KUMPULAN DALIL DO’A BERJAMAAH.
SERTA PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG BID’AH & TIDAKNYA?
-----
Di
Tulis Oleh Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA DO’A SECARA BERJAMAAH
- PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM DO’A BERJAMAAH
- Ada tiga pendapat:
- Pendapat Pertama : boleh
- Pendapat Kedua : boleh sesekali, tapi haram dan bid’ah jika keseringan atau menjadi kebiasaan.
- Pendapat Ketiga : haram dan bid’ah, kecuali
yang ada contoh dari Nabi ﷺ.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
====***===
PENDAHULUAN
Doa
merupakan salah satu ibadah yang paling utama yang dengannya seorang muslim
beribadah kepada Rabb-nya. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ
جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾
"Dan
Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan
permohonanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah
kepada-Ku akan masuk ke dalam Neraka Jahanam dalam keadaan hina.'" (QS.
Ghafir: 60).
Dari
an-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda,
«الدُّعَاءُ هُوَ
الْعِبَادَةُ»، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
"Doa
adalah ibadah".
Kemudian
beliau membaca firman Allah: "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonanmu.'"
(HR.
at-Tirmidzi No. 2969, beliau menshahihkannya; Abu Dawud No. 1479; Ibnu Majah
No. 3828; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).
Doa adalah inti ibadah, bisa dilakukan
bersama-sama atau sendiri-sendiri. Semakin banyak orang berdoa maka semakin
yakin do’a kita akan dikabulkan.
Syaikh
Muhammad Shalih al-Munajjid berkata:
«فَالدُّعَاءُ
الْجَمَاعِيُّ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ، وَصُوَرُهُ كَثِيرَةٌ، فَفِي قُنُوتِ النَّوَازِلِ،
وَقُنُوتِ الْوِتْرِ، كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَدْعُو، وَيُؤَمِّنُ أَصْحَابُهُ عَلَى دُعَائِهِ
مِنْ خَلْفِهِ، وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ يَرَوْنَ تَأْمِينَ الْمُصَلِّينَ عَلَى دُعَاءِ
الْخَطِيبِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَكَذَا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَهَكَذَا فِي صُوَرٍ
مُخْتَلِفَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ».
"Doa
berjamaah memiliki dasar dalam syariat, dan bentuk-bentuknya cukup banyak. Di
antaranya adalah pada qunut nazilah dan qunut witir, di mana Nabi ﷺ berdoa sementara para sahabat
mengaminkan doa beliau dari belakang. Mayoritas ulama juga berpendapat bahwa
makmum dianjurkan mengaminkan doa khatib pada hari Jumat. Demikian pula dalam
doa istisqa', dan juga dalam berbagai bentuk lainnya."
Dan beliau juga berkata:
وَأَمَّا دُعَاءُ الْمُحَاضِرِ، أَوِ
الْمُعَلِّمِ، فِي آخِرِ دَرْسِهِ، وَتَأْمِينُ الْحَاضِرِينَ عَلَى دُعَائِهِ، فَالظَّاهِرُ
لَنَا مِنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ ﷺ: جَوَازُ ذَلِكَ، بَلِ اسْتِحْبَابُهُ.
“Adapun doa yang dipanjatkan oleh seorang
penceramah atau guru pada akhir pelajarannya, lalu para hadirin mengaminkan
doanya, maka menurut yang tampak bagi kami berdasarkan Sunnah Nabi ﷺ, hal
itu hukumnya boleh, bahkan dianjurkan (mustahab)”.
(Baca: Islam Tanya Jawab, 5/8571, Pertanyaan No.
132538).
Begitu pula Syeikh Bin Baaz rahimahullah, beliau berkata:
«لَا بَأْسَ بِالدُّعَاءِ بَعْدَ الْمُحَاضَرَةِ،
أَوْ بَعْدَ الْمَوْعِظَةِ، أَوِ الذِّكْرَى، لَا بَأْسَ بِالدُّعَاءِ، يَدْعُو اللَّهَ
لِلْحَاضِرِينَ بِالتَّوْفِيقِ، وَالْهِدَايَةِ، وَصَلَاحِ النِّيَّةِ، وَالْعَمَلِ ... وَإِنْ أَمَّنُوا، فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ» انتهى.
“Tidak mengapa berdoa setelah ceramah, atau
setelah nasihat, atau setelah peringatan. Tidak mengapa berdoa, yaitu mendoakan
agar Allah memberikan kepada para hadirin taufik, hidayah, niat yang baik, dan
amal yang saleh. Jika mereka mengaminkan doa tersebut, maka tidak mengapa.” (Selesai).
DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA DO’A SECARA BERJAMAAH
Berikut ini beberapa dalil tentang keutaman
berdoa secara berjamaah
===
DALIL
KE 1:
Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa, sedangkan
Nabi Harun ‘alaihis salam mengaminkan.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ
وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ
سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا
يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا
فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾.
"Dan Musa berdoa, 'Ya Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya
perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya
mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta
benda mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman sampai
mereka melihat azab yang sangat pedih.' Allah berfirman, 'Sungguh, telah
diperkenankan doa kalian berdua. Maka tetaplah kamu berdua pada jalan yang
lurus dan janganlah mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'"
(QS. Yunus: 88–89).
Al-Imam Al-Qurthubi berkata dalam kitab tafsirnya
8/375-376:
قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ
دَعْوَتُكُمَا﴾، قَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ: دَعَا مُوسَى، وَأَمَّنَ هَارُونُ، فَسُمِّيَ
هَارُونُ وَقَدْ أَمَّنَ عَلَى الدُّعَاءِ دَاعِيًا. وَالتَّأْمِينُ عَلَى الدُّعَاءِ
أَنْ يَقُولَ: آمِينَ، فَقَوْلُكَ: آمِينَ دُعَاءٌ، أَيْ: يَا رَبِّ اسْتَجِبْ لِي.
“Mengenai firman Allah Ta'ala: "Telah
diperkenankan doa kalian berdua."
Abul 'Aliyah berkata, "Yang berdoa adalah
Musa, sedangkan Harun mengucapkan 'Amin'. Oleh karena itu, Harun yang hanya
mengaminkan doa itu pun disebut sebagai orang yang berdoa. Mengaminkan doa
adalah dengan mengucapkan 'Amin'. Ucapanmu 'Amin' juga merupakan doa, yaitu
bermakna, 'Ya Rabb, kabulkanlah doaku.'"
Beliau juga berkata:
قَالَ النَّحَّاسُ: سَمِعْتُ عَلِيَّ
بْنَ سُلَيْمَانَ يَقُولُ: الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الدُّعَاءَ لَهُمَا قَوْلُ مُوسَى
عَلَيْهِ السَّلَامُ: «رَبَّنَا»، وَلَمْ يَقُلْ: «رَبِّ».
An-Nahhas berkata, "Aku mendengar Ali bin
Sulaiman berkata, 'Dalil bahwa doa itu dinisbatkan kepada keduanya adalah
ucapan Nabi Musa 'alaihissalam: "Robbana (Ya Tuhan kami)," bukan
"Robbi (Ya Tuhanku)."'
Pengijabahan do’a dinisbatkan kepada 2 orang
karena orang yang berdo’a adalah 2 orang walaupun yang melafadzkan do’a hanya 1
orang tapi, karena ada yang mengaminkan maka dianggap 2 orang sebab orang yang
mengaminkan juga di anggap orang yang berdo’a.
Al-Imam Ath-Thabari berkata dalam kitab tafsirnya
15/185 (cet. Dar at-Tarbiyah):
فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: وَكَيْفَ نُسِبَتِ
«الْإِجَابَةُ» إِلَى اثْنَيْنِ، وَ«الدُّعَاءُ» إِنَّمَا كَانَ مِنْ وَاحِدٍ؟
قِيلَ: إِنَّ الدَّاعِيَ وَإِنْ كَانَ
وَاحِدًا، فَإِنَّ الثَّانِيَ كَانَ مُؤَمِّنًا، وَهُوَ هَارُونُ، فَلِذَلِكَ نُسِبَتِ
الْإِجَابَةُ إِلَيْهِمَا، لِأَنَّ الْمُؤَمِّنَ دَاعٍ، وَكَذَلِكَ قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ.
"Jika ada yang bertanya, 'Bagaimana
mungkin Allah menisbatkan "dikabulkannya doa" kepada dua orang,
padahal yang berdoa hanyalah satu orang?'
Maka jawabannya, 'Meskipun yang berdoa hanya
satu orang, namun orang yang kedua, yaitu Harun, mengaminkan doa tersebut. Oleh
sebab itu, pengabulan doa dinisbatkan kepada keduanya, karena orang yang
mengucapkan amin juga termasuk orang yang berdoa. Demikian pula pendapat para
ulama tafsir.'"
Ath-Thabari juga menukil pendapat bahwa Nabi
Musa ‘alaihis salam berdoa sedangkan Nabi Harun ‘alaihis salam mengaminkan doa tersebut
dari Abul 'Aliyah, Muhammad bin Ka'ab, 'Ikrimah, Ar-Rabi' bin Anas, dan Ibnu
Zaid.
===
DALIL
KE 2:
Dalam kitab Majma' Az-Zawa'id 10/169 no. 17341,
pada bab "Riwayat-riwayat tentang Isyarat dalam Berdoa dan Mengangkat
Kedua Tangan", disebutkan:
عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا رَفَعَ قَوْمٌ أَكُفَّهُمْ إِلَى
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ
يَضَعَ فِي أَيْدِيهِمُ الَّذِي سَأَلُوا».
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu, ia
berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah suatu kaum mengangkat telapak-telapak
tangan mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla untuk memohon sesuatu kepada-Nya,
melainkan menjadi hak yang Allah tetapkan atas diri-Nya untuk meletakkan ke
dalam tangan mereka apa yang mereka minta."
Al-Haitsami berkata:
«رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ
الصَّحِيحِ».
"Hadits ini diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani, dan para perawinya adalah para perawi yang terdapat dalam kitab
Shahih."
Hadits tersebut diriwayatkan oleh
ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir 6/254 no. 6142 dan Taqiyuddin Abu
Muhammad al-Maqdisi dalam Nihayatul Muraad 1/48 no. 47.
Keterangan : lafadzh “قَوْمٌ” di dalam hadist menunjukkan do’a bersama-sama.
====
DALIL
KE 3:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
«قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُومُ مِنْ
مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ
مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا
بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصَائِبَ الدُّنْيَا.
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا،
وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ
عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا».
"Jarang sekali Rasulullah ﷺ bangkit
dari suatu majelis sebelum beliau membacakan doa-doa berikut untuk para
sahabatnya:
'Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami rasa
takut kepada-Mu yang dapat menjadi penghalang antara kami dengan perbuatan
maksiat kepada-Mu. Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dapat
mengantarkan kami meraih surga-Mu. Anugerahkanlah kepada kami keyakinan yang
dapat meringankan berbagai musnibah dunia yang menimpa kami. Ya Allah, berilah
kami kenikmatan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami
selama Engkau masih menghidupkan kami. Jadikanlah semua itu tetap ada hingga
akhir hayat kami. Jadikanlah pembalasan kami tertuju kepada orang yang
menzalimi kami. Berilah kami pertolongan dalam menghadapi orang yang memusuhi
kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas
akhir ilmu kami. Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak
menyayangi kami.'"
[Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi No.
3502, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Hadits ini juga diriwayatkan oleh
An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra No. 10234, serta Ath-Thabarani dalam Ad-Du'a
No. 1911.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan
gharib."
Hadits ini di nilai hasan oleh al-Albani dalam
Shahih at-Tirmidzi no. 3502 dan dalam at-Tawassul no. 45].
Sebagian para ulama berkata :
وَمَعْلُومٌ
أَنَّ كَلِمَةَ «الْمَجْلِسِ» لَفْظَةٌ عَامَّةٌ، فَيَكُونُ الِاجْتِمَاعُ عَلَى الدُّعَاءِ
سُنَّةً نَبَوِيَّةً فِي كُلِّ مَجْلِسٍ.
Telah diketahui bahwa kata "majelis"
merupakan lafaz yang bersifat umum. Dengan demikian, berkumpul untuk berdoa
merupakan sunnah Nabi ﷺ yang berlaku pada setiap majelis.
Dalam Adzkar hal. 299 (Tahqiq al-Arna’uth),
Imam Nawawi sebelum menyebutkan hadits Ibnu Umar di atas, beliau membikin bab
Khusus tentang keutamaan doa bersama, yakni
بَابُ دُعَاءِ الْجَالِسِ فِي جَمْعٍ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ مَعَهُ
Bab
do’a nya orang yang duduk berjama’ah untuk dirinya dan orang yang bersamanya .
Ibnu ‘Allaan al-Bakri dalam Dalil al-Faalihiin
5/311 berkata:
وَمَا فَعَلَهُ ثَمَّةَ أَوْلَى؛ لِأَنَّ
عُمُومَ الْحَدِيثِ يَشْمَلُ ذِكْرَ ذَلِكَ فِي أَوَّلِ الْمَجْلِسِ، وَفِي أَثْنَائِهِ،
وَفِي آخِرِهِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ، فَالْمَطْلُوبُ الْإِتْيَانُ بِهِ فِي الْمَجْلِسِ،
لَا بِخُصُوصِ كَوْنِهِ عِنْدَ الْقِيَامِ، وَلِمَا فَعَلَهُ هُنَا وَجْهٌ حَسَنٌ،
هُوَ أَنَّهُ يَنْبَغِي خَتْمُ الْمَجْلِسِ بِالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ، وَهَذَا مِنْ
أَحْسَنِ الدُّعَاءِ؛ لِمَا فِيهِ مِنْ جَمْعِ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Apa yang beliau (an-Nawawi) lakukan di sana
lebih utama, karena keumuman hadits mencakup pembacaan doa tersebut pada awal
majelis, di tengah majelis, di akhir majelis, maupun ketika hendak berdiri
meninggalkan majelis. Yang dituntut adalah membaca doa itu di dalam majelis,
bukan mengkhususkannya hanya ketika akan berdiri.
Adapun alasan yang baik mengapa doa itu dibaca
di akhir majelis adalah karena sepatutnya sebuah majelis ditutup dengan dzikir
dan doa. Doa tersebut termasuk doa yang paling baik, karena mengandung
permohonan berbagai kebaikan dunia dan akhirat secara menyeluruh”. [Selesai]
===
DALIL
KE 4:
Dari Habib bin Maslamah Al-Fihri radhiyallahu
'anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَجْتَمِعُ مَلَأٌ فَيَدْعُو بَعْضُهُمْ،
وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ، إِلَّا أَجَابَهُمُ اللَّهُ».
ثُمَّ إِنَّهُ
حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمُ احْقِنْ دِمَاءَنَا، وَاجْعَلْ
أُجُورَنَا أُجُورَ الشُّهَدَاءِ».
فَبَيْنَمَا
هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ نَزَلَ الْهُنْبَاطُ أَمِيرُ الْعَدُوِّ، فَدَخَلَ عَلَى حَبِيبٍ
سُرَادِقِهِ
“'Tidaklah suatu kaum berkumpul, lalu
sebagian dari mereka berdoa dan sebagian yang lain mengucapkan amin, melainkan
Allah akan mengabulkan doa mereka”.'
Kemudian beliau memuji Allah dan
menyanjung-Nya, lalu berdoa:
"Ya Allah, lindungilah darah-darah kami
(jangan sampai tertumpah), dan jadikanlah pahala kami seperti pahala para
syuhada."
Ketika mereka masih dalam keadaan demikian,
tiba-tiba Al-Hunbath, panglima pasukan musuh, datang lalu memasuki kemah besar
(suradiq) milik Habib bin Maslamah.
[Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (4/21, no. 3536), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3/390,
no. 5478), dan Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah (7/113) dengan redaksi yang
semakna. Adz-Dzahabi tidak memberikan komentar terhadap penilaian Al-Hakim].
Al-Haitsami berkata (Majma' Az-Zawa'id, 10/170
no. 17347):
وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرَ
ابْنِ لَهِيعَةَ، وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيثِ
"Para perawinya adalah para perawi
Shahih, selain Ibnu Lahi'ah. Adapun Ibnu Lahi'ah, haditsnya berderajat
hasan."
Namun di nilai dho’if oleh al-Albani dalam
as-Silsilah adh-Dho’ifah no. 5968.
====
DALIL
KE 5:
Dari Muhammad bin Qais, dari ayahnya, bahwa
ayahnya mengabarkan kepadanya:
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ،
فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ: عَلَيْكَ أَبَا هُرَيْرَةَ، فَإِنِّي
بَيْنَمَا أنا وَأَبُو هُرَيْرَةَ، وَفُلَانٌ فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ يَوْمٍ نَدْعُو
اللهَ، وَنَذْكُرُ رَبَّنَا خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا فَسَكَتْنَا فَقَالَ: «عُودُوا لِلَّذِي كُنْتُمْ
فِيهِ» قَالَ زَيْدٌ: فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبَيَّ قَبْلَ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَجَعَلَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَمِّنُ عَلَى دُعَائِنَا، ثُمَّ
دَعَا أَبُو هُرَيْرَةَ، فَقَالَ: اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِثْلَ مَا سَأَلَكَ
صَاحِبَايَ هَذَانِ، وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لَا يُنْسَى، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «آمِينَ»، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ وَنَحْنُ نَسْأَلُ
اللهَ عِلْمًا لَا يُنْسَى، فَقَالَ: «سَبَقَكُمْ بِهَا الْغُلَامُ الدَّوْسِيُّ»
Seorang laki-laki datang menemui Zaid bin
Tsabit radhiyallahu 'anhu untuk menanyakan suatu masalah.
Zaid berkata kepadanya, "Datangilah Abu
Hurairah, karena sesungguhnya pada suatu hari aku, Abu Hurairah, dan seorang
laki-laki lainnya sedang berada di masjid. Kami berdoa kepada Allah dan
berdzikir kepada Rabb kami. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ datang menghampiri kami hingga beliau duduk bersama kami. Maka
kami pun terdiam”.
Beliau ﷺ bersabda: 'Lanjutkanlah apa yang sedang kalian lakukan.'
Zaid berkata, "Lalu aku dan temanku
berdoa lebih dahulu sebelum Abu Hurairah. Rasulullah ﷺ mengucapkan 'amin' atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa:
'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu
sebagaimana yang dimohonkan oleh kedua sahabatku ini, dan aku memohon kepada-Mu
ilmu yang tidak akan dilupakan.'
Maka Rasulullah ﷺ mengucapkan, 'Amin.'
Lalu kami berkata, 'Wahai Rasulullah, kami
juga memohon kepada Allah ilmu yang tidak akan dilupakan.'
Beliau ﷺ bersabda, 'Pemuda dari kabilah Daus itu telah mendahului
kalian dalam memintanya.'"
[Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam
As-Sunan Al-Kubra (5/374, no. 5839), Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath
(2/54, no. 1228), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3/582, no. 6158), Al-Baihaqi
dalam Al-Madkhal (1/208, no. 430), dan Ibnu Asakir (67/334).
Ath-Thabarani berkata:
" لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ إِسْمَاعِيلَ
إِلَّا الْفَضْلُ، وَلَا يُرْوَى عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ".
"Hadits ini tidak diriwayatkan dari
Isma'il kecuali oleh Al-Fadhl, dan tidak diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit
kecuali melalui sanad ini."
Al-Hakim berkata:
صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
"Sanad hadits ini shahih, namun
Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya."
Akan tetapi, Adz-Dzahabi mengkritik penilaian
tersebut dalam At-Talkhish dengan mengatakan:
فِيهِ حَمَّادُ بْنُ شُعَيْبٍ ضَعِيفٌ.
"Di dalam sanadnya terdapat Hammad bin
Syu'aib yang dhaif."
Beliau juga menyatakan hal yang sama dalam Siyar
A'lam An-Nubala' (2/600).
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id
(9/361, no. 15952):
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ،
وَقَيْسٌ هَذَا كَانَ قَاصَّ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ غَيْرُ
ابْنِهِ مُحَمَّدٍ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ
"Hadits ini diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani dalam Al-Awsath. Qais ini adalah seorang pencerita (qaashsh) pada
masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, dan tidak ada yang meriwayatkan darinya
selain putranya, Muhammad. Adapun perawi-perawi lainnya adalah tsiqah
(terpercaya)."
===
DALIL
KE 6:
Atsar Sahabat, an-Nu’man bin Muqorrin
radhiyallahu ‘anhu.
Dalam peperangan Persia, pada masa Khalifah
Umar bin al-Khaththab, Panglima al-Nu’man bin Muqarrin , dan meminta para anggota
pasukannya agar membaca amin:
وَكَانَ النُّعْمَانُ بْنُ مُقَرِّنٍ
رَجُلًا لَيِّنًا، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُقِرَّ عَيْنِي الْيَوْمَ
بِفَتْحٍ يَكُونُ فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ، وَذُلٌّ يَذِلُّ بِهِ الْكُفَّارُ، ثُمَّ
اقْبِضْنِي إِلَيْكَ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى الشَّهَادَةِ». أَمِّنُوا يَرْحَمْكُمُ اللَّهُ.
فَأَمَّنَّا وَبَكَيْنَا.
رَوَاهُ الطَّبَرِيُّ فِي تَارِيخِهِ.
وَفِي رِوَايَةٍ: قَالَ النُّعْمَانُ:
رَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِسَنَدٍ
صَحِيحٍ.
“Al-Nu’man bin Muqarrin seorang laki-laki yang
lembut. Lalu beliau berdo’a:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, agar Engkau
sejukkan mataku pada hari ini dengan penaklukan yang menjadi kemuliaan Islam
dan kehinaan orang-orang kafir. Kemudian ambillah aku kepada-Mu sesudahnya
dengan mati sebagai syahid!”.
Lalu dia berkata : “Kalian ucapakanlah aamin!,
semoga Allah mengasihi kalian!.”
Maka kami membaca amin atas doa beliau dan
kami pun menangis.”
