BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT:
BAHWA "NABI ﷺ HANYA ISRA SAJA, TANPA MI’RAJ KE LANGIT".
DALIL BAHWA NABI ﷺ MI'RAJ ADALAH HADITS MUTAWATIR DAN IJMA’ PARA ULAMA.
----
Di Tulis Oleh Fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN:
- IJMA’ PARA
ULAMA DAN HADITS MUTAWATIR MENEGASKAN BAHWA NABI ﷺ JUGA MI’RAJ PADA SAAT ISRA’ DENGAN RUH DAN
JASAD-NYA
- TERJADI NYA ISRA DAN MI’RAJ DI MALAM YANG SAMA
- KUMPULAN HADITS ISRA DAN MI’RAJ
- RIWAYAT SEJUMLAH SAHABAT YANG TELAH DISEBUTKAN DI ATAS DAN YANG LAINNYA.
- KESIMPULAN IBNU KATSIR SETELAH MENYEBUTKAN RIWAYAT-RIWAYAT HADITS ISRA DAN MI’RAJ
- SEBUAH PEMBAHASAN PENTING:
- SEBUAH FAIDAH
- APAKAH NABI ﷺ MELIHAT ALLAH SWT SAAT MI’RAJ?
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
===****===
PENDAHULUAN:
Peristiwa Isra
merupakan salah satu peristiwa yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin
dari sisi kebenaran dan ketetapannya. Dasar kesepakatan tersebut adalah
Al-Qur'an dan hadits-hadits mutawatir.
Adapun dalil
dari Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Isra':
﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Mahasuci
Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami
memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
(QS.
Al-Isra': 1)
Adapun Mi’raj,
maka dalil dari al-Qur’an nya adalah firman Allah SWT:
﴿وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا
يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى.
ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ
قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ
الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً
أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى
السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ
رَبِّهِ الْكُبْرَى﴾
Terjemahnya:
“Demi bintang
ketika terbenam.
Kawanmu
(Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya
itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh
(Jibril) yang sangat kuat,
yang mempunyai
akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli,
sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah
dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad) sejarak dua ujung busur
panah atau lebih dekat (lagi).
Lalu dia
menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya
tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah)
hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?
Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat
tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula
melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 1–18)
Ibnu Katsir
rahimahullah dalam
kitab tafsirnya menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan peristiwa
tersebut, serta menghimpun seluruh jalur periwayatannya dari kitab Al-Hafidz Abu
Al-Khaththab Umar bin Dihyah yang berjudul:
«التَّنْوِيرُ فِي مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»
At-Tanwîr fî Maulid As-Sirâj Al-Munîr.
Peristiwa Isra
hanya terjadi satu kali di Makkah setelah diutusnya Nabi ﷺ menjadi rasul, yaitu setahun sebelum hijrah. Ada pula yang berpendapat
satu tahun dua bulan sebelum hijrah. Pendapat yang mengatakan bahwa Isra
terjadi lebih dari sekali tidak dapat diterima, baik dari sisi riwayat maupun
akal.
Adapun
mengenai tata cara dan hakikat peristiwa Isra, para ulama berbeda pendapat
dalam dua masalah:
Pertama,
apakah Isra terjadi dalam keadaan sadar (terjaga) ataukah hanya berupa mimpi?
Kedua, apakah
Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus, ataukah hanya dengan ruh saja?
Yang nampak dari
berbagai riwayat menunjukkan bahwa Isra terjadi dalam keadaan sadar, dan inilah
pendapat jumhur ulama.
Adapun riwayat
yang dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai firman Allah Ta'ala:
﴿وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا...﴾
“Dan Kami tidak menjadikan penglihatan
(ru'ya) yang telah Kami perlihatkan kepadamu...”
bahwa yang
dimaksud adalah “mimpi yang dilihat Nabi ﷺ”, maka pendapat tersebut
adalah pendapat yang lemah, tidak memiliki dalil yang kuat, dan tidak ada satu
pun riwayat shahih yang mendukungnya.
Mengenai
masalah kedua, mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra terjadi dengan ruh dan
jasad sekaligus. Mereka berdalil dengan dzohir nash-nash yang menjelaskan hal
tersebut.
Memang dinukil
dari Mu'awiyah dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa Isra hanya terjadi dengan
ruh saja. Namun dijawab bahwa Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu pada saat peristiwa
Isra masih dalam keadaan musyrik. Sedangkan Aisyah radhiyallahu 'anha ketika
itu belum menjadi istri Nabi ﷺ, bahkan masih kecil.
Abu Ja'far
Ath-Thabari berkata dalam kitab tafsirnya (17/350):
«الصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنْ يُقَالَ: إِنَّ
اللَّهَ أَسْرَى بِعَبْدِهِ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى، كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ، وَكَمَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ حَمَلَهُ عَلَى الْبُرَاقِ حَتَّى أَتَى بِهِ،
وَصَلَّى هُنَاكَ بِمَنْ صَلَّى مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ، فَأَرَاهُ مَا أَرَاهُ
مِنَ الْآيَاتِ.
وَلَا
مَعْنَى لِقَوْلِ مَنْ قَالَ: أُسْرِيَ بِرُوحِهِ دُونَ جَسَدِهِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ
كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ مَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَى نُبُوَّتِهِ،
وَلَا حُجَّةً لَهُ عَلَى رِسَالَتِهِ، وَلَا كَانَ الَّذِينَ أَنْكَرُوا حَقِيقَةَ
ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ كَانُوا يَدْفَعُونَ بِهِ عَنْ صِدْقِهِ فِيهِ، إِذْ
لَمْ يَكُنْ مُنْكَرًا عِنْدَهُمْ، وَلَا عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ ذَوِي الْفِطْرَةِ الصَّحِيحَةِ
مِنْ بَنِي آدَمَ، أَنْ يَرَى الرَّائِي مِنْهُمْ فِي الْمَنَامِ مَا عَلَى مَسِيرَةِ
سَنَةٍ، فَكَيْفَ مَا هُوَ عَلَى مَسِيرَةِ شَهْرٍ أَوْ أَقَلَّ.
وَبَعْدُ،
فَإِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ أَنَّهُ أَسْرَى بِعَبْدِهِ، وَلَمْ
يُخْبِرْنَا بِأَنَّهُ أُسْرِيَ بِرُوحِ عَبْدِهِ، وَلَيْسَ جَائِزًا لِأَحَدٍ أَنْ
يَتَعَدَّى مَا قَالَهُ اللَّهُ إِلَى غَيْرِهِ.
بَلِ
الْأَدِلَّةُ الْوَاضِحَةُ، وَالْأَخْبَارُ الْمُتَتَابِعَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، أَنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِهِ عَلَى دَابَّةٍ يُقَالُ لَهَا الْبُرَاقُ، وَلَوْ كَانَ
الْإِسْرَاءُ بِرُوحِهِ، لَمْ تَكُنِ الرُّوحُ مَحْمُولَةً عَلَى الْبُرَاقِ؛ إِذْ
كَانَتِ الدَّوَابُّ لَا تَحْمِلُ إِلَّا الْأَجْسَادَ». انْتَهَى.
"Pendapat
yang benar menurut kami adalah bahwa Allah benar-benar memperjalankan
hamba-Nya, Muhammad ﷺ, dari Masjidil Haram menuju
Masjidil Aqsha sebagaimana yang diberitakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan
sebagaimana diberitakan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ, bahwa Allah membawanya dengan menaiki Buraq hingga sampai di
sana. Di sana beliau mengimami shalat para nabi dan rasul, lalu Allah
memperlihatkan kepadanya berbagai tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tidak ada
makna yang benar bagi pendapat orang yang mengatakan bahwa beliau diisrakan
hanya dengan ruh tanpa jasad. Sebab, jika demikian, maka peristiwa itu tidak
akan menjadi bukti atas kenabiannya dan tidak pula menjadi hujjah atas
kerasulannya. Orang-orang musyrik yang mengingkari peristiwa itu pun tidak akan
mendustakannya, karena melihat sesuatu yang sangat jauh dalam mimpi bukanlah
sesuatu yang diingkari oleh mereka ataupun oleh siapa pun yang masih memiliki
fitrah yang lurus. Seseorang bisa saja bermimpi melihat tempat yang berjarak
perjalanan setahun, maka bagaimana lagi jika hanya sejauh perjalanan sebulan
atau bahkan kurang dari itu.
Selain itu,
Allah dalam Kitab-Nya hanya mengabarkan bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia memperjalankan ruh hamba-Nya. Maka tidak boleh
bagi siapa pun melampaui apa yang telah dinyatakan Allah.
Bahkan
dalil-dalil yang jelas serta riwayat-riwayat yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa Allah memperjalankan beliau dengan menaiki seekor
tunggangan yang disebut Buraq. Seandainya Isra hanya terjadi dengan ruh, tentu
ruh tidak akan dibawa di atas Buraq, karena tunggangan hanya diperuntukkan bagi
jasad." (Selesai).
Wallahu a'lam.
IJMA’ PARA ULAMA DAN HADITS MUTAWATIR
MENEGASKAN BAHWA NABI ﷺ JUGA MI’RAJ PADA SAAT ISRA’
DENGAN RUH DAN JASAD-NYA
Ada banyak
para ulama yang menegaskan bahwa ijma’ para ulama dan hadits shahih mutawatir
dengan tegas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ di mi’rajkan pula oleh Allah
SWT pada malam Isra ke Baitul Maqdis.
Berikut ini
sebagian pernyataan para ulama yang menegaskan hal tersebut:
Pertama :
Al-Hafidz
Taqiyuddin Abdul Ghoni al-Maqdisi rahimahullah, berkata:
وَأَجْمَعَ
الْقَائِلُونَ بِالْأَخْبَارِ، وَالْمُؤْمِنُونَ بِالْآثَارِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ أُسْرِيَ بِهِ إِلَى فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ، ثُمَّ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى،
أُسْرِيَ بِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى،
مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ بِجَسَدِهِ وَرُوحِهِ
جَمِيعًا، ثُمَّ عَادَ مِنْ لَيْلَتِهِ إِلَى مَكَّةَ قَبْلَ الصُّبْحِ، وَمَنْ قَالَ:
إِنَّ الْإِسْرَاءَ فِي لَيْلَةٍ وَالْمِعْرَاجَ فِي لَيْلَةٍ، فَقَدْ غَلِطَ، وَمَنْ
قَالَ: إِنَّهُ مَنَامٌ، وَأَنَّهُ لَمْ يُسْرَ بِجَسَدِهِ، فَقَدْ كَفَرَ.
Dan telah ber-ijma’
(sepakat) orang-orang yang berpegang teguh dengan hadist-hadits dan beriman
pada atsar-atsar: bahwa Rasulullah ﷺ telah di-ISRA-kan dengan dirinya (jasad dan
ruh) hingga ke atas tujuh langit. dan kemudian ke Sidratul Muntaha.
Beliau ﷺ di-ISRA-kan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha,
Masjid Bait Al-Maqdis, kemudian beliau ﷺ mi'raj ke langit dengan jasad dan ruhnya
bersama-sama.
Kemudian
beliau ﷺ kembali dari malam itu ke Mekah sebelum fajar.
Dan siapa pun
yang mengatakan : Perjalanan Isra adalah dalam satu malam dan perjalanan Miraj
adalah pada malam lainnya , maka dia telah melakukan kesalahan.
Dan siapa pun
yang mengatakan : bahwa itu adalah mimpi, dan beliau tidak di-ISRA-kan dengan tubuhnya, maka dia telah KAFIR."
[ Baca : ‘Aqidah
Al-Hafidz Taqiyyuddin Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi 1/80 ]
Kedua:
Syekhul Islam
Ibnu Taymiyyah, rahimahullah, mengatakan dalam al-Jawaab ash-Shahih (6/165):
وَكَذَلِكَ
صُعُودُهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ إِلَى مَا فَوْقَ السَّمَاوَاتِ، وَهَذَا مِمَّا تَوَاتَرَتْ
بِهِ الْأَحَادِيثُ...
Begitu pula
naiknnya beliau ﷺ pada malam al-Mi'raaj ke tempat diatas semua
langit , maka ini adalah termasuk dalam hadits-hadits yang telah mutawaatir
.... ".
Ketiga :
Ibnu al-Qoyyim
mengatakan dalam Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah 2/98 (Tahqiq al-Mu’tiq):
وَأَمَّا
الْأَحَادِيثُ فَمِنْهَا قِصَّةُ الْمِعْرَاجِ وَهِيَ مُتَوَاتِرَةٌ :
«وَتَجَاوُزِ
النَّبِيِّ ﷺ " السَّمَاوَاتِ " سَمَاءً سَمَاءً حَتَّى انْتَهَى إِلَى رَبِّهِ
تَعَالَى فَقَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَفَرَضَ عَلَيْهِ الصَّلَوَاتِ خَمْسِينَ صَلَاةً
فَلَمْ يَزَلْ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى، يَنْزِلُ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ إِلَى عِنْدِ مُوسَى فَيَسْأَلُهُ كَمْ فَرَضَ
عَلَيْهِ؟ فَيُخْبِرُهُ فَيَقُولُ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ
فَيَصْعَدُ إِلَى رَبِّهِ " فَيَسْأَلُهُ التَّخْفِيفَ»
Adapun
hadits-hadits, di antaranya adalah kisah Mi'raj, dan kisah tersebut telah
diriwayatkan secara mutawatir, yaitu:
"Nabi ﷺ melampaui langit demi langit hingga sampai kepada Rabb-Nya Ta'ala. Lalu
Allah mendekatkannya kepada-Nya dan memuliakannya. Kemudian Allah mewajibkan
kepadanya lima puluh kali shalat. Setelah itu beliau terus bolak-balik antara
Nabi Musa ‘alaihis salam dan Rabb-Nya Tabaraka wa Ta'ala. Beliau turun dari
sisi Rabb-Nya menuju Nabi Musa, lalu Musa bertanya kepadanya, 'Berapa shalat
yang diwajibkan kepadamu?' Beliau pun memberitahukannya. Maka Musa berkata,
'Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya.' Lalu beliau
naik kembali kepada Rabb-Nya dan memohon keringanan kepada-Nya." [Selesai].
Keempat :
Syeikh Bin
Baaz rahimahullah, dia berkata :
الْإِسْرَاءُ
ثَابِتٌ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَالْمِعْرَاجُ ثَبَتَ بِالسُّنَّةِ الْمُتَوَاتِرَةِ
عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ،
وَجَاوَزَ السَّبْعَ الطِّبَاقَ، وَجَاوَزَ السَّمَاءَ السَّابِعَةَ حَتَّى صَارَ إِلَى
مَوْضِعٍ يَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ، وَسَمِعَ مِنْ رَبِّهِ جَلَّ وَعَلَا
فَرْضِيَّةَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، فَمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ يُعَرَّفُ وَيُبَيَّنُ
لَهُ الْأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ، فَإِذَا أَصَرَّ وَأَنْكَرَهَا كَفَرَ.
Perjalanan
ISRA ditetapkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, dan Mi'raj telah ada ketetapan
berdasarkan hadits yang mutawatir dari Nabi ﷺ : bahwa Beliau ﷺ naik ke langit, dan melintasi tujuh lapisan.
Beliau ﷺ melintasi langit ketujuh hingga beliau ﷺ mencapai sebuah tempat di mana goresan
pena-pena bisa didengar, dan Beliau ﷺ mendengar dari Rabbnya Jalla wa 'Alaa
kewajiban shalat lima waktu.
Barangsiapa
mengingkari nya , padahal telah maklum dan dijelaskan oleh dalil-dalil yang
shahih, maka jika ia tetap bersikeras dan mengingkarinya, maka ia telah kafir .
[Di kutip dari
: Nur 'Ala Ad-Darb / Hukmu Man Yunkiru Al-Mi'raj Li Annahu Lam Yudzkar Fil
Qur'an]
Peristiwa
Mi'raj itu telah dibuktikan dengan hadits-hadits yang mutawaatir dalam
kitab-kitab hadits Shahih, Sunan, Musnad, kitab-kitab Mu'jam dan kitab-kitab
diiwan As-Sunnah, diriwayatkan dari sejumlah para sahabat yang jumlahnya
melebihi dari dua puluh para sahabat.
Kelima :
Syeikh Muhammad
al-Amin Asy-Shanqiti, rahimaullah mengatakan dalam Adhwaa al-Bayaan 3/4:
فَقَدْ
تَوَاتَرَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ عَنْهُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، وَأَنَّهُ عُرِجَ بِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى حَتَّى جَاوَزَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ. انْتَهَى.
Hadis-hadis
shahih telah mutawaatir tentang Mi'raj bahwa beliau ﷺ dibawa dari Masjidil Haram ke Masjid
Al-Aqsha. Dan bahwa beliau Mi'raj dari Masjid Al-Aqsha hingga melintasi tujuh
langit. [selesai].
Keenam:
Al-Qadhi
'Iyadh berkata dalam kitab Asy-Syifa' (1/359):
ذَهَبَ
مُعْظَمُ السَّلَفِ وَالْمُسْلِمِينَ إِلَى أَنَّهُ إِسْرَاءٌ بِالْجَسَدِ وَفِي الْيَقَظَةِ،
وَهَذَا هُوَ الْحَقُّ
“Mayoritas
ulama salaf dan kaum muslimin berpendapat bahwa Isra terjadi dengan jasad dalam keadaan
sadar. Inilah pendapat yang benar”.
Kemudian
beliau menyebutkan para sahabat dan tabi'in yang berpendapat demikian.
****
TERJADI NYA ISRA DAN MI’RAJ DI MALAM YANG SAMA
Al-Hafidz Ibnu
Hajar berkata dalam Fath al-Bari (7/237):
اخْتَلَفَ
السَّلَفُ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ، فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ
إِلَى أَنَّ الْإِسْرَاءَ وَالْمِعْرَاجَ وَقَعَا فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْيَقَظَةِ
بِجَسَدِ النَّبِيِّ ﷺ وَرُوحِهِ بَعْدَ الْمَبْعَثِ، وَإِلَى هَذَا جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ
مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ، تَوَارَدَتْ عَلَيْهِ ظَوَاهِرُ الْأَخْبَارِ
الصَّحِيحَةِ، وَلَا يَنْبَغِي الْعُدُولُ عَنْ ذَلِكَ...
“Para ulama
salaf berbeda pendapat sesuai dengan perbedaan riwayat-riwayat yang datang. Di
antara mereka ada yang berpendapat bahwa Isra dan Mi'raj terjadi dalam satu
malam, dalam keadaan Nabi ﷺ sadar (bukan mimpi), dengan jasad dan ruh
beliau setelah diutus menjadi nabi. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur
(mayoritas) ulama, baik dari kalangan ahli hadits maupun fuqaha. Makna lahiriah
berbagai hadits shahih saling menguatkan pendapat ini, sehingga tidak
semestinya berpaling darinya.
Kemudian
beliau berkata:
وَقَالَ
بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: إِنَّ ذَلِكَ وَقَعَ مَرَّتَيْنِ، مَرَّةً فِي الْمَنَامِ
تَوْطِئَةً وَتَمْهِيدًا، وَمَرَّةً ثَانِيَةً فِي الْيَقَظَةِ، وَذَكَرَ دَلِيلَهُمْ.
Sebagian ulama
berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dua kali; pertama dalam mimpi
sebagai pendahuluan dan persiapan, kemudian yang kedua dalam keadaan sadar.
Lalu beliau menyebutkan dalil-dalil mereka.
Selanjutnya
beliau berkata:
وَقَالَ
بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ: كَانَتْ قِصَّةُ الْإِسْرَاءِ فِي لَيْلَةٍ، وَالْمِعْرَاجِ
فِي لَيْلَةٍ، وَذَكَرَ مُسْتَنَدَهُمْ.
Sebagian ulama
belakangan berpendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada satu malam, sedangkan
Mi'raj terjadi pada malam yang lain, lalu beliau menyebutkan landasan pendapat
mereka.”
Lihat pula:
• Zad al-Ma'ad
karya Ibnul Qayyim (3/34).
• Tafsir Ibnu
Katsir (5/106–143).
• Tafsir
Al-Qurthubi (10/208 dan seterusnya).
• Dala'il
an-Nubuwwah karya Al-Baihaqi (2/354).
• As-Sirah
karya Ibnu Hisyam (2/4 dan seterusnya).
• Tafsir Ibnu
Jarir ath-Thabari (15/1 dan seterusnya).
===***===
KUMPULAN HADITS ISRA DAN MI’RAJ
Syaikh Al
Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul “Al-Isra’
wal Mi’raj” menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini.
1]. Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu.
2]. Abu Dzar
radhiyallahu ‘anhu.
3]. Malik bin
Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu.
4]. Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
5]. Jabir bin
‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
6]. Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
7]. Ubay bin
Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.
8]. Buraidah
ibnul Hushaib Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu.
9]. Hudzaifah
ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.
10]. Syaddad
bin Aus radhiyallahu ‘anhu.
11]. Shuhaib
Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu.
12].
Abdurrahman bin Qurath radhiyallahu ‘anhu.
13]. Ibnu
‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
14]. Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
15]. ‘Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
16]. ‘Umar bin
Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Di antara
hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik.
Silahkan
merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim
nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini.
Di antara
hadits-hadits mutawatir tersebut adalah hadits Malik bin Sha'sha'ah
radhiyallahu 'anhu—sebuah hadits yang panjang—yang di dalamnya disebutkan:
فَانْطَلَقْتُ
مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا...»، إِلَى آخِرِهِ.
"...Lalu
aku berangkat bersama Jibril hingga kami mendatangi langit dunia..." dan
seterusnya.
Dalam hadits
tersebut disebutkan bahwa beliau melihat Nabi Adam ‘alaihis salam di langit
dunia, Nabi Isa dan Nabi Yahya ‘alaihimas salam di langit kedua, dan demikian
seterusnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Demikian pula
hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Anbiya', yang
di dalamnya disebutkan:
«... فَعُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ...»، إِلَى آخِرِهِ.
"...Kemudian
aku dinaikkan ke langit..." dan seterusnya.
Begitu juga
hadits Anas yang di dalamnya disebutkan:
«... فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا...»،
إِلَى آخِرِهِ.
"Kemudian
aku dinaikkan ke langit dunia..." Hadits ini juga diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim.
Ibnu Katsir
rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan
dengan peristiwa tersebut, serta menghimpun seluruh jalur periwayatannya dari
kitab Al-Hafidz Abu Al-Khaththab Umar bin Dihyah yang berjudul:
«التَّنْوِيرُ فِي مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»
At-Tanwîr fî
Maulid As-Sirâj Al-Munîr.
*****
Berikut ini hadits-hadits tersebut.
---***---
RIWAYAT ANAS DARI MALIK BIN SHO'SHO'AH
Imam
al-Bukhari, Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan hadits ini, dan lafaz berikut
adalah riwayat al-Bukhari.
Dari Anas bin
Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ menceritakan kepada mereka tentang malam Isra’, beliau bersabda:
«بَيْنَمَا أَنَا فِي الْحَطِيمِ – وَرُبَّمَا قَالَ: فِي الْحِجْرِ
– مُضْطَجِعًا، إِذْ أَتَانِي آتٍ، فَقَدَّ – قَالَ – وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: فَشَقَّ
مَا بَيْنَ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ.
فَقُلْتُ
لِلْجَارُودِ وَهُوَ إِلَى جَنْبِي: مَا يَعْنِي بِهِ؟
قَالَ:
مِنْ ثُغْرَةِ نَحْرِهِ إِلَى شَعْرَتِهِ.
وَسَمِعْتُهُ
يَقُولُ: مِنْ قَصِّهِ إِلَى شَعْرَتِهِ.
فَاسْتَخْرَجَ
قَلْبِي، ثُمَّ أُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ إِيمَانًا، فَغُسِلَ قَلْبِي،
ثُمَّ حُشِيَ، ثُمَّ أُعِيدَ.
ثُمَّ
أُتِيتُ بِدَابَّةٍ دُونَ الْبَغْلِ، وَفَوْقَ الْحِمَارِ، أَبْيَضَ.
فَقَالَ
لَهُ الْجَارُودُ: هُوَ الْبُرَاقُ يَا أَبَا حَمْزَةَ؟
قَالَ
أَنَسٌ: نَعَمْ، يَضَعُ خَطْوَهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ.
فَحُمِلْتُ
عَلَيْهِ، فَانْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا، فَاسْتَفْتَحَ.
فَقِيلَ:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.
قِيلَ:
وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.
قِيلَ:
وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.
قِيلَ:
مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.
فَفُتِحَ.
فَلَمَّا
خَلَصْتُ، فَإِذَا فِيهَا آدَمُ.
فَقَالَ:
هَذَا أَبُوكَ آدَمُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ.
فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، فَرَدَّ السَّلَامَ، ثُمَّ قَالَ:
مَرْحَبًا
بِالِابْنِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ.
ثُمَّ
صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.
قِيلَ:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.
قِيلَ:
وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.»
-
قِيلَ:
وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ
جَاءَ.
فَفَتَحَ،
فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يَحْيَى وَعِيسَى، وَهُمَا ابْنَا الْخَالَةِ.
قَالَ:
«هَذَا يَحْيَى وَعِيسَى، فَسَلِّمْ عَلَيْهِمَا».
فَسَلَّمْتُ،
فَرَدَّا، ثُمَّ قَالَا:
«مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
ثُمَّ
صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ.
قِيلَ:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.
قِيلَ:
وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.
قِيلَ:
وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.
قِيلَ:
مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.
فَفُتِحَ،
فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ.
قَالَ:
«هَذَا يُوسُفُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ».
فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
ثُمَّ
صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.
قِيلَ:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.
قِيلَ:
وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.
قِيلَ:
أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.
قِيلَ:
مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.
فَفُتِحَ،
فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ.
قَالَ:
«هَذَا إِدْرِيسُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ».
فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
ثُمَّ
صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الْخَامِسَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.
قِيلَ:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.
قِيلَ:
وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.
قِيلَ:
وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.
قِيلَ:
مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.
-
فَلَمَّا
خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ، قَالَ: «هَذَا هَارُونُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
ثُمَّ
صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ السَّادِسَةَ، فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: «مَنْ هَذَا؟»
قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «مَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». قِيلَ: «وَقَدْ أُرْسِلَ
إِلَيْهِ؟» قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: «مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ».
فَلَمَّا
خَلَصْتُ فَإِذَا مُوسَى، قَالَ: «هَذَا مُوسَى، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
فَلَمَّا
تَجَاوَزْتُ بَكَى، قِيلَ لَهُ: «مَا يُبْكِيكَ؟» قَالَ: «أَبْكِي لِأَنَّ غُلَامًا
بُعِثَ بَعْدِي، يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا
مِنْ أُمَّتِي».
ثُمَّ
صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، قِيلَ: «مَنْ
هَذَا؟» قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». قِيلَ:
«وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: «مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ
جَاءَ».
فَلَمَّا
خَلَصْتُ فَإِذَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ: «هَذَا أَبُوكَ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». قَالَ:
فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ السَّلَامَ، قَالَ: «مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ
وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».
ثُمَّ
رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ،
وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ.
-
قَالَ:
هَذِهِ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى.
وَإِذَا
أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ: نَهْرَانِ بَاطِنَانِ، وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ.
فَقُلْتُ:
مَا هَذَانِ يَا جِبْرِيلُ؟
قَالَ:
أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ
وَالْفُرَاتُ.
ثُمَّ
رُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ.
ثُمَّ
أُتِيتُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ عَسَلٍ، فَأَخَذْتُ
اللَّبَنَ.
فَقَالَ:
هِيَ الْفِطْرَةُ الَّتِي أَنْتَ عَلَيْهَا وَأُمَّتُكَ.
ثُمَّ
فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ.
فَرَجَعْتُ،
فَمَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: بِمَا أُمِرْتَ؟
قَالَ:
أُمِرْتُ بِخَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ.
قَالَ:
إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ، وَإِنِّي وَاللَّهِ
قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ، وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ،
فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ.
فَرَجَعْتُ،
فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.
فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.
فَرَجَعْتُ،
فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.
فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.
فَرَجَعْتُ،
فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.
فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.
فَرَجَعْتُ،
فَأُمِرْتُ بِعَشْرِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.
فَرَجَعْتُ،
فَقَالَ مِثْلَهُ.
فَرَجَعْتُ،
فَأُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.
فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: بِمَ أُمِرْتَ؟
قُلْتُ:
أُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.
قَالَ:
إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسَ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ، وَإِنِّي قَدْ جَرَّبْتُ
النَّاسَ قَبْلَكَ، وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ، فَارْجِعْ
إِلَى رَبِّكَ، فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ.
قَالَ:
سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ، وَلَكِنِّي أَرْضَى وَأُسَلِّمُ.
قَالَ:
فَلَمَّا جَاوَزْتُ، نَادَى مُنَادٍ:
أَمْضَيْتُ
فَرِيضَتِي، وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي».
Terjemahnya
:
"Ketika
aku sedang berada di al-Hathim — atau terkadang beliau mengatakan: di al-Hijr —
dalam keadaan berbaring, tiba-tiba datang seseorang kepadaku. Lalu ia membelah
tubuhku."
Perawi
berkata: "Aku mendengarnya mengatakan: 'Ia membelah bagian ini hingga
bagian ini.'"
Aku bertanya
kepada al-Jarud yang berada di sampingku, "Apa yang dimaksud dengan
itu?"
Ia menjawab,
"Dari lekukan pangkal lehernya hingga bagian bawah rambut dadanya."
Aku juga
mendengarnya berkata, "Dari ujung dada hingga pangkal rambutnya."
"Lalu ia
mengeluarkan hatiku. Setelah itu didatangkan sebuah bejana dari emas yang
dipenuhi dengan iman. Hatiku dicuci, kemudian dipenuhi dengan iman itu, lalu
dikembalikan ke tempatnya.
Kemudian
didatangkan kepadaku seekor kendaraan yang berwarna putih, ukurannya lebih
kecil daripada bagal dan lebih besar daripada keledai."
Al-Jarud
bertanya kepada Anas, "Apakah itu al-Buraq, wahai Abu Hamzah?"
Anas menjawab,
"Ya. Langkahnya sejauh batas pandangan matanya."
"Aku pun
dinaikkan ke atasnya, lalu Jibril membawaku hingga sampai ke langit dunia. Ia
meminta agar pintu langit dibukakan.
Lalu
dikatakan, 'Siapa ini?'
Jibril
menjawab, 'Jibril.'
Ditanya lagi,
'Siapa yang bersamamu?'
Ia menjawab,
'Muhammad.'
Mereka
bertanya, 'Apakah ia telah diutus?'
Jibril
menjawab, 'Ya.'
Lalu
dikatakan, 'Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.'
Maka pintu
langit pun dibukakan.
Ketika aku
memasukinya, ternyata di sana ada Adam.
Jibril
berkata, 'Ini adalah ayahmu, Adam. Berilah salam kepadanya.'
Aku pun
memberi salam kepadanya. Ia membalas salamku, lalu berkata,
'Selamat
datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh.'
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit kedua. Ia meminta agar pintunya
dibukakan.
Lalu
dikatakan, 'Siapa ini?'
Jibril
menjawab, 'Jibril.'
Ditanya lagi,
'Siapa yang bersamamu?'
Ia menjawab, 'Muhammad.'"
-
Lalu
dikatakan, “Apakah ia telah diutus kepadanya?” Jibril menjawab, “Ya.”
Dikatakan,
“Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
Maka
dibukakanlah pintu. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Yahya dan Isa.
Keduanya adalah anak dari dua saudara perempuan.
Jibril
berkata, “Ini adalah Yahya dan Isa. Ucapkanlah salam kepada keduanya.”
Maka aku
mengucapkan salam kepada keduanya. Keduanya menjawab salamku, lalu berkata,
“Selamat
datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit ketiga, lalu meminta agar pintunya dibukakan.
Ditanyakan,
“Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan,
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan,
“Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”
Dikatakan,
“Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
Lalu pintu
dibukakan. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Yusuf.
Jibril
berkata, “Ini adalah Yusuf. Ucapkanlah salam kepadanya.”
Maka aku
mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata,
“Selamat
datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit keempat, lalu meminta agar
pintunya dibukakan.
Ditanyakan,
“Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan,
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan,
“Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”
Dikatakan,
“Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
Maka pintu
dibukakan. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Idris.
Jibril
berkata, “Ini adalah Idris. Ucapkanlah salam kepadanya.”
Maka aku
mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata,
“Selamat
datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit kelima, lalu meminta agar
pintunya dibukakan.
Ditanyakan,
“Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan,
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan,
“Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”
Dikatakan,
“Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
-
Kemudian
ketika aku sampai, ternyata di sana ada Harun. Jibril berkata, “Ini adalah
Harun, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya.
Ia membalas salamku, lalu berkata, “Selamat datang, wahai saudara yang saleh
dan nabi yang saleh.”
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit keenam. Ia meminta agar pintu
langit dibukakan. Lalu terdengar pertanyaan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab,
“Jibril.” Ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”
Ditanya lagi, “Apakah ia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan,
“Selamat datang kepadanya. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
Ketika aku
masuk, ternyata di sana ada Musa. Jibril berkata, “Ini adalah Musa, maka
ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Ia membalas
salamku, lalu berkata, “Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang
saleh.”
Tatkala aku
telah melewatinya, Musa menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang
membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena seorang pemuda yang
diutus sesudahku; jumlah umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada
umatku.”
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Ia meminta agar pintu langit dibukakan.
Lalu terdengar pertanyaan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Ditanya
lagi, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Ditanya lagi, “Apakah ia
telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang
kepadanya. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”
Ketika aku
masuk, ternyata di sana ada Ibrahim. Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, maka
ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Ia membalas
salamku seraya berkata, “Selamat datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang
saleh.”
Kemudian
diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha. Ternyata buahnya sebesar
tempayan-tempayan besar dari Hajar, sedangkan daunnya sebesar telinga-telinga
gajah.
-
Jibril
berkata, 'Inilah Sidratul Muntaha.'
Lalu aku
melihat empat sungai: dua sungai yang tersembunyi dan dua sungai yang tampak.
Aku bertanya,
'Apakah ini, wahai Jibril?'
Ia menjawab,
'Adapun dua sungai yang tersembunyi berada di surga, sedangkan dua sungai yang
tampak adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat.'
Kemudian
diperlihatkan kepadaku Baitul Ma'mur.
Lalu
didatangkan kepadaku sebuah bejana berisi khamar, sebuah bejana berisi susu,
dan sebuah bejana berisi madu. Aku pun memilih susu.
Jibril
berkata, 'Itulah fitrah yang engkau dan umatmu berada di atasnya.'
Kemudian
diwajibkan kepadaku sholat lima puluh kali setiap hari.
