Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

DHOIF & MUNKAR: “KISAH NABI ﷺ BACA SURAT YASIN LALU MENABURKAN DEBU KE ATAS KEPALA ORANG-ORANG MUSYRIK".

DHOIF & MUNKAR: “KISAH NABI MEMBACAKAN SURAT YASIN 
LALU MENABURKAN DEBU KE ATAS KEPALA ORANG-ORANG MUSYRIK 
YANG MENGEPUNG RUMAHNYA SAAT HENDAK HIJRAH”

 -----

Di Tulis Oleh Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---- 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

Kisah Nabi Membacakan Surah Yasin
Lalu Beliau Menaburkan Tanah  ke Atas  Kepala Orang-Orang Musyrikin 
Yang Mengepung Rumahnya Saat Beliau  Hendak Hijrah ke Madinah.

 -----

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba'du.

Ini adalah kajian ilmiah dalam bidang hadits kepada para pembaca yang mulia, agar dapat mengetahui hakikat kisah yang lemah ini, yang telah masyhur di lisan para pencerita, penceramah, dan para penulis di surat kabar maupun majalah.

Berikut ini disajikan takhrij dan tahqiqnya.

****

SEBAB-SEBAB PEMBAHASAN KISAH INI.

Adanya kisah ini di dalam sebagian kitab-kitab induk hadits—sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan takhrij—menyebabkan orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang tahqiq dan ilmu 'ilal hadits mengira bahwa kisah ini adalah shahih.

Banyak penulis menyebutkan kisah ini tanpa melakukan penelitian, lalu menyebarkannya melalui surat kabar dan majalah pada awal tahun Hijriah. Demikian pula para khatib dan penceramah menyampaikannya di atas mimbar maupun melalui berbagai saluran media pada momen peringatan hijrah.

Dengan mengumpulkan seluruh jalur riwayat kisah ini dan meneliti cacat-cacatnya—sebagaimana akan saya jelaskan dalam pembahasan tahqiq—akan tampak bahwa sanad riwayat berita yang dibawa oleh kisah ini adalah munkar dan sangat lemah.

Sebagaimana telah diketahui di kalangan para ahli hadits, hadits munkar terjadi karena adanya keterputusan dalam sanad atau adanya cacat pada perawinya. Adapun riwayat ini, sebagaimana akan kami jelaskan, menghimpun kedua sebab tersebut sekaligus, yaitu keterputusan sanad dan cacat pada perawi (السَّقْطُ وَالطَّعْنُ).

Ini berdasarkan penelitian sanad riwayat, adapun benar dan tidak nya realita kejadian tersebut, maka saya katakan: “wallahu a’lam bsh showab”.

====

TEXT KISAH

Dalam riwayat yang memuat kisah ini, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi, dia berkata:

إِنَّ الْمُشْرِكِينَ لَمَّا اجْتَمَعُوا لَهُ، وَفِيهِمْ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ، فَقَالَ وَهُمْ عَلَى بَابِهِ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ أَنَّكُمْ إِنْ تَابَعْتُمُوهُ عَلَى أَمْرِهِ، كُنْتُمْ مُلُوكَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ، فَجُعِلَتْ لَكُمْ جِنَانٌ كَجِنَانِ الْأُرْدُنِّ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ لَهُ فِيكُمْ ذَبْحٌ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ، ثُمَّ جُعِلَتْ لَكُمْ نَارٌ تُحْرَقُونَ فِيهَا.

قَالَ: وَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَأَخَذَ حَفْنَةً مِنْ تُرَابٍ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَنَا أَقُولُ ذَلِكَ، أَنْتَ أَحَدُهُمْ. وَأَخَذَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى أَبْصَارِهِمْ عَنْهُ، فَلَا يَرَوْنَهُ، فَجَعَلَ يَنْثُرُ ذَلِكَ التُّرَابَ عَلَى رُءُوسِهِمْ، وَهُوَ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَاتِ مِنْ سُورَةِ يس:

﴿يَس ۝ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ۝ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ ۝ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ۝ تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ۝ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ ۝ لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ ۝ ﴿وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ﴾ [يس: ١-٩].

حَتَّى فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا وَقَدْ وَضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تُرَابًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى حَيْثُ أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ، فَأَتَاهُمْ آتٍ مِمَّنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ، فَقَالَ: مَا تَنْتَظِرُونَ هَهُنَا؟

قَالُوا: مُحَمَّدًا.