(HR. ath-Thabari, dalam Tarikh ar-Rusul wa
al-Muluk, 4/119 Cet. Dar al-Ma’arif - Mesir).
Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi
Syaibah (13/15640). Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam bentuk yang lebih
ringkas dari jalur riwayat Ath-Thabari ini.
Status sanadnya:
Muhammad bin Thohir al-Barzanji dalam Shahih
wa Dho’if Tarikh ath-Thobari 3/276:
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَالْخَبَرُ
صَحِيحٌ.
“Sanadnya hasan shahih, dan riwayat tersebut
shahih”.
----
Dalam riwayat lain, an-Nu’man berkata:
«وَإِنِّي دَاعِي اللَّهَ بِدَعْوَةٍ، فَأَقْسَمْتُ
عَلَى كُلِّ امْرِئٍ مِنْكُمْ لَمَّا أَمَّنَ عَلَيْهَا». فَقَالَ: «اللَّهُمَّ ارْزُقِ
النُّعْمَانَ الْيَوْمَ الشَّهَادَةَ فِي نَصْرٍ وَفَتْحٍ عَلَيْهِمْ». قَالَ: فَأَمَّنَ
الْقَوْمُ وَهَزَّ لِوَاءَهُ
ثَلَاثَ هَزَّاتٍ.
“Sesungguhnya aku akan berdoa kepada Allah
dengan satu permohonan, aku bersumpah agar setiap orang dari kalian membacakan
amin untuk doa tersebut!”.
Lalu al-Nu’man berkata: “Ya Allah, berilah an-Nu’man
rizki meninggal sebagai syahid dalam kemenangan dan penaklukan atas mereka.”
Perawi berkata: “Lalu kaum mengucapkan amin. Lalu
beliau mengibaskan bendera panjinya sebanyak tiga kali.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf no. 34485 .
Status sanadnya:
Muhammad bin Thohir al-Barzanji dalam Shahih
wa Dho’if Tarikh ath-Thobari 3/279:
وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ، وَإِنْ كَانَ فِيهِ
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَفِيهِ مَقَالٌ، إِلَّا أَنَّ رِوَايَتَهُ هَذِهِ لَيْسَتْ
فِي الْأُصُولِ، وَلَهَا مَا يَشْهَدُ لَهَا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ.
“Sanadnya berderajat hasan, meskipun di
dalamnya terdapat Hammad bin Salamah yang masih diperselisihkan. Namun, riwayat
beliau yang ini bukan termasuk riwayat yang dipermasalahkan dalam kitab-kitab
pokoknya, dan riwayat ini memiliki penguat (syahid) yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan selainnya”.
Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Haitsami
dalam Majma' Az-Zawa'id. Beliau berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani." (Majma' Az-Zawa'id, 6/215). Demikian pula, Khalifah bin
Khayyath meriwayatkannya dalam bentuk yang lebih ringkas. [Lihat: Shahih wa
Dho’if Tarikh ath-Thobari 3/279]
===
DALIL
KE 7:
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَحْشٍ قَالَ
لَهُ يَوْمَ أُحُدٍ: «أَلَا تَأْتِي فَنَدْعُوَ اللَّهَ تَعَالَى؟»
فَخَلَوْا فِي نَاحِيَةٍ، فَدَعَا سَعْدٌ،
فَقَالَ: «يَا رَبِّ، إِذَا لَقِينَا الْعَدُوَّ غَدًا، فَلَقِّنِي رَجُلًا شَدِيدًا
بَأْسُهُ، شَدِيدًا حَرْدُهُ، أُقَاتِلُهُ فِيكَ وَيُقَاتِلُنِي، ثُمَّ ارْزُقْنِي
الظَّفَرَ عَلَيْهِ حَتَّى أَقْتُلَهُ، وَآخُذَ سَلَبَهُ».
فَأَمَّنَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَحْشٍ،
ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي غَدًا رَجُلًا شَدِيدًا بَأْسُهُ، شَدِيدًا حَرْدُهُ،
أُقَاتِلُهُ فِيكَ وَيُقَاتِلُنِي، ثُمَّ يَقْتُلُنِي، ثُمَّ يَأْخُذُنِي فَيَجْدَعُ
أَنْفِي وَأُذُنِي، فَإِذَا لَقِيتُكَ غَدًا، قُلْتَ لِي: يَا عَبْدَ اللَّهِ، فِيمَ
جُدِعَ أَنْفُكَ وَأُذُنُكَ؟ فَأَقُولُ: فِيكَ وَفِي رَسُولِكَ، فَتَقُولُ: صَدَقْتَ».
قَالَ سَعْدٌ: «كَانَتْ دَعْوَةُ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ خَيْرًا مِنْ دَعْوَتِي، لَقَدْ رَأَيْتُهُ آخِرَ النَّهَارِ،
وَإِنَّ أُذُنَهُ وَأَنْفَهُ لَمُعَلَّقَانِ فِي خَيْطٍ».
Bahwa Abdullah bin Jahsy radhiyallahu 'anhu
berkata kepadanya pada Perang Uhud: "Maukah engkau datang agar kita berdoa
kepada Allah Ta'ala?"
Maka keduanya menyendiri di suatu tempat.
Sa'ad pun berdoa: "Wahai Rabbku, apabila
besok kami berhadapan dengan musuh, maka pertemukanlah aku dengan seorang yang
sangat kuat dan pemberani. Aku memeranginya karena-Mu dan ia memerangiku.
Kemudian karuniakanlah kepadaku kemenangan atasnya sehingga aku dapat
membunuhnya dan mengambil harta perlengkapan perangnya."
Lalu Abdullah bin Jahsy mengucapkan,
"Amin." Setelah itu ia berdoa: "Ya Allah, esok hari
pertemukanlah aku dengan seorang yang sangat kuat dan pemberani. Aku
memeranginya karena-Mu dan ia memerangiku. Kemudian biarkanlah ia membunuhku.
Setelah itu ia memotong hidung dan telingaku. Lalu apabila esok aku bertemu
dengan-Mu, Engkau bertanya kepadaku, 'Wahai Abdullah, karena apa hidung dan
telingamu terpotong?' Maka aku akan menjawab, 'Karena-Mu dan karena Rasul-Mu ﷺ.' Lalu
Engkau berfirman, 'Engkau benar.'"
Sa'ad berkata: "Doa Abdullah bin Jahsy
lebih baik daripada doaku. Sungguh, pada penghujung hari aku melihatnya,
sementara telinga dan hidungnya tergantung pada seutas tali."
Takhrij Hadits:
Riwayat ini diriwayatkan Al-Hakim (no. 2409),
dan Al-Baihaqi (no. 12898) dengan lafaz di atas.
Al-Hakim berkata:
«صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا لَوْلَا إِرْسَالُهُ»
"Hadits ini shahih sesuai syarat
Al-Bukhari dan Muslim, seandainya tidak berstatus mursal."
Adz-Dzahabi menyetujui penilaian tersebut dan
berkata:
«صَحِيحٌ مُرْسَلٌ».
"Hadits ini shahih, namun berstatus
mursal."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd
dalam Ath-Thabaqat (3/63).
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id
(9/302, no. 15652), pada Bab Keutamaan Abdullah bin Jahsy radhiyallahu 'anhu:
«رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ
الصَّحِيحِ».
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani,
dan para perawinya adalah para perawi kitab Shahih."
Namun Syaikh Syu'aib Al-Arna'uth berkata dalam
takhrij Siyar A'lam An-Nubala' (1/112):
فِي إِسْنَادِهِ
مَنْ لَا يُعْرَفُ.
"Di dalam sanadnya terdapat seorang
perawi yang tidak dikenal (majhul)."
Sementara Ibrahim al-‘Ali asy-Syibli dalam
Shahih as-Sirah an-Nabawiyyah berkata:
وَلَهُ شَوَاهِدُ مُتَّصِلَةٌ مِنْ طَرِيقِ
إِسْحَاقَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، كَمَا فِي «الْإِصَابَةِ» تَرْجَمَةَ رَقْمِ:
٤٥٨٣، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي «السُّنَنِ الْكُبْرَى» (٦/ ٣٠٧-٣٠٨) مَوْصُولًا مِنْ حَدِيثِ
إِسْحَاقَ بْنِ سَعْدٍ.
“Hadits ini memiliki beberapa jalur penguat (syawahid) yang bersambung sanadnya (muttashil) melalui riwayat Ishaq bin Sa'ad bin Abi Waqqash, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ishabah pada biografi no. 4583.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra
(6/307–308) dengan sanad yang bersambung melalui hadits Ishaq bin Sa'ad”.
====
DALIL
KE 8:
Atsar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Dari Jami’ bin Syaddad, dari seorang
kerabatnya, berkata:
سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: «ثَلَاثُ كَلِمَاتٍ
إِذَا قُلْتَهَا فَأَمِّنُوا عَلَيْهَا: اللَّهُمَّ إِنِّي ضَعِيفٌ فَقَوِّنِي. اللَّهُمَّ
إِنِّي غَلِيظٌ فَلَيِّنِّي. اللَّهُمَّ إِنِّي بَخِيلٌ فَسَخِّنِي».
“Aku mendengar Umar bin al-Khaththab berkata:
“Tiga kalimat, apabila aku mengucapkannya, maka kalian bacakanlah ‘amin !’
untuk semuanya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang lemah,
maka kuatkanlah aku. Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang kasar, lembutkanlah aku.
Ya Allah, sesungguhnya aku seorang yang pelit, maka pemurahkanlah aku.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam
al-Thabaqat 3/275).
Muhammad bin Thohir al-Barzanji dalam Shahih
wa Dho’if Tarikh ath-Thobari 3/130 berkata:
فَالْإِسْنَادُ صَحِيحٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ.
“Dengan keseluruhan jalur periwayatannya,
sanad hadits ini berstatus shahih”.
PERBEDAAN PENDAPAT HUKUM DO’A BERJAMAAH
Ada tiga pendapat:
Pertama : boleh
Kedua : boleh sesekali, tapi haram dan bid’ah
jika keseringan atau menjadi kebiasaan.
Ketiga : haram dan bid’ah, kecuali yang ada
contoh dari Nabi ﷺ.
PENDAPAT
PERTAMA:
BOLEH
DAN TIDAK MENGAPA
Ini adalah fatwa Da’iroh al-Ifta al-‘Aam –
Yordania, Fatwa Dar al-Ifta – Mesir dan lainnya.
Berikut ini sebagian kutipan dari fatwa
mereka:
====
[1] FATWA
DA’IROTUL IFTA AL-‘AAM - YORDANIA
NO.
FATWA 3564
MUFTI :
LAJNAH AL-IFTA
حُكْمُ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ الْجَمَاعِيِّ
Hukum
Zikir dan Doa Berjamaah
-----
Pertanyaan:
Apa hukum zikir dan doa berjamaah? Apakah
zikir dan doa harus dibatasi hanya pada lafaz-lafaz yang ma'tsur (diriwayatkan
dari Nabi ﷺ)? Dan
apakah zikir memiliki pengaruh dalam mengangkat musibah?
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam
semoga tercurah kepada junjungan kita Rasulullah ﷺ.
