DHOIF
& MUNKAR: “KISAH NABI ﷺ MEMBACAKAN SURAT YASIN
LALU
MENABURKAN DEBU KE ATAS KEPALA ORANG-ORANG MUSYRIK
YANG MENGEPUNG RUMAHNYA SAAT
HENDAK HIJRAH”
Di Tulis
Oleh Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
===***===
Kisah
Nabi ﷺ Membacakan
Surah Yasin
Lalu Beliau
ﷺ
Menaburkan Tanah ke Atas Kepala Orang-Orang Musyrikin
Yang Mengepung Rumahnya Saat
Beliau ﷺ Hendak Hijrah ke Madinah.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba'du.
Ini adalah kajian ilmiah dalam bidang hadits
kepada para pembaca yang mulia, agar dapat mengetahui hakikat kisah yang lemah
ini, yang telah masyhur di lisan para pencerita, penceramah, dan para penulis
di surat kabar maupun majalah.
Berikut ini disajikan takhrij dan tahqiqnya.
****
SEBAB-SEBAB PEMBAHASAN KISAH INI.
Adanya kisah ini di dalam sebagian kitab-kitab
induk hadits—sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan
takhrij—menyebabkan orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang tahqiq dan ilmu
'ilal hadits mengira bahwa kisah ini adalah shahih.
Banyak penulis menyebutkan kisah ini tanpa
melakukan penelitian, lalu menyebarkannya melalui surat kabar dan majalah pada
awal tahun Hijriah. Demikian pula para khatib dan penceramah menyampaikannya di
atas mimbar maupun melalui berbagai saluran media pada momen peringatan hijrah.
Dengan mengumpulkan seluruh jalur riwayat
kisah ini dan meneliti cacat-cacatnya—sebagaimana akan saya jelaskan dalam
pembahasan tahqiq—akan tampak bahwa sanad riwayat berita yang dibawa oleh kisah
ini adalah munkar dan sangat lemah.
Sebagaimana telah diketahui di kalangan para
ahli hadits, hadits munkar terjadi karena adanya keterputusan dalam sanad atau
adanya cacat pada perawinya. Adapun riwayat ini, sebagaimana akan kami
jelaskan, menghimpun kedua sebab tersebut sekaligus, yaitu keterputusan sanad
dan cacat pada perawi (السَّقْطُ وَالطَّعْنُ).
Ini berdasarkan penelitian sanad riwayat, adapun
benar dan tidak nya realita kejadian tersebut, maka saya katakan: “wallahu a’lam
bsh showab”.
====
TEXT KISAH
Dalam riwayat yang memuat kisah ini, dari
Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi, dia berkata:
إِنَّ الْمُشْرِكِينَ لَمَّا
اجْتَمَعُوا لَهُ، وَفِيهِمْ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ، فَقَالَ وَهُمْ عَلَى
بَابِهِ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ أَنَّكُمْ إِنْ تَابَعْتُمُوهُ عَلَى
أَمْرِهِ، كُنْتُمْ مُلُوكَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ
مَوْتِكُمْ، فَجُعِلَتْ لَكُمْ جِنَانٌ كَجِنَانِ الْأُرْدُنِّ، وَإِنْ لَمْ
تَفْعَلُوا كَانَ لَهُ فِيكُمْ ذَبْحٌ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ،
ثُمَّ جُعِلَتْ لَكُمْ نَارٌ تُحْرَقُونَ فِيهَا.
قَالَ: وَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ، فَأَخَذَ حَفْنَةً مِنْ تُرَابٍ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَنَا أَقُولُ
ذَلِكَ، أَنْتَ أَحَدُهُمْ. وَأَخَذَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى أَبْصَارِهِمْ
عَنْهُ، فَلَا يَرَوْنَهُ، فَجَعَلَ يَنْثُرُ ذَلِكَ التُّرَابَ عَلَى
رُءُوسِهِمْ، وَهُوَ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَاتِ مِنْ سُورَةِ يس:
﴿يَس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ إِنَّكَ
لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ
الرَّحِيمِ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ إِنَّا
جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ
مُقْمَحُونَ ﴿وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ
سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ﴾ [يس: ١-٩].
