Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT: "NABI ﷺ HANYA ISRA SAJA, TANPA MI’RAJ KE LANGIT". DALIL NABI ﷺ MI'RAJ: "HADITS MUTAWATIR DAN IJMA’"..

BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT: 
BAHWA "NABI ﷺ HANYA ISRA SAJA, TANPA MI’RAJ KE LANGIT". 
DALIL BAHWA  NABI ﷺ MI'RAJ ADALAH HADITS MUTAWATIR DAN IJMA’ PARA ULAMA.

----

Di Tulis Oleh Fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----


===

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN:
  • IJMA’ PARA ULAMA DAN HADITS MUTAWATIR MENEGASKAN BAHWA NABI JUGA MI’RAJ PADA SAAT ISRA’ DENGAN RUH DAN JASAD-NYA
  • TERJADI NYA ISRA DAN MI’RAJ DI MALAM YANG SAMA
  • KUMPULAN HADITS ISRA DAN MI’RAJ
  • RIWAYAT SEJUMLAH SAHABAT YANG TELAH DISEBUTKAN DI ATAS DAN YANG LAINNYA.
  • KESIMPULAN IBNU KATSIR SETELAH MENYEBUTKAN RIWAYAT-RIWAYAT HADITS ISRA DAN MI’RAJ
  • SEBUAH PEMBAHASAN PENTING:
  • SEBUAH FAIDAH
  • APAKAH NABI MELIHAT ALLAH SWT SAAT MI’RAJ?

 ****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===****===

PENDAHULUAN:

Peristiwa Isra merupakan salah satu peristiwa yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin dari sisi kebenaran dan ketetapannya. Dasar kesepakatan tersebut adalah Al-Qur'an dan hadits-hadits mutawatir.

Adapun dalil dari Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Isra':

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra': 1)

Adapun Mi’raj, maka dalil dari al-Qur’an nya adalah firman Allah SWT:

﴿وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى﴾

Terjemahnya:

“Demi bintang ketika terbenam.

Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,

yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 1–18)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, serta menghimpun seluruh jalur periwayatannya dari kitab Al-Hafidz Abu Al-Khaththab Umar bin Dihyah yang berjudul:

«التَّنْوِيرُ فِي مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»

At-Tanwîr fî Maulid As-Sirâj Al-Munîr.

Peristiwa Isra hanya terjadi satu kali di Makkah setelah diutusnya Nabi menjadi rasul, yaitu setahun sebelum hijrah. Ada pula yang berpendapat satu tahun dua bulan sebelum hijrah. Pendapat yang mengatakan bahwa Isra terjadi lebih dari sekali tidak dapat diterima, baik dari sisi riwayat maupun akal.

Adapun mengenai tata cara dan hakikat peristiwa Isra, para ulama berbeda pendapat dalam dua masalah:

Pertama, apakah Isra terjadi dalam keadaan sadar (terjaga) ataukah hanya berupa mimpi?

Kedua, apakah Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus, ataukah hanya dengan ruh saja?

Yang nampak dari berbagai riwayat menunjukkan bahwa Isra terjadi dalam keadaan sadar, dan inilah pendapat jumhur ulama.

Adapun riwayat yang dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai firman Allah Ta'ala:

﴿وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا...﴾

Dan Kami tidak menjadikan penglihatan (ru'ya) yang telah Kami perlihatkan kepadamu...

bahwa yang dimaksud adalah “mimpi yang dilihat Nabi ”, maka pendapat tersebut adalah pendapat yang lemah, tidak memiliki dalil yang kuat, dan tidak ada satu pun riwayat shahih yang mendukungnya.

Mengenai masalah kedua, mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus. Mereka berdalil dengan dzohir nash-nash yang menjelaskan hal tersebut.

Memang dinukil dari Mu'awiyah dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa Isra hanya terjadi dengan ruh saja. Namun dijawab bahwa Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu pada saat peristiwa Isra masih dalam keadaan musyrik. Sedangkan Aisyah radhiyallahu 'anha ketika itu belum menjadi istri Nabi , bahkan masih kecil.

Abu Ja'far Ath-Thabari berkata dalam kitab tafsirnya (17/350):

«الصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنْ يُقَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِعَبْدِهِ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ، وَكَمَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ حَمَلَهُ عَلَى الْبُرَاقِ حَتَّى أَتَى بِهِ، وَصَلَّى هُنَاكَ بِمَنْ صَلَّى مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ، فَأَرَاهُ مَا أَرَاهُ مِنَ الْآيَاتِ.

وَلَا مَعْنَى لِقَوْلِ مَنْ قَالَ: أُسْرِيَ بِرُوحِهِ دُونَ جَسَدِهِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ مَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَى نُبُوَّتِهِ، وَلَا حُجَّةً لَهُ عَلَى رِسَالَتِهِ، وَلَا كَانَ الَّذِينَ أَنْكَرُوا حَقِيقَةَ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ كَانُوا يَدْفَعُونَ بِهِ عَنْ صِدْقِهِ فِيهِ، إِذْ لَمْ يَكُنْ مُنْكَرًا عِنْدَهُمْ، وَلَا عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ ذَوِي الْفِطْرَةِ الصَّحِيحَةِ مِنْ بَنِي آدَمَ، أَنْ يَرَى الرَّائِي مِنْهُمْ فِي الْمَنَامِ مَا عَلَى مَسِيرَةِ سَنَةٍ، فَكَيْفَ مَا هُوَ عَلَى مَسِيرَةِ شَهْرٍ أَوْ أَقَلَّ.

وَبَعْدُ، فَإِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ أَنَّهُ أَسْرَى بِعَبْدِهِ، وَلَمْ يُخْبِرْنَا بِأَنَّهُ أُسْرِيَ بِرُوحِ عَبْدِهِ، وَلَيْسَ جَائِزًا لِأَحَدٍ أَنْ يَتَعَدَّى مَا قَالَهُ اللَّهُ إِلَى غَيْرِهِ.

بَلِ الْأَدِلَّةُ الْوَاضِحَةُ، وَالْأَخْبَارُ الْمُتَتَابِعَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِهِ عَلَى دَابَّةٍ يُقَالُ لَهَا الْبُرَاقُ، وَلَوْ كَانَ الْإِسْرَاءُ بِرُوحِهِ، لَمْ تَكُنِ الرُّوحُ مَحْمُولَةً عَلَى الْبُرَاقِ؛ إِذْ كَانَتِ الدَّوَابُّ لَا تَحْمِلُ إِلَّا الْأَجْسَادَ». انْتَهَى.

"Pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa Allah benar-benar memperjalankan hamba-Nya, Muhammad , dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha sebagaimana yang diberitakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan sebagaimana diberitakan secara mutawatir dari Rasulullah , bahwa Allah membawanya dengan menaiki Buraq hingga sampai di sana. Di sana beliau mengimami shalat para nabi dan rasul, lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tidak ada makna yang benar bagi pendapat orang yang mengatakan bahwa beliau diisrakan hanya dengan ruh tanpa jasad. Sebab, jika demikian, maka peristiwa itu tidak akan menjadi bukti atas kenabiannya dan tidak pula menjadi hujjah atas kerasulannya. Orang-orang musyrik yang mengingkari peristiwa itu pun tidak akan mendustakannya, karena melihat sesuatu yang sangat jauh dalam mimpi bukanlah sesuatu yang diingkari oleh mereka ataupun oleh siapa pun yang masih memiliki fitrah yang lurus. Seseorang bisa saja bermimpi melihat tempat yang berjarak perjalanan setahun, maka bagaimana lagi jika hanya sejauh perjalanan sebulan atau bahkan kurang dari itu.

Selain itu, Allah dalam Kitab-Nya hanya mengabarkan bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya. Allah tidak mengatakan bahwa Dia memperjalankan ruh hamba-Nya. Maka tidak boleh bagi siapa pun melampaui apa yang telah dinyatakan Allah.

Bahkan dalil-dalil yang jelas serta riwayat-riwayat yang mutawatir dari Rasulullah menunjukkan bahwa Allah memperjalankan beliau dengan menaiki seekor tunggangan yang disebut Buraq. Seandainya Isra hanya terjadi dengan ruh, tentu ruh tidak akan dibawa di atas Buraq, karena tunggangan hanya diperuntukkan bagi jasad." (Selesai).

Wallahu a'lam.

 ===***===

IJMA’ PARA ULAMA DAN HADITS MUTAWATIR
MENEGASKAN BAHWA NABI JUGA MI’RAJ PADA SAAT ISRA’ 
DENGAN RUH DAN JASAD-NYA

Ada banyak para ulama yang menegaskan bahwa ijma’ para ulama dan hadits shahih mutawatir dengan tegas menyebutkan bahwa Nabi di mi’rajkan pula oleh Allah SWT pada malam Isra ke Baitul Maqdis.

Berikut ini sebagian pernyataan para ulama yang menegaskan hal tersebut:

Pertama : 

Al-Hafidz Taqiyuddin Abdul Ghoni al-Maqdisi rahimahullah, berkata:

وَأَجْمَعَ الْقَائِلُونَ بِالْأَخْبَارِ، وَالْمُؤْمِنُونَ بِالْآثَارِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أُسْرِيَ بِهِ إِلَى فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ، ثُمَّ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، أُسْرِيَ بِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ بِجَسَدِهِ وَرُوحِهِ جَمِيعًا، ثُمَّ عَادَ مِنْ لَيْلَتِهِ إِلَى مَكَّةَ قَبْلَ الصُّبْحِ، وَمَنْ قَالَ: إِنَّ الْإِسْرَاءَ فِي لَيْلَةٍ وَالْمِعْرَاجَ فِي لَيْلَةٍ، فَقَدْ غَلِطَ، وَمَنْ قَالَ: إِنَّهُ مَنَامٌ، وَأَنَّهُ لَمْ يُسْرَ بِجَسَدِهِ، فَقَدْ كَفَرَ.

Dan telah ber-ijma’ (sepakat) orang-orang yang berpegang teguh dengan hadist-hadits dan beriman pada atsar-atsar: bahwa Rasulullah telah di-ISRA-kan dengan dirinya (jasad dan ruh) hingga ke atas tujuh langit. dan kemudian ke Sidratul Muntaha.

Beliau di-ISRA-kan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha, Masjid Bait Al-Maqdis, kemudian beliau mi'raj ke langit dengan jasad dan ruhnya bersama-sama.

Kemudian beliau kembali dari malam itu ke Mekah sebelum fajar.

Dan siapa pun yang mengatakan : Perjalanan Isra adalah dalam satu malam dan perjalanan Miraj adalah pada malam lainnya , maka dia telah melakukan kesalahan.

Dan siapa pun yang mengatakan : bahwa itu adalah mimpi, dan beliau tidak di-ISRA-kan  dengan tubuhnya, maka dia telah KAFIR."

[ Baca : ‘Aqidah Al-Hafidz Taqiyyuddin Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi 1/80 ]

Kedua:

Syekhul Islam Ibnu Taymiyyah, rahimahullah, mengatakan dalam al-Jawaab ash-Shahih (6/165):

وَكَذَلِكَ صُعُودُهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ إِلَى مَا فَوْقَ السَّمَاوَاتِ، وَهَذَا مِمَّا تَوَاتَرَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ...

Begitu pula naiknnya beliau pada malam al-Mi'raaj ke tempat diatas semua langit , maka ini adalah termasuk dalam hadits-hadits yang telah mutawaatir .... ".

Ketiga :

Ibnu al-Qoyyim mengatakan dalam Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah 2/98 (Tahqiq al-Mu’tiq):

وَأَمَّا الْأَحَادِيثُ ‌فَمِنْهَا ‌قِصَّةُ ‌الْمِعْرَاجِ ‌وَهِيَ ‌مُتَوَاتِرَةٌ :

«وَتَجَاوُزِ النَّبِيِّ ﷺ " السَّمَاوَاتِ " سَمَاءً سَمَاءً حَتَّى انْتَهَى إِلَى رَبِّهِ تَعَالَى فَقَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَفَرَضَ عَلَيْهِ الصَّلَوَاتِ خَمْسِينَ صَلَاةً فَلَمْ يَزَلْ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَنْزِلُ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ إِلَى عِنْدِ مُوسَى فَيَسْأَلُهُ كَمْ فَرَضَ عَلَيْهِ؟ فَيُخْبِرُهُ فَيَقُولُ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَيَصْعَدُ إِلَى رَبِّهِ " فَيَسْأَلُهُ التَّخْفِيفَ»

Adapun hadits-hadits, di antaranya adalah kisah Mi'raj, dan kisah tersebut telah diriwayatkan secara mutawatir, yaitu:

"Nabi melampaui langit demi langit hingga sampai kepada Rabb-Nya Ta'ala. Lalu Allah mendekatkannya kepada-Nya dan memuliakannya. Kemudian Allah mewajibkan kepadanya lima puluh kali shalat. Setelah itu beliau terus bolak-balik antara Nabi Musa ‘alaihis salam dan Rabb-Nya Tabaraka wa Ta'ala. Beliau turun dari sisi Rabb-Nya menuju Nabi Musa, lalu Musa bertanya kepadanya, 'Berapa shalat yang diwajibkan kepadamu?' Beliau pun memberitahukannya. Maka Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya.' Lalu beliau naik kembali kepada Rabb-Nya dan memohon keringanan kepada-Nya." [Selesai].

Keempat :

Syeikh Bin Baaz rahimahullah, dia berkata :

الْإِسْرَاءُ ثَابِتٌ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَالْمِعْرَاجُ ثَبَتَ بِالسُّنَّةِ الْمُتَوَاتِرَةِ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَجَاوَزَ السَّبْعَ الطِّبَاقَ، وَجَاوَزَ السَّمَاءَ السَّابِعَةَ حَتَّى صَارَ إِلَى مَوْضِعٍ يَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ، وَسَمِعَ مِنْ رَبِّهِ جَلَّ وَعَلَا فَرْضِيَّةَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، فَمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ يُعَرَّفُ وَيُبَيَّنُ لَهُ الْأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ، فَإِذَا أَصَرَّ وَأَنْكَرَهَا كَفَرَ.

Perjalanan ISRA ditetapkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, dan Mi'raj telah ada ketetapan berdasarkan hadits yang mutawatir dari Nabi : bahwa Beliau naik ke langit, dan melintasi tujuh lapisan.

Beliau melintasi langit ketujuh hingga beliau mencapai sebuah tempat di mana goresan pena-pena bisa didengar, dan Beliau mendengar dari Rabbnya Jalla wa 'Alaa kewajiban shalat lima waktu.

Barangsiapa mengingkari nya , padahal telah maklum dan dijelaskan oleh dalil-dalil yang shahih, maka jika ia tetap bersikeras dan mengingkarinya, maka ia telah kafir .

[Di kutip dari : Nur 'Ala Ad-Darb / Hukmu Man Yunkiru Al-Mi'raj Li Annahu Lam Yudzkar Fil Qur'an]

Peristiwa Mi'raj itu telah dibuktikan dengan hadits-hadits yang mutawaatir dalam kitab-kitab hadits Shahih, Sunan, Musnad, kitab-kitab Mu'jam dan kitab-kitab diiwan As-Sunnah, diriwayatkan dari sejumlah para sahabat yang jumlahnya melebihi dari dua puluh para sahabat.

Kelima :

Syeikh Muhammad al-Amin Asy-Shanqiti, rahimaullah mengatakan dalam Adhwaa al-Bayaan 3/4:

فَقَدْ تَوَاتَرَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ عَنْهُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، وَأَنَّهُ عُرِجَ بِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى حَتَّى جَاوَزَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ. انْتَهَى.

Hadis-hadis shahih telah mutawaatir tentang Mi'raj bahwa beliau dibawa dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha. Dan bahwa beliau Mi'raj dari Masjid Al-Aqsha hingga melintasi tujuh langit. [selesai].

Keenam:

Al-Qadhi 'Iyadh berkata dalam kitab Asy-Syifa' (1/359):

ذَهَبَ مُعْظَمُ السَّلَفِ وَالْمُسْلِمِينَ إِلَى أَنَّهُ إِسْرَاءٌ بِالْجَسَدِ وَفِي الْيَقَظَةِ، وَهَذَا هُوَ الْحَقُّ

“Mayoritas ulama salaf dan kaum muslimin berpendapat bahwa Isra terjadi dengan jasad dalam keadaan sadar. Inilah pendapat yang benar”.

Kemudian beliau menyebutkan para sahabat dan tabi'in yang berpendapat demikian.

****

TERJADI NYA ISRA DAN MI’RAJ DI MALAM YANG SAMA

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari (7/237):

اخْتَلَفَ السَّلَفُ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ، فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّ الْإِسْرَاءَ وَالْمِعْرَاجَ وَقَعَا فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْيَقَظَةِ بِجَسَدِ النَّبِيِّ ﷺ وَرُوحِهِ بَعْدَ الْمَبْعَثِ، وَإِلَى هَذَا جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ، تَوَارَدَتْ عَلَيْهِ ظَوَاهِرُ الْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ، وَلَا يَنْبَغِي الْعُدُولُ عَنْ ذَلِكَ...

“Para ulama salaf berbeda pendapat sesuai dengan perbedaan riwayat-riwayat yang datang. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Isra dan Mi'raj terjadi dalam satu malam, dalam keadaan Nabi sadar (bukan mimpi), dengan jasad dan ruh beliau setelah diutus menjadi nabi. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama, baik dari kalangan ahli hadits maupun fuqaha. Makna lahiriah berbagai hadits shahih saling menguatkan pendapat ini, sehingga tidak semestinya berpaling darinya.

Kemudian beliau berkata:

وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: إِنَّ ذَلِكَ وَقَعَ مَرَّتَيْنِ، مَرَّةً فِي الْمَنَامِ تَوْطِئَةً وَتَمْهِيدًا، وَمَرَّةً ثَانِيَةً فِي الْيَقَظَةِ، وَذَكَرَ دَلِيلَهُمْ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dua kali; pertama dalam mimpi sebagai pendahuluan dan persiapan, kemudian yang kedua dalam keadaan sadar. Lalu beliau menyebutkan dalil-dalil mereka.

Selanjutnya beliau berkata:

وَقَالَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ: كَانَتْ قِصَّةُ الْإِسْرَاءِ فِي لَيْلَةٍ، وَالْمِعْرَاجِ فِي لَيْلَةٍ، وَذَكَرَ مُسْتَنَدَهُمْ.

Sebagian ulama belakangan berpendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada satu malam, sedangkan Mi'raj terjadi pada malam yang lain, lalu beliau menyebutkan landasan pendapat mereka.”

Lihat pula:

• Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim (3/34).

• Tafsir Ibnu Katsir (5/106–143).

• Tafsir Al-Qurthubi (10/208 dan seterusnya).

• Dala'il an-Nubuwwah karya Al-Baihaqi (2/354).

• As-Sirah karya Ibnu Hisyam (2/4 dan seterusnya).

• Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari (15/1 dan seterusnya).

===***===

KUMPULAN HADITS ISRA DAN MI’RAJ

Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul “Al-Isra’ wal Mi’raj” menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini.

1]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

2]. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

3]. Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu.

4]. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

5]. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

6]. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

7]. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.

8]. Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu.

9]. Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.

10]. Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.

11]. Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu.

12]. Abdurrahman bin Qurath radhiyallahu ‘anhu.

13]. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

14]. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

15]. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

16]. ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik.

Silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini.

Di antara hadits-hadits mutawatir tersebut adalah hadits Malik bin Sha'sha'ah radhiyallahu 'anhu—sebuah hadits yang panjang—yang di dalamnya disebutkan:

فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا...»، إِلَى آخِرِهِ.

"...Lalu aku berangkat bersama Jibril hingga kami mendatangi langit dunia..." dan seterusnya.

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa beliau melihat Nabi Adam ‘alaihis salam di langit dunia, Nabi Isa dan Nabi Yahya ‘alaihimas salam di langit kedua, dan demikian seterusnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Demikian pula hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Anbiya', yang di dalamnya disebutkan:

«... فَعُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ...»، إِلَى آخِرِهِ.

"...Kemudian aku dinaikkan ke langit..." dan seterusnya.

Begitu juga hadits Anas yang di dalamnya disebutkan:

«... فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا...»، إِلَى آخِرِهِ.

"Kemudian aku dinaikkan ke langit dunia..." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, serta menghimpun seluruh jalur periwayatannya dari kitab Al-Hafidz Abu Al-Khaththab Umar bin Dihyah yang berjudul:

«التَّنْوِيرُ فِي مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»

At-Tanwîr fî Maulid As-Sirâj Al-Munîr.

*****

Berikut ini hadits-hadits tersebut.

---***---

RIWAYAT ANAS DARI MALIK BIN SHO'SHO'AH

Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan hadits ini, dan lafaz berikut adalah riwayat al-Bukhari.

Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi menceritakan kepada mereka tentang malam Isra’, beliau bersabda:

«بَيْنَمَا أَنَا فِي الْحَطِيمِ – وَرُبَّمَا قَالَ: فِي الْحِجْرِ – مُضْطَجِعًا، إِذْ أَتَانِي آتٍ، فَقَدَّ – قَالَ – وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: فَشَقَّ مَا بَيْنَ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ.

فَقُلْتُ لِلْجَارُودِ وَهُوَ إِلَى جَنْبِي: مَا يَعْنِي بِهِ؟

قَالَ: مِنْ ثُغْرَةِ نَحْرِهِ إِلَى شَعْرَتِهِ.

وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: مِنْ قَصِّهِ إِلَى شَعْرَتِهِ.

فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِي، ثُمَّ أُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ إِيمَانًا، فَغُسِلَ قَلْبِي، ثُمَّ حُشِيَ، ثُمَّ أُعِيدَ.

ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ دُونَ الْبَغْلِ، وَفَوْقَ الْحِمَارِ، أَبْيَضَ.

فَقَالَ لَهُ الْجَارُودُ: هُوَ الْبُرَاقُ يَا أَبَا حَمْزَةَ؟

قَالَ أَنَسٌ: نَعَمْ، يَضَعُ خَطْوَهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ.

فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ، فَانْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا، فَاسْتَفْتَحَ.

فَقِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.

قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.

فَفُتِحَ.

فَلَمَّا خَلَصْتُ، فَإِذَا فِيهَا آدَمُ.

فَقَالَ: هَذَا أَبُوكَ آدَمُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ.

فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ السَّلَامَ، ثُمَّ قَالَ:

مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ.

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.

قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.»

-

قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.

فَفَتَحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يَحْيَى وَعِيسَى، وَهُمَا ابْنَا الْخَالَةِ.

قَالَ: «هَذَا يَحْيَى وَعِيسَى، فَسَلِّمْ عَلَيْهِمَا».

فَسَلَّمْتُ، فَرَدَّا، ثُمَّ قَالَا:

«مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ.

قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.

قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.

فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ.

قَالَ: «هَذَا يُوسُفُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ».

فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.

قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.

قِيلَ: أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.

فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ.

قَالَ: «هَذَا إِدْرِيسُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ».

فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الْخَامِسَةَ، فَاسْتَفْتَحَ.

قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ.

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ.

قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ.

-

فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ، قَالَ: «هَذَا هَارُونُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ السَّادِسَةَ، فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: «مَنْ هَذَا؟» قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «مَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». قِيلَ: «وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: «مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ».

فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا مُوسَى، قَالَ: «هَذَا مُوسَى، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ، ثُمَّ قَالَ: «مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

فَلَمَّا تَجَاوَزْتُ بَكَى، قِيلَ لَهُ: «مَا يُبْكِيكَ؟» قَالَ: «أَبْكِي لِأَنَّ غُلَامًا بُعِثَ بَعْدِي، يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي».

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، قِيلَ: «مَنْ هَذَا؟» قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». قِيلَ: «وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: «مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ».

فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ: «هَذَا أَبُوكَ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ». قَالَ: فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ السَّلَامَ، قَالَ: «مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ».

ثُمَّ رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ.

-

قَالَ: هَذِهِ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى.

وَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ: نَهْرَانِ بَاطِنَانِ، وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ.

فَقُلْتُ: مَا هَذَانِ يَا جِبْرِيلُ؟

قَالَ: أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ.

ثُمَّ رُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ.

ثُمَّ أُتِيتُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ عَسَلٍ، فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ.

فَقَالَ: هِيَ الْفِطْرَةُ الَّتِي أَنْتَ عَلَيْهَا وَأُمَّتُكَ.

ثُمَّ فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ.

فَرَجَعْتُ، فَمَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: بِمَا أُمِرْتَ؟

قَالَ: أُمِرْتُ بِخَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ.

قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ، وَإِنِّي وَاللَّهِ قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ، وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ.

فَرَجَعْتُ، فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.

فَرَجَعْتُ، فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.

فَرَجَعْتُ، فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ مِثْلَهُ.

فَرَجَعْتُ، فَأُمِرْتُ بِعَشْرِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.

فَرَجَعْتُ، فَقَالَ مِثْلَهُ.

فَرَجَعْتُ، فَأُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: بِمَ أُمِرْتَ؟

قُلْتُ: أُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ.

قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسَ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ، وَإِنِّي قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ، وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ.

قَالَ: سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ، وَلَكِنِّي أَرْضَى وَأُسَلِّمُ.

قَالَ: فَلَمَّا جَاوَزْتُ، نَادَى مُنَادٍ:

أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي، وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي».

Terjemahnya :

"Ketika aku sedang berada di al-Hathim — atau terkadang beliau mengatakan: di al-Hijr — dalam keadaan berbaring, tiba-tiba datang seseorang kepadaku. Lalu ia membelah tubuhku."

Perawi berkata: "Aku mendengarnya mengatakan: 'Ia membelah bagian ini hingga bagian ini.'"

Aku bertanya kepada al-Jarud yang berada di sampingku, "Apa yang dimaksud dengan itu?"

Ia menjawab, "Dari lekukan pangkal lehernya hingga bagian bawah rambut dadanya."

Aku juga mendengarnya berkata, "Dari ujung dada hingga pangkal rambutnya."

"Lalu ia mengeluarkan hatiku. Setelah itu didatangkan sebuah bejana dari emas yang dipenuhi dengan iman. Hatiku dicuci, kemudian dipenuhi dengan iman itu, lalu dikembalikan ke tempatnya.

Kemudian didatangkan kepadaku seekor kendaraan yang berwarna putih, ukurannya lebih kecil daripada bagal dan lebih besar daripada keledai."

Al-Jarud bertanya kepada Anas, "Apakah itu al-Buraq, wahai Abu Hamzah?"

Anas menjawab, "Ya. Langkahnya sejauh batas pandangan matanya."

"Aku pun dinaikkan ke atasnya, lalu Jibril membawaku hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar pintu langit dibukakan.

Lalu dikatakan, 'Siapa ini?'

Jibril menjawab, 'Jibril.'

Ditanya lagi, 'Siapa yang bersamamu?'

Ia menjawab, 'Muhammad.'

Mereka bertanya, 'Apakah ia telah diutus?'

Jibril menjawab, 'Ya.'

Lalu dikatakan, 'Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.'

Maka pintu langit pun dibukakan.

Ketika aku memasukinya, ternyata di sana ada Adam.

Jibril berkata, 'Ini adalah ayahmu, Adam. Berilah salam kepadanya.'

Aku pun memberi salam kepadanya. Ia membalas salamku, lalu berkata,

'Selamat datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh.'

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit kedua. Ia meminta agar pintunya dibukakan.

Lalu dikatakan, 'Siapa ini?'

Jibril menjawab, 'Jibril.'

Ditanya lagi, 'Siapa yang bersamamu?'

Ia menjawab, 'Muhammad.'"

-

Lalu dikatakan, “Apakah ia telah diutus kepadanya?” Jibril menjawab, “Ya.”

Dikatakan, “Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

Maka dibukakanlah pintu. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Yahya dan Isa. Keduanya adalah anak dari dua saudara perempuan.

Jibril berkata, “Ini adalah Yahya dan Isa. Ucapkanlah salam kepada keduanya.”

Maka aku mengucapkan salam kepada keduanya. Keduanya menjawab salamku, lalu berkata,

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit ketiga, lalu meminta agar pintunya dibukakan.

Ditanyakan, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”

Dikatakan, “Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

Lalu pintu dibukakan. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Yusuf.

Jibril berkata, “Ini adalah Yusuf. Ucapkanlah salam kepadanya.”

Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata,

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit keempat, lalu meminta agar pintunya dibukakan.

Ditanyakan, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”

Dikatakan, “Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

Maka pintu dibukakan. Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Idris.

Jibril berkata, “Ini adalah Idris. Ucapkanlah salam kepadanya.”

Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata,

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit kelima, lalu meminta agar pintunya dibukakan.

Ditanyakan, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.”

Dikatakan, “Selamat datang. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

-

Kemudian ketika aku sampai, ternyata di sana ada Harun. Jibril berkata, “Ini adalah Harun, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Ia membalas salamku, lalu berkata, “Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit keenam. Ia meminta agar pintu langit dibukakan. Lalu terdengar pertanyaan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Ditanya lagi, “Apakah ia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang kepadanya. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Musa. Jibril berkata, “Ini adalah Musa, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Ia membalas salamku, lalu berkata, “Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Tatkala aku telah melewatinya, Musa menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus sesudahku; jumlah umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku.”

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Ia meminta agar pintu langit dibukakan. Lalu terdengar pertanyaan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Jibril.” Ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Ditanya lagi, “Apakah ia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang kepadanya. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangannya.”

Ketika aku masuk, ternyata di sana ada Ibrahim. Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Ia membalas salamku seraya berkata, “Selamat datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh.”

Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha. Ternyata buahnya sebesar tempayan-tempayan besar dari Hajar, sedangkan daunnya sebesar telinga-telinga gajah.

-

Jibril berkata, 'Inilah Sidratul Muntaha.'

Lalu aku melihat empat sungai: dua sungai yang tersembunyi dan dua sungai yang tampak.

Aku bertanya, 'Apakah ini, wahai Jibril?'

Ia menjawab, 'Adapun dua sungai yang tersembunyi berada di surga, sedangkan dua sungai yang tampak adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat.'

Kemudian diperlihatkan kepadaku Baitul Ma'mur.

Lalu didatangkan kepadaku sebuah bejana berisi khamar, sebuah bejana berisi susu, dan sebuah bejana berisi madu. Aku pun memilih susu.

Jibril berkata, 'Itulah fitrah yang engkau dan umatmu berada di atasnya.'

Kemudian diwajibkan kepadaku sholat lima puluh kali setiap hari.

Lalu aku kembali dan melewati Nabi Musa. Beliau bertanya, 'Apa yang diperintahkan kepadamu?'

Aku menjawab, 'Aku diperintahkan melaksanakan sholat lima puluh kali setiap hari.'

Musa berkata, 'Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan sholat lima puluh kali setiap hari. Demi Allah, aku telah menguji manusia sebelummu dan telah menghadapi Bani Israil dengan berbagai kesulitan. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.'

Maka aku kembali, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat dariku.

Kemudian aku kembali kepada Musa, lalu ia mengatakan hal yang sama.

Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat lagi dariku.

Kemudian aku kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.

Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangi sepuluh sholat lagi dariku.

Kemudian aku kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.

Lalu aku kembali lagi dan diperintahkan melaksanakan sepuluh sholat setiap hari.