Zikir dan doa merupakan dua ibadah dan bentuk
pendekatan diri kepada Allah yang paling agung. Keutamaannya telah ditegaskan
oleh banyak dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, dan
hal tersebut sudah sangat dikenal oleh kaum muslimin.
Hamba adalah pihak yang memperoleh manfaat
dari zikir dan doa. Dengan keduanya, ia menampakkan penghambaan dirinya kepada
Allah Ta'ala, serta menunjukkan bahwa ia menginginkan kedekatan dengan-Nya Yang
Mahamulia. Allah Ta'ala pun memuliakannya melalui penghambaan dan permohonan
tersebut dengan menjadi penolong, pelindung, dan mengabulkan doanya. Allah
Ta'ala berfirman,
﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي
وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
"Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku
akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari
nikmat-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾
"Dan Tuhan kalian berfirman, 'Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Neraka
Jahanam dalam keadaan hina.'" (QS. Ghafir: 60)
Dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat
di kalangan ulama.
Adapun zikir dan doa secara berjamaah, serta
mengeraskan suara ketika melakukannya, hukumnya dianjurkan. Banyak dalil yang
menunjukkan hal tersebut. Di antaranya adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang
menggunakan bentuk jamak dalam perintah berzikir dan berdoa, seperti dua ayat
yang telah disebutkan di atas.
Sedangkan dari Sunnah, diriwayatkan dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman,
«يَقُولُ اللَّهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي
بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي
نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ»
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku
kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam
dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di hadapan suatu
majelis, Aku mengingatnya di hadapan majelis yang lebih baik daripada
mereka."
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim.
Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah
dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ
bersabda,
«مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا
حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ،
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
"Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk
berzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat
meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di
hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya."
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
Sudah diketahui bahwa zikir berjamaah pada
umumnya dilakukan dengan mengeraskan suara.
Sebagian ulama juga berdalil bahwa zikir dan
doa secara perlahan (sirr) dianjurkan, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an
dan Sunnah. Namun tidak ada pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat
sebelumnya. Sebab, anjuran mengeraskan zikir dan doa, melakukannya secara
berjamaah atau sendiri-sendiri, maupun anjuran melakukannya dengan suara lirih,
semuanya bergantung pada keadaan dan kondisi masing-masing orang. Oleh karena
itu, tidak boleh menyalahkan atau membid'ahkan orang yang memilih salah satu di
antara kedua cara tersebut.
Adapun pada tempat-tempat yang memang terdapat
zikir atau doa khusus yang diajarkan oleh syariat, maka lafaz yang ma'tsur
lebih utama daripada selainnya. Contohnya adalah doa dan zikir setelah shalat.
Menggunakan lafaz yang ma'tsur lebih utama daripada selainnya. Sedangkan doa
dan zikir yang tidak terdapat lafaz khusus dari Nabi ﷺ, maka ia termasuk dalam keumuman anjuran dan kesunnahan yang
disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits di atas.
Zikir juga merupakan salah satu sebab
diangkatnya musibah. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya
hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa,
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ،
وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ»
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari penyakit belang, kegilaan, kusta, dan segala penyakit yang
buruk."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
Abu Dawud.
Seandainya zikir dan doa tersebut tidak
memiliki manfaat, tentu Nabi ﷺ tidak akan mengajarkannya kepada kita. Demikian pula banyak
hadits lain yang berisi doa perlindungan dari kemiskinan, kesusahan, kesedihan,
dan berbagai musibah lainnya.
Adapun mengadakan gerakan atau ajakan bersama
untuk memperbanyak istighfar, doa, dan puasa, maka hal itu termasuk bentuk
saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam
kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Perbuatan seperti ini tidak termasuk bid'ah,
karena bid'ah adalah segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang
bertentangan dengan syariat. Sedangkan berkumpul dan bekerja sama dalam hal ini
hanyalah sebuah sarana, bukan ibadah yang menjadi tujuan pada dirinya sendiri.
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah
ta'ala berkata,
«الْبِدْعَةُ: مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ
لَهُ فِي الشَّرِيعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، فَأَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الشَّرْعِ
يَدُلُّ عَلَيْهِ، فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا، وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً»
"Bid'ah adalah sesuatu yang diada-adakan
yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang menunjukkannya. Adapun sesuatu
yang memiliki dasar dari syariat yang menunjukkan kepadanya, maka ia bukanlah
bid'ah menurut syariat, meskipun secara bahasa dapat disebut bid'ah." (Jami'
al-'Ulum wa al-Hikam)
Wallahu a’lam
===
FATWA
DAR AL-IFTA – MESIR
Fatwa
No. 4852
حُكْمُ الدُّعَاءِ جَهْرًا فِي جَمَاعَةٍ
Hukum
Berdoa dengan Suara Keras Secara Berjamaah
---
Pertanyaan:
Apa hukum berdoa dengan suara keras secara
berjamaah? Saya melihat kebanyakan kaum muslimin di Indonesia berdoa kepada
Allah Ta'ala secara berjamaah dengan satu orang imam yang memimpin doa. Apakah
Rasulullah ﷺ pernah
melakukannya dan memerintahkan kita untuk melakukannya?
Jawaban:
Masalah doa adalah perkara yang lapang dan luas. Syariat
memerintahkan untuk berdoa secara mutlak tanpa membatasi pada tata cara
tertentu. Apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan suatu amalan secara
mutlak, sedangkan pelaksanaannya memungkinkan dilakukan dengan lebih dari satu
cara, maka amalan tersebut harus dipahami sesuai kemutlakannya dan keluasan
maknanya. Tidak boleh membatasinya hanya pada satu cara tertentu kecuali dengan
dalil. Sebab, termasuk perbuatan bid'ah adalah mempersempit sesuatu yang telah
Allah dan Rasul-Nya ﷺ luaskan.
Karena itu, berdoa boleh dilakukan dengan
suara lirih ataupun suara keras, secara sendiri-sendiri maupun berjamaah.
Bahkan, berdoa secara berjamaah dengan dipimpin oleh satu orang imam lebih diharapkan
untuk dikabulkan, lebih membangunkan hati, lebih menyatukan tekad, serta lebih
mendorong munculnya kerendahan hati dan ketundukan di hadapan Allah Ta'ala.
Penjelasan:
Doa merupakan salah satu ibadah yang paling
agung yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya ﷺ.
Perintah untuk berdoa datang secara mutlak tanpa dibatasi pada tata cara
tertentu, baik dilakukan dengan suara lirih maupun suara keras, secara
sendiri-sendiri ataupun berjamaah. Oleh karena itu, ruang lingkup
pelaksanaannya sangat luas. Berselisih dan bertengkar karena masalah ini
bukanlah sesuatu yang diridhai oleh Allah maupun Rasul-Nya ﷺ.
Bahkan, hal tersebut termasuk bid'ah yang tercela, karena mempersempit sesuatu
yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ berikan kelonggaran di dalamnya merupakan bagian dari bid'ah.
Apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala
mensyariatkan suatu amalan secara mutlak, dan pelaksanaannya memungkinkan
dilakukan dalam lebih dari satu bentuk, maka amalan tersebut harus dipahami
sesuai dengan kemutlakannya dan keluasan cakupannya. Tidak boleh membatasinya
hanya pada satu bentuk tertentu kecuali apabila terdapat dalil yang menunjukkan
pembatasan tersebut.
Rasulullah ﷺ juga melarang pertanyaan-pertanyaan yang berlebihan dan
mencari-cari persoalan yang tidak perlu. Beliau menjelaskan bahwa apabila Allah
Ta'ala tidak memberikan ketentuan terhadap suatu perkara, maka hal itu
merupakan bentuk keluasan dan rahmat bagi umat ini. Beliau ﷺ
bersabda,
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ
فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا
فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ
فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا».
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah
mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia
telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya. Dia
telah menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kalian melampauinya. Dan Dia
mendiamkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka
janganlah kalian mencari-cari hukumnya."
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan
selainnya dari Abu Tsa'labah al-Khusyani radhiyallahu 'anhu. Hadits ini
dishahihkan oleh Ibnu ash-Shalah dan dihasankan oleh an-Nawawi.
Al-'Allamah at-Taftazani berkata dalam Syarh
al-Arba'in an-Nawawiyyah (hlm. 191, cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah):
«(فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا) وَلَا تَسْأَلُوا
عَنْ حَالِهَا؛ لِأَنَّ السُّؤَالَ عَمَّا سَكَتَ اللَّهُ عَنْهُ يُفْضِي إِلَى التَّكَالِيفِ
الشَّاقَّةِ، بَلْ يُحْكَمُ بِالْبَرَاءَةِ الْأَصْلِيَّةِ». اهـ.
"(Sabda beliau: 'Maka janganlah kalian
mencarinya') yakni janganlah kalian menanyakan hukumnya atau keadaannya, karena
bertanya tentang perkara yang Allah diamkan dapat mengakibatkan munculnya
beban-beban syariat yang berat. Oleh karena itu, hukum asalnya tetap
dikembalikan kepada bara'ah ashliyyah (hukum asal bebas dari beban)."
Selesai.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan besarnya dosa orang yang mempersempit
kehidupan kaum muslimin karena terlalu banyak mengorek-ngorek persoalan dan
sering bertanya. Beliau ﷺ bersabda,
أَعْظَمُ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ
جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ وَنَقَّرَ عَنْهُ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ
مَسْأَلَتِهِ».
"Orang yang dosanya paling besar di
antara kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang suatu perkara dan terus
mengorek-ngoreknya hingga akhirnya perkara itu diharamkan atas manusia karena
pertanyaannya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
'Amir bin Sa'd, dari ayahnya radhiyallahu 'anhu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia
berkata:
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ:
«أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا». فَقَالَ
رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَسَكَتَ، حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَوْ قُلْتُ: نَعَمْ، لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ». ثُمَّ
قَالَ: «ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ
سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ
فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ».
Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami, lalu bersabda,
"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah
mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah."
Lalu seseorang bertanya, "Apakah setiap
tahun, wahai Rasulullah?"
Beliau diam hingga orang itu mengulanginya
tiga kali. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,
"Seandainya aku menjawab 'ya', niscaya
hal itu menjadi wajib atas kalian, dan kalian tidak akan mampu
melaksanakannya."
Kemudian beliau bersabda,
"Biarkanlah aku selama aku membiarkan
kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena
mereka terlalu banyak bertanya dan sering menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka
apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian.
Dan apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka tinggalkanlah."
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim.
