawi rahimahullah. Pendapat ini juga dianut oleh Sa’id bin Jubair.
Demikian pula Imam Asy-Syafi’i. Al-Qaffal berkata:
«
وَيَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ وَفَوْقَ سُرَّتِهِ، هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ الْمَنْصُوصُ»
“Dan ia meletakkan kedua tangannya di bawah dadanya dan di
atas pusarnya. Inilah pendapat yang sahih dan yang secara tegas dinyatakan
dalam nash”. (Al-Majmu’ 3/310).
Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 4/114
berkata:
وَاسْتِحْبَابُ وَضْعِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى بَعْدَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ
وَيَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ فَوْقَ سُرَّتِهِ هَذَا مَذْهَبُنَا الْمَشْهُورُ
وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ
“Disunnahkan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
setelah takbiratul ihram, dan menjadikan keduanya di bawah dada serta di atas
pusar. Ini adalah Madzhab kami yang masyhur, dan merupakan pendapat yang dianut
oleh jumhur ulama”.
Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam
Malik. Al-Qadhi Abu Muhammad berkata:
الْمَذْهَبُ وَضْعُهُمَا تَحْتَ الصَّدْرِ وَفَوْقَ السُّرَّةِ
“Madzhab (Maliki) adalah meletakkan kedua tangan di bawah
dada dan di atas pusar.” (Al-Muntaqa 1/281).
Dari Imam Malik terdapat riwayat lain:
أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ فِي النَّفْلِ
“Bahwa hal tersebut dianjurkan dalam shalat sunnah”.
Dan inilah pendapat yang dipilih oleh ulama Bashrah dari
kalangan pengikut beliau”. An-Nawawi menukilnya dalam Syarh Muslim 2/39.
Ibnu Al-Qasim menukil dari Imam Malik:
أَنَّهُ كَرِهَ فِي الْفَرِيضَةِ، وَأَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ فِي النَّفْلِ
“Bahwa beliau memakruhkannya dalam shalat fardhu dan
memandang tidak mengapa melakukannya dalam shalat sunnah”, sebagaimana
disebutkan dalam Syarh Manh Al-Jalil 1/158.
Asyhab meriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau berkata:
لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فِي النَّفْلِ وَالْفَرِيضَةِ. وَرَوَى مُطَرِّفٌ وَابْنُ الْمَاجِشُونِ أَنَّهُ اسْتَحْسَنَهُ، وَرَوَى الْعِرَاقِيُّونَ
عَنْ مَالِكٍ فِي ذَلِكَ رِوَايَتَيْنِ: إِحْدَاهُمَا الِاسْتِحْسَانُ، وَالْأُخْرَى
الْمَنْعُ
“Tidak mengapa melakukan hal itu baik dalam
shalat sunnah maupun shalat fardhu.”
Mutharrif dan Ibnu Al-Majisyun meriwayatkan bahwa Imam
Malik memandangnya baik.
Ulama Irak dari kalangan pengikut Imam Malik meriwayatkan
dua pendapat dari beliau dalam masalah ini: yang pertama memandangnya baik
(istihsan), dan yang kedua melarangnya.
[Lihat: Al-Muntaqa karya Al-Baji 1/281, Al-Mudawwanah
1/74, dan Al-Bayan wa At-Tahshil 1/395.]
Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam
Ahmad. Bahkan, menurut An-Nawawi, ini juga merupakan riwayat lain dari Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
[Lihat: At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr 20/75, Mukhtashar
Al-Muzani hlm. 14, Al-Hawi 2/128, Al-Muhadzdzab 1/78, Syarh Muslim 2/39, Hilyat
Al-‘Ulama 2/96, At-Tahdzib fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i 2/89–90, Al-Mughni
1/515, Al-Muharrar 1/53, Asy-Syarh Al-Kabir 1/514, Syarh Az-Zarkasyi 1/298, dan
Nail Al-Authar 2/189]
PENDAPAT KETIGA:
Diberi pilihan (meletakkan kedua
tangan di bawah pusar atau di atasnya).