Kemudian aku kembali kepada Musa, lalu ia kembali mengatakan hal yang sama.

Maka aku kembali lagi, lalu diperintahkan kepadaku melaksanakan lima sholat setiap hari.

Kemudian aku kembali kepada Musa. Beliau bertanya, 'Apa yang diperintahkan kepadamu?'

Aku menjawab, 'Aku diperintahkan melaksanakan lima sholat setiap hari.'

Musa berkata, 'Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima sholat setiap hari. Aku telah menguji manusia sebelummu dan telah menghadapi Bani Israil dengan berbagai kesulitan. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.'

Aku menjawab, 'Aku telah berkali-kali memohon kepada Tuhanku hingga aku merasa malu. Namun sekarang aku ridha dan pasrah.'

Beliau bersabda, 'Ketika aku telah berlalu, terdengarlah suara yang menyeru:

"Aku telah menetapkan kewajiban-Ku, dan Aku telah meringankan beban hamba-hamba-Ku."'

[Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3207, 3393, 3430 dan 3887; Imam Ahmad dalam al-Musnad no. 17835, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 302; Abu 'Awanah dalam Al-Musnad (1/120–124); Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 48 dan 7415; Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (19/no. 598); Ibnu Mandah no. 717; Abu Nu'aim dalam Shifat Al-Jannah no. 302; Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah (2/378); serta Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah no. 3752.]

---***---

RIWAYAT ANAS BIN MALIK RADHIYALLAHU 'ANHU

Imam Abu Abdullah Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

«لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ، إِنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.

فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: «أَيُّهُمُ هُوَ؟»

فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: «هُوَ خَيْرُهُمْ.»

فَقَالَ آخِرُهُمْ: «خُذُوا خَيْرَهُمْ.»

فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ.

فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ...

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَضَرَبَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا.

فَنَادَاهُ أَهْلُ السَّمَاءِ: «مَنْ هَذَا؟» فَقَالَ: «جِبْرِيلُ.»

قَالُوا: «وَمَنْ مَعَكَ؟». قَالَ: «مَعِي مُحَمَّدٌ.»

قَالُوا: «وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟». قَالَ: «نَعَمْ.»

قَالُوا: «مَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا بِهِ.» .....

فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: «هَذَا أَبُوكَ آدَمُ، فَسَلِّمْ عَلَيْهِ.» فَسَلَّمَ عَلَيْهِ.

فَقَالَ آدَمُ: «مَرْحَبًا وَأَهْلًا بِابْنِي، نِعْمَ الِابْنُ أَنْتَ.» ...

فَقَالَ: «مَا هَذَانِ النَّهْرَانِ يَا جِبْرِيلُ؟». قَالَ: «هَذَا النِّيلُ وَالْفُرَاتُ، عُنْصُرُهُمَا.» ...

فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟». قَالَ: «هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي خَبَّأَ لَكَ رَبُّكَ.»

 ثُمَّ عُرِجَ إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتْ لَهُ الْأُولَى:

قَالُوا: "مَنْ هَذَا؟". قَالَ: "جِبْرِيلُ."

قَالُوا: "وَمَنْ مَعَكَ؟". قَالَ: "مُحَمَّدٌ."

قَالُوا: "وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟". قَالَ: "نَعَمْ."

قَالُوا: "مَرْحَبًا وَأَهْلًا وَسَهْلًا."

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتِ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ.

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

كُلُّ سَمَاءٍ فِيهَا أَنْبِيَاءُ قَدْ سَمَّاهُمْ، قَدْ وَعَيْتُ مِنْهُمْ إِدْرِيسَ فِي الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الْخَامِسَةِ لَمْ أَحْفَظِ اسْمَهُ، وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفْضِيلِ كَلَامِ اللَّهِ.

فَقَالَ مُوسَى: "رَبِّ، لَمْ أَظُنَّ أَنْ يُرْفَعَ عَلَيَّ أَحَدٌ."

ثُمَّ عَلَا بِهِ فَوْقَ ذَلِكَ بِمَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، حَتَّى جَاءَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، وَدَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى، حَتَّى كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ فِيمَا يُوحِي: "خَمْسِينَ صَلَاةً عَلَى أُمَّتِكَ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ."

ثُمَّ هُبِطَ بِهِ حَتَّى بَلَغَ مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ مُوسَى.

فَقَالَ: "يَا مُحَمَّدُ، مَاذَا عَهِدَ إِلَيْكَ رَبُّكَ؟"

قَالَ: "عَهِدَ إِلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ."

قَالَ: "إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ، فَارْجِعْ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ وَعَنْهُمْ."

فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ.

فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: "نَعَمْ، إِنْ شِئْتَ."

فَعَلَا بِهِ إِلَى الْجَبَّارِ تَعَالَى.

فَقَالَ: "يَا رَبِّ، خَفِّفْ عَنَّا، فَإِنَّ أُمَّتِي لَا تَسْتَطِيعُ هَذَا."

فَوَضَعَ عَنْهُ عَشْرَ صَلَوَاتٍ.

ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ، فَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهُ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ حَتَّى صَارَتْ إِلَى خَمْسِ صَلَوَاتٍ.»

ثُمَّ احْتَبَسَهُ مُوسَى عِنْدَ الْخَمْسِ.

فَقَالَ: "يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَقَدْ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَوْمِي عَلَى أَدْنَى مِنْ هَذَا، فَضَعُفُوا فَتَرَكُوهُ، فَأُمَّتُكَ أَضْعَفُ أَجْسَادًا وَقُلُوبًا وَأَبْدَانًا وَأَبْصَارًا وَأَسْمَاعًا، فَارْجِعْ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ."

كُلَّ ذَلِكَ يَلْتَفِتُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ لِيُشِيرَ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْرَهُ ذَلِكَ جِبْرِيلُ.

فَرَفَعَهُ عِنْدَ الْخَامِسَةِ.

فَقَالَ: "يَا رَبِّ، إِنَّ أُمَّتِي ضُعَفَاءُ أَجْسَادُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ وَأَسْمَاعُهُمْ وَأَبْدَانُهُمْ، فَخَفِّفْ عَنَّا."

فَقَالَ الْجَبَّارُ: "يَا مُحَمَّدُ."

قَالَ: "لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ."

قَالَ: "إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، كَمَا فَرَضْتُ عَلَيْكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، فَهِيَ خَمْسُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ، وَهِيَ خَمْسٌ عَلَيْكَ."

فَرَجَعَ إِلَى مُوسَى. فَقَالَ: "كَيْفَ فَعَلْتَ؟"

فَقَالَ: "خَفَّفَ عَنَّا، أَعْطَانَا بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا."

قَالَ مُوسَى: "قَدْ وَاللَّهِ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ فَتَرَكُوهُ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ أَيْضًا."

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "يَا مُوسَى، قَدْ وَاللَّهِ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي مِمَّا أَخْتَلِفُ إِلَيْهِ."

قَالَ: "فَاهْبِطْ بِاسْمِ اللَّهِ."

فَاسْتَيْقَظَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.

Bahwa beliau (Anas bin Malik) menceritakan peristiwa malam ketika Rasulullah diisrakan dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram). Beliau berkata:

Bahwa sebelum Nabi menerima wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidil Haram, datanglah tiga orang kepadanya. Orang pertama berkata, "Yang manakah dia?" Orang yang kedua menjawab, "Dia adalah yang terbaik di antara mereka." Lalu orang yang ketiga berkata, "Ambillah yang terbaik di antara mereka."

Hanya itulah yang terjadi pada malam itu. Setelah itu Nabi tidak melihat mereka lagi hingga mereka datang pada malam yang lain, sebagaimana yang dilihat oleh hati beliau. Pada saat itu kedua mata beliau tertidur, tetapi hati beliau tidak tidur. Demikianlah keadaan para nabi; mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak tidur.

Mereka tidak berbicara kepada beliau, melainkan langsung membawanya dan membaringkannya di dekat sumur Zamzam. Selanjutnya, Malaikat Jibril mengambil alih urusan beliau. Jibril membelah bagian dari pangkal leher hingga ke ulu hati beliau, kemudian mengeluarkan isi dada dan perut beliau, lalu mencucinya dengan air Zamzam menggunakan tangannya sendiri hingga benar-benar bersih.

Setelah itu didatangkan sebuah bejana dari emas yang di dalamnya terdapat wadah kecil dari emas berisi iman dan hikmah. Jibril memenuhi dada dan kerongkongan beliau dengan isi wadah tersebut, kemudian menutup kembali belahan dada beliau.

Selanjutnya Jibril membawa beliau naik ke langit pertama. Ketika sampai di sana, Jibril mengetuk salah satu pintu langit.

Para malaikat penghuni langit bertanya, "Siapakah ini?"

Jibril menjawab, "Jibril."

Mereka bertanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka pun berkata, "Selamat datang kepadanya."

Maka seluruh penghuni langit pertama bergembira menyambut kedatangan Rasulullah .

Para penghuni langit tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki terjadi di bumi hingga Allah sendiri memberitahukannya kepada mereka.

Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Malaikat Jibril berkata, "Ini adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka Rasulullah mengucapkan salam kepadanya, lalu Nabi Adam menjawab salam beliau seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku. Engkau adalah sebaik-baik anak."

Di langit pertama itu pula Rasulullah melihat dua sungai yang mengalir. Beliau bertanya, "Wahai Jibril, sungai apakah ini?"

Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat, yaitu sumber keduanya."

Kemudian Jibril membawa beliau melanjutkan perjalanan di langit. Tiba-tiba Rasulullah melihat sebuah sungai yang di atasnya terdapat sebuah istana yang terbuat dari mutiara dan zabarjad. Beliau mencelupkan tangannya ke sungai itu, ternyata aromanya sangat harum bagaikan minyak kesturi.

Beliau bertanya, "Wahai Jibril, sungai apakah ini?"

Jibril menjawab, "Inilah Sungai Al-Kautsar yang telah Tuhanmu sediakan untukmu."

Setelah itu Jibril membawa Rasulullah naik ke langit yang kedua. Para malaikat penjaga langit kedua mengajukan pertanyaan yang sama seperti para penjaga langit pertama.

Mereka bertanya, "Siapakah ini?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya lagi, "Apakah dia telah diutus?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka pun berkata, "Selamat datang kepadanya."

Kemudian Jibril membawa Rasulullah naik ke langit yang ketiga. Para malaikat penjaganya mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh para malaikat penjaga langit kedua.

Selanjutnya Jibril membawa beliau naik ke langit yang keempat, dan para malaikat penjaganya juga mengajukan pertanyaan yang sama.

Kemudian beliau dibawa naik ke langit yang kelima, dan para malaikat penjaganya pun mengajukan pertanyaan yang sama seperti para malaikat penjaga langit sebelumnya.

Setelah itu Jibril membawa Rasulullah naik ke langit yang keenam.

Para malaikat penjaga langit keenam mengajukan pertanyaan yang sama seperti para malaikat pada langit-langit sebelumnya. Setelah itu, Jibril membawa Rasulullah naik ke langit yang ketujuh, dan para malaikat penjaganya pun mengajukan pertanyaan yang sama sebagaimana yang diajukan oleh para penjaga langit sebelumnya.

Pada setiap lapis langit terdapat para nabi yang diperkenalkan oleh Malaikat Jibril. Perawi hadits berkata bahwa ia masih mengingat sebagian nama mereka, yaitu Nabi Idris di langit kedua, Nabi Harun di langit keempat, seorang nabi di langit kelima yang tidak lagi diingat namanya oleh perawi, Nabi Ibrahim di langit keenam, dan Nabi Musa di langit ketujuh karena keutamaannya sebagai nabi yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah.

Nabi Musa berkata, "Wahai Tuhanku, aku tidak menyangka bahwa Engkau akan mengangkat seseorang melebihi kedudukanku."

Kemudian Jibril membawa Rasulullah naik ke tempat yang lebih tinggi lagi, hingga mencapai tingkatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah . Sampailah beliau di Sidratul Muntaha. Lalu beliau didekatkan kepada Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, hingga beliau berada sangat dekat dengan-Nya, sejauh dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.

Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau, di antaranya:

"Aku mewajibkan atas umatmu lima puluh kali sholat setiap siang dan malam."

Setelah itu Jibril membawa beliau turun hingga bertemu kembali dengan Nabi Musa. Musa menahan beliau dan bertanya, "Wahai Muhammad, apakah yang telah diwajibkan Tuhanmu kepadamu?"

Rasulullah menjawab, "Tuhanku telah mewajibkan kepadaku lima puluh kali sholat setiap siang dan malam."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi dirimu dan umatmu."

Rasulullah menoleh kepada Jibril seakan-akan meminta pendapatnya mengenai saran tersebut. Jibril memberi isyarat, "Ya, jika engkau menghendaki."

Maka Jibril kembali membawa beliau naik menghadap Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahasuci. Rasulullah berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah kami keringanan, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikul kewajiban ini."

Lalu Allah mengurangi sepuluh sholat.

Rasulullah kembali menemui Musa, dan Musa kembali menyuruh beliau menghadap Allah untuk meminta keringanan. Demikianlah Nabi Musa terus-menerus menyuruh Rasulullah kembali menghadap Rabb-nya hingga akhirnya kewajiban itu menjadi lima kali sholat sehari semalam.

Ketika sholat telah ditetapkan menjadi lima waktu, Musa kembali berkata, "Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu aku telah berusaha membimbing Bani Israil, umatku, untuk melaksanakan kewajiban yang lebih ringan daripada ini, namun mereka tetap merasa berat hingga akhirnya meninggalkannya. Umatmu lebih lemah lagi; tubuh mereka, hati mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan jasad mereka. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi."

Setiap kali mendengar saran Nabi Musa, Rasulullah selalu menoleh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya. Jibril senantiasa memberikan isyarat persetujuan. Hingga pada kali yang terakhir, Jibril kembali membawa beliau menghadap Allah.

Rasulullah berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah kaum yang lemah; tubuh mereka, hati mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan jasad mereka. Maka berilah kami keringanan."

Lalu Allah Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfirman, "Wahai Muhammad."

Rasulullah menjawab, "Labbaika wa sa'daika."

Allah berfirman, "Sesungguhnya ketetapan yang ada di sisi-Ku tidak akan berubah. Sebagaimana yang telah Aku tetapkan bagimu di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)."

Maka setiap amal kebaikan diberi pahala sepuluh kali lipat dari kebaikan itu. Kewajiban sholat tetap tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan yang diwajibkan atasmu hanyalah lima kali."

Nabi kembali menemui Musa. Musa bertanya, "Apakah yang telah engkau lakukan?"

Nabi menjawab, "Allah telah memberikan keringanan kepada kami. Dia menjadikan setiap amal kebaikan bernilai sepuluh kali lipat."

Musa berkata, "Demi Allah, dahulu aku telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan sesuatu yang lebih ringan daripada itu, tetapi mereka tetap meninggalkannya. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi untuk dirimu."

Rasulullah bersabda, "Wahai Musa, demi Allah, aku telah merasa malu kepada Tuhanku karena terlalu sering bolak-balik menghadap-Nya."

Musa berkata, "Kalau begitu, turunlah dengan menyebut nama Allah."

Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi terbangun, dan beliau berada di Masjidil Haram."

Demikianlah lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab At-Tauhid, salah satu bagian dari Shahih Al-Bukhari.

---*---

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Kitab Sifat An-Nabi melalui jalur Ismail ibnu Abu Uwais, dari saudaranya, yaitu Abu Bakar Abdul Hamid, dari Sulaiman ibnu Bilal.

----*---

Adapun Imam Muslim meriwayatkannya melalui Harun ibnu Sa'id, dari Ibnu Wahb, dari Sulaiman. Dalam riwayat Muslim terdapat beberapa tambahan, pengurangan, serta perubahan urutan penyampaian dibandingkan dengan riwayat Al-Bukhari. 

Hal itu memang sebagaimana dikatakan oleh Imam Muslim, karena Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir mengalami kekeliruan dalam meriwayatkan hadits ini. Hafalannya kurang kuat sehingga ia tidak dapat menyusunnya secara sempurna. Hal ini akan dijelaskan lagi pada hadits-hadits lainnya, insya Allah.

Sebagian perawi memahami bahwa peristiwa ini terjadi ketika Nabi sedang tidur, karena mereka menyesuaikannya dengan bagian-bagian riwayat yang datang sesudahnya.

Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi menjelaskan bahwa dalam riwayat Syarik terdapat tambahan yang hanya muncul pada jalurnya. Tambahan itu sejalan dengan pendapat orang yang beranggapan bahwa Nabi melihat Allah dalam peristiwa Isra dan Mi'raj. Yang dimaksud adalah lafaz berikut:

"ثُمَّ دَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى، فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى"

"Kemudian Dia mendekat, yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepada beliau , lalu semakin mendekat, sehingga jaraknya menjadi dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat lagi."

Selanjutnya Imam Al-Baihaqi menjelaskan bahwa pendapat Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan Abu Hurairah yang menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai penglihatan Nabi terhadap Malaikat Jibril dalam rupa aslinya merupakan pendapat yang paling sahih.

Pendapat Imam Al-Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar. Hal itu diperkuat oleh hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu. Ketika beliau bertanya,

"Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?"

Rasulullah menjawab,

"نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ"

"Cahaya. Bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"

Dalam riwayat lain disebutkan,

"رَأَيْتُ نُورًا"

"Aku melihat cahaya." (HR. Muslim)

Adapun firman Allah :

﴿ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى﴾

"Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi." (QS. An-Najm: 8)

Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Malaikat Jibril 'alaihissalam, sebagaimana dijelaskan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui riwayat Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dan juga Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang menyelisihi penafsiran ayat tersebut dengan penafsiran seperti ini.

----***----

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, te­lah menceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah pernah bersabda seperti berikut:

«أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ، فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ، فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ بِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ فِيهَا الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ، فَأَتَانِي جِبْرِيلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ: "أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ".

ثُمَّ عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابْنَيِ الْخَالَةِ يَحْيَى وَعِيسَى، فَرَحَّبَا بِي وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ، وَإِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا﴾.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: "مَنْ أَنْتَ؟" قَالَ: "جِبْرِيلُ". فَقِيلَ: "وَمَنْ مَعَكَ؟" قَالَ: "مُحَمَّدٌ". فَقِيلَ: "وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟" قَالَ: "قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ". فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ».

 ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: «مَنْ أَنْتَ؟» فَقَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». فَقِيلَ: «وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ». فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: «مَنْ أَنْتَ؟» قَالَ: «جِبْرِيلُ». قِيلَ: «وَمَنْ مَعَكَ؟» قَالَ: «مُحَمَّدٌ». فَقِيلَ: «وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟» قَالَ: «قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ». فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ، وَإِذَا هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ.

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ، فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَهَا تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِفَهَا مِنْ حُسْنِهَا.

قَالَ: «فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى، وَفَرَضَ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسِينَ صَلَاةً، فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى».

قَالَ: «مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟»

قُلْتُ: «خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ».

قَالَ: «ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ؛ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، وَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ».

قَالَ: «فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي، فَقُلْتُ: أَيْ رَبِّ، خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي». فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: «مَا فَعَلْتَ؟»

قُلْتُ: «قَدْ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا».

قَالَ: «إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ».

قَالَ: «فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي وَبَيْنَ مُوسَى، وَيَحُطُّ عَنِّي خَمْسًا خَمْسًا، حَتَّى قَالَ: "يَا مُحَمَّدُ، هِيَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَتِلْكَ خَمْسُونَ صَلَاةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً"».

فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: «ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ».

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَقَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ».

Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan berwarna putih yang tubuhnya lebih tinggi daripada keledai, tetapi lebih rendah daripada bagal. Ia melangkahkan kedua kaki depannya sejauh batas pandangan matanya. Aku menaikinya, lalu Jibril membawaku hingga tiba di Baitul Maqdis. Aku menambatkan hewan itu pada lingkaran tempat para nabi biasa menambatkan tunggangan mereka. Setelah itu aku memasuki masjid dan mengerjakan sholat dua rakaat di dalamnya, kemudian aku keluar.

Lalu Jibril datang membawa dua bejana: satu berisi khamr dan satu lagi berisi susu. Aku memilih bejana yang berisi susu. Jibril berkata, "Engkau telah memilih fitrah."

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit pertama. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

Setelah itu Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Ia kembali meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua orang putra bibi, yaitu Yahya dan Isa. Keduanya menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Yusuf. Beliau telah dianugerahi separuh dari seluruh ketampanan. Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.

Selanjutnya Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad."

Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit yang keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Idris. Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Allah berfirman,

"Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Maryam: 57)

Selanjutnya Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit yang kelima dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Harun. Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit yang keenam dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Musa. Beliau menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan untukku.

Setelah itu Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Ia meminta agar pintunya dibukakan. Terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Jibril." Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus?" Jibril menjawab, "Ya, dia telah diutus." Maka pintu langit yang ketujuh dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul Ma'mur. Aku juga melihat Baitul Ma'mur yang setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan setelah keluar mereka tidak akan kembali lagi kepadanya.

Selanjutnya Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha. Aku melihat daun-daunnya sebesar telinga gajah dan buah-buahannya sebesar gentong. Ketika Sidratul Muntaha itu diliputi oleh perintah Allah yang meliputinya, berubah pula keadaannya. Tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya.

Kemudian Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia kehendaki untuk diwahyukan. Dia mewajibkan kepadaku dan umatku sholat lima puluh kali setiap siang dan malam.

Lalu aku turun hingga bertemu dengan Musa. Beliau bertanya, "Apakah yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?"

Aku menjawab, "Lima puluh kali sholat setiap siang dan malam."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka tidak akan sanggup melaksanakannya. Aku telah menguji Bani Israil dan mengetahui keadaan mereka."

Maka aku kembali kepada Tuhanku seraya berkata, "Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku." Lalu Allah mengurangi lima sholat.

Aku kembali menemui Musa. Beliau bertanya, "Apa yang telah dilakukan Tuhanmu?"

Aku menjawab, "Dia telah mengurangi lima sholat."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tetap tidak akan sanggup melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan bagi umatmu."

Aku terus-menerus bolak-balik antara Musa dan Tuhanku. Setiap kali aku kembali menghadap, Allah mengurangi lima salat, hingga akhirnya Allah berfirman,

"Hai Muhammad, kewajiban itu sekarang menjadi lima kali sholat setiap siang dan malam. Setiap satu sholat bernilai sepuluh kali lipat, sehingga nilainya sama dengan lima puluh sholat. Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka dicatat baginya satu pahala kebaikan. Jika ia mengerjakannya, dicatat baginya sepuluh pahala kebaikan. Barang siapa berniat melakukan suatu keburukan, lalu tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat baginya dosa. Namun jika ia mengerjakannya, maka dicatat baginya satu dosa."

Kemudian aku turun lagi hingga bertemu dengan Musa dan menceritakan semua yang telah terjadi. Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka tidak akan sanggup melaksanakannya."

Maka Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku telah berulang kali kembali kepada Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya."

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui Syaiban bin Farrukh, dari Hammad bin Salamah, dengan lafaz sebagaimana di atas. Lafaz hadis ini lebih sahih daripada lafaz yang diriwayatkan oleh Syarik.

Imam al-Baihaqi mengatakan bahwa di dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa peristiwa Mi'raj terjadi pada malam yang sama ketika Rasulullah diisrakan dari Makkah menuju Baitul Maqdis.

Apa yang dikatakan oleh Imam al-Baihaqi ini adalah benar dan tidak diragukan lagi kebenarannya.

---***---

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُسْرَجًا مُلْجَمًا لِيَرْكَبَهُ، فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: مَا يَحْمِلُكَ عَلَى هَذَا؟ فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ قَطُّ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْهُ. قَالَ: فارفضَّ عَرَقًا.

Pada malam Isra, didatangkan kepada Nabi seekor hewan tunggangan bernama Buraq. Hewan itu telah dipasangi pelana dan tali kendali agar dapat dinaiki oleh beliau. Namun, ketika Nabi hendak menaikinya, Buraq tampak sulit dikendalikan.

Maka Jibril berkata kepadanya, "Apakah yang mendorongmu bersikap seperti ini? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang pernah menaikimu yang lebih mulia di sisi Allah daripada beliau."

Mendengar perkataan Jibril itu, Buraq pun bercucuran keringat.

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdur Razzaq; dan imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib kami tidak mengenal hadis ini kecuali melalui jalurnya (Ishaq ibnu Mansur).

---***---

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepadaku Rasyid ibnu Sa'id dan Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Anas Bin Malik yang mengatakan: bahwa Rasulullah pernah bersabda mengemukakan hadis berikut, yaitu: 

"لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الذين يأكلون لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ".

Ketika saya dinaikkan menghadap kepada Tuhanku, saya bersua dengan suatu kaum yang memiliki kuku tembaga, mereka mencakari muka dan dada mereka dengan kuku tembaga itu. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu? " Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia (mengumpat orang lain) dan mempergunjingkan kehormatan mereka.”

Imam Abu Daud mengetengahkannya melalui hadis Safwan ibnu Amr dengan sanad yang sama; juga dari jalur yang lain, tetapi tidak disebutkan nama Anas.

---***---

Abu Daud mengatakan pula:  telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sulaiman At-Taimi, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: 

"مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَائِمًا يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ"

Di malam aku menjalani Isra bersua dengan Musa alaihis salam sedang berdiri mengerjakan sholat di dalam kuburnya.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Sulaiman Ibnu Tarkhan At-Taimi dan Sabit Al-Bannani, keduanya menerima hadis ini dari Anas. Menurut An-Nasa-i, riwayat ini lebih sahih daripada riwayat yang menyebutkan dari Sulaiman dari Sabit dari Anas.

Al-Hafidz Abu Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya menga­takan, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Baqiyyah, telah men­ceritakan kepada kami Khalid, dari At-Taimi, dari Anas yang mengatakan:

"Salah seorang sahabat Nabi telah menceritakan kepadaku bahwa ketika beliau melakukan Isra, beliau bersua dengan Musa sedang melakukan sholat di dalam kuburnya."

Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ur'urah telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia telah mendengar sahabat Anas mengatakan:

"Ketika Nabi menjalani Isra-nya, beliau bersua dengan Musa sedang mengerjakan sholat di dalam kuburnya."

Anas bin Malik mengatakan Nabi menceritakan:

Bahwa ia mengendarai Buraq, lalu ia menambat­kan hewan itu, atau kuda itu. Abu Bakar bertanya, "Gambarkanlah kepadaku Buraq itu." Rasulullah bersabda, "Buraq bentuknya seperti anu dan anu."

Maka Abu Bakar berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah melihatnya.

---***---

Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Amr al-Bazzar berkata dalam kitab Musnad-nya:

"Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami al-Harits bin Ubaid, dari Abu Imran al-Jauni, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

"بَيْنَا أَنَا قَاعِدٌ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَوَكَزَ بَيْنَ كَتِفِي، فَقُمْتُ إِلَى شَجَرَةٍ فِيهَا كَوَكْرَيِ الطَّيْرِ، فَقَعَدَ فِي أَحَدِهِمَا وَقَعَدْتُ فِي الْآخَرِ فَسَمَتْ وَارْتَفَعَتْ حَتَّى سَدَّتِ الْخَافِقَيْنِ وَأَنَا أُقَلِّبُ طَرْفِي، وَلَوْ شِئْتُ أَنَّ أَمَسَّ السَّمَاءَ لَمَسِسْتُ، فَالْتَفَتُّ إِلَى جِبْرِيلَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَأَنَّهُ حِلْس لَاطَ فَعَرَفْتُ فَضْلَ عِلْمِهِ بِاللَّهِ عَلَيَّ، وَفُتِحَ لِي بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ فَرَأَيْتُ النُّورَ الأعظمَ، وَإِذَا دُونَ الْحِجَابِ رَفْرَفُ الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ، وَأُوحِيَ إليَّ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُوحِي"

'Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba datang Malaikat Jibril. Lalu ia menotok bagian antara kedua tulang belikatku. Setelah itu aku bangkit menuju sebuah pohon yang padanya terdapat dua benda yang menyerupai sarang burung. Jibril duduk pada salah satunya, sedangkan aku duduk pada yang lainnya. Maka pohon itu meninggi hingga mencapai langit, sampai-sampai menutupi cakrawala timur dan barat.

Aku membolak-balikkan pandanganku. Seandainya aku mengulurkan tanganku ke langit, niscaya aku dapat menyentuhnya. Kemudian aku menoleh kepada Malaikat Jibril, dan saat itu beliau tampak seperti pelana yang terhampar. Dari situ aku mengetahui keutamaannya atasku dalam hal ma'rifat kepada Allah.

Lalu dibukakan untukku salah satu pintu langit. Aku pun melihat cahaya yang sangat agung. Di balik hijab tampak bantal-bantal dari permata dan yaqut. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia kehendaki untuk diwahyukan kepadaku.'"

Selanjutnya al-Bazzar berkata, "Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang meriwayatkan hadis ini selain Anas. Kami juga tidak mengetahui ada seorang pun yang meriwayatkannya dari Abu Imran al-Jauni selain al-Harits bin Ubaid. Ia adalah seorang yang dikenal di kalangan ulama Basrah."

----
Al-Hafidz Imam al-Baihaqi meriwayatkannya dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah, dari Abu Bakar al-Qadhi, dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Dahim, dari Muhammad bin al-Husain bin Abul Husain, dari Sa'id bin Manshur, kemudian beliau meriwayatkan hadis tersebut dengan sanadnya, dengan lafaz yang semisal.

Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dalam riwayat lain pada bagian akhir hadis disebutkan, "Malaikat Jibril terkapar di bawahku," atau disebutkan, "Di balik hijab terdapat bantal-bantal dari permata dan yaqut."

Imam al-Baihaqi kemudian menjelaskan bahwa demikian pula lafaz yang diriwayatkan oleh al-Harits bin Ubaid.

---**---

RIWAYAT MUHAMMAD BIN UMAIR BIN UTHARID

Hammad bin Salamah meriwayatkannya dari Abu Imran al-Jauni, dari Muhammad bin Umair bin Utharid, bahwa Nabi sedang berada di tengah-tengah para sahabatnya. Tiba-tiba Malaikat Jibril datang, lalu menotok punggung beliau dan membawanya ke sebuah pohon yang padanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua buah sarang burung. Nabi didudukkan pada salah satunya, sedangkan Malaikat Jibril duduk pada yang lainnya.

Kemudian pohon itu tumbuh meninggi membawa kami hingga mencapai cakrawala langit. Seandainya aku mengulurkan kedua tanganku ke langit, niscaya aku dapat menyentuhnya.

Lalu dijulurkan sebuah tangga, dan turunlah suatu nur (cahaya) kepadaku. Seketika itu Malaikat Jibril jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, lemas bagaikan pelana yang terhampar. Dari situlah aku mengetahui bahwa rasa takut Jibril kepada Allah jauh lebih besar daripada rasa takutku kepada-Nya.

Kemudian Allah mewahyukan kepadaku, “Apakah engkau memilih menjadi nabi malaikat atau nabi manusia?” Lalu Jibril, yang masih dalam keadaan terbaring, memberi isyarat kepadaku agar bersikap tawaduk. Maka aku menjawab, “Tidak, aku memilih menjadi seorang nabi manusia.”