Al-'Allamah al-Munawi berkata dalam Faidh
al-Qadir Syarh al-Jami' ash-Shaghir:
«أَيْ: اتْرُكُونِي مِنَ السُّؤَالِ مُدَّةَ تَرْكِي
إِيَّاكُمْ، فَلَا تَتَعَرَّضُوا لِي بِكَثْرَةِ الْبَحْثِ عَمَّا لَا يَعْنِيكُمْ
فِي دِينِكُمْ، مَهْمَا أَنَا تَارِكُكُمْ لَا أَقُولُ لَكُمْ شَيْئًا؛ فَقَدْ يُوَافِقُ
ذَلِكَ إِلْزَامًا وَتَشْدِيدًا، وَخُذُوا بِظَاهِرِ مَا أَمَرْتُكُمْ، وَلَا تَسْتَكْشِفُوا
كَمَا فَعَلَ أَهْلُ الْكِتَابِ، وَلَا تُكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِقْصَاءِ فِيمَا هُوَ
مُبَيَّنٌ بِوَجْهٍ ظَاهِرٍ، وَإِنْ صَلُحَ لِغَيْرِهِ؛ لِإِمْكَانِ أَنْ يَكْثُرَ
الْجَوَابُ الْمُتَرَتِّبُ عَلَيْهِ فَيُضَاهِيَ قِصَّةَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؛ شَدَّدُوا
فَشُدِّدَ عَلَيْهِمْ، فَخَافَ وُقُوعَ ذَلِكَ بِأُمَّتِهِ ﷺ». اهـ
"Maksudnya adalah: biarkanlah aku, jangan
banyak bertanya selama aku tidak menjelaskan sesuatu kepada kalian. Janganlah
kalian membebani aku dengan banyak pertanyaan mengenai hal-hal yang tidak
berkaitan dengan urusan agama kalian, selama aku tidak menyampaikan sesuatu
kepada kalian. Sebab, boleh jadi pertanyaan itu menyebabkan munculnya kewajiban
dan memberatkan kalian. Peganglah makna lahiriah dari apa yang telah aku
perintahkan, dan janganlah kalian mengorek-ngorek sebagaimana yang dilakukan
oleh Ahli Kitab. Jangan pula berlebihan dalam menyelidiki perkara yang
sebenarnya sudah jelas secara lahiriah, meskipun masih memungkinkan penafsiran
lain. Sebab, dikhawatirkan banyaknya jawaban yang muncul akibat
pertanyaan-pertanyaan itu akan menyerupai kisah Bani Israil; mereka mempersulit
diri mereka sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Rasulullah ﷺ
mengkhawatirkan hal itu terjadi pada umatnya." Selesai, dengan sedikit
penyesuaian redaksi.
Di samping itu, berdoa secara berjamaah lebih
besar harapannya untuk dikabulkan, lebih membangunkan hati, lebih menyatukan
tekad, serta lebih mendorong munculnya kerendahan hati dan ketundukan di
hadapan Allah Ta'ala. Rasulullah ﷺ bersabda,
«يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ».
"Tangan (pertolongan) Allah bersama
jamaah."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi
dan beliau menilainya hasan, serta diriwayatkan pula oleh Imam an-Nasa'i dari
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Wallahu a’lam.
PENDAPAT
KEDUA:
HARAM
DAN BID’AH JIKA KESERINGAN ATAU MENJADI KEBIASAN
===
[1] FATWA
SYEIKH KHOLID SA’UD AL-BULAIHID
خَالِدُ بْنُ سُعُودٍ الْبُلَيْهِدُ
حُكْمُ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الدُّعَاءِ
Hukum
Berkumpul untuk Berdoa
-----
Pertanyaan:
Apa hukum sekelompok orang berkumpul secara
rutin dengan tujuan untuk berdoa?
Jawaban:
Segala puji bagi Allah.
Berkumpul untuk berdoa secara berjamaah dan
menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin merupakan bid'ah, baik dilakukan
pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Amalan seperti ini tidak
disyariatkan, karena tata cara tersebut tidak terdapat dalam sunnah yang
shahih. Ibadah bersifat tauqifiyah, yaitu tidak boleh disyariatkan kecuali
berdasarkan dalil yang telah ditetapkan.
Di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim,
dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ
فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ».
"Barang siapa mengada-adakan sesuatu
dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan itu
tertolak."
Adapun yang terdapat dalam sunnah yang terjaga
adalah berkumpul untuk berdoa dalam shalat Jumat, shalat istisqa', qunut
nazilah, dan qunut witir. Adapun hukum asal yang disyariatkan adalah setiap
orang berdoa sendiri dan berdzikir sendiri. Ia tidak terikat dengan berjamaah
kecuali pada perkara yang memang ditunjukkan oleh syariat untuk dilakukan
secara berjamaah.
Abu Utsman an-Nahdi berkata:
«كَتَبَ عَامِلٌ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَيْهِ:
أَنَّ هَا هُنَا قَوْمًا يَجْتَمِعُونَ فَيَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ وَلِلْأَمِيرِ،
فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ: أَقْبِلْ وَأَقْبِلْ بِهِمْ مَعَكَ، فَأَقْبَلَ. وَقَالَ
عُمَرُ لِلْبَوَّابِ: أَعِدَّ لِي سَوْطًا، فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى عُمَرَ، أَقْبَلَ
عَلَى أَمِيرِهِمْ ضَرْبًا بِالسَّوْطِ».
"Seorang gubernur mengirim surat kepada
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu yang berisi bahwa di daerahnya ada
sekelompok orang yang berkumpul lalu berdoa untuk kaum muslimin dan untuk
pemimpin. Umar membalas surat itu, 'Datanglah kepadaku dan bawalah mereka
bersamamu.' Maka mereka pun datang. Umar berkata kepada penjaga pintu, 'Siapkan
untukku sebuah cambuk.' Ketika mereka masuk menemui Umar, beliau langsung
memukul pemimpin mereka dengan cambuk."
Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
Adapun apabila sesekali mereka berdoa ketika
sedang berkumpul tanpa menjadikannya sebagai kebiasaan tetap, dan tanpa
meyakini bahwa hal itu memiliki keutamaan khusus, maka insya Allah tidak
mengapa.
Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Ahmad dan
Imam Ishaq bin Rahuyah. Imam Ahmad pernah ditanya:
هَلْ يُكْرَهُ أَنْ يَجْتَمِعَ الْقَوْمُ
يَدْعُونَ اللَّهَ وَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ؟
"Apakah makruh apabila sekelompok orang
berkumpul untuk berdoa kepada Allah dan mengangkat tangan mereka?"
Beliau menjawab:
«مَا أَكْرَهُهُ لِلْإِخْوَانِ إِذَا لَمْ يَجْتَمِعُوا
عَلَى عَمْدٍ إِلَّا أَنْ يُكْثِرُوا».
"Aku tidak memakruhkannya bagi saudara-saudara
seiman apabila mereka tidak sengaja berkumpul untuk tujuan itu, selama mereka
tidak terlalu sering melakukannya."
Maksud beliau adalah selama mereka tidak
menjadikannya sebagai kebiasaan yang tetap.
Yahya bin Ma'in mengingkari bentuk amalan
seperti ini, yaitu pertemuan yang dilakukan secara rutin. Beliau memerintahkan
agar orang yang melakukannya dinasihati dan dicegah. Jika tetap tidak mau
menerima nasihat, beliau berfatwa agar orang tersebut dijauhi.
Imam Malik juga memakruhkan berkumpul untuk
berdoa setelah selesai shalat fardu. Beliau pernah ditanya tentang seseorang
yang selesai shalat bersama beberapa temannya, lalu mereka berdiri untuk
berdoa. Penanya berkata, "Apakah menurut Anda saya ikut berdiri bersama
mereka?"
Imam Malik menjawab:
«لَا، وَلَا أُحِبُّ لِهَذَا الَّذِي يَفْعَلُ
هَذَا أَنْ يَفْعَلَهُ، وَلَا يَقِفَ يَدْعُو».
"Tidak. Aku juga tidak menyukai orang
yang melakukan hal itu untuk terus melakukannya, dan hendaknya ia tidak berdiri
untuk berdoa seperti itu."
Ibnu Taimiyah berkata:
«الِاجْتِمَاعُ عَلَى الْقِرَاءَةِ وَالذِّكْرِ
وَالدُّعَاءِ حَسَنٌ إِذَا لَمْ يُتَّخَذْ سُنَّةً رَاتِبَةً، وَلَا اقْتَرَنَ بِهِ
مُنْكَرٌ مِنْ بِدْعَةٍ».
"Berkumpul untuk membaca Al-Qur'an,
berdzikir, dan berdoa adalah sesuatu yang baik selama tidak dijadikan sebagai
sunnah yang rutin, dan tidak disertai dengan kemungkaran berupa bid'ah."
Tidak benar jika seorang pelaku bid'ah
berdalil dengan firman Allah Ta'ala:
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untukmu.'" (QS. Ghafir: 60)
untuk menetapkan disyariatkannya doa berjamaah
dalam seluruh keadaan. Sebab, ayat tersebut secara tegas hanya menunjukkan
keutamaan berdoa kepada Allah Ta'ala, namun sama sekali tidak menjelaskan tata
cara pelaksanaannya. Hal ini sama seperti nash-nash umum lainnya tentang ibadah
yang masih memerlukan penjelasan dan perincian dari Rasulullah ﷺ.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ﴾.
"Dan Kami telah menurunkan kepadamu
adz-Dzikr (Al-Qur'an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka." (QS. An-Nahl: 44)
As-Sunnah berfungsi menjelaskan nash yang
masih global, membatasi nash yang mutlak, dan mengkhususkan nash yang bersifat
umum. Seandainya tata cara doa berjamaah seperti itu memang disyariatkan secara
terus-menerus, tentu Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiyallahu 'anhum akan senantiasa
melakukannya. Karena hal itu tidak pernah dinukil dari mereka, maka dapat
dipastikan bahwa cara tersebut merupakan amalan yang diada-adakan dan tidak
disyariatkan. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai bid'ah idhafiyyah
(bid'ah tambahan).
Imam asy-Syathibi berkata:
«وَمِنْهَا الْتِزَامُ الْكَيْفِيَّاتِ وَالْهَيْئَاتِ
الْمُعَيَّنَةِ، كَالذِّكْرِ بِهَيْئَةِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى صَوْتٍ وَاحِدٍ».
"Di antaranya adalah menetapkan tata cara
dan bentuk tertentu dalam beribadah, seperti berdzikir dengan cara berkumpul
dan mengucapkannya dengan satu suara."
Dari penjelasan ini menjadi jelas bahwa
membiasakan doa berjamaah serta meyakini adanya keutamaan khusus padanya
setelah shalat-shalat fardhu, pada hari Arafah, setelah selesai pemakaman, di
majelis takziah, dalam majelis-majelis nasihat, dan berbagai kesempatan lainnya
merupakan perkara baru yang bukan termasuk tuntunan generasi salaf shalih yang
berpegang teguh kepada Sunnah. Ketika manusia semakin meluaskan dan meremehkan
persoalan dengan menganggap baik berbagai bentuk ibadah yang diada-adakan,
Sunnah pun semakin ditinggalkan, sedangkan bid'ah semakin tersebar. Akibatnya,
manusia semakin jauh dari petunjuk Rasulullah ﷺ.
Dan Allah-lah Yang Maha Pemberi Taufik. Semoga
shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,
keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.
====
[2] FATWA
ISLAMQA No. 93757
حُكْمُ الدُّعَاءِ الْجَمَاعِيِّ
Hukum
doa berjamaah
----
Pertanyaan
:
Apakah
berdoa secara berjamaah tidak diperbolehkan?
Jawaban
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba'du.