Ini merupakan pendapat ketiga dari Imam Ahmad. Pendapat
ini juga merupakan Madzhab Al-Auza’i, Atha’, dan Ibnu Al-Mundzir.
[Lihat: At-Tamhid 20/75, Syarh Muslim 2/39, Fiqh Al-Imam
Al-Auza’i 1/168, Al-Mughni 1/515, Al-Muharrar 1/53, Syarh Az-Zarkasyi 1/298, Asy-Syarh
Al-Kabir 1/514, dan Nail Al-Authar 2/189.]
Ibnu Habib berkata:
لَيْسَ لِذَلِكَ مَوْضِعٌ مَعْرُوفٌ.
“Tidak ada tempat tertentu yang diketahui
secara pasti untuk peletakan kedua tangan tersebut.” (Al-Muntaqa 1/281).
====
PENDAPAT KEEMPAT:
Melepaskan/ melandaikan kedua
tangan (tidak bersedekap).
Ini merupakan Madzhab Ibnu Az-Zubair (sebagaimana dalam
Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah no. 3950),
Al-Hasan Al-Bashri (sebagaimana dalam Al-Mushannaf karya
Ibnu Abi Syaibah no. 3949),
dan An-Nakha’i (At-Tamhid 20/76), sebagaimana diriwayatkan
dari mereka oleh Ibnu Al-Mundzir (lihat: Nail Al-Authar 2/186).
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Sirin
(sebagaimana dalam Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah no. 3951). Lihat pula
At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr 20/74.
Ini juga merupakan Madzhab Imam Malik dalam salah satu
riwayat darinya yang terkenal dalam Madzhab Maliki, meskipun sebenarnya
terdapat perbedaan riwayat yang cukup banyak dari beliau dalam masalah ini.
[Lihat: At-Tamhid 20/74, Al-Muntaqa 1/281, Bidayat
Al-Mujtahid 1/99, dan Nail Al-Authar 2/189.]
An-Nawawi berkata:
وَهَذِهِ رِوَايَةُ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ وَهِيَ الْأَشْهَرُ عِنْدَهُمْ.
“Ini adalah riwayat yang dianut oleh
mayoritas pengikut Imam Malik, dan merupakan pendapat yang paling masyhur di
kalangan mereka.” (Syarh Muslim 2/39).
Pendapat ini juga merupakan Madzhab sbb:
1] Al-Laits bin Sa’d (lihat: Syarh Muslim 2/39, At-Tamhid
20/74, dan Fiqh Al-Imam Al-Laits 1/218),
2] Ibnu Juraij (lihat: Mushannaf Abdurrazzaq no. 3346 dan
At-Tamhid 20/75),
3] Atha’ (lihat: Mushannaf Abdurrazzaq no. 3345),
4] serta Madzhab Al-Qasimiyyah, An-Nashiriyyah, dan
Al-Baqir (lihat: Al-Bahr Az-Zakhkhar 2/241 dan Nail Al-Authar 2/186).
Perlu ditambahkan bahwa Al-Mu’ayyad Billah dan Imam Yahya
berpendapat dengan irsal (melepaskan kedua tangan), namun keduanya berpendapat
bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri hukumnya makruh, dan shalat
tidak batal apabila seseorang melakukannya.
Adapun Al-Hadawiyyah berpendapat bahwa yang disyariatkan
adalah irsal, dan shalat menjadi batal apabila seseorang meletakkan tangan
kanannya di atas tangan kirinya dalam shalat.
[Lihat: Al-Bahr Az-Zakhkhar 2/241–242.]
====
PENDAPAT KELIMA:
Kedua tangan diletakkan di atas
dada.
Pendapat ini dinisbatkan kepada Ali bin Abi Tholib radhiyallahu
‘anhu, namun penisbatan tersebut tidak sahih dari beliau (At-Ta’liq Al-Mughni
1/285).
Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Tafsirnya 24/562
meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, bukan
dari Ibnu Abbas. Begitu pula al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsirnya 20/219 dan
al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 8/503.
