Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

KISAH KECEMBURUAN SARAH TERHADAP HAJAR, SERTA SUMPAH UNTUK MEMUTILASINYA PADA 3 BAGIAN TUBUHNYA.

 KISAH KECEMBURUAN SARAH TERHADAP HAJAR 
SERTA SUMPAH UNTUK MEMUTILASINYA PADA 3 BAGIAN TUBUHNYA.

 -----

Di Tulis Oleh Fakhry

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

---


-------

DAFTAR ISI:

  • PENDAHULUAN
  • SEKILAS TENTANG HAJAR. SIAPAKAH DIA?
  • KRONOLOGI HAJAR MENJADI ISTRI KE DUA NABI IBRAHIM ‘ALAIHIS SALAM
  • KECEMBURUAN SARAH TERHADAP HAJAR
  • SUMPAH SARAH UNTUK MEMUTILASI HAJAR PADA 3 BAGIAN TUBUHNYA
  • PARA ULAMA YANG MENOLAK KISAH KECEMBURUAN SARAH
  • KISAH HAJAR KETIKA TIBA DI MAKKAH DAN TINGGAL DI SANA
  • SARAH HAMIL DAN MELAHIRKAN ISHAQ
  • LAHIRNYA BANI ISRAEL DARI KETURUNAN ISHAQ

 *****

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

===***===

PENDAHULUAN

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan bapak bersama bagi bangsa Arab, Yahudi, dan Nasrani.

Al-Khalil adalah Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh ‘alaihissalam. (Lihat: Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, 1/324).

Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat kelahiran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Ibnu Katsir berkata, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

«وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ بِغُوطَةِ دِمَشْقَ، فِي قَرْيَةٍ يُقَالُ لَهَا: بَرْزَةُ، فِي جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ: قَاسِيُونُ».

“Ibrahim dilahirkan di Ghuthah Damaskus, di sebuah desa yang bernama Barzah, pada sebuah gunung yang disebut Qasiyun.”

Kemudian Ibnu Katsir berkata:

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ وُلِدَ بِبَابِلَ

“Pendapat yang benar adalah bahwa beliau dilahirkan di Babil (Babel).” (Lihat: Al-Bidayah wan Nihayah, 1/325).

Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menetap di Tanah Suci, yaitu Palestina yang diberkahi, dan setelah berlalu suatu masa yang hanya Allah yang mengetahuinya, Ibrahim ‘alaihissalam, dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, memasuki negeri Mesir. Karena beliau adalah seorang rasul yang ditugaskan untuk menyeru umat manusia agar kembali kepada Allah, maka setiap langkah dan pergerakannya merupakan bagian dari dakwah dan penyampaian risalah kepada umat manusia.

Salah satu hasil dari perjalanan tersebut adalah bahwa Sarah, istri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan hadiah seorang budak wanita yang bernama Hajar dari raja Mesir. Yang kelak nanti, Hajar ini akan menjadi istri kedua Nabi Ibrahim dan menjadi ibu dari putra sulung beliau, yaitu Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Setelah itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama istrinya, Sarah, kembali dari Mesir ke Palestina. Mereka tinggal di sana bersama Hajar, yang ketika itu berstatus sebagai budak perempuan.

Sarah tidak dapat mengandung dan tidak pula melahirkan anak. Sementara usia Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat sudah diatas 85 tahunan dan itu akan terus bertambah, namun beliau masih belum juga dikaruniai anak keturunan. (Baca: Al-Qashash al-Qur'ani: 'Ardh Waqa'i wa Tahlil Ahdats, karya Shalah Al-Khalidi, 1/381).

Di antara hal yang menarik dalam perjalanan hidup Hajar adalah bahwa ia mencintai majikan perempuannya dan tuannya. Ia melihat pada keduanya kesucian dan kemuliaan akhlak. Karena itu, ia memeluk agama mereka dan beriman kepada Allah Ta'ala dengan keimanan yang tulus dan penuh kecintaan.

Hajar hidup dengan hati yang tenteram, karena Allah Ta'ala menghendaki kebaikan baginya dan memberinya petunjuk untuk beribadah kepada-Nya. Apabila ia berdiri untuk melaksanakan shalat, maka ia melupakan segala sesuatu di sekelilingnya, dan hatinya sepenuhnya terpaut kepada Allah. Hajar tidak menginginkan selain bermunajat dan beribadah. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Allah Ta'ala mengutus Ibrahim dan Sarah ke Mesir agar mereka kembali membawanya. Padahal, dialah mutiara yang sangat berharga dalam kafilah keimanan, permata agung yang Allah limpahkan keberkahan kepadanya, dan yang melalui dirinya Allah mempersiapkan terjadinya suatu peristiwa besar.

Sarah dan Hajar ‘alaihimas salam hidup dalam hubungan yang penuh keharmonisan. Masing-masing mencintai yang lain, dan keduanya berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Hajar pun banyak memuji Allah karena telah mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya, serta menjadikannya bagian dari sebuah keluarga yang diberkahi, yang dibangun di atas keimanan, tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.

****

SEKILAS TENTANG HAJAR.
SIAPAKAH DIA?

Hajar adalah ibu bangsa Arab. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

«تِلْكَ أُمُّكُمْ يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ»

"Itulah ibu kalian, wahai Bani Ma' as-Sama' (anak-anak Air Langit)." (HR. Al-Bukhari no. 3358 dan Muslim no. 2371).

Badruddin Al-'Aini berkata:

[قَالَ مُقَاتِلٌ - وَهُوَ أَحَدُ الْمُفَسِّرِينَ -: كَانَتْ مِنْ وَلَدِ هُودٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، - وَهُودٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَبِيُّ اللَّهِ وَهُوَ عَرَبِيٌّ -.

وَقَالَ الضَّحَّاكُ: كَانَتْ بِنْتَ مَلِكِ مِصْرَ، وَكَانَ سَاكِنًا بِمَنْفَ - وَيُسَمُّونَهَا الْيَوْمَ الْمَنُوفِيَّةَ -، فَغَلَبَهُ مَلِكٌ آخَرُ فَقَتَلَهُ، وَسَبَى ابْنَتَهُ فَاسْتَرَقَّهَا، وَوَهَبَهَا لِسَارَةَ، ثُمَّ وَهَبَتْهَا سَارَةُ لِإِبْرَاهِيمَ، فَوَاقَعَهَا فَوَلَدَتْ إِسْمَاعِيلَ، ثُمَّ حَمَلَ إِبْرَاهِيمُ إِسْمَاعِيلَ وَأُمَّهُ هَاجَرَ إِلَى مَكَّةَ...].

"Muqatil, salah seorang ahli tafsir, berkata: 'Hajar berasal dari keturunan Nabi Hud ‘alaihissalam.' Hud ‘alaihissalam adalah seorang nabi Allah dari bangsa Arab.

Sementara Adh-Dhahhak berkata: 'Hajar adalah putri raja Mesir yang tinggal di kota Manf (kini dikenal dengan wilayah Al-Minufiyyah). Kemudian seorang raja lain mengalahkan ayahnya, membunuhnya, lalu menawan putrinya sebagai budak. Putri itu kemudian dihadiahkan kepada Sarah. Setelah itu Sarah menghadiahkannya kepada Ibrahim. Ibrahim menggaulinya hingga ia melahirkan Ismail. Selanjutnya Ibrahim membawa Ismail dan ibunya, Hajar, ke Makkah…'" (Baca: Umdatul Qari 12/211).

Dengan demikian, Hajar pada asalnya bukanlah seorang budak. Asalnya adalah seorang wanita merdeka, putri salah seorang raja.

Disebutkan pula bahwa namanya adalah "Ājar" (آجَر) dengan hamzah dan alif panjang serta huruf jim yang berharakat fathah.

Ada pula yang berpendapat bahwa nama asalnya adalah "Hajar", kemudian huruf ha diubah menjadi hamzah. Beliau adalah seorang wanita Qibthi (Mesir) dan merupakan ibu Nabi Ismail. (Baca: Al-Kawakib ad-Darari fi Syarh Shahih al-Bukhari, 10/71).

Imam Al-Bukhari menulis sebuah bab dalam Shohihnya :

«بَابِ قَبُولِ الْهَدِيَّةِ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

Bab "Menerima Hadiah dari Orang-Orang Musyrik"

Lalu al-Bukhori meriwayatkan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad :

«هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِسَارَةَ، فَدَخَلَ قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ أَوْ جَبَّارٌ» - أَيْ: مِصْرَ - «فَقَالَ: أَعْطُوهَا آجَرَ» - أَيْ: هَاجَرَ.

لِذَلِكَ يَقُولُونَ عَنِ الْعَرَبِ: «بَنُو مَاءِ السَّمَاءِ»، وَهُمُ الْعَرَبُ؛ لِأَنَّهَا أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، وَالْعَرَبُ مِنْ نَسْلِهِ، وَسُمُّوا بِذَلِكَ؛ لِأَنَّهُمْ سُكَّانُ الْبَوَادِي، وَأَكْثَرُ مِيَاهِهِمْ مِنَ الْمَطَرِ.

"Ibrahim ‘alaihissalam berhijrah bersama Sarah. Kemudian beliau memasuki suatu negeri yang di dalamnya terdapat seorang raja atau penguasa yang zalim, yaitu Mesir. Raja itu berkata, 'Berikan kepadanya Ājar (Hajar).'"

Karena itulah orang-orang Arab disebut "بَنُو مَاءِ السَّمَاءِ'" (anak-anak Air Langit), sebab Hajar adalah ibu Nabi Ismail, sedangkan bangsa Arab berasal dari keturunannya. Mereka dinamakan demikian karena tinggal di daerah-daerah padang pasir dan sebagian besar sumber air mereka berasal dari hujan (dari langit)”.

(Baca: Al-Kawakib ad-Darari fi Syarh Shahih al-Bukhari, 19/68).

Hajar telah mendahului manusia dalam beberapa perkara, di antaranya:

[] Beliau adalah wanita pertama yang memanjangkan pakaiannya hingga menyeret ujungnya ke tanah. Karena itu beliau menjadi teladan bagi para wanita yang berhijab dan bercadar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

«أَوَّلُ امْرَأَةٍ جَرَّتْ ذَيْلَهَا أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، لَمَّا قَرُبَتْ مِنْ سَارَةَ أَرْخَتْ ذَيْلَهَا لِتُخْفِيَ أَثَرَهَا».

"Wanita pertama yang menyeret ujung pakaiannya adalah Ummu Ismail. Ketika ia posisinya  mendekati Sarah, ia mengulurkan ujung pakaiannya agar jejak langkahnya tertutup."

Lalu Ibnu Abbas berkata:

«وَمِنْ هَذَا أَخَذَتْ نِسَاءُ الْعَرَبِ جَرَّ الذُّيُولِ».

"Dari sinilah para wanita Arab mengambil kebiasaan menyeret ujung pakaian mereka." (Baca: Al-Istidzkar, 8/312).

[] Beliau adalah orang pertama yang melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Al-Fakihi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:

«هَذَا مَا أَوْرَثَتْكُمُوهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ».

"Inilah warisan yang ditinggalkan Ummu Ismail kepada kalian." (Fathul Bari, 3/503).

Yang dimaksud dengan warisan tersebut adalah amalan sa'i antara Shafa dan Marwah. Karena itu hendaknya para jamaah haji mengingat asal-usul syariat ini.

[] Beliau juga merupakan wanita pertama yang dikhitan dan yang kedua telinganya ditindik. Semoga Allah meridhainya dan melimpahkan keridaan-Nya kepadanya.

Sebagai penutup, dari Abdurrahman bin Syimasah Al-Mahri, ia berkata:

"Aku mendengar Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّكُمْ سَتَفْتَحُونَ أَرْضًا يُذْكَرُ فِيهَا الْقِيرَاطُ» - أَيْ: سَتَفْتَحُونَ مِصْرَ - «فَاسْتَوْصُوا بِأَهْلِهَا خَيْرًا، فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا، فَإِذَا رَأَيْتُمْ رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ فِي مَوْضِعِ لَبِنَةٍ، فَاخْرُجْ مِنْهَا».

قَالَ: فَمَرَّ بِرَبِيعَةَ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنَيْ شُرَحْبِيلَ بْنِ حَسَنَةَ، يَتَنَازَعَانِ فِي مَوْضِعِ لَبِنَةٍ، فَخَرَجَ مِنْهَا.

'Sesungguhnya kalian akan menaklukkan suatu negeri yang di dalamnya dikenal satuan ukuran qirath,' yaitu Mesir. 'Karena itu, berbuat baiklah kepada penduduknya.

Sesungguhnya mereka memiliki hak perlindungan dan hubungan kekerabatan. Apabila engkau melihat dua orang saling bertengkar hanya karena memperebutkan tempat sebuah batu bata, maka keluarlah dari negeri itu.'"

Abdurrahman berkata: "Kemudian Abu Dzar melewati Rabi'ah dan Abdurrahman, dua putra Syurahbil bin Hasanah, yang sedang berselisih mengenai tempat sebuah batu bata, maka beliau pun keluar dari negeri itu." (HR. Muslim no. 2543).

Sabda beliau, "Sesungguhnya mereka memiliki hak perlindungan," maksudnya mereka memiliki hak dan kehormatan yang wajib dijaga.

Sedangkan sabda beliau , "dan hubungan kekerabatan," maksudnya karena Hajar, ibu Nabi Ismail ‘alaihissalam, berasal dari negeri mereka. Hajar adalah ibu bangsa Arab.

Dalam riwayat lain disebutkan, "dan hubungan pernikahan (المُصَاهَرَةُ)," yaitu karena Maria Al-Qibthiyyah, ibu Ibrahim putra Nabi Muhammad , juga berasal dari kalangan mereka.

**** 

KRONOLOGI HAJAR MENJADI ISTRI KE DUA NABI IBRAHIM ‘ALAIHIS SALAM

Kitab-kitab sejarah menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menikah dengan Sarah, sedangkan Sarah adalah seorang wanita yang mandul dan tidak dapat melahirkan anak. Kemudian Ibrahim bersama ayahnya, istrinya, dan keponakannya, Luth bin Haran, berpindah dari negeri orang-orang Kasdim menuju negeri Kan‘an, yaitu dari Irak ke Baitul Maqdis, Palestina.

Beliau mengalami berbagai ujian dan perjuangan di jalan Allah yang sangat panjang untuk diceritakan.

Setelah tiba di Baitul Maqdis dan tinggal di sana selama sepuluh tahun, Sarah ‘alaihas salam sering mendengar doa Ibrahim ‘alihis salam:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Sarah merenungkan keadaannya, usianya yang telah lanjut, yang saat itu usainya sudah diatas 80 tahun, serta melihat kenyataan bahwa dirinya seorang wanita mandul. Dia sangat mencintai suaminya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dan begitu pula Nabi Ibrahimi, beliau sangat mencintai istrinya, Sarah.