Menurut kami, apabila hadis ini sahih, maka kandungannya menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan terjadi pada malam Isra. Sebab, di dalamnya tidak disebutkan Baitul Maqdis dan tidak pula disebutkan peristiwa naik ke langit. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa kejadian ini merupakan peristiwa lain yang berbeda dari peristiwa Isra dan Mi’raj yang sedang kita bahas.

--***---

Al-Bazzar juga berkata, "Telah menceritakan kepada kami Amr bin Isa, telah menceritakan kepada kami Abu Bahr, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Muhammad pernah melihat Tuhannya." Hadis ini berpredikat garib.

Abu Ja'far bin Jarir berkata, "Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman az-Zuhri, dari ayahnya, dari Abdurrahman bin Hasyim bin Atabah bin Abu Waqqash, dari Anas bin Malik, bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dengan membawa Buraq, Buraq tampak menggerak-gerakkan ekornya.

Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, 'Diamlah, wahai Buraq! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang pernah menaikimu yang lebih mulia daripada beliau.'

Maka Rasulullah berangkat dengan menunggangi Buraq. Di tengah perjalanan beliau melihat seorang wanita tua di tepi jalan. Beliau bertanya, 'Siapakah wanita tua itu, wahai Jibril?'

Jibril menjawab, 'Wahai Muhammad, teruskanlah perjalananmu.'

Rasulullah pun melanjutkan perjalanan sebagaimana yang Allah kehendaki. Tidak lama kemudian terdengar seseorang memanggil beliau dari arah samping jalan seraya berkata, 'Kemarilah, wahai Muhammad!'

Namun Jibril berkata, 'Wahai Muhammad, teruskanlah perjalananmu.'

Beliau pun terus melanjutkan perjalanan sesuai dengan kehendak Allah .

Selanjutnya Rasulullah bertemu dengan sekelompok makhluk Allah yang berkata,

'Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai orang yang pertama. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai orang yang terakhir. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai penghimpun manusia.'

Maka Jibril berkata kepada beliau, 'Wahai Muhammad, jawablah salam mereka.'

Rasulullah pun menjawab salam mereka.

Kemudian beliau bertemu lagi dengan rombongan kedua yang mengucapkan salam dengan ucapan yang sama seperti rombongan pertama. Demikian pula ketika bertemu dengan rombongan ketiga, hingga akhirnya beliau tiba di Baitul Maqdis.

Di sana disuguhkan kepada beliau tiga bejana yang berisi khamr, air, dan susu. Rasulullah memilih susu. Maka Jibril berkata,

'Engkau telah memilih fitrah. Seandainya engkau memilih air, niscaya engkau dan umatmu akan tenggelam. Dan seandainya engkau memilih khamr, niscaya engkau dan umatmu akan tersesat.'

Kemudian Allah menghadirkan Nabi Adam dan para nabi sesudahnya. Pada malam itu Rasulullah mengimami mereka dalam sholat.

Setelah itu Jibril berkata kepada Rasulullah ,

'Adapun wanita tua yang engkau lihat di tepi jalan tadi, maka usia dunia yang tersisa hanyalah seperti sisa usia wanita tua itu. Adapun orang yang memanggilmu agar mendatanginya, dia adalah musuh Allah, yaitu Iblis. Dia ingin agar engkau cenderung kepadanya. Sedangkan orang-orang yang mengucapkan salam kepadamu adalah Ibrahim dan Musa ‘alaihimas salam.'"

----

Demikian pula riwayat yang dibawakan oleh Al-Hafidz Imam al-Baihaqi dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah melalui jalur Ibnu Wahb. Akan tetapi, pada sebagian lafaznya terdapat beberapa riwayat yang berstatus munkar dan garib.

Jalur Lain:

Ada pula jalur lain yang diriwayatkan melalui Anas bin Malik, namun di dalamnya terdapat sejumlah riwayat yang sangat garib dan munkar. Riwayat ini terdapat dalam kitab Al-Mujtaba karya Imam an-Nasa'i, tetapi tidak saya jumpai dalam kitab Al-Kubra.

Imam an-Nasa'i berkata, "Telah menceritakan kepada kami Amr bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami Makhlad —yaitu Ibnu Husain—, dari Sa'id bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Malik, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda:

'Didatangkan kepadaku seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah bagal. Langkahnya sejauh mata memandang. Aku pun menungganginya bersama Malaikat Jibril.

Kemudian Jibril berkata, "Turunlah dan salatlah!"

Maka aku turun dan melaksanakan sholat.

Jibril berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di Thaibah, yaitu tempat hijrahmu kelak."

Kemudian Jibril berkata lagi, "Turunlah dan salatlah!"

Maka aku pun sholat.

Jibril berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di Bukit Thur Sina, tempat Allah berbicara langsung dengan Musa."

Lalu Jibril berkata lagi, "Turunlah dan salatlah!"

Aku pun turun dan melaksanakan sholat.

Jibril berkata, "Tahukah engkau di mana tadi engkau salat? Engkau sholat di Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa ‘alaihis salam."

Kemudian aku memasuki Baitul Maqdis. Seluruh para nabi dikumpulkan bersamaku. Jibril mempersilakanku maju hingga aku menjadi imam bagi mereka.

Setelah itu Jibril membawaku naik ke langit yang pertama. Di sana aku bertemu dengan Adam ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Di sana aku bertemu dengan dua orang putra bibiku, yaitu Isa dan Yahya ‘alaihimas salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Di sana aku bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Di sana aku bertemu dengan Harun ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Di sana aku bertemu dengan Idris ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Di sana aku bertemu dengan Musa ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam.

Selanjutnya Jibril membawaku naik melewati langit ketujuh hingga aku sampai di Sidratul Muntaha. Kemudian aku diselimuti oleh awan, lalu aku bersujud. Setelah itu dikatakan kepadaku,

"Sesungguhnya sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah mewajibkan atasmu dan atas umatmu lima puluh kali sholat. Maka laksanakanlah olehmu dan umatmu."

Aku pun kembali membawa perintah itu hingga bertemu dengan Musa.

Musa bertanya, "Apakah yang diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?"

Aku menjawab, "Lima puluh kali sholat."

Musa berkata, "Sesungguhnya engkau dan umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan."

Maka aku kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia mengurangi sepuluh sholat dariku.

Kemudian aku kembali menemui Musa, tetapi Musa kembali menyuruhku menghadap Tuhanku. Maka aku kembali lagi, dan Allah mengurangi sepuluh sholat lagi.

Akhirnya kewajiban sholat ditetapkan menjadi lima kali.

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan, karena dahulu Allah pernah mewajibkan dua kali sholat kepada Bani Israil, namun mereka tetap tidak sanggup melaksanakannya."

Maka aku kembali lagi kepada Tuhanku dan memohon keringanan. Namun Allah berfirman,

"Sesungguhnya sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah menetapkan lima waktu sholat atasmu dan atas umatmu. Lima waktu sholat itu berpahala seperti lima puluh waktu sholat. Maka laksanakanlah lima waktu sholat itu olehmu dan umatmu."

Setelah itu aku mengetahui bahwa ketetapan Allah mengenai sholat lima waktu merupakan keputusan yang pasti dan tidak akan diubah lagi.

Aku kembali menemui Musa. Musa berkata, "Kembalilah lagi."

Namun aku telah mengetahui bahwa sholat lima waktu itu merupakan ketetapan yang final, sehingga aku tidak lagi kembali untuk meminta keringanan.

----

Jalur lain: 

Ibnu Abu Hatim berkata, "Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada malam Rasulullah menjalani Isra ke Baitul Maqdis, Malaikat Jibril datang kepada beliau dengan membawa seekor hewan yang ukurannya lebih besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada bagal. Lalu Jibril menaikkan Nabi ke atas hewan tersebut. Kedua kaki depannya melangkah sejauh mata memandang.

Setelah tiba di Baitul Maqdis, keduanya sampai di sebuah tempat yang disebut Bab Muhammad (Pintu Muhammad). Di sana terdapat sebuah batu. Jibril menusuk batu itu dengan jari telunjuknya hingga berlubang, lalu menambatkan hewan tunggangan tersebut di tempat itu.

Setelah itu Nabi menaiki tangga masjid. Ketika keduanya telah berada di serambi masjid, Jibril berkata: "Hai Muhammad, tidakkah engkau ingin meminta kepada Tuhanmu agar Dia memperlihatkan kepadamu para bidadari yang bermata jeli?"

Nabi menjawab: "Ya, aku akan memohon hal itu kepada-Nya."

Jibril berkata: "Kalau begitu, pergilah menemui mereka dan ucapkanlah salam kepada mereka."

Saat itu para bidadari sedang duduk di sebelah kiri Shakhrah. Maka aku mendatangi mereka dan mengucapkan salam. Mereka pun menjawab salamku.

Aku bertanya: "Siapakah kalian?"

Mereka menjawab: "Kami adalah para bidadari yang baik lagi cantik, istri-istri bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka suci dari noda-noda dosa. Mereka tinggal menetap di dalam surga dan tidak akan pernah keluar darinya. Mereka hidup kekal dan tidak akan pernah mati."

Kemudian aku pergi. Tidak lama kemudian aku melihat banyak orang telah berkumpul. Lalu azan dikumandangkan, disusul dengan iqamah untuk salat. Kami pun berdiri membentuk saf, menunggu siapa yang akan menjadi imam.

Ternyata Jibril memegang tanganku, lalu mengajukanku ke depan untuk menjadi imam. Maka aku mengimami mereka dalam salat.

Setelah selesai salat, Jibril bertanya kepadaku: "Hai Muhammad, tahukah engkau siapakah orang-orang yang tadi salat di belakangmu?"

Nabi menjawab: "Aku tidak tahu."

Jibril berkata: "Mereka adalah seluruh nabi yang pernah diutus oleh Allah ."

Kemudian Jibril memegang tanganku dan membawaku naik ke langit. Setelah sampai di pintu langit, Jibril mengetuk pintunya.

Para malaikat penjaga langit bertanya: "Siapakah engkau?"

Jibril menjawab: "Aku Jibril."

Mereka bertanya: "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab: "Muhammad."

Mereka bertanya: "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab: "Ya."

Pintu langit pun dibukakan untuknya, dan para malaikat berkata, "Marhaban (selamat datang) bagimu dan bagi orang yang bersamamu."

Setelah Rasulullah berada di langit pertama, beliau melihat Nabi Adam ‘alaihis salam. Maka Jibril berkata, "Hai Muhammad, tidakkah engkau ingin mengucapkan salam kepada ayahmu, Adam?"

Rasulullah menjawab, "Tentu saja."

Beliau pun mendatangi Adam dan mengucapkan salam kepadanya. Adam menjawab salam beliau seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Sesampainya di sana, Jibril meminta izin untuk masuk. Para malaikat penjaga langit bertanya, "Siapakah engkau?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Maka pintu langit kedua dibukakan, dan mereka berkata, "Marhaban bagimu dan bagi orang yang bersamamu."

Di langit kedua itu Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya ‘alaihimas salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga. Ia meminta izin untuk masuk. Para penjaga langit bertanya, "Siapakah engkau?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Maka mereka membukakan pintu langit ketiga dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi orang yang bersamamu."

Di langit ketiga itu Rasulullah bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keempat. Ia meminta izin untuk masuk. Para penjaganya bertanya, "Siapakah engkau?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Maka mereka membukakan pintu langit keempat dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi orang yang bersamamu."

Di langit keempat itu Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Ia mengetuk pintunya, lalu para penjaga langit bertanya, "Siapakah engkau?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Maka mereka membukakan pintu langit yang kelima dan berkata, "Marhaban bagimu dan bagi orang yang bersamamu."

Ini sudah mengikuti pola yang Anda sukai sebelumnya: narasinya mengalir, dialog tetap dipisahkan tetapi tidak terlalu renggang, sehingga enak dibaca dan tampak rapi seperti gaya penulisan kitab-kitab tahqiq.

Dan ternyata di langit yang kelima terdapat Nabi Harun ‘alaihis salam. Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta izin untuk masuk, lalu para penjaganya bertanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka mereka membukakan pintu langit yang keenam dan berkata, "Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu." Ternyata di langit yang keenam terdapat Nabi Musa ‘alaihis salam.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh. Ia meminta izin untuk masuk. Maka para penjaganya bertanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka mereka membukakan pintu langit yang ketujuh dan berkata, "Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu." Ternyata di dalamnya terdapat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Maka Jibril berkata, "Hai Muhammad, tidakkah engkau mengucapkan salam kepada ayahmu, Ibrahim?" Nabi menjawab, "Ya, saya akan mengucapkan salam kepadanya." Maka saya mendatanginya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku yang saleh, nabi yang saleh."

Selanjutnya Jibril membawaku ke atas langit yang ketujuh hingga sampailah kami di sebuah sungai. Di tepinya terdapat kemah-kemah dari mutiara, yaqut, dan zabarjad, sedangkan di atasnya beterbangan burung-burung hijau yang belum pernah kulihat burung seindah itu. Lalu saya bertanya, "Hai Jibril, sungguh burung-burung ini sangat indah." Jibril menjawab, "Orang yang memakannya jauh lebih indah daripada itu." Kemudian Jibril berkata, "Hai Muhammad, tahukah engkau sungai apakah ini?" Saya menjawab, "Tidak tahu." Jibril berkata, "Ini adalah Sungai Kausar yang dianugerahkan Allah kepadamu."

Ternyata di sungai itu terdapat banyak bejana yang terbuat dari emas dan perak. Sungai itu mengalir di sebuah lembah yang terdiri atas yaqut dan zamrud. Airnya lebih putih daripada susu. Lalu saya mengambil sebuah bejana emas, kemudian mengambil air sungai itu dan meminumnya. Ternyata rasanya lebih manis daripada madu dan baunya lebih harum daripada minyak kesturi.

Kemudian Jibril membawaku hingga sampai di sebuah pohon. Lalu diriku diselimuti oleh awan yang memancarkan berbagai macam warna. Setelah itu Malaikat Jibril mendorongku hingga aku tersungkur bersujud kepada Allah . Allah berfirman kepadaku, "Hai Muhammad, sesungguhnya sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah memfardukan atasmu dan atas umatmu lima puluh kali salat. Maka kerjakanlah lima puluh kali salat itu olehmu dan oleh umatmu."

Setelah awan itu tersingkap dariku, Jibril menarik tanganku dan membawaku dengan cepat hingga sampai di tempat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Akan tetapi, Ibrahim tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Ketika kami sampai di tempat Nabi Musa ‘alaihis salam, ia bertanya, "Hai Muhammad, apakah yang telah engkau peroleh?" Saya menjawab, "Telah difardukan atasku dan atas umatku lima puluh kali salat." Musa berkata, "Engkau tidak akan mampu mengerjakannya, demikian pula umatmu. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah kepada-Nya agar memberikan keringanan bagimu." Maka saya kembali dengan cepat hingga sampai lagi di pohon itu (Sidratul Muntaha). Awan kembali menyelimutiku, dan Jibril pun mendorongku.

Lalu aku tersungkur bersujud dan berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memfardukan kepadaku dan kepada umatku lima puluh kali salat, sedangkan aku dan umatku tidak akan mampu melaksanakannya. Maka berilah kami keringanan."

Allah berfirman, "Aku kurangi sepuluh salat dari kewajiban kalian."

Setelah awan itu tersingkap dariku, Jibril menarik tanganku dan membawaku dengan cepat hingga sampai di tempat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun, beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Kemudian aku sampai di tempat Nabi Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apa yang telah ditetapkan bagimu, wahai Muhammad?"

Aku menjawab, "Tuhanku telah mengurangi sepuluh salat dariku."

Musa berkata, "Empat puluh kali salat itu tetap tidak akan mampu engkau laksanakan, demikian pula umatmu. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan lagi bagi kalian."

Perawi melanjutkan kisah dalam hadis ini hingga sampai pada penetapan salat lima waktu, yang pahalanya sama dengan lima puluh kali salat.

Kemudian Musa kembali menyuruh Rasulullah menghadap Allah untuk memohon keringanan lebih lanjut. Namun Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku telah merasa malu kepada Tuhanku."

Setelah itu Rasulullah turun, lalu beliau bertanya kepada Malaikat Jibril, "Mengapa setiap penghuni langit yang kutemui selalu menyambutku dengan ucapan selamat dan senyuman, kecuali seorang lelaki? Ketika aku mengucapkan salam kepadanya, ia membalas salamku, tetapi tidak tersenyum kepadaku."

Jibril menjawab, "Wahai Muhammad, dia adalah penjaga Neraka Jahanam. Sejak diciptakan, dia tidak pernah tertawa. Seandainya dia pernah tersenyum kepada seseorang, niscaya dia akan tersenyum kepadamu."

Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan dengan menaiki tunggangannya. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan kafilah Quraisy yang sedang membawa bahan makanan. Di antara rombongan itu terdapat seekor unta jantan yang memikul dua peti barang, satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih. Ketika Rasulullah melintas tepat di atasnya, unta itu terkejut, lalu berlari sambil berputar hingga terjatuh dan patah kakinya.

Rasulullah melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya beliau menceritakan semua peristiwa itu kepada orang-orang.

Tatkala kaum musyrik mendengar kisah tersebut, mereka mendatangi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan berkata, "Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang sahabatmu itu? Dia mengaku telah pergi pada malam tadi ke suatu tempat yang jaraknya sejauh perjalanan satu bulan, lalu kembali pada malam yang sama."

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, "Jika benar dia yang mengatakannya, maka sungguh dia telah berkata benar. Bahkan kami mempercayainya dalam perkara yang lebih besar daripada itu. Kami membenarkannya tentang berita yang datang dari langit."

Orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah , "Apakah bukti yang membenarkan apa yang engkau katakan itu?"

Rasulullah menjawab, "Aku melewati kafilah orang-orang Quraisy yang sedang berada di tempat anu dan anu. Di tengah perjalanan ada seekor unta milik mereka yang terkejut lalu berputar hingga terjatuh. Dalam rombongan itu juga terdapat seekor unta yang membawa dua peti barang, satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih. Unta itu pun jatuh hingga patah kakinya."

Ketika rombongan kafilah tersebut tiba, orang-orang musyrik menanyakan peristiwa itu kepada mereka. Ternyata mereka menceritakan kejadian yang sama persis sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah .

Sejak peristiwa itulah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat julukan "Ash-Shiddiq".

Mereka kembali bertanya kepada Rasulullah , "Apakah di antara orang-orang yang engkau jumpai terdapat Musa dan Isa?"

Rasulullah menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Kalau begitu, gambarkanlah rupa keduanya kepada kami."

Rasulullah menjawab, "Ya. Musa adalah seorang lelaki berkulit sawo matang, seakan-akan penampilannya seperti salah seorang lelaki dari kabilah Azd Amman. Adapun Isa, ia adalah seorang lelaki yang bertubuh sedang, berambut ikal, dan berkulit kemerah-merahan, seakan-akan butiran mutiara menetes dari rambutnya."

Konteks hadis ini penuh dengan hal-hal yang garib (aneh) dan ajaib.

---***---

Menurut riwayat Anas ibnu Malik dari Malik ibnu Sha'sha'ah, Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam. Ia mendengar Qatadah meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Malik ibnu Sha'sha'ah menceritakan hadis berikut.

Rasulullah menceritakan kepada mereka peristiwa Isra yang beliau alami:

"Ketika aku berada di Hatim Ka'bah —dan terkadang Qatadah, perawi hadis, mengatakan di Hijir Ismail— dalam keadaan berbaring, tiba-tiba datanglah seseorang bersama dua orang temannya. Lalu ia mengatakan sesuatu kepada temannya yang berada di tengah-tengah mereka. Kemudian orang itu membelah —aku mendengar Qatadah mengatakan 'membedah'— bagian tubuhku dari sini sampai ke sini."

Qatadah berkata bahwa ia menjelaskan maksudnya kepada Al-Jarud yang duduk di sampingnya, yaitu dari bagian bawah leher hingga ke tempat tumbuhnya rambut kemaluan. Al-Jarud berkata, "Aku mendengarnya mengatakan hingga tempat tumbuhnya rambut kemaluan," yakni bagian bawah perutnya.

Rasulullah melanjutkan:

"Kemudian orang itu mengeluarkan hatiku, lalu didatangkan sebuah bejana emas yang dipenuhi dengan iman dan hikmah. Hatiku dicuci, kemudian dipenuhi dengan iman dan hikmah itu, setelah itu dikembalikan lagi ke tempatnya semula."

"Selanjutnya didatangkan kepadaku seekor hewan yang ukurannya lebih besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada bagal, dan berwarna putih."

Al-Jarud bertanya kepada Qatadah, "Apakah hewan itu Buraq, wahai Abu Hamzah?"

Qatadah menjawab, "Ya. Buraq melangkahkan kedua kaki depannya sejauh pandangan matanya."

Rasulullah melanjutkan:

"Lalu aku dinaikkan ke atas Buraq, dan Jibril ‘alaihis salam membawaku hingga sampai ke langit yang paling dekat. Jibril mengetuk pintunya, lalu terdengar pertanyaan, 'Siapakah engkau?'

Jibril menjawab, 'Aku Jibril.'

Ditanya lagi, 'Siapakah yang bersamamu?'

Jibril menjawab, 'Muhammad.'

Mereka bertanya lagi, 'Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?'

Jibril menjawab, 'Ya.'

Maka dikatakan, 'Selamat datang untuknya. Sungguh sebaik-baik orang telah datang.'"

Lalu dibukakanlah pintu langit yang pertama bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Ini adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku, lalu berkata, "Selamat datang, anak yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Setelah sampai di sana, Jibril meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah engkau?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang."

Lalu dibukakanlah pintu langit yang kedua bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Isa dan Yahya ‘alaihimas salam, yang keduanya adalah anak bibi. Jibril berkata, "Keduanya adalah Yahya dan Isa. Ucapkanlah salam kepada mereka." Maka aku mengucapkan salam kepada keduanya. Mereka menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang ketiga. Ia meminta izin untuk masuk, lalu terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang."

Setelah dibukakan pintu langit yang ketiga bagi kami dan aku memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Yusuf ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Yusuf." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang keempat. Ia meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang." Setelah itu dibukakanlah pintu langit yang keempat bagi kami.

Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Idris ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Idris. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang kelima. Ia meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang."

Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Harun. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang."

Setelah itu dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Musa. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, saudara yang saleh, nabi yang saleh."

Ketika aku melewatinya, ia menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah yang menyebabkan engkau menangis?" Musa ‘alaihis salam menjawab, "Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus sesudahku, tetapi umatnya yang masuk surga jauh lebih banyak daripada umatku."

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang ketujuh. Ia meminta izin untuk masuk. Maka terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Aku Jibril." Ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Ditanya lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya. Sungguh, orang yang paling baik telah datang."

Setelah itu dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril berkata, "Inilah Ibrahim. Ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang, anak yang saleh, nabi yang saleh."

Selanjutnya aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Ternyata buah-buahnya sebesar gentong buatan penduduk Hajar, sedangkan daun-daunnya selebar telinga gajah. Maka Jibril berkata, "Inilah Sidratul Muntaha."

Tiba-tiba di sana terdapat empat buah sungai; dua di antaranya berada di bagian dalam, sedangkan dua lainnya berada di bagian luar. Aku bertanya, "Wahai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Adapun dua sungai yang berada di bagian dalam, keduanya adalah sungai-sungai surga. Sedangkan dua sungai yang berada di bagian luar adalah sumber Sungai Nil dan Sungai Eufrat."

Kemudian aku dibawa ke Baitul Ma'mur. Qatadah berkata, Al-Hasan juga telah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , bahwa beliau melihat Baitul Ma'mur yang setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak pernah kembali lagi kepadanya.

Selanjutnya Qatadah kembali melanjutkan hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa kemudian disuguhkan kepadaku sebuah bejana berisi khamr, sebuah bejana berisi susu, dan sebuah bejana lagi berisi madu. Maka aku memilih bejana yang berisi susu. Lalu Jibril berkata, "Inilah fitrah yang engkau pilih bagi dirimu dan umatmu."

Kemudian diwajibkan kepadaku salat lima puluh kali setiap hari. Setelah itu aku turun hingga sampai kepada Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apakah yang telah diwajibkan Tuhanmu atas dirimu dan umatmu?" Aku menjawab, "Lima puluh kali salat setiap hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan lima puluh kali salat. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi kewajiban itu sebanyak sepuluh salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Empat puluh kali salat setiap hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan empat puluh kali salat setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi kewajiban itu sebanyak sepuluh salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Tiga puluh kali salat."

Musa ‘alaihis salam berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan tiga puluh kali salat setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Maka aku kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat lagi bagiku. Setelah itu aku kembali menemui Musa. Ia bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku diperintahkan mengerjakan dua puluh kali salat setiap hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan dua puluh kali salat setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi kewajiban itu sebanyak sepuluh salat. Setelah itu aku kembali menemui Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku diperintahkan mengerjakan sepuluh kali salat setiap hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan sepuluh kali salat setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Maka aku kembali menghadap Allah. Lalu aku diperintahkan mengerjakan salat lima waktu setiap hari. Setelah itu aku kembali menemui Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Aku diperintahkan mengerjakan salat lima waktu setiap hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan salat lima waktu setiap hari. Aku telah menguji orang-orang sebelum engkau dan telah berusaha keras membimbing Bani Israil. Karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan bagi umatmu."

Aku menjawab, "Sesungguhnya aku telah berulang kali meminta keringanan kepada Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya. Kini aku rela dan berserah diri untuk melaksanakannya."

Lalu terdengarlah suara yang berseru, "Sesungguhnya Aku telah menetapkan apa yang Aku wajibkan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku."

---***---

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing melalui jalur Qatadah dengan sanad yang semisal.

Riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu dari Abu Zar radhiyallahu ‘anhu disebutkan oleh Imam Bukhari. Beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Anas ibnu Malik, bahwa Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan hadis berikut. Rasulullah bersabda:

"Ketika aku berada di Mekah, atap rumahku dibuka. Lalu Malaikat Jibril turun, kemudian membelah dadaku dan mencucinya dengan air Zamzam. Setelah itu ia mendatangkan sebuah bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman. Lalu ia menuangkannya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Sesudah itu ia memegang tanganku dan membawaku naik ke langit yang terdekat.

Setelah sampai di langit yang pertama, Jibril berkata kepada penjaga langit, 'Bukalah!' Penjaga langit bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Aku Jibril.' Penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah engkau bersama seseorang?' Jibril menjawab, 'Ya, aku bersama Muhammad .' Penjaga langit bertanya, 'Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?' Jibril menjawab, 'Ya.'

Setelah pintu langit yang pertama dibuka, kami pun memasukinya. Tiba-tiba aku bersua dengan seorang lelaki yang sedang duduk. Di sebelah kanannya terdapat banyak manusia, demikian pula di sebelah kirinya terdapat banyak manusia. Apabila ia memandang ke sebelah kanannya, ia tertawa. Namun apabila ia memandang ke sebelah kirinya, ia menangis.

Lelaki itu berkata, 'Selamat datang, nabi yang saleh, anak yang saleh.'

Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah orang ini?'

Jibril menjawab, 'Dia adalah Adam. Adapun manusia yang berada di sebelah kanan dan kirinya adalah seluruh keturunannya. Orang-orang yang berada di sebelah kanannya adalah penghuni surga, sedangkan orang-orang yang berada di sebelah kirinya adalah penghuni neraka. Karena itulah, apabila ia memandang ke sebelah kanannya, ia tertawa. Dan apabila ia memandang ke sebelah kirinya, ia menangis.'

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Ia berkata kepada penjaga langit, 'Bukalah!' Penjaga langit yang kedua mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh penjaga langit yang pertama. Setelah itu, pintu langit yang kedua pun dibuka.

---[]---

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan dalam hadisnya bahwa Nabi ketika berada di langit bersua dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Ibrahim, tanpa menyebutkan tempat kedudukan masing-masing. Hanya saja Anas menyebutkan bahwa Nabi bersua dengan Nabi Adam di langit yang pertama dan dengan Nabi Ibrahim di langit yang keenam.

---[]---

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya bahwa ketika Jibril dan Nabi bersua dengan Nabi Idris, Idris berkata, "Selamat datang, nabi yang saleh, saudara yang saleh." Maka aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Idris."

Kemudian Nabi bersua dengan Musa. Musa berkata, "Selamat datang, nabi yang saleh, saudara yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Musa."

Kemudian aku bersua dengan Isa. Isa berkata, "Selamat datang, nabi yang saleh, saudara yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Isa."

Kemudian aku bersua dengan Nabi Ibrahim. Ibrahim ‘alaihis salam berkata, "Selamat datang, nabi yang saleh, anak yang saleh." Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah Ibrahim."

---***---

Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum

Az-Zuhri berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Hazm, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Abu Habbah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan bahwa Nabi bersabda:

"Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai pada suatu tingkatan yang dari sana aku dapat mendengar suara goresan pena."

Ibnu Hazm dan Anas ibnu Malik radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

"Maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh kali salat. Lalu aku kembali membawa perintah itu hingga bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Ia bertanya, 'Apakah yang telah diwajibkan Allah atas umatmu?'

Aku menjawab, 'Lima puluh kali salat.' Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'

Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi separuhnya. Setelah itu aku kembali kepada Musa dan berkata, 'Allah telah mengurangi separuhnya.'

Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.' Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia mengurangi lagi sebagiannya.

Setelah itu aku kembali kepada Musa, dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'

Maka aku kembali menghadap Allah, lalu Dia berfirman, 'Salat itu tetap lima waktu, tetapi pahalanya sama dengan lima puluh kali salat. Keputusan-Ku tidak dapat diubah lagi.'

Aku kembali kepada Musa, dan ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku menjawab, 'Sesungguhnya aku telah merasa malu kepada Tuhanku.'

Kemudian Jibril membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha itu diselimuti oleh berbagai macam warna yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Setelah itu aku dimasukkan ke dalam surga, dan ternyata di dalamnya terdapat tali-temali dari mutiara, sedangkan tanahnya adalah kesturi.”

Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari dalam Kitabus Salat. Beliau juga meriwayatkannya dalam Kitab Bani Israil, Kitab Haji, dan Kitab Kisah-kisah Para Nabi melalui beberapa jalur lain dari Yunus dengan sanad yang sama.

Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya dalam Kitab al-Iman melalui Harmalah, dari Ibnu Wahb, dari Yunus dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

---***---

Riwayat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Dzar, "Seandainya saya melihat Rasulullah , tentu saya akan bertanya kepadanya." 

Abu Dzar bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepadanya?" 

Saya berkata, "Saya hendak bertanya kepadanya, apakah dia pernah melihat Tuhannya?" 

Abu Dzar menjawab bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi pertanyaan tersebut. Maka beliau men­jawab melalui sabdanya: Sesungguhnya aku telah melihat-Nya (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat melihat-Nya.

Demikianlah bunyi hadis menurut apa yang ada di dalam riwayat Imam Ahmad.

---***---

Imam Muslim di dalam kitab Sahih-nya mengetengahkan hadis ini melalui Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki', dari Yazid ibnu Ibrahim, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan:

"Saya pernah bertanya kepada Rasulullah , 'Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?'"