Doa berjamaah (yaitu salah seorang berdoa,
sedangkan yang lainnya mengaminkan) terbagi menjadi dua keadaan.
Pertama, apabila
hal itu memang ditetapkan dalam Sunnah, seperti doa pada shalat istisqa' dan
doa qunut. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu disyariatkan.
Kedua, apabila
dilakukan pada tempat-tempat yang tidak ada ketetapannya dalam Sunnah Nabi ﷺ,
seperti setelah shalat, setelah pemakaman jenazah, di Arafah, dan semisalnya.
Maka hal itu tidak mengapa apabila dilakukan sesekali. Akan tetapi, jika
dijadikan kebiasaan yang terus-menerus, maka itu termasuk bid'ah.
Berikut ini sebagian perkataan para ulama
tentang masalah tersebut.
1]. Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya:
هَلْ يُكْرَهُ أَنْ يَجْتَمِعَ الْقَوْمُ
يَدْعُونَ اللَّهَ وَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ؟
"Apakah makruh jika sekelompok orang
berkumpul, lalu mereka berdoa kepada Allah sambil mengangkat tangan?"
Beliau menjawab:
«مَا أَكْرَهُهُ لِلْإِخْوَانِ إِذَا لَمْ يَجْتَمِعُوا
عَلَى عَمْدٍ إِلَّا أَنْ يُكْثِرُوا». انْتَهَى.
"Aku tidak memakruhkannya bagi saudara-saudara
seiman selama mereka tidak sengaja berkumpul untuk itu, kecuali jika mereka
sering melakukannya."
Ibnu Manshur berkata:
قَالَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ كَمَا
قَالَ، وَإِنَّمَا مَعْنَى: «إِلَّا أَنْ يُكْثِرُوا» أَيْ: إِلَّا أَنْ يَتَّخِذُوهَا
عَادَةً حَتَّى يُكْثِرُوا.
"Ishaq bin Rahuyah berkata sebagaimana
yang dikatakan Imam Ahmad. Maksud ucapan beliau 'kecuali jika mereka sering
melakukannya' ialah apabila mereka menjadikannya sebagai kebiasaan sehingga banyak
melakukannya."
Abul Abbas al-Fadhl bin Mihran berkata:
سَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ وَأَحْمَدَ
بْنَ حَنْبَلٍ، قُلْتُ: إِنَّ عِنْدَنَا قَوْمًا يَجْتَمِعُونَ فَيَدْعُونَ وَيَقْرَءُونَ
الْقُرْآنَ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى، فَمَا تَرَى فِيهِمْ؟
قَالَ: فَأَمَّا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ
فَقَالَ: يَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ، وَيَدْعُو بَعْدَ صَلَاةٍ، وَيَذْكُرُ اللَّهَ
فِي نَفْسِهِ. قُلْتُ: فَأَخٌ لِي يَفْعَلُ هَذَا.
قَالَ: انْهَهُ. قُلْتُ: لَا يَقْبَلُ.
قَالَ: عِظْهُ. قُلْتُ: لَا يَقْبَلُ،
أَهْجُرُهُ؟
قَالَ: نَعَمْ.
ثُمَّ أَتَيْتُ أَحْمَدَ، حَكَيْتُ لَهُ
نَحْوَ هَذَا الْكَلَامِ، فَقَالَ لِي أَحْمَدُ أَيْضًا: يَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ،
وَيَذْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى فِي نَفْسِهِ، وَيَطْلُبُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
قُلْتُ: فَأَنْهَاهُ؟
قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ؟
قَالَ: بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى،
[يَعْنِي: سَيَسْتَجِيبُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ]، فَإِنَّ هَذَا مُحْدَثٌ، الِاجْتِمَاعُ
وَالَّذِي تَصِفُ.
قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ أَهْجُرُهُ؟
فَتَبَسَّمَ وَسَكَتَ. «انْتَهَى مِنْ
"الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ" (٢/١٠٢)».
"Aku bertanya kepada Yahya bin Ma'in dan
Ahmad bin Hanbal. Aku berkata, 'Di tempat kami ada sekelompok orang yang
berkumpul, lalu mereka berdoa, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir kepada Allah
Ta'ala. Bagaimana pendapat kalian tentang mereka?'
Adapun Yahya bin Ma'in berkata, 'Hendaknya ia
membaca Al-Qur'an dari mushaf, berdoa setelah shalat, dan berdzikir kepada
Allah sendiri.'
Aku berkata, 'Saudaraku melakukan hal itu.'
Beliau menjawab, 'Larangkan dia.'
Aku berkata, 'Dia tidak mau menerima.'
Beliau berkata, 'Nasihatilah dia.'
Aku berkata, 'Dia tetap tidak mau menerima.
Apakah aku harus memboikotnya?'
Beliau menjawab, 'Ya.'
Kemudian aku mendatangi Ahmad dan menceritakan
kepadanya pembicaraan yang sama. Imam Ahmad juga berkata kepadaku, 'Hendaknya
ia membaca Al-Qur'an dari mushaf, berdzikir kepada Allah sendiri, dan
mempelajari hadits Rasulullah ﷺ.'
Aku berkata, 'Apakah aku harus melarangnya?'
Beliau menjawab, 'Ya.'
Aku berkata, 'Kalau dia tidak mau menerima?'
Beliau menjawab, 'Insya Allah dia akan
menerima. Sesungguhnya hal yang kamu sebutkan itu adalah perkara yang
diada-adakan, yaitu perkumpulan seperti yang engkau gambarkan.'
Aku berkata, 'Kalau dia tetap tidak
melakukannya, apakah aku harus memboikotnya [menghajernya]?'
Maka Imam Ahmad hanya tersenyum dan
diam."
(Dinukil dari Al-Adab asy-Syar'iyyah, 2/102).
2]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata,
«الِاجْتِمَاعُ عَلَى الْقِرَاءَةِ وَالذِّكْرِ
وَالدُّعَاءِ حَسَنٌ مُسْتَحَبٌّ إِذَا لَمْ يُتَّخَذْ ذَلِكَ عَادَةً رَاتِبَةً كَالِاجْتِمَاعَاتِ
الْمَشْرُوعَةِ، وَلَا اقْتَرَنَ بِهِ بِدْعَةٌ مُنْكَرَةٌ». انْتَهَى
"Berkumpul untuk membaca Al-Qur'an,
berdzikir, dan berdoa adalah sesuatu yang baik dan dianjurkan, selama hal itu
tidak dijadikan sebagai kebiasaan yang tetap sebagaimana pertemuan-pertemuan
yang disyariatkan, serta tidak disertai dengan suatu bid'ah yang mungkar."
(Dinukil dari Majmu' al-Fatawa, 22/523).
3]. Lajnah Daimah lil Ifta' pernah ditanya
tentang seorang imam yang mengangkat kedua tangannya setelah shalat-shalat fardu,
demikian pula para makmum. Imam berdoa, sedangkan para makmum mengaminkan
doanya.
Mereka menjawab,
«الْعِبَادَاتُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى التَّوْقِيفِ،
فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: هَذِهِ الْعِبَادَاتُ مَشْرُوعَةٌ مِنْ جِهَةِ أَصْلِهَا،
أَوْ عَدَدِهَا، أَوْ هَيْئَتِهَا، أَوْ مَكَانِهَا، إِلَّا بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ يَدُلُّ
عَلَى ذَلِكَ، وَلَا نَعْلَمُ سُنَّةً فِي ذَلِكَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، لَا مِنْ قَوْلِهِ،
وَلَا مِنْ فِعْلِهِ، وَلَا مِنْ تَقْرِيرِهِ». انْتَهَى
"Ibadah itu dibangun di atas prinsip
tauqif (harus berdasarkan dalil). Oleh karena itu, tidak boleh dikatakan bahwa
suatu ibadah disyariatkan, baik dari sisi asalnya, jumlahnya, tata caranya,
maupun tempat pelaksanaannya, kecuali dengan dalil syar'i yang menunjukkan hal
tersebut. Kami tidak mengetahui adanya sunnah dari Nabi ﷺ
mengenai hal itu, baik berupa ucapan beliau, perbuatan beliau, maupun
persetujuan beliau."
(Dinukil dari Majallah al-Buhuts
al-Islamiyyah, 17/55).
Lajnah Daimah juga pernah ditanya tentang
seseorang yang mempunyai kebiasaan memberi jamuan makanan kepada sekelompok
orang setiap hari Jumat. Setelah selesai makan, mereka tidak langsung
meninggalkan tempat duduk, tetapi menunggu salah seorang yang telah ditunjuk
oleh tuan rumah untuk berdoa agar pahala jamuan makanan tersebut sampai kepada
keluarga dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia. Selama doa itu
berlangsung, orang yang berdoa mengangkat kedua tangannya bersama para hadirin,
sedangkan mereka mengucapkan, "Amin."
Apakah doa berjamaah dengan mengangkat tangan
setelah makan seperti itu diperbolehkan atau tidak?
Mereka menjawab,
«الدُّعَاءُ الْجَمَاعِيُّ بَعْدَ الطَّعَامِ
بِالْكَيْفِيَّةِ الْمَذْكُورَةِ لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ الْمُطَهَّرِ، فَالْوَاجِبُ
تَرْكُهُ؛ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ، وَالِاكْتِفَاءُ بِمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ
الدُّعَاءِ لِصَاحِبِ الطَّعَامِ بِالْبَرَكَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، كُلُّ شَخْصٍ يَقُولُهُ
بِمُفْرَدِهِ، وَمِمَّا جَاءَ فِي السُّنَّةِ قَوْلُ: (اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا
رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ)، وَقَوْلُ: (أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ،
وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ)». انْتَهَى
"Doa berjamaah setelah makan dengan tata
cara seperti yang disebutkan tidak memiliki dasar dalam syariat yang suci. Oleh
karena itu, wajib ditinggalkan karena merupakan bid'ah. Hendaknya mencukupkan
diri dengan doa-doa yang diajarkan dalam sunnah untuk mendoakan tuan rumah
dengan keberkahan dan semisalnya, yang diucapkan oleh masing-masing orang
secara sendiri-sendiri.
Di antara doa yang diajarkan dalam sunnah
ialah:
'Ya Allah, berkahilah mereka pada rezeki yang
telah Engkau berikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.'
Dan doa:
'Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di
tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan para malaikat
mendoakan kalian.'"
(Dinukil dari Fatawa al-Lajnah ad-Daimah,
24/190).
4]. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah
ditanya,
"Sebagian orang berkumpul untuk
mendengarkan kajian atau nasihat, kemudian di akhir majelis mereka mengadakan
doa berjamaah; satu orang berdoa, sedangkan yang lain mengucapkan 'Amin'.
Apakah hal ini benar?"