Lalu terlintas secercah harapan dalam benaknya. Dengan hati yang jernih dan penuh keimanan, ia berkata kepada suaminya, Ibrahim ‘alaihissalam, dengan penuh harapan:

«إِنَّ الرَّبَّ حَرَمَنِي الْوَلَدَ؛ فَادْخُلْ عَلَى أَمَتِي هَذِهِ» - تَعْنِي هَاجَرَ - «لَعَلَّ اللَّهَ يَرْزُقُنَا مِنْهَا وَلَدًا».

“Sesungguhnya Rabb telah menahan diriku dari memiliki anak. Karena itu, nikahilah hambaku ini,” yaitu Hajar, “semoga Allah mengaruniakan kepada kita seorang anak darinya.”

Ketika Sarah menyerahkan Hajar kepada beliau, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun menikahinya.

Maka terjadilah apa yang telah Allah tetapkan, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا﴾

“Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.”

Hari-hari dan bulan-bulan pun berlalu. Hajar kemudian mengandung dan melahirkan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Saat itu usia Nabi Ibrahim telah mencapai 86 tahun.

Sejak saat itu dimulailah kehidupan rumah tangga Ibrahim bersama Hajar, dan dimulailah pula lembaran kehidupan baru dengan hadirnya bayi Ismail. Kehadiran Ismail mengubah perjalanan kehidupan keluarga Ibrahim bersama Hajar, ibunya, dan Sarah, istri pertamanya.

(Lihat: Al-Bidayah wan Nihayah, 1/356 dan Hayat Az-Zaujiyyah fi Al-Qur'an Al-Karim, Abdul Fattah Ahmad Al-Khatib, hlm. 220).

 ===***====

KECEMBURUAN SARAH TERHADAP HAJAR

===

Hukum Kecemburuan seorang Istri:

Kecemburuan seorang istri terhadap madunya adalah sesuatu yang telah menjadi tabiat dan fitrah wanita. Hal itu bukanlah sesuatu yang diusahakan atau diperoleh dengan pilihan. Oleh karena itu, seorang wanita tidak dicela atau dihukum hanya karena rasa cemburu tersebut, selama ia tidak melampaui batas dan tidak melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah akibat kecemburuannya, seperti menzalimi madunya, menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah), meminta suaminya menceraikan madunya, berbuat makar terhadapnya, atau tindakan-tindakan serupa lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَأَصْلُ الْغَيْرَةِ غَيْرُ مُكْتَسَبٍ لِلنِّسَاءِ، لَكِنْ إِذَا أَفْرَطَتْ فِي ذَلِكَ بِقَدْرٍ زَائِدٍ عَلَيْهِ تُلَامُ، وَضَابِطُ ذَلِكَ مَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَتِيكٍ الْأَنْصَارِيِّ رَفَعَهُ:

«إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْغَيْرَةُ فِي الرِّيبَةِ، وَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ رِيبَةٍ».

“Pada asalnya, rasa cemburu merupakan tabiat yang tidak dapat dipisahkan dari kaum wanita dan bukan sesuatu yang mereka usahakan. Namun, jika rasa cemburu itu berlebihan hingga melampaui batas yang sewajarnya, maka seseorang dapat dicela karenanya. Batasannya dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Atik Al-Anshari secara marfu’:

‘Sesungguhnya ada jenis kecemburuan yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan ada pula kecemburuan yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla. Adapun kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan yang muncul karena adanya sebab yang menimbulkan kecurigaan. Sedangkan kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang muncul tanpa adanya sebab yang patut dicurigai”. [Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (7/80). Pen].

Lalu al-Hafidz berkata:

فَالْغَيْرَةُ مِنْهُمَا – أَيْ: مِنَ الزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ – إِنْ كَانَتْ لِمَا فِي الطِّبَاعِ الْبَشَرِيَّةِ الَّتِي لَمْ يَسْلَمْ مِنْهَا أَحَدٌ مِنَ النِّسَاءِ، فَتُعْذَرُ فِيهَا، مَا لَمْ تَتَجَاوَزْ إِلَى مَا يَحْرُمُ عَلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ، وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ عَنِ النِّسَاءِ فِي ذَلِكَ.

Kecemburuan, baik yang muncul dari suami maupun istri, apabila berasal dari tabiat manusia yang memang menjadi fitrah dan tidak ada seorang wanita pun yang terbebas darinya, maka hal itu dapat dimaklumi, selama tidak mendorong kepada ucapan atau perbuatan yang diharamkan. Dengan pemahaman inilah berbagai riwayat tentang kecemburuan para wanita salehah dari kalangan salaf dipahami.” (Lihat: Fathul Bari, 9/326).

Ibnu Muflih rahimahullah berkata:

قَالَ الطَّبَرِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ: الْغَيْرَةُ مُسَامَحٌ لِلنِّسَاءِ فِيهَا، لَا عُقُوبَةَ عَلَيْهِنَّ فِيهَا؛ لِمَا جُبِلْنَ عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ.

“Imam Ath-Thabari dan para ulama lainnya berkata, ‘Kecemburuan merupakan sesuatu yang diberi kelonggaran bagi kaum wanita. Mereka tidak dikenai hukuman karenanya, sebab hal itu merupakan tabiat yang telah Allah tanamkan pada diri mereka.’”

(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 1/248).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah ketika menjelaskan hadits tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha yang memecahkan bejana milik salah seorang madunya berkata:

وَقَالُوا – أَيْ: جَمِيعُ مَنْ شَرَحُوا الْحَدِيثَ –: فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى عَدَمِ مُؤَاخَذَةِ الْغَيْرَاءِ بِمَا يَصْدُرُ مِنْهَا؛ لِأَنَّهَا فِي تِلْكَ الْحَالَةِ يَكُونُ عَقْلُهَا مَحْجُوبًا بِشِدَّةِ الْغَضَبِ الَّذِي أَثَارَتْهُ الْغَيْرَةُ.

وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو يَعْلَى بِسَنَدٍ لَا بَأْسَ بِهِ عَنْ عَائِشَةَ مَرْفُوعًا: «أَنَّ الْغَيْرَاءَ لَا تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلَاهُ».

“Seluruh ulama yang mensyarahkan hadits ini menyatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan tidak adanya tuntutan hukum terhadap seorang wanita yang sedang diliputi kecemburuan atas perbuatan yang muncul darinya, karena pada saat itu akalnya tertutupi oleh kemarahan yang dipicu oleh rasa cemburu.

Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad yang tidak mengapa dari Aisyah radhiyallahu ‘anha secara marfu’:

‘Sesungguhnya wanita yang sedang diliputi kecemburuan tidak mampu melihat bagian bawah lembah dari bagian atasnya.’ (Fathul Bari, 9/325).

Apa yang terjadi pada para wanita mulia berupa rasa cemburu adalah sesuatu yang memang tidak dapat dihindari oleh seorang pun. Mereka tidak dicela karenanya, karena dalam perbuatan mereka tidak terdapat pelanggaran terhadap syariat Allah Ta’ala.

Adapun kecemburuan yang terjadi pada Sarah terhadap Hajar termasuk dalam kategori ini. Seorang istri meminta kepada suaminya agar tidak melihat atau tidak tinggal berdekatan dengan madunya bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan, menurut keterangan para ulama, yang membawa Hajar dan putranya pergi adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam sendiri, bukan karena istrinya, Sarah, yang memintanya melakukan hal tersebut.

=====

Kecemburan Sarah kepada Hajar

Sebagian ahli tafsir dan ulama yang objektif berpendapat bahwa dipindahkannya Hajar dan Ismail ke Makkah disebabkan oleh rasa cemburu Sarah terhadap Hajar, budaknya. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

Sarah merasa bahwa Hajar adalah saingan yang sangat berat, setelah dia telah melahirkan anak untuk Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Di tambah lagi Hajar memiliki banyak kelebihan dalam penampilan. Diantaranya : dia sangat muda dan cantik, apalagi dulunya dia adalah seorang putri anak raja.   

Maka Sarah meminta kepada Ibrahim ‘alaihissalam agar menjauhkan Hajar dan membawanya pergi dari hadapannya. 

Imam Al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ» - أَيْ: الْحِزَامُ، وَمَا يُشَدُّ بِهِ الْوَسَطُ - «مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لِتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ» - أَوْ: سَارَّةَ بِتَشْدِيدِ الرَّاءِ -.

"Perempuan pertama yang mengenakan mintaq (ikat pinggang atau sabuk yang digunakan untuk mengikat kain bagian pinggang) adalah ibu Ismail. Ia mengenakannya untuk melandaikan kain ke bawah agar dengan kain tersebut bisa menghilangkan jejak langkahnya dari penglihatan Sarah." (HR. Al-Bukhari no. 3184 dan Ahmad no. 3390)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari:

«وَكَانَ السَّبَبُ فِي ذَلِكَ - أَيْ: أَنَّهَا اتَّخَذَتِ الْمِنْطَقَ وَالْحِزَامَ - أَنَّ سَارَةَ كَانَتْ وَهَبَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، فَحَمَلَتْ مِنْهُ بِإِسْمَاعِيلَ، فَلَمَّا وَلَدَتْهُ غَارَتْ مِنْهَا - وَكَانَتْ سَارَةُ لَمْ تَلِدْ إِلَّا بَعْدَ الثَّمَانِينَ أَوِ التِّسْعِينَ -، فَحَلَفَتْ لَتَقْطَعَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَعْضَاءٍ.

فَاتَّخَذَتْ هَاجَرُ - وَقَدْ خَافَتْ مِنْهَا - مِنْطَقًا، فَشَدَّتْ بِهِ وَسَطَهَا، وَهَرَبَتْ، وَجَرَّتْ ذَيْلَهَا - أَيْ: أَطَالَتْ ثَوْبَهَا - لِتُخْفِيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ.

وَيُقَالُ: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ شَفَعَ فِيهَا، وَقَالَ لِسَارَةَ: حَلِّلِي يَمِينَكِ بِأَنْ تَثْقُبِيَ أُذُنَيْهَا - أَيْ: تَخْرِقِيهَا - وَتَخْفِضِيهَا - وَهُوَ الْخِفَاضُ -، وَكَانَتْ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ.

وَيُقَالُ: إِنَّ سَارَةَ، بَعْدَ ذَلِكَ، اشْتَدَّتْ بِهَا الْغَيْرَةُ، فَخَرَجَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِإِسْمَاعِيلَ وَأُمِّهِ إِلَى مَكَّةَ لِذَلِكَ».

"Sebab Hajar mengenakan ikat pinggang adalah karena Sarah telah menghadiahkannya kepada Ibrahim. Kemudian Hajar mengandung Ismail dari Ibrahim. Setelah Ismail lahir, Sarah—yang baru memperoleh anak setelah berusia lebih dari delapan puluh atau sembilan puluh tahun—merasa sangat cemburu kepada Hajar. Maka Sarah bersumpah akan memotong tiga anggota tubuh Hajar.

Karena takut kepada Sarah, Hajar mengenakan ikat pinggang dan mengikat pinggangnya, lalu melarikan diri sambil menyeret ujung pakaiannya agar bekas langkahnya tidak terlihat oleh Sarah.

Disebutkan pula bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam kemudian memberikan syafaat (menjadi penengah) untuk Hajar. Beliau berkata kepada Sarah, 'Lepaskanlah sumpahmu dengan cara melubangi kedua telinganya dan mengkhitannya.' Maka Hajar menjadi orang pertama yang dilakukan tindakan tersebut."

Disebutkan pula bahwa setelah itu rasa cemburu Sarah semakin memuncak. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim 'alaihissalam membawa Ismail bersama ibunya menuju Makkah”. [Baca: Fathul Bari 6/400-401]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata dalam kitab Zadul Ma'ad:

«إِنَّ سَارَةَ امْرَأَةَ الْخَلِيلِ غَارَتْ مِنْ هَاجَرَ وَابْنِهَا أَشَدَّ الْغَيْرَةِ، فَإِنَّهَا كَانَتْ جَارِيَةً، فَلَمَّا وَلَدَتْ إِسْمَاعِيلَ وَأَحَبَّهُ أَبُوهُ، اشْتَدَّتْ غَيْرَةُ سَارَةَ، فَأَمَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُبْعِدَ عَنْهَا هَاجَرَ وَابْنَهَا، وَيُسْكِنَهَا فِي أَرْضِ مَكَّةَ؛ لِتَبْرُدَ عَنْ سَارَةَ حَرَارَةُ الْغَيْرَةِ، وَهَذَا مِنْ رَأْفَتِهِ وَرَحْمَتِهِ تَعَالَى».

“Sesungguhnya Sarah, istri Al-Khalil (Ibrahim), sangat cemburu kepada Hajar dan anaknya. Hajar adalah seorang budak. Ketika ia melahirkan Ismail dan ayahnya sangat mencintainya, kecemburuan Sarah semakin memuncak. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Ibrahim agar menjauhkan Hajar dan putranya dari Sarah serta menempatkan mereka di tanah Makkah, agar panasnya kecemburuan Sarah menjadi reda. Hal itu merupakan bagian dari kelembutan dan kasih sayang Allah Ta'ala.”

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata:

وَيُقَالُ: إِنَّ سَارَةَ اشْتَدَّتْ بِهَا الْغَيْرَةُ، فَخَرَجَ إِبْرَاهِيمُ بِإِسْمَاعِيلَ وَأُمِّهِ إِلَى مَكَّةَ لِذَلِكَ.

"Disebutkan bahwa Sarah diliputi rasa cemburu yang sangat besar. Karena itulah Ibrahim membawa Ismail dan ibunya (Hajar) keluar menuju Makkah." (Fathul Bari, 6/401).

 ===

DALIL PENGUAT KISAH:

---

Pertama :

Kisah ini diperkuat oleh hadits Bukhori, ketika Hajar dan Isma’il yang masih bayi di tempatkan di sisi Ka’bah:

فَقَالَتْ: « يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟»

فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ:

«آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟»

قَالَ: «نَعَمْ».

قَالَتْ: «إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا».

Hajar betanya kepada Nabi Ibrahim:

"Wahai Ibrahim, ke manakah engkau hendak pergi, sementara engkau meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada apa pun di dalamnya?"

Hajar mengulang-ulang pertanyaan itu berkali-kali, tetapi Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Lalu Hajar bertanya:

"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?"

Ibrahim menjawab, "Ya."

Hajar pun berkata: "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami." (HR. Al-Bukhari no. 3364).

----

Kedua :

Kisah ini diperkuat hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

«لَمَّا كَانَ بَيْنَ إِبْرَاهِيمَ وَبَيْنَ أَهْلِهِ مَا كَانَ، خَرَجَ بِإِسْمَاعِيلَ وَأُمِّ إِسْمَاعِيلَ، وَمَعَهُمْ شَنَّةٌ فِيهَا مَاءٌ...»

"Ketika terjadi sesuatu antara Ibrahim dan keluarganya, Ibrahim pun berangkat membawa Ismail dan ibu Ismail. Bersama mereka ada sebuah kantong air yang berisi air...." (HR. Al-Bukhari no. 3365).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

قَوْلُهُ – أَيْ: ابْنُ عَبَّاسٍ –: «لَمَّا كَانَ بَيْنَ إِبْرَاهِيمَ وَبَيْنَ أَهْلِهِ» يَعْنِي: سَارَةَ، «مَا كَانَ» يَعْنِي: مِنْ غَيْرَةِ سَارَةَ لَمَّا وَلَدَتْ هَاجَرُ إِسْمَاعِيلَ.

