STUDI HADITS
SHOLAT ARBA'IN DI MESJID NABAWI
(KEUTAMAAN SHALAT BERJEMAAH 40 WAKTU DI MESJID NABAWI SECARA BERURUTAN)
---
Di
Tulis Oleh Abu Haitsam Fakhri
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
****
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
RIWAYAT HADITS SHOLAT ARBA'IN DI MESJID NABAWI
Hadits Keutamaan Sholat Arba’inan di Mesjid Nabawi ini
diriwayatkan oleh Imam Ahmad (12583) dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam
Al-Awsath 5/325 no. (5440), keduanya melalui jalur Al-Hakam bin Musa, ia
berkata:
“Telah menceritakan
kepada kami Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal, dari Nubayth bin Umar, dari Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً،
لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ،
وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ».
“Barang siapa
melaksanakan empat puluh kali shalat di masjidku (Masjid Nabawi), tanpa ada
satu shalat pun yang terlewatkan, maka akan dituliskan baginya kebebasan dari
neraka, keselamatan dari adzab, dan ia terbebas dari sifat kemunafikan.”
Ath-Thabarani
berkata:
لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَنَسٍ
إِلَّا نُبَيْطُ بْنُ عُمَرَ، تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ أَبِي الرِّجَالِ
“Hadits ini tidak
diriwayatkan dari Anas kecuali oleh Nubayth bin Umar, dan yang meriwayatkannya
secara sendirian (tafarrud) dari Nubayth adalah Ibnu Abi Ar-Rijal”.
===
STATUS SANAD HADITS
Dalam sanadnya
terdapat Nubayth bin Umar. Dia adalah perawi majhul (tidak dikenal). Tidak ada
yang meriwayatkan darinya selain Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal.
Adapun Ibnu Hibban
memasukkannya ke dalam kitab Ats-Tsiqat berdasarkan kaidah beliau dalam menilai
tsiqah orang-orang yang tidak diketahui adanya cacat (jarh) pada diri mereka.
Oleh sebab itu Al-Mundziri
(wafat 656 H) dalam at-Targhib wa at-Tarhiib 2/138 (Cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah,
dia berkata:
رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَرُوَاتُهُ رُوَاةُ
الصَّحِيحِ، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَهُوَ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ بِغَيْرِ
هَذَا اللَّفْظِ. اهـ.
“Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya adalah para perawi yang digunakan
dalam kitab Shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam
Al-Mu'jam Al-Awsath. Adapun di Sunan At-Tirmidzi, hadits ini diriwayatkan
dengan lafaz yang berbeda.” Selesai. [Lihat juga: kitab al-Fathur Rabbaani
karya Ahmad as-Saa’aati 23/273]
Begitu pula Ibnu
Hajar al-Haitsami (wafat 807 H) dalam kitab Majma' Az-Zawa'id, Kitab Al-Hajj,
Bab ‘Tentang orang yang melaksanakan empat puluh shalat di Madinah’ 4/8 no.
5878, dia berkata:
قُلْتُ: رَوَى التِّرْمِذِيُّ بَعْضَهُ،
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي "الْأَوْسَطِ"، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ».
“Saya katakan,
sebagian hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Hadits ini juga diriwayatkan
oleh Ahmad dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath, dan para perawinya
adalah tsiqah (terpercaya)”.
Dengan demikian
hadits ini dinilai shahih oleh al-Mundziri dan Ibnu Hajar al-Haitsami.
Dalam Fatawa asy-Syabakah
asl-Islamiyah 8/855 no. 10312 disebutkan:
وَصَحَّحَهُ مِنَ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ
نَسِيبُ الرِّفَاعِيُّ
“Hadits ini juga
dinyatakan shahih oleh salah seorang ulama kontemporer, yaitu Syaikh Nasib
Ar-Rifa'i.”
Dan dishahihkan
pula oleh Syeikh ‘Athiyyah Shoqr, sebagiamana dia tegaskan dalam Kitab Fatawa
Dar al-Iftaa 9/13 al-Mashriyyah.