Lalu aku
kembali dan melewati Nabi Musa. Beliau bertanya, 'Apa yang diperintahkan
kepadamu?'
Aku menjawab,
'Aku diperintahkan melaksanakan sholat lima puluh kali setiap hari.'
Musa berkata,
'Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan sholat lima puluh kali
setiap hari. Demi Allah, aku telah menguji manusia sebelummu dan telah
menghadapi Bani Israil dengan berbagai kesulitan. Karena itu, kembalilah kepada
Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.'
Maka aku
kembali, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat dariku.
Kemudian aku
kembali kepada Musa, lalu ia mengatakan hal yang sama.
Aku kembali
lagi, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat lagi dariku.
Kemudian aku
kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.
Aku kembali
lagi, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat lagi dariku.
Kemudian aku
kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.
Lalu aku
kembali lagi dan diperintahkan melaksanakan sepuluh sholat setiap hari.
Kemudian aku
kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.
Maka aku
kembali lagi, lalu diperintahkan kepadaku melaksanakan lima sholat setiap hari.
Kemudian aku
kembali kepada Musa. Beliau bertanya, 'Apa yang diperintahkan kepadamu?'
Aku menjawab,
'Aku diperintahkan melaksanakan lima sholat setiap hari.'
Musa berkata,
'Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima sholat setiap hari.
Aku telah menguji manusia sebelummu dan telah menghadapi Bani Israil dengan
berbagai kesulitan. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah
keringanan untuk umatmu.'
Aku menjawab,
'Aku telah berkali-kali memohon kepada Tuhanku hingga aku merasa malu. Namun
sekarang aku ridha dan pasrah.'
Beliau
bersabda, 'Ketika aku telah berlalu, terdengarlah suara yang menyeru:
"Aku
telah menetapkan kewajiban-Ku, dan Aku telah meringankan beban
hamba-hamba-Ku."'
[Diriwayatkan
oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3207, 3393, 3430 dan 3887; Imam Ahmad
dalam al-Musnad no. 17835, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 302; Abu 'Awanah
dalam Al-Musnad (1/120–124); Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 48 dan 7415;
Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (19/no. 598); Ibnu Mandah no. 717; Abu
Nu'aim dalam Shifat Al-Jannah no. 302; Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah
(2/378); serta Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah no. 3752.]
---***---
RIWAYAT ANAS BIN MALIK RADHIYALLAHU 'ANHU
Imam Abu
Abdullah Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu:
«لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ،
إِنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.
فَقَالَ
أَوَّلُهُمْ: «أَيُّهُمُ هُوَ؟»
فَقَالَ
أَوْسَطُهُمْ: «هُوَ خَيْرُهُمْ.»
فَقَالَ
آخِرُهُمْ: «خُذُوا خَيْرَهُمْ.»
فَكَانَتْ
تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى
قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ
تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ.
فَلَمْ
يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ
مِنْهُمْ جِبْرِيلُ...
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَضَرَبَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا.
فَنَادَاهُ
أَهْلُ السَّمَاءِ: «مَنْ هَذَا؟» فَقَالَ: «جِبْرِيلُ.»
قَالُوا:
«وَمَنْ مَعَكَ؟». قَالَ: «مَعِي مُحَمَّدٌ.»
قَالُوا:
«وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟». قَالَ: «نَعَمْ.»
قَالُوا:
«مَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا بِهِ.» .....
فَقَالَ
لَهُ جِبْرِيلُ: «هَذَا أَبُوكَ آدَمُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ.» فَسَلَّمَ عَلَيْهِ.
فَقَالَ
آدَمُ: «مَرْحَبًا وَأَهْلًا بِابْنِي، نِعْمَ الِابْنُ أَنْتَ.» ...
فَقَالَ:
«مَا هَذَانِ النَّهْرَانِ يَا جِبْرِيلُ؟». قَالَ: «هَذَا النِّيلُ وَالْفُرَاتُ،
عُنْصُرُهُمَا.» ...
فَقَالَ:
«مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟». قَالَ: «هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي خَبَّأَ لَكَ رَبُّكَ.»
ثُمَّ
عُرِجَ إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتْ
لَهُ الْأُولَى:
قَالُوا:
"مَنْ هَذَا؟". قَالَ: "جِبْرِيلُ."
قَالُوا:
"وَمَنْ مَعَكَ؟". قَالَ: "مُحَمَّدٌ."
قَالُوا:
"وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟". قَالَ: "نَعَمْ."
قَالُوا:
"مَرْحَبًا وَأَهْلًا وَسَهْلًا."
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتِ الْأُولَى
وَالثَّانِيَةُ.
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.
ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.
كُلُّ
سَمَاءٍ فِيهَا أَنْبِيَاءُ قَدْ سَمَّاهُمْ، قَدْ وَعَيْتُ مِنْهُمْ إِدْرِيسَ فِي
الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الْخَامِسَةِ لَمْ أَحْفَظِ
اسْمَهُ، وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفْضِيلِ
كَلَامِ اللَّهِ.
فَقَالَ
مُوسَى: "رَبِّ، لَمْ أَظُنَّ أَنْ يُرْفَعَ عَلَيَّ أَحَدٌ."
ثُمَّ
عَلَا بِهِ فَوْقَ ذَلِكَ بِمَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، حَتَّى
جَاءَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، وَدَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى، حَتَّى
كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ فِيمَا يُوحِي:
"خَمْسِينَ صَلَاةً عَلَى أُمَّتِكَ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ."
ثُمَّ
هُبِطَ بِهِ حَتَّى بَلَغَ مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ مُوسَى.
فَقَالَ:
"يَا مُحَمَّدُ، مَاذَا عَهِدَ إِلَيْكَ رَبُّكَ؟"
قَالَ: "عَهِدَ
إِلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ."
قَالَ: "إِنَّ
أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ، فَارْجِعْ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ وَعَنْهُمْ."
فَالْتَفَتَ
النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ.
فَأَشَارَ
إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: "نَعَمْ، إِنْ شِئْتَ."
فَعَلَا
بِهِ إِلَى الْجَبَّارِ تَعَالَى.
فَقَالَ:
"يَا رَبِّ، خَفِّفْ عَنَّا، فَإِنَّ أُمَّتِي لَا تَسْتَطِيعُ هَذَا."
فَوَضَعَ
عَنْهُ عَشْرَ صَلَوَاتٍ.
ثُمَّ
رَجَعَ إِلَى مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ، فَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهُ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ
حَتَّى صَارَتْ إِلَى خَمْسِ صَلَوَاتٍ.»
ثُمَّ
احْتَبَسَهُ مُوسَى عِنْدَ الْخَمْسِ.
فَقَالَ:
"يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَقَدْ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَوْمِي عَلَى
أَدْنَى مِنْ هَذَا، فَضَعُفُوا فَتَرَكُوهُ، فَأُمَّتُكَ أَضْعَفُ أَجْسَادًا وَقُلُوبًا
وَأَبْدَانًا وَأَبْصَارًا وَأَسْمَاعًا، فَارْجِعْ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ."
كُلَّ
ذَلِكَ يَلْتَفِتُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ لِيُشِيرَ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْرَهُ
ذَلِكَ جِبْرِيلُ.
فَرَفَعَهُ
عِنْدَ الْخَامِسَةِ.
فَقَالَ:
"يَا رَبِّ، إِنَّ أُمَّتِي ضُعَفَاءُ أَجْسَادُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ وَأَسْمَاعُهُمْ
وَأَبْدَانُهُمْ، فَخَفِّفْ عَنَّا."
فَقَالَ
الْجَبَّارُ: "يَا مُحَمَّدُ."
قَالَ:
"لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ."
قَالَ:
"إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، كَمَا فَرَضْتُ عَلَيْكَ فِي أُمِّ
الْكِتَابِ: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، فَهِيَ خَمْسُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ،
وَهِيَ خَمْسٌ عَلَيْكَ."
فَرَجَعَ
إِلَى مُوسَى. فَقَالَ: "كَيْفَ فَعَلْتَ؟"
فَقَالَ:
"خَفَّفَ عَنَّا، أَعْطَانَا بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا."
قَالَ
مُوسَى: "قَدْ وَاللَّهِ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ
فَتَرَكُوهُ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ أَيْضًا."
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "يَا مُوسَى، قَدْ وَاللَّهِ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي مِمَّا
أَخْتَلِفُ إِلَيْهِ."
قَالَ:
"فَاهْبِطْ بِاسْمِ اللَّهِ."
فَاسْتَيْقَظَ
وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.
Bahwa beliau (Anas
bin Malik) menceritakan peristiwa malam ketika Rasulullah ﷺ diisrakan dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram). Beliau berkata:
Bahwa sebelum
Nabi ﷺ menerima wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidil Haram, datanglah
tiga orang kepadanya. Orang pertama berkata, "Yang manakah dia?"
Orang yang kedua menjawab, "Dia adalah yang terbaik di antara
mereka." Lalu orang yang ketiga berkata, "Ambillah yang terbaik di
antara mereka."
Hanya itulah
yang terjadi pada malam itu. Setelah itu Nabi ﷺ tidak melihat mereka lagi hingga mereka
datang pada malam yang lain, sebagaimana yang dilihat oleh hati beliau. Pada
saat itu kedua mata beliau tertidur, tetapi hati beliau tidak tidur.
Demikianlah keadaan para nabi; mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak
tidur.
Mereka tidak
berbicara kepada beliau, melainkan langsung membawanya dan membaringkannya di
dekat sumur Zamzam. Selanjutnya, Malaikat Jibril mengambil alih urusan beliau.
Jibril membelah bagian dari pangkal leher hingga ke ulu hati beliau, kemudian
mengeluarkan isi dada dan perut beliau, lalu mencucinya dengan air Zamzam
menggunakan tangannya sendiri hingga benar-benar bersih.
Setelah itu
didatangkan sebuah bejana dari emas yang di dalamnya terdapat wadah kecil dari
emas berisi iman dan hikmah. Jibril memenuhi dada dan kerongkongan beliau
dengan isi wadah tersebut, kemudian menutup kembali belahan dada beliau.
Selanjutnya
Jibril membawa beliau naik ke langit pertama. Ketika sampai di sana, Jibril
mengetuk salah satu pintu langit.
Para malaikat
penghuni langit bertanya, "Siapakah ini?"
Jibril
menjawab, "Jibril."
Mereka
bertanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diutus?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka pun
berkata, "Selamat datang kepadanya."
Maka seluruh
penghuni langit pertama bergembira menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ.
Para penghuni
langit tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki terjadi di bumi hingga Allah
sendiri memberitahukannya kepada mereka.
Di langit
pertama, Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Adam. Malaikat Jibril
berkata, "Ini adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka
Rasulullah ﷺ mengucapkan salam kepadanya, lalu Nabi Adam menjawab salam beliau
seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku. Engkau adalah sebaik-baik
anak."
Di langit
pertama itu pula Rasulullah ﷺ melihat dua sungai yang mengalir. Beliau
bertanya, "Wahai Jibril, sungai apakah ini?"
Jibril
menjawab, "Ini adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat, yaitu sumber
keduanya."
Kemudian
Jibril membawa beliau melanjutkan perjalanan di langit. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ melihat sebuah sungai yang di atasnya terdapat sebuah istana yang
terbuat dari mutiara dan zabarjad. Beliau mencelupkan tangannya ke sungai itu,
ternyata aromanya sangat harum bagaikan minyak kesturi.
Beliau
bertanya, "Wahai Jibril, sungai apakah ini?"
Jibril
menjawab, "Inilah Sungai Al-Kautsar yang telah Tuhanmu sediakan
untukmu."
Setelah itu
Jibril membawa Rasulullah ﷺ naik ke langit yang kedua. Para malaikat
penjaga langit kedua mengajukan pertanyaan yang sama seperti para penjaga
langit pertama.
Mereka
bertanya, "Siapakah ini?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya lagi, "Apakah dia telah diutus?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka pun
berkata, "Selamat datang kepadanya."
Kemudian
Jibril membawa Rasulullah ﷺ naik ke langit yang ketiga. Para malaikat
penjaganya mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh para
malaikat penjaga langit kedua.
Selanjutnya
Jibril membawa beliau naik ke langit yang keempat, dan para malaikat penjaganya
juga mengajukan pertanyaan yang sama.
Kemudian
beliau dibawa naik ke langit yang kelima, dan para malaikat penjaganya pun
mengajukan pertanyaan yang sama seperti para malaikat penjaga langit
sebelumnya.
Setelah itu
Jibril membawa Rasulullah ﷺ naik ke langit yang keenam.
Para malaikat
penjaga langit keenam mengajukan pertanyaan yang sama seperti para malaikat
pada langit-langit sebelumnya. Setelah itu, Jibril membawa Rasulullah ﷺ naik ke langit yang ketujuh, dan para malaikat penjaganya pun
mengajukan pertanyaan yang sama sebagaimana yang diajukan oleh para penjaga
langit sebelumnya.
Pada setiap
lapis langit terdapat para nabi yang diperkenalkan oleh Malaikat Jibril. Perawi
hadits berkata bahwa ia masih mengingat sebagian nama mereka, yaitu Nabi Idris
di langit kedua, Nabi Harun di langit keempat, seorang nabi di langit kelima
yang tidak lagi diingat namanya oleh perawi, Nabi Ibrahim di langit keenam, dan
Nabi Musa di langit ketujuh karena keutamaannya sebagai nabi yang pernah diajak
berbicara langsung oleh Allah.
Nabi Musa
berkata, "Wahai Tuhanku, aku tidak menyangka bahwa Engkau akan mengangkat
seseorang melebihi kedudukanku."
Kemudian
Jibril membawa Rasulullah ﷺ naik ke tempat yang lebih tinggi lagi, hingga
mencapai tingkatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah ﷻ. Sampailah beliau di Sidratul Muntaha. Lalu beliau didekatkan
kepada Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, hingga beliau berada sangat dekat
dengan-Nya, sejauh dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.
Kemudian Allah
mewahyukan kepada beliau, di antaranya:
"Aku
mewajibkan atas umatmu lima puluh kali sholat setiap siang dan malam."
Setelah itu
Jibril membawa beliau turun hingga bertemu kembali dengan Nabi Musa. Musa
menahan beliau dan bertanya, "Wahai Muhammad, apakah yang telah diwajibkan
Tuhanmu kepadamu?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Tuhanku telah mewajibkan kepadaku lima puluh kali
sholat setiap siang dan malam."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada
Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi dirimu dan umatmu."
Rasulullah ﷺ menoleh kepada Jibril seakan-akan meminta pendapatnya mengenai saran
tersebut. Jibril memberi isyarat, "Ya, jika engkau menghendaki."
Maka Jibril
kembali membawa beliau naik menghadap Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahasuci.
Rasulullah ﷺ berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah kami keringanan, karena
sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikul kewajiban ini."
Lalu Allah
mengurangi sepuluh sholat.
Rasulullah ﷺ kembali menemui Musa, dan Musa kembali menyuruh beliau menghadap Allah
untuk meminta keringanan. Demikianlah Nabi Musa terus-menerus menyuruh
Rasulullah ﷺ kembali menghadap Rabb-nya hingga akhirnya kewajiban itu menjadi lima
kali sholat sehari semalam.
Ketika sholat telah
ditetapkan menjadi lima waktu, Musa kembali berkata, "Wahai Muhammad, demi
Allah, dahulu aku telah berusaha membimbing Bani Israil, umatku, untuk
melaksanakan kewajiban yang lebih ringan daripada ini, namun mereka tetap
merasa berat hingga akhirnya meninggalkannya. Umatmu lebih lemah lagi; tubuh
mereka, hati mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan jasad mereka.
Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi."
Setiap kali
mendengar saran Nabi Musa, Rasulullah ﷺ selalu menoleh kepada Jibril untuk meminta
pendapatnya. Jibril senantiasa memberikan isyarat persetujuan. Hingga pada kali
yang terakhir, Jibril kembali membawa beliau menghadap Allah.
Rasulullah ﷺ berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah kaum yang
lemah; tubuh mereka, hati mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan
jasad mereka. Maka berilah kami keringanan."
Lalu Allah
Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfirman, "Wahai
Muhammad."
Rasulullah ﷺ menjawab, "Labbaika wa sa'daika."
Allah
berfirman, "Sesungguhnya ketetapan yang ada di sisi-Ku tidak akan berubah.
Sebagaimana yang telah Aku tetapkan bagimu di dalam Ummul Kitab (Lauh
Mahfuz)."
Maka setiap
amal kebaikan diberi pahala sepuluh kali lipat dari kebaikan itu. Kewajiban
sholat tetap tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan yang
diwajibkan atasmu hanyalah lima kali."
Nabi ﷺ kembali menemui Musa. Musa bertanya, "Apakah yang telah engkau
lakukan?"
Nabi ﷺ menjawab, "Allah telah memberikan keringanan kepada kami. Dia
menjadikan setiap amal kebaikan bernilai sepuluh kali lipat."
Musa berkata,
"Demi Allah, dahulu aku telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan
sesuatu yang lebih ringan daripada itu, tetapi mereka tetap meninggalkannya.
Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi untuk
dirimu."
Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Musa, demi Allah, aku telah merasa malu kepada
Tuhanku karena terlalu sering bolak-balik menghadap-Nya."
Musa berkata,
"Kalau begitu, turunlah dengan menyebut nama Allah."
Perawi
melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi ﷺ terbangun, dan beliau berada di Masjidil
Haram."
Demikianlah
lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab At-Tauhid, salah satu
bagian dari Shahih Al-Bukhari.
---*---
Imam
Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Kitab Sifat An-Nabi ﷺ melalui jalur Ismail ibnu Abu Uwais, dari saudaranya, yaitu Abu Bakar
Abdul Hamid, dari Sulaiman ibnu Bilal.
----*---
Adapun Imam Muslim meriwayatkannya melalui Harun ibnu Sa'id, dari Ibnu Wahb, dari Sulaiman. Dalam riwayat Muslim terdapat beberapa tambahan, pengurangan, serta perubahan urutan penyampaian dibandingkan dengan riwayat Al-Bukhari.
Hal itu memang
sebagaimana dikatakan oleh Imam Muslim, karena Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu
Namir mengalami kekeliruan dalam meriwayatkan hadits ini. Hafalannya kurang
kuat sehingga ia tidak dapat menyusunnya secara sempurna. Hal ini akan
dijelaskan lagi pada hadits-hadits lainnya, insya Allah.
Sebagian
perawi memahami bahwa peristiwa ini terjadi ketika Nabi ﷺ sedang tidur, karena mereka menyesuaikannya dengan bagian-bagian
riwayat yang datang sesudahnya.
Al-Hafidz Abu
Bakar Al-Baihaqi menjelaskan bahwa dalam riwayat Syarik terdapat tambahan yang
hanya muncul pada jalurnya. Tambahan itu sejalan dengan pendapat orang yang
beranggapan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ dalam peristiwa Isra dan
Mi'raj. Yang dimaksud adalah lafaz berikut:
"ثُمَّ
دَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى، فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى"
"Kemudian
Dia mendekat, yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepada beliau ﷺ, lalu semakin mendekat, sehingga jaraknya menjadi dua ujung
busur panah atau bahkan lebih dekat lagi."
Selanjutnya
Imam Al-Baihaqi menjelaskan bahwa pendapat Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan Abu Hurairah
yang menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai penglihatan Nabi ﷺ terhadap Malaikat Jibril dalam rupa aslinya merupakan pendapat yang
paling sahih.
Pendapat Imam
Al-Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar. Hal itu diperkuat oleh
hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu. Ketika beliau bertanya,
"Wahai
Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"نُورٌ
أَنَّى أَرَاهُ"
"Cahaya.
Bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"
Dalam riwayat
lain disebutkan,
"رَأَيْتُ
نُورًا"
"Aku
melihat cahaya." (HR. Muslim)
Adapun firman
Allah ﷻ:
﴿ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى﴾
"Kemudian dia mendekat, lalu bertambah
dekat lagi." (QS. An-Najm: 8)
Yang dimaksud
dalam ayat tersebut adalah Malaikat Jibril 'alaihissalam, sebagaimana
dijelaskan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui riwayat Ummul
Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dan juga
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Tidak ada
seorang pun dari kalangan sahabat yang menyelisihi penafsiran ayat tersebut
dengan penafsiran seperti ini.
----***----
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan
kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Sabit
Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda seperti berikut:
«أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ، فَوْقَ الْحِمَارِ
وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ، فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ
بِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي
يَرْبِطُ فِيهَا الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ
خَرَجْتُ، فَأَتَانِي جِبْرِيلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ
اللَّبَنَ، فَقَالَ: "أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ".
ثُمَّ
عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ:
"مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟"
قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ:
"قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ
بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.
ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ:
"مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟"
قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ:
"قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابْنَيِ الْخَالَةِ
يَحْيَى وَعِيسَى، فَرَحَّبَا بِي وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ.
ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ:
"مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟"
قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ:
"قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ، وَإِذَا
هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.
ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ:
"مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟"
قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ:
"قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ، فَرَحَّبَ
بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا﴾.
ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ».
ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: «مَنْ
أَنْتَ؟» فَقَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». فَقِيلَ:
«وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ». فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا
أَنَا بِمُوسَى، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.
ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: «مَنْ
أَنْتَ؟» قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». فَقِيلَ:
«وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ». فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا
أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ، وَإِذَا هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا
هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ.
ثُمَّ
ذَهَبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ،
وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ، فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَهَا
تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِفَهَا
مِنْ حُسْنِهَا.
قَالَ:
«فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى، وَفَرَضَ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
خَمْسِينَ صَلَاةً، فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى».
قَالَ:
«مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟»
قُلْتُ:
«خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ».
قَالَ:
«ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ؛ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ،
وَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ».
قَالَ:
«فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي، فَقُلْتُ: أَيْ رَبِّ، خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي». فَحَطَّ
عَنِّي خَمْسًا.
فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: «مَا فَعَلْتَ؟»
قُلْتُ:
«قَدْ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا».
قَالَ:
«إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ
لِأُمَّتِكَ».
قَالَ:
«فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي وَبَيْنَ مُوسَى، وَيَحُطُّ عَنِّي خَمْسًا
خَمْسًا، حَتَّى قَالَ: "يَا مُحَمَّدُ، هِيَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ
وَلَيْلَةٍ، بِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَتِلْكَ خَمْسُونَ صَلَاةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ
فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ عَشْرًا، وَمَنْ
هَمَّ بِسَيِّئَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً
وَاحِدَةً"».
فَنَزَلْتُ
حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: «ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ
فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ».
فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَقَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ».
Didatangkan
kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan berwarna putih yang tubuhnya lebih tinggi
daripada keledai, tetapi lebih rendah daripada bagal. Ia melangkahkan kedua
kaki depannya sejauh batas pandangan matanya. Aku menaikinya, lalu Jibril
membawaku hingga tiba di Baitul Maqdis. Aku menambatkan hewan itu pada
lingkaran tempat para nabi biasa menambatkan tunggangan mereka. Setelah itu aku
memasuki masjid dan mengerjakan sholat dua rakaat di dalamnya, kemudian aku
keluar.
Lalu Jibril
datang membawa dua bejana: satu berisi khamr dan satu lagi berisi susu. Aku
memilih bejana yang berisi susu. Jibril berkata, "Engkau telah memilih
fitrah."
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit pertama. Ia meminta agar pintunya dibukakan.
Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya lagi, "Apakah dia
telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka
pintu langit pun dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Adam. Beliau
menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.
Setelah itu
Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Ia kembali meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu
langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua orang putra
bibi, yaitu Yahya dan Isa. Keduanya menyambut kedatanganku dan mendoakan
kebaikan untukku.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Ia meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu
langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Yusuf.
Beliau telah dianugerahi separuh dari seluruh ketampanan. Beliau menyambut
kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya
Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Ia meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad."
Dikatakan
lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah
diutus." Maka pintu langit yang keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku
bertemu dengan Nabi Idris. Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan
untukku. Kemudian Allah ﷻ berfirman,
"Dan Kami
telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Maryam: 57)
Selanjutnya
Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Ia meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu
langit yang kelima dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Harun.
Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu
langit yang keenam dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Musa.
Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.
Setelah itu
Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Ia meminta agar pintunya
dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab,
"Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu
langit yang ketujuh dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi
Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul Ma'mur. Aku juga melihat Baitul Ma'mur
yang setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan setelah keluar
mereka tidak akan kembali lagi kepadanya.
Selanjutnya
Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha. Aku melihat daun-daunnya sebesar telinga
gajah dan buah-buahannya sebesar gentong. Ketika Sidratul Muntaha itu diliputi
oleh perintah Allah yang meliputinya, berubah pula keadaannya. Tidak ada
seorang pun dari makhluk Allah ﷻ yang mampu menggambarkan keindahannya.
Kemudian Allah
mewahyukan kepadaku apa yang Dia kehendaki untuk diwahyukan. Dia mewajibkan
kepadaku dan umatku sholat lima puluh kali setiap siang dan malam.
Lalu aku turun
hingga bertemu dengan Musa. Beliau bertanya, "Apakah yang telah diwajibkan
Tuhanmu kepada umatmu?"
Aku menjawab,
"Lima puluh kali sholat setiap siang dan malam."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu, karena
sesungguhnya mereka tidak akan sanggup melaksanakannya. Aku telah menguji Bani
Israil dan mengetahui keadaan mereka."
Maka aku
kembali kepada Tuhanku seraya berkata, "Wahai Tuhanku, berilah keringanan
kepada umatku." Lalu Allah mengurangi lima sholat.
Aku kembali
menemui Musa. Beliau bertanya, "Apa yang telah dilakukan Tuhanmu?"
Aku menjawab,
"Dia telah mengurangi lima sholat."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tetap tidak akan sanggup melaksanakannya. Kembalilah
kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan bagi umatmu."
Aku
terus-menerus bolak-balik antara Musa dan Tuhanku. Setiap kali aku kembali
menghadap, Allah mengurangi lima salat, hingga akhirnya Allah berfirman,
"Hai
Muhammad, kewajiban itu sekarang menjadi lima kali sholat setiap siang dan
malam. Setiap satu sholat bernilai sepuluh kali lipat, sehingga nilainya sama
dengan lima puluh sholat. Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan, lalu
tidak mengerjakannya, maka dicatat baginya satu pahala kebaikan. Jika ia
mengerjakannya, dicatat baginya sepuluh pahala kebaikan. Barang siapa berniat
melakukan suatu keburukan, lalu tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat
baginya dosa. Namun jika ia mengerjakannya, maka dicatat baginya satu
dosa."
Kemudian aku
turun lagi hingga bertemu dengan Musa dan menceritakan semua yang telah
terjadi. Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi
keringanan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka tidak akan sanggup
melaksanakannya."
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku telah berulang kali kembali kepada
Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya."
Imam Muslim
meriwayatkan hadis ini melalui Syaiban bin Farrukh, dari Hammad bin Salamah,
dengan lafaz sebagaimana di atas. Lafaz hadis ini lebih sahih daripada lafaz
yang diriwayatkan oleh Syarik.
Imam
al-Baihaqi mengatakan bahwa di dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan
bahwa peristiwa Mi'raj terjadi pada malam yang sama ketika Rasulullah ﷺ diisrakan dari Makkah menuju Baitul Maqdis.
Apa yang
dikatakan oleh Imam al-Baihaqi ini adalah benar dan tidak diragukan lagi
kebenarannya.
---***---
Imam Ahmad mengatakan,
telah menceritakan kepada kami Abdul Razzaq, telah menceritakan kepada kami
Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُسْرَجًا مُلْجَمًا
لِيَرْكَبَهُ، فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: مَا يَحْمِلُكَ
عَلَى هَذَا؟ فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ قَطُّ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْهُ.
قَالَ: فارفضَّ عَرَقًا.
Pada malam
Isra, didatangkan kepada Nabi ﷺ seekor hewan tunggangan bernama Buraq. Hewan
itu telah dipasangi pelana dan tali kendali agar dapat dinaiki oleh beliau.
Namun, ketika Nabi ﷺ hendak menaikinya, Buraq tampak sulit
dikendalikan.
Maka Jibril
berkata kepadanya, "Apakah yang mendorongmu bersikap seperti ini? Demi
Allah, tidak ada seorang pun yang pernah menaikimu yang lebih mulia di sisi
Allah daripada beliau."
Mendengar
perkataan Jibril itu, Buraq pun bercucuran keringat.
Imam Turmuzi
meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdur Razzaq; dan imam Turmuzi
mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib kami tidak mengenal
hadis ini kecuali melalui jalurnya (Ishaq ibnu Mansur).
---***---
Imam Ahmad
mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah
menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepadaku Rasyid ibnu Sa'id
dan Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Anas Bin Malik yang mengatakan: bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda mengemukakan hadis berikut, yaitu:
"لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، مَرَرْتُ بِقَوْمٍ
لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ:
مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الذين يأكلون لُحُومَ
النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ".
Ketika saya
dinaikkan menghadap kepada Tuhanku, saya bersua dengan suatu kaum yang memiliki
kuku tembaga, mereka mencakari muka dan dada mereka dengan kuku tembaga itu.
Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu? " Jibril
menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging
manusia (mengumpat orang lain) dan mempergunjingkan kehormatan
mereka.”
Imam Abu Daud
mengetengahkannya melalui hadis Safwan ibnu Amr dengan sanad yang sama; juga
dari jalur yang lain, tetapi tidak disebutkan nama Anas.
---***---
Abu Daud
mengatakan pula: telah menceritakan
kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sulaiman
At-Taimi, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوسَى، عَلَيْهِ
السَّلَامُ، قَائِمًا يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ"
Di malam aku
menjalani Isra bersua dengan Musa alaihis salam sedang berdiri mengerjakan
sholat di dalam kuburnya.
Imam Muslim
meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Sulaiman Ibnu Tarkhan
At-Taimi dan Sabit Al-Bannani, keduanya menerima hadis ini dari Anas. Menurut
An-Nasa-i, riwayat ini lebih sahih daripada riwayat yang menyebutkan dari
Sulaiman dari Sabit dari Anas.
Al-Hafidz Abu
Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Wahb ibnu Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami
Khalid, dari At-Taimi, dari Anas yang mengatakan:
"Salah
seorang sahabat Nabi ﷺ telah menceritakan kepadaku bahwa ketika
beliau ﷺ melakukan Isra, beliau bersua dengan Musa sedang melakukan
sholat di dalam kuburnya."
Abu Ya'la
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ur'urah
telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia
telah mendengar sahabat Anas mengatakan:
"Ketika
Nabi ﷺ menjalani Isra-nya, beliau bersua dengan Musa sedang mengerjakan sholat
di dalam kuburnya."
Anas bin Malik mengatakan Nabi ﷺ menceritakan:
Bahwa ia
mengendarai Buraq, lalu ia menambatkan hewan itu, atau kuda itu. Abu Bakar
bertanya, "Gambarkanlah kepadaku Buraq itu." Rasulullah ﷺ bersabda, "Buraq bentuknya seperti anu dan anu."
Maka Abu Bakar
berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Dan Abu
Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah melihatnya.
---***---
Al-Hafidz Abu
Bakar Ahmad bin Amr al-Bazzar berkata dalam kitab Musnad-nya:
"Telah
menceritakan kepada kami Salamah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami
Sa'id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami al-Harits bin Ubaid, dari Abu
Imran al-Jauni, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"بَيْنَا أَنَا قَاعِدٌ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ
السَّلَامُ، فَوَكَزَ بَيْنَ كَتِفِي، فَقُمْتُ إِلَى شَجَرَةٍ فِيهَا كَوَكْرَيِ الطَّيْرِ،
فَقَعَدَ فِي أَحَدِهِمَا وَقَعَدْتُ فِي الْآخَرِ فَسَمَتْ وَارْتَفَعَتْ حَتَّى
سَدَّتِ الْخَافِقَيْنِ وَأَنَا أُقَلِّبُ طَرْفِي، وَلَوْ شِئْتُ أَنَّ أَمَسَّ
السَّمَاءَ لَمَسِسْتُ، فَالْتَفَتُّ إِلَى جِبْرِيلَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ،
كَأَنَّهُ حِلْس لَاطَ فَعَرَفْتُ فَضْلَ عِلْمِهِ بِاللَّهِ عَلَيَّ، وَفُتِحَ
لِي بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ فَرَأَيْتُ النُّورَ الأعظمَ، وَإِذَا دُونَ
الْحِجَابِ رَفْرَفُ الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ، وَأُوحِيَ إليَّ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ يُوحِي"
'Ketika aku
sedang tidur, tiba-tiba datang Malaikat Jibril. Lalu ia menotok bagian antara
kedua tulang belikatku. Setelah itu aku bangkit menuju sebuah pohon yang
padanya terdapat dua benda yang menyerupai sarang burung. Jibril duduk pada
salah satunya, sedangkan aku duduk pada yang lainnya. Maka pohon itu meninggi
hingga mencapai langit, sampai-sampai menutupi cakrawala timur dan barat.
Aku
membolak-balikkan pandanganku. Seandainya aku mengulurkan tanganku ke langit,
niscaya aku dapat menyentuhnya. Kemudian aku menoleh kepada Malaikat Jibril,
dan saat itu beliau tampak seperti pelana yang terhampar. Dari situ aku
mengetahui keutamaannya atasku dalam hal ma'rifat kepada Allah.
Lalu dibukakan
untukku salah satu pintu langit. Aku pun melihat cahaya yang sangat agung. Di
balik hijab tampak bantal-bantal dari permata dan yaqut. Kemudian Allah
mewahyukan kepadaku apa yang Dia kehendaki untuk diwahyukan kepadaku.'"
Selanjutnya
al-Bazzar berkata, "Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang
meriwayatkan hadis ini selain Anas. Kami juga tidak mengetahui ada seorang pun
yang meriwayatkannya dari Abu Imran al-Jauni selain al-Harits bin Ubaid. Ia
adalah seorang yang dikenal di kalangan ulama Basrah."
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dalam riwayat lain pada bagian akhir hadis disebutkan, "Malaikat Jibril terkapar di bawahku," atau disebutkan, "Di balik hijab terdapat bantal-bantal dari permata dan yaqut."
Imam al-Baihaqi kemudian menjelaskan bahwa demikian pula lafaz yang diriwayatkan oleh al-Harits bin Ubaid.
---**---
RIWAYAT MUHAMMAD BIN UMAIR BIN UTHARID
Hammad bin
Salamah meriwayatkannya dari Abu Imran al-Jauni, dari Muhammad bin Umair bin
Utharid, bahwa Nabi ﷺ sedang berada di tengah-tengah para
sahabatnya. Tiba-tiba Malaikat Jibril datang, lalu menotok punggung beliau dan
membawanya ke sebuah pohon yang padanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua
buah sarang burung. Nabi ﷺ didudukkan pada salah satunya, sedangkan
Malaikat Jibril duduk pada yang lainnya.