"Ucapan Ibnu Abbas, 'Ketika terjadi sesuatu antara Ibrahim dan keluarganya,' yang dimaksud dengan 'keluarganya' adalah Sarah, sedangkan yang dimaksud dengan 'terjadi sesuatu' adalah kecemburuan Sarah setelah Hajar melahirkan Ismail." (Fathul Bari, 6/407).

===***===

SUMPAH SARAH UNTUK MEMUTILASI HAJAR 
PADA TIGA BAGIAN TUBUHNYA

Ketika Hajar mendengar informasi bahwa Sarah telah bersumpah hendak memutilasi dirinya pada tiga bagian tubuhnya yang bisa merusak penampilannya dan agar Ibrahim, suaminya tidak merasa tertarik lagi padanya, maka Hajar pun merasa cemas dan ketakutan. Oleh sebab itu Hajar pun bersembunyi untuk menghindar.

Salah satu upaya yang ditempuh oleh Hajar agar dirinya tidak diketahui oleh Sarah akan keberadaannya dan jejaknya, maka Hajar memakai kain yang bagian belakangnya dilandaikan ke tanah dengan tujuan agar bisa menghapus jejak telapak kakinya. Dan supaya kain itu tidak jatuh melorot, maka dia mengikatnya dengan ikat pinggang. Dan pastinya beban berat kain pada zaman dahulu tidak ringan seperti ringannya kain pada zaman sekarang. 

Imam Al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ» - أَيْ: الْحِزَامُ، وَمَا يُشَدُّ بِهِ الْوَسَطُ - «مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لِتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ» - أَوْ: سَارَّةَ بِتَشْدِيدِ الرَّاءِ -.

"Perempuan pertama yang mengenakan mintaq (ikat pinggang atau sabuk yang digunakan untuk mengikat kain bagian pinggang) adalah ibu Ismail. Ia mengenakannya untuk melandaikan kain ke bawah agar dengan kain tersebut bisa menghilangkan jejak langkahnya dari penglihatan Sarah." (HR. Al-Bukhari no. 3184 dan Ahmad no. 3390)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari:

«وَكَانَ السَّبَبُ فِي ذَلِكَ - أَيْ: أَنَّهَا اتَّخَذَتِ الْمِنْطَقَ وَالْحِزَامَ - أَنَّ سَارَةَ كَانَتْ وَهَبَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، فَحَمَلَتْ مِنْهُ بِإِسْمَاعِيلَ، فَلَمَّا وَلَدَتْهُ غَارَتْ مِنْهَا، فَحَلَفَتْ لَتَقْطَعَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَعْضَاءٍ.

فَاتَّخَذَتْ هَاجَرُ - وَقَدْ خَافَتْ مِنْهَا - مِنْطَقًا، فَشَدَّتْ بِهِ وَسَطَهَا، وَهَرَبَتْ، وَجَرَّتْ ذَيْلَهَا - أَيْ: أَطَالَتْ ثَوْبَهَا - لِتُخْفِيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ.

وَيُقَالُ: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ شَفَعَ فِيهَا، وَقَالَ لِسَارَةَ: حَلِّلِي يَمِينَكِ بِأَنْ تَثْقُبِيَ أُذُنَيْهَا - أَيْ: تَخْرِقِيهَا - وَتَخْفِضِيهَا - وَهُوَ الْخِفَاضُ -، وَكَانَتْ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ.

وَيُقَالُ: إِنَّ سَارَةَ، بَعْدَ ذَلِكَ، اشْتَدَّتْ بِهَا الْغَيْرَةُ، فَخَرَجَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِإِسْمَاعِيلَ وَأُمِّهِ إِلَى مَكَّةَ لِذَلِكَ».

"Sebab Hajar mengenakan ikat pinggang adalah karena Sarah telah menghadiahkannya kepada Ibrahim. Kemudian Hajar mengandung Ismail dari Ibrahim. Setelah Ismail lahir, Sarah merasa sangat cemburu kepada Hajar. Maka Sarah bersumpah akan memotong tiga anggota tubuh Hajar.

Karena takut kepada Sarah, Hajar mengenakan ikat pinggang dan mengikat pinggangnya, lalu melarikan diri sambil menyeret ujung pakaiannya agar bekas langkahnya tidak terlihat oleh Sarah.

Disebutkan pula bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam kemudian memberikan syafaat (menjadi penengah) untuk Hajar. Beliau berkata kepada Sarah, 'Lepaskanlah sumpahmu dengan cara melubangi kedua telinganya dan mengkhitannya.' Maka Hajar menjadi orang pertama yang dilakukan tindakan tersebut."

Disebutkan pula bahwa setelah itu rasa cemburu Sarah semakin memuncak. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim 'alaihissalam membawa Ismail bersama ibunya menuju Makkah”. [Baca: Fathul Bari 6/400-401]

Nabi Ibrahim pun merasa cemas dan ketakutan, maka beliau berusaha membujuk sarah untuk menarik sumpahnya, dan memberikan solusi atas sumpahnya dengan cara menggantinya dengan melubangi dua telinga Hajar dan mengkhitannya.

===

DALIL PENGUAT KISAH

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Al-Baihaqi, dan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh-nya. Kisah ini juga disebutkan oleh banyak ulama, di antaranya sbb:

---

PERTAMA :

As-Suyuthi meriwayatkan:

أَخْرَجَ الْوَاقِدِيُّ، وَابْنُ عَسَاكِرَ، مِنْ طَرِيقِ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَتْ سَارَةُ عَلَيْهَا السَّلَامُ تَحْتَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَمَكَثَتْ مَعَهُ دَهْرًا لَا تُرْزَقُ مِنْهُ وَلَدًا، فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ وَهَبَتْ لَهُ هَاجَرَ ـ أَمَةً قِبْطِيَّةً ـ، فَوَلَدَتْ لَهُ إِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَغَارَتْ مِنْ ذَلِكَ سَارَةُ ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ـ، فَوَجَدَتْ فِي نَفْسِهَا، وَعَتَبَتْ عَلَى هَاجَرَ، فَحَلَفَتْ أَنْ تَقْطَعَ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْرَافٍ، فَقَالَ لَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: هَلْ لَكِ أَنْ تَبَرِّي يَمِينَكِ؟ فَقَالَتْ: كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: اثْقُبِي أُذُنَيْهَا، وَاخْفِضِيهَا، وَالْخَفْضُ هُوَ الْخِتَانُ، فَفَعَلَتْ ذَلِكَ بِهَا، فَوَضَعَتْ هَاجَرُ ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ـ فِي أُذُنَيْهَا قُرْطَيْنِ، فَازْدَادَتْ بِهِمَا حُسْنًا. انْتَهَى.

"Al-Waqidi dan Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur Amir bin Sa'd, dari ayahnya, ia berkata: Sarah ‘alaihas salam hidup bersama Ibrahim ‘alaihissalam dalam waktu yang lama tanpa dikaruniai seorang anak. Ketika melihat keadaan itu, ia menghadiahkan Hajar—seorang budak wanita dari Mesir (Qibthi)—kepada Ibrahim.

Hajar kemudian melahirkan Ismail ‘alaihissalam.

Sarah pun merasa cemburu, hatinya dipenuhi rasa tidak senang kepada Hajar, lalu ia bersumpah akan mengubah tiga bagian tubuh Hajar.

Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepadanya, 'Maukah engkau memenuhi sumpahmu dengan cara yang lain?'

Sarah bertanya, 'Bagaimana caranya?'

Ibrahim menjawab, 'Lubangilah kedua telinganya dan khitanlah dia.' Yang dimaksud dengan khafdh adalah khitan.

Maka Sarah pun melakukannya. Setelah itu Hajar memakai anting-anting di kedua telinganya sehingga kecantikannya justru semakin bertambah." (Selesai).

Kisah ini juga disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Akhbar An-Nisa', As-Suhaili dalam Ar-Raudh Al-Unuf, Ibnul Qayyim dalam Raudhah Al-Muhibbin dan Tuhfatul Maudud, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul ‘Ummal, dan ulama lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah juga menyinggung kisah ini dalam Fathul Bari dengan menggunakan bentuk tamridh. Beliau berkata:

وَيُقَالُ: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ شَفَعَ فِيهَا، وَقَالَ لِسَارَةَ: حَلِّلِي يَمِينَكِ بِأَنْ تُثَقِّبِي أُذُنَيْهَا، وَتُخْفِضِيهَا، وَكَانَتْ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ. انْتَهَى.

"Dan disebutkan bahwa Ibrahim menjadi perantara bagi Hajar, lalu berkata kepada Sarah, 'Tunaikanlah sumpahmu dengan melubangi kedua telinganya dan mengkhitannya.' Hajar adalah wanita pertama yang dilakukan hal tersebut." (Selesai).

----

KEDUA :

Imam As-Suyuthi juga dalam Ad-Durrul Mantsur meriwayatkan:

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَلِيٍّ ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ـ قَالَ: كَانَتْ هَاجَرُ لِسَارَةَ، فَأَعْطَتْ هَاجَرَ إِبْرَاهِيمَ، فَاسْتَبَقَ إِسْمَاعِيلُ وَإِسْحَاقُ لِنَفْسِهِ، فَسَبَقَهُ إِسْمَاعِيلُ، فَقَعَدَ فِي حِجْرِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَتْ سَارَةُ: وَاللَّهِ لَأُغَيِّرَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْرَافٍ، فَخَشِيَ إِبْرَاهِيمُ أَنْ تَجْدَعَهَا، أَوْ تَخْرِمَ أُذُنَيْهَا، فَقَالَ لَهَا: هَلْ لَكِ أَنْ تَفْعَلِي شَيْئًا، وَتَبَرِّي يَمِينَكِ؟ تُثَقِّبِينَ أُذُنَيْهَا، وَتَخْفِضِينَهَا، فَكَانَ أَوَّلُ الْخِفَاضِ هَذَا. انْتَهَى.

"Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Hajar adalah milik Sarah. Sarah menghadiahkannya kepada Ibrahim. Lalu Ismail dan Ishaq berlomba menuju Ibrahim. Ismail lebih dahulu sampai, lalu duduk di pangkuan Ibrahim. Sarah berkata, 'Demi Allah, aku benar-benar akan mengubah tiga bagian tubuhnya.' Ibrahim khawatir Sarah akan memotong hidungnya atau melubangi telinganya dengan cara yang menyakitkan. Maka Ibrahim berkata kepadanya, 'Maukah engkau melakukan sesuatu yang dapat memenuhi sumpahmu?' Sarah menjawab, 'Apa itu?' Ibrahim berkata, 'Lubangilah kedua telinganya dan khitanlah dia.' Maka itulah khitan pertama yang dilakukan." (Selesai).

----

KETIGA:

Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid:

وَقَدْ رَوَى أَبُو إِسْحَاقَ، عَنْ حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ، عَنْ عَلِيٍّ، أَنَّ سَارَةَ لَمَّا وَهَبَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، فَأَصَابَهَا، غَارَتْ سَارَةُ، فَحَلَفَتْ لَتُغَيِّرَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ، فَخَشِيَ إِبْرَاهِيمُ أَنْ تَقْطَعَ أُذُنَيْهَا، أَوْ تَجْذَعَ أَنْفَهَا، فَأَمَرَهَا أَنْ تَخْفِضَهَا، وَتُثَقِّبَ أُذُنَيْهَا. انْتَهَى.

"Abu Ishaq meriwayatkan dari Haritsah bin Mudhrib, dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Sarah menghadiahkan Hajar kepada Ibrahim lalu Ibrahim menggaulinya, Sarah pun merasa cemburu. Ia bersumpah akan mengubah tiga bagian tubuh Hajar. Ibrahim khawatir Sarah akan memotong telinganya atau memotong hidungnya. Maka beliau memerintahkan agar Sarah mengkhitan Hajar dan melubangi kedua telinganya." (Selesai).

----

KEEMPAT :

Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abdil Hakam dalam "Futūḥ Mihr wal-Maghrib" (hlm. 31) melalui jalur Israil, serta oleh Al-Baihaqi dalam "Syu'abul Īmān" (11/124) dan Ibnu 'Asakir dalam "Tārīkh Dimasyq" (69/186) melalui jalur Ats-Tsauri; keduanya dari Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:

«أَنَّ سَارَةَ لَمَّا وَهَبَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، فَأَصَابَهَا، غَارَتْ سَارَةُ، فَحَلَفَتْ لَتُغَيِّرَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ، فَخَشِيَ إِبْرَاهِيمُ أَنْ تَقْطَعَ أُذُنَيْهَا، أَوْ تَجْدَعَ أَنْفَهَا، فَأَمَرَهَا أَنْ تَخْفِضَهَا، وَتَثْقُبَ أُذُنَيْهَا».

"Ketika Sarah menghadiahkan Hajar kepada Ibrahim, lalu Ibrahim menggaulinya, Sarah pun merasa cemburu. Maka ia bersumpah akan mengubah tiga bagian dari tubuh Hajar. Ibrahim khawatir Sarah akan memotong telinganya atau memotong hidungnya. Karena itu, Ibrahim memerintahkannya agar mengkhitan Hajar dan melubangi kedua telinganya."

Sekilas tentang sanadnya:

Dalam Tahdzib at-Tahdzib di sebutkan:

وَأَبُو إِسْحَاقَ كَانَ قَدِ اخْتَلَطَ، وَتَغَيَّرَ حِفْظُهُ، لَكِنَّ سَمَاعَ الثَّوْرِيِّ مِنْهُ ـ وَكَذَا إِسْرَائِيلَ ـ كَانَ قَبْلَ الِاخْتِلَاطِ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ مُدَلِّسًا، وَوَصَمَهُ بِالتَّدْلِيسِ حُسَيْنُ الْكَرَابِيسِيُّ، وَأَبُو جَعْفَرٍ الطَّبَرِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَغَيْرُهُمْ.

Abu Ishaq pada masa tuanya mengalami ikhtilath (perubahan hafalan dan kekeliruan dalam meriwayatkan hadits). Akan tetapi, Ats-Tsauri dan Israil mendengar riwayat darinya sebelum masa ikhtilath tersebut. Meski demikian, Abu Ishaq dikenal sebagai seorang mudallis. Ia dinilai melakukan tadlis oleh Husain Al-Karabisi, Abu Ja'far Ath-Thabari, Ibnu Hibban, dan ulama lainnya. [ Lihat: "Tahdzīb at-Tahdzīb" (8/66)].

وَحَارِثَةُ بْنُ مُضَرِّبٍ ثِقَةٌ، وَثَّقَهُ ابْنُ مَعِينٍ وَغَيْرُهُ.

Adapun Haritsah bin Mudharrib adalah seorang perawi yang tsiqah (terpercaya). Ia dinyatakan tsiqah oleh Yahya bin Ma'in dan ulama lainnya. [Lihat: "Tahdzīb at-Tahdzīb" (2/167)].