Al-Hafidz Ibnu Katsir:
وَقِيلَ: الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: ﴿وَانْحَرْ﴾ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى
الْيُسْرَى تَحْتَ النَّحْرِ. يُرْوَى هَذَا عَنْ عَلِيٍّ، وَلَا يَصِحُّ. وَعَنِ الشَّعْبِيِّ
مِثْلَهُ
“Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman
Allah Ta'ala (وَانْحَرْ) adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah
leher bagian bawah (an-nahr). Pendapat ini diriwayatkan dari Ali, namun tidak
sahih darinya. Dan dari Asy-Sya'bi juga diriwayatkan pendapat yang serupa”.
Kemudian Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
وَالصَّحِيحُ الْقَوْلُ الْأَوَّلُ، أَنَّ الْمُرَادَ بِالنَّحْرِ ذَبْحُ الْمَنَاسِكِ؛
وَلِهَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي الْعِيدَ، ثُمَّ يَنْحَرُ نُسُكَهُ، وَيَقُولُ: «مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا،
فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَا نُسُكَ لَهُ».
فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَسَكْتُ
شَاتِي قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ».
قَالَ: «شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ».
قَالَ: «فَإِنَّ عِنْدِي عِنَاقًا هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتُجْزِئُ
عَنِّي؟». قَالَ: «تُجْزِئُكَ، وَلَا تُجْزِئُ أَحَدًا بَعْدَكَ».
“Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu bahwa
yang dimaksud dengan an-nahr adalah menyembelih hewan kurban. Oleh karena itu
Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat Id kemudian menyembelih hewan
kurbannya dan bersabda:
‘Barang siapa melaksanakan shalat seperti shalat kami dan
menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan ibadah
kurban. Dan barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka tidak ada kurban
baginya .... dst’
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 983
dari hadits Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu]. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir
8/503)
Al-Marghinani menisbatkannya kepada Imam Asy-Syafi’i
(Al-Hidayah 1/47), namun penisbatan tersebut juga tidak sahih, karena pendapat
ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab beliau maupun kitab-kitab Madzhabnya,
bahkan pendapat yang masyhur dalam Madzhab beliau justru berbeda dengan itu.
Syeikh Al-Albani menisbatkannya kepada Ishaq bin Rahuyah (baca:
Al-Irwa’ 2/71 dan Shifat Ash-Shalah hlm. 69), namun penisbatan tersebut juga
tidak sahih, karena An-Nawawi dalam Syarh Muslim 2/39 dan Asy-Syaukani
dalam Nail Al-Authar 2/189 menukil pendapat Ishaq yang berbeda dari itu.
Diperkirakan orang yang berpendapat pendapat kelima ini
adalah Al-Mala’ al-Qori ( wafat 1014 H / 1606 M) dalam Mirqootul
Mafaatiih 2/569.
Madzhab ini dipilih oleh As-Sindi rahimahullah (wafat 1138
H), Ash-Shan’ani (wafat 1182 H/ 1768 M) dalam Subul As-Salam 1/168, Asy-Syawkani (wafat 1250 H/ dalam Neil
al-Awthor 2/220, Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H/ 1934) dalam Tuhfat Al-Ahwadzi
2/84 dan juga oleh penulis kitab ‘Aun Al-Ma’bud 1/325.
Abul Hasan Muhammad As-Sindi rahimahullah (wafat tahun
1138 H) berkata:
وَبِالْجُمْلَةِ فَكَمَا صَحَّ أَنَّ الْوَضْعَ هُوَ السُّنَّةُ دُونَ الْإِرْسَالِ
ثَبَتَ أَنَّ مَحَلَّهُ الصَّدْرُ لَا غَيْرَ
“Secara keseluruhan, sebagaimana telah sahih bahwa
meletakkan tangan (qabdh) adalah sunnah, bukan melepaskannya (irsal), maka
telah tetap pula bahwa tempatnya adalah di dada dan bukan yang lain.” (Hasyiyah
As-Sindi 'ala Sunan Ibni Majah, 1/271).