Beliau menjawab,
«هَذَا صَحِيحٌ إِذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً،
فَإِنِ اتُّخِذَ عَادَةً صَارَ سُنَّةً، وَهُوَ لَيْسَ بِسُنَّةٍ، فَإِذَا كَانَ هَذَا
عَادَةً، كُلَّمَا جَلَسُوا خَتَمُوا بِالدُّعَاءِ، فَهَذَا بِدْعَةٌ، لَا نَعْلَمُهَا
عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. وَأَمَّا إِذَا كَانَ أَحْيَانًا،
كَأَنْ يَمُرَّ بِهِمْ وَعِيدٌ أَوْ تَرْغِيبٌ، ثُمَّ يَدْعُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ،
فَلَا بَأْسَ؛ لِأَنَّهُ فَرْقٌ بَيْنَ الشَّيْءِ الرَّاتِبِ وَالْعَارِضِ، الْعَارِضُ
قَدْ يَفْعَلُهُ الْإِنْسَانُ أَحْيَانًا، وَلَا يُلَامُ عَلَيْهِ، كَمَا كَانَ الرَّسُولُ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحْيَانًا يُصَلِّي مَعَهُ بَعْضُ الصَّحَابَةِ
فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ جَمَاعَةً، وَمَعَ ذَلِكَ لَيْسَ بِسُنَّةٍ أَنْ يُصَلِّيَ الْإِنْسَانُ
جَمَاعَةً فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ إِلَّا أَحْيَانًا».
"Hal itu benar apabila tidak dijadikan
sebagai kebiasaan. Namun, jika dijadikan kebiasaan, maka ia menjadi seakan-akan
sebuah sunnah, padahal itu bukan sunnah. Jadi, apabila setiap kali mereka
berkumpul selalu menutup majelis dengan doa bersama, maka itu adalah bid'ah.
Kami tidak mengetahui adanya amalan seperti itu dari Nabi ﷺ.
Adapun jika dilakukan sesekali, misalnya
ketika mereka mendengar ayat atau hadits yang berisi ancaman atau dorongan
sehingga mereka kemudian berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, maka tidak mengapa.
Sebab, ada perbedaan antara sesuatu yang dilakukan secara rutin dan sesuatu
yang dilakukan karena keadaan tertentu. Perbuatan yang bersifat insidental
terkadang dilakukan seseorang dan tidak tercela karenanya. Sebagaimana
Rasulullah ﷺ
terkadang shalat malam berjamaah bersama sebagian sahabat, namun demikian
bukanlah sunnah bagi seseorang untuk selalu melaksanakan shalat malam secara
berjamaah, kecuali sesekali."
(Dinukil dari Liqa'at al-Bab al-Maftuh,
117/21).
===
FATWA
SYEIKH BIN BAAZ rahimahullah
حُكْمُ الدُّعَاءِ الْجَمَاعِيِّ
Hukum
Doa Berjamaah
---
Pertanyaan:
Penanya dari Yaman bertanya, "Apa hukum
doa berjamaah secara mutlak apabila tidak dikaitkan dengan setelah
shalat-shalat fardu? Demikian pula, bagaimana hukum berdoa ketika khatib sedang
berkhutbah pada hari Jumat? Apakah hal itu termasuk sunnah atau tidak?"
Jawaban:
Apabila doa itu dilakukan secara insidental
oleh orang-orang yang sedang berkumpul, lalu salah seorang di antara mereka
berdoa dan yang lainnya mengaminkan, maka tidak mengapa. Adapun jika hal itu
dijadikan sebagai kegiatan yang teratur dan rutin, sehingga mereka berkumpul
secara khusus untuk melaksanakan doa berjamaah, maka yang seperti ini tidak
disyariatkan. Namun, apabila mereka memang sedang berkumpul, kemudian salah
seorang berdoa dan yang lain mengaminkan, maka dalam hal ini terdapat
kelonggaran, alhamdulillah.
Adapun ketika imam sedang berkhutbah pada hari
Jumat, maka jika sampai pada doa, engkau boleh berdoa dalam hati dan
mengucapkan "amin" dalam hati, tidak mengapa. Selain itu, yang wajib
adalah mendengarkan khutbah dengan saksama hingga khatib selesai.
Namun, apabila khatib berdoa lalu engkau
mengucapkan "amin" dalam hati, maka insya Allah tidak mengapa.
Demikian pula apabila khatib menyebut Nabi ﷺ lalu engkau bershalawat kepada Nabi ﷺ dalam hati, maka insya Allah hal itu juga tidak mengapa.
Sumber: Nur 'ala ad-Darb, "Hukum Doa
Berjamaah".
****
PENDAPAT
KE TIGA :
HARAM
DAN BID’AH, KECUALI YANG ADA CONTOH DARI NABI ﷺ.
Adapun doa berjamaah yang tergolong bid'ah, di
antara bentuk-bentuknya adalah:
[1]- Seorang
muslim mengumpulkan sekelompok orang semata-mata untuk berdoa.
[2]- Menutup pelajaran,
kajian dan ceramah dengan doa berjamaah.
Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Fahd
al-Khulaifi dalam ash-Shohih al-Musnad 1/203 no. 153 dan juga oleh Al-'Allamah
Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh (Lihat: Ad-Durar As-Saniyyah 5/357).
[3]- Berkumpulnya
orang-orang untuk berdoa dengan satu suara.
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,
الذِّكْرُ الْجَمَاعِيُّ بِصَوْتٍ وَاحِدٍ
سِرًّا، أَوْ جَهْرًا، لِتَرْدِيدِ ذِكْرٍ مُعَيَّنٍ وَارِدٍ، أَوْ غَيْرِ وَارِدٍ،
سَوَاءً كَانَ مِنَ الْكُلِّ، أَوْ يَتَلَقَّوْنَهُ مِنْ أَحَدِهِمْ، مَعَ رَفْعِ الْأَيْدِي،
أَوْ بِلَا رَفْعٍ لَهَا: كُلُّ هَذَا وَصْفٌ يَحْتَاجُ إِلَى أَصْلٍ شَرْعِيٍّ يَدُلُّ
عَلَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ لِأَنَّهُ دَاخِلٌ فِي عِبَادَةٍ، وَالْعِبَادَاتُ
مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ، وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْإِحْدَاثِ وَالِاخْتِرَاعِ؛
وَلِهَذَا نَظَرْنَا فِي الْأَدِلَّةِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَلَمْ نَجِدْ
دَلِيلًا يَدُلُّ عَلَى هَذِهِ الْهَيْئَةِ الْمُضَافَةِ، فَتَحَقَّقَ أَنَّهُ لَا
أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ الْمُطَهَّرِ، وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ فَهُوَ
بِدْعَةٌ، إِذًا فَيَكُونُ الذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ الْجَمَاعِيُّ بِدْعَةً، يَجِبُ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُقْتَدٍ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَرْكُهَا، وَالْحَذَرُ مِنْهَا،
وَأَنْ يَلْتَزِمَ بِالْمَشْرُوعِ.
وَعَلَيْهِ: فَالدُّعَاءُ الْجَمَاعِيُّ
بِصَوْتٍ وَاحِدٍ، سَوَاءً كَانَ دُعَاءً مُطْلَقًا، أَوْ مُرَتَّبًا، كَأَنْ يَكُونَ
بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، أَوِ الْمَوْعِظَةِ، وَالدَّرْسِ، كُلُّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ.
"Dzikir berjamaah dengan satu suara, baik
secara pelan maupun keras, dengan mengulang suatu dzikir tertentu, baik yang
berasal dari dalil maupun yang tidak berasal dari dalil, baik diucapkan
bersama-sama oleh seluruh peserta maupun mereka mengikutinya dari salah seorang
di antara mereka, baik dengan mengangkat tangan maupun tanpa mengangkat tangan;
semua bentuk ini memerlukan dalil syar'i dari Al-Qur'an dan Sunnah yang
menunjukkan pensyariatannya. Sebab, hal itu termasuk dalam kategori ibadah,
sedangkan ibadah dibangun di atas prinsip tauqif dan ittiba' (mengikuti
tuntunan), bukan atas dasar membuat-buat atau mengada-adakan.
Karena itu, kami telah meneliti dalil-dalil
dalam Al-Qur'an dan Sunnah, namun kami tidak menemukan satu dalil pun yang
menunjukkan tata cara tambahan seperti ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa hal
tersebut tidak memiliki dasar dalam syariat yang suci. Apa saja yang tidak
memiliki dasar dalam syariat, maka ia adalah bid'ah. Oleh karena itu, dzikir
dan doa berjamaah termasuk bid'ah. Setiap muslim yang mengikuti Rasulullah ﷺ wajib
meninggalkannya, berhati-hati darinya, dan berpegang teguh kepada amalan yang
disyariatkan."
Berdasarkan hal itu, doa berjamaah dengan satu
suara, baik berupa doa mutlak maupun doa yang ditata secara khusus, seperti
dilakukan setelah membaca Al-Qur'an, setelah ceramah, atau setelah pelajaran,
semuanya termasuk bid'ah.
(Baca: Shahih ad-Du'a, hlm. 134–135).
====
Dalil-dalil
dan hujah pihak yang melarang do’a berjamaah
Pihak yang melarang do’a berjamaah berdalil
dengan beberapa dalil, di antaranya:
----
Dalil Pertama:
Bahwa do’a tidak pernah diriwayatkan
bahwa Nabi ﷺ
berkumpul bersama para sahabat untuk berdoa secara berjamaah.
Asy-Syathibi berkata:
"الدُّعَاءُ بِهَيْئَةِ الِاجْتِمَاعِ دَائِمًا
لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، كَمَا لَمْ يَكُنْ [مِنْ] قَوْلِهِ وَلَا
إِقْرَارِهِ".
“Berdoa dengan tata cara berkumpul secara
terus-menerus bukanlah amalan Rasulullah ﷺ, sebagaimana hal itu juga bukan termasuk ucapan beliau dan
bukan pula sesuatu yang beliau tetapkan atau beliau setujui.” [Baca: Al-I’tishom
1/456]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
لَمْ يُنْقَلْ أَحَدٌ أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ كَانَ إِذَا صَلَّى بِالنَّاسِ يَدْعُو بَعْدَ الْخُرُوجِ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ وَالْمَأْمُومُونَ
جَمِيعًا، لَا فِي الْفَجْرِ، وَلَا فِي الْعَصْرِ، وَلَا فِي غَيْرِهِمَا مِنَ الصَّلَوَاتِ،
بَلْ قَدْ ثَبَتَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَقْبِلُ أَصْحَابَهُ، وَيَذْكُرُ اللَّهَ،
وَيُعَلِّمُهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ عَقِيبَ الْخُرُوجِ مِنَ الصَّلَاةِ.
“Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan bahwa
Nabi ﷺ apabila
selesai mengimami shalat, lalu setelah selesai shalat beliau berdoa bersama
seluruh makmum secara berjamaah, baik pada shalat Subuh, Ashar, maupun shalat
lainnya. Justru yang telah tetap diriwayatkan dari beliau adalah bahwa beliau
menghadap kepada para sahabat, berzikir kepada Allah, dan mengajarkan kepada
mereka zikir setelah selesai shalat.” [Baca: Majmu’ al-Fatawa 22/492]
----
Dalil Kedua:
Amalan para salaf dari kalangan sahabat
Nabi ﷺ dan
para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka mengingkari orang yang
melakukan amalan yang mereka anggap sebagai bid'ah ini, sebagaimana akan
disebutkan dalam riwayat-riwayat dari Umar, Ibnu Mas'ud, dan Khabbab
radhiyallahu 'anhum. Seandainya mereka tidak memandang amalan tersebut sebagai sesuatu
yang menyelisihi Sunnah, niscaya mereka tidak akan mengingkari pelakunya dan
tidak pula bersikap keras dalam mengingkarinya.