Kemudian pohon
itu tumbuh meninggi membawa kami hingga mencapai cakrawala langit. Seandainya
aku mengulurkan kedua tanganku ke langit, niscaya aku dapat menyentuhnya.
Lalu
dijulurkan sebuah tangga, dan turunlah suatu nur (cahaya) kepadaku. Seketika
itu Malaikat Jibril jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, lemas bagaikan pelana
yang terhampar. Dari situlah aku mengetahui bahwa rasa takut Jibril kepada
Allah jauh lebih besar daripada rasa takutku kepada-Nya.
Kemudian Allah
mewahyukan kepadaku, “Apakah engkau memilih menjadi nabi malaikat atau nabi
manusia?” Lalu Jibril, yang masih dalam keadaan terbaring, memberi isyarat
kepadaku agar bersikap tawaduk. Maka aku menjawab, “Tidak, aku memilih menjadi
seorang nabi manusia.”
Menurut kami,
apabila hadis ini sahih, maka kandungannya menunjukkan bahwa peristiwa tersebut
bukan terjadi pada malam Isra. Sebab, di dalamnya tidak disebutkan Baitul
Maqdis dan tidak pula disebutkan peristiwa naik ke langit. Karena itu, dapat
disimpulkan bahwa kejadian ini merupakan peristiwa lain yang berbeda dari
peristiwa Isra dan Mi’raj yang sedang kita bahas.
--***---
Al-Bazzar juga
berkata, "Telah menceritakan kepada kami Amr bin Isa, telah menceritakan
kepada kami Abu Bahr, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Qatadah,
dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah melihat Tuhannya." Hadis ini
berpredikat garib.
Abu Ja'far bin
Jarir berkata, "Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Wahb, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin
Abdurrahman az-Zuhri, dari ayahnya, dari Abdurrahman bin Hasyim bin Atabah bin
Abu Waqqash, dari Anas bin Malik, bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada
Rasulullah ﷺ dengan membawa Buraq, Buraq tampak menggerak-gerakkan ekornya.
Lalu Malaikat
Jibril berkata kepadanya, 'Diamlah, wahai Buraq! Demi Allah, tidak ada seorang
pun yang pernah menaikimu yang lebih mulia daripada beliau.'
Maka
Rasulullah ﷺ berangkat dengan menunggangi Buraq. Di tengah perjalanan beliau melihat
seorang wanita tua di tepi jalan. Beliau bertanya, 'Siapakah wanita tua itu,
wahai Jibril?'
Jibril menjawab,
'Wahai Muhammad, teruskanlah perjalananmu.'
Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan sebagaimana yang Allah kehendaki. Tidak lama
kemudian terdengar seseorang memanggil beliau dari arah samping jalan seraya
berkata, 'Kemarilah, wahai Muhammad!'
Namun Jibril
berkata, 'Wahai Muhammad, teruskanlah perjalananmu.'
Beliau pun
terus melanjutkan perjalanan sesuai dengan kehendak Allah ﷻ.
Selanjutnya
Rasulullah ﷺ bertemu dengan sekelompok makhluk Allah yang berkata,
'Semoga
keselamatan tercurah kepadamu, wahai orang yang pertama. Semoga keselamatan
tercurah kepadamu, wahai orang yang terakhir. Semoga keselamatan tercurah
kepadamu, wahai penghimpun manusia.'
Maka Jibril
berkata kepada beliau, 'Wahai Muhammad, jawablah salam mereka.'
Rasulullah ﷺ pun menjawab salam mereka.
Kemudian
beliau bertemu lagi dengan rombongan kedua yang mengucapkan salam dengan ucapan
yang sama seperti rombongan pertama. Demikian pula ketika bertemu dengan
rombongan ketiga, hingga akhirnya beliau tiba di Baitul Maqdis.
Di sana
disuguhkan kepada beliau tiga bejana yang berisi khamr, air, dan susu.
Rasulullah ﷺ memilih susu. Maka Jibril berkata,
'Engkau telah
memilih fitrah. Seandainya engkau memilih air, niscaya engkau dan umatmu akan
tenggelam. Dan seandainya engkau memilih khamr, niscaya engkau dan umatmu akan
tersesat.'
Kemudian Allah
menghadirkan Nabi Adam dan para nabi sesudahnya. Pada malam itu Rasulullah ﷺ mengimami mereka dalam sholat.
Setelah itu
Jibril berkata kepada Rasulullah ﷺ,
'Adapun wanita
tua yang engkau lihat di tepi jalan tadi, maka usia dunia yang tersisa hanyalah
seperti sisa usia wanita tua itu. Adapun orang yang memanggilmu agar
mendatanginya, dia adalah musuh Allah, yaitu Iblis. Dia ingin agar engkau
cenderung kepadanya. Sedangkan orang-orang yang mengucapkan salam kepadamu
adalah Ibrahim dan Musa ‘alaihimas salam.'"
----
Demikian pula riwayat yang dibawakan oleh Al-Hafidz Imam al-Baihaqi dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah melalui jalur Ibnu Wahb. Akan tetapi, pada sebagian lafaznya terdapat beberapa riwayat yang berstatus munkar dan garib.
Jalur Lain:
Ada pula jalur
lain yang diriwayatkan melalui Anas bin Malik, namun di dalamnya terdapat
sejumlah riwayat yang sangat garib dan munkar. Riwayat ini terdapat dalam kitab
Al-Mujtaba karya Imam an-Nasa'i, tetapi tidak saya jumpai dalam kitab Al-Kubra.
Imam an-Nasa'i
berkata, "Telah menceritakan kepada kami Amr bin Hisyam, telah
menceritakan kepada kami Makhlad —yaitu Ibnu Husain—, dari Sa'id bin Abdul
Aziz, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Malik, telah menceritakan
kepada kami Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
'Didatangkan
kepadaku seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah bagal.
Langkahnya sejauh mata memandang. Aku pun menungganginya bersama Malaikat
Jibril.
Kemudian
Jibril berkata, "Turunlah dan salatlah!"
Maka aku turun
dan melaksanakan sholat.
Jibril
berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di
Thaibah, yaitu tempat hijrahmu kelak."
Kemudian
Jibril berkata lagi, "Turunlah dan salatlah!"
Maka aku pun
sholat.
Jibril
berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di Bukit
Thur Sina, tempat Allah berbicara langsung dengan Musa."
Lalu Jibril
berkata lagi, "Turunlah dan salatlah!"
Aku pun turun
dan melaksanakan sholat.
Jibril
berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di
Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa ‘alaihis salam."
Kemudian aku
memasuki Baitul Maqdis. Seluruh para nabi dikumpulkan bersamaku. Jibril
mempersilakanku maju hingga aku menjadi imam bagi mereka.
Setelah itu Jibril
membawaku naik ke langit yang pertama. Di sana aku bertemu dengan Adam ‘alaihis
salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Di sana aku bertemu dengan dua
orang putra bibiku, yaitu Isa dan Yahya ‘alaihimas salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Di sana aku bertemu dengan Yusuf
‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Di sana aku bertemu dengan Harun
‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Di sana aku bertemu dengan Idris
‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Di sana aku bertemu dengan Musa
‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Di sana aku bertemu dengan
Ibrahim ‘alaihis salam.
Selanjutnya
Jibril membawaku naik melewati langit ketujuh hingga aku sampai di Sidratul
Muntaha. Kemudian aku diselimuti oleh awan, lalu aku bersujud. Setelah itu
dikatakan kepadaku,
"Sesungguhnya
sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah mewajibkan atasmu dan atas
umatmu lima puluh kali sholat. Maka laksanakanlah olehmu dan umatmu."
Aku pun
kembali membawa perintah itu hingga bertemu dengan Musa.
Musa bertanya,
"Apakah yang diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?"
Aku menjawab,
"Lima puluh kali sholat."
Musa berkata,
"Sesungguhnya engkau dan umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.
Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan."
Maka aku
kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia mengurangi sepuluh sholat dariku.
Kemudian aku
kembali menemui Musa, tetapi Musa kembali menyuruhku menghadap Tuhanku. Maka
aku kembali lagi, dan Allah mengurangi sepuluh sholat lagi.
Akhirnya
kewajiban sholat ditetapkan menjadi lima kali.
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan, karena dahulu
Allah pernah mewajibkan dua kali sholat kepada Bani Israil, namun mereka tetap
tidak sanggup melaksanakannya."
Maka aku
kembali lagi kepada Tuhanku dan memohon keringanan. Namun Allah ﷻ berfirman,
"Sesungguhnya
sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah menetapkan lima waktu sholat
atasmu dan atas umatmu. Lima waktu sholat itu berpahala seperti lima puluh
waktu sholat. Maka laksanakanlah lima waktu sholat itu olehmu dan umatmu."
Setelah itu
aku mengetahui bahwa ketetapan Allah mengenai sholat lima waktu merupakan
keputusan yang pasti dan tidak akan diubah lagi.
Aku kembali
menemui Musa. Musa berkata, "Kembalilah lagi."
Namun aku
telah mengetahui bahwa sholat lima waktu itu merupakan ketetapan yang final,
sehingga aku tidak lagi kembali untuk meminta keringanan.
----
Jalur lain:
Ibnu Abu Hatim berkata, "Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, telah menceritakan kepada kami
Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu, bahwa pada malam Rasulullah ﷺ menjalani Isra ke Baitul Maqdis, Malaikat
Jibril datang kepada beliau dengan membawa seekor hewan yang ukurannya lebih
besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada bagal. Lalu Jibril
menaikkan Nabi ﷺ ke atas hewan tersebut. Kedua kaki depannya
melangkah sejauh mata memandang.
Setelah tiba
di Baitul Maqdis, keduanya sampai di sebuah tempat yang disebut Bab Muhammad
(Pintu Muhammad). Di sana terdapat sebuah batu. Jibril menusuk batu itu dengan
jari telunjuknya hingga berlubang, lalu menambatkan hewan tunggangan tersebut
di tempat itu.
Setelah itu
Nabi ﷺ menaiki tangga masjid. Ketika keduanya telah berada di serambi masjid,
Jibril berkata: "Hai Muhammad, tidakkah engkau ingin meminta kepada
Tuhanmu agar Dia memperlihatkan kepadamu para bidadari yang bermata jeli?"
Nabi ﷺ menjawab: "Ya, aku akan memohon hal itu kepada-Nya."
Jibril
berkata: "Kalau begitu, pergilah menemui mereka dan ucapkanlah salam
kepada mereka."
Saat itu para
bidadari sedang duduk di sebelah kiri Shakhrah. Maka aku mendatangi mereka dan
mengucapkan salam. Mereka pun menjawab salamku.
Aku bertanya:
"Siapakah kalian?"
Mereka
menjawab: "Kami adalah para bidadari yang baik lagi cantik, istri-istri
bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka suci dari noda-noda dosa. Mereka tinggal
menetap di dalam surga dan tidak akan pernah keluar darinya. Mereka hidup kekal
dan tidak akan pernah mati."
Kemudian aku
pergi. Tidak lama kemudian aku melihat banyak orang telah berkumpul. Lalu azan
dikumandangkan, disusul dengan iqamah untuk salat. Kami pun berdiri membentuk
saf, menunggu siapa yang akan menjadi imam.
Ternyata
Jibril memegang tanganku, lalu mengajukanku ke depan untuk menjadi imam. Maka
aku mengimami mereka dalam salat.
Setelah
selesai salat, Jibril bertanya kepadaku: "Hai Muhammad, tahukah engkau
siapakah orang-orang yang tadi salat di belakangmu?"
Nabi ﷺ menjawab: "Aku tidak tahu."
Jibril
berkata: "Mereka adalah seluruh nabi yang pernah diutus oleh Allah ﷻ."
Kemudian
Jibril memegang tanganku dan membawaku naik ke langit. Setelah sampai di pintu
langit, Jibril mengetuk pintunya.
Para malaikat
penjaga langit bertanya: "Siapakah engkau?"
Jibril
menjawab: "Aku Jibril."
Mereka
bertanya: "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab: "Muhammad."
Mereka
bertanya: "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab: "Ya."
Pintu langit
pun dibukakan untuknya, dan para malaikat berkata, "Marhaban (selamat
datang) bagimu dan bagi orang yang bersamamu."
Setelah
Rasulullah ﷺ berada di langit pertama, beliau melihat Nabi Adam ‘alaihis salam. Maka
Jibril berkata, "Hai Muhammad, tidakkah engkau ingin mengucapkan salam
kepada ayahmu, Adam?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Tentu saja."
Beliau pun
mendatangi Adam dan mengucapkan salam kepadanya. Adam menjawab salam beliau
seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku yang saleh, nabi yang
saleh."
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Sesampainya di sana, Jibril meminta
izin untuk masuk. Para malaikat penjaga langit bertanya, "Siapakah
engkau?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Maka pintu
langit kedua dibukakan, dan mereka berkata, "Marhaban bagimu dan bagi
orang yang bersamamu."
Di langit
kedua itu Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya ‘alaihimas
salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Ia meminta izin untuk masuk. Para
penjaga langit bertanya, "Siapakah engkau?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Maka mereka membukakan
pintu langit ketiga dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi orang yang
bersamamu."
Di langit
ketiga itu Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Ia meminta izin untuk masuk. Para
penjaganya bertanya, "Siapakah engkau?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Maka mereka
membukakan pintu langit keempat dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi
orang yang bersamamu."
Di langit
keempat itu Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Ia mengetuk pintunya, lalu para
penjaga langit bertanya, "Siapakah engkau?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Maka mereka
membukakan pintu langit yang kelima dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi
orang yang bersamamu."
Ini sudah
mengikuti pola yang Anda sukai sebelumnya: narasinya mengalir, dialog tetap
dipisahkan tetapi tidak terlalu renggang, sehingga enak dibaca dan tampak rapi
seperti gaya penulisan kitab-kitab tahqiq.
Dan ternyata
di langit yang kelima terdapat Nabi Harun ‘alaihis salam. Kemudian Jibril
membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta izin untuk masuk, lalu para
penjaganya bertanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya
Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka
mereka membukakan pintu langit yang keenam dan berkata, "Selamat datang
untukmu dan untuk orang yang bersamamu." Ternyata di langit yang keenam
terdapat Nabi Musa ‘alaihis salam.
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Ia meminta izin untuk masuk. Maka
para penjaganya bertanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab,
"Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang
bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya,
"Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab,
"Ya." Maka mereka membukakan pintu langit yang ketujuh dan berkata,
"Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu." Ternyata di
dalamnya terdapat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Maka Jibril berkata, "Hai
Muhammad, tidakkah engkau mengucapkan salam kepada ayahmu, Ibrahim?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya, saya akan mengucapkan salam kepadanya." Maka
saya mendatanginya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya
berkata, "Selamat datang, wahai anakku yang saleh, nabi yang saleh."
Selanjutnya
Jibril membawaku ke atas langit yang ketujuh hingga sampailah kami di sebuah
sungai. Di tepinya terdapat kemah-kemah dari mutiara, yaqut, dan zabarjad,
sedangkan di atasnya beterbangan burung-burung hijau yang belum pernah kulihat
burung seindah itu. Lalu saya bertanya, "Hai Jibril, sungguh burung-burung
ini sangat indah." Jibril menjawab, "Orang yang memakannya jauh lebih
indah daripada itu." Kemudian Jibril berkata, "Hai Muhammad, tahukah
engkau sungai apakah ini?" Saya menjawab, "Tidak tahu." Jibril
berkata, "Ini adalah Sungai Kausar yang dianugerahkan Allah
kepadamu."
Ternyata di
sungai itu terdapat banyak bejana yang terbuat dari emas dan perak. Sungai itu
mengalir di sebuah lembah yang terdiri atas yaqut dan zamrud. Airnya lebih
putih daripada susu. Lalu saya mengambil sebuah bejana emas, kemudian mengambil
air sungai itu dan meminumnya. Ternyata rasanya lebih manis daripada madu dan
baunya lebih harum daripada minyak kesturi.
Kemudian
Jibril membawaku hingga sampai di sebuah pohon. Lalu diriku diselimuti oleh
awan yang memancarkan berbagai macam warna. Setelah itu Malaikat Jibril
mendorongku hingga aku tersungkur bersujud kepada Allah ﷻ. Allah berfirman kepadaku, "Hai Muhammad, sesungguhnya
sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah memfardukan atasmu dan atas
umatmu lima puluh kali salat. Maka kerjakanlah lima puluh kali salat itu olehmu
dan oleh umatmu."
Setelah awan
itu tersingkap dariku, Jibril menarik tanganku dan membawaku dengan cepat
hingga sampai di tempat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Akan tetapi, Ibrahim tidak
mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Ketika kami sampai di tempat Nabi Musa
‘alaihis salam, ia bertanya, "Hai Muhammad, apakah yang telah engkau
peroleh?" Saya menjawab, "Telah difardukan atasku dan atas umatku
lima puluh kali salat." Musa berkata, "Engkau tidak akan mampu
mengerjakannya, demikian pula umatmu. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah kepada-Nya agar memberikan keringanan bagimu." Maka saya kembali
dengan cepat hingga sampai lagi di pohon itu (Sidratul Muntaha). Awan kembali
menyelimutiku, dan Jibril pun mendorongku.
Lalu aku
tersungkur bersujud dan berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah
memfardukan kepadaku dan kepada umatku lima puluh kali salat, sedangkan aku dan
umatku tidak akan mampu melaksanakannya. Maka berilah kami keringanan."
Allah berfirman,
"Aku kurangi sepuluh salat dari kewajiban kalian."
Setelah awan
itu tersingkap dariku, Jibril menarik tanganku dan membawaku dengan cepat
hingga sampai di tempat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun, beliau tidak
mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Kemudian aku sampai di tempat Nabi Musa
‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apa yang telah ditetapkan bagimu, wahai
Muhammad?"
Aku menjawab,
"Tuhanku telah mengurangi sepuluh salat dariku."
Musa berkata,
"Empat puluh kali salat itu tetap tidak akan mampu engkau laksanakan,
demikian pula umatmu. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah
keringanan lagi bagi kalian."
Perawi
melanjutkan kisah dalam hadis ini hingga sampai pada penetapan salat lima
waktu, yang pahalanya sama dengan lima puluh kali salat.
Kemudian Musa
kembali menyuruh Rasulullah ﷺ menghadap Allah ﷻ untuk memohon keringanan
lebih lanjut. Namun Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku telah merasa
malu kepada Tuhanku."
Setelah itu
Rasulullah ﷺ turun, lalu beliau bertanya kepada Malaikat Jibril, "Mengapa
setiap penghuni langit yang kutemui selalu menyambutku dengan ucapan selamat
dan senyuman, kecuali seorang lelaki? Ketika aku mengucapkan salam kepadanya,
ia membalas salamku, tetapi tidak tersenyum kepadaku."
Jibril
menjawab, "Wahai Muhammad, dia adalah penjaga Neraka Jahanam. Sejak
diciptakan, dia tidak pernah tertawa. Seandainya dia pernah tersenyum kepada
seseorang, niscaya dia akan tersenyum kepadamu."
Kemudian
Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan dengan menaiki tunggangannya. Di tengah perjalanan
beliau bertemu dengan kafilah Quraisy yang sedang membawa bahan makanan. Di
antara rombongan itu terdapat seekor unta jantan yang memikul dua peti barang,
satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih. Ketika Rasulullah ﷺ melintas tepat di atasnya, unta itu terkejut, lalu berlari sambil
berputar hingga terjatuh dan patah kakinya.
Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya beliau menceritakan semua
peristiwa itu kepada orang-orang.
Tatkala kaum
musyrik mendengar kisah tersebut, mereka mendatangi Abu Bakar radhiyallahu
‘anhu dan berkata, "Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang
sahabatmu itu? Dia mengaku telah pergi pada malam tadi ke suatu tempat yang
jaraknya sejauh perjalanan satu bulan, lalu kembali pada malam yang sama."
Abu Bakar radhiyallahu
‘anhu menjawab, "Jika benar dia yang mengatakannya, maka sungguh dia telah
berkata benar. Bahkan kami mempercayainya dalam perkara yang lebih besar
daripada itu. Kami membenarkannya tentang berita yang datang dari langit."
Orang-orang
musyrik berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah bukti yang
membenarkan apa yang engkau katakan itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku melewati kafilah orang-orang Quraisy yang sedang
berada di tempat anu dan anu. Di tengah perjalanan ada seekor unta milik mereka
yang terkejut lalu berputar hingga terjatuh. Dalam rombongan itu juga terdapat
seekor unta yang membawa dua peti barang, satu berwarna hitam dan satu lagi
berwarna putih. Unta itu pun jatuh hingga patah kakinya."
Ketika
rombongan kafilah tersebut tiba, orang-orang musyrik menanyakan peristiwa itu
kepada mereka. Ternyata mereka menceritakan kejadian yang sama persis
sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.
Sejak
peristiwa itulah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat julukan
"Ash-Shiddiq".
Mereka kembali
bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah di antara
orang-orang yang engkau jumpai terdapat Musa dan Isa?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya."
Mereka
berkata, "Kalau begitu, gambarkanlah rupa keduanya kepada kami."
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya. Musa adalah seorang lelaki berkulit sawo matang,
seakan-akan penampilannya seperti salah seorang lelaki dari kabilah Azd Amman.
Adapun Isa, ia adalah seorang lelaki yang bertubuh sedang, berambut ikal, dan
berkulit kemerah-merahan, seakan-akan butiran mutiara menetes dari
rambutnya."
Konteks hadis
ini penuh dengan hal-hal yang garib (aneh) dan ajaib.
---***---
Menurut
riwayat Anas ibnu Malik dari Malik ibnu Sha'sha'ah, Imam Ahmad meriwayatkan,
telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam. Ia
mendengar Qatadah meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Malik ibnu
Sha'sha'ah menceritakan hadis berikut.
Rasulullah ﷺ menceritakan kepada mereka peristiwa Isra yang beliau alami:
"Ketika
aku berada di Hatim Ka'bah —dan terkadang Qatadah, perawi hadis, mengatakan di
Hijir Ismail— dalam keadaan berbaring, tiba-tiba datanglah seseorang bersama
dua orang temannya. Lalu ia mengatakan sesuatu kepada temannya yang berada di
tengah-tengah mereka. Kemudian orang itu membelah —aku mendengar Qatadah mengatakan
'membedah'— bagian tubuhku dari sini sampai ke sini."
Qatadah berkata bahwa ia menjelaskan maksudnya kepada Al-Jarud yang duduk di sampingnya, yaitu dari bagian bawah leher hingga ke tempat tumbuhnya rambut kemaluan. Al-Jarud berkata, "Aku mendengarnya mengatakan hingga tempat tumbuhnya rambut kemaluan," yakni bagian bawah perutnya.
Rasulullah ﷺ melanjutkan:
"Kemudian
orang itu mengeluarkan hatiku, lalu didatangkan sebuah bejana emas yang
dipenuhi dengan iman dan hikmah. Hatiku dicuci, kemudian dipenuhi dengan iman
dan hikmah itu, setelah itu dikembalikan lagi ke tempatnya semula."
"Selanjutnya
didatangkan kepadaku seekor hewan yang ukurannya lebih besar daripada keledai,
tetapi lebih kecil daripada bagal, dan berwarna putih."
Al-Jarud
bertanya kepada Qatadah, "Apakah hewan itu Buraq, wahai Abu Hamzah?"
Qatadah
menjawab, "Ya. Buraq melangkahkan kedua kaki depannya sejauh pandangan
matanya."
Rasulullah ﷺ melanjutkan:
"Lalu aku
dinaikkan ke atas Buraq, dan Jibril ‘alaihis salam membawaku hingga sampai ke langit
yang paling dekat. Jibril mengetuk pintunya, lalu terdengar pertanyaan,
'Siapakah engkau?'
Jibril
menjawab, 'Aku Jibril.'
Ditanya lagi,
'Siapakah yang bersamamu?'
Jibril
menjawab, 'Muhammad.'
Mereka
bertanya lagi, 'Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?'
Jibril
menjawab, 'Ya.'
Maka
dikatakan, 'Selamat datang untuknya. Sungguh sebaik-baik orang telah
datang.'"
Lalu
dibukakanlah pintu langit yang pertama bagi kami. Setelah memasukinya,
tiba-tiba aku bersua dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Ini
adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan
salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata, "Selamat datang, anak
yang saleh, nabi yang saleh."
Kemudian
Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Setelah sampai di sana,
Jibril meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah
engkau?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi,
"Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad."
Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan,
"Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah
datang."
Lalu
dibukakanlah pintu langit yang kedua bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba
aku bersua dengan Isa dan Yahya ‘alaihimas salam, yang keduanya adalah anak
bibi. Jibril berkata, "Keduanya adalah Yahya dan Isa. Ucapkanlah salam
kepada mereka." Maka aku mengucapkan salam kepada keduanya. Mereka
menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi
yang saleh."
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang ketiga. Ia meminta izin
untuk masuk, lalu terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril
menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang
bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi,
"Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril
menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya.
Sungguh, orang yang paling baik telah datang."
Setelah
dibukakan pintu langit yang ketiga bagi kami dan aku memasukinya, tiba-tiba aku
bersua dengan Yusuf ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Yusuf."
Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata,
"Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang keempat. Ia meminta izin
untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril
menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang
bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi,
"Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril
menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya.
Sungguh, orang yang paling baik telah datang." Setelah itu dibukakanlah
pintu langit yang keempat bagi kami.
Setelah
memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Idris ‘alaihis salam. Jibril berkata,
"Inilah Idris. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan
salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang,
saudara yang saleh, nabi yang saleh."
Kemudian
Malaikat Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang kelima. Ia meminta
izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril
menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang
bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi,
"Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril
menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya.
Sungguh, orang yang paling baik telah datang."
Lalu
dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba
aku bersua dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Harun.
Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia
menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi
yang saleh."
Kemudian
Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta izin untuk
masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab,
"Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan
untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka
dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah
datang."
Setelah itu
dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba
aku bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Musa.
Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia
menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi
yang saleh."
Ketika aku
melewatinya, ia menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah yang
menyebabkan engkau menangis?" Musa ‘alaihis salam menjawab, "Aku
menangis karena seorang pemuda yang diutus sesudahku, tetapi umatnya yang masuk
surga jauh lebih banyak daripada umatku."
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang ketujuh. Ia meminta izin
untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril
menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang
bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi,
"Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril
menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya.
Sungguh, orang yang paling baik telah datang."
Setelah itu
dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba
aku bersua dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Ibrahim.
Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia
menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, anak yang saleh, nabi
yang saleh."
Selanjutnya
aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Ternyata buah-buahnya sebesar gentong buatan
penduduk Hajar, sedangkan daun-daunnya selebar telinga gajah. Maka Jibril
berkata, "Inilah Sidratul Muntaha."
Tiba-tiba di
sana terdapat empat buah sungai; dua di antaranya berada di bagian dalam,
sedangkan dua lainnya berada di bagian luar. Aku bertanya, "Wahai Jibril,
sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Adapun dua sungai yang berada
di bagian dalam, keduanya adalah sungai-sungai surga. Sedangkan dua sungai yang
berada di bagian luar adalah sumber Sungai Nil dan Sungai Eufrat."
Kemudian aku
dibawa ke Baitul Ma'mur. Qatadah berkata, Al-Hasan juga telah menceritakan
kepada kami, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau melihat Baitul Ma'mur yang setiap hari dimasuki
oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak pernah kembali lagi
kepadanya.
Selanjutnya
Qatadah kembali melanjutkan hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa kemudian
disuguhkan kepadaku sebuah bejana berisi khamr, sebuah bejana berisi susu, dan
sebuah bejana lagi berisi madu. Maka aku memilih bejana yang berisi susu. Lalu
Jibril berkata, "Inilah fitrah yang engkau pilih bagi dirimu dan
umatmu."
Kemudian
diwajibkan kepadaku salat lima puluh kali setiap hari. Setelah itu aku turun
hingga sampai kepada Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apakah yang telah
diwajibkan Tuhanmu atas dirimu dan umatmu?" Aku menjawab, "Lima puluh
kali salat setiap hari."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan lima puluh kali salat.
Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras
membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah
keringanan bagi umatmu."
Maka aku
kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi kewajiban itu sebanyak sepuluh
salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah yang
telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Empat puluh kali salat
setiap hari."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan empat puluh kali salat
setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha
keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah keringanan bagi umatmu."
Maka aku
kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi kewajiban itu sebanyak
sepuluh salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah
yang telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Tiga puluh kali
salat."
Musa ‘alaihis salam berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan tiga puluh kali salat setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."
Maka aku
kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat
lagi bagiku. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah
yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku diperintahkan
mengerjakan dua puluh kali salat setiap hari."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan dua puluh kali salat
setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha
keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah keringanan bagi umatmu."
Maka aku
kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi kewajiban itu sebanyak
sepuluh salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya,
"Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku
diperintahkan mengerjakan sepuluh kali salat setiap hari."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan sepuluh kali salat
setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha
keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah keringanan bagi umatmu."
Maka aku
kembali menghadap Allah. Lalu aku diperintahkan mengerjakan salat lima waktu
setiap hari. Setelah itu aku kembali menemui Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya,
"Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku
diperintahkan mengerjakan salat lima waktu setiap hari."
Musa berkata,
"Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan salat lima waktu setiap
hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras
membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah
keringanan bagi umatmu."
Aku menjawab,
"Sesungguhnya aku telah berulang kali meminta keringanan kepada Tuhanku
hingga aku merasa malu kepada-Nya. Kini aku rela dan berserah diri untuk
melaksanakannya."
Lalu
terdengarlah suara yang berseru, "Sesungguhnya Aku telah menetapkan apa
yang Aku wajibkan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada
hamba-hamba-Ku."
---***---
Riwayat Anas
radhiyallahu ‘anhu dari Abu Zar radhiyallahu ‘anhu disebutkan oleh Imam
Bukhari. Beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair,
telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari
Anas ibnu Malik, bahwa Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan hadis berikut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika
aku berada di Mekah, atap rumahku dibuka. Lalu Malaikat Jibril turun, kemudian
membelah dadaku dan mencucinya dengan air Zamzam. Setelah itu ia mendatangkan
sebuah bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman. Lalu ia menuangkannya ke
dalam dadaku dan menutupnya kembali. Sesudah itu ia memegang tanganku dan
membawaku naik ke langit yang terdekat.
Setelah sampai
di langit yang pertama, Jibril berkata kepada penjaga langit, 'Bukalah!'
Penjaga langit bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Aku Jibril.' Penjaga
langit bertanya lagi, 'Apakah engkau bersama seseorang?' Jibril menjawab, 'Ya,
aku bersama Muhammad ﷺ.' Penjaga langit bertanya,
'Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?' Jibril menjawab,
'Ya.'
Setelah pintu
langit yang pertama dibuka, kami pun memasukinya. Tiba-tiba aku bersua dengan
seorang lelaki yang sedang duduk. Di sebelah kanannya terdapat banyak manusia,
demikian pula di sebelah kirinya terdapat banyak manusia. Apabila ia memandang
ke sebelah kanannya, ia tertawa. Namun apabila ia memandang ke sebelah kirinya,
ia menangis.
Lelaki itu
berkata, 'Selamat datang, nabi yang saleh, anak yang saleh.'
Aku bertanya
kepada Jibril, 'Siapakah orang ini?'
Jibril
menjawab, 'Dia adalah Adam. Adapun manusia yang berada di sebelah kanan dan
kirinya adalah seluruh keturunannya. Orang-orang yang berada di sebelah
kanannya adalah penghuni surga, sedangkan orang-orang yang berada di sebelah
kirinya adalah penghuni neraka. Karena itulah, apabila ia memandang ke sebelah
kanannya, ia tertawa. Dan apabila ia memandang ke sebelah kirinya, ia
menangis.'
Kemudian
Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Ia berkata kepada penjaga langit,
'Bukalah!' Penjaga langit yang kedua mengajukan pertanyaan yang sama seperti
yang diajukan oleh penjaga langit yang pertama. Setelah itu, pintu langit yang
kedua pun dibuka.
---[]---
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan dalam hadisnya bahwa Nabi ﷺ ketika berada di langit bersua dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa,
Nabi Isa, dan Nabi Ibrahim, tanpa menyebutkan tempat kedudukan masing-masing.
Hanya saja Anas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersua dengan Nabi Adam di langit yang
pertama dan dengan Nabi Ibrahim di langit yang keenam.
---[]---
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya bahwa ketika Jibril dan Nabi ﷺ bersua dengan Nabi Idris, Idris berkata, "Selamat datang, nabi
yang saleh, saudara yang saleh." Maka aku bertanya, "Siapakah orang
ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Idris."
Kemudian Nabi ﷺ bersua dengan Musa. Musa berkata, "Selamat datang, nabi yang
saleh, saudara yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah orang ini?"
Jibril menjawab, "Dia adalah Musa."
Kemudian aku
bersua dengan Isa. Isa berkata, "Selamat datang, nabi yang saleh, saudara
yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril
menjawab, "Dia adalah Isa."
Kemudian aku
bersua dengan Nabi Ibrahim. Ibrahim ‘alaihis salam berkata, "Selamat
datang, nabi yang saleh, anak yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah
orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Ibrahim."
---***---
Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum
Az-Zuhri
berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Hazm, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma dan Abu Habbah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
"Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai pada suatu tingkatan yang dari sana aku
dapat mendengar suara goresan pena."
Ibnu Hazm dan
Anas ibnu Malik radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Maka
Allah mewajibkan atas umatku lima puluh kali salat. Lalu aku kembali membawa
perintah itu hingga bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, 'Apakah
yang telah diwajibkan Allah atas umatmu?'
Aku menjawab,
'Lima puluh kali salat.' Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena
sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'
Maka aku
kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi separuhnya. Setelah itu aku
kembali kepada Musa dan berkata, 'Allah telah mengurangi separuhnya.'
Musa berkata,
'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu
mengerjakannya.' Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi
sebagiannya.
Setelah itu
aku kembali kepada Musa, dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu,
karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'
Maka aku
kembali menghadap Allah, lalu Dia berfirman, 'Salat itu tetap lima waktu,
tetapi pahalanya sama dengan lima puluh kali salat. Keputusan-Ku tidak dapat
diubah lagi.'
Aku kembali
kepada Musa, dan ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku menjawab,
'Sesungguhnya aku telah merasa malu kepada Tuhanku.'
Kemudian
Jibril membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha itu
diselimuti oleh berbagai macam warna yang aku tidak mengetahui hakikatnya.