Rasulullah menjawab:

"Dia (tertutupi oleh) cahaya. Bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"

Imam Muslim juga mengetengahkannya melalui Muhammad ibnu Basysyar, dari Mu'az ibnu Hisyam; telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, "Seandainya saya sempat bertemu dengan Rasulullah , tentu saya akan bertanya kepada beliau."

Abu Dzar bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepada beliau?"

Ibnu Syaqiq menjawab, "Saya akan bertanya kepada beliau, 'Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?'"

Abu Dzar berkata, "Saya pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah , lalu beliau menjawab:

'Aku hanya melihat cahaya.'"

----***----

Riwayat Anas, dari Ubay ibnu Ka'b Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu

Diketengahkan oleh Abdullah, putra Imam Ahmad. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Muhammad ibnu Misyani, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Yazid yang mengatakan bahwa Ibnu Syihab pernah berkata. Anas ibnu Malik menceritakan bahwa Ubay ibnu Ka'b radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah :

"Atap rumahku dibuka ketika aku berada di Mekah. Lalu Malaikat Jibril turun, membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Setelah itu ia membawa sebuah bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Sesudah itu Jibril menggandeng tanganku dan membawaku naik ke langit.

Ketika sampai di langit yang pertama, aku bersua dengan seorang lelaki. Di sebelah kanannya terdapat sejumlah besar manusia, dan di sebelah kirinya juga terdapat sejumlah besar manusia. Apabila ia memandang ke arah kanannya, ia tersenyum. Apabila memandang ke arah kirinya, ia menangis.

Lelaki itu berkata, 'Selamat datang, Nabi yang saleh, anak yang saleh.'

Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah orang ini?'

Jibril menjawab, 'Orang ini adalah Adam. Orang-orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya adalah anak-anaknya. Mereka yang berada di sebelah kanannya adalah ahli surga, sedangkan mereka yang berada di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Karena itu, apabila ia memandang ke sebelah kanannya ia tersenyum, dan apabila memandang ke sebelah kirinya ia menangis.'

Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai di langit yang kedua. Lalu Jibril berkata kepada penjaganya, 'Bukalah!'

Penjaga langit menjawab sebagaimana yang dikatakan oleh penjaga langit yang pertama. Setelah itu pintu langit yang kedua dibukakan baginya."

Anas mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka'b menyebutkan dalam hadisnya bahwa Nabi bersua dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa di langit. Akan tetapi, ia tidak menyebutkan kepadaku tingkatan langit tempat masing-masing berada. Hanya saja ia menyebutkan bahwa Nabi bersua dengan Adam ‘alaihis salam. di langit yang pertama dan bersua dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. di langit yang keenam.

Anas melanjutkan bahwa ketika Jibril ‘alaihis salam. dan Rasulullah melewati Idris ‘alaihis salam., Idris berkata:

"Selamat datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."

Aku bertanya, "Siapakah orang ini, wahai Jibril?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah Idris."

Kemudian aku bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Musa berkata:

"Selamat datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah Musa."

Kemudian aku bersua dengan Isa ‘alaihis salam. Isa berkata:

"Selamat datang, Nabi yang saleh, saudara yang saleh."

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah Isa putra Maryam."

Setelah itu aku bersua dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ia berkata:

"Selamat datang, Nabi yang saleh, anak yang saleh."

Aku bertanya, "Siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah Ibrahim."

Ibnu Syihab mengatakan bahwa Ibnu Hazm juga menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

"Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampailah aku pada suatu tingkatan, yang dari tempat itu aku dapat mendengar suara guratan pena."

---***---

Ibnu Hazm dan Anas ibnu Malik mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Allah memfardukan atas umatku lima puluh kali salat. Lalu aku kembali dengan membawa perintah itu hingga sampai di tempat Musa. Musa bertanya, 'Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas umatmu?' Aku menjawab, 'Dia telah memfardukan lima puluh kali salat atas mereka.' Musa berkata kepadaku, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'

Maka aku kembali menghadap Tuhanku, lalu Dia menghapuskan separonya. Setelah itu aku kembali kepada Musa dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Musa berkata, 'Kembalilah lagi kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.'

Maka aku kembali menghadap kepada-Nya. Kemudian Allah berfirman, 'Fardu salat itu adalah lima waktu, tetapi pahalanya sama dengan lima puluh kali salat. Keputusan-Ku tidak dapat diubah.'

Lalu aku kembali kepada Musa. Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku menjawab, 'Aku telah merasa sangat malu kepada Tuhanku.'

Kemudian Jibril membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha itu diselimuti oleh berbagai macam warna yang aku tidak mengetahui apakah warna-warna itu. Setelah itu aku dimasukkan ke dalam surga. Ternyata di dalamnya terdapat tali-temali dari mutiara, dan tanah surga itu adalah minyak kesturi."

Demikianlah menurut riwayat Abdullah ibnu Ahmad di dalam kitab Musnad ayahnya. Akan tetapi, riwayat ini tidak dijumpai dalam satu pun kitab dari Kutubus Sittah.

Namun, pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan hadis yang diriwayatkan dalam Shahihain melalui jalur Yunus, dari Az-Zuhri, dari Anas, dari Abu Dzar, dengan lafaz yang semisal.

Riwayat Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Bazzar. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mutawakkil dan Ya'qub ibnu Ibrahim—lafaz hadis ini menurut riwayat Ya'qub ibnu Ibrahim. Keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnu Junadah, dari Abdullah ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda mengenai peristiwa malam Isra. Perawi kemudian melanjutkan kisahnya:

"Lalu Malaikat Jibril mendatangi sebuah batu besar yang berada di Baitul Maqdis. Ia melubanginya dengan ujung jari telunjuknya hingga tembus, kemudian menambatkan hewan Buraq pada batu besar tersebut."

Selanjutnya Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang meriwayatkan hadis ini dari Az-Zubair ibnu Junadah selain Abu Namilah. Kami juga tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan kecuali dari Buraidah."

Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam Kitab Tafsir dari kitab Jami'-nya melalui Ya'qub ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi dengan sanad yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini garib.

----***----

Riwayat Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu 

Diketengahkan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Abu Salamah pernah berkata, ia mendengar Jabir ibnu Abdullah menceritakan hadis berikut. Ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Ketika orang-orang Quraisy mendustakan peristiwa Isra-ku ke Baitul Maqdis, maka aku berdiri di Hijir Ismail, lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis. Maka aku menceritakan kepada mereka ciri-ciri khasnya seraya memandang ke arah pemandangan yang ditampilkan Allah kepadaku itu."

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing melalui berbagai jalur dari hadis Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

---***---

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hasan Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab berkata:

“Sesungguhnya ketika Rasulullah sampai di Baitul Maqdis, beliau bersua dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa di dalamnya. Kemudian didatangkan kepada beliau dua buah wadah, yang satu berisikan air susu, sedangkan yang lainnya berisikan khamr. Beliau memandang kedua wadah itu, lalu mengambil wadah yang berisikan air susu. Maka Malaikat Jibril berkata, ‘Engkau benar, engkau mendapat petunjuk memilih fitrah. Seandainya engkau memilih khamr, niscaya umatmu akan sesat.’”

Kemudian Rasulullah kembali ke Mekah dan menceritakan kepada orang-orang bahwa beliau baru saja menjalani Isra. Maka banyak orang yang sebelumnya ikut sholat bersama beliau mendapat ujian berat.

Ibnu Syihab mengatakan bahwa Abu Salamah ibnu Abdur Rahman berkata: 

"Sejumlah orang Quraisy bersiap-siap menuju rumah Abu Bakar—atau ia mengatakan kalimat yang semakna—lalu mereka bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu? Dia mengaku bahwa dirinya telah mengunjungi Baitul Maqdis lalu kembali ke Mekah dalam satu malam saja.”

Abu Bakar bertanya, “Apakah dia benar-benar mengatakan hal itu?” Mereka menjawab, “Ya, benar.”

Maka Abu Bakar berkata, “Aku bersaksi bahwa jika dia benar-benar mengatakan hal itu, maka sungguh dia berkata benar.”

Mereka bertanya lagi, “Apakah engkau mempercayainya, padahal dia mengatakan bahwa dirinya pergi ke negeri Syam lalu kembali ke Mekah hanya dalam satu malam sebelum pagi tiba?”

Abu Bakar menjawab, “Ya, aku mempercayainya bahkan dalam perkara yang lebih besar daripada itu. Aku mempercayainya tentang berita yang datang dari langit.”

Abu Salamah mengatakan bahwa karena peristiwa itulah Abu Bakar diberi gelar As-Siddiq.

Abu Salamah juga mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu menceritakan hadis berikut. Ia mendengar Rasulullah bersabda

“Ketika orang-orang Quraisy mendustakan aku mengenai peristiwa Isra ke Baitul Maqdis, aku berdiri di Hijir Ismail, lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis. Maka aku menceritakan kepada mereka ciri-ciri khas Baitul Maqdis seraya memandang ke arah gambaran yang ditampilkan itu.”

---***---

Riwayat Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu 

Diketengahkan oleh Imam Ahmad. Beliau mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman, dari Syaiban, dari Asim, dari Zur ibnu Hubaisy yang menceritakan bahwa ia datang kepada Huzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu yang sedang menyampaikan hadis tentang Isra Nabi Muhammad sebagai berikut.

Hudzaifah berkata bahwa Nabi dan Malaikat Jibril berangkat hingga sampai di Baitul Maqdis, tetapi keduanya tidak memasukinya.

Aku (Zur ibnu Hubaisy) menyanggah, "Tidak, bahkan Rasulullah memasukinya pada malam itu dan mengerjakan salat di dalamnya."

Hudzaifah bertanya, "Siapakah namamu, wahai orang botak? Aku mengenali wajahmu, tetapi aku tidak mengetahui namamu."

Aku menjawab, "Aku adalah Zur ibnu Hubaisy."

Huzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, "Apa alasanmu sehingga mengatakan bahwa Rasulullah mengerjakan salat di Baitul Maqdis pada malam itu?"

Aku menjawab, "Al-Qur'an yang memberitahukannya kepadaku."

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, "Barang siapa berbicara dengan dalil Al-Qur'an, maka ia telah berhujah. Bacakanlah ayat itu!"

Lalu aku membaca firman Allah Swt.:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa." (Al-Isra: 1)

Hudzaifah bertanya, "Wahai orang botak, apakah engkau menemukan di dalam ayat itu keterangan bahwa Rasulullah mengerjakan salat di dalamnya?"

Aku menjawab, "Tidak."

Hudzaifah berkata, "Demi Allah, Rasulullah sama sekali tidak mengerjakan salat di dalamnya pada malam itu. Seandainya beliau mengerjakan salat di dalamnya, niscaya diwajibkan pula atas kalian mengerjakan salat di sana, sebagaimana diwajibkan atas kalian mengerjakan salat di Baitul ‘Atiq (Masjidil Haram). Demi Allah, keduanya tidak turun dari Buraq hingga dibukakan bagi keduanya seluruh pintu langit. Lalu keduanya diperlihatkan surga dan neraka serta segala sesuatu yang dijanjikan di akhirat. Setelah itu keduanya kembali ke tempat semula mereka berangkat."

Sesudah itu Hudzaifah tertawa hingga tampak gigi serinya. Kemudian ia berkata, "Kalian menceritakan kepadaku bahwa Jibril menambatkan Buraq agar tidak lari. Padahal sesungguhnya Buraq telah ditundukkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata untuk Nabi ."

Aku bertanya, "Wahai Abu Abdullah, seperti apakah Buraq itu?"

Hudzaifah menjawab, "Buraq adalah seekor hewan berwarna putih dengan tinggi sekian. Sekali melangkah, ia menempuh sejauh mata memandang."

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud At-Tayalisi dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim, dengan sanad yang sama.

---

Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam kitab tafsir melalui hadis Asim (Ibnu Abun Nujud) dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi selanjutnya mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Pendapat yang dikemukakan oleh Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh lainnya dari Rasulullah yang menga­takan bahwa Buraq ditambatkan di halqah (tempat yang berbentuk ling­karan), dan bahwa Rasulullah melakukan sholat di Baitul Maqdis, seperti yang telah di sebutkan sebelumnya. 

Keterangan yang telah dise­butkan sebelumnya lebih didahulukan daripada pendapat Hudzaifah ini.

---***---

Riwayat Abu Sa'id ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu: 

Diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya. 

Beliau mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu ‘Ata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Rasyid Al-Hammani, dari Abu Harun Al-Abdi -yang dinilai dhaif, bahkan menurut pendapat lain dicap sebagai pendusta- dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi .

Disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada beliau  :

"Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang perjalanan Isra yang telah engkau alami." Yang mereka maksud ialah penjelasan lebih rinci tentang firman Allah Swt.:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (Al-Isra: 1), hingga akhir ayat.

Maka Nabi menceritakan kepada mereka: 

"Ketika aku sedang tidur pada suatu malam di Masjidil Haram, tiba-tiba datang seseorang membangunkanku, tetapi aku tidak melihat apa pun. Kemudian aku melihat sesosok bayangan, lalu aku mengikutinya hingga keluar dari Masjidil Haram.

Tiba-tiba aku melihat seekor hewan yang bentuknya menyerupai hewan tunggangan kalian, yaitu begal. Hanya saja, hewan itu selalu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya. Hewan itu disebut Buraq. Dahulu Buraq merupakan tunggangan para nabi sebelumku. Keistimewaannya ialah sekali melangkah dapat menempuh jarak sejauh mata memandang.

Lalu aku menaikinya. Ketika sedang dalam perjalanan, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kananku yang berseru, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu. Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu. Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'

Tetapi aku tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.

Ketika aku masih melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiriku yang berkata, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'

Tetapi aku tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.

Kemudian aku bertemu dengan seorang wanita yang kedua lengannya terbuka dan mengenakan berbagai macam perhiasan yang diciptakan Allah. Wanita itu berkata, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'

Aku tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.

Akhirnya aku sampai di Baitul Maqdis. Lalu aku menambatkan Buraq pada sebuah gelang penambat (halqah), yaitu tempat para nabi dahulu biasa menambatkan kendaraan mereka.

Kemudian Malaikat Jibril datang membawa dua buah wadah. Salah satunya berisi khamr dan yang lainnya berisi susu. Aku memilih wadah yang berisi susu, lalu meminumnya, sedangkan wadah yang berisi khamr aku tinggalkan.

Maka Jibril berkata, 'Engkau telah memilih fitrah. Ketahuilah, seandainya engkau memilih wadah yang berisi khamr, niscaya umatmu akan tersesat.'

Maka aku berkata, 'Allahu Akbar, Allahu Akbar.'

Jibril berkata, 'Aku belum pernah melihat roman wajahmu seperti ini.'

Kemudian ketika aku sedang melanjutkan perjalanan, kembali terdengar suara dari sebelah kananku yang berkata, 'Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu.'

Tetapi aku tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.

Jibril berkata, 'Itu adalah seruan orang-orang Yahudi. Seandainya engkau memenuhi seruannya atau berhenti untuk meladeninya, niscaya umatmu akan menjadi orang-orang Yahudi.'

Ketika aku sedang melanjutkan perjalanan dengan mengendarai Buraq, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiriku yang berseru, "Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu." Tetapi aku tidak menoleh, tidak pula mempedulikannya.

Jibril berkata, "Itulah seruan orang-orang Nasrani. Ketahuilah, seandainya engkau memenuhi seruannya, niscaya umatmu akan menjadi orang-orang Nasrani."

Ketika aku masih melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang kedua lengannya terbuka dan mengenakan berbagai macam perhiasan yang diciptakan oleh Allah. Wanita itu berkata, "Wahai Muhammad, tunggulah aku. Aku ingin bertanya kepadamu." Tetapi aku tidak menjawabnya dan tidak pula mempedulikannya.

Jibril berkata, "Itulah dunia. Ketahuilah, seandainya engkau memenuhi seruannya atau berhenti untuk meladeninya, niscaya engkau akan memilih dunia daripada akhirat."

Kemudian aku bersama Malaikat Jibril memasuki Baitul Maqdis, lalu masing-masing dari kami mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu didatangkan kepadaku sebuah tangga yang dahulu digunakan oleh arwah para nabi untuk naik. Tidak ada satu makhluk pun yang lebih indah bentuknya daripada tangga itu. Tidakkah engkau melihat orang yang hampir meninggal selalu memandang ke arah langit? Sesungguhnya ia memandang ke arah langit sebelum ruhnya meninggalkan jasad karena sangat ingin naik ke langit melalui tangga tersebut. Ia terpesona oleh keindahannya.

Lalu aku bersama Malaikat Jibril naik ke langit. Di sana aku bertemu dengan seorang malaikat yang dikenal dengan nama Ismail, penjaga langit yang pertama. Di hadapannya terdapat tujuh puluh ribu malaikat, dan setiap malaikat memimpin pasukan yang terdiri atas seratus ribu malaikat. Allah Swt. telah berfirman:

"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri." (Al-Muddassir: 31)

Kemudian Malaikat Jibril meminta izin masuk dengan mengetuk pintu langit pertama. Lalu terdengar pertanyaan, "Siapakah ini?"

Jibril menjawab, "Aku Jibril."

Ditanyakan lagi, "Siapakah yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Ditanyakan lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Kemudian aku bertemu dengan Nabi Adam dalam rupa sebagaimana ketika Allah Swt. pertama kali menciptakannya. Lalu diperlihatkan kepadanya seluruh ruh keturunannya yang beriman. Maka Adam berkata, "Ruh yang baik dan jiwa yang baik, tempatkanlah mereka di 'Illiyyin."

Setelah itu diperlihatkan pula kepadanya seluruh ruh keturunannya yang durhaka. Maka Adam berkata, "Ruh yang buruk dan jiwa yang buruk, tempatkanlah mereka di Sijjin."

Kemudian aku melanjutkan perjalanan beberapa saat. Tiba-tiba aku melihat banyak nampan besar berisi potongan daging segar, tetapi tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Lalu aku melihat banyak nampan besar lainnya yang berisi daging busuk dan berbau tidak sedap, namun justru banyak orang memakannya.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang dari kalangan umatmu yang meninggalkan yang halal dan memilih yang haram."

Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang memiliki bibir seperti bibir unta. Kemudian mulut mereka dibukakan, lalu bara api dimasukkan ke dalam mulut mereka hingga keluar dari bagian bawah tubuh mereka. Aku mendengar mereka menjerit meminta pertolongan kepada Allah Swt.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang-orang itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah sebagian dari umatmu yang disebutkan oleh firman Allah Swt.:"

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (An-Nisa: 10)

Kemudian aku melanjutkan perjalanan dalam waktu yang tidak lama. Tiba-tiba aku melihat banyak wanita yang digantung dengan tali pada bagian susunya. Aku mendengar jeritan mereka meminta pertolongan kepada Allah Swt.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah wanita-wanita itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah wanita-wanita pezina dari kalangan umatmu."

Kemudian aku melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang perutnya sebesar rumah. Setiap kali seseorang dari mereka hendak berdiri, ia jatuh tersungkur seraya berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau datangkan hari kiamat."

Mereka berada di jalan yang biasa dilalui oleh keluarga Fir'aun. Kemudian datanglah para pengguna jalan itu, lalu mereka menginjak-injak orang-orang tersebut. Aku mendengar mereka merintih meminta pertolongan kepada Allah.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah sekelompok dari umatmu yang disebutkan oleh firman Allah Swt.:"

"Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah: 275)

Kemudian aku melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba aku melihat banyak orang yang daging lambung mereka dipotong-potong, lalu mereka memakannya. Dikatakan kepada mereka, "Makanlah daging ini sebagaimana dahulu kalian memakan daging saudara kalian."

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka menggunjing dan mencela dari kalangan umatmu."

Kemudian kami naik ke langit yang kedua. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang lelaki yang paling tampan di antara seluruh makhluk Allah. Ketampanannya melebihi seluruh manusia. Wajahnya seperti bulan purnama yang cahayanya lebih terang daripada seluruh bintang.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Dia adalah saudaramu, Yusuf ‘alaihis salam."

Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia menjawab salamku.

Kemudian kami naik ke langit yang ketiga. Malaikat Jibril mengetuk pintunya. Setelah pintu itu dibuka, tiba-tiba aku bertemu dengan Yahya dan Isa ‘alaihimassalam. Keduanya ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaum mereka masing-masing. Maka aku mengucapkan salam kepada keduanya, dan keduanya menjawab salamku.

Kemudian kami naik ke langit yang keempat. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris ‘alaihis salam yang telah diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi. Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku.

Selanjutnya kami naik ke langit yang kelima. Tiba-tiba aku bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Separuh dari jenggotnya berwarna putih, sedangkan separuh lainnya berwarna hitam, dan panjangnya sampai ke pusarnya.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah Harun ibnu Imran yang sangat dicintai di kalangan kaumnya."

Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku.

Kemudian kami naik ke langit yang keenam. Tiba-tiba aku bertemu dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki yang berkulit hitam manis dan berambut lebat. Seandainya ia mengenakan dua lapis pakaian gamis, niscaya rambutnya tetap terlihat menembus hingga ke balik pakaian tersebut.

Tiba-tiba Musa berkata, "Orang-orang mengira bahwa aku adalah orang yang lebih dimuliakan oleh Allah daripada orang ini. Padahal orang ini jauh lebih dimuliakan oleh Allah daripada aku."

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah saudaramu, Musa ibnu Imran ‘alaihis salam."

Ia ditemani oleh sejumlah besar orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku.

Kemudian kami naik ke langit yang ketujuh. Tiba-tiba aku bertemu dengan ayah kami, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kekasih Allah Yang Maha Pemurah, sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur dalam rupa seorang lelaki yang sangat tampan.

Aku bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah ayahmu, Ibrahim, kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah."

Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku.

Tiba-tiba aku melihat umatku yang terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian putih seperti putihnya kertas, sedangkan sebagian lainnya mengenakan pakaian berwarna kelabu.

Kemudian aku memasuki Baitul Ma’mur. Orang-orang dari umatku yang mengenakan pakaian putih ikut masuk bersamaku, sedangkan mereka yang mengenakan pakaian kelabu tidak diizinkan masuk, tetapi mereka tetap berada dalam keadaan baik.

Lalu aku bersama orang-orang yang mengikutiku mengerjakan salat di Baitul Ma’mur. Setelah itu aku keluar bersama mereka yang mengikutiku.

Baitul Ma’mur setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang mengerjakan salat di dalamnya. Mereka tidak pernah kembali lagi kepadanya hingga hari kiamat.

Selanjutnya aku diangkat ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba daun-daunnya hampir menutupi seluruh umat ini. Di sana terdapat mata air yang mengalir yang disebut Salsabil. Dari sana mengalir dua buah sungai; salah satunya bernama Al-Kausar, sedangkan yang lainnya bernama Sungai Rahmat.

Maka aku mandi di dalam sungai tersebut, lalu diampunilah bagiku seluruh dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

Setelah itu aku diangkat naik ke surga. Aku disambut oleh seorang bidadari pelayan surga.

Aku bertanya, "Wahai pelayan, milik siapakah engkau?"

Ia menjawab, "Aku milik Zaid ibnu Harisah."

Ternyata di dalam surga terdapat banyak sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang telah disaring.

Aku juga melihat bahwa buah delima di surga besarnya seperti timba. Tiba-tiba aku melihat burung-burung di dalamnya berukuran besar seperti unta kalian.

Ketika kisah Nabi sampai pada bagian ini, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. telah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati seorang manusia pun. Kemudian saya dibawa ke neraka. Tiba-tiba di dalamnya terdapat kemurkaan Allah, bentakan, dan pembalasan-Nya. Seandainya dilemparkan batu dan besi ke dalamnya, niscaya api neraka akan memakannya (meleburkannya). Kemudian neraka ditutup dari pandanganku.

Kemudian saya diangkat menuju Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha menyelimutiku. Jarak antara aku dan Dia seperti jarak antara dua ujung busur panah atau lebih dekat daripada itu. Pada setiap daun pohon Sidratul Muntaha terdapat seorang Malaikat yang menempatinya. Kemudian difardukan atas diriku lima puluh kali salat. Allah berfirman kepadaku: "Bagimu dalam setiap amal kebaikan pahala sepuluh amal kebaikan. Apabila kamu berniat melakukan amal kebaikan, lalu kamu tidak mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala satu kebaikan. Jika kamu mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala sepuluh kebaikan. Apabila kamu berniat melakukan keburukan, lalu kamu tidak melaksanakannya, maka tidak dicatatkan sesuatu pun atas dirimu. Namun, jika kamu mengerjakan keburukan itu, maka dicatatkan atas dirimu satu amal keburukan."

Kemudian saya kembali kepada Musa, dan ia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu?" Saya menjawab, "Lima puluh kali salat." Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya. Jika mereka tidak mampu mengerjakannya, berarti mereka akan binasa." Maka saya kembali menghadap kepada Tuhanku dan memohon, "Wahai Tuhanku, berikanlah keringanan bagi umatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang paling lemah."

Maka Allah menghapuskan sepuluh salat dariku dan menjadikannya empat puluh salat. Saya terus-menerus bolak-balik antara Musa dan Tuhanku. Setiap kali saya datang kepada Musa, ia mengatakan kepadaku perkataan yang semisal dengan perkataan sebelumnya.

Hingga akhirnya saya datang menemui Musa, lalu Musa berkata, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Saya menjawab, "Saya diperintahkan untuk mengerjakan salat sepuluh kali." Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu."

Maka saya kembali menghadap kepada Tuhanku dan memohon kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, berilah keringanan bagi umatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang paling lemah." Maka Allah menghapuskan lima salat dan menetapkan lima salat lainnya bagiku.

Pada saat itu ada seorang Malaikat di Sidratul Muntaha yang menyeruku dengan ucapan, "Kini telah sempurnalah apa yang Aku fardukan. Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku, dan pada setiap amal kebaikan Aku beri mereka pahala sepuluh kali lipat."

Kemudian saya kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu?" Saya menjawab, "Salat lima waktu." Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang menyulitkan-Nya, dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu."

Maka saya menjawab, "Aku telah bolak-balik kepada Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya."

Kemudian pada keesokan harinya di Mekah, Nabi menceritakan kepada mereka semua keajaiban yang telah dilihatnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya tadi malam saya pergi ke Baitul Maqdis dan saya dinaikkan ke langit, lalu saya melihat anu dan anu."

Abu Jahal (yakni Ibnu Hisyam) berkata, "Tidakkah kalian merasa heran terhadap apa yang dikatakan oleh Muhammad ini? Dia menduga bahwa dirinya tadi malam pergi ke Baitul Maqdis, kemudian pada pagi harinya dia sudah berada bersama kita. Padahal seseorang dari kalangan kita, apabila memacu kendaraannya pergi ke Baitul Maqdis, memerlukan waktu satu bulan untuk perjalanan pergi dan satu bulan untuk perjalanan pulang. Berarti perjalanan itu memerlukan waktu dua bulan, tetapi dia mengaku dapat menempuhnya hanya dalam satu malam."

Maka saya (Nabi ) menceritakan kepada mereka tentang kafilah dagang orang-orang Quraisy yang saya jumpai ketika dalam perjalanan. Saya melihat mereka berada di tempat anu dan anu. Saya juga menceritakan bahwa salah satu unta mereka larat (terpisah dari rombongan). Ketika saya dalam perjalanan pulang, saya kembali menjumpai mereka berada di Al-Aqabah. Saya ceritakan pula barang bawaan yang dibawa oleh setiap orang dari mereka beserta ciri-ciri unta mereka, bahwa yang dibawa adalah anu dan anu, sedangkan ciri untanya adalah anu dan anu.

Abu Jahal berkata, "Dia telah memberitakan kepada kita banyak hal."

Seorang lelaki dari kalangan Quraisy berkata, "Saya adalah orang yang paling mengetahui tentang Baitul Maqdis, baik mengenai ciri-ciri bangunannya, bentuknya, maupun letaknya dari bukit. Jika Muhammad benar, saya akan menjelaskannya kepada kalian; dan jika dia berdusta, saya pun akan menjelaskannya kepada kalian."

Kemudian lelaki musyrik itu datang dan berkata, "Wahai Muhammad, saya adalah orang yang paling mengetahui tentang Baitul Maqdis. Maka jelaskanlah kepadaku bagaimana ciri bangunan dan bentuknya, serta seberapa jauh letaknya dari bukit!"

Maka Allah menampakkan Baitul Maqdis kepada Rasulullah di tempat beliau berada. Beliau dapat melihatnya sebagaimana seseorang di antara kita melihat rumahnya sendiri dari jarak yang dekat. Kemudian Nabi menjawab pertanyaan lelaki tersebut, menjelaskan bahwa bangunan dan bentuk Baitul Maqdis adalah anu dan anu, sedangkan jaraknya dari bukit adalah sekian dan sekian.

Lelaki itu berkata, "Kamu benar." Lalu ia kembali kepada teman-temannya dan berkata kepada mereka bahwa Muhammad memang benar dalam ucapannya. Atau ia mengatakan sesuatu yang semakna dengan itu.

Kisah yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir dengan sanad yang panjang melalui Muhammad ibnu Abdul A'la, dari Muhammad ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Abu Harun Al-Abdi. Demikian pula diriwayatkan melalui Al-Hasan ibnu Yahya, dari Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Abu Harun Al-Abdi dengan sanad yang sama.

-----

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Ishaq, bahwa telah menceritakan kepadanya Rauh ibnu Qasim, dari Abu Harun dengan sanad yang serupa dan lafaz yang semisal dengan hadis di atas.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Ahmad ibnu Abdah, dari Abu Abdus Samad Abdul Aziz ibnu Abdus Samad, dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri. Kemudian ia menceritakan hadis ini dengan teks yang panjang, indah, dan jauh lebih baik daripada apa yang diketengahkan oleh yang lain, meskipun di dalamnya terdapat beberapa hal yang garib dan munkar.

Kemudian Imam Baihaqi juga menuturkannya melalui riwayat Rauh ibnu Qais Al-Hadda-i, Hasyim, dan Ma'mar, dari Abu Harun Al-Abdi yang nama aslinya adalah Imarah ibnu Juwain, yang menurut para imam ahli hadis dinilai daif.

Sesungguhnya kami sengaja mengetengahkan hadisnya karena di dalamnya terdapat banyak syawahid (bukti-bukti penguat) yang memperkuat hadis-hadis lainnya. 

Hal ini juga karena terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang menyebutkan: Telah menceritakan kepada kami Abu Usman Ismail ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abu Hamid ibnu Bilal, telah menceritakan kepada kami Abul Azhar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Hakim yang mengatakan: 

Bahwa dalam tidurnya ia melihat Rasulullah . Lalu ia bertanya: 

"Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki dari kalangan umatmu yang dikenal dengan nama Sufyan As-Sauri, dia adalah seorang yang tidak tercela." Maka Rasulullah bersabda, "Dia tidak tercela." Ia telah meriwayatkan kepada kami dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dan dari engkau, wahai Rasulullah, mengenai kisah Isra-mu. 

Dalam kisah itu engkau mengatakan, "Bahwa ketika engkau berada di langit, engkau melihat..." hingga akhir hadis. Ia kemudian menceritakan hadis tersebut sampai selesai.

Maka Rasulullah bersabda, "Ya, benar."