Apabila benar Abu Ishaq mendengar hadits ini secara langsung dari Haritsah, maka sanadnya shahih.

Sebagian ulama bahkan menshahihkan secara mutlak riwayat Ats-Tsauri dari Abu Ishaq, khususnya dalam riwayatnya dari kalangan tabi'in. Terlebih lagi, atsar ini adalah riwayat mauquf (perkataan sahabat), bukan hadits marfu'. Oleh karena itu, kemungkinan keshahihannya cukup kuat.

Akan tetapi, berdasarkan kaidah ilmu hadits, sanad ini tetap dihukumi dhaif, karena Abu Ishaq adalah seorang mudallis dan dalam sanad ini ia meriwayatkannya dengan lafaz "'an" (an'anah), bukan dengan penegasan mendengar secara langsung. Wallahu a’lam

----

KELIMA :

Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dalam “Tārīkh Dimasyq” (69/187) melalui jalur Al-Waqidi, dari Muhammad bin Shalih, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Amir bin Sa’d, dari ayahnya, bahwa ia berkata:

«كَانَتْ سَارَةُ تَحْتَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ، فَمَكَثَتْ مَعَهُ دَهْرًا لَا تُرْزَقُ مِنْهُ وَلَدًا، فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ وَهَبَتْ لَهُ هَاجَرَ أَمَةً لَهَا قِبْطِيَّةً، فَوَلَدَتْ لِإِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، فَغَارَتْ مِنْ ذَلِكَ سَارَةُ، وَوَجَدَتْ فِي نَفْسِهَا، وَعَتَتْ عَلَى هَاجَرَ، فَحَلَفَتْ أَنْ تَقْطَعَ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْرَافٍ، فَقَالَ لَهَا إِبْرَاهِيمُ: هَلْ لَكِ أَنْ تَبَرِّي يَمِينَكِ؟ قَالَتْ: كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: (اثْقُبِي أُذُنَيْهَا وَاخْفِضِيهَا)، وَالْخَفْضُ هُوَ الْخِتَانُ».

“Sarah adalah istri Ibrahim Khalilurrahman. Ia hidup bersama Ibrahim dalam waktu yang lama, namun tidak dikaruniai seorang anak. Ketika melihat keadaan itu, Sarah menghadiahkan Hajar, seorang budak perempuan dari bangsa Qibthi, kepada Ibrahim. Lalu Hajar melahirkan Ismail ‘alaihimas salam untuk Ibrahim. Sarah pun merasa cemburu dan hatinya dipenuhi rasa tidak senang terhadap Hajar. Ia bersumpah akan memotong tiga bagian tubuh Hajar. Ibrahim berkata kepadanya, ‘Maukah engkau menunaikan sumpahmu dengan cara lain?’ Sarah bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ Ibrahim menjawab, ‘Lubangilah kedua telinganya dan khitanlah dia.’ Yang dimaksud dengan khafdh di sini adalah khitan.”

Akan tetapi, sanad riwayat ini sangat lemah. Sebab, di dalamnya terdapat Al-Waqidi yang merupakan perawi matruk (ditinggalkan riwayatnya) dan tertuduh berdusta. Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam An-Nasa’i, dan ulama lainnya mendustakannya. Bahkan Ishaq bin Rahawaih berkata:

هُوَ عِنْدِي مِمَّنْ يَضَعُ الْحَدِيثَ.

“Menurutku, ia termasuk orang yang membuat-buat hadits.” [Lihat: “Tahdzīb at-Tahdzīb” (9/326)].

----

KEENAM :

Ibnu Abi Zaid Al-Maliki rahimahullah dalam kitab An-Nawadir wa Az-Ziyadat. Beliau berkata:

وَيُقَالُ: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ أَمَرَ سَارَةَ، أُمَّ إِسْحَاقَ، أَنْ تَفْعَلَهُ بِهَاجَرَ، أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، وَكَانَتْ أَمَةً لَهَا، وَهَبَتْهَا لِإِبْرَاهِيمَ، ثُمَّ غَارَتْ بِهَا، فَحَلَفَتْ لَتُغَيِّرَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَشْرَافٍ، فَأَمَرَهَا إِبْرَاهِيمُ أَنْ تُثَقِّبَ أُذُنَيْهَا، وَتَخْفِضَهَا. انْتَهَى.

"Disebutkan bahwa Ibrahim memerintahkan Sarah—ibu Ishaq—untuk melakukan hal tersebut kepada Hajar—ibu Ismail. Hajar adalah budak milik Sarah yang kemudian dihadiahkan kepada Ibrahim. Setelah itu Sarah merasa cemburu kepadanya, lalu ia bersumpah akan mengubah tiga bagian tubuh Hajar yang dianggap sebagai perhiasannya. Maka Ibrahim memerintahkan Sarah agar melubangi kedua telinga Hajar dan mengkhitannya." [Selesai].

 ****

PARA ULAMA YANG MENOLAK KISAH KECEMBURUAN SARAH

Ali Muhammad ash-Sholabi dalam makalah “Waqafat Ma'a Al-Mar'ah Ash-Shalihah Ash-Shabirah Hajar wa Maulid Isma'il 'Alaihissalam” menganggapi nya dengan mengatakan:

وَنَحْنُ نَعْتَقِدُ أَنَّ السَّيِّدَةَ سَارَةَ - عَلَيْهَا السَّلَامُ - فَوْقَ كُلِّ هَذَا الْأَمْرِ، فَسَارَةُ تَقِيَّةٌ نَقِيَّةٌ عَابِدَةٌ، نَشَأَتْ فِي كَنَفِ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ نَشْأَةَ الصَّفَاءِ، وَصُنِعَتْ عَلَى عَيْنِهِ، وَتَعَلَّمَتْ شَيْئًا كَثِيرًا مِنْ مَكَارِمِهِ وَفَضَائِلِهِ؛ وَلِذَلِكَ فَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَسْتَحْكِمَ الْغَيْرَةُ فِي قَلْبِهَا، وَتَطْلُبَ مِنْ زَوْجِهَا أَنْ يُبْعِدَ طِفْلًا رَضِيعًا وَأُمَّهُ بِدُونِ سَبَبٍ، بَلْ إِنَّ ذَلِكَ يَعُودُ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ وَمَشِيئَتِهِ، فَهُوَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، وَفِي هَاتَيْكَ الْأَيَّامِ أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى إِبْرَاهِيمَ أَنْ يَأْخُذَ هَاجَرَ وَابْنَهَا إِلَى الْأَرْضِ الْمُبَارَكَةِ أُمِّ الْقُرَى، تِلْكَ الْبُقْعَةِ الَّتِي أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يُبَارِكَ فِيهَا لِلْعَالَمِينَ.

Adapun kami berpendapat bahwa Sayyidah Sarah ‘alaihas salam jauh lebih mulia daripada anggapan tersebut. Sarah adalah seorang wanita yang bertakwa, suci, dan ahli ibadah. Ia tumbuh dalam naungan Khalilur Rahman (Ibrahim ‘alaihissalam) dengan didikan yang penuh kesucian. Ia dibina langsung olehnya dan mempelajari banyak akhlak mulia serta keutamaannya. Karena itu, tidak layak dibayangkan bahwa kecemburuan menguasai hatinya hingga ia meminta suaminya mengusir seorang bayi yang masih menyusu bersama ibunya tanpa alasan yang benar.

Peristiwa itu sesungguhnya kembali kepada perintah dan kehendak Allah, karena Dialah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Pada hari-hari itulah Allah Ta'ala mewahyukan kepada Ibrahim agar membawa Hajar dan putranya menuju tanah yang diberkahi, Ummul Qura (Makkah), yaitu tempat yang Allah kehendaki untuk menjadi negeri yang penuh keberkahan bagi seluruh alam.

(Hayat Az-Zaujiyyah fi Al-Qur'an Al-Karim, Abdul Fattah Ahmad Al-Khatib, hlm. 223).

As-Showi juga berkata:

«أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِالْوَحْيِ أَنْ يَنْقُلَهَا إِلَى مَكَّةَ، وَأَتَى بِهَا بِالْبُرَاقِ، وَامْتَثَلَ إِبْرَاهِيمُ لِأَمْرِ رَبِّهِ، وَأَنْزَلَ هَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ - عَلَيْهِمَا السَّلَامُ - حَيْثُ أَمَرَهُ».

“Allah Ta'ala memerintahkan Ibrahim melalui wahyu agar memindahkan Hajar ke Makkah. Ibrahim membawanya dengan mengendarai Buraq. Ibrahim pun melaksanakan perintah Rabbnya dan menempatkan Hajar serta Ismail ‘alaihimas salam di tempat yang telah diperintahkan kepadanya.”

(Hasyiyah Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain, Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki, 2/242).

Lalu Ali Muhammad ash-Sholabi berkata:

وَلَا بُدَّ مِنَ الْحَذَرِ مِنَ الرِّوَايَاتِ الَّتِي تَزْعُمُهَا الْأَسَاطِيرُ وَالْإِسْرَائِيلِيَّاتُ مِنْ أَنَّ سَارَةَ أَصْبَحَتْ تَغَارُ غَيْرَةً شَدِيدَةً مِنْ هَاجَرَ، بَعْدَمَا أَنْجَبَتِ الْأَخِيرَةُ الْوَلَدَ لِإِبْرَاهِيمَ، وَأَنَّ سَارَةَ لَمْ تَعُدْ تَسْتَطِيعُ رُؤْيَةَ هَاجَرَ وَابْنِهَا فِي الْبَيْتِ، وَأَنَّهَا أَمَرَتِ الْخَلِيلَ إِبْرَاهِيمَ بِإِبْعَادِهِمَا عَنْهَا، وَوَضْعِهِمَا فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ بِحَيْثُ لَا تَرَاهُمَا، فَنَفَّذَ إِبْرَاهِيمُ أَمْرَ سَارَةَ، وَذَهَبَ بِهِمَا إِلَى الْحِجَازِ، وَلَا نَقُولُ بِهَذَا؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَرِدْ فِي حَدِيثٍ صَحِيحٍ مَرْفُوعٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلَا نَقْبَلُ فِي تَفَاصِيلِ الْقَصَصِ الْقُرْآنِيِّ أَيَّ كَلَامٍ لِأَيِّ كَانَ، إِذَا لَمْ يُقَدِّمِ الدَّلِيلَ عَلَى ذَلِكَ، إِمَّا مِنْ آيَةٍ صَرِيحَةٍ، أَوْ حَدِيثٍ مُتَّصِلٍ صَحِيحٍ، ثُمَّ إِنَّ سَارَةَ أَعْظَمُ إِيمَانًا مِمَّا صَوَّرَهَا بِهِ رُوَاةُ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ، فَهِيَ الَّتِي قَدَّمَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، وَهِيَ الَّتِي رَجَتْ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ، أَمَّا وَقَدْ جَاءَ الْوَلَدُ أَصْبَحَتْ تُرِيدُ التَّخَلُّصَ مِنْهُ وَالْقَضَاءَ عَلَيْهِ، وَأَنَّهَا لَوْ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَكَانَتْ ظَالِمَةً، وَإِبْرَاهِيمُ لَوْ ذَهَبَ بِهَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ إِلَى الْحِجَازِ لِهَذَا السَّبَبِ لَكَانَ ظَالِمًا، وَحَاشَى لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَظْلِمَ، وَزَوْجَتُهُ الْمُؤْمِنَةُ سَارَةُ بَرِيئَةٌ مِنْ ذَلِكَ الظُّلْمِ.

Kita harus berhati-hati terhadap riwayat-riwayat yang bersumber dari kisah-kisah legenda dan Israiliyyat yang mengklaim bahwa Sarah menjadi sangat cemburu kepada Hajar setelah Hajar melahirkan seorang anak bagi Ibrahim. Riwayat-riwayat itu juga menyebutkan bahwa Sarah tidak lagi sanggup melihat Hajar dan putranya berada di rumah, sehingga ia memerintahkan Khalilullah Ibrahim agar menjauhkan keduanya darinya dan menempatkan mereka di suatu tempat yang jauh agar ia tidak lagi melihat mereka. Lalu Ibrahim melaksanakan perintah Sarah dan membawa keduanya ke Hijaz.

Kami tidak berpendapat demikian, karena hal itu tidak terdapat dalam hadits shahih yang marfu' dari Rasulullah . Kami juga tidak menerima setiap keterangan mengenai rincian kisah-kisah Al-Qur'an dari siapa pun, kecuali jika disertai dalil yang membuktikannya, baik berupa ayat Al-Qur'an yang jelas maupun hadits shahih yang bersambung sanadnya.

Selain itu, keimanan Sarah jauh lebih agung daripada gambaran yang dibuat oleh para perawi Israiliyyat. Dialah yang menyerahkan Hajar kepada Ibrahim, dan dialah yang berharap agar Ibrahim dikaruniai seorang anak. Maka tidak masuk akal jika setelah anak itu lahir, ia justru ingin menyingkirkannya atau membinasakannya. Seandainya Sarah melakukan hal tersebut, niscaya ia termasuk orang yang zalim. Demikian pula, seandainya Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke Hijaz karena alasan itu, tentu beliau juga telah berbuat zalim. Padahal, mustahil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melakukan kezaliman. Begitu pula istri beliau yang beriman, Sarah, bersih dari tuduhan kezaliman tersebut. (Selesai)

[Baca pula: Al-Qashash Al-Qur'ani: 'Ardh Waqa'i' wa Tahlil Ahdats, Shalah Al-Khalidi, jilid 1, hlm. 385].

Muhammad Yusuf bin Rafi'uddin dalam artikel “Ghiratu Sārah min Hājar Zaujāti Ibrāhīm 'alaihis salām” berkata:

فَهَذِهِ الْقِصَّةُ لَمْ نَقِفْ عَلَى مَنْ صَحَّحَهَا، أَوْ ضَعَّفَهَا.

“Adapun kisah ini, kami belum menemukan adanya ulama yang menilainya sahih ataupun yang menilainya dhaif”.

Dan dalam Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah no. 39686 di sebutkan:

وَلَمْ يَجْزِمْ أَحَدٌ مِمَّنْ ذَكَرَهَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، فِيمَا وَقَفْنَا عَلَيْهِ، بِثُبُوتِهَا، أَوْ صِحَّةِ إِسْنَادِهَا. وَلَمْ يُنْقَلْ فِي ذَلِكَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Tidak seorang pun dari kalangan ulama yang menyebutkan kisah tersebut—sejauh yang kami ketahui—menegaskan bahwa kisah itu benar-benar terbukti atau memiliki sanad yang sahih.

Demikian pula, tidak ada satu pun riwayat mengenai hal itu yang dinukil dari Nabi .

REFERENSI:

[1] Ibrahim ‘Alaihissalam Abul Anbiya wal Mursalin, karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, Dar Ibnu Katsir, cetakan pertama, 2020 M.

[2] Hasyiyah Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain, karya Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, 1995 M, jilid 2, hlm. 242.

[3] Al-Hayah Az-Zaujiyyah fi Al-Qur’an Al-Karim, karya Abdul Fattah Ahmad Al-Khatib, Dar Al-Yamamah lith-Thiba‘ah wan-Nasyr wat-Tauzi‘, Damaskus, cetakan pertama, 1425 H/2004 M, hlm. 220.