Berbeda dengan Syu’aib
al-Arna’uth dalam Tahqiq al-Musnad 20/40-41, maka dia berkata:
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِجَهَالَةِ نُبَيْطِ
بْنِ عُمَرَ، فَقَدْ تَفَرَّدَ بِالرِّوَايَةِ عَنْهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي
الرِّجَالِ، وَتَسَاهَلَ ابْنُ حِبَّانَ فَأَوْرَدَهُ فِي «ثِقَاتِهِ» (٥/٤٨٣).
“Sanad
hadits ini dhaif karena Nubayth bin Umar berstatus majhul (tidak dikenal
keadaannya). Sebab, yang meriwayatkan darinya secara sendirian hanyalah
Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal. Adapun Ibnu Hibban bersikap longgar (tasahul)
sehingga memasukkannya ke dalam kitab Ats-Tsiqat (5/483).”
Juga Syaikh Abdul
Aziz bin Baz rahimahullah ta'ala, beliau berkata:
«ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ التَّحْقِيقِ فَلَا يُعْتَمَدُ
عَلَيْهِ»
“Hadits ini dhaif
menurut para ulama muhaqqiq (peneliti hadits yang mendalam), sehingga tidak
dapat dijadikan sandaran.” (Fatawa Ibnu Baz, 16/406).
Lihat pula
pembahasan lebih lanjut dalam kitab Al-Minnah Al-Kubra (4/417–420).
Dan juga Syaikh
Muhammad Nasiruddin Al-Albani, beliau menyebutkan hadits ini dalam kitab
As-Silsilah Adh-Dha'ifah (no. 364) dan berkata: “Dhaif.”
Beliau juga
menyebutkannya dalam Dha'if At-Targhib wa At-Tarhib (no. 755) dan berkata:
“Mungkar.”
****
HUKUM MENGAMALKAN HADITS INI :
Abu Ahmad Adh-Dhiya
Al-A'zami berkata dalam kitabnya Al-Jami' Al-Kamil (3/57):
«وَخُلَاصَةُ الْقَوْلِ فِي هَذَا أَنَّ بَعْضَ
الْعُلَمَاءِ جَوَّزُوا الْعَمَلَ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ الَّذِي فِيهِ ضَعْفٌ يَسِيرٌ
إِذَا كَانَ يَنْدَرِجُ تَحْتَ أَصْلٍ ثَابِتٍ، فَقَالُوا: لَا بَأْسَ لِلْحَاجِّ الَّذِي
قَصَدَ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ ﷺ أَنْ يُوَاظِبَ عَلَى أَدَاءِ أَرْبَعِينَ
صَلَاةً فِيهِ؛ لِأَنَّهُ مَأْمُورٌ بِأَدَاءِ الصَّلَاةِ بِالْجَمَاعَةِ حَيْثُمَا
كَانَ».
“Kesimpulan dalam
masalah ini adalah bahwa sebagian ulama membolehkan mengamalkan hadits
dhaif yang kelemahannya ringan apabila kandungannya masuk di bawah suatu
dalil yang telah ada ketetapan.
Oleh karena itu,
mereka mengatakan: tidak mengapa bagi seorang jamaah haji yang memang bertujuan
untuk shalat di Masjid Nabawi agar berusaha melaksanakan empat puluh kali
shalat di sana, karena pada dasarnya ia memang diperintahkan untuk melaksanakan
shalat berjamaah di mana pun ia berada.”
Dalam Fatawa asy-Syabakah
asl-Islamiyah 8/855 no. 10312 disebutkan:
وَصَحَّحَهُ مِنَ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ
نَسِيبُ الرِّفَاعِيُّ. وَعَلَى كُلٍّ، فَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ،
وَعَلَى افْتِرَاضِ أَنَّهُ ضَعِيفٌ فَإِنَّ الْعَمَلَ بِمِثْلِهِ فِي الْفَضَائِلِ
شَائِعٌ، كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَحْمَدَ، وَجَمَاعَةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ، حَيْثُ قَالُوا:
إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا عُلِمَ أَنَّهُ مَشْرُوعٌ بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ، وَرُوِيَ فِي
فَضْلِهِ حَدِيثٌ لَا يُعْلَمُ أَنَّهُ كَذِبٌ، جَازَ أَنْ يَكُونَ الثَّوَابُ حَقًّا،
فَلَا يَنْبَغِي التَّفْرِيطُ فِي الْعَمَلِ.