Saya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada sejumlah orang dari kalangan umatmu yang meriwayatkan hadis darimu tentang Isra, yang di dalamnya disebutkan kisah-kisah yang ajaib."

Maka Rasulullah bersabda kepadanya, "Hal itu merupakan kisah para tukang dongeng."

---***--

Riwayat Syaddad ibnu Aus radhiyallahu 'anhu: 

Diketengahkan oleh Imam Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala ibnud Dahhak Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Salim Al-Asy'ari, dari Muhammad ibnul Walid ibnu Amir Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abul Walid ibnu Abdur Rahman, dari Jubair ibnu Nafir, telah menceritakan kepada kami Syaddad ibnu Aus yang mengatakan: 

Bahwa kami pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah kisah tentang Isra-mu?"

Rasulullah menjawab: Sesungguhnya setelah aku selesai mengerjakan salat (berdoa) pada petang hari di Mekah untuk para sahabatku, datanglah Malaikat Jibril ‘alaihis salam kepadaku dengan membawa seekor hewan berwarna putih yang ukurannya lebih besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada begal.

Lalu Jibril berkata, "Naiklah!"

Pada mulanya Buraq sulit untuk kukendarai, maka Jibril menjewer telinganya. Akhirnya Buraq mau membawaku. Buraq melaju dengan cepat, setiap langkahnya mencapai sejauh batas pandangan matanya, membawa kami hingga sampai di suatu tempat yang penuh dengan pohon kurma.

Kemudian Jibril menyuruhku turun dan berkata, "Salatlah!"

Maka saya mengerjakan salat. Setelah itu saya kembali menaiki Buraq, lalu Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah tadi kamu salat?"

Saya menjawab, "Allah lebih mengetahui."

Jibril berkata, "Kamu salat di Yasrib, yaitu Taibah."

Kemudian Buraq kembali melanjutkan perjalanannya dengan langkah kaki depannya sejauh batas pandangan mata, hingga kami sampai di suatu tempat. Jibril berkata, "Turunlah!"

Kemudian ia berkata lagi, "Salatlah!"

Maka saya pun salat.

Setelah itu kami kembali menaiki Buraq, lalu Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah tadi kamu salat?"

Saya menjawab, "Allah lebih mengetahui."

Jibril berkata, "Kamu tadi salat di Madyan, dekat pohon Musa."

Sesudah itu Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan meletakkan kedua kaki depannya sejauh batas pandangan mata, hingga sampailah kami di suatu tempat yang terlihat banyak bangunan.

Maka Malaikat Jibril berkata, "Turunlah!"

Saya pun turun, lalu Jibril berkata lagi, "Salatlah!"

Maka saya mengerjakan salat.

Kemudian kami menaiki Buraq lagi, lalu Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah tadi kamu mengerjakan salat?" Aku menjawab, "Allah lebih mengetahui." Jibril berkata, "Tadi kamu salat di Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa putra Maryam."

Selanjutnya Jibril melanjutkan perjalanan bersamaku hingga kami memasuki sebuah kota melalui pintunya yang sebelah kanan. Kemudian Jibril mendatangi kiblat masjid dan menambatkan hewan tunggangannya di tempat itu. Setelah itu kami memasuki masjid tersebut melalui pintu yang dari arahnya matahari dan bulan tampak ketika keduanya condong. Aku pun mengerjakan salat di dalam masjid itu sebanyak yang dikehendaki oleh Allah Swt.

Sesudah itu aku merasa sangat kehausan. Kemudian didatangkan kepadaku dua buah wadah; salah satunya berisi air susu, sedangkan yang lainnya berisi madu. Allah telah mengirimkan keduanya kepadaku, maka aku memilih salah satu di antara keduanya. Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku, sehingga aku memilih wadah yang berisi air susu dan langsung meminumnya hingga keningku berkeringat karena nikmatnya.

Pada saat itu di hadapanku terdapat seorang tua yang sedang bersandar di tempat duduknya. Orang tua itu berkata, "Temanmu ini telah memilih fitrah, sesungguhnya dia telah mendapat petunjuk."

Kemudian Jibril melanjutkan perjalanan bersamaku hingga kami sampai di sebuah lembah yang padanya terdapat sebuah kota. Tiba-tiba neraka Jahannam diperlihatkan kepadaku, tampak seperti bukit-bukit.

Saya (perawi) bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah engkau menjumpai keadaan neraka Jahannam?"

Rasulullah menjawab, "Saya menjumpai Jahannam dalam keadaan sangat panas seperti air yang mendidih."

Kemudian Jibril membawaku pergi hingga kami bersua dengan kafilah orang-orang Quraisy di tempat anu dan anu. Saat itu seekor unta milik mereka telah tersesat, lalu berhasil ditemukan oleh si Fulan. Aku mengucapkan salam kepada mereka, dan sebagian mereka berkata, "Ini adalah suara Muhammad."

Sebelum waktu subuh tiba, aku telah kembali kepada para sahabatku di Mekah. Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang kepadaku seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, ke manakah engkau tadi malam? Saya merasa kehilangan engkau dan saya mencarimu di tempat engkau biasa tidur."

Rasulullah menjawab, "Tahukah kamu bahwa tadi malam saya telah pergi ke Baitul Maqdis?"

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Baitul Maqdis itu ditempuh dengan perjalanan selama satu bulan. Maka gambarkanlah Baitul Maqdis kepadaku."

Maka Allah menampakkan kepadaku gambaran Baitul Maqdis, sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas. Tidak ada satu pun tentang Baitul Maqdis yang ditanyakan kepadaku melainkan aku dapat menjawabnya kepada Abu Bakar.

Lalu Abu Bakar berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."

Orang-orang musyrik berkata, "Lihatlah oleh kalian Ibnu Abu Kabsyah, dia menduga bahwa dirinya telah pergi ke Baitul Maqdis tadi malam."

Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya bukti dari apa yang aku ucapkan ialah bahwa saya bersua dengan kafilah kalian di tempat anu dan anu. Saat itu mereka kehilangan seekor untanya, lalu berhasil ditemukan oleh si Fulan. Sesungguhnya mereka masih berada dalam perjalanan dan akan datang kepada kalian pada hari anu. Yang berada paling depan adalah seekor unta berwarna hitam dengan memakai pelana hitam, serta membawa dua buah peti barang yang keduanya berwarna hitam."

Pada hari yang telah disebutkan itu, orang-orang berkumpul menunggu kedatangan kafilah mereka. Ketika waktu tengah hari telah dekat, tampaklah kafilah itu sedang menuju ke arah mereka. Di bagian depan kafilah tersebut terdapat seekor unta dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Rasulullah .

----

Demikian pula hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui dua jalur dari Abu Ismail At-Turmuzi dengan sanad yang sama. 

Setelah selesai menyebutkan hadis tersebut, ia mengatakan bahwa sanad hadis ini berpredikat sahih.

Ia juga meriwayatkannya secara terpisah melalui hadis-hadis lainnya, yang sebagian akan kami sebutkan. Kemudian ia menyebutkan banyak hadis tentang Isra yang kedudukannya menjadi syahid (penguat) bagi hadis ini.

Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya juga telah meriwayatkan hadis ini dari ayahnya, dari Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala Az-Zubaidi dengan sanad yang sama.

Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini —yang diriwayatkan dari Syaddad ibnu Aus— mengandung berbagai macam riwayat. Sebagian di antaranya sahih, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Baihaqi, sedangkan sebagian lainnya berpredikat munkar, seperti riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi melakukan salat di Baitul Lahm. Demikian pula kisah pertanyaan Abu Bakar As-Siddiq tentang ciri-ciri Baitul Maqdis dan beberapa hal lainnya.

----***---

Riwayat Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami tentang perjalanan Isra yang dilakukan oleh Rasulullah pada malam hari.

Disebutkan di dalamnya: 

"Bahwa Rasulullah masuk ke dalam surga, lalu beliau mendengar suara langkah kaki di tepi surga. Maka Rasulullah bertanya, "Wahai Jibril, suara apakah ini?"

Jibril menjawab, "Ini adalah suara Bilal, juru azan."

Ketika Rasulullah menghadapi orang banyak, beliau bersabda, "Beruntunglah Bilal, saya menyaksikan anu dan anu dari kebaikannya."

Selanjutnya Nabi bersua dengan Musa ‘alaihis salam. Musa mengucapkan selamat datang kepadanya seraya berkata, "Selamat datang Nabi yang ummi."

Nabi bersabda bahwa Musa adalah seorang lelaki yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, dan berambut ikal hingga mencapai daun telinganya atau kurang dari itu.

Nabi bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Dia adalah Musa."

Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang tua yang tampak sangat agung dan berwibawa. Orang tua itu mengucapkan selamat datang dan salam kepada Nabi . Semua orang yang ditemui oleh Nabi mengucapkan salam kepada beliau.

Nabi bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Dia adalah ayahmu, Nabi Ibrahim."

Nabi melihat neraka, dan tiba-tiba di dalamnya terdapat suatu kaum yang sedang memakan bangkai. Maka Nabi bertanya, "Wahai Jibril, siapakah mereka itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain, yaitu orang-orang yang suka mengumpat."

Kemudian Nabi melihat seorang lelaki yang berkulit merah dan memiliki mata yang sangat biru.

Nabi bertanya, "Wahai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Ini adalah penyembelih unta Nabi Saleh."

Ketika Rasulullah sampai di Masjidil Aqsa, beliau berdiri mengerjakan salat, dan ternyata semua nabi ikut salat bersamanya. Setelah selesai mengerjakan salat, disuguhkan kepada Nabi dua buah wadah; yang satu berada di sebelah kanan dan yang lainnya berada di sebelah kiri. Salah satunya berisi air susu, sedangkan yang lainnya berisi madu. Maka Nabi mengambil wadah yang berisi air susu dan meminumnya. Orang yang bersamanya berkata, "Engkau telah memilih fitrah."

Sanad hadis ini sahih, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.

----

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Sabit Abu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan: 

"Bahwa Rasulullah menjalani Isra ke Baitul Maqdis dan kembali pulang pada malam yang sama. Kemudian beliau menceritakan kepada mereka tentang perjalanan Isra yang dialaminya dan menceritakan pula kepada orang-orang Quraisy tentang kafilah mereka yang masih dalam perjalanan.

Di antara orang-orang Quraisy ada yang berkata, "Kami tidak percaya kepada Muhammad tentang apa yang dikatakannya." Maka sebagian dari mereka murtad dan kembali menjadi kafir. Allah menghinakan mereka bersama pemimpin mereka, yaitu Abu Jahal.

Abu Jahal berkata, "Muhammad menakut-nakuti kita dengan buah zaqqum. Maka datangkanlah oleh kalian buah kurma dan zubdah, marilah kita membuat makanan zaqqum (yaitu campuran kurma dan zubdah)."

Nabi juga melihat Dajjal dengan penglihatan yang nyata, bukan dalam mimpi. Beliau bersua dengan Isa, Musa, dan Ibrahim.

Ketika Nabi ditanya tentang ciri-ciri Dajjal, beliau menjawab, "Dajjal bertubuh besar, berkulit putih, salah satu matanya menonjol seakan-akan seperti bintang yang bercahaya, sedangkan rambutnya seakan-akan seperti ranting pohon yang lebat."

Beliau juga bersabda, "Saya melihat Isa ‘alaihis salam. Dia seorang lelaki yang berkulit putih, berambut keriting, tajam pandangan matanya, dan bertubuh padat. Saya juga melihat Musa ‘alaihis salam, seorang lelaki yang berkulit hitam manis, berambut lebat, dan bertubuh kuat. Saya pun melihat Ibrahim ‘alaihis salam. Saya tidak memandang kepada salah satu anggota tubuhnya melainkan seakan-akan saya memandang kepada diriku sendiri. Seakan-akan dia adalah teman kalian ini (yakni Nabi sendiri)."

Jibril berkata, "Ucapkanlah salam kepada bapakmu."

Maka saya mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui Hadid Abu Yazid Sabit ibnu Zaid, dari Hilal (yaitu Ibnu Hibban) dengan sanad yang sama. Sanad hadis ini berpredikat sahih.

-----

Jalur lain.

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Asy-Syafii, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah, dari Abul Aliyah yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas (anak paman Rasulullah ) yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Pada malam aku menjalani Isra, aku bersua dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki yang tinggi, berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan Azd Syanu-ah. Aku juga melihat Isa ‘alaihis salam putra Maryam, seorang lelaki yang bertubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan, dan berambut ikal. Aku juga melihat Malaikat Malik, penjaga neraka Jahannam, serta Dajjal dengan ciri-ciri khasnya tersendiri yang diperlihatkan oleh Allah kepadaku."

Allah Swt. berfirman:

"Maka janganlah kamu ragu-ragu dalam bersua dengannya." (As-Sajdah: 23)

Qatadah menafsirkan ayat ini dengan penafsiran bahwa Nabi telah bersua dengan Musa ‘alaihis salam.

"Dan Kami jadikan Musa petunjuk bagi Bani Israil." (As-Sajdah: 23)

Yakni Allah menjadikan Musa ‘alaihis salam sebagai petunjuk bagi kaum Bani Israil.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dalam kitab sahihnya dari Abdu ibnu Humaid, dari Yunus ibnu Muhammad, dari Syaiban. Imam Bukhari dan Imam Muslim juga mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dari Qatadah secara ringkas.

------

Jalur lain.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdullah, bahwa Ahmad ibnu Ubaid As-Sattar telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Dabis Al-Mu’addal, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

“Ketika aku menjalani Isra, aku melewati suatu tempat yang baunya sangat harum. Maka aku bertanya, ‘Bau harum apakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah bau Masyitah binti Fir’aun dan anak-anaknya.’”

Jibril melanjutkan kisahnya bahwa pada suatu hari terjatuhlah sisir dari tangan Masyitah. Maka Masyitah berkata, “Dengan menyebut nama Allah.”

Anak perempuan Fir’aun bertanya, “Sebutlah nama ayahku.”

Masyitah berkata, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Dia.”

Anak perempuan Fir’aun bertanya, “Apakah ada Tuhan selain ayahku?”

Masyitah berkata, “Benar. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”

Maka Fir’aun memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau mempunyai Tuhan lain selain diriku?”

Masyitah berkata, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah Swt.”

Fir’aun memerintahkan agar dipersiapkan sebuah belanga besar, lalu belanga itu dipanaskan dengan api. Kemudian dia memerintahkan Masyitah agar menceburkan diri ke dalam belanga tersebut.

Masyitah berkata, “Saya mempunyai sebuah permintaan kepadamu.”

Fir’aun berkata, “Sebutkanlah permintaanmu.”

Masyitah berkata, “Kumpulkanlah tulang-tulangku bersama tulang-tulang anakku di suatu tempat.”

Fir’aun menjawab, “Baiklah, saya akan memenuhi permintaanmu, karena kamu mempunyai hak atas kami.”

Fir’aun kemudian memerintahkan agar Masyitah beserta keluarganya dilemparkan ke dalam belanga tersebut. Mereka dilemparkan seorang demi seorang hingga sampailah giliran anak Masyitah yang masih menyusu kepadanya.

Anehnya, anak Masyitah tersebut dapat berbicara. Ia berkata, “Wahai ibuku, ceburkanlah dirimu ke dalamnya. Janganlah takut, karena sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang benar.”

Nabi bersabda, “Ada empat orang bayi yang masih berada dalam buaian yang dapat berbicara, yaitu anak Masyitah, saksi Nabi Yusuf, teman Juraij, dan Isa putra Maryam ‘alaihis salam.”

Sanad hadis ini tidak memiliki cacat, tetapi para ahli hadis tidak mengetengahkannya.

------

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far dan Rauh ibnul Mu'in; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Setelah aku menjalani Isra pada malam hari, maka pada pagi harinya aku berada di Mekah dengan perasaan bahwa orang-orang pasti akan mendustakanku."

Rasulullah duduk menyendiri dalam keadaan sedih. Lalu lewatlah kepadanya musuh Allah, Abu Jahal. Abu Jahal menghampirinya dan duduk bersamanya. Kemudian ia berkata dengan nada mengejek, "Apakah ada berita baru?"

Rasulullah menjawab, "Ya."

Abu Jahal bertanya, "Apakah berita itu?"

Nabi menjawab, "Tadi malam saya baru saja melakukan Isra (perjalanan di malam hari)."

Abu Jahal bertanya, "Ke mana?"

Nabi menjawab, "Ke Baitul Maqdis."

Kemudian Abu Jahal bertanya, "Lalu pagi harinya engkau sudah berada di antara kami?"

Nabi menjawab, "Ya."

Abu Jahal tidak langsung menanggapi ucapan Nabi dan tidak pula langsung mendustakannya, karena ia merasa khawatir apabila hal tersebut diceritakan kepada kaumnya, mereka tidak akan mempercayainya. Maka ia berkata, "Bagaimanakah pendapatmu jika aku memanggil kaummu? Apakah engkau juga akan menceritakan kepada mereka apa yang baru saja engkau ceritakan kepadaku?"

Nabi menjawab, "Ya."

Abu Jahal berkata, "Wahai seluruh orang-orang Bani Ka'b ibnu Luay!"

Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan ke majelis Nabi . Mereka datang dan langsung duduk di majelis tersebut, tempat Nabi dan Abu Jahal berada.

Abu Jahal berkata, "Ceritakanlah kepada kaummu seperti cerita yang telah engkau ceritakan kepadaku tadi."

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tadi malam saya menjalani Isra."

Mereka bertanya, "Menuju ke mana?"

Nabi menjawab, "Ke Baitul Maqdis."

Mereka bertanya, "Kemudian pagi harinya engkau sudah berada di antara kami?"

Nabi menjawab, "Ya."

Maka di antara mereka ada yang bertepuk tangan, dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran mendengar kisah yang mereka anggap mustahil itu.

Mereka bertanya, "Dapatkah engkau menyebutkan ciri khas Masjidil Aqsa kepada kami?"

Di antara mereka ada orang yang pernah bepergian ke negeri tersebut dan melihat Baitul Maqdis.

Rasulullah bersabda bahwa beliau terus-menerus menceritakan kepada mereka ciri khas masjid tersebut, hingga ada sebagian cirinya yang terlupakan oleh Nabi .

Kemudian Masjidil Aqsa ditampakkan kepada Nabi , lalu beliau memandangnya, hingga gambar Masjidil Aqsa diletakkan di dekat rumah Aqil atau Iqal. Maka Nabi menyebutkan ciri-ciri khasnya sambil melihat ke arah gambar tersebut.

Perawi mengatakan bahwa ada satu ciri khas yang terlupakan olehnya.

Orang-orang Quraisy berkata, "Demi Allah, ciri khas yang disebutkannya mengenai Baitul Maqdis adalah benar."

Imam Nasai meriwayatkan hadis ini melalui Auf ibnu Abu Jamilah (yaitu Al-A'rabi) dengan sanad yang sama.

Imam Baihaqi meriwayatkannya melalui hadis An-Nadr ibnu Syumail dan Hauzah, dari Auf, yaitu dari Ibnu Abu Jamilah Al-A'rabi, salah seorang imam yang berpredikat tsiqah (dapat dipercaya).

---***---

Riwayat Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu 

Diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Bahlul, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Namir, dari Malik ibnu Magul, dari Az-Zubair ibnu Addi, dari Talhah ibnu Masraf, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan: 

"Bahwa ketika Rasulullah menjalani Isra dan sampai di Sidratul Muntaha yang berada di langit keenam, hanya sampai kepadanya segala sesuatu yang naik, lalu diambil darinya; dan hanya sampai kepadanya segala sesuatu yang turun dari atasnya, lalu diambil darinya.

"Maka ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya." (An-Najm: 16)

Ibnu Mas'ud mengatakan: bahwa Sidratul Muntaha diliputi oleh kupu-kupu emas. Di tempat itulah Rasulullah diberi perintah untuk mengerjakan salat lima waktu, ayat-ayat yang mengakhiri surah Al-Baqarah, dan diberikan ampunan bagi orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun dari kalangan umatnya, serta diampuni dosa-dosa besar.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir dan Zuhair ibnu Harb; keduanya menerima hadis dari Abdullah ibnu Namir dengan sanad yang sama.

Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud ini merupakan bagian dari hadis Mi'raj.

Sahabat Anas telah meriwayatkan hadis ini dari Malik ibnu Sha'sha'ah, dari Nabi

Kemudian Abu dzar juga meriwayatkannya dari Nabi

Selanjutnya Imam Baihaqi meriwayatkan pula hadis ini secara mursal tanpa menyebutkan keduanya, lalu ia menyebutkan ketiga hadis tersebut sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Menurut kami, sahabat Ibnu Mas'ud juga telah meriwayatkan hadis ini dengan lafaz yang lebih panjang daripada hadis di atas, tetapi di dalamnya terdapat beberapa hal yang garib. 

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hasan ibnu Arafah di dalam kitab Juz-nya yang terkenal itu.

---***----

Riwayat Abu 'Ubaidah

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah, dari Qatadah ibnu Abdullah At-Taimi, telah menceritakan kepada kami Abu Zabyan Al-Janabi yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah ibnu Abdullah ibnu Mas'ud dan Muhammad ibnu Sa'd ibnu Waqqas, sedangkan keduanya berada dalam majelis tersebut, Muhammad ibnu Sa'd berkata kepada Abu Ubaidah: 

"Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis dari ayahmu yang menceritakan tentang perjalanan Isra yang dilakukan oleh Nabi ."

Abu Ubaidah berkata, "Tidak, tetapi engkaulah yang harus menceritakan kepada kami sebuah hadis dari ayahmu."

Muhammad menjawab, "Seandainya kamu meminta kepadaku sebelum aku meminta kepadamu, tentu aku mau menceritakannya."

Maka Abu Ubaidah menceritakan hadis tersebut dari ayahnya sesuai dengan apa yang diminta, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Malaikat Jibril datang kepadaku dengan membawa seekor hewan berwarna putih yang lebih besar daripada keledai, tetapi lebih kecil daripada begal. Kemudian Malaikat Jibril menaikkan aku ke atas punggung hewan tersebut. Lalu hewan itu membawa kami berangkat. Apabila mendaki tanjakan (jalan yang menaik), maka kedua kaki depan dan kaki belakangnya lurus; demikian pula ketika sampai di jalan yang menurun.

Hingga kami bersua dengan seorang lelaki yang tinggi, bertubuh bidang, dan berkulit hitam manis, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd-Sanu-ah. Lelaki itu berkata dengan suara keras, 'Engkau telah memuliakan dan mengutamakannya.'

Maka kami datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab salam kami.

Lelaki itu bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?'

Jibril menjawab, 'Dia adalah Ahmad.'

Lelaki itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang ummi dari Arab, yang telah menyampaikan risalah Tuhannya dan menasihati umatnya.'

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Aku (Nabi ) bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah orang ini?'

Jibril menjawab, 'Orang ini adalah Musa ibnu Imran.'

Aku bertanya, 'Kepada siapakah dia tadi mengeluh?'

Jibril menjawab, 'Dia mengeluh kepada Tuhannya tentang (kemuliaan dan keutamaan) kamu yang melebihinya.'

Aku bertanya, 'Apakah dia mengangkat suaranya dengan keras kepada Tuhannya?'

Jibril menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah memberinya watak yang keras.'

Kami melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami pada suatu pohon yang buahnya besar-besar. Di bawahnya terdapat seorang tua bersama anak-anaknya.

Maka Jibril berkata kepadaku, 'Temuilah bapakmu Ibrahim.'

Kami menemuinya, lalu mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salam kami.

Ibrahim ‘alaihis salam bertanya, 'Wahai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?'

Jibril menjawab, 'Orang ini adalah anakmu Ahmad.'

Ibrahim berkata, 'Selamat datang Nabi yang ummi yang telah menyampaikan risalah Tuhannya dan menasihati umatnya.'

'Hai anakku, sesungguhnya engkau akan menjumpai Tuhanmu malam ini. Dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling akhir dan paling lemah. Jika kamu dapat mengajukan kebutuhanmu atau sebagian besar dari keperluanmu mengenai umatmu, maka lakukanlah.'"

Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di Masjidil Aqsa. Lalu saya turun dan menambatkan hewan kendaraanku di sebuah halqah yang berada di dekat pintu masjid, yaitu tempat para nabi terdahulu biasa menambatkan kendaraan mereka. Saya masuk ke dalam masjid dan melihat para nabi berada di dalamnya; di antara mereka ada yang sedang rukuk, dan ada pula yang sedang sujud.

Selanjutnya diberikan kepadaku dua buah wadah, yang satu berisi madu dan yang lainnya berisi air susu. Maka saya mengambil wadah yang berisi air susu, lalu meminumnya. Malaikat Jibril menepuk pundakku seraya berkata, "Engkau telah memperoleh fitrah, demi Tuhan Muhammad."

Kemudian salat diiqamahkan dan saya mengimami mereka. Setelah salat selesai, kami pun pulang.

----

Sanad hadis ini garib, dan para imam ahli hadis tidak mengetengahkannya. Di dalamnya terdapat banyak hal yang garib, yaitu disebutkan bahwa para nabi bertanya tentang pribadi Nabi dan merekalah yang memulai pertanyaan, kemudian Nabi bertanya tentang mereka setelah melanjutkan perjalanan.

Padahal sesungguhnya menurut kitab-kitab sahih, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Jibrillah yang memberitahukan kepada Nabi tentang siapa mereka agar Nabi dapat mengucapkan salam kepada mereka.

Di dalam hadis ini juga disebutkan bahwa Nabi bertemu dengan para nabi sebelum memasuki Masjidil Aqsa. Padahal yang benar adalah Nabi bersua dengan mereka di langit. Kemudian Nabi turun ke Baitul Maqdis untuk kedua kalinya bersama para nabi, lalu beliau salat mengimami mereka di Baitul Maqdis. Setelah itu Nabi mengendarai Buraq dan kembali ke Mekah.

------

Jalur lain 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan: bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, dari Jabalah ibnu Suhaim, dari Marsad ibnu Junadah, dari Ibnu Mas‘ud, dari Nabi yang telah bersabda: 

"Bahwa pada malam beliau menjalani Isra, beliau bersua dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah hari kiamat. Mereka menanyakan kepada Nabi Ibrahim, tetapi Nabi Ibrahim menjawab, "Saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat." Mereka menanyakan kepada Nabi Musa, tetapi Nabi Musa berkata, "Saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat." Akhirnya mereka menanyakan kepada Nabi Isa. Maka Nabi Isa berkata, "Adapun kapan saat hari kiamat terjadi, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain Allah Swt. Akan tetapi, menurut keterangan yang diberikan oleh Tuhanku kepadaku, Dajjal pasti akan muncul."

Nabi Isa melanjutkan kisahnya, "Saat itu saya (Nabi Isa) memegang dua bilah tombak. Manakala Dajjal melihatku, maka tubuhnya akan meleleh (luluh) sebagaimana leburnya timah bila dipanaskan. Allah membinasakan Dajjal ketika Dajjal melihatku, sehingga batu-batuan dan pepohonan pun dapat berbicara, 'Wahai Muslim, sesungguhnya di bawahku bersembunyi seorang kafir. Kemarilah, bunuhlah dia.' Allah membinasakan semua orang kafir sehingga orang-orang (kaum muslim) kembali ke negeri dan tanah air mereka masing-masing dalam keadaan aman."

"Dan pada saat itulah muncul Ya’juj dan Ma’juj. Mereka datang berbondong-bondong dari daerah yang tinggi, lalu menginjak-injak negeri manusia. Tiada suatu daerah pun yang mereka datangi melainkan mereka menghancurkannya, dan tiada suatu mata air pun yang mereka lewati melainkan airnya habis mereka minum. Kemudian manusia kembali mengadu kepadaku tentang ulah yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj. Maka saya berdoa kepada Allah untuk membinasakan Ya’juj dan Ma’juj. Lalu Allah membinasakan mereka semua dengan mematikan mereka semuanya, sehingga bumi ini berbau busuk karena penuh dengan bangkai mereka. Kemudian Allah menurunkan hujan lebat, maka hanyutlah bangkai mereka dan terbuang ke laut."

"Menurut keterangan yang diberikan oleh Allah kepadaku, apabila hal tersebut telah terjadi, maka kedatangan hari kiamat ibarat seorang wanita hamil yang sudah saatnya untuk melahirkan. Tidak ada seorang pun dari kalangan keluarganya yang mengetahui kapan dia akan dikejutkan dengan kelahiran anaknya, apakah pada malam hari ataukah pada siang hari."

----

Ibnu Majah mengetengahkan hadis ini dari Bandar, dari Yazid ibnu Harun, dari Al-Awwam ibnu Hausyab melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Qart (saudara Abdullah ibnu Qart As-Samali). Sa‘id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Miskin ibnu Maimun (juru azan Masjid Ar-Ramlah), telah menceritakan kepadaku Urwah ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Qart:

Bahwa Rasulullah pada malam beliau menjalani Isra dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa berada di antara Zamzam dan Maqam Ibrahim. Malaikat Jibril berada di sebelah kanannya, dan Malaikat Mikail berada di sebelah kirinya. Kemudian keduanya membawa Nabi terbang hingga sampai di langit yang tertinggi. Dalam perjalanan pulangnya, Nabi mendengar suara tasbih di langit yang tertinggi bersamaan dengan bacaan tasbih lainnya yang banyak. Langit yang tertinggi bertasbih kepada Tuhan Yang memiliki wibawa karena merasa takut kepada Tuhan yang memiliki kekuasaan Yang Mahatinggi. Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi, tiada yang menandingi-Nya. Mahasuci Dia lagi Mahatinggi.

Dan sehubungan dengan hal ini, nanti kami akan mengetengahkan sebuah hadis, yaitu dalam tafsir surat ini pada firman-Nya: "Langit yang tujuh bertasbih kepada Allah." (Al-Isra: 44), hingga akhir ayat.

---***---

RIWAYAT UMAR IBNUL KHATTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ibnu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam Abu Maryam dan Abu Syu‘aib, bahwa ketika Khalifah Umar ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu berada di Jabiyah menceritakan tentang kemenangan atas Baitul Maqdis.

Hammad ibnu Salamah mengatakan, Abu Salamah telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab berkata kepada Ka‘b, "Utarakanlah pendapatmu, di manakah saya harus mengerjakan salat?"

Ka‘b menjawab, "Seandainya aku menjadi engkau, tentulah saya akan salat di belakang Sakhrah, maka seluruh kawasan Baitul Maqdis berada di hadapanmu."

Umar ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalau demikian, berarti saya sama dengan orang-orang Yahudi. Tetapi saya akan melakukan salat di tempat yang pernah Rasulullah mengerjakan salat padanya."

Lalu Umar maju ke arah kiblat, kemudian salat. Setelah itu ia datang dan menggelarkan kain selendangnya. Sebelumnya ia menyapu terlebih dahulu tempat itu dengan selendangnya, lalu orang-orang meniru perbuatannya.

Umar tidak mengagungkan Sakhrah dengan melakukan salat di belakangnya, sedangkan Sakhrah berada di hadapannya, seperti yang diisyaratkan oleh Ka‘b Al-Habar yang berasal dari kaum yang mengagungkannya hingga mereka menjadikannya sebagai arah kiblat mereka. Akan tetapi, Allah memberinya petunjuk berkat Islam, maka ditunjukkanlah kepadanya cara yang benar.