[4] Al-Qashash Al-Qur’ani: ‘Ardh Waqa’i‘ wa Tahlil Ahdats, karya Shalah Al-Khalidi, Dar Al-Qalam, Damaskus – Ad-Dar Asy-Syamiyyah, Beirut, cetakan pertama, 1419 H/1998 M.  

 ===***===

KISAH HAJAR KETIKA TIBA DI MAKKAH DAN MULAI TINGGAL DI SANA

Di dalamnya terdapat pelajaran dan hukum yang dapat dipetik dari sejarah masa lampau.

Pelajaran dan hukum dapat diambil melalui sebab-sebab tertentu. Salah satunya adalah dari kisah Hajar, ibu Nabi Ismail dan istri Nabi Ibrahim, yaitu Hajar Al-Qibthiyyah. Kisah beliau mengandung banyak pelajaran dan hukum.

Al-Hafidz Ibnu Hajar setelah mensyarahi sebagian dari hadits Ibnu Abbas riwayat Bukhori dan Ahmad di atas, lalu Ibnu Hajar melanjutkan pensyarahannya, dengan syarah sbb :  

«ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ، وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ».

وَمَا كَانَ هُنَاكَ بَيْتٌ، وَإِنَّمَا مَكَانُ الْبَيْتِ، وَلَمْ يَكُنْ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي وُضِعَتْ فِيهِ هَاجَرُ مَعَ ابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ أَنِيسٌ وَلَا جَلِيسٌ، وَلَا بِنَاءٌ، وَلَا مَعْلَمٌ، وَلَا حَجَرٌ، وَإِنَّمَا هِيَ جِبَالٌ وَأَوْدِيَةٌ وَوِهَادٌ وَصَحَارِي.

«عِنْدَ دَوْحَةٍ» - وَالدَّوْحَةُ: الشَّجَرَةُ الْكَبِيرَةُ الَّتِي تَنْتَشِرُ فِي الصَّحْرَاءِ -.

«فَوْقَ زَمْزَمَ، فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ» - أَيْ: مَكَانِ الْمَسْجِدِ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بُنِيَ حِينَئِذٍ، وَإِنَّمَا الْكَلَامُ عَلَى الْمَكَانِ.

«وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَاكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ». وَالسِّقَاءُ: قِرْبَةٌ صَغِيرَةٌ.

«ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا».  أَيْ: وَلَّى رَاجِعًا إِلَى الشَّامِ.

«فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ!». وَكَرَّرَتْ عَلَيْهِ النِّدَاءَ، وَهُوَ لَا يَرُدُّ عَلَيْهَا.

«وَجَعَلَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ».

فَالْمَسْأَلَةُ، وَمَجِيئُكُمَا، وَحَمْلُكُمَا، وَوَضْعُكُمَا فِي هَذَا الْمَكَانِ، لَيْسَ إِرْضَاءً لِسَارَةَ، وَإِنَّمَا هُوَ أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ، وَلَكِنْ كَانَتْ هُنَاكَ حِكْمَةٌ.

«قَالَتْ: إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا». ثُمَّ رَجَعَتْ، فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ، حَيْثُ لَا يَرَوْنَهُ.

وَالثَّنِيَّةُ: مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ، وَقِيلَ: الطَّرِيقُ فِي الْجَبَلِ.

«أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟». فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا.

«اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ الْبَيْتَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَدَعَا بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ».

قَالَ الْعُلَمَاءُ: فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ عِنْدَ الدُّعَاءِ، وَكَذَلِكَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ.

فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ، رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ﴾ [إِبْرَاهِيمَ: ٣٧].

وَاسْتَجَابَ اللَّهُ دُعَاءَ إِبْرَاهِيمَ، وَمَا زَالُوا يُرْزَقُونَ مِنَ الثَّمَرَاتِ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا.

«وَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تُرْضِعُ إِسْمَاعِيلَ، وَتَشْرَبُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ، حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ، عَطِشَتْ، وَعَطِشَ ابْنُهَا، وَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتَلَوَّى».

فَانْطَلَقَتْ - تَرَكَتْهُ وَذَهَبَتْ - كَرَاهِيَةَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَيْهِ.

«فَوَجَدَتِ الصَّفَا أَقْرَبَ جَبَلٍ فِي الْأَرْضِ يَلِيهَا، فَقَامَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتِ الْوَادِيَ تَنْظُرُ: هَلْ تَرَى أَحَدًا؟ فَلَمْ تَرَ أَحَدًا. فَهَبَطَتْ مِنَ الصَّفَا، حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْوَادِيَ، رَفَعَتْ طَرَفَ دِرْعِهَا». أَيْ: رَفَعَتْ ثَوْبَهَا لِيَسْهُلَ عَلَيْهَا السَّعْيُ، فَكَانَ مَشْيُهَا أَسْرَعَ.

«ثُمَّ سَعَتْ سَعْيَ الْإِنْسَانِ الْمَجْهُودِ». أَيْ: سَعْيَ الْإِنْسَانِ الَّذِي بَلَغَ مِنْهُ الْجَهْدُ وَالْمَشَقَّةُ.

«حَتَّى جَاوَزَتِ الْوَادِيَ، ثُمَّ أَتَتِ الْمَرْوَةَ، فَقَامَتْ عَلَيْهَا، وَنَظَرَتْ: هَلْ تَرَى أَحَدًا؟ فَلَمْ تَرَ أَحَدًا، فَفَعَلَتْ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ».

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا».

«فَلَمَّا أَشْرَفَتْ عَلَى الْمَرْوَةِ» - فِي الشَّوْطِ السَّابِعِ - «سَمِعَتْ صَوْتًا، فَقَالَتْ: صَهْ» - تُرِيدُ نَفْسَهَا -، فَكَأَنَّهَا خَاطَبَتْ نَفْسَهَا فَقَالَتْ لَهَا: اسْكُتِي.

«ثُمَّ تَسَمَّعَتْ، فَسَمِعَتْ أَيْضًا، فَقَالَتْ: قَدْ أَسْمَعْتَ، إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غَوَاثٌ». أَيْ: إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غَوْثٌ وَإِغَاثَةٌ فَأَغِثْنَا. «فَإِذَا هِيَ بِالْمَلَكِ عِنْدَ مَوْضِعِ زَمْزَمَ، فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ - أَوْ قَالَ: بِجَنَاحِهِ - حَتَّى ظَهَرَ الْمَاءُ. فَجَعَلَتْ تُحَوِّضُهُ، وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَجَعَلَتْ تَغْرِفُ مِنَ الْمَاءِ فِي سِقَائِهَا، وَهُوَ يَفُورُ بَعْدَمَا تَغْرِفُ».

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ - أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ - لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا».

Kemudian Nabi Ibrahim 'alaihissalam membawa Hajar bersama putranya Ismail yang saat itu masih disusuinya, hingga beliau menempatkan keduanya di dekat Baitullah.

Pada waktu itu bangunan Ka'bah belum ada; yang ada hanyalah lokasi tempat Ka'bah kelak dibangun. Di tempat itu tidak terdapat seorang pun, tidak ada bangunan, tidak ada penanda, bahkan tidak ada batu yang menunjukkan suatu pemukiman. Yang ada hanyalah gunung-gunung, lembah-lembah, dataran rendah, dan padang pasir. Ibrahim menempatkan keduanya di dekat tempat Baitullah itu,

"...di dekat sebuah pohon besar..."

Yang dimaksud dengan dawhah adalah pohon besar yang tumbuh di padang pasir.

"...di atas Zamzam, di bagian atas masjid."

Maksudnya adalah lokasi Masjidil Haram, karena pada saat itu masjid tersebut belum dibangun; yang dimaksud hanyalah tempatnya.

"Dan ketika itu tidak ada seorang pun di Makkah."

Maka Ibrahim meninggalkan mereka di sana. Beliau juga meninggalkan di sisi mereka sebuah kantong berisi kurma dan sebuah qirbah (kantong kulit kecil) berisi air.

Kemudian Ibrahim berbalik meninggalkan mereka, yakni kembali menuju Syam.

Lalu ibu Ismail mengikuti beliau sambil berkata,

"Wahai Ibrahim!"

Ia terus memanggil beliau, tetapi Ibrahim tidak menjawab dan tidak menoleh kepadanya.

Akhirnya Hajar bertanya,

"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?"

Ibrahim menjawab: "Ya."

Maksudnya, keberangkatan mereka dan penempatan mereka di tempat itu bukanlah semata-mata untuk menyenangkan Sarah, melainkan merupakan perintah Allah, meskipun di baliknya terdapat hikmah yang besar.

Maka Hajar berkata,

"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Setelah itu ia kembali, sedangkan Ibrahim terus berjalan hingga mencapai sebuah dataran tinggi yang sudah tidak memungkinkan mereka melihatnya.

Yang dimaksud dengan ats-tsaniyyah adalah tanah yang tinggi atau jalan yang melewati gunung.

Sebelum berpisah, Hajar telah berkali-kali berkata,

"Ke manakah engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada apa pun di dalamnya?"

Namun Ibrahim tidak menjawab.

Setelah sampai di tempat yang tidak terlihat lagi oleh Hajar, Ibrahim menghadap ke arah Baitullah, mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa dengan doa yang diabadikan Allah dalam Al-Qur'an:

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya menghadap kiblat ketika berdoa dan mengangkat kedua tangan.

Allah pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Hingga hari ini penduduk Makkah tetap mendapatkan berbagai macam buah-buahan dari berbagai penjuru dunia.

Selanjutnya kembali kepada hadits Al-Bukhari.

Hajar terus menyusui Ismail dan meminum air yang ditinggalkan Ibrahim. Ketika air dalam qirbah telah habis, ia pun kehausan, demikian pula putranya. Ia melihat Ismail menggeliat karena kehausan.

Karena tidak sanggup melihat penderitaan putranya, Hajar pergi mencari pertolongan. Ia mendapati bahwa Bukit Shafa adalah bukit terdekat. Maka ia naik ke atasnya, lalu memandang ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang. Namun ia tidak melihat seorang pun.

Ia pun turun dari Bukit Shafa. Ketika sampai di dasar lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya agar lebih mudah bergerak, lalu berlari seperti larinya orang yang sangat letih dan kepayahan, hingga melewati lembah itu.

Setelah itu ia naik ke Bukit Marwah. Dari sana ia kembali melihat ke sekeliling apakah ada seseorang. Namun tidak seorang pun terlihat.

Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah bersabda:

"Itulah asal-usul sa'i yang dilakukan manusia di antara Shafa dan Marwah."

Ketika Hajar berada di Bukit Marwah pada putaran ketujuh, ia mendengar suatu suara.

Ia berkata kepada dirinya sendiri: "Diamlah!"

Kemudian ia kembali memasang telinga dan mendengar suara itu lagi.

Lalu ia berkata : "Sungguh aku telah mendengar suaramu. Jika engkau memiliki pertolongan, maka tolonglah aku."

Tiba-tiba ia melihat seorang malaikat berada di tempat munculnya Zamzam. Malaikat itu menghentakkan tanah dengan tumitnya—atau menurut riwayat lain, dengan sayapnya—hingga memancarlah air.

Hajar segera membuat semacam kolam kecil mengelilingi mata air itu dengan tangannya, lalu mengambil air dan memasukkannya ke dalam qirbah miliknya. Air itu terus memancar setiap kali ia mengambilnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah bersabda:

"Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam mengalir—atau beliau bersabda: seandainya ia tidak menimba air darinya—niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di permukaan bumi."

(HR. Al-Bukhari no. 3184 dan Ahmad no. 3390)

 «Seandainya ia tidak mengambil (mencedok) air itu, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.» Maksudnya, airnya akan terus memancar dan mengalir seperti sungai. «مَعِينًا» berarti mata air yang tampak dan mengalir di atas permukaan bumi.

Para ulama berkata, yakni:

أَيْ: عَيْنًا ظَاهِرَةً جَارِيَةً عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ.

Mata air yang nyata dan mengalir di atas permukaan bumi.

Ibnu al-Jauzi berkata:

(كَانَ ظُهُورُ زَمْزَمَ نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ) - لَا دَخْلَ لِلْبَشَرِ فِيهِ، وَهِيَ نِعْمَةٌ - (مَحْضَةٌ بِغَيْرِ عَمَلِ عَامِلٍ، فَلَمَّا خَالَطَهَا تَحْوِيطُ هَاجَرَ)، - خَالَطَهَا عَمَلُ النَّاسِ - (دَاخَلَهَا كَسْبُ الْبَشَرِ، فَقَصُرَتْ عَلَى ذَلِكَ)، وَتَوَقَّفَتْ، وَحَتَّى الْآنَ فِي نَفْسِ الْمَنْسُوبِ الَّذِي كَانَتْ عَلَيْهِ زَمْزَمُ مُنْذُ زَمَنِ هَاجَرَ، فَـ(لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا، تَجْرِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ).

“Kemunculan air Zamzam merupakan nikmat murni dari Allah, tanpa campur tangan usaha manusia sedikit pun. Ketika Hajar mulai membuat pembatas (kolam kecil) di sekelilingnya, maka sejak saat itu bercampurlah usaha manusia dengan nikmat tersebut. Karena itu, aliran airnya dibatasi pada keadaan seperti itu dan tidak lagi mengalir bebas. Hingga sekarang pun, ketinggian air Zamzam tetap sebagaimana sejak zaman Hajar. Seandainya Hajar tidak mencedok air itu, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir terus hingga Hari Kiamat.” (HR. Ahmad no. 2285).

[Lihat pula : at-Tausyikh karya as-Suyuthi 5/2169, Irsyad as-Saari karya Abul Abbas al-Qostholani 5/352 no. 3362]

Kemudian hadits Ibnu Abbas melanjutkan:

«قَالَ: فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا، فَقَالَ لَهَا الْمَلَكُ: لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ» - أَيْ: لَا تَخَافُوا الْهَلَاكَ وَالضَّيَاعَ -.

«فَإِنَّ هَاهُنَا بَيْتَ اللَّهِ، يَبْنِيهِ هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ»، - فَنَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَحْفَظَ ذَلِكَ الْبَلَدَ، وَأَنْ يَحْفَظَ أَهْلَهُ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ.

«وَكَانَ الْبَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنَ الْأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ» - الرَّابِيَةُ: مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ، فَهُوَ مُرْتَفِعٌ –

«تَأْتِيهِ السُّيُولُ، فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، فَكَانَتْ كَذَلِكَ» -

قَوْلُهُ: «فَكَانَتْ» أَيْ: هَاجَرُ،

«كَذَلِكَ» أَيْ: عَلَى الْحَالِ الْمَوْصُوفَةِ، وَفِيهِ إِشْعَارٌ بِأَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَذِي بِمَاءِ زَمْزَمَ، وَبَقِيَتْ مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَشْرَبُ مِنْ زَمْزَمَ –

«فَيَكْفِيهَا عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ».