قَالَ: خَيَّبَكُمُ اللَّهُ! قَدْ وَاللَّهِ خَرَجَ عَلَيْكُمْ مُحَمَّدٌ، ثُمَّ مَا تَرَكَ مِنْكُمْ رَجُلًا إِلَّا وَقَدْ وَضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تُرَابًا، وَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، أَفَمَا تَرَوْنَ مَا بِكُمْ؟

قَالَ: فَوَضَعَ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ، فَإِذَا عَلَيْهِ تُرَابٌ، ثُمَّ جَعَلُوا يَتَطَلَّعُونَ فَيَرَوْنَ عَلِيًّا عَلَى الْفِرَاشِ مُتَسَجِّيًا بِبُرْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَيَقُولُونَ: وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا لَمُحَمَّدٌ نَائِمٌ عَلَيْهِ بُرْدُهُ.

فَلَمْ يَبْرَحُوا كَذَلِكَ حَتَّى أَصْبَحُوا، فَقَامَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ الْفِرَاشِ، فَقَالُوا: وَاللَّهِ لَقَدْ صَدَقَنَا الَّذِي حَدَّثَنَا.

مَا نَزَلَ فِي تَرَبُّصِ الْمُشْرِكِينَ بِالنَّبِيِّ:

قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: وَكَانَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْقُرْآنِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَمَا كَانُوا أَجْمَعُوا لَهُ:

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾ [الأنفال: ٣٠].

وَقَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ ۝ قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ﴾ [الطور: ٣٠-٣١].

Sesungguhnya orang-orang musyrik ketika berkumpul untuk menghadang Nabi , dan di antara mereka terdapat Abu Jahal bin Hisyam, ia berkata saat mereka berdiri di depan pintu rumah beliau,

“Sesungguhnya Muhammad mengklaim bahwa jika kalian mengikutinya dalam urusannya, niscaya kalian akan menjadi raja-raja bangsa Arab dan bangsa non-Arab. Kemudian setelah kalian mati, kalian akan dibangkitkan kembali, lalu disediakan bagi kalian surga-surga seperti kebun-kebun di Yordania. Tetapi jika kalian tidak melakukannya, maka ia akan menyembelih kalian. Setelah kalian mati, kalian akan dibangkitkan kembali, lalu disediakan bagi kalian neraka yang membakar kalian di dalamnya.”

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Lalu Rasulullah keluar menemui mereka sambil menggenggam segenggam tanah di tangannya. Kemudian beliau bersabda,

‘Aku memang mengatakan hal itu, dan engkau termasuk salah seorang dari mereka.’

Lalu Allah Ta’ala menutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat beliau. Kemudian beliau menaburkan tanah itu ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat dari Surah Yasin:

‘Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul, yang berada di atas jalan yang lurus.

Al-Qur’an itu diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai.

Sungguh telah pasti berlaku ketetapan terhadap kebanyakan mereka, karena itu mereka tidak beriman.

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka terangkat sampai ke dagu sehingga mereka tertengadah.

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 1–9)

Setelah Rasulullah selesai membaca ayat-ayat tersebut, tidak seorang pun dari mereka yang tidak terkena tanah di atas kepalanya. Kemudian beliau pergi menuju tempat yang beliau kehendaki.

Lalu datanglah seseorang yang sebelumnya tidak bersama mereka, kemudian bertanya, ‘Apa yang kalian tunggu di sini?’

Mereka menjawab, ‘Muhammad.’

Orang itu berkata, ‘Semoga Allah menggagalkan rencana kalian! Demi Allah, Muhammad telah keluar melewati kalian. Tidak seorang pun di antara kalian kecuali telah beliau taburi tanah di atas kepalanya, lalu beliau pergi untuk keperluannya. Tidakkah kalian melihat keadaan diri kalian?’

Maka masing-masing dari mereka meletakkan tangannya di atas kepala, ternyata benar ada tanah di atasnya. Setelah itu mereka mengintip ke dalam rumah dan melihat Ali radhiyallahu ‘anhu sedang berbaring di tempat tidur dengan berselimut kain Rasulullah . Mereka berkata,

‘Demi Allah, itu benar-benar Muhammad yang sedang tidur dengan mengenakan selimutnya.’

Mereka terus menunggu dalam keadaan demikian hingga pagi hari. Ketika Ali radhiyallahu ‘anhu bangun dari tempat tidur, mereka berkata,

‘Demi Allah, benar apa yang telah disampaikan kepada kita.’

Ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang musyrik yang menunggu Nabi :

Ibnu Ishaq berkata,

"Di antara ayat Al-Qur'an yang Allah 'Azza wa Jalla turunkan pada hari itu mengenai rencana yang mereka susun terhadap beliau adalah firman-Nya,

'Dan ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkapmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya.' (Al-Anfal: 30)

Demikian pula firman Allah 'Azza wa Jalla,

'Ataukah mereka mengatakan, "Dia seorang penyair, yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya." Katakanlah, "Tunggulah, sesungguhnya aku pun bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu."' (Ath-Thur: 30–31) [Kutipan Selesai]

====

TAKHRIJ HADITS KISAH INI

Hadits yang menjadi dasar kisah ini diriwayatkan oleh:

[•] Imam al-Hafizh Muhammad bin Jarir ath-Thabari (wafat tahun 310 H) dalam kitab Tarikh-nya (2/372, cet. Dar at-Turats, Beirut). Beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Salamah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, ia berkata:

اجْتَمَعُوا لَهُ، وَفِيهِمْ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ، فَقَالَ وَهُمْ عَلَى بَابِهِ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ... الْقِصَّةَ.

"Kaum musyrikin berkumpul untuk menghadangnya, dan di antara mereka terdapat Abu Jahal bin Hisyam..." lalu beliau menyebutkan kisah tersebut.

[•] Imam al-Hafizh Abu Nu'aim Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani (wafat 430 H) dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah (hlm. 64, cet. Dar al-Mutanabbi, Kairo), dari Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dengan sanad yang sama.

[•] Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam, dalam kitab As-Sirah (2/103), melalui jalur Muhammad bin Ishaq yang berkata: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dengan sanad yang sama.

===

TAHQIQ (PENELITIAN)

Hadits ini tidak sahih. Hadits ini mungkar dan tertolak karena adanya keterputusan sanad. Buktinya adalah sebagai berikut:

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab At-Taqrib (2/203):

«مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ مِنَ الثَّالِثَةِ».

"Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi termasuk tabi'in generasi ketiga."

Yakni ia termasuk golongan pertengahan para tabi'in. Menurut pendapat yang paling kuat, ia lahir pada tahun 40 Hijriah.

Imam al-Hafizh al-Mizzi berkata dalam Tahdzib al-Kamal (17/179 no. 6162), dari Ya'qub bin Syaibah as-Sadusi, dia berkata:

يُعَدُّ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ فِي الطَّبَقَةِ الثَّالِثَةِ، وَوُلِدَ فِي آخِرِ خِلَافَةِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، فِي سَنَةِ أَرْبَعِينَ مِنَ الْهِجْرَةِ. اهـ.

“ Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi termasuk tabi'in generasi ketiga, dan lahir pada akhir masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, yaitu pada tahun 40 Hijriah”.

Dari penjelasan para imam tersebut tampak jelas bahwa Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi lahir empat puluh tahun setelah peristiwa hijrah. Dengan demikian, mustahil baginya mengatakan,

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَأَخَذَ حَفْنَةً مِنْ تُرَابٍ، فَجَعَلَ يَنْثُرُ ذَلِكَ التُّرَابَ عَلَى رُءُوسِهِمْ، وَهُوَ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَاتِ مِنْ سُورَةِ يس،

"Rasulullah keluar, lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat Surah Yasin," padahal pada saat peristiwa itu terjadi ia bahkan belum lahir, bahkan masih berada dalam alam sebelum kelahiran selama empat puluh tahun.

Bahkan, bagaimana mungkin ia meriwayatkan hadits itu secara langsung dari Nabi ?

Bagaimana mungkin ia menyandarkannya kepada kehidupan Nabi , padahal ia sama sekali tidak mengalami masa kehidupan beliau?

Padahal perjalanan hidup Nabi telah dijelaskan secara sangat sahih dalam hadits muttafaq 'alaih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3902) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2349), dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa beliau berkata:

«بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِأَرْبَعِينَ سَنَةً، فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ، ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ، فَهَاجَرَ عَشْرَ سِنِينَ، وَمَاتَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ». اهـ.

"Rasulullah diutus menjadi nabi pada usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun menerima wahyu. Kemudian beliau diperintahkan berhijrah, lalu tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, dan wafat pada usia enam puluh tiga tahun."

Dengan demikian, Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi lahir sekitar tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi .

Ilmu kronologi merupakan salah satu cabang penting dalam ilmu hadits. Imam as-Suyuthi berkata dalam kitab Tadrib ar-Rawi (2/349), pembahasan jenis ke-60:

«التَّوَارِيخُ لِمَوَالِيدِ الرُّوَاةِ، وَالْوَفَيَاتِ، وَالْقُدُومِ لِلْبَلَدِ، هُوَ فَنٌّ مُهِمٌّ يُعْرَفُ بِهِ اتِّصَالُ الْحَدِيثِ وَانْقِطَاعُهُ، وَقَدِ ادَّعَى قَوْمٌ الرِّوَايَةَ عَنْ قَوْمٍ، فَنُظِرَ فِي التَّارِيخِ، فَظَهَرَ أَنَّهُمْ زَعَمُوا الرِّوَايَةَ عَنْهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِمْ بِسِنِينَ». اهـ.