Karena itulah, ketika Ka‘b memberikan saran kepadanya, Umar berkata, "Kalau begitu, saya seperti orang-orang Yahudi."

Umar tidak menghina tempat itu sebagaimana orang-orang Nasrani menghinanya. Mereka menjadikannya tempat pembuangan sampah karena tempat itu adalah kiblat orang-orang Yahudi. Akan tetapi, Khalifah Umar justru membersihkan kotorannya dengan kain selendangnya.

Apa yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu ini mirip dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Marsad Al-Ganawi yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: "Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan jangan pula kalian salat dengan menghadap kepadanya."

---***---

RIWAYAT ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU 'ANHU

Riwayat Abu Hurairah ini sangat panjang, dan di dalamnya terdapat hal-hal yang garib. Imam Abu Ja‘far ibnu Jarir mengatakan di dalam tafsir surat Subhana (Al-Isra), bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far Ar-Razi, dari Ar-Rabi‘ ibnu Anas, dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi, dari Abu Hurairah atau lainnya—di sini Abu Ja‘far merasa ragu—sehubungan dengan tafsir firman-Nya: "Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (Al-Isra: 1), hingga akhir ayat.

Bahwa Jibril datang kepada Nabi bersama Mikail. Lalu Jibril berkata kepada Mikail, "Berikanlah kepadaku piala berisikan air zamzam untuk membersihkan hatinya dan membedah dadanya."

Maka Malaikat Jibril membelah dada Nabi dan mencucinya sebanyak tiga kali, sedangkan Malaikat Mikail bolak-balik kepadanya sebanyak tiga kali membawa tiga piala berisikan air zamzam. Jibril membelah dada Nabi dan membuang bagian yang berisikan kedengkian, lalu memenuhinya dengan ilmu, kesabaran, iman, keyakinan, dan Islam. Kemudian dibuatlah cap di antara kedua tulang belikat Nabi , yaitu cap kenabian.

Setelah itu diberikan seekor kuda kepada Nabi , lalu Nabi dinaikkan ke atas hewan itu. Setiap langkahnya dapat mencapai jarak sejauh mata memandang, atau lebih jauh dari itu. Nabi berjalan mengendarainya diiringi oleh Malaikat Jibril.

Nabi sampai di tempat suatu kaum yang bercocok tanam dalam waktu satu hari, kemudian menuainya pada hari yang lain. Setiap kali mereka menuainya, tanaman mereka kembali seperti sediakala.

Lalu Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang-orang ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Amal kebaikan mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat, dan segala sesuatu yang mereka belanjakan Allah menggantinya. Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki."

Kemudian sampailah Nabi di tempat suatu kaum yang kepala mereka dipecahkan oleh batu-batu besar. Setiap kali kepala mereka hancur, maka kembali seperti semula. Hal itu terus dilakukan terhadap mereka tanpa henti.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?"

Malaikat Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berat kepala (malas) dalam mengerjakan salat fardu."

Lalu sampailah Nabi ke tempat suatu kaum yang pada bagian muka mereka terdapat tanda. Mereka digiring bagaikan unta dan binatang ternak. Mereka makan pohon berduri, pohon Zaqqum, dan batu-batu neraka Jahannam.

Maka Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah manusia itu?"

Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat harta bendanya. Allah sama sekali tidak menganiaya mereka barang sedikit pun. Dan tiadalah Allah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya."

Kemudian sampailah Nabi ke tempat suatu kaum. Di hadapan mereka terdapat daging masak yang ada di dalam kuali, sedangkan di dalam kuali yang lain terdapat daging mentah yang buruk. Tetapi mereka memakan daging mentah yang buruk itu dan membiarkan daging masak yang baik.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?"

Malaikat Jibril menjawab, "Lelaki ini adalah seorang dari kalangan umatmu yang mempunyai seorang istri yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi wanita lain yang buruk, lalu ia tidur bersamanya hingga pagi hari. Dan dia adalah seorang wanita yang mempunyai suami yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi lelaki lain yang buruk, lalu tidur bersamanya hingga pagi hari."

Lalu sampailah Nabi di suatu tempat yang terdapat kayu di tengah jalannya. Tiada seorang pun yang melaluinya melainkan bajunya pasti robek, dan tiada sesuatu pun yang melewatinya melainkan pasti menusuknya.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Ini adalah perumpamaan sejumlah orang dari kalangan umatmu yang suka duduk di pinggir jalan, lalu mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah."

Kemudian Jibril membacakan firman-Nya: "Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman." (Al-A‘raf: 86), hingga akhir ayat.

Setelah itu sampailah Nabi di tempat seorang lelaki yang telah mengumpulkan setumpuk besar barang yang tidak mampu diangkatnya, sedangkan dia terus menambahinya.

Maka Nabi bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umatmu yang mempunyai banyak amanat orang lain yang tidak mampu ditunaikannya, sedangkan dia ingin membawanya."

Kemudian sampailah Nabi di tempat suatu kaum yang lisan dan bibir mereka dipotong dengan gunting (catut) besi. Setiap kali telah digunting, maka lidah itu akan kembali seperti sediakala. Hal itu dilakukan terhadap mereka tanpa henti-hentinya.

Nabi bertanya, "Apakah ini, hai Jibril?"

Malaikat Jibril menjawab, "Mereka adalah para ahli khutbah yang suka menebarkan fitnah."

Lalu sampailah Nabi di suatu tempat yang terdapat sebuah lubang kecil, yang darinya keluar seekor sapi jantan yang besar. Kemudian sapi jantan itu bermaksud kembali ke tempat ia keluar, tetapi ia tidak mampu.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Ini adalah perumpamaan seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata besar, kemudian menyesalinya, tetapi ia tidak mampu mencabut kata-katanya itu."

Kemudian sampailah Nabi ke suatu lembah. Beliau menjumpai lembah itu menyebarkan bau harum yang menyegarkan dan bau minyak kesturi. Beliau pun mendengar suatu suara.

Maka Nabi bertanya, "Hai Jibril, bau wangi apa yang menyegarkan ini, bau minyak kesturi apa pula ini, dan suara apakah ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Ini adalah suara surga yang mengatakan: 'Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah banyak kamar-kamarku, kain sutera halus, tipis, tebal, dan permadani-permadani ku, mutiaraku, marjanku, perakku, emasku, gelas-gelasku, piring-piringku, kendi-kendiku, cangkir-cangkirku, maduku, airku, susuku, dan khamrku. Maka berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan.'"

Maka Allah berfirman, "Bagimu semua orang muslim laki-laki dan perempuan, serta orang mukmin laki-laki dan perempuan, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Ku, rasul-rasul-Ku, beramal saleh, dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dia tidak menyembah tandingan-tandingan selain Aku. Barang siapa yang takut kepada-Ku, dia akan aman; barang siapa yang meminta kepada-Ku, tentu Aku memberinya; barang siapa yang memberi pinjaman kepada-Ku, tentu Aku membalasnya; dan barang siapa yang bertawakal kepada-Ku, tentu Aku memberinya kecukupan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Aku tidak akan mengingkari janji. Dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta makhluk semuanya."

Surga berkata, "Saya rela."

Kemudian Nabi melanjutkan perjalanannya hingga sampailah beliau di suatu lembah. Di tempat itu beliau mendengar suara gemuruh dan mencium bau yang tidak enak.

Maka Nabi bertanya, "Hai Jibril, bau apakah ini, dan suara apakah ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Ini adalah suara neraka Jahannam. Ia mengatakan, 'Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah banyak rantai-rantaiku, belenggu-belengguku, nyala apiku, air panasku, duri-duriku, nanahku, dan azabku. Dasarku sangat dalam, serta panas apiku sangat kuat. Maka berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.'"

Allah berfirman, "Untukmu semua orang musyrik laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, semua orang jahat laki-laki dan perempuan, dan semua orang yang sewenang-wenang yang tidak beriman kepada hari hisab."

Neraka menjawab, "Saya rela."

Nabi melanjutkan perjalanannya hingga sampailah beliau di Baitul Maqdis. Lalu beliau turun dan menambatkan kudanya di Sakhrah. Nabi masuk ke dalam masjid, kemudian salat bersama para malaikat.

Setelah selesai mengerjakan salat, para malaikat bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?"

Malaikat Jibril menjawab, "Orang ini adalah Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Semoga Allah merahmati saudara dan khalifah kita ini. Sebaik-baik saudara dan sebaik-baik khalifah adalah dia. Dan sebaik-baik orang yang datang kini telah tiba."

Kemudian Nabi bersua dengan arwah para nabi. Para nabi itu sedang mengucapkan puji syukur kepada Tuhan mereka.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya, memberiku kerajaan yang besar, menjadikan diriku seorang imam yang dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, menyelamatkan diriku dari api, serta menjadikan api itu dingin dan keselamatan bagiku."

Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah mengajak aku berbicara secara langsung, menjadikan kehancuran Fir‘aun beserta para pengikutnya dan keselamatan kaum Bani Israil melalui tanganku, serta menjadikan umatku sebagai kaum yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu pula mereka menjalankan keadilan."

Kemudian Nabi Daud ‘alaihis salam memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kerajaan yang besar, mengajarkan kepadaku kitab Zabur, melunakkan besi bagiku, menundukkan gunung-gunung hingga dapat bertasbih bersama burung-burung, serta memberikan kepadaku hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan."

Kemudian Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan bagiku angin, menundukkan bagiku setan-setan sehingga mereka mau bekerja untukku menurut apa yang aku kehendaki, membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap berada di atas tungku. Dia mengajarkan kepadaku pengertian bahasa burung. Allah memberiku segala sesuatu sebagai karunia-Nya, menundukkan kepadaku bala tentara setan, manusia, dan burung, memberikan keutamaan kepadaku yang melebihi kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin, memberikan kepadaku kerajaan yang besar yang tidak diberikan kepada seorang pun sesudahku, dan menjadikan kerajaanku sebagai kerajaan yang baik tanpa hisab padanya."

Kemudian Nabi Isa ‘alaihis salam memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan diriku tercipta melalui kalimah (perintah)-Nya dan menjadikan perumpamaanku seperti Adam yang diciptakan-Nya dari tanah liat. Kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah kamu!' Maka jadilah ia. Dia mengajarkan kepadaku Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. Dia menjadikan aku dapat membuat dari tanah liat sesuatu berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka jadilah ia seekor burung yang dapat terbang dengan seizin Allah. Allah juga menjadikan aku dapat menyembuhkan orang yang buta, orang yang berpenyakit supak, dan menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan seizin Allah. Dia telah mengangkat diriku, menyucikan aku, serta melindungi diriku dan ibuku dari godaan setan yang terkutuk, sehingga setan tidak mempunyai jalan untuk menggoda kami."

Selanjutnya Nabi Muhammad memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhannya seraya berkata:

"Kalian semua telah memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan, maka saya pun akan memanjatkan puji dan syukurku kepada-Nya. Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku menjadi rahmat bagi semesta alam, bagi seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Allah telah menurunkan kepadaku kitab Al-Qur'an yang di dalamnya terkandung penjelasan segala sesuatu, menjadikan umatku sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, menjadikan umatku sebagai umat yang adil, menjadikan umatku sebagai orang-orang yang pertama (masuk surga) dan yang terakhir (munculnya di dunia), melapangkan dadaku, menghapuskan dariku semua dosa-dosaku, meninggikan sebutan namaku, serta menjadikan diriku seorang yang membuka dan menutup."

Maka berkatalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, "Karena itulah Muhammad mempunyai kelebihan di atas kalian."

Abu Ja‘far Ar-Razi mengatakan, yang dimaksud dengan "penutup" ialah penutup kenabian; sedangkan yang dimaksud dengan "pembuka" ialah orang yang pertama kali membuka syafaat pada hari kiamat nanti.

Kemudian disuguhkan kepada Nabi tiga buah wadah yang tertutup. Pertama, disuguhkan kepada Nabi wadah yang di dalamnya berisikan air, lalu dikatakan kepadanya, "Minumlah!"

Nabi meminumnya sedikit. Lalu disuguhkan kepadanya wadah yang berisikan air susu, dan dikatakan kepadanya, "Minumlah!"

Maka Nabi meminumnya hingga kenyang.

Setelah itu disuguhkan kepada Nabi wadah yang berisikan khamr, lalu dikatakan kepadanya, "Minumlah!"

Nabi menjawab, "Saya tidak menginginkannya karena saya sudah kenyang."

Maka Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Ingatlah, sesungguhnya khamr ini kelak akan diharamkan atas umatmu. Seandainya kamu meminumnya, niscaya tidak akan ada yang mengikutimu dari kalangan umatmu kecuali hanya sedikit."

Kemudian Malaikat Jibril membawanya naik ke langit. Jibril mengetuk pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah orang ini, hai Jibril?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Para penjaga langit bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini. Dia adalah sebaik-baik saudara dan khalifah. Sebaik-baik orang kini telah datang."

Maka dibukakanlah pintu langit bagi keduanya. Nabi memasukinya, dan tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang sempurna bentuknya. Tidak ada sesuatu pun dari bentuknya yang kurang sempurna sebagaimana kurangnya bentuk manusia lainnya.

Di sebelah kanannya terdapat sebuah pintu yang keluar darinya bau yang harum, sedangkan di sebelah kirinya terdapat pintu lain yang keluar darinya bau yang busuk. Apabila ia melihat ke pintu yang sebelah kanannya, maka ia tertawa dan bergembira. Tetapi apabila ia memandang ke arah pintu yang sebelah kirinya, maka ia menangis dan bersedih.

Nabi bertanya kepada Jibril, "Hai Jibril, siapakah orang tua ini yang bentuknya sempurna, tidak ada sesuatu pun dari bentuknya yang kurang, dan apakah kedua pintu tersebut?"

Malaikat Jibril menjawab, "Orang ini adalah bapakmu Adam. Adapun pintu yang ada di sebelah kanannya adalah pintu surga. Apabila ia memandang kepada orang-orang yang masuk surga dari kalangan keturunannya, maka ia tertawa dan bergembira. Sedangkan pintu yang ada di sebelah kirinya adalah pintu neraka Jahannam. Apabila ia melihat kepada orang-orang yang memasukinya dari kalangan keturunannya, maka ia menangis dan bersedih."

Kemudian Jibril ‘alaihis salam membawa Nabi naik ke langit yang kedua. Jibril mengetuk pintunya, lalu para penjaganya bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad, utusan Allah."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Semoga Allah memberikan usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang paling baik telah datang."

Nabi pun masuk ke langit yang kedua. Tiba-tiba beliau bersua dengan dua orang pemuda. Maka Nabi bertanya, "Siapakah kedua orang pemuda ini?"

Jibril menjawab, "Ini adalah Isa putra Maryam dan Yahya ibnu Zakaria. Keduanya adalah saudara sepupu dari pihak ibu."

Kemudian Jibril ‘alaihis salam membawa Nabi naik ke langit yang ketiga. Jibril mengetuk pintunya, lalu mereka bertanya, "Siapakah orang ini?"

Jibril menjawab, "Saya Jibril."

Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang paling baik telah tiba."

Nabi masuk ke dalam langit yang ketiga. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang mengungguli manusia dalam hal ketampanannya, sebagaimana keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang-bintang.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang yang memiliki ketampanan yang melebihi seluruh manusia ini?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah saudaramu Yusuf ‘alaihis salam."

Kemudian Jibril membawa Nabi naik ke langit yang keempat. Jibril mengetuk pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah ini?"

Jibril menjawab, "Saya Jibril."

Para penjaga langit yang keempat bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?"

Jibril menjawab, "Muhammad."

Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"

Jibril menjawab, "Ya."

Mereka berkata, "Semoga Allah memberikan usia panjang kepadanya. Dia adalah saudara dan khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang terbaik telah tiba."

Nabi masuk ke langit yang keempat. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki. Maka Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?"

Jibril ‘alaihis salam menjawab, "Dia adalah Idris ‘alaihis salam. Allah telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi."

Kemudian Jibril membawa Nabi naik ke langit yang kelima. Lalu Jibril mengetuk pintunya. Para penjaga langit kelima bertanya, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia, dan sebaik-baik orang kini telah datang."

Nabi masuk ke langit yang kelima. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang sedang duduk, sedangkan di sekelilingnya terdapat suatu kaum. Lelaki itu sedang bercerita kepada mereka. Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini, dan siapakah mereka yang berada di sekelilingnya?" Jibril menjawab, "Dia adalah Harun yang dicintai, sedangkan mereka adalah kaum Bani Israil."

Kemudian Jibril membawa Nabi naik ke langit yang keenam. Jibril mengetuk pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Dialah sebaik-baik saudara dan khalifah. Orang yang paling baik kini telah datang."

Maka masuklah Nabi ke langit yang keenam. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang sedang duduk. Ketika Nabi melewatinya, lelaki itu menangis. Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah lelaki ini?" Jibril menjawab, "Lelaki ini adalah Musa."

Nabi bertanya, "Mengapa dia menangis?" Jibril menjawab, "Bani Israil menduga bahwa sesungguhnya Musa adalah manusia dari kalangan Bani Adam yang paling dimuliakan oleh Allah Swt. Lalu setelah melihatmu, ia berkata, 'Ini adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Adam yang telah menggantikan kedudukanku di dunia setelah aku berada di akhirat. Sekiranya dia lebih utama dariku karena keutamaannya sendiri, aku tidak peduli. Akan tetapi, masing-masing nabi mempunyai umatnya sendiri-sendiri (yakni umat Nabi jauh lebih banyak daripada umatnya).' "

Kemudian Jibril membawa Nabi naik ke langit yang ketujuh. Jibril mengetuk pintunya, maka dikatakan, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad."

Para penjaga langit ketujuh berkata, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Dia adalah sebaik-baik saudara dan khalifah. Kini orang yang terbaik telah datang."

Maka Nabi masuk ke langit yang ketujuh. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang telah beruban sedang duduk di depan pintu surga di atas sebuah kursi. Di hadapannya terdapat suatu kaum yang sedang duduk; wajah mereka putih bersih seperti putihnya kertas. Dan terdapat pula suatu kaum lain yang pada wajah mereka terdapat noda.

Kemudian orang-orang yang bernoda itu pergi, lalu masuk ke dalam sebuah sungai dan mandi di dalamnya. Setelah keluar, sebagian noda pada wajah mereka telah hilang. Kemudian mereka masuk lagi ke dalam sungai yang lain dan mandi di dalamnya, lalu keluar dalam keadaan sebagian besar noda mereka telah lenyap. Setelah itu mereka masuk lagi ke dalam sungai yang lain dan mandi di dalamnya, lalu keluar dalam keadaan telah bersih dari seluruh noda mereka. Akhirnya keadaan mereka sama seperti teman-temannya yang memiliki wajah putih bersih seperti putihnya kertas. Selanjutnya mereka datang dan duduk bergabung bersama teman-temannya.

Nabi bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang yang telah beruban ini? Siapakah mereka yang wajahnya putih bersih dan siapakah mereka yang wajahnya bernoda? Dan sungai-sungai apakah yang mereka mandi di dalamnya sehingga wajah mereka menjadi bersih?"

Jibril menjawab, "Orang ini adalah ayahmu, Nabi Ibrahim. Dialah orang yang pertama kali beruban di muka bumi. Adapun mereka yang berwajah putih adalah orang-orang yang tidak mencampuri iman mereka dengan perbuatan aniaya (syirik). Sedangkan mereka yang bernoda adalah orang-orang yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk, kemudian mereka bertobat, dan Allah menerima tobat mereka. Adapun sungai yang pertama disebut Sungai Rahmat, sungai yang kedua disebut Sungai Nikmat Allah, dan sungai yang ketiga adalah sungai yang Allah memberi mereka minuman yang suci."

Kemudian sampailah Nabi ke Sidratul Muntaha. Lalu dikatakan kepada Nabi , "Pohon Sidrah ini merupakan tempat pemberhentian terakhir bagi amal setiap orang dari kalangan umatmu yang meninggal dalam keadaan berpegang teguh kepada sunnahmu."

Ternyata Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang dari akarnya mengalir sungai-sungai yang mengalirkan air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai yang mengalirkan air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai yang mengalirkan madu yang telah disaring.

Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang naungannya tidak dapat ditempuh oleh seorang pengendara selama tujuh puluh tahun. Bahkan, satu helai daunnya saja dapat menaungi seluruh umat manusia. Maka Sidratul Muntaha diliputi oleh cahaya (Nur) Tuhan Yang Maha Pencipta, dan para malaikat pun menutupinya seperti burung-burung gagak yang hinggap berkerumun pada sebuah pohon, karena kecintaan mereka kepada Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.

Di tempat itulah Nabi diajak berbicara oleh Allah Swt. Allah berfirman, "Mintalah!"

Nabi berkata, "Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang besar. Engkau telah mengajak Musa berbicara secara langsung. Engkau telah memberikan kepada Daud kerajaan yang besar, melunakkan besi baginya, dan menundukkan gunung-gunung untuknya. Engkau telah memberikan kepada Sulaiman sebuah kerajaan yang besar, menundukkan baginya jin, manusia, dan setan, serta menundukkan angin untuknya. Engkau juga telah memberikan kepadanya sebuah kerajaan yang tidak akan Engkau berikan kepada seorang pun sesudahnya. Engkau telah mengajarkan kepada Isa Taurat dan Injil, menjadikannya dapat menyembuhkan orang yang buta, orang yang berpenyakit supak, serta dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan izin-Mu. Engkau telah melindungi dia dan ibunya dari godaan setan yang terkutuk, sehingga setan tidak memiliki jalan untuk menimpakan mudarat kepada keduanya."

Maka Allah Swt. berfirman kepadanya, "Sesungguhnya Aku pun telah menjadikanmu sebagai kekasih-Ku. Hal itu telah tertulis di dalam kitab Taurat, bahwa engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah. Aku mengutusmu kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Aku telah melapangkan dadamu dan menghapuskan seluruh dosa-dosamu. Aku telah meninggikan sebutan namamu, sehingga tidaklah Aku disebut melainkan engkau ikut disebut bersama dengan sebutan-Ku.

Aku menjadikan umatmu sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Aku menjadikan umatmu sebagai umat yang adil. Aku menjadikan umatmu sebagai umat yang pertama (masuk surga) dan yang terakhir (muncul di dunia). Aku menetapkan bagi umatmu bahwa mereka tidak boleh melakukan suatu khutbah pun melainkan harus menyebutkan kesaksian bahwa engkau adalah hamba dan rasul-Ku.

Aku menjadikan umatmu sebagai umat yang hati mereka adalah kitab-kitabnya. Aku menjadikanmu sebagai nabi yang pertama kali diciptakan, tetapi yang terakhir diutus, dan yang pertama kali diberi keputusan. Aku telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (Surah Al-Fatihah), yang belum pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu.

Aku telah memberikan kepadamu ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah dari suatu perbendaharaan yang berada di bawah ‘Arasy. Ayat-ayat tersebut belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Aku telah memberikan kepadamu Al-Kausar. Aku juga memberikan kepadamu delapan perkara, yaitu Islam, hijrah, jihad, salat, sedekah (zakat), puasa Ramadan, amar makruf dan nahi mungkar.

Dan Aku menjadikanmu sebagai pembuka (syafaat) dan penutup (para nabi)."

Untuk itulah Nabi pernah bersabda dalam salah satu sabdanya:

"Tuhanku memberiku keutamaan dengan enam perkara. Dia memberiku pembukaan-pembukaan kalam, penutup-penutupnya, serta himpunan-himpunan hadis. Dia mengutusku kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dia menjatuhkan rasa takut kepada musuh-musuhku dalam jarak perjalanan satu bulan. Dihalalkan bagiku ganimah yang belum pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku. Dan dijadikan bagiku bumi ini seluruhnya suci lagi menyucikan serta sebagai masjid."

Kemudian difardukan atas Nabi lima puluh kali salat. Ketika beliau kembali kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, Nabi Musa bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu, wahai Muhammad?"

Nabi menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan salat lima puluh kali."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Maka Nabi kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu Allah menghapuskan sepuluh salat darinya.

Kemudian Nabi kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?"

Nabi menjawab, "Empat puluh kali salat."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Maka Nabi kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.

Kemudian Nabi kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?"

Nabi menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan tiga puluh kali salat."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Maka Nabi kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.

Kemudian Nabi kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?"

Nabi menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan dua puluh kali salat."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Maka Nabi kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya. Lalu Allah menghapuskan sepuluh salat lagi darinya.

Nabi kembali menemui Musa, lalu Musa bertanya, "Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?"

Nabi menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan sepuluh kali salat."

Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Maka Nabi kembali kepada Tuhannya dengan rasa malu, lalu memohon keringanan dari-Nya. Kemudian Allah menghapuskan lima salat darinya.

Nabi kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, "Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?"

Nabi menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan lima kali salat."

Musa berkata: "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sungguh, aku telah mengalami banyak kesulitan dari kaum Bani Israil."

Nabi berkata, "Sesungguhnya aku telah bolak-balik kepada Tuhanku berkali-kali hingga aku merasa malu kepada-Nya. Maka aku tidak mau kembali lagi kepada-Nya."

Kemudian dikatakanlah kepada Nabi , "Ingatlah, sesungguhnya sebagaimana engkau telah rela dengan salat lima waktu bagi dirimu, maka sesungguhnya salat lima waktu itu telah mencukupimu sebagai pengganti dari lima puluh kali salat. Sebab, setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat."

Mendengar hal tersebut, hati Nabi Muhammad menjadi puas dengan kepuasan yang melegakan. Nabi Musa ‘alaihis salam adalah nabi yang tampak paling keras ketika Nabi bersua dengannya, tetapi ia adalah nabi yang paling baik sikapnya kepada Nabi ketika beliau kembali kepadanya.

---***---

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Ubaidillah, dari Abu Nadr Hasyim ibnu Qasim, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah atau lainnya—ketika sampai pada bagian ini Abu Ja’far (Ibnu Jarir) merasa ragu—dari Abu Hurairah, dari Nabi . Kemudian Ibnu Jarir menyebutkan hadis yang semakna dengan hadis di atas.

Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari Abu Sa’id Al-Malini, dari Ibnu Addi, dari Muhammad Ibnul Hasan As-Sukuni Al-Balisi dan Ar-Ramlah. Ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl,” lalu ia menyebutkan hadis yang semisal dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui Abu Hurairah.

Imam Baihaqi juga menuturkan bahwa Al-Hakim Abu Abdullah telah meriwayatkannya dari Ismail ibnu Muhammad ibnul Fadl ibnu Muhammad Asy-Sya’rani, dari kakeknya, dari Ibrahim ibnu Hamzah Az-Zubairi, dari Hatim ibnu Ismail. Ia berkata, “Telah menceritakan kepadaku Isa ibnu Mahan (yakni Abu Ja’far Ar-Razi), dari Ar-Rabi’ ibnu Anas Al-Bakri, dari Abul Aliyah, dari Abu Hurairah, dari Nabi .” Kemudian Al-Hakim menyebutkan hadis yang dimaksud.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Abu Zar’ah pernah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abdullah At-Tamimi, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas Al-Bakri, dari Abu Aliyah—di sini Isa merasa ragu—atau dari lainnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi yang telah bersabda sehubungan dengan firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

‘Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram.’ (Al-Isra: 1)

Kemudian Abu Zar’ah menyebutkan hadis tersebut dengan panjang lebar, yang isinya semisal dengan apa yang telah kami kemukakan di atas.”

Menurut kami, Abu Ja’far Ar-Razi memberikan komentar bahwa Al-Hafidz Abu Zar’ah Ar-Razi banyak mengalami kekeliruan dalam meriwayatkan hadis. Selain Abu Ja’far, ada pula ulama yang menilainya daif, tetapi sebagian yang lain menilainya siqah. Namun, jika ditinjau dari sisi lahiriahnya, ia adalah seorang yang kurang kuat hafalannya. Oleh karena itu, hadis yang hanya diriwayatkan olehnya seorang diri masih perlu dipertimbangkan kesahihannya.

Hadis ini pada sebagian teksnya mengandung perkara-perkara yang garib dan kemunkaran yang berat. Di dalamnya juga terdapat sebagian kisah mimpi dalam riwayat.

Adapun riwayat Samurah ibnu Jundub tentang mimpi yang panjang telah disebutkan oleh Imam Bukhari. Dapat pula dikatakan bahwa hadis ini merupakan gabungan dari beberapa hadis yang berbeda, atau merupakan hadis tentang mimpi Nabi maupun kisah lainnya.

---***---
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan di dalam kitab Sahih masing-masing melalui hadis Abdur Razzaq. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Ketika aku menjalani Isra, aku bersua dengan Musa ‘alaihis salam." Lalu Nabi menyebutkan ciri-cirinya, bahwa Musa adalah seorang lelaki yang lincah, berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd-Sanu'ah. "Aku juga bersua dengan Isa." Nabi menyebutkan ciri-cirinya, bahwa Isa ‘alaihis salam adalah seorang lelaki yang bertubuh sedang dengan kulit semu kemerah-merahan, seakan-akan seperti seseorang yang baru keluar dari pemandian air panas. "Aku pun bersua dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Aku adalah orang yang paling mirip dengannya di antara keturunannya."

Setelah itu disuguhkan kepadaku dua buah wadah. Pada salah satunya berisikan air susu, sedangkan pada yang lainnya terdapat khamr. Dikatakan kepadaku, "Ambillah salah satunya yang engkau sukai." Maka aku mengambil wadah yang berisikan air susu dan meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku, "Engkau telah mendapat petunjuk memilih fitrah," atau "Engkau telah memilih fitrah." Selanjutnya dikatakan, "Seandainya engkau memilih khamr, niscaya umatmu akan sesat."

---***---

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga mengetengahkannya melalui jalur lain dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Muhammad ibnu Rafi', dari Al-Hajjaj ibnul Musanna, dari Abdul Aziz ibnu Abu Salamah, dari Abdullah ibnul Fadl Al-Hasyimi, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

"Sesungguhnya ketika aku berada di Hijir Ismail, sedang orang-orang Quraisy menghujaniku dengan pertanyaan tentang perjalanan Isra-ku, mereka menanyaiku tentang berbagai hal mengenai Baitul Maqdis yang tidak aku perhatikan. Maka aku mengalami suatu kebingungan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis kepadaku sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas. Maka tidak ada suatu pertanyaan pun yang mereka ajukan kepadaku melainkan aku dapat menjawabnya dengan menceritakan kepada mereka tentangnya.

Sesungguhnya ketika aku berada di antara golongan para nabi, tiba-tiba aku melihat Musa sedang berdiri mengerjakan sholat. Ternyata dia adalah seorang lelaki yang berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd-Sanu'ah. Kemudian aku melihat Isa putra Maryam sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah ibnu Mas'ud As-Saqafi. Lalu aku melihat Ibrahim sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya ialah teman kalian ini (maksudnya dirinya sendiri).