«Lalu Hajar minum dan menyusui anaknya. Malaikat berkata kepadanya: “Janganlah kalian takut akan kebinasaan dan kesia-siaan. Karena di sinilah akan dibangun Baitullah. Anak ini bersama ayahnya kelak akan membangunnya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penghuni rumah-Nya.”»

Semoga Allah menjaga negeri itu (Makkah) serta menjaga penduduknya demi kepentingan Islam dan kaum muslimin.

«Dan tempat Baitullah itu berupa tanah yang lebih tinggi daripada sekitarnya seperti sebuah bukit kecil.»

Ar-roobiyah adalah tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya.

«Banjir-banjir datang lalu mengalir melewati sisi kanan dan kirinya.»

«Demikianlah keadaan Hajar.»

Maksudnya, Hajar tetap berada dalam keadaan yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa selama beberapa waktu ia mencukupkan diri dengan meminum air Zamzam, sehingga air Zamzam memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.

[Demikian dijelaskan dalam Fath al-Bari].

Lalu Ibnu Abbas berkata :

«حَتَّى مَرَّتْ بِهِمْ رُفْقَةٌ مِنْ جُرْهُمَ» -

فَمَنْ هِيَ جُرْهُمُ؟ «جُرْهُمُ»: هُوَ ابْنُ قَحْطَانَ بْنِ عَامِرِ بْنِ شَالِخٍ بْنِ أَرْفَخْشَذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ.

هَذِهِ الْقَبِيلَةُ مَرُّوا - «مُقْبِلِينَ مِنْ طَرِيقِ كَدَاءٍ»، - وَكُدَى: مِنْطَقَةٌ فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ، فَنَزَلُوا -.

«فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا»، - فَالطَّائِرُ «الْعَائِفُ»: الَّذِي يَحُومُ عَلَى الْمَاءِ، وَيَتَرَدَّدُ، وَلَا يَمْضِي عَنْهُ.

«فَقَالُوا: إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ! لَعَهْدُنَا بِهَذَا الْوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ!»

«Hingga suatu ketika datanglah serombongan kabilah Jurhum melewati mereka.»

Siapakah Jurhum?

Jurhum adalah Jurhum bin Qahtan bin ‘Amir bin Shalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

Kabilah ini datang: «Melalui jalan Kada'.»

Kada' adalah sebuah kawasan di bagian bawah Kota Makkah. Mereka pun singgah di sana.

«Lalu mereka melihat seekor burung yang terus berputar-putar.»

Burung yang disebut «العَائِفُ» adalah burung yang berputar-putar di atas air, terus mengelilinginya dan tidak meninggalkannya.

Mereka berkata: «Burung ini pasti sedang berputar di atas sumber air. Padahal, sepanjang pengetahuan kita, lembah ini tidak pernah memiliki air!»

(HR. al-Bukhari no. 3184).

Lalu Ibnu Abbas berkata :

قَالَ: - (فَبَعَثُوا رَسُولَهُمْ، فَنَظَرَ، فَإِذَا هُمْ بِالْمَاءِ، فَأَتَاهُمْ فَأَخْبَرَهُمْ، فَأَتَوْا إِلَيْهَا).

«Mereka mengutus seorang utusan untuk memeriksa. Ternyata benar, ia menemukan adanya air. Ia kembali memberi tahu mereka, lalu mereka pun mendatangi Hajar.» (HR. al-Bukhari no. 3185).

Lanjut:

«فَقَالُوا: أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، وَلَكِنْ لَا حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ»، - الْمَاءُ مِلْكٌ لِي وَلِوَلَدِي، أَنْتُمْ لَا حَقَّ لَكُمْ فِيهِ؛ حَقُّ التَّمَلُّكِ، أَمَّا حَقُّ الِانْتِفَاعِ فَلَمْ تَمْنَعْهُمْ مِنَ الِانْتِفَاعِ مِنْ شُرْبٍ وَسِقَايَةٍ -.

«قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ"» - يَعْنِي كَانَتْ تُحِبُّ أَنْ يَبْقَوْا عِنْدَهَا، وَأَنْ يُؤْنِسُوهَا، فَالْإِنْسَانُ سُمِّيَ إِنْسَانًا لِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِغَيْرِهِ، وَلَيْسَ مُتَوَحِّشًا مُتَفَرِّدًا -.

«وَهِيَ تُحِبُّ الْأُنْسَ، فَنَزَلُوا، وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ، فَنَزَلُوا مَعَهُمْ، حَتَّى كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ، وَشَبَّ الْغُلَامُ» - إِسْمَاعِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ –

«وَتَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ».

Mereka berkata: «Apakah engkau mengizinkan kami tinggal di dekatmu?»

Hajar menjawab: «Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak kepemilikan atas air ini.»

Artinya, air itu adalah milik Hajar dan putranya. Mereka tidak berhak memilikinya, tetapi Hajar tidak melarang mereka memanfaatkannya, seperti untuk minum atau memberi minum hewan.

Mereka menjawab: «Baik.»

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah bersabda:

«Keadaan itu sangat menyenangkan hati Ummu Ismail, karena ia memang menyukai kebersamaan dan tidak suka hidup sendirian.»

Manusia disebut "insan" karena memiliki sifat senang bergaul dan hidup bersama orang lain, bukan hidup menyendiri.

«Maka mereka pun menetap di sana. Kemudian mereka mengirim kabar kepada keluarga mereka, lalu keluarga mereka ikut datang dan tinggal bersama mereka, hingga terbentuklah beberapa rumah tangga dari kalangan mereka di tempat itu.

Ismail pun tumbuh dewasa dan belajar bahasa Arab dari mereka.» [HR. Bukhori no. 3364]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

وَهَذَا - (فِيهِ إِشْعَارٌ بِأَنَّ لِسَانَ أُمِّهِ وَأَبِيهِ لَمْ يَكُنْ عَرَبِيًّا، وَفِيهِ تَضْعِيفٌ لِقَوْلِ مَنْ رَوَى أَنَّهُ) - أَيْ: إِسْمَاعِيلُ - (أَوَّلُ مَنْ تَكَلَّمَ بِالْعَرَبِيَّةِ)، - لَيْسَ كَذَلِكَ - (وَقَدْ وَقَعَ ذَلِكَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْحَاكِمِ فِي «الْمُسْتَدْرَكِ» بِلَفْظِ: «أَوَّلُ مَنْ نَطَقَ بِالْعَرَبِيَّةِ إِسْمَاعِيلُ»)، - وَلَيْسَ أَوَّلَ مَنْ تَكَلَّمَ، بَلْ أَوَّلَ مَنْ نَطَقَ -.

(وَرَوَى الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ فِي «النَّسَبِ» مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ قَالَ: «أَوَّلُ مَنْ فَتَقَ اللَّهُ لِسَانَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ الْمُبِينَةِ إِسْمَاعِيلُ»)، - الْعَرَبِيَّةُ الْمُبِينَةُ - (وَبِهَذَا الْقَيْدِ يُجْمَعُ بَيْنَ الْخَبَرَيْنِ، فَتَكُونُ أَوَّلِيَّتُهُ فِي ذَلِكَ بِحَسَبِ الزِّيَادَةِ فِي الْبَيَانِ)، - فَكَانَ أَنْطَقَ مِنَ الْعَرَبِ أَنْفُسِهِمْ وَأَفْصَحَ، الْعَرَبِ الْعَارِبَةِ، وَلَيْسَ الْعَرَبَ الْعَارِيَةَ - (لَا الْأَوَّلِيَّةَ الْمُطْلَقَةَ، فَيَكُونُ بَعْدَ تَعَلُّمِهِ أَصْلَ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ جُرْهُمَ، أَلْهَمَهُ اللَّهُ الْعَرَبِيَّةَ الْفَصِيحَةَ الْمُبِينَةَ، فَنَطَقَ بِهَا).

كَانَ إِسْمَاعِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَ هَؤُلَاءِ النَّاسِ أَفْضَلَهُمْ - (وَأَنْفَسَهُمْ) - أَيْ: كَثُرَتْ رَغْبَتُهُمْ فِيهِ، وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ. فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ. - يُقَالُ: بَعْدَ عِشْرِينَ عَامًا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ - (فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ). - أَيْ: يَتَفَقَّدُ حَالَ مَا تَرَكَهُ هُنَاكَ.

"Hadits ini memberi isyarat bahwa bahasa ibu dan ayah Nabi Ismail bukanlah bahasa Arab. Di dalamnya juga terdapat pelemahan terhadap pendapat orang yang meriwayatkan bahwa Ismail adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Hal itu tidaklah demikian.

Memang terdapat riwayat dari Ibnu Abbas dalam Al-Mustadrak dengan lafaz:

'Orang pertama yang mengucapkan bahasa Arab adalah Ismail.'

Akan tetapi, bukan berarti beliau orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab secara mutlak, melainkan orang pertama yang mengucapkannya (dengan kefasihan tertentu)."

"Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkan dalam kitab tentang nasab, dari hadits Ali radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang hasan, beliau berkata:

'Orang pertama yang Allah bukakan lisannya dengan bahasa Arab yang jelas (al-'Arabiyyah al-Mubīnah) adalah Ismail.'

Dengan tambahan keterangan 'bahasa Arab yang jelas' ini, kedua riwayat tersebut dapat dipadukan. Artinya, keutamaan Ismail adalah sebagai orang pertama yang menguasai bahasa Arab dengan tingkat kejelasan dan kefasihan yang sempurna, bukan sebagai orang pertama yang berbicara bahasa Arab secara mutlak. Setelah beliau mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dari suku Jurhum, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang sangat fasih dan jelas, sehingga beliau pun berbicara dengannya."

Kemudian beliau melanjutkan:

"Nabi Ismail 'alaihissalam adalah orang yang paling utama di tengah kaum tersebut dan paling mereka sukai. Maksudnya, mereka sangat menginginkan dirinya dan sangat mengaguminya ketika beliau telah tumbuh dewasa. Setelah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah ibu Ismail wafat—disebutkan sekitar dua puluh tahun kemudian Ismail menikah—Nabi Ibrahim 'alaihissalam datang setelah Ismail menikah untuk melihat peninggalannya."

Maksud ungkapan "melihat peninggalannya" adalah bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam datang untuk memeriksa dan mengetahui keadaan keluarga serta apa yang dahulu beliau tinggalkan di tempat itu. [Baca: Fathul Bari 6/403]

Lalu Ibnu Hajar berkata:

(وَقَدْ جَاءَ ذِكْرُ مَجِيئِهِ بَيْنَ الزَّمَانَيْنِ فِي خَبَرٍ آخَرَ، فَفِي حَدِيثِ أَبِي جَهْمٍ: «كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَزُورُ هَاجَرَ كُلَّ شَهْرٍ عَلَى الْبُرَاقِ، يَغْدُو غَدْوَةً فَيَأْتِيَ مَكَّةَ») - أَيْ: فِي الصَّبَاحِ - (ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَقِيلُ فِي مَنْزِلِهِ بِالشَّامِ») - فِي الصَّبَاحِ يَكُونُ عِنْدَهُمْ بِمَكَّةَ، وَالْقَيْلُولَةُ تَكُونُ فِي الشَّامِ.

(وَرَوَى الْفَاكِهِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ نَحْوَهُ، وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - كَانَ يَزُورُ إِسْمَاعِيلَ وَأُمَّهُ عَلَى الْبُرَاقِ.

فَقَوْلُهُ: «فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ» أَيْ: بَعْدَ مَجِيئِهِ قَبْلَ ذَلِكَ مِرَارًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ).

"(Telah disebutkan tentang kedatangannya di antara dua masa tersebut dalam riwayat lain. Dalam hadits Abu Jahm disebutkan: 'Nabi Ibrahim mengunjungi Hajar setiap bulan dengan mengendarai Buraq. Beliau berangkat pada waktu pagi, lalu tiba di Makkah) — yaitu pada pagi hari — (kemudian beliau kembali sehingga dapat beristirahat (qailulah) di rumahnya di Syam).'"

Artinya, pada pagi hari beliau berada bersama mereka di Makkah, sedangkan waktu qailulah beliau sudah kembali berada di Syam.

"(Al-Fakihi juga meriwayatkan dari hadits Ali radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang hasan semakna dengan itu, bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam biasa mengunjungi Ismail dan ibunya dengan mengendarai Buraq.

Maka ucapan dalam hadits: 'Lalu Ibrahim datang setelah Ismail menikah', maksudnya ialah setelah sebelumnya beliau telah beberapa kali datang mengunjungi mereka. Wallahu a'lam)." (Fath al-Bari 4/404)

Lalu Ibnu Hajar berkata:

وَعِنْدَمَا جَاءَ يَزُورُ إِسْمَاعِيلَ بَعْدَ أَنْ تَزَوَّجَ - (فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ، فَقَالَتْ: خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا) - أَيْ: يَطْلُبُ لَنَا الرِّزْقَ.

ثُمَّ سَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ، فَقَالَتْ: نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتْ إِلَيْهِ.

قَالَ: فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرِئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ.

Kemudian, ketika Nabi Ibrahim datang mengunjungi Ismail setelah beliau menikah:

"(Beliau tidak mendapati Ismail, lalu bertanya kepada istrinya tentang keberadaannya. Istrinya menjawab: 'Ia keluar mencari nafkah untuk kami.')"

Yakni, Ismail sedang keluar untuk mencari rezeki bagi keluarganya.

"Kemudian Ibrahim bertanya kepadanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Wanita itu menjawab: 'Kami hidup dalam keadaan yang buruk. Kami berada dalam kesempitan dan kesulitan.' Lalu ia mengadukan keadaannya kepada Ibrahim.

Maka Ibrahim berkata: 'Apabila suamimu pulang, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya agar ia mengganti ambang pintu rumahnya.'"

(Fathul Bari 4/404)

Ibnu Hajar menjelaskan:

(عَتَبَةُ الْبَابِ: كِنَايَةٌ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَسَمَّاهَا بِذَلِكَ لِمَا فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الْمُوَافِقَةِ لَهَا، وَهُوَ حِفْظُ الْبَابِ، وَصَوْنُ مَا هُوَ دَاخِلُهُ، - وَالْمَرْأَةُ تَحْفَظُ بَيْتَهَا - وَكَوْنُهَا مَحَلَّ الْوَطْءِ، وَالْعَتَبَةُ يَطَؤُهَا النَّاسُ).

"Yang dimaksud dengan 'ambang pintu rumah' adalah kiasan untuk istri. Istri diumpamakan demikian karena memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan ambang pintu, yaitu menjaga pintu dan memelihara apa yang ada di dalamnya."

Beliau juga menjelaskan bahwa istri menjaga rumah tangganya, serta merupakan tempat hubungan suami istri, sebagaimana ambang pintu merupakan bagian yang diinjak ketika seseorang memasuki rumah. (Fathul Bari 4/404)

Lanjutan hadits Shahih Bukhori no. 3364, dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata:

فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيْئًا، فَقَالَ: «هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟»

قَالَتْ: «نَعَمْ! جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنْكَ، فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ» - أَيْ: مَشَقَّةٍ -، «وَشِدَّةٍ».