حَتَّى فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
مِنْ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا وَقَدْ وَضَعَ
عَلَى رَأْسِهِ تُرَابًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى حَيْثُ أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ،
فَأَتَاهُمْ آتٍ مِمَّنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ، فَقَالَ: مَا تَنْتَظِرُونَ
هَهُنَا؟
قَالُوا: مُحَمَّدًا.
قَالَ: خَيَّبَكُمُ اللَّهُ! قَدْ
وَاللَّهِ خَرَجَ عَلَيْكُمْ مُحَمَّدٌ، ثُمَّ مَا تَرَكَ مِنْكُمْ رَجُلًا إِلَّا
وَقَدْ وَضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تُرَابًا، وَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، أَفَمَا
تَرَوْنَ مَا بِكُمْ؟
قَالَ: فَوَضَعَ كُلُّ رَجُلٍ
مِنْهُمْ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ، فَإِذَا عَلَيْهِ تُرَابٌ، ثُمَّ جَعَلُوا يَتَطَلَّعُونَ
فَيَرَوْنَ عَلِيًّا عَلَى الْفِرَاشِ مُتَسَجِّيًا بِبُرْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ،
فَيَقُولُونَ: وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا لَمُحَمَّدٌ نَائِمٌ عَلَيْهِ بُرْدُهُ.
فَلَمْ يَبْرَحُوا كَذَلِكَ حَتَّى
أَصْبَحُوا، فَقَامَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ الْفِرَاشِ، فَقَالُوا:
وَاللَّهِ لَقَدْ صَدَقَنَا الَّذِي حَدَّثَنَا.
مَا نَزَلَ فِي تَرَبُّصِ
الْمُشْرِكِينَ بِالنَّبِيِّ:
قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: وَكَانَ
مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْقُرْآنِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ،
وَمَا كَانُوا أَجْمَعُوا لَهُ:
﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا
لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ
اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾ [الأنفال: ٣٠].
وَقَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ قُلْ تَرَبَّصُوا
فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ﴾ [الطور: ٣٠-٣١].
Sesungguhnya orang-orang musyrik ketika
berkumpul untuk menghadang Nabi ﷺ, dan di antara mereka terdapat Abu Jahal bin Hisyam, ia berkata
saat mereka berdiri di depan pintu rumah beliau,
“Sesungguhnya Muhammad mengklaim bahwa jika
kalian mengikutinya dalam urusannya, niscaya kalian akan menjadi raja-raja
bangsa Arab dan bangsa non-Arab. Kemudian setelah kalian mati, kalian akan
dibangkitkan kembali, lalu disediakan bagi kalian surga-surga seperti
kebun-kebun di Yordania. Tetapi jika kalian tidak melakukannya, maka ia akan
menyembelih kalian. Setelah kalian mati, kalian akan dibangkitkan kembali, lalu
disediakan bagi kalian neraka yang membakar kalian di dalamnya.”
Muhammad bin Ka’ab berkata, “Lalu Rasulullah ﷺ keluar
menemui mereka sambil menggenggam segenggam tanah di tangannya. Kemudian beliau
bersabda,
‘Aku memang mengatakan hal itu, dan engkau
termasuk salah seorang dari mereka.’
Lalu Allah Ta’ala menutup penglihatan mereka
sehingga mereka tidak dapat melihat beliau. Kemudian beliau menaburkan tanah
itu ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat dari Surah Yasin:
‘Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah.
Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul, yang berada di atas jalan
yang lurus.
Al-Qur’an itu diturunkan oleh Yang
Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, agar engkau memberi peringatan kepada suatu
kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka
lalai.
Sungguh telah pasti berlaku ketetapan
terhadap kebanyakan mereka, karena itu mereka tidak beriman.
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu
di leher mereka, lalu tangan mereka terangkat sampai ke dagu sehingga mereka
tertengadah.
Dan Kami adakan di hadapan mereka
dinding dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup penglihatan mereka
sehingga mereka tidak dapat melihat.’ (Yasin: 1–9)
Setelah Rasulullah ﷺ selesai membaca ayat-ayat tersebut, tidak seorang pun dari
mereka yang tidak terkena tanah di atas kepalanya. Kemudian beliau pergi menuju
tempat yang beliau kehendaki.