Mereka berdalil dengan tambahan lafadz hadits yang
diriwayatkan oleh Mu’ammal bin Isma’il.
----
FATWA SYEIKH BIN BAZ:
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata:
«السُّنَّةُ:
وَضْعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ؛ لِأَنَّهُ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ،
وَمِنْ حَدِيثِ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ الطَّائِيِّ عَنْ أَبِيهِ: "أَنَّهُ كَانَ
يَضَعُهُمَا عَلَى صَدْرِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ"، وَثَبَتَ مُرْسَلًا
مِنْ طَرِيقِ طَاوُوسِ بْنِ كَيْسَانَ التَّابِعِيِّ الْجَلِيلِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ،
وَهُوَ يُؤَيِّدُ الْمَرْفُوعَ.
وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَرَى وَضْعَهَا عَلَى السُّرَّةِ، وَبَعْضُ أَهْلِ
الْعِلْمِ يَرَى وَضْعَهُمَا تَحْتَ السُّرَّةِ، وَالْحَدِيثُ فِي هَذَا ضَعِيفٌ -
تَحْتَ السُّرَّةِ -، وَالْأَفْضَلُ فَوْقَ الصَّدْرِ، هَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ؛ لِأَنَّ
الْأَحَادِيثَ فِيهَا أَصَحُّ، الْأَحَادِيثُ فِي ذَلِكَ أَصَحُّ.
وَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ، كُلُّهُ سُنَّةٌ، لَوْ سَدَلَهُمَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ،
وَلَوْ أَرْسَلَهُمَا كَمَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَلَكِنِ
السُّنَّةُ أَنْ يَضُمَّهُمَا إِلَى صَدْرِهِ وَلَا يُرْسِلَهُمَا، هَذَا هُوَ السُّنَّةُ.
وَلَا يَنْبَغِي فِي هَذَا النِّزَاعُ وَالْخِلَافُ وَالْجَدَلُ وَالْفُرْقَةُ،
بَلْ يَنْبَغِي فِي هَذَا التَّسَامُحُ وَالتَّيْسِيرُ؛ لِأَنَّ الِاجْتِمَاعَ وَالتَّعَاوُنَ
عَلَى الْخَيْرِ أَمْرٌ مَطْلُوبٌ.
وَالَّذِي يَجْعَلُهَا تَحْتَ السُّرَّةِ: تَأَوَّلَ قَوْلَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ،
وَبَعْضَ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ؛ فَلَا يَنْبَغِي التَّشْنِيعُ وَالتَّشْدِيدُ
فِي هَذَا الْمَقَامِ، يَنْبَغِي الرِّفْقُ وَالْحِكْمَةُ فِي هَذَا، وَالنَّصِيحَةُ،
بِدُونِ فُرْقَةٍ وَلَا اخْتِلَافٍ وَلَا تَشْنِيعٍ.
وَلَكِنَّ الْأَفْضَلَ لِلْمُؤْمِنِ: أَنْ يَتَحَرَّى مَا هُوَ الْأَثْبَتُ، وَمَا
هُوَ الْأَقْرَبُ إِلَى الصَّوَابِ، فِي مَسَائِلِ الْخِلَافِ». انْتَهَى.
“Yang sesuai sunnah adalah meletakkan kedua tangan di atas
dada, karena hal itu telah tetap dari Nabi ﷺ melalui hadits Wa'il bin Hujr dan hadits
Qabishah bin Hulb Ath-Tha'i dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ ‘biasa meletakkan kedua tangannya di atas
dadanya.’ Juga terdapat riwayat mursal dari jalur Thawus bin Kaisan, seorang
tabi'in yang mulia, dari Nabi ﷺ, dan riwayat ini menguatkan hadits-hadits marfu'.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kedua tangan diletakkan
di atas pusar, dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa keduanya diletakkan
di bawah pusar. Adapun hadits tentang peletakan tangan di bawah pusar adalah
dhaif. Yang lebih utama adalah di atas dada, karena hadits-hadits dalam masalah
itu lebih sahih.