Setelah itu aku dimasukkan ke dalam surga, dan ternyata di dalamnya terdapat
tali-temali dari mutiara, sedangkan tanahnya adalah kesturi.”
Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari dalam Kitabus Salat. Beliau juga meriwayatkannya dalam Kitab Bani Israil, Kitab Haji, dan Kitab Kisah-kisah Para Nabi melalui beberapa jalur lain dari Yunus dengan sanad yang sama.
Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya dalam Kitab al-Iman melalui Harmalah, dari Ibnu Wahb, dari Yunus dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.
---***---
Riwayat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Dzar, "Seandainya saya melihat Rasulullah ﷺ, tentu saya akan bertanya kepadanya."
Abu Dzar bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepadanya?"
Saya berkata, "Saya hendak bertanya kepadanya, apakah dia pernah melihat Tuhannya?"
Abu Dzar menjawab bahwa ia
pernah bertanya kepada Nabi ﷺ pertanyaan tersebut. Maka beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya
aku telah melihat-Nya (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat
melihat-Nya.
---***---
Imam Muslim di
dalam kitab Sahih-nya mengetengahkan hadis ini melalui Abu Bakar ibnu Abu
Syaibah, dari Waki', dari Yazid ibnu Ibrahim, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu
Syaqiq, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan:
"Saya
pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Apakah engkau telah
melihat Tuhanmu?'"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Dia
(tertutupi oleh) cahaya. Bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"
Imam Muslim
juga mengetengahkannya melalui Muhammad ibnu Basysyar, dari Mu'az ibnu Hisyam;
telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq
yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
"Seandainya saya sempat bertemu dengan Rasulullah ﷺ, tentu saya akan bertanya
kepada beliau."
Abu Dzar bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepada beliau?"
Ibnu Syaqiq
menjawab, "Saya akan bertanya kepada beliau, 'Apakah engkau telah melihat
Tuhanmu?'"
Abu Dzar berkata,
"Saya pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau menjawab:
'Aku hanya
melihat cahaya.'"
----***----
Riwayat Anas, dari Ubay ibnu Ka'b Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,
Diketengahkan oleh Abdullah,
putra Imam Ahmad. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu
Ishaq ibnu Muhammad ibnu Misyani, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu
Iyad, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Yazid yang mengatakan bahwa
Ibnu Syihab pernah berkata. Anas ibnu Malik menceritakan bahwa Ubay ibnu Ka'b radhiyallahu
‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ:
"Atap
rumahku dibuka ketika aku berada di Mekah. Lalu Malaikat Jibril turun, membelah
dadaku, kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Setelah itu ia membawa sebuah
bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dalam
dadaku dan menutupnya kembali. Sesudah itu Jibril menggandeng tanganku dan
membawaku naik ke langit.
Ketika sampai
di langit yang pertama, aku bersua dengan seorang lelaki. Di sebelah kanannya
terdapat sejumlah besar manusia, dan di sebelah kirinya juga terdapat sejumlah
besar manusia. Apabila ia memandang ke arah kanannya, ia tersenyum. Apabila
memandang ke arah kirinya, ia menangis.
Lelaki itu
berkata, 'Selamat datang, Nabi yang saleh, anak yang saleh.'
Aku bertanya
kepada Jibril, 'Siapakah orang ini?'
Jibril
menjawab, 'Orang ini adalah Adam. Orang-orang yang berada di sebelah kanan dan
kirinya adalah anak-anaknya. Mereka yang berada di sebelah kanannya adalah ahli
surga, sedangkan mereka yang berada di sebelah kirinya adalah ahli neraka.
Karena itu, apabila ia memandang ke sebelah kanannya ia tersenyum, dan apabila
memandang ke sebelah kirinya ia menangis.'
Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampai di langit yang kedua. Lalu Jibril berkata
kepada penjaganya, 'Bukalah!'
Penjaga langit
menjawab sebagaimana yang dikatakan oleh penjaga langit yang pertama. Setelah
itu pintu langit yang kedua dibukakan baginya."
Anas
mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka'b menyebutkan dalam hadisnya bahwa Nabi ﷺ bersua dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi
Isa di langit. Akan tetapi, ia tidak menyebutkan kepadaku tingkatan langit
tempat masing-masing berada. Hanya saja ia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersua dengan Adam ‘alaihis salam. di langit yang pertama dan bersua
dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. di langit yang keenam.
Anas
melanjutkan bahwa ketika Jibril ‘alaihis salam. dan Rasulullah ﷺ melewati Idris ‘alaihis salam., Idris berkata:
"Selamat
datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."
Aku bertanya,
"Siapakah orang ini, wahai Jibril?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah Idris."
Kemudian aku
bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Musa berkata:
"Selamat
datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah Musa."
Kemudian aku
bersua dengan Isa ‘alaihis salam. Isa berkata:
"Selamat
datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah Isa putra Maryam."
Setelah itu
aku bersua dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ia berkata:
"Selamat
datang, Nabi yang saleh, anak yang saleh."
Aku bertanya,
"Siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah Ibrahim."
Ibnu Syihab
mengatakan bahwa Ibnu Hazm juga menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas dan Abu
Habbah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kemudian
Jibril membawaku naik hingga sampailah aku pada suatu tingkatan, yang dari
tempat itu aku dapat mendengar suara guratan pena."
---***---
Ibnu Hazm dan
Anas ibnu Malik mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Allah
memfardukan atas umatku lima puluh kali salat. Lalu aku kembali dengan membawa
perintah itu hingga sampai di tempat Musa. Musa bertanya, 'Apakah yang telah
difardukan oleh Tuhanmu atas umatmu?' Aku menjawab, 'Dia telah memfardukan lima
puluh kali salat atas mereka.' Musa berkata kepadaku, 'Kembalilah kepada
Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'
Maka aku
kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia menghapuskan separonya. Setelah itu aku
kembali kepada Musa dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Musa berkata,
'Kembalilah lagi kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu
mengerjakannya.'
Maka aku
kembali menghadap kepada-Nya. Kemudian Allah berfirman, 'Fardu salat itu adalah
lima waktu, tetapi pahalanya sama dengan lima puluh kali salat. Keputusan-Ku
tidak dapat diubah.'
Lalu aku
kembali kepada Musa. Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku menjawab,
'Aku telah merasa sangat malu kepada Tuhanku.'
Kemudian
Jibril membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha itu
diselimuti oleh berbagai macam warna yang aku tidak mengetahui apakah
warna-warna itu. Setelah itu aku dimasukkan ke dalam surga. Ternyata di
dalamnya terdapat tali-temali dari mutiara, dan tanah surga itu adalah minyak
kesturi."
Demikianlah
menurut riwayat Abdullah ibnu Ahmad di dalam kitab Musnad ayahnya. Akan tetapi,
riwayat ini tidak dijumpai dalam satu pun kitab dari Kutubus Sittah.
Namun, pada
pembahasan sebelumnya telah disebutkan hadis yang diriwayatkan dalam Shahihain
melalui jalur Yunus, dari Az-Zuhri, dari Anas, dari Abu Dzar, dengan lafaz yang
semisal.
Riwayat
Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Bazzar.
Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mutawakkil dan
Ya'qub ibnu Ibrahim—lafaz hadis ini menurut riwayat Ya'qub ibnu Ibrahim.
Keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah
menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnu Junadah, dari Abdullah ibnu Buraidah,
dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda mengenai peristiwa malam
Isra. Perawi kemudian melanjutkan kisahnya:
"Lalu
Malaikat Jibril mendatangi sebuah batu besar yang berada di Baitul Maqdis. Ia
melubanginya dengan ujung jari telunjuknya hingga tembus, kemudian menambatkan
hewan Buraq pada batu besar tersebut."
Selanjutnya Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang meriwayatkan hadis ini dari Az-Zubair ibnu Junadah selain Abu Namilah. Kami juga tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan kecuali dari Buraidah."
Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam Kitab Tafsir dari kitab Jami'-nya melalui Ya'qub ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi dengan sanad yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini garib.
----***----
Riwayat Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu
Diketengahkan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan,
telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku,
dari Saleh, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Abu Salamah pernah berkata,
ia mendengar Jabir ibnu Abdullah menceritakan hadis berikut. Ia pernah
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika orang-orang Quraisy
mendustakan peristiwa Isra-ku ke Baitul Maqdis, maka aku berdiri di Hijir
Ismail, lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis. Maka aku menceritakan
kepada mereka ciri-ciri khasnya seraya memandang ke arah pemandangan yang
ditampilkan Allah kepadaku itu."
Imam Bukhari
dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing
melalui berbagai jalur dari hadis Az-Zuhri dengan sanad yang sama.
---***---
Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hasan Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab berkata:
“Sesungguhnya ketika Rasulullah ﷺ sampai di Baitul Maqdis, beliau bersua dengan
Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa di dalamnya. Kemudian didatangkan kepada
beliau dua buah wadah, yang satu berisikan air susu, sedangkan yang lainnya
berisikan khamr. Beliau memandang kedua wadah itu, lalu mengambil wadah yang
berisikan air susu. Maka Malaikat Jibril berkata, ‘Engkau benar, engkau
mendapat petunjuk memilih fitrah. Seandainya engkau memilih khamr, niscaya
umatmu akan sesat.’”
Kemudian
Rasulullah ﷺ kembali ke Mekah dan menceritakan kepada orang-orang bahwa beliau baru
saja menjalani Isra. Maka banyak orang yang sebelumnya ikut sholat bersama
beliau mendapat ujian berat.
Ibnu Syihab mengatakan bahwa Abu Salamah ibnu Abdur Rahman berkata:
"Sejumlah orang Quraisy
bersiap-siap menuju rumah Abu Bakar—atau ia mengatakan kalimat yang
semakna—lalu mereka bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu? Dia
mengaku bahwa dirinya telah mengunjungi Baitul Maqdis lalu kembali ke Mekah dalam
satu malam saja.”
Abu Bakar
bertanya, “Apakah dia benar-benar mengatakan hal itu?” Mereka menjawab, “Ya,
benar.”
Maka Abu Bakar
berkata, “Aku bersaksi bahwa jika dia benar-benar mengatakan hal itu, maka
sungguh dia berkata benar.”
Mereka
bertanya lagi, “Apakah engkau mempercayainya, padahal dia mengatakan bahwa
dirinya pergi ke negeri Syam lalu kembali ke Mekah hanya dalam satu malam
sebelum pagi tiba?”
Abu Bakar
menjawab, “Ya, aku mempercayainya bahkan dalam perkara yang lebih besar
daripada itu. Aku mempercayainya tentang berita yang datang dari langit.”
Abu Salamah
mengatakan bahwa karena peristiwa itulah Abu Bakar diberi gelar As-Siddiq.
Abu Salamah juga mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu menceritakan hadis berikut. Ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketika orang-orang Quraisy mendustakan aku mengenai
peristiwa Isra ke Baitul Maqdis, aku berdiri di Hijir Ismail, lalu Allah
menampakkan kepadaku Baitul Maqdis. Maka aku menceritakan kepada mereka
ciri-ciri khas Baitul Maqdis seraya memandang ke arah gambaran yang ditampilkan
itu.”
---***---
Riwayat Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu
Diketengahkan oleh Imam Ahmad. Beliau
mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada
kami Sulaiman, dari Syaiban, dari Asim, dari Zur ibnu Hubaisy yang menceritakan
bahwa ia datang kepada Huzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu yang sedang
menyampaikan hadis tentang Isra Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut.
Hudzaifah
berkata bahwa Nabi ﷺ dan Malaikat Jibril berangkat hingga sampai
di Baitul Maqdis, tetapi keduanya tidak memasukinya.
Aku (Zur ibnu
Hubaisy) menyanggah, "Tidak, bahkan Rasulullah ﷺ memasukinya pada malam itu dan mengerjakan
salat di dalamnya."
Hudzaifah
bertanya, "Siapakah namamu, wahai orang botak? Aku mengenali wajahmu,
tetapi aku tidak mengetahui namamu."
Aku menjawab,
"Aku adalah Zur ibnu Hubaisy."
Huzaifah
radhiyallahu ‘anhu berkata, "Apa alasanmu sehingga mengatakan bahwa
Rasulullah ﷺ mengerjakan salat di Baitul Maqdis pada malam itu?"
Aku menjawab,
"Al-Qur'an yang memberitahukannya kepadaku."
Hudzaifah
radhiyallahu ‘anhu berkata, "Barang siapa berbicara dengan dalil
Al-Qur'an, maka ia telah berhujah. Bacakanlah ayat itu!"
Lalu aku
membaca firman Allah Swt.:
"Mahasuci
Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsa." (Al-Isra: 1)
Hudzaifah
bertanya, "Wahai orang botak, apakah engkau menemukan di dalam ayat itu
keterangan bahwa Rasulullah ﷺ mengerjakan salat di dalamnya?"
Aku menjawab,
"Tidak."
Hudzaifah
berkata, "Demi Allah, Rasulullah ﷺ sama sekali tidak mengerjakan salat di
dalamnya pada malam itu. Seandainya beliau mengerjakan salat di dalamnya,
niscaya diwajibkan pula atas kalian mengerjakan salat di sana, sebagaimana
diwajibkan atas kalian mengerjakan salat di Baitul ‘Atiq (Masjidil Haram). Demi
Allah, keduanya tidak turun dari Buraq hingga dibukakan bagi keduanya seluruh
pintu langit. Lalu keduanya diperlihatkan surga dan neraka serta segala sesuatu
yang dijanjikan di akhirat. Setelah itu keduanya kembali ke tempat semula
mereka berangkat."
Sesudah itu
Hudzaifah tertawa hingga tampak gigi serinya. Kemudian ia berkata, "Kalian
menceritakan kepadaku bahwa Jibril menambatkan Buraq agar tidak lari. Padahal
sesungguhnya Buraq telah ditundukkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui segala
yang gaib dan yang nyata untuk Nabi ﷺ."
Aku bertanya,
"Wahai Abu Abdullah, seperti apakah Buraq itu?"
Hudzaifah
menjawab, "Buraq adalah seekor hewan berwarna putih dengan tinggi sekian.
Sekali melangkah, ia menempuh sejauh mata memandang."
Hadis ini
diriwayatkan pula oleh Abu Daud At-Tayalisi dari Hammad ibnu Salamah, dari
Asim, dengan sanad yang sama.
---
Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam kitab tafsir melalui hadis Asim (Ibnu Abun Nujud) dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi selanjutnya mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Pendapat yang dikemukakan oleh Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh lainnya dari Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa Buraq ditambatkan di halqah (tempat yang berbentuk lingkaran), dan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan sholat di Baitul Maqdis, seperti yang telah di sebutkan sebelumnya.
Keterangan yang telah disebutkan sebelumnya lebih didahulukan
daripada pendapat Hudzaifah ini.
---***---
Riwayat Abu Sa'id ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
Diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya.
Beliau mengatakan:
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah Al-Hafiz,
telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya’qub, telah
menceritakan kepada kami Abu Bakar Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan
kepada kami Abdul Wahhab ibnu ‘Ata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad
Rasyid Al-Hammani, dari Abu Harun Al-Abdi -yang dinilai dhaif, bahkan menurut
pendapat lain dicap sebagai pendusta- dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ.
Disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada beliau ﷺ :
"Wahai Rasulullah,
ceritakanlah kepada kami tentang perjalanan Isra yang telah engkau alami."
Yang mereka maksud ialah penjelasan lebih rinci tentang firman Allah Swt.:
"Mahasuci
Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (Al-Isra: 1),
hingga akhir ayat.
Maka Nabi ﷺ menceritakan kepada mereka:
"Ketika aku sedang tidur pada suatu
malam di Masjidil Haram, tiba-tiba datang seseorang membangunkanku, tetapi aku
tidak melihat apa pun. Kemudian aku melihat sesosok bayangan, lalu aku
mengikutinya hingga keluar dari Masjidil Haram.
Tiba-tiba aku
melihat seekor hewan yang bentuknya menyerupai hewan tunggangan kalian, yaitu
begal. Hanya saja, hewan itu selalu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya.
Hewan itu disebut Buraq. Dahulu Buraq merupakan tunggangan para nabi sebelumku.
Keistimewaannya ialah sekali melangkah dapat menempuh jarak sejauh mata
memandang.
Lalu aku
menaikinya. Ketika sedang dalam perjalanan, tiba-tiba terdengar suara dari
sebelah kananku yang berseru, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin
bertanya kepadamu. Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.
Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'
Tetapi aku
tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.
Ketika aku
masih melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiriku
yang berkata, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'
Tetapi aku
tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.
Kemudian aku
bertemu dengan seorang wanita yang kedua lengannya terbuka dan mengenakan
berbagai macam perhiasan yang diciptakan Allah. Wanita itu berkata, 'Wahai
Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'
Aku tidak
menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.
Akhirnya aku
sampai di Baitul Maqdis. Lalu aku menambatkan Buraq pada sebuah gelang penambat
(halqah), yaitu tempat para nabi dahulu biasa menambatkan kendaraan mereka.
Kemudian
Malaikat Jibril datang membawa dua buah wadah. Salah satunya berisi khamr dan
yang lainnya berisi susu. Aku memilih wadah yang berisi susu, lalu meminumnya,
sedangkan wadah yang berisi khamr aku tinggalkan.
Maka Jibril
berkata, 'Engkau telah memilih fitrah. Ketahuilah, seandainya engkau memilih
wadah yang berisi khamr, niscaya umatmu akan tersesat.'
Maka aku
berkata, 'Allahu Akbar, Allahu Akbar.'
Jibril
berkata, 'Aku belum pernah melihat roman wajahmu seperti ini.'
Kemudian
ketika aku sedang melanjutkan perjalanan, kembali terdengar suara dari sebelah
kananku yang berkata, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya
kepadamu.'
Tetapi aku
tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.
Jibril
berkata, 'Itu adalah seruan orang-orang Yahudi. Seandainya engkau memenuhi
seruannya atau berhenti untuk meladeninya, niscaya umatmu akan menjadi
orang-orang Yahudi.'
Ketika aku
sedang melanjutkan perjalanan dengan mengendarai Buraq, tiba-tiba terdengar
suara dari sebelah kiriku yang berseru, "Wahai Muhammad, tunggulah aku.
Aku ingin bertanya kepadamu." Tetapi aku tidak menoleh, tidak pula
mempedulikannya.
Jibril
berkata, "Itulah seruan orang-orang Nasrani. Ketahuilah, seandainya engkau
memenuhi seruannya, niscaya umatmu akan menjadi orang-orang Nasrani."
Ketika aku
masih melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang kedua
lengannya terbuka dan mengenakan berbagai macam perhiasan yang diciptakan oleh
Allah. Wanita itu berkata, "Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin
bertanya kepadamu." Tetapi aku tidak menjawabnya dan tidak pula
mempedulikannya.
Jibril
berkata, "Itulah dunia. Ketahuilah, seandainya engkau memenuhi seruannya
atau berhenti untuk meladeninya, niscaya engkau akan memilih dunia daripada
akhirat."
Kemudian aku
bersama Malaikat Jibril memasuki Baitul Maqdis, lalu masing-masing dari kami
mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu didatangkan kepadaku sebuah tangga
yang dahulu digunakan oleh arwah para nabi untuk naik. Tidak ada satu makhluk
pun yang lebih indah bentuknya daripada tangga itu. Tidakkah engkau melihat
orang yang hampir meninggal selalu memandang ke arah langit? Sesungguhnya ia
memandang ke arah langit sebelum ruhnya meninggalkan jasad karena sangat ingin
naik ke langit melalui tangga tersebut. Ia terpesona oleh keindahannya.
Lalu aku
bersama Malaikat Jibril naik ke langit. Di sana aku bertemu dengan seorang
malaikat yang dikenal dengan nama Ismail, penjaga langit yang pertama. Di
hadapannya terdapat tujuh puluh ribu malaikat, dan setiap malaikat memimpin
pasukan yang terdiri atas seratus ribu malaikat. Allah Swt. telah berfirman:
"Dan
tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri."
(Al-Muddassir: 31)
Kemudian
Malaikat Jibril meminta izin masuk dengan mengetuk pintu langit pertama. Lalu
terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?"
Jibril
menjawab, "Aku Jibril."
Ditanyakan
lagi, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Ditanyakan
lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Kemudian aku
bertemu dengan Nabi Adam dalam rupa sebagaimana ketika Allah Swt. pertama kali
menciptakannya. Lalu diperlihatkan kepadanya seluruh ruh keturunannya yang
beriman. Maka Adam berkata, "Ruh yang baik dan jiwa yang baik, tempatkanlah
mereka di 'Illiyyin."
Setelah itu
diperlihatkan pula kepadanya seluruh ruh keturunannya yang durhaka. Maka Adam
berkata, "Ruh yang buruk dan jiwa yang buruk, tempatkanlah mereka di
Sijjin."
Kemudian aku
melanjutkan perjalanan beberapa saat. Tiba-tiba aku melihat banyak nampan besar
berisi potongan daging segar, tetapi tidak ada seorang pun yang mendekatinya.
Lalu aku melihat banyak nampan besar lainnya yang berisi daging busuk dan
berbau tidak sedap, namun justru banyak orang memakannya.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah orang-orang dari kalangan umatmu yang
meninggalkan yang halal dan memilih yang haram."
Selanjutnya
aku melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang
memiliki bibir seperti bibir unta. Kemudian mulut mereka dibukakan, lalu bara
api dimasukkan ke dalam mulut mereka hingga keluar dari bagian bawah tubuh
mereka. Aku mendengar mereka menjerit meminta pertolongan kepada Allah Swt.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang-orang itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah sebagian dari umatmu yang disebutkan oleh firman
Allah Swt.:"
"Sesungguhnya
orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, sebenarnya mereka itu
menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka)." (An-Nisa: 10)
Kemudian aku
melanjutkan perjalanan dalam waktu yang tidak lama. Tiba-tiba aku melihat
banyak wanita yang digantung dengan tali pada bagian susunya. Aku mendengar
jeritan mereka meminta pertolongan kepada Allah Swt.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah wanita-wanita itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah wanita-wanita pezina dari kalangan umatmu."
Kemudian aku
melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang
perutnya sebesar rumah. Setiap kali seseorang dari mereka hendak berdiri, ia
jatuh tersungkur seraya berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau datangkan
hari kiamat."
Mereka berada
di jalan yang biasa dilalui oleh keluarga Fir'aun. Kemudian datanglah para
pengguna jalan itu, lalu mereka menginjak-injak orang-orang tersebut. Aku
mendengar mereka merintih meminta pertolongan kepada Allah.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah sekelompok dari umatmu yang disebutkan oleh
firman Allah Swt.:"
"Orang-orang
yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah:
275)
Kemudian aku
melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang daging
lambung mereka dipotong-potong, lalu mereka memakannya. Dikatakan kepada
mereka, "Makanlah daging ini sebagaimana dahulu kalian memakan daging
saudara kalian."
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka menggunjing dan mencela
dari kalangan umatmu."
Kemudian kami
naik ke langit yang kedua. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang lelaki yang
paling tampan di antara seluruh makhluk Allah. Ketampanannya melebihi seluruh
manusia. Wajahnya seperti bulan purnama yang cahayanya lebih terang daripada
seluruh bintang.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Dia adalah saudaramu, Yusuf ‘alaihis salam."
Ia ditemani
oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam
kepadanya, dan ia menjawab salamku.
Kemudian kami
naik ke langit yang ketiga. Malaikat Jibril mengetuk pintunya. Setelah pintu
itu dibuka, tiba-tiba aku bertemu dengan Yahya dan Isa ‘alaihimassalam.
Keduanya ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaum mereka masing-masing.
Maka aku mengucapkan salam kepada keduanya, dan keduanya menjawab salamku.
Kemudian kami
naik ke langit yang keempat. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris ‘alaihis salam
yang telah diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi. Maka aku mengucapkan
salam kepadanya, dan dia menjawab salamku.
Selanjutnya
kami naik ke langit yang kelima. Tiba-tiba aku bertemu dengan Harun ‘alaihis
salam. Separuh dari jenggotnya berwarna putih, sedangkan separuh lainnya
berwarna hitam, dan panjangnya sampai ke pusarnya.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah Harun ibnu Imran yang sangat dicintai di
kalangan kaumnya."
Ia ditemani
oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam
kepadanya, dan dia menjawab salamku.
Kemudian kami
naik ke langit yang keenam. Tiba-tiba aku bertemu dengan Musa ibnu Imran,
seorang lelaki yang berkulit hitam manis dan berambut lebat. Seandainya ia
mengenakan dua lapis pakaian gamis, niscaya rambutnya tetap terlihat menembus
hingga ke balik pakaian tersebut.
Tiba-tiba Musa
berkata, "Orang-orang mengira bahwa aku adalah orang yang lebih dimuliakan
oleh Allah daripada orang ini. Padahal orang ini jauh lebih dimuliakan oleh
Allah daripada aku."
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah saudaramu, Musa ibnu Imran ‘alaihis
salam."
Ia ditemani
oleh sejumlah besar orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam
kepadanya, dan dia menjawab salamku.
Kemudian kami naik
ke langit yang ketujuh. Tiba-tiba aku bertemu dengan ayah kami, yaitu Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam, kekasih Allah Yang Maha Pemurah, sedang menyandarkan
punggungnya ke Baitul Ma’mur dalam rupa seorang lelaki yang sangat tampan.
Aku bertanya,
"Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah ayahmu, Ibrahim, kekasih Tuhan Yang Maha
Pemurah."
Ia ditemani
oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam
kepadanya, dan dia menjawab salamku.
Tiba-tiba aku melihat
umatku yang terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian dari mereka mengenakan
pakaian putih seperti putihnya kertas, sedangkan sebagian lainnya mengenakan
pakaian berwarna kelabu.
Kemudian aku
memasuki Baitul Ma’mur. Orang-orang dari umatku yang mengenakan pakaian putih
ikut masuk bersamaku, sedangkan mereka yang mengenakan pakaian kelabu tidak
diizinkan masuk, tetapi mereka tetap berada dalam keadaan baik.
Lalu aku
bersama orang-orang yang mengikutiku mengerjakan salat di Baitul Ma’mur.
Setelah itu aku keluar bersama mereka yang mengikutiku.
Baitul Ma’mur
setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang mengerjakan salat
di dalamnya. Mereka tidak pernah kembali lagi kepadanya hingga hari kiamat.
Selanjutnya
aku diangkat ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba daun-daunnya hampir menutupi
seluruh umat ini. Di sana terdapat mata air yang mengalir yang disebut
Salsabil. Dari sana mengalir dua buah sungai; salah satunya bernama Al-Kausar,
sedangkan yang lainnya bernama Sungai Rahmat.
Maka aku mandi
di dalam sungai tersebut, lalu diampunilah bagiku seluruh dosa yang telah lalu
dan yang akan datang.
Setelah itu
aku diangkat naik ke surga. Aku disambut oleh seorang bidadari pelayan surga.
Aku bertanya,
"Wahai pelayan, milik siapakah engkau?"
Ia menjawab,
"Aku milik Zaid ibnu Harisah."
Ternyata di
dalam surga terdapat banyak sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya,
sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari
khamr yang lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang telah
disaring.
Aku juga
melihat bahwa buah delima di surga besarnya seperti timba. Tiba-tiba aku
melihat burung-burung di dalamnya berukuran besar seperti unta kalian.
Ketika kisah
Nabi ﷺ sampai pada bagian ini, beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. telah
menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang belum pernah terlihat
oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas
dalam hati seorang manusia pun. Kemudian saya dibawa ke neraka. Tiba-tiba di
dalamnya terdapat kemurkaan Allah, bentakan, dan pembalasan-Nya. Seandainya
dilemparkan batu dan besi ke dalamnya, niscaya api neraka akan memakannya
(meleburkannya). Kemudian neraka ditutup dari pandanganku.
Kemudian saya
diangkat menuju Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha menyelimutiku. Jarak
antara aku dan Dia seperti jarak antara dua ujung busur panah atau lebih dekat
daripada itu. Pada setiap daun pohon Sidratul Muntaha terdapat seorang Malaikat
yang menempatinya. Kemudian difardukan atas diriku lima puluh kali salat. Allah
berfirman kepadaku: "Bagimu dalam setiap amal kebaikan pahala sepuluh amal
kebaikan. Apabila kamu berniat melakukan amal kebaikan, lalu kamu tidak
mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala satu kebaikan. Jika kamu
mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala sepuluh kebaikan. Apabila kamu
berniat melakukan keburukan, lalu kamu tidak melaksanakannya, maka tidak
dicatatkan sesuatu pun atas dirimu. Namun, jika kamu mengerjakan keburukan itu,
maka dicatatkan atas dirimu satu amal keburukan."
Kemudian saya
kembali kepada Musa, dan ia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan
oleh Tuhanmu kepadamu?" Saya menjawab, "Lima puluh kali salat."
Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya
untuk umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya. Jika
mereka tidak mampu mengerjakannya, berarti mereka akan binasa." Maka saya
kembali menghadap kepada Tuhanku dan memohon, "Wahai Tuhanku, berikanlah
keringanan bagi umatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang paling
lemah."
Maka Allah
menghapuskan sepuluh salat dariku dan menjadikannya empat puluh salat. Saya
terus-menerus bolak-balik antara Musa dan Tuhanku. Setiap kali saya datang
kepada Musa, ia mengatakan kepadaku perkataan yang semisal dengan perkataan
sebelumnya.
Hingga
akhirnya saya datang menemui Musa, lalu Musa berkata, "Apakah yang
diperintahkan kepadamu?" Saya menjawab, "Saya diperintahkan untuk
mengerjakan salat sepuluh kali." Musa berkata, "Kembalilah kepada
Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu."
Maka saya
kembali menghadap kepada Tuhanku dan memohon kepada-Nya, "Wahai Tuhanku,
berilah keringanan bagi umatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang
paling lemah." Maka Allah menghapuskan lima salat dan menetapkan lima
salat lainnya bagiku.
Pada saat itu
ada seorang Malaikat di Sidratul Muntaha yang menyeruku dengan ucapan,
"Kini telah sempurnalah apa yang Aku fardukan. Aku telah memberikan
keringanan kepada hamba-hamba-Ku, dan pada setiap amal kebaikan Aku beri mereka
pahala sepuluh kali lipat."
Kemudian saya
kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan
oleh Tuhanmu?" Saya menjawab, "Salat lima waktu." Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang
menyulitkan-Nya, dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu."
Maka saya
menjawab, "Aku telah bolak-balik kepada Tuhanku hingga aku merasa malu
kepada-Nya."
Kemudian pada
keesokan harinya di Mekah, Nabi ﷺ menceritakan kepada mereka semua keajaiban
yang telah dilihatnya. Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tadi malam saya
pergi ke Baitul Maqdis dan saya dinaikkan ke langit, lalu saya melihat anu dan
anu."
Abu Jahal
(yakni Ibnu Hisyam) berkata, "Tidakkah kalian merasa heran terhadap apa
yang dikatakan oleh Muhammad ini? Dia menduga bahwa dirinya tadi malam pergi ke
Baitul Maqdis, kemudian pada pagi harinya dia sudah berada bersama kita.
Padahal seseorang dari kalangan kita, apabila memacu kendaraannya pergi ke
Baitul Maqdis, memerlukan waktu satu bulan untuk perjalanan pergi dan satu
bulan untuk perjalanan pulang. Berarti perjalanan itu memerlukan waktu dua
bulan, tetapi dia mengaku dapat menempuhnya hanya dalam satu malam."
Maka saya
(Nabi ﷺ) menceritakan kepada mereka tentang kafilah dagang orang-orang
Quraisy yang saya jumpai ketika dalam perjalanan. Saya melihat mereka berada di
tempat anu dan anu. Saya juga menceritakan bahwa salah satu unta mereka larat
(terpisah dari rombongan). Ketika saya dalam perjalanan pulang, saya kembali
menjumpai mereka berada di Al-Aqabah. Saya ceritakan pula barang bawaan yang
dibawa oleh setiap orang dari mereka beserta ciri-ciri unta mereka, bahwa yang
dibawa adalah anu dan anu, sedangkan ciri untanya adalah anu dan anu.
Abu Jahal
berkata, "Dia telah memberitakan kepada kita banyak hal."
Seorang lelaki
dari kalangan Quraisy berkata, "Saya adalah orang yang paling mengetahui
tentang Baitul Maqdis, baik mengenai ciri-ciri bangunannya, bentuknya, maupun
letaknya dari bukit. Jika Muhammad benar, saya akan menjelaskannya kepada
kalian; dan jika dia berdusta, saya pun akan menjelaskannya kepada
kalian."
Kemudian
lelaki musyrik itu datang dan berkata, "Wahai Muhammad, saya adalah orang
yang paling mengetahui tentang Baitul Maqdis. Maka jelaskanlah kepadaku
bagaimana ciri bangunan dan bentuknya, serta seberapa jauh letaknya dari
bukit!"
Maka Allah
menampakkan Baitul Maqdis kepada Rasulullah ﷺ di tempat beliau berada. Beliau ﷺ dapat melihatnya sebagaimana seseorang di antara kita melihat rumahnya
sendiri dari jarak yang dekat. Kemudian Nabi ﷺ menjawab pertanyaan lelaki tersebut,
menjelaskan bahwa bangunan dan bentuk Baitul Maqdis adalah anu dan anu,
sedangkan jaraknya dari bukit adalah sekian dan sekian.
Lelaki itu
berkata, "Kamu benar." Lalu ia kembali kepada teman-temannya dan
berkata kepada mereka bahwa Muhammad memang benar dalam ucapannya. Atau ia
mengatakan sesuatu yang semakna dengan itu.
Kisah yang
sama juga diriwayatkan oleh Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir dengan sanad yang
panjang melalui Muhammad ibnu Abdul A'la, dari Muhammad ibnu Saur, dari Ma'mar,
dari Abu Harun Al-Abdi. Demikian pula diriwayatkan melalui Al-Hasan ibnu Yahya,
dari Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Abu Harun Al-Abdi dengan sanad yang sama.
-----
Ibnu Jarir
telah meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Ishaq, bahwa telah menceritakan
kepadanya Rauh ibnu Qasim, dari Abu Harun dengan sanad yang serupa dan lafaz
yang semisal dengan hadis di atas.
Ibnu Abu Hatim
meriwayatkannya dari ayahnya, dari Ahmad ibnu Abdah, dari Abu Abdus Samad Abdul
Aziz ibnu Abdus Samad, dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri.
Kemudian ia menceritakan hadis ini dengan teks yang panjang, indah, dan jauh
lebih baik daripada apa yang diketengahkan oleh yang lain, meskipun di dalamnya
terdapat beberapa hal yang garib dan munkar.