“Hadits ini juga
dinyatakan shahih oleh salah seorang ulama kontemporer, yaitu Syaikh Nasib
Ar-Rifa'i.
Bagaimanapun,
masalah ini termasuk dalam bab fadha'il al-a'mal (keutamaan amal-amal).
Seandainya hadits tersebut dianggap dhaif, maka pengamalan hadits semisal ini
dalam masalah keutamaan amal merupakan hal yang telah dikenal luas, sebagaimana
menjadi mazhab Imam Ahmad dan sekelompok ulama lainnya.
Mereka mengatakan:
Jika suatu amalan telah diketahui disyariatkan berdasarkan dalil syar'i, lalu
diriwayatkan mengenai keutamaannya sebuah hadits yang tidak diketahui sebagai
hadits dusta, maka boleh jadi pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut
benar adanya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang meremehkan atau
meninggalkan amalan tersebut.”
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah
berkata:
«أَمَّا مَا شَاعَ بَيْنَ النَّاسِ مِنْ أَنَّ
الزَّائِرَ يُقِيمُ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حَتَّى يُصَلِّيَ أَرْبَعِينَ صَلَاةً، فَهَذَا
وَإِنْ كَانَ قَدْ رُوِيَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: (أَنَّ مَنْ صَلَّى فِيهِ أَرْبَعِينَ
صَلَاةً كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةً مِنَ النِّفَاقِ)،
إِلَّا أَنَّهُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ التَّحْقِيقِ، لَا تَقُومُ بِهِ الْحُجَّةُ
وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ. وَالزِّيَارَةُ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ، وَإِذَا
زَارَهَا سَاعَةً أَوْ سَاعَتَيْنِ، أَوْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ
ذَلِكَ فَلَا بَأْسَ». اهـ
“Adapun yang telah
tersebar di tengah masyarakat bahwa seorang peziarah harus menetap selama
delapan hari agar dapat melaksanakan empat puluh kali shalat, maka hal ini
meskipun disebutkan dalam sebagian hadits, yaitu:
‘Barang siapa
shalat di sana sebanyak empat puluh kali shalat, maka Allah akan menuliskan baginya
kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan’,
namun hadits
tersebut dhaif menurut para ulama muhaqqiq. Hadits itu tidak dapat dijadikan
hujjah dan tidak dapat dijadikan sandaran.
Ziarah ke Madinah
tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika seseorang berziarah selama satu atau
dua jam, satu atau dua hari, atau lebih dari itu, maka tidak mengapa.” (Fatawa
Ibnu Baz, 17/406, dengan ringkasan).
----
MENURUT SYEIKH AL-ALBANI, INI adalah BID’AH SESAT.
Syaikh Al-Albani
menyebutkan dalam kitab Hajjatun Nabi ﷺ (hlm. 185) bahwa di antara bid'ah dalam ziarah ke Madinah
adalah:
«الْتِزَامَ زُوَّارِ الْمَدِينَةِ الْإِقَامَةَ
فِيهَا أُسْبُوعًا حَتَّى يَتَمَكَّنُوا مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ
أَرْبَعِينَ صَلَاةً، لِتُكْتَبَ لَهُمْ بَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ
النَّارِ». اهـ.
“Kebiasaan para
peziarah Madinah untuk menetap selama satu minggu agar dapat melaksanakan empat
puluh kali shalat di Masjid Nabawi, dengan keyakinan bahwa dengan itu akan
dituliskan bagi mereka kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari neraka.” (Selesai).
----
HUKUM MENGAMALKAN HADITS DHO’IF
DALAM “فَضَائِلُ
الْأَعْمَالِ” FADHO'IL A'MAAL
Imam
An-Nawawi, Syaikh Ali Al-Qori, dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menukil : kesepakatan
JUMHUR ULAMA dan FUQOHA atas pendapat yang membolehkan pengamalan hadits
dha’if dalam fadhoil a'maal.