Lalu datanglah seseorang yang sebelumnya tidak
bersama mereka, kemudian bertanya, ‘Apa yang kalian tunggu di sini?’
Mereka menjawab, ‘Muhammad.’
Orang itu berkata, ‘Semoga Allah menggagalkan
rencana kalian! Demi Allah, Muhammad telah keluar melewati kalian. Tidak
seorang pun di antara kalian kecuali telah beliau taburi tanah di atas
kepalanya, lalu beliau pergi untuk keperluannya. Tidakkah kalian melihat
keadaan diri kalian?’
Maka masing-masing dari mereka meletakkan
tangannya di atas kepala, ternyata benar ada tanah di atasnya. Setelah itu
mereka mengintip ke dalam rumah dan melihat Ali radhiyallahu ‘anhu sedang
berbaring di tempat tidur dengan berselimut kain Rasulullah ﷺ. Mereka
berkata,
‘Demi Allah, itu benar-benar Muhammad yang
sedang tidur dengan mengenakan selimutnya.’
Mereka terus menunggu dalam keadaan demikian
hingga pagi hari. Ketika Ali radhiyallahu ‘anhu bangun dari tempat tidur,
mereka berkata,
‘Demi Allah, benar apa yang telah disampaikan
kepada kita.’
Ayat-ayat
yang diturunkan tentang orang-orang musyrik yang menunggu Nabi ﷺ:
Ibnu Ishaq berkata,
"Di antara ayat Al-Qur'an yang Allah
'Azza wa Jalla turunkan pada hari itu mengenai rencana yang mereka susun
terhadap beliau adalah firman-Nya,
'Dan ingatlah ketika orang-orang kafir
memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkapmu, membunuhmu, atau mengusirmu.
Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah
adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya.' (Al-Anfal: 30)
Demikian pula firman Allah 'Azza wa Jalla,
'Ataukah mereka mengatakan, "Dia
seorang penyair, yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya."
Katakanlah, "Tunggulah, sesungguhnya aku pun bersama kalian termasuk
orang-orang yang menunggu."' (Ath-Thur: 30–31) [Kutipan
Selesai]
====
TAKHRIJ HADITS KISAH INI
Hadits yang menjadi dasar kisah ini
diriwayatkan oleh:
[•] Imam al-Hafizh Muhammad bin Jarir
ath-Thabari (wafat tahun 310 H) dalam kitab Tarikh-nya (2/372, cet. Dar
at-Turats, Beirut). Beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid,
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Salamah, ia berkata: Telah
menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan
kepadaku Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, ia berkata:
اجْتَمَعُوا لَهُ، وَفِيهِمْ أَبُو
جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ، فَقَالَ وَهُمْ عَلَى بَابِهِ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ...
الْقِصَّةَ.
"Kaum musyrikin berkumpul untuk
menghadangnya, dan di antara mereka terdapat Abu Jahal bin Hisyam..." lalu
beliau menyebutkan kisah tersebut.
[•] Imam al-Hafizh Abu Nu'aim Ahmad bin
Abdullah al-Ashbahani (wafat 430 H) dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah (hlm. 64,
cet. Dar al-Mutanabbi, Kairo), dari Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ziyad,
dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dengan sanad yang sama.
[•] Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin
Hisyam, dalam kitab As-Sirah (2/103), melalui jalur Muhammad bin Ishaq yang
berkata: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka'b
al-Qurazhi dengan sanad yang sama.
===
TAHQIQ (PENELITIAN)
Hadits ini tidak sahih. Hadits ini mungkar dan
tertolak karena adanya keterputusan sanad. Buktinya adalah sebagai berikut:
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab
At-Taqrib (2/203):
«مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ مِنَ
الثَّالِثَةِ».
"Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi termasuk
tabi'in generasi ketiga."
Yakni ia termasuk golongan pertengahan para
tabi'in. Menurut pendapat yang paling kuat, ia lahir pada tahun 40 Hijriah.