"Mengetahui tanggal kelahiran para perawi, tanggal wafat mereka, dan kapan mereka datang ke suatu negeri merupakan ilmu yang sangat penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah sanad suatu hadits bersambung atau terputus. Banyak orang mengaku meriwayatkan dari seseorang, namun setelah diteliti melalui sejarah, ternyata mereka mengaku meriwayatkan dari orang yang telah wafat bertahun-tahun sebelumnya."

Dengan demikian, hadits ini adalah hadits munqathi' (terputus), mursal, dan gharib. Hadits ini tidak diriwayatkan dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi kecuali oleh Yazid bin Ziyad, dan tidak ada yang meriwayatkannya dari Yazid selain Muhammad bin Ishaq.

As-Suyuthi juga menukil dalam Tadrib ar-Rawi (2/182) bahwa Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

«لَا تَكْتُبُوا هَذِهِ الْأَحَادِيثَ الْغَرَائِبَ، فَإِنَّهَا مَنَاكِيرُ، وَعَامَّتُهَا عَنِ الضُّعَفَاءِ». اهـ.

"Janganlah kalian menulis hadits-hadits gharib seperti ini, karena sesungguhnya hadits-hadits tersebut adalah hadits mungkar, dan kebanyakannya berasal dari para perawi yang lemah."

===

JALUR RIWAYAT YANG LAIN.

Ada orang yang tidak memahami ilmu hadits mungkin akan mengklaim bahwa riwayat tentang berkumpulnya sekelompok orang Quraisy di depan pintu rumah Nabi , kemudian keluarnya Nabi kepada mereka, lalu beliau menaburkan tanah ke atas kepala mereka sambil membaca Surah Yasin, telah diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd.

Saya katakan: Ia tidak mengetahui bahwa riwayat tersebut adalah riwayat yang rusak, bahkan semakin menambah kelemahan kisah itu di atas kelemahannya.

Berikut penjelasannya.

****

PENELITIAN TERHADAP JALUR RIWAYAT INI

Riwayat ini dikeluarkan oleh Muhammad bin Sa'd bin Mani' dalam kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra (1/110), (cetakan Dar Ihya' At-Turats, Beirut).

Al-Hafizh Al-Mizzi berkata dalam Tahdzib Al-Kamal (16/299 no. 5826):

«مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ هُوَ كَاتِبُ الْوَاقِدِيِّ، وَالْوَاقِدِيُّ هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ الْوَاقِدِيُّ». اهـ.

"Muhammad bin Sa'd adalah sekretaris Al-Waqidi, sedangkan Al-Waqidi adalah Muhammad bin Umar Al-Waqidi."

Hadits ini dalam riwayat Ibnu Sa'd berasal melalui gurunya, yaitu Muhammad bin Umar Al-Waqidi, dan dialah sumber kelemahan riwayat tersebut.

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan (3/662 no. 7993) tentang Muhammad bin Umar bin Waqid Al-Waqidi:

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: «هُوَ كَذَّابٌ».

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Ia adalah seorang pendusta."

Yahya bin Ma'in berkata,

«لَيْسَ بِثِقَةٍ».

"Ia bukan orang yang terpercaya."

Imam Al-Bukhari dan Abu Hatim berkata, «مَتْرُوكٌ» "Haditsnya ditinggalkan."

Abu Hatim juga berkata, demikian pula An-Nasa'i, «يَضَعُ الْحَدِيثَ» "Ia memalsukan hadits."

Ibnu 'Adi berkata:

«أَحَادِيثُهُ غَيْرُ مَحْفُوظَةٍ، وَالْبَلَاءُ مِنْهُ»

"Hadits-haditsnya tidak terpelihara, dan sumber kerusakannya berasal darinya."

****

RIWAYAT-RIWAYAT YANG SHAHIH SEBAGAI PENGGANTI

Imam Al-Bukhari telah menjelaskan kisah hijrah Nabi yang shahih dalam kitab Shahih-nya.

Beliau membawakan kisah hijrah tersebut dalam lebih dari empat puluh baris pada hadits nomor 3905 dari riwayat 'Aisyah radhiyallahu 'anha, serta pada hadits nomor 3906 dari riwayat Suraqah bin Ju'syam.

Imam Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus berjudul:

«هِجْرَةُ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ»

"Hijrahnya Nabi ke Madinah"

Yaitu Bab nomor 45 dalam Kitab Manaqib Al-Anshar.

Kisah-kisah yang shahih tersebut telah mencukupi kebutuhan tentang kisah hijrah, sehingga tidak perlu lagi bergantung kepada kisah-kisah yang lemah seperti ini.

Posting Komentar

0 Komentar