Imam
Al-Zarkashi Al-Syafi'i mengutip : “Ijma’ para ulama boleh mengamalkan hadits
dho’if dalam faho’ilul a’mal”.
Pendapat
ini dijadikan pedoman oleh banyak para imam, diantaranya : Imam Ibnu Hajar Al
Asqolani, Imam Al Luknawi, Imam Ahmad, Abu Zakariya, dan Ibnu Mahdi.
Bahkan
Imam Abu Daud , Imam Ahmad , Abdullah bin Al-Mubarak, Abdul Rahman bin
Mahdi, dan Sufyan Al-Thawri, Ibnu Abdil Barr, mereka berpendapat : bahwa Hadits
Dha’if Boleh Diamalkan secara mutlak , baik hadits itu berhubungan dengan
aqidah, hukum syari’maupun Fadloilul a’maal akan tapi dengan Syarat –syarat
tertentu.
[Baca : ٱلْفُتُوحَاتُ ٱلرَّبَّانِيَّةُ (1/182) dan حُكْمُ قَبُولِ
ٱلْحَدِيثِ ٱلضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ ٱلْأَعْمَالِ karya
Abdul Khaliq hal 3].
RIWAYAT LAIN YANG SEDIKIT BEDA LAFADZ
Habib bin Abi
Tsabit meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي
جَمَاعَةٍ، يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ
مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ».
“Barang siapa
shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah dan mendapatkan
takbiratul ihram pertama, maka dituliskan baginya dua kebebasan: kebebasan dari
neraka dan kebebasan dari kemunafikan.”
Hadits ini
diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (241) melalui Uqbah bin Mukram dan Nashr bin Ali
Al-Jahdhami. Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah
Salam bin Qutaibah, dari Thu'mah bin Amr, dari Habib bin Abi Tsabit dengan
sanad tersebut. Akan tetapi, hadits ini juga memiliki illat (cacat).
At-Tirmidzi
berkata:
«وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَنَسٍ
مَوْقُوفًا، وَلَا أَعْلَمُ أَحَدًا رَفَعَهُ إِلَّا مَا رَوَى سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ،
عَنْ طُعْمَةَ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، وَإِنَّمَا
يُرْوَى هَذَا عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ الْبَجَلِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَوْلُهُ»، (يَعْنِي: مَوْقُوفًا).
“Hadits ini juga
diriwayatkan dari Anas secara mauquf (hanya sampai kepada sahabat). Aku tidak
mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) selain
riwayat Salam bin Qutaibah, dari Thu'mah bin Amr, dari Habib bin Abi Tsabit,
dari Anas. Padahal yang dikenal adalah riwayat dari Habib bin Abi Habib Al-Bajali,
dari Anas bin Malik, sebagai perkataan Anas sendiri (mauquf).”
Kemudian
At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Hannad, ia berkata: telah menceritakan kepada
kami Waki', dari Khalid bin Thahman, dari Habib bin Abi Habib Al-Bajali, dari
Anas bin Malik sebagai perkataannya sendiri dan tidak memarfu'kannya.
Selanjutnya
At-Tirmidzi berkata:
«وَرَوَى إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ هَذَا الْحَدِيثَ
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ،
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوَ هَذَا، وَهَذَا حَدِيثٌ غَيْرُ مَحْفُوظٍ، وَهُوَ مُرْسَلٌ،
عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ لَمْ يُدْرِكْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ».
“Ismail bin Ayyasy
juga meriwayatkan hadits ini dari Umarah bin Ghaziyyah, dari Anas bin Malik,
dari Umar bin Al-Khaththab, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang semakna. Namun hadits ini tidak mahfuz dan
termasuk mursal, karena Umarah bin Ghaziyyah tidak bertemu dengan Anas bin
Malik.”
Meskipun
At-Tirmidzi tidak menyebutkan lafaz haditsnya, namun dari konteksnya tampak
bahwa lafaznya menyebutkan “empat puluh hari”.