قَالَ: «فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟». قَالَتْ: «نَعَمْ! أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلَامَ، وَيَقُولُ: “غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ”».

قَالَ: «ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ». فَطَلَّقَهَا، وَتَزَوَّجَ مِنْهُمْ - امْرَأَةً - أُخْرَى.

فَلَبِثَ عَنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أَتَاهُمْ بَعْدُ، فَلَمْ يَجِدْهُ، فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ، فَسَأَلَهَا عَنْهُ، فَقَالَتْ: «خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا».

قَالَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ؟» وَسَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ، فَقَالَتْ: «نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ»، وَأَثْنَتْ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

فَقَالَ: «مَا طَعَامُكُمْ؟» قَالَتْ: «اللَّحْمُ».

قَالَ: «فَمَا شَرَابُكُمْ؟» قَالَتْ: «الْمَاءُ».

قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ».

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ» - يَعْنِي: لَا شَعِيرٌ وَلَا قَمْحٌ -، «وَلَوْ كَانَ لَهُمْ، لَدَعَا لَهُمْ فِيهِ».

قَالَ: «فَهُمَا لَا يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ» - اللَّحْمُ وَالْمَاءُ مَوْجُودَانِ، وَأَمَّا الْقَمْحُ وَمَا شَابَهَهُ فَقَلِيلٌ -.

قَالَ: «فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرِئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ».

فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ قَالَ: «هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟». قَالَتْ: «نَعَمْ! أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ»، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ، فَسَأَلَنِي عَنْكَ، فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ.

قَالَ: «فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟». قَالَتْ: «نَعَمْ! هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ».

قَالَ: «ذَاكِ أَبِي، وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ». ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلًا.

(النَّبْلُ): السَّهْمُ قَبْلَ أَنْ يُرَكَّبَ فِيهِ نَصْلُهُ وَرِيشُهُ.

Ketika Ismail datang, seakan-akan ia merasakan bahwa telah terjadi sesuatu. Maka ia bertanya, “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?” Istrinya menjawab, “Ya, telah datang kepada kami seorang lelaki tua dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu. Ia bertanya tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya kepadaku bagaimana keadaan kehidupan kami, maka aku menjawab bahwa kami berada dalam kesulitan dan kesempitan.”

Ismail bertanya, “Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Ia memintaku menyampaikan salam kepadamu dan berkata: ‘Gantilah ambang pintumu.’”

Ismail berkata, “Itu adalah ayahku. Ia memerintahkanku agar menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail pun menceraikannya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita dari kabilah Jurhum.

Setelah beberapa waktu, sesuai kehendak Allah, Ibrahim datang kembali mengunjungi mereka. Namun, ia tidak mendapati Ismail. Lalu ia masuk menemui istri Ismail dan bertanya tentang suaminya. Wanita itu menjawab, “Ia sedang keluar mencari rezeki untuk kami.”

Ibrahim bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?” Ia juga menanyakan kehidupan dan kondisi mereka.

Wanita itu menjawab, “Kami berada dalam keadaan baik dan lapang.” Ia pun memuji Allah ‘Azza wa Jalla.

Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?”. Ia menjawab, “Daging.”

Ibrahim bertanya lagi, “Apa minuman kalian?”. Ia menjawab, “Air.”

Maka Ibrahim berdoa: “Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air.”

Rasulullah bersabda: “Pada waktu itu mereka belum memiliki biji-bijian.”

Maksudnya, mereka belum mempunyai gandum ataupun jelai.

“Seandainya mereka memilikinya, niscaya Ibrahim juga akan mendoakan keberkahan padanya.”

Kemudian beliau bersabda : “Tidaklah seseorang menjadikan daging dan air sebagai makanan pokoknya di selain Makkah, melainkan keduanya tidak akan sesuai baginya.”

Maksudnya, di Makkah makanan utama mereka hanyalah daging dan air, sedangkan biji-bijian seperti gandum dan sejenisnya masih sangat sedikit.

Kemudian Ibrahim berkata kepada istri Ismail: “Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya agar tetap mempertahankan ambang pintunya.”

Ketika Ismail pulang, ia bertanya: “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab : “Ya. Telah datang kepada kami seorang lelaki tua yang sangat baik penampilannya.”

Lalu ia memuji penampilan dan keadaannya.

“Aku ditanya tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya bagaimana kehidupan kami, dan aku menjawab bahwa kami berada dalam keadaan baik.”

Ismail bertanya : “Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjawab: “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu agar tetap mempertahankan ambang pintumu.”

Maka Ismail berkata : “Itu adalah ayahku. Dan kamulah yang dimaksud dengan ambang pintu itu. Ia memerintahkanku agar tetap mempertahankanmu sebagai istriku.”

Setelah beberapa waktu lagi, sesuai kehendak Allah, Ibrahim datang kembali. Saat itu Ismail sedang meraut beberapa batang anak panah.

Yang dimaksud dengan النَّبْل (an-nabl) adalah anak panah sebelum dipasang mata panah dan bulunya. Demikian penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

[Lihat pula: Fathul Bari 6/405]

Lalu Ibnu Abbas berkata :

وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلًا لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ (شَجَرَةٍ) قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ، فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ، فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ، وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ.

(أَيْ: كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ، أَيْ بَعْدَ الْغِيَابِ، وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ، مِنَ الِاعْتِنَاقِ، وَالْمُصَافَحَةِ، وَتَقْبِيلِ الْيَدِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ).

ثُمَّ قَالَ: «يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ».

قَالَ: «فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ».

قَالَ: «وَتُعِينُنِي؟».

قَالَ: «وَأُعِينُكَ».

قَالَ: «فَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَاهُنَا بَيْتًا» - وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا -.

الأَكَمَةُ: مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ دُونَ الْجَبَلِ، فَهِيَ أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ.

قَالَ: «فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ».

Dan Ismail sedang meraut anak-anak panah miliknya di bawah sebuah pohon besar, dekat dengan Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya, ia segera berdiri menghampirinya. Keduanya pun melakukan sebagaimana yang biasa dilakukan seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya.

(Maksudnya: sebagaimana yang biasa dilakukan seorang ayah kepada anaknya setelah lama berpisah, dan seorang anak kepada ayahnya, berupa saling berpelukan, berjabat tangan, mencium tangan, dan semisalnya).

Kemudian Ibrahim berkata, "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dengan suatu perintah."

Ismail menjawab, "Laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu."

Ibrahim berkata, "Apakah engkau akan membantuku?"

Ismail menjawab, "Aku akan membantumu."

Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di tempat ini," seraya menunjuk ke sebuah tanah yang agak tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya.

(Akmah adalah tanah yang lebih tinggi daripada permukaan sekitarnya, tetapi tidak setinggi gunung; ukurannya lebih kecil daripada gunung.)

Ibnu Abbas berkata: "Maka pada saat itulah keduanya meninggikan fondasi-fondasi Baitullah."

[HR. Bukhori no. 3364]

(Yang dimaksud dengan fondasi, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, adalah:

«رَفَعَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي كَانَتْ قَوَاعِدَ الْبَيْتِ قَبْلَ ذَلِكَ...»

"Mereka meninggikan fondasi-fondasi Baitullah yang memang telah ada sebelumnya...."

Artinya, fondasi itu sudah ada, sehingga Ibrahim dan Ismail hanya perlu meninggikannya.

Abu Jahm menambahkan:

«وَأَدْخَلَ الْحِجْرَ فِي الْبَيْتِ»

"Dan Ibrahim memasukkan Hijr ke dalam bangunan Ka'bah."

Yang dimaksud Hijr adalah sebuah kandang tempat Nabi Ismail memelihara kambing-kambingnya, lalu kawasan itu dimasukkan ke dalam bangunan Ka'bah.

(Hijr sebelumnya merupakan kandang bagi kambing-kambing Nabi Ismail. Ibrahim membangun Ka'bah dengan menyusun batu-batu satu di atas yang lain. Beliau tidak membuat atap untuknya, tetapi membuat sebuah pintu. Beliau juga menggali sebuah sumur di dekat pintunya sebagai tempat penyimpanan harta Ka'bah. Barang siapa yang hendak menghadiahkan sesuatu untuk Ka'bah, seperti emas atau perak, maka ia meletakkannya di tempat tersebut. Itu merupakan tempat penyimpanan berbagai hadiah yang dipersembahkan untuk Ka'bah.)

Dalam riwayat Abu Jahm juga disebutkan:

«أَنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَى إِبْرَاهِيمَ: أَنِ اتَّبِعِ السَّكِينَةَ، فَحَلَّقَتْ عَلَى مَوْضِعِ الْبَيْتِ كَأَنَّهَا سَحَابَةٌ، فَحَفَرَا يُرِيدَانِ أَسَاسَ آدَمَ الْأَوَّلِ»

"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Ibrahim, 'Ikutilah As-Sakinah.'"

As-Sakinah di sini adalah awan yang disebut As-Sakinah, yang merupakan sekumpulan malaikat. Awan itu berputar di atas lokasi Baitullah seakan-akan sebuah gumpalan awan. Lalu Ibrahim dan Ismail mulai menggali untuk menemukan fondasi Baitullah yang pertama kali dibangun oleh Nabi Adam.

[Baca: Fathul Bari karya Ibnu Hajar 6/406, ‘Umdatul Qori karya Badruddin al-‘Aini 15/259, Hamisy al-Jami’ ash-Shohih 14/112]

Dan dalam hadits Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tarikhnya 1/252 dan Al-Hakim An-Naisaburi no. 4024 disebutkan:

«رَأَى عَلَى رَأْسِهِ فِي مَوْضِعِ الْبَيْتِ مِثْلَ الْغَمَامَةِ، فِيهَا مِثْلُ الرَّأْسِ، فَكَلَّمَهُ، فَقَالَ: يَا إِبْرَاهِيمُ، ابْنِ عَلَى ظِلِّي - أَوْ عَلَى قَدْرِي - وَلَا تَزِدْ وَلَا تَنْقُصْ، وَذَلِكَ حِينَ يَقُولُ اللَّهُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ﴾ [الْحَجِّ: ٢٦] الْآيَةُ».

"Ibrahim melihat di atas kepalanya, di lokasi Baitullah, sesuatu yang menyerupai awan.

Di dalamnya terdapat sesuatu yang menyerupai kepala. Lalu ia berbicara kepadanya, seraya berkata: 'Wahai Ibrahim, bangunlah (Baitullah) di bawah naunganku—atau sesuai ukuranku- dan jangan engkau menambah maupun menguranginya.' Itulah yang dimaksud ketika Allah berfirman:

'Dan (ingatlah), ketika Kami menunjukkan kepada Ibrahim tempat Baitullah.' (QS. Al-Hajj: 26)."

Al-Hakim berkata:

«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

"Ini adalah hadits yang sanadnya sahih, namun tidak diriwayatkan oleh keduanya (Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)." Dan ini disepakati oleh adz-Dzahabi.

(Lihat pula: Fathul Bari 6/406)

Lalu Ismail mulai membawakan batu-batu, sedangkan Ibrahim membangun. Hingga ketika bangunan itu telah meninggi, Ismail datang membawa batu ini, yakni Maqam Ibrahim.

Dalam riwayat Ibrahim bin Nafi’ :

«حَتَّى ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ، وَضَعُفَ الشَّيْخُ - أَيْ: إِبْرَاهِيمُ الَّذِي يَبْنِي - عَنْ نَقْلِ الْحِجَارَةِ، فَقَامَ عَلَى حَجَرِ الْمَقَامِ...»

حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ، جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ، فَوَضَعَهُ لَهُ، فَقَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَبْنِي، وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ.

قَالَ: وَهُمَا يَقُولَانِ: ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾ [الْبَقَرَةِ: ١٢٧]

"Hingga bangunan itu semakin tinggi, dan orang tua itu, yaitu Ibrahim yang sedang membangun, telah merasa lemah untuk mengangkat batu-batu. Maka beliau berdiri di atas Batu Maqam."

Ketika bangunan itu telah semakin tinggi, Ismail datang membawa batu tersebut, lalu meletakkannya untuk Ibrahim. Ibrahim pun berdiri di atas batu itu sambil membangun, sedangkan Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, keduanya terus mengucapkan:

﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

"Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127).

(HR. Al-Bukhari no. 3364).

===***=== 

SARAH HAMIL DAN MELAHIRKAN ISHAQ

Setelah Nabi Ibrahim 'alaihissalam mencapai usia 100 tahun, dan usia Ismail 13 tahun, Allah Ta'ala menganugerahinya seorang putra, yaitu Ishaq dari istrinya Sarah. Pada saat itu usia Sarah adalah 90 tahun.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ. وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ﴾

“Dan Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang menzalimi dirinya sendiri dengan nyata.” (QS. Ash-Shaffat: 112–113).

Dan Allah SWT menceritakan tentang ucapan puji syukur Nabi Ibrahamin alaihis salam atas karunia dua anak keturunan:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ﴾

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa”. [QS. Ibrahim: 39]

 ===***===

LAHIRNYA BANI ISRAEL DARI KETURUNAN ISHAQ

Ibnu Katsir berkata:

وَذَكَرَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنَّ إِسْحَاقَ لَمَّا تَزَوَّجَ رِفْقَا بِنْتَ ثَبُوئِيلَ فِي حَيَاةِ أَبِيهِ، كَانَ عُمُرُهُ أَرْبَعِينَ، وَأَنَّهَا كَانَتْ عَاقِرًا، فَدَعَا اللَّهَ فَحَمَلَتْ، فَوَلَدَتْ غُلَامَيْنِ تَوْأَمَيْنِ: أَوَّلُهُمَا سَمَّوْهُ عِيصُو، وَهُوَ الَّذِي تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ الْعِيصَ، وَهُوَ وَالِدُ الرُّومِ. وَالثَّانِي خَرَجَ وَهُوَ آخِذٌ بِعَقِبِ أَخِيهِ؛ فَسَمَّوْهُ يَعْقُوبَ، وَهُوَ إِسْرَائِيلُ الَّذِي يُنْسَبُ إِلَيْهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ

“Ahli Kitab menyebutkan bahwa ketika Ishaq menikahi Rifqah binti Tsubu'il pada masa ayahnya masih hidup, usianya empat puluh tahun. Rifqah adalah seorang wanita yang mandul. Lalu Ishaq berdoa kepada Allah, maka Allah mengabulkan doanya sehingga Rifqah mengandung dan melahirkan dua anak laki-laki kembar. Anak yang pertama diberi nama 'Ishu (Esau), yang oleh bangsa Arab disebut al-'Ish. Dialah nenek moyang bangsa Romawi. Adapun anak yang kedua lahir sambil memegang tumit saudaranya, sehingga ia dinamai Ya'qub. Dialah Israil yang kepadanya dinisbatkan Bani Israil.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/447).

Di antara kisah Nabi Ya'qub 'alaihissalam disebutkan bahwa beliau berangkat dari Baitul Maqdis menuju negeri Haran untuk menemui pamannya, Laban. Ketika tiba di sana, pamannya memiliki dua orang putri. Putri yang sulung bernama Liya (ada yang menyebutnya Li'ah), sedangkan putri yang bungsu bernama Rahil.