Namun perkara ini luas. Semuanya termasuk sunnah. Jika
seseorang membiarkan kedua tangannya terjulur ke samping, maka shalatnya tetap
sah. Jika ia melepaskan kedua tangannya sebagaimana pendapat sebagian ulama,
maka shalatnya juga sah. Akan tetapi, yang sesuai sunnah adalah meletakkan
kedua tangan di dadanya dan tidak membiarkannya terjulur. Itulah sunnah.
Tidak sepantasnya dalam masalah ini terjadi pertengkaran,
perselisihan, perdebatan, dan perpecahan. Yang semestinya dilakukan adalah
bersikap toleran dan memudahkan, karena persatuan dan kerja sama dalam kebaikan
adalah sesuatu yang dituntut.
Orang yang meletakkan kedua tangannya di bawah pusar
melakukannya berdasarkan pemahaman terhadap pendapat sebagian ulama dan
beberapa hadits yang lemah. Oleh karena itu, tidak pantas mencela atau bersikap
keras dalam masalah ini. Yang seharusnya adalah kelembutan, kebijaksanaan, dan
nasihat yang baik, tanpa menimbulkan perpecahan, perselisihan, atau saling
menyalahkan.
Akan tetapi, yang lebih utama bagi seorang mukmin adalah
berusaha mencari pendapat yang paling kuat dalilnya dan yang paling dekat
kepada kebenaran dalam masalah-masalah yang diperselisihkan.”
(Baca: Fatawa Nur 'Ala Ad-Darb karya Ibnu Baz,
8/143).
----
FATWA SYEIKH AL-UTSAIMIN
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata:
«وَهَذِهِ
الصِّفَةُ – أَعْنِي: وَضْعَ الْيَدَيْنِ تَحْتَ السُّرَّةِ – هِيَ الْمَشْرُوعَةُ
عَلَى الْمَشْهُورِ مِنَ الْمَذْهَبِ، وَفِيهَا حَدِيثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهُ قَالَ: (مِنَ السُّنَّةِ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى تَحْتَ
السُّرَّةِ) – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَهُ النَّوَوِيُّ وَابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُمَا
–.
وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّهُ يَضَعُهَا فَوْقَ السُّرَّةِ، وَنَصَّ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَلَى ذَلِكَ.
وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى أَنَّهُ يَضَعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ.
وَهَذَا هُوَ أَقْرَبُ الْأَقْوَالِ، وَالْوَارِدُ فِي ذَلِكَ فِيهِ مَقَالٌ،
لَكِنَّ حَدِيثَ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ الَّذِي فِي الْبُخَارِيِّ ظَاهِرُهُ يُؤَيِّدُ
أَنَّ الْوَضْعَ يَكُونُ عَلَى الصَّدْرِ، وَأَمْثَلُ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ عَلَى
مَا فِيهَا مِنْ مَقَالٍ حَدِيثُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ: (كَانَ يَضَعُهُمَا
عَلَى صَدْرِهِ)».
“Cara ini — yaitu meletakkan kedua tangan di bawah pusar —
adalah tata cara yang disyariatkan menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab
Hanbali. Tentang hal itu terdapat hadits dari Ali radhiyallahu 'anhu yang
mengatakan:
‘Termasuk sunnah adalah
meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar.’
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, namun dinilai
dhaif oleh An-Nawawi, Ibnu Hajar, dan selain keduanya.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kedua tangan diletakkan
di atas pusar, dan Imam Ahmad menegaskan pendapat tersebut.
Sebagian ulama lainnya
berpendapat bahwa kedua tangan diletakkan di atas dada.
Pendapat inilah yang paling kuat. Riwayat-riwayat yang
membahas masalah ini memang mengandung pembicaraan (kritik sanad), akan tetapi
hadits Sahl bin Sa'd yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari secara lahiriah
mendukung bahwa peletakan tangan itu berada di atas dada. Dan hadits yang
paling baik dalam masalah ini, meskipun tetap ada pembicaraan terhadapnya,
adalah hadits Wa'il bin Hujr bahwa Nabi ﷺ:
‘Biasa meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.’”