Kemudian Imam
Baihaqi juga menuturkannya melalui riwayat Rauh ibnu Qais Al-Hadda-i, Hasyim,
dan Ma'mar, dari Abu Harun Al-Abdi yang nama aslinya adalah Imarah ibnu Juwain,
yang menurut para imam ahli hadis dinilai daif.
Sesungguhnya kami sengaja mengetengahkan hadisnya karena di dalamnya terdapat banyak syawahid (bukti-bukti penguat) yang memperkuat hadis-hadis lainnya.
Hal ini juga karena terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang menyebutkan: Telah menceritakan kepada kami Abu Usman Ismail ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abu Hamid ibnu Bilal, telah menceritakan kepada kami Abul Azhar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Hakim yang mengatakan:
Bahwa dalam tidurnya ia melihat Rasulullah ﷺ. Lalu ia bertanya:
"Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki dari kalangan umatmu yang dikenal dengan nama Sufyan As-Sauri, dia adalah seorang yang tidak tercela." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dia tidak tercela." Ia telah meriwayatkan kepada kami dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dan dari engkau, wahai Rasulullah, mengenai kisah Isra-mu.
Dalam kisah itu engkau mengatakan,
"Bahwa ketika engkau berada di langit, engkau melihat..." hingga
akhir hadis. Ia kemudian menceritakan hadis tersebut sampai selesai.
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya, benar."
Saya berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada sejumlah orang dari kalangan umatmu
yang meriwayatkan hadis darimu tentang Isra, yang di dalamnya disebutkan
kisah-kisah yang ajaib."
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Hal itu merupakan kisah para tukang
dongeng."
---***--
Riwayat Syaddad ibnu Aus radhiyallahu 'anhu:
Diketengahkan oleh Imam Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala ibnud Dahhak Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Salim Al-Asy'ari, dari Muhammad ibnul Walid ibnu Amir Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abul Walid ibnu Abdur Rahman, dari Jubair ibnu Nafir, telah menceritakan kepada kami Syaddad ibnu Aus yang mengatakan:
Bahwa kami pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah
kisah tentang Isra-mu?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya setelah aku selesai mengerjakan salat (berdoa)
pada petang hari di Mekah untuk para sahabatku, datanglah Malaikat Jibril
‘alaihis salam kepadaku dengan membawa seekor hewan berwarna putih yang
ukurannya lebih besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada begal.
Lalu Jibril
berkata, "Naiklah!"
Pada mulanya
Buraq sulit untuk kukendarai, maka Jibril menjewer telinganya. Akhirnya Buraq
mau membawaku. Buraq melaju dengan cepat, setiap langkahnya mencapai sejauh
batas pandangan matanya, membawa kami hingga sampai di suatu tempat yang penuh
dengan pohon kurma.
Kemudian
Jibril menyuruhku turun dan berkata, "Salatlah!"
Maka saya
mengerjakan salat. Setelah itu saya kembali menaiki Buraq, lalu Jibril
bertanya, "Tahukah kamu di manakah tadi kamu salat?"
Saya menjawab,
"Allah lebih mengetahui."
Jibril
berkata, "Kamu salat di Yasrib, yaitu Taibah."
Kemudian Buraq
kembali melanjutkan perjalanannya dengan langkah kaki depannya sejauh batas
pandangan mata, hingga kami sampai di suatu tempat. Jibril berkata,
"Turunlah!"
Kemudian ia
berkata lagi, "Salatlah!"
Maka saya pun
salat.
Setelah itu
kami kembali menaiki Buraq, lalu Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah
tadi kamu salat?"
Saya menjawab,
"Allah lebih mengetahui."
Jibril
berkata, "Kamu tadi salat di Madyan, dekat pohon Musa."
Sesudah itu
Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan meletakkan kedua kaki
depannya sejauh batas pandangan mata, hingga sampailah kami di suatu tempat
yang terlihat banyak bangunan.
Maka Malaikat
Jibril berkata, "Turunlah!"
Saya pun
turun, lalu Jibril berkata lagi, "Salatlah!"
Maka saya
mengerjakan salat.
Kemudian kami
menaiki Buraq lagi, lalu Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah tadi
kamu mengerjakan salat?" Aku menjawab, "Allah lebih mengetahui."
Jibril berkata, "Tadi kamu salat di Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa
putra Maryam."
Selanjutnya
Jibril melanjutkan perjalanan bersamaku hingga kami memasuki sebuah kota
melalui pintunya yang sebelah kanan. Kemudian Jibril mendatangi kiblat masjid
dan menambatkan hewan tunggangannya di tempat itu. Setelah itu kami memasuki
masjid tersebut melalui pintu yang dari arahnya matahari dan bulan tampak
ketika keduanya condong. Aku pun mengerjakan salat di dalam masjid itu sebanyak
yang dikehendaki oleh Allah Swt.
Sesudah itu
aku merasa sangat kehausan. Kemudian didatangkan kepadaku dua buah wadah; salah
satunya berisi air susu, sedangkan yang lainnya berisi madu. Allah telah
mengirimkan keduanya kepadaku, maka aku memilih salah satu di antara keduanya.
Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku, sehingga aku memilih wadah yang berisi
air susu dan langsung meminumnya hingga keningku berkeringat karena nikmatnya.
Pada saat itu
di hadapanku terdapat seorang tua yang sedang bersandar di tempat duduknya.
Orang tua itu berkata, "Temanmu ini telah memilih fitrah, sesungguhnya dia
telah mendapat petunjuk."
Kemudian
Jibril melanjutkan perjalanan bersamaku hingga kami sampai di sebuah lembah
yang padanya terdapat sebuah kota. Tiba-tiba neraka Jahannam diperlihatkan
kepadaku, tampak seperti bukit-bukit.
Saya (perawi)
bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah engkau menjumpai keadaan neraka
Jahannam?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Saya menjumpai Jahannam dalam keadaan sangat panas
seperti air yang mendidih."
Kemudian
Jibril membawaku pergi hingga kami bersua dengan kafilah orang-orang Quraisy di
tempat anu dan anu. Saat itu seekor unta milik mereka telah tersesat, lalu
berhasil ditemukan oleh si Fulan. Aku mengucapkan salam kepada mereka, dan
sebagian mereka berkata, "Ini adalah suara Muhammad."
Sebelum waktu
subuh tiba, aku telah kembali kepada para sahabatku di Mekah. Kemudian Abu
Bakar radhiyallahu ‘anhu datang kepadaku seraya bertanya, "Wahai
Rasulullah, ke manakah engkau tadi malam? Saya merasa kehilangan engkau dan
saya mencarimu di tempat engkau biasa tidur."
Rasulullah ﷺ menjawab, "Tahukah kamu bahwa tadi malam saya telah pergi ke
Baitul Maqdis?"
Abu Bakar
radhiyallahu ‘anhu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Baitul Maqdis
itu ditempuh dengan perjalanan selama satu bulan. Maka gambarkanlah Baitul
Maqdis kepadaku."
Maka Allah menampakkan
kepadaku gambaran Baitul Maqdis, sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas.
Tidak ada satu pun tentang Baitul Maqdis yang ditanyakan kepadaku melainkan aku
dapat menjawabnya kepada Abu Bakar.
Lalu Abu Bakar
berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."
Orang-orang
musyrik berkata, "Lihatlah oleh kalian Ibnu Abu Kabsyah, dia menduga bahwa
dirinya telah pergi ke Baitul Maqdis tadi malam."
Rasulullah ﷺ menjawab, "Sesungguhnya bukti dari apa yang aku ucapkan ialah
bahwa saya bersua dengan kafilah kalian di tempat anu dan anu. Saat itu mereka
kehilangan seekor untanya, lalu berhasil ditemukan oleh si Fulan. Sesungguhnya
mereka masih berada dalam perjalanan dan akan datang kepada kalian pada hari
anu. Yang berada paling depan adalah seekor unta berwarna hitam dengan memakai
pelana hitam, serta membawa dua buah peti barang yang keduanya berwarna
hitam."
Pada hari yang
telah disebutkan itu, orang-orang berkumpul menunggu kedatangan kafilah mereka.
Ketika waktu tengah hari telah dekat, tampaklah kafilah itu sedang menuju ke
arah mereka. Di bagian depan kafilah tersebut terdapat seekor unta dengan
ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ.
----
Demikian pula hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui dua jalur dari Abu Ismail At-Turmuzi dengan sanad yang sama.
Setelah selesai menyebutkan hadis tersebut, ia mengatakan bahwa sanad hadis ini berpredikat sahih.
Ia juga meriwayatkannya
secara terpisah melalui hadis-hadis lainnya, yang sebagian akan kami sebutkan.
Kemudian ia menyebutkan banyak hadis tentang Isra yang kedudukannya menjadi
syahid (penguat) bagi hadis ini.
Imam Abu
Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya juga telah
meriwayatkan hadis ini dari ayahnya, dari Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala
Az-Zubaidi dengan sanad yang sama.
Tidak
diragukan lagi bahwa hadis ini —yang diriwayatkan dari Syaddad ibnu Aus—
mengandung berbagai macam riwayat. Sebagian di antaranya sahih, sebagaimana
yang disebutkan oleh Imam Baihaqi, sedangkan sebagian lainnya berpredikat
munkar, seperti riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukan salat di Baitul Lahm. Demikian pula
kisah pertanyaan Abu Bakar As-Siddiq tentang ciri-ciri Baitul Maqdis dan
beberapa hal lainnya.
----***---
Riwayat
Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa
Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami tentang perjalanan Isra yang
dilakukan oleh Rasulullah ﷺ pada malam hari.
Disebutkan di dalamnya:
"Bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke dalam surga, lalu beliau mendengar
suara langkah kaki di tepi surga. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, "Wahai Jibril, suara apakah
ini?"
Jibril
menjawab, "Ini adalah suara Bilal, juru azan."
Ketika
Rasulullah ﷺ menghadapi orang banyak, beliau bersabda, "Beruntunglah Bilal,
saya menyaksikan anu dan anu dari kebaikannya."
Selanjutnya
Nabi ﷺ bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Musa mengucapkan selamat datang
kepadanya seraya berkata, "Selamat datang Nabi yang ummi."
Nabi ﷺ bersabda bahwa Musa adalah seorang lelaki yang berkulit hitam manis,
bertubuh tinggi, dan berambut ikal hingga mencapai daun telinganya atau kurang
dari itu.
Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Dia adalah Musa."
Kemudian
Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang tua
yang tampak sangat agung dan berwibawa. Orang tua itu mengucapkan selamat
datang dan salam kepada Nabi ﷺ. Semua orang yang ditemui
oleh Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada beliau.
Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Dia adalah ayahmu, Nabi Ibrahim."
Nabi ﷺ melihat neraka, dan tiba-tiba di dalamnya terdapat suatu kaum yang
sedang memakan bangkai. Maka Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Jibril, siapakah mereka
itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain,
yaitu orang-orang yang suka mengumpat."
Kemudian Nabi ﷺ melihat seorang lelaki yang berkulit merah dan memiliki mata yang
sangat biru.
Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Ini adalah penyembelih unta Nabi Saleh."
Ketika
Rasulullah ﷺ sampai di Masjidil Aqsa, beliau berdiri mengerjakan salat, dan ternyata
semua nabi ikut salat bersamanya. Setelah selesai mengerjakan salat, disuguhkan
kepada Nabi ﷺ dua buah wadah; yang satu berada di sebelah kanan dan yang lainnya
berada di sebelah kiri. Salah satunya berisi air susu, sedangkan yang lainnya
berisi madu. Maka Nabi ﷺ mengambil wadah yang berisi air susu dan
meminumnya. Orang yang bersamanya berkata, "Engkau telah memilih
fitrah."
Sanad hadis
ini sahih, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.
----
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Sabit Abu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan:
"Bahwa Rasulullah ﷺ menjalani Isra ke Baitul Maqdis dan kembali
pulang pada malam yang sama. Kemudian beliau menceritakan kepada mereka tentang
perjalanan Isra yang dialaminya dan menceritakan pula kepada orang-orang
Quraisy tentang kafilah mereka yang masih dalam perjalanan.
Di antara
orang-orang Quraisy ada yang berkata, "Kami tidak percaya kepada Muhammad
tentang apa yang dikatakannya." Maka sebagian dari mereka murtad dan kembali
menjadi kafir. Allah menghinakan mereka bersama pemimpin mereka, yaitu Abu
Jahal.
Abu Jahal
berkata, "Muhammad menakut-nakuti kita dengan buah zaqqum. Maka
datangkanlah oleh kalian buah kurma dan zubdah, marilah kita membuat makanan
zaqqum (yaitu campuran kurma dan zubdah)."
Nabi ﷺ juga melihat Dajjal dengan penglihatan yang nyata, bukan dalam mimpi.
Beliau ﷺ bersua dengan Isa, Musa, dan Ibrahim.
Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang ciri-ciri Dajjal, beliau ﷺ menjawab, "Dajjal bertubuh besar,
berkulit putih, salah satu matanya menonjol seakan-akan seperti bintang yang
bercahaya, sedangkan rambutnya seakan-akan seperti ranting pohon yang
lebat."
Beliau ﷺ juga bersabda, "Saya melihat Isa ‘alaihis salam. Dia seorang
lelaki yang berkulit putih, berambut keriting, tajam pandangan matanya, dan
bertubuh padat. Saya juga melihat Musa ‘alaihis salam, seorang lelaki yang
berkulit hitam manis, berambut lebat, dan bertubuh kuat. Saya pun melihat
Ibrahim ‘alaihis salam. Saya tidak memandang kepada salah satu anggota tubuhnya
melainkan seakan-akan saya memandang kepada diriku sendiri. Seakan-akan dia
adalah teman kalian ini (yakni Nabi ﷺ sendiri)."
Jibril
berkata, "Ucapkanlah salam kepada bapakmu."
Maka saya
mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Imam Nasai meriwayatkannya
melalui Hadid Abu Yazid Sabit ibnu Zaid, dari Hilal (yaitu Ibnu Hibban) dengan
sanad yang sama. Sanad hadis ini berpredikat sahih.
-----
Jalur lain.
Imam Baihaqi
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan
kepada kami Abu Bakar Asy-Syafii, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul
Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah, dari Abul Aliyah yang
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas (anak paman Rasulullah ﷺ) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Pada
malam aku menjalani Isra, aku bersua dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki
yang tinggi, berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari
kalangan Azd Syanu-ah. Aku juga melihat Isa ‘alaihis salam putra Maryam,
seorang lelaki yang bertubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan, dan
berambut ikal. Aku juga melihat Malaikat Malik, penjaga neraka Jahannam, serta
Dajjal dengan ciri-ciri khasnya tersendiri yang diperlihatkan oleh Allah
kepadaku."
Allah Swt.
berfirman:
"Maka
janganlah kamu ragu-ragu dalam bersua dengannya." (As-Sajdah: 23)
Qatadah
menafsirkan ayat ini dengan penafsiran bahwa Nabi ﷺ telah bersua dengan Musa ‘alaihis salam.
"Dan Kami
jadikan Musa petunjuk bagi Bani Israil." (As-Sajdah: 23)
Yakni Allah
menjadikan Musa ‘alaihis salam sebagai petunjuk bagi kaum Bani Israil.
Imam Muslim
meriwayatkan hadis ini dalam kitab sahihnya dari Abdu ibnu Humaid, dari Yunus
ibnu Muhammad, dari Syaiban. Imam Bukhari dan Imam Muslim juga
mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dari Qatadah secara ringkas.
------
Jalur lain.
Imam Baihaqi
mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdullah,
bahwa Ahmad ibnu Ubaid As-Sattar telah mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Dabis Al-Mu’addal, telah menceritakan kepada kami Affan, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id
ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Ketika aku
menjalani Isra, aku melewati suatu tempat yang baunya sangat harum. Maka aku
bertanya, ‘Bau harum apakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah bau Masyitah
binti Fir’aun dan anak-anaknya.’”
Jibril
melanjutkan kisahnya bahwa pada suatu hari terjatuhlah sisir dari tangan
Masyitah. Maka Masyitah berkata, “Dengan menyebut nama Allah.”
Anak perempuan
Fir’aun bertanya, “Sebutlah nama ayahku.”
Masyitah
berkata, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Dia.”
Anak perempuan
Fir’aun bertanya, “Apakah ada Tuhan selain ayahku?”
Masyitah
berkata, “Benar. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”
Maka Fir’aun
memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau mempunyai Tuhan lain selain diriku?”
Masyitah
berkata, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah Swt.”
Fir’aun
memerintahkan agar dipersiapkan sebuah belanga besar, lalu belanga itu
dipanaskan dengan api. Kemudian dia memerintahkan Masyitah agar menceburkan
diri ke dalam belanga tersebut.
Masyitah
berkata, “Saya mempunyai sebuah permintaan kepadamu.”
Fir’aun
berkata, “Sebutkanlah permintaanmu.”
Masyitah
berkata, “Kumpulkanlah tulang-tulangku bersama tulang-tulang anakku di suatu
tempat.”
Fir’aun
menjawab, “Baiklah, saya akan memenuhi permintaanmu, karena kamu mempunyai hak
atas kami.”
Fir’aun
kemudian memerintahkan agar Masyitah beserta keluarganya dilemparkan ke dalam
belanga tersebut. Mereka dilemparkan seorang demi seorang hingga sampailah
giliran anak Masyitah yang masih menyusu kepadanya.
Anehnya, anak
Masyitah tersebut dapat berbicara. Ia berkata, “Wahai ibuku, ceburkanlah dirimu
ke dalamnya. Janganlah takut, karena sesungguhnya engkau berada di atas jalan
yang benar.”
Nabi ﷺ bersabda, “Ada empat orang bayi yang masih berada dalam buaian yang
dapat berbicara, yaitu anak Masyitah, saksi Nabi Yusuf, teman Juraij, dan Isa
putra Maryam ‘alaihis salam.”
Sanad hadis
ini tidak memiliki cacat, tetapi para ahli hadis tidak mengetengahkannya.
------
Jalur lain.
Imam Ahmad
mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far dan Rauh
ibnul Mu'in; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Auf, dari
Zurarah ibnu Aufa, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Setelah
aku menjalani Isra pada malam hari, maka pada pagi harinya aku berada di Mekah
dengan perasaan bahwa orang-orang pasti akan mendustakanku."
Rasulullah ﷺ duduk menyendiri dalam keadaan sedih. Lalu lewatlah kepadanya musuh
Allah, Abu Jahal. Abu Jahal menghampirinya dan duduk bersamanya. Kemudian ia
berkata dengan nada mengejek, "Apakah ada berita baru?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya."
Abu Jahal
bertanya, "Apakah berita itu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Tadi malam saya baru saja melakukan Isra (perjalanan di
malam hari)."
Abu Jahal
bertanya, "Ke mana?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ke Baitul Maqdis."
Kemudian Abu
Jahal bertanya, "Lalu pagi harinya engkau sudah berada di antara
kami?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ya."
Abu Jahal
tidak langsung menanggapi ucapan Nabi ﷺ dan tidak pula langsung mendustakannya,
karena ia merasa khawatir apabila hal tersebut diceritakan kepada kaumnya,
mereka tidak akan mempercayainya. Maka ia berkata, "Bagaimanakah
pendapatmu jika aku memanggil kaummu? Apakah engkau juga akan menceritakan
kepada mereka apa yang baru saja engkau ceritakan kepadaku?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ya."
Abu Jahal
berkata, "Wahai seluruh orang-orang Bani Ka'b ibnu Luay!"
Tidak lama
kemudian orang-orang berdatangan ke majelis Nabi ﷺ. Mereka datang dan langsung
duduk di majelis tersebut, tempat Nabi ﷺ dan Abu Jahal berada.
Abu Jahal
berkata, "Ceritakanlah kepada kaummu seperti cerita yang telah engkau
ceritakan kepadaku tadi."
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tadi malam saya menjalani Isra."
Mereka
bertanya, "Menuju ke mana?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ke Baitul Maqdis."
Mereka
bertanya, "Kemudian pagi harinya engkau sudah berada di antara kami?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ya."
Maka di antara
mereka ada yang bertepuk tangan, dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas
kepala karena merasa heran mendengar kisah yang mereka anggap mustahil itu.
Mereka
bertanya, "Dapatkah engkau menyebutkan ciri khas Masjidil Aqsa kepada
kami?"
Di antara
mereka ada orang yang pernah bepergian ke negeri tersebut dan melihat Baitul
Maqdis.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau terus-menerus menceritakan kepada mereka ciri
khas masjid tersebut, hingga ada sebagian cirinya yang terlupakan oleh Nabi ﷺ.
Kemudian
Masjidil Aqsa ditampakkan kepada Nabi ﷺ, lalu beliau memandangnya,
hingga gambar Masjidil Aqsa diletakkan di dekat rumah Aqil atau Iqal. Maka Nabi
ﷺ menyebutkan ciri-ciri khasnya sambil melihat ke arah gambar tersebut.
Perawi
mengatakan bahwa ada satu ciri khas yang terlupakan olehnya.
Orang-orang
Quraisy berkata, "Demi Allah, ciri khas yang disebutkannya mengenai Baitul
Maqdis adalah benar."
Imam Nasai
meriwayatkan hadis ini melalui Auf ibnu Abu Jamilah (yaitu Al-A'rabi) dengan
sanad yang sama.
Imam Baihaqi
meriwayatkannya melalui hadis An-Nadr ibnu Syumail dan Hauzah, dari Auf, yaitu
dari Ibnu Abu Jamilah Al-A'rabi, salah seorang imam yang berpredikat tsiqah
(dapat dipercaya).
---***---
Riwayat Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu
Diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Bahlul, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Namir, dari Malik ibnu Magul, dari Az-Zubair ibnu Addi, dari Talhah ibnu Masraf, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan:
"Bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjalani Isra dan sampai di Sidratul Muntaha
yang berada di langit keenam, hanya sampai kepadanya segala sesuatu yang naik,
lalu diambil darinya; dan hanya sampai kepadanya segala sesuatu yang turun dari
atasnya, lalu diambil darinya.
"Maka
ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya." (An-Najm:
16)
Ibnu Mas'ud
mengatakan: bahwa Sidratul Muntaha diliputi oleh kupu-kupu emas. Di tempat
itulah Rasulullah ﷺ diberi perintah untuk mengerjakan salat lima
waktu, ayat-ayat yang mengakhiri surah Al-Baqarah, dan diberikan ampunan bagi
orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun dari
kalangan umatnya, serta diampuni dosa-dosa besar.
Imam Muslim
meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu
Namir dan Zuhair ibnu Harb; keduanya menerima hadis dari Abdullah ibnu Namir
dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam
Baihaqi mengatakan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud ini merupakan
bagian dari hadis Mi'raj.
Sahabat Anas telah meriwayatkan hadis ini dari Malik ibnu Sha'sha'ah, dari Nabi ﷺ.
Kemudian Abu dzar juga meriwayatkannya dari Nabi ﷺ.
Selanjutnya Imam Baihaqi meriwayatkan pula hadis ini secara
mursal tanpa menyebutkan keduanya, lalu ia menyebutkan ketiga hadis tersebut
sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Menurut kami, sahabat Ibnu Mas'ud juga telah meriwayatkan hadis ini dengan lafaz yang lebih panjang daripada hadis di atas, tetapi di dalamnya terdapat beberapa hal yang garib.
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hasan ibnu Arafah di dalam kitab Juz-nya
yang terkenal itu.
---***----
Riwayat Abu 'Ubaidah
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah, dari Qatadah ibnu Abdullah At-Taimi, telah menceritakan kepada kami Abu Zabyan Al-Janabi yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah ibnu Abdullah ibnu Mas'ud dan Muhammad ibnu Sa'd ibnu Waqqas, sedangkan keduanya berada dalam majelis tersebut, Muhammad ibnu Sa'd berkata kepada Abu Ubaidah:
"Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis dari ayahmu yang menceritakan
tentang perjalanan Isra yang dilakukan oleh Nabi ﷺ."
Abu Ubaidah
berkata, "Tidak, tetapi engkaulah yang harus menceritakan kepada kami
sebuah hadis dari ayahmu."
Muhammad
menjawab, "Seandainya kamu meminta kepadaku sebelum aku meminta kepadamu,
tentu aku mau menceritakannya."
Maka Abu
Ubaidah menceritakan hadis tersebut dari ayahnya sesuai dengan apa yang
diminta, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Malaikat
Jibril datang kepadaku dengan membawa seekor hewan berwarna putih yang lebih
besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada begal. Kemudian Malaikat
Jibril menaikkan aku ke atas punggung hewan tersebut. Lalu hewan itu membawa
kami berangkat. Apabila mendaki tanjakan (jalan yang menaik), maka kedua kaki
depan dan kaki belakangnya lurus; demikian pula ketika sampai di jalan yang
menurun.
Hingga kami
bersua dengan seorang lelaki yang tinggi, bertubuh bidang, dan berkulit hitam
manis, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd-Sanu-ah.
Lelaki itu berkata dengan suara keras, 'Engkau telah memuliakan dan
mengutamakannya.'
Maka kami
datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab salam
kami.
Lelaki itu
bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?'
Jibril
menjawab, 'Dia adalah Ahmad.'
Lelaki itu
berkata, 'Selamat datang Nabi yang ummi dari Arab, yang telah menyampaikan
risalah Tuhannya dan menasihati umatnya.'
Kemudian kami
melanjutkan perjalanan. Aku (Nabi ﷺ) bertanya, 'Wahai Jibril,
siapakah orang ini?'
Jibril
menjawab, 'Orang ini adalah Musa ibnu Imran.'
Aku bertanya,
'Kepada siapakah dia tadi mengeluh?'
Jibril
menjawab, 'Dia mengeluh kepada Tuhannya tentang (kemuliaan dan keutamaan) kamu
yang melebihinya.'
Aku bertanya,
'Apakah dia mengangkat suaranya dengan keras kepada Tuhannya?'
Jibril
menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah memberinya watak yang keras.'
Kami
melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami pada suatu pohon yang buahnya besar-besar.
Di bawahnya terdapat seorang tua bersama anak-anaknya.
Maka Jibril
berkata kepadaku, 'Temuilah bapakmu Ibrahim.'
Kami
menemuinya, lalu mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salam kami.
Ibrahim
‘alaihis salam bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?'
Jibril
menjawab, 'Orang ini adalah anakmu Ahmad.'
Ibrahim
berkata, 'Selamat datang Nabi yang ummi yang telah menyampaikan risalah
Tuhannya dan menasihati umatnya.'
'Hai anakku,
sesungguhnya engkau akan menjumpai Tuhanmu malam ini. Dan sesungguhnya umatmu
adalah umat yang paling akhir dan paling lemah. Jika kamu dapat mengajukan
kebutuhanmu atau sebagian besar dari keperluanmu mengenai umatmu, maka
lakukanlah.'"
Kemudian kami
melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di Masjidil Aqsa. Lalu saya turun
dan menambatkan hewan kendaraanku di sebuah halqah yang berada di dekat pintu
masjid, yaitu tempat para nabi terdahulu biasa menambatkan kendaraan mereka.
Saya masuk ke dalam masjid dan melihat para nabi berada di dalamnya; di antara
mereka ada yang sedang rukuk, dan ada pula yang sedang sujud.
Selanjutnya
diberikan kepadaku dua buah wadah, yang satu berisi madu dan yang lainnya
berisi air susu. Maka saya mengambil wadah yang berisi air susu, lalu
meminumnya. Malaikat Jibril menepuk pundakku seraya berkata, "Engkau telah
memperoleh fitrah, demi Tuhan Muhammad."
Kemudian salat
diiqamahkan dan saya mengimami mereka. Setelah salat selesai, kami pun pulang.
----
Sanad hadis
ini garib, dan para imam ahli hadis tidak mengetengahkannya. Di dalamnya
terdapat banyak hal yang garib, yaitu disebutkan bahwa para nabi bertanya
tentang pribadi Nabi ﷺ dan merekalah yang memulai pertanyaan,
kemudian Nabi ﷺ bertanya tentang mereka setelah melanjutkan
perjalanan.
Padahal
sesungguhnya menurut kitab-kitab sahih, sebagaimana telah disebutkan
sebelumnya, Jibrillah yang memberitahukan kepada Nabi ﷺ tentang siapa mereka agar Nabi ﷺ dapat mengucapkan salam kepada mereka.
Di dalam hadis
ini juga disebutkan bahwa Nabi ﷺ bertemu dengan para nabi sebelum memasuki Masjidil
Aqsa. Padahal yang benar adalah Nabi ﷺ bersua dengan mereka di langit. Kemudian Nabi
ﷺ turun ke Baitul Maqdis untuk kedua kalinya bersama para nabi, lalu
beliau ﷺ salat mengimami mereka di Baitul Maqdis. Setelah itu Nabi ﷺ mengendarai Buraq dan kembali ke Mekah.
------
Jalur lain
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan: bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, dari Jabalah ibnu Suhaim, dari Marsad ibnu Junadah, dari Ibnu Mas‘ud, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
"Bahwa pada malam beliau
menjalani Isra, beliau bersua dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.
Lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah hari kiamat. Mereka menanyakan
kepada Nabi Ibrahim, tetapi Nabi Ibrahim menjawab, "Saya tidak mempunyai
pengetahuan tentang hari kiamat." Mereka menanyakan kepada Nabi Musa,
tetapi Nabi Musa berkata, "Saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hari
kiamat." Akhirnya mereka menanyakan kepada Nabi Isa. Maka Nabi Isa
berkata, "Adapun kapan saat hari kiamat terjadi, tidak ada seorang pun
yang mengetahuinya selain Allah Swt. Akan tetapi, menurut keterangan yang
diberikan oleh Tuhanku kepadaku, Dajjal pasti akan muncul."
Nabi Isa
melanjutkan kisahnya, "Saat itu saya (Nabi Isa) memegang dua bilah tombak.
Manakala Dajjal melihatku, maka tubuhnya akan meleleh (luluh) sebagaimana
leburnya timah bila dipanaskan. Allah membinasakan Dajjal ketika Dajjal
melihatku, sehingga batu-batuan dan pepohonan pun dapat berbicara, 'Wahai
Muslim, sesungguhnya di bawahku bersembunyi seorang kafir. Kemarilah, bunuhlah
dia.' Allah membinasakan semua orang kafir sehingga orang-orang (kaum muslim)
kembali ke negeri dan tanah air mereka masing-masing dalam keadaan aman."
"Dan pada
saat itulah muncul Ya’juj dan Ma’juj. Mereka datang berbondong-bondong dari
daerah yang tinggi, lalu menginjak-injak negeri manusia. Tiada suatu daerah pun
yang mereka datangi melainkan mereka menghancurkannya, dan tiada suatu mata air
pun yang mereka lewati melainkan airnya habis mereka minum. Kemudian manusia kembali
mengadu kepadaku tentang ulah yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj. Maka saya
berdoa kepada Allah untuk membinasakan Ya’juj dan Ma’juj. Lalu Allah
membinasakan mereka semua dengan mematikan mereka semuanya, sehingga bumi ini
berbau busuk karena penuh dengan bangkai mereka. Kemudian Allah menurunkan
hujan lebat, maka hanyutlah bangkai mereka dan terbuang ke laut."
"Menurut
keterangan yang diberikan oleh Allah kepadaku, apabila hal tersebut telah
terjadi, maka kedatangan hari kiamat ibarat seorang wanita hamil yang sudah
saatnya untuk melahirkan. Tidak ada seorang pun dari kalangan keluarganya yang
mengetahui kapan dia akan dikejutkan dengan kelahiran anaknya, apakah pada
malam hari ataukah pada siang hari."
----
Ibnu Majah
mengetengahkan hadis ini dari Bandar, dari Yazid ibnu Harun, dari Al-Awwam ibnu
Hausyab melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Qart (saudara Abdullah ibnu Qart
As-Samali). Sa‘id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Miskin
ibnu Maimun (juru azan Masjid Ar-Ramlah), telah menceritakan kepadaku Urwah
ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Qart:
Bahwa
Rasulullah ﷺ pada malam beliau menjalani Isra dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil
Aqsa berada di antara Zamzam dan Maqam Ibrahim. Malaikat Jibril berada di
sebelah kanannya, dan Malaikat Mikail berada di sebelah kirinya. Kemudian
keduanya membawa Nabi ﷺ terbang hingga sampai di langit yang
tertinggi. Dalam perjalanan pulangnya, Nabi ﷺ mendengar suara tasbih di langit yang
tertinggi bersamaan dengan bacaan tasbih lainnya yang banyak. Langit yang
tertinggi bertasbih kepada Tuhan Yang memiliki wibawa karena merasa takut
kepada Tuhan yang memiliki kekuasaan Yang Mahatinggi. Mahasuci Tuhan Yang
Mahatinggi, tiada yang menandingi-Nya. Mahasuci Dia lagi Mahatinggi.
Dan sehubungan
dengan hal ini, nanti kami akan mengetengahkan sebuah hadis, yaitu dalam tafsir
surat ini pada firman-Nya: "Langit yang tujuh bertasbih kepada
Allah." (Al-Isra: 44), hingga akhir ayat.
---***---
RIWAYAT UMAR IBNUL KHATTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan
kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ibnu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam Abu
Maryam dan Abu Syu‘aib, bahwa ketika Khalifah Umar ibnul Khattab radhiyallahu
‘anhu berada di Jabiyah menceritakan tentang kemenangan atas Baitul Maqdis.
Hammad ibnu
Salamah mengatakan, Abu Salamah telah mengatakan bahwa telah menceritakan
kepadaku Abu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam yang mengatakan bahwa ia pernah
mendengar Umar ibnul Khattab berkata kepada Ka‘b, "Utarakanlah pendapatmu,
di manakah saya harus mengerjakan salat?"
Ka‘b menjawab,
"Seandainya aku menjadi engkau, tentulah saya akan salat di belakang
Sakhrah, maka seluruh kawasan Baitul Maqdis berada di hadapanmu."
Umar ibnul
Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalau demikian, berarti saya sama
dengan orang-orang Yahudi. Tetapi saya akan melakukan salat di tempat yang
pernah Rasulullah ﷺ mengerjakan salat padanya."
Lalu Umar maju
ke arah kiblat, kemudian salat. Setelah itu ia datang dan menggelarkan kain selendangnya.
Sebelumnya ia menyapu terlebih dahulu tempat itu dengan selendangnya, lalu
orang-orang meniru perbuatannya.
Umar tidak
mengagungkan Sakhrah dengan melakukan salat di belakangnya, sedangkan Sakhrah
berada di hadapannya, seperti yang diisyaratkan oleh Ka‘b Al-Habar yang berasal
dari kaum yang mengagungkannya hingga mereka menjadikannya sebagai arah kiblat
mereka. Akan tetapi, Allah memberinya petunjuk berkat Islam, maka
ditunjukkanlah kepadanya cara yang benar.