Ya'qub melamar Rahil karena ia adalah yang paling cantik dan paling elok di antara keduanya. Pamannya menyetujui lamaran itu dengan syarat Ya'qub harus menggembalakan kambing-kambingnya selama tujuh tahun. Setelah masa itu berlalu, Laban mengadakan jamuan makan dan mengundang orang-orang. Pada malam harinya ia justru menyerahkan putri sulungnya, Liya, kepada Ya'qub. Liya memiliki kelemahan pada matanya dan tidak memiliki kecantikan seperti Rahil.

Keesokan paginya, Ya'qub berkata kepada pamannya:

لِمَ غَدَرْتَ بِي، وَإِنَّمَا خَطَبْتُ إِلَيْكَ رَاحِيلَ؟

“Mengapa engkau menipuku? Bukankah aku melamar Rahil?”

Pamannya menjawab:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ سُنَنِنَا أَنْ نُزَوِّجَ الصُّغْرَى قَبْلَ الْكُبْرَى، فَإِنْ أَحْبَبْتَ أُخْتَهَا فَاعْمَلْ سَبْعَ سِنِينَ أُخْرَى وَأُزَوِّجْكَ إِيَّاهَا

“Bukanlah kebiasaan kami menikahkan anak perempuan yang lebih muda sebelum kakaknya yang lebih tua. Jika engkau menginginkan adiknya juga, bekerjalah lagi selama tujuh tahun, niscaya aku akan menikahkannya denganmu.”

Maka Ya'qub pun bekerja selama tujuh tahun lagi, kemudian pamannya menikahkan Rahil dengannya sehingga ia hidup bersama kedua saudara perempuan tersebut. Hal itu diperbolehkan dalam syariat mereka pada waktu itu, kemudian dihapus (dinaskh) dalam syariat Taurat.

Peristiwa ini sendiri merupakan dalil yang cukup bahwa nasakh memang terjadi, karena perbuatan Nabi Ya'qub 'alaihissalam menunjukkan bahwa hal tersebut dahulu diperbolehkan, sedangkan beliau adalah seorang nabi yang ma'shum (terpelihara dari kesalahan). (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/449).

Setelah itu, pamannya, Laban, menghadiahkan seorang budak perempuan kepada masing-masing putrinya. Kepada Liya ia memberikan seorang budak perempuan bernama Zulfā, ada pula yang menyebutnya Zulfah. Adapun kepada Rahil ia memberikan seorang budak perempuan bernama Bilhā, ada pula yang menyebutnya Bilhah.

Allah Ta'ala kemudian menghibur Liya atas kelemahannya dengan menganugerahinya anak-anak. Anak pertama yang dilahirkannya untuk Ya'qub adalah Rubil, kemudian Syam'un, lalu Lawi, kemudian Yahudza.

Sementara itu, Rahil belum juga mengandung. Maka ia memberikan budak perempuannya, Bilha, kepada Ya'qub. Ya'qub pun menggaulinya, lalu Bilha mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Dan. Setelah itu ia mengandung lagi dan melahirkan anak laki-laki kedua yang diberi nama Yaftsali. Ada pula yang menyebut namanya Tsafyali atau Naftali.

Melihat hal itu, Liya kemudian memberikan budak perempuannya, Zulfā, kepada Ya'qub 'alaihissalam. Zulfā pun melahirkan baginya Gad dan Asyir.

Kemudian Liya kembali mengandung dan melahirkan anak laki-laki kelima yang diberi nama Aysakhar. Ada pula yang mengatakan namanya Yasakar.

Selanjutnya ia mengandung lagi dan melahirkan anak laki-laki keenam yang diberi nama Zabulun atau Zubulun. Setelah itu ia kembali mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Dunya. Dengan demikian, Liya memiliki tujuh orang anak dari Ya'qub.

Kemudian Rahil berdoa kepada Allah Ta'ala dan memohon agar dianugerahi seorang anak laki-laki dari Ya'qub. Allah pun mengabulkan doanya. Rahil mengandung dan melahirkan seorang putra yang agung, mulia, tampan, dan rupawan, yang diberi nama Yusuf.

Semua peristiwa itu terjadi ketika mereka masih menetap di negeri Haran, sementara Ya'qub menggembalakan kambing-kambing milik pamannya. Setelah itu Ya'qub meminta izin kepada pamannya untuk kembali, dan pamannya pun mengizinkannya. Maka Ya'qub kembali ke Palestina menemui ayahnya, Ishaq 'alaihissalam.

Setelah kembali ke Palestina, istrinya Rahil kembali mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Bunyamin. Akan tetapi, ia mengalami kesulitan yang sangat berat saat proses persalinan hingga akhirnya meninggal dunia setelah melahirkan. Ya'qub kemudian menguburkannya di Bait Lahm (Bethlehem). (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/447, 455; At-Tahrir wat Tanwir, 1/732).

Setelah itu, Nabi Ishaq 'alaihissalam jatuh sakit dan wafat pada usia seratus delapan puluh tahun. Beliau dimakamkan oleh kedua putranya, yaitu al-'Ish (Esau) dan Ya'qub, di samping ayah mereka, al-Khalil Ibrahim 'alaihissalam.

Demikianlah, Ya'qub beserta anak-anaknya yang berjumlah dua belas orang—yang dikenal sebagai al-Asbath—menetap di Palestina.

Dari keturunan al-Asbath inilah terbentuk nasab Bani Israil.

Kemudian terjadilah peristiwa yang terjadi antara Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Setelah itu, Nabi Yusuf mengundang ayahnya beserta saudara-saudaranya untuk datang ke Mesir. Maka mereka pun berpindah dari Palestina ke Mesir.

Nabi Ya'qub wafat di Mesir. Yusuf bersama saudara-saudaranya dan para pembesar Mesir membawa jenazah beliau ke Palestina. Setelah mereka tiba di Hebron, mereka memakamkannya di gua yang dahulu dibeli oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Setelah itu mereka kembali ke Mesir. Saudara-saudara Yusuf menyampaikan belasungkawa kepadanya, bersikap lembut, dan berusaha mengambil hatinya. Yusuf pun memuliakan mereka dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka kemudian menetap di Mesir.

Ketika ajal Nabi Yusuf telah dekat, beliau berwasiat agar jasadnya dibawa bersama mereka ketika kelak mereka keluar dari Mesir, supaya dimakamkan di samping nenek moyangnya. Maka mereka membalsem jasadnya dan meletakkannya di dalam sebuah peti. Jasad beliau tetap berada di Mesir hingga akhirnya dikeluarkan oleh Nabi Musa 'alaihissalam, lalu dimakamkan di samping para leluhurnya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir berdasarkan riwayat-riwayat Ahli Kitab. (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/504).

Setelah itu, keturunan al-Asbath semakin berkembang dan jumlah mereka semakin banyak. Mereka menolak untuk berbaur dengan bangsa Mesir, bahkan mengasingkan diri dari mereka. Mereka saling berpesan agar setiap suku (sibt) tetap menjaga garis keturunannya sendiri yang berbeda dari suku-suku lainnya. Hal itu dilakukan agar mereka dapat mempertahankan nasab mereka, sebagai bentuk kebanggaan terhadap keturunan mereka sekaligus merasa lebih tinggi daripada bangsa lain, karena mereka menganggap diri sebagai keturunan para nabi.

Perasaan bangga terhadap keturunan yang dimiliki orang-orang Yahudi ketika tinggal di Mesir, disertai sikap merasa lebih tinggi karena nasab mereka, menjadikan keberadaan mereka di Mesir dipenuhi kegelisahan dan ketidakstabilan. (Haqiqat al-Yahud, hlm. 1).

Setelah tiga abad atau lebih, Bani Israil ditindas oleh para Fir'aun, penguasa Mesir, dan dijadikan sebagai budak. Lalu Allah mengutus Nabi Musa 'alaihissalam sebagai nabi bagi mereka, sekaligus sebagai rasul yang diutus kepada mereka dan kepada Fir'aun.

Al-Qur'an telah menjelaskan kepada kita kisah Nabi Musa 'alaihissalam bersama Fir'aun. Allah memberikan karunia kepada Bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari azab yang buruk yang ditimpakan Fir'aun kepada mereka. Allah menolong mereka melalui kepemimpinan Nabi Musa 'alaihissalam hingga Fir'aun dikalahkan dan dibinasakan oleh Allah dengan ditenggelamkan di laut.

Seharusnya, setelah kemenangan itu, Bani Israil bersyukur kepada Allah dan menaati-Nya. Akan tetapi, mereka tetap memilih kekafiran, kehinaan, dan kerendahan. Mereka menyakiti Nabi Musa 'alaihissalam dan bersikap membangkang ketika diperintahkan memasuki Palestina, yaitu tanah suci.

Allah telah memuliakan mereka dengan menurunkan manna dan salwa. Ketika Nabi Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, mereka meremehkan Nabi Harun, lalu menyembah anak sapi emas. Setelah Nabi Musa kembali, mereka tetap membangkang dan berkata kepadanya:

﴿لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً﴾

"Kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah dengan nyata." (QS. Al-Baqarah: 55).

Allah mengangkat Gunung Thur di atas mereka sebagai ancaman. Karena takut, mereka pun tunduk dan memberikan janji setia. Akan tetapi, mereka kembali melanggar perjanjian itu. Mereka juga melanggar larangan pada hari Sabtu, sehingga Allah mengubah mereka menjadi kera dan babi. (Lihat: Haqiqat al-Yahud, hlm. 3).

Berbagai tanda kekuasaan dan pelajaran terus datang kepada mereka, seperti kisah sapi betina, peristiwa dibenamkannya sebagian dari mereka ke dalam bumi, dan berbagai peristiwa lainnya. Namun hati mereka tetap keras. Tanda-tanda kekuasaan dan pelajaran itu tidak memberi manfaat bagi mereka; hati mereka bahkan seperti batu, atau lebih keras lagi.

Setelah itu, kesombongan, keangkuhan, pembangkangan, penyimpangan, dan pengubahan ajaran terus berlanjut terhadap Kalimullah, yaitu Nabi Musa 'alaihissalam, maupun terhadap para nabi sesudah beliau.

Kemudian Allah mengutus Nabi Isa 'alaihissalam kepada mereka. Namun, alih-alih memperbaiki kesalahan dan penyimpangan mereka serta menghentikan keburukan dan pemalsuan yang mereka lakukan, mereka justru bersepakat untuk membunuh beliau. Akan tetapi, Allah 'Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Isa dari makar mereka. Mengenai hal itu Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ﴾

"Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.' Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah seseorang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka." (QS. An-Nisa': 157).

Mereka tidak merasa cukup dengan perlakuan mereka terhadap Nabi Isa 'alaihissalam semasa hidupnya. Mereka juga menuliskan banyak kedustaan terhadap beliau, menuduh ibunya, Maryam 'alaihassalam, dengan tuduhan yang sangat keji, serta terus membuat kerusakan di muka bumi. (Haqiqat al-Yahud, hlm. 3).

Mereka terus melakukan kejahatan setelah Nabi Isa 'alaihissalam diangkat oleh Allah. Mereka terus berusaha mencelakakan para pengikut beliau, mengejar dan menganiaya mereka, serta berupaya mengubah isi Injil, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, hingga akhirnya mereka berhasil melakukannya. Setelah itu mereka terus membuat kerusakan di muka bumi, sehingga bangsa-bangsa dan berbagai umat membenci mereka. Akibatnya, mereka terusir dan tercerai-berai di berbagai negeri lebih dari satu kali. Sebelum datangnya Islam, mereka telah tersebar di Syam, Mesir, Irak, dan Jazirah Arab, seperti di Yatsrib, Khaibar, Najran, dan Yaman.

Di mana pun mereka menetap, kebiasaan mereka adalah memecah belah masyarakat—sebagaimana yang mereka lakukan terhadap suku Aus dan Khazraj di Madinah—menguasai perdagangan, menjalankan praktik riba, menyebarkan kerusakan moral dan pelacuran, serta memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Keadaan mereka terus berlangsung demikian hingga Allah mengutus Nabi Muhammad . Sebelum beliau diutus, mereka sering meminta kemenangan atas orang-orang kafir dengan menyebut akan datangnya seorang nabi, serta mengabarkan bahwa mereka kelak akan berperang bersama nabi tersebut. Namun ketika nabi itu benar-benar datang, mereka justru mendustakannya, menyakitinya, mengolok-oloknya, menyihirnya, berusaha membunuhnya, menghasut kaum musyrikin untuk memeranginya, dan mulai menyebarkan racun-racun fitnah di tengah barisan kaum Muslimin.

Kemunafikan pun muncul di kalangan mereka, dan makar mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin terus berlanjut hingga masa kini. Menurut penulis, mereka berperan besar dalam menimbulkan perpecahan dan menyebarkan berbagai kelompok yang dianggap sesat, seperti Syiah, Jahmiyah, Bathiniyah, Mu'tazilah dengan berbagai cabangnya, tarekat-tarekat tasawuf dengan berbagai alirannya hingga sekarang, komunisme merah, serta berbagai kelompok dan golongan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Semua kelompok tersebut, menurut penulis, ada yang merupakan hasil bentukan mereka atau setidaknya memperoleh dorongan dan dukungan dari mereka.

Maha Benar Allah Ta'ala ketika berfirman:

﴿وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا﴾

"Dan mereka berusaha membuat kerusakan di muka bumi." (QS. Al-Ma'idah: 33).

Dan firman-Nya:

﴿وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا﴾

"Dan mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu, jika mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah: 217).

Telah diketahui bahwa Israil adalah Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil 'alaihimussalam. Ya'qub adalah tokoh yang menjadi asal-usul nasab Bani Israil. Beliau tinggal di wilayah Palestina dan berpindah-pindah di berbagai daerah di sana. Setelah Nabi Ibrahim al-Khalil 'alaihissalam, Ya'qub dan anak-anaknya menetap di Palestina dengan menjalani kehidupan sebagai masyarakat badui (penggembala).

Allah 'Azza wa Jalla mengabadikan ucapan Nabi Yusuf 'alaihissalam:

﴿وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ﴾

"Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Mereka semua bersujud kepadanya. Yusuf berkata, 'Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu. Sungguh Rabbku telah menjadikannya kenyataan. Dia telah berbuat baik kepadaku ketika membebaskanku dari penjara dan membawa kalian dari perkampungan badui...'" (QS. Yusuf: 100).

Ibnu Katsir menjelaskan:

«مِنَ الْبَدْوِ، أَيْ: مِنَ الْبَادِيَةِ». قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ وَغَيْرُهُ: «وَكَانُوا أَهْلَ بَادِيَةٍ وَمَاشِيَةٍ».

“Bahwa firman Allah "مِنَ الْبَدْوِ" berarti "dari perkampungan badui". Ibnu Juraij dan ulama lainnya mengatakan: "Mereka adalah masyarakat badui yang hidup dengan menggembalakan ternak." [Tafsir Ibnu Katsir (2/448)]

(Lihat pula: Mausu'ah al-Milal wal Adyan – Ad-Durar as-Saniyyah, 1/28).

 

 

Posting Komentar

0 Komentar