[Baca: Asy-Syarhul Mumti' (3/36–37)].
HUKUM LETAK SEDEKAP DI DADA KIRI ATAU DI RUSUK KIRI:
Adapun bersedekap di dada kiri atau di rusuk kiri, dan
orang yang melakukannya sering beralasan bahwa itu adalah tempatnya jantung,
ini adalah alasan yang dibuat-buat yang tidak ada asalnya.
Selain itu ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu:
«أَنَّهُ
نَهَى أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا»
“Bahwa Nabi ﷺ melarang seseorang bertolak pinggang
ketika sedang shalat” (HR. Bukhari 1220 dan Muslim 545)
Dan perbuatan demikian walaupun tidak sama dengan tolak
pinggang, namun itu mendekati tolak pinggang.
Selain itu juga, perbuatan ini membuat badan tidak
seimbang
(lihat Syarhul Mumthi’, 3/37-38).
====***====
PEMBAHASAN KE ENAM:
MACAM-MACAM CARA BERSEDEKAP DALAM
SHOLAT
Para ulama bersepakat bahwa bersedekap ketika shalat
adalah hal yang disyariatkan.
Berdasarkan hadits dari Sahl bin
Sa’ad radhiallahu’anhu:
كان الناسُ يؤمَرون أن يضَع الرجلُ اليدَ اليُمنى على ذِراعِه اليُسرى في
الصلاةِ
“Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan
kanan di atas lengan kirinya ketika shalat” (HR. Al Bukhari 740)
Sebagian orang ada yang menukil pendapat Imam Malik :
Bahwa beliau menganggap makruh bersedekap dalam shalat dan
beliau menganjurkan irsaal, yaitu membiarkan tangan terjulai disamping.
Namun yang shahih adalah bahwa beliau juga berpendapat
disyari’atkannya bersedekap.
Buktinya dalam kitab Al Muwatha, beliau membuat judul
bab:
بَابُ وَضْعِ الْيَدَيْنِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فِي الصَّلَاةِ.
“Bab: Meletakkan kedua tangan, yang satu di atas yang
lain, ketika shalat”
Walaupun dalam hadits Bukhari tadi terdapat ungkapan
perintah untuk bersedekap,
Namun tidak diketahui perkataan dari salaf, baik dari
sahabat, tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in atau pun para imam madzhab yang
menyatakan wajibnya bersedekap dalam shalat
(lihat Sifat
Shalat Nabi Lit Tharifi, 84).
Dengan demikian bersedekap dalam shalat hukumnya sunnah tidak sampai wajib.
****
BENTUK SEDEKAP
Para ulama bersepakat bahwa tangan kanan berada di atas
tangan kiri.
Namun mereka berbeda pendapat mengenai rincian bentuk
sedekap, yang merupakan khilaf tanawwu’ (perbedaan dalam variasi).
Walaupun demikian, cara yang bersedekap yang benar dibagi
menjadi dua cara:
====
CARA PERTAMA :
Yaitu al-wadh’u/ الوَضْعُ (meletakkan kanan di atas kirim tanpa
melingkari atau menggenggam).
Letak tangan kanan ada di tiga tempat : di punggung tangan
kiri, di pergelangan tangan kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri.
Dalilnya : Hadits dari Wa’il bin Hujur
tentang sifat shalat Nabi ﷺ,
«ثُمَّ
وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى، وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ»
“Setelah itu beliau meletakkan tangan kanannya di atas
punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan atau di atas lengan”
[Diriwayatkan oleh Ahmad no. 18870, Ad-Darimi no. 1357,
Al-Bukhari dalam kitab Raf'ul Yadain no. 31, Abu Dawud no. 727, Ibnu Al-Jarud
no. 208, An-Nasa'i dalam Al-Mujtaba (2/126–127 dan 3/37) serta dalam Al-Kubra
no. 1191, Ibnu Khuzaimah no. 480 dan 714, Ibnu Hibban no. 1860, Ath-Thabarani
dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (22/82), dan Al-Baihaqi (2/27–28, 28, dan 132),
semuanya melalui beberapa jalur dari Za'idah dengan sanad ini.
Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud no. 727.
As-Sindi rahimahullah berkata:
«وَالرُّسْغُ:
وَهُوَ مَفْصِلٌ بَيْنَ الْكَفِّ وَالسَّاعِدِ. وَالْمُرَادُ أَنَّهُ وَضَعَ بِحَيْثُ
صَارَ وَسَطُ كَفِّهِ الْيُمْنَى عَلَى الرُّسْغِ، وَيَلْزَمُ مِنْهُ أَنْ يَكُونَ
بَعْضُهَا عَلَى الْكَفِّ الْيُسْرَى، وَالْبَعْضُ عَلَى السَّاعِدِ». انْتَهَى.
“Ar-rusgh adalah sendi yang berada antara telapak tangan
dan lengan bawah. Yang dimaksud adalah bahwa beliau meletakkan tangannya
sedemikian rupa sehingga bagian tengah telapak tangan kanannya berada di atas
pergelangan tangan (rusgh). Konsekuensinya, sebagian telapak tangan kanannya
berada di atas telapak tangan kiri dan sebagian lainnya berada di atas lengan
bawah.” (Baca: Hasyiyah As-Sindi 'ala Sunan An-Nasa'i, 2/126).
Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 27/87-88 di
sebutkan:
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يَقْبِضُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى
عَلَى كُوعِ الْيُسْرَى، لأَِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَضَعَ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: يَقْبِضُ بِكَفِّهِ الْيُمْنَى عَلَى كُوعِ الْيُسْرَى
وَالرُّسْغِ وَبَعْضِ السَّاعِدِ، وَيَبْسُطُ أَصَابِعَهَا فِي عَرْضِ الْمَفْصِل أَوْ
يَنْشُرُهَا صَوْبَ السَّاعِدِ؛ لِمَا رَوَى وَائِل بْنُ حُجْرٍ قَال: قُلْتُ لأََنْظُرَنَّ
إِلَى صَلَاةِ رَسُول اللَّهِ ﷺ كَيْفَ يُصَلِّي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَضَعَ يَدَهُ
الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ
Madzhab Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa
seseorang menggenggam dengan tangan kanannya bagian ku' (tulang di pangkal
telapak dekat ibu jari) dari tangan kirinya, karena Nabi ﷺ meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.
Adapun Syafi'iyah berpendapat bahwa ia menggenggam dengan
telapak tangan kanannya bagian ku', pergelangan tangan (rusgh), dan sebagian
lengan bawah (sa'id) tangan kirinya, serta membentangkan jari-jari tangan
kanannya melintang pada sendi tersebut atau mengarahkannya sepanjang lengan bawah.
Hal ini berdasarkan hadits Wa'il bin Hujr radhiyallahu
'anhu, ia berkata:
“Aku berkata: ‘Aku benar-benar akan memperhatikan
bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat.’ Maka aku pun memperhatikannya. Beliau
meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya, pergelangan
tangan kirinya, dan lengan bawah kirinya.” [Selesai]
===
CARA KEDUA :
yaitu al qabdlu (jari-jari tangan kanan
melingkari atau menggenggam tangan kiri).
Dalam Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah (11/6810, no.
115584) disebutkan:
وَلَمْ يَخْتَلِفِ الْعُلَمَاءُ فِي أَنَّ هَذَا الْقَبْضَ سُنَّةٌ لَا وَاجِبٌ،
فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِتَرْكِهِ، وَاخْتَارَ الشَّوْكَانِيُّ الْوُجُوبَ، وَهُوَ
مَحْجُوجٌ بِالْإِجْمَاعِ.
“Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa qabdh (meletakkan
tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat) hukumnya sunnah, bukan wajib.
Oleh karena itu, shalat tidak batal karena meninggalkannya. Adapun Asy-Syaukani
memilih pendapat bahwa hukumnya wajib, namun pendapat tersebut terbantahkan
oleh ijma' (kesepakatan para ulama).”