Karena itulah,
ketika Ka‘b memberikan saran kepadanya, Umar berkata, "Kalau begitu, saya
seperti orang-orang Yahudi."
Umar tidak
menghina tempat itu sebagaimana orang-orang Nasrani menghinanya. Mereka
menjadikannya tempat pembuangan sampah karena tempat itu adalah kiblat
orang-orang Yahudi. Akan tetapi, Khalifah Umar justru membersihkan kotorannya
dengan kain selendangnya.
Apa yang
dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu ini mirip dengan apa yang disebutkan di
dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Marsad Al-Ganawi yang mengatakan bahwa
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan
jangan pula kalian salat dengan menghadap kepadanya."
---***---
RIWAYAT ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU 'ANHU
Riwayat Abu
Hurairah ini sangat panjang, dan di dalamnya terdapat hal-hal yang garib. Imam
Abu Ja‘far ibnu Jarir mengatakan di dalam tafsir surat Subhana (Al-Isra), bahwa
telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami
Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far Ar-Razi, dari Ar-Rabi‘ ibnu
Anas, dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi, dari Abu Hurairah atau lainnya—di sini Abu
Ja‘far merasa ragu—sehubungan dengan tafsir firman-Nya: "Mahasuci Allah,
yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (Al-Isra: 1),
hingga akhir ayat.
Bahwa Jibril
datang kepada Nabi ﷺ bersama Mikail. Lalu Jibril berkata kepada
Mikail, "Berikanlah kepadaku piala berisikan air zamzam untuk membersihkan
hatinya dan membedah dadanya."
Maka Malaikat
Jibril membelah dada Nabi ﷺ dan mencucinya sebanyak tiga kali, sedangkan
Malaikat Mikail bolak-balik kepadanya sebanyak tiga kali membawa tiga piala
berisikan air zamzam. Jibril membelah dada Nabi ﷺ dan membuang bagian yang berisikan
kedengkian, lalu memenuhinya dengan ilmu, kesabaran, iman, keyakinan, dan
Islam. Kemudian dibuatlah cap di antara kedua tulang belikat Nabi ﷺ, yaitu cap kenabian.
Setelah itu
diberikan seekor kuda kepada Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ dinaikkan ke atas hewan itu. Setiap langkahnya dapat mencapai jarak
sejauh mata memandang, atau lebih jauh dari itu. Nabi ﷺ berjalan mengendarainya diiringi oleh
Malaikat Jibril.
Nabi ﷺ sampai di tempat suatu kaum yang bercocok tanam dalam waktu satu hari,
kemudian menuainya pada hari yang lain. Setiap kali mereka menuainya, tanaman
mereka kembali seperti sediakala.
Lalu Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang-orang ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
Amal kebaikan mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat, dan segala
sesuatu yang mereka belanjakan Allah menggantinya. Allah adalah sebaik-baik
pemberi rezeki."
Kemudian
sampailah Nabi ﷺ di tempat suatu kaum yang kepala mereka
dipecahkan oleh batu-batu besar. Setiap kali kepala mereka hancur, maka kembali
seperti semula. Hal itu terus dilakukan terhadap mereka tanpa henti.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berat kepala (malas)
dalam mengerjakan salat fardu."
Lalu sampailah
Nabi ﷺ ke tempat suatu kaum yang pada bagian muka mereka terdapat tanda.
Mereka digiring bagaikan unta dan binatang ternak. Mereka makan pohon berduri,
pohon Zaqqum, dan batu-batu neraka Jahannam.
Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah manusia itu?"
Jibril
menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat harta
bendanya. Allah sama sekali tidak menganiaya mereka barang sedikit pun. Dan
tiadalah Allah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya."
Kemudian
sampailah Nabi ﷺ ke tempat suatu kaum. Di hadapan mereka
terdapat daging masak yang ada di dalam kuali, sedangkan di dalam kuali yang
lain terdapat daging mentah yang buruk. Tetapi mereka memakan daging mentah
yang buruk itu dan membiarkan daging masak yang baik.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Lelaki ini adalah seorang dari kalangan umatmu yang
mempunyai seorang istri yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi wanita lain
yang buruk, lalu ia tidur bersamanya hingga pagi hari. Dan dia adalah seorang
wanita yang mempunyai suami yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi lelaki
lain yang buruk, lalu tidur bersamanya hingga pagi hari."
Lalu sampailah
Nabi ﷺ di suatu tempat yang terdapat kayu di tengah jalannya. Tiada seorang
pun yang melaluinya melainkan bajunya pasti robek, dan tiada sesuatu pun yang
melewatinya melainkan pasti menusuknya.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Ini adalah perumpamaan sejumlah orang dari kalangan
umatmu yang suka duduk di pinggir jalan, lalu mereka menghalang-halangi manusia
dari jalan Allah."
Kemudian
Jibril membacakan firman-Nya: "Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap
jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman."
(Al-A‘raf: 86), hingga akhir ayat.
Setelah itu
sampailah Nabi ﷺ di tempat seorang lelaki yang telah
mengumpulkan setumpuk besar barang yang tidak mampu diangkatnya, sedangkan dia
terus menambahinya.
Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umatmu yang
mempunyai banyak amanat orang lain yang tidak mampu ditunaikannya, sedangkan
dia ingin membawanya."
Kemudian
sampailah Nabi ﷺ di tempat suatu kaum yang lisan dan bibir
mereka dipotong dengan gunting (catut) besi. Setiap kali telah digunting, maka
lidah itu akan kembali seperti sediakala. Hal itu dilakukan terhadap mereka
tanpa henti-hentinya.
Nabi ﷺ bertanya, "Apakah ini, hai Jibril?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Mereka adalah para ahli khutbah yang suka menebarkan
fitnah."
Lalu sampailah
Nabi ﷺ di suatu tempat yang terdapat sebuah lubang kecil, yang darinya keluar
seekor sapi jantan yang besar. Kemudian sapi jantan itu bermaksud kembali ke
tempat ia keluar, tetapi ia tidak mampu.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Ini adalah perumpamaan seorang lelaki yang mengucapkan
kata-kata besar, kemudian menyesalinya, tetapi ia tidak mampu mencabut
kata-katanya itu."
Kemudian
sampailah Nabi ﷺ ke suatu lembah. Beliau menjumpai lembah itu
menyebarkan bau harum yang menyegarkan dan bau minyak kesturi. Beliau pun
mendengar suatu suara.
Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, bau wangi apa yang menyegarkan ini, bau
minyak kesturi apa pula ini, dan suara apakah ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Ini adalah suara surga yang mengatakan: 'Wahai Tuhanku,
berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah banyak
kamar-kamarku, kain sutera halus, tipis, tebal, dan permadani-permadani ku,
mutiaraku, marjanku, perakku, emasku, gelas-gelasku, piring-piringku,
kendi-kendiku, cangkir-cangkirku, maduku, airku, susuku, dan khamrku. Maka
berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan.'"
Maka Allah
berfirman, "Bagimu semua orang muslim laki-laki dan perempuan, serta orang
mukmin laki-laki dan perempuan, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Ku,
rasul-rasul-Ku, beramal saleh, dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu
pun. Dia tidak menyembah tandingan-tandingan selain Aku. Barang siapa yang
takut kepada-Ku, dia akan aman; barang siapa yang meminta kepada-Ku, tentu Aku
memberinya; barang siapa yang memberi pinjaman kepada-Ku, tentu Aku membalasnya;
dan barang siapa yang bertawakal kepada-Ku, tentu Aku memberinya kecukupan.
Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Aku tidak akan
mengingkari janji. Dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.
Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta makhluk semuanya."
Surga berkata,
"Saya rela."
Kemudian Nabi ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampailah beliau di suatu lembah. Di
tempat itu beliau mendengar suara gemuruh dan mencium bau yang tidak enak.
Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, bau apakah ini, dan suara apakah ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Ini adalah suara neraka Jahannam. Ia mengatakan, 'Wahai
Tuhanku, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah
banyak rantai-rantaiku, belenggu-belengguku, nyala apiku, air panasku,
duri-duriku, nanahku, dan azabku. Dasarku sangat dalam, serta panas apiku
sangat kuat. Maka berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan
kepadaku.'"
Allah
berfirman, "Untukmu semua orang musyrik laki-laki dan perempuan, orang
kafir laki-laki dan perempuan, semua orang jahat laki-laki dan perempuan, dan
semua orang yang sewenang-wenang yang tidak beriman kepada hari hisab."
Neraka
menjawab, "Saya rela."
Nabi ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampailah beliau di Baitul Maqdis.
Lalu beliau turun dan menambatkan kudanya di Sakhrah. Nabi ﷺ masuk ke dalam masjid, kemudian salat bersama para malaikat.
Setelah
selesai mengerjakan salat, para malaikat bertanya, "Hai Jibril, siapakah
orang ini?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Orang ini adalah Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka
berkata, "Semoga Allah merahmati saudara dan khalifah kita ini.
Sebaik-baik saudara dan sebaik-baik khalifah adalah dia. Dan sebaik-baik orang
yang datang kini telah tiba."
Kemudian Nabi ﷺ bersua dengan arwah para nabi. Para nabi itu sedang mengucapkan puji
syukur kepada Tuhan mereka.
Nabi Ibrahim
‘alaihis salam berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku
sebagai kekasih-Nya, memberiku kerajaan yang besar, menjadikan diriku seorang
imam yang dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, menyelamatkan diriku dari
api, serta menjadikan api itu dingin dan keselamatan bagiku."
Kemudian Nabi
Musa ‘alaihis salam memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya
mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah mengajak aku berbicara
secara langsung, menjadikan kehancuran Fir‘aun beserta para pengikutnya dan
keselamatan kaum Bani Israil melalui tanganku, serta menjadikan umatku sebagai
kaum yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu pula mereka
menjalankan keadilan."
Kemudian Nabi
Daud ‘alaihis salam memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya
mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku
kerajaan yang besar, mengajarkan kepadaku kitab Zabur, melunakkan besi bagiku,
menundukkan gunung-gunung hingga dapat bertasbih bersama burung-burung, serta
memberikan kepadaku hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan
perselisihan."
Kemudian Nabi
Sulaiman ‘alaihis salam memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya seraya
mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan bagiku angin,
menundukkan bagiku setan-setan sehingga mereka mau bekerja untukku menurut apa
yang aku kehendaki, membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung,
piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap
berada di atas tungku. Dia mengajarkan kepadaku pengertian bahasa burung. Allah
memberiku segala sesuatu sebagai karunia-Nya, menundukkan kepadaku bala tentara
setan, manusia, dan burung, memberikan keutamaan kepadaku yang melebihi
kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin, memberikan kepadaku kerajaan yang besar
yang tidak diberikan kepada seorang pun sesudahku, dan menjadikan kerajaanku
sebagai kerajaan yang baik tanpa hisab padanya."
Kemudian Nabi
Isa ‘alaihis salam memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya seraya
mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan diriku tercipta
melalui kalimah (perintah)-Nya dan menjadikan perumpamaanku seperti Adam yang
diciptakan-Nya dari tanah liat. Kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah
kamu!' Maka jadilah ia. Dia mengajarkan kepadaku Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan
Injil. Dia menjadikan aku dapat membuat dari tanah liat sesuatu berbentuk
burung, lalu aku meniupnya, maka jadilah ia seekor burung yang dapat terbang
dengan seizin Allah. Allah juga menjadikan aku dapat menyembuhkan orang yang
buta, orang yang berpenyakit supak, dan menghidupkan orang-orang yang telah
mati dengan seizin Allah. Dia telah mengangkat diriku, menyucikan aku, serta
melindungi diriku dan ibuku dari godaan setan yang terkutuk, sehingga setan
tidak mempunyai jalan untuk menggoda kami."
Selanjutnya
Nabi Muhammad ﷺ memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhannya
seraya berkata:
"Kalian
semua telah memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan, maka saya pun akan
memanjatkan puji dan syukurku kepada-Nya. Segala puji bagi Allah yang telah
mengutusku menjadi rahmat bagi semesta alam, bagi seluruh umat manusia sebagai
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Allah telah
menurunkan kepadaku kitab Al-Qur'an yang di dalamnya terkandung penjelasan
segala sesuatu, menjadikan umatku sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan
untuk umat manusia, menjadikan umatku sebagai umat yang adil, menjadikan umatku
sebagai orang-orang yang pertama (masuk surga) dan yang terakhir (munculnya di
dunia), melapangkan dadaku, menghapuskan dariku semua dosa-dosaku, meninggikan
sebutan namaku, serta menjadikan diriku seorang yang membuka dan menutup."
Maka
berkatalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, "Karena itulah Muhammad ﷺ mempunyai kelebihan di atas kalian."
Abu Ja‘far
Ar-Razi mengatakan, yang dimaksud dengan "penutup" ialah penutup
kenabian; sedangkan yang dimaksud dengan "pembuka" ialah orang yang
pertama kali membuka syafaat pada hari kiamat nanti.
Kemudian
disuguhkan kepada Nabi ﷺ tiga buah wadah yang tertutup. Pertama,
disuguhkan kepada Nabi ﷺ wadah yang di dalamnya berisikan air, lalu
dikatakan kepadanya, "Minumlah!"
Nabi ﷺ meminumnya sedikit. Lalu disuguhkan kepadanya wadah yang berisikan air
susu, dan dikatakan kepadanya, "Minumlah!"
Maka Nabi ﷺ meminumnya hingga kenyang.
Setelah itu
disuguhkan kepada Nabi ﷺ wadah yang berisikan khamr, lalu dikatakan
kepadanya, "Minumlah!"
Nabi ﷺ menjawab, "Saya tidak menginginkannya karena saya sudah
kenyang."
Maka Malaikat
Jibril berkata kepadanya, "Ingatlah, sesungguhnya khamr ini kelak akan
diharamkan atas umatmu. Seandainya kamu meminumnya, niscaya tidak akan ada yang
mengikutimu dari kalangan umatmu kecuali hanya sedikit."
Kemudian
Malaikat Jibril membawanya naik ke langit. Jibril mengetuk pintunya, lalu
dikatakan, "Siapakah orang ini, hai Jibril?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Para penjaga
langit bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril menjawab,
"Ya."
Mereka
berkata, "Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini. Dia
adalah sebaik-baik saudara dan khalifah. Sebaik-baik orang kini telah
datang."
Maka
dibukakanlah pintu langit bagi keduanya. Nabi ﷺ memasukinya, dan tiba-tiba beliau bersua
dengan seorang lelaki yang sempurna bentuknya. Tidak ada sesuatu pun dari
bentuknya yang kurang sempurna sebagaimana kurangnya bentuk manusia lainnya.
Di sebelah
kanannya terdapat sebuah pintu yang keluar darinya bau yang harum, sedangkan di
sebelah kirinya terdapat pintu lain yang keluar darinya bau yang busuk. Apabila
ia melihat ke pintu yang sebelah kanannya, maka ia tertawa dan bergembira.
Tetapi apabila ia memandang ke arah pintu yang sebelah kirinya, maka ia
menangis dan bersedih.
Nabi ﷺ bertanya kepada Jibril, "Hai Jibril, siapakah orang tua ini yang
bentuknya sempurna, tidak ada sesuatu pun dari bentuknya yang kurang, dan
apakah kedua pintu tersebut?"
Malaikat
Jibril menjawab, "Orang ini adalah bapakmu Adam. Adapun pintu yang ada di
sebelah kanannya adalah pintu surga. Apabila ia memandang kepada orang-orang
yang masuk surga dari kalangan keturunannya, maka ia tertawa dan bergembira.
Sedangkan pintu yang ada di sebelah kirinya adalah pintu neraka Jahannam.
Apabila ia melihat kepada orang-orang yang memasukinya dari kalangan
keturunannya, maka ia menangis dan bersedih."
Kemudian
Jibril ‘alaihis salam membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang kedua. Jibril mengetuk
pintunya, lalu para penjaganya bertanya, "Siapakah orang yang
bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad, utusan Allah."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka
berkata, "Semoga Allah memberikan usia panjang kepada saudara dan khalifah
ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang paling baik
telah datang."
Nabi ﷺ pun masuk ke langit yang kedua. Tiba-tiba beliau bersua dengan dua
orang pemuda. Maka Nabi ﷺ bertanya, "Siapakah kedua orang pemuda
ini?"
Jibril
menjawab, "Ini adalah Isa putra Maryam dan Yahya ibnu Zakaria. Keduanya
adalah saudara sepupu dari pihak ibu."
Kemudian
Jibril ‘alaihis salam membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang ketiga. Jibril mengetuk
pintunya, lalu mereka bertanya, "Siapakah orang ini?"
Jibril
menjawab, "Saya Jibril."
Mereka
bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka
berkata, "Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini.
Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang paling baik telah
tiba."
Nabi ﷺ masuk ke dalam langit yang ketiga. Tiba-tiba beliau bersua dengan
seorang lelaki yang mengungguli manusia dalam hal ketampanannya, sebagaimana
keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang-bintang.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang yang memiliki ketampanan
yang melebihi seluruh manusia ini?"
Jibril
menjawab, "Orang ini adalah saudaramu Yusuf ‘alaihis salam."
Kemudian
Jibril membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang keempat. Jibril mengetuk
pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah ini?"
Jibril
menjawab, "Saya Jibril."
Para penjaga
langit yang keempat bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"
Jibril
menjawab, "Muhammad."
Mereka
bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"
Jibril
menjawab, "Ya."
Mereka
berkata, "Semoga Allah memberikan usia panjang kepadanya. Dia adalah
saudara dan khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang
yang terbaik telah tiba."
Nabi ﷺ masuk ke langit yang keempat. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang
lelaki. Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang
ini?"
Jibril ‘alaihis
salam menjawab, "Dia adalah Idris ‘alaihis salam. Allah telah
mengangkatnya ke tempat yang tinggi."
Kemudian
Jibril membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang kelima. Lalu Jibril
mengetuk pintunya. Para penjaga langit kelima bertanya, "Siapakah
ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya,
"Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab,
"Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk
menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata,
"Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini.
Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia, dan sebaik-baik orang kini telah
datang."
Nabi ﷺ masuk ke langit yang kelima. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang
lelaki yang sedang duduk, sedangkan di sekelilingnya terdapat suatu kaum.
Lelaki itu sedang bercerita kepada mereka. Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang
ini, dan siapakah mereka yang berada di sekelilingnya?" Jibril menjawab,
"Dia adalah Harun yang dicintai, sedangkan mereka adalah kaum Bani
Israil."
Kemudian Jibril
membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang keenam. Jibril mengetuk
pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya
Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah
diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab,
"Ya." Mereka berkata, "Semoga Allah memberi usia panjang kepada
saudara dan khalifah ini. Dialah sebaik-baik saudara dan khalifah. Orang yang
paling baik kini telah datang."
Maka masuklah
Nabi ﷺ ke langit yang keenam. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki
yang sedang duduk. Ketika Nabi ﷺ melewatinya, lelaki itu menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah lelaki ini?" Jibril menjawab,
"Lelaki ini adalah Musa."
Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa dia menangis?" Jibril menjawab, "Bani
Israil menduga bahwa sesungguhnya Musa adalah manusia dari kalangan Bani Adam
yang paling dimuliakan oleh Allah Swt. Lalu setelah melihatmu, ia berkata, 'Ini
adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Adam yang telah menggantikan kedudukanku
di dunia setelah aku berada di akhirat. Sekiranya dia lebih utama dariku karena
keutamaannya sendiri, aku tidak peduli. Akan tetapi, masing-masing nabi
mempunyai umatnya sendiri-sendiri (yakni umat Nabi ﷺ jauh lebih banyak daripada umatnya).' "
Kemudian Jibril
membawa Nabi ﷺ naik ke langit yang ketujuh. Jibril mengetuk
pintunya, maka dikatakan, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab,
"Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad."
Para penjaga
langit ketujuh berkata, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap
kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Semoga
Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Dia adalah
sebaik-baik saudara dan khalifah. Kini orang yang terbaik telah datang."
Maka Nabi ﷺ masuk ke langit yang ketujuh. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang
lelaki yang telah beruban sedang duduk di depan pintu surga di atas sebuah
kursi. Di hadapannya terdapat suatu kaum yang sedang duduk; wajah mereka putih
bersih seperti putihnya kertas. Dan terdapat pula suatu kaum lain yang pada
wajah mereka terdapat noda.
Kemudian
orang-orang yang bernoda itu pergi, lalu masuk ke dalam sebuah sungai dan mandi
di dalamnya. Setelah keluar, sebagian noda pada wajah mereka telah hilang.
Kemudian mereka masuk lagi ke dalam sungai yang lain dan mandi di dalamnya,
lalu keluar dalam keadaan sebagian besar noda mereka telah lenyap. Setelah itu
mereka masuk lagi ke dalam sungai yang lain dan mandi di dalamnya, lalu keluar
dalam keadaan telah bersih dari seluruh noda mereka. Akhirnya keadaan mereka
sama seperti teman-temannya yang memiliki wajah putih bersih seperti putihnya
kertas. Selanjutnya mereka datang dan duduk bergabung bersama teman-temannya.
Nabi ﷺ bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang yang telah beruban ini?
Siapakah mereka yang wajahnya putih bersih dan siapakah mereka yang wajahnya
bernoda? Dan sungai-sungai apakah yang mereka mandi di dalamnya sehingga wajah
mereka menjadi bersih?"
Jibril menjawab,
"Orang ini adalah ayahmu, Nabi Ibrahim. Dialah orang yang pertama kali
beruban di muka bumi. Adapun mereka yang berwajah putih adalah orang-orang yang
tidak mencampuri iman mereka dengan perbuatan aniaya (syirik). Sedangkan mereka
yang bernoda adalah orang-orang yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal
buruk, kemudian mereka bertobat, dan Allah menerima tobat mereka. Adapun sungai
yang pertama disebut Sungai Rahmat, sungai yang kedua disebut Sungai Nikmat
Allah, dan sungai yang ketiga adalah sungai yang Allah memberi mereka minuman
yang suci."
Kemudian
sampailah Nabi ﷺ ke Sidratul Muntaha. Lalu dikatakan kepada
Nabi ﷺ, "Pohon Sidrah ini merupakan tempat pemberhentian terakhir
bagi amal setiap orang dari kalangan umatmu yang meninggal dalam keadaan berpegang
teguh kepada sunnahmu."
Ternyata
Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang dari akarnya mengalir sungai-sungai
yang mengalirkan air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai yang
mengalirkan air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan
khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai yang
mengalirkan madu yang telah disaring.
Sidratul
Muntaha adalah sebuah pohon yang naungannya tidak dapat ditempuh oleh seorang
pengendara selama tujuh puluh tahun. Bahkan, satu helai daunnya saja dapat
menaungi seluruh umat manusia. Maka Sidratul Muntaha diliputi oleh cahaya (Nur)
Tuhan Yang Maha Pencipta, dan para malaikat pun menutupinya seperti
burung-burung gagak yang hinggap berkerumun pada sebuah pohon, karena kecintaan
mereka kepada Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
Di tempat
itulah Nabi ﷺ diajak berbicara oleh Allah Swt. Allah berfirman, "Mintalah!"
Nabi ﷺ berkata, "Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai
kekasih dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang besar. Engkau telah mengajak
Musa berbicara secara langsung. Engkau telah memberikan kepada Daud kerajaan
yang besar, melunakkan besi baginya, dan menundukkan gunung-gunung untuknya.
Engkau telah memberikan kepada Sulaiman sebuah kerajaan yang besar, menundukkan
baginya jin, manusia, dan setan, serta menundukkan angin untuknya. Engkau juga
telah memberikan kepadanya sebuah kerajaan yang tidak akan Engkau berikan
kepada seorang pun sesudahnya. Engkau telah mengajarkan kepada Isa Taurat dan
Injil, menjadikannya dapat menyembuhkan orang yang buta, orang yang berpenyakit
supak, serta dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan izin-Mu.
Engkau telah melindungi dia dan ibunya dari godaan setan yang terkutuk,
sehingga setan tidak memiliki jalan untuk menimpakan mudarat kepada
keduanya."
Maka Allah
Swt. berfirman kepadanya, "Sesungguhnya Aku pun telah menjadikanmu sebagai
kekasih-Ku. Hal itu telah tertulis di dalam kitab Taurat, bahwa engkau adalah
kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah. Aku mengutusmu kepada seluruh umat manusia
sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Aku telah melapangkan
dadamu dan menghapuskan seluruh dosa-dosamu. Aku telah meninggikan sebutan
namamu, sehingga tidaklah Aku disebut melainkan engkau ikut disebut bersama dengan
sebutan-Ku.
Aku menjadikan
umatmu sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Aku menjadikan
umatmu sebagai umat yang adil. Aku menjadikan umatmu sebagai umat yang pertama
(masuk surga) dan yang terakhir (muncul di dunia). Aku menetapkan bagi umatmu
bahwa mereka tidak boleh melakukan suatu khutbah pun melainkan harus
menyebutkan kesaksian bahwa engkau adalah hamba dan rasul-Ku.
Aku menjadikan
umatmu sebagai umat yang hati mereka adalah kitab-kitabnya. Aku menjadikanmu
sebagai nabi yang pertama kali diciptakan, tetapi yang terakhir diutus, dan
yang pertama kali diberi keputusan. Aku telah memberikan kepadamu tujuh ayat
yang dibaca berulang-ulang (Surah Al-Fatihah), yang belum pernah Aku berikan
kepada seorang nabi pun sebelummu.
Aku telah memberikan
kepadamu ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah dari suatu perbendaharaan yang
berada di bawah ‘Arasy. Ayat-ayat tersebut belum pernah diberikan kepada
seorang nabi pun sebelummu. Aku telah memberikan kepadamu Al-Kausar. Aku juga
memberikan kepadamu delapan perkara, yaitu Islam, hijrah, jihad, salat, sedekah
(zakat), puasa Ramadan, amar makruf dan nahi mungkar.
Dan Aku
menjadikanmu sebagai pembuka (syafaat) dan penutup (para nabi)."
Untuk itulah
Nabi ﷺ pernah bersabda dalam salah satu sabdanya:
"Tuhanku
memberiku keutamaan dengan enam perkara. Dia memberiku pembukaan-pembukaan
kalam, penutup-penutupnya, serta himpunan-himpunan hadis. Dia mengutusku kepada
seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dia
menjatuhkan rasa takut kepada musuh-musuhku dalam jarak perjalanan satu bulan.
Dihalalkan bagiku ganimah yang belum pernah dihalalkan bagi seorang pun
sebelumku. Dan dijadikan bagiku bumi ini seluruhnya suci lagi menyucikan serta
sebagai masjid."
Kemudian
difardukan atas Nabi ﷺ lima puluh kali salat. Ketika beliau kembali
kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, Nabi Musa bertanya, "Apakah yang
diperintahkan kepadamu, wahai Muhammad?"
Nabi ﷺ menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan salat lima puluh
kali."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Maka Nabi ﷺ kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu
Allah menghapuskan sepuluh salat darinya.
Kemudian Nabi ﷺ kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang
diperintahkan kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Empat puluh kali salat."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Maka Nabi ﷺ kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu
Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.
Kemudian Nabi ﷺ kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang
diperintahkan kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan tiga puluh kali
salat."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Maka Nabi ﷺ kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu
Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.
Kemudian Nabi ﷺ kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang
diperintahkan kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan dua puluh kali
salat."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Maka Nabi ﷺ kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu
Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.
Nabi ﷺ kembali menemui Musa, lalu Musa bertanya, "Berapakah salat yang
diperintahkan kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan sepuluh kali
salat."
Musa berkata,
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Maka Nabi ﷺ kembali kepada Tuhannya dengan rasa malu, lalu memohon keringanan
dari-Nya. Kemudian Allah menghapuskan lima salat darinya.
Nabi ﷺ kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang
diperintahkan kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan lima kali
salat."
Musa berkata:
"Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena
sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami
banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."
Nabi ﷺ berkata, "Sesungguhnya aku telah bolak-balik kepada Tuhanku
berkali-kali hingga aku merasa malu kepada-Nya. Maka aku tidak mau kembali lagi
kepada-Nya."
Kemudian
dikatakanlah kepada Nabi ﷺ, "Ingatlah,
sesungguhnya sebagaimana engkau telah rela dengan salat lima waktu bagi dirimu,
maka sesungguhnya salat lima waktu itu telah mencukupimu sebagai pengganti dari
lima puluh kali salat. Sebab, setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya
menjadi sepuluh kali lipat."
Mendengar hal
tersebut, hati Nabi Muhammad ﷺ menjadi puas dengan kepuasan yang melegakan.
Nabi Musa ‘alaihis salam adalah nabi yang tampak paling keras ketika Nabi ﷺ bersua dengannya, tetapi ia adalah nabi yang paling baik sikapnya
kepada Nabi ﷺ ketika beliau kembali kepadanya.
---***---
Kemudian Ibnu
Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Ubaidillah, dari Abu Nadr
Hasyim ibnu Qasim, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul
Aliyah atau lainnya—ketika sampai pada bagian ini Abu Ja’far (Ibnu Jarir)
merasa ragu—dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ. Kemudian Ibnu Jarir
menyebutkan hadis yang semakna dengan hadis di atas.
Al-Hafidz Abu
Bakar Al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari Abu Sa’id Al-Malini, dari Ibnu
Addi, dari Muhammad Ibnul Hasan As-Sukuni Al-Balisi dan Ar-Ramlah. Ia berkata,
“Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl,” lalu ia menyebutkan hadis yang
semisal dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui Abu Hurairah.
Imam Baihaqi
juga menuturkan bahwa Al-Hakim Abu Abdullah telah meriwayatkannya dari Ismail
ibnu Muhammad ibnul Fadl ibnu Muhammad Asy-Sya’rani, dari kakeknya, dari
Ibrahim ibnu Hamzah Az-Zubairi, dari Hatim ibnu Ismail. Ia berkata, “Telah
menceritakan kepadaku Isa ibnu Mahan (yakni Abu Ja’far Ar-Razi), dari Ar-Rabi’
ibnu Anas Al-Bakri, dari Abul Aliyah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ.” Kemudian Al-Hakim menyebutkan hadis yang dimaksud.
Ibnu Abu Hatim
mengatakan bahwa Abu Zar’ah pernah berkata, “Telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu
Bukair, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abdullah At-Tamimi, dari Abu
Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas Al-Bakri, dari Abu Aliyah—di sini Isa
merasa ragu—atau dari lainnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda sehubungan dengan firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
‘Mahasuci Allah,
yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram.’
(Al-Isra: 1)
Kemudian Abu
Zar’ah menyebutkan hadis tersebut dengan panjang lebar, yang isinya semisal
dengan apa yang telah kami kemukakan di atas.”
Menurut kami,
Abu Ja’far Ar-Razi memberikan komentar bahwa Al-Hafidz Abu Zar’ah Ar-Razi
banyak mengalami kekeliruan dalam meriwayatkan hadis. Selain Abu Ja’far, ada
pula ulama yang menilainya daif, tetapi sebagian yang lain menilainya siqah.
Namun, jika ditinjau dari sisi lahiriahnya, ia adalah seorang yang kurang kuat
hafalannya. Oleh karena itu, hadis yang hanya diriwayatkan olehnya seorang diri
masih perlu dipertimbangkan kesahihannya.
Hadis ini pada
sebagian teksnya mengandung perkara-perkara yang garib dan kemunkaran yang
berat. Di dalamnya juga terdapat sebagian kisah mimpi dalam riwayat.
Adapun riwayat
Samurah ibnu Jundub tentang mimpi yang panjang telah disebutkan oleh Imam
Bukhari. Dapat pula dikatakan bahwa hadis ini merupakan gabungan dari beberapa
hadis yang berbeda, atau merupakan hadis tentang mimpi Nabi ﷺ maupun kisah lainnya.
"Ketika
aku menjalani Isra, aku bersua dengan Musa ‘alaihis salam." Lalu Nabi ﷺ menyebutkan ciri-cirinya, bahwa Musa adalah seorang lelaki yang lincah,
berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah
Azd-Sanu'ah. "Aku juga bersua dengan Isa." Nabi ﷺ menyebutkan ciri-cirinya, bahwa Isa ‘alaihis salam adalah seorang
lelaki yang bertubuh sedang dengan kulit semu kemerah-merahan, seakan-akan
seperti seseorang yang baru keluar dari pemandian air panas. "Aku pun
bersua dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Aku adalah orang yang paling mirip
dengannya di antara keturunannya."
Setelah itu
disuguhkan kepadaku dua buah wadah. Pada salah satunya berisikan air susu,
sedangkan pada yang lainnya terdapat khamr. Dikatakan kepadaku, "Ambillah
salah satunya yang engkau sukai." Maka aku mengambil wadah yang berisikan
air susu dan meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku, "Engkau telah mendapat
petunjuk memilih fitrah," atau "Engkau telah memilih fitrah."
Selanjutnya dikatakan, "Seandainya engkau memilih khamr, niscaya umatmu
akan sesat."
---***---
Imam Bukhari
dan Imam Muslim juga mengetengahkannya melalui jalur lain dari Az-Zuhri dengan
sanad yang sama dan lafaz yang semisal.
Di dalam kitab
Sahih Muslim disebutkan dari Muhammad ibnu Rafi', dari Al-Hajjaj ibnul Musanna,
dari Abdul Aziz ibnu Abu Salamah, dari Abdullah ibnul Fadl Al-Hasyimi, dari Abu
Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Sesungguhnya
ketika aku berada di Hijir Ismail, sedang orang-orang Quraisy menghujaniku
dengan pertanyaan tentang perjalanan Isra-ku, mereka menanyaiku tentang
berbagai hal mengenai Baitul Maqdis yang tidak aku perhatikan. Maka aku
mengalami suatu kebingungan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Lalu Allah
menampakkan Baitul Maqdis kepadaku sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas.
Maka tidak ada suatu pertanyaan pun yang mereka ajukan kepadaku melainkan aku
dapat menjawabnya dengan menceritakan kepada mereka tentangnya.
Sesungguhnya
ketika aku berada di antara golongan para nabi, tiba-tiba aku melihat Musa
sedang berdiri mengerjakan sholat. Ternyata dia adalah seorang lelaki yang
berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah
Azd-Sanu'ah. Kemudian aku melihat Isa putra Maryam sedang berdiri mengerjakan
sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah ibnu Mas'ud As-Saqafi.
Lalu aku melihat Ibrahim sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling
mirip dengannya ialah teman kalian ini (maksudnya dirinya sendiri).
Maka masuklah
waktu sholat, lalu aku mengimami mereka. Setelah aku menyelesaikan sholat itu,
seseorang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, inilah Malaikat Malik, penjaga
neraka Jahannam." Maka aku menoleh ke arahnya, dan ternyata dialah yang
terlebih dahulu mengucapkan salam kepadaku."