Imam al-Hafizh al-Mizzi berkata dalam Tahdzib
al-Kamal (17/179 no. 6162), dari Ya'qub bin Syaibah as-Sadusi, dia berkata:
يُعَدُّ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ
الْقُرَظِيُّ فِي الطَّبَقَةِ الثَّالِثَةِ، وَوُلِدَ فِي آخِرِ خِلَافَةِ عَلِيِّ
بْنِ أَبِي طَالِبٍ، فِي سَنَةِ أَرْبَعِينَ مِنَ الْهِجْرَةِ. اهـ.
“ Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi termasuk
tabi'in generasi ketiga, dan lahir pada akhir masa kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib, yaitu pada tahun 40 Hijriah”.
Dari penjelasan para imam tersebut tampak
jelas bahwa Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi lahir empat puluh tahun setelah
peristiwa hijrah. Dengan demikian, mustahil baginya mengatakan,
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَأَخَذَ
حَفْنَةً مِنْ تُرَابٍ، فَجَعَلَ يَنْثُرُ ذَلِكَ التُّرَابَ عَلَى رُءُوسِهِمْ،
وَهُوَ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَاتِ مِنْ سُورَةِ يس،
"Rasulullah ﷺ keluar,
lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke atas kepala mereka sambil
membaca ayat-ayat Surah Yasin," padahal pada saat
peristiwa itu terjadi ia bahkan belum lahir, bahkan masih berada dalam alam
sebelum kelahiran selama empat puluh tahun.
Bahkan, bagaimana mungkin ia meriwayatkan
hadits itu secara langsung dari Nabi ﷺ?
Bagaimana mungkin ia menyandarkannya kepada
kehidupan Nabi ﷺ, padahal ia sama sekali tidak mengalami masa kehidupan beliau?
Padahal perjalanan hidup Nabi ﷺ telah
dijelaskan secara sangat sahih dalam hadits muttafaq 'alaih yang diriwayatkan
oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3902) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya
(no. 2349), dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa beliau berkata:
«بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِأَرْبَعِينَ
سَنَةً، فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ، ثُمَّ
أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ، فَهَاجَرَ عَشْرَ سِنِينَ، وَمَاتَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ
وَسِتِّينَ». اهـ.
"Rasulullah ﷺ diutus menjadi nabi pada usia empat puluh tahun. Beliau tinggal
di Makkah selama tiga belas tahun menerima wahyu. Kemudian beliau diperintahkan
berhijrah, lalu tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, dan wafat pada usia
enam puluh tiga tahun."
Dengan demikian, Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi
lahir sekitar tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi ﷺ.
Ilmu kronologi merupakan salah satu cabang
penting dalam ilmu hadits. Imam as-Suyuthi berkata dalam kitab Tadrib ar-Rawi (2/349),
pembahasan jenis ke-60:
«التَّوَارِيخُ لِمَوَالِيدِ الرُّوَاةِ،
وَالْوَفَيَاتِ، وَالْقُدُومِ لِلْبَلَدِ، هُوَ فَنٌّ مُهِمٌّ يُعْرَفُ بِهِ
اتِّصَالُ الْحَدِيثِ وَانْقِطَاعُهُ، وَقَدِ ادَّعَى قَوْمٌ الرِّوَايَةَ عَنْ
قَوْمٍ، فَنُظِرَ فِي التَّارِيخِ، فَظَهَرَ أَنَّهُمْ زَعَمُوا الرِّوَايَةَ
عَنْهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِمْ بِسِنِينَ». اهـ.
"Mengetahui tanggal kelahiran para
perawi, tanggal wafat mereka, dan kapan mereka datang ke suatu negeri merupakan
ilmu yang sangat penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah sanad suatu
hadits bersambung atau terputus. Banyak orang mengaku meriwayatkan dari
seseorang, namun setelah diteliti melalui sejarah, ternyata mereka mengaku
meriwayatkan dari orang yang telah wafat bertahun-tahun sebelumnya."
Dengan demikian, hadits ini adalah hadits
munqathi' (terputus), mursal, dan gharib. Hadits ini tidak diriwayatkan dari
Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi kecuali oleh Yazid bin Ziyad, dan tidak ada yang
meriwayatkannya dari Yazid selain Muhammad bin Ishaq.