Dalilnya, hadits dari Wa’il bin
Hujr radhiallahu’anhu:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذَا كَانَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ».
“Aku Melihat Nabi ﷺ berdiri dalam shalat beliau melingkari
tangan kirinya dengan tangan kanannya”
[Diriwayatkan oleh An-Nasa'i no. 887, Ath-Thabarani dalam
Al-Mu'jam Al-Kabir (22/9), dan Ad-Daraquthni no. 1104, semuanya dengan lafaz
yang sama. Di shahihkan oleh al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i no. 886.
Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 401 dan Ahmad no. 18866
dengan lafaz yang hampir serupa.]
Adapun di luar dua cara ini, seperti meletakkan tangan
kanan di siku kiri, atau di lengan atas, adalah kekeliruan dan tidak ada satupun
ulama yang membolehkannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin pernah di tanya:
“Kita pernah melihat orang yang bersedekap dengan memegang
sikunya, apakah ini ada dasarnya?
Jawabnya :
لَيْسَ لِهَذَا أَصْلٌ، وَإِنَّمَا يَقْبِضُ الْكُوْعَ أَوْ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى
الذِّرَاعِ، فَفِي «صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ» مِنْ حَدِيثِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ
قَالَ: «كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ
الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ». (68)
“Hal ini tidak memiliki dasar. Yang disyariatkan hanyalah
menggenggam bagian الْكُوْعُ (tulang di dekat ibu jari) atau meletakkan tangan di atas
lengan bawah.
Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat hadits dari Sahl bin
Sa'd, ia berkata:
“Dahulu orang-orang diperintahkan agar seseorang
meletakkan tangan kanannya di atas lengan bawah kirinya ketika shalat.” (68). [Lihat:
Syarhul Mumthi’, 3/36)].
Sebagian ulama membedakan tata
cara bersedekap laki-laki dengan wanita.
Namun yang tepat tata cara bersedekap laki-laki dengan
wanita adalah sama.
Karena pada asalnya tata cara ibadah yang dicontohkan oleh
Nabi itu berlaku untuk laki-laki dengan wanita kecuali ada dalil yang
membedakannya.
HUKUM SEDEKAP SETELAH RUKU’
Sebagian ulama salaf menganjurkan bersedekap setelah bangun
dari ruku, diantaranya Al Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Hazm, dan Al Kasani.
Mereka berdalil dengan hadits Wa’il bin
Hujr radhiallahu’anhu:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذَا كَانَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ بِيَمِينِهِ
عَلَى شِمَالِهِ.
“Aku Melihat Nabi ﷺ berdiri dalam shalat beliau melingkari
tangan kirinya dengan tangan kanannya”
(HR. An Nasa-i 886, Al Baihaqi 2/28, dishahihkan Al Albani
dalam Shahih An Nasa-i).
Lafadz (ketika beliau berdiri dalam shalat)
dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat
kapan pun itu, baik sebelum rukuk maupun sesudah rukuk.
Namun ini adalah pendalilan yang tidak jelas.
Karena tidak ada dalil yang shahih
dan sharih mengenai hal ini, maka khilaf ulama dalam hal ini adalah
khilaf ijtihadiyyah, perkaranya luas dalam masalah ini.
Oleh sebab itu Sholeh putra Imam Ahmad pernah bertanya
kepada ayahnya:
قُلْتُ: كَيْفَ يَضَعُ الرَّجُلُ يَدَهُ بَعْدَ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ،
أَيَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى الشِّمَالِ أَمْ يُسْدِلُهَا؟
قَالَ: «أَرْجُو أَنْ لَا يَضِيقَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ».
Aku bertanya: “Bagaimana
seseorang meletakkan tangannya setelah mengangkat kepalanya dari rukuk? Apakah
ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya atau membiarkannya
terjulur ke bawah?”
Beliau menjawab: “Aku berharap perkara itu tidak sempit
(ada kelonggaran dalam masalah tersebut), insya Allah.” [Baca : Masail Imam
Ahmad riwayat putranya Sholeh 2/205 no. 776]
0 Komentar