Maka masuklah waktu sholat, lalu aku mengimami mereka. Setelah aku menyelesaikan sholat itu, seseorang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, inilah Malaikat Malik, penjaga neraka Jahannam." Maka aku menoleh ke arahnya, dan ternyata dialah yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepadaku."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Abus Silt, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Pada malam Isra-ku ketika aku sampai di langit yang ketujuh, aku memandang ke arah atasku: tiba-tiba aku melihat guruh,kilat, dan petir. Dan sampailah saya di tempat suatu kaum yang perut mereka sebesar-besar rumah, di dalamnya terdapat ba­nyak ular yang kelihatan dari bagian luar perut mereka. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menja­wab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan riba.” Ketika saya turun ke langit yang terdekat, saya memandang ke bagian bawahku; tiba-tiba saya melihat debu beterbangan, asap, dan suara-suara gaduh. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, "Ini adalah setan-setan yang menutupi pandangan mata anak-anak Adam, sehingga anak-anak Adam tidak memikirkan (kekuasaan Allah yang ada di) kerajaan langit dan bumi. Seandainya tidak ada hal itu, tentulah anak-anak Adam dapat melihat banyak keajaiban.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini melalui Hasan dan Affan. Keduanya menerima hadis tersebut dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Ibnu Majah juga meriwayatkannya melalui Hammad dengan sanad yang sama.

---***---

RIWAYAT SEJUMLAH SAHABAT YANG TELAH DISEBUTKAN DI ATAS 
DAN YANG LAINNYA.

Al-Hafidz Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah (yakni Al-Hakim), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid ibnu Ya'qub Ad-Daqqaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Husain Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad (yaitu Ismail ibnu Musa Al-Fazzari), telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Sa'd An-Nadri dari Bani Nadrah ibnu Mu'in. Ia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, Lais ibnu Sulaim, Sulaiman Al-A'masy, dan Ata ibnus Sa'ib. Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis dengan lebih panjang daripada yang lain." Mereka meriwayatkannya dari Ali ibnu Abu Talib dan Abdullah ibnu Abbas.

Demikian pula diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, dari orang yang menceritakannya kepadanya, dari Ibnu Abbas. Juga diriwayatkan oleh Salim ibnu Muslim Al-Uqaili, dari Amir Asy-Sya'bi, dari Abdullah ibnu Mas'ud. Demikian pula oleh Juwaibir, dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim. Semuanya mengatakan bahwa Rasulullah ketika itu berada di rumah Ummu Hani' dalam keadaan tidur setelah selesai mengerjakan sholat Isya.

Abu Abdullah Al-Hakim mengatakan, "Telah menceritakan kepada kami guru kami," kemudian beliau menyebutkan hadis tersebut. Aku (Al-Baihaqi) menyalin teks hadis itu dari catatan yang berasal dari ucapannya.

Selanjutnya Al-Hafidz Imam Baihaqi menuturkan sebuah hadis yang cukup panjang. Di dalamnya disebutkan tentang bilangan tangga, para malaikat, dan lain sebagainya. Tidak ada sesuatu pun dari isinya yang mustahil bagi kekuasaan Allah apabila riwayat ini benar-benar sahih.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa kisah yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu dalam hadis Abu Harun Al-Abdi yang menguatkan peristiwa Isra dan Mi'raj, sudah cukup memuaskan.

Menurut kami, hadis ini juga telah diriwayatkan secara mursal oleh lebih dari seorang tabi'in dan para imam ahli tafsir. Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada mereka semua.

---***---

RIWAYAT AISYAH UMMUL MUKMININ RADHIYALLAHU ‘ANHA

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepadaku Makram ibnu Ahmad Al-Qadi, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Haisam Al-Bakri, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Kasir As-San'ani, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Rasyid, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah menjalani Isra ke Masjidil Aqsa, pada pagi harinya beliau menceritakan hal tersebut kepada orang-orang. Maka murtadlah sebagian orang yang sebelumnya telah beriman dan membenarkan Nabi . Kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Abu Bakar. Mereka berkata kepada Abu Bakar, "Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu itu? Dia mengaku bahwa tadi malam dirinya telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis."

Abu Bakar bertanya, "Apakah benar dia mengatakan hal itu?"

Mereka menjawab, "Ya."

Abu Bakar berkata, "Jika memang dia mengatakannya, maka sungguh dia benar."

Mereka berkata, "Apakah engkau membenarkannya bahwa dia melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis, lalu kembali sebelum pagi tiba?"

Abu Bakar menjawab, "Ya. Bahkan aku membenarkannya dalam perkara yang lebih besar daripada itu. Aku membenarkannya tentang berita dari langit (wahyu) yang datang kepadanya, baik pada pagi maupun petang hari."

Sejak saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar "As-Siddiq."

----***---

RIWAYAT UMMU HANI' BINTI ABU TALIB

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muhammad As-Sa'ib Al-Kalbi, dari Abu Saleh Badzan, dari Ummu Hani' binti Abu Talib tentang perjalanan Isra Rasulullah , bahwa Ummu Hani' berkata:

"Tidaklah Rasulullah melakukan perjalanan Isra melainkan ketika beliau berada di rumahku. Pada malam itu beliau menginap di rumahku. Setelah mengerjakan sholat Isya, beliau tidur dan kami pun tidur. Menjelang waktu Subuh Rasulullah membangunkan kami. Setelah kami mengerjakan sholat Subuh bersama beliau, beliau bersabda, 'Hai Ummu Hani', sesungguhnya tadi malam aku mengerjakan sholat Isya bersama kalian di lembah ini. Kemudian aku pergi ke Baitul Maqdis dan mengerjakan sholat di dalamnya. Setelah itu sekarang ini aku mengerjakan sholat Subuh bersama kalian, sebagaimana yang engkau lihat.'"

Akan tetapi, dalam sanad hadis ini terdapat Al-Kalbi, yang dinilai sebagai perawi matruk (ditinggalkan hadisnya).

Namun demikian, Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ismail Al-Ansari, dari Damrah ibnu Rabi'ah, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abu Saleh, dari Ummu Hani' sebuah hadis yang lebih panjang daripada teks hadis di atas.

Al-Hafidz Abdul Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Abdul A'la ibnu Abul Musawir, dari Ikrimah, dari Ummu Hani' yang mengatakan bahwa Rasulullah menginap di rumahnya saat beliau menjalani Isra. Pada suatu saat di malam itu saya merasa kehilangan beliau. Perasaan itulah yang membuat saya tidak dapat tidur karena khawatir bila ada sebagian orang Quraisy yang mencelakakan beliau.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam. datang kepadaku, lalu memegang tanganku dan mengajakku keluar. Tiba-tiba di depan pintu rumah terdapat seekor hewan yang lebih kecil daripada begal, tetapi lebih besar daripada keledai. Jibril menaikkan aku ke atas punggungnya, lalu membawaku pergi hingga sampailah aku di Baitul Maqdis.

Jibril memperkenalkan Ibrahim ‘alaihis salam. kepadaku. Orang yang paling mirip bentuk dan akhlaknya dengan beliau adalah aku sendiri. Jibril memperkenalkan Musa kepadaku. Beliau adalah seorang yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, dan berambut keriting. Aku melihatnya mirip dengan seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd Sanu-ah. Lalu Jibril memperkenalkan Isa putra Maryam kepadaku. Beliau adalah seorang yang berperawakan sedang dan berkulit putih kemerah-merahan. Aku melihatnya mirip dengan Urwah ibnu Mas'ud As-Saqafi. Dan Jibril memperlihatkan Dajjal kepadaku. Dia adalah seorang yang mata kanannya buta. Aku melihatnya mirip dengan Qatn ibnu Abdul Uzza.

Sekarang aku akan keluar menemui orang-orang Quraisy untuk menyampaikan apa yang aku alami tadi malam."

Ummu Hani' mengatakan bahwa ia memegang baju Nabi seraya berkata, "Aku mengingatkan engkau bahwa sesungguhnya engkau akan menjumpai suatu kaum yang tidak akan mempercayaimu dan akan mengingkari ucapanmu. Aku khawatir mereka akan mencelakanmu."

Ummu Hani' melanjutkan kisahnya, "Rasulullah melepaskan bajunya dari peganganku, lalu beliau keluar menemui mereka. Ketika Nabi sampai kepada mereka, mereka sedang duduk-duduk. Lalu Nabi menceritakan kepada mereka sebagaimana yang telah beliau ceritakan kepadaku."

Jubair ibnu Muth'im bangkit dan berkata, "Hai Muhammad, jika engkau ingin tetap mempunyai kedudukan seperti sebelumnya, tentu engkau tidak akan mengatakan hal-hal seperti itu di hadapan kami."

Seorang lelaki dari kalangan hadirin bangkit dan bertanya, "Hai Muhammad, apakah engkau bertemu dengan kafilah kami di tempat anu dan anu?"

Nabi menjawab, "Ya, demi Allah. Aku bertemu dengan mereka ketika mereka kehilangan seekor unta dan sedang sibuk mencarinya."

Lelaki itu bertanya lagi, "Apakah engkau juga bertemu dengan kafilah Bani Fulan?"

Nabi menjawab, "Ya. Aku bertemu dengan mereka di tempat anu, sedangkan seekor unta merah mereka patah kakinya. Mereka mempunyai sebuah mangkuk berisi air, lalu unta itu meminumnya hingga habis."

Mereka berkata, "Kalau begitu, ceritakanlah kepada kami perlengkapannya dan berapa orang penggembala yang ada bersama mereka."

Nabi berkata kepada dirinya sendiri, "Aku tidak sempat menghitungnya dengan teliti."

Nabi berdiri, lalu kafilah itu ditampakkan di hadapan beliau sehingga beliau dapat menghitung jumlah penggembala yang ada bersama mereka. Setelah itu Nabi datang kepada orang-orang Quraisy dan bersabda kepada mereka:

"Kalian telah bertanya kepadaku tentang unta milik Bani Fulan. Unta itu berciri khas anu dan anu. Bersamanya ada penggembala si Fulan dan si Anu. Kalian juga bertanya kepadaku tentang unta Bani Fulan. Ciri khasnya ialah anu dan anu. Penggembalanya ialah Ibnu Abu Quhafah, si Fulan dan si Anu. Kafilah tersebut akan sampai kepada kalian besok pada siang hari di celah Saniyyah."

Maka mereka menunggu di celah Saniyyah untuk membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh Nabi kepada mereka.

Ternyata kafilah itu datang. Mereka pun bertanya kepada orang-orang dalam kafilah itu, "Apakah unta kalian ada yang hilang?"

Orang-orang kafilah menjawab, "Ya."

Mereka bertanya kepada kafilah lainnya, "Apakah unta merah kalian ada yang patah kakinya?"

Mereka menjawab, "Ya."

Mereka bertanya lagi, "Apakah kalian mempunyai sebuah mangkuk besar?"

Abu Bakar (Abu Quhafah) berkata, "Demi Allah, aku telah meletakkannya dan tidak seorang pun meminum air yang ada di dalamnya, serta tidak seorang pun menumpahkannya ke tanah."

Maka Abu Bakar membenarkan kisah Nabi dan beriman kepada beliau. Sejak saat itu Abu Bakar mendapat julukan "As-Siddiq".

===***=== 

KESIMPULAN IBNU KATSIR SETELAH MENYEBUTKAN 
RIWAYAT-RIWAYAT HADITS ISRA DAN MI'RAJ

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat 1 dari surat Al-Isra', beliau menyebutkan hadits-hadits Isra dan Mi'raj secara komprehensif. Setelah itu beliau menyimpulkan sebagai berikut:

Setelah kita meneliti semua hadis-hadis ini, baik yang sahih, hasan, maupun daif, maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra yang dijalani oleh Rasulullah dari Mekah menuju Baitul Maqdis adalah suatu peristiwa yang telah disepakati kebenarannya. Perjalanan Isra tersebut hanya terjadi satu kali, meskipun redaksi hadis yang diriwayatkan para perawi berbeda-beda; sebagian lebih panjang, sedangkan sebagian lainnya lebih ringkas. Hal itu dapat terjadi karena kekeliruan dalam periwayatan bisa saja terjadi pada selain para nabi.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa perbedaan redaksi riwayat-riwayat tersebut menunjukkan adanya beberapa kali perjalanan Isra, maka pendapat itu adalah keliru dan jauh dari kebenaran.

Sebagian ulama mutaakhkhirin mengatakan bahwa Nabi menjalani Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis sebanyak satu kali, kemudian dari Mekah ke langit satu kali, dan sekali lagi dari Mekah ke Baitul Maqdis lalu ke langit.

Yang mengherankan, orang yang berpendapat demikian merasa puas dengan kesimpulan yang dicapainya. Ia mengira telah berhasil menyelesaikan seluruh persoalan yang berkaitan dengan Isra. Padahal, kenyataannya tidak ada seorang pun ulama Salaf yang menukil pendapat tersebut selain dirinya sendiri.

Seandainya perjalanan Isra yang dilakukan Nabi terjadi berkali-kali, tentu beliau akan menceritakannya kepada umatnya, dan tentu para sahabat akan meriwayatkannya serta menjelaskan bahwa Isra itu terjadi lebih dari satu kali.

Musa ibnu Uqbah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa peristiwa Isra terjadi setahun sebelum hijrah. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Urwah. Adapun As-Suddi berpendapat bahwa Isra terjadi enam belas bulan sebelum hijrah.

Pendapat yang benar menyatakan bahwa Rasulullah menjalani Isra dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur atau bermimpi, yaitu dari Mekah menuju Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq.

Disebutkan bahwa setelah Nabi tiba di depan pintu Masjidil Aqsa, beliau menambatkan Buraq di dekat pintu masjid, kemudian masuk ke dalamnya dan mengerjakan sholat dua rakaat sebagai tahiyyatul masjid.

Setelah itu didatangkan Mi'raj, yaitu suatu alat yang bentuknya menyerupai tangga dengan anak-anak tangga untuk naik ke atas. Nabi menaikinya menuju langit pertama, kemudian ke langit-langit berikutnya hingga sampai ke langit ketujuh.

Pada setiap lapisan langit, Nabi disambut oleh para penghuninya. Beliau mengucapkan salam kepada para nabi yang berada di setiap langit sesuai dengan kedudukan dan tingkatan mereka. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah di langit keenam, dan bertemu dengan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.

Kemudian Nabi melampaui kedudukan kedua nabi tersebut beserta para nabi lainnya hingga sampailah beliau pada suatu tingkatan yang dari tempat itu beliau dapat mendengar suara geretan pena-pena yang sedang menulis takdir segala sesuatu.

Nabi melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah Allah , yaitu dihiasi dengan kupu-kupu emas dalam jumlah yang sangat banyak serta berbagai warna yang indah. Para malaikat pun mengelilinginya.

Di tempat itulah Nabi melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya yang memiliki enam ratus sayap. Beliau juga melihat rafraf (hamparan atau bantal-bantal hijau) yang menutupi seluruh cakrawala pandangan.

Nabi melihat Baitul Ma'mur. Di sana Nabi Ibrahim Al-Khalil, pembangun Ka'bah di bumi, sedang menyandarkan punggungnya kepada Baitul Ma'mur, karena Baitul Ma'mur adalah Ka'bah bagi para penghuni langit. Setiap hari Baitul Ma'mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk beribadah di dalamnya, kemudian mereka tidak akan kembali lagi kepadanya hingga hari kiamat.

Nabi melihat surga dan neraka. Di tempat itu pula diwajibkan kepada beliau sholat lima puluh kali, kemudian Allah memberikan keringanan hingga menjadi lima waktu sebagai rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini terkandung perhatian yang sangat besar terhadap kemuliaan dan kedudukan sholat.

Lalu Nabi turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh seluruh nabi. Setelah waktu sholat tiba, beliau mengimami mereka di Baitul Maqdis. Kemungkinan besar sholat yang dimaksud adalah sholat Subuh pada hari itu.

Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa Nabi mengimami mereka di langit. Akan tetapi, berdasarkan riwayat-riwayat yang lebih banyak, peristiwa itu terjadi di Baitul Maqdis. Hanya saja, sebagian riwayat menyebutkan bahwa sholat tersebut dilakukan ketika Nabi pertama kali memasukinya.

Menurut makna lahiriah hadis, peristiwa itu terjadi setelah Nabi kembali ke Baitul Maqdis. Hal ini karena ketika beliau melewati para nabi di tempat masing-masing, beliau bertanya kepada Jibril ‘alaihis salam. tentang mereka satu per satu, lalu Jibril memperkenalkan masing-masing nabi kepada beliau.

Kesimpulan inilah yang lebih layak dipegang, karena pada awalnya Nabi diperintahkan menghadap kepada Allah Yang Mahatinggi agar diwajibkan kepada beliau dan kepada umatnya berbagai syariat yang Allah kehendaki.

Setelah menerima seluruh perintah tersebut, barulah Nabi berkumpul bersama saudara-saudaranya dari kalangan para nabi. Kemudian Allah menampakkan keutamaan dan kemuliaan beliau di atas mereka dengan menjadikan beliau sebagai imam sholat mereka, dan Jibril-lah yang memberi isyarat kepada Nabi untuk mengimami mereka.

Setelah itu Nabi keluar dari Baitul Maqdis, menaiki kembali Buraq, lalu kembali ke Mekah sebelum waktu pagi tiba.

Adapun mengenai penyuguhan beberapa jenis minuman kepada beliau, seperti susu, madu, khamr, atau susu dan air, bahkan seluruhnya sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat, maka menurut sebagian riwayat hal itu terjadi di Baitul Maqdis, sedangkan menurut riwayat yang lain terjadi di langit.

Kemungkinan besar kedua peristiwa tersebut memang sama-sama terjadi, baik di Baitul Maqdis maupun di langit, karena penyuguhan minuman itu termasuk bentuk penghormatan kepada tamu yang baru datang.

LALU AL-HAFIDZ IBNU KATSIR BERKATA :

Kemudian para ulama berbeda pendapat, apakah Isra yang dilakukan oleh Nabi berlangsung dengan tubuh dan roh beliau, ataukah hanya dengan roh beliau saja?

Ada dua pendapat mengenai masalah ini.

Namun, menurut kebanyakan ulama (jumhur), Nabi menjalani Isra dengan tubuh dan roh beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur atau bermimpi.

Meskipun demikian, mereka tidak mengingkari bahwa Rasulullah telah diperlihatkan peristiwa tersebut dalam mimpi terlebih dahulu, kemudian sesudah itu beliau melihatnya secara langsung dalam keadaan terjaga. Sebab, tidaklah Nabi melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang dengan kejelasan seperti cahaya fajar.

Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi menjalani Isra dengan tubuh dan roh adalah firman Allah :

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا﴾

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." (QS. Al-Isra': 1)

Kata tasbih yang mengawali ayat ini tidaklah digunakan kecuali untuk mengawali perkara-perkara yang sangat agung. Seandainya peristiwa Isra hanya terjadi dalam mimpi, tentu tidak akan mengandung keagungan yang demikian besar. Orang-orang kafir Quraisy pun tidak akan tergesa-gesa mendustakannya, dan tidak akan ada sebagian orang yang sebelumnya telah beriman kemudian murtad karenanya.

Selain itu, kata "hamba" mencakup roh dan jasad sekaligus. Allah berfirman:

﴿ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا ﴾

"Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-Isra': 1)

Allah juga berfirman:

﴿ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ ﴾

"Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia." (QS. Al-Isra': 60)

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ar-ru'ya dalam ayat ini adalah penglihatan mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah pada malam Isra, demikian pula mengenai pohon yang terkutuk, yaitu pohon Zaqqum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4716.

Allah juga berfirman:

﴿ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى ﴾

"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. An-Najm: 17)

Penglihatan mata merupakan bagian dari fungsi jasad, bukan semata-mata roh. Selain itu, Nabi mengendarai Buraq, yaitu seekor hewan berwarna putih yang berkilau. Kendaraan seperti ini tentu diperuntukkan bagi jasad, bukan bagi roh. Seandainya yang melakukan perjalanan hanyalah roh, maka tidak diperlukan adanya kendaraan.

Adapun ulama yang lain berpendapat bahwa Nabi melakukan Isra hanya dengan roh beliau, bukan dengan jasadnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar di dalam kitab Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub ibnu Atabah ibnul Mugirah ibnul Akhnas :

Bahwa Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan apabila ditanya tentang Isra Rasulullah , maka ia menjawab, "Perjalanan Isra itu adalah mimpi yang benar dari Allah."

Dan telah menceritakan kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar, bahwa Siti Aisyah pernah mengatakan : "Jasad Rasulullah tidaklah hilang, melainkan beliau menjalan kan Isra dengan rohnya."

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa perkataan Siti Aisyah ini tidak bertentangan dengan kenyataan. Hal itu mengingat Al-Hasan pernah mengatakan tentang firman Allah :

﴿ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ ﴾

"Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia." (QS. Al-Isra': 60)

Demikian pula firman Allah tentang kisah Nabi Ibrahim:

﴿ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ﴾

"Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Muhammad bin Ishaq melanjutkan perkataannya, bahwa Al-Hasan kemudian menyimpulkan bahwa ia mengetahui wahyu datang kepada para nabi dari Allah, baik ketika mereka dalam keadaan terjaga maupun ketika mereka dalam keadaan tidur.

Rasulullah juga pernah bersabda:

تَنَامُ عَيْنَايَ وَقَلْبِي يَقْظَانُ

"Kedua mataku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga." (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 125 [473])

Dengan kata lain, wahyu datang kepada Rasulullah dalam seluruh keadaan beliau, baik ketika tidur maupun ketika terjaga. Semuanya adalah hak dan benar.

Demikianlah pendapat Ibnu Ishaq.

----

[BANTAHAN]

Akan tetapi, Abu Ja'far Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya membantah, menolak, dan mengecam pendapat tersebut. Menurutnya, pendapat seperti itu bertentangan dengan makna lahiriah Al-Qur'an.

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan dalil-dalil untuk membantah pendapat tersebut, di antaranya adalah dalil-dalil yang telah disebutkan di atas.

===****===

SEBUAH PEMBAHASAN PENTING:

Al-Hafidz Abu Nu'aim Al-Ashbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah meriwayatkan melalui jalur Muhammad bin Umar Al-Waqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik bin Abu Ar-Rijal, dari Umar bin Abdullah, dari Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi yang mengatakan:

Bahwa Rasulullah mengutus Dahiyyah bin Khalifah kepada Kaisar (Heraklius). Lalu disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam kisah tersebut terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan dan cara berpikir Kaisar Heraklius.

Kaisar kemudian memanggil para pedagang Arab yang berada di negeri Syam. Lalu dihadapkanlah Abu Sufyan bin Sakhr bin Harb beserta teman-temannya kepada Kaisar.

Kaisar menanyai mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah masyhur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, yang akan dijelaskan kemudian.

Kemudian Abu Sufyan berusaha semaksimal mungkin untuk menghina Nabi dan meremehkan urusannya di hadapan Kaisar.

Dalam konteks ini disebutkan perkataan Abu Sufyan:

"Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang menghalangiku untuk menjelek-jelekkan Muhammad dengan perkataan yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar, kecuali karena aku tidak suka berdusta di hadapan Kaisar. Sebab aku khawatir kedustaanku itu akan berbalik mencelakakanku sehingga Kaisar tidak lagi mempercayai perkataanku."

Abu Sufyan berkata lagi:

"Hingga aku teringat akan ucapannya tentang malam ketika ia menjalani Isra."

Lalu Abu Sufyan berkata:

"Wahai Raja, maukah aku ceritakan kepadamu suatu berita agar engkau mengetahui bahwa dia adalah seorang pendusta?"

Raja bertanya:

"Berita apakah itu?"

Abu Sufyan menjawab:

"Sesungguhnya dia mengaku kepada kami bahwa dirinya pergi dari negeri kami, yakni Tanah Suci, pada suatu malam menuju masjid kalian di Iliya (Yerusalem), kemudian kembali lagi kepada kami pada malam yang sama sebelum waktu Subuh."

Saat itu Uskup Iliya berada di belakang Kaisar. Ia berkata:

"Sesungguhnya aku mengetahui kejadian pada malam itu."

Kaisar menoleh kepada uskup seraya bertanya:

"Bagaimana engkau mengetahui kejadiannya?"

Uskup menjawab:

"Sesungguhnya aku tidak pernah tidur pada suatu malam sebelum menutup seluruh pintu masjid. Namun pada malam itu ada sebuah pintu yang tidak dapat kututup. Aku meminta bantuan para pekerja dan semua orang yang hadir untuk menutupnya, tetapi pintu itu sama sekali tidak bergeming. Kami tidak mampu menggerakkannya, seakan-akan kami sedang menggeser sebuah gunung."

"Maka aku memanggil para tukang kayu untuk memeriksanya. Mereka datang dan berkata, 'Sesungguhnya pintu ini tertahan oleh tekanan tembok bangunan yang menurun dan oleh kusennya. Kami tidak mampu menggerakkannya. Besok pagi saja kami akan memeriksa penyebabnya.'"

Uskup melanjutkan kisahnya:

"Akhirnya aku masuk dan membiarkan kedua daun pintu itu tetap terbuka. Pada pagi harinya aku kembali memeriksa pintu tersebut. Ternyata batu yang berada di sudut masjid telah berlubang, dan pada lubang itu terdapat bekas tali kendali seekor hewan yang pernah ditambatkan."

"Maka aku berkata kepada teman-temanku, 'Tidak ada yang menyebabkan pintu ini tertahan tadi malam selain seorang nabi yang telah datang dan mengerjakan sholat di masjid kita ini.'"

Abu Nu'aim Al-Ashbahani kemudian melanjutkan hadis tersebut hingga selesai.

 ===***===

SEBUAH FAIDAH

 Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsir nya 5/45 (Tahqiq as-Salamah) , ketika menafsiri surat al-Isra ayat no. 1 , dia berkata :

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْخَطَّابِ عُمَرُ بْنُ دِحْيَةَ فِي كِتَابِهِ «التَّنْوِيرُ فِي مَوْلِدِ السِّرَاجِ الْمُنِيرِ»، وَقَدْ ذَكَرَ حَدِيثَ الْإِسْرَاءِ مِنْ طَرِيقِ أَنَسٍ، وَتَكَلَّمَ عَلَيْهِ فَأَجَادَ وَأَفَادَ، ثُمَّ قَالَ:

«وَقَدْ تَوَاتَرَتِ الرِّوَايَاتُ فِي حَدِيثِ الْإِسْرَاءِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، وَابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَبِي ذَرٍّ، وَمَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَشَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قُرْطٍ، وَأَبِي حَبَّةَ وَأَبِي لَيْلَى الْأَنْصَارِيَّيْنِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَجَابِرٍ، وَحُذَيْفَةَ، وَبُرَيْدَةَ، وَأَبِي أَيُّوبَ، وَأَبِي أُمَامَةَ، وَسَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ، وَأَبِي الْحَمْرَاءِ، وَصُهَيْبٍ الرُّومِيِّ، وَأُمِّ هَانِئٍ، وَعَائِشَةَ، وَأَسْمَاءَ ابْنَتَيْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ.

مِنْهُمْ مَنْ سَاقَهُ بِطُولِهِ، وَمِنْهُمْ مَنِ اخْتَصَرَهُ عَلَى مَا وَقَعَ فِي الْمَسَانِيدِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ رِوَايَةُ بَعْضِهِمْ عَلَى شَرْطِ الصِّحَّةِ، فَحَدِيثُ الْإِسْرَاءِ أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ، وَاعْتَرَضَ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ الْمُلْحِدُونَ.

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾ [الصَّفِّ: ٨]

Al-Hafidz Abul Khattab Umar Ibnu Dahiyyah di dalam kitabnya yang berjudul "At-Tanwir fi Maulidis Sirajil Munir" telah meriwayatkan hadis Isra melalui Anas. Dan ia mengetengahkan nya dengan baik serta lengkap.

Sesudah itu ia mengatakan :

"Bahwa banyak riwayat hadis mengenai Isra sampai kepada tingkatan mutawatir, seperti riwayat dari Umar ibnul Khattab, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, Malik ibnu Sa'sa'ah, Abu Hurairah, Abu Sa'id, Ibnu Abbas, Syaddad ibnu Aus, Ubay ibnu Ka'b, Abdur Rahman ibnu Qart, Abu Habbah, dan Abu Laila yang kedua-duanya dari kalangan Ansar, Abdullah ibnu Amr, Jabir, Huzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Abu Umamah, Samurah ibnu Jundub, Abul Hamra, Suhaib Ar-Rumi, Ummu Hani', Aisyah dan Asma yang kedua-duanya putri Abu Bakar.

Sebagian di antara mereka mengetengahkannya secara panjang lebar, dan sebagian lainnya mengetengahkannya secara ringkas seperti yang disebutkan di dalam kitab-kitab musnad.

Sekalipun riwayat sebagian dari mereka harus memenuhi standar syarat sahih, tetapi hadis mengenai Isra ini kebenarannya telah disepakati oleh kaum muslim.

Dan orang-orang kafir zindiq dan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhanlah yang berpaling darinya. 

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Ash-Shaff: 8) [SELESAI]

Ibnu Qayyim berkata:

يَا عَجَبًا لِهَؤُلَاءِ الَّذِينَ زَعَمُوا أَنَّهُ كَانَ مِرَارًا! كَيْفَ سَاغَ لَهُمْ أَنْ يَظُنُّوا أَنَّهُ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يُفْرَضُ عَلَيْهِمُ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ، ثُمَّ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ رَبِّهِ حَتَّى تَصِيرَ خَمْسًا، فَيَقُولُ: «أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي»، ثُمَّ يُعِيدُهَا فِي الْمَرَّةِ الثَّانِيَةِ إِلَى خَمْسِينَ، ثُمَّ يَحُطُّهَا إِلَى خَمْسٍ؟! ...

"Sungguh mengherankan orang-orang yang mengira bahwa peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi berkali-kali! Bagaimana mungkin mereka beranggapan bahwa pada setiap kali peristiwa itu Allah mewajibkan sholat lima puluh waktu, kemudian Nabi terus bolak-balik antara Rabbnya hingga menjadi lima waktu, lalu Allah berfirman, 'Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan Aku telah meringankan bagi hamba-hamba-Ku,' kemudian pada peristiwa yang kedua kewajiban itu diulang lagi menjadi lima puluh waktu, lalu dikurangi lagi hingga menjadi lima waktu?! ..." (Zādul Ma‘ād, 5/42)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan peristiwa Isra dan Mi'raj. Beliau menghimpun seluruh jalur periwayatannya dari kitab Al-Hafidz Abul Khaththab Umar bin Dihyah yang berjudul At-Tanwīr fī Maulid As-Sirāj Al-Munīr.

Peristiwa Isra terjadi satu kali di Makkah setelah diutusnya Nabi sebagai rasul, yaitu sekitar satu tahun sebelum hijrah. Ada pula yang berpendapat satu tahun dua bulan sebelum hijrah. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Isra terjadi berkali-kali, tidak dapat dijadikan pegangan, baik dari sisi riwayat maupun dari sisi logika.

Ditinjau dari tata cara dan hakikatnya, para ulama berbeda pendapat dalam dua masalah:

Pertama, apakah Isra terjadi dalam keadaan terjaga atau hanya berupa mimpi?

Kedua, apakah Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus, atau hanya dengan ruh saja?

Lahiriah berbagai riwayat menunjukkan bahwa Isra terjadi dalam keadaan terjaga. Inilah pendapat jumhur ulama. Adapun riwayat yang dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala:

﴿وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا...

bahwa yang dimaksud adalah mimpi yang dilihat Nabi ketika tidur, maka pendapat ini tergolong lemah dan tidak memiliki dalil yang sahih. Tidak ada satu pun riwayat yang sahih yang mendukungnya.