As-Suyuthi juga menukil dalam Tadrib ar-Rawi
(2/182) bahwa Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
«لَا تَكْتُبُوا هَذِهِ الْأَحَادِيثَ
الْغَرَائِبَ، فَإِنَّهَا مَنَاكِيرُ، وَعَامَّتُهَا عَنِ الضُّعَفَاءِ». اهـ.
"Janganlah kalian menulis hadits-hadits
gharib seperti ini, karena sesungguhnya hadits-hadits tersebut adalah hadits
mungkar, dan kebanyakannya berasal dari para perawi yang lemah."
===
JALUR RIWAYAT YANG LAIN.
Ada orang yang tidak memahami ilmu hadits
mungkin akan mengklaim bahwa riwayat tentang berkumpulnya sekelompok orang Quraisy
di depan pintu rumah Nabi ﷺ, kemudian keluarnya Nabi ﷺ kepada mereka, lalu beliau menaburkan tanah ke atas kepala
mereka sambil membaca Surah Yasin, telah diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd.
Saya katakan: Ia tidak mengetahui bahwa
riwayat tersebut adalah riwayat yang rusak, bahkan semakin menambah kelemahan
kisah itu di atas kelemahannya.
Berikut penjelasannya.
****
PENELITIAN TERHADAP JALUR RIWAYAT INI
Riwayat ini dikeluarkan oleh Muhammad bin Sa'd
bin Mani' dalam kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra (1/110), (cetakan Dar Ihya'
At-Turats, Beirut).
Al-Hafizh Al-Mizzi berkata dalam Tahdzib
Al-Kamal (16/299 no. 5826):
«مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ هُوَ كَاتِبُ الْوَاقِدِيِّ،
وَالْوَاقِدِيُّ هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ الْوَاقِدِيُّ». اهـ.
"Muhammad bin Sa'd adalah sekretaris
Al-Waqidi, sedangkan Al-Waqidi adalah Muhammad bin Umar Al-Waqidi."
Hadits ini dalam riwayat Ibnu Sa'd berasal
melalui gurunya, yaitu Muhammad bin Umar Al-Waqidi, dan dialah sumber kelemahan
riwayat tersebut.
Imam Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan (3/662
no. 7993) tentang Muhammad bin Umar bin Waqid Al-Waqidi:
قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: «هُوَ
كَذَّابٌ».
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Ia adalah
seorang pendusta."
Yahya bin Ma'in berkata,
«لَيْسَ بِثِقَةٍ».
"Ia bukan orang yang terpercaya."
Imam Al-Bukhari dan Abu Hatim berkata, «مَتْرُوكٌ» "Haditsnya
ditinggalkan."
Abu Hatim juga berkata, demikian pula
An-Nasa'i, «يَضَعُ الْحَدِيثَ» "Ia memalsukan hadits."
Ibnu 'Adi berkata:
«أَحَادِيثُهُ غَيْرُ مَحْفُوظَةٍ، وَالْبَلَاءُ
مِنْهُ»
"Hadits-haditsnya tidak terpelihara, dan
sumber kerusakannya berasal darinya."
****
RIWAYAT-RIWAYAT YANG SHAHIH SEBAGAI PENGGANTI
Imam Al-Bukhari telah menjelaskan kisah hijrah
Nabi ﷺ yang
shahih dalam kitab Shahih-nya.
Beliau membawakan kisah hijrah tersebut dalam
lebih dari empat puluh baris pada hadits nomor 3905 dari riwayat 'Aisyah
radhiyallahu 'anha, serta pada hadits nomor 3906 dari riwayat Suraqah bin
Ju'syam.
Imam Al-Bukhari juga membuat satu bab khusus
berjudul:
«هِجْرَةُ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ»
"Hijrahnya
Nabi ﷺ ke
Madinah"
Yaitu Bab nomor 45 dalam Kitab Manaqib
Al-Anshar.
Kisah-kisah yang shahih tersebut telah mencukupi
kebutuhan tentang kisah hijrah, sehingga tidak perlu lagi bergantung kepada
kisah-kisah yang lemah seperti ini.
0 Komentar