----
Di antara para sahabat yang mengingkari
amalan ini adalah sbb:
[1] Dari Abu
Utsman, ia berkata:
فَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ: كَتَبَ
عَامِلٌ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَيْهِ: أَنَّ هَا هُنَا قَوْمًا يَجْتَمِعُونَ،
فَيَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ، وَلِلْأَمِيرِ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ: «أَقْبِلْ،
وَأَقْبِلْ بِهِمْ مَعَكَ»، فَأَقْبَلَ، وَقَالَ عُمَرُ لِلْبَوَّابِ: «أَعِدَّ لِي
سَوْطًا»، فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى عُمَرَ، أَقْبَلَ عَلَى أَمِيرِهِمْ ضَرْبًا بِالسَّوْطِ.
"Seorang gubernur menulis surat kepada
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, 'Di sini ada sekelompok orang yang
berkumpul, lalu mereka berdoa untuk kaum muslimin dan untuk pemimpin.' Maka
Umar membalas suratnya, 'Datanglah kepadaku, dan bawalah mereka bersamamu.'
Lalu mereka pun datang. Umar berkata kepada penjaga pintunya, 'Siapkan untukku
sebuah cambuk.' Ketika mereka masuk menemui Umar, beliau langsung memukul
pemimpin mereka dengan cambuk."
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushannaf (13/360)].
Berdasarkan atsar Umar ini, Abdullah bin
Fahd al-Khulaifi dalam ash-Shohih al-Musnad 1/203 no. 153 berkata:
أَقُولُ: فِيهِ إِنْكَارُ الصَّحَابَةِ
لِلْبِدَعِ الْإِضَافِيَّةِ، وَلِذَا أَخْرَجَ ابْنُ وَضَّاحٍ هَذَا الْأَثَرَ فِي
كِتَابِ «الْبِدَعِ» لَهُ، وَهُنَا يَحْسُنُ التَّنْبِيهُ إِلَى بِدْعَةِ خَتْمِ الدَّرْسِ
بِالدُّعَاءِ الْجَمَاعِيِّ مَعَ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، فَقَدْ نَبَّهَ عَلَى بِدْعِيَّةِ
هَذَا الْأَمْرِ الْعَلَّامَةُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَسَنٍ آلُ الشَّيْخِ، كَمَا
فِي «الدُّرَرِ السَّنِيَّةِ» (٥/ ٣٥٧).
Saya berkata:
Dalam atsar ini terdapat pengingkaran para sahabat terhadap bid'ah idhafiyyah
(bid'ah tambahan). Oleh karena itu, Ibnu Wadhdhah memasukkan atsar ini ke dalam
kitabnya Al-Bida'.
Di sini patut pula diingatkan tentang bid'ah
menutup pelajaran (termasuk kajian dan ceramah) dengan doa berjamaah
disertai mengangkat kedua tangan. Al-'Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu
Asy-Syaikh juga telah mengingatkan bahwa amalan ini termasuk bid'ah,
sebagaimana disebutkan dalam Ad-Durar As-Saniyyah (5/357).
[2]- Di antara
para sahabat yang juga mengingkari do’a berjamaah adalah Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu 'anhu di Kufah.
Diriwayatkan dari Abu Al-Bakhtari, ia berkata:
أَخْبَرَ رَجُلٌ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ قَوْمًا يَجْلِسُونَ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، فِيهِمْ
رَجُلٌ يَقُولُ: كَبِّرُوا اللَّهَ كَذَا، وَسَبِّحُوا اللَّهَ كَذَا وَكَذَا، وَاحْمَدُوهُ
كَذَا وَكَذَا، وَاحْمَدُوهُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَإِذَا رَأَيْتَهُمْ
فَعَلُوا ذَلِكَ فَأْتِنِي، فَأَخْبِرْنِي بِمَجْلِسِهِمْ. فَلَمَّا جَلَسُوا، أَتَاهُ
الرَّجُلُ، فَأَخْبَرَهُ. فَجَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، فَقَالَ: وَالَّذِي
لَا إِلَهَ إِلَّا غَيْرُهُ، لَقَدْ جِئْتُمْ بِبِدْعَةٍ ظُلْمًا، أَوْ قَدْ فَضَلْتُمْ
أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عِلْمًا. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ عُتْبَةَ: نَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
فَقَالَ: عَلَيْكُمُ الطَّرِيقَ فَالْزَمُوهُ، وَلَئِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا
لَتَضِلُّنَّ ضَلَالًا بَعِيدًا.
“Seseorang mengabarkan kepada Ibnu Mas'ud
radhiyallahu 'anhu bahwa ada sekelompok orang yang duduk di masjid setelah
shalat Maghrib. Di antara mereka ada seorang yang berkata, ‘Bertakbirlah kepada
Allah sekian kali, bertasbihlah kepada Allah sekian dan sekian kali, serta
bertahmidlah kepada-Nya sekian dan sekian kali.’
Abdullah bin Mas'ud berkata, ‘Jika engkau
melihat mereka melakukan hal itu, datanglah kepadaku dan tunjukkan tempat
mereka.’
Ketika mereka telah duduk, orang itu datang
kepada Ibnu Mas'ud dan memberitahukan tempat mereka. Maka Abdullah bin Mas'ud
pun mendatangi mereka, lalu berkata:
‘Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang
benar selain-Nya, sungguh kalian telah membawa suatu bid'ah yang zalim, atau
kalian menganggap diri kalian lebih berilmu daripada para sahabat Muhammad ﷺ.’
Lalu Amr bin Utbah berkata, ‘Kami memohon
ampun kepada Allah.’
Ibnu Mas'ud menjawab, ‘Hendaklah kalian tetap
menempuh jalan yang benar dan berpegang teguh kepadanya. Jika kalian menyimpang
ke kanan atau ke kiri, niscaya kalian akan tersesat dengan kesesatan yang
sangat jauh.’”
[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhud
hal. 289 no. 2081]
[3]- Di antara
para sahabat yang juga mengingkari amalan tersebut adalah Khabbab bin Al-Aratt
radhiyallahu 'anhu.
Ibnu Wadhdhah meriwayatkan dengan sanad yang
shahih dari Abdullah bin Abi Hudzail Al-'Anazi, dari Abdullah bin Al-Khabbab,
ia berkata:
بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ، وَنَحْنُ
جُلُوسٌ مَعَ قَوْمٍ نَقْرَأُ السَّجْدَةَ وَنَبْكِي، فَأَرْسَلَ إِلَيَّ أَبِي، فَوَجَدْتُهُ
قَدِ احْتَجَزَ مَعَهُ هِرَاوَةً لَهُ، فَأَقْبَلَ عَلَيَّ، فَقُلْتُ: يَا أَبَتِ!
مَالِي مَالِي؟! قَالَ: أَلَمْ أَرَكَ جَالِسًا مَعَ الْعَمَالِقَةِ؟ ثُمَّ قَالَ:
هَذَا قَرْنٌ خَارِجٌ الْآنَ.
“Ketika kami sedang duduk di masjid bersama
beberapa orang, kami membaca ayat-ayat sajdah lalu menangis. Kemudian
ayahku mengirim seseorang memanggilku. Aku mendatanginya, dan ternyata beliau
membawa tongkatnya. Lalu beliau menghampiriku seraya berkata, ‘Wahai anakku,
apa yang sedang engkau lakukan?’
Aku menjawab, ‘Ada apa, wahai ayah?’
Beliau berkata, ‘Bukankah aku melihatmu duduk
bersama orang-orang "Al-'Amaliqah" itu?’ Kemudian beliau berkata,
‘Inilah tanduk (fitnah) yang sekarang mulai muncul.’”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’
wa an-Nahyu ‘anha hal. 45 no. 33]]
Makna Kata "Al-'Amaliqah":
الْجَبَابِرَةُ الَّذِينَ كَانُوا بِالشَّامِ
مِنْ بَقِيَّةِ قَوْمِ عَادٍ. وَيُقَالُ لِمَنْ خَدَعَ النَّاسَ وَيَخْلِبُهُمْ: عِمْلَاقٌ،
وَالْعَمْلَقَةُ: التَّعَمُّقُ فِي الْكَلَامِ. فَشَبَّهَ الْقُصَّاصَ بِهِمْ لِمَا
فِي بَعْضِهِمْ مِنَ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى النَّاسِ، أَوْ بِالَّذِينَ
يَخْدَعُونَهُمْ بِكَلَامِهِمْ، وَهُوَ أَشْبَهُ.
Yakni; para raksasa atau orang-orang yang sangat
perkasa, yaitu kaum yang dahulu tinggal di Syam dari sisa-sisa kaum 'Ad.
Kata ini juga digunakan untuk menyebut orang
yang pandai menipu dan memperdaya manusia, sedangkan "al-'amlaqah" berarti
mendalami pembicaraan secara berlebihan. Oleh karena itu, para ahli kisah
(qashshash) diserupakan dengan mereka karena sebagian di antara mereka memiliki
sifat sombong, merasa lebih tinggi daripada orang lain, atau karena mereka
memperdaya manusia dengan ucapan-ucapan mereka. Penafsiran terakhir ini dinilai
lebih tepat”.
[Demikian dijelaskan oleh Ibnu Al-Atsir dalam
kitab An-Nihayah (3/301)].
[4]- Demikian pula,
mayoritas tabi'in rahimahumullah mengingkari berbagai bid'ah tersebut.
Di antaranya adalah:
كَرَاهِيَةُ الْإِمَامِ مَالِكٍ الِاجْتِمَاعَ
لِخَتْمِ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ، وَكَرَاهِيَتُهُ الدُّعَاءَ
عَقِبَ الْفَرَاغِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِصُورَةٍ جَمَاعِيَّةٍ
Pendapat Imam Malik yang memakruhkan berkumpul
untuk mengkhatamkan Al-Qur'an pada salah satu malam di bulan Ramadhan.
Beliau juga memakruhkan berdoa secara berjamaah
setelah selesai membaca Al-Qur'an. (Lihat kitab Al-Hawadits wal-Bida'
karya Ath-Thurthusyi, hlm. 62–63 dan 68).
Asy-Syathibi juga menukil dalam kumpulan
fatwanya bahwa Imam Malik memakruhkan berkumpul untuk membaca hizib secara
bersama-sama.
Beliau berkata:
إِنَّهُ شَيْءٌ أُحْدِثَ، وَإِنَّ السَّلَفَ
كَانُوا أَرْغَبَ لِلْخَيْرِ، فَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ
“Sesungguhnya hal itu merupakan sesuatu yang
diada-adakan, sedangkan para salaf lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan.
Seandainya hal tersebut merupakan kebaikan, tentu mereka telah lebih dahulu
melakukannya”. (Lihat Fatawa Asy-Syathibi, hlm. 206–208).
0 Komentar