Ibnu Abu Hatim
mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada
kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah,
dari Ali ibnu Zaid, dari Abus Silt, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Pada malam
Isra-ku ketika aku sampai di langit yang ketujuh, aku memandang ke arah atasku:
tiba-tiba aku melihat guruh,kilat, dan petir. Dan sampailah saya di tempat
suatu kaum yang perut mereka sebesar-besar rumah, di dalamnya terdapat banyak
ular yang kelihatan dari bagian luar perut mereka. Maka saya bertanya,
"Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, "Mereka adalah
orang-orang yang suka memakan riba.” Ketika saya turun ke langit yang terdekat,
saya memandang ke bagian bawahku; tiba-tiba saya melihat debu beterbangan,
asap, dan suara-suara gaduh. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah
mereka itu?” Jibril menjawab, "Ini adalah setan-setan yang menutupi
pandangan mata anak-anak Adam, sehingga anak-anak Adam tidak
memikirkan (kekuasaan Allah yang ada di) kerajaan langit dan bumi.
Seandainya tidak ada hal itu, tentulah anak-anak Adam dapat melihat banyak
keajaiban.”
Imam Ahmad
meriwayatkan hadis ini melalui Hasan dan Affan. Keduanya menerima hadis
tersebut dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Ibnu Majah juga
meriwayatkannya melalui Hammad dengan sanad yang sama.
---***---
RIWAYAT SEJUMLAH SAHABAT YANG TELAH
DISEBUTKAN DI ATAS
DAN YANG LAINNYA.
Al-Hafidz Al-Baihaqi
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah (yakni Al-Hakim), telah
menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid ibnu Ya'qub Ad-Daqqaq Al-Hamdani,
telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Husain Al-Hamdani, telah
menceritakan kepada kami Abu Muhammad (yaitu Ismail ibnu Musa Al-Fazzari),
telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Sa'd An-Nadri dari Bani Nadrah ibnu
Mu'in. Ia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, Lais ibnu
Sulaim, Sulaiman Al-A'masy, dan Ata ibnus Sa'ib. Sebagian dari mereka
meriwayatkan hadis dengan lebih panjang daripada yang lain." Mereka
meriwayatkannya dari Ali ibnu Abu Talib dan Abdullah ibnu Abbas.
Demikian pula
diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, dari orang yang
menceritakannya kepadanya, dari Ibnu Abbas. Juga diriwayatkan oleh Salim ibnu
Muslim Al-Uqaili, dari Amir Asy-Sya'bi, dari Abdullah ibnu Mas'ud. Demikian
pula oleh Juwaibir, dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim. Semuanya mengatakan bahwa
Rasulullah ﷺ ketika itu berada di rumah Ummu Hani' dalam keadaan tidur setelah
selesai mengerjakan sholat Isya.
Abu Abdullah
Al-Hakim mengatakan, "Telah menceritakan kepada kami guru kami,"
kemudian beliau menyebutkan hadis tersebut. Aku (Al-Baihaqi) menyalin teks
hadis itu dari catatan yang berasal dari ucapannya.
Selanjutnya
Al-Hafidz Imam Baihaqi menuturkan sebuah hadis yang cukup panjang. Di dalamnya
disebutkan tentang bilangan tangga, para malaikat, dan lain sebagainya. Tidak
ada sesuatu pun dari isinya yang mustahil bagi kekuasaan Allah apabila riwayat
ini benar-benar sahih.
Imam Baihaqi
mengatakan bahwa kisah yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu dalam hadis
Abu Harun Al-Abdi yang menguatkan peristiwa Isra dan Mi'raj, sudah cukup
memuaskan.
Menurut kami,
hadis ini juga telah diriwayatkan secara mursal oleh lebih dari seorang tabi'in
dan para imam ahli tafsir. Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada mereka
semua.
---***---
RIWAYAT AISYAH UMMUL MUKMININ
RADHIYALLAHU ‘ANHA
Imam Baihaqi
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah
menceritakan kepadaku Makram ibnu Ahmad Al-Qadi, telah menceritakan kepadaku
Ibrahim ibnu Haisam Al-Bakri, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Kasir
As-San'ani, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Rasyid, dari Az-Zuhri,
dari Urwah, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjalani Isra ke Masjidil Aqsa, pada pagi harinya beliau ﷺ menceritakan hal tersebut kepada orang-orang. Maka murtadlah sebagian
orang yang sebelumnya telah beriman dan membenarkan Nabi ﷺ. Kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Abu Bakar. Mereka
berkata kepada Abu Bakar, "Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu itu?
Dia mengaku bahwa tadi malam dirinya telah melakukan perjalanan ke Baitul
Maqdis."
Abu Bakar
bertanya, "Apakah benar dia mengatakan hal itu?"
Mereka
menjawab, "Ya."
Abu Bakar berkata,
"Jika memang dia mengatakannya, maka sungguh dia benar."
Mereka
berkata, "Apakah engkau membenarkannya bahwa dia melakukan perjalanan pada
malam hari ke Baitul Maqdis, lalu kembali sebelum pagi tiba?"
Abu Bakar
menjawab, "Ya. Bahkan aku membenarkannya dalam perkara yang lebih besar
daripada itu. Aku membenarkannya tentang berita dari langit (wahyu) yang datang
kepadanya, baik pada pagi maupun petang hari."
Sejak saat itu
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar "As-Siddiq."
----***---
RIWAYAT UMMU HANI' BINTI ABU TALIB
Muhammad ibnu
Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muhammad As-Sa'ib
Al-Kalbi, dari Abu Saleh Badzan, dari Ummu Hani' binti Abu Talib tentang
perjalanan Isra Rasulullah ﷺ, bahwa Ummu Hani' berkata:
"Tidaklah
Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan Isra melainkan ketika beliau berada di rumahku.
Pada malam itu beliau menginap di rumahku. Setelah mengerjakan sholat Isya,
beliau tidur dan kami pun tidur. Menjelang waktu Subuh Rasulullah ﷺ membangunkan kami. Setelah kami mengerjakan sholat Subuh bersama
beliau, beliau bersabda, 'Hai Ummu Hani', sesungguhnya tadi malam aku
mengerjakan sholat Isya bersama kalian di lembah ini. Kemudian aku pergi ke
Baitul Maqdis dan mengerjakan sholat di dalamnya. Setelah itu sekarang ini aku
mengerjakan sholat Subuh bersama kalian, sebagaimana yang engkau lihat.'"
Akan tetapi,
dalam sanad hadis ini terdapat Al-Kalbi, yang dinilai sebagai perawi matruk
(ditinggalkan hadisnya).
Namun demikian, Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ismail Al-Ansari, dari Damrah ibnu Rabi'ah, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abu Saleh, dari Ummu Hani' sebuah hadis yang lebih panjang daripada teks hadis di atas.
Al-Hafidz Abdul
Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Abdul A'la ibnu Abul Musawir,
dari Ikrimah, dari Ummu Hani' yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menginap di rumahnya saat beliau menjalani Isra. Pada suatu saat di
malam itu saya merasa kehilangan beliau. Perasaan itulah yang membuat saya
tidak dapat tidur karena khawatir bila ada sebagian orang Quraisy yang
mencelakakan beliau.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam. datang kepadaku,
lalu memegang tanganku dan mengajakku keluar. Tiba-tiba di depan pintu rumah
terdapat seekor hewan yang lebih kecil daripada begal, tetapi lebih besar
daripada keledai. Jibril menaikkan aku ke atas punggungnya, lalu membawaku
pergi hingga sampailah aku di Baitul Maqdis.
Jibril
memperkenalkan Ibrahim ‘alaihis salam. kepadaku. Orang yang paling mirip bentuk
dan akhlaknya dengan beliau adalah aku sendiri. Jibril memperkenalkan Musa
kepadaku. Beliau adalah seorang yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, dan
berambut keriting. Aku melihatnya mirip dengan seorang lelaki dari kalangan
kabilah Azd Sanu-ah. Lalu Jibril memperkenalkan Isa putra Maryam kepadaku.
Beliau adalah seorang yang berperawakan sedang dan berkulit putih
kemerah-merahan. Aku melihatnya mirip dengan Urwah ibnu Mas'ud As-Saqafi. Dan
Jibril memperlihatkan Dajjal kepadaku. Dia adalah seorang yang mata kanannya
buta. Aku melihatnya mirip dengan Qatn ibnu Abdul Uzza.
Sekarang aku
akan keluar menemui orang-orang Quraisy untuk menyampaikan apa yang aku alami
tadi malam."
Ummu Hani'
mengatakan bahwa ia memegang baju Nabi ﷺ seraya berkata, "Aku mengingatkan engkau
bahwa sesungguhnya engkau akan menjumpai suatu kaum yang tidak akan
mempercayaimu dan akan mengingkari ucapanmu. Aku khawatir mereka akan
mencelakanmu."
Ummu Hani'
melanjutkan kisahnya, "Rasulullah ﷺ melepaskan bajunya dari peganganku, lalu
beliau keluar menemui mereka. Ketika Nabi ﷺ sampai kepada mereka, mereka sedang
duduk-duduk. Lalu Nabi ﷺ menceritakan kepada mereka sebagaimana yang
telah beliau ceritakan kepadaku."
Jubair ibnu
Muth'im bangkit dan berkata, "Hai Muhammad, jika engkau ingin tetap
mempunyai kedudukan seperti sebelumnya, tentu engkau tidak akan mengatakan
hal-hal seperti itu di hadapan kami."
Seorang lelaki
dari kalangan hadirin bangkit dan bertanya, "Hai Muhammad, apakah engkau
bertemu dengan kafilah kami di tempat anu dan anu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ya, demi Allah. Aku bertemu dengan mereka ketika mereka
kehilangan seekor unta dan sedang sibuk mencarinya."
Lelaki itu
bertanya lagi, "Apakah engkau juga bertemu dengan kafilah Bani
Fulan?"
Nabi ﷺ menjawab, "Ya. Aku bertemu dengan mereka di tempat anu, sedangkan
seekor unta merah mereka patah kakinya. Mereka mempunyai sebuah mangkuk berisi
air, lalu unta itu meminumnya hingga habis."
Mereka
berkata, "Kalau begitu, ceritakanlah kepada kami perlengkapannya dan
berapa orang penggembala yang ada bersama mereka."
Nabi ﷺ berkata kepada dirinya sendiri, "Aku tidak sempat menghitungnya
dengan teliti."
Nabi ﷺ berdiri, lalu kafilah itu ditampakkan di hadapan beliau sehingga beliau
dapat menghitung jumlah penggembala yang ada bersama mereka. Setelah itu Nabi ﷺ datang kepada orang-orang Quraisy dan bersabda kepada mereka:
"Kalian
telah bertanya kepadaku tentang unta milik Bani Fulan. Unta itu berciri khas
anu dan anu. Bersamanya ada penggembala si Fulan dan si Anu. Kalian juga
bertanya kepadaku tentang unta Bani Fulan. Ciri khasnya ialah anu dan anu.
Penggembalanya ialah Ibnu Abu Quhafah, si Fulan dan si Anu. Kafilah tersebut
akan sampai kepada kalian besok pada siang hari di celah Saniyyah."
Maka mereka
menunggu di celah Saniyyah untuk membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh
Nabi ﷺ kepada mereka.
Ternyata
kafilah itu datang. Mereka pun bertanya kepada orang-orang dalam kafilah itu,
"Apakah unta kalian ada yang hilang?"
Orang-orang
kafilah menjawab, "Ya."
Mereka
bertanya kepada kafilah lainnya, "Apakah unta merah kalian ada yang patah
kakinya?"
Mereka
menjawab, "Ya."
Mereka
bertanya lagi, "Apakah kalian mempunyai sebuah mangkuk besar?"
Abu Bakar (Abu
Quhafah) berkata, "Demi Allah, aku telah meletakkannya dan tidak seorang
pun meminum air yang ada di dalamnya, serta tidak seorang pun menumpahkannya ke
tanah."
Maka Abu Bakar
membenarkan kisah Nabi ﷺ dan beriman kepada beliau. Sejak saat itu Abu
Bakar mendapat julukan "As-Siddiq".
KESIMPULAN IBNU KATSIR SETELAH MENYEBUTKAN
RIWAYAT-RIWAYAT HADITS ISRA DAN MI'RAJ
Al-Hafidz Ibnu
Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat 1 dari surat Al-Isra', beliau
menyebutkan hadits-hadits Isra dan Mi'raj secara komprehensif. Setelah itu
beliau menyimpulkan sebagai berikut:
Setelah kita
meneliti semua hadis-hadis ini, baik yang sahih, hasan, maupun daif, maka dapat
disimpulkan bahwa peristiwa Isra yang dijalani oleh Rasulullah ﷺ dari Mekah menuju Baitul Maqdis adalah suatu peristiwa yang telah
disepakati kebenarannya. Perjalanan Isra tersebut hanya terjadi satu kali,
meskipun redaksi hadis yang diriwayatkan para perawi berbeda-beda; sebagian
lebih panjang, sedangkan sebagian lainnya lebih ringkas. Hal itu dapat terjadi
karena kekeliruan dalam periwayatan bisa saja terjadi pada selain para nabi.
Adapun
pendapat yang mengatakan bahwa perbedaan redaksi riwayat-riwayat tersebut
menunjukkan adanya beberapa kali perjalanan Isra, maka pendapat itu adalah
keliru dan jauh dari kebenaran.
Sebagian ulama
mutaakhkhirin mengatakan bahwa Nabi ﷺ menjalani Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis
sebanyak satu kali, kemudian dari Mekah ke langit satu kali, dan sekali lagi
dari Mekah ke Baitul Maqdis lalu ke langit.
Yang
mengherankan, orang yang berpendapat demikian merasa puas dengan kesimpulan
yang dicapainya. Ia mengira telah berhasil menyelesaikan seluruh persoalan yang
berkaitan dengan Isra. Padahal, kenyataannya tidak ada seorang pun ulama Salaf
yang menukil pendapat tersebut selain dirinya sendiri.
Seandainya
perjalanan Isra yang dilakukan Nabi ﷺ terjadi berkali-kali, tentu beliau akan
menceritakannya kepada umatnya, dan tentu para sahabat akan meriwayatkannya serta
menjelaskan bahwa Isra itu terjadi lebih dari satu kali.
Musa ibnu
Uqbah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa peristiwa Isra terjadi setahun sebelum
hijrah. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Urwah. Adapun As-Suddi
berpendapat bahwa Isra terjadi enam belas bulan sebelum hijrah.
Pendapat yang
benar menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjalani Isra dalam keadaan sadar, bukan
dalam keadaan tidur atau bermimpi, yaitu dari Mekah menuju Baitul Maqdis dengan
mengendarai Buraq.
Disebutkan
bahwa setelah Nabi ﷺ tiba di depan pintu Masjidil Aqsa, beliau
menambatkan Buraq di dekat pintu masjid, kemudian masuk ke dalamnya dan
mengerjakan sholat dua rakaat sebagai tahiyyatul masjid.
Setelah itu
didatangkan Mi'raj, yaitu suatu alat yang bentuknya menyerupai tangga dengan
anak-anak tangga untuk naik ke atas. Nabi ﷺ menaikinya menuju langit pertama, kemudian ke
langit-langit berikutnya hingga sampai ke langit ketujuh.
Pada setiap
lapisan langit, Nabi ﷺ disambut oleh para penghuninya. Beliau
mengucapkan salam kepada para nabi yang berada di setiap langit sesuai dengan
kedudukan dan tingkatan mereka. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Musa
yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah di langit keenam, dan bertemu
dengan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
Kemudian Nabi ﷺ melampaui kedudukan kedua nabi tersebut beserta para nabi lainnya
hingga sampailah beliau pada suatu tingkatan yang dari tempat itu beliau dapat
mendengar suara geretan pena-pena yang sedang menulis takdir segala sesuatu.
Nabi ﷺ melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah
Allah ﷻ, yaitu dihiasi dengan kupu-kupu emas dalam jumlah yang sangat
banyak serta berbagai warna yang indah. Para malaikat pun mengelilinginya.
Di tempat
itulah Nabi ﷺ melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya yang memiliki enam ratus
sayap. Beliau juga melihat rafraf (hamparan atau bantal-bantal hijau) yang
menutupi seluruh cakrawala pandangan.
Nabi ﷺ melihat Baitul Ma'mur. Di sana Nabi Ibrahim Al-Khalil, pembangun Ka'bah
di bumi, sedang menyandarkan punggungnya kepada Baitul Ma'mur, karena Baitul
Ma'mur adalah Ka'bah bagi para penghuni langit. Setiap hari Baitul Ma'mur
dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk beribadah di dalamnya, kemudian
mereka tidak akan kembali lagi kepadanya hingga hari kiamat.
Nabi ﷺ melihat surga dan neraka. Di tempat itu pula diwajibkan kepada beliau
sholat lima puluh kali, kemudian Allah ﷻ memberikan keringanan hingga
menjadi lima waktu sebagai rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam hal ini terkandung perhatian yang sangat besar terhadap kemuliaan dan
kedudukan sholat.
Lalu Nabi ﷺ turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh seluruh nabi. Setelah waktu
sholat tiba, beliau mengimami mereka di Baitul Maqdis. Kemungkinan besar sholat
yang dimaksud adalah sholat Subuh pada hari itu.
Di antara para
ulama ada yang berpendapat bahwa Nabi ﷺ mengimami mereka di langit. Akan tetapi,
berdasarkan riwayat-riwayat yang lebih banyak, peristiwa itu terjadi di Baitul
Maqdis. Hanya saja, sebagian riwayat menyebutkan bahwa sholat tersebut
dilakukan ketika Nabi ﷺ pertama kali memasukinya.
Menurut makna
lahiriah hadis, peristiwa itu terjadi setelah Nabi ﷺ kembali ke Baitul Maqdis. Hal ini karena
ketika beliau melewati para nabi di tempat masing-masing, beliau bertanya
kepada Jibril ‘alaihis salam. tentang mereka satu per satu, lalu Jibril
memperkenalkan masing-masing nabi kepada beliau.
Kesimpulan
inilah yang lebih layak dipegang, karena pada awalnya Nabi ﷺ diperintahkan menghadap kepada Allah ﷻ Yang Mahatinggi agar
diwajibkan kepada beliau dan kepada umatnya berbagai syariat yang Allah
kehendaki.
Setelah
menerima seluruh perintah tersebut, barulah Nabi ﷺ berkumpul bersama saudara-saudaranya dari
kalangan para nabi. Kemudian Allah menampakkan keutamaan dan kemuliaan beliau
di atas mereka dengan menjadikan beliau sebagai imam sholat mereka, dan
Jibril-lah yang memberi isyarat kepada Nabi ﷺ untuk mengimami mereka.
Setelah itu
Nabi ﷺ keluar dari Baitul Maqdis, menaiki kembali Buraq, lalu kembali ke Mekah
sebelum waktu pagi tiba.
Adapun
mengenai penyuguhan beberapa jenis minuman kepada beliau, seperti susu, madu,
khamr, atau susu dan air, bahkan seluruhnya sebagaimana disebutkan dalam
sebagian riwayat, maka menurut sebagian riwayat hal itu terjadi di Baitul
Maqdis, sedangkan menurut riwayat yang lain terjadi di langit.
Kemungkinan
besar kedua peristiwa tersebut memang sama-sama terjadi, baik di Baitul Maqdis
maupun di langit, karena penyuguhan minuman itu termasuk bentuk penghormatan
kepada tamu yang baru datang.
LALU AL-HAFIDZ
IBNU KATSIR BERKATA :
Kemudian para
ulama berbeda pendapat, apakah Isra yang dilakukan oleh Nabi ﷺ berlangsung dengan tubuh dan roh beliau, ataukah hanya dengan roh
beliau saja?
Ada dua
pendapat mengenai masalah ini.
Namun, menurut
kebanyakan ulama (jumhur), Nabi ﷺ menjalani Isra dengan tubuh dan roh beliau
dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur atau bermimpi.
Meskipun
demikian, mereka tidak mengingkari bahwa Rasulullah ﷺ telah diperlihatkan peristiwa tersebut dalam
mimpi terlebih dahulu, kemudian sesudah itu beliau melihatnya secara langsung
dalam keadaan terjaga. Sebab, tidaklah Nabi ﷺ melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu
datang dengan kejelasan seperti cahaya fajar.
Dalil yang
menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menjalani Isra dengan tubuh dan roh adalah
firman Allah ﷻ:
﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا﴾
"Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." (QS.
Al-Isra': 1)
Kata tasbih
yang mengawali ayat ini tidaklah digunakan kecuali untuk mengawali
perkara-perkara yang sangat agung. Seandainya peristiwa Isra hanya terjadi
dalam mimpi, tentu tidak akan mengandung keagungan yang demikian besar.
Orang-orang kafir Quraisy pun tidak akan tergesa-gesa mendustakannya, dan tidak
akan ada sebagian orang yang sebelumnya telah beriman kemudian murtad
karenanya.
Selain itu,
kata "hamba" mencakup roh dan jasad sekaligus. Allah ﷻ berfirman:
﴿ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا ﴾
"Yang
telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-Isra': 1)
Allah ﷻ juga berfirman:
﴿ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً
لِلنَّاسِ ﴾
"Dan Kami
tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan
sebagai ujian bagi manusia." (QS. Al-Isra': 60)
Menurut Ibnu
Abbas, yang dimaksud dengan ar-ru'ya dalam ayat ini adalah penglihatan mata
yang diperlihatkan kepada Rasulullah ﷺ pada malam Isra, demikian pula mengenai pohon
yang terkutuk, yaitu pohon Zaqqum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam
Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4716.
Allah ﷻ juga berfirman:
﴿ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى ﴾
"Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya." (QS. An-Najm: 17)
Penglihatan
mata merupakan bagian dari fungsi jasad, bukan semata-mata roh. Selain itu,
Nabi ﷺ mengendarai Buraq, yaitu seekor hewan berwarna putih yang berkilau.
Kendaraan seperti ini tentu diperuntukkan bagi jasad, bukan bagi roh.
Seandainya yang melakukan perjalanan hanyalah roh, maka tidak diperlukan adanya
kendaraan.
Adapun ulama
yang lain berpendapat bahwa Nabi ﷺ melakukan Isra hanya dengan roh beliau, bukan
dengan jasadnya.
Muhammad ibnu
Ishaq ibnu Yasar di dalam kitab Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan
kepadaku Ya'qub ibnu Atabah ibnul Mugirah ibnul Akhnas :
Bahwa
Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan apabila ditanya tentang Isra Rasulullah ﷺ, maka ia menjawab, "Perjalanan Isra itu adalah
mimpi yang benar dari Allah."
Dan telah
menceritakan kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar, bahwa Siti Aisyah pernah
mengatakan : "Jasad Rasulullah ﷺ tidaklah hilang, melainkan beliau menjalan
kan Isra dengan rohnya."
Ibnu Ishaq
mengatakan bahwa perkataan Siti Aisyah ini tidak bertentangan dengan kenyataan.
Hal itu mengingat Al-Hasan pernah mengatakan tentang firman Allah ﷻ:
﴿ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً
لِلنَّاسِ ﴾
"Dan Kami
tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan
sebagai ujian bagi manusia." (QS. Al-Isra': 60)
Demikian pula
firman Allah ﷻ tentang kisah Nabi Ibrahim:
﴿ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا
تَرَىٰ ﴾
"Sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa
pendapatmu." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Muhammad bin
Ishaq melanjutkan perkataannya, bahwa Al-Hasan kemudian menyimpulkan bahwa ia
mengetahui wahyu datang kepada para nabi dari Allah, baik ketika mereka dalam
keadaan terjaga maupun ketika mereka dalam keadaan tidur.
Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:
تَنَامُ
عَيْنَايَ وَقَلْبِي يَقْظَانُ
"Kedua
mataku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga." (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan
Muslim no. 125 [473])
Dengan kata
lain, wahyu datang kepada Rasulullah ﷺ dalam seluruh keadaan beliau, baik ketika
tidur maupun ketika terjaga. Semuanya adalah hak dan benar.
Demikianlah
pendapat Ibnu Ishaq.
----
[BANTAHAN]
Akan tetapi,
Abu Ja'far Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya membantah, menolak, dan mengecam
pendapat tersebut. Menurutnya, pendapat seperti itu bertentangan dengan makna
lahiriah Al-Qur'an.
Kemudian Ibnu
Jarir mengemukakan dalil-dalil untuk membantah pendapat tersebut, di antaranya
adalah dalil-dalil yang telah disebutkan di atas.
===****===
SEBUAH PEMBAHASAN PENTING:
Al-Hafidz Abu
Nu'aim Al-Ashbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah meriwayatkan melalui jalur
Muhammad bin Umar Al-Waqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik bin Abu
Ar-Rijal, dari Umar bin Abdullah, dari Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi yang
mengatakan:
Bahwa
Rasulullah ﷺ mengutus Dahiyyah bin Khalifah kepada Kaisar (Heraklius). Lalu
disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam kisah
tersebut terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan dan cara berpikir
Kaisar Heraklius.
Kaisar
kemudian memanggil para pedagang Arab yang berada di negeri Syam. Lalu
dihadapkanlah Abu Sufyan bin Sakhr bin Harb beserta teman-temannya kepada
Kaisar.
Kaisar
menanyai mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah masyhur, sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, yang akan dijelaskan
kemudian.
Kemudian Abu
Sufyan berusaha semaksimal mungkin untuk menghina Nabi ﷺ dan meremehkan urusannya di hadapan Kaisar.
Dalam konteks
ini disebutkan perkataan Abu Sufyan:
"Demi
Allah, tidak ada sesuatu pun yang menghalangiku untuk menjelek-jelekkan
Muhammad dengan perkataan yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar, kecuali karena
aku tidak suka berdusta di hadapan Kaisar. Sebab aku khawatir kedustaanku itu
akan berbalik mencelakakanku sehingga Kaisar tidak lagi mempercayai
perkataanku."
Abu Sufyan
berkata lagi:
"Hingga
aku teringat akan ucapannya tentang malam ketika ia menjalani Isra."
Lalu Abu
Sufyan berkata:
"Wahai
Raja, maukah aku ceritakan kepadamu suatu berita agar engkau mengetahui bahwa
dia adalah seorang pendusta?"
Raja bertanya:
"Berita
apakah itu?"
Abu Sufyan
menjawab:
"Sesungguhnya
dia mengaku kepada kami bahwa dirinya pergi dari negeri kami, yakni Tanah Suci,
pada suatu malam menuju masjid kalian di Iliya (Yerusalem), kemudian kembali
lagi kepada kami pada malam yang sama sebelum waktu Subuh."
Saat itu Uskup
Iliya berada di belakang Kaisar. Ia berkata:
"Sesungguhnya
aku mengetahui kejadian pada malam itu."
Kaisar menoleh
kepada uskup seraya bertanya:
"Bagaimana
engkau mengetahui kejadiannya?"
Uskup
menjawab:
"Sesungguhnya
aku tidak pernah tidur pada suatu malam sebelum menutup seluruh pintu masjid.
Namun pada malam itu ada sebuah pintu yang tidak dapat kututup. Aku meminta bantuan
para pekerja dan semua orang yang hadir untuk menutupnya, tetapi pintu itu sama
sekali tidak bergeming. Kami tidak mampu menggerakkannya, seakan-akan kami
sedang menggeser sebuah gunung."
"Maka aku
memanggil para tukang kayu untuk memeriksanya. Mereka datang dan berkata,
'Sesungguhnya pintu ini tertahan oleh tekanan tembok bangunan yang menurun dan
oleh kusennya. Kami tidak mampu menggerakkannya. Besok pagi saja kami akan
memeriksa penyebabnya.'"
Uskup
melanjutkan kisahnya:
"Akhirnya
aku masuk dan membiarkan kedua daun pintu itu tetap terbuka. Pada pagi harinya
aku kembali memeriksa pintu tersebut. Ternyata batu yang berada di sudut masjid
telah berlubang, dan pada lubang itu terdapat bekas tali kendali seekor hewan
yang pernah ditambatkan."
"Maka aku
berkata kepada teman-temanku, 'Tidak ada yang menyebabkan pintu ini tertahan
tadi malam selain seorang nabi yang telah datang dan mengerjakan sholat di
masjid kita ini.'"
Abu Nu'aim
Al-Ashbahani kemudian melanjutkan hadis tersebut hingga selesai.
SEBUAH FAIDAH
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو الْخَطَّابِ عُمَرُ بْنُ دِحْيَةَ فِي كِتَابِهِ «التَّنْوِيرُ فِي
مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»، وَقَدْ ذَكَرَ حَدِيثَ الْإِسْرَاءِ مِنْ طَرِيقِ
أَنَسٍ، وَتَكَلَّمَ عَلَيْهِ فَأَجَادَ وَأَفَادَ، ثُمَّ قَالَ:
«وَقَدْ تَوَاتَرَتِ الرِّوَايَاتُ فِي حَدِيثِ الْإِسْرَاءِ عَنْ عُمَرَ
بْنِ الْخَطَّابِ، وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، وَابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَبِي ذَرٍّ،
وَمَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ، وَابْنِ عَبَّاسٍ،
وَشَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قُرْطٍ،
وَأَبِي حَبَّةَ وَأَبِي لَيْلَى الْأَنْصَارِيَّيْنِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو،
وَجَابِرٍ، وَحُذَيْفَةَ، وَبُرَيْدَةَ، وَأَبِي أَيُّوبَ، وَأَبِي أُمَامَةَ، وَسَمُرَةَ
بْنِ جُنْدُبٍ، وَأَبِي الْحَمْرَاءِ، وَصُهَيْبٍ الرُّومِيِّ، وَأُمِّ هَانِئٍ، وَعَائِشَةَ،
وَأَسْمَاءَ ابْنَتَيْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ.
مِنْهُمْ
مَنْ سَاقَهُ بِطُولِهِ، وَمِنْهُمْ مَنِ اخْتَصَرَهُ عَلَى مَا وَقَعَ فِي الْمَسَانِيدِ،
وَإِنْ لَمْ تَكُنْ رِوَايَةُ بَعْضِهِمْ عَلَى شَرْطِ الصِّحَّةِ، فَحَدِيثُ الْإِسْرَاءِ
أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ، وَاعْتَرَضَ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ الْمُلْحِدُونَ.
﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ
مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾ [الصَّفِّ: ٨]
Al-Hafidz Abul
Khattab Umar Ibnu Dahiyyah di dalam kitabnya yang berjudul "At-Tanwir
fi Maulidis Sirajil Munir" telah meriwayatkan
hadis Isra melalui Anas. Dan ia mengetengahkan nya dengan baik serta
lengkap.
Sesudah itu ia
mengatakan :
"Bahwa
banyak riwayat hadis mengenai Isra sampai kepada
tingkatan mutawatir, seperti riwayat dari Umar ibnul Khattab, Ibnu
Mas'ud, Abu Zar, Malik ibnu Sa'sa'ah, Abu Hurairah, Abu Sa'id, Ibnu Abbas,
Syaddad ibnu Aus, Ubay ibnu Ka'b, Abdur Rahman ibnu Qart, Abu Habbah, dan Abu
Laila yang kedua-duanya dari kalangan Ansar, Abdullah ibnu Amr, Jabir,
Huzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Abu Umamah, Samurah ibnu Jundub, Abul Hamra,
Suhaib Ar-Rumi, Ummu Hani', Aisyah dan Asma yang kedua-duanya putri Abu Bakar.
Sebagian di
antara mereka mengetengahkannya secara panjang lebar, dan sebagian lainnya
mengetengahkannya secara ringkas seperti yang disebutkan di dalam kitab-kitab
musnad.
Sekalipun
riwayat sebagian dari mereka harus memenuhi standar syarat sahih, tetapi hadis
mengenai Isra ini kebenarannya telah disepakati oleh kaum muslim.
Dan
orang-orang kafir zindiq dan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhanlah
yang berpaling darinya.
﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ
مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾
Mereka ingin
memadamkan cahaya (agama) Allah dengan
mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang-orang kafir benci. (Ash-Shaff: 8) [SELESAI]
Ibnu Qayyim
berkata:
يَا
عَجَبًا لِهَؤُلَاءِ الَّذِينَ زَعَمُوا أَنَّهُ كَانَ مِرَارًا! كَيْفَ سَاغَ لَهُمْ
أَنْ يَظُنُّوا أَنَّهُ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يُفْرَضُ عَلَيْهِمُ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ،
ثُمَّ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ رَبِّهِ حَتَّى تَصِيرَ خَمْسًا، فَيَقُولُ: «أَمْضَيْتُ
فَرِيضَتِي وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي»، ثُمَّ يُعِيدُهَا فِي الْمَرَّةِ الثَّانِيَةِ
إِلَى خَمْسِينَ، ثُمَّ يَحُطُّهَا إِلَى خَمْسٍ؟! ...
"Sungguh
mengherankan orang-orang yang mengira bahwa peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi
berkali-kali! Bagaimana mungkin mereka beranggapan bahwa pada setiap kali
peristiwa itu Allah mewajibkan sholat lima puluh waktu, kemudian Nabi ﷺ terus bolak-balik antara Rabbnya hingga menjadi lima waktu, lalu Allah
berfirman, 'Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan Aku telah meringankan bagi
hamba-hamba-Ku,' kemudian pada peristiwa yang kedua kewajiban itu diulang lagi
menjadi lima puluh waktu, lalu dikurangi lagi hingga menjadi lima waktu?!
..." (Zādul Ma‘ād, 5/42)
Ibnu Katsir
rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan hadis-hadis yang berkaitan
dengan peristiwa Isra dan Mi'raj. Beliau menghimpun seluruh jalur
periwayatannya dari kitab Al-Hafidz Abul Khaththab Umar bin Dihyah yang
berjudul At-Tanwīr fī Maulid As-Sirāj Al-Munīr.
Peristiwa Isra
terjadi satu kali di Makkah setelah diutusnya Nabi ﷺ sebagai rasul, yaitu sekitar satu tahun
sebelum hijrah. Ada pula yang berpendapat satu tahun dua bulan sebelum hijrah.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Isra terjadi berkali-kali, tidak dapat
dijadikan pegangan, baik dari sisi riwayat maupun dari sisi logika.
Ditinjau dari
tata cara dan hakikatnya, para ulama berbeda pendapat dalam dua masalah:
Pertama,
apakah Isra terjadi dalam keadaan terjaga atau hanya berupa mimpi?
Kedua, apakah
Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus, atau hanya dengan ruh saja?
Lahiriah
berbagai riwayat menunjukkan bahwa Isra terjadi dalam keadaan terjaga. Inilah
pendapat jumhur ulama. Adapun riwayat yang dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri
ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala:
﴿وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا...﴾
bahwa yang
dimaksud adalah mimpi yang dilihat Nabi ﷺ ketika tidur, maka pendapat ini tergolong
lemah dan tidak memiliki dalil yang sahih. Tidak ada satu pun riwayat yang
sahih yang mendukungnya.