Al-A'dzomi berkata:
«وَفِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ضَعِيفٌ
فِي غَيْرِ الشَّامِيِّينَ، وَعُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ مِنَ الْمَدَنِيِّينَ، ثُمَّ
إِنَّهُ خَالَفَ فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ أَيْضًا؛ فَقَدْ وَصَلَهُ ابْنُ مَاجَهْ
(٧٨٩) عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ،
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ،
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ:
«مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ أَرْبَعِينَ
لَيْلَةً، لَا تَفُوتُهُ الرَّكْعَةُ الْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ، كَتَبَ اللَّهُ
لَهُ بِهَا عِتْقًا مِنَ النَّارِ».
“Dalam
sanadnya terdapat Ismail bin Ayyasy, yang lemah dalam meriwayatkan dari selain
penduduk Syam, sedangkan Umarah bin Ghaziyyah adalah penduduk Madinah.”
Selain itu, ia juga
menyelisihi lafaz hadits. Ibnu Majah (789) meriwayatkannya melalui Utsman bin
Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy, dari
Umarah bin Ghaziyyah, dari Anas bin Malik, dari Umar bin Al-Khaththab, dari
Nabi ﷺ, bahwa
beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa
melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah selama empat puluh malam, tanpa
tertinggal rakaat pertama dari shalat Isya, maka Allah akan menuliskan baginya
pembebasan dari neraka.” [Selesai]
Riwayat ini
mengkhususkan keutamaan tersebut pada shalat Isya saja, bukan seluruh shalat.
Perbedaan dalam sanad dan matan seperti ini menjadikan hadits tersebut
mudhtharib (goncang periwayatannya). Hadits ini juga memiliki jalur-jalur lain
dengan perbedaan lafaz yang semakin menambah kelemahannya.
Demikian pula,
tidak sahih riwayat yang datang dari Abu Kahil Qais bin A'idz. Ia berkata:
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَذَكَرَ
حَدِيثًا طَوِيلًا، وَجَاءَ فِيهِ: «اعْلَمْ يَا أَبَا كَاهِلٍ أَنَّهُ مَنْ صَلَّى
أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ
الْأُولَى، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ».
Rasulullah ﷺ
bersabda kepadaku dalam sebuah hadits yang panjang, dan di dalamnya disebutkan:
“Ketahuilah wahai Abu Kahil, bahwa barang siapa shalat selama empat puluh hari
dan empat puluh malam secara berjamaah serta mendapatkan takbiratul ihram
pertama, maka menjadi hak atas Allah untuk menuliskan baginya kebebasan dari
neraka.”
Hadits ini diriwayatkan
oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (18/361-362) melalui sanad:
Al-Hasan bin Ali Al-Ma'mari, dari Ali bin Al-Madini, dari Yunus bin Muhammad
Al-Mu'addib, dari Al-Fadhl bin Atha', dari Al-Fadhl bin Syu'aib, dari Abu
Manzhur, dari Abu Mu'adz, dari Abu Kahil.
Ibnu Abdil Barr
berkata dalam biografinya di Al-Isti'ab (310):
«ذُكِرَ لَهُ حَدِيثٌ مُنْكَرٌ طَوِيلٌ فَلَمْ
أَذْكُرْهُ».
“Disebutkan darinya
sebuah hadits yang mungkar dan panjang, maka aku tidak mencantumkannya.”
Sedangkan
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id (4/219):
«و رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ الْفَضْلُ
بْنُ عَطَاءٍ ذَكَرَهُ الذَّهَبِيُّ، وَقَالَ: إِسْنَادُهُ مُظْلِمٌ».
“Di riwayatkan oleh
at-Thabarani, di dalam sanadnya terdapat Al-Fadhl bin Atha'. Adz-Dzahabi
menyebutkannya dan berkata: ‘Sanadnya gelap (sangat lemah).’”
Al-Fadhl bin Atha'
juga disebutkan oleh Al-Uqaili dalam kitab Adh-Dhu'afa'.
Dengan demikian,
diketahui bahwa tidak ada satu pun hadits yang sahih dalam pembahasan ini.
0 Komentar