Adapun mengenai masalah kedua, maka jumhur ulama berpendapat bahwa Isra terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus. Mereka berdalil dengan lahiriah nash-nash yang menjelaskan peristiwa tersebut.

Memang dinukil dari Mu'awiyah dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa Isra hanya terjadi dengan ruh saja. Namun pendapat ini dijawab bahwa Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu pada saat peristiwa Isra masih berada dalam keadaan musyrik, sedangkan Aisyah radhiyallahu 'anha ketika itu belum menjadi istri Nabi , bahkan masih kecil. [Di kutip dari Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 4/256 no. 39732]

Abu Ja'far Ath-Thabari berkata dalam tafsirnya 17/351:

"الصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنْ يُقَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِعَبْدِهِ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ، وَكَمَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ حَمَلَهُ عَلَى الْبُرَاقِ حَتَّى أَتَى بِهِ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، وَصَلَّى هُنَاكَ بِمَنْ صَلَّى مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ، فَأَرَاهُ مَا أَرَاهُ مِنَ الْآيَاتِ.

وَلَا مَعْنَى لِقَوْلِ مَنْ قَالَ: أُسْرِيَ بِرُوحِهِ دُونَ جَسَدِهِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ مَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَى نُبُوَّتِهِ، وَلَا حُجَّةً لَهُ عَلَى رِسَالَتِهِ، وَلَا كَانَ الَّذِينَ أَنْكَرُوا حَقِيقَةَ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ يَدْفَعُونَ بِهِ صِدْقَهُ؛ إِذْ لَمْ يَكُنْ مُنْكَرًا عِنْدَهُمْ، وَلَا عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ ذَوِي الْفِطْرَةِ الصَّحِيحَةِ مِنْ بَنِي آدَمَ، أَنْ يَرَى الرَّائِي مِنْهُمْ فِي الْمَنَامِ مَا عَلَى مَسِيرَةِ سَنَةٍ، فَكَيْفَ مَا هُوَ عَلَى مَسِيرَةِ شَهْرٍ أَوْ أَقَلَّ.

وَبَعْدُ، فَإِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ أَنَّهُ أَسْرَى بِعَبْدِهِ، وَلَمْ يُخْبِرْنَا بِأَنَّهُ أُسْرِيَ بِرُوحِ عَبْدِهِ، وَلَيْسَ جَائِزًا لِأَحَدٍ أَنْ يَتَعَدَّى مَا قَالَهُ اللَّهُ إِلَى غَيْرِهِ.

بَلِ الْأَدِلَّةُ الْوَاضِحَةُ، وَالْأَخْبَارُ الْمُتَتَابِعَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَنَّ اللَّهَ أَسْرَى بِهِ عَلَى دَابَّةٍ يُقَالُ لَهَا الْبُرَاقُ، وَلَوْ كَانَ الْإِسْرَاءُ بِرُوحِهِ، لَمْ تَكُنِ الرُّوحُ مَحْمُولَةً عَلَى الْبُرَاقِ؛ إِذْ كَانَتِ الدَّوَابُّ لَا تَحْمِلُ إِلَّا الْأَجْسَادَ". انْتَهَى.

"Pendapat yang benar menurut kami ialah bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya, Muhammad , dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sebagaimana diberitakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan sebagaimana berita-berita yang mutawatir dari Rasulullah bahwa Allah membawanya dengan mengendarai Buraq hingga sampai ke Baitul Maqdis. Di sana beliau mengimami shalat para nabi dan rasul yang hadir, lalu Allah memperlihatkan kepadanya berbagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tidak ada makna yang benar pada pendapat orang yang mengatakan bahwa Isra hanya terjadi dengan ruh tanpa jasad. Sebab, seandainya demikian, maka peristiwa itu tidak dapat dijadikan sebagai bukti kenabian beliau, tidak pula menjadi hujah atas kerasulannya. Orang-orang musyrik yang mengingkari peristiwa itu pun tidak akan mendustakannya, karena melihat perjalanan yang jauh dalam mimpi bukanlah sesuatu yang diingkari oleh mereka maupun oleh siapa pun yang memiliki fitrah yang lurus. Seseorang bisa saja bermimpi melihat perjalanan sejauh satu tahun, maka terlebih lagi perjalanan sejauh satu bulan atau kurang.

Selain itu, Allah dalam Kitab-Nya hanya berfirman bahwa Dia memperjalankan 'hamba-Nya'. Allah tidak mengatakan bahwa Dia memperjalankan 'ruh hamba-Nya'. Tidak boleh bagi siapa pun melampaui apa yang telah Allah firmankan.

Bahkan dalil-dalil yang jelas dan berita-berita yang mutawatir dari Rasulullah menunjukkan bahwa Allah memperjalankan beliau dengan menaiki seekor hewan yang disebut Buraq. Seandainya Isra hanya terjadi dengan ruh, tentu ruh tidak perlu dibawa di atas Buraq, karena hewan tunggangan hanyalah mengangkut jasad, bukan ruh." (Selesai).

[[Di kutip pula oleh Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah 4/256 no. 39732]

 ===***===

APAKAH NABI MELIHAT ALLAH SWT SAAT MI'RAJ?

Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat tentang Nabi apakah beliau melihat Rabb-nya saat Miraj?.

Darul Ifta Mesir di bawah kepimpinan Majlis al-Idarah DR. Mahmud Muslim menjelaskan:

وَأَمَّا يَقَظَةً فَاخْتَلَفَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ فِي حُصُولِ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَدَمِهِ، أَمَّا غَيْرُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَصِحُّ دَعْوَاهُ الرُّؤْيَةَ فِي الْيَقَظَةِ، وَمَنْ زَعَمَهَا كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ».

Adapun melihat Allah SWT dalam keadaan terjaga, maka para sahabat dan orang-orang setelah mereka berselisih pendapat tentang apakah hal itu terjadi kepada Rasulullah atau tidak. Adapun selain beliau , maka klaim melihat Allah dalam keadaan terjaga tidaklah sahih, dan siapa saja yang mengaku-ngaku melihat-Nya, maka dia termasuk golongan yang sesat’.

[ Sumber : دَارُ الْإِفْتَاءِ: يُمْكِنُ رُؤْيَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ( https://www.elwatannews.com ›)]

Adapun yang berkenaan dengan Nabi , maka yang beredar di kalangan para shahabat terangkum dalam tiga pendapat :

====

PENDAPAT PERTAMA : 
NABI TIDAK MELIHAT ALLAH .

Sebagian besar para Sahabat berpendapat bahwa Nabi tidak melihat Allah dengan matanya pada malam Isra dan Miraaj. 

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:

وَقَدْ ثَبَتَ بِالنُّصُوصِ الصَّحِيحَةِ وَاتِّفَاقِ سَلَفِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ لَا يَرَى اللَّهَ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِعَيْنِهِ، إِلَّا مَا نَازَعَ فِيهِ بَعْضُهُمْ مِنْ رُؤْيَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ خَاصَّةً، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِيَانًا، كَمَا يَرَوْنَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. اِنْتَهَى.

Telah ada ketetapan berdasarkan nash-nash yang sahih dan kesepakatan para ulama salaf umat ini bahwa tidak seorang pun dapat melihat Allah dengan kedua matanya ketika di dunia. Kecuali adanya perselisihan sebagian ulama mengenai kekhususan Nabi Muhammad . Adapun mereka sepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah secara nyata pada hari kiamat, sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan.' (Selesai). [Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510]

Ibnu Al-Qayyim berkata:

«وَقَدْ حَكَى عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ فِي كِتَابِ الرُّؤْيَةِ لَهُ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرَ رَبَّهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ، وَبَعْضُهُمْ اسْتَثْنَى ابْنَ عَبَّاسٍ فِيمَنْ قَالَ ذَلِكَ».

"Utsman bin Sa'id Ad-Darimi dalam kitab Ar-Ru'yah telah menukil ijma' para sahabat bahwa Nabi tidak melihat Rabbnya pada malam Mi'raj. Sebagian ulama mengecualikan Ibnu 'Abbas sebagai orang yang berpendapat sebaliknya. (Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, jilid 1, hlm. 12).

Menurut Aisyah radhiyallau ‘anha termasuk kedustaan besar adalah orang yang mengatakan bahwa Nabi bisa melihat Tuhan-nya saat beliau masih hidup [makrifat].

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata :

مَن حَدَّثَكَ أنَّ مُحَمَّدًا ﷺ رَأَى رَبَّهُ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ ﴿لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ﴾ [الأنعام: 103]، ومَن حَدَّثَكَ أنَّه يَعْلَمُ الغَيْبَ، فقَدْ كَذَبَ، وهو يقولُ: لا يَعْلَمُ الغَيْبَ إلَّا اللَّهُ

Barangsiapa mengatakan kepadamu bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka dia telah berdusta, karena Dia berfirman : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata”[Al-An'am: 103]

Dan barang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa dia mengetahui yang ghaib, maka dia telah berdusta, karena Dia berfirman: Hanya Allah yang mengetahui yang ghaib.

[HR. Bukhori no. 6832 & 7380]

RIWAYAT LAIN :

Dari Amir, dia berkata:

 أَتَى مَسْرُوقٌ عَائِشَةَ، فَقَالَ: «يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، هَلْ رَأَى مُحَمَّدٌ ﷺ رَبَّهُ؟»

قَالَتْ: «سُبْحَانَ اللَّهِ! لَقَدْ قَفَّ شَعْرِي لِمَا قُلْتَ. أَيْنَ أَنْتَ مِنْ ثَلَاثٍ؟ مَنْ حَدَّثَكَ بِهِنَّ فَقَدْ كَذَبَ:

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ». ثُمَّ قَرَأَتْ: ﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ﴾ ﴿وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ﴾

«وَمَنْ أَخْبَرَكَ بِمَا فِي غَدٍ فَقَدْ كَذَبَ». ثُمَّ قَرَأَتْ: ﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ﴾

«وَمَنْ أَخْبَرَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ كَتَمَ فَقَدْ كَذَبَ».

ثُمَّ قَرَأَتْ: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾

«وَلَكِنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ مَرَّتَيْنِ».

Masruq pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha seraya berkata: "Wahai Ummul Mukminin, apakah Muhammad melihat Tuhannya?

Dia (Aisyah) menjawab:

'Subhaanallah, sungguh merinding bulu kudukku karena apa yang kamu katakan. Bagaimana sikapmu terhadap ketiga hal itu? barangsiapa yang memberitahumu ketiga hal itu, maka sungguh dia telah berdusta.

(Pertama), barangsiapa yang berkata kepadamu bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka sungguh ia telah berbohong’. Kemudian ia membaca:

﴿ لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ﴾

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan.".

Dan dia membaca :

﴿ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ﴾

"Tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir".

(Kedua) Barangsiapa yang mengkhabarkan kepadamu tentang sesuatu yang terjadi esok maka sungguh ia telah berdusta. Kemudian Aisyah mambaca:

﴿ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ﴾

"Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat: dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim."

(Ketiga) dan barangsiapa yang mengabarkan kepadamu bahwa Muhammad telah menyembunyikan wahyu maka sungguh ia telah berdusta. Kemudian ia membaca:

﴿ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ﴾

"Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu."

Tapi, beliau pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali."

[HR. Bukhori no. 4855 dan Imam Ahmad no. 23094]

LAFADZ RIWAYAT LAIN :

Dari Masruq dia berkata, "Ketika aku duduk bersandar di samping Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka beliau berkata:

'Wahai Abu Aisyah (Masruq)! Ada tiga perkara, barangsiapa yang memperbincangkan salah satu darinya, berarti dia telah melakukan kedustaan yang amat besar terhadap Allah.'

Aku bertanya: 'Apakah tiga perkara itu? '

Aisyah menjawab:

'Pertama, barangsiapa mengklaim bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka sungguh dia telah membesarkan kebohongannya terhadap Allah.'

Aku yang duduk bersandar dari tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata:

'Wahai Ummul Mukminin! Berilah aku tempo, dan janganlah engkau membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman:

﴿ وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ ﴾

'(Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain) ' (Qs. Al Takwir: 23).

Dan Firman Allah lagi:

﴿ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى ﴾

'(Dan sungguh Muhammad telah melihat 'dia' dalam bentuk rupanya yang asal sekali lagi) ' (Qs. An Najm: 13).

Maka Aisyah menjawab:

"أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنْ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ".

'Aku adalah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau telah menjawab dengan bersabda:

"Yang dimaksud 'dia' dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.'

Kemudian Aisyah berkata lagi:

أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ﴿ لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴾ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ﴿وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴾

'Apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa Allah:

'(Dia tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat dan mengetahui hakikat segala penglihatan mata, dan Dialah Yang Maha Bersifat Lemah Lembut lagi Maha Mendalam pengetahuannya) ' (Qs. Al An'am: 103).

Atau, apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah:

'(Dan tidaklah layak bagi seorang manusia, bahwa Allah mengajaknya berbicara kecuali berupa wahyu (dengan diberi mimpi) atau dari balik hijab / tabir penghalang (dengan mendengar suara saja) atau dengan mengutuskan utusan (Malaikat), lalu utusan itu menyampaikan wahyu kepadanya dengan izin Allah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana) '. (Qs. Asy Syura: 51).….. dst. [HR. Muslim No. 259].

Perkataan Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu:

Dari Zirr bin ‘Abdillah bin Hubaisy, dari ‘Abdullah bin Mas’uud radhiyallahu ‘anhu:

فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾ [النجم: 13]، قَالَ: "رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ، لَهُ سِتُّمَائَةِ جَنَاحٍ".

Tentang firman-Nya ta’ala: ‘Dan sesungguhnya ia (Muhammad) telah melihatnya pada waktu yang lain’ (QS. An-Najm: 53), ia berkata: “Rasulullah melihat Jibriil dalam bentuknya (yang asli) yang mempunyai 600 sayap”. [HR. Bukhori no. 3232 dan Muslim no. 431].

Perkataan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu:

Dari ‘Athaa’, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu 

"فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾ [النجم: 13]، قَالَ: "رَأَى جِبْرِيلَ "

" Tentang firman-Nya ta’ala: ‘Dan sesungguhnya ia (Muhammad) telah melihatnya pada waktu yang lain’ (QS. An-Najm: 53), ia berkata: “Beliau  melihat Jibriil”. [HR. Muslim no. 434].

ADA HIJAB (TABIR PENGHALANG), YAITU NUR (CAHAYA).

Ada pernyataan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi melihat hijab (tabir / penghalang). Hijab-Nya adalah NUR (Cahaya):

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah berdiri menerangkan kepada kami lima perkara dengan bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ - (وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ : النَّارُ) - لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

"Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia berkuasa menurunkan timbangan amal dan mengangkatnya. Kemudian akan diangkat kepada-Nya (maksudnya dilaporkan) segala amalan pada waktu malam sebelum (dimulai) amalan pada waktu siang, dan begitu juga amalan pada waktu siang akan diangkat kepadaNya sebelum (dimulai) amalan pada waktu malam.

Hijab-Nya adalah Cahaya - (menurut riwayat Abu Bakar: 'Api' ) -. Andaikata Dia menyingkapkannya, pasti keagungan Wajah-Nya akan membakar makhluk sejauh pandangan-Nya." [HR. Muslim no. 179].

Diantara dalil yang mendukung bahwa Nabi tidak melihat Tuhan-nya dengan mata-nya pada malam Isra', melainkan melihat hijab berupa Nur, adalah hadits Abu Musa ini.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: «هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟» قَالَ: «نُورٌ، أَنَّى أَرَاهُ»

"Aku bertanya kepada Rasulullah , 'Apakah engkau melihat Rabbmu?' Beliau menjawab, 'Dia adalah cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?'"

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (Kitab Al-Iman no. 261)].

====

PENDAPAT KEDUA
NABI MELIHAT ALLAH DENGAN HATI-NYA.

Sebagian para ulama menetapkan ru’yah dengan qolbu- yakni bahwa Nabi melihat Allah SWT, namun men-taqyid-nya dengan penglihatan hati (ar-ru’yatul-qalbiyyah). Yakni Nabi melihat Rabbnya dengan hatinya.

Mereka berdalil dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam firman Allah Ta’aalaa :

﴿ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾

Ibnu Abbaas berkata:

«إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَآى رَبَّهُ بِقَلْبِهِ»

(Sesungguhnya Nabi melihat Tuhannya dengan hatinya). [HR. Muslim (435)]."

Dan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman Allah:

﴿مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى ۝ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى﴾

"Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Dan sungguh, dia telah melihatnya pada kesempatan yang lain."

Beliau berkata:

«رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ».

"Beliau melihat-Nya dengan hati beliau sebanyak dua kali."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (Kitab Al-Iman no. 258)].

Akan tetapi Ibnu Al-Qayyim mengomentarinya dengan berkata:

«شَيْخُنَا يَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكَ بِخِلَافٍ فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ: رَآهُ بِعَيْنَيْ رَأْسِهِ، وَعَلَيْهِ اعْتَمَدَ أَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ، حَيْثُ قَالَ: إِنَّهُ رَآهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يَقُلْ: بِعَيْنَيْ رَأْسِهِ. وَلَفْظُ أَحْمَدَ لَفْظُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَيَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا قَالَ شَيْخُنَا فِي مَعْنَى حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ: "حِجَابُهُ النُّورُ"، فَهَذَا النُّورُ هُوَ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- النُّورُ الْمَذْكُورُ فِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "رَأَيْتُ نُورًا"».

"Namun, guru kami mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat dalam hakikatnya, karena Ibnu 'Abbas tidak pernah mengatakan bahwa Nabi melihat-Nya dengan kedua mata kepala beliau. Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh Imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, ketika beliau mengatakan bahwa Nabi melihat Allah , namun beliau tidak mengatakan bahwa beliau melihat-Nya dengan kedua mata kepala beliau.

Lafaz Imam Ahmad sama dengan lafaz Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma. Yang menguatkan benarnya penjelasan guru kami dalam memahami hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu adalah sabda Nabi dalam hadits yang lain, 'Hijab-Nya adalah cahaya.' Cahaya inilah —wallahu a'lam— yang dimaksud dengan cahaya dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu: 'Aku melihat cahaya.'" (Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, jilid 1, hlm. 12).

===

PENDAPAT KETIGA
NABI MELIHAT ALLAH SECARA MUTLAK .

Menetapkan ru’yah (melihat Allah) secara mutlak, bahwa Nabi melihat Tuhannya pada malam Isra':

Ini pendapat Ibnu Abbas, Anas, serta dipilih oleh 'Ikrimah, Al-Hasan, Ar-Rabi' bin Sulaiman, Ibnu Khuzaimah, Ka'ab Al-Ahbar, Az-Zuhri, Urwah bin Az-Zubair, Ma'mar, Al-Ash'ari. Ini adalah salah satu dari dua riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad, dan dianggap lebih kuat menurut Imam An-Nawawi.

Dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata:

أَتَعْجَبُونَ أَنْ تَكُونَ الْخُلَّةَ لِإِبْرَاهِيمَ وَالْكَلَامَ لِمُوسَى، وَالرُّؤْيَةَ لِمُحَمَّدٍ ﷺ.

“Apakah kalian merasa heran apabila al-khullah (kekasih) diperuntukkan bagi Ibrahim, al-kalaam bagi Muusaa, dan ar-ru’yah (melihat) bagi Muhammad ?”.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (1/192), ‘Abdullah bin Al-Imaam Ahmad dalam As-Sunnah (1/299), An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa (Tuhfatul-Asyraf, 5/165), Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid (no. 272); dan Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah (no. 1031 dan no. 627)].

Al-Albaaniy berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Al-Bukhaariy”. [As-Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim (1/192)].

Dari Anas bin Maalik, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah :

«‌جَبَلَ ‌اللَّهُ ‌الْخُلَّةَ ‌لِإِبْرَاهِيمَ، ‌وَالْكَلَامَ ‌لِمُوسَى، ‌وَالرُّؤْيَةَ ‌لِمُحَمَّدٍ ﷺ»

“Allah menciptakan Al-Khullah (kekasih Allah) untuk Ibraahiim, Al-Kalaam (Yang berbicara Allah) untuk Musa, dan Ar-Ru‘yah (Orang yang melihat Allah) untuk Muhammad ”.

[HR.Ad-Daaruquthniy dalam Ar-Ru’yah (hal. 190 no. 66), Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/65). Dan al-Hakim menshahihkannya yang kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabiy.

Al-Hafidz Ibnu Hajar) berkata dalam Al-Fath (8/608): “Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dengan sanad shahih”.

-----

BANTAHAN DAN KRITIKAN:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari hal ini dengan berkata:

«لَيْسَ ذَلِكَ بِخِلَافٍ فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ»

"Itu sebenarnya bukan perbedaan, karena Ibnu Abbas tidak mengatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) melihat-Nya dengan mata kepalanya." [Baca : ((Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah)) (48)].

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:

وَقَدْ ثَبَتَ بِالنُّصُوصِ الصَّحِيحَةِ وَاتِّفَاقِ سَلَفِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ لَا يَرَى اللَّهَ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِعَيْنِهِ، إِلَّا مَا نَازَعَ فِيهِ بَعْضُهُمْ مِنْ رُؤْيَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ خَاصَّةً، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِيَانًا، كَمَا يَرَوْنَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. اِنْتَهَى.

Telah ada ketetapan berdasarkan nash-nash yang sahih dan kesepakatan para ulama salaf umat ini bahwa tidak seorang pun dapat melihat Allah dengan kedua matanya ketika di dunia. Kecuali adanya perselisihan sebagian ulama mengenai kekhususan Nabi Muhammad . Adapun mereka sepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah secara nyata pada hari kiamat, sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan.' (Selesai). [Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

فَصْلٌ: وَأَمَّا الرُّؤْيَةُ، فَالَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: «رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ»، وَعَائِشَةُ أَنْكَرَتِ الرُّؤْيَةَ.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَقَالَ: عَائِشَةُ أَنْكَرَتْ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ، وَابْنُ عَبَّاسٍ أَثْبَتَ رُؤْيَةَ الْفُؤَادِ.

وَالْأَلْفَاظُ الثَّابِتَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ هِيَ مُطْلَقَةٌ أَوْ مُقَيَّدَةٌ بِالْفُؤَادِ، تَارَةً يَقُولُ: «رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ»، وَتَارَةً يَقُولُ: «رَآهُ مُحَمَّدٌ»، وَلَمْ يَثْبُتْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ لَفْظٌ صَرِيحٌ بِأَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ.

وَكَذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، تَارَةً يُطْلِقُ الرُّؤْيَةَ، وَتَارَةً يَقُولُ: «رَآهُ بِفُؤَادِهِ»، وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ إِنَّهُ سَمِعَ أَحْمَدَ يَقُولُ: «رَآهُ بِعَيْنِهِ»، لَكِنْ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ سَمِعُوا بَعْضَ كَلَامِهِ الْمُطْلَقِ، فَفَهِمُوا مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ، كَمَا سَمِعَ بَعْضُ النَّاسِ مُطْلَقَ كَلَامِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَفَهِمَ مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ.

وَلَيْسَ فِي الْأَدِلَّةِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ، وَلَا ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَلَا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ، بَلِ النُّصُوصُ الصَّحِيحَةُ عَلَى نَفْيِهِ أَدَلُّ، كَمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: «هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟» فَقَالَ: «نُورٌ، أَنَّى أَرَاهُ».

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا﴾، وَلَوْ كَانَ قَدْ أَرَاهُ نَفْسَهُ بِعَيْنِهِ لَكَانَ ذِكْرُ ذَلِكَ أَوْلَى.

وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى ۝ وَلَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى﴾، وَلَوْ كَانَ رَآهُ بِعَيْنِهِ لَكَانَ ذِكْرُ ذَلِكَ أَوْلَى.

"Adapun mengenai masalah melihat Allah, maka yang telah sahih dari Ibnu Abbas adalah bahwa beliau berkata, 'Muhammad melihat Rabbnya dengan hatinya sebanyak dua kali.' Sedangkan Aisyah radhiyallahu 'anha mengingkari terjadinya penglihatan tersebut.

Di antara para ulama ada yang mengompromikan kedua pendapat itu. Mereka mengatakan bahwa Aisyah mengingkari penglihatan dengan mata, sedangkan Ibnu Abbas menetapkan penglihatan dengan hati.

Riwayat-riwayat yang sahih dari Ibnu Abbas bersifat mutlak atau dibatasi dengan hati. Terkadang beliau berkata, 'Muhammad melihat Rabbnya,' dan terkadang berkata, 'Muhammad telah melihat-Nya.' Namun, tidak ada satu lafaz pun yang sahih dari Ibnu Abbas yang secara tegas menyatakan bahwa beliau melihat Allah dengan kedua mata kepalanya.

Demikian pula Imam Ahmad. Terkadang beliau menyebutkan secara mutlak bahwa Nabi melihat Allah, dan terkadang beliau berkata, 'Beliau melihat-Nya dengan hatinya.' Tidak ada seorang pun yang pernah mendengar Imam Ahmad berkata bahwa Nabi melihat Allah dengan kedua mata kepalanya. Akan tetapi, sebagian murid beliau mendengar ucapan beliau yang bersifat mutlak, lalu memahaminya sebagai penglihatan dengan mata. Sebagaimana sebagian orang mendengar ucapan Ibnu Abbas yang mutlak, lalu memahaminya sebagai penglihatan dengan mata.

Padahal, tidak ada satu pun dalil yang mengharuskan bahwa Nabi melihat Allah dengan kedua matanya. Hal itu juga tidak pernah diriwayatkan dari seorang pun sahabat. Tidak ada pula dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang menunjukkan demikian. Bahkan, nash-nash yang sahih justru lebih menunjukkan penafian hal tersebut. Sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar, ia berkata, 'Aku bertanya kepada Rasulullah , "Apakah engkau melihat Rabbmu?" Beliau menjawab, "Dia adalah cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?"'

Allah Ta'ala juga berfirman:

'Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.'

Seandainya Allah telah memperlihatkan Diri-Nya kepada Nabi dengan kedua matanya, tentu penyebutan hal itu lebih utama.

Demikian pula firman-Nya:

'Apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sungguh, dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda Rabbnya yang paling besar.'

Seandainya Nabi melihat Allah dengan kedua matanya, tentu penyebutan hal itu lebih utama. [Lihat: Majmu’ al-Fatawa 6/509-510 dan Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah (48)].

Dan Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

(وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهُ - يَعْنِي ابْنَ عَبَّاسٍ - أَطْلَقَ الرُّؤْيَةَ، وَهِيَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْمُقَيَّدَةِ بِالْفُؤَادِ، وَمَنْ رَوَى عَنْهُ بِالْبَصَرِ فَقَدْ أَغْرَبَ، فَإِنَّهُ لَا يَصِحُّ فِي ذَلِكَ شَيْءٌ عَنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ)

"Dalam sebuah riwayat darinya - yang dimaksud adalah Ibnu Abbas - disebutkan secara umum tentang penglihatan tersebut, yang dibawa kepada penglihatan dengan hati. Dan siapa yang meriwayatkan bahwa beliau melihat dengan mata, maka ia telah salah, karena tidak ada yang sahih tentang hal itu dari para sahabat radhiyallahu 'anhum" [Tafsir Ibnu Kathir (7 / 448)].

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

(وَقَدْ حَكَى عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ فِي كِتَابِ الرُّؤْيَةِ لَهُ: إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرَ رَبَّهُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ، وَبَعْضُهُمْ اسْتَثْنَى ابْنَ عَبَّاسٍ فِيمَنْ قَالَ ذَلِكَ.

وَشَيْخُنَا يَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكَ بِخِلَافٍ فِي الْحَقِيقَةِ، فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَقُلْ: رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ، وَعَلَيْهِ اعْتَمَدَ أَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ؛ حَيْثُ قَالَ: إِنَّهُ ﷺ رَآهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يَقُلْ: بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ، وَلَفْظُ أَحْمَدَ لَفْظُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَيَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا قَالَ شَيْخُنَا فِي مَعْنَى حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَوْلُهُ ﷺ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ: «حِجَابُهُ النُّورُ»، فَهَذَا النُّورُ هُوَ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- النُّورُ الْمَذْكُورُ فِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «رَأَيْتُ نُورًا»

"Utsman bin Sa'id ad-Darimi dalam kitab ar-Ru’yah ( melihat Allah SWT), dia menyebutkan ijma' para sahabat bahwa beliau (Nabi Muhammad) tidak melihat Tuhannya pada malam mi'raj.

Sebagian dari mereka mengecualikan Ibnu Abbas di antara yang mengatakan hal itu.

Dan guru kami berkata: 'Itu sebenarnya bukan perbedaan pendapat, karena Ibnu Abbas tidak mengatakan bahwa beliau melihat-Nya dengan mata kepala.' Dan atas dasar itu Imam Ahmad bersandar dalam salah satu dari dua riwayatnya; di mana dia berkata bahwa Rasulullah melihat-Nya, namun dia tidak mengatakan dengan mata kepala. Dan ungkapan Ahmad adalah ungkapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan ini menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan oleh guru kami dalam makna hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu ketika Nabi bersabda dalam hadits lain:

'Hijab-Nya adalah cahaya.'

Cahaya ini, wallahu a'lam, adalah cahaya yang disebutkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

'Aku melihat cahaya.'"

[Baca : ((Ijtima' Al-Juyush Al-Islamiyyah 'Ala Ghazw Al-Mu'aththilah wa Al-Jahmiyyah)) (1/3).].

Ibnu Qayyim dalam (Zad Al-Ma'ad) mengingkari siapa pun yang menyangka bahwa Imam Ahmad mengatakan Rasulullah melihat Tuhannya dengan mata kepalanya, di mana ia rahimahullah berkata:

«وَلَكِنْ لَمْ يَقُلْ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِنَّهُ رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ يَقَظَةً، وَمَنْ حَكَى عَنْهُ ذَلِكَ فَقَدْ وَهَمَ عَلَيْهِ، وَلَكِنْ قَالَ مَرَّةً: رَآهُ، وَمَرَّةً قَالَ: رَآهُ بِفُؤَادِهِ، فَحُكِيَتْ عَنْهُ رِوَايَتَانِ، وَحُكِيَتْ عَنْهُ الثَّالِثَةُ مِنْ تَصَرُّفِ بَعْضِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنَيِ رَأْسِهِ، وَهَذِهِ نُصُوصُ أَحْمَدَ مَوْجُودَةٌ لَيْسَ فِيهَا ذَلِكَ».

"Namun Imam Ahmad rahimahullah tidak berkata bahwa beliau melihat-Nya dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga, dan siapa yang meriwayatkan itu dari beliau maka ia telah keliru.

Namun beliau terkadang berkata: 'Beliau melihat-Nya,' dan terkadang berkata: 'Beliau melihat-Nya dengan hatinya.'

Maka dua riwayat tersebut diriwayatkan dari beliau, dan riwayat ketiga berasal dari interpretasi sebagian sahabatnya bahwa beliau melihat-Nya dengan mata kepalanya. Dan teks-teks Imam Ahmad yang ada tidak menunjukkan hal itu." [Lihat : ((Zad Al-Ma'ad)) (Juz 3/hal. 32)].

 ====

******

 

 

Posting Komentar

0 Komentar