Adapun
mengenai masalah kedua, maka jumhur ulama berpendapat bahwa Isra terjadi dengan
ruh dan jasad sekaligus. Mereka berdalil dengan lahiriah nash-nash yang
menjelaskan peristiwa tersebut.
Memang dinukil
dari Mu'awiyah dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa Isra hanya terjadi dengan
ruh saja. Namun pendapat ini dijawab bahwa Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu pada
saat peristiwa Isra masih berada dalam keadaan musyrik, sedangkan Aisyah
radhiyallahu 'anha ketika itu belum menjadi istri Nabi ﷺ, bahkan masih kecil. [Di
kutip dari Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 4/256 no. 39732]
Abu Ja'far
Ath-Thabari berkata dalam tafsirnya 17/351:
"الصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنْ يُقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِعَبْدِهِ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى، كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ، وَكَمَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ حَمَلَهُ عَلَى الْبُرَاقِ حَتَّى أَتَى بِهِ
بَيْتَ الْمَقْدِسِ، وَصَلَّى هُنَاكَ بِمَنْ صَلَّى مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ،
فَأَرَاهُ مَا أَرَاهُ مِنَ الْآيَاتِ.
وَلَا
مَعْنَى لِقَوْلِ مَنْ قَالَ: أُسْرِيَ بِرُوحِهِ دُونَ جَسَدِهِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ
كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ مَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَى نُبُوَّتِهِ،
وَلَا حُجَّةً لَهُ عَلَى رِسَالَتِهِ، وَلَا كَانَ الَّذِينَ أَنْكَرُوا حَقِيقَةَ
ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ يَدْفَعُونَ بِهِ صِدْقَهُ؛ إِذْ لَمْ يَكُنْ مُنْكَرًا
عِنْدَهُمْ، وَلَا عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ ذَوِي الْفِطْرَةِ الصَّحِيحَةِ مِنْ بَنِي آدَمَ،
أَنْ يَرَى الرَّائِي مِنْهُمْ فِي الْمَنَامِ مَا عَلَى مَسِيرَةِ سَنَةٍ، فَكَيْفَ
مَا هُوَ عَلَى مَسِيرَةِ شَهْرٍ أَوْ أَقَلَّ.
وَبَعْدُ،
فَإِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ أَنَّهُ أَسْرَى بِعَبْدِهِ، وَلَمْ
يُخْبِرْنَا بِأَنَّهُ أُسْرِيَ بِرُوحِ عَبْدِهِ، وَلَيْسَ جَائِزًا لِأَحَدٍ أَنْ
يَتَعَدَّى مَا قَالَهُ اللَّهُ إِلَى غَيْرِهِ.
بَلِ
الْأَدِلَّةُ الْوَاضِحَةُ، وَالْأَخْبَارُ الْمُتَتَابِعَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
ﷺ، أَنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِهِ عَلَى دَابَّةٍ يُقَالُ لَهَا الْبُرَاقُ، وَلَوْ كَانَ
الْإِسْرَاءُ بِرُوحِهِ، لَمْ تَكُنِ الرُّوحُ مَحْمُولَةً عَلَى الْبُرَاقِ؛ إِذْ
كَانَتِ الدَّوَابُّ لَا تَحْمِلُ إِلَّا الْأَجْسَادَ". انْتَهَى.
"Pendapat
yang benar menurut kami ialah bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya, Muhammad ﷺ, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sebagaimana
diberitakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan sebagaimana berita-berita yang
mutawatir dari Rasulullah ﷺ bahwa Allah membawanya dengan mengendarai
Buraq hingga sampai ke Baitul Maqdis. Di sana beliau mengimami shalat para nabi
dan rasul yang hadir, lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai tanda-tanda
kebesaran-Nya.
Tidak ada
makna yang benar pada pendapat orang yang mengatakan bahwa Isra hanya terjadi
dengan ruh tanpa jasad. Sebab, seandainya demikian, maka peristiwa itu tidak
dapat dijadikan sebagai bukti kenabian beliau, tidak pula menjadi hujah atas
kerasulannya. Orang-orang musyrik yang mengingkari peristiwa itu pun tidak akan
mendustakannya, karena melihat perjalanan yang jauh dalam mimpi bukanlah
sesuatu yang diingkari oleh mereka maupun oleh siapa pun yang memiliki fitrah
yang lurus. Seseorang bisa saja bermimpi melihat perjalanan sejauh satu tahun,
maka terlebih lagi perjalanan sejauh satu bulan atau kurang.
Selain itu,
Allah dalam Kitab-Nya hanya berfirman bahwa Dia memperjalankan 'hamba-Nya'.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia memperjalankan 'ruh hamba-Nya'. Tidak boleh
bagi siapa pun melampaui apa yang telah Allah firmankan.
Bahkan
dalil-dalil yang jelas dan berita-berita yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa Allah memperjalankan beliau dengan menaiki seekor
hewan yang disebut Buraq. Seandainya Isra hanya terjadi dengan ruh, tentu ruh tidak
perlu dibawa di atas Buraq, karena hewan tunggangan hanyalah mengangkut jasad,
bukan ruh." (Selesai).
[[Di kutip
pula oleh Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 4/256 no. 39732]
APAKAH NABI ﷺ MELIHAT ALLAH SWT SAAT
MI'RAJ?
Telah terjadi perbedaan pendapat
di kalangan sahabat tentang Nabi ﷺ apakah
beliau melihat Rabb-nya saat Miraj?.
Darul Ifta
Mesir di bawah kepimpinan Majlis al-Idarah DR. Mahmud Muslim menjelaskan:
وَأَمَّا
يَقَظَةً فَاخْتَلَفَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ فِي حُصُولِ ذَلِكَ
لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَدَمِهِ،
أَمَّا غَيْرُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَصِحُّ
دَعْوَاهُ الرُّؤْيَةَ فِي الْيَقَظَةِ، وَمَنْ زَعَمَهَا كَانَ مِنَ
الضَّالِّينَ».
Adapun melihat
Allah SWT dalam keadaan terjaga, maka para sahabat dan orang-orang setelah
mereka berselisih pendapat tentang apakah hal itu terjadi kepada Rasulullah ﷺ atau tidak. Adapun selain beliau ﷺ, maka klaim melihat Allah
dalam keadaan terjaga tidaklah sahih, dan siapa saja yang mengaku-ngaku
melihat-Nya, maka dia termasuk golongan yang sesat’.
[ Sumber : دَارُ الْإِفْتَاءِ: يُمْكِنُ رُؤْيَةُ
اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ( https://www.elwatannews.com ›)]
Adapun yang berkenaan dengan Nabi
ﷺ, maka
yang beredar di kalangan para shahabat terangkum dalam tiga pendapat :
====
PENDAPAT PERTAMA :
NABI ﷺ TIDAK
MELIHAT ALLAH .
Sebagian besar para Sahabat
berpendapat bahwa Nabi ﷺ tidak
melihat Allah dengan matanya pada malam Isra dan Miraaj.
Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:
وَقَدْ ثَبَتَ بِالنُّصُوصِ
الصَّحِيحَةِ وَاتِّفَاقِ سَلَفِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ لَا يَرَى اللَّهَ أَحَدٌ فِي
الدُّنْيَا بِعَيْنِهِ، إِلَّا مَا نَازَعَ فِيهِ بَعْضُهُمْ مِنْ رُؤْيَةِ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ ﷺ خَاصَّةً، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ اللَّهَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عِيَانًا، كَمَا يَرَوْنَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. اِنْتَهَى.
Telah ada ketetapan berdasarkan nash-nash
yang sahih dan kesepakatan para ulama salaf umat ini bahwa tidak seorang pun dapat
melihat Allah dengan kedua matanya ketika di dunia. Kecuali adanya perselisihan
sebagian ulama mengenai kekhususan Nabi Muhammad ﷺ.
Adapun mereka sepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah secara nyata
pada hari kiamat, sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan.' (Selesai).
[Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510]
Ibnu Al-Qayyim
berkata:
«وَقَدْ حَكَى عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ فِي كِتَابِ الرُّؤْيَةِ
لَهُ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرَ رَبَّهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ،
وَبَعْضُهُمْ اسْتَثْنَى ابْنَ عَبَّاسٍ فِيمَنْ قَالَ ذَلِكَ».
"Utsman
bin Sa'id Ad-Darimi dalam kitab Ar-Ru'yah telah menukil ijma' para sahabat
bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Rabbnya pada malam Mi'raj. Sebagian ulama mengecualikan
Ibnu 'Abbas sebagai orang yang berpendapat sebaliknya. (Ijtima' Al-Juyusy
Al-Islamiyyah, jilid 1, hlm. 12).
Menurut Aisyah
radhiyallau ‘anha termasuk kedustaan besar adalah orang yang mengatakan bahwa
Nabi ﷺ bisa melihat Tuhan-nya saat beliau masih hidup [makrifat].
Dari 'Aisyah
radhiyallahu 'anha berkata :
مَن
حَدَّثَكَ أنَّ مُحَمَّدًا ﷺ رَأَى رَبَّهُ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ ﴿لَّا
تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ﴾ [الأنعام: 103]، ومَن
حَدَّثَكَ أنَّه يَعْلَمُ الغَيْبَ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ: لا يَعْلَمُ
الغَيْبَ إلَّا اللَّهُ
Barangsiapa
mengatakan kepadamu bahwa Muhammad ﷺ melihat Tuhannya, maka dia telah berdusta,
karena Dia berfirman : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata”[Al-An'am:
103]
Dan barang
siapa yang mengatakan kepadamu bahwa dia mengetahui yang ghaib, maka dia telah
berdusta, karena Dia berfirman: Hanya Allah yang mengetahui yang ghaib.
[HR. Bukhori
no. 6832 & 7380]
RIWAYAT LAIN :
Dari Amir, dia
berkata:
أَتَى مَسْرُوقٌ
عَائِشَةَ، فَقَالَ: «يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، هَلْ رَأَى مُحَمَّدٌ ﷺ رَبَّهُ؟»
قَالَتْ:
«سُبْحَانَ اللَّهِ! لَقَدْ قَفَّ شَعْرِي لِمَا قُلْتَ. أَيْنَ أَنْتَ مِنْ ثَلَاثٍ؟
مَنْ حَدَّثَكَ بِهِنَّ فَقَدْ كَذَبَ:
مَنْ
حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ». ثُمَّ قَرَأَتْ: ﴿لَا
تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ﴾ ﴿وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ
يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ﴾
«وَمَنْ أَخْبَرَكَ بِمَا فِي غَدٍ فَقَدْ كَذَبَ». ثُمَّ قَرَأَتْ:
﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي
الْأَرْحَامِ﴾
«وَمَنْ أَخْبَرَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ كَتَمَ فَقَدْ كَذَبَ».
ثُمَّ
قَرَأَتْ: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾
«وَلَكِنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ مَرَّتَيْنِ».
Masruq pernah
mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha seraya berkata: "Wahai Ummul
Mukminin, apakah Muhammad ﷺ melihat Tuhannya?
Dia
(Aisyah) menjawab:
'Subhaanallah,
sungguh merinding bulu kudukku karena apa yang kamu katakan. Bagaimana sikapmu
terhadap ketiga hal itu? barangsiapa yang memberitahumu ketiga hal itu, maka
sungguh dia telah berdusta.
(Pertama), barangsiapa yang berkata kepadamu
bahwa Muhammad ﷺ melihat Tuhannya maka sungguh ia telah
berbohong’. Kemudian ia membaca:
﴿ لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ﴾
"Dia
tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang
kelihatan.".
Dan dia
membaca :
﴿ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا
أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ﴾
"Tidak
mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara dengan dia kecuali
dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir".
(Kedua) Barangsiapa yang mengkhabarkan
kepadamu tentang sesuatu yang terjadi esok maka sungguh ia telah berdusta.
Kemudian Aisyah mambaca:
﴿ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ﴾
"Sesungguhnya
Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat: dan Dia-lah
yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim."
(Ketiga) dan barangsiapa yang mengabarkan
kepadamu bahwa Muhammad ﷺ telah menyembunyikan wahyu maka sungguh ia
telah berdusta. Kemudian ia membaca:
﴿ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ
رَبِّكَ ﴾
"Wahai
rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu."
Tapi, beliau
pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali."
[HR. Bukhori
no. 4855 dan Imam Ahmad no. 23094]
LAFADZ RIWAYAT LAIN :
Dari Masruq dia berkata,
"Ketika aku duduk bersandar di samping Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka
beliau berkata:
'Wahai Abu Aisyah (Masruq)! Ada
tiga perkara, barangsiapa yang memperbincangkan salah satu darinya, berarti dia
telah melakukan kedustaan yang amat besar terhadap Allah.'
Aku bertanya: 'Apakah tiga
perkara itu? '
Aisyah menjawab:
'Pertama, barangsiapa mengklaim bahwa Muhammad ﷺ melihat Tuhannya maka sungguh dia telah membesarkan
kebohongannya terhadap Allah.'
Aku yang duduk bersandar dari
tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata:
'Wahai Ummul Mukminin! Berilah
aku tempo, dan janganlah engkau membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku
ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman:
﴿ وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ ﴾
'(Dan sesungguhnya Muhammad telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain) ' (Qs. Al Takwir:
23).
Dan Firman Allah lagi:
﴿ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى ﴾
'(Dan sungguh Muhammad telah
melihat 'dia' dalam bentuk rupanya yang asal sekali lagi) ' (Qs. An Najm: 13).
Maka Aisyah menjawab:
"أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ فَقَالَ إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي
خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنْ
السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ
".
'Aku adalah orang yang pertama
bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai
perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau ﷺ telah
menjawab dengan bersabda:
"Yang
dimaksud 'dia' dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), aku tidak pernah
melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia
turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara
lagit dan bumi.'
Kemudian Aisyah berkata lagi:
أَوَ
لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ﴿ لَا
تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ ﴾ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ﴿وَمَا
كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ
حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ
حَكِيمٌ ﴾
'Apakah kamu tidak pernah
mendengar bahwa Allah:
'(Dia
tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat dan
mengetahui hakikat segala penglihatan mata, dan Dialah Yang Maha Bersifat Lemah
Lembut lagi Maha Mendalam pengetahuannya) ' (Qs. Al An'am: 103).
Atau, apakah kamu tidak pernah
mendengar firman Allah:
'(Dan tidaklah layak bagi seorang
manusia, bahwa Allah mengajaknya berbicara kecuali berupa wahyu (dengan diberi
mimpi) atau dari balik hijab / tabir penghalang (dengan mendengar suara saja)
atau dengan mengutuskan utusan (Malaikat), lalu utusan itu menyampaikan wahyu
kepadanya dengan izin Allah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah
Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana) '. (Qs. Asy Syura: 51).….. dst. [HR. Muslim
No. 259].
Perkataan Ibnu
Mas’uud radliyallaahu ‘anhu:
Dari Zirr bin ‘Abdillah bin
Hubaisy, dari ‘Abdullah bin Mas’uud radhiyallahu ‘anhu:
فِي
قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ
رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾ [النجم: 13]، قَالَ: "رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ جِبْرِيلَ
فِي صُورَتِهِ، لَهُ سِتُّمَائَةِ جَنَاحٍ".
Tentang
firman-Nya ta’ala: ‘Dan sesungguhnya ia (Muhammad) telah melihatnya
pada waktu yang lain’ (QS. An-Najm: 53), ia berkata: “Rasulullah ﷺ melihat Jibriil dalam bentuknya (yang asli) yang
mempunyai 600 sayap”. [HR. Bukhori no. 3232 dan Muslim no. 431].
Perkataan Abu
Hurairah radliyallaahu ‘anhu:
Dari ‘Athaa’, dari Abu
Hurairah radliyallaahu ‘anhu
"فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾
[النجم: 13]، قَالَ: "رَأَى جِبْرِيلَ "
" Tentang
firman-Nya ta’ala: ‘Dan sesungguhnya ia (Muhammad) telah melihatnya pada
waktu yang lain’ (QS. An-Najm: 53), ia berkata: “Beliau ﷺ melihat Jibriil”. [HR. Muslim no. 434].
ADA HIJAB (TABIR PENGHALANG), YAITU NUR (CAHAYA).
Ada pernyataan dari Abu Musa
radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ melihat
hijab (tabir / penghalang). Hijab-Nya adalah NUR (Cahaya):
Abu Musa radhiyallahu ‘anhu
berkata: "Rasulullah ﷺ berdiri
menerangkan kepada kami lima perkara dengan bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ
الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ
النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ -
(وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ : النَّارُ) - لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ
سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak
pernah tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia berkuasa menurunkan timbangan
amal dan mengangkatnya. Kemudian akan diangkat kepada-Nya (maksudnya
dilaporkan) segala amalan pada waktu malam sebelum (dimulai) amalan pada waktu
siang, dan begitu juga amalan pada waktu siang akan diangkat kepadaNya sebelum
(dimulai) amalan pada waktu malam.
Hijab-Nya adalah Cahaya -
(menurut riwayat Abu Bakar: 'Api' ) -. Andaikata Dia
menyingkapkannya, pasti keagungan Wajah-Nya akan membakar makhluk sejauh
pandangan-Nya." [HR. Muslim no. 179].
Diantara dalil yang mendukung
bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Tuhan-nya dengan mata-nya pada malam
Isra', melainkan melihat hijab berupa Nur, adalah hadits Abu Musa ini.
Dari Abu Dzar
radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: «هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟» قَالَ: «نُورٌ، أَنَّى أَرَاهُ»
"Aku
bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Apakah engkau melihat
Rabbmu?' Beliau menjawab, 'Dia adalah cahaya, bagaimana mungkin aku dapat
melihat-Nya?'"
[Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim (Kitab Al-Iman no. 261)].
====
PENDAPAT KEDUA:
NABI ﷺ MELIHAT
ALLAH DENGAN HATI-NYA.
Sebagian para ulama
menetapkan ru’yah dengan qolbu- yakni bahwa Nabi ﷺ melihat
Allah SWT, namun men-taqyid-nya dengan penglihatan hati
(ar-ru’yatul-qalbiyyah). Yakni Nabi ﷺ melihat
Rabbnya dengan hatinya.
Mereka berdalil dengan perkataan
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam firman Allah Ta’aalaa :
﴿ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾
Ibnu Abbaas berkata:
«إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَآى رَبَّهُ بِقَلْبِهِ»
(Sesungguhnya Nabi ﷺ melihat Tuhannya dengan hatinya). [HR. Muslim
(435)]."
Dan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman Allah:
﴿مَا
كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾
"Hatinya
tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Dan sungguh, dia telah melihatnya
pada kesempatan yang lain."
Beliau berkata:
«رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ».
"Beliau melihat-Nya dengan hati beliau
sebanyak dua kali."
[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (Kitab
Al-Iman no. 258)].
Akan tetapi Ibnu Al-Qayyim mengomentarinya dengan berkata:
«شَيْخُنَا يَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكَ بِخِلَافٍ
فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ: رَآهُ بِعَيْنَيْ رَأْسِهِ،
وَعَلَيْهِ اعْتَمَدَ أَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ، حَيْثُ قَالَ: إِنَّهُ
رَآهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يَقُلْ: بِعَيْنَيْ رَأْسِهِ. وَلَفْظُ أَحْمَدَ لَفْظُ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَيَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا قَالَ شَيْخُنَا
فِي مَعْنَى حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ:
"حِجَابُهُ النُّورُ"، فَهَذَا النُّورُ هُوَ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- النُّورُ
الْمَذْكُورُ فِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "رَأَيْتُ نُورًا"».
"Namun, guru kami mengatakan bahwa
sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat dalam hakikatnya, karena Ibnu 'Abbas
tidak pernah mengatakan bahwa Nabi melihat-Nya dengan kedua mata kepala beliau.
Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh Imam Ahmad dalam salah satu
riwayat darinya, ketika beliau mengatakan bahwa Nabi melihat Allah ﷻ,
namun beliau tidak mengatakan bahwa beliau melihat-Nya dengan kedua mata kepala
beliau.
Lafaz Imam Ahmad sama dengan lafaz Ibnu
'Abbas radhiyallahu 'anhuma. Yang menguatkan benarnya penjelasan guru kami
dalam memahami hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu adalah sabda Nabi ﷺ dalam hadits yang lain, 'Hijab-Nya
adalah cahaya.' Cahaya inilah —wallahu a'lam— yang dimaksud dengan cahaya dalam
hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu: 'Aku melihat cahaya.'" (Ijtima'
Al-Juyusy Al-Islamiyyah, jilid 1, hlm. 12).
===
PENDAPAT KETIGA :
NABI ﷺ MELIHAT
ALLAH SECARA MUTLAK .
Menetapkan ru’yah (melihat
Allah) secara mutlak, bahwa Nabi ﷺ melihat
Tuhannya pada malam Isra':
Ini pendapat Ibnu Abbas, Anas,
serta dipilih oleh 'Ikrimah, Al-Hasan, Ar-Rabi' bin Sulaiman, Ibnu Khuzaimah,
Ka'ab Al-Ahbar, Az-Zuhri, Urwah bin Az-Zubair, Ma'mar, Al-Ash'ari. Ini adalah
salah satu dari dua riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad, dan dianggap
lebih kuat menurut Imam An-Nawawi.
Dari Ibnu
‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata:
أَتَعْجَبُونَ
أَنْ تَكُونَ الْخُلَّةَ لِإِبْرَاهِيمَ وَالْكَلَامَ لِمُوسَى، وَالرُّؤْيَةَ
لِمُحَمَّدٍ ﷺ.
“Apakah kalian merasa heran
apabila al-khullah (kekasih) diperuntukkan bagi Ibrahim, al-kalaam bagi Muusaa,
dan ar-ru’yah (melihat) bagi Muhammad ﷺ?”.
[Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (1/192), ‘Abdullah bin Al-Imaam
Ahmad dalam As-Sunnah (1/299), An-Nasaa’iy
dalam Al-Kubraa (Tuhfatul-Asyraf, 5/165), Ibnu Khuzaimah
dalam At-Tauhiid (no. 272); dan Al-Aajurriy
dalam Asy-Syarii’ah (no. 1031 dan no. 627)].
Al-Albaaniy berkata: “Sanadnya
shahih sesuai persyaratan Al-Bukhaariy”. [As-Sunnah Ibnu Abi
‘Aashim (1/192)].
Dari Anas bin Maalik, ia berkata:
Telah bersabda Rasulullah ﷺ:
«جَبَلَ اللَّهُ الْخُلَّةَ لِإِبْرَاهِيمَ، وَالْكَلَامَ لِمُوسَى،
وَالرُّؤْيَةَ لِمُحَمَّدٍ ﷺ»
“Allah menciptakan Al-Khullah
(kekasih Allah) untuk Ibraahiim, Al-Kalaam (Yang berbicara Allah) untuk Musa,
dan Ar-Ru‘yah (Orang yang melihat Allah) untuk Muhammad ﷺ”.
[HR.Ad-Daaruquthniy
dalam Ar-Ru’yah (hal. 190 no. 66), Al-Haakim
dalam Al-Mustadrak (1/65). Dan al-Hakim menshahihkannya yang kemudian
disepakati oleh Adz-Dzahabiy.
Al-Hafidz Ibnu Hajar) berkata
dalam Al-Fath (8/608): “Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dengan sanad
shahih”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari hal ini dengan
berkata:
«لَيْسَ ذَلِكَ بِخِلَافٍ فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ
ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ»
"Itu sebenarnya bukan perbedaan, karena Ibnu
Abbas tidak mengatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) melihat-Nya dengan mata
kepalanya." [Baca : ((Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah)) (48)].
Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:
وَقَدْ ثَبَتَ بِالنُّصُوصِ
الصَّحِيحَةِ وَاتِّفَاقِ سَلَفِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ لَا يَرَى اللَّهَ أَحَدٌ فِي
الدُّنْيَا بِعَيْنِهِ، إِلَّا مَا نَازَعَ فِيهِ بَعْضُهُمْ مِنْ رُؤْيَةِ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ ﷺ خَاصَّةً، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ اللَّهَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عِيَانًا، كَمَا يَرَوْنَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. اِنْتَهَى.
Telah ada ketetapan berdasarkan nash-nash
yang sahih dan kesepakatan para ulama salaf umat ini bahwa tidak seorang pun
dapat melihat Allah dengan kedua matanya ketika di dunia. Kecuali adanya
perselisihan sebagian ulama mengenai kekhususan Nabi Muhammad ﷺ.
Adapun mereka sepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah secara nyata
pada hari kiamat, sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan.' (Selesai).
[Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata:
فَصْلٌ: وَأَمَّا
الرُّؤْيَةُ، فَالَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ:
«رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ»، وَعَائِشَةُ أَنْكَرَتِ الرُّؤْيَةَ.
فَمِنَ النَّاسِ
مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَقَالَ: عَائِشَةُ أَنْكَرَتْ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ، وَابْنُ
عَبَّاسٍ أَثْبَتَ رُؤْيَةَ الْفُؤَادِ.
وَالْأَلْفَاظُ
الثَّابِتَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ هِيَ مُطْلَقَةٌ أَوْ مُقَيَّدَةٌ بِالْفُؤَادِ،
تَارَةً يَقُولُ: «رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ»، وَتَارَةً يَقُولُ: «رَآهُ مُحَمَّدٌ»،
وَلَمْ يَثْبُتْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ لَفْظٌ صَرِيحٌ بِأَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ.
وَكَذَلِكَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ، تَارَةً يُطْلِقُ الرُّؤْيَةَ، وَتَارَةً يَقُولُ: «رَآهُ بِفُؤَادِهِ»،
وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ إِنَّهُ سَمِعَ أَحْمَدَ يَقُولُ: «رَآهُ بِعَيْنِهِ»، لَكِنْ
طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ سَمِعُوا بَعْضَ كَلَامِهِ الْمُطْلَقِ، فَفَهِمُوا مِنْهُ
رُؤْيَةَ الْعَيْنِ، كَمَا سَمِعَ بَعْضُ النَّاسِ مُطْلَقَ كَلَامِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
فَفَهِمَ مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ.
وَلَيْسَ فِي الْأَدِلَّةِ
مَا يَقْتَضِي أَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ، وَلَا ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ،
وَلَا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ، بَلِ النُّصُوصُ الصَّحِيحَةُ
عَلَى نَفْيِهِ أَدَلُّ، كَمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: «هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟» فَقَالَ: «نُورٌ، أَنَّى أَرَاهُ».
وَقَدْ قَالَ تَعَالَى:
﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا﴾، وَلَوْ
كَانَ قَدْ أَرَاهُ نَفْسَهُ بِعَيْنِهِ لَكَانَ ذِكْرُ ذَلِكَ أَوْلَى.
وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ:
﴿أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى وَلَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى﴾،
وَلَوْ كَانَ رَآهُ بِعَيْنِهِ لَكَانَ ذِكْرُ ذَلِكَ أَوْلَى.
"Adapun mengenai masalah melihat Allah,
maka yang telah sahih dari Ibnu Abbas adalah bahwa beliau berkata, 'Muhammad ﷺ melihat Rabbnya dengan hatinya
sebanyak dua kali.' Sedangkan Aisyah radhiyallahu 'anha mengingkari terjadinya
penglihatan tersebut.
Di antara para ulama ada yang mengompromikan
kedua pendapat itu. Mereka mengatakan bahwa Aisyah mengingkari penglihatan
dengan mata, sedangkan Ibnu Abbas menetapkan penglihatan dengan hati.
Riwayat-riwayat yang sahih dari Ibnu Abbas
bersifat mutlak atau dibatasi dengan hati. Terkadang beliau berkata, 'Muhammad
melihat Rabbnya,' dan terkadang berkata, 'Muhammad telah melihat-Nya.' Namun,
tidak ada satu lafaz pun yang sahih dari Ibnu Abbas yang secara tegas
menyatakan bahwa beliau melihat Allah dengan kedua mata kepalanya.
Demikian pula Imam Ahmad. Terkadang beliau
menyebutkan secara mutlak bahwa Nabi melihat Allah, dan terkadang beliau
berkata, 'Beliau melihat-Nya dengan hatinya.' Tidak ada seorang pun yang pernah
mendengar Imam Ahmad berkata bahwa Nabi melihat Allah dengan kedua mata
kepalanya. Akan tetapi, sebagian murid beliau mendengar ucapan beliau yang
bersifat mutlak, lalu memahaminya sebagai penglihatan dengan mata. Sebagaimana
sebagian orang mendengar ucapan Ibnu Abbas yang mutlak, lalu memahaminya sebagai
penglihatan dengan mata.
Padahal, tidak ada satu pun dalil yang
mengharuskan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan kedua matanya.
Hal itu juga tidak pernah diriwayatkan dari seorang pun sahabat. Tidak ada pula
dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang menunjukkan demikian. Bahkan, nash-nash
yang sahih justru lebih menunjukkan penafian hal tersebut. Sebagaimana dalam
Shahih Muslim dari Abu Dzar, ia berkata, 'Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Apakah engkau melihat Rabbmu?" Beliau menjawab, "Dia adalah
cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"'
Allah Ta'ala juga berfirman:
'Mahasuci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kekuasaan) Kami.'
Seandainya Allah telah memperlihatkan
Diri-Nya kepada Nabi dengan kedua matanya, tentu penyebutan hal itu lebih
utama.
Demikian pula firman-Nya:
'Apakah kamu hendak membantahnya tentang apa
yang telah dilihatnya? Sungguh, dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda
Rabbnya yang paling besar.'
Seandainya Nabi melihat Allah dengan kedua
matanya, tentu penyebutan hal itu lebih utama. [Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510 dan
Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah (48)].
Dan Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
(وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهُ - يَعْنِي
ابْنَ عَبَّاسٍ - أَطْلَقَ الرُّؤْيَةَ، وَهِيَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْمُقَيَّدَةِ بِالْفُؤَادِ،
وَمَنْ رَوَى عَنْهُ بِالْبَصَرِ فَقَدْ أَغْرَبَ، فَإِنَّهُ لَا يَصِحُّ فِي ذَلِكَ
شَيْءٌ عَنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ)
"Dalam sebuah riwayat darinya - yang dimaksud adalah Ibnu
Abbas - disebutkan secara umum tentang penglihatan tersebut, yang dibawa kepada
penglihatan dengan hati. Dan siapa yang meriwayatkan bahwa beliau melihat
dengan mata, maka ia telah salah, karena tidak ada yang sahih tentang hal itu
dari para sahabat radhiyallahu 'anhum" [Tafsir Ibnu Kathir (7 / 448)].
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
(وَقَدْ حَكَى عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ
الدَّارِمِيُّ فِي كِتَابِ الرُّؤْيَةِ لَهُ: إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى أَنَّهُ
لَمْ يَرَ رَبَّهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ، وَبَعْضُهُمْ اسْتَثْنَى ابْنَ عَبَّاسٍ
فِيمَنْ قَالَ ذَلِكَ.
وَشَيْخُنَا يَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكَ
بِخِلَافٍ فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ: رَآهُ بِعَيْنَيِ
رَأْسِهِ، وَعَلَيْهِ اعْتَمَدَ أَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ؛ حَيْثُ قَالَ:
إِنَّهُ ﷺ رَآهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يَقُلْ: بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ، وَلَفْظُ أَحْمَدَ
لَفْظُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَيَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا قَالَ
شَيْخُنَا فِي مَعْنَى حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَوْلُهُ ﷺ فِي الْحَدِيثِ
الْآخَرِ: «حِجَابُهُ النُّورُ»، فَهَذَا النُّورُ هُوَ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- النُّورُ
الْمَذْكُورُ فِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «رَأَيْتُ نُورًا»
"Utsman bin Sa'id ad-Darimi dalam kitab ar-Ru’yah ( melihat
Allah SWT), dia menyebutkan ijma' para sahabat bahwa beliau (Nabi Muhammad)
tidak melihat Tuhannya pada malam mi'raj.
Sebagian dari mereka mengecualikan Ibnu Abbas di
antara yang mengatakan hal itu.
Dan guru kami berkata: 'Itu sebenarnya bukan
perbedaan pendapat, karena Ibnu Abbas tidak mengatakan bahwa beliau melihat-Nya
dengan mata kepala.' Dan atas dasar itu Imam Ahmad bersandar dalam salah satu
dari dua riwayatnya; di mana dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ melihat-Nya,
namun dia tidak mengatakan dengan mata kepala. Dan ungkapan Ahmad adalah
ungkapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan ini menunjukkan kebenaran apa
yang dikatakan oleh guru kami dalam makna hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu
ketika Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain:
'Hijab-Nya adalah cahaya.'
Cahaya ini, wallahu a'lam, adalah cahaya yang
disebutkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:
'Aku melihat cahaya.'"
[Baca : ((Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah 'Ala
Ghazw Al-Mu'aththilah wa Al-Jahmiyyah)) (1/3).].
Ibnu Qayyim dalam (Zad Al-Ma'ad) mengingkari siapa
pun yang menyangka bahwa Imam Ahmad mengatakan Rasulullah ﷺ melihat
Tuhannya dengan mata kepalanya, di mana ia rahimahullah berkata:
«وَلَكِنْ لَمْ يَقُلْ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِنَّهُ
رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ يَقَظَةً، وَمَنْ حَكَى عَنْهُ ذَلِكَ فَقَدْ وَهَمَ عَلَيْهِ،
وَلَكِنْ قَالَ مَرَّةً: رَآهُ، وَمَرَّةً قَالَ: رَآهُ بِفُؤَادِهِ، فَحُكِيَتْ عَنْهُ
رِوَايَتَانِ، وَحُكِيَتْ عَنْهُ الثَّالِثَةُ مِنْ تَصَرُّفِ بَعْضِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ
رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ، وَهَذِهِ نُصُوصُ أَحْمَدَ مَوْجُودَةٌ لَيْسَ فِيهَا ذَلِكَ».
"Namun Imam Ahmad rahimahullah tidak berkata
bahwa beliau melihat-Nya dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga, dan siapa
yang meriwayatkan itu dari beliau maka ia telah keliru.
Namun beliau terkadang berkata: 'Beliau
melihat-Nya,' dan terkadang berkata: 'Beliau melihat-Nya dengan
hatinya.'
Maka dua riwayat tersebut diriwayatkan dari beliau,
dan riwayat ketiga berasal dari interpretasi sebagian sahabatnya bahwa beliau
melihat-Nya dengan mata kepalanya. Dan teks-teks Imam Ahmad yang ada tidak
menunjukkan hal itu." [Lihat : ((Zad Al-Ma'ad)) (Juz 3/hal. 32)].